Management of Kapuas River Basin (West Kalimantan

)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Kronologi Proses Penapisan KLHS

Proses penapisan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Provinsi Kalimantan Barat dilaksanakan sejak pertengahan bulan Mei tahun 2009, pada waktu Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri bersama Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menyelenggarakan KLHS Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Kubu Raya. Di dalam beberapa pertemuan penapisan, terungkap beberapa masalah yang menjadi tantangan bagi pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Masyarakatnya, antara lain degradasi ekosistem hutan, pertambangan tanpa izin, pengembangan kawasan pesisir, pengelolaan kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, kendala pembangunan kawasan perbatasan dan pengelolaan DAS Kapuas. Tata letak kawasan hulu sungai ini di bagian tengah pulau Kalimantan terkait dengan keberhasilan penyelamatan ekosistem hutan hujan tropis yang dirancang di dalam satu konsep bersama, yakni “The Hearts Of Borneo” (HOB) yang disepakati oleh tiga negara. Sungai Kapuas (1.143 km) di Kalbar menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat, merupakan satu dari tiga sungai terbesar yang membentuk kerangka pulau Kalimantan, sangat berperan di dalam keberlanjutan lingkungan hidup dan manusia serta mahluk hidup lain di dalam daerah aliran sungai ini. Sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan perubahan yang berlangsung di berbagai bidang kehidupan masyarakat menimbulkan dampak terhadap pola pemanfaatan ruang dan tanah, yang pada tingkat selanjutnya mempengaruhi badan sungai Kapuas dan kualitas fisik-kimia air sungai. Penurunan kualitas air sungai dan pendangkalan serta variabilitas volume aliran air sungai secara langsung mempengaruhi berbagai kegiatan pemanfaatan sungai, sejak hulu hingga muara. Hal inilah yang menjadi pertimbangan untuk menyelenggarakan KLHS DAS Kapuas. 1.2. Maksud dan Tujuan

Maksud kegiatan adalah menyelenggarakan KLHS Daerah Aliran Sungai Kapuas secara berjenjang, sekaligus oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bersama Pemerintah Kabupaten/ Kota di dalam kawasan DAS, untuk menelaah implikasi kebijakan, rencana dan program pemanfaatan ruang dan sumberdaya alam (tingkat provinsi) terhadap lingkungan fisik alami, hayati sosial dan ekonomi, dan sekaligus menelaah lebih spesifik wujud dampak tersebut dari perspektif Pemerintah Kabupaten/ Kota yang selanjutnya pada tahun anggaran berikutnya digunakan sebagai arahan perbaikan kebijakan, rencana dan program masing-masing kabupaten/kota. Tujuan utama penyelenggaraan KLHS ini adalah: (1) Tersajinya rekomendasi penyempurnaan rumusan kebijakan, rencana tata ruang dan rencana sektor-sektor pembangunan yang dapat digunakan untuk memperbaiki Draft Revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat dan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Kalimantan Barat. (2) Diperolehnya gambaran penurunan kualitas lingkungan DAS Kapuas, rekomendasi mitigasi dan alternatif pelaksanaan program oleh staf Pemerintah Kabupaten/Kota di dalam Tim KLHS dan memperjelas dimensinya dari perspektif dan data kabupaten/ Kota. Pada waktunya materi ini digunakan sebagai arahan di dalam penyusunan KLHS RTRW dan/ atau RPJM masing-masing Kabupaten/Kota. (3) Diintegrasikannya rekomendasi KLHS yang relevan oleh Dinas-Dinas Teknis Provinsi Kalimantan Barat yang terkait langsung dengan pengelolaan DAS Kapuas, sebagai bahan penyempurnaan Renstra SKPD. (4) Terjalinnya interaksi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dengan Pemerintah Kabupaten/Kota bersama unsur pemangku lintas kepentingan (stakeholders) non pemerintah. 1.3. Cara Pelaksanaan

Pelaksanaan KLHS DAS Kapuas Provinsi Kalimantan Barat dilakukan melalui proses fasilitasi yang dilakukan oleh Konsultan KLHS Ditjen Bangda Kementerian Dalam Negeri kerjasama dengan ESP-2 Danida terhadap Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat. Fasilitasi ini dilaksanakan milai proses penguatan dan penyamaan persepsi tentang KLHS, pelaksanaan serangkaian FGD dan Workshop, seminar akhir sampai pada proses penyusunan dokumen KLHS DAS Kapuas yang dilaksanakan Oleh Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat. Secara sekematik cara pelaksanaan KLHS DAS Kapuas dapat digambar sebagai berikut: Gambar 1.1. Cara pelaksanaan KLHS DAS Kapuas

1.4. (1) (2)

Lingkup Kegiatan Penapisan Seminar Awal untuk mendengar paparan garis besar kebijakan dan rencana pembangunan wilayah Provinsi Kalimantan Barat dan melakukan pelingkupan dan pemusatan (scoping and focusing), yakni membahas dan mensepakati isu strategis KLHS DAS Kapuas (Tim KLHS bersama unsur masyarakat) dari perspektif Provinsi Kalimantan Barat. Pemantapan hasil pelingkupan dan pemusatan isu strategis. Pengumpulan data dan informasi melalui berbagai kegiatan, terutama desk studi dokumendokumen perencanaan, pengumpulan data instan-sional dan pembacaan peta tematik serta pembuatan peta kerja. Diskusi Tim KLHS untuk penyederhanaan dan pengolahan data mengacu ke materi kebijakan, rencana dan program Provinsi Kalimantan Barat serta isu strategis. Telaah individual sesuai pembagian tugas yang didampingi oleh tenaga ahli KLHS untuk menelaah konsistensi rumusan kebijakan dengan rumusan rencana serta rangkaian program, dan penerapan prinsip-prinsip KLHS ke dalam rumusan kebijakan, rencana dan program tersebut.

Penyelenggaran KLHS ini diupayakan memenuhi protokol KLHS yang umum, mencakup:

(3) (4)

(5) (6)

fungsi dan kewenangan dalam pengelolaan semua aktivitas yang terdapat dalam wilayah DAS Kapuas. Ketentuan pada pasal 18 ayat (1) Undang-Undang No. 1.5. (11) Seminar Akhir KLHS. sejak pelaksanaan pembinaan teknis (Bintek) Tim KLHS Provinsi Kalimantan Barat telah diupayakan melakukan “stakeholders mapping”. Untuk memenuhi kebutuhan itu. pengawas hingga sebagai pihak yang mendapatkan dampak baik positif maupun negatif dari penerapan KLHS. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.5. . Pendekatan identifikasi Pemangku Lintas Kegiatan 1. Bentuk keterlibatan pemangku kepentingan tersebut berbeda-beda untuk setiap implementasi KLHS mulai dari sebagai sumber data. Adapun langkah-langkah stakeholders analisis adalah dengan melakukan FGD sejak Bintek KLHS dan Workshop 1 KLHS DAS Kapuas Provinsi Kalimantan Barat. Berkat adanya pelingkupan ini pokok bahasan dokumen KLHS akan lebih difokuskan pada isu-isu atau konsekuensi lingkungan dimaksud. sebagai prasyarat untuk melakukan kontrol atau pengawasan terhadap imlementasi hasil-hasil KLHS. Kekeliruan dalam melingkup akan menyebabkan pelaksanaan KLHS menjadi tidak fokus. untuk menjelaskan kepada stakeholders non pemerintah tentang hasil KLHS dan tindaklanjutnya. 1.2.3. untuk selanjutnya diidentifikasi KRP yang relevan dengan pengelolaan DAS Kapuas. Stakeholder mapping dilakukan pada semua institusi yang terlibat dalam pengelolaan DAS Kapuas baik pemerintah maupun non pemerintah.1. Pelingkupan merupakan proses yang sistematis dan terbuka untuk mengidentifikasi isu-isu penting atau konsekuensi lingkungan hidup yang akan timbul di DAS Kapuas berkenaan dengan aktivitas yang telah ada di dalam wilayah DAS Kapuas.5.(7) (8) (9) Diskusi Tim KLHS untuk membahas hasil kerja individual. Diskusi Terbatas (FGD) Tim KLHS dengan ahli (expert) untuk membahas hasil telaah/ analisis dan mitigasi dampak negatif.5. nara sumber. Tahapan ini sangat penting karena di tahap itulah dasar pemikiran dan lingkup kajian KLHS akan ditentukan. Rekomendasi implikasi kebijakan yang dihasilkan berikutnya juga menjadi tidak tepat. untuk memastikan pengintegrasian hasil KLHS ke dalam dokumen perencanaan pembangunan wilayah. Juga sebagai pihak yang berhak mendapatkan informasi mengenai rencana atau kebijakan maupun hasil implementasi KLHS. sebagai media pembahasan hasil-hasil telaah dengan wakil stakeholders (10) Pertemuan dengan Pimpinan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat untuk menjelaskan proses dan hasil KLHS sebagai bahan pengambilan keputusan (making decision). Keterkaitan antara hak berpartisipasi dan hak mendapatkan informasi tentang kebijakan ini sudah sejalan dengan ketentuan yang diatur di dalam UU No. Pendekatan partisipatif dimaksudkan disini adalah suatu proses yang melibatkan pemangku kepentingan termasuk masyarakat dalam proses pengambilan keputusan baik melalui dialog. salah sasaran. 32 tahun 2009 menegaskan bahwa pelaksanaan KLHS menggunakan pendekatan partisipatif. Metode Pelingkupan dan Pemusatan Isu Strategis. Pelingkupan merupakan tahapan sangat penting setelah penapisan dalam proses penyusunan KLHS DAS Kapuas. maupun konsultasi publik. Indikator dan kriteria untuk identifikasi stakeholder adalah analisis peran. Rangkaian Workshop non pemerintah. Metodologi Opsi Muatan KLHS DAS Kapuas Untuk memenuhi pasal 16 Undang-Undang nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan hidup. maka KLHS DAS Kapuas antara lain akan memuat: (1) (2) (3) Perkiraan mengenai dampak pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya alam terhadap lingkungan hidup dan risiko lingkungan. pelaksana. 1. Kinerja layanan jasa ekosistem DAS Kapuas dan Tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi masyarakat sekitar muara sungai Kapuas terhadap perubahan iklim. diskusi. Prakiraan dan evaluasi dampak lingkungan yang dilakukannya menjadi kurang relevan dan kurang bermakna.

Alat bantu yang digunakan untuk melakukan proses pelingkupan isu-isu strategis KLHS DAS Kapuas Kalimantan Barat adalah menggunakan kombinasi matriks dengan bagan alir (analisis sebab akibat). RTRW Provinsi Kalimantan Barat dan RPJPD/ RPJMD Provinsi Kalimantan Barat.5. (b) prinsip keseimbangan pemanfaatan dengan perlindungan dan (c) prinsip keadilan. Metode Analisis Implikasi Kebijakan dan Rencana Pembangunan Metode analisis implikasi/ pengaruh kebijakan dilakukan dengan metode “analisis isi (conten analysys) tentang Provinsi Kalimantan Barat dan DAS Kapuas di dalam dokumen-dokumen RTRW Nasional dan RPJP Nasional. dilakukan juga penelaahan prinsip-prinsip pengarusutamaan lingkungan hidup di dalam rumusan kebijakan. Dalam konteks KLHS DAS Kapuas. Matrik digunakan untuk menunjukkan interaksi antara aktivitas dalam DAS Kapuas dengan komponen lingkungan hidup di lokasi kegiatan yang terkena dampak. Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah dan Dinas Perhubungan. Dinas Pertanian Perkebunan. Selain itu. metode pelingkupan yang senantiasa digunakan adalah penyelenggaraan diskusi grup terfokus (focus grouop discussions). 1. Hal itu digambarkan sebagai berikut: . Metode Pengumpulan Data Instansional Langkah selanjutnya setelah proses pelingkupan isu-isu strategis KLHS DAS Kapuas Kalimantan Barat selesai dilakukan adalah melakukan pengumpulan data instansional.5.4. penerima dampak serta deskripsi damak. data-data yang diperlukan untuk analisis.5. 1. Matrik dikembangkan dari informasi yang diperoleh dari tahap mengenal rona lngkungan hidup dan mengenal aktivitas kegiatan dalam DAS Kapuas. Urutan ini akan menjadi bermanfaat pada saat mengidentifikasi KRP sektor dan sub sektor mana saja yang perlu mendapatkan perhatian dalam telaahan KLHS. Informasi pelengkap yang dapat ditambahkan pada daftar (tabel) isu-isu strategis adalah: waktu terjadinya dampak. Selain itu ditelaah juga dokumendokumen rencana sector. Isu-isu strategis yang telah diidentifikasi ditampilkan dalam bentuk daftar atau tabel minimal dengan informasi tentang sumber dampak. Pengumpulan data ini dilakukan oleh tim KLHS DAS Kapuas melalui koodinasi dengan para pihak (dinas/instansi pemerintah dan non pemerintah) dengan cara mendatangi langsung para pihak atau melalui browsing internet. Rancangan Peraturan Presiden tentang RTR Pulau Kalimantan. Metode analisis isi dapat mengungkapkan konsistensi keterkaitan antar rumusan kebijakan baik vertikal maupun horizontal. Identifikasi interaksi tersebut diikuti dengan penyusunan bagan alir yang menunjukkan urutan kejadian dampak (analisis sebab akibat). workshop atau lokakarya yang pesertanya terdiri dari berbagai kalangan pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota serta tokoh-tokoh yang terkait atau berkepentingan dengan DAS Kapuas dan KRP yang akan ditelaah. terutama Renstra Dinas di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Dinas Pekerjaan Umum. sumber data. yakni Dinas Kehutanan.Untuk mencapai maksud tersebut pelingkupan dilakukan melalui berbagai metode. yakni : (a) prinsip keterkaitan.

Dinas Pertanian. Hasil identifikasi dampak dari rencana pembangunan jalan paralel perbatasan tersebut.KLHS harus diarahkan agar dapat dihasilkan KRP yang bercorak : Hasil-hasil telaah rumusan kebijakan digunakan untuk menganalisis konsistensi kebijakan dengan rencana. Dari deskripsi kegiatan akan teridentifikasi sejumlah dampak lingkungan yang akan terjadi (positip dan negatif) baik terhadap aspek lingkungan. Dalam konteks rencana tata ruang (dalam hal ini revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat. yaitu dengan menginventarisasi terlebih dahulu deskripsi kegiatan yang akan dilakukan dalam pembangunan jalan paralel. kelembagaan dan hukum. ekonomi. Metode Analisis Implikasi Program Pembangunan Bersamaan dengan pelaksanaan KLHS DAS Kapuas. akan dianalisis langkah-langkah adapatasi dan atau mitigasi yang harus tertuang dalam KRP yang relevan guna mengeliminasi. . Dinas Kesehatan. 2010). dibedakan materi: (a) materi rencana struktur ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat dan (b) materi rencana pola pemanfaatan ruang/ peruntukan ruang. 1. juga dilakukan kajian terhadap implikasi gagasan pembangunan jalan paralel perbatasan Kalimantan Barat dan Serawak Malaysia. Dinas Perkebunan. Dinas ESDM.5. Dimas Kehutanan.6. Analisis implikasi program pembangunan jalan paralel perbatasan dilakukan melalui metode dan pendekatan AMDAL. Dapat dijelaskan bahwa materi rencana pola pemanfaatan ruang diparalelkankan dengan telaahan peta lampiran Keputusan Menteri Kehutanan nomor 259 tahun 2000 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Barat. Telaahan pengelolaan DAS Kapuas juga dikaitkan dengan beberapa dokumen KRP penting lainnya seperti RPJM provinsi dan RPJM Kabupaten/Kota yang berada dalam wilayah DAS Kapuas serta Renstra Dinas terkait seperti Dinas PU. sosial.

190. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikuT. Adapun kabupaten yang ada di dalam kawasan ini adalah : Kabupaten Pontianak (4 Kecamatan). Landak (10 kecamatan). Perbatasan darat dengan negara Malaysia ini telah dihubungkan dengan jalan darat melalui Pontianak – Entikong – Kuching. daerah inii iklim tropis dengan suhu udara dan kelembaban yang tinggi. Luas wilayah das Kapuas 10. Bengkayang (6 Kecamatan). Kapuas Hulu (23 Kecamatan).BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH KAJIAN 1. Letak Geografis Wilayah DAS Kapuas terletak 109o 2’ 49” BT dan 114o 12’ 10” BT dan antara 1o 20” 24” LS dan 1o 36’ 36” LU. Ketapang (4 Kecamatan). sepanjang sekitar 400 km dengan daya tempuh sekitar tujuh jam perjalanan.1. Secara khusus Wilayah DAS Kapuas mempunyai perbatasan langsung dengan negara Malaysia Timur yaitu Negara Bagian Serawak.1. Melawi (7 Kecamatan). Sintang (14 Kecatan). Gambar 2.000 ha. Berdasarkan letak geografis yang spesifik. Sanggau (15 Kecamatan). Sekadau (7 Kecamatan). Kayong utara (3 Kecamatan) dan Kota Pontianak (6 Kecamatan). Peta sebaran Kabupaten yang masuk dalam wilayah kajian . Kubu Raya (9 Kecamatan).

947.59 0. Tabel 2.49 150.2.35 . Kecamatan dan Kabupaten yang Masuk dalam Wilayah Kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Sanggau Pontianak Melawi Kabupaten Kecamatan Menukung Ella Hilir Sayan Belimbing Sokan Tanah Pinoh Nanga Pinoh Toho Siantan Sungai Kunyit Segedong Bonti Luas (Ha) 142.Gambar 2.62 109.38 190.89 113.423.305.776.582.218.76 1.38 79. Peta sebaran kecamatan dan Kabupaten dalam wilayah kajian Untuk wilayah administrasi kecamatan yang tercakup dalam wilayah kajian dapat dilihat seperti pada tabel beikut ini.72 154.231. 1.406.58781 11.1 149.324.347.77 25.961.

25 194.2779.535.47 451.583.29 146.01 120.56 7.100.22 71.86 90.3 105.0921.612.75 143.1827.0882.23 137.099.568.358.82 18.587959 18.56 112.42 1.5 40.667.953.61 84.14 221.No 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 Kabupaten Balai Meliau Kecamatan Luas (Ha) 35.28 60.251.882.964.791.212.3 258.561.84 5.170.488.9 54.443.37 39.866.879.68 74.557.29 75.334.35 105.82 81.84 16.469.26 166.562.66 116.2 67.12 55.66 7.023.38 52.75 Sekayam Kembayan Mukok Toba Beduai Jangkang Parindu Noyan Tayan Hulu Sanggau Kapuas Tayan Hilir Entikong Sekadau Sekadau Hulu Belitang Nanga Taman Nanga Mahap Belitang Hulu Swekadau Hilir Belitang Hilir Sintang Kelam Permai Ambalau Ketungau Tengah Binjai Hulu Kayan Hilir Sungai Tebelian Sintang Serawai Ketungau Hilir Sintang Sepauk Kayan Hulu Dedai Tempunak Ketungau Hulu Bengkayang Suti Semarang Capkala Siding Teriak .448.988.333.826.5181.87 63.05 177.24 43.533.376.766.75 0.4 618.

49 2.19 76.386.081.365.073.81 74.065.616.841.778.27 103554.45 Kapuas Hulu Badau Mandai Embau Semitau Hulu Gurung Kedamin Batang Lupar Boyan Tanjung Seberuang Putussibau Puring Kencana Selimbau Bunut Hilir Kalis Silat Hulu Embaloh Hilir Empanang Mentebah Silat Hilir Batu Datu Suhaid Bunut Hulu Embalo Hulu Kayong Utara Seponti Simpang Hilir Teluk Batang Ketapang Simpang Dua Simpang Hulu Sungai Laur Kota Pontianak Pontianak Timur Pontianak Barat Pontianak Selatan Pontianak Utara Kubu Raya Terentang Kubu Kuala Mandor A Kuala Mandor B .25 28.19 46.872 73.804.83 1.83 215.009.567.47 350.491.128.14 4.89 16.4540.215.810.62 159.47 37.498.56 82.36 54.132.06 36.71 1.16 25.821.84 32747.17923 204.215.63 89.64 367.037.135.545.55 150.44 39.452.430.2200.465.255.21 78.769.39 100.25 54.5 646.No 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 6 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 Kabupaten Kecamatan Sanggau Ledo Seluas Luas (Ha) 2.114.44 3.38 51.57 232.69 15012.175.6 130265.53 3.152.24 187.67 4.1 103.720.

WP Pesisir. Gunung yang paling tinggi adalah Gunung Baturaya di Kecamatan Serawai.281. Kabupaten Melawi. yakni Kabupaten Sanggau. WP Tengah terdiri dari 3 (tiga) kabupaten. Sebaran Kelas Lereng Di DAS Kapuas No 1 2 3 4 <2 % 2–8 % 8-15 % 15-25% Kelas Lereng Luas (Ha) 1. Kabupaten Sambas.91 41349. mengikuti ketentuan dalam RPJPD Provinsi.33 . Kelerengan merupakan bagian dari persoalan topografi yang ada di DAS Kapuas.03 32249. sedangkan tertinggi kedua adalah Gunung Batusambung (Kecamatan Ambalau) dengan ketinggian mencapai 1.01 70828.62 6095. Topografi Topografi wilayah DAS Kapuas terdiri dari dataran rendah (datar). Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas. Gunung Lawit yang berlokasi di Kabupaten Kapuas Hulu. Kabupaten Kayong Utara. Kabupaten Kubu Raya. WP Antar Provinsi meliputi Kabupaten Sintang. Kota Pontianak dan Kota Singkawang.65 192130.06 10.356.770 meter.767 meter.1 150797. WP Antar Provinsi. bergelombang. Kabupaten Sekadau. Kabupaten Sintang.12 81516. dan Kabupaten Ketapang.229. Untuk WP Antar Negara mencukup 5 (lima) kabupaten yang meliputi Kabupaten Kapuas Hulu. yaitu Kabupaten Pontianak.456.074. 1.29 55728. Kabupaten Sanggau.2.28 37188.91 248019. berbukit-bukit. berdasarkan kelas lereng yang ada dapat dirinci sebagai berikut : Tabel 2.94 68096. Kabupaten Bengkayang.903. dan Kabupaten Landak.687.2.40 1. Kabupaten Kapuas Hulu. dan bergunung. Kabupaten Sintang yang mempunyai ketinggian 2.9 Landak Menjalin Sebangki Meranti Pahauman Karangan Ngabang Air Deras Mandor Darit Kuala Behe Wilayah DAS Kapuas merupakan bagian dari wilayah administrasi Kalimantan Barat yang dalam konsep pembangunannya. dan WP Antar Negara. Kecamatan Embaloh Hulu menempati tertinggi ketiga karena mempunyai tinggi 1.45 67165. Kabupaten Ketapang.No 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 Kabupaten Kecamatan Sei Ambawang Batu Ampar Sei Kakap Sei Raya Teluk Pakedai Luas (Ha) 105482. Dengan demikian wilayah pengembangannya dibagi kedalam 4 (empat) Wilayah Pengembangan (WP) yang meliputi WP Tengah.69 2.278 meter dari permukaan laut .05 132673. WP Pesisir terdiri dari 3 (tiga) kabupaten.74 5388.

373.3.326.344.07 2.68 Visualisasi dari sebaran kelas lereng yang ada di dalam kawasan DAS Kapuas dapat dilihat seperti gambar 2.5 6 7 25-40% 40-60% >60% 389.19 1.393.3. Peta Sebaran Kelas Lereng di Wilayah Kajian .475. Gambar 2.

Tanah dan sistim lahan Tanah yang ada di wilayah kajian kan sangat dipengaruhi oleh keadaan batuan. dan jenis batuan ini juga berpengaruh pada pembentukan tanah yang ada di sekitar wilayah kajian. . pada kawasan ini ternyata juga ditemukan tanah gambut yang sebarannya cukup luas dan lebih banyak berada pada wilayah pesisir (Kabupaten Kubu raya). Batuan yang ada sekitar Wilayah DAS Kapuas 1. untuk ini macam tanah yang terbentuk di wilayah kajian ini dapat diliht pada tabel berikut ini.1.4.4. Geologi Data sebaran batuan di Wilayah DAS Kapuas menurut peta geologi Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar 2. Untuk jelasnya visualisi sebaran jenis tanah ini dapat di lihat seperti pada gambar berikut ini.4. Gambar 2. Berdasarkan data pada tabel di atas maka pada wilayah kajian ditemukan 15 macam tanah yang luasnya cukup bervariasi. lereng dan faktor pembentuk tanah lainnya. Berdasarkan peta tersebut di wilayah kajian terddapat tidak kurang dari 72 jenis batuan.3.

.47 1.483.14 338.042.830.93 1.3 Sebaran Jenis tanah di wilayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Tanah Acrisol Oksik Alluvial Gleik Alluvial Humik Feralsol Humik Nitosol Planosol Podsolik Humik Arenosol Aleik Feralsol Oksik Feralsol Regosol Gleysol Distrik Gleysol Distrik Kambisol Distrik Organosol Distrik Podsolik Gleik Luas (Ha) 4.60 20.11 161.947.133.80 23. pada kawasan ini ternyata juga ditemukan tanah gambut yang sebarannya cukup luas dan lebih banyak berada pada wilayah pesisir (Kabupaten Kubu raya).19 55.88 29.486. Untuk jelasnya visualisi sebaran jenis tanah ini dapat di lihat seperti pada gambar berikut ini.396.457.437.44 461.464.018.680.48 6.Tabel 2.07 815.75 279.099.613.63 43.208.753.878.481.61 260.99 Berdasarkan data pada tabel di atas maka pada wilayah kajian ditemukan 15 macam tanah yang luasnya cukup bervariasi.

lereng. Dengan diketahuinya sistim lahan di kawasan ini maka akan lebih mudah untuk melihat kesesuaian pembangunan di berbagai sektor. Selain itu sisitim lahan akan dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kawasan kubah gambut yang dalam hal ini sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan disuatu kawasan.Gambar 2. mulai dari sektor perkebunan.5 Sebaran Jenis Tanah di sekitar DAS kapuas Selanjutnya kondisi geomorfologis wilayah DAS Kapuas dapat dibagi menjadi unit-unit sistem lahan (land system) yang menggambarkan kesamaan fisiografis. 1987). kehutanan. pertanian. perhubungan dan transmigrasi. pertambangan. Untuk lebih dapat diperolehnya visualisasi dari sebaran sistim lahan di dalam wilayah kajian ini dapat dilihat seperti pada tabel berikut: . tanah dan sifat-sifat fisik lainnya (RePPProT.

63 46402.83 11036.Tabel 2.00 511260.63 1561219.85 93380.4 Sebaran Sistim lahan di Wilayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Nama Sungai Sungai Mimpi Keremui Batu Ajan Barong Tongkok Suhaid Bentili Beriwit Bukit Pandan Gambut Honja Liang Pran Juloh Kahayan Kajapah Klaru Lawanguang Sungai Medang Lohai Maput Mendawai Mentalat Pakalunai Panreh Puting Rangankau Sebangau Sungai Tambera Tandur Telawi Tewai Baru Teweh Tidak ada data Simbol SMI KRU BTA BTK SHD BLI BRW BPD GBT HJA LPN JLH KHY KJP KLR LWW SMD LHI MPT MDW MTL PLN PDH PTG RGK SBG Sungai TBA TDR TWI TWB TWH NODA Luas (Ha) 42427.68 21481.93 402552.44 7138.07 7198.93 6781.51 .57 16368.85 1891775.42 431623.93 7817.96 60060.03 775496.75 29242.02 41531.62 208233.25 499852.39 54910.66 366.86 13044.27 1342157.61 2049480.21 111810.18 952683.809.90 843342.78 911189.21 32846.36 627763.97 231613.

c. maka wilayah ini termasuk dalam tipe iklim A (0. Bulan basah dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan . Klasifikasi Iklim menurut Schmit & Ferguson Menurut klasifikasi Schmit & Ferguson (1952). b. al. namun demikian kawasan ini berpotensi membentuk kawasan gambut terutama pada kawasan sistim lahan gambut dan mendawai.5. lawanguwang dan teweh mendominasi kawasan ini.000 < Q < 0. sedangkan bulan kering dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan kurang dari 60 mm. Klasifikasi Iklim menurut Oldeman (1980) Menurut kriteria Oldeman et.099) yaitu tipe iklim sangat basah. berdasarkan klasifikasi tersebut.6. Gambar 2. kreteria bulan basah dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan lebih besar dari 100 mm. Untuk lebih jelasnya visualisasi dari sebaran sistim lahan di wilayah kajian dapat dilihat pada gambar berikut. dengan nilai perbandingan bulan kering dan bulan basah Q (0.0408). Klasifikasi Iklim menurut Koppen Menurut Koppen (1900). suhu udara. Kawasan DAS Kapuas yang berada di daerah khatulistiwa memiliki tipe iklim tropis yang sangat khas dan dapat digambarkan sebagai berikut: a. Iklim Komponen-komponen iklim yang penting meliputi curah hujan. radiasi lamanya penyinaran udara serta penguapan (evaporation dan transpiration). yang ditandai dengan bulan terkering > 60 mm serta tetap basah pada semua musim. Klasifikasi ini berlandaskan pada bulan basah dan bulan kering. Melalui perbandingan bulan basah dan bulan kering (Q). bukit pandan. Peta sistim lahan di wilayah kajian 1. Berdasarkan klasifikasi ini wilayah DAS Kapuas termasuk pada zone iklim hujan tropis (Af).Berdasarkan data pada tabel di atas sistim lahan honja. kelembaban relatif udara. (1980) wilayah ini beriklim basah. vegetasi yang hidup secara alami dapat menggambarkan pula iklim tempat vegetasi itu tumbuh yang erat sekali hubungannya antara suhu dan kandungan uap air tersebut.

. Gambar 2.5°C dan kelembaban nisbi rata-rata per bulan berkisar antara 79-90%. sedangkan penyinaran matahari ratarata per bulan berkisar antara 55-86%.lebih besar dari 200 mm. sedangkan rata-rata minimum terjadi pada bulan Agustus yaitu 22. Sebaran daerah iklim menurut Oldeman dapat dilihat pada peta berikut: Gambaran iklim yang dilihat dari sebaran curah hujan untuk wilayah studi ini dapat dilihat pada gambar berikut. pada setiap bulannya bervariasi antara 10-15 knot/jam dengan arah angin ke arah barat pada bulan Februari – Juli dan ke arah Tenggara pada bulan Juli -Desember. Sebaran Curah Hujan Wilayah Kajian Berdasarkan gambar sebaran curah hujan tersebut maka. suhu rata-rata maksimum tercatat pada bulan Mei sebesar 33. kondisi curah hujan dalam satu tahun cenderung lebih rendah kearah barat atau wilayah pantai dibanding kewilayah timur atau wilayah hulu dari wilayah kajian. Kecepatan angin di wilayah ini di dekati dari beberapa stasiun.7. sedangkan bulan kering dimaksudkan sebagai bulan dengan curah hujan bulanan kurang dari 100 mm. Data suhu udara.5.4°C. Selanjutnya faktor iklim lainnya adalah suhu. curah hujan dan angin dapat dilihat pada tabel 2.

3 23.9 22.4 32.9 32.0 13.0 309.0 20.9 23.7 276.5 321.3 23.1 247.7 199.4 23.Tabel 2.7 225.0 13.0 31.136.7 21.2 31.3 20.4 HH (hr) 18.5 22.4 261.7 3.6 23.3 23.1 32.3 176.4 322.9 23.8 337.1 20.052.1 Mak 31.8 20.6 15.0 203.1 192.4 33.7 33.3 16.2 254.9 229.3 32.2 214.4 HH (hr) 22.4 322.7 15.9 11.8 13.6 18.6 33.5 17.2 205 17.3 12.8 Arah N W W W W S W S E S S E Kelembaba n Nisbi (%) 88 85 86 87 85 82 87 79 86 86 90 90 Penyinaran Matahari (%) 55 66 57 63 73 86 54 89 55 63 60 56 1 Januari 2 Februari 3 Maret 4 April 5 Mei 6 Juni 7 Juli 8 Agustus 9 September 10 Oktober 11 Nopember 12 Desember Jumlah Rata-Rata .1 23.7 Curah Hujan di Kalimantan Barat No Bulan Bandar Udara Supadio CH (mm) 367.1 19.6 313.8 149.8 32.1 Stasiun Siantan CH (cm) 309.5 15.6 Tabel 2.4 273.2 21.6 32.2 15.2 331.2 258.0 17.0 22.9 159.4 220.5 Data Suhu dan Kelembaban Nisbi di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Suhu Udara (oC) Min 23.8 23.9 243.6 Arah dan Kecepatan Angin di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Kecepatan dan Arah Angin Knot/Jam 15 12 12 15 15 12 12 10 15 12 15 12 Tabel 2.1 23.1 22.8 202.6 3.

15 300.227. Kalbar terbagi menjadi 27 SWP DAS 2.6. tipe penutupan lahan.95 100.992. serta Peta Sungai skala 1: 250.15 52.668.185. sumber air bersih.77 788.03 84. Pola Pengaliran Sungai Sungai merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi Wilayah DAS Kapuas karena merupakan sumber penghidupan bagi masyarakat terutama untuk sarana transportasi.608.64 10.8.268. Pembagian wilayah DAS menggunakan data SRTM (Shuttle Radar Topographic Mission) resolusi 90 meter sebagai data topografi.56 37. ukuran dari Sub DAS serta aktivitas manusia.184.000 sebagai acuan pemberian nama DAS Untuk jelasnya pembagian wilayah DAS di Kalimantan Barat dapat dilihat pada table berikut : Tabel 2.22 282. Mengingat air merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia.143. Mengacu pada definisi DAS sesuai UU no. Wilayah DAS di Prop. Dari pengamatan debit sesaat sungai utama di Kalimantan Barat menunjukkan tingkat laju kecepatan aliran yang cukup bervariasi sesuai dengan kondisi DAS atau Sub DAS.762.82 54.922. .284.409.20 88. kebutuhan pertanian dan terutama untuk konsumsi bagi keperluan rumah tangga dan kebutuhan lainnya.1.187.112.81 33.678.83 20.80 64. Sebaran DAS di Kalimantan Barat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Kelas Lereng Air Hitam Kecil Kapuas Sambas Simbar Air Hitam Besar Begunjai Duri Kendawangan Kuala Melinsun Mempawah Paloh Pawan Pesaguan Pulau Maya Raya Satong Sebangkau Selakau Siduk Simpang Tengar Tolak Pangkalan Dua Peniti Purun Besar Pulau-pulau Total Luas Luas (ha) 84. sumber irigasi pertanian dan juga tempat pembuangan limbah.7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air maka pembagian wilayah DAS di Prop.543.13 1.34 124.77 40.330.67 7.23 196.210.186.872.51 14.38 14.145.902.000 dan Peta Sungai Skala 1:50.462.31 20.50 207.70 37.383.55 20. kondis topografi. Wilayah DAS dibagi berdasarkan sungai yang mengalir ke laut 3.758.26 11. formasi geologi.931.544.02 166.696. jenis tanah.68 Besarnya debit aliran air yang keluar dari suatu sungai sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim.41 14. maka pengelolaan dan keberadaan hutan pada suatu daerah akan dapat menjamin ketersediaan sumber air baik bagi kebutuhan pemukiman penduduk sekitarnya sebagai konsumsi air minum.267.595. Kalbar adalah sebagai berikut: 1.871.

95 89.69 66.55 88.70 6.92 88.95 608.45 89.31 598.67 617.7.12 67.1.83 93.62 600.91 66.62 598. angka melek huruf.20 5.9.06 7.30 608.39 67.40 88.80 14.60 6.52 609.20 85.03 6.33 66.68 91.17 66.30 68.01 627.86 6.11 Pengeluaran Perkapita (x 1000 Rp) 624. pengeluaran perkapita.02 .40 6.87 90.40 89. Indek Pembangunan Manusia (IPM).08 66. untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut : Tabel 2.02 67.84 67.58 7.30 611.59 RataRata Lama Sekolah (Th) 6.50 9.65 7.41 18.57 64.07 9.32 88.43 602.13 67.21 13.81 66.00 636.90 67. Keadaan Sosial Ekonomi Kegiatan sosial dan ekonomi di sekitar DAS Kapuas dapat dilihat dari berbagai indikator diantaranya angka harapan hidup.18 Pendu duk Miskin Kabupaten /Kota IPM Kalbar Bengkayang Landak Pontianak Sanggau Ketapang Sintang Kapuas Hulu Sekadau Melawi Kayong Utara Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang 11.22 6.86 Angka Melek Huruf (%) 89.62 7.98 67.27 67.89 68.91 64.31 72. penduduk miskin. Kondisi sosial ekonomi Kabupaten yang berada di sekitar DAS Kapuas Angka Harap an Hidup (Th) 66.41 66.44 7.74 599.26 68.63 65.76 7.74 67.21 617.16 9.25 15.66 14.48 6.99 67.03 6.86 66.61 11.14 92.10 6.17 66.98 92.44 69.

976 168. Penyebaran jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Barat tahun 2008 disajikan dalam Tabel 2. Pertumbuhan ekonomi kabupaten/Kota 1.198 493.Gambar 2.549 521.69 %.249.117 jiwa.058 4. Penyebaran Jumlah Penduduk Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten/Kota Bengkayang Kapuas Hulu Kayong Utara Ketapang Kota Pontianak Singkawang Kubu Raya Landak Melawi Pontianak Sambas Sanggau Sekadau Sintang Jumlah Total Jumlah Penduduk (jiwa) 205.804 91.675 218.168 408.569 175.249.483 491.077 388.46 % dan pada kurun waktu 2007-2008 menjadi 1.117 .10.8.10. Kependudukan Jumlah penduduk Kalimantan Barat pada tahun 2008 adalah 4. laju pertumbuhan penduduk Kalimantan Barat pada tahun 2006-2007 adalah 1.309 218.909 178.129 365. Tabel 2.8.213 324.

mitigasi bencana diperoleh gambaran global bahwa untuk kawasan DAS kapuas telah terjadi perubahan baik dilihat dari faktor edapis. atas dasar asas/prinsip keterkaitan.struktur ruang Instandi penyedia data -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Kehutanan -PU Metode yang digunakan -Partisipatif -Overlay -Desk study . profil Provinsi Kalimantan Barat. Sasaran Penyelenggaraan Sesuai dengan konsep dasar dan tujuan pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis maka perlu dirumuskan sasaran penyelenggaraan KLHS terhadap pengelolaan DAS Kapuas di Kalimantan Barat. fisik. Isu Kebijakan Pembangunan Berkelanjutan dan lingkungan Hidup (3) 3. histori .1.Skoring Revisi RTRWK .1. klimatis sosial maupun budaya hal ini sejalan dengan isue global berupa peningkatan suhu bumi dan perubahan iklim yang terjadi hampir diseluruh belahan dunia. rencana ataupun program (KRP) yang sejalan dengan Revisi RTRWP Kalimantan Barat terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan fungsi-fungsi lingkungan hidup.Peta kawasan hu tan Dan Perairan kalbar . tidak terkecuali di Kalimantan Barat. Rencana dan Program Pembangunan Berkelanjutan yang Strategis Terkait Dengan Pengelolaan DAS Kapuas No 1 Isu-Isu strategis KRP 1.2. Kerangka fikir KLHS. tidak hanya terjadi degradasi lahan tetapi ancaman berupa penurunan daya dukung lingkungan akan tetap menjadi utama pada saat penutupan lahan terdegradasi.Perubahan Fung si Kawasan . Kawasan hutan akan banyak yang terdegradasi dengan adanya rencana perubahan fungsi maupun peruntukan. asas keseimbangan dan asas keadilan. Revisi RTRWP : -Revisi Pola ruang -Revisi struktur ruang Data Yang Diperlukan -Revisi pola dan struktur ruang -Jenis tanah -Curah Hujan -Kelerengan .Peta DAS . Pada takaran wilayah DAS Kapuas dari hasil workshop diperoleh beberapa masukan yang terkait dengan isue kebijakan pembangunan dan lingkungan hisup seperti berikut ini. sosial. Berdasarkan telaahan tentang sasaran pelaksanaan KLHS. Telaahan RTRWP dan revisi RTRWP Provinsi Kalimantan Barat. Tabel 3. Isu-Isu Kebijakan. Telaahan yuridis. yakni: (1) (2) Diperolehnya pemahaman tentang dampak besar dan penting serta kebijakan yang strategis yang ada dalam pengelolaan wilayah DAS kapuas terhadap lingkungan hidup Tersusunnya hasil prakiraan dan evaluasi pengaruh rumusan kebijakan. Terintegrasinya tujuan pembangunan berkelanjutan ke dalam KRP dan revisi RTRWP Kalimantan Barat. Kondisi ini semua terkait dengan aktivitas dan kebijakan pembangunan yang menimbulkan resiko lingkungan hidup.BAB III PELINGKUPAN DAN PEMUSATAN ISU STRATEGIS 3.Perubahan Perun tukan kawasan .

ilok.Pembangunan Perke bunan : -Perijinan -Aktivitas lapangan.Pengendalian 3. IUP Perke bunan (sawit . kecamatan dan desa . ilok. ilok. IUP -Peta sebaran ilok. kecamatan dan desa .Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor.Pembangunan kota /Pemukimen di seki tar DAS Kapuas Data Yang Diperlukan -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan.Pembangunan Pertambangan : -Perijinan -Aktivitas lapangan. HGU. IUP Perke -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip . HGU.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. HGU.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. . HGU.Pengendalian 4.Koordinasi antar Ka bupaten -Koordinasi antar sek tor. IUP Perke bunan (sawit . HGU.Pembangunan Perhu bungan -Perijinan -Aktivitas lapangan. HGU. kecamatan dan desa . Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. HGU. IUP -Peta sebaran ilok. HGU. IUP -Peta sebaran ilok. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemukiman -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan.Pengendalian 6. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man Instandi penyedia data -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Prtambangan -Kehutanan Metode yang digunakan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 3 -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Prtambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 4 -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip -Bappeda -BPN -BLHD -Perkebunan -Perhubungan -Pertambangan -Kehutanan -Partisipatif -Overlay -Desk study -Komparatip 6 -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan.Pembangunan Perta nian dan transmigrasi -Perijinan -Aktivitas lapangan.Pengendalian 5. IUP Perke bunan (sawit . ilok.No 2 Isu-Isu strategis KRP 2. . Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemukiman -Peta Kawasan hu tan dan Perairan kalbar -Ijin Perkebunan. IUP -Peta sebaran ilok. IUP -Peta sebaran ilok. HGU. ilok. . HGU. IUP Perke bunan (sawit . . kecamatan dan desa .

Berdasarkan kondisi Kalimantan Barat saat ini. tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh daerah dan amanat pembangunan yang tercantum dalam RPJP Nasional.4. Bila visi telah terumuskan. Kerangka Pikir Penyusunan KLHS DAS Kapuas Dalam penyusunan KLHS DAS Kapuas. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. Damai dan Bersatu adalah 5. Mewujudkan masyarakat yang Religius. 3. Mewujudkan Supremasi Hukum dan prinsip-prinsip Good Governance 4.No Isu-Isu strategis KRP Data Yang Diperlukan bunan (sawit . Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang daerah. Mewujudkan Pembangunan yang Lebih Merata dan Berkeadilan 3.yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. keranka pikir yang digunakan untuk melakukan kajian-kajian implikasi untuk merumuskan mitigasi dan atau alternatif program pembangunan pada wilayah DAS Kapuas di Provinsi Kalimantan Barat menggunakan kerangka pikir seperti tersaji pada Gambar 3. Berbudaya. Visi dan Misi Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Kalbar Berdasarkan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat. dan Beradab. Mewujudkan masyarakat yang Aman. Mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. Karet dll) -Ijin Pertambangan -Sebaran Pemuki man Instandi penyedia data Metode yang digunakan 3. Mewujudkan masyarakat yang sehat. Mewujudkan perekonomian yang maju 8. Bermoral. berkeadilan. berikut ini. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah tersebut ditempuh melalui 9 (sembilan) misi pembangunan daerah sebagai berikut: 1. Berakhlak Mulia. Mewujudkan infrastruktur yang memadai 6. .1. Mewujudkan Budaya Politik yang Demokratis dan Toleran 2. seperti tertuang dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. cerdas. Beretika.3. Visi pembangunan daerah Kalbar tahun 2008-2028 mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah. produktif dan inovatif 9. maka visi pembangunan daerah Tahun 2008– 2028 adalah: KALIMANTAN BARAT BERSATU DAN MAJU. dan berkeseimbangan 7.

Kerangka Pikir Penyusunan KLHS DAS Kapuas 3. dan Kerangka Waktu KLHS Berdasarkan hasil proses KLHS melalui workshop dan FGD terhadap kebijakan dan dampak yang dapat terjadi di wilayah DAS Kapuas di peroleh isu strategis yang akan dikaji di dalam studi ini adalah: Tabel 3.Gambar 3.1. sehingga megancan lingkungan 2. Banjir dan erosi lingkungan 3. sehingga material terbawa arus dan terakumulasi pada muara-muara sungai yang ada di DAS Kapuas Kkerusakan lingkungan seperti kurangnya konser vasi lahan dan ba nyaknya lahan yg terbuka Di sekitar DAS Kapuas. Isu Strategis. Perubahan Musim tanam .5. Issu-isu Strategis Terkait Dampak pada DAS Kapuas Kelompok Isuisu strategis Lingkungan Isu-isu strategis 1. 2. Pendangkalan Di Sekitar Muara Diskripsi isu Erosi pada lahan dan kawasan sepadan sungai Di DAS Kapuas menim bulkan penggeru san pada lapisan tanah permukaan. Wilayah Kajian. pe nyebab utama me nurunnya daya du kung lingkungan seperti kemampuan menahan run off sehingga menim bulkan debit permukaan yang sangat besar dan tidak ter tampung pada DAS Kerusakan Penutupan lahan memberikan dampak Perubahan iklim global dan mempenga ruhi ketidakpastian musim hujan di wila yah DAS Kapuas. curah hujan yang merupakan factor utama penentu po la tanam dalam sis tim tadah hujan yg dipakai oleh petani di sekitar DAS ka puas menjadi tidak berkepastian.

kondisi ini menimbulkan peningkatan terhadap sedimentasi. UMR dll Adanya keinginan Pemerintah untuk merevisi RTRWP baik pada struktur ruang maupun pola ruang membuka akses bagi seluruh la pisan masyarakat untuk beraktivitas di sekitar DAS Kapuas . arus masuk nilai-nilai baru tersebut menjadi tidak terbendung dan ada yang berimplikasi negatip sehingga menggeser kearifan local yang ada. kondisi inilaj yang kurang menguntungkan terhadap biota ikan di DAS Kapuas Adanya aktivitas perkebunan. Konflik Social Lingkungan budaya dan 9. Degradasi lahan perta nian pangan . Penurunan kualitas air Sungai Kapuas ekonomi 7. dengan adanya sumberdaya alam yang ada dalam bentuk tambang di sekitar DAS Kapuas pembukaan akses akan meningkatkan kegiatan per tambangan (peti) SDA (poin 1) Sungai kapuas merupakan induk dalampola/ sistim sungai di dalam DAS Kapuas. kekeruhan air. pertambangan atau kegiatan rumah tangga. pertambangan di sekitar DAS Kapuas dapat memicu terjadinya konflik social terutama terkait dengan sistim kemitraan. kehutanan. Perubahan alur pelayaran 6. aktivitas ini akan mempengaruhi ketersedian air di kawasan DAS menjadi sangat ektrim. konversi/penggantian lahan masyarakat. dimana pada musim penghujan volume menjadi sangat besar. biologi berbahaya yang ada pada perairan. kegiatan tersebut di dominasi oleh pembukaan lahan oleh illegal logging. pergeseran nilainilai Budaya/Dekandensi moral ekonomi 10. Kegiatan perijinan perkebunan di DAS Kapuas semakin ba nyak dan di dengan orien tasi masyarakat financial yang sangat besar maka cenderungan masyarakat sekitar tambah kearah ada ke untuk lingkungan Sosek budaya dan 5. dengan adanya pembukaan akses ini maka akan terjadi pemasukan nilai-nilai baru di kawasan ini . dikawasan ini berlangsung berbagai aktivitas baik di kawasan hulu DAS Kapuas maupun Hilir. sedangkan pada musim kemarau sangat kecil. Penurunan potensi perikanan tangkap Lingkungan budaya dan 8. perkebunan. bahan beracun dan lain-lain di perairan DAS Kapuas Pembukaan penutupan lahan dan konversi lahan akan berpotensi pada penurunan kualitas biota ikan di daerah DAS Kapuas.Kelompok Isuisu strategis Isu-isu strategis Diskripsi isu ketahanan pangan masyarakat sekitar DAS Kapuas sosek 4. Peningkatan kegiatan Pertambangan tanpa ijin (peti) Adanya keinginan Pemerintah untuk merevisi RTRWP baik pada struktur ruang maupun pola ruang membuka akses bagi seluruh la pisan masyarakat untuk beraktivitas di sekitar DAS Kapuas .

hal ini dapat terjadi pada pemukiman dan lahan usaha masyarakat. Intrusi air asin/laut lingkungan 15. perkebunan. dan ditambah dengan adanya perubahan iklim secara global . terutama terjadi pada saat musim kemarau Pemberian perijinan di kawasan gambut mendorong pembukaan kawasan gambut. Degradasi lahan & kua litas tanah Dengan adanya aktivitas di sekitar das Kapuas seperti pembukaan lahan. Adanya berbagai kebijakan seperti perijinan dan perubahan Pola ruang serta aktivitas masyarakat. pertam bangan perkebunan dan pertanian serta perhubungan. Berkurangnya potensi air tanah lingkungan 13. kehutanan. mengakibatkan peningkatan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan lingkungan 12. Deforestasi/Degrad asi hutan lingkungan 14. pertambangan dan lain-lain mendorong terjadinya deforestasi Adanya issue perubahan iklim dan berkurangnya penutupan lahan mendorong masuknya air laut kewilayah yang lebih jauh di dalam kawasan DAS Kapuas. Belum adanya penetapan dae rah resapan 2. Perubahan penutupan lahan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir ini. Berkurangnya wilayah konser vasi gambut. pertambangan. Penurunan volune dan permukaan tanah /gam but Lingkungan dan kelembagaan 16. dan ini me nyebabkan terjadinya peman patan tanah gambut yang luar biasa sehingga terjadi penurunan ke tinggian permukaan tanah gambut dan volume persatuan luas sehingga akan berpengaruh pada kemampuan smpan air dari tanah gambut terlebih di wilayah kubah gambut Koordinasi yang kurang antar sector menyebabkan seleksi pem berian perijinan untuk berbagai kepentingan menjadi permasala han di lapangan baik secara yuridis maupun fisik /eksisting di lapangan. Kekeringan dan keba karan lahan .Kelompok Isuisu strategis Isu-isu strategis Diskripsi isu mengkonversi lahan pertaniannya kemenajdi lahan perkebunan se hingga memicu terjadinya degradasi lahan pertanian tanaman pangan lingkungan 11. Tumpang tindih peman faatanperuntukan lahan Lingkungan 17. perkebunan kehutanan yang menggunakan bahan-bahan penyebab pence maran tanah seperti pestisida menyebabkan turunnya kualitas tanah dandegradasi hutan Dengan berkurangnya tutpan lahan maka penyerapan air tanah secara vertical menjadi berkuran sehingga potensi air tanah menjadi berku rang. hal ini semakin terjadi perce patan karena 1.

Degradasi lahan pertanian pangan Dinas pertanian 15 tahun Peta 7 lingkungan 11. Degradasi lahan dan kualitas tanah Data sebaran lahan pertanian Dinas pertanian 15 tahun lingkungan 12. pemukiman kalbar Data situs budaya. Lingkup Wilayah kajian dan Waktu Kajian dari Isu Strategis Kelompok Isu-isu strategis Lingkungan Isue-isue strategis 1. Banjir dan erosi 3. Penurunan potensi perikanan tangkap 8. PDAM. Penurunan kualitas air Sungai Kapuas 7. Peningkatan kegiatan Per tambangan tanpa ijin (peti) 5. persepsi masyarakat terhadap nilainilai baru Data lahan perta nian 15 tahun Lingkungan dan budaya 9. ADPEL PTK BPDAS. DAS BP 20 tahun Peta 3 lingkungan Sosek dan budaya ekonomi 15 tahun 20 tahun Peta 4 Peta 5 Data kualitas air dalam lima tahun terakhir Data perikanan tangkap hasil Dinas perikanan kabupaten dan prov BPS 15 tahun Peta 6 Lingkungan dan budaya Data sebaran desa kalbar. Konflik Social Dinas pertam bangan. Pendangka lan Di Sekitar Muara Data Yang diperlukan Data fluktuasi kedalaman muara sungai di das dan Sub das Data peristiwa banjir dan erosi Data kegiatan awal tanam dalam 5 tahun terakhir Data pertambangan dan peti Data pelayaran alur Sumber data BP DAS kapu as. Berkurangnya potensi air tanah Data Penutupan lahan Kehutanan 20 tahun . Perubahan Musim tanam 20 tahun 20 tahun Peta 2 sosek 4. pergeseran nilainilai Budaya/Dekande nsi moral Dinas pariwisata. studi lapang 20 tahun ekonomi 10. 3.Tabel 3. BLHD Dinas pertanian Prakiraan waktu berlangsu ngnya dampak 20 tahun Batas wilayah terkena dampak Peta 1 lingkungan lingkungan 2. Biro ekbang ADPEL Pontianak BLHD. desk studi. Perubahan alur pelaya ran 6.

hotspot.Kelompok Isu-isu strategis lingkungan Isue-isue strategis 13. Kekeringan dan kebakar an lahan Perkebunan . kehutanan. Penurunan volune dan permukaan tanah/gam but Data Yang diperlukan Data kawasan hutan dan penu tupan lahan Data intrusi air laut Data tanah. dan kebakaran hutan/lahan Sumber data Kehutanan Prakiraan waktu berlangsu ngnya dampak 20 tahun Batas wilayah terkena dampak Peta 8 lingkungan lingkungan PDAM BLHD. Intrusi air asin/laut 15. Deforestasi /Degradasi hutan 14. pertambangan . pertambang an. PU BLHD 15 tahun Peta 10 20 tahun Peta 11 . kawasan hutan Data bencana alam kekeringan. pem bukaan lahan gam but untuk kebun dan perijinan perkebun an di lahan gambut Data perijinan perkebunan. 20 tahun 20 tahun Peta 9 Lingkungan dan kelembagaa n Lingkungan 16. Tumpang tindih peman faatanperun tukan lahan 17.

environmental planning. regional planning. menyusun konsep strategi untuk pemecahan masalah. dan istilah lainnya. dan pengawasan Mengoptimalkan partisipasi masyarakat Menjamin tercapainya penggunaan sumberdaya secara berkelanjutan efisien. Perencanaan pembangunan merupakan suatu kegiatan perencanaan yang dilakukan oleh seluruh elemen untuk menganalisis kondisi dan pelaksanaan pembangunan. 26 Tahun 2007). dan fungsi pemerintah pusat maupun daerah Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan. Dalam perkembangannya. sehingga pada akhirnya harapan untuk kesejahteraan masyarakat dapat terwujudkan. social planning. Mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan Menjamin terciptanya integrasi. 25 Tahun 2004) dan perencanaan keruangan (spatial planning) tentang Sistem Penataan Ruang (UU No. ruang. 4. jangka menengah. proses teknokratik dilakukan juga dengan menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga atau satuan kerja yang bertugas dalam hal tersebut.BAB IV TINJAUAN DOKUMEN PERENCANAAN PEMBANGUNAN 1. Perencanaan ditujukan untuk waktu yang akan datang sehingga harus dapat memperkirakan kondisi yang akan terjadi pada masa depan dan harus mampu menelaah situasi yang cukup tepat sebagai indikator utama. Proses perencanaan merupakan kegiatan yang tidak pernah selesai. Analisis data juga berguna untuk mengetahui dan menilai potensi dari masalah yang dihadapi. Hal ini yang mendasari bahwa analisis data dasar dan informasi lainnya penting untuk dilakukan sehingga tujuan perencanaan dapat tercapai.1. melalui urutan pilihan. Aspek partisipatif dilaksanakan dengan melibatkan seluruh stakeholders melalui wahana-wahana yang telah disiapkan seperti halnya Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). dua proses perencanaan utama yang telah dilegalkan melalui payung hukum adalah perencanaan pembangunan (development planning) yang telah diformulasikan dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UU No. Selain dihadapkan pada hal-hal yang harus diramalkan. efektif. waktu. sinkronisasi. merumuskan tujuan dan kebijakan pembangunan. dan dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Dari sisi jenjang pemerintahan proses perencanaan ini dikenal sebagai proses top-down dan bottom-up yang dilakukan secara seimbang. Pengantar Perencanaan adalah suatu proses yang berkesinambungan dan berkelanjutan mulai dari tahap pengumpulan data. Undang–undang tersebut menyebutkan bahwa SPPN ditujukan untuk: 1. baik antar daerah. Selain dilaksanakan secara politik. kegiatan perencanaan banyak digunakan diberbagai bidang yang ditandai dengan munculnya berbagai istilah dari sektor-sektor yang melakukan perencanaan seperti: economic planning. 2. dapat dicontohkan dari penjabaran visi dan misi dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) atau RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah). pelaksanaan. 3. city planning. 5. yang menyebutkan bahwa SPPN adalah kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana–rencana pembangunan dalam jangka panjang. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). Perencanaan pembangunan diatur dalam UU No. perencanaan juga dihadapkan pada pemilihan tindakan yang diperhitungkan mempunyai hasil yang optimal. dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat ditingkat pusat dan daerah. Dalam konteks Indonesia. penganggaran. berkeadilan. . 25 Tahun 2004 menyatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. dan Proses perencanaan dilakukan melalui pendekatan politik terkait dalam pemilihan presiden atau kepala daerah yang dikenal dengan rencana pembangunan hasil proses politik. karena selalu memerlukan peninjauan ulang atau pengkajian guna memberikan umpan balik dalam proses evaluasi Dalam undang-undang yang mengatur tentang perencanaan pembangunan nasional yaitu UU No. dan sinergi. dan melaksanakannya dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki. penyusunan rencana. hingga tahap evaluasi dan monitoring.

kebijakan. budaya dan politik yang terjadi di masyarakat. RPJM nasional memuat strategi pembangunan nasional. Visi kemudian perlu dinyatakan secara tegas ke dalam misi. Rencana pembangunan tahunan disebut sebagai Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Oleh karena itu. kawasan. dan pengaturan yang diperlukan. fasilitas. dan Rencana Pembangunan Tahunan. dan program kepala daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP daerah dan memperhatikan RPJM nasional. lembaga-lembaga tinggi negara. Visi merupakan penjabaran citacita kita berbangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. tenaga kerja. kebijakan. misi. Oleh karenanya. misi. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. memuat arah kebijakan keruangan daerah. dan pendanaannya. program kementerian/lembaga dan lintas kementerian/lembaga. . misi. prioritas pembangunan daerah. strategi. ekonomi. perencanaan pembangunan harus dimulai dengan data dan informasi tentang realitas sosial. pulau. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM daerah dan mengacu pada RKP. RPJM daerah merupakan penjabaran dari visi. memuat rancangan kerangka ekonomi daerah. RPJP terdiri dari rencana pembangunan jangka panjang di tingkat nasional dan di tingkat daerah. secara sektoral terdapat pula Rencana Strategis (RenStra) di masing-masing kementerian/departemen serta SOPD di daerah yang merupakan gambaran RPJM berdasarkan sektor atau bidang pembangunan yang ditangani. pemerintah. Rencana kerja yang dibuat berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Kebijakan dalam sistem pembangunan saat ini sudah tidak lagi berupa daftar usulan tetapi sudah berupa rencana kerja yang memperhatikan berbagai tahapan proses mulai dari input seperti modal. lintas SKPD. strategi pembangunan daerah. RPJM atau rencana lima tahunan terdiri atas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). strategi. Jadi perencanaan lebih kepada bagaimana menyusun hubungan yang optimal antara input. program. proses. dan arah pembangunan daerah yang mengacu pada RPJP nasional. dan lain lain. dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Dalam konteks pembangunan nasional perencanaan keruangan yang dimaksud adalah perencanaan yang mengatur mengenai penggunaan ruang pada tingkat nasional. RPJP Nasional (RPJPN) merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 dalam bentuk visi. rencana pembangunan jangka panjang adalah produk dari semua elemen bangsa. Oleh karena itu perencanaan ruang wilayah menjadi bagian penting dalam sistem perencanaan pembangunan nasional dan daerah. yang dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang. dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). misi. tujuan. rencana pembangunan dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). propinsi. proses perencanaan juga dibagi dalam tingkat pemerintahan dengan struktur berjenjang. dan output. serta program kementrian/lembaga. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. organisasi kemasyarakatan. kecamatan maupun tingkat yang lainnya. Sedangkan Renstra SKPD memuat visi. kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. RPJM sering disebut sebagai agenda pembangunan karena menyatu dengan agenda pemerintah yang berkuasa. program. dan arah pembangunan nasional. misi. ketersediaan sumber daya dan visi/arah pembangunan. kewilayahan. memuat prioritas pembangunan. Renstra kementerian dan lembaga memuat visi. misi. akan diimplementasikan dalam suatu ruang wilayah. kebijakan umum. dan lintas kewilayahan. masyarakat. Agenda pembangunan lima tahunan memuat program-program. lintas kementrian/lembaga. kabupaten/kota. Berbagai perencanaan yang dikemukakan di atas. Perencanaan keruangan adalah perencanaan wilayah yang berbasis ruang atau spasial. tujuan. dan organisasi politik. RPJP adalah produk perencanaan yang dijadikan sebagai rujukan produk perencanaan di bawahnya dan dibuat berdasarkan referensi waktu selama 25 tahun. diwujudkan dalam visi dan misi jangka panjang dan mencerminkan cita-cita kolektif yang akan dicapai oleh masyarakat beserta strategi untuk mencapainya. Selain itu. dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD serta berpedoman kepada RPJM daerah dan bersifat indikatif. yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. rencana kerja. RKP merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. kebijakan. dan kegiatan pembangunan sesuai dengan tugas dan fungsi kementerian/lembaga yang disusun dengan berpedoman pada RPJM nasional dan bersifat indikatif. RPJP Daerah (RPJPD) memuat visi. dan program presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP nasional. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Selain dibagi dalam skala waktu.Mengacu pada SPPN. kebijakan umum. RPJM nasional merupakan penjabaran dari visi.

untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasional sebagaimana dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. antara lain di bidang pengelolaan sumber daya alam. yang pada gilirannya menyebabkan banyak kebijakan publik yang tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. sangat penting dan mendesak bagi bangsa Indonesia untuk melakukan penataan kembali berbagai langkah-langkah.Pembahasan mengenai perencanaan keruangan tidak terlepas dari pembahasan mengenai penataan ruang sehingga secara lebih khusus dalam pembahasan ini mengacu kepada UU No. Dengan demikian. Walaupun pengertian partisipasi masyarakat sudah menjadi kepentingan bersama. terutama aset yang selama ini diangap untuk kepentingan pemerintahan pusat dengan segala perizinan dan aturan yang menimbulkan perubahan kewenangan. Persoalan yang dihadapi dalam perencanan partisipatif saat ini antara lain panjangnya proses pengambilan keputusan. misi dan arah pembangunan nasional. sebagian besar kebijakan publik. kepada masyarakat. e. Rangkaian upaya pembangunan tersebut memuat kegiatan pembangunan yang berlangsung tanpa henti. Beberapa hal yang dapat melukiskan kondisi penataan ruang saat ini adalah sebagai berikut: a. dalam 20 tahun mendatang. seperti perubahan dalam pengelolaan sumber daya alam yang tidak diikuti oleh aturan yang memadai serta tidak diikuti oleh batasan yang jelas dalam menjaga keseimbangan fungsi regional atau nasional. bangsa dan negara. sehingga memberi keleluasaan yang cukup bagi penyusunan rencana jangka menengah dan tahunannya. namun masih banyak hal yang menunjukkan adanya tumpang tindih mengenai penggunaan ruang yang ada. Pembangunan nasional adalah rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat. Tidak optimalnya kemitraan atau sinergi antara swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraan penataan ruang. f. namun tidak memiliki kewenangan yang jelas. sehingga b. akan tetapi dalam prakteknya masih terdapat pemahaman yang tidak sama. namun masyarakat merasa tidak cukup hanya dengan proses tersebut. Tidak terbukanya para pelaku pembangunan dalam menyelenggarakan proses penataan ruang (gap feeling) yang menganggap masyarakat sekedar obyek pembangunan. paling rendah masih diputuskan di tingkat kabupaten. 22 Tahun 1999 dan PP No. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional disusun sebagai penjabaran dari tujuan dibentuknya pemerintahan Negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam bentuk visi. Kegiatan penataan ruang dilaksanakan dari tingkat mikro hingga makro. c. Kebijakan pemerintah yang tidak sepenuhnya berorientasi masyarakat tidak terlibat langsung dalam pembangunan. Hal ini ditunjukkan dimana pemerintah sudah melakukan sosialisasi dan konsultasi dengan masyarakat.2. Jauhnya rentang pengambilan keputusan tersebut merupakan potensi terjadinya deviasi. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa semua proses keputusan yang diambil haruslah melibatkan masyarakat. RPJP Nasional dan RTRW Nasional Berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. lingkungan hidup dan kelembagaannya sehingga bangsa Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dan mempunyai posisi yang sejajar serta daya saing yang kuat di dalam pergaulan . 1. 25 Tahun 2000) tentang otonomi daerah telah menggeser pemahaman dan pengertian banyak pihak tentang usaha pemanfaatan sumber daya alam. Meskipun di dalam UU tersebut desa juga dinyatakan sebagai daerah otonom. d. dengan menaikkan tingkat kesejahteraan masyarakat dari generasi demi generasi. Pelaksanaan upaya tersebut dilakukan dalam konteks memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk itu. dokumen ini lebih bersifat visioner dan hanya memuat hal-hal yang mendasar. Padahal mungkin masalah yang diputuskan sesunggguhnya cukup diselesaikan di tingkat lokal atau desa. UU 32/2004 (UU No. Rendahnya upaya pemerintah dalam memberikan informasi tentang akuntabilitas dari program penataan ruang. sumber daya manusia. 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang. Jarak antara penyampaian aspirasi hingga jadi keputusan relatif jauh. Dengan kata lain. Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 merupakan kelanjutan dari pembangunan sebelumnya untuk mencapai tujuan pembangunan sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Perubahan sebagai tanggapan dari ketidakadilan selama ini.

Dalam rangka menjaga kesinambungan pembangunan dan menghindarkan kekosongan rencana pembangunan nasional. 2015. melalui mekanisme perubahan APBN (APBN-P) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Tujuan yang ingin dicapai dengan ditetapkannya Undang-Undang tentang RPJP Nasional Tahun 20052025 adalah untuk: (a) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan dalam pencapaian tujuan nasional. (c) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. lembaga-lembaga strategis. (d) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien. Rancangan RPJP Daerah hasil Musrenbangda dapat dikonsultasikan dan dikoordinasikan dengan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). dan RPJM Nasional IV Tahun 2020-2024. dan (e) mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Mengingat RPJP Nasional menjadi acuan dalam penyusunan RPJP Daerah. Kurun waktu RPJP Daerah sesuai dengan kurun waktu RPJP Nasional. Bila visi telah terumuskan. 2015. pelaksanaan dan pengawasan. berkeadilan dan berkelanjutan. Rencana pembangunan jangka panjang nasional diwujudkan dalam visi. penganggaran. sejahtera dan cerdas serta berkeadilan. misi dan arah pembangunan nasional adalah produk dari semua elemen bangsa. sinkronisasi dan sinergi baik antardaerah. RPJP Daerah harus disusun dengan mengacu pada RPJP Nasional sesuai karakteristik dan potensi daerah. masyarakat. 2020. Presiden terpilih periode berikutnya tetap mempunyai ruang gerak yang luas untuk menyempurnakan RKP dan APBN pada tahun pertama pemerintahannya yaitu tahun 2010. Kurun waktu RPJP Nasional adalah 20 (dua puluh) tahun. sehingga penyusunannya akan lebih menitikberatkan partisipasi segmen masyarakat yang memiliki olah pikir visioner seperti perguruan tinggi. (b) menjamin terciptanya integrasi. dan 2025. Visi merupakan penjabaran cita-cita berbangsa sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pelaksanaan RPJP Nasional 2005-2025 terbagi dalam tahap-tahap perencanaan pembangunan dalam periodisasi perencanaan pembangunan jangka menengah nasional 5 (lima) tahunan. Dengan adanya kewenangan untuk menyusun RKP dan RAPBN sebagaimana dimaksud di atas. maka jangka waktu keseluruhan RPJPN adalah 2005-2025. organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik. Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah dilantik menetapkan RPJM Daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Namun demikian. Perencanaan jangka panjang lebih condong pada kegiatan olah pikir yang bersifat visioner. efektif. Di samping itu. RPJM Nasional II Tahun 2010-2014. yang dituangkan dalam RPJM Nasional I Tahun 2005-2009. individu pemikir-pemikir visioner serta unsur-unsur penyelenggara negara yang memiliki kompetensi olah pikir rasional dengan tetap mengutamakan kepentingan rakyat banyak sebagai subyek maupun tujuan untuk siapa pembangunan dilaksanakan. yaitu pada tahun 2010. Sedangkan periodisasi RPJM Daerah tidak dapat mengikuti periodisasi RPJM Nasional dikarenakan pemilihan Kepala Daerah tidak dilaksanakan secara bersamaan waktunya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005. RPJM Nasional III Tahun 2015-2019. Presiden yang sedang memerintah pada tahun terakhir pemerintahannya diwajibkan menyusun RKP dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) pada tahun pertama periode Pemerintahan Presiden berikutnya. RPJM Nasional dan RPJP Daerah dapat disusun terlebih dahulu dengan mengesampingkan RPJP Nasional sebagai pedoman. yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. antarwaktu. antarfungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. misi dan arah pembangunan nasional yang mencerminkan cita-cita kolektif yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia serta strategi untuk mencapainya. Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang nasional. Selanjutnya RPJP Daerah dijabarkan lebih lanjut dalam RPJM Daerah. . 2020. antarruang. Sedangkan RPJM Daerah merupakan visi dan misi Kepala Daerah terpilih. Kepala Bappeda menyiapkan rancangan RPJP Daerah yang disusun melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbangda). lembagalembaga negara. Oleh karenanya rencana pembangunan jangka panjang nasional yang dituangkan dalam bentuk visi. RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. RPJP Daerah ini ditetapkan dengan Peraturan Daerah. yaitu terciptanya masyarakat yang terlindungi. Sesuai dengan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. pemerintah.masyarakat Internasional. dan 2025.

Sebagai payung hukum dalam penyelenggaraan penataan ruang. dan pengendalian pemanfaatan ruang. maka Undang-Undang Penataan Ruang ini diharapkan dapat mewujudkan rencana tata ruang yang dapat mengoptimalisasikan dan memadukan berbagai kegiatan sektor pembangunan. yang digunakan sebagai arahan di dalam Sistem Perencanaan Pembangunan secara nasional. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP). dan sejahtera. Sementara berkelanjutan mengandung pengertian dimana kualitas lingkungan fisik dapat dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). usaha pencapaian tujuan dan tindakantindakan di masa depan. Sementara itu landasan hukum sistem penataan keruangan yang digunakan adalah UU No. daerah akan menyusun RPJPD dan RPJMD yang mengacu pada RPJP dan RPJM Nasional serta membuat program pembangunan dan kegiatan pokok yang akan dilaksanakan melalui Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang disusun oleh Kementerian/Lembaga. proses perencanaan pembangunan dilaksanakan dengan melibatkan seluruh stakeholder di pusat dan daerah. Disadarai bahwa peranan penataan ruang didalam pelaksanaan kegiatan pembangunan yang terjabarkan pada rencana pembangunan sangatlah penting. pemanfaatan. dan mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan. tidak hanya untuk kepentingan generasi saat ini. salah satu tujuan pembangunan yang hendak dicapai dalah mewujudkan ruang kehidupan yang nyaman. 26/2007. Pendekatan top-down dan partisipatif dalam perencanaan pembangunan yang ada dalam UU No. Ketiga rencana tata ruang tersebut harus dapat terangkum di dalam suatu rencana pembangunan sebagai acuan di dalam implementasi perencanaan pembangunan berkelanjutan di wilayah Indonesia. Dengan demikian keterkaitan antara perencanaan pembangunan dan penataan ruang sangat penting . dan berkelanjutan. Pemerintah telah menetapkan rencana kerja pemerintah berikut alokasi anggaran yang ditetapkan dan akan digunakan didalam membiayai kegiatan pembangunan secara nasional. berbudi luhur. Kegiatan penataan ruang terdiri dari 3 (tiga) kegiatan yang saling terkait. terkoordinir dan berkesinambungan. Secara partisipatif. Ruang kehidupan yang nyaman mengandung pengertian adanya kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk mengartikulasikan nilai-nilai sosial budaya dan fungsinya sebagai manusia. produktif. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRW Kab/kota). yaitu: perencanaan tata ruang. Rencana pembangunan memuat arahan kebijakan pembangunan yang dijadikan acuan bagi pelaksanaan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Segala kegiatan yang tentu saja membutuhkan ruang sebagai wadah pendukung kegiatan pembangunan tersebut harus diatur di dalam rencana tata ruang. serta sanksi. perizinan. Dilihat dari sudut pandang penataan ruang. pemanfaatan ruang. Menurut undang-undang tersebut. Produktif mengandung pengertian bahwa proses produksi dan distribusi berjalan secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing. Secara top down. dan berkelanjutan. pemberian insentif dan disinsentif. dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pengendalian pemanfaatan ruang dilaksanakan secara sistematik melalui penetapan peraturan zonasi. Ruang merupakan sumber daya alam yang harus dikelola bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. dengan produk rencana tata ruang berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang secara hirarki terdiri dari Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN). sangat terkait dengan kegiatan pengalokasian sumberdaya. mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia. dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). 25/2004 terwujud dalam bentuk rangkaian musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) yang dilakukan secara berjenjang dari mulai tingkat Kabupaten/Kota sampai dengan Nasional. Perencanaan pembangunan adalah suatu proses yang bersifat sistematis. Rangkaian forum ini menjadi bagian dalam menyusun sistem perencanaan dan alokasi anggaran untuk pelaksanaan kegiatan pembangunan setiap tahun. terpadu.UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dengan turunannya berupa rencana tata ruang merupakan upaya penting dalam menertibkan penyelenggaraan penataan ruang di Indonesia yang diwujudkan melalui beberapa aspek penting. baik dalam pemanfaatan sumberdaya alam maupun sumberdaya buatan. Dalam konteks ini ruang harus dilindungi dan dikelola secara terkoordinasi. diantaranya pengendalian pemanfaatan ruang. rencana pembangunan terdiri dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP). namun juga generasi yang akan datang. bahwa penataan ruang terbagi atas kegiatan perencanaan. 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan merupakan payung hukum bagi pelaksanaan perencanaan pmbangunan dalam rangka menjamin tercapainya tujuan negara. Keseluruhan tujuan ini diarahkan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas. Terkait hal ini. Disamping itu segala bentuk kegiatan pemanfaatan sumberdaya harus diatur di dalam rencana tata ruang seperti yang tercantum di dalam UU No.

Perlu dipahami dan disadari mengenai pola hubungan antara perencanaan pembangunan dan perencanaan keruangan. Hubungan ini akan menuntun pada terwujudnya perencanaan dan tujuan dari proses perencanaan. Permasalahan lain yang terjadi terkait dengan perencanaan tata ruang adalah seringkali perencanaan suatu kegiatan yang menggunakan ruang secara blue print tidak tergambar secara detail di dalam suatu peta rencana yang dapat menyebabkan pada pelanggaran didalam pemanfaatan ruang. Implementasi dan penjabaran RPJP dituangkan dalam dokumen RPJM yang memiliki batas waktu selama 5 tahun. RTRWN merupakan pedoman bagi penyusunan dan pelaksanaan kegiatan yang bersifat “keruangan”. Untuk RTRWN dapat ditinjau kembali satu kali dalam 5 tahun apabila terjadi perubahan lingkungan strategis seperti terjadi bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan.1. Sinkronisasi rencana pembangunan dalam memanfaat ruang untuk melaksanakan aktivitas pembangunan seringkali menemui kesulitan. Gambar 4. RPJPN dan RTRWN memiliki batas waktu selama 20 tahun. terutama di tingkat daerah. Hal ini disebabkan beberapa hal diantaranya adalah: data dan informasi yang digunakan kurang akurat dan belum meliputi analisis pemanfaatan sumberdaya kedepan. bahwa di dalam penyusunan RTRWN harus memperhatikan RPJPN. 26/2007 tentang Penataan Ruang. (2) Dari aspek pemanfaatan ruang suatu wilayah atau daerah seringkali tidak sesuai dengan peruntukannya yang ada dalam . dan pada pasal 20 ayat (2) menyatakan bahwa RTRWN menjadi pedoman untuk penyusunan RPJPN. perubahan batas wilayah provinsi yang ditetapkan dengan UU (khusus RTRWP dan RTRWK). Keterkaitan Diantara Rencana Pembangunan Berdasarkan diagram diatas dapat dinyatakan bahwa Rencana Pembangunan (Nasional dan Daerah) dan Rencana Tata Ruang harus dapat saling mengacu dan mengisi. Berdasarkan pasal 19 UU No. rencana tata ruang uang disusun.1). seringkali dianggap sebagai produk satu instansi tertentu dan belum menjadi dokumen milik semua instansi karena penyusunannya belum melibatkan berbagai pihak.dalam rangka optimalisasi sumberdaya alam dan buatan yang terbatas dan mengurangi resiko bencana yang ditimbulkan oleh kegiatan manusia. perubahan batas teritorial negara yang ditetapkan dengan UU. Penjabaran RPJMN tertuang di dalam RKP yang dirumuskan setiap tahun dan disusun melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Lebih kongkrit lagi. Dalam pelaksanaannya masih banyak terdapat berbagai kendala dan tantangan yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : (1) Produk rencana tata ruang yang dihasilkan masih belum diacu dalam pelaksanaan pembangunan. penyusunan rencana tata ruang sering dilaksanakan hanya untuk memenuhi kewajiban pemerintah (Pusat dan Daerah) sesuai Undangundang dan Peraturan Daerah. dan perubahan batas wilayah kabupaten/kota yang ditetapkan dengan UU (khusus RTRWK). Keterkaitan antara rencana pembangunan dengan penataan ruang dapat dilihat pada skema berikut (lihat Gambar 4. haruslah terjadi pola hubungan antara produk-produk pada perencanaan pembangunan dan perencanaan keruangan.

(3) Masalah perekonomian yang menjadi pemicu didalam pembangunan nasional. (5) Produk rencana tata ruang daerah harus dibuat sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah yang selaras dengan visi dan misi daerah. Salah satu upaya tersebut antara lain melalui pemberian perizinan yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang terdapat di dalam rencana tata ruang. termasuk alih fungsi lahan tanpa memperhitungkan keberlanjutannya dalam jangka panjang. bentuk pelanggaran-pelanggaran tata ruang semakin marak terjadi yang dapat mengganggu lingkungan dan pada akhirnya dapat mengakibatkan bencana yang tentunya merugikan bagi masyarakat. telah menyebabkan alih fungsi lahan yang tidak terkendali. dan udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta . (2) Melakukan sinkronisasi kebijakan antar sektor dan instansi pemerintahan secara hirarki untuk mewujudkan keselarasan program pembangunan. (9) Mewujudkan konsistensi dalam penyerasian rencana tata ruang dengan rencana pembangunan antar pemangku pemerintahan.3. Hal ini terkait erat dengan rencana tata ruang yang tidak sesuai. kewenangan yang sudah banyak didelegasikan kepada Pemerintah Daerah melalui kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi memberikan kesempatan bagi daerah untuk mencari berbagai sumber pendapatan baru untuk meningkatkan pendapatan asli daerah melalui berbagai kegiatan ekonomi. ”growth center” yang digagas oleh Friedman (1969) sampai kepada pengaturan ruang secara terpadu melalui proses pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) secara sinergi dengan pengembangan sumberdaya manusia dan lingkungan hidup untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan. (4) Sulit untuk menciptakan sinkronisasi kelembagaan dan hal ini terwujud dalam bentuk konflik penataan ruang yang disebabkan oleh tidak sinkronnya kegiatan antar sektor dan antar daerah. (3) Mewujudkan keterpaduan dan kerjasama pembangunan lintas provinsi dan lintas sektor untuk optimasi dan sinergi struktur pemanfaatan ruang. Misalnya dalam proses alih fungsi kawasan hutan (produksi maupun lindung) yang diminta oleh daerah. Sebagai contoh. (6) Ketegasan sanksi dan ketetapan hukum sebagai alat yang digunakan untuk mengendalikan segala bentuk pemanfaatan ruang. teknologi dan kondisi wilayahnya. maka adanya beberapa langkah yang diperlukan: (1) Melakukan penyelarasan implementasi terhadap rencana pembangunan dengan rencana tata ruang melalui mekanisme yang diatur didalam suatu kebijakan/peraturan. (4) Perlu dilakukan penyusunan rencana tata ruang yang berkualitas dan menyeluruh. Ego sektoral dan daerah masih menjadi masalah utama dalam hal ini. dengan keluarnya undang undang ini maka pengembangan wilayah dilaksanakan melalui alat penataan ruang. Hal ini berdampak pada sulitnya pemerintah daerah dalam melaksanakan penyusunan rencana tata ruang wilayahnya. Oleh karena itu peranan kelembagaan penataan ruang dalam menjembatani hal tersebut sangatlah penting. Sebagai dampaknya. konflik kewenangan pun terjadi secara hirarki antar instansi pemerintahan.rencana tata ruang suatu wilayah atau daerah. ekonomi. Di Indonesia. dan budaya. (8) Peningkatan manajemen kelembagaan penataan ruang baik di Pusat maupun di daerah. Ruang adalah wadah berbagai kegiatan sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. sosial. 1. maka prosesnya harus mengikuti ketentuan yang ada sesuai Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. RTRW Pulau Kalimantan Pengembangan wilayah merupakan suatu upaya untuk mendorong terjadinya perkembangan wilayah secara harmonis melalui pendekatan yang bersifat komperhensif mencakup aspek fisik. ”development poles” (poles de croissance) yang digagas oleh F. menjadikan berbagai kegiatan pendukung ekonomi menjadi faktor utama di dalam kegiatan pembangunan. dan proses ini akan memakan waktu yang cukup lama. Pada dasarnya pendekatan pengembangan wilayah ini digunakan untuk lebih mengefisiensikan pembangunan dan konsepsi ini tersus berkembang disesuaikan dengan tuntutan waktu. baik yang disebabkan oleh pengguna ruang ilegal maupun pemerintah. dan mencakup ruang daratan. konflik antar sektor kehutanan dengan pemerintah daerah dalam pemanfaatan kawasan hutan. Dengan adanya berbagai tantangan dan kendala dalam mengintegrasikan Rencana Pembangunan dan Rencana Tata Ruang Wilayah. Hal tersebut berdampak pada maraknya alih fungsi lahan yang dilakukan dalam rangka melangsungkan dan mendukung kegiatan ekonomi. Bahkan dalam era otonomi daerah. Selain itu. Banyak cara untuk mengembangkan wilayah mulai dari penggunaan konsep (alat) pembangunan sektoral. (7) Penyelenggaraan sosialisasi dalam rangka memberikan informasi pentingnya peranan penataan ruang didalam pelaksanaan program pembangunan kepada masyarakat. Kebutuhan mendesak akan ruang. Perroux (1955). baik pada tingkat legislatif maupun eksekutif. ”bassic need approach”. Fenomena ini seringkali terjadi untuk memenuhi kebutuhan ruang bagi masyarakat dan pemerintah (daerah) terutama terjadi di daerahdaerah yang baru dibentuk sebagai akibat pemekaran daerah. lautan. dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah dalam jangka menengah maupun panjang maupun tidak adanya sanksi hukum terhadap pelanggaran rencana tata ruang.

73 %) dataran aluvial (12. disana ada potensi beberapa taman nasional sebagai konservasi flora dan fauna dan hutan di pegunungan Muller serta sebagian di Schawner yang ditetapkan sebagai ”world heritage forest” dan merupakan cadangan air seluruh Kalimantan sebanyak sekitar 35 % yang tidak akan habis di masa yang akan datang dengan syarat tidak teganggu dan tercemar serta perlu dilindungi sebagai suatu ekosistem. Artinya berbagai kegiatan dan sumber daya alam yang terkandung dan tersedia di pulau Kalimantan ini terbatas. Kondisi Fisik Dasar dan Hasil Sumber Daya Lahan Pulau Kalimantan sebagaian besar merupakan daerah pegunungan / perbukitan (39. saat ini sedang disusun Rencana Tata Ruang wilayah (RTRW) Pulau Kalimantan terlebih dahulu. Karena sebagian besar pegunungan. gambaran umum permasalahan dan potensi pulau Kalimantan dapat diuraikan sebagai berikut : 1.40 10` LS dan anatara 1080 30` BT . kemungkinan besar akan terjadi pemborosan manfaat sumber daya alam yang tersedia di Kalimantan ini. Sebaliknya bila ada rekayasa pengaturan ruang dengan baik (penataan ruang) maka harapan akan terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan wilayah Kalimantan akan tercapai. Nilai ekonomis yang diharapkan bagi pengembangan wilayah Kalimantan tidak akan tercapai dan yang akan terjadi kerusakan lingkungan (baik “renewable” maupun yang “non renewable”) yang justru akan menjadi “cost” yang “never ending”. untuk mencapainya diperlukan upaya penataan ruang wilayah pulau Kalimantan yang berbasis mengoptimasikan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan yang ada agar terjadi pengembangan wilayah seperti yang diinginkan. Rencana Tata Ruang sendiri adalah produk pengaturan Struktur dan Pola pemanfatan ruang. akan tercapai sinergi antara berbagi jenis kegiatan pemanfaatan ruang. Di dunia. dan tengkawang.69 %). dan khususnya di pulau Kalimantan ketersediaan ruang ini terbatas. dan cendana sudah hampir punah. Struktur mengatur sistem pusat-pusat kegiatan beserta jaringan prasarana secara hirarkhis. daratan (35. juga di Indonesia. Hasil hutan yang potensi di Kalimantan adalah kayu industri.08 %). Oleh karena itu. Dengan demikian lokasinya berbatasan langsung dengan negara Malaysia (Sabah dan Serawak) di sebelah utara yang panjang perbatasannya mencapai 3000 km mulai dari proinsi Kalimanatan Barat sampai dengan Kalimantan Timur. Pada umumnya topografi bagian tengah dan utara (wilayah republik Indonesia/RI) adalah daerah pegunungan tinggi dengan kemiringan yang terjal dan merupakan kawasan hutan dan hutan lindung yang harus dipertahankan agar dapat berperan sebagai fungsi cadangan air dimasa yang akan datang.1190 00` BT dengan luas wilayah sekitar 535. Saat ini upaya untuk menata ruang pulau Kalimantan sedang dilaksanakan oleh berbagai pihak baik oleh seluruh pemerintah propinsi di Kalimantan maupun oleh instansi pemerintah pusat secara bekerja sama. Malaysia. Letak Geografis Wilayah pulau Kalimantan (bagian selatan) dalam wilayah Republik Indonesia. Secara garis besar. Dilain pihak pulau Kalimantan juga mempunyai potensi antara lain untuk ikut dalam sistem kerangka kerjasama ekonomi regional seperti BIMP-EAGA (Brunai. kualitas lingkungan.47 %).834 km2. terletak diantara 40 24` LU . dan sisanya dataran pantai/ pasang surut (11.93 %). ramin. dan lain– lain (0. Dengan memberikan arahan pengaturan ruang melalui optimasi kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang ada dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung wilayah. 2. damar. dan pola pemanfaatan ruang adalah mengatur wilayah dengan satuan-satuan (deliniasi ruang) yang fungsional sesuai dengan tujuan rencana dan sesuai dengan kondisi daya dukung dan daya tampung sumber dayanya. dan lebih jauh akan terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup. rotan. Bila pemanfaatan ruang ini tidak diatur dengan baik maka bedasarkan konsepsi dan diagram seperti yang diuraikan di atas. Indonesia. Tahap awal. dengan fungsi lokasi. sebaiknya dibuat strategi pelaksanaan pembangunan dalam rangkaian program pemanfaatan ruang. serta usulan konsepsi pengendaliannya. Selain itu pesoalan ”illegal loging” yang sering merusak potensi sumber daya alam (hutan tropis) kita terus berkembang sejalan dengan tingkat ekonommi masyarakat perbatasan yang belum maju tersebut. Sayangnya spesies hasil hutan seperti kayu gaharu. Kegiatan pembangunan tersebut akan terus berlanjut secara ”sustained”. Sebagai daerah yang memiliki kawasan perbatasan maka mempunyai persoalan/masalah yang terkait ”illegal trading” apalagi penduduk kawasan negara tetangga jauh lebih sejahtera dan pembangunannya maju pesat. dan estetika wilayah. Philipina – Eastern Asian Growth Area) dan dilalui jalu perdagangan laut internasional.mahluk hidup lainnya. Namun demikian dalam tulisan ini akan dicermati kedudukan pentingya penataan ruang wilayah pulau Kalimantan dalam satu proses keseluruhan yang tidak hanya berhenti pada perlunya disusun RTRWnya saja tapi juga bagaimana. Analisis ekonomi hasil hutan dengan .

Selain banyak danau-danau yang berpotensi sebagai sumber penghasil perikanan khususnya satwa ikan langka. Oleh karenanya optimasi pemanfaatan SDA agar tidak hanya sekedar mengejar manfaat ekonomi perlu ada pengaturan ruang. Bahaya lingkungan ini harus menjadi faktor penting untuk dipertimbangkan dalam pengaturan ruang wilayah. dan bukit-bukit relatif agak baik untuk kegiatan pertanian. dan lahan yang memiliki kelerengan curam. perkebunan.ekosistimnya untuk menjaga keseimbangan lingkungan perlu dilakukan untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Dari nilai pertumbuhannya rata-rata senua propinsi berkembang dengan baik. Kegiatan perkebunan pada umumnya berada pada wilayah di perbukitan dataran rendah. Walaupun di Kalimantan terbebas dari bahaya gunung berapi. Hal ini karena memang luas propinsi Kalsel lebih kecil dibanding yang lain. tebu dan perkebunan tanaman pangan. kelapa. mika dan batubara. Kondisi tanah di dataran teras pedalaman. Pertumbuhan sektor yang paling baik adalah sektor pertanian. Kondisi tanah di Kalimantan pada umumnya tidak subur untuk kegiatan usaha pertanian. Untuk ini diperlukan optimasi pemanfaatan lahan agar hasil gunaanya dapat memberikan nilai ekonomis dan perkembangan pada wilayah. karet.143 km) di Kalbar dan dapat menjelajah 65 % wilayah Kalimantan Barat. Kinerja perekonomian yang baik dapat terjadi karena kemampuan propinsi atau kabupaten / kota dalam bersaing. dan kakuatan daya saing menadi faktor kuat untuk perkembangan wilayah. Sektor terbesar yang memberikan kontribusi nilai PDRB adadalh Industri pengolahan. Untuk terus dikembangkan secara ekonomis dengan memanfaatkan lahan yang sesuai masih diperlukang dukungan prasarana wilayah. Walupun sektor pertanian memberikan kontribusi ketiga. Laju pertumbuhan penduduk adalah 1. Erosi sabagai akibat aberasi pantai terjadi di pantai barat. Kegiatan pertambangan ini seringkali menimbulkan konflik dengan pemanfaatan ruang lainnya yaitu dengan kehutanan. Usaha perkebunan ini sudah mulai berkembang banyak dan banyak investor mulai datang dari negara jiran. pasir kwarsa. kecuali di propinsi Kaltim. Dalam teori ekonomi saling ketergantungan. Perkebunan yang potensi dan berkembang adalah : sawit. Tambang minyak dan gas alam cair terdapat di dataran rendah. dan ”off sore”. Memilih kesesuaian ruang untuk kegiatan uasaha yang sesuai dengan kesesuan tanah sangat diperlukan. mangan. lahan bertanah asam. Persaingan ini bisa terjadi dalam kegiatan ekonomi baik internal maupun antara kota dalam propinsi atau antar propinsi. serta di beberapa tempat lainnya di bagian tengan dan hulu sungai besar di Kalimantan. Hampir rata terjadi di masing-masing bahwa sektor jasa relatif lambat pertumbuhannya. karena keterbatasan lahan dinegara jiran tersebut. da hal ini perlu dioptimasikan agar punya nilai ekonomis namun tetap menjaga fungsi dan peran danau tersebut. dan pertanian.87 %. berpasir. sektor kedua adalah Pertambangan dan penggalian dan ketiga pertanian. patahan/sesar dan gempa bumi. bauksit. Oleh karena itu bagi kabupaten/kota yang mempunyai potensi sumber dayanya perlu mendapat prioritas . Potensi pertambangan banyak terdapat di pegunungan dan perbukitan di bagaian tengah dan hulu sungai. Sebagai besar lahan Gambut ini ada di Kalimantan tengah dan selatan dan sebagaian kecil di pantai Kalimantan barat dan di Kaltim bagian utara. 3. Lahan daratan memerlukan konservasi yang sangat luas karena terdiri dari lahan rawa gambut. namun masih mungkin terjadi beberapa potensi bahaya lingkungan. pantai. namun dalam lingkup propinsi sektor pertanian cukup dominan memberikan kontribusi pada PDRBnya masinhg-masing yaitu antara 20-40 %. Bahaya lingkungan lainnya adalah kebakaran hutan pada musim kemarau sebagai akibat panas alam yang membakar batu bara yang berada di bawah hutan tropis ini. Sedangkan propinsi terpadat adalah Kalsel yaitu 80 jiwa/km2. pegunungan. Berdasarkan kajian Banter (1993) kemungkinan sering terjadi erosi pada lereng barat laut pegunungan Schwener dan G Benturan. Jumlah penduduk terbanyak adalah Kalbar yaitu 34 % dari total penduduk seluruh Kalimantan. Kondisi dan Perkembangan Sosial Ekonomi Wilayah Jumlah penduduk Kalimantan masih relatif kecil dan tidak lebih dari 18 juta jiwa dengan rata rata kepadatan penduduk agregrat = 20 jiwa/km2. Namun kegiatan perekonomian ini juga sangat tergantung kepada daya dukung yang dapat menyediakan sumber dayanya. wilayah dan ekonomi nasional. Potensi hidrologi di Kalimantan merupakan faktor penunjang kegiatan ekonomi yang baik. Deposit pertambangan yang cukup potensial adalah emas. fosfat. Indikator kualitas kehidupan masyarakat (sosial-ekonomi) diukur dengan ”Human Developmen Index” (HDI) yang juga relatif masih rendah dibandingkan dengan beberapa daerah di Pulau Jawa Kontribusi PDRB agregrat pulau Kalimantan terhadap PDB nasional cukup baik. Sungai-sungai di Kalimantan ini cukup panjang dan yang terpanjang adalah sungai Kapuas (1. selatan dan timur. Sejumlah sungai besar merupakan urat nadi transportasi utama yang menjalarkan kegiatan perdagangan hasil sumber daya alam dan olahan antar wilayah dan eksportimport.

yaitu jalur utara membentang barat-timur. dan industri lainnya. Jaringan jalan ini harus terus diprogramkan secara terpadu intermoda dengan transportasi air (sungai) dan udara untuk merintis.pengembangan walaupun dengan karakteristik yang berbeda. PLTG. Dalam pengelolaan SDA harus diperhatikan kesesuaian lahan dan aspek lingkungan hidup. Di Kalimantan masih tersedia sumber daya alam yang potensi untuk dikembangkan secara ekonomis bagi pengembangan wilayah.Perkembangan kegiatan sosial ekonomi memberikan indikasi bahwa sudah ada potensi kegiatan masyarakat dan aktifitas ekonomi interinsuler serta eksport-import yang dapat mendorong perkembangan wilayah Kalimantan.keluar pelabuhan udara tercatat 39. Berdasarkan analisis potensi dan berbagai permasalahan kondisi sumber daya alam. Tenaga listrik ini turut mempengaruhi pola perkembangan wilayah saat ini khususnya dalam meng-”generate” kegiatan / kawasan industri sawit. kegiatan sosial ekonomi masarakat dan wilayah. Kalsel 1 kota pelabuhan. Kota pelabuhan ini berperan sebagai outlet/inlet kegiatan perdagangan interinsuler dan perdagangan eksport/import. Transportasi sungai ini sebagian besar dimanfaatkan untuk mengangkut kayu dan hasil industri kayu dan hasil hutan lainnya. Kalsel 3 (tiga) dan Kaltim 4 (empat). 5. Beberapa hasil SDA dan industri olahan dipasarkan melalui outlet kota pelabuhan. Peran transportasi laut ini sangat penting untuk mendorong perkembangan ekonomi wilayah Kalimantan. Dilain pihak jumlah kendaraan juga sangat terbatas sehingga ada beberapa ruas jalan yang kapasitasnya masih belum termanfaatkan secara optimal. dan PLT Batubara untuk membantu kosumsi listrik perkotaan/permukiman dan industri. Di Kalimantan ada 19 (sembilan belas) pelabuhan udara (termasuk pelabuhan udara perintis) yang membantu sebagai prasarana transportasi udara mengembangkan ekonomi wilayah melalui kelancaran arus kegiatan perdagangan dan pergerakan penduduik secara umum termasuk dalam menunjang misi sosial. Data menunjukan di propinsi Kaltim yang paling ramai terjadi bongkar muat komoditas/barang di pelabuhan yaitu 2. batu bara.824 ton muat. Jumlah pelabuhan udara di propinsi Kalbar 5 (lima). dan Kaltim 15 kota pelabuhan. ada yang tinggal mendorong dan ada yang tinggal memberi dukungan. sebagaian besar masih dilayani jaringan transmisi bertegangan 275 KV. Dengan memperhatikan potensi sumber daya alam (air. Kalteng 7 (tujuh). di pulau Kalimantan juga mempunyai kegiatan industri. Dibandingkan pulau lainnya kepadatan jalan sangat berkurang yaitu hanya 85.102 ton bongkar dan 54. PLTD ini sangat konsumtif terhadap bahan bakar dan mahal. Ada yang masih perlu digali dan dirangsang dengan stimulan. semen. pertambangan. Panjang jalan ini sangat kurang untuk melayani jumlah luas pulau yang sangat besar. olahan hasil hutan.005 pesawat kedatangan. Tingkat pelayanan transportasi sungai cukup signifikan yaitu 33 % sedangkan transportasi jalan taya 44 % dan sisanya transportasi laut dan udara. Tahun 1998 arus lalu lintas pesawat datang . Hanya ada 3 (tiga) propinsi yang mempunyai kota-kota pelabuhan.29 km/ha untuk jalan nasional dan propinsi. dan prasarana wilayah di Kalimantan yang dikaitkan dengan aspek lingkungan hidup untuk pembangunan berkelanjutan dan pengembangan wilayah dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : a. c. dan gas) masih dapat dimungkinkan untuk dikembangkan pemanfaatan PLTA.324. Sumber pembangkit listrik utama di Kalimantan adalah PLTD dan ada beberapa dari PLTG.964 pesawat keberangkatan dan 40. Kondisi Prasarana Wilayah (Transportasi) Pulau Kalimantan Total panjang jalan di pulau Kalimantan 42. yaitu propinsi Kalbar 4 pelabuhan. agama dan keamanan wilayah. Secara umum pola jaringan tranasportasi jalan yang ada walaupun belum terthubungkan secara masif. . mendukung dan mendorong perkembangan wilayah. Untuk itu diperlukan kehati-hatian dalam pemanfaatan ruangnya. pertambangan dan hasil olahan lainnya yang potensi dan akan saling terkait dengan pemanfaatan ruang lainnya serta dimungkinkan adanya konflik pemanfaatan ruang. PLTA dan PLTGU.641 km.491. tengah membelah barat timur dan selatan melingkar mengikuti garis pantai. namun juga masih menghadapi berbagai kendala antara lain prasarana dan faktor pembatas lingkungan. Kondisi Prasarana Kelistrikan Jaringan listrik di Kalimantan belum seluruhnya dilayani oleh jaringan inter-koneksitas secara total. b. 4. Pola pengaturan SD listrik dan pemanfaatan ruang kegiatan industri pelu sinergis. Selain sumber daya alam.

Pola Penyebaran Sumber Daya Alam Pola penyebaran sumber daya alam yang potensial ekonomis pada umumnya berada pada lahan-lahan subur di dataran rendah dan tidak berawa. fauna). Kesenjangan penyediaan sarana dan prasarana transportasi juga terjadi antara wilayah pantai dengan bagian tengah dan utara pulau Kalimantan (perbatasan). Oleh karena itu diperlukan kebijakan untuk mengurangi kesenjangan ekonomi wilayah. Pola penyebarannya sangat terbatas di bagian barat . Eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan ini terjadi di kawasan perbatasan dan di pegunungan Muller serta di Taman Nasional Kutai dan Tanjung Puting. Keterbatasan Interaksi Internal Sebagai syarat perkembangan dan pertumbuhan wilayah diperlukan interaksi antar pusat-pusat permukiman (kota) baik yang internal propinsi maupun yang lintas propinsi. dan sistem pengendaliannya. Ketimpangan Ekonomi Antar Wilayah Kesenjangan pembangunan antar daerah terjadi di Pulau Kalimantan ini tidak hanya antar propinsi tetapi juga antar kabupaten di wilayah bagian pesisir dan pedalaman. Pengembangan Kawasan Perbatasan Penanganan kawasan perbatasan antara RI dan Malaysia harus diprioritaskan. dan timur utara wilayah pulau Kalimantan. Banjarmasin. diperlukan terlebih dahulu pengaturan ruang dalam bentuk penyusunan rencana tata ruang untuk tujuan pembangunan dimasa yang akan datang. Isu Pengembangan Wilayah Pulau Kalimantan Eksploitasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Issu degradasi kualitas lingkungan sebagai akibat pemanfaatan sumber daya alam yang tidak terkendali dan tidak terencana dengan baik perlu segera di atasi. Selain itu kota-kota besar dan metropolitan tumbuh dan berkembang di wilayah pantai dan pesisir seperti Pontianak.d. Dari data di atas. dan timur pulau Kalimantan) memberikan kontribusi PDRB yaitu 90 % terhadap total PDRB Kalimantan. Hal ini semua pada gilirannya akan mengurangi potensi sumber daya alam pulau Kalimantan. kegiatan industri manufaktur yang memberikan nilai komoditas ekonomis berada di kota-kota pantai dibanding dengan kota-kota di bagian tengah dan utara. Prasarana wilayah (transportasi dan kelistrikan) dapat membantu (sebagai alat) mendorong perkembangan wilayah. rotan. selatan. Penurunan kualitas lingkungan ini terjadi akibat penebangan hutan secara liar (illegal logging) dan pengambilan hasil hutan lainnya (tengkawang. Kontribusi PDRB Kabupaten di wilayah pesisir (pesisir barat. Di bagian tengah dan dataran rendah pantai selatan pada umumnya lahan bergambut dengan tingkat keasaman tinggi yang sulit ditanami oleh komoditas pertanian yang ekonomis. Selain hal di atas. c. dan Samarinda. b. Keterbatasan ini memberikan gambaran keterbatasan sarana dan prasarana wilayah terutama transportasi jalan raya. untuk itu diperlukan pengaturan yang sinergi antara struktur prasarana wilayah dengan pemanfaatan ruang kegiatan lainnya kawasan-kawasan yang dikonservasi/dilindungi. degradasi kualitas lingkungan ini diakibatkan oleh kebakaran hutan. Hal ini bukan saja karena gangguan bahaya terhadap kerusakan sumber daya alam dan lingkungan yang perlu dikonservasi (hutan lindung) akibat illegal logging tetapi juga perlu segera menangani perbaikan ekonomi masyarakat setempat dan keamanan negara. a. . dan hal ini makin mempertajam kesenjangan ekonomi wilayah. Sedangkan di bagian utara dan tengah adalah daerah pegunungan yang berfungsi sebagai kawasan konservasi untuk cadangan air. Untuk mensinergikan pemanfaatan sumber daya alam dengan kegiatan ekonomi masyakat dan wilayah yang berbasis pelestarian lingkungan hidup untuk pengembangan wilayah Kalimantan. e. Bila kesenjangan ini terus dibiarkan secara total pulau akan saling mengurangi nilai ekonomi wilayahnya. e. Oleh karena itu kawasan perbatasan yang panjangnya mencapai 3200 km penanganannya perlu dilaksanakan dengan pendekatan keamanan dan kesejahteraan masyarakat. Balikpapan. pengaturan kebijakan dan strategi serta program pemanfaatannya. 6. sungai maupun udara. selatan. maraknya pertambangan rakyat yang tidak terkendali dan terbukanya lahan-lahan eks tebangan yang belum ditanami dan menjadi lahan-lahan kritis. d.

dan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup untuk menjaga kenyamanan dan kualitas hidup.4. didalam RPJM Kalimantan Barat dikemukakan 6 (enam) arah kebijakan yang akan dilakukan sebagai berikut: . dan kemampuan pemulihannya dalam mendukung kualitas kehidupan sosial dan ekonomi secara serasi. Aman. Pendekatan kebijakan tersebut dilakukan dengan prinsip pengelolaan SDA secara ekonomi layak/menguntungkan. perkebunan. relevan dan terkait dengan kebijakan pemerintah pusat. Konsepsi Penataan Ruang Wilayah Kalimantan Bertitik tolak dari kondisi potensi wilayah dan issu perkembangannya maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencapai pengembangan wilayah pulau Kalimantan yaitu mencakup tahapan : (1) perencanaan tata ruang wilayah pulau Kalimantan (2) pemanfaatan ruang dalam bentuk penyusunan kebijakan dan strategi pembangunan yang selanjutnya dituangkan dalam program-program pelaksanaan pembangunan (3) pengendalian pemanfaatan ruang melalui proses pengawasan dan pemberian izin-izin agar sesuai dengan rencana tata ruang. Membaiknya pengelolaan dan pendayagunaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup yang dicerminkan oleh tetap terjaganya fungsi. untuk melihat konsistensi dan harmonisasi berbagai kebijakan perencanaan pembangunan Provinsi Kalimantan Barat akan dibahas berikut ini. 2. Melaksanakan pengendalian dan pemanfaatan tata ruang dan tata guna wilayah sesuai dengan peruntukan dan regulasi. Sehat Cerdas. Melaksanakan pemerataan dan keseimbangan pembangunan secara berkelanjutan untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah dengan tetap memperhatikan aspek ekologi dalam pemanfaatan sumberdaya alam.7. daya saing bangsa serta modal pembangunan nasional. Misi yang tertuang dalam RPJM dari perspektif lingkungan adalah: 1. Meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas pertanian. Terpeliharanya kekayaan keragaman jenis dan kekhasan sumberdaya alam untuk mewujudkan nilai tambah. misi dan sasaran pokok bidang lingkungan hidup yang terdapat pada RPJP. perikanan. 4. visi. Terciptanya lingkungan hidup yang asri akan meingkatkan kualitas hidup manusia. 1. guna menghindari kesenjangan wilayah dan terwujudnya pembangunan berkelanjutan. RPJPD dan RPJMD Provinsi Kalimantan Barat Sebagai bagian dari pembangunan nasional. Sebagai tindak lanjutnya terdapat 6 (enam) sasaran pokok dalam bidang lingkungan hidup yang mencakup : 1. berbagai kebijakan yang diterapkan didaerah harus mendasari. dengan tetap menjaga kelestariannya. visi RPJP Kalimantan Barat telah memuat aspek pengelolaan lingkungan yang memberikan penekanan pada upaya pengelolaan SDA dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. dan ekologi. Secara lebih operasional. Hal ini dapat dilihat dari visi yang tertuang pada RPJP yaitu “ Kalimantan Barat Bersatu dan Maju” dan Visi yang terdapat pada RPJM “ Mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. Sedangkan dalam tataran strategi pencapaian misi yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup. 6. seimbang dan lestari. Sehat Cerdas. Berbudaya Dan Sejahtera”. secara ekologi tidak menyebabkan kerusakan lingkungan (degradasi sumberdaya) dan secara sosial berkeadilan. 5. sosial. sikap mental. 3. daya dukung. berkeadilan dan berkesimbangan. Berbudaya Dan Sejahtera. peternakan dan pertambangan yang berbasis sumberdaya alam. Secara substansial visi RPJP dan RPJM Kalimantan Barat adalah relatif konsisten dan harmonis. Tersedianya sumberdaya alam yang berkelanjutan bagi pembangunan. RPJM Kalimantan Barat memberikan penegasan bahwa Strategi pengembangan SDA melalui pendekatan pengelolaan berkelanjutan yang menyangkut aspek dimensi ekonomi. Meningkatnya kesadaran. Upaya untuk mewujudkan visi Kalimantan Barat Bersatu dan Maju haruslah dicapai salah satunya dengan mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. 2. dtuangkan dalam RPJM yang merupakan manifestasi dari visi dan misi pimpinan daerah selama 5 tahun ke depan. Tindak lanjut dari strategi ini. Aman. Dalam konteks ini. Dari perspektif dimensi lingkungan. mengacu.

Acuan lokasi investasi dalam wilayah provinsi yang dilakukan pemerintah. Substansi pada RPJP dan RPJM Provinsi Kalimantan Barat No 1 2 3 4 Substansi Visi RPJP Misi RPJP Misi RPJM Strategi RPJM Substansi RPJM Visi RPJM Misi RPJM Strategi RPJM Arah Kebijakan Konsisten ü ü ü ü Tidak Konsisten Harmoni ü ü ü ü Tidak Harmoni 1. Dasar pengendalian pemanfaatan ruang dalam penataan/pengembangan wilayah provinsi yang meliputi indikasi arahan peraturan zonasi. Tabel 4. Dengan hirarki seperti ini. 6. 6. terutama terkait dengan pengelolaan lingkungan terdapat konsistensi dan harmonisasi. Pada tataran hirarki yang lebih rendah RTWP menjadi acuan untuk penyusunan RTRW dan RPJP Kabupaten/Kota. 3. penduduk. 5. 4. 3. 3. Pedoman untuk penyusunan rencana tata ruang kawasan strategis Provinsi Kalimantan Barat. 2. 2. Mewujudkan keserasian pembangunan wilayah Provinsi Kalimantan Barat dengan wilayah sekitarnya. Dari Fungsinya. dan Acuan dalam administrasi pertanahan Provinsi Kalimantan Barat. Acuan dalam pemanfaatan ruang/pengembangan wilayah Provinsi Kalimantan Barat. 2. 7.5.1. serta arahan sanksi. dan saling mengisi dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi. arahan perizinan. Secara keseluruhan dari perspektif lingkungan. Mengarusutamakan prinsip pembangunan berkelanjutan ke seluruh bidang pembangunan. berarti bahwa RTRWP harus mencerminkan dan menjabarkan substansi yang terdapat dalam RTRWN sesuai dengan karakteristik wilayah baik dari aspek geografik. dan swasta. Mewujudkan keterpaduan pembangunan dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. dan Menjamin terwujudnya tata ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat yang berkualitas . Acuan untuk mewujudkan keseimbangan pembangunan dalam wilayah Provinsi Kalimantan Barat. masyarakat. substansi yang terdapat dala RPJP dan RPJM Kalimantan Barat. 5. sumberdaya alam dan sosial ekonomi serta budaya. Koordinasi pengelolaan lingkungan hidup di tingkat Kabupaten. RTRW Provinsi Kalimantan Barat Berdasarkan hirarki berbagai kebijakan dan dokumen perencanaan. 4.1. penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTWRP) mengacu kepada Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional RTRWN). RTRW Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai: 1. Pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan sesuai dengan pedoman IBSAP 2003-2020 Meningkatkan upaya penegakan hukum secara konsisten kepada pencemar lingkungan Meningkatkan kapasitas lembaga pengelolaan lingkungan hidup Membangun kesadaran masyarakat agar peduli pada isu lingkungan dan berperaen aktif sebagai kontrol sosial dalam memantau kualitas lingkungan hidup. Sedangkan Manfaat RTRW Provinsi Kalimantan Barat adalah untuk: 1. arahan insentif dan disinsentif. Acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Barat hingga pada pemerintahan skala kabupaten/kota.

sehingga terjadi keharmonisan dan sinergisitas dalam penyusunan visi. antara lain: a. dan Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi. (4) Kebijakan Pengembangan Kawasan Pedesaan. Mewujudkan Kalimantan Barat sebagai Provinsi Agrobisnis terdepan. tujuan penataan ruang wilayah Propinsi Kalimantan Barat diarahkan untuk “Terwujudnya keharmonisan dan keterpaduan dalam penggunaan/pengelolaan lingkungan alam dan lingkungan buatan dengan peningkatan sumberdaya manusia dalam pengelolaannya serta pencegahan kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan ruang yang dikelola secara arif dan bijaksana guna peningkatan kemakmuran rakyat Kalimantan Barat secara adil dan merata”.2). Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Barat untuk pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berikut ini Tabel yang menyajikan lingkup kebijakan serta uraian dari masing-masing lingkup kebijakan pada RTRWP Provinsi Kalimantan Barat (lihat Tabel 4. b. Terwujudnya ruang Provinsi Kalimantan Barat sebagai beranda depan perbatasan darat Republik Indonesia yang aman. misi. (2) Kebijakan Pengembangan Pola Ruang. keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. termasuk pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budidaya. Mengacu pada tujuan penataan ruang nasional. produktif berkelanjutan berbasis pengolahan sektor unggulan (perkebunan dan kehutanan) untuk pemerataan pembangunan wilayah bagi kesejahteraan masyarakat. (5) Kebijakan Pengembangan Kawasan Budi daya. Sebagaimana disebutkan dalam Rencana Tata Ruang Nasional. .Tujuan penataan ruang wilayah provinsi harus mengacu dan sejalan dengan tujuan penataan ruang nasional. dilakukan penjabaran tujuan penataan ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat. bahwa tujuan penataan ruang nasional adalah terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan. Terkait dengan lingkup kebijakan RTRWP Kalimantan Barat. dan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis dalam rangka mendorong terciptanya integrasi nasional. Untuk memwujudkan hal tersebut. terdapat 6 pengembangan kawasan yang ada yaitu: (1) Kebijakan pengembangan Struktur Ruang. c. strategi hingga sampai pada program-program penataan ruang. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah. demi tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas dan berlandaskan wawasan nusantara dan ketahanan nasional. kebijakan. nyaman. (3) Kebijakan Pengembangan Kawasan Perkotaan. keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor.

Pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Sungai Kakap. meliputi aspek ekonomi. Pemanfaatan kawasan lindung sesuai dengan fungsi lingkungan hidup.Tabel 4. Pengelolaa n Kawasan Budidaya Kehutanan a. keseimbangan lingkungan hidup dan pembangunan yang berkelanjutan. Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Penyediaan sarana dan prasarana yang memerlukan kajian terlebih dahulu. Siantan. f. Penge lolaan Kawasan Lindung a. Pengembangan wilayah ini lebih ditekankan pada sektor tersier dan sekunder. Pembangunan kehutanan dilakukan melalui pendekatan pemanfaatan sumberdaya hutan dalam tiga sisi manfaat secara berimbang. e. kawasan pemukiman juga disesuaikan dengan laju . Pengendalian pemanfaatan ruang pada kawasan lindung agar sesuai dengan fungsinya yang telah ditetapkan. Rasau Jaya. Pengembangan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi antarberbagai jenis prasarana sesuai dengan hirarki struktur ruangnya serta keterkaitan fungsional baik secara internal maupun eksternal. (1) Kawasan Metropolitan Pontianak (KMP) yang meliputi Kota Pontianak dan Kota Ambaya (Sungai Ambawang dan Sungai Raya). dan Sungai Ambawang. 3 Kebijakan Pengembangan Kawasan a. (2) Kawasan Andalan KUSIKARANG yang wilayahnya meliputi enam kecamatan yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Pontianak di luar KMP yang terdiri dari Kecamatan Kuala Mandor. Pengembangan struktur ruang yang didasarkan atas struktur pusat-pusat permukiman utama (PKN) yang berintegrasi dengan pusat permukiman sekunder (PKW) dan pusat permukiman tersier (PKL). b. Pengembangan struktur yang didasarkan atas lima pola pengembangan wilayah. dan ekologi dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi.2. 2 Kebijakan Pengembangan Pola Ruang 1. Sungai Raya. 2. c. b. b. Pengembangan kawasan perkotaan baik berdasarkan kondisi eksisting dan rencana. Berdasarkan rencana. g. Lingkup Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Barat No 1 Lingkup Kebijakan Kebijakan Pengembangan Struktur Ruang Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan a. Penetapan kawasan lindung sesuai dengan fungsinya yang telah ditetapkan. Kawasan budidaya kehutanan dikembangkan secara terpadu dengan upaya meningkatkan daya dukung lingkungan dan pengembangan wilayah. pengurangan resiko bencana alam. d. sosial. Pengembangan wilayah ini lebih ditekankan pada sektor sekunder dan primer. c.

c. meningkatkan produktifitas sektor-sektor unggulan sesuai dengan daya dukung lahan. dalam c. Koordinasi antarstakeholder terkait dengan rencana kawasan pedesaan yang akan dibangun menjadi kawasan perkotaan. 4 Kebijakan Pengembangan Kawasan Perdesaan a. Pengembangan prioritas kawasan pedesaan. d. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan keterkaitan antarkegiatan budi daya. g. Pengembangan sektorsektor yang dapat menjadi tumpuan hidup masyarakat. c. d. Pengembangan sektor di wilayah ruang kegiatan dalam skala luas. 5 Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya a. b. Pengembangan sektor di wilayah mempunyai dampak yang luas. 6 Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) a. karenanya perlu dikendalikan dengan segera. Kawasan kritis yang diperkirakan akan segera membawa dampak negatif. Optimalisasi pemanfaatan ruang kawasan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pengembangan sektor yang akan dikembangkan di atasnya mempunyai prioritas tinggi dalam lingkup regional maupun nasional. f. b. e. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan. b. i. sehingga membutuhkan penanganan dan pengendalian yang segera. Penyediaan infrastruktur di kawasan perkotaan. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung .No Lingkup Kebijakan Perkotaan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan pertumbuhan penduduk. h. Pengembangan kawasan pedesaan yang terintegrasi dengan kawasan perkotaan. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan keterkaitan antarkegiatan budi daya. Penanggulangan kawasan yang memiliki permasalahan yang cukup mendesak untuk ditangani melalui fasilitasi perangkat dukungan penataan ruang. dan e. Kawasan yang menunjukkan perkembangan minat investasi yang tinggi. Meningkatkan akses dan peluang investasi kawasan budidaya dalam rangka meningkatkan perekonomian wilayah. f. Perlu adanya koordinasi antarstakeholder pengelolaan kawasan perkotaan. Pengembangan kawasan dengan fungsi khusus. Kawasan yang mempunyai prospek ekonomi yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan yang mendesak. baik secara regional maupun nasional. dan b. membutuhkan c.

Pengembangan sektor di wilayah membutuhkan ruang kegiatan dalam skala luas. a. mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan. e. p. b. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia. melestarikan keaneka-ragaman hayati. Optimalisasi pemanfaatan ruang kawasan budidaya sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan. j. k. Pengembangan sektor yang akan dikembangkan di atasnya mempunyai prioritas tinggi dalam lingkup . l. dan melestarikan warisan budaya daerah. Pengembangan kawasan pedesaan yang terintegrasi dengan kawasan perkotaan. Pengembangan prioritas kawasan pedesaan. meningkatkan produktifitas sektor-sektor unggulan sesuai dengan daya dukung lahan. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengem-bangan perekonomian daerah yang produktif. Pengembangan kawasan perbatasan untuk mengakomodasikan perkembangan dan keutuhan negara. d. efisien. b. o. 5 Kebijakan Pengembangan Kawasan Budidaya c. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan dalam kerangka ketahanan nasional dengan menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan. m. 6 Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis Provinsi (KSP) a. f. Meningkatkan akses dan peluang investasi kawasan budidaya dalam rangka meningkatkan perekonomian wilayah. dan peningkatan sosial dan budaya n. Pengembangan sektor di wilayah mempunyai dampak yang luas. c. Koordinasi antarstakeholder terkait dengan rencana kawasan pedesaan yang akan dibangun menjadi kawasan perkotaan.Pelestarian bangsa. c. baik secara regional maupun nasional. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan.No Lingkup Kebijakan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem. Pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. b. dan mampu bersaing. 4 Kebijakan Pengembangan Kawasan Perdesaan a. melestarikan keunikan bentang alam.

melestarikan keunikan bentang alam. dapat dikatakan bahwa substansi kebijakan pengembangan kawasan yang terdapat pada RTRWP Provinsi Kalimantan Barat. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan dalam kerangka ketahanan nasional dengan menjaga dan memelihara aset-aset pertahanan dan keamanan. o. Pelestarian dan peningkatan nilai kawasan lindung yang ditetapkan sebagai warisan dunia.No Lingkup Kebijakan Sub Lingkup Kebijakan Uraian Lingkup kebijakan regional maupun nasional. g. Kawasan kritis yang diperkirakan akan segera membawa dampak negatif. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengem-bangan perekonomian daerah yang produktif. n. RTRW Provinsi Kalimantan Barat memuat penetapan kawasan strategis yang salah satunya dilihat dari sisi pertumbuhan ekonomi. p. Kawasan yang mempunyai prospek ekonomi yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan yang mendesak. Pemanfaatan sumber daya alam dan/atau teknologi tinggi secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. sosial dan budaya. dan melestarikan warisan budaya daerah. i. dan mampu bersaing. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem. h. k. e. mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan. Penanggulangan kawasan yang memiliki permasalahan yang cukup mendesak untuk ditangani melalui fasilitasi perangkat dukungan penataan ruang. ekonomi. m. melestarikan keaneka-ragaman hayati. efisien. Terdapat 13 kawasan strategis yang pada dasarnya mengelaborasi fungsi-fungsi berbagai kota yang terdapat di Kalimantan Barat menurut potensi sisi pertumbuhan ekonomi. . l. Kawasan yang menunjukkan perkembangan minat investasi yang tinggi. Apabila diamati penjabaran lingkup kebijakan yang terdapat pada tabel di atas. sudah mengakomodasi aspek-aspek lingkungan baik lingkungan fisik. f. Pengembangan kawasan dengan fungsi khusus. Berikut ini tabel 4. j. d. Pengembangan kawasan tertinggal untuk mengurangi kesenjangan tingkat perkembangan antarkawasan. Pelestarian dan peningkatan sosial dan budaya bangsa.3 yang menyajikan beberapa penetapan kawasan strategis dengan berbagai fungsi berbagai kota yang terdapat di Kalimantan Barat. sehingga membutuhkan penanganan dan pengendalian yang segera. karenanya perlu dikendalikan dengan segera. Selain itu. Pengembangan kawasan perbatasan untuk mengakomodasikan perkembangan dan keutuhan negara.

dan pertambangan. Kota Pontianak Pengembangan Kegiatan Kawasan Industri Semparuk (KIS) Border Development Center (BDC) PKS dari Sisi 1. Berfungsi untuk memberikan pelayanan dalam bidang jasa pemerintahan. Kawasan Metropolitan Pontianak Mendorong perkembangan sektor produksi wilayah. seperti perkebunan. Kawasan Perkotaan Nanga Badau Kota Nanga Badau . Pengembangan kualitas pelayanan prasarana sarana dasar kota yang mendukung fungsi kota agropolitan dan pusat pelayanan antar kota berskala provinsi Berorientasi untuk memantapkan aksesibilitas menuju sentra-sentra produksi pertanian. Nanga Badau berfungsi untuk memberikan pelayanan administrasi pelintas batas negara. pertambangan (bauksit) dan pariwisata. perkebunan. Berfungsi di bidang jasa pemerintahan.3. Kawasan Perkotaan Ketapang Kota Ketapang 6. perkebunan. Kabupaten Sanggau. peternakan dan pertambangan.Tabel 4. Kawasan Pertumbuhan Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Terpadu (KAPET) Kathulistiwa 2. pertanian. perdagangan-jasa dan transhipment point. serta kawasan produksi lainnya dan mengembangkan kualitas pelayanan prasarana sarana dasar (PSD) Kota yang mendukung fungsi kota pelabuhan dan pusat pelayanan antar kota berskala provinsi. sehingga 3. sebagai kota agropolitan dan pengembangan kualitas pelayanan prasarana dan sarana dasar kota di dalam mendukung fungsi kota agropolitan dan pusat pelayanan antarkota berskala provinsi. Simpul transportasi dan juga merupakan pusat perdagangan dan pelayanan jasa yang pelayanannya menjangkau Kabupaten Sambas dan Bengkayang. dan pertambangan di Nangatayap. Tumbangtiti. agroindustri. Penetapan Kawasan Strategis Provinsi Kalimantan Barat No 1 Penetapan Kawasan Strategis Bentuk Kawasan Strategis Daerah Kawasan Kabupaten Sambas Entikong. Kawasan Perkotaan Mempawah Kota Mempawah 4. perikanan. Kawasan Perkotaan Singkawang Kota SIngkawang 5. industri. pertanian pangan. perdagangan. Tanjung.

pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas. Kawasan Perkotaan Sintang Kota Sintang 12. sebagai pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas. Kawasan Perkotaan Putussibau Kota Putussibau 11. Dapat dijadikan kawasan strategis adalah adanya infrastruktur yang lengkap dan juga didukung sarana transportasi. Namun melihat fungsi kota dari satu aspek saja belumlah dapat memberikan justifikasi bahwa kota tersebut dapat mengoptimalkan fungsi. Kawasan Perkotaan Jasa Kota Jasa 10. dan Kabupaten Landak. Sanggau. Bengkayang. dan sekitarnya. dan Kabupaten Landak pelayanan pada sektor jasa pemerintahan. kawasan ini dapat dijadikan kawasan parwisata dengan tetap menjaga kelestarian kawaasn lindung. Hal tersebut menunjukkan kawasan ini memiliki sektor unggulan. Tentu saja aspek lain harus diperhatikan seperti aspek sosial budaya dan letak geografisnya. perkebunan serta hasil hutan dan meningkatkan aksesibilitas melalui jaringan jalan pengumpan menuju sentra-sentra produksi di Putussibau. penetapan kawasan strategis untun berbagai fungsi kotakota yang ada di Kalimantan Barat dapat dikatakan sesuai dengan fungsi-fungsi kota tersebut. 7. dan pariwisata. terutama bagi wilayah Provinsi Kalimantan Barat bagian utara Pertanian. . kehutanan. Kawasan Perkotaan Sukadana Kota Sukadana 13.No Penetapan Kawasan Strategis Bentuk Kawasan Strategis Daerah Kawasan Pengembangan Kegiatan diarahkan sebagai pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. pertanian. Bengkayang. Kawasan Perkotaan Sungai Raya Kota Sungai Raya Dari aspek potensi pertumbuhan ekonomi. Kawasan Perkotaan Sukadana juga termasuk dalam PKW Promosi. Kawasan Perkotaan Jagoi Babang Kota Jagoi Babang 9. Kawasan Perkotaan Aruk Kota Aruk pusat pelayanan administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Kabupaten Sambas dan Landak. 8.

7. optimalisasi pemanfaatan hutan alam. pengembangan sistem informasi kehutanan. KEBERSAMAAN. maka Renstra sektoral pada dasarnya adalah penjabaran program dan rencana kerja pada tingka operasional untuk mencapai apa yang menjadi rencana kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh pimpinan daerah. Rencana Strategis Sektor-Sektor di Provinsi Kalimantan Barat Rencana Strategis sektor-sektor adalah merupakan rencana kegiatan prioritas sektor-sektor selama 5 tahun ke depan. . serta pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel. kabupaten dan masyarakat setempat termasuk dunia usaha kehutanan dan sektor lain Kelestarian hutan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus diarahkan untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang menjamin terwujudnya kelestarian produksi. Melaksanakan penegakan hukum kehutanan. Melaksanakan pengendalian tata ruang. yaitu: 1. Penyusunan Renstra Sektoral mengacu dan berpedoman kepada RPJMD yang merupakan aktualisasi rencana kegiatan pembangunan yang akan dijalankan oleh Pimpinan daerah. 4. 3. 1. provinsi. optimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. Sehingga jika melihat keterkaiatan ini. DAN KETERPADUAN. menengah dan Keterbukaan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan masyarakat dan memperhatikan aspirasi masyarakat kehutanan mengikutsertakan Keterpaduan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan kepentingan nasional. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri pengolahan hasil hutan. Melaksanakan penyusunan. 5. dan penurunan kerusakan sumberdaya hutan.6. Melaksanakan fasilitasl pelaksanaan rehabilitasi kawasan hutan kritis.1. monitoring dan evaluasi rencana kerja. Sektor Kehutanan Visi Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan Barat ditetapkan : ”TERWUJUDNYA PENYELENGGARAAN KEHUTANAN YANG BERASASKAN KERAKYATAN DAN KEADILAN. UNTUK MENJAMIN KELESTARIAN HUTAN DAN PENINGKATAN KEMAKMURAN RAKYAT KALIMANTAN BARAT” Makna dari visi tersebut adalah sebagai berikut : Kerakyatan dan Keadilan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus memberikan peluang dan kesempatan yang sama kepada semua warga negara sesuai dengan kemampuannya sehingga dapat meningkatkan kemakmuran rakyat Kebersamaan mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan menerapkan pola usaha bersama sehingga saling keterkaitan dan saling ketergantungan secara sinergis antara masyarakat setempat dengan pelaku usaha dalam rangka pemberdayaan usaha kecil. serta 2. optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman dan pemberdayaan masyarakat desa hutan.1. KETERBUKAAN. kelestarian ekologi dan kelestarian sosial Peningkatan kemakmuran rakyat mengandung pengertian setiap penyelenggaraan kehutanan harus diarahkan untuk menoingkatkan kemakmuran rakyat dengan pendapatan per kapita di atas rata-rata kebutuhan hidup minimum Sedangkan Misi Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat dituangkan dalam 5 misi. Melaksanakan pengendalian produksi. peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur.

Terwujudnya kawasan hutan yang mantap dengan indikasi : b. data potensi sektor kehutanan di 14 kab/kota serta pengolahan data spatial 4 topik.000 Ha/Tahun.HT di 10 Unit. Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan alam dengan indikasi : - . serta pengembangan sistem informasi kehutanan Tujuan : Mewujudkan kawasan hutan yang mantap. Sasaran : a. pemeliharaan LAN 5 bidang dan Website 2 unit.Selanjutnya untuk setiap Misi dijabarkan lebih lanjut kedalam bentuk tujuan dan sasaran sebagai berikut: 1) Misi 1 : Melaksanakan pengendalian tata ruang. optimalisasi pemanfaatan hutan alam dan keterbukaan informasi publik bidang kehutanan. Terlaksananya pengendalian operasionalisasi IUPHHK-HT yang tidak aktif di 17 Unit.000 km. Terwujudnya peningkatan potensi dan produktivitas kawasan hutan kritis dengan indikasi : Terlaksananya pembinaan kebun benih sebesar 50 Ha dan penyediaan bibit tanaman kehutanan 1. publikasi di media elektronik 3 kali setahun. Terlaksananya pengendalian pembentukan dan pengembangan pengelola wilayah KPH Terlaksananya pengendalian rencana kerja usaha jangka menengah pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam (RKU IUPHHK-HA) : pertimbangan teknis pada 5 unit koridor. berupa bintek di 5 kab. Tujuan : Meningkatkan potensi kawasan hutan kritis. optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman. Terlaksananya fasilitasi serta pengendalian rehabilitasi dan reklamasi seluas 1. serta memperluas lapangan kerja dan usaha masyarakat yang berbasis pada sumberdaya hutan. Terlaksananya pengendalian pemanfaatan dan penggunaan kawasan hutan di 14 kab/kota dan Inventarisasi HP. Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan alam dengan indikasi : - - c. Terlaksananya penyajian dan distribusi informasi kehutanan. b. penyiapan perteknis di 3 kab. dan inventarisasi asset tak bergerak di 5 unit. Terlaksananya peningkatan peranserta masyarakat dalam rehabilitasi dan reklamasi di 14 Kab/Kota. optimalisasi pemanfaatan hutan tanaman dan pemberdayaan masyarakat desa hutan. dan Action Plan 10 unit. HL dan Taman Hutan Raya dan Skala DAS lintas pada 5 kab/kota. berupa : buku info kehutanan 5 judul. Terlaksananya pengendalian tata ruang kawasan hutan di 14 kab/kota dan Rekonstruksi Batas sepanjang 1.000 Batang/Tahun.HA) pada 16 Unit Management per tahun. Terwujudnya keterbukaan informasi publik bidang kehutanan dengan indikasi : - - 2) Misi 2 : Melaksanakan fasilitasi pelaksanaan rehabilitasi kawasan hutan kritis. Terlaksananya penyediaan perangkat keras dan perangkat lunak sistem informasi kehutanan berupa : pengadaan PC 7 unit. Terlaksananya pengumpulan dan pengolahan data kegiatan kehutanan berupa : data dan informasi pada 5 bidang. optimalisasi pemanfaatan hutan alam. Terlaksananya pembinaan dan pengendalian rencana dan realisasi RKT IUPHHK. Sasaran : a. Terlaksananya pengendalian rencana dan realisasi kerja tahunan usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam (RKT IUPHHK. Terlaksananya pengendalian pelaksanan inventarisasi tegakan hutan alam untuk penetapan kuota dan terget produksi RKT IUPHHK-HA.

Terlaksananya pengendalian penatausahaan hasil hutan olahan di 16 lokasi. Terlaksananya pengendalian pengembangan industri primer hasil hutan di 12 kabupaten/kota. Patroli 24 tim. dengan indikasi : - 4) Misi 4 : Melaksanakan penegakan hukum kehutanan. Terlaksananya pengendalian dan penyelesaian piutang PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota. Terlaksananya pengendalian tenaga teknis kehutanan di 12 kab/kota dan 16 unit IUPHHK. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri pengolahan hasil hutan Tujuan : Mewujudkan optimalisasi produksi hasil hutan. Pengangkutan dan pembongkaran barang bukti 3000 m3). Operasi illegal logging 16 kabupaten. Terwujudnya optimalisasi produksi hasil hutan. Terwujudnya perluasan lapangan kerja dan usaha masyarakat yang berbasis pada sumberdaya hutan : Terlaksananya fasilitasi prakondisi pengelolaan IUPHHK-HA dan IUPHHK-HT sebanyak 4 unit. Terlaksananya pembinaan dan pengendalian inventarisasi tegakan hutan tanaman di 10 unit. obtimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. Terlaksananya pengembangan HTR. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan sumberdaya penyidik pegawai negeri sipil di 8 kabupaten. dengan indikasi : Terlaksananya pengendalian penatausahaan hasil hutan di 12 kabupaten dan pengendalian SKAU di 5 kabupaten. Terwujudnya pengembangan industri primer hasil hutan yang berkelanjutan. Terlaksananya pengendalian penggunaan peralatan pemanfaatan hutan di 12 kabupaten. Latihan menembak 30 orang. Pengamanan barang bukti 600 OT. optimalisasi pemanfaatan pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. Sasaran : a. - . Sasaran : a. b. HKM. penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan dan pengembangan industri primer hasil hutan yang berkelanjutan. dan penurunan kerusakan sumberdaya hutan. Terlaksananya rekonsiliasi data penatausahaan PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota dan di Jakarta. Pengawasan penggunan senjata 5 kabupaten). dengan indikasi: Terlaksananya penyelidikan dan penyidikan tindak pidana kehutanan (Diklat PPNS 20 orang. Terlaksananya pembinaan dan pengendalian pelaksanaan kelola sosial IUPHHK pada 20 unit. Terlaksananya pengendalian penatausahaan PNBP sektor kehutanan di 12 kabupaten/kota. Tujuan : Meningkatkan penegakan hukum kehutanan. Terwujudnya optimalisasi penerimaan negara bukan pajak sektor kehutanan. Terlaksananya monitoring dan evaluasi proses penyelesaian tindak pidana kehutanan (Koordinasi dalam di 8 Kabupaten. 3) Misi 3 : Melaksanakan pengendalian produksi. dengan indikasi : c. Terlaksananya pengendalian distribusi dan penggunaan dokumen penatausahaan hasil hutan di 12 kabupaten dan di 3 provinsi asal dokumen.c. Terwujudnya peningkatan penegakan hukum kehutanan. Operasi intelejen di 8 kabupaten. mengurangi terjadinya kerusakan sumberdaya hutan. Hutan Desa dan Hutan Adat sebanyak 10 Unit.

dengan indikasi : - 1. masyarakat dan daya tarik . selama 5 tahun. Terlaksananya koordinasi. Terwujudnya peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur. adil serta berkelanjutan yaitu suatu proses yang terencana dan terarah dalam merumuskan pengelolaan pertambangan dan energi dengan memperhatikan keseimbangan antara optimalisasi manfaat. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan sumberdaya polisi kehutanan di 12 kabupaten. Terlaksananya pelayanan dan administrasi aset secara berkesinambungan selama 5 tahun. 5 tahun. pembangunan kehutanan. peningkatan pelayanan umum dan sumberdaya aparatur. serta pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel. sosialisasi. dengan indikasi : c. Terwujudnya optimalisasi pemanfaatan hutan lindung dan konservasi serta perdagangan karbon. Terlaksananya pembinaan organisasi dan ketatalaksanaan dinas untuk meningkatkan disiplin PNS. Visi Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 – 2013 yaitu TERWUJUDNYA PENGELOLAAN PERTAMBANGAN DAN ENERGI YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN UNTUK MENDUKUNG KESEJAHTERAAN RAKYAT”.7. Sektor Pertambangan Terwujudnya pengelolaan keuangan dan aset yang tertib dan akuntabel. Terlaksananya pembinaan dan peningkatan sumberdaya manusia aparatur. dan pengembangan potensi kawasan hutan lindung dan Terwujudnya penurunan kerusakan sumberdaya hutan. Terwujudnya keserasian perencanaan kehutanan. Terlaksananya penyusunan dokumen harga satuan dan pelaporan pelaksanaan pembangunan kehutanan sebanyak 8 thema. dengan indikasi : Terlaksananya penyusunan dokumen perencanaan kehutanan jangka menengah dan tahunan sebanyak 10 thema. Terlaksananya penanggulangan kerusakan hutan di 12 kabupaten dan Pemantauan RKL dan UPL di 16 unit IUPHHK. dengan indikasi : Terlaksananya operasi penanggulangan pelanggaran kehutanan dan sosialisasi peraturan perundangan di 12 kabupaten/kota.b. monitoring dan evaluasi rencana kerja. efisien. pelaksanaan pelayanan umum serta akuntabilitas pengelolaan keungan dan aset. Terlaksananya penyusunan dokumen pelaporan keuangan dan aset secara lancar selama 5 tahun.2. monitoring dan evaluasi program-program b. Terlaksananya pengendalian rencana kerja tahunan usaha pemanfaatan kawasan hutan lindung dan konservasi di 12 lokasi. Terlaksananya inventarisasi konservasi di 12 lokasi. Terlaksananya pelayanan dan administrasi keuangan secara lancar dan tepat waktu selama 5 tahun. Tujuan : Meningkatkan keselarasan perencanaan pembangunan kehutanan. 5) Misi 5 : Melaksanakan penyusunan. dengan indikasi : Terlaksananya pengendalian rencana kerja usaha jangka menengah pemanfaatan kawasan hutan lindung dan konservasi di 12 lokasi. Sasaran : a. Makna dari visi tersebut adalah : Pengelolaan pertambangan dan energi mengandung arti bahwa pertambangan dan energi harus dikelola berdasarkan asas manfaat. Terlaksananya pelayanan administrasi umum.

5. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM dan sarana/prasarana dalam rangka mewujudkan Managemen Pelayanan Administrasi Yang Optimal. Panas Bumi dan Air Tanah yang baik dan benar. sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 2. 4. Menyediakan pasokan tenaga listrik yang aman. Meningkatkan pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan di bidang mineral. Meningkatkan pelaksanaan inventarisasi geologi dan melaksanakan mitigasi bencana geologi. panas bumi dan air tanah serta energi untuk memberikan manfaat dan nilai tambah yang optimal. Pembukaan akses informasi geologi. sarana & prasarana.investasi. Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi. Memberdayakan kelembagaan. kemudahan berusaha. Mewujudkan dan menjaga ketersediaan pasokan tenaga listrik yang aman. Tujuannya adalah untuk menciptakan harmonisasi usaha pertambangan dengan kepentingan masyarakat dan mendapatkan jaminan ketersediaan energi sehingga menunjang proses pembangunan di seluruh sektor. batu bara. penyediaan data yang up to date. Batubara. peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penyediaan sarana dan prasarana dalam rangka memberikan pelayanan prima. 2. sumberdaya manusia. sebagai berikut: 1. pertambangan dan energi untuk masyarakat dan promosi. 6. efisien dan profesional melalui perencanaan kerja yang terintegrasi. penghematan energi. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan efisiensi penggunaan energi. swasta dan masyarakat. tercapainya akses terhadap energi bagi masyarakat yang tidak mampu dan terisolir. mitigasi bencana geologi serta pelayanan laboratorium. Meningkatkan pengetahuan aparatur. geologi lingkungan. penghematan penggunaan energi dan migas dan penelitian dan pengembangan mineral dan energi. 4. 2. Meningkatkan Pengelolaan Mineral. . andal dan akrab lingkungan. Meningkatkan pelayanan. 3. Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar instansi pemerintah. Kampanye konservasi bahan galian. Mewujudkan tertib administrasi kantor yang efektif. mengembangkan pemanfaatan sumber energi baru terbarukan dan melakukan konservasi energi serta mengoptimalkan pelaksanaan pemanfatan minyak dan gas bumi secara efektif dan efesien. andal dan akrab lingkungan dan mengembangkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan dengan melakukan konservasi dan diversifikasi energi serta mengoptimalkan pemanfaatan migas secara efektif dan efesien. 3. Upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi pemakaian energi fosil dan meningkatkan pemanfaatan energi baru dan energi terbarukan. pelaku usaha dan alih teknologi. pengurangan dan pencegahan emisi dan pemanfaatan energi secara rasional dan optimal. Nilai-nilai strategis organisasi yang perlu dikembangkan dalam budaya kerja organisasi untuk mencapai Visi dan Misi : 1. Dalam skala global salah satu dampak pemanfaatan energi (fosil) yang mengkhawatirkan adalah pemanasan global sebagai akibat emisi dioksida karbon atau CO2 yang menyebabkan perubahan iklim serta kenaikan permukaan air laut. 4. Tujuan Dinas Pertambangan dan Energi sebagai hasil akhir yang ingin dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 sampai dengan 5 tahun (Tahun 2009 s/d 2013). sebagai beriku : 1. 3. Dalam pengelolaan energi juga harus memperhatikan pelestarian lingkungan hidup. Sedangkan Misi Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat. penyediaan data geologi. Berwawasan lingkungan mengandung arti bahwa didalam pengelolaan pertambangan harus mengindahkan prinsip-prinsip konservasi dan pelestarian fungsi lingkungan. Meningkatkan penyelidikan bimbingan teknis.

batubara. 7. Meningkatnya pelayanan dan tertib administrasi umum dan kepegawaian dengan didukung peningkatan kualitas dan kuantitas SDM. e) Penumbuhan dan penguatan kemitraan usaha. teknologi dan e) Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana perkebunan. b) Pengembangan bahan tanaman bermutu. Peningkatan efektifitas pemanfaatan sarana dan prasarana perkebunan. geologi lingkungan. c) Pemantapan kawasan dan pengutuhan agribisnis komoditas unggulan dengan titik berat pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan.3. Meningkatnya pembinaan. g) Pengembangan perkebunan pada kawasan khusus (wilayah perbatasan. andal dan akrab lingkungan dan terlaksanya pemanfaatan energi baru terbarukan dengan melakukan konservasi energi secara berkelanjutan. adapun kegiatan pokok yang akan dilakukan dalam program ini meliputi: a) Penerapan teknologi budidaya yang baik melalui intensifikasi. batubara. panas bumi dan air tanah melalui pelayanan pemberian izin. d) Pengembangan permodalan. 8. mitigasi bencana geologi serta pelayanan laboratorium. 6. Terwujudnya Perencanaan. Terwujudnya pemanfaatan minyak dan gas bumi secara efektif. daerah pedalaman. Meningkatnya managemen pembangunan pengelolaan mineral. air tanah dan daerah rawan bencana geologi. Tersedianya data dan informasi potensi geologi. wilayah terpencil) 2) Peningkatan Kesejahteraan Petani Perkebunan. sinergi perangkat regulaasi dan program serta kualitas sistem dan data informasi. Terlaksananya penyelidikan geologi.pendampingan sekolah lapang dan magang petani maupun petugas. efisien. rehabilitas. 1. 3. Monitoring dan Evaluasi Program dan Kegiatan Sektor ESDM yang terintegrasi dan meningkatkan tertib administrasi keuangan dan asset melalui peningkatan pengembangan sistem pelaporan pencapaian kinerja dan keuangan dalam rangka meningkatkan pelayanan sumber daya pertambangan daan energi. g) Pemantapan manajemen peningkatan kesejahteraan petani pekebun. b) Pendidikan. Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Provinsi Kalimantan Barat dikemukakan bahwa prioritas pembangunan daerah sektor perkebunan adalah: 1) Pengembangan Agribinis. Sektor Perkebunan 2008-2013. adapun kegiatan pokok yang akan dilakukan dalam program ini meliputi : a) Rasionalisasi tenaga penyuluh perkebunan. 4. f) layanan agribisnis seperti sarana produksi. Tersedianya tenaga listrik yang aman. aman dan berkurangnya subsidi pemerintah secara bertahap. 2. rekomendasi teknis. geologi lingkungan.Sasaran yang hendak dicapai Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Barat adalah sebagai berikut : 1. sarana dan prasarana. bimbingan teknis dan pengawasan pengelolaan mineral. . f) Upaya khusus pengentasan kemiskinan di wilayah perkebunan. alsintan.7. 5. pelatihan. ekstensifikasi dan diversifikasi. c) Penumbuhan dan penguatan kelembagaan petani perkebunan d) Penumbuhan dan pengembangan kelembagaan usaha di sentra produksi. panas bumi dan air tanah yang baik dan benar.

3) Pengembangan Sistem Informasi (SIM) Perkebunan . b) Peningkatan dan pengembangan Humas Perkebunan. e) Peningkatan dan pemanfaatan Tata Ruang wilayah perkebunan. Apabila memperhatikan program prioritas yang terdapat didalam RPJM Kalbar 2008 .2013 untuk sektor perkebunan. f) Pengendalian Perizinan Usaha Perkebunan. g) Pembinaan dan pengawasan usaha perkebunan. d) Pengembangan pelaksanaan standarisasi perkebunan. c) Peningkatan kaji terapan Agribisnis Pembangunan Perkebunan. h) Penyelenggaraan Promosi Produk Unggulan Perkebunan. adapun kegiatan pokok dilakukan dalam program ini meliputi : a) Pengembangan sistem data dan informasi perkebunan.h) Pembinaan petani dan kelembagaan petani pada kawasan khusus (wilayah perbatasan pedalaman dan wilayah terpencil). dapat dikemukakan bahwa program prioritas tersebut tidak sama sekali memberikan penekanan pada pengembangan sektor perkebunan yang mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan. yang akan .

kebijakan umum. misi. Bermartabat Dan Menjunjung Tinggi Kebebasan Yang Bertanggung Jawab Serta Hak Asasi Manusia. Terwujudnya Pembangunan Yang Adil Dan Merata. misi. Untuk menindaklanjuti visi tersebut secara lebih operasional dinyatakan dalam misi RPJP sebagai berikut : 1. Kekayaan Sumber Daya Alam. DEMOKRATIS. MAJU DAN MAKMUR. Kuat Dan Berbasiskan Kepentingan Nasional 8. DAN BERKEADILAN” Kesejahteraan Rakyat. serta kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Untuk Mewujudkan Visi Tersebut Bermoral. Mewujudkan Pemerataan Pembangunan Dan Berkeadilan 6. Mewujudkan Masy Demokratis Berlandakan Hukum 4. Telaah Koherensi dan Konsistensi Kebijakan Pemerintah dan pemerintah Provinsi RPJP. Sumber Daya Manusia Dan Budaya Bangsa.1. Mewujudkan Bangsa Yang Berdaya Saing 3. Melalui Pembangunan Ekonomi Yang Berlandaskan Pada Keunggulan Daya Saing. Mewujudkan Indonesia Berperan Penting Dalam Pergaulan Dunia Internasional Selanjutnya Jika Memperhatikan Beberapa Uraian Tentang RPJM Nasional Di Peroleh Visi RPJM Nasional Sebagai Berikut (Visi Indonesia 2014) : “TERWUJUDNYA INDONESIA YANG SEJAHTERA.Berbudaya. rancangan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal. kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif (2) (3) Sejalan dengan yang diamanatkan pada pasal 4 ayat 1 tersebut maka dalam RPJP Nasional terdapat visi sebagai berikut : INDONESIA YANG MANDIRI. Terwujudnya Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. RPJM dan RTRW Nasional 4 Dalam UU No 25 tahun 2004 tentang sistim perencanaan pembangunan nasional pada pasal menyatakan : (1) RPJP Nasional merupakan penjabaran dari tujuan dibentuknya pernerintahan Negara Indonesia yang tercanturn dalarn Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. lintas Kementerian/Lembaga. yang memuat strategi pembangunan nasional. mernuat prioritas pembangunan. dan arah pernbangunan Nasional. Maju. Damai Dan Bersatu 5. Keadilan. Mewujudkan Indonesia Aman. Mulia. RKP merupakan penjabaran dari RPJM Nasional. Terwujudnya Masyarakat. Mewujudkan Masyarakat Yang Berakhlak.Tujuan Penting Ini Dikelola Melalui Kemajuan Penguasaan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi. Bangsa Dan Negara Yang Demokratis. serta program Kementerian/Lembaga. dan program Presiden yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Nasional. 1.1. kewilayahan dan lintas kewilayahan. Berdasarkan Falsafah Pancasila 2.1. dalam bentuk visi.BAB V TELAAH IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN RENCANA PEMBANGUNAN 1. Mewujudkan Indonesia Asri Dan Lestari 7. Yang Hasilnya Dapat Dinikmati Oleh Seluruh Bangsa Indonesia. Mewujudkan Indonesia Menjadi Negara Kepulauan Yang Man Diri. Demokrasi. Berbudaya Dan Beradab . Yang Dilakukan Oleh Seluruh Masyarakat Secara Aktif. program Kementerian/Lembaga dan lintas Kementerian/Lembaga. Beretika. RPJM Nasional merupakan penjabaran dari visi.

nyaman.1. produktif. g. memuat arah kebijakan keuangan daerah. keterpaduan pemanfaatan ruang darat. dan ruang udara. efektif. ruang wilayah nasional yang aman. strategi pernbangunan Daerah. e. antar waktu. d.Rencana pembangunan jangka panjang daerah diwujudkan dalam visi. keterkaitan. penganggaran. RPJMD dan Revisi RTRWP RPJPD Provinsi Kalimantan Barat ditetapkan melalui perda No 7 tahun 2008. c. dengan tujuan yang ingin dicapai adalah untuk: (a) mendukung koordinasi antarpelaku pembangunan dalam pencapaian tujuan daerah. perkembangan Berdasarkan beberapa ketentuan tersebut di atas yang menyangkut keruangan seperti yang terdapat dalam pasal 3 terdapat sedikit perubahan kearah revisi kebijakan keruangan untuk point f sehingga bila kebijakan ini ditetapkan akan sedikit merubah kebijakan keruangan nasional terutama menyangkut KSN. misi. i. (c) menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. dan pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional. c. pelaksanaan dan pengawasan. Penataan ruang kawasan strategis nasional. misi dan arah pembangunan daerah. keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor. termasuk ruang di dalam bumi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. ruang laut. (b) menjamin terciptanya integrasi. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. keterpaduan perencanaan tata ruang wilayah nasional. pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. berkeadilan dan berkelanjutan. h. antar ruang.2. Selanjutnya dijelaskan RPJP Daerah dijabarkan lebih lanjut dalam RPJM Daerah. penyusunan rencana pembangunan jangka panjang nasional. b. penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi. provinsi. Pada UU No 25 tahun 2004 tentang sistim perencanaan pembangunan nasional pasal 5 ayat 2 menyebutkan bahwa : RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi.Maka Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Di Lakukan Misi Sebagai Berikut: Misi 1: Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia Yang Sejahtera Misi 2: Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi Misi 3: Memperkuat Dimensi Keadilan Di Semua Bidang Upaya Melalui Beberapa Dalam PP no 26 tahun 2008 tentang Rencana tata ruang wilayah nasional pasal 2 menyatakan bahwa : Penataan ruang wilayah nasional bertujuan untuk mewujudkan: a. e. RPJM Nasional dan RTRW Nasional tersebut di atas maka dapat dijadikan acuan untuk melihat koherensi antar kebijakan di tingkat Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten. dan (e) mengoptimalkan partisipasi masyarakat. 1. dan . sinkronisasi dan sinergi baik antar daerah. pewujudan pewujudan keterpaduan. antar fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. keseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah. dan kabupaten/kota dalam rangka pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. serta keserasian antarsektor. f. f. d. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional. b. Dengan adanya berbagai kriteria dalam RPJP Nasional. penyusunan rencana pembangunan jangka menengah nasional. provinsi. dan kabupaten/kota. g. dan berkelanjutan. Selanjutnya pada Pasal 3 disebutkan RTRWN menjadi pedoman untuk: a. keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional. Dalam dokumen RPJP Daerah jelas di katakan bahwa RPJPD Provinsi disusun dengan mengacu pada RPJP Nasional sesuai karakteristik dan potensi daerah. dan penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota. dan keseimbangan antarwilayah provinsi. RPJPD. kebijakan umum. (d) menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien.

Hal ini sesuai dengan UU No 25 pasal 5 ayat 3 menyatakan bahwa : RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. Dalam Dokumen RPJMD Kalimantan Barat disebutkan bahwa penyusunan RPJMD Provinsi Kalimantan Barat menggunakan RPJM Nasional sebagai pedoman utama. prioritas pembangunan Daerah. dan pendanaannya.program Satuan Kerja Perangkat Daerah. termasuk pada rencana kerja SKPD. dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. rencana kerja. Hubungan RPJMD Kalimantan Barat dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Ditingkat Pusat maupun Daerah Secara vertikal ke bawah. Dengan pola ini. memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah.1. . RPJMD Kalimantan Barat 2008-2013 disusun sebagai dokumen kebijakan rencana strategis Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat terpilih. prioritas yang termuat dalam RPJMD Kalimantan Barat akan tercermin dalam rencana kerja tahunan. Arahan RPJM nasional yang berkaitan dengan prioritas dan sasaran pembangunan nasional diadaptasikan dalam skala lokal. lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah. RPJMD Kalimantan Barat akan berfungsi sebagai kerangka acuan dalam penyusunan rencana kerja SKPD. baik yang dilaksanakan langsung oleh pernerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Selanjutnya koherensi tersebut digambarkan dalam Diagram yang lebih jelas menggambarkan hubungan RPJMD dan dokumen perencanaan lainnya untuk ini dapat dilihat seperti pada gambar berikut: Gambar 5. Kebijakan ini akan menjadi payung hukum dalam mekanisme dan proses penyusunan rencana untuk lima tahun ke depan yang dituangkan dalam Rencana Tahunan Daerah atau Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). dijabarkan dalam RPJMD Kalimantan Barat.

g) rencana tata ruang kawasan strategis provinsi. rencana kerja. strategi pernbangunan Daerah. meskipun latar belakang kehidupan masyarakat sangat heterogen mereka tetap dapat hidup bersama dalam suasana yang harmonis. Visi pembangunan daerah Kalbar tahun 2008-2028 mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah. Untuk bersatu diperlukan adanya kondisi saling ketergantungan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. dan pendanaannya. maka juga perlu dinyatakan secara tegas misi. lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah. maka visi pembangunan daerah Tahun 2008– 2028 adalah: KALIMANTAN BARAT BERSATU DAN MAJU Visi pembangunan daerah Tahun 2008–2028 itu mengarah pada pencapaian tujuan nasional di daerah. serta arahan sanksi. (3) Koherensi RPJP dengan Rencana tata ruang secara yuridis formal dapat terlihat pada UU no 26 tahun 2007 tentang tata ruang Pasal 20 menyebutkan (1) Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional memuat: a) tujuan. Bersatu merupakan inti dari kebersamaan. memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. memuat arah kebijakan keuangan daerah. maupun nilai-nilai yang mendasari dan mempengaruhinya. RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. arahan insentif dan disinsentif. seperti tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah. masyarakat yang mampu menempatkan orang perorang dalam posisi sejajar dan sederajat dimuka hukum serta masyarakat yang senantiasa dapat . Bila visi telah terumuskan. Selanjutnya pada pasal 22 menyebutkan bahwa (1) Penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi mengacu pada: a) Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. dan h) rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota. perimbangannya. Masyarakat bersatu adalah masyarakat yang mampu mewujudkan budaya politik yang demokratis dan toleran. e) arahan pemanfaatan ruang yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan. misi. kebijakan umum. dan f) arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional yang berisi indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional. sinergis dan saling pengertian. dimana setiap orang disamping memahami hak dan tanggungjawabnya juga memahami hak dan tanggung jawab orang lain. b) rencana struktur ruang wilayah nasional yang meliputi sistem perkotaan nasional yang terkait dengan kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya dan sistem jaringan prasarana utama. baik konstelasinya. b) pedoman bidang penataan ruang.Selanjutnya Untuk melihat koherensi antar kebijakan ini akan dilihat dari beberapa kriteri seperti termuat dalam UU No 25 tahun 2004 Pasal 5 : (1) (2) RPJP Daerah mernuat visi. Misi ini dijabarkan ke dalam arah kebijakan dan strategi pembangunan jangka panjang daerah. arahan perizinan. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. (2) Penyusunan rencana tata ruang wilayah provinsi harus memperhatikan: a) perkembangan permasalahan nasional dan hasil pengkajian implikasi penataan ruang provinsi. d) penetapan kawasan strategis nasional. b) upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi provinsi. Berdasarkan kondisi Kalimantan Barat saat ini. e) rencana pembangunan jangka panjang daerah. prioritas pembangunan Daerah. baik yang dilaksanakan langsung oleh pernerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.yaitu upaya-upaya ideal untuk mencapai visi tersebut. dan strategi penataan ruang wilayah nasional. d) daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional. dan program kewilayahan disertai dengan rencana-rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. berbangsa dan bernegara. c) rencana pola ruang wilayah nasional yang meliputi kawasan lindung nasional dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. Berdasarkan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat. misi. Oleh karena itu. Visi pembangunan daerah tersebut harus dapat diukur untuk dapat mengetahui tingkat kebersatuan dan kemajuan yang ingin dicapai. f) rencana tata ruang wilayah provinsi yang berbatasan. c) keselarasan aspirasi pembangunan provinsi dan pembangunan kabupaten/kota. pembangunan haruslah pula merupakan upaya memperkokoh persatuan. dan c) rencana pembangunan jangka panjang daerah. Dengan demikian. kebijakan. tantangan yang dihadapi dalam 20 tahunan mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh daerah dan amanat pembangunan yang tercantum dalam RPJP Nasional. seperti tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Bersatu merupakan konsep yang dinamis karena mengenali bahwa kehidupan dan kondisi saling ketergantungan senantiasa berubah.

dan berkualitas pendidikan yang tinggi. memperkuat peran masyarakat sipil. meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan iptek melalui penelitian. Mewujudkan Budaya Politik yang Demokratis dan Toleran adalah memantapkan kelembagaan demokrasi yang lebih kokoh. Damai dan Bersatu adalah meningkatkan rasa kebersamaan masyarakat sehingga lebih mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan suku. meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan pendapatan termasuk distribusinya. distribusi. menanggulangi kemiskinan dan pengangguran secara drastis. sistem perlindunganterhadap bencana banjir dan abrasi serta pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil secaraterpadu. tidak diskriminatif. agama. meningkatkan kualitas aparatur baik intelektual maupun moral agar dapat melaksanakan prinsip-prinsip good governance dengan penuh tanggungjawab. ada kaitan yang erat antara kemajuan suatu daerah dengan laju pertumbuhan penduduk. 7. memberikan keindahan dan kenyamanan kehidupan. sistem angkutan massal di perkotaan. air bersih. dan upaya konservasi. konsekuen. dan kenyamanan dalam kehidupan pada masa kini dan masa depan. konsekuen. mencegah tindak kejahatan. 3. Mewujudkan perekonomian yang maju adalah mengedepankan pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing.menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau kelompok. 6. untuk memperkokoh rasa persatuan. 2. tingkat kemajuan suatu daerah diukur dari kualitas sumber daya manusianya. Mewujudkan masyarakat yang Aman. jembatan. dan memihak pada rakyat kecil. tingkat kemajuan suatu daerah dinilai berdasarkan berbagai ukuran. melalui pemanfaatan ruang yang serasi antara penggunaan untuk permukiman. termasuk derajat kesehatan. sarana pengairan. Mewujudkan Supremasi Hukum dan prinsip-prinsip Good Governance adalah melakukan pembenahan struktur hukum dan meningkatkan budaya hukum dan menegakkan hokum secara adil. memperbaiki pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk mendukung kualitas kehidupan. . serta meningkatkan pemeliharaan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan. dan pelayanan jasa. memperkuat kualitas desentralisasi dan otonomi daerah. dan kualitas pelayanan sosial yang lebih baik. Tingginya kualitas pendidikan penduduknya ditandai oleh makin menurunnya tingkat pendidikan terendah serta meningkatnya partisipasi pendidikan dan jumlah tenaga ahli serta professional yang dihasilkan oleh sistem pendidikan. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah tersebut ditempuh melalui 9 (sembilan) misi pembangunan daerah sebagai berikut: 1. tidak diskriminatif. Mewujudkan Pembangunan yang Lebih Merata dan Berkeadilan adalah meningkatkan pembangunan daerah. Mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan. menyediakan akses yang sama bagi masyarakat terhadap berbagai pelayanan sosial serta sarana dan prasarana ekonomi. dan golongan. meningkatkan pemanfaatan ekonomi sumber daya alam dan lingkungan yang berkesinambungan. dan berkeseimbangan adalah memperbaiki pengelolaan pelaksanaan pembangunan yang dapat menjaga keseimbangan antara pemanfaatan. dan penerapan menuju inovasi secara berkelanjutan. 4. keberpihakan kepada masyarakat. energi listrik yang berbasis non BBM (bahanbakar minyak). meningkatkan hasil produksi. Oleh karena itu. keberadaan. dan kontribusi perdagangan dan jasa dalam perekonomian. investasi. keberlanjutan. dan memihak pada rakyat kecil. daya dukung. penegakan supremasi hukum dan pelaksanaan prinsip-prinsip good governance menjadi kunci untuk mencapai Kalimantan Barat bersatu. Disamping itu. pengembangan. antisipatif terhadap setiap potensi konflik. Suatu daerah dikatakan makin maju apabila sumber daya manusianya memiliki kepribadian bangsa. Ditinjau dari indikator sosial. serta reformasi di bidang hukum dan aparatur negara. Secara keseluruhan kualitas sumber daya manusia yang makin baik akan tercermin dalam produktivitas yang makin tinggi. dan menuntaskan tindak kriminalitas. Mewujudkan infrastruktur yang memadai adalah membangun infrastruktur yang maju seperti jalan. dan memperkuat perekonomian daerah berbasis keunggulan setiap wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem produksi. kelompok dan wilayah/daerah yang masih lemah. angka harapan hidup yang lebih tinggi. 5.kegiatan sosial ekonomi. dan kegunaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan tetap menjaga fungsi. berkeadilan. Sementara itu. serta menghilangkan diskriminasi dalam berbagai aspek termasuk gender. Kemajuan suatu daerah juga diukur berdasarkan indikator kependudukan. Daerah yang sudah maju ditandai dengan laju pertumbuhan penduduk yang lebih kecil. dan melakukan pembenahan budaya hukum secara adil. menjamin pengembangan media dan kebebasan media dalam mengomunikasikan kepentingan masyarakat. mengurangi kesenjangan sosial secara menyeluruh. mutlak harus diwujudkan pembangunan yang lebih merata dan berkeadilan. berakhlak mulia.

Keamanan merupakan modal dalam melaksanakan pembangunan daerah Kalimantan Barat. makhluk lain. melaksanakan interaksi antarbudaya. dan keseimbangan batin.8. dan sebagainya menurut norma dan indikatornya masing-masing. Masyarakat beriman memandang upaya pembangunan sebagai amanah atas karunia atau talenta yang diterimanya dari Tuhan. semboyan “dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat (men sana in corpore sano)” atau “rakyat sehat. Iman merupakan investasi pembangunan yang tak terukur kelimpahannya. jasmani. artinya jika manusia berfikir sehat maka dirinya dan juga masyarakat dan lingkungan akan menjadi sehat. Visi Aman Aman mencerminkan keadaan masyarakat yang bebas dari gangguan. demokrasi yang sehat. Beretika. dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lainnya dalam pembangunan. lingkungan hidup yang sehat. Visi sehat menunjukkan betapa pentingnya masyarakat menjaga kesehatannya agar dapat menggerakkan diri sendiri dan orang lain untuk melaksanakan pembangunan. “tuhuh kita adalah produk pikiran kita”. dan khawatir. Berbudaya. moral. dan Beradab adalah memperkuat jati diri dan karakter melalui pendidikan yang bertujuan membentuk manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. bila ada gangguan. hubungan sosial yang sehat. Dalam perekonomian. yang meletakkan kepercayaan kepada Tuhan sebagai dasar utama dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Berakhlak Mulia. cerdas. Jadi visi cerdas. produktif dan inovatif adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan tingkat pendidikan dan derajat kesehatan penduduk. Berbudaya Dan Sejahtera. angka harapan hidup yang lebih tinggi. Kecerdasan berhubungan dengan hati yang ditunjukkan dengan kepedulian terhadap sesama manusia. Sebab itu kegiatan dan hasil pembangunan diupayakan deengan sempurna sebagai wujud kesediaan untuk melayani Tuhan dan sesama. memelihara kerukunan internal dan antarumat beragama. yakni sila pertama. Visi Cerdas Cerdas menunjukkan ketajaman berfikir dan merasakan. Diyakini. 9. keadaan sehat berarti bahwa segala sesuatunya dijalankan dengan hati-hati dan baik. baik yang datangnya dari dalam maupun dari luar akan mempengaruhi upaya dan . tetapi juga psikis. seperti ekonomi yang sehat. Kecerdasan hati harus dilandaskan pada keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Esa (kecerdasan spiritual). tingkat partisipasi anak usia sekolah. serta memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia dalam rangka memantapkan landasan spiritual. hati. seperti telah disebutkan di atas. budaya yang sehat. Visi ini didasarkan pada ideologi Pancasila. Mewujudkan masyarakat yang sehat. Keadaan aman terwujud bilamana masyarakat bebas dari tekanan fisik dan mental. Sejalan dengan RPJPD Provinsi Kalimantan Barat maka Visi dalam RPJMD Propinsi Kalimantan Barat Tahun 2008-2013 adalah: Mewujudkan Masyarakat Kalimantan Barat Yang Beriman. mematuhi aturan hukum. termasuk kecerdasan intelektual menuntut pemberdayaan pikiran. Visi Sehat Sehat adalah keadaan baik atau mendatangkan kebaikan pada seluruh badan jasmaniah dan rohaniah. manusia yang beriman menunjukkan ketetapan hati. negara kuat” merupakan kekuatan pendorong agar masyarakat menjaga kesehatannya. Ketuhanan Yang Maha Esa. mengembangkan modal sosial. Mewujudkan masyarakat yang Religius. keadaan sehat diartikan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan perekonomian berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. sebab untuk mengekspresikan niat dan kekuatan psikis seseorang harus memiliki tubuh yang sehat. Hal itu tercermin pada tingkat pendidikan terendah. Cerdas. Visi Beriman Iman adalah keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Individu. menerapkan nilainilai luhur budaya daerah dan budaya bangsa. Dengan demikian berarti masyarakat diharapkan akan lebih produktif dan inovatif. Bermoral. Kesehatan merupakan investasi untuk mengembangkan kualitas sumber daya pembangunan. pemerintahan yang sehat. Aman. Kesehatan yang dimaksud bukan saja fisik. Sebab itu. dengan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa semua kegiatan dan hasil pembangunan akan baik adanya. dan alam sekitar (kecerdasan emosional). dan kualitas pelayanan sosial yang lebih baik. kesehatan menjadi indikator penting dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM). bahwa kata sehat dalam visi ini juga diasosiasikan pada semua bidang. Selanjutnya. dan etika pembangunan. Sehat. masyarakat. Seperti kata Rhonda Byrne. Sebab itu. rasa takut. keteguhan. dan dunia usaha yang terancam akan selalu merasakan ketidakpastian. Dalam melaksanakan pembangunan. Dalam hal politik.

sasaran. Melaksanakan pengendalian dan pemanfaatan tata ruang dan tata guna wilayah sesuai dengan peruntukan dan regulasi. dan adat istiadat manusia sebagai pelaku dan sasaran pembangunan. Pokok pikiran dan upaya untuk mewujudkan Visi aman ini adalah persatuan dan demokrasi masyarakat Kalimantan Barat. maupun internasional melalui penyediaan sarana dan prasarana infrastruktur serta SDM yang memadai. Karena itu. cerdas. Pesisir dan Kepulauan sebagai sumber potensi ekonomi. meningkatkan keadilan sosial. nasional. budaya berfikir dan bertindak berdasarkan kebenaran. keamanan. budaya melayani. sebab hanya dengan kebersamaan kita bisa memenangkan setiap upaya. dan dinamis hendaknya terlebih dahulu dibentuk suatu budaya yang baik dari berbagai bidang. teknologi dan pasar untuk meningkatkan daya saing. dan kebersamaan. . dan tujuan pembangunan yang telah ditetapkan. guna menghindari kesenjangan wilayah dan terwujudnya pembangunan yang berkelanjutan. Perbatasan. Pembangunan yang dilandasi oleh budaya yang baik akan menghasilkan hasil pembangunan yang baik pula. 11. aman. kesehatan. akal budi. dan perlindungan hak asasi manusia guna mendukung terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun. 7. yakni: 1. konstruktif. Visi tersebut dalam RPJMD provinsi Kalimantan Barat akan diwujudkan melalui Misi Pembangunan Daerah Kalimantan Barat. dengan didukung sistem dan sarana investasi yang baik melalui penyediaan data potensi investasi guna menarik dan mendorong masuknya investasi. 10. Visi Sejahtera Sejahtera merupakan keadaan utuh sebagai kesimpulan atau akumulasi dari visi beriman. Masyarakat dan individu yang sejahtera adalah masyarakat yang aman sentosa. budaya adil. konstruktif. aman. Budaya luhur yang ada dalam masyarakat Kalimantan Barat perlu dipertahankan dan dikembangkan sebagai modal dasar pembangunan. mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai budaya. Menegakkan supremasi hukum. budaya jujur. untuk mencapai manusia yang memiliki budaya yang positif. dan berbudaya. agama. 9. serta menempatkan aparatur yang profesional dan berakhlak sesuai dengan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki serta sesuai dengan peraturan jenjang karir kepegawaian yang berlaku. budaya produktif-bukan konsumtif. seperti budaya good government. dan koperasi. Visi Berbudaya Budaya menyangkut pikiran. Pendekatan untuk mencapai visi sejahtera adalah pendekatan menyeluruh. dan dinamis dalam masyarakat Kalimantan Barat. konsisten. adil dan makmur. menengah. budaya bersih. Melaksanakan peningkatan sistem pelayanan dasar dalam bidang sosial. 8. Visi aman mengandung makna terwujudnya suasana kondusif. Meningkatkan kemampuan kapasitas dan akuntabilitas aparatur pemerintah daerah guna meningkatkan pelayanan publik. Melaksanakan pemerataan dan keseimbangan pembangunan secara berkelanjutan untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah dengan tetap memperhatikan aspek ekologi dalam pemanfaatan sumberdaya alam. budaya transparan. dengan membuka akses ke sumber modal. Melaksanakan peningkatan pembangunan infrastruktur dasar guna memperlancar mobilitas penduduk dan arus barang serta mempercepat Pembangunan dan Pengembangan Pariwisata di Wilayah Pedalaman. sehat. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia melalui peningkatan kualitas tenaga kependidikan dan penyediaan prasarana dan sarana pendidikan serta pemerataan pendidikan. dan damai. kekayaan 2. 3. dan ketertiban melalui sistem kelembagaan manajemen yang efisien dan transparan. Mengembangkan sumberdaya lokal bagi pengembangan ekonomi masyarakat melalui sistem pengelolaan yang profesional. Visi berbudaya juga bermakna bahwa hasil pembangunan bersifat tetap dan berkelanjutan (sustainability). dan efisien serta akuntabel. regional. efektif.hasil pembangunan. melalui pemberdayaan potensi dan kekuatan ekonomi lokal terutama pengusaha kecil. Mengembangkan jaringan kerjasama antara pemerintah daerah dengan pihak swasta baik dalam tataran lokal. selamat. dan sebagainya. pendidikan. Menggali dan mengembangkan Nilai-nilai dan keragaman budaya serta memanfaatkan keindahan alam untuk kepentingan kepariwisataan. Memperluas lapangan kerja dan usaha dengan berbasis ekonomi kerakyatan. 5. 6. serta menggali. 4.

budaya daerah dan tradisional guna mempertahankan mewujudkan pariwisata berbasis budaya dan kerakyatan. hal ini dapat tampak pada besarnya usulan perubahan pola ruang dimana perubahan bentang alam dari fungsi kawasan kearah APL 1. dengan adanya dinamiika masyarakat dan laju pertumbuhan pembangunan.439 ha.028. Perubahan tersebut termasuk di dalamnya kawasan strategi nasional/Lindung Nasional (KSN). ketahanan budaya sekaligus Dari sisi revisi tata ruang wilayah provinsi . dapat merubah sebagian bentang alam. Matrik kriteria koherensi kebijakan nasional dan kebijakan provinsi Jenis Kebijakan Provinsi RPJPD Prov RPJMD Prov Revisi RTRWP Jenis kebijakan Nasional RPJP Nas Koheren Koheren Pada Bagian ter tentu terjadi peru bahan ruang KSN RPJM Nas Koheren koheren Pada Bagian tertentu terjadi perubahan ru ang KSN RTRWN Koheren Koheren Pada Bagian tertentu terjadi perubahan ruang KSN . Visualisasi perubahan bentang alam tersebut dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 5.713 ha.1.2. Perubahan pola Ruang Di Prov Kalbar dalam RTRWP Untuk lebih memudahkan melihat koherensi antar kebijakan ini dapat dilihat melaui table matrik berikut ini : Tabel 5.969. sedangkan perubahan antar fungsi kawasan sebesar 1.

WP Tengah terdiri Kabupaten Sanggau. Telaah Harmoni RPJP dengan Revisi RTRW Provinsi Kalimantan Barat RPJP merupakan acuan pembangunan jangka panjang dengan skala cakupan menurut UU No. agribisnis/aqua bisnis. pertambangan. dan Kabupaten Ketapang. Kabupaten Kapuas Hulu. 25 tahun 2004 meliputi seluruh wilayah Provinsi Kalbar.3. Kabupaten Ketapang. Kabupaten Sanggau. oleh karenanya scooping wilayah kajian akan meliputi wilayah pemerintah kabupaten kota yang masuk dalam wilayah DAS Kapuas. Di dalam RPJPD Provinsi Kalimantan barat dalam konsep pembangunannya. dan Kabupaten Landak. dan mobilisasi sumberdaya. penataan kota. dan model pertanian. Kabupaten Sekadau. WP Pesisir di arahkan pada pengembangan pelabuhan samudera/pelabuhan regional/pelabuhan perikanan. instalasi air bersih & kelistrikan. Kabupaten Kayong Utara. perkebunan.2. Kabupaten Sintang. pariwisata (budaya. WP Tengah yang difokuskan di Kawasan Tayan. WP Antar Provinsi meliputi Kabupaten Sintang. Kabupaten Bengkayang. masuk dalam wilayah kajian dapat dilihat pada - - Gambaran wilayah administrasi kabupaten yang gambar berikut: Gambar 5. industrial estate. Kalbar dibagi kedalam 4 (empat) Wilayah Pengembangan (WP) yang meliputi WP Tengah. terminal perikanan. Wilayah administrasi kabupaten yang masuk wilayah kajian . Kabupaten Melawi. Kabupaten Kubu Raya. Kota Pontianak dan Kota Singkawang. pantai dan kepulauan) dan pengembangan pulau-pulau kecil. WP Perbatasan Antar Negara diarahkan pada pengembangan border devlop ment centre (BDC). dan promosiparawisata. promosi parawisata. ecotourism.1. WP Perbatasan Antar Propinsi diarahkan pada pengembangan pertambangan. budidayatangkap ikan. Pengembangan WP Tengah meliputi jalan dan jembatan. promosi investasi. Untuk WP Antar Negara mencukup 5 (lima) kabupaten yang meliputi Kabupaten Kapuas Hulu. WP Pesisir terdiri dari Kabupaten Pontianak. pelabuhan sungai. pusat agribisnis. kesenian. diarahkan pada titik pusat pembangunan transportasi yang membuka keterisolasian wilayah pedalaman dan memperlancar aksesibilitas arus orang dan barang ke dan dari wilayah pesisir. perkebunan. Kabupaten Sambas. WP Pesisir. dan WP Antar Negara. WP Antar Provinsi. Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sambas.

Oleh karenanya rencana pembangunan jangka panjang daerah yang dituangkan dalam bentuk visi. masyarakat. hasil dari substansi tersebut meliputi arahan dalam hal pola ruang dan struktur ruang. pemerintah. untuk ini tentunya harus mempunyai keserasian dengan RPJPD Provinsi terutama terkait dengan konsep pembangunan wilayah Kalbar. Hasil arahan pola ruang dan struktur ruang terkait dengan kabupaten yang ada dalam wilayah kajian dapat dilihat seperti pada tabel berikut : . organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik. misi dan arah pembangunan daerah adalah produk dari semua elemen bangsa. Secara substasi proses revisi RTRWP dalam wilayah kajian ini melibatkan wilayah kabupaten.Perencanaan jangka panjang lebih condong pada kegiatan olah pikir yang bersifat visioner. sehingga penyusunannya akan lebih menitikberatkan partisipasi segmen masyarakat yang memiliki olah pikir visioner .

Alokasi pola ruang Revisi RTRWP pada kabupaten yang ada di wilayah Kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Usulan RTRWP APL Base CA HL HP HPK HPT SAL TN TWA Bengkayang 399024 632 875 47495 51520 0 2639 0 43800 0 546035 Kapuas Hulu 885073 18379 0 685422 48167 0 548638 0 935517 0 3121196 Kayong Utara 141677 11609 0 51612 41417 60233 0 0 294985 0 601533 Ketapang 1611000 15462 137628 290990 356413 48221 547912 0 17034 0 3024660 Kota Pontianak 11004 705 0 0 0 0 0 0 0 0 11709 Kubu Raya 467544 41389 0 148515 127041 22928 65789 0 0 0 873186 Landak 595991 1681 2648 50170 111346 0 12739 0 49716 0 8q24291 Melawi 416239 5594 0 216995 69561 2655 256746 0 44774 0 1012564 Pontianak 134301 1013 0 5003 48407 0 16148 0 0 0 204872 Sanggau 801020 15128 0 96171 251347 69878 39640 0 1073 0 1274257 Sekadau 402093 4934 0 56156 72493 0 25527 0 0 0 561203 Sintang 994910 11402 0 453065 142941 0 535430 0 67992 2054 2207794 Jumlah .Tabel 5.2.

Mengacu pada tujuan penataan ruang wilayah Propinsi Kalimantan Barat yang diarahkan untuk “Terwujudnya keharmonisan dan keterpaduan dalam penggunaan /pengelolaan lingkungan alam dan lingkungan buatan dengan peningkatan sumberdaya manusia dalam pengelolaannya serta pencegahan kerusakan lingkungan akibat pemanfaatan ruang yang dikelola secara arif dan bijaksana guna peningkatan kemakmuran rakyat Kalimantan Barat secara adil dan merata”. Maka harmonisasi RPJP dengan Revisi RTRW di Wilayah kajian di analisis dari bentuk matrik sebagai berikut. . dan beberapa saran perhubungan seperti jalan. gambaran struktur ruang yang ada dalam kawasan/wilayah kajian dapat dilihat pada gambar 5. kecuali kota Pontianak yang tidak memiliki kawasan hutan . Sintang (Jasa) dan Kapuas Hulu (Nanga badau). Berdasarkan gambar tersebut diproyeksikan akan banyak jalur jalan nasional dibanding jalan provinsi. 22 PKL. Selanjutnya di lihat dari arahan struktur ruang .Berdasarkan data pola ruang tersebut. dalam revisi tata ruang di wikayah Kabupaten yang berada dalam wilayah DAS kapuas terdapat beberapa proyeksi pusat kegiatan dan sarana transportasi jalan darat . PKSN tersebut erdapat di Kab Sanggau (Entikong).4 Pada arahan struktur ruang dalam revisi tata ruang terdapat 3 PKSN yang masuk dalam wilayah kajian. 4 PKW. baik yang bersifat nasional maupun lokal. 1 PKN. sedangkan yang lainnya terdapat dalam jumlah yang bervariatip.

42 0 28.54 2.88 10.44 23.08 0 Kab.30 6.59 18.53 0 0 0 -WP Pesisir 23.50 0 1.52 6.0 0 -WP Pesisir -WP Antar Provinsi -WP Pesisir 53.35 0 4. Matrik Wilayah Pengembangan dalam RPJP Prov dan Pola Ruang dalam Revisi RTRWP Proporsi Arahan pola ruang dalam Revisi RTRWP Wil.01 0 0 49.55 9.69 9.62 7.54 0 6.88 0 0 0 -WP Pesisir 53.43 6.72 5.86 0 7.43 0 0.00 12. Melawi Kab.07 0.16 8.San ggau -WP tengah 71.54 HPK (%) 0 HPT (%) 17.57 SAL (%) 0 TN (%) 29.Pon tianak Kab Kubu Raya Kab.98 0 0 0 0 0 0 0 0 . Keta pang Kota Pontia nak 0 65.47 0 24.56 0 93.86 0.03 0 -WP Pesisir -WP Antar Ne gara -WP Pesisir 73.48 0 8.97 TWA (%) 0 Kab.02 0 Kab.09 -WP tengah -WP Antar Negara -WP tengah 62.32 72.10 0 21.55 2.58 6.91 0 4.78 1. Sekadau Kab. Landak Kab.62 0 7.07 0. Admini s-trasi RPJPD Prov (pola ruang yang terdapat dalam wilayah kajian ) APL (%) Kab.54 19.25 0 3.26 25. Kapuas Hulu -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara -WP Antar Provinsi -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Kab.3.62 11.55 0 8.Ben gkayang 0.35 CA (%) 0 HL (%) 21.48 3.54 0 0 0 41.08 13.06 0 20.64 0 10.96 HP (%) 1.01 14.11 0 0.54 0 17.11 0 0. Sintang 45.Ka yong utara Kab.Tabel 5.26 4.

Selanjutnya berdasarkan arahan pola ruang yang diproyeksikan dapat terlihat bahwa dalam Revisi tata ruang telah mendekati harmonisas. Sintang -WP Antar Provinsi -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab. Lintas kaliman tan /negara Ada Jl.Bengka yang Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab.4.Kapuas Hulu -WP Antar Provinsi -WP Antar Negara Ada Ada Kab. Administrasi (pola ruang yang terdapat dalam wilayah kajian ) RPJPD Prov Jl. untuk ini dapat dilhat dari tabel berikut. Melawi Kab. hal ini tentu perlu dilihat lebih lanjut potensi wilayah yang ada.Pontian ak KabKubu Raya Kab. Sekadau Kab. Landak Kab. Pro vinsi Pelab uhan laut Termi nal berku alifika si Ban dara Ada PKN PKW PKSN PKL Kab.Kayong utara Kab. Ketapang Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kota Pontianak Ada Ada . tambang dan lainnya.Berdasarkan data yang ada memang tampak bahwa ada beberapa kabupaten yang masih perlu disesuaikan ketersediaan ruang terutama yang terkait dengan rasio antar kawasan APL dan kawasan hutan yang di alokasikan dengan fokus dalam arahan wilayah pengembangannya. Matrik Wilayah Pengembangan dalam RPJP Prov dan Struktur ruang dalam Revisi RTRWP Arahan Struktur ruang dalam Revisi RTRWP Wil.Sangga u -WP tengah -WP tengah -WP Antar Negara -WP tengah -WP Pesisir -WP Antar Negara -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Pesisir -WP Antar Provinsi -WP Pesisir Ada Ada Ada Ada Ada Ada Ada Kab. Tabel 5. baik untuk kebun.

1. .Berdasarkan kondisi proyeksi pembangunan struktur ruang. serta merujuk pada Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mengamankan bahwa pemerintah Provinsi diberikan waktu selama 2 (dua) tahun terhitung sejak undang-undang tersebut berlaku untuk melakukan penyesuaian terhadap rencana tata ruangnya. Peta sebaran struktur ruang per wilayah kabupaten yang masuk dalam wilayah kajian dapat dilihat pada gambar berikut. 1. Revisi tata ruang Provinsi Kalbar meliputi perubahan pola ruang dan struktur ruang. Data Revisi Pola ruang untuk wilayah kajian sesuai dengan wilayah administrasi Pemerintah kabupaten/kota yang masuk dalam DAS Kapuas dapat dilihat pada table berikut ini.4. Telaah Implikasi Revisi Rencana Tata Ruang di Wilayah DAS Kapuas Implikasi Rencana Pola Pemanfaatan Ruang di Wilayah DAS Kapuas Melihat adanya dinamika pembangunan yang signifikan baik internal maupun eksternal.3. Struktur ruang dalam wilayah Kabupaten yang masuk wilayah kajian 1. maka Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2004 tentang RTRWP Kalimantan Barat (Tahap I) sudah waktunya untuk direvisi. Gambar 5. tampak antara rencana pembangunan jangka panjang dengan arahan struktur ruang dalam revisi tat ruang cukup harmonis.3.

Selanjutnya PP No 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikut. KSN yang berada dalam kawasan DAS Kapuas ini adalah TN Betung Kerihun dan TN Danau sentarum.904 1.346 1.Tabel 5. Nyiut. selanjutnya akan terdapat kawasan Strategis Nasional (KSN) sebesar 10.5. guna optimalisasi manfaat lingkungan. TN Buikit baka-bukit raya dan TN G. banyak mengarah pada bagian Timur dari Wilayah DAS Kapuas. Dengan memperhatikan beberapa ketentuan di atas maka secara alokasi kawasan hutan yang di proyeksikan dalam revisi tata ruang telah mencukupi. untuk ini maka kondisi penutupan harus benar-benar diperhatikan. dan (b).055 103.07 45. maka revisi pola ruang di kawasan DAS kapuas maka kawasan ini akan memiliki kawasan Areal Penggunaan lain yang cukup besar yakni 45. Data Revisi pola Ruang dalam wiayah kajian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kawasan BASE/TUBUH AIR CA HL HP HPK TN TWA HPT APL Jumlah Luas (ha) 102. dan manfaat ekonomi masyarakat setempat.9 9. dan selanjutnya diduduki oleh hutan produksi terbatas (HPT= 15.02 10. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 18 menyatakan :(1) Pemerintah menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan untuk setiap daerah aliran sungai dan atau pulau.668 10. dengan alokasi kawasan APL pada bagian tengah dan hilir maka mendorong aktivitas budidaya pertanian dan perkebunan terkonsentrasi di kawasan ini.3 1.098. mempertahankan daya dukung kawasan hutan tetap layak kelola. Sedangkan pada bagian tengah dan hilir Wilayah DAS Kapuas cenderung menjadi APL. (2) Luas kawasan hutan yang harus dipertahankan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal 30 % (tiga puluh persen) dari luas daerah aliran sungai dan atau pulau dengan sebaran yang proporsional.991 1.01 16.8 0.191. Pasal 12 menyatakan (1) Tukar menukar kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) dilakukan dengan ketentuan: (a).726. tetap terjaminnya luas kawasan hutan paling sedikit 30% (tiga puluh perseratus) dari luas daerah aliran sungai. .831 946. Berdasarkan Undang – Undang No.065 1.24 100 Berdasarkan data di atas.673.536. agar dampak lain yang mungkin timbul berupa erosi dan banjir tidak terjadi.24 %. manfaat sosial. dan/atau provinsi dengan sebaran yang proporsional..043 4.8 %.07).01 0. namun ketersebarannya tidak merata.404 % 1.501 2. pulau.02 15.9 %). Disisi lain kawasan hutan lindung (HL) menempati urutan kedua (16.

Pusbar Tersier : a. b. Sungai . c. Pusbar Tersier : a.6. Singkawang b.Gambar 5. Oleh karenanya data mengenai perubahan struktur ruang akan di gunakan data struktur ruang dalam revisi tata ruang kalimantan barat. Ketapang dengan pembentukan kabupaten baru dari Bandara Pusbar Sekunder Supadio Pontianak. dan pusat kegiatan. Kota Pontianak dan Ibu Kota Kab. Mempawah. Putussibau. Promosi PKW : Sukadana – Teluk Melano (jika terjadi pemekaran wilayah Kab. Susilo. Data Arahan Struktur Ruang Pusat pemukiman. Sintang.3. Pangsuma. Kubu Raya) PKW : Sambas.2. Singkawang. Rahadi Oesman. Sintang. Implikasi Rencana Struktur Ruang di dalam wilayah kajian Revisi struktur ruang dalam tata ruang di Kawasan DAS Kapuas merupakan bagian dari evisi tata ruang Kalimantan barat. Tabel 5. Ketapang. Paloh.5 Gambaran Revisi Pola dan Struktur Ruang dalam wilayah kajian 1. Putussibau dan Ketapang. Sukadana Internasional : Pulau (Pantai dan Gondol Temajok Kijing) Tanjung dalam Tipe A (antar kota antar provinsi dan/atau lintas batas negara): a. Untuk ini dapat di lihat dari tabel berikut ini. Pelabuhan dan Terminal Pusat Pemukiman RTRWP PKN : Kawasan Mtropololitan Pontianak (KMP. Sanggau. Liku. : Pelabuhan Internasional Pontianak Nasional Ketapang : : Terminal d. Penekanan struktur ruang dalam kaitannya dengan DAS Kapuas adalah pada jaringan jalan. bandara.

§ Kota Sandai diperkirakan menjadi ibukota kabupaten dalam masa rencana.Aruk . Soekarno-Hatta. Pusat penyebaran tersier : Rahadi Oesman. Pelabuhan nasional : Ketapang Jalan Bebas Hambatan : Singkawang – Sungai Pinyuh – Pontianak – Tayan. Sepinggan) : 1. Kapuas Hulu PKSN Kabupaten Hinterland . Sintang & Melawi Kab. Sanggau & Sekadau Kab. Sambas Kab. Data Arahan Struktur Ruang PKN.Pusat Pemukiman bagian utara wilayah Kab. Susilo. f. e. Pusat penyebaran sekunder : Supadio.7. Singkawang c. PKW dan PKSN PKN Pontianak PKW Ketapang (I/B) Mempawah (II/B) Singkawang (I/C/1) Sambas (I/A/1) Entikong (I/A/1) Sanggau (I/C/1) Sintang (II/C/1) Putussibau (I/A/2) . Teluk Batang. Tanjung Api di Paloh Terminal Ambawang di Ibukota KKR b. Pelabuhan internasional : Pontianak. Ponttianak & Landak Kab.Nanga (I/A/2) Badau § Bandara sebagai Simpul Transportasi Udara Nasional (sebagai pusat penyebaran primer : Hang Nadim. Paloh. 2. Ruang milik jalan minimal = 30 meter (PP No.Jasa (II/A/2) . 2. b. 34/2006 tentang jalan pasal 40).Jagoibabang (I/A/2) . Ketapang Keterangan : § Kota Sintang diperkirakan menjadi ibukota provinsi Kapuas Raya dalam masa rencana. Ketapang & Kayong Utara Kab. Sintang Tayan Tipe B (antar kota dalam provinsi) d.Temajuk (II/A/2) (Paloh) Kab. Pelabuhan sebagai Simpul Transportasi Laut Nasional : 1. Nasional : a. Pangsuma. Bengkayang & Sambas Kab.Entikong (II/A/2) . Tabel 5. § § . Ketapang Bandara Pelabuhan satu sistem.

2. Data Arahan Struktur Ruang Ruas jalan Nasional DASAR PENETAPAN PP No. PKW: Sambas. 26/2008 RTRWN (pasal 18) tentang RUAS JALAN a. § Nanga Tayap – Siduk – Ketapang c. Putussibau. Kawasan perkotaan Bontang – Samarinda – Balikpapan. § Batas negara – Jasa – Senaning – jalan antar PKSN § Batas negara – Entikong dan Balai Karangan. dan PKN dan atau PKW dengan kawasan strategis nasional a. b. § Tayan – Sosok – Tanjung – Sanggau – Sekadau – Sungai Ukoi – Sintang – Putussibau – Samarinda. § Pelabuhan nasional Ketapang. 4. jika terbentuk Kabupaten Sandai : Sukadana – Teluk Melano. Palangkaraya. Mempawah. Nanga Pinoh dan Sukadana. Singkawang. dan atau PKN dan atau PKW dengan : Ø Bandar udara pusat penyebaran skala pelayanan primer/sekunder/ter sier dan Ø Pelabuhan internasional/nasion al 1.Antara PKSN – PKW : § Batas negara – Nanga Badau – Putussibau § Nanga merakai – Sintang. PKW usulan. Sanggau.Arteri primer antara PKN dan PKW § Pontianak – Sungai Pinyuh – Mempawah – Singkawang – Sambas. Nangabang. Sekadau.Jalan strategis nasional antar PKSN: Nanga Badau – Nanga Merakai – Balai Karangan – Entikong – Jagoi Babang – Aruk – Temajuk (Paloh) b.Tanjung § Batas negara – Jagoi Babang – Bengkayang – Singkawang Kawasan nasional : strategis KETERANGAN PKN di Pulau Kalimantan yang berhubungan dengan kawasan pekotaan Pontianak melalui jalan arteri primer adalah : 1. dan 2. Antara PKN dan PKW. Putussibau dan Ketapang. Antara PKSN dan pusat kegiatan lainnya.Arteri primer penghubung PKN dan atau PKW dengan bandara pusat penyebaran dan pelabuhan internasional/nasional : § Bandara Pusbar sekunder Supadio (Pontianak).Tabel 5. Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun § § . § Bandara Pusbar tersier usulan : Singkawang dan Sukadana. Ibukota kabupaten yang tidak masuk dalam PKN atau PKW : Bengkayang. Kawasan perbatasan dasar RI dan jantung Kalimantan (Heart of Borneo).8. KAPET khatulistiwa. 3. 1) Jaringan jalan nasional terdiri atas : 2) Jaringannjalan arteri primer dikembangkan secara menerus dan hirarki berdasarkan kesatuan sistem orientasi untuk menghubungkan : § § § Antar PKN. Sintang. § Pelabuhan nasional usulan : Teluk Batang (ke Teluk Melano dan Sukadana) 3) Jaringan jalan strategis nasional dikembangkan untuk menghubungkan : § Antar PKSN dalam satu kawasan perbatasan negara. § Pelabuhan internasional Pontianak. PKN di Kalimantan Barat yaitu kawasan perkotaan Pontianak meliputi Pontianak dan ibukota KKR. § Pelabuhan internasional usulan Pulau Temajok (pantai Kijing) dan Tanjung Gondol dalam satu sistem. Sintang. Kawasan stasiun pengamat dirgantara Pontaianak.Arteri Primer antar PKN : § Pontianak – Tayan – Simpang Dua – Nanga Tayap – Palngkaraya. Paloh. § Bandara Pusbar tersier : Ketapang.

1. Dalam kondisi tertentu terutama yang berkaitan dengan bencana alam yang berskala besar. 34/2006) : a. dan ruang udara. Salah satu yang mengisi ruang tersebut adalah kehutanan. demikian juga dengan pusatdari yang sudah ada.4. maka rencana tata ruang wilayah provinsi dapat ditinjau kembali lebih dari .DASAR PENETAPAN RUAS JALAN § Batas negara – Aruk dan Tanjung Bantanan – Tanjung Harapan § Batas negara – Temajuk – Liku – Tanjung Harapan . Jalan kolektor primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten atau kota b.4. Jalan strategis provinsi § § RUAS JALAN Kolektor primer antara ibukota provinsi dan kabupaten : § Bengkayang – Simpang Tiga – Anjongan. 24 tahun 1992 yang disempurnakan dengan UU No. Rencana tata ruang wilayah provinsi ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. Ledo – Suti Semarang – Serimbu Kembayan KETERANGAN Jalan provinsi dapat bertembah setelah penetapan kawasan strategis provinsi dan masukan penyempurnaan Rancangan Rencana Struktur Ruang wilayah Provinsi Kalimantan Barat § § Implikasi struktur ruang di wilayah kajian untuk struktur jalan dan dapat juga dengan melalui pembuatan jaringan pusat pemukiman lebih cenderung meningkatkan status sarana pelabuhan udara maupun pelabuhan laut dan infrastruktur yang sudah ada dan juga pembangunan baru. dan c. jalan dapat berupaka peningkatan status jalan baru. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang mengamanatkan bahwa ruang merupakan wadah yang meliputi ruang darat. sedangkan untuk terminal dilakukan dengan membangun Telaah Implikasi Program Pemanfaatan Ruang Revisi RTRWP/259 Berdasarkan UU No. 1.Sambas KETERANGAN 4) Jaringan jalan kotektor primer dikembangkan untuk menghubungkan antar PKW dan antara PKW dan PKL (penjelasan: dikembangkan pula untuk menghubungkan antar ibukota provinsi) Antar PKW : § Sungai Pinyuh – Anjungan – Sidas – Nabang – Sosok § Siduk – Sukadana Antar ibukota provinsi : Sungai Ukoi – Nanga Pinoh – Nanga Ella -Palangkaraya (jika kota Sintang menjadi ibukota provinsi). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. 1. Ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah merupakan tempat manusia dan mahluk lain hidup melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya. ruang laut. Jalan kolektor primer yang menghubungkan antar ibukota kabupaten atau kota. Tabel 5-9 Data Arahan Struktur Ruang Ruas jalan Provinsi DASAR PENETAPAN Jalan provinsi terdiri atas (pasal 27 PP No. disebutkan bahwa produk rencana tata ruang wilayah provinsi disusun dengan perspektif ke masa depan dan memiliki jangka waktu rencana selama 20 tahun. Kolektor primer antar ibukota kabupaten : Balai Berkuak – Sekadau (menghubungkan Sekadau – Sukadana) Simpang Tiga – Sidas (menghubungkan bengkayang – Ngabang) kolektor primer jalan strategis provinsi (dalam KAPET khatulistiwa) : Sambas – Balai Gemuruh – Ledo.

1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun. Berdasarkan pada kriteria ini maka penataan ruang kawasan DAS Kapuas juga akan mengarah pada kriteria-kriteria tersebut. Rencana perubahan tata ruang di Kalimantan Barat khususnya Pola Ruang pada awalnya tertuang dalam surat Gubernur Kalimantan Barat nomor 050/0839/FP-BAPPEDA tanggal 26 Maret 2008 tentang revisi RTRWP Kalimantan Barat. Sejalan dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, maka dalam PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG Pasal 91 menyebutkan bahwa Revisi terhadap rencana tata ruang dilakukan bukan untuk pemutihan terhadap penyimpangan pelaksanaan pemanfaatan ruang. Gambar 5.7. Pola ruang Revisi RTRWP

Gambar 5.6 .Eksisting Pola ruang berdasarkan 259 update

Dengan Visualisasi tersebut tampak adanya perubahan pola ruang di dalam kawasan DAS Kapuas, Untuk perubahan peruntukan sejumlah 1.381.528 ha dan untuk perubahan fungsi sejumlah 566.110 ha. Untuk jelasnya alokasi perubahan pola ruang Wilayah DAS di dalam revisi tata ruang Prov kalimantan barat dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 5.8 . Visualisasi perubahan pola ruang sekitar DAS Kapuas

Perubahan pola ruang kearah APL cukup besar yakni sekitar 1.381.528 Ha (13,56 %), kondisi ini mempunyai tipologi kearah pemanfaatan untuk berbagai kepentingan seperti Pemekaran wilayah (pengembangan perkotaan, pemukiman), pertanian, perkebunan, pertambangan, transmigrasi dan lain-lainnya. Kondisi ini, perlu dicermati terutama terkait dengan daya dukung lingkungan yang ada. Dengan kondisi eksisting ruang sekarang pada dasarnya dalam beberapa tahun terakhir terah terjadi percepatan deforestasi/degradasi hutan maupun lahan pertanian yang bermuara pada penurunan daya dukung lingkungan. selain itu jika revisi ini diterapkan maka jumlah tutupan hutan yang ada akan berkurang sebesar 769.059,74 ha (11,84 % dari jumlah tutupan vegetasi hutan yang ada di dalam Kawasan DAS Kapuas saat sekarang) Kondisi ini menimbulkan keprihatinan terutama terkait dengan kebijakan moratorium. Oleh karenanya pendayagunaan perubahan kawasan harus lebih berorientasi pada kebutuhan dasar hidup manusia. 1.4.2. Implikasi alokasi ruang Pembangunan perkebunan, pertambangan, dan perhubungan di wilayah DAS Kapuas kehutanan,

Telaahan implikasi program yang sudah dilaksanakan meliputi program-program yang menmanfaatkan pola ruang yang luas dan berskala besar seperti Perkebunan kelapa sawit perkebunan karet, Pertambangan, Kehutanan, maupun Transmigrasi dan perhubungan. Perkebunan Kegiatan perkebunan di dalam kawasan DAS kapuas cukup marak terutama di dalam wilayah Areal penggunaan lain (APL), Kegiatan eksiting Pembangunan perkebunan didekati dari bentuk perijinan pada tingkat Hak Guna Usaha dan IUP, Sebaran lokasi HGU yang ada sampai dengan tahun 2009 di dalam kawasan ini mempunyai luas lebih kurang 236.281,17 ha (2,32 %), untuk ini dapat dilihat pada Gambar berikut.

Gambar 5. Dan berdasarkan hasil overlay ditemukan tumpang tindih dengan kawasan hutan lindung maupun hutan produksi Selain dalam bentuk HGU. .9. Pembangunan perkebunan dapat juga dalam bentuk ilin Izin Usaha Perkebunan (IUP). Visualisasi Peta sebaran Kebun HGU sekitar DAS Kapuas Berdasarkan sebaran kegiatan perkebunan yang dalam bentuk HGU lokasi perkebuna tampak berada di sekitar wilayah yang tidak jauh dari Sungai utama dalam DAS kapuas.

10. Selanjutnya kegiatan penambangan juga dilihat dari kuasa penambangan seperti yang terlihat pada gambar berikut ini. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini. pendekatan aktivitas pertambangan di dalam kawasan ini dilkaukan melalui bentuk kuasa pertambangan dan beberapa IUP yang pernah diberikan di kawasan ini . Gambar 5.Pertambangan Kegiatan pertambangan yang ada di sekitar DAS Kapuas dapat berimplikasi pada penurunan kualitas lingkungan. . Visualisasi Peta sebaran IUP Coal dan mineral di DAS Kapuas antara tahun 2003 – 2009 IUP Penambangan Coal dan mineral ini berlangsung antara tahun 2003 sampai dengan 2009 dan tersebar dibagian barat-utara dan sebagian di sebelah selatan.

Gambar 5.11. .2009 Berdasarkan Ijin kuasa pertambangan yang ada maka kuasa pertambangan alokasinya menyebar secara parsial di dalam wilayah DAS Kapuas. Visualisasi Peta sebaran Kuasa Pertambangan di DAS Kapuas antara tahun 2003 .

Visualisasi dari kegiatan tersebut dapat dilihat seperti pada gambar berikut ini. Gambar 5. Sebaran ijin usaha pemanfaatan ini terevaluasi dari data yang untuk IUPHHK-HTI di mulai dari tahun 1992 sampai dengan 1998. Aktivitas HTI ini juga sebagian tidak berjalan dengan baik .Kehutanan Pembangunan kehutanan diarahkan pada kegiatan IUPHHK-HTI dan IUPHHK-HA. Secara parsial kegiatan IUPHHK-HTI lebih banyak mengarah kebagian Barat dari DAS kapuas. aktivitas IUPHHK-HA ini tidak semuanya dapat berjalan. Sedangkan aktivitas lainnya dari sektor kehutanan adalah IUPHHK-HTI (termasuk HTI Trans). . alokasi kegiatan nya terlihat tidak menyebar merata di seluruh kawasan DAS Kapuas .12 Visualisasi Peta IUPHHK-HA sekitar DAS Kapuas Ketersebaran aktivitas pembangunan kehutanan dalam bentuk IUPHHK-HA terlihat menyebar di seluruh kawasan DAS Kapuas secara partial. Gambaran mengenai IUPHHK-HTI yang pernah di berikan di kawasan ini dapat dilihat pada gambar berikut ini. sedangkan untuk kegiatan IUPHHK-HA diambil dari rentang waktu tahun 1993 sampai 2006.

Pertahanan dan keamanan.3. dari ijin pertambangan dan perhubungan banyak yang tumpang tindih dengan perijinan lainnya dan bahkan dengan kawasan hutan dari berbagai fungsi kawasan.4. namun untuk kegiatan pertambangan dan perhubungan dapat mengacu pada PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.43/ Menhut-II/ 2008 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN pasal 5 yang menyatakan : (1) Pinjam pakai kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan meliputi : a. pertambangan. Kepentingan religi. Pertambangan. . Pertambangan. Perijinan pembangunan Perkebunan. c. Perindustrian merupakan sector yang cukup rentan terkena dampak kebijakan dan program terutama terkait dengan ketersediaan bahan. kehutanan dan perhubungan sangat rentan dengan tumpang tindih peruntukan .13 Visualisasi Peta IUPHHK_HTI (termasuk HTI Trans) sekitar DAS Kapuas Perikanan dan Perindustrian Pembangunan sector perikanan diarahkan pada kegiatan perikanan tangkap. serta transmigrasi dan pertanian/perikanan dan Perhu- Prosedur perijinan untuk berbagai kegiatan seperti perkebunan. aktivitas ini menjadi rentan sejalan dengan kerusakan lingkungan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas seperti kehutanan perkebunan dan pertambangan.Gambar 5. b. 1. Kehutanan bungan/ transportasi.

Pembangunan jaringan instalasi air. Sarana keselamatan lalulintas laut/ udara. di Provinsi Kalimantan Barat penetapan perijinan cenderung mengacu pada Keputusan Menteri kehutanan No 259/KPTS-II/2000 tentang kawasan hutan dan perairan Kalbar. Kerancuan ini akan lebih perlu dicermati dengan keluarnya PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG Pada pasal 30: (1) Dalam hal terdapat bagian kawasan hutan dalam wilayah provinsi yang belum memperoleh persetujuan peruntukan ruangnya. Disisi lain terdapat Perda No 5 tahun 2004 tentang RTRWP Provinsi kalimantan barat. l. Selanjutnya untuk perkebunan sawit prosedur perijinan perlu lebih dicermat iterhadap ketentuan yang ada. Namun PERDA ini jarang di jadikan acuan terutama dalam analisis pola ruang untuk perijinan Perkebunan. Untuk ini dapat dilihat seperti pada gambar berikut. Pembangunan ketenagalistrikan dan instalasi teknologi energi terbarukan. f. telah ditunjuk dengan keputusan Menteri. terhadap bagian kawasan hutan tersebut mengacu pada ketentuan peruntukan kawasan hutan berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi sebelumnya. Jalan umum. e. i. Bak penampungan air. o. j. jalan (rel) kereta api. g. Fasilitas umum. Stasiun relay televisi. Pengairan. 50/Menhut-II/2009 TENTANG PENEGASAN STATUS DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN dalam pasal 2 dikatakan (1) Kawasan hutan telah mempunyai kekuatan hukum apabila : a. Berita Acara Tata Batas Kawasan Hutan telah disahkan oleh Menteri. Repeater telekomunikasi. atau b. Kawasan Hutan telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri. Pembangunan jaringan telekomunikasi. k. (2) Bagian kawasan hutan dalam wilayah provinsi yang belum memperoleh persetujuan peruntukan ruangnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diintegrasikan ke dalam rencana tata ruang wilayah provinsi yang akan ditetapkan dengan mengacu pada ketentuan peruntukan dan fungsi kawasan hutan serta penggunaan kawasan hutan berdasarkan rencana tata ruang wilayah provinsi sebelumnya. Saluran air bersih dan atau air limbah. telah ditata batas oleh Panitia Tata Batas. hal ini tampak dengan sering munculnya telaahan kawasan yang dikeluarkan oleh BPKH dalam rangkaian penetapan perijinan perkebunan. Selain itu sangat perlu disingkronkan dengan PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. n.d. Dari perijinan berupa ijin lokasi yang berlangsung sampai dengan tahun 2009 di kawasan DAS Kapuas terdapat perijinan yang tumpang tindih dengan kawasan hutan dan perijinan lainnya seperti pertambangan dan lain-lain. atau d. m. atau c. . h. Stasiun pemancar radio.

Visualisasi Peta sebaran kebun Ijin lokasi sekitar DAS Kapuas sampai tahun 2009 1. akan menimbulkan disparitas terhadap ekonomi dan sosial. sehingga tidak tercipta pemerataan pembangunan karena tidak terbukanya isolasi.14 . terutama dalam pemberian perijinan terkait dengan perkebunan. terkecuali yang menggunakan batas alam. Secara ekologi baik dampak sosial maupun dampang fisik cukup sulit dibatasi dengan wilayah administrasi pemerintahan. pertambangan. Koordinasi antar pemerintah Kabupaten /kota yang ada di Dalam wilayah DAS Kapuas dalam pemberian perijinan Peningkatan Koordinasi antar pemerintah kabupaten menjadi penting pada masa kini dan masa mendatang. batas wiayah administrasi secara fisik sangat dimungkinkan tidak adanya patok batas dlapangan. Kondisi ini penting dicermti karena .4. untuk ini perlu adanya peningkatan MOU (jika sudah ada) kearah SOP yang secara yuridis disepakati atau disetujui.4. kehutanan. pertambangan dan kehutanan yang memerlukan koordinasi yang jelas kedepannya dan minimal mendorong untuk adanya SOP secara yuridis formal. Terkait dengan koordinasi antar pemerintah kabupaten terhadap pemberian perijinan terkait dengan perkebunan. Koordinasi antar sektor tentang perijinan terkait dengan perkebunan.5.Gambar 5. sering kali tidak mempunyai sambungan yang baik dengan tingkat tapak di pemerintah kecamatan dan desa. pembangunan yang hanya terkonsentrasi di wilayah hilir. Kondisi seperti ini pada gilirannya akan menyebabkan konflik antar sektor bahkan antar msyarakat dalam pengambilan kebijakan. 1. Koordinasi antar sektor baik di tingkat prov maupun Kabupaten sampai de ngan dengan Unsur Kecamatan dan desa Koordinasi antar sektor sangat penting baik yang ada pada tingkat kabupaten maupun pada tingkat pemerintah provinsi. pertambangan. Dengan kurangnya patok batas wilayah administrasi maka sangat mudah terjadi mis koordinasi pada saat terjadinya dampak atau masalah baik sosial maupun fisik. mis informasi bisa terjadi karena diawali dengan terputusnya saluran koordinasi. biasanya sangat berhubungan dengan batas wilayah administrasi. pertanian dan trasnigrasi serta perhubungan. Pembangunan diwilayah hulu akan memberikan dampak ikutan kepada wilayah hilir. pertambangan. demikian juga sebaliknya. pertanian dan trasmigrasi serta perhubungan. kehutanan. pertanian dan trasnigrasi serta perhubungan untuk lokasi-lokasi yang berbatasan. Implikasi beberapa pembanguan perkebunan.4. kehutanan.

Telaah Prinsip Keterkaitan. baik yang bersifat ekonomi maupun ekologi. Hutan akan memberikan manfaat jika di kelola secara bijaksan. Selain itu dikawasan DAS Kapuas juga terdapat perkampungan atau pemukiman yang dalam aktivitasnya perlu memperhatikan keseimbangan dan keadilan dengan lingkungannya.stakeholder pada tingkat pemerintah kecamatan dan desa sangat operasional dan mengenal lingkungannya oleh karena itu SOP kearah organisasi sampai kearah tingkat tapak perlu diperjelas. namun dapat pula menimbulkan bencana pada saat pemanfaatannya tidak memperhatikan sisi ekologi.peti Perubahan alur pelayar an Penurunan kualiatas air sungai Penurunan potensi perikan tangkap Konflik sosial Pergeseran nil.perika nan dan perindustrian 6 Pembang unan perhubun gan Isue-isue strategis Pendangkalan sekitar muara Banjir & erosi Perubahan Musim tanam Pening keg.5. Pengendalian perlu diintensipkan karena sampai dengan saat sekarang. pertambangan yang tidak melakukan kegiatannya namun telah mengantongi perijinan. DAS Kapuas merupakan wilayah das yang mana di dalamnya terdapat interaksi dari berbagai unsur. Keseimbangan dan Keadilan Kebijakan.4. Pembangunan Perkebunan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 4. 1.6. Revisi RTRWP Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 2. rencana. Keterkaitkan antara kebijakan. Pembangun an Pertamba ngan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 5 Pembangunan Transmigrasi dan pertanian. sampai dengan pemberian sangsi. Tabel 5. kehutanan. terutama yang terkait dengan masalah ekonomi dan ekologi dari wilayah yang bersangkutan.budaya Degradasi lah pert pa ngan Degradasi lahan & kua litas tanah Berkurangnya potensi air tanah Degradasi hutan/deforestasi Intrusi air asin/laut Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan . rencana dan program dengan berbagai isue strategis yang dapat terjadi di kawasan ini dapat dilihat seperti pada tabel berikut. Dalam aplikasinya keterkaitan ini harus juga memperhatikan unsur keseimbangan dan keadilan. Pengendalian Pengendalian perijinan dapat berupa zoning regulation. Pembangu nan Kehutanan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 3. Program mempunyai keterkaitan yang erat dengan isue-isue strategis. keterkaitan ini dapat berbentuk hubungan yang linier atau lainnya. masih banyak perijinan baik perkebunan. Untuk ini visualisasi nya dapat dilihat dari realisasi ijin yang ada 1.10 Matrik keterkaitan Kebijakan sektoral dengan Isue strategis KRP sektoral 1.

2. kegiatan-kegiatan tersebut dapat memobilisasi penduduk dan akhirnya memotivasi untuk berusaha kearah pertambangan tanpa ijin. lemahnya koordinasi dan lemahnya pengendalian. Pembangunan perhubungan. Telaah Dampak Peningkatan Peti Kegiatan peti di dalam wilayah DAS Kapuas disebabkan oleh Revisi RTRWP. kehutanan. perkebunan dan kehutanan akan dapat menyebankan adanya peningktan erosi yang pada gilirannya akan menyebankan pendangkalan di sekitar sungai dan peningkatan luapan air sungai. 1. Di beberapa lokasi terjadi dengan intensitas dan daerah cakupan banjir yang cukup luas. hal ini terkait dengan pemberian Perijinan. Dampak Berupa banjir terasa pada saat musim penghujan. aktivitas dilapangan seperti land clearing. terlebih kalau di ikuti dengan pasang laut.Penurunan volume dan permukaan tanah gambut Tumpang tindih pemenfaatanperuntukan lahan Kekeringan dan kebakaran lahan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan Ada kaitan 1.6. pembangunan Perkebunan. Pembangunan Kehutanan. Untuk jelasnya dapat dilihat seperti pada data dan gambar berikut Selain ketiga kebijakan tersebut revisi RTRWP juga dapat memberikan resiko lingkungan berupa pendangkalan muara-muara sungai yang ada di sekitar DAS. Telaah Dampak Banjir dan erosi dan kekeringan Perubahan pola ruang akan mengakibatkan perubahan aktivitas. yang akan memberikan dampak ikutan berupa berkurangnya kemampuan tanah untuk dapat menahan air.6. Pembangunan Transmigrasi dan pertanian. dan pembukaan penutupan.6. kondisi ini akan membuat percepatan luapan air sungai-sungai yang ada di sekitar DAS. Pemberian ijin yang sangat luas dan besar terkait dengan kegiatan pertambangan.3. Kebijakan berupa perubahan tata ruang. perkebunan. ekplorasi . perubahan peruntukan akan mendorong pembukaan tutupan hutan dan hal ini akan mendorong terjadingya erosi dan sedimentasi. Dampak pendangkalan muara akan terjadi di sekitar muara sungai dari sus-sub DAS yang ada di sekitar DAS sungai kapuas sampai dengan muara S. sehingga air permukaan menjadi sangat besar. Selanjutnya pada musim kemarau akan terjadi kondisi ekstrim berupa kondisi sebaliknya yakni kekeringan yang berdampak pada kebakaran lahan. Pertambangan. dimana di beberapa tempat muncul daratan yang semakin tahun semakin luas. Akibantnya peluang terjadinya bencana banjir dan erosi semakin tinggi. . perubahan pola ruang dan pembukaan isolasi karena arahan revisi RTRWP akan mengakibatkan perubahan aktivitas yang sangat besar terlebih perubahan yang mengarah pada peruntukan.Kapuas di sekitar Kuala Jungkat Kabupaten Pontianak. sehingga akan terjadi penumpukan di sekitar muara-muara sungai.4. Kehutanan.1. 1. 1. Petani di Kalimantan Barat sebagian sangat tergantung dari pertanian tadah hujan. Telaah Dampak Perubahan Musim tanam Isue global berupa perubahan iklim erkait dengan keberadaan hutan di dunia dan hutan di kalimantan Barat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan.6. Telaah Dampak Kumulatif Telaah Dampak Pendangkalan sekitar Muara Berdasarkan tabel di atas dampak pendangkalan sungai di picu oleh adanya beberapa kebijakan dalam bidang Perkebunan. Pembangunan Pertambangan. pertambanagan akan memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap perubahan iklim. dampak ini terasa pada saat musim kemarau. dan teknik penanaman. dimana dengan perubahan iklim tersebut maka jelas akan terjadi perubahan musin hujan dan akhirnya mempengaruhi perubahan musim tanam 1.6.

kehutanan di wilayah DAS Kapuas 2.381.S q ( a d j) 2. kurangnya koordinasi antar sektor baik di tingkat prov maupun Kabupaten sampai dengan dengan Unsur Kecamatan dan desa dalam Penetapan Perijinan Perkebunan sawit. transmigrasi. berdasarkan tren ini bilamana dianggap linier dan tidak terjadi perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP maka kawasan hutan di kalimantan Barat akan menurun di bawah 30 % dalam jangka waktu 35 tahun. kondisi ini akan lebih terdegradasi dengan adanya alokasi perubahan ruang kearah peruntukan peruntukan ruang sebesar 1. Aktiviatas lain yang dapat mendorong terjadinya deforestasi adalah aktivitas perkebunan.15. Antara tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 cenderung sama. Pengendalian kawasan konservasi (kawa san gambut > 3 m.0 .6.56 %) dari luas DAS menimbulkan degradasi penutupan lahan/hutan sehingga menimbulkan percepatan deforestasi. Gambar 5.H U T A N ( % ) = 1 1 5 7 .HUTA N (%) 47 46 45 44 20 0 3 2004 20 0 5 2006 TA H UN 20 0 7 2008 2 00 9 S R-Sq R . pertambangan.5 5 3 6 T A H U N 49 48 POLA R. Perijinan pembangunan Perkebunan Kelapa sawit. Buffer Zone dan re komendasi kelaya kan lingkungan) un tuk berbagai perijinan 6. deforestasi tersebut akan lebih memprihatinkan bilamana terjadi perubahan pola ruang berupa alih fungsi lahan kearah peruntukan selain hutan dalam revisi RTRWP Kalimantan Barat.528 Ha (13.528 Ha (13. perhubungan. Untuk melihat dampak komulatip yang timbul terhadap terjadinya deforestasi dapat dilihat pada gambar berikut ini.56 %) dari luas DAS. Jika kondisi ini dianggap linier saja maka laju deforestasi akan mencapai sebesar 0.1. Kehutanan maupun perhubungan 5. pertambangan.16 482 5 5. Telaah Dampak deforestasi/degradasi hutan & tumpang tindih pemanfaatan dan penurunan keanekaragaman hayati Deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati di picu oleh adanya beberapa kebijakan yang selama ini dilakukan seperti : 1. 55 % pertahun. Revisi RTRWP Perubahan peruntukan ruang sebesar 1. KRP Ini akan menimbulkan ruang terbuka di dalam kawasan sehingga menimbulkan erosi dan peningkatan sedimentasi pada sungai sehingga menyebabkan pendangkalan Dampak Berupa deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati dapat dilihat dari kondisi degradasi penutupan yang ada di sekitar DAS Kapuas terutama penutupan hutan.5.381.9% F i t te d L i n e P l o t Berdasarkan tren di atas maka deforestasi di wilayah DAS kapuas terjadi dengan kecenderungan tidak begitu linier. Perhu bungan/transportasi dan komitmenya terhadap kondisi lingkungan Hidup Ke hutanan & 3. untuk ini dapat dilihat seperti pada trend berikut ini . Pembangunan perkebunan. Namun dari dekade 2007 sampai tahun 2009 kecenderungan deforestasi menajam. baik yang berskala besar maupun perkebunan rakyat. Trend Deforestasi P O L A R . Kurangnya koordinasi antar pemerintah Kabupaten/kota yg ada di Dalam wilayah DAS Kapu as dalam rangka mencari keserasian lingku ngan hidup 4. Pertambangan.0% 9.

Laju pertambahan aktivitas perkebunan mencapai 0.0 6 9 04 4 7 . sebagai contoh pada peristiwa kebakaran lahan .0 4. Peningkatan penggunaan lahan untuk perkebunan sangat signifikan terjadi pada rentang waktu 2007 sampai dengan 2009. kondisi ini akan dapat dilihat dari tren besarnya lahan terbuka atau perkembangan semak belukar yang ada di dalam kawasan kajian. Pembentukan semak belukar dan lahan terbuka dapat disebabkan oleh aktivitas manusia dan kondisi alam.5 4.5 5 POLA R.0 5 0 3 6 T A H U N 0 .5 .7 + 0 .0 % POLA R. 2 3 5 7 T A H U N S R -S q R -S q ( a d j) 1 . Trend Peningkatan Aktivitas Perkebunan sampai dengan Tahun 2009 F i tte d L i n e P l o t P O LA R .3 5 0 .PERKEBUNAN (%) 5.4 0 0 .0 3.5 2003 2004 2005 2006 T A H UN 2007 2008 2009 Berdasarkan kondisi ini lonjakan aktivitas perkebunan demikian signifikan dan terasa linier dengan tahun aktivitas berjalan. Selanjutnya penyebab deforestasi dan penurunan keanekaragaman hayati adalah adanya aktivitas pertambangan terlebih pertambangan tanpa ijin.17.1 0 0 .3 0 0 .6 % 0 . 3% 74 .4 5 0 .4 6 8 .8 + 0 . Trend Peningkatan Aktivitas Pertambangan sampai dengan Tahun 2009 F it te d L in e P lo t P O L A R .0 82 8 51 0 87 .2 5 0 .16.2 0 2003 2004 2005 2006 TA H UN 2007 2008 2009 S R-S q R .S q ( a d j) 0 .24 %. 7% . untuk melihat kondisi ini dapat dilihat pada gambar berikut ini Gambar 5.PERTAMBANGAN (%) 0 .5 0 0 . Keterkaitan faktor lainnya dalam deforestasi disebabkan oleh berbagai kebijakan dan aktivitas manusia dan kondisi alam seperti kebakaran lahan .Gambar 5.P E R T A M B A N G A N ( % ) = .P E R K EB U N A N (% ) = 5.

sumber perikanan air tawar. perhubungan dan perindustrian dengan mengidentifikasi 16 isu-isu strategis. baik dalam konteks ekologis dan ekonomi. yakni dampak yang berlangsung terus menerus yang bersumber dari berbagai kegiatan di dalam suatu ruang/ kawasan.BAB VI MITIGASI IMPLIKASI KEBIJAKAN. Oleh karena itu apabila terjadi degradasi terhadap DAS KAPUAS akan dapat menimbulkan implikasi yang signifikan dan kumulatif pada berbagai sektor kehidupan sebagian besar masyarakat Kalimantan Barat. Hasil identifikasi telah menemukan sektor yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS adalah sektor kehutanan.1. 6. (b) berbagai dampak lingkungan bertumpuk pada suatu ruang tertentu sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan. Sebagaimana diketahui bahwa dampak suatu usaha atau kegiatan dikatakan bersifat kumulatif apabila pada awalnya dampak tersebut tidak tampak atau tidak dianggap penting. Namun ironisnya. pertambangan. tetapi karena kegiatan tersebut berlangsung berulang kali atau terus menerus. prasarana transportasi yang vital dan berbagai sumberdaya lainnya yang disediakan oleh DAS KAPUAS. ekonomi dan Kelembagaan. Deskripsi sektor dengan isu-isu stratetis yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS dapat dilihat pada beberapa tabel berikut ini. RENCANA DAN ALTERNATIF PROGRAM KLHS juga dapat digunakan untuk menelaah dampak kumulatif. . Terkait dengan gambaran yang dikemukakan di atas. perkebunan. maka dampaknya bersifat kumulatif. Bahkan DAS KAPUAS memberikan kontribusi penting dalam menyediakan sumberdaya yang dibutuhkan sebagian besar masyarakat di Kalimantan Barat seperti sebagai sumber utama air bersih. Identifikasi Sektor-Sektor Yang Menimbulkan Dampak Identifikasi berbagai sektor yang menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS dibagi kedalam kelompok lingkungan. dan (c) dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan yang menimbulkan efek yang saling memperkuat. perikanan. Dampak kumulatif bisa terjadi karena: (a) dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam. sosial. KLHS mencoba mengidentifikasi berbagai kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak kumulatif serta menyarankan upaya mitigasi yang akan dilakukan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan dari berbagai aktivitas tersebut. Wilayah DAS KAPUAS yang meliputi 10 Kabupaten dan 1 Kota yang terdapat di Kalimantan Barat memiliki peran yang sentral dan strategis. justru berbagai aktivitas ekonomi dan masyarakat berpotensi menimbulkan dampak yang dapat menganggu berfungsinya DAS KAPUAS secara berkelanjutan.

banjir dan erosi. sumber aktivitas sektor pertambangan yang menimbulkan dampak isu lingkungan strategis lebih banyak terjadi karena kegiatan PETI. perubahan musim tanam. deforestasi. 2) Aktivitas Sektor Pertambangan Yang Menimbulkan Dampak Dibandingkan dengan sektor kehutanan. Seperti isu strategis pendangkalan sekitar muara. aktivitas sektor pertambangan yang menjadi sumber munculnya isu-isu lingkungan strategis lebih beragam. penambangan dalam skala besar dan penambangan yang dilakukan berdekatan dengan muara sungai. Pada kelompok isu sosial. penurunan kualitas air sungai. Penambangan skala besar serta penambangan yang berlokasi berdekatan dengan muara sungai. kekeringan dan kebakaran serta penurunan produktivitas lahan timbul karena aktivitas kegiatan HPH dan HTI. berkurangnya potensi air tanah. . .1) Aktivitas Sektor Kehutanan Yang Menimbulkan Dampak Apabila diamati tabel diatas dapat dilihat bahwa isu-isu strategis yang muncul dari aktivitas sektor kehutanan pada kelompok isu lingkungan sebagian besar bersumber dari kegiatan HPH dan HTI. maka kegiatan HPH dan HTI menjadi perhatian serius agar dampak kegiatan sektor kehutanan terhadap DAS Kapuas dapat diminimalisasikan. Pada kelompok isu lingkungan. munculnya isu tentang konflik sosial dan pergeseran nilai budaya pada dasarnya muncul akibat dari dampak tidak langsung kegiatan HPH dan HTI. Sehingga upaya untuk melakukan mitigasi dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan sektor pertambangan lebih ditujukan kepada pengendalian terhadap kegiatan PETI. Oleh karena itu dalam konteks upaya untuk melakukan mitigasi terhadap aktivitas sektor kehutanan pada kelompok isu lingkungan.

Beberapa dampak isu lingkungan yang muncul akibat dari kegiatan land clearing yaitu isu pendangkalan sekitar muara. intrusi air laut. . banjir dan erosi. penurunan kualitas air sungai. deforestasi. berkurangnya potensi air tanah. maka upaya mtitigasi yang dilakukan untuk mengurangi dampak aktivitas sektor perkbunan terhadap DAS Kapuas.3) Aktivitas Sektor Perkebunan Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perkebunan. penurunan produktivitas lahan dan penurunan potensi perikanan tangkap. sumber aktivitas yang sering menimbulkan dampak isu lingkungan strategis terhadap DAS kapuas adalah kegiatan land clearing. kekeringan dan kebakaran. Dengan memperhatikan dampak yang masive dan signifikan akibat dari kegiatan land clearing. perubahan musim tanam. lebih ditujukan kepada pengendalian kegiatan land clearing pada sektor perkebunan. degardasi lahan dan kualitas air tanah. Hasil identifikasi telah mendapatkan bahwa dari 16 (enam belas) dampak isu lingkungan strategis pada sektor perkebunan terdapat 11 (sebelas) dampak isu lingkungan yang muncul akibat kegiatan land clearing. degradasi lahan gambut.

Namun aktivitas penggunaan tuba dalam menangkap ikan.4) Aktivitas Sektor Perikanan Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perikanan. pembangunan pelabuhan perikanan serta adanya kegiatan perusahaan perkebunan pada suatu kawasan tertentu merupakan sumber aktivitas yang cukup menonjol dan perlu mendapat perhatian yang serius dalam melakukan mitigasi terhadap dampak yang ditimbulkan dari kegiatan sektor perikanan. . isu-isu lingkungan strategis muncul dari sumber aktivitas yang relatif lebih beragam.

Namun terdapat 2 (dua) sumber aktivitas yang menonjol menimbulkan dampak isu lingkungan strategis pada sektor perhubungan ini.5) Aktivitas Sektor Perhubungan Yang Menimbulkan Dampak Tidak jauh berbeda dengan sektor perikanan. . yaitu limbah kegiatan angkutan sungai dan pembangunan pelabuhan penumpang dan barang. upaya untuk melakukan mitigasi terhadap dampak yang berasal dari sektor perhubungan terhadap DAS Kapuas. lebih diarahkan pada pengendalian kedua sumber aktivitas dampak tersebut. Oleh karena itu. isu-isu lingkungan strategis yang muncul pada sektor perhubungan berasal dari sumber aktivitas yang relatif lebih beragam.

terdapat 2 (dua) sumber aktivitas dominan yang menimbulkan dampak isu lingkungan strategis yaitu sumber limbah industri yang berlokasi pada pinggir sungai serta kegiatan pembangunan kawasan industri. Upaya mitigasi yang dilakukan harus ditujukan pada pengendalian sumber aktivitas tersebut.6) Aktivitas Sektor Perindustrian Yang Menimbulkan Dampak Pada sektor perindustrian. .

Sedangkan isu pendangkalan sekitar muara. perikanan. isu tentang konflik sosial dan pergeseran nilai budaya merupakan isu lingkungan sosial yang timbuk dari aktivitas . Sehingga pengendalian terhadap ketiga sektor dapat saja memberikan pengaruh pada aktivitas ekonomi masyarakat secara keseluruhan. perkebunan dan pertambangan. pertambangan. Indentifikasi dan Interaksi Sektor Yang Menimbulkan Dampak Kumulatif Sebagaimana dikemukakan sebelum sektor-sektor yang memiliki dampak signifikan dan kumulatif terhadap DAS Kapuas adalah sektor kehutanan. Sektor-sektor lain yang aktivitasnya menimbulkan dampak terhadap DAS KAPUAS adalah sektor perikanan memiliki 7 isu dampak strategis serta sektor perhubungan dan sektor perindustrian masing-masing memiliki 5 isu dampak strategis. Realitas yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas perekonomian di Kalimantan Barat sangat didominasi oleh sektor kehutanan. Tabel 6. akan teridentifikasi isu-isu strategis yang menjadi isu-isu dampak pada setiap sektor. pada kelompok isu lingkungan. Sementara itu dari kelompok isu sosial. 6. Identifikasi dan Interaksi Sektor yang Menimbulkan Dampak Berdasarkan hasil identifikasi dan interaksi sektor yang menimbulkan dampak apabila dilihat dari aspek kelompok isu. banjir dan erosi. mengingat dampak yang ditimbulkan sangat masif serta memberikan efek yang berantai dan kumulatif. berkurangnya potensi air tanah. isu tentang penurunan kualitas air sungai merupakan isu lingkungan yang timbul akibat dari aktivitas semua sektor (sektor kehutanan. Berikut ini tabel yang menyajikan data yang terkait dengan interaksi sektor yang menimbulkan dampak kumulatif tersebut. pertambangan dan perkebunan.1. perkebunan dan pertambangan. perhubungan dan perindustrian).Dengan memperhatikan tabel-tabel di atas dapat diidentifikasi terdapat 3 (sektor) yang aktivitasnya sangat memiliki potensi menimbulkan dampak yang sangat signifikan terhadap DAS KAPUAS yaitu sektor Kehutanan dan Sektor Perkebunan masing-masing dengan 16 isu-isu dampak strategis dan sektor pertambangan dengan 12 isu dampak strategis. deforestasi merupakan isu lingkungan yang timbul akibat dari aktivitas sektor kehutanan. Kegiatan ketiga sektor tersebut perlu untuk mendapat perhatian secara spesifik. Dalam konteks interaksi sektor yang menimbulkan dampak kumulatif.2. perkebunan. degradasi lahan dan kualitas tanah.

pergesaran nilai budaya. . kelompok ekonomi 2 isu dan kelompok kelembagaan 2 isu. deforestasi. Dalam kelompok isu ekonomi juga. terdapat 2 (dua) sektor yang kegiatannya menimbulkan dampak pada semua isu-isu lingkungan tersebut yaitu sektor kehutanan dan sektor perkebunan. terdapat 3 (tiga) sektor yang berpotensi menimbulkan dampak yang sangat signifikan yaitu sektor kehutanan. serta kekeringan dan kebakaran. degradasi lahan dan kualitas tanah. Kelompok isu selanjutnya yaitu kelompok isu kelembagaan. pergeseran nilai budaya. Berikut tabel yang menyajikan mitigasi dampak sektoral pada DAS Kapuas.semua sektor. penurunan kualitas air sungai. Mitigasi serta Perbaikan Rencana dan Kebijakan Hasil identifikasi sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya mendapatkan terdapat 6 (enam) sektor yang aktivitasnya berpotensi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas. degradasi lahan gambut. semua sektor yang diidentifikasi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas. perkebunan dan pertambangan. Sedangkan kelompok isu kelembagaan mencakup isu tumpang tindih perijinan serta pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif. Dengan kata lain. sektor perhubungan dan sektor perindustrian cukup signifikan terhadap DAS Kapuas. Pada kelompok isu ini. Isu-isu dampak lingkungan ini terjadi pada semua sektor. Kelompok isu sosial mencakup isu konflik sosial. perubahan musim tanam. Pada kelompok isu ekonomi. penurunan potensi perikanan tangkap. Kelompok isu lingkungan mencakup isu tentang pendangkalan sekitar muara. berkurangnya potensi air tanah. Sedangkan isu pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif merupakan isu lingkungan strategis yang terjadi pada semua sektor yang terindentifikasi menimbulkan dampak pada DAS Kapuas. perunuranan produktivitas lahan. Sedangkan 3 (sektor) lainya yaitu sektor perikanan. Sedangkan aktivitas pada sektor pertambangan hanya menimbulkan 12 (dua belas) dampak isu lingkungan strategis. konflik sosial. perkebunan dan pertambangan. kelompok sosial 2 isu. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya dari 16 (enam belas) isu dampak strategis tersebut. Kelompok isu ekonomi mencakup isu tentang penurunan produktivitas lahan serta penurunan potensi perikanan tangkap. isu tentang terjadinya tumpang tindihnya perizinan terjadi pada sektor kehutanan. banjir dan erosi. 6. Hasil identifikasi menghasilkan juga isu-isu strategis sebanyak 16 isu yang terdiri kelompok isu lingkungan sebanya 10 isu. perijinan yang tumpang tindih serta pelaksanaan program yang tidak efektif dan komprehensif.3. isu penurunan produktivitas lahan merupakan isu lingkungan strategis yang timbul dari aktivitas sektor kehutanan. Secara sektoral terdapat 6 (enam) isu-isu dampak lingkungan yang paling strategis yaitu isu dampak lingkungan penurunan kualitas air sungai. Dari 6 (enam) sektor. intrusi air laut. aktivitas yang dilakukan di sektor-sektor tersebut berpotensi menimbulkan dampak terjadinya penurunan potensi perikanan tangkap. Mitigasi ditujukan pada semua sektor serta pada semua isu-isu dampak lingkungan strategis dengan lebih menekankan pada sektor-sektor yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang sangat signifikan serta pada isu-isu dampak lingkungan yang paling strattegis. sektor perkebunan dan sektor pertambangan. isu penurunan potensi perikanan tangkap merupakan isu lingkungan strategis yang timbul akibat dari aktivitas semua sektor.

2.Tabel 6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Kehutanan pada DAS Kapuas .

.

Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Pertambangan pada DAS Kapuas .Tabel 6.3.

Tabel 6.4. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perkebunan pada DAS Kapuas .

.

Tabel 6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perikanan pada DAS Kapuas .5.

Tabel 6.6. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perikanan pada DAS Kapuas

Tabel 6.7. Mitigasi Dampak Kumulatif Sektor Perindustrian pada DAS Kapuas

BAB VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

7.1.

Kesimpulan

1. Revisi RTRWP terhadap pola ruang di DAS Kapuas mendorong penurunan terhadap tutupan hutan sebesar 11,84 % dari tutupan yang ada sekarang. Hal ini Memenimbulkan resiko lingkungan berupa penurunan daya dukung. Oleh karenanya, perubahan peruntukan dengan cakupan yang luas di wilayah ini tidak harus diberikan, terkecuali untuk keperluan pemukiman. Selanjutnya Perlu telaah kembali terhadap bentuk perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP tersebut secara yuridis, Teknis, Sosial budaya dan historis serta motivasi perubahannya agar tidak terjadi perubahan peruntukan yang dapat menurunkan daya dukung lingkungan 2. Pengendalian kegiatan Perkebunan, Pertambangan dan kehutanan (izin lokasi, HGU dan IUP serta IUPHHK-HA dan lainnya) perlu diepektifkan kembali, sehingga bisa di peroleh optimalisasi pemanfaatan dan sekaligus dapat diinventarisir bentuk pelanggaran hukumnya 3. Proses perijinan dan pengelolaan pembangunan PERKEBUNAN, PERTAMBANGAN, KEHUTANAN,, PERIKANAN, PERINDUSTRIAN DAN PERHUBUNGAN perlu adanya koordinasi dengan aparat pada tingkat tapak baik yang berasal dari instansi formal maupun non formal (Kecamatan & desa), agar diperoleh koordinasi yang baik antar pemangku kepentingan 4. Proses perijinan untuk pendayagunaan lahan khususnya tanah gambut perlu dikaitkan dengan survei semi detail sampai detail terkait dengan kematangan dan kedalaman gambut terutama yang ada di wilayah DAS Kapuas 5. Dengan besarnya potensi tumpang tindih pemanfaatan dan peruntukan serta dampak lainnya di sekitar DAS Kapuas, maka proses perijinan pembangunan Perkebunan, Kehutanan, Pertambangan, pertanian, perikanan, perindustrian dan perhubungan perlu adanya koordinasi vertikal dan horisontal yang lebih baik antar sektor pada tingkat provinsi maupun kabupaten. 7.2. Rekomendasi 1. Revisi RTRWP terhadap pola ruang di DAS Kapuas mendorong penurunan terhadap tutupan hutan sebesar 11,84 % dari tutupan yang ada sekarang. Oleh karenanya, perubahan peruntukan dengan cakupan yang luas di wilayah ini tidak harus diberikan, terkecuali untuk keperluan pemukiman. Selanjutnya perlu telaah kembali terhadap bentuk perubahan peruntukan dalam revisi RTRWP tersebut secara yuridis, Teknis, Sosial budaya dan historis, serta tidak mengakomodir motivasi perubahan yang mengarah pada konversi kawasan hutan menjadi perkebunan. 2. Memperhatikan mitigasi yang ada untuk wilayah DAS Kapuas, maka beberapa Sektor seperti Perkebunan, Kehutanan, Pertambangan, Perindustrian serta perhubungan perlu adanya perbaikan regulasi dan kebijakan baru yang lebih epektif terhadap : a. Koordinasi antar stakeholder baik vertikal maupun horizontal, Kabupaten pada saat proses perijinan. pada tingkat Provinsi maupun

b. Pengendalian terhadap aktivitas yang sudah ada melalui regulasi terhadap kelola ruang yang lebih jelas dan kongkrit. Sehingga bisa di peroleh optimalisasi pemanfaatan dan sekaligus dapat diinventarisir dan diproses pelanggaran hukumnya.

.

.

.

.

.

.

Spatial Plan And Development Plans (West Sumatera)

jaringan irigasi. Program peningkatan Penggunaan pupuk.1. seperti budidaya ikan laut (tambak) dapat diperkirakan akan merusak atau berkurangnya hutan mangrove. Program peningkatan produksi perikanan budidaya. warisan tanaman tua (keras) menjadi semakin berkembang dan menguat kembali. Jasa dan Perdagangan 1.1. Program peningkatan penggunaan pupuk dan pestisida yang akan kualitas air (terutama pada kegiatan c). Disamping itu pedoman hidup dan acuan nilai-nilai tersebut dituangkan secara tertulis sehingga dapat dipedomani oleh generasi muda dan diperkaya dengan ilmu pengetahuan ilmiah. Dampak program ini dimasa mendatang adalah sebagai berikut: ● Pengembangan sentra-sentra industri Potensial yang salah satu kegiatannya adalah fasilitasi sarana-prasarana sentra industry diperlakukan sama dengan pembangunan sarana prasarana pertanian (point 5. kesesuaian lahan.1. hutan larangan.1. Atau dengan kata lain lembaga masyarakat adat akan semakin berdaya bila pemerintah memberikan pengakuan dan perlindungan atas hak-hak ulayat masyarakat khususnya yang terkait dengan akses dan kontrol terhadap tanah. Dampak Program Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan Dampak program ini di masa mendatang adalah: ● Pengembangan kawasan sentra produksi pertanian diperkirakan akan memerlukan perluasan areal tanam yang lebih luas sehingga berkemungkinan akan mengkonversi kawasan hutan. berkemungkinan akan diikuti dengan perkembangan pemukiman ke kawasan yang dibuka.1. 1. Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat aktivitas kawasan ● ● ● ● ● ● ● .2. balai benih dll. sehingga harus diatur dengan zonasi kawasan budidaya dan kawasan mangrove yang dilindungi. Penyediaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Pertanian seperti jalan usaha tani. pestisida dan kebutuhan air kepada kualitas dan kuantitas air (terutama pada kegiatan c dan d). Dampak Program Pengembangan Industri Pengolahan. 1. Untuk itu diperlukan aturan perizinan yang sangat kuat untuk menjaga keseimbangan pengembangan pembangunan kawasan. mempengaruhi yang berdampak ● ● ● ● ● Program peningkatan jumlah limbah (termasuk limbah cair) yang akan mengakibatkan penurunan kualitas air dan peningkatan kebutuhan air untuk proses produksi (terutama untuk kegiatan a dan c). Kondisi tersebut dapat dicapai bila pemerintah memberi pengakuan dan perlindungan atas hak-hak ulayat masyarakat (tanah.3. air dan hutan.1. Dampak Rencana/Program dari RPJMD Sumatera Barat Dampak Program Pengamalan ABS & SBK Program Pengamalan ABS dan ABK akan berjalan efektif bila nilai-nilai kearifan lokal terutama yang terkait dengan hak ulayat.2) Pengembangan klaster industri unggulan akan mendorong permintaan bahan baku untuk memenuhi kuota industri. yang selanjutnya memicu extensifikasi lahan produksi yang berdampak pada pengurangan kawasan Terjadinya konversi lahan dari sektor lain ke sektor industri Menumbuhkan lahan-lahan pertanian baru Mengurangi lahan pertanian yang ada Memacu peningkatan pertumbuhan ekonomi Terjadinya peningkatan jumlah limbah (termasuk limbah cair) yang akan mengakibatkan penurunan kualitas air dan peningkatan kebutuhan air untuk proses produksi (terutama untuk kegiatan a dan c). air dan hutan).

Terjadinya longsor pada badan jalan yang dibuka untuk keperluan proyek (khusus untuk jaringan primer) Meningkatnya pencemaran air pada saat konstruksi dan perubahan tata air (temporer) Membantu pengendalian banjir Membantu penanggulangan bencana tsunami dan gunung meletus memberi jalur evakuasi (terutama kegiatan d) Menyebabkan longsor. Meningkatnya Sumber daya air dan kestabilan lahan (mengurangi bencana longsor) Meningkatnya pemanfaatan kawasan budidaya untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah terutama Pengembangan kawasan andalan sesuai dengan potensi unggulan.1. Agam-Bukittinggi (PLTA Kota Panjang).PIP Danau SingkarakLubuk Alung-Ketaping dan Kawasan Andalan Laut Mentawai-Siberut dan Sekitarnya). banjir pada daerah tertentu Meningkatkan penanggulangan bencana Terrjadinya longsor pada badan jalan yang dibuka untuk keperluan proyek (khusus untuk jaringan primer) ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . kehutanan dan perkebunan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan pengembangan kawasan agropolitan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat pengembangan industry berbasis pertanian Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan jasa dan perdagangan di kawasan metropolitan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat kegiatan dikawasan andalan Meningkatnya limbah cair perkotaan akibat pengembangan PKN dan PKW.● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Meningkatatnya kebutuhan air dan pencemaran air akibat aktivitas pengolahan produk perkebunan dan perikanan Meningkatnya kebutuhan air dan pencemaran akibat aktivitas intensifikasi dan ekstensifikasi kegiatan pertanian. Berkurangnya kawasan hutan nantinya akan menimbulkan potensi banjir di hilir kawasan hutan tersebut serta potensi longsor Terjadinya penurunan luas lahan produktif sehingga daerah resapan berkurang Terjadinya banjir. yang meliputi Kawasan Padang Pariaman dan sekitarnya. Mentawai dan sekitarnya. Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● Meningkatan lahan produktif Mengakibatkan penurunan luas cakupan hutan dan penurunan luas lahan produktif. Solok dan sekitarnya (Danau Kembar. Meningkatnya beban pencemaran yang akan berpengaruh pada Kualitas air (khususnya sungai) akibat peningkatan berbagai aktifitas perkotaan (PKWp dan PKL) Meningkatnya potensi longsor perkotaan dan abrasi akibat pembangunan sarana dan prasarana Menurunnya kualitas air terutama pada kegiatan konstruksi pembangunan jaringan transportasi (dampak sesaat) dan berdampak pada peningkatan potensi longsor terutama pada tebing-tebing badan jalan. Berkurang atau dilewatinya kawasan hutan lindung seperti kawasan lembah anai dan kelok sembilan. berdampak pada kualitas air dan kebencanaan Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat ● ● 1.4. Meningkatnya limbah cair perkotaan dan ketersediaan kebutuhan air.

Kondisi yang sama juga terjadi pada pemenuhan material bangunan seperti pasir dan batuan yang jika dieksploitasi secara besar-besaran pada badan air dan tidak mengindahkan kaidah lingkungan. Berkurangnya tegakan vegetasi sehingga lebih lanjut dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas air disekitar hutan.● ● ● ● ● ● ● ● Terjadinya pencemaran air pada saat konstruksi dan perubahan tata air (temporer) Membantu pengendalian banjir Membantu penanggulangan bencana tsunami dan gunung meletus memberi jalur evakuasi (terutama kegiatan d) Menyebabkan longsor.1. Mitigasi dan Penanggulangan Bencana Alam ● ● ● ● ● ● ● 1. sehingga dapat berdampak pada degradsai dan kualitas sungai. serta terganggunya kualitas air dan keseimbangan tata kelola air antara kawasan-kawasan hulu dan hilir. kedalam lingkungan hutan yang dikhawatirkan dapat merusak Terjadinya penurunan kualitas air dan daya dukung sungai akibat peningkatan jumlah angkutan / transportasi kapal pada pelabuhan tersebut serta peningkatan jumlah sedimen akibat penurunan kecepatan aliran sungai . PDNA dan RA-RR Meningkatnya usaha penanggulangan bencana Pelestarian Lingkungan Hidup Meningkatnya luas lahan produktif pertanian Meningkatnya ketersediaan air untuk kebutuhan lahan pertanian Terhindarnya pengalihan lahan pertanian ke kegiatan non pertanian Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● ● . Terjadinya Peningkatan Penyelamatan dan Evakuasi Korban Bencana Pada Wilayah Bencana Peningkatan Pendistrbusian kebutuhan Logistik Kebencanaan selama masa tanggap darurat Peningkatan Pendistribusian Peralatan Kebencanaan selama masa tanggap darurat Peningkatan Pendistribusian Bahan Penanganan Sementara Pada Wilayah Bencana Peningkatan Penanganan pemulihan dini kawasan Bencana Penyusunan dan Perhitungan DALA. Terjadinya penurunan kualitas air Terjadinya penurunan luas tutupan lahan pada lingkungan bandara yang nantinya akan mengurangi lahan tampungan air (reserfor air) yang da[at menimbulkan limpasan pada aderah sekitar. khususnya terkait pada pengelolaan sumber-sumber air. kasawan perbatasan dilakukan dengan intensitas pemantauan dan evaluasi rendah maka dampak positif dapat menjadi dampak negative. Mengurangi RTH dan kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). Terjadinya penurunan RTH dan kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). HRNA. Dilaukan pengendalian pemanfaatan ruang provinsi. Terbukanya akses sumberdaya hutan. Dampak yang akan terjadi di masa datang terkait dengan program ini adalah: ● ● ● ● ● ● ● 1.5.2. Menurunnya kualitas dan kuantitas air yang dapat memberikan efek pada konflik penggunaan air kedepannya. banjir pada daerah tertentu Membantu penanggulangan bencana Terjadi penurunan sementara terhadap kualitas air dan tata kelola aliran irigasi serta kecukupan air dan water produktivity.

● ● ● ● ● ● ● ● ● Terkendalinya pemanfaatan lahan pertanian Terjaganya keseimbangan daya dukung lahan terhadap potensi fungsi pertanian dimasa sekarang dan yang akan datang Bertahannya fungsi pertanian sesuai dengan peruntukannya Meminimalisir dampak pembangunan pada kawasan pertanian Mempertahankan tutupan lahan pertanian dari efek perubahan iklim global Mempertahankan luasan lahan pertanian yang optimal dari pengaruh pembangunan yang berkelanjutan Terkendalinya Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup pada Air. Parik Malintang. Aro Suka. Lubuk Alung. fungsi kelembagaan masyarakat adat dipandang penting untuk lebih diberdayakan karena melalui tatanan kelembagaan adat sumberdaya tanah. Berdasarkan kajian dampak yang diutarakan pada Bab V terdahulu. Pengendalian lingkungan hidup. Kemudian bagi lingkungan yang mau dibangun akan memperhitungkan daya dukung air Berkurangnya kesenjangan pembangunan dan perkembangan wilayah Utara-Selatan Provinsi Sumatera Barat Berkembangnya ekonomi sektor primer. Muaro Sijunjung. khusus untuk dampaknya terhadap kualitas dan tata air adalah: lingkungan yang telah tidak sesuai lagi dengan daya dukung air.1.3. Pulau Punjung. Udara. Batusangkar. Padang Aro. Eksploitasi sumberdaya alam dilakukan secara terus menerus. Aaptasi dan Rekomendasi Rekomendasi untuk Program Pengamalan ABS & SBK ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● 1. air dan hutan terjaga dari kerusakan atau degradasi. pemerintah dan dunia usaha. Lahan. melibatkan tiga unsur yaitu masyarakat. Salah satu langkah yang efektif untuk memberdayakan kelembagaan masyarakat adat adalah dengan memberi pengakuan dan perlindungan atas hak ulayat. Sarilamak.3. Lubuk Sikaping. jika wasdal lemah akan terjadi penyimpangan pemanfaatan SDA dan dapat memicu terjadinya bencana. Kota Padang Panjang. dan Simpang Empat menjadi Pusat Kegiatan Wilayah yang dipromosikan provinsi (PKWp) untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota. Mitigasi. . dan Keanekaragaman hayati Terljamin dan terjaganya kualitas air yang baik dan akan membuat tata guna air menjadi lebih baik Tertatanya lingkungan berdasarkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yaitu terlaksananya program ini nanti. sekunder dan tersier sesuai daya dukung wilayah Ditetapkannya pusat-pusat kegiatan untuk mendukung pelayanansosial/ekonomi dan pengembangan wilayah Meningkatnya fungsi Kota Padang menjadi kota metropolitan Ditetapkannya Kota Payakumbuh. dan Tuapejat untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan Mendorong terbentuknya aksesibilitas jaringan transportasi dalam rangka menunjang perkembangan wilayah Ditetapkannya kawasan lindung untuk menjaga kelestarian sumberdaya alam secara terpadu dengan provinsi berbatasan Meningkatnya pemanfaatan kawasan budidaya untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah Meningkatkan dampak positif pada kebencanaan dengan cara melakukan pengendalian pemanfaatannya dan pada kawasan yang telah rusak dilakukan pemulihan. Tapan. Maka upaya pengawasan dan pengendalinnya dilakukan secara terpadu melibatkan seluruh stakeholder berkesinambungan dan berkelanjutan yang berwawasan pada daya dukung dan daya tampung lingkungan. maka lingkungan ini akan ditata kembali. dan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yaitu Painan. Lubuk Basung. 1.

2. Program peningkatan produksi perikanan budidaya yang berkaitan dengan budidaya ikan laut diatur dengan zonasi kawasan budidaya dan kawasan lindung (mangrove) Penyuluhan pada petani (sudah ada dalam RPJMD 5.9).3. . Rekomendasi untuk Program Pengembangan Industri Pengolahan jasa & Perdagangan Bedasarkan kepada uraian dampak dari program ini yang telah dipaparkan pada BAB V terdahulu.7 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW kegiatan ditambahkan atau dirubah.1. program prioritas 9/infrastruktur). Dari 17 program strategis yang dirancang. untuk menjamin keberlanjutan pertanian di daerah rawan tersebut (belum ada dalam RPJMD) Kajian terhadap ketersediaan air untuk pengembangan kawasan andalan dan agoropolitan (penambahan kegiatan 5.3a ) Pengendalian penggunaan pupuk kimia dan pestisida (sudah ada dlm RPJMD 5. 1. Disamping itu perlu dalam diseverkasi dilakukan pengembangan varietas lokal (belum ada dalam RPJMD dan lebih cocok untuk program 5.3.2.3a dan 5.1. maka beberapa program prioritas Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan perlu diarahkan menjadi msebagai berikut: ● ● Pengembangan kawasan sentra produksi pertanian dengan tetap menjaga luas tutupan hutan (40% sesuai RTRW) Penyediaan Sarana dan Prasarana Pembangunan Pertanian dengan pembatasan pembangunan lainnya melalui aturan perizinan yang lebih ketat bila lokasi berada pada hutan lindung. ● ● ● Berdasarkan rekomendasi tersebut maka beberapa Perubahan yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 6.9 Diversifikasi) Pembangunan sarana pengairan /irigasi di kawasan rawan pangan Kegiatan pembangunan sarana (Sudah dalam RPJMD. Catatan l: lokus pembangunan sarana agar diprioritaskan pada kawasan beresiko rawan pangan) Pengembangan cadangan airtanah dengan pembangunan embung.6) Pemantauan kualitas air terkait pemakaian pupuk dan pestisida (belum ada dalam RPJMD) Peningkatan jumah bibit/benih variatas unggulan pertanian yang dikembangkan peningkatan produksi varietas unggul atau ● ● ● ● ● ● ● Penyuluhan penggunaan pupuk dan pestisida dan pengembangan pertanian organic (sudah ada dalam RPJMD 5.2.Kebijakan ini dipandang penting diintegrasikan ke dalam program-program strategis dan kegiatan Pengamalan ABS dan SBK. Rekomendasi untuk Program Pengembangan Pertanian Berbasis Kawasan dan Komoditi Unggulan Bedasarkan uraian dampak dari program ini yang telah dijelaskan pada BAB V terdahulu.3. 1.3.3) Membudayakan penggunaan pupuk dan pestisida organic/alami (sudah ada dalam RPJMD 5. maka beberapa program prioritas Pengembangan Industri Pengolahan jasa & Perdagangan (P6)perlu diarahkan menjadi sebagai berikut: ● ● ● Pengembangan sentra-sentra industri Potensial dengan pembatasanan pembangunan lainnya melalui aturan perizinan yang lebih ketat bila lokasi berada pada hutan lindung. Pengembangan klaster industri unggulan dengan tetap menjaga luas tutupan hutan (40% sesuai RTRW) Agar dalam pelaksanaan program pengembangan industri pengolahan jasa lingkungan & perdagangan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. beberapa program dan kegiatan yang dipandang perlu diperbaiki dapat dilihat Lampiran Tabel 6.

Rekomendasi untuk Program Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat (Prioritas 9) Bedasarkan kepada uraian dampak dari program ini yang telah dipaparkan pada BAB V terdahulu.3.1 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW Pembuatan IPAL Terpadu pada pengembangan kasawasan andalan (Penambahan kegiatan 6. Pemugaran bangunan dan kawasan cagar budaya. perbaikan sistem drainase dan pembangunan sumur resapan. Penataan Bangunan dan Lingkungan dengan memperhatikan daerah resapan dan drainase Program Rehabilitasi Dan Rekonstruksi Rumah Akibat Bencana untuk mendorong percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi rumah yang rusak dan hancur akibat bencana yang terjadi di Sumatera Barat dengan tetap memperhatikan lahan produktif dan faktor keselamatan penduduk serta keberlanjutan sumber daya alam.4. rehabilitasi lahan kritis. ● Berdasarkan rekomendasi tersebut maka beberapa Perubahan yang dimaksud dapat dilihat pada Tabel 6. Normalisasi sungai.1a. mendukung pengembangan daerah dan mengurangi beban ruas-ruas yang sudah mendekati kapasitas dengan memperhatikan kawasan lindung. Pembangunan jalan alternatif/baru sebagai langkah penanggulangan dan antispasi masalah kemacetan pada jalan arteri primer. Pemberian fasilitas dan simulasi pembangunan perumahan swadaya.3.8. Pengembangan. Peningkatan jalan pantai barat Sumatera Barat dengan memperhatikan lahan produktif. Sumatera Utara. Pemberdayaan masyarakat miskin perkotaan dan pedesaan. Pembangunan jalan dan jembatan baru untuk membuka akses daerah terpencil dan meningkatkan mobilitas masyarakat perdesaan dengan tujuan peningkatan dan pemberdayaan perekonomian masyarakat dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir (mencegah dampak kebijakan tata ruang no. serta merevitalisasi kawasan.7 Pengembangan Teknologi Tepat Guna di sempunakan menjadi Program Pengembangan Teknologi dan Ramah Lingkungan (perbaikan 6. ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . Penataan kawasan kumuh dengan memperhatikan faktor kesehatan. lahan produktif dan potensi banjir. 1b pada pasal 14 RTRW).● Program strategis 6. maka beberapa program prioritas Pembangunan Infrastruktur Penunjang Ekonomi Rakyat perlu diarahkan menjadi sebagai berikut: ● ● ● ● ● Melakukan reboisasi atau penghijauan. Pembangunan jalan dan jembatan antar daerah yang bertujuan untuk mengurangi biaya dan waktu perjalanan. Rehabilitasi dan Pemeliharaan Penyelenggaraan Transportasi udara dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif dan sistem drainase.5 dalam RPJMD) DARI REKOM RTRW kegiatan ditambahkan untuk industry atau dirubah. Peningkatan layanan jalan dan jembatan menuju daerah Riau. Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan masyarakat dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah serta penanggulangan kemiskinan di daerah. Jambi dan Bengkulu dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir. serta mengurangi efek pencemaran lingkungan akibat polusi transportasi dengan tidak melintasi kawasan lindung dan memperhatikan debit banjir. dimiliki dengan Peningkatan dan pembangunan jalan arteri primer baik di lintas utama perekonomian maupun perkotaan untuk mengurangi kemacetan. Pembangunan jalan Kelok Sembilan dengan memperhatikan kawasan lindung.7. 1. mengoptimalkan lahan tidur menjadi lahan produktif. pembangunan embung/situ di bagian hulu. Optimalisasi pemanfaatan aset-aset prasarana jalan yang telah memperhatikan volume debit pada musim hujan dan kawasan lindung.

dan jaringan lainnya. Pembangunan dan pengembangan prasarana dan sarana air minum dan air limbah yang berbasis masyarakat. kawasan lindung dan persyaratan kesehatan Perencanaan dan penyediaan sarana dan prasarana persampahan dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif. Program meliputi pemberdayaan masyarakat. meliputi kegiatan pokok : Pemberdayaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Rehabilitasi. Pembangunan prasarana sanitasi sesuai dengan persyaratan kesehatan. rawa. serta rehabilitasi jaringan irigasi Indrapura. Peningkatan OP drainase . Meningkatkan pelayanan dasar permukiman agar tercipta kondisi masyarakat yang sehat. Rehabilitasi daerah rawa. dan pengembangan jaringan irigasi. peningkatan. Membangun rumah sederhana sehat untuk mengurangi backlog dan pengembangan kasiba/lisiba dengan memperhatikan lahan produktif dan daerah resapan. Mendukung pembiayaan dan pengembangan kelembagaan perumahan. rawa. Fasilitasi dan koordinasi pembangunan dalam pengelolaan jaringan irigasi termasuk jaringan tersier. mewujudkan keterpaduan pengelolaan. Optimalisasi pemanfaatan lahan irigasi. seperti danau. serta menyediakan dan meningkatkan pelayanan prasarana dasar permukiman sehingga tercipta kawasan permukiman dan perumahan yang sehat dan ramah lingkungan dengan memperhatikan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan hidup. sungai. Pengembangan prasarana dan sarana drainase dengan memperhatikan debit banjir. Perbaikan prasarana drainase yang rusak dan pembangunan drainase pada kawasan permukiman baru serta pada kawasan yang terkena bencana dengan memperhatikan debit banjir. program pengembangan kelembagaan. Meningkatkan keberlanjutan fungsi dan pemanfaatan sumberdaya air. Pembangunan prasarana air bersih yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas dan terdistribusi secara merata dengan tetap memperhatikan keberlanjutan sumber daya air. Pembangunan pembuangan air limbah dan drainase.● Mendorong pemenuhan kebutuhan rumah yang layak huni. serta jaringan pengairan lainnya dalam rangka mendukung program ketahanan pangan nacional melalui upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan air dan wáter produktivity. dan sumber air lainnya. serta persampahan. dan program peningkatan kinerja pengelolaan persampahan dan drainase dengan memperhatikan ketersediaan lahan produktif. Pembangunan jalan lingkungan dan perbaikan lingkungan permukiman. Peningkatan dan normalisasi saluran drainase dengan memperhatikan debit banjir. Peningkatan pemeliharaan dan normalisasi saluran dengan memperhatikan debit banjir. Percepatan pembangunan dan pengembangan infrastruktur pada kawasan khusus dengan memperhatikan kawasan lindung dan lahan produktif. kawasan lindung dan persyaratan kesehatan. serta menjamin kemampuan keterbaharuan dan keberlanjutannya sehingga dapat dicapai pola ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . rawa. Program ini dilaksanakan dengan memperhatikan dampak lingkungan yang potencial terjadi. rawa. aman dan terjangkau dengan menitikberatkan pada masyarakat miskin dan berpenghasilan rendah. dan sumberdaya air lain. Pembangunan prasarana listrik dengan tetap memperhatikan lahan produktif. Mewujudkan pengelolaan jaringan irigasi. sehat. Perbaikan irigasi yang rusak akibat bencana alam. termasuk lanjutan pembangunan daerah irigasi Anai II dan Batahan. Pembangunan perumahan di daerah kumuh daerah perkotaan dan perdesaan sesuai dengan persyaratan kesehatan.

RTH dan Kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). Peningkatan operasionalisasi organisasi pengelola sumberdaya air. Program dilakukan dengan kegiatan pokok: Peningkatan sarana dan prarasana pelabuhan dan terminal pada pelabuhan ASDP dengan tetap mempertimbangkan kualitas air dan daya dukung lingkungan sungai dan danau (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 17. fasilitas parkir. pembangunan fasilitas pergudangan. (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 10) Kegiatan pokok pada program ini yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: Melakukan kajian-kajian pendahuluan untuk mengwujudkan konsep Padang sebagai kota metropolitan yang tergabung dengan kota Pariaman dan Kota Painan sebagai sebuah system perkotaan metropolitan. ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● . kantor. Rehabilitasi dan pembangunan embung memperhatikan tata kelola pemanfaatan air. Kegiatan pokoknya adalah : Rehabilitasi dan pemeliharaan dermaga. Rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas keselamatan pelayaran. dan Kota Pariaman dan Kota Painan sebagai kota-kota disekitarnya yang membentuk suatu kawasan pusat perkotaan metropolitan dilakukan dengan mempertimbangkan penurunan kualitas air. Perpanjangan landasan pacu. terminal penumpang. parkir. 19) Peningkatan kualitas moda angkutan untuk pelabuhan penyeberangan lintas Kota Padang – Kab. gudang. Kegiatan pokoknya adalah : Fasilitasi Rehabilitasi dan pemeliharan bangunan terminal.pengelolaan sumberdaya air yang terpadu dan berlanjutan. Rehabilitasi dan pemeliharaan fasilitas yang ada pada land-side (seperti. Padang Pariaman dengan memperhatikan upaya pengelolaan dan pemantauan penurunan kualitas air Meningkatkan kapasitas pelayanan bandar udara dan standar keselamatan. terminal dan fasilitas pendukung dilakukan dengan mempertimbangkan upaya pengelolaan limpasan air akibat berkurangnya tutupan lahan dan mengakomodasi sistem drainase pada perencanaan kegiatan tersebut Pengendalian Pemanfaatan Ruang dengan mempertimbangkan intensitas pemantauan dan evaluasi terhadap aspek tata kelola air kawasan hulu dan hilir. dan eksploitasi air tanah yang terkendali dengan upaya peningkatan efisiensi pemanfaatan air dan wáter produktivity. di daerah yang membutuhkan dengan Meningkatkan pelayanan angkutan sungai dan penyeberangan yang telah ada. ● ● ● ● ● ● ● Penatagunaan sumberdaya air. Kepulauan Mentawai Meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan dalam rangka mengurangi ekonomi biaya tinggi dengan melibatkan sektor swasta di dalam pengembangan dan pelayanan pelabuhan. 18. dan lain-lain). Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan sumberdaya air. dan lapangan penumpukan peti kemas. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Provinsi Pengendalian Pemanfaatan Kawasan Perbatasan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kabupaten/Kota Menyiapkan dan mendorong kota Padang sebagai kota metropolitan. Pembangunan pelabuhan di Pasaman Barat. Pengerukan alur pelayaran dengan memperhatikan pengelolaan dan pemantauan lingkungan terhadap penurunan kualitas air. Operasi dan pemeliharaan. dengan membentuk kota Padang sebagai kawasan perkotaan inti. rehabilitasi dan pengembangan sumberdaya air. serta keseimbangan pengelolaan kawasan hulu hilir.

Kota Pariaman. SPM dalam penataan bangunan pada daerah rawan bencana . serta pengelolaan kawasan hulu lilir Pemberdayaan komunitas perumahan melalui bantuan stimulant untuk masyarakat miskin Penyusunan kebijakan dan sistem peraturan dalam pengembangan perumahan dan permukiman Pembinaan. Mendorong dan memfasilitasi penyediaan segala sarana dan prasarana yang mendukung Kota Metropolitan Padang. koordinasi dan fasilitasi dalam peningkatan lingkungan sehat kawasan perumahan dan pengurangan daerah kumuh (sanitasi lingkungan) Penataan Bangunan dan Lingkungan. perencanaan dan penyusunan kebijakan. serta keseimbangan pengelolaan kawasan hulu hilir (sudah mengakomodir dampak kebijakan RTRW pasal 37 . dengan memperhatikan daya dukung lingkungan dan kearifan lokal Rehabilitasi dan rekontruksi bangunan kantor akibat gempa 30 September 2009 Pembangunan dan Peningkatan sarana prasarana fasilitas umum seperti Gedung Serbaguna. Pasar Manggilang. Pasar : Pembangunan ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● ● Koordinasi.pasal 42) Pengembangan Wilayah Perbatasan dengan Negara Lain (Pulau-pulau terdepan) Pengembangan Wilayah Perbatasan dengan Provinsi Tetangga Pengembangan Wilayah Perbatasan antar Kabupaten/Kota Pengembangan Perumahan dan Permukiman dengan mempertimbangkan RTH dan upaya keseimbangan terhadap kualitas dan kuantitas air. dan Kota Painan untuk membangun kelembagaan perkotaan metropolitan Pengembangan Wilayah Perbatasan dilakukan dengan mempertimbangkan RTH dan Kawasan lindung (sempadan pantai dan sungai). fasilitasi. Menyusunan rencana tata ruang dan rencana detil tata ruang wilayah Kota Metropolitan Padang. NPSM. Minang Expo.● ● ● ● ● Mendorong dan memfasilitasi segala persyaratan yang diperlukan untuk menwujudkan Padang sebagai kota Metropolitan. Mendorong dan memfasilitasi kerjasama antara pemerintah Kota Padang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful