P. 1
Masyarakat Merupakan Kumpulan Manusia Yang Hidup Bersama

Masyarakat Merupakan Kumpulan Manusia Yang Hidup Bersama

|Views: 8|Likes:
Published by Purnama Dewi

More info:

Published by: Purnama Dewi on Oct 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/15/2013

pdf

text

original

Tes Akhir Semester ILMU SOSIAL DASAR Nama : I Gede Satya Widura Nim : 1013021015

Kelas : 3.A 1. Deskipsi tentang pengertian “masyarakat”, keluarga sebagai sistem sosial, dan stratifikasi sosial (pelapisan masyarakat). 1.1.Pengertian Masyarakat Masyarakat merupakan kumpulan manusia yang hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut. Dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubunganhubungan antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang

interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. 1.2. Keluarga sebagai sistem sosial Keluarga pada hakekatnya merupakan satuan terkecil sebagai inti dari suatu sistem sosial yang ada dimasyarakat. Sebagai satuan terkecil, keluarga merupakan miniatur dan embrio berbagai unsur sistem sosial manusia. Suasana keluarga yang kondusif akan menghasilkan warga masyarakat yang baik karena dalam keluargalah seluruh anggota keluarga belajar berbagai dasar kehidupan masyarakat. Keluarga adalah bagian masyarakat yang peranannya sangat penting untuk membentuk kebudayaan yang sehat. Dari keluarga inilah pendidikan kepada individu dimulai dan dari keluarga akan tercipta tatanan masyarakat yang baik, sehingga untuk membangun suatu kebudayaan maka seyogyanya dimulai dari keluarga 1.3.Pengertian Stratifikasi Sosial Stratifikasi sosial (Pelapisan Sosial) adalah penggolongan untuk pembedaan orang-orang dalam suatu sistem sosial tertentu kedalam lapisan-lapisan hirarkhis menurut dimensi kekuasaan, previlese dan prestise. Penggolongan untuk pembedaan artinya: setiap induvidu menggolongkan dirinya sebagai orang yang termasuk dalam

suatu lapisan tertentu (menganggap dirinya lebih rendah atau lebih tinggi daripada orang lain) untuk digolongkan kedalam lapisan tertentu. Pelapisan sosial merupakan proses menempatkan diri dalam suatu lapisan (subyektif) untuk penempatan orang kedalam lapisan tertentu. Contoh Subyektif 1. Sekelompok orang karena faktor tertentu (biasanya status) tidak mau disamakan dengan sekelompok yang lain. 2. Sekelompok orang yang lebih kaya kadang merasa risih bergaul dengan yang miskin. Contoh Obyektif Sekolompok orang merasa minder ( faktor tertentu) apabila bergaul dengan orang kelasnya lebih diatasnya.

2. Bandingkan bagaimana sistem pelapisan mayarakat yang tertutup dengan sistem pelapisan masyarakat terbuka. Pelapisan Masyarakat Pelapisan masyarakat di kehidupan bermasyarakat dinamakan stratifikasi. Istilah ini didapat dari kata STRATA atau STRATUM yang berarti LAPISAN. Sejumlah individu yang mempunyai kedudukan yang sama menurut ukuran masyarakatnya dikatakan berada dalam suatu lapisan atau stratum. Ada 2 jenis pelapisan masyarakat. Yaitu tertutup dan terbuka. 2.1.Sistem pelapisan masyarakat yang tertutup Di dalam sistem ini perpindahan anggota masyarakat ke lapisan lain baik keatas Maupun ke bawah tidak mungkin terjadi , kecuali ada hal – hal yang istimewa. Di dalam sistem yang demikian itu satu – satunya jalan untuk dapat masuk menjadi anggota dari suatu lapisan dalam masyarakat adalah karena kelahiran . Sistem pelapisan tertutup kita temui misalnya di India yang masyarakatnya mengenal sistem kasta . Sebagaimana kita ketahui masyarakat terbagi ke dalam : 1. Kasta Brahmana : yang merupakan kastanya golongan – golongan pendeta dan Merupakan kasta tertinggi. 2. Kasta Ksatria : merupakan kasta dari golongan bangsawan dan tentara yang Dipandang sebagai lapisan kedua. 3. Kasta Waisya : merupakan kasta dari golongan pedagang yang dipandang Sebagai lapisan menengah ketiga.

4. Kasta Sudra : merupakan kasta dari golongan rakyat jelata. 5. Paria :adalah golongan dari mereka yang tidak mempunyai kasta. Yang termasuk golongan ini misalnya kaum Gepeng dsb.

2.2.Sistem pelapisan masyarakat terbuka Di dalam sistem yang demikian ini setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan untuk jatuh ke lapisan yang ada di bawahnya atau naiknya ke lapisan yang di atasnya. Sistem yang demikian ini dapat kita temukan misalnya di dalam masyarakat di Indonesia sekarang ini . Setiap orang diberi kesempatan untuk menduduki segala jabatan bila ada kesempatan dan kemampuan untuk itu . Tetapi disamping itu orang juga dapat turun dari jabatannya bila dia tidak mampu mempertahankannya . Status (kedudukan) yang diperoleh berdasarkan atas usaha sendiri disebut “Achieve status”. Dalam hubungannya dengan pembangunan masyarakat , sistem pelapisan masyarakat yang terbuka sangat menguntungkan . Sebab setiap warga masyarakat diberi kesempatan untuk bersaing dengan yang lain . Dengan demikian orang berusaha untuk mengembangkan segala kecakapannya agar dapat meraih kedudukan yang dicita – citakan . Demikian sebaliknya bagi mereka yang tidak bermutu akan semakin didesak oleh mereka yang cakap , sehingga yang bersangkutan bisa jatuh ke tangga sosial uang lebih rendah. Orang dengan status sosial yang tinggi cenderung lebih dihormati dari pada yang mempunyai status sosial rendah. Hal ini tentunya dapat menimbulkan deskriminasi sosial di dalam masyarakat.Contohnya pada suatu acara di balai warga, orang yang mempunyai kedudukan tinggi atau mempunyai status ekonomi yang baik akan di utamakan dan diberi tempat khusus pada perhelatan tersebut, sedangkan orang dengan status sosial yang masih rendah umumnya mendapat tempat di belakang padahal sudah menganti lebih awal. Atau pada rapat warga, yang diundang untuk menghadiri rapat hanyalah warga dengan status sosial yang tinggi tanpa mau mendengarkan pendapat dari warga lainya. Hal ini lambat laun dapat menimbulkan kecemburuan sosial di masyarakat dan dapat menimbulkan ketidakharmonisan antar warga. Untuk menghindari terjadinya kecemburuan sosial akibat adanya pelapisan sosial ini, hendaknya orang dengan status sosial yang lebih tinggi dapat “Duduk sama rendah, Berdiri sama tinggi” dan saling

merangkul satu sama lain dengan warga yang memiliki status sosial yang rendah agar terjadi keharmonisan di dalam bermasyarakat.

3. a. Teori pelapisan sosial menurut 1) Aristoteles mengatakan bahwa di dalam tiap-tiap Negara terdapat tiga unsure, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat sekali, dan mereka yang berada di tengah-tengahnya. 2) Vilfredo Pareto menyatakan bahwa ada dua kelas yang senantiasa berbeda setiap waktu yaitu golongan Elite dan golongan Non Elite. Menurut dia pangkal dari pada perbedaan itu karena ada orang-orang yang memiliki kecakapan, watak, keahlian dan kapasitas yang berbeda-beda. 3) Karl Mark menjelaskan terdapat dua macam di dalam setiap masyarakat yaitu kelas yang memiliki tanah dan alat-alat produksi lainnya dan kelas yang tidak mempunyainya dan hanya memiliki tenaga untuk disumbangkan di dalam proses produksi. b. Yang menjadi dasar untuk menggolongkan anggota-anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial, didasarkan yang paling menonjol pada masyarakat. 1. Ukuran Kekayaan: ukuran kekayaan (kebendaan) dapat dijadikan ukuran. Barang siapa yang mempunyai kekayaan paling banyak, termasuk ke dalam lapisan sosial teratas. 2. Ukuran Kekuasaan: barangsiapa yang memliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar, menempati lapisan teratas. 3. ukuran kehormatan: Ukuran kehormatan mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang yang paling disegani dam dihormati, mendapat atau menduduki lapisan sosial teratas. 4. ukuran ilmu Pengetahuan: Ilmu pengetahuan dipakai ukuran oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Ukuran ini kadang-kadang menyebabkan menjadi negatif, karena bukan ilmu pengetahuan yang menjadi ukuran, tapi gelar kesarjanaan.

4. Bandingkan bagaimana karakteristik (ciri-ciri) antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan ditinjau dari aspek-aspek: lingkungan hidup, corak kehidupan sosial, mobilitas sosial, pola interaksi sosial, dan solidaritas sosial.

 Masyarakat pedesaan 1. Lingkungan hidup Desa berhubungan erat dengan alam, ini disebabkan karena letak geografi dan daerah alam sangat vital menunjang kehidupan. Kepercayaan-kepercayaan dan hukumhukum alam menentukan setiap pola pikir dan pola sosial. 2. Corak kehidupan Masyarakat desa lebih bersifat homogen dan perbedaan sosial relatif lebih rendah. 3. Mobilitas sosial Mobilitas masyarakat pedesaan masih rendah. Hal ini disebabkan karena kondisi geografis dan kepentingan dari individual masyarakat tersebut. 4. Pola interaksi sosial Interaksi sosial pada masyarakat desa lebih tinggi hal ini juga karena masyarakat yang homogen. Masyarakat lebih terlihat saling tolong menolong. 5. Solidaritas sosial Karena proses interaksi yang tinggi. Solidaritas pada masyarakat pedesaan juga sangat tinggi. Kepedulian antar individu sangat tinggi.  Masyarakat Perkotaan 1. Lingkungan hidup Lingkungan hidup masyarakat perkotaan berada pada daerah kota / daerah dataran rendah. Dengan begini, lingkungan hidup akan mempengaruhi sektor-sektor masyarakat karena jalur akses lebih mudah. 2. Corak kehidupan Corak kehidupan masyarakat perkotaan lebih bersifat heterogen. Hal ini karena masyarakat perkotaan terdiri dari masyarakat yang kompleks dengan latar belakang dan kepentingan hidup yang berbeda. 3. Mobilitas sosial Mobilitas sosial masyarakat perkotaan sangat tinggi. Ditinjau dari segi geografi yang mendukung mobilitas ini. 4. Pola interaksi sosial Pola interaksi sosial masyarakat kota lebih rendah dibandingkan masyarakat pedesaan. Hal ini disebabkan karena masyarakat perkotaan cenderung lebih individualis.

5. Solidaritas sosial Pola interaksi sosial yang rendah mengakibatkan solidaritas/ kepedulian antar sesama rendah. Setiap individu memiliki kepentingan yang jauh berbeda dengan individu lainnya. Sehingga setiap individu memiliki dunia yang berbeda.

5. Teori strukturalisme fungsional dan teori konflik dalam menelaah suatu kelompok social (masyarakat).  Teori structural fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup. Sama halnya dengan pendekatan lainnya pendekatan structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan sosial. Teori ini membandingkan dan mencari kesamaan antara masyarakat dengan organisme, hingga akhirnya berkembang menjadi apa yang disebut dengan requisite functionalism. Teori structural fungsional mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan dimana di dalamnya terdapat bagian – bagian yang dibedakan. Bagian-bagian dari sistem tersebut mempunyai fungsi masing – masing yang membuat sistem menjadi seimbang. Bagian tersebut saling interdependensi satu sama lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem.  Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana- sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->