Management of Kapuas River Basin (West Kalimantan

)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Kronologi Proses Penapisan KLHS

Proses penapisan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Provinsi Kalimantan Barat dilaksanakan sejak pertengahan bulan Mei tahun 2009, pada waktu Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri bersama Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menyelenggarakan KLHS Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kubu Raya. Di dalam beberapa pertemuan penapisan, terungkap beberapa masalah yang menjadi tantangan bagi pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Masyarakatnya, antara lain degradasi ekosistem hutan, pertambangan tanpa izin, pengembangan kawasan pesisir, pengelolaan kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, kendala pembangunan kawasan perbatasan dan pengelolaan DAS Kapuas. Tata letak kawasan hulu sungai ini di bagian tengah pulau Kalimantan terkait dengan keberhasilan penyelamatan ekosistem hutan hujan tropis yang dirancang di dalam satu konsep bersama, yakni “The Hearts Of Borneo” (HOB) yang disepakati oleh tiga negara. Sungai Kapuas (1.143 km) di Kalbar menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat, merupakan satu dari tiga sungai terbesar yang membentuk kerangka pulau Kalimantan, sangat berperan di dalam keberlanjutan lingkungan hidup dan manusia serta mahluk hidup lain di dalam daerah aliran sungai ini. Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan perubahan yang berlangsung di berbagai bidang kehidupan masyarakat menimbulkan dampak terhadap pola pemanfaatan ruang dan tanah, yang pada tingkat selanjutnya mempengaruhi badan sungai Kapuas dan kualitas fisik-kimia air sungai. Penurunan kualitas air sungai dan pendangkalan serta variabilitas volume aliran air sungai secara langsung mempengaruhi berbagai kegiatan pemanfaatan sungai, sejak hulu hingga muara. Hal inilah yang menjadi pertimbangan untuk menyelenggarakan KLHS DAS Kapuas. 1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud kegiatan adalah menyelenggarakan KLHS Daerah Aliran Sungai Kapuas secara berjenjang, sekaligus oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama Pemerintah Kabupaten/ Kota di dalam kawasan DAS, untuk menelaah implikasi kebijakan, rencana dan program pemanfaatan ruang dan sumberdaya alam (tingkat provinsi) terhadap lingkungan fisik alami, hayati sosial dan ekonomi, dan sekaligus menelaah lebih spesifik wujud dampak tersebut dari perspektif Pemerintah Kabupaten/ Kota yang selanjutnya pada tahun anggaran berikutnya digunakan sebagai arahan perbaikan kebijakan, rencana dan program masing-masing kabupaten/kota. Tujuan utama penyelenggaraan KLHS ini adalah: (1) Tersajinya rekomendasi penyempurnaan rumusan kebijakan, rencana tata ruang dan rencana sektor-sektor pembangunan yang dapat digunakan untuk memperbaiki Draft Revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat dan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Kalimantan Barat. (2) Diperolehnya gambaran penurunan kualitas lingkungan DAS Kapuas, rekomendasi mitigasi dan alternatif pelaksanaan program oleh staf Pemerintah Kabupaten/Kota di dalam Tim KLHS dan memperjelas dimensinya dari perspektif dan data kabupaten/ Kota. Pada waktunya materi ini digunakan sebagai arahan di dalam penyusunan KLHS RTRW dan/ atau RPJM masing-masing Kabupaten/Kota. (3) Diintegrasikannya rekomendasi KLHS yang relevan oleh Dinas-Dinas Teknis Provinsi Kalimantan Barat yang terkait langsung dengan pengelolaan DAS Kapuas, sebagai bahan penyempurnaan Renstra SKPD. (4) Terjalinnya interaksi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dengan Pemerintah Kabupaten/Kota bersama unsur pemangku lintas kepentingan (stakeholders) non pemerintah. 1.3. Cara Pelaksanaan

Pelaksanaan KLHS DAS Kapuas Provinsi Kalimantan Barat dilakukan melalui proses fasilitasi yang dilakukan oleh Konsultan KLHS Ditjen Bangda Kementerian Dalam Negeri kerjasama dengan ESP-2 Danida terhadap Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat. Fasilitasi ini dilaksanakan milai proses penguatan dan penyamaan persepsi tentang KLHS, pelaksanaan serangkaian FGD dan Workshop, seminar akhir sampai pada proses penyusunan dokumen KLHS DAS Kapuas yang dilaksanakan Oleh Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat. Secara sekematik cara pelaksanaan KLHS DAS Kapuas dapat digambar sebagai berikut: Gambar 1.1. Cara pelaksanaan KLHS DAS Kapuas

1.4. (1) (2)

Lingkup Kegiatan Penapisan Seminar Awal untuk mendengar paparan garis besar kebijakan dan rencana pembangunan wilayah Provinsi Kalimantan Barat dan melakukan pelingkupan dan pemusatan (scoping and focusing), yakni membahas dan mensepakati isu strategis KLHS DAS Kapuas (Tim KLHS bersama unsur masyarakat) dari perspektif Provinsi Kalimantan Barat. Pemantapan hasil pelingkupan dan pemusatan isu strategis. Pengumpulan data dan informasi melalui berbagai kegiatan, terutama desk studi dokumendokumen perencanaan, pengumpulan data instan-sional dan pembacaan peta tematik serta pembuatan peta kerja. Diskusi Tim KLHS untuk penyederhanaan dan pengolahan data mengacu ke materi kebijakan, rencana dan program Provinsi Kalimantan Barat serta isu strategis. Telaah individual sesuai pembagian tugas yang didampingi oleh tenaga ahli KLHS untuk menelaah konsistensi rumusan kebijakan dengan rumusan rencana serta rangkaian program, dan penerapan prinsip-prinsip KLHS ke dalam rumusan kebijakan, rencana dan program tersebut.

Penyelenggaran KLHS ini diupayakan memenuhi protokol KLHS yang umum, mencakup:

(3) (4)

(5) (6)

untuk memastikan pengintegrasian hasil KLHS ke dalam dokumen perencanaan pembangunan wilayah. Tahapan ini sangat penting karena di tahap itulah dasar pemikiran dan lingkup kajian KLHS akan ditentukan. Adapun langkah-langkah stakeholders analisis adalah dengan melakukan FGD sejak Bintek KLHS dan Workshop 1 KLHS DAS Kapuas Provinsi Kalimantan Barat. Berkat adanya pelingkupan ini pokok bahasan dokumen KLHS akan lebih difokuskan pada isu-isu atau konsekuensi lingkungan dimaksud. Rangkaian Workshop non pemerintah. maka KLHS DAS Kapuas antara lain akan memuat: (1) (2) (3) Perkiraan mengenai dampak pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya alam terhadap lingkungan hidup dan risiko lingkungan. nara sumber.2. Diskusi Terbatas (FGD) Tim KLHS dengan ahli (expert) untuk membahas hasil telaah/ analisis dan mitigasi dampak negatif. 1. Pelingkupan merupakan proses yang sistematis dan terbuka untuk mengidentifikasi isu-isu penting atau konsekuensi lingkungan hidup yang akan timbul di DAS Kapuas berkenaan dengan aktivitas yang telah ada di dalam wilayah DAS Kapuas. . Ketentuan pada pasal 18 ayat (1) Undang-Undang No. Pendekatan identifikasi Pemangku Lintas Kegiatan 1. Metode Pelingkupan dan Pemusatan Isu Strategis. Indikator dan kriteria untuk identifikasi stakeholder adalah analisis peran. pengawas hingga sebagai pihak yang mendapatkan dampak baik positif maupun negatif dari penerapan KLHS. Pendekatan partisipatif dimaksudkan disini adalah suatu proses yang melibatkan pemangku kepentingan termasuk masyarakat dalam proses pengambilan keputusan baik melalui dialog. maupun konsultasi publik. fungsi dan kewenangan dalam pengelolaan semua aktivitas yang terdapat dalam wilayah DAS Kapuas. sebagai prasyarat untuk melakukan kontrol atau pengawasan terhadap imlementasi hasil-hasil KLHS. Untuk memenuhi kebutuhan itu. sebagai media pembahasan hasil-hasil telaah dengan wakil stakeholders (10) Pertemuan dengan Pimpinan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk menjelaskan proses dan hasil KLHS sebagai bahan pengambilan keputusan (making decision). 32 tahun 2009 menegaskan bahwa pelaksanaan KLHS menggunakan pendekatan partisipatif. Bentuk keterlibatan pemangku kepentingan tersebut berbeda-beda untuk setiap implementasi KLHS mulai dari sebagai sumber data. pelaksana. Metodologi Opsi Muatan KLHS DAS Kapuas Untuk memenuhi pasal 16 Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup. sejak pelaksanaan pembinaan teknis (Bintek) Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat telah diupayakan melakukan “stakeholders mapping”. Keterkaitan antara hak berpartisipasi dan hak mendapatkan informasi tentang kebijakan ini sudah sejalan dengan ketentuan yang diatur di dalam UU No.3.(7) (8) (9) Diskusi Tim KLHS untuk membahas hasil kerja individual. Rekomendasi implikasi kebijakan yang dihasilkan berikutnya juga menjadi tidak tepat. Kinerja layanan jasa ekosistem DAS Kapuas dan Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi masyarakat sekitar muara sungai Kapuas terhadap perubahan iklim. Stakeholder mapping dilakukan pada semua institusi yang terlibat dalam pengelolaan DAS Kapuas baik pemerintah maupun non pemerintah.5.5. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. diskusi.5. Kekeliruan dalam melingkup akan menyebabkan pelaksanaan KLHS menjadi tidak fokus. 1. 1. Prakiraan dan evaluasi dampak lingkungan yang dilakukannya menjadi kurang relevan dan kurang bermakna. untuk menjelaskan kepada stakeholders non pemerintah tentang hasil KLHS dan tindaklanjutnya.5. untuk selanjutnya diidentifikasi KRP yang relevan dengan pengelolaan DAS Kapuas. salah sasaran. Juga sebagai pihak yang berhak mendapatkan informasi mengenai rencana atau kebijakan maupun hasil implementasi KLHS.1. (11) Seminar Akhir KLHS. Pelingkupan merupakan tahapan sangat penting setelah penapisan dalam proses penyusunan KLHS DAS Kapuas.

dilakukan juga penelaahan prinsip-prinsip pengarusutamaan lingkungan hidup di dalam rumusan kebijakan. 1. 1. Metode analisis isi dapat mengungkapkan konsistensi keterkaitan antar rumusan kebijakan baik vertikal maupun horizontal. penerima dampak serta deskripsi damak. metode pelingkupan yang senantiasa digunakan adalah penyelenggaraan diskusi grup terfokus (focus grouop discussions).5. Hal itu digambarkan sebagai berikut: . Informasi pelengkap yang dapat ditambahkan pada daftar (tabel) isu-isu strategis adalah: waktu terjadinya dampak. Matrik dikembangkan dari informasi yang diperoleh dari tahap mengenal rona lngkungan hidup dan mengenal aktivitas kegiatan dalam DAS Kapuas. RTRW Provinsi Kalimantan Barat dan RPJPD/ RPJMD Provinsi Kalimantan Barat. Pengumpulan data ini dilakukan oleh tim KLHS DAS Kapuas melalui koodinasi dengan para pihak (dinas/instansi pemerintah dan non pemerintah) dengan cara mendatangi langsung para pihak atau melalui browsing internet.Untuk mencapai maksud tersebut pelingkupan dilakukan melalui berbagai metode. Metode Pengumpulan Data Instansional Langkah selanjutnya setelah proses pelingkupan isu-isu strategis KLHS DAS Kapuas Kalimantan Barat selesai dilakukan adalah melakukan pengumpulan data instansional. data-data yang diperlukan untuk analisis.5. Dinas Pertanian Perkebunan. (b) prinsip keseimbangan pemanfaatan dengan perlindungan dan (c) prinsip keadilan. workshop atau lokakarya yang pesertanya terdiri dari berbagai kalangan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota serta tokoh-tokoh yang terkait atau berkepentingan dengan DAS Kapuas dan KRP yang akan ditelaah. Dalam konteks KLHS DAS Kapuas. Selain itu ditelaah juga dokumendokumen rencana sector. Alat bantu yang digunakan untuk melakukan proses pelingkupan isu-isu strategis KLHS DAS Kapuas Kalimantan Barat adalah menggunakan kombinasi matriks dengan bagan alir (analisis sebab akibat). Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah dan Dinas Perhubungan.5. yakni Dinas Kehutanan. Matrik digunakan untuk menunjukkan interaksi antara aktivitas dalam DAS Kapuas dengan komponen lingkungan hidup di lokasi kegiatan yang terkena dampak. Dinas Pekerjaan Umum.4. Selain itu. Rancangan Peraturan Presiden tentang RTR Pulau Kalimantan. sumber data. Metode Analisis Implikasi Kebijakan dan Rencana Pembangunan Metode analisis implikasi/ pengaruh kebijakan dilakukan dengan metode “analisis isi (conten analysys) tentang Provinsi Kalimantan Barat dan DAS Kapuas di dalam dokumen-dokumen RTRW Nasional dan RPJP Nasional. Isu-isu strategis yang telah diidentifikasi ditampilkan dalam bentuk daftar atau tabel minimal dengan informasi tentang sumber dampak. Identifikasi interaksi tersebut diikuti dengan penyusunan bagan alir yang menunjukkan urutan kejadian dampak (analisis sebab akibat). terutama Renstra Dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Urutan ini akan menjadi bermanfaat pada saat mengidentifikasi KRP sektor dan sub sektor mana saja yang perlu mendapatkan perhatian dalam telaahan KLHS. yakni : (a) prinsip keterkaitan.

Telaahan pengelolaan DAS Kapuas juga dikaitkan dengan beberapa dokumen KRP penting lainnya seperti RPJM provinsi dan RPJM Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah DAS Kapuas serta Renstra Dinas terkait seperti Dinas PU. juga dilakukan kajian terhadap implikasi gagasan pembangunan jalan paralel perbatasan Kalimantan Barat dan Serawak Malaysia. ekonomi. Metode Analisis Implikasi Program Pembangunan Bersamaan dengan pelaksanaan KLHS DAS Kapuas. . akan dianalisis langkah-langkah adapatasi dan atau mitigasi yang harus tertuang dalam KRP yang relevan guna mengeliminasi. yaitu dengan menginventarisasi terlebih dahulu deskripsi kegiatan yang akan dilakukan dalam pembangunan jalan paralel. Dari deskripsi kegiatan akan teridentifikasi sejumlah dampak lingkungan yang akan terjadi (positip dan negatif) baik terhadap aspek lingkungan. kelembagaan dan hukum. Hasil identifikasi dampak dari rencana pembangunan jalan paralel perbatasan tersebut. Dinas Perkebunan. 2010). Analisis implikasi program pembangunan jalan paralel perbatasan dilakukan melalui metode dan pendekatan AMDAL. Dinas Pertanian.6.5. 1.KLHS harus diarahkan agar dapat dihasilkan KRP yang bercorak : Hasil-hasil telaah rumusan kebijakan digunakan untuk menganalisis konsistensi kebijakan dengan rencana. Dalam konteks rencana tata ruang (dalam hal ini revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat. dibedakan materi: (a) materi rencana struktur ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat dan (b) materi rencana pola pemanfaatan ruang/ peruntukan ruang. Dimas Kehutanan. Dinas Kesehatan. sosial. Dinas ESDM. Dapat dijelaskan bahwa materi rencana pola pemanfaatan ruang diparalelkankan dengan telaahan peta lampiran Keputusan Menteri Kehutanan nomor 259 tahun 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Barat.

Sekadau (7 Kecamatan). Melawi (7 Kecamatan). Sanggau (15 Kecamatan). Ketapang (4 Kecamatan). Berdasarkan letak geografis yang spesifik. Bengkayang (6 Kecamatan). Letak Geografis Wilayah DAS Kapuas terletak 109o 2’ 49” BT dan 114o 12’ 10” BT dan antara 1o 20” 24” LS dan 1o 36’ 36” LU. Landak (10 kecamatan).1.BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH KAJIAN 1. Kubu Raya (9 Kecamatan). Perbatasan darat dengan negara Malaysia ini telah dihubungkan dengan jalan darat melalui Pontianak – Entikong – Kuching. Adapun kabupaten yang ada di dalam kawasan ini adalah : Kabupaten Pontianak (4 Kecamatan).000 ha. Kapuas Hulu (23 Kecamatan).1. daerah inii iklim tropis dengan suhu udara dan kelembaban yang tinggi.190. Luas wilayah das Kapuas 10. Kayong utara (3 Kecamatan) dan Kota Pontianak (6 Kecamatan). Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikuT. Peta sebaran Kabupaten yang masuk dalam wilayah kajian . Sintang (14 Kecatan). Secara khusus Wilayah DAS Kapuas mempunyai perbatasan langsung dengan negara Malaysia Timur yaitu Negara Bagian Serawak. sepanjang sekitar 400 km dengan daya tempuh sekitar tujuh jam perjalanan. Gambar 2.

77 25.218.35 .58781 11.72 154. Kecamatan dan Kabupaten yang Masuk dalam Wilayah Kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Sanggau Pontianak Melawi Kabupaten Kecamatan Menukung Ella Hilir Sayan Belimbing Sokan Tanah Pinoh Nanga Pinoh Toho Siantan Sungai Kunyit Segedong Bonti Luas (Ha) 142.1 149.582.62 109.406.305.Gambar 2.324.947.961.347.231.89 113.49 150.38 190. 1.423. Tabel 2.59 0.776.76 1. Peta sebaran kecamatan dan Kabupaten dalam wilayah kajian Untuk wilayah administrasi kecamatan yang tercakup dalam wilayah kajian dapat dilihat seperti pada tabel beikut ini.2.38 79.

28 60.84 5.37 39.No 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 Kabupaten Balai Meliau Kecamatan Luas (Ha) 35.75 Sekayam Kembayan Mukok Toba Beduai Jangkang Parindu Noyan Tayan Hulu Sanggau Kapuas Tayan Hilir Entikong Sekadau Sekadau Hulu Belitang Nanga Taman Nanga Mahap Belitang Hulu Swekadau Hilir Belitang Hilir Sintang Kelam Permai Ambalau Ketungau Tengah Binjai Hulu Kayan Hilir Sungai Tebelian Sintang Serawai Ketungau Hilir Sintang Sepauk Kayan Hulu Dedai Tempunak Ketungau Hulu Bengkayang Suti Semarang Capkala Siding Teriak .791.12 55.61 84.56 7.964.879.251.587959 18.86 90.826.212.376.568.82 18.1827.66 116.358.170.953.988.87 63.448.14 221.3 258.766.562.66 7.5181.9 54.23 137.82 81.561.24 43.866.75 0.56 112.38 52.84 16.882.35 105.68 74.2779.557.47 451.25 194.4 618.0921.2 67.42 1.01 120.75 143.533.26 166.583.667.29 146.443.099.05 177.100.0882.488.612.5 40.023.3 105.333.334.535.22 71.29 75.469.

872 73.1 103.132.63 89.69 15012.89 16.009.49 2.386.19 76.19 46.365.215.84 32747.55 150.64 367.14 4.5 646.545.616.128.44 39.81 74.152.25 28.841.39 100.065.255.081.83 215.2200.073.175.4540.47 37.71 1.769.491.06 36.25 54.6 130265.17923 204.83 1.804.567.037.810.430.24 187.44 3.720.16 25.56 82.821.778.36 54.53 3.21 78.135.114.27 103554.452.215.47 350.498.38 51.67 4.465.No 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 6 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 Kabupaten Kecamatan Sanggau Ledo Seluas Luas (Ha) 2.62 159.45 Kapuas Hulu Badau Mandai Embau Semitau Hulu Gurung Kedamin Batang Lupar Boyan Tanjung Seberuang Putussibau Puring Kencana Selimbau Bunut Hilir Kalis Silat Hulu Embaloh Hilir Empanang Mentebah Silat Hilir Batu Datu Suhaid Bunut Hulu Embalo Hulu Kayong Utara Seponti Simpang Hilir Teluk Batang Ketapang Simpang Dua Simpang Hulu Sungai Laur Kota Pontianak Pontianak Timur Pontianak Barat Pontianak Selatan Pontianak Utara Kubu Raya Terentang Kubu Kuala Mandor A Kuala Mandor B .57 232.

74 5388.03 32249. sedangkan tertinggi kedua adalah Gunung Batusambung (Kecamatan Ambalau) dengan ketinggian mencapai 1. Kabupaten Ketapang. WP Pesisir terdiri dari 3 (tiga) kabupaten.356. bergelombang. Kabupaten Sekadau. WP Antar Provinsi. Kabupaten Sintang yang mempunyai ketinggian 2. Topografi Topografi wilayah DAS Kapuas terdiri dari dataran rendah (datar).62 6095. Kelerengan merupakan bagian dari persoalan topografi yang ada di DAS Kapuas.074. Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas. Kabupaten Bengkayang. Untuk WP Antar Negara mencukup 5 (lima) kabupaten yang meliputi Kabupaten Kapuas Hulu.No 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 Kabupaten Kecamatan Sei Ambawang Batu Ampar Sei Kakap Sei Raya Teluk Pakedai Luas (Ha) 105482. 1.456.33 . WP Pesisir. Sebaran Kelas Lereng Di DAS Kapuas No 1 2 3 4 <2 % 2–8 % 8-15 % 15-25% Kelas Lereng Luas (Ha) 1. Kabupaten Sambas.05 132673.28 37188.770 meter.229.91 41349. dan Kabupaten Ketapang. Kabupaten Melawi. WP Tengah terdiri dari 3 (tiga) kabupaten. WP Antar Provinsi meliputi Kabupaten Sintang.45 67165.278 meter dari permukaan laut . Kabupaten Sanggau.281. yaitu Kabupaten Pontianak. dan Kabupaten Landak. dan WP Antar Negara.69 2.2.91 248019.06 10.94 68096. Kabupaten Kubu Raya. Kota Pontianak dan Kota Singkawang.65 192130. Gunung Lawit yang berlokasi di Kabupaten Kapuas Hulu.2.12 81516. Gunung yang paling tinggi adalah Gunung Baturaya di Kecamatan Serawai.903. mengikuti ketentuan dalam RPJPD Provinsi. dan bergunung.29 55728.40 1.687. Kecamatan Embaloh Hulu menempati tertinggi ketiga karena mempunyai tinggi 1. berbukit-bukit.01 70828. Kabupaten Kapuas Hulu.9 Landak Menjalin Sebangki Meranti Pahauman Karangan Ngabang Air Deras Mandor Darit Kuala Behe Wilayah DAS Kapuas merupakan bagian dari wilayah administrasi Kalimantan Barat yang dalam konsep pembangunannya.1 150797. Dengan demikian wilayah pengembangannya dibagi kedalam 4 (empat) Wilayah Pengembangan (WP) yang meliputi WP Tengah. Kabupaten Sintang.767 meter. yakni Kabupaten Sanggau. Kabupaten Kayong Utara. berdasarkan kelas lereng yang ada dapat dirinci sebagai berikut : Tabel 2.

393.19 1.07 2.3. Peta Sebaran Kelas Lereng di Wilayah Kajian .475.3.326.68 Visualisasi dari sebaran kelas lereng yang ada di dalam kawasan DAS Kapuas dapat dilihat seperti gambar 2. Gambar 2.5 6 7 25-40% 40-60% >60% 389.373.344.

dan jenis batuan ini juga berpengaruh pada pembentukan tanah yang ada di sekitar wilayah kajian. Berdasarkan data pada tabel di atas maka pada wilayah kajian ditemukan 15 macam tanah yang luasnya cukup bervariasi. lereng dan faktor pembentuk tanah lainnya. Berdasarkan peta tersebut di wilayah kajian terddapat tidak kurang dari 72 jenis batuan. Geologi Data sebaran batuan di Wilayah DAS Kapuas menurut peta geologi Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar 2.4. . Untuk jelasnya visualisi sebaran jenis tanah ini dapat di lihat seperti pada gambar berikut ini. Gambar 2. untuk ini macam tanah yang terbentuk di wilayah kajian ini dapat diliht pada tabel berikut ini. Batuan yang ada sekitar Wilayah DAS Kapuas 1.3. pada kawasan ini ternyata juga ditemukan tanah gambut yang sebarannya cukup luas dan lebih banyak berada pada wilayah pesisir (Kabupaten Kubu raya).4.1.4. Tanah dan sistim lahan Tanah yang ada di wilayah kajian kan sangat dipengaruhi oleh keadaan batuan.

613.44 461.018.830.396. .481.88 29.133.753.63 43.61 260.80 23.042.099. Untuk jelasnya visualisi sebaran jenis tanah ini dapat di lihat seperti pada gambar berikut ini.208.464.486.3 Sebaran Jenis tanah di wilayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Tanah Acrisol Oksik Alluvial Gleik Alluvial Humik Feralsol Humik Nitosol Planosol Podsolik Humik Arenosol Aleik Feralsol Oksik Feralsol Regosol Gleysol Distrik Gleysol Distrik Kambisol Distrik Organosol Distrik Podsolik Gleik Luas (Ha) 4.483.19 55.Tabel 2.99 Berdasarkan data pada tabel di atas maka pada wilayah kajian ditemukan 15 macam tanah yang luasnya cukup bervariasi.11 161.878.47 1.75 279.680.93 1.60 20.07 815.437.947.48 6.457.14 338. pada kawasan ini ternyata juga ditemukan tanah gambut yang sebarannya cukup luas dan lebih banyak berada pada wilayah pesisir (Kabupaten Kubu raya).

mulai dari sektor perkebunan.5 Sebaran Jenis Tanah di sekitar DAS kapuas Selanjutnya kondisi geomorfologis wilayah DAS Kapuas dapat dibagi menjadi unit-unit sistem lahan (land system) yang menggambarkan kesamaan fisiografis. Selain itu sisitim lahan akan dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kawasan kubah gambut yang dalam hal ini sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan disuatu kawasan. 1987). pertanian. pertambangan. perhubungan dan transmigrasi. Untuk lebih dapat diperolehnya visualisasi dari sebaran sistim lahan di dalam wilayah kajian ini dapat dilihat seperti pada tabel berikut: . lereng.Gambar 2. kehutanan. Dengan diketahuinya sistim lahan di kawasan ini maka akan lebih mudah untuk melihat kesesuaian pembangunan di berbagai sektor. tanah dan sifat-sifat fisik lainnya (RePPProT.

78 911189.00 511260.07 7198.61 2049480.97 231613.93 7817.25 499852.57 16368.90 843342.21 32846.02 41531.63 1561219.18 952683.83 11036.4 Sebaran Sistim lahan di Wilayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nama Sungai Sungai Mimpi Keremui Batu Ajan Barong Tongkok Suhaid Bentili Beriwit Bukit Pandan Gambut Honja Liang Pran Juloh Kahayan Kajapah Klaru Lawanguang Sungai Medang Lohai Maput Mendawai Mentalat Pakalunai Panreh Puting Rangankau Sebangau Sungai Tambera Tandur Telawi Tewai Baru Teweh Tidak ada data Simbol SMI KRU BTA BTK SHD BLI BRW BPD GBT HJA LPN JLH KHY KJP KLR LWW SMD LHI MPT MDW MTL PLN PDH PTG RGK SBG Sungai TBA TDR TWI TWB TWH NODA Luas (Ha) 42427.03 775496.21 111810.93 6781.39 54910.51 .63 46402.85 1891775.93 402552.66 366.75 29242.96 60060.44 7138.86 13044.27 1342157.85 93380.62 208233.36 627763.Tabel 2.68 21481.42 431623.809.

Klasifikasi Iklim menurut Schmit & Ferguson Menurut klasifikasi Schmit & Ferguson (1952). suhu udara.5. lawanguwang dan teweh mendominasi kawasan ini.6. Melalui perbandingan bulan basah dan bulan kering (Q). Klasifikasi Iklim menurut Koppen Menurut Koppen (1900). Peta sistim lahan di wilayah kajian 1. bukit pandan.000 < Q < 0. maka wilayah ini termasuk dalam tipe iklim A (0. al. sedangkan bulan kering dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan kurang dari 60 mm. Gambar 2. (1980) wilayah ini beriklim basah. radiasi lamanya penyinaran udara serta penguapan (evaporation dan transpiration). namun demikian kawasan ini berpotensi membentuk kawasan gambut terutama pada kawasan sistim lahan gambut dan mendawai.099) yaitu tipe iklim sangat basah. kelembaban relatif udara. Klasifikasi Iklim menurut Oldeman (1980) Menurut kriteria Oldeman et. Bulan basah dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan . b. Iklim Komponen-komponen iklim yang penting meliputi curah hujan. berdasarkan klasifikasi tersebut. Kawasan DAS Kapuas yang berada di daerah khatulistiwa memiliki tipe iklim tropis yang sangat khas dan dapat digambarkan sebagai berikut: a. vegetasi yang hidup secara alami dapat menggambarkan pula iklim tempat vegetasi itu tumbuh yang erat sekali hubungannya antara suhu dan kandungan uap air tersebut. Klasifikasi ini berlandaskan pada bulan basah dan bulan kering. kreteria bulan basah dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan lebih besar dari 100 mm. Berdasarkan klasifikasi ini wilayah DAS Kapuas termasuk pada zone iklim hujan tropis (Af). yang ditandai dengan bulan terkering > 60 mm serta tetap basah pada semua musim. Untuk lebih jelasnya visualisasi dari sebaran sistim lahan di wilayah kajian dapat dilihat pada gambar berikut. c. dengan nilai perbandingan bulan kering dan bulan basah Q (0.0408).Berdasarkan data pada tabel di atas sistim lahan honja.

. Kecepatan angin di wilayah ini di dekati dari beberapa stasiun. suhu rata-rata maksimum tercatat pada bulan Mei sebesar 33.5°C dan kelembaban nisbi rata-rata per bulan berkisar antara 79-90%.5.7. kondisi curah hujan dalam satu tahun cenderung lebih rendah kearah barat atau wilayah pantai dibanding kewilayah timur atau wilayah hulu dari wilayah kajian. sedangkan rata-rata minimum terjadi pada bulan Agustus yaitu 22. pada setiap bulannya bervariasi antara 10-15 knot/jam dengan arah angin ke arah barat pada bulan Februari – Juli dan ke arah Tenggara pada bulan Juli -Desember. sedangkan bulan kering dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan kurang dari 100 mm.4°C. sedangkan penyinaran matahari ratarata per bulan berkisar antara 55-86%. Gambar 2. Sebaran daerah iklim menurut Oldeman dapat dilihat pada peta berikut: Gambaran iklim yang dilihat dari sebaran curah hujan untuk wilayah studi ini dapat dilihat pada gambar berikut. Selanjutnya faktor iklim lainnya adalah suhu. Data suhu udara. Sebaran Curah Hujan Wilayah Kajian Berdasarkan gambar sebaran curah hujan tersebut maka.lebih besar dari 200 mm. curah hujan dan angin dapat dilihat pada tabel 2.

1 20.2 254.3 16.8 20.3 23.7 276.1 247.5 321.4 261.6 33.5 Data Suhu dan Kelembaban Nisbi di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Suhu Udara (oC) Min 23.2 205 17.5 22.8 337.6 313.8 32.1 19.6 Tabel 2.5 15.4 220.4 32.2 15.3 20.8 Arah N W W W W S W S E S S E Kelembaba n Nisbi (%) 88 85 86 87 85 82 87 79 86 86 90 90 Penyinaran Matahari (%) 55 66 57 63 73 86 54 89 55 63 60 56 1 Januari 2 Februari 3 Maret 4 April 5 Mei 6 Juni 7 Juli 8 Agustus 9 September 10 Oktober 11 Nopember 12 Desember Jumlah Rata-Rata .4 273.4 HH (hr) 18.9 159.2 31.0 13.0 17.3 12.3 176.7 Curah Hujan di Kalimantan Barat No Bulan Bandar Udara Supadio CH (mm) 367.052.0 309.9 243.5 17.2 214.8 202.7 33.2 331.6 3.1 192.4 33.7 21.3 23.1 23.1 32.0 203.4 HH (hr) 22.1 Mak 31.4 322.136.9 229.1 22.7 199.8 149.1 23.0 31.6 15.8 13.9 22.0 13.4 322.9 32.7 15.0 20.0 22.7 225.9 23.6 Arah dan Kecepatan Angin di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Kecepatan dan Arah Angin Knot/Jam 15 12 12 15 15 12 12 10 15 12 15 12 Tabel 2.9 23.6 32.3 32.6 18.8 23.6 23.7 3.Tabel 2.2 258.3 23.9 11.4 23.2 21.1 Stasiun Siantan CH (cm) 309.

70 37.112.77 40.543.8.03 84. maka pengelolaan dan keberadaan hutan pada suatu daerah akan dapat menjamin ketersediaan sumber air baik bagi kebutuhan pemukiman penduduk sekitarnya sebagai konsumsi air minum.64 10.34 124.20 88.13 1. Mengacu pada definisi DAS sesuai UU no. Wilayah DAS di Prop.55 20. jenis tanah. Pembagian wilayah DAS menggunakan data SRTM (Shuttle Radar Topographic Mission) resolusi 90 meter sebagai data topografi.284.95 100.15 300.31 20.000 sebagai acuan pemberian nama DAS Untuk jelasnya pembagian wilayah DAS di Kalimantan Barat dapat dilihat pada table berikut : Tabel 2.696.51 14.267.931. ukuran dari Sub DAS serta aktivitas manusia.23 196.992. Kalbar terbagi menjadi 27 SWP DAS 2.762.185. Wilayah DAS dibagi berdasarkan sungai yang mengalir ke laut 3.50 207. serta Peta Sungai skala 1: 250.872. kebutuhan pertanian dan terutama untuk konsumsi bagi keperluan rumah tangga dan kebutuhan lainnya.187.268.15 52.68 Besarnya debit aliran air yang keluar dari suatu sungai sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim.22 282.668. Kalbar adalah sebagai berikut: 1.383.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air maka pembagian wilayah DAS di Prop.184.902. . tipe penutupan lahan.80 64.26 11.409.02 166.67 7.82 54.6.186.210. sumber air bersih.145.330. Mengingat air merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Sebaran DAS di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Kelas Lereng Air Hitam Kecil Kapuas Sambas Simbar Air Hitam Besar Begunjai Duri Kendawangan Kuala Melinsun Mempawah Paloh Pawan Pesaguan Pulau Maya Raya Satong Sebangkau Selakau Siduk Simpang Tengar Tolak Pangkalan Dua Peniti Purun Besar Pulau-pulau Total Luas Luas (ha) 84.227.871. formasi geologi.143. kondis topografi.922.678.83 20. sumber irigasi pertanian dan juga tempat pembuangan limbah.77 788.544.758.608.41 14.595.000 dan Peta Sungai Skala 1:50. Pola Pengaliran Sungai Sungai merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi Wilayah DAS Kapuas karena merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat terutama untuk sarana transportasi.38 14.1.56 37.462.81 33. Dari pengamatan debit sesaat sungai utama di Kalimantan Barat menunjukkan tingkat laju kecepatan aliran yang cukup bervariasi sesuai dengan kondisi DAS atau Sub DAS.

penduduk miskin. Kondisi sosial ekonomi Kabupaten yang berada di sekitar DAS Kapuas Angka Harap an Hidup (Th) 66.40 6.31 598.62 7.52 609.32 88.01 627.95 608.00 636.98 92. Keadaan Sosial Ekonomi Kegiatan sosial dan ekonomi di sekitar DAS Kapuas dapat dilihat dari berbagai indikator diantaranya angka harapan hidup.45 89.91 64.59 RataRata Lama Sekolah (Th) 6.84 67.30 608.58 7.60 6.81 66.25 15.20 85.87 90.69 66.44 69.11 Pengeluaran Perkapita (x 1000 Rp) 624.48 6.43 602.02 .41 66.07 9.1.80 14.98 67.68 91.74 67.16 9.62 600. Indek Pembangunan Manusia (IPM).61 11.86 6.74 599.83 93.70 6.26 68.17 66.62 598.50 9.55 88.99 67.13 67.30 68.66 14.03 6.20 5.86 66.27 67.40 89.95 89.21 13.31 72.12 67.89 68.90 67.91 66.06 7.03 6.39 67.40 88.02 67.57 64.86 Angka Melek Huruf (%) 89.21 617.76 7.65 7.9.67 617.33 66.44 7. untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut : Tabel 2.41 18. pengeluaran perkapita.08 66.10 6.63 65. angka melek huruf.7.18 Pendu duk Miskin Kabupaten /Kota IPM Kalbar Bengkayang Landak Pontianak Sanggau Ketapang Sintang Kapuas Hulu Sekadau Melawi Kayong Utara Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang 11.92 88.22 6.14 92.17 66.30 611.

483 491.249.569 175. Penyebaran Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Kota Pontianak Singkawang Kubu Raya Landak Melawi Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Jumlah Total Jumlah Penduduk (jiwa) 205.213 324.058 4. Tabel 2.10.909 178. laju pertumbuhan penduduk Kalimantan Barat pada tahun 2006-2007 adalah 1.8.46 % dan pada kurun waktu 2007-2008 menjadi 1.168 408.309 218.117 .549 521.69 %.249.10. Pertumbuhan ekonomi kabupaten/Kota 1. Penyebaran jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Barat tahun 2008 disajikan dalam Tabel 2.129 365.675 218.117 jiwa.198 493. Kependudukan Jumlah penduduk Kalimantan Barat pada tahun 2008 adalah 4.8.976 168.Gambar 2.804 91.077 388.

Pada takaran wilayah DAS Kapuas dari hasil workshop diperoleh beberapa masukan yang terkait dengan isue kebijakan pembangunan dan lingkungan hisup seperti berikut ini. Rencana dan Program Pembangunan Berkelanjutan yang Strategis Terkait Dengan Pengelolaan DAS Kapuas No 1 Isu-Isu strategis KRP 1. Berdasarkan telaahan tentang sasaran pelaksanaan KLHS. profil Provinsi Kalimantan Barat.1. asas keseimbangan dan asas keadilan. histori . Sasaran Penyelenggaraan Sesuai dengan konsep dasar dan tujuan pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis maka perlu dirumuskan sasaran penyelenggaraan KLHS terhadap pengelolaan DAS Kapuas di Kalimantan Barat.struktur ruang Instandi penyedia data -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Kehutanan -PU Metode yang digunakan -Partisipatif -Overlay -Desk study .2. mitigasi bencana diperoleh gambaran global bahwa untuk kawasan DAS kapuas telah terjadi perubahan baik dilihat dari faktor edapis. Isu-Isu Kebijakan. yakni: (1) (2) Diperolehnya pemahaman tentang dampak besar dan penting serta kebijakan yang strategis yang ada dalam pengelolaan wilayah DAS kapuas terhadap lingkungan hidup Tersusunnya hasil prakiraan dan evaluasi pengaruh rumusan kebijakan. rencana ataupun program (KRP) yang sejalan dengan Revisi RTRWP Kalimantan Barat terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan fungsi-fungsi lingkungan hidup. sosial.Perubahan Fung si Kawasan . Terintegrasinya tujuan pembangunan berkelanjutan ke dalam KRP dan revisi RTRWP Kalimantan Barat.Skoring Revisi RTRWK .1. tidak terkecuali di Kalimantan Barat. Isu Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan dan lingkungan Hidup (3) 3. Kerangka fikir KLHS. klimatis sosial maupun budaya hal ini sejalan dengan isue global berupa peningkatan suhu bumi dan perubahan iklim yang terjadi hampir diseluruh belahan dunia.Peta kawasan hu tan Dan Perairan kalbar .Perubahan Perun tukan kawasan .BAB III PELINGKUPAN DAN PEMUSATAN ISU STRATEGIS 3. Tabel 3. Telaahan RTRWP dan revisi RTRWP Provinsi Kalimantan Barat. tidak hanya terjadi degradasi lahan tetapi ancaman berupa penurunan daya dukung lingkungan akan tetap menjadi utama pada saat penutupan lahan terdegradasi. fisik. Kondisi ini semua terkait dengan aktivitas dan kebijakan pembangunan yang menimbulkan resiko lingkungan hidup. Telaahan yuridis. atas dasar asas/prinsip keterkaitan. Revisi RTRWP : -Revisi Pola ruang -Revisi struktur ruang Data Yang Diperlukan -Revisi pola dan struktur ruang -Jenis tanah -Curah Hujan -Kelerengan .Peta DAS . Kawasan hutan akan banyak yang terdegradasi dengan adanya rencana perubahan fungsi maupun peruntukan.

kecamatan dan desa . ilok. . HGU. HGU. IUP -Peta sebaran ilok. IUP Perke bunan (sawit .Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. HGU. HGU. . HGU. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man Instandi penyedia data -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Prtambangan -Kehutanan Metode yang digunakan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 3 -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Prtambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 4 -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 6 -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan.Pembangunan Perke bunan : -Perijinan -Aktivitas lapangan.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. ilok.Pembangunan kota /Pemukimen di seki tar DAS Kapuas Data Yang Diperlukan -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan.No 2 Isu-Isu strategis KRP 2. HGU. IUP -Peta sebaran ilok.Pembangunan Pertambangan : -Perijinan -Aktivitas lapangan. ilok. IUP Perke bunan (sawit . IUP Perke -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip . kecamatan dan desa . ilok. IUP -Peta sebaran ilok. IUP -Peta sebaran ilok. kecamatan dan desa . HGU.Pengendalian 3.Pengendalian 6. . ilok.Pengendalian 4.Pengendalian 5. HGU.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor.Pembangunan Perhu bungan -Perijinan -Aktivitas lapangan. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemukiman -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. .Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. IUP Perke bunan (sawit . IUP Perke bunan (sawit . HGU. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemukiman -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. IUP -Peta sebaran ilok.Pembangunan Perta nian dan transmigrasi -Perijinan -Aktivitas lapangan. kecamatan dan desa . HGU.

berkeadilan. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah tersebut ditempuh melalui 9 (sembilan) misi pembangunan daerah sebagai berikut: 1.3. Berdasarkan kondisi Kalimantan Barat saat ini.No Isu-Isu strategis KRP Data Yang Diperlukan bunan (sawit .1. maka visi pembangunan daerah Tahun 2008– 2028 adalah: KALIMANTAN BARAT BERSATU DAN MAJU. . keranka pikir yang digunakan untuk melakukan kajian-kajian implikasi untuk merumuskan mitigasi dan atau alternatif program pembangunan pada wilayah DAS Kapuas di Provinsi Kalimantan Barat menggunakan kerangka pikir seperti tersaji pada Gambar 3. Damai dan Bersatu adalah 5. Mewujudkan Pembangunan yang Lebih Merata dan Berkeadilan 3. 3. Mewujudkan masyarakat yang Aman. Mewujudkan Supremasi Hukum dan prinsip-prinsip Good Governance 4. Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang daerah. dan berkeseimbangan 7. Beretika. berikut ini. Visi dan Misi Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Kalbar Berdasarkan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat. produktif dan inovatif 9. Mewujudkan infrastruktur yang memadai 6. Berakhlak Mulia. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man Instandi penyedia data Metode yang digunakan 3. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. Bermoral. Mewujudkan perekonomian yang maju 8. Berbudaya.4. Visi pembangunan daerah Kalbar tahun 2008-2028 mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah. cerdas. seperti tertuang dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mewujudkan masyarakat yang sehat. Mewujudkan Budaya Politik yang Demokratis dan Toleran 2. Bila visi telah terumuskan. Mewujudkan masyarakat yang Religius. dan Beradab. Mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan.yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. Kerangka Pikir Penyusunan KLHS DAS Kapuas Dalam penyusunan KLHS DAS Kapuas. tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh daerah dan amanat pembangunan yang tercantum dalam RPJP Nasional.

1. Pendangkalan Di Sekitar Muara Diskripsi isu Erosi pada lahan dan kawasan sepadan sungai Di DAS Kapuas menim bulkan penggeru san pada lapisan tanah permukaan. sehingga material terbawa arus dan terakumulasi pada muara-muara sungai yang ada di DAS Kapuas Kkerusakan lingkungan seperti kurangnya konser vasi lahan dan ba nyaknya lahan yg terbuka Di sekitar DAS Kapuas. Kerangka Pikir Penyusunan KLHS DAS Kapuas 3.Gambar 3. Isu Strategis. Wilayah Kajian.5. Perubahan Musim tanam . 2. dan Kerangka Waktu KLHS Berdasarkan hasil proses KLHS melalui workshop dan FGD terhadap kebijakan dan dampak yang dapat terjadi di wilayah DAS Kapuas di peroleh isu strategis yang akan dikaji di dalam studi ini adalah: Tabel 3. Issu-isu Strategis Terkait Dampak pada DAS Kapuas Kelompok Isuisu strategis Lingkungan Isu-isu strategis 1. Banjir dan erosi lingkungan 3. pe nyebab utama me nurunnya daya du kung lingkungan seperti kemampuan menahan run off sehingga menim bulkan debit permukaan yang sangat besar dan tidak ter tampung pada DAS Kerusakan Penutupan lahan memberikan dampak Perubahan iklim global dan mempenga ruhi ketidakpastian musim hujan di wila yah DAS Kapuas. curah hujan yang merupakan factor utama penentu po la tanam dalam sis tim tadah hujan yg dipakai oleh petani di sekitar DAS ka puas menjadi tidak berkepastian. sehingga megancan lingkungan 2.

perkebunan. Degradasi lahan perta nian pangan . Peningkatan kegiatan Pertambangan tanpa ijin (peti) Adanya keinginan Pemerintah untuk merevisi RTRWP baik pada struktur ruang maupun pola ruang membuka akses bagi seluruh la pisan masyarakat untuk beraktivitas di sekitar DAS Kapuas . konversi/penggantian lahan masyarakat. Penurunan kualitas air Sungai Kapuas ekonomi 7. biologi berbahaya yang ada pada perairan. aktivitas ini akan mempengaruhi ketersedian air di kawasan DAS menjadi sangat ektrim. bahan beracun dan lain-lain di perairan DAS Kapuas Pembukaan penutupan lahan dan konversi lahan akan berpotensi pada penurunan kualitas biota ikan di daerah DAS Kapuas. UMR dll Adanya keinginan Pemerintah untuk merevisi RTRWP baik pada struktur ruang maupun pola ruang membuka akses bagi seluruh la pisan masyarakat untuk beraktivitas di sekitar DAS Kapuas . Perubahan alur pelayaran 6. kondisi ini menimbulkan peningkatan terhadap sedimentasi. dikawasan ini berlangsung berbagai aktivitas baik di kawasan hulu DAS Kapuas maupun Hilir. pertambangan atau kegiatan rumah tangga. kekeruhan air. Kegiatan perijinan perkebunan di DAS Kapuas semakin ba nyak dan di dengan orien tasi masyarakat financial yang sangat besar maka cenderungan masyarakat sekitar tambah kearah ada ke untuk lingkungan Sosek budaya dan 5. kegiatan tersebut di dominasi oleh pembukaan lahan oleh illegal logging. dimana pada musim penghujan volume menjadi sangat besar. pergeseran nilainilai Budaya/Dekandensi moral ekonomi 10. Konflik Social Lingkungan budaya dan 9. sedangkan pada musim kemarau sangat kecil. Penurunan potensi perikanan tangkap Lingkungan budaya dan 8. pertambangan di sekitar DAS Kapuas dapat memicu terjadinya konflik social terutama terkait dengan sistim kemitraan. dengan adanya pembukaan akses ini maka akan terjadi pemasukan nilai-nilai baru di kawasan ini . kondisi inilaj yang kurang menguntungkan terhadap biota ikan di DAS Kapuas Adanya aktivitas perkebunan. arus masuk nilai-nilai baru tersebut menjadi tidak terbendung dan ada yang berimplikasi negatip sehingga menggeser kearifan local yang ada.Kelompok Isuisu strategis Isu-isu strategis Diskripsi isu ketahanan pangan masyarakat sekitar DAS Kapuas sosek 4. dengan adanya sumberdaya alam yang ada dalam bentuk tambang di sekitar DAS Kapuas pembukaan akses akan meningkatkan kegiatan per tambangan (peti) SDA (poin 1) Sungai kapuas merupakan induk dalampola/ sistim sungai di dalam DAS Kapuas. kehutanan.

kehutanan. Berkurangnya wilayah konser vasi gambut. Adanya berbagai kebijakan seperti perijinan dan perubahan Pola ruang serta aktivitas masyarakat. Deforestasi/Degrad asi hutan lingkungan 14. pertambangan dan lain-lain mendorong terjadinya deforestasi Adanya issue perubahan iklim dan berkurangnya penutupan lahan mendorong masuknya air laut kewilayah yang lebih jauh di dalam kawasan DAS Kapuas. Berkurangnya potensi air tanah lingkungan 13. terutama terjadi pada saat musim kemarau Pemberian perijinan di kawasan gambut mendorong pembukaan kawasan gambut. Degradasi lahan & kua litas tanah Dengan adanya aktivitas di sekitar das Kapuas seperti pembukaan lahan. hal ini semakin terjadi perce patan karena 1. Kekeringan dan keba karan lahan . perkebunan kehutanan yang menggunakan bahan-bahan penyebab pence maran tanah seperti pestisida menyebabkan turunnya kualitas tanah dandegradasi hutan Dengan berkurangnya tutpan lahan maka penyerapan air tanah secara vertical menjadi berkuran sehingga potensi air tanah menjadi berku rang. Penurunan volune dan permukaan tanah /gam but Lingkungan dan kelembagaan 16. Perubahan penutupan lahan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini. Tumpang tindih peman faatanperuntukan lahan Lingkungan 17. dan ini me nyebabkan terjadinya peman patan tanah gambut yang luar biasa sehingga terjadi penurunan ke tinggian permukaan tanah gambut dan volume persatuan luas sehingga akan berpengaruh pada kemampuan smpan air dari tanah gambut terlebih di wilayah kubah gambut Koordinasi yang kurang antar sector menyebabkan seleksi pem berian perijinan untuk berbagai kepentingan menjadi permasala han di lapangan baik secara yuridis maupun fisik /eksisting di lapangan. mengakibatkan peningkatan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan lingkungan 12.Kelompok Isuisu strategis Isu-isu strategis Diskripsi isu mengkonversi lahan pertaniannya kemenajdi lahan perkebunan se hingga memicu terjadinya degradasi lahan pertanian tanaman pangan lingkungan 11. pertam bangan perkebunan dan pertanian serta perhubungan. hal ini dapat terjadi pada pemukiman dan lahan usaha masyarakat. dan ditambah dengan adanya perubahan iklim secara global . Intrusi air asin/laut lingkungan 15. perkebunan. pertambangan. Belum adanya penetapan dae rah resapan 2.

Pendangka lan Di Sekitar Muara Data Yang diperlukan Data fluktuasi kedalaman muara sungai di das dan Sub das Data peristiwa banjir dan erosi Data kegiatan awal tanam dalam 5 tahun terakhir Data pertambangan dan peti Data pelayaran alur Sumber data BP DAS kapu as. Konflik Social Dinas pertam bangan. ADPEL PTK BPDAS. Degradasi lahan pertanian pangan Dinas pertanian 15 tahun Peta 7 lingkungan 11. desk studi. Peningkatan kegiatan Per tambangan tanpa ijin (peti) 5. Penurunan kualitas air Sungai Kapuas 7. studi lapang 20 tahun ekonomi 10. Perubahan Musim tanam 20 tahun 20 tahun Peta 2 sosek 4. Biro ekbang ADPEL Pontianak BLHD. BLHD Dinas pertanian Prakiraan waktu berlangsu ngnya dampak 20 tahun Batas wilayah terkena dampak Peta 1 lingkungan lingkungan 2.Tabel 3. Penurunan potensi perikanan tangkap 8. 3. pemukiman kalbar Data situs budaya. Degradasi lahan dan kualitas tanah Data sebaran lahan pertanian Dinas pertanian 15 tahun lingkungan 12. Banjir dan erosi 3. PDAM. persepsi masyarakat terhadap nilainilai baru Data lahan perta nian 15 tahun Lingkungan dan budaya 9. Berkurangnya potensi air tanah Data Penutupan lahan Kehutanan 20 tahun . Lingkup Wilayah kajian dan Waktu Kajian dari Isu Strategis Kelompok Isu-isu strategis Lingkungan Isue-isue strategis 1. pergeseran nilainilai Budaya/Dekande nsi moral Dinas pariwisata. DAS BP 20 tahun Peta 3 lingkungan Sosek dan budaya ekonomi 15 tahun 20 tahun Peta 4 Peta 5 Data kualitas air dalam lima tahun terakhir Data perikanan tangkap hasil Dinas perikanan kabupaten dan prov BPS 15 tahun Peta 6 Lingkungan dan budaya Data sebaran desa kalbar. Perubahan alur pelaya ran 6.

hotspot. pertambang an. 20 tahun 20 tahun Peta 9 Lingkungan dan kelembagaa n Lingkungan 16. Penurunan volune dan permukaan tanah/gam but Data Yang diperlukan Data kawasan hutan dan penu tupan lahan Data intrusi air laut Data tanah. Intrusi air asin/laut 15. kawasan hutan Data bencana alam kekeringan. PU BLHD 15 tahun Peta 10 20 tahun Peta 11 .Kelompok Isu-isu strategis lingkungan Isue-isue strategis 13. dan kebakaran hutan/lahan Sumber data Kehutanan Prakiraan waktu berlangsu ngnya dampak 20 tahun Batas wilayah terkena dampak Peta 8 lingkungan lingkungan PDAM BLHD. pem bukaan lahan gam but untuk kebun dan perijinan perkebun an di lahan gambut Data perijinan perkebunan. Kekeringan dan kebakar an lahan Perkebunan . pertambangan . kehutanan. Tumpang tindih peman faatanperun tukan lahan 17. Deforestasi /Degradasi hutan 14.

dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat ditingkat pusat dan daerah. dan melaksanakannya dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki.BAB IV TINJAUAN DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN 1. ruang. pelaksanaan. 4. Selain dihadapkan pada hal-hal yang harus diramalkan. karena selalu memerlukan peninjauan ulang atau pengkajian guna memberikan umpan balik dalam proses evaluasi Dalam undang-undang yang mengatur tentang perencanaan pembangunan nasional yaitu UU No. 25 Tahun 2004 menyatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. dan pengawasan Mengoptimalkan partisipasi masyarakat Menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara berkelanjutan efisien. Aspek partisipatif dilaksanakan dengan melibatkan seluruh stakeholders melalui wahana-wahana yang telah disiapkan seperti halnya Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). menyusun konsep strategi untuk pemecahan masalah. 2. melalui urutan pilihan. kegiatan perencanaan banyak digunakan diberbagai bidang yang ditandai dengan munculnya berbagai istilah dari sektor-sektor yang melakukan perencanaan seperti: economic planning. yang menyebutkan bahwa SPPN adalah kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana–rencana pembangunan dalam jangka panjang. dan istilah lainnya. . dua proses perencanaan utama yang telah dilegalkan melalui payung hukum adalah perencanaan pembangunan (development planning) yang telah diformulasikan dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UU No. proses teknokratik dilakukan juga dengan menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang bertugas dalam hal tersebut. regional planning. Dalam konteks Indonesia. hingga tahap evaluasi dan monitoring. dan sinergi. Proses perencanaan merupakan kegiatan yang tidak pernah selesai. 5. city planning.1. efektif. Perencanaan ditujukan untuk waktu yang akan datang sehingga harus dapat memperkirakan kondisi yang akan terjadi pada masa depan dan harus mampu menelaah situasi yang cukup tepat sebagai indikator utama. jangka menengah. Dalam perkembangannya. dan Proses perencanaan dilakukan melalui pendekatan politik terkait dalam pemilihan presiden atau kepala daerah yang dikenal dengan rencana pembangunan hasil proses politik. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). environmental planning. 26 Tahun 2007). dan dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. 25 Tahun 2004) dan perencanaan keruangan (spatial planning) tentang Sistem Penataan Ruang (UU No. Undang–undang tersebut menyebutkan bahwa SPPN ditujukan untuk: 1. Dari sisi jenjang pemerintahan proses perencanaan ini dikenal sebagai proses top-down dan bottom-up yang dilakukan secara seimbang. merumuskan tujuan dan kebijakan pembangunan. dan fungsi pemerintah pusat maupun daerah Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Hal ini yang mendasari bahwa analisis data dasar dan informasi lainnya penting untuk dilakukan sehingga tujuan perencanaan dapat tercapai. sehingga pada akhirnya harapan untuk kesejahteraan masyarakat dapat terwujudkan. waktu. berkeadilan. penganggaran. Pengantar Perencanaan adalah suatu proses yang berkesinambungan dan berkelanjutan mulai dari tahap pengumpulan data. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan Menjamin terciptanya integrasi. dapat dicontohkan dari penjabaran visi dan misi dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) atau RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah). Selain dilaksanakan secara politik. 3. Perencanaan pembangunan diatur dalam UU No. sinkronisasi. sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan. social planning. baik antar daerah. perencanaan juga dihadapkan pada pemilihan tindakan yang diperhitungkan mempunyai hasil yang optimal. Perencanaan pembangunan merupakan suatu kegiatan perencanaan yang dilakukan oleh seluruh elemen untuk menganalisis kondisi dan pelaksanaan pembangunan. penyusunan rencana. Analisis data juga berguna untuk mengetahui dan menilai potensi dari masalah yang dihadapi.

pemerintah. ketersediaan sumber daya dan visi/arah pembangunan. misi. tujuan. . kebijakan. kecamatan maupun tingkat yang lainnya. Berbagai perencanaan yang dikemukakan di atas. Oleh karena itu perencanaan ruang wilayah menjadi bagian penting dalam sistem perencanaan pembangunan nasional dan daerah. dan Rencana Pembangunan Tahunan. dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Selain dibagi dalam skala waktu. RPJP Nasional (RPJPN) merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dalam bentuk visi. tenaga kerja. dan lintas kewilayahan. misi. kebijakan umum. rencana kerja. kewilayahan. lintas SKPD. secara sektoral terdapat pula Rencana Strategis (RenStra) di masing-masing kementerian/departemen serta SOPD di daerah yang merupakan gambaran RPJM berdasarkan sektor atau bidang pembangunan yang ditangani. Jadi perencanaan lebih kepada bagaimana menyusun hubungan yang optimal antara input. misi. Rencana kerja yang dibuat berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. propinsi. akan diimplementasikan dalam suatu ruang wilayah. kebijakan. kebijakan umum. RPJM nasional memuat strategi pembangunan nasional. rencana pembangunan jangka panjang adalah produk dari semua elemen bangsa. masyarakat. memuat arah kebijakan keruangan daerah. memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. RKP merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. dan pendanaannya. misi. misi. strategi pembangunan daerah. RPJP Daerah (RPJPD) memuat visi. budaya dan politik yang terjadi di masyarakat. fasilitas. Sedangkan Renstra SKPD memuat visi. RPJP adalah produk perencanaan yang dijadikan sebagai rujukan produk perencanaan di bawahnya dan dibuat berdasarkan referensi waktu selama 25 tahun. RPJM atau rencana lima tahunan terdiri atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Rencana pembangunan tahunan disebut sebagai Rencana Kerja Pemerintah (RKP). organisasi kemasyarakatan. tujuan. dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. pulau. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. serta program kementrian/lembaga. dan output.Mengacu pada SPPN. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. kabupaten/kota. diwujudkan dalam visi dan misi jangka panjang dan mencerminkan cita-cita kolektif yang akan dicapai oleh masyarakat beserta strategi untuk mencapainya. dan arah pembangunan daerah yang mengacu pada RPJP nasional. kebijakan. Kebijakan dalam sistem pembangunan saat ini sudah tidak lagi berupa daftar usulan tetapi sudah berupa rencana kerja yang memperhatikan berbagai tahapan proses mulai dari input seperti modal. Perencanaan keruangan adalah perencanaan wilayah yang berbasis ruang atau spasial. Dalam konteks pembangunan nasional perencanaan keruangan yang dimaksud adalah perencanaan yang mengatur mengenai penggunaan ruang pada tingkat nasional. proses. dan lain lain. rencana pembangunan dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). prioritas pembangunan daerah. program kementerian/lembaga dan lintas kementerian/lembaga. Visi kemudian perlu dinyatakan secara tegas ke dalam misi. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Oleh karenanya. Visi merupakan penjabaran citacita kita berbangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. strategi. RPJM daerah merupakan penjabaran dari visi. lembaga-lembaga tinggi negara. dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi kementerian/lembaga yang disusun dengan berpedoman pada RPJM nasional dan bersifat indikatif. dan program presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP nasional. RPJM nasional merupakan penjabaran dari visi. proses perencanaan juga dibagi dalam tingkat pemerintahan dengan struktur berjenjang. RPJM sering disebut sebagai agenda pembangunan karena menyatu dengan agenda pemerintah yang berkuasa. misi. memuat prioritas pembangunan. ekonomi. program. kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Agenda pembangunan lima tahunan memuat program-program. program. dan pengaturan yang diperlukan. dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD serta berpedoman kepada RPJM daerah dan bersifat indikatif. yang dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang. RPJP terdiri dari rencana pembangunan jangka panjang di tingkat nasional dan di tingkat daerah. Oleh karena itu. kawasan. Selain itu. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM daerah dan mengacu pada RKP. dan arah pembangunan nasional. dan organisasi politik. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP daerah dan memperhatikan RPJM nasional. perencanaan pembangunan harus dimulai dengan data dan informasi tentang realitas sosial. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Renstra kementerian dan lembaga memuat visi. lintas kementrian/lembaga. strategi.

Pembangunan nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat. Pelaksanaan upaya tersebut dilakukan dalam konteks memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya. namun masyarakat merasa tidak cukup hanya dengan proses tersebut. Meskipun di dalam UU tersebut desa juga dinyatakan sebagai daerah otonom. Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 merupakan kelanjutan dari pembangunan sebelumnya untuk mencapai tujuan pembangunan sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jauhnya rentang pengambilan keputusan tersebut merupakan potensi terjadinya deviasi. bangsa dan negara. UU 32/2004 (UU No. sehingga memberi keleluasaan yang cukup bagi penyusunan rencana jangka menengah dan tahunannya. Beberapa hal yang dapat melukiskan kondisi penataan ruang saat ini adalah sebagai berikut: a. Rendahnya upaya pemerintah dalam memberikan informasi tentang akuntabilitas dari program penataan ruang. f. Dengan kata lain. untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. sebagian besar kebijakan publik. 22 Tahun 1999 dan PP No. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang. 1. Kebijakan pemerintah yang tidak sepenuhnya berorientasi masyarakat tidak terlibat langsung dalam pembangunan. Tidak optimalnya kemitraan atau sinergi antara swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang. Kegiatan penataan ruang dilaksanakan dari tingkat mikro hingga makro. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa semua proses keputusan yang diambil haruslah melibatkan masyarakat. dokumen ini lebih bersifat visioner dan hanya memuat hal-hal yang mendasar.2. Untuk itu. terutama aset yang selama ini diangap untuk kepentingan pemerintahan pusat dengan segala perizinan dan aturan yang menimbulkan perubahan kewenangan. Walaupun pengertian partisipasi masyarakat sudah menjadi kepentingan bersama. c. seperti perubahan dalam pengelolaan sumber daya alam yang tidak diikuti oleh aturan yang memadai serta tidak diikuti oleh batasan yang jelas dalam menjaga keseimbangan fungsi regional atau nasional. Persoalan yang dihadapi dalam perencanan partisipatif saat ini antara lain panjangnya proses pengambilan keputusan. d. Rangkaian upaya pembangunan tersebut memuat kegiatan pembangunan yang berlangsung tanpa henti. namun tidak memiliki kewenangan yang jelas. Jarak antara penyampaian aspirasi hingga jadi keputusan relatif jauh. lingkungan hidup dan kelembagaannya sehingga bangsa Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dan mempunyai posisi yang sejajar serta daya saing yang kuat di dalam pergaulan . Padahal mungkin masalah yang diputuskan sesunggguhnya cukup diselesaikan di tingkat lokal atau desa. akan tetapi dalam prakteknya masih terdapat pemahaman yang tidak sama. e. antara lain di bidang pengelolaan sumber daya alam. namun masih banyak hal yang menunjukkan adanya tumpang tindih mengenai penggunaan ruang yang ada. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional disusun sebagai penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bentuk visi. Tidak terbukanya para pelaku pembangunan dalam menyelenggarakan proses penataan ruang (gap feeling) yang menganggap masyarakat sekedar obyek pembangunan. sumber daya manusia. Hal ini ditunjukkan dimana pemerintah sudah melakukan sosialisasi dan konsultasi dengan masyarakat. kepada masyarakat. paling rendah masih diputuskan di tingkat kabupaten.Pembahasan mengenai perencanaan keruangan tidak terlepas dari pembahasan mengenai penataan ruang sehingga secara lebih khusus dalam pembahasan ini mengacu kepada UU No. 25 Tahun 2000) tentang otonomi daerah telah menggeser pemahaman dan pengertian banyak pihak tentang usaha pemanfaatan sumber daya alam. Dengan demikian. dengan menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat dari generasi demi generasi. yang pada gilirannya menyebabkan banyak kebijakan publik yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. misi dan arah pembangunan nasional. dalam 20 tahun mendatang. sangat penting dan mendesak bagi bangsa Indonesia untuk melakukan penataan kembali berbagai langkah-langkah. sehingga b. RPJP Nasional dan RTRW Nasional Berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Perubahan sebagai tanggapan dari ketidakadilan selama ini.

. antarfungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. antarruang. dan (e) mengoptimalkan partisipasi masyarakat. melalui mekanisme perubahan APBN (APBN-P) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Kurun waktu RPJP Daerah sesuai dengan kurun waktu RPJP Nasional. (b) menjamin terciptanya integrasi. Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah dilantik menetapkan RPJM Daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. RPJP Daerah ini ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Presiden terpilih periode berikutnya tetap mempunyai ruang gerak yang luas untuk menyempurnakan RKP dan APBN pada tahun pertama pemerintahannya yaitu tahun 2010. maka jangka waktu keseluruhan RPJPN adalah 2005-2025. RPJM Nasional III Tahun 2015-2019. Dengan adanya kewenangan untuk menyusun RKP dan RAPBN sebagaimana dimaksud di atas. RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. efektif. Presiden yang sedang memerintah pada tahun terakhir pemerintahannya diwajibkan menyusun RKP dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) pada tahun pertama periode Pemerintahan Presiden berikutnya. 2015. RPJM Nasional dan RPJP Daerah dapat disusun terlebih dahulu dengan mengesampingkan RPJP Nasional sebagai pedoman. Rancangan RPJP Daerah hasil Musrenbangda dapat dikonsultasikan dan dikoordinasikan dengan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik. Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang nasional. yaitu terciptanya masyarakat yang terlindungi. misi dan arah pembangunan nasional adalah produk dari semua elemen bangsa. Sedangkan RPJM Daerah merupakan visi dan misi Kepala Daerah terpilih. Selanjutnya RPJP Daerah dijabarkan lebih lanjut dalam RPJM Daerah. Di samping itu. Sedangkan periodisasi RPJM Daerah tidak dapat mengikuti periodisasi RPJM Nasional dikarenakan pemilihan Kepala Daerah tidak dilaksanakan secara bersamaan waktunya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005. Pelaksanaan RPJP Nasional 2005-2025 terbagi dalam tahap-tahap perencanaan pembangunan dalam periodisasi perencanaan pembangunan jangka menengah nasional 5 (lima) tahunan. (d) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Kepala Bappeda menyiapkan rancangan RPJP Daerah yang disusun melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda). yang dituangkan dalam RPJM Nasional I Tahun 2005-2009. Namun demikian. lembagalembaga negara. yaitu pada tahun 2010. yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. masyarakat. RPJM Nasional II Tahun 2010-2014. dan RPJM Nasional IV Tahun 2020-2024. Sesuai dengan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Kurun waktu RPJP Nasional adalah 20 (dua puluh) tahun. antarwaktu. misi dan arah pembangunan nasional yang mencerminkan cita-cita kolektif yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia serta strategi untuk mencapainya. pemerintah.masyarakat Internasional. lembaga-lembaga strategis. (c) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Visi merupakan penjabaran cita-cita berbangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. individu pemikir-pemikir visioner serta unsur-unsur penyelenggara negara yang memiliki kompetensi olah pikir rasional dengan tetap mengutamakan kepentingan rakyat banyak sebagai subyek maupun tujuan untuk siapa pembangunan dilaksanakan. RPJP Daerah harus disusun dengan mengacu pada RPJP Nasional sesuai karakteristik dan potensi daerah. dan 2025. Perencanaan jangka panjang lebih condong pada kegiatan olah pikir yang bersifat visioner. 2020. dan 2025. Mengingat RPJP Nasional menjadi acuan dalam penyusunan RPJP Daerah. sehingga penyusunannya akan lebih menitikberatkan partisipasi segmen masyarakat yang memiliki olah pikir visioner seperti perguruan tinggi. 2020. Bila visi telah terumuskan. berkeadilan dan berkelanjutan. Tujuan yang ingin dicapai dengan ditetapkannya Undang-Undang tentang RPJP Nasional Tahun 20052025 adalah untuk: (a) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan dalam pencapaian tujuan nasional. Dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan dan menghindarkan kekosongan rencana pembangunan nasional. 2015. Oleh karenanya rencana pembangunan jangka panjang nasional yang dituangkan dalam bentuk visi. pelaksanaan dan pengawasan. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. sinkronisasi dan sinergi baik antardaerah. penganggaran. Rencana pembangunan jangka panjang nasional diwujudkan dalam visi. sejahtera dan cerdas serta berkeadilan.

namun juga generasi yang akan datang. bahwa penataan ruang terbagi atas kegiatan perencanaan. dan mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan. baik dalam pemanfaatan sumberdaya alam maupun sumberdaya buatan. diantaranya pengendalian pemanfaatan ruang. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dengan turunannya berupa rencana tata ruang merupakan upaya penting dalam menertibkan penyelenggaraan penataan ruang di Indonesia yang diwujudkan melalui beberapa aspek penting. terpadu. dan sejahtera. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP). maka Undang-Undang Penataan Ruang ini diharapkan dapat mewujudkan rencana tata ruang yang dapat mengoptimalisasikan dan memadukan berbagai kegiatan sektor pembangunan. Ketiga rencana tata ruang tersebut harus dapat terangkum di dalam suatu rencana pembangunan sebagai acuan di dalam implementasi perencanaan pembangunan berkelanjutan di wilayah Indonesia. Secara partisipatif. 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan merupakan payung hukum bagi pelaksanaan perencanaan pmbangunan dalam rangka menjamin tercapainya tujuan negara. Perencanaan pembangunan adalah suatu proses yang bersifat sistematis. Produktif mengandung pengertian bahwa proses produksi dan distribusi berjalan secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing. Segala kegiatan yang tentu saja membutuhkan ruang sebagai wadah pendukung kegiatan pembangunan tersebut harus diatur di dalam rencana tata ruang. Kegiatan penataan ruang terdiri dari 3 (tiga) kegiatan yang saling terkait. dan pengendalian pemanfaatan ruang. Disadarai bahwa peranan penataan ruang didalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang terjabarkan pada rencana pembangunan sangatlah penting. Rangkaian forum ini menjadi bagian dalam menyusun sistem perencanaan dan alokasi anggaran untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan setiap tahun. berbudi luhur. daerah akan menyusun RPJPD dan RPJMD yang mengacu pada RPJP dan RPJM Nasional serta membuat program pembangunan dan kegiatan pokok yang akan dilaksanakan melalui Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang disusun oleh Kementerian/Lembaga. proses perencanaan pembangunan dilaksanakan dengan melibatkan seluruh stakeholder di pusat dan daerah. serta sanksi. Pengendalian pemanfaatan ruang dilaksanakan secara sistematik melalui penetapan peraturan zonasi. pemanfaatan. terkoordinir dan berkesinambungan.UU No. Dilihat dari sudut pandang penataan ruang. Pemerintah telah menetapkan rencana kerja pemerintah berikut alokasi anggaran yang ditetapkan dan akan digunakan didalam membiayai kegiatan pembangunan secara nasional. dengan produk rencana tata ruang berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang secara hirarki terdiri dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). yaitu: perencanaan tata ruang. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). tidak hanya untuk kepentingan generasi saat ini. mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia. Sebagai payung hukum dalam penyelenggaraan penataan ruang. dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). salah satu tujuan pembangunan yang hendak dicapai dalah mewujudkan ruang kehidupan yang nyaman. dan berkelanjutan. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRW Kab/kota). Dalam konteks ini ruang harus dilindungi dan dikelola secara terkoordinasi. perizinan. Menurut undang-undang tersebut. Ruang kehidupan yang nyaman mengandung pengertian adanya kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mengartikulasikan nilai-nilai sosial budaya dan fungsinya sebagai manusia. dan berkelanjutan. 25/2004 terwujud dalam bentuk rangkaian musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) yang dilakukan secara berjenjang dari mulai tingkat Kabupaten/Kota sampai dengan Nasional. Sementara berkelanjutan mengandung pengertian dimana kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan. Terkait hal ini. produktif. pemanfaatan ruang. rencana pembangunan terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). dan pengendalian pemanfaatan ruang. Sementara itu landasan hukum sistem penataan keruangan yang digunakan adalah UU No. Dengan demikian keterkaitan antara perencanaan pembangunan dan penataan ruang sangat penting . Ruang merupakan sumber daya alam yang harus dikelola bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Pendekatan top-down dan partisipatif dalam perencanaan pembangunan yang ada dalam UU No. sangat terkait dengan kegiatan pengalokasian sumberdaya. pemberian insentif dan disinsentif. Disamping itu segala bentuk kegiatan pemanfaatan sumberdaya harus diatur di dalam rencana tata ruang seperti yang tercantum di dalam UU No. 26/2007. usaha pencapaian tujuan dan tindakantindakan di masa depan. yang digunakan sebagai arahan di dalam Sistem Perencanaan Pembangunan secara nasional. Rencana pembangunan memuat arahan kebijakan pembangunan yang dijadikan acuan bagi pelaksanaan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Keseluruhan tujuan ini diarahkan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. Secara top down.

Permasalahan lain yang terjadi terkait dengan perencanaan tata ruang adalah seringkali perencanaan suatu kegiatan yang menggunakan ruang secara blue print tidak tergambar secara detail di dalam suatu peta rencana yang dapat menyebabkan pada pelanggaran didalam pemanfaatan ruang. rencana tata ruang uang disusun. Hal ini disebabkan beberapa hal diantaranya adalah: data dan informasi yang digunakan kurang akurat dan belum meliputi analisis pemanfaatan sumberdaya kedepan. Dalam pelaksanaannya masih banyak terdapat berbagai kendala dan tantangan yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : (1) Produk rencana tata ruang yang dihasilkan masih belum diacu dalam pelaksanaan pembangunan. Untuk RTRWN dapat ditinjau kembali satu kali dalam 5 tahun apabila terjadi perubahan lingkungan strategis seperti terjadi bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Keterkaitan antara rencana pembangunan dengan penataan ruang dapat dilihat pada skema berikut (lihat Gambar 4. Sinkronisasi rencana pembangunan dalam memanfaat ruang untuk melaksanakan aktivitas pembangunan seringkali menemui kesulitan. perubahan batas teritorial negara yang ditetapkan dengan UU. Keterkaitan Diantara Rencana Pembangunan Berdasarkan diagram diatas dapat dinyatakan bahwa Rencana Pembangunan (Nasional dan Daerah) dan Rencana Tata Ruang harus dapat saling mengacu dan mengisi. RTRWN merupakan pedoman bagi penyusunan dan pelaksanaan kegiatan yang bersifat “keruangan”. Penjabaran RPJMN tertuang di dalam RKP yang dirumuskan setiap tahun dan disusun melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang).1. seringkali dianggap sebagai produk satu instansi tertentu dan belum menjadi dokumen milik semua instansi karena penyusunannya belum melibatkan berbagai pihak. (2) Dari aspek pemanfaatan ruang suatu wilayah atau daerah seringkali tidak sesuai dengan peruntukannya yang ada dalam . bahwa di dalam penyusunan RTRWN harus memperhatikan RPJPN. terutama di tingkat daerah. Perlu dipahami dan disadari mengenai pola hubungan antara perencanaan pembangunan dan perencanaan keruangan. dan perubahan batas wilayah kabupaten/kota yang ditetapkan dengan UU (khusus RTRWK). RPJPN dan RTRWN memiliki batas waktu selama 20 tahun. Berdasarkan pasal 19 UU No. perubahan batas wilayah provinsi yang ditetapkan dengan UU (khusus RTRWP dan RTRWK). penyusunan rencana tata ruang sering dilaksanakan hanya untuk memenuhi kewajiban pemerintah (Pusat dan Daerah) sesuai Undangundang dan Peraturan Daerah. Lebih kongkrit lagi.1). Implementasi dan penjabaran RPJP dituangkan dalam dokumen RPJM yang memiliki batas waktu selama 5 tahun. haruslah terjadi pola hubungan antara produk-produk pada perencanaan pembangunan dan perencanaan keruangan.dalam rangka optimalisasi sumberdaya alam dan buatan yang terbatas dan mengurangi resiko bencana yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia. dan pada pasal 20 ayat (2) menyatakan bahwa RTRWN menjadi pedoman untuk penyusunan RPJPN. 26/2007 tentang Penataan Ruang. Hubungan ini akan menuntun pada terwujudnya perencanaan dan tujuan dari proses perencanaan. Gambar 4.

Oleh karena itu peranan kelembagaan penataan ruang dalam menjembatani hal tersebut sangatlah penting. menjadikan berbagai kegiatan pendukung ekonomi menjadi faktor utama di dalam kegiatan pembangunan. Ego sektoral dan daerah masih menjadi masalah utama dalam hal ini. Misalnya dalam proses alih fungsi kawasan hutan (produksi maupun lindung) yang diminta oleh daerah. Fenomena ini seringkali terjadi untuk memenuhi kebutuhan ruang bagi masyarakat dan pemerintah (daerah) terutama terjadi di daerahdaerah yang baru dibentuk sebagai akibat pemekaran daerah. (7) Penyelenggaraan sosialisasi dalam rangka memberikan informasi pentingnya peranan penataan ruang didalam pelaksanaan program pembangunan kepada masyarakat. Perroux (1955). (8) Peningkatan manajemen kelembagaan penataan ruang baik di Pusat maupun di daerah. baik pada tingkat legislatif maupun eksekutif. Bahkan dalam era otonomi daerah. konflik kewenangan pun terjadi secara hirarki antar instansi pemerintahan. Banyak cara untuk mengembangkan wilayah mulai dari penggunaan konsep (alat) pembangunan sektoral. Ruang adalah wadah berbagai kegiatan sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. kewenangan yang sudah banyak didelegasikan kepada Pemerintah Daerah melalui kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi memberikan kesempatan bagi daerah untuk mencari berbagai sumber pendapatan baru untuk meningkatkan pendapatan asli daerah melalui berbagai kegiatan ekonomi. dan budaya. Pada dasarnya pendekatan pengembangan wilayah ini digunakan untuk lebih mengefisiensikan pembangunan dan konsepsi ini tersus berkembang disesuaikan dengan tuntutan waktu. baik yang disebabkan oleh pengguna ruang ilegal maupun pemerintah.3. dan udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta . Dengan adanya berbagai tantangan dan kendala dalam mengintegrasikan Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang Wilayah. bentuk pelanggaran-pelanggaran tata ruang semakin marak terjadi yang dapat mengganggu lingkungan dan pada akhirnya dapat mengakibatkan bencana yang tentunya merugikan bagi masyarakat. dengan keluarnya undang undang ini maka pengembangan wilayah dilaksanakan melalui alat penataan ruang. (6) Ketegasan sanksi dan ketetapan hukum sebagai alat yang digunakan untuk mengendalikan segala bentuk pemanfaatan ruang. ”growth center” yang digagas oleh Friedman (1969) sampai kepada pengaturan ruang secara terpadu melalui proses pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) secara sinergi dengan pengembangan sumberdaya manusia dan lingkungan hidup untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. termasuk alih fungsi lahan tanpa memperhitungkan keberlanjutannya dalam jangka panjang. (3) Mewujudkan keterpaduan dan kerjasama pembangunan lintas provinsi dan lintas sektor untuk optimasi dan sinergi struktur pemanfaatan ruang. (4) Sulit untuk menciptakan sinkronisasi kelembagaan dan hal ini terwujud dalam bentuk konflik penataan ruang yang disebabkan oleh tidak sinkronnya kegiatan antar sektor dan antar daerah. (5) Produk rencana tata ruang daerah harus dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah yang selaras dengan visi dan misi daerah. Selain itu. (9) Mewujudkan konsistensi dalam penyerasian rencana tata ruang dengan rencana pembangunan antar pemangku pemerintahan. Salah satu upaya tersebut antara lain melalui pemberian perizinan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang terdapat di dalam rencana tata ruang. Kebutuhan mendesak akan ruang. maka adanya beberapa langkah yang diperlukan: (1) Melakukan penyelarasan implementasi terhadap rencana pembangunan dengan rencana tata ruang melalui mekanisme yang diatur didalam suatu kebijakan/peraturan. (3) Masalah perekonomian yang menjadi pemicu didalam pembangunan nasional. dan proses ini akan memakan waktu yang cukup lama. Di Indonesia. maka prosesnya harus mengikuti ketentuan yang ada sesuai Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. sosial. ”bassic need approach”. Sebagai contoh. (4) Perlu dilakukan penyusunan rencana tata ruang yang berkualitas dan menyeluruh. Hal tersebut berdampak pada maraknya alih fungsi lahan yang dilakukan dalam rangka melangsungkan dan mendukung kegiatan ekonomi. 1. telah menyebabkan alih fungsi lahan yang tidak terkendali. RTRW Pulau Kalimantan Pengembangan wilayah merupakan suatu upaya untuk mendorong terjadinya perkembangan wilayah secara harmonis melalui pendekatan yang bersifat komperhensif mencakup aspek fisik. dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah dalam jangka menengah maupun panjang maupun tidak adanya sanksi hukum terhadap pelanggaran rencana tata ruang. Hal ini terkait erat dengan rencana tata ruang yang tidak sesuai. dan mencakup ruang daratan. ekonomi. ”development poles” (poles de croissance) yang digagas oleh F. Hal ini berdampak pada sulitnya pemerintah daerah dalam melaksanakan penyusunan rencana tata ruang wilayahnya. konflik antar sektor kehutanan dengan pemerintah daerah dalam pemanfaatan kawasan hutan. (2) Melakukan sinkronisasi kebijakan antar sektor dan instansi pemerintahan secara hirarki untuk mewujudkan keselarasan program pembangunan. Sebagai dampaknya. lautan.rencana tata ruang suatu wilayah atau daerah. teknologi dan kondisi wilayahnya.

sebaiknya dibuat strategi pelaksanaan pembangunan dalam rangkaian program pemanfaatan ruang. Selain itu pesoalan ”illegal loging” yang sering merusak potensi sumber daya alam (hutan tropis) kita terus berkembang sejalan dengan tingkat ekonommi masyarakat perbatasan yang belum maju tersebut. Philipina – Eastern Asian Growth Area) dan dilalui jalu perdagangan laut internasional. kemungkinan besar akan terjadi pemborosan manfaat sumber daya alam yang tersedia di Kalimantan ini. Indonesia. dan estetika wilayah.834 km2.mahluk hidup lainnya. Secara garis besar. Sebaliknya bila ada rekayasa pengaturan ruang dengan baik (penataan ruang) maka harapan akan terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan wilayah Kalimantan akan tercapai. Oleh karena itu. serta usulan konsepsi pengendaliannya.40 10` LS dan anatara 1080 30` BT . daratan (35. saat ini sedang disusun Rencana Tata Ruang wilayah (RTRW) Pulau Kalimantan terlebih dahulu. rotan. Letak Geografis Wilayah pulau Kalimantan (bagian selatan) dalam wilayah Republik Indonesia.69 %). Di dunia. Kegiatan pembangunan tersebut akan terus berlanjut secara ”sustained”. Analisis ekonomi hasil hutan dengan . disana ada potensi beberapa taman nasional sebagai konservasi flora dan fauna dan hutan di pegunungan Muller serta sebagian di Schawner yang ditetapkan sebagai ”world heritage forest” dan merupakan cadangan air seluruh Kalimantan sebanyak sekitar 35 % yang tidak akan habis di masa yang akan datang dengan syarat tidak teganggu dan tercemar serta perlu dilindungi sebagai suatu ekosistem. Rencana Tata Ruang sendiri adalah produk pengaturan Struktur dan Pola pemanfatan ruang. juga di Indonesia. Tahap awal. akan tercapai sinergi antara berbagi jenis kegiatan pemanfaatan ruang. Struktur mengatur sistem pusat-pusat kegiatan beserta jaringan prasarana secara hirarkhis. dan cendana sudah hampir punah. dengan fungsi lokasi. dan pola pemanfaatan ruang adalah mengatur wilayah dengan satuan-satuan (deliniasi ruang) yang fungsional sesuai dengan tujuan rencana dan sesuai dengan kondisi daya dukung dan daya tampung sumber dayanya. gambaran umum permasalahan dan potensi pulau Kalimantan dapat diuraikan sebagai berikut : 1. ramin. dan lain– lain (0. Dengan demikian lokasinya berbatasan langsung dengan negara Malaysia (Sabah dan Serawak) di sebelah utara yang panjang perbatasannya mencapai 3000 km mulai dari proinsi Kalimanatan Barat sampai dengan Kalimantan Timur. Kondisi Fisik Dasar dan Hasil Sumber Daya Lahan Pulau Kalimantan sebagaian besar merupakan daerah pegunungan / perbukitan (39. Hasil hutan yang potensi di Kalimantan adalah kayu industri. Karena sebagian besar pegunungan. 2.1190 00` BT dengan luas wilayah sekitar 535. Nilai ekonomis yang diharapkan bagi pengembangan wilayah Kalimantan tidak akan tercapai dan yang akan terjadi kerusakan lingkungan (baik “renewable” maupun yang “non renewable”) yang justru akan menjadi “cost” yang “never ending”. Malaysia. kualitas lingkungan.47 %). Sayangnya spesies hasil hutan seperti kayu gaharu. terletak diantara 40 24` LU . Namun demikian dalam tulisan ini akan dicermati kedudukan pentingya penataan ruang wilayah pulau Kalimantan dalam satu proses keseluruhan yang tidak hanya berhenti pada perlunya disusun RTRWnya saja tapi juga bagaimana. Artinya berbagai kegiatan dan sumber daya alam yang terkandung dan tersedia di pulau Kalimantan ini terbatas. Dilain pihak pulau Kalimantan juga mempunyai potensi antara lain untuk ikut dalam sistem kerangka kerjasama ekonomi regional seperti BIMP-EAGA (Brunai. Saat ini upaya untuk menata ruang pulau Kalimantan sedang dilaksanakan oleh berbagai pihak baik oleh seluruh pemerintah propinsi di Kalimantan maupun oleh instansi pemerintah pusat secara bekerja sama.73 %) dataran aluvial (12. dan khususnya di pulau Kalimantan ketersediaan ruang ini terbatas. damar. dan tengkawang. Dengan memberikan arahan pengaturan ruang melalui optimasi kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang ada dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung wilayah. untuk mencapainya diperlukan upaya penataan ruang wilayah pulau Kalimantan yang berbasis mengoptimasikan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan yang ada agar terjadi pengembangan wilayah seperti yang diinginkan.93 %). Pada umumnya topografi bagian tengah dan utara (wilayah republik Indonesia/RI) adalah daerah pegunungan tinggi dengan kemiringan yang terjal dan merupakan kawasan hutan dan hutan lindung yang harus dipertahankan agar dapat berperan sebagai fungsi cadangan air dimasa yang akan datang. dan lebih jauh akan terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup. Sebagai daerah yang memiliki kawasan perbatasan maka mempunyai persoalan/masalah yang terkait ”illegal trading” apalagi penduduk kawasan negara tetangga jauh lebih sejahtera dan pembangunannya maju pesat. dan sisanya dataran pantai/ pasang surut (11.08 %). Bila pemanfaatan ruang ini tidak diatur dengan baik maka bedasarkan konsepsi dan diagram seperti yang diuraikan di atas.

Sektor terbesar yang memberikan kontribusi nilai PDRB adadalh Industri pengolahan. Erosi sabagai akibat aberasi pantai terjadi di pantai barat.87 %. Kondisi tanah di Kalimantan pada umumnya tidak subur untuk kegiatan usaha pertanian. Potensi pertambangan banyak terdapat di pegunungan dan perbukitan di bagaian tengah dan hulu sungai. serta di beberapa tempat lainnya di bagian tengan dan hulu sungai besar di Kalimantan. Lahan daratan memerlukan konservasi yang sangat luas karena terdiri dari lahan rawa gambut. Kinerja perekonomian yang baik dapat terjadi karena kemampuan propinsi atau kabupaten / kota dalam bersaing. Untuk ini diperlukan optimasi pemanfaatan lahan agar hasil gunaanya dapat memberikan nilai ekonomis dan perkembangan pada wilayah.ekosistimnya untuk menjaga keseimbangan lingkungan perlu dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat setempat. pantai. dan kakuatan daya saing menadi faktor kuat untuk perkembangan wilayah. dan ”off sore”. da hal ini perlu dioptimasikan agar punya nilai ekonomis namun tetap menjaga fungsi dan peran danau tersebut. Indikator kualitas kehidupan masyarakat (sosial-ekonomi) diukur dengan ”Human Developmen Index” (HDI) yang juga relatif masih rendah dibandingkan dengan beberapa daerah di Pulau Jawa Kontribusi PDRB agregrat pulau Kalimantan terhadap PDB nasional cukup baik. dan pertanian. Oleh karena itu bagi kabupaten/kota yang mempunyai potensi sumber dayanya perlu mendapat prioritas . Kegiatan pertambangan ini seringkali menimbulkan konflik dengan pemanfaatan ruang lainnya yaitu dengan kehutanan. Kegiatan perkebunan pada umumnya berada pada wilayah di perbukitan dataran rendah. Untuk terus dikembangkan secara ekonomis dengan memanfaatkan lahan yang sesuai masih diperlukang dukungan prasarana wilayah. Perkebunan yang potensi dan berkembang adalah : sawit. karet. bauksit. namun dalam lingkup propinsi sektor pertanian cukup dominan memberikan kontribusi pada PDRBnya masinhg-masing yaitu antara 20-40 %. Namun kegiatan perekonomian ini juga sangat tergantung kepada daya dukung yang dapat menyediakan sumber dayanya. Potensi hidrologi di Kalimantan merupakan faktor penunjang kegiatan ekonomi yang baik. Dari nilai pertumbuhannya rata-rata senua propinsi berkembang dengan baik. Hampir rata terjadi di masing-masing bahwa sektor jasa relatif lambat pertumbuhannya. fosfat. selatan dan timur. berpasir. Berdasarkan kajian Banter (1993) kemungkinan sering terjadi erosi pada lereng barat laut pegunungan Schwener dan G Benturan. Pertumbuhan sektor yang paling baik adalah sektor pertanian. Bahaya lingkungan lainnya adalah kebakaran hutan pada musim kemarau sebagai akibat panas alam yang membakar batu bara yang berada di bawah hutan tropis ini. Usaha perkebunan ini sudah mulai berkembang banyak dan banyak investor mulai datang dari negara jiran. Persaingan ini bisa terjadi dalam kegiatan ekonomi baik internal maupun antara kota dalam propinsi atau antar propinsi. Oleh karenanya optimasi pemanfaatan SDA agar tidak hanya sekedar mengejar manfaat ekonomi perlu ada pengaturan ruang. kelapa. namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya lingkungan. Walupun sektor pertanian memberikan kontribusi ketiga. 3. mika dan batubara. Jumlah penduduk terbanyak adalah Kalbar yaitu 34 % dari total penduduk seluruh Kalimantan. Sebagai besar lahan Gambut ini ada di Kalimantan tengah dan selatan dan sebagaian kecil di pantai Kalimantan barat dan di Kaltim bagian utara. Kondisi dan Perkembangan Sosial Ekonomi Wilayah Jumlah penduduk Kalimantan masih relatif kecil dan tidak lebih dari 18 juta jiwa dengan rata rata kepadatan penduduk agregrat = 20 jiwa/km2. lahan bertanah asam. Tambang minyak dan gas alam cair terdapat di dataran rendah.143 km) di Kalbar dan dapat menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat. Selain banyak danau-danau yang berpotensi sebagai sumber penghasil perikanan khususnya satwa ikan langka. Hal ini karena memang luas propinsi Kalsel lebih kecil dibanding yang lain. dan bukit-bukit relatif agak baik untuk kegiatan pertanian. wilayah dan ekonomi nasional. sektor kedua adalah Pertambangan dan penggalian dan ketiga pertanian. Bahaya lingkungan ini harus menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan dalam pengaturan ruang wilayah. Sedangkan propinsi terpadat adalah Kalsel yaitu 80 jiwa/km2. patahan/sesar dan gempa bumi. Deposit pertambangan yang cukup potensial adalah emas. Laju pertumbuhan penduduk adalah 1. Dalam teori ekonomi saling ketergantungan. mangan. karena keterbatasan lahan dinegara jiran tersebut. perkebunan. pasir kwarsa. Kondisi tanah di dataran teras pedalaman. Sejumlah sungai besar merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksportimport. kecuali di propinsi Kaltim. Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi. Memilih kesesuaian ruang untuk kegiatan uasaha yang sesuai dengan kesesuan tanah sangat diperlukan. dan lahan yang memiliki kelerengan curam. pegunungan. Sungai-sungai di Kalimantan ini cukup panjang dan yang terpanjang adalah sungai Kapuas (1. tebu dan perkebunan tanaman pangan.

pertambangan.102 ton bongkar dan 54. Kalsel 1 kota pelabuhan. Tingkat pelayanan transportasi sungai cukup signifikan yaitu 33 % sedangkan transportasi jalan taya 44 % dan sisanya transportasi laut dan udara. Secara umum pola jaringan tranasportasi jalan yang ada walaupun belum terthubungkan secara masif. batu bara. Kalsel 3 (tiga) dan Kaltim 4 (empat). Di Kalimantan masih tersedia sumber daya alam yang potensi untuk dikembangkan secara ekonomis bagi pengembangan wilayah. Di Kalimantan ada 19 (sembilan belas) pelabuhan udara (termasuk pelabuhan udara perintis) yang membantu sebagai prasarana transportasi udara mengembangkan ekonomi wilayah melalui kelancaran arus kegiatan perdagangan dan pergerakan penduduik secara umum termasuk dalam menunjang misi sosial. dan industri lainnya. Kondisi Prasarana Wilayah (Transportasi) Pulau Kalimantan Total panjang jalan di pulau Kalimantan 42. Untuk itu diperlukan kehati-hatian dalam pemanfaatan ruangnya. Transportasi sungai ini sebagian besar dimanfaatkan untuk mengangkut kayu dan hasil industri kayu dan hasil hutan lainnya. Beberapa hasil SDA dan industri olahan dipasarkan melalui outlet kota pelabuhan. 5. di pulau Kalimantan juga mempunyai kegiatan industri. dan prasarana wilayah di Kalimantan yang dikaitkan dengan aspek lingkungan hidup untuk pembangunan berkelanjutan dan pengembangan wilayah dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : a. Dalam pengelolaan SDA harus diperhatikan kesesuaian lahan dan aspek lingkungan hidup. Dibandingkan pulau lainnya kepadatan jalan sangat berkurang yaitu hanya 85. PLTA dan PLTGU. 4. agama dan keamanan wilayah. Berdasarkan analisis potensi dan berbagai permasalahan kondisi sumber daya alam. namun juga masih menghadapi berbagai kendala antara lain prasarana dan faktor pembatas lingkungan. Dilain pihak jumlah kendaraan juga sangat terbatas sehingga ada beberapa ruas jalan yang kapasitasnya masih belum termanfaatkan secara optimal.824 ton muat.keluar pelabuhan udara tercatat 39.pengembangan walaupun dengan karakteristik yang berbeda.Perkembangan kegiatan sosial ekonomi memberikan indikasi bahwa sudah ada potensi kegiatan masyarakat dan aktifitas ekonomi interinsuler serta eksport-import yang dapat mendorong perkembangan wilayah Kalimantan. Tenaga listrik ini turut mempengaruhi pola perkembangan wilayah saat ini khususnya dalam meng-”generate” kegiatan / kawasan industri sawit. Kondisi Prasarana Kelistrikan Jaringan listrik di Kalimantan belum seluruhnya dilayani oleh jaringan inter-koneksitas secara total. Kota pelabuhan ini berperan sebagai outlet/inlet kegiatan perdagangan interinsuler dan perdagangan eksport/import. semen.964 pesawat keberangkatan dan 40. Data menunjukan di propinsi Kaltim yang paling ramai terjadi bongkar muat komoditas/barang di pelabuhan yaitu 2. Panjang jalan ini sangat kurang untuk melayani jumlah luas pulau yang sangat besar.491.29 km/ha untuk jalan nasional dan propinsi. Kalteng 7 (tujuh). PLTG. tengah membelah barat timur dan selatan melingkar mengikuti garis pantai. Dengan memperhatikan potensi sumber daya alam (air. . olahan hasil hutan. dan PLT Batubara untuk membantu kosumsi listrik perkotaan/permukiman dan industri. yaitu jalur utara membentang barat-timur. Peran transportasi laut ini sangat penting untuk mendorong perkembangan ekonomi wilayah Kalimantan.005 pesawat kedatangan.641 km. ada yang tinggal mendorong dan ada yang tinggal memberi dukungan. kegiatan sosial ekonomi masarakat dan wilayah. yaitu propinsi Kalbar 4 pelabuhan. Sumber pembangkit listrik utama di Kalimantan adalah PLTD dan ada beberapa dari PLTG. PLTD ini sangat konsumtif terhadap bahan bakar dan mahal. dan Kaltim 15 kota pelabuhan. mendukung dan mendorong perkembangan wilayah. pertambangan dan hasil olahan lainnya yang potensi dan akan saling terkait dengan pemanfaatan ruang lainnya serta dimungkinkan adanya konflik pemanfaatan ruang. Hanya ada 3 (tiga) propinsi yang mempunyai kota-kota pelabuhan.324. Jumlah pelabuhan udara di propinsi Kalbar 5 (lima). Ada yang masih perlu digali dan dirangsang dengan stimulan. Tahun 1998 arus lalu lintas pesawat datang . Pola pengaturan SD listrik dan pemanfaatan ruang kegiatan industri pelu sinergis. sebagaian besar masih dilayani jaringan transmisi bertegangan 275 KV. Selain sumber daya alam. c. b. Jaringan jalan ini harus terus diprogramkan secara terpadu intermoda dengan transportasi air (sungai) dan udara untuk merintis. dan gas) masih dapat dimungkinkan untuk dikembangkan pemanfaatan PLTA.

Oleh karena itu kawasan perbatasan yang panjangnya mencapai 3200 km penanganannya perlu dilaksanakan dengan pendekatan keamanan dan kesejahteraan masyarakat. diperlukan terlebih dahulu pengaturan ruang dalam bentuk penyusunan rencana tata ruang untuk tujuan pembangunan dimasa yang akan datang. e. sungai maupun udara. kegiatan industri manufaktur yang memberikan nilai komoditas ekonomis berada di kota-kota pantai dibanding dengan kota-kota di bagian tengah dan utara. Eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan ini terjadi di kawasan perbatasan dan di pegunungan Muller serta di Taman Nasional Kutai dan Tanjung Puting. Selain hal di atas. Dari data di atas. Ketimpangan Ekonomi Antar Wilayah Kesenjangan pembangunan antar daerah terjadi di Pulau Kalimantan ini tidak hanya antar propinsi tetapi juga antar kabupaten di wilayah bagian pesisir dan pedalaman. . Isu Pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan Eksploitasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Issu degradasi kualitas lingkungan sebagai akibat pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali dan tidak terencana dengan baik perlu segera di atasi. degradasi kualitas lingkungan ini diakibatkan oleh kebakaran hutan. Balikpapan. d. Kesenjangan penyediaan sarana dan prasarana transportasi juga terjadi antara wilayah pantai dengan bagian tengah dan utara pulau Kalimantan (perbatasan). dan Samarinda. Sedangkan di bagian utara dan tengah adalah daerah pegunungan yang berfungsi sebagai kawasan konservasi untuk cadangan air. untuk itu diperlukan pengaturan yang sinergi antara struktur prasarana wilayah dengan pemanfaatan ruang kegiatan lainnya kawasan-kawasan yang dikonservasi/dilindungi. b. pengaturan kebijakan dan strategi serta program pemanfaatannya. 6. dan timur pulau Kalimantan) memberikan kontribusi PDRB yaitu 90 % terhadap total PDRB Kalimantan. a. Hal ini semua pada gilirannya akan mengurangi potensi sumber daya alam pulau Kalimantan. Keterbatasan Interaksi Internal Sebagai syarat perkembangan dan pertumbuhan wilayah diperlukan interaksi antar pusat-pusat permukiman (kota) baik yang internal propinsi maupun yang lintas propinsi. dan sistem pengendaliannya. Hal ini bukan saja karena gangguan bahaya terhadap kerusakan sumber daya alam dan lingkungan yang perlu dikonservasi (hutan lindung) akibat illegal logging tetapi juga perlu segera menangani perbaikan ekonomi masyarakat setempat dan keamanan negara. Oleh karena itu diperlukan kebijakan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi wilayah. Di bagian tengah dan dataran rendah pantai selatan pada umumnya lahan bergambut dengan tingkat keasaman tinggi yang sulit ditanami oleh komoditas pertanian yang ekonomis. dan hal ini makin mempertajam kesenjangan ekonomi wilayah. Pola Penyebaran Sumber Daya Alam Pola penyebaran sumber daya alam yang potensial ekonomis pada umumnya berada pada lahan-lahan subur di dataran rendah dan tidak berawa. Banjarmasin. dan timur utara wilayah pulau Kalimantan. Selain itu kota-kota besar dan metropolitan tumbuh dan berkembang di wilayah pantai dan pesisir seperti Pontianak. Pengembangan Kawasan Perbatasan Penanganan kawasan perbatasan antara RI dan Malaysia harus diprioritaskan. fauna). maraknya pertambangan rakyat yang tidak terkendali dan terbukanya lahan-lahan eks tebangan yang belum ditanami dan menjadi lahan-lahan kritis. Keterbatasan ini memberikan gambaran keterbatasan sarana dan prasarana wilayah terutama transportasi jalan raya. selatan. Penurunan kualitas lingkungan ini terjadi akibat penebangan hutan secara liar (illegal logging) dan pengambilan hasil hutan lainnya (tengkawang.d. Bila kesenjangan ini terus dibiarkan secara total pulau akan saling mengurangi nilai ekonomi wilayahnya. c. Kontribusi PDRB Kabupaten di wilayah pesisir (pesisir barat. Prasarana wilayah (transportasi dan kelistrikan) dapat membantu (sebagai alat) mendorong perkembangan wilayah. selatan. Pola penyebarannya sangat terbatas di bagian barat . e. Untuk mensinergikan pemanfaatan sumber daya alam dengan kegiatan ekonomi masyakat dan wilayah yang berbasis pelestarian lingkungan hidup untuk pengembangan wilayah Kalimantan. rotan.

visi. peternakan dan pertambangan yang berbasis sumberdaya alam. dan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup untuk menjaga kenyamanan dan kualitas hidup. Berbudaya Dan Sejahtera”. Aman. dan kemampuan pemulihannya dalam mendukung kualitas kehidupan sosial dan ekonomi secara serasi. Upaya untuk mewujudkan visi Kalimantan Barat Bersatu dan Maju haruslah dicapai salah satunya dengan mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. Secara lebih operasional. 4. 2. berkeadilan dan berkesimbangan. untuk melihat konsistensi dan harmonisasi berbagai kebijakan perencanaan pembangunan Provinsi Kalimantan Barat akan dibahas berikut ini. dtuangkan dalam RPJM yang merupakan manifestasi dari visi dan misi pimpinan daerah selama 5 tahun ke depan.7. Sedangkan dalam tataran strategi pencapaian misi yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup. daya dukung. Terpeliharanya kekayaan keragaman jenis dan kekhasan sumberdaya alam untuk mewujudkan nilai tambah. perikanan. sosial. 3. Aman. Meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas pertanian. Secara substansial visi RPJP dan RPJM Kalimantan Barat adalah relatif konsisten dan harmonis. Membaiknya pengelolaan dan pendayagunaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup yang dicerminkan oleh tetap terjaganya fungsi. daya saing bangsa serta modal pembangunan nasional. Terciptanya lingkungan hidup yang asri akan meingkatkan kualitas hidup manusia. seimbang dan lestari. dan ekologi. Misi yang tertuang dalam RPJM dari perspektif lingkungan adalah: 1.4. didalam RPJM Kalimantan Barat dikemukakan 6 (enam) arah kebijakan yang akan dilakukan sebagai berikut: . Tindak lanjut dari strategi ini. Sebagai tindak lanjutnya terdapat 6 (enam) sasaran pokok dalam bidang lingkungan hidup yang mencakup : 1. Dari perspektif dimensi lingkungan. Meningkatnya kesadaran. perkebunan. 5. Melaksanakan pengendalian dan pemanfaatan tata ruang dan tata guna wilayah sesuai dengan peruntukan dan regulasi. RPJPD dan RPJMD Provinsi Kalimantan Barat Sebagai bagian dari pembangunan nasional. guna menghindari kesenjangan wilayah dan terwujudnya pembangunan berkelanjutan. sikap mental. relevan dan terkait dengan kebijakan pemerintah pusat. mengacu. Dalam konteks ini. Hal ini dapat dilihat dari visi yang tertuang pada RPJP yaitu “ Kalimantan Barat Bersatu dan Maju” dan Visi yang terdapat pada RPJM “ Mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. secara ekologi tidak menyebabkan kerusakan lingkungan (degradasi sumberdaya) dan secara sosial berkeadilan. Pendekatan kebijakan tersebut dilakukan dengan prinsip pengelolaan SDA secara ekonomi layak/menguntungkan. misi dan sasaran pokok bidang lingkungan hidup yang terdapat pada RPJP. Sehat Cerdas. 6. Berbudaya Dan Sejahtera. visi RPJP Kalimantan Barat telah memuat aspek pengelolaan lingkungan yang memberikan penekanan pada upaya pengelolaan SDA dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. 2. 1. Tersedianya sumberdaya alam yang berkelanjutan bagi pembangunan. berbagai kebijakan yang diterapkan didaerah harus mendasari. dengan tetap menjaga kelestariannya. Melaksanakan pemerataan dan keseimbangan pembangunan secara berkelanjutan untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah dengan tetap memperhatikan aspek ekologi dalam pemanfaatan sumberdaya alam. RPJM Kalimantan Barat memberikan penegasan bahwa Strategi pengembangan SDA melalui pendekatan pengelolaan berkelanjutan yang menyangkut aspek dimensi ekonomi. Sehat Cerdas. Konsepsi Penataan Ruang Wilayah Kalimantan Bertitik tolak dari kondisi potensi wilayah dan issu perkembangannya maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencapai pengembangan wilayah pulau Kalimantan yaitu mencakup tahapan : (1) perencanaan tata ruang wilayah pulau Kalimantan (2) pemanfaatan ruang dalam bentuk penyusunan kebijakan dan strategi pembangunan yang selanjutnya dituangkan dalam program-program pelaksanaan pembangunan (3) pengendalian pemanfaatan ruang melalui proses pengawasan dan pemberian izin-izin agar sesuai dengan rencana tata ruang.

Secara keseluruhan dari perspektif lingkungan. penduduk. Mewujudkan keterpaduan pembangunan dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. 4. Mewujudkan keserasian pembangunan wilayah Provinsi Kalimantan Barat dengan wilayah sekitarnya. 2. 2. arahan perizinan. Pada tataran hirarki yang lebih rendah RTWP menjadi acuan untuk penyusunan RTRW dan RPJP Kabupaten/Kota. Dari Fungsinya. dan Acuan dalam administrasi pertanahan Provinsi Kalimantan Barat. dan saling mengisi dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi. 4.1. 3. terutama terkait dengan pengelolaan lingkungan terdapat konsistensi dan harmonisasi. RTRW Provinsi Kalimantan Barat Berdasarkan hirarki berbagai kebijakan dan dokumen perencanaan. Pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan sesuai dengan pedoman IBSAP 2003-2020 Meningkatkan upaya penegakan hukum secara konsisten kepada pencemar lingkungan Meningkatkan kapasitas lembaga pengelolaan lingkungan hidup Membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan dan berperaen aktif sebagai kontrol sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup. berarti bahwa RTRWP harus mencerminkan dan menjabarkan substansi yang terdapat dalam RTRWN sesuai dengan karakteristik wilayah baik dari aspek geografik. dan Menjamin terwujudnya tata ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat yang berkualitas . Acuan untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. 5. sumberdaya alam dan sosial ekonomi serta budaya. 2. Koordinasi pengelolaan lingkungan hidup di tingkat Kabupaten. dan swasta. 3. Acuan lokasi investasi dalam wilayah provinsi yang dilakukan pemerintah. penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTWRP) mengacu kepada Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional RTRWN). masyarakat. 7. Pedoman untuk penyusunan rencana tata ruang kawasan strategis Provinsi Kalimantan Barat.1. Sedangkan Manfaat RTRW Provinsi Kalimantan Barat adalah untuk: 1. 3.5. Dengan hirarki seperti ini. arahan insentif dan disinsentif. Acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Barat hingga pada pemerintahan skala kabupaten/kota. Tabel 4. Substansi pada RPJP dan RPJM Provinsi Kalimantan Barat No 1 2 3 4 Substansi Visi RPJP Misi RPJP Misi RPJM Strategi RPJM Substansi RPJM Visi RPJM Misi RPJM Strategi RPJM Arah Kebijakan Konsisten ü ü ü ü Tidak Konsisten Harmoni ü ü ü ü Tidak Harmoni 1. RTRW Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai: 1. 6. 6. Dasar pengendalian pemanfaatan ruang dalam penataan/pengembangan wilayah provinsi yang meliputi indikasi arahan peraturan zonasi. substansi yang terdapat dala RPJP dan RPJM Kalimantan Barat. 5. Mengarusutamakan prinsip pembangunan berkelanjutan ke seluruh bidang pembangunan. serta arahan sanksi. Acuan dalam pemanfaatan ruang/pengembangan wilayah Provinsi Kalimantan Barat.

(2) Kebijakan Pengembangan Pola Ruang. nyaman. (5) Kebijakan Pengembangan Kawasan Budi daya. . (4) Kebijakan Pengembangan Kawasan Pedesaan. demi tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas dan berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan nasional. keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Barat untuk pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sebagaimana disebutkan dalam Rencana Tata Ruang Nasional. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah. Terkait dengan lingkup kebijakan RTRWP Kalimantan Barat. Mengacu pada tujuan penataan ruang nasional. Terwujudnya ruang Provinsi Kalimantan Barat sebagai beranda depan perbatasan darat Republik Indonesia yang aman. kebijakan. dan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis dalam rangka mendorong terciptanya integrasi nasional. keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor.Tujuan penataan ruang wilayah provinsi harus mengacu dan sejalan dengan tujuan penataan ruang nasional. c. (3) Kebijakan Pengembangan Kawasan Perkotaan. b. dan Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi. misi. Berikut ini Tabel yang menyajikan lingkup kebijakan serta uraian dari masing-masing lingkup kebijakan pada RTRWP Provinsi Kalimantan Barat (lihat Tabel 4. produktif berkelanjutan berbasis pengolahan sektor unggulan (perkebunan dan kehutanan) untuk pemerataan pembangunan wilayah bagi kesejahteraan masyarakat. sehingga terjadi keharmonisan dan sinergisitas dalam penyusunan visi. dilakukan penjabaran tujuan penataan ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat. termasuk pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya.2). bahwa tujuan penataan ruang nasional adalah terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan. Untuk memwujudkan hal tersebut. strategi hingga sampai pada program-program penataan ruang. tujuan penataan ruang wilayah Propinsi Kalimantan Barat diarahkan untuk “Terwujudnya keharmonisan dan keterpaduan dalam penggunaan/pengelolaan lingkungan alam dan lingkungan buatan dengan peningkatan sumberdaya manusia dalam pengelolaannya serta pencegahan kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan ruang yang dikelola secara arif dan bijaksana guna peningkatan kemakmuran rakyat Kalimantan Barat secara adil dan merata”. antara lain: a. Mewujudkan Kalimantan Barat sebagai Provinsi Agrobisnis terdepan. terdapat 6 pengembangan kawasan yang ada yaitu: (1) Kebijakan pengembangan Struktur Ruang.

Pengembangan wilayah ini lebih ditekankan pada sektor sekunder dan primer. Lingkup Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Barat No 1 Lingkup Kebijakan Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan a. Pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Pengembangan struktur yang didasarkan atas lima pola pengembangan wilayah. b. c. b. (2) Kawasan Andalan KUSIKARANG yang wilayahnya meliputi enam kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Pontianak di luar KMP yang terdiri dari Kecamatan Kuala Mandor.2. Pengembangan struktur ruang yang didasarkan atas struktur pusat-pusat permukiman utama (PKN) yang berintegrasi dengan pusat permukiman sekunder (PKW) dan pusat permukiman tersier (PKL). Rasau Jaya. Pengelolaa n Kawasan Budidaya Kehutanan a. g. 2 Kebijakan Pengembangan Pola Ruang 1. 2. e. kawasan pemukiman juga disesuaikan dengan laju . Sungai Raya. Pengembangan wilayah ini lebih ditekankan pada sektor tersier dan sekunder. pengurangan resiko bencana alam. dan ekologi dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi. f.Tabel 4. (1) Kawasan Metropolitan Pontianak (KMP) yang meliputi Kota Pontianak dan Kota Ambaya (Sungai Ambawang dan Sungai Raya). Pengembangan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi antarberbagai jenis prasarana sesuai dengan hirarki struktur ruangnya serta keterkaitan fungsional baik secara internal maupun eksternal. d. Pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan lindung agar sesuai dengan fungsinya yang telah ditetapkan. meliputi aspek ekonomi. 3 Kebijakan Pengembangan Kawasan a. keseimbangan lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan. Penyediaan sarana dan prasarana yang memerlukan kajian terlebih dahulu. sosial. Berdasarkan rencana. c. Sungai Kakap. Pengembangan kawasan perkotaan baik berdasarkan kondisi eksisting dan rencana. dan Sungai Ambawang. Siantan. Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Penge lolaan Kawasan Lindung a. Pemanfaatan kawasan lindung sesuai dengan fungsi lingkungan hidup. Pembangunan kehutanan dilakukan melalui pendekatan pemanfaatan sumberdaya hutan dalam tiga sisi manfaat secara berimbang. Penetapan kawasan lindung sesuai dengan fungsinya yang telah ditetapkan. b. Kawasan budidaya kehutanan dikembangkan secara terpadu dengan upaya meningkatkan daya dukung lingkungan dan pengembangan wilayah.

6 Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) a.No Lingkup Kebijakan Perkotaan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan pertumbuhan penduduk. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. b. Meningkatkan akses dan peluang investasi kawasan budidaya dalam rangka meningkatkan perekonomian wilayah. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan keterkaitan antarkegiatan budi daya. dalam c. e. c. Perlu adanya koordinasi antarstakeholder pengelolaan kawasan perkotaan. dan e. g. Pengembangan sektorsektor yang dapat menjadi tumpuan hidup masyarakat. f. sehingga membutuhkan penanganan dan pengendalian yang segera. dan b. Penanggulangan kawasan yang memiliki permasalahan yang cukup mendesak untuk ditangani melalui fasilitasi perangkat dukungan penataan ruang. Koordinasi antarstakeholder terkait dengan rencana kawasan pedesaan yang akan dibangun menjadi kawasan perkotaan. Pengembangan kawasan dengan fungsi khusus. Pengembangan sektor di wilayah mempunyai dampak yang luas. Optimalisasi pemanfaatan ruang kawasan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Kawasan yang mempunyai prospek ekonomi yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan yang mendesak. d. membutuhkan c. baik secara regional maupun nasional. f. 4 Kebijakan Pengembangan Kawasan Perdesaan a. Pengembangan sektor di wilayah ruang kegiatan dalam skala luas. h. i. Kawasan yang menunjukkan perkembangan minat investasi yang tinggi. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung . meningkatkan produktifitas sektor-sektor unggulan sesuai dengan daya dukung lahan. Pengembangan sektor yang akan dikembangkan di atasnya mempunyai prioritas tinggi dalam lingkup regional maupun nasional. Pengembangan kawasan pedesaan yang terintegrasi dengan kawasan perkotaan. c. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan keterkaitan antarkegiatan budi daya. b. karenanya perlu dikendalikan dengan segera. d. b. Pengembangan prioritas kawasan pedesaan. Penyediaan infrastruktur di kawasan perkotaan. Kawasan kritis yang diperkirakan akan segera membawa dampak negatif. 5 Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya a.

pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pengembangan prioritas kawasan pedesaan. Koordinasi antarstakeholder terkait dengan rencana kawasan pedesaan yang akan dibangun menjadi kawasan perkotaan. meningkatkan produktifitas sektor-sektor unggulan sesuai dengan daya dukung lahan. 4 Kebijakan Pengembangan Kawasan Perdesaan a. Pengembangan kawasan pedesaan yang terintegrasi dengan kawasan perkotaan. m. dan mampu bersaing. efisien.No Lingkup Kebijakan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem. Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia. o. melestarikan keunikan bentang alam. Pengembangan sektor di wilayah membutuhkan ruang kegiatan dalam skala luas. p. Optimalisasi pemanfaatan ruang kawasan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan. Pengembangan sektor yang akan dikembangkan di atasnya mempunyai prioritas tinggi dalam lingkup . b. a. f. dan melestarikan warisan budaya daerah.Pelestarian bangsa. 5 Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya c. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. l. c. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan dalam kerangka ketahanan nasional dengan menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan. baik secara regional maupun nasional. 6 Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) a. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengem-bangan perekonomian daerah yang produktif. Pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. d. c. Pengembangan sektor di wilayah mempunyai dampak yang luas. Meningkatkan akses dan peluang investasi kawasan budidaya dalam rangka meningkatkan perekonomian wilayah. j. Pengembangan kawasan perbatasan untuk mengakomodasikan perkembangan dan keutuhan negara. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. k. dan peningkatan sosial dan budaya n. melestarikan keaneka-ragaman hayati. b. e. b.

g. m. Pengembangan kawasan perbatasan untuk mengakomodasikan perkembangan dan keutuhan negara. f. Kawasan kritis yang diperkirakan akan segera membawa dampak negatif. h.No Lingkup Kebijakan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan regional maupun nasional. sudah mengakomodasi aspek-aspek lingkungan baik lingkungan fisik. d. l. mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan. sosial dan budaya. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem. Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia. dapat dikatakan bahwa substansi kebijakan pengembangan kawasan yang terdapat pada RTRWP Provinsi Kalimantan Barat. Penanggulangan kawasan yang memiliki permasalahan yang cukup mendesak untuk ditangani melalui fasilitasi perangkat dukungan penataan ruang. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan dalam kerangka ketahanan nasional dengan menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan. Berikut ini tabel 4. Pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa. Selain itu. i. Apabila diamati penjabaran lingkup kebijakan yang terdapat pada tabel di atas. o. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan. dan melestarikan warisan budaya daerah. dan mampu bersaing. k. p. n. Kawasan yang mempunyai prospek ekonomi yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan yang mendesak. ekonomi. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengem-bangan perekonomian daerah yang produktif. melestarikan keaneka-ragaman hayati. karenanya perlu dikendalikan dengan segera. sehingga membutuhkan penanganan dan pengendalian yang segera. Pengembangan kawasan dengan fungsi khusus.3 yang menyajikan beberapa penetapan kawasan strategis dengan berbagai fungsi berbagai kota yang terdapat di Kalimantan Barat. j. RTRW Provinsi Kalimantan Barat memuat penetapan kawasan strategis yang salah satunya dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi. melestarikan keunikan bentang alam. efisien. Kawasan yang menunjukkan perkembangan minat investasi yang tinggi. . Pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Terdapat 13 kawasan strategis yang pada dasarnya mengelaborasi fungsi-fungsi berbagai kota yang terdapat di Kalimantan Barat menurut potensi sisi pertumbuhan ekonomi. e.

Kawasan Perkotaan Nanga Badau Kota Nanga Badau . Kawasan Pertumbuhan Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Terpadu (KAPET) Kathulistiwa 2. pertanian. pertambangan (bauksit) dan pariwisata. peternakan dan pertambangan. Kawasan Perkotaan Mempawah Kota Mempawah 4. sehingga 3. industri. perkebunan. Tanjung. Kabupaten Sanggau. dan pertambangan di Nangatayap. Kawasan Metropolitan Pontianak Mendorong perkembangan sektor produksi wilayah. Penetapan Kawasan Strategis Provinsi Kalimantan Barat No 1 Penetapan Kawasan Strategis Bentuk Kawasan Strategis Daerah Kawasan Kabupaten Sambas Entikong. perkebunan. perdagangan. pertanian pangan. Tumbangtiti. dan pertambangan. perikanan. Simpul transportasi dan juga merupakan pusat perdagangan dan pelayanan jasa yang pelayanannya menjangkau Kabupaten Sambas dan Bengkayang. serta kawasan produksi lainnya dan mengembangkan kualitas pelayanan prasarana sarana dasar (PSD) Kota yang mendukung fungsi kota pelabuhan dan pusat pelayanan antar kota berskala provinsi. Nanga Badau berfungsi untuk memberikan pelayanan administrasi pelintas batas negara.Tabel 4. perdagangan-jasa dan transhipment point. Kawasan Perkotaan Ketapang Kota Ketapang 6. Berfungsi untuk memberikan pelayanan dalam bidang jasa pemerintahan. seperti perkebunan. Berfungsi di bidang jasa pemerintahan. sebagai kota agropolitan dan pengembangan kualitas pelayanan prasarana dan sarana dasar kota di dalam mendukung fungsi kota agropolitan dan pusat pelayanan antarkota berskala provinsi. Kawasan Perkotaan Singkawang Kota SIngkawang 5. Kota Pontianak Pengembangan Kegiatan Kawasan Industri Semparuk (KIS) Border Development Center (BDC) PKS dari Sisi 1. agroindustri.3. Pengembangan kualitas pelayanan prasarana sarana dasar kota yang mendukung fungsi kota agropolitan dan pusat pelayanan antar kota berskala provinsi Berorientasi untuk memantapkan aksesibilitas menuju sentra-sentra produksi pertanian.

penetapan kawasan strategis untun berbagai fungsi kotakota yang ada di Kalimantan Barat dapat dikatakan sesuai dengan fungsi-fungsi kota tersebut. Dapat dijadikan kawasan strategis adalah adanya infrastruktur yang lengkap dan juga didukung sarana transportasi. . Bengkayang. Hal tersebut menunjukkan kawasan ini memiliki sektor unggulan. dan Kabupaten Landak. terutama bagi wilayah Provinsi Kalimantan Barat bagian utara Pertanian. kawasan ini dapat dijadikan kawasan parwisata dengan tetap menjaga kelestarian kawaasn lindung. 8. Kawasan Perkotaan Sukadana Kota Sukadana 13. Namun melihat fungsi kota dari satu aspek saja belumlah dapat memberikan justifikasi bahwa kota tersebut dapat mengoptimalkan fungsi. dan pariwisata. Kawasan Perkotaan Aruk Kota Aruk pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas dan Landak. Bengkayang. dan sekitarnya. Sanggau. sebagai pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas. Kawasan Perkotaan Jagoi Babang Kota Jagoi Babang 9. Kawasan Perkotaan Jasa Kota Jasa 10. Kawasan Perkotaan Sintang Kota Sintang 12. pertanian. perkebunan serta hasil hutan dan meningkatkan aksesibilitas melalui jaringan jalan pengumpan menuju sentra-sentra produksi di Putussibau. dan Kabupaten Landak pelayanan pada sektor jasa pemerintahan. kehutanan. Kawasan Perkotaan Putussibau Kota Putussibau 11. 7. pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas. Kawasan Perkotaan Sukadana juga termasuk dalam PKW Promosi. Kawasan Perkotaan Sungai Raya Kota Sungai Raya Dari aspek potensi pertumbuhan ekonomi.No Penetapan Kawasan Strategis Bentuk Kawasan Strategis Daerah Kawasan Pengembangan Kegiatan diarahkan sebagai pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. Tentu saja aspek lain harus diperhatikan seperti aspek sosial budaya dan letak geografisnya.

Melaksanakan pengendalian tata ruang.1. optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman dan pemberdayaan masyarakat desa hutan. pengembangan sistem informasi kehutanan. yaitu: 1. 1. Melaksanakan pengendalian produksi. DAN KETERPADUAN. Melaksanakan penegakan hukum kehutanan. Melaksanakan fasilitasl pelaksanaan rehabilitasi kawasan hutan kritis. Penyusunan Renstra Sektoral mengacu dan berpedoman kepada RPJMD yang merupakan aktualisasi rencana kegiatan pembangunan yang akan dijalankan oleh Pimpinan daerah. maka Renstra sektoral pada dasarnya adalah penjabaran program dan rencana kerja pada tingka operasional untuk mencapai apa yang menjadi rencana kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pimpinan daerah. KEBERSAMAAN. 4. .7. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri pengolahan hasil hutan. Sektor Kehutanan Visi Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Barat ditetapkan : ”TERWUJUDNYA PENYELENGGARAAN KEHUTANAN YANG BERASASKAN KERAKYATAN DAN KEADILAN. KETERBUKAAN. kabupaten dan masyarakat setempat termasuk dunia usaha kehutanan dan sektor lain Kelestarian hutan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus diarahkan untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang menjamin terwujudnya kelestarian produksi. Sehingga jika melihat keterkaiatan ini. serta 2. UNTUK MENJAMIN KELESTARIAN HUTAN DAN PENINGKATAN KEMAKMURAN RAKYAT KALIMANTAN BARAT” Makna dari visi tersebut adalah sebagai berikut : Kerakyatan dan Keadilan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus memberikan peluang dan kesempatan yang sama kepada semua warga negara sesuai dengan kemampuannya sehingga dapat meningkatkan kemakmuran rakyat Kebersamaan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan menerapkan pola usaha bersama sehingga saling keterkaitan dan saling ketergantungan secara sinergis antara masyarakat setempat dengan pelaku usaha dalam rangka pemberdayaan usaha kecil. Rencana Strategis Sektor-Sektor di Provinsi Kalimantan Barat Rencana Strategis sektor-sektor adalah merupakan rencana kegiatan prioritas sektor-sektor selama 5 tahun ke depan. optimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. optimalisasi pemanfaatan hutan alam. serta pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel. kelestarian ekologi dan kelestarian sosial Peningkatan kemakmuran rakyat mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus diarahkan untuk menoingkatkan kemakmuran rakyat dengan pendapatan per kapita di atas rata-rata kebutuhan hidup minimum Sedangkan Misi Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat dituangkan dalam 5 misi. peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur.6. 5. 3. monitoring dan evaluasi rencana kerja.1. menengah dan Keterbukaan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan masyarakat dan memperhatikan aspirasi masyarakat kehutanan mengikutsertakan Keterpaduan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan kepentingan nasional. provinsi. Melaksanakan penyusunan. dan penurunan kerusakan sumberdaya hutan.

Terlaksananya pengendalian tata ruang kawasan hutan di 14 kab/kota dan Rekonstruksi Batas sepanjang 1. optimalisasi pemanfaatan hutan alam dan keterbukaan informasi publik bidang kehutanan. optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman. Terlaksananya pengendalian pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan di 14 kab/kota dan Inventarisasi HP. Sasaran : a. Terlaksananya pengendalian pembentukan dan pengembangan pengelola wilayah KPH Terlaksananya pengendalian rencana kerja usaha jangka menengah pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam (RKU IUPHHK-HA) : pertimbangan teknis pada 5 unit koridor. Sasaran : a.000 Ha/Tahun. serta memperluas lapangan kerja dan usaha masyarakat yang berbasis pada sumberdaya hutan.000 km. Terlaksananya penyediaan perangkat keras dan perangkat lunak sistem informasi kehutanan berupa : pengadaan PC 7 unit. b. Terlaksananya pengumpulan dan pengolahan data kegiatan kehutanan berupa : data dan informasi pada 5 bidang. dan inventarisasi asset tak bergerak di 5 unit.HA) pada 16 Unit Management per tahun. penyiapan perteknis di 3 kab. publikasi di media elektronik 3 kali setahun. Terlaksananya pembinaan dan pengendalian rencana dan realisasi RKT IUPHHK. dan Action Plan 10 unit. pemeliharaan LAN 5 bidang dan Website 2 unit. Terlaksananya pengendalian operasionalisasi IUPHHK-HT yang tidak aktif di 17 Unit. Terwujudnya peningkatan potensi dan produktivitas kawasan hutan kritis dengan indikasi : Terlaksananya pembinaan kebun benih sebesar 50 Ha dan penyediaan bibit tanaman kehutanan 1. optimalisasi pemanfaatan hutan alam. Terwujudnya kawasan hutan yang mantap dengan indikasi : b.HT di 10 Unit. Terlaksananya peningkatan peranserta masyarakat dalam rehabilitasi dan reklamasi di 14 Kab/Kota. Terlaksananya fasilitasi serta pengendalian rehabilitasi dan reklamasi seluas 1. berupa bintek di 5 kab. Terwujudnya keterbukaan informasi publik bidang kehutanan dengan indikasi : - - 2) Misi 2 : Melaksanakan fasilitasi pelaksanaan rehabilitasi kawasan hutan kritis. serta pengembangan sistem informasi kehutanan Tujuan : Mewujudkan kawasan hutan yang mantap. Terlaksananya pengendalian pelaksanan inventarisasi tegakan hutan alam untuk penetapan kuota dan terget produksi RKT IUPHHK-HA. Terlaksananya pengendalian rencana dan realisasi kerja tahunan usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam (RKT IUPHHK.000 Batang/Tahun. berupa : buku info kehutanan 5 judul. HL dan Taman Hutan Raya dan Skala DAS lintas pada 5 kab/kota. data potensi sektor kehutanan di 14 kab/kota serta pengolahan data spatial 4 topik. Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan alam dengan indikasi : - . Tujuan : Meningkatkan potensi kawasan hutan kritis.Selanjutnya untuk setiap Misi dijabarkan lebih lanjut kedalam bentuk tujuan dan sasaran sebagai berikut: 1) Misi 1 : Melaksanakan pengendalian tata ruang. Terlaksananya penyajian dan distribusi informasi kehutanan. optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman dan pemberdayaan masyarakat desa hutan. Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan alam dengan indikasi : - - c.

Terlaksananya rekonsiliasi data penatausahaan PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota dan di Jakarta. Terwujudnya optimalisasi penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan. mengurangi terjadinya kerusakan sumberdaya hutan. Terlaksananya pengendalian pengembangan industri primer hasil hutan di 12 kabupaten/kota. Terlaksananya pengendalian tenaga teknis kehutanan di 12 kab/kota dan 16 unit IUPHHK. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri primer hasil hutan yang berkelanjutan. Terwujudnya optimalisasi produksi hasil hutan. Terwujudnya pengembangan industri primer hasil hutan yang berkelanjutan. optimalisasi pemanfaatan pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. Terwujudnya peningkatan penegakan hukum kehutanan. Terlaksananya pengembangan HTR. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan sumberdaya penyidik pegawai negeri sipil di 8 kabupaten. Terlaksananya pengendalian penatausahaan hasil hutan olahan di 16 lokasi. Latihan menembak 30 orang. Terlaksananya pengendalian distribusi dan penggunaan dokumen penatausahaan hasil hutan di 12 kabupaten dan di 3 provinsi asal dokumen. dengan indikasi: Terlaksananya penyelidikan dan penyidikan tindak pidana kehutanan (Diklat PPNS 20 orang.c. HKM. Sasaran : a. Pengangkutan dan pembongkaran barang bukti 3000 m3). Patroli 24 tim. Terlaksananya monitoring dan evaluasi proses penyelesaian tindak pidana kehutanan (Koordinasi dalam di 8 Kabupaten. dengan indikasi : c. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri pengolahan hasil hutan Tujuan : Mewujudkan optimalisasi produksi hasil hutan. Terlaksananya pembinaan dan pengendalian inventarisasi tegakan hutan tanaman di 10 unit. Terlaksananya pengendalian penatausahaan PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota. Terlaksananya pengendalian penggunaan peralatan pemanfaatan hutan di 12 kabupaten. dengan indikasi : Terlaksananya pengendalian penatausahaan hasil hutan di 12 kabupaten dan pengendalian SKAU di 5 kabupaten. dengan indikasi : - 4) Misi 4 : Melaksanakan penegakan hukum kehutanan. Terlaksananya pengendalian dan penyelesaian piutang PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota. - . Tujuan : Meningkatkan penegakan hukum kehutanan. Operasi intelejen di 8 kabupaten. obtimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. Terlaksananya pembinaan dan pengendalian pelaksanaan kelola sosial IUPHHK pada 20 unit. Pengamanan barang bukti 600 OT. 3) Misi 3 : Melaksanakan pengendalian produksi. Sasaran : a. Terwujudnya perluasan lapangan kerja dan usaha masyarakat yang berbasis pada sumberdaya hutan : Terlaksananya fasilitasi prakondisi pengelolaan IUPHHK-HA dan IUPHHK-HT sebanyak 4 unit. b. Operasi illegal logging 16 kabupaten. Pengawasan penggunan senjata 5 kabupaten). dan penurunan kerusakan sumberdaya hutan. Hutan Desa dan Hutan Adat sebanyak 10 Unit.

dengan indikasi : - 1. 5) Misi 5 : Melaksanakan penyusunan. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan sumberdaya polisi kehutanan di 12 kabupaten. efisien. dan pengembangan potensi kawasan hutan lindung dan Terwujudnya penurunan kerusakan sumberdaya hutan. pembangunan kehutanan. Sektor Pertambangan Terwujudnya pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel. Sasaran : a. Terlaksananya penyusunan dokumen harga satuan dan pelaporan pelaksanaan pembangunan kehutanan sebanyak 8 thema. dengan indikasi : c. dengan indikasi : Terlaksananya penyusunan dokumen perencanaan kehutanan jangka menengah dan tahunan sebanyak 10 thema. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan dinas untuk meningkatkan disiplin PNS. adil serta berkelanjutan yaitu suatu proses yang terencana dan terarah dalam merumuskan pengelolaan pertambangan dan energi dengan memperhatikan keseimbangan antara optimalisasi manfaat. Tujuan : Meningkatkan keselarasan perencanaan pembangunan kehutanan. Terlaksananya pelayanan administrasi umum. Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. Makna dari visi tersebut adalah : Pengelolaan pertambangan dan energi mengandung arti bahwa pertambangan dan energi harus dikelola berdasarkan asas manfaat. Visi Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 – 2013 yaitu TERWUJUDNYA PENGELOLAAN PERTAMBANGAN DAN ENERGI YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN UNTUK MENDUKUNG KESEJAHTERAAN RAKYAT”. Terlaksananya koordinasi. Terwujudnya peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur.7. selama 5 tahun. Terlaksananya penyusunan dokumen pelaporan keuangan dan aset secara lancar selama 5 tahun. Terlaksananya pengendalian rencana kerja tahunan usaha pemanfaatan kawasan hutan lindung dan konservasi di 12 lokasi. Terlaksananya inventarisasi konservasi di 12 lokasi. monitoring dan evaluasi rencana kerja. pelaksanaan pelayanan umum serta akuntabilitas pengelolaan keungan dan aset. 5 tahun. Terlaksananya penanggulangan kerusakan hutan di 12 kabupaten dan Pemantauan RKL dan UPL di 16 unit IUPHHK. sosialisasi.b. dengan indikasi : Terlaksananya operasi penanggulangan pelanggaran kehutanan dan sosialisasi peraturan perundangan di 12 kabupaten/kota. dengan indikasi : Terlaksananya pengendalian rencana kerja usaha jangka menengah pemanfaatan kawasan hutan lindung dan konservasi di 12 lokasi. serta pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel. Terlaksananya pelayanan dan administrasi keuangan secara lancar dan tepat waktu selama 5 tahun. peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur. Terlaksananya pelayanan dan administrasi aset secara berkesinambungan selama 5 tahun. monitoring dan evaluasi program-program b. Terwujudnya keserasian perencanaan kehutanan. masyarakat dan daya tarik . Terlaksananya pembinaan dan peningkatan sumberdaya manusia aparatur.2.

Menyediakan pasokan tenaga listrik yang aman. penyediaan data yang up to date. tercapainya akses terhadap energi bagi masyarakat yang tidak mampu dan terisolir. 2. Pembukaan akses informasi geologi. peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penyediaan sarana dan prasarana dalam rangka memberikan pelayanan prima. 3. panas bumi dan air tanah serta energi untuk memberikan manfaat dan nilai tambah yang optimal. Dalam pengelolaan energi juga harus memperhatikan pelestarian lingkungan hidup. pelaku usaha dan alih teknologi. penghematan energi. pertambangan dan energi untuk masyarakat dan promosi. 6. 3. andal dan akrab lingkungan dan mengembangkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan dengan melakukan konservasi dan diversifikasi energi serta mengoptimalkan pemanfaatan migas secara efektif dan efesien. swasta dan masyarakat. Tujuannya adalah untuk menciptakan harmonisasi usaha pertambangan dengan kepentingan masyarakat dan mendapatkan jaminan ketersediaan energi sehingga menunjang proses pembangunan di seluruh sektor. Batubara. Meningkatkan pengetahuan aparatur. 2. Panas Bumi dan Air Tanah yang baik dan benar.investasi. Memberdayakan kelembagaan. 3. sarana & prasarana. penghematan penggunaan energi dan migas dan penelitian dan pengembangan mineral dan energi. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan efisiensi penggunaan energi. 4. Kampanye konservasi bahan galian. sebagai berikut: 1. andal dan akrab lingkungan. geologi lingkungan. batu bara. Meningkatkan Pengelolaan Mineral. sebagai beriku : 1. Upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi pemakaian energi fosil dan meningkatkan pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan. efisien dan profesional melalui perencanaan kerja yang terintegrasi. Mewujudkan dan menjaga ketersediaan pasokan tenaga listrik yang aman. sumberdaya manusia. Nilai-nilai strategis organisasi yang perlu dikembangkan dalam budaya kerja organisasi untuk mencapai Visi dan Misi : 1. Berwawasan lingkungan mengandung arti bahwa didalam pengelolaan pertambangan harus mengindahkan prinsip-prinsip konservasi dan pelestarian fungsi lingkungan. 4. Meningkatkan pelaksanaan inventarisasi geologi dan melaksanakan mitigasi bencana geologi. mitigasi bencana geologi serta pelayanan laboratorium. sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 5. Dalam skala global salah satu dampak pemanfaatan energi (fosil) yang mengkhawatirkan adalah pemanasan global sebagai akibat emisi dioksida karbon atau CO2 yang menyebabkan perubahan iklim serta kenaikan permukaan air laut. 2. . Meningkatkan pelayanan. Sedangkan Misi Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM dan sarana/prasarana dalam rangka mewujudkan Managemen Pelayanan Administrasi Yang Optimal. Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi. penyediaan data geologi. kemudahan berusaha. Mewujudkan tertib administrasi kantor yang efektif. Meningkatkan pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan di bidang mineral. pengurangan dan pencegahan emisi dan pemanfaatan energi secara rasional dan optimal. mengembangkan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan dan melakukan konservasi energi serta mengoptimalkan pelaksanaan pemanfatan minyak dan gas bumi secara efektif dan efesien. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar instansi pemerintah. Meningkatkan penyelidikan bimbingan teknis. 4. Tujuan Dinas Pertambangan dan Energi sebagai hasil akhir yang ingin dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 sampai dengan 5 tahun (Tahun 2009 s/d 2013).

Peningkatan efektifitas pemanfaatan sarana dan prasarana perkebunan. air tanah dan daerah rawan bencana geologi. Terwujudnya Perencanaan.pendampingan sekolah lapang dan magang petani maupun petugas. aman dan berkurangnya subsidi pemerintah secara bertahap.3.7. Tersedianya tenaga listrik yang aman. adapun kegiatan pokok yang akan dilakukan dalam program ini meliputi : a) Rasionalisasi tenaga penyuluh perkebunan. batubara. sinergi perangkat regulaasi dan program serta kualitas sistem dan data informasi. 6. geologi lingkungan. alsintan. Terwujudnya pemanfaatan minyak dan gas bumi secara efektif. Tersedianya data dan informasi potensi geologi.Sasaran yang hendak dicapai Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut : 1. Sektor Perkebunan 2008-2013. sarana dan prasarana. e) Penumbuhan dan penguatan kemitraan usaha. 1. Meningkatnya pembinaan. batubara. 4. Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Kalimantan Barat dikemukakan bahwa prioritas pembangunan daerah sektor perkebunan adalah: 1) Pengembangan Agribinis. mitigasi bencana geologi serta pelayanan laboratorium. 5. 8. bimbingan teknis dan pengawasan pengelolaan mineral. d) Pengembangan permodalan. 2. pelatihan. f) layanan agribisnis seperti sarana produksi. b) Pengembangan bahan tanaman bermutu. g) Pemantapan manajemen peningkatan kesejahteraan petani pekebun. panas bumi dan air tanah yang baik dan benar. f) Upaya khusus pengentasan kemiskinan di wilayah perkebunan. teknologi dan e) Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana perkebunan. rehabilitas. efisien. rekomendasi teknis. panas bumi dan air tanah melalui pelayanan pemberian izin. b) Pendidikan. adapun kegiatan pokok yang akan dilakukan dalam program ini meliputi: a) Penerapan teknologi budidaya yang baik melalui intensifikasi. Meningkatnya managemen pembangunan pengelolaan mineral. Terlaksananya penyelidikan geologi. andal dan akrab lingkungan dan terlaksanya pemanfaatan energi baru terbarukan dengan melakukan konservasi energi secara berkelanjutan. Meningkatnya pelayanan dan tertib administrasi umum dan kepegawaian dengan didukung peningkatan kualitas dan kuantitas SDM. geologi lingkungan. 7. daerah pedalaman. 3. c) Penumbuhan dan penguatan kelembagaan petani perkebunan d) Penumbuhan dan pengembangan kelembagaan usaha di sentra produksi. c) Pemantapan kawasan dan pengutuhan agribisnis komoditas unggulan dengan titik berat pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan. g) Pengembangan perkebunan pada kawasan khusus (wilayah perbatasan. . ekstensifikasi dan diversifikasi. wilayah terpencil) 2) Peningkatan Kesejahteraan Petani Perkebunan. Monitoring dan Evaluasi Program dan Kegiatan Sektor ESDM yang terintegrasi dan meningkatkan tertib administrasi keuangan dan asset melalui peningkatan pengembangan sistem pelaporan pencapaian kinerja dan keuangan dalam rangka meningkatkan pelayanan sumber daya pertambangan daan energi.

adapun kegiatan pokok dilakukan dalam program ini meliputi : a) Pengembangan sistem data dan informasi perkebunan. e) Peningkatan dan pemanfaatan Tata Ruang wilayah perkebunan. c) Peningkatan kaji terapan Agribisnis Pembangunan Perkebunan. f) Pengendalian Perizinan Usaha Perkebunan. g) Pembinaan dan pengawasan usaha perkebunan.h) Pembinaan petani dan kelembagaan petani pada kawasan khusus (wilayah perbatasan pedalaman dan wilayah terpencil). 3) Pengembangan Sistem Informasi (SIM) Perkebunan . yang akan . b) Peningkatan dan pengembangan Humas Perkebunan. d) Pengembangan pelaksanaan standarisasi perkebunan. Apabila memperhatikan program prioritas yang terdapat didalam RPJM Kalbar 2008 .2013 untuk sektor perkebunan. h) Penyelenggaraan Promosi Produk Unggulan Perkebunan. dapat dikemukakan bahwa program prioritas tersebut tidak sama sekali memberikan penekanan pada pengembangan sektor perkebunan yang mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Mulia. dalam bentuk visi. Mewujudkan Indonesia Berperan Penting Dalam Pergaulan Dunia Internasional Selanjutnya Jika Memperhatikan Beberapa Uraian Tentang RPJM Nasional Di Peroleh Visi RPJM Nasional Sebagai Berikut (Visi Indonesia 2014) : “TERWUJUDNYA INDONESIA YANG SEJAHTERA. program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. Sumber Daya Manusia Dan Budaya Bangsa. Mewujudkan Masyarakat Yang Berakhlak. Mewujudkan Masy Demokratis Berlandakan Hukum 4. Mewujudkan Pemerataan Pembangunan Dan Berkeadilan 6. Mewujudkan Bangsa Yang Berdaya Saing 3.Berbudaya. Mewujudkan Indonesia Aman. Demokrasi.BAB V TELAAH IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN RENCANA PEMBANGUNAN 1. Melalui Pembangunan Ekonomi Yang Berlandaskan Pada Keunggulan Daya Saing. kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif (2) (3) Sejalan dengan yang diamanatkan pada pasal 4 ayat 1 tersebut maka dalam RPJP Nasional terdapat visi sebagai berikut : INDONESIA YANG MANDIRI. Telaah Koherensi dan Konsistensi Kebijakan Pemerintah dan pemerintah Provinsi RPJP. Beretika. Bangsa Dan Negara Yang Demokratis. RPJM Nasional merupakan penjabaran dari visi.Tujuan Penting Ini Dikelola Melalui Kemajuan Penguasaan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi.1. misi. MAJU DAN MAKMUR. Berbudaya Dan Beradab . DEMOKRATIS. Terwujudnya Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. kewilayahan dan lintas kewilayahan. Damai Dan Bersatu 5. yang memuat strategi pembangunan nasional.1. 1. Keadilan. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. Maju. serta program Kementerian/Lembaga. Yang Hasilnya Dapat Dinikmati Oleh Seluruh Bangsa Indonesia. Kekayaan Sumber Daya Alam.1. Untuk Mewujudkan Visi Tersebut Bermoral. kebijakan umum. dan arah pernbangunan Nasional. misi. Bermartabat Dan Menjunjung Tinggi Kebebasan Yang Bertanggung Jawab Serta Hak Asasi Manusia. Terwujudnya Pembangunan Yang Adil Dan Merata. DAN BERKEADILAN” Kesejahteraan Rakyat. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Terwujudnya Masyarakat. Untuk menindaklanjuti visi tersebut secara lebih operasional dinyatakan dalam misi RPJP sebagai berikut : 1. RPJM dan RTRW Nasional 4 Dalam UU No 25 tahun 2004 tentang sistim perencanaan pembangunan nasional pada pasal menyatakan : (1) RPJP Nasional merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pernerintahan Negara Indonesia yang tercanturn dalarn Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. mernuat prioritas pembangunan. Mewujudkan Indonesia Menjadi Negara Kepulauan Yang Man Diri. Mewujudkan Indonesia Asri Dan Lestari 7. Yang Dilakukan Oleh Seluruh Masyarakat Secara Aktif. Berdasarkan Falsafah Pancasila 2. RKP merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional. lintas Kementerian/Lembaga. Kuat Dan Berbasiskan Kepentingan Nasional 8.

dan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional. g. d. h. f. antar waktu. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah. Dalam dokumen RPJP Daerah jelas di katakan bahwa RPJPD Provinsi disusun dengan mengacu pada RPJP Nasional sesuai karakteristik dan potensi daerah. antar ruang. pelaksanaan dan pengawasan. Selanjutnya dijelaskan RPJP Daerah dijabarkan lebih lanjut dalam RPJM Daerah. keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor. e. provinsi. termasuk ruang di dalam bumi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah.2.Maka Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Di Lakukan Misi Sebagai Berikut: Misi 1: Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia Yang Sejahtera Misi 2: Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi Misi 3: Memperkuat Dimensi Keadilan Di Semua Bidang Upaya Melalui Beberapa Dalam PP no 26 tahun 2008 tentang Rencana tata ruang wilayah nasional pasal 2 menyatakan bahwa : Penataan ruang wilayah nasional bertujuan untuk mewujudkan: a. misi. penganggaran. ruang wilayah nasional yang aman. RPJPD. RPJM Nasional dan RTRW Nasional tersebut di atas maka dapat dijadikan acuan untuk melihat koherensi antar kebijakan di tingkat Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten. serta keserasian antarsektor. d. b. keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. perkembangan Berdasarkan beberapa ketentuan tersebut di atas yang menyangkut keruangan seperti yang terdapat dalam pasal 3 terdapat sedikit perubahan kearah revisi kebijakan keruangan untuk point f sehingga bila kebijakan ini ditetapkan akan sedikit merubah kebijakan keruangan nasional terutama menyangkut KSN. RPJMD dan Revisi RTRWP RPJPD Provinsi Kalimantan Barat ditetapkan melalui perda No 7 tahun 2008. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi. ruang laut. dan (e) mengoptimalkan partisipasi masyarakat. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional. e. dan . efektif. dengan tujuan yang ingin dicapai adalah untuk: (a) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan dalam pencapaian tujuan daerah. berkeadilan dan berkelanjutan. keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. (c) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. (b) menjamin terciptanya integrasi. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional. dan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota. 1. pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. keterpaduan pemanfaatan ruang darat.1. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional. dan keseimbangan antarwilayah provinsi. strategi pernbangunan Daerah. Selanjutnya pada Pasal 3 disebutkan RTRWN menjadi pedoman untuk: a. dan kabupaten/kota dalam rangka pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. dan berkelanjutan. Pada UU No 25 tahun 2004 tentang sistim perencanaan pembangunan nasional pasal 5 ayat 2 menyebutkan bahwa : RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. i. misi dan arah pembangunan daerah. b. kebijakan umum.Rencana pembangunan jangka panjang daerah diwujudkan dalam visi. memuat arah kebijakan keuangan daerah. g. keterpaduan perencanaan tata ruang wilayah nasional. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. c. nyaman. provinsi. (d) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. dan ruang udara. Dengan adanya berbagai kriteria dalam RPJP Nasional. Penataan ruang kawasan strategis nasional. produktif. dan kabupaten/kota. pewujudan pewujudan keterpaduan. c. f. keterkaitan.

prioritas pembangunan Daerah. memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. prioritas yang termuat dalam RPJMD Kalimantan Barat akan tercermin dalam rencana kerja tahunan. Selanjutnya koherensi tersebut digambarkan dalam Diagram yang lebih jelas menggambarkan hubungan RPJMD dan dokumen perencanaan lainnya untuk ini dapat dilihat seperti pada gambar berikut: Gambar 5. termasuk pada rencana kerja SKPD. dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. baik yang dilaksanakan langsung oleh pernerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. RPJMD Kalimantan Barat 2008-2013 disusun sebagai dokumen kebijakan rencana strategis Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat terpilih. Arahan RPJM nasional yang berkaitan dengan prioritas dan sasaran pembangunan nasional diadaptasikan dalam skala lokal. lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah. Dalam Dokumen RPJMD Kalimantan Barat disebutkan bahwa penyusunan RPJMD Provinsi Kalimantan Barat menggunakan RPJM Nasional sebagai pedoman utama. . Hubungan RPJMD Kalimantan Barat dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Ditingkat Pusat maupun Daerah Secara vertikal ke bawah. rencana kerja.program Satuan Kerja Perangkat Daerah. Kebijakan ini akan menjadi payung hukum dalam mekanisme dan proses penyusunan rencana untuk lima tahun ke depan yang dituangkan dalam Rencana Tahunan Daerah atau Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD).1. dijabarkan dalam RPJMD Kalimantan Barat. Dengan pola ini. RPJMD Kalimantan Barat akan berfungsi sebagai kerangka acuan dalam penyusunan rencana kerja SKPD. dan pendanaannya. Hal ini sesuai dengan UU No 25 pasal 5 ayat 3 menyatakan bahwa : RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP.

f) rencana tata ruang wilayah provinsi yang berbatasan. dan strategi penataan ruang wilayah nasional. Berdasarkan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat. dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah. arahan insentif dan disinsentif. g) rencana tata ruang kawasan strategis provinsi. dan h) rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota. c) rencana pola ruang wilayah nasional yang meliputi kawasan lindung nasional dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional. serta arahan sanksi. strategi pernbangunan Daerah. baik konstelasinya. Dengan demikian. Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang daerah. Visi pembangunan daerah tersebut harus dapat diukur untuk dapat mengetahui tingkat kebersatuan dan kemajuan yang ingin dicapai. Selanjutnya pada pasal 22 menyebutkan bahwa (1) Penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi mengacu pada: a) Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. meskipun latar belakang kehidupan masyarakat sangat heterogen mereka tetap dapat hidup bersama dalam suasana yang harmonis. tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh daerah dan amanat pembangunan yang tercantum dalam RPJP Nasional. dan c) rencana pembangunan jangka panjang daerah. c) keselarasan aspirasi pembangunan provinsi dan pembangunan kabupaten/kota. b) upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi provinsi. seperti tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Masyarakat bersatu adalah masyarakat yang mampu mewujudkan budaya politik yang demokratis dan toleran. Oleh karena itu. memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional.Selanjutnya Untuk melihat koherensi antar kebijakan ini akan dilihat dari beberapa kriteri seperti termuat dalam UU No 25 tahun 2004 Pasal 5 : (1) (2) RPJP Daerah mernuat visi. Bersatu merupakan konsep yang dinamis karena mengenali bahwa kehidupan dan kondisi saling ketergantungan senantiasa berubah.yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional. baik yang dilaksanakan langsung oleh pernerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. seperti tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan f) arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional yang berisi indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional. sinergis dan saling pengertian. Untuk bersatu diperlukan adanya kondisi saling ketergantungan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. dan pendanaannya. pembangunan haruslah pula merupakan upaya memperkokoh persatuan. b) pedoman bidang penataan ruang. misi. misi. maka visi pembangunan daerah Tahun 2008– 2028 adalah: KALIMANTAN BARAT BERSATU DAN MAJU Visi pembangunan daerah Tahun 2008–2028 itu mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah. dimana setiap orang disamping memahami hak dan tanggungjawabnya juga memahami hak dan tanggung jawab orang lain. maupun nilai-nilai yang mendasari dan mempengaruhinya. d) daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. masyarakat yang mampu menempatkan orang perorang dalam posisi sejajar dan sederajat dimuka hukum serta masyarakat yang senantiasa dapat . d) penetapan kawasan strategis nasional. perimbangannya. Bila visi telah terumuskan. b) rencana struktur ruang wilayah nasional yang meliputi sistem perkotaan nasional yang terkait dengan kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya dan sistem jaringan prasarana utama. arahan perizinan. kebijakan. kebijakan umum. rencana kerja. prioritas pembangunan Daerah. berbangsa dan bernegara. memuat arah kebijakan keuangan daerah. (2) Penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi harus memperhatikan: a) perkembangan permasalahan nasional dan hasil pengkajian implikasi penataan ruang provinsi. Bersatu merupakan inti dari kebersamaan. dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. e) arahan pemanfaatan ruang yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan. Berdasarkan kondisi Kalimantan Barat saat ini. RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. (3) Koherensi RPJP dengan Rencana tata ruang secara yuridis formal dapat terlihat pada UU no 26 tahun 2007 tentang tata ruang Pasal 20 menyebutkan (1) Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional memuat: a) tujuan. Visi pembangunan daerah Kalbar tahun 2008-2028 mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah. e) rencana pembangunan jangka panjang daerah.

pengembangan. 5. memperkuat peran masyarakat sipil. 3. . mutlak harus diwujudkan pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan. meningkatkan kualitas aparatur baik intelektual maupun moral agar dapat melaksanakan prinsip-prinsip good governance dengan penuh tanggungjawab. dan memihak pada rakyat kecil. mengurangi kesenjangan sosial secara menyeluruh. tidak diskriminatif. sistem perlindunganterhadap bencana banjir dan abrasi serta pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil secaraterpadu. penegakan supremasi hukum dan pelaksanaan prinsip-prinsip good governance menjadi kunci untuk mencapai Kalimantan Barat bersatu. angka harapan hidup yang lebih tinggi. 7. dan penerapan menuju inovasi secara berkelanjutan. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah tersebut ditempuh melalui 9 (sembilan) misi pembangunan daerah sebagai berikut: 1. dan golongan. dan berkualitas pendidikan yang tinggi. sistem angkutan massal di perkotaan. meningkatkan hasil produksi. Kemajuan suatu daerah juga diukur berdasarkan indikator kependudukan. sarana pengairan. dan kenyamanan dalam kehidupan pada masa kini dan masa depan. keberpihakan kepada masyarakat. menyediakan akses yang sama bagi masyarakat terhadap berbagai pelayanan sosial serta sarana dan prasarana ekonomi. Ditinjau dari indikator sosial. melalui pemanfaatan ruang yang serasi antara penggunaan untuk permukiman. 2. tingkat kemajuan suatu daerah dinilai berdasarkan berbagai ukuran. dan pelayanan jasa. air bersih. Disamping itu. Mewujudkan Supremasi Hukum dan prinsip-prinsip Good Governance adalah melakukan pembenahan struktur hukum dan meningkatkan budaya hukum dan menegakkan hokum secara adil. investasi. dan memperkuat perekonomian daerah berbasis keunggulan setiap wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem produksi. Sementara itu. dan memihak pada rakyat kecil. Mewujudkan Pembangunan yang Lebih Merata dan Berkeadilan adalah meningkatkan pembangunan daerah. Tingginya kualitas pendidikan penduduknya ditandai oleh makin menurunnya tingkat pendidikan terendah serta meningkatnya partisipasi pendidikan dan jumlah tenaga ahli serta professional yang dihasilkan oleh sistem pendidikan.menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau kelompok. serta menghilangkan diskriminasi dalam berbagai aspek termasuk gender. ada kaitan yang erat antara kemajuan suatu daerah dengan laju pertumbuhan penduduk. konsekuen. Oleh karena itu. mencegah tindak kejahatan. Mewujudkan perekonomian yang maju adalah mengedepankan pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing. memperkuat kualitas desentralisasi dan otonomi daerah. Mewujudkan masyarakat yang Aman. tidak diskriminatif. berakhlak mulia. untuk memperkokoh rasa persatuan. berkeadilan. menanggulangi kemiskinan dan pengangguran secara drastis. antisipatif terhadap setiap potensi konflik. menjamin pengembangan media dan kebebasan media dalam mengomunikasikan kepentingan masyarakat. daya dukung. Secara keseluruhan kualitas sumber daya manusia yang makin baik akan tercermin dalam produktivitas yang makin tinggi. Mewujudkan Budaya Politik yang Demokratis dan Toleran adalah memantapkan kelembagaan demokrasi yang lebih kokoh. Daerah yang sudah maju ditandai dengan laju pertumbuhan penduduk yang lebih kecil. energi listrik yang berbasis non BBM (bahanbakar minyak). Suatu daerah dikatakan makin maju apabila sumber daya manusianya memiliki kepribadian bangsa. termasuk derajat kesehatan. Mewujudkan infrastruktur yang memadai adalah membangun infrastruktur yang maju seperti jalan. 6. dan melakukan pembenahan budaya hukum secara adil. dan kegunaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan tetap menjaga fungsi. distribusi. 4. serta reformasi di bidang hukum dan aparatur negara. dan kontribusi perdagangan dan jasa dalam perekonomian. keberadaan. keberlanjutan. konsekuen. dan menuntaskan tindak kriminalitas. Damai dan Bersatu adalah meningkatkan rasa kebersamaan masyarakat sehingga lebih mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan suku. kelompok dan wilayah/daerah yang masih lemah. agama. dan kualitas pelayanan sosial yang lebih baik.kegiatan sosial ekonomi. meningkatkan pemanfaatan ekonomi sumber daya alam dan lingkungan yang berkesinambungan. Mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. serta meningkatkan pemeliharaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan. memperbaiki pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk mendukung kualitas kehidupan. jembatan. memberikan keindahan dan kenyamanan kehidupan. dan berkeseimbangan adalah memperbaiki pengelolaan pelaksanaan pembangunan yang dapat menjaga keseimbangan antara pemanfaatan. meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan termasuk distribusinya. dan upaya konservasi. tingkat kemajuan suatu daerah diukur dari kualitas sumber daya manusianya. meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan iptek melalui penelitian.

keteguhan. Diyakini. seperti ekonomi yang sehat. memelihara kerukunan internal dan antarumat beragama. bahwa kata sehat dalam visi ini juga diasosiasikan pada semua bidang. negara kuat” merupakan kekuatan pendorong agar masyarakat menjaga kesehatannya. Beretika.8. demokrasi yang sehat. angka harapan hidup yang lebih tinggi. Individu. baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar akan mempengaruhi upaya dan . Sehat. bila ada gangguan. 9. Visi ini didasarkan pada ideologi Pancasila. Sebab itu kegiatan dan hasil pembangunan diupayakan deengan sempurna sebagai wujud kesediaan untuk melayani Tuhan dan sesama. artinya jika manusia berfikir sehat maka dirinya dan juga masyarakat dan lingkungan akan menjadi sehat. semboyan “dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat (men sana in corpore sano)” atau “rakyat sehat. Dalam hal politik. Kesehatan merupakan investasi untuk mengembangkan kualitas sumber daya pembangunan. dan khawatir. Aman. keadaan sehat berarti bahwa segala sesuatunya dijalankan dengan hati-hati dan baik. rasa takut. dan sebagainya menurut norma dan indikatornya masing-masing. Visi Cerdas Cerdas menunjukkan ketajaman berfikir dan merasakan. Kecerdasan berhubungan dengan hati yang ditunjukkan dengan kepedulian terhadap sesama manusia. Visi Beriman Iman adalah keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. yakni sila pertama. Sejalan dengan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat maka Visi dalam RPJMD Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2008-2013 adalah: Mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. Ketuhanan Yang Maha Esa. Keamanan merupakan modal dalam melaksanakan pembangunan daerah Kalimantan Barat. Dalam melaksanakan pembangunan. Iman merupakan investasi pembangunan yang tak terukur kelimpahannya. dan alam sekitar (kecerdasan emosional). Seperti kata Rhonda Byrne. lingkungan hidup yang sehat. Keadaan aman terwujud bilamana masyarakat bebas dari tekanan fisik dan mental. yang meletakkan kepercayaan kepada Tuhan sebagai dasar utama dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbudaya. dan etika pembangunan. Mewujudkan masyarakat yang sehat. masyarakat. Berbudaya Dan Sejahtera. menerapkan nilainilai luhur budaya daerah dan budaya bangsa. kesehatan menjadi indikator penting dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM). dan Beradab adalah memperkuat jati diri dan karakter melalui pendidikan yang bertujuan membentuk manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian berarti masyarakat diharapkan akan lebih produktif dan inovatif. dan kualitas pelayanan sosial yang lebih baik. produktif dan inovatif adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan tingkat pendidikan dan derajat kesehatan penduduk. Visi sehat menunjukkan betapa pentingnya masyarakat menjaga kesehatannya agar dapat menggerakkan diri sendiri dan orang lain untuk melaksanakan pembangunan. Visi Aman Aman mencerminkan keadaan masyarakat yang bebas dari gangguan. jasmani. tingkat partisipasi anak usia sekolah. Visi Sehat Sehat adalah keadaan baik atau mendatangkan kebaikan pada seluruh badan jasmaniah dan rohaniah. “tuhuh kita adalah produk pikiran kita”. Masyarakat beriman memandang upaya pembangunan sebagai amanah atas karunia atau talenta yang diterimanya dari Tuhan. Kecerdasan hati harus dilandaskan pada keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa (kecerdasan spiritual). mengembangkan modal sosial. serta memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual. Dalam perekonomian. Selanjutnya. Hal itu tercermin pada tingkat pendidikan terendah. Jadi visi cerdas. dan keseimbangan batin. hubungan sosial yang sehat. Kesehatan yang dimaksud bukan saja fisik. sebab untuk mengekspresikan niat dan kekuatan psikis seseorang harus memiliki tubuh yang sehat. Berakhlak Mulia. cerdas. Bermoral. manusia yang beriman menunjukkan ketetapan hati. tetapi juga psikis. budaya yang sehat. dengan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa semua kegiatan dan hasil pembangunan akan baik adanya. pemerintahan yang sehat. termasuk kecerdasan intelektual menuntut pemberdayaan pikiran. melaksanakan interaksi antarbudaya. Sebab itu. Mewujudkan masyarakat yang Religius. hati. Sebab itu. Cerdas. seperti telah disebutkan di atas. keadaan sehat diartikan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan perekonomian berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. moral. makhluk lain. dan dunia usaha yang terancam akan selalu merasakan ketidakpastian. dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lainnya dalam pembangunan. mematuhi aturan hukum.

dengan didukung sistem dan sarana investasi yang baik melalui penyediaan data potensi investasi guna menarik dan mendorong masuknya investasi. Memperluas lapangan kerja dan usaha dengan berbasis ekonomi kerakyatan. pendidikan. Menggali dan mengembangkan Nilai-nilai dan keragaman budaya serta memanfaatkan keindahan alam untuk kepentingan kepariwisataan. dan damai. Masyarakat dan individu yang sejahtera adalah masyarakat yang aman sentosa. dan berbudaya. budaya jujur. dan kebersamaan. Visi tersebut dalam RPJMD provinsi Kalimantan Barat akan diwujudkan melalui Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Barat. konstruktif. . Pendekatan untuk mencapai visi sejahtera adalah pendekatan menyeluruh. 4. selamat. Melaksanakan pemerataan dan keseimbangan pembangunan secara berkelanjutan untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah dengan tetap memperhatikan aspek ekologi dalam pemanfaatan sumberdaya alam. dan koperasi. budaya melayani. melalui pemberdayaan potensi dan kekuatan ekonomi lokal terutama pengusaha kecil. 6. Pembangunan yang dilandasi oleh budaya yang baik akan menghasilkan hasil pembangunan yang baik pula. 11. budaya transparan. 8. dengan membuka akses ke sumber modal. dan tujuan pembangunan yang telah ditetapkan. kekayaan 2. mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai budaya. Visi berbudaya juga bermakna bahwa hasil pembangunan bersifat tetap dan berkelanjutan (sustainability). Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia melalui peningkatan kualitas tenaga kependidikan dan penyediaan prasarana dan sarana pendidikan serta pemerataan pendidikan. 5. Pokok pikiran dan upaya untuk mewujudkan Visi aman ini adalah persatuan dan demokrasi masyarakat Kalimantan Barat. budaya berfikir dan bertindak berdasarkan kebenaran. cerdas. 3. adil dan makmur. konstruktif. Karena itu. dan dinamis dalam masyarakat Kalimantan Barat. agama. dan sebagainya. nasional. seperti budaya good government. Mengembangkan sumberdaya lokal bagi pengembangan ekonomi masyarakat melalui sistem pengelolaan yang profesional. sasaran. akal budi. menengah. yakni: 1. Melaksanakan pengendalian dan pemanfaatan tata ruang dan tata guna wilayah sesuai dengan peruntukan dan regulasi. Mengembangkan jaringan kerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak swasta baik dalam tataran lokal. Visi Berbudaya Budaya menyangkut pikiran.hasil pembangunan. sebab hanya dengan kebersamaan kita bisa memenangkan setiap upaya. serta menempatkan aparatur yang profesional dan berakhlak sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki serta sesuai dengan peraturan jenjang karir kepegawaian yang berlaku. aman. serta menggali. keamanan. Melaksanakan peningkatan sistem pelayanan dasar dalam bidang sosial. aman. untuk mencapai manusia yang memiliki budaya yang positif. budaya produktif-bukan konsumtif. dan dinamis hendaknya terlebih dahulu dibentuk suatu budaya yang baik dari berbagai bidang. Visi aman mengandung makna terwujudnya suasana kondusif. Menegakkan supremasi hukum. Perbatasan. maupun internasional melalui penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur serta SDM yang memadai. dan adat istiadat manusia sebagai pelaku dan sasaran pembangunan. Meningkatkan kemampuan kapasitas dan akuntabilitas aparatur pemerintah daerah guna meningkatkan pelayanan publik. Melaksanakan peningkatan pembangunan infrastruktur dasar guna memperlancar mobilitas penduduk dan arus barang serta mempercepat Pembangunan dan Pengembangan Pariwisata di Wilayah Pedalaman. budaya adil. Budaya luhur yang ada dalam masyarakat Kalimantan Barat perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai modal dasar pembangunan. teknologi dan pasar untuk meningkatkan daya saing. 7. Pesisir dan Kepulauan sebagai sumber potensi ekonomi. budaya bersih. dan ketertiban melalui sistem kelembagaan manajemen yang efisien dan transparan. dan efisien serta akuntabel. guna menghindari kesenjangan wilayah dan terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. regional. dan perlindungan hak asasi manusia guna mendukung terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun. konsisten. Visi Sejahtera Sejahtera merupakan keadaan utuh sebagai kesimpulan atau akumulasi dari visi beriman. 9. kesehatan. 10. meningkatkan keadilan sosial. efektif. sehat.

028. dapat merubah sebagian bentang alam.2. ketahanan budaya sekaligus Dari sisi revisi tata ruang wilayah provinsi .439 ha. dengan adanya dinamiika masyarakat dan laju pertumbuhan pembangunan. Matrik kriteria koherensi kebijakan nasional dan kebijakan provinsi Jenis Kebijakan Provinsi RPJPD Prov RPJMD Prov Revisi RTRWP Jenis kebijakan Nasional RPJP Nas Koheren Koheren Pada Bagian ter tentu terjadi peru bahan ruang KSN RPJM Nas Koheren koheren Pada Bagian tertentu terjadi perubahan ru ang KSN RTRWN Koheren Koheren Pada Bagian tertentu terjadi perubahan ruang KSN . sedangkan perubahan antar fungsi kawasan sebesar 1.713 ha. Perubahan tersebut termasuk di dalamnya kawasan strategi nasional/Lindung Nasional (KSN).budaya daerah dan tradisional guna mempertahankan mewujudkan pariwisata berbasis budaya dan kerakyatan. Visualisasi perubahan bentang alam tersebut dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 5. Perubahan pola Ruang Di Prov Kalbar dalam RTRWP Untuk lebih memudahkan melihat koherensi antar kebijakan ini dapat dilihat melaui table matrik berikut ini : Tabel 5. hal ini dapat tampak pada besarnya usulan perubahan pola ruang dimana perubahan bentang alam dari fungsi kawasan kearah APL 1.1.969.

dan mobilisasi sumberdaya. Kabupaten Kayong Utara. Kota Pontianak dan Kota Singkawang. 25 tahun 2004 meliputi seluruh wilayah Provinsi Kalbar. dan Kabupaten Landak. Kabupaten Sanggau. Kabupaten Sintang. Kabupaten Melawi. Kabupaten Sambas. instalasi air bersih & kelistrikan. penataan kota. WP Perbatasan Antar Negara diarahkan pada pengembangan border devlop ment centre (BDC). pertambangan. WP Pesisir. promosi parawisata. Wilayah administrasi kabupaten yang masuk wilayah kajian . WP Antar Provinsi. kesenian. WP Perbatasan Antar Propinsi diarahkan pada pengembangan pertambangan. pariwisata (budaya.1. Kalbar dibagi kedalam 4 (empat) Wilayah Pengembangan (WP) yang meliputi WP Tengah. WP Pesisir terdiri dari Kabupaten Pontianak. Kabupaten Sekadau. agribisnis/aqua bisnis. Kabupaten Bengkayang. Telaah Harmoni RPJP dengan Revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat RPJP merupakan acuan pembangunan jangka panjang dengan skala cakupan menurut UU No. WP Tengah terdiri Kabupaten Sanggau. Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas. Di dalam RPJPD Provinsi Kalimantan barat dalam konsep pembangunannya. terminal perikanan. WP Tengah yang difokuskan di Kawasan Tayan. perkebunan. WP Pesisir di arahkan pada pengembangan pelabuhan samudera/pelabuhan regional/pelabuhan perikanan. industrial estate. dan Kabupaten Ketapang. masuk dalam wilayah kajian dapat dilihat pada - - Gambaran wilayah administrasi kabupaten yang gambar berikut: Gambar 5. ecotourism. Kabupaten Kapuas Hulu.3. perkebunan. dan WP Antar Negara. dan model pertanian. diarahkan pada titik pusat pembangunan transportasi yang membuka keterisolasian wilayah pedalaman dan memperlancar aksesibilitas arus orang dan barang ke dan dari wilayah pesisir. Pengembangan WP Tengah meliputi jalan dan jembatan. dan promosiparawisata.2. pelabuhan sungai. Kabupaten Ketapang. oleh karenanya scooping wilayah kajian akan meliputi wilayah pemerintah kabupaten kota yang masuk dalam wilayah DAS Kapuas. Kabupaten Kubu Raya. promosi investasi. pantai dan kepulauan) dan pengembangan pulau-pulau kecil. Untuk WP Antar Negara mencukup 5 (lima) kabupaten yang meliputi Kabupaten Kapuas Hulu. budidayatangkap ikan. pusat agribisnis. WP Antar Provinsi meliputi Kabupaten Sintang.

pemerintah. untuk ini tentunya harus mempunyai keserasian dengan RPJPD Provinsi terutama terkait dengan konsep pembangunan wilayah Kalbar. organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik. masyarakat.Perencanaan jangka panjang lebih condong pada kegiatan olah pikir yang bersifat visioner. Oleh karenanya rencana pembangunan jangka panjang daerah yang dituangkan dalam bentuk visi. misi dan arah pembangunan daerah adalah produk dari semua elemen bangsa. sehingga penyusunannya akan lebih menitikberatkan partisipasi segmen masyarakat yang memiliki olah pikir visioner . hasil dari substansi tersebut meliputi arahan dalam hal pola ruang dan struktur ruang. Secara substasi proses revisi RTRWP dalam wilayah kajian ini melibatkan wilayah kabupaten. Hasil arahan pola ruang dan struktur ruang terkait dengan kabupaten yang ada dalam wilayah kajian dapat dilihat seperti pada tabel berikut : .

Alokasi pola ruang Revisi RTRWP pada kabupaten yang ada di wilayah Kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Usulan RTRWP APL Base CA HL HP HPK HPT SAL TN TWA Bengkayang 399024 632 875 47495 51520 0 2639 0 43800 0 546035 Kapuas Hulu 885073 18379 0 685422 48167 0 548638 0 935517 0 3121196 Kayong Utara 141677 11609 0 51612 41417 60233 0 0 294985 0 601533 Ketapang 1611000 15462 137628 290990 356413 48221 547912 0 17034 0 3024660 Kota Pontianak 11004 705 0 0 0 0 0 0 0 0 11709 Kubu Raya 467544 41389 0 148515 127041 22928 65789 0 0 0 873186 Landak 595991 1681 2648 50170 111346 0 12739 0 49716 0 8q24291 Melawi 416239 5594 0 216995 69561 2655 256746 0 44774 0 1012564 Pontianak 134301 1013 0 5003 48407 0 16148 0 0 0 204872 Sanggau 801020 15128 0 96171 251347 69878 39640 0 1073 0 1274257 Sekadau 402093 4934 0 56156 72493 0 25527 0 0 0 561203 Sintang 994910 11402 0 453065 142941 0 535430 0 67992 2054 2207794 Jumlah .Tabel 5.2.

dan beberapa saran perhubungan seperti jalan. kecuali kota Pontianak yang tidak memiliki kawasan hutan . . Maka harmonisasi RPJP dengan Revisi RTRW di Wilayah kajian di analisis dari bentuk matrik sebagai berikut.Berdasarkan data pola ruang tersebut. Selanjutnya di lihat dari arahan struktur ruang . gambaran struktur ruang yang ada dalam kawasan/wilayah kajian dapat dilihat pada gambar 5. Mengacu pada tujuan penataan ruang wilayah Propinsi Kalimantan Barat yang diarahkan untuk “Terwujudnya keharmonisan dan keterpaduan dalam penggunaan /pengelolaan lingkungan alam dan lingkungan buatan dengan peningkatan sumberdaya manusia dalam pengelolaannya serta pencegahan kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan ruang yang dikelola secara arif dan bijaksana guna peningkatan kemakmuran rakyat Kalimantan Barat secara adil dan merata”.4 Pada arahan struktur ruang dalam revisi tata ruang terdapat 3 PKSN yang masuk dalam wilayah kajian. baik yang bersifat nasional maupun lokal. dalam revisi tata ruang di wikayah Kabupaten yang berada dalam wilayah DAS kapuas terdapat beberapa proyeksi pusat kegiatan dan sarana transportasi jalan darat . 1 PKN. sedangkan yang lainnya terdapat dalam jumlah yang bervariatip. 22 PKL. PKSN tersebut erdapat di Kab Sanggau (Entikong). Berdasarkan gambar tersebut diproyeksikan akan banyak jalur jalan nasional dibanding jalan provinsi. Sintang (Jasa) dan Kapuas Hulu (Nanga badau). 4 PKW.

62 11. Keta pang Kota Pontia nak 0 65.07 0.54 0 0 0 41.62 0 7.San ggau -WP tengah 71.72 5.11 0 0.69 9.47 0 24. Sintang 45.08 0 Kab.52 6.50 0 1.55 0 8.97 TWA (%) 0 Kab.54 0 17.43 0 0.53 0 0 0 -WP Pesisir 23.48 0 8.35 CA (%) 0 HL (%) 21.02 0 Kab.96 HP (%) 1. Landak Kab.06 0 20.26 25.10 0 21.26 4.88 10.57 SAL (%) 0 TN (%) 29.Tabel 5.09 -WP tengah -WP Antar Negara -WP tengah 62. Melawi Kab.07 0.42 0 28.54 HPK (%) 0 HPT (%) 17.32 72.86 0.54 2.25 0 3. Sekadau Kab.Pon tianak Kab Kubu Raya Kab.01 0 0 49.58 6.16 8.91 0 4.88 0 0 0 -WP Pesisir 53.64 0 10.55 9.54 19.54 0 6.11 0 0.78 1. Kapuas Hulu -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara -WP Antar Provinsi -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Kab.03 0 -WP Pesisir -WP Antar Ne gara -WP Pesisir 73. Matrik Wilayah Pengembangan dalam RPJP Prov dan Pola Ruang dalam Revisi RTRWP Proporsi Arahan pola ruang dalam Revisi RTRWP Wil.86 0 7.62 7.43 6.35 0 4.44 23.01 14.55 2.08 13. Admini s-trasi RPJPD Prov (pola ruang yang terdapat dalam wilayah kajian ) APL (%) Kab.Ka yong utara Kab.98 0 0 0 0 0 0 0 0 .30 6.Ben gkayang 0.00 12.3.48 3.59 18.56 0 93.0 0 -WP Pesisir -WP Antar Provinsi -WP Pesisir 53.

Lintas kaliman tan /negara Ada Jl.4.Kayong utara Kab. Tabel 5. tambang dan lainnya. untuk ini dapat dilhat dari tabel berikut. Sintang -WP Antar Provinsi -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab. Landak Kab. Matrik Wilayah Pengembangan dalam RPJP Prov dan Struktur ruang dalam Revisi RTRWP Arahan Struktur ruang dalam Revisi RTRWP Wil.Bengka yang Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab. Selanjutnya berdasarkan arahan pola ruang yang diproyeksikan dapat terlihat bahwa dalam Revisi tata ruang telah mendekati harmonisas.Kapuas Hulu -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Ada Ada Kab.Sangga u -WP tengah -WP tengah -WP Antar Negara -WP tengah -WP Pesisir -WP Antar Negara -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Antar Provinsi -WP Pesisir Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab. hal ini tentu perlu dilihat lebih lanjut potensi wilayah yang ada. Melawi Kab. Pro vinsi Pelab uhan laut Termi nal berku alifika si Ban dara Ada PKN PKW PKSN PKL Kab.Pontian ak KabKubu Raya Kab.Berdasarkan data yang ada memang tampak bahwa ada beberapa kabupaten yang masih perlu disesuaikan ketersediaan ruang terutama yang terkait dengan rasio antar kawasan APL dan kawasan hutan yang di alokasikan dengan fokus dalam arahan wilayah pengembangannya. Ketapang Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kota Pontianak Ada Ada . Sekadau Kab. baik untuk kebun. Administrasi (pola ruang yang terdapat dalam wilayah kajian ) RPJPD Prov Jl.

1. Struktur ruang dalam wilayah Kabupaten yang masuk wilayah kajian 1. Telaah Implikasi Revisi Rencana Tata Ruang di Wilayah DAS Kapuas Implikasi Rencana Pola Pemanfaatan Ruang di Wilayah DAS Kapuas Melihat adanya dinamika pembangunan yang signifikan baik internal maupun eksternal.Berdasarkan kondisi proyeksi pembangunan struktur ruang. Revisi tata ruang Provinsi Kalbar meliputi perubahan pola ruang dan struktur ruang. 1. tampak antara rencana pembangunan jangka panjang dengan arahan struktur ruang dalam revisi tat ruang cukup harmonis. Data Revisi Pola ruang untuk wilayah kajian sesuai dengan wilayah administrasi Pemerintah kabupaten/kota yang masuk dalam DAS Kapuas dapat dilihat pada table berikut ini.3. serta merujuk pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mengamankan bahwa pemerintah Provinsi diberikan waktu selama 2 (dua) tahun terhitung sejak undang-undang tersebut berlaku untuk melakukan penyesuaian terhadap rencana tata ruangnya.3.4. maka Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2004 tentang RTRWP Kalimantan Barat (Tahap I) sudah waktunya untuk direvisi. . Peta sebaran struktur ruang per wilayah kabupaten yang masuk dalam wilayah kajian dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 5.

. mempertahankan daya dukung kawasan hutan tetap layak kelola. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 18 menyatakan :(1) Pemerintah menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan untuk setiap daerah aliran sungai dan atau pulau.9 %). KSN yang berada dalam kawasan DAS Kapuas ini adalah TN Betung Kerihun dan TN Danau sentarum. dan selanjutnya diduduki oleh hutan produksi terbatas (HPT= 15.043 4.9 9. Nyiut.07). tetap terjaminnya luas kawasan hutan paling sedikit 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daerah aliran sungai. dan (b).055 103. banyak mengarah pada bagian Timur dari Wilayah DAS Kapuas.404 % 1.501 2.673.Tabel 5. Data Revisi pola Ruang dalam wiayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kawasan BASE/TUBUH AIR CA HL HP HPK TN TWA HPT APL Jumlah Luas (ha) 102.904 1.346 1.5. dengan alokasi kawasan APL pada bagian tengah dan hilir maka mendorong aktivitas budidaya pertanian dan perkebunan terkonsentrasi di kawasan ini.065 1. .01 16. dan manfaat ekonomi masyarakat setempat. Berdasarkan Undang – Undang No.01 0. TN Buikit baka-bukit raya dan TN G. namun ketersebarannya tidak merata.536.24 100 Berdasarkan data di atas.3 1. maka revisi pola ruang di kawasan DAS kapuas maka kawasan ini akan memiliki kawasan Areal Penggunaan lain yang cukup besar yakni 45. selanjutnya akan terdapat kawasan Strategis Nasional (KSN) sebesar 10. manfaat sosial. Sedangkan pada bagian tengah dan hilir Wilayah DAS Kapuas cenderung menjadi APL.831 946.02 15.02 10. untuk ini maka kondisi penutupan harus benar-benar diperhatikan.668 10. pulau. Dengan memperhatikan beberapa ketentuan di atas maka secara alokasi kawasan hutan yang di proyeksikan dalam revisi tata ruang telah mencukupi. (2) Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal 30 % (tiga puluh persen) dari luas daerah aliran sungai dan atau pulau dengan sebaran yang proporsional. dan/atau provinsi dengan sebaran yang proporsional.07 45. guna optimalisasi manfaat lingkungan.098. Disisi lain kawasan hutan lindung (HL) menempati urutan kedua (16.8 0.991 1.726. agar dampak lain yang mungkin timbul berupa erosi dan banjir tidak terjadi. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikut.191.24 %. Selanjutnya PP No 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan. Pasal 12 menyatakan (1) Tukar menukar kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dilakukan dengan ketentuan: (a).8 %.

Sukadana Internasional : Pulau (Pantai dan Gondol Temajok Kijing) Tanjung dalam Tipe A (antar kota antar provinsi dan/atau lintas batas negara): a. Kubu Raya) PKW : Sambas. Penekanan struktur ruang dalam kaitannya dengan DAS Kapuas adalah pada jaringan jalan. Susilo. dan pusat kegiatan.6. Singkawang b. c. Pangsuma. Paloh.2. Mempawah. b. Sungai . Liku. Ketapang dengan pembentukan kabupaten baru dari Bandara Pusbar Sekunder Supadio Pontianak. Ketapang. Pusbar Tersier : a. Promosi PKW : Sukadana – Teluk Melano (jika terjadi pemekaran wilayah Kab. bandara. Pelabuhan dan Terminal Pusat Pemukiman RTRWP PKN : Kawasan Mtropololitan Pontianak (KMP. Data Arahan Struktur Ruang Pusat pemukiman. Singkawang. Putussibau.5 Gambaran Revisi Pola dan Struktur Ruang dalam wilayah kajian 1.3. Putussibau dan Ketapang. Untuk ini dapat di lihat dari tabel berikut ini. Sintang. Tabel 5. Kota Pontianak dan Ibu Kota Kab. Oleh karenanya data mengenai perubahan struktur ruang akan di gunakan data struktur ruang dalam revisi tata ruang kalimantan barat. Pusbar Tersier : a. Sintang. Rahadi Oesman. Implikasi Rencana Struktur Ruang di dalam wilayah kajian Revisi struktur ruang dalam tata ruang di Kawasan DAS Kapuas merupakan bagian dari evisi tata ruang Kalimantan barat. : Pelabuhan Internasional Pontianak Nasional Ketapang : : Terminal d.Gambar 5. Sanggau.

Ponttianak & Landak Kab. 2. Soekarno-Hatta. 34/2006 tentang jalan pasal 40). Kapuas Hulu PKSN Kabupaten Hinterland . § § . Pelabuhan internasional : Pontianak. Sambas Kab.Aruk . Ruang milik jalan minimal = 30 meter (PP No. Tanjung Api di Paloh Terminal Ambawang di Ibukota KKR b. Ketapang Keterangan : § Kota Sintang diperkirakan menjadi ibukota provinsi Kapuas Raya dalam masa rencana. PKW dan PKSN PKN Pontianak PKW Ketapang (I/B) Mempawah (II/B) Singkawang (I/C/1) Sambas (I/A/1) Entikong (I/A/1) Sanggau (I/C/1) Sintang (II/C/1) Putussibau (I/A/2) . Sanggau & Sekadau Kab. Nasional : a. Singkawang c. Paloh.Nanga (I/A/2) Badau § Bandara sebagai Simpul Transportasi Udara Nasional (sebagai pusat penyebaran primer : Hang Nadim. Sintang & Melawi Kab. Sepinggan) : 1. f. Ketapang Bandara Pelabuhan satu sistem.Jasa (II/A/2) . Pusat penyebaran sekunder : Supadio. Bengkayang & Sambas Kab.7. § Kota Sandai diperkirakan menjadi ibukota kabupaten dalam masa rencana.Entikong (II/A/2) .Pusat Pemukiman bagian utara wilayah Kab. Teluk Batang.Temajuk (II/A/2) (Paloh) Kab. Ketapang & Kayong Utara Kab. b. 2. Pelabuhan nasional : Ketapang Jalan Bebas Hambatan : Singkawang – Sungai Pinyuh – Pontianak – Tayan. Data Arahan Struktur Ruang PKN. Pelabuhan sebagai Simpul Transportasi Laut Nasional : 1.Jagoibabang (I/A/2) . Tabel 5. Susilo. Pusat penyebaran tersier : Rahadi Oesman. e. Pangsuma. Sintang Tayan Tipe B (antar kota dalam provinsi) d.

Kawasan perkotaan Bontang – Samarinda – Balikpapan. dan 2. 26/2008 RTRWN (pasal 18) tentang RUAS JALAN a.Antara PKSN – PKW : § Batas negara – Nanga Badau – Putussibau § Nanga merakai – Sintang. Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun § § .Arteri primer antara PKN dan PKW § Pontianak – Sungai Pinyuh – Mempawah – Singkawang – Sambas. 2. Palangkaraya. PKW usulan. b. Antara PKN dan PKW. § Batas negara – Jasa – Senaning – jalan antar PKSN § Batas negara – Entikong dan Balai Karangan. Nangabang. Ibukota kabupaten yang tidak masuk dalam PKN atau PKW : Bengkayang.Jalan strategis nasional antar PKSN: Nanga Badau – Nanga Merakai – Balai Karangan – Entikong – Jagoi Babang – Aruk – Temajuk (Paloh) b. 3.Arteri Primer antar PKN : § Pontianak – Tayan – Simpang Dua – Nanga Tayap – Palngkaraya.Tanjung § Batas negara – Jagoi Babang – Bengkayang – Singkawang Kawasan nasional : strategis KETERANGAN PKN di Pulau Kalimantan yang berhubungan dengan kawasan pekotaan Pontianak melalui jalan arteri primer adalah : 1. PKW: Sambas. Kawasan stasiun pengamat dirgantara Pontaianak. § Pelabuhan internasional usulan Pulau Temajok (pantai Kijing) dan Tanjung Gondol dalam satu sistem. § Bandara Pusbar tersier usulan : Singkawang dan Sukadana. Putussibau. Sintang. Paloh. Antara PKSN dan pusat kegiatan lainnya. PKN di Kalimantan Barat yaitu kawasan perkotaan Pontianak meliputi Pontianak dan ibukota KKR. § Bandara Pusbar tersier : Ketapang. Kawasan perbatasan dasar RI dan jantung Kalimantan (Heart of Borneo).Arteri primer penghubung PKN dan atau PKW dengan bandara pusat penyebaran dan pelabuhan internasional/nasional : § Bandara Pusbar sekunder Supadio (Pontianak). § Pelabuhan internasional Pontianak. Nanga Pinoh dan Sukadana. Mempawah. § Nanga Tayap – Siduk – Ketapang c. § Pelabuhan nasional Ketapang.Tabel 5. § Pelabuhan nasional usulan : Teluk Batang (ke Teluk Melano dan Sukadana) 3) Jaringan jalan strategis nasional dikembangkan untuk menghubungkan : § Antar PKSN dalam satu kawasan perbatasan negara. Singkawang. Sintang. Data Arahan Struktur Ruang Ruas jalan Nasional DASAR PENETAPAN PP No. 1) Jaringan jalan nasional terdiri atas : 2) Jaringannjalan arteri primer dikembangkan secara menerus dan hirarki berdasarkan kesatuan sistem orientasi untuk menghubungkan : § § § Antar PKN. dan atau PKN dan atau PKW dengan : Ø Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/ter sier dan Ø Pelabuhan internasional/nasion al 1. Sekadau.8. Putussibau dan Ketapang. KAPET khatulistiwa. dan PKN dan atau PKW dengan kawasan strategis nasional a. § Tayan – Sosok – Tanjung – Sanggau – Sekadau – Sungai Ukoi – Sintang – Putussibau – Samarinda. jika terbentuk Kabupaten Sandai : Sukadana – Teluk Melano. 4. Sanggau.

Rencana tata ruang wilayah provinsi ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. Dalam kondisi tertentu terutama yang berkaitan dengan bencana alam yang berskala besar.4.Sambas KETERANGAN 4) Jaringan jalan kotektor primer dikembangkan untuk menghubungkan antar PKW dan antara PKW dan PKL (penjelasan: dikembangkan pula untuk menghubungkan antar ibukota provinsi) Antar PKW : § Sungai Pinyuh – Anjungan – Sidas – Nabang – Sosok § Siduk – Sukadana Antar ibukota provinsi : Sungai Ukoi – Nanga Pinoh – Nanga Ella -Palangkaraya (jika kota Sintang menjadi ibukota provinsi). sedangkan untuk terminal dilakukan dengan membangun Telaah Implikasi Program Pemanfaatan Ruang Revisi RTRWP/259 Berdasarkan UU No. 24 tahun 1992 yang disempurnakan dengan UU No. disebutkan bahwa produk rencana tata ruang wilayah provinsi disusun dengan perspektif ke masa depan dan memiliki jangka waktu rencana selama 20 tahun. Jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota kabupaten atau kota. jalan dapat berupaka peningkatan status jalan baru.1. Jalan strategis provinsi § § RUAS JALAN Kolektor primer antara ibukota provinsi dan kabupaten : § Bengkayang – Simpang Tiga – Anjongan. Salah satu yang mengisi ruang tersebut adalah kehutanan. demikian juga dengan pusatdari yang sudah ada.DASAR PENETAPAN RUAS JALAN § Batas negara – Aruk dan Tanjung Bantanan – Tanjung Harapan § Batas negara – Temajuk – Liku – Tanjung Harapan . ruang laut. dan c. 1. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang mengamanatkan bahwa ruang merupakan wadah yang meliputi ruang darat. maka rencana tata ruang wilayah provinsi dapat ditinjau kembali lebih dari .4. 34/2006) : a. Ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah merupakan tempat manusia dan mahluk lain hidup melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Jalan kolektor primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten atau kota b. Tabel 5-9 Data Arahan Struktur Ruang Ruas jalan Provinsi DASAR PENETAPAN Jalan provinsi terdiri atas (pasal 27 PP No. Ledo – Suti Semarang – Serimbu Kembayan KETERANGAN Jalan provinsi dapat bertembah setelah penetapan kawasan strategis provinsi dan masukan penyempurnaan Rancangan Rencana Struktur Ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat § § Implikasi struktur ruang di wilayah kajian untuk struktur jalan dan dapat juga dengan melalui pembuatan jaringan pusat pemukiman lebih cenderung meningkatkan status sarana pelabuhan udara maupun pelabuhan laut dan infrastruktur yang sudah ada dan juga pembangunan baru. 1. Kolektor primer antar ibukota kabupaten : Balai Berkuak – Sekadau (menghubungkan Sekadau – Sukadana) Simpang Tiga – Sidas (menghubungkan bengkayang – Ngabang) kolektor primer jalan strategis provinsi (dalam KAPET khatulistiwa) : Sambas – Balai Gemuruh – Ledo. dan ruang udara.

1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. Berdasarkan pada kriteria ini maka penataan ruang kawasan DAS Kapuas juga akan mengarah pada kriteria-kriteria tersebut. Rencana perubahan tata ruang di Kalimantan Barat khususnya Pola Ruang pada awalnya tertuang dalam surat Gubernur Kalimantan Barat nomor 050/0839/FP-BAPPEDA tanggal 26 Maret 2008 tentang revisi RTRWP Kalimantan Barat. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, maka dalam PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG Pasal 91 menyebutkan bahwa Revisi terhadap rencana tata ruang dilakukan bukan untuk pemutihan terhadap penyimpangan pelaksanaan pemanfaatan ruang. Gambar 5.7. Pola ruang Revisi RTRWP

Gambar 5.6 .Eksisting Pola ruang berdasarkan 259 update

Dengan Visualisasi tersebut tampak adanya perubahan pola ruang di dalam kawasan DAS Kapuas, Untuk perubahan peruntukan sejumlah 1.381.528 ha dan untuk perubahan fungsi sejumlah 566.110 ha. Untuk jelasnya alokasi perubahan pola ruang Wilayah DAS di dalam revisi tata ruang Prov kalimantan barat dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 5.8 . Visualisasi perubahan pola ruang sekitar DAS Kapuas

Perubahan pola ruang kearah APL cukup besar yakni sekitar 1.381.528 Ha (13,56 %), kondisi ini mempunyai tipologi kearah pemanfaatan untuk berbagai kepentingan seperti Pemekaran wilayah (pengembangan perkotaan, pemukiman), pertanian, perkebunan, pertambangan, transmigrasi dan lain-lainnya. Kondisi ini, perlu dicermati terutama terkait dengan daya dukung lingkungan yang ada. Dengan kondisi eksisting ruang sekarang pada dasarnya dalam beberapa tahun terakhir terah terjadi percepatan deforestasi/degradasi hutan maupun lahan pertanian yang bermuara pada penurunan daya dukung lingkungan. selain itu jika revisi ini diterapkan maka jumlah tutupan hutan yang ada akan berkurang sebesar 769.059,74 ha (11,84 % dari jumlah tutupan vegetasi hutan yang ada di dalam Kawasan DAS Kapuas saat sekarang) Kondisi ini menimbulkan keprihatinan terutama terkait dengan kebijakan moratorium. Oleh karenanya pendayagunaan perubahan kawasan harus lebih berorientasi pada kebutuhan dasar hidup manusia. 1.4.2. Implikasi alokasi ruang Pembangunan perkebunan, pertambangan, dan perhubungan di wilayah DAS Kapuas kehutanan,

Telaahan implikasi program yang sudah dilaksanakan meliputi program-program yang menmanfaatkan pola ruang yang luas dan berskala besar seperti Perkebunan kelapa sawit perkebunan karet, Pertambangan, Kehutanan, maupun Transmigrasi dan perhubungan. Perkebunan Kegiatan perkebunan di dalam kawasan DAS kapuas cukup marak terutama di dalam wilayah Areal penggunaan lain (APL), Kegiatan eksiting Pembangunan perkebunan didekati dari bentuk perijinan pada tingkat Hak Guna Usaha dan IUP, Sebaran lokasi HGU yang ada sampai dengan tahun 2009 di dalam kawasan ini mempunyai luas lebih kurang 236.281,17 ha (2,32 %), untuk ini dapat dilihat pada Gambar berikut.

Gambar 5.9. Visualisasi Peta sebaran Kebun HGU sekitar DAS Kapuas Berdasarkan sebaran kegiatan perkebunan yang dalam bentuk HGU lokasi perkebuna tampak berada di sekitar wilayah yang tidak jauh dari Sungai utama dalam DAS kapuas. Dan berdasarkan hasil overlay ditemukan tumpang tindih dengan kawasan hutan lindung maupun hutan produksi Selain dalam bentuk HGU. . Pembangunan perkebunan dapat juga dalam bentuk ilin Izin Usaha Perkebunan (IUP).

Gambar 5. Selanjutnya kegiatan penambangan juga dilihat dari kuasa penambangan seperti yang terlihat pada gambar berikut ini. .10. Visualisasi Peta sebaran IUP Coal dan mineral di DAS Kapuas antara tahun 2003 – 2009 IUP Penambangan Coal dan mineral ini berlangsung antara tahun 2003 sampai dengan 2009 dan tersebar dibagian barat-utara dan sebagian di sebelah selatan. pendekatan aktivitas pertambangan di dalam kawasan ini dilkaukan melalui bentuk kuasa pertambangan dan beberapa IUP yang pernah diberikan di kawasan ini . Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini.Pertambangan Kegiatan pertambangan yang ada di sekitar DAS Kapuas dapat berimplikasi pada penurunan kualitas lingkungan.

2009 Berdasarkan Ijin kuasa pertambangan yang ada maka kuasa pertambangan alokasinya menyebar secara parsial di dalam wilayah DAS Kapuas.Gambar 5.11. Visualisasi Peta sebaran Kuasa Pertambangan di DAS Kapuas antara tahun 2003 . .

Visualisasi dari kegiatan tersebut dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini. .Kehutanan Pembangunan kehutanan diarahkan pada kegiatan IUPHHK-HTI dan IUPHHK-HA.12 Visualisasi Peta IUPHHK-HA sekitar DAS Kapuas Ketersebaran aktivitas pembangunan kehutanan dalam bentuk IUPHHK-HA terlihat menyebar di seluruh kawasan DAS Kapuas secara partial. Aktivitas HTI ini juga sebagian tidak berjalan dengan baik . Gambaran mengenai IUPHHK-HTI yang pernah di berikan di kawasan ini dapat dilihat pada gambar berikut ini. sedangkan untuk kegiatan IUPHHK-HA diambil dari rentang waktu tahun 1993 sampai 2006. Sedangkan aktivitas lainnya dari sektor kehutanan adalah IUPHHK-HTI (termasuk HTI Trans). Gambar 5. Secara parsial kegiatan IUPHHK-HTI lebih banyak mengarah kebagian Barat dari DAS kapuas. Sebaran ijin usaha pemanfaatan ini terevaluasi dari data yang untuk IUPHHK-HTI di mulai dari tahun 1992 sampai dengan 1998. aktivitas IUPHHK-HA ini tidak semuanya dapat berjalan. alokasi kegiatan nya terlihat tidak menyebar merata di seluruh kawasan DAS Kapuas .

c. Perindustrian merupakan sector yang cukup rentan terkena dampak kebijakan dan program terutama terkait dengan ketersediaan bahan. Perijinan pembangunan Perkebunan.Gambar 5.13 Visualisasi Peta IUPHHK_HTI (termasuk HTI Trans) sekitar DAS Kapuas Perikanan dan Perindustrian Pembangunan sector perikanan diarahkan pada kegiatan perikanan tangkap.4. Pertambangan. b.3. Pertahanan dan keamanan. .43/ Menhut-II/ 2008 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN pasal 5 yang menyatakan : (1) Pinjam pakai kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan meliputi : a. 1. aktivitas ini menjadi rentan sejalan dengan kerusakan lingkungan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas seperti kehutanan perkebunan dan pertambangan. pertambangan. Kehutanan bungan/ transportasi. Pertambangan. Kepentingan religi. serta transmigrasi dan pertanian/perikanan dan Perhu- Prosedur perijinan untuk berbagai kegiatan seperti perkebunan. kehutanan dan perhubungan sangat rentan dengan tumpang tindih peruntukan . namun untuk kegiatan pertambangan dan perhubungan dapat mengacu pada PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P. dari ijin pertambangan dan perhubungan banyak yang tumpang tindih dengan perijinan lainnya dan bahkan dengan kawasan hutan dari berbagai fungsi kawasan.

atau d. Selanjutnya untuk perkebunan sawit prosedur perijinan perlu lebih dicermat iterhadap ketentuan yang ada. terhadap bagian kawasan hutan tersebut mengacu pada ketentuan peruntukan kawasan hutan berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi sebelumnya.d. Stasiun relay televisi. Jalan umum. Pembangunan jaringan telekomunikasi. Pengairan. jalan (rel) kereta api. Namun PERDA ini jarang di jadikan acuan terutama dalam analisis pola ruang untuk perijinan Perkebunan. Selain itu sangat perlu disingkronkan dengan PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. Pembangunan jaringan instalasi air. Kerancuan ini akan lebih perlu dicermati dengan keluarnya PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG Pada pasal 30: (1) Dalam hal terdapat bagian kawasan hutan dalam wilayah provinsi yang belum memperoleh persetujuan peruntukan ruangnya. 50/Menhut-II/2009 TENTANG PENEGASAN STATUS DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN dalam pasal 2 dikatakan (1) Kawasan hutan telah mempunyai kekuatan hukum apabila : a. Berita Acara Tata Batas Kawasan Hutan telah disahkan oleh Menteri. Dari perijinan berupa ijin lokasi yang berlangsung sampai dengan tahun 2009 di kawasan DAS Kapuas terdapat perijinan yang tumpang tindih dengan kawasan hutan dan perijinan lainnya seperti pertambangan dan lain-lain. telah ditunjuk dengan keputusan Menteri. telah ditata batas oleh Panitia Tata Batas. atau b. Repeater telekomunikasi. Saluran air bersih dan atau air limbah. f. k. Fasilitas umum. j. n. l. i. h. o. e. Bak penampungan air. Sarana keselamatan lalulintas laut/ udara. di Provinsi Kalimantan Barat penetapan perijinan cenderung mengacu pada Keputusan Menteri kehutanan No 259/KPTS-II/2000 tentang kawasan hutan dan perairan Kalbar. Kawasan Hutan telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri. g. . (2) Bagian kawasan hutan dalam wilayah provinsi yang belum memperoleh persetujuan peruntukan ruangnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diintegrasikan ke dalam rencana tata ruang wilayah provinsi yang akan ditetapkan dengan mengacu pada ketentuan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta penggunaan kawasan hutan berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi sebelumnya. Disisi lain terdapat Perda No 5 tahun 2004 tentang RTRWP Provinsi kalimantan barat. Stasiun pemancar radio. Untuk ini dapat dilihat seperti pada gambar berikut. m. Pembangunan ketenagalistrikan dan instalasi teknologi energi terbarukan. atau c. hal ini tampak dengan sering munculnya telaahan kawasan yang dikeluarkan oleh BPKH dalam rangkaian penetapan perijinan perkebunan.

Gambar 5. pertanian dan trasnigrasi serta perhubungan. akan menimbulkan disparitas terhadap ekonomi dan sosial. batas wiayah administrasi secara fisik sangat dimungkinkan tidak adanya patok batas dlapangan.14 . pertambangan. kehutanan. Dengan kurangnya patok batas wilayah administrasi maka sangat mudah terjadi mis koordinasi pada saat terjadinya dampak atau masalah baik sosial maupun fisik. pertanian dan trasmigrasi serta perhubungan. pertanian dan trasnigrasi serta perhubungan untuk lokasi-lokasi yang berbatasan.4. Koordinasi antar sektor baik di tingkat prov maupun Kabupaten sampai de ngan dengan Unsur Kecamatan dan desa Koordinasi antar sektor sangat penting baik yang ada pada tingkat kabupaten maupun pada tingkat pemerintah provinsi. Terkait dengan koordinasi antar pemerintah kabupaten terhadap pemberian perijinan terkait dengan perkebunan. kehutanan. Kondisi ini penting dicermti karena . kehutanan. Koordinasi antar pemerintah Kabupaten /kota yang ada di Dalam wilayah DAS Kapuas dalam pemberian perijinan Peningkatan Koordinasi antar pemerintah kabupaten menjadi penting pada masa kini dan masa mendatang. Visualisasi Peta sebaran kebun Ijin lokasi sekitar DAS Kapuas sampai tahun 2009 1. pertambangan.5. Kondisi seperti ini pada gilirannya akan menyebabkan konflik antar sektor bahkan antar msyarakat dalam pengambilan kebijakan. untuk ini perlu adanya peningkatan MOU (jika sudah ada) kearah SOP yang secara yuridis disepakati atau disetujui. terutama dalam pemberian perijinan terkait dengan perkebunan. pertambangan. demikian juga sebaliknya. 1.4. pertambangan dan kehutanan yang memerlukan koordinasi yang jelas kedepannya dan minimal mendorong untuk adanya SOP secara yuridis formal. sering kali tidak mempunyai sambungan yang baik dengan tingkat tapak di pemerintah kecamatan dan desa. pembangunan yang hanya terkonsentrasi di wilayah hilir.4. biasanya sangat berhubungan dengan batas wilayah administrasi. sehingga tidak tercipta pemerataan pembangunan karena tidak terbukanya isolasi. Pembangunan diwilayah hulu akan memberikan dampak ikutan kepada wilayah hilir. Secara ekologi baik dampak sosial maupun dampang fisik cukup sulit dibatasi dengan wilayah administrasi pemerintahan. Koordinasi antar sektor tentang perijinan terkait dengan perkebunan. Implikasi beberapa pembanguan perkebunan. mis informasi bisa terjadi karena diawali dengan terputusnya saluran koordinasi. terkecuali yang menggunakan batas alam.

sampai dengan pemberian sangsi. Telaah Prinsip Keterkaitan. Program mempunyai keterkaitan yang erat dengan isue-isue strategis. Pembangu nan Kehutanan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 3. Pengendalian perlu diintensipkan karena sampai dengan saat sekarang. pertambangan yang tidak melakukan kegiatannya namun telah mengantongi perijinan. Hutan akan memberikan manfaat jika di kelola secara bijaksan.10 Matrik keterkaitan Kebijakan sektoral dengan Isue strategis KRP sektoral 1. 1. keterkaitan ini dapat berbentuk hubungan yang linier atau lainnya.5. Keseimbangan dan Keadilan Kebijakan. Pembangunan Perkebunan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 4. masih banyak perijinan baik perkebunan.4. Dalam aplikasinya keterkaitan ini harus juga memperhatikan unsur keseimbangan dan keadilan. baik yang bersifat ekonomi maupun ekologi. Selain itu dikawasan DAS Kapuas juga terdapat perkampungan atau pemukiman yang dalam aktivitasnya perlu memperhatikan keseimbangan dan keadilan dengan lingkungannya. rencana. terutama yang terkait dengan masalah ekonomi dan ekologi dari wilayah yang bersangkutan.budaya Degradasi lah pert pa ngan Degradasi lahan & kua litas tanah Berkurangnya potensi air tanah Degradasi hutan/deforestasi Intrusi air asin/laut Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan . Revisi RTRWP Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 2. kehutanan. Tabel 5.stakeholder pada tingkat pemerintah kecamatan dan desa sangat operasional dan mengenal lingkungannya oleh karena itu SOP kearah organisasi sampai kearah tingkat tapak perlu diperjelas. DAS Kapuas merupakan wilayah das yang mana di dalamnya terdapat interaksi dari berbagai unsur. Pengendalian Pengendalian perijinan dapat berupa zoning regulation.6. Keterkaitkan antara kebijakan. Pembangun an Pertamba ngan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 5 Pembangunan Transmigrasi dan pertanian.perika nan dan perindustrian 6 Pembang unan perhubun gan Isue-isue strategis Pendangkalan sekitar muara Banjir & erosi Perubahan Musim tanam Pening keg. namun dapat pula menimbulkan bencana pada saat pemanfaatannya tidak memperhatikan sisi ekologi. Untuk ini visualisasi nya dapat dilihat dari realisasi ijin yang ada 1.peti Perubahan alur pelayar an Penurunan kualiatas air sungai Penurunan potensi perikan tangkap Konflik sosial Pergeseran nil. rencana dan program dengan berbagai isue strategis yang dapat terjadi di kawasan ini dapat dilihat seperti pada tabel berikut.

perubahan peruntukan akan mendorong pembukaan tutupan hutan dan hal ini akan mendorong terjadingya erosi dan sedimentasi. perkebunan. kegiatan-kegiatan tersebut dapat memobilisasi penduduk dan akhirnya memotivasi untuk berusaha kearah pertambangan tanpa ijin. aktivitas dilapangan seperti land clearing. Telaah Dampak Banjir dan erosi dan kekeringan Perubahan pola ruang akan mengakibatkan perubahan aktivitas. perkebunan dan kehutanan akan dapat menyebankan adanya peningktan erosi yang pada gilirannya akan menyebankan pendangkalan di sekitar sungai dan peningkatan luapan air sungai.4.6.2.Kapuas di sekitar Kuala Jungkat Kabupaten Pontianak.3. Pembangunan Kehutanan. lemahnya koordinasi dan lemahnya pengendalian. 1. pertambanagan akan memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap perubahan iklim. ekplorasi . Pembangunan Transmigrasi dan pertanian. Dampak Berupa banjir terasa pada saat musim penghujan. kondisi ini akan membuat percepatan luapan air sungai-sungai yang ada di sekitar DAS.Penurunan volume dan permukaan tanah gambut Tumpang tindih pemenfaatanperuntukan lahan Kekeringan dan kebakaran lahan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 1. dan teknik penanaman.1. pembangunan Perkebunan. Pembangunan perhubungan. Di beberapa lokasi terjadi dengan intensitas dan daerah cakupan banjir yang cukup luas. Pembangunan Pertambangan. yang akan memberikan dampak ikutan berupa berkurangnya kemampuan tanah untuk dapat menahan air. Telaah Dampak Kumulatif Telaah Dampak Pendangkalan sekitar Muara Berdasarkan tabel di atas dampak pendangkalan sungai di picu oleh adanya beberapa kebijakan dalam bidang Perkebunan. Kehutanan. Petani di Kalimantan Barat sebagian sangat tergantung dari pertanian tadah hujan. terlebih kalau di ikuti dengan pasang laut. dan pembukaan penutupan. Akibantnya peluang terjadinya bencana banjir dan erosi semakin tinggi. dampak ini terasa pada saat musim kemarau. 1.6. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada data dan gambar berikut Selain ketiga kebijakan tersebut revisi RTRWP juga dapat memberikan resiko lingkungan berupa pendangkalan muara-muara sungai yang ada di sekitar DAS.6. sehingga air permukaan menjadi sangat besar. Telaah Dampak Perubahan Musim tanam Isue global berupa perubahan iklim erkait dengan keberadaan hutan di dunia dan hutan di kalimantan Barat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan. Telaah Dampak Peningkatan Peti Kegiatan peti di dalam wilayah DAS Kapuas disebabkan oleh Revisi RTRWP. Pemberian ijin yang sangat luas dan besar terkait dengan kegiatan pertambangan. hal ini terkait dengan pemberian Perijinan.6. sehingga akan terjadi penumpukan di sekitar muara-muara sungai. Pertambangan. dimana di beberapa tempat muncul daratan yang semakin tahun semakin luas. Dampak pendangkalan muara akan terjadi di sekitar muara sungai dari sus-sub DAS yang ada di sekitar DAS sungai kapuas sampai dengan muara S. 1. perubahan pola ruang dan pembukaan isolasi karena arahan revisi RTRWP akan mengakibatkan perubahan aktivitas yang sangat besar terlebih perubahan yang mengarah pada peruntukan. Kebijakan berupa perubahan tata ruang.6. kehutanan. Selanjutnya pada musim kemarau akan terjadi kondisi ekstrim berupa kondisi sebaliknya yakni kekeringan yang berdampak pada kebakaran lahan. . dimana dengan perubahan iklim tersebut maka jelas akan terjadi perubahan musin hujan dan akhirnya mempengaruhi perubahan musim tanam 1.

528 Ha (13. untuk ini dapat dilihat seperti pada trend berikut ini . Gambar 5. Antara tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 cenderung sama.1.0% 9.56 %) dari luas DAS. Buffer Zone dan re komendasi kelaya kan lingkungan) un tuk berbagai perijinan 6. Trend Deforestasi P O L A R . berdasarkan tren ini bilamana dianggap linier dan tidak terjadi perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP maka kawasan hutan di kalimantan Barat akan menurun di bawah 30 % dalam jangka waktu 35 tahun.H U T A N ( % ) = 1 1 5 7 . kehutanan di wilayah DAS Kapuas 2.9% F i t te d L i n e P l o t Berdasarkan tren di atas maka deforestasi di wilayah DAS kapuas terjadi dengan kecenderungan tidak begitu linier. 55 % pertahun.381. Pembangunan perkebunan. Kehutanan maupun perhubungan 5. Revisi RTRWP Perubahan peruntukan ruang sebesar 1. Untuk melihat dampak komulatip yang timbul terhadap terjadinya deforestasi dapat dilihat pada gambar berikut ini. Telaah Dampak deforestasi/degradasi hutan & tumpang tindih pemanfaatan dan penurunan keanekaragaman hayati Deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati di picu oleh adanya beberapa kebijakan yang selama ini dilakukan seperti : 1. baik yang berskala besar maupun perkebunan rakyat. kondisi ini akan lebih terdegradasi dengan adanya alokasi perubahan ruang kearah peruntukan peruntukan ruang sebesar 1.5. transmigrasi. Pertambangan.0 . deforestasi tersebut akan lebih memprihatinkan bilamana terjadi perubahan pola ruang berupa alih fungsi lahan kearah peruntukan selain hutan dalam revisi RTRWP Kalimantan Barat. pertambangan.HUTA N (%) 47 46 45 44 20 0 3 2004 20 0 5 2006 TA H UN 20 0 7 2008 2 00 9 S R-Sq R . Perhu bungan/transportasi dan komitmenya terhadap kondisi lingkungan Hidup Ke hutanan & 3. Jika kondisi ini dianggap linier saja maka laju deforestasi akan mencapai sebesar 0. Kurangnya koordinasi antar pemerintah Kabupaten/kota yg ada di Dalam wilayah DAS Kapu as dalam rangka mencari keserasian lingku ngan hidup 4. Perijinan pembangunan Perkebunan Kelapa sawit.S q ( a d j) 2.56 %) dari luas DAS menimbulkan degradasi penutupan lahan/hutan sehingga menimbulkan percepatan deforestasi. Namun dari dekade 2007 sampai tahun 2009 kecenderungan deforestasi menajam. kurangnya koordinasi antar sektor baik di tingkat prov maupun Kabupaten sampai dengan dengan Unsur Kecamatan dan desa dalam Penetapan Perijinan Perkebunan sawit.6. Aktiviatas lain yang dapat mendorong terjadinya deforestasi adalah aktivitas perkebunan. Pengendalian kawasan konservasi (kawa san gambut > 3 m.528 Ha (13.16 482 5 5. KRP Ini akan menimbulkan ruang terbuka di dalam kawasan sehingga menimbulkan erosi dan peningkatan sedimentasi pada sungai sehingga menyebabkan pendangkalan Dampak Berupa deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati dapat dilihat dari kondisi degradasi penutupan yang ada di sekitar DAS Kapuas terutama penutupan hutan. pertambangan.15.5 5 3 6 T A H U N 49 48 POLA R.381. perhubungan.

0 4.4 5 0 .4 6 8 .6 % 0 .P E R T A M B A N G A N ( % ) = .4 0 0 . Keterkaitan faktor lainnya dalam deforestasi disebabkan oleh berbagai kebijakan dan aktivitas manusia dan kondisi alam seperti kebakaran lahan .1 0 0 .17.P E R K EB U N A N (% ) = 5. untuk melihat kondisi ini dapat dilihat pada gambar berikut ini Gambar 5.PERKEBUNAN (%) 5. sebagai contoh pada peristiwa kebakaran lahan .S q ( a d j) 0 .5 .5 2003 2004 2005 2006 T A H UN 2007 2008 2009 Berdasarkan kondisi ini lonjakan aktivitas perkebunan demikian signifikan dan terasa linier dengan tahun aktivitas berjalan.5 0 0 .3 5 0 . Laju pertambahan aktivitas perkebunan mencapai 0.0 6 9 04 4 7 . Selanjutnya penyebab deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati adalah adanya aktivitas pertambangan terlebih pertambangan tanpa ijin.5 4.3 0 0 . Pembentukan semak belukar dan lahan terbuka dapat disebabkan oleh aktivitas manusia dan kondisi alam.8 + 0 .0 3.7 + 0 .2 0 2003 2004 2005 2006 TA H UN 2007 2008 2009 S R-S q R .Gambar 5.24 %.5 5 POLA R.0 82 8 51 0 87 .0 % POLA R. 2 3 5 7 T A H U N S R -S q R -S q ( a d j) 1 .PERTAMBANGAN (%) 0 . Peningkatan penggunaan lahan untuk perkebunan sangat signifikan terjadi pada rentang waktu 2007 sampai dengan 2009.2 5 0 .0 5 0 3 6 T A H U N 0 .16. 3% 74 . Trend Peningkatan Aktivitas Perkebunan sampai dengan Tahun 2009 F i tte d L i n e P l o t P O LA R . 7% . Trend Peningkatan Aktivitas Pertambangan sampai dengan Tahun 2009 F it te d L in e P lo t P O L A R . kondisi ini akan dapat dilihat dari tren besarnya lahan terbuka atau perkembangan semak belukar yang ada di dalam kawasan kajian.

perkebunan. Oleh karena itu apabila terjadi degradasi terhadap DAS KAPUAS akan dapat menimbulkan implikasi yang signifikan dan kumulatif pada berbagai sektor kehidupan sebagian besar masyarakat Kalimantan Barat. Hasil identifikasi telah menemukan sektor yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS adalah sektor kehutanan.1. Terkait dengan gambaran yang dikemukakan di atas. tetapi karena kegiatan tersebut berlangsung berulang kali atau terus menerus. Dampak kumulatif bisa terjadi karena: (a) dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam. perikanan. (b) berbagai dampak lingkungan bertumpuk pada suatu ruang tertentu sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan. . maka dampaknya bersifat kumulatif. sosial. sumber perikanan air tawar. RENCANA DAN ALTERNATIF PROGRAM KLHS juga dapat digunakan untuk menelaah dampak kumulatif. Bahkan DAS KAPUAS memberikan kontribusi penting dalam menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan sebagian besar masyarakat di Kalimantan Barat seperti sebagai sumber utama air bersih. KLHS mencoba mengidentifikasi berbagai kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak kumulatif serta menyarankan upaya mitigasi yang akan dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas tersebut. justru berbagai aktivitas ekonomi dan masyarakat berpotensi menimbulkan dampak yang dapat menganggu berfungsinya DAS KAPUAS secara berkelanjutan. Identifikasi Sektor-Sektor Yang Menimbulkan Dampak Identifikasi berbagai sektor yang menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS dibagi kedalam kelompok lingkungan. pertambangan.BAB VI MITIGASI IMPLIKASI KEBIJAKAN. prasarana transportasi yang vital dan berbagai sumberdaya lainnya yang disediakan oleh DAS KAPUAS. dan (c) dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan yang menimbulkan efek yang saling memperkuat. Namun ironisnya. perhubungan dan perindustrian dengan mengidentifikasi 16 isu-isu strategis. Sebagaimana diketahui bahwa dampak suatu usaha atau kegiatan dikatakan bersifat kumulatif apabila pada awalnya dampak tersebut tidak tampak atau tidak dianggap penting. ekonomi dan Kelembagaan. Wilayah DAS KAPUAS yang meliputi 10 Kabupaten dan 1 Kota yang terdapat di Kalimantan Barat memiliki peran yang sentral dan strategis. yakni dampak yang berlangsung terus menerus yang bersumber dari berbagai kegiatan di dalam suatu ruang/ kawasan. Deskripsi sektor dengan isu-isu stratetis yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS dapat dilihat pada beberapa tabel berikut ini. 6. baik dalam konteks ekologis dan ekonomi.

Pada kelompok isu lingkungan. munculnya isu tentang konflik sosial dan pergeseran nilai budaya pada dasarnya muncul akibat dari dampak tidak langsung kegiatan HPH dan HTI. deforestasi. penambangan dalam skala besar dan penambangan yang dilakukan berdekatan dengan muara sungai. Seperti isu strategis pendangkalan sekitar muara. 2) Aktivitas Sektor Pertambangan Yang Menimbulkan Dampak Dibandingkan dengan sektor kehutanan.1) Aktivitas Sektor Kehutanan Yang Menimbulkan Dampak Apabila diamati tabel diatas dapat dilihat bahwa isu-isu strategis yang muncul dari aktivitas sektor kehutanan pada kelompok isu lingkungan sebagian besar bersumber dari kegiatan HPH dan HTI. perubahan musim tanam. Penambangan skala besar serta penambangan yang berlokasi berdekatan dengan muara sungai. berkurangnya potensi air tanah. Pada kelompok isu sosial. kekeringan dan kebakaran serta penurunan produktivitas lahan timbul karena aktivitas kegiatan HPH dan HTI. . Sehingga upaya untuk melakukan mitigasi dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan sektor pertambangan lebih ditujukan kepada pengendalian terhadap kegiatan PETI. Oleh karena itu dalam konteks upaya untuk melakukan mitigasi terhadap aktivitas sektor kehutanan pada kelompok isu lingkungan. penurunan kualitas air sungai. . sumber aktivitas sektor pertambangan yang menimbulkan dampak isu lingkungan strategis lebih banyak terjadi karena kegiatan PETI. aktivitas sektor pertambangan yang menjadi sumber munculnya isu-isu lingkungan strategis lebih beragam. banjir dan erosi. maka kegiatan HPH dan HTI menjadi perhatian serius agar dampak kegiatan sektor kehutanan terhadap DAS Kapuas dapat diminimalisasikan.

degradasi lahan gambut. Hasil identifikasi telah mendapatkan bahwa dari 16 (enam belas) dampak isu lingkungan strategis pada sektor perkebunan terdapat 11 (sebelas) dampak isu lingkungan yang muncul akibat kegiatan land clearing. banjir dan erosi. Beberapa dampak isu lingkungan yang muncul akibat dari kegiatan land clearing yaitu isu pendangkalan sekitar muara. sumber aktivitas yang sering menimbulkan dampak isu lingkungan strategis terhadap DAS kapuas adalah kegiatan land clearing. berkurangnya potensi air tanah. perubahan musim tanam. .3) Aktivitas Sektor Perkebunan Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perkebunan. Dengan memperhatikan dampak yang masive dan signifikan akibat dari kegiatan land clearing. deforestasi. lebih ditujukan kepada pengendalian kegiatan land clearing pada sektor perkebunan. intrusi air laut. penurunan produktivitas lahan dan penurunan potensi perikanan tangkap. penurunan kualitas air sungai. degardasi lahan dan kualitas air tanah. maka upaya mtitigasi yang dilakukan untuk mengurangi dampak aktivitas sektor perkbunan terhadap DAS Kapuas. kekeringan dan kebakaran.

pembangunan pelabuhan perikanan serta adanya kegiatan perusahaan perkebunan pada suatu kawasan tertentu merupakan sumber aktivitas yang cukup menonjol dan perlu mendapat perhatian yang serius dalam melakukan mitigasi terhadap dampak yang ditimbulkan dari kegiatan sektor perikanan. isu-isu lingkungan strategis muncul dari sumber aktivitas yang relatif lebih beragam. Namun aktivitas penggunaan tuba dalam menangkap ikan. .4) Aktivitas Sektor Perikanan Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perikanan.

5) Aktivitas Sektor Perhubungan Yang Menimbulkan Dampak Tidak jauh berbeda dengan sektor perikanan. . yaitu limbah kegiatan angkutan sungai dan pembangunan pelabuhan penumpang dan barang. isu-isu lingkungan strategis yang muncul pada sektor perhubungan berasal dari sumber aktivitas yang relatif lebih beragam. upaya untuk melakukan mitigasi terhadap dampak yang berasal dari sektor perhubungan terhadap DAS Kapuas. Oleh karena itu. Namun terdapat 2 (dua) sumber aktivitas yang menonjol menimbulkan dampak isu lingkungan strategis pada sektor perhubungan ini. lebih diarahkan pada pengendalian kedua sumber aktivitas dampak tersebut.

terdapat 2 (dua) sumber aktivitas dominan yang menimbulkan dampak isu lingkungan strategis yaitu sumber limbah industri yang berlokasi pada pinggir sungai serta kegiatan pembangunan kawasan industri. . Upaya mitigasi yang dilakukan harus ditujukan pada pengendalian sumber aktivitas tersebut.6) Aktivitas Sektor Perindustrian Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perindustrian.

degradasi lahan dan kualitas tanah. perkebunan dan pertambangan.1. Dalam konteks interaksi sektor yang menimbulkan dampak kumulatif. Sektor-sektor lain yang aktivitasnya menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS adalah sektor perikanan memiliki 7 isu dampak strategis serta sektor perhubungan dan sektor perindustrian masing-masing memiliki 5 isu dampak strategis. pertambangan dan perkebunan. perkebunan. Identifikasi dan Interaksi Sektor yang Menimbulkan Dampak Berdasarkan hasil identifikasi dan interaksi sektor yang menimbulkan dampak apabila dilihat dari aspek kelompok isu. pada kelompok isu lingkungan. Sedangkan isu pendangkalan sekitar muara. Realitas yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas perekonomian di Kalimantan Barat sangat didominasi oleh sektor kehutanan. Berikut ini tabel yang menyajikan data yang terkait dengan interaksi sektor yang menimbulkan dampak kumulatif tersebut. isu tentang konflik sosial dan pergeseran nilai budaya merupakan isu lingkungan sosial yang timbuk dari aktivitas . Sehingga pengendalian terhadap ketiga sektor dapat saja memberikan pengaruh pada aktivitas ekonomi masyarakat secara keseluruhan. mengingat dampak yang ditimbulkan sangat masif serta memberikan efek yang berantai dan kumulatif.Dengan memperhatikan tabel-tabel di atas dapat diidentifikasi terdapat 3 (sektor) yang aktivitasnya sangat memiliki potensi menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap DAS KAPUAS yaitu sektor Kehutanan dan Sektor Perkebunan masing-masing dengan 16 isu-isu dampak strategis dan sektor pertambangan dengan 12 isu dampak strategis. isu tentang penurunan kualitas air sungai merupakan isu lingkungan yang timbul akibat dari aktivitas semua sektor (sektor kehutanan. deforestasi merupakan isu lingkungan yang timbul akibat dari aktivitas sektor kehutanan. 6. perkebunan dan pertambangan. Tabel 6. berkurangnya potensi air tanah. Indentifikasi dan Interaksi Sektor Yang Menimbulkan Dampak Kumulatif Sebagaimana dikemukakan sebelum sektor-sektor yang memiliki dampak signifikan dan kumulatif terhadap DAS Kapuas adalah sektor kehutanan. banjir dan erosi. Kegiatan ketiga sektor tersebut perlu untuk mendapat perhatian secara spesifik. perikanan. perhubungan dan perindustrian).2. pertambangan. akan teridentifikasi isu-isu strategis yang menjadi isu-isu dampak pada setiap sektor. Sementara itu dari kelompok isu sosial.

semua sektor yang diidentifikasi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas. berkurangnya potensi air tanah. Pada kelompok isu ekonomi. terdapat 3 (tiga) sektor yang berpotensi menimbulkan dampak yang sangat signifikan yaitu sektor kehutanan. konflik sosial. Berikut tabel yang menyajikan mitigasi dampak sektoral pada DAS Kapuas. kelompok ekonomi 2 isu dan kelompok kelembagaan 2 isu. Sedangkan 3 (sektor) lainya yaitu sektor perikanan. Mitigasi ditujukan pada semua sektor serta pada semua isu-isu dampak lingkungan strategis dengan lebih menekankan pada sektor-sektor yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang sangat signifikan serta pada isu-isu dampak lingkungan yang paling strattegis. Kelompok isu ekonomi mencakup isu tentang penurunan produktivitas lahan serta penurunan potensi perikanan tangkap. 6. isu penurunan potensi perikanan tangkap merupakan isu lingkungan strategis yang timbul akibat dari aktivitas semua sektor. penurunan potensi perikanan tangkap. pergeseran nilai budaya. pergesaran nilai budaya.semua sektor. Secara sektoral terdapat 6 (enam) isu-isu dampak lingkungan yang paling strategis yaitu isu dampak lingkungan penurunan kualitas air sungai. perkebunan dan pertambangan. Sedangkan aktivitas pada sektor pertambangan hanya menimbulkan 12 (dua belas) dampak isu lingkungan strategis. perunuranan produktivitas lahan. banjir dan erosi. isu penurunan produktivitas lahan merupakan isu lingkungan strategis yang timbul dari aktivitas sektor kehutanan. Kelompok isu sosial mencakup isu konflik sosial. Dalam kelompok isu ekonomi juga. penurunan kualitas air sungai. Dengan kata lain. intrusi air laut. Sedangkan kelompok isu kelembagaan mencakup isu tumpang tindih perijinan serta pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif. degradasi lahan gambut. perkebunan dan pertambangan.3. . Isu-isu dampak lingkungan ini terjadi pada semua sektor. sektor perkebunan dan sektor pertambangan. kelompok sosial 2 isu. sektor perhubungan dan sektor perindustrian cukup signifikan terhadap DAS Kapuas. Dari 6 (enam) sektor. Hasil identifikasi menghasilkan juga isu-isu strategis sebanyak 16 isu yang terdiri kelompok isu lingkungan sebanya 10 isu. Pada kelompok isu ini. terdapat 2 (dua) sektor yang kegiatannya menimbulkan dampak pada semua isu-isu lingkungan tersebut yaitu sektor kehutanan dan sektor perkebunan. Kelompok isu lingkungan mencakup isu tentang pendangkalan sekitar muara. serta kekeringan dan kebakaran. aktivitas yang dilakukan di sektor-sektor tersebut berpotensi menimbulkan dampak terjadinya penurunan potensi perikanan tangkap. degradasi lahan dan kualitas tanah. deforestasi. perubahan musim tanam. perijinan yang tumpang tindih serta pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif. Sedangkan isu pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif merupakan isu lingkungan strategis yang terjadi pada semua sektor yang terindentifikasi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas. Kelompok isu selanjutnya yaitu kelompok isu kelembagaan. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya dari 16 (enam belas) isu dampak strategis tersebut. Mitigasi serta Perbaikan Rencana dan Kebijakan Hasil identifikasi sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya mendapatkan terdapat 6 (enam) sektor yang aktivitasnya berpotensi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas. isu tentang terjadinya tumpang tindihnya perizinan terjadi pada sektor kehutanan.

Tabel 6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Kehutanan pada DAS Kapuas .2.

.

Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Pertambangan pada DAS Kapuas .3.Tabel 6.

Tabel 6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perkebunan pada DAS Kapuas .4.

.

5.Tabel 6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perikanan pada DAS Kapuas .

Tabel 6.6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perikanan pada DAS Kapuas

Tabel 6.7. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perindustrian pada DAS Kapuas

BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

7.1.

Kesimpulan

1. Revisi RTRWP terhadap pola ruang di DAS Kapuas mendorong penurunan terhadap tutupan hutan sebesar 11,84 % dari tutupan yang ada sekarang. Hal ini Memenimbulkan resiko lingkungan berupa penurunan daya dukung. Oleh karenanya, perubahan peruntukan dengan cakupan yang luas di wilayah ini tidak harus diberikan, terkecuali untuk keperluan pemukiman. Selanjutnya Perlu telaah kembali terhadap bentuk perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP tersebut secara yuridis, Teknis, Sosial budaya dan historis serta motivasi perubahannya agar tidak terjadi perubahan peruntukan yang dapat menurunkan daya dukung lingkungan 2. Pengendalian kegiatan Perkebunan, Pertambangan dan kehutanan (izin lokasi, HGU dan IUP serta IUPHHK-HA dan lainnya) perlu diepektifkan kembali, sehingga bisa di peroleh optimalisasi pemanfaatan dan sekaligus dapat diinventarisir bentuk pelanggaran hukumnya 3. Proses perijinan dan pengelolaan pembangunan PERKEBUNAN, PERTAMBANGAN, KEHUTANAN,, PERIKANAN, PERINDUSTRIAN DAN PERHUBUNGAN perlu adanya koordinasi dengan aparat pada tingkat tapak baik yang berasal dari instansi formal maupun non formal (Kecamatan & desa), agar diperoleh koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan 4. Proses perijinan untuk pendayagunaan lahan khususnya tanah gambut perlu dikaitkan dengan survei semi detail sampai detail terkait dengan kematangan dan kedalaman gambut terutama yang ada di wilayah DAS Kapuas 5. Dengan besarnya potensi tumpang tindih pemanfaatan dan peruntukan serta dampak lainnya di sekitar DAS Kapuas, maka proses perijinan pembangunan Perkebunan, Kehutanan, Pertambangan, pertanian, perikanan, perindustrian dan perhubungan perlu adanya koordinasi vertikal dan horisontal yang lebih baik antar sektor pada tingkat provinsi maupun kabupaten. 7.2. Rekomendasi 1. Revisi RTRWP terhadap pola ruang di DAS Kapuas mendorong penurunan terhadap tutupan hutan sebesar 11,84 % dari tutupan yang ada sekarang. Oleh karenanya, perubahan peruntukan dengan cakupan yang luas di wilayah ini tidak harus diberikan, terkecuali untuk keperluan pemukiman. Selanjutnya perlu telaah kembali terhadap bentuk perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP tersebut secara yuridis, Teknis, Sosial budaya dan historis, serta tidak mengakomodir motivasi perubahan yang mengarah pada konversi kawasan hutan menjadi perkebunan. 2. Memperhatikan mitigasi yang ada untuk wilayah DAS Kapuas, maka beberapa Sektor seperti Perkebunan, Kehutanan, Pertambangan, Perindustrian serta perhubungan perlu adanya perbaikan regulasi dan kebijakan baru yang lebih epektif terhadap : a. Koordinasi antar stakeholder baik vertikal maupun horizontal, Kabupaten pada saat proses perijinan. pada tingkat Provinsi maupun

b. Pengendalian terhadap aktivitas yang sudah ada melalui regulasi terhadap kelola ruang yang lebih jelas dan kongkrit. Sehingga bisa di peroleh optimalisasi pemanfaatan dan sekaligus dapat diinventarisir dan diproses pelanggaran hukumnya.

.

.

.

.

.

.

Spatial Plan And Development Plans (West Sumatera)

kesesuaian lahan.1. Dampak Program Pengembangan Industri Pengolahan. seperti budidaya ikan laut (tambak) dapat diperkirakan akan merusak atau berkurangnya hutan mangrove. warisan tanaman tua (keras) menjadi semakin berkembang dan menguat kembali.2. Program peningkatan penggunaan pupuk dan pestisida yang akan kualitas air (terutama pada kegiatan c). Jasa dan Perdagangan 1. balai benih dll.1.3. mempengaruhi yang berdampak ● ● ● ● ● Program peningkatan jumlah limbah (termasuk limbah cair) yang akan mengakibatkan penurunan kualitas air dan peningkatan kebutuhan air untuk proses produksi (terutama untuk kegiatan a dan c).1. hutan larangan. 1. Kondisi tersebut dapat dicapai bila pemerintah memberi pengakuan dan perlindungan atas hak-hak ulayat masyarakat (tanah. sehingga harus diatur dengan zonasi kawasan budidaya dan kawasan mangrove yang dilindungi. jaringan irigasi. Program peningkatan Penggunaan pupuk. Penyediaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Pertanian seperti jalan usaha tani. Disamping itu pedoman hidup dan acuan nilai-nilai tersebut dituangkan secara tertulis sehingga dapat dipedomani oleh generasi muda dan diperkaya dengan ilmu pengetahuan ilmiah. Untuk itu diperlukan aturan perizinan yang sangat kuat untuk menjaga keseimbangan pengembangan pembangunan kawasan. air dan hutan).2) Pengembangan klaster industri unggulan akan mendorong permintaan bahan baku untuk memenuhi kuota industri. Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat aktivitas kawasan ● ● ● ● ● ● ● . Dampak Program Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan Dampak program ini di masa mendatang adalah: ● Pengembangan kawasan sentra produksi pertanian diperkirakan akan memerlukan perluasan areal tanam yang lebih luas sehingga berkemungkinan akan mengkonversi kawasan hutan. Dampak program ini dimasa mendatang adalah sebagai berikut: ● Pengembangan sentra-sentra industri Potensial yang salah satu kegiatannya adalah fasilitasi sarana-prasarana sentra industry diperlakukan sama dengan pembangunan sarana prasarana pertanian (point 5. berkemungkinan akan diikuti dengan perkembangan pemukiman ke kawasan yang dibuka.1. air dan hutan. Program peningkatan produksi perikanan budidaya. Atau dengan kata lain lembaga masyarakat adat akan semakin berdaya bila pemerintah memberikan pengakuan dan perlindungan atas hak-hak ulayat masyarakat khususnya yang terkait dengan akses dan kontrol terhadap tanah.1. Dampak Rencana/Program dari RPJMD Sumatera Barat Dampak Program Pengamalan ABS & SBK Program Pengamalan ABS dan ABK akan berjalan efektif bila nilai-nilai kearifan lokal terutama yang terkait dengan hak ulayat. yang selanjutnya memicu extensifikasi lahan produksi yang berdampak pada pengurangan kawasan Terjadinya konversi lahan dari sektor lain ke sektor industri Menumbuhkan lahan-lahan pertanian baru Mengurangi lahan pertanian yang ada Memacu peningkatan pertumbuhan ekonomi Terjadinya peningkatan jumlah limbah (termasuk limbah cair) yang akan mengakibatkan penurunan kualitas air dan peningkatan kebutuhan air untuk proses produksi (terutama untuk kegiatan a dan c).1. pestisida dan kebutuhan air kepada kualitas dan kuantitas air (terutama pada kegiatan c dan d). 1.

Berkurangnya kawasan hutan nantinya akan menimbulkan potensi banjir di hilir kawasan hutan tersebut serta potensi longsor Terjadinya penurunan luas lahan produktif sehingga daerah resapan berkurang Terjadinya banjir. Terjadinya longsor pada badan jalan yang dibuka untuk keperluan proyek (khusus untuk jaringan primer) Meningkatnya pencemaran air pada saat konstruksi dan perubahan tata air (temporer) Membantu pengendalian banjir Membantu penanggulangan bencana tsunami dan gunung meletus memberi jalur evakuasi (terutama kegiatan d) Menyebabkan longsor. Berkurang atau dilewatinya kawasan hutan lindung seperti kawasan lembah anai dan kelok sembilan.● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Meningkatatnya kebutuhan air dan pencemaran air akibat aktivitas pengolahan produk perkebunan dan perikanan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat aktivitas intensifikasi dan ekstensifikasi kegiatan pertanian. Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● Meningkatan lahan produktif Mengakibatkan penurunan luas cakupan hutan dan penurunan luas lahan produktif. berdampak pada kualitas air dan kebencanaan Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat ● ● 1.1. Agam-Bukittinggi (PLTA Kota Panjang). kehutanan dan perkebunan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan pengembangan kawasan agropolitan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat pengembangan industry berbasis pertanian Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan jasa dan perdagangan di kawasan metropolitan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan dikawasan andalan Meningkatnya limbah cair perkotaan akibat pengembangan PKN dan PKW.PIP Danau SingkarakLubuk Alung-Ketaping dan Kawasan Andalan Laut Mentawai-Siberut dan Sekitarnya). Mentawai dan sekitarnya.4. Solok dan sekitarnya (Danau Kembar. yang meliputi Kawasan Padang Pariaman dan sekitarnya. banjir pada daerah tertentu Meningkatkan penanggulangan bencana Terrjadinya longsor pada badan jalan yang dibuka untuk keperluan proyek (khusus untuk jaringan primer) ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . Meningkatnya limbah cair perkotaan dan ketersediaan kebutuhan air. Meningkatnya beban pencemaran yang akan berpengaruh pada Kualitas air (khususnya sungai) akibat peningkatan berbagai aktifitas perkotaan (PKWp dan PKL) Meningkatnya potensi longsor perkotaan dan abrasi akibat pembangunan sarana dan prasarana Menurunnya kualitas air terutama pada kegiatan konstruksi pembangunan jaringan transportasi (dampak sesaat) dan berdampak pada peningkatan potensi longsor terutama pada tebing-tebing badan jalan. Meningkatnya Sumber daya air dan kestabilan lahan (mengurangi bencana longsor) Meningkatnya pemanfaatan kawasan budidaya untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah terutama Pengembangan kawasan andalan sesuai dengan potensi unggulan.

sehingga dapat berdampak pada degradsai dan kualitas sungai. HRNA. Terjadinya Peningkatan Penyelamatan dan Evakuasi Korban Bencana Pada Wilayah Bencana Peningkatan Pendistrbusian kebutuhan Logistik Kebencanaan selama masa tanggap darurat Peningkatan Pendistribusian Peralatan Kebencanaan selama masa tanggap darurat Peningkatan Pendistribusian Bahan Penanganan Sementara Pada Wilayah Bencana Peningkatan Penanganan pemulihan dini kawasan Bencana Penyusunan dan Perhitungan DALA. Terbukanya akses sumberdaya hutan. Mengurangi RTH dan kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai).5. Mitigasi dan Penanggulangan Bencana Alam ● ● ● ● ● ● ● 1. banjir pada daerah tertentu Membantu penanggulangan bencana Terjadi penurunan sementara terhadap kualitas air dan tata kelola aliran irigasi serta kecukupan air dan water produktivity.2.● ● ● ● ● ● ● ● Terjadinya pencemaran air pada saat konstruksi dan perubahan tata air (temporer) Membantu pengendalian banjir Membantu penanggulangan bencana tsunami dan gunung meletus memberi jalur evakuasi (terutama kegiatan d) Menyebabkan longsor. Menurunnya kualitas dan kuantitas air yang dapat memberikan efek pada konflik penggunaan air kedepannya. Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● ● ● ● ● ● 1. PDNA dan RA-RR Meningkatnya usaha penanggulangan bencana Pelestarian Lingkungan Hidup Meningkatnya luas lahan produktif pertanian Meningkatnya ketersediaan air untuk kebutuhan lahan pertanian Terhindarnya pengalihan lahan pertanian ke kegiatan non pertanian Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● ● . kedalam lingkungan hutan yang dikhawatirkan dapat merusak Terjadinya penurunan kualitas air dan daya dukung sungai akibat peningkatan jumlah angkutan / transportasi kapal pada pelabuhan tersebut serta peningkatan jumlah sedimen akibat penurunan kecepatan aliran sungai . Dilaukan pengendalian pemanfaatan ruang provinsi. Terjadinya penurunan kualitas air Terjadinya penurunan luas tutupan lahan pada lingkungan bandara yang nantinya akan mengurangi lahan tampungan air (reserfor air) yang da[at menimbulkan limpasan pada aderah sekitar. Berkurangnya tegakan vegetasi sehingga lebih lanjut dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air disekitar hutan. Terjadinya penurunan RTH dan kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). kasawan perbatasan dilakukan dengan intensitas pemantauan dan evaluasi rendah maka dampak positif dapat menjadi dampak negative.1. khususnya terkait pada pengelolaan sumber-sumber air. Kondisi yang sama juga terjadi pada pemenuhan material bangunan seperti pasir dan batuan yang jika dieksploitasi secara besar-besaran pada badan air dan tidak mengindahkan kaidah lingkungan. serta terganggunya kualitas air dan keseimbangan tata kelola air antara kawasan-kawasan hulu dan hilir.

Berdasarkan kajian dampak yang diutarakan pada Bab V terdahulu. 1. sekunder dan tersier sesuai daya dukung wilayah Ditetapkannya pusat-pusat kegiatan untuk mendukung pelayanansosial/ekonomi dan pengembangan wilayah Meningkatnya fungsi Kota Padang menjadi kota metropolitan Ditetapkannya Kota Payakumbuh. Lubuk Basung.3. Sarilamak. dan Simpang Empat menjadi Pusat Kegiatan Wilayah yang dipromosikan provinsi (PKWp) untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota. Padang Aro. Parik Malintang. Lubuk Sikaping.3. Aaptasi dan Rekomendasi Rekomendasi untuk Program Pengamalan ABS & SBK ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● 1. dan Keanekaragaman hayati Terljamin dan terjaganya kualitas air yang baik dan akan membuat tata guna air menjadi lebih baik Tertatanya lingkungan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yaitu terlaksananya program ini nanti. khusus untuk dampaknya terhadap kualitas dan tata air adalah: lingkungan yang telah tidak sesuai lagi dengan daya dukung air. Lubuk Alung. maka lingkungan ini akan ditata kembali. dan Tuapejat untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan Mendorong terbentuknya aksesibilitas jaringan transportasi dalam rangka menunjang perkembangan wilayah Ditetapkannya kawasan lindung untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam secara terpadu dengan provinsi berbatasan Meningkatnya pemanfaatan kawasan budidaya untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah Meningkatkan dampak positif pada kebencanaan dengan cara melakukan pengendalian pemanfaatannya dan pada kawasan yang telah rusak dilakukan pemulihan. Eksploitasi sumberdaya alam dilakukan secara terus menerus. Maka upaya pengawasan dan pengendalinnya dilakukan secara terpadu melibatkan seluruh stakeholder berkesinambungan dan berkelanjutan yang berwawasan pada daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pengendalian lingkungan hidup. Pulau Punjung. Aro Suka. melibatkan tiga unsur yaitu masyarakat.● ● ● ● ● ● ● ● ● Terkendalinya pemanfaatan lahan pertanian Terjaganya keseimbangan daya dukung lahan terhadap potensi fungsi pertanian dimasa sekarang dan yang akan datang Bertahannya fungsi pertanian sesuai dengan peruntukannya Meminimalisir dampak pembangunan pada kawasan pertanian Mempertahankan tutupan lahan pertanian dari efek perubahan iklim global Mempertahankan luasan lahan pertanian yang optimal dari pengaruh pembangunan yang berkelanjutan Terkendalinya Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup pada Air. Tapan.1. Mitigasi. air dan hutan terjaga dari kerusakan atau degradasi. Udara. dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yaitu Painan. Salah satu langkah yang efektif untuk memberdayakan kelembagaan masyarakat adat adalah dengan memberi pengakuan dan perlindungan atas hak ulayat. Kota Padang Panjang. Lahan. Kemudian bagi lingkungan yang mau dibangun akan memperhitungkan daya dukung air Berkurangnya kesenjangan pembangunan dan perkembangan wilayah Utara-Selatan Provinsi Sumatera Barat Berkembangnya ekonomi sektor primer. jika wasdal lemah akan terjadi penyimpangan pemanfaatan SDA dan dapat memicu terjadinya bencana. fungsi kelembagaan masyarakat adat dipandang penting untuk lebih diberdayakan karena melalui tatanan kelembagaan adat sumberdaya tanah. pemerintah dan dunia usaha. Muaro Sijunjung. Batusangkar. .

6) Pemantauan kualitas air terkait pemakaian pupuk dan pestisida (belum ada dalam RPJMD) Peningkatan jumah bibit/benih variatas unggulan pertanian yang dikembangkan peningkatan produksi varietas unggul atau ● ● ● ● ● ● ● Penyuluhan penggunaan pupuk dan pestisida dan pengembangan pertanian organic (sudah ada dalam RPJMD 5. Program peningkatan produksi perikanan budidaya yang berkaitan dengan budidaya ikan laut diatur dengan zonasi kawasan budidaya dan kawasan lindung (mangrove) Penyuluhan pada petani (sudah ada dalam RPJMD 5. Catatan l: lokus pembangunan sarana agar diprioritaskan pada kawasan beresiko rawan pangan) Pengembangan cadangan airtanah dengan pembangunan embung. Disamping itu perlu dalam diseverkasi dilakukan pengembangan varietas lokal (belum ada dalam RPJMD dan lebih cocok untuk program 5. maka beberapa program prioritas Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan perlu diarahkan menjadi msebagai berikut: ● ● Pengembangan kawasan sentra produksi pertanian dengan tetap menjaga luas tutupan hutan (40% sesuai RTRW) Penyediaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Pertanian dengan pembatasan pembangunan lainnya melalui aturan perizinan yang lebih ketat bila lokasi berada pada hutan lindung. 1. program prioritas 9/infrastruktur).3a dan 5.9 Diversifikasi) Pembangunan sarana pengairan /irigasi di kawasan rawan pangan Kegiatan pembangunan sarana (Sudah dalam RPJMD. ● ● ● Berdasarkan rekomendasi tersebut maka beberapa Perubahan yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 6.7 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW kegiatan ditambahkan atau dirubah. .1.3a ) Pengendalian penggunaan pupuk kimia dan pestisida (sudah ada dlm RPJMD 5.2.2. 1. Rekomendasi untuk Program Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan Bedasarkan uraian dampak dari program ini yang telah dijelaskan pada BAB V terdahulu.3) Membudayakan penggunaan pupuk dan pestisida organic/alami (sudah ada dalam RPJMD 5.3. Pengembangan klaster industri unggulan dengan tetap menjaga luas tutupan hutan (40% sesuai RTRW) Agar dalam pelaksanaan program pengembangan industri pengolahan jasa lingkungan & perdagangan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup.2.Kebijakan ini dipandang penting diintegrasikan ke dalam program-program strategis dan kegiatan Pengamalan ABS dan SBK.3. beberapa program dan kegiatan yang dipandang perlu diperbaiki dapat dilihat Lampiran Tabel 6. Dari 17 program strategis yang dirancang.1.3.3.9). Rekomendasi untuk Program Pengembangan Industri Pengolahan jasa & Perdagangan Bedasarkan kepada uraian dampak dari program ini yang telah dipaparkan pada BAB V terdahulu. maka beberapa program prioritas Pengembangan Industri Pengolahan jasa & Perdagangan (P6)perlu diarahkan menjadi sebagai berikut: ● ● ● Pengembangan sentra-sentra industri Potensial dengan pembatasanan pembangunan lainnya melalui aturan perizinan yang lebih ketat bila lokasi berada pada hutan lindung. untuk menjamin keberlanjutan pertanian di daerah rawan tersebut (belum ada dalam RPJMD) Kajian terhadap ketersediaan air untuk pengembangan kawasan andalan dan agoropolitan (penambahan kegiatan 5.

pembangunan embung/situ di bagian hulu.1a. Peningkatan layanan jalan dan jembatan menuju daerah Riau.3.7. dimiliki dengan Peningkatan dan pembangunan jalan arteri primer baik di lintas utama perekonomian maupun perkotaan untuk mengurangi kemacetan. Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan masyarakat dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah serta penanggulangan kemiskinan di daerah. Sumatera Utara. Pembangunan jalan dan jembatan baru untuk membuka akses daerah terpencil dan meningkatkan mobilitas masyarakat perdesaan dengan tujuan peningkatan dan pemberdayaan perekonomian masyarakat dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir (mencegah dampak kebijakan tata ruang no.8. Pembangunan jalan dan jembatan antar daerah yang bertujuan untuk mengurangi biaya dan waktu perjalanan.5 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW kegiatan ditambahkan untuk industry atau dirubah. Jambi dan Bengkulu dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir. lahan produktif dan potensi banjir. Pengembangan. Pembangunan jalan Kelok Sembilan dengan memperhatikan kawasan lindung. Penataan kawasan kumuh dengan memperhatikan faktor kesehatan. serta mengurangi efek pencemaran lingkungan akibat polusi transportasi dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir. Peningkatan jalan pantai barat Sumatera Barat dengan memperhatikan lahan produktif.7 Pengembangan Teknologi Tepat Guna di sempunakan menjadi Program Pengembangan Teknologi dan Ramah Lingkungan (perbaikan 6. Pemberian fasilitas dan simulasi pembangunan perumahan swadaya. mendukung pengembangan daerah dan mengurangi beban ruas-ruas yang sudah mendekati kapasitas dengan memperhatikan kawasan lindung.1 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW Pembuatan IPAL Terpadu pada pengembangan kasawasan andalan (Penambahan kegiatan 6. serta merevitalisasi kawasan. ● Berdasarkan rekomendasi tersebut maka beberapa Perubahan yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 6. mengoptimalkan lahan tidur menjadi lahan produktif. Pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan dan pedesaan. 1.3.4. rehabilitasi lahan kritis. Pembangunan jalan alternatif/baru sebagai langkah penanggulangan dan antispasi masalah kemacetan pada jalan arteri primer. 1b pada pasal 14 RTRW). perbaikan sistem drainase dan pembangunan sumur resapan. Rekomendasi untuk Program Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat (Prioritas 9) Bedasarkan kepada uraian dampak dari program ini yang telah dipaparkan pada BAB V terdahulu. Normalisasi sungai. ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . Pemugaran bangunan dan kawasan cagar budaya. Optimalisasi pemanfaatan aset-aset prasarana jalan yang telah memperhatikan volume debit pada musim hujan dan kawasan lindung.● Program strategis 6. Penataan Bangunan dan Lingkungan dengan memperhatikan daerah resapan dan drainase Program Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Rumah Akibat Bencana untuk mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah yang rusak dan hancur akibat bencana yang terjadi di Sumatera Barat dengan tetap memperhatikan lahan produktif dan faktor keselamatan penduduk serta keberlanjutan sumber daya alam. Rehabilitasi dan Pemeliharaan Penyelenggaraan Transportasi udara dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif dan sistem drainase. maka beberapa program prioritas Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat perlu diarahkan menjadi sebagai berikut: ● ● ● ● ● Melakukan reboisasi atau penghijauan.

Meningkatkan keberlanjutan fungsi dan pemanfaatan sumberdaya air. mewujudkan keterpaduan pengelolaan. dan program peningkatan kinerja pengelolaan persampahan dan drainase dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif. Perbaikan irigasi yang rusak akibat bencana alam. dan sumberdaya air lain. dan pengembangan jaringan irigasi. sehat. Pembangunan pembuangan air limbah dan drainase. Percepatan pembangunan dan pengembangan infrastruktur pada kawasan khusus dengan memperhatikan kawasan lindung dan lahan produktif. Peningkatan OP drainase . sungai. Optimalisasi pemanfaatan lahan irigasi. seperti danau. serta jaringan pengairan lainnya dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nacional melalui upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan air dan wáter produktivity. rawa. rawa. Rehabilitasi daerah rawa. Membangun rumah sederhana sehat untuk mengurangi backlog dan pengembangan kasiba/lisiba dengan memperhatikan lahan produktif dan daerah resapan. serta menjamin kemampuan keterbaharuan dan keberlanjutannya sehingga dapat dicapai pola ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . Pembangunan dan pengembangan prasarana dan sarana air minum dan air limbah yang berbasis masyarakat. Peningkatan pemeliharaan dan normalisasi saluran dengan memperhatikan debit banjir. Program meliputi pemberdayaan masyarakat. serta menyediakan dan meningkatkan pelayanan prasarana dasar permukiman sehingga tercipta kawasan permukiman dan perumahan yang sehat dan ramah lingkungan dengan memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan hidup.● Mendorong pemenuhan kebutuhan rumah yang layak huni. program pengembangan kelembagaan. Pembangunan prasarana listrik dengan tetap memperhatikan lahan produktif. Pembangunan jalan lingkungan dan perbaikan lingkungan permukiman. Program ini dilaksanakan dengan memperhatikan dampak lingkungan yang potencial terjadi. rawa. Pembangunan prasarana air bersih yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas dan terdistribusi secara merata dengan tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya air. serta rehabilitasi jaringan irigasi Indrapura. Perbaikan prasarana drainase yang rusak dan pembangunan drainase pada kawasan permukiman baru serta pada kawasan yang terkena bencana dengan memperhatikan debit banjir. meliputi kegiatan pokok : Pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Rehabilitasi. Mendukung pembiayaan dan pengembangan kelembagaan perumahan. Mewujudkan pengelolaan jaringan irigasi. Peningkatan dan normalisasi saluran drainase dengan memperhatikan debit banjir. Pengembangan prasarana dan sarana drainase dengan memperhatikan debit banjir. dan sumber air lainnya. Fasilitasi dan koordinasi pembangunan dalam pengelolaan jaringan irigasi termasuk jaringan tersier. kawasan lindung dan persyaratan kesehatan. termasuk lanjutan pembangunan daerah irigasi Anai II dan Batahan. aman dan terjangkau dengan menitikberatkan pada masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah. kawasan lindung dan persyaratan kesehatan Perencanaan dan penyediaan sarana dan prasarana persampahan dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif. Pembangunan prasarana sanitasi sesuai dengan persyaratan kesehatan. rawa. Meningkatkan pelayanan dasar permukiman agar tercipta kondisi masyarakat yang sehat. serta persampahan. dan jaringan lainnya. peningkatan. Pembangunan perumahan di daerah kumuh daerah perkotaan dan perdesaan sesuai dengan persyaratan kesehatan.

gudang. Kepulauan Mentawai Meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan dalam rangka mengurangi ekonomi biaya tinggi dengan melibatkan sektor swasta di dalam pengembangan dan pelayanan pelabuhan. dengan membentuk kota Padang sebagai kawasan perkotaan inti. terminal dan fasilitas pendukung dilakukan dengan mempertimbangkan upaya pengelolaan limpasan air akibat berkurangnya tutupan lahan dan mengakomodasi sistem drainase pada perencanaan kegiatan tersebut Pengendalian Pemanfaatan Ruang dengan mempertimbangkan intensitas pemantauan dan evaluasi terhadap aspek tata kelola air kawasan hulu dan hilir. Rehabilitasi dan pembangunan embung memperhatikan tata kelola pemanfaatan air. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Provinsi Pengendalian Pemanfaatan Kawasan Perbatasan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kabupaten/Kota Menyiapkan dan mendorong kota Padang sebagai kota metropolitan. ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . terminal penumpang. dan lapangan penumpukan peti kemas. Kegiatan pokoknya adalah : Rehabilitasi dan pemeliharaan dermaga. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. Program dilakukan dengan kegiatan pokok: Peningkatan sarana dan prarasana pelabuhan dan terminal pada pelabuhan ASDP dengan tetap mempertimbangkan kualitas air dan daya dukung lingkungan sungai dan danau (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 17.pengelolaan sumberdaya air yang terpadu dan berlanjutan. dan eksploitasi air tanah yang terkendali dengan upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan air dan wáter produktivity. dan Kota Pariaman dan Kota Painan sebagai kota-kota disekitarnya yang membentuk suatu kawasan pusat perkotaan metropolitan dilakukan dengan mempertimbangkan penurunan kualitas air. RTH dan Kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). pembangunan fasilitas pergudangan. Peningkatan operasionalisasi organisasi pengelola sumberdaya air. Kegiatan pokoknya adalah : Fasilitasi Rehabilitasi dan pemeliharan bangunan terminal. Operasi dan pemeliharaan. kantor. rehabilitasi dan pengembangan sumberdaya air. Perpanjangan landasan pacu. Pembangunan pelabuhan di Pasaman Barat. di daerah yang membutuhkan dengan Meningkatkan pelayanan angkutan sungai dan penyeberangan yang telah ada. fasilitas parkir. dan lain-lain). parkir. 19) Peningkatan kualitas moda angkutan untuk pelabuhan penyeberangan lintas Kota Padang – Kab. ● ● ● ● ● ● ● Penatagunaan sumberdaya air. Padang Pariaman dengan memperhatikan upaya pengelolaan dan pemantauan penurunan kualitas air Meningkatkan kapasitas pelayanan bandar udara dan standar keselamatan. Rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas yang ada pada land-side (seperti. Rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas keselamatan pelayaran. serta keseimbangan pengelolaan kawasan hulu hilir. Pengerukan alur pelayaran dengan memperhatikan pengelolaan dan pemantauan lingkungan terhadap penurunan kualitas air. 18. (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 10) Kegiatan pokok pada program ini yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: Melakukan kajian-kajian pendahuluan untuk mengwujudkan konsep Padang sebagai kota metropolitan yang tergabung dengan kota Pariaman dan Kota Painan sebagai sebuah system perkotaan metropolitan.

Mendorong dan memfasilitasi penyediaan segala sarana dan prasarana yang mendukung Kota Metropolitan Padang. Mendorong dan memfasilitasi kerjasama antara pemerintah Kota Padang. Menyusunan rencana tata ruang dan rencana detil tata ruang wilayah Kota Metropolitan Padang. Minang Expo. koordinasi dan fasilitasi dalam peningkatan lingkungan sehat kawasan perumahan dan pengurangan daerah kumuh (sanitasi lingkungan) Penataan Bangunan dan Lingkungan. SPM dalam penataan bangunan pada daerah rawan bencana . NPSM.pasal 42) Pengembangan Wilayah Perbatasan dengan Negara Lain (Pulau-pulau terdepan) Pengembangan Wilayah Perbatasan dengan Provinsi Tetangga Pengembangan Wilayah Perbatasan antar Kabupaten/Kota Pengembangan Perumahan dan Permukiman dengan mempertimbangkan RTH dan upaya keseimbangan terhadap kualitas dan kuantitas air. Pasar : Pembangunan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Koordinasi. Kota Pariaman. perencanaan dan penyusunan kebijakan. Pasar Manggilang. serta pengelolaan kawasan hulu lilir Pemberdayaan komunitas perumahan melalui bantuan stimulant untuk masyarakat miskin Penyusunan kebijakan dan sistem peraturan dalam pengembangan perumahan dan permukiman Pembinaan. dan Kota Painan untuk membangun kelembagaan perkotaan metropolitan Pengembangan Wilayah Perbatasan dilakukan dengan mempertimbangkan RTH dan Kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). fasilitasi. dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan kearifan lokal Rehabilitasi dan rekontruksi bangunan kantor akibat gempa 30 September 2009 Pembangunan dan Peningkatan sarana prasarana fasilitas umum seperti Gedung Serbaguna.● ● ● ● ● Mendorong dan memfasilitasi segala persyaratan yang diperlukan untuk menwujudkan Padang sebagai kota Metropolitan. serta keseimbangan pengelolaan kawasan hulu hilir (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 37 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful