P. 1
Uji impak

Uji impak

|Views: 83|Likes:
Published by Fuguh Bianconeri

More info:

Published by: Fuguh Bianconeri on Oct 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/18/2012

pdf

text

original

Uji impak

*Uji Impak ini adalah praktikum Labtek-1 saya yang ke3 setelah uji puntir, dan bending fatigue. Cuma pengen ada dokumentasi tentang uji ini, biar ntar klo udah jadi asisten bisa nostalgia.. halah.. Klo pengen tau kenapa musti ada uji impak, harus nonton Titanic dulu. Kenapa Titanic, soalnya si material kapal Titanic nya belum di uji impak tuk makanya bisa tiba2 kebelah dua pas ketabrak gunung es. Hehe.. (tapi sejarah kenapa bisa ada uji impak emang karena kapal2 yg dulu sering terbelah waktu perang dunia kedua, ya.. mirip ama titanic lah..) Uji impak adalah pengujian dengan menggunakan pembebanan yang cepat (rapid loading). Klo ceritanya titanic itu, si kapal kan berada pada suhu rendah, sehingga menyebabkan materialnya menjadi getas dan mudah patah. Kemudian di laut itu kan banyak beban (tekanan) dari arah manapun. Ditambah lagi nabrak gunung es, langsung deh tegangan yang udah terkonsentrasi karena pembebanan sebelumnya menyebabkan kapalnya terbelah dua.. Pada uji impak terjadi proses penyerapan energi yang besar ketika beban menumbuk spesimen. Energi yang diserap material ini dapat dihitung dengan menggunakan prinsip perbedaan energi potensial. Tapi klo di mesin ujinya udah nunjukin energi yang dapat diserap material, ya udah.. ga perlu ngitung manual. Proses penyerapan energi ini akan diubah menjadi berbagai respon material, yaitu
  

Deformasi plastis Efek Hysteresis Efek Inersia

yaitu 1. pemegang spesimen juga turut menyerap energi.Standar ASTM Uji Impak Ada dua macam pengujian impak. Pengujian dengan menggunkan charpy lebih akurat karena pada izod. Charpy 2. Izod Perbedaan charpy dengan izod adalah peletakan spesimen. . sehingga energi yang terukur bukanlah energi yang mampu di serap material seutuhnya.

dari hasil percobaan akan didapatkan energi dan temperatur. kita akan buat diagram harga impak terhadap temperatur.  Strainrate Jika pembebanan diberikan pada strain rate yang biasa-biasa saja. Karena dislokasi ga sempat gerak ke batas butir. maka material akan sempat mengalami deformasi plastis. Triaxial stress ini sangat berbahaya karena tidak akan terjadi deformasi plastis dna menyebabkan material menjadi getas. Selain itu notch juga akan menimbulkan triaxial stress. karena pergerakan atomnya (dislokasi). begitupun sebaliknya. Energi akan berbanding lurus dengan harga impak. patahnya ditengah-tengah atom.Faktor yang mempengaruhi kegagalan material pada pengujian impak adalah  Notch Notch pada material akan menyebabkan terjadinya konsentrasi tegangan pada daerah yang lancip sehingga material lebih mudah patah. Namun pada uji impak. . Temperatur transisi adalah range temperature dimana sifat material dapat berubah dari getas ke ulet jika material dipanaskan.  Temperatur Pada temperatur rendah material akan getas karena pengaruh vibrasi elektronnya yang semakin rendah. Dislokasi akan bergerak menuju ke batas butir lalu kemudian patah. strain rate yang diberikan sangat tinggi sehingga dislokasi tidak sempat bergerak. Kemudian. bulan di batas butir. apalagi terjadi deformasi plastis. Dari data tersebut. sehingga material akan mengalami patah transgranular. Kemudian kita akan mendapakan temperatur transisi. Sehingga tidak ada tanda-tanda bahwa material akan mengalami kegagalan.

Mengapa sampel tidak patah? Hal ini ada pengaruhnya dengan suhu. yaitu kadar karbon. hanya sebagian. Pada temperatur kamar. dan harga impaknya kecil.Temperatur transisi ini bergantung pada berbagai hal. Suhu yang semakin tinggi menyebabkan vibrasi elektron semakin tinggi sehingga pergerakan elektron menjadi semakin bebas. Temperatur transisi akan mempengaruhi ketahanan material terhadap perubahan suhu. Temperatur spesimen lebih rendah dari yang semula. Baja dan aluminium ini dipanaskan dengan menggunakan kompor listrik sampai pada temperatur 200an derajat celcius. ada 10 sampel. salah satunya aspek metalurgi material. sehingga temperatur transisinya lebih besar. 5 baja dan 5 aluminium. Pada percobaan ini. Hal inilah yang menyebabkan spesimen tidak patah. Jika temperatur transisinya kecil maka material tersebut tidak tahan terhadap perubahan suhu. Spesimen nya gas diberi perlakuan apapun. Langsung diberi beban impak dan spesimen nya patah ulet. Kemudian sampel ini di beri beban impak dan… hasilnya keempat sampel ini tidak patah seluruhnya. Dipanaskan. 2 baja dipanaskan dan 2 lagi didinginkan. Terjadi pembengkokan pada sampel. Dan energi untuk melakukan deformasi elastis semakin rendah. Material dengan kadar karbon yang tinggi akan semakin getas. melainkan hanya mengalami deformasi plastis. sehingga vibrasi elektronnya lebih rendah dan menyebabkan material menjadi agak lebih . begitu pula dengan aluminium.

Hal ini terjadi karena vibrasi elektron yang melemah sehingga energi yang dibutuhkan untuk elektron bergeran dan berdeformasi plastis lebih tinggi. Kemudian spesimen diberi beban impak dan terjadi patah getas. Misalnya sebuah besi yang diletakkan pada medan magnet akan memiliki sifat magnet. Temperatur transisi yang berbeda-beda ini akan mempengaruhi ketahanan material terhadap perubahan suhu. Material yang memiliki kadar karbon tinggi akan memiliki temperature transisi yang lebih panjang jika dibandingkan dengan material yang memiliki kadar karbon rendah. dan inersia. Sebuah system dengan hysteresis menunjukkan „rate-independent memory‟. Namun spesimen ini belum getas karena elektronnya masih dapat bergerak hingga deformasi plastis. terjadi proses penyerapan energy yang besar. efek hysteresis. hingga mencapai suhu minus puluhan derajat. Efek hysteresis ini biasanya terjadi jika material diberikan beban yang sangat cepat dan beban tersebut pun dihilangkan dengan cepat. Material yang memiliki temperature transisi rendah maka material tersebut tidak akan tehan terhadap perubahan suhu. Analisis. . spesimen didinginkan dengan menggunakan nitrogen cair. yaitu kemampuan suatu material untuk “mengingat” bentuk atau sifat sebelum material tersebut berubah karena pengaruh gaya dari luar material. hal lain yang mempengaruhi harga impak suatu material adalah kadar karbonnya. Selain suhu. Hal ini akan mempengaruhi harga impaknya dan temperature transisi. Penyerapan energy ini akan diubah menjadi berbagai respon material seperti deformasi plastis. Pada pengujian ini. besi tersebut akan tetap memiliki sifat magnet. Didinginkan.getas jika dibandingkan dengan spesimen awal. Harga impak baja lebih tinggi daripada aluminium menunjukkan bahwa ketangguhan baja lebih tinggi jika dibandingkan dengan aluminium. dapat dilakukan dengan menempatkannya pada medan magnet yang arahnya berlawanan. Pada baja dan aluminium terdapat perbedaan harga impak. sehingga terjadilah patah getas pada material. Material yang memiliki kadar karbon yang tinggi akan lebih getas. Pada pembebanan impak ini. Untuk menghilangkan sifat magnetnya. Ketangguhan adalah kemampuan material untuk menyerap energy dan berdeformasi plastis hingga patah. bahkan setelah medan magnetnya dipindahkan. Ketika sekali di magnetisasi. Banyak system fisik yang menunjukkan hysteresis yang alami.

IS =AWLg(cosβ − cosα ) (kg/mm2) .cos α ) kgm (4) Untuk kekuatan impak dari paduan aluminium dapat dihitung dengan rumus . Ketika diberikan pembebanan dengan strain rate yang tinggi material tersebut tidak sempat untuk mempertahankan bentuknya dan akhirnya patah .Efek inersia adalah kemampuan suatu material untuk mempertahankan bentuknya ketika diberikan gaya.Energi akhir (E1) : W L1 = W ( 1 – Cos β ) (3) Energi unutk mematahkan test piece adalah : . L ( cos β . .(E) = W .Energi awal (Eo) : W L = W (1 – Cos α ) (2) .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->