PENGARUH TEMAN SEBAYA TERHADAP KECENDERUNGAN REMAJA UNTUK MEROKOK

Gandesmita Tresniansi 1206205250

I. Pendahuluan Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Masa remaja merupakan masa dimana kita menentukan pilihan-pilihan atas hal yang akan kita lakukan. Banyak gaya hidup yang mulai ditentukan semenjak remaja dan banyak pula hal-hal berdampak panjang yang telah kita lakukan sedari remaja. Salah satunya adalah merokok. Merokok dikalangan remaja merupakan tindakan yang dianggap wajar oleh para masyarakat masa kini. Banyaknya jumlah remaja yang merokok saat ini merupakan hal yang krusial yang perlu kita ketahui. Jumlah remaja Indonesia yang merokok sudah dalam fase yang mengkhawatirkan. Dibawah ini merupakan jumlah remaja perokok berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2007

Jum hR a P la em ja erokokta hun1995 dan2010 (da mpersen) la
4 0 3 0 2 0 1 0 0 7 0 ,3 19 95 21 00 1 ,6 1 4 1 9 3 7

R a em ja R a la i-la i em ja k k R a perem n em ja pua

Hal ini merupakan hal yang perlu mendapat perhatian lebih dari masyarakat. Merokok juga dapat menimbulkan masalah baru yaitu masalah kesehatan. Rokok mengandung nikotin yang mengakibatkan tekanan darah meningkat dan

1

Konformitas adalah perubahan perilaku seseorang dengan mengikuti tekanan-tekanan dari kelompok tersebut untuk dapat menerima normanorma kelompok (Sarwono. maka remaja akan cenderung mudah mengimitasi perilaku tersebut. 1999).detak jantung bertambah cepat. Rokok juga dapat menstimulasi munculnya penyakit kanker dan berbagai penyakit lainnya. Agen sosialisasi yang berperan penting dalam kehidupan remaja adalah orang tua. 1998) Kecenderungan remaja untuk merokok dipengaruhi oleh beberapa peran ataupun saluran sosial. Di antara remaja perokok. Perilaku merokok merupakan salah satu bentuk konformitas negatif dalam kelompok sebaya. begitu pula dengan remaja non perokok. munculnya perilaku rokok dikalangan remaja dapat muncul dikarenakan adanya konformitas diantara kelompok sebaya. Kebutuhan untuk diterima seringkali membuat remaja berbuat apa saja agar dapat diterima dengan kelompoknya dan terbebas dari sebutan ’banci’ atau ’pengecut’”. tidak ada pula peraturan yang mengatur mengenai batas minimum umur boleh merokok. Peraturan pemerintah maupun undang-undang yang ditetapkan mengenai rokok tidak cukup kuat dan kurang mendapat perhatian dari masyarakat.2000). 81 tahun 1999 mengenai pengamanan rokok bagi kesehatan kurang tersosialisasi dan kurang disentuh oleh masyarakat. karena pada saat itu mereka mulai memisahkan diri dari orang tua dan mulai bergabung dengan teman sebaya. Selain itu. terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok. (Zainun Mu’tadin. Sebagian besar remaja mau merokok karena merasa tidak terikat oleh suatu peraturan. Perilaku merokok pada remaja dapat muncul karena adanya sifat permitif dari orang tua (Komalasari & Helmi. Adanya teman sebaya (peer group) juga sangat berpengaruh pada munculnya perilaku merokok di kalangan remaja. PP no. 2002). Komalasari & Helmi (2000) mengungkapkan bahwa. ”Teman sebaya mempunyai peran yang sangat berarti bagi remaja. Selain itu. Kurangnya perhatian pemerintah mengenai konsumsi rokok memengaruhi meningkatnya jumlah remaja perokok. Remaja yang memiliki orang tua atau anggota keluarga lain yang merokok. (Kendal & Hammen. Konformitas di 2 .

Pengenalan terhadap rokok ini memicu para remaja untuk mencobanya. peer group juga dapat didefinisikan sebagai pertemanan dekat. Pengenalan mengenai rokok telah dialami oleh banyak remaja Indonesia. Kerangka Konsep Para remaja umumnya cenderung memiliki kelompok-kelompok pertemanan. Rokok bukan merupakan hal yang tabu bagi remaja maupun anak-anak masa kini. peer group merupakan sekumpulan remaja sebaya yang memiliki hubungan erat dan saling tergantung. Menurut Santrock (1998). teman kencan. tetapi secara mengejutkan bagian besar juga dengan orang tua(14%). Remaja cenderung merasa lebih nyaman dengan sosialisasi yang dilakukan dalam peer group karena biasanya bisa mengekspresikan diri mereka lebih bebas tanpa tekanan dari orang tua.kalangan remaja cukup tinggi sehingga remaja cenderung mengikuti perkataan teman agar dapat diterima oleh kelompok. Kelompok pertemanan ini disebut peer group. Menurut 3 . kebutuhan untuk diterima dalam kelompok sebaya. dan adanya konformitas negatif di kalangan kelompok sebaya. 1994) merokok tahap awal itu dilakukan dengan temanteman (64%). dan berujung pada timbulnya rasa ketergantungan terhadap rokok. dimana mereka menemukan teman-teman yang cocok dan bahkan memiliki kesamaan. Metodologi Berdasarkan permasalahan yang telah dijabarkan. Bagaimana teman sebaya (peer group) dapat memengaruhi seorang remaja untuk merokok? Teman sebaya dapat mempengaruhi remaja untuk merokok karena rasa nyaman dalam kelompok sebaya. dan juga large social ‘crowds’. Teknik pengumpulan data yang akan dipakai adalah pemakaian hasil penelitian dari beberapa skripsi dan jurnal yang telah diterbitkan. lalu merasa ketagihan. serta melakukan perbandingan pada data-data tersebut. metode yang akan digunakan untuk pembuktian terhadap thesis statement diatas adalah melalui tinjauan pustaka. Menurut Kobus (2003). jaringan sosial kecil. II. Menurut Leventhal (Smet. III. seorang anggota keluarga bukan orangtua (23%).

4 . Remaja juga dapat dengan mudah merasa ketergantungan terhadap rokok hanya dengan konsumsi awal yang sangat rendah . tidak memperdulikan. Initiation—tahap dimana orang mencoba beberapa batang rokok untuk pertama kalinya. dan berargumen bahwa merokok merupakan ritual sosial yang kompleks dan merokok dapat menjadi perilaku penting yang membantu mendefinisi jati diri. hubungan diantara teman sebaya lebih demokratis dibanding hubungan antara anak dengan orang tua. Experimentation—ditandai dengan meningkatnya frekuensi merokok secara bertahap. dan membangun jati diri sebagai perokok.Piaget (Giddens 1994:77). dan harapan untuk diterima dalam kelompok sebaya merupakan salah satu bagian dari tahap ini. Mausner (2000) telah membahas mengenai beberapa peningkatan sosial dari perilaku merokok. 2005). mulai terbiasa dengan perilaku merokok. diantaranya adalah. biasanya dilakukan bersama teman sebaya yang memiliki pengaruh sangat tinggi. Remaja yang tidak pernah mencoba rokok tidak akan bergerak dari tahap ini. munculnya perilaku merokok pada individu seorang remaja melewati beberapa tahapan. Precontemplation—pada tahap ini individu tidak memiliki dorongan untuk merokok dalam waktu dekat. serta tidak menyadari. namun yang lain akan tetap bertahan. Perokok yang tidak berkomitmen pada tahap ini akan gugur. Menjadi bagian dari keluarga yang berperilaku merokok juga membantu akses para remaja terhadap rokok. Merokok masih dipandang secara positif pada tahap ini. Remaja pada tahap ini tidak melihat perilaku merokok adalah hal yang positif. tahap ini terbentuk oleh pengaruh dari orang tua. Menurut (White dan Hayman. Contemplation and preparation—perkembangan dari kepercayaan positif dan sikap akan rokok. Perilaku merokok pada remaja mudah terjadi dikarenakan remaja merupakan tahap untuk mencari jati diri sehingga sering mencoba hal baru. walaupun secara fisiologis sudah terasa tidak menyenangkan. dan menolak tekanan untuk merokok. Beberapa faktor seperti meningkatkan kepercayaan diri. maupun media massa. teman sebaya.

dengan sebayanya remaja akan berusaha untuk diterima dan berusaha untuk tidak ditolak sehingga para remaja cenderung bersikap konformis dalam kelompok sebayanya. dan Donovan. Sebagian besar perokok pada tahap ini tidak melakukannya pada saat tertentu saja. Dalam peer group. 2003). perilaku merokok dapat dengan mudah tersosialisasi. Berdasarkan hal ini. Kelompok kebutuhan yang menuntut pemenuhan dari peer group sesuai konsep Palmer yang diadaptasikan dapat dibedakan atas 2 (dua). Berdasarkan kedua hal tersebut. telah timbul adiksi pada perokok dan penggunaan tembakau telah dirasakan para perokok untuk memenuhi kebutuhan fisiologis dan fisiopsikologis. Established/daily smoking—pada tahap ini. Remaja seringkali merokok di akhir pekan. Anggapan mengenai perilaku ‘cool’ berubah dari masa ke masa. Tingginya konformitas antar teman sebaya memicu maraknya perilaku merokok di kalangan remaja. Untuk diterima dalam peer group. 1999). berbeda di setiap konteks 5 . Akibatnya. Clarkson. Perilaku merokok pada remaja juga muncul akibat adanya konformitas di kalangan teman sebaya. perilaku merokok di kalangan remaja dapat dengan mudah muncul karena dalam kelompok sebaya. Konformitas adalah perubahan perilaku seseorang dengan mengikuti tekanan-tekanan dari kelompok tersebut untuk dapat menerima normanorma kelompok (Sarwono. remaja dapat dengan bebas melakukan tindakan-tindakan sesuai keinginannya tak terkecuali tindakan negatif tanpa adanya larangan dari teman itu sendiri karena status mereka bersifat setara. Tidak semua perokok pada tahap ini akan berlanjut ke tahap berikutnya. yaitu kebutuhan untuk diterima oleh peer group dan kebutuhan menghindari penolakan peer group. termasuk perilaku merokok. Eksistensi seorang remaja dalam kelompok sebayanya telah menjadi sebuah kebutuhan. atau pada perjalanan pulang dari sekolah ke rumah. para remaja menghindari penolakan peer group dengan cara saling bersikap konformis terhadap teman sebayanya. saat pesta. para remaja berusaha untuk dipandang ‘cool’ oleh teman sebayanya (Watson.Regular smoking— perilaku merokok pada tahap ini tidak lagi sporadis. tetapi mengkonsumsinya secara intensif dan mengkonsumsi banyak rokok .

6 . tidak memiliki teman yang merokok. hanya 5 persen dari semua perokok memiliki tipe ini. terdapat 14 persen perokok yang termasuk dalam tipe ini. High Need Smokers. Diluar dari motif merokok tipe ini. hanya terdapat 8 persen perokok merupakan tipe ini. 3. memiliki teman yang merokok. dan sulit bagi mereka untuk berhenti merokok. McKennell telah meneliti 2. 6. terdapat 28 persen perokok merupakan tipe in. Perbedaan tipe ini dengan High Need Social Smokers. dan mudah untuk berhenti merokok 2. yaitu: 1. dan berbeda sesuai dengan norma yang dibentuk dalam kelompoknya. tetapi Eureka Strategic Research menemukan pada tahun 2004 di Western Australia. Mereka cenderung merupakan perokok berat. Perokok tipe ini sebagian besar berusia muda. Perbedaan tipe ini dengan tipe Low Need-Pleasure Smokers adalah bahwa perokok tipe ini memiliki perilaku merokok yang lebih tinggi. terdapat 15 persen perokok merupakan tipe ini. High Need-Social Smokers. Medium Need Smokers. pengaruh perlakuan dan faktor sosialnya lebih rendah. Jadi.sosialnya. Medium Need/Handling-Social Confidence Smokers. merokok bukanlah penentu ‘coolness’. Perokok pada tipe in icenderung ke arah perokok ringan. McKennell mengklasifikasikan enam tipe perokok. Rata-rata perokok berada pada tipe ini. Mereka yang merokok dianggap ‘losers’ dan ‘trying so hard to be cool’. memiliki pekerjaan yang non-manual. Mereka cenderung tidak setuju dengan perilaku merokok namun perokok tipe ini tidak dapat menghindar dari ketergantungan terhadap rokok. pada beberapa kelompok tertentu. Walaupun ‘coolness’ dianggap sebagai salah satu alasan mengapa remaja merokok. tetap pergi ke gereja. anggapan perilaku merokok sebagai penentu ‘coolness’ telah berbalik. Low Need-Pleasure Smokers.000 British responden mengenai tipe perokok. 4. terdapat 30 persen perokok yang termasuk dalam tipe ini. Perilaku merokok dianggap sebagai penentu ‘coolness’ dari setiap individu. hanyalah tipe perokok kelompok kecil. ciri khusus mereka yaitu kebiasaan meminum bir yang diatas rata-rata. 5. Medium Need/Reluctant Smokers. memiliki pekerjaan manual.

Beberapa pihak merasa bahwa pembahasan mengenai pengaruh teman sebaya terhadap perilaku merokok remaja terlalu berlebihan. DAFTAR PUSTAKA 7 . Mereka menganggap bahwa remaja mencari pertemanan dengan orangorang yang memiliki hobi atau ketertarikan yang sama. dan merokok hanyalah salah satu indikatornya.Seberapa besar pengaruh teman sebaya terhadap perilaku remaja masih diperdebatkan sampai sekarang.

D. profiles. E.nih. Jakarta: Ganeca Exact. “Phsycosocial Influences on Cigarette Smoking”. Hubungan Antara Ketergantungan Merokok Dengan Percaya Diri.org. “Tobacco In Australia: Fact and Issues. Nashori. Smet. P. Psikologi Kesehatan.pdf (14 Okt 2012) 8 . Fauziah. Merokok Itu Konyol. Skripsi Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia.gov/ps/access/NNBCNW. & Helmi. Jakarta: PT Gramedia. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.tobaccoinaustralia.jabarprov. (2006).nlm. Jurnal psikologi Proyeksi. Skripsi Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia. Hubungan antara Konformitas Teman Sebaya (Peer Group) dengan Perilaku Merokok Remaja (Studi Korelasi pada Siswa Laki-Laki SMAN 1 Bungursari Purwakarta). Saptono & Sulasmono B.php/subMenu/informasi/berita/detailberita/ 136 (4 Jun 2012) Haryono. 2. Peranan Perilaku Merokok Dalam meningkatkan Suasana Hati Negatif (Negative Mood States) Mahasiswa. Jurnal Psikologi Universitas Gadjah Mada. (2007). Jakarta: Balai Pustaka Trim.diskes. “Tren Perokok Remaja Usia 15-19 Mengkhawatirkan” http://www.id/index. Kamus Umum Bahasa Indonesia. (2000). http://www. Sosiologi Untuk SMA Kelas X Jilid 1. B (1994). (2007). Poerwadarminta. (2007). Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Implikasi Perilaku Konformitas Teman Sebaya terhadap Layanan dan Bimbingan Konseling Pribadi Sosial (Studi Deskriptif Terhadap Siswa Kelas XI SMA Negeri Tahun Ajaran 2009/2010). 3rd edition”. Phibeta Aneka Gama.S.go. E. Jakarta: PT. AF. Faktor-faktor penyebab perilaku merokok pada remaja.au/downloads/chapters/Ch5_Uptake. F & Indirawati.pdf (13 Okt 2012) Magnus. Semarang: PT gramedia Purnamasari (2011). (1995).Komasari. National Institute on Drug Abuse. (2009).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful