P. 1
Sistem Ketatanegaraan

Sistem Ketatanegaraan

|Views: 189|Likes:
Published by cepdirman

More info:

Published by: cepdirman on Oct 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/19/2015

pdf

text

original

Sistem Ketatanegaraan Indonesia Pasca Amandemen Posted by Pan Mohamad Faiz under Hukum Tata Negara, Konstitusi, UUD

1945 [177] Comments CARA CEPAT DAN RINGKAS MEMAHAMI PERUBAHAN SISTEM KETATANEGARAAN RI Berikut merupakan uraian singkat hasil presentasi penulis sebagai pemakalah yang disampaikan pada Diskusi Ilmiah pada tanggal 17 Maret 2007 di Kedutaan Besar New Delhi. Kepada peminat hukum maupun para pengunjung yang berulang kali menanyakan materi tentang perubahan sistem ketatanegaraan kontemporer RI dan memerlukan soft copy (power point) pemaparan secara lengkap, dapat menghubungi penulis sebagai mana terlampir di akhir artikel singkat berikut ini.

A. PENDAHULUAN

Konsep Negara Hukum (Rechtsstaat), mempunyai karakteristik sebagai berikut:

Penyelenggaraan negara berdasar Konstitusi. Kekuasaan Kehakiman yang merdeka. Penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia. Kekuasaan yang dijalankan berdasarkan atas prinsip bahwa pemerintahan, tindakan dan kebijakannya harus berdasarkan ketentuan hukum (due process of law ). UUD 1945 –> Sistem Penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman –> Lembaga Negara dan Organ yang Menyelenggarakan Kekuasaan Negara.

B. DASAR PEMIKIRAN DAN LATAR BELAKANG PERUBAHAN UUD 1945

Undang-Undang Dasar 1945 membentuk struktur ketatanegaraan yang bertumpu pada kekuasaan tertinggi di tangan MPR yang sepenuhnya

melaksanakan kedaulatan rakyat. Hal ini berakibat pada tidak terjadinya checks and balances pada institusi-institusi ketatanegaraan. Undang-Undang Dasar 1945 memberikan kekuasaan yang sangat besar kepada pemegang kekuasaan eksekutif (Presiden). Sistem yang dianut UUD 1945 adalah executive heavy yakni kekuasaan dominan berada di tangan Presiden dilengkapi dengan berbagai hak konstitusional yang lazim disebut hak prerogatif (antara lain: memberi grasi, amnesti, abolisi dan rehabilitasi) dan kekuasaan legislatif karena memiliki kekuasan membentuk Undang-undang. UUD 1945 mengandung pasal-pasal yang terlalu “luwes” dan “fleksibel” sehingga dapat menimbulkan lebih dari satu penafsiran (multitafsir), misalnya Pasal 7 UUD 1945 (sebelum di amandemen). UUD 1945 terlalu banyak memberi kewenangan kepada kekuasaan Presiden untuk mengatur hal-hal penting dengan Undang-undang. Presiden juga memegang kekuasaan legislatif sehingga Presiden dapat merumuskan hal-hal penting sesuai kehendaknya dalam Undang-undang. Rumusan UUD 1945 tentang semangat penyelenggaraan negara belum cukup didukung ketentuan konstitusi yang memuat aturan dasar tentang kehidupan yang demokratis, supremasi hukum, pemberdayaan rakyat, penghormatan hak asasi manusia dan otonomi daerah. Hal ini membuka peluang bagi berkembangnya praktek penyelengaraan negara yang tidak sesuai dengan Pembukaan UUD 1945, antara lain sebagai berikut: a. Tidak adanya check and balances antar lembaga negara dan kekuasaan terpusat pada presiden. b. Infra struktur yang dibentuk, antara lain partai politik dan organisasi masyarakat. c. Pemilihan Umum (Pemilu) diselenggarakan untuk memenuhi persyaratan demokrasi formal karena seluruh proses tahapan pelaksanaannya dikuasai oleh pemerintah. d. Kesejahteraan sosial berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 tidak tercapai, justru yang berkembang adalah sistem monopoli dan oligopoli. C. HIERARKI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Menurut TAP MPRS XX Tahun 1966:

UUD 1945

TAP MPR UU/PERPU Peraturan Pemerintah Keputusan Presiden Peraturan Menteri Instruksi Menteri Menurut TAP MPR III Tahun 2000:

UUD 1945 TAP MPR UU PERPU PP Keputusan Presiden Peraturan Daerah Menurut UU No. 10 Tahun 2004:

UUD 1945 UU/PERPU Peraturan Pemerintah Peraturan Presiden Peraturan Daerah D. KESEPAKATAN PANITIA AD HOC TENTANG PERUBAHAN UUD 1945

Tidak mengubah Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, sistematika, aspek kesejarahan dan orisinalitasnya. Tetap mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Mempertegas Sistem Pemerintahan Presidensial. Penjelasan UUD 1945 ditiadakan serta hal-hal normatif dalam penjelasan dimasukkan dalam pasal-pasal. Perubahan dilakukan dengan cara “adendum”. E. LEMBAGA NEGARA DAN SISTEM PENYELENGGARAAN KEKUASAAN NEGARA SEBELUM PERUBAHAN UUD 1945

Deskripsi Singkat Struktur Ketatanegaraan RI Sebelum Amandemen UUD 1945:

Undang-Undang Dasar merupakan hukum tertinggi, kemudian kedaulatan rakyat diberikan seluruhnya kepada MPR (Lembaga Tertinggi). MPR mendistribusikan kekuasaannya (distribution of power) kepada 5 Lembaga Tinggi yang sejajar kedudukannya, yaitu Mahkamah Agung (MA), Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

MPR

Sebagai Lembaga Tertinggi Negara diberi kekuasaan tak terbatas (super power) karena “kekuasaan ada di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR” dan MPR adalah “penjelmaan dari seluruh rakyat Indonesia” yang berwenang menetapkan UUD, GBHN, mengangkat presiden dan wakil presiden. Susunan keanggotaannya terdiri dari anggota DPR dan utusan daerah serta utusan golongan yang diangkat. Dalam praktek ketatanegaraan, MPR pernah menetapkan antara lain:

Presiden, sebagai presiden seumur hidup. Presiden yang dipilih secara terus menerus sampai 7 (tujuh) kali berturut turut. Memberhentikan sebagai pejabat presiden. Meminta presiden untuk mundur dari jabatannya. Tidak memperpanjang masa jabatan sebagai presiden.

Lembaga Negara yang paling mungkin menandingi MPR adalah Presiden, yaitu dengan memanfaatkan kekuatan partai politik yang paling banyak menduduki kursi di MPR. PRESIDEN

Presiden memegang posisi sentral dan dominan sebagai mandataris MPR, meskipun kedudukannya tidak “neben” akan tetapi “untergeordnet”. Presiden menjalankan kekuasaan pemerintahan negara tertinggi (consentration of power and responsiblity upon the president). Presiden selain memegang kekuasaan eksekutif (executive power), juga memegang kekuasaan legislative (legislative power) dan kekuasaan yudikatif (judicative power). Presiden mempunyai hak prerogatif yang sangat besar. Tidak ada aturan mengenai batasan periode seseorang dapat menjabat sebagai presiden serta mekanisme pemberhentian presiden dalam masa jabatannya. DPR

Memberikan persetujuan atas RUU yang diusulkan presiden. Memberikan persetujuan atas PERPU. Memberikan persetujuan atas Anggaran. Meminta MPR untuk mengadakan sidang istimewa guna meminta pertanggungjawaban presiden. DPA DAN BPK

Di samping itu, UUD 1945 tidak banyak mengintrodusir lembaga-lembaga negara lain seperti DPA dan BPK dengan memberikan kewenangan yang sangat minim. F. LEMBAGA NEGARA DAN SISTEM PENYELENGGARAAN KEKUASAAN NEGARA SESUDAH PERUBAHAN UUD 1945

Deskripsi Struktur Ketatanegaraan RI “Setelah” Amandemen UUD 1945:

Undang-Undang Dasar merupakan hukum tertinggi dimana kedaulatan berada di tangan rakyat dan dijalankan sepenuhnya menurut UUD. UUD memberikan pembagian kekuasaan (separation of power) kepada 6 Lembaga Negara dengan kedudukan yang sama dan sejajar, yaitu Presiden, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkamah Agung (MA), dan Mahkamah Konstitusi (MK).

Perubahan (Amandemen) UUD 1945:

Mempertegas prinsip negara berdasarkan atas hukum [Pasal 1 ayat (3)] dengan menempatkan kekuasaan kehakiman sebagai kekuasaan yang merdeka, penghormatan kepada hak asasi manusia serta kekuasaan yang dijalankan atas prinsip due process of law. Mengatur mekanisme pengangkatan dan pemberhentian para pejabat negara, seperti Hakim. Sistem konstitusional berdasarkan perimbangan kekuasaan (check and balances) yaitu setiap kekuasaan dibatasi oleh Undang-undang berdasarkan fungsi masing-masing. Setiap lembaga negara sejajar kedudukannya di bawah UUD 1945. Menata kembali lembaga-lembaga negara yang ada serta membentuk beberapa lembaga negara baru agar sesuai dengan sistem konstitusional dan prinsip negara berdasarkan hukum. Penyempurnaan pada sisi kedudukan dan kewenangan maing-masing lembaga negara disesuaikan dengan perkembangan negara demokrasi modern. MPR

Lembaga tinggi negara sejajar kedudukannya dengan lembaga tinggi negara lainnya seperti Presiden, DPR, DPD, MA, MK, BPK. Menghilangkan supremasi kewenangannya. Menghilangkan kewenangannya menetapkan GBHN.

Menghilangkan kewenangannya mengangkat Presiden (karena presiden dipilih secara langsung melalui pemilu). Tetap berwenang menetapkan dan mengubah UUD. Susunan keanggotaanya berubah, yaitu terdiri dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan angota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih secara langsung melalui pemilu. DPR

Posisi dan kewenangannya diperkuat. Mempunyai kekuasan membentuk UU (sebelumnya ada di tangan presiden, sedangkan DPR hanya memberikan persetujuan saja) sementara pemerintah berhak mengajukan RUU. Proses dan mekanisme membentuk UU antara DPR dan Pemerintah. Mempertegas fungsi DPR, yaitu: fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan sebagai mekanisme kontrol antar lembaga negara. DPD

Lembaga negara baru sebagai langkah akomodasi bagi keterwakilan kepentingan daerah dalam badan perwakilan tingkat nasional setelah ditiadakannya utusan daerah dan utusan golongan yang diangkat sebagai anggota MPR. Keberadaanya dimaksudkan untuk memperkuat kesatuan Negara Republik Indonesia. Dipilih secara langsung oleh masyarakat di daerah melalui pemilu. Mempunyai kewenangan mengajukan dan ikut membahas RUU yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, RUU lain yang berkait dengan kepentingan daerah. BPK

Anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD. Berwenang mengawasi dan memeriksa pengelolaan keuangan negara (APBN)

dan daerah (APBD) serta menyampaikan hasil pemeriksaan kepada DPR dan DPD dan ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum. Berkedudukan di ibukota negara dan memiliki perwakilan di setiap provinsi. Mengintegrasi peran BPKP sebagai instansi pengawas internal departemen yang bersangkutan ke dalam BPK. PRESIDEN

Membatasi beberapa kekuasaan presiden dengan memperbaiki tata cara pemilihan dan pemberhentian presiden dalam masa jabatannya serta memperkuat sistem pemerintahan presidensial. Kekuasaan legislatif sepenuhnya diserahkan kepada DPR. Membatasi masa jabatan presiden maksimum menjadi dua periode saja. Kewenangan pengangkatan duta dan menerima duta harus memperhatikan pertimbangan DPR. Kewenangan pemberian grasi, amnesti dan abolisi harus memperhatikan pertimbangan DPR. Memperbaiki syarat dan mekanisme pengangkatan calon presiden dan wakil presiden menjadi dipilih secara langsung oleh rakyat melui pemilu, juga mengenai pemberhentian jabatan presiden dalam masa jabatannya. MAHKAMAH AGUNG

Lembaga negara yang melakukan kekuasaan kehakiman, yaitu kekuasaan yang menyelenggarakan peradilan untuk menegakkan hukum dan keadilan [Pasal 24 ayat (1)]. Berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peaturan perundangundangan di bawah Undang-undang dan wewenang lain yang diberikan Undang-undang. Di bawahnya terdapat badan-badan peradilan dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan militer dan lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN). Badan-badan lain yang yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam Undang-undang seperti : Kejaksaan, Kepolisian, Advokat/Pengacara dan lain-lain.

MAHKAMAH KONSTITUSI

Keberadaanya dimaksudkan sebagai penjaga kemurnian konstitusi (the guardian of the constitution). Mempunyai kewenangan: Menguji UU terhadap UUD, Memutus sengketa kewenangan antar lembaga negara, memutus pembubaran partai politik, memutus sengketa hasil pemilu dan memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh presiden dan atau wakil presiden menurut UUD. Hakim Konstitusi terdiri dari 9 orang yang diajukan masing-masing oleh Mahkamah Agung, DPR dan pemerintah dan ditetapkan oleh Presiden, sehingga mencerminkan perwakilan dari 3 cabang kekuasaan negara yaitu yudikatif, legislatif, dan eksekutif. SEKIAN

Pertanyaan dan Saran dapat disampaikan kepada Pemakalah melalui: Email : pm_faiz_kw@yahoo.com HP : +91 9818547489 Website: http://panmohamadfaiz.com.

Share this: StumbleUpon Digg Reddit Like this: Like Be the first to like this.

177 RESPONSES TO “SISTEM KETATANEGARAAN INDONESIA PASCA AMANDEMEN”

noken Says:

March 7, 2008 at 10:17 am tolong uraikan uud 1945 pasal 1-pasal 36

terima kasih

Untuk mengetahui lebih jelas terhadap uraian pasal per pasal dalam UUD 1945, saya menyarankan anda untuk melihat buku karya Prof. Jimly tentang UUD 1945 setelah Amandemen berserta keterangannya. Dalam buku tersebut telah diuraikan cukup baik, karena beliau juga menjadi ahli dalam penyusunan UUD 1945 amandemen. Namun, jika ada pasal khusus yang sekiranya membutuhkan uraian cepat, maka akan saya coba bantu berdasarkan pengetahuan yang saya miliki. Terima Kasih.

PS: Jika anda membutuhkan UUD 1945 versi asli hingga amandemen terakhir, and dipersilahkan mengirimkan email ke saya.

Reply octa Says:

March 24, 2011 at 6:31 am pa,,maaf, apa saya bisa mendapat UUD versi asli hingga amandemen terahir? terima kasih… email saya:martin.octavianus@yahoo.com

Reply Nika Says:

May 20, 2011 at 12:25 pm Kenapa Mas Octa tidak mencoba mencari dulu di fasilitas mesin pencari di internet? gampang kok. Banyak juga booklet UUD 1945 (amandemen) yang dijual bebas dgn harga murah. Sudah pernah ke toko Buku? :)

*Maaf Pak, saya paling gemas kalau lihat pertanyaan minta tolong instan seperti di atas.

Romi K.saputra Says:

March 10, 2008 at 3:25 am ass. saya menginginkan penjelasan yang lebih rinci tentang hak prerogatif presiden sesudah amandemen UUD 1945.terimakasih

Sebagai negara yang menganut ciri constitutional government sebagai unsur penting negara hukum, maka kekuasaan Pemerintah, dalam hal ini Presiden, diatur dalam UUD 1945 [Lihat Pasal 4 ayat (1)]. Adapun beberapa hak atau kewenangan konstitusional yang dimiliki oleh Presiden pasca Perubahan UUD 1945 adalah sebagai berikut:

1. Mengajukan rancangan undang-undangan kepada DPR [Lihat Pasal 5 ayat (1)]; 2. Menetapkan peraturan pemerintah untuk menjalankan undang-undangn sebagaimana mestinya [Lihat Pasal 5 ayat (2)]; 3. Memegang jabatan selama lima tahun dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan (Lihat Pasal 7); 4. Memegang kekuasaan yang tertinggi atas Angkatan Darat, Angakatan Laut, dan Angkatan Udara (Lihat Pasal 10); 5. Dengan persetujuan DPR, menyatakan perang, membuat perdamaian, dan perjanjian dengan negara lain [Lihat Pasal 11 ayat (1)];

6. Membuat perjanjian internasional yang menimbulkan akibat luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan negara, dan/atau mengharuskan perubahan atau pembukaan undang-undang dengan persetujuan DPR [Lihat Pasal 11 ayat (2)]; 7. Menyatakan keadaan bahaya yang syarat-syaratnya dan akibatnya ditetapkan dengan undang-undang (Pasal 12); 8. Mengangkat duta dan konsul dengan memerhatikan pertimbangan DPR [Lihat Pasal 13 ayat (1)]; 9. Menerima penempatan duta negara lain dengen memerhatikan pertimbangan DPR [Lihat Pasal 13 ayat (2)]; 10. Memberi grasi dan rehabilitasi dengan memerhatikan pertimbangan Mahkamah Agung [Lihat Pasal 14 ayat (1)]; 11. memberi amnesti dan abolisi dengan memerhatikan pertimbangan DPR [Lihat Pasal 14 ayat (2)]; 12. Memberi gelar, tanda jasa dan lain-lain tanda kehormatan yang diatur dengan undang-undang (Lihat Pasal 15); 13. Membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan nasehat dan pertimbangan kepada Presiden yang selanjutnya diatur dalam undang-undang (Lihat Pasal 16); 14. Mengangkat dan memberhentikan menteri negara (Lihat Pasal 17 ayat (2)]; 15. Mengesahkan rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh DPR dan Presiden menjadi undang-undang [Lihat Pasal 20 ayat (4)]; 16. Mengajukan rancangan undang-undang tentang APBN untuk dibahas bersama DPR dengan memerhatikan pertimbangan DPD [Lihat Pasal 23 ayat (2)]; 17. Meresmikan anggota BPK yang telah dipilih oleh DPR dengan memerhatikan pertimbangan DPD [Lihat Pasal 23F ayat (1)]; 18. Menetapkan hakim agung yang diusulkan oleh Komisi Yudisial dan mendapatkan persetujuan DPR [Lihat Pasal 24A ayat (3)]; 19. Mengangkat dan memberhentikan anggota Komisi Yudisial dengan persetujuan DPR [Lihat Pasal 24B ayat (3)]; 20. Menetapkan hakim konstitusi pada Mahkamah Konstitusi yang diajukan masing-masing oleh Mahkamah Agung tiga orang, oleh DPR tiga orang, dan oleh Presiden tiga orang [Lihat Pasal 24C ayat (3)].

Terhadap Hak Prerogratif atau Hak Mutlak merupakan hak yang dimiliki Presiden secara penuh dan tidak memerlukan persetujuan dari pihak atau lembaga lain dalam penggunaannya. Sebagai contoh, dari beberapa hak Presiden di atas, pemberian amnesti, abolisi, grasi, dan rehabilitasi merupakan hak mutlak di tangan Presidn. Walaupun Presiden diharuskan memerhatikan pertimbangan DPR atau MA, akan tetapi pertimbangan tersebut tidak mengikat dan tidak mutlak mempengaruhi hak penuh presiden sendiri. Begitupula dengan pengangkatan menteri-menterinya, merupakan hak mutlak Presiden.

Adapun adanya ketentuan untuk meminta pertimbangan terlebih dahulu terhadap beberapa hak mutlak Presiden, semata-mata untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan wewenang dan keputusan yang diambil lebih bersifat transparan dan relevan. Salah satu kemungkinan yang terjadi yaitu pemilhan Duta Besar dan Konsul yang seringkali dianggap sebagai “hadiah” atau “pengasingan” bagi tokoh-tokoh bangsa sebagaimana terjadi sebelum adanya Amandemen UUD 1945. Dengan adanya hal tersebut, walaupun Presiden mempunya hak prerogatif tetapi tetap ada rambu-rambu konstitusional yang harus ditaati.

Semoga membantu. Terima kasih.

Salam, PMF

Reply tutut eliyati Says:

March 13, 2008 at 12:07 pm Ass.. mohon bantuannya mengenai uraian dan penjelasan mengenai 7 kunci sistem pemerintahan indonesia, hubungan antara lembaga-lembaga negara, tugas dan wewenang lembaga-lemabaga negara berdasarkan UUD 1945 sebelum amandemen dan hasil amandemen. Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih. Wassalam

Hubungan, tugas dan wewenang secara umum lembaga-lembaga negara yang kewenangannya diberikan langsung oleh UUD 1945 pasca amandemen telah saya uraikan secara ringkas seperti di atas. Jika ibu menanyakan tentang buku yang bisa dijadikan pedoman untuk melihat lebih rincinya (sebagaimana pesan sms yang telah saya terima), maka berikut beberapa buku karangan Prof. Jimly Asshiddiqie [Guru Besar Hukum Tata Negara UI dan Ketua MKRI 2003-2008] yang dapat dijadikan rujukan:

1. Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi , diterbitkan oleh Konstitusi Press. 2. BAB V dalam Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia , diterbitkan oleh PT Bhuana Ilmu Populer (BIP), Gramedia. 3. Sengketa Kewenangan Antarlembaga Negara , diterbitkan oleh Konstitusi Press.

Apabila Anda sulit memperolehnya pada toko buku di kota Anda, silahkan mencoba menghubungi kebagian Penerbitnya:

- BIP Gramedia: Jl. Kebahagiaan No. 11A, Jakarta Barat 11140 - Konstitusi Press: Koperasi Mahkamah Konstitusi RI. Jl. Medan Merdeka Barat No 6 Jakarta 10110. Telp (lama) (021) 3520173, 3520787 atau Fax (021) 3522087.

Mengenai 7 kunci sistem pemerintahan akan saya susulkan kemudian, namun perlu dipahami saat ini hal tersebut bukan lagi menjadi patokan dasar dan satu-satunya dalam penyelenggaran negara RI.

Semoga membantu. Terima kasih.

Salam, PMF

Reply NN Says:

April 8, 2008 at 3:19 pm mas bagaimana cara mengadakan perjanjian internasional di Indonesia sebelum dan sesudah amandemen UUD 1945? atas bantuanya terima kasih

Silahkan anda membaca dua artikel saya dengan kategori “Perjanjian Internasional”. Di sana anda akan menemukan jawabannya. Terima kasih.

Reply stphanie Says:

April 11, 2008 at 10:04 am minta tolong sebutkan pembagian kekuassan di indonesia dalam hubungannya antar lembaga negara?? trims

Pembagian kekuasaan negara menurut beberapa ahli, yaitu: 1. Montesquieu [L’Esprit des Lois, 1748] membagi dalam 3 (tiga) cabang: a. Legislatif (the legislative function) b. Eksekutif (the executive or administrative function) c. Yudisial (the judicial function) 2. John Locke membaginya dalam 3 (tiga) fungsi: a. Fungsi Legislatif

b. Fungsi Eksekutif c. Fungsi Federatif 3. van Vollenhoven membagi menjadi 4 (empat) fungsi (catur praja): a. Regeling (pengaturan) b. Bestuur (eksekutif) c. Rechtspraak (peradilan); dan d. Politie (fungsi ketertiban).

Teori mengenai pembagian kekuasaan (divison of power atau distribution of power) pada dasarnya berasal dari Montesquieu dengan trias politica-nya. Namun dalam perjalanannya, telah berkembang berbagai versi yang digunakan oleh para ahli lainnya terkait dengan peristilahannya.

Sebelum adanya amandemen UUD 1945, perspektif yang digunakan oleh banyak ahli Indonesia yaitu konsep pembagian kekuasaan (division of power) yang bersifat vertikal. Sedangkan setelah amanedemen UUD 1945, perspektif yang digunakan yaitu pemisahan kekuasaan (separation of power) berdasarkan prinsip checks and balances.

Oleh karena itu, Konstitusi kita kini tidak dapat lagi dapat dikatakan menganut prinsip pembagian kekuasaan yang bersifat vertikal, tetapi juga tidak menganut paham trias politica Montesquieu yang memisahkan cabang-cabang kekuasaan legisaltif, eksekutif dan judisial secara mutlak.

Dalam hubungannya dengan antar lembaga negara, cabang-cabang kekuasaan yang ada di Indonesia saat ini saling mengendalikan dan menjadi penyeimbang satu sama lainnya sesuai dengan prinsip-prinsip checks and balances. Misalnya, telah hadirnya mekanisme pengujian konstitusional (constitutional review) di tangan Mahkamah Konstitusi, atau tidak terdapatnya lagi lembaga negara dengan status “tertinggi” melainkan semua lembaga negara memiliki status dan derajat yang sama.

Semoga penjelasan sederhana ini bisa memberikan jawaban yang cukup.

Terima kasih.

- PMF -

Reply Lidya Says:

April 16, 2008 at 9:38 am mas, mau tanya… 1. proses permohonan pemberian amnesti bagaimana ya?

2.penjelasan mengenai amnesti berdasarkan UUD 1945 dengan rinci seperti apa ya?

3.apakah makar termasuk kedalam kejahatan politik dan apakah pelakunya dapat diberikan amnesti?

thanks ya mas….

Pertanyaan No. 1 dan No. 2 akan saya jelaskan sekaligus, karena berkaitan erat satu sama lainnya.

Menurut UUD 1945, proses pemberian amnesti hadir atas inisiatif Presiden selaku kepala negara. Hal ini berbeda dengan grasi yang insiatif permohonannya datang dari terpidana itu sendiri. Berdasarkan Pasal 14 ayat (2) UUD 1945, Presiden mempunyai kewenangan mutlak untuk memberikan Amnesti (dan Abolisi). Namun demikian, dalam memberikan amnesti, Presiden harus memperhatikan pertimbangan DPR terlebih dahulu, walaupun pertimbangan tersebut tidaklah mengikat secara absolut.

Lebih lanjut anda bisa melihat peraturan mengenai Amnesti pada UU Darurat No. 11 Tahun 1954 tentang Amnesti dan Abolisi dan UU No. 27 Tahun 2004 tentang KKR (namun UU KKR ini sekarang sudah tidak berlaku lagi setelah adanya Putusan dari MK).

Menjawab Pertanyaan No. 3, makar juga masuk dalam salah satu kategori kejahatan politik. Oleh karenanya pelakunya pun juga mempunyai kesempatan untuk memperoleh Amnesti dari Presiden. Sebagai contoh, Presiden Soekarno pernah mengeluarkan Keppres No 303 Tahun 1959 dan Keppres No 449 Tahun 1961 untuk memberikan amnesti kepada para pelaku pemberontakan yang tergabung di dalam DI/TII Aceh di bawah komando Daued Beureuh dan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan.

Semoga jawaban ini dapat membantu yah Mbak Lidya.

Regards, PMF

Reply Dedex Says:

April 21, 2008 at 1:23 pm Mas, Tolong. 7 kunci Sistem Pemerintah di Indonesia tu apa ja Mas….??

Apakah yang anda maksud mengenai Tata Kelola Pemerintahan yang Baik? Saya belum pernah menerima materi seperti itu. Mungkin justru anda bisa jelaskan kepada para pembaca di sini sedikit pijakan dasar anda terhadap hal tersebut, sehingga apabila telah jelas yang anda maksud bisa saya carikan penjelasan lanjutannya. Terima kasih.

Reply ansyari Says:

May 31, 2008 at 3:48 am bagai mna hub antara DPr dan presiden pda saat amandemen dan sesudah amandemen

Bisa Sdr. Ansyari jelaskan terlebih dahulu maksud “hub” dalam hal apa? Mengenai perbedaannya sudah saya singgung di atas. Untuk secara ringkas, kita dapat mengatakan perbedaan mendasarnya bahwa sebelum amandemen terjadi executive heavy, sedangkan pasca amandemen yang terjadi adalah legislative heavy.

Demikian yang bisa saya jelaskan.

Reply mila Says:

June 5, 2008 at 3:27 am Penjelasan mas lebih kepada Lembaga Negara yang dasar hukumnya secara tersirat diatur dalam UUD 1945. Trus bagaimana dengan lembaga-lembaga pemerintah maupun Komisi-komisi yang pengaturan dasar hukum bervariasi (ada yang berdasarkan Keppres, PP, maupun UU), apakah juga ikut mengalami perubahan setelah adanya amandemen UUD 1945, karena kesemua lembaga pemerintah n komisi tidak disebut secara eksplisit.

Trus bagaimana suatu aturan memberikan pembedaan dasar hukum, padahal kewenangan yang diberikan aturan tersebut sama.

Selama tidak ada perubahan dalam dasar hukum pembentukannya, maka lembaga atau Komisi-komisi tersebut tidak mengalami perubahan atau dalam

kata lain tetap eksis dan menjankan fungsi dan peran sebagaimana mestinya. Justru kebanyakan Lembaga dan Komisi tersebut hadir pasca terjadinya amandemen UUD 1945, bahkan jumlahnya terus meningkat. Oleh karena itu ada usulan agar Lembaga/Komisi tersebut dirampingkan karena dalam kenyataannya tidak efisien dan efektif dalam mendukung jalannya rodak Kepemerintahan.

Dalam bukunya, Prof. Jimly menjelaskan – yang secara ringkas sbb: bahwa semua lembaga negara di Indonesia, baik yang diatur keberadaannya dalam UUD 1945 maupun yang tidak diatur dalam UUD 1945, sepanjang keberadaanya diatur oleh atau dalam UU tersendiri, biasanya selalu mendapat delegasi kewenangan untuk mengatur sendiri hal-hal yangt bersifat teknis operasional pelaksanaan tugas dan wewenangnya. Atas dasar pendelegasian kewenangan (legislative delegation) ini, lembaga-lembaga dimaksud menetapkan peraturan delegasian (delegated legislation) dalam rangka melaksanakan UU sebagai “implementing legislation” yang dapat disebut sebagai executive act.

Dalam hubungan ini dapat dibedakan menjadi: 1. Lembaga-lembaga tinggi negara; 2. Lembaga-lembaga pemerintahan atau penunjang pemerintahan (auxilary agencies) yang bersifat independen dan/atau menjalankan fungsi-fungsi campuran; 3. Lembaga-lembaga pemerintahan non-departemen.

Demikian Sdri Mila yang bisa saya sampaikan, semoga memberikan sedikit pencerahan.

Regards, PMF

Reply Salomo Says:

June 17, 2008 at 1:35 pm Mas alasan mengapa grasi dan rehabilitasi memerlukan pertimbangan MA sedangkan pemberian Amnesti dan Abolisi memerlukan pertimbangan DPR?

Regards, Sal

Reply ansyari Says:

June 19, 2008 at 4:45 am maksud saya ..tentang hub kerja sama dan kedudukan Presidan Dan DPR sebelum dan sesudah amandemen .. tlong jelaskan

Reply Indra Says:

June 20, 2008 at 3:53 am mau nanya dunk apa yang seharusnya yang terjadi antara hubungan antara mpr, dpr, dan presiden setelah amandemen, karena sepertinya presiden dan mpr kalah oleh dpr?

Reply rizka Says:

July 12, 2008 at 10:27 am ass.berapa jumlah lembaga-lembaga negara di Indonesia sekarang? tolong jelaskan masing-masingnya! terima kasih

Reply lidya Says:

July 14, 2008 at 4:06 am mas, mau nanya…. 1.syarat formal n syarat materil pemberian amnesti apa ya mas? 2. apakah presiden langsung memberikan amnesti tanpa melalui prosedur?

thanks ya mas…..

Reply INDAH Says:

July 20, 2008 at 5:00 am saya mau tanya, tolong jelaskan secara rinci bagaimana tata urutan lembagalembaga negara setelah di amandemen? dan juga bagaimana kedudukan setiap lembaga negara tersebut?

Reply ikhwan Says:

June 2, 2011 at 6:08 pm Pak mf,,,analisis perbedaan tentang tata urutan perundang-undangan yg berlaku di negeri ini,antara tahun 1966,2000,dan 2004 itu yg membedakan

apa saja ya pa’….sblmnya bnyak terima kasih pa’,,,

Reply Lidya Says:

July 23, 2008 at 3:56 am Mas mau nanya lg… 1. Kenapa pemberian amnesti itu diberikan sebelum dan sesudah putusan pengadilan? 2. Apa yg membedakan pemberian amnesti itu diberikan sebelum dan sesudah putusan pengadilan? Makasih y mas….

Reply muhammad irfan Says:

July 31, 2008 at 8:00 am mas saya mau tanya bagaimana analisis anda tentang kekuasaan DPR pasca perubahan konstiusi yang fullpower dihubungkan dengan sistem pemerintahan Indonesia yang presidensiil.

Reply brian Says:

August 3, 2008 at 12:12 pm tolong beri tahu tentang perubahan yang terjadi terhadap ketatanegaraan indonesia setelah amandemen uud 1945 .?

trims

Silahkan dilihat kembali artikel-artikel saya yang berhubungan dengan sistem Ketatanegaraan, khususnya artikel yang di atas ini. Terima kasih.

Reply RIKA Says:

August 7, 2008 at 2:17 am Ssya mau tanya tentang pasal 33, apakah benar2 sudah diamandemen??dan dampak nya dari amandemen pasal 33 itu apa??? tolong djwab secepat nya ya.. thanks

Pasal 33 UUD 1945 sudah diamandemen pada tanggal 10 Agustus 2002. Adapun perubahannya adalah sebagai berikut:

Sebelum Amandemen

BAB XIV KESEJAHTERAAN SOSIAL Pasal 33 (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Setelah Amandemen

BAB XIV PEREKONOMIAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL****) Pasal 33 (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. ****) (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. ****)

Maka, setelah adanya perubahan Pasal 33 ini lebih menegaskan tujuan daripada sistem perekonomian Indonesia, yaitu untuk kepentingan rakyat banyak dan tidak dimonopoli oleh orang atau kelompok tertentu. Sedangkan untuk pengaturannya lebih lanjut, UUD memberikan delegasi agar diatur dalam Undang-Undang.

Reply mahfud Says:

August 14, 2008 at 6:54 am mas tolong jelaskan latar belakang mekanisme perubahan konstitusi/ UUD 1945 sebelum dan sesudah amandemen.

Sebelum saya jelaskan latar belakang perubahan UUD 1945, ada baiknya kita melihat Pasal Perubahan UUD 1945 sebelum Amandemen:

Pasal 37 (1) Untuk mengubah Undang-Undang Dasar sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat harus hadir. (2) Putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya 2/3 daripada jumlah anggota yang hadir.

Pasal tersebut di atas merupakan salah satu Pasal yang menciptakan terjadinya “sakralisasi” UUD 1945 yang menciptakan mekanisme amandemen yang sulit ditempuh. Terlebih lagi dengan dikeluarkannya TAP MPR No. IV/MPR/1983 tentang Referendum yang merubah ketentuan yang tertulis di dalam UUD 1945 itu sendiri dengan memuat ketentuan bahwa perubahan UUD 1945 baru dapat dilakukan apabila dilakukan referendum dengan diikuti oleh minimal 90% dari penduduk Indonesia dan disetujui oleh minimal 90% dari para peserta referendum tersebut. Untuk lebih menguatkan ketentuan tersebut, maka dibentuklah UU No. 5 Tahun 1985 tentang Referendum. Akhirnya, Perubahan UUD 1945 menjadi terkunci dari semua lini yang mengakibatkan UUD 1945 tidak dapat tumbuh dan hidup mengikuti jaman (unliving constitution)

Setelah jatuhnya rezim Soeharto besera kroninya, di saat itu pulalah kesempatan mengubah ketentuan kaku dalam hal Perubahan UUD 1945 diambil. MPR mencabut TAP MPR No. IV/MPR/1983 melalui TAP No. VIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1983 tentang referendum, oleh karenanya ketentuan yang berlaku bagi prosedur perubahan UUD 1945 adalah kembali pada Pasal 37 UUD 1945. Hal tersebut ditegaskan kembali dalam TAP MPR No. VII/MPR/1998 tentang Perubahan dan Tambahan atas Ketetapan MPR RI No. I/MPR/1983 tentang Peraturan Tata Tertib MPR dan Pasal 1 angka 13 Tap. MPR No. VII/1999.

Setelah melewati proses Amandemen ke-1 s.d. ke-3 dengan dasar hukum mekanisme perubahan UUD 1945 pada Pasal 37 UUD 1945, kemudian untuk proses Amandemen ke-4 Pasal Perubahan tersebut diubah agar tidak lagi

menjadi lebih kaku dan sulit untuk ditempuh. Ketentuan akhir dari Pasal Perubahan UUD 1945 tersebut adalah sebagai berikut:

BAB XVI PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR Pasal 37

(1) Usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar dapat diagendakan dalam sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat apabila diajukan oleh sekurangkurangnya 1/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. ****)

(2) Setiap usul perubahan pasal-pasal Undang-Undang Dasar diajukan secara tertulis dan ditunjukkan dengan jelas bagian yang diusulkan untuk diubah beserta alasannya. ****)

(3) Untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar, Sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3 dari jumlah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. ****)

(4) Putusan untuk mengubah pasal-pasal Undang-Undang Dasar dilakukan dengan persetujuan sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu anggota dari seluruh anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat. ****)

(5) Khusus mengenai bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak dapat dilakukan perubahan. ****)

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga menjawab pertanyaan anda. Terima kasih

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->