Management of Kapuas River Basin (West Kalimantan

)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Kronologi Proses Penapisan KLHS

Proses penapisan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Provinsi Kalimantan Barat dilaksanakan sejak pertengahan bulan Mei tahun 2009, pada waktu Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri bersama Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menyelenggarakan KLHS Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kubu Raya. Di dalam beberapa pertemuan penapisan, terungkap beberapa masalah yang menjadi tantangan bagi pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Masyarakatnya, antara lain degradasi ekosistem hutan, pertambangan tanpa izin, pengembangan kawasan pesisir, pengelolaan kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, kendala pembangunan kawasan perbatasan dan pengelolaan DAS Kapuas. Tata letak kawasan hulu sungai ini di bagian tengah pulau Kalimantan terkait dengan keberhasilan penyelamatan ekosistem hutan hujan tropis yang dirancang di dalam satu konsep bersama, yakni “The Hearts Of Borneo” (HOB) yang disepakati oleh tiga negara. Sungai Kapuas (1.143 km) di Kalbar menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat, merupakan satu dari tiga sungai terbesar yang membentuk kerangka pulau Kalimantan, sangat berperan di dalam keberlanjutan lingkungan hidup dan manusia serta mahluk hidup lain di dalam daerah aliran sungai ini. Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan perubahan yang berlangsung di berbagai bidang kehidupan masyarakat menimbulkan dampak terhadap pola pemanfaatan ruang dan tanah, yang pada tingkat selanjutnya mempengaruhi badan sungai Kapuas dan kualitas fisik-kimia air sungai. Penurunan kualitas air sungai dan pendangkalan serta variabilitas volume aliran air sungai secara langsung mempengaruhi berbagai kegiatan pemanfaatan sungai, sejak hulu hingga muara. Hal inilah yang menjadi pertimbangan untuk menyelenggarakan KLHS DAS Kapuas. 1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud kegiatan adalah menyelenggarakan KLHS Daerah Aliran Sungai Kapuas secara berjenjang, sekaligus oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama Pemerintah Kabupaten/ Kota di dalam kawasan DAS, untuk menelaah implikasi kebijakan, rencana dan program pemanfaatan ruang dan sumberdaya alam (tingkat provinsi) terhadap lingkungan fisik alami, hayati sosial dan ekonomi, dan sekaligus menelaah lebih spesifik wujud dampak tersebut dari perspektif Pemerintah Kabupaten/ Kota yang selanjutnya pada tahun anggaran berikutnya digunakan sebagai arahan perbaikan kebijakan, rencana dan program masing-masing kabupaten/kota. Tujuan utama penyelenggaraan KLHS ini adalah: (1) Tersajinya rekomendasi penyempurnaan rumusan kebijakan, rencana tata ruang dan rencana sektor-sektor pembangunan yang dapat digunakan untuk memperbaiki Draft Revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat dan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Kalimantan Barat. (2) Diperolehnya gambaran penurunan kualitas lingkungan DAS Kapuas, rekomendasi mitigasi dan alternatif pelaksanaan program oleh staf Pemerintah Kabupaten/Kota di dalam Tim KLHS dan memperjelas dimensinya dari perspektif dan data kabupaten/ Kota. Pada waktunya materi ini digunakan sebagai arahan di dalam penyusunan KLHS RTRW dan/ atau RPJM masing-masing Kabupaten/Kota. (3) Diintegrasikannya rekomendasi KLHS yang relevan oleh Dinas-Dinas Teknis Provinsi Kalimantan Barat yang terkait langsung dengan pengelolaan DAS Kapuas, sebagai bahan penyempurnaan Renstra SKPD. (4) Terjalinnya interaksi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dengan Pemerintah Kabupaten/Kota bersama unsur pemangku lintas kepentingan (stakeholders) non pemerintah. 1.3. Cara Pelaksanaan

Pelaksanaan KLHS DAS Kapuas Provinsi Kalimantan Barat dilakukan melalui proses fasilitasi yang dilakukan oleh Konsultan KLHS Ditjen Bangda Kementerian Dalam Negeri kerjasama dengan ESP-2 Danida terhadap Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat. Fasilitasi ini dilaksanakan milai proses penguatan dan penyamaan persepsi tentang KLHS, pelaksanaan serangkaian FGD dan Workshop, seminar akhir sampai pada proses penyusunan dokumen KLHS DAS Kapuas yang dilaksanakan Oleh Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat. Secara sekematik cara pelaksanaan KLHS DAS Kapuas dapat digambar sebagai berikut: Gambar 1.1. Cara pelaksanaan KLHS DAS Kapuas

1.4. (1) (2)

Lingkup Kegiatan Penapisan Seminar Awal untuk mendengar paparan garis besar kebijakan dan rencana pembangunan wilayah Provinsi Kalimantan Barat dan melakukan pelingkupan dan pemusatan (scoping and focusing), yakni membahas dan mensepakati isu strategis KLHS DAS Kapuas (Tim KLHS bersama unsur masyarakat) dari perspektif Provinsi Kalimantan Barat. Pemantapan hasil pelingkupan dan pemusatan isu strategis. Pengumpulan data dan informasi melalui berbagai kegiatan, terutama desk studi dokumendokumen perencanaan, pengumpulan data instan-sional dan pembacaan peta tematik serta pembuatan peta kerja. Diskusi Tim KLHS untuk penyederhanaan dan pengolahan data mengacu ke materi kebijakan, rencana dan program Provinsi Kalimantan Barat serta isu strategis. Telaah individual sesuai pembagian tugas yang didampingi oleh tenaga ahli KLHS untuk menelaah konsistensi rumusan kebijakan dengan rumusan rencana serta rangkaian program, dan penerapan prinsip-prinsip KLHS ke dalam rumusan kebijakan, rencana dan program tersebut.

Penyelenggaran KLHS ini diupayakan memenuhi protokol KLHS yang umum, mencakup:

(3) (4)

(5) (6)

2. Adapun langkah-langkah stakeholders analisis adalah dengan melakukan FGD sejak Bintek KLHS dan Workshop 1 KLHS DAS Kapuas Provinsi Kalimantan Barat. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Pendekatan partisipatif dimaksudkan disini adalah suatu proses yang melibatkan pemangku kepentingan termasuk masyarakat dalam proses pengambilan keputusan baik melalui dialog. Pelingkupan merupakan proses yang sistematis dan terbuka untuk mengidentifikasi isu-isu penting atau konsekuensi lingkungan hidup yang akan timbul di DAS Kapuas berkenaan dengan aktivitas yang telah ada di dalam wilayah DAS Kapuas. Kinerja layanan jasa ekosistem DAS Kapuas dan Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi masyarakat sekitar muara sungai Kapuas terhadap perubahan iklim. Pelingkupan merupakan tahapan sangat penting setelah penapisan dalam proses penyusunan KLHS DAS Kapuas. pelaksana. Rekomendasi implikasi kebijakan yang dihasilkan berikutnya juga menjadi tidak tepat. 1. sebagai prasyarat untuk melakukan kontrol atau pengawasan terhadap imlementasi hasil-hasil KLHS. salah sasaran. Berkat adanya pelingkupan ini pokok bahasan dokumen KLHS akan lebih difokuskan pada isu-isu atau konsekuensi lingkungan dimaksud. Kekeliruan dalam melingkup akan menyebabkan pelaksanaan KLHS menjadi tidak fokus. maka KLHS DAS Kapuas antara lain akan memuat: (1) (2) (3) Perkiraan mengenai dampak pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya alam terhadap lingkungan hidup dan risiko lingkungan. Ketentuan pada pasal 18 ayat (1) Undang-Undang No. nara sumber.5. Stakeholder mapping dilakukan pada semua institusi yang terlibat dalam pengelolaan DAS Kapuas baik pemerintah maupun non pemerintah. sejak pelaksanaan pembinaan teknis (Bintek) Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat telah diupayakan melakukan “stakeholders mapping”. Bentuk keterlibatan pemangku kepentingan tersebut berbeda-beda untuk setiap implementasi KLHS mulai dari sebagai sumber data.1.3. 1. (11) Seminar Akhir KLHS. Diskusi Terbatas (FGD) Tim KLHS dengan ahli (expert) untuk membahas hasil telaah/ analisis dan mitigasi dampak negatif. Tahapan ini sangat penting karena di tahap itulah dasar pemikiran dan lingkup kajian KLHS akan ditentukan. Pendekatan identifikasi Pemangku Lintas Kegiatan 1. Keterkaitan antara hak berpartisipasi dan hak mendapatkan informasi tentang kebijakan ini sudah sejalan dengan ketentuan yang diatur di dalam UU No. Metodologi Opsi Muatan KLHS DAS Kapuas Untuk memenuhi pasal 16 Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup. Prakiraan dan evaluasi dampak lingkungan yang dilakukannya menjadi kurang relevan dan kurang bermakna. untuk memastikan pengintegrasian hasil KLHS ke dalam dokumen perencanaan pembangunan wilayah. Rangkaian Workshop non pemerintah.5.5. fungsi dan kewenangan dalam pengelolaan semua aktivitas yang terdapat dalam wilayah DAS Kapuas. diskusi. Untuk memenuhi kebutuhan itu. 1.(7) (8) (9) Diskusi Tim KLHS untuk membahas hasil kerja individual. Juga sebagai pihak yang berhak mendapatkan informasi mengenai rencana atau kebijakan maupun hasil implementasi KLHS. pengawas hingga sebagai pihak yang mendapatkan dampak baik positif maupun negatif dari penerapan KLHS. untuk selanjutnya diidentifikasi KRP yang relevan dengan pengelolaan DAS Kapuas. Metode Pelingkupan dan Pemusatan Isu Strategis.5. maupun konsultasi publik. Indikator dan kriteria untuk identifikasi stakeholder adalah analisis peran. . untuk menjelaskan kepada stakeholders non pemerintah tentang hasil KLHS dan tindaklanjutnya. sebagai media pembahasan hasil-hasil telaah dengan wakil stakeholders (10) Pertemuan dengan Pimpinan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk menjelaskan proses dan hasil KLHS sebagai bahan pengambilan keputusan (making decision). 32 tahun 2009 menegaskan bahwa pelaksanaan KLHS menggunakan pendekatan partisipatif.

Pengumpulan data ini dilakukan oleh tim KLHS DAS Kapuas melalui koodinasi dengan para pihak (dinas/instansi pemerintah dan non pemerintah) dengan cara mendatangi langsung para pihak atau melalui browsing internet. Matrik dikembangkan dari informasi yang diperoleh dari tahap mengenal rona lngkungan hidup dan mengenal aktivitas kegiatan dalam DAS Kapuas. Selain itu. 1. terutama Renstra Dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. yakni : (a) prinsip keterkaitan.5. Rancangan Peraturan Presiden tentang RTR Pulau Kalimantan. Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah dan Dinas Perhubungan. Metode analisis isi dapat mengungkapkan konsistensi keterkaitan antar rumusan kebijakan baik vertikal maupun horizontal. dilakukan juga penelaahan prinsip-prinsip pengarusutamaan lingkungan hidup di dalam rumusan kebijakan. Informasi pelengkap yang dapat ditambahkan pada daftar (tabel) isu-isu strategis adalah: waktu terjadinya dampak. metode pelingkupan yang senantiasa digunakan adalah penyelenggaraan diskusi grup terfokus (focus grouop discussions). Urutan ini akan menjadi bermanfaat pada saat mengidentifikasi KRP sektor dan sub sektor mana saja yang perlu mendapatkan perhatian dalam telaahan KLHS. Dinas Pekerjaan Umum. data-data yang diperlukan untuk analisis. sumber data. 1. Metode Pengumpulan Data Instansional Langkah selanjutnya setelah proses pelingkupan isu-isu strategis KLHS DAS Kapuas Kalimantan Barat selesai dilakukan adalah melakukan pengumpulan data instansional. Alat bantu yang digunakan untuk melakukan proses pelingkupan isu-isu strategis KLHS DAS Kapuas Kalimantan Barat adalah menggunakan kombinasi matriks dengan bagan alir (analisis sebab akibat). yakni Dinas Kehutanan. Dalam konteks KLHS DAS Kapuas. Selain itu ditelaah juga dokumendokumen rencana sector. Identifikasi interaksi tersebut diikuti dengan penyusunan bagan alir yang menunjukkan urutan kejadian dampak (analisis sebab akibat).5. (b) prinsip keseimbangan pemanfaatan dengan perlindungan dan (c) prinsip keadilan. Hal itu digambarkan sebagai berikut: . Dinas Pertanian Perkebunan.4. penerima dampak serta deskripsi damak. workshop atau lokakarya yang pesertanya terdiri dari berbagai kalangan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota serta tokoh-tokoh yang terkait atau berkepentingan dengan DAS Kapuas dan KRP yang akan ditelaah.5. RTRW Provinsi Kalimantan Barat dan RPJPD/ RPJMD Provinsi Kalimantan Barat. Isu-isu strategis yang telah diidentifikasi ditampilkan dalam bentuk daftar atau tabel minimal dengan informasi tentang sumber dampak. Matrik digunakan untuk menunjukkan interaksi antara aktivitas dalam DAS Kapuas dengan komponen lingkungan hidup di lokasi kegiatan yang terkena dampak.Untuk mencapai maksud tersebut pelingkupan dilakukan melalui berbagai metode. Metode Analisis Implikasi Kebijakan dan Rencana Pembangunan Metode analisis implikasi/ pengaruh kebijakan dilakukan dengan metode “analisis isi (conten analysys) tentang Provinsi Kalimantan Barat dan DAS Kapuas di dalam dokumen-dokumen RTRW Nasional dan RPJP Nasional.

. juga dilakukan kajian terhadap implikasi gagasan pembangunan jalan paralel perbatasan Kalimantan Barat dan Serawak Malaysia. yaitu dengan menginventarisasi terlebih dahulu deskripsi kegiatan yang akan dilakukan dalam pembangunan jalan paralel.6. Dalam konteks rencana tata ruang (dalam hal ini revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat.5. Dapat dijelaskan bahwa materi rencana pola pemanfaatan ruang diparalelkankan dengan telaahan peta lampiran Keputusan Menteri Kehutanan nomor 259 tahun 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Barat. Metode Analisis Implikasi Program Pembangunan Bersamaan dengan pelaksanaan KLHS DAS Kapuas. 1. Dinas Kesehatan. Analisis implikasi program pembangunan jalan paralel perbatasan dilakukan melalui metode dan pendekatan AMDAL. Dinas Pertanian. Dinas Perkebunan. akan dianalisis langkah-langkah adapatasi dan atau mitigasi yang harus tertuang dalam KRP yang relevan guna mengeliminasi. Telaahan pengelolaan DAS Kapuas juga dikaitkan dengan beberapa dokumen KRP penting lainnya seperti RPJM provinsi dan RPJM Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah DAS Kapuas serta Renstra Dinas terkait seperti Dinas PU. sosial. Hasil identifikasi dampak dari rencana pembangunan jalan paralel perbatasan tersebut. Dimas Kehutanan.KLHS harus diarahkan agar dapat dihasilkan KRP yang bercorak : Hasil-hasil telaah rumusan kebijakan digunakan untuk menganalisis konsistensi kebijakan dengan rencana. kelembagaan dan hukum. Dinas ESDM. dibedakan materi: (a) materi rencana struktur ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat dan (b) materi rencana pola pemanfaatan ruang/ peruntukan ruang. ekonomi. 2010). Dari deskripsi kegiatan akan teridentifikasi sejumlah dampak lingkungan yang akan terjadi (positip dan negatif) baik terhadap aspek lingkungan.

Melawi (7 Kecamatan). Berdasarkan letak geografis yang spesifik. sepanjang sekitar 400 km dengan daya tempuh sekitar tujuh jam perjalanan. Letak Geografis Wilayah DAS Kapuas terletak 109o 2’ 49” BT dan 114o 12’ 10” BT dan antara 1o 20” 24” LS dan 1o 36’ 36” LU.BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH KAJIAN 1.000 ha. Kubu Raya (9 Kecamatan).1. Landak (10 kecamatan). Kayong utara (3 Kecamatan) dan Kota Pontianak (6 Kecamatan). Peta sebaran Kabupaten yang masuk dalam wilayah kajian .190. Gambar 2. Perbatasan darat dengan negara Malaysia ini telah dihubungkan dengan jalan darat melalui Pontianak – Entikong – Kuching. daerah inii iklim tropis dengan suhu udara dan kelembaban yang tinggi. Sintang (14 Kecatan). Ketapang (4 Kecamatan). Kapuas Hulu (23 Kecamatan). Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikuT.1. Sekadau (7 Kecamatan). Adapun kabupaten yang ada di dalam kawasan ini adalah : Kabupaten Pontianak (4 Kecamatan). Bengkayang (6 Kecamatan). Luas wilayah das Kapuas 10. Secara khusus Wilayah DAS Kapuas mempunyai perbatasan langsung dengan negara Malaysia Timur yaitu Negara Bagian Serawak. Sanggau (15 Kecamatan).

76 1.62 109.49 150.2.347.305.231.59 0. Tabel 2.58781 11.406.423.77 25.38 79.38 190.776.961.72 154.35 .218.Gambar 2.1 149. 1.582.947. Peta sebaran kecamatan dan Kabupaten dalam wilayah kajian Untuk wilayah administrasi kecamatan yang tercakup dalam wilayah kajian dapat dilihat seperti pada tabel beikut ini. Kecamatan dan Kabupaten yang Masuk dalam Wilayah Kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Sanggau Pontianak Melawi Kabupaten Kecamatan Menukung Ella Hilir Sayan Belimbing Sokan Tanah Pinoh Nanga Pinoh Toho Siantan Sungai Kunyit Segedong Bonti Luas (Ha) 142.324.89 113.

24 43.333.01 120.212.4 618.791.587959 18.75 143.26 166.170.35 105.953.443.251.86 90.56 112.56 7.68 74.2779.562.376.87 63.448.100.5 40.0882.3 105.12 55.05 177.23 137.561.66 116.61 84.2 67.334.667.826.879.964.22 71.84 16.1827.75 0.488.0921.568.66 7.42 1.3 258.766.84 5.No 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 Kabupaten Balai Meliau Kecamatan Luas (Ha) 35.023.75 Sekayam Kembayan Mukok Toba Beduai Jangkang Parindu Noyan Tayan Hulu Sanggau Kapuas Tayan Hilir Entikong Sekadau Sekadau Hulu Belitang Nanga Taman Nanga Mahap Belitang Hulu Swekadau Hilir Belitang Hilir Sintang Kelam Permai Ambalau Ketungau Tengah Binjai Hulu Kayan Hilir Sungai Tebelian Sintang Serawai Ketungau Hilir Sintang Sepauk Kayan Hulu Dedai Tempunak Ketungau Hulu Bengkayang Suti Semarang Capkala Siding Teriak .9 54.988.358.557.82 81.37 39.29 75.47 451.29 146.583.5181.28 60.25 194.612.535.14 221.38 52.099.866.469.882.533.82 18.

769.365.64 367.4540.17923 204.386.465.5 646.36 54.49 2.6 130265.567.44 3.872 73.56 82.25 54.19 76.21 78.57 232.24 187.62 159.545.53 3.810.175.430.25 28.152.27 103554.81 74.452.065.14 4.135.841.804.215.47 350.1 103.128.19 46.38 51.83 215.39 100.616.073.255.081.84 32747.44 39.821.132.No 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 6 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 Kabupaten Kecamatan Sanggau Ledo Seluas Luas (Ha) 2.47 37.720.71 1.67 4.114.69 15012.778.215.83 1.16 25.89 16.63 89.06 36.491.55 150.037.009.2200.498.45 Kapuas Hulu Badau Mandai Embau Semitau Hulu Gurung Kedamin Batang Lupar Boyan Tanjung Seberuang Putussibau Puring Kencana Selimbau Bunut Hilir Kalis Silat Hulu Embaloh Hilir Empanang Mentebah Silat Hilir Batu Datu Suhaid Bunut Hulu Embalo Hulu Kayong Utara Seponti Simpang Hilir Teluk Batang Ketapang Simpang Dua Simpang Hulu Sungai Laur Kota Pontianak Pontianak Timur Pontianak Barat Pontianak Selatan Pontianak Utara Kubu Raya Terentang Kubu Kuala Mandor A Kuala Mandor B .

dan Kabupaten Ketapang. bergelombang. Kabupaten Sintang yang mempunyai ketinggian 2.356.2.05 132673.62 6095. Gunung yang paling tinggi adalah Gunung Baturaya di Kecamatan Serawai. Kabupaten Ketapang. berbukit-bukit.1 150797.456. Untuk WP Antar Negara mencukup 5 (lima) kabupaten yang meliputi Kabupaten Kapuas Hulu. Kabupaten Sekadau. WP Antar Provinsi. yaitu Kabupaten Pontianak.281. Kabupaten Kubu Raya.229.770 meter.687.12 81516.903. Gunung Lawit yang berlokasi di Kabupaten Kapuas Hulu.65 192130. dan WP Antar Negara. sedangkan tertinggi kedua adalah Gunung Batusambung (Kecamatan Ambalau) dengan ketinggian mencapai 1. yakni Kabupaten Sanggau.9 Landak Menjalin Sebangki Meranti Pahauman Karangan Ngabang Air Deras Mandor Darit Kuala Behe Wilayah DAS Kapuas merupakan bagian dari wilayah administrasi Kalimantan Barat yang dalam konsep pembangunannya. 1. Kabupaten Sambas.074. berdasarkan kelas lereng yang ada dapat dirinci sebagai berikut : Tabel 2. Kabupaten Melawi. WP Antar Provinsi meliputi Kabupaten Sintang.69 2.91 41349. WP Tengah terdiri dari 3 (tiga) kabupaten.03 32249.74 5388.2.278 meter dari permukaan laut .91 248019.28 37188. Kabupaten Kayong Utara.29 55728.767 meter.01 70828. Kota Pontianak dan Kota Singkawang.No 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 Kabupaten Kecamatan Sei Ambawang Batu Ampar Sei Kakap Sei Raya Teluk Pakedai Luas (Ha) 105482. Kelerengan merupakan bagian dari persoalan topografi yang ada di DAS Kapuas. Kabupaten Bengkayang.45 67165.33 . Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas. dan Kabupaten Landak.94 68096. Dengan demikian wilayah pengembangannya dibagi kedalam 4 (empat) Wilayah Pengembangan (WP) yang meliputi WP Tengah.06 10. Sebaran Kelas Lereng Di DAS Kapuas No 1 2 3 4 <2 % 2–8 % 8-15 % 15-25% Kelas Lereng Luas (Ha) 1. WP Pesisir terdiri dari 3 (tiga) kabupaten.40 1. mengikuti ketentuan dalam RPJPD Provinsi. Kabupaten Sanggau. Kabupaten Sintang. Topografi Topografi wilayah DAS Kapuas terdiri dari dataran rendah (datar). Kabupaten Kapuas Hulu. Kecamatan Embaloh Hulu menempati tertinggi ketiga karena mempunyai tinggi 1. WP Pesisir. dan bergunung.

3.393.68 Visualisasi dari sebaran kelas lereng yang ada di dalam kawasan DAS Kapuas dapat dilihat seperti gambar 2.07 2.475.373. Gambar 2. Peta Sebaran Kelas Lereng di Wilayah Kajian .344.326.5 6 7 25-40% 40-60% >60% 389.3.19 1.

3. Batuan yang ada sekitar Wilayah DAS Kapuas 1. . Geologi Data sebaran batuan di Wilayah DAS Kapuas menurut peta geologi Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2.4. Tanah dan sistim lahan Tanah yang ada di wilayah kajian kan sangat dipengaruhi oleh keadaan batuan.4. Berdasarkan peta tersebut di wilayah kajian terddapat tidak kurang dari 72 jenis batuan. lereng dan faktor pembentuk tanah lainnya.1. untuk ini macam tanah yang terbentuk di wilayah kajian ini dapat diliht pada tabel berikut ini. Berdasarkan data pada tabel di atas maka pada wilayah kajian ditemukan 15 macam tanah yang luasnya cukup bervariasi. dan jenis batuan ini juga berpengaruh pada pembentukan tanah yang ada di sekitar wilayah kajian.4. pada kawasan ini ternyata juga ditemukan tanah gambut yang sebarannya cukup luas dan lebih banyak berada pada wilayah pesisir (Kabupaten Kubu raya). Untuk jelasnya visualisi sebaran jenis tanah ini dapat di lihat seperti pada gambar berikut ini.

437.464.830.80 23. pada kawasan ini ternyata juga ditemukan tanah gambut yang sebarannya cukup luas dan lebih banyak berada pada wilayah pesisir (Kabupaten Kubu raya).680.878.3 Sebaran Jenis tanah di wilayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Tanah Acrisol Oksik Alluvial Gleik Alluvial Humik Feralsol Humik Nitosol Planosol Podsolik Humik Arenosol Aleik Feralsol Oksik Feralsol Regosol Gleysol Distrik Gleysol Distrik Kambisol Distrik Organosol Distrik Podsolik Gleik Luas (Ha) 4.47 1.099.11 161.613.753.48 6.396.63 43.042.44 461.133.61 260.19 55.947.99 Berdasarkan data pada tabel di atas maka pada wilayah kajian ditemukan 15 macam tanah yang luasnya cukup bervariasi.208.60 20.07 815. . Untuk jelasnya visualisi sebaran jenis tanah ini dapat di lihat seperti pada gambar berikut ini.75 279.14 338.018.486.Tabel 2.483.93 1.457.481.88 29.

lereng. tanah dan sifat-sifat fisik lainnya (RePPProT. Selain itu sisitim lahan akan dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kawasan kubah gambut yang dalam hal ini sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan disuatu kawasan. pertanian. 1987). Dengan diketahuinya sistim lahan di kawasan ini maka akan lebih mudah untuk melihat kesesuaian pembangunan di berbagai sektor.Gambar 2.5 Sebaran Jenis Tanah di sekitar DAS kapuas Selanjutnya kondisi geomorfologis wilayah DAS Kapuas dapat dibagi menjadi unit-unit sistem lahan (land system) yang menggambarkan kesamaan fisiografis. perhubungan dan transmigrasi. kehutanan. pertambangan. mulai dari sektor perkebunan. Untuk lebih dapat diperolehnya visualisasi dari sebaran sistim lahan di dalam wilayah kajian ini dapat dilihat seperti pada tabel berikut: .

Tabel 2.63 1561219.75 29242.93 7817.63 46402.51 .39 54910.85 1891775.07 7198.00 511260.57 16368.36 627763.18 952683.21 32846.97 231613.02 41531.86 13044.25 499852.68 21481.62 208233.61 2049480.78 911189.66 366.4 Sebaran Sistim lahan di Wilayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nama Sungai Sungai Mimpi Keremui Batu Ajan Barong Tongkok Suhaid Bentili Beriwit Bukit Pandan Gambut Honja Liang Pran Juloh Kahayan Kajapah Klaru Lawanguang Sungai Medang Lohai Maput Mendawai Mentalat Pakalunai Panreh Puting Rangankau Sebangau Sungai Tambera Tandur Telawi Tewai Baru Teweh Tidak ada data Simbol SMI KRU BTA BTK SHD BLI BRW BPD GBT HJA LPN JLH KHY KJP KLR LWW SMD LHI MPT MDW MTL PLN PDH PTG RGK SBG Sungai TBA TDR TWI TWB TWH NODA Luas (Ha) 42427.42 431623.27 1342157.96 60060.90 843342.809.83 11036.93 6781.44 7138.03 775496.85 93380.21 111810.93 402552.

000 < Q < 0. radiasi lamanya penyinaran udara serta penguapan (evaporation dan transpiration). b. vegetasi yang hidup secara alami dapat menggambarkan pula iklim tempat vegetasi itu tumbuh yang erat sekali hubungannya antara suhu dan kandungan uap air tersebut. maka wilayah ini termasuk dalam tipe iklim A (0. Klasifikasi Iklim menurut Koppen Menurut Koppen (1900).099) yaitu tipe iklim sangat basah. sedangkan bulan kering dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan kurang dari 60 mm.6. kelembaban relatif udara. Klasifikasi Iklim menurut Oldeman (1980) Menurut kriteria Oldeman et. Klasifikasi ini berlandaskan pada bulan basah dan bulan kering. Bulan basah dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan . c. berdasarkan klasifikasi tersebut. Iklim Komponen-komponen iklim yang penting meliputi curah hujan. Peta sistim lahan di wilayah kajian 1.0408). suhu udara. Berdasarkan klasifikasi ini wilayah DAS Kapuas termasuk pada zone iklim hujan tropis (Af). al. yang ditandai dengan bulan terkering > 60 mm serta tetap basah pada semua musim. (1980) wilayah ini beriklim basah. lawanguwang dan teweh mendominasi kawasan ini. namun demikian kawasan ini berpotensi membentuk kawasan gambut terutama pada kawasan sistim lahan gambut dan mendawai. Kawasan DAS Kapuas yang berada di daerah khatulistiwa memiliki tipe iklim tropis yang sangat khas dan dapat digambarkan sebagai berikut: a. dengan nilai perbandingan bulan kering dan bulan basah Q (0. Klasifikasi Iklim menurut Schmit & Ferguson Menurut klasifikasi Schmit & Ferguson (1952). bukit pandan.Berdasarkan data pada tabel di atas sistim lahan honja.5. Melalui perbandingan bulan basah dan bulan kering (Q). Gambar 2. kreteria bulan basah dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan lebih besar dari 100 mm. Untuk lebih jelasnya visualisasi dari sebaran sistim lahan di wilayah kajian dapat dilihat pada gambar berikut.

5. sedangkan bulan kering dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan kurang dari 100 mm. suhu rata-rata maksimum tercatat pada bulan Mei sebesar 33. sedangkan penyinaran matahari ratarata per bulan berkisar antara 55-86%. pada setiap bulannya bervariasi antara 10-15 knot/jam dengan arah angin ke arah barat pada bulan Februari – Juli dan ke arah Tenggara pada bulan Juli -Desember. Sebaran Curah Hujan Wilayah Kajian Berdasarkan gambar sebaran curah hujan tersebut maka.4°C.5°C dan kelembaban nisbi rata-rata per bulan berkisar antara 79-90%. . sedangkan rata-rata minimum terjadi pada bulan Agustus yaitu 22. Sebaran daerah iklim menurut Oldeman dapat dilihat pada peta berikut: Gambaran iklim yang dilihat dari sebaran curah hujan untuk wilayah studi ini dapat dilihat pada gambar berikut. Selanjutnya faktor iklim lainnya adalah suhu. Kecepatan angin di wilayah ini di dekati dari beberapa stasiun. Gambar 2.lebih besar dari 200 mm. kondisi curah hujan dalam satu tahun cenderung lebih rendah kearah barat atau wilayah pantai dibanding kewilayah timur atau wilayah hulu dari wilayah kajian. Data suhu udara.7. curah hujan dan angin dapat dilihat pada tabel 2.

1 22.8 149.5 321.8 Arah N W W W W S W S E S S E Kelembaba n Nisbi (%) 88 85 86 87 85 82 87 79 86 86 90 90 Penyinaran Matahari (%) 55 66 57 63 73 86 54 89 55 63 60 56 1 Januari 2 Februari 3 Maret 4 April 5 Mei 6 Juni 7 Juli 8 Agustus 9 September 10 Oktober 11 Nopember 12 Desember Jumlah Rata-Rata .1 192.7 33.7 Curah Hujan di Kalimantan Barat No Bulan Bandar Udara Supadio CH (mm) 367.8 32.0 20.6 23.8 20.7 3.0 203.6 32.4 32.4 HH (hr) 18.2 254.5 22.1 Stasiun Siantan CH (cm) 309.0 13.3 16.7 225.8 13.6 15.9 11.136.4 23.2 331.1 23.1 20.4 261.2 31.0 22.3 176.3 23.9 22.0 13.2 214.3 23.4 220.5 17.8 337.0 31.9 32.4 HH (hr) 22.8 23.9 23.7 199.6 18.0 17.2 15.1 19.052.2 21.4 33.0 309.6 Tabel 2.3 23.6 3.8 202.9 23.Tabel 2.3 20.9 229.6 Arah dan Kecepatan Angin di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Kecepatan dan Arah Angin Knot/Jam 15 12 12 15 15 12 12 10 15 12 15 12 Tabel 2.5 Data Suhu dan Kelembaban Nisbi di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Suhu Udara (oC) Min 23.4 273.2 258.3 12.1 Mak 31.9 243.7 276.6 313.1 23.1 32.9 159.5 15.6 33.2 205 17.7 15.1 247.4 322.4 322.7 21.3 32.

ukuran dari Sub DAS serta aktivitas manusia.871.56 37.543.80 64.81 33.758. serta Peta Sungai skala 1: 250.210.38 14.922.41 14.184.544.678. Kalbar adalah sebagai berikut: 1.50 207.267.608.330.668.64 10.186. Mengacu pada definisi DAS sesuai UU no.462.13 1.000 sebagai acuan pemberian nama DAS Untuk jelasnya pembagian wilayah DAS di Kalimantan Barat dapat dilihat pada table berikut : Tabel 2. maka pengelolaan dan keberadaan hutan pada suatu daerah akan dapat menjamin ketersediaan sumber air baik bagi kebutuhan pemukiman penduduk sekitarnya sebagai konsumsi air minum.95 100.185. Dari pengamatan debit sesaat sungai utama di Kalimantan Barat menunjukkan tingkat laju kecepatan aliran yang cukup bervariasi sesuai dengan kondisi DAS atau Sub DAS.03 84.77 40.000 dan Peta Sungai Skala 1:50. . kondis topografi. Pola Pengaliran Sungai Sungai merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi Wilayah DAS Kapuas karena merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat terutama untuk sarana transportasi.284.67 7.931.187.02 166.31 20. Wilayah DAS dibagi berdasarkan sungai yang mengalir ke laut 3.77 788.26 11.20 88.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air maka pembagian wilayah DAS di Prop.696. Wilayah DAS di Prop.8.409.51 14.15 52.22 282.227.383.23 196.112.143. Pembagian wilayah DAS menggunakan data SRTM (Shuttle Radar Topographic Mission) resolusi 90 meter sebagai data topografi. Kalbar terbagi menjadi 27 SWP DAS 2.6. jenis tanah.34 124.902.70 37.145.762. sumber irigasi pertanian dan juga tempat pembuangan limbah. sumber air bersih.15 300.83 20. formasi geologi.82 54.1.268.68 Besarnya debit aliran air yang keluar dari suatu sungai sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim. Sebaran DAS di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Kelas Lereng Air Hitam Kecil Kapuas Sambas Simbar Air Hitam Besar Begunjai Duri Kendawangan Kuala Melinsun Mempawah Paloh Pawan Pesaguan Pulau Maya Raya Satong Sebangkau Selakau Siduk Simpang Tengar Tolak Pangkalan Dua Peniti Purun Besar Pulau-pulau Total Luas Luas (ha) 84.992.55 20.872.595. kebutuhan pertanian dan terutama untuk konsumsi bagi keperluan rumah tangga dan kebutuhan lainnya. tipe penutupan lahan. Mengingat air merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia.

86 Angka Melek Huruf (%) 89.95 608.41 18.12 67.44 69.33 66. Kondisi sosial ekonomi Kabupaten yang berada di sekitar DAS Kapuas Angka Harap an Hidup (Th) 66.39 67.70 6.13 67.06 7.99 67.02 .20 85.27 67.91 64.14 92.25 15.02 67.17 66.16 9.62 600.9.90 67.43 602.92 88.41 66.67 617.20 5.84 67.22 6.63 65. Keadaan Sosial Ekonomi Kegiatan sosial dan ekonomi di sekitar DAS Kapuas dapat dilihat dari berbagai indikator diantaranya angka harapan hidup.40 89.81 66.31 598.30 611.30 68.55 88.21 617.00 636.60 6.57 64.52 609.45 89.86 6. Indek Pembangunan Manusia (IPM).32 88.07 9.44 7.86 66. untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut : Tabel 2.61 11.87 90.76 7.62 7.08 66.26 68.66 14.74 67.59 RataRata Lama Sekolah (Th) 6.68 91.48 6.01 627.18 Pendu duk Miskin Kabupaten /Kota IPM Kalbar Bengkayang Landak Pontianak Sanggau Ketapang Sintang Kapuas Hulu Sekadau Melawi Kayong Utara Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang 11. angka melek huruf.83 93.50 9.40 88. penduduk miskin.98 92.62 598. pengeluaran perkapita.74 599.21 13.89 68.10 6.91 66.11 Pengeluaran Perkapita (x 1000 Rp) 624.65 7.69 66.1.03 6.03 6.7.17 66.31 72.80 14.95 89.58 7.40 6.98 67.30 608.

Pertumbuhan ekonomi kabupaten/Kota 1.249. Tabel 2.117 jiwa. Penyebaran Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Kota Pontianak Singkawang Kubu Raya Landak Melawi Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Jumlah Total Jumlah Penduduk (jiwa) 205.213 324.168 408. laju pertumbuhan penduduk Kalimantan Barat pada tahun 2006-2007 adalah 1.69 %.549 521.10.46 % dan pada kurun waktu 2007-2008 menjadi 1.675 218.976 168.249.804 91.8.Gambar 2. Kependudukan Jumlah penduduk Kalimantan Barat pada tahun 2008 adalah 4.198 493.10.129 365.483 491.569 175.8.309 218.909 178. Penyebaran jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Barat tahun 2008 disajikan dalam Tabel 2.077 388.117 .058 4.

2. Sasaran Penyelenggaraan Sesuai dengan konsep dasar dan tujuan pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis maka perlu dirumuskan sasaran penyelenggaraan KLHS terhadap pengelolaan DAS Kapuas di Kalimantan Barat. Telaahan RTRWP dan revisi RTRWP Provinsi Kalimantan Barat. Rencana dan Program Pembangunan Berkelanjutan yang Strategis Terkait Dengan Pengelolaan DAS Kapuas No 1 Isu-Isu strategis KRP 1. Telaahan yuridis. Tabel 3.Perubahan Fung si Kawasan . Kerangka fikir KLHS. Isu Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan dan lingkungan Hidup (3) 3.Perubahan Perun tukan kawasan .BAB III PELINGKUPAN DAN PEMUSATAN ISU STRATEGIS 3.Peta DAS . Kawasan hutan akan banyak yang terdegradasi dengan adanya rencana perubahan fungsi maupun peruntukan.struktur ruang Instandi penyedia data -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Kehutanan -PU Metode yang digunakan -Partisipatif -Overlay -Desk study . rencana ataupun program (KRP) yang sejalan dengan Revisi RTRWP Kalimantan Barat terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan fungsi-fungsi lingkungan hidup.Skoring Revisi RTRWK . Pada takaran wilayah DAS Kapuas dari hasil workshop diperoleh beberapa masukan yang terkait dengan isue kebijakan pembangunan dan lingkungan hisup seperti berikut ini. histori . Berdasarkan telaahan tentang sasaran pelaksanaan KLHS.1. klimatis sosial maupun budaya hal ini sejalan dengan isue global berupa peningkatan suhu bumi dan perubahan iklim yang terjadi hampir diseluruh belahan dunia. yakni: (1) (2) Diperolehnya pemahaman tentang dampak besar dan penting serta kebijakan yang strategis yang ada dalam pengelolaan wilayah DAS kapuas terhadap lingkungan hidup Tersusunnya hasil prakiraan dan evaluasi pengaruh rumusan kebijakan. profil Provinsi Kalimantan Barat. atas dasar asas/prinsip keterkaitan. Kondisi ini semua terkait dengan aktivitas dan kebijakan pembangunan yang menimbulkan resiko lingkungan hidup.1. sosial.Peta kawasan hu tan Dan Perairan kalbar . Terintegrasinya tujuan pembangunan berkelanjutan ke dalam KRP dan revisi RTRWP Kalimantan Barat. tidak hanya terjadi degradasi lahan tetapi ancaman berupa penurunan daya dukung lingkungan akan tetap menjadi utama pada saat penutupan lahan terdegradasi. Revisi RTRWP : -Revisi Pola ruang -Revisi struktur ruang Data Yang Diperlukan -Revisi pola dan struktur ruang -Jenis tanah -Curah Hujan -Kelerengan . asas keseimbangan dan asas keadilan. fisik. mitigasi bencana diperoleh gambaran global bahwa untuk kawasan DAS kapuas telah terjadi perubahan baik dilihat dari faktor edapis. Isu-Isu Kebijakan. tidak terkecuali di Kalimantan Barat.

IUP Perke bunan (sawit .Pembangunan Perhu bungan -Perijinan -Aktivitas lapangan. ilok. .Pengendalian 5. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemukiman -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. IUP Perke bunan (sawit . . HGU.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. HGU.Pembangunan kota /Pemukimen di seki tar DAS Kapuas Data Yang Diperlukan -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. IUP -Peta sebaran ilok.Pengendalian 4. ilok. kecamatan dan desa .Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. HGU. kecamatan dan desa .Pengendalian 3. ilok. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man Instandi penyedia data -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Prtambangan -Kehutanan Metode yang digunakan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 3 -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Prtambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 4 -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 6 -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. kecamatan dan desa . HGU.No 2 Isu-Isu strategis KRP 2. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemukiman -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. IUP Perke -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip . kecamatan dan desa .Pembangunan Perke bunan : -Perijinan -Aktivitas lapangan. HGU. HGU.Pembangunan Perta nian dan transmigrasi -Perijinan -Aktivitas lapangan.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. IUP -Peta sebaran ilok. . IUP -Peta sebaran ilok. IUP -Peta sebaran ilok. HGU. ilok.Pengendalian 6. IUP Perke bunan (sawit . HGU. IUP -Peta sebaran ilok. HGU.Pembangunan Pertambangan : -Perijinan -Aktivitas lapangan. ilok. . HGU. IUP Perke bunan (sawit .

Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah tersebut ditempuh melalui 9 (sembilan) misi pembangunan daerah sebagai berikut: 1. Mewujudkan masyarakat yang sehat. tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh daerah dan amanat pembangunan yang tercantum dalam RPJP Nasional. Kerangka Pikir Penyusunan KLHS DAS Kapuas Dalam penyusunan KLHS DAS Kapuas. keranka pikir yang digunakan untuk melakukan kajian-kajian implikasi untuk merumuskan mitigasi dan atau alternatif program pembangunan pada wilayah DAS Kapuas di Provinsi Kalimantan Barat menggunakan kerangka pikir seperti tersaji pada Gambar 3. Mewujudkan perekonomian yang maju 8. berkeadilan. Mewujudkan Supremasi Hukum dan prinsip-prinsip Good Governance 4. Mewujudkan Budaya Politik yang Demokratis dan Toleran 2. Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang daerah. Bila visi telah terumuskan. 3.3. seperti tertuang dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mewujudkan infrastruktur yang memadai 6. Visi dan Misi Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Kalbar Berdasarkan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat. Berbudaya. Beretika. cerdas. Mewujudkan masyarakat yang Religius.4. . Mewujudkan Pembangunan yang Lebih Merata dan Berkeadilan 3. produktif dan inovatif 9. Berakhlak Mulia. Mewujudkan masyarakat yang Aman. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. Berdasarkan kondisi Kalimantan Barat saat ini. dan berkeseimbangan 7. dan Beradab.yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. Visi pembangunan daerah Kalbar tahun 2008-2028 mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah. Mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. maka visi pembangunan daerah Tahun 2008– 2028 adalah: KALIMANTAN BARAT BERSATU DAN MAJU. Bermoral. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man Instandi penyedia data Metode yang digunakan 3. berikut ini.No Isu-Isu strategis KRP Data Yang Diperlukan bunan (sawit . Damai dan Bersatu adalah 5.1.

Perubahan Musim tanam .5. sehingga megancan lingkungan 2. Kerangka Pikir Penyusunan KLHS DAS Kapuas 3. Pendangkalan Di Sekitar Muara Diskripsi isu Erosi pada lahan dan kawasan sepadan sungai Di DAS Kapuas menim bulkan penggeru san pada lapisan tanah permukaan.Gambar 3. Wilayah Kajian. pe nyebab utama me nurunnya daya du kung lingkungan seperti kemampuan menahan run off sehingga menim bulkan debit permukaan yang sangat besar dan tidak ter tampung pada DAS Kerusakan Penutupan lahan memberikan dampak Perubahan iklim global dan mempenga ruhi ketidakpastian musim hujan di wila yah DAS Kapuas. sehingga material terbawa arus dan terakumulasi pada muara-muara sungai yang ada di DAS Kapuas Kkerusakan lingkungan seperti kurangnya konser vasi lahan dan ba nyaknya lahan yg terbuka Di sekitar DAS Kapuas. Issu-isu Strategis Terkait Dampak pada DAS Kapuas Kelompok Isuisu strategis Lingkungan Isu-isu strategis 1. Banjir dan erosi lingkungan 3. Isu Strategis. 2.1. curah hujan yang merupakan factor utama penentu po la tanam dalam sis tim tadah hujan yg dipakai oleh petani di sekitar DAS ka puas menjadi tidak berkepastian. dan Kerangka Waktu KLHS Berdasarkan hasil proses KLHS melalui workshop dan FGD terhadap kebijakan dan dampak yang dapat terjadi di wilayah DAS Kapuas di peroleh isu strategis yang akan dikaji di dalam studi ini adalah: Tabel 3.

arus masuk nilai-nilai baru tersebut menjadi tidak terbendung dan ada yang berimplikasi negatip sehingga menggeser kearifan local yang ada. kehutanan. pergeseran nilainilai Budaya/Dekandensi moral ekonomi 10. konversi/penggantian lahan masyarakat. kondisi inilaj yang kurang menguntungkan terhadap biota ikan di DAS Kapuas Adanya aktivitas perkebunan. sedangkan pada musim kemarau sangat kecil. dengan adanya sumberdaya alam yang ada dalam bentuk tambang di sekitar DAS Kapuas pembukaan akses akan meningkatkan kegiatan per tambangan (peti) SDA (poin 1) Sungai kapuas merupakan induk dalampola/ sistim sungai di dalam DAS Kapuas. bahan beracun dan lain-lain di perairan DAS Kapuas Pembukaan penutupan lahan dan konversi lahan akan berpotensi pada penurunan kualitas biota ikan di daerah DAS Kapuas. pertambangan di sekitar DAS Kapuas dapat memicu terjadinya konflik social terutama terkait dengan sistim kemitraan. biologi berbahaya yang ada pada perairan. Degradasi lahan perta nian pangan . Konflik Social Lingkungan budaya dan 9. Peningkatan kegiatan Pertambangan tanpa ijin (peti) Adanya keinginan Pemerintah untuk merevisi RTRWP baik pada struktur ruang maupun pola ruang membuka akses bagi seluruh la pisan masyarakat untuk beraktivitas di sekitar DAS Kapuas . kekeruhan air. dimana pada musim penghujan volume menjadi sangat besar.Kelompok Isuisu strategis Isu-isu strategis Diskripsi isu ketahanan pangan masyarakat sekitar DAS Kapuas sosek 4. aktivitas ini akan mempengaruhi ketersedian air di kawasan DAS menjadi sangat ektrim. dengan adanya pembukaan akses ini maka akan terjadi pemasukan nilai-nilai baru di kawasan ini . Perubahan alur pelayaran 6. Penurunan kualitas air Sungai Kapuas ekonomi 7. Kegiatan perijinan perkebunan di DAS Kapuas semakin ba nyak dan di dengan orien tasi masyarakat financial yang sangat besar maka cenderungan masyarakat sekitar tambah kearah ada ke untuk lingkungan Sosek budaya dan 5. kondisi ini menimbulkan peningkatan terhadap sedimentasi. pertambangan atau kegiatan rumah tangga. UMR dll Adanya keinginan Pemerintah untuk merevisi RTRWP baik pada struktur ruang maupun pola ruang membuka akses bagi seluruh la pisan masyarakat untuk beraktivitas di sekitar DAS Kapuas . perkebunan. kegiatan tersebut di dominasi oleh pembukaan lahan oleh illegal logging. Penurunan potensi perikanan tangkap Lingkungan budaya dan 8. dikawasan ini berlangsung berbagai aktivitas baik di kawasan hulu DAS Kapuas maupun Hilir.

Berkurangnya wilayah konser vasi gambut. Belum adanya penetapan dae rah resapan 2. hal ini dapat terjadi pada pemukiman dan lahan usaha masyarakat. pertambangan. perkebunan kehutanan yang menggunakan bahan-bahan penyebab pence maran tanah seperti pestisida menyebabkan turunnya kualitas tanah dandegradasi hutan Dengan berkurangnya tutpan lahan maka penyerapan air tanah secara vertical menjadi berkuran sehingga potensi air tanah menjadi berku rang. Berkurangnya potensi air tanah lingkungan 13. Degradasi lahan & kua litas tanah Dengan adanya aktivitas di sekitar das Kapuas seperti pembukaan lahan. kehutanan. Intrusi air asin/laut lingkungan 15. Penurunan volune dan permukaan tanah /gam but Lingkungan dan kelembagaan 16. dan ini me nyebabkan terjadinya peman patan tanah gambut yang luar biasa sehingga terjadi penurunan ke tinggian permukaan tanah gambut dan volume persatuan luas sehingga akan berpengaruh pada kemampuan smpan air dari tanah gambut terlebih di wilayah kubah gambut Koordinasi yang kurang antar sector menyebabkan seleksi pem berian perijinan untuk berbagai kepentingan menjadi permasala han di lapangan baik secara yuridis maupun fisik /eksisting di lapangan. Kekeringan dan keba karan lahan . mengakibatkan peningkatan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan lingkungan 12.Kelompok Isuisu strategis Isu-isu strategis Diskripsi isu mengkonversi lahan pertaniannya kemenajdi lahan perkebunan se hingga memicu terjadinya degradasi lahan pertanian tanaman pangan lingkungan 11. Deforestasi/Degrad asi hutan lingkungan 14. perkebunan. Adanya berbagai kebijakan seperti perijinan dan perubahan Pola ruang serta aktivitas masyarakat. Perubahan penutupan lahan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini. Tumpang tindih peman faatanperuntukan lahan Lingkungan 17. hal ini semakin terjadi perce patan karena 1. pertam bangan perkebunan dan pertanian serta perhubungan. dan ditambah dengan adanya perubahan iklim secara global . terutama terjadi pada saat musim kemarau Pemberian perijinan di kawasan gambut mendorong pembukaan kawasan gambut. pertambangan dan lain-lain mendorong terjadinya deforestasi Adanya issue perubahan iklim dan berkurangnya penutupan lahan mendorong masuknya air laut kewilayah yang lebih jauh di dalam kawasan DAS Kapuas.

persepsi masyarakat terhadap nilainilai baru Data lahan perta nian 15 tahun Lingkungan dan budaya 9. Perubahan Musim tanam 20 tahun 20 tahun Peta 2 sosek 4. Pendangka lan Di Sekitar Muara Data Yang diperlukan Data fluktuasi kedalaman muara sungai di das dan Sub das Data peristiwa banjir dan erosi Data kegiatan awal tanam dalam 5 tahun terakhir Data pertambangan dan peti Data pelayaran alur Sumber data BP DAS kapu as. pemukiman kalbar Data situs budaya. pergeseran nilainilai Budaya/Dekande nsi moral Dinas pariwisata. Lingkup Wilayah kajian dan Waktu Kajian dari Isu Strategis Kelompok Isu-isu strategis Lingkungan Isue-isue strategis 1. Banjir dan erosi 3. Biro ekbang ADPEL Pontianak BLHD. Penurunan potensi perikanan tangkap 8. BLHD Dinas pertanian Prakiraan waktu berlangsu ngnya dampak 20 tahun Batas wilayah terkena dampak Peta 1 lingkungan lingkungan 2. ADPEL PTK BPDAS. 3.Tabel 3. Konflik Social Dinas pertam bangan. Berkurangnya potensi air tanah Data Penutupan lahan Kehutanan 20 tahun . studi lapang 20 tahun ekonomi 10. PDAM. Peningkatan kegiatan Per tambangan tanpa ijin (peti) 5. Perubahan alur pelaya ran 6. Degradasi lahan pertanian pangan Dinas pertanian 15 tahun Peta 7 lingkungan 11. DAS BP 20 tahun Peta 3 lingkungan Sosek dan budaya ekonomi 15 tahun 20 tahun Peta 4 Peta 5 Data kualitas air dalam lima tahun terakhir Data perikanan tangkap hasil Dinas perikanan kabupaten dan prov BPS 15 tahun Peta 6 Lingkungan dan budaya Data sebaran desa kalbar. Degradasi lahan dan kualitas tanah Data sebaran lahan pertanian Dinas pertanian 15 tahun lingkungan 12. Penurunan kualitas air Sungai Kapuas 7. desk studi.

Penurunan volune dan permukaan tanah/gam but Data Yang diperlukan Data kawasan hutan dan penu tupan lahan Data intrusi air laut Data tanah. Kekeringan dan kebakar an lahan Perkebunan . pertambang an. 20 tahun 20 tahun Peta 9 Lingkungan dan kelembagaa n Lingkungan 16.Kelompok Isu-isu strategis lingkungan Isue-isue strategis 13. Intrusi air asin/laut 15. hotspot. dan kebakaran hutan/lahan Sumber data Kehutanan Prakiraan waktu berlangsu ngnya dampak 20 tahun Batas wilayah terkena dampak Peta 8 lingkungan lingkungan PDAM BLHD. Tumpang tindih peman faatanperun tukan lahan 17. PU BLHD 15 tahun Peta 10 20 tahun Peta 11 . pertambangan . kehutanan. kawasan hutan Data bencana alam kekeringan. pem bukaan lahan gam but untuk kebun dan perijinan perkebun an di lahan gambut Data perijinan perkebunan. Deforestasi /Degradasi hutan 14.

dan dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Hal ini yang mendasari bahwa analisis data dasar dan informasi lainnya penting untuk dilakukan sehingga tujuan perencanaan dapat tercapai. Perencanaan pembangunan merupakan suatu kegiatan perencanaan yang dilakukan oleh seluruh elemen untuk menganalisis kondisi dan pelaksanaan pembangunan. penganggaran. 25 Tahun 2004) dan perencanaan keruangan (spatial planning) tentang Sistem Penataan Ruang (UU No. Analisis data juga berguna untuk mengetahui dan menilai potensi dari masalah yang dihadapi. dan fungsi pemerintah pusat maupun daerah Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Aspek partisipatif dilaksanakan dengan melibatkan seluruh stakeholders melalui wahana-wahana yang telah disiapkan seperti halnya Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Dalam konteks Indonesia. kegiatan perencanaan banyak digunakan diberbagai bidang yang ditandai dengan munculnya berbagai istilah dari sektor-sektor yang melakukan perencanaan seperti: economic planning. proses teknokratik dilakukan juga dengan menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang bertugas dalam hal tersebut. sinkronisasi. perencanaan juga dihadapkan pada pemilihan tindakan yang diperhitungkan mempunyai hasil yang optimal. 4. dapat dicontohkan dari penjabaran visi dan misi dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) atau RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah). dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat ditingkat pusat dan daerah. Perencanaan ditujukan untuk waktu yang akan datang sehingga harus dapat memperkirakan kondisi yang akan terjadi pada masa depan dan harus mampu menelaah situasi yang cukup tepat sebagai indikator utama. hingga tahap evaluasi dan monitoring. waktu. merumuskan tujuan dan kebijakan pembangunan. 5. penyusunan rencana. berkeadilan. Perencanaan pembangunan diatur dalam UU No. efektif.BAB IV TINJAUAN DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN 1. sehingga pada akhirnya harapan untuk kesejahteraan masyarakat dapat terwujudkan. pelaksanaan. Dalam perkembangannya. yang menyebutkan bahwa SPPN adalah kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana–rencana pembangunan dalam jangka panjang. baik antar daerah. 26 Tahun 2007). dan sinergi. Pengantar Perencanaan adalah suatu proses yang berkesinambungan dan berkelanjutan mulai dari tahap pengumpulan data. environmental planning.1. regional planning. 25 Tahun 2004 menyatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. Selain dilaksanakan secara politik. Dari sisi jenjang pemerintahan proses perencanaan ini dikenal sebagai proses top-down dan bottom-up yang dilakukan secara seimbang. Proses perencanaan merupakan kegiatan yang tidak pernah selesai. jangka menengah. Undang–undang tersebut menyebutkan bahwa SPPN ditujukan untuk: 1. melalui urutan pilihan. . Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan Menjamin terciptanya integrasi. dan melaksanakannya dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki. karena selalu memerlukan peninjauan ulang atau pengkajian guna memberikan umpan balik dalam proses evaluasi Dalam undang-undang yang mengatur tentang perencanaan pembangunan nasional yaitu UU No. dan pengawasan Mengoptimalkan partisipasi masyarakat Menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara berkelanjutan efisien. city planning. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). dan istilah lainnya. 2. Selain dihadapkan pada hal-hal yang harus diramalkan. menyusun konsep strategi untuk pemecahan masalah. dua proses perencanaan utama yang telah dilegalkan melalui payung hukum adalah perencanaan pembangunan (development planning) yang telah diformulasikan dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UU No. ruang. 3. sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan. dan Proses perencanaan dilakukan melalui pendekatan politik terkait dalam pemilihan presiden atau kepala daerah yang dikenal dengan rencana pembangunan hasil proses politik. social planning.

lintas kementrian/lembaga. misi. dan arah pembangunan daerah yang mengacu pada RPJP nasional. kebijakan umum. Dalam konteks pembangunan nasional perencanaan keruangan yang dimaksud adalah perencanaan yang mengatur mengenai penggunaan ruang pada tingkat nasional. budaya dan politik yang terjadi di masyarakat. strategi pembangunan daerah. kabupaten/kota. rencana kerja. fasilitas. Selain itu. prioritas pembangunan daerah. tujuan. ekonomi. Rencana kerja yang dibuat berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. program. misi. diwujudkan dalam visi dan misi jangka panjang dan mencerminkan cita-cita kolektif yang akan dicapai oleh masyarakat beserta strategi untuk mencapainya. kebijakan. memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. Oleh karenanya. kecamatan maupun tingkat yang lainnya. dan arah pembangunan nasional. RPJP adalah produk perencanaan yang dijadikan sebagai rujukan produk perencanaan di bawahnya dan dibuat berdasarkan referensi waktu selama 25 tahun. kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Kebijakan dalam sistem pembangunan saat ini sudah tidak lagi berupa daftar usulan tetapi sudah berupa rencana kerja yang memperhatikan berbagai tahapan proses mulai dari input seperti modal. lintas SKPD. misi. kebijakan. dan lain lain. Visi kemudian perlu dinyatakan secara tegas ke dalam misi. Selain dibagi dalam skala waktu. akan diimplementasikan dalam suatu ruang wilayah. Jadi perencanaan lebih kepada bagaimana menyusun hubungan yang optimal antara input. rencana pembangunan jangka panjang adalah produk dari semua elemen bangsa. dan organisasi politik. lembaga-lembaga tinggi negara. Berbagai perencanaan yang dikemukakan di atas. dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). tujuan. propinsi. RPJM sering disebut sebagai agenda pembangunan karena menyatu dengan agenda pemerintah yang berkuasa. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM daerah dan mengacu pada RKP. program kementerian/lembaga dan lintas kementerian/lembaga. misi. dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Sedangkan Renstra SKPD memuat visi. memuat arah kebijakan keruangan daerah. . secara sektoral terdapat pula Rencana Strategis (RenStra) di masing-masing kementerian/departemen serta SOPD di daerah yang merupakan gambaran RPJM berdasarkan sektor atau bidang pembangunan yang ditangani. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP daerah dan memperhatikan RPJM nasional. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Oleh karena itu. program. dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD serta berpedoman kepada RPJM daerah dan bersifat indikatif. ketersediaan sumber daya dan visi/arah pembangunan. dan pendanaannya. Rencana pembangunan tahunan disebut sebagai Rencana Kerja Pemerintah (RKP). kebijakan. misi. RPJM nasional merupakan penjabaran dari visi. dan program presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP nasional. dan lintas kewilayahan. organisasi kemasyarakatan. Perencanaan keruangan adalah perencanaan wilayah yang berbasis ruang atau spasial. RPJP Nasional (RPJPN) merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dalam bentuk visi. RPJP terdiri dari rencana pembangunan jangka panjang di tingkat nasional dan di tingkat daerah. perencanaan pembangunan harus dimulai dengan data dan informasi tentang realitas sosial. dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi kementerian/lembaga yang disusun dengan berpedoman pada RPJM nasional dan bersifat indikatif. yang dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang. memuat prioritas pembangunan. serta program kementrian/lembaga. proses perencanaan juga dibagi dalam tingkat pemerintahan dengan struktur berjenjang. dan pengaturan yang diperlukan. dan Rencana Pembangunan Tahunan. RPJM atau rencana lima tahunan terdiri atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Renstra kementerian dan lembaga memuat visi.Mengacu pada SPPN. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. masyarakat. dan output. misi. RPJM daerah merupakan penjabaran dari visi. kawasan. Agenda pembangunan lima tahunan memuat program-program. pulau. RPJP Daerah (RPJPD) memuat visi. tenaga kerja. strategi. RKP merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. pemerintah. RPJM nasional memuat strategi pembangunan nasional. strategi. Oleh karena itu perencanaan ruang wilayah menjadi bagian penting dalam sistem perencanaan pembangunan nasional dan daerah. Visi merupakan penjabaran citacita kita berbangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. rencana pembangunan dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. kewilayahan. kebijakan umum. proses.

misi dan arah pembangunan nasional.Pembahasan mengenai perencanaan keruangan tidak terlepas dari pembahasan mengenai penataan ruang sehingga secara lebih khusus dalam pembahasan ini mengacu kepada UU No. 1. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang. paling rendah masih diputuskan di tingkat kabupaten. yang pada gilirannya menyebabkan banyak kebijakan publik yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. Meskipun di dalam UU tersebut desa juga dinyatakan sebagai daerah otonom. sehingga memberi keleluasaan yang cukup bagi penyusunan rencana jangka menengah dan tahunannya. e. 22 Tahun 1999 dan PP No. Tidak optimalnya kemitraan atau sinergi antara swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang. Dengan kata lain. Jauhnya rentang pengambilan keputusan tersebut merupakan potensi terjadinya deviasi. Beberapa hal yang dapat melukiskan kondisi penataan ruang saat ini adalah sebagai berikut: a. Walaupun pengertian partisipasi masyarakat sudah menjadi kepentingan bersama. dengan menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat dari generasi demi generasi. dokumen ini lebih bersifat visioner dan hanya memuat hal-hal yang mendasar. Pelaksanaan upaya tersebut dilakukan dalam konteks memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya. Pembangunan nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat. namun masih banyak hal yang menunjukkan adanya tumpang tindih mengenai penggunaan ruang yang ada. Hal ini ditunjukkan dimana pemerintah sudah melakukan sosialisasi dan konsultasi dengan masyarakat. Persoalan yang dihadapi dalam perencanan partisipatif saat ini antara lain panjangnya proses pengambilan keputusan. f. UU 32/2004 (UU No. Untuk itu. 25 Tahun 2000) tentang otonomi daerah telah menggeser pemahaman dan pengertian banyak pihak tentang usaha pemanfaatan sumber daya alam. terutama aset yang selama ini diangap untuk kepentingan pemerintahan pusat dengan segala perizinan dan aturan yang menimbulkan perubahan kewenangan. sehingga b. RPJP Nasional dan RTRW Nasional Berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. c. Tidak terbukanya para pelaku pembangunan dalam menyelenggarakan proses penataan ruang (gap feeling) yang menganggap masyarakat sekedar obyek pembangunan. Kegiatan penataan ruang dilaksanakan dari tingkat mikro hingga makro. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa semua proses keputusan yang diambil haruslah melibatkan masyarakat. Padahal mungkin masalah yang diputuskan sesunggguhnya cukup diselesaikan di tingkat lokal atau desa. lingkungan hidup dan kelembagaannya sehingga bangsa Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dan mempunyai posisi yang sejajar serta daya saing yang kuat di dalam pergaulan . untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. kepada masyarakat. seperti perubahan dalam pengelolaan sumber daya alam yang tidak diikuti oleh aturan yang memadai serta tidak diikuti oleh batasan yang jelas dalam menjaga keseimbangan fungsi regional atau nasional. bangsa dan negara.2. d. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional disusun sebagai penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bentuk visi. Kebijakan pemerintah yang tidak sepenuhnya berorientasi masyarakat tidak terlibat langsung dalam pembangunan. namun masyarakat merasa tidak cukup hanya dengan proses tersebut. dalam 20 tahun mendatang. sebagian besar kebijakan publik. sangat penting dan mendesak bagi bangsa Indonesia untuk melakukan penataan kembali berbagai langkah-langkah. Rangkaian upaya pembangunan tersebut memuat kegiatan pembangunan yang berlangsung tanpa henti. sumber daya manusia. Perubahan sebagai tanggapan dari ketidakadilan selama ini. Rendahnya upaya pemerintah dalam memberikan informasi tentang akuntabilitas dari program penataan ruang. Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 merupakan kelanjutan dari pembangunan sebelumnya untuk mencapai tujuan pembangunan sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. antara lain di bidang pengelolaan sumber daya alam. Jarak antara penyampaian aspirasi hingga jadi keputusan relatif jauh. akan tetapi dalam prakteknya masih terdapat pemahaman yang tidak sama. Dengan demikian. namun tidak memiliki kewenangan yang jelas.

RPJM Nasional II Tahun 2010-2014. pelaksanaan dan pengawasan. penganggaran. organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik. Dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan dan menghindarkan kekosongan rencana pembangunan nasional. Visi merupakan penjabaran cita-cita berbangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Kurun waktu RPJP Nasional adalah 20 (dua puluh) tahun. antarwaktu. Dengan adanya kewenangan untuk menyusun RKP dan RAPBN sebagaimana dimaksud di atas. Oleh karenanya rencana pembangunan jangka panjang nasional yang dituangkan dalam bentuk visi. misi dan arah pembangunan nasional adalah produk dari semua elemen bangsa. sejahtera dan cerdas serta berkeadilan. Sedangkan periodisasi RPJM Daerah tidak dapat mengikuti periodisasi RPJM Nasional dikarenakan pemilihan Kepala Daerah tidak dilaksanakan secara bersamaan waktunya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005. (d) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Perencanaan jangka panjang lebih condong pada kegiatan olah pikir yang bersifat visioner. Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah dilantik menetapkan RPJM Daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang nasional. 2020. 2020. dan (e) mengoptimalkan partisipasi masyarakat. . efektif. yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. yang dituangkan dalam RPJM Nasional I Tahun 2005-2009. RPJP Daerah harus disusun dengan mengacu pada RPJP Nasional sesuai karakteristik dan potensi daerah. Namun demikian. antarruang. 2015. sinkronisasi dan sinergi baik antardaerah. Tujuan yang ingin dicapai dengan ditetapkannya Undang-Undang tentang RPJP Nasional Tahun 20052025 adalah untuk: (a) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan dalam pencapaian tujuan nasional. yaitu terciptanya masyarakat yang terlindungi. Presiden terpilih periode berikutnya tetap mempunyai ruang gerak yang luas untuk menyempurnakan RKP dan APBN pada tahun pertama pemerintahannya yaitu tahun 2010. sehingga penyusunannya akan lebih menitikberatkan partisipasi segmen masyarakat yang memiliki olah pikir visioner seperti perguruan tinggi. dan 2025. RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. misi dan arah pembangunan nasional yang mencerminkan cita-cita kolektif yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia serta strategi untuk mencapainya. 2015. dan RPJM Nasional IV Tahun 2020-2024. RPJP Daerah ini ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Di samping itu. Presiden yang sedang memerintah pada tahun terakhir pemerintahannya diwajibkan menyusun RKP dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) pada tahun pertama periode Pemerintahan Presiden berikutnya. Sesuai dengan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. dan 2025. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. Pelaksanaan RPJP Nasional 2005-2025 terbagi dalam tahap-tahap perencanaan pembangunan dalam periodisasi perencanaan pembangunan jangka menengah nasional 5 (lima) tahunan. lembagalembaga negara. masyarakat. melalui mekanisme perubahan APBN (APBN-P) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. berkeadilan dan berkelanjutan. Bila visi telah terumuskan. yaitu pada tahun 2010.masyarakat Internasional. RPJM Nasional dan RPJP Daerah dapat disusun terlebih dahulu dengan mengesampingkan RPJP Nasional sebagai pedoman. lembaga-lembaga strategis. (c) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Sedangkan RPJM Daerah merupakan visi dan misi Kepala Daerah terpilih. RPJM Nasional III Tahun 2015-2019. Kurun waktu RPJP Daerah sesuai dengan kurun waktu RPJP Nasional. maka jangka waktu keseluruhan RPJPN adalah 2005-2025. antarfungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. Mengingat RPJP Nasional menjadi acuan dalam penyusunan RPJP Daerah. Rancangan RPJP Daerah hasil Musrenbangda dapat dikonsultasikan dan dikoordinasikan dengan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). pemerintah. Rencana pembangunan jangka panjang nasional diwujudkan dalam visi. (b) menjamin terciptanya integrasi. Selanjutnya RPJP Daerah dijabarkan lebih lanjut dalam RPJM Daerah. individu pemikir-pemikir visioner serta unsur-unsur penyelenggara negara yang memiliki kompetensi olah pikir rasional dengan tetap mengutamakan kepentingan rakyat banyak sebagai subyek maupun tujuan untuk siapa pembangunan dilaksanakan. Kepala Bappeda menyiapkan rancangan RPJP Daerah yang disusun melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda).

tidak hanya untuk kepentingan generasi saat ini. Pendekatan top-down dan partisipatif dalam perencanaan pembangunan yang ada dalam UU No. bahwa penataan ruang terbagi atas kegiatan perencanaan. Sementara berkelanjutan mengandung pengertian dimana kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan. pemberian insentif dan disinsentif. salah satu tujuan pembangunan yang hendak dicapai dalah mewujudkan ruang kehidupan yang nyaman. Ketiga rencana tata ruang tersebut harus dapat terangkum di dalam suatu rencana pembangunan sebagai acuan di dalam implementasi perencanaan pembangunan berkelanjutan di wilayah Indonesia. dan berkelanjutan. dan pengendalian pemanfaatan ruang. Disamping itu segala bentuk kegiatan pemanfaatan sumberdaya harus diatur di dalam rencana tata ruang seperti yang tercantum di dalam UU No. Secara partisipatif. Ruang merupakan sumber daya alam yang harus dikelola bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. maka Undang-Undang Penataan Ruang ini diharapkan dapat mewujudkan rencana tata ruang yang dapat mengoptimalisasikan dan memadukan berbagai kegiatan sektor pembangunan. Terkait hal ini. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRW Kab/kota). Pemerintah telah menetapkan rencana kerja pemerintah berikut alokasi anggaran yang ditetapkan dan akan digunakan didalam membiayai kegiatan pembangunan secara nasional. Dilihat dari sudut pandang penataan ruang. mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia. daerah akan menyusun RPJPD dan RPJMD yang mengacu pada RPJP dan RPJM Nasional serta membuat program pembangunan dan kegiatan pokok yang akan dilaksanakan melalui Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang disusun oleh Kementerian/Lembaga. terkoordinir dan berkesinambungan. sangat terkait dengan kegiatan pengalokasian sumberdaya. baik dalam pemanfaatan sumberdaya alam maupun sumberdaya buatan. Sementara itu landasan hukum sistem penataan keruangan yang digunakan adalah UU No. dan sejahtera. Segala kegiatan yang tentu saja membutuhkan ruang sebagai wadah pendukung kegiatan pembangunan tersebut harus diatur di dalam rencana tata ruang. 26/2007. dengan produk rencana tata ruang berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang secara hirarki terdiri dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). serta sanksi. dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Produktif mengandung pengertian bahwa proses produksi dan distribusi berjalan secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing. yaitu: perencanaan tata ruang. Rangkaian forum ini menjadi bagian dalam menyusun sistem perencanaan dan alokasi anggaran untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan setiap tahun. diantaranya pengendalian pemanfaatan ruang. rencana pembangunan terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). yang digunakan sebagai arahan di dalam Sistem Perencanaan Pembangunan secara nasional. berbudi luhur. Disadarai bahwa peranan penataan ruang didalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang terjabarkan pada rencana pembangunan sangatlah penting. perizinan. 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan merupakan payung hukum bagi pelaksanaan perencanaan pmbangunan dalam rangka menjamin tercapainya tujuan negara. 25/2004 terwujud dalam bentuk rangkaian musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) yang dilakukan secara berjenjang dari mulai tingkat Kabupaten/Kota sampai dengan Nasional. terpadu. pemanfaatan ruang. Pengendalian pemanfaatan ruang dilaksanakan secara sistematik melalui penetapan peraturan zonasi. Keseluruhan tujuan ini diarahkan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. Menurut undang-undang tersebut. Sebagai payung hukum dalam penyelenggaraan penataan ruang.UU No. Secara top down. Rencana pembangunan memuat arahan kebijakan pembangunan yang dijadikan acuan bagi pelaksanaan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. dan mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan. dan berkelanjutan. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dengan turunannya berupa rencana tata ruang merupakan upaya penting dalam menertibkan penyelenggaraan penataan ruang di Indonesia yang diwujudkan melalui beberapa aspek penting. dan pengendalian pemanfaatan ruang. Kegiatan penataan ruang terdiri dari 3 (tiga) kegiatan yang saling terkait. usaha pencapaian tujuan dan tindakantindakan di masa depan. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP). proses perencanaan pembangunan dilaksanakan dengan melibatkan seluruh stakeholder di pusat dan daerah. produktif. Perencanaan pembangunan adalah suatu proses yang bersifat sistematis. Ruang kehidupan yang nyaman mengandung pengertian adanya kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mengartikulasikan nilai-nilai sosial budaya dan fungsinya sebagai manusia. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Dengan demikian keterkaitan antara perencanaan pembangunan dan penataan ruang sangat penting . namun juga generasi yang akan datang. Dalam konteks ini ruang harus dilindungi dan dikelola secara terkoordinasi. pemanfaatan.

Perlu dipahami dan disadari mengenai pola hubungan antara perencanaan pembangunan dan perencanaan keruangan. RTRWN merupakan pedoman bagi penyusunan dan pelaksanaan kegiatan yang bersifat “keruangan”. RPJPN dan RTRWN memiliki batas waktu selama 20 tahun. seringkali dianggap sebagai produk satu instansi tertentu dan belum menjadi dokumen milik semua instansi karena penyusunannya belum melibatkan berbagai pihak. Keterkaitan antara rencana pembangunan dengan penataan ruang dapat dilihat pada skema berikut (lihat Gambar 4. Hal ini disebabkan beberapa hal diantaranya adalah: data dan informasi yang digunakan kurang akurat dan belum meliputi analisis pemanfaatan sumberdaya kedepan. Gambar 4. Sinkronisasi rencana pembangunan dalam memanfaat ruang untuk melaksanakan aktivitas pembangunan seringkali menemui kesulitan. Berdasarkan pasal 19 UU No. (2) Dari aspek pemanfaatan ruang suatu wilayah atau daerah seringkali tidak sesuai dengan peruntukannya yang ada dalam . perubahan batas wilayah provinsi yang ditetapkan dengan UU (khusus RTRWP dan RTRWK). 26/2007 tentang Penataan Ruang. dan pada pasal 20 ayat (2) menyatakan bahwa RTRWN menjadi pedoman untuk penyusunan RPJPN. Untuk RTRWN dapat ditinjau kembali satu kali dalam 5 tahun apabila terjadi perubahan lingkungan strategis seperti terjadi bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. bahwa di dalam penyusunan RTRWN harus memperhatikan RPJPN. terutama di tingkat daerah. Keterkaitan Diantara Rencana Pembangunan Berdasarkan diagram diatas dapat dinyatakan bahwa Rencana Pembangunan (Nasional dan Daerah) dan Rencana Tata Ruang harus dapat saling mengacu dan mengisi. Lebih kongkrit lagi.1. Permasalahan lain yang terjadi terkait dengan perencanaan tata ruang adalah seringkali perencanaan suatu kegiatan yang menggunakan ruang secara blue print tidak tergambar secara detail di dalam suatu peta rencana yang dapat menyebabkan pada pelanggaran didalam pemanfaatan ruang. haruslah terjadi pola hubungan antara produk-produk pada perencanaan pembangunan dan perencanaan keruangan.1). dan perubahan batas wilayah kabupaten/kota yang ditetapkan dengan UU (khusus RTRWK). Implementasi dan penjabaran RPJP dituangkan dalam dokumen RPJM yang memiliki batas waktu selama 5 tahun. penyusunan rencana tata ruang sering dilaksanakan hanya untuk memenuhi kewajiban pemerintah (Pusat dan Daerah) sesuai Undangundang dan Peraturan Daerah.dalam rangka optimalisasi sumberdaya alam dan buatan yang terbatas dan mengurangi resiko bencana yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia. Penjabaran RPJMN tertuang di dalam RKP yang dirumuskan setiap tahun dan disusun melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). rencana tata ruang uang disusun. Dalam pelaksanaannya masih banyak terdapat berbagai kendala dan tantangan yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : (1) Produk rencana tata ruang yang dihasilkan masih belum diacu dalam pelaksanaan pembangunan. Hubungan ini akan menuntun pada terwujudnya perencanaan dan tujuan dari proses perencanaan. perubahan batas teritorial negara yang ditetapkan dengan UU.

dan budaya. Perroux (1955). dan mencakup ruang daratan. Salah satu upaya tersebut antara lain melalui pemberian perizinan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang terdapat di dalam rencana tata ruang. (5) Produk rencana tata ruang daerah harus dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah yang selaras dengan visi dan misi daerah. maka adanya beberapa langkah yang diperlukan: (1) Melakukan penyelarasan implementasi terhadap rencana pembangunan dengan rencana tata ruang melalui mekanisme yang diatur didalam suatu kebijakan/peraturan. dan proses ini akan memakan waktu yang cukup lama. Bahkan dalam era otonomi daerah. telah menyebabkan alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Sebagai dampaknya. konflik kewenangan pun terjadi secara hirarki antar instansi pemerintahan. Misalnya dalam proses alih fungsi kawasan hutan (produksi maupun lindung) yang diminta oleh daerah. Hal ini terkait erat dengan rencana tata ruang yang tidak sesuai. teknologi dan kondisi wilayahnya. (4) Perlu dilakukan penyusunan rencana tata ruang yang berkualitas dan menyeluruh. maka prosesnya harus mengikuti ketentuan yang ada sesuai Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. lautan. 1. Ruang adalah wadah berbagai kegiatan sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. Banyak cara untuk mengembangkan wilayah mulai dari penggunaan konsep (alat) pembangunan sektoral.rencana tata ruang suatu wilayah atau daerah. ”bassic need approach”. baik pada tingkat legislatif maupun eksekutif. Oleh karena itu peranan kelembagaan penataan ruang dalam menjembatani hal tersebut sangatlah penting. (6) Ketegasan sanksi dan ketetapan hukum sebagai alat yang digunakan untuk mengendalikan segala bentuk pemanfaatan ruang. (9) Mewujudkan konsistensi dalam penyerasian rencana tata ruang dengan rencana pembangunan antar pemangku pemerintahan. Kebutuhan mendesak akan ruang. ”growth center” yang digagas oleh Friedman (1969) sampai kepada pengaturan ruang secara terpadu melalui proses pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) secara sinergi dengan pengembangan sumberdaya manusia dan lingkungan hidup untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. (3) Mewujudkan keterpaduan dan kerjasama pembangunan lintas provinsi dan lintas sektor untuk optimasi dan sinergi struktur pemanfaatan ruang. Dengan adanya berbagai tantangan dan kendala dalam mengintegrasikan Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang Wilayah. termasuk alih fungsi lahan tanpa memperhitungkan keberlanjutannya dalam jangka panjang. RTRW Pulau Kalimantan Pengembangan wilayah merupakan suatu upaya untuk mendorong terjadinya perkembangan wilayah secara harmonis melalui pendekatan yang bersifat komperhensif mencakup aspek fisik. Fenomena ini seringkali terjadi untuk memenuhi kebutuhan ruang bagi masyarakat dan pemerintah (daerah) terutama terjadi di daerahdaerah yang baru dibentuk sebagai akibat pemekaran daerah. dengan keluarnya undang undang ini maka pengembangan wilayah dilaksanakan melalui alat penataan ruang. Selain itu. Ego sektoral dan daerah masih menjadi masalah utama dalam hal ini. ekonomi.3. baik yang disebabkan oleh pengguna ruang ilegal maupun pemerintah. bentuk pelanggaran-pelanggaran tata ruang semakin marak terjadi yang dapat mengganggu lingkungan dan pada akhirnya dapat mengakibatkan bencana yang tentunya merugikan bagi masyarakat. (7) Penyelenggaraan sosialisasi dalam rangka memberikan informasi pentingnya peranan penataan ruang didalam pelaksanaan program pembangunan kepada masyarakat. Hal tersebut berdampak pada maraknya alih fungsi lahan yang dilakukan dalam rangka melangsungkan dan mendukung kegiatan ekonomi. Hal ini berdampak pada sulitnya pemerintah daerah dalam melaksanakan penyusunan rencana tata ruang wilayahnya. (4) Sulit untuk menciptakan sinkronisasi kelembagaan dan hal ini terwujud dalam bentuk konflik penataan ruang yang disebabkan oleh tidak sinkronnya kegiatan antar sektor dan antar daerah. dan udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta . menjadikan berbagai kegiatan pendukung ekonomi menjadi faktor utama di dalam kegiatan pembangunan. Sebagai contoh. konflik antar sektor kehutanan dengan pemerintah daerah dalam pemanfaatan kawasan hutan. kewenangan yang sudah banyak didelegasikan kepada Pemerintah Daerah melalui kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi memberikan kesempatan bagi daerah untuk mencari berbagai sumber pendapatan baru untuk meningkatkan pendapatan asli daerah melalui berbagai kegiatan ekonomi. (8) Peningkatan manajemen kelembagaan penataan ruang baik di Pusat maupun di daerah. ”development poles” (poles de croissance) yang digagas oleh F. Di Indonesia. sosial. (3) Masalah perekonomian yang menjadi pemicu didalam pembangunan nasional. Pada dasarnya pendekatan pengembangan wilayah ini digunakan untuk lebih mengefisiensikan pembangunan dan konsepsi ini tersus berkembang disesuaikan dengan tuntutan waktu. (2) Melakukan sinkronisasi kebijakan antar sektor dan instansi pemerintahan secara hirarki untuk mewujudkan keselarasan program pembangunan. dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah dalam jangka menengah maupun panjang maupun tidak adanya sanksi hukum terhadap pelanggaran rencana tata ruang.

Karena sebagian besar pegunungan. Dilain pihak pulau Kalimantan juga mempunyai potensi antara lain untuk ikut dalam sistem kerangka kerjasama ekonomi regional seperti BIMP-EAGA (Brunai. dan tengkawang.93 %). Kegiatan pembangunan tersebut akan terus berlanjut secara ”sustained”. sebaiknya dibuat strategi pelaksanaan pembangunan dalam rangkaian program pemanfaatan ruang. Tahap awal. terletak diantara 40 24` LU . 2. Secara garis besar. Analisis ekonomi hasil hutan dengan . dan lain– lain (0. ramin. dan sisanya dataran pantai/ pasang surut (11. dan khususnya di pulau Kalimantan ketersediaan ruang ini terbatas. dan cendana sudah hampir punah. kualitas lingkungan. dan estetika wilayah. serta usulan konsepsi pengendaliannya. kemungkinan besar akan terjadi pemborosan manfaat sumber daya alam yang tersedia di Kalimantan ini. gambaran umum permasalahan dan potensi pulau Kalimantan dapat diuraikan sebagai berikut : 1.73 %) dataran aluvial (12. Selain itu pesoalan ”illegal loging” yang sering merusak potensi sumber daya alam (hutan tropis) kita terus berkembang sejalan dengan tingkat ekonommi masyarakat perbatasan yang belum maju tersebut. Malaysia. Artinya berbagai kegiatan dan sumber daya alam yang terkandung dan tersedia di pulau Kalimantan ini terbatas.1190 00` BT dengan luas wilayah sekitar 535.mahluk hidup lainnya. Namun demikian dalam tulisan ini akan dicermati kedudukan pentingya penataan ruang wilayah pulau Kalimantan dalam satu proses keseluruhan yang tidak hanya berhenti pada perlunya disusun RTRWnya saja tapi juga bagaimana. untuk mencapainya diperlukan upaya penataan ruang wilayah pulau Kalimantan yang berbasis mengoptimasikan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan yang ada agar terjadi pengembangan wilayah seperti yang diinginkan. Letak Geografis Wilayah pulau Kalimantan (bagian selatan) dalam wilayah Republik Indonesia. saat ini sedang disusun Rencana Tata Ruang wilayah (RTRW) Pulau Kalimantan terlebih dahulu. Struktur mengatur sistem pusat-pusat kegiatan beserta jaringan prasarana secara hirarkhis. Sebagai daerah yang memiliki kawasan perbatasan maka mempunyai persoalan/masalah yang terkait ”illegal trading” apalagi penduduk kawasan negara tetangga jauh lebih sejahtera dan pembangunannya maju pesat. Saat ini upaya untuk menata ruang pulau Kalimantan sedang dilaksanakan oleh berbagai pihak baik oleh seluruh pemerintah propinsi di Kalimantan maupun oleh instansi pemerintah pusat secara bekerja sama. Rencana Tata Ruang sendiri adalah produk pengaturan Struktur dan Pola pemanfatan ruang. Oleh karena itu. Sayangnya spesies hasil hutan seperti kayu gaharu. rotan. disana ada potensi beberapa taman nasional sebagai konservasi flora dan fauna dan hutan di pegunungan Muller serta sebagian di Schawner yang ditetapkan sebagai ”world heritage forest” dan merupakan cadangan air seluruh Kalimantan sebanyak sekitar 35 % yang tidak akan habis di masa yang akan datang dengan syarat tidak teganggu dan tercemar serta perlu dilindungi sebagai suatu ekosistem. damar.08 %).40 10` LS dan anatara 1080 30` BT .47 %).69 %). akan tercapai sinergi antara berbagi jenis kegiatan pemanfaatan ruang. Sebaliknya bila ada rekayasa pengaturan ruang dengan baik (penataan ruang) maka harapan akan terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan wilayah Kalimantan akan tercapai. dengan fungsi lokasi. dan lebih jauh akan terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup. Philipina – Eastern Asian Growth Area) dan dilalui jalu perdagangan laut internasional. Nilai ekonomis yang diharapkan bagi pengembangan wilayah Kalimantan tidak akan tercapai dan yang akan terjadi kerusakan lingkungan (baik “renewable” maupun yang “non renewable”) yang justru akan menjadi “cost” yang “never ending”. dan pola pemanfaatan ruang adalah mengatur wilayah dengan satuan-satuan (deliniasi ruang) yang fungsional sesuai dengan tujuan rencana dan sesuai dengan kondisi daya dukung dan daya tampung sumber dayanya. Kondisi Fisik Dasar dan Hasil Sumber Daya Lahan Pulau Kalimantan sebagaian besar merupakan daerah pegunungan / perbukitan (39. Dengan memberikan arahan pengaturan ruang melalui optimasi kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang ada dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung wilayah. Indonesia. Hasil hutan yang potensi di Kalimantan adalah kayu industri. Dengan demikian lokasinya berbatasan langsung dengan negara Malaysia (Sabah dan Serawak) di sebelah utara yang panjang perbatasannya mencapai 3000 km mulai dari proinsi Kalimanatan Barat sampai dengan Kalimantan Timur. Pada umumnya topografi bagian tengah dan utara (wilayah republik Indonesia/RI) adalah daerah pegunungan tinggi dengan kemiringan yang terjal dan merupakan kawasan hutan dan hutan lindung yang harus dipertahankan agar dapat berperan sebagai fungsi cadangan air dimasa yang akan datang. Di dunia.834 km2. daratan (35. Bila pemanfaatan ruang ini tidak diatur dengan baik maka bedasarkan konsepsi dan diagram seperti yang diuraikan di atas. juga di Indonesia.

Kegiatan perkebunan pada umumnya berada pada wilayah di perbukitan dataran rendah. Usaha perkebunan ini sudah mulai berkembang banyak dan banyak investor mulai datang dari negara jiran. mika dan batubara. Sektor terbesar yang memberikan kontribusi nilai PDRB adadalh Industri pengolahan. Untuk ini diperlukan optimasi pemanfaatan lahan agar hasil gunaanya dapat memberikan nilai ekonomis dan perkembangan pada wilayah. Indikator kualitas kehidupan masyarakat (sosial-ekonomi) diukur dengan ”Human Developmen Index” (HDI) yang juga relatif masih rendah dibandingkan dengan beberapa daerah di Pulau Jawa Kontribusi PDRB agregrat pulau Kalimantan terhadap PDB nasional cukup baik. serta di beberapa tempat lainnya di bagian tengan dan hulu sungai besar di Kalimantan. Sebagai besar lahan Gambut ini ada di Kalimantan tengah dan selatan dan sebagaian kecil di pantai Kalimantan barat dan di Kaltim bagian utara. Hal ini karena memang luas propinsi Kalsel lebih kecil dibanding yang lain. Pertumbuhan sektor yang paling baik adalah sektor pertanian. dan pertanian. Jumlah penduduk terbanyak adalah Kalbar yaitu 34 % dari total penduduk seluruh Kalimantan. patahan/sesar dan gempa bumi. selatan dan timur. Erosi sabagai akibat aberasi pantai terjadi di pantai barat. karena keterbatasan lahan dinegara jiran tersebut. Untuk terus dikembangkan secara ekonomis dengan memanfaatkan lahan yang sesuai masih diperlukang dukungan prasarana wilayah. Kondisi tanah di Kalimantan pada umumnya tidak subur untuk kegiatan usaha pertanian. Lahan daratan memerlukan konservasi yang sangat luas karena terdiri dari lahan rawa gambut. kelapa. Selain banyak danau-danau yang berpotensi sebagai sumber penghasil perikanan khususnya satwa ikan langka. Berdasarkan kajian Banter (1993) kemungkinan sering terjadi erosi pada lereng barat laut pegunungan Schwener dan G Benturan. Dalam teori ekonomi saling ketergantungan. Kinerja perekonomian yang baik dapat terjadi karena kemampuan propinsi atau kabupaten / kota dalam bersaing. dan bukit-bukit relatif agak baik untuk kegiatan pertanian. mangan. da hal ini perlu dioptimasikan agar punya nilai ekonomis namun tetap menjaga fungsi dan peran danau tersebut. namun dalam lingkup propinsi sektor pertanian cukup dominan memberikan kontribusi pada PDRBnya masinhg-masing yaitu antara 20-40 %. sektor kedua adalah Pertambangan dan penggalian dan ketiga pertanian. Tambang minyak dan gas alam cair terdapat di dataran rendah. berpasir. Deposit pertambangan yang cukup potensial adalah emas. Sungai-sungai di Kalimantan ini cukup panjang dan yang terpanjang adalah sungai Kapuas (1. Persaingan ini bisa terjadi dalam kegiatan ekonomi baik internal maupun antara kota dalam propinsi atau antar propinsi. Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi. Bahaya lingkungan lainnya adalah kebakaran hutan pada musim kemarau sebagai akibat panas alam yang membakar batu bara yang berada di bawah hutan tropis ini. Kondisi dan Perkembangan Sosial Ekonomi Wilayah Jumlah penduduk Kalimantan masih relatif kecil dan tidak lebih dari 18 juta jiwa dengan rata rata kepadatan penduduk agregrat = 20 jiwa/km2. pasir kwarsa.ekosistimnya untuk menjaga keseimbangan lingkungan perlu dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat setempat. dan lahan yang memiliki kelerengan curam. kecuali di propinsi Kaltim. pegunungan. Namun kegiatan perekonomian ini juga sangat tergantung kepada daya dukung yang dapat menyediakan sumber dayanya. Oleh karenanya optimasi pemanfaatan SDA agar tidak hanya sekedar mengejar manfaat ekonomi perlu ada pengaturan ruang. dan ”off sore”. Kondisi tanah di dataran teras pedalaman. bauksit. karet. lahan bertanah asam. Kegiatan pertambangan ini seringkali menimbulkan konflik dengan pemanfaatan ruang lainnya yaitu dengan kehutanan. Hampir rata terjadi di masing-masing bahwa sektor jasa relatif lambat pertumbuhannya. Oleh karena itu bagi kabupaten/kota yang mempunyai potensi sumber dayanya perlu mendapat prioritas . Dari nilai pertumbuhannya rata-rata senua propinsi berkembang dengan baik. Bahaya lingkungan ini harus menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan dalam pengaturan ruang wilayah. Memilih kesesuaian ruang untuk kegiatan uasaha yang sesuai dengan kesesuan tanah sangat diperlukan. namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya lingkungan. wilayah dan ekonomi nasional. 3. Laju pertumbuhan penduduk adalah 1. Walupun sektor pertanian memberikan kontribusi ketiga. fosfat. Potensi pertambangan banyak terdapat di pegunungan dan perbukitan di bagaian tengah dan hulu sungai. Sejumlah sungai besar merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksportimport. perkebunan. Sedangkan propinsi terpadat adalah Kalsel yaitu 80 jiwa/km2. Potensi hidrologi di Kalimantan merupakan faktor penunjang kegiatan ekonomi yang baik.87 %. dan kakuatan daya saing menadi faktor kuat untuk perkembangan wilayah. pantai. tebu dan perkebunan tanaman pangan. Perkebunan yang potensi dan berkembang adalah : sawit.143 km) di Kalbar dan dapat menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat.

Ada yang masih perlu digali dan dirangsang dengan stimulan.Perkembangan kegiatan sosial ekonomi memberikan indikasi bahwa sudah ada potensi kegiatan masyarakat dan aktifitas ekonomi interinsuler serta eksport-import yang dapat mendorong perkembangan wilayah Kalimantan. 5. c. mendukung dan mendorong perkembangan wilayah. pertambangan. Hanya ada 3 (tiga) propinsi yang mempunyai kota-kota pelabuhan. Di Kalimantan ada 19 (sembilan belas) pelabuhan udara (termasuk pelabuhan udara perintis) yang membantu sebagai prasarana transportasi udara mengembangkan ekonomi wilayah melalui kelancaran arus kegiatan perdagangan dan pergerakan penduduik secara umum termasuk dalam menunjang misi sosial. PLTD ini sangat konsumtif terhadap bahan bakar dan mahal. Dibandingkan pulau lainnya kepadatan jalan sangat berkurang yaitu hanya 85. Kota pelabuhan ini berperan sebagai outlet/inlet kegiatan perdagangan interinsuler dan perdagangan eksport/import. Untuk itu diperlukan kehati-hatian dalam pemanfaatan ruangnya. PLTG. Peran transportasi laut ini sangat penting untuk mendorong perkembangan ekonomi wilayah Kalimantan. PLTA dan PLTGU. Kalsel 1 kota pelabuhan. Berdasarkan analisis potensi dan berbagai permasalahan kondisi sumber daya alam. Jaringan jalan ini harus terus diprogramkan secara terpadu intermoda dengan transportasi air (sungai) dan udara untuk merintis. dan PLT Batubara untuk membantu kosumsi listrik perkotaan/permukiman dan industri.491. agama dan keamanan wilayah. Selain sumber daya alam. Tenaga listrik ini turut mempengaruhi pola perkembangan wilayah saat ini khususnya dalam meng-”generate” kegiatan / kawasan industri sawit. Pola pengaturan SD listrik dan pemanfaatan ruang kegiatan industri pelu sinergis. Jumlah pelabuhan udara di propinsi Kalbar 5 (lima). Beberapa hasil SDA dan industri olahan dipasarkan melalui outlet kota pelabuhan. di pulau Kalimantan juga mempunyai kegiatan industri. Tahun 1998 arus lalu lintas pesawat datang . Tingkat pelayanan transportasi sungai cukup signifikan yaitu 33 % sedangkan transportasi jalan taya 44 % dan sisanya transportasi laut dan udara. batu bara.pengembangan walaupun dengan karakteristik yang berbeda. Dalam pengelolaan SDA harus diperhatikan kesesuaian lahan dan aspek lingkungan hidup. olahan hasil hutan. 4. Data menunjukan di propinsi Kaltim yang paling ramai terjadi bongkar muat komoditas/barang di pelabuhan yaitu 2.keluar pelabuhan udara tercatat 39. dan gas) masih dapat dimungkinkan untuk dikembangkan pemanfaatan PLTA.824 ton muat.29 km/ha untuk jalan nasional dan propinsi. Panjang jalan ini sangat kurang untuk melayani jumlah luas pulau yang sangat besar. kegiatan sosial ekonomi masarakat dan wilayah. semen.324. Kalteng 7 (tujuh). Kondisi Prasarana Kelistrikan Jaringan listrik di Kalimantan belum seluruhnya dilayani oleh jaringan inter-koneksitas secara total. Transportasi sungai ini sebagian besar dimanfaatkan untuk mengangkut kayu dan hasil industri kayu dan hasil hutan lainnya. Di Kalimantan masih tersedia sumber daya alam yang potensi untuk dikembangkan secara ekonomis bagi pengembangan wilayah. namun juga masih menghadapi berbagai kendala antara lain prasarana dan faktor pembatas lingkungan.005 pesawat kedatangan. ada yang tinggal mendorong dan ada yang tinggal memberi dukungan. Kondisi Prasarana Wilayah (Transportasi) Pulau Kalimantan Total panjang jalan di pulau Kalimantan 42.641 km. Dengan memperhatikan potensi sumber daya alam (air. Secara umum pola jaringan tranasportasi jalan yang ada walaupun belum terthubungkan secara masif. sebagaian besar masih dilayani jaringan transmisi bertegangan 275 KV. yaitu propinsi Kalbar 4 pelabuhan. yaitu jalur utara membentang barat-timur. dan industri lainnya. . Dilain pihak jumlah kendaraan juga sangat terbatas sehingga ada beberapa ruas jalan yang kapasitasnya masih belum termanfaatkan secara optimal.964 pesawat keberangkatan dan 40. tengah membelah barat timur dan selatan melingkar mengikuti garis pantai. pertambangan dan hasil olahan lainnya yang potensi dan akan saling terkait dengan pemanfaatan ruang lainnya serta dimungkinkan adanya konflik pemanfaatan ruang. b. dan Kaltim 15 kota pelabuhan.102 ton bongkar dan 54. dan prasarana wilayah di Kalimantan yang dikaitkan dengan aspek lingkungan hidup untuk pembangunan berkelanjutan dan pengembangan wilayah dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : a. Kalsel 3 (tiga) dan Kaltim 4 (empat). Sumber pembangkit listrik utama di Kalimantan adalah PLTD dan ada beberapa dari PLTG.

Bila kesenjangan ini terus dibiarkan secara total pulau akan saling mengurangi nilai ekonomi wilayahnya. Dari data di atas. Pola penyebarannya sangat terbatas di bagian barat . Selain itu kota-kota besar dan metropolitan tumbuh dan berkembang di wilayah pantai dan pesisir seperti Pontianak. diperlukan terlebih dahulu pengaturan ruang dalam bentuk penyusunan rencana tata ruang untuk tujuan pembangunan dimasa yang akan datang. Untuk mensinergikan pemanfaatan sumber daya alam dengan kegiatan ekonomi masyakat dan wilayah yang berbasis pelestarian lingkungan hidup untuk pengembangan wilayah Kalimantan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi wilayah. . selatan. fauna). e. untuk itu diperlukan pengaturan yang sinergi antara struktur prasarana wilayah dengan pemanfaatan ruang kegiatan lainnya kawasan-kawasan yang dikonservasi/dilindungi. dan timur utara wilayah pulau Kalimantan. d. maraknya pertambangan rakyat yang tidak terkendali dan terbukanya lahan-lahan eks tebangan yang belum ditanami dan menjadi lahan-lahan kritis. Penurunan kualitas lingkungan ini terjadi akibat penebangan hutan secara liar (illegal logging) dan pengambilan hasil hutan lainnya (tengkawang. kegiatan industri manufaktur yang memberikan nilai komoditas ekonomis berada di kota-kota pantai dibanding dengan kota-kota di bagian tengah dan utara. e. Banjarmasin. selatan. dan Samarinda. Selain hal di atas. Ketimpangan Ekonomi Antar Wilayah Kesenjangan pembangunan antar daerah terjadi di Pulau Kalimantan ini tidak hanya antar propinsi tetapi juga antar kabupaten di wilayah bagian pesisir dan pedalaman. Oleh karena itu kawasan perbatasan yang panjangnya mencapai 3200 km penanganannya perlu dilaksanakan dengan pendekatan keamanan dan kesejahteraan masyarakat. b. Balikpapan. Eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan ini terjadi di kawasan perbatasan dan di pegunungan Muller serta di Taman Nasional Kutai dan Tanjung Puting. a.d. Keterbatasan ini memberikan gambaran keterbatasan sarana dan prasarana wilayah terutama transportasi jalan raya. pengaturan kebijakan dan strategi serta program pemanfaatannya. 6. sungai maupun udara. Isu Pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan Eksploitasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Issu degradasi kualitas lingkungan sebagai akibat pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali dan tidak terencana dengan baik perlu segera di atasi. Kontribusi PDRB Kabupaten di wilayah pesisir (pesisir barat. Pengembangan Kawasan Perbatasan Penanganan kawasan perbatasan antara RI dan Malaysia harus diprioritaskan. dan sistem pengendaliannya. Prasarana wilayah (transportasi dan kelistrikan) dapat membantu (sebagai alat) mendorong perkembangan wilayah. rotan. c. Hal ini semua pada gilirannya akan mengurangi potensi sumber daya alam pulau Kalimantan. Di bagian tengah dan dataran rendah pantai selatan pada umumnya lahan bergambut dengan tingkat keasaman tinggi yang sulit ditanami oleh komoditas pertanian yang ekonomis. Hal ini bukan saja karena gangguan bahaya terhadap kerusakan sumber daya alam dan lingkungan yang perlu dikonservasi (hutan lindung) akibat illegal logging tetapi juga perlu segera menangani perbaikan ekonomi masyarakat setempat dan keamanan negara. Pola Penyebaran Sumber Daya Alam Pola penyebaran sumber daya alam yang potensial ekonomis pada umumnya berada pada lahan-lahan subur di dataran rendah dan tidak berawa. dan hal ini makin mempertajam kesenjangan ekonomi wilayah. degradasi kualitas lingkungan ini diakibatkan oleh kebakaran hutan. Sedangkan di bagian utara dan tengah adalah daerah pegunungan yang berfungsi sebagai kawasan konservasi untuk cadangan air. Keterbatasan Interaksi Internal Sebagai syarat perkembangan dan pertumbuhan wilayah diperlukan interaksi antar pusat-pusat permukiman (kota) baik yang internal propinsi maupun yang lintas propinsi. Kesenjangan penyediaan sarana dan prasarana transportasi juga terjadi antara wilayah pantai dengan bagian tengah dan utara pulau Kalimantan (perbatasan). dan timur pulau Kalimantan) memberikan kontribusi PDRB yaitu 90 % terhadap total PDRB Kalimantan.

Tindak lanjut dari strategi ini. Meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas pertanian. Secara lebih operasional. Sedangkan dalam tataran strategi pencapaian misi yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup. Misi yang tertuang dalam RPJM dari perspektif lingkungan adalah: 1. dan kemampuan pemulihannya dalam mendukung kualitas kehidupan sosial dan ekonomi secara serasi. peternakan dan pertambangan yang berbasis sumberdaya alam. berkeadilan dan berkesimbangan. perikanan. 2. untuk melihat konsistensi dan harmonisasi berbagai kebijakan perencanaan pembangunan Provinsi Kalimantan Barat akan dibahas berikut ini. 5. 3. berbagai kebijakan yang diterapkan didaerah harus mendasari. Dalam konteks ini. seimbang dan lestari. dan ekologi. visi RPJP Kalimantan Barat telah memuat aspek pengelolaan lingkungan yang memberikan penekanan pada upaya pengelolaan SDA dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. secara ekologi tidak menyebabkan kerusakan lingkungan (degradasi sumberdaya) dan secara sosial berkeadilan. Berbudaya Dan Sejahtera. RPJPD dan RPJMD Provinsi Kalimantan Barat Sebagai bagian dari pembangunan nasional. RPJM Kalimantan Barat memberikan penegasan bahwa Strategi pengembangan SDA melalui pendekatan pengelolaan berkelanjutan yang menyangkut aspek dimensi ekonomi. mengacu. Melaksanakan pengendalian dan pemanfaatan tata ruang dan tata guna wilayah sesuai dengan peruntukan dan regulasi. Konsepsi Penataan Ruang Wilayah Kalimantan Bertitik tolak dari kondisi potensi wilayah dan issu perkembangannya maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencapai pengembangan wilayah pulau Kalimantan yaitu mencakup tahapan : (1) perencanaan tata ruang wilayah pulau Kalimantan (2) pemanfaatan ruang dalam bentuk penyusunan kebijakan dan strategi pembangunan yang selanjutnya dituangkan dalam program-program pelaksanaan pembangunan (3) pengendalian pemanfaatan ruang melalui proses pengawasan dan pemberian izin-izin agar sesuai dengan rencana tata ruang. daya dukung. Hal ini dapat dilihat dari visi yang tertuang pada RPJP yaitu “ Kalimantan Barat Bersatu dan Maju” dan Visi yang terdapat pada RPJM “ Mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. guna menghindari kesenjangan wilayah dan terwujudnya pembangunan berkelanjutan. daya saing bangsa serta modal pembangunan nasional. Upaya untuk mewujudkan visi Kalimantan Barat Bersatu dan Maju haruslah dicapai salah satunya dengan mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. 2. dan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup untuk menjaga kenyamanan dan kualitas hidup. Terpeliharanya kekayaan keragaman jenis dan kekhasan sumberdaya alam untuk mewujudkan nilai tambah. Aman.4. 6. dtuangkan dalam RPJM yang merupakan manifestasi dari visi dan misi pimpinan daerah selama 5 tahun ke depan.7. Pendekatan kebijakan tersebut dilakukan dengan prinsip pengelolaan SDA secara ekonomi layak/menguntungkan. relevan dan terkait dengan kebijakan pemerintah pusat. Sebagai tindak lanjutnya terdapat 6 (enam) sasaran pokok dalam bidang lingkungan hidup yang mencakup : 1. Secara substansial visi RPJP dan RPJM Kalimantan Barat adalah relatif konsisten dan harmonis. Sehat Cerdas. didalam RPJM Kalimantan Barat dikemukakan 6 (enam) arah kebijakan yang akan dilakukan sebagai berikut: . Dari perspektif dimensi lingkungan. Melaksanakan pemerataan dan keseimbangan pembangunan secara berkelanjutan untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah dengan tetap memperhatikan aspek ekologi dalam pemanfaatan sumberdaya alam. perkebunan. 1. Tersedianya sumberdaya alam yang berkelanjutan bagi pembangunan. Meningkatnya kesadaran. Aman. misi dan sasaran pokok bidang lingkungan hidup yang terdapat pada RPJP. Membaiknya pengelolaan dan pendayagunaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup yang dicerminkan oleh tetap terjaganya fungsi. Berbudaya Dan Sejahtera”. Sehat Cerdas. dengan tetap menjaga kelestariannya. visi. Terciptanya lingkungan hidup yang asri akan meingkatkan kualitas hidup manusia. sosial. sikap mental. 4.

7. berarti bahwa RTRWP harus mencerminkan dan menjabarkan substansi yang terdapat dalam RTRWN sesuai dengan karakteristik wilayah baik dari aspek geografik. 4. Koordinasi pengelolaan lingkungan hidup di tingkat Kabupaten. 6. Pedoman untuk penyusunan rencana tata ruang kawasan strategis Provinsi Kalimantan Barat. arahan perizinan. 5.1. sumberdaya alam dan sosial ekonomi serta budaya. dan Menjamin terwujudnya tata ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat yang berkualitas . 2. dan saling mengisi dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi. dan swasta. penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTWRP) mengacu kepada Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional RTRWN). Acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Barat hingga pada pemerintahan skala kabupaten/kota. Dengan hirarki seperti ini. Acuan dalam pemanfaatan ruang/pengembangan wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Secara keseluruhan dari perspektif lingkungan. 2. Substansi pada RPJP dan RPJM Provinsi Kalimantan Barat No 1 2 3 4 Substansi Visi RPJP Misi RPJP Misi RPJM Strategi RPJM Substansi RPJM Visi RPJM Misi RPJM Strategi RPJM Arah Kebijakan Konsisten ü ü ü ü Tidak Konsisten Harmoni ü ü ü ü Tidak Harmoni 1. RTRW Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai: 1. 6. masyarakat. arahan insentif dan disinsentif. serta arahan sanksi. RTRW Provinsi Kalimantan Barat Berdasarkan hirarki berbagai kebijakan dan dokumen perencanaan. Mewujudkan keserasian pembangunan wilayah Provinsi Kalimantan Barat dengan wilayah sekitarnya.1. Sedangkan Manfaat RTRW Provinsi Kalimantan Barat adalah untuk: 1. 4.5. 3. penduduk. 3. Pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan sesuai dengan pedoman IBSAP 2003-2020 Meningkatkan upaya penegakan hukum secara konsisten kepada pencemar lingkungan Meningkatkan kapasitas lembaga pengelolaan lingkungan hidup Membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan dan berperaen aktif sebagai kontrol sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup. Mengarusutamakan prinsip pembangunan berkelanjutan ke seluruh bidang pembangunan. Dari Fungsinya. dan Acuan dalam administrasi pertanahan Provinsi Kalimantan Barat. substansi yang terdapat dala RPJP dan RPJM Kalimantan Barat. Dasar pengendalian pemanfaatan ruang dalam penataan/pengembangan wilayah provinsi yang meliputi indikasi arahan peraturan zonasi. 2. Acuan untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Mewujudkan keterpaduan pembangunan dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Tabel 4. 3. Acuan lokasi investasi dalam wilayah provinsi yang dilakukan pemerintah. 5. Pada tataran hirarki yang lebih rendah RTWP menjadi acuan untuk penyusunan RTRW dan RPJP Kabupaten/Kota. terutama terkait dengan pengelolaan lingkungan terdapat konsistensi dan harmonisasi.

termasuk pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya. b. dilakukan penjabaran tujuan penataan ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Untuk memwujudkan hal tersebut. strategi hingga sampai pada program-program penataan ruang.Tujuan penataan ruang wilayah provinsi harus mengacu dan sejalan dengan tujuan penataan ruang nasional. (3) Kebijakan Pengembangan Kawasan Perkotaan. Mewujudkan Kalimantan Barat sebagai Provinsi Agrobisnis terdepan. Berikut ini Tabel yang menyajikan lingkup kebijakan serta uraian dari masing-masing lingkup kebijakan pada RTRWP Provinsi Kalimantan Barat (lihat Tabel 4. demi tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas dan berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan nasional. misi. keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan.2). nyaman. terdapat 6 pengembangan kawasan yang ada yaitu: (1) Kebijakan pengembangan Struktur Ruang. dan Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi. Terwujudnya ruang Provinsi Kalimantan Barat sebagai beranda depan perbatasan darat Republik Indonesia yang aman. sehingga terjadi keharmonisan dan sinergisitas dalam penyusunan visi. (2) Kebijakan Pengembangan Pola Ruang. tujuan penataan ruang wilayah Propinsi Kalimantan Barat diarahkan untuk “Terwujudnya keharmonisan dan keterpaduan dalam penggunaan/pengelolaan lingkungan alam dan lingkungan buatan dengan peningkatan sumberdaya manusia dalam pengelolaannya serta pencegahan kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan ruang yang dikelola secara arif dan bijaksana guna peningkatan kemakmuran rakyat Kalimantan Barat secara adil dan merata”. dan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis dalam rangka mendorong terciptanya integrasi nasional. Sebagaimana disebutkan dalam Rencana Tata Ruang Nasional. . (4) Kebijakan Pengembangan Kawasan Pedesaan. Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Barat untuk pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. bahwa tujuan penataan ruang nasional adalah terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan. (5) Kebijakan Pengembangan Kawasan Budi daya. Mengacu pada tujuan penataan ruang nasional. kebijakan. keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor. antara lain: a. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah. c. produktif berkelanjutan berbasis pengolahan sektor unggulan (perkebunan dan kehutanan) untuk pemerataan pembangunan wilayah bagi kesejahteraan masyarakat. Terkait dengan lingkup kebijakan RTRWP Kalimantan Barat.

c. b. Siantan. Pemanfaatan kawasan lindung sesuai dengan fungsi lingkungan hidup. dan ekologi dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi. b. c. Rasau Jaya. b. 3 Kebijakan Pengembangan Kawasan a. Kawasan budidaya kehutanan dikembangkan secara terpadu dengan upaya meningkatkan daya dukung lingkungan dan pengembangan wilayah. Pembangunan kehutanan dilakukan melalui pendekatan pemanfaatan sumberdaya hutan dalam tiga sisi manfaat secara berimbang. Pengembangan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi antarberbagai jenis prasarana sesuai dengan hirarki struktur ruangnya serta keterkaitan fungsional baik secara internal maupun eksternal.2. Sungai Kakap. Pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan lindung agar sesuai dengan fungsinya yang telah ditetapkan. 2 Kebijakan Pengembangan Pola Ruang 1. g. Pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. (1) Kawasan Metropolitan Pontianak (KMP) yang meliputi Kota Pontianak dan Kota Ambaya (Sungai Ambawang dan Sungai Raya). Sungai Raya. f. dan Sungai Ambawang. Pengembangan struktur ruang yang didasarkan atas struktur pusat-pusat permukiman utama (PKN) yang berintegrasi dengan pusat permukiman sekunder (PKW) dan pusat permukiman tersier (PKL). Pengembangan kawasan perkotaan baik berdasarkan kondisi eksisting dan rencana. 2. kawasan pemukiman juga disesuaikan dengan laju . Pengembangan wilayah ini lebih ditekankan pada sektor sekunder dan primer. Pengembangan wilayah ini lebih ditekankan pada sektor tersier dan sekunder. sosial. meliputi aspek ekonomi. Berdasarkan rencana. keseimbangan lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan. d. Pengembangan struktur yang didasarkan atas lima pola pengembangan wilayah. pengurangan resiko bencana alam. e. (2) Kawasan Andalan KUSIKARANG yang wilayahnya meliputi enam kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Pontianak di luar KMP yang terdiri dari Kecamatan Kuala Mandor.Tabel 4. Penge lolaan Kawasan Lindung a. Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Pengelolaa n Kawasan Budidaya Kehutanan a. Lingkup Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Barat No 1 Lingkup Kebijakan Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan a. Penetapan kawasan lindung sesuai dengan fungsinya yang telah ditetapkan. Penyediaan sarana dan prasarana yang memerlukan kajian terlebih dahulu.

d. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan keterkaitan antarkegiatan budi daya. Koordinasi antarstakeholder terkait dengan rencana kawasan pedesaan yang akan dibangun menjadi kawasan perkotaan. b. e. Meningkatkan akses dan peluang investasi kawasan budidaya dalam rangka meningkatkan perekonomian wilayah. karenanya perlu dikendalikan dengan segera. meningkatkan produktifitas sektor-sektor unggulan sesuai dengan daya dukung lahan. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan keterkaitan antarkegiatan budi daya. b. Penyediaan infrastruktur di kawasan perkotaan. h. Kawasan yang mempunyai prospek ekonomi yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan yang mendesak. Pengembangan kawasan pedesaan yang terintegrasi dengan kawasan perkotaan. Pengembangan sektor yang akan dikembangkan di atasnya mempunyai prioritas tinggi dalam lingkup regional maupun nasional. Pengembangan sektorsektor yang dapat menjadi tumpuan hidup masyarakat. Optimalisasi pemanfaatan ruang kawasan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. 6 Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) a. Kawasan yang menunjukkan perkembangan minat investasi yang tinggi. 5 Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya a. i. Pengembangan sektor di wilayah ruang kegiatan dalam skala luas. Pengembangan prioritas kawasan pedesaan. membutuhkan c. Perlu adanya koordinasi antarstakeholder pengelolaan kawasan perkotaan. c. Pengembangan kawasan dengan fungsi khusus. 4 Kebijakan Pengembangan Kawasan Perdesaan a. dalam c. f. Penanggulangan kawasan yang memiliki permasalahan yang cukup mendesak untuk ditangani melalui fasilitasi perangkat dukungan penataan ruang. dan b. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. b. baik secara regional maupun nasional. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung . Kawasan kritis yang diperkirakan akan segera membawa dampak negatif. Pengembangan sektor di wilayah mempunyai dampak yang luas. f. g.No Lingkup Kebijakan Perkotaan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan pertumbuhan penduduk. dan e. sehingga membutuhkan penanganan dan pengendalian yang segera. d. c.

Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan dalam kerangka ketahanan nasional dengan menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan. mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan. b.No Lingkup Kebijakan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem. j. l. Pengembangan kawasan perbatasan untuk mengakomodasikan perkembangan dan keutuhan negara.Pelestarian bangsa. Pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. f. Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengem-bangan perekonomian daerah yang produktif. dan mampu bersaing. 4 Kebijakan Pengembangan Kawasan Perdesaan a. 5 Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya c. c. Pengembangan sektor di wilayah membutuhkan ruang kegiatan dalam skala luas. Pengembangan kawasan pedesaan yang terintegrasi dengan kawasan perkotaan. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. m. 6 Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) a. c. dan melestarikan warisan budaya daerah. meningkatkan produktifitas sektor-sektor unggulan sesuai dengan daya dukung lahan. Pengembangan sektor yang akan dikembangkan di atasnya mempunyai prioritas tinggi dalam lingkup . baik secara regional maupun nasional. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. d. Optimalisasi pemanfaatan ruang kawasan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. dan peningkatan sosial dan budaya n. k. e. b. melestarikan keunikan bentang alam. a. Pengembangan prioritas kawasan pedesaan. b. Koordinasi antarstakeholder terkait dengan rencana kawasan pedesaan yang akan dibangun menjadi kawasan perkotaan. melestarikan keaneka-ragaman hayati. p. Meningkatkan akses dan peluang investasi kawasan budidaya dalam rangka meningkatkan perekonomian wilayah. Pengembangan sektor di wilayah mempunyai dampak yang luas. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan. o. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. efisien.

sehingga membutuhkan penanganan dan pengendalian yang segera. melestarikan keaneka-ragaman hayati. Pengembangan kawasan dengan fungsi khusus. p. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem. n. j. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengem-bangan perekonomian daerah yang produktif. efisien. o. Penanggulangan kawasan yang memiliki permasalahan yang cukup mendesak untuk ditangani melalui fasilitasi perangkat dukungan penataan ruang. sosial dan budaya. l. . g. Apabila diamati penjabaran lingkup kebijakan yang terdapat pada tabel di atas. melestarikan keunikan bentang alam.3 yang menyajikan beberapa penetapan kawasan strategis dengan berbagai fungsi berbagai kota yang terdapat di Kalimantan Barat. Terdapat 13 kawasan strategis yang pada dasarnya mengelaborasi fungsi-fungsi berbagai kota yang terdapat di Kalimantan Barat menurut potensi sisi pertumbuhan ekonomi. k. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan. m. ekonomi. dapat dikatakan bahwa substansi kebijakan pengembangan kawasan yang terdapat pada RTRWP Provinsi Kalimantan Barat. Kawasan yang menunjukkan perkembangan minat investasi yang tinggi. Kawasan kritis yang diperkirakan akan segera membawa dampak negatif. e. mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan. i. sudah mengakomodasi aspek-aspek lingkungan baik lingkungan fisik. Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia. RTRW Provinsi Kalimantan Barat memuat penetapan kawasan strategis yang salah satunya dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi. d. Pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa. Kawasan yang mempunyai prospek ekonomi yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan yang mendesak. Pengembangan kawasan perbatasan untuk mengakomodasikan perkembangan dan keutuhan negara. dan melestarikan warisan budaya daerah.No Lingkup Kebijakan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan regional maupun nasional. f. Pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berikut ini tabel 4. h. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan dalam kerangka ketahanan nasional dengan menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan. karenanya perlu dikendalikan dengan segera. Selain itu. dan mampu bersaing.

Kawasan Perkotaan Ketapang Kota Ketapang 6. perdagangan-jasa dan transhipment point. sebagai kota agropolitan dan pengembangan kualitas pelayanan prasarana dan sarana dasar kota di dalam mendukung fungsi kota agropolitan dan pusat pelayanan antarkota berskala provinsi. Kota Pontianak Pengembangan Kegiatan Kawasan Industri Semparuk (KIS) Border Development Center (BDC) PKS dari Sisi 1. Kawasan Metropolitan Pontianak Mendorong perkembangan sektor produksi wilayah.Tabel 4. Tanjung. Nanga Badau berfungsi untuk memberikan pelayanan administrasi pelintas batas negara. seperti perkebunan. perdagangan. Tumbangtiti. perikanan. Berfungsi di bidang jasa pemerintahan. sehingga 3. pertanian. pertanian pangan. agroindustri. Kawasan Pertumbuhan Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Terpadu (KAPET) Kathulistiwa 2. dan pertambangan di Nangatayap. pertambangan (bauksit) dan pariwisata. serta kawasan produksi lainnya dan mengembangkan kualitas pelayanan prasarana sarana dasar (PSD) Kota yang mendukung fungsi kota pelabuhan dan pusat pelayanan antar kota berskala provinsi. industri. Pengembangan kualitas pelayanan prasarana sarana dasar kota yang mendukung fungsi kota agropolitan dan pusat pelayanan antar kota berskala provinsi Berorientasi untuk memantapkan aksesibilitas menuju sentra-sentra produksi pertanian. Kabupaten Sanggau. Berfungsi untuk memberikan pelayanan dalam bidang jasa pemerintahan. Kawasan Perkotaan Singkawang Kota SIngkawang 5. Simpul transportasi dan juga merupakan pusat perdagangan dan pelayanan jasa yang pelayanannya menjangkau Kabupaten Sambas dan Bengkayang. dan pertambangan. Penetapan Kawasan Strategis Provinsi Kalimantan Barat No 1 Penetapan Kawasan Strategis Bentuk Kawasan Strategis Daerah Kawasan Kabupaten Sambas Entikong. Kawasan Perkotaan Nanga Badau Kota Nanga Badau . perkebunan.3. perkebunan. peternakan dan pertambangan. Kawasan Perkotaan Mempawah Kota Mempawah 4.

Kawasan Perkotaan Jasa Kota Jasa 10. Kawasan Perkotaan Sungai Raya Kota Sungai Raya Dari aspek potensi pertumbuhan ekonomi. Kawasan Perkotaan Putussibau Kota Putussibau 11. sebagai pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas. Kawasan Perkotaan Aruk Kota Aruk pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas dan Landak. pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas. dan Kabupaten Landak pelayanan pada sektor jasa pemerintahan. Bengkayang. Kawasan Perkotaan Jagoi Babang Kota Jagoi Babang 9. pertanian. 8. penetapan kawasan strategis untun berbagai fungsi kotakota yang ada di Kalimantan Barat dapat dikatakan sesuai dengan fungsi-fungsi kota tersebut. Dapat dijadikan kawasan strategis adalah adanya infrastruktur yang lengkap dan juga didukung sarana transportasi. Namun melihat fungsi kota dari satu aspek saja belumlah dapat memberikan justifikasi bahwa kota tersebut dapat mengoptimalkan fungsi. Tentu saja aspek lain harus diperhatikan seperti aspek sosial budaya dan letak geografisnya. 7. . Kawasan Perkotaan Sukadana juga termasuk dalam PKW Promosi. dan pariwisata.No Penetapan Kawasan Strategis Bentuk Kawasan Strategis Daerah Kawasan Pengembangan Kegiatan diarahkan sebagai pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. Kawasan Perkotaan Sukadana Kota Sukadana 13. kawasan ini dapat dijadikan kawasan parwisata dengan tetap menjaga kelestarian kawaasn lindung. terutama bagi wilayah Provinsi Kalimantan Barat bagian utara Pertanian. Sanggau. Hal tersebut menunjukkan kawasan ini memiliki sektor unggulan. kehutanan. Bengkayang. perkebunan serta hasil hutan dan meningkatkan aksesibilitas melalui jaringan jalan pengumpan menuju sentra-sentra produksi di Putussibau. dan sekitarnya. Kawasan Perkotaan Sintang Kota Sintang 12. dan Kabupaten Landak.

provinsi. Melaksanakan pengendalian tata ruang.7. kabupaten dan masyarakat setempat termasuk dunia usaha kehutanan dan sektor lain Kelestarian hutan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus diarahkan untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang menjamin terwujudnya kelestarian produksi. Penyusunan Renstra Sektoral mengacu dan berpedoman kepada RPJMD yang merupakan aktualisasi rencana kegiatan pembangunan yang akan dijalankan oleh Pimpinan daerah. maka Renstra sektoral pada dasarnya adalah penjabaran program dan rencana kerja pada tingka operasional untuk mencapai apa yang menjadi rencana kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pimpinan daerah. Rencana Strategis Sektor-Sektor di Provinsi Kalimantan Barat Rencana Strategis sektor-sektor adalah merupakan rencana kegiatan prioritas sektor-sektor selama 5 tahun ke depan. Melaksanakan pengendalian produksi. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri pengolahan hasil hutan. Melaksanakan fasilitasl pelaksanaan rehabilitasi kawasan hutan kritis. KEBERSAMAAN. Sektor Kehutanan Visi Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Barat ditetapkan : ”TERWUJUDNYA PENYELENGGARAAN KEHUTANAN YANG BERASASKAN KERAKYATAN DAN KEADILAN.1. Melaksanakan penegakan hukum kehutanan. kelestarian ekologi dan kelestarian sosial Peningkatan kemakmuran rakyat mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus diarahkan untuk menoingkatkan kemakmuran rakyat dengan pendapatan per kapita di atas rata-rata kebutuhan hidup minimum Sedangkan Misi Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat dituangkan dalam 5 misi.1. optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman dan pemberdayaan masyarakat desa hutan. 3. optimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. dan penurunan kerusakan sumberdaya hutan. Sehingga jika melihat keterkaiatan ini. monitoring dan evaluasi rencana kerja. 5. pengembangan sistem informasi kehutanan.6. Melaksanakan penyusunan. menengah dan Keterbukaan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan masyarakat dan memperhatikan aspirasi masyarakat kehutanan mengikutsertakan Keterpaduan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan kepentingan nasional. 4. optimalisasi pemanfaatan hutan alam. serta 2. UNTUK MENJAMIN KELESTARIAN HUTAN DAN PENINGKATAN KEMAKMURAN RAKYAT KALIMANTAN BARAT” Makna dari visi tersebut adalah sebagai berikut : Kerakyatan dan Keadilan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus memberikan peluang dan kesempatan yang sama kepada semua warga negara sesuai dengan kemampuannya sehingga dapat meningkatkan kemakmuran rakyat Kebersamaan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan menerapkan pola usaha bersama sehingga saling keterkaitan dan saling ketergantungan secara sinergis antara masyarakat setempat dengan pelaku usaha dalam rangka pemberdayaan usaha kecil. . serta pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel. KETERBUKAAN. DAN KETERPADUAN. 1. peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur. yaitu: 1.

Terlaksananya penyediaan perangkat keras dan perangkat lunak sistem informasi kehutanan berupa : pengadaan PC 7 unit. Terwujudnya peningkatan potensi dan produktivitas kawasan hutan kritis dengan indikasi : Terlaksananya pembinaan kebun benih sebesar 50 Ha dan penyediaan bibit tanaman kehutanan 1. Terlaksananya pengendalian pelaksanan inventarisasi tegakan hutan alam untuk penetapan kuota dan terget produksi RKT IUPHHK-HA. dan inventarisasi asset tak bergerak di 5 unit. Sasaran : a. Terlaksananya pengendalian pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan di 14 kab/kota dan Inventarisasi HP.000 Batang/Tahun. optimalisasi pemanfaatan hutan alam. berupa : buku info kehutanan 5 judul. optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman dan pemberdayaan masyarakat desa hutan.000 Ha/Tahun. serta pengembangan sistem informasi kehutanan Tujuan : Mewujudkan kawasan hutan yang mantap. HL dan Taman Hutan Raya dan Skala DAS lintas pada 5 kab/kota. Terwujudnya keterbukaan informasi publik bidang kehutanan dengan indikasi : - - 2) Misi 2 : Melaksanakan fasilitasi pelaksanaan rehabilitasi kawasan hutan kritis.HT di 10 Unit. Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan alam dengan indikasi : - . optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman. dan Action Plan 10 unit. Terlaksananya pengendalian tata ruang kawasan hutan di 14 kab/kota dan Rekonstruksi Batas sepanjang 1. Terlaksananya pengendalian pembentukan dan pengembangan pengelola wilayah KPH Terlaksananya pengendalian rencana kerja usaha jangka menengah pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam (RKU IUPHHK-HA) : pertimbangan teknis pada 5 unit koridor. Terlaksananya pembinaan dan pengendalian rencana dan realisasi RKT IUPHHK.Selanjutnya untuk setiap Misi dijabarkan lebih lanjut kedalam bentuk tujuan dan sasaran sebagai berikut: 1) Misi 1 : Melaksanakan pengendalian tata ruang. penyiapan perteknis di 3 kab. pemeliharaan LAN 5 bidang dan Website 2 unit. optimalisasi pemanfaatan hutan alam dan keterbukaan informasi publik bidang kehutanan. publikasi di media elektronik 3 kali setahun. Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan alam dengan indikasi : - - c. berupa bintek di 5 kab. Terlaksananya pengendalian operasionalisasi IUPHHK-HT yang tidak aktif di 17 Unit. Terlaksananya pengendalian rencana dan realisasi kerja tahunan usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam (RKT IUPHHK. Sasaran : a. Terlaksananya fasilitasi serta pengendalian rehabilitasi dan reklamasi seluas 1. data potensi sektor kehutanan di 14 kab/kota serta pengolahan data spatial 4 topik. Terlaksananya pengumpulan dan pengolahan data kegiatan kehutanan berupa : data dan informasi pada 5 bidang.000 km. serta memperluas lapangan kerja dan usaha masyarakat yang berbasis pada sumberdaya hutan. b. Terlaksananya penyajian dan distribusi informasi kehutanan. Terwujudnya kawasan hutan yang mantap dengan indikasi : b. Tujuan : Meningkatkan potensi kawasan hutan kritis.HA) pada 16 Unit Management per tahun. Terlaksananya peningkatan peranserta masyarakat dalam rehabilitasi dan reklamasi di 14 Kab/Kota.

Pengangkutan dan pembongkaran barang bukti 3000 m3). Terwujudnya peningkatan penegakan hukum kehutanan. Pengamanan barang bukti 600 OT.c. Latihan menembak 30 orang. Terlaksananya pengendalian distribusi dan penggunaan dokumen penatausahaan hasil hutan di 12 kabupaten dan di 3 provinsi asal dokumen. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri primer hasil hutan yang berkelanjutan. Operasi illegal logging 16 kabupaten. Sasaran : a. dengan indikasi: Terlaksananya penyelidikan dan penyidikan tindak pidana kehutanan (Diklat PPNS 20 orang. Terwujudnya optimalisasi produksi hasil hutan. b. Terlaksananya pengendalian penatausahaan hasil hutan olahan di 16 lokasi. optimalisasi pemanfaatan pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri pengolahan hasil hutan Tujuan : Mewujudkan optimalisasi produksi hasil hutan. dan penurunan kerusakan sumberdaya hutan. Sasaran : a. Operasi intelejen di 8 kabupaten. Terlaksananya pengendalian pengembangan industri primer hasil hutan di 12 kabupaten/kota. Pengawasan penggunan senjata 5 kabupaten). Terlaksananya pembinaan dan pengendalian inventarisasi tegakan hutan tanaman di 10 unit. Terlaksananya pengendalian tenaga teknis kehutanan di 12 kab/kota dan 16 unit IUPHHK. dengan indikasi : c. Terlaksananya pengendalian penatausahaan PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota. HKM. Terlaksananya rekonsiliasi data penatausahaan PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota dan di Jakarta. Terwujudnya perluasan lapangan kerja dan usaha masyarakat yang berbasis pada sumberdaya hutan : Terlaksananya fasilitasi prakondisi pengelolaan IUPHHK-HA dan IUPHHK-HT sebanyak 4 unit. dengan indikasi : - 4) Misi 4 : Melaksanakan penegakan hukum kehutanan. obtimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. Terwujudnya optimalisasi penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan. Terwujudnya pengembangan industri primer hasil hutan yang berkelanjutan. Terlaksananya pembinaan dan pengendalian pelaksanaan kelola sosial IUPHHK pada 20 unit. Terlaksananya monitoring dan evaluasi proses penyelesaian tindak pidana kehutanan (Koordinasi dalam di 8 Kabupaten. 3) Misi 3 : Melaksanakan pengendalian produksi. Terlaksananya pengembangan HTR. Hutan Desa dan Hutan Adat sebanyak 10 Unit. Terlaksananya pengendalian dan penyelesaian piutang PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota. Tujuan : Meningkatkan penegakan hukum kehutanan. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan sumberdaya penyidik pegawai negeri sipil di 8 kabupaten. mengurangi terjadinya kerusakan sumberdaya hutan. Terlaksananya pengendalian penggunaan peralatan pemanfaatan hutan di 12 kabupaten. dengan indikasi : Terlaksananya pengendalian penatausahaan hasil hutan di 12 kabupaten dan pengendalian SKAU di 5 kabupaten. - . Patroli 24 tim.

dengan indikasi : Terlaksananya pengendalian rencana kerja usaha jangka menengah pemanfaatan kawasan hutan lindung dan konservasi di 12 lokasi. pelaksanaan pelayanan umum serta akuntabilitas pengelolaan keungan dan aset. dengan indikasi : - 1. Sasaran : a. dan pengembangan potensi kawasan hutan lindung dan Terwujudnya penurunan kerusakan sumberdaya hutan. Terlaksananya koordinasi.7. Terlaksananya penyusunan dokumen pelaporan keuangan dan aset secara lancar selama 5 tahun. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan dinas untuk meningkatkan disiplin PNS. Terwujudnya peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur. efisien. Terlaksananya penanggulangan kerusakan hutan di 12 kabupaten dan Pemantauan RKL dan UPL di 16 unit IUPHHK. 5 tahun. masyarakat dan daya tarik . Makna dari visi tersebut adalah : Pengelolaan pertambangan dan energi mengandung arti bahwa pertambangan dan energi harus dikelola berdasarkan asas manfaat. Visi Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 – 2013 yaitu TERWUJUDNYA PENGELOLAAN PERTAMBANGAN DAN ENERGI YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN UNTUK MENDUKUNG KESEJAHTERAAN RAKYAT”. pembangunan kehutanan. dengan indikasi : c. selama 5 tahun. monitoring dan evaluasi rencana kerja. Terlaksananya pelayanan administrasi umum. monitoring dan evaluasi program-program b. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan sumberdaya polisi kehutanan di 12 kabupaten. Tujuan : Meningkatkan keselarasan perencanaan pembangunan kehutanan. Terlaksananya penyusunan dokumen harga satuan dan pelaporan pelaksanaan pembangunan kehutanan sebanyak 8 thema. Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur. Terlaksananya inventarisasi konservasi di 12 lokasi. Terlaksananya pelayanan dan administrasi keuangan secara lancar dan tepat waktu selama 5 tahun. Terlaksananya pembinaan dan peningkatan sumberdaya manusia aparatur. 5) Misi 5 : Melaksanakan penyusunan. serta pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel. Terlaksananya pengendalian rencana kerja tahunan usaha pemanfaatan kawasan hutan lindung dan konservasi di 12 lokasi. dengan indikasi : Terlaksananya penyusunan dokumen perencanaan kehutanan jangka menengah dan tahunan sebanyak 10 thema.2. sosialisasi. dengan indikasi : Terlaksananya operasi penanggulangan pelanggaran kehutanan dan sosialisasi peraturan perundangan di 12 kabupaten/kota. adil serta berkelanjutan yaitu suatu proses yang terencana dan terarah dalam merumuskan pengelolaan pertambangan dan energi dengan memperhatikan keseimbangan antara optimalisasi manfaat.b. Terlaksananya pelayanan dan administrasi aset secara berkesinambungan selama 5 tahun. Sektor Pertambangan Terwujudnya pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel. Terwujudnya keserasian perencanaan kehutanan.

Memberdayakan kelembagaan. sarana & prasarana. 6. pertambangan dan energi untuk masyarakat dan promosi. sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kemudahan berusaha. 4. sebagai berikut: 1. Meningkatkan pelaksanaan inventarisasi geologi dan melaksanakan mitigasi bencana geologi. Meningkatkan pengetahuan aparatur. Meningkatkan pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan di bidang mineral. Menyediakan pasokan tenaga listrik yang aman. Meningkatkan Pengelolaan Mineral. sebagai beriku : 1. penyediaan data geologi. efisien dan profesional melalui perencanaan kerja yang terintegrasi. Dalam pengelolaan energi juga harus memperhatikan pelestarian lingkungan hidup. batu bara. andal dan akrab lingkungan. 2. Mewujudkan tertib administrasi kantor yang efektif. panas bumi dan air tanah serta energi untuk memberikan manfaat dan nilai tambah yang optimal. Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi. 3. 3. pengurangan dan pencegahan emisi dan pemanfaatan energi secara rasional dan optimal. 4. andal dan akrab lingkungan dan mengembangkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan dengan melakukan konservasi dan diversifikasi energi serta mengoptimalkan pemanfaatan migas secara efektif dan efesien. Meningkatkan penyelidikan bimbingan teknis. tercapainya akses terhadap energi bagi masyarakat yang tidak mampu dan terisolir. peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penyediaan sarana dan prasarana dalam rangka memberikan pelayanan prima. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan efisiensi penggunaan energi. penyediaan data yang up to date. 2. sumberdaya manusia. geologi lingkungan. mengembangkan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan dan melakukan konservasi energi serta mengoptimalkan pelaksanaan pemanfatan minyak dan gas bumi secara efektif dan efesien. penghematan penggunaan energi dan migas dan penelitian dan pengembangan mineral dan energi. Batubara.investasi. 4. 5. pelaku usaha dan alih teknologi. Tujuannya adalah untuk menciptakan harmonisasi usaha pertambangan dengan kepentingan masyarakat dan mendapatkan jaminan ketersediaan energi sehingga menunjang proses pembangunan di seluruh sektor. mitigasi bencana geologi serta pelayanan laboratorium. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar instansi pemerintah. Meningkatkan pelayanan. Sedangkan Misi Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat. Nilai-nilai strategis organisasi yang perlu dikembangkan dalam budaya kerja organisasi untuk mencapai Visi dan Misi : 1. Kampanye konservasi bahan galian. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM dan sarana/prasarana dalam rangka mewujudkan Managemen Pelayanan Administrasi Yang Optimal. Dalam skala global salah satu dampak pemanfaatan energi (fosil) yang mengkhawatirkan adalah pemanasan global sebagai akibat emisi dioksida karbon atau CO2 yang menyebabkan perubahan iklim serta kenaikan permukaan air laut. Panas Bumi dan Air Tanah yang baik dan benar. . Upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi pemakaian energi fosil dan meningkatkan pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan. Berwawasan lingkungan mengandung arti bahwa didalam pengelolaan pertambangan harus mengindahkan prinsip-prinsip konservasi dan pelestarian fungsi lingkungan. 2. Tujuan Dinas Pertambangan dan Energi sebagai hasil akhir yang ingin dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 sampai dengan 5 tahun (Tahun 2009 s/d 2013). swasta dan masyarakat. penghematan energi. Pembukaan akses informasi geologi. 3. Mewujudkan dan menjaga ketersediaan pasokan tenaga listrik yang aman.

adapun kegiatan pokok yang akan dilakukan dalam program ini meliputi: a) Penerapan teknologi budidaya yang baik melalui intensifikasi. f) Upaya khusus pengentasan kemiskinan di wilayah perkebunan. batubara. andal dan akrab lingkungan dan terlaksanya pemanfaatan energi baru terbarukan dengan melakukan konservasi energi secara berkelanjutan. Terwujudnya pemanfaatan minyak dan gas bumi secara efektif. geologi lingkungan. alsintan. mitigasi bencana geologi serta pelayanan laboratorium. panas bumi dan air tanah yang baik dan benar. g) Pengembangan perkebunan pada kawasan khusus (wilayah perbatasan. Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Kalimantan Barat dikemukakan bahwa prioritas pembangunan daerah sektor perkebunan adalah: 1) Pengembangan Agribinis. c) Pemantapan kawasan dan pengutuhan agribisnis komoditas unggulan dengan titik berat pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan. g) Pemantapan manajemen peningkatan kesejahteraan petani pekebun.pendampingan sekolah lapang dan magang petani maupun petugas. Tersedianya tenaga listrik yang aman. teknologi dan e) Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana perkebunan. 4. Sektor Perkebunan 2008-2013. pelatihan. 2. c) Penumbuhan dan penguatan kelembagaan petani perkebunan d) Penumbuhan dan pengembangan kelembagaan usaha di sentra produksi. efisien. daerah pedalaman. 7. Meningkatnya pembinaan. Meningkatnya managemen pembangunan pengelolaan mineral. d) Pengembangan permodalan. Terlaksananya penyelidikan geologi. b) Pendidikan. 5. sarana dan prasarana. Monitoring dan Evaluasi Program dan Kegiatan Sektor ESDM yang terintegrasi dan meningkatkan tertib administrasi keuangan dan asset melalui peningkatan pengembangan sistem pelaporan pencapaian kinerja dan keuangan dalam rangka meningkatkan pelayanan sumber daya pertambangan daan energi.7. wilayah terpencil) 2) Peningkatan Kesejahteraan Petani Perkebunan. Tersedianya data dan informasi potensi geologi. panas bumi dan air tanah melalui pelayanan pemberian izin. rekomendasi teknis. 1. b) Pengembangan bahan tanaman bermutu. Terwujudnya Perencanaan. . batubara. air tanah dan daerah rawan bencana geologi. adapun kegiatan pokok yang akan dilakukan dalam program ini meliputi : a) Rasionalisasi tenaga penyuluh perkebunan. f) layanan agribisnis seperti sarana produksi. sinergi perangkat regulaasi dan program serta kualitas sistem dan data informasi.3. 3. aman dan berkurangnya subsidi pemerintah secara bertahap. 8. Meningkatnya pelayanan dan tertib administrasi umum dan kepegawaian dengan didukung peningkatan kualitas dan kuantitas SDM.Sasaran yang hendak dicapai Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut : 1. rehabilitas. e) Penumbuhan dan penguatan kemitraan usaha. 6. geologi lingkungan. ekstensifikasi dan diversifikasi. bimbingan teknis dan pengawasan pengelolaan mineral. Peningkatan efektifitas pemanfaatan sarana dan prasarana perkebunan.

d) Pengembangan pelaksanaan standarisasi perkebunan. 3) Pengembangan Sistem Informasi (SIM) Perkebunan . adapun kegiatan pokok dilakukan dalam program ini meliputi : a) Pengembangan sistem data dan informasi perkebunan.2013 untuk sektor perkebunan. b) Peningkatan dan pengembangan Humas Perkebunan. c) Peningkatan kaji terapan Agribisnis Pembangunan Perkebunan.h) Pembinaan petani dan kelembagaan petani pada kawasan khusus (wilayah perbatasan pedalaman dan wilayah terpencil). yang akan . g) Pembinaan dan pengawasan usaha perkebunan. f) Pengendalian Perizinan Usaha Perkebunan. h) Penyelenggaraan Promosi Produk Unggulan Perkebunan. Apabila memperhatikan program prioritas yang terdapat didalam RPJM Kalbar 2008 . dapat dikemukakan bahwa program prioritas tersebut tidak sama sekali memberikan penekanan pada pengembangan sektor perkebunan yang mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan. e) Peningkatan dan pemanfaatan Tata Ruang wilayah perkebunan.

Kuat Dan Berbasiskan Kepentingan Nasional 8. Kekayaan Sumber Daya Alam. Terwujudnya Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. Mewujudkan Masyarakat Yang Berakhlak.BAB V TELAAH IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN RENCANA PEMBANGUNAN 1. RKP merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. Mulia.1. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional.Berbudaya. Demokrasi. Mewujudkan Indonesia Menjadi Negara Kepulauan Yang Man Diri. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. DAN BERKEADILAN” Kesejahteraan Rakyat. Yang Hasilnya Dapat Dinikmati Oleh Seluruh Bangsa Indonesia. misi. dan arah pernbangunan Nasional. Mewujudkan Bangsa Yang Berdaya Saing 3. RPJM dan RTRW Nasional 4 Dalam UU No 25 tahun 2004 tentang sistim perencanaan pembangunan nasional pada pasal menyatakan : (1) RPJP Nasional merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pernerintahan Negara Indonesia yang tercanturn dalarn Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk menindaklanjuti visi tersebut secara lebih operasional dinyatakan dalam misi RPJP sebagai berikut : 1. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Yang Dilakukan Oleh Seluruh Masyarakat Secara Aktif. Berdasarkan Falsafah Pancasila 2. Damai Dan Bersatu 5. program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. Berbudaya Dan Beradab . Untuk Mewujudkan Visi Tersebut Bermoral. Melalui Pembangunan Ekonomi Yang Berlandaskan Pada Keunggulan Daya Saing. Sumber Daya Manusia Dan Budaya Bangsa. dalam bentuk visi. Bermartabat Dan Menjunjung Tinggi Kebebasan Yang Bertanggung Jawab Serta Hak Asasi Manusia. Mewujudkan Indonesia Aman. mernuat prioritas pembangunan. Mewujudkan Pemerataan Pembangunan Dan Berkeadilan 6. Maju. kebijakan umum. kewilayahan dan lintas kewilayahan. Mewujudkan Indonesia Berperan Penting Dalam Pergaulan Dunia Internasional Selanjutnya Jika Memperhatikan Beberapa Uraian Tentang RPJM Nasional Di Peroleh Visi RPJM Nasional Sebagai Berikut (Visi Indonesia 2014) : “TERWUJUDNYA INDONESIA YANG SEJAHTERA.1. Bangsa Dan Negara Yang Demokratis. Mewujudkan Masy Demokratis Berlandakan Hukum 4. MAJU DAN MAKMUR.Tujuan Penting Ini Dikelola Melalui Kemajuan Penguasaan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. 1. Beretika. Telaah Koherensi dan Konsistensi Kebijakan Pemerintah dan pemerintah Provinsi RPJP. misi. lintas Kementerian/Lembaga. Terwujudnya Pembangunan Yang Adil Dan Merata. yang memuat strategi pembangunan nasional. DEMOKRATIS. serta program Kementerian/Lembaga.1. Mewujudkan Indonesia Asri Dan Lestari 7. Terwujudnya Masyarakat. RPJM Nasional merupakan penjabaran dari visi. Keadilan. kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif (2) (3) Sejalan dengan yang diamanatkan pada pasal 4 ayat 1 tersebut maka dalam RPJP Nasional terdapat visi sebagai berikut : INDONESIA YANG MANDIRI.

dan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional. Dengan adanya berbagai kriteria dalam RPJP Nasional. dan kabupaten/kota. e. keterkaitan. termasuk ruang di dalam bumi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. perkembangan Berdasarkan beberapa ketentuan tersebut di atas yang menyangkut keruangan seperti yang terdapat dalam pasal 3 terdapat sedikit perubahan kearah revisi kebijakan keruangan untuk point f sehingga bila kebijakan ini ditetapkan akan sedikit merubah kebijakan keruangan nasional terutama menyangkut KSN. h. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah. Dalam dokumen RPJP Daerah jelas di katakan bahwa RPJPD Provinsi disusun dengan mengacu pada RPJP Nasional sesuai karakteristik dan potensi daerah. dan keseimbangan antarwilayah provinsi. g. pelaksanaan dan pengawasan. dan berkelanjutan. (c) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. (d) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. d. penganggaran. misi. serta keserasian antarsektor. dan ruang udara. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. RPJPD. pewujudan pewujudan keterpaduan. strategi pernbangunan Daerah. e. misi dan arah pembangunan daerah. Pada UU No 25 tahun 2004 tentang sistim perencanaan pembangunan nasional pasal 5 ayat 2 menyebutkan bahwa : RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. memuat arah kebijakan keuangan daerah. Penataan ruang kawasan strategis nasional. keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional. dan kabupaten/kota dalam rangka pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. f. f. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi. nyaman. provinsi. antar ruang. c. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. c. efektif. Selanjutnya pada Pasal 3 disebutkan RTRWN menjadi pedoman untuk: a. d. b. dan . keterpaduan perencanaan tata ruang wilayah nasional. kebijakan umum. RPJMD dan Revisi RTRWP RPJPD Provinsi Kalimantan Barat ditetapkan melalui perda No 7 tahun 2008. provinsi. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional.Rencana pembangunan jangka panjang daerah diwujudkan dalam visi. berkeadilan dan berkelanjutan. dan (e) mengoptimalkan partisipasi masyarakat. keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. i. dengan tujuan yang ingin dicapai adalah untuk: (a) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan dalam pencapaian tujuan daerah. Selanjutnya dijelaskan RPJP Daerah dijabarkan lebih lanjut dalam RPJM Daerah. keterpaduan pemanfaatan ruang darat. b. (b) menjamin terciptanya integrasi. 1. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah.1. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional. antar waktu. ruang wilayah nasional yang aman.Maka Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Di Lakukan Misi Sebagai Berikut: Misi 1: Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia Yang Sejahtera Misi 2: Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi Misi 3: Memperkuat Dimensi Keadilan Di Semua Bidang Upaya Melalui Beberapa Dalam PP no 26 tahun 2008 tentang Rencana tata ruang wilayah nasional pasal 2 menyatakan bahwa : Penataan ruang wilayah nasional bertujuan untuk mewujudkan: a.2. produktif. RPJM Nasional dan RTRW Nasional tersebut di atas maka dapat dijadikan acuan untuk melihat koherensi antar kebijakan di tingkat Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten. ruang laut. dan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional. keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor. g.

dijabarkan dalam RPJMD Kalimantan Barat. dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Selanjutnya koherensi tersebut digambarkan dalam Diagram yang lebih jelas menggambarkan hubungan RPJMD dan dokumen perencanaan lainnya untuk ini dapat dilihat seperti pada gambar berikut: Gambar 5. Dengan pola ini. Kebijakan ini akan menjadi payung hukum dalam mekanisme dan proses penyusunan rencana untuk lima tahun ke depan yang dituangkan dalam Rencana Tahunan Daerah atau Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Dalam Dokumen RPJMD Kalimantan Barat disebutkan bahwa penyusunan RPJMD Provinsi Kalimantan Barat menggunakan RPJM Nasional sebagai pedoman utama. baik yang dilaksanakan langsung oleh pernerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.1. Hubungan RPJMD Kalimantan Barat dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Ditingkat Pusat maupun Daerah Secara vertikal ke bawah. Hal ini sesuai dengan UU No 25 pasal 5 ayat 3 menyatakan bahwa : RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. rencana kerja. . RPJMD Kalimantan Barat 2008-2013 disusun sebagai dokumen kebijakan rencana strategis Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat terpilih. dan pendanaannya. termasuk pada rencana kerja SKPD. prioritas pembangunan Daerah.program Satuan Kerja Perangkat Daerah. memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah. prioritas yang termuat dalam RPJMD Kalimantan Barat akan tercermin dalam rencana kerja tahunan. Arahan RPJM nasional yang berkaitan dengan prioritas dan sasaran pembangunan nasional diadaptasikan dalam skala lokal. RPJMD Kalimantan Barat akan berfungsi sebagai kerangka acuan dalam penyusunan rencana kerja SKPD.

d) penetapan kawasan strategis nasional. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh daerah dan amanat pembangunan yang tercantum dalam RPJP Nasional. serta arahan sanksi. strategi pernbangunan Daerah. Dengan demikian. kebijakan. maupun nilai-nilai yang mendasari dan mempengaruhinya. (2) Penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi harus memperhatikan: a) perkembangan permasalahan nasional dan hasil pengkajian implikasi penataan ruang provinsi. arahan insentif dan disinsentif. Visi pembangunan daerah tersebut harus dapat diukur untuk dapat mengetahui tingkat kebersatuan dan kemajuan yang ingin dicapai. meskipun latar belakang kehidupan masyarakat sangat heterogen mereka tetap dapat hidup bersama dalam suasana yang harmonis. berbangsa dan bernegara. dan pendanaannya. dan strategi penataan ruang wilayah nasional. lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah. seperti tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. baik yang dilaksanakan langsung oleh pernerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. perimbangannya. dan c) rencana pembangunan jangka panjang daerah. kebijakan umum.yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. f) rencana tata ruang wilayah provinsi yang berbatasan. dimana setiap orang disamping memahami hak dan tanggungjawabnya juga memahami hak dan tanggung jawab orang lain. d) daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah. dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. b) upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi provinsi. Bersatu merupakan konsep yang dinamis karena mengenali bahwa kehidupan dan kondisi saling ketergantungan senantiasa berubah. Oleh karena itu. masyarakat yang mampu menempatkan orang perorang dalam posisi sejajar dan sederajat dimuka hukum serta masyarakat yang senantiasa dapat . dan h) rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota. memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. memuat arah kebijakan keuangan daerah. b) pedoman bidang penataan ruang. Visi pembangunan daerah Kalbar tahun 2008-2028 mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah. (3) Koherensi RPJP dengan Rencana tata ruang secara yuridis formal dapat terlihat pada UU no 26 tahun 2007 tentang tata ruang Pasal 20 menyebutkan (1) Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional memuat: a) tujuan. c) keselarasan aspirasi pembangunan provinsi dan pembangunan kabupaten/kota. Bersatu merupakan inti dari kebersamaan. pembangunan haruslah pula merupakan upaya memperkokoh persatuan. Untuk bersatu diperlukan adanya kondisi saling ketergantungan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. baik konstelasinya.Selanjutnya Untuk melihat koherensi antar kebijakan ini akan dilihat dari beberapa kriteri seperti termuat dalam UU No 25 tahun 2004 Pasal 5 : (1) (2) RPJP Daerah mernuat visi. e) rencana pembangunan jangka panjang daerah. b) rencana struktur ruang wilayah nasional yang meliputi sistem perkotaan nasional yang terkait dengan kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya dan sistem jaringan prasarana utama. seperti tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Berdasarkan kondisi Kalimantan Barat saat ini. c) rencana pola ruang wilayah nasional yang meliputi kawasan lindung nasional dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional. sinergis dan saling pengertian. dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional. rencana kerja. Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang daerah. Selanjutnya pada pasal 22 menyebutkan bahwa (1) Penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi mengacu pada: a) Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. Bila visi telah terumuskan. RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. e) arahan pemanfaatan ruang yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan. maka visi pembangunan daerah Tahun 2008– 2028 adalah: KALIMANTAN BARAT BERSATU DAN MAJU Visi pembangunan daerah Tahun 2008–2028 itu mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah. g) rencana tata ruang kawasan strategis provinsi. Berdasarkan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. misi. Masyarakat bersatu adalah masyarakat yang mampu mewujudkan budaya politik yang demokratis dan toleran. misi. prioritas pembangunan Daerah. dan f) arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional yang berisi indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional. arahan perizinan.

untuk memperkokoh rasa persatuan. memperkuat kualitas desentralisasi dan otonomi daerah. serta meningkatkan pemeliharaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan. kelompok dan wilayah/daerah yang masih lemah. jembatan. tingkat kemajuan suatu daerah diukur dari kualitas sumber daya manusianya. meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan termasuk distribusinya. dan berkualitas pendidikan yang tinggi. antisipatif terhadap setiap potensi konflik. mencegah tindak kejahatan. dan kegunaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan tetap menjaga fungsi. mengurangi kesenjangan sosial secara menyeluruh. Mewujudkan infrastruktur yang memadai adalah membangun infrastruktur yang maju seperti jalan. mutlak harus diwujudkan pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan. Oleh karena itu. Sementara itu. memperkuat peran masyarakat sipil. penegakan supremasi hukum dan pelaksanaan prinsip-prinsip good governance menjadi kunci untuk mencapai Kalimantan Barat bersatu. Disamping itu. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah tersebut ditempuh melalui 9 (sembilan) misi pembangunan daerah sebagai berikut: 1. dan memperkuat perekonomian daerah berbasis keunggulan setiap wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem produksi. serta menghilangkan diskriminasi dalam berbagai aspek termasuk gender. sistem angkutan massal di perkotaan. Daerah yang sudah maju ditandai dengan laju pertumbuhan penduduk yang lebih kecil. memberikan keindahan dan kenyamanan kehidupan. tingkat kemajuan suatu daerah dinilai berdasarkan berbagai ukuran. angka harapan hidup yang lebih tinggi. 2. Suatu daerah dikatakan makin maju apabila sumber daya manusianya memiliki kepribadian bangsa. Mewujudkan Supremasi Hukum dan prinsip-prinsip Good Governance adalah melakukan pembenahan struktur hukum dan meningkatkan budaya hukum dan menegakkan hokum secara adil. 6. konsekuen. menyediakan akses yang sama bagi masyarakat terhadap berbagai pelayanan sosial serta sarana dan prasarana ekonomi. ada kaitan yang erat antara kemajuan suatu daerah dengan laju pertumbuhan penduduk. 3. agama. Tingginya kualitas pendidikan penduduknya ditandai oleh makin menurunnya tingkat pendidikan terendah serta meningkatnya partisipasi pendidikan dan jumlah tenaga ahli serta professional yang dihasilkan oleh sistem pendidikan. keberpihakan kepada masyarakat. Mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. air bersih. Mewujudkan perekonomian yang maju adalah mengedepankan pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing. dan memihak pada rakyat kecil. Mewujudkan masyarakat yang Aman. investasi. dan upaya konservasi.menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau kelompok. dan pelayanan jasa. memperbaiki pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk mendukung kualitas kehidupan.kegiatan sosial ekonomi. dan kualitas pelayanan sosial yang lebih baik. keberlanjutan. sarana pengairan. berakhlak mulia. meningkatkan pemanfaatan ekonomi sumber daya alam dan lingkungan yang berkesinambungan. dan menuntaskan tindak kriminalitas. dan penerapan menuju inovasi secara berkelanjutan. dan berkeseimbangan adalah memperbaiki pengelolaan pelaksanaan pembangunan yang dapat menjaga keseimbangan antara pemanfaatan. 7. 5. daya dukung. Kemajuan suatu daerah juga diukur berdasarkan indikator kependudukan. konsekuen. berkeadilan. tidak diskriminatif. keberadaan. 4. melalui pemanfaatan ruang yang serasi antara penggunaan untuk permukiman. dan kontribusi perdagangan dan jasa dalam perekonomian. dan kenyamanan dalam kehidupan pada masa kini dan masa depan. distribusi. Secara keseluruhan kualitas sumber daya manusia yang makin baik akan tercermin dalam produktivitas yang makin tinggi. menjamin pengembangan media dan kebebasan media dalam mengomunikasikan kepentingan masyarakat. Ditinjau dari indikator sosial. meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan iptek melalui penelitian. sistem perlindunganterhadap bencana banjir dan abrasi serta pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil secaraterpadu. pengembangan. serta reformasi di bidang hukum dan aparatur negara. tidak diskriminatif. Mewujudkan Pembangunan yang Lebih Merata dan Berkeadilan adalah meningkatkan pembangunan daerah. dan melakukan pembenahan budaya hukum secara adil. Damai dan Bersatu adalah meningkatkan rasa kebersamaan masyarakat sehingga lebih mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan suku. dan memihak pada rakyat kecil. Mewujudkan Budaya Politik yang Demokratis dan Toleran adalah memantapkan kelembagaan demokrasi yang lebih kokoh. menanggulangi kemiskinan dan pengangguran secara drastis. termasuk derajat kesehatan. meningkatkan hasil produksi. energi listrik yang berbasis non BBM (bahanbakar minyak). dan golongan. . meningkatkan kualitas aparatur baik intelektual maupun moral agar dapat melaksanakan prinsip-prinsip good governance dengan penuh tanggungjawab.

Mewujudkan masyarakat yang sehat. dan keseimbangan batin. keadaan sehat berarti bahwa segala sesuatunya dijalankan dengan hati-hati dan baik. seperti ekonomi yang sehat. Berbudaya Dan Sejahtera. negara kuat” merupakan kekuatan pendorong agar masyarakat menjaga kesehatannya. Visi sehat menunjukkan betapa pentingnya masyarakat menjaga kesehatannya agar dapat menggerakkan diri sendiri dan orang lain untuk melaksanakan pembangunan. pemerintahan yang sehat. memelihara kerukunan internal dan antarumat beragama. makhluk lain. Cerdas. Diyakini. Visi Beriman Iman adalah keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. angka harapan hidup yang lebih tinggi. Berakhlak Mulia. Sejalan dengan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat maka Visi dalam RPJMD Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2008-2013 adalah: Mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. Aman. semboyan “dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat (men sana in corpore sano)” atau “rakyat sehat. Bermoral. jasmani. hati.8. Keadaan aman terwujud bilamana masyarakat bebas dari tekanan fisik dan mental. Sebab itu kegiatan dan hasil pembangunan diupayakan deengan sempurna sebagai wujud kesediaan untuk melayani Tuhan dan sesama. masyarakat. Masyarakat beriman memandang upaya pembangunan sebagai amanah atas karunia atau talenta yang diterimanya dari Tuhan. sebab untuk mengekspresikan niat dan kekuatan psikis seseorang harus memiliki tubuh yang sehat. cerdas. Iman merupakan investasi pembangunan yang tak terukur kelimpahannya. bila ada gangguan. keadaan sehat diartikan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan perekonomian berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. artinya jika manusia berfikir sehat maka dirinya dan juga masyarakat dan lingkungan akan menjadi sehat. Berbudaya. dan alam sekitar (kecerdasan emosional). Ketuhanan Yang Maha Esa. mengembangkan modal sosial. dan sebagainya menurut norma dan indikatornya masing-masing. manusia yang beriman menunjukkan ketetapan hati. yang meletakkan kepercayaan kepada Tuhan sebagai dasar utama dari kehidupan berbangsa dan bernegara. termasuk kecerdasan intelektual menuntut pemberdayaan pikiran. dan etika pembangunan. Kesehatan merupakan investasi untuk mengembangkan kualitas sumber daya pembangunan. Visi Sehat Sehat adalah keadaan baik atau mendatangkan kebaikan pada seluruh badan jasmaniah dan rohaniah. Dalam melaksanakan pembangunan. Dengan demikian berarti masyarakat diharapkan akan lebih produktif dan inovatif. Kesehatan yang dimaksud bukan saja fisik. dan khawatir. Kecerdasan berhubungan dengan hati yang ditunjukkan dengan kepedulian terhadap sesama manusia. Sebab itu. dan kualitas pelayanan sosial yang lebih baik. 9. “tuhuh kita adalah produk pikiran kita”. Dalam perekonomian. Sebab itu. dengan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa semua kegiatan dan hasil pembangunan akan baik adanya. menerapkan nilainilai luhur budaya daerah dan budaya bangsa. Individu. Seperti kata Rhonda Byrne. Beretika. moral. baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar akan mempengaruhi upaya dan . serta memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual. dan Beradab adalah memperkuat jati diri dan karakter melalui pendidikan yang bertujuan membentuk manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan dunia usaha yang terancam akan selalu merasakan ketidakpastian. yakni sila pertama. Visi Aman Aman mencerminkan keadaan masyarakat yang bebas dari gangguan. Hal itu tercermin pada tingkat pendidikan terendah. Keamanan merupakan modal dalam melaksanakan pembangunan daerah Kalimantan Barat. tingkat partisipasi anak usia sekolah. produktif dan inovatif adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan tingkat pendidikan dan derajat kesehatan penduduk. keteguhan. Kecerdasan hati harus dilandaskan pada keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa (kecerdasan spiritual). Mewujudkan masyarakat yang Religius. Visi Cerdas Cerdas menunjukkan ketajaman berfikir dan merasakan. Selanjutnya. budaya yang sehat. melaksanakan interaksi antarbudaya. rasa takut. mematuhi aturan hukum. Sehat. tetapi juga psikis. seperti telah disebutkan di atas. Dalam hal politik. dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lainnya dalam pembangunan. demokrasi yang sehat. Visi ini didasarkan pada ideologi Pancasila. hubungan sosial yang sehat. Jadi visi cerdas. kesehatan menjadi indikator penting dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM). bahwa kata sehat dalam visi ini juga diasosiasikan pada semua bidang. lingkungan hidup yang sehat.

Pendekatan untuk mencapai visi sejahtera adalah pendekatan menyeluruh. dan kebersamaan. budaya berfikir dan bertindak berdasarkan kebenaran. Pokok pikiran dan upaya untuk mewujudkan Visi aman ini adalah persatuan dan demokrasi masyarakat Kalimantan Barat. konstruktif. Visi tersebut dalam RPJMD provinsi Kalimantan Barat akan diwujudkan melalui Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Barat. kesehatan. . serta menempatkan aparatur yang profesional dan berakhlak sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki serta sesuai dengan peraturan jenjang karir kepegawaian yang berlaku. untuk mencapai manusia yang memiliki budaya yang positif. 10. dan damai. Karena itu. nasional. Perbatasan. 11. regional. teknologi dan pasar untuk meningkatkan daya saing. Melaksanakan pengendalian dan pemanfaatan tata ruang dan tata guna wilayah sesuai dengan peruntukan dan regulasi. budaya produktif-bukan konsumtif. Visi Sejahtera Sejahtera merupakan keadaan utuh sebagai kesimpulan atau akumulasi dari visi beriman. budaya melayani. dan dinamis dalam masyarakat Kalimantan Barat. kekayaan 2. meningkatkan keadilan sosial. Pesisir dan Kepulauan sebagai sumber potensi ekonomi. dan sebagainya. Pembangunan yang dilandasi oleh budaya yang baik akan menghasilkan hasil pembangunan yang baik pula. Mengembangkan jaringan kerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak swasta baik dalam tataran lokal. dan tujuan pembangunan yang telah ditetapkan. dan adat istiadat manusia sebagai pelaku dan sasaran pembangunan. agama. akal budi.hasil pembangunan. dan berbudaya. 7. 4. 6. keamanan. 8. sasaran. konsisten. dan ketertiban melalui sistem kelembagaan manajemen yang efisien dan transparan. serta menggali. Melaksanakan peningkatan pembangunan infrastruktur dasar guna memperlancar mobilitas penduduk dan arus barang serta mempercepat Pembangunan dan Pengembangan Pariwisata di Wilayah Pedalaman. Melaksanakan peningkatan sistem pelayanan dasar dalam bidang sosial. melalui pemberdayaan potensi dan kekuatan ekonomi lokal terutama pengusaha kecil. budaya adil. dengan membuka akses ke sumber modal. selamat. Menegakkan supremasi hukum. Masyarakat dan individu yang sejahtera adalah masyarakat yang aman sentosa. efektif. Mengembangkan sumberdaya lokal bagi pengembangan ekonomi masyarakat melalui sistem pengelolaan yang profesional. budaya bersih. dan perlindungan hak asasi manusia guna mendukung terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun. Memperluas lapangan kerja dan usaha dengan berbasis ekonomi kerakyatan. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia melalui peningkatan kualitas tenaga kependidikan dan penyediaan prasarana dan sarana pendidikan serta pemerataan pendidikan. mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai budaya. Menggali dan mengembangkan Nilai-nilai dan keragaman budaya serta memanfaatkan keindahan alam untuk kepentingan kepariwisataan. dan dinamis hendaknya terlebih dahulu dibentuk suatu budaya yang baik dari berbagai bidang. 5. Budaya luhur yang ada dalam masyarakat Kalimantan Barat perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai modal dasar pembangunan. adil dan makmur. 3. aman. maupun internasional melalui penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur serta SDM yang memadai. dengan didukung sistem dan sarana investasi yang baik melalui penyediaan data potensi investasi guna menarik dan mendorong masuknya investasi. konstruktif. Melaksanakan pemerataan dan keseimbangan pembangunan secara berkelanjutan untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah dengan tetap memperhatikan aspek ekologi dalam pemanfaatan sumberdaya alam. menengah. sehat. pendidikan. Visi aman mengandung makna terwujudnya suasana kondusif. dan efisien serta akuntabel. budaya transparan. dan koperasi. budaya jujur. yakni: 1. guna menghindari kesenjangan wilayah dan terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. aman. seperti budaya good government. cerdas. Visi Berbudaya Budaya menyangkut pikiran. sebab hanya dengan kebersamaan kita bisa memenangkan setiap upaya. 9. Meningkatkan kemampuan kapasitas dan akuntabilitas aparatur pemerintah daerah guna meningkatkan pelayanan publik. Visi berbudaya juga bermakna bahwa hasil pembangunan bersifat tetap dan berkelanjutan (sustainability).

Visualisasi perubahan bentang alam tersebut dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 5. Perubahan tersebut termasuk di dalamnya kawasan strategi nasional/Lindung Nasional (KSN).439 ha. hal ini dapat tampak pada besarnya usulan perubahan pola ruang dimana perubahan bentang alam dari fungsi kawasan kearah APL 1. sedangkan perubahan antar fungsi kawasan sebesar 1. ketahanan budaya sekaligus Dari sisi revisi tata ruang wilayah provinsi . Matrik kriteria koherensi kebijakan nasional dan kebijakan provinsi Jenis Kebijakan Provinsi RPJPD Prov RPJMD Prov Revisi RTRWP Jenis kebijakan Nasional RPJP Nas Koheren Koheren Pada Bagian ter tentu terjadi peru bahan ruang KSN RPJM Nas Koheren koheren Pada Bagian tertentu terjadi perubahan ru ang KSN RTRWN Koheren Koheren Pada Bagian tertentu terjadi perubahan ruang KSN .1.budaya daerah dan tradisional guna mempertahankan mewujudkan pariwisata berbasis budaya dan kerakyatan.028. dapat merubah sebagian bentang alam.713 ha.2.969. dengan adanya dinamiika masyarakat dan laju pertumbuhan pembangunan. Perubahan pola Ruang Di Prov Kalbar dalam RTRWP Untuk lebih memudahkan melihat koherensi antar kebijakan ini dapat dilihat melaui table matrik berikut ini : Tabel 5.

budidayatangkap ikan. WP Pesisir. Wilayah administrasi kabupaten yang masuk wilayah kajian . WP Pesisir terdiri dari Kabupaten Pontianak. promosi parawisata. promosi investasi. perkebunan. Kabupaten Sambas. Kabupaten Ketapang. Kabupaten Sintang. dan Kabupaten Ketapang. ecotourism. agribisnis/aqua bisnis. Kalbar dibagi kedalam 4 (empat) Wilayah Pengembangan (WP) yang meliputi WP Tengah. dan mobilisasi sumberdaya. terminal perikanan. oleh karenanya scooping wilayah kajian akan meliputi wilayah pemerintah kabupaten kota yang masuk dalam wilayah DAS Kapuas.2. WP Tengah terdiri Kabupaten Sanggau. Untuk WP Antar Negara mencukup 5 (lima) kabupaten yang meliputi Kabupaten Kapuas Hulu. Kabupaten Kapuas Hulu. pariwisata (budaya. pertambangan. Pengembangan WP Tengah meliputi jalan dan jembatan. WP Antar Provinsi meliputi Kabupaten Sintang. kesenian. industrial estate. Kabupaten Melawi. Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas. penataan kota. dan WP Antar Negara. WP Pesisir di arahkan pada pengembangan pelabuhan samudera/pelabuhan regional/pelabuhan perikanan. Kabupaten Sekadau. WP Perbatasan Antar Negara diarahkan pada pengembangan border devlop ment centre (BDC). WP Perbatasan Antar Propinsi diarahkan pada pengembangan pertambangan.3. pantai dan kepulauan) dan pengembangan pulau-pulau kecil. dan Kabupaten Landak. Kabupaten Bengkayang. instalasi air bersih & kelistrikan. dan model pertanian. pelabuhan sungai. Telaah Harmoni RPJP dengan Revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat RPJP merupakan acuan pembangunan jangka panjang dengan skala cakupan menurut UU No. pusat agribisnis. Kota Pontianak dan Kota Singkawang. WP Tengah yang difokuskan di Kawasan Tayan. Di dalam RPJPD Provinsi Kalimantan barat dalam konsep pembangunannya.1. perkebunan. masuk dalam wilayah kajian dapat dilihat pada - - Gambaran wilayah administrasi kabupaten yang gambar berikut: Gambar 5. 25 tahun 2004 meliputi seluruh wilayah Provinsi Kalbar. WP Antar Provinsi. Kabupaten Kayong Utara. Kabupaten Sanggau. dan promosiparawisata. Kabupaten Kubu Raya. diarahkan pada titik pusat pembangunan transportasi yang membuka keterisolasian wilayah pedalaman dan memperlancar aksesibilitas arus orang dan barang ke dan dari wilayah pesisir.

Oleh karenanya rencana pembangunan jangka panjang daerah yang dituangkan dalam bentuk visi. hasil dari substansi tersebut meliputi arahan dalam hal pola ruang dan struktur ruang. Secara substasi proses revisi RTRWP dalam wilayah kajian ini melibatkan wilayah kabupaten. organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik.Perencanaan jangka panjang lebih condong pada kegiatan olah pikir yang bersifat visioner. masyarakat. untuk ini tentunya harus mempunyai keserasian dengan RPJPD Provinsi terutama terkait dengan konsep pembangunan wilayah Kalbar. Hasil arahan pola ruang dan struktur ruang terkait dengan kabupaten yang ada dalam wilayah kajian dapat dilihat seperti pada tabel berikut : . misi dan arah pembangunan daerah adalah produk dari semua elemen bangsa. pemerintah. sehingga penyusunannya akan lebih menitikberatkan partisipasi segmen masyarakat yang memiliki olah pikir visioner .

Alokasi pola ruang Revisi RTRWP pada kabupaten yang ada di wilayah Kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Usulan RTRWP APL Base CA HL HP HPK HPT SAL TN TWA Bengkayang 399024 632 875 47495 51520 0 2639 0 43800 0 546035 Kapuas Hulu 885073 18379 0 685422 48167 0 548638 0 935517 0 3121196 Kayong Utara 141677 11609 0 51612 41417 60233 0 0 294985 0 601533 Ketapang 1611000 15462 137628 290990 356413 48221 547912 0 17034 0 3024660 Kota Pontianak 11004 705 0 0 0 0 0 0 0 0 11709 Kubu Raya 467544 41389 0 148515 127041 22928 65789 0 0 0 873186 Landak 595991 1681 2648 50170 111346 0 12739 0 49716 0 8q24291 Melawi 416239 5594 0 216995 69561 2655 256746 0 44774 0 1012564 Pontianak 134301 1013 0 5003 48407 0 16148 0 0 0 204872 Sanggau 801020 15128 0 96171 251347 69878 39640 0 1073 0 1274257 Sekadau 402093 4934 0 56156 72493 0 25527 0 0 0 561203 Sintang 994910 11402 0 453065 142941 0 535430 0 67992 2054 2207794 Jumlah .2.Tabel 5.

. Mengacu pada tujuan penataan ruang wilayah Propinsi Kalimantan Barat yang diarahkan untuk “Terwujudnya keharmonisan dan keterpaduan dalam penggunaan /pengelolaan lingkungan alam dan lingkungan buatan dengan peningkatan sumberdaya manusia dalam pengelolaannya serta pencegahan kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan ruang yang dikelola secara arif dan bijaksana guna peningkatan kemakmuran rakyat Kalimantan Barat secara adil dan merata”. 22 PKL. dalam revisi tata ruang di wikayah Kabupaten yang berada dalam wilayah DAS kapuas terdapat beberapa proyeksi pusat kegiatan dan sarana transportasi jalan darat . 4 PKW. kecuali kota Pontianak yang tidak memiliki kawasan hutan . Berdasarkan gambar tersebut diproyeksikan akan banyak jalur jalan nasional dibanding jalan provinsi. baik yang bersifat nasional maupun lokal. gambaran struktur ruang yang ada dalam kawasan/wilayah kajian dapat dilihat pada gambar 5.Berdasarkan data pola ruang tersebut. sedangkan yang lainnya terdapat dalam jumlah yang bervariatip. Maka harmonisasi RPJP dengan Revisi RTRW di Wilayah kajian di analisis dari bentuk matrik sebagai berikut. dan beberapa saran perhubungan seperti jalan. Sintang (Jasa) dan Kapuas Hulu (Nanga badau). 1 PKN. Selanjutnya di lihat dari arahan struktur ruang . PKSN tersebut erdapat di Kab Sanggau (Entikong).4 Pada arahan struktur ruang dalam revisi tata ruang terdapat 3 PKSN yang masuk dalam wilayah kajian.

3.64 0 10.26 25.52 6. Sekadau Kab.01 14.86 0.57 SAL (%) 0 TN (%) 29. Admini s-trasi RPJPD Prov (pola ruang yang terdapat dalam wilayah kajian ) APL (%) Kab.54 0 6.07 0.54 HPK (%) 0 HPT (%) 17.07 0.01 0 0 49.56 0 93.35 0 4. Keta pang Kota Pontia nak 0 65.32 72.55 9.0 0 -WP Pesisir -WP Antar Provinsi -WP Pesisir 53.55 0 8.58 6.08 0 Kab.86 0 7.Tabel 5.03 0 -WP Pesisir -WP Antar Ne gara -WP Pesisir 73.Pon tianak Kab Kubu Raya Kab.09 -WP tengah -WP Antar Negara -WP tengah 62.54 19.72 5.43 0 0. Landak Kab.00 12.62 11.69 9. Melawi Kab.25 0 3.48 3.35 CA (%) 0 HL (%) 21.96 HP (%) 1.54 0 17.42 0 28.08 13.53 0 0 0 -WP Pesisir 23.59 18. Matrik Wilayah Pengembangan dalam RPJP Prov dan Pola Ruang dalam Revisi RTRWP Proporsi Arahan pola ruang dalam Revisi RTRWP Wil.97 TWA (%) 0 Kab.06 0 20.54 0 0 0 41.San ggau -WP tengah 71.54 2.55 2.50 0 1.Ben gkayang 0.88 0 0 0 -WP Pesisir 53.11 0 0.62 7.16 8.48 0 8.47 0 24.26 4.88 10.11 0 0.10 0 21. Sintang 45.62 0 7. Kapuas Hulu -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara -WP Antar Provinsi -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Kab.78 1.44 23.43 6.91 0 4.02 0 Kab.30 6.98 0 0 0 0 0 0 0 0 .Ka yong utara Kab.

Berdasarkan data yang ada memang tampak bahwa ada beberapa kabupaten yang masih perlu disesuaikan ketersediaan ruang terutama yang terkait dengan rasio antar kawasan APL dan kawasan hutan yang di alokasikan dengan fokus dalam arahan wilayah pengembangannya. Selanjutnya berdasarkan arahan pola ruang yang diproyeksikan dapat terlihat bahwa dalam Revisi tata ruang telah mendekati harmonisas.Pontian ak KabKubu Raya Kab. baik untuk kebun. Matrik Wilayah Pengembangan dalam RPJP Prov dan Struktur ruang dalam Revisi RTRWP Arahan Struktur ruang dalam Revisi RTRWP Wil. Pro vinsi Pelab uhan laut Termi nal berku alifika si Ban dara Ada PKN PKW PKSN PKL Kab. Sekadau Kab. Ketapang Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kota Pontianak Ada Ada .Sangga u -WP tengah -WP tengah -WP Antar Negara -WP tengah -WP Pesisir -WP Antar Negara -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Antar Provinsi -WP Pesisir Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab. hal ini tentu perlu dilihat lebih lanjut potensi wilayah yang ada.4. Lintas kaliman tan /negara Ada Jl. Melawi Kab. Landak Kab.Bengka yang Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab. Tabel 5. untuk ini dapat dilhat dari tabel berikut. Sintang -WP Antar Provinsi -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab.Kapuas Hulu -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Ada Ada Kab. tambang dan lainnya.Kayong utara Kab. Administrasi (pola ruang yang terdapat dalam wilayah kajian ) RPJPD Prov Jl.

Revisi tata ruang Provinsi Kalbar meliputi perubahan pola ruang dan struktur ruang.Berdasarkan kondisi proyeksi pembangunan struktur ruang. Struktur ruang dalam wilayah Kabupaten yang masuk wilayah kajian 1. Peta sebaran struktur ruang per wilayah kabupaten yang masuk dalam wilayah kajian dapat dilihat pada gambar berikut.3. maka Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2004 tentang RTRWP Kalimantan Barat (Tahap I) sudah waktunya untuk direvisi.3.1. Data Revisi Pola ruang untuk wilayah kajian sesuai dengan wilayah administrasi Pemerintah kabupaten/kota yang masuk dalam DAS Kapuas dapat dilihat pada table berikut ini. 1. serta merujuk pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mengamankan bahwa pemerintah Provinsi diberikan waktu selama 2 (dua) tahun terhitung sejak undang-undang tersebut berlaku untuk melakukan penyesuaian terhadap rencana tata ruangnya.4. Telaah Implikasi Revisi Rencana Tata Ruang di Wilayah DAS Kapuas Implikasi Rencana Pola Pemanfaatan Ruang di Wilayah DAS Kapuas Melihat adanya dinamika pembangunan yang signifikan baik internal maupun eksternal. . tampak antara rencana pembangunan jangka panjang dengan arahan struktur ruang dalam revisi tat ruang cukup harmonis. Gambar 5.

726. Selanjutnya PP No 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan. dan (b). pulau.Tabel 5.01 16. manfaat sosial. Sedangkan pada bagian tengah dan hilir Wilayah DAS Kapuas cenderung menjadi APL. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 18 menyatakan :(1) Pemerintah menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan untuk setiap daerah aliran sungai dan atau pulau.02 15. namun ketersebarannya tidak merata. selanjutnya akan terdapat kawasan Strategis Nasional (KSN) sebesar 10. tetap terjaminnya luas kawasan hutan paling sedikit 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daerah aliran sungai. Pasal 12 menyatakan (1) Tukar menukar kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dilakukan dengan ketentuan: (a). (2) Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal 30 % (tiga puluh persen) dari luas daerah aliran sungai dan atau pulau dengan sebaran yang proporsional.831 946. agar dampak lain yang mungkin timbul berupa erosi dan banjir tidak terjadi. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikut. KSN yang berada dalam kawasan DAS Kapuas ini adalah TN Betung Kerihun dan TN Danau sentarum. mempertahankan daya dukung kawasan hutan tetap layak kelola.501 2. TN Buikit baka-bukit raya dan TN G. dan/atau provinsi dengan sebaran yang proporsional. banyak mengarah pada bagian Timur dari Wilayah DAS Kapuas.673. dan manfaat ekonomi masyarakat setempat.24 100 Berdasarkan data di atas. dengan alokasi kawasan APL pada bagian tengah dan hilir maka mendorong aktivitas budidaya pertanian dan perkebunan terkonsentrasi di kawasan ini.043 4.02 10.191. maka revisi pola ruang di kawasan DAS kapuas maka kawasan ini akan memiliki kawasan Areal Penggunaan lain yang cukup besar yakni 45.01 0.055 103.991 1. Nyiut. Data Revisi pola Ruang dalam wiayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kawasan BASE/TUBUH AIR CA HL HP HPK TN TWA HPT APL Jumlah Luas (ha) 102.346 1.536.5. . dan selanjutnya diduduki oleh hutan produksi terbatas (HPT= 15.9 9.8 0.3 1.24 %. Berdasarkan Undang – Undang No.904 1.404 % 1.065 1.07). guna optimalisasi manfaat lingkungan.9 %). Disisi lain kawasan hutan lindung (HL) menempati urutan kedua (16..8 %. Dengan memperhatikan beberapa ketentuan di atas maka secara alokasi kawasan hutan yang di proyeksikan dalam revisi tata ruang telah mencukupi.098.07 45. untuk ini maka kondisi penutupan harus benar-benar diperhatikan.668 10.

Putussibau dan Ketapang. Sintang. c. Pangsuma. Rahadi Oesman. Penekanan struktur ruang dalam kaitannya dengan DAS Kapuas adalah pada jaringan jalan. Pusbar Tersier : a. Sukadana Internasional : Pulau (Pantai dan Gondol Temajok Kijing) Tanjung dalam Tipe A (antar kota antar provinsi dan/atau lintas batas negara): a.Gambar 5.5 Gambaran Revisi Pola dan Struktur Ruang dalam wilayah kajian 1. Sungai . Untuk ini dapat di lihat dari tabel berikut ini. Mempawah. Ketapang.2. Pelabuhan dan Terminal Pusat Pemukiman RTRWP PKN : Kawasan Mtropololitan Pontianak (KMP.6. Data Arahan Struktur Ruang Pusat pemukiman.3. Tabel 5. b. Liku. Implikasi Rencana Struktur Ruang di dalam wilayah kajian Revisi struktur ruang dalam tata ruang di Kawasan DAS Kapuas merupakan bagian dari evisi tata ruang Kalimantan barat. Sanggau. Oleh karenanya data mengenai perubahan struktur ruang akan di gunakan data struktur ruang dalam revisi tata ruang kalimantan barat. Sintang. Kota Pontianak dan Ibu Kota Kab. Promosi PKW : Sukadana – Teluk Melano (jika terjadi pemekaran wilayah Kab. Susilo. Paloh. dan pusat kegiatan. Putussibau. : Pelabuhan Internasional Pontianak Nasional Ketapang : : Terminal d. Pusbar Tersier : a. bandara. Ketapang dengan pembentukan kabupaten baru dari Bandara Pusbar Sekunder Supadio Pontianak. Kubu Raya) PKW : Sambas. Singkawang. Singkawang b.

Soekarno-Hatta. PKW dan PKSN PKN Pontianak PKW Ketapang (I/B) Mempawah (II/B) Singkawang (I/C/1) Sambas (I/A/1) Entikong (I/A/1) Sanggau (I/C/1) Sintang (II/C/1) Putussibau (I/A/2) . b.Jagoibabang (I/A/2) . Sanggau & Sekadau Kab. Teluk Batang.Aruk . Nasional : a. Ruang milik jalan minimal = 30 meter (PP No. Sintang Tayan Tipe B (antar kota dalam provinsi) d. Pelabuhan sebagai Simpul Transportasi Laut Nasional : 1. Ponttianak & Landak Kab. Sepinggan) : 1.Temajuk (II/A/2) (Paloh) Kab. 34/2006 tentang jalan pasal 40). f. Ketapang Bandara Pelabuhan satu sistem. Paloh. e. Sintang & Melawi Kab. 2. Pelabuhan internasional : Pontianak.Nanga (I/A/2) Badau § Bandara sebagai Simpul Transportasi Udara Nasional (sebagai pusat penyebaran primer : Hang Nadim.Pusat Pemukiman bagian utara wilayah Kab. Pangsuma. Pelabuhan nasional : Ketapang Jalan Bebas Hambatan : Singkawang – Sungai Pinyuh – Pontianak – Tayan. Ketapang & Kayong Utara Kab. 2. Tabel 5. Sambas Kab. Susilo. Pusat penyebaran sekunder : Supadio. Singkawang c. § Kota Sandai diperkirakan menjadi ibukota kabupaten dalam masa rencana. Kapuas Hulu PKSN Kabupaten Hinterland . Ketapang Keterangan : § Kota Sintang diperkirakan menjadi ibukota provinsi Kapuas Raya dalam masa rencana.Entikong (II/A/2) .Jasa (II/A/2) . Data Arahan Struktur Ruang PKN. § § .7. Tanjung Api di Paloh Terminal Ambawang di Ibukota KKR b. Bengkayang & Sambas Kab. Pusat penyebaran tersier : Rahadi Oesman.

Sintang.Jalan strategis nasional antar PKSN: Nanga Badau – Nanga Merakai – Balai Karangan – Entikong – Jagoi Babang – Aruk – Temajuk (Paloh) b.Arteri Primer antar PKN : § Pontianak – Tayan – Simpang Dua – Nanga Tayap – Palngkaraya. § Pelabuhan nasional Ketapang. PKW usulan. Ibukota kabupaten yang tidak masuk dalam PKN atau PKW : Bengkayang. Nanga Pinoh dan Sukadana. Nangabang. 2. § Pelabuhan internasional usulan Pulau Temajok (pantai Kijing) dan Tanjung Gondol dalam satu sistem. 4. § Batas negara – Jasa – Senaning – jalan antar PKSN § Batas negara – Entikong dan Balai Karangan. Antara PKN dan PKW. Antara PKSN dan pusat kegiatan lainnya. Putussibau dan Ketapang. dan 2. Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun § § . 1) Jaringan jalan nasional terdiri atas : 2) Jaringannjalan arteri primer dikembangkan secara menerus dan hirarki berdasarkan kesatuan sistem orientasi untuk menghubungkan : § § § Antar PKN. b. KAPET khatulistiwa. Data Arahan Struktur Ruang Ruas jalan Nasional DASAR PENETAPAN PP No. 26/2008 RTRWN (pasal 18) tentang RUAS JALAN a. Sintang. Putussibau. Singkawang.Arteri primer antara PKN dan PKW § Pontianak – Sungai Pinyuh – Mempawah – Singkawang – Sambas. § Pelabuhan nasional usulan : Teluk Batang (ke Teluk Melano dan Sukadana) 3) Jaringan jalan strategis nasional dikembangkan untuk menghubungkan : § Antar PKSN dalam satu kawasan perbatasan negara. Kawasan perkotaan Bontang – Samarinda – Balikpapan. § Bandara Pusbar tersier : Ketapang.Antara PKSN – PKW : § Batas negara – Nanga Badau – Putussibau § Nanga merakai – Sintang. PKN di Kalimantan Barat yaitu kawasan perkotaan Pontianak meliputi Pontianak dan ibukota KKR. Sanggau. § Pelabuhan internasional Pontianak.Arteri primer penghubung PKN dan atau PKW dengan bandara pusat penyebaran dan pelabuhan internasional/nasional : § Bandara Pusbar sekunder Supadio (Pontianak). 3.8. Kawasan stasiun pengamat dirgantara Pontaianak.Tabel 5. Paloh. Kawasan perbatasan dasar RI dan jantung Kalimantan (Heart of Borneo). dan PKN dan atau PKW dengan kawasan strategis nasional a. Palangkaraya. § Nanga Tayap – Siduk – Ketapang c.Tanjung § Batas negara – Jagoi Babang – Bengkayang – Singkawang Kawasan nasional : strategis KETERANGAN PKN di Pulau Kalimantan yang berhubungan dengan kawasan pekotaan Pontianak melalui jalan arteri primer adalah : 1. dan atau PKN dan atau PKW dengan : Ø Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/ter sier dan Ø Pelabuhan internasional/nasion al 1. § Tayan – Sosok – Tanjung – Sanggau – Sekadau – Sungai Ukoi – Sintang – Putussibau – Samarinda. jika terbentuk Kabupaten Sandai : Sukadana – Teluk Melano. PKW: Sambas. Sekadau. § Bandara Pusbar tersier usulan : Singkawang dan Sukadana. Mempawah.

34/2006) : a. Jalan kolektor primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten atau kota b.1. Ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah merupakan tempat manusia dan mahluk lain hidup melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya.4. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang mengamanatkan bahwa ruang merupakan wadah yang meliputi ruang darat. Salah satu yang mengisi ruang tersebut adalah kehutanan. ruang laut. Tabel 5-9 Data Arahan Struktur Ruang Ruas jalan Provinsi DASAR PENETAPAN Jalan provinsi terdiri atas (pasal 27 PP No. Kolektor primer antar ibukota kabupaten : Balai Berkuak – Sekadau (menghubungkan Sekadau – Sukadana) Simpang Tiga – Sidas (menghubungkan bengkayang – Ngabang) kolektor primer jalan strategis provinsi (dalam KAPET khatulistiwa) : Sambas – Balai Gemuruh – Ledo. dan ruang udara. dan c. demikian juga dengan pusatdari yang sudah ada. Ledo – Suti Semarang – Serimbu Kembayan KETERANGAN Jalan provinsi dapat bertembah setelah penetapan kawasan strategis provinsi dan masukan penyempurnaan Rancangan Rencana Struktur Ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat § § Implikasi struktur ruang di wilayah kajian untuk struktur jalan dan dapat juga dengan melalui pembuatan jaringan pusat pemukiman lebih cenderung meningkatkan status sarana pelabuhan udara maupun pelabuhan laut dan infrastruktur yang sudah ada dan juga pembangunan baru. sedangkan untuk terminal dilakukan dengan membangun Telaah Implikasi Program Pemanfaatan Ruang Revisi RTRWP/259 Berdasarkan UU No. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota kabupaten atau kota. 24 tahun 1992 yang disempurnakan dengan UU No.4.DASAR PENETAPAN RUAS JALAN § Batas negara – Aruk dan Tanjung Bantanan – Tanjung Harapan § Batas negara – Temajuk – Liku – Tanjung Harapan . jalan dapat berupaka peningkatan status jalan baru. Dalam kondisi tertentu terutama yang berkaitan dengan bencana alam yang berskala besar. 1. disebutkan bahwa produk rencana tata ruang wilayah provinsi disusun dengan perspektif ke masa depan dan memiliki jangka waktu rencana selama 20 tahun. Jalan strategis provinsi § § RUAS JALAN Kolektor primer antara ibukota provinsi dan kabupaten : § Bengkayang – Simpang Tiga – Anjongan. 1. maka rencana tata ruang wilayah provinsi dapat ditinjau kembali lebih dari .Sambas KETERANGAN 4) Jaringan jalan kotektor primer dikembangkan untuk menghubungkan antar PKW dan antara PKW dan PKL (penjelasan: dikembangkan pula untuk menghubungkan antar ibukota provinsi) Antar PKW : § Sungai Pinyuh – Anjungan – Sidas – Nabang – Sosok § Siduk – Sukadana Antar ibukota provinsi : Sungai Ukoi – Nanga Pinoh – Nanga Ella -Palangkaraya (jika kota Sintang menjadi ibukota provinsi). Rencana tata ruang wilayah provinsi ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun.

1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. Berdasarkan pada kriteria ini maka penataan ruang kawasan DAS Kapuas juga akan mengarah pada kriteria-kriteria tersebut. Rencana perubahan tata ruang di Kalimantan Barat khususnya Pola Ruang pada awalnya tertuang dalam surat Gubernur Kalimantan Barat nomor 050/0839/FP-BAPPEDA tanggal 26 Maret 2008 tentang revisi RTRWP Kalimantan Barat. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, maka dalam PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG Pasal 91 menyebutkan bahwa Revisi terhadap rencana tata ruang dilakukan bukan untuk pemutihan terhadap penyimpangan pelaksanaan pemanfaatan ruang. Gambar 5.7. Pola ruang Revisi RTRWP

Gambar 5.6 .Eksisting Pola ruang berdasarkan 259 update

Dengan Visualisasi tersebut tampak adanya perubahan pola ruang di dalam kawasan DAS Kapuas, Untuk perubahan peruntukan sejumlah 1.381.528 ha dan untuk perubahan fungsi sejumlah 566.110 ha. Untuk jelasnya alokasi perubahan pola ruang Wilayah DAS di dalam revisi tata ruang Prov kalimantan barat dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 5.8 . Visualisasi perubahan pola ruang sekitar DAS Kapuas

Perubahan pola ruang kearah APL cukup besar yakni sekitar 1.381.528 Ha (13,56 %), kondisi ini mempunyai tipologi kearah pemanfaatan untuk berbagai kepentingan seperti Pemekaran wilayah (pengembangan perkotaan, pemukiman), pertanian, perkebunan, pertambangan, transmigrasi dan lain-lainnya. Kondisi ini, perlu dicermati terutama terkait dengan daya dukung lingkungan yang ada. Dengan kondisi eksisting ruang sekarang pada dasarnya dalam beberapa tahun terakhir terah terjadi percepatan deforestasi/degradasi hutan maupun lahan pertanian yang bermuara pada penurunan daya dukung lingkungan. selain itu jika revisi ini diterapkan maka jumlah tutupan hutan yang ada akan berkurang sebesar 769.059,74 ha (11,84 % dari jumlah tutupan vegetasi hutan yang ada di dalam Kawasan DAS Kapuas saat sekarang) Kondisi ini menimbulkan keprihatinan terutama terkait dengan kebijakan moratorium. Oleh karenanya pendayagunaan perubahan kawasan harus lebih berorientasi pada kebutuhan dasar hidup manusia. 1.4.2. Implikasi alokasi ruang Pembangunan perkebunan, pertambangan, dan perhubungan di wilayah DAS Kapuas kehutanan,

Telaahan implikasi program yang sudah dilaksanakan meliputi program-program yang menmanfaatkan pola ruang yang luas dan berskala besar seperti Perkebunan kelapa sawit perkebunan karet, Pertambangan, Kehutanan, maupun Transmigrasi dan perhubungan. Perkebunan Kegiatan perkebunan di dalam kawasan DAS kapuas cukup marak terutama di dalam wilayah Areal penggunaan lain (APL), Kegiatan eksiting Pembangunan perkebunan didekati dari bentuk perijinan pada tingkat Hak Guna Usaha dan IUP, Sebaran lokasi HGU yang ada sampai dengan tahun 2009 di dalam kawasan ini mempunyai luas lebih kurang 236.281,17 ha (2,32 %), untuk ini dapat dilihat pada Gambar berikut.

. Visualisasi Peta sebaran Kebun HGU sekitar DAS Kapuas Berdasarkan sebaran kegiatan perkebunan yang dalam bentuk HGU lokasi perkebuna tampak berada di sekitar wilayah yang tidak jauh dari Sungai utama dalam DAS kapuas. Pembangunan perkebunan dapat juga dalam bentuk ilin Izin Usaha Perkebunan (IUP).Gambar 5. Dan berdasarkan hasil overlay ditemukan tumpang tindih dengan kawasan hutan lindung maupun hutan produksi Selain dalam bentuk HGU.9.

Gambar 5. .Pertambangan Kegiatan pertambangan yang ada di sekitar DAS Kapuas dapat berimplikasi pada penurunan kualitas lingkungan. pendekatan aktivitas pertambangan di dalam kawasan ini dilkaukan melalui bentuk kuasa pertambangan dan beberapa IUP yang pernah diberikan di kawasan ini .10. Visualisasi Peta sebaran IUP Coal dan mineral di DAS Kapuas antara tahun 2003 – 2009 IUP Penambangan Coal dan mineral ini berlangsung antara tahun 2003 sampai dengan 2009 dan tersebar dibagian barat-utara dan sebagian di sebelah selatan. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini. Selanjutnya kegiatan penambangan juga dilihat dari kuasa penambangan seperti yang terlihat pada gambar berikut ini.

Visualisasi Peta sebaran Kuasa Pertambangan di DAS Kapuas antara tahun 2003 .Gambar 5. .2009 Berdasarkan Ijin kuasa pertambangan yang ada maka kuasa pertambangan alokasinya menyebar secara parsial di dalam wilayah DAS Kapuas.11.

Aktivitas HTI ini juga sebagian tidak berjalan dengan baik . Gambar 5. Secara parsial kegiatan IUPHHK-HTI lebih banyak mengarah kebagian Barat dari DAS kapuas. Gambaran mengenai IUPHHK-HTI yang pernah di berikan di kawasan ini dapat dilihat pada gambar berikut ini. aktivitas IUPHHK-HA ini tidak semuanya dapat berjalan.Kehutanan Pembangunan kehutanan diarahkan pada kegiatan IUPHHK-HTI dan IUPHHK-HA.12 Visualisasi Peta IUPHHK-HA sekitar DAS Kapuas Ketersebaran aktivitas pembangunan kehutanan dalam bentuk IUPHHK-HA terlihat menyebar di seluruh kawasan DAS Kapuas secara partial. Sedangkan aktivitas lainnya dari sektor kehutanan adalah IUPHHK-HTI (termasuk HTI Trans). Visualisasi dari kegiatan tersebut dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini. Sebaran ijin usaha pemanfaatan ini terevaluasi dari data yang untuk IUPHHK-HTI di mulai dari tahun 1992 sampai dengan 1998. alokasi kegiatan nya terlihat tidak menyebar merata di seluruh kawasan DAS Kapuas . . sedangkan untuk kegiatan IUPHHK-HA diambil dari rentang waktu tahun 1993 sampai 2006.

aktivitas ini menjadi rentan sejalan dengan kerusakan lingkungan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas seperti kehutanan perkebunan dan pertambangan. Perindustrian merupakan sector yang cukup rentan terkena dampak kebijakan dan program terutama terkait dengan ketersediaan bahan.Gambar 5. namun untuk kegiatan pertambangan dan perhubungan dapat mengacu pada PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.4.13 Visualisasi Peta IUPHHK_HTI (termasuk HTI Trans) sekitar DAS Kapuas Perikanan dan Perindustrian Pembangunan sector perikanan diarahkan pada kegiatan perikanan tangkap. serta transmigrasi dan pertanian/perikanan dan Perhu- Prosedur perijinan untuk berbagai kegiatan seperti perkebunan. Kepentingan religi.3. dari ijin pertambangan dan perhubungan banyak yang tumpang tindih dengan perijinan lainnya dan bahkan dengan kawasan hutan dari berbagai fungsi kawasan. Kehutanan bungan/ transportasi. 1. pertambangan. Pertambangan. . kehutanan dan perhubungan sangat rentan dengan tumpang tindih peruntukan . b. Pertambangan.43/ Menhut-II/ 2008 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN pasal 5 yang menyatakan : (1) Pinjam pakai kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan meliputi : a. Perijinan pembangunan Perkebunan. Pertahanan dan keamanan. c.

Pembangunan ketenagalistrikan dan instalasi teknologi energi terbarukan. Bak penampungan air. h. n. Kawasan Hutan telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri. k. Fasilitas umum. telah ditunjuk dengan keputusan Menteri. Untuk ini dapat dilihat seperti pada gambar berikut. j. g. di Provinsi Kalimantan Barat penetapan perijinan cenderung mengacu pada Keputusan Menteri kehutanan No 259/KPTS-II/2000 tentang kawasan hutan dan perairan Kalbar. Stasiun pemancar radio. (2) Bagian kawasan hutan dalam wilayah provinsi yang belum memperoleh persetujuan peruntukan ruangnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diintegrasikan ke dalam rencana tata ruang wilayah provinsi yang akan ditetapkan dengan mengacu pada ketentuan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta penggunaan kawasan hutan berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi sebelumnya. atau d. m. Dari perijinan berupa ijin lokasi yang berlangsung sampai dengan tahun 2009 di kawasan DAS Kapuas terdapat perijinan yang tumpang tindih dengan kawasan hutan dan perijinan lainnya seperti pertambangan dan lain-lain. atau b. Berita Acara Tata Batas Kawasan Hutan telah disahkan oleh Menteri. telah ditata batas oleh Panitia Tata Batas. Pembangunan jaringan instalasi air. hal ini tampak dengan sering munculnya telaahan kawasan yang dikeluarkan oleh BPKH dalam rangkaian penetapan perijinan perkebunan. Disisi lain terdapat Perda No 5 tahun 2004 tentang RTRWP Provinsi kalimantan barat.d. Pembangunan jaringan telekomunikasi. Selanjutnya untuk perkebunan sawit prosedur perijinan perlu lebih dicermat iterhadap ketentuan yang ada. Kerancuan ini akan lebih perlu dicermati dengan keluarnya PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG Pada pasal 30: (1) Dalam hal terdapat bagian kawasan hutan dalam wilayah provinsi yang belum memperoleh persetujuan peruntukan ruangnya. Selain itu sangat perlu disingkronkan dengan PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. o. e. l. Namun PERDA ini jarang di jadikan acuan terutama dalam analisis pola ruang untuk perijinan Perkebunan. Repeater telekomunikasi. Pengairan. Stasiun relay televisi. Sarana keselamatan lalulintas laut/ udara. Saluran air bersih dan atau air limbah. Jalan umum. atau c. jalan (rel) kereta api. i. f. . 50/Menhut-II/2009 TENTANG PENEGASAN STATUS DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN dalam pasal 2 dikatakan (1) Kawasan hutan telah mempunyai kekuatan hukum apabila : a. terhadap bagian kawasan hutan tersebut mengacu pada ketentuan peruntukan kawasan hutan berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi sebelumnya.

pembangunan yang hanya terkonsentrasi di wilayah hilir. Koordinasi antar sektor tentang perijinan terkait dengan perkebunan. terkecuali yang menggunakan batas alam. demikian juga sebaliknya. Implikasi beberapa pembanguan perkebunan. biasanya sangat berhubungan dengan batas wilayah administrasi. Visualisasi Peta sebaran kebun Ijin lokasi sekitar DAS Kapuas sampai tahun 2009 1. akan menimbulkan disparitas terhadap ekonomi dan sosial. 1. Terkait dengan koordinasi antar pemerintah kabupaten terhadap pemberian perijinan terkait dengan perkebunan. batas wiayah administrasi secara fisik sangat dimungkinkan tidak adanya patok batas dlapangan. Dengan kurangnya patok batas wilayah administrasi maka sangat mudah terjadi mis koordinasi pada saat terjadinya dampak atau masalah baik sosial maupun fisik. mis informasi bisa terjadi karena diawali dengan terputusnya saluran koordinasi.4. pertambangan. kehutanan. pertambangan. pertanian dan trasnigrasi serta perhubungan.4. Pembangunan diwilayah hulu akan memberikan dampak ikutan kepada wilayah hilir.5. sehingga tidak tercipta pemerataan pembangunan karena tidak terbukanya isolasi. pertambangan dan kehutanan yang memerlukan koordinasi yang jelas kedepannya dan minimal mendorong untuk adanya SOP secara yuridis formal. Secara ekologi baik dampak sosial maupun dampang fisik cukup sulit dibatasi dengan wilayah administrasi pemerintahan. Kondisi seperti ini pada gilirannya akan menyebabkan konflik antar sektor bahkan antar msyarakat dalam pengambilan kebijakan. pertanian dan trasnigrasi serta perhubungan untuk lokasi-lokasi yang berbatasan. untuk ini perlu adanya peningkatan MOU (jika sudah ada) kearah SOP yang secara yuridis disepakati atau disetujui. sering kali tidak mempunyai sambungan yang baik dengan tingkat tapak di pemerintah kecamatan dan desa. pertanian dan trasmigrasi serta perhubungan. Koordinasi antar sektor baik di tingkat prov maupun Kabupaten sampai de ngan dengan Unsur Kecamatan dan desa Koordinasi antar sektor sangat penting baik yang ada pada tingkat kabupaten maupun pada tingkat pemerintah provinsi. Koordinasi antar pemerintah Kabupaten /kota yang ada di Dalam wilayah DAS Kapuas dalam pemberian perijinan Peningkatan Koordinasi antar pemerintah kabupaten menjadi penting pada masa kini dan masa mendatang. pertambangan. Kondisi ini penting dicermti karena .Gambar 5. terutama dalam pemberian perijinan terkait dengan perkebunan. kehutanan.4.14 . kehutanan.

stakeholder pada tingkat pemerintah kecamatan dan desa sangat operasional dan mengenal lingkungannya oleh karena itu SOP kearah organisasi sampai kearah tingkat tapak perlu diperjelas. Pengendalian Pengendalian perijinan dapat berupa zoning regulation. keterkaitan ini dapat berbentuk hubungan yang linier atau lainnya. Telaah Prinsip Keterkaitan. Pengendalian perlu diintensipkan karena sampai dengan saat sekarang. rencana dan program dengan berbagai isue strategis yang dapat terjadi di kawasan ini dapat dilihat seperti pada tabel berikut.perika nan dan perindustrian 6 Pembang unan perhubun gan Isue-isue strategis Pendangkalan sekitar muara Banjir & erosi Perubahan Musim tanam Pening keg.10 Matrik keterkaitan Kebijakan sektoral dengan Isue strategis KRP sektoral 1. Revisi RTRWP Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 2. Keterkaitkan antara kebijakan. pertambangan yang tidak melakukan kegiatannya namun telah mengantongi perijinan. Keseimbangan dan Keadilan Kebijakan. masih banyak perijinan baik perkebunan. Selain itu dikawasan DAS Kapuas juga terdapat perkampungan atau pemukiman yang dalam aktivitasnya perlu memperhatikan keseimbangan dan keadilan dengan lingkungannya.budaya Degradasi lah pert pa ngan Degradasi lahan & kua litas tanah Berkurangnya potensi air tanah Degradasi hutan/deforestasi Intrusi air asin/laut Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan . Pembangun an Pertamba ngan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 5 Pembangunan Transmigrasi dan pertanian. terutama yang terkait dengan masalah ekonomi dan ekologi dari wilayah yang bersangkutan. Pembangu nan Kehutanan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 3. 1. sampai dengan pemberian sangsi. Program mempunyai keterkaitan yang erat dengan isue-isue strategis. namun dapat pula menimbulkan bencana pada saat pemanfaatannya tidak memperhatikan sisi ekologi. Dalam aplikasinya keterkaitan ini harus juga memperhatikan unsur keseimbangan dan keadilan. rencana.peti Perubahan alur pelayar an Penurunan kualiatas air sungai Penurunan potensi perikan tangkap Konflik sosial Pergeseran nil.6.5. kehutanan. baik yang bersifat ekonomi maupun ekologi. Tabel 5. Untuk ini visualisasi nya dapat dilihat dari realisasi ijin yang ada 1. Hutan akan memberikan manfaat jika di kelola secara bijaksan. Pembangunan Perkebunan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 4.4. DAS Kapuas merupakan wilayah das yang mana di dalamnya terdapat interaksi dari berbagai unsur.

Petani di Kalimantan Barat sebagian sangat tergantung dari pertanian tadah hujan. kondisi ini akan membuat percepatan luapan air sungai-sungai yang ada di sekitar DAS. ekplorasi . dampak ini terasa pada saat musim kemarau. dan pembukaan penutupan. dan teknik penanaman. perkebunan.Penurunan volume dan permukaan tanah gambut Tumpang tindih pemenfaatanperuntukan lahan Kekeringan dan kebakaran lahan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 1. Dampak Berupa banjir terasa pada saat musim penghujan.1. 1. yang akan memberikan dampak ikutan berupa berkurangnya kemampuan tanah untuk dapat menahan air. Dampak pendangkalan muara akan terjadi di sekitar muara sungai dari sus-sub DAS yang ada di sekitar DAS sungai kapuas sampai dengan muara S. 1. Selanjutnya pada musim kemarau akan terjadi kondisi ekstrim berupa kondisi sebaliknya yakni kekeringan yang berdampak pada kebakaran lahan. Pemberian ijin yang sangat luas dan besar terkait dengan kegiatan pertambangan. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada data dan gambar berikut Selain ketiga kebijakan tersebut revisi RTRWP juga dapat memberikan resiko lingkungan berupa pendangkalan muara-muara sungai yang ada di sekitar DAS. kehutanan.6. kegiatan-kegiatan tersebut dapat memobilisasi penduduk dan akhirnya memotivasi untuk berusaha kearah pertambangan tanpa ijin. Di beberapa lokasi terjadi dengan intensitas dan daerah cakupan banjir yang cukup luas. Akibantnya peluang terjadinya bencana banjir dan erosi semakin tinggi. sehingga akan terjadi penumpukan di sekitar muara-muara sungai.3. Kebijakan berupa perubahan tata ruang. aktivitas dilapangan seperti land clearing. 1. perubahan peruntukan akan mendorong pembukaan tutupan hutan dan hal ini akan mendorong terjadingya erosi dan sedimentasi. Pembangunan Pertambangan. dimana dengan perubahan iklim tersebut maka jelas akan terjadi perubahan musin hujan dan akhirnya mempengaruhi perubahan musim tanam 1. Telaah Dampak Peningkatan Peti Kegiatan peti di dalam wilayah DAS Kapuas disebabkan oleh Revisi RTRWP. dimana di beberapa tempat muncul daratan yang semakin tahun semakin luas. Pembangunan Kehutanan.6. Pembangunan Transmigrasi dan pertanian. perubahan pola ruang dan pembukaan isolasi karena arahan revisi RTRWP akan mengakibatkan perubahan aktivitas yang sangat besar terlebih perubahan yang mengarah pada peruntukan. terlebih kalau di ikuti dengan pasang laut. . Kehutanan.6.4.2. sehingga air permukaan menjadi sangat besar. pembangunan Perkebunan. perkebunan dan kehutanan akan dapat menyebankan adanya peningktan erosi yang pada gilirannya akan menyebankan pendangkalan di sekitar sungai dan peningkatan luapan air sungai.6. lemahnya koordinasi dan lemahnya pengendalian. pertambanagan akan memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap perubahan iklim.6. hal ini terkait dengan pemberian Perijinan.Kapuas di sekitar Kuala Jungkat Kabupaten Pontianak. Telaah Dampak Banjir dan erosi dan kekeringan Perubahan pola ruang akan mengakibatkan perubahan aktivitas. Pembangunan perhubungan. Telaah Dampak Perubahan Musim tanam Isue global berupa perubahan iklim erkait dengan keberadaan hutan di dunia dan hutan di kalimantan Barat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Pertambangan. Telaah Dampak Kumulatif Telaah Dampak Pendangkalan sekitar Muara Berdasarkan tabel di atas dampak pendangkalan sungai di picu oleh adanya beberapa kebijakan dalam bidang Perkebunan.

HUTA N (%) 47 46 45 44 20 0 3 2004 20 0 5 2006 TA H UN 20 0 7 2008 2 00 9 S R-Sq R . kurangnya koordinasi antar sektor baik di tingkat prov maupun Kabupaten sampai dengan dengan Unsur Kecamatan dan desa dalam Penetapan Perijinan Perkebunan sawit. Pembangunan perkebunan.0 .1.56 %) dari luas DAS.H U T A N ( % ) = 1 1 5 7 .528 Ha (13. baik yang berskala besar maupun perkebunan rakyat. Perhu bungan/transportasi dan komitmenya terhadap kondisi lingkungan Hidup Ke hutanan & 3. berdasarkan tren ini bilamana dianggap linier dan tidak terjadi perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP maka kawasan hutan di kalimantan Barat akan menurun di bawah 30 % dalam jangka waktu 35 tahun. Kurangnya koordinasi antar pemerintah Kabupaten/kota yg ada di Dalam wilayah DAS Kapu as dalam rangka mencari keserasian lingku ngan hidup 4. Trend Deforestasi P O L A R . Gambar 5.15. Revisi RTRWP Perubahan peruntukan ruang sebesar 1. Pertambangan. untuk ini dapat dilihat seperti pada trend berikut ini .381. 55 % pertahun. Pengendalian kawasan konservasi (kawa san gambut > 3 m.16 482 5 5.6. Namun dari dekade 2007 sampai tahun 2009 kecenderungan deforestasi menajam. kehutanan di wilayah DAS Kapuas 2. Aktiviatas lain yang dapat mendorong terjadinya deforestasi adalah aktivitas perkebunan. Untuk melihat dampak komulatip yang timbul terhadap terjadinya deforestasi dapat dilihat pada gambar berikut ini.381. Jika kondisi ini dianggap linier saja maka laju deforestasi akan mencapai sebesar 0.9% F i t te d L i n e P l o t Berdasarkan tren di atas maka deforestasi di wilayah DAS kapuas terjadi dengan kecenderungan tidak begitu linier.5. Antara tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 cenderung sama. deforestasi tersebut akan lebih memprihatinkan bilamana terjadi perubahan pola ruang berupa alih fungsi lahan kearah peruntukan selain hutan dalam revisi RTRWP Kalimantan Barat. pertambangan. Perijinan pembangunan Perkebunan Kelapa sawit. Buffer Zone dan re komendasi kelaya kan lingkungan) un tuk berbagai perijinan 6.0% 9.528 Ha (13. perhubungan.5 5 3 6 T A H U N 49 48 POLA R. Kehutanan maupun perhubungan 5.S q ( a d j) 2. Telaah Dampak deforestasi/degradasi hutan & tumpang tindih pemanfaatan dan penurunan keanekaragaman hayati Deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati di picu oleh adanya beberapa kebijakan yang selama ini dilakukan seperti : 1.56 %) dari luas DAS menimbulkan degradasi penutupan lahan/hutan sehingga menimbulkan percepatan deforestasi. kondisi ini akan lebih terdegradasi dengan adanya alokasi perubahan ruang kearah peruntukan peruntukan ruang sebesar 1. transmigrasi. KRP Ini akan menimbulkan ruang terbuka di dalam kawasan sehingga menimbulkan erosi dan peningkatan sedimentasi pada sungai sehingga menyebabkan pendangkalan Dampak Berupa deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati dapat dilihat dari kondisi degradasi penutupan yang ada di sekitar DAS Kapuas terutama penutupan hutan. pertambangan.

4 5 0 .24 %.5 5 POLA R.0 3.0 6 9 04 4 7 .0 82 8 51 0 87 . kondisi ini akan dapat dilihat dari tren besarnya lahan terbuka atau perkembangan semak belukar yang ada di dalam kawasan kajian.3 0 0 .8 + 0 .5 0 0 . Pembentukan semak belukar dan lahan terbuka dapat disebabkan oleh aktivitas manusia dan kondisi alam.0 4. Laju pertambahan aktivitas perkebunan mencapai 0.PERKEBUNAN (%) 5.2 0 2003 2004 2005 2006 TA H UN 2007 2008 2009 S R-S q R .5 4.PERTAMBANGAN (%) 0 . Peningkatan penggunaan lahan untuk perkebunan sangat signifikan terjadi pada rentang waktu 2007 sampai dengan 2009. 2 3 5 7 T A H U N S R -S q R -S q ( a d j) 1 .3 5 0 . Trend Peningkatan Aktivitas Pertambangan sampai dengan Tahun 2009 F it te d L in e P lo t P O L A R .1 0 0 . Trend Peningkatan Aktivitas Perkebunan sampai dengan Tahun 2009 F i tte d L i n e P l o t P O LA R .S q ( a d j) 0 .17.P E R K EB U N A N (% ) = 5. 3% 74 .0 % POLA R. Selanjutnya penyebab deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati adalah adanya aktivitas pertambangan terlebih pertambangan tanpa ijin.5 .P E R T A M B A N G A N ( % ) = . 7% .0 5 0 3 6 T A H U N 0 .6 % 0 .4 0 0 .7 + 0 .4 6 8 .Gambar 5. untuk melihat kondisi ini dapat dilihat pada gambar berikut ini Gambar 5.16. sebagai contoh pada peristiwa kebakaran lahan .2 5 0 .5 2003 2004 2005 2006 T A H UN 2007 2008 2009 Berdasarkan kondisi ini lonjakan aktivitas perkebunan demikian signifikan dan terasa linier dengan tahun aktivitas berjalan. Keterkaitan faktor lainnya dalam deforestasi disebabkan oleh berbagai kebijakan dan aktivitas manusia dan kondisi alam seperti kebakaran lahan .

justru berbagai aktivitas ekonomi dan masyarakat berpotensi menimbulkan dampak yang dapat menganggu berfungsinya DAS KAPUAS secara berkelanjutan. sosial.1. Wilayah DAS KAPUAS yang meliputi 10 Kabupaten dan 1 Kota yang terdapat di Kalimantan Barat memiliki peran yang sentral dan strategis. Terkait dengan gambaran yang dikemukakan di atas. RENCANA DAN ALTERNATIF PROGRAM KLHS juga dapat digunakan untuk menelaah dampak kumulatif. tetapi karena kegiatan tersebut berlangsung berulang kali atau terus menerus. yakni dampak yang berlangsung terus menerus yang bersumber dari berbagai kegiatan di dalam suatu ruang/ kawasan. (b) berbagai dampak lingkungan bertumpuk pada suatu ruang tertentu sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan. perhubungan dan perindustrian dengan mengidentifikasi 16 isu-isu strategis. Identifikasi Sektor-Sektor Yang Menimbulkan Dampak Identifikasi berbagai sektor yang menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS dibagi kedalam kelompok lingkungan. . KLHS mencoba mengidentifikasi berbagai kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak kumulatif serta menyarankan upaya mitigasi yang akan dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas tersebut. perkebunan. maka dampaknya bersifat kumulatif. sumber perikanan air tawar. Hasil identifikasi telah menemukan sektor yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS adalah sektor kehutanan. 6. baik dalam konteks ekologis dan ekonomi. Dampak kumulatif bisa terjadi karena: (a) dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam. Sebagaimana diketahui bahwa dampak suatu usaha atau kegiatan dikatakan bersifat kumulatif apabila pada awalnya dampak tersebut tidak tampak atau tidak dianggap penting. dan (c) dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan yang menimbulkan efek yang saling memperkuat.BAB VI MITIGASI IMPLIKASI KEBIJAKAN. perikanan. Deskripsi sektor dengan isu-isu stratetis yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS dapat dilihat pada beberapa tabel berikut ini. Bahkan DAS KAPUAS memberikan kontribusi penting dalam menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan sebagian besar masyarakat di Kalimantan Barat seperti sebagai sumber utama air bersih. ekonomi dan Kelembagaan. Oleh karena itu apabila terjadi degradasi terhadap DAS KAPUAS akan dapat menimbulkan implikasi yang signifikan dan kumulatif pada berbagai sektor kehidupan sebagian besar masyarakat Kalimantan Barat. Namun ironisnya. pertambangan. prasarana transportasi yang vital dan berbagai sumberdaya lainnya yang disediakan oleh DAS KAPUAS.

aktivitas sektor pertambangan yang menjadi sumber munculnya isu-isu lingkungan strategis lebih beragam. sumber aktivitas sektor pertambangan yang menimbulkan dampak isu lingkungan strategis lebih banyak terjadi karena kegiatan PETI. perubahan musim tanam. Pada kelompok isu sosial. munculnya isu tentang konflik sosial dan pergeseran nilai budaya pada dasarnya muncul akibat dari dampak tidak langsung kegiatan HPH dan HTI. Sehingga upaya untuk melakukan mitigasi dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan sektor pertambangan lebih ditujukan kepada pengendalian terhadap kegiatan PETI. Oleh karena itu dalam konteks upaya untuk melakukan mitigasi terhadap aktivitas sektor kehutanan pada kelompok isu lingkungan. berkurangnya potensi air tanah. 2) Aktivitas Sektor Pertambangan Yang Menimbulkan Dampak Dibandingkan dengan sektor kehutanan. . Pada kelompok isu lingkungan. kekeringan dan kebakaran serta penurunan produktivitas lahan timbul karena aktivitas kegiatan HPH dan HTI. penambangan dalam skala besar dan penambangan yang dilakukan berdekatan dengan muara sungai. . penurunan kualitas air sungai. Penambangan skala besar serta penambangan yang berlokasi berdekatan dengan muara sungai. Seperti isu strategis pendangkalan sekitar muara.1) Aktivitas Sektor Kehutanan Yang Menimbulkan Dampak Apabila diamati tabel diatas dapat dilihat bahwa isu-isu strategis yang muncul dari aktivitas sektor kehutanan pada kelompok isu lingkungan sebagian besar bersumber dari kegiatan HPH dan HTI. banjir dan erosi. deforestasi. maka kegiatan HPH dan HTI menjadi perhatian serius agar dampak kegiatan sektor kehutanan terhadap DAS Kapuas dapat diminimalisasikan.

Dengan memperhatikan dampak yang masive dan signifikan akibat dari kegiatan land clearing. penurunan kualitas air sungai. lebih ditujukan kepada pengendalian kegiatan land clearing pada sektor perkebunan. berkurangnya potensi air tanah. Hasil identifikasi telah mendapatkan bahwa dari 16 (enam belas) dampak isu lingkungan strategis pada sektor perkebunan terdapat 11 (sebelas) dampak isu lingkungan yang muncul akibat kegiatan land clearing. intrusi air laut. degradasi lahan gambut. sumber aktivitas yang sering menimbulkan dampak isu lingkungan strategis terhadap DAS kapuas adalah kegiatan land clearing. banjir dan erosi. Beberapa dampak isu lingkungan yang muncul akibat dari kegiatan land clearing yaitu isu pendangkalan sekitar muara. . penurunan produktivitas lahan dan penurunan potensi perikanan tangkap. degardasi lahan dan kualitas air tanah. deforestasi. perubahan musim tanam.3) Aktivitas Sektor Perkebunan Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perkebunan. maka upaya mtitigasi yang dilakukan untuk mengurangi dampak aktivitas sektor perkbunan terhadap DAS Kapuas. kekeringan dan kebakaran.

pembangunan pelabuhan perikanan serta adanya kegiatan perusahaan perkebunan pada suatu kawasan tertentu merupakan sumber aktivitas yang cukup menonjol dan perlu mendapat perhatian yang serius dalam melakukan mitigasi terhadap dampak yang ditimbulkan dari kegiatan sektor perikanan. isu-isu lingkungan strategis muncul dari sumber aktivitas yang relatif lebih beragam. Namun aktivitas penggunaan tuba dalam menangkap ikan. .4) Aktivitas Sektor Perikanan Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perikanan.

5) Aktivitas Sektor Perhubungan Yang Menimbulkan Dampak Tidak jauh berbeda dengan sektor perikanan. Oleh karena itu. . upaya untuk melakukan mitigasi terhadap dampak yang berasal dari sektor perhubungan terhadap DAS Kapuas. isu-isu lingkungan strategis yang muncul pada sektor perhubungan berasal dari sumber aktivitas yang relatif lebih beragam. yaitu limbah kegiatan angkutan sungai dan pembangunan pelabuhan penumpang dan barang. Namun terdapat 2 (dua) sumber aktivitas yang menonjol menimbulkan dampak isu lingkungan strategis pada sektor perhubungan ini. lebih diarahkan pada pengendalian kedua sumber aktivitas dampak tersebut.

terdapat 2 (dua) sumber aktivitas dominan yang menimbulkan dampak isu lingkungan strategis yaitu sumber limbah industri yang berlokasi pada pinggir sungai serta kegiatan pembangunan kawasan industri. Upaya mitigasi yang dilakukan harus ditujukan pada pengendalian sumber aktivitas tersebut. .6) Aktivitas Sektor Perindustrian Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perindustrian.

banjir dan erosi. Sektor-sektor lain yang aktivitasnya menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS adalah sektor perikanan memiliki 7 isu dampak strategis serta sektor perhubungan dan sektor perindustrian masing-masing memiliki 5 isu dampak strategis. 6. perkebunan dan pertambangan. Tabel 6. isu tentang konflik sosial dan pergeseran nilai budaya merupakan isu lingkungan sosial yang timbuk dari aktivitas . Berikut ini tabel yang menyajikan data yang terkait dengan interaksi sektor yang menimbulkan dampak kumulatif tersebut. deforestasi merupakan isu lingkungan yang timbul akibat dari aktivitas sektor kehutanan. Dalam konteks interaksi sektor yang menimbulkan dampak kumulatif. Kegiatan ketiga sektor tersebut perlu untuk mendapat perhatian secara spesifik. Sehingga pengendalian terhadap ketiga sektor dapat saja memberikan pengaruh pada aktivitas ekonomi masyarakat secara keseluruhan. berkurangnya potensi air tanah. perkebunan dan pertambangan. Sementara itu dari kelompok isu sosial. Sedangkan isu pendangkalan sekitar muara. pertambangan. perikanan. pada kelompok isu lingkungan. akan teridentifikasi isu-isu strategis yang menjadi isu-isu dampak pada setiap sektor. degradasi lahan dan kualitas tanah. Indentifikasi dan Interaksi Sektor Yang Menimbulkan Dampak Kumulatif Sebagaimana dikemukakan sebelum sektor-sektor yang memiliki dampak signifikan dan kumulatif terhadap DAS Kapuas adalah sektor kehutanan. Identifikasi dan Interaksi Sektor yang Menimbulkan Dampak Berdasarkan hasil identifikasi dan interaksi sektor yang menimbulkan dampak apabila dilihat dari aspek kelompok isu. Realitas yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas perekonomian di Kalimantan Barat sangat didominasi oleh sektor kehutanan. mengingat dampak yang ditimbulkan sangat masif serta memberikan efek yang berantai dan kumulatif. perhubungan dan perindustrian). perkebunan.Dengan memperhatikan tabel-tabel di atas dapat diidentifikasi terdapat 3 (sektor) yang aktivitasnya sangat memiliki potensi menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap DAS KAPUAS yaitu sektor Kehutanan dan Sektor Perkebunan masing-masing dengan 16 isu-isu dampak strategis dan sektor pertambangan dengan 12 isu dampak strategis. pertambangan dan perkebunan.2. isu tentang penurunan kualitas air sungai merupakan isu lingkungan yang timbul akibat dari aktivitas semua sektor (sektor kehutanan.1.

isu penurunan potensi perikanan tangkap merupakan isu lingkungan strategis yang timbul akibat dari aktivitas semua sektor. banjir dan erosi. Mitigasi ditujukan pada semua sektor serta pada semua isu-isu dampak lingkungan strategis dengan lebih menekankan pada sektor-sektor yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang sangat signifikan serta pada isu-isu dampak lingkungan yang paling strattegis. Kelompok isu selanjutnya yaitu kelompok isu kelembagaan. Dalam kelompok isu ekonomi juga. Pada kelompok isu ekonomi. intrusi air laut. perubahan musim tanam. isu penurunan produktivitas lahan merupakan isu lingkungan strategis yang timbul dari aktivitas sektor kehutanan. pergesaran nilai budaya. Kelompok isu lingkungan mencakup isu tentang pendangkalan sekitar muara. degradasi lahan dan kualitas tanah. perunuranan produktivitas lahan. Berikut tabel yang menyajikan mitigasi dampak sektoral pada DAS Kapuas. serta kekeringan dan kebakaran. berkurangnya potensi air tanah. sektor perhubungan dan sektor perindustrian cukup signifikan terhadap DAS Kapuas.3. 6. pergeseran nilai budaya. semua sektor yang diidentifikasi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas.semua sektor. Sedangkan isu pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif merupakan isu lingkungan strategis yang terjadi pada semua sektor yang terindentifikasi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas. perijinan yang tumpang tindih serta pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya dari 16 (enam belas) isu dampak strategis tersebut. penurunan potensi perikanan tangkap. Dari 6 (enam) sektor. konflik sosial. Isu-isu dampak lingkungan ini terjadi pada semua sektor. Mitigasi serta Perbaikan Rencana dan Kebijakan Hasil identifikasi sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya mendapatkan terdapat 6 (enam) sektor yang aktivitasnya berpotensi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas. Dengan kata lain. Pada kelompok isu ini. deforestasi. penurunan kualitas air sungai. Hasil identifikasi menghasilkan juga isu-isu strategis sebanyak 16 isu yang terdiri kelompok isu lingkungan sebanya 10 isu. isu tentang terjadinya tumpang tindihnya perizinan terjadi pada sektor kehutanan. Sedangkan aktivitas pada sektor pertambangan hanya menimbulkan 12 (dua belas) dampak isu lingkungan strategis. Kelompok isu sosial mencakup isu konflik sosial. degradasi lahan gambut. . perkebunan dan pertambangan. aktivitas yang dilakukan di sektor-sektor tersebut berpotensi menimbulkan dampak terjadinya penurunan potensi perikanan tangkap. Kelompok isu ekonomi mencakup isu tentang penurunan produktivitas lahan serta penurunan potensi perikanan tangkap. kelompok sosial 2 isu. Sedangkan 3 (sektor) lainya yaitu sektor perikanan. sektor perkebunan dan sektor pertambangan. perkebunan dan pertambangan. kelompok ekonomi 2 isu dan kelompok kelembagaan 2 isu. terdapat 3 (tiga) sektor yang berpotensi menimbulkan dampak yang sangat signifikan yaitu sektor kehutanan. Sedangkan kelompok isu kelembagaan mencakup isu tumpang tindih perijinan serta pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif. Secara sektoral terdapat 6 (enam) isu-isu dampak lingkungan yang paling strategis yaitu isu dampak lingkungan penurunan kualitas air sungai. terdapat 2 (dua) sektor yang kegiatannya menimbulkan dampak pada semua isu-isu lingkungan tersebut yaitu sektor kehutanan dan sektor perkebunan.

Tabel 6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Kehutanan pada DAS Kapuas .2.

.

Tabel 6.3. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Pertambangan pada DAS Kapuas .

Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perkebunan pada DAS Kapuas .Tabel 6.4.

.

5.Tabel 6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perikanan pada DAS Kapuas .

Tabel 6.6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perikanan pada DAS Kapuas

Tabel 6.7. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perindustrian pada DAS Kapuas

BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

7.1.

Kesimpulan

1. Revisi RTRWP terhadap pola ruang di DAS Kapuas mendorong penurunan terhadap tutupan hutan sebesar 11,84 % dari tutupan yang ada sekarang. Hal ini Memenimbulkan resiko lingkungan berupa penurunan daya dukung. Oleh karenanya, perubahan peruntukan dengan cakupan yang luas di wilayah ini tidak harus diberikan, terkecuali untuk keperluan pemukiman. Selanjutnya Perlu telaah kembali terhadap bentuk perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP tersebut secara yuridis, Teknis, Sosial budaya dan historis serta motivasi perubahannya agar tidak terjadi perubahan peruntukan yang dapat menurunkan daya dukung lingkungan 2. Pengendalian kegiatan Perkebunan, Pertambangan dan kehutanan (izin lokasi, HGU dan IUP serta IUPHHK-HA dan lainnya) perlu diepektifkan kembali, sehingga bisa di peroleh optimalisasi pemanfaatan dan sekaligus dapat diinventarisir bentuk pelanggaran hukumnya 3. Proses perijinan dan pengelolaan pembangunan PERKEBUNAN, PERTAMBANGAN, KEHUTANAN,, PERIKANAN, PERINDUSTRIAN DAN PERHUBUNGAN perlu adanya koordinasi dengan aparat pada tingkat tapak baik yang berasal dari instansi formal maupun non formal (Kecamatan & desa), agar diperoleh koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan 4. Proses perijinan untuk pendayagunaan lahan khususnya tanah gambut perlu dikaitkan dengan survei semi detail sampai detail terkait dengan kematangan dan kedalaman gambut terutama yang ada di wilayah DAS Kapuas 5. Dengan besarnya potensi tumpang tindih pemanfaatan dan peruntukan serta dampak lainnya di sekitar DAS Kapuas, maka proses perijinan pembangunan Perkebunan, Kehutanan, Pertambangan, pertanian, perikanan, perindustrian dan perhubungan perlu adanya koordinasi vertikal dan horisontal yang lebih baik antar sektor pada tingkat provinsi maupun kabupaten. 7.2. Rekomendasi 1. Revisi RTRWP terhadap pola ruang di DAS Kapuas mendorong penurunan terhadap tutupan hutan sebesar 11,84 % dari tutupan yang ada sekarang. Oleh karenanya, perubahan peruntukan dengan cakupan yang luas di wilayah ini tidak harus diberikan, terkecuali untuk keperluan pemukiman. Selanjutnya perlu telaah kembali terhadap bentuk perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP tersebut secara yuridis, Teknis, Sosial budaya dan historis, serta tidak mengakomodir motivasi perubahan yang mengarah pada konversi kawasan hutan menjadi perkebunan. 2. Memperhatikan mitigasi yang ada untuk wilayah DAS Kapuas, maka beberapa Sektor seperti Perkebunan, Kehutanan, Pertambangan, Perindustrian serta perhubungan perlu adanya perbaikan regulasi dan kebijakan baru yang lebih epektif terhadap : a. Koordinasi antar stakeholder baik vertikal maupun horizontal, Kabupaten pada saat proses perijinan. pada tingkat Provinsi maupun

b. Pengendalian terhadap aktivitas yang sudah ada melalui regulasi terhadap kelola ruang yang lebih jelas dan kongkrit. Sehingga bisa di peroleh optimalisasi pemanfaatan dan sekaligus dapat diinventarisir dan diproses pelanggaran hukumnya.

.

.

.

.

.

.

Spatial Plan And Development Plans (West Sumatera)

Program peningkatan produksi perikanan budidaya. Jasa dan Perdagangan 1.1.1. sehingga harus diatur dengan zonasi kawasan budidaya dan kawasan mangrove yang dilindungi. Dampak program ini dimasa mendatang adalah sebagai berikut: ● Pengembangan sentra-sentra industri Potensial yang salah satu kegiatannya adalah fasilitasi sarana-prasarana sentra industry diperlakukan sama dengan pembangunan sarana prasarana pertanian (point 5.1. Dampak Program Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan Dampak program ini di masa mendatang adalah: ● Pengembangan kawasan sentra produksi pertanian diperkirakan akan memerlukan perluasan areal tanam yang lebih luas sehingga berkemungkinan akan mengkonversi kawasan hutan. warisan tanaman tua (keras) menjadi semakin berkembang dan menguat kembali. balai benih dll.1. seperti budidaya ikan laut (tambak) dapat diperkirakan akan merusak atau berkurangnya hutan mangrove. yang selanjutnya memicu extensifikasi lahan produksi yang berdampak pada pengurangan kawasan Terjadinya konversi lahan dari sektor lain ke sektor industri Menumbuhkan lahan-lahan pertanian baru Mengurangi lahan pertanian yang ada Memacu peningkatan pertumbuhan ekonomi Terjadinya peningkatan jumlah limbah (termasuk limbah cair) yang akan mengakibatkan penurunan kualitas air dan peningkatan kebutuhan air untuk proses produksi (terutama untuk kegiatan a dan c). pestisida dan kebutuhan air kepada kualitas dan kuantitas air (terutama pada kegiatan c dan d). Program peningkatan Penggunaan pupuk. Dampak Program Pengembangan Industri Pengolahan. Dampak Rencana/Program dari RPJMD Sumatera Barat Dampak Program Pengamalan ABS & SBK Program Pengamalan ABS dan ABK akan berjalan efektif bila nilai-nilai kearifan lokal terutama yang terkait dengan hak ulayat. Disamping itu pedoman hidup dan acuan nilai-nilai tersebut dituangkan secara tertulis sehingga dapat dipedomani oleh generasi muda dan diperkaya dengan ilmu pengetahuan ilmiah. Atau dengan kata lain lembaga masyarakat adat akan semakin berdaya bila pemerintah memberikan pengakuan dan perlindungan atas hak-hak ulayat masyarakat khususnya yang terkait dengan akses dan kontrol terhadap tanah. kesesuaian lahan. 1. Penyediaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Pertanian seperti jalan usaha tani. Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat aktivitas kawasan ● ● ● ● ● ● ● . hutan larangan.3. jaringan irigasi. air dan hutan. berkemungkinan akan diikuti dengan perkembangan pemukiman ke kawasan yang dibuka. Program peningkatan penggunaan pupuk dan pestisida yang akan kualitas air (terutama pada kegiatan c).1.2.2) Pengembangan klaster industri unggulan akan mendorong permintaan bahan baku untuk memenuhi kuota industri. air dan hutan). mempengaruhi yang berdampak ● ● ● ● ● Program peningkatan jumlah limbah (termasuk limbah cair) yang akan mengakibatkan penurunan kualitas air dan peningkatan kebutuhan air untuk proses produksi (terutama untuk kegiatan a dan c).1. 1. Kondisi tersebut dapat dicapai bila pemerintah memberi pengakuan dan perlindungan atas hak-hak ulayat masyarakat (tanah. Untuk itu diperlukan aturan perizinan yang sangat kuat untuk menjaga keseimbangan pengembangan pembangunan kawasan.

berdampak pada kualitas air dan kebencanaan Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat ● ● 1.1. Meningkatnya limbah cair perkotaan dan ketersediaan kebutuhan air. banjir pada daerah tertentu Meningkatkan penanggulangan bencana Terrjadinya longsor pada badan jalan yang dibuka untuk keperluan proyek (khusus untuk jaringan primer) ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . Mentawai dan sekitarnya. Meningkatnya beban pencemaran yang akan berpengaruh pada Kualitas air (khususnya sungai) akibat peningkatan berbagai aktifitas perkotaan (PKWp dan PKL) Meningkatnya potensi longsor perkotaan dan abrasi akibat pembangunan sarana dan prasarana Menurunnya kualitas air terutama pada kegiatan konstruksi pembangunan jaringan transportasi (dampak sesaat) dan berdampak pada peningkatan potensi longsor terutama pada tebing-tebing badan jalan.4. Berkurang atau dilewatinya kawasan hutan lindung seperti kawasan lembah anai dan kelok sembilan.PIP Danau SingkarakLubuk Alung-Ketaping dan Kawasan Andalan Laut Mentawai-Siberut dan Sekitarnya). Terjadinya longsor pada badan jalan yang dibuka untuk keperluan proyek (khusus untuk jaringan primer) Meningkatnya pencemaran air pada saat konstruksi dan perubahan tata air (temporer) Membantu pengendalian banjir Membantu penanggulangan bencana tsunami dan gunung meletus memberi jalur evakuasi (terutama kegiatan d) Menyebabkan longsor. Solok dan sekitarnya (Danau Kembar. Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● Meningkatan lahan produktif Mengakibatkan penurunan luas cakupan hutan dan penurunan luas lahan produktif.● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Meningkatatnya kebutuhan air dan pencemaran air akibat aktivitas pengolahan produk perkebunan dan perikanan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat aktivitas intensifikasi dan ekstensifikasi kegiatan pertanian. Berkurangnya kawasan hutan nantinya akan menimbulkan potensi banjir di hilir kawasan hutan tersebut serta potensi longsor Terjadinya penurunan luas lahan produktif sehingga daerah resapan berkurang Terjadinya banjir. Meningkatnya Sumber daya air dan kestabilan lahan (mengurangi bencana longsor) Meningkatnya pemanfaatan kawasan budidaya untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah terutama Pengembangan kawasan andalan sesuai dengan potensi unggulan. Agam-Bukittinggi (PLTA Kota Panjang). yang meliputi Kawasan Padang Pariaman dan sekitarnya. kehutanan dan perkebunan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan pengembangan kawasan agropolitan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat pengembangan industry berbasis pertanian Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan jasa dan perdagangan di kawasan metropolitan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan dikawasan andalan Meningkatnya limbah cair perkotaan akibat pengembangan PKN dan PKW.

1. Terjadinya Peningkatan Penyelamatan dan Evakuasi Korban Bencana Pada Wilayah Bencana Peningkatan Pendistrbusian kebutuhan Logistik Kebencanaan selama masa tanggap darurat Peningkatan Pendistribusian Peralatan Kebencanaan selama masa tanggap darurat Peningkatan Pendistribusian Bahan Penanganan Sementara Pada Wilayah Bencana Peningkatan Penanganan pemulihan dini kawasan Bencana Penyusunan dan Perhitungan DALA. Terjadinya penurunan RTH dan kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). Berkurangnya tegakan vegetasi sehingga lebih lanjut dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air disekitar hutan.● ● ● ● ● ● ● ● Terjadinya pencemaran air pada saat konstruksi dan perubahan tata air (temporer) Membantu pengendalian banjir Membantu penanggulangan bencana tsunami dan gunung meletus memberi jalur evakuasi (terutama kegiatan d) Menyebabkan longsor. HRNA.5. kasawan perbatasan dilakukan dengan intensitas pemantauan dan evaluasi rendah maka dampak positif dapat menjadi dampak negative. Kondisi yang sama juga terjadi pada pemenuhan material bangunan seperti pasir dan batuan yang jika dieksploitasi secara besar-besaran pada badan air dan tidak mengindahkan kaidah lingkungan. Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● ● ● ● ● ● 1. sehingga dapat berdampak pada degradsai dan kualitas sungai. banjir pada daerah tertentu Membantu penanggulangan bencana Terjadi penurunan sementara terhadap kualitas air dan tata kelola aliran irigasi serta kecukupan air dan water produktivity. Dilaukan pengendalian pemanfaatan ruang provinsi.2. serta terganggunya kualitas air dan keseimbangan tata kelola air antara kawasan-kawasan hulu dan hilir. kedalam lingkungan hutan yang dikhawatirkan dapat merusak Terjadinya penurunan kualitas air dan daya dukung sungai akibat peningkatan jumlah angkutan / transportasi kapal pada pelabuhan tersebut serta peningkatan jumlah sedimen akibat penurunan kecepatan aliran sungai . Mitigasi dan Penanggulangan Bencana Alam ● ● ● ● ● ● ● 1. khususnya terkait pada pengelolaan sumber-sumber air. PDNA dan RA-RR Meningkatnya usaha penanggulangan bencana Pelestarian Lingkungan Hidup Meningkatnya luas lahan produktif pertanian Meningkatnya ketersediaan air untuk kebutuhan lahan pertanian Terhindarnya pengalihan lahan pertanian ke kegiatan non pertanian Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● ● . Terjadinya penurunan kualitas air Terjadinya penurunan luas tutupan lahan pada lingkungan bandara yang nantinya akan mengurangi lahan tampungan air (reserfor air) yang da[at menimbulkan limpasan pada aderah sekitar. Mengurangi RTH dan kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). Menurunnya kualitas dan kuantitas air yang dapat memberikan efek pada konflik penggunaan air kedepannya. Terbukanya akses sumberdaya hutan.

Mitigasi. jika wasdal lemah akan terjadi penyimpangan pemanfaatan SDA dan dapat memicu terjadinya bencana. Pulau Punjung. Lubuk Alung. Lubuk Basung. dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yaitu Painan. air dan hutan terjaga dari kerusakan atau degradasi. Batusangkar.3.3. Udara. Aaptasi dan Rekomendasi Rekomendasi untuk Program Pengamalan ABS & SBK ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● 1. Aro Suka. Salah satu langkah yang efektif untuk memberdayakan kelembagaan masyarakat adat adalah dengan memberi pengakuan dan perlindungan atas hak ulayat. dan Tuapejat untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan Mendorong terbentuknya aksesibilitas jaringan transportasi dalam rangka menunjang perkembangan wilayah Ditetapkannya kawasan lindung untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam secara terpadu dengan provinsi berbatasan Meningkatnya pemanfaatan kawasan budidaya untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah Meningkatkan dampak positif pada kebencanaan dengan cara melakukan pengendalian pemanfaatannya dan pada kawasan yang telah rusak dilakukan pemulihan. Kemudian bagi lingkungan yang mau dibangun akan memperhitungkan daya dukung air Berkurangnya kesenjangan pembangunan dan perkembangan wilayah Utara-Selatan Provinsi Sumatera Barat Berkembangnya ekonomi sektor primer. Padang Aro. Eksploitasi sumberdaya alam dilakukan secara terus menerus. Kota Padang Panjang. Pengendalian lingkungan hidup. dan Keanekaragaman hayati Terljamin dan terjaganya kualitas air yang baik dan akan membuat tata guna air menjadi lebih baik Tertatanya lingkungan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yaitu terlaksananya program ini nanti. 1. Muaro Sijunjung. Lubuk Sikaping.● ● ● ● ● ● ● ● ● Terkendalinya pemanfaatan lahan pertanian Terjaganya keseimbangan daya dukung lahan terhadap potensi fungsi pertanian dimasa sekarang dan yang akan datang Bertahannya fungsi pertanian sesuai dengan peruntukannya Meminimalisir dampak pembangunan pada kawasan pertanian Mempertahankan tutupan lahan pertanian dari efek perubahan iklim global Mempertahankan luasan lahan pertanian yang optimal dari pengaruh pembangunan yang berkelanjutan Terkendalinya Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup pada Air. Berdasarkan kajian dampak yang diutarakan pada Bab V terdahulu. khusus untuk dampaknya terhadap kualitas dan tata air adalah: lingkungan yang telah tidak sesuai lagi dengan daya dukung air.1. Maka upaya pengawasan dan pengendalinnya dilakukan secara terpadu melibatkan seluruh stakeholder berkesinambungan dan berkelanjutan yang berwawasan pada daya dukung dan daya tampung lingkungan. pemerintah dan dunia usaha. Sarilamak. fungsi kelembagaan masyarakat adat dipandang penting untuk lebih diberdayakan karena melalui tatanan kelembagaan adat sumberdaya tanah. Tapan. sekunder dan tersier sesuai daya dukung wilayah Ditetapkannya pusat-pusat kegiatan untuk mendukung pelayanansosial/ekonomi dan pengembangan wilayah Meningkatnya fungsi Kota Padang menjadi kota metropolitan Ditetapkannya Kota Payakumbuh. Lahan. . melibatkan tiga unsur yaitu masyarakat. Parik Malintang. dan Simpang Empat menjadi Pusat Kegiatan Wilayah yang dipromosikan provinsi (PKWp) untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota. maka lingkungan ini akan ditata kembali.

untuk menjamin keberlanjutan pertanian di daerah rawan tersebut (belum ada dalam RPJMD) Kajian terhadap ketersediaan air untuk pengembangan kawasan andalan dan agoropolitan (penambahan kegiatan 5.7 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW kegiatan ditambahkan atau dirubah. . Rekomendasi untuk Program Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan Bedasarkan uraian dampak dari program ini yang telah dijelaskan pada BAB V terdahulu.Kebijakan ini dipandang penting diintegrasikan ke dalam program-program strategis dan kegiatan Pengamalan ABS dan SBK. Disamping itu perlu dalam diseverkasi dilakukan pengembangan varietas lokal (belum ada dalam RPJMD dan lebih cocok untuk program 5.3a dan 5. 1. Rekomendasi untuk Program Pengembangan Industri Pengolahan jasa & Perdagangan Bedasarkan kepada uraian dampak dari program ini yang telah dipaparkan pada BAB V terdahulu.2.3.1.3. Program peningkatan produksi perikanan budidaya yang berkaitan dengan budidaya ikan laut diatur dengan zonasi kawasan budidaya dan kawasan lindung (mangrove) Penyuluhan pada petani (sudah ada dalam RPJMD 5. maka beberapa program prioritas Pengembangan Industri Pengolahan jasa & Perdagangan (P6)perlu diarahkan menjadi sebagai berikut: ● ● ● Pengembangan sentra-sentra industri Potensial dengan pembatasanan pembangunan lainnya melalui aturan perizinan yang lebih ketat bila lokasi berada pada hutan lindung. Pengembangan klaster industri unggulan dengan tetap menjaga luas tutupan hutan (40% sesuai RTRW) Agar dalam pelaksanaan program pengembangan industri pengolahan jasa lingkungan & perdagangan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. maka beberapa program prioritas Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan perlu diarahkan menjadi msebagai berikut: ● ● Pengembangan kawasan sentra produksi pertanian dengan tetap menjaga luas tutupan hutan (40% sesuai RTRW) Penyediaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Pertanian dengan pembatasan pembangunan lainnya melalui aturan perizinan yang lebih ketat bila lokasi berada pada hutan lindung. Dari 17 program strategis yang dirancang.3. ● ● ● Berdasarkan rekomendasi tersebut maka beberapa Perubahan yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 6.3a ) Pengendalian penggunaan pupuk kimia dan pestisida (sudah ada dlm RPJMD 5.2. Catatan l: lokus pembangunan sarana agar diprioritaskan pada kawasan beresiko rawan pangan) Pengembangan cadangan airtanah dengan pembangunan embung.3. program prioritas 9/infrastruktur).2.9 Diversifikasi) Pembangunan sarana pengairan /irigasi di kawasan rawan pangan Kegiatan pembangunan sarana (Sudah dalam RPJMD.6) Pemantauan kualitas air terkait pemakaian pupuk dan pestisida (belum ada dalam RPJMD) Peningkatan jumah bibit/benih variatas unggulan pertanian yang dikembangkan peningkatan produksi varietas unggul atau ● ● ● ● ● ● ● Penyuluhan penggunaan pupuk dan pestisida dan pengembangan pertanian organic (sudah ada dalam RPJMD 5. beberapa program dan kegiatan yang dipandang perlu diperbaiki dapat dilihat Lampiran Tabel 6. 1.3) Membudayakan penggunaan pupuk dan pestisida organic/alami (sudah ada dalam RPJMD 5.9).1.

Pemugaran bangunan dan kawasan cagar budaya.4. serta mengurangi efek pencemaran lingkungan akibat polusi transportasi dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir. Pengembangan. dimiliki dengan Peningkatan dan pembangunan jalan arteri primer baik di lintas utama perekonomian maupun perkotaan untuk mengurangi kemacetan.1a. Jambi dan Bengkulu dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir. ● Berdasarkan rekomendasi tersebut maka beberapa Perubahan yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 6.8. Penataan Bangunan dan Lingkungan dengan memperhatikan daerah resapan dan drainase Program Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Rumah Akibat Bencana untuk mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah yang rusak dan hancur akibat bencana yang terjadi di Sumatera Barat dengan tetap memperhatikan lahan produktif dan faktor keselamatan penduduk serta keberlanjutan sumber daya alam. maka beberapa program prioritas Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat perlu diarahkan menjadi sebagai berikut: ● ● ● ● ● Melakukan reboisasi atau penghijauan.● Program strategis 6. Pembangunan jalan Kelok Sembilan dengan memperhatikan kawasan lindung. Pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan dan pedesaan. ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . 1b pada pasal 14 RTRW). perbaikan sistem drainase dan pembangunan sumur resapan. mendukung pengembangan daerah dan mengurangi beban ruas-ruas yang sudah mendekati kapasitas dengan memperhatikan kawasan lindung. Rekomendasi untuk Program Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat (Prioritas 9) Bedasarkan kepada uraian dampak dari program ini yang telah dipaparkan pada BAB V terdahulu. rehabilitasi lahan kritis. Sumatera Utara. Pembangunan jalan dan jembatan antar daerah yang bertujuan untuk mengurangi biaya dan waktu perjalanan. Normalisasi sungai. Penataan kawasan kumuh dengan memperhatikan faktor kesehatan.7 Pengembangan Teknologi Tepat Guna di sempunakan menjadi Program Pengembangan Teknologi dan Ramah Lingkungan (perbaikan 6.3. Peningkatan layanan jalan dan jembatan menuju daerah Riau. 1. Rehabilitasi dan Pemeliharaan Penyelenggaraan Transportasi udara dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif dan sistem drainase.7. Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan masyarakat dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah serta penanggulangan kemiskinan di daerah. lahan produktif dan potensi banjir. Pemberian fasilitas dan simulasi pembangunan perumahan swadaya. Peningkatan jalan pantai barat Sumatera Barat dengan memperhatikan lahan produktif. Optimalisasi pemanfaatan aset-aset prasarana jalan yang telah memperhatikan volume debit pada musim hujan dan kawasan lindung.1 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW Pembuatan IPAL Terpadu pada pengembangan kasawasan andalan (Penambahan kegiatan 6. mengoptimalkan lahan tidur menjadi lahan produktif. pembangunan embung/situ di bagian hulu. Pembangunan jalan dan jembatan baru untuk membuka akses daerah terpencil dan meningkatkan mobilitas masyarakat perdesaan dengan tujuan peningkatan dan pemberdayaan perekonomian masyarakat dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir (mencegah dampak kebijakan tata ruang no. serta merevitalisasi kawasan. Pembangunan jalan alternatif/baru sebagai langkah penanggulangan dan antispasi masalah kemacetan pada jalan arteri primer.3.5 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW kegiatan ditambahkan untuk industry atau dirubah.

Pembangunan prasarana listrik dengan tetap memperhatikan lahan produktif. rawa. Pembangunan perumahan di daerah kumuh daerah perkotaan dan perdesaan sesuai dengan persyaratan kesehatan. sehat. Rehabilitasi daerah rawa. termasuk lanjutan pembangunan daerah irigasi Anai II dan Batahan. serta jaringan pengairan lainnya dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nacional melalui upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan air dan wáter produktivity. rawa. Perbaikan irigasi yang rusak akibat bencana alam. Perbaikan prasarana drainase yang rusak dan pembangunan drainase pada kawasan permukiman baru serta pada kawasan yang terkena bencana dengan memperhatikan debit banjir. serta menyediakan dan meningkatkan pelayanan prasarana dasar permukiman sehingga tercipta kawasan permukiman dan perumahan yang sehat dan ramah lingkungan dengan memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan hidup. sungai. Pembangunan pembuangan air limbah dan drainase. Mendukung pembiayaan dan pengembangan kelembagaan perumahan. Mewujudkan pengelolaan jaringan irigasi. aman dan terjangkau dengan menitikberatkan pada masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah. mewujudkan keterpaduan pengelolaan. Pengembangan prasarana dan sarana drainase dengan memperhatikan debit banjir. Pembangunan prasarana sanitasi sesuai dengan persyaratan kesehatan. Pembangunan dan pengembangan prasarana dan sarana air minum dan air limbah yang berbasis masyarakat. serta rehabilitasi jaringan irigasi Indrapura. Fasilitasi dan koordinasi pembangunan dalam pengelolaan jaringan irigasi termasuk jaringan tersier. rawa. kawasan lindung dan persyaratan kesehatan. kawasan lindung dan persyaratan kesehatan Perencanaan dan penyediaan sarana dan prasarana persampahan dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif. dan program peningkatan kinerja pengelolaan persampahan dan drainase dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif. Percepatan pembangunan dan pengembangan infrastruktur pada kawasan khusus dengan memperhatikan kawasan lindung dan lahan produktif. Membangun rumah sederhana sehat untuk mengurangi backlog dan pengembangan kasiba/lisiba dengan memperhatikan lahan produktif dan daerah resapan. dan jaringan lainnya.● Mendorong pemenuhan kebutuhan rumah yang layak huni. dan sumber air lainnya. meliputi kegiatan pokok : Pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Rehabilitasi. seperti danau. rawa. Peningkatan pemeliharaan dan normalisasi saluran dengan memperhatikan debit banjir. serta menjamin kemampuan keterbaharuan dan keberlanjutannya sehingga dapat dicapai pola ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . Pembangunan prasarana air bersih yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas dan terdistribusi secara merata dengan tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya air. Peningkatan dan normalisasi saluran drainase dengan memperhatikan debit banjir. Pembangunan jalan lingkungan dan perbaikan lingkungan permukiman. Meningkatkan pelayanan dasar permukiman agar tercipta kondisi masyarakat yang sehat. Optimalisasi pemanfaatan lahan irigasi. dan pengembangan jaringan irigasi. Program ini dilaksanakan dengan memperhatikan dampak lingkungan yang potencial terjadi. Peningkatan OP drainase . peningkatan. Program meliputi pemberdayaan masyarakat. dan sumberdaya air lain. Meningkatkan keberlanjutan fungsi dan pemanfaatan sumberdaya air. program pengembangan kelembagaan. serta persampahan.

di daerah yang membutuhkan dengan Meningkatkan pelayanan angkutan sungai dan penyeberangan yang telah ada. Peningkatan operasionalisasi organisasi pengelola sumberdaya air. terminal dan fasilitas pendukung dilakukan dengan mempertimbangkan upaya pengelolaan limpasan air akibat berkurangnya tutupan lahan dan mengakomodasi sistem drainase pada perencanaan kegiatan tersebut Pengendalian Pemanfaatan Ruang dengan mempertimbangkan intensitas pemantauan dan evaluasi terhadap aspek tata kelola air kawasan hulu dan hilir. serta keseimbangan pengelolaan kawasan hulu hilir. Operasi dan pemeliharaan. ● ● ● ● ● ● ● Penatagunaan sumberdaya air. Perpanjangan landasan pacu. Rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas keselamatan pelayaran. ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . dan eksploitasi air tanah yang terkendali dengan upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan air dan wáter produktivity. Pembangunan pelabuhan di Pasaman Barat. rehabilitasi dan pengembangan sumberdaya air. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Provinsi Pengendalian Pemanfaatan Kawasan Perbatasan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kabupaten/Kota Menyiapkan dan mendorong kota Padang sebagai kota metropolitan. fasilitas parkir. Kegiatan pokoknya adalah : Fasilitasi Rehabilitasi dan pemeliharan bangunan terminal. Pengerukan alur pelayaran dengan memperhatikan pengelolaan dan pemantauan lingkungan terhadap penurunan kualitas air. dan Kota Pariaman dan Kota Painan sebagai kota-kota disekitarnya yang membentuk suatu kawasan pusat perkotaan metropolitan dilakukan dengan mempertimbangkan penurunan kualitas air. dan lapangan penumpukan peti kemas. gudang. 19) Peningkatan kualitas moda angkutan untuk pelabuhan penyeberangan lintas Kota Padang – Kab. kantor. parkir. (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 10) Kegiatan pokok pada program ini yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: Melakukan kajian-kajian pendahuluan untuk mengwujudkan konsep Padang sebagai kota metropolitan yang tergabung dengan kota Pariaman dan Kota Painan sebagai sebuah system perkotaan metropolitan. pembangunan fasilitas pergudangan. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. dengan membentuk kota Padang sebagai kawasan perkotaan inti. Rehabilitasi dan pembangunan embung memperhatikan tata kelola pemanfaatan air. 18. Kegiatan pokoknya adalah : Rehabilitasi dan pemeliharaan dermaga. dan lain-lain). Program dilakukan dengan kegiatan pokok: Peningkatan sarana dan prarasana pelabuhan dan terminal pada pelabuhan ASDP dengan tetap mempertimbangkan kualitas air dan daya dukung lingkungan sungai dan danau (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 17.pengelolaan sumberdaya air yang terpadu dan berlanjutan. Padang Pariaman dengan memperhatikan upaya pengelolaan dan pemantauan penurunan kualitas air Meningkatkan kapasitas pelayanan bandar udara dan standar keselamatan. terminal penumpang. Kepulauan Mentawai Meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan dalam rangka mengurangi ekonomi biaya tinggi dengan melibatkan sektor swasta di dalam pengembangan dan pelayanan pelabuhan. Rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas yang ada pada land-side (seperti. RTH dan Kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai).

Kota Pariaman.● ● ● ● ● Mendorong dan memfasilitasi segala persyaratan yang diperlukan untuk menwujudkan Padang sebagai kota Metropolitan. serta keseimbangan pengelolaan kawasan hulu hilir (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 37 . serta pengelolaan kawasan hulu lilir Pemberdayaan komunitas perumahan melalui bantuan stimulant untuk masyarakat miskin Penyusunan kebijakan dan sistem peraturan dalam pengembangan perumahan dan permukiman Pembinaan. SPM dalam penataan bangunan pada daerah rawan bencana . fasilitasi. Pasar : Pembangunan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Koordinasi. dan Kota Painan untuk membangun kelembagaan perkotaan metropolitan Pengembangan Wilayah Perbatasan dilakukan dengan mempertimbangkan RTH dan Kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). Pasar Manggilang. NPSM. Minang Expo. dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan kearifan lokal Rehabilitasi dan rekontruksi bangunan kantor akibat gempa 30 September 2009 Pembangunan dan Peningkatan sarana prasarana fasilitas umum seperti Gedung Serbaguna. Mendorong dan memfasilitasi penyediaan segala sarana dan prasarana yang mendukung Kota Metropolitan Padang. Mendorong dan memfasilitasi kerjasama antara pemerintah Kota Padang.pasal 42) Pengembangan Wilayah Perbatasan dengan Negara Lain (Pulau-pulau terdepan) Pengembangan Wilayah Perbatasan dengan Provinsi Tetangga Pengembangan Wilayah Perbatasan antar Kabupaten/Kota Pengembangan Perumahan dan Permukiman dengan mempertimbangkan RTH dan upaya keseimbangan terhadap kualitas dan kuantitas air. koordinasi dan fasilitasi dalam peningkatan lingkungan sehat kawasan perumahan dan pengurangan daerah kumuh (sanitasi lingkungan) Penataan Bangunan dan Lingkungan. Menyusunan rencana tata ruang dan rencana detil tata ruang wilayah Kota Metropolitan Padang. perencanaan dan penyusunan kebijakan.