KEKUATAN BETON NORMAL FAS 0,6 SEBAGAI PERISAI RADIASI GAMMA1 Anis Rahmawati2, Program Studi Pendidikan Teknik Sipil

/Bangunan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS INTISARI Perisai radiasi diperlukan untuk membatasi agar paparan radiasi tidak menyebar ke luar dari lokasi penggunaannya. Dari segi ketersediaan bahan dan kemudahan pengerjaan, beton normal untuk perisai radiasi dengan ketebalan tertentu sudah mencukupi. Perbedaan komposisi campuran beton normal akan menghasilkan beton dengan kualitas dan harga yang berbeda. Faktor air semen 0,6 mewakili tingkat fas yang besar dengan kuat tekan beton yang dihasilkan masih memenuhi syarat beton struktur. Selanjutnya diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui tingkat kemampuan beton normal dengan fas 0,6 sebagai perisai radiasi. Penelitian ini dilakukan dengan menguji kemampuan beton dengan fas 0,6, dalam menyerap radiasi gamma yang dinyatakan dalam koefiesien attenuasi (µ) dengan sumber radiasi Europium (152Eu) pada tingkat energi 121,7824 keV, Iodium (131I) yang memiliki energi 364,5 keV, serta sumber Cesium (137Cs) yang bertenaga 661,6 keV. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik beton normal sebagai material perisai radiasi cukup bagus dilihat dari koefisien attenuasi massanya yang tinggi. Koefisien attenuasi beton beton normal mangikuti persamaan µ =0,598e-0,0013x berlaku untuk energi 121,7824 keV hingga 661,6 keV. Kata Kunci: perisai radiasi, radiasi gamma, beton normal, koefisien attenuasi. ABSTRACT Nuclear has many uses, one of them is for medical application. To prevent from the radiation spread, they are needed a shield. Many materials can be used as shield materials, such as lead, iron, and normal concrete. This research was aimed to observe the ability of normal concrete with water cement ratio 0,6 as Gamma-ray shield radiation. Sample used in this research are metrics of concrete with 15 cm x 15 cm dimension and the thickness vary from 1 cm to 15 cm. It is made from normal concrete with water cement ratio 0,6. The source of radiation that used is the following gamma-rays: 152Eu with the selected energy of 121,7824 keV, 131I with the energy of 364,5 keV and 137Cs with the energy of 661,6 keV. The capability of concrete as a radiation shield is expressed in term of atenuation coefficient (µ). The test result of the compression strength of normal concrete for water cement ratio 0,6 is 41,791 Mpa, and the specific gravity is 2333,268 Kg/m3. The result from this research is shown that the attenuation coefficient (µ) of normal concrete with water cement ratio 0,6 yielded the equation of y = 0,598e-0,0013x that can be apllied only for the energy radiation 121,7824 keV up to 661,6 keV. Key Words: radiation shielding, gamma ray radiation, normal concrete, attenuation coefficient

Staf Pengajar Program Studi Pendidikan Teknik Sipil/Bangunan FKIP UNS 2 . Artikel Penelitian 2.1.

Beton sebagai bahan bangunan dapat dibuat dalam berbagai variasi. maka penggunaan beton sebagai dinding perisai radiasi menjadi pilihan yang ekonomis. Selanjutnya diperlukan suatu penelitian untuk mengetahui tingkat kemampuan beton normal dengan fas 0. Tiga proses utama yang dapat terjadi apabila radiasi elektromagnetik melewati suatu bahan penyerap adalah efek foto listrik. Material yang dapat digunakan sebagai perisai agar paparan radiasi tidak menyebar ke tempat yang tidak diinginkan antara lain adalah beton. Namun. Perbedaan komposisi campuran bahan penyusun beton normal akan menghasilkan beton dengan kualitas dan harga yang juga berbeda. energi foton datang yang diserap oleh elektron atom bahan diubah menjadi energi kinetik elektron dan foton hamburan yang berenergi lebih rendah. dan produksi pasangan. Untuk radiasi sinar X atau sinar Gamma. misalnya pada fasilitas untuk diagnosa dan terapi penyakit dengan sinar X atau sinar Gamma di rumah sakit.5 MeV. Proses hamburan Chompton dominan pada radiasi elektromagnetik dengan energi antara 0. Probabilitas terjadinya ketiga proses tersebut ditentukan oleh nomor atom bahan peresap dan energi radiasi yang diserap.PENDAHULUAN Peraturan proteksi radiasi dan ketentuan keselamatan kerja terhadap radiasi didasarkan pada prinsip bahwa bekerja dengan menggunakan sumber radiasi pengion harus dilakukan dengan cara membatasi penerimaan dosis radiasi serendah mungkin. dan material berat lain. Nilai faktor air semen (fas) beton normal menunjukkan tingkat perbandingan antara jumlah air dan jumlah semen yang digunakan dalam campuran beton. baja. Timbal mempunyai densitas yang besar sehingga jika digunakan sebagai dinding perisai radiasi Gamma ketebalan yang diperlukan tidak terlalu besar.2 MeV hingga 5 MeV. Selain itu ketersediaan bahan dan pelaksanaan pengerjaan beton lebih mudah dari pada timbal. dan pada materi dengan nomor atom besar.6 sebagai perisai radiasi. harganya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan beton. Pada peristiwa ini energi foton diserap seluruhnya oleh elektron yang terikat oleh atom bahan. perlu dibuat perisai agar paparan radiasinya tidak menyebar keluar. hamburan Chompton. Pada peristiwa ini.01 MeV hingga 0. Oleh karena itu pada lokasi-lokasi dimana material radioaktif tersebut digunakan. Faktor air semen 0. dimana semakin besar nilai fas berarti semakin sedikit penggunaan semen yang berarti juga semakin murah harga beton. Oleh karena itu. jika faktor tebal dinding bukan menjadi masalah. Proses produksi 3 . Efek foto listrik terutama terjadi pada foton dengan energi antara 0. kemampuan material dalam menyerap radiasi terutama dipengaruhi oleh densitas material dan besarnya energi radiasi.6 mewakili tingkat fas yang besar dengan kuat tekan beton yang dihasilkan masih memenuhi syarat beton struktur. semakin besar nilai fas kekuatan beton akan semakin menurun. Namun. timbal.

. pencetakan benda uji. Sumber radiasi yang digunakan adalah Europium-152 (152Eu) pada tingkat energi 121. 3. Benda uji terdiri dari dua macam. Uji modulus elastisitas beton 4 . Uji kuat tekan beton Pengujian kuat tekan beton dilakukan ketika umur beton telah mencapai 28 hari. Pembuatan benda uji. dengan faktor air semen 0. Pengujian benda uji a.15 cm 15 cm Gambar 1. METODE PENELITIAN Beton normal dibuat dari campuran batu pecah. Benda Uji Koefisien Attenuasi Pelaksanaan penelitian dibagi dalam tiga tahap: 1. terdiri dari kegiatan: pemeriksaan semen secara visual. semen dan air. hingga massa dari kedua partikel berubah menjadi dua buah foton yang selanjutnya dapat berinteraksi dengan bahan melalui proses fotolistrik maupun hamburan Chompton (Akhadi M.5 keV. persiapan dan pemeriksaan agregat. Alat uji yang digunakan adalah menggunakan Compression testing machine (CTM) dengan standar pengujian berdasarkan SK SNI 03-1974-1990. Benda Uji Teknis 15 cm Gambar 2. Iodium-131 (131I) yang memiliki intensitas energi 364.02 MeV. pengadukan.6 keV. b. dan perawatan benda uji. Pada peristiwa ini foton yang berinteraksi dengan atom bahan akan lenyap dan sebagai gantinya timbul sepasang elektron-positron. dan Cesium-137 (137Cs) dengan intensitas energi 661. terdiri dari kegiatan: penakaran bahan susun beton. 30 cm 15 cm 1 . pasir. dan perencanaan campuran adukan beton dilaksanakan berdasarkan SK SNI T-15-1990-03 2. yaitu benda uji untuk uji teknis beton berbentuk silinder jumlah 3 buah dan benda uji untuk uji koefisien attenuasi beton berbentuk kubus dengan ketebalan 1 cm sampai dengan 15 cm. 2000). Persiapan bahan. pemeriksaan air secara visual.6.7824 keV. Positron yang terbentuk selanjutnya berinteraksi dengan elektron dalam bahan.pasangan lebih sering terjadi pada bahan dengan nomor atom tinggi dan hanya dapat terjadi pada energi lebih besar dari 1. pemeriksaan kelacakan adukan (slump).

c. . Selanjutnya dibuat grafik hubungan antara ketebalan dengan intensitas relatif. Garis yang menghubungkan titik-titik pada grafik tersebut menyatakan persamaan I=Ioe-μx. Grafik Hubungan Intensitas Radiasi Elektromagnetik. dimana absis menunjukkan ketebalan dan ordinat menunjukkan intensitas relatif dalam bentuk ln. Hasil pembacaan berupa intensitas elektromagnetik sinar setelah melewati beton perisai (Ii).Uji modelus Elastisitas beton dilaksanakan dengan standar pengujian berdasarkan SNI 03-4169-1996. Kemudian dihitung besarnya intensitas relatif (Io/I). dan besarnya kemiringan garis tersebut menunjukkan nilai koefisien atenuasi bahan perisai untuk masing-masing jenis sumber sinar radiasi. Intensitas relatif Io/I (I/Io) Gambar 3. dan modulus µ 5 elastisitas beton. Berat jenis beton dihitung dengan persamaan: Bj = A/V d. Pengujian beton terhadap radiasi gamma Pengujian dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu dengan Geiger Muller untuk sumber radiasi 131 (1) I dan 137 Cs dan dengan Spektroskopi NaI(Tl) untuk sumber radiasi 152Eu. kuat tekan. dimana Io adalah intensitas radiasi elektromagnetik dari sumber sinar radiasi sebelum melalui beton perisai. ditampilkan pada Tabel 1 . Dari data yang tersedia disusun distribusi normal untuk menentukan nilai reratanya (I). Uji berat jenis beton Berat jenis beton diuji dengan jalan menimbang silinder beton (A) dan mengukur dimensinya sehingga volume silinder beton dapat diketahui (V). Ketebalan Bahan. dimana pada penelitian ini dilakukan 100 kali penyinaran dengan waktu cacah 20 detik. Jumlah data yang akan didapatkan sebanyak jumlah penyinaran yang dilakukan pada tiap sampel. dan Koefisien Attenuasi HASIL DAN PEMBAHASAN xn x1 x3 x2 Tebal beton perisai (x) Hasil pengujian sifat teknis beton berupa data berat jenis.

Perawatan beton selama menunggu sampai umur uji 28 hari dilakukan dengan menyimpan benda uji beton di dalam bak air sehingga kelembapannya selalu terjaga.27 Kuat Tekan Ultimit (MPa) 44. dan pelaksanaan pekerjaan beton. sehingga beton tersebut termasuk dalam kategori beton normal. sehingga kepadatan yang diperoleh cukup baik. Data tersebut selanjutnya diolah dengan bantuan software SPSS untuk mendapatkan satu nilai intensitas radiasi rerata dari sekumpulan data yang terdistribusi normal. Hasil Pengujian Sifat Teknis Beton Nomor Sampel 1 2 3 Rerata Berat Jenis (kg/m3) 2388.67 Berat jenis beton yang dihasilkan berada dalam kisaran 2200 Kg/m3 . sehingga dapat timbul retak-retak pada permukaan beton yang dapat menyebabkan menurunnya kekuatan beton. Bahan-bahan utama penyusun beton yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai karakteristik yang cukup bagus. diperoleh gradasi campuran yang terbentuk mempunyai karakteristik saling mengisi yang baik. maupun selama pencetakannya.79 Mpa. Dari perhitungan gradasi agregat campuran. baik selama proses pengadukan bahan-bahan penyusun beton. Pekerjaan pembuatan beton dilaksanakan dengan cermat.39 2371. Hasil uji kuat tekan menunjukkan rerata kuat tekan yang dihasilkan sebesar 41.2500 Kg/m3. yaitu karakterstik bahan-bahan utama penyusun beton yang dipilih.5 Mpa. Banyak faktor yang berpengaruh pada tingkat kuat tekan beton. Hasil pengujian beton terhadap sinar radiasi yang didapat berupa data intensitas radiasi sinar gamma baik sebelum maupun sesudah melewati perisai beton normal.20 2333. Menguapnya air ke luar mengakibatkan beton kekurangan air untuk terjadinya proses hidrasi yang sempurna. Kekuatan minimal beton struktur yaitu l7.11 39.79 Modulus Elastisitas Beton (MPa) 38706 37263 35042 37003. Langkah selanjutnya adalah menghitung nilai intensitas relatif dengan jalan membagi intensitas awal radiasi sebelum 6 . Pada beton yang cukup padat tidak banyak terdapat rongga di dalamnya sehingga kekuatannya pun tinggi.Tabel 1. Kelembapan beton perlu dijaga terutama selama terjadinya proses hidrasi semen untuk memastikan air di dalam beton tidak menguap keluar. Pemadatan dilakukan secara manual menggunakan alat bantu batang besi. Sifat saling mengisi ini menjadikan di dalam beton tidak terlalu banyak rongga sehingga kekuatan beton tinggi.22 2240.93 41. rencana proporsi campuran beton. sedangkan kekuatan beton normal biasanya dalam kisaran 30 Mpa.33 41. diantaranya dilihat dari kekuatan aus agregat kasarnya yang jauh dari batas minimum yang disyaratkan.

000 3.995 Intensitas Relatif (Io/I) 4.2304 10.675 Io/I 1 3. 131 I. Pada satu macam bahan perisai. dan Cs.7824 keV )) 7 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Tebal Perisai (cm) .873 117.2902x + 0.0225 12.5374 24.7627 4.5 keV ) Europium-152 (121.809 615.1865 8.2103 3.000 0.1078 2.2213 4.987 Ces ium-137 (661.524 33.5 keV )) Linear (Europium-152 (121.2889x + 1.8341 3.7858 150.melewati perisai dengan intensitas radiasi setelah melewati perisai untuk tiap jenis sumber radiasi dan tiap ketebalan perisai beton. 2.5070 2. Contoh perhitungan ditunjukkan pada Tabel 2 Tabel. dan 137Cs.641 976.7565 5. yang berarti koefisien attenuasi dari perisai tersebut juga akan menjadi lebih kecil.000 y = 0.1243 113.75 224.4078 R2 = 0.4439 ln (Io/I) 0 1.8033 43.367 44. Energi sinar yang digunakan dalam penelitian ini berturut-turut dari rendah ke tinggi adalah sinar 137 152 Eu.7858 33. Kemampuan serapan suatu perisai menjadi lebih kecil ketika digunakan pada sinar radiasi berenergi tinggi yang memiliki daya tembus besar. Koefisien attenuasi adalah besaran yang menyatakan kemampuan bahan dalam menyerap sinar radiasi.6 6.4885 R2 = 0.6 keV ) Iodium-131 (364.3235 1.545 505.5206 3.6461 2.7343 5.644 74.000 1.0149 22. sinar radiasi dengan energi yang lebih tinggi akan menghasilkan koefisien attenuasi yang lebih kecil. fas 0.957 297. Tabel Hubungan Tebal Perisai dengan Intensitas Radiasi dari Sumber Iodium-131 Bertenaga 364. dan 137 Cs.6 keV )) Linear (Iodium-131 (364. 131 I.399 149.000 2.1152 3.000 0 y = 0.2 1348.0136 Gambar 4 menunjukkan grafik hubungan antara ketebalan dengan intensitas relatif. 131I. Dari grafik pada Gambar 4 tampak bahwa karakteristik garis regresi yang diperoleh yaitu kemiringan garis regresi yang juga menunjukkan besarnya nilai koefisien attenuasi bahan berturut-turut dari besar ke kecil adalah dari data sumber 152 Eu.5 keV Tebal (cm) 0 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 I rerata (Cacah/20 detik) 5066.791 204.3048 2. Semakin kecil koefisien attenuasi berarti kemampuan serapannya terhadap sinar radiasi juga semakin rendah.482 412.0638 68.2681 17.000 5.5902x + 0.9796 y = 0.7824 keV ) Linear (Ces ium-137 (661. sehingga diperoleh koefisien attenuasi menurun berurutan dari sinar 152Eu.6064 R2 = 0.

7824 364.20 0.500 2. Koefisien Attenuasi Linear Vs Energi Radiasi Dari Gambar 5 tampak bahwa nilai koefisien attenuasi menurun terhadap peningkatan energi sumber sinar radiasi.5902 0.000 y = 0. 0.50 0.598e-0. Hal ini menyebabkan kemampuan serapan perisai menurun.6 µ ( cm-1 ) 0.7031 Energi (keV) Gambar 5. serta waktu dan biaya.2902 0.60 0. Tabel 3. Besarnya koefisien attenuasi beton normal tercantum pada Tabel 3.30 0. Grafik Intensitas Relatif Vs Tebal Perisai Koefisien attenuasi adalah fungsi dari densitas bahan perisai dan energi sinar radiasi.00 0 500 1. semakin tinggi energi sumber radiasi.40 0.0013x R2 = 0.70 Koefisien Attenuasi (cm^-1) 0. yang berarti nilai koefisien attenuasinya menjadi lebih rendah. Penelitian ini menggunakan satu jenis bahan perisai yaitu beton normal. pada penelitian 8 . kemampuannya menembus suatu material perisai juga semakin tinggi.000 1.Gambar 4. sehingga berat jenis semua sampel beton adalah sama. Kemampuan serapan yang besar sama dengan koefisien attenuasinya juga besar.2889 Grafik hubungan antara energi dengan koefisien attenuasi beton normal ditampilkan pada Gambar 5. Bahan dengan densitas lebih besar biasanya mempunyai kemampuan serapan yang juga lebih besar karena diperlukan energi sinar yang besar untuk dapat menembus bahan dengan densitas besar tersebut. Karena keterbatasan ketersediaan sumber sinar.10 0. Sedangkan. Koefisien attenuasi besar menunjukkan kemampuan menyerap suatu sinar radiasi yang besar pula. Koefisien Attenuasi Beton Sumber radiasi 152 Eu 131 I 137 Cs Energi (keV) 121.5 661.

Berdasarkan nilai tebal paruh (t1/2) tersebut kemudian dapat dibuat grafik yang menggambarkan tingkat intensitas radiasi setelah melewati perisai dengan beberapa lapis tebal paruh seperti ditunjukkan pada gambar 7 9 .ini hanya digunakan tiga macam sumber radiasi.000 y = 0.05 0. hasil regresi eksponensial grafik hubungan antara energi sinar dengan koefisien attenuasi diperoleh koefisien determinasi diatas 0.20 0.0013x Energi (keV) Gambar 6. Sehingga jika dimensi dinding perisai tidak dibatasi maka penggunaan beton normal sebagai perisai akan lebih menguntungkan.30 0. Meski demikian.25 0.500 2. Koefisien Attenuasi Massa (cm^2/gr) 0.15 0. Berdasarkan nilai koefisien attenuasi tersebut kemudian dapat dihitung besarnya tebal paruh bahan (Half Value Thicknes) dengan persamaan HVT(t1/2)=0. Nilai koefisien attenuasi yang diperoleh kemudian dinormalisasikan dengan cara dibagi dengan berat jenisnya untuk mendapatkan nilai koefisien attenuasi massa.2563e-0.00 0 500 1.5 sehingga persamaan regresi yang didapat cukup mewakili hubungan antara energi radiasi dengan koefisien attenuasinya.10 0.693/μ. Dari Gambar 5 dan 6 di atas selanjutnya dapat ditentukan besarnya koefisien attenuasi bahan sejenis jika digunakan pada tingkat energi yang berbeda.000 1. Grafik hubungan antara energi dengan koefisien attenuasi massa beton normal ditampilkan pada Gambar 6. Koefisien Attenuasi Massa Vs Energi Radiasi Beton normal yang dihasilkan mempunyai karakteristik yang bagus sebagai material perisai radiasi ditunjukkan dengan nilai koefisien attenuasi massanya yang cukup besar.

6 keV) 4000 3000 2000 1000 0 0 2 4 6 8 10 12 Tebal perisai (cm) .5/8760) rem/jam =0. ketebalan perisai radiasi (x) suatu material dengan koefisien atenuasi (µ) untuk energi tertentu dengan intensitas awal (Io) dan intensitas akhir setelah melewati perisai (I). Areal di sebelah ruang diagnosa adalah areal publik yang banyak dilalui masyarakat umum bukan pekerja radiasi. Peraturan dari BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) tahun 1989 mensyaratkan batas maksimal intensitas radiasi yang boleh diterima oleh pekerja radiasi adalah 5 rem/tahun. Selain dengan metode grafik. Dari ketentuan-ketentuan tersebut diperoleh data: Energi Io I pekerja radiasi I masyarakat umum = 250 keV = 5 rem/jam = 5 rem/tahun = (5/8760) rem/jam = 0. Dosis tertinggi yang terjadi pada ruangan tersebut sebesar 5 rem/jam.5 rem/tahun = (0.0000570 rem/jam 10 .5 keV) Cesium-137 (661. sedangkan untuk masyarakat umum sebesar 0.6 untuk ruang diagnosa penyakit dengan sinar Gamma dimana dalam oprasionalnya menggunakan sinar dengan tingkat energi 250 keV.5 rem/tahun.7000 Europium-152 (121.000571 rem/jam = 0.7824 keV) 6000 5000 Intensitas Radiasi (CPM) Iodium-131 (364. Gambar 7. Variasi Intensitas Radiasi Terhadap Tebal Perisai Beton Normal Melalui grafik tersebut selanjutnya dapat ditentukan berapa tebal perisai yang diperlukan jika diinginkan tingkat intensitas akhir tertentu dari sinar dengan energi dan intensitas awal sama dengan yang digunakan dalam penelitian ini. dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan: ln Io =µ x I Contoh Penerapan Hasil Penelitian Direncanakan suatu tebal dinding dari beton normal fas 0.

3.0000570 x = 40.598e-0. 2000.40482 x 0. Dasar-dasar Proteksi Radiasi.7824 keV 661.598e0.6 mangikuti persamaan µ =0.6. Penelitian ini menghasilkan suatu grafik yang menunjukkan hubungan antara besarnya koefisien attenuasi linear dengan energi sinar Gamma pada kisaran energi 121.282944 x 0.6 keV 2. Jakarta 11 .1989. Rineka Cipta.0013x berlaku untuk energi 121.Berdasarkan persamaan regresi dari grafik hubungan antara energi dengan koefisien attenuasi untuk beton normal (Gambar 5) diperoleh besarnya koefisien attenuasi untuk energi (variabel X) 250 keV adalah sebagai berikut: µ = 0. Daftar Pustaka Akhadi M.000571 Io =µ x I x = 32. Adapun saran yang diajukan adalah: Jika memungkinkan perlu dilakukan penelitian dengan menggunakan sumber radiasi dengan energi yang lebih tinggi. PN 03/160/DJ/89). . Badan Tenaga Atom Nasional.7824 keV hingga 661.0013x = 0. semakin kecil nilai koefisien attenuasinya.6 keV untuk beton normal dengan faktor air semen 0. Ketentuan Keselamatan Kerja terhadap Radiasi (SK DIRJEN BATAN NO. sehingga akan diperoleh grafik hubungan energi dengan koefisien attenuasi dengan kisaran energi yang lebih luas. Jakarta Anonim. Semakin tinggi tingkat energi sumber radiasi yang digunakan.282944 cm-1 Tebal dinding perisai yang diperlukan dihitung menggunakan Persamaan : ln Tebal dinding pembatas dengan pekerja radiasi: ln 5 = 0.08 cm Tebal dinding pembatas dengan ruang publik: ln 5 = 0. PT. Grafik tersebut dapat digunakan untuk menentukan besarnya koefisien attenuasi beton sejenis ketika digunakan dalam tingkat energi tertentu lainnya. Koefisien attenuasi yang menunjukkan tingkat kemampuan beton dalam menyerap radiasi sinar gamma dari beton normal dengan faktor air semen 0.23 cm KESIMPULAN DAN SARAN Dari penelitian ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.

.dan Brooks. Departemen Pekerjaan Umum. Departemen Pekerjaan Umum. Metode Pengujian Modulus Elastisitas Statis Dan Rasio Poison Beton Dengan Kompresor Ekstensometer (SNI 03-4169-1996). 1996.J. 1987. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman.A. Badan Penelitian dan Pengembangan. Tatacara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal (SNI T-15-1990-03). Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman. Bandung Anonim. Concrete Technology.J. Departemen Pekerjaan Umum.Anonim. 1990.. 1990. Bandung Anonim. Bandung Neville. New York 12 . Badan Penelitian dan Pengembangan. Metode Pengujian Kuat Tekan Beton (SNI 03-1974-1990). Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman. Badan Penelitian dan Pengembangan. John Willey and Sons Inc.M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful