P. 1
2.3_Laporan KLHS Kalimantan Barat

2.3_Laporan KLHS Kalimantan Barat

|Views: 260|Likes:
Published by Chabem Kikuk

More info:

Published by: Chabem Kikuk on Oct 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2015

pdf

text

original

Management of Kapuas River Basin (West Kalimantan

)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Kronologi Proses Penapisan KLHS

Proses penapisan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Provinsi Kalimantan Barat dilaksanakan sejak pertengahan bulan Mei tahun 2009, pada waktu Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri bersama Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menyelenggarakan KLHS Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kubu Raya. Di dalam beberapa pertemuan penapisan, terungkap beberapa masalah yang menjadi tantangan bagi pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Masyarakatnya, antara lain degradasi ekosistem hutan, pertambangan tanpa izin, pengembangan kawasan pesisir, pengelolaan kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, kendala pembangunan kawasan perbatasan dan pengelolaan DAS Kapuas. Tata letak kawasan hulu sungai ini di bagian tengah pulau Kalimantan terkait dengan keberhasilan penyelamatan ekosistem hutan hujan tropis yang dirancang di dalam satu konsep bersama, yakni “The Hearts Of Borneo” (HOB) yang disepakati oleh tiga negara. Sungai Kapuas (1.143 km) di Kalbar menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat, merupakan satu dari tiga sungai terbesar yang membentuk kerangka pulau Kalimantan, sangat berperan di dalam keberlanjutan lingkungan hidup dan manusia serta mahluk hidup lain di dalam daerah aliran sungai ini. Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan perubahan yang berlangsung di berbagai bidang kehidupan masyarakat menimbulkan dampak terhadap pola pemanfaatan ruang dan tanah, yang pada tingkat selanjutnya mempengaruhi badan sungai Kapuas dan kualitas fisik-kimia air sungai. Penurunan kualitas air sungai dan pendangkalan serta variabilitas volume aliran air sungai secara langsung mempengaruhi berbagai kegiatan pemanfaatan sungai, sejak hulu hingga muara. Hal inilah yang menjadi pertimbangan untuk menyelenggarakan KLHS DAS Kapuas. 1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud kegiatan adalah menyelenggarakan KLHS Daerah Aliran Sungai Kapuas secara berjenjang, sekaligus oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama Pemerintah Kabupaten/ Kota di dalam kawasan DAS, untuk menelaah implikasi kebijakan, rencana dan program pemanfaatan ruang dan sumberdaya alam (tingkat provinsi) terhadap lingkungan fisik alami, hayati sosial dan ekonomi, dan sekaligus menelaah lebih spesifik wujud dampak tersebut dari perspektif Pemerintah Kabupaten/ Kota yang selanjutnya pada tahun anggaran berikutnya digunakan sebagai arahan perbaikan kebijakan, rencana dan program masing-masing kabupaten/kota. Tujuan utama penyelenggaraan KLHS ini adalah: (1) Tersajinya rekomendasi penyempurnaan rumusan kebijakan, rencana tata ruang dan rencana sektor-sektor pembangunan yang dapat digunakan untuk memperbaiki Draft Revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat dan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Kalimantan Barat. (2) Diperolehnya gambaran penurunan kualitas lingkungan DAS Kapuas, rekomendasi mitigasi dan alternatif pelaksanaan program oleh staf Pemerintah Kabupaten/Kota di dalam Tim KLHS dan memperjelas dimensinya dari perspektif dan data kabupaten/ Kota. Pada waktunya materi ini digunakan sebagai arahan di dalam penyusunan KLHS RTRW dan/ atau RPJM masing-masing Kabupaten/Kota. (3) Diintegrasikannya rekomendasi KLHS yang relevan oleh Dinas-Dinas Teknis Provinsi Kalimantan Barat yang terkait langsung dengan pengelolaan DAS Kapuas, sebagai bahan penyempurnaan Renstra SKPD. (4) Terjalinnya interaksi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dengan Pemerintah Kabupaten/Kota bersama unsur pemangku lintas kepentingan (stakeholders) non pemerintah. 1.3. Cara Pelaksanaan

Pelaksanaan KLHS DAS Kapuas Provinsi Kalimantan Barat dilakukan melalui proses fasilitasi yang dilakukan oleh Konsultan KLHS Ditjen Bangda Kementerian Dalam Negeri kerjasama dengan ESP-2 Danida terhadap Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat. Fasilitasi ini dilaksanakan milai proses penguatan dan penyamaan persepsi tentang KLHS, pelaksanaan serangkaian FGD dan Workshop, seminar akhir sampai pada proses penyusunan dokumen KLHS DAS Kapuas yang dilaksanakan Oleh Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat. Secara sekematik cara pelaksanaan KLHS DAS Kapuas dapat digambar sebagai berikut: Gambar 1.1. Cara pelaksanaan KLHS DAS Kapuas

1.4. (1) (2)

Lingkup Kegiatan Penapisan Seminar Awal untuk mendengar paparan garis besar kebijakan dan rencana pembangunan wilayah Provinsi Kalimantan Barat dan melakukan pelingkupan dan pemusatan (scoping and focusing), yakni membahas dan mensepakati isu strategis KLHS DAS Kapuas (Tim KLHS bersama unsur masyarakat) dari perspektif Provinsi Kalimantan Barat. Pemantapan hasil pelingkupan dan pemusatan isu strategis. Pengumpulan data dan informasi melalui berbagai kegiatan, terutama desk studi dokumendokumen perencanaan, pengumpulan data instan-sional dan pembacaan peta tematik serta pembuatan peta kerja. Diskusi Tim KLHS untuk penyederhanaan dan pengolahan data mengacu ke materi kebijakan, rencana dan program Provinsi Kalimantan Barat serta isu strategis. Telaah individual sesuai pembagian tugas yang didampingi oleh tenaga ahli KLHS untuk menelaah konsistensi rumusan kebijakan dengan rumusan rencana serta rangkaian program, dan penerapan prinsip-prinsip KLHS ke dalam rumusan kebijakan, rencana dan program tersebut.

Penyelenggaran KLHS ini diupayakan memenuhi protokol KLHS yang umum, mencakup:

(3) (4)

(5) (6)

Rangkaian Workshop non pemerintah. Bentuk keterlibatan pemangku kepentingan tersebut berbeda-beda untuk setiap implementasi KLHS mulai dari sebagai sumber data. Ketentuan pada pasal 18 ayat (1) Undang-Undang No. Pendekatan partisipatif dimaksudkan disini adalah suatu proses yang melibatkan pemangku kepentingan termasuk masyarakat dalam proses pengambilan keputusan baik melalui dialog.5. Tahapan ini sangat penting karena di tahap itulah dasar pemikiran dan lingkup kajian KLHS akan ditentukan.1. 32 tahun 2009 menegaskan bahwa pelaksanaan KLHS menggunakan pendekatan partisipatif. maupun konsultasi publik. Kinerja layanan jasa ekosistem DAS Kapuas dan Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi masyarakat sekitar muara sungai Kapuas terhadap perubahan iklim. Kekeliruan dalam melingkup akan menyebabkan pelaksanaan KLHS menjadi tidak fokus.(7) (8) (9) Diskusi Tim KLHS untuk membahas hasil kerja individual. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Metodologi Opsi Muatan KLHS DAS Kapuas Untuk memenuhi pasal 16 Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup. Diskusi Terbatas (FGD) Tim KLHS dengan ahli (expert) untuk membahas hasil telaah/ analisis dan mitigasi dampak negatif. 1. 1.5. sejak pelaksanaan pembinaan teknis (Bintek) Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat telah diupayakan melakukan “stakeholders mapping”. Metode Pelingkupan dan Pemusatan Isu Strategis.5. untuk selanjutnya diidentifikasi KRP yang relevan dengan pengelolaan DAS Kapuas. Berkat adanya pelingkupan ini pokok bahasan dokumen KLHS akan lebih difokuskan pada isu-isu atau konsekuensi lingkungan dimaksud. Adapun langkah-langkah stakeholders analisis adalah dengan melakukan FGD sejak Bintek KLHS dan Workshop 1 KLHS DAS Kapuas Provinsi Kalimantan Barat. Indikator dan kriteria untuk identifikasi stakeholder adalah analisis peran. maka KLHS DAS Kapuas antara lain akan memuat: (1) (2) (3) Perkiraan mengenai dampak pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya alam terhadap lingkungan hidup dan risiko lingkungan. (11) Seminar Akhir KLHS. 1. Pelingkupan merupakan tahapan sangat penting setelah penapisan dalam proses penyusunan KLHS DAS Kapuas. pelaksana. .5. salah sasaran. fungsi dan kewenangan dalam pengelolaan semua aktivitas yang terdapat dalam wilayah DAS Kapuas. sebagai prasyarat untuk melakukan kontrol atau pengawasan terhadap imlementasi hasil-hasil KLHS.3. Stakeholder mapping dilakukan pada semua institusi yang terlibat dalam pengelolaan DAS Kapuas baik pemerintah maupun non pemerintah. untuk memastikan pengintegrasian hasil KLHS ke dalam dokumen perencanaan pembangunan wilayah. Prakiraan dan evaluasi dampak lingkungan yang dilakukannya menjadi kurang relevan dan kurang bermakna. Pendekatan identifikasi Pemangku Lintas Kegiatan 1. nara sumber.2. Rekomendasi implikasi kebijakan yang dihasilkan berikutnya juga menjadi tidak tepat. Pelingkupan merupakan proses yang sistematis dan terbuka untuk mengidentifikasi isu-isu penting atau konsekuensi lingkungan hidup yang akan timbul di DAS Kapuas berkenaan dengan aktivitas yang telah ada di dalam wilayah DAS Kapuas. pengawas hingga sebagai pihak yang mendapatkan dampak baik positif maupun negatif dari penerapan KLHS. diskusi. Juga sebagai pihak yang berhak mendapatkan informasi mengenai rencana atau kebijakan maupun hasil implementasi KLHS. sebagai media pembahasan hasil-hasil telaah dengan wakil stakeholders (10) Pertemuan dengan Pimpinan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk menjelaskan proses dan hasil KLHS sebagai bahan pengambilan keputusan (making decision). Untuk memenuhi kebutuhan itu. untuk menjelaskan kepada stakeholders non pemerintah tentang hasil KLHS dan tindaklanjutnya. Keterkaitan antara hak berpartisipasi dan hak mendapatkan informasi tentang kebijakan ini sudah sejalan dengan ketentuan yang diatur di dalam UU No.

Matrik digunakan untuk menunjukkan interaksi antara aktivitas dalam DAS Kapuas dengan komponen lingkungan hidup di lokasi kegiatan yang terkena dampak.5. Metode Pengumpulan Data Instansional Langkah selanjutnya setelah proses pelingkupan isu-isu strategis KLHS DAS Kapuas Kalimantan Barat selesai dilakukan adalah melakukan pengumpulan data instansional.5.5. terutama Renstra Dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. sumber data. yakni Dinas Kehutanan. Rancangan Peraturan Presiden tentang RTR Pulau Kalimantan. 1. Matrik dikembangkan dari informasi yang diperoleh dari tahap mengenal rona lngkungan hidup dan mengenal aktivitas kegiatan dalam DAS Kapuas. penerima dampak serta deskripsi damak. Metode Analisis Implikasi Kebijakan dan Rencana Pembangunan Metode analisis implikasi/ pengaruh kebijakan dilakukan dengan metode “analisis isi (conten analysys) tentang Provinsi Kalimantan Barat dan DAS Kapuas di dalam dokumen-dokumen RTRW Nasional dan RPJP Nasional. Selain itu ditelaah juga dokumendokumen rencana sector. metode pelingkupan yang senantiasa digunakan adalah penyelenggaraan diskusi grup terfokus (focus grouop discussions). Pengumpulan data ini dilakukan oleh tim KLHS DAS Kapuas melalui koodinasi dengan para pihak (dinas/instansi pemerintah dan non pemerintah) dengan cara mendatangi langsung para pihak atau melalui browsing internet. Metode analisis isi dapat mengungkapkan konsistensi keterkaitan antar rumusan kebijakan baik vertikal maupun horizontal. Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah dan Dinas Perhubungan. workshop atau lokakarya yang pesertanya terdiri dari berbagai kalangan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota serta tokoh-tokoh yang terkait atau berkepentingan dengan DAS Kapuas dan KRP yang akan ditelaah. Urutan ini akan menjadi bermanfaat pada saat mengidentifikasi KRP sektor dan sub sektor mana saja yang perlu mendapatkan perhatian dalam telaahan KLHS. 1. yakni : (a) prinsip keterkaitan. data-data yang diperlukan untuk analisis. Dinas Pekerjaan Umum. Hal itu digambarkan sebagai berikut: . Informasi pelengkap yang dapat ditambahkan pada daftar (tabel) isu-isu strategis adalah: waktu terjadinya dampak. Isu-isu strategis yang telah diidentifikasi ditampilkan dalam bentuk daftar atau tabel minimal dengan informasi tentang sumber dampak. dilakukan juga penelaahan prinsip-prinsip pengarusutamaan lingkungan hidup di dalam rumusan kebijakan. Alat bantu yang digunakan untuk melakukan proses pelingkupan isu-isu strategis KLHS DAS Kapuas Kalimantan Barat adalah menggunakan kombinasi matriks dengan bagan alir (analisis sebab akibat). RTRW Provinsi Kalimantan Barat dan RPJPD/ RPJMD Provinsi Kalimantan Barat. Selain itu. Dalam konteks KLHS DAS Kapuas.Untuk mencapai maksud tersebut pelingkupan dilakukan melalui berbagai metode.4. Dinas Pertanian Perkebunan. Identifikasi interaksi tersebut diikuti dengan penyusunan bagan alir yang menunjukkan urutan kejadian dampak (analisis sebab akibat). (b) prinsip keseimbangan pemanfaatan dengan perlindungan dan (c) prinsip keadilan.

yaitu dengan menginventarisasi terlebih dahulu deskripsi kegiatan yang akan dilakukan dalam pembangunan jalan paralel. sosial. dibedakan materi: (a) materi rencana struktur ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat dan (b) materi rencana pola pemanfaatan ruang/ peruntukan ruang. 1.5. Metode Analisis Implikasi Program Pembangunan Bersamaan dengan pelaksanaan KLHS DAS Kapuas. akan dianalisis langkah-langkah adapatasi dan atau mitigasi yang harus tertuang dalam KRP yang relevan guna mengeliminasi. Dimas Kehutanan. Dinas Pertanian. Dinas Perkebunan. Dapat dijelaskan bahwa materi rencana pola pemanfaatan ruang diparalelkankan dengan telaahan peta lampiran Keputusan Menteri Kehutanan nomor 259 tahun 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Barat. Dari deskripsi kegiatan akan teridentifikasi sejumlah dampak lingkungan yang akan terjadi (positip dan negatif) baik terhadap aspek lingkungan.6. 2010). juga dilakukan kajian terhadap implikasi gagasan pembangunan jalan paralel perbatasan Kalimantan Barat dan Serawak Malaysia. kelembagaan dan hukum. ekonomi. . Dalam konteks rencana tata ruang (dalam hal ini revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat.KLHS harus diarahkan agar dapat dihasilkan KRP yang bercorak : Hasil-hasil telaah rumusan kebijakan digunakan untuk menganalisis konsistensi kebijakan dengan rencana. Telaahan pengelolaan DAS Kapuas juga dikaitkan dengan beberapa dokumen KRP penting lainnya seperti RPJM provinsi dan RPJM Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah DAS Kapuas serta Renstra Dinas terkait seperti Dinas PU. Dinas ESDM. Dinas Kesehatan. Analisis implikasi program pembangunan jalan paralel perbatasan dilakukan melalui metode dan pendekatan AMDAL. Hasil identifikasi dampak dari rencana pembangunan jalan paralel perbatasan tersebut.

Melawi (7 Kecamatan). Secara khusus Wilayah DAS Kapuas mempunyai perbatasan langsung dengan negara Malaysia Timur yaitu Negara Bagian Serawak. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikuT. Landak (10 kecamatan). Kubu Raya (9 Kecamatan). Berdasarkan letak geografis yang spesifik. Ketapang (4 Kecamatan). Letak Geografis Wilayah DAS Kapuas terletak 109o 2’ 49” BT dan 114o 12’ 10” BT dan antara 1o 20” 24” LS dan 1o 36’ 36” LU.1.BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH KAJIAN 1. Sekadau (7 Kecamatan). Luas wilayah das Kapuas 10.1. Sanggau (15 Kecamatan).000 ha. Kayong utara (3 Kecamatan) dan Kota Pontianak (6 Kecamatan). Gambar 2. Sintang (14 Kecatan). Kapuas Hulu (23 Kecamatan). sepanjang sekitar 400 km dengan daya tempuh sekitar tujuh jam perjalanan. Adapun kabupaten yang ada di dalam kawasan ini adalah : Kabupaten Pontianak (4 Kecamatan). Peta sebaran Kabupaten yang masuk dalam wilayah kajian . Bengkayang (6 Kecamatan).190. Perbatasan darat dengan negara Malaysia ini telah dihubungkan dengan jalan darat melalui Pontianak – Entikong – Kuching. daerah inii iklim tropis dengan suhu udara dan kelembaban yang tinggi.

Tabel 2. Peta sebaran kecamatan dan Kabupaten dalam wilayah kajian Untuk wilayah administrasi kecamatan yang tercakup dalam wilayah kajian dapat dilihat seperti pada tabel beikut ini.49 150.76 1.218.406.423.62 109.77 25.776. 1.35 .1 149.305.59 0.72 154.231.961.947.Gambar 2.347.2.38 190. Kecamatan dan Kabupaten yang Masuk dalam Wilayah Kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Sanggau Pontianak Melawi Kabupaten Kecamatan Menukung Ella Hilir Sayan Belimbing Sokan Tanah Pinoh Nanga Pinoh Toho Siantan Sungai Kunyit Segedong Bonti Luas (Ha) 142.324.89 113.58781 11.582.38 79.

099.866.2 67.5 40.5181.0882.557.35 105.212.3 105.667.68 74.29 75.587959 18.22 71.38 52.953.66 7.26 166.23 137.75 0.66 116.488.100.61 84.023.12 55.75 143.28 60.535.533.82 81.561.87 63.No 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 Kabupaten Balai Meliau Kecamatan Luas (Ha) 35.25 194.4 618.56 7.562.0921.334.24 43.988.583.56 112.3 258.01 120.568.358.882.333.47 451.612.964.42 1.82 18.448.9 54.251.29 146.37 39.766.05 177.170.376.791.86 90.84 5.84 16.469.75 Sekayam Kembayan Mukok Toba Beduai Jangkang Parindu Noyan Tayan Hulu Sanggau Kapuas Tayan Hilir Entikong Sekadau Sekadau Hulu Belitang Nanga Taman Nanga Mahap Belitang Hulu Swekadau Hilir Belitang Hilir Sintang Kelam Permai Ambalau Ketungau Tengah Binjai Hulu Kayan Hilir Sungai Tebelian Sintang Serawai Ketungau Hilir Sintang Sepauk Kayan Hulu Dedai Tempunak Ketungau Hulu Bengkayang Suti Semarang Capkala Siding Teriak .14 221.826.879.2779.1827.443.

5 646.25 28.71 1.255.175.57 232.567.49 2.47 350.47 37.616.452.36 54.215.073.6 130265.2200.065.037.67 4.44 3.365.821.135.545.81 74.27 103554.38 51.39 100.83 215.24 187.84 32747.06 36.44 39.19 76.009.25 54.21 78.83 1.56 82.769.89 16.4540.53 3.491.64 367.081.810.114.804.63 89.498.465.152.872 73.430.69 15012.132.841.128.No 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 6 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 Kabupaten Kecamatan Sanggau Ledo Seluas Luas (Ha) 2.215.45 Kapuas Hulu Badau Mandai Embau Semitau Hulu Gurung Kedamin Batang Lupar Boyan Tanjung Seberuang Putussibau Puring Kencana Selimbau Bunut Hilir Kalis Silat Hulu Embaloh Hilir Empanang Mentebah Silat Hilir Batu Datu Suhaid Bunut Hulu Embalo Hulu Kayong Utara Seponti Simpang Hilir Teluk Batang Ketapang Simpang Dua Simpang Hulu Sungai Laur Kota Pontianak Pontianak Timur Pontianak Barat Pontianak Selatan Pontianak Utara Kubu Raya Terentang Kubu Kuala Mandor A Kuala Mandor B .16 25.55 150.14 4.62 159.778.386.1 103.19 46.720.17923 204.

1. Kabupaten Sanggau.29 55728. Topografi Topografi wilayah DAS Kapuas terdiri dari dataran rendah (datar). Dengan demikian wilayah pengembangannya dibagi kedalam 4 (empat) Wilayah Pengembangan (WP) yang meliputi WP Tengah. Kabupaten Ketapang. dan Kabupaten Landak.229.1 150797. Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas. dan Kabupaten Ketapang.9 Landak Menjalin Sebangki Meranti Pahauman Karangan Ngabang Air Deras Mandor Darit Kuala Behe Wilayah DAS Kapuas merupakan bagian dari wilayah administrasi Kalimantan Barat yang dalam konsep pembangunannya.12 81516. Kabupaten Kubu Raya.01 70828. WP Antar Provinsi.770 meter.2. Gunung Lawit yang berlokasi di Kabupaten Kapuas Hulu. Kelerengan merupakan bagian dari persoalan topografi yang ada di DAS Kapuas. Kabupaten Sekadau.2.91 248019. Kabupaten Kayong Utara. yaitu Kabupaten Pontianak. sedangkan tertinggi kedua adalah Gunung Batusambung (Kecamatan Ambalau) dengan ketinggian mencapai 1. Kota Pontianak dan Kota Singkawang.45 67165.62 6095. berbukit-bukit.356.74 5388.687.05 132673. Kabupaten Bengkayang.074.91 41349.767 meter.903.456. WP Tengah terdiri dari 3 (tiga) kabupaten.69 2.281.278 meter dari permukaan laut .94 68096. berdasarkan kelas lereng yang ada dapat dirinci sebagai berikut : Tabel 2. dan bergunung. Kabupaten Sambas.28 37188.No 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 Kabupaten Kecamatan Sei Ambawang Batu Ampar Sei Kakap Sei Raya Teluk Pakedai Luas (Ha) 105482. WP Pesisir. Kecamatan Embaloh Hulu menempati tertinggi ketiga karena mempunyai tinggi 1. WP Antar Provinsi meliputi Kabupaten Sintang.65 192130. mengikuti ketentuan dalam RPJPD Provinsi. dan WP Antar Negara.40 1. yakni Kabupaten Sanggau.03 32249. Untuk WP Antar Negara mencukup 5 (lima) kabupaten yang meliputi Kabupaten Kapuas Hulu. Gunung yang paling tinggi adalah Gunung Baturaya di Kecamatan Serawai. Kabupaten Sintang.06 10.33 . bergelombang. Kabupaten Kapuas Hulu. Sebaran Kelas Lereng Di DAS Kapuas No 1 2 3 4 <2 % 2–8 % 8-15 % 15-25% Kelas Lereng Luas (Ha) 1. Kabupaten Sintang yang mempunyai ketinggian 2. WP Pesisir terdiri dari 3 (tiga) kabupaten. Kabupaten Melawi.

5 6 7 25-40% 40-60% >60% 389.475.19 1.326.3. Gambar 2.373.3.07 2.68 Visualisasi dari sebaran kelas lereng yang ada di dalam kawasan DAS Kapuas dapat dilihat seperti gambar 2.344. Peta Sebaran Kelas Lereng di Wilayah Kajian .393.

4.3. dan jenis batuan ini juga berpengaruh pada pembentukan tanah yang ada di sekitar wilayah kajian. Berdasarkan data pada tabel di atas maka pada wilayah kajian ditemukan 15 macam tanah yang luasnya cukup bervariasi. Berdasarkan peta tersebut di wilayah kajian terddapat tidak kurang dari 72 jenis batuan. Batuan yang ada sekitar Wilayah DAS Kapuas 1. Geologi Data sebaran batuan di Wilayah DAS Kapuas menurut peta geologi Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar 2. Tanah dan sistim lahan Tanah yang ada di wilayah kajian kan sangat dipengaruhi oleh keadaan batuan. Gambar 2.4. lereng dan faktor pembentuk tanah lainnya. pada kawasan ini ternyata juga ditemukan tanah gambut yang sebarannya cukup luas dan lebih banyak berada pada wilayah pesisir (Kabupaten Kubu raya).1. . Untuk jelasnya visualisi sebaran jenis tanah ini dapat di lihat seperti pada gambar berikut ini. untuk ini macam tanah yang terbentuk di wilayah kajian ini dapat diliht pada tabel berikut ini.4.

3 Sebaran Jenis tanah di wilayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Tanah Acrisol Oksik Alluvial Gleik Alluvial Humik Feralsol Humik Nitosol Planosol Podsolik Humik Arenosol Aleik Feralsol Oksik Feralsol Regosol Gleysol Distrik Gleysol Distrik Kambisol Distrik Organosol Distrik Podsolik Gleik Luas (Ha) 4.483.61 260.47 1.753.Tabel 2.018.099.437.133.93 1.947.19 55.481. Untuk jelasnya visualisi sebaran jenis tanah ini dapat di lihat seperti pada gambar berikut ini.830. . pada kawasan ini ternyata juga ditemukan tanah gambut yang sebarannya cukup luas dan lebih banyak berada pada wilayah pesisir (Kabupaten Kubu raya).63 43.613.11 161.208.396.48 6.457.75 279.88 29.878.680.44 461.464.07 815.486.80 23.14 338.99 Berdasarkan data pada tabel di atas maka pada wilayah kajian ditemukan 15 macam tanah yang luasnya cukup bervariasi.60 20.042.

1987). mulai dari sektor perkebunan. pertambangan. lereng. Untuk lebih dapat diperolehnya visualisasi dari sebaran sistim lahan di dalam wilayah kajian ini dapat dilihat seperti pada tabel berikut: . tanah dan sifat-sifat fisik lainnya (RePPProT. kehutanan. Dengan diketahuinya sistim lahan di kawasan ini maka akan lebih mudah untuk melihat kesesuaian pembangunan di berbagai sektor. perhubungan dan transmigrasi. Selain itu sisitim lahan akan dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kawasan kubah gambut yang dalam hal ini sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan disuatu kawasan. pertanian.Gambar 2.5 Sebaran Jenis Tanah di sekitar DAS kapuas Selanjutnya kondisi geomorfologis wilayah DAS Kapuas dapat dibagi menjadi unit-unit sistem lahan (land system) yang menggambarkan kesamaan fisiografis.

03 775496.66 366.25 499852.44 7138.93 7817.78 911189.00 511260.63 1561219.75 29242.39 54910.68 21481.57 16368.36 627763.18 952683.93 402552.86 13044.21 32846.02 41531.90 843342.85 1891775.4 Sebaran Sistim lahan di Wilayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nama Sungai Sungai Mimpi Keremui Batu Ajan Barong Tongkok Suhaid Bentili Beriwit Bukit Pandan Gambut Honja Liang Pran Juloh Kahayan Kajapah Klaru Lawanguang Sungai Medang Lohai Maput Mendawai Mentalat Pakalunai Panreh Puting Rangankau Sebangau Sungai Tambera Tandur Telawi Tewai Baru Teweh Tidak ada data Simbol SMI KRU BTA BTK SHD BLI BRW BPD GBT HJA LPN JLH KHY KJP KLR LWW SMD LHI MPT MDW MTL PLN PDH PTG RGK SBG Sungai TBA TDR TWI TWB TWH NODA Luas (Ha) 42427.51 .21 111810.Tabel 2.93 6781.809.83 11036.07 7198.96 60060.62 208233.42 431623.61 2049480.85 93380.97 231613.27 1342157.63 46402.

Iklim Komponen-komponen iklim yang penting meliputi curah hujan. al. (1980) wilayah ini beriklim basah. Klasifikasi Iklim menurut Schmit & Ferguson Menurut klasifikasi Schmit & Ferguson (1952). bukit pandan. Gambar 2. lawanguwang dan teweh mendominasi kawasan ini. Untuk lebih jelasnya visualisasi dari sebaran sistim lahan di wilayah kajian dapat dilihat pada gambar berikut. b. kelembaban relatif udara. Klasifikasi Iklim menurut Oldeman (1980) Menurut kriteria Oldeman et. dengan nilai perbandingan bulan kering dan bulan basah Q (0. Melalui perbandingan bulan basah dan bulan kering (Q). namun demikian kawasan ini berpotensi membentuk kawasan gambut terutama pada kawasan sistim lahan gambut dan mendawai. yang ditandai dengan bulan terkering > 60 mm serta tetap basah pada semua musim. kreteria bulan basah dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan lebih besar dari 100 mm.099) yaitu tipe iklim sangat basah. vegetasi yang hidup secara alami dapat menggambarkan pula iklim tempat vegetasi itu tumbuh yang erat sekali hubungannya antara suhu dan kandungan uap air tersebut. maka wilayah ini termasuk dalam tipe iklim A (0. Kawasan DAS Kapuas yang berada di daerah khatulistiwa memiliki tipe iklim tropis yang sangat khas dan dapat digambarkan sebagai berikut: a. berdasarkan klasifikasi tersebut. Klasifikasi Iklim menurut Koppen Menurut Koppen (1900). Berdasarkan klasifikasi ini wilayah DAS Kapuas termasuk pada zone iklim hujan tropis (Af). sedangkan bulan kering dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan kurang dari 60 mm.0408). radiasi lamanya penyinaran udara serta penguapan (evaporation dan transpiration).6. Peta sistim lahan di wilayah kajian 1. Bulan basah dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan . Klasifikasi ini berlandaskan pada bulan basah dan bulan kering. suhu udara.000 < Q < 0. c.5.Berdasarkan data pada tabel di atas sistim lahan honja.

4°C. suhu rata-rata maksimum tercatat pada bulan Mei sebesar 33. Selanjutnya faktor iklim lainnya adalah suhu. . Sebaran daerah iklim menurut Oldeman dapat dilihat pada peta berikut: Gambaran iklim yang dilihat dari sebaran curah hujan untuk wilayah studi ini dapat dilihat pada gambar berikut.lebih besar dari 200 mm. Sebaran Curah Hujan Wilayah Kajian Berdasarkan gambar sebaran curah hujan tersebut maka.7. sedangkan penyinaran matahari ratarata per bulan berkisar antara 55-86%.5. pada setiap bulannya bervariasi antara 10-15 knot/jam dengan arah angin ke arah barat pada bulan Februari – Juli dan ke arah Tenggara pada bulan Juli -Desember. Kecepatan angin di wilayah ini di dekati dari beberapa stasiun. Data suhu udara. kondisi curah hujan dalam satu tahun cenderung lebih rendah kearah barat atau wilayah pantai dibanding kewilayah timur atau wilayah hulu dari wilayah kajian. curah hujan dan angin dapat dilihat pada tabel 2. Gambar 2. sedangkan rata-rata minimum terjadi pada bulan Agustus yaitu 22. sedangkan bulan kering dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan kurang dari 100 mm.5°C dan kelembaban nisbi rata-rata per bulan berkisar antara 79-90%.

8 202.2 205 17.5 22.0 309.136.8 337.0 20.6 3.1 22.1 192.2 15.4 32.1 20.1 19.4 220.7 15.8 Arah N W W W W S W S E S S E Kelembaba n Nisbi (%) 88 85 86 87 85 82 87 79 86 86 90 90 Penyinaran Matahari (%) 55 66 57 63 73 86 54 89 55 63 60 56 1 Januari 2 Februari 3 Maret 4 April 5 Mei 6 Juni 7 Juli 8 Agustus 9 September 10 Oktober 11 Nopember 12 Desember Jumlah Rata-Rata .8 149.6 Tabel 2.4 273.7 225.2 31.4 HH (hr) 18.1 Stasiun Siantan CH (cm) 309.7 276.7 199.4 261.1 32.7 3.9 11.0 22.2 214.Tabel 2.3 23.2 331.4 322.1 Mak 31.7 Curah Hujan di Kalimantan Barat No Bulan Bandar Udara Supadio CH (mm) 367.8 13.0 31.9 32.9 243.3 176.0 13.3 23.1 23.2 21.5 17.4 33.6 15.052.3 20.8 23.6 18.1 23.5 Data Suhu dan Kelembaban Nisbi di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Suhu Udara (oC) Min 23.4 322.7 21.3 23.0 17.0 13.9 23.6 23.2 254.1 247.3 32.5 321.9 229.6 Arah dan Kecepatan Angin di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Kecepatan dan Arah Angin Knot/Jam 15 12 12 15 15 12 12 10 15 12 15 12 Tabel 2.9 159.6 313.6 33.2 258.0 203.5 15.4 HH (hr) 22.3 12.6 32.9 23.7 33.3 16.8 20.4 23.8 32.9 22.

462.186. Sebaran DAS di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Kelas Lereng Air Hitam Kecil Kapuas Sambas Simbar Air Hitam Besar Begunjai Duri Kendawangan Kuala Melinsun Mempawah Paloh Pawan Pesaguan Pulau Maya Raya Satong Sebangkau Selakau Siduk Simpang Tengar Tolak Pangkalan Dua Peniti Purun Besar Pulau-pulau Total Luas Luas (ha) 84.184.145. Mengingat air merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia.227.83 20.871.34 124.38 14. . Pola Pengaliran Sungai Sungai merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi Wilayah DAS Kapuas karena merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat terutama untuk sarana transportasi.82 54.608. kebutuhan pertanian dan terutama untuk konsumsi bagi keperluan rumah tangga dan kebutuhan lainnya.922.77 788.668.696.143. jenis tanah.15 52.543.758.268. Kalbar adalah sebagai berikut: 1.15 300. tipe penutupan lahan.77 40.50 207.330.187. Pembagian wilayah DAS menggunakan data SRTM (Shuttle Radar Topographic Mission) resolusi 90 meter sebagai data topografi.902.872.992. kondis topografi.64 10.20 88.41 14.8. maka pengelolaan dan keberadaan hutan pada suatu daerah akan dapat menjamin ketersediaan sumber air baik bagi kebutuhan pemukiman penduduk sekitarnya sebagai konsumsi air minum.03 84. ukuran dari Sub DAS serta aktivitas manusia. Kalbar terbagi menjadi 27 SWP DAS 2.95 100.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air maka pembagian wilayah DAS di Prop.31 20. Mengacu pada definisi DAS sesuai UU no. Wilayah DAS di Prop.70 37.210.185.23 196.6.762.931. sumber irigasi pertanian dan juga tempat pembuangan limbah.409.67 7.68 Besarnya debit aliran air yang keluar dari suatu sungai sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim.80 64.81 33.000 sebagai acuan pemberian nama DAS Untuk jelasnya pembagian wilayah DAS di Kalimantan Barat dapat dilihat pada table berikut : Tabel 2.112.544.51 14.1. Dari pengamatan debit sesaat sungai utama di Kalimantan Barat menunjukkan tingkat laju kecepatan aliran yang cukup bervariasi sesuai dengan kondisi DAS atau Sub DAS.13 1.595.02 166.267. serta Peta Sungai skala 1: 250.678.55 20.284.22 282.000 dan Peta Sungai Skala 1:50. sumber air bersih. Wilayah DAS dibagi berdasarkan sungai yang mengalir ke laut 3.56 37.26 11.383. formasi geologi.

27 67. angka melek huruf.69 66.08 66.30 68.48 6.86 Angka Melek Huruf (%) 89.13 67.7.17 66.02 .01 627.44 7.16 9.33 66.17 66.74 599.50 9.41 66.91 64.80 14.98 67.11 Pengeluaran Perkapita (x 1000 Rp) 624.18 Pendu duk Miskin Kabupaten /Kota IPM Kalbar Bengkayang Landak Pontianak Sanggau Ketapang Sintang Kapuas Hulu Sekadau Melawi Kayong Utara Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang 11.31 598.21 13.76 7.67 617.1.22 6.07 9.9.31 72.74 67.03 6. Kondisi sosial ekonomi Kabupaten yang berada di sekitar DAS Kapuas Angka Harap an Hidup (Th) 66. penduduk miskin.44 69.12 67.14 92.70 6.40 88.63 65.60 6.25 15.84 67.30 611.99 67.21 617.57 64.68 91.10 6.20 5.52 609.98 92.91 66.87 90.43 602.65 7.30 608.00 636.39 67.62 598. Keadaan Sosial Ekonomi Kegiatan sosial dan ekonomi di sekitar DAS Kapuas dapat dilihat dari berbagai indikator diantaranya angka harapan hidup.62 600. pengeluaran perkapita.06 7.89 68.45 89.58 7.66 14.86 66.02 67. untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut : Tabel 2.61 11.81 66.92 88.86 6.26 68.95 89.20 85.03 6.41 18.32 88. Indek Pembangunan Manusia (IPM).40 89.59 RataRata Lama Sekolah (Th) 6.95 608.83 93.62 7.40 6.90 67.55 88.

198 493.8.909 178.69 %.213 324.804 91.309 218. Pertumbuhan ekonomi kabupaten/Kota 1.117 jiwa.569 175. Penyebaran Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Kota Pontianak Singkawang Kubu Raya Landak Melawi Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Jumlah Total Jumlah Penduduk (jiwa) 205. Tabel 2.976 168.058 4.675 218.249.549 521. Kependudukan Jumlah penduduk Kalimantan Barat pada tahun 2008 adalah 4.249.8.117 .077 388.10.168 408. Penyebaran jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Barat tahun 2008 disajikan dalam Tabel 2.10.46 % dan pada kurun waktu 2007-2008 menjadi 1.Gambar 2.129 365. laju pertumbuhan penduduk Kalimantan Barat pada tahun 2006-2007 adalah 1.483 491.

tidak terkecuali di Kalimantan Barat. Kerangka fikir KLHS. Telaahan RTRWP dan revisi RTRWP Provinsi Kalimantan Barat. Pada takaran wilayah DAS Kapuas dari hasil workshop diperoleh beberapa masukan yang terkait dengan isue kebijakan pembangunan dan lingkungan hisup seperti berikut ini.struktur ruang Instandi penyedia data -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Kehutanan -PU Metode yang digunakan -Partisipatif -Overlay -Desk study . Sasaran Penyelenggaraan Sesuai dengan konsep dasar dan tujuan pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis maka perlu dirumuskan sasaran penyelenggaraan KLHS terhadap pengelolaan DAS Kapuas di Kalimantan Barat. Rencana dan Program Pembangunan Berkelanjutan yang Strategis Terkait Dengan Pengelolaan DAS Kapuas No 1 Isu-Isu strategis KRP 1. Telaahan yuridis. histori . tidak hanya terjadi degradasi lahan tetapi ancaman berupa penurunan daya dukung lingkungan akan tetap menjadi utama pada saat penutupan lahan terdegradasi. Berdasarkan telaahan tentang sasaran pelaksanaan KLHS.Peta DAS . asas keseimbangan dan asas keadilan.1. Isu Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan dan lingkungan Hidup (3) 3. Revisi RTRWP : -Revisi Pola ruang -Revisi struktur ruang Data Yang Diperlukan -Revisi pola dan struktur ruang -Jenis tanah -Curah Hujan -Kelerengan . fisik. klimatis sosial maupun budaya hal ini sejalan dengan isue global berupa peningkatan suhu bumi dan perubahan iklim yang terjadi hampir diseluruh belahan dunia. yakni: (1) (2) Diperolehnya pemahaman tentang dampak besar dan penting serta kebijakan yang strategis yang ada dalam pengelolaan wilayah DAS kapuas terhadap lingkungan hidup Tersusunnya hasil prakiraan dan evaluasi pengaruh rumusan kebijakan.Perubahan Fung si Kawasan . Tabel 3. mitigasi bencana diperoleh gambaran global bahwa untuk kawasan DAS kapuas telah terjadi perubahan baik dilihat dari faktor edapis.Perubahan Perun tukan kawasan . rencana ataupun program (KRP) yang sejalan dengan Revisi RTRWP Kalimantan Barat terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan fungsi-fungsi lingkungan hidup. Kawasan hutan akan banyak yang terdegradasi dengan adanya rencana perubahan fungsi maupun peruntukan. Isu-Isu Kebijakan. Kondisi ini semua terkait dengan aktivitas dan kebijakan pembangunan yang menimbulkan resiko lingkungan hidup.1. profil Provinsi Kalimantan Barat. sosial. Terintegrasinya tujuan pembangunan berkelanjutan ke dalam KRP dan revisi RTRWP Kalimantan Barat.BAB III PELINGKUPAN DAN PEMUSATAN ISU STRATEGIS 3. atas dasar asas/prinsip keterkaitan.Skoring Revisi RTRWK .Peta kawasan hu tan Dan Perairan kalbar .2.

HGU.Pengendalian 5.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. ilok. HGU. HGU.Pembangunan Perhu bungan -Perijinan -Aktivitas lapangan. . kecamatan dan desa . IUP Perke bunan (sawit .Pengendalian 3. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man Instandi penyedia data -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Prtambangan -Kehutanan Metode yang digunakan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 3 -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Prtambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 4 -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 6 -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. ilok. HGU.No 2 Isu-Isu strategis KRP 2. IUP -Peta sebaran ilok. HGU. IUP Perke bunan (sawit .Pembangunan Perke bunan : -Perijinan -Aktivitas lapangan. IUP Perke bunan (sawit . IUP Perke bunan (sawit . . HGU. . kecamatan dan desa . Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. HGU. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemukiman -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. kecamatan dan desa . ilok. IUP -Peta sebaran ilok. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemukiman -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan.Pembangunan Perta nian dan transmigrasi -Perijinan -Aktivitas lapangan.Pembangunan kota /Pemukimen di seki tar DAS Kapuas Data Yang Diperlukan -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. kecamatan dan desa . .Pengendalian 4.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. ilok. IUP Perke -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip . HGU. IUP -Peta sebaran ilok. HGU. IUP -Peta sebaran ilok. ilok. IUP -Peta sebaran ilok.Pembangunan Pertambangan : -Perijinan -Aktivitas lapangan.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. HGU.Pengendalian 6.

Bermoral. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man Instandi penyedia data Metode yang digunakan 3. Kerangka Pikir Penyusunan KLHS DAS Kapuas Dalam penyusunan KLHS DAS Kapuas. Mewujudkan Budaya Politik yang Demokratis dan Toleran 2. Mewujudkan masyarakat yang sehat. cerdas. Mewujudkan Pembangunan yang Lebih Merata dan Berkeadilan 3. Visi dan Misi Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Kalbar Berdasarkan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat. Bila visi telah terumuskan. 3. Beretika.4. Mewujudkan perekonomian yang maju 8. seperti tertuang dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mewujudkan masyarakat yang Aman. tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh daerah dan amanat pembangunan yang tercantum dalam RPJP Nasional. dan berkeseimbangan 7. berkeadilan. Mewujudkan masyarakat yang Religius.1. Damai dan Bersatu adalah 5. produktif dan inovatif 9. Mewujudkan Supremasi Hukum dan prinsip-prinsip Good Governance 4. Visi pembangunan daerah Kalbar tahun 2008-2028 mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah.No Isu-Isu strategis KRP Data Yang Diperlukan bunan (sawit . Berbudaya.3. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah tersebut ditempuh melalui 9 (sembilan) misi pembangunan daerah sebagai berikut: 1. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. Berakhlak Mulia. Mewujudkan infrastruktur yang memadai 6. maka visi pembangunan daerah Tahun 2008– 2028 adalah: KALIMANTAN BARAT BERSATU DAN MAJU. keranka pikir yang digunakan untuk melakukan kajian-kajian implikasi untuk merumuskan mitigasi dan atau alternatif program pembangunan pada wilayah DAS Kapuas di Provinsi Kalimantan Barat menggunakan kerangka pikir seperti tersaji pada Gambar 3. Berdasarkan kondisi Kalimantan Barat saat ini. .yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang daerah. berikut ini. Mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. dan Beradab.

2. Wilayah Kajian. curah hujan yang merupakan factor utama penentu po la tanam dalam sis tim tadah hujan yg dipakai oleh petani di sekitar DAS ka puas menjadi tidak berkepastian. pe nyebab utama me nurunnya daya du kung lingkungan seperti kemampuan menahan run off sehingga menim bulkan debit permukaan yang sangat besar dan tidak ter tampung pada DAS Kerusakan Penutupan lahan memberikan dampak Perubahan iklim global dan mempenga ruhi ketidakpastian musim hujan di wila yah DAS Kapuas. Issu-isu Strategis Terkait Dampak pada DAS Kapuas Kelompok Isuisu strategis Lingkungan Isu-isu strategis 1. sehingga material terbawa arus dan terakumulasi pada muara-muara sungai yang ada di DAS Kapuas Kkerusakan lingkungan seperti kurangnya konser vasi lahan dan ba nyaknya lahan yg terbuka Di sekitar DAS Kapuas.5. dan Kerangka Waktu KLHS Berdasarkan hasil proses KLHS melalui workshop dan FGD terhadap kebijakan dan dampak yang dapat terjadi di wilayah DAS Kapuas di peroleh isu strategis yang akan dikaji di dalam studi ini adalah: Tabel 3. Kerangka Pikir Penyusunan KLHS DAS Kapuas 3.1.Gambar 3. Isu Strategis. sehingga megancan lingkungan 2. Banjir dan erosi lingkungan 3. Pendangkalan Di Sekitar Muara Diskripsi isu Erosi pada lahan dan kawasan sepadan sungai Di DAS Kapuas menim bulkan penggeru san pada lapisan tanah permukaan. Perubahan Musim tanam .

Kelompok Isuisu strategis Isu-isu strategis Diskripsi isu ketahanan pangan masyarakat sekitar DAS Kapuas sosek 4. dengan adanya pembukaan akses ini maka akan terjadi pemasukan nilai-nilai baru di kawasan ini . dikawasan ini berlangsung berbagai aktivitas baik di kawasan hulu DAS Kapuas maupun Hilir. sedangkan pada musim kemarau sangat kecil. arus masuk nilai-nilai baru tersebut menjadi tidak terbendung dan ada yang berimplikasi negatip sehingga menggeser kearifan local yang ada. Kegiatan perijinan perkebunan di DAS Kapuas semakin ba nyak dan di dengan orien tasi masyarakat financial yang sangat besar maka cenderungan masyarakat sekitar tambah kearah ada ke untuk lingkungan Sosek budaya dan 5. pertambangan atau kegiatan rumah tangga. kekeruhan air. kehutanan. Degradasi lahan perta nian pangan . dimana pada musim penghujan volume menjadi sangat besar. konversi/penggantian lahan masyarakat. Penurunan potensi perikanan tangkap Lingkungan budaya dan 8. Penurunan kualitas air Sungai Kapuas ekonomi 7. kondisi ini menimbulkan peningkatan terhadap sedimentasi. kondisi inilaj yang kurang menguntungkan terhadap biota ikan di DAS Kapuas Adanya aktivitas perkebunan. aktivitas ini akan mempengaruhi ketersedian air di kawasan DAS menjadi sangat ektrim. pertambangan di sekitar DAS Kapuas dapat memicu terjadinya konflik social terutama terkait dengan sistim kemitraan. pergeseran nilainilai Budaya/Dekandensi moral ekonomi 10. perkebunan. Perubahan alur pelayaran 6. UMR dll Adanya keinginan Pemerintah untuk merevisi RTRWP baik pada struktur ruang maupun pola ruang membuka akses bagi seluruh la pisan masyarakat untuk beraktivitas di sekitar DAS Kapuas . Peningkatan kegiatan Pertambangan tanpa ijin (peti) Adanya keinginan Pemerintah untuk merevisi RTRWP baik pada struktur ruang maupun pola ruang membuka akses bagi seluruh la pisan masyarakat untuk beraktivitas di sekitar DAS Kapuas . kegiatan tersebut di dominasi oleh pembukaan lahan oleh illegal logging. Konflik Social Lingkungan budaya dan 9. bahan beracun dan lain-lain di perairan DAS Kapuas Pembukaan penutupan lahan dan konversi lahan akan berpotensi pada penurunan kualitas biota ikan di daerah DAS Kapuas. dengan adanya sumberdaya alam yang ada dalam bentuk tambang di sekitar DAS Kapuas pembukaan akses akan meningkatkan kegiatan per tambangan (peti) SDA (poin 1) Sungai kapuas merupakan induk dalampola/ sistim sungai di dalam DAS Kapuas. biologi berbahaya yang ada pada perairan.

Kelompok Isuisu strategis Isu-isu strategis Diskripsi isu mengkonversi lahan pertaniannya kemenajdi lahan perkebunan se hingga memicu terjadinya degradasi lahan pertanian tanaman pangan lingkungan 11. Perubahan penutupan lahan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini. Degradasi lahan & kua litas tanah Dengan adanya aktivitas di sekitar das Kapuas seperti pembukaan lahan. pertam bangan perkebunan dan pertanian serta perhubungan. Penurunan volune dan permukaan tanah /gam but Lingkungan dan kelembagaan 16. Berkurangnya wilayah konser vasi gambut. Berkurangnya potensi air tanah lingkungan 13. terutama terjadi pada saat musim kemarau Pemberian perijinan di kawasan gambut mendorong pembukaan kawasan gambut. Kekeringan dan keba karan lahan . perkebunan. perkebunan kehutanan yang menggunakan bahan-bahan penyebab pence maran tanah seperti pestisida menyebabkan turunnya kualitas tanah dandegradasi hutan Dengan berkurangnya tutpan lahan maka penyerapan air tanah secara vertical menjadi berkuran sehingga potensi air tanah menjadi berku rang. Tumpang tindih peman faatanperuntukan lahan Lingkungan 17. Belum adanya penetapan dae rah resapan 2. pertambangan dan lain-lain mendorong terjadinya deforestasi Adanya issue perubahan iklim dan berkurangnya penutupan lahan mendorong masuknya air laut kewilayah yang lebih jauh di dalam kawasan DAS Kapuas. hal ini semakin terjadi perce patan karena 1. Adanya berbagai kebijakan seperti perijinan dan perubahan Pola ruang serta aktivitas masyarakat. kehutanan. dan ini me nyebabkan terjadinya peman patan tanah gambut yang luar biasa sehingga terjadi penurunan ke tinggian permukaan tanah gambut dan volume persatuan luas sehingga akan berpengaruh pada kemampuan smpan air dari tanah gambut terlebih di wilayah kubah gambut Koordinasi yang kurang antar sector menyebabkan seleksi pem berian perijinan untuk berbagai kepentingan menjadi permasala han di lapangan baik secara yuridis maupun fisik /eksisting di lapangan. dan ditambah dengan adanya perubahan iklim secara global . Intrusi air asin/laut lingkungan 15. pertambangan. Deforestasi/Degrad asi hutan lingkungan 14. mengakibatkan peningkatan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan lingkungan 12. hal ini dapat terjadi pada pemukiman dan lahan usaha masyarakat.

BLHD Dinas pertanian Prakiraan waktu berlangsu ngnya dampak 20 tahun Batas wilayah terkena dampak Peta 1 lingkungan lingkungan 2. studi lapang 20 tahun ekonomi 10. Banjir dan erosi 3. Perubahan alur pelaya ran 6. ADPEL PTK BPDAS. pemukiman kalbar Data situs budaya. Konflik Social Dinas pertam bangan. Berkurangnya potensi air tanah Data Penutupan lahan Kehutanan 20 tahun . Pendangka lan Di Sekitar Muara Data Yang diperlukan Data fluktuasi kedalaman muara sungai di das dan Sub das Data peristiwa banjir dan erosi Data kegiatan awal tanam dalam 5 tahun terakhir Data pertambangan dan peti Data pelayaran alur Sumber data BP DAS kapu as. Peningkatan kegiatan Per tambangan tanpa ijin (peti) 5. Degradasi lahan pertanian pangan Dinas pertanian 15 tahun Peta 7 lingkungan 11. Degradasi lahan dan kualitas tanah Data sebaran lahan pertanian Dinas pertanian 15 tahun lingkungan 12.Tabel 3. Perubahan Musim tanam 20 tahun 20 tahun Peta 2 sosek 4. Biro ekbang ADPEL Pontianak BLHD. persepsi masyarakat terhadap nilainilai baru Data lahan perta nian 15 tahun Lingkungan dan budaya 9. DAS BP 20 tahun Peta 3 lingkungan Sosek dan budaya ekonomi 15 tahun 20 tahun Peta 4 Peta 5 Data kualitas air dalam lima tahun terakhir Data perikanan tangkap hasil Dinas perikanan kabupaten dan prov BPS 15 tahun Peta 6 Lingkungan dan budaya Data sebaran desa kalbar. Penurunan kualitas air Sungai Kapuas 7. PDAM. Lingkup Wilayah kajian dan Waktu Kajian dari Isu Strategis Kelompok Isu-isu strategis Lingkungan Isue-isue strategis 1. 3. pergeseran nilainilai Budaya/Dekande nsi moral Dinas pariwisata. desk studi. Penurunan potensi perikanan tangkap 8.

pertambangan . Kekeringan dan kebakar an lahan Perkebunan . pem bukaan lahan gam but untuk kebun dan perijinan perkebun an di lahan gambut Data perijinan perkebunan. hotspot. Deforestasi /Degradasi hutan 14. Penurunan volune dan permukaan tanah/gam but Data Yang diperlukan Data kawasan hutan dan penu tupan lahan Data intrusi air laut Data tanah. pertambang an. Intrusi air asin/laut 15. Tumpang tindih peman faatanperun tukan lahan 17. dan kebakaran hutan/lahan Sumber data Kehutanan Prakiraan waktu berlangsu ngnya dampak 20 tahun Batas wilayah terkena dampak Peta 8 lingkungan lingkungan PDAM BLHD. PU BLHD 15 tahun Peta 10 20 tahun Peta 11 . kehutanan. kawasan hutan Data bencana alam kekeringan.Kelompok Isu-isu strategis lingkungan Isue-isue strategis 13. 20 tahun 20 tahun Peta 9 Lingkungan dan kelembagaa n Lingkungan 16.

3. social planning. menyusun konsep strategi untuk pemecahan masalah. dan melaksanakannya dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki. 5. 2. Proses perencanaan merupakan kegiatan yang tidak pernah selesai. baik antar daerah. sinkronisasi. dua proses perencanaan utama yang telah dilegalkan melalui payung hukum adalah perencanaan pembangunan (development planning) yang telah diformulasikan dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UU No. Dalam konteks Indonesia. Analisis data juga berguna untuk mengetahui dan menilai potensi dari masalah yang dihadapi. Aspek partisipatif dilaksanakan dengan melibatkan seluruh stakeholders melalui wahana-wahana yang telah disiapkan seperti halnya Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). 4. perencanaan juga dihadapkan pada pemilihan tindakan yang diperhitungkan mempunyai hasil yang optimal. dapat dicontohkan dari penjabaran visi dan misi dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) atau RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah). Perencanaan pembangunan diatur dalam UU No. dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat ditingkat pusat dan daerah. merumuskan tujuan dan kebijakan pembangunan. proses teknokratik dilakukan juga dengan menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang bertugas dalam hal tersebut.BAB IV TINJAUAN DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN 1. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). . city planning. Hal ini yang mendasari bahwa analisis data dasar dan informasi lainnya penting untuk dilakukan sehingga tujuan perencanaan dapat tercapai. waktu. melalui urutan pilihan. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan Menjamin terciptanya integrasi. pelaksanaan. karena selalu memerlukan peninjauan ulang atau pengkajian guna memberikan umpan balik dalam proses evaluasi Dalam undang-undang yang mengatur tentang perencanaan pembangunan nasional yaitu UU No. 25 Tahun 2004) dan perencanaan keruangan (spatial planning) tentang Sistem Penataan Ruang (UU No. efektif. dan fungsi pemerintah pusat maupun daerah Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. yang menyebutkan bahwa SPPN adalah kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana–rencana pembangunan dalam jangka panjang. Dari sisi jenjang pemerintahan proses perencanaan ini dikenal sebagai proses top-down dan bottom-up yang dilakukan secara seimbang. regional planning. dan pengawasan Mengoptimalkan partisipasi masyarakat Menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara berkelanjutan efisien. sehingga pada akhirnya harapan untuk kesejahteraan masyarakat dapat terwujudkan. dan dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Dalam perkembangannya. 26 Tahun 2007). kegiatan perencanaan banyak digunakan diberbagai bidang yang ditandai dengan munculnya berbagai istilah dari sektor-sektor yang melakukan perencanaan seperti: economic planning. jangka menengah. Perencanaan pembangunan merupakan suatu kegiatan perencanaan yang dilakukan oleh seluruh elemen untuk menganalisis kondisi dan pelaksanaan pembangunan. Pengantar Perencanaan adalah suatu proses yang berkesinambungan dan berkelanjutan mulai dari tahap pengumpulan data. environmental planning. dan istilah lainnya. ruang. penyusunan rencana. dan Proses perencanaan dilakukan melalui pendekatan politik terkait dalam pemilihan presiden atau kepala daerah yang dikenal dengan rencana pembangunan hasil proses politik.1. Selain dihadapkan pada hal-hal yang harus diramalkan. penganggaran. Undang–undang tersebut menyebutkan bahwa SPPN ditujukan untuk: 1. sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan. Selain dilaksanakan secara politik. dan sinergi. berkeadilan. 25 Tahun 2004 menyatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. hingga tahap evaluasi dan monitoring. Perencanaan ditujukan untuk waktu yang akan datang sehingga harus dapat memperkirakan kondisi yang akan terjadi pada masa depan dan harus mampu menelaah situasi yang cukup tepat sebagai indikator utama.

misi. RPJM sering disebut sebagai agenda pembangunan karena menyatu dengan agenda pemerintah yang berkuasa. Oleh karena itu. tujuan. Dalam konteks pembangunan nasional perencanaan keruangan yang dimaksud adalah perencanaan yang mengatur mengenai penggunaan ruang pada tingkat nasional. rencana pembangunan dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). Rencana pembangunan tahunan disebut sebagai Rencana Kerja Pemerintah (RKP). proses. dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD serta berpedoman kepada RPJM daerah dan bersifat indikatif. dan pendanaannya. lintas SKPD. Sedangkan Renstra SKPD memuat visi. organisasi kemasyarakatan. RPJP terdiri dari rencana pembangunan jangka panjang di tingkat nasional dan di tingkat daerah. kebijakan umum. kebijakan umum. RPJM nasional merupakan penjabaran dari visi. dan arah pembangunan daerah yang mengacu pada RPJP nasional. kebijakan. Perencanaan keruangan adalah perencanaan wilayah yang berbasis ruang atau spasial. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Renstra kementerian dan lembaga memuat visi. misi. program kementerian/lembaga dan lintas kementerian/lembaga. misi. memuat arah kebijakan keruangan daerah. RPJM nasional memuat strategi pembangunan nasional. Visi kemudian perlu dinyatakan secara tegas ke dalam misi. Oleh karena itu perencanaan ruang wilayah menjadi bagian penting dalam sistem perencanaan pembangunan nasional dan daerah. pulau. kewilayahan. Selain itu. Kebijakan dalam sistem pembangunan saat ini sudah tidak lagi berupa daftar usulan tetapi sudah berupa rencana kerja yang memperhatikan berbagai tahapan proses mulai dari input seperti modal. memuat rancangan kerangka ekonomi daerah.Mengacu pada SPPN. kebijakan. Rencana kerja yang dibuat berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. serta program kementrian/lembaga. budaya dan politik yang terjadi di masyarakat. kecamatan maupun tingkat yang lainnya. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM daerah dan mengacu pada RKP. dan output. kabupaten/kota. dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi kementerian/lembaga yang disusun dengan berpedoman pada RPJM nasional dan bersifat indikatif. program. proses perencanaan juga dibagi dalam tingkat pemerintahan dengan struktur berjenjang. yang dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang. RKP merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. memuat prioritas pembangunan. misi. dan program presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP nasional. ekonomi. Agenda pembangunan lima tahunan memuat program-program. dan organisasi politik. rencana pembangunan jangka panjang adalah produk dari semua elemen bangsa. RPJM daerah merupakan penjabaran dari visi. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. RPJP Nasional (RPJPN) merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dalam bentuk visi. RPJP Daerah (RPJPD) memuat visi. dan lintas kewilayahan. kebijakan. dan arah pembangunan nasional. strategi. RPJP adalah produk perencanaan yang dijadikan sebagai rujukan produk perencanaan di bawahnya dan dibuat berdasarkan referensi waktu selama 25 tahun. misi. Visi merupakan penjabaran citacita kita berbangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. . akan diimplementasikan dalam suatu ruang wilayah. pemerintah. dan Rencana Pembangunan Tahunan. misi. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. rencana kerja. Berbagai perencanaan yang dikemukakan di atas. prioritas pembangunan daerah. RPJM atau rencana lima tahunan terdiri atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. masyarakat. tujuan. perencanaan pembangunan harus dimulai dengan data dan informasi tentang realitas sosial. tenaga kerja. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP daerah dan memperhatikan RPJM nasional. diwujudkan dalam visi dan misi jangka panjang dan mencerminkan cita-cita kolektif yang akan dicapai oleh masyarakat beserta strategi untuk mencapainya. Jadi perencanaan lebih kepada bagaimana menyusun hubungan yang optimal antara input. strategi. dan lain lain. lembaga-lembaga tinggi negara. strategi pembangunan daerah. propinsi. Selain dibagi dalam skala waktu. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. fasilitas. ketersediaan sumber daya dan visi/arah pembangunan. kawasan. program. secara sektoral terdapat pula Rencana Strategis (RenStra) di masing-masing kementerian/departemen serta SOPD di daerah yang merupakan gambaran RPJM berdasarkan sektor atau bidang pembangunan yang ditangani. kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Oleh karenanya. dan pengaturan yang diperlukan. dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). lintas kementrian/lembaga.

misi dan arah pembangunan nasional. kepada masyarakat. Rendahnya upaya pemerintah dalam memberikan informasi tentang akuntabilitas dari program penataan ruang. Rangkaian upaya pembangunan tersebut memuat kegiatan pembangunan yang berlangsung tanpa henti. Walaupun pengertian partisipasi masyarakat sudah menjadi kepentingan bersama.Pembahasan mengenai perencanaan keruangan tidak terlepas dari pembahasan mengenai penataan ruang sehingga secara lebih khusus dalam pembahasan ini mengacu kepada UU No. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional disusun sebagai penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bentuk visi. namun masyarakat merasa tidak cukup hanya dengan proses tersebut. Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 merupakan kelanjutan dari pembangunan sebelumnya untuk mencapai tujuan pembangunan sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bangsa dan negara. UU 32/2004 (UU No. untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Tidak optimalnya kemitraan atau sinergi antara swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang. 1.2. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa semua proses keputusan yang diambil haruslah melibatkan masyarakat. Beberapa hal yang dapat melukiskan kondisi penataan ruang saat ini adalah sebagai berikut: a. Padahal mungkin masalah yang diputuskan sesunggguhnya cukup diselesaikan di tingkat lokal atau desa. Dengan kata lain. Perubahan sebagai tanggapan dari ketidakadilan selama ini. dengan menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat dari generasi demi generasi. Kebijakan pemerintah yang tidak sepenuhnya berorientasi masyarakat tidak terlibat langsung dalam pembangunan. sebagian besar kebijakan publik. yang pada gilirannya menyebabkan banyak kebijakan publik yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. Hal ini ditunjukkan dimana pemerintah sudah melakukan sosialisasi dan konsultasi dengan masyarakat. namun tidak memiliki kewenangan yang jelas. Kegiatan penataan ruang dilaksanakan dari tingkat mikro hingga makro. sumber daya manusia. 25 Tahun 2000) tentang otonomi daerah telah menggeser pemahaman dan pengertian banyak pihak tentang usaha pemanfaatan sumber daya alam. seperti perubahan dalam pengelolaan sumber daya alam yang tidak diikuti oleh aturan yang memadai serta tidak diikuti oleh batasan yang jelas dalam menjaga keseimbangan fungsi regional atau nasional. e. Untuk itu. Tidak terbukanya para pelaku pembangunan dalam menyelenggarakan proses penataan ruang (gap feeling) yang menganggap masyarakat sekedar obyek pembangunan. RPJP Nasional dan RTRW Nasional Berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Jarak antara penyampaian aspirasi hingga jadi keputusan relatif jauh. dalam 20 tahun mendatang. Dengan demikian. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang. Meskipun di dalam UU tersebut desa juga dinyatakan sebagai daerah otonom. d. namun masih banyak hal yang menunjukkan adanya tumpang tindih mengenai penggunaan ruang yang ada. Pelaksanaan upaya tersebut dilakukan dalam konteks memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya. c. sehingga memberi keleluasaan yang cukup bagi penyusunan rencana jangka menengah dan tahunannya. lingkungan hidup dan kelembagaannya sehingga bangsa Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dan mempunyai posisi yang sejajar serta daya saing yang kuat di dalam pergaulan . Persoalan yang dihadapi dalam perencanan partisipatif saat ini antara lain panjangnya proses pengambilan keputusan. Pembangunan nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat. akan tetapi dalam prakteknya masih terdapat pemahaman yang tidak sama. Jauhnya rentang pengambilan keputusan tersebut merupakan potensi terjadinya deviasi. dokumen ini lebih bersifat visioner dan hanya memuat hal-hal yang mendasar. antara lain di bidang pengelolaan sumber daya alam. paling rendah masih diputuskan di tingkat kabupaten. 22 Tahun 1999 dan PP No. sangat penting dan mendesak bagi bangsa Indonesia untuk melakukan penataan kembali berbagai langkah-langkah. terutama aset yang selama ini diangap untuk kepentingan pemerintahan pusat dengan segala perizinan dan aturan yang menimbulkan perubahan kewenangan. sehingga b. f.

sejahtera dan cerdas serta berkeadilan. Perencanaan jangka panjang lebih condong pada kegiatan olah pikir yang bersifat visioner. (b) menjamin terciptanya integrasi. (c) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Sedangkan RPJM Daerah merupakan visi dan misi Kepala Daerah terpilih. antarruang. pemerintah. Sedangkan periodisasi RPJM Daerah tidak dapat mengikuti periodisasi RPJM Nasional dikarenakan pemilihan Kepala Daerah tidak dilaksanakan secara bersamaan waktunya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005. Presiden terpilih periode berikutnya tetap mempunyai ruang gerak yang luas untuk menyempurnakan RKP dan APBN pada tahun pertama pemerintahannya yaitu tahun 2010. yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. antarwaktu. yaitu pada tahun 2010. antarfungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. Visi merupakan penjabaran cita-cita berbangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan RPJM Nasional IV Tahun 2020-2024. RPJP Daerah ini ditetapkan dengan Peraturan Daerah. organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik. RPJM Nasional III Tahun 2015-2019. misi dan arah pembangunan nasional adalah produk dari semua elemen bangsa. sinkronisasi dan sinergi baik antardaerah. penganggaran. dan 2025. masyarakat. 2015. sehingga penyusunannya akan lebih menitikberatkan partisipasi segmen masyarakat yang memiliki olah pikir visioner seperti perguruan tinggi. Rancangan RPJP Daerah hasil Musrenbangda dapat dikonsultasikan dan dikoordinasikan dengan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). RPJM Nasional dan RPJP Daerah dapat disusun terlebih dahulu dengan mengesampingkan RPJP Nasional sebagai pedoman. 2015. Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang nasional. RPJP Daerah harus disusun dengan mengacu pada RPJP Nasional sesuai karakteristik dan potensi daerah. Di samping itu. misi dan arah pembangunan nasional yang mencerminkan cita-cita kolektif yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia serta strategi untuk mencapainya. 2020. maka jangka waktu keseluruhan RPJPN adalah 2005-2025. lembaga-lembaga strategis. RPJM Nasional II Tahun 2010-2014. Sesuai dengan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. yaitu terciptanya masyarakat yang terlindungi. Kurun waktu RPJP Daerah sesuai dengan kurun waktu RPJP Nasional. Kepala Bappeda menyiapkan rancangan RPJP Daerah yang disusun melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda). efektif. Presiden yang sedang memerintah pada tahun terakhir pemerintahannya diwajibkan menyusun RKP dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) pada tahun pertama periode Pemerintahan Presiden berikutnya. lembagalembaga negara. Oleh karenanya rencana pembangunan jangka panjang nasional yang dituangkan dalam bentuk visi. Mengingat RPJP Nasional menjadi acuan dalam penyusunan RPJP Daerah. Rencana pembangunan jangka panjang nasional diwujudkan dalam visi. Namun demikian. individu pemikir-pemikir visioner serta unsur-unsur penyelenggara negara yang memiliki kompetensi olah pikir rasional dengan tetap mengutamakan kepentingan rakyat banyak sebagai subyek maupun tujuan untuk siapa pembangunan dilaksanakan. Dengan adanya kewenangan untuk menyusun RKP dan RAPBN sebagaimana dimaksud di atas. Kurun waktu RPJP Nasional adalah 20 (dua puluh) tahun. pelaksanaan dan pengawasan. dan 2025. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. berkeadilan dan berkelanjutan. Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah dilantik menetapkan RPJM Daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.masyarakat Internasional. 2020. . RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Pelaksanaan RPJP Nasional 2005-2025 terbagi dalam tahap-tahap perencanaan pembangunan dalam periodisasi perencanaan pembangunan jangka menengah nasional 5 (lima) tahunan. (d) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Tujuan yang ingin dicapai dengan ditetapkannya Undang-Undang tentang RPJP Nasional Tahun 20052025 adalah untuk: (a) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan dalam pencapaian tujuan nasional. Selanjutnya RPJP Daerah dijabarkan lebih lanjut dalam RPJM Daerah. Bila visi telah terumuskan. dan (e) mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan dan menghindarkan kekosongan rencana pembangunan nasional. yang dituangkan dalam RPJM Nasional I Tahun 2005-2009. melalui mekanisme perubahan APBN (APBN-P) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

maka Undang-Undang Penataan Ruang ini diharapkan dapat mewujudkan rencana tata ruang yang dapat mengoptimalisasikan dan memadukan berbagai kegiatan sektor pembangunan. Ruang kehidupan yang nyaman mengandung pengertian adanya kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mengartikulasikan nilai-nilai sosial budaya dan fungsinya sebagai manusia. Pendekatan top-down dan partisipatif dalam perencanaan pembangunan yang ada dalam UU No. Perencanaan pembangunan adalah suatu proses yang bersifat sistematis. terkoordinir dan berkesinambungan. Sementara itu landasan hukum sistem penataan keruangan yang digunakan adalah UU No. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP). bahwa penataan ruang terbagi atas kegiatan perencanaan. dan mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan. dan berkelanjutan. Segala kegiatan yang tentu saja membutuhkan ruang sebagai wadah pendukung kegiatan pembangunan tersebut harus diatur di dalam rencana tata ruang. namun juga generasi yang akan datang. Produktif mengandung pengertian bahwa proses produksi dan distribusi berjalan secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing. usaha pencapaian tujuan dan tindakantindakan di masa depan. salah satu tujuan pembangunan yang hendak dicapai dalah mewujudkan ruang kehidupan yang nyaman. pemanfaatan ruang. Sementara berkelanjutan mengandung pengertian dimana kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan. Kegiatan penataan ruang terdiri dari 3 (tiga) kegiatan yang saling terkait. Ketiga rencana tata ruang tersebut harus dapat terangkum di dalam suatu rencana pembangunan sebagai acuan di dalam implementasi perencanaan pembangunan berkelanjutan di wilayah Indonesia. Keseluruhan tujuan ini diarahkan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas.UU No. Dilihat dari sudut pandang penataan ruang. rencana pembangunan terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). 26/2007. dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pemerintah telah menetapkan rencana kerja pemerintah berikut alokasi anggaran yang ditetapkan dan akan digunakan didalam membiayai kegiatan pembangunan secara nasional. proses perencanaan pembangunan dilaksanakan dengan melibatkan seluruh stakeholder di pusat dan daerah. mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia. perizinan. Secara top down. yaitu: perencanaan tata ruang. dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pengendalian pemanfaatan ruang dilaksanakan secara sistematik melalui penetapan peraturan zonasi. tidak hanya untuk kepentingan generasi saat ini. dan berkelanjutan. Rencana pembangunan memuat arahan kebijakan pembangunan yang dijadikan acuan bagi pelaksanaan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Disadarai bahwa peranan penataan ruang didalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang terjabarkan pada rencana pembangunan sangatlah penting. 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan merupakan payung hukum bagi pelaksanaan perencanaan pmbangunan dalam rangka menjamin tercapainya tujuan negara. dengan produk rencana tata ruang berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang secara hirarki terdiri dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Sebagai payung hukum dalam penyelenggaraan penataan ruang. dan sejahtera. baik dalam pemanfaatan sumberdaya alam maupun sumberdaya buatan. yang digunakan sebagai arahan di dalam Sistem Perencanaan Pembangunan secara nasional. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRW Kab/kota). Terkait hal ini. Dalam konteks ini ruang harus dilindungi dan dikelola secara terkoordinasi. Ruang merupakan sumber daya alam yang harus dikelola bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. Menurut undang-undang tersebut. berbudi luhur. serta sanksi. terpadu. Rangkaian forum ini menjadi bagian dalam menyusun sistem perencanaan dan alokasi anggaran untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan setiap tahun. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dengan turunannya berupa rencana tata ruang merupakan upaya penting dalam menertibkan penyelenggaraan penataan ruang di Indonesia yang diwujudkan melalui beberapa aspek penting. Secara partisipatif. pemanfaatan. sangat terkait dengan kegiatan pengalokasian sumberdaya. daerah akan menyusun RPJPD dan RPJMD yang mengacu pada RPJP dan RPJM Nasional serta membuat program pembangunan dan kegiatan pokok yang akan dilaksanakan melalui Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang disusun oleh Kementerian/Lembaga. produktif. Dengan demikian keterkaitan antara perencanaan pembangunan dan penataan ruang sangat penting . diantaranya pengendalian pemanfaatan ruang. pemberian insentif dan disinsentif. Disamping itu segala bentuk kegiatan pemanfaatan sumberdaya harus diatur di dalam rencana tata ruang seperti yang tercantum di dalam UU No. 25/2004 terwujud dalam bentuk rangkaian musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) yang dilakukan secara berjenjang dari mulai tingkat Kabupaten/Kota sampai dengan Nasional.

1). haruslah terjadi pola hubungan antara produk-produk pada perencanaan pembangunan dan perencanaan keruangan. Lebih kongkrit lagi. rencana tata ruang uang disusun. dan pada pasal 20 ayat (2) menyatakan bahwa RTRWN menjadi pedoman untuk penyusunan RPJPN. perubahan batas wilayah provinsi yang ditetapkan dengan UU (khusus RTRWP dan RTRWK).dalam rangka optimalisasi sumberdaya alam dan buatan yang terbatas dan mengurangi resiko bencana yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia. perubahan batas teritorial negara yang ditetapkan dengan UU. (2) Dari aspek pemanfaatan ruang suatu wilayah atau daerah seringkali tidak sesuai dengan peruntukannya yang ada dalam . Berdasarkan pasal 19 UU No. penyusunan rencana tata ruang sering dilaksanakan hanya untuk memenuhi kewajiban pemerintah (Pusat dan Daerah) sesuai Undangundang dan Peraturan Daerah. RPJPN dan RTRWN memiliki batas waktu selama 20 tahun. Implementasi dan penjabaran RPJP dituangkan dalam dokumen RPJM yang memiliki batas waktu selama 5 tahun. seringkali dianggap sebagai produk satu instansi tertentu dan belum menjadi dokumen milik semua instansi karena penyusunannya belum melibatkan berbagai pihak. Keterkaitan antara rencana pembangunan dengan penataan ruang dapat dilihat pada skema berikut (lihat Gambar 4. Penjabaran RPJMN tertuang di dalam RKP yang dirumuskan setiap tahun dan disusun melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Keterkaitan Diantara Rencana Pembangunan Berdasarkan diagram diatas dapat dinyatakan bahwa Rencana Pembangunan (Nasional dan Daerah) dan Rencana Tata Ruang harus dapat saling mengacu dan mengisi. Dalam pelaksanaannya masih banyak terdapat berbagai kendala dan tantangan yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : (1) Produk rencana tata ruang yang dihasilkan masih belum diacu dalam pelaksanaan pembangunan. Untuk RTRWN dapat ditinjau kembali satu kali dalam 5 tahun apabila terjadi perubahan lingkungan strategis seperti terjadi bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan.1. Gambar 4. terutama di tingkat daerah. 26/2007 tentang Penataan Ruang. Hal ini disebabkan beberapa hal diantaranya adalah: data dan informasi yang digunakan kurang akurat dan belum meliputi analisis pemanfaatan sumberdaya kedepan. bahwa di dalam penyusunan RTRWN harus memperhatikan RPJPN. RTRWN merupakan pedoman bagi penyusunan dan pelaksanaan kegiatan yang bersifat “keruangan”. dan perubahan batas wilayah kabupaten/kota yang ditetapkan dengan UU (khusus RTRWK). Perlu dipahami dan disadari mengenai pola hubungan antara perencanaan pembangunan dan perencanaan keruangan. Hubungan ini akan menuntun pada terwujudnya perencanaan dan tujuan dari proses perencanaan. Permasalahan lain yang terjadi terkait dengan perencanaan tata ruang adalah seringkali perencanaan suatu kegiatan yang menggunakan ruang secara blue print tidak tergambar secara detail di dalam suatu peta rencana yang dapat menyebabkan pada pelanggaran didalam pemanfaatan ruang. Sinkronisasi rencana pembangunan dalam memanfaat ruang untuk melaksanakan aktivitas pembangunan seringkali menemui kesulitan.

Pada dasarnya pendekatan pengembangan wilayah ini digunakan untuk lebih mengefisiensikan pembangunan dan konsepsi ini tersus berkembang disesuaikan dengan tuntutan waktu. Ego sektoral dan daerah masih menjadi masalah utama dalam hal ini. dan proses ini akan memakan waktu yang cukup lama. Hal ini berdampak pada sulitnya pemerintah daerah dalam melaksanakan penyusunan rencana tata ruang wilayahnya. (2) Melakukan sinkronisasi kebijakan antar sektor dan instansi pemerintahan secara hirarki untuk mewujudkan keselarasan program pembangunan. lautan. Sebagai dampaknya. Ruang adalah wadah berbagai kegiatan sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan.rencana tata ruang suatu wilayah atau daerah. kewenangan yang sudah banyak didelegasikan kepada Pemerintah Daerah melalui kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi memberikan kesempatan bagi daerah untuk mencari berbagai sumber pendapatan baru untuk meningkatkan pendapatan asli daerah melalui berbagai kegiatan ekonomi. ekonomi. dan mencakup ruang daratan. menjadikan berbagai kegiatan pendukung ekonomi menjadi faktor utama di dalam kegiatan pembangunan. dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah dalam jangka menengah maupun panjang maupun tidak adanya sanksi hukum terhadap pelanggaran rencana tata ruang. (7) Penyelenggaraan sosialisasi dalam rangka memberikan informasi pentingnya peranan penataan ruang didalam pelaksanaan program pembangunan kepada masyarakat. Perroux (1955). (5) Produk rencana tata ruang daerah harus dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah yang selaras dengan visi dan misi daerah. (4) Perlu dilakukan penyusunan rencana tata ruang yang berkualitas dan menyeluruh. Hal ini terkait erat dengan rencana tata ruang yang tidak sesuai. teknologi dan kondisi wilayahnya. Kebutuhan mendesak akan ruang. Bahkan dalam era otonomi daerah. baik yang disebabkan oleh pengguna ruang ilegal maupun pemerintah. baik pada tingkat legislatif maupun eksekutif. telah menyebabkan alih fungsi lahan yang tidak terkendali. bentuk pelanggaran-pelanggaran tata ruang semakin marak terjadi yang dapat mengganggu lingkungan dan pada akhirnya dapat mengakibatkan bencana yang tentunya merugikan bagi masyarakat. maka adanya beberapa langkah yang diperlukan: (1) Melakukan penyelarasan implementasi terhadap rencana pembangunan dengan rencana tata ruang melalui mekanisme yang diatur didalam suatu kebijakan/peraturan. Di Indonesia. Hal tersebut berdampak pada maraknya alih fungsi lahan yang dilakukan dalam rangka melangsungkan dan mendukung kegiatan ekonomi. 1. ”growth center” yang digagas oleh Friedman (1969) sampai kepada pengaturan ruang secara terpadu melalui proses pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) secara sinergi dengan pengembangan sumberdaya manusia dan lingkungan hidup untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. (6) Ketegasan sanksi dan ketetapan hukum sebagai alat yang digunakan untuk mengendalikan segala bentuk pemanfaatan ruang. RTRW Pulau Kalimantan Pengembangan wilayah merupakan suatu upaya untuk mendorong terjadinya perkembangan wilayah secara harmonis melalui pendekatan yang bersifat komperhensif mencakup aspek fisik. dan udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta . (8) Peningkatan manajemen kelembagaan penataan ruang baik di Pusat maupun di daerah.3. konflik kewenangan pun terjadi secara hirarki antar instansi pemerintahan. (4) Sulit untuk menciptakan sinkronisasi kelembagaan dan hal ini terwujud dalam bentuk konflik penataan ruang yang disebabkan oleh tidak sinkronnya kegiatan antar sektor dan antar daerah. ”development poles” (poles de croissance) yang digagas oleh F. sosial. Salah satu upaya tersebut antara lain melalui pemberian perizinan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang terdapat di dalam rencana tata ruang. Sebagai contoh. maka prosesnya harus mengikuti ketentuan yang ada sesuai Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Oleh karena itu peranan kelembagaan penataan ruang dalam menjembatani hal tersebut sangatlah penting. ”bassic need approach”. konflik antar sektor kehutanan dengan pemerintah daerah dalam pemanfaatan kawasan hutan. Selain itu. (3) Mewujudkan keterpaduan dan kerjasama pembangunan lintas provinsi dan lintas sektor untuk optimasi dan sinergi struktur pemanfaatan ruang. (3) Masalah perekonomian yang menjadi pemicu didalam pembangunan nasional. Banyak cara untuk mengembangkan wilayah mulai dari penggunaan konsep (alat) pembangunan sektoral. dan budaya. dengan keluarnya undang undang ini maka pengembangan wilayah dilaksanakan melalui alat penataan ruang. termasuk alih fungsi lahan tanpa memperhitungkan keberlanjutannya dalam jangka panjang. (9) Mewujudkan konsistensi dalam penyerasian rencana tata ruang dengan rencana pembangunan antar pemangku pemerintahan. Dengan adanya berbagai tantangan dan kendala dalam mengintegrasikan Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang Wilayah. Misalnya dalam proses alih fungsi kawasan hutan (produksi maupun lindung) yang diminta oleh daerah. Fenomena ini seringkali terjadi untuk memenuhi kebutuhan ruang bagi masyarakat dan pemerintah (daerah) terutama terjadi di daerahdaerah yang baru dibentuk sebagai akibat pemekaran daerah.

dan lebih jauh akan terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup.1190 00` BT dengan luas wilayah sekitar 535. Saat ini upaya untuk menata ruang pulau Kalimantan sedang dilaksanakan oleh berbagai pihak baik oleh seluruh pemerintah propinsi di Kalimantan maupun oleh instansi pemerintah pusat secara bekerja sama. Karena sebagian besar pegunungan.69 %). Oleh karena itu. Sayangnya spesies hasil hutan seperti kayu gaharu.47 %). dan sisanya dataran pantai/ pasang surut (11. Kondisi Fisik Dasar dan Hasil Sumber Daya Lahan Pulau Kalimantan sebagaian besar merupakan daerah pegunungan / perbukitan (39.40 10` LS dan anatara 1080 30` BT . Struktur mengatur sistem pusat-pusat kegiatan beserta jaringan prasarana secara hirarkhis. Sebaliknya bila ada rekayasa pengaturan ruang dengan baik (penataan ruang) maka harapan akan terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan wilayah Kalimantan akan tercapai. serta usulan konsepsi pengendaliannya. saat ini sedang disusun Rencana Tata Ruang wilayah (RTRW) Pulau Kalimantan terlebih dahulu. kualitas lingkungan. sebaiknya dibuat strategi pelaksanaan pembangunan dalam rangkaian program pemanfaatan ruang. Secara garis besar. Analisis ekonomi hasil hutan dengan . Indonesia. juga di Indonesia. untuk mencapainya diperlukan upaya penataan ruang wilayah pulau Kalimantan yang berbasis mengoptimasikan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan yang ada agar terjadi pengembangan wilayah seperti yang diinginkan. Malaysia. Dilain pihak pulau Kalimantan juga mempunyai potensi antara lain untuk ikut dalam sistem kerangka kerjasama ekonomi regional seperti BIMP-EAGA (Brunai. Nilai ekonomis yang diharapkan bagi pengembangan wilayah Kalimantan tidak akan tercapai dan yang akan terjadi kerusakan lingkungan (baik “renewable” maupun yang “non renewable”) yang justru akan menjadi “cost” yang “never ending”. Dengan demikian lokasinya berbatasan langsung dengan negara Malaysia (Sabah dan Serawak) di sebelah utara yang panjang perbatasannya mencapai 3000 km mulai dari proinsi Kalimanatan Barat sampai dengan Kalimantan Timur.08 %). Hasil hutan yang potensi di Kalimantan adalah kayu industri. Pada umumnya topografi bagian tengah dan utara (wilayah republik Indonesia/RI) adalah daerah pegunungan tinggi dengan kemiringan yang terjal dan merupakan kawasan hutan dan hutan lindung yang harus dipertahankan agar dapat berperan sebagai fungsi cadangan air dimasa yang akan datang. Bila pemanfaatan ruang ini tidak diatur dengan baik maka bedasarkan konsepsi dan diagram seperti yang diuraikan di atas. kemungkinan besar akan terjadi pemborosan manfaat sumber daya alam yang tersedia di Kalimantan ini. dan cendana sudah hampir punah. gambaran umum permasalahan dan potensi pulau Kalimantan dapat diuraikan sebagai berikut : 1.73 %) dataran aluvial (12. dan estetika wilayah. terletak diantara 40 24` LU . Artinya berbagai kegiatan dan sumber daya alam yang terkandung dan tersedia di pulau Kalimantan ini terbatas. daratan (35. dan tengkawang. dengan fungsi lokasi. akan tercapai sinergi antara berbagi jenis kegiatan pemanfaatan ruang. dan khususnya di pulau Kalimantan ketersediaan ruang ini terbatas. damar.93 %). ramin. 2. dan pola pemanfaatan ruang adalah mengatur wilayah dengan satuan-satuan (deliniasi ruang) yang fungsional sesuai dengan tujuan rencana dan sesuai dengan kondisi daya dukung dan daya tampung sumber dayanya. Selain itu pesoalan ”illegal loging” yang sering merusak potensi sumber daya alam (hutan tropis) kita terus berkembang sejalan dengan tingkat ekonommi masyarakat perbatasan yang belum maju tersebut. disana ada potensi beberapa taman nasional sebagai konservasi flora dan fauna dan hutan di pegunungan Muller serta sebagian di Schawner yang ditetapkan sebagai ”world heritage forest” dan merupakan cadangan air seluruh Kalimantan sebanyak sekitar 35 % yang tidak akan habis di masa yang akan datang dengan syarat tidak teganggu dan tercemar serta perlu dilindungi sebagai suatu ekosistem. Sebagai daerah yang memiliki kawasan perbatasan maka mempunyai persoalan/masalah yang terkait ”illegal trading” apalagi penduduk kawasan negara tetangga jauh lebih sejahtera dan pembangunannya maju pesat. rotan. Kegiatan pembangunan tersebut akan terus berlanjut secara ”sustained”.mahluk hidup lainnya. dan lain– lain (0. Tahap awal. Letak Geografis Wilayah pulau Kalimantan (bagian selatan) dalam wilayah Republik Indonesia. Dengan memberikan arahan pengaturan ruang melalui optimasi kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang ada dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung wilayah. Rencana Tata Ruang sendiri adalah produk pengaturan Struktur dan Pola pemanfatan ruang. Di dunia.834 km2. Namun demikian dalam tulisan ini akan dicermati kedudukan pentingya penataan ruang wilayah pulau Kalimantan dalam satu proses keseluruhan yang tidak hanya berhenti pada perlunya disusun RTRWnya saja tapi juga bagaimana. Philipina – Eastern Asian Growth Area) dan dilalui jalu perdagangan laut internasional.

Kegiatan pertambangan ini seringkali menimbulkan konflik dengan pemanfaatan ruang lainnya yaitu dengan kehutanan. sektor kedua adalah Pertambangan dan penggalian dan ketiga pertanian. Persaingan ini bisa terjadi dalam kegiatan ekonomi baik internal maupun antara kota dalam propinsi atau antar propinsi. Memilih kesesuaian ruang untuk kegiatan uasaha yang sesuai dengan kesesuan tanah sangat diperlukan. Erosi sabagai akibat aberasi pantai terjadi di pantai barat. Jumlah penduduk terbanyak adalah Kalbar yaitu 34 % dari total penduduk seluruh Kalimantan. pasir kwarsa.143 km) di Kalbar dan dapat menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat. Untuk ini diperlukan optimasi pemanfaatan lahan agar hasil gunaanya dapat memberikan nilai ekonomis dan perkembangan pada wilayah. Namun kegiatan perekonomian ini juga sangat tergantung kepada daya dukung yang dapat menyediakan sumber dayanya. Selain banyak danau-danau yang berpotensi sebagai sumber penghasil perikanan khususnya satwa ikan langka. kecuali di propinsi Kaltim. Kegiatan perkebunan pada umumnya berada pada wilayah di perbukitan dataran rendah. dan ”off sore”. perkebunan. patahan/sesar dan gempa bumi. pegunungan. namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya lingkungan. mika dan batubara. Deposit pertambangan yang cukup potensial adalah emas. Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi. Laju pertumbuhan penduduk adalah 1. karena keterbatasan lahan dinegara jiran tersebut. Bahaya lingkungan lainnya adalah kebakaran hutan pada musim kemarau sebagai akibat panas alam yang membakar batu bara yang berada di bawah hutan tropis ini.ekosistimnya untuk menjaga keseimbangan lingkungan perlu dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Kinerja perekonomian yang baik dapat terjadi karena kemampuan propinsi atau kabupaten / kota dalam bersaing. 3. mangan. Dari nilai pertumbuhannya rata-rata senua propinsi berkembang dengan baik. tebu dan perkebunan tanaman pangan. Sebagai besar lahan Gambut ini ada di Kalimantan tengah dan selatan dan sebagaian kecil di pantai Kalimantan barat dan di Kaltim bagian utara. serta di beberapa tempat lainnya di bagian tengan dan hulu sungai besar di Kalimantan. lahan bertanah asam. bauksit. Sungai-sungai di Kalimantan ini cukup panjang dan yang terpanjang adalah sungai Kapuas (1. wilayah dan ekonomi nasional. Hal ini karena memang luas propinsi Kalsel lebih kecil dibanding yang lain. Perkebunan yang potensi dan berkembang adalah : sawit.87 %. Tambang minyak dan gas alam cair terdapat di dataran rendah. Sektor terbesar yang memberikan kontribusi nilai PDRB adadalh Industri pengolahan. Kondisi tanah di Kalimantan pada umumnya tidak subur untuk kegiatan usaha pertanian. Sedangkan propinsi terpadat adalah Kalsel yaitu 80 jiwa/km2. fosfat. Oleh karena itu bagi kabupaten/kota yang mempunyai potensi sumber dayanya perlu mendapat prioritas . Untuk terus dikembangkan secara ekonomis dengan memanfaatkan lahan yang sesuai masih diperlukang dukungan prasarana wilayah. Potensi hidrologi di Kalimantan merupakan faktor penunjang kegiatan ekonomi yang baik. Walupun sektor pertanian memberikan kontribusi ketiga. da hal ini perlu dioptimasikan agar punya nilai ekonomis namun tetap menjaga fungsi dan peran danau tersebut. Dalam teori ekonomi saling ketergantungan. Hampir rata terjadi di masing-masing bahwa sektor jasa relatif lambat pertumbuhannya. namun dalam lingkup propinsi sektor pertanian cukup dominan memberikan kontribusi pada PDRBnya masinhg-masing yaitu antara 20-40 %. berpasir. Potensi pertambangan banyak terdapat di pegunungan dan perbukitan di bagaian tengah dan hulu sungai. Berdasarkan kajian Banter (1993) kemungkinan sering terjadi erosi pada lereng barat laut pegunungan Schwener dan G Benturan. Oleh karenanya optimasi pemanfaatan SDA agar tidak hanya sekedar mengejar manfaat ekonomi perlu ada pengaturan ruang. Indikator kualitas kehidupan masyarakat (sosial-ekonomi) diukur dengan ”Human Developmen Index” (HDI) yang juga relatif masih rendah dibandingkan dengan beberapa daerah di Pulau Jawa Kontribusi PDRB agregrat pulau Kalimantan terhadap PDB nasional cukup baik. karet. Bahaya lingkungan ini harus menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan dalam pengaturan ruang wilayah. Pertumbuhan sektor yang paling baik adalah sektor pertanian. dan lahan yang memiliki kelerengan curam. pantai. Lahan daratan memerlukan konservasi yang sangat luas karena terdiri dari lahan rawa gambut. dan kakuatan daya saing menadi faktor kuat untuk perkembangan wilayah. kelapa. dan bukit-bukit relatif agak baik untuk kegiatan pertanian. dan pertanian. Kondisi dan Perkembangan Sosial Ekonomi Wilayah Jumlah penduduk Kalimantan masih relatif kecil dan tidak lebih dari 18 juta jiwa dengan rata rata kepadatan penduduk agregrat = 20 jiwa/km2. Usaha perkebunan ini sudah mulai berkembang banyak dan banyak investor mulai datang dari negara jiran. Kondisi tanah di dataran teras pedalaman. selatan dan timur. Sejumlah sungai besar merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksportimport.

agama dan keamanan wilayah. Dalam pengelolaan SDA harus diperhatikan kesesuaian lahan dan aspek lingkungan hidup. Pola pengaturan SD listrik dan pemanfaatan ruang kegiatan industri pelu sinergis. PLTD ini sangat konsumtif terhadap bahan bakar dan mahal. dan prasarana wilayah di Kalimantan yang dikaitkan dengan aspek lingkungan hidup untuk pembangunan berkelanjutan dan pengembangan wilayah dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : a. Berdasarkan analisis potensi dan berbagai permasalahan kondisi sumber daya alam. Beberapa hasil SDA dan industri olahan dipasarkan melalui outlet kota pelabuhan. . mendukung dan mendorong perkembangan wilayah.pengembangan walaupun dengan karakteristik yang berbeda. kegiatan sosial ekonomi masarakat dan wilayah. Tingkat pelayanan transportasi sungai cukup signifikan yaitu 33 % sedangkan transportasi jalan taya 44 % dan sisanya transportasi laut dan udara. Peran transportasi laut ini sangat penting untuk mendorong perkembangan ekonomi wilayah Kalimantan. dan Kaltim 15 kota pelabuhan. Kondisi Prasarana Wilayah (Transportasi) Pulau Kalimantan Total panjang jalan di pulau Kalimantan 42. batu bara. namun juga masih menghadapi berbagai kendala antara lain prasarana dan faktor pembatas lingkungan. Di Kalimantan ada 19 (sembilan belas) pelabuhan udara (termasuk pelabuhan udara perintis) yang membantu sebagai prasarana transportasi udara mengembangkan ekonomi wilayah melalui kelancaran arus kegiatan perdagangan dan pergerakan penduduik secara umum termasuk dalam menunjang misi sosial. dan industri lainnya. Hanya ada 3 (tiga) propinsi yang mempunyai kota-kota pelabuhan. Kalsel 3 (tiga) dan Kaltim 4 (empat). olahan hasil hutan. 5.641 km. tengah membelah barat timur dan selatan melingkar mengikuti garis pantai. pertambangan dan hasil olahan lainnya yang potensi dan akan saling terkait dengan pemanfaatan ruang lainnya serta dimungkinkan adanya konflik pemanfaatan ruang. PLTG. Kondisi Prasarana Kelistrikan Jaringan listrik di Kalimantan belum seluruhnya dilayani oleh jaringan inter-koneksitas secara total. Kalsel 1 kota pelabuhan. Kota pelabuhan ini berperan sebagai outlet/inlet kegiatan perdagangan interinsuler dan perdagangan eksport/import. b. Dengan memperhatikan potensi sumber daya alam (air.324. pertambangan. Tenaga listrik ini turut mempengaruhi pola perkembangan wilayah saat ini khususnya dalam meng-”generate” kegiatan / kawasan industri sawit. dan gas) masih dapat dimungkinkan untuk dikembangkan pemanfaatan PLTA. Ada yang masih perlu digali dan dirangsang dengan stimulan. Di Kalimantan masih tersedia sumber daya alam yang potensi untuk dikembangkan secara ekonomis bagi pengembangan wilayah. Sumber pembangkit listrik utama di Kalimantan adalah PLTD dan ada beberapa dari PLTG.491. Jumlah pelabuhan udara di propinsi Kalbar 5 (lima). dan PLT Batubara untuk membantu kosumsi listrik perkotaan/permukiman dan industri. Jaringan jalan ini harus terus diprogramkan secara terpadu intermoda dengan transportasi air (sungai) dan udara untuk merintis. 4. PLTA dan PLTGU. Panjang jalan ini sangat kurang untuk melayani jumlah luas pulau yang sangat besar. Dibandingkan pulau lainnya kepadatan jalan sangat berkurang yaitu hanya 85. semen. Transportasi sungai ini sebagian besar dimanfaatkan untuk mengangkut kayu dan hasil industri kayu dan hasil hutan lainnya.29 km/ha untuk jalan nasional dan propinsi.964 pesawat keberangkatan dan 40. Selain sumber daya alam. ada yang tinggal mendorong dan ada yang tinggal memberi dukungan. Tahun 1998 arus lalu lintas pesawat datang .102 ton bongkar dan 54. sebagaian besar masih dilayani jaringan transmisi bertegangan 275 KV. yaitu propinsi Kalbar 4 pelabuhan. Untuk itu diperlukan kehati-hatian dalam pemanfaatan ruangnya.005 pesawat kedatangan. Kalteng 7 (tujuh).keluar pelabuhan udara tercatat 39. Dilain pihak jumlah kendaraan juga sangat terbatas sehingga ada beberapa ruas jalan yang kapasitasnya masih belum termanfaatkan secara optimal.824 ton muat. c. di pulau Kalimantan juga mempunyai kegiatan industri. Secara umum pola jaringan tranasportasi jalan yang ada walaupun belum terthubungkan secara masif.Perkembangan kegiatan sosial ekonomi memberikan indikasi bahwa sudah ada potensi kegiatan masyarakat dan aktifitas ekonomi interinsuler serta eksport-import yang dapat mendorong perkembangan wilayah Kalimantan. Data menunjukan di propinsi Kaltim yang paling ramai terjadi bongkar muat komoditas/barang di pelabuhan yaitu 2. yaitu jalur utara membentang barat-timur.

pengaturan kebijakan dan strategi serta program pemanfaatannya. Banjarmasin. Dari data di atas. selatan. e. b. diperlukan terlebih dahulu pengaturan ruang dalam bentuk penyusunan rencana tata ruang untuk tujuan pembangunan dimasa yang akan datang. Pengembangan Kawasan Perbatasan Penanganan kawasan perbatasan antara RI dan Malaysia harus diprioritaskan. dan sistem pengendaliannya. maraknya pertambangan rakyat yang tidak terkendali dan terbukanya lahan-lahan eks tebangan yang belum ditanami dan menjadi lahan-lahan kritis. rotan. Oleh karena itu kawasan perbatasan yang panjangnya mencapai 3200 km penanganannya perlu dilaksanakan dengan pendekatan keamanan dan kesejahteraan masyarakat. untuk itu diperlukan pengaturan yang sinergi antara struktur prasarana wilayah dengan pemanfaatan ruang kegiatan lainnya kawasan-kawasan yang dikonservasi/dilindungi. Penurunan kualitas lingkungan ini terjadi akibat penebangan hutan secara liar (illegal logging) dan pengambilan hasil hutan lainnya (tengkawang.d. e. Sedangkan di bagian utara dan tengah adalah daerah pegunungan yang berfungsi sebagai kawasan konservasi untuk cadangan air. 6. degradasi kualitas lingkungan ini diakibatkan oleh kebakaran hutan. sungai maupun udara. Hal ini bukan saja karena gangguan bahaya terhadap kerusakan sumber daya alam dan lingkungan yang perlu dikonservasi (hutan lindung) akibat illegal logging tetapi juga perlu segera menangani perbaikan ekonomi masyarakat setempat dan keamanan negara. Prasarana wilayah (transportasi dan kelistrikan) dapat membantu (sebagai alat) mendorong perkembangan wilayah. Kesenjangan penyediaan sarana dan prasarana transportasi juga terjadi antara wilayah pantai dengan bagian tengah dan utara pulau Kalimantan (perbatasan). dan timur pulau Kalimantan) memberikan kontribusi PDRB yaitu 90 % terhadap total PDRB Kalimantan. kegiatan industri manufaktur yang memberikan nilai komoditas ekonomis berada di kota-kota pantai dibanding dengan kota-kota di bagian tengah dan utara. Pola penyebarannya sangat terbatas di bagian barat . Balikpapan. Di bagian tengah dan dataran rendah pantai selatan pada umumnya lahan bergambut dengan tingkat keasaman tinggi yang sulit ditanami oleh komoditas pertanian yang ekonomis. Oleh karena itu diperlukan kebijakan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi wilayah. Bila kesenjangan ini terus dibiarkan secara total pulau akan saling mengurangi nilai ekonomi wilayahnya. Keterbatasan Interaksi Internal Sebagai syarat perkembangan dan pertumbuhan wilayah diperlukan interaksi antar pusat-pusat permukiman (kota) baik yang internal propinsi maupun yang lintas propinsi. d. Untuk mensinergikan pemanfaatan sumber daya alam dengan kegiatan ekonomi masyakat dan wilayah yang berbasis pelestarian lingkungan hidup untuk pengembangan wilayah Kalimantan. dan hal ini makin mempertajam kesenjangan ekonomi wilayah. Kontribusi PDRB Kabupaten di wilayah pesisir (pesisir barat. Ketimpangan Ekonomi Antar Wilayah Kesenjangan pembangunan antar daerah terjadi di Pulau Kalimantan ini tidak hanya antar propinsi tetapi juga antar kabupaten di wilayah bagian pesisir dan pedalaman. selatan. Keterbatasan ini memberikan gambaran keterbatasan sarana dan prasarana wilayah terutama transportasi jalan raya. . Eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan ini terjadi di kawasan perbatasan dan di pegunungan Muller serta di Taman Nasional Kutai dan Tanjung Puting. Pola Penyebaran Sumber Daya Alam Pola penyebaran sumber daya alam yang potensial ekonomis pada umumnya berada pada lahan-lahan subur di dataran rendah dan tidak berawa. Hal ini semua pada gilirannya akan mengurangi potensi sumber daya alam pulau Kalimantan. Selain itu kota-kota besar dan metropolitan tumbuh dan berkembang di wilayah pantai dan pesisir seperti Pontianak. c. Selain hal di atas. fauna). a. dan timur utara wilayah pulau Kalimantan. Isu Pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan Eksploitasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Issu degradasi kualitas lingkungan sebagai akibat pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali dan tidak terencana dengan baik perlu segera di atasi. dan Samarinda.

Meningkatnya kesadaran. Melaksanakan pengendalian dan pemanfaatan tata ruang dan tata guna wilayah sesuai dengan peruntukan dan regulasi. berbagai kebijakan yang diterapkan didaerah harus mendasari. dan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup untuk menjaga kenyamanan dan kualitas hidup. didalam RPJM Kalimantan Barat dikemukakan 6 (enam) arah kebijakan yang akan dilakukan sebagai berikut: . Berbudaya Dan Sejahtera”. 4. Tersedianya sumberdaya alam yang berkelanjutan bagi pembangunan. Secara substansial visi RPJP dan RPJM Kalimantan Barat adalah relatif konsisten dan harmonis. guna menghindari kesenjangan wilayah dan terwujudnya pembangunan berkelanjutan. Dari perspektif dimensi lingkungan. 2. sosial. dan ekologi. Pendekatan kebijakan tersebut dilakukan dengan prinsip pengelolaan SDA secara ekonomi layak/menguntungkan. Sebagai tindak lanjutnya terdapat 6 (enam) sasaran pokok dalam bidang lingkungan hidup yang mencakup : 1. Meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas pertanian. misi dan sasaran pokok bidang lingkungan hidup yang terdapat pada RPJP. untuk melihat konsistensi dan harmonisasi berbagai kebijakan perencanaan pembangunan Provinsi Kalimantan Barat akan dibahas berikut ini. Berbudaya Dan Sejahtera. Sedangkan dalam tataran strategi pencapaian misi yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup. perikanan. Konsepsi Penataan Ruang Wilayah Kalimantan Bertitik tolak dari kondisi potensi wilayah dan issu perkembangannya maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencapai pengembangan wilayah pulau Kalimantan yaitu mencakup tahapan : (1) perencanaan tata ruang wilayah pulau Kalimantan (2) pemanfaatan ruang dalam bentuk penyusunan kebijakan dan strategi pembangunan yang selanjutnya dituangkan dalam program-program pelaksanaan pembangunan (3) pengendalian pemanfaatan ruang melalui proses pengawasan dan pemberian izin-izin agar sesuai dengan rencana tata ruang. Sehat Cerdas. mengacu. Terciptanya lingkungan hidup yang asri akan meingkatkan kualitas hidup manusia. Misi yang tertuang dalam RPJM dari perspektif lingkungan adalah: 1. 5. Melaksanakan pemerataan dan keseimbangan pembangunan secara berkelanjutan untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah dengan tetap memperhatikan aspek ekologi dalam pemanfaatan sumberdaya alam. Upaya untuk mewujudkan visi Kalimantan Barat Bersatu dan Maju haruslah dicapai salah satunya dengan mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. Sehat Cerdas. Tindak lanjut dari strategi ini. daya dukung. secara ekologi tidak menyebabkan kerusakan lingkungan (degradasi sumberdaya) dan secara sosial berkeadilan. Secara lebih operasional. seimbang dan lestari. visi. dengan tetap menjaga kelestariannya. 6. Dalam konteks ini. perkebunan. Aman. 3. daya saing bangsa serta modal pembangunan nasional. peternakan dan pertambangan yang berbasis sumberdaya alam. RPJPD dan RPJMD Provinsi Kalimantan Barat Sebagai bagian dari pembangunan nasional. relevan dan terkait dengan kebijakan pemerintah pusat. dan kemampuan pemulihannya dalam mendukung kualitas kehidupan sosial dan ekonomi secara serasi. Hal ini dapat dilihat dari visi yang tertuang pada RPJP yaitu “ Kalimantan Barat Bersatu dan Maju” dan Visi yang terdapat pada RPJM “ Mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. sikap mental. visi RPJP Kalimantan Barat telah memuat aspek pengelolaan lingkungan yang memberikan penekanan pada upaya pengelolaan SDA dan lingkungan hidup yang berkelanjutan.4. Terpeliharanya kekayaan keragaman jenis dan kekhasan sumberdaya alam untuk mewujudkan nilai tambah. berkeadilan dan berkesimbangan. 1. RPJM Kalimantan Barat memberikan penegasan bahwa Strategi pengembangan SDA melalui pendekatan pengelolaan berkelanjutan yang menyangkut aspek dimensi ekonomi. Aman. 2. Membaiknya pengelolaan dan pendayagunaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup yang dicerminkan oleh tetap terjaganya fungsi. dtuangkan dalam RPJM yang merupakan manifestasi dari visi dan misi pimpinan daerah selama 5 tahun ke depan.7.

Dengan hirarki seperti ini. arahan perizinan. 6. 4. dan saling mengisi dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi. dan Menjamin terwujudnya tata ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat yang berkualitas . Acuan untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. dan Acuan dalam administrasi pertanahan Provinsi Kalimantan Barat. 3. Mewujudkan keterpaduan pembangunan dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. 5.1. 3. Tabel 4. Secara keseluruhan dari perspektif lingkungan. terutama terkait dengan pengelolaan lingkungan terdapat konsistensi dan harmonisasi. Pada tataran hirarki yang lebih rendah RTWP menjadi acuan untuk penyusunan RTRW dan RPJP Kabupaten/Kota. Substansi pada RPJP dan RPJM Provinsi Kalimantan Barat No 1 2 3 4 Substansi Visi RPJP Misi RPJP Misi RPJM Strategi RPJM Substansi RPJM Visi RPJM Misi RPJM Strategi RPJM Arah Kebijakan Konsisten ü ü ü ü Tidak Konsisten Harmoni ü ü ü ü Tidak Harmoni 1. Acuan dalam pemanfaatan ruang/pengembangan wilayah Provinsi Kalimantan Barat. masyarakat. Dasar pengendalian pemanfaatan ruang dalam penataan/pengembangan wilayah provinsi yang meliputi indikasi arahan peraturan zonasi. Koordinasi pengelolaan lingkungan hidup di tingkat Kabupaten. serta arahan sanksi. Sedangkan Manfaat RTRW Provinsi Kalimantan Barat adalah untuk: 1.1. berarti bahwa RTRWP harus mencerminkan dan menjabarkan substansi yang terdapat dalam RTRWN sesuai dengan karakteristik wilayah baik dari aspek geografik. 5. dan swasta. 2. 2. RTRW Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai: 1. Acuan lokasi investasi dalam wilayah provinsi yang dilakukan pemerintah.5. RTRW Provinsi Kalimantan Barat Berdasarkan hirarki berbagai kebijakan dan dokumen perencanaan. Acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Barat hingga pada pemerintahan skala kabupaten/kota. Dari Fungsinya. Mengarusutamakan prinsip pembangunan berkelanjutan ke seluruh bidang pembangunan. 2. 4. arahan insentif dan disinsentif. Pedoman untuk penyusunan rencana tata ruang kawasan strategis Provinsi Kalimantan Barat. penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTWRP) mengacu kepada Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional RTRWN). 3. penduduk. 7. 6. Mewujudkan keserasian pembangunan wilayah Provinsi Kalimantan Barat dengan wilayah sekitarnya. Pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan sesuai dengan pedoman IBSAP 2003-2020 Meningkatkan upaya penegakan hukum secara konsisten kepada pencemar lingkungan Meningkatkan kapasitas lembaga pengelolaan lingkungan hidup Membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan dan berperaen aktif sebagai kontrol sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup. substansi yang terdapat dala RPJP dan RPJM Kalimantan Barat. sumberdaya alam dan sosial ekonomi serta budaya.

keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. c.Tujuan penataan ruang wilayah provinsi harus mengacu dan sejalan dengan tujuan penataan ruang nasional. Untuk memwujudkan hal tersebut. strategi hingga sampai pada program-program penataan ruang. antara lain: a. Terkait dengan lingkup kebijakan RTRWP Kalimantan Barat. Terwujudnya ruang Provinsi Kalimantan Barat sebagai beranda depan perbatasan darat Republik Indonesia yang aman. (2) Kebijakan Pengembangan Pola Ruang. sehingga terjadi keharmonisan dan sinergisitas dalam penyusunan visi. Mewujudkan Kalimantan Barat sebagai Provinsi Agrobisnis terdepan. (3) Kebijakan Pengembangan Kawasan Perkotaan. b. demi tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas dan berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan nasional. misi. dilakukan penjabaran tujuan penataan ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah. Mengacu pada tujuan penataan ruang nasional. (4) Kebijakan Pengembangan Kawasan Pedesaan. dan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis dalam rangka mendorong terciptanya integrasi nasional. terdapat 6 pengembangan kawasan yang ada yaitu: (1) Kebijakan pengembangan Struktur Ruang. . Berikut ini Tabel yang menyajikan lingkup kebijakan serta uraian dari masing-masing lingkup kebijakan pada RTRWP Provinsi Kalimantan Barat (lihat Tabel 4. dan Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi. Sebagaimana disebutkan dalam Rencana Tata Ruang Nasional. kebijakan. keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor. bahwa tujuan penataan ruang nasional adalah terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan. produktif berkelanjutan berbasis pengolahan sektor unggulan (perkebunan dan kehutanan) untuk pemerataan pembangunan wilayah bagi kesejahteraan masyarakat. nyaman. (5) Kebijakan Pengembangan Kawasan Budi daya. termasuk pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya. tujuan penataan ruang wilayah Propinsi Kalimantan Barat diarahkan untuk “Terwujudnya keharmonisan dan keterpaduan dalam penggunaan/pengelolaan lingkungan alam dan lingkungan buatan dengan peningkatan sumberdaya manusia dalam pengelolaannya serta pencegahan kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan ruang yang dikelola secara arif dan bijaksana guna peningkatan kemakmuran rakyat Kalimantan Barat secara adil dan merata”. Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Barat untuk pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.2).

meliputi aspek ekonomi. Pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan lindung agar sesuai dengan fungsinya yang telah ditetapkan. e. (1) Kawasan Metropolitan Pontianak (KMP) yang meliputi Kota Pontianak dan Kota Ambaya (Sungai Ambawang dan Sungai Raya). pengurangan resiko bencana alam. Berdasarkan rencana. Penyediaan sarana dan prasarana yang memerlukan kajian terlebih dahulu. Kawasan budidaya kehutanan dikembangkan secara terpadu dengan upaya meningkatkan daya dukung lingkungan dan pengembangan wilayah. f. sosial. Sungai Kakap.2. Pembangunan kehutanan dilakukan melalui pendekatan pemanfaatan sumberdaya hutan dalam tiga sisi manfaat secara berimbang. Lingkup Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Barat No 1 Lingkup Kebijakan Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan a. b.Tabel 4. Pengembangan struktur yang didasarkan atas lima pola pengembangan wilayah. 3 Kebijakan Pengembangan Kawasan a. b. 2. Pemanfaatan kawasan lindung sesuai dengan fungsi lingkungan hidup. Siantan. Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup. d. b. (2) Kawasan Andalan KUSIKARANG yang wilayahnya meliputi enam kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Pontianak di luar KMP yang terdiri dari Kecamatan Kuala Mandor. 2 Kebijakan Pengembangan Pola Ruang 1. keseimbangan lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan. Pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Pengembangan struktur ruang yang didasarkan atas struktur pusat-pusat permukiman utama (PKN) yang berintegrasi dengan pusat permukiman sekunder (PKW) dan pusat permukiman tersier (PKL). dan Sungai Ambawang. Pengembangan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi antarberbagai jenis prasarana sesuai dengan hirarki struktur ruangnya serta keterkaitan fungsional baik secara internal maupun eksternal. dan ekologi dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi. Sungai Raya. c. Pengelolaa n Kawasan Budidaya Kehutanan a. g. kawasan pemukiman juga disesuaikan dengan laju . Pengembangan wilayah ini lebih ditekankan pada sektor tersier dan sekunder. Penge lolaan Kawasan Lindung a. c. Penetapan kawasan lindung sesuai dengan fungsinya yang telah ditetapkan. Pengembangan wilayah ini lebih ditekankan pada sektor sekunder dan primer. Rasau Jaya. Pengembangan kawasan perkotaan baik berdasarkan kondisi eksisting dan rencana.

Perwujudan dan peningkatan keterpaduan keterkaitan antarkegiatan budi daya. g. meningkatkan produktifitas sektor-sektor unggulan sesuai dengan daya dukung lahan. b. Kawasan yang mempunyai prospek ekonomi yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan yang mendesak. d. Kawasan kritis yang diperkirakan akan segera membawa dampak negatif.No Lingkup Kebijakan Perkotaan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan pertumbuhan penduduk. 6 Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) a. membutuhkan c. c. Pengembangan sektor yang akan dikembangkan di atasnya mempunyai prioritas tinggi dalam lingkup regional maupun nasional. Pengembangan sektorsektor yang dapat menjadi tumpuan hidup masyarakat. dan b. Pengembangan kawasan dengan fungsi khusus. Kawasan yang menunjukkan perkembangan minat investasi yang tinggi. Optimalisasi pemanfaatan ruang kawasan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung . Perwujudan dan peningkatan keterpaduan keterkaitan antarkegiatan budi daya. Pengembangan kawasan pedesaan yang terintegrasi dengan kawasan perkotaan. Pengembangan sektor di wilayah mempunyai dampak yang luas. i. b. baik secara regional maupun nasional. karenanya perlu dikendalikan dengan segera. sehingga membutuhkan penanganan dan pengendalian yang segera. Perlu adanya koordinasi antarstakeholder pengelolaan kawasan perkotaan. Pengembangan sektor di wilayah ruang kegiatan dalam skala luas. e. 4 Kebijakan Pengembangan Kawasan Perdesaan a. f. b. Pengembangan prioritas kawasan pedesaan. dalam c. dan e. d. Koordinasi antarstakeholder terkait dengan rencana kawasan pedesaan yang akan dibangun menjadi kawasan perkotaan. Meningkatkan akses dan peluang investasi kawasan budidaya dalam rangka meningkatkan perekonomian wilayah. Penyediaan infrastruktur di kawasan perkotaan. f. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. Penanggulangan kawasan yang memiliki permasalahan yang cukup mendesak untuk ditangani melalui fasilitasi perangkat dukungan penataan ruang. 5 Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya a. c. h.

No Lingkup Kebijakan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem. baik secara regional maupun nasional. Pengembangan sektor di wilayah membutuhkan ruang kegiatan dalam skala luas. Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia. efisien. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. o. Pengembangan sektor di wilayah mempunyai dampak yang luas. 5 Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya c. melestarikan keunikan bentang alam. j. b. p. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengem-bangan perekonomian daerah yang produktif. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. m.Pelestarian bangsa. Pengembangan prioritas kawasan pedesaan. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan dalam kerangka ketahanan nasional dengan menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. meningkatkan produktifitas sektor-sektor unggulan sesuai dengan daya dukung lahan. dan peningkatan sosial dan budaya n. Meningkatkan akses dan peluang investasi kawasan budidaya dalam rangka meningkatkan perekonomian wilayah. f. k. Pengembangan kawasan perbatasan untuk mengakomodasikan perkembangan dan keutuhan negara. a. c. 4 Kebijakan Pengembangan Kawasan Perdesaan a. l. Pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Koordinasi antarstakeholder terkait dengan rencana kawasan pedesaan yang akan dibangun menjadi kawasan perkotaan. Pengembangan sektor yang akan dikembangkan di atasnya mempunyai prioritas tinggi dalam lingkup . Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan. 6 Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) a. d. Optimalisasi pemanfaatan ruang kawasan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. dan melestarikan warisan budaya daerah. b. mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan. b. dan mampu bersaing. melestarikan keaneka-ragaman hayati. e. c. Pengembangan kawasan pedesaan yang terintegrasi dengan kawasan perkotaan.

Terdapat 13 kawasan strategis yang pada dasarnya mengelaborasi fungsi-fungsi berbagai kota yang terdapat di Kalimantan Barat menurut potensi sisi pertumbuhan ekonomi. Pengembangan kawasan dengan fungsi khusus. Kawasan yang mempunyai prospek ekonomi yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan yang mendesak. n. sosial dan budaya. j. sehingga membutuhkan penanganan dan pengendalian yang segera. Selain itu. o. m. Kawasan kritis yang diperkirakan akan segera membawa dampak negatif. melestarikan keunikan bentang alam. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan. g. dapat dikatakan bahwa substansi kebijakan pengembangan kawasan yang terdapat pada RTRWP Provinsi Kalimantan Barat. k. RTRW Provinsi Kalimantan Barat memuat penetapan kawasan strategis yang salah satunya dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi. Apabila diamati penjabaran lingkup kebijakan yang terdapat pada tabel di atas. e.3 yang menyajikan beberapa penetapan kawasan strategis dengan berbagai fungsi berbagai kota yang terdapat di Kalimantan Barat. efisien. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan dalam kerangka ketahanan nasional dengan menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan.No Lingkup Kebijakan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan regional maupun nasional. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem. Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia. h. Penanggulangan kawasan yang memiliki permasalahan yang cukup mendesak untuk ditangani melalui fasilitasi perangkat dukungan penataan ruang. f. sudah mengakomodasi aspek-aspek lingkungan baik lingkungan fisik. dan melestarikan warisan budaya daerah. . Pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa. mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan. ekonomi. karenanya perlu dikendalikan dengan segera. Kawasan yang menunjukkan perkembangan minat investasi yang tinggi. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengem-bangan perekonomian daerah yang produktif. l. Pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berikut ini tabel 4. Pengembangan kawasan perbatasan untuk mengakomodasikan perkembangan dan keutuhan negara. d. p. melestarikan keaneka-ragaman hayati. i. dan mampu bersaing.

Kawasan Perkotaan Singkawang Kota SIngkawang 5. pertambangan (bauksit) dan pariwisata. perikanan. Kawasan Perkotaan Mempawah Kota Mempawah 4. dan pertambangan. perkebunan. serta kawasan produksi lainnya dan mengembangkan kualitas pelayanan prasarana sarana dasar (PSD) Kota yang mendukung fungsi kota pelabuhan dan pusat pelayanan antar kota berskala provinsi. Kawasan Metropolitan Pontianak Mendorong perkembangan sektor produksi wilayah.Tabel 4. perdagangan-jasa dan transhipment point. peternakan dan pertambangan. pertanian pangan. Simpul transportasi dan juga merupakan pusat perdagangan dan pelayanan jasa yang pelayanannya menjangkau Kabupaten Sambas dan Bengkayang. sebagai kota agropolitan dan pengembangan kualitas pelayanan prasarana dan sarana dasar kota di dalam mendukung fungsi kota agropolitan dan pusat pelayanan antarkota berskala provinsi. agroindustri. Kota Pontianak Pengembangan Kegiatan Kawasan Industri Semparuk (KIS) Border Development Center (BDC) PKS dari Sisi 1. sehingga 3. Kawasan Perkotaan Ketapang Kota Ketapang 6.3. pertanian. Tumbangtiti. Kawasan Pertumbuhan Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Terpadu (KAPET) Kathulistiwa 2. Kabupaten Sanggau. dan pertambangan di Nangatayap. Penetapan Kawasan Strategis Provinsi Kalimantan Barat No 1 Penetapan Kawasan Strategis Bentuk Kawasan Strategis Daerah Kawasan Kabupaten Sambas Entikong. industri. perkebunan. Nanga Badau berfungsi untuk memberikan pelayanan administrasi pelintas batas negara. seperti perkebunan. Pengembangan kualitas pelayanan prasarana sarana dasar kota yang mendukung fungsi kota agropolitan dan pusat pelayanan antar kota berskala provinsi Berorientasi untuk memantapkan aksesibilitas menuju sentra-sentra produksi pertanian. Kawasan Perkotaan Nanga Badau Kota Nanga Badau . Tanjung. Berfungsi di bidang jasa pemerintahan. Berfungsi untuk memberikan pelayanan dalam bidang jasa pemerintahan. perdagangan.

terutama bagi wilayah Provinsi Kalimantan Barat bagian utara Pertanian. Kawasan Perkotaan Sukadana Kota Sukadana 13. sebagai pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas. penetapan kawasan strategis untun berbagai fungsi kotakota yang ada di Kalimantan Barat dapat dikatakan sesuai dengan fungsi-fungsi kota tersebut. . Kawasan Perkotaan Sintang Kota Sintang 12. Hal tersebut menunjukkan kawasan ini memiliki sektor unggulan. Kawasan Perkotaan Putussibau Kota Putussibau 11. Kawasan Perkotaan Aruk Kota Aruk pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas dan Landak. dan sekitarnya. kehutanan. dan Kabupaten Landak. 8. Kawasan Perkotaan Jagoi Babang Kota Jagoi Babang 9. perkebunan serta hasil hutan dan meningkatkan aksesibilitas melalui jaringan jalan pengumpan menuju sentra-sentra produksi di Putussibau. Dapat dijadikan kawasan strategis adalah adanya infrastruktur yang lengkap dan juga didukung sarana transportasi. dan Kabupaten Landak pelayanan pada sektor jasa pemerintahan. Kawasan Perkotaan Sungai Raya Kota Sungai Raya Dari aspek potensi pertumbuhan ekonomi. Bengkayang. Kawasan Perkotaan Jasa Kota Jasa 10.No Penetapan Kawasan Strategis Bentuk Kawasan Strategis Daerah Kawasan Pengembangan Kegiatan diarahkan sebagai pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas. Sanggau. kawasan ini dapat dijadikan kawasan parwisata dengan tetap menjaga kelestarian kawaasn lindung. 7. Namun melihat fungsi kota dari satu aspek saja belumlah dapat memberikan justifikasi bahwa kota tersebut dapat mengoptimalkan fungsi. Tentu saja aspek lain harus diperhatikan seperti aspek sosial budaya dan letak geografisnya. Kawasan Perkotaan Sukadana juga termasuk dalam PKW Promosi. dan pariwisata. Bengkayang. pertanian.

pengembangan sistem informasi kehutanan. optimalisasi pemanfaatan hutan alam. monitoring dan evaluasi rencana kerja. . 1. Melaksanakan penyusunan. optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman dan pemberdayaan masyarakat desa hutan.1. Sektor Kehutanan Visi Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Barat ditetapkan : ”TERWUJUDNYA PENYELENGGARAAN KEHUTANAN YANG BERASASKAN KERAKYATAN DAN KEADILAN. menengah dan Keterbukaan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan masyarakat dan memperhatikan aspirasi masyarakat kehutanan mengikutsertakan Keterpaduan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan kepentingan nasional. provinsi. Melaksanakan pengendalian tata ruang. kelestarian ekologi dan kelestarian sosial Peningkatan kemakmuran rakyat mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus diarahkan untuk menoingkatkan kemakmuran rakyat dengan pendapatan per kapita di atas rata-rata kebutuhan hidup minimum Sedangkan Misi Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat dituangkan dalam 5 misi.6. UNTUK MENJAMIN KELESTARIAN HUTAN DAN PENINGKATAN KEMAKMURAN RAKYAT KALIMANTAN BARAT” Makna dari visi tersebut adalah sebagai berikut : Kerakyatan dan Keadilan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus memberikan peluang dan kesempatan yang sama kepada semua warga negara sesuai dengan kemampuannya sehingga dapat meningkatkan kemakmuran rakyat Kebersamaan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan menerapkan pola usaha bersama sehingga saling keterkaitan dan saling ketergantungan secara sinergis antara masyarakat setempat dengan pelaku usaha dalam rangka pemberdayaan usaha kecil. Melaksanakan fasilitasl pelaksanaan rehabilitasi kawasan hutan kritis. 5. kabupaten dan masyarakat setempat termasuk dunia usaha kehutanan dan sektor lain Kelestarian hutan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus diarahkan untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang menjamin terwujudnya kelestarian produksi. Penyusunan Renstra Sektoral mengacu dan berpedoman kepada RPJMD yang merupakan aktualisasi rencana kegiatan pembangunan yang akan dijalankan oleh Pimpinan daerah. Rencana Strategis Sektor-Sektor di Provinsi Kalimantan Barat Rencana Strategis sektor-sektor adalah merupakan rencana kegiatan prioritas sektor-sektor selama 5 tahun ke depan. 4. dan penurunan kerusakan sumberdaya hutan. serta 2. Sehingga jika melihat keterkaiatan ini. optimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. 3. KEBERSAMAAN. KETERBUKAAN. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri pengolahan hasil hutan. Melaksanakan pengendalian produksi.7. Melaksanakan penegakan hukum kehutanan. DAN KETERPADUAN. peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur. serta pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel.1. maka Renstra sektoral pada dasarnya adalah penjabaran program dan rencana kerja pada tingka operasional untuk mencapai apa yang menjadi rencana kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pimpinan daerah. yaitu: 1.

Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan alam dengan indikasi : - . Terlaksananya pengumpulan dan pengolahan data kegiatan kehutanan berupa : data dan informasi pada 5 bidang. berupa : buku info kehutanan 5 judul. pemeliharaan LAN 5 bidang dan Website 2 unit. Terlaksananya pengendalian pembentukan dan pengembangan pengelola wilayah KPH Terlaksananya pengendalian rencana kerja usaha jangka menengah pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam (RKU IUPHHK-HA) : pertimbangan teknis pada 5 unit koridor. serta pengembangan sistem informasi kehutanan Tujuan : Mewujudkan kawasan hutan yang mantap. Terwujudnya keterbukaan informasi publik bidang kehutanan dengan indikasi : - - 2) Misi 2 : Melaksanakan fasilitasi pelaksanaan rehabilitasi kawasan hutan kritis. Sasaran : a. Terlaksananya pengendalian pelaksanan inventarisasi tegakan hutan alam untuk penetapan kuota dan terget produksi RKT IUPHHK-HA. penyiapan perteknis di 3 kab.HA) pada 16 Unit Management per tahun. optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman dan pemberdayaan masyarakat desa hutan. Terlaksananya peningkatan peranserta masyarakat dalam rehabilitasi dan reklamasi di 14 Kab/Kota. publikasi di media elektronik 3 kali setahun. Terlaksananya pembinaan dan pengendalian rencana dan realisasi RKT IUPHHK. Terwujudnya peningkatan potensi dan produktivitas kawasan hutan kritis dengan indikasi : Terlaksananya pembinaan kebun benih sebesar 50 Ha dan penyediaan bibit tanaman kehutanan 1. Terlaksananya penyajian dan distribusi informasi kehutanan.Selanjutnya untuk setiap Misi dijabarkan lebih lanjut kedalam bentuk tujuan dan sasaran sebagai berikut: 1) Misi 1 : Melaksanakan pengendalian tata ruang. HL dan Taman Hutan Raya dan Skala DAS lintas pada 5 kab/kota. Terlaksananya fasilitasi serta pengendalian rehabilitasi dan reklamasi seluas 1. Terwujudnya kawasan hutan yang mantap dengan indikasi : b. Tujuan : Meningkatkan potensi kawasan hutan kritis. Sasaran : a. optimalisasi pemanfaatan hutan alam dan keterbukaan informasi publik bidang kehutanan. berupa bintek di 5 kab. dan Action Plan 10 unit. Terlaksananya pengendalian tata ruang kawasan hutan di 14 kab/kota dan Rekonstruksi Batas sepanjang 1. Terlaksananya pengendalian rencana dan realisasi kerja tahunan usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam (RKT IUPHHK. Terlaksananya pengendalian pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan di 14 kab/kota dan Inventarisasi HP. optimalisasi pemanfaatan hutan alam.000 Batang/Tahun.000 km. Terlaksananya penyediaan perangkat keras dan perangkat lunak sistem informasi kehutanan berupa : pengadaan PC 7 unit. optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman.000 Ha/Tahun. Terlaksananya pengendalian operasionalisasi IUPHHK-HT yang tidak aktif di 17 Unit. serta memperluas lapangan kerja dan usaha masyarakat yang berbasis pada sumberdaya hutan.HT di 10 Unit. dan inventarisasi asset tak bergerak di 5 unit. data potensi sektor kehutanan di 14 kab/kota serta pengolahan data spatial 4 topik. b. Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan alam dengan indikasi : - - c.

Terlaksananya pengendalian dan penyelesaian piutang PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota.c. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri pengolahan hasil hutan Tujuan : Mewujudkan optimalisasi produksi hasil hutan. dengan indikasi : Terlaksananya pengendalian penatausahaan hasil hutan di 12 kabupaten dan pengendalian SKAU di 5 kabupaten. Terwujudnya optimalisasi penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri primer hasil hutan yang berkelanjutan. Terlaksananya monitoring dan evaluasi proses penyelesaian tindak pidana kehutanan (Koordinasi dalam di 8 Kabupaten. Terlaksananya pembinaan dan pengendalian inventarisasi tegakan hutan tanaman di 10 unit. 3) Misi 3 : Melaksanakan pengendalian produksi. Operasi illegal logging 16 kabupaten. Sasaran : a. dengan indikasi : - 4) Misi 4 : Melaksanakan penegakan hukum kehutanan. HKM. Hutan Desa dan Hutan Adat sebanyak 10 Unit. Pengangkutan dan pembongkaran barang bukti 3000 m3). Terlaksananya rekonsiliasi data penatausahaan PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota dan di Jakarta. dan penurunan kerusakan sumberdaya hutan. obtimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. Terlaksananya pengendalian distribusi dan penggunaan dokumen penatausahaan hasil hutan di 12 kabupaten dan di 3 provinsi asal dokumen. Terlaksananya pengembangan HTR. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan sumberdaya penyidik pegawai negeri sipil di 8 kabupaten. Terlaksananya pengendalian penatausahaan PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota. Operasi intelejen di 8 kabupaten. Tujuan : Meningkatkan penegakan hukum kehutanan. mengurangi terjadinya kerusakan sumberdaya hutan. - . Terlaksananya pengendalian pengembangan industri primer hasil hutan di 12 kabupaten/kota. Terlaksananya pengendalian penatausahaan hasil hutan olahan di 16 lokasi. Terwujudnya perluasan lapangan kerja dan usaha masyarakat yang berbasis pada sumberdaya hutan : Terlaksananya fasilitasi prakondisi pengelolaan IUPHHK-HA dan IUPHHK-HT sebanyak 4 unit. Terwujudnya peningkatan penegakan hukum kehutanan. Patroli 24 tim. dengan indikasi : c. Terlaksananya pengendalian tenaga teknis kehutanan di 12 kab/kota dan 16 unit IUPHHK. Pengawasan penggunan senjata 5 kabupaten). Pengamanan barang bukti 600 OT. Terwujudnya pengembangan industri primer hasil hutan yang berkelanjutan. Terwujudnya optimalisasi produksi hasil hutan. Sasaran : a. Latihan menembak 30 orang. Terlaksananya pengendalian penggunaan peralatan pemanfaatan hutan di 12 kabupaten. Terlaksananya pembinaan dan pengendalian pelaksanaan kelola sosial IUPHHK pada 20 unit. b. dengan indikasi: Terlaksananya penyelidikan dan penyidikan tindak pidana kehutanan (Diklat PPNS 20 orang. optimalisasi pemanfaatan pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon.

peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur. Terlaksananya penyusunan dokumen pelaporan keuangan dan aset secara lancar selama 5 tahun. Terlaksananya penanggulangan kerusakan hutan di 12 kabupaten dan Pemantauan RKL dan UPL di 16 unit IUPHHK. dengan indikasi : Terlaksananya penyusunan dokumen perencanaan kehutanan jangka menengah dan tahunan sebanyak 10 thema. Terlaksananya inventarisasi konservasi di 12 lokasi. dan pengembangan potensi kawasan hutan lindung dan Terwujudnya penurunan kerusakan sumberdaya hutan. Makna dari visi tersebut adalah : Pengelolaan pertambangan dan energi mengandung arti bahwa pertambangan dan energi harus dikelola berdasarkan asas manfaat. pembangunan kehutanan. Terlaksananya koordinasi. Terlaksananya pengendalian rencana kerja tahunan usaha pemanfaatan kawasan hutan lindung dan konservasi di 12 lokasi. Tujuan : Meningkatkan keselarasan perencanaan pembangunan kehutanan. Terlaksananya pelayanan dan administrasi keuangan secara lancar dan tepat waktu selama 5 tahun. sosialisasi. 5) Misi 5 : Melaksanakan penyusunan. Visi Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 – 2013 yaitu TERWUJUDNYA PENGELOLAAN PERTAMBANGAN DAN ENERGI YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN UNTUK MENDUKUNG KESEJAHTERAAN RAKYAT”. Terlaksananya penyusunan dokumen harga satuan dan pelaporan pelaksanaan pembangunan kehutanan sebanyak 8 thema. serta pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel. 5 tahun.b. Sasaran : a. dengan indikasi : - 1. Terlaksananya pelayanan administrasi umum. Terwujudnya keserasian perencanaan kehutanan. Terwujudnya peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur. pelaksanaan pelayanan umum serta akuntabilitas pengelolaan keungan dan aset. dengan indikasi : c. masyarakat dan daya tarik . Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. dengan indikasi : Terlaksananya operasi penanggulangan pelanggaran kehutanan dan sosialisasi peraturan perundangan di 12 kabupaten/kota. adil serta berkelanjutan yaitu suatu proses yang terencana dan terarah dalam merumuskan pengelolaan pertambangan dan energi dengan memperhatikan keseimbangan antara optimalisasi manfaat. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan dinas untuk meningkatkan disiplin PNS. monitoring dan evaluasi program-program b. Sektor Pertambangan Terwujudnya pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan sumberdaya polisi kehutanan di 12 kabupaten.2. Terlaksananya pembinaan dan peningkatan sumberdaya manusia aparatur. dengan indikasi : Terlaksananya pengendalian rencana kerja usaha jangka menengah pemanfaatan kawasan hutan lindung dan konservasi di 12 lokasi. monitoring dan evaluasi rencana kerja.7. efisien. selama 5 tahun. Terlaksananya pelayanan dan administrasi aset secara berkesinambungan selama 5 tahun.

Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar instansi pemerintah. Upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi pemakaian energi fosil dan meningkatkan pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan. 4. tercapainya akses terhadap energi bagi masyarakat yang tidak mampu dan terisolir. Panas Bumi dan Air Tanah yang baik dan benar. sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 4. Meningkatkan pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan di bidang mineral. Dalam pengelolaan energi juga harus memperhatikan pelestarian lingkungan hidup. Menyediakan pasokan tenaga listrik yang aman. Nilai-nilai strategis organisasi yang perlu dikembangkan dalam budaya kerja organisasi untuk mencapai Visi dan Misi : 1. Pembukaan akses informasi geologi. penyediaan data yang up to date. kemudahan berusaha. penyediaan data geologi. Meningkatkan Pengelolaan Mineral. geologi lingkungan. sebagai berikut: 1. Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi. batu bara. pertambangan dan energi untuk masyarakat dan promosi. swasta dan masyarakat. 2. andal dan akrab lingkungan dan mengembangkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan dengan melakukan konservasi dan diversifikasi energi serta mengoptimalkan pemanfaatan migas secara efektif dan efesien. 6. 3. efisien dan profesional melalui perencanaan kerja yang terintegrasi. 5. 2. Memberdayakan kelembagaan. Mewujudkan dan menjaga ketersediaan pasokan tenaga listrik yang aman. Berwawasan lingkungan mengandung arti bahwa didalam pengelolaan pertambangan harus mengindahkan prinsip-prinsip konservasi dan pelestarian fungsi lingkungan. Kampanye konservasi bahan galian. Meningkatkan pelayanan. 3. sarana & prasarana. panas bumi dan air tanah serta energi untuk memberikan manfaat dan nilai tambah yang optimal. Batubara. Dalam skala global salah satu dampak pemanfaatan energi (fosil) yang mengkhawatirkan adalah pemanasan global sebagai akibat emisi dioksida karbon atau CO2 yang menyebabkan perubahan iklim serta kenaikan permukaan air laut. penghematan energi. 2. Tujuannya adalah untuk menciptakan harmonisasi usaha pertambangan dengan kepentingan masyarakat dan mendapatkan jaminan ketersediaan energi sehingga menunjang proses pembangunan di seluruh sektor. Sedangkan Misi Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat. peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penyediaan sarana dan prasarana dalam rangka memberikan pelayanan prima. mitigasi bencana geologi serta pelayanan laboratorium. Mewujudkan tertib administrasi kantor yang efektif. Meningkatkan pengetahuan aparatur. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan efisiensi penggunaan energi.investasi. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM dan sarana/prasarana dalam rangka mewujudkan Managemen Pelayanan Administrasi Yang Optimal. pengurangan dan pencegahan emisi dan pemanfaatan energi secara rasional dan optimal. pelaku usaha dan alih teknologi. Tujuan Dinas Pertambangan dan Energi sebagai hasil akhir yang ingin dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 sampai dengan 5 tahun (Tahun 2009 s/d 2013). sebagai beriku : 1. 3. . sumberdaya manusia. 4. Meningkatkan penyelidikan bimbingan teknis. penghematan penggunaan energi dan migas dan penelitian dan pengembangan mineral dan energi. Meningkatkan pelaksanaan inventarisasi geologi dan melaksanakan mitigasi bencana geologi. andal dan akrab lingkungan. mengembangkan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan dan melakukan konservasi energi serta mengoptimalkan pelaksanaan pemanfatan minyak dan gas bumi secara efektif dan efesien.

Sasaran yang hendak dicapai Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut : 1. 1. b) Pengembangan bahan tanaman bermutu. panas bumi dan air tanah melalui pelayanan pemberian izin. 3. rehabilitas. pelatihan. alsintan. 2. Sektor Perkebunan 2008-2013. e) Penumbuhan dan penguatan kemitraan usaha. teknologi dan e) Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana perkebunan. bimbingan teknis dan pengawasan pengelolaan mineral.pendampingan sekolah lapang dan magang petani maupun petugas. geologi lingkungan. daerah pedalaman. sinergi perangkat regulaasi dan program serta kualitas sistem dan data informasi. 8. rekomendasi teknis. 7. ekstensifikasi dan diversifikasi. g) Pemantapan manajemen peningkatan kesejahteraan petani pekebun. Terwujudnya pemanfaatan minyak dan gas bumi secara efektif. Meningkatnya pelayanan dan tertib administrasi umum dan kepegawaian dengan didukung peningkatan kualitas dan kuantitas SDM. air tanah dan daerah rawan bencana geologi. Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Kalimantan Barat dikemukakan bahwa prioritas pembangunan daerah sektor perkebunan adalah: 1) Pengembangan Agribinis. b) Pendidikan. mitigasi bencana geologi serta pelayanan laboratorium. Terlaksananya penyelidikan geologi.7. batubara. Tersedianya tenaga listrik yang aman. panas bumi dan air tanah yang baik dan benar. f) layanan agribisnis seperti sarana produksi. sarana dan prasarana. Tersedianya data dan informasi potensi geologi. wilayah terpencil) 2) Peningkatan Kesejahteraan Petani Perkebunan. c) Penumbuhan dan penguatan kelembagaan petani perkebunan d) Penumbuhan dan pengembangan kelembagaan usaha di sentra produksi. Meningkatnya managemen pembangunan pengelolaan mineral. batubara. efisien. adapun kegiatan pokok yang akan dilakukan dalam program ini meliputi : a) Rasionalisasi tenaga penyuluh perkebunan. g) Pengembangan perkebunan pada kawasan khusus (wilayah perbatasan. 5. adapun kegiatan pokok yang akan dilakukan dalam program ini meliputi: a) Penerapan teknologi budidaya yang baik melalui intensifikasi. d) Pengembangan permodalan. c) Pemantapan kawasan dan pengutuhan agribisnis komoditas unggulan dengan titik berat pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan. Peningkatan efektifitas pemanfaatan sarana dan prasarana perkebunan. aman dan berkurangnya subsidi pemerintah secara bertahap. geologi lingkungan. andal dan akrab lingkungan dan terlaksanya pemanfaatan energi baru terbarukan dengan melakukan konservasi energi secara berkelanjutan.3. Monitoring dan Evaluasi Program dan Kegiatan Sektor ESDM yang terintegrasi dan meningkatkan tertib administrasi keuangan dan asset melalui peningkatan pengembangan sistem pelaporan pencapaian kinerja dan keuangan dalam rangka meningkatkan pelayanan sumber daya pertambangan daan energi. 4. . Meningkatnya pembinaan. Terwujudnya Perencanaan. f) Upaya khusus pengentasan kemiskinan di wilayah perkebunan. 6.

e) Peningkatan dan pemanfaatan Tata Ruang wilayah perkebunan. dapat dikemukakan bahwa program prioritas tersebut tidak sama sekali memberikan penekanan pada pengembangan sektor perkebunan yang mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan.2013 untuk sektor perkebunan. h) Penyelenggaraan Promosi Produk Unggulan Perkebunan. b) Peningkatan dan pengembangan Humas Perkebunan. 3) Pengembangan Sistem Informasi (SIM) Perkebunan . Apabila memperhatikan program prioritas yang terdapat didalam RPJM Kalbar 2008 . yang akan . adapun kegiatan pokok dilakukan dalam program ini meliputi : a) Pengembangan sistem data dan informasi perkebunan. c) Peningkatan kaji terapan Agribisnis Pembangunan Perkebunan. g) Pembinaan dan pengawasan usaha perkebunan.h) Pembinaan petani dan kelembagaan petani pada kawasan khusus (wilayah perbatasan pedalaman dan wilayah terpencil). f) Pengendalian Perizinan Usaha Perkebunan. d) Pengembangan pelaksanaan standarisasi perkebunan.

Berbudaya. Mewujudkan Indonesia Menjadi Negara Kepulauan Yang Man Diri. DEMOKRATIS. RPJM dan RTRW Nasional 4 Dalam UU No 25 tahun 2004 tentang sistim perencanaan pembangunan nasional pada pasal menyatakan : (1) RPJP Nasional merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pernerintahan Negara Indonesia yang tercanturn dalarn Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. kebijakan umum. Mewujudkan Masy Demokratis Berlandakan Hukum 4. yang memuat strategi pembangunan nasional. mernuat prioritas pembangunan. Mewujudkan Pemerataan Pembangunan Dan Berkeadilan 6.1. kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif (2) (3) Sejalan dengan yang diamanatkan pada pasal 4 ayat 1 tersebut maka dalam RPJP Nasional terdapat visi sebagai berikut : INDONESIA YANG MANDIRI. Mewujudkan Indonesia Berperan Penting Dalam Pergaulan Dunia Internasional Selanjutnya Jika Memperhatikan Beberapa Uraian Tentang RPJM Nasional Di Peroleh Visi RPJM Nasional Sebagai Berikut (Visi Indonesia 2014) : “TERWUJUDNYA INDONESIA YANG SEJAHTERA. Berbudaya Dan Beradab . Mewujudkan Indonesia Asri Dan Lestari 7. misi. RKP merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. kewilayahan dan lintas kewilayahan. serta program Kementerian/Lembaga. Terwujudnya Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. dan arah pernbangunan Nasional. Bangsa Dan Negara Yang Demokratis. misi.1.BAB V TELAAH IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN RENCANA PEMBANGUNAN 1. Beretika. lintas Kementerian/Lembaga. MAJU DAN MAKMUR. dalam bentuk visi. Terwujudnya Masyarakat. Kuat Dan Berbasiskan Kepentingan Nasional 8. Damai Dan Bersatu 5. Mewujudkan Masyarakat Yang Berakhlak. Mewujudkan Bangsa Yang Berdaya Saing 3. 1. Keadilan. Maju. Terwujudnya Pembangunan Yang Adil Dan Merata. Mulia. Bermartabat Dan Menjunjung Tinggi Kebebasan Yang Bertanggung Jawab Serta Hak Asasi Manusia. Berdasarkan Falsafah Pancasila 2. Mewujudkan Indonesia Aman.Tujuan Penting Ini Dikelola Melalui Kemajuan Penguasaan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. Untuk Mewujudkan Visi Tersebut Bermoral. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Demokrasi. DAN BERKEADILAN” Kesejahteraan Rakyat. Melalui Pembangunan Ekonomi Yang Berlandaskan Pada Keunggulan Daya Saing. RPJM Nasional merupakan penjabaran dari visi. Kekayaan Sumber Daya Alam. Yang Hasilnya Dapat Dinikmati Oleh Seluruh Bangsa Indonesia.1. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. Yang Dilakukan Oleh Seluruh Masyarakat Secara Aktif. Sumber Daya Manusia Dan Budaya Bangsa. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional. Untuk menindaklanjuti visi tersebut secara lebih operasional dinyatakan dalam misi RPJP sebagai berikut : 1. Telaah Koherensi dan Konsistensi Kebijakan Pemerintah dan pemerintah Provinsi RPJP.

ruang wilayah nasional yang aman. keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor. dengan tujuan yang ingin dicapai adalah untuk: (a) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan dalam pencapaian tujuan daerah. e. keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah.2. g. i. pelaksanaan dan pengawasan. produktif. keterkaitan.Rencana pembangunan jangka panjang daerah diwujudkan dalam visi. RPJMD dan Revisi RTRWP RPJPD Provinsi Kalimantan Barat ditetapkan melalui perda No 7 tahun 2008. keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. (d) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Pada UU No 25 tahun 2004 tentang sistim perencanaan pembangunan nasional pasal 5 ayat 2 menyebutkan bahwa : RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. ruang laut. g. kebijakan umum. (b) menjamin terciptanya integrasi. strategi pernbangunan Daerah. Dengan adanya berbagai kriteria dalam RPJP Nasional. c. h. e. provinsi. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. dan kabupaten/kota dalam rangka pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.1. misi dan arah pembangunan daerah. efektif. pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. antar waktu. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional. dan (e) mengoptimalkan partisipasi masyarakat. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi. dan . f. dan ruang udara. serta keserasian antarsektor. dan kabupaten/kota. Selanjutnya dijelaskan RPJP Daerah dijabarkan lebih lanjut dalam RPJM Daerah. keterpaduan pemanfaatan ruang darat. memuat arah kebijakan keuangan daerah. nyaman. RPJM Nasional dan RTRW Nasional tersebut di atas maka dapat dijadikan acuan untuk melihat koherensi antar kebijakan di tingkat Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten. b. penganggaran. antar ruang. termasuk ruang di dalam bumi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. dan keseimbangan antarwilayah provinsi. Selanjutnya pada Pasal 3 disebutkan RTRWN menjadi pedoman untuk: a. keterpaduan perencanaan tata ruang wilayah nasional. b. f. dan berkelanjutan. dan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota. berkeadilan dan berkelanjutan.Maka Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Di Lakukan Misi Sebagai Berikut: Misi 1: Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia Yang Sejahtera Misi 2: Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi Misi 3: Memperkuat Dimensi Keadilan Di Semua Bidang Upaya Melalui Beberapa Dalam PP no 26 tahun 2008 tentang Rencana tata ruang wilayah nasional pasal 2 menyatakan bahwa : Penataan ruang wilayah nasional bertujuan untuk mewujudkan: a. Penataan ruang kawasan strategis nasional. dan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional. pewujudan pewujudan keterpaduan. perkembangan Berdasarkan beberapa ketentuan tersebut di atas yang menyangkut keruangan seperti yang terdapat dalam pasal 3 terdapat sedikit perubahan kearah revisi kebijakan keruangan untuk point f sehingga bila kebijakan ini ditetapkan akan sedikit merubah kebijakan keruangan nasional terutama menyangkut KSN. d. RPJPD. Dalam dokumen RPJP Daerah jelas di katakan bahwa RPJPD Provinsi disusun dengan mengacu pada RPJP Nasional sesuai karakteristik dan potensi daerah. misi. c. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional. (c) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. d. 1. provinsi.

rencana kerja. Hubungan RPJMD Kalimantan Barat dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Ditingkat Pusat maupun Daerah Secara vertikal ke bawah. RPJMD Kalimantan Barat akan berfungsi sebagai kerangka acuan dalam penyusunan rencana kerja SKPD. lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah. Dengan pola ini. Arahan RPJM nasional yang berkaitan dengan prioritas dan sasaran pembangunan nasional diadaptasikan dalam skala lokal. . Dalam Dokumen RPJMD Kalimantan Barat disebutkan bahwa penyusunan RPJMD Provinsi Kalimantan Barat menggunakan RPJM Nasional sebagai pedoman utama. Selanjutnya koherensi tersebut digambarkan dalam Diagram yang lebih jelas menggambarkan hubungan RPJMD dan dokumen perencanaan lainnya untuk ini dapat dilihat seperti pada gambar berikut: Gambar 5. termasuk pada rencana kerja SKPD. prioritas pembangunan Daerah. baik yang dilaksanakan langsung oleh pernerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. prioritas yang termuat dalam RPJMD Kalimantan Barat akan tercermin dalam rencana kerja tahunan. Hal ini sesuai dengan UU No 25 pasal 5 ayat 3 menyatakan bahwa : RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. Kebijakan ini akan menjadi payung hukum dalam mekanisme dan proses penyusunan rencana untuk lima tahun ke depan yang dituangkan dalam Rencana Tahunan Daerah atau Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. dijabarkan dalam RPJMD Kalimantan Barat.program Satuan Kerja Perangkat Daerah.1. RPJMD Kalimantan Barat 2008-2013 disusun sebagai dokumen kebijakan rencana strategis Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat terpilih. memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. dan pendanaannya.

Selanjutnya Untuk melihat koherensi antar kebijakan ini akan dilihat dari beberapa kriteri seperti termuat dalam UU No 25 tahun 2004 Pasal 5 : (1) (2) RPJP Daerah mernuat visi. meskipun latar belakang kehidupan masyarakat sangat heterogen mereka tetap dapat hidup bersama dalam suasana yang harmonis. serta arahan sanksi. berbangsa dan bernegara. RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. baik konstelasinya. Oleh karena itu. kebijakan umum. rencana kerja. memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. Berdasarkan kondisi Kalimantan Barat saat ini. Bersatu merupakan konsep yang dinamis karena mengenali bahwa kehidupan dan kondisi saling ketergantungan senantiasa berubah. Selanjutnya pada pasal 22 menyebutkan bahwa (1) Penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi mengacu pada: a) Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Visi pembangunan daerah tersebut harus dapat diukur untuk dapat mengetahui tingkat kebersatuan dan kemajuan yang ingin dicapai. strategi pernbangunan Daerah. maka visi pembangunan daerah Tahun 2008– 2028 adalah: KALIMANTAN BARAT BERSATU DAN MAJU Visi pembangunan daerah Tahun 2008–2028 itu mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah. b) pedoman bidang penataan ruang. kebijakan. (3) Koherensi RPJP dengan Rencana tata ruang secara yuridis formal dapat terlihat pada UU no 26 tahun 2007 tentang tata ruang Pasal 20 menyebutkan (1) Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional memuat: a) tujuan. b) upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi provinsi. misi. Bila visi telah terumuskan. d) daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional. prioritas pembangunan Daerah. c) rencana pola ruang wilayah nasional yang meliputi kawasan lindung nasional dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional. seperti tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. c) keselarasan aspirasi pembangunan provinsi dan pembangunan kabupaten/kota. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. sinergis dan saling pengertian. masyarakat yang mampu menempatkan orang perorang dalam posisi sejajar dan sederajat dimuka hukum serta masyarakat yang senantiasa dapat . perimbangannya. d) penetapan kawasan strategis nasional. maupun nilai-nilai yang mendasari dan mempengaruhinya.yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. g) rencana tata ruang kawasan strategis provinsi. Masyarakat bersatu adalah masyarakat yang mampu mewujudkan budaya politik yang demokratis dan toleran. Bersatu merupakan inti dari kebersamaan. dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. baik yang dilaksanakan langsung oleh pernerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Visi pembangunan daerah Kalbar tahun 2008-2028 mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. memuat arah kebijakan keuangan daerah. Dengan demikian. lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah. tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh daerah dan amanat pembangunan yang tercantum dalam RPJP Nasional. Berdasarkan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat. dan f) arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional yang berisi indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional. arahan insentif dan disinsentif. dan strategi penataan ruang wilayah nasional. e) arahan pemanfaatan ruang yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan. (2) Penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi harus memperhatikan: a) perkembangan permasalahan nasional dan hasil pengkajian implikasi penataan ruang provinsi. dan h) rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota. b) rencana struktur ruang wilayah nasional yang meliputi sistem perkotaan nasional yang terkait dengan kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya dan sistem jaringan prasarana utama. Untuk bersatu diperlukan adanya kondisi saling ketergantungan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. pembangunan haruslah pula merupakan upaya memperkokoh persatuan. dimana setiap orang disamping memahami hak dan tanggungjawabnya juga memahami hak dan tanggung jawab orang lain. dan pendanaannya. dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah. f) rencana tata ruang wilayah provinsi yang berbatasan. seperti tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. dan c) rencana pembangunan jangka panjang daerah. arahan perizinan. e) rencana pembangunan jangka panjang daerah. misi. Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang daerah.

sistem angkutan massal di perkotaan. Mewujudkan Budaya Politik yang Demokratis dan Toleran adalah memantapkan kelembagaan demokrasi yang lebih kokoh. air bersih. tingkat kemajuan suatu daerah diukur dari kualitas sumber daya manusianya. serta meningkatkan pemeliharaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan. serta menghilangkan diskriminasi dalam berbagai aspek termasuk gender. meningkatkan kualitas aparatur baik intelektual maupun moral agar dapat melaksanakan prinsip-prinsip good governance dengan penuh tanggungjawab. mencegah tindak kejahatan. investasi. dan kualitas pelayanan sosial yang lebih baik. tingkat kemajuan suatu daerah dinilai berdasarkan berbagai ukuran. dan memihak pada rakyat kecil. dan penerapan menuju inovasi secara berkelanjutan. jembatan. ada kaitan yang erat antara kemajuan suatu daerah dengan laju pertumbuhan penduduk. 3. meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan termasuk distribusinya. menyediakan akses yang sama bagi masyarakat terhadap berbagai pelayanan sosial serta sarana dan prasarana ekonomi. dan memihak pada rakyat kecil. keberlanjutan. berakhlak mulia. mutlak harus diwujudkan pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan. distribusi. Mewujudkan Supremasi Hukum dan prinsip-prinsip Good Governance adalah melakukan pembenahan struktur hukum dan meningkatkan budaya hukum dan menegakkan hokum secara adil. antisipatif terhadap setiap potensi konflik. menjamin pengembangan media dan kebebasan media dalam mengomunikasikan kepentingan masyarakat. meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan iptek melalui penelitian. Suatu daerah dikatakan makin maju apabila sumber daya manusianya memiliki kepribadian bangsa. Mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. untuk memperkokoh rasa persatuan. dan golongan. energi listrik yang berbasis non BBM (bahanbakar minyak). dan menuntaskan tindak kriminalitas. Kemajuan suatu daerah juga diukur berdasarkan indikator kependudukan. Daerah yang sudah maju ditandai dengan laju pertumbuhan penduduk yang lebih kecil. daya dukung. berkeadilan. sarana pengairan. dan upaya konservasi. tidak diskriminatif. melalui pemanfaatan ruang yang serasi antara penggunaan untuk permukiman. dan melakukan pembenahan budaya hukum secara adil. meningkatkan pemanfaatan ekonomi sumber daya alam dan lingkungan yang berkesinambungan. konsekuen. sistem perlindunganterhadap bencana banjir dan abrasi serta pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil secaraterpadu. pengembangan. 5. dan berkualitas pendidikan yang tinggi. mengurangi kesenjangan sosial secara menyeluruh.menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau kelompok. memperbaiki pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk mendukung kualitas kehidupan. Mewujudkan masyarakat yang Aman. dan berkeseimbangan adalah memperbaiki pengelolaan pelaksanaan pembangunan yang dapat menjaga keseimbangan antara pemanfaatan. angka harapan hidup yang lebih tinggi. dan memperkuat perekonomian daerah berbasis keunggulan setiap wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem produksi. serta reformasi di bidang hukum dan aparatur negara. memperkuat peran masyarakat sipil. Secara keseluruhan kualitas sumber daya manusia yang makin baik akan tercermin dalam produktivitas yang makin tinggi. dan kenyamanan dalam kehidupan pada masa kini dan masa depan. termasuk derajat kesehatan. memperkuat kualitas desentralisasi dan otonomi daerah. dan pelayanan jasa. keberadaan. menanggulangi kemiskinan dan pengangguran secara drastis.kegiatan sosial ekonomi. dan kegunaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan tetap menjaga fungsi. meningkatkan hasil produksi. Ditinjau dari indikator sosial. konsekuen. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah tersebut ditempuh melalui 9 (sembilan) misi pembangunan daerah sebagai berikut: 1. dan kontribusi perdagangan dan jasa dalam perekonomian. 2. Mewujudkan perekonomian yang maju adalah mengedepankan pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing. tidak diskriminatif. 4. Damai dan Bersatu adalah meningkatkan rasa kebersamaan masyarakat sehingga lebih mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan suku. penegakan supremasi hukum dan pelaksanaan prinsip-prinsip good governance menjadi kunci untuk mencapai Kalimantan Barat bersatu. Oleh karena itu. agama. 7. Mewujudkan infrastruktur yang memadai adalah membangun infrastruktur yang maju seperti jalan. Disamping itu. memberikan keindahan dan kenyamanan kehidupan. 6. kelompok dan wilayah/daerah yang masih lemah. . Tingginya kualitas pendidikan penduduknya ditandai oleh makin menurunnya tingkat pendidikan terendah serta meningkatnya partisipasi pendidikan dan jumlah tenaga ahli serta professional yang dihasilkan oleh sistem pendidikan. Sementara itu. keberpihakan kepada masyarakat. Mewujudkan Pembangunan yang Lebih Merata dan Berkeadilan adalah meningkatkan pembangunan daerah.

tingkat partisipasi anak usia sekolah. seperti telah disebutkan di atas. Jadi visi cerdas. dan Beradab adalah memperkuat jati diri dan karakter melalui pendidikan yang bertujuan membentuk manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berbudaya. Individu. Cerdas. demokrasi yang sehat. hubungan sosial yang sehat. Masyarakat beriman memandang upaya pembangunan sebagai amanah atas karunia atau talenta yang diterimanya dari Tuhan. seperti ekonomi yang sehat. Kesehatan yang dimaksud bukan saja fisik. Visi sehat menunjukkan betapa pentingnya masyarakat menjaga kesehatannya agar dapat menggerakkan diri sendiri dan orang lain untuk melaksanakan pembangunan. kesehatan menjadi indikator penting dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM). keadaan sehat diartikan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan perekonomian berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. Visi Aman Aman mencerminkan keadaan masyarakat yang bebas dari gangguan. bila ada gangguan. moral. Kecerdasan berhubungan dengan hati yang ditunjukkan dengan kepedulian terhadap sesama manusia. Beretika. serta memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual. Keamanan merupakan modal dalam melaksanakan pembangunan daerah Kalimantan Barat. dan dunia usaha yang terancam akan selalu merasakan ketidakpastian. pemerintahan yang sehat. manusia yang beriman menunjukkan ketetapan hati. Iman merupakan investasi pembangunan yang tak terukur kelimpahannya. hati. rasa takut. mengembangkan modal sosial. Bermoral. keteguhan. dan khawatir. Dalam melaksanakan pembangunan. Mewujudkan masyarakat yang Religius. Dalam hal politik. cerdas. Mewujudkan masyarakat yang sehat. keadaan sehat berarti bahwa segala sesuatunya dijalankan dengan hati-hati dan baik. semboyan “dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat (men sana in corpore sano)” atau “rakyat sehat. produktif dan inovatif adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan tingkat pendidikan dan derajat kesehatan penduduk. menerapkan nilainilai luhur budaya daerah dan budaya bangsa. termasuk kecerdasan intelektual menuntut pemberdayaan pikiran. angka harapan hidup yang lebih tinggi. baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar akan mempengaruhi upaya dan . dan sebagainya menurut norma dan indikatornya masing-masing. Sebab itu. Dalam perekonomian. Visi ini didasarkan pada ideologi Pancasila. Sejalan dengan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat maka Visi dalam RPJMD Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2008-2013 adalah: Mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. tetapi juga psikis. masyarakat. Visi Cerdas Cerdas menunjukkan ketajaman berfikir dan merasakan. Sebab itu kegiatan dan hasil pembangunan diupayakan deengan sempurna sebagai wujud kesediaan untuk melayani Tuhan dan sesama. bahwa kata sehat dalam visi ini juga diasosiasikan pada semua bidang. Visi Beriman Iman adalah keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal itu tercermin pada tingkat pendidikan terendah. Ketuhanan Yang Maha Esa. Visi Sehat Sehat adalah keadaan baik atau mendatangkan kebaikan pada seluruh badan jasmaniah dan rohaniah. dan keseimbangan batin. dan alam sekitar (kecerdasan emosional). Kecerdasan hati harus dilandaskan pada keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa (kecerdasan spiritual). negara kuat” merupakan kekuatan pendorong agar masyarakat menjaga kesehatannya. “tuhuh kita adalah produk pikiran kita”. budaya yang sehat. melaksanakan interaksi antarbudaya. Berakhlak Mulia. Diyakini. Berbudaya Dan Sejahtera. mematuhi aturan hukum. lingkungan hidup yang sehat. dan etika pembangunan. Sehat. dan kualitas pelayanan sosial yang lebih baik. 9. jasmani. Dengan demikian berarti masyarakat diharapkan akan lebih produktif dan inovatif. yakni sila pertama. dengan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa semua kegiatan dan hasil pembangunan akan baik adanya. Aman. makhluk lain. yang meletakkan kepercayaan kepada Tuhan sebagai dasar utama dari kehidupan berbangsa dan bernegara. memelihara kerukunan internal dan antarumat beragama. Kesehatan merupakan investasi untuk mengembangkan kualitas sumber daya pembangunan. dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lainnya dalam pembangunan. Selanjutnya.8. Seperti kata Rhonda Byrne. Sebab itu. artinya jika manusia berfikir sehat maka dirinya dan juga masyarakat dan lingkungan akan menjadi sehat. Keadaan aman terwujud bilamana masyarakat bebas dari tekanan fisik dan mental. sebab untuk mengekspresikan niat dan kekuatan psikis seseorang harus memiliki tubuh yang sehat.

6. melalui pemberdayaan potensi dan kekuatan ekonomi lokal terutama pengusaha kecil. aman. mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai budaya. seperti budaya good government. dan perlindungan hak asasi manusia guna mendukung terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun. budaya jujur. dan damai. dan berbudaya. dengan didukung sistem dan sarana investasi yang baik melalui penyediaan data potensi investasi guna menarik dan mendorong masuknya investasi. 9. konstruktif. aman. budaya transparan. Pendekatan untuk mencapai visi sejahtera adalah pendekatan menyeluruh. efektif. 7. sasaran. Budaya luhur yang ada dalam masyarakat Kalimantan Barat perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai modal dasar pembangunan. keamanan. untuk mencapai manusia yang memiliki budaya yang positif. sehat. budaya adil. budaya bersih. dan sebagainya. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia melalui peningkatan kualitas tenaga kependidikan dan penyediaan prasarana dan sarana pendidikan serta pemerataan pendidikan. dan dinamis hendaknya terlebih dahulu dibentuk suatu budaya yang baik dari berbagai bidang. adil dan makmur. budaya melayani. Menggali dan mengembangkan Nilai-nilai dan keragaman budaya serta memanfaatkan keindahan alam untuk kepentingan kepariwisataan. dan adat istiadat manusia sebagai pelaku dan sasaran pembangunan. Memperluas lapangan kerja dan usaha dengan berbasis ekonomi kerakyatan. Visi tersebut dalam RPJMD provinsi Kalimantan Barat akan diwujudkan melalui Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Barat. dengan membuka akses ke sumber modal. yakni: 1. 8. sebab hanya dengan kebersamaan kita bisa memenangkan setiap upaya. Masyarakat dan individu yang sejahtera adalah masyarakat yang aman sentosa. Meningkatkan kemampuan kapasitas dan akuntabilitas aparatur pemerintah daerah guna meningkatkan pelayanan publik. guna menghindari kesenjangan wilayah dan terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Visi aman mengandung makna terwujudnya suasana kondusif. dan ketertiban melalui sistem kelembagaan manajemen yang efisien dan transparan. Visi berbudaya juga bermakna bahwa hasil pembangunan bersifat tetap dan berkelanjutan (sustainability). Melaksanakan pemerataan dan keseimbangan pembangunan secara berkelanjutan untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah dengan tetap memperhatikan aspek ekologi dalam pemanfaatan sumberdaya alam. teknologi dan pasar untuk meningkatkan daya saing. menengah. akal budi. regional. . Visi Sejahtera Sejahtera merupakan keadaan utuh sebagai kesimpulan atau akumulasi dari visi beriman. Menegakkan supremasi hukum. Melaksanakan peningkatan pembangunan infrastruktur dasar guna memperlancar mobilitas penduduk dan arus barang serta mempercepat Pembangunan dan Pengembangan Pariwisata di Wilayah Pedalaman. 4. Pokok pikiran dan upaya untuk mewujudkan Visi aman ini adalah persatuan dan demokrasi masyarakat Kalimantan Barat. cerdas. Melaksanakan peningkatan sistem pelayanan dasar dalam bidang sosial. Mengembangkan sumberdaya lokal bagi pengembangan ekonomi masyarakat melalui sistem pengelolaan yang profesional. Mengembangkan jaringan kerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak swasta baik dalam tataran lokal. agama. kesehatan. pendidikan. 3.hasil pembangunan. serta menggali. nasional. kekayaan 2. 11. Visi Berbudaya Budaya menyangkut pikiran. meningkatkan keadilan sosial. 10. konsisten. Perbatasan. Melaksanakan pengendalian dan pemanfaatan tata ruang dan tata guna wilayah sesuai dengan peruntukan dan regulasi. Karena itu. Pembangunan yang dilandasi oleh budaya yang baik akan menghasilkan hasil pembangunan yang baik pula. 5. dan dinamis dalam masyarakat Kalimantan Barat. maupun internasional melalui penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur serta SDM yang memadai. dan kebersamaan. serta menempatkan aparatur yang profesional dan berakhlak sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki serta sesuai dengan peraturan jenjang karir kepegawaian yang berlaku. dan koperasi. konstruktif. budaya berfikir dan bertindak berdasarkan kebenaran. dan tujuan pembangunan yang telah ditetapkan. selamat. dan efisien serta akuntabel. Pesisir dan Kepulauan sebagai sumber potensi ekonomi. budaya produktif-bukan konsumtif.

sedangkan perubahan antar fungsi kawasan sebesar 1. Matrik kriteria koherensi kebijakan nasional dan kebijakan provinsi Jenis Kebijakan Provinsi RPJPD Prov RPJMD Prov Revisi RTRWP Jenis kebijakan Nasional RPJP Nas Koheren Koheren Pada Bagian ter tentu terjadi peru bahan ruang KSN RPJM Nas Koheren koheren Pada Bagian tertentu terjadi perubahan ru ang KSN RTRWN Koheren Koheren Pada Bagian tertentu terjadi perubahan ruang KSN . hal ini dapat tampak pada besarnya usulan perubahan pola ruang dimana perubahan bentang alam dari fungsi kawasan kearah APL 1. Perubahan tersebut termasuk di dalamnya kawasan strategi nasional/Lindung Nasional (KSN).028. dengan adanya dinamiika masyarakat dan laju pertumbuhan pembangunan. Visualisasi perubahan bentang alam tersebut dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 5. Perubahan pola Ruang Di Prov Kalbar dalam RTRWP Untuk lebih memudahkan melihat koherensi antar kebijakan ini dapat dilihat melaui table matrik berikut ini : Tabel 5.439 ha. ketahanan budaya sekaligus Dari sisi revisi tata ruang wilayah provinsi .2. dapat merubah sebagian bentang alam.969.1.713 ha.budaya daerah dan tradisional guna mempertahankan mewujudkan pariwisata berbasis budaya dan kerakyatan.

dan Kabupaten Landak. Kabupaten Kapuas Hulu. WP Pesisir di arahkan pada pengembangan pelabuhan samudera/pelabuhan regional/pelabuhan perikanan. Kabupaten Sekadau. dan promosiparawisata. Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas.3. WP Tengah terdiri Kabupaten Sanggau. pertambangan. WP Antar Provinsi. ecotourism. WP Pesisir. kesenian. dan WP Antar Negara. pantai dan kepulauan) dan pengembangan pulau-pulau kecil. diarahkan pada titik pusat pembangunan transportasi yang membuka keterisolasian wilayah pedalaman dan memperlancar aksesibilitas arus orang dan barang ke dan dari wilayah pesisir. WP Tengah yang difokuskan di Kawasan Tayan. Kabupaten Kayong Utara.2. budidayatangkap ikan. promosi parawisata. agribisnis/aqua bisnis. 25 tahun 2004 meliputi seluruh wilayah Provinsi Kalbar. perkebunan. WP Pesisir terdiri dari Kabupaten Pontianak. Kota Pontianak dan Kota Singkawang. Kabupaten Sintang. Wilayah administrasi kabupaten yang masuk wilayah kajian . Pengembangan WP Tengah meliputi jalan dan jembatan. dan Kabupaten Ketapang. WP Antar Provinsi meliputi Kabupaten Sintang. WP Perbatasan Antar Negara diarahkan pada pengembangan border devlop ment centre (BDC). Kabupaten Ketapang. industrial estate. Kabupaten Kubu Raya. Untuk WP Antar Negara mencukup 5 (lima) kabupaten yang meliputi Kabupaten Kapuas Hulu. pariwisata (budaya. pusat agribisnis. Telaah Harmoni RPJP dengan Revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat RPJP merupakan acuan pembangunan jangka panjang dengan skala cakupan menurut UU No. promosi investasi. dan mobilisasi sumberdaya. Di dalam RPJPD Provinsi Kalimantan barat dalam konsep pembangunannya. dan model pertanian. Kalbar dibagi kedalam 4 (empat) Wilayah Pengembangan (WP) yang meliputi WP Tengah. oleh karenanya scooping wilayah kajian akan meliputi wilayah pemerintah kabupaten kota yang masuk dalam wilayah DAS Kapuas. perkebunan. Kabupaten Sanggau. masuk dalam wilayah kajian dapat dilihat pada - - Gambaran wilayah administrasi kabupaten yang gambar berikut: Gambar 5. penataan kota. Kabupaten Sambas. WP Perbatasan Antar Propinsi diarahkan pada pengembangan pertambangan.1. Kabupaten Bengkayang. pelabuhan sungai. terminal perikanan. instalasi air bersih & kelistrikan. Kabupaten Melawi.

untuk ini tentunya harus mempunyai keserasian dengan RPJPD Provinsi terutama terkait dengan konsep pembangunan wilayah Kalbar. sehingga penyusunannya akan lebih menitikberatkan partisipasi segmen masyarakat yang memiliki olah pikir visioner . Oleh karenanya rencana pembangunan jangka panjang daerah yang dituangkan dalam bentuk visi. masyarakat. organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik. Secara substasi proses revisi RTRWP dalam wilayah kajian ini melibatkan wilayah kabupaten. pemerintah. Hasil arahan pola ruang dan struktur ruang terkait dengan kabupaten yang ada dalam wilayah kajian dapat dilihat seperti pada tabel berikut : . hasil dari substansi tersebut meliputi arahan dalam hal pola ruang dan struktur ruang.Perencanaan jangka panjang lebih condong pada kegiatan olah pikir yang bersifat visioner. misi dan arah pembangunan daerah adalah produk dari semua elemen bangsa.

Alokasi pola ruang Revisi RTRWP pada kabupaten yang ada di wilayah Kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Usulan RTRWP APL Base CA HL HP HPK HPT SAL TN TWA Bengkayang 399024 632 875 47495 51520 0 2639 0 43800 0 546035 Kapuas Hulu 885073 18379 0 685422 48167 0 548638 0 935517 0 3121196 Kayong Utara 141677 11609 0 51612 41417 60233 0 0 294985 0 601533 Ketapang 1611000 15462 137628 290990 356413 48221 547912 0 17034 0 3024660 Kota Pontianak 11004 705 0 0 0 0 0 0 0 0 11709 Kubu Raya 467544 41389 0 148515 127041 22928 65789 0 0 0 873186 Landak 595991 1681 2648 50170 111346 0 12739 0 49716 0 8q24291 Melawi 416239 5594 0 216995 69561 2655 256746 0 44774 0 1012564 Pontianak 134301 1013 0 5003 48407 0 16148 0 0 0 204872 Sanggau 801020 15128 0 96171 251347 69878 39640 0 1073 0 1274257 Sekadau 402093 4934 0 56156 72493 0 25527 0 0 0 561203 Sintang 994910 11402 0 453065 142941 0 535430 0 67992 2054 2207794 Jumlah .2.Tabel 5.

sedangkan yang lainnya terdapat dalam jumlah yang bervariatip. dalam revisi tata ruang di wikayah Kabupaten yang berada dalam wilayah DAS kapuas terdapat beberapa proyeksi pusat kegiatan dan sarana transportasi jalan darat . Maka harmonisasi RPJP dengan Revisi RTRW di Wilayah kajian di analisis dari bentuk matrik sebagai berikut. 4 PKW. kecuali kota Pontianak yang tidak memiliki kawasan hutan . gambaran struktur ruang yang ada dalam kawasan/wilayah kajian dapat dilihat pada gambar 5. PKSN tersebut erdapat di Kab Sanggau (Entikong). baik yang bersifat nasional maupun lokal. 22 PKL. Berdasarkan gambar tersebut diproyeksikan akan banyak jalur jalan nasional dibanding jalan provinsi. Sintang (Jasa) dan Kapuas Hulu (Nanga badau). Selanjutnya di lihat dari arahan struktur ruang . Mengacu pada tujuan penataan ruang wilayah Propinsi Kalimantan Barat yang diarahkan untuk “Terwujudnya keharmonisan dan keterpaduan dalam penggunaan /pengelolaan lingkungan alam dan lingkungan buatan dengan peningkatan sumberdaya manusia dalam pengelolaannya serta pencegahan kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan ruang yang dikelola secara arif dan bijaksana guna peningkatan kemakmuran rakyat Kalimantan Barat secara adil dan merata”. . dan beberapa saran perhubungan seperti jalan. 1 PKN.Berdasarkan data pola ruang tersebut.4 Pada arahan struktur ruang dalam revisi tata ruang terdapat 3 PKSN yang masuk dalam wilayah kajian.

53 0 0 0 -WP Pesisir 23.09 -WP tengah -WP Antar Negara -WP tengah 62.86 0.25 0 3. Sintang 45.88 10.69 9.0 0 -WP Pesisir -WP Antar Provinsi -WP Pesisir 53.59 18.30 6.96 HP (%) 1.58 6.00 12.San ggau -WP tengah 71.54 0 17.44 23.57 SAL (%) 0 TN (%) 29.26 4. Admini s-trasi RPJPD Prov (pola ruang yang terdapat dalam wilayah kajian ) APL (%) Kab.62 0 7.54 HPK (%) 0 HPT (%) 17.52 6.48 3.11 0 0.35 CA (%) 0 HL (%) 21.3.03 0 -WP Pesisir -WP Antar Ne gara -WP Pesisir 73.08 13.43 0 0.Tabel 5.Ben gkayang 0.55 0 8.01 14.98 0 0 0 0 0 0 0 0 .08 0 Kab.Pon tianak Kab Kubu Raya Kab.55 9.06 0 20.54 0 6.54 0 0 0 41.88 0 0 0 -WP Pesisir 53.10 0 21.50 0 1.62 7. Kapuas Hulu -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara -WP Antar Provinsi -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Kab. Melawi Kab.48 0 8.72 5.26 25.11 0 0.91 0 4. Sekadau Kab.42 0 28.64 0 10.02 0 Kab. Keta pang Kota Pontia nak 0 65.43 6.97 TWA (%) 0 Kab.07 0.55 2.Ka yong utara Kab.07 0.54 19.86 0 7.35 0 4. Landak Kab. Matrik Wilayah Pengembangan dalam RPJP Prov dan Pola Ruang dalam Revisi RTRWP Proporsi Arahan pola ruang dalam Revisi RTRWP Wil.47 0 24.56 0 93.62 11.54 2.78 1.32 72.01 0 0 49.16 8.

hal ini tentu perlu dilihat lebih lanjut potensi wilayah yang ada. Sintang -WP Antar Provinsi -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab. tambang dan lainnya. Selanjutnya berdasarkan arahan pola ruang yang diproyeksikan dapat terlihat bahwa dalam Revisi tata ruang telah mendekati harmonisas. untuk ini dapat dilhat dari tabel berikut. Lintas kaliman tan /negara Ada Jl.Bengka yang Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab. Sekadau Kab. Landak Kab.Kayong utara Kab. Tabel 5. Melawi Kab.Berdasarkan data yang ada memang tampak bahwa ada beberapa kabupaten yang masih perlu disesuaikan ketersediaan ruang terutama yang terkait dengan rasio antar kawasan APL dan kawasan hutan yang di alokasikan dengan fokus dalam arahan wilayah pengembangannya. Pro vinsi Pelab uhan laut Termi nal berku alifika si Ban dara Ada PKN PKW PKSN PKL Kab.4. Matrik Wilayah Pengembangan dalam RPJP Prov dan Struktur ruang dalam Revisi RTRWP Arahan Struktur ruang dalam Revisi RTRWP Wil. baik untuk kebun.Sangga u -WP tengah -WP tengah -WP Antar Negara -WP tengah -WP Pesisir -WP Antar Negara -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Antar Provinsi -WP Pesisir Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab.Pontian ak KabKubu Raya Kab.Kapuas Hulu -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Ada Ada Kab. Administrasi (pola ruang yang terdapat dalam wilayah kajian ) RPJPD Prov Jl. Ketapang Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kota Pontianak Ada Ada .

maka Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2004 tentang RTRWP Kalimantan Barat (Tahap I) sudah waktunya untuk direvisi. . Struktur ruang dalam wilayah Kabupaten yang masuk wilayah kajian 1.1. 1. Gambar 5. tampak antara rencana pembangunan jangka panjang dengan arahan struktur ruang dalam revisi tat ruang cukup harmonis.3.Berdasarkan kondisi proyeksi pembangunan struktur ruang.4. Peta sebaran struktur ruang per wilayah kabupaten yang masuk dalam wilayah kajian dapat dilihat pada gambar berikut. serta merujuk pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mengamankan bahwa pemerintah Provinsi diberikan waktu selama 2 (dua) tahun terhitung sejak undang-undang tersebut berlaku untuk melakukan penyesuaian terhadap rencana tata ruangnya. Telaah Implikasi Revisi Rencana Tata Ruang di Wilayah DAS Kapuas Implikasi Rencana Pola Pemanfaatan Ruang di Wilayah DAS Kapuas Melihat adanya dinamika pembangunan yang signifikan baik internal maupun eksternal. Data Revisi Pola ruang untuk wilayah kajian sesuai dengan wilayah administrasi Pemerintah kabupaten/kota yang masuk dalam DAS Kapuas dapat dilihat pada table berikut ini.3. Revisi tata ruang Provinsi Kalbar meliputi perubahan pola ruang dan struktur ruang.

991 1.24 100 Berdasarkan data di atas. tetap terjaminnya luas kawasan hutan paling sedikit 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daerah aliran sungai.831 946. dengan alokasi kawasan APL pada bagian tengah dan hilir maka mendorong aktivitas budidaya pertanian dan perkebunan terkonsentrasi di kawasan ini. maka revisi pola ruang di kawasan DAS kapuas maka kawasan ini akan memiliki kawasan Areal Penggunaan lain yang cukup besar yakni 45.07). banyak mengarah pada bagian Timur dari Wilayah DAS Kapuas. Dengan memperhatikan beberapa ketentuan di atas maka secara alokasi kawasan hutan yang di proyeksikan dalam revisi tata ruang telah mencukupi.Tabel 5. dan selanjutnya diduduki oleh hutan produksi terbatas (HPT= 15.5.07 45.9 9. untuk ini maka kondisi penutupan harus benar-benar diperhatikan. KSN yang berada dalam kawasan DAS Kapuas ini adalah TN Betung Kerihun dan TN Danau sentarum. (2) Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal 30 % (tiga puluh persen) dari luas daerah aliran sungai dan atau pulau dengan sebaran yang proporsional.8 0.346 1. Data Revisi pola Ruang dalam wiayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kawasan BASE/TUBUH AIR CA HL HP HPK TN TWA HPT APL Jumlah Luas (ha) 102.404 % 1. TN Buikit baka-bukit raya dan TN G. agar dampak lain yang mungkin timbul berupa erosi dan banjir tidak terjadi. Selanjutnya PP No 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan.673. selanjutnya akan terdapat kawasan Strategis Nasional (KSN) sebesar 10. dan manfaat ekonomi masyarakat setempat.3 1.501 2. Disisi lain kawasan hutan lindung (HL) menempati urutan kedua (16.01 0.8 %.668 10. Nyiut.536. pulau.02 15. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 18 menyatakan :(1) Pemerintah menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan untuk setiap daerah aliran sungai dan atau pulau.9 %). Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikut. Pasal 12 menyatakan (1) Tukar menukar kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dilakukan dengan ketentuan: (a).098.043 4. guna optimalisasi manfaat lingkungan. dan (b). Sedangkan pada bagian tengah dan hilir Wilayah DAS Kapuas cenderung menjadi APL.726. namun ketersebarannya tidak merata.055 103. manfaat sosial. Berdasarkan Undang – Undang No.. dan/atau provinsi dengan sebaran yang proporsional. mempertahankan daya dukung kawasan hutan tetap layak kelola.24 %.02 10.904 1.01 16.191.065 1. .

Mempawah. Putussibau. Paloh. Pusbar Tersier : a. Untuk ini dapat di lihat dari tabel berikut ini. Implikasi Rencana Struktur Ruang di dalam wilayah kajian Revisi struktur ruang dalam tata ruang di Kawasan DAS Kapuas merupakan bagian dari evisi tata ruang Kalimantan barat. Pusbar Tersier : a.Gambar 5. c. Penekanan struktur ruang dalam kaitannya dengan DAS Kapuas adalah pada jaringan jalan. Putussibau dan Ketapang. Ketapang dengan pembentukan kabupaten baru dari Bandara Pusbar Sekunder Supadio Pontianak. bandara. Singkawang. Kota Pontianak dan Ibu Kota Kab. Ketapang. Kubu Raya) PKW : Sambas.6. Pelabuhan dan Terminal Pusat Pemukiman RTRWP PKN : Kawasan Mtropololitan Pontianak (KMP. dan pusat kegiatan. Promosi PKW : Sukadana – Teluk Melano (jika terjadi pemekaran wilayah Kab. Susilo. Pangsuma. Sukadana Internasional : Pulau (Pantai dan Gondol Temajok Kijing) Tanjung dalam Tipe A (antar kota antar provinsi dan/atau lintas batas negara): a.5 Gambaran Revisi Pola dan Struktur Ruang dalam wilayah kajian 1. Sintang.3. Sungai . Liku. Tabel 5. Singkawang b. Sintang. Oleh karenanya data mengenai perubahan struktur ruang akan di gunakan data struktur ruang dalam revisi tata ruang kalimantan barat. Rahadi Oesman. : Pelabuhan Internasional Pontianak Nasional Ketapang : : Terminal d. Sanggau. Data Arahan Struktur Ruang Pusat pemukiman.2. b.

Ketapang Keterangan : § Kota Sintang diperkirakan menjadi ibukota provinsi Kapuas Raya dalam masa rencana. f. Ketapang Bandara Pelabuhan satu sistem. Pusat penyebaran sekunder : Supadio. 2. Tanjung Api di Paloh Terminal Ambawang di Ibukota KKR b. Sepinggan) : 1.Pusat Pemukiman bagian utara wilayah Kab. Bengkayang & Sambas Kab.Entikong (II/A/2) . § § . Sanggau & Sekadau Kab. PKW dan PKSN PKN Pontianak PKW Ketapang (I/B) Mempawah (II/B) Singkawang (I/C/1) Sambas (I/A/1) Entikong (I/A/1) Sanggau (I/C/1) Sintang (II/C/1) Putussibau (I/A/2) . Ruang milik jalan minimal = 30 meter (PP No.Temajuk (II/A/2) (Paloh) Kab.7. 2. Singkawang c. Pusat penyebaran tersier : Rahadi Oesman. Teluk Batang. Susilo. e.Nanga (I/A/2) Badau § Bandara sebagai Simpul Transportasi Udara Nasional (sebagai pusat penyebaran primer : Hang Nadim. Pelabuhan internasional : Pontianak.Jagoibabang (I/A/2) . Ketapang & Kayong Utara Kab. Soekarno-Hatta.Jasa (II/A/2) . Ponttianak & Landak Kab. Data Arahan Struktur Ruang PKN. b. Pelabuhan sebagai Simpul Transportasi Laut Nasional : 1. Sambas Kab. Pelabuhan nasional : Ketapang Jalan Bebas Hambatan : Singkawang – Sungai Pinyuh – Pontianak – Tayan. Pangsuma. Nasional : a. 34/2006 tentang jalan pasal 40). Kapuas Hulu PKSN Kabupaten Hinterland . § Kota Sandai diperkirakan menjadi ibukota kabupaten dalam masa rencana. Tabel 5. Sintang Tayan Tipe B (antar kota dalam provinsi) d. Paloh. Sintang & Melawi Kab.Aruk .

§ Batas negara – Jasa – Senaning – jalan antar PKSN § Batas negara – Entikong dan Balai Karangan. § Pelabuhan nasional Ketapang. Kawasan perbatasan dasar RI dan jantung Kalimantan (Heart of Borneo). Nanga Pinoh dan Sukadana. Sekadau. § Bandara Pusbar tersier : Ketapang. 26/2008 RTRWN (pasal 18) tentang RUAS JALAN a. b. Paloh. 4. PKW: Sambas. Ibukota kabupaten yang tidak masuk dalam PKN atau PKW : Bengkayang. Data Arahan Struktur Ruang Ruas jalan Nasional DASAR PENETAPAN PP No. Putussibau dan Ketapang.Tanjung § Batas negara – Jagoi Babang – Bengkayang – Singkawang Kawasan nasional : strategis KETERANGAN PKN di Pulau Kalimantan yang berhubungan dengan kawasan pekotaan Pontianak melalui jalan arteri primer adalah : 1. PKW usulan. Mempawah. Sintang. Antara PKSN dan pusat kegiatan lainnya. Nangabang. Sanggau.Arteri primer penghubung PKN dan atau PKW dengan bandara pusat penyebaran dan pelabuhan internasional/nasional : § Bandara Pusbar sekunder Supadio (Pontianak). Palangkaraya. jika terbentuk Kabupaten Sandai : Sukadana – Teluk Melano.Jalan strategis nasional antar PKSN: Nanga Badau – Nanga Merakai – Balai Karangan – Entikong – Jagoi Babang – Aruk – Temajuk (Paloh) b. Putussibau. § Nanga Tayap – Siduk – Ketapang c. Antara PKN dan PKW. dan 2. § Bandara Pusbar tersier usulan : Singkawang dan Sukadana. Singkawang. PKN di Kalimantan Barat yaitu kawasan perkotaan Pontianak meliputi Pontianak dan ibukota KKR.8.Antara PKSN – PKW : § Batas negara – Nanga Badau – Putussibau § Nanga merakai – Sintang. Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun § § .Arteri primer antara PKN dan PKW § Pontianak – Sungai Pinyuh – Mempawah – Singkawang – Sambas. § Pelabuhan internasional usulan Pulau Temajok (pantai Kijing) dan Tanjung Gondol dalam satu sistem. Kawasan stasiun pengamat dirgantara Pontaianak. 3.Tabel 5. 2. dan PKN dan atau PKW dengan kawasan strategis nasional a. § Tayan – Sosok – Tanjung – Sanggau – Sekadau – Sungai Ukoi – Sintang – Putussibau – Samarinda. § Pelabuhan nasional usulan : Teluk Batang (ke Teluk Melano dan Sukadana) 3) Jaringan jalan strategis nasional dikembangkan untuk menghubungkan : § Antar PKSN dalam satu kawasan perbatasan negara. KAPET khatulistiwa. § Pelabuhan internasional Pontianak. dan atau PKN dan atau PKW dengan : Ø Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/ter sier dan Ø Pelabuhan internasional/nasion al 1. Sintang. Kawasan perkotaan Bontang – Samarinda – Balikpapan. 1) Jaringan jalan nasional terdiri atas : 2) Jaringannjalan arteri primer dikembangkan secara menerus dan hirarki berdasarkan kesatuan sistem orientasi untuk menghubungkan : § § § Antar PKN.Arteri Primer antar PKN : § Pontianak – Tayan – Simpang Dua – Nanga Tayap – Palngkaraya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. maka rencana tata ruang wilayah provinsi dapat ditinjau kembali lebih dari . dan c. disebutkan bahwa produk rencana tata ruang wilayah provinsi disusun dengan perspektif ke masa depan dan memiliki jangka waktu rencana selama 20 tahun. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang mengamanatkan bahwa ruang merupakan wadah yang meliputi ruang darat.DASAR PENETAPAN RUAS JALAN § Batas negara – Aruk dan Tanjung Bantanan – Tanjung Harapan § Batas negara – Temajuk – Liku – Tanjung Harapan . Ledo – Suti Semarang – Serimbu Kembayan KETERANGAN Jalan provinsi dapat bertembah setelah penetapan kawasan strategis provinsi dan masukan penyempurnaan Rancangan Rencana Struktur Ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat § § Implikasi struktur ruang di wilayah kajian untuk struktur jalan dan dapat juga dengan melalui pembuatan jaringan pusat pemukiman lebih cenderung meningkatkan status sarana pelabuhan udara maupun pelabuhan laut dan infrastruktur yang sudah ada dan juga pembangunan baru. Tabel 5-9 Data Arahan Struktur Ruang Ruas jalan Provinsi DASAR PENETAPAN Jalan provinsi terdiri atas (pasal 27 PP No. 1. Rencana tata ruang wilayah provinsi ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. Jalan strategis provinsi § § RUAS JALAN Kolektor primer antara ibukota provinsi dan kabupaten : § Bengkayang – Simpang Tiga – Anjongan. Salah satu yang mengisi ruang tersebut adalah kehutanan. Jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota kabupaten atau kota. 34/2006) : a. Kolektor primer antar ibukota kabupaten : Balai Berkuak – Sekadau (menghubungkan Sekadau – Sukadana) Simpang Tiga – Sidas (menghubungkan bengkayang – Ngabang) kolektor primer jalan strategis provinsi (dalam KAPET khatulistiwa) : Sambas – Balai Gemuruh – Ledo. Dalam kondisi tertentu terutama yang berkaitan dengan bencana alam yang berskala besar. jalan dapat berupaka peningkatan status jalan baru. ruang laut. 1.4. 24 tahun 1992 yang disempurnakan dengan UU No. dan ruang udara.4. Jalan kolektor primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten atau kota b. demikian juga dengan pusatdari yang sudah ada.Sambas KETERANGAN 4) Jaringan jalan kotektor primer dikembangkan untuk menghubungkan antar PKW dan antara PKW dan PKL (penjelasan: dikembangkan pula untuk menghubungkan antar ibukota provinsi) Antar PKW : § Sungai Pinyuh – Anjungan – Sidas – Nabang – Sosok § Siduk – Sukadana Antar ibukota provinsi : Sungai Ukoi – Nanga Pinoh – Nanga Ella -Palangkaraya (jika kota Sintang menjadi ibukota provinsi). sedangkan untuk terminal dilakukan dengan membangun Telaah Implikasi Program Pemanfaatan Ruang Revisi RTRWP/259 Berdasarkan UU No.1. Ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah merupakan tempat manusia dan mahluk lain hidup melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya.

1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. Berdasarkan pada kriteria ini maka penataan ruang kawasan DAS Kapuas juga akan mengarah pada kriteria-kriteria tersebut. Rencana perubahan tata ruang di Kalimantan Barat khususnya Pola Ruang pada awalnya tertuang dalam surat Gubernur Kalimantan Barat nomor 050/0839/FP-BAPPEDA tanggal 26 Maret 2008 tentang revisi RTRWP Kalimantan Barat. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, maka dalam PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG Pasal 91 menyebutkan bahwa Revisi terhadap rencana tata ruang dilakukan bukan untuk pemutihan terhadap penyimpangan pelaksanaan pemanfaatan ruang. Gambar 5.7. Pola ruang Revisi RTRWP

Gambar 5.6 .Eksisting Pola ruang berdasarkan 259 update

Dengan Visualisasi tersebut tampak adanya perubahan pola ruang di dalam kawasan DAS Kapuas, Untuk perubahan peruntukan sejumlah 1.381.528 ha dan untuk perubahan fungsi sejumlah 566.110 ha. Untuk jelasnya alokasi perubahan pola ruang Wilayah DAS di dalam revisi tata ruang Prov kalimantan barat dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 5.8 . Visualisasi perubahan pola ruang sekitar DAS Kapuas

Perubahan pola ruang kearah APL cukup besar yakni sekitar 1.381.528 Ha (13,56 %), kondisi ini mempunyai tipologi kearah pemanfaatan untuk berbagai kepentingan seperti Pemekaran wilayah (pengembangan perkotaan, pemukiman), pertanian, perkebunan, pertambangan, transmigrasi dan lain-lainnya. Kondisi ini, perlu dicermati terutama terkait dengan daya dukung lingkungan yang ada. Dengan kondisi eksisting ruang sekarang pada dasarnya dalam beberapa tahun terakhir terah terjadi percepatan deforestasi/degradasi hutan maupun lahan pertanian yang bermuara pada penurunan daya dukung lingkungan. selain itu jika revisi ini diterapkan maka jumlah tutupan hutan yang ada akan berkurang sebesar 769.059,74 ha (11,84 % dari jumlah tutupan vegetasi hutan yang ada di dalam Kawasan DAS Kapuas saat sekarang) Kondisi ini menimbulkan keprihatinan terutama terkait dengan kebijakan moratorium. Oleh karenanya pendayagunaan perubahan kawasan harus lebih berorientasi pada kebutuhan dasar hidup manusia. 1.4.2. Implikasi alokasi ruang Pembangunan perkebunan, pertambangan, dan perhubungan di wilayah DAS Kapuas kehutanan,

Telaahan implikasi program yang sudah dilaksanakan meliputi program-program yang menmanfaatkan pola ruang yang luas dan berskala besar seperti Perkebunan kelapa sawit perkebunan karet, Pertambangan, Kehutanan, maupun Transmigrasi dan perhubungan. Perkebunan Kegiatan perkebunan di dalam kawasan DAS kapuas cukup marak terutama di dalam wilayah Areal penggunaan lain (APL), Kegiatan eksiting Pembangunan perkebunan didekati dari bentuk perijinan pada tingkat Hak Guna Usaha dan IUP, Sebaran lokasi HGU yang ada sampai dengan tahun 2009 di dalam kawasan ini mempunyai luas lebih kurang 236.281,17 ha (2,32 %), untuk ini dapat dilihat pada Gambar berikut.

Gambar 5.9. Visualisasi Peta sebaran Kebun HGU sekitar DAS Kapuas Berdasarkan sebaran kegiatan perkebunan yang dalam bentuk HGU lokasi perkebuna tampak berada di sekitar wilayah yang tidak jauh dari Sungai utama dalam DAS kapuas. Pembangunan perkebunan dapat juga dalam bentuk ilin Izin Usaha Perkebunan (IUP). . Dan berdasarkan hasil overlay ditemukan tumpang tindih dengan kawasan hutan lindung maupun hutan produksi Selain dalam bentuk HGU.

Selanjutnya kegiatan penambangan juga dilihat dari kuasa penambangan seperti yang terlihat pada gambar berikut ini. Visualisasi Peta sebaran IUP Coal dan mineral di DAS Kapuas antara tahun 2003 – 2009 IUP Penambangan Coal dan mineral ini berlangsung antara tahun 2003 sampai dengan 2009 dan tersebar dibagian barat-utara dan sebagian di sebelah selatan. pendekatan aktivitas pertambangan di dalam kawasan ini dilkaukan melalui bentuk kuasa pertambangan dan beberapa IUP yang pernah diberikan di kawasan ini .Pertambangan Kegiatan pertambangan yang ada di sekitar DAS Kapuas dapat berimplikasi pada penurunan kualitas lingkungan. Gambar 5.10. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini. .

2009 Berdasarkan Ijin kuasa pertambangan yang ada maka kuasa pertambangan alokasinya menyebar secara parsial di dalam wilayah DAS Kapuas. .Gambar 5. Visualisasi Peta sebaran Kuasa Pertambangan di DAS Kapuas antara tahun 2003 .11.

Secara parsial kegiatan IUPHHK-HTI lebih banyak mengarah kebagian Barat dari DAS kapuas. Sebaran ijin usaha pemanfaatan ini terevaluasi dari data yang untuk IUPHHK-HTI di mulai dari tahun 1992 sampai dengan 1998. Gambaran mengenai IUPHHK-HTI yang pernah di berikan di kawasan ini dapat dilihat pada gambar berikut ini. Aktivitas HTI ini juga sebagian tidak berjalan dengan baik . Gambar 5. alokasi kegiatan nya terlihat tidak menyebar merata di seluruh kawasan DAS Kapuas . Sedangkan aktivitas lainnya dari sektor kehutanan adalah IUPHHK-HTI (termasuk HTI Trans). sedangkan untuk kegiatan IUPHHK-HA diambil dari rentang waktu tahun 1993 sampai 2006. aktivitas IUPHHK-HA ini tidak semuanya dapat berjalan. Visualisasi dari kegiatan tersebut dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini.Kehutanan Pembangunan kehutanan diarahkan pada kegiatan IUPHHK-HTI dan IUPHHK-HA.12 Visualisasi Peta IUPHHK-HA sekitar DAS Kapuas Ketersebaran aktivitas pembangunan kehutanan dalam bentuk IUPHHK-HA terlihat menyebar di seluruh kawasan DAS Kapuas secara partial. .

13 Visualisasi Peta IUPHHK_HTI (termasuk HTI Trans) sekitar DAS Kapuas Perikanan dan Perindustrian Pembangunan sector perikanan diarahkan pada kegiatan perikanan tangkap. Kehutanan bungan/ transportasi. pertambangan. aktivitas ini menjadi rentan sejalan dengan kerusakan lingkungan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas seperti kehutanan perkebunan dan pertambangan. Perijinan pembangunan Perkebunan. c. Kepentingan religi. serta transmigrasi dan pertanian/perikanan dan Perhu- Prosedur perijinan untuk berbagai kegiatan seperti perkebunan. namun untuk kegiatan pertambangan dan perhubungan dapat mengacu pada PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.4. Pertahanan dan keamanan. . b.43/ Menhut-II/ 2008 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN pasal 5 yang menyatakan : (1) Pinjam pakai kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan meliputi : a. kehutanan dan perhubungan sangat rentan dengan tumpang tindih peruntukan . dari ijin pertambangan dan perhubungan banyak yang tumpang tindih dengan perijinan lainnya dan bahkan dengan kawasan hutan dari berbagai fungsi kawasan. Perindustrian merupakan sector yang cukup rentan terkena dampak kebijakan dan program terutama terkait dengan ketersediaan bahan. 1. Pertambangan.3.Gambar 5. Pertambangan.

Jalan umum. Berita Acara Tata Batas Kawasan Hutan telah disahkan oleh Menteri. atau d. Pembangunan ketenagalistrikan dan instalasi teknologi energi terbarukan. di Provinsi Kalimantan Barat penetapan perijinan cenderung mengacu pada Keputusan Menteri kehutanan No 259/KPTS-II/2000 tentang kawasan hutan dan perairan Kalbar. Stasiun relay televisi. jalan (rel) kereta api. Namun PERDA ini jarang di jadikan acuan terutama dalam analisis pola ruang untuk perijinan Perkebunan. atau b. Selain itu sangat perlu disingkronkan dengan PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. telah ditunjuk dengan keputusan Menteri. Pembangunan jaringan instalasi air. g. Stasiun pemancar radio. e. Kawasan Hutan telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri. 50/Menhut-II/2009 TENTANG PENEGASAN STATUS DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN dalam pasal 2 dikatakan (1) Kawasan hutan telah mempunyai kekuatan hukum apabila : a. Fasilitas umum. Pengairan. f. l. Sarana keselamatan lalulintas laut/ udara. hal ini tampak dengan sering munculnya telaahan kawasan yang dikeluarkan oleh BPKH dalam rangkaian penetapan perijinan perkebunan. Saluran air bersih dan atau air limbah. o. i. m. (2) Bagian kawasan hutan dalam wilayah provinsi yang belum memperoleh persetujuan peruntukan ruangnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diintegrasikan ke dalam rencana tata ruang wilayah provinsi yang akan ditetapkan dengan mengacu pada ketentuan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta penggunaan kawasan hutan berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi sebelumnya. Selanjutnya untuk perkebunan sawit prosedur perijinan perlu lebih dicermat iterhadap ketentuan yang ada. n. . Repeater telekomunikasi. Dari perijinan berupa ijin lokasi yang berlangsung sampai dengan tahun 2009 di kawasan DAS Kapuas terdapat perijinan yang tumpang tindih dengan kawasan hutan dan perijinan lainnya seperti pertambangan dan lain-lain. j. Disisi lain terdapat Perda No 5 tahun 2004 tentang RTRWP Provinsi kalimantan barat. terhadap bagian kawasan hutan tersebut mengacu pada ketentuan peruntukan kawasan hutan berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi sebelumnya. Bak penampungan air. Pembangunan jaringan telekomunikasi. telah ditata batas oleh Panitia Tata Batas. Untuk ini dapat dilihat seperti pada gambar berikut. Kerancuan ini akan lebih perlu dicermati dengan keluarnya PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG Pada pasal 30: (1) Dalam hal terdapat bagian kawasan hutan dalam wilayah provinsi yang belum memperoleh persetujuan peruntukan ruangnya.d. atau c. h. k.

mis informasi bisa terjadi karena diawali dengan terputusnya saluran koordinasi.5. sehingga tidak tercipta pemerataan pembangunan karena tidak terbukanya isolasi. Koordinasi antar pemerintah Kabupaten /kota yang ada di Dalam wilayah DAS Kapuas dalam pemberian perijinan Peningkatan Koordinasi antar pemerintah kabupaten menjadi penting pada masa kini dan masa mendatang.Gambar 5. pertambangan. Secara ekologi baik dampak sosial maupun dampang fisik cukup sulit dibatasi dengan wilayah administrasi pemerintahan. kehutanan. pertambangan. Koordinasi antar sektor tentang perijinan terkait dengan perkebunan.4. pertambangan. sering kali tidak mempunyai sambungan yang baik dengan tingkat tapak di pemerintah kecamatan dan desa. batas wiayah administrasi secara fisik sangat dimungkinkan tidak adanya patok batas dlapangan.4. Terkait dengan koordinasi antar pemerintah kabupaten terhadap pemberian perijinan terkait dengan perkebunan. akan menimbulkan disparitas terhadap ekonomi dan sosial. Kondisi seperti ini pada gilirannya akan menyebabkan konflik antar sektor bahkan antar msyarakat dalam pengambilan kebijakan. pertanian dan trasmigrasi serta perhubungan. pertambangan dan kehutanan yang memerlukan koordinasi yang jelas kedepannya dan minimal mendorong untuk adanya SOP secara yuridis formal. pembangunan yang hanya terkonsentrasi di wilayah hilir. kehutanan. Visualisasi Peta sebaran kebun Ijin lokasi sekitar DAS Kapuas sampai tahun 2009 1. terutama dalam pemberian perijinan terkait dengan perkebunan. Implikasi beberapa pembanguan perkebunan. Dengan kurangnya patok batas wilayah administrasi maka sangat mudah terjadi mis koordinasi pada saat terjadinya dampak atau masalah baik sosial maupun fisik. untuk ini perlu adanya peningkatan MOU (jika sudah ada) kearah SOP yang secara yuridis disepakati atau disetujui.4. kehutanan. Koordinasi antar sektor baik di tingkat prov maupun Kabupaten sampai de ngan dengan Unsur Kecamatan dan desa Koordinasi antar sektor sangat penting baik yang ada pada tingkat kabupaten maupun pada tingkat pemerintah provinsi. 1. terkecuali yang menggunakan batas alam. pertanian dan trasnigrasi serta perhubungan untuk lokasi-lokasi yang berbatasan. Kondisi ini penting dicermti karena . pertanian dan trasnigrasi serta perhubungan. Pembangunan diwilayah hulu akan memberikan dampak ikutan kepada wilayah hilir. demikian juga sebaliknya. biasanya sangat berhubungan dengan batas wilayah administrasi.14 .

Pengendalian perlu diintensipkan karena sampai dengan saat sekarang.peti Perubahan alur pelayar an Penurunan kualiatas air sungai Penurunan potensi perikan tangkap Konflik sosial Pergeseran nil. Keterkaitkan antara kebijakan. Pengendalian Pengendalian perijinan dapat berupa zoning regulation. Pembangu nan Kehutanan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 3. namun dapat pula menimbulkan bencana pada saat pemanfaatannya tidak memperhatikan sisi ekologi.stakeholder pada tingkat pemerintah kecamatan dan desa sangat operasional dan mengenal lingkungannya oleh karena itu SOP kearah organisasi sampai kearah tingkat tapak perlu diperjelas. Hutan akan memberikan manfaat jika di kelola secara bijaksan.5. keterkaitan ini dapat berbentuk hubungan yang linier atau lainnya. Selain itu dikawasan DAS Kapuas juga terdapat perkampungan atau pemukiman yang dalam aktivitasnya perlu memperhatikan keseimbangan dan keadilan dengan lingkungannya. rencana.6. Revisi RTRWP Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 2. Keseimbangan dan Keadilan Kebijakan. terutama yang terkait dengan masalah ekonomi dan ekologi dari wilayah yang bersangkutan. DAS Kapuas merupakan wilayah das yang mana di dalamnya terdapat interaksi dari berbagai unsur. baik yang bersifat ekonomi maupun ekologi. 1. pertambangan yang tidak melakukan kegiatannya namun telah mengantongi perijinan. sampai dengan pemberian sangsi. masih banyak perijinan baik perkebunan. Program mempunyai keterkaitan yang erat dengan isue-isue strategis. Tabel 5.budaya Degradasi lah pert pa ngan Degradasi lahan & kua litas tanah Berkurangnya potensi air tanah Degradasi hutan/deforestasi Intrusi air asin/laut Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan . Pembangunan Perkebunan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 4. Telaah Prinsip Keterkaitan.4.10 Matrik keterkaitan Kebijakan sektoral dengan Isue strategis KRP sektoral 1. kehutanan. Dalam aplikasinya keterkaitan ini harus juga memperhatikan unsur keseimbangan dan keadilan. Pembangun an Pertamba ngan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 5 Pembangunan Transmigrasi dan pertanian. rencana dan program dengan berbagai isue strategis yang dapat terjadi di kawasan ini dapat dilihat seperti pada tabel berikut. Untuk ini visualisasi nya dapat dilihat dari realisasi ijin yang ada 1.perika nan dan perindustrian 6 Pembang unan perhubun gan Isue-isue strategis Pendangkalan sekitar muara Banjir & erosi Perubahan Musim tanam Pening keg.

6. ekplorasi . Dampak Berupa banjir terasa pada saat musim penghujan. Pembangunan Kehutanan. 1. pembangunan Perkebunan. Telaah Dampak Perubahan Musim tanam Isue global berupa perubahan iklim erkait dengan keberadaan hutan di dunia dan hutan di kalimantan Barat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan.4. Kehutanan.6. kondisi ini akan membuat percepatan luapan air sungai-sungai yang ada di sekitar DAS. Pertambangan. dimana di beberapa tempat muncul daratan yang semakin tahun semakin luas. Telaah Dampak Kumulatif Telaah Dampak Pendangkalan sekitar Muara Berdasarkan tabel di atas dampak pendangkalan sungai di picu oleh adanya beberapa kebijakan dalam bidang Perkebunan. Selanjutnya pada musim kemarau akan terjadi kondisi ekstrim berupa kondisi sebaliknya yakni kekeringan yang berdampak pada kebakaran lahan. perubahan pola ruang dan pembukaan isolasi karena arahan revisi RTRWP akan mengakibatkan perubahan aktivitas yang sangat besar terlebih perubahan yang mengarah pada peruntukan. pertambanagan akan memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap perubahan iklim. dan teknik penanaman. Kebijakan berupa perubahan tata ruang. Dampak pendangkalan muara akan terjadi di sekitar muara sungai dari sus-sub DAS yang ada di sekitar DAS sungai kapuas sampai dengan muara S. dampak ini terasa pada saat musim kemarau.6.Penurunan volume dan permukaan tanah gambut Tumpang tindih pemenfaatanperuntukan lahan Kekeringan dan kebakaran lahan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 1.1. perkebunan. sehingga akan terjadi penumpukan di sekitar muara-muara sungai. Telaah Dampak Peningkatan Peti Kegiatan peti di dalam wilayah DAS Kapuas disebabkan oleh Revisi RTRWP. Pemberian ijin yang sangat luas dan besar terkait dengan kegiatan pertambangan. 1. kehutanan. aktivitas dilapangan seperti land clearing. Pembangunan Pertambangan. .Kapuas di sekitar Kuala Jungkat Kabupaten Pontianak. lemahnya koordinasi dan lemahnya pengendalian. 1.6. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada data dan gambar berikut Selain ketiga kebijakan tersebut revisi RTRWP juga dapat memberikan resiko lingkungan berupa pendangkalan muara-muara sungai yang ada di sekitar DAS. Pembangunan perhubungan. Di beberapa lokasi terjadi dengan intensitas dan daerah cakupan banjir yang cukup luas. hal ini terkait dengan pemberian Perijinan. Petani di Kalimantan Barat sebagian sangat tergantung dari pertanian tadah hujan. dimana dengan perubahan iklim tersebut maka jelas akan terjadi perubahan musin hujan dan akhirnya mempengaruhi perubahan musim tanam 1. yang akan memberikan dampak ikutan berupa berkurangnya kemampuan tanah untuk dapat menahan air. Akibantnya peluang terjadinya bencana banjir dan erosi semakin tinggi. sehingga air permukaan menjadi sangat besar. Pembangunan Transmigrasi dan pertanian. kegiatan-kegiatan tersebut dapat memobilisasi penduduk dan akhirnya memotivasi untuk berusaha kearah pertambangan tanpa ijin. perubahan peruntukan akan mendorong pembukaan tutupan hutan dan hal ini akan mendorong terjadingya erosi dan sedimentasi. dan pembukaan penutupan.3.2. perkebunan dan kehutanan akan dapat menyebankan adanya peningktan erosi yang pada gilirannya akan menyebankan pendangkalan di sekitar sungai dan peningkatan luapan air sungai. terlebih kalau di ikuti dengan pasang laut.6. Telaah Dampak Banjir dan erosi dan kekeringan Perubahan pola ruang akan mengakibatkan perubahan aktivitas.

5 5 3 6 T A H U N 49 48 POLA R.56 %) dari luas DAS menimbulkan degradasi penutupan lahan/hutan sehingga menimbulkan percepatan deforestasi.528 Ha (13. pertambangan.S q ( a d j) 2. perhubungan.56 %) dari luas DAS.5.381. Buffer Zone dan re komendasi kelaya kan lingkungan) un tuk berbagai perijinan 6. Pertambangan.381. Telaah Dampak deforestasi/degradasi hutan & tumpang tindih pemanfaatan dan penurunan keanekaragaman hayati Deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati di picu oleh adanya beberapa kebijakan yang selama ini dilakukan seperti : 1. Untuk melihat dampak komulatip yang timbul terhadap terjadinya deforestasi dapat dilihat pada gambar berikut ini. deforestasi tersebut akan lebih memprihatinkan bilamana terjadi perubahan pola ruang berupa alih fungsi lahan kearah peruntukan selain hutan dalam revisi RTRWP Kalimantan Barat.0 . berdasarkan tren ini bilamana dianggap linier dan tidak terjadi perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP maka kawasan hutan di kalimantan Barat akan menurun di bawah 30 % dalam jangka waktu 35 tahun. Perijinan pembangunan Perkebunan Kelapa sawit. KRP Ini akan menimbulkan ruang terbuka di dalam kawasan sehingga menimbulkan erosi dan peningkatan sedimentasi pada sungai sehingga menyebabkan pendangkalan Dampak Berupa deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati dapat dilihat dari kondisi degradasi penutupan yang ada di sekitar DAS Kapuas terutama penutupan hutan.9% F i t te d L i n e P l o t Berdasarkan tren di atas maka deforestasi di wilayah DAS kapuas terjadi dengan kecenderungan tidak begitu linier.HUTA N (%) 47 46 45 44 20 0 3 2004 20 0 5 2006 TA H UN 20 0 7 2008 2 00 9 S R-Sq R .H U T A N ( % ) = 1 1 5 7 . kurangnya koordinasi antar sektor baik di tingkat prov maupun Kabupaten sampai dengan dengan Unsur Kecamatan dan desa dalam Penetapan Perijinan Perkebunan sawit. Kurangnya koordinasi antar pemerintah Kabupaten/kota yg ada di Dalam wilayah DAS Kapu as dalam rangka mencari keserasian lingku ngan hidup 4. Kehutanan maupun perhubungan 5.6. baik yang berskala besar maupun perkebunan rakyat.1. Trend Deforestasi P O L A R . Pengendalian kawasan konservasi (kawa san gambut > 3 m. Namun dari dekade 2007 sampai tahun 2009 kecenderungan deforestasi menajam. Aktiviatas lain yang dapat mendorong terjadinya deforestasi adalah aktivitas perkebunan. Pembangunan perkebunan. Antara tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 cenderung sama. 55 % pertahun. kehutanan di wilayah DAS Kapuas 2. pertambangan. Gambar 5. Jika kondisi ini dianggap linier saja maka laju deforestasi akan mencapai sebesar 0. kondisi ini akan lebih terdegradasi dengan adanya alokasi perubahan ruang kearah peruntukan peruntukan ruang sebesar 1. Perhu bungan/transportasi dan komitmenya terhadap kondisi lingkungan Hidup Ke hutanan & 3.16 482 5 5.15.0% 9.528 Ha (13. untuk ini dapat dilihat seperti pada trend berikut ini . Revisi RTRWP Perubahan peruntukan ruang sebesar 1. transmigrasi.

0 5 0 3 6 T A H U N 0 .7 + 0 . untuk melihat kondisi ini dapat dilihat pada gambar berikut ini Gambar 5.3 5 0 . 2 3 5 7 T A H U N S R -S q R -S q ( a d j) 1 .S q ( a d j) 0 . kondisi ini akan dapat dilihat dari tren besarnya lahan terbuka atau perkembangan semak belukar yang ada di dalam kawasan kajian. 3% 74 .P E R T A M B A N G A N ( % ) = . Laju pertambahan aktivitas perkebunan mencapai 0.PERTAMBANGAN (%) 0 .0 6 9 04 4 7 . Selanjutnya penyebab deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati adalah adanya aktivitas pertambangan terlebih pertambangan tanpa ijin.5 5 POLA R.0 4.5 . Keterkaitan faktor lainnya dalam deforestasi disebabkan oleh berbagai kebijakan dan aktivitas manusia dan kondisi alam seperti kebakaran lahan .17. sebagai contoh pada peristiwa kebakaran lahan .4 5 0 . 7% . Trend Peningkatan Aktivitas Perkebunan sampai dengan Tahun 2009 F i tte d L i n e P l o t P O LA R . Pembentukan semak belukar dan lahan terbuka dapat disebabkan oleh aktivitas manusia dan kondisi alam.4 6 8 .5 0 0 .Gambar 5.2 5 0 .P E R K EB U N A N (% ) = 5. Trend Peningkatan Aktivitas Pertambangan sampai dengan Tahun 2009 F it te d L in e P lo t P O L A R .8 + 0 .PERKEBUNAN (%) 5. Peningkatan penggunaan lahan untuk perkebunan sangat signifikan terjadi pada rentang waktu 2007 sampai dengan 2009.2 0 2003 2004 2005 2006 TA H UN 2007 2008 2009 S R-S q R .5 4.5 2003 2004 2005 2006 T A H UN 2007 2008 2009 Berdasarkan kondisi ini lonjakan aktivitas perkebunan demikian signifikan dan terasa linier dengan tahun aktivitas berjalan.0 82 8 51 0 87 .16.6 % 0 .24 %.0 % POLA R.1 0 0 .0 3.3 0 0 .4 0 0 .

(b) berbagai dampak lingkungan bertumpuk pada suatu ruang tertentu sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan. Dampak kumulatif bisa terjadi karena: (a) dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam. prasarana transportasi yang vital dan berbagai sumberdaya lainnya yang disediakan oleh DAS KAPUAS. Oleh karena itu apabila terjadi degradasi terhadap DAS KAPUAS akan dapat menimbulkan implikasi yang signifikan dan kumulatif pada berbagai sektor kehidupan sebagian besar masyarakat Kalimantan Barat. sumber perikanan air tawar. Namun ironisnya.BAB VI MITIGASI IMPLIKASI KEBIJAKAN. tetapi karena kegiatan tersebut berlangsung berulang kali atau terus menerus. dan (c) dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan yang menimbulkan efek yang saling memperkuat. yakni dampak yang berlangsung terus menerus yang bersumber dari berbagai kegiatan di dalam suatu ruang/ kawasan. 6. RENCANA DAN ALTERNATIF PROGRAM KLHS juga dapat digunakan untuk menelaah dampak kumulatif. Hasil identifikasi telah menemukan sektor yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS adalah sektor kehutanan. Bahkan DAS KAPUAS memberikan kontribusi penting dalam menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan sebagian besar masyarakat di Kalimantan Barat seperti sebagai sumber utama air bersih. perkebunan. pertambangan. justru berbagai aktivitas ekonomi dan masyarakat berpotensi menimbulkan dampak yang dapat menganggu berfungsinya DAS KAPUAS secara berkelanjutan. KLHS mencoba mengidentifikasi berbagai kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak kumulatif serta menyarankan upaya mitigasi yang akan dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas tersebut. Identifikasi Sektor-Sektor Yang Menimbulkan Dampak Identifikasi berbagai sektor yang menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS dibagi kedalam kelompok lingkungan. Sebagaimana diketahui bahwa dampak suatu usaha atau kegiatan dikatakan bersifat kumulatif apabila pada awalnya dampak tersebut tidak tampak atau tidak dianggap penting. baik dalam konteks ekologis dan ekonomi. Deskripsi sektor dengan isu-isu stratetis yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS dapat dilihat pada beberapa tabel berikut ini. Wilayah DAS KAPUAS yang meliputi 10 Kabupaten dan 1 Kota yang terdapat di Kalimantan Barat memiliki peran yang sentral dan strategis. Terkait dengan gambaran yang dikemukakan di atas. maka dampaknya bersifat kumulatif. ekonomi dan Kelembagaan. perhubungan dan perindustrian dengan mengidentifikasi 16 isu-isu strategis. sosial.1. perikanan. .

Seperti isu strategis pendangkalan sekitar muara. perubahan musim tanam. . Penambangan skala besar serta penambangan yang berlokasi berdekatan dengan muara sungai. deforestasi. Sehingga upaya untuk melakukan mitigasi dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan sektor pertambangan lebih ditujukan kepada pengendalian terhadap kegiatan PETI. berkurangnya potensi air tanah. 2) Aktivitas Sektor Pertambangan Yang Menimbulkan Dampak Dibandingkan dengan sektor kehutanan. Pada kelompok isu lingkungan.1) Aktivitas Sektor Kehutanan Yang Menimbulkan Dampak Apabila diamati tabel diatas dapat dilihat bahwa isu-isu strategis yang muncul dari aktivitas sektor kehutanan pada kelompok isu lingkungan sebagian besar bersumber dari kegiatan HPH dan HTI. . banjir dan erosi. Pada kelompok isu sosial. sumber aktivitas sektor pertambangan yang menimbulkan dampak isu lingkungan strategis lebih banyak terjadi karena kegiatan PETI. kekeringan dan kebakaran serta penurunan produktivitas lahan timbul karena aktivitas kegiatan HPH dan HTI. munculnya isu tentang konflik sosial dan pergeseran nilai budaya pada dasarnya muncul akibat dari dampak tidak langsung kegiatan HPH dan HTI. aktivitas sektor pertambangan yang menjadi sumber munculnya isu-isu lingkungan strategis lebih beragam. Oleh karena itu dalam konteks upaya untuk melakukan mitigasi terhadap aktivitas sektor kehutanan pada kelompok isu lingkungan. penurunan kualitas air sungai. maka kegiatan HPH dan HTI menjadi perhatian serius agar dampak kegiatan sektor kehutanan terhadap DAS Kapuas dapat diminimalisasikan. penambangan dalam skala besar dan penambangan yang dilakukan berdekatan dengan muara sungai.

maka upaya mtitigasi yang dilakukan untuk mengurangi dampak aktivitas sektor perkbunan terhadap DAS Kapuas. sumber aktivitas yang sering menimbulkan dampak isu lingkungan strategis terhadap DAS kapuas adalah kegiatan land clearing. berkurangnya potensi air tanah. penurunan produktivitas lahan dan penurunan potensi perikanan tangkap. . Dengan memperhatikan dampak yang masive dan signifikan akibat dari kegiatan land clearing. lebih ditujukan kepada pengendalian kegiatan land clearing pada sektor perkebunan. kekeringan dan kebakaran. deforestasi. perubahan musim tanam. degradasi lahan gambut. Beberapa dampak isu lingkungan yang muncul akibat dari kegiatan land clearing yaitu isu pendangkalan sekitar muara. penurunan kualitas air sungai. banjir dan erosi. intrusi air laut. Hasil identifikasi telah mendapatkan bahwa dari 16 (enam belas) dampak isu lingkungan strategis pada sektor perkebunan terdapat 11 (sebelas) dampak isu lingkungan yang muncul akibat kegiatan land clearing.3) Aktivitas Sektor Perkebunan Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perkebunan. degardasi lahan dan kualitas air tanah.

pembangunan pelabuhan perikanan serta adanya kegiatan perusahaan perkebunan pada suatu kawasan tertentu merupakan sumber aktivitas yang cukup menonjol dan perlu mendapat perhatian yang serius dalam melakukan mitigasi terhadap dampak yang ditimbulkan dari kegiatan sektor perikanan.4) Aktivitas Sektor Perikanan Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perikanan. Namun aktivitas penggunaan tuba dalam menangkap ikan. isu-isu lingkungan strategis muncul dari sumber aktivitas yang relatif lebih beragam. .

Oleh karena itu. yaitu limbah kegiatan angkutan sungai dan pembangunan pelabuhan penumpang dan barang. lebih diarahkan pada pengendalian kedua sumber aktivitas dampak tersebut. Namun terdapat 2 (dua) sumber aktivitas yang menonjol menimbulkan dampak isu lingkungan strategis pada sektor perhubungan ini. isu-isu lingkungan strategis yang muncul pada sektor perhubungan berasal dari sumber aktivitas yang relatif lebih beragam. .5) Aktivitas Sektor Perhubungan Yang Menimbulkan Dampak Tidak jauh berbeda dengan sektor perikanan. upaya untuk melakukan mitigasi terhadap dampak yang berasal dari sektor perhubungan terhadap DAS Kapuas.

Upaya mitigasi yang dilakukan harus ditujukan pada pengendalian sumber aktivitas tersebut. .6) Aktivitas Sektor Perindustrian Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perindustrian. terdapat 2 (dua) sumber aktivitas dominan yang menimbulkan dampak isu lingkungan strategis yaitu sumber limbah industri yang berlokasi pada pinggir sungai serta kegiatan pembangunan kawasan industri.

isu tentang konflik sosial dan pergeseran nilai budaya merupakan isu lingkungan sosial yang timbuk dari aktivitas . Indentifikasi dan Interaksi Sektor Yang Menimbulkan Dampak Kumulatif Sebagaimana dikemukakan sebelum sektor-sektor yang memiliki dampak signifikan dan kumulatif terhadap DAS Kapuas adalah sektor kehutanan. pertambangan dan perkebunan. Sedangkan isu pendangkalan sekitar muara. Identifikasi dan Interaksi Sektor yang Menimbulkan Dampak Berdasarkan hasil identifikasi dan interaksi sektor yang menimbulkan dampak apabila dilihat dari aspek kelompok isu. pertambangan. perikanan. pada kelompok isu lingkungan.Dengan memperhatikan tabel-tabel di atas dapat diidentifikasi terdapat 3 (sektor) yang aktivitasnya sangat memiliki potensi menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap DAS KAPUAS yaitu sektor Kehutanan dan Sektor Perkebunan masing-masing dengan 16 isu-isu dampak strategis dan sektor pertambangan dengan 12 isu dampak strategis. Kegiatan ketiga sektor tersebut perlu untuk mendapat perhatian secara spesifik. perkebunan dan pertambangan. Sementara itu dari kelompok isu sosial. akan teridentifikasi isu-isu strategis yang menjadi isu-isu dampak pada setiap sektor. Berikut ini tabel yang menyajikan data yang terkait dengan interaksi sektor yang menimbulkan dampak kumulatif tersebut. perkebunan dan pertambangan. isu tentang penurunan kualitas air sungai merupakan isu lingkungan yang timbul akibat dari aktivitas semua sektor (sektor kehutanan. mengingat dampak yang ditimbulkan sangat masif serta memberikan efek yang berantai dan kumulatif. Tabel 6. berkurangnya potensi air tanah. 6. Sehingga pengendalian terhadap ketiga sektor dapat saja memberikan pengaruh pada aktivitas ekonomi masyarakat secara keseluruhan. degradasi lahan dan kualitas tanah. Sektor-sektor lain yang aktivitasnya menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS adalah sektor perikanan memiliki 7 isu dampak strategis serta sektor perhubungan dan sektor perindustrian masing-masing memiliki 5 isu dampak strategis. banjir dan erosi.1.2. perhubungan dan perindustrian). Dalam konteks interaksi sektor yang menimbulkan dampak kumulatif. perkebunan. deforestasi merupakan isu lingkungan yang timbul akibat dari aktivitas sektor kehutanan. Realitas yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas perekonomian di Kalimantan Barat sangat didominasi oleh sektor kehutanan.

Pada kelompok isu ini. degradasi lahan dan kualitas tanah. konflik sosial. Kelompok isu selanjutnya yaitu kelompok isu kelembagaan. Berikut tabel yang menyajikan mitigasi dampak sektoral pada DAS Kapuas. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya dari 16 (enam belas) isu dampak strategis tersebut. isu tentang terjadinya tumpang tindihnya perizinan terjadi pada sektor kehutanan. perkebunan dan pertambangan. Mitigasi serta Perbaikan Rencana dan Kebijakan Hasil identifikasi sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya mendapatkan terdapat 6 (enam) sektor yang aktivitasnya berpotensi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas. Kelompok isu ekonomi mencakup isu tentang penurunan produktivitas lahan serta penurunan potensi perikanan tangkap. Secara sektoral terdapat 6 (enam) isu-isu dampak lingkungan yang paling strategis yaitu isu dampak lingkungan penurunan kualitas air sungai. intrusi air laut. Dari 6 (enam) sektor.3. Sedangkan kelompok isu kelembagaan mencakup isu tumpang tindih perijinan serta pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif. Sedangkan isu pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif merupakan isu lingkungan strategis yang terjadi pada semua sektor yang terindentifikasi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas.semua sektor. aktivitas yang dilakukan di sektor-sektor tersebut berpotensi menimbulkan dampak terjadinya penurunan potensi perikanan tangkap. Pada kelompok isu ekonomi. Dalam kelompok isu ekonomi juga. sektor perhubungan dan sektor perindustrian cukup signifikan terhadap DAS Kapuas. pergesaran nilai budaya. sektor perkebunan dan sektor pertambangan. Dengan kata lain. isu penurunan potensi perikanan tangkap merupakan isu lingkungan strategis yang timbul akibat dari aktivitas semua sektor. serta kekeringan dan kebakaran. Sedangkan aktivitas pada sektor pertambangan hanya menimbulkan 12 (dua belas) dampak isu lingkungan strategis. isu penurunan produktivitas lahan merupakan isu lingkungan strategis yang timbul dari aktivitas sektor kehutanan. kelompok sosial 2 isu. perijinan yang tumpang tindih serta pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif. terdapat 2 (dua) sektor yang kegiatannya menimbulkan dampak pada semua isu-isu lingkungan tersebut yaitu sektor kehutanan dan sektor perkebunan. perunuranan produktivitas lahan. Hasil identifikasi menghasilkan juga isu-isu strategis sebanyak 16 isu yang terdiri kelompok isu lingkungan sebanya 10 isu. degradasi lahan gambut. Sedangkan 3 (sektor) lainya yaitu sektor perikanan. Mitigasi ditujukan pada semua sektor serta pada semua isu-isu dampak lingkungan strategis dengan lebih menekankan pada sektor-sektor yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang sangat signifikan serta pada isu-isu dampak lingkungan yang paling strattegis. banjir dan erosi. Kelompok isu lingkungan mencakup isu tentang pendangkalan sekitar muara. semua sektor yang diidentifikasi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas. deforestasi. pergeseran nilai budaya. perubahan musim tanam. perkebunan dan pertambangan. Isu-isu dampak lingkungan ini terjadi pada semua sektor. berkurangnya potensi air tanah. . kelompok ekonomi 2 isu dan kelompok kelembagaan 2 isu. terdapat 3 (tiga) sektor yang berpotensi menimbulkan dampak yang sangat signifikan yaitu sektor kehutanan. penurunan potensi perikanan tangkap. 6. Kelompok isu sosial mencakup isu konflik sosial. penurunan kualitas air sungai.

Tabel 6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Kehutanan pada DAS Kapuas .2.

.

Tabel 6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Pertambangan pada DAS Kapuas .3.

Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perkebunan pada DAS Kapuas .4.Tabel 6.

.

5. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perikanan pada DAS Kapuas .Tabel 6.

Tabel 6.6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perikanan pada DAS Kapuas

Tabel 6.7. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perindustrian pada DAS Kapuas

BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

7.1.

Kesimpulan

1. Revisi RTRWP terhadap pola ruang di DAS Kapuas mendorong penurunan terhadap tutupan hutan sebesar 11,84 % dari tutupan yang ada sekarang. Hal ini Memenimbulkan resiko lingkungan berupa penurunan daya dukung. Oleh karenanya, perubahan peruntukan dengan cakupan yang luas di wilayah ini tidak harus diberikan, terkecuali untuk keperluan pemukiman. Selanjutnya Perlu telaah kembali terhadap bentuk perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP tersebut secara yuridis, Teknis, Sosial budaya dan historis serta motivasi perubahannya agar tidak terjadi perubahan peruntukan yang dapat menurunkan daya dukung lingkungan 2. Pengendalian kegiatan Perkebunan, Pertambangan dan kehutanan (izin lokasi, HGU dan IUP serta IUPHHK-HA dan lainnya) perlu diepektifkan kembali, sehingga bisa di peroleh optimalisasi pemanfaatan dan sekaligus dapat diinventarisir bentuk pelanggaran hukumnya 3. Proses perijinan dan pengelolaan pembangunan PERKEBUNAN, PERTAMBANGAN, KEHUTANAN,, PERIKANAN, PERINDUSTRIAN DAN PERHUBUNGAN perlu adanya koordinasi dengan aparat pada tingkat tapak baik yang berasal dari instansi formal maupun non formal (Kecamatan & desa), agar diperoleh koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan 4. Proses perijinan untuk pendayagunaan lahan khususnya tanah gambut perlu dikaitkan dengan survei semi detail sampai detail terkait dengan kematangan dan kedalaman gambut terutama yang ada di wilayah DAS Kapuas 5. Dengan besarnya potensi tumpang tindih pemanfaatan dan peruntukan serta dampak lainnya di sekitar DAS Kapuas, maka proses perijinan pembangunan Perkebunan, Kehutanan, Pertambangan, pertanian, perikanan, perindustrian dan perhubungan perlu adanya koordinasi vertikal dan horisontal yang lebih baik antar sektor pada tingkat provinsi maupun kabupaten. 7.2. Rekomendasi 1. Revisi RTRWP terhadap pola ruang di DAS Kapuas mendorong penurunan terhadap tutupan hutan sebesar 11,84 % dari tutupan yang ada sekarang. Oleh karenanya, perubahan peruntukan dengan cakupan yang luas di wilayah ini tidak harus diberikan, terkecuali untuk keperluan pemukiman. Selanjutnya perlu telaah kembali terhadap bentuk perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP tersebut secara yuridis, Teknis, Sosial budaya dan historis, serta tidak mengakomodir motivasi perubahan yang mengarah pada konversi kawasan hutan menjadi perkebunan. 2. Memperhatikan mitigasi yang ada untuk wilayah DAS Kapuas, maka beberapa Sektor seperti Perkebunan, Kehutanan, Pertambangan, Perindustrian serta perhubungan perlu adanya perbaikan regulasi dan kebijakan baru yang lebih epektif terhadap : a. Koordinasi antar stakeholder baik vertikal maupun horizontal, Kabupaten pada saat proses perijinan. pada tingkat Provinsi maupun

b. Pengendalian terhadap aktivitas yang sudah ada melalui regulasi terhadap kelola ruang yang lebih jelas dan kongkrit. Sehingga bisa di peroleh optimalisasi pemanfaatan dan sekaligus dapat diinventarisir dan diproses pelanggaran hukumnya.

.

.

.

.

.

.

Spatial Plan And Development Plans (West Sumatera)

2) Pengembangan klaster industri unggulan akan mendorong permintaan bahan baku untuk memenuhi kuota industri. jaringan irigasi. 1. Disamping itu pedoman hidup dan acuan nilai-nilai tersebut dituangkan secara tertulis sehingga dapat dipedomani oleh generasi muda dan diperkaya dengan ilmu pengetahuan ilmiah. air dan hutan.2. Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat aktivitas kawasan ● ● ● ● ● ● ● . Jasa dan Perdagangan 1. Dampak Program Pengembangan Industri Pengolahan. Dampak program ini dimasa mendatang adalah sebagai berikut: ● Pengembangan sentra-sentra industri Potensial yang salah satu kegiatannya adalah fasilitasi sarana-prasarana sentra industry diperlakukan sama dengan pembangunan sarana prasarana pertanian (point 5.1. pestisida dan kebutuhan air kepada kualitas dan kuantitas air (terutama pada kegiatan c dan d). Program peningkatan Penggunaan pupuk. Penyediaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Pertanian seperti jalan usaha tani. kesesuaian lahan. warisan tanaman tua (keras) menjadi semakin berkembang dan menguat kembali. Kondisi tersebut dapat dicapai bila pemerintah memberi pengakuan dan perlindungan atas hak-hak ulayat masyarakat (tanah. sehingga harus diatur dengan zonasi kawasan budidaya dan kawasan mangrove yang dilindungi.1.3. Program peningkatan produksi perikanan budidaya. air dan hutan). Dampak Program Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan Dampak program ini di masa mendatang adalah: ● Pengembangan kawasan sentra produksi pertanian diperkirakan akan memerlukan perluasan areal tanam yang lebih luas sehingga berkemungkinan akan mengkonversi kawasan hutan. 1.1. berkemungkinan akan diikuti dengan perkembangan pemukiman ke kawasan yang dibuka. seperti budidaya ikan laut (tambak) dapat diperkirakan akan merusak atau berkurangnya hutan mangrove. Atau dengan kata lain lembaga masyarakat adat akan semakin berdaya bila pemerintah memberikan pengakuan dan perlindungan atas hak-hak ulayat masyarakat khususnya yang terkait dengan akses dan kontrol terhadap tanah.1. yang selanjutnya memicu extensifikasi lahan produksi yang berdampak pada pengurangan kawasan Terjadinya konversi lahan dari sektor lain ke sektor industri Menumbuhkan lahan-lahan pertanian baru Mengurangi lahan pertanian yang ada Memacu peningkatan pertumbuhan ekonomi Terjadinya peningkatan jumlah limbah (termasuk limbah cair) yang akan mengakibatkan penurunan kualitas air dan peningkatan kebutuhan air untuk proses produksi (terutama untuk kegiatan a dan c).1. Dampak Rencana/Program dari RPJMD Sumatera Barat Dampak Program Pengamalan ABS & SBK Program Pengamalan ABS dan ABK akan berjalan efektif bila nilai-nilai kearifan lokal terutama yang terkait dengan hak ulayat. balai benih dll. hutan larangan. Program peningkatan penggunaan pupuk dan pestisida yang akan kualitas air (terutama pada kegiatan c). Untuk itu diperlukan aturan perizinan yang sangat kuat untuk menjaga keseimbangan pengembangan pembangunan kawasan.1. mempengaruhi yang berdampak ● ● ● ● ● Program peningkatan jumlah limbah (termasuk limbah cair) yang akan mengakibatkan penurunan kualitas air dan peningkatan kebutuhan air untuk proses produksi (terutama untuk kegiatan a dan c).

● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Meningkatatnya kebutuhan air dan pencemaran air akibat aktivitas pengolahan produk perkebunan dan perikanan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat aktivitas intensifikasi dan ekstensifikasi kegiatan pertanian. Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● Meningkatan lahan produktif Mengakibatkan penurunan luas cakupan hutan dan penurunan luas lahan produktif.4.1. Agam-Bukittinggi (PLTA Kota Panjang). yang meliputi Kawasan Padang Pariaman dan sekitarnya. berdampak pada kualitas air dan kebencanaan Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat ● ● 1. kehutanan dan perkebunan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan pengembangan kawasan agropolitan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat pengembangan industry berbasis pertanian Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan jasa dan perdagangan di kawasan metropolitan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan dikawasan andalan Meningkatnya limbah cair perkotaan akibat pengembangan PKN dan PKW. Mentawai dan sekitarnya. Berkurang atau dilewatinya kawasan hutan lindung seperti kawasan lembah anai dan kelok sembilan.PIP Danau SingkarakLubuk Alung-Ketaping dan Kawasan Andalan Laut Mentawai-Siberut dan Sekitarnya). Meningkatnya Sumber daya air dan kestabilan lahan (mengurangi bencana longsor) Meningkatnya pemanfaatan kawasan budidaya untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah terutama Pengembangan kawasan andalan sesuai dengan potensi unggulan. Terjadinya longsor pada badan jalan yang dibuka untuk keperluan proyek (khusus untuk jaringan primer) Meningkatnya pencemaran air pada saat konstruksi dan perubahan tata air (temporer) Membantu pengendalian banjir Membantu penanggulangan bencana tsunami dan gunung meletus memberi jalur evakuasi (terutama kegiatan d) Menyebabkan longsor. Solok dan sekitarnya (Danau Kembar. Berkurangnya kawasan hutan nantinya akan menimbulkan potensi banjir di hilir kawasan hutan tersebut serta potensi longsor Terjadinya penurunan luas lahan produktif sehingga daerah resapan berkurang Terjadinya banjir. Meningkatnya beban pencemaran yang akan berpengaruh pada Kualitas air (khususnya sungai) akibat peningkatan berbagai aktifitas perkotaan (PKWp dan PKL) Meningkatnya potensi longsor perkotaan dan abrasi akibat pembangunan sarana dan prasarana Menurunnya kualitas air terutama pada kegiatan konstruksi pembangunan jaringan transportasi (dampak sesaat) dan berdampak pada peningkatan potensi longsor terutama pada tebing-tebing badan jalan. Meningkatnya limbah cair perkotaan dan ketersediaan kebutuhan air. banjir pada daerah tertentu Meningkatkan penanggulangan bencana Terrjadinya longsor pada badan jalan yang dibuka untuk keperluan proyek (khusus untuk jaringan primer) ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● .

Mitigasi dan Penanggulangan Bencana Alam ● ● ● ● ● ● ● 1. kasawan perbatasan dilakukan dengan intensitas pemantauan dan evaluasi rendah maka dampak positif dapat menjadi dampak negative. Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● ● ● ● ● ● 1. Mengurangi RTH dan kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). serta terganggunya kualitas air dan keseimbangan tata kelola air antara kawasan-kawasan hulu dan hilir.2. Terjadinya penurunan RTH dan kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). sehingga dapat berdampak pada degradsai dan kualitas sungai. Terjadinya Peningkatan Penyelamatan dan Evakuasi Korban Bencana Pada Wilayah Bencana Peningkatan Pendistrbusian kebutuhan Logistik Kebencanaan selama masa tanggap darurat Peningkatan Pendistribusian Peralatan Kebencanaan selama masa tanggap darurat Peningkatan Pendistribusian Bahan Penanganan Sementara Pada Wilayah Bencana Peningkatan Penanganan pemulihan dini kawasan Bencana Penyusunan dan Perhitungan DALA. Terbukanya akses sumberdaya hutan. Kondisi yang sama juga terjadi pada pemenuhan material bangunan seperti pasir dan batuan yang jika dieksploitasi secara besar-besaran pada badan air dan tidak mengindahkan kaidah lingkungan. khususnya terkait pada pengelolaan sumber-sumber air. HRNA.5. Dilaukan pengendalian pemanfaatan ruang provinsi. kedalam lingkungan hutan yang dikhawatirkan dapat merusak Terjadinya penurunan kualitas air dan daya dukung sungai akibat peningkatan jumlah angkutan / transportasi kapal pada pelabuhan tersebut serta peningkatan jumlah sedimen akibat penurunan kecepatan aliran sungai . Berkurangnya tegakan vegetasi sehingga lebih lanjut dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air disekitar hutan. banjir pada daerah tertentu Membantu penanggulangan bencana Terjadi penurunan sementara terhadap kualitas air dan tata kelola aliran irigasi serta kecukupan air dan water produktivity. Menurunnya kualitas dan kuantitas air yang dapat memberikan efek pada konflik penggunaan air kedepannya.● ● ● ● ● ● ● ● Terjadinya pencemaran air pada saat konstruksi dan perubahan tata air (temporer) Membantu pengendalian banjir Membantu penanggulangan bencana tsunami dan gunung meletus memberi jalur evakuasi (terutama kegiatan d) Menyebabkan longsor.1. PDNA dan RA-RR Meningkatnya usaha penanggulangan bencana Pelestarian Lingkungan Hidup Meningkatnya luas lahan produktif pertanian Meningkatnya ketersediaan air untuk kebutuhan lahan pertanian Terhindarnya pengalihan lahan pertanian ke kegiatan non pertanian Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● ● . Terjadinya penurunan kualitas air Terjadinya penurunan luas tutupan lahan pada lingkungan bandara yang nantinya akan mengurangi lahan tampungan air (reserfor air) yang da[at menimbulkan limpasan pada aderah sekitar.

Lubuk Alung. Parik Malintang. Salah satu langkah yang efektif untuk memberdayakan kelembagaan masyarakat adat adalah dengan memberi pengakuan dan perlindungan atas hak ulayat. Kemudian bagi lingkungan yang mau dibangun akan memperhitungkan daya dukung air Berkurangnya kesenjangan pembangunan dan perkembangan wilayah Utara-Selatan Provinsi Sumatera Barat Berkembangnya ekonomi sektor primer. Padang Aro. dan Keanekaragaman hayati Terljamin dan terjaganya kualitas air yang baik dan akan membuat tata guna air menjadi lebih baik Tertatanya lingkungan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yaitu terlaksananya program ini nanti. air dan hutan terjaga dari kerusakan atau degradasi. dan Tuapejat untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan Mendorong terbentuknya aksesibilitas jaringan transportasi dalam rangka menunjang perkembangan wilayah Ditetapkannya kawasan lindung untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam secara terpadu dengan provinsi berbatasan Meningkatnya pemanfaatan kawasan budidaya untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah Meningkatkan dampak positif pada kebencanaan dengan cara melakukan pengendalian pemanfaatannya dan pada kawasan yang telah rusak dilakukan pemulihan. dan Simpang Empat menjadi Pusat Kegiatan Wilayah yang dipromosikan provinsi (PKWp) untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota. Lubuk Sikaping. Batusangkar. Tapan. Muaro Sijunjung. Mitigasi. sekunder dan tersier sesuai daya dukung wilayah Ditetapkannya pusat-pusat kegiatan untuk mendukung pelayanansosial/ekonomi dan pengembangan wilayah Meningkatnya fungsi Kota Padang menjadi kota metropolitan Ditetapkannya Kota Payakumbuh. dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yaitu Painan. Pulau Punjung. Sarilamak. Berdasarkan kajian dampak yang diutarakan pada Bab V terdahulu.3. khusus untuk dampaknya terhadap kualitas dan tata air adalah: lingkungan yang telah tidak sesuai lagi dengan daya dukung air. Aaptasi dan Rekomendasi Rekomendasi untuk Program Pengamalan ABS & SBK ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● 1. 1.1. .3. fungsi kelembagaan masyarakat adat dipandang penting untuk lebih diberdayakan karena melalui tatanan kelembagaan adat sumberdaya tanah. pemerintah dan dunia usaha. Udara. Lubuk Basung. maka lingkungan ini akan ditata kembali. Eksploitasi sumberdaya alam dilakukan secara terus menerus. Aro Suka. melibatkan tiga unsur yaitu masyarakat. jika wasdal lemah akan terjadi penyimpangan pemanfaatan SDA dan dapat memicu terjadinya bencana. Maka upaya pengawasan dan pengendalinnya dilakukan secara terpadu melibatkan seluruh stakeholder berkesinambungan dan berkelanjutan yang berwawasan pada daya dukung dan daya tampung lingkungan. Lahan.● ● ● ● ● ● ● ● ● Terkendalinya pemanfaatan lahan pertanian Terjaganya keseimbangan daya dukung lahan terhadap potensi fungsi pertanian dimasa sekarang dan yang akan datang Bertahannya fungsi pertanian sesuai dengan peruntukannya Meminimalisir dampak pembangunan pada kawasan pertanian Mempertahankan tutupan lahan pertanian dari efek perubahan iklim global Mempertahankan luasan lahan pertanian yang optimal dari pengaruh pembangunan yang berkelanjutan Terkendalinya Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup pada Air. Pengendalian lingkungan hidup. Kota Padang Panjang.

3.3. untuk menjamin keberlanjutan pertanian di daerah rawan tersebut (belum ada dalam RPJMD) Kajian terhadap ketersediaan air untuk pengembangan kawasan andalan dan agoropolitan (penambahan kegiatan 5.7 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW kegiatan ditambahkan atau dirubah.6) Pemantauan kualitas air terkait pemakaian pupuk dan pestisida (belum ada dalam RPJMD) Peningkatan jumah bibit/benih variatas unggulan pertanian yang dikembangkan peningkatan produksi varietas unggul atau ● ● ● ● ● ● ● Penyuluhan penggunaan pupuk dan pestisida dan pengembangan pertanian organic (sudah ada dalam RPJMD 5. 1.2.3a ) Pengendalian penggunaan pupuk kimia dan pestisida (sudah ada dlm RPJMD 5. maka beberapa program prioritas Pengembangan Industri Pengolahan jasa & Perdagangan (P6)perlu diarahkan menjadi sebagai berikut: ● ● ● Pengembangan sentra-sentra industri Potensial dengan pembatasanan pembangunan lainnya melalui aturan perizinan yang lebih ketat bila lokasi berada pada hutan lindung. Catatan l: lokus pembangunan sarana agar diprioritaskan pada kawasan beresiko rawan pangan) Pengembangan cadangan airtanah dengan pembangunan embung. . Disamping itu perlu dalam diseverkasi dilakukan pengembangan varietas lokal (belum ada dalam RPJMD dan lebih cocok untuk program 5. Pengembangan klaster industri unggulan dengan tetap menjaga luas tutupan hutan (40% sesuai RTRW) Agar dalam pelaksanaan program pengembangan industri pengolahan jasa lingkungan & perdagangan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Program peningkatan produksi perikanan budidaya yang berkaitan dengan budidaya ikan laut diatur dengan zonasi kawasan budidaya dan kawasan lindung (mangrove) Penyuluhan pada petani (sudah ada dalam RPJMD 5. Rekomendasi untuk Program Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan Bedasarkan uraian dampak dari program ini yang telah dijelaskan pada BAB V terdahulu. 1. beberapa program dan kegiatan yang dipandang perlu diperbaiki dapat dilihat Lampiran Tabel 6.2. maka beberapa program prioritas Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan perlu diarahkan menjadi msebagai berikut: ● ● Pengembangan kawasan sentra produksi pertanian dengan tetap menjaga luas tutupan hutan (40% sesuai RTRW) Penyediaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Pertanian dengan pembatasan pembangunan lainnya melalui aturan perizinan yang lebih ketat bila lokasi berada pada hutan lindung.2.3) Membudayakan penggunaan pupuk dan pestisida organic/alami (sudah ada dalam RPJMD 5. ● ● ● Berdasarkan rekomendasi tersebut maka beberapa Perubahan yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 6.3.3.9).1.Kebijakan ini dipandang penting diintegrasikan ke dalam program-program strategis dan kegiatan Pengamalan ABS dan SBK.3a dan 5.1. program prioritas 9/infrastruktur). Rekomendasi untuk Program Pengembangan Industri Pengolahan jasa & Perdagangan Bedasarkan kepada uraian dampak dari program ini yang telah dipaparkan pada BAB V terdahulu. Dari 17 program strategis yang dirancang.9 Diversifikasi) Pembangunan sarana pengairan /irigasi di kawasan rawan pangan Kegiatan pembangunan sarana (Sudah dalam RPJMD.

Normalisasi sungai. Sumatera Utara. Optimalisasi pemanfaatan aset-aset prasarana jalan yang telah memperhatikan volume debit pada musim hujan dan kawasan lindung. rehabilitasi lahan kritis. pembangunan embung/situ di bagian hulu. Peningkatan jalan pantai barat Sumatera Barat dengan memperhatikan lahan produktif.5 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW kegiatan ditambahkan untuk industry atau dirubah.3.3.7. Pemberian fasilitas dan simulasi pembangunan perumahan swadaya. Pembangunan jalan dan jembatan antar daerah yang bertujuan untuk mengurangi biaya dan waktu perjalanan. maka beberapa program prioritas Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat perlu diarahkan menjadi sebagai berikut: ● ● ● ● ● Melakukan reboisasi atau penghijauan.4. Jambi dan Bengkulu dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir. mendukung pengembangan daerah dan mengurangi beban ruas-ruas yang sudah mendekati kapasitas dengan memperhatikan kawasan lindung. Pemugaran bangunan dan kawasan cagar budaya.7 Pengembangan Teknologi Tepat Guna di sempunakan menjadi Program Pengembangan Teknologi dan Ramah Lingkungan (perbaikan 6. perbaikan sistem drainase dan pembangunan sumur resapan. 1b pada pasal 14 RTRW). Rehabilitasi dan Pemeliharaan Penyelenggaraan Transportasi udara dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif dan sistem drainase.8. lahan produktif dan potensi banjir. ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . serta merevitalisasi kawasan. 1. Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan masyarakat dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah serta penanggulangan kemiskinan di daerah. dimiliki dengan Peningkatan dan pembangunan jalan arteri primer baik di lintas utama perekonomian maupun perkotaan untuk mengurangi kemacetan. Rekomendasi untuk Program Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat (Prioritas 9) Bedasarkan kepada uraian dampak dari program ini yang telah dipaparkan pada BAB V terdahulu. serta mengurangi efek pencemaran lingkungan akibat polusi transportasi dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir. mengoptimalkan lahan tidur menjadi lahan produktif.● Program strategis 6. Peningkatan layanan jalan dan jembatan menuju daerah Riau. Penataan Bangunan dan Lingkungan dengan memperhatikan daerah resapan dan drainase Program Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Rumah Akibat Bencana untuk mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah yang rusak dan hancur akibat bencana yang terjadi di Sumatera Barat dengan tetap memperhatikan lahan produktif dan faktor keselamatan penduduk serta keberlanjutan sumber daya alam. Penataan kawasan kumuh dengan memperhatikan faktor kesehatan. Pengembangan. ● Berdasarkan rekomendasi tersebut maka beberapa Perubahan yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 6. Pembangunan jalan alternatif/baru sebagai langkah penanggulangan dan antispasi masalah kemacetan pada jalan arteri primer. Pembangunan jalan Kelok Sembilan dengan memperhatikan kawasan lindung.1a. Pembangunan jalan dan jembatan baru untuk membuka akses daerah terpencil dan meningkatkan mobilitas masyarakat perdesaan dengan tujuan peningkatan dan pemberdayaan perekonomian masyarakat dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir (mencegah dampak kebijakan tata ruang no.1 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW Pembuatan IPAL Terpadu pada pengembangan kasawasan andalan (Penambahan kegiatan 6. Pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan dan pedesaan.

program pengembangan kelembagaan. rawa. serta menyediakan dan meningkatkan pelayanan prasarana dasar permukiman sehingga tercipta kawasan permukiman dan perumahan yang sehat dan ramah lingkungan dengan memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan hidup. rawa. Program ini dilaksanakan dengan memperhatikan dampak lingkungan yang potencial terjadi. Fasilitasi dan koordinasi pembangunan dalam pengelolaan jaringan irigasi termasuk jaringan tersier. dan sumber air lainnya. serta menjamin kemampuan keterbaharuan dan keberlanjutannya sehingga dapat dicapai pola ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . Mewujudkan pengelolaan jaringan irigasi. Pembangunan prasarana air bersih yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas dan terdistribusi secara merata dengan tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya air. Meningkatkan keberlanjutan fungsi dan pemanfaatan sumberdaya air. Pembangunan dan pengembangan prasarana dan sarana air minum dan air limbah yang berbasis masyarakat. Pembangunan pembuangan air limbah dan drainase. Peningkatan OP drainase . kawasan lindung dan persyaratan kesehatan. dan sumberdaya air lain. meliputi kegiatan pokok : Pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Rehabilitasi. Pengembangan prasarana dan sarana drainase dengan memperhatikan debit banjir. dan program peningkatan kinerja pengelolaan persampahan dan drainase dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif. kawasan lindung dan persyaratan kesehatan Perencanaan dan penyediaan sarana dan prasarana persampahan dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif. Peningkatan dan normalisasi saluran drainase dengan memperhatikan debit banjir. sungai. Percepatan pembangunan dan pengembangan infrastruktur pada kawasan khusus dengan memperhatikan kawasan lindung dan lahan produktif.● Mendorong pemenuhan kebutuhan rumah yang layak huni. serta persampahan. serta rehabilitasi jaringan irigasi Indrapura. Mendukung pembiayaan dan pengembangan kelembagaan perumahan. Meningkatkan pelayanan dasar permukiman agar tercipta kondisi masyarakat yang sehat. aman dan terjangkau dengan menitikberatkan pada masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah. Perbaikan irigasi yang rusak akibat bencana alam. mewujudkan keterpaduan pengelolaan. rawa. Pembangunan perumahan di daerah kumuh daerah perkotaan dan perdesaan sesuai dengan persyaratan kesehatan. serta jaringan pengairan lainnya dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nacional melalui upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan air dan wáter produktivity. sehat. Rehabilitasi daerah rawa. Optimalisasi pemanfaatan lahan irigasi. peningkatan. Pembangunan prasarana sanitasi sesuai dengan persyaratan kesehatan. dan jaringan lainnya. termasuk lanjutan pembangunan daerah irigasi Anai II dan Batahan. Perbaikan prasarana drainase yang rusak dan pembangunan drainase pada kawasan permukiman baru serta pada kawasan yang terkena bencana dengan memperhatikan debit banjir. Pembangunan prasarana listrik dengan tetap memperhatikan lahan produktif. seperti danau. dan pengembangan jaringan irigasi. Peningkatan pemeliharaan dan normalisasi saluran dengan memperhatikan debit banjir. Pembangunan jalan lingkungan dan perbaikan lingkungan permukiman. Membangun rumah sederhana sehat untuk mengurangi backlog dan pengembangan kasiba/lisiba dengan memperhatikan lahan produktif dan daerah resapan. Program meliputi pemberdayaan masyarakat. rawa.

parkir. Program dilakukan dengan kegiatan pokok: Peningkatan sarana dan prarasana pelabuhan dan terminal pada pelabuhan ASDP dengan tetap mempertimbangkan kualitas air dan daya dukung lingkungan sungai dan danau (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 17. Rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas yang ada pada land-side (seperti. Padang Pariaman dengan memperhatikan upaya pengelolaan dan pemantauan penurunan kualitas air Meningkatkan kapasitas pelayanan bandar udara dan standar keselamatan.pengelolaan sumberdaya air yang terpadu dan berlanjutan. terminal penumpang. 18. Kegiatan pokoknya adalah : Fasilitasi Rehabilitasi dan pemeliharan bangunan terminal. dan lapangan penumpukan peti kemas. Pembangunan pelabuhan di Pasaman Barat. gudang. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Provinsi Pengendalian Pemanfaatan Kawasan Perbatasan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kabupaten/Kota Menyiapkan dan mendorong kota Padang sebagai kota metropolitan. Kegiatan pokoknya adalah : Rehabilitasi dan pemeliharaan dermaga. dan eksploitasi air tanah yang terkendali dengan upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan air dan wáter produktivity. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. dan lain-lain). RTH dan Kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . Perpanjangan landasan pacu. Pengerukan alur pelayaran dengan memperhatikan pengelolaan dan pemantauan lingkungan terhadap penurunan kualitas air. dengan membentuk kota Padang sebagai kawasan perkotaan inti. fasilitas parkir. Peningkatan operasionalisasi organisasi pengelola sumberdaya air. di daerah yang membutuhkan dengan Meningkatkan pelayanan angkutan sungai dan penyeberangan yang telah ada. serta keseimbangan pengelolaan kawasan hulu hilir. (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 10) Kegiatan pokok pada program ini yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: Melakukan kajian-kajian pendahuluan untuk mengwujudkan konsep Padang sebagai kota metropolitan yang tergabung dengan kota Pariaman dan Kota Painan sebagai sebuah system perkotaan metropolitan. Rehabilitasi dan pembangunan embung memperhatikan tata kelola pemanfaatan air. dan Kota Pariaman dan Kota Painan sebagai kota-kota disekitarnya yang membentuk suatu kawasan pusat perkotaan metropolitan dilakukan dengan mempertimbangkan penurunan kualitas air. kantor. ● ● ● ● ● ● ● Penatagunaan sumberdaya air. Rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas keselamatan pelayaran. Operasi dan pemeliharaan. Kepulauan Mentawai Meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan dalam rangka mengurangi ekonomi biaya tinggi dengan melibatkan sektor swasta di dalam pengembangan dan pelayanan pelabuhan. rehabilitasi dan pengembangan sumberdaya air. 19) Peningkatan kualitas moda angkutan untuk pelabuhan penyeberangan lintas Kota Padang – Kab. pembangunan fasilitas pergudangan. terminal dan fasilitas pendukung dilakukan dengan mempertimbangkan upaya pengelolaan limpasan air akibat berkurangnya tutupan lahan dan mengakomodasi sistem drainase pada perencanaan kegiatan tersebut Pengendalian Pemanfaatan Ruang dengan mempertimbangkan intensitas pemantauan dan evaluasi terhadap aspek tata kelola air kawasan hulu dan hilir.

NPSM. Mendorong dan memfasilitasi kerjasama antara pemerintah Kota Padang. Mendorong dan memfasilitasi penyediaan segala sarana dan prasarana yang mendukung Kota Metropolitan Padang. SPM dalam penataan bangunan pada daerah rawan bencana . Minang Expo. Pasar : Pembangunan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Koordinasi. koordinasi dan fasilitasi dalam peningkatan lingkungan sehat kawasan perumahan dan pengurangan daerah kumuh (sanitasi lingkungan) Penataan Bangunan dan Lingkungan. Kota Pariaman. fasilitasi. Menyusunan rencana tata ruang dan rencana detil tata ruang wilayah Kota Metropolitan Padang. serta pengelolaan kawasan hulu lilir Pemberdayaan komunitas perumahan melalui bantuan stimulant untuk masyarakat miskin Penyusunan kebijakan dan sistem peraturan dalam pengembangan perumahan dan permukiman Pembinaan. perencanaan dan penyusunan kebijakan.pasal 42) Pengembangan Wilayah Perbatasan dengan Negara Lain (Pulau-pulau terdepan) Pengembangan Wilayah Perbatasan dengan Provinsi Tetangga Pengembangan Wilayah Perbatasan antar Kabupaten/Kota Pengembangan Perumahan dan Permukiman dengan mempertimbangkan RTH dan upaya keseimbangan terhadap kualitas dan kuantitas air. Pasar Manggilang. serta keseimbangan pengelolaan kawasan hulu hilir (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 37 .● ● ● ● ● Mendorong dan memfasilitasi segala persyaratan yang diperlukan untuk menwujudkan Padang sebagai kota Metropolitan. dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan kearifan lokal Rehabilitasi dan rekontruksi bangunan kantor akibat gempa 30 September 2009 Pembangunan dan Peningkatan sarana prasarana fasilitas umum seperti Gedung Serbaguna. dan Kota Painan untuk membangun kelembagaan perkotaan metropolitan Pengembangan Wilayah Perbatasan dilakukan dengan mempertimbangkan RTH dan Kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->