mengapa Hukum Pidana disebut hukum sanksi?

jawab: Hukum pidana tidak mengadakan norma-norma baru dan tidak menimbulkan kewajiban-kewajiban yang dulunya belum ada. Hanya norma-norma yang sudah ada saja yang dipertegas, yaitu dengan

mengadakan ancaman pidana dan pemidanaan. Hukum pidana memberikan sanksi yang bengis dan sangat memperkuat berlakunya norma-norma hukum yang telah ada. Tetapitidak mengadakan norma baru. Hukum pidana sesungguhnya adalah hukum sanksi.

Jelaskan hubungan Hukum Pidana dengan Hukum Perdata dari sudut sanksi? jawab:

Hukum PidanaPelanggaran terhadap norma hukum pidana pada umumnya segera disikapi oleh pengadilan setelah menerimaberkas polisi yang mengadakan penyelidikan dan penyidikan. Tindakan pidana (delik) yang sengaja disebut delik doloes,sedangkan tindak pidana yang tidak disengaja disebut delik coelpa

Hukum PerdataPelanggaran tehadap norma hukum perdata baru dapat disikapi oleh pengadilan setelah ada pengaduan dari pihakyang merasa dirugikan. Di sini, ada pihak yang mengadu ( penggugat) dan pihak yang diadukan ( tergugat)

A. PENGERTIAN HUKUM PIDANA Merumuskan hukum pidana ke dalam rangakaian kata untuk dapat memberikan sebuah pengertian yang komprehensif tentang apa yang dimaksud dengan hukum pidana adalah sangat sukar. Namun setidaknya dengan merumuskan hukum pidana menjadi sebuah pengertian dapat membantu

memberikan gambaran/deskripsi awal tentang hukum pidana. Banyak pengertian dari hukum pidana yang diberikan oleh para ahli hukum pidana diantaranya adalah sebagai berikut: W.L.G. Lemaire Hukum pidana itu itu terdiri dari norma-norma yang berisi keharusankeharusan dan larangan-larangan yang (oleh pembentuk undang-undang) telah dikaitkan dengan suatu sanksi berupa hukuman, yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus. Dengan demikian dapat juga dikatakan, bahwa hukum pidana itu merupakan suatu sistem norma-norma yang menentukan terhadap tindakan-tindakan yang mana (hal melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu dimana terdapat suatu keharusan untuk melakukan sesuatu) dan dalam keadaan-keadaan bagaimana hukum itu dapat dijatuhkan, serta hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan bagi tindakan-tindakan tersebut. 1 Simons Menurut Simons hukum pidana itu dapat dibagi menjadi hukum pidana dalam arti objek tif atau strafrecht in objectieve zin dan hukum pidana

dalam arti subjektif atau strafrecht in subjectieve zin. Hukum pidana dalam arti objek tif adalah hukum pidana yang berlaku, atau yang juga disebut sebagai hukum positif atau ius poenale. 2 Simons merumuskan hukum pidana dalam arti objek tif sebagai:

1 P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: Sinar Baru, 1984), h. 1-2. 2 Ibid, h. 3.Bab I. Hukum Pidana 2 1. Keseluruhan larangan dan perintah yang oleh negara diancam dengan nestapa yaitu suatu pidana apabila tidak ditaati; 2. Keseluruhan peraturan yang menetapkan syarat-syarat untuk penjatuhan pidana, dan; 3. Keseluruhan ketentuan yang memberikan dasar untuk penjatuhan dan penerapan pidana. 3 Hukum pidana dalam arti subjektif atau ius puniendi bisa diartikan secara luas dan sempit, yaitu sebagai berikut: 4 1. Dalam arti luas: Hak dari negara atau alat-alat perlengkapan negara untuk mengenakan atau mengancam pidana terhadap perbuatan tertentu; 2. Dalam arti sempit: Hak untuk menuntut perkara-perkara pidana, menjatuhkan dan melaksanakan pidana terhadap orang yang melakukan perbuatan yang dilarang. Hak ini dilakukan oleh badan-badan peradilan. Jadi ius puniendi adalah hak mengenakan pidana. Hukum pidana dalam arti subjektif (ius puniendi) yang merupakan peraturan yang mengatur hak negara dan alat perlengkapan negara untuk

F. h. h. Lamintang.Dasar-Dasar Hukum Pidana 3 1. van Hattum Hukum pidana adalah suatu keseluruhan dari asas-asas dan peraturanperaturan yang diikuti oleh negara atau suatu masyarakat hukum umum lainnya. dimana mereka itu sebagai pemelihara dari ketertiban hukum umum telah melarang dilakukannya tindakan-tindakan yang bersifat melanggar hukum dan telah mengaitkan pelanggaran terhadap peraturanperaturannya dengan suatu penderitaan yang bersifat khusus berupa hukuman. 4 Ibid. Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan. . 5 Moeljatno Hukum pidana adalah bagian daripada keseluruhan hukum yang berlaku di suatu negara. Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan. Op. yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk: 3 Sudarto.F. W. Dengan kata lain ius puniendi harus berdasarkan kepada ius poenale. 1990).Cit.C. (Semarang: Yayasan Sudarto. dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi barang siapa melanggar larangan tersebut. menjatuhkan dan melaksanakan hukuman terhadap seseorang yang melanggar larangan dan perintah yang telah diatur di dalam hukum pidana itu diperoleh negara dari peraturanperaturan yang telah ditentukan oleh hukum pidana dalam arti objek tif (ius poenale). Hukum Pidana I. 2.mengancam. 10. h. 9. yang dilarang.A.. 5 P. 2.

Syarat-syarat tertentu (kapankah) yang harus dipenuhi/harus ada bagi si pelanggar untuk dapat dijatuhkannya sanksi pidana yang . Tetapi tidak mengadakan norma baru. 6 Van Kan Hukum pidana tidak mengadakan norma-norma baru dan tidak menimbulkan kewajiban-kewajiban yang dulunya belum ada. Hanya norma-norma yang sudah ada saja yang dipertegas. 2. 9 Adami Chazawi Hukum pidana itu adalah bagian dari hukum publik yang memuat/berisi ketentuan-ketentuan tentang: 1. Hukum pidana sesungguhnya adalah hukum sanksi (het straf-recht is wezenlijk sanctie-recht). yaitu dengan mengadakan ancaman pidana dan pemidanaan. Aturan umum hukum pidana dan (yang dikaitkan/berhubungan dengan) larangan melakukan perbuatan-perbuatan (aktif/positif maupun pasif/negatif) tertentu yang disertai dengan ancaman sanksi berupa pidana (straf) bagi yang melanggar larangan itu. 8 Hazewinkel-Suringa Hukum pidana adalah sejumlah peraturan hukum yang mengandung larangan dan perintah atau keharusan yang terhadap pelanggarannya diancam dengan pidana (sanksi hukum) bagi barang siapa yang membuatnya.3. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut. 7 Pompe Hukum pidana adalah semua aturan-aturan hukum yang menentukan terhadap perbuatan-perbuatan apa seharusnya dijatuhi pidana dan apakah macamnya pidana itu. Hukum pidana memberikan sanksi yang bengis dan sangat memperkuat berlakunya norma-norma hukum yang telah ada.

dengan demikian maka perumusan hukum pidana adalah bagian dari hukum positif yang berlaku di suatu negara dengan memperhatikan waktu. Asas-asas Hukum Pidana. Jaksa. 6 Moeljatno. h. tempat dan bagian penduduk. 7 Ibid. serta tindakan dan upaya-upaya yang boleh dan harus dilakukan oleh tersangka/terdakwa pelanggar hukum tersebut dalam usaha melindungi dan mempertahankan hakhaknya dari tindakan negara dalam upaya negara menegakkan hukum pidana tersebut. (Jakarta: Rineka Cipta. Hukum adat tumbuh dan berakar dalam kesadaran dan pergaulan hidup masyarakat. menjatuhkan dan melaksanakan sanksi pidana terhadap dirinya. Kanter dan S.Bab I. 9 Andi Hamzah. 5. Azas-azas Hukum Pidana. terhadap yang disangka dan didakwa sebagai pelanggar hukum pidana dalam rangka usaha negara menentukan. 10 Menurut E. h. Hakim). 6. 8 Ibid. 11 bahwa hukum pidana adat pun yang tidak dibuat oleh negara atau political authority masih mendapat tempat dalam pengertian hukum pidana. yang memuat dasar-dasar .diancamkan pada larangan perbuatan yang dilanggarnya. 4. Tindakan dan upaya-upaya yang boleh atau harus dilakukan negara melalui alat-alat perlengkapannya (misalnya Polisi.R. Sianturi. Hukum Pidana 4 3. Kenyataan masih berlakunya hukum adat di Indonesia sampai saat ini tidak dapat dipungkiri.Y. 1991). h. h. (1982). 1.

tidak boleh menolak memberi keadilan.R. masih/tidaknya hukum adat diakui oleh undang-undang negara. RajaGrafindo Persada.Dasar-Dasar Hukum Pidana 5 menyelesaikan suatu pertikaian/perkara banyak memegang peranan. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya. 1982). h. Sianturi. hanya dalam beberapa hal ada pengecualian. penjatuhan pidana dan pelaksanaan pidana demi tegaknya hukum yang bertitik berat kepada keadilan.PTHM. Dengan demikian sebenarnya asas legalitas masih tetap dianut atau dipertahankan. 11 E. serta ketentuan-ketentuan mengenai hak dan cara penyidikan. yang bertanggung jawab kepada Tuhan. maka hakim sebagai figur utama untuk 10 Adami Chazawi. 2002). Hakim dianggap mengenal hukum. banyak tergantung kepada penghargaan nilai-nilai luhur yang merupakan kesadaran hukum masyarakat (setempat).Y. Ketergantungan yang disebut terakhir adalah merupakan pembatasan mutlak terhadap penerapan hukum (pidana) adat. penuntutan. 2.dan ketentuan-ketentuan mengenai tindakan larangan atau tindakan keharusan dan kepada pelanggarnya diancam dengan pidana. Menentukan pula bilamana dan dalam hal apa pelaku pelanggaran tersebut dipertanggungjawabkan. serta bertujuan mengadakan keseimbangan di antara pelbagai kepentingan atau keadilan. Hakim wajib mencari dan menemukan hukum. 15-16. . Perumusan ini mencakup juga hukum (pidana) adat. maupun kepada sejauh mana hukum (pidana) adat masih dianggap sejalan atau ditolerir oleh falsafah Pancasila dan undang-undang yang berlaku. Dalam hal terdapat pertentangan antara hukum (pidana) adat dengan undang-undang yang berlaku. (Jakarta: Alumni AHM. negara dan pribadi. (Jakarta: PT. Sejauhmana hukum (pidana) adat tercakup atau berperan mempengaruhi hukum pidana yang telah diatur dalam perundang-undangan. Kanter dan S. Hakim mempunyai kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. h. karena itu hakim sebagai manusia yang arif dan bijaksana. Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1.

siapakah orangnya yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap tindakan-tindakan tersebut dan hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan terhadap orang tersebut. 2. 14 3. 4. Larangan untuk melakukan suatu perbuatan. Hukum pidana yang dikodifikasikan (gecodificeerd) dan hukum pidana yang tidak dikodifikasikan (niet gecodificeerd) . Hukum pidana materiil yaitu semua ketentuan dan peraturan yang menunjukkan tentang tindakan-tindakan yang mana adalah merupakan tindakan-tindakan yang dapat dihukum. B. PEMBAGIAN HUKUM PIDANA Hukum pidana dapat dibagi/dibedakan dari berbagai segi. Biasanya orang menyebut jenis hukum pidana ini sebagai hukum acara pidana. b. 3. Hukum pidana formil memuat peraturan-peraturan yang mengatur tentang bagaimana caranya hukum pidana yang bersifat abstrak itu harus diberlakukan secara konkrit. antara lain sebagai berikut: 1.12 Dari beberapa pendapat yang telah dikutip tersebut dapat diambil gambaran tentang hukum pidana. Hukum pidana dalam arti objek tif dan hukum pidana dalam arti subjektif. bahwa hukum pidana setidaknya merupakan hukum yang mengatur tentang: 1. disebut juga dengan hukum pidana yang abstrak. 13 2. Hukum pidana materiil dan hukum pidana formil Menurut van Hattum: a. Cara mempertahankan/memberlakukan hukum pidana. Sanksi pidana apa yang dapat dijatuhkan kepada seseorang yang melakukan suatu perbuatan yang dilarang (delik). Syarat-syarat agar seseorang dapat dikenakan sanksi pidana.

Hukum pidana yang dikodifikasikan misalnya adalah: Kitab Undang-undang Hukum Pidana. h. 10.F. seperti UU Tindak Pidana Korupsi (UU No. Hukum pidana bagian umum (algemene deel) dan hukum pidana bagian khusus (bijzonder deel) a. Hukum Pidana 6 a. baik yang terkodifikasi maupun yang tidak terkodifikasi..Bab I. b. Op. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer. Hukum pidana umum (algemeen strafrecht) dan hukum pidana . 12 Tahun 1951 tentang Senjata Api dan Bahan Peledak.12 Ibid. dan peraturan lainnya yang di dalamnya mengandung sanksi berupa pidana. 13 Lihat halaman 1. h.. UU No.cit. Lamintang. 16. b. UU No. UU (drt) No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. UU No. Hukum pidana yang tidak dikodifikasikan misalnya berbagai ketentuan pidana yang tersebar di luar KUHP. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Hukum pidana bagian khusus itu memuat/mengatur tentang Kejahatan-kejahatan dan Pelanggaran-pelanggaran. 5. UU (drt) No. dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi). 7 Tahun 1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi. Hukum pidana bagian umum ini memuat asas-asas umum sebagaimana yang diatur di dalam Buku I KUHP yang mengatur tentang Ketentuan Umum.A. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 4. 14 P.

1 Drt Tahun 1951. Hukum adat 15 Ibid. tidak ada hukum adat kebiasaan (gewoonterecht) dalam rangkaian hukum pidana. sedangkan hukum pidana khusus adalah hukum pidana yang dengan sengaja telah dibentuk untuk diberlakukan bagi orang-orang tertentu saja misalnya bagi anggota Angkatan Besenjata. Kanter dan S. ternyata masih dibuka jalan untuk memberlakukan delik adat. 17-19.A. walaupun dalam arti yang terbatas. Op.Y.Cit. Berpedoman pada Pasal 5 ayat 3 b Undang-undang No. ataupun merupakan hukum pidana yang mengatur tindak pidana tertentu saja misalnya tindak pidana fiskal. Menurut Wirjono.Dasar-Dasar Hukum Pidana 7 pada umumnya tidak tertulis. Contohnya adalah: Putusan pengadilan Negeri Poso tanggal 10 Juni 1971. Ini resminya menurut Pasal 1 KUHP. 15 6. 16 E. h. h. 11. mungkin sekali hal ini berpengaruh dalam menafsirkan pasal-pasal dari KUHP.R. Nomor: 14/Pid/1971 tentang tindak pidana adat Persetubuhan di luar . tetapi sekiranya di desadesa daerah pedalaman di Indonesia ada sisa-sisa dari peraturan kepidanaan yang berdasar atas kebiasaan dan yang secara konkrit..khusus bijzonder strafrecht) van Hattum dalam P.F. Lamintang menyebutkan bahwa hukum pidana umum adalah hukum pidana yang dengan sengaja telah dibentuk untuk diberlakukan bagi setiap orang (umum). Hukum pidana tertulis dan hukum pidana tidak tertulis 16 Hukum adat yang beraneka ragam di Indonesia masih diakui berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila. Sianturi.

Pasal 284 KUHP. Hukum pidana umum (algemeen strafrecht) dan hukum pidana lokal (plaatselijk strafrecht) Hukum pidana umum atau hukum pidana biasa ini juga disebut sebagai hukum pidana nasional. Dengan demikian sistim hukum pidana di Indonesia mengenal adanya hukum pidana tertulis sebagai diamanatkan di dalam Pasal 1 KUHP. 12. Tertuduh telah dinyatakan bersalah melakukan delik kesusilaan berdasarkan pasal 5 ayat 3 b Undangundang No. akan tetapi dengan tidak mengesampingkan asas legalitas dikenal juga hukum pidana tidak tertulis sebagai akibat dari masih diakuinya hukum yang hidup di dalam masyarakat yaitu yang berupa hukum adat. Duduk perkara pada garis besarnya ialah. 1 Drt Tahun 1951 jo. bahwa terdakwa dalam tahun 1969-1970 di kampung Lawanga kecamatan Poso kota secara berturut-turut telah melakukan persetubuhan di luar kawin dengan E yang akhirnya menyebabkan E tersebut hamil dan melahirkan anak. Kabupaten maupun Pemerintahan Kota. 17 Hukum pidana umum adalah hukum pidana yang dibentuk oleh Pemerintah Negara Pusat yang berlaku bagi subjek hukum yang berada dan berbuat melanggar larangan hukum pidana di seluruh wilayah hukum negara. Hukum pidana lokal dapat dijumpai di dalam Peraturan Daerah baik tingkat Propinsi. 7. Sedangkan hukum pidana lokal adalah hukum pidana yang dibuat oleh Pemerintah Daerah yang berlaku bagi subjek hukum yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana di dalam wilayah hukum pemerintahan daerah tersebut. h.kawin. 18 . 18 17 Ibid.

Adami Chazawi.Cit. hukum pidana masih juga dapat dibedakan antara hukum pidana nasional dan hukum pidana internasional (hukum pidana supranasional). 13. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. tawanan perang. Hukum pidana internasional adalah hukum pidana yang dibuat. Pompe menyatakan bahwa yang dititikberatkan oleh hukum . h. Op. maka hubungan hukum yang ada dititikberatkan kepada kepentingan umum. pemeriksaan dan penyitaan pemerintah daerah berikut alat-alat kekuasaannya terikat kepada ketentuan yang diatur di dalam UU No. Dalam melakukan penahanan. seperti: a.. penduduk sipil dalam peperangan. b.Bab I. Hukum pidana internasional yang bersumber pada Persetujuan London (8-8-1945) yang menjadi dasar bagi Mahkamah Militer Internasional di Neurenberg untuk mengadili penjahat-penjahat perang Jerman dalam perang dunia kedua. dengan fungsi sebagai ketentuan yang harus ditaati oleh setiap orang di dalam pergaulan hidup bermasyarakat dan untuk menjamin ketertiban hukum. Konvensi Palang Merah 1949 yang berisi antara lain mengenai korban perang yang luka dan sakit di darat dan di laut. diakui dan diberlakukan oleh banyak atau semua negara di dunia yang didasarkan pada suatu konvensi internasional. SIFAT HUKUM PIDANA Hukum pidana mempunyai dua unsur pokok yang berupa norma dan sanksi. 19 Selain itu atas dasar wilayah berlakunya hukum. Hukum Pidana 8 Penjatuhan hukuman seperti yang diancamkan terhadap setiap pelanggar dalam peraturan daerah itu secara mutlak harus dilakukan oleh pengadilan. 20 C. berlaku dan menjadi hukum bangsa-bangsa yang harus diakui dan diberlakukan oleh bangsa-bangsa di dunia.

(Jakarta: Ghalia Indonesia. Tetapi ini tidak berarti bahwa hukum pidana tidak memperhatikan kepentingan orang pribadi.. Hubungan hukum yang ditimbulkan oleh perbuatan orang dan menimbulkan pula dijatuhkannya pidana.A. 12. dan penuntutannya tidak tergantung kepada mereka yang dirugikan oleh perbuatan yang dapat dipidana itu. Op. Adalah tugas hukum pidana untuk memungkinkan manusia hidup bersama.F. melainkan hubungan itu bersifat subordinasi dari yang bersalah terhadap pemerintah. Asas-asas Hukum Pidana.pidana dalam pertumbuhannya pada waktu sekarang adalah kepentingan umum. yang ditugaskan untuk memperhatikan kepentingan rakyat. 21 Bambang Poernomo. h.Cit.Dasar-Dasar Hukum Pidana 9 Hazewinkel-Suringa tegas mengatakan bahwa hukum pidana itu termasuk hukum publik. Di situ terjadi hubungan antara pelanggar hukum publik hukum pidana dalam hal dapatnya dipidana (strafbaarheid) suatu perbuatan pada umumnya tetap ada walaupun dilakukan dengan persetujuan orang yang menjadi tujuan perbuatan itu. di situ bukanlah suatu hubungan koordinasi antara yang bersalah dengan yang dirugikan. Orang pribadi itu dapat menjadi pihak penuntut perdata dalam perkara pidana khususnya dalam hal ganti kerugian. 14. h. kepentingan masyarakat. 1985). Op.Cit.37. h. 21 19 P.. 22 Pemangku ius puniendi ialah negara sebagai perwakilan masyarakat hukum. . Lamintang. 20 Adami Chazawi.

Penuntutan menurut hukum pidana itu tidak digantungkan kepada keinginan dari orang yang telah dirugikan oleh suatu tindak pidana yang telah dilakukan oleh orang lain.Cit. Op. 8. Mengatur hubungan antara kepentingan negara atau masyarakat dengan orang perseorangan. Biaya penjatuhan pidana dipikul oleh negara sedangkan pidana denda dan perampasan barang menjadi menjadi penghasilan negara. Op. 25 22 Hukum publik adalah hukum yang mengatur kepentingan publik (masyarakat umum).23 Sifat hukum pidana sebagai hukum publik antara lain dapat diketahui berdasarkan: 1. 25 .Cit. Hak subjektif penguasa ditimbulkan oleh peraturan-peraturan hukum pidana objektif atau hukum pidana positif. 24 P. walaupun tindakannya itu telah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari korbannya. Sianturi. 2.. Lamintang. Op. maka akan ditemukan ciri-ciri hukum publik yaitu: 1.F. Penuntutan seseorang (yang telah melakukan suatu tindakan yang terlarang) tidak tergantung kepada perseorangan (yang dirugikan).. h. 4. Lihat E.Cit. melainkan pada umumnya negara/penguasa wajib menuntut seseorang tersebut. Kedudukan penguasa negara adalah lebih tinggi dari orang perseorangan.A. 23. Kanter dan S. h. Dengan perkataan lain orang perseorangan disubordinasikan kepada penguasa.. h. 23 Andi Hamzah. 13. Suatu tindak pidana itu tetap ada. Apabila diperinci sifat hukum publik dalam hubungannya dengan hukum pidana.R. 2.Y. 3. 24 3.

27 . hal ini menunjukkan bahwa hukum pidana tidak bersifat hukum publik. ada beberapa tindak pidana yang hanya dapat diajukan ke pengadilan atas pengaduan (klacht) dari orang yang diganggu kepentingannya. 26 Namun ada beberapa sarjana yang tidak sependapat bahwa hukum pidana bersifat hukum publik. misalnya tindak pidana penghinaan dan perzinahan.Cit. penuntutan seorang penipu tidak tergantung kepada kehendak orang yang ditipu. yaitu dalam hal penerapan hukum pidana pada hakekatnya tidak tergantung kepada kehendak seorang individu. Op. h. seperti Van Kan. sanksi tersebut sudah tidak seimbang lagi. Hanya pada suatu tingkatan tertentu. Sifat ini dapat dilihat pada hukum pidana. Hukum Pidana 10 Menurut Wirjono Prodjodikoro. hukum pidana dapat dinyatakan merupakan hukum publik. Para ahli ini berpendapat. Paul Scholten. sehingga dibutuhkan sanksi yang lebih tegas dan lebih berat yang disebut sebagai sanksi (hukuman) pidana. yang in concreto langsung dirugikan. melainkan kewenangan instansi Kejaksaan sebagai alat pemerintah. Hanya saja sebagai kekecualian. Lemaire dan Utrecht.Andi Hamzah. bahwa hukum pada pokoknya tidak mengadakan kaedah-kaidah (norma) baru.Bab I. Logeman. melainkan pada kepentingan-kepentingan umum. melainkan norma hukum pidana itu telah ada sebelumnya pada bagian hukum lainnya dan juga sudah ada sanksinya. melainkan diserahkan kepada pemerintah sebagai wakil dari kepentinan umum. Hal ini didasarkan kepada hubungan hukum yang diatur di dalam hukum pidana titik beratnya tidak berada pada kepentingan individu. Misalnya dalam hal terjadinya tindak pidana penipuan. 6. bahwa justru tidak selalu penguasa wajib menuntut suatu tindak pidana tertentu karena dipersyaratkan harus ada "pengaduan" dari pihak yang dirugikan atau yang terkena tindak pidana.. Alasan lainnya yang dikemukakan untuk memperkuat pendapat mereka ialah.

25. 28 Bambang Poernomo. Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia. 11. h. Kanter dan S. FUNGSI/TUJUAN HUKUM PIDANA Tirtaamidjaya menyatakan maksud diadakannya hukum pidana adalah untuk melindungi masyarakat. Sianturi. yaitu: 1. sehingga ia tidak bisa berbuat sekehendak hatinya. 28 Secara umum hukum pidana berfungsi untuk mengatur kehidupan masyarakat agar dapat tercipta dan terpeliharanya ketertiban umum. h. h.R.Cit.D.Dasar-Dasar Hukum Pidana 11 dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut maka hukum memberikan aturan-aturan yang membatasi perbuatan manusia. Di dalam tulisan itu menuntut agar hukum pidana harus diatur dengan undang-undang yang harus tertulis. Peletak dasarnya adalah Markies van Beccaria yang menulis tentang "Dei delitte edelle pene" (1764).Y. yang dapat menimbulkan kerugian atau mengganggu kepentingan orang lain... Pada zaman . Op. Op.Cit. (Bandung: Eresco. 27 E. Manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidupannya yang berbeda-beda terkadang mengalami pertentangan antara satu dengan yang lainnya. Agar tidak menimbulkan kerugian dan mengganggu kepentingan orang lain 26 Wirjono Prodjodikoro. Aliran klasik Menurut aliran klasik (de klassieke school/de klassieke richting) tujuan susunan hukum pidana itu untuk melindungi individu dari kekuasaan penguasa (Negara). 23. Berkenaan dengan tujuan hukum pidana (Strafrechtscholen) dikenal dua aliran tujuan dibentuknya peraturan hukum pidana. 1969).

Rousseau dan Montesquieu turut menuntut agar kekuasaan Raja dan penguasa-penguasanya agar dibatasi oleh hukum tertulis atau undang-undang. yang ternyata tuntutan untuk memeriksa kembali perkara Calas itu dikabulkan. Masyarakat tidak puas. Dengan demikian diharapkan akan terjamin hak-hak 29 Bambang Poernomo. yang menganggap Jean Calas tidak bersalah membunuh anaknya. Penduduk tidak tahu pasti perbuatan mana yang dilarang dan beratnya pidana yang diancamkan karena hukumnya tidak tertulis. Hukum Pidana . hukum pidana yang ada sebagian besar tidak tertulis dan di samping itu kekuasaan Raja Absolute dapat menyelenggarakan pengadilan yang sewenangwenang dengan menetapkan hukum menurut perasaan dari hakim sendiri. 24.sebelum pengaruh tulisan Beccaria itu. Hasil pemeriksaan ulang menyatakan Mauriac mati dengan bunuh diri. h. Op. apa ancaman hukumannya dan lain sebagainya. 29 Oleh karenanya mereka menghendaki agar diadakan suatu peraturan tertulis supaya setiap orang mengetahui tindakan-tindakan mana yang terlarang atau tidak. sehingga Voltaire mengecam putusan pengadilan itu. sampai terjadi peristiwa yang menggemparkan rakyat seperti di Perancis dengan kasus Jean Calas te Toulouse (1762) yang dituduh membunuh anaknya sendiri bernama Mauriac Antoine Calas.. dan selanjutnya pemuka-pemuka masyarakat seperti J. Semua peristiwa yang diabadikan itu adalah usaha untuk melindungi individu guna kepentingan hukum perseorangan. Proses pengadilan berjalan tidak baik.Bab I. Di dalam pemeriksaan Calas tetap tidak mengaku dan oleh hakim tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana mati dan pelaksanaannya dengan guillotine. Masyarakat menjadi gempar karena putusan itu.Cit.J. karena anaknya itu terdapat mati di rumah ayahnya.

12 manusia dan kepentingan hukum perseorangan. Fungsi yang umum . Sejalan dengan tujuan tersebut. akan melahirkan kepastian hukum serta dapat menghindarkan masyarakat dari kesewenang-wenangan. Peraturan tertulis itu akan menjadi pedoman bagi rakyat. perkembangan hukum pidana harus memperhatikan kejahatan serta keadaan penjahat. penjatuhan pidana dikenakan tanpa memperhatikan keadaan pribadi pembuat pelanggaran hukum. 30 Setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang (individu) yang oleh undang-undang hukum pidana dilarang dan diancam dengan pidana harus dijatuhkan pidana. baik bagi orang yang melakukan kejahatan maupun bagi masyarakat sendiri (politik kriminil). Pengaruh kriminologi sebagai bagian dari social science menimbulkan suatu aliran baru yang menganggap bahwa tujuan hukum pidana adalah untuk memberantas kejahatan agar terlindungi kepentingan hukum masyarakat. mengenai sebab-sebab yang mendorong dilakukan kejahatan (etiologi kriminil) serta pidana yang bermanfaat. Menurut aliran klasik. 32 Kriminologi yang objek penelitiannya antara lain adalah tingkah laku orang perseorangan dan atau masyarakat adalah salah satu ilmu yang memperkaya ilmu pengetahuan hukum pidana. 33 Berikut ini disebutkan pula beberapa pendapat yang dikemukakan tentang fungsi/tujuan hukum pidana: Menurut Sudarto fungsi hukum pidana itu dapat dibedakan sebagai berikut: 34 1. Aliran modern Aliran modern (de moderne school/de moderne richting) mengajarkan tujuan susunan hukum pidana itu untuk melindungi masyarakat terhadap kejahatan. Pengikut-pengikut ajaran ini menganggap bahwa tujuan hukum pidana adalah untuk menjamin kepentingan hukum individu. 31 2.

Cit. Kanter dan S.R.Cit. bahwa sebagai alat social control fungsi hukum .Cit. Sianturi. 33 E. Op.Y.. 25. Op. h.Hukum pidana merupakan salah satu bagian dari hukum. h. Op. Dalam hal ini perlu diingat pula. 11-12. 56. Op. oleh karena itu fungsi hukum pidana juga sama dengan fungsi hukum pada umumnya. namun jika terjadi pelanggaran terhadap larangan dan perintahnya justru mengenakan perlukaan (menyakiti) kepentingan (benda) hukum si pelanggar.Cit. harta benda. yang bermakna bahwa hukum pidana bertujuan untuk melindungi kepentingan-kepentingan hukum (misalnya: nyawa. Fungsi yang khusus Fungsi khusus bagi hukum pidana adalah untuk melindungi kepentingan hukum terhadap perbuatan yang hendak memperkosanya (rechtsguterschutz) dengan sanksi yang berupa pidana yang sifatnya lebih tajam jika dibandingkan dengan sanksi yang terdapat pada cabang hukum lainnya. Dapat dikatakan bahwa hukum pidana itu memberi aturan-aturan untuk menaggulangi perbuatan jahat. Sianturi. 31 Bambang Poernomo. h.Y. kemerdekaan.. yaitu untuk mengatur hidup kemasyarakatan atau untuk menyelenggarakan tata dalam masyarakat. Kanter dan S.. 34 Sudarto.R. 56. h.. kehormatan).Dasar-Dasar Hukum Pidana 13 2. 30 E. 32 Ibid. Dalam sanksi pidana itu terdapat suatu tragic (suatu yang menyedihkan) sehingga hukum pidana dikatakan sebagai „mengiris dagingnya sendiri‟ atau sebagai „pedang bermata dua‟.

kepentingan hukum terhadap rasa susila. Hukum Pidana 14 b. h. kepentingan hukum akan hak milik benda. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Adami Chazawi menyebutkan bahwa. Kepentingan hukum perorangan (individuale belangen). dan reaksi hukum pidana harus setimpal secara layak atau proporsional dengan apa yang sesungguhnya diperbuat oleh pelaku tindak pidana. Kepentingan hukum masyarakat (sociale of maatschappelijke belangen). misalnya kepentingan hukum terhadap keamanan dan ketertiban umum. misalnya kepentingan hukum terhadap hak hidup (nyawa). sebagai bagian dari hukum publik hukum pidana berfungsi: 1. 35 Berkaitan dengan hal ini menurut Jan Remmelink. yaitu: a. apabila mekanisme penegakan hukum lainnya yang lebih ringan telah tidak berdaya guna atau sudah sebelumnya dipandang tidak cocok. kepentingan hukum terhadap harga diri dan nama baik. Melindungi kepentingan hukum dari perbuatan atau perbuatanperbuatan yang menyerang atau memperkosa kepentingan hukum tersebut Kepentingan hukum yang wajib dilindungi itu ada tiga macam. pertama-tama nyata. dan lain sebagainya. mengenai bagaimana cara pidana itu dikenakan. 15. kepentingan hukum atas tubuh.pidana adalah subsidair.Bab I. bahwa sanksi yang tajam pada asasnya hanya akan dijatuhkan. Terhadap tindak pidana harus dimunculkan reaksi yang adil. Lihat Jan Remmelink. ketertiban berlalu-lintas di harus . 2003). Hukum Pidana. 35 artinya hukum pidana hendaknya baru diadakan (dipergunakan) apabila usaha-usaha lain kurang memadai.

agar negara dapat menjalankan fungsi menegakkan dan melindungi kepentingan hukum yang dilindungi oleh hukum pidana dengan sebaik-baiknya. dan sebagainya. negara bisa bertindak sewenang-wenang jika tidak diatur dan dibatasi sedemikian rupa. Memberi dasar legitimasi bagi negara dalam rangka negara menjalankan fungsi perlindungan atas berbagai kepentingan hukum Dalam mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi. Kepentingan hukum negara (staatsbelangen). sehingga pengaturan hak dan kewajiban negara mutlak diperlukan. Kekuasaan yang sangat besar ini. 38 Kekuasaan negara yang sangat besar dalam rangka menegakkan dan melindungi kepentingan hukum itu dapat membahayakan dan menjadi bumerang bagi warganya. kepentingan hukum terhadap martabat kepala negara dan wakilnya. tindakan yang justru melanggar kepentingan hukum pribadi yang mendasar bagi pihak yang bersangkutan. Menurut Jan Remmelink hukum pidana (seharusnya) ditujukan . penahanan. 37 3. misalnya dengan dilakukan penangkapan. kepentingan hukum terhadap negara-negara sahabat. yaitu kekuasaan yang berupa hak untuk menjalankan pidana dengan menjatuhkan pidana yang menyerang kepentingan hukum manusia atau warganya ini hanya dimiliki oleh negara dan diatur di dalam hukum pidana itu sendiri terutama di dalam hukum acara pidana.jalan raya. dan lain sebagainya. 36 2. Mengatur dan membatasi kekuasaan negara dalam rangka negara melaksanakan fungsi perlindungan atas kepentingan hukum. dilakukan oleh negara dengan tindakan-tindakan yang sangat tidak menyenangkan. c. misalnya kepentingan hukum terhadap keamanan dan keselamatan negara. pemeriksaan sampai kepada penjatuhan sanksi pidana kepada pelakunya.

karena seluruh bagian hukum menentukan peraturan untuk menegakkan norma-norma yang diakui oleh hukum. melindungi masyarakat hukum. 40 Van Bemmelen menyatakan. Jika norma-norma tidak diataati. h. Op. Manusia satu persatu di dalam masyarakat saling bergantung. Penjagaan tertib sosial ini untuk bagian terbesar sangat tergantung pada paksaan.Dasar-Dasar Hukum Pidana 15 norma-norma. h.. Akan tetapi dalam satu segi. melalui tertib hukum negara yang melengkapi penataan sosial. yaitu menilai tingkah laku para pelaku yang dapat dipidana.Cit. kadangkala yang berbentuk informal. Ini semua tidak dikatakan dengan melupakan bahwa penjatuhan pidana dalam prakteknya masih juga merupakan sarana kekuasaan negara yang tertajam yang dapat dikenakan kepada pelanggar. hukum pidana itu membentuk normanorma dan pengertian-pengertian yang diarahkan kepada tujuannya sendiri. misalnya perlakuan acuh tak acuh dan kehilangan status atau penghargaan sosial. 38 Ibid. kepentingan mereka dan relasi antar mereka ditentukan dan dilindungi oleh 36 Adami Chazawi. akan muncul sanksi. 37 Ibid. namun memiliki fungsi pelayanan ataupun fungsi sosial. bahwa hukum pidana itu sama saja dengan bagian lain dari hukum. dihaluskan. 16-17. sanksi (hukum). diperkuat dan dikenakan kepada pelanggar norma tersebut. 39 Menurut Van Bemmelen. 21. hukum pidana menyimpang dari bagian . h.untuk menegakkan tertib hukum. Menjadi jelas bahwa dalam pemahaman di atas hukum pidana bukan merupakan tujuan dalam dirinya sendiri. Namun jika menyangkut hal yang lebih penting. 20.

41 Selanjutnya Van Bemmelen menyatakan. tanpa dengan sengaja menimbulkan penderitaan.. namun ini tidak berarti bahwa ancaman pidana akan ditiadakan. 55. barulah hukum pidana diterapkan. Op. tetapi selalu harus mempertimbangkan untung dan rugi ancaman pidana itu. 40 J. ketenangan. Tujuan utama semua bagian hukum adalah menjaga ketertiban. walaupun juga pidana itu mempunyai fungsi yang lain dari pada menambah penderitaan.hukum lainnya.Bab I. Setiap ancaman pidana ada keberatannya. SUMBER HUKUM PIDANA Kebutuhan masyarakat atas hukum pidana semakin nyata dan . Hukum Pidana 1.Cit. h. van Bemmelen... 41 Andi Hamzah. h. Hukum Pidana 16 E. h. 42 39 Jan Remmelink. Ia menunjuk pidato Menteri Kehakiman Belanda Modderman yang antara lain menyatakan bahwa ancaman pidana itu harus tetap merupakan suatu ultimum remidium. 1979). 10. 14–15. dan harus menjaga jangan sampai terjadi obat yang diberikan lebih jahat daripada penyakit. 9 -10. artinya kalau bagian lain dari hukum itu sudah tidak cukup untuk menegakkan norma-norma yang diakui oleh hukum.Cit. kesejahteraan dan kedamaian dalam masyarakat. yaitu dalam hukum pidana dibicarakan soal penambahan penderitaan dengan sengaja dalam bentuk pidana. Sedapat mungkin dibatasi. (Bandung: Binacipta. 42 Ibid. bahwa hukum pidana itu merupakan ultimum remidium (obat terakhir). Op. h.M.

Pasal 1 berbunyi: “Dengan menyimpang seperlunya dari Peraturan Presiden RI .v. ini merupakan copie (turunan) dari Wetboek van Strafrecht Negeri Belanda. Sumber utama hukum pidana Indonesia adalah hukum yang tertulis Induk peraturan hukum pidana positif adalah KUHP. disebut dengan sumber hukum dalam arti formil. Negara-negara yang menganut sistem hukum Anglo-Saxon hampir seluruhnya tidak mengenal hukum pidana dalam bentuk kodifikasi dan hanya sebagian kecil negara-negara itu yang mempunyai kodifikasi hukum pidana. KUHP atau W. akan tetapi asas-asas dan dasar filsafatnya tetap sama.v. Namun hal ini tidak berarti hukum pidana yang ada di setiap negara di dunia. yang nama aslinya adalah Wetboek van Strafrecht voor nederlandsch indie (W. sebuah Titah Raja (Koninklijk Besluit) tanggal 15 Oktober 1915 No.S).I. 43 Sumber hukum merupakan asal atau tempat untuk mencari dan menemukan hukum. 33 dan mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 1918. Yogyakarta). Tempat untuk menemukan hukum. KUHP yang sekarang berlaku di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17-8-1945 mendapat perubahan-perubahan yang penting berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1942 (Undang-undang Pemerintah RI.S. Menurut Sudarto sumber hukum pidana Indonesia adalah sebagai berikut: 44 1. para ahli hukum pidana telah memikirkan agar hukum pidana dapat “pasti” dan “adil” sehingga timbullah bentuk-bentuk hukum pidana yang dirumuskan dalam undang-undang dan atau kitab undang-undang (kodifikasi). melainkan diadakan penyimpangan-penyimpangan menurut kebutuhan dan keadaan tanah jajahan Hindia Belanda dulu.v. berbentuk undang-undang dan kodifikasi.N. yang selesai dibuat tahun 1881 dan mulai berlaku pada tahun 1886 tidak seratus persen sama.untuk keperluan itu.

bahwa peraturan hukum pidana yang sekarang berlaku ialah peraturan-peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 1942”. setelah mengungsi selama zaman pendudukan Jepang (1942-1945) juga mengadakan perubahan-perubahan terhadap W. Sudah tentu perubahan-perubahan yang dilakukan oleh kedua pemerintahan yang saling bermusuhan itu tidak sama. 44 Sudarto.Cit. Op.I. 15 -19.v. 1 Tahun 1946 itu berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia.Cit. 22. KUHP itu merupakan kodifikasi dari hukum pidana dan berlaku untuk semua golongan penduduk.S. 135 tentang ketentuan-ketentuan sementara yang luar biasa mengenai hukum pidana Pasal 570.tertanggal 10 Oktober 1945 No. sehingga hal ini seolah-olah atau pada hakekatnya telah menimbulkan dua buah KUHP yang masing-masing mempunyai ruang berlakunya sendiri-sendiri. dengan demikian di dalam lapangan hukum pidana telah ada unifikasi. Op.. 73 Tahun 1958 (L.N. 127) yang antara lain menyatakan bahwa UU R. yaitu peraturan-peraturan pidana yang .Dasar-Dasar Hukum Pidana 17 Sementara itu Pemerintah Hindia Belanda yang pada tahun 1945 kembali lagi ke Indonesia. Dengan demikian perubahan-perubahan yang diadakan oleh Pemerintah Belanda sesudah tanggal 8 Maret 1942 dianggap tidak ada. Sumber hukum pidana yang tertulis lainnya adalah peraturan-peraturan pidana yang diatur di luar KUHP. No. misalnya dengan Staatblad 1945 No. (KUHP). Ini berarti bahwa teks resmi (yang sah) untuk KUHP kita adalah Bahasa Belanda.. h.N. maka dikeluarkan UU No. Jadi boleh dikatakan ada dualisme dalam KUHP (peraturan hukum pidana). 43 Bambang Poernomo.I. v. 2 menetapkan. 1958 No. Guna melenyapkan keadaan yang ganjil ini. h.

Dalam menetapkan sumber hukum atau dasar patut dipidananya suatu perbuatan. 1951-9) Pasal 5 ayat 3 sub b. RUU ini pada tahun 1881 disahkan menjadi UU dan pada tanggal 1 September 1886 mulai berlaku. Dengan masih berlakunya hukum pidana adat (meskipun untuk orang dan daerah tertentu saja) maka sebenarnya dalam hukum pidana pun masih ada dualisme.N.s.S. Belanda tahun 1886 dapat digunakan pula untuk memperoleh penjelasan dari pasal-pasal yang tersebut di dalam KUHP yang sekarang berlaku. Konsep KUHP Baru bertolak dari pendirian bahwa sumber hukum yang utama adalah undang-undang (hukum tertulis). adalah penjelasan atas rencana undang-undang pidana. 3. Jadi bertolak dari asas legalitas dalam pengertian yang formal.v. Hal ini . masih disebut-sebut dalam pembicaraan KUHP karena KUHP ini adalah sebutan lain dari W. Namun harus disadari bahwa hukum pidana tertulis tetap mempunyai peranan yang utama sebagai sumber hukum.v.T.v. Hukum pidana adat Di daerah-daerah tertentu dan untuk orang-orang tertentu hukum pidana yang tidak tertulis juga dapat menjadi sumber hukum pidana. Hindia Belanda (W.tidak dikodifikasikan. yang tersebar dalam peraturan perundangundangan hukum pidana lainnya.v. hal ini didasarkan kepada Undang-undang Darurat No.) ini yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1918 itu adalah copy dari W. Memorie van Toelichting (Memori Penjelasan) M. Oleh karena itu M.v.v. 2.S. 1 Tahun 1951 (L. Hal ini sesuai dengan asas legalitas yang tercantum dalam Pasal 1 KUHP.I.v.S. M.N. untuk Hindia Belanda.T. Belanda tahun 1886. W. yang diserahkan oleh Menteri Kehakiman Belanda bersama Bab I. dari W.v.S. Hukum Pidana 18 dengan Rencana Undang-undang itu kepada Parlemen Belanda.T. Hukum adat yang masih hidup sebagai delik adat masih dimungkinkan menjadi salah satu sumber hukum pidana.

2008). di samping sumber hukum tertulis (UU) sebagai kriteria/patokan formal yang utama. kecuali perbuatan yang dilakukan telah ditetapkan sebagai tindak pidana dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku pada saat perbuatan itu dilakukan. (Perkembagan Penyusunan Konsep KUHP Baru). (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak mengurangi berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat yang menentukan bahwa seseorang patut dipidana walaupun perbuatan tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan. (4) Berlakunya hukum yang hidup dalam masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sepanjang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan/atau prinsip-prinsip hukum umum yang diakui oleh masyarakat bangsa-bangsa. Berlakunya hukum yang hidup di dalam masyarakat itu hanya untuk delik-delik yang tidak ada bandingnya (persamaannya) atau tidak telah diatur di dalam undang-undang. 46 Barda Nawawi Arief. Dengan demikian. (2) Dalam menetapkan adanya tindak pidana dilarang menggunakan analogi. (Jakarta: Kencana. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. Konsep juga masih memberi tempat kepada sumber hukum tidak tertulis yang hidup di dalam masyarakat sebagai dasar menetapkan patut dipidananya suatu perbuatan. . Konsep memperluas perumusannya secara materiil dengan menegaskan bahwa ketentuan dalam Pasal 1 ayat (1) itu tidak mengurangi berlakunya "hukum yang hidup" di dalam masyarakat. Namun berbeda dengan asas legalitas yang dirumuskan di dalam KUHP (WvS) selama ini. 46 45 Pasal 1 Konsep KUHP Baru berbunyi: (1) Tiada seorang pun dapat dipidana atau dikenakan tindakan.ditegaskan dalam Pasal 1 45 ayat (1) Konsep.

Dalam hal ini hakim dapat menetapkan sanksi yang berupa “Pemenuhan Kewajiban Adat” setempat yang harus dilaksanakan oleh pembuat tindak pidana.Dasar-Dasar Hukum Pidana 19 Diakuinya tindak pidana atas dasar hukum yang hidup dalam masyarakat atau yang sebelumnya dikenal sebagai tindak pidana adat adalah untuk lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat. untuk memberikan dasar hukum yang mantap mengenai berlakunya hukum pidana adat. masih terdapat ketentuan-ketentuan hukum yang tidak tertulis. yang hidup dan diakui sebagai hukum di daerah yang bersangkutan. yang menentukan bahwa pelanggaran atas hukum itu patut dipidana. 47 Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa menurut Konsep KUHP Baru sumber hukum pidana itu adalah sumber hukum tertulis (undang-undang) dan sumber hukum tidak tertulis yang hidup di masyarakat. bahwa embrio atau cikalbakal dari pokok pemikiran tetap diakuinya eksistensi/berlakunya hukum tidak tertulis yang hidup di dalam masyarakat sebagai salah satu sumber hukum pidana itu sebenarnya sudah cukup lama dan tersebar di beberapa produk legislatif. Ketentuan ini merupakan pengecualian dari asas bahwa ketentuan pidana diatur dalam peraturan perundang-undangan. antara lain dapat dilihat sebagai berikut: . maka hal tersebut mendapat pengaturan secara tegas dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana ini. Keadaan seperti ini tidak akan menggoyahkan dan tetap menjamin pelaksanaan asas legalitas serta larangan analogi yang dianut di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.h. Diakuinya tindak pidana adat tersebut untuk lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat tertentu. Adalah suatu kenyataan bahwa di beberapa daerah di tanah air. Penjelasan Pasal 1 ayat (3) Konsep KUHP Baru menyebutkan. 73-74. Hal ini berarti bahwa standar. nilai dan norma yang hidup dalam masyarakat setempat masih tetap dilindungi untuk lebih memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat tertentu. Barda Nawawi Arief menyebutkan.

UU No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman Pasal 16 ayat (1): Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa.. 1 Drt..… Bahwa." 2. maka dianggap diancam dengan hukuman yang tidak lebih dari tiga bulan penjara dan/atau denda lima ratus rupiah. Pasal. dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas.. memuat pula pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Pasal 5 ayat (3) sub b Undang-Undang No. 1951 " . melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya... 75. bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan pidana...48 1.. terdakwa dapat dikenakan hukuman pengganti setinggi 10 tahun penjara.Cit... Hukum Pidana 20 maka…. Pasal 25 ayat (1): Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut..Bab I. Op. akan tetapi tiada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana Sipil. tidak selaras lagi dengan zaman senantiasa diganti seperti tersebut di atas. 48 Barda Nawawi Arief. 47 Penjelasan Buku I angka 3 Konsep KUHP Baru Tahun 2006/2007. bilamana hukuman adat yang dijatuhkan itu menurut pikiran hakim melampaui hukuman kurungan atau denda yang dimaksud di atas. yaitu sebagai hukuman pengganti bilamana hukuman adat yang dijatuhkan tidak diikuti oleh pihak yang terhukum….. mengadili. h. dengan pengertian bahwa hukuman adat yang…. 28 ayat (1): .

" Dalam pasal tersebut digunakan istilah "aturan hukum" (RECHT) yang tentunya lebih luas pengertiannya dari sekadar aturan "undangundang" (WET). mengikuti. tetapi hanya melanjutkan dan mengimplementasikan kebijakan/ide yang sudah ada. Selanjutnya disebutkan. 49 .karena dapat berbentuk "hukum tertulis" maupun "hukum tidak tertulis". bahwa dengan bertolak dari kebijakan perundang-undangan nasional seperti dikemukakan di atas (Undangundang No. dapat dikatakan bahwa perluasan asas legalitas secara materiil di dalam konsep sebenarnya bukanlah hal baru.Hakim wajib menggali. dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat. 1 /Drt/ 1951 dan Undang-undang Kekuasaan Kehakiman). Bahkan kebijakan/ ide perumusan asas legalitas secara material pernah pula dirumuskan sebagai "kebijakan konstitusional" di dalam Pasal 14 ayat (2) UUDS'50 yang berbunyi: "Tiada seorang jua pun boleh dituntut untuk dihukum atau dijatuhi hukuman. kecuali karena aturan hukum yang sudah ada dan berlaku terhadapnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful