P. 1
jurnal

jurnal

|Views: 207|Likes:
Published by Novita Surya

More info:

Published by: Novita Surya on Oct 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/29/2015

pdf

text

original

KOMUNIKASI KELUARGA DALAM PERKEMBANGAN ANAK Oleh Afrina Sari Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi

, Sastra dan Bahasa Universitas Islam “45” Bekasi Abstract This study aims to describe patterns of family communication in child development. Design research is a descriptive survey using a statistical test of causality by Structural Equation Model (SEM) using LISREL and SPSS version 16 for conform and look at the model equation. The results showed that (1) Effect of verbal language, intonation, tone of the physical development of children is 0.210 and the other is the influence of other variables (errorvar) of 0.790. Effect of verbal language, intonation, tone of emotional development of children is 0.329 and the other is the influence of other variables (errorvar) of 0.671. Effect of verbal language, intonation, tone of the child's cognitive development is 0.138 and the other is the influence of other variables (errorvar) of 0.862. Effect of verbal language, intonation, tone of the psychosocial development of children is 0.0955 and the other is the influence of other variables (errorvar) of 0.905. (2) Effect of nonverbal communication facial expressions, proximity, and hectic kinesics against physical development of children is 0.136 and the other is the influence of other variables (errorvar) of 0.864. Effect of facial nonverbal communication, proximity, hectic and kinesics to the development of the child's emotions is 0.240 and the other is the influence of other variables (errorvar) of 0.760. Effect of nonverbal communication facial expressions, proximity, hectic and kinesics of cognitive development of children is 0.130 and the other is the influence of other variables (errorvar) of 0.870. Effect of nonverbal communication facial expressions, proximity, hectic and kinesics of the psychosocial development of children is 0.0977 and the other is the influence of other variables (errorvar) of 0.902.
Keywords: Family communication , child development

PENDAHULUAN Hubungan orangtua dan anaknya merupakan hubungan interpersonal antara orangtua dan anak dalam komunikasi keluarga. Menurut Rakhmat (2007) ada empat model menganalisa hubungan interpersonal

yaitu: (1) model pertukaran sosial, (2) Model peranan, (3) Model permainan, (4) Model interaksional. Model pertukaran sosial memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang 1

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Hubungan orangtua dan anaknya dapat dianalisa berdasarkan model pertukaran sosial ini dengan melihat bahwa orangtua memberikan suatu reward kepada anaknya apabila anaknya mendapatkan suatu prestasi. Sebaliknya akan memberikan punnisment kepada anaknya apabila anaknya melakukan suatu hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan antara orangtua dan anaknya. Model Peranan memandang hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara, dimana setiap orang memainkan peranannya sesuai dengan ”naskah” yang telah dibuat masyarakat. Hubungan orangtua dan anaknya dapat dipandang dari model peranan yaitu orangtua sudah tercatat dalam ”naskah” sebagai panutan dari anaknya, sehingga setiap prilakunya ditunjukkan sebagai teladan atau patokan dalam tindakan seorang anak. Menurut Rakhmat (2007) ekspektasi peranan mengacu kepada kewajiban, tugas dan hal yang berkaitan dengan posisi tertentu dalam kelompok. Orangtua memiliki kewajiban mengasuh dan membimbing anak-anaknya, sedangkan tugas orangtua adalah menghantarkan anak-anaknya kepada kehidupan yang baik dan sejahtera. Model permainan melihat hubungan interpersonal dalam bentuk permainan. Dalam model permainan hal yang dimunculkan adalah aspek kepribadian. Aspek kepribadian melingkupi aspek orangtua, orang dewasa, anak-anak. Adakalanya

seseorang akan menjadi orangtua, adakala akan bermain sebagai orang dewasa, begitu juga akan bermain sebagai anak-anak. Hubungan orangtua dan anaknya dapat dikembangkan dalam model permainan dengan memainkan peranan yang berbalik dimana orangtua bermain sebagai anak dan sebaliknya anak bermain sebagai orangtua pada saat mencari kedekatan hubungan. Model interaksional memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat struktural, integratif, dan medan. Hubungan interpersonal dapat dipandang sebagai sistem dengan sifat-sifatnya. untuk menganalisanya kita harus melihat pada karakteristik individuindividu yang terlibat. Dalam hubungan orangtua dan anaknya individu yang terlibat adalah ayah, ibu dan anak. Setiap hubungan interpersonal harus dilihat dari tujuan bersama, metode komunikasi, ekspektasi dan pelaksanaan peranan, serta permainan yang dilakukan. Model interaksional merupakan paduan dari ketiga model sebelumnya (Rakhmat 2007). Hubungan orangtua dan anaknya dikembangkan berdasarkan keseimbangan dan kepuasan bersama antara orangtua dan anak. Hurlock (1978) mengatakan bahwa ada beberapa sikap orangtua yang khas dalam pengasuhan anaknya yaitu: a) melindungi; secara berlebihan; dikatakan oleh Hurlock (1978) bahwa perlindungan yang 3

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

dilakukan orangtua secara berlebihan mencakup pengasuhan dan pengendalian anak yang berlebihan. Hal ini menumbuhkan ketergantungan yang berlebihan, ketergantungan kepada semua orang, bukan pada orantua saja, yang berakibat pada kurangnya rasa percaya diri dan frustasi. b) Permisivitas;--permisivitas terlihat pada orangtua yang membiarkan anak berbuat sesuka hati, dengan sedikit kekangan. hal ini menciptakan suatu rumahtangga yang berpusat pada anak. Jika sikap permisif ini tidak berlebihan, ia mendorong anak untuk menjadi cerdik, mandiri dan memiliki penyesuaian sosial yang baik. sikap ini juga menumbuhkan rasa percaya diri, kreatifitas dan sikap matang. c) memanjakan: permisivitas berlebihan- memanjakan- membuat anak egois, menurut, dan sering berkuasa (tiranik). Mereka menuntut perhatian dan pelayanan dari orang lain, perilaku yang menyebabkan penyesuaian sosial yang buruk dirumah dan diluar rumah. d) Penolakan;--penolakan dapat dinyatakan dengan mengabaikan kesejahteraan anak, atau dengan menuntut terlalu banyak dari anak dan sikap bermusuhan yang terbuka. Hal ini menumbuhkan rasa dendam, perasaan tak berdaya, frustasi, perilaku gugup, dan sikap permusuhan terhadap orang lain, terutama terhadap mereka yang lebih lemah. e) Penerimaan;--penerimaan orangtua di tandai oleh perhatian besar dan kasih sayang pada anak. Orangtua yang menerima,

memperhatikan perkembangan kemampuan anak dan memperhitungkan minat anak. Anak yang diterima umumnya bersosialisasi dengan baik, kooperatif, ramah, loyal secara emosional stabil dan gembira. f) Dominasi;-- anak yang didominasi oleh salah satu atau kedua orangtua berisifat jujur, sopan dan berhati-hati tetapi cenderung malu, patuh dan mudah dipengaruhi orang lain, mengalah dan sangat sensitif. Pada anak yang didominasi sering berkembang rasa rendah diri dan perasaan menjadi korban. g) Tunduk pada anak;--orangtua yang tunduk pada anaknya membiarkan anak mendominasi mereka dan rumah mereka. Anak memerintah orangtua dan menunjukkan sedikit tenggang rasa, penghargaan atau loyalitas pada mereka. Anak belajar untuk menentang semua yang berwewenang dan mencoba mendominasi orang diluar lingkungan rumah. h) Favoritisme;-meskipun mereka berkata bahwa mereka mencintai semua anak dengan sama rata, kebanyakan orangtua mempunyai favorit. Hal ini membuat mereka lebih menuruti dan mencintai anak favoritnya daripada anak lain dalam keluarga. Anak yang disenangi cenderung memperlihatkan sisi baik mereka pada orangtua tetapi agresif dan dominan dalam hubungan dengan kakak-adik mereka. i) Ambisi orangtua;-- hampir semua orangtua , mempunyai ambisi bagi anak mereka, seringkali sangat tinggi sehingga tidak realistis. Ambisi ini 4

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

sering dipengaruhi oleh ambisi orangtua yang tidak tercapai dan hasrat orangtua supaya anak mereka naik di tangga status sosial. Bila anak, tidak dapat memenuhi ambisi orangtua, anak cenderung bersikap bermusuhan, tidak bertanggungjawab dan berprestasi dibawah kemampuan. Tambahan pula mereka memiliki perasaan tidak mampu yang sering diwarnai perasaan dijadikan orang yang di korbankan yang timbul akibat kritik orangtua terhadap rendahnya prestasi mereka. Menurut Piaget (Gunarsa, 2002), manusia tumbuh, beradaptasi dan berubah melalui perkembangan fisik, perkembangan kepribadian, perkembangan sosio-emosional, dan perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak memanipulasi dan aktif dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Penelitian ini mengamati hubungan antara dua peubah yaitu peubah bebas sering juga disebut sebagai peubah pengaruh, dan peubah tidak bebas atau sering juga disebut sebagai peubah terpengaruh (Sugiyono 2007). Dalam penelitian ini peubah pengaruh (antesedent) yang diteliti yaitu pola komunikasi keluarga yang meliputi: (1) pola laissez faire, (2) pola protektif, (3) pola pluralistik dan (4) pola konsensual. Peubah terpengaruh atau peubah konsekuen yaitu: perkembangan anak meliputi: (a) perkembangan fisik (b) perkembangan emosi (c)

perkembangan kognitif dan perkembangan psikososial.

(d)

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini di desain sebagai survei deskriptif kausalitas longitudinal. Maksudnya yaitu penelitian yang dilakukan pada populasi besar maupun kecil, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut, sehingga ditemukan kejadian-kejadian relatif, distribusi, dan pengaruh antar variabel sosiologis maupun psikologis, informasi yang dikumpulkan selama jangka waktu tertentu (Creswell, 2002). Analisis data dilakukan dengan pendekatan multi analisis dengan bantuan program statistik LISREL (Linear Structural Relation) versi. 8.70 Lokasi dan waktu Penelitian Pelaksanaan penelitian dilakukan di tiga kecamatan pada bulan Mei 2010 sampai dengan September 2010 di kecamatan Bekasi Utara, Pondok Gede dan Pondok Melati. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga yang tinggal di wilayah Kota Bekasi, dimana keluarga tersebut mempunyai orangtua lengkap, Bapak dan ibu yang memiliki anak laki-laki atau perempuan. Pengambilan sampel dikerjakan memakai teknik disporprotionate stratified random sampling yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan pengambilan sampel yang berstrata, kemudian di 5

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

ambil acak untuk menentukan. besarnya sampling. (Riduwan 2004). Penghitungan sampel menggunakan rumus Taro Yamane yaitu 156 responden PEMBAHASAN Perkembangan Fisik Anak Anak dalam penelitian ini adalah anak yang berusia antara 0 s/d

6 tahun yang diasuh oleh orangtua yang lengkap. Keluarga yang tinggal di permukiman dan keluarga yang tinggal di perkampungan mempunyai kesamaan pendapat dan perilaku orangtua terhadap anak. Perkembangan anak berdasarkan kelahiran dapat di lihat pada tabel 1, berikut ini.

Tabel 1. Perkembangan Anak berdasarkan Kelahiran Uraian Permukiman (n) 21 56 1 78 Perkampungan (n) 14 64 0 78 Presentase (%) 2,0 77,5 0,5 100,0

Kelahiran: - Caesar - Normal - Prematur Jumlah

Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Pada tabel 1 menunjukkan bahwa rata-rata anak yang tinggal di permukiman dan di perkampungan lahir secara normal (77,5 persen), namun ada juga yang lahir secara operasi caesar (22,0 persen). Hal ini terjadi karena ada proses yang sulit saat akan lahir. Data lapangan di ketahui bahwa anak yang lahir caesar disebabkan karena kondisi ibu yang sulit untuk melahirkan normal. Hasil

Observasi di lapangan di ketahui bahwa tidak ada perbedaan perilaku antara anak yang lahir normal dibanding dengan anak yang lahir caesar. Apabila pertumbuhan fisik anak sesuai dengan pertumbuhan usianya maka perkembangan anak terlihat sama. Perkembangan anak berdasarkan umur dapat di sajikan dalam tabel 2, berikut ini.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

6

Uraian

Tabel 2. Perkembangan Anak berdasarkan Umur Permukiman Perkampungan (n) (n) 25 44 7 2 78 13 49 16 0 78

Presentase (%) 24,0 60,0 14,5 1,5 100,0

Umur: - 2 - 3 tahun  3,5 - 4,5 tahun - 4,6 - 6 tahun - > 6 tahun Jumlah

Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Dari data tersebut diketahui bahwa perkembangan anak jika dikaitkan dengan usianya, sudah sesuai dengan batas kemampuan anak dalam usia balita. Keluarga di permukiman dan keluarga di perkampungan mempunyai pola yang sama dalam mengadopsi informasi dari puskesmas ataupun dari dokter yang mereka kunjungi.

Pengetahuan Ibu dan Ayah pada kedua wilayah penelitian di nilai cukup mengerti dengan perkembangan anak sesuai dengan umur anak. Mereka para orangtua mengerti apa yang harus dilakukan pada saat anak bertambah bulan dan tahun usianya. Perkembangan anak berdasarkan jenis kelamin dapat disajikan dalam tabel 3, berikut ini.

Tabel 3. Perkembangan Anak berdasarkan Jenis Kelamin Uraian Permukiman Perkampungan Presentase (n) (n) (%) Jenis Kelamin: - laki-laki 35 30 41,0 - Perempuan 43 48 59,0 Jumlah 78 78 100,0

Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Para orangtua menganggap anak lakilaki maupun anak perempuan adalah sama, sehingga mereka tidak membedakan perilaku dalam pengasuhan. Jika di kaitkan dengan memilih permainan, karena sudah menjadi kebiasaan dan adanya performance media, seperti film kartun ninja, power ranger, Conan,

mereka membedakan jenis mainan bagi anak laki-laki dan anak perempuan. Keluarga di permukiman memilihkan mainan dengan membeli di Mall, atau pertokoan, sedangkan keluarga di perkampungan memilih mainan di beli di pasar terdekat rumah dan sebagian mainan di buat dari barang bekas yang mereka 6

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

miliki, dan terkadang di buat dari bahan yang ada di lingkungan tempat tinggal seperti pohon pisang, pelepah pohon kelapa, sandal jepit yang

rusak. Perkembangan anak berdasarkan pandai berjalan dapat di lihat dalam tabel 4, berikut ini.

Tabel 4. Perkembangan Anak berdasarkan Pandai berjalan Uraian Permukiman Perkampungan Persentase (n) (n) (%) Pandai berjalan: Umur 8 - 10 bulan 6 5 7,5 Umur 11- 13 bulan 51 58 69,0 Umur 14- 16 bulan 20 13 21,0 Umur 17- 24 bulan 1 2 2,5 Jumlah 78 78 100,0
Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Perkembangan anak secara fisik, terutama pada saat anak pandai berjalan, dari kedua wilayah penelitian 90 persen anak pandai berjalan pada umur 11-16 bulan. Jika di kaitkan dengan perkembangan fisik dan motorik anak, pola pandai berjalan terhadap anak di permukiman dan di perkampungan termasuk pola normal. Menurut data perkembangan anak, perkembangan

motorik kasar untuk berjalan lancar antara 11-16 bulan. Artinya keluarga di permukiman maupun di perkampungan mempunyai perkembangan yang sama. Hal ini di mungkinkan karena perkembangan pelayanan puskesmas di setiap wilayah daerah berkembang cukup baik, sehingga masyarakat mendapat pengetahuan untuk memantau perkembangan anaknya lebih cepat.

Uraian

Tabel 5. Perkembangan Anak berdasarkan Tumbuh Gigi Permukiman Perkampungan Presentase (n) (n) (%) 34 36 7 1 78 20 52 6 0 78 35,5 56,0 8,0 0,5 100,0

Tumbuh Gigi: Umur 6 - 9 bulan Umur 10- 12 bulan Umur 13 -15 bulan Umur 16- 24 bulan Jumlah
Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

7

Perkembangan terhadap tumbuh gigi pada anak dalam penelitian ini dapat dikatakan bahwa 91,5 persen anak-anak dari keluarga di permukiman maupun di perkampungan tumbuh gigi pada umur 6 bulan s/d 12 bulan. Dan 8,5 persen responden menyatakan bahwa anak mereka tumbuh gigi diatas umur 13 bulan s/d 24 bulan. Berdasarkan

hasil wawancara dengan beberapa responden di lapangan di ketahui bahwa tumbuh gigi yang dialami anak mereka dimulai dari gigi depan bawah, artinya pertumbuhan fisik secara tumbuh gigi terjadi secara normal. Perkembangan anak berdasarkan berat badan anak dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini.

Uraian

Tabel 6. Perkembangan Anak berdasarkan Berat Badan Permukiman Perkampungan (n) (n) 4 20 13 9 32 78 2 14 14 6 42 78

Presentase (%) 4,5 21,0 17,0 9,5 57,0 100,0

Berat Badan: Tetap setiap bulan Kadang naik, kadang tetap Selalu kurang Selalu naik Sesuai dengan TB Jumlah

Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Perkembangan fisik secara berat badan anak terlihat bahwa 6 responden (4,5 persen) menyatakan bahwa timbangan berat badan anak mereka tetap setiap bulan, artinya tidak ada kenaikan berat badan. Sebanyak 34 responden (21,0 persen) menyatakan bahwa timbangan berat badan anak mereka kadang naikkadang tetap. Sebanyak 27 responden (17,0 persen) menyatakan bahwa timbangan berat badannya selalu kurang, artinya setiap bulannya berat badan anak mereka tidak memenuhi timbangan normal. Sebanyak 15 responden (9,5 persen) menyatakan timbangan berat badan anak mereka selalu naik, dan sebanyak 74

reponden (57,0 persen) menyatakan bahwa timbangan berat badan anak mereka sesuai dengan tinggi badan anak mereka. Perkembangan Emosi Anak Perkembangan emosi pada anak merupakan proses pengungkapan perasaan dan keinginan anak terhadap sesuatu, termasuk dalam pola-pola perilaku dalam menghadapi rasa tidak nyaman atau tidak menyenangkan. Perkembangan anak pada anak usia 3-6 tahun di ungkapkan dengan menangis dan berteriak-teriak. Dalam penelitian ini perkembangan emosi diungkapkan dengan kecengengan dan tindakan yang menunjukkan 8

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

ketidaksukaan. Hal yang utama yang dituntut dari pengasuh terutama ibu adalah bagaimana membaca dan sehingga anak tidak menunjukkan kemarahan ataupun kejengkelan terhadap sesuatu. Tingkah laku anak dapat di ukur berdasarkan perilaku ibu dalam membujuk anak apabila merajuk atau

memperlakukan keinginan anak agar terjalin kembali kesamaan makna, ngambek dalam kegiatan mainnya, tabel berikut menunjukkan bagaimana ibu dari keluarga permukiman dan perkampungan membujuk anak saat anak-anak mereka menangis ataupun ngambek:

Tabel 7. Perkembangan Anak berdasarkan cara ibu membujuk Uraian Permukiman Perkampungan cara ibu membujuk (n) (n) Mengendong 34 30 Menciumi wajah dan membelai 15 22 Membujuk sambil memuji 23 24 Membiarkan sampai tangis selesai 2 2 Memberi mainan 2 0 Membeli kue 1 0 Membuat cerita menarik perhatian 1 0 Jumlah 78 78 Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Presentase (%) 41,0 22,0 31,5 3,0 1,5 0,5 0,5 100,0

Tabel 7 menjelaskan bahwa perkembangan emosi anak dapat di sinergikan dengan cara ibu membujuk saat anak menangis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang tinggal di permukiman terlihat bahwa ibu membujuk anak lebih dengan cara mengendong anak, menciumi wajah anak, membujuk sambil memuji, begitu juga dengan keluarga yang di perkampungan hampir melakukan hal yang sama. Ibu-ibu dari keluarga yang tinggal di permukiman memiliki cara lain yaitu memberikan kue yang di sukai anak yang telah disiapkan di dalam kulkas ataupun di meja makan. Juga memberikan mainan yang sangat di sukai anak, seperti mobil-mobilan

ataupun boneka. Berdasarkan teori perkembangan tentang kecerdasan emosi, dijelaskan bahwa kecerdasan emosional merupakan kecerdasan emosi dan keterampilan-keterampilan dalam mengatur emosi yang menyediakan kemampuan untuk menyeimbangkan emosi sehingga dapat memaksimalkan kebahagiaan hidup jangka panjang. Kehidupan emosi memang merupakan wilayah yang dapat ditangani dengan keterampilan-keterampilan yang lebih tinggi atau lebih rendah, dan membutuhkan keahlian tersendiri (Goleman, 1999 dalam Sukmadinata, 2003) Emosi atau perasaan merupakan suasana psikis atau suasana batin 2

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

yang dihayati seseorang pada suatu saat. Dalam kehidupan sehari-hari keduanya sering diartikan sama. Namun, sesungguhnya perasaan menunjukkan suasana batin yang perasaan juga membentuk suatu kontinum, bergerak dari emosi positif sampai yang bersifat negatif (Sukmadinata, 2003). Perkembangan emosi anak usia balita di pengaruhi oleh perilaku pengasuhnya terutama ibu yang dekat dalam setiap aktivitas kesehariannya. Goleman (1995) dalam Sukmadinata (2003) menyatakan bahwa kecerdasan emosional memegang peranan dalam keberhasilan seseorang dibandingkan dengan IQ, yang sudah lama dipercaya orang dapat meramalkan keberhasilan. IQ tidak dapat bekerja dengan sebaikbaiknya tanpa kecerdasan emosional. IQ tidak menawarkan persiapan menghadapi gejolak dan kesempatankesempatan atau kesulitan-kesulitan yang ada dalam kehidupan, sedangkan orang yang secara emosional terampil memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan. Sehubungan dengan perkembangan emosi anak usia balita dalam penelitian ini dapat dikatakan bahwa cara ibu dalam menghadapi anak dalam pola asuh akan membentuk perkembangan emosi anak ke arah yang baik. Perkembangan yang baik akan membantu anak untuk mengimbangi menjadi kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional akan di butuhkan saat anak menjelang remaja

lebih tenang, sedangkan emosi menggambarkan suasana batin yang lebih dinamis, bergejolak, terbuka, dan menyangkut ekspresi-ekspresi jasmaniah. Emosi seperti halnya dan dewasa, dimana pada masa itu anak telah dapat mengatur dan terampil dalam pengelolaan emosi, dan menghambat pengaruh yang tidak baik terhadap perkembangan psikososial anak. Lebih lanjut Goleman (1995) dalam Sukmadinata (2003) menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuankemampuan seperti mampu untuk memotivasi diri sendiri dan bertindak gigih/bertahan menghadapi keadaankeadaan yang frustasi; mengendalikan dorongan hati/rangsangan dan tidak melebihlebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan berdoa. Perkembangan Kognitif Perkembangan kognitif merupakan perkembangan pada anak dalam tahap perkembangan tingkat pengetahuan anak terhadap lingkungan yang ditunjukkan dengan keterampilan seperti bisa bicara, bentuk-bentuk pertanyaan yang di munculkan anak ketika menonton televisi bersama orangtua, pendidikan yang di dapat anak. Perkembangan anak berdasarkan bisa bicara pada anak dapat dilihat pada tabel 8 berikut ini. 10

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Uraian

Tabel 8. Perkembangan Anak berdasarkan Bisa Bicara Permukiman Perkampungan (n) (n) 6 46 15 8 3 78 3 50 24 1 0 78

Presentase (%) 6,0 60,0 25,0 6,0 2,0 100,0

Bisa Bicara: Umur 4 – 6 bulan Umur 7 – 9 bulan Umur 10- 12 bulan Umur 13- 15 bulan 16 – 24 bulan Jumlah

Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Perkembangan anak berdasarkan bisa bicara terlihat bahwa 9 responden (6,0 persen) menyatakan anak mereka bisa bicara pada umur 4-6 bulan, hal ini termassuk kategori cepat bisa bicara. 96 responden (60,0 persen) menyatakan bahwa anak mereka bisa bicara pada umur 7-9 bulan, ini merupakan umur normal saat anak bisa bicara, walaupun masih belum begitu jelas. Sebanyak 39 responden (25,0 persen) menyatakan

bahwa anaknya bisa bicara umur 1012 bulan. Sebanyak 9 responden (6,0 persen) menyatakan bahwa anaknya beru bisa bisa bicara setelah anak berusia diatas satu tahun dan bahkan ada yang hampir mendekati dua tahun yaitu sebanyak 3 responden (2,0 persen) menyatakan anaknya baru bisa bicara. Perkembangan anak berdasarkan bentuk-bentuk pertanyaan ketika menonton televisi dapat dilihat pada tabel 9 berikut ini.

Uraian

Tabel 9. Perkembangan Anak berdasarkan Pertanyaan Anak Permukiman Perkampungan (n) (n) 41 17 14 4 78 36 11 26 5 78

Presentase (%) 49,0 18,0 25,5 6,5 100,0

Pertanyaan Anak: Apakah itu Kenapa begitu Menanyakan tiap yang ditonton Menanyakan tokoh di film Jumlah Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Berdasarkan data tersebut dapat di jelaskan bahwa secara perkembangan kognitif anak balita yang termasuk dalam perkombangan kognitif tahap pra-operasional,

dimana pada tahap ini anak berada pada apa yang di sebut dengan ”object permanent” yang arti pada masa ini anak akan mengartikan objek yang tampak sesuai dengan 10

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

kemampuannya, sehingga dia ingin menggunakan pertanyaaan ”apakah itu?”, ”kenapa begitu”, ”itu Siapa?’, dan lain sebagainya. Berdasarkan teori Piaget, mengatakan bahwa hal-hal yang perlu di perhatikan pada anak masa ini adalah membatasi objek yang akan di lihat secara indera mereka, kepada hal-hal yang mudah dicerna mereka. Sehingga orangtua harus mendampingi setiap aktivitas anak, baik dalam menonton televisi maupun dalam melihat lingkungan sosial yang mereka lihat. Perkembangan Psikososial Perkembangan psikososial pada anak merupakan proses perkembangan terhadap faktor psikologi dan faktor sosial yang

tahu dan akan bertanya dengan

dialami oleh anak. Dalam penelitian ini faktor psikologi dan sosial (psikososial) dapat diamati dalam cara bermain yang menunjukkan bahwa anak mengembangkan jiwa sosial dalam cara bermain. Terlihat dalam tabel 49 bahwa 18,0 persen anak bermain dengan temannya dengan bertukar mainan dengan teman-temannya, 27,0 persen anak bermain sepeda dengan temantemannya, 22,5 persen anak bermain petak umpet bersama temantemannya, 6,5 persen bermain bersama dengan main mantenmantenan, 3,5 persen anak bermain sendiri dan 1,5 persen anak bermain bersama bapak atau ibu di rumah.

Tabel 10. Perkembangan Anak berdasarkan Jenis Permainan Anak Uraian Permukiman Perkampungan Presentase Jenis Permainan (n) (n) (%) Tukar mainan bersama teman 18 11 18,0 Main sepeda bersama teman 22 20 27,0 Main Petak umpet 31 37 4,5 Main manten mantenan 2 8 6,5 Bermain sendiri 3 2 3,5 Bermain ditemani ayah/ibu 2 0 1,5 Jumlah 78 78 100,0 Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa secara perkembangan psikososial anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya, anak-anak pada keluarga yang tinggal di permukiman maupun di perkampungan memasuki masa psikososial normal. Data yang

menunjukkan 3,5 persen anak bermain sendiri, hal ini di sebabkan karena ada aturan orangtua yang harus mereka patuhi sehingga mereka dibatasi bermain, yang berakibat mereka akhirnya bermain sendiri. Data yang menunjukkan 1,5 persen anak bermain bersama orangtua, hal 12

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

ini karena orangtua yang menyadari pengaruh lingkungan terhadap anaknya, mereka meluangkan waktu untuk menemani anak-anak mereka bermain di rumah. Keluarga yang Tabel 11 menunjukkan bahwa keluarga di permukiman dan keluarga di perkampungan terlihat tidak terlalu berbeda dalam adaptasi dalam keluarga. 39,0 persen anak pada kedua wilayah penelitian menunjukkan bahwa mereka ketika bertemu dengan anggota keluarga dari keluarga luas (extended family) perilaku awal mereka adalah malumalu, kemudian setelah lima menit berikutnya baru mereka bisa akrab

tinggal di permukiman lebih menyadari pengaruh lingkungan, sehingga pola protektif terhadap anak di seimbangkan dengan meluangkan waktu untuk bermain bersama. dan bermain dengan ceria. 44,0 persen anak dari kedua wilayah penelitian menunjukkan mereka langsung akrab dengan anggota keluarga luas lainnya ketika mereka bertemu. Tetapi ada anak yang tidak mau berteman dengan anggota keluarga lainnya yaitu sebesar 15,5 persen, hal ini karena mereka tidak terbiasa dengan orang lain di luar keluarga intinya.

Tabel 11. Perkembangan Anak berdasarkan Adaptasi dalam keluarga Uraian Permukiman Perkampungan Presentase Adaptasi dalam Keluarga (n) (n) (%) Malu-malu, setelah 5 menit akrab 35 27 39,0 Langsung akrab 31 37 44,0 Tidak Mau berteman 9 12 13,5 Selalu dekat ayah/ibu 2 2 3.0 Diam, hanya memperhatikan 1 0 0,5 Jumlah 78 78 100,0 Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Terlihat juga bahwa 3,0 persen anak dari keluarga di permukiman dan di perkampungan selalu dekat dengan ayah dan ibunya pada saat bertemu dengan keluarga lain di acara pertemuan keluarga, hal ini juga karena anak-anak tersebut lebih sering di awasi oleh orangtua sehingga mereka selalu berada di dekat orangtua ketika mereka pergi ke rumah keluarga lainnya. Hanya 0,5 persen dari anak di permukiman yang tidak melakukan aktivitas di-

saat orangtuanya mengadakan pertemuan dengan keluarga luas, data lapangan menunjukkan perilaku anak yang hanya diam dan memperhatikan saja, dikarenakan mereka patuh dengan perintah orangtua, dan mereka terbiasa memperhatikan ketika orangtuanya melakukan pekerjaan di rumah. Perkembangan psikososial anak dapat di lihat dari perkataan Ibu ketika mereka di ajak makan. Pada tabel 12 menjelaskan bahwa 53,0 13

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

persen anak dari kedua wilayah penelitian menunjukkan bahwa mereka diajarkan oleh ibu mereka untuk membaca doa sebelum makan. 25,0 persen anak dari kedua wilayah penelitian mengalami susah

konsentrasi sehingga mereka kalau makan di ajak bercerita, yang menarik perhatian, momen ini di gunakan untuk memberikan makan.

Tabel 12. Perkembangan Anak berdasarkan Perkataan Ibu saat makan Uraian Permukiman Perkampungan Presentase Perkataan Ibu saat Makan (n) (n) (%) Baca doa sebelum makan 38 45 53,0 Cerita tentang permainan 19 21 25,0 Diam sampai selesai 11 12 15,0 Makan sambil jalan2 ya 4 1 3,0 makan yang banyak ya sayang 5 0 3,0 Makan ya biar cepat gede 1 1 1,0 Jumlah 78 78 100,0 Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Tabel 12 juga menunjukkan bahwa 13,0 persen anak dari kedua wilayah penelitian, ketika makan hanya diam tanpa berbicara, duduk terpokus makan sampai selesai. Ada juga anak yang hanya mau makan ketika di katakan ” kita makan sambil jalan-jalan yuk”, mereka makan sambil jalan di taman lingkungan. Keluarga yang tinggal di permukiman jalan-jalan di taman lingkungan yang ada di permukiman, sedangkan penduduk yang tinggal di perkampungan, jalan-jalan di sekitar rumah dan mampir di rumah tetangga yang dianggap sudah sering di kunjungi. Keluarga yang tinggal di permukiman lebih sering mengucapkan kata “makan yang

banyak ya sayang” kepadaa anaknya yang makan sendiri di meja makan. Begitu juga ketika anak mereka makan dan mereka membujuk, mereka mengucapkan perkataan”makan ya, biar cepat besar”. Penanaman nilai dalam pembinaan anggota keluarga merupakan tanggungjawab yang tidak kalah pentingnya bagi keluarga. hal ini termasuk dalam indikator perkembangan psikososial anak terhadap kehidupan bermasyarakat. Penanaman nilai kepada anak bagi keluarga di permukiman dan di perkampungan dapat di lihat pada tabel 13 sebagai berikut.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

2

Tabel 13. Perkembangan Anak berdasarkan Penanaman nilai Uraian Permukiman Perkampungan Presentase Cara penanaman nilai (n) (n) (%) Mengajak membaca Alquran 11 3 9,0 Sekolah TPA 22 8 20,0 Mencontohkan 39 64 66,0 Menjelaskan sebab akibat 2 1 2,0 Mengajak ke gereja 2 2 2,0 menanamkan disiplin 1 0 0,5 Mengajarkan berdoa 1 0 0,5 Jumlah 78 78 100,0 Sumber: Data Primer setelah diolah, 2010

Penanaman nilai merupakan perilaku yang harus dilaksanakan oleh orangtua, karena orangtua diharapkan memiliki kesadaran penuh dalam membimbing anak supaya memperoleh nilai-nilai sebagai pegangan hidup. Hal ini bisa dicapai dengan pemeliharaan hubungan baik antara orangtua dan anak, dan kesempatan yang cukup banyak untuk berbicara antara orangtua dan anak. Anak yang menghadapi masalah, baik kecil maupun besar mengidamkan orangtua sebagai tempat bernaung yang dapat diperoleh melalui komunikasi. Komunikasi akan terbentuk bila hubungan timbal balik selalu terjalin antara ayah, ibu, dan remaja. Meluangkan waktu bersama merupakan syarat utama untuk menciptakan komunikasi antara orangtua dan anak, sebab dengan adanya waktu bersama, barulah keintiman dan keakraban dapat

diciptakan diantara anggota keluarga. Eratnya keterikatan antara anak dengan orang dewasa yang ada dalam keluarga bisa berbeda-beda, sesuai dengan intensitas jalinan hubungan antara orangtua dan anak. Rasa cemas yang sering dialami anak dapat meningkatkan intensitas keterikatan, karena anak dapat memperoleh perasaan aman kedekatan dengan ibu atau pengasuhnya. Akan tetapi hubungan antara orangtua dan anak yang terlalu dekat dapat menyebabkan anak tidak mau lepas dan anak akan menjadi sangat bergantung pada orangtuanya. Sebaliknya jika hubungan antara keduanya renggang atau orangtua bersikap acuh tak acuh terhadap anaknya menyebabkan dalam diri anak timbul reaksi frustasi, begitu juga jika orangtua terlalu keras terhadap anaknya dapat menyebabkan hubungan menjadi jauh (Gunarsa & Gunarsa, 2004). 15

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Berdasarkan pendapat ini, bahwa dalam penanaman nilai terhadap anak terutama anak balita dilakukan dengan menyesuaikan keadaan yang Model Perkembangan anak Komunikasi Verbal dalam Perkembangan Anak secara fisik
Estimated Equations

ada pada anak. Jangan memaksakan kehendak untuk anak harus disiplin sementara anak sedang tidak butuh suasana yang sifatnya memaksa.

Y.1 = 0.0 + 0.441*X.2.1 - 0.00286*X.2.2 + 0.0330*X.2.3 (0.0719) (0.0884) (0.0759) (0.0847) 0.0 4.989 -0.0377 0.389 + Error, R² = 0.210 Error Variance = 0.790

Persamaan Struktural untuk model komunikasi verbal dalam perkembangan anak secara fisik adalah sebagai berikut: besarnya pengaruh variabel laten Verbal bahasa (X,2,1), verbal intonasi (X,2,2), verbal nada (X,3,3), terhadap variabel laten perkembangan anak secara fisik (Y.1), masing-masing sebesar 0,0 dan 0,441 dan -0,00286 dan 0,0330 dengan nilai kesalahan standar dan nilai t hitung masingmasing sebesar 0,0719 dan 0,0884 dan 0,0759 dan 0,0847 serta 0,0 dan 4,989 dan -0,0377 dan -0,389. Estimasi koefisien jalur Verbal bahasa (X,2,1) terhadap perkembangan anak secara fisik (Y.1) Yaitu; γ² = 0,441 secara statistik

signifikan (nilai t hitung=4,989). Estimasi koefisien jalur verbal intonasi (X,2,2) terhadap perkembangan anak secara fisik (Y.1) yaitu; γ²=-0.00286, secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung =0,0377). Estimasi koefisien jalur verbal nada (X,2,3) terhadap perkembangan anak secara fisik (Y.1) yaitu; γ²=0,0330, secara statistik signifikan (nilai t hitung=-0,389). secara bersamaan pengaruh komunikasi verbal bahasa, intonasi, nada terhadap perkembangan anak secara fisik adalah 0,210 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,790.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

16

Gambar 1. Estimasi Parameter Model Struktural komunikasi verbal dalam Perkembangan anak secara fisik
4,989 -0,0377

X,2.1
0,441

X.2.2 X.2.3

0.00286

X.2

0,210

Y.1

0,790 -0,389

0.0330 X.2.1= Verbal bahasa, X.2.2= Verbal intonasi ,X.2.3=Verbalnada

Keterangan : Y.1= Perkembangan anak secara fisik X2= Komunikasi verba

Komunikasi Verbal dalam Perkembangan Anak secara Emosi
Estimated Equations Y.2 = 0.0 + 0.643*X.2.1 - 0.0465*X.2.2 - 0.128*X.2.3 (0.0662) (0.0815) (0.0700) (0.0781) 0.0 7.888 -0.664 -1.644 + Error, R² = 0.329 Error Variance = 0.671

Persamaan Struktural untuk model komunikasi verbal dalam perkembangan anak secara emosi adalah sebagai berikut: besarnya pengaruh variabel laten Verbal bahasa (X,2,1), verbal intonasi (X,2,2), verbal nada (X,3,3), terhadap variabel laten perkembangan anak secara emosi (Y.2), masing-masing sebesar 0,0 dan 0,643 dan -0,0465 dan -0,128 dengan nilai kesalahan standar dan nilai t hitung masingmasing sebesar 0,0662 dan 0,0815 dan 0,0700 dan 0,0781 serta 0,0 dan 7,888 dan -0,664 dan -0,644. Estimasi koefisien jalur Verbal bahasa (X,2,1) terhadap perkembangan anak secara emosi

(Y.2) yaitu; γ² = 0,643 secara statistik signifikan (nilai t hitung=7,888). Estimasi koefisien jalur verbal intonasi (X,2,2) terhadap perkembangan anak secara emosi (Y.2) yaitu; γ²=-0.0465, secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung =-0,664). Estimasi koefisien jalur verbal nada (X,2,3) terhadap perkembangan anak secara emosi (Y.2) yaitu; γ²=0,128, secara statistik signifikan (nilai t hitung=-0,644). secara bersamaan pengaruh komunikasi verbal bahasa, intonasi, nada terhadap perkembangan anak secara emosi adalah 0,329 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,671.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

17

Gambar 2. Estimasi Parameter Model Struktural komunikasi verbal dalam Perkembangan anak secara emosi
7,888 -0,664

X,2.1
0,643

X.2.2 X.2.3

0.0465 0.128

X.2

0,329

Y.2

0,671

-0,644

Keterangan : Y.2 = Perkembangan anak secara emosi X2 = Komunikasi verbal X.2.3 = Verbal nada.

X.2.1 X.2.2

= Verbal bahasa = Verbal intonasi

Komunikasi Verbal dalam Perkembangan Anak secara Kognitif
Estimated Equations Y.3 = 0.0 + 0.402*X.2.1 + 0.0473*X.2.2 - 0.124*X.2.3 (0.0751) (0.0924) (0.0794) (0.0885) 0.0 4.352 0.596 -1.398 + Error, R² = 0.138 Error Variance = 0.862

Persamaan Struktural untuk model komunikasi verbal dalam perkembangan anak secara kognitif adalah sebagai berikut: besarnya pengaruh variabel laten Verbal bahasa (X,2,1), verbal intonasi (X,2,2), verbal nada (X,3,3), terhadap variabel laten perkembangan anak secara kognitif (Y.3), masing-masing sebesar 0,0 dan 0,402 dan 0,0473 dan -0,124 dengan nilai kesalahan standar dan nilai t hitung masing-masing sebesar 0,0751 dan 0,0924 dan 0,0794 dan 0,0885 serta 0,0 dan 4,352 dan 0,596 dan -1,398. Estimasi koefisien jalur Verbal bahasa (X,2,1) terhadap perkembangan anak secara kognitif (Y.3) yaitu; γ² = 0,402 secara

statistik signifikan (nilai t hitung=4,352). Estimasi koefisien jalur verbal intonasi (X,2,2) terhadap perkembangan anak secara kognitif (Y.3) yaitu; γ²=0.0473, secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung =0,596). Estimasi koefisien jalur verbal nada (X,2,3) terhadap perkembangan anak secara kognitif (Y.3) yaitu; γ²=-0,124, secara statistik signifikan (nilai t hitung=-1,398). secara bersamaan pengaruh komunikasi verbal bahasa, intonasi, nada terhadap perkembangan anak secara kognitif adalah 0,138 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,862.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

2

Gambar 3. Estimasi Parameter Model Struktural komunikasi verbal dalam Perkembangan anak secara kognitif

4,352 -0,596

X,2.1 X.2.2 X.2.3

0,402 0,0473

X.2
-1,398 0,124

0, 138

Y.3

0,862

Keterangan : Y.3 = Perkembangan anak secara kognitif X2 = Komunikasi verbal,

X.2.1= verbal bahasa, X.2.2= verbal intonasi, X.2.3= verbal nada.

Komunikasi Verbal dalam Perkembangan Anak secara Psikososial
Estimated Equations Y.4 = 0.0 + 0.198*X.2.1 + 0.0480*X.2.2 + 0.136*X.2.3 (0.0769) (0.0947) (0.0813) (0.0906) 0.0 2.091 0.591 1.497 + Error, R² = 0.0955 Error Variance = 0.905

Persamaan Struktural untuk model komunikasi verbal dalam perkembangan anak secara psikososial adalah sebagai berikut: besarnya pengaruh variabel laten verbal bahasa (X,2,1), verbal intonasi (X,2,2), verbal nada (X,3,3), terhadap variabel laten perkembangan anak secara psikososial (Y.4), masing-masing sebesar 0,0 dan 0,198 dan 0,0480 dan 0,136 dengan nilai kesalahan standar dan nilai t hitung masing-masing sebesar 0,0769 dan 0,0947 dan 0,0813 dan 0,0906 serta 0,0 dan 2,091 dan 0,591 dan 1,497. Estimasi koefisien jalur Verbal bahasa (X,2,1) terhadap

perkembangan anak secara psikososial (Y.4) yaitu; γ² = 0,198 secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung=2,091>0,05). Estimasi koefisien jalur verbal intonasi (X,2,2) terhadap perkembangan anak secara psikososial (Y.4) yaitu; γ²=0.0480, secara statistik signifikan (nilai t hitung =0,591>0.05). Estimasi koefisien jalur verbal nada (X,2,3) terhadap perkembangan anak secara psikososial (Y.4) yaitu; γ²=-0,136, secara statistik signifikan (nilai t hitung=1,497>0.05). secara bersamaan pengaruh komunikasi verbal bahasa, intonasi, nada terhadap perkembangan anak secara psikososial 1

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

adalah 0,0955 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (error-

var) sebesar 0,905.

Gambar 4. Estimasi Parameter Model Struktural komunikasi verbal dalam Perkembangan anak secara psikososial
2,091 0,591

X,2.1
0,198

X.2.2 X.2.3

0,0480

X.2
0,905

0,0955

-0,136

Y.4

1,497

Keterangan : Y.4= Perkembangan anak secara psikososial X2= Komunikasi verbal X.2.1= verbal bahasa X.2.2= verbal intonasi X.2.3= verbal nada.

Berdasarkan gambar 4 dapat di jelaskan bahwa komunikasi verbal secara nada(X2.2)=0.04<0.05, dan komunikasi verbal secara intonasi (X2.3) =-0,136 <0.05, artinya mempengaruhi perkembangan anak secara psikososial. Hal ini berarti bahwa dalam perkembangan anak secara psikososial, penggunaan komunikasi verbal secara nada dan komunikasi verbal secara intonasi sangat memEstimated Equations

pengaruhi perkembangan psikososial anak. Sikap anak terhadap lingkungan akan terhalangi apabila orangtua banyak menekankan kata “jangan dan tidak,” anak akan terbatasi dalam berteman. Keberanian anak dalam mengungkapkan sesuatu akan terhalangi, begitu juga dalam penekanan nada kearah penggunaan nada rendah saat bicara dengan anak akan membantu anak untuk menunjukkan kreatifitasnya, anak lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan. Komunikasi Nonverbal dalam Perkembangan Anak secara Fisik

Y.1 = 0.0 + 0.176*X.2.4 + 0.0485*X.2.5 + 0.166*X.2.6 + 0.151*X.2.7 (0.0754) (0.0807) (0.0837) (0.0852) (0.0797) 0.0 2.187 0.579 1.955 1.899 + Error, R² = 0.136 Error Variance = 0.864

Persamaan Struktural untuk model komunikasi nonverbal dalam perkembangan anak secara fisik

adalah sebagai berikut: besarnya pengaruh variabel laten mimik wajah (X,2,4), proximity (X,2,5), kinesik 2

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

(X,3,6) dan haptic (X.2.7) terhadap variabel laten perkembangan anak secara fisik (Y.1), masing-masing sebesar 0,0 dan 0,176 dan 0,02485 dan 0,166 dan 0,151 dengan nilai kesalahan standar dan nilai t hitung masing-masing sebesar 0,0754 dan 0,0807 dan 0,0837 dan 0,0852 dan 0,0797 serta 0,0 dan 2,187 dan 0,579 dan 1,955 dan 1,899. Estimasi koefisien jalur nonverbal mimik wajah (X,2,4) terhadap perkembangan anak secara fisik (Y.1) yaitu; γ² = 0,176 secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung=2,187>0.05). Estimasi koefisien jalur proximity (X,2,5) terhadap perkembangan anak secara fisik (Y.1) yaitu; γ²=0.0485, secara

statistik signifikan (nilai t hitung =0,579>0.05). Estimasi koefisien jalur kinesik (X,2,6) terhadap perkembangan anak secara fisik (Y.1) yaitu; γ²=0,166, secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung =1,955>0.05) Estimasi koefisien jalur haptic (X,2,7) terhadap perkembangan anak secara fisik (Y.1) yaitu; γ²=0,151, secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung=1,899>0.05). Secara bersamaan pengaruh komunikasi nonverbal mimik wajah, proximity, kinesik dan haptik terhadap perkembangan anak secara fisik adalah 0,136 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,864.

Gambar 5. Estimasi Parameter Model Struktural komunikasi nonverbal dalam Perkembangan anak secara fisik

2,187 0,579

X,2.4 X.2.5 X.2.6

0,176 0,0485 0,166

X.2a

Y.1

0,136

0,864 1,955 1,899

0,151

X.2.7 X.2.7 = Haptic. Berdasarkan gambar 5 dapat di jelaskan bahwa komunikasi nonverbal secara proximity (X2.5)=0.04<0.05, mempengaruhi perkembangan anak secara fisik. Hal ini berarti bahwa dalam 1

Keterangan : Y.1 = Perkembangan anak secara fisik X2a = Komunikasi nonverbal X.2.4 = Mimik wajah, X.2.5 = Proximity X.2.6 = Kinesik

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

perkembangan anak secara fisik, penggunaan komunikasi nonverbal secara proximity sangat mempengaruhi perkembangan psikososial anak. Sikap orangtua yang memeluk anak dalam setiap kesempatan akan membantu menumbuhkan sikap percaya diri
Estimated Equations

pada anak, begitu juga dalam menuntun anak dalam melakukan sesuatu, akan menghindarkan anak dari bahaya jatuh, bahaya terhadap lingkungan, dan sebagainya. Komunikasi Nonverbal dalam Perkembangan Anak secara Emosi

Y.2 = 0.0 + 0.345*X.2.4 - 0.0842*X.2.5 + 0.272*X.2.6 + 0.0790*X.2.7 (0.0707) (0.0757) (0.0785) (0.0799) (0.0747) 0.0 4.561 -1.072 3.401 1.057 + Error, R² = 0.240 Error Variance = 0.760

Persamaan Struktural untuk model komunikasi non verbal dalam perkembangan anak secara emosi adalah sebagai berikut: besarnya pengaruh variabel laten mimik wajah (X,2,4), proximity (X,2,5), kinesik (X,3,6) dan haptic (X.2.7) terhadap variabel laten perkembangan anak secara emosi (Y.2), masing-masing sebesar 0,0 dan 0,345 dan -0,0842 dan 0,272 dan -0,0790 dengan nilai kesalahan standar dan nilai t hitung masing-masing sebesar 0,0707 dan 0,0757 dan 0,0785 dan 0,0799 dan 0,0747 serta 0,0 dan 4561 dan -1072 dan 3.401 dan 1,057. Estimasi koefisien jalur non verbal mimik wajah (X,2,4) terhadap perkembangan anak secara emosi (Y.2) yaitu; γ² = 0,345 secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung=4,561>0.05). Estimasi koefisien jalur proximity (X,2,5)

terhadap perkembangan anak secara emosi (Y.2) yaitu; γ²=0.0842, secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung =-1,072<0.05). Estimasi koefisien jalur kinesik (X,2,6) terhadap perkembangan anak secara emosi (Y.1) yaitu; γ²=-0,272, secara statistik signifikan (nilai t hitung =3,401>0.05) Estimasi koefisien jalur haptik (X,2,7) terhadap perkembangan anak secara emosi (Y.1) yaitu; γ²=-0,0790, secara statistik signifikan (nilai t hitung=1,057>0.05). secara bersamaan pengaruh komunikasi nonverbal mimik wajah, proximity, kinesik dan haptik terhadap perkembangan anak secara emosi adalah 0,240 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,760.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

2

Gambar 6. Estimasi Parameter Model Struktural komunikasi nonverbal dalam Perkembangan anak secara emosi
4,561 -1072

X,2.4 X.2.5 X.2.6 X.2.7

0,345 0,0842 -0.272 0,0790

X.2a

0,240

0,760 Y.2

0,,760

3,401 1,057

Keterangan : Y.1 = Perkembangan anak secara emosi X2a = Komunikasi nonverbal

X.2.4 X.2.5 X.2.6 X.2.7

= Mimik wajah, = Proximity = Kinesik = Haptik.

Berdasarkan gambar 6 dapat di jelaskan bahwa komunikasi non verbal secara Kinesik (X2.6)=0,272<0.05, mempengaruhi perkembangan anak secara emosi. Hal ini berarti bahwa dalam perkembangan anak secara emosi, penggunaan komunikasi non verbal secara kinesik sangat mempengaruhi perkembangan emosi anak. Sikap orangtua dalam menghadapi anak menangis, anak merajuk karena
Estimated Equations

keinginan tidak terpenuhi, pada saat anak gembira, saat anak mengungkapkan isi hatinya, akan membantu anak untuk mengembangkan emosional diri, anak akan belajar melakukan penyesuaian diri, sehingga akan menumbuhkan kepribadian yang mandiri. Komunikasi Non Verbal dalam Perkembangan Anak secara Kognitif

Y.3 = 0.0 + 0.277*X.2.4 - 0.0658*X.2.5 + 0.119*X.2.6 + 0.120*X.2.7 (0.0757) (0.0809) (0.0840) (0.0854) (0.0799) 0.0 3.424 -0.784 1.397 1.503 + Error, R² = 0.130 Error Variance = 0.870

Persamaan Struktural untuk model komunikasi non verbal dalam perkembangan anak secara kognitif adalah sebagai berikut: besarnya pengaruh variabel laten mimik wajah

(X,2,4), proximity (X,2,5), kinesik (X,3,6) dan haptik (X.2.7) terhadap variabel laten perkembangan anak secara kognitif (Y.3), masing-masing sebesar 0,0 dan 0,277 dan -0,0658 2

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

dan 0,119 dan 0,120 dengan nilai kesalahan standar dan nilai t hitung masing-masing sebesar 0,0757 dan 0,0809 dan 0,0840 dan 0,0854 dan 0,0799 serta 0,0 dan 3,424 dan -0,784 dan 1,397 dan 1,503. Estimasi koefisien jalur non verbal mimik wajah (X,2,4) terhadap perkembangan anak secara kognitif (Y.3) yaitu; γ² = 0,277 secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung = 3,424>0,05). Estimasi koefisien jalur proximity (X,2,5) terhadap perkembangan anak secara kognitif (Y.3) yaitu; γ²=-0.0658, secara statistik signifikan (nilai t hitung =-0.784<0.05). Estimasi

koefisien jalur kinesik (X,2,6) terhadap perkembangan anak secara kognitif (Y.3) yaitu; γ²=-0,119, secara statistik signifikan (nilai t hitung =1,397>0.05) Estimasi koefisien jalur haptik (X,2,7) terhadap perkembangan anak secara kognitif (Y.3) yaitu; γ²=0,120, secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung=1,503.0.05). secara bersamaan pengaruh komunikasi non verbal mimik wajah, proximity, kinesik dan haptik terhadap perkembangan anak secara kognitif adalah 0,130 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,870.

Gambar 7. Estimasi Parameter Model Struktural komunikasi nonverbal dalam Perkembangan anak secara kognitif
4,561 -1072

X,2.4 X.2.5 X.2.6 X.2.7

0,345 0,0842 -0,119 0,120

X.2a

0,130

0,760 Y.3

0,870

1,397 1,503

Keterangan: Y.1 = Perkembangan anak secara kognitif X2a = Komunikasi nonverbal X.2.4 = Mimik wajah, X.2.5 = Proximity, X.2.6 = Kinesik X.2.7 = Haptic.

Berdasarkan gambar 7 dapat di jelaskan bahwa komunikasi non verbal secara kinesik (X2.6)=0,119<0.05, mempengaruhi perkembangan anak secara kognitif. Hal ini berarti bahwa dalam perkembangan anak secara kognitif, penggunaan komunikasi non verbal secara kinesik sangat mempengaruhi 24

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

perkembangan kognitif anak. Sikap orangtua dalam menghadapi keingintahuan anak yang terkadang di tunjukkan dengan cara menangis, apabila orangtua menanggapi dengan
Estimated Equations

baik maka pengaruh positif terhadap perkembangan kognitif anak. Komunikasi Nonverbal dalam Perkembangan Anak secara Psikososial

Y.4 = 0.0 + 0.122*X.2.4 + 0.110*X.2.5 + 0.149*X.2.6 + 0.0823*X.2.7 (0.0771) (0.0824) (0.0856) (0.0870) (0.0814) 0.0 1.475 1.289 1.710 1.010 + Error, R² = 0.0977 Error Variance = 0.902

Persamaan Struktural untuk model komunikasi non verbal dalam perkembangan anak secara psikososial adalah sebagai berikut: besarnya pengaruh variabel laten mimik wajah (X,2,4), proximity (X,2,5), kinesik (X,3,6) dan haptik (X.2.7) terhadap sebesar 0,0771 dan 0,0824 dan 0,0856 dan 0,0870 dan 0,0814 serta 0,0 dan 1,475 dan 1,289 dan 1,710 dan 1,010. Estimasi koefisien jalur non verbal mimik wajah (X,2,4) terhadap perkembangan anak secara psikososial (Y.4) yaitu; γ² = 0,122 secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung=1,475>0.05). Estimasi koefisien jalur proximity (X,2,5) terhadap perkembangan anak secara psikososial (Y.4) yaitu; γ²=0.110, secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung =1,289>0.05). Estimasi koefisien jalur kinesik (X,2,6) terhadap perkem.

variabel laten perkembangan anak secara psikososial (Y.4), masingmasing sebesar 0,0 dan 0,122 dan 0,110 dan 0,149 dan 0,0823 dengan nilai kesalahan standar dan nilai t hitung masing-masing bangan anak secara psikososial (Y.4) yaitu; γ²=0,149, secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung =1,710>0.05) Estimasi koefisien jalur haptik (X,2,7) terhadap perkembangan anak secara psikososial (Y.4) yaitu; γ²=0,0823, secara statistik tidak signifikan (nilai t hitung =1,010>0,05). secara bersamaan pengaruh komunikasi non verbal mimik wajah, proximity, kinesik dan haptik terhadap perkembangan anak secara psikososial adalah 0,0977 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,902.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

2

Gambar 8. Estimasi Parameter Model Struktural komunikasi nonverbal dalam Perkembangan anak secara psikososial 1,475 1,289

X,2.4 X.2.5 X.2.6 X.2.7

0,122 0,110 0,149 0,0823

X.2a

0,0977

0,760 Y.4

0,902

1,710 1,010

Keterangan : Y.1 = Perkembangan anak secara psikososial X2a = Komunikasi nonverbal X.2.4 = Mimik wajah,

X.2.5 X.2.6 X.2.7

= Proximity = Kinesik = Haptic.

Berdasarkan gambar 8 dapat di jelaskan bahwa komunikasi non verbal secara mimik wajah, proximity, kinesik dan haptik tidak mempengaruhi secara signifikasi terhadap perkembangan anak secara psikososial. Hal ini berarti bahwa dalam perkembangan anak secara secara psikososial, penggunaan komunikasi non verbal mimik wajah, proximity, kinesik, dan haptik tidak mempengaruhi perkembangan psikosial anak secara nyata. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Pengaruh komunikasi verbal bahasa, intonasi, nada terhadap perkembangan anak secara fisik adalah 0,210 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,790. Pengaruh komunikasi verbal bahasa, intonasi, nada terhadap

perkembangan anak secara emosi adalah 0,329 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,671. Pengaruh komunikasi verbal bahasa, intonasi, nada terhadap perkembangan anak secara kognitif adalah 0,138 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,862. Pengaruh komunikasi verbal bahasa, intonasi, nada terhadap perkembangan anak secara psikososial adalah 0,0955 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,905. 2. Pengaruh komunikasi non verbal mimik wajah, proximity, kinesik dan haptik terhadap perkembangan anak secara fisik adalah 0,136 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,864. Pengaruh komunikasi non verbal mimic wajah, proximity, 2

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

kinesik dan haptik terhadap perkembangan anak secara emosi adalah 0,240 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,760. Pengaruh komunikasi non verbal mimik wajah, proximity, kinesik dan haptik terhadap perkembangan anak secara kognitif adalah 0,130 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,870. Pengaruh komunikasi non verbal mimik wajah, proximity, kinesik dan haptik terhadap perkembangan anak secara psikososial adalah 0,0977 dan sisi lainnya merupakan pengaruh variabel lain (errorvar) sebesar 0,902. DAFTAR PUSTAKA Azwar. 1997 , Sikap Manusia : Teori dan Pengukuran. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Creswell JW. 2002. Research design, Desain penelitian Qualitative and Quantitative Approaches. KIK Press, Jakarta. Gunarsa. 2002. Dasar dan Teori Perkembangan Anak. Cetakan keenam. BPK Gunung Mulia, Jakarta.

-------------------,(1990), Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, BPK Gunung Mulia, Jakarta Hurlock 1978, Perkembangan anak. [Alih bahasa], Erlangga, Jakarta. Kusnendi. 2008 Model-model Persamaan Struktural, satu dan multigroup sample dengan LISREL. Alfabeta, Bandung. Rakhmat J. Komunikasi. Bandung. 2007. Remaja Psikologi Karya,

Riduwan. 2004. Metode dan Teknik Menyusun Tesis, Alfabeta, Bandung. Singarimbun M, Effendi S. 2006. Metode Penelitian Survey. Grafindo, Jakarta Sugiyono. 2007. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta, Bandung. Soekanto S. 2004, Sosiologi Keluarga. Rineka Cipta, Jakarta.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

26

GLOBAL – LOKAL : ADAPTASI BUDAYA FILM INTERNASIONAL Oleh Saepudin Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa Universitas Islam “45” Bekasi Abstract Film is the modern cultural product. It is always influenced by values and culture where it is produced. As one of media product, surely film is not distributed only for local market, but served for international society too. International films for certain nations are not accepted directly, it must be censored by state organization which will judge that films. Censorship is one kind of cultural adaptation by means of organization. This research, studies process of censorship by Malaysia Censorship Organization (LPF) to Indonesia’s film which is distributed in Malaysia. The researcher use semiotics to analyze it. Then it was found that even Indonesia and Malaysia have various similiarity in culture, it is not mean cultural product can be accepted directly. Indonesia’s film was censored by LPF for content of sexual and violence.
Keywords: Film censorship, cultural adaptation

PENDAHULUAN Budaya dan pelbagai bentuknya, kini hadir sebagai pembawa pesan utama globalisasi dan nilai-nilai modern juga sebagai arena yang penting dari pertarungan identitas bangsa, agama dan suku (Lieber & Weisberg, 2002). Hiburan sebagai salah satu bidang dari budaya, yang mampu melintasi batasan-batasan ruang dan budaya secara kuat, termasuk dalam bidang ini ialah film. Film tidak hanya sekedar menyajikan hiburan saja, tetapi juga merupakan sebuah produk budaya modern. Oleh sebab itu, film pasti secara eksplisit maupun implisit menghadirkan nilai-nilai budaya melalui reproduksi narasi, yang kemudian mampu menularkan suatu

nilai yang sesuai dengan budaya lokal atau bahkan bertolak belakang. Oleh sebab itu, film banyak dikhawatirkan oleh banyak pihak mentransformasi nilai budaya yang sudah ada dalam suatu budaya. Kekhawatiran ini ditambah dengan berlakunya globalisasi. Fenomena globalisasi, menjadi jembatan bagi suatu produk budaya untuk masuk ke dalam wilayah geografis dan budaya kelompok masyarakat yang lain (Footer & Graber, 2000). Ini bagi beberapa masyarakat dan pemerintahnya, mengancam identitas budaya masyarakat lokal. Oleh sebab itu, maka diperlukan pola adaptasi budaya terhadap film. Pengadaptasian mutlak diperlukan untuk menjaga identitas budaya dan 28

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

menyelamatkan budaya lokal di masa depan. Malaysia, termasuk negara yang menjaga betul identitas budayanya. Tindakan yang dilakukan oleh pihak pemerintah dalam menjaga identitas budaya lokal, dengan mengeluarkan peraturanperaturan yang berorientasi kepada pengekalan nilai budaya lokal. Peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah, dalam hal ini termasuk peraturan tentang penyensoran film. Dalam peraturan ini, tujuan Lembaga Penyensoran Film Malaysia (LPF) ialah untuk memastikan film-film yang beredar dan ditayangkan pada masyarakat umum, tidak berisi materi-materi yang tidak dikehendaki, yang dapat membahayakan ketenteraman umum, keselamatan negara dan moral rakyat. Tujuan ini dijelaskan lebih terperinci dengan tujuan melindungi negara dan pemerintah, melindungi masyarakat, menghindari penodaan terhadap agama, menjaga keharmonisan etnik, sesuai dengan dasar-dasar dan aspirasi negara. Menentukan nilai-nilai murni, dan budaya bangsa terpelihara dan berkembang sesuai dengan kepribadian nasional (Marina, 2003). Dengan eksistensi Lembaga Penyensoran Film, maka film-film yang tidak sesuai dengan nilai, norma dan kepercayaan masyarakat akan senantiasa disensor. Wujudnya Lembaga dan peraturan tentang penyensoran film, membuat setiap film baik yang berasal dari produksi lokal atau

internasional akan senantiasa melalui meja Lembaga Penyensoran Film, termasuk dalam hal ini ialah filmfilm dari Indonesia. Meski film-film dari Indonesia secara geografis dan budaya tidak berjauhan, tetapi ini tidak berarti dapat langsung diterima, dan dikonsumsi secara langsung oleh masyarakat Malaysia. Sinematografi, bahasa, kandungan film, orientasi budaya yang ditampilkan dalam film, dan kecenderungan pasaran yang berbeda antara masyarakat Indonesia dan Malaysia, menjadi alasan yang penting untuk dipertimbangkan dalam penyensoran film-film dari Indonesia. Film-film internasional, termasuk dalam hal ini ialah film dari Indonesia, memiliki kode budaya dan narasi visual yang berbeda berdasarkan kepada perspektif budaya penerbit film dan konteks budaya masyarakat (Ibrahim, 2007). Perbedaan itu kemudian disesuaikan berdasarkan segmen pasaran tertentu. Ini karena perspektif budaya masyarakat berbeda-beda, sehingga akan sangat tepat apabila proses pengadaptasian budaya dalam visual ataupun aspek sinematografi yang lainnya dilakukan oleh lembaga berwenang seperti Lembaga Penyensoran Film. Penelitian ini bertujuan membuktikan bagaimana bentuk adaptasi budaya dalam perfilman yang dilakukan oleh Lembaga Penyensoran Film Malaysia terhadap film dari Indonesia. Film yang dikaji dalam penelitian ini ialah film yang berjudul Paku Kuntilanak. Film ini 29

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

dipilih karena mengandung beberapa aspek yang harus disesuaikan dengan segmen pasar di Malaysia. Aspekaspek tersebut ialah adegan-adegan yang mengandung seks dan kekerasan. Selain bentuk adaptasi budaya, peneliti ini juga ingin mengetahui persepsi masyarakat Malaysia dan Indonesia yang berada di Malaysia terhadap film tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan melalui paradigma interpretatif dengan analisis tekstual. Teks ini merujuk kepada teks visual film. Proses analisis yang dilakukan peneliti, adalah menentukan kategori penyeleksian kandungan film, kemudian membandingkan kandungan dalam kedua film (film yang sebelum disensor dan setelah disensor). Berdasarkan kategori yang telah ditentukan, selanjutnya menentukan perbedaan kandungan film sebagai bentuk seleksi (penyensoran). Kandungankandungan dalam film tersebut kemudian dijadikan sebagai sample data. Sample tersebut kemudian ditunjukan kepada para informan. Peneliti tidak hanya menunjukan sample data saja, tetapi juga menayangkan film tersebut kepada informan. Tindakan ini dilakukan untuk mengetahui persepsi informan terhadap film Paku Kuntilanak. Berdasarkan pada analisis tekstual yang didukung oleh penafsiran informan terhadap kandungan film tersebut, selanjutnya peneliti membuat kesimpulan penelitian.

PEMBAHASAN Globalisasi Media Globalisasi telah menjadi bahan perbincangan para ahli dalam setiap disiplin ilmu. Ini karena ia dalam proses dan pengaruhnya, tidak hanya melibatkan satu aspek kehidupan. Jameson & Miyoshi (1999) berpendapat bahwa globalisasi telah ada sebagai tanda dari munculnya fenomena sosial yang baru. Globalisasi ini tidak hanya sebagai bentuk fenomena yang baru, tetapi juga menciptakan fenomenfenomena sosial lainnya, sebagai dampak dari arus globalisasi. Globalisasi mengambil tempat dalam tiga aspek penting yaitu politik, ekonomi, sosial dan budaya. Keberadaannya, telah menjadi kekhawatiran banyak kalangan. Appadurai (2001) memaparkan kekhawatiran para ahli terhadap fenomena globalisasi. Para ahli politik mengkhawatirkan pengaruh globalisasi terhadap stabilitas satu bangsa, jika benar globalisasi mampu menciptakan ”dunia tanpa batas”. Para pakar budaya khususnya penganut Marxist, mengkhawatirkan fenomena globalisasi ini sebagai bentuk hegemoni kuasa kapitalis menyebar ke berbagai dunia, dan mempersulit kemungkinankemungkinan keadilan dalam dunia kerja. Bagi Schiller (dalam Burton, 2005) globalisasi merupakan bentuk serangan kapitalis terhadap standar kehidupan kelas pekerja. Globalisasi juga dikhawatirkan memunculkan perusahaan-perusahaan raksasa dunia 30

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

yang bersorak-sorai meramaikan globalisasi. Globalisasi telah membuka gerbang bagi perusahaanperusahaan besar dunia untuk melebarkan jaringan kuasa ekonomi mereka, menembus batas geografis. Robertson (dlm Fish & Miyoshi, 1999) memformulasikan dinamika globalisasi sebagai "the twofold process of the particularization of the universal and the universalization of the particular." Jadi, dalam proses globalisasi sebetulnya, terjadi proses interaksi antara masyarakat lokal dengan masyarakat eksternal, yang disertai dengan aliran berbagai bentuk produk budaya (material maupun non-material) dari satu negara kemudian masuk ke peringkat regional, yang kemudian dilanjutkan ke peringkat global. Proses tersebut terjadi secara dua arah. Artinya, dengan globalisasi, maka akan tercipta proses particularization dan universalization. Ini juga sekaligus sebagai bentuk pola globalisasi, dengan istilah yang lain bentuk ini disebut heterogenisasi dan homogenisasi. Terlepas dari bagaimana pola tersebut diciptakana, kedua bentuk ini memiliki kekuatan sosial, politik dan budaya. Kekuatan ini juga akan mewujudkan dampak dalam tiga sektor kehidupan (sosial, politik & budaya). Lull (dalam Rantanen, 2005) mengatakan: “Globalization is best considered a complex set of interacting and often countervailing human, material, and symbolic flows

that lead to diverse, heterogeneous cultural positionings and practices, which persistently and variously modify established sectors of social, political and cultural power” (Lull 2000). Seperti yang telah disampaikan di atas, bahwa globalisasi telah meresap dan menyebar dalam pelbagai aspek kehidupan, termasuk dalam hal ini ialah media. Bahkan media dengan segala bentuk dan sistemnya, dianggap telah menjadi penggerak atau sarana perluasan globalisasi. Hubungan antara media dan globalisasi merupakan mutual relationship. Hubungan antara keduanya digambarkan oleh Marshall McLuhan dengan metafora “medium is the message” dan “global village”. Media dan kemampuannya, telah menjadikannya sebagai sarana penyampaian pesan, dan sarana penghubung antara satu dengan lainnya seakan-akan dalam satu wilayah yang sama. Di sini, media berperan sebagai worldwide social relations. Dengan demikian, maka globalisasi yang diperankan oleh media, lebih bersifat mediated. Ini kemudian menciptakan fenomena yang dipanggil sebagai mediated globalization, artinya proses globalisasi ditingkatkan dan dikembangkan oleh media dan komunikasi (Rantanen, 2005). Istilah ’mediation’ didefinisikan oleh Williams sebagai proses yang aktif dari hubungan 31

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

antara pelbagai jenis sesuatu yang ada, dan kesedaran yang dimediasikan. Lo mengatakan bahwa istilah ’mediation’ yang digunakan oleh Martin-Barbero, untuk menunjukan artikulasi antara pengamalan komunikasi, dan pergerakan sosial dan artikulasi dari perbedaan masa perkembangan dengan keberagaman matriks budaya. Oleh sebab itu, istilah ini merupakan istilah yang cukup kompleks, karena terdiri dari masa dan ruang. Dengan demikian, globalisasi seperti yang didefinisikan oleh Thompson merupakan satu proses dimana ekonomi politik, budaya dan hubungan sosial di seluruh dunia telah meningkat yang dimediasikan melintasi waktu dan ruang (Rantanen, 2005). Globalisasi & Adaptasi Budaya Dari banyaknya dan luasnya penelitian mengenai globalisasi, sepertinya persoalan budaya merupakan yang paling menarik untuk diselidiki dan diteliti, sebab budaya merupakan satu aspek yang selalu melekat dalam setiap kehidupan manusia tanpa memisahkan antara yang tradisional dan modern. Budaya ialah sistem (dari pola-pola tingkah laku yang diturunkan secara sosial), yang menghubungkan komunitas manusia dengan lingkungan ekologi mereka. Dalam "cara-hidup-komunitas" ini, termasuk teknologi dan bentuk organisasi ekonomi, pola-pola bermasyarakat, bentuk pengelompokan sosial dan organisasi

politik, kepercayaan dan praktek keagamaan, dan seterusnya. Konsep budaya turun menjadi pola tingkah laku yang terikat kepada kelompokkelompok tertentu, yaitu menjadi "adat istiadat" (customs) atau "cara kehidupan" (way of life) manusia (Keesing, 1974). Konsep ini menunjukkan bahwa budaya merupakan suatu proses pengamalan sosial yang menghasilkan makna, nilai, dan tata hidup masyarakat. Oleh sebab itu, dapat kita tarik kesimpulan, bahwa budaya tidak hanya suatu hasil ciptaan yang bersifat artistic, seperti seni patung, lukis, dan tari, tetapi juga pengamalan-pengamalan keseharian manusia yang terjadi secara terus-menerus dan akhirnya menjadi stabil, juga termasuk bagian dari budaya seperti kebiasaan mengkonsumsi sesuatu, tata cara berpakaian, dan model interaksi dalam suatu masyarakat. Globalisasi memang sangat jelas sebagai satu usaha untuk membentuk suatu dunia yang tunggal, berdasarkan standarisasi yang ditetapkan dan diterima walaupun tanpa kesepakatan. Usaha untuk menjadikan kehidupan dalam satu dimensi memang bukan tanpa resiko, sebab, kehidupan manusia yang bersifat dinamis dan selalu berevolusi mengikuti lingkungan zaman, dipaksa untuk mengikuti satu logika, yaitu menuju kehidupan di bawah satu payung tradisi. Proses globalisasi budaya terjadi dengan melakukan perluasan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan suatu 32

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

masyarakat kepada masyarakat lainnya dengan pembungkusan perluasan yang cantik, sehingga nilainilai yang pada awalnya bertentangan, secara lambat tapi pasti akan ditoleransi, dan akhirnya diterima sebagai sebuah budaya baru yang kadang dianggap lebih mencerahkan. Dampaknya, sistem nilai suatu masyarakat yang telah terbina secara turun-temurun, akan terkena arus budaya globalisasi dan sistem nilai baru yang belum tentu mampu menghadirkan sebuah tata kehidupan yang lebih sesuai, dan baik bagi masyarakat tersebut. Berkenaan dengan hal ini, Appadurai (2001) mengatakan bahwa globalisasi merupakan “machine for producing ideas with the appropriate life”. Proses peresapan sistem nilai di era globalisasi tidak terjadi secara paksa, sistem nilai baru yang masuk ke dalam kebudayaan suatu masyarakat terjadi dengan sangat sopan, sehingga proses pengambilan budaya berlaku secara perlahan tapi mematikan. Globalisasi menciptakan suatu keadaan di mana budaya baru, yang disebut sebagai budaya modern dengan berbagai standar yang telah dikonstruksi dan dicitrakan, memang sangat diperlukan oleh semua lapisan masyarakat, sehingga terdapat keinginan dari masyarakat untuk mengambil dan menerapkan nilai budaya tersebut dalam kehidupan umum mereka, hingga kehidupan pribadi sekalipun. Dalam keadaan ini, masyarakat tidak akan pernah merasa bahwa sistem nilai yang sedang mereka tiru, merupakan sebuah

kontruksi dominasi suatu sistem terhadap sistem yang lainnya (Kellner & Durham, 2006). Masyarakat akan menjadi bangga jika mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai budaya baru, dan meninggalkan budaya lama karena dianggap tidak sesuai dengan keadaan kemajuan zaman. Dalam keadaan seperti ini, maka diperlukan satu usaha untuk membendung hegemoni budaya globalisasi. Bagaimanapun juga globalisasi merupakan satu fenomena yang tidak dapat kita hindari, tetapi mampu kita sesuaikan (adaptasi). Adaptasi di sini merujuk kepada usaha penyesuaian produk budaya eksternal terhadap nilai, norma atau sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat lokal. Ting-Toomey mendefiniskan istilah ini sebagai perubahan dalam unsur kebudayaan, yang menyebabkan unsur itu dapat berfungsi lebih baik bagi manusia yang mendukungnya. Istilah ini secara khusus merupakan proses penyesuaian (adjustment). Istilah ini merujuk kepada short-term dan medium-term dari proses penyesuaian dalam lingkungan asing (TingToomey, 1999). Proses adaptasi menurut TingToomey (1999), ialah proses yang mengacu kepada proses identity being-identity becoming. Ini sekaligus menjadi metafora pergerakan dan perubahan identitas pendatang luar ke dalam wilayah budaya lainnya. Ketika penyesuaian ini terjadi, maka akan terbentuk asimilasi, yaitu sebuah proses penerimaan terhadap 33

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

budaya eksternal. Keadaan penerimaan ini, dapat dicapai ketika wujudnya penguatan nilai-nilai yang positif dari komunikasi eksternal (McGuire & McDernott dalam Gudykunst, 2005). Sebuah kelompok akan menyempurnakan keadaan asimilasi, ketika individu atau kelompok komunikasi eksternal menyesuaikan dengan norma-norma yang diharapkan. Pentingnya unsur-unsur budaya positif dan norma, yang sesuai dan diisi oleh bentuk komunikasi atau produk budaya eksternal, menjadi prasyarat bagi penerimaan sesuatu produk atau masyarakat dari budaya eksternal untuk masuk dan berasimilasi dengan budaya lokal. Ketika komunikasi eksternal atau produk budaya eksternal tidak sesuai, bertolakbelakang apalagi menyimpang dengan sistem budaya lokal, maka akan terjadi proses alienasi (pengasingan) (McGuire & McDernott dlm Gudykunst, 2005). Pengasingan ini sebagai bentuk penolakan masyarakat lokal atau sebaliknya pendatang yang tidak mampu beradaptasi, sehingga menyebabkan ia merasa terasing. Ting-Toomey (1999) mengatakan bahwa proses adaptasi dipengaruhi beberapa faktor, antara lain pertama, keadaan sosioekonomi. Ketika pendatang berasal dari latar belakang sosial dan ekonomi yang tinggi, dan mampu memberikan dampak positif secara sosial dan ekonomi, maka masyarakat lokal akan bertoleransi bahkan

ramah, tetapi justru apabila sebaliknya, masyarakat lokal akan menganggap ia sebagai masalah dan mengancam terhadap posisi serta keadaan sosial dan ekonominya. Kedua, sikap mental. Budaya yang assimilationist akan sangat mengharapkan pendatang untuk menyesuaikan dengan budaya dan lingkungan lokal. Berbeda dengan budaya assimilationist, budaya pluralist justru menghargai perbedaanperbedaan. Dalam budaya ini, pendatang baru justru diberi kebebasan untuk menerapkan norma mereka. Ketiga, institusi lokal seperti institusi pendidikan, tempat kerja, layanan sosial dan media massa. Semua institusi ini menyediakan fasilitas kepada pendatang untuk melakukan adaptasi, atau justru menghalangi proses tersebut. Selain institusi di atas, kebijakan negara, institusi lokal juga ikut berperan dalam proses ini melalui programprogram dan peraturan-peraturan pemerintah. Keempat, pendefinisian masyarakat lokal terhadap pendatang. Apakah pendatang itu diartikan sebagai tamu, orang asing, penyelundup atau keluarga yang diadopsi. Ini semua akan sangat mempengaruhi sikap dan perilaku terhadap pendatang. Faktor terakhir yaitu jarak budaya. Jarak budaya merujuk kepada tingkat penyesuaian psikologis yang diperlukan untuk menjembatani perbedaan antara budaya asli dan budaya sasaran. Jarak budaya, meliputi dimensi perbedaan nilai budaya, konsep diri, bahasa dan 34

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

gaya komunikasi, agama, sistem ekonomi dan politik. Gabungan antara faktor-faktor yang disebutkan di atas, akan menciptakan iklim yang menyenangkan atau tidak bagi pendatang baru. Konsep adaptasi yang dijelaskan oleh Ting-Toomey di atas, sebetulnya tidak hanya mengacu kepada satu bentuk atau satu subjek adaptasi (pendatang). Adaptasi tidak mesti dimaknai sebagai bentuk penyesuaian secara budaya dan berhubungan dengan dimensi fisik. Pada pandangan saya, adaptasi justru merupakan sebuah konsep yang kompleks. Proses adaptasi, tidak hanya melibatkan dimensi fisik dan budaya, tetapi juga sistem. Sistem atau peraturan dalam sebuah kelompok masyarakat. Produkproduk budaya yang masuk ke wilayah budaya yang lain, mengandung sistem yang belum tentu sesuai dengan sistem yang berlaku dalam wilayah sosial, politik dan budaya yang dimasukinya. Perbedaan sistem seperti sistem perundangundangan, sistem ekonomi, sistem pendidikan, bahkan yang lebih bersifat pengamalan seperti sistem industri media. Dalam sistem industri media misalnya film, memiliki sistem tersendiri, antara lain , film memiliki sistem kode yang membentuk keseluruhan proses narasinya. Sistem kode dalam film, merupakan bentuk reproduksi budaya dari masyarakat pencipta film tersebut (Bennet et.al, 2007, Turner, 2006). Film, mampu mengkonstruksi dan menghadirkan kembali

gambaran-gambaran realitas dengan cara kode, kesepakatan, mitos dan ideologi dari budaya di mana film itu diproduksi. Sistem budaya film, memperbarui kembali, memproduksi kembali dan meninjau sistem-sistem budaya (Turner, 2006). Dengan demikian, maka sistem narasi film merupakan narasi budaya itu sendiri, yang di dalamnya mengandung sistem-sistem budaya yang kompleks, seperti cara berkomunikasi, cara berpakaian, dan cara hidup. Oleh sebab itu, diperlukan proses adaptasi terhadap film, apalagi film dari luar negri. Adaptasi film internasional, bukan hanya sebuah keperluan tetapi juga keharusan. Hal ini tidak hanya terkait dengan sistemsistem sosial, politik, budaya dan ekonomi yang melatarbelakangi negara sasaran pemasaran film, tetapi juga sistem kode yang ada dalam film tersebut, yang mungkin tidak sesuai dengan khalayak sasaran. Adaptasi ini dapat dalam bentuk adaptasi sistem sinematografi, adaptasi bahasa, audio-visual dan norma (Sarrion, 2009). Dalam penerapan adaptasi budaya film, apa yang dipaparkan oleh Ting-Toomey di atas, berlaku juga dalam film sebetulnya. Ini saya fikir, sebagai bagian dari strategi pemasaran produk film dan bentuk menjaga stabilitas moral bangsa. Proses ini dilakukan oleh pihak pemasaran atau lembaga-lembaga terkait. Pihak pemasaran dan lembaga yang berwenang, akan menerima dan mengizinkan suatu film untuk dipasarkan, apabila film itu 35

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

memberikan sumbangan yang positif, baik terhadap ekonomi atau budaya. Jika film-film yang tidak memberikan dampak positif, bertolak belakang atau menyimpang dari sistem budaya dan sistem peraturan negara sasaran, tentu film tersebut tidak akan diizinkan untuk dikonsumsi oleh masyarakat tersebut. Di sini, lembaga-lembaga seperti pemasaran dan lembaga penyensoran film, memainkan peran penting terhadap usaha penyelamatan nilai-nilai budaya dan moralitas bangsa. Sistem Penyensoran Film di Malaysia Sistem penyensoran film di Malaysia tertakluk kepada Akta Penapisan Filem 2002 (Undangundang Penyensoran Film). Undangundang ini, merupakan undangundang pengganti dari Akta Penapisan Filem 1971. Berdasarkan pada Akta Film (penyensoran) 1952 yang kemudian disesuaikan pada tahun 1971, maka dibentuklah satu lembaga yang dipanggil Lembaga Penapisan Filem. Anggota Lembaga Penapisan Filem terdiri dari seorang Manajer, seorang Wakil Manajer dan 63 orang anggota. Mereka dilantik oleh Seri Paduka Baginda Yang Di Pertuan Agong (Raja Malaysia) di bawah undang-undang yang sama. Tugas lembaga ini adalah menjaga keselamatan negara dan keharmonisan etnik serta melindungi kepentingan negara dan rakyat dari pengaruh buruk dan unsur-unsur negatif yang mungkin dipaparkan dalam beberapa film, sejajar dengan

tuntutan prinsip-prinsip Rukun Negara. Objektif ini dijelaskan lebih terperinci dengan tujuan `Melindungi negara dan pemerintah', `Melindungi masyarakat', `Menghindari penodaan terhadap agama', `Menjaga keharmonian suku sesuai dengan dasar-dasar dan aspirasi negara' `Menentukan nilai-nilai murni dan budaya bangsa terpelihara dan berkembang sesuai dengan kepribadian nasional' dan `Menghindari nama baik individu atau persatuan supaya tidak tercemar akibat penayangan film' (Marina, 2003). Penyensoran film diatur oleh beberapa departemen yang dikenal sebagai Panel Penyensoran. Panel ini dilantik oleh manajer LPF mengikut Pasal 4 (1) Undang-undang Film Malaysia. Panel Penyensoran akan memberi salah satu keputusan berikut:  Lulus tanpa sensor/Lulus bersih (LB)  Lulus dengan potongan (LDP)  Haram/Tidak dapat tayang  Ditolak Sistem klasifikasi LPF berbeda dengan sistem yang digunakan di beberapa negara lain. Pasal 9A Undang-undang Film Malaysia (penyensoran) 1952, menghendaki supaya film-film yang disensor diberi klasifikasi. Sistem klasifikasi meliputi dua kategori, yaitu untuk tontonan umum dengan label ‘U’ dan untuk label ’18 tahun ke atas’. Kategori film untuk penonton berusia 18 tahun ke atas dibagi menjadi empat kategori kecil, 36

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

yaitu 18SG untuk film yang ada unsur kekerasan atau seram tidak keterlaluan, 18SX untuk film unsur yang ada unsur seks tetapi tidak keterlaluan, 18 PA, film yang menyentuh aspek agama, sosial dan politik dan 18PL untuk film dengan gabungan dua atau lebih unsur ganas, seram dan seks (http://www.kdn.gov.my/bmalaysia/ mejabantuan/bahc.html). Akmal (2010) menjelaskan, secara ringkas, Panel penyensoran perlu meneliti supaya setiap film itu pada umumnya tidak ada unsur negatif dan membahayakan dalam aspek ideologi, politik, keagamaan, sosial budaya, peradaban dan tatasusila. Film tidak boleh antinasional atau memaparkan propaganda ideologi yang bertentangan prinsip Rukun Negara (Ideologi dasar bagi rakyat Malaysia seperti halnya Pancasila di Indonesia.). Film juga tidak dapat mengajarkan perilaku agama sesat, melecehkan atau mengkritik agama. Film juga tidak boleh antiagama atau penolakan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Cerita dalam film juga tidak boleh mendorong masyarakat ke kancah perlakuan negatif, membahayakan ketenteraman umum, keselamatan dan ketahanan negara. Dalam aspek lain, film tidak boleh mengagungkan kekerasan, kekejaman, kengerian dan pelanggaran undang-undang yang dapat menyebabkan penonton meniru. Film juga tidak boleh memperlihatkan unsur yang ditafsir

menyekutukan Tuhan, memamerkan wajah rasul atau nabi, serta yang menyentuh perihal akidah atau takhayul. Dari segi hubungan luar negara, film tidak boleh menyinggung sensitivitas atau membuat malu, menyindir atau menghina negara sahabat, baik pemimpin atau rakyatnya. Malah, film tidak boleh mmembuat celaan, mencemar nama atau membuat malu kelompok atau individu tertentu. Dalam mekanisme kerja penyensoran, jika LPF menghadapi keraguan, LPF berkonsultasi dengan pihak-pihak tertentu seperti pakar agama atau lembaga tertentu seperti Jakim (Di Indonesia kita mengenal MUI untuk mengacu kepada organisasi yang sejenis). Dalam mekanisme kerja penyensoran, dasar yang digunakan ialah nilai murni secara universal yang digunakan semua kelompok masyarakat. Untuk film lokal, pihak LPF mencoba melihat film sejajar dengan nilai budaya masyarakat di negara Malaysia. Bagi film impor, mereka melakukan clean-up. Jika keterlaluan dan dirasa tidak dapat, ia tidak dibenarkan untuk ditayangkan. Biasanya penerbit hanya melihat suatu film dari sudut seni saja, tetapi LPF mewakili pemerintah dari segi membendung gejala negatif yang dipaparkan dalam film. Sinopsis Film “Paku Kuntilanak” Tiga orang pencari mayat (Sukun, Obeng, dan Odjie) beraksi kembali. Setelah dalam film 37

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

sebelumnya yaitu ”Kutunggu Jandamu” dan juga ”Setan Budeg” dalam film terbarunya Paku Kuntilanak ini, mereka mencari Kuntilanak yang menjelma menjadi manusia kembali setelah paku di kepalanya, dilepas secara tidak sengaja oleh atasan mereka, Pak Joko. Pak Joko yang melepas paku kuntilanak tersebut diteror terusterusan oleh emaknya, karena belum juga menikah pada umurnya yang sudah semakin tua. Pak Joko yang berniat mendekati Mona justru ditolak. Hingga akhirnya muncul seorang perempuan cantik bernama Kunti, yang tidak lain ialah Kuntilanak yang dicari-cari oleh Tiga Pemburu mayat. Mereka pun mencari berbagai cara untuk meyakinkan Pak Joko bahwa perempuan yang akan dinikahinya tersebut, ialah kuntilanak yang sedang menuntut balas kepada orang-orang yang telah menyakiti dirinya. Dewi Persik sebagai pemeran utama, harus bersaing dengan pemeran pendatang baru yang sensual, Cynthiara Alona dan juga pemeran seksi Hollywood, Heather Storm yang populer melalui film Epic Movie. Ketiganya semakin membuat film ini berwarna dan penuh dengan kelucuan, kengerian, serta aura keseksian yang dipancarkan oleh para pemerannya. Dalam film tersebut, Heather Storm melakukan banyak adegan seks. Beberapa adegan juga memperlihatkan tubuh seksi Heather yang berbalut celana dalam. Pada salah satu adegan, Dewi Persik dan

Keith Foo — lawan mainnya dalam film Paku Kuntilanak sedang bercumbu di dalam bath tub. Meskipun tubuh Dewi Persik diselimuti oleh busa sabun, entah mengapa pada bagian vital tubuhnya tersebut, justru terlihat dengan jelas. Pada akhir cerita, tokoh kuntilanak akhirnya dapat membalas dendam kepada orang-orang yang menyakitinya. Tiga pemburu mayatpun juga dapat menangkap hantu tersebut. Setelah itu, berakhirlah pemburuan hantu dan pembalasan dendam tokoh kuntilanak. Film ”Paku Kuntilanak” ini diproduksi oleh Maxima Pictures pada tahun 2008 dan dipasarkan pada tahun 2009. Maxima Pictures, merupakan perusahaan pembuat film yang berlokasi di Jakarta, Indonesia. Dalam proses pembuatan film produksi Maxima Pictures, senantiasa melibatkan juga dari luar negri seperti Amerika Serikat, Taiwan dan Jepang (www.maximapictures.com). Sumber daya manusia professional itu, tidak hanya sebagai tenagatenaga teknisi, tetapi juga terkadang sebagai pemerannya, seperti dalam film Paku Kuntilanak, pemeran asing dari Malaysia (Keith Foo) dan Amerika Serikat (Heather Storm) pun didatangkan. Beberapa film hasil production house ini, cenderung bertemakan cinta dan horor yang dihiasi dengan komedi dan bumbubumbu seks. Film Paku Kuntilanak disutradarai oleh sutradara lokal, yaitu Findo Purnomo HW. Findo 38

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Purnomo HW berhasil mempertahankan eksistensi citra tiga pemburu mayat berambut keriting yang lucu ini. Dengan tetap menjual nama pemeran sensasional Dewi Persik, yang sudah beberapa kali menjadi pemeran utama dalam filmfilm hasil arahan beliau di Maxima Pictures. Adaptasi budaya dalam penyensoran film “Paku Kuntilanak” Film, radio, televisi, video, internet dan media massa visual lainnya merupakan wujud ekspresi kreativitas sebuah masyarakat. Dengan keberadaan media-media ini, mampu merubah amalan-amalan sosial dan mewujudkan pertemuan budaya global. Budaya visual dalam film diwujudkan dengan cara-cara yang berbeda, mengikuti perspektif sosial dan budaya di mana film tersebut diproduksi (Wong & McDonough, 2001).

Oleh sebab itu, maka akan senantiasa ada kerangka-kerangka budaya yang melatarbelakangi terhadap narasi sebuah film. Perbedaan kerangka budaya dan bentuk ekspresi kreatif membuat, produk budaya dalam bentuk film mesti disesuaikan dengan budaya lokal. Film-film dari Indonesia, meski memiliki jarak budaya yang berdekatan dengan Malaysia, tetapi memiliki kode budaya dan narasi visual yang berbeda mengikuti perspektif budaya penerbit film dan konteks budaya masyarakat (Ibrahim, 2007). Film Paku Kuntilanak, merupakan satu daripada produk kreativitas insan perfilman Indonesia. Dalam film ini, terdapat beberapa hal yang dianggap perlu untuk disesuaikan dengan segmen pasaran film di Malaysia. Di bawah ini adalah antara adegan yang disensor oleh LPF Malaysia:

Gambar 1. Potongan dari adegan-adegan film sebelum disensor

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

39

Gambar-gambar diatas merupakan potongan dari adeganadegan yang ada dalam film sebelum disensor. Dari ketiga gambar ini terlihat jenis isi yang disensor dalam film ini yaitu unsur seksual dan kekerasan. Seksual berdasarkan definisi yang diberikan oleh Forum Kandungan Komunikasi dan Multimedia Malaysia (2010) ialah gambar atau adegan yang dapat menimbulkan rasa muak, karena gambarnya yang merangsang, bertentangan dengan moral seseorang atau berhubungan dengan kesopanan dan kehormatan, merusak pemikiran mereka yang mudah dipengaruhi, dan segala pemaparan kegiatan seks yang pada sebagian orang bersifat eksplisit. Definisi seksual berdasarkan Akta Penapisan Filem, adalah sesuatu yang bertentangan dengan kesopanan umum (Akta Penapisan Filem 2002 Bagian III pasal 1). Sementara kekerasan didefinisikan sebagai gambaran kekerasan, baik fisik, secara lisan ataupun berbentuk psikologi, dapat mengganggu, mencemaskan dan juga menyinggung perasaan penonton. Gambar tersebut juga dapat menyebabkan ketakutan yang tidak beradasar di kalangan penonton, dan juga mendorong perilaku peniruan. Pemaparan tindakan kejam dan penderaan, penggambaran kecelakaan dan serangan, dan pemaparan narkotika yang eksplisit dan keterlaluan harus dihindari. Kekerasan dalam konteks seksual, seperti pemerkosaan, percobaan

pemerperkosaan, atau lain-lain adegan seks secara paksaan, ataupun perlakuan seks adalah tidak dibenarkan (Forum Kandungan Komunikasi dan Multimedia Malaysia, 2010). Adegan film ini seperti yang tergambar dalam adegan di atas, memperlihatkan bagian tubuh wanita yang dapat menimbulkan gairah, dan merangsang seperti dalam gambar kedua. Selain itu, film ini juga memunculkan adegan hubungan seks antara lelaki dan perempuan. Adegan ini merupakan bentuk pemaparan kegiatan seks yang bertentangan dengan kesopanan umum. Pertimbangan ini tidak hanya berdasarkan adegan yang ditunjukan, tetapi juga latar tempat adegan tersebut yaitu di ruangan umum (gambar pertama). Pada gambar ketiga, pemeran melakukan adegan kekerasan. Adegan ini dapat menimbulkan kengerian. Kengerian ini dapat ditimbulkan karena penggunaan senjata tajam yang disabitkan ke leher korban. Kandungan seperti ini yang menjadikan film ini dikelaskan sebagai 18-PL, artinya mengandung unsur seks, seram & kekerasan yang terlalu. Film ini juga diklasifikasikan dengan LDP (Lulus Dengan Potongan). Film ini diluluskan dengan catatan beberapa adegan perlu dipotong karena tidak sesuai untuk ditonton. Film ini sebetulnya telah melalui lembaga penyensoran film Indonesia yang dikenal Lembaga Sensor Film (LSF), tetapi menurut 40

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

keterangan salah seorang anggota LSF Zainut Tauhid seperti yang diberitakan dalam media online Detikcom, (http://us.detik.com/), ia sebagai anggota LSF tidak dilibatkan dalam proses penyensoran film Paku Kuntilanak ini. Keluarnya film ini ke pasaran ditentang juga oleh Majelis Ulama Indonesia. Tetapi tidak ada pengumuman secara resmi dari LSF terkait isu ini. Terlepas dari permasalahan internal yang terjadi dalam Lembaga Sensor Film (LSF), film ini yang jelas mengandung beberapa adegan yang tidak pantas seperti pornografi dan kekerasan. Pertanyaan yang pantas kita munculkan selanjutnya, adalah latar belakang dari munculnya narasi visual yang diciptakan oleh sutradara film tersebut, dan interpretasi serta implikasi dari narasi visual tersebut. Dalam pandangan saya, filmfilm karya insan perfilman Indonesia tengah terbuai dengan ”impian Amerika” dengan Hollywood sebagai ”the dream factory”, sebagai ”pabrik impian” yang menjadi kiblat selera dan rujukan gaya hidup bangsabangsa di belahan manapun di muka bumi. Sehingga kemudian insan perfilman Indonesia masuk ke dalam sebuah dunia yang sepenuhnya baru, tidak berdasarkan kepada selera budaya Indonesia sebagai masyarakat Timur. Film sebagai produk budaya modern sekaligus sebagai kebudayaan populer, digerakkan oleh komersialisasi (Barber dlm Ibrahim, 2007). Film Indonesia, semakin lama semakin jauh dari standar budaya

ketimuran, selain itu juga mengkhianati kodratnya sebagai produk budaya yang lahir dari Indonesia. Film Indonesia telah kehilangan jati dirinya. Nilai-nilai artistik yang ditampilkan, tidak lebih daripada pemenuhan birahi perluasan dan peningkatan keuntungan kapitalis, yang jauh dari nilai tanggung jawab sosial. Beberapa orang informan juga mengatakan hal yang sama. Mereka mengatakan: ”Film indonesia lebih vulgar dibandingkan film Malaysia” (informan 1). ”Film di Indonesia sudah mulai terpengaruh dengan budaya luar, sehingga film yang ditayangkan banyak mengandung unsur seks” (informan 2) ”Tidak sesuai dengan budaya lokal” (informan 3) ”Film di Indonesia mempertontonkan sisi buruk” (informan 4) Karakter film Indonesia yang ditampilkan melalui narasi visualnya telah terkena arus globalisasi. Hegemoni budaya di sini berlaku. Masyarakat Indonesia termasuk insan perfilman, telah menganggap bahwa bumbu-bumbu pornografi sebagai sebuah bagian dari seni visual dalam film. Salah seorang informan mengatakan, cara penyajian film di negara barat mempengaruhi cara berpikir masayarakat dunia, film-filmnya juga mempengaruhi budaya lokal dan merusak akhlak manusia (Wawancara, 2010). Alasan yang kedua, boleh jadi ini disebabkan karena perubahan selera masyarakat khususnya golongan muda sebagai 41

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

segmen pasar yang potensial bagi pemasaran film. Perubahan selera ini sangat terkait juga dengan peresapan nilai-nilai global terhadap khalayak golongan muda, serta rendahnya kemampuan penilaian mereka terhadap kualitas film (visual illiteracy). Bagaimanapun juga, film sebagai sebuah komoditi ekonomi tentu akan menyajikan komoditas itu sesuai dengan ketertarikan khalayak. Ketika film itu dipasarkan ke peringkat internasional seperti ke Malaysia, terjadi proses penyesuaian (adjustment). Penyesuaian ini, seperti yang telah disebutkan di atas karena perbedaan segmen pasar. Perbedaan segmen pasar tentunya mempunyai perspektif budaya yang berlainan juga. Jika kita menggunakan konsep Ting-Toomey di atas, masyarakat Malaysia termasuk jenis assimilationist. Filmfilm yang memang tidak pantas dalam perspektif budaya mereka, dianggap perlu untuk disensor bahkan ditolak. Kedua, peranan institusi dan perundang-undangan. Institusi dan undang-undang yang mengatur dengan ketat terhadap produk budaya termasuk film internasional, akan mampu menjaring dan meminimalkan dampak negatif dari budaya yang masuk ke wilayahnya. Penayangan terhadap film-film dari luar negri yang mengandung unsur-unsur pornografi, misalnya akan memberikan dampak yang meluas terhadap perkembangan mental dan perilaku individu, dan perubahan sosial dan budaya.

Penayangan bahan-bahan seks mendorong tindakan antisosial dan tindakan kejahatan (Diamond, 2009). Ketiga, kini dengan globalisasi jarak geografis tidak menentukan kedekatan secara budaya. Budaya globalisasi dapat merenggangkan jarak budaya sebuah masyarakat. Rendahnya pengontrolan pihak pemerintah terhadap budaya global akan membuat jarak budaya itu semakin menipis bahkan dapat jadi no cultural boundary, dunia tanpa batas yang tidak hanya terjadi pada wilayah geografis tetapi juga pada wilayah kebudayaan. Oleh sebab itu, maka diperlukan code of translation culture. Kode-kode budaya yang tergambar dalam kode-kode visual harus disesuaikan dengan kode-kode budaya yang diyakini dan diamalkan oleh kelompok masyarakat. KESIMPULAN Pemasaran produk global ke negara lain yang memiliki norma, nilai dan cara pandang yang berbeda akan senantiasa melewati proses gatekeeping (penyensoran). Penyensoran merupakan bentuk penyesuaian budaya dan sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab sosial. Dalam penyensoran ada kategori-kategori tertentu mengikuti nilai atau norma budaya masyarakat. Proses adaptasi budaya dalam film Paku Kuntilanak melibatkan dua bentuk adaptasi yaitu norma dan visual. Adegan-adegan yang disensor dalam film Paku Kuntilanak ini merupakan bentuk dari cultural 42

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

adaptation. Ini diwujudkan dengan bentuk perubahan kode-kode budaya seperti subtitling, editing, dan censorship. Adegan-adegan yang tidak sesuai dengan norma-norma yang telah ada, dan dipercayai oleh suatu masyarakat akan mengalami penyesuaian berdasarkan aturan satu kelompok budaya. Dengan demikian maka hasil dari penyensoran ialah produk dari penyesuaian terhadap norma-norma budaya. DAFTAR PUSTAKA Appadura, Arjun (eds). 2001. Globalization. Duke University Press: London. Bennet, Peter., Hickman, Andrew., & Wall, Peter. 2007. Film Studies: The Essential Resource. New York: Routledge. Burton, Graeme. 2005. Media and Society: Critical Perspective. London: Open University Press. Diamond, Milton. 2009. Pornography, Public Acceptance and Sex Related Crime. International Journal of Law and Psychiatry 32: 304–314. Footer, Mary E. & Graber, Christoph Beat. 2000. Trade Liberalization and Cultural Policy. Journal of Economic Law : 115-144.

Forum Kandungan Komunikasi dan Multimedia Malaysia http://www.cmcf.my/downloa d/CONTENT_CODE_BM.pd f [24hb Mac 2010] Gudykunst, William B. 2005. Theories of Intercultural Communication II. Dalam China Media Research 1 (1): 76-88. Ibrahim, Idi Subandi. 2007. Budaya Populer sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer). Yogyakarta: Jalasutra. Jameson, Fredric & Miyoshi, Masao. 1999. The Cultures of Globalization. London: Duke University Press. Keesing, Roger M. 1974. Theories of Cultures. Dalam Annual Review of Anthropology 3: 7397. Lieber, Robert J. and Weisberg, Ruth E. 2002. Globalization, Culture, and Identitases in Crisis. Dalam International Journal of Politics, Culture and Society, 16 (2): 273-296. Malaysia. 2002. Akta Penapisan Filem 2002. Marina Mahathir. 2003. Perdebatan Isu Penyensoran Media Sama Ada Film, Rancangan TV43

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Membantu atau Membuntu? Utusan Malaysia Online, 17 Agustus. Rantanen, Terhi. 2005. The Media and Globalization. London: Sage Publication Inc. Sarrión, Susana Cañuelo. 2009. Transfer Norms for Film Adaptations in the Spanish– German Context. Dlm. Cintas, Jorge Diaz & Anderman, Gunilla (pnyt). Audiovisual Translation: Language Transfer on Screen. New York: Palgrave Macmillan. Stella, Ting-Toomey. 1999. Communicating Across Cultures. New York: The Guilford Press. Turner, Graeme. 2006. Film as Social Practice. New York: Routledge Wong, Cindy Hing-Yuk and McDonogh, Gary W. 2001. The Mediated Metropolis: Anthropological Issues in Cities and Mass Communication. American Anthropologist New Series, 103 (1): 96-111.

Sumber Lain http://www.kdn.gov.my/bmalaysia/m ejabantuan/bahc.html [20hb April 2010] http://www.maximapictures.com [20hb April 2010] http://us.detik.com/ [20hb April 2010] http://www.filmkita.com/maklumat/1 /lpf_02.html [20hb April 2010]

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

44

STUDI KEBIJAKAN PENERAPAN BAHASA, BUDAYA DAN SEJRAH BEKASI SEBAGAI MUATAN LOKAL DI SEKOLAH Oleh Andi Sopandi Dosen Program Studi Sastra Inggris Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa Universitas Islam “45” Bekasi Abstract This paper discusses the implementation of language ability, culture and history as local content in schools curriculum in Bekasi. The educational development of local-content character often faces the polemics and the proper methods in implementating it. It also includes efforts to develop local content such as local history and culture of Bekasi. Therefore, it takes effort to make stages in implementing local-content curriculum systematically, starting from the problem identification, enrichment of local-content curriculum, until the mechanism of the right policy for the purpose to build generation with local and national content-character going hand in hand. Keywords: Local-content character, educational implementation, public policy PENDAHULUAN Pemberlakuan otonomi daerah mulai diterapkan melalui UU nomor 22 tahun 1999 dan disempurnakan dengan UU nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah daerah, berisi tentang penyerahan sejumlah wewenang yang semula menjadi urusan pemerintah Pusat kepada pemerintah daerah termasuk didalamnya pengelolaan pendidikan. Dengan demikian pada era otonomi kualitas pendidikan akan sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah daerah. Ketika pemerintah memiliki political will yang baik dan kuat terhadap dunia pendidikan, ada peluang yang cukup luas bahwa pendidikan didaerah yang bersangkutan akan maju, sebaliknya, kepala daerah yang tidak memiliki visi yang baik dibidang pendidikan dapat dipastikan daerah tersebut akan mengalami stagnasi dan kemandegan menuju pemberdayaan masyarakat yang well educated, tidak akan pernah mendapat momentum yang baik untuk berkembang (Suyanto;2001). Menurut Musthato: 2010 beberapa unsur yang mesti dipenuhi dalam penyelenggaraan otonomi daerah dan otonomi pendidikan yaitu diantaramnya : masyarakat sebagai stakeholder pendidikan setempat semestinya berpartisipasi aktif dalam 45

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

merumuskan kurikulum muatan lokal, yang akan membantu memberikan diagnosis kebutuhan– kebutuhan pendidikan sesuai dengan Sehingga dapat dikatakan bahwa otonomi daerah adalah peluang emas bagi pemerintah daerah untuk membangun, mengatur pendidikan sebaik dan sesuai dengan kebutuhan yang ada didaerah. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan umum pendidikan haruslah harus dimulai dengan adanya politicall will yang kuat guna menjamin kualitas pendidikan. Peran ini bisa dilakukan dengan melakukan monitoring, inovasi pemberian muatan kualitas pembelajaran termasuk didalamnya muatan lokal di daerah. Paradigma pembangunan dan modernisasi merupakan dua tautan yang beriringan dalam sebuah konsep manajemen strategis pembangunan suatu negara atau regional tertentu. Konsepsi modernisasi lama seringkali menganggap kebudayaan lokal sebagai hambatan dalam proses pembangunan digantikan konsepsi pembangunan ala Barat. Namun, kini konsep modernisasi mengalami evolusi yang cukup besar, di mana salah satu penggerak keberlanjutan pembangunan kini semakin mengedepankan aspek kebudayaan sebagai modal dasar pembangunan. Indonesia memiliki sejumlah unsur kebudayaan dengan sejumlah 656 suku bangsa dengan keberagaman kebudayaannya. Setiap suku bangsa memiliki bahasa dan

konteks lokalitas. Selain itu memberikan perhatian terhadap anggaran dengan porsi minimal 20% dari anggaran daerah yang dimiliki. kekayaan tradisi yang berbeda-beda. Faktor geografi dan sejarah serta perkembangan masyarakat turut berpengaruh terhadap timbulnya sejumlah ragam budaya dan bahasa. Keanekaragaman budaya menjadi cerminan nilai-nilai yang dianut pada masyarakat tersebut. Kekayaan budaya di atas merupakan modal sosial (social capital) yang cukup signifikan bagi pembangunan bangsa sebagaimana paradigma di atas. Bekasi memiliki sejumlah keunikan sosial budaya. Kekhasan wilayah ini dapat terlihat dari segi asimilasi berbagai unsur kebudayaan, dilihat dari segi historis, geografis, demografi, dan keragaman unsur kebudayaannya. Hal inilah yang kemudian membentuk sebuah karakteristik yang khas dan unik. Oleh sebab itu, kapasitas sejarah, budaya dan bahasa inilah yang hendak patut untuk dilestarikan sebagai bagian pengembangan asset kekayaan budaya daerah dan identitas budaya serta asset pariwisata daerah. Karakteristik lokal tersebut perlu diperkenalkan dan ditanamkan sejak dini, khususnya kepada anakanak dan generasi seterusnya, baik pendidikan dasar, menengah, atas hingga perguruan tinggi. Penerapan nilai-nilai sejarah dan budaya melalui lembaga pendidikan secara berjenjang dan sistematis akan membuat pengenalan ini lebih efektif 46

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

tidak saja pada hal-hal yang bersifat fisik yang makin lama makin hilang kekhasannya tetapi juga pada nilainilai yang dibangun didalamnya. Pemerhati masalah Budaya Betawi Margani Mustar mengatakan lokal yang bertahun-tahun telah dianggap sebagai nilai-nilai luhur orang-orang Betawi, tidak berlebihan rasanya jika ciri-ciri lokal tersebut ditanamkan kepada anak-anak di Jakarta sejak mereka duduk di sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Ia mengatakan, di sejumlah sekolah-sekolah di Indonesia sudah memasukkan muatan lokal dalam kurikulum daerah tersebut, antara lain dengan memasukkan budaya dan bahasa lokal sebagai salah satu mata pelajaran bagi peserta didik. Hal lain diperkuat oleh peraturan daerah propnsi Jawa Barat pada Perda no. 5 tahun 2003, bahwa di Jawa Barat ada tiga jenis bahasa daerah. Seperti di kabupaten / kota Bekasi mempelajari bahasa Melayu Betawi, di kabupaten / Kota Cirebon berbahasa Cerbonan, kabupaten Indramayu dengan bahasa Derma-yunya. Sedangkan BPDB Disdik Jawa barat telah memberikan kesempatan kepada daerah untuk melaksanakan dan menggunakan bahasa daerah yang diperlukan. Karena pemberian muatan lokal ini bertujuan untuk memberikan bekal pengeahuan keterampilan pembentukan sikap dan perilaku siswa agar mereka memiliki wawasan yang luas dan mantap tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakatnya sehingga siswa mampu mengembangkan dan

pada seminar Kepariwisataan Betawi dalam Perspektif Etis, Estetis dan Akademis", bahwa "Kesadaran terhadap "lokal genius" (identitas

melestarikan sumber daya lama dan kebudayaan yang mendukung pembangunan sesuai dengan karakteristiknya, dan pengajaran muatan lokal ini juga diharapkan akan mendukung program visi dan misi kota yang bersangkutan. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan rumusan pertanyaan penelitian sebagai berikut : 1. Bagaimanakah potensi penerapan muatan lokal (bahasa, sejarah dan budaya Bekasi) disekolah ? 2. Bagaimanakah peluang dan tantangan diterapkannya kebijakan tersebut ? 3. Apa dan bagaimana strategi dan kebijakan yang dikembangkan dalam rangka penerapan muatan lokal di sekolah se- Kota Bekasi ? Maksud dan Tujuan Kajian ini dilakukan dengan maksud untuk memberikan gambaran tentang potensi peluang dan tantangan serta gambaran strategi dan kebijakan untuk dijadikannya kekayaan budaya Bekasi sebagai muatan lokal di sekolah yang selanjutnya akan dijadikan dasar/ referensi dikeluarkannya Peraturan walikota Bekasi/ Perda. Tujuan kegiatan ini adalah: 47

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

(1) Mengidentifikasi potensi (berkaitan dengan referensi, buku, sumber bahan ajar dan analisa SDM/Skill serta aspek kognitif, affektif, dan psikomotorik) dan kebijakan penerapan muatan lokal (khusunya materi Sejarah, Budaya dan Bahasa Dialek Bekasi) di tingkat sekolah. (2) Mengkaji sejauhmana tingkat peluang dan tantangan diterapkannya kebijakan tersebut (3) Merumuskan strategi dan kebijakan yang dikembangkan dalam rangka penerapan materi muatan lokal di lembaga pendidikan di Kota Bekasi. METODE PENELITIAN Disain Penelitian Disain penelitian ini bersifat deskriptif-analitis, dengan melakukan survei dan analisa, yang meliputi: a. Identifikasi kondisi pendidikan di Kota Bekasi, khsususnya jenjang pendidikan Sekolah Dasar dan Sekolah menengah pertama. b. Focus Group Discussion (FGD) para stakeholder pendidikan di Kota Bekasi. c. Melakukan pemetaan isu dan permasalahan pendidikan di Kota Bekasi Berkaitan dengan pengembangan dan implementasi kurikulum muatan lokal. d. Analisa Strength, Weakness, opportunities, threat (SWOT) atau analisa Kekepan (kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman), yang kemudian implementasikan dalam bentuk

strategi dan kebijakan pengembangan Kurikulum muatan lokal di Kota Bekasi e. Rekomendasi awal untuk pengembangan kurikulum muatan lokal, baik dalam bentuk garis besar materi kurikulum muatan lokal maupun bentuk kebijakan yang dapat dilakukan dalam mendukung pelaksanaan pengembangan muatan lokal di Kota Bekasi. Untuk memenuhi kebutuhan analisa di atas, maka dikembangkan beberapa instrumen penelitian baik didasarkan oleh data primer maupun sekunder, maka diharapkan akan tergambarkan kondisi pendidikan di Kota Bekasi baik dilihat dari kuantitas, kualitas maupun pengembangan lebih lanjut bagi penerapan muatan lokal di Kota Bekasi. Dari kajian potensi tersebut kemudian dilakukan kajian eksisting dan diagnosa tingkat keselarasan dan keterpaduan (link and match) pendidikan dengan pengembangan muatan lokal di Kota Bekasi. Hal ini ditunjang dengan instrumen para stakeholder yang terkait dengan kajian (dinas pendidikan, sub dinas pendidikan dasar dan menengah, para pengawas, kepala UPTD, para Kepala Sekolah baik SD maupun SMP, tokoh masyarakat, Dewan Pendidikan Kota Bekasi dan dunia usaha/Industri serta tokoh masyarakat lainnya). Berdasarkan pemetaan potensi dan analisa repons tersebut, maka dilakukan Education Mapping (Pemetaan pendidikan). Selanjutnya, 48

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

dipetakan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan melalui Analisis SWOT dari beberapa komponen meliputi Goodwill pemerintah daerah di Kota Bekasi, sebagai berikut.

Analisis SWOT Sebagai Alat Formulasi Strategi Analisis SWOT sebagai identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perencanaan sosial. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strength) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threats). Proses perumusan perencanaan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan strategi dan kebijakan yang dibuat (dalam hal ini pemberdayaan masyarakat). Dengan demikian, perencana strategis (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis (khususnya di masalah sosial, baik berupa kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini yang disebut dengan analisis situasi. Model yang paling popular untuk analisa situasi adalah analisis SWOT (Rangkuti, 1999: 18-29). Untuk mengetahui kondisi masyarakat (aspek sosial) dapat ditentukan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Kedua faktor tersebut harus dipertimbangkan dalam analisis SWOT. SWOT adalah

singkatan dari lingkungan internal strengths dan weaknesses serta lingkungan eksternal Opportunities dan Threats yang dihadapi. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman (threats) dengan faktor internal kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses). Model Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal di Kota Bekasi Studi ini berkaitan dengan kegiatan Studi Kebijakan Penerapan Bahasa, Budaya Dan Sejarah Bekasi Sebagai Muatan Lokal di Sekolah. Oleh sebab itu, pemetaan pendidikan dan pengembangan kurikulum di Kota Bekasi menjadi landasan utama dalam merumuskan langkah awal untuk menentukan mengapa perlu dilakukan suatu perubahan. Oleh sebab itu, pendekatan kajian Studi Kebijakan Penerapan Bahasa, Budaya Dan Sejarah Bekasi Sebagai Muatan Lokal di Sekolah Kota Bekasi dilakukan dengan menentukan populasi dan mengambil sampel dengan tingkat keterwakilan dari populasi, beberapa stakeholders yang meliputi: (1) Aparat pemerintah (2) Lembaga Kemasyarakatan (3) Tokoh masyarakat, meliputi para ulama, sesepuh, praktisi senikebudayaan dan pendidikan (4) Akademisi: perguruan tinggi dan akademi. Berdasarkan pola tersebut, maka dapat dilakukan redesign the process terhadap pengembangan kebijakan penerapan bahasa, budaya 49

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

dan sejarah sebagai muatan lokal di Kota Bekasi. Di sisi lain juga, kemungkinan bentuk-bentuk strategi pengembangan kurikulum muatan lokal di Kota Bekasi. Berkaitan dengan mekanisme di atas, maka untuk melakukan pola studi kebijakan penerapan bahasa, budaya dan

sejarah Bekasi sebagai muatan lokal di Kota Bekasi kemudian ditindaklanjuti dengan action plan dengan merumuskan rencana-rencana aksi sesuai dengan tingkat kebutuhan dan pengembangan kurikulum muatan lokal di Kota Bekasi.

Gambar 1. Studi Kebijakan Penerapan Bahasa, Budaya dan Sejarah Sebagai Muatan Lokal di Kota Bekasi

Pada gambar tersebut dideskripsikan kondisi dan posisi untuk melakukan perubahan (Possition for Changes) pada pendidikan menengah kejuruan di Kota Bekasi, pada tahapan berikutnya dilakukan diagnosa hasil pemetaan kondisi dan potensi pada Pendidikan Menengah Kejuruan baik Negeri dan Swasta maupun sektor dunia usaha/industri (diagnoset the existingp process) hasil pemetaan tersebut kemudian dikembangkan

dengan memperhatikan aspirasi dinas terkait (Dinas Pendidikan, Dinas Ketenagakerjaan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, BPS, Bappeda) dan stakeholders: Kepala Sekolah, Guru, Komite, Tokoh Masyarakat, dan Dunia Usaha/Industri untuk membuat disain baru (redesign thep process). Dengan demikian melalui beberapa program tersebut diharapkan akan mengarah pada pola Reengineering SMKN di Kota Bekasi. 50

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Selanjutnya dari sisi metodologis, bahasa, budaya dan sejarah banyak ditunjang oleh berbagai peraturan perundangundangan yang terkait dengan pelestarian dan pengembangan muatan lokal dalam pembangunan daerah dan nasional. Tentu dengan

memperhatikan kaedah-kaedah kependidikan nasional. Dengan demikian maka yang menjadi kerangka kerja dalam penelitian ini adalah seperti dalam skema berikut :

Gambar 2. Skema Kerangka Kerja Penelitian

Isu-Isu Masalah Pengembangan Kurikulum

Aspirasi Masyarakat, tokoh masyarakat, Pemerintah Terkait

Program Pengembangan Muatan Lokal

Identifikasi Permasalahan Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal

Rekapitulasi Program-Program yang Diusulkan

Usulan Program Pengembangan Stakeholders
(1) Bidang; (2) Permasalahan; (3) Potensi; (4) Tujuan Program/Kegiatan; (5) Sasaran Program/Kegiatan
No 1. 2. 3. 4. Dst. Bentuk Pertimbangan Mengenal Stakeholder Kunci Menganalisis Kepentingan stakeholder Dampak potensial kegiatan Project Kerangka Strategi Implementasi Muatan Lokal

No. 1

Masalah

Frek

% No 1 2

Sejarah
2 3 4 5

Jenis Program/kegiatan Bidang: : Aspek Kebijakan, Aspek Pengembangan Muatan Lokal DIKDASMEN Kota Bekasi

Budaya Kesenian Bahasa Dst

3
4 5 Dst.

Sumber : Hasil survey, setelah dianalisis Jumlah 100

Pendekatan Penelitian dan Pemilihan Informan Berdasarkan metode penelitian yang digunakan di atas yaitu metode penelitian kualitatifkuantitatif, maka prinsip dasar metode tersebut menjadi dasar penentuan setting penelitian. Setting

penelitian ini sebagaimana dikemukakan Denzin Guba (dalam Agus Salim, 2001: 200) bahwa: “Dalam penelitian kualitatif, pengambilan atau pencatatan anggota sampling memang tidak populer, tetapi merupakan 51

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

strategi untuk mencatat atau mengkategorisasikan fenomena yang diteliti. Secara kultural, setting akan berpengaruh pada perilaku individu, di mana atribut fisik sangat membatasi tindakan apa yang dilakukan sesorang. Oleh sebab itu, setting juga dapat diberikan karakteristik tunggal sehingga dapat setara untuk diperbandingkan. Namun ada juga setting yang tidak memiliki karateristik tunggal, maka perbedaan tersebut dapat diatributkan pada peran rumusan sosial yang digunakan dalam setting”. Uraian di atas menunjukkan metode penelitian kualitatifkuantitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan, tulisan dan prilaku yang diamati dari subyek itu sendiri dan hasil instrumen yang didapatkan dari obyek yang diteliti berdasarkan sampel dan telah ditetapkan. Populasi penelitian adalah keseluruhan jumlah responden yang menjadi sasaran dalam penelitian. Jadi, populasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah seluruh komponen stakeholder berkaitan dengan strategi kebijakan pengembangan muatan lokal di Kota Bekasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Sugiono (2003: 90) bahwa “populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu untuk ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Sementara itu, Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiono, 2003: 91). Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yaitu pengambilan sampel yang didasarkan atas tujuan tertentu pada obyek yang mengerti dan memahami program. Pemilihan informan ini didasari dengan pertimbangan (a). Keahlian atau kepakaran seseorang dalam kasus yang akan didiskusikan, (b). Pengalaman praktis dan kepedulian terhadap fokus masalah, (c), “pribadi terlibat” dalam fokus masalah. (d). Tokoh otoritas terhadap kasus yang di diskusikan, (e). Masyarakat awam yang tidak tahu menahu dengan masalah tersebut, namun ikut merasakan persoalan yang sebenarnya. (Burhan Bungin, 2001). Dari permasalahan yang ada peneliti berusaha untuk menghimpun para informan dari berbagai keterwakilan, untuk mendapatkan informasi dan masukan yang sebanyak-banyaknya. Bukan sematamata berorientasi pada kebenaran informasi seseorang tetapi menjadi kebenaran intersubyektif, karena selama diskusi berlangsung masingmasing orang tidak saja memperhatikan pendapatnya sendiri tetapi mempertimbangkan apa yang dikataklan oleh informan lainnya. 52

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Jumlah informan ini sebanyak tiga puluh orang dan akan menjadi sumber informasi. Informan ini terdiri dari berbagai unsur masyarakat dan keterwakilan

lembaga. Adapun rekapitulasi Informan Kunci (key informan) yang dicari seperti pada tabel berikut:

Tabel 1. Kategorisasi Penetapan Informan Kunci (Key Informan) Studi Kebijakan Penerapan Bahasa, Budaya dan Sejarah di Kota Bekasi No. 1 Kategori sasi Key Informan kebutuhan data Potensi dan kebijakan (1) Ika Sentra penerapan muatan lokal (2) Dewan Kesenian Bekasi di sekolah (3) PB BKM Kota Bekasi (4) PB BKMB Kota Bekasi (5) Akademisi Perguruan Tinggi Peluang dan tantangan (6) Bagian Hukum diterapkannya (7) Ka. Dinas Pendidikan kota Bekasi kebijakan mulok (8) Dinas Pendidikan Kota Bekasi (9) Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Kepariwisataan (10) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Strategi dan kebijakan (11) Pendidik (Guru bahasa dan sejarah ) mulok di sekolah sedi tingkat SD Kota Bekasi (12) Pendidik (Guru bahasa dan sejarah ) di tingkat SMP (13) Bagian Kurikulam dinas pendidikan Kota Bekasi (14) Dinas Kesejahteran Sosial (15) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Komisi D (16) Pengawas Pendidikan Kota Bekasi (17) MGMP (Musyarawarah Guru Mata Pelajaran); sejarah, bahasa sunda, PLH tingkat SD dan SMP. (18) Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kota Bekasi

2

3

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

53

Teknik Pengumpulan Data Berdasarkan hasil penentuan populasi di atas, maka berdasarkan Kerangka Acuan Kerja (KAK) Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah melalui studi lapangan yang didahului oleh survei awal lapangan dan analisa data pendidikan, berdasarkan kategorisasi di atas, meliputi: a. Dinas/Instansi Terkait b. Sekolah: Kepala Sekolah, Guru, Komite c. Lembaga kemasyarakatan dan tokoh seni budaya d. Tokoh Masyarakat dan Pemerhati Masalah Pendidikan Beberapa metode teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, meliputi: wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD). PEMBAHASAN Isu Permalasahan Ada beberapa isu permasalahan yang dihadapi dalam penerapan muatan lokal Bekasi, di antaranya adalah:

sampel yang dijadikan fokus utama diambil berdasarkan tingkat keterwakilan populasi yang ada. 1. Penamaan muatan lokal 2. Mekanisme pemunculan materi muatan lokal di sekolah: (a) apakah menjadi bobot muatan materi tersendiri; (b) atau melalui sistem pencangkokan pada materi pelajaran yang sudah ada (alternatifnya: pembobotan mata pelajaran Bahasa Sunda; Sejarah; atau PLH) 3. Kesiapan Sumber daya manusia (SDM) pendukung 4. Bahan Ajar 5. Sarana dan prasarana pendukung 6. Kebijakan 7. Program yang diusulkan Analisa potensi dan isu permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan muatan lokal adalah sebagai berikut: Penamaan Muatan Lokal Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD), ada beberapa alternatif penamaan MP, meliputi:

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

54

Tabel 2. Analisa Penamaan Muatan Lokal
No. 1. Alternatif Penamaan Muatan Lokal Kelebihan Kekurangan

2.

3.

4.

MP Sejarah, Budaya,  Secara materi,  Dari segi pemberian nama dan Bahasa Bekasi dengan penamaan sejarah, akan ambigu bila ini dapat tercapai dibandingkan dengan mata dalam PBM pelajaran sejarah umum baik tingkat SD maupun  Buku-Buku SMP pendukung sudah cukup banyak  Jumlah Waktu Belajar Sekolah Bertambah (resistensi penolakan sangat tinggi) MP Bahasa Bekasi  Materi  Kamus dialek Bekasi Pembelajaran sudah ada. Tetapi aplikasi Lebih Terfokus teknis pengajarannya belum tersedia  Menjadi Materi tersendiri di  SDM pengajar masih butuh Sekolah penguatan materi kebahasaan melayu Betawi Dialek Bekasi MP Budaya dan Bahasa  Materi  Kamus dialek Bekasi Bekasi Pembelajaran sudah ada. Tetapi aplikasi Lebih Terfokus teknis pengajarannya belum tersedia  Menjadi Materi tersendiri di  SDM pengajar masih butuh Sekolah penguatan materi kebahasaan  Hambatan terutama di SMP harus menambah jumlah waktu jam Mata pelajaran MP Pendidikan  Untuk ditingkat  Bila menjadi Mata Lingkungan dan Budaya SD dan SMP pelajaran tersendiri, Bekasi penamaan ini lebih konsekuensi akan baik, karena menambah jumlah mata resistensi pelajaran penolakannya  Bila merubah nomenklatur lebih rendah. PLH menjadi PLBB, harus  Dilihat dari sisi ada komitmen yang kuat kompetensi tenaga baik di tingkat Kota pengajar lebih maupun Provinsi. mudah.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

55

Mekanisme Pemunculan Materi Muatan Lokal Di Sekolah Ada beberapa alternatif: (1) system pencangkokan pada mata pelajaran muatan lokal yang ada; atau (2) mata pelajaran tersendiri. Khusus di tingkat SD, tidak ada masalah, karena mata pelajaran Basa Sunda diampu oleh guru kelas (bukan berbasis kompetensi) sehingga memungkinkan langsung dikembangkan. Usulan nama mata pelajaran: Sejarah, Budaya, dan Bahasa Bekasi.Ada beberapa alternatif: (1) system pencangkokan pada mata pelajaran muatan lokal yang ada; atau (2) mata pelajaran tersendiri. Khusus di tingkat SMP, peluang pemunculan materi dapat diboboti pada 2 (dua) mata pelajaran muatan lokal, yaitu: (a) Basa Sunda dan (b) Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Pada tahap awal dapat dikembangkan terlebih dahulu: Pendidikan Lingkungan Budaya Bekasi (PLBB) di tingkat SMP, secara bertahap dapat dikembangkan pembobotan bahasa dialek Bekasi pengganti Bahasa Sunda. (Karena Nomenklatur guru bahasa Sunda bukan harus berkompetensi Sastra/Bahasa Sunda, tetapi Guru Bahasa Daerah). Kesiapan Sumber Daya Manusia Pendukung Manusia (SDM) dalam konteks ini di tingkat Sekolah Dasar (SD) tidak menjadi masalah karena nomenklatur pengajarnya adalah guru kelas. Hanya perlu adanya sosialisasi dan workshop guru pengajar Mata

Pelajaran muatan lokal. Apabila pada tahap awal, dilaksanakan terlebih dahulu pencangkokan materi PLH menjadi PLBB, maka guru pengampu dalam mata pelajaran muatan lokal PLBB dapat dilakukan oleh Guru IPS atau IPA. Tetapi khusus tahap berikutnya pelaksanaan penerapan mata pelajaran Bahasa Dialek Bekasi, maka SDM yang dapat dikembangkan adalah Guru Bahasa Daerah (Standar Kompetensi Pengajar). Bahan Ajar Ada beberapa alternatif berkaitan dengan penerapan pengembangan materi sejarah, budaya dan bahasa di Kota Bekasi, di antaranya adalah: (a) Penyisipkan Materi Sejarah, Budaya, dan Bahasa pada beberapa materi yang ada di dalam materi mata pelajaran yang telah ada, di antaranya adalah Materi Sejarah, IPS, bahasa Sunda dan mata pelajaran kesenian dan kerajinan. (b) Sistem Pencangkokan Materi Sejarah, Budaya, dan Bahasa dengan cara merubah nama mata pelajaran, tetapi dengan nomenklatur yang tidak merubah penamaan yang telah ada. (c) Materi Pelajaran tersendiri, tetapi mengganti materi muatan lokal yang ada, tanpa adanya konsekuensi menambah jumlah mata pelajaran yang ada di sekolah ataupun waktu jam mata pelajaran.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

56

Sarana dan Prasarana Pendukung Untuk meningkatkan kualitas pengembangan dan penerapan kurikulum muatan lokal sejarah, budaya, dan bahasa Bekasi maka dibutuhkan sarana dan prasarana pendukung yang memadai. Untuk itu perlu adanya upaya untuk mengatasi sarana dan prasarana pendukung masih sangat terbatas. Beberapa sarana dan prasarana pendukung tersebut di antaranya adalah: (a) Buku-buku penunjang (b) Referensi utama muatan lokal (c) Pengembangan perpustakaan daerah, baik di tingkat kota maupun tingkat kecamatan dan kelurahan. (d) Buku bahan ajar (e) CD/VCD interaktif (f) Pengembangan daerah kunjungan program city tour wisata sejarah dan budaya Bekasi sebagai bagian pendukung aplikasi pembelajaran muatan lokal di antaranya yang harus dilakukan adalah: 1) Pembenahan daerah kunjungan sejarah, seni dan budaya; meliputi: perbaikan infrastruktur bangunan wisata, sejarah-budaya dan jalan, pembuatan rute wisata sejarah dan seni-budaya, pelatihan pemandu wisata (pemberdayaan tenaga TKK/honorer, baik di tingkat kelurahan/kecamatan, maupun tingkat dinas terkait), pembuatan buku panduan wisata bagi pelajar maupun

sekolah/umum, bulletin dan sebagainya. 2) Pembangunan museum; pendirian alternatif di gedong papak; pengadaan pengembangan dan pemberdayaan museum Bekasi, program diskusi rutin dan pengembangan perpustakaan di museum. 3) Panduan wisata Kota Bekasi dan sekitarnya; dengan pengembangan promosi wisata yang berkesinambungan dengan wilayah Jabodetabek, Bandung dan sekitarnya. Kebijakan Ada beberapa kebijakan yang diusulkan dalam Focus Group Discussion, meliputi: a. Regulasi atau peraturan pendukung dapat berbentuk Peraturan daerah (Perda) atau Peraturan Walikota (Perwal); di sisi lain diperlukan sinergitas program pendidikan untuk mendukung penerapan muatan lokal sejarah, budaya, dan bahasa Bekasi, yang didukung oleh anggaran daerah dan komitmen pemerintah. Jika Pemerintah Daerah mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan maka pendidikannya akan maju sebaliknya jika tidak ada kepedulian terhadap kependidikan, maka program-program pendidikan dapat berjalan tersendat-sendat. 57

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

b. Penambahan Tupoksi Dinas Pendidikan yang berkaitan dengan muatan lokal c. Pembentukan Kelompok Kerja Guru (KKG) Rumpun Mulok di tingkat SD dan MGMP PLBB (tingkat SMP), Pengembangan MGMP Bahasa daerah yang sudah. (Bahasa sunda ke Bahasa Bekasi). d. Peningkatan Kompetensi Guru Mulok (ada sertifikasi kompetensi lokal ditanda tangani oleh Disdik dan DKB. e. Pemenuhan sarana dan prasarana penunjang Mulok (Bahan ajar, alat peraga, dan media). f. Pekan Pengembangan Budaya Pelajar Bekasi Program yang Diusulkan Pelatihan Guru Mata Pelajaran Muatan Lokal Beberapa program yang diusulkan, di antaranya adalah: a. Penyusunan Buku Muatan Lokal (dengan lembaga/tenaga ahli yang kompeten) b. Program Pelatihan Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal (memiliki kemampuan pengembangan SAP dan Silabus). c. Workshop Materi Muatan Lokal Pendidikan Lingkungan Budaya Bekasi Tingkat SD dan SMP di Kota Bekasi d. Program Penyiapan Infrastrktur dan Suprastruktur Pendukung City Tour Wisata dan Budaya Bekasi; Pemandu daerah wisata budaya, museum Bekasi, Sanggar Pembina

dan pendukung, souvenir, buku wisata yang ter-update. e. Website Wisata dan Budaya Bekasi f. Pengembangan program CSR dalam mendukung penerapan muatan lokal di Kota Bekasi, dengan memperhatikan aspek sinergitas profit, people dan planet. Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threath) Untuk merumuskan strategi kebijakan penerapan muatan lokal (Sejarah, Budaya, dan Bahasa Bekasi), maka dirumuskan kajian lingkungan internal (strength dan weakness) dan lingkungan eksternal (opportunities dan threath). Proses perumusan analisa SWOT ini didasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan sebanyak dua kali, dengan mengikutsertakan beberapa stakeholder. Berdasarkan uraian analisa internal eksternal di atas, maka hasil Focus Group Discussion (FGD) ditentukan analisa lingkungan yang paling menonjol dari sejumlah isu yang ada sebagai berikut: Kekuatan (Strength) • Dukungan Pemerintah yang cukup besar bagi pengembangan dan penerapan muatan lokal Bekasi • Referensi dan hasil penelitian sejarah, budaya dan bahasa Bekasi sudah cukup banyak • Dukungan masyarakat yang besar 58

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Penerimaan masyarakat terhadap muatan lokal Bekasi Kelemahan (Weakness) • Kebijakan pemerintah daerah berkaitan dengan muatan lokal sejarah, budaya dan bahasa Bekasi masih belum ada. • Alokasi anggaran daerah tentang muatan lokal Bekasi yang minim • Belum akuratnya data dan media informasi, komunikasi sejarah, budaya dan bahasa Bekasi • Koordinasi pemerintah dan Keterkaitan antar sektor seni budaya, sejarah dan pariwisata belum optimal. Peluang (Opportunity) • Kebijakan Pemerintah Daerah yang mendukung dalam bentuk Visi misi dan RPJMD Kabupaten Bekasi • Aksesibilitas yang tinggi terhadap pengembangan potensi seni budaya, sejarah dan pariwisata yang potensial • Adanya Organisasi Pemerintah maupun non-pemerintah yang konsisten di bidang kebudayaan dan seni serta pariwisata • Potensi peningkatan CSR bagi pengembangan seni budaya, sejarah dan pariwisata Ancaman (Threath) • Inkonsistensi kebijakan muatan lokal di bidang seni budaya, sejarah dan pariwisata di Daerah dan Nasional • Keberpihakan pengembangan muatan lokal terhadap seni budaya sejarah dan pariwisata yang masih minim.

• •

Potensi resistensi penolakan terhadap muatan lokal Image building terhadap sejarah, budaya dan bahasa yang rendah

Strategi Pengembangan Muatan Lokal Berdasarkan permasalahan dan Program usulan yang dimunculkan oleh beberapa stakeholder di atas, maka dapat dirumuskan secara sederhana strategi penerapan muatan lokal (Sejarah, Budaya, dan Bahasa) Bekasi, sebagai berikut: (1) Peningkatan payung hukum muatan lokal (2) Peningkatan kebijakan alokasi anggaran pengembangan mulok (3) Optimalisasi kebijakan kompetensi tenaga pengajar mulok (4) Peningkatan aksesibilitas informan dan komunikasi pengembangan mulok (5) Peningkatan kapasitas kelembagaan sebagai pendukung mulok (6) Peningkatan pendampingan pembinaan kompetensi pengajar mulok (7) Peningkatan kapasitas materi media dan bahan ajar (8) Peningkatan partsipasi masyarakat, Du/Di dalam pengembangan mulok Inovasi tersebut akan dihasilkan melalui matriks strategi melalui iterasi antara komponen Peluang dan Kelemahan. Hasil selengkapnya matrik strategi dan Kebijakan penerapan muatan lokal (Sejarah, 59

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Budaya,

dan

Bahasa)

Bekasi

disajikan dalam Tabel di bawah ini.

Tabel 3. Matrik Strategi Dan Kebijakan Penerapan Muatan Lokal (Sejarah, Budaya, Dan Bahasa) Bekasi
N STRATE O GI KEBIJAKAN PROGRAM INDIKATOR KEBERHASILA N KEGIATAN PENGEMBA NGAN MULOK

1 Peningkat . an payung hukum muatan lokal

Regulasi pemda terhadap kebijakan muatan lokal

 Penetapan Peraturan Daerah Tentang Penerapan Muatan Lokal Sejarah, Budaya, dan Bahasa Bekasi di Tingkat Sekolah SD dan SMP di Kota Bekasi

 Adanya naskah akademik  Usulan dari kelompok masyarakat dan dinas terkait  Hak inisiatif dewan

2 Peningkat . an kebijakan alokasi anggaran pengemba ngan mulok

Relokasi anggaran

 Penentuan Alokasi Anggaran Pendukung Penerapan Muatan Lokal Sejarah, Budaya, dan Bahasa Bekasi di Tingkat Sekolah SD

 Adanya identifikasi kebutuhan anggaran kegiatan  Usulan dalam KUA/PPAS, APBD

 Peraturan Walikotal/P eraturan daerah  Sosialisasi kebijakan penerapan Mulok  Kebijakan uji coba penerapan mulok tahap I tingkat SD dan SMP  Kebijakan Penerapan Tahap II: seluruh sekolah di Kota Bekasi  Identifikasi kebutuhan anggaran Penerapa Muatan Lokal dan Aplikasinya .  Penetapan Kebutuhan Anggaran Pengemban gan dan

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

60

N STRATE O GI

KEBIJAKAN

PROGRAM

INDIKATOR KEBERHASILA N

KEGIATAN PENGEMBA NGAN MULOK

dan SMP di Kota Bekasi

3 Optimalis . asi kebijakan kompeten si tenaga pengajar mulok

Peningkatan kompetensi tenaga pengajar mulok

Program Peningkatan Kompetensi Tenaga Pengajar Muatan Lokal Sejarah, Budaya, dan Bahasa Bekasi untuk Tingkat

Penerapan Muatan Lokal  Pelaksanaa n Pengemban gan Sarana dan Prasarana Pendukung Aplikasi Muatan Lokal  Pengemban gan Museum  Pengemban gan Perpustakaa n Daerah  Anggaran Penerapan Tahap I  Anggaran Penerapan Tahap II  Evaluasi Efektivitas anggaran penerapan mulok  Tersertifikasin  Workshop ya guru dan kompetensi kompetensi tenaga mulok pengajar mulok  Sertifikasi lokal  Pelatihan ditandatangan penyusunan i oleh Dinas kurikulum Pendidikan mulok dan Lembaga  Pelatihan

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

61

N STRATE O GI

KEBIJAKAN

PROGRAM

INDIKATOR KEBERHASILA N

KEGIATAN PENGEMBA NGAN MULOK

Sekolah SD dan Pendidikan Lingkungan Budaya Bekasi (PLBB) tingkat SMP di Kota Bekasi

4 Peningkat . an aksesibilit as informan dan komunika si pengemba ngan mulok

Peningkatan akses data informasi pengembangan mulok

Program Reenginering Materi Pendukung Muatan Lokal.

metode mengajar mulok  Sertifikasi khusus guru kompetensi mulok yang diketahui dinas pendidikan dan Dewan Kesenian Bekasi  Pembentuk an Tim independen sertifikasi mulok Adanya media  Penyusunan informasi (buku, buku booklet, bullepanduan tin, website, CD, wisata dan DVD, panduan budaya dan wisatawan) bagi pelajar  Pengemban gan program city tour sejarah budaya dan bahasa  Pekan seni budaya pelajar Kota Bekasi/lom ba-lomba seni budaya pelajar secara berkala

Independen (DKB atau lembaga Kebudayaan Bekasi lainnya).

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

62

N STRATE O GI

KEBIJAKAN

PROGRAM

INDIKATOR KEBERHASILA N

KEGIATAN PENGEMBA NGAN MULOK

5 Peningkat . an kapasitas kelembag aan sebagai pendukun g mulok

Optimalisasi kelembagaan pendukung mulok

Program Pengembanga n Kapasita Kelembagaan Pendukung Muatan Lokal

6 Peningkat . an pendampi ngan pembinaa n kompeten si pengajar mulok

Peningkatan kapasitas skill kompetensi pengajar mulok Peningkatan sarana dan prasarana aktivitas pengajaran mulok

Program Peningkatan Infrastruktur pendukung Muatan Lokal

Adanya program  Peningkata koordinasi rutin n kapasitas dengan kelembagaa lembaga/ n organisasi pendukung pendukung mulok mulok  Peningkata n fasilitas bantuan peralatan penunjang mulok  Pemberian penghargaa n bagi lembaga pelopor dan Pembina Adanya  Identifikasi pelatihan rutin kebutuhan dan berkala sarana dan prasarana pendukung mulok Peningkatan  Pengemba kuantitas sarana ngan sentra-sentra wisata sejarah, budaya dan bahasa Bekasi. (sanggar, situs, dan perpustak aan daerah) yang dikelola secara entertainme nt dan

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

63

N STRATE O GI

KEBIJAKAN

PROGRAM

INDIKATOR KEBERHASILA N

KEGIATAN PENGEMBA NGAN MULOK

profesion al

7 Peningkat . an kapasitas materi media dan bahan ajar

optimalisasi materi media bahasan pengajaran

 Peningkatan  Tersusunnya Kapasitas silabus RPP Media Ajar Muatan Lokal di Kota Bekasi  Tersusunnya bahan pengajran SD/SMP standar BSNP dan ISBN

8 Peningkat . an partsipasi masyarak at, Du/Di dalam pengemba ngan

Optimalisasi peran serta masyarakat Du/Di pengembangan mulok

 Peningkatan  Adanya Mou Peran Serta Pemerintah Masyarakat dengan dunia dan Dunia usaha /industri Usaha/Indust ri dalam pengembang an Muatan

 Pelatihan kualitas pengajar mulok  Pembentu kan tim penyusun bahan penjaran mulok  Penyusun an bahan ajar mulok  Sosialisas i bahan ajar mulok bagi tenaga pengajar  Pengadaa n Pencetaka n Buku Ajar  Distribusi bahan ajar  Identifika si peran serta masyarak at, Du/Di dalam pengajara n mulok

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

64

N STRATE O GI

KEBIJAKAN

PROGRAM

INDIKATOR KEBERHASILA N

KEGIATAN PENGEMBA NGAN MULOK

mulok

Lokal di Kota Bekasi

 Peningkat an kontribusi Du/Di dalam pengemba ngan mulok  Pengemba ngan dana CSR bagi pengemba ngan Mulok

Tahapan Implementasi Hasil studi kebijakan penerapan Bahasa, Budaya dan Sejarah Bekasi sebagai muatan lokal di sekolah dasar dan menengah di kota Bekasi ini, maka langkah selanjutnya adalah implementasi muatan lokal, meliputi: 1. Tahapan Penyusunan Disain Instruksional 2. Tahap Pengembangan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 3. Tahap Penyusunan dan penerbitan bahan ajar

4. 5.

6. 7. 8.

9.

Tahap sosialisasi kebijakan implementasi Mulok Tahap peninjauan dan penetapan sekolah uji coba untuk SD dan SMP/MI Tahap pelaksanaan uji coba Tahap pemantauan dan supevisi uji coba Tahap penyempurnaan dan pemantapan pedoman pelaksanaan pembelajaran mulok Tahap pemenuhan sarana prasarana

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

65

Gambar 3. Tahapan Implementasi Penerapan Muatan Lokal Sejarah, Budaya, dan Bahasa di Kota Bekasi

KESIMPULAN Sebagai penutup, ada beberapa rekomendasi yang menjadi prasyarat bagi implementasi penerapan kurikulum muatan lokal di Kota Bekasi (Sejarah, Budaya, dan Bahasa Bekasi), di antaranya adalah: 1. Untuk mengoptimalkan pelaksanaan penerapan kurikulum muatan lokal, prasyarat utama adalah adanya komitmen yang sangat besar dari pimpinan/kepala daerah (Walikota/Wakil Walikota Bekasi) dan seluruh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Dae-

2.

3.

rah (DPRD) Kota Bekasi, dan seluruh stakeholder pendidikan di Kota Bekasi. Komitmen tersebut perlu didukung dengan kebijakan (baik Peraturan Daerah maupun Peraturan Walikota) dalam penerapan maupun dukungan alokasi anggaran yang berpihak bagi optimalisasi penerapan muatan lokal di Kota Bekasi. Tahap yang paling utama dilakukan adalah mulai melakukan pembentukan tim penyusun bahan ajar muatan lokal untuk Sekolah Dasar (SD) 66

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

4.

5.

6.

maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP); penyusunan bahan ajar dan distribusi bahan ajar. Tahap Berikutnya adalah identifikasi kebutuhan penerapan muatan lokal baik di tingkat SD maupun SMP (aspek tenaga pengajar, anggaran, sarana dan prasarana pendukung, target tahap I ujicoba, dan tahap berikutnya) termasuk sekolah yang menjadi sasaran ujicoba tahap I dan berikutnya. Usulan diawali ujicoba dimulai dari pilot project pada setiap kecamatan. Dinas pendidikan dan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Kepariwisataan merupakan dinas utama bagi penyelenggaran dan penerapan impelemnatasi Muatan Lokal (Sejarah, Budaya dan Bahasa Bekasi). Oleh karena itu, konsekuensi dari ujung tombak pelaksanaan kegiatan tersebut, maka direkomendasi pada kedua dinas/SKPD tersebut mendapatkan prioritas anggaran dalam APBD/ABT sesuai dengan tahapan yang telah direkomendasikan dalam kajian ini sebagai naskah akademik juga sebagai acuan tahapan pelaksanaan impelemntasi penerapan muatan lokal di Kota Bekasi. Oleh karena itu, Dewan Pendidikan, DPRD Kota Bekasi, Dewan Kesenian Bekasi, IKASENTRA, Perguruan Tinggi dan stakeholder lainnya menjadi pengawal dan melakukan

7.

8.

evaluasi efektivitas tahapan implementasi penerapan muatan lokal di Kota Bekasi secara sustainable (berkelanjutan) dan berkala. Implementasi penerapan muatan lokal juga perlu mendapatkan pelayanan saran-prasarana pendukung di antaranya museum daerah, program city tour, perpustakaan daerah yang memadai, pembinaan sanggarsanggar seni budaya dan aspek lainnya yang lebih memadai. Pada bagian akhir, rekomendasi ini diharapkan agar secara keseluruhan upaya penerapan muatan lokal dilaksanakan dengan mengacu pada pentahapan yang dilakukan secara tertib dan sistematis sehingga diharapkan agar pelaksanaan penerapan muatan lokal lebih optimal dan sesuai dengan yang diharapkan oleh seluruh masyarakat dan pemerintah kota Bekasi

DAFTAR PUSTAKA Abd.Gafar, Irfan, Jamil B, Muhammad. 2003. Re-Formulasi Rancangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Nur Insani, Atwi,Suparman. 2004. Desain Instruksional. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

67

Arifin. 2000. Bagaimana Menjadi Guru Profesional ? Jakarta: Rajawali Arsyad, Azhar. 1998. Pengembangan Media Pembelajaran. Ciputat: Logos Wacana Ilmu Bruner, Jerome. 1996. Menjadikan siswa aktif (Terj). Jakarta: Media Komputindo Bogdan, Robert C and Sar Knopp Billen. 1982. Qualitative Research for Education to Theori and Methods (London : Allyn and Bacon Inc Djaafar, Tengku Zahara. 2001. Konstribusi Strategi Pembelajaran Terhadap Hasil Belajar. Padang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang Departemen Agama RI. 2003. Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional dalam Undang-undang SISDIKNAS. Jakarta: Dirjen Kelembagaan Agama Islam E. Mulyasa. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; suatu panduan praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Gulo. 2005. Aktivasi Dalam Proses Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Johnson & Johnson. 1991. Pengembangan Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap Secara Aktif. Jakarta: Gramedia Widiasarana Mulyasa, E. 2003. Pembelajaran Portofolio. Bandung: Remaja Rosda Karya Miarso, Yushupadi. 1990. Teknologi Pembelajaran Di Sekolah. Jakarta: Elex Media Komputindo Miarso, Yusufhadi. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Morris, Barbara. 2002. Learning in Elementary and Early Childhood Education. Columbia: University of Missouri Muhajir. 2000. Bahasa Betawi; Sejarah dan Perkembangannya (Rujukan Bahan Muatan Lokal di Sekolah). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Nawawi,Hadari. 2004. Administrasi Pembelajaran. Jakarta: Ghalia Indonesia L.Silbermen, Malvin. 2006. Effectiveness Instructiona.. Boston: Prenhallind Purwanto, Ngalim. 1986. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakaya

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

68

Rusyan,Tabrani et al. 1986. Berbagai Pendekatan Dalam PBM. Bandung: Remaja Rosda Karya Sardiman. 1989. Konseptualisasi Pembelajaran Tersistem. Jakarta: Bumi Aksara Soetopo, Hendyat. 2000. Kecakapan Dalam Proses Relajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara Semiawan, Conny. 1991. Peran Guru Dalam Pengembangan Pembelajaran Proses. Jakarta: UI Press Stiles dan Horsley. 1998. Beyond Teaching and Learning, Memadukan Quantum Teaching and Learning. Jakarta: Nuansa Sudirdjo, Sudarsono dan Evelina Siregar dalam Dewi Salma Prawiradilaga. 2004. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta Tideman, J. 1974. “Tanah dan Penduduk di Indonesia; Penduduk Kabupaten Batavia, Meester Cornelis, dan Buitenzorg”. Terjemahan Hasan Basri. Jakarta: Bhratara Sumber lainnya UU RI Nomor 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, 2003 UU No. 22/1999 Pemerintahan Daerah tentang

UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Permendiknas No. 22/2006 tentang Standar Isi (SI) Permendiknas No. 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Permendiknas No. 24/2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL Permendiknas No. 6/2007 tentang Perubahan Permendiknas No. 24/2006 Permendiknas No. 19/2007 tentang Standar Pengelolaan Permendiknas No. 20/2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan Permendiknas No. 24/2007 tentang Standar Sarana Prasarana Permendiknas No. 41/2007 tentang Standar Proses Perda Nomor 5 Tahun 2003 tentang 5 tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra dan Aksara Daerah Provinsi Jawa Barat Perda Propinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 Tentang RPJP D Jawa Barat Renstra Pendidikan Nasional 20102025 RPJMD Kota Bekasi 2008-2013

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

69

IDEOLOGI DAN POPULAR CULTURE Oleh Endang S. Priyatna Dosen Program Studi Sastra Inggris Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa Universitas Islam “45” Bekasi Abstract During New Order Regime (Orba) in Indonesia, Pancasila was conceptualized and internalized as the state and national ideology. However, the regime turned it into a state control ideology, legitimizing repressive act conducted by the state. Nowadays, in the period of post new order regime, the calls to return to the reconceptualization and reinternalization of Pancasila seem to be very immanent. At least, that is what can be inferred and interpreted from the speech given by four national leaders during the commemoration of the birth of Pancasila in 1 June 2011. This essay tries to analyze how the ideas of reconceptualization of Pancasila as state ideology are conferred in the speech. By relating the speech to certain discursive formations surrounding Pancasila and recent cultural phenomenon and practices in Indonesian public sphere, the essay tries to contest the validity of such conceptualizations. The result shows that Pancasila as state ideology seems to be irrelevant and obscured in the cultural practices and activities of the public. It shows that Pancasila resides at the heart of the political elites, but not inside the everyday life.
Keywords: Ideology, everyday life, new media,

PENDAHULUAN Satu Juni adalah tanggal yang sarat dengan pemaknaan terhadap nasionalisme, jati diri bangsa, patriotisme, dan nilai-nilai abstrak lainnya yang berhubungan dengan konteks berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai yang bagi saya terlalu sulit untuk dicerna dalam suatu kehidupan keseharian; meminjam istilah Lefebvre dalam 'the Everyday Life'. Kesan yang 'unfamiliar' dapat ditangkap dari pidato Presiden

SBY, Megawati, Habibie, dan Taufik Kemas ketika mereka memberikan pandangan mengenai pentingnya keberadaan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Berangkat dari kesan unfamiliar tersebut, muncul satu pertanyaan sederhana dibenak saya: bagaimana konsep yang unfamiliar ini dicerna dan diterjemahkan ke dalam bentuk visual? Pertanyaan sederhana ini akhirnya mengarahkan untuk menemukan dua bentuk terjemahan visual berikut ini: 71

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Secara sekilas, bendera Merah Putih merupakan benang merah dari kedua gambar tersebut. Namun, bila dilakukan suatu pembacaan yang lebih ‘mendalam’, konstruksi ideologis yang membingkai keduanya mungkin bisa diuraikan lebih jauh. Mengacu pada konteks inilah, pertanyaan-pertanyaan yang agak lebih kompleks dikemukakan: bagaimana konsep-konsep pancasila dan kebangsaan dinarasikan dari sudut pandang, mengutip Bourdieu, official point of view. Konstruksikonstruksi ideologis seperti apa yang muncul ketika konsep ini diterjemahkan dan divisualisasikan? Dan apakah niai-nilai yang dikonstruksikan pada Pancasila sebagai identitas bangsa yang utuh dan statis masih relevan dalam konteks kekinian ketika batasan antara bangsa sudah sebegitu po-

rous-nya? Konteks - konteks inilah yang akan dikupas.

PEMBAHASAN Pancasila dalam Tiga Pemaknaan Sebelum menganalisis terhadap pemakanan terhadap pancasila, di bawah ini adalah kutipan dari pernyataan keempat tokoh tersebut: Taufik Kemas: "Kebangkitan Nasional merupakan bagian dari sejarah membentuk negara sehingga negara ini merdeka. Tidaklah berlebihan pada tanggal 1 Juni juga diperingati seperti halnya Hari Kebangkitan Nasional,…..Sehubungan dengan hal itu, maka wajarlah kita selalu memperingati Hari Kebangkitan Nasional serta Hari Peringatan Pidato Bung Karno." 71

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Habibie: "Tanpa aktualisasi nilai-nilai dasar negara, kita akan kehilangan arah perjalanan bangsa dalam memasuki era globalisasi di berbagai bidang yang kian kompleks dan rumit," Megawati: "Sebagai salah satu bukti bahwa Pancasila mampu tetap menjadi perekat bangsa yaitu sewaktu pergantian kekuasaan pada periode 1998-2004 telah terjadi empat kali pergantian kepemimpinan nasional tetapi bangsa Indonesia masih bersatu, sama halnya dengan apa yang terjadi pada masa krisis yang lalu, Pancasila selalu hadir sebagai solusi kebangsaan," SBY: "Bangsa Indonesia mesti teguh dan tegas terhadap pentingnya Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Marilah saudara-saudara, kita semakin bersatu melangkah bersama dan bekerja lebih keras untuk membangun negeri ini ke arah masa depan yang lebih baik berdasarkan Pancasila," Bila menganalisis pandangan yang disampaikan oleh keempat tokoh politik pada saat peringatan hari kelahiran Pancasila (“Presiden hadiri peringatan pidato Bung Karno, 1 Juni 1945”, http://www.presidenri.go.id/index.ph p/fokus/2011/06/01/6862.html),terlih at ada tiga pemaknaan Pancasila sebagai suatu ideologi bangsa. Pertama Pancasila dikaitkan dengan konsep pembentukan bangsa dan identitas bangsa, meminjam istilah

Anderson, bagian konsepsi dari the imagined community; konsep yang dimplikasikan dalam pernyataan Taufik Kemas sebagai "bagian dari sejarah membentuk negara", Habibie sebagai "Jati diri bangsa", dan Megawati sebagai "alat pemersatu bangsa" . Kedua, Pancasila dikaitkan dengan ketokohan Soekarno yang dianggap sebagai representasi dari Pancasila, dalam konteks ini bisa dilihat sebagai suatu 'official nomination' (Bourdieu); seperti yang diatribusikan oleh SBY, Taufik Kemas, dan Megawati. Ketiga, Pancasila dikaitkan dengan konteks permasalahan global-lokal (globalisasi), dalam hal ini Pancasila diposisikan sebagai alat yang resistensi terhadap ancaman dari luar, dalam analogi Appadurai: pertarungan antara "imagined community" vs "imagined worlds"; seperti yang dimplikasikan oleh SBY, Habibie, dan Megawati. Dalam konteks pemaknaan tersebut, Pancasila didefinisikan sebagai suatu ideologi yang " 'expresses a will, a hope or a nostalgia, rather than describing a reality'; it is fundamentally a matter of fearing and denouncing, reverencing and reviling, all of which then sometimes gets coded into a discourse which looks as though it is describing the way things actually are" (Eagleton 19). Berangkat dari pernyataan ini, ketiga pemaknaan Pancasila terlihat lebih pada adanya ketakutan akan hilangnya konsepsi bangsa-negara di tengah kehidupan 'berbangsa dan 72

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

bernegara' dalam konteks kekinian, atau dalam konteks konstelasi dunia global, melalui penciptaan dan pengingatan akan adanya suatu 'memori kolektif', realitas, dan identitas yang sama: di masa lalu, sekarang, dan masa depan; sosok pahlawan sentral dalam pemersatuaan bangsa; serta musuh dan ancaman yang sama. Eagleton menyebutkan bahwa suatu ideologi akan berjalan efektif apabila ideologi tersebut ".... make at least some minimal sense of people's experience, must conform to some degree with what they know of social reality from their practical interaction with it" (14). Namun demikian, pertanyaannya adalah apakah realitas sosial yang dialami oleh 'the people' akan sama dengan realitas sosial yang dipersepsikan oleh 'the founding fathers' ataupun oleh para pemimpin yang berkumpul di peringatan hari kebangkitan nasional tanggal 1 Juli kemarin? Sementara itu sebagai dampak dari global cultural transaction (dalam pernyataan ke empat tokoh politik di atas; konteks globalisasi), batasan-batasan bangsanegara (mengadaptasi sudut pandang Appadurai)menjadi semakin porous; landscapes yang menjadi pijakan konsep bangsa-negara menjadi semakin cair (fluid). Sehingga kemungkinan terciptanya alterasi dan variasi persepsi terhadap realitas sosial serta pemaknaan terhadap konsep bangsa-negara akan semakin multivocal dan multiprespectives. Dalam konteks ini, terilihat adanya perbedaan realitas antara konsep

realitas yang mengacu pada konsepsi “Normal Life” dan “Everyday Life” Lefebvre. ‘Normal Life’ dan ‘Everyday Life’ : Rational dan Irrational Dalam pidato kenegaraannya, pada hari dan tempat yang sama, SBY mengemuakakan bahwa sekitar 79,26% responden dari survei yang dilakukan oleh BPS menunjukan kesetiaannya untuk mempertahankan Pancasila (Situs Presiden RI). Menurut survei tersebut alasan mengapa respondent memilih untuk tetap mempertahankan Pancasila adalah karena “permasalahan bangsa, seperti tawuran, konflik antar kelompok masyarkat dan antar umat beragama terjadi karena kurangnya pemahaman nilai-nilai Pancasila” (“Tawuran dan Konflik sosial”, presidenri.go.id). Konstruksi ideologis yang bisa dilihat dari pernyataan di atas adalah adanya suatu sudut pandang rasional dalam menafsirkan suatu realitas sosial. Berangkat dari sudut pandang rasional ini, kompleksitas yang terjadi dalam suatu realitas sosial diabstraksikan dan disederhanakan dengan menggunakan ‘bahasa’ rasional; angka dan presentasi, untuk mengkonstruksi pemaknaan akan adanya suatu realitas sosial yang tak terbantahkan. Karena itu, dalam sudut pandang rasional ini, terjadinya suatu kekacauan (tawuran, konflik) dimaknai sebagai akibat dari tidak adanya suatu rasionalitas di masyarakat (nilai-nilai Pancasila). 73

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Dengan mengesampingkan kemungkinan-kemungkinan lain yang menjadi penyebab dan juga solusi terhadap permasalahan yang terjadi dalam realitas sosial, Pancasila ditempatkan sebagai satu-satunya solusi rasional yang bisa membebaskan masyarakat dari permasalahan tersebut dengan menciptakan suatu versi kehidupan dan realitas sosial yang normal (normal life); versi kehidupan dan realitas yang vacuum dan steril dari pengaruh konfigurasi pemaknaan lain. Dengan posisi Pancasila sebagai pusat dari tatanan kehidupan ini, terlihat bahwa versi kehidupan dan realitas sosial yang dimunculkan ini merupakan, mengutip Lefebvre, “one of ideological distortion, of absorption into the language of domination, of the internalization of the false prescriptions and ideals of the hegemonic institutions” (qtd.in Poster 744). Kehidupan yang normal ini, seolah dikonstruksikan sebagai oposisi dari kehidupan dan realitas sosial yang terjadi dan dialami oleh masyarakat (Dalam konteks Eagleton: people’s experience dan practical interaction ); dari suatu kehidupan dan realitas keseharian yang dialami oleh masyarakat itu sendiri (everyday life). Seolah berbicara berdasarkan realitas yang ada, SBY mendistorsikan, mengarahkan, dan memberikan penilaian akan pengalaman-pengalaman dan realitas yang dialami oleh masyarakat itu sendiri. Terlihat bahwa konteks dan realitas sosial yang dipaparkan SBY ataupun para tokoh politik lainnya

merepresentasikan suatu “official point of view” (bourdieu) dalam menciptakan dan "....impos[ing] legitimate vision of the world" (Bourdieu 20), sehingga versi kehidupan dan realitas yang dipersepsikan dari sudut pandang ini adalah versi kehidupan yang jauh dari realitas sosial yang dialami oleh masyarakat, suatu persepsi ideologis dalam melihat suatu realitas sosial. Karena itu ketakutan, harapan, dan impian yang dimplikasikan oleh para tokoh politik dalam peringatan hari kebangkitan nasional tersebut terlihat lebih pada penyuaraan kepentingan dan perspektif politik belaka yang jauh dari realitas yang dialami oleh masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, terlihatlah letak bermasalahnya konsepsi Pancasila sebagai ideologi bangsa. Ideologi ini seolah diposisikan sebagai suatu authorised version terhadap suatu realitas sosial yang dynamic dan porous terhadap konstruksi dan konfigurasi lain selain dari kepentingan negara. Realitas dan kehidupan sosial seolah harus selalu dibingkai dalam suatu versi kerangka imaginasi yang sama; alterasi dan appropriasi bentuk dan pemaknaan lain terhadap versi ini seolah dimaknai sebagai suatu hal yang menyimpang dari kerangka besar narasi ataupun imaginasi bangsa. Dua Bentuk Visualisasi Konsep Bangsa, Nasionalisme, dan Ideologi Visualisasi konteks dan konsep yang saya sebutkan di bagian sebelumnya bisa terlihat dari kedua 74

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

gambar yang saya tampilkan. Bila dikaitkan dengan konsepsi pancasila yang saya intepretasikan dari pernyataan (narasi) tokoh-tokoh politik dalam peringatan hari kelahiran Pancasila, kedua gambar yang ditampilkan terlihat merupakan bentuk appropriasi dan konstruksi pemaknaan (visualisasi) dari konsepsi tersebut. Soekarno the Ubermensch

Gambar dibawah ini adalah gambar yang diambil dari situs http://jakarta45.wordpress.com. Dalam situs ini, identitas online dan offline pemilik situs diberikan secara detil, dan data mengarahkan pada Pandji R. Hartono.

Foto profil sumber : http://www.faceboo k.com/people/Pandji -RHadinoto/12327689 93

Dengan mengenakan jas partai politik PKPI, konstruksi penanda identitas, mengutip istilah Mark Poster, ‘virtualization (Konsep-konsep virtualitas dan online identitas bisa dilihat dalam CyberDemocracy : Internet and the Public Sphere) terhadap pemilik situs ini seolah diarahkan pada pemaknaan akan adanya afiliasi politik pemiliknya ataupun mengarah pada penyusunan konstruksi pemaknaan nasionalisme. Memperhatikan konten artikel di dalam situs ini, informasi yang ditulis dan disampaikan berputar sekitar isu-isu mengenai nasionalisme dan kebangsaan tertentu, dan konsep mengenai Pancasila merupakan salah satu isu yang sering diangkat.

Dari gambar yang saya ambil dari situs ini (gbr.1) konsep-konsep mengenai kebangsaan dan Pancasila direpresentasikan dan dinominasikan pada sentralitas Soekarno dalam konsep pembentukan bangsa. Diposisikan di tengah kerumunan dan lambaian tangan-tangan (seperti posisi tangan penari kecak, atau kerumunan orang yang mengeluelukan seorang pahlawan/artis), berlatar bendera Merah Putih dan Burung Garuda Pancasila, pemaknaan Soekarno sebagai tokoh sentral dari kelahiran Pancasila dan bangsa Indonesia terkesan begitu diperkuat. Kesan acuan pada masa lalu terlihat dikonstruksi dengan appropiasi foto Soekarno ketika 75

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

berorasi di depan publik. Acuan dan appropiasi ini terlihat megkonstruksi pemaknaan akan heroisme Soekarno dalam pembentukan bangsa Indonesia, atau bisa juga diarahka pada pemaknaan identitas Soekarno sebagai proklamator kemerdekaan; kesan Soekarno sebagai liberator bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan dan kolonialisme bisa terlihat disini. Diperkuat dengan penulisan teks kapital “KEMBALI KEPADA JATI DIRI BANGSA PANCASILA 1 JUNI 1945”, sentralisme dan pentingnya Soekarno bagi bangsa Indonesia semakin tegas. Secara keseluruhan, gbr 1 ini mengkonstruksi pemaknaan bahwa 1)identitas kebangsaan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari bendera Merah Putih, Pancasila, dan perwujudannya dalam bentuk manusia super dan superhero; Soekarno, dan 2) Jati diri dan tokoh superhero inilah yang menyatukan dan melahirkan bangsa Indonesia. Melalui sentralitas ini, terlihat adanya suatu konstruksi dan rekonstruksi pada pengingatan akan suatu memori kolektif yang mengacu pada konteks kejadian, tokoh, maupun semangat yang sama. Dalam hal ini, nasionalisme maupun konsep kebangsaan seolah diarahkan pada

‘kembali’ lagi pada masa dulu; nasionalisme dibangun pada masa lalu, pada masa ketika bangsa ini didirikan. Dan konteks pemakaan terhadap identitaspun diarahkan pada bentuk identitas yang statis dan esesensialist, yang mengacu pada suatu bentukan dan konfigurasi identitas yang utuh, terperangkap dalam konteks masa lalu. Selanjutnya, bila dari gambar ini ditarik kostruksi ideologi maupun mythology yang melatarinya bisa dilihat adanya nya proyeksi nasionalisme, patriotisme, ataupun ide-ide revolusi dan pembebasan. Bila dikaitkan dengan tiga pemaknaan Pancasila dalam narasi tokoh-tokoh politik dalam peringatan kelahiran Pancasila, visualisasi ini menunjukan kesamaan perspektif: 1)mengacu pada konsep nation building (dengan merekonstruksi kesan waktu masa revolusi), 2) pengacuan pada sentralitas Soekarno (Hero), dan 3) resistensi (revolusi kemerdekaan). Akan tetapi bila diperhatikan lebih dekat lagi, pada elemen pesusun gambar, ataupun pada appropriasi gambar terlihat ada elemen yang bisa memberikan pemaknaan yang bertolak belakang dari konstruksi makna sebelumnya.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

76

Bila memperhatikan dua gambar yang lain, gbr. 1 terlihat mengappropriasi elemen-elemen yang juga terdapat pada gbr 3 dan 4. Latar bendera yang tersamar di gbr. 1, terlihat merupakan bendera yang sering juga dipergunakan oleh kekaisaran Jepang selama perang dunia ke II (Seperti yang terlihat pada gbr 4). Mungkin, maksud dari gbr.1 adalah untuk ‘meminjam’ dan memperkuat konstruksi kesan cahaya, pembebasan, atau kejayaan yang diacukan pada bangsa Indonesia dan Soekarno. Akan tetapi, dan disini letak kontradiksinya, bendera tersebut merupakan penanda khas identitas kebangsaan Jepang. Di satu sisi, gambar dan pemaknaan terhadapnya diarahkan pada adanya

jati diri, dan identitas khas bangsa Indonesia, namun di sisi lain logika ini terdekonstruksi dengan dimasukannya penanda identitas bangsa lain. Terlebih lagi, apabila gambar tersebut diarahkan untuk mengkonstruksi waktu dan semangat revolusi kemerdekaan, penggunaan bendera kekaisaran Jepang ini tentunya akan menghasilkan pemaknaan yang berbeda; karena pada konteks waktu tersebut bendera Jepang merupakan simbol imperialisme nya kekaisaran Jepang, seperti ditunjukan pada gbr 4 (Hurrah for the Great Japanese Empire!); dan dalam konteks ini Indonesia merupakan bagian dari penguasaan imperialisme Jepang. Sehingga 77

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

pemaknaan waktu dan semangat revolusi melawan penjajahan terdekonstruksi oleh pemaknaan waktu dan semangat imperialisme. Dari sini bisa terlihat bahwa acuan pada adanya jati diri yang khas akan menemukan kesulitan pengacuannya. Essensialisme akan berbenturan dengan keterkonstruksian dan fluiditas identitas. Kemudian, bila dikaitkan dengan gbr 3, sentralitas Soekarno, kerumunan, lambaian tangan, posisi bendera dan burung garuda, ‘mengingatkan’ akan situasi dan latar Hitler dengan Nazi Jerman. Bila dikaitkan dengan konteks ini tentunya pemaknaan dan sentralitas Soekarno menunjukan kesamaan dengan konstruksi pemaknaan terhadap Hitler. Pemaknaan tentang Soekarno, jati diri bangsa, dan konsep nasionalisme tentunya akan menunjukan kontradiksi yang sangat bertolak belakang, bentuk ekstrim dari pemaknaannya sebagai: fasist, chauvinist. Bila konteks-konteks ini dikaitkan secara keseluruhan, bisa terlihat persamaan ideologi yang mengkonstruksinya. Ketiga gambar tersebut menghadirkan konsep nasionalisme dan patriotisme yang

berhubungan dengan pemaknaan terhadap jati diri bangsa. Chauvinisme dan Fasisme yang diusung oleh Nazi Jerman dan Jepang pada perang dunia ke II dalam konteks ini tidak bisa dilepaskan dari pemaknaan tentang konsepsi identitas, konsep melihat diri yang superior dan lebih dari lian. Nah, apakah konsep jati diri seperti inikah yang berusaha dikonstruksikan dan diproyeksikan ke dalam pemaknaan bangsa dan negara melalui pemaknaan identitas yang utuh dan statis di tengah landscapes konstelasi dan konsepsi bangsa dan negara yang porous? Indigenized Superheroes, Globalized Concept Gbr. 2 saya ambil dari situs jejaring sosial Flickr dari akun online Girl Enchanted. Berbeda dengan situs sebelumnya, pemilik akun Girl Enchnated tidak memberikan acuanacun yang mengarahkan pada identitas offline nya. Dan foto profil yang dimunculkannya pun hanya berupa avatar, seakan mengkonstruksi ketidak beradaannya identitas yang utuh dan pasti.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

78

Sumber: http://www.flickr.com/photos/m idnightangel/sets/721576000263 05282/

Berbeda juga dengan gambar nomor satu yang berusaha mengasosiasikan konsep nasionalisme dan kebangsaan pada sentralitas karakter Soekarano, pada gambar nomor dua ini konsep nasionalisme dan penandaan identitas nasional diacukan pada adanya bendera merah putih dan judul gambar ini: “Happy Independence's Day”. Konsep kepahlawanan dan patriotisme pun diacukan dan diterjemahkan menjadi karakterkarakter komik, manga, dan anime yang berjajar membentuk kerumunan. Konteks pemaknaan yang terbaca dari gambar ini adalah adanya penafsiran bahwa konsep nasionalisme dan patriotisme hanyalah konsep penanada yang abstrak yang bisa diacukan pada siapa saja. Konteks acuan rasionalitas dan sentralitas yang berusaha dimunculkan oleh gbr.1 didekonstruksikan menjadi pemaknaan yang seolah-olah irasional (dengan karakter fiksi) dan difference. Keutuhan identitas yang

berusaha dikonstruksi oleh gbr.1 diacukan pada keanekaragaman Identitas bangsa. Bila dikaitkan dengan konteks waktu yang diacukan oleh gambar ini, terlihat bahwa pemaknaan akan moment terbentuknya konsep nation bukan berlangsung di masa lalu, sekarang, ataupun masa depan. Konsep konfigurasi kebangsaan, dengan mengacukan pada karakter fiksi, seolah memaknai bahwa pembentukan nation adalah konteks yang tak terbatas pada konteks waktu, ahistoris, dan tak berwaktu. Konfigurasi nation merupakan suatu konfigurasi yang akan selalu menjadi (becoming); bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan tersusun oleh siapa saja. Dengan kata lain, konsep nation adalah konsep yang imaginer, bukan suatu konsep yang harus termaterialisasikan menjadi suatu bentuk rasionalitas yang satu, mengacu pada letak batas geografis tertentu; dengan kata lain tidak termaterialisasikan menjadi satu bentuk negara bangsa. Bila mengutip 79

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

pendapat Appadurai, konsep nation yang dikonstruksi bukanlah konsep yang mengacu pada konfigurasi “imagined community” tetapi lebih pada konfigurasi “imagined worlds”. Berkebalikan dengan gbr.1 yang berusaha menawarakan pemaknaan akan identitas, nation,dan nilai-nilai yang seolah mengacu pada nilai-nilai lokalitas yang sebenarnya cukup sulit untu didefinisikan, gbr. 2 justru menawarkan, menerima, dan menerjemahkan konsep global. Walaupun dalam konteks ini karakter anime, komik, maupun kartun berasal dari latar budaya yang berbeda, namun semua keasingan ini bertransaksi dalam pemaknaan ‘lokalitas’ bendera merah putih; dengan kata lain satu-satunya pemaknaan akan nasionalisme yang khas hanyalah bendera merah putih, yang tentunya juga imaginer. Maka bila dikaitkan dengan pemaknaan Pancasila dan konsep nation yang dinarasikan dalam pernyataan para tokoh dan visualisasi gbr.1, pemaknaan pada visualisasi gbr 2 menunjukan bentuk kebalikannya: 1)nation building dalam kerangka imagined community didekonstruksi menjadi konsep imagined worlds: “…constituted by the historically situated imaginations of persons and groups spread around the globe” (Appadurai 51), dengan memasukan karakter fiksi popular; 2) sentralitas tokok dan kepahlawanan yang diacukan pada sosok ubermnesch Soekarno didekonstruksi menjadi rangkaian karakter fiksi; 3) resistensi dan

lokalitas didekonstruksi menjadi cultural transaction antara lokal dan global (karakter fiksi dan bendera merah putih). Dengan kata lain pemaknaan Pancasila dan nasionalisme didekonstruksi dan dihadirkan menjadi bentuk yang fiksi, yang tidak mengacu pada penandaan realitas; hyperreality. KESIMPULAN Berdasarkan analisis-analisis di atas, konsepsi Pancasila sebagai satu-satunya bingkai (ideologi) yang mengikat imaginasi kebangsaan dan kehidupan berbangsa akan berbenturan dengan realitas yang lebih besar dari imaginasi yang berusaha dikonstruksikannya. Hal ini disebabkan, imaginasi yang berusaha dimunculkan akan merupakan suatu bentuk yang unfamiliar; antara menjadi bentuk yang elitist (dalam konsepsi rasionalitas), surreal dan kontardiktif (gbr.1), ataupun hyperreal (gbr.2). Dan hal ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Pancasila sendiri yang sebenarnya tidak mengacu pada ‘people’s experience’ dan tak berhubungan dengan ‘practical interaction’, dengan kata lain sebgai ideologi yang tidak efektif dalam penciptaan suatu realitas sosial, suatu ideologi yang unfamiliar.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

80

DAFTAR`PUSTAKA Adams, Peter. Space, difference, everyday life: Reading Henri Lefebvre Edited by. Ed. Barthes, Roland. 1972. Mythologies. Translated. Annette Lavers. New York: The Noonday Press. Bourdie, Piere. 2009. “Social Space and Symbolical Power.” Sociological Theory. 7.1 Eagleton, Terry. 1991. Ideology: An Introduction. London: Verso Hall, Stuart. “Cultural Identity and Diaspora.” Identity: Community, Culture, Difference. Ed.

Kanishka Goonewardena et al. New York: Routledge, 2008. http://doi.wiley.com/10.1111/j. 1745-7939.2009.01167_6.x Jonathan Rutherford. London: Lawrence&Wishart Limited. 222237. Poster, Mark. “Everyday (Virtual) Life.” New Literary History 33.4 (2002): 743-760. 28 Nov. 2010 <http://muse.jhu.edu/content/cr ossref/journals/new_literary_hi story/v033/33.4poster.html>.

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

79

PENERJEMAHAN PUISI HEUSCA KEDALAM BAHASA INDONSIA OLEH CHAIRIL ANWAR Oleh Nuryadi Dosen Program Studi Sastra Inggris Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa Universitas Islam “45” Bekasi Abstract This paper discusses English-poetry translation, Heusca by John Conford into Indonesian translated by Chairil Anwar. The purpose of this study is to determine how the translator considers aesthetic and expressive values from the source language and translate them into target language. Aesthetic values are the means of delivery thought through the use of poetic language such as diction or word choice, metaphor, imageri, and others figurative language. Meanwhile, the expressive values are the means of delivery thoughts through the author's mind or emotions such as structure, rhyme, and pronunciation. The method used in this study is a qualitative descriptive analysis of the meaning. The results of analysis show that in terms of meaning, aesthetic values, and structures, Heusca is the result of a semantic translation and faithful to source language. Translator managed to retain the meaning of source language. In other word, the translation can meet the requirements of fidelity. In terms of expressive values in particular aspects of meter and rhyme are not so faithful to source language because the source language and the target language have some differences. Basically, this is acceptable that the Indonesian language as target language has a very big difference in terms of pronunciation with English as the source language. As a result, meter and rhyme of target language may not be forced into the source language without damaging the naturalness of meaning for target language readers. It can be said that the translation can meet the transparency criteria because source language appeared in poetry comes naturally to native speakers of English.
Keywords: Translation of poetry, aesthetic and expressive values, analysis of

meaning, fidelity, transparency PENDAHULUAN Penerjemahan adalah upaya untuk mengungkapkan kembali pesan yang terkandung dalam teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran dengan padanan alami yang sedekat mungkin (Nida dan Taber, 1974:12). Hal yang harus dipahami dalam penerjemahan adalah bahwa yang dialihkan adalah pesan atau message yang terdapat dalam teks bahasa sumber sehingga teks bahasa sasaran yang dihasilkan dikatakan sepadan (equivalent). Menurut Catford 81

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

(1974:73-74), kesepadanan pesan merupakan hal yang harus diprioritaskan dalam penerjemahan. Karya sastra merupakan karya seni yang dikarang menurut standar bahasa kesusasteraan yang menggunakan kata-kata yang indah, majas, dan gaya cerita yang menarik. Karya sastra adalah hasil ciptaan yang berasal dari imajinasi pengarang dan dituliskan dengan bentuk dan bahasa yang menarik supaya dapat menyampaikan pesan moral pengarang. Karya sastra dapat berbentuk puisi, prosa dan drama. Puisi merupakan bentuk karya sastra yang ditulis dalam bait-bait dengan aturan-aturan tertentu untuk menciptakan keindahan. Menurut Newmark (1981), masalah-masalah yang dihadapi penerjemah dalam menerjemahkan karya sastra adalah pengaruh budaya sumber (BSu) dan pesan moral yang ingin disampaikan oleh penyair aslinya. Pengaruh BSu berupa aturanaturan kebahasaan dalam BSu, majas, latar, dan tema. Sementara itu, berkaitan dengan pesan moral, penerjemah dapat menemukan kesulitaan karena pesan moral terintegrasi dalam kekhasan pengarang. Menerjemahkan cerpen atau novel cenderung lebih mudah dari pada menerjemahkan puisi karena kata-kata yang digunakan dalam prosa tidak sepadat dan sehemat dalam puisi. Keindahan dalam sebuah cerpen atau novel tidak begitu tergantung pada pilihan kata, rima, dan irama, tetapi lebih terletak pada alur cerita dan pengembangan

tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita itu. Penerjemahan karya sastra sarat dengan suasana sentimental (Fuad Hasan, 2001). Dengan memiliki perasaan sentimental, penerjemah akan memiliki kemampuan untuk mengalihkan bukan saja bahasa, bahan atau materi, budaya, tetapi juga perasaan, dan suasana batin pengarang. Menerjemahkan puisi sangat memerlukan kemampuan untuk mengalihkan suasana batin ini sehingga pesan yang disampaikan pengarang akan sampai kepada pembaca puisi dengan baik. Sebagai salah satu bentuk karya sastra, puisi memiliki kekhasan dalam pemilihan kata (Newmark, 1988:163). Tidak seperti kata-kata dalam prosa yang bersifat deskriptif , kata-kata dalam puisi memiliki makna yang sangat padat (Newmark, 1988:163). Kata dalam puisi merupakan unit makna yang sangat penting, demikian juga baris-baris puisi. Begitu padatnya makna kata dalam puisi membuat sebuah kata dalam puisi dapat memiliki bermacam-macam arti. Misalnya, kata blue dalam bahasa Inggris tidak selalu dapat kita artikan biru, melainkan kadang-kadang harus kita artikan sedih. Latar belakang kehidupan penyair dan kondisi geografis tempat tinggal penyair seringkali menambah padatnya makna sebuah kata dalam puisi. Misalnya, kata kemarau bagi penulis yang tinggal di daerah kering akan dikonotasikan sebagai bencana, tetapi 83

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

oleh penulis yang berasal dari daerah dengan curah hujan tinggi akan dikonotasikan sebagai anugerah Tuhan yang besar. Sebagai salah satu jenis karya sastra, puisi merupakan salah satu target penerjemahan yang penting karena karya sastra dapat memainkan peran penting dalam upaya menyebarluaskan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan sosial dan perdamaian. Karya sastra secara umum mengungkapkan pikiran, perasaan, atau ide pengarang tentang kehidupan yang didasarkan pada pengalaman dan pengamatan tentang realitas sosial. Sejak tahun 3000 S.M., puisi tergolong karya sastra tertua yang mulai diciptakan dan dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, baik petani, tentara, ilmuwan, pengacara, dokter, filsuf, hingga raja dan ratu (Encarta, 2005). Meskipun demikian, hingga kini puisi tetap merupakan bagian dari kehidupan manusia sehari-hari karena puisi dapat diciptakan oleh siapa saja dan di mana saja untuk menggambarkan realitas sosial dalam kehidupan di sekitar kita. Perrine (1973: 3) menyatakan bahwa puisi merupakan karya sastra yang penting karena memiliki sesuatu yang khusus, yaitu nilai-nilai tentang kehidupan atau pesan moral yang diungkapkan dengan majas tertentu yang unik, khusus dan bernilai tinggi. Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bila puisi banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia untuk menyebarluaskan pesan moral yang terdapat dalam puisi.

Menurut Baker (2005: 170), praktik penerjemahan puisi sudah berlangsung lebih dari 2000 tahun. Tulisan ini berusaha melihat aspek-aspek apa saja yang terdapat dalam penerjemahan puisi Huesca karya John Cornford ke dalam bahasa Indonesia oleh Chairil Anwar. Untuk mencapai tujuan itu, puisi terjemahan dan puisi aslinya dianalisis dan dibandingkan untuk melihat aspek apa saja yang diperhatikan dalam penerjemahan puisi. Temuan yang diperoleh diharapkan dapat berkontribusi bagi praktik penerjemahan puisi ke dalam bahasa Indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah puisi bahasa Inggris Huesca karya John Cornford yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar kedalam bahasa Indonesia. Analisis dilaksanakan dengan menggunakan metode gabungan atau eklektik antara berbagai teori analisis penerjemahan puisi yang diuraikan oleh Newmark (1988), McGuire (1980). Pembahasan dilakukan dengan menganalisis puisi asli dan terjemahan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, analisis difokuskan pada perbandingan makna antara puisi asli dan terjemahannya. Setelah itu, analisis dilanjutkan pada perbandingan nilai-nilai estetis seperti diksi, metafora, imageri, dan bahasa figuratif atau kiasan. Pada tahap ketiga, analisis dilanjutkan 84

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

pada struktur puisi dan nilai-nilai ekspresif. PEMBAHASAN Huesca, puisi yang dianalisis kali ini, ditulis oleh John Cornford, seorang sastrawan dan aktivis kelompok sosialis Inggris yang terlibat dalam Perang Saudara di Spanyol (1936-39) antara faksi Republik yang berhaluan sosialis dan kubu Nasionalis yang berhaluan fasis. Konflik politik internal itu bukan hanya menyeret sesama warga Spanyol dalam peperangan melainkan juga telah mengundang intervensi internasional. Hal tersebut karena masing-masing kubu didukung oleh kelompok ideologi fasis dan sosialis yang saling bertentangan dan melampaui batasbatas negara. Penulis puisi ini, John Cornford, dan banyak penulis serta sastrawan sosialis Eropa, tergabung dalam front sosialis International Brigade. Perang Saudara itu bahkan telah membuka perang para penyair dunia antara sastrawan dan intelektual yang berideologi fasis dan sosialis. Diantara penulis yang berideologi fasis terdapat nama Ortegay Gasset dan Ezra Pound sedangkan di kubu sosialis terdapat nama André Malraux, W.H. Auden, Pablo Neruda, George Orwell, John Cornford, dan masih banyak lagi. Puisi dan surat-surat John Cornford diperuntukkan bagi Margot Heinemann, kekasih dan sahabatnya sejak mereka sama-sama kuliah di Cambridge. Menurut arsip Brigade

Internasional, John Cornford tewas dalam sebuah pertempuran di Lopera, 28 Desember 1936, sehari setelah usianya baru genap 21 tahun. Sebetulnya, puisi John Cornford ini tanpa judul tetapi terdapat baris persembahan. Berkat terjemahan Chairil Anwar, puisi ini di Indonesia lebih dikenal sebagai Huesca Apabila kita perhatikan dengan seksama, penerjemahan puisi yang dilakukan Chairil Anwar itu berhasil dengan sangat baik. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah suku kata yang tidak terlalu banyak berbeda antara puisi asli dengan terjemahannya. Diksi atau pilihan kata yang digunakan Chairil Anwar juga akurat sehingga makna puisi terjemahan dapat dipahami secara wajar. Perbandingan Makna Imageri adalah representasi makna melalui penggunaan citra atau image yang digunakan penulis karya sastra untuk membuat perbandingan yang biasanya dapat membangkitkan pengalaman yang lebih bermakna bagi pembaca (Newmark, 1988 : 163). Jadi imageri adalah gambaran mental atau mendasarkan pengalaman. Imageri dapat dibedakan menjadi visual, auditorial, olfactorial, gustatorial, taktial, dan kinestetikal. Imageri visual diperoleh melalui indera penglihatan, auditorial melalui pendengaran, olfaktorial melalui penciuman, gustatorial melalui rasa, taktial melalui sentuhan dan kinetetik melalui gerakan. 85

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Imageri yang paling banyak digunakan dalam puisi adalah imageri visual dan auditorial. Contoh imageri visual dalam puisi adalah matahari cerah dan langit biru (the sun is warm, the sky is clear ) sedangkan contoh imageri aditorial adalah suara kota yang lembut seperti Solitude (The city’s voice it self is soft, like Solitude). Kedua imageri tersebut digunakan untuk melukiskan keindahan Westminter Bridge di Inggris oleh William Wordsworth sebelum era revolusi industri karena pada era revolusi industri langit kota jadi kotor dan tidak lagi biru oleh asap pabrik, suara kota jadi kasar tidak lembut seperti Solitude (Encarta, 2005 : 9). Untuk menyampaikan makna yang sama, imageri dapat sama atau berbeda. Imageri dapat sama karena ada hal-hal yang bersifat universal dalam bahasa seperti ungkapan matahari yang cerah dan langit yang biru. Namun imageri dapat berbeda seperti suara kota tidak lagi lembut seperti Solitude. John Cornford menggunakan kata world untuk menyatakan dunia atau situasi yang dekat dengan dirinya dan yang terjadi di negaranya. Situasi itu adalah perang saudara yang sedang berkecamuk. Pada situasi ini orang kehilangan hati nurani (jiwa) sebagai manusia sehingga tega saling membinasakan. Dunia yang kehlangan jiwa adalah dunia yang kejam karena tidak bernurani lagi. Kata world diterjemahkan menjadi dunia yaitu alam yang dekat atau yang berada di sekitarnya yang dapat

dipahami dengan baik oleh penikmat puisi bahasa Indonesia yaitu revolusi di Spanyol. Puisi Heusca karya John Cornford ditulis di Eropa dan diterjemahkan oleh Chairil Anwar di Indonesia, dua wilayah yang berbeda. Sebagai contoh, imageri musim gugur (autumn), yang dapat dimaknai sebagai suasana duka akibat perang saudara yang dapat menimbulkan banyak korban jiwa. Contoh imageri yang lain adalah senja (evening) , yang dapat dimaknai sebagai menjelang akhir kehidupan, karena pada waktu senja matahari akan terbenam. Imageri ini baru dapat dimakna dengan jelas apabila penerjemah mengetahui karakteristik kebudayaan bahasa sumber, termasuk kondisi geografis tempat karya sastra ditulis, suasana ketika puisi ditulis, dan jiwa penulis. John Cornford dan Chairil Anwar adalah penyair muda yang tumbuh pada zaman revolusi. Pada bait kedua dari puisi itu, kita mendapati penggambaran tentang angin (wind) yang bangkit ketika senja (evening) dan disusul baris kedua autumn yaitu musim gugur, dan disusul baris ketiga tentang kecemasan akan berpisah dengan seseorang yang ternyata masih kalah mengerikan dibanding dengan kecemasan penyair pada ketakutannya sendiri. Musim gugur di negara empat musim itu terjadi setelah musim panas yang mengeringkan daun-daun di pepohonan. Angin pada musim gugur bertiup lebih kencang, yang menyebabkan daun-daun yang 86

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

berwarna keemasan dan rantingranting bergugurannya. Suasana ini lazim digunakan untuk menyimbolkan kesedihan. Makna tersebut diperkuat dengan kata senja yang dapat dimaknai sebagai menjelang kematian. Apalagi sesudah musim gugur, datanglah musim dingin. Musim dingin dapat digunakan untuk menyatakan tidak tampaknya kehidupan karena pada musin dingin suasananya menjadi beku. Pepohonan tampak meranggas tetapi angin bertiup kencang dan meyebabkan dedaunan berguguran. Dan jika mau dilanjutkan, tidak tampaknya kehidupan itu dapat berarti kematian. Simbolisme ini banyak dipergunakan dalam karya seni, baik puisi, novel, lukisan, maupun musik untuk menyatakan keberpisahan, kematian, kesedihan, suasana yang dingin dan mencekam. Chairil Anwar menejemahkan autum menjadi musim gugur dan dalam bahasa Indonesia kata gugur dapat bermakna kematian yang biasanya dihubungkan dengan revolusi. Dalam bahasa Indonesia, pahlawan yang meninggal di medan perang dikatakan gugur sebagai kusuma bangsa atau ungkapan bunga berguguran. Dengan demikian makna gugur dapat dimengerti oleh penikmat puisi BSa karena menyampaikan hal yang sama. Demikian juga angin (wind) yang bangkit ketika senja (evening), baik pada bahasa sumber maupun sasaran senja dapat dimaknai sebagai menjelang kematian. Angin yang

bertiup pada musim gugur akan menyebabkan daun-daunan berguguran lebih cepat. Angin dapat digunakan sebagai simbolisasi keadaan yang menyebabkan daundaunan berguguran. Perang saudara di Spanyol ini telah membuat John Cornford takut dan cemas kehilangan kekasih yang dicintainya karena puisi ini ditujukan kepada sahabatnya yang sekaligus menjadi kekasihnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Huesca merupakan salah satu contoh terjemahan puisi yang berhasil. Hal yang penting pada penerjemahan puisi adalah integrasi kata-kata dan baris-baris dalam puisi, penerjemah harus mampu menerjemahkannya sesuai dengan konteksnya (Newmark, 1988 : 163). Puisi terjemahan itu bernyawa karena Chairil Anwar menguasai kedua bahasa, memahami persoalan dengan sangat baik, dan terutama memiliki kepekaan sebagai seorang sastrawan bahwa kata dan baris dan bait merupakan hal yang sangat penting pada penerjemahan puisi. Baik Chairil Anwar maupun John Cornford adalah penyair muda yang tumbuh, berkarya dan gugur pada masa peperangan dalam usia yang masih sangat muda, sekitar duapuluh tahun serta meninggalkan karyakarya yang terus dibicarakan orang hingga kini. Puisi Huesca pada hakikatnya merupakan sebuah puisi yang eskpresif yang mampu mengungkapkan suasana hati penulis yang masih muda, penuh dengan gejolak jiwa muda yang terpaksa 87

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

harus meninggalkan kekasih yang sangat dicintainya untuk bergabung dengan para pejuang. Sewaktu membaca puisi ini penikmat puisi seolah-olah dihadapkan pada sebuah situasi yang berat, perang merupakan pilihan yang tidak dapat ditolak dalam situasi revolusi. Pada bait-bait puisi, penyair dihadapkan pada pilihan yang serba sulit, meninggalkan kekasihnya dan bergabung dalam front sosialis International Brigade. Dilihat dari detail makna yang diungkapkan, kedua puisi ini tidak memiliki perbedaan. Dengan kata lain, Chairil Anwar berhasil secara semantis menerjemahkan makna dalam Huesca ke dalam bahasa Indonesia (semantic translation) sebagaimana dinyatakan oleh Newmark (1988 : 163). Puisi Huesca lebih menekankan pada sifat manusia yang kehilangan jiwa, tidak mempunyai rasa kemanusiaan lagi sehingga tega saling membunuh, bahkan dengan saudaranya sendiri. Dilihat dari diksi yang digunakan, jelaslah bahwa puisi ini juga mengungkapkan suasana hati penyair yang masih muda, sedang jatuh cinta tetapi cemas karena terpaksa harus pergi meninggalkannya. Hal tersebut tampak pada pilihan kata love, dear heart, I am afraid of lose you, heartless world, autumn is near, fear, shallow grave, chills my view, dan pain at my side yang digunakan penyair. Puisi ini dimulai dengan memperlihatkan bagaimana jiwa (manusia) yang kehilangan jiwa, yang tidak lagi menjadi manusia

utuh yang mempunyai jiwa saling mengasihi dan menyayangi sesama. Penyair kemudian memperlihatkan kecemasannya meninggalkan kekasihnya untuk berjuang saat revolusi. Sebelum mengulangi gambaran tentang kecemasannya, penyair memperlihatkan bahwa cinta tetaplah cinta yang kekal walaupun harus dibawa pergi untuk selamanya. Setelah menelusuri detil makna yang dalam pada Huesca dan terjemahannya terlihat bahwa keduanya sama-sama mengungkapkan gejolak jiwa muda penyair yang harus maju berperang dan mengorbankan cintanya yang dalam pada kekasihnya. Cinta dan perang adalah sesuatu yang berbeda, bahkan bertentangan. Perang tidak menghiraukan perasaan pihak yang menjadi lawannya. Perang yang terjadi sebagaimana dipuisikan oleh John Conford ini merenggut cinta penyair kepada kekasihnya. Urutan detail isi yang disampaikan kedua puisi ini juga serupa. Jadi, dapat dikatakan bahwa Chairil Anwar berhasil menerjemahkannya secara semantis puisi Heusca ke dalam bahasa Indonesia tanpa penyimpangan makna yang berarti karena berhasil mempertahankan isi melalui pilihan kata yang terangkai dalam bait-bait puisi sebagaimana dikatakan oleh Newmark (1988 : 163). Perbandingan Nilai-Nilai Estetis Nilai-nilai estetik dalam karya sastra digunakan sebagai sarana penyampaian keindahan melalui 88

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

penggunaan diksi atau pilihan kata (diksi), dan majas seperti metafora, dan personifikasi. Untuk menghasilkan terjemahan yang baik, penerjemah harus memindahkan seluruh nilai-nilai tersebut dari BSu kedalam BSa. Sebagai sebuah puisi deskriptif yang melukiskan gejolak jiwa muda yang bergelora (cinta) dalam keadaan revolusi, Huesca banyak menggunakan imageri visual yang bermakna metaforis atau kiasan dan meminta pembaca dapat memahami ungkapan dalam puisi ini. Chairil Anwar menggunakan pilihan kata yang tepat, padat dan penuh makna. Baris-baris dalam bait puisi ini menggunakan kata-kata yang meminta pembaca untuk memaknai pilihan kata secara mendalam. Pada bait pertama, penyair mengungkapkan dunia yang tidak lagi mempunyai nurani. Dunia yang dimaksudkan disini pihak-pihak yang terlibat dalam perang saudara di Spanyol. Penulis puisi ini, John Cornford, tergabung dalam front sosialis International Brigade. Bait pertama di akhiri dengan bayangan yang bikin tinjauan beku. Bayangan akibat perang telah membuat frustasi sehingga harapan bertemu kekasihnya menjadi beku. Pada bait kedua puisi diawali dengan angin bangkit ketika senja, dan diteruskan dengan ngingatkan musim gugur akan tiba. Pada musim gugur angin bertiup lebih kencang dan menyebabkan gugurnya dedaunan. Semakin cepat angin bertiup semakin banyak daun-daun

yang berguguran. Angin dibandingkan dengan perang yang menyebabkan gugurnya para pejuang. Bahasa kiasan yang digunakan adalah personifikasi atau penginsanan karena seolah-olah angin mempunyai sifat seperti manusia yang bisa bangkit. Kata senja menandakan kehidupan yang akan berakhir. Aku takut kehilangan kau adalah baris ketiga puisi ini yang mengungkapkan ketakutan penyair kehilangan kekasihnya. Pada bait ketiga, puisi BSu menggunakan pilihan kata on the last mile yang diikuti dengan the last fence for our pride yang diterjemahkan menjadi di batu penghabisan ke Heusca, dan dilanjutkan dengan batas terakhir kebangaan kita. Pilihan kata yang digunakan pada bait ketiga ini menambah kuat pemaknaan pada baris sebelumnya yang berkisah tentang perpisahan antara penyair dan kekasihnya karena perang tidak memberi tempat bagi bersemainya benih-benih cinta. Bait puisi ini dapat dimaknai sebagai akhir dari perjalanan kehidupan dan cinta mereka. Baris ketiga dan keempat masing-masing adalah think so kindly, dear, that I dan sense you at my side yang diterjemahkan kenanglah sayang dengan mesra dan kau kubayangkan disisiku ada. Pada bait keempat diawali and if bad luck should lay my strength dan diikuti dengan into the shallow grave yang diterjemahkan menjadi dan jika untung malang menhamparkan diikuti dengan aku 89

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

dalam kuburan dangkal. Pilihan kata pada baris pertama dan kedua menunjukkan penyair masih berharap namun apabila yang terjadi adalah yang terburuk, penyair meminta kekasihnya mengenang kebersamaan mereka. Dan pada bait keempat, baris ketiga dan keempat remember all the good you can, dan don’t forget my love yang diterjemahkan menjadi ingatlah sebisamu segala yang indah dan baris keempat cintaku yang kekal. Pilihan kata yang digunakan menyatakan bahwa penyair puisi masih muda. Namun juga harapan yang akan tinggal sebagai kenangan. Jadi, ditinjau dari segi nilainilai estetis yaitu pilihan kata yang digunakan, Huesca BSa merupakan terjemahan yang baik dari Huesca BSu melalui pilihan kata yang terintegrasi dengan baik dengan baris-baris puisi, tanda baca, dan image (Newmark, 1988 : 163). Bahkan Newmark mengatakan bahwa metafora merupakan unsur yang mengendalikan dan membangkitkan makna melalui imageri visual (1988 : 164). Puisi hadir untuk menyampaikan perasaan, sikap dan pandangan penyair tentang suatu hal. Perang tidak membawa harapan dan yang terbayang hanyalah derita dan kematian. Hal tersebut terungkap pada bait keempat puisi Heusca. Aku dalam kuburan dangkal dan cintaku ynag kekal. Hal tersebut dapat dirunut pada pilihan kata pada setiap bait puisi BSu dan BSa. Pilihan kata yang digunakan bermakna dalam dan dapat menimbulkan imajinasi bagi penikmat puisi BSa.

Sebagai puisi yang mengungkapkan emosi jiwa yang masih muda dan harus meninggalkannya untuk berperang, Huesca banyak menggunakan pilihan kata yang menggunakan makna kiasan seperti metafora dan personifikasi. Baris-baris dalam keempat bait puisi ini menggunakan bahasa figuratif seperti world, wind, chill, evening, grave, dan autumn. Dalam puisi terjemahannya metafora ini diterjemahkan dengan tepat menjadi dunia, angin, beku, senja, kuburan dan musim gugur. Metafora BSu ditejemahkan dengan metafora BSa dan dapat menyampaikan makna puisi BSu. Di samping metafora, Huesca juga menggunakan personifikasi untuk meningkatkan kesan hidup kedua puisi tersebut. Dalam Huesca, terdapat personifikasi the wind rises in the evening yang diterjemahkan menjadi angin bangkit ketika senja. Sehubungan dengan itu, ditinjau dari segi pilihan kata, Heusca BSu merupakan terjemahan yang relatif baik dari Heusca BSa karena penerjemah berhasil mempertahankan isi dan makna melalui pilihan kata, baris-baris bait-bait puisi dan elemen makna baik melalui bahasa kiasan maupun literal. Perbandingan Struktur dan NilaiNilai Ekspresif Huesca dalam bahasa Inggris memiliki struktur yang sangat rapi. Puisi yang ditulis dalam empat bait ini memiliki jumlah baris yang sama—empat baris—di setiap bait. 90

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Rima akhir (end-rhyme) setiap bait tidak begitu ketat. Bait pertama berpola a-b-a-b; bait kedua berpola ab-c-b; bait ketiga berpola a-b-c-b; dan bait keempat juga berpola a-b-cb. Variasi akhir rima ini karena John Cornford dalam berpuisi cenderung melanjutkan tradisi puisi Inggris lama yang kolot. Disamping itu mungkin juga dimaksudkan untuk mencegah kemonotonan bunyi. Selain itu, agar pembaca dapat segera akrab, penyair menggunakan pengulangan, yakni menggunakan seluruh baris pertama dan kedua dan pada bait pertama sebagai baris pertama dan kedua pada bait kedua, ketiga dan keempat. Fungsi pengulangan ini mungkin dapat dibandingkan dengan fungsi penggunaan “refrain” dalam lagu. Pola tekanan kata (meter) seluruh baris dalam setiap bait juga relatif baik. Sebagai contoh, baris kedua dan ketiga pada bait pertama sama-sama mengandung enam suku kata. Namun demikian jumlah suku kata pada bait kedua, ketiga, dan keempat tidak sama persis namun juga tidak berbeda jauh. Pada bait kedua, jumlah suku kata baris ketiga dan empat tujuh suku kata, sedangkan pada bait ketiga tujuh dan lima suku kata. Pada bait keempat, jumlah suku kata baris kedua dan keempat sebanyak enam dan lima. Struktur, rima, dan ‘meter’ ini membuat puisi ini indah didengar. Jika dibaca bersuara, puisi ini terdengar seperti pantun, jadi sangat sesuai dengan judul yang diberikan padanya. Heusca yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indo-

nesia, juga diterjemahkan menjadi empat bait. Akan tetapi kesamaan dalam hal struktur ini tidak diikuti oleh kesamaan dalam hal meter dan rima. Rima akhir berbeda dengan puisi BSu. Perbedaan pada rima akhir dan meter dapat disebabkan oleh sulitnya mencari padanan kata atau ungkapan yang mempunyai makna yang sama dengan makna yang dimaksud penerjemah. Jumlah suku kata pada masing-masing bait juga tidak sama. Pada bait pertama dengan rima akhir a-b-a-b diterjemahkan menjadi a-b-b-b. Pada bait kedua dengan rima akhir a-b-c-b diterjemahkan menjadi a-a-b-c. Pada bait ketiga dengan rima a-b-a-b diterjemahkan menjadi a-a-a-a. Pada bait keempat dengan rima akhir a-bc-b diterjemahkan menjadi a-b-c-b. Jumlah suku kata tidak sama namun tidak berbeda jauh. Sebagai contoh, rima akhir bait ketiga puisi terjemahan berakhir dengan bunyi yang sama yaitu a-a-a-a yang berbeda baik dengan bait pertama, kedua maupun keempat. Bait ketiga puisi asli berakhir dengan rima a-b-c-b. Namun demikian hasil terjemahan dapat menyampaikan makna dengan baik karena mampu menyampaikan makna sebagaimana dimaksud oleh penulis walaupun terdapat perbedaan dalam hal struktur dan pilihan kata yang dihubungkan dengan pelafalan. Chairil Anwar juga menggunakan pengulangan bunyi untuk memunculkan keindahan puisi. Pada bait pertama baris kedua, ketiga, dan keempat berakhir dengan rima 91

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

yang sama. Demikian juga dengan baris kedua dan keempat yang berakhir dengan rima yang sama yaitu dangkal dan kekal. Oleh sebab itu, dilihat dari segi struktur dan nilainilai ekspresif, Heusca tidak sepadan dengan puisi aslinya. Hal tersebut, disamping faktor kebahasaan sebagaimana sudah disampaikan di atas, karena Chairil Anwar yang merupakan pelopor Angkatan ‘45 tidak mau terikat oleh pakem-pakem bentuk kesusasteraan seperti pada generasi Angkatan ’33. Dilihat dari segi struktur, Heusca BSu dan BSa tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama memiliki empat bait. Bait pertama dan kedua masing-masing puisi ini dibentuk oleh empat baris, demikian juga dengan bait ketiga dan keempat. Kedua puisi ini juga sama-sama menggunakan baris-baris yang pendek, berkisar antara lima hingga delapan suku kata. Dengan demikian, dilihat dari struktur dan nilai-nilai ekspresif, puisi Heusca dalam bahasa Inggris merupakan hasil terjemahan yang sepadan dengan Heusca dalam bahasa Indonesia. Perbedaan yang paling jelas dari kedua puisi itu adalah perbedaan bentuk (form) puisi asli dan terjemahan. Puisi aslinya masih menggunakan persajakan yang cukup teratur sedangkan dalam terjemahannya, persajakan dalam puisi aslinya tidak dipertahankan lagi. Hal ini karena John Cornford dalam berpuisi cenderung melanjutkan tradisi puisi Inggris lama yang kolot sedangkan Chairil Anwar, dan para

peyair Indonesia sezamannya, merupakan generasi sastrawan yang mencoba membebaskan diri dan tidak mau terikat oleh pakem-pakem bentuk kesusasteraan seperti pada generasi Angkatan ‘33. Karena karakteristiknya yang demikian, Chairil Anwar bersama Rivai Apin dan Asrul Sani dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia. Angkatan ’45 memiliki konsep seni yang menyatakan bahwa mereka ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Pengalaman hidup dan gejolak sosialpolitik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan. Jadi penulis puisi Heusca, John Conford, dan penerjemah puisi ini, Chairil Anwar adalah sama-sama sastrawan yang dibesarkan pada situasi perang sehingga mengkaji puisi John Cornford yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar menjadi sangat menarik. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan analisis di atas, terungkap bahwa dari segi makna, nilai-nilai estetis, dan struktur, Heusca merupakan hasil terjemahan semantis. Masing-masing BSa itu berhasil mempertahankan makna BSu. Dengan kata lain, penerjemahan 92

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

puisi tersebut dapat memenuhi persyaratan fidelity. Dilihat dari segi nilai-nilai ekspresif khususnya aspek meter dan rima penerjemahan puisi tersebut tidak begitu mengacu pada BSu, karena penerjemah puisi ini, Chairil Anwar yang merupakan pelopor angkatan ‘45 tidak mau terikat oleh pakem-pakem kesusasteraan. Pada dasarnya hal ini dapat diterima mengingat bahwa bahasa Indonesia sebagai BSa memiliki perbedaan yang sangat besar dalam hal pelafalan (pronounciation) dengan bahasa Inggris sebagai BSu. Akibatnya, meter dan rima BSa tidak mungkin dipaksakan ke dalam BSu tanpa merusak kealamian atau naturalitas BSu bagi pembaca target yaitu penutur asli bahasa Indonesia. Karena BSu muncul sebagai puisi yang alami bagi penutur asli bahasa Inggris, dapat dikatakan bahwa penerjemahan itu mampu memenuhi kriteria transparency. Melihat keberhasilan Chairil Anwar dalam menerjemahan puisi John Cornford ke dalam bahasa Indonesia, dapat dikatakan bahwa penerjemah menggunakan prosedur dan metode yang baik untuk menerjemahkan puisi bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Disamping itu, Chairil Anwar pasti memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi penerjemah puisi yang baik. Saran Analisis ini hanya menggunakan satu puisi asli dan terjemahannya, sehingga untuk

memperoleh kesimpulan yang lebih valid, disarankan menganalisis beberapa puisi asli yang diterjemahkan oleh penerjemah yang sama. Hal tersebut bermanfaat untuk mengetahui karakteristik penerjemah dalam mengintegrasikan pilihan kata atau diksi, dan baris-baris dalam baitbait puisi serta penggunaan majas dalam puisi. DAFTAR PUSTAKA Bassnett-McGuire. 1980. Translation Studies. NY: Mathuen & Co. Ltd. Bell, Roger T. 1991. Translation and Translating: Theory and Practice. London: Longman. Berman D. & Epstein M. D. (1983). The Health Guide to Poetry. Massachusetts: D.C. Heath and Company. Guches, Richard C. 1980. Sequel: A Handbook for the Critical Analysis for Literature. Palo Alto: Peek Publications. Hirsch, Edward. 1999. How to Read a Poem and Fall in Love with Poetry. New York: Harcourt Brace. McGlynn, John H. (Ed. & Transl.). 1990. On Foreign Shores: American Images in Indonesian Poetry. Jakarta: The Lontar Foundation. 93

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Newmark, Peter. 1988a. A Textbook of Translation. New York: Prentice Hall. _____. 1988b. Approaches to Translation. Oxford: Pergamon Press. _____. 1991. About Translation. Clevedon: Multilingual Matters Ltd. Perrine, L. (1973). Sound and Sense. New York: Harcount Brace Jovanovich INC. Taylor, Richard. 1981. Understanding the Elements of Literature. New York: Prentice Hall Inc. Catford, J.C. 1969. Linguistic Theory of Translation. Oxford: Oxford University Press. Larson, Mildred L.. 1984. Penerjemahan Berdasar Makna: Pedoman Untuk Pemadanan Bahasa. Jakarta: ARCAN Nida, Eugene A. dan Charles R. Taber. 1982. The Theory and Practice of Translation. Leiden: E.J. Bril

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

94

Huesca
Heart of the heartless world, Dear heart, the thought of you Is the pain at my side, The shadow that chills my view. The wind rises in the evening, Reminds that autumn is near. I am afraid to lose you, I am afraid of my fear. On the last mile to Huesca, The last fence for our pride, Think so kindly, dear, that I Sense you at my side. And if bad luck should lay my strength Into the shallow grave, Remember all the good you can; Don't forget my love. John Cornford, 1936

Heusca
Jiwa di dunia yang hilang jiwa Jiwa sayang kenangan padamu adalah derita di sisiku bayangan yang bikin tinjauan beku angin bangkit ketika senja Ngingatkan musim gugur akan tiba aku cemas bisa kehilangan kau Aku cemas pada kecemasanku sendiri di batu penghabisan ke Huesca batas terakhir dari kebanggaan kita kenanglah sayang dengan mesra Kau ku bayangkan di sisiku ada dan jika untung malang menghamparkan aku dalam kuburan dangkal ingatlah sebisamu segala yang indah Dan cintaku yang kekal

Chairil Anwar

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

95

ANALISIS NARASI BISEKSUAL SEBAGAI BENTUK HYSTERIA TULISAN PEREMPUAN DALAM NOVEL WUTHERING HEIGHT KARYA EMILY BRONTE Oleh Mariatul Qibtiah Dosen Program Studi Sastra Inggris Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa Universitas Islam “45” Bekasi Abstract This research is a literature study with the novel as an object of the research. This research focuses on analyzing bisexual narration in Emily Bronte’s novel, Wuthering Heighst. The bisexual narrations themselves are shown in the ambiguities of the narration; whether it is feminine or masculine. This research aims to show the ambiguity or bisexuality narration as ‘hysteria’ of women's writing in one of the literary works written by Emily Bronte Wuthering Heights. The result of this research show that narration in Wuthering Heights is bisexual which is proven by the ambiguity of the narration, and that bisexual narration can be regarded as ‘hysteria’ of women’s writing.
Keywords: Bisexuality, narration, and hysteria

PENDAHULUAN Jaman Viktoria, salah satu periode kesusastraan Inggris yang berkembang pada tahun 1830-1901, memiliki latar belakang kehidupan borjuis yang patriarkal. Hal ini didasari oleh keadaan atau sistem sosial yang terbentuk pada saat itu yang menggambarkan posisi ketidakseimbangan antara lelaki dan perempuan. Selain menggambarkan posisi ketidakseimbangan antara lelaki dan perempuan, keadaan sosial saat itu menggambarkan posisi ketidakseimbangan antara kelas atas dan kelas bawah pula. Ketidakseimbangan posisi antara laki-laki dan perempuan ini terlihat dari peranan dan perlakuan terhadap

perempuan pada saat itu; perempuan kelas bawah harus bekerja dengan upah yang minim tetapi dituntut untuk tidak menelantarkan kehidupan domestiknya. Begitu pula dengan perempuan pada kelas bangsawan, walaupun mereka tidak bekerja namun mereka dituntut untuk selalu berada di wilayah domestik saja dan tidak diperkenankan untuk berada pada wilayah publik, terutama untuk berpartisipasi dalam tatanan sosial, politik, dan pemerintahan. Penggambaran latar belakang sosial tersebut disebabkan karena adanya stereotip yang masih mengakar; bahwa perempuan adalah makhluk yang pasif dan lelaki lebih aktif, perempuan adalah makhluk 96

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

yang lemah dan lelaki adalah manusia yang kuat, lelaki itu stabil sedangkan perempuan labil. Stereotip tersebut menimbulkan pertanyaan tentang cara perempuan pada saat itu bersuara dan menjalani kehidupannya karena hidup sebagai perempuan dalam aturan dan sistem sosial patriarki memang bukan hal yang mudah. Latarbelakang sosial dan stereotip yang terbentuk pada saat itu memberikan banyak kesulitan bagi perempuan untuk bersuara dan memilih karena mereka memang tidak diperkenankan untuk bersuara dan memilih. Kesempatan yang ada untuk mereka pun terbatas. Setinggitingginya pendidikan yang mereka dapat hanyalah sebagai perawat atau penulis. Lalu, seperti yang diungkapkan oleh Mitchell bahwa penggambaran latar belakang dan ketidakseimbangan yang begitu borjuis patriarkal ini membuat para novelis perempuan ingin membuktikan keberadaan dirinya dalam sistem sosial yang terbentuk tersebut (Mitchell dalam Lodge, 1988: 426). Stereotip dan ketidakseimbangan ini menimbulkan kesulitan-kesulitan bagi perempuan untuk mengemukakan pendapat dan pilihannya. Sehingga, kesulitankesulitan ini menyebabkan kecenderungan perempuan untuk menjadi histeris. Terlebih lagi untuk para penulis perempuan karena tak banyak kesempatan bagi perempuan untuk menulis. Kesempatan disini bisa berarti adanya waktu yang cukup untuk menulis, adanya lahan atau tempat untuk menyalurkan tulisan-

tulisan mereka, dan tidak adanya larangan-larangan yang menganggap tabu bagi perempuan untuk menulis. Kehisterisan ini dapat terlihat dari narasi tulisan mereka karena tulisan mereka, mengutip dari perkataan Mitchell, adalah tulisan dari sebuah proses pembentukan diri dan pengalaman perempuan –baik pengalaman domestik maupun personal mereka– namun dalam aturan, bahasa, dan sistem sosial yang dominan; patriarki. Akhirnya, lanjut Mitchell pula dengan merujuk pada Kristeva, dalam proses ini tulisan mereka terlihat seperti autocriticism. (Ibid: 427). Autocriticism itu terlihat dari isi tulisan mereka yang mengkritisi kehidupan dan pengalaman mereka sebagai perempuan dalam aturan dan tatanan sosial patriarki namun dengan susunan dan keteraturan tulisan lakilaki. Dalam hal ini, Wuthering Heights, sebuah karya sastra karangan Emily Bronte yang merupakan salah satu novelis perempuan pada jaman Viktoria merepresentasikan autocriticism tersebut. Hal ini penulis asumsikan terlihat dari narasinya yang ambigu atau biseksual; menyampaikan pengalaman dan perasaan perempuan namun dalam keteraturan tulisan yang dibentuk oleh laki-laki. Dengan kata lain, narasi novel ini bisa bersifat laki-laki ataupun perempuan (biseksual), dan narasi biseksual itu sendiri merupakan salah satu bentuk bahwa tulisan perempuan itu histeris. Ada beberapa kritikus yang berbicara serupa dalam mengkritisi 97

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

novel ini, diantaranya; Mitchell yang mengatakan bahwa setiap penulis perempuan pasti histeris oleh karena itu Mitchell juga menyebut novel ini sebagai autocriticism (Ibid). Selain itu Kristeva juga menyebutkan bahwa tulisan novelis perempuan adalah“The discourse of hysteric”. Histeria ini seolah tergambar sebagai suara perempuan dari kepasifan yang mereka miliki. Stereotip tentang perempuan seperti di atas tadi; perempuan pasif dan lemah sedangkan laki-laki adalah manusia yang lebih aktif dan kuat memperkuat hal tersebut. Bagaimana perempuan harus bersuara dalam dunia patriarkal itu sendiri adalah hal yang membuat tulisan atau perempuan itu sendiri histeris. Novel ini memiliki tema yang sama dan cenderung tipikal dengan novel-novel yang ditulis oleh perempuan lainnya yang menghadirkan cerita cinta dan romansa kehidupan perempuan dan juga memiliki teknik narasi hampir sama seperti novel-novel yang ditulis oleh perempuan lainnya. Narasi novel ini menggunakan teknik berbentuk seperti jurnal atau pelaporan. Mengomentari teknik narasi ini, Genette juga berpendapat; teknik narasi novel ini berbentuk seperti penulisan diary (novel by letters) namun lebih mirip seperti “a ‘live’ running commentary” (1980: 217). Penggambaran dan pendapat tentang narasi novel ini meyakinkan penulis bahwa teknik narasi seperti ini adalah teknik narasi yang biasa dilakukan oleh penulis perempuan pada saat itu

karena dengan bertulis surat dan diary perempuan dapat bersuara. Novel ini memiliki dua narrator, jadi seolaholah ada satu narasi dalam narasi yang lain. Namun narasi yang kedua tak mungkin ada kalau tanpa narasi yang pertama walaupun narrator pertama mengambil narasi dari narrator yang kedua. Selain itu novel ini juga menyajikan penggambaran keambiguan atau kebiseksualitasn narasi dan kehisterisan perempuan dalam dunia dan aturan yang patriarkal. Oleh karena itu, analisis mengenai kebiseksualitasan narasi dalam novel ini yang penulis asumsikan sebagai salah satu bentuk kehisterisan tulisan perempuan akan tertuang dalam jurnal ilmiah ini. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menunjukan dan memperlihatkan keambiguan narasi yakni narasi yang biseksual sebagai salah satu bentuk kehisterisan tulisan perempuan dalam salah satu karya sastra karangan Emily Bronte yang berjudul Wuthering Heights. METODE PENELITIAN Penelitian untuk jurnal ilmiah ini merupakan sebuah studi pustaka dengan novel sebagai objek penelitiannya dan sumber-sumber pustaka lainnya diambil dari teoriteori yang berhubungan dengan pembahasan dalam jurnal ini. Untuk membahas penelitian ini, penulis hanya akan membahas karya sastra karangan Emily Bronte dalam level penceritaan atau narasi. Namun, 98

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

pembahasan penarasian ini tidak akan lepas dari pembahasan mengenai penggambaran setiap karakter dan plot yang berkembang dalam novel ini. Untuk membahas bisexuality dan hysteria penulis akan merujuk pada istilah patriarki, stereotype, dan symbolic order. Untuk membahas patriaki dan sedikit tentang hysteria penulis menggunakan pemikiran Moi dalam Robert Condavis dan Ronald Schleifer (1994) dan Mitchell dalam Lodge (1988) untuk membahas mengenai stereotype yang ditimbulkan oleh sistem sosial patriarki, penulis menggunakan pemikiran Simone De Beauvoir dalam essaynya yang berjudul “second Sex”. (Adams, 1992) Selanjutnya, penulis akan menjelaskan tentang narasi biseksual yang tergambar dalam segi penceritaan. Dalam level penceritaan, penulis akan membahas teori feminine writing Showalter. Dan untuk melihat bentuk narasi novel ini, penulis menggunakan istilah epistolary writing oleh Gennete. PEMBAHASAN Penggambaran Narasi Novel Wuthering Heights Pada awal penceritaan yang dimulai dengan pernyataan Lockwood setibanya dia di Wuthering Heights. Pernyataan Lockwood: “I have just returned from a visit to my landlord – the solitary neighbour that I shall be troubled with.” (Bronte, 1959: 9) mengungkap satu hal bahwa Lockwood ditampilkan sebagai narrator sekaligus karakter yang

berkembang dalam cerita novel ini. Namun, narasi Lockwood berpindah kepada narasi Mrs. Dean karena keingintahuan Lockwood mengenai keadaan atau cerita Wuthering Heights terlebih lagi kepada Catherine. Keingintahuan Lockwood ini timbul karena ketidaksengajaan Lockwood membaca diary Catherine yang ia temukan dalam kamar Catherine. Kalimat; “An immediate interest kindled within me for the unknown Catherine, and I began, forthwith, to decipher her faded hieroglyphics” (Ibid: 25) adalah kalimat yang memisahkan antara narasi Lockwood dan narasi Catherine dalam diarynya. Atau dengan kata lain, kalimat ini yang mengantar narasi Lockwood kepada narasi Catherine dalam diarynya. Awal penceritaan menggunakan ‘point of view’ Lockwood sebagai tamu Wuthering Heights. Namun, narrator berubah setelah Lockwood membaca buku harian Catherine. Posisi Catherine yang pada awalnya sebagai narrate juga dapat dikatakan sebagai narator dalam buku hariannya. Buku harian Catherine menarik keingintahuan Lockwood sebagai narrator. Keingintahuan inilah yang kemudian dijawab oleh Mrs. Nelly Dean. Keingintahuan ini merubah posisi narrator dari Lockwood kepada Mrs. Nelly Dean. Keingintahuan Lockwood terhadap Catherine ini pun mengungkapkan narasi Mrs. Nelly Dean yang omniscient dan membunuh narasi Lockwood yang limited. Seperti yang diungkapkan 99

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Lockwood ketika berada di Thrushcross Grange: “I desired Mrs. Dean, when she brought in supper, to sit down while I ate it, hoping sincerely she would prove a regular gossip, and either rouse me to animation or lull me to sleep by her talk.” (Ibid: 37) menjelaskan bahwa narasi Mrs. Dean terkuak oleh Lockwood. Namun dalam narasi ini Mrs. Dean lah yang menjadi narrator. Pada awal penceritaan, narasi atau penceritaan dibawa oleh Lockwood. Narasi yang dibawa oleh Lockwood ini bukan melalui sudut pandang orang ketiga yang tahu segalanya melainkan narasi ini begitu terbatas karena menggunakan sudut pandang Lockwood. Narasi yang dibawa Lockwood ini seperti melihat satu sudut pandangan ke sudut yang lainnya atau dengan kata lain teknik narasi ini bergerak satu per satu karena narasi ini dibawa oleh orang luar keluarga Earnshaw atau orang yang baru pertama kali datang. Sedikit mengomentari teknik narasi ini, penulis beranggapan bahwa teknik narasi yang dibawa oleh Lockwood ini seperti tahu bahwa semua hal terbatas dalam hidup dan tidak ada yang omniscient dalam hidup ini. Dengan kata lain teknik dan sudut pandang penceritaan novel ini begitu terbatas atau bisa juga dibatasi oleh Mrs. Dean yang penulis asumsikan sebagai narrator kedua. Pendapat atau anggapan ini pun tetap bertahan karena narrator yang kedua dalam novel ini, Mrs. Nelly Dean adalah seorang pelayan perempuan setia keluarga Earnshaw. Narasi yang

dibawa oleh Mrs. Dean ini tetap menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu Mrs. Nelly Dean sendiri. Namun posisi Mrs. Dean sebagai pelayan dalam rumah itu memungkinkan dirinya untuk tahu lebih banyak sekalipun tentang perasaan dan pikiran karakterkarakter dalam novel ini. Narasi Mrs. Nelly Dean yang omniscient ini pun terkuak karena narasi yang dibawa oleh Lockwood. Namun keseluruhan tetap saja terlihat begitu terbatas karena cerita Mrs. Dean hanya terkuak berdasarkan pertanyaanpertanyaan yang diajukan oleh Lockwood. Dua narrator ini lah yang akhirnya menceritakan dan menguasai penceritaan dalam novel Wuthering Heights. Selain dari pendapat Mitchell yang berpendapat tentang tulisan Emily Bronte yang berbahasa lelaki atau phallocentric: “…she is clearly working within the terms of a language which has been defined as phallocentric”. (Mitchell dalam Lodge, 1988: 429) novel ini juga sepintas menghadirkan beberapa kepentingan maskulin mengingat bahwa narrator pertama dalam narasi novel ini adalah laki-laki, Lockwood. Namun, penulis berasumsi, novel ini juga menjabarkan dan mengangkat tema tentang pengalaman serta perasaan perempuan atau lebih jelas lagi novel ini memiliki kekhasan akan tulisan perempuan itu sendiri (feminine writing). Namun ada baiknya sebelum penulis menjabarkan mengenai tulisan perempuan (feminine writing), 100

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

penulis akan menjabarkan sedikit tentang tulisan lelaki itu sendiri. Penggambaran Hysteria Tulisan Perempuan Dalam Narasi Novel Wuthering Heights Penggambaran histeria dalam narasi ini terlihat dari beberapa hal. Hal ini terlihat dari sifat tulisannya sendiri. Pada satu sisi, sifat tulisan dalam novel ini bergender laki-laki namun pada satu sisi lain sifat tulisan narasi ini bergender perempuan. Dari kedua hal ini, terlihat sifat tulisan narasi novel ini biseksual. Biseksual itu bisa berarti bergender antara lakilaki atau perempuan. Mengutip Heath dalam essaynya yang berjudul Difference, bahwa histeria adalah: “Unsure as to being woman or man…hers is a body in trouble with language…” (Heath dalam Wolfrey, 1999: 214) penulis mengungkap bahwa ungkapan diatas adalah termasuk dari pengertian biseksual, atau mengungkap satu hal juga bahwa histeria itu adalah sesuatu yang biseksual. Oleh karena itu sifat narasi

atau tulisan yang bergender laki-laki atau perempuan disebut juga narasi yang biseksual. Penggambaran narasi biseksual diatas dapat juga berarti bentuk penggambaran kehisterisan tulisan perempuan itu sendiri. Pada satu sisi narasi novel ini bersifat feminin dengan menampilkan pengalaman dan kekhasan tulisan perempuan. Namun di lain sisi, narasi novel ini menolak atau juga bersifat maskulin dengan menampilkan narasi yang memiliki keteraturan kata-kata dalam tiap susunan kalimatnya dan juga menghadirkan suara kepentingan-kepentingan dan kekhasan maskulin. Dibawah ini penulis akan membahas satu per satu hal-hal yang mendukung atau membuktikan bahwa penggambaran narasi dalam novel ini adalah penggambaran narasi yang biseksual. Hal-hal yang mendukung penggambaran histeria tulisan perempuan dalam narasi yang biseksual adalah seperti yang dijelaskan tabel dibawah ini:

Tabel 1. Penggambaran Narasi Biseksual Narasi Biseksual Tulisan bersifat maskulin Tulisan bersifat feminine a. Keteraturan kata-kata a. Menyajikan kepentingan suarab. Menyajikan kepentingan suara perempuan suara-suara maskulin b. Plot yang pecah (split) c. Epistolary writing Tabel ini menjelaskan bahwa hal-hal mendukung yang tertulis diatas terlihat dari: Pada awal penceritaan, dengan susunan kalimat yang teratur dan penggunaan katakata yang teratur penulis 101

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

mengasumsikan ini sebagai tulisan yang bergender laki-laki. Sedangkan pada sisi lain, dengan plot yang tidak tersusun dan penyajian tentang pengalaman emosi dan perasaan perempuan, penulis mengasumsikan narasi novel ini terlihat bergender feminin. Hal ini lebih jelasnya akan penulis bahas pada sub-bab di bawah ini. Penggambaran Narasi Maskulin Keteraturan kata-kata pada narasi Lockwood terlihat penuturannya yang teratur karena penyampaian kata-kata Lockwood pun teratur. Penulis berasumsi bahwa untuk mengetahui tulisan perempuan terlebih dahulu harus mengetahui tulisan lelaki itu sendiri. Dalam essaynya Susan Gubar dan Sandra M. Gilbert yang berjudul A Madwoman in The Attic, terdapat asumsi bahwa tulisan itu bergender laki-laki atau terkenal dengan istilah ‘Pena itu adalah penis metaforis’. Akibat asumsi ini, setiap tulisan akhirnya dianggap sebagai hasil dari pengalaman dan kekhasan laki-laki serta berkenaan dengan seksualitas laki-laki. Metafora inilah yang akhirnya menimbulkan kegelisahan dalam diri perempuan atau penulispenulis perempuan karena penis envy yang dimiliki oleh perempuan mempertanyakan bagaimana seorang perempuan dapat menulis (Gezari). Metafora ini jugalah yang akhirnya mengkaji dan mendefinisikan bagaimana dan apakah tulisan lakilaki itu. Lanjut Gubar dan Gilbert

juga mengatakan bahwa sebuah tulisan itu adalah kelanjutan dari tulisan lain, dan akan dilanjutkan dengan tulisan baru. Mereka juga menyebut ini dengan istilah ‘relation of sonship’, karena tulisan adalah anak dari bapak , dan akan menjadi bapak bagi tulisan yang lain (Ibid). Argument ini juga yang akhirnya mendefinisikan bahwa tulisan itu bergender laki-laki. Ketidakbisaan perempuan untuk menjadi bapak menimbulkan pertanyaan kembali tentang kemampuan penulis perempuan dalam menggambarkan atau menuangkan teks itu sendiri atau dengan kata lain ketidakbisaan itu menyebabkan tidak ada tempat bagi perempuan untuk menulis. Penggambaran tulisan maskulin dalam novel ini terlihat dari: pertama novel ini menyajikan kepentingan-kepentingan atau suarasuara maskulin. Kedua novel ini memiliki keteraturan kata-kata dalam penyusunan tiap kalimatnya. Teknik penceritaan novel ini sepintas menghadirkan kepentingankepentingan atau suara-suara maskulin. Hal ini terlihat dari; pertama, narrator keseluruhan adalah Lockwood, seorang figur laki-laki yang bukan hanya ingin banyak tahu tapi juga dia lah yang menggerakkan narasi Mrs. Dean. Sedangkan Mrs. Dean hanyalah pelayan perempuan yang terbiasa dan diharuskan untuk menjadi pasif dengan tidak banyak bicara dan menjabarkan cerita apalagi cerita mengenai majikannya sendiri. Maka dari sini, terlihat bahwa sebenarnya narasi Lockwood lah 102

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

yang memiliki kekuasaan akan narasi Mrs. Dean, karena narasi Mrs. Dean terkuak oleh narasi Lockwood. Kedua, hal ini terlihat dari absurditas yang ditampilkan oleh Heathcliff. Ketika awal penceritaan, Heathcliff menampilkan kekuasaan patriarki yang dimilikinya. Dia merasa lebih kuat dan berkuasa akan Young Catherine, Hareton dan juga seluruh anggota seisi rumah. Tetapi, di lain sisi Heathcliff hanyalah seseorang yang lemah dan menderita karena tak kuasa untuk mendapatkan kekasih yang ia cintai, Catherine. Keberadaan Heathcliff sebagai pemilik Wuthering Heights sepeninggalan Catherine membuat dirinya berkuasa atas tanah Wuthering Heights berikut juga orang-orang yang berada dalam Wuthering Heights. Kekuasaan Heathcliff terlihat dari banyaknya orang yang patuh terhadap setiap perkataan yang diperintahkan olehnya. Kepatuhan ini juga dilakukan oleh Young Catherine, anak perempuan Catherine dengan Edgar Linton, dan juga Hareton, anak laki-laki Hindley. Bukti kuasa yang dimiliki oleh Heathcliff terlihat dari senyuman Heathcliff atas jawaban dari pertanyaan Lockwood yang menyangka Hareton sebagai anak laki-lakinya:
”And this young man is – ” “Not my son, assuredly!” Heathcliff smiled again, as if it were rather too bold a jest to attribute the paternity of that bear to him.” (Ibid: 19)

Senyum Heathcliff tersebut menyimbolkan kuasa yang ia miliki terhadap seluruh anggota Wuthering Heights. Kuasa ini pun terlihat ketika Heathcliff menjawab pertanyaan Lockwood perihal keberadaan Young Catherine:
“The clown at my elbow, who is drinking his tea out of basin and eating his bread with unwashed hands, may be her husband. Heathcliff, junior, of course. Here is the consequence of being buried alive: she has thrown herself away upon that boor, from sheer ignorance that better individuals existed! A sad pity – I must beware how I cause her to regret her choice.” (Ibid)

Perkataan Heathcliff yang seenaknya terhadap young Catherine dan Hareton adalah salah satu simbol kuasa yang ia miliki. Ungkapan diatas menghadirkan suara-suara atau kepentingan-kepentingan maskulin yang tersaji melalui penggambaran karakter Heathcliff. Penggambaran karakter Heathcliff yang arogan dan semena-mena terhadap Young Catherine pun merupakan salah satu bentuk kuasa yang ia tunjukkan atas kekuasaan yang ia miliki. Hal ini ditunjukkan oleh hinaan Heathcliff terhadap Catherine:”There you are, at your idle tricks again? The rest of them do earn their bread – you live on my charity! Put your trush away, and find something to do. You shall for me for the plague of having you eternally in my sight – do you hear damnable jade?” (Ibid: 35) 103

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Selain menampilkan suarasuara atau kepentingan-kepentingan maskulin, ciri dari bahasa laki-laki itu sendiri adalah teratur. Novel ini memiliki keteraturan kata-kata dalam penyusunan setiap kalimat didalamnya. Hal ini disebabkan karena narator utama dan pertama narasi cerita novel ini adalah Lockwood. Sehingga narasi yang tercipta pun sesuai dengan Lockwood itu sendiri. Pada awal penceritaan Lockwood memulai narasi dengan perkataan:”I have just returned from a visit to my landlord.” (Ibid: 9) ungkapan narasi Lockwood tersebut mengesankan kewibawaan dan keteraturan bahasa. Hal ini ditambahkan pula oleh narasinya:”I do not believe that I could have fixed on a situation so completely removed from the stir of society. A perfect misantropist’s heaven.” (Ibid). Ungkapan tersebut terkesan memiliki tone kesehajaan lelaki dan tuturan yang teratur. Dua hal inilah – keteraturan kata-kata dan penyajian kepentingan-kepentingan dan suarasuara maskulin– yang menggambarkan tulisan yang bergender laki-laki dalam novel ini. Suara kepentingan maskulin lainnya juga dapat terlihat pada penjabaran kepentingan-kepentingan dan kekhasan laki-laki. Kebanggaan dan harga diri adalah salah satu kekhasan laki-laki. Hal ini terepresentasi dalam narasi novel Wuthering Heights. Hal ini terlihat ketika Heathcliff harus datang dalam jamuan natal yang dirayakan oleh keluarga Earnshaw. Heathcliff yang

selalu kotor dan tidak pernah mandi, pada akhirnya mulai membersihkan dirinya dan berpakaian rapi. Namun tetap saja kesan yang didapat darinya tetap Heathcliff seperti sebelum ia mandi dan berpakaian. Hindley ketika melihat kedatangan Heathcliff, memintanya untuk bersalaman dengan Catherine. Tetapi, Heathcliff tidak mau melakukannya karena ia tidak akan mempertaruhkan harga dirinya. Heathcliff pun menjawab:” ’I shall not,’ replied the boy, finding his tounge at last; ’I shall not stand to be laughed at. I shall not bear it!’” ( Ibid: 57). Hal ini menjelaskan bahwa suara kepentingan maskulin dalam narasi novel ini terepresentasikan dalam harga diri yang dipegang teguh oleh Heathcliff dan kebanggaan yang diperlihatkan oleh Hindley. Penggambaran Narasi Feminin Seperti yang dikemukakan oleh Mitchell diatas, bahwa tulisan Emily Bronte, penulis novel Wuthering Heights, berbahasa lakilaki, namun apakah Wuthering Heights itu sendiri benar benar berbahasa laki-laki dan menghadirkan kepentingankepentingan serta kekhasan maskulin? Atau sebaliknya, novel ini menyajikan tentang pengalaman dan kekhasan perempuan? Namun, dari seluruh penceritaan novel ini juga penulis asumsikan begitu feminin karena narasi novel ini menggambarkan dengan jelas pengalaman perasaan dan emosi perempuan. Seperti yang 104

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

dikemukakan oleh Showalter bahwa teori feminine writing itu harus memiliki perbedaan. Perbedaan disini berarti tidak menyuarakan suara maskulin. Feminine writing bisa berarti tulisan tentang perasaan dan emosi mereka, karena teori tekstual dan linguistik dari feminine writing mempertanyakan “…whether men and women use language differently; whether sex differences in language use can be theorized in terms of biology, socialization, or culture; whether women can create new languages of their own…” (Showalter dalam Lodge, 1988:339) Penggambaran tulisan feminin dalam novel terlihat dari adanya beberapa penyajian pengalaman emosi dan perasaan perempuan. Pertama, hal ini terbukti dengan pilihan yang Catherine lakukan adalah seperti pilihan perempuan kebanyakan. Pada akhirnya, mereka akan patuh dan tunduk walaupun pada hal-hal yang tidak mereka inginkan. Kedua, terlihat saat kejadian ketika Edgar hampir mengetahui kedatangan Heathcliff untuk menemui istrinya Catherine secara diam-diam. Dengan mengedipkan mata, Catherine mengatakan bahwa dia tidak bertemu dengan Heathcliff. Mengedipkan mata disini serupa dengan apa yang dilakukan oleh wanita kebanyakan. Kedipan mata menyimbolkan suatu tanda bahwa ia berkata jujur atau dengan kata lain ia ingin dipercaya bahwa ia jujur. Namun Edgar tidak begitu bodoh untuk tertipu oleh Catherine dan

tanpa pikir panjang Catherine pun seolah mempunyai cara yang lain untuk meyakinkan Edgar. Catherine pun mulai”:...dropped down on her knees by a chair, and set to weeping in serious earnest” (Ibid: 74). Langkah ini adalah langkah yang juga sering dilakukan oleh perempuan kebanyakan. Catherine mencoba meyakinkan Edgar dengan tangisannya. Kejadian-kejadian diatas merupakan beberapa kejadian pengalaman yang mungkin hanya dialami oleh perempuan. Kedipan mata atau menangis sudah menjadi stereotip perempuan sebagai makhluk yang bersifat lemah. Namun, pada akhirnya tulisan perempuan itu adalah tulisan pengalaman perasaan dan emosi mereka. Narasi yang menceritakan kejadian tangisan atau hal-hal lain mengenai pengalaman perempuan itu sendiri adalah narasi akan tulisan perempuan. Selain menyajikan pengalaman perasaan dan emosi perempuan, tulisan perempuan juga seperti yang dikemukakan oleh Cixous, harus “split open the closure of binary opposition and revel the pleasure of open-ended textuality” (Cixous). Split dalam novel ini terlihat dari plotnya yang terbagi-bagi atau tidak berurutan sesuai dengan kejadian yang terjadi. Hal ini bertolakbelakang dengan susunan kata-kata setiap kalimatnya yang berurutan. Plot yang tidak tersusun ini terlihat dari pelaporan yang dikemukakan oleh Mrs. Dean. Hal ini disebabkan oleh narasi novel yang 105

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

berbentuk seperti jurnal pelaporan atau lebih jelasnya Genette menamakan narasi berbentuk seperti sebagai epistolary writing. Narasi Mrs. Dean terkuak tergantung pada pertanyaan yang dikemukakan oleh Lockwood sebagai narator utama dan pertama. Hal ini juga disebabkan oleh penggambaran keterbatasan ingatan Mrs. Dean. Sehingga terkadang Lockwood harus menguak narasi baru dari Mrs. Dean dengan mengajukan pertanyaan lain yang berbeda dengan kejadian sebelumnya. Hal ini ditunjukkan ketika narasi Mrs. Dean yang tertuju pada penggambaran Heathcliff setelah dia menjadi pemilik dari Wuthering Heights dan perlakuannya terhadap young Catherine dan Hareton. Namun Narasi Mrs. Dean terhenti dengan alasan ia lupa akan kejadian setelah young Catherine masuk dalam anggota keluarga Wuthering Heights sepeninggalan suaminya Linton. Lalu Mrs. Dean mengarahkan kejadian yang jauh dari sebelumnya mengenai penggambaran Mr. Earnshaw. Hal lain yang menggambarkan kehisterisan tulisan perempuan yang terwakilkan dalam sebuah narasi biseksual dalam novel ini adalah susunan plotnya yang terpecah. Pecahan-pecahan plot dalam novel ini mengasumsikan sebagai salah satu tulisan perempuan. Seperti yang diungkapkan oleh Cixous bahwa tulisan perempuan itu harus “split open the closure of binary opposition and revel the pleasure of open-ended textuality” (Cixous)

Penggambaran Plot yang Terpecah Plot yang tersusun dalam novel Wuthering Heights merupakan plot yang terpecah. Hal ini dikarenakan bentuk narasi novel ini yang berbentuk seperti pelaporan. Oleh karena itu, plot dalam novel ini pun bergerak sesuai dengan kepentingan narrator menarasikan atau melaporkan narasinya. Selain itu, Wuthering Heights merupakan novel yang memiliki dua narrator yaitu Lockwood dan Mrs. Dean, dimana Lockwood menjadi jembatan naratee, narration, dan reader. Maka dari itu, narasi yang disampaikan oleh Mrs. Dean pun sesuai dengan kebutuhan pertanyaan Lockwood atau bisa disebut juga bahwa narasi Mrs. Dean tergantung kepada Lockwood sebagai narrator pertama ataupun utama, karena narasi Mrs. Dean dikuasai oleh Lockwood sebagai narator. Hal inilah yang menyebabkan plot dalam novel ini terpecah. Plot yang terpecah berarti susunan plot yang tidak sesuai dengan kronologis kejadian yang terjadi. Atau dengan kata lain, kejadian atau peristiwa yang disampaikan oleh narasi atau berada dalam susunan narrative discourse berbeda dengan susunan kejadian yang sama yang berada dalam susunan story. Narration seperti ini dinamakan narrative anacharonies. Narrative anachronies itu sendiri adalah: “the various types of discordance between the two orderings of story and narrative” (Genette, 1980: 35-36). Menurut Genette pula 106

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

dalam bukunya, Narrative Discourse bahwa untuk membahas narasi seperti ini diperlukan satu istilah yang dinamakan order. Sedangkan order yang tersusun sesuai dengan kronologis peristiwa disebut temporal order. Untuk memecahkan atau menyusun bentuk narasi anachronies sehingga menjadi temporal order adalah harus dibandingkan terlebih dahulu peristiwa yang terjadi dalam susunan discourse dengan peristiwa yang sama yang terjadi dalam susunan story. Oleh karena itu untuk membahas temporal order ini, penulis membagi beberapa langkah: langkah pertama adalah memilih susunan peristiwa yang terjadi dalam susunan discourse. Kedua adalah memilih susunan peristiwa dalam susunan story. Langkah ketiga adalah membandingkan keduanya dengan melabelkan susunan alphabet pada susunan peristiwa dalam discourse dan menomori susunan peristiwa dalam story. Namun langkah-langkah ini adalah langkah yang sederhana untuk menyusun temporal order. Sebut saja langkah-langkah ini sebagai langkah awal. Langkah yang kedua itu dilakukan dengan menyesuaikan penomeran dalam susunan peristiwa dalam susunan story dengan story time. Plot yang terpecah dalam novel ini terlihat dari ketidaksinkronan peristiwa yang diceritakan oleh Mrs. Nelly Dean yang bergerak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan oleh Lockwood.

Gaya penceritaan yang diceritakan oleh Mrs. Dean pun terlihat hanya pada hal-hal yang ia anggap penting dan perlu. Walaupun, Lockwood mengharapkan lebih banyak penjelasan mengenai narasi yang ia ceritakan. Jelasnya, Lockwood hanya melihat tiap detail dari setiap naratee pada ’point of view’ Mrs. Nelly Dean. Sebagai contoh ketika Lockwood ingin mendengar lebih banyak mengenai diri Heathcliff atau sejarah tentang keberadaan dirinya di Wuthering Heights, Mrs Dean dengan hanya berkata: ”But, Mr. Lockwood, I forget these tales cannot divert you. I’m annoyed how I should dream of chattering on at such a rate; and your gruel cold, and you nodding for bed! I could have told Heathcliff’s history, all that you need hear, in half a dozen words.” (Bronte: 64). Jawaban Mrs. Dean menjelaskan rasa keberatan Mrs. Dean untuk menceritakan tentang sejarah Heathcliff karena Mrs. Dean memiliki alasannya tersendiri. Dengan sopan, Mrs. Dean mempersilahkan Lockwood untuk tidur. Namun Lockwood tak menginginkan cerita tersebut diakhiri. Akhirnya Mrs. Dean pun melanjutkan kisah mengenai Kelahiran Hareton yang menyebabkan ibu Hareton sendiri, istri Hindley, meninggal. Pilihan kata yang dipilih Mrs. Dean untuk menerangkan setiap detail narasi novel ini juga berhubungan dengan gaya penceritaan dalam novel ini. Hal ini juga berhubungan dengan tekhnik 107

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

penceritaan novel ini, karena keterhubungan ini yang menyebabkan narasi novel ini terlihat biseksual. Penggambaran Bentuk Narasi yang Epistolaris Wuthering Heights karya Emily Bronte memiliki bentuk teknik narasi yang lebih unik dibandingkan dengan beberapa novelis pada jamannya. Pertama, teknik narasi novel ini, seperti yang telah dikemukakan oleh Genette, berbentuk seperti jurnal atau bisa juga dikatakan novel by letters. Melihat teknik narasi novel ini penulis teringat akan istilah Epistolary Writing. Epistolary writing adalah tulisan yang berbentuk dan terbentuk dari penulisan surat atau surat menyurat dan bisa juga berbentuk seperti penulisan diary. Epistolary writing mulai terkenal pada abad delapan belas dan biasanya tulisan berbentuk seperti ini digunakan oleh perempuan karena selain bertulis surat dan diary adalah kebiasaan perempuan, hal ini juga merupakan salah satu sarana mereka untuk berbicara dan mengungkapkan pendapatnya. Dan mulai dari abad inilah para penulis perempuan mulai dikenal. Penggambaran bentuk narasi yang epistolaris ini, seperti yang diungkapkan Genette, bahwa narasi yang epistolaris adalah: “much like a ‘live’ running commentary –a common practice with correspondence and private diary, and therefore with the ‘novel by letters’ or the narrative

in the form of a journal” (Genette, 1980: 217) Dengan pendapat diatas, bentuk narasi yang epistolaris dalam novel ini terlihat dari pelaporan yang disampaikan atau dilaporkan oleh Mrs. Dean kepada Lockwood. Seperti yang telah diungkapkan oleh Genette bahwa narasi yang berbentuk seperti jurnal atau berbentuk seperti penulisan diary disebut epistolary writing. Sedangkan novel yang berbentuk atau bernarasikan seperti jurnal atau penulisan diary disebut epistolary novel. Wuthering Heights bisa juga dikatakan sebagai epistolary novel atau narasinya berbentuk epistolary writing. Dalam novel ini, banyak sekali narasi yang didukung oleh penulisan surat atau buku harian. Selain dari narasi yang disampaikan Mrs. Dean berbentuk epistolaris, novel ini pun memiliki narasi lain yang juga berbentuk epistolaris tetapi tidak sampaikan oleh Mrs. Dean. Walaupun narasi yang disampaikannya juga tidak terlepas dari narasi Lockwood. Narasi yang berbentuk epitolaris yang pertama adalah narasi buku harian Catherine. Narasi yang berbentuk epistolaris kedua adalah narasi surat Isabella kepada Edgar dan Mrs. Dean. Penggambaran narasi seperti ini dengan pengertian histeria yang diungkapkan diatas dan juga pengertian histeria menurut Mitchell: “Hysteria is the woman’s simultaneous acceptance and refusal of the organization of sexuality under patriar108

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

chal capitalism. It is simultaneously what a woman can do both to be feminine and to refuse femininity, within patriarchal discourse.”(Ibid: 427) mengungkap satu kesimpulan bahwa narasi dalam novel ini adalah histeris. Terlepas dari bentuk narasinya yang epistolaris, karena penulis asumsikan bahwa bentuk narasi seperti ini adalah kekhasan akan tulisan perempuan –seperti yang dikatakan Woolf bahwa perempuan untuk menulis harus bersembunyi dan tulisan yang mungkin untuk mereka adalah surat. (Dalam Adams, 1992: 820). Narasi novel ini terlihat antara bergender laki-laki atau perempuan (biseksual), dan bisexual itu sendiri adalah sebagai salah satu bentuk kehisterisan tulisan perempuan. Atau dengan kata lain narasi dalam novel ini pun terlihat histeris. Kehisterisannya juga didukung oleh penggambaran narasi dalam novel ini. Penjelasan akan kehisterisan narasi dalam novel ini terlihat dari susunan kata yang menampilkan sisi pilihan atau suara-suara maskulin namun pada lain sisi narasi novel ini pun terasa begitu feminin karena menampilkan pengalamanpengalaman perempuan. Narasi novel ini pun terlihat seperti menolak sisi femininnya dengan susunan kata yang terlihat maskulin namun dilain sisi lain narasi ini pun menerimanya dengan menjabarkan tentang pengalaman perasaan dan emosi perempuan. Pada awal narasi yang dibawa oleh Lockwood, narasi novel ini menjabarkan keteraturan kata-kata

dan kesehajaan seorang Lockwood. Keteraturan kata-kata ini pun berkesinambungan pada setiap detail penceritaan yang dibawa oleh Lockwood. Narasi ini menggambarkan suara-suara maskulin dan kekhasan laki-laki. Kekhasan laki-laki yang lain yang tergambar dalam narasi novel ini terlihat dari karakter Heathcliff yang digambarkan begitu memiliki power akan seluruh anggota Wuthering Heights. Namun hal ini terbantahkan oleh narasi-narasi yang menggambarkan pengalaman perasaan dan emosi perempuan yang tergambar melalui karakter Catherine. Dua pola narasi ini menegaskan bahwa narasi dalam novel ini memiliki dua kelamin atau biseksual. Narasi dalam novel ini menghadirkan kepentingankepentingan atau suara-suara maskulin tetapi juga menampilkan pengalaman-pengalaman perempuan. Pada satu sisi, narasi ini menjabarkan mengenai suara kepentingankepentingan maskulin dengan kata lain novel ini tetap bergender maskulin. Hal ini juga dijabarkan dan dibuktikan dengan susunan setiap kata-kata dalam kalimatnya. Tetapi dalam novel ini terdapat sifat narasi lain yang menjabarkan pengalaman perasaan dan emosi perempuan. Sehingga novel ini terlihat bergender feminin. Hal ini dikuatkan pula oleh bentuk narasi novel berbentuk epistolary. Epistolary itu sendiri, seperti yang dikemukakan oleh Genette, adalah narasi yang berbentuk seperti jurnal pelaporan 109

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

atau penulisan diary. Maka dari itu novel ini terlihat seperti novel yang memiliki narasi yang juga menggambarkan kekhasan perempuan, karena bertulis diary merupakan salah satu kekhasan perempuan. Selain itu, plot dalam narasi novel ini pun adalah plot yang terbagi-bagi atau tidak berurutan secara kronologis peristiwa yang sesuai. Atau dengan kata lain, plot dalam narasi novel ini split. Sedangkan split itu sendiri, merujuk pada pendapat Cixous, adalah salah satu kekhasan dari tulisan perempuan. KESIMPULAN Seperti yang dikemukakan ole Heath bahwa histeria itu adalah: unsure as to being woman or man…hers is a body in trouble with language…” (Ibid) dan juga pendapat dari Mitchell diatas: It is simultaneously what a woman can do both to be feminine and to refuse femininity, within patriarchal discourse.”(Ibid) mengungkap satu kesimpulan bahwa histeria itu adalah keterjebakan antara menjadi perempuan atau laki-laki, atau juga bersifat feminin namun juga menolak keperempuanannya itu sendiri pada saat bersamaan. Oleh karena itu, histeria tulisan perempuan itu dapat terlihat dari narasi yang biseksual. Penggambaran narasi biseksual diatas dapat juga berarti Reader. Ed. David Lodge. 4. London: Longman Press Sandra M Gilbert and Susan Gubar. 2009. Madwoman in The

penggambaran histeria tulisan perempuan dalam narasi yang mereka tuliskan. Wuthering Height karya Emily Bronte merepresentasikan narasi biseksual tersebut. Hal ini terlihat pada satu sisi narasi novel ini yang bersifat feminin dengan menampilkan pengalaman dan kekhasan tulisan perempuan. Namun di lain sisi, narasi novel ini menolak atau juga bersifat maskulin dengan menampilkan narasi yang memiliki keteraturan kata-kata dalam tiap susunan kalimatnya dan juga menghadirkan suara kepentingankepentingan dan kekhasan maskulin. DAFTAR PUSTAKA Bronte, Emily. 1858. Wuthering Heights. New York: Harper and Brothers Publishers Davis Con, Robert. 1989.Contemporary Literary Criticism. Ed. Robert and Schleifer, Ronald Davis Con. 2. London: Longman Press

Genette, Gerard. 1983. Narrative Discourse, As Essay in Method. Trans. E, Jane Lewis. New York: Cornell University Press Lodge, David. 1988. Modern Criticism and Theory: a Attic. Columbia, USA: University of Missouri Press

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

110

Simone, de Beauvoir. 1998.Second Sex. New York: Manchester

University

Press

THE CONCEPT OF OTHER WORLD IN J.M. BARRIE’S PETER PAN Oleh Sya’baningrum Prihartini Dosen Program Studi Sastra Inggris Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa Universitas Islam “45” Bekasi Abstract Neverland sebagai sebuah dunia lain merupakan dunia yang ambigu. Keambiguan tersebut diperlihatkan dari dua sisi Neverland, yang merupakan representasi dari dua fase sukjektivitas, the Imaginary dan Symbolic. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan pendekatan psikoanalisis, dari teori subjektivitas Lacan , untuk memperlihatkan Neverland sebagai analogi dari dua fase tersebut. Sisi Imaginary dari Neverland diperlihatkan dari keterpenuhan dan keutuhan, sedangkan sisi Symbolic Neverland diperlihatkan melalui ketidakmampuannya dalam memberikan pemenuhan. Sisi Symbolic, yang disebabkan oleh lackness, menyebabkan Neverland menjadi sebuah dunia yang ambigu, dan keambiguan tersebut akhirnya menunjukkan bahwa Neverland adalah dunia yang tidak sempurna
Kata kunci: Other world, keambiguan, imaginary, symbolic, lackness

BACKGROUND Children’s literature is often related to fantasy, since many works under this category insert fantasy elements into the story. This fantasy often comes in a form of supernatural

beings or magical worlds where impossibility and irrationality occur. Hogwarts, Narnia, Oz, Wonderland, Middle Earth and Neverland are some of those magical worlds, in which some kinds of magical crea111

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

tures like dragon, elf, unicorn, fairies, and mermaid are to be found. Some unusual occurrences like getting the body shrunk or fighting against monster while flying on broomstick can also happen in these magical lands. So great the portrays of these worlds that fantasy, as Jackson states, has been claimed as ‘transending’ reality, escaping the human condition and constructing superior alternate, ‘secondary’ worlds.(2) Not only having creatures that unlikely exist in reality, these worlds also permit the characters to do things that are forbidden in real world. For instance, Harry Potter, without restriction, can spell magic and cast jinxes in Hogwarts, whereas the real world and his Muggle relatives forbid him to do so. Meanwhile, Peter Pan and the Lost Boys can avoid being grown-ups in real world and instead, fly to Neverland, a land that turns them into eternal children. As it seems, other world, besides working as magical land where impossibility happens, also functions as escapism from the real, often cruel, world. However, the existence of other world, as a super world and a means of escapism, doesn’t automatically turn it into a perfect world. As much as it tries to provide everything with its ability in turning wildest dreams into reality, other world could not help but accepting the fact that there are things that it cannot fulfill, and there are things in life, no matter whichever world a person lives in, that cannot be avoided. This inability in fulfilling needs tarnishes the ‘per-

fectness’ of those other, super worlds. One of such worlds, about which this research will further discuss, is Neverland. Neverland, a magical world in J.M. Barrie’s Peter Pan, is a fairy land which serves as an other world. Its magical sides are shown in certain ways; it is occupied with supernatural creatures like fairies and mermaids, the characters can fly around using fairy dust, and it can keep people from growing up physically. Besides being a magical land, Neverland also serves as escapism. Peter Pan, the main character in this novel, flies away to this land in order to avoid being grown-ups, something that naturally and normally happens in real world. These magical sides, as well as its ability in permitting the impossibility to take place, have turned Neverland, using Gilead’s words, as “an idealized realm of childhood”. (100) This side of being a means of escapism as well as granting hidden wish mark Neverland as a world of completeness. This especially works for Peter, who wishes to always be a little boy and have fun. In this land, not only he is able to preserve his youth, but he also experiences lots of adventures and fun. Still, there are things that Neverland fails to provide. As much as it tries to supply everything, however impossible it is, it still lacks in certain things. This lackness turns Neverland as an ambiguous world that stands on two states; one side shows that it is actually a representation of a perfect, 112

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

children world, and another side shows how this ‘perfect’ world fails in providing ‘some things’. These two sides of Neverland reflect those two of three realms in Jacques Lacan’s psychoanalytic theory about human subjectivity stages. The side of Neverland, in which one can find completeness, best reflects the Imaginary, the second realm a person has to go through in his way of finding his subjectivity. Through its reflection of Imaginary, Neverland works as a realm of wholeness, that is, in Peter’s case, a place where a person can find what he wants in a single place. In this case, Peter’s wishes that make Neverland as a place of completeness are youth, fun, and family. The other side of Neverland, in relation with Lacan’s subjectivity phases, echoes the Symbolic, the last stage that a person has to experience in order to become an independent being. In this stage, Lacan said, a child has to undergo a castration, a separation from his mother, to complete his subjectivity and be able to enter the society. This separation is caused by the existence of Law of the Father. Law of the Father, as Mansfield stated, is anything that comes and separates the child from its mother (31). The separation, after all, leaves a lackness in the child’s once complete world. This condition of separation and lackness is what makes Neverland similar to that of the Symbolic realm. As much as it works as a world of completeness for Peter, by being able to grant youth,

continuous adventures and fun, as well as a short-lived family, in the end, it fails to stop Wendy’s determination to return to the real world and to her family, resulting in Peter’s being separated from Wendy and his friends, which marks his condition of lackness. Having these two sides seem to make Neverland as an ambiguous world. Research Purppse Thus in this research, I would like to prove how Neverland stands as an ambiguous world, and how lackness causes this ‘perfect’ world to be ambiguous. This research aims to show that other world in J.M. Barrie’s Peter Pan is actually a representation of an ambiguity.

Rresearch Method This literary research is done using psychoanalysis approach, using Jacque Lacan’s subjectivity theory as its basis, as well as some other Lacanian thoughts. I intentionally use Lacan’s theory since it connects the phases of one’s subjectivity process with language symbolism. Thus, explanation will be divided into three parts. The first part will explain the concept of one’s subjectivity process, and the three phases a person needs to go through – The Real, Imaginary, and Symbolic – in order to become a complete, independent self. The second part will show how other world in Peter Pan is seen as an ambiguous world that stands between Symbolic 113

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

and Imaginary realm. This part will also show the existence of Law of the Father that marks Symbolic order. Meanwhile the third part will reveal how other world lacks in certain thing, and how this lackness causes the other world to be ambiguous and turns it into an imperfect world. DISCUSSION The Subjectivity theory To begin with, I shall explain the phases of subjectivity. Psychoanalysis, a study in observing unconsciousness, has strong connection with subjectivity process, in which a person has to undergo stages of realms in order to become a complete, independent individual. This theory, to be known as Subjectivity theory, is developed by an Austrian psychoanalyst Sigmund Freud (18651939). In his theory, Freud divided the process into three: oral stage, anal stage, and phallic stage. Oral stage starts in the early years of a baby’s life, in which the baby has a strong bound with its mother since it depends on her for her nurture. This strong bound, as the anal stage takes place, creates a sexual desire as well as possessive feeling the baby feels towards its mother. In the last phase or phallic stage, the baby has to experience a castration, a separation from the mother, as it meets the father figure, a figure that introduces the baby to “symbolic role of Manhood” in its adulthood. This stages work in one mechanism that Freud calls as Oedipus Complex. Oedipus Complex in-

troduces the baby to “…morality, conscience, law, and all forms of social and religious authority.” (Eagleton 153-156) Freud’s theory of subjectivity process relates to gender and power, as he suggested that only the owner of the penis, in this case men, can own power, stable identity, and order (Mansfield 47). This concept of power later works in many binary opposition, identity-related analogies such as self and other, West and East, as well as men and women. Freud’s subjectivity theory develops from time to time, and one of its developments is invented by Jacques Lacan (1901-1981), who relates subjectivity process with language symbolism. Instead of using the stages above to indicate someone’s identity development, Lacan comes up with The Real, The Imaginary, and The Symbolic. Unlike Freud, who sees the phases literally, Lacan perceives the process as symbolism. The Real, as Lacan suggests, works as the early phase in which a baby feels as an inseparable unity with his mother. At this stage the baby has yet to develop a concept of a complete self, and instead, feels that he is a part of everything around him. So pure and whole this realm is that language is unable to describe the completeness of this stage, because the Real, as Eagleton stated, is “…inaccessible realm which is always beyond the reach of significations, always outside the symbolic order.” (168) 114

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

The Identification process then moves from the Real to the Imaginary, in which a transition from a ‘fragmented body’ to ‘a form of totality’ takes place. (Lacan 899) This is the phase where the infant learns to identify himself that later serves as the basic of his fantasy-based self identification. Basically, The Imaginary is a stage in which a child learns to identify its full form from what he sees through its reflection. It is the time where the child sees the unity of its body and feels a sense of wholeness upon looking at its total form reflection and then marks the reflection he sees as “I”. As Eagleton suggested, It is a world of [plenitude], with no lacks or exclusions of any kind: standing before the mirror, the ‘signifier’ (the child) finds a ‘fullness’, a whole and unblemished identity, in the signified of its reflection. No gap has yet opened up between the signifier and signified, subject and world. The infant is so far happily unplugged by the problems of post-structuralismby the fact that, as we have seen, language and reality are not so smoothly synchronized as this situation would suggest. (166) Thus, the first identification process where a child builds the foundation of its identity is built from fantasy level, from outside source of its body. Besides finding a sense of fullness upon looking at its reflection, the child also feels a sense of wholeness in relation with its mother. At this

pre-Oedipal stage, the child, depending on its mother for being fed and kept warm, develops sexual feelings towards its mother. As for the girl, its sexual feelings will later move towards the father. The last phase of one’s subjectivity process is the Symbolic, in which the child has to be castrated, that is to be separated from his mother and therefore suffers a great loss, in order to become a complete, independent being. This separation is caused by the existence of Law of the Father, in which social construction, consisting of rules and roles, exists. Mellard, in this case, argued that Law of the Father “…symbolize[s] that which comes between the mother and the child, separating the one from the other.”(31) That is to say, Symbolic Order is pre-given structure of social and sexual roles and relations which make up the family and society. To be accepted into the society, the child has to learn two rules: a) it cannot be its parent’s lover and b) it must give up its earlier bond to its mother’s body. (Eagleton 145) With the castration, the child now has to accept the fact that he can no longer posses its mother, and instead, it has to repressed its now guilty desire of wanting to posses the now prohibited mother’s body, creating “the unconscious”, or repressed desire as the result. This painful road that he child is taken is necessary because “…Only by accepting the necessity of sexual difference, of a distinct gender roles that the child, who 115

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

has previously been unaware of such problems, can become properly “socialized”. (Eagleton 144) As the child is now thrown into the world of lackness, the child then discovers the world language, and by doing so, it learns that language works by difference and absence. To sum up, a person needs to go through three stages of subjectivity in order to become a complete self being. The Real serves as the first stage, in which an infant depends on its mother for her nurture. The second stage is The Imaginary, where the child forms his first self identification through the reflection he sees. This happens in a scheme called The Mirror Stage. At this stage, the child feels wholeness as he sees himself, through the reflection, in a total form. This stage will also become the basis of how he perceives himself in the future. The last stage that a person needs to go is called the Symbolic, in which the child has to be castrated, separated from his mother to be able to stand on his own and be accepted in the society. This castration is caused by Law of the Father. Law of the Father means everything that separates the child from its mother. The great loss he suffers upon the castration marks his entrance to the world of language. In the future, the child will continually try to find a fulfillment to cover what he lacks. This is what is called desire. Desire is insatiable because what it is looking for is returning from the Symbolic to the Imaginary, which is, by no means, impossible.

Other World as the representation of ambiguity between Imaginary and Symbolic. Now that the Lacan’s subjectivity has been explained, I shall continue by showing how other world in fiction work, in this case Neverland, represents both Imaginary and Symbolic realms and, in that way, makes it an ambiguous world, and how lackness causes this ambiguity. I will divide the explanation into three : a) Neverland represents the Imaginary, b) Neverland represents the Symbolic, and c) how lackness causes Neverland’s ambiguity. Neverland as the representation of Imaginary phase Neverland serves as Peter’s means of escapism. He doesn’t want to grow old, and instead, wants to remain a child. Therefore, he flies to Neverland and builds his own, using Gilead’s words, idealized realm of childhood. In this part, I would like to show parts of Neverland that indicates this land as the ideal, perfect world for Peter. Those parts are youth, fun, and family. a) Youth “All children, except one, grow up.” (Barrie 1) Peter Pan is known for being a boy who doesn’t grow up. He stays in the body, and he acts like a little boy. This is a reason why he escapes from his family and the real world, flies to Neverland, and builds his own world. For some reason he 116

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

doesn’t want to grow old, like what he said to Wendy: “It was because I heard father and mother,” he explained in a low voice,” talking about what I was to be when I became a man.” He was extraordinary agitated now. “[I don’t want ever to be a man],” he said with passion. “I want always to be a little boy and to have fun. So I ran away to Kenshington Garden and lived a long long time among the fairies.” (Barrie 28) As he stated, he wanted to remain as a child because he wanted to always have fun. It may relates to the concept that “childhood” means “fun”, while “adulthood” means “responsibility”. The more people grow up, the less people can have fun, and the more responsibility they need to bear. It seems that the idea of growing up frightens Peter so much that he finally chooses to leave reality. Neverland then, works as escapism from adulthood and a place that can grant his wish to always become a little boy. This condition, in Jackson’s description about fantasy works, can be said as “…transcending reality, escaping the human condition and constructing superior alternate, ‘secondary’ worlds.” (2) Besides Neverland, another factor that preserves Peter’s youth is the Lost Boys. The Lost Boys are a bunch of kids who fall from their pram and are sent

to Neverland if they are not claimed in seven days (Barrie 2). Peter acts as their captain, and together, they live in through adventurous days. This is a great picture of Mirror Stage in Lacan’s Imaginary realm. At this stage, a child mistakenly identifies his reflection as himself and names that reflection as, Lacan stated, “The Ideal I”. Thus, the Mirror Stage, can be seen as “ …the climactic intuition of wholeness and completeness of the self.” (Mansfield42). The child finds a sense of completeness upon seeing the reflection, finding something that he can identify himself as. In this way, the foundation of self identify actually comes from “fantasy” level, from the image outside the body. As the child grows up, Eagleton said, he will continue to make that kind of imaginary identification with objects, and that is how his ego will be built up (165). Therefore, we can say that Peter needs to be surrounded by little fellows because that is how he can always identify himself as one of them. b) Fun “Adventures, of course, as we shall see, were of daily occurrences;…” (Barrie 81) Living in Neverland promises adventures and games. Occupied by uncommon, magical beings like mermaids, fairies, pirates, Red Skin tribes, and the tickling crocodile, Neverland works as a 117

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

dreamland that can provide lots of fun for its inhabitants. Here is a description of what Peter’s life in Neverland can be: He often went out alone, and when he came back, you were never absolutely certain whether he had had an adventure or not. He might have forgotten about it so completely that he said nothing about it; on the other hand, he might say a great deal about it, and yet you could not find the body. Sometimes he came home with bandaged, and then Wendy cooed over him and bathed him it in lukewarm water, while he told dazzling tale. But she was never quite sure, you know (Barrie 8182) As it is described there, Neverland delivers a lot of fun for its inhabitants, and in this way Neverland helps Peter in getting what he wants: to be a little boy and to always have fun. Family Wendy’s arrival in Neverland brings something new to Peter and the Lost Boys. Not only she becomes the female companion that brightens up their lives, but she also makes their secret wish of having a mother comes true. She acted as their kind, affectionate mother and did enjoy her role. She did what common mothers would normally do: preparing meals, telling bed-time stories, as well as fixing holes on their clothes. The mother role

that she played so well, eventually, cured Peter’s bitter memory of his own mother, who, according to his story, had forgotten all about him and got a new child taken over Peter’s position. This is why he stated that “For one thing he despised all mothers except Wendy…”(Barrie 80-81). While Wendy served her role as a mother, Peter, on the other side, played both as the father and, another time, as a devoted son. Thus, how happy and contented he was at that moment can be described as follows: So, they were told they could dance, but they must put their nighties first. “Ah, old lady,” Peter said aside to Wendy, warming himself by the fire and looking down at her as she sat turning wheel, “there is nothing more pleasant of an evening for you and me when the day’s toil is over than to rest by the fire with the little ones nearby.” (Barrie 110) As it can be seen, how much happiness he felt for having a family, although it was just a make-believe, does reflect that at that moment Neverland seemed to provide everything he wanted: youth, fun, and family. The fact that Neverland succeeds in fulfilling Peter’s need makes this world as a representation of the Imaginary, which is described as a realm of “completeness” or “wholeness”. 118

c)

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Neverland as the representation of Symbolic phase Unfortunately, like anything in the world, there is nothing that lasts forever. Peter’s world of wholeness comes to an end when Wendy, followed by the Lost Boys, finally decided to go back to the real world, when they realized that their runaway might have caused great sorrow to their own mother. Peter, however, refused to leave with them as he had no wish to return to the real world and find his long lost mother. He could do well without her, and he could only remember her bad points (Barrie 120-121). So, while Peter was thinking of trick to hold their leave, Wendy, her two brothers and the Lost Boys bid Peter goodbye and left. Unavoidably, since he refused to go together with them, he then had to lose his mother figure as well as his mates. Peter’s longing for a mother figure is actually a result of his previous castration. The result of the castration, that is being separated from the mother, is that there is a hole of lackness in his once world of completeness. As he is unable to get back the mother’s body, he then developes guilty desire or the unconscious. What the desire really seeks for is returning to the mother-child unity, locking up the hole of lackness he is now suffering. As it was impossible to get, the child then seeks for another fulfillment, in a shape of the [m]other (Mellard 19). This is what actually happening to Peter. The great loss he suffers

after being separated from his biological mother demands a fulfillment. That is why he flies to the real world in search for a mother figure, and finds it in Wendy. During his moment of having Wendy around, he feels great contentment because not only he can achieve ceaseless youth as what he wishes for, but he also experiences having a family, even though it is only short-lived and make-believe. Peter’s seeking for fulfillment for his loss, however, did not cease after Wendy decided to stay in the real world and leave him. During spring cleaning time, he would continue to go and get another motherfigure through Wendy’s daughter, Jane, and years later, through Jane’s daughter, Margaret. This endless substitution for mother figure resembles the desire he feels but unable to lock up. As you look at Wendy you may see her hair becoming white, and her figure little again, for all this happened long ago. Jane is now a common grown-up, with a daughter called a Margaret; and every springcleaning time, except when he forgets, Peter comes for Margaret and takes her to the Neverland, where she tells stories about himself, to which he listens eagerly. When Margaret grows up she will have a daughter, who is to be Peter’s mother in turn; and thus it will go on, so long as chidren are gay and innocent and heartless.(Barrie 185)

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

119

Through these happenings, it seems that Neverland is no longer a world that provides and allows everything. Wendy’s departure from Neverland marks the end of the world of completeness and the emergence of loss, of a lack. Peter is castrated, that is separated from the “mother” Wendy, because she wants to go back to her family. Her choice of going back to the real world, which is eagerly followed by the Lost Boys, left Peter alone. With Wendy’s departure, Peter’s once whole condition now lacks. He now has to accept the fact that he can no longer have Wendy as well as the Lost Boys because they belong to the world he doesn’t want to live in. This condition reflects that of Symbolic stage, in which the Law of the Father exists. It castrates Peter, from his “mother”, Wendy, and makes him lack. Peter’s condition, in other way, moves from wholeness that reflects the Imaginary to lackness that represent the Symbolic. Through this happening, it can be stated that the nature of growing up, works as Law of the Father. Law of the Father functions as the ruler, the one that shapes society construction. Under the rules that make the society, children will grow up and eventually become adults. When they become adults, they will normally take more responsibility; for example by going to work. These, however, frightens Peter so much that he chooses to refuse Mrs. Darling’s appeal to adopt him, abandoning the idea of having a mother with Wendy

and the Lost Boys close to him. He chooses to fly back to Neverland, having the consequence of losing his friend and his dearest “mother”, Wendy. Mrs. Darling and Wendy try to persuade Peter to take the offer of being adopted. Yet, the fear of growing up and getting old conquer Peter’s will to be with Wendy, However, Peter’s decision for refusing Mrs. Darling’s offer marks the separated ways of Wendy and Peter. “Would you send me to school?” he inquired craftily. “Yes.” “And then to an office?” “I suppose so.” “Soon I should be a man?” “Very soon.” “I don’t want to go to school and learn solemn things,” he told her passionately. “I don’t want to be a man. O Wendy’s mother, if I was to wake up and feel there was a beard.” “Peter,” said Wendy the comforter, “I should love you in a beard”; and Mrs. Darling stretched out her arms to him, but he repulsed her. “Keep back, lady, no one is going to catch me and make me a man.” (Barrie 174) As he decided to leave for Neverland alone, Peter has to accept the fact that he could not be with both Wendy and his friends anymore, and this creates a lack in him. This lackness, in Lacan’s subjectivity scheme, is a great cost that a person needs to pay in order to become a complete, independent self. 120

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Lackness as the cause of other world’s ambiguity As it is explained above, Peter’s world of plenitude came to an end, as Wendy, the replacement of his original mother, and the Lost Boys, his loyal companions, chose to leave him, coming back to the real world. Since he refused to be adopted by Mrs. Darlings, then he had to go back to Neverland alone. “I shall have such fun,” said Peter, with one eye on Wendy. “It will rather lonely in the evening,” she said, “sitting by the fire.” “I shall have Tink.” “Tink can’t go a twentieth part of the way round,” she reminded him a little tartly. … “It doesn’t matter,” Peter said. “O Peter, you know it matters.” (Barrie 175) Peter keeps on coming back to the real world, looking for another young girl to play as his mother. Yet, it cannot deny the fact that this place lacks of mother figure. This mother figure, is the reason why Peter flies to Wendy’s window and also Wendy’s reason of leaving Neverland. Therefore, this lack of mother figure, which Neverland fails to provide, marks the incompleteness of Neverland as an other world. Years later, when Wendy grew old and Wendy’s daughter has has grown into a mother of a daughter, Peter, however, stayed exactly the same like

he had always been: a boy who looked for a little girl every springcleaning time, to be brought to Neverland and be his make-believe mother, This shows that Peter’s crave for a mother has not been satisfied, and that is why after all the years, he keeps on looking for one. When one no longer fits to be his mother, in this case the girl has much grown up, he will search for another one and make an endless end. As Eagleton explained, “All desire springs from a lack, which it strives continually to fulfill.” (167), Peter’s condition, in this case, reflects what a person will have to go through after experiencing a castration that separates him from his mother. This never-ending substitution also indicates that the person enters the world of language, in exchange of what has been taken from him. In the end, it is a choice that makes it different. Wendy and the Lost Boys choose to go back to the real world and take whatever it provides: having family and growing up. Meanwhile, Peter chooses to stay in Neverland, insisting on living alone rather than giving up his youth and growing up. This marks that Neverland, once given him completeness through Wendy and the Lost Boys, now just the same like the real world is, the imperfect world. CONCLUSION Other world in fantasy is one of fantastical world, in which, mostly, magical creatures live and irrational 121

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

happening occurs. This is one world that allows unimaginable things to happen and also becomes a means of escapism. Because of that, other world is perceived as a perfect world that allows everything forbidden in real world. One of such world is Neverland. Neverland is a magical land where fairies, mermaids, and Peter Pan, the boy who never grows up, live. Neverland works as a world of wholeness for Peter for it provides everything he wants: youth, adventure, and family. At this stage, Neverlands represent that stage of completeness in Lacan’s subjectivity stages, The Imaginary. The Imaginary is the second stage of subjectivity process, where an infant finds completeness in him. However, the need for coming back to the real world and to her family made Wendy, who acted as Peter and the Lost Boys’ mother in Neverland, left that fantastic world. Her departure, which was followed by the Lost Boys, marks Peter’s new world of lackness. He lost that of mother figure, and he tried to get it back. At this stage Neverland no longer represents that of Imaginary realm, but it more depicts that of Symbolic phase. The Symbolic is the stage in which someone needs to suffer a great loss of losing their mother, in order to become a complete, independent being. The two conditions show Neverland as an ambiguous world. On one side it seems to provide everything and, therefore, represents The Imaginary phase. On the other side, it cannot

hide something that it cannot provide, and this turns Neverland as the representation of the Symbolic. This Symbolic side of Neverland is caused by insatiable lackness. The two sides of Neverland, in the end, shows that this magical world is not a perfect world. WORK CITED __________. “Fantasy”. The Norton Anthology of Children’s Literature: The Tradition in English. Ed. Jack Zipes. 19 July 2008 http://www.wwnorton.com/co llege/titles/english/nacl/fantas y.pdf Barrie, J.M. Peter pan. 1995. New York: Penguin Popular Classics Billone, Amy. “The Boy Who lived: From Caroll’s Alice and Barrie’s Peter pan to Rowling’s Harry Potter.” Children’s Literature. 19 July 2008 http://muse.jhu.edu/demo/chil drens_literature/v032/32.1bill one.pdf Eagleton, Terry. 1983. Literary Theory: An Introduction. England: Basil Blackwell Gilead, Sarah. 1992. “Magic Abjured: Closure in Children’s Fantasy Fiction”. Literature for Children: Contemporary Criticism. Ed. Peter Hunt. London: Routledge 122

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

Jackson, Rosemary. 1981. Fantasy: the Literature of Subversion. Lacan, Jacques. 1992. (p.898). “The Mirror Stage as Formative of the Function of the I as Revealed in Psychoanalytic Experience.” Critical Theory since Plato. Adams, Hazard. Florida: Harcourt Brace Jovanovich College Publishers Mansfield, Nick. 2000. Subjectivity: Theories of the Self from Freud to Harraway. Australia, NSW: Allen & Unwin

London: Methuen & Co.Ltd

Mellard, J.M. 1991. Using Lacan, Reading Fiction. Urbana and Chicago: University of Illinois Press Sarup, Madan. 1993. Introduction Guide to Post-Structuralism and Postmodernism. 2nd Ed. Hertfordshire: Harvester Wheatsheaf

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

123

Makna
Jurnal Ilmu Komunikasi, Bahasa dan Sastra

ISSN 2086-7069
Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

SUSUNAN REDAKSI
Penanggung Jawab Dekan Fakultas Komunikasi, Bahasa dan Sastra (Andi Sopandi, SS, M.Si.) Pembina Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi (Tatik Yuniarti, S.Sos., M.I.Kom) Ketua Program Studi Sastra Inggris (Endang S. Priyatna, S.S.) Ketua Penyunting Dr. Afrina Sari, Dra, M.Si. Sekretaris Siti Khadijah, S.Sos.

..

Bendahara Juju Juharoh, A.Md. Penyunting Pelaksana Nuryadi, S.S, M.Hum. Heri Yusup, S.S Sirkulasi & Distribusi Rido Budiman, S.S. Widya Iswari Alamat Redaksi Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa (FKSB) Universitas Islam “45” Bekasi Jalan Cut Meutia No. 83 Bekasi 17113 Telp: 021-8803153 Fax: 021-8801192 Email: jurnalfksb@gmail.com Penerbit Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa (FKSB) Universitas Islam “45” Bekasi

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

1

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

2

Makna
Jurnal Ilmu Komunikasi, Bahasa dan Sastra

ISSN 2086-7069
Volume 3, Nomor1, Maret – Agustus 2012

DAFTAR ISI DAFTAR ISI PENGANTAR REDAKSI 1-26 KOMUNIKASI KELUARGA DALAM PERKEMBANGAN ANAK Afrina Sari 27-44 GLOBAL - LOKAL : ADAPTASI BUDAYA FILM INTERNASIONAL Tatik Yuniarti 45-69 STUDI KEBIJAKAN PENERAPAN BAHASA, BUDAYA DAN SEJARAH BEKASI SEBAGAI MUATAN LOKAL DI SEKOLAH Andi Sopandi 70-81 IDEOLOGI DAN POPULAR CULTURE Endang S. Priyatna 82-95 PENERJEMAH PUISI HEUSCA KEDALAM BAHASA INDONESIA OLEH CHAIRIL ANWAR Nuryadi 96-111 ANALISIS NARASI BISEKSUAL SEBAGAI BENTUK HYSTERIA TULISAN PEREMPUAN DALAM NOVEL W UTHERING HEIGHT KARYA EMILY BRONTE Mariatul Qibtiah 112-124 THE CONCEPT OF OTHER WORLD IN J.M. BARRIE`S PETER PAN Sya`baningrum Prihartini

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

3

PENGANTAR REDAKSI Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya, penyusunan Jurnal Makna Volume 3. Nomor 1. dapat diselesaikan. Jurnal yang memuat kajian ilmiah tentang ilmu komunikasi, sastra dan bahasa ini menyajikan artikel ilmiah, baik hasil penelitian maupun kajian pustaka. Komunikasi, sastra dan bahasa merupakan fenomena sosial yang berada di tengah-tengah kehidupan kita sehari-hari. Usaha untuk K menjelaskannya dan menggambarkannya telah banyak dilakukan oleh para peneliti dan pemerhati melalui penelitian, pengajaran dan penulisan ilmiah. Jurnal ilmu komunikasi, sastra dan bahasa ini berusaha untuk ikut berperan aktif memberikan gambaran berkala melalui penulisan ilmiah sebagai hasil penelitian atau kajian sesuai dengan prinsip-prinsip akademik. Tulisan-tulisan yang ada dalam jurnal ini merupakan hasil kajian ilmiah yang dilakukan untuk ikut berkontribusi dalam dunia akademik dengan harapan dapat memberikan sumbangsih kepada pihak yang berkepentingan. Tak ada gading yang tak retak, namun milik kami adalah gading gajah Afrika. Kami menyadari bahwa tidak ada yang sempurna. Demikian pula dengan segala kekurangan yang ada dalam edisi kali ini. Namun demikian, kami berusaha memberikan tulisan yang terbaik sebagai kajian ilmiah. Akhir kata, semoga paparan dalam jurnal ini dapat memberikan nuansa baru bagi pembaca guna pengembangan ilmu pengetehuan, khususnya pada bidang komunikasi, sastra dan bahasa serta kebudayaan.

Bekasi, 01 Maret 2012

Redaksi

Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, Maret – Agustus 2012

4

PANDUAN PENULISAN ARTIKEL
I. ARTIKEL YANG DIPUBLIKASIKAN 1. Artikel merupakan ringkasan hasil penelitian, baik penelitian lapangan atau kajian pustaka di bidang Ilmu Komunikasi, Bahasa dan Sastra Inggris. 2. Artikel yang dikirim ke redaksi bersifat orisinil/belum dipublikasikan sebelumnya. 3. Artikel ditulis dalam Bahasa Indonesia baku atau Bahasa Inggris. II. SISTEMATIKA PENULISAN 1. JUDUL Judul ditulis secara singkat dan mencerminkan isi tulisan. Jika judul terlalu panjang, maka dipecah menjadi judul utama dan sub judul. 2. NAMA PENULIS Nama penulis dicantumkan tanpa gelar. Di bawah nama penulis dicantumkan afiliasi institusi/alumni. 3. ABSTRAK 1) Abstrak ditulis sebanyak 100-200 kata, diketik dengan huruf miring dengan menggunakan Bahasa Inggris bagi artikel yang menggunakan Bahasa Indonesia dan sebaliknya. 2) Jika artikel yang ditulis merupakan hasil penelitian, maka abstrak harus mengandung tujuan penelitian, metode yang digunakan, hasil penelitian dan kesimpulan. 3) Kata kunci sebanyak 3-5 kata dicantumkan di bawah abstrak. 4. STUKTUR NASKAH 1) Hasil Penelitian memuat: Pendahuluan, Metode Penelitian, Pembahasan, Kesimpulan, Ucapan Terima Kasih (jika ada), dan Daftar Pustaka. 2) Kajian Pustaka memuat: Pendahuluan, Sub topik disesuaikan dengan kebutuhan, Kesimpulan, Ucapan Terima Kasih (jika ada), Daftar Pustaka, dan Lampiran (jika perlu). III. FORMAT PENULISAN 1. Panjang naskah 15-25 (maksimal) halaman kuarto, menggunakan program Microsoft Word, spasi ganda (spasi 2), jenis huruf Time New Roman, ukuran 12, marjin kanan-kiri, atas-bawah 3 cm. 2. Tabel, gambar, dan bagan diberi nomor judul serta sumber. 3. Tabel diketik 1 (satu) spasi, nomor tabel berurut sesuai dengan penyebutan dalam teks. Setiap kolom diberi sub judul singkat. Jumlah tabel maksimal 5 buah. 4. Kutipan menggunakan catatan perut. Contoh:… (McQuail, 1994: 40) 5. Sub judul tidak diberi nomor, dicetak tebal, huruf kecil dan font 12 6. Penulisan daftar pustaka menggunakan model: Nama Belakang, Nama Depan. Tahun Penerbitan. Judul Buku (Cetak Miring). Kota: Penerbit. Contoh: Creswell, John W. 1998. Qualitaive Inquiry and Research Design; Coosing Among Five Traditions. London: Sage Publication 7. Semua rujukan yang dirujuk/dikutip dalam artikel harus dituliskan dalam Daftar Pustaka dan sebaliknya, karya-karya yang tidak dirujuk, tetapi ditulis di Daftar Pustaka akan dihilangkan oleh penyunting. 8. Naskah diserahkan dalam bentuk 1 (satu) cetakan (hard copy) dan 1 (satu) soft copy yang disimpan dalam CD dengan format RTF. 9. Naskah diserahkan paling lambar 1 (satu) bulan sebelum bulan penerbitan kepada: JURNAL – Agustus Jurnal Makna, Volume 3, Nomor 1, MaretMAKNA 2012 Fakultas Komunikasi, Sastra dan Bahasa (FKSB) Universitas Islam “45” Bekasi Jalan Cut Meutia No. 83 Bekasi 17113 Telp: 021-8803153 Fax: 021-8801192 Email: jurnalfksb@gmail.com 4. Kepastian pemuatan atau penolakan artikel akan diberitahukan secara tertulis. 5. Penulis yang artikelnya dimuat akan mendapat imbalan berupa nomor bukti pemuatan sebanyak 2 (dua) eksemplar. Artikel yang tidak dimuat akan dikembalikan kepada penulis.

5

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->