P. 1
Abstrak Kongres PERSAGI 2005

Abstrak Kongres PERSAGI 2005

4.63

|Views: 4,652|Likes:
Published by Susilo Wirawan

More info:

Published by: Susilo Wirawan on Jan 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2013

SUSUNAN PENGURUS DPP-PERSAGI PERIODE 2002-2005

PELINDUNG DEWAN PEMBINA : : Dr. Achmad Sujudi, MHA (Menteri Kesehatan RI) Prof. Soekirman, PhD Prof. DR. Muhilal Drs. M. Sudarmadi Drs. Benny A. Kodyat, MPA Drs. Soetedjo DR. Sunita Almatsier, MSc. Dr. Rachmi Untoro, MPH Drs. Arum Atmawikarta, SKM, MPH Sunarno Ranu Widjojo, SKM, MPH 1. Ir. Soetanto, MM 2. Ir. Dody Izwardi 3. Ir. Dodik Briawan, MCN 3. Ir. Entos Zaenal 4. H. Ali Bernadus, SKM, MA 5. Bambang P., SKM Ria Sukarno, MCN Pritasari, SKM, MSc. Ir. Tatang S. Falah, MSc. Bambang Harianto, SKM, MSc. 1. Sudarmani, SKM, Mkes 2. Kodrat PA, SKM, Mkes 3. Nusli Imansyah, SKM 4. G.K. Wirakambodja, SKM, MPS 5. Syamsul Bahri, SKM, Mkes Minarto, MPS 1. Ir. Siti Zainab, MCN 2. Rita Kemalawati, MCN 3. Ir. Itje Aisah Ranida, Mkes 4. Edwi Saraswati, MPS 5. Galopong Sianturi, SKM, MA

KETUA UMUM WAKIL KETUA SEKRETARIS UMUM

: : :

BENDAHARA Wakil Bendahara KETUA I KETUA BIDANG ORGANISASI DAN PEMBINAAN PROFESI Anggota

: : : : :

KETUA BIDANG GIZI MASYARAKAT Anggota

: :

i

KETUA II KETUA BIDANG PENDIDIKAN DAN LATIHAN

: :

Edith Sumedi, SKM, MSc. DR. Hardinsyah, MSc. 1. Iskari Ngadiarti, MSc. 2. Werdiningsih, SKM, Mkes 3. Zachrotiah, SKM, Mkes 4. Pudjo Hartono, MPS 5. Ir. Rossi RS Apriyantono, Mkes Rochamah, SKM, Mkes 1. Didit Damayanti, MSc. 2. Sumiarti, SKM 3. Suharyati Djoko, SKM 4. Y. Endang Budiwiarti, SKM 5. Rianti Sri Widayati, DCN DR. Abas Basuni Jahari, MSc. Atmarita, PhD 1. DR. Iman Sumarno, MPS 2. Budi Hartati, SKM, M.Epid 3. Gustina Sofia, SIP, MA 4. DR. Moesijanti, MCN 5. Tinexcelly M. Simamora, SKM Nils Aria Zulfianto, MSc. 1. Ir. Sunarko, MSc 2. Ir. Moh. Nasir, Mkes 3. Marudut Sitompul, MPS 4. Ida Ruslita, SKM, Mkes 5. Sylvia Damayanti, DCN 6. Sri Amelia, BSc.

KETUA BIDANG DIETETIK DAN GIZI INSTITUSI

:

KETUA III KETUA BIDANG PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

: :

KETUA BIDANG KEMITRAAN

:

ii

Susunan Panitia Pelaksana Temu Ilmiah dan Kongres XIII PERSAGI
Pelindung : Menteri Kesehatan Republik Indonesia 5. Dr. Dini A. Latief, MSc. 6. Murni Indrarti Muhilal, MSc. 7. Drs. Arum Atmawikarta, SKM, MPH 8. Kepala Dinas Kesehatan Prov. Bali 4. DR. Hardinsyah, MSc. 5. Idrus Jus’at, MSc, PhD.

Penasehat : 1. Prof. Soekirman, SKM, MPS-ID, PhD. 2. Prof.DR. Muhilal 3. Prof.DR.dr. Darwin Karyadi 4. Dr. Rachmi Untoro, MPH Pengarah : 1. Sunarno Ranu Widjojo, SKM, MPH 2. Ir. Tatang S. Falah, MSc. 3. DR. Abas B. Jahari, MSc. Ketua Umum Wakil Ketua

: Bambang Harianto, SKM, MSc. : Ir. I Komang Agusjaya M, MKes.

Sekretaris Umum : Atmarita, MPH, Dr.PH Wakil Sekretaris : I Putu Suiraoka, SST, MKes. Anggota:1. Ria Sukarno, MCN 5. AA Ngr Kusumajaya, SP, MPH 2. TM. Simamora, SKM 6. I Wayan Sudiarta, SKM 3. Muhammad Adil 7. Avelino SM, SST. 4. Erry Yudhya Mulyani 8. I G.P Suditha Puryana, STP Bendahara Umum Wakil Bendahara Bidang Kongres Ketua : Minarto, MPS Wakil Ketua : I Dewa Nyoman Sudjana, SKM, MKes. Sie Tata Tertib/AD/ART Ir. Soetanto, MM Entos Zainal, SP Ir. Doddy Izwardi Sie Program Kerja Ir. Sunarko, MSc. Kusindrati, MCN, MARS Rita Kemalawati, MCN Ir. Moh. Masir, MKes. Sie Sertifikasi/Legislasi/ RUU & Kolegium Edith Sumedi, SKM, MSc. Iskari Ngadiarti, MSc. Didit Damayanti, MSc. SA Budi Hartati, SKM, Mepid. : Pritasari, SKM, MSc. : A.A. Nanak Antarini, SST

Bidang Ilmiah Ketua : DR. Iman Sumarno, MPS Wakil Ketua : Ir. I Made Purnadhibrata, MKes. Sie Acara H. Ali Bernadus, SKM, MA Cahaya Rajagukguk, MKes Ir. I G.A Putri M, MKes Ni Ketut Martini, SKM, MKes Ni Wayan Yogianti, SKM, MKes G.A Puspadi Sie Persidangan I Made Rodja Suantara, SKM, MKes A.A Gde Raka Kayanaya, SST, MKes I.A Eka Padmiari, SKM, MKes A.A Putu Gede Wiranata I A Kade Widnyani, SKM, MKes Sie Temu Ilmiah DR. Sandjaja, MPH Gustina Sofia, SIP, MA DR. Moesijanti, MCN Triyani Kresnawan, DCN, MKes Ir. Hertog Nursanyoto, MKes Ir. Desak Putu Sukraniti, MKes Rina Maharani M, DCN Ni Putu Agustini, SKM

iii

Sie Publikasi, Dekorasi, Dokumentasi I Ketut Kencana, SKM Putu Musnitarini, SKM G.A Dastini, PM, BSc. Ni Ketut Nursiti, SKM Sie Hiburan & Wisata Ni Made Yuni Gumala, SKM, MKes I Wayan Juniarsana, SST I G.A.A Puspayeni Sie Penggalangan Dana Nils Aria Zulfianto, MSc G.K Wirakamboja, SKM, MPS Ida Ruslita, SKM, MKes Marudut Sitompul, MPS

Sie Transportasi Noerheri I Wayan Redite IGA Wirata I Ketut Bambang Suwandi

Sie Konsumsi Pande Putu Sri Sugiani, DCN, MKes G.A Ari Widarti, SST, MKes I G.A Sg. Kusumadewi, DCN Ni Luh Putu Ayu Putri S. G.A Dewi Kusumayanti Festival Gizi Tuti Soenardi, BSc Sri Wahjoe Soekirman, MPS ASDI Pusat dan Provinsi

Sie Keamanan Badrut Tamam, STP I Nyoman Enteg Suyasa I GA Suartika I Wayan Merta Sylvia Damayanti, DCN Mulyono , MSc. G.A Sri Utami, STP

I Nyoman Sridana G.A Sri Dhyana Putri, SKM Bambang P., SKM

iv

KATA PENGANTAR Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) setiap tiga tahun sekali melakukan Kongres dan Temu Ilmiah. Pada tahun 2005, bersamaan dengan Temu Ilmiah dan Kongres XIII PERSAGI, dilakukan juga festival gizi untuk mengajak masyarakat luas baik dari kalangan Industri Pangan, Perhotelan, PKK, dan kelompok masyarakat lainnya dari seluruh Nusantara turut berpartisipasi dalam mewujudkan peningkatan status kesehatan dan gizi di Indonesia. Temu Ilmiah bertujuan untuk memberikan informasi terkini tentang perkembangan IPTEK, situasi program gizi, selain itu juga sebagai media untuk penyegaran ilmu gizi baik pada seluruh anggota PERSAGI, maupun peminat di bidang gizi. Pada kesempatan kali ini penyelenggaraan temu ilmiah telah mengundang empat Menteri yaitu Kesehatan, Pertanian, Pemberdayaan Wanita, serta Perikanan dan Kelautan, di samping panel dari para pakar yang akan dilakukan selama tiga hari. Jumlah makalah untuk simposia tahun 2005 ini tidak terlalu banyak jika dibandingkan tahun 2002. Sedangkan Kongres bertujuan untuk menyempurnakan organisasi PERSAGI berkaitan dengan AD/ART, serta mengevaluasi program kerja yang telah dilakukan dan melakukan pembahasan lain berkaitan dengan kompetensi ahli gizi, sertifikasi/ registrasi/ legislasi, kode etik profesi, dan kolegium, serta pembentukan kepengurusan DPP PERSAGI periode berikutnya. Persiapan penyelenggaraan Temu Ilmiah, Kongres XIII Persagi dan Festival Gizi dilakukan bersama antara DPP PERSAGI Pusat dan DPD PERSAGI Provinsi Bali serta Yayasan Gizi Kuliner. Semua kegiatan yang akan dilakukan dari tanggal 21 sampai dengan 24 November 2005 di Bali ini tidak mungkin terselenggara dengan baik tanpa bantuan berbagai pihak. Perhargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada seluruh pembicara dan juga sponsor yang membantu terselenggaranya acara ini. Denpasar, 21 November 2005 DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia Ketua, tertanda Drs. Arum Atmawikarta, SKM, MPH

v

TATA TERTIB PESERTA TEMU ILMIAH dan KONGRES 1. Para peserta agar hadir tepat waktu sesuai jadwal. 2. Berpakaian resmi dan rapih. 3. Mengenakan tanda pengenal selama mengikuti Temu Ilmiah dan Kongres. 4. Dilarang membawa makanan dan kue ke ruang sidang. 5. Selama mengikuti sidang, mohon agar tilpon genggam dimatikan/ diam/ silent. 6. Peserta terdaftar mendapatkan kelengkapan sidang berupa : Buku Acara dan Kumpulan Abstrak Sertifikat 7. Panitia tidak menyediakan fasilitas lain seperti fotokopi, internet, dokter jaga dll. Sarana umum tersebut disediakan oleh Hotel dengan biaya sendiri.

PENYAJI MAKALAH 1. Disampaikan dalam bentuk Microsoft Power Point. 2. Penyaji sudah berada di Ruang Sidang 5 menit sebelum acara dimulai. 3. Mengumpulkan makalah lengkap paling lambat pada hari presentasi yang sudah ditentukan kepada Seksi Ilmiah di Sekretariat Panitia dalam bentuk electronic file.

PENYAJIAN POSTER 1. Poster harus dijaga saat Poster Session oleh salah satu Penulis. 2. Poster tidak menyebut/ menampilkan produk komersial dalam bentuk gambar, contoh/sampel dll. 3. Bila dalam poster menampilkan foto seseorang/ sampel dalam penelitian, sebaiknya disamarkan identitasnya dengan menutup mata foto ybs.

DAFTAR ISI
Halaman A. Susunan Pengurus DPP PERSAGI 2002-2005 B. Susunan Panitia Pelaksana C. Kata Pengantar D. Denah Lokasi E. Tata Tertib F. Daftar Isi G. Kerangka Acuan Temu Ilmiah dan Kongres H. Rincian Jadwal Acara I. J. Jadwal Simposia Kumpulan Abstrak Pleno 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Yulfita Rahardjo: Peranan wanita dalam pelaksanaan kadarzi I Gede Winasa: Program gizi daerah di era otonomi Ermalena Muslim: Gizi dalam perkembangan politik Ike Sri Rejeki: Critical ill Kartini Sukardji: Penatalaksanaan gizi mutakhir..... M. Aris Widodo: Nutritional genomic – nutrigenomic .... Dedi Fardiaz: Keamanan pangan dan bioterorisme Djokomoeljanto: Perkembangan GAKY sekarang dan ...... Suyamto: Biofortifikasi dan ketahanan pangan...... Sadullah: Peningkatan konsumsi ikan Soekirman: Perkembangan ilmu gizi dan tantangannya.... Sunarno RW: Pengembangan kebijakan gizi berdasarkan ..... Muhilal: Kelapa dan manfaatnya untuk kesehatan Rachmi Untoro: Gizi dalam keadaan darurat Satoto: Program perbaikan gizi di Indonesia untuk masa ..... Rudi Pekerti: Pemasaran sosial gizi Sri Iwaningsih: Pengawasan dan pengendalian mutu ..... i iii v vi vii viii 1 4 9 12 12 12 12 13 13 14 15 16 16 16 17 18 18 19 20 20 21 22 22 22 24 25 28 28 29 31 34 34 36 38 41

K. Kumpulan Abstrak Simposia 1. Simposia-1 (Senin, 21 November 2005) • Gizi Klinik dan Dietetik • KIE Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat • Gizi Masyarakat dan Gender 2. Simposia-2 (Selasa, 22 November 2005) • Ketahanan Pangan • Pangan Fungsional • Gizi – Teknologi Pangan 3. Simposia-3 (Selasa, 22 November 2005) • Gizi Klinik dan Dietetik • Gizi Institusi • Gizi Masyarakat L. Kumpulan Abstrak Poster (disusun berdasarkan abjad nama penulis pertama) M. Lampiran Ucapan Terimakasih

62

viii

KERANGKA ACUAN (Term of Reference) Pelaksanaan Temu Ilmiah, Kongres XIII PERSAGI dan Festival Gizi Denpasar, Bali, 20-24 November 2005 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia sudah menunjukkan peningkatan status kesehatan dan gizi pada 2-3 dekade terakhir. Hal ini ditandai dengan peningkatan umur harapan hidup, dan juga penurunan angka kematian bayi dan kematian balita, serta penurunan masalah kurang gizi yang ada di masyarakat. Akan tetapi, walaupun terjadi peningkatan status kesehatan, karena perubahan gaya hidup, keadaan sosial ekonomi, dan pengaruh lingkungan, menyababkan masalah gizi masih cukup dominan. Masalah gizi yang ada di masyarakat menjadi lebih kompleks, dan jenis masalahnya terletak pada dua ekstrim yaitu “kekurangan” dan “kelebihan”. Diperkirakan, pada tahun 2004, Indonesia masih menghadapi hampir 50% dari penduduk dengan berbagai masalah kekurangan gizi, dan 15% penduduk dengan kelebihan gizi. Masalah gizi bukan saja sangat kompleks, tetapi sering ‘tersembunyi’ sehingga tidak langsung terdeteksi. Ada empat pola permasalahan gizi yang patut dicermati saat ini. Yang pertama, sebenarnya permasalahan lama, tetapi masih terus berlangsung, yaitu adanya suatu pola yang memperlihatkan perempuan dan anak sebagai kelompok yang paling rentan terhadap permasalahan gizi. Yang kedua ialah adanya kecenderungan baru terkait penyakit-penyakit degeneratif seperti hiperlipidemia dan penyakit kardiovaskuler. Gejala ini ditemui baik pada keluarga yang berada maupun keluarga miskin, khususnya di daerah perkotaan, karena ‘salah makan’, meskipun dengan sebab dan mekanisme yang berbeda. Yang ketiga ialah masalah gizi perkotaan, khususnya bagi kelompok miskin. Akibat berbagai sebab, kemiskinan, ketidak tahuan, ketiadaan pilihan, terancamnya keamanan pangan, mereka terancam beban ganda gizi kurang dan gizi lebih, yang pada gilirannya meningkatkan beban ekonomi masyarakat. Yang keempat, sudah waktunya kini untuk mewaspadai timbulnya masalah gizi baru, seperti anemia pada laki-laki, keracunan logam berat, dan lain-lain. Ini berarti akan selalu muncul masalah gizi lain dan/ atau baru (yang belum tertangani), di samping masalah gizi yang sudah teridentifikasi. Ini juga berarti bahwa masalah gizi terjadi diluar kelompok yang selama ini dianggap rentan terhadap gizi (ibu hamil/menyusui, anak/ balita, remaja puteri, lanjut usia). Perlu kita sadari bersama, bahwa kemajuan suatu negara sangat tergantung dari keberadaan dan kualitas pelaku dari pembangunan yang seharusnya secara fisik dan mental adalah kuat dan sehat. Keadaan gizi penduduk menjadi sangat penting untuk mendasari kebutuhan tersebut. Untuk diketahui, terjadinya kekurangan gizi pada setiap individu dapat terjadi semenjak masih di kandungan yang disebabkan karena asupan gizi yang tidak mencukupi kebutuhan. Kekurangan gizi yang terjadi secara bertahap ini bisa berakibat pada kecerdasan, rendahnya produktivitas, atau kematian pada tingkat yang lebih parah. Kesemuanya ini akan menjadi beban negara jika jumlah penduduk dengan kekurangan gizi ini cukup besar, seperti Indonesia.

ix

Indonesia sudah mengembangkan program penanggulangan gizi semenjak tahun 1970-an. Pelaku program adalah para ahli gizi yang bekerja sama dengan tenaga kesehatan atau sektor sosial lainnya, yang sampai dengan saat ini tersebar hampir di seluruh wilayah, bahkan sampai tingkat terdepan yaitu Kecamatan. Pada umumnya para ahli gizi ini bernaung dalam organisasi profesi “Persatuan Ahli Gizi Indonesia” – PERSAGI. Anggotanya berjumlah hampir 9000 orang yang bekerja di Institusi Kesehatan (Rumah Sakit, Dinas Kesehatan, Puskesmas), Institusi Pendidikan, Perhotelan, Panti Asuhan, Perusahaan Makanan/Perusahaan Swasta, Badan Internasional, dan lain-lain. Secara periodik yaitu setiap tiga tahun sekali, PERSAGI melakukan Kongres dan juga Temu Ilmiah untuk kepentingan penyegaran ilmu gizi yang selalu berkembang kepada seluruh anggotanya. Untuk diketahui, ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang gizi, makanan, dan dietetik mengalami peningkatan yang sangat cepat. Pada tahun 2002, Temu Ilmiah dan Kongres XII PERSAGI dihadiri oleh sekitar 1000 Ahli Gizi dari seluruh Indonesia. Tahun 2005, PERSAGI menyelenggarakan Temu Ilmiah dan juga Kongres XIII yang direncanakan akan dilaksanakan di Bali bersamaan dengan “Nutrition Expo” pada tanggal 20-24 November 2005. Tema yang disepakati untuk tahun 2005, yaitu “Gizi Baik Investasi Pembangunan”. Tema ini berkaitan dengan visi gizi Indonesia untuk masa yang akan datang adalah “Gizi Baik untuk semua tahun 2020”. Pada penyelenggaraan Temu Ilmiah dan Kongres XIII ini diharapkan akan dihadiri lebih dari 1000 Ahli Gizi, ditambah dengan masyarakat lainnya yang akan berpartisipasi dalam Nutrition Expo/Festival Gizi. 2. Tujuan Seperti yang diuraikan di atas, ada tiga kegiatan pokok PERSAGI yang akan dilakukan, yaitu Temu Ilmiah, Kongres, dan Nutrition Expo. Temu Ilmiah bertujuan untuk memberikan informasi terkini tentang perkembangan IPTEK, situasi program gizi, selain itu juga sebagai media untuk penyegaran ilmu gizi baik pada seluruh anggota PERSAGI, maupun peminat di bidang gizi. Sedangkan Kongres bertujuan untuk menyempurnakan organisasi PERSAGI berkaitan dengan AD/ART, serta mengevaluasi program kerja yang telah dilakukan dan melakukan pembahasan lain berkaitan dengan sertifikasi/ registrasi/ legislasi, dan kolegium, serta pembentukan DPP PERSAGI periode berikutnya. Nutrition Expo dilaksanakan bersamaan dengan Temu Ilmiah dan Kongres PERSAGI XIII ini bertujuan untuk mengajak masyarakat luas, baik dari kalangan Industri Pangan, Perhotelan, PKK, dan kelompok masyarakat lainnya dari seluruh Nusantara turut berpartisipasi dalam mewujudkan peningkatan status kesehatan dan gizi di Indonesia. KEGIATAN Keseluruhan kegiatan akan diawali dengan Pembukaan yang diselenggarakan pada tanggal 21 November 2005 oleh Gubernur Provinsi Bali. akan

x

Uraian untuk masing-masing kegiatan adalah sebagai berikut: 1. Temu Ilmiah Sesuai dengan tema yang telah ditetapkan, pada Temu Ilmiah akan dilakukan pleno para Menteri terkait dari Departemen Kesehatan, Pertanian, Pemberdayaan Wanita, serta Kelautan dan Perikanan. Di samping pleno para Menteri dan Pakar, akan diselenggarakan secara paralel simposia dan juga presentasi dalam bentuk poster yang akan mengumpulkan artikel dari para Ahli Gizi seluruh Indonesia atau peminat gizi lainnya. Simposia dan poster diharapkan akan mendukung “Nutrition Update” untuk para ahli gizi atau peminat gizi. Tujuh topik penting yang akan dibahas adalah sebagai berikut: a. KIE Gizi dan pemberdayaan masyarakat b. Ketahanan pangan dan gizi c. Pangan fungsional d. Gizi masyarakat dan gender e. Dietetik dan gizi klinik f. Gizi institusi g. Teknologi pangan Temu Ilmiah akan dilakukan selama tiga hari, yaitu tanggal 21-23 November 2005, bersamaan dengan presentasi poster pada setiap waktu istirahat. 2. Kongres PERSAGI Kongres akan dilakukan pada tanggal 22 dan 23 November 2005 dan diikuti oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pimpimpinan Daerah (DPD) PERSAGI. Peserta kongres terbatas pada para Ahli Gizi yang terlibat dalam kepengurusan organisasi PERSAGI. 3. Festival Gizi/ Nutrition Expo Nutrition Expo akan diselenggarakan selama 5 hari, dari tanggal 20 sampai dengan 24 November 2005 dengan agenda kegiatan sebagai berikut: a. Pameran hasil industri pangan selama 5 hari berturut-turut b. Lomba makanan traditional Bali untuk hotel dan restoran yang akan diikuti oleh Senior Chef hotel dan restoran dan membuat aneka roti dan pastry oleh Juniro Chef Hotel dan restoran – tanggal 20 Novemver 2005 c. Lomba kue tradisional Bali yang diikuti oleh ibu PKK – 21 November 2005 d. Lomba masak ikan selera Nusantara – 22 November 2005 e. Demo masak memperkenalkan hasil industri pangan – 23 November 2005 4. Acara sosial, tinjauan lapangan, field trip, dll Selain ketiga kegiatan pokok, dijadualkan acara sosial atau kunjungan tempat pariwisata di Bali untuk para peserta Temu Ilmiah/Kongres pada tanggal 23 dan 24 November 2005. Acara sosial ini akan ditentukan kemudian.

xi

RINCIAN JADWAL ACARA Temu Ilmiah, Kongres Persagi XIII, Festival Gizi Denpasar, 21-24 November 2005 Hari/Tgl/ Jam
14.00 - selesai

Topik

Pembicara

Moderator

Pen. Jawab
Sekretariat

Festival Gizi

Minggu, 20 November 2005
Pendaftaran ulang peserta

Senin, 21 November 2005
10.00 – 10.45 • Laporan Panitia • Sambutan Ketua Umum PERSAGI • Selamat datang, disambut dengan tarian • Sambutan Pengarahan sekaligus Pembukaan secara resmi • Peninjauan dan peresmian Festival Gizi 10.45 – 11.15 • • • • Pemberian Penghargaan Peluncuran Buku Press conference Coffee break • Ketua Panitia Bambang Harianto SKM, MKes. • Drs. Arum Atmawikarta, SKM, MPH • Gubernur Bali Drs. Dewa Made Bratha • Menteri Kesehatan Sie Acara/ Protokol

Sie Acara/ Protokol Peresmian dan peninjauan Festival Gizi

• Prof.DR.dr. Darwin Karyadi • Bambang Harianto, SKM, MKes • Menteri Kesehatan

Sie Acara Didampingi Gubernur, Ketua PERSAGI Drs. Arum Atmawikarta, SKM, MPH Sie Acara

11.15 – 11.45

Keynote speaker • Gizi dan gender

• Menteri Negara Pemberdayaan Wanita

Lomba makanan tradisional

12

Hari/Tgl/ Jam
11.45 – 13.00

Topik
Panel pakar I • Peranan wanita dalam pelaksanaan Kadarzi • Program gizi daerah di era otonomi • Gizi dalam perkembangan politik ISHOMA/ Poster Session Panel Pakar II • Critical ill • Penatalaksanaan gizi mutakhir: Diabetes mellitus Panel Pakar III • Nutritional genomic – nutrigenomic: A new hope for ..... • Keamanan pangan dan bioterorisme • Perkembangan GAKY sekarang dan masa datang ISHOMA/ Poster Session Simposia • Topik-1: Gizi klinik dan dietetik • Topik-2: KIE gizi dan pemberdayaan masyarakat • Topik-3: Gizi masyarakat dan gender

Pembicara
• DR. Yulfita Rahardjo • Prof.DR.drg. I Gede Winasa • Dra. Ermalena Muslim

Moderator
DR. Hardinsyah

Pen. Jawab
Sie Acara

Festival Gizi
Lomba makanan tradisional

13.00 – 14.00 14.00 – 14.45

• Dr. Ike Sri Rejeki, SpAn-KIC • Kartini Sukardji, MCH

Triyani Kresnawan, DCN, MKes

Sie Acara

14.45 – 16.00

• Prof.Dr. M. Aris Widodo, MS, SpFK, PhD • Prof.Dr.Ir. Dedi Fardiaz, MSc. • Prof.Dr.dr. Djokomoeljanto, SpD(KE)

DPD PERSAGI Bali

Sie Acara

16.00 – 16.15 16.15 – 17.30

Lihat di Jadwal Simposia

DPD PERSAGI Bali DPD PERSAGI Bali Marzuki Iskandar, STP, MTP

Sie Sidang

13

Hari/Tgl/ Jam
17.45 – 19.00 19.00 – selesai ISHOMA

Topik

Pembicara

Moderator

Pen. Jawab

Festival Gizi

Kongres PERSAGI • Pembukaan Kongres PERSAGI • Pertanggungjawaban Pengurus DPP 2002 – 2005 • Penunjukan Ketua Sidang • Social gathering/ coffee morning/ Poster Session Kongres • Kongres PERSAGI: Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga

• Ketua Umum PERSAGI

Minarto, MPS Kusindrati, MCN, MARS Iskari Ngadiarti, MSc.

Selasa, 22 November 2005
09.00 – 10.00 Sie Acara Lomba masak serba ikan oleh Departemen Kelautan (Pebukaan oleh Sekjen Kelautan)

Ir. Sutanto, MM

10.00 – 11.00

Keynote speaker • Revitalisasi pertanian dan ketahanan pangan rumah tangga • Kebijakan pembangunan sumber daya kelautan Panel pakar IV • Biofortifikasi dan ketahanan pangan • Peningkatan konsumsi ikan • Tantangan keprofesian gizi ISHOMA/ Poster Session

• Menteri Pertanian • Menteri/ Sekjen Kelautan dan Perikanan • DR. Suyamto et.al. • Ir. Sadullah, MBA • Prof.DR. Soekirman, MPS-ID

Sunarno R. Widjojo, SKM, MPH

Sie Acara/ Protokol

11.00 – 12.00

Ir. Rossi Rozanna, MKes.

Sie Acara

12.00 – 13.00 13.00 – 14.00

Idrus Jus’at, Ph.D

14

Hari/Tgl/ Jam
14.00 – 15.30

Topik
Simposia • Topik-1: Ketahanan pangan • Topik-2: Pangan fungsional • Topik-3: Teknologi pangan Kongres • Topik-1: Standar profesi • Topik-2: Legislasi • Topik-3: Kodek profesi

Pembicara
Lihat di Jadwal Simposia

Moderator
DR. Sandjaja, MPH Moesijanti, PhD Ir. Tatang S.Falah, MKes.

Pen. Jawab
Sie Sidang

Festival Gizi

• Edith Sumedi, SKM, MSc. • Didit Damayanti, MSc. • Iskari Ngadiarti, MSc.

15.30 – 16.00 16.00 – 17.30

ISHOMA/ Poster Session Simposia • Topik-1: Gizi klinik dan dietetik • Topik-2: Gizi institusi • Topik-3: Gizi masyarakat Kongres • Program kerja PERSAGI Lihat di Jadwal Simposia DPD PERSAGI Bali DPD PERSAGI Bali DR. Iman Sumarno Sie Sidang

• Ir. Sunarko, MSc.

Rita Kemalawati, MCN

Rabu, 23 November 2005
09.00 – 10.00 Panel Pakar V • Pengembangan kebijakan program gizi berbasis penelitian mutakhir • Kelapa dan manfaatnya untuk kesehatan • Sunarno R. Widjojo, SKM, MPH • Prof. DR. Muhilal Atmarita, MPH, Dr.PH Sie Acara Festival kue tradisional Bali

15

Hari/Tgl/ Jam
10.00 – 11.30

Topik
Panel Pakar VI • Gizi dalam keadaan darurat • Program perbaikan gizi di Indonesia untuk masa yang akan datang • Pemasaran sosial gizi • Pengawasan dan pengendalian mutu dalam pelayanan gizi rumah sakit • Penutupan ISHOMA/ Acara bebas

Pembicara
• Dr. Rachmi Untoro, MPH • Prof.DR.dr. Satoto, SpG • dr. Rudi Pekerti, MPH • Sri Iwaningsih, SKM, MKes.

Moderator
DR. Abas B. Jahari, MSc.

Pen. Jawab
Sie Acara

Festival Gizi
Festival kue tradisional Bali

11.30 – 12.00

Kusindrati, MCN, MARS

Sie Acara

12.00 – 13.00 13.00 – selesai

• Ketua Panitia

Kamis, 24 November 2005
09.00 – selesai Acara sosial Sie Acara Demo masak dan product knowledge para peserta Festival Gizi

16

JADWAL SIMPOSIA Senin, 21 November 2005 Jam 16.15 – 17.30 Ruang A Gizi Klinik dan Dietetik Moderator: DPD PERSAGI Bali
• Susetyowati Analysis of Dietitian Needs Based on Work Activity in Sardjito General Hospital, Yogyakarta • Christina Reger Registered Dietitian (RD) : A Standardized Qualification in the US Martalena Br Purba Obesitas Abdominal Kaitannya dengan Sindroma Metabolik: Apakah Merupakan Masalah Kesehatan Masyarakat di Indonesia?

Ruang B KIE Gizi dan Pemberdayaan Masy Moderator: DPD PERSAGI Bali • Riza Adirza et.al.
Edutainment (education and entertainment) Sebagai Strategi Baru Penyuluhan Kesehatan

Ruang C Gizi Masyarakat dan Gender Moderator: Marzuki Iskandar, STP, MTP • Hagnyonowati et.al. The Role of Zinc and Vitamin A in Dark Adaptation Ability: A Study of Primary School Children in Kedungjati, Grobogan district • M.Dawam Jamil et.al.
Perbedaan Intake Zat Gizi dan Status Besi pada Wanita Vegetarian di Kabupaten Badung, Provinsi Bali

• Mutalazimah Dukungan Sistem Informasi Manajemen pada Program Perbaikan Gizi Masyarakat

• Untung S. Widodo Pengembangan Surveilans Sentinel GAKI Dengan Indikator UIE Pada Kelompok Rawan

17

Selasa, 22 November 2005 Jam 14.00 – 15.30 Ruang A Ketahanan Pangan Moderator: Sandjaja
• Iman Sumarno

Ruang B Pangan Fungsional Moderator: Moesijanti Soekatri • M. Poppy Herlianti
Aspek Gizi dan Klinis Virgin Coconut Oil

Ruang C Teknologi Pangan Moderator: Tatang S. Falah • Heru Yuniati et.al. Pemanfaatan Susu Segar yang Ditolak Sebagai Sumber Protein Rendah Laktosa • Uken SS. Soetrisno et.al. Pengaruh Pengolahan Bahan Terhadap Indeks Glikemik Berbagai Makanan • Ika Dwi Astutik et.al. Formulasi Cookies untuk Diet Rendah Energi dan Tinggi Serat

Indikator Ketahanan Pangan Rumahtangga Miskin
• Atmarita Ketahanan Pangan Tingkat Rumahtangga dan Pemenuhan Gizi Seimbang

• Eva Ardiana et.al Asupan Antioksidan dan Penyakit Jantung Koroner pada Lansia • Lily Arsanti Lestari et.al. Efek Hipokolesterolemik Probiotik Indigenous dan Yogurt pada Tikus Sprague Dawley

18

Selasa, 22 November 2005 Jam 16.00 – 17.30 Ruang A Gizi Klinik dan Dietetik Moderator: DPD PERSAGI Bali
• GA Dewi Kusumayanti et.al

Ruang B Gizi Institusi Moderator: DPD PERSAGI Bali • SA. Budi Hartati et.al.
Analisis Beban Juru Masak di Unit Produksi Makanan RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Ruang C Gizi Masyarakat Moderator: Iman Sumarno • Eman Sumarna et.al. Status Gizi Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas yang Berbeda Kinerja di Kabupaten Sumba Timur • Sugeng Wiyono The Relationship Between Waist to Hip Ratio with Cholesterol Level at Adult in Surakarta City • Abas Basuni Jahari Growth Faltering Problem of Indonesian Children

Hubungan antara Konsumsi Casein, Gluten dan Pola Aktivitas yang Khas pada Anak Penyandang Autis di Poli Rawat Jalan RS Sanglah, Denpasar
• Nora Setyafitri Manajemen Diet Pada Anak Dengan Penyakit Jantung Bawaan Sianosis dan Asianosis di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita • Triyani Kresnawan Tatalaksana Diet Batu Ginjal/ Batu Saluran Kemih Saat Ini

• Hertog Nursanyoto
Pengembangan Aplikasi Manajemen Pelayanan Gizi Rumah Sakit

Berbasis Komputer Dalam Upaya Meningkatkan Efektifitas Pendayagunaan Tenaga Pelaksana Gizi di RS Sanglah Denpasar • Agus Sri Wardoyo Problem Solving for Better Health (PSBH) Sebagai Alat Peningkatan Mutu Pelayanan Gizi Rumah Sakit

19

KUMPULAN ABSTRAK PLENO
(abstrak disusun menurut hari dan jam presentasi)

A01
Peranan Wanita dalam Pelaksanaan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) DR. Yulfita Rahardjo Antropolog, Jakarta Berbagai program perbaikan gizi di Indonesia telah dikembangkan sejak awal kemerdekaan; akan tetapi gizi buruk masih saja menjadi masalah utama dalam pembangunan Indonesia sampai saat ini. Berbagai telaah dan analisis telah dilakukan; demikian juga telah banyak dibuat berbagai kebijakan, program dan pelaksanaan Gizi. Salah satu yang terbaru adalah program Perbaikan Gizi menuju pencapaian Keluarga Sadar Gizi (KADARZI). Program yang baru ini, melakukan trobosan, dengan menekankan pada pencapaian status gizi baik, melalui perubahan prilaku keluarga agar sadar gizi. Dalam kaitan ini, perempuan Indonesia pada umumnya ---sesuai dengan peran gender-nya (bertanggung jawab membeli bahan makanan dan memilih menu, menyiapkan dan menyediakan makanan untuk keluarga, melakukan sosialisasi pada anak sejak usia dini; memelihara kesehatan anggota keluarga)---, dapat memerankan peranan penting dalam pelaksanaan program KADARZI ini, yaitu: (1) sebagai agent perubahan prilaku dalam keluarga; (2) pemerkasa perubahan kearah gizi sehat, terutama karena pengaruhnya dalam menglola makanan keluarga. Akan tetapi potensi yang dimiliki perempuan ini sebenarnya masih belum dimanfaatkan. Hal ini disebabkan, bukan saja karena kurangnya pengetahuan mereka mengenai gizi sehat, permasalahan ketersediaan serta akses terhadap makanan sehat, masalah ekonomi yang dihadapi keluarga, tetapi juga masalah budaya –ketidaksetaraan gender- ketika menentukan pilihan menu makanan, pembagian makanan diantara anggota keluarga serta alokasi sumberdaya keluarga untuk kebutuhan makanan .

A02
Program Gizi Daerah di Era Otonomi Prof.DR.drg. I Gede Winasa Bupati Jembrana, Bali

A03
Gizi dalam Perkembangan Politik Dra. Ermalena Muslim Tenaga Ahli, Departemen Koperasi, Jakarta DPR-RI dan DPRD sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang mempunyai fungsi (1) fungsi legislasi yaitu untuk menetapkan kebijakan dalam bentuk Perundang-undangan, (2) fungsi Anggaran yaitu untuk menetapkan anggaran belanja

dalam bentuk APBN untuk DPR-RI dan APBD untuk DPRD dan (3) fungsi pengawasan yaitu untuk melakukan penilaian dan pengawasan terhadap kerja eksekutif. Ketiga fungsi ini hanya bisa dilakukan dengan baik dan memenuhi kebutuhan pembangunan yang sesungguhnya apabila Anggota DPR-RI dan DPRD mempunyai informasi dan keperdulian yang sama terhadap masalah bangsa yang dihadapi. Dalam menjalankan fungsinya DPR-RI dan DPRD juga terikat pada ketentuan dan kesepakatan Fraksi dan Partai Politik dari masing-masing asal dari anggota DPRRI dan DPRD, untuk itulah lobby secara informal dan formal terhadap Partai Poltik dan Fraksi-fraksi di Parlemen sangat diperlukan. Mekanisme Pembuatan Undang-Undang atau Perda yang berhubungan dengan kebutuhan Negara dan daerah dilakukan melalui dua jakur; (1) melalui usulan dari Pemeritah Pusat untuk Undang-Undang dan Pemerintah Daerah untuk Perda, dan (2) merupakan inisiatif DPR-RI untuk Undang-undang dan DPRD untuk Perda. Apabila ada usulan untuk menerbitkan Undang-undang atau merubah Undangundang disamping kepada Pemerintah terkait kita juga dapat melakukan pendekatan kepada anggota DPR-RI baik perorangan, melalui Komisi , melalui Fraksi atau melalui Partai Politik, deminkian juga untuk Peraturan daerah. Mekanisme Penetapan anggaran sesungguhnya dimulai dengan usulan dari setiap Departemen atau kementerian kepada DPR-RI atau oleh Dinas kepada DPRD yang merupakan satu kesatuan didalam usulan APBN oleh Pemerintah Pusat dan APBD oleh Pemerintah Daerah, yang kemudian bersama-sama dengan DPR-RI dan DPRD dilakukan pembahasan untuk disetujui sebagai APBN atau APBD, pembahasan ini dilakukan melalui panitia Anggaran pada tingkatannya masing-masing. Mekanisme Pengawasan/Monitoring Pemerintahan ini dalakukan secara terus menerus baik secara langsung dalam bentuk kunjungan kerja maupun melalui masukan yang disampaikan oleh masyarakat luas kepada DPR-RI maupun DPRD melalui Rapat Dengar Pendapat Umum yang biasa kita kenal dengan public hearing atau juga dapat melalui surat yang dikirim kepada Komisi dan Fraksi yang terkait.

A04
Critical Ill Dr. Ike Sri Redjeki, SpAn-KIC RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung

A05

Penatalaksanaan Gizi Mutakhir: Diabetes mellitus Kartini Sukardji, MCH RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Terapi Gizi Medis adalah komponen integral dari penatalaksanaan diabetes dan edukasi penatalaksanaan mandiri diabetes. Peran dietisien menjadi lebih besar dengan adanya konsep yang relative baru ini. Peran total dan integral pada pengelolaan

xxii

diabetes mendasari konsep terapi gizi medis, yang kemudian dipakai sebagai model untuk pedoman terapi gizi medis berbagai penyakit tidak menular yang lain. Hasil penelitian Terapi Gizi Medis (USA 1995) terhadap pasien baru diabetes tipe 2 rawat jalan, pasien yang mendapat konsultasi gizi dengan pedoman praktek terapi gizi medis terbukti adanya perubahan bermakna pada A1c, glukosa darah puasa, kadar kolesterol darah dan penurunan berat badan. Sedangkan yang diberikan hanya pelayanan dasar perubahan bermakna hanya pada A1c dan penurunan berat badan. Pada control yang tidak mendapat konsultasi gizi tidak ada perbaikan. Pada praktek klinik, rekomendasi gizi yang mempunyai sedikit atau tanpa bukti yang menunjang masih diberikan kepada penyandang diabetes. Pada tahun 2002, American Diabetes Association mengeluarkan prinsip dan rekomendasi gizi pada diabetes yang didasarkan pada “Evidence based”. Fokus penatalaksanaan gizi 5 tahun terkhir ini adalah dalam usaha menurunkan risiko penyakit makrovaskuler dan untuk memperlambat berkembangnya penyakit ginjal pada penyandang diabetes. Penekanan terapi gizi pada diabetes tipe 2 adalah strategi gaya hidup untuk menurunkan glukosa darah, dislipidemia dan tekanan darah. Komposisi kebutuhan energi 10 sampai 20 % dari protein, karbohidrat dan lemak tidak jenuh tunggal 60 sampai 70 %, lemak jenuh kurang dari 10 % dan lemak tidak jenuh ganda tidak lebih dari 10 %.Tidak ada bukti yang jelas dari manfaat suplemen vitamin dan mineral untuk penyandang diabetes yang tidak mengalami defisiensi, kecuali pada folat untuk pencegahan cacat lahir dan kalsium untuk pencegahan penyakit tulang. Penggunaan makanan dengan indeks glikemik rendah dapat mengurangi hiperglikemia post prandial, tetapi tidak cukup bukti dari keuntungan jangka lama untuk dapat menganjurkan penggunaan diet dengan indeks glikemik rendah sebagai cara utama pada perencanaan makan.Sukrosa dan makanan yang mengandung sukrosa tidak perlu dilarang untuk penyandang diabetes, namun mengganti sumber karbohidrat yang lain atau bila ditambahkan maka dosis insulin atau obat penurun glukosa yang lain ditambah. Kebutuhan gizi yang telah disesuaikan untuk penyandang diabetes Indonesia telah disepakati pada Konsensus Pengelolaan diabetes di Indonesia tahun 2002. Di RS Dr Cipto Mangunkusumo edukasi tentang penatalaksanaan gizi untuk penyandang diabetes selain berupa konsultasi gizi di Poliklinik Gizi, juga dilaksanakan terpadu dengan edukasi diabetes yang lain pada “ Kursus singkat berkesinambungan penatalaksanaan diabetes mandiri” setiap hari Jum’at.
A06

Nutritional Genomic – Nutrigenomic A New Hope for Old Problem Prof.Dr. Moch. Aris Widodo, MS, SpFK, PhD Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya, Malang
It has been known for long time that diseases are correlated with food we eat, however, the exact mechanism how food and its component affect our health and its molecular mechanism still unclear. After human genome project has been completed, 5 years ago, medical and biological scientists are stimulate to apply this genome information to clarify the mechanism of disease processes and try to invent a new concept of therapeutic procedure based on genome information.

Human genome information also make food scientists exaggerated to search the possibility of food and food component affect the gen and they also eagerly want to
xxiii

explore the molecular mechanism how the food and food component affect the physiologic or pathologic function of the cell. Hopefully, when interaction of food and food component to the genome is elucidated then the mechanism of disease process related to food will be more clear. Then avoiding certain food to prevent the specific disease and to consume certain food to prevent or curing the disease may be possible to apply to individual. A new hope for an old problem will be unfolds.
A07

Keamanan Pangan dan Bioterorisme Prof.DR.Ir Dedi Fardiaz, MSc. Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawas Obat dan Makanan, Jakarta Masalah keamanan pangan telah menjadi keprihatinan dunia, karena pangan yang tercemar telah menjadi penyebab tersebarnya penyakit menular maupun tidak menular yang menimbulkan kematian ratusan juta manusia di dunia. Oleh karena itulah, adalah hak setiap orang untuk memperoleh pangan yang aman untuk dikonsumsi, selain untuk memperoleh pangan yang cukup, bermutu dan bergizi. Pada era globalisasi ini, pangan dalam berbagai ragam jenisnya telah menyebar ke seluruh dunia begitu mudahnya dengan dukungan sarana transportasi yang terus berkembang. Mungkin saja suatu produk pangan dapat dikirim dari suatu negara ke negara lainnya hanya dalam waktu beberapa jam saja. Kemudahan dan kecepatan penyebaran pangan ke seluruh dunia ini menimbulkan risiko penyebaran pangan tercemar yang dapat menimbulkan keracunan bagi konsumennya. Karena dampaknya yang begitu luas ini, maka persyaratan keamanan pangan telah menjadi perhatian dunia yang terus dibahas dan diperbaharui dalam rangka menjanin bahwa pangan yang diperdagangkan adalah layak dan aman untuk dikonsumsi. Pemberlakuan persyaratan keamanan pangan ini ditujukan bukan hanya untuk melindungi kesehatan publik tetapi juga untuk menjamin berlangsungnya perdagangan yang adil dan jujur. Pangan menjadi tidak aman untuk dikonsumsi karena secara tidak disengaja mikroba patogen atau bahan kimia yang berbahaya mencemarinya. Ketidaksengajaan ini dapat terjadi karena ketidaktahuan atau ketidakpedulian para produsennya dalam menghasilkan pangan yang lebih bermutu dan lebih aman untuk dikonsumsi. Untuk memperbaiki keadaan ini khususnya kepada produsen dan konsumen yang tidak tahu sudah banyak dan terus dilakukan penyuluhan atau promosi tentang keamanan pangan melalui berbagai media. Demikian juga kepada mereka yang tidak peduli telah banyak dilakukan penindakan secara hukum. Disamping karena ketidaksengajaan, pangan dapat juga secara disengaja untuk menjadi tercemar. Dengan tingkat masalah keamanan pangan yang ditimbulkannya maka mungkin saja pangan dijadikan bahan untuk melakukan sabotase, misalnya karena adanya persaingan usaha. Yang sangat memprihatinkan adalah jika pangan digunakan untuk bahan teror. Pengalaman di dunia menunjukkan beberapa upaya kelompok tertentu untuk menggunakan pangan sebagai bagian dari teror atau menggunakan pangan sebagai salah satu bentuk senjata biologis. Masalah ini mencuat kembali sesudah Amerika mengeluarkan undang-undang tentang bioterorisme tiga tahun yang lalu. Mengingat pangan tercemar baik tidak disengaja maupun disengaja dapat menimbulkan masalah kesehatan publik, maka menjadi tugas kita bersama baik

xxiv

pemerintah, produsen, konsumen dan masyarakat luas untuk selalu memantau dan mengawasi agar pangan yang beredar di sekitar kita ini selalu layak dan aman untuk dikonsumsi.

A08
Perkembangan GAKY Sekarang dan Masa Datang Prof.DR.dr. Djokomoeljanto, SpD(KE) Universitas Diponegoro, Semarang
A09 Biofortifikasi dan Ketahanan Pangan

1

DR. Suyamto1, Siti Dewi Indrasari2 dan Ida Hanarida3 Puslitbang Tanaman Pangan, Bogor, 2Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi 3 Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor

Biofortifikasi adalah salah satu upaya dibidang pertanian dalam menunjang ketersediaan pangan yang merupakan salah satu faktor penting dari ketahanan pangan. Melalui cara tersebut produksi dan kandungan gizi suatu tanaman dapat diupayakan sekaligus ditingkatkan. Ada lima hal penting dalam pemuliaan tanaman padi agar program biofortifikasi dapat berhasil yaitu 1) variabilitas genetik kandungan besi dalam bulir padi, 2) keuntungan atau kerugian secara agronomis, 3) perubahan pola makan dan cara pengolahan, 4) peningkatan mineral besi yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh, dan 5) program dengan biaya murah. Berkaitan dengan hal tersebut, Indonesia telah melakukan evaluasi dan identifikasi kandungan besi plasma nutfah padi yang terdiri dari varietas padi lokal, galur harapan, varietas unggul baru dan padi liar. Persilangan antara galur padi yang berkadar besi tinggi dan beberapa varietas unggul baru dengan IR68144-3b-2-2-3 yang memiliki kandungan besi tinggi 21 mg/kg telah dilakukan dengan cara pemuliaan konvensional dan kultur antera. Saat ini pertanaman tersebut telah mencapai generasi F8. Tahap penelitian selanjutnya adalah uji daya adaptasi galur-galur unggulan tersebut pada sejumlah sentra produksi padi yang diketahui mempunyai tingkat prevalensi anemia besi tinggi. Diantara varietas unggul baru, ternyata Cimelati mempunyai kandungan besi tertinggi (16,2 mg/kg) dibanding rata-rata varietas unggul baru yaitu 11,5 mg/kg. Padi atau beras menjadi komponen utama dalam sistem ketahanan pangan nasional dan stabilitas keamanan nasional. Dilain pihak, biofortifikasi merupakan salah satu inovasi teknologi dalam hal perbaikan mutu gizi beras dan peningkatan produksi yang berpengaruh langsung pada aspek ketersediaan pangan.
A10

Peningkatan Konsumsi Ikan Ir. Sadullah, MBA Direktur Pemasaran Dalam Negeri, Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta

xxv

A11

Perkembangan Ilmu Gizi dan Tantangannya bagi Profesi Gizi di Masa Depan Prof.DR. Soekirman, MPS-ID Dewan Pembina DPP PERSAGI, Jakarta Sejak awal berkembangannya di tahun 400-an SM sampai diakuinya gizi sebagai ilmu pengetahun di abad ke-19 sampai sekarang, ilmu gizi mengalami banyak tantangan terutama dalam aplikasinya. Perkembangan ilmu gizi diawali dengan pendapat Hipocrates (460-360 SM) bahwa makanan adalah satu-satunya obat untuk menyembuhkan penyakit, yang oleh Johnson dan Merolli (2003) sebagai Era Naturalis dalam sejarah perkembangan ilmu gizi. Kemudian memasuki era analisa kimia oleh Bapak ilmu kimia dan ilmu gizi dunia Antoine Laurent Lavoisier di abad ke-18, diikuti dengan era biologi dengan penemuan protein, asam amino dan vitamin di abad ke-19 dan 20. Memasuki abad ke 21 ilmu gizi memasuki era gizi selluler dan gizi genetic (nutrigenomic) dengan rekayasa genetika yang menhasilkan berbagai jenis makanan dengan berbagai kelebihannya dalam segi produksi, daya tahan terhadap hama penyakit, penampilan, dan nilai gizi. Makalah ini menguraikan pengaruh dari perkembangan ilmu gizi terhadap aplikasinya dalam menghadapi masalah gizi di Negara berkembang. Dengan menggunakan teori pendulum Martorell dan kawan-kawan (2000) dari Lembaga Penelitian Gizi Dunia di Guatemala (INCAP). selama abad ke-20, aplikasi ilmu gizi bergeser kekanan dan kekiri seperti pendulum jam. Mengikuti era penemuanpenemuan ilmiah dibidang kimia dan biologi, pendulum ilmu gizi dalam abad ke-20 telah bergeser 4 kali: dari kiri – dengan fokus protein (1950an), ke kanan- protein dan energi (1970an), kembali kekiri - zat gizi mikro (micronutrient) (1980an), kemudian kembali bergeser kekanan – keseimbangan antara zat gizi makro (protein dan energi) dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) pada akhir 1990-an sampai sekarang. Pergeseran pendulum berpengaruh pada cara kita menentukan masalah gizi masyarakat dan intervensinya dengan segala tantangannya. Salah satu contoh adalah apa yang disebut oleh Mc Laren akhir tahun 1970an sebagai “protein fiasco” atau kegagalan teori kekurangan protein yang mendominasi analisa masalah gizi waktu itu yang ternyata tidak benar sampai sekarang. Bergesernya pedoman makanan sehat yang dari “Basic Four dan Basic Five” di Amerika, yang di Indonesia dikenal sebagai Empat Sehat Lima Sempurna tahun 1950-an, menjadi “Guideline of Balance Diet” atau disingkat “Dietary/Nutritional Guideline” sejak tahun 1980an. Di Indonesia pedoman ini baru kita kenal tahun 1995 sebagai Pedoman Gizi Seimbang, sesuai dengan kesepakatan Negara-negara anggota FAO dalam Konperensi Gizi Dunia di Roma tahun 1992. Pedoman Basic Four/Five diciptakan di Amerika pada Era Protein hewani khususnya susu yang waktu itu dianggap sebagai penentu kualitas atau mutu suatu hidangan. Karena itu muncullah anggapan susunan makanan baru sempurna apabila ada susu (di Indonesia dikenal sebagai Lima Sempurna). Setelah pendulum ilmu gizi bergeser ke zat gizi mikro, tahun 1990an, ditekankan pentingnya keseimbangan antara semua zat gizi (makro dan mikro). Perhatian tidak lagi dipusatkan hanya pada masalah kekurangan protein Sejak itu diperkenalkan pedoman gizi seimbang seperti disebut

xxvi

dimuka. Dalam makalah ini juga diuraikan sepintas sejarah perkembangan pedoman gizi seimbang secara global. Makalah juga menyimpulkan adanya masalah dan kesulitan bagi ilmu gizi dan profesi gizi di Indonesia untuk mengejar ketertinggalannya dari perkembangan di Negara lain, tidak usah dengan Amerika atau Jepang, tetapi dengan Negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, Singapore, dan Pilipina. Makalah juga menyarankan agar profesi gizi di Indonesia membenahi diri sesuai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan kedepan, dan tidak terpukau pada apa yang diketahui dan dipelajari selama ini yang sebagian mungkin sudah usang.
A12

Pengembangan Kebijakan Program Gizi Berdasarkan Hasil Riset Mutakhir Sunarno Ranu Widjojo, SKM, MPH Kepala Puslitbang Gizi dan Makanan, Bogor Meskipun banyak peneliti yang telah bekerja keras untuk menghasilkan riset yang baik, namun tidak banyak hasil riset tersebut yang dimanfaatkan untuk perumusan kebijakan. Penggunaan hasil riset untuk pengembangan kebijakan dipengaruhi banyak hal antara lain oleh kualitas riset itu sendiri dan keberhasilan mengkomunikasikan hasil riset kepada perencana dan pengambil keputusan serta kebutuhan riset para perencana dan pengambil keputusan. Dalam makalah ini akan dibahas tentang pengertian kebijakan dan riset serta bagaimana hasil riset dapat berpengaruh pada kebijakan pada umumnya. Selain riset, akan didiskusikan juga tentang faktor-faktor lain yang mempengaruhi perumusan kebijakan seperti sistem politik, lembaga donor, ketersediaan sumber daya, peranan pakar dll. Untuk memperoleh gambaran tentang peranan riset dalam pengembangan kebijakan gizi di Indonesia, akan disampaikan contoh peranan riset dalam pengembangan kebijakan penanggulangan masalah kekurangan vitamin A, GAKY, anemia gizi besi, dan kekurangan energi dan protein.
A13

Kelapa dan Manfaatnya untuk Kesehatan Prof. DR. Muhilal Dewan Pembina DPP PERSAGI Komposisi nilai gizi makro daging kelapa tua terdiri dari 3,4% protein, 34,7% lemak, 14% karbohidrat, dan 46,9 air. Kandungan zat gizi mikro daging kelapa pada umumnya rendah. Minyak kelapa mengandung lebih dari 50% medium chain triacylglyceral (MCT). Kelebihan MCT dibanding sumber lemak lain antara lain lebih mudah diserap, lebih cepat diutilisasi sebagai sumber energi, tidak menaikkan cholesterol darah, bersifat antibakteri, virus dan jamur (terutama karena kandungan asam laurat dan mono laurin). Karena minyak kelapa tidak teroksidasi dapat menghambat/ mencegah perkembangan kanker dan menghambat pembesaran prostat. Profil lipida darah masyarakat pengguna minyak kelapa pada umumnya pada batasbatas normal dan resiko untuk menderita penyakit kardiovaskuler rendah. Masyarakat

xxvii

pengguna minyak kelapa mempunyai kandungan asam lemak Omega-3 rantai panjang (DHA dan EPA) lebih tinggi, diduga karena efektivitas enzim desaturase dan enzim engolase bekerjanya lebih baik. Galaktomanan yang diisolasi dari ampas kelapa mampu menurunkan kolesterol pada hewan percobaan maupun pada manusia. Penggunaan kelapa serta minyak kelapa menguntungkan kesehatan tidak seperti yang dituduhkan oleh Amerika Serikat pada tahun 1980-an bahwa “tropical oil” (minyak kelapa dan sawit) akan menyebabkan meningkatnya prevalensi penyakit jantung.
A14

Gizi Dalam Keadaan Darurat Dr. Rachmi Untoro, MPH Direktorat Gizi Masyarakat, DepKes. RI, Jakarta Berbagai krisis serta bencana alam yang akhir-akhir ini sering terjadi di beberapa daerah di Indonesia, menimbulkan berbagai masalah baru dalam kehidupan masyarakat. Bahkan pada beberapa kelompok masyarakat di suatu wilayah tertentu terpaksa hidup di tempat-tempat pengungsian dan harus menghadapi berbagai masalah baru, mulai dari masalah psikososial sampai masalah Gizi dan kesehatan akibat terbatasnya sarana kebersihan, sanitasi lingkungan yang kurang memadai maupun terbatasnya ketersediaan pangan. Kekurangan persediaan pangan merupakan masalah potensial dalam setiap kejadian bencana apapun penyebabnya, apabila tidak segera mendapatkan penanganan yang cepat akan meningkatkan risiko menderita penyakit bahkan kematian. Penelitian di pengungsian menunjukkan bahwa kematian anak balita 2-3 kali lebih besar dibandingkan kematian pada semua kelompok umur. Kematian terbesar terjadi pada kelompok umur 0-6 bulan (WHO-UNICEF, 2001). Gizi merupakan salah satu faktor penyebab kematian Bayi dan Balita. Data WHO 2002 menyebutkan sebanyak 54% penyebab kematian Bayi dan Balita dipengaruhi oleh faktor gizi. Upaya untuk mengoptimalkan tata laksana penanganan masalah gizi dalam keadaan darurat sangat diperlukan untuk mencegah memburuknya status gizi masyarakat dan untuk meningkatkan status gizi masyarakat di tempat pengungsian. Penanganan masalah gizi dalam situasi darurat meliputi 2 tahapan yaitu tahap penyelamatan dan tahap tanggap darurat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan masalah gizi pada situasi darurat yaitu, jenis bahan bantuan pangan yang diberikan, jenis PMT yang diberikan serta penanganan masalah gizi khususnya bagi kelompok rawan. Untuk meminimalkan dampak negatif bencana terhadap status gizi penduduk terutama golongan rentan seperti bayi dan anak baduta, intervensi diberikan sesegera mungkin dan tetap memperhatikan jumlah, kualitas dan keamanannya, sehingga setiap bantuan pangan khususnya untuk bayi memerlukan pengawasan khusus dari tenaga kesehatan. Perlu dilakukan surveilens gizi darurat untuk menyediakan informasi yang diperlukan bagi perencanaan pengadaan bahan makanan bagi pengungsi maupun untuk penentuan dan perencanaan intervensi sesuai dengan kondisi pengungsi. Selain itu surveilens ini juga dilakukan dalam rangka memberikan informasi tentang perkembangan keadaan gizi dan pertumbuhan balita dari waktu ke waktu secara teratur dan memberikan informasi yang diperlukan untuk evaluasi efektivitas intervensi serta penentuan keberlanjutan program intervensi tersebut.

xxviii

A15
Program Perbaikan Gizi di Indonesia untuk Masa yang akan Datang Prof.DR.dr. Satoto, SpG Universitas Diponegoro, Semarang

A16

Pemasaran Sosial Gizi Dr. Rudi Pekerti, MPH Praktisi Social Marketing Dikilaskan sejarah pemasaran, dan bedanya dengan pemasaran sosial. Pengertian pemasaran sosial adalah penerapan dan teknik pemasaran untuk mendapatkan manfaat sosial. Dan merupakan perancangan, penerapan, dan pengendalian program yang ditujukan untuk meningkatkan penerimaan suatu praktek atau gagasan sosial tertentu pada suatu kelompok sasaran tertentu. Indonesia telah melakukan pemasaran sosial Lingkaran Biru KB, Kesehatan; oralit ; obat generik, PIN; garam beryodium, Klembu berobat ( anti-malaria ) dan ASI Pemasaran sosial gizi secara teori dnn modelnya termasuk dalam ranah Promosi Kesehatan, diuraikan kategori, macam kegiatan dan etika promosi kesehatan. Pendekatan memakai model PRECEDE, dan ELM dalam kampanye menuju perubahan perilaku baru konsumen untuk mengadopsi produk social yang dikampanyekan. Diuraikan unsur pemasaran sosial, produk, promosi, tempat distribusi atau pemasaran dan harga yang dipusatkan pada target sasaran – konsumen. Dilanjutkan dengan uraian proses pemasaran sosial dan kampanye. Sedapat mungkin diberikan contoh praktek nyata. Kata kunci, Pertama, syarat utama kampanye pemasaran sosial boleh dilaksanakan setelah produk tersedia di tempat pemasaran. Kedua pelajari semua aspek target sasaran. konsumen, dan “ inga-inga ” selalu berubah sesuai lokasi, waktu dan perilakunya. Ketiga, gunakan pengalaman pembelajaran kampanye pemasaran sosial kelambu berobat ( anti-malaria ). Dan secara rinci bisa dilihat tahapan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kampanye garam beryodium, termasuk jeram, jebakan, lihat lampiran. Keempat, pemasaran sosial gizi harus saling melengkapi dengan program gizi yang sudah berjalan. Kelima secara kasar diuraikan peran ahli materi, isi, ahli gizi dengan ahli pemasaran sosial; komunikasi ; perilaku, etnografer dan para ahli lainnya. Khusus untuk pengembangan pesan, proses, kemitraan dengan jejaring stakeholders, lihat lampiran, kasus pengalaman produksi, pemasaran lagu pop song “ Jangan Dulu - Wait a While, My Love., “ penundaan usia kawin bagi kaum, orang muda. Pemasaran sosial kesehatan-gizi yang menggunakan adonan media, haruslah dilengkapi dengan keterseiaan pendidikan kesehatan antar perorangan oleh para petugas kesehatan, sebagai upaya menanggulangi efek samping dan memantapkan konsumen untuk menerima program kesehatan.

xxix

Kesimpulan pemasaran sosial hanya satu upaya dalam promosi kesehatan. Pada umumnya dilaksanakan secara paralel dengan advokasi kesehatan untuk percepatan pencapaian target program / proyek kesehatan, gizi. Pemasaran sosial kesehatan-gizi merupakan perkembangan konsep dan pengetahuan yang dapat digunakan oleh perencana program dan para ahli gizi untuk mempromosikan peningkatan gizi bagi kemaslahatan masyarakat yang membutuhkan.
A17

Pengawasan dan Pengendalian Mutu dalam Pelayanan Gizi di Rumah Sakit Sri Iwaningsih, SKM, MKes RS Dr. Hasan Sadikin, Bandung

xxx

KUMPULAN ABSTRAK SIMPOSIA (abstrak disusun menurut hari, jam, ruangan presentasi) Senin, 21 November 2005, jam 16.15 – 17.30

Ruang A. Gizi Klinik dan Dietetik B01
Analysis of Dietitian Needs Based on Work Activity In Sardjito General Hospital Yogyakarta Susetyowati Instalasi Gizi RS Dr. Sardjito,Yogyakarta

Nutrition care in hospital is an essential part of patient care. Good food can encourage patients to eat well, giving them nutrient they need to recover from surgery or illness. Dietician requirement in nutrition department is needed to assure quality nutritional care for patients. The objective of this study was to analyze dietitian needs for inpatient and outpatient based on work activity. This study was conducted in three months from March to May 2004. There were five steps to calculate dietitian needs: time available for a year period, dietitian main responsibilities, load of each main job, standard for miscellaneous time (meeting, break, praying) and the quantity of dietician main job. The result showed that work activity of dietitian was divided into five categories: service time (communicating with other team members, recording in medical record, etc), nutrition assessment, nutrition intervention, nutrition counseling, nutrition monitoring and evaluation, and administration. In order to do those nutrition and dietetic services fourteen dieticians was needed for in-patients (internal unit, pediatric unit, surgery unit, VIP unit, etc) and two dietitians for out-patients (adult, children and dialysis unit). It is concluded that the number of available dietitians for in-patient and out-patient in Sardjito General Hospital was suitable to do all those services.

B02 Registered Dietitian (RD): A Standardized Qualification in the US
Christina Reger

American Overseas Dietetic Association (AODA)
A dietetic registration is a qualification certificate and is required to practice in many countries. The registration process in the US is highly structured and controlled, ensuring competent dietitians on graduation. This registration process should protect the public from incompetent professionals and standardize education and quality of the profession. In the US, the American Dietetic Association (ADA) is a recognized professional organization for the registration and education of dietetic professionals. The Commission on Accreditation for Dietetics Education (CADE, an independent section of ADA) is the only accrediting body for dietetic education programs recognized by the US government. All didactic programs including internships need CADE approval. The Commission of Dietetic Registration (CDR) manages the licensing of RD, Dietitian Technician Registered (DTR), renal and pediatric specialist dietitian. ADA, CADE and CDR ensure RD meet minimum standards and

xxxi

perform according to established standards of practice and ethics. The education of dietitians is a progressive learning process. At the university knowledge, abilities and basic skills are acquired through didactic courses and some practical training. Followed by a structured supervised practice program/internship in which students gain and show their competence in the focus areas clinical dietetics, food service, community nutrition and business, since most of the RD will later work in one of these areas. 65% of RD will work in clinical & community settings, 13% in food service, and 17% of RD will work in research & consultancy settings. To be eligible for the national RD entry exam the minimum requirements for candidates are (1) at least a BS (S1 in Indonesia) from CADE accredited didactic program or a proof meeting these standards, if graduated from a non-CADE approved program and (2) graduating from a dietetic internship with a minimum of 900 practice hours. The practical training can be completed in either a Coordinated Program (didactic courses and internship in one program) or a separate Dietetic Internship after the didactic program. In any of the dietetic internships the intern will complete 120 competencies, which are minimum requirements set by CADE. They are usual work tasks of a dietitian broken down into “practice units”. For instance a consultation can be broken into the tasks of data gathering, process of consultation, using communication tools, documenting, use of teaching material/ techniques etc. Typical internship facilities for clinical dietetics are hospitals and clinics; for food service are hospital kitchens, catering services, industry, and businesses; for community nutrition are public or private agencies or programs (e.g. WIC), out-patient setting, clinics, and maybe soup kitchens. So called preceptors (e.g. chief dietitian, food service manager) and assigned staff in the internship locations evaluate the intern’s performance based on defined minimum performance levels as approved by CADE. This takes into account completed course work and practical experience gained during the studies. Graduates of the internship will have demonstrated the ability to perform simple to moderately complex professional duties without supervision and are eligible for the national RD exam. Professional development and compulsory continuing education ensures that dietitians will stay competent in their area of practice to maintain overall good professional standards.

B03
Obesitas Abdominal Kaitannya Dengan Sindroma Metabolik: Apakah Merupakan Masalah Kesehatan Masyarakat Di Indonesia?
Martalena Br Purba

Instalasi Gizi RS Dr Sardjito, Yogyakarta Obesitas merupakan salah satu faktor resiko terjadinya berbagai penyakit kronis seperti diabetes mellitus dengan komplikasinya, hipertensi, dislipidemia, osteoarthritis, dan gangguan tidur. Obesitas abdominal secara khusus mempunyai hubungan linier dengan mortalitas dan dapat merangsang resistensi insulin, hipertensi, dan abnormalitas lipoprotein lipase. Data tentang prevalensi obesitas abdominal di Indonesia sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengexplorasi hubungan antara status gizi antropometri dan sindroma metabolik khususnya pada lanjut usia (lansia) Indonesia. Sejumlah 461 sampel lansia di Jakarta dan Semarang diteliti secara crosssectional. Obesitas abdominal diklasifikasikan bila rasio lingkar pinggang terhadap lingkar panggul (RLPP) >0.95 untuk pria dan >0.85 untuk wanita. Ditemukan bahwa RLPP lebih tinggi di Jakarta (1.0) dibanding di Semarang (0.8). Di kedua tempat, pria mempunyai RLPP yang lebih tinggi. Rerata RLPP di Jakarta untuk pria dan wanita sama yaitu 1.0, sedangkan di Semarang 0.9 untuk pria dan 0.8 untuk wanita. Prevalensi obesitas abdominal di Jakarta 37% pada pria dan 54% pada wanita. Di Semarang, prevalensinya 11% pada pria dan 41% pada wanita. Di kedua tempat ditemukan bahwa wanita cenderung lebih tinggi mengalami obesitas abdominal dibandingkan pria. Dengan analisa korelasi Spearman, ditemukan bahwa obesitas abdominal secara positif berasosiasi dengan konsentrasi kolesterol, trigliserida, glukosa, dan homocysteine (koefisien korelasi 0.13, 0.12, 0.13, dan 0.20 berturut-turut dengan nilai p<0,001).
xxxii

Disimpulkan bahwa status gizi khususnya pencegahan obesitas abdominal sangat penting terutama hubungannya dengan penurunan faktor resiko penyakit kardiovaskuler dan sindroma metabolik lainnya.

Ruang B. KIE Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat

B04
Edutainment (education & entertainment) Sebagai Strategi Baru Penyuluhan Kesehatan
Riza Adirza1, Sri W. Sukotjo1, Ismoyowati2, Sunarko2, Ekki Soekarno3, Dorothy Foote1
1

Hellen Keller International, Jakarta, 2Ministry of Health RI 3 Yayasan Ibu Bayi Balita

Penyuluhan kesehatan dengan ceramah sangat berguna, tetapi sering membosankan peserta. Sebuah strategi baru yang lebih menyenangkan diperlukan. Sebagai bagian kampanye nasional dalam usaha mempromosikan Suplementasi Vitamin A di Indonesia telah dilakukan dengan strategi baru yang dinamakan “Edutainment”. Tujuan memberi penyuluhan pada kelompok tertentu tentang kesehatan, dalam suasana entertainment, sehingga proses pembelajaran lebih menyenangkan. Edutainment berasal dari kata education dan entertainment. Isi acara Edutainment biasanya berupa lomba sehat, talk show yang disertai kuis berhadiah, permainan kesehatan, door prize, dan pengumuman pemenang di penghujung acara. Seluruh rangkaian acara harus mendukung tema utama yang ditetapkan. Para sponsor membiayai sebagian besar biaya tersebut. Tokoh panutan masyarakat (Icon) seperti artis atau pejabat pemerintah diusahan berpartisipasi, sehingga dapat menarik minat masyarakat. Promosi melalui iklan radio dan selebaran di tempat strategis dilakukan sebelum acara dilakukan. Pengalaman yang pernah dilakukan yaitu pada saat dua belas pameran kesehatan kerjasama HKI-IBB (Yayasan Ibu, Bayi, dan Balita) tahun 20022004 dibeberapa kota di Indonesia dengan 1.000 – 2.000 pengunjung yang berlangsung sekitar 6 jam. Sebagian besar pengunjung tetap hadir hingga acara selesai. Perlombaan merupakan hal yang sangat disukai, karena mereka mengharapkan hadiah. Edutainment merupakan strategi yang baik untuk penyampaian pesan kesehatan untuk kelompok tertentu dengan suasana yang menyenangkan. Edutainment juga cocok manakala sumber dana untuk penyuluhan terbatas, karena sponsor akan menanggung sebagian besar biaya penyelengaraan.

B05
Dukungan Sistem Informasi Manajemen pada Program Perbaikan Gizi Masyarakat
Mutalazimah

Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Kedokteran, Univ. Muhammadiyah Surakarta Sistem informasi manajemen (SIM) merupakan penerapan sistem informasi di dalam organisasi untuk mendukung informasi yang dibutuhkan tingkat manajemen
xxxiii

oprasional, menengah, dan strategis. menggunakan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software), prosedur pedoman, model manajemen dan database. Sistem informasi kesehatan bidang gizi di kabupaten penting untuk penyusunan kebijakan, perencanaan program gizi, pengalokasian sumberdaya, pemantauan dan evaluasi dampak program gizi. Penelitian ini bertujuan untuk pengembangan sistem pemantauan garam beryodium dan pemantauan status gizi balita dengan melakukan perancangan input, proses dan output melalui perancangan basis data berupa software komputer dari tampilan menu utama, input data, sampai pelaporan berupa rekap data tingkat kecamatan, kabupaten, serta grafik. Metode yang digunakan adalah model FAST (Framework for the Application of System Techniques). Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi kepada pihak terkait. Hasilnya menunjukkan bahwa penyebab masalah sistem informasi pemantauan garam beryodium dan status gizi adalah kecepatan, kemudahan, kelengkapan, dan aksesibilitas informasi gizi dari tingkat operasional sampai strategis. Permasalahannya bermula dari proses pengolahan data, proses penyimpanan data, sampai menjadikan data menjadi informasi. Pengembangan software komputer dan implementasi di lapangan menunjukkan bahwa dengan dukungan SIM sangat bermanfaat untuk perencanaan program gizi sampai dengan evaluasi, lebih mudah sharing data dan informasi lintas program maupun lintas sektor, dan memudahkan koordinasi. SIM sangat diperlukan untuk mempermudah pengolahan dan analisis data program gizi masyarakat dengan kelebihan dapat meningkatkan kecepatan, ketepatan, kemudahan akses dan penyimpanan data, serta kemudahan pembuatan laporan.

Ruang C. Gizi Masyarakat dan Gender

B06
The Role of Zinc and Vitamin A in Dark Adaptation Ability: A Study of Primary School Children in Kedungjati, Grobogan district Hagnyonowati1, Endang Purwaningsih2, Laksmi Widajanti3 1 Nutrition Division, Kariadi Hospital, Semarang 2 Nutrition Department, Medical School, The University of Diponegoro, Semarang 3 Post-grad program in Community Nutrition, The Univ. of Diponegoro Semarang Dark adaptation ability is one of visual function which has an association with eyes ability to recover after receiving a light exposure in a certain time (Sommer, 1982). Zinc deficiency could contribute to night blindness, an early symptom of vitamin A deficiency. Furthermore, zinc supplementation has been shown to give a significant effect on dark adaptation ability in children. This study is to determine the relationship between zinc deficiency and vitamin A toward dark adaptation ability in primary school children in Deras village, Kedungjati, Grobogan district. This study is an observational study by using cross-sectionals approach. Total sample was 51 primary school children grade 5 at two primary schools. Data was collected by health professionals including general practitioners, ophthalmologist, nutritionist, and nurses. Dark adaptation ability was measured by using a Photostress test method. Blood sampling was used to determine zinc and retinol status, and dietary survey was done to

xxxiv

determine zinc and vitamin A intake. Logistic regression was used to test hypothesis. The study found 21.6% of samples had lower level of dark adaptation ability (< 50 seconds), 33.3% experienced zinc deficiency, 15.7% suffered from vitamin A deficiency based on blood serum examination, and zinc intake was less than 0.7 mg per day. Logistic regression analysis showed an increased risk in children suffering from zinc deficiency (prevalence ratio = 21.6) and vitamin A deficiency (prevalence ratio = 45.9) to dark adaptation ability.

B07
Perbedaan Intake Zat Gizi dan Status Besi pada Wanita Vegetarian di Kabupaten Badung, Provinsi Bali M. Dawam Jamil1, Hamam Hadi2, Ni Wayan Yogianti3 Program Studi S-1 Gizi dan Kesehatan FK-UGM Yogyakarta 2 Center for Health Human Nutrition (CH2N), FK UGM Yogyakarta 3 Dinas Kesehatan Propinsi Bali
1

It has been known that vegetarian does not eat animal products which are considered as a source of heme iron. The objective of this study is to measure the difference in nutrient intakes and iron status between vegetarian (V) and non vegetarian (NV) women. This observational study was conducted in Badung regency, Bali in 2002 involved 48 V and 48 NV women aged 18 - 45 years. Hemoglobin and ferritin levels of the subjects were measured at the beginning of the study and 3 months later. Nutrient intake of all subjects were collected using Food Frequency Questionnaire. Hemoglobin level was measured using cyanmethemoglobin method while serum ferritin was measured using ELISA method. Data analysis was supported using statistical software.Results show that the mean of protein intake in vegetarian women was 44.3 ± 13.8 gr/ d (mean ± SD). The mean of protein intake in NV women was 62.8 ± 21.3 gr/ d or 14.5 gr/ d higher than found in V group (p< 0.05). The mean of iron intake originally from vegetables was 16.3 ± 7.0 mg/ d and 9.8 ± 4.3 mg/ d in V and NV, respectively. While the mean of iron intake from animal products was 0.03 ± 0.05 mg/ d and 3.01 ± 2.06 mg/ d in V and NV women, respectively. The mean of serum ferritin in V subjects was 22.7 ± 15.1 µg/ ml whereas the mean of serum ferritin in NV was 46.9 ± 28.7 µg/ ml or 25.4 µg/ ml higher than that in V subjects (p < 0.05). There was no significant difference in hemoglobin level between vegetarian and non vegetarian women. There were significant differences in protein, iron intakes and serum ferritin between V and NV women but no difference found in hemoglobin level.

B08
Pengembangan Surveilans Sentinel GAKI dengan Indikator UIE pada Kelompok Rawan
Untung S. Widodo

Balai GAKY, Magelang

xxxv

Penanggulangan GAKY memerlukan program yang berkelanjutan. Salah satu ciri program yang berkelanjutan adalah bila dilaksanakan kegiatan surveilans. Dalam surveilans GAKY ada 4 indikator yang harus dipantau salah satu diantaranya adalah kadar yodium dalam urine (UIE) kelompok sentinel sekali setiap 1-2 tahun untuk menilai tingkat pencapaian program. Penelitian dilakukan di 15 Kabupaten endemik hasil pemetaan GAKY nasional tahun 2003. Resurvei palpasi gondok dilakukan pada anak sekolah satu SD untuk setiap desa. Hasil tabulasi setiap desa dapat diketahui TGR untuk setiap kecamatan. Kecamatan terberat yang dipilih sebagai daerah sentinel (sentinel area). Dari masing-masing kecamatan terpilih diambil secara random masingmasing 600 sampel urine dari WUS, ibu hamil dan anak sekolah. Seluruh sampel yang diperiksa dilakukan ujibeda antar WUS ibu hamil dan anak sekolah, untuk mengetahui kelompok yang paling rentan. Hasil resurvei ternyata menunjukkan perbedaan yang sangat bermakna. Di 15 kabupaten endemik dengan pemeriksaan palpasi terhadap 105010 orang anak SD diperoleh TGR 9,7 %, (sebelumnya13,35 %). Jumlah Kabupaten endemik turun menjadi tinggal 8 saja, satu endemik berat Temanggung, satu endemik sedang Wonosobo dan 5 endemik ringan, 7 lainnya non endemik. Secara keseluruhan Jawa tengah masih berada pada status endemik ringan. Hasil pemeriksaan tehadap total 9000 sampel urine menunjukkan bahwa kelompok yang paling rawan adalah ibu hamil yang tidak berbeda nyata dengan kelompok WUS, tetapi keduanya berbeda nyata dengan kelompok anak sekolah. Maka kelompok rawan yang layak untuk dipantau UIEnya adalah ibu hamil dan/atau WUS.

xxxvi

Selasa, 22 November 2005, jam 14.00 – 15.30

Ruang A. Ketahanan Pangan

B09
Indikator Ketahanan Pangan Rumahtangga Miskin
Iman Sumarno

Puslitbang Gizi dan Makanan, Bogor Untuk waktu yang sangat lama, indikator yang digunakan untuk menilai keadaan pangan suatu daerah berpusat pada data produksi pangan. Akibatnya data untuk perkotaan menjadi tidak tersedia. Indikator yang digunakan berkisar dari produksi perkapita penduduk, yang kemudian disempurnakan dengan neraca bahan makanan. Semua indicator yang digunakan didasarkan pada asumsi bahwa pangan dibagi secara merata seluruh penduduk. Padahal distribusi tidak merata. Upaya telah dilakukan untuk lebih menggambarkan distribusi antara kelompok bukan petani dan petani menurut strata kepemilikan sawah dengan matrik input-output (Food Accounting Matrix) bahan pangan pokok terutama beras. Misalnya seorang penguasa sawah luas, produksinya sebagian diberikan kepada buruh tani sebagai upah, digunakan untuk bayar zakat dan sisanya dijual ke pasar. Sedangkan untuk keperluan konsumsi dia membeli beras kualitas bagus di pasar. Namun matrik ini tidak dapat diterapkan di Indonesia karena data tidak tersedia. Dalam kenyataan kondisi pangan kelompok kaya selalu aman, karena itu yang perlu dipantau adalah kelompok miskin. Dulu SIDI gunakan riwayat krisis pangan, yang pada dasarnya berisi gangguan akses terhadap pangan. Ini lebih sesuai diterapkan terutama karena sumber mata pencarian bukan hanya dari produksi pangan. Buruh tani pun mempunyai beberapa pekerjaan karena satu sumber tidak dapat mencukupi kebutuhan pangan rumahtangga. Gangguan akses bisa karena bencana, gangguan musim, dan/atau menurunnya daya beli seperti; gangguan moneter, kenaikan harga bahan bakar, turunnya harga cengkeh, tembakau, karet dsb. Untuk memperkirakan apakah gangguan tersebut mencapai titik picu pada kurang pangan diperlukan survey dasar yang mempelajari sumbangan setiap mata pencarian terhadap ketersediaan pangan pada rumahtangga miskin saja.

B10
Ketahanan Pangan Tingkat Rumahtangga dan Pemenuhan Gizi Seimbang Atmarita Direktorat Gizi Masyarakat, Depkes RI, Jakarta Ketahanan pangan tingkat rumahtangga menjadi issue penting untuk pemenuhan gizi seimbang penduduk Indonesia agar masalah gizi kurang maupun gizi lebih dapat dicegah. Pada tahun 2004, dari 217 juta penduduk Indonesia diperkirakan 50% menghadapi masalah defisit konsumsi makanan yang berdampak pada tingginya prevalensi kurang gizi dan di pihak lain 10-15% konsumsi makanannya berlebihan
xxxvii

yang berdampak pada kecenderungan meningkatnya masalah gizi lebih. Strategi program perbaikan gizi 2005-2025 diarahkan pada ketahanan pangan tingkat rumah tangga yang harus melihat dua sisi kelurangan dan kelebihan konsumsi makanan. Analisis agregat tingkat kabupaten dilakukan pada data Susenas kor 2003 dan 2004 untuk mengkaji masalah ketahanan pangan rumahtangga dari data pengeluaran konsumsi makanan. Analisis juga membandingkan tingkat ketahanan pangan rumahtangga yang dibagi menurut quintile. Hasil analisis menunjukkan bahwa rumahtangga yang tergolong miskin yaitu quintile-1 (Q1) and quintile-2 (Q2) di wilayah perkotaan dan perdesaan mengeluarkan 65-68% dan 70-72% dari total pengeluaran untuk konsumsi makanan. Sedangkan rumahtangga kelompok terkaya yaitu quintile-5 (Q5), pengeluaran untuk konsumsi makanan lebih rendah yaitu 50% di perkotaan dan 60% di perdesaan. Analisis pemenuhan gizi seimbang dilakukan berdasarkan ratio pengeluaran untuk masing-masing sumber pangan: energi, protein, sayur, buah, dan makanan jadi. Ratio pengeluaran untuk sumber energi pada penduduk miskin (Q1 dan Q2) baik di perkotaan mapupun perdesaan lebih besar dibanding penduduk kaya (Q5). Sebaliknya ratio pengeluaran untuk makanan jadi pada kelompok Q5 cenderung lebih besar dari kelompok Q1 dan Q2. Kesimpulan kajian ini adalah ketahanan pangan tingkat rumahtangga masih perlu mendapat perhatian terutama pada rumahtangga miskin, sementara untuk rumahtangga kaya sudah mulai harus dicegah untuk tidak mengkonsumsi makanan jadi yang pada umumnya rendah serat dan tinggi lemak.

Ruang B. Pangan Fungsional B11
Nutritional and Clinical Aspects of Virgin Coconut Oil M. Poppy Herlianti Jurusan Gizi, Poltekkes Jakarta Virgin Cocont Oil (VCO) is a clear coconut oil produced by using fresh coconut meat or what is called ‘non-copra’. Coconuts used to produce VCO are local coconuts, not hybride coconuts. Chemical, food colouring, preservatives & high heating are not used in further refining. VCO contains no trans fatty acids, and it is very stable with a shelf life of several years (5 yrs). VCO is made from fresh coconuts and has a distinct aroma with coconut taste. Tasteless coconut oils are probably made from copra, not fresh coconuts. A VCO does not need to be refined while a CO is refined. VCO has no carbohidrat, no sugar, no protein. Saturared fatty acid is 90 % and unsaturated fatty acid is10 %. Saturated fatty acids are composed of caprilic 3.28 %, capric 7.17 %, lauric 58.8 %, miristic 17.8 %, palmitic 6.39 %, stearic 1.68 %. Unsaturated fatty acids consist of oleic 3.39% and linoleic 0.83%. VCO has a medium chain fatty acid which is easily metabolised than a long chain. VCO with both lauric (12 C) and capric (10 C) has potential activity to come in the outer lipid layer virus. Medium chain fatty acid is “insulin independent“, means it can produce fast energy in all physiologis condition. Un-VCO cooking oil needs lipase enzym and bile acid in the digestion process. This needs a long journey in which long chain fatty acid tends to affect profil lipid with complications such as hipertention, plaque, coronary heart
xxxviii

disease, stroke. Experimental study shows that replacement of dietary long-chain (LCT) from medium–chain (MCT) may lead to increase energy expenditure and satiety in human, however the exact mechanism has not been established. Another research found that HDL cholesterol was significantly higher after consuming a high saturated fatty acid than high, mono & poly unsaturated fatty acids. There is a lack of research especially on the effect VCO to lipid profil, energy expenditure, a potent antibacterial/ microba, immunitas, reduce weight gain etc. In general, a further research of VCO is important beucase it can rehabilite the name of tropical oil.

B12
Asupan Antioksidan dan Penyakit Jantung Koroner pada Lansia
Eva Ardiana, Idrus Jus’at, Maria Poppy Herlianti, dan Iskari Ngadiarti

Program Studi Ilmu Gizi, Universitas Indonusa Esa Unggul, Jakarta Saat ini penyakit jantung merupakan penyebab terpenting dari angka kesakitan (morbidity) dan kematian (mortality) pada kebanyakan negara, yang sebagian disebabkan oleh pertambahan penduduk berusia lanjut. Beberapa penelitian epidemiologi observasional menyatakan bahwa risiko penyakit jantung koroner 20-40 persen lebih rendah pada mereka yang asupan makanan atau kadar serum vitamin antioksidannya tinggi. Penelitian ini bertujuan mempelajari hubungan asupan antioksidan dengan penyakit jantung koroner pada lansia. Sampel adalah responden lansia yang memenuhi persyaratan dijadikan kasus dan kontrol. Jumlah sampel kedua kelompok, masing-masing 144 orang yang diupayakan ’match’. Data dikumpulkan melalui wawancara meliputi karakteristik responden, asupan makanan sumber antioksidan dan kolesterol, jenis penyakit, kebiasaan merokok, dan kegiatan olahraga. Khusus asupan antioksidan dan kolesterol diperoleh dengan teknik frekuensi makanan semi-kuantitatif. Dengan uji odds ratio, asupan vitamin A, C, dan E di bawah 90% RDA serta kolesterol >200 mg/hari mempunyai risiko menderita penyakit jantung (p<0,05). Namun, tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara asupan selenium dan kebiasaan olahraga dengan penyakit jantung. Analisis khusus kelompok pasien laki-laki menunjukkan bahwa variabel merokok tidak berpengaruh terhadap kejadian penyakit jantung (p>0.05). Uji regresi logistik memperlihatkan peran vitamin C, vitamin E dan kolesterol sebagai faktor risiko kejadian penyakit jantung (p<0,05). Petugas gizi sebaiknya memberi informasi dan penyuluhan kepada pasien mengenai pentingnya asupan antioksidan dan sumber antioksidan dalam kaitannya dengan penyakit jantung.

B13
Efek Hipokolesterolemik Probiotik Indigenous dan Yogurt pada Tikus Sprague Dawley (Hypocholesterolemic Effect of Indigenous Probiotic Culture and Yoghurt in Sprague Dawley Rats) Lily Arsanti Lestari1, Eni Harmayani2, Y. Marsono2 1 Program Studi Gizi Kesehatan, FK-UGM, Yogyakarta 2 Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fak. Teknologi Pertanian, UGM

xxxix

Probiotic was believed as an agent of lowering serum cholesterol level. However, the information about it is still controversy. Lactobacillus sp Dad13 is an indigenous probiotic culture isolated from traditional fermented milk. In vitro study proved that Lactobacillus sp Dad13 possesses the ability to assimilate cholesterol and deconjugate bile acids, however in vivo study hasn’t been done yet. The purpose of this research was to study the ability of Lactobacillus sp Dad13 and yoghurt which supplemented with Lactobacillus sp Dad13 to reduce serum cholesterol level. Twenty four male Sprague Dawley rats, 2 months old were divided into four groups and fed with an AIN-93 diet ad libitum. Rats were fed with standard diet (1 wk) and hypercholesterol diet (1 wk). At the end of the week, lipid profile was measured. Each group were then treated with 10% sterile skimmed milk, as control, Lactobacillus sp Dad13 culture, yoghurt, and yoghurt which supplemented with Lactobacillus sp Dad13 culture 1 ml each. The treatments were given by force feeding. The treatments were assigned for 4 wk and at the end of treatments, serum lipid profile, physical, chemical, and microbiological properties of cecal contents i.e. weight, water contents, pH, cholesterol, and total lactic acid bacteria were analyzed. The results showed that total cholesterol, high density lipoprotein (HDL), triglyceride (TG), low density lipoprotein (LDL), and LDL/HDL ratio decreased significantly (P<0,05). The highest reduction of total cholesterol, approximately 39,8%, was found in the group treated with suspension of Lactobacillus sp Dad13 culture. Probiotics culture feeding increased lactic acid bacteria population in cecal contents. Cholesterol level of cecal contents corresponds with low cholesterol level of serum. It can be concluded that Lactobacillus sp Dad13, an indigenous probiotic culture, was proved to posses hypocholesterolemic effect and can be developed as functional food.

Ruang C. Teknologi Pangan B14
Pemanfaatan Susu Segar yang Ditolak Sebagai Sumber Protein Rendah Laktosa

Heru Yuniati, Erwin Affandi Puslitbang Gizi dan Makanan, Bogor Tidak semua susu segar dari peternak dapat diterima oleh Koperasi Pengumpul Susu (KPS) untuk disalurkan ke Industri Pengolah Susu (IPS) Susu segar harus memenuhi beberapa persyaratan baik kimia maupun fisik. Walaupun demikian susu yang disingkirkan ini bernilai gizi tinggi dengan kadar protein 3.4 g%, yang masih bisa dimanfaatkan. Oleh karena itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk memanfaatkan susu segar yang ditolak KPS menjadi susu rendah laktosa untuk anak/bayi dengan status gizi buruk atau intoleran terhadap laktosa. Bahan (sampel) yang digunakan adalah susu segar yang ditolak IPS dan diambil dari Koperasi Pengumpul Susu (KPS) Cipanas dan Pengalengan. Analisis komposisi sampel meliputi penentuan kadar protein, kadar lemak, kadar abu, kadar air, kadar laktosa, glukosa, uji mikrobiologis dan uji biologis. Analisis dilakukan di Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi Bogor, Badan Litbang Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Hasil penelitian menujukkan bahwa penurunan kadar laktosa pada susu fermentasi
xl

menggunakan bakteri Laktobacillus bulgaricus lebih baik dibanding susu dengan proses enzimatis menggunakan laktase. Pada uji mikrobiologis dengan indikator mikroorganisme pencemar, susu hasil penelitian ini masih memenuhi Standar Nasional Indonesia/ Dewan Standarisasi Nasional 1992.Uji biologis terhadap hewan percobaan baik pada berat badan maupun pengukuran Hb dan Ht, dengan uji statistik tidak berbeda nyata (p > 0.05). Jadi susu segar yang ditolak oleh Industri Pengolah Susu masih dapat dimanfaatkan menjadi susu yang kadar laktosanya rendah , namun sumber protein dan lemaknya masih tinggi.

B15
Pengaruh Pengolahan Bahan terhadap Indeks Glikemik Berbagai Makanan

Uken SS. Soetrisno, Rossi R. Apriyantono Puslitbang Gizi dan Makanan, Bogor Peranan sumber karbohidrat (KH) yang menyumbang energi terbesar masih jarang diperhitungkan. Besar partikel, jumlah dan susunan molekuler karbohidrat makanan sangat menentukan daya cerna dan daya guna sebagai sumber gula dalam darah, disamping pengaruh zat gizi lain serta cara pengolahan. Kecepatan karbohidrat makanan menjadi gula darah berbeda-beda, hal ini penting diketahui untuk penerapan sehari-hari. Untuk berkonsentrasi belajar, mencegah kegemukan atau jenis olah raga tertentu memerlukan ketersediaan karbohidrat yang berlainan. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh cara pengolahan makanan jajanan yang benilai gizi dan disukai citarasanya serta mengetahui indeks glikemik makanan tersebut. Makanan diformulasikan dari 5 sumber karbohidrat kompleks dan 5 sumber protein, yang diolah pada pH (4.2-9.8) dan suhu (65-135oC). Setelah kering dijadikan tepung halus atau tepung kasar. Bahan dijadikan makanan dengan penambahan minyak atau santan atau kelapa parut untuk menambah citarasa. Analisis zat gizi dilakukan terhadap bahan dasar dan makanan yang dihasilkan. Pengujian mutu organoleptik makanan dilakukan oleh panelis wanita dan anak SD, sedangkan indeks glikemik (IG) makanan ditentukan in vivo menggunakan wanita usia 25-40 tahun tanpa penyakit metabolik. Data disajikan secara deskriptip. Hasil penelitian, makanan yang disukai berdasarkan bau dan aroma tepung yang direndam pada pH 5.8-9.6 dan dikeringkan pada suhu 73121oC. Bahan sumber KH setara 300 Kkal mengandung protein 2.8 + 1.4 g, KH 70 + 2.2 g dan IG= 91 + 8; sedangkan bahan sumber protein mengandung protein 21.4 + 8.0 g, KH 31.8 + 17.6 g dan IG 75 + 13. Dari 15 makanan dengan ukuran porsi setara dengan 300 Kkal mengandung protein 7.2 + 0.8 g, lemak 9.2 + 3.9, KH 58 + 5.9 dan IG 77 + 9. Kesimpulan, kombinasi bahan dasar menghasilkan makanan dengan kandungan zat gizi yang lebih baik serta ukuran berat porsi yang lebih kecil, dengan indeks glikemik rata-rata termasuk kelompok IG sedang. Pengetahuan tentang indeks glikemik makanan sebaiknya lebih disebar luaskan agar masyarakat dapat memilih makanan berdasarkan pengelompokan IG rendah, sedang dan tinggi sesuai kondisi dan kebutuhan tubuh.

xli

B16
Formulasi Cookies untuk Diet Rendah Energi dan Tinggi Serat Ika Dwi Astutik, Yohanes Kristianto Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan, Malang Salah satu upaya untuk menekan komplikasi yang berhubungan dengan tingginya prevalensi obesitas adalah menyediakan produk makanan rendah energi dan tinggi serat. Produk tersebut juga bermanfaat untuk membantu mencukupi kebutuhan konsumsi serat masyarakat yang kini hanya mencapai separo dari kebutuhan. Tujuan penelitian ini adalah membuat cookies rendah energi dan tinggi serat dengan memanfaatkan sumber serat dari ampas apel. Pembuatan produk dilakukan dengan mensubstitusikan tepung ampas apel terhadap terigu ke dalam formula cookies. Tingkat substitusi yang digunakan adalah 0, 20, 40, dan 60% dimana tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Pembuatan produk dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Mutu produk akhir dinilai dari segi karakter fisik, gizi, dan sensorik. Untuk melihat pengaruh substitusi digunakan tes one-way Anova dan Kruskall-Walis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subtitusi tepung ampas apel terbaik dilakukan sampai tingkat 40%. Dengan cara ini cookies yang dihasilkan mengandung energi 1.7% lebih rendah dan serat 21.37% lebih tinggi dari formula standar. Kadar protein cookies adalah 7.08% dan memenuhi standard SNI. Substitusi tepung ampas apel tidak menyebabkan penurunan mutu sensorik yang signifikan (p>0.05) terhadap warna dan aroma. Produk dengan level substitusi tersebut adalah yang paling disukai rasanya oleh panelis. Konsumsi cookies tepung ampas apel dengan level substitusi 40% sebanyak 40g (5 keping) menyediakan energi 146 Kal atau 97.44% kebutuhan energi sekali snack diet rendah energi 1500 Kal. Dalam waktu yang sama jumlah tersebut dapat mencukupi 26.64% kebutuhan serat sehari.

Selasa, 22 November 2005, jam 16.00 – 17.30

Ruang A: Gizi Klinik dan Dietetik B17
Hubungan Antara Konsumsi Casein, Gluten dan Pola Aktivitas yang Khas pada Anak Penyandang Autis di Poli Rawat Jalan RS Sanglah, Denpasar
GA Dewi Kusumayanti, I Putu Suiraoka, Hertog Nursanyoto

Poltekkes Denpasar Makanan sumber gluten dan casein tidak diperbolehkan bagi anak penyandang autis, karena termasuk protein yang sulit dicerna, sehingga akan memicu terjadinya peptida rantai pendek (hanya terdiri atas 2 atau 3 asam amino). Peptida ini diserap kembali dalam darah dan ketika tiba di otak akan berubah menjadi casomorphin dan

xlii

gluteomorphin, yang seratus kali lebih jahat dari morfin biasa. Karena berpotensi mempengaruhi susunan saraf pusat, maka gluten dan casein harus dihindari oleh anak penyandang autis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola konsumsi casein dan gluten dan pola aktifitas yang khas pada anak autis. Sampel 30 anak penyandang autis yang menjalani terapi di Poli Rawat Jalan RS Sanglah Denpasar. Data jenis, frekuensi, dan jumlah bahan makanan sampel diolah untuk menaksir tingkat konsumsi casein dan glutennya, sedangkan pola aktifitas yang diobservasi adalah pola spesifik pada anak penyandang autis seperti: tidak ada kontak mata, keterlambatan bicara/ berkomunikasi, hiperaktif, tidak ada respon bila dipanggil, emosinya sangat tinggi dan hipersensitivitas terhadap rangsangan bau dan suara. Hasil analisis menunjukkan rerata konsumsi gluten pada anak hipersensitif 37,3±35,1% sedangkan yang tidak hanya 30,1±21,6%. Pada anak dengan emosi tinggi rerata konsumsi glutennya 32,9±26,4% sedangkan yang tidak 30,1±22,5. Penampakan ciri anak penyandang autis yang lain yaitu tidak ada respons jika dipanggil juga menampakkan rerata konsumsi gluten yang berbeda. Pada anak yang tidak merespons reratanya 33.5±25,4%, sedangkan yang tidak hanya 29,6±23,0%. Untuk konsumsi casein diperoleh rerata konsumsi 37,6±34,7% pada anak hipersensitif dan 24,0±19,7% pada yang tidak. Pada anak dengan emosi tinggi rerata konsumsi caseinnya tidak berbeda dibanding dengan yang tidak (25,3% vs 26,9%), demikian pula halnya dengan pola respons terhadap panggilan (26,2% vs 26,3%). Dari deskripsi hasil di atas dapat disimpulkan terdapat kecenderungan pola aktifitas yang khas pada anak penyandang autis terutama pada mereka yang tetap mengkonsumsi casein dan gluten dalam jumlah tinggi. Disarankan hal ini perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut dan dapat dijadikan sebagai kajian penting dalam penatalaksanaan diet bagi anak penyandang autis.

B18
Manajemen diet pada anak dengan penyakit jantung bawaan Sianosis dan Asianosis di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita Nora Setyafitri Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta Penyakit Jantung Bawaan (PJB) ialah kelainan susunan jantung yang sudah terjadi ketika bayi masih dalam kandungan. PJB di Indonesia semakin sering ditemukan. Bukan berarti angka kejadiannya bertambah atau melebihi kejadian di negara-negara lain, tetapi karena kemampuan diagnosis yang semakin meningkat. Dalam upaya pengobatan PJB pada bayi dan anak, di samping tindakan medis ataupun bedah, penatalaksanaan dan pengaturan diit yang mencukupi merupakan unsur pendorong yang turut menentukan keberhasilan pengobatan. Hubungan antara PJB dengan malnutrisi dan retardasi pertumbuhan bayi dan anak telah banyak disebutkan dalam kepustakaan. Sebagai konsekuensinya diperlukan manajemen pengaturan diit untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada bayi dan anak dengan PJB. Faktor penyebab terjadinya gangguan pertumbuhan & malnutrisi pada bayi dan anak dengan PJB diklasifikasikan dalam, faktor - faktor prenatal dan genetic, hipoksia dan hemodinamik, asupan makanan, syarat metabolisme serta penyerapan zat makanan. Strategi pemberian makanan pada anak penderita PJB adalah mengembalikan keadaan gizi anak yang mengalami penurunan masukan kalori dengan peningkatan energi sehingga dicapai tumbuh

xliii

kejar yang optimal. Masukan energi yang dibutuhkan sebesar 75-120 Kkal/kg BB/harr (tergantung usia anak). Sumber energi diperoleh dari karbohidrat sebesar 35 % - 65 % dari energi total, karbohidrat sebaiknya diberikan yang mengandung glukosa polimer. Protein 8 % - 10 % adalah protein hidrolisat. Lemak 35 % - 50% sebaiknya adalah MCT ( Medium Chain Tryglicerida ) serta didukung oleh zat-zat gizi lainnya seperti natrium, kalium, vitamin dan zat besi. Pada kondisi khusus misalnya anak dengan PJB yang berat memerlukan strategi pemberian makanan yang sedikit berbeda dengan meningkatkan pemberian energi untuk mencapai tumbuh kejar yang adekuat. Yang penting dipantau adalah kenaikan berat badan dan toleransi anak terhadap makanan yang diberikan. Intervensi gizi dengan tinggi energi ini telah terbukti dapat meningkatkan berat badan yang bermakna. Pada tindakan sebelum dan sesudah operasi diperlukan perbedaan strategi dalam pemberian makanan. Pada pasien dengan kurang gizi berat yang akan dilakukan tindakan operasi baik paliatif ataupun koreksi total dilakukan program gizi yang lebih intensif untuk meningkatkan status gizinya meskipun tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Pemberian makanan pasca operasi harus segera dimulai atau paling lambat dalam waktu kurang dari 48 jam. Nutrisi parenteral total atau nutrisi parenteral melalui perifer dapat dilakukan apabila pasien menggunakan ventilasi mekanik dalam jangka waktu lama. Bila keadaan memungkinkan pemberian makakan secara enteral baik dengan pipa makanan atau secara oral harus segera dimulai. Makanan secara enteral lebih memberikan beberapa keuntungan dibanding nutrisi secara parenteral.

B19
Tatalaksana Diet Batu Ginjal/ Batu Saluran Kemih Saat Ini
Triyani Kresnawan

RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Penyakit batu ginjal/ batu saluran kemih sudah lama dikenal, konon sejak 30005000 tahun sebelum Masehi. Penyakit batu saluran kemih sering ditemukan dinegara miskin, sedangkan batu ginjal banyak ditemukan dinegara kaya. Terjadinya batu banyak ditemukan pada pria dibandingkan wanita. Baberapa faktor resiko penyebab terbentuknya batu adalah gender, terjadinya infeksi saluran kemih, imobilisasi, pola makan, hiperkalsiuria, hiperoksalouria, hiperurikosuria, tidak normalnya PH urin, serta rendahnya volume urin. Upaya pencegahan kekambuhan terjadinya batu tergantung komposisi jenis batu. Berdasarkan data epidemiologi komposisi batu 80% batu kalsium, yang terdiri dari kalsium dan oksalat, kalsium dan fosfat atau kalsium dan asam urat. Pola makan dan minum yang dianjurkan untuk mencegah kekambuhan semua jenis batu adalah minum banyak 2-3 liter, kurangi garam dapur, asupan protein sedang sesuai anjuran 0.8-1 g/kgBB/hari, dengan protein hewani maksimal 250 gr/hari, meningkatkan serat, kurangi oksalat. Diet pada masa lalu untuk batu kalsium adalah rendah kalsium 300 mg tinggi sisa asam, asupan cairan 2500 ml/hari. Pada saat ini diet yang dianjurkan dengan asupan kalsium normal ± 1000 mg/hari. Diet terlalu rendah kalsium ternyata akan meningkatkan berulangnya kejadian batu, meningkatkan pengeluaran kalsium dari tulang, serta absorbsi oksalat yang meningkat sehingga menyebabkan hiperoksalouria yang merupakan faktor terbentuknya batu. Pada prinsipnya penatalaksanaan diet pada batu ginjal/batu saluran kemih dengan komposisi kalsium adalah minum banyak, protein tidak berlebihan, kurangi asupan garam dan tidak rendah kalsium. Dalam pelaksanaannya diet untuk batu ginjal adalah sesuai

xliv

dengan komposisi menu siembang dan penambahan sumber kalsium. Untuk itu diperlukan suatu pedoman baru tata laksana Diet Batu Ginjal / Batu Saluran Kemih.

Ruang B. Gizi Institusi B20
Analisis Beban Juru Masak di Unit Produksi Makanan RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta SA. Budi Hartati, Triyani Kresnawan, Kusindrati Sudibyo, Quthrotur Rodliyah RS. Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta Perubahan status RSCM menjadi organisasi yang berstatus Perusahaan Jawatan, membuat RSCM lebih menekankan prinsip efisiensi termasuk dalam penggunaan SDM. Keluhan pasien tentang mutu makanan sangat dipengaruhi mutu SDM dan disisi lain ada masalah kekurangan tenaga menjadi dasar dilakukannya penilaian ulang beban kerja pelaksana gizi. Studi ini bertujuan menganalisis beban kerja pelaksana gizi yang bertugas di Unit Produksi Makanan RSCM. Sampel diambil secara purpossive sebanyak 23 orang dan pengumpulan data dilakukan dengan cara Time and Motion Study melalui pengamatan dan pencatatan semua aktifitas yang dilakukan oleh juru masak selama 3 hari. Analisis dilakukan dengan membandingkan antara pelaksanaan tugas yang sudah tertulis dalam uraian jabatan dengan hasil pengamatan. Jumlah waktu yang ditentukan untuk melaksanakan tugas juga dihitung dan dibandingkan dengan jumlah jam efektif yang sesuai dengan peraturan RS, yaitu 37,5 jam perminggu bagi yang mengikuti aturan 5 hari kerja. Hasil studi menunjukkan dari 23 pelaksana gizi, 6 orang (26,2%) belum memenuhi uraian tugasnya, dan 8 orang (34,8%) melaksanakan tugas lebih karena mendapat beban tambahan tugas lain yang tidak tertulis dalam uraian tugas. Mengenai pemanfaatan waktu, 6 orang (26,1%) memanfaatkan waktu kurang dari jam kerja efektif dan 11 orang (47,8%) pelaksana gizi melaksanakan tugas melebihi dari jam kerja efektif. Sebanyak 5 orang pelaksana gizi yang melaksanakan tugas melebihi uraian tugasnya adalah mereka yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun dan menduduki jabatan sebagai Kepala Kelompok. Bila ditinjau dari waktu istirahat ternyata 15 orang (65,2%) pelaksana gizi beristirahat melebihi waktu yang ditentukan.Sebagian besar 13 orang (55,5%) pelaksana gizi pada makanan kelas 1,2,3 ternyata menggunakan waktu kerja lebih sedikit dibandingkan pelaksana gizi pada pengolahan makanan VIP yaitu 1 jam 16 menit. Disarankan untuk melakukan analisis pekerjaan ulang agar semua beban kerja masuk ke dalam uraian tugas, meningkatkan pengawasan dalam pelaksanaan istirahat dan meninjau ulang jam kerja efektif.

B21
Pengembangan Aplikasi Manajemen Pelayanan Gizi Rumah Sakit Berbasis Komputer Dalam Upaya Meningkatkan Efektifitas Pendayagunaan Tenaga Pelaksana Gizi di RS Sanglah Denpasar
xlv

Hertog Nursanyoto Poltekkes, Denpasar Di masa mendatang, Instalasi Gizi Rumah Sakit harus melakukan pembenahan sesuai tuntutan masyarakat yang menginginkan pelayanan bermutu, cepat dan canggih untuk siap ”go international’. Kualitas layanan Instalasi Gizi dipengaruhi oleh perencanaan menu dan analisis gizi, konsistensi dan kecermatan ahli gizi dalam menterjemahkan preskripsi diet yang dibutuhkan pasien, kualitas dokumen dari aktifitas pelayanan, serta kecepatan ahli gizi dalam memberikan solusi pada setiap permasalahan yang dihadapi. Manajemen PGRS yang diterapkan di RS Sanglah Denpasar hingga kini masih bersifat konvensional dan hanya mengandalkan ketrampilan manual dari tenaga gizi. Untuk itu dipandang perlu membuat rencana pengembangan aplikasi manajemen berbasis komputer dengan tujuan agar pendayagunaan tenaga gizi di RS Sanglah dapat lebih efektif sesuai dengan standar pelayanan yang berkualitas tinggi. Aplikasi dikembangkan dalam bahasa pemrograman yang berorientasi pada obyek (object oriented languages) sehingga dapat dieksekusi pada semua system operasi berbasis windows, namun akan lebih sempurna bila diinstall pada lingkungan Windows ME atau Xp dengan chip processor setara dengan Pentium III ke atas dan monitor yang mempunyai resolusi VGA paling rendah 800 x 600 dpi. Berdasarkan uji coba yang telah dilakukan, paket aplikasi ini mampu mempersingkat beban kerja rutin ahli gizi di RS Sanglah terutama dalam hal pembuatan label pesanan makanan, order bahan makanan sesuai rekapitulasi diet, serta stock opname bahan makanan.
B22

Problem Solving for Better Health (PSBH) Sebagai Alat Peningkatan Mutu Pelayanan Gizi Rumah Sakit Agus Sri Wardoyo Bidang PSBH Klinik Kendali Mutu Terpadu RSU Dr Soetomo Surabaya Aspek pelayanan kesehatan rumah sakit tidak hanya ditentukan oleh aspek medis saja tapi juga harus ditunjang oleh aspek-aspek penunjang medis. Pemeliharaan sarana, sanitasi, dan gizi adalah penunjang medis yang penting. Pelayanan gizi sebagai penunjang medis mempunyai empat kegiatan utama, yaitu pelayan gizi ruang rawat, konsultasi dan rujukan gizi, penyediaan makanan dan penelitian pengembangan gizi. Masalah yang sering timbul dalam pelayanan gizi di RS adalah manajemen instalasi gizi yang menerapkan efisiensi terutama dana di satu pihak dan pelaksana yang menerapkan efektivitas yaitu terapi/ pelayanan gizi dapat terlaksana dengan optimal tanpa memperhitungkan dana. Dengan prinsip Problem Solving for Better Health (PSBH), salah satu teknik problem solving, masalah tersebut dapat dipecahkan. Inti prinsip PSBH adalah menggunakan sumber daya setempat yang ada dan mengatasi masalah bagian demi bagian. Langkah-lagkahnya adalah mendefinisikan masalah dengan jelas (sifat, besaran, penyebab, faktor penunjang), mendefinisikan solusi (pendidikan, biomedis, psikologis, ekonomi, usaha mikro, hukum, job training), langkah-langkah berupa pertanyaan/ jawaban ( melakukan kegiatan apa, dengan siapa,

xlvi

untuk siapa, dimana, berapa lama, pencapaian tujuan apa), dan rencana kerja yang rinci. PSBH sebagai bentuk audit mutu terhadap pelayanan gizi di RS.

Ruang C. Gizi Masyarakat B23
Status Gizi Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas yang Berbeda Kinerja di Kabupaten Sumba Timur Eman Sumarna1, Soemilah Sastroamidjojo2, Erika J. Wasito2, Paul Rückert3 1 Direktorat Gizi Masyarakat, Depkes RI 2 SEAMEO Tropmed, Universitas Indonesia, Jakarta 3 GTZ-SEAMEO, Jakarta Penelitian dilakukan pada Februari-Maret 2001, bertujuan untuk membandingkan status gizi anak balita penerima PMT di dua wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Sumba Timur, Provinsi NTT, dengan manajemen pelayanan gizi yang berbeda. Tahap pertama, penelitian terhadap seluruh puskesmas untuk menentukan tingkat kinerja pelayanan gizi, dengan pendekatan input-output-proses. Tahap kedua, penelitian terhadap 568 RT dari kedua wilayah untuk menilai status gizi anak balita. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pengukuran langsung, dan kajian laporan. Penilaian tingkat kinerja menggunakan scoring system, sedangkan status gizi dengan antropometri berdasarkan baku WHO/NCHS. Analisis data menggunakan bantuan program komputer. Hasil uji statistik Mann-Whitney menunjukkan semua variable input-proses-output dan kemampuan staf di kedua wilayah berbeda nyata. Paket PMT sudah sesuai dengan pedoman, tetapi cara pemberian dan distribusinya tidak. Prevalensi status gizi di kedua wilayah berbeda nyata baik underweight, stunted, maupun wasted (Person’s Chi-square test). Wilayah kerja puskesmas dengan tingkat kinerja yang tinggi mempunyai prevalensi status gizi anak balita yang lebih baik dibandingkan dengan yang memiliki kinerja rendah. Faktor yang mempengaruhi rendahnya kinerja diantaranya adalah sarana transportasi dan jumlah staf yang tidak memadai. Rekomendasi penelitian adalah (1) PMT tetap dilanjutkan sesuai dengan pedoman disertai perbaikan manajemen program imunisasi, agar lebih efektif menurunkan angka kesakitan anak; untuk mendukung hal ini diperlukan sarana transportasi yang memadai; (2) Pemerintah Daerah harus memberikan motivasi melalui reward system kepada siapapun yang berpartisipasi dalam pelayanan kesehatan dan gizi (3) perlu penelitian lanjutan yang menilai tingkat konsumsi dengan status imunisasi, untuk mengetahui hubungan antara PMT dengan angka kesakitan anak. B24 The Relationship Between Waist to Hip Ratio with Cholesterol Level at Adult in Surakarta City Sugeng Wiyono1, Krisnawaty Bantas2, Ratna Djuwita Hatma2, S.W Soekirman1 1 Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Jakarta II; 2 Universitas Indonesia
xlvii

The ratio of waist to hip specifically describes the fat level in stomach hollow. This study is aimed to evaluate the relationship between fat in stomach hallow and the level of cholesterol using total cholesterol, LDL cholesterol and HDL cholesterol. By processing and analysing the availbale data, this study found that the average of waist and hip ratio (RLPP) among the population aged 25-64 years was 0.86 + 0.06. The study also shows that based on Bray’s classification, 8.5% was categorized as population at risk in man (more than 0.95) and for women was 64.3% (more than 0.80). In addition, the total cholesterol level was 208.37+ 40.67mg/dL, LDL cholesterol was 136.48 + 37.52 mg/dL and HDL cholesterol was 44.80 + 10.42mg/dL. The relationship between RLPP and Total cholesterol is statistically significant. Increasing total cholesterol is likely increases RLPP controlled by BMI and age. The contribution of RLPP, BMI and age to total cholesterol are 11.0%. Independently, RLPP as a main variable contributes 29.0% to total cholesterol. RLPP is significant correlated to the LDL cholesterol. Increasing LDL cholesterol is likely increases RLPP controlled by BMI and age. The contribution of RLPP, BMI and age to LDL cholesterol are 6.1%. RLPP as a main variable contributes 26.2% to LDL cholesterol, independently. In HDL cholesterol found that HDL is statistically significant to RLPP. Increasing LDL is likely to increase RLPP controlled by age and smoking status. In conclusion, maintaining an ideal body weight, decreasing the rate of fat stomach hollow development and not smoking are the best way for preventing the increase of LDL cholesterol and the decrease of HDL cholesterol.

B25
Growth Faltering Problem of Indonesian Children Abas Basuni Jahari

Puslitbang Gizi dan Makanan, Bogor A new method in assessing nutritional status of the people has been discussed and proposed. Presentation of prevalence of underweight alone is not sufficient to provide information on the current nutritional status of the population. It does not provide information on growth achievement. The illustration in this paper is important for us to understand that in a nutritional status assessment the presentation of both prevalence and growth is necessary to provide clear picture on the current nutritional status or on the changes of nutritional status of the people over time. Anthropometric data (weight and length or height) of children of different ages from several studies are used in this analisis: 1) Baseline data of Early Child Development (ECD) of children 623 months of age, 1998; 2) Studi on Nutritional Status of children 0-35 months of age, in Bogor during crisis period, 1999; 3) Study on Iodine Deficiency Disorders in relation to Nutritional Status among school-age children, 2000; and 4) Study on iron fortification on wheat-flour on Female Junior High School students, 1998-2001. Data analysis was carried out by computer software: Nutrisoft which is developed by the author based on WHO-NCHS reference, and by SPSS version 10.0. The objective of analysis to calculate the mean values of weight and length or height, the mean values of Weight-for-Age Z_Score, Height-for-Age Z_Score, and Weight-for-Height Z_Score, and to calculate the prevalence < -2,0 SD of underweight, stunting and wasting. The results show that growth faltering is found in every age group, it is not only found among underfives, but also among school-aged children and pre-teenagers.
xlviii

Serious problem is apparently observed in “linear growth retardation” or stunting. The higher the prevalence of stunting the higher the prevalence for underweight. On the other hand, the prevalence of wasting is much lower than the latter. The mean Z_Score for heigh-for-age and weight-for-age are much lower than that of weight-for-height. This is indicating that in many cases the existence of underweight problem seems to be a process of natural adjustment to the problem of stunting. The conclusin is that problem of “linear growth retardation” appears to be a continous problem since earlier age through their growing period. The problem of underweight appears to be the consequences of stunting. It is recommended that because of the underlying problem is apparently “stunting” that begins at the very earlier age, nutrition program should also be initiated in earlier age, or even during pregnancy.

KUMPULAN ABSTRAK POSTER
(abstrak disusun menurut abjad nama pemakalah pertama) C01 Ketahanan Pangan: Antara Tantangan, Harapan, dan Kenyataan
Agus Sri Wardoyo

Pusat Kajian Kependudukan SEJAHTERA, Sidoarjo Memantapkan ketahanan pangan merupakan prioritas utama pembangunan, karena pangan merupakan kebutuhan yang paling dasar bagi sumberdaya manusia. Ketahanan pangan sangat berkaitan dengan kemampuan daya beli. Padahal tingkat kemiskinan di Indonesia masih 16,7 persen (2004) atau 36,1 juta jiwa. Dalam makalah ini disajikan tren penduduk miskin di Indonesia sejak 1976-2004. Permasalahan dalam ketahanan pangan adalah perimbangan produksi dan kebutuhan pangan, ketergantungan pada impor pangan, tingkat petumbuhan ekonomi rendah, kemiskinan, pengangguran, konflik sosial dan kriminalitas, alokasi dana yang tidak sesuai, dan KKN. Landasan pijak untuk memantapkan ketahanan pangan sebenarnya sudah ada berupa deklarasi hak azasi manusia, komitmen global/ pemerintah, Undang-undang, Kepmen, dan peraturan lainnya. Tiga aspek dalam pengembangan ketahanan pangan yaitu ketersediaan pangan, pendapatan, dan pendidikan. Target populasi yang rawan pangan umumnya adalah keluarga miskin. Tahapan program perlu dibagi menjadi 4 tahap yaitu program pangan segera, jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang yang mencakup tiga aspek pangan, pendapatan, dan pendidikan. Ahli gizi / dietisien dapat berperan dalam program ketahanan pangan, dari tingkat kebijakan sampai dengan implementasi.

xlix

C02

Pengaruh Konsumsi Enteral Khusus Diabetes terhadap Perubahan Kadar Glukosa Darah dan Berat Badan Pasien NIDDM Arum Dwi Riastuti, Iskari Ngadiarti, Idrus Jus’at dan Titus Prio Harjatmo Program Studi Ilmu Gizi, Universitas Indonusa Esa Unggul, Jakarta Prevalensi Diabetes Mellitus (DM) di Indonesia sekitar 1,4-16%, dan 90% diantaranya adalah DM tipe II (NIDDM). Diet pasien DM dapat berupa makanan padat atau kombinasi padat dan enteral khusus diabetes. Makanan enteral khusus diabetes memiliki komposisi energi, protein, karbohidrat dan lemak yang cukup, indeks glikemik rendah, dan kandungan serat tinggi. Tujuan penelitian mempelajari perbedaan perubahan kadar gula darah (KGD) dan berat badan (BB) pasien NIDDM rawat jalan yang mengkonsumsi (KME) dan yang tidak mengkonsumsi (TME) makanan enteral khusus diabetes. Penelitian observasional (cohort) dilakukan di salah satu rumah sakit Jakarta Pusat dengan mengumpulkan data primer yang berupa data asupan zat gizi. Data sekunder yaitu berat badan (BB) dan kadar glukosa darah dari tiap kelompok pasien DM rawat jalan dikumpulkan oleh peneliti dan petugas kesehatan pada awal (Aw), bulan pertama (B1) dan kedua (B2) penelitian. Dari hasil wawancara , pasien dibagi 2 kelompok KME dan TKE sebanyak 36 orang. Sebagian besar pasien dengan status gizi normal; asupan energi, karbohidrat dan protein relatif tinggi pada kelompok KME dibanding TME, tetapi asupan lemak tidak berbeda antar kelompok. Perubahan KGD pada KME (54,8 mg/dl) lebih besar dibanding TME (46.7 mg/dl), juga perubahan BB pada KME (2,7 kg) lebih besar dibanding TME (2,3 kg) pada Aw dan B1 (p<0,05). Pada B1 dan B2 tidak tampak perubahan KGD dan BB yang bermakna untuk kedua kelompok (P>0,05). Kelompok TME mempunyai kemungkinan tidak dapat mengontrol KGD dibanding KME (OR= 2,78; 95% CI: 1,1- 7,2).
C03

Gambaran Status Gizi Santri Remaja Pria di Kabupaten Bogor Dewi Permaesih, Yuniar Rosmalina Puslitbang Gizi dan Makanan, Bogor Remaja merupakan Sumber Daya Manusia dimasa datang, bila menderita anemia dapat mempengaruhi konsentrasi belajar dan produktivitas kerja. Gizi kurang dapat mempengaruhi pertumbuhan remaja yang sedang mengalami periode pertumbuhan cepat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui status gizi remaja pria terutama yang tinggal di Pondok Pesantren. Analisis ini menggunakan data awal dari Penelitian Remaja di Pondok Pesantren. Responden penelitian adalah remaja pria (santri) yang berumur antara 11 – 21 tahun yang tinggal di pondok pesantren terpilih di kabupaten Bogor dan bersedia ikut dalam pemeriksaan ini. Kadar hemoglobin ditentukan dengan metode Cyanmethemoglobin. Penentuan anemia ditentukan berdasarkan kriteria Haemoglobin WHO (< 12 g/dL pada remaja pria yang berusia 15 tahun dan < 13 g/dL pada remaja pria yang berusia lebih dari 15 tahun). Penentuan status gizi menggunakan perhitungan Indeks Massa tubuh, untuk pengelompokan digunakan tabel percentile Indeks Massa Tubuh menurut umur pada pria berumur 9 –

l

24 tahun dari WHO (< 5 percentiles dianggap “kurus”, antara 5 percentile hingga 15 percentiles “gizi kurang”, antara 15 percentiles hingga 85 percentiles “gizi baik”, antara 85 percentiles hingga 95 percentiles “gizi lebih” dan lebih dari 95 percentiles “kegemukan”. Dilakukan pemeriksaan kesehatan, kadar hemoglobin dan pengukuran antropometri pada sebanyak 581 orang santri dengan umur rata-rata 15,35 tahun. Hasil pemeriksaan kadar hemoglobin menunjukkan sekitar 40 % dari santri menderita anemia. Prevalensi ini lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi anemia remaja dari Surkesnas 2001. Dari santri remaja yang anemia ditemukan 30 % berada pada status gizi kurang. Hasil analisis status gizi didapat bahwa sekitar 40 % menderita gizi kurang dan kurus, hanya 2,2 % yang mempunyai status gizi lebih. Gizi kurang dan kurus pada remaja pria di pesantren ini lebih tinggi dibandingkan dengan gizi kurang hasil analisis Surkesnas 2001. Disimpulkan bahwa prevalensi anemia dan gizi kurang pada remaja di pesantren lebih tinggi dibandingkan dengan hasil analisis data Surkesnas 2001.
C04

Faktor Risiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Daerah Endemik GAKY Kabupaten Magelang Dhuta Widagdo, Leny Latifah, Asih Setyani Balai Penelitian GAKY, Magelang The high prevalence of iron deficiency anemia (IDA) among pregnant women in Indonesia may contribute to several health problems. Household health survey (SKRT) found the prevalence of IDA among pregnant women in 1992, 1995, 2001 was 63.5%, 50.9%, and 40.1% respectively. In Magelang district the prevalence is 40% in 2003. Several studies revealed some risk factors associated with IDA. The objective of study is to investigate some risk factors associated with IDA in Magelang district, the endemic area of iodine deficiency disorders. This study is a case control study among 145 pregnant women suffering from IDA as case and 149 pregnant women with similar characteristics non-IDA as control group. Variables collected were hemoglobin level, worm infection, iron tablets, and dietary intake of foods with an emphasis on iron absorption inhibitors such as tannin, phytate, and oxalate . The results showed that the prevalence of IDA among pregnant women in endemic IDD area was 63.5%, 50.7% of women infected with at least one type of parasites, intake of tannin, phytate, oxalate was 20.64±17.12 g, 15.4±1.5 g, 1.9±1.3 g respectively. Compliance of iron of at least 90 tablets during pregnancy was very low (22.1%). Logistic regression analysis found risk factors associated with IDA were iron tablet (OR=7.794; CI 95%=1.007-89.890), worm infection (OR=7.71;CI 95%=1.106-76.360), and dietary intake of tannin (OR=4.13;CI 95% =0.259-66.378), but failed to show the association with energy and protein intake, phytate, and oxalate. The study recommend to improve program on iron tablet distribution particularly increasing compliance and better sanitation.

li

C05

The Effect of Traditional Food “Serwit” Distribution on Employees Productivity: An Experiment on Employees of Petik Bibit Nanas I PT. Great Giant Pineapple Terbanggi Besar, Lampung Djelita Rickum, Arsiniati, Kuntoro Poltekkes, Lampung The purpose of the research is to study the effect of traditional food “Serwit” distribution (PMTS) on the productivity of employees at Petik Bibit Nanas I PT. Great Giant Pineapple Terbanggi Besar, Lampung. Experimental research is applied on 18 male employees respondents divided into 3 equal groups: “Seluang”, “Gabus”, and Control. The design of the research is Non randomized pretest - posttest control group design. The independent variable is PMTS and the dependent variable is productivity. The statistic test is double t test and F test (variant and covariant analyses). F-test result shows that condition before given productivity in 3 groups shows no difference (p =0,195). Condition after given productivity also shows no difference (p = 0,104). The t test result displays productivity difference before and after given productivity in the 3 groups (p < 0,05). The result of covariant analysis indicates that Fe and energy give significant contribution to productivity (p = 0,003 for Fe and p = 0,026 for energy). Successively, the mean value of Fe from the highest to the lowest is “Seluang”, “Gabus”, and Control. Consecutively, the mean value of energy from the highest to the lowest is “Gabus”, “Seluang”, and Control. The research result designates that “Serwit” can be alternative menu for company to increase productivity of employees at Petik Bibit Nanas I PT. Great Giant Pineapple Terbanggi Besar, Lampung. “Serwit” is traditional food that is rich of nutrition and preservatives free. The social aspect of the usage of traditional food “Serwit” can be achieved since traditional food intensifies appreciation towards genuine Indonesian food.
C06

Kepatuhan Pasien Diabetes Mellitus Terhadap Diet di Layanan Konsultasi Gizi rawat Jalan RSCM Tahun 2004 Hilma Yunahar, Suharyati D.Kartono, Nurrul Karimah Instalasi Gizi RS Dr. Cipto Mangunkusumo
Terapi dietetik merupakan salah satu pilar pengendalian diabetes mellitus (DM). Kepatuhan pasien dalam melaksanakan diet tentu menjadi harapan bagi team kesehatan rumah sakit. Sebanyak 1040 pasien di Poli Gizi RSCM tahun 2004, sebagian besar (67,3%) adalah pasien DM dan 16,5% dari pasien tersebut melakukan kunjungan ulang pada 2-4 minggu setelah kunjungan awal. Penelitian dilakukan di Poli Gizi RSCM pada tahun 2004 bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang kepatuhan pasien DM dalam melaksanakan diet. Dengan desain potong lintang diperoleh 49 pasien dewasa laki-laki dan perempuan dari 108 pasien yang berkunjung ulang. Kepatuhan diet dinilai berdasarkan persen asupan energi pada kunjungan ulang dibandingkan dengan energi anjuran diet. Dinyatakan patuh apabila asupan energi berkisar 80%-110% dari anjuran diet. Asupan energi dinilai dengan metoda food recall. Status gizi pasien saat kunjungan awal dan ulang dinilai berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Hasilnya 63,3% pasien patuh terhadap anjuran diet, selebihnya tidak mematuhi. Dari pasien yang patuh terhadap diet, 26,5% berumur di atas 59 tahun. Sebagian besar responden (67,3%) berpendidikan SLA ke atas dan sebanyak 44,9% patuh tehadap diet, 22,4% tidak mematuhi. Dengan uji chi-square temuan di atas tidak bermakna (P>0,05). Berat lii

badan (BB) rata-rata awal 61,18 kg ± 12,15 kg dan saat kunjungan ulang 60,84 kg ± 11,76 kg. Ratarata IMT awal 25,34 ± 4,59 dan saat kunjungan ulang 25,20 ± 4,46. Dengan uji t penurunan ini bermakna (P = 0,000). Disarankan pemberian informasi mendalam kepada pasien saat kunjungan awal tentang penekanan kepatuhan diet sebagai salah satu keberhasilan terapi DM. Penilaian kepatuhan diet sebaiknya tidak hanya mengggunakan indikator asupan energi namun dapat menggunakan indikator lain misalnya pemeriksaan biokimia Hb A1C dan perubahan berat badan.

C07

Faktor Risiko Obesitas pada Orang Dewasa di Provinsi Bali
Ida Ayu Eka Padmiari,Anak Agung Nanak Antarini, Ni Made Yuni Gumala

Jurusan Gizi Poltekkes Denpasar Beban ganda masalah gizi di Indonesia mulai terlihat dengan meningkatnya prevalensi obesitas. Tetapi data tentang prevalensi kegemukan di Bali belum ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi obesitas di propinsi Bali dan faktor resiko yang mempengaruhinya. Penelitian ini observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah 2.700 orang dewasa berumur 18 – 55 tahun yang memenuhi kriteria dan bertempat tinggal di ibukota kabupaten/kota. Variabel yang dikumpulkan adalah berat badan, tinggi badan, pola konsumsi makanan. Data berat dan tinggi badan dikonversikan hasilnya menjadi indeks massa tubuh (IMT). Kriteria obesitas digunakan standar IMT yang berlaku untuk Asia. Pola konsumsi dikumpulkan dengan menggunakan Food Frequency Quesioner (FFQ) 3 bulan terakhir. Data dianalisis dengan chi-square dan regresi ganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi obesitas orang dewasa di Bali sebesar 9,5% (9,3% pada wanita dan 9,7% pada laki-laki). Prevalensi obesitas tertinggi terdapat di Kota Semarapura (13%), diikuti dengan Kota Gianyar (12%), dan terendah di Kota Karangasem (5%). Faktor resiko obesitas yang berpengaruh terhadap obesitas adalah konsumsi energi yang berlebih dan umur yang semakin meningkat.
C08

Is Instant Noodle an Appropriate Supplement for Malnourished Mothers Iman Sumarno Puslitbang Gizi dan Makanan, Bogor A non government organization (NGO) used instant noodle as a supplement for malnourished mothers. The aim is to increase the energy consumption of the malnourished mothers by 600 kilo calories a day. The decision was made based on the fact that instant noodle is produced in Indonesia, available in the market and widely consumed. In order to improve energy consumption by 600 kilo calories, the subjects should consume two packs of instant noodle a day. Let’s observe the probability that the target can be reached. 1. Noodle is familiar in Indonesia; 2. Using Indonesian cuisine, 3. Put in anice colorfull package, 4.Social value of noodle is normal, 4. The portion of one pack of noodle is about the right size, and 5. It is easy to digest. It seems a prefect supplement. However, in Indonesian norms, mothers are the character of giving, especially to their children. They have to prioritize the food to the young

liii

children and share with other family members, which is more appropriate if it is as a side dish. Sharing with neighbors and relatives is a norm to be a good member of the community. Due to the normal social value noodle is a perfect give to the parents especially parents in-law. Therefore, while it is acceptable, the target of increasing energy consumption by 600 kilo calories may not be met. Mothers consume only 25 % of the recommended dose or even less.
C09 Status Bekerja Ibu Kaitannya dengan Pola Pemberian Makan, Pola Asuh Makan, Tingkat Kecukupan Energi Protein dan Status Gizi Anak Usia 0-59 Bulan di Perumahan Nogotirto, Yogyakarta
1

Irianton Aritonang1, Endah Priharsiwi2 Poltekkes Yogyakarta; 2Dinkes Provinsi DI Yogyakarta

Peran ibu sangat menentukan dalam mengatur konsumsi makanan keluarga. Penelitian ini ingin mengetahui status bekerja ibu kaitannya dengan pola pemberian makan, pola asuh makan dan status gizi anak usia 0-59 bulan. Unit sampel dalam penelitian ini adalah ibu rumahtangga yang memounyai anak usia di bawah lima tahun (0-59 bulan) di perumahan Nogotirto Sleman Yogyakarta dengan besar sampel sebanyak 71 anak. Hasil penelitian menunjukan pola pemberian makan balita dengan kriteria cukup 85,90%; pola asuh makan balita dengan kategori cukup 81,69%; tingkat kecukupan energi balita dengan kriteria cukup 56,34%; tingkat kecukupan protein balita dengan kriteria cukup 11,27%; status gizi balita dengan kriteria baik 83,1%. Uji statistic Kai kuadrat menunjukkan adanya hubungan yang bermakna (P<0,05) antara status bekerja ibu dengan pola asuh makan balita. Korelasi ranking Spearman menunjukkan adanya korelasi yang bermakna (P<0,05) antara tingkat kecukupan energi dengan status gizi balita, dan uji korelasi Pearson juga menunjukkan adanya korelasi yang bermakna (P<0,05) antara tingkat kecukupan protein dengan status gizi balita.

C10

Gambaran Perubahan Berat Badan Pasien Bedah Sebelum dan Setelah bedah di Irna-A RS. Dr. Cipto mengunkusumo Jakarta tahun 2005
1

Liviana1, S.R. Wahyuningrum2 Mahasiswa Poltekkes Jakarta II Jurusan Gizi, 2Instalasi Gizi RSCM)

Penelitian di RSCM tahun 1989 melaporkan 51,4% pasien bedah digestif mengalami gizi kurang berdasarkan lingkar lengan atas (LLA) dan 20% gizi buruk berdasarkan Creatinin Height Index (CHI), tahun 1997 dijumpai 37% pasien bedah mayor digestif mengalami gizi kurang dan tahun 2000 diperoleh data 28,5% pasien bedah mayor mengalami gizi kurang, penurunan berat badan dan nilai serum albumin. Penurunan berat badan yang terjadi rata-rata sebesar 24% dari berat badan sebelum bedah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perubahan status gizi pasien bedah di IRNA-A RSCM berdasarkan Indeks Masa Tubuh (IMT). Penelitian ini dilakukan secara purposive sampling berdasarkan kriteria : pasien dewasa dengan lingkup bedah urologi, tumor, ortopedi, gigi dan mulut serta bedah plastik yang dapat dilakukan penimbangan berat badan (BB) dan pengukuran tinggi badan (TB), bersedia menjadi responden dalam penelitian, tidak memiliki komplikasi penyakit non bedah dan tidak menjalani kemoterapi sebelum maupun setelah bedah. Lama pengamatan adalah 16 hari kerja dari bulan Februari – Juli 2005. Berdasarkan kriteria tersebut didapatkan 18

liv

responden, 7 laki-laki (38,9%) dan 11 perempuan (61,1%). Sebagian besar berumur 35-44 tahun yaitu 10 orang (55,6%) dengan umur termuda 18 tahun dan tertua 50 tahun. Berdasarkan lingkup bedah terbanyak adalah bedah tumor 10 orang (55,6%), disusul urologi 4 orang (22,2%), bedah plastik 2 orang (11,1%), ortopedi / tulang 1 orang (5,6%), gigi dan mulut 1 orang (5,6%) dan dengan tingkat kesukaran bedah mayor 10 orang (55,6%), medium 7 orang (38,9%) dan khusus 1 orang (5,6 %). Tidak ditemukan perubahan status gizi setelah bedah, namun berdasarkan perubahan BB setelah bedah didapatkan 13 orang (72,2%) mengalami penurunan BB antara 0,1 – 1,9 kg dan 5 orang (27,8%) mengalami kenaikan BB antara 0,2 – 0,6 kg. Penurunan BB terbanyak terjadi pada responden bedah tumor yaitu 61,5%. Rata-rata asupan energi responden sebelum bedah adalah 1700 Kkalori dibandingkan dengan rata-rata kebutuhan 2000 Kal, asupan energi ini dikategorikan baik (85%), sedangkan rata-rata asupan protein sebelum bedah adalah 47 g (71%) yang ternyata masih kurang dari kebutuhan 66 g. Sedangkan rata-rata asupan energi dan protein setelah bedah adalah 1400 Kkal (64 %) kurang dari rata-rata kebutuhan 2200 Kal dan hanya 35 g (53%) dari kebutuhan rata-rata yaitu 66 g.
C11

Pengaruh Konsentrasi Alginat Terhadap Mutu Jus Jeruk (Citrus aurantium L var. Sinensis L) Wortel (Daucus carota L) Kaya Serat Martha Susanty1, Rahmawati1, Sunita Almatsier2 1 Instalasi Gizi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, 2 Teknologi Pangan Universitas Sahid Jakarta
Jus jeruk wortel kaya serat adalah produk olahan dari campuran buah dan sayuran yang dibuat dari jeruk, wortel, madu dan air dengan bahan tambahan berupa asam sitrat dan bahan penstabil alginat. Pengolahan jus secara umum hanya mengambil sarinya, sedangkan ampasnya dibuang. Padahal ampas tersebut mengandung serat makanan yang berguna bagi kesehatan. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menstabilkan atau menghomogenkan jus jeruk wortel kaya serat. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor (faktor A) dengan lima taraf dan tiga kali pengulangan. Faktor A adalah konsentrasi alginat dengan lima taraf yaitu 0.00%, 0.10%, 0.20%, 0.30% dan 0.40%. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Analisis statistik yang digunakan adalah sidik ragam atau Analisis Varian ( ANAVA ) yang dilanjutkan dengan uji beda rata- rata atau metode Duncan Multiple Range Test ( DMRT ) jika perlakuan memberikan pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi alginat yang berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap total padatan terlarut, nilai pH, viskositas, kestabilan suspensi, mutu hedonik kestabilan, warna, aroma,rasa serta penerimaan umum, sedangkan mutu hedonik kekentalan berpengaruh nyata terhadap mutu jus jeruk wortel kaya serat. Penetapan jus jeruk wortel kaya serat terbaik ditentukan oleh parameter mutu yang dipengaruhi oleh konsentrasi alginat yaitu ; kestabilan suspensi dan penerimaan umum.Produk terbaik berdasarkan kriteria tersebut adalah alginat dengan konsentrasi 0.20% yang mempunyai kestabilan suspensi 54.00% ( max 100 % ), mutu hedonik kestabilan 4.3 (agak stabil – stabil ), warna 4.8 ( kuning tua – oranye kekuningan ), kekentalan 4.5 ( agak encer – agak kental ), aroma 3.8 ( agak kurang kuat – agak kuat ), rasa ( agak asam – asam segar ) dan uji rangking 1.96 . Hasil uji penunjang menunjukkan kadar air 77.98%, kadar abu 0.17%, kadar lemak 0%, kadar protein 0.15%, kadar karbohidrat 21.7%, serat makanan 2.81%, vitamin A 0.53% RE dan vitamin C sebelum diolah 28,7 mg/100gr, dan sesudah diolah 24,36 mg/100 gr.

lv

C12

Pengaruh Rasio Campuran Tepung Pisang, Tepung Kacang Hijau dan Tepung Ubi Merah Terhadap Organoleptik “Pinara Mix Drink” Marudut, Anne Maulizawartika Jurusan Gizi Poltekkes, Jakarta Pengolahan berbagai macam pangan menjadi tepung merupakan suatu upaya untuk meningkatkan pemanfaatan pangan tersebut dalam berbagai variasi makanan. Diantara pangan tersebut pisang, kacang hijau dan ubi merah dapat dibuat menjadi tepung dan selanjutnya dapat dibuat menjadi minuman yang dalam penelitian ini disebut “Pinara Mix Drink”. Pisang dipilih karena sifatnya yang mudah cerna dan mengandung karbohidrat dalam jumlah yang besar (71,7 g/100 g). Kacang hijau merupakan sumber protein yang tinggi (22,9 g/100 g). Ubi merah mengandung provitamin A (1208 mg/100 g) selain karbohidrat yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui daya terima “Pinara Mix Drink” dengan rasio campuran tepung pisang, tepung kacang hijau dan tepung ubi merah yang dapat diterima panelis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 1 perlakuan dan 4 taraf serta 3 pengulangan. Taraf perlakuan ini adalah perbandingan tepung pisang, tepung kacang hijau, tepung ubi merah yaitu T1 (2:1:1), T2 (1:2:1), T3 (1:1:2) dan T4 (1,5:1:1,5). Pinara Mix Drink dibuat dengan mencampurkan tepung sesuai taraf tersebut dan disajikan kepada 30 panelis. Panelis memberikan penilaian dari segi warna, aroma, rasa, konsistensi dan tingkat kesukaan. Hasil penilaian tersebut diuji secara statistik menggunakan uji Friedman untuk mengetahui pengaruh antar taraf terhadap organoleptik Pinara Mix Drink. Hasil penilaian adalah (1) tidak ada pengaruh rasio campuran tepung pisang, tepung kacang hijau dan tepung ubi merah terhadap warna “Pinara Mix Drink” karena pada ubi merah pigmen yang dihasilkan lebih dominan dari pada pisang dan kacang hijau. (2) Ada pengaruh rasio campuran tepung terhadap aroma, 50% panelis menyatakan suka terhadap aroma campuran pada T1. (3) Ada pengaruh rasio campuran tepung terhadap rasa yang sebagian besar berasa campuran dan secara umum (55,6%) yang disukai adalah T1. (4) Ada pengaruh rasio campuran tepung terhadap konsistensi, sebagian besar panelis menyatakan konsistensi encer (73,3%) dan suka pada T1. (5) Ada pengaruh rasio campuran tepung terhadap tingkat kesukaan secara umum, dimana panelis menyukai “Pinara Mix Drink” dengan rasio 2:1:1 (T1) antara tepung pisang, tepung kacang hijau dan tepung ubi merah sebesar 62.2%.
C13

Fisiko-kimia dan Total Mikroorganisme Minuman “Y” yang Disimpan pada Tempat yang Berbeda Marudut, Destri Andriani Jurusan Gizi Poltekkes Jakarta Minuman “Y” adalah salah satu produk pangan probiotik yang mengandung lebih dari 108 koloni bakteri Lactobacillus casei galur Shirota dalam tiap mililiternya. Penyimpanan “Y” yang baik adalah pada suhu 20-40 C. Suhu penyimpanan sangat berpengaruh pada jumlah mikroorganisme dan kerusakan produk “Y”. Pedagang pada

lvi

umumnya melakukan beberapa cara penyimpanan “Y”, yaitu di suhu dingin (20C), suhu ruang(300C-320C) dan kotak penyimpanan berisi es (120C-280C). Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan fisiko-kimiawi dan total mikroorganisme “Y” yang disimpan pada tiga tempat yang berbeda. Penelitian merupakan jenis penelitian eksperimen dengan analisa laboratorium, dilakukan uji fisik kimiawi dengan melakukan pemeriksaan pH, kekentalan, dan total padatan dari sampel yang disimpan di tiga tempat yang berbeda selama 14 hari. Pada setiap sampel dilakukan uji TPC menggunakan de Man Rogosa and Sharpe (MRS agar) dengan tiga kali ulangan dan di tiap-tiap pengenceran dilakukan triplo. Untuk mengetahui total mikroorganisme Lactobacillus casei galur Shirota dilakukan uji angka lempeng total. Hasil penelitian menunjukkan sampel yang disimpan pada suhu dingin jumlah total Lactobacillus casei galur Shirota sebanyak 1,0 x 109 CFU/ml pada pengenceran 10-7, yang disimpan pada kotak penyimpanan berisi es sebanyak 4,6 x 108 CFU/ml ,dan yang disimpan pada suhu ruang sebanyak 1,3 x 108 CFU/ml. Dengan kisaran pH 4,1-4,5. pH yang paling tinggi yakni 4,5 terdapat pada sampel pada penyimpanan suhu dingin, lalu kotak penyimpanan berisi es dengan pH 4,4 dan pada suhu ruang adalah pH yang paling rendah yakni 4,1. Kekentalan pada suhu dingin adalah 0,865 g/cm3, pada kotak penyimpanan berisi es 0,896 g/cm3 dan suhu ruang 0,870 g/cm3. Total padatan dari masing-masing sampel yang engalami penyimpanan sama dengan sampel yang tidak mengalami penyimpanan yaitu 18% Brix. Ternyata suhu mempengaruhi aktivitas biokimia dari Lactobacillus casei galur Shirota sehingga menyebabkan penurunan pH yang dapat mengakibatkan penurunan total mikroorganisme tersebut.
C14

Penerimaan Sifat Fisik dan Kandungan Zat Gizi Kerupuk Singkong dan Tempe Muntikah Jurusan Gizi-Poltekkes Jakarta Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tempe pada pembuatan kerupuk singkong terhadap kandungan zat gizi, sifat fisik dan penerimaan. Dilakukan pengamatan terhadap 5 perlakuan yaitu kontrol tanpa penambahan tempe (T0), penambahan tepung tempe (T1) = 10%, (T2) =20% dan penambahan tempe segar (S1) =10%, (S2) =20% yang dikonversikan dalam bentuk tepung. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, tahap pendahuluan meliputi pembuatan tepung singkong, tepung tempe, analisis zat gizi bahan dasar, pembuatan kerupuk, uji organoleptik dan tahap lanjutan dilakukan analisis zat gizi dan sifat fisik kerupuk yang terpilih. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), data hasil uji organoleptik dianalisis secara deskriptif dan statistik non parametrik Friedman, jika hasil analisis menunjukan pengaruh yang nyata maka dilanjutkan dengan Multiple Comparison Test (MCT). Sedangkan data kandungan zat gizi dan sifat fisik dianalisis dengan Sidik Ragam ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan dengan menggunakan Statistical Analysis System (SAS). Hasil analisis kandungan zat gizi mulai dari kontrol masing-masing kadar protein 1.46, 3.50, 4.61, 3.28 dan 6.45 g; lemak 20.95, 19.38, 16.34, 11.51dan 11.05 g; KH 74.62, 74.46, 76.07, 82.26 dan 79.69g; kalori 493.03, 486.23, 469.79, 445.71 dan 444.01 kkal; abu 2.94, 2.66, 2.98, 2.96 dan 2.81%; air 5.51, 5.23, 5.15, 4.69 dan 4.89%. Sedangkan hasil analisis sifat fisik meliputi: pengembangan luas 158.67, 145.67, 103.77, 68.99 dan 57.64%; tingkat

lvii

kekeraan 128.35, 121.60, 92.10, 100.65 dan 91.35 mm/g/10detik; rendemen 44.77, 45.13, 48.80, 51.84, dan 56.31%; penyerapan minyak 0.19, 0.18, 0.13, 0.09 dan 0.07g; rasio jumlah lemak 18.71, 18.25, 13.43, 9.16 dan 7.48%. Hasil organoleptik penambahan tempe memberikan pengaruh yang nyata terhadap tingkat kesukaan warna, aroma, rasa dan kerenyahan. Penambahan tepung tempe dan tempe segar pada pembuatan kerupuk singkong dari bahan tepung dan bahan segar dapat meningkatkan kadar protein dan KH, sedangkan kadar lemak, kalori, abu dan air mengalami penurunan dibandingkan dengan kontrol. Penambahan tempe 10 % dan 20% mendapat penerimaan dan pengembangan tertinggi
C15 Pola Makan dan Status Gizi Anak Usia Sekolah Dasar

A. Mushawwir Taiyeb Pusat Penelitian Makanan Tradisional, Gizi dan Kesehatan Universitas Negeri Makassar Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola makan dan status gizi anak usia SD. Dipilih 2 SD di Kota Pare-Pare, Sulawesi Selatan, yaitu murid SDN 63 yang berjumlah 135 orang, dan murid SD “M” 3 yang berjumlah 140 orang. Data diperoleh dengan observasi langsung yaitu pola makan siswa diukur berdasarkan beda jenis konsumsi (BJK) dan status gizi berdasarkan antropometri yaiti ukuran berat badan dan tinggi badan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) secara umum kualitas pola makan murid SDN 63 Pare-pare dikategorikan sedang (BJK 5 - 7), sedangkan di SD “M” 3 dikategorikan baik (BJK < 11); 2). Secara umum status gizi pada kedua SD tersebut dalam kategori baik (lebih dari 55%). Namun demikian, masih ada murid yang berstatus gizi sedang (sekitar 40%), bahkan ada yang berstatus gizi kurang (lebih dari 1%).
C16

Induksi biohormon terhadap karakteristik mutu gizi buah
Ni Putu Gustini, I Komang Agusjaya

Jurusan Gizi, Poltekkes Denpasar Biohormon merupakan campuran berbagai hormon tumbuh seperti sitokinin, kinetin dan giberelin dengan berbagai macam mineral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik mutu gizi buah tomat yang diinduksi biohormon yang dibudidayakan dalam polibag dengan media dasar pupuk kandang. Jenis penelitian adalah eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor yaitu pemberian biohormon dan tanpa biohormon pada tanaman tomat varietas Roma V.F. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali sehingga secara keseluruhan terdapat 6 unit percobaan. Analisis Karakteristik mutu kimia buah tomat meliputi: analisis kadar air buah tomat matang, kadar total asam, kadar gula reduksi, kadar vitamin C, dan kadar karoten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buah tomat yang diinduksi biohormon secara rata-rata memiliki kadar air sebesar 92.32%, kadar total asam sebesar 0,1467%, kadar gula reduksi sebesar 3.2167%, kadar vitamin C sebesar 44.17% dan kadar karoten sebesar 13877.70 SI, sedangkan yang tanpa induksi biohormon memiliki kadar air sebesar 92.61% kadar total asam sebesar 0,1563%,
lviii

kadar gula reduksi sebesar 3.2700%, kadar vitamin C sebesar 36.93% dan kadar karoten sebesar 11777.83 SI. Ternyata kadar air buah tomat, kadar gula reduksi dan kadar total asam yang diinduksi biohormon sedikit lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak diinduksi dan berbedaan ini tidak bermakna secara statistik. Perlakuan pemberian biohormon pada tanaman tomat (Lycopersicum essculentum varietas Roma V.F.) ternyata hanya mampu meningkatkan karakteristik gizi buah tomat khususnya kadar vitamin C dan kadar karoten tetapi peningkatannya tidak bermakna secara statistik.
C17

Pengetahuan tentang Makanan Jajanan dan Perilaku Jajan Siswa (Studi di SDN Kedurus IV, Kecamatan Karang Pilang, Surabaya) Niken Kirana Sari dan Inong Retno Gunanti Fakultas Kesehatan Masyarakat – Universitas Airlangga The outbreak of food poisoning often happens especially on the elementary school (ES) children because they buy snacks which are expired or unhealthy. Theoritically, knowledge is a very important element which influencing someone’s behaviour. Selecting unhealthy snack might be caused by lack of knowledge about snack that can influence their snacking habit. The purposes of this study were (1) to describe student’s knowledge about snacks based on gender and availability of information that correlation with student’s knowledge about snacks, (2) to describe family’s and school’s influences that corellation with student’s knowledge about snacks, (3) to describe student’s snacking behaviour based on gender, and (4) to analyze correlation between student’s knowledge about snacks and their snacking behaviour. This study was an observasional and conducted cross-sectionally. The data were primarily taken from interview supported by questioners and observation and secondary from interrelated institution (BPOM and literature). The population of this research were students of third, fourth and fifth grades from Kedurus IV ES, Karang Pilang subdistrict, Surabaya, school year 2004/ 2005, totally 136 students. Sample unit was students of third, fourth and fifth from this school with total of 57 students who were chosen by Proportional Random Sampling method. The result of this study showed 56 % of girls had a good knowledge about snacks, 77 % of students got information about snacks from television, 91 % of students said that their parents gave information about snacks, 96 % of students said that their teachers gave information about snacks, 67 % of girls had good snacking behaviour. There was an association between student’s knowledge about snacks and student’s snacking behaviour by using chi square test (p< 0.001). For increasing student’s knowledge, the students need more information about snacking behaviour and unhealthy snacks.

lix

C18 Socio-economic status, Parent’s Height, Length at Birth

and School Entrance Height in Palangkaraya
Norliani, Toto Sudargo, R. Budiningsari

DPD Persagi Kalteng Stunting among children as measured by school entrance height is highly prevalent in Central Kalimantan (50.54%). This condition is obviously showed by their short statures which are below the national avarage. Average height among boys is 108.6 cm and girls is 107.7 cm while the national average shows 114.9cm and 114.0cm respectively. Although there is a trend of increasing secular trend of height mostly in Palangkaraya, but yet those are still below the national average. The objectives of this study is to determine the association of socio-economic factor, parent’s height and length at birth with school entrance height among primary school children in Palangkaraya, Central Kalimantan. The design of the study is a case control study. Subjects were 96 stunted children as cases and 192 non stunted children as control. The age is between 5 - 7 years old. Variables colllected were socio-economic status (income and education), school entrance height, length at birth, and parent’s height and their association with stunting and non stunting. The results there was significantly association (p<0.25) between family’s income (OR 3.0, CI 1.69-5.38), father’s education level (OR 2.15, CI 1.29-3.54), mother’s education level (OR 3.4, CI 2.045.68), father’s height (OR 2.1, CI 1.28-3.61), mother’s height (OR 2.2, CI 1.33¨C 3.76) and length at birth (OR 2.35, CI 0.96-5.76) with stunting among children and those variales were the risk factor of stunting among children. Logistric regression model showed that the most important risk factor of stunting (p<0,05) is mother’s education level (OR 2.79 CI 1.42-5.48). The concIusion is that family’s income, family’s education, parent’s height and length at birth associated significantly with school entrance height among primary school children. The most important risk factor is mother’s education level. C19
Gambaran Asupan Protein dan Tingkat Stres Berdasarkan Urea Urin Nitrogen (UUN) pada Pasien Stroke yang Dirawat di RSUD Ulin Banjarmasin (Kasus Seri)

Rijanti Abdurrachim Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan Banjarmasin Masalah pada pasien stroke adalah asupan makan yang tidak adekuat karena kesulitan menelan ditambah dengan keadaan penyakitnya yang akan menyebabkan timbulnya masalah gizi dalam masa perawatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran asupan protein dan tingkat stress berdasarkan Urea Urin Nitrogen (UUN) pada pasien stroke. Metode penelitian adalah deskriptif kasus seri dengan cara observasional. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata asupan protein pada 3 pasien adalah 36.8, 23.6, dan 25.42 gram dengan UUN masing-masing adalah 15.08 g/24 jam, 21.42 gr/24 jam, 24.21 gr/24 jam dan imbang nitrogen negative. Kesimpulan penelitian

lx

adalah ketiga pasien stroke mengalami gradasi stress tingkat berat yang ditunjukkan dengan nilai UUN > 15 dan mengalami keseimbangan nitrogen negatif. Perlu perhatian dari anggota Asuhan Nutrisi untuk lebih cepat meningkatkan asupan makan pasien stroke dengan modifikasi diet yang tepat sesuai dengan kemampuan pasien untuk menelan.
C20

Ukuran Tubuh dan Umur Menarche Siswi Sekolah Swasta, Jakarta Timur

Roza Armelia Hasye, Idrus Jus’at dan Nils Aria Zulfianto
Jurusan Gizi, Poltekkes Jakarta II dan Program Studi Ilmu Gizi, UIEU, Jakarta Menarche ialah menstruasi pertama pada anak perempuan, yang dipandang sebagai tanda permulaan masa pubertas. Menarche biasanya terjadi pada usia 9 – 17 tahun. Faktor – faktor yang terkait dengan menarche antara lain status gizi. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi median umur menarche dan keterkaitannya dengan ukuran tubuh. Ukuran tubuh meliputi berat badan (BB), tinggi badan (TB), lingkar lengan atas (LLA), lingkar pinggang (Lipa),dan lingkar pinggul (Lipi). Sampel penelitian adalah siswi SD kelas IV,V,VI dan SMP kelas I, II, III sekolah swasta di Jakarta Timur yang berumur berumur 9 – 14 tahun. Besar sampel pada penelitian ini adalah 348 siswi dengan Z = 95%, b = 5 %, π = 0.25. Analisa statistik yang digunakan adalah ‘hazard function’, uji-t dan regresi linear. Dari 360 siswi sampel, dengan analisa ‘hazard funtion’ didapatkan median umur menarche 133 bulan (95% CI: 132 – 134 bulan). Rata-rata BB = 42.4 kg (+10.5), TB = 147,8 cm (+9.5), LLA = 22,7 cm (+3.1), Lipa = 67 cm (+8,1), dan Lipi = 83,9 cm (+ 9,4). Terdapat perbedaan indeks massa tubuh (IMT) yang signifikan antara siswi yang sudah dan belum menarche (p<0.05). Juga ditemukan perbedaan ukuran tubuh lainnya (BB, TB, LLA, Lipa, dan Lipi yang bermakna antara siswi yang sudah dan belum menarche (p=0.001). Hasil analisa regresi linier menunjukkan semakin lambat umur menarche semakin rendah IMT.
C21

Cakupan kapsul vitamin A untuk bayi dan balita di Indonesia
1

Sandjaja12, Titiek Setyowati2, Sudikno1 Puslitbang Gizi dan Makanan, Bogor; 2Tim Surkesnas, Jakarta

Prevalensi kurang vitamin A (KVA) pada balita berdasarkan bercak Bitot( X1B) di Indonesia sudah dapat diturunkan dari 1.33% (1978) menjadi 0,34% (1992). Walaupun demikian KVA tingkat subklinis (serum retinol < 20 µg/dL) masih 50%, sehingga distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi masih tetap diperlukan yang ditargetkan mencapai 80% untuk mencegah risiko xerophthalmia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cakupan kapsul pada balita. Penelitian dilakukan dengan analisis data sekunder yang tersedia dalam Susenas 2004 Modul. Sampel adalah balita termuda dalam rumahtangga yang mendapatkan kapsul dalam 1 tahun terakhir. Variabel yang dianalisis adalah penerimaan kapsul, jumlah kapsul, umur balita, dan daerah. Dari 21.932 balita termuda dalam rumahtangga, 63,3% menerima kapsul

lxi

vitamin A dalam 1 tahun terakhir, 29,6% tidak pernah dan 7,1% tidak tahu. Cakupan kapsul paling rendah terdapat di provinsi Maluku 34,1%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (75,8%). Menurut daerah, cakupan lebih tinggi di daerah perkotaan (68,1%) dibandingkan perdesaan (59,5%). Tidak terdapat perbedaan berarti cakupan dan frekuensi penerimaan kapsul menurut umur balita kecuali pada umur 6-11 bulan yang lebih tinggi 1 kali pemberian kapsul. Ada tren bahwa makin rendah tingkat sosial ekonomi (yang dihitung pengeluaran per kapita kuintil-1) makin rendah pula cakupan kapsul. Untuk meningkatkan cakupan kapsul, target balita dari keluarga miskin yang tinggal di perdesaan perlu mendapatkan prioritas tinggi karena risiko KVA yang besar pada kelompok tersebut tetapi cakupannya rendah.
C22

Distribusi dan konsumsi pil besi untuk bumil di Indonesia
1

Sandjaja12, Dwi Hapsari2, Sudikno1 Puslitbang Gizi dan Makanan, Bogor; 2Tim Surkesnas, Jakarta

Prevalensi anemia masih cukup tinggi di Indonesia. Hasil SKRT 2001 menunjukkan prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 41,1%. Prevalensi tersebut bervariasi, lebih tinggi di kawasan Jawa-Bali dibanding Sumatera dan KTI, dan lebih tinggi di perdesaan dibanding perkotaan. Diperlukan cakupan distribusi pil besi dan kepatuhan yang tinggi pada ibu hamil untuk mengatasi anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cakupan pil besi dan kepatuhan meminumnya. Penelitian dilakukan dengan analisis data sekunder yang tersedia dalam Susenas 2004 Modul. Sampel adalah ibu dari balita termuda dalam rumahtangga dan mempunyai riwayat minum pil besi. Variabel yang dianalisis adalah pernah minum pil besi selama hamil, jumlah pil besi yang diminum, pemeriksaan antenatal, dan asal daerah. Dari 21.236 ibu balita, 67,7% pernah minum pil besi sewaktu hamil balita termuda, terendah di provinsi Maluku (50,6%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (85,5%). Dengan demikian target cakupan 80% belum tercapai. Dari ibu hamil yang pernah minum pil besi, tingkat kepatuhan untuk minum 90 pil masih rendah yaitu hanya 19,9%, sedangkan sebagian besar kurang dari 90 pil (49,9%) dan tidak tahu (30,1%). Kepatuhan terendah di provinsi Sulawesi Tengah (5,7%) dan tertinggi di DI Yogyakarta (40,3%). Hasil analisis juga menunjukkan bahwa kepatuhan minum pil besi makin tinggi seiring dengan makin tingginya frekuensi pemeriksaan antenatal dan meningkatnya sosial ekonomi rumahtangga. Untuk kesehatan ibu hamil dan bayinya, selain peningkatan cakupan pil besi, diperlukan upaya peningkatan kepatuhan ibu hamil minum pil besi melalui KIE gizi.
C23

Tingkat Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Ibu Rumah Tangga dalam Memilih Pangan Kemasan Berlabel (Studi pada Ibu Rumah Tangga yang Berbelanja di Supermarket SI, Surabaya Plaza) Siti Nurrohmah, Inong Retno Gunanti Fakultas Kesehatan Masyarakat – Universitas Airlangga

lxii

Food products distributed in Indonesia must comply with rules and regulations set by the government. However, Indonesian Food and Drug Administration (BPOM) in 1999 revealed that 13.7% of food products not comply in food labelling. On the other hand, the knowledge of consumers on labeling of food products is still questionable. Housewife plays important role in determining food purchasing selection. Therefore, improving KAP on food product labelling would improve appropriate selection of food products available in the market. The objective of this study was to determine KAP of consumers on food product labelling. Exit survey of 59 selected housewives at a supermarket in Surabaya was taken for the study. Variables collected were characteristics of the samples, KAP on food labelling, source of information, and labelled food products frequently bought by using pretested questionaires. The study found that most commonly labelled food products bought was milk and milk products (52.5%), instant nooddles (35.6%), and snacks (33.9%), where almost half of them (47.5%) was bought 4 or more times in a month. The samples had poor knowledge (81.4%), good attitude (91.5%), and moderate practice (67.8%) on food labelling. Information about food labelling mostly comes from television/ radio (77.9%) and daily newspaper/ magazine (47.5%). Poor knowledge was on the definition of food labelling, information needed on the label, type of food product excepted, ingredient and nutrient composition, and production code. The best practice in purchasing food product was in considering expired date, but poor practice on net weight of the product, nutrient content , and registration number.

C24

Gambaran Pola Konsumsi Makanan pada Wanita Usia Subur (WUS) di Provinsi Bali Sri Prihatini, Vita Kartika, Iman Sumarno Puslitbang Gizi dan Makanan, Bogor
Pola konsumsi makanan kelompok masyarakat di suatu wilayah perlu dipelajari untuk menduga keadaan gizi masyarakat serta merancang upaya untuk perbaikan gizi. Kombinasi konsumsi makanan selama 24 jam dan frekuensi konsumsi makanan dapat menggambarkan kebiasaan konsumsi makanan masyarakat di suatu wilayah. Penelitian ini menyajikan data pola konsumsi makanan pada WUS di propinsi Bali. Disain penelitian adalah cross-sectional, dilakukan di dua kabupaten yaitu Tabanan dan Gianyar, kemudian masing-masing kabupaten dipilih satu kecamatan. Selanjutnya di tiap kecamatan terpilih, dipilih 3 desa secara purposif dan di tiap desa dipilih dua (2) Rukun Warga (RW) secara acak. Sampel penelitian adalah WUS dengan kisaran umur 15-45 tahun. Jumlah sampel 189 orang dipilih secara acak sederhana. Data yang dikumpulkan adalah konsumsi makanan dengan metode recall 24 jam dan Food Frequency Semi kuantitatif (FFQ), sosial ekonomi, dan antropometri. Berdasarkan keadaan sosial ekonominya, sebagian besar (56%) pengeluaran rumah tangganya digunakan untuk mencukupi kebutuhan pangan. Tingkat pendidikan tertinggi yang dicapai oleh WUS adalah lulus SLTP dan SLTA yaitu sebanyak 62,5 %. Beras merupakan sumber karbohidrat yang utama (100%, setiap hari), menyusul mie dan umbiumbian (3,2%). Konsumsi makanan sumber protein hewani terbanyak adalah daging ayam dan daging babi dengan perincian masing masing 25,9% dan 19%. Untuk sumber protein nabati terutama tahu dan tempe sebanyak 85.2% WUS mengkonsumsimya setiap hari. Bahan makanan sumber vitamin dan mineral yang dikonsumsi adalah sayuran dan buah masing masing 44,4% dan 51,9% setiap hari. Tingkat kecukupan rata-rata konsumsi energi dan protein masing masing sebesar 76 % dan 98 % . Status gizi WUS berdasarkan BMI menunjukkan rata-rata nilai BMI WUS adalah 23.6. Pola konsumsi WUS di propinsi Bali bervariasi, dengan frekuensi makan rata-rata 3 kali sehari. Tingkat kecukupan rata-rata konsumsi energi masih kurang dari 80% dan protein sudah mencukupi. Status gizi WUS berdasarkan BMI berada pada keadaan normal.

lxiii

C25

Pengetahuan dan Pemahaman Petugas Kesehatan dan Kader Tentang Kapsul Vitamin A serta Manfaat Pemberian Kapsul Vitamin A untuk Ibu Nifas
Sri W. Sukotjo1, Dorothy Foote1, Elviyanti Martini1, Siti Halati1, Sunarko2, Saskia de Pee3 1 Helen Keller International Indonesia, 2Ministry of Health/Government of Indonesia (GOI), 3 Helen Keller International Asia-Pacific Regional Office, Singapore

Suplementasi kapsul vitamin A untuk ibu nifas telah menjadi kebijakan dari Depkes RI sejak tahun 1992. Sistem Pemantauan Gizi dan Kesehatan yang dilaksanakan oleh HKI/Depkes pada tahun 2003 menunjukkan variasi angka cakupan antara 2-37%. Dengan demikian perlu suatu peningkatan upaya agar ibu nifas mendapatkan suplementasi kapsul vitamin A. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pengetahuan petugas kesehatan dan kader mengenai kebijakan terkini dari suplementasi kapsul vitamin A untuk ibu nifas. Penelitian ini sebagai bagian dari survei awal sebelum dilaksanakannya program pilot suplementasi kapsul vitamin A untuk ibu nifas Depkes RI/HKI dengan cara wawancara kepada 389 petugas kesehatan di Kabupaten Bangkalan, Cirebon dan Pandeglang. Hasilnya menunjukkan lebih dari 90% Bidan Koordinator, Bidan Desa dan TPG di Puskesmas mengetahui bahwa kapsul biru diperuntukkan bagi bayi 6-11 bulan, dan kapsul merah untuk anak 1-5 tahun. Walaupun begitu hanya 41%-60% yang mengetahui bahwa kapsul merah juga diperuntukkan bagi ibu nifas. Pengetahuan mengenai manfaat kapsul vitamin A untuk ibu nifas menunjukkan 52-77% petugas kesehatan menjawab bahwa vitamin A bermanfaat untuk mata, 10-45% untuk kualitas ASI, dan 19-40% untuk kesehatan ibu. 75% dari bidan desa juga melaporkan bahwa di wilayah kerja mereka telah ada program suplementasi kapsul vitamin A untuk ibu nifas. Dari mereka yang memiliki program tersebut, hanya 20% bidan desa yang mengetahui bahwa manfaat dari vitamin A untuk ibu nifas adalah untuk kualitas ASI dan hanya 25% yang menyatakan untuk kesehatan ibu. Perlu upaya meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan sebagai bagian penting dari program capacity building untuk meningkatkan cakupan kapsul vitamin A untuk ibu nifas.
C26

Pengaruh PMT-Pemulihan dengan Formula WHO/Modifikasi Terhadap Status Gizi Anak Balita KEP di Kota Malang (The effect of Supplementary Feeding by Formulated WHO/Modification to the Nutritional Status of Under-Five Years Children PEM in Malang District) Sugeng Iwan Setyobudi, Astutik Pudjirahaju, Bachyar Bakri Jurusan Gizi, Politeknik Kesehatan, Malang The objectives of this study was to analysis the effect of supplementary feeding by formulated WHO/Modification to the nutritional status of under-five years old children suffering protein-energy malnutrition (PEM) in Malang District. This study consist of 31 samples of children suffered PEM in region of Puskesmas Bareng in Malang District. Supplemental food was given for 90 days during March – October 2003. The first step was making/compilation of formulated WHO/Modification as
lxiv

according to the Guide Book for Handling Under-Nutrition, continued with process of given and evaluate result Gift of Side Dish with minimum composition one day, it contains 350 – 400 Calorie and 10 – 15 gram protein. The results indicated that the average energy and protein formula were 394,47 Calorie and 11,94 gram, that contributes 23,20 - 32,87% from total requirement of energy and 44,22 - 59,7% protein. The result of anthropometrics, show that 90,31% childrens gained body weight between -0,01 to 0,02 kg (mean 0,65). There was a significant relation between in creased of weight with supplementary feeding by formulated WHO (Y=0,0471X + 9,2795). The average consumption of energy was contributes 93,29% from total requirement (RDA). 58,1% childrens showed deficit energy intake, and 71% of them had protein intake higher than RDA (mean 140,7% from RDA). The final of this study indicated that most of childrens (58,06%) suffer under nutrition, 22,58% care in good nutrition and 19,35%. The result of linear regression test showed that there was a significant relation between nutritional status with supplementary feeding by formulated WHO. It is recommended that handling of supplementary feeding program should be conducted, for efficient and correct of target. Increase of health service also be conducted, and motivation of mothers to monitor their children growth should be priorities as well.

C27

Hubungan Subjective Global Assesment dengan Asupan Makan pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik dengan Dialisis Peritoneal Mandiri Berkesinambungan di RS. Dr. Sardjito Yogyakarta
1

Susetyowati12, Maulida Wiyanthi1, Ulfatul1
Nutrition Department, Faculty of Medicine Gadjah Mada University
2

General Hospital Sardjito Sardjito Yogyakarta

Gizi kurang merupakan indikator angka kesakitan dan kematian untuk pasien dialisis. Subyektif Global Assessment (SGA) digunakan untuk menentukan status gizi pada pasien Dialisis Peritoneal Mandiri Berkesinambungan (DPMB) dan dikenal sebagai metode penilaian status gizi yang aman dan biaya yang relatif murah. Ingin diketahui hubungan antara asupan energi dan protein dengan status gizi berdasarkan SGA pada pasien penyakit Ginjal Kronik (PGK) dengan DPMB di RS. Dr. Sardjito Yogyakarta. Pengambilan data dilaksanakan bulan agustus sampai september 2004. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita PGK dengan DPMB di Instalasi Renal RS. Dr. Sardjito Yogyakarta dengan jumlah sampel 25 orang. Data asupan energi dan protein diperoleh dengan menggunakan formulir recall 24 jam selama 3 hari, sedangkan penilian SGA dengan menggunakan formulir riwayat kesehatan dan fisik. Hasil skoring SGA, dikelompokkan menjadi SGA A (status gizi baik), SGA B (status gizi kurang tingkat ringan dan sedang) serta SGA C (status gizi kurang tingkat berat)
Hasil : Dari penelitian ini diketahui 60% pasien asupan energi kurang (< 35 kkal/kg BB/hari) dan 52 % asupan protein kurang (< 1,3 g/kg BB/hari). Hasil penilaian status gizi, 48 % pasien dengan SGA A dan 52% pasien SGA B dan C. Adanya hubungan yang bermakna antara asupan energi dan status gizi dengan parameter SGA (p<0,05).

lxv

C28

Penanggulangan Gizi Buruk di Era Desentralisasi: Pemerintah Daerah harus Jadi Pemain
Toto Suharto

Mahasiswa S-2 IKM UGM, Ketua Persagi DPC Sleman DIY

C29

Perbedaan Persepsi dan Daya Terima Pemberian Putih Telur dan Ekstrak Ikan Lele (Clarias Gariepinus) Pada Pasien Hipoalbuminemia di RS dr.Sardjito Yogyakarta
1

Tri Widyastuti1; M. Dawam Jamil2 RS Dr. Sardjito, 2Jurusan Gizi Poltekkes, Yogyakarta

Di Indonesia, data hospital malnutrition menunjukkan 40-55% pasien mengalami hipoalbuminemia atau berisiko hipoalbuminemia, 12% diantaranya hipoalbuminemia berat. Masa rawat inap pasien dengan hospital malnutrition 90% lebih lama dibanding dengan pasien gizi baik. Salah satu cara penanganan hipoalbuminemia yaitu memberikan serum albumin dari luar tubuh. Survei pada Januari 2004 di IRNA I RS Dr Sardjito terdapat 30 dari 197 pasien di lantai-1 (15,2%) yang menderita hipoalbuminemia. Penanganan pasien hipoalbuminemia di RS dr. Sardjito dilakukan dengan pemberian putih telur sebagai sumber albumin. Pemberian sumber albumin selain putih telur, yakni ekstrak lele sebagai alternatif sumber albumin. Konsumsi makanan dipengaruhi oleh persepsi dan daya terima pasien terhadap makanan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekstrak ikan lele sebagai alternatif sumber albumin ditinjau dari aspek rasa dan penampilan masakan serta daya pada pasien hipoalbuminemia. Desain penelitian adalah quasi-eksperimen dengan pendekatan post test. Pemilihan sampel secara ”randomisasi sistim blok”. Sampel dibagi dalam 2 kelompok, 25 pasien diberi putih telur sebagai kelompok kontrol dan 25 pasien diberi ekstrak lele sebagai kelompok perlakuan. Pengukuran persepsi dengan menggunakan formulir penilaian, dan daya terima ekstrak lele dan putih telur diukur sisa makanan yang disajikan. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik sampel adalah proporsi wanita lebih banyak, tingkat pendidikan terbesar tamat SD, sebagian besar dirawat di kelas III, proporsi dewasa lebih besar dibanding manula. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada persepsi aspek rasa dan penampilan masakan antara putih telur dan ekstrak lele. Daya terima ekstrak ikan lele 20,7 persen lebih tinggi secara signifikan (p<0,05) dibanding daya terima putih telur. Dengan demikian ekstrak ikan lele dapat digunakan sebagai alternatif sumber albumin selain putih telur atau sebagai variasi/ selingan pemberian sumber albumin selain putih telur.

lxvi

C30

Deteksi Dini Kretin Baru dalam Surveillans GAKY
Untung S. Widodo, Hadi Ashar, Yudha Patria Balai Penelitian GAKY, Magelang Kretin adalah manifestasi dari hypothyroid dalam kondisi paling berat yang berkelanjutan. Dampak yang nyata adalah munculnya hambatan pertumbuhan dan perkembangan pada usia anak-anak. Sebagaimana spectrum GAKY berupa hipothyroid, dapat diderita semua kelompok umur maka manifestasi berat yang beresiko munculnya kretin adalah apabila terjadi pada usia pertumbuhan. 0-18 tahun. Salah satu ultimate goal program penanggulangan GAKY adalah tidak munculnya kretin baru. Untuk itu diperlukan cara mendeteksi adanya kretin baru. Kegiatan pemantauan berkala, deteksi dini maupun intervensi dalam surveilans GAKY sangat nyata diperlukan dalam program penanggulangan GAKY khususnya kretin. Tersedia form skrening mulai neonatus, usia bayi, batita, balita hingga usia sekolah . Kumpulan gejala-gejala klinis yang muncul sejak lahir atau muncul kemudian setelah usia tertentu dapat digunakan dimasyarakat sebagai alat skrening, sebelum dilakukan penegakaan diagnosa menggunakan data laboratotium, TSH, T4 dan T3 atau pemeriksaan rongent kematangan tulang yang merupakan goal standard kepastian Hypothyroid.. Hanya pada anak-anak dengan tanda-tanda tersebut yang perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kegiatan ini memudahkan petugas puskesmas maupun bidan didesa mendeteksi dan akan banyak menghemat biaya daripada langsung pemeriksaan TTSH pada semua bayi baru lahir. Apabila kegiatan ini dapat dilakukan berkelanjutan untuk semua bayi baru lahir, maupun anak-anak yang sedang tumbuh didaerah endemik, maka jumlah kretin baru setiap saat dapat diketahui, selanjutnya pencegahan dan pengobatan dapat dilakukan dengan segera.
C31

Penatalaksanaan Gizi Buruk (Studi Kasus) Wahyu Hardi Prasetio Instalasi Gizi, RSUD Ulin, Banjarmasin Walaupun pemerintah Indonesia berupaya menanggulangi gizi buruk namun masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. WHO menyebutkan bahwa 54% angka kematian pada balita disebabkan karena gizi buruk. Di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 350 ribu bayi BBLR (dibawah 2500 gram), sekitar 6,7 juta balita gizi kurang (BB/U <-3.0SD) dan 1,5 juta di antaranya gizi buruk (BB/TB <- 3.0SD) yang memerlukan penanganan serius. Di Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin dari bulan Januari s/d Juli 2005 ditemukan 42 kasus gizi buruk yang di rawat di RSUD ULIN Banjarmasin, 5 orang meninggal dan 37 orang penderita pulang dalam perawatan, monitoring pihak puskesmas. Tujuan studi kasus ini untuk memberikan makanan yang adekuat agar penderita dapat memperbaiki status gizi dan kesehatan menjadi lebih baik secara bertahap. Metodologi berupa studi kasus pada 1 orang penderita gizi buruk yang dirawat di bangsal Anak RSUD ULIN Banjarmasin selama
lxvii

8 hari, dengan menggunakan alat dan bahan berupa : microtoise, ukuran tinggi badan, ukuran berat badan, ukuran timbangan bahan makanan 2 kg, tepung susu skim, minyak, gula pasir. Pemberian makanan /Modisco I secara bertahap dimulai dari 1200 sampai 1820 Kkalori, yang diberikan 12 kali lewat oral dalam 5 hari berturut-turut dengan kebutuhan yang dianjurkan 1 – 1,5 gr/kgBB. Hasil pengamatan selama pemberian modisco I secara bertahap 5 hari terjadi peningkatan asupan yang berarti. Penderita sangat menyukai modisco terbukti konsumsi yang diberikan dimakan habis. Pada awal nilai z-score 56% (KEP berat) naik menjadi 61% (KEP berat) pada hari ke 5 sehingga terjadi perbaikan status gizi walaupun masih KEP berat. Orangtua pasien juga membantu dengan memberikan motivasi untuk kesembuhan pasien. Kesimpulan terjadinya perubahan berat badan setelah diberikan modisco I secara bertahap. Saran dalam penanganan kasus sebaiknya bukan hanya intake makanan, berat badan yang dimonitor tetapi juga data klinis yang menunjang perkembangan kemajuan penderita.
C32 Pembuatan Chips tempe dari Kedelai Lokal (Willis) dan Impor (Amerika) dengan Variasi Waktu Fermentasi Wiwit Estuti

Jurusan Gizi Poltekkes Padang Tujuan dari pembuatan chips tempe adalah untuk memberikan nilai tambah tempe. Pada penelitian ini pembuatan tempe menggunakan dua jenis kedelai (impor dan lokal) dan tiga waktu fermentasi (30 jam, 32 jam, dan 34 jam). Pembuatan tempe dengan menggunakan metode II adalah metode terbaik. Proses selanjutnya setelah tempe jadi, tempe diiris, dikukus, dan dioven. Variasi kedelai dan waktu fermentasi sangat berpengaruh terhadap uji organoleptik (rasa). Enam sampel chips tempe dianalisa mutu kimianya. Hasil dari mutu kimia dari chips tempe yang dibuat mempunyai kandungan kadar air antara 3.61 - 5.55% (wb), kandungan kadar abu antara 2.00 - 2.36 % (db), kandungan lemak antara 21.17 -27.48% (db), kandungan protein antara 26.83-33.75% (db), dan kandungan karbohidrat antara 37.12 - 40.60% (db). Dan mutu fisik dari chips tempe mempunyai tektur 3.00 - 5.97 (Kg/mm/gram contoh).

lxviii

Pengurus DPP PERSAGI Pusat, DPD PERSAGI Provinsi Bali, Panitia Pelaksana Temu Ilmiah – Kongres PERSAGI XIII – Festival Gizi mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para : • Sponsor • Donatur • Semua pihak lain yang telah membantu dalam pendanaan, pemikiran, tenaga, dan bantuan lainnya dalam pelaksanaan Temu Ilmiah – Kongres PERSAGI XIII – Festival Gizi di Grand Inna, Bali Beach, Sanur, Bali pada tanggal 20 – 24 November 2005 sehingga dapat diselenggarakan dengan baik dan sukses. 1. PT Danone Biscuit Indonesia 2. PT Garuda Food 3. PT Gizindo 4. PT Kimia Farma 5. PT Kalbe Farma divisi Diabetasol 6. PT Focus Distribusi Indonesia 7. PT Nestle Indonesia (Dancow dan Nutren) 8. PT Sungai Budi 9. PT Cipta Rasa

lxix

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->