P. 1
[Www.indowebster.com]-Makalah Komunikasi Keperawatan - Bab I - VI

[Www.indowebster.com]-Makalah Komunikasi Keperawatan - Bab I - VI

|Views: 427|Likes:
Published by wonoboyoindah

More info:

Published by: wonoboyoindah on Oct 20, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Berkomunikasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh semua orang, tanpa terkecuali. Bahkan orang tuli dan orang buta pun melakukan komunikasi, meski dengan caranya sendiri. Komunikasi dilakukan setiap waktu, dari bangun tidur hingga tidur kembali, sehingga komunikasi merupakan hal yang dianggap biasa karena orang sudah terbiasa melakukannya. Namun, bila ditilik lebih dalam, dalam berkomunikasi memiliki teori dan teknik-teknik yang tidak setiap orang tahu. Bila dipelajari, teknik-teknik ini dapat membantu para perawat dalam berkomunikasi, tidak hanya berkomunikasi biasa, namun berkomunikasi terapeutik dengan pasiennya. Untuk itulah makalah ini disusun, agar para perawat dapat mempelajari teknik-teknik berkomunikasi.

B. RUMUSAN MASALAH
Penyusunan makalah ini didasari atas: 1. Apakah komunikasi itu? 2. Bagaimana teknik berkomunikasi dengan anak hingga lansia? 3. Teori apa sajakah yang menjelaskan komunikasi? 4. Bagaimana cara berkomunikasi secara terapeutik dengan klien?

C. TUJUAN
Pembuatan makalah ini bertujuan : 1. Menjabarkan mengenai apa itu komunikasi. 2. Menjelaskan macam teknik komunikasi dengan anak hingga orang lansia dan hambatanya. 3. Menjelaskan berbagai teori mengenai teknik komunikasi 4. Membantu perawat dalam berkomunikasi terapeutik dengan kliennya.

D. MANFAAT
1. Mengerti dan memahami konsep komunikasi 2. Dapat membantu perawat dalam mempelajari teknik-teknik dalam berkomunikasi 3. Perawat memahami berbagai teori dalam berkomunikasi 4. Perawat dapat melakukan komunikasi terapeutik terhadap klien.

1

BAB II PEMBAHASAN 1. KOMUNIKASI
A. KOMUNIKASI
Komunikasi merupakan seni penyampaian informasi (pesan, ide, sikap/gagasan) dari komunikator/ penyampai berita untuk mengubah serta membentuk perilaku komunikan/ penerima berita (pola, sikap, pandang dan pemahamannya) ke pola dan pemahaman yang dikehendaki bersama.

1. Tingkatan Komunikasi Tingkatan komunikasi dibagi dalam 3 tingkatan, yaitu : a. Komunikasi Intrapersonal Komunikasi dengan diri sendiri, berusaha mengenal diri sendiri, dan segala konsep diri yang melingkupinya, menanyakan diri sendiri tentang segala hal yang diinginkan/ yang ingin diketahui terkait dengan keinginan, kebutuhan, dll. Metode : refleksi, renungan, curhat/ diary, kontemplasi. b. Komunikasi Interpersonal Berkomunikasi dengan orang lain secara face to face maupun dalam kelompok. Metode : komunikasi searah, komunikasi dua arah. c. Komunikasi Massa : Menyampaikan informasi kepada beberapa orang disebuah situasi yang sengaja diciptakan.

2. Tujuan Komunikasi a. Untuk memudahkan, melancarkan, melaksanakan kegiatan tertentu dalam mencapai suatu tujuan. b. Membina dan memelihara hubungan dengan orang lain. c. Untuk bermain dan menghibur diri. d. Untuk mengenali diri sendiri dan juga orang lain.

3. Fungsi Komunikasi a. Sebagai informasi, sarana pendidikan untuk pendidik. b. Media untuk mentransfermasikan ilmu dari pendidik ke peserta didik. 2

c. Sarana dalam hubungan social. d. Melaksanakan kelangsungan hidup. e. Sarana komunikasi ekspresif dan ritual

4. Elemen Komunikasi a. Komunikator : orang yang mau berkomunikasi dengan orang lain. b. Pesan : berita yang disampaikan oleh komunikator melalui lambing/ gerakan. c. Saluran komunikasi : sarana untuk menangkap lambing yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk persepsi yang member makna terhadap suatu stimulus/ rangsangan. d. Komunikan : pihak yang diajak berkomunikasi. e. Umpan balik : arus umpan balik dalam rangka proses berlangsungnya komunikasi. f. Referen (stimulus) : memotivasi seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain.

B. PROSES KOMUNIKASI
Proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan pada komunikannya,sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. 1. Karakteristik Komunikasi Komunikasi memiliki berbagai karaketeristik, yaitu sebagai berikut: a. b. c. d. e. f. Komunikasi memerlukan sedikitnya dua orang. Hubungan yang terbentuk merupakan hasil dari kegiatan komunikasi. Komunikasi terjadi secara kontinu dan berulang-ulang. Seseorang yang melakukan komunikasi melakukan pertukaran pesan. Komunikasi verbal dan nonverbal berlangsung simulton. Seseorang yang melakukan komunikasi berespon terhadap pesan yang mereka dapat. g. Pesan yang diterima oleh komunikan tidak selalu sama dengan arti pesan yang dimaksud sebelumnya oleh komunikator atau seperti yang diharapkan komunikator. h. i. Pertukaran pesan memerlukan pengetahuan. Pengalaman masa lalu mempengaruhi pengiriman pesan dan interprestasi pesan oleh penerima pesan dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu. j. Komunikasi dipengaruhi oleh seseorang menilai dirinya sendiri dan oleh materi yang dikomunikasikan. 3

2. Jenis Komunikasi a. Komunikasi formal : Komunikasi yang dalam pelaksanaannya terjadi antara bawahan dalam ruang lingkup pekerjaan secara hirarki. b. Komunikasi informal: Komunikasi yang dalam pelaksanaannya tidak mengenal hirarki dan komunikasi informal tidak mengandung saksi. 3. Bentuk Komunikasi Pada dasarnya komunikasi dapat digolongkan dalam 2 jenis yaitu: a. Komunikasi verbal (komunikasi dengan kata-kata)

Secara formal digunakan untuk menunjukkan maksud dan tujuan tertentu. secara informal untuk bersosialisasi. komunikasi efektif harus diawali dengan bahasa verbal yang tepat, seperti memanggil nama. 1) Teknik informing. Bahasa singkat danjelas, mudah dimengerti, pada teknik ini perawat bersifat aktif dan pasien pasif. Akan tetapi metode ini tidak efektif. 2) Bertanya langsung: membantu untuk mendapat informasi spesifik. jika berlebihan dapat menyebabkan lansia defensif. (menggunakan pertanyaan tertutup ya/tidak). bertanya terbuka-tertutup : meliputi pertanyaan reflektif, klarifikasi, parafrase, ex : anda sedang sedih, mengapa? 3) Berhadapan langsung (confronting). Ketika respon verbal dan non verbal pada lansia tidak sama, teknik ini dapat dialkukan. tidak dianjurkan pada klien lansia yang sedang gelisah atau bingung. 4) Social communication. Tujuannya untuk lebih membina hubungan saling percaya dengan lansia. untuk memperoleh informasi lain diluar info kesehatan lansia. b. Komunikasi non verbal(komunikasi deangan menggunakan bahasa tubuh)

Aspeknya: 1) Simbol, contohnya cara berpakaian menentukan identitas pribadi

seseorang. 2) Nada suara (tone voice), bisa menunjukkan emosi seseorang,

mengindikasikan emosi pada lansia. Pada lansia saat kita berkomunikasi hendaknya menggunakan nada yang rendah. 4

3)

Body language, dapat digunakan untuk memvalidasi maksud atau tujuan komunikasi. Body language pasien harus diperhatikan karena body language yang tidak sesuai dapat menjadi barier komunikasi. Oleh karena itu perawat harus menempatkan diri untuk berkomunikasi dengan lansia.

4)

Space or distance, and position. public space, area tidk ada hubungan dengan orang lain (>12 kaki). social space, komunikasi terjadi dalam tahap interpersonal (4-12 kaki). personal space, seberapa dekat orang dapat berkomunikasi dengan kita dan kita merasa nyaman (18 inci – 4 kaki). intimate space, hanya orang tertentu yang boleh masuk.

5)

Gesture,

digunakan

untuk

membantu

menyampaikan

maksud

dari

komunikasi. gesture sangat membantu pada orang yang tidak dapat mendengar. 6) Ekspresi wajah, digunakan untuk komunikasi antarbudaya dan bangsa. karena ekspresi takut, marah, sedih, senang, dll bisa ditunjukkan lewat ekspresi wajah. 7) 8) Kontak mata, posisi sejajar menunjukkan respect terhadap lawan bicara Kecepatan komunikasi, jangn tergesa-gesa ketika berkomunikasi dengan lansia, karena menyebabkan kebingingan dan frustrasi. 9) Waktu, terlalu menyampaikan di awal membuat lansia lupa. dan menyampaikan diakhir membuat stress atau frustrasi. komunikasi di malam hari mengganggu waktu tidur lansia.membutuhkan yang lebih lama dan sabar untuk komunikasi dengan lansia. 10) Sentuhan, metode untuk mengungkapkan perhatian dan caring. sentuhan terapeutik dapat menurunkan ansietasn depresi, dapat meningkatkan keberadaan dan rasa penghargaan bagi lansia. 11) Silence, bentuk komunikasi yang ditunjukkan ketika lansia berduka, cemas, sakit.

5

2. TEKNIK KOMUNIKASI DI BERBAGAI TINGKAT USIA
A. KOMUNIKASI DENGAN ANAK 1. Teknik dalam Komunikasi dengan Anak Berikut adalah teknik komunikasi dengan anak, mulai dari bayi hingga usia sekolah. a. Bayi : Mengungkapkan kebutuhan denganteriakan dan bersuara yang dapat

diinterpretasikan oleh orangsekitarnya, contoh: menangis. Untuk itu orang dewasa harus mampu mengartikan dari tangis bayi, apakah bayi tersebut ingin makan, ataukah ingin buang air besar. b. Toddler dan Pra sekolah Berikut adalah teknik yang harus dikuasi untuk berkomunikasi dengan toddler dan anak pra sekolah: 1) Memberitahu apa yang terjadi pada dirinya. 2) Memberi kesempatan pada mereka untuk menyentuh alat pemeriksa yang akan digunakan. 3) Bicara lambat 4) Hindari sikap mendesak untuk dijawab, contoh: jawab dong! 5) Hindari konfrontasi langsung 6) Salaman pada anak ( kurangi rasa cemas) 7) Bergambar atau bercerita. c. Usia sekolah 1) Gunakan kata sederhana yg spesifik 2) Jelaskan sesuatu yg membuat ketidakjelasan pada anak 3) Jelaskan arti fungsi dan prosedur tindakan 4) Jangan menyakiti atau mengancam 2. Tahapan dalam Komunikasi dengan Anak a. Tahap Prainteraksi Mengumpulkan data tentang kliendengan mempelajari status atau bertanya kepada orang tua tentang masalah yang ada. b. Tahap Perkenalan Memberi salam dan senyum pada klien,melakukan validasi , mencari kebenaran data yg ada, menobservasi, memperkenalkan nama dengan tujuan, waktu dan menjelaskan kerahasiaan klien.

6

c. Tahap Kerja Memberi kesempatan pada klien untuk bertanya, karena akan memberitahu tentang hal yang kurang dimengerti dalam komunikasi, menanyakan keluhan utama. d. Tahap Terminasi Menyimpulkan hasil wawancara meliputi evaluasi proses dan hasil, memberikan reinforcement positif, tindak lanjut,kontrak, dan mengakhiri wawancara dgn cara yg baik

3. Faktor-Faktor dalam Komunikasi dengan Anak a. Pendidkan b. Pengetahuan c. Sikap d. Usia Tukem e. Status kes anak f. Sistem sosial g. Saluran h. Lingkungan.

B. TEKNIK KOMUNIKASI PADA ORANG DEWASA
Komunikasi verbal dan nonverbal adalah saling mendukung satu sama lain. seperti pada anak-anak, perilaku non verbal sanna pentingnya pada orang dewasa. Ekspresi wajah, gerakan tubuh dan nada suara. memberi tanda tentang status emosional dari orang dewasa. Tetapi harus ditekankan bahwa orang dewasa mempunyai kendala pada hal-hal ini. Orang dewasa yang dirawat di rumah sakit bisa merasa ttdak berdaya, tidak aman dan tidak mampu ketika dikeiilingi oleh tokoh-tokoh yang berwenang. Status kemandirian mereka telah berubah menjadi status dimana orang lain yang memutuskan kapan mereka makan dan kapan mereka tidur. Ini merupakan pegalaman yang mengancam dirinya, dirnana orang dewasa tidak berdaya dan cemas, dan ini dapatterungkap dalam bentuk kemarahan dan agresi. Dengan dilakukan komunikasi yang sesuai dengan konteks pasien sebagai orang dewasa oleh para profesional, pasien dewasa akan mampu bergerak lebih jauh dari imobilitas biopsikososialnya untuk mencapai penerimaan terhadap masalahnya. Berikut adalah teknik berkomunikasi terahadap orang dewasa: 1. Suasana hormat menghormati

7

Orang dewasa akan mampu berkomunikasi dengan baik apabila pendapat pribadinya dihormati, ia lebih senang kalau ia boleh turut berfikir dan mengemukakan fikirannya. 2. Suasana saling menghargai Segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, sistem nilai yang dan menyampingkan harga kendala dalam jalannya dianut perlu dihargai. Meremehkan diri mereka akan dapat menjadi komunikasi. 3. Suasana saling percaya Saling mempercayai bahwa apa yang disampaikan itu benar adanya akan dapat membawa hasil yang diharapkan. 4. Suasana saling terbuka Terbuka untuk mengungkapkan diri dan terbuka untuk mendengarkan orang lain. Hanya dalam suasana keterbukaan segala alternatif dapat tergali.

C. KOMUNIKASI PADA LANSIA
Berbeda dengan komunikasi dengan individu lain karena lansia itu pada dasarnya adalah unik.lansia itu unik pada nilai, kepercayaan, persepsi, budaya dan pemahaman serta lingkungan sosial yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat menghasilkan komunikasi yang tidak efektif antara perawat dengan lansia.Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam berkomunikasi dengan lansia antara lain: 1. Perubahan fisik a. penurunan pendengaran  tuli konduksi :karena serumen, dan tulang yang tidak berfungsi  tuli sensori :penurunan saraf pendengaran.

Ini paling banyak terjadi pada lansiakarena adanya normal agging proses. adanya penurunan sensori atau prebikusis membuat lansia enggan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Solusinya adalah dengan menggunakan alat bantu dengar, bicara langsung dengan jelas dan pelan pada telinga yang mengalami gangguan pendengaran, gunanya untuk merangsang stimulus.

8

 penurunan penglihatan Dapat mengganggu proses komunikasi karena gesture, ekspresi wajah, gerak bibir (kompensasi lansia dengan gangguan penglihatan)tidak dapat ditangkap secara maksimal. Solusinya adalah dengan menggunakan gesture dan ekspresi wajah dengan maksimal. berhadapan langsung ketika berkomunikasi, pencahayaan yang cukup, hindari cahaya yang bersinar dan terlalu menyilaukan, serta minimalkan komunikasi tertulis. 2. Normal agging process Adanya penirunan sensori dan penurunan memori adalah hal yang wajar bagi lansia. penurunan memori biasanya hanya dapat mengingat peristiwa yang lampau. pemrosesan informasi melambat. 3. Perubahan sosial Timbul akibat adanya perubahan fisik dan normal agging process. solusinya adalah dengan diberi pemahaman dan diajak bersosialisasi. 4. Pengalaman dan budaya Apa yang diyakini orang tua dengan orang yang masih muda misalnya sangat bertentangan. contoh lansia menganggap bahwa jam 8 malam itu sudah terlalu larut untuk menerima tamu Berikut adalah tips-tips dalam berkomunikasi dengan lansia: 1. Menyediakan waktu ekstra 2. Mengurangi kebisingan 3. Duduk berhadapan 4. Menjaga kontak mata 5. Mendengar aktif 6. Berbicara pelan, jelas dan keras 7. Gunakan kata-kata atu kalimat yang sederhana dan pendek 8. Menetapkan satu topik dalam satu waktu 9. Awali percakapan dengan topik sederhana 10. Bicarakan tentang topik yang familiar dan menarik bagi lansia. 11. Beri kesempatan lansia untuk mengenang masa lalu. 12. Menyampaikan instruksi secara tertulis dan sederhana.

9

D. MODEL - MODEL KONSEP KOMUNIKASI DAN PENERAPANNYA PADA KLIEN DEWASA
1. Model Shanon & Weaver Suatu model yang menyoroti problem penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Model ini melukiskan suatu sumber yang berupa sandi atau menciptakan pesan dan menyampaikan melalui suatu saluran kepada penerima. Dengan kata lain model shannon & weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan suatu pesan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Pemancar (Transmitter) mengubah pesan menjadi suatu signal yang sesuai dengan saluran yang digunakan. Suatu konsep penting dalarn model ini adalah adanya gangguan (Noise) yang dapat menganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Model Shannon-Weaver dapat diterapkan kepada konsep komunikasi interpersonal. Model ini memberikan keuntungan bahwa sumber informasi jelas dan berkompeten, pesan langsung kepada penerima tanpa perantara. Tetapi model ini juga mempunyai keterbatasan yaitu tidak terlihatnya hubungan tansaksional diantara sumber pesan dan penerima. 2. Model Komunikasi Leary Refleksi dari model komunikasi interaksi dari Leary ( 1950 ) ini menggabungkan multidimensional yang ditekankan pada hubungan interaksional antara 2 (dua) orang, dimana antara individu saling mempengaruhi dan dipengaruhi . Leary mengamati tingkah laku klien, dimana didapatkan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Dari gambaran model leary ; pesan komunikasi dapat terjadi dalam 2 dimensi: 1) Dominan -Submission, dan 2) Hate – love. Model Leary dapat diterapkan di bidang kesehatan karena dalam bidang kesehatan ada keseimbangan kekuatan antara professional dengan klien. Selama beberapa tahun pasien akut ditempatkan pada peran submission dan profesi kesehatan selalu mondominasi peran dan klien ditempatkan dalam keadaan yang selalu patuh. Seharusnya dalam berkomunikasi ada keseimbangan asertif dalam menerima dan memberi antara pasien dan profesional. Bila model konsep ini diterapkan pada klien dewasa, peran dominan oleh perawat hanya mungkin dilakukan dalam keadaan darurat/akut untuk menyelamatkan kehidupan klien, sehingga klien harus patuh terhadap segala yang dilakukan perawat. Kita tidak dapat menerapkan posisi dominan ini pada klien dewasa yang dalarn keadaan kronik karena klien dewasa mempunyai komitmen yang kuat terhadap sikap dan pengetahuan yang kuat dan sukar untuk dirubah dalam wakru yang singkat. Feran Love yang berlebihan juga tidak boleh diterapkan terhadap klien dewasa, karena dapat mengubah konsep hubungan profesio

10

pribadi.

3. Model lnteraksi King Model King memberikan penekanan pada proses komunikasi antara perawat - klien. King menggunakan sistem perspektif untuk menggambarkan bagaimana profesional kesehatan (perawat) untuk memberi bantuan kepada klien. Pada dasarnya model ini meyakinkan bahwa interaksi perawat - klien secara simultan membuat keputusan tentang keadaan mereka dan tentang orang lain dan berdasarkan persepsi mereka terhadap situasi. Keputusan berperan penting yang merangsang terjadi reaksi. Interaksi merupakan proses dinamis yang meliputi hubungan timbal balik antara persepsi, keputusan dan tindakan perawat - klien. Transaksi adalah hubungan relationship yang timbal balik antaraperawarklien seiama berpartisipasi. Feedback dalam model ini menunjukkan pentingnya arti hubungan perawat-klien. Model ini sesuai untuk klien dewasa karena mempertimbangkan faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik klien dewasa yang pada akhirnya bertujuan untuk menjalin transaksi. Adanya feedback menguntungkan untuk mengetahui sejauh mana informasi yang disampaikan dapat diterima jelas oleh klien atau untuk mengetahui ada tidaknya persepsi yang salah terhadap pesan yang disampaikan. 4. Model Komunikasi Kesehatan Komunikasi ini difokuskan pada transaksi antara professional kesehatan - klien. 3 (tiga) faktor utama dalam proses komunikasi kesehatan yaitu : 1) Relationship, 2) Transaksi, dar 3) Konteks Hubungan Relationship dikondisikan untuk hubungan interpersonal, bagaimana seorang profesional dapat meyakinkan orang tersebut. Profesional kesehatan adalah seorang yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan, training dan pengalaman dibidang kesehatan. Klien adalah individu yang diberikan pelayanan. orang lain (significant order) penting untuk mendukung terjadinya interaksi khususnya mendukung klien untuk mempertahankan kesehatan.Transaksi merupakan kesepakatan interaksi antar partisipan di dalarn proses komunikasi tersebut. Konteks yaitu kornunikasi kesehatan yang memiliki topik utama tentang kesehatan klien dan biasanya disesuaikan dengan tempat dan situasi. Penerapannya terhadap komunikasi klien dewasa : Model komunikasi ini juga dapat diterapkan pada klien dewasa ,karena profesional kesehatan ( perawat ) memperhatikan karakteristik dari klien yang akan mempengaruhi interaksinya dengan orang lain. Transaksi yang dilakukan terjadi secara berkesinambungan, tidak statis dan umpan balik. Komunikasi melibatkan orang lain yang berpengaruh terhadap

11

kesehatan klien. Konteks komunikasi disesuaikan dengan tujuan, jenis pelayanan yang diberikan. Dalam berkomunikasi dengan orang dewasa memerlukan suatu aturan tertentu seperti; sopan santun, bahasa tertentu, melihat tingkat pendidikan, usia, faktor budaya, nilai yang dianut, faktor psikologi, sehingga perawat harus memperhatikan hal-hal tersebut agar ttdak terjadi kesalahpahaman. Pada komunikasi orang dewasa diupayakan agar perawat menerima pasien sebagaimana manusia seutuhnya dan perawat harus dapat menerima setiap orang berbeda satu dengan yanglain. Berdasarkan pada hal tersebut diatas, model konsep komunikasi yang tepat dan dapat diterapkan pada klien dewasa adalah model komunikasi interaksi King dan model komunikasi kesehatan. Karena pada kedua model komunikasi ini menunjukkan hubungan relationship yang rnemperhatikan karakteristik dari klien dan melibatkan pengirim dan penerirna, serta adanya umpan balik untuk mengevaluasi tujuan komunikasi. Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia ke arah yang lebih baik sehingga perawat perlu untuk menguasai tehnik dan model konsep komunitasi yang tepat untuk setiap karakteristik klien. Orang dewasa memiliki pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang menetap dalam dirinya yang sukar untuk dirubah dalam waktu singkat sehingga perlu model komunikasi yang tepat agar tujuan dapat tercapai. Model Konsep Komunikasi yang sesuai untuk klien dewasa adalah model interaksi King dan model komunikasi kesehatan yang menekankan hubungan relationship yang saling memberidan menerima serta adanya feedback untuk mengevaluasi apakah informasi yang disampaikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

12

3. JOHARI WINDOW, KOMUNIKASI KEPERAWATAN, DAN EKSPLORASI PERASAAN A. JOHARI WINDOW ( JENDELA JOHARI )
1. Definisi Joseph Luft dan Harrington Ingham, mengembangkan konsep Johari Window sebagai perwujudan bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain yang digambarkan sebagai sebuah jendela. „Jendela‟ tersebut terdiri dari matrik 4 sel, masingmasing sel menunjukkan daerah self (diri) baik yang terbuka maupun yang disembunyikan. Keempat sel tersebut adalah daerah publik, daerah buta, daerah tersembunyi, dan daerah yang tidak disadari. Berikut ini disajikan gambar ke 4 sel tersebut.

Open area adalah informasi tentang diri kita yang diketahui oleh orang lain seperti nama, jabatan, pangkat, status perkawinan, lulusan mana, dll. Ketika memulai sebuah hubungan, kita akan menginformasikan sesuatu yang ringan tentang diri kita. Makin lama maka informasi tentang diri kita akan terus bertambah secara vertical sehingga mengurangi hidden area. Makin besar open area, makin produktif dan menguntungkan hubungan interpersonal kita. Hidden area berisi informasi yang kita tahu tentang diri kita tapi tertutup bagi orang lain. Informasi ini meliputi perhatian kita mengenai atasan, pekerjaan, keuangan, keluarga, kesehatan, dll. Dengan tidak berbagi mengenai hidden area, biasanya akan menjadi penghambat dalam berhubungan. Hal ini akan membuat orang lain miskomunikasi tentang kita, yang kalau dalam hubungan kerja akan mengurangi tingkat kepercayaan orang Blind area yang menentukan bahwa orang lain sadar akan sesuatu tapi kita tidak. Misalnya bagaimana cara mengurangi grogi, bagaimana caranya menghadapi dosen A, dll. Sehingga dengan mendapatkan masukan dari orang lain, blind area akan berkurang. Makin

13

kita memahami kekuatan dan kelemahan diri kita yang diketahui orang lain, maka akan bagus dalam bekerja tim. Unknown area adalah informasi yang orang lain dan juga kita tidak mengetahuinya. Sampai kita dapat pengalaman tentang sesuatu hal atau orang lain melihat sesuatu akan diri kita bagaimana kita bertingkah laku atau berperasaan. Misalnya ketika pertama kali seneng sama orang lain selain anggota keluarga kita. Kita tidak pernah bisa mengatakan perasaan “cinta”. Jendela ini akan mengecil sehubungan kita tumbuh dewasa, mulai mengembangkan diri atau belajar dari pengalaman Yang dimaksud dengan daerah publik adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh dirinya dan orang lain. Daerah buta adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh orang lain tetapi tidak diketahui oleh dirinya. Dalam berhubungan interpersonal, orang ini lebih memahami orang lain tetapi tidak mampu memahami tentang diri, sehingga orang ini seringkali menyinggung perasaan orang lain dengan tidak sengaja. Daerah tersembunyi adalah daerah yang memuat hal-hal yang diketahui oleh diri sendiri tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Dalam daerah ini, orang menyembunyikan/menutup dirinya. Informasi tentang dirinya disimpan rapat-rapat. Daerah yang tidak disadari membuat bagian kepribadian yang direpres dalam ketidaksadaran, yang tidak diketahui baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Namun demikian ketidaksadaran ini kemungkinan bisa muncul. Oleh karena adanya perbedaan individual, maka besarnya masing-masing daerah pada seseorang berbeda dengan orang lain. Gambaran kepribadian di bawah ini dapat memberikan contoh mengenai daerah-daerah dalam Jendela Johari.

Pengenalan diri dapat dilakukan melalui 2 tahap, tahap yang pertama pengungkapan diri (self-disclosure) dan tahap yang kedua menerima umpan balik ( Feedback ). Tahap pengungkapan diri, orang memperluas daerah C (lihat gambar 2), sedangkan untuk memperluas daerah B dibutuhkan umpan balik dari orang lain (lihat gambar 3). Akhirnya, ia akan mempunyai daerah publik (A) yang semakin luas (lihat gambar 4).

14

Contoh Kasus : Dian, gadis pemalu, ia selalu sulit menjalin pergaulan. Sangat jarang ia dapat menceritakan perasaan, keinginan, dan fikiran-fikiran yang ada pada dirinya. Akibatnya, ia kurang dikenal oleh teman sepergaulannya. Kemungkinan besar, Dian mempunyai daerah publik (A) yang kecil, sedangkan daerah yang tersembunyi lebih besar (C) atau Siti mempunyai daerah buta yang lebih besar (B), sebab kelebihan yang merupakan aset bagi dirinya tidak disadarinya atau dilihat orang lain. Semakin luas daerah A dapat dikatakan seseorang mempunyai konsep diri yang positif. Ia telah tahu, baik dalam kuantitas maupun kualitas, kekuatan dan kelemahan dirinya. Orang semakin bebas untuk menentukan langkahnya, topeng-topeng yang dipakainya semakin terkuak dan ditinggalkannya. Ia menjadi pribadi yang matang, percaya diri, tidak takut menghadapi kegagalan, dan siap mengahadapi tantangan. 2. Kesimpulan Setelah seseorang melakukan upaya mengenali kekuatan dan kelemahan diri, orang lain akan menyadari siapa saya? Mengenal diri bukanlah tujuan. Pengenalan diri adalah sebagai wahana (sarana) untuk mencapai tujuan hidup. Oleh karenanya, setelah seseorang dapat menjawab pertanyaan siapa saya? maka pertanyaan selanjutnya adalah saya ingin menjadi siapa? Jawaban atas pertanyaan tersebut tentunya beragam, sesuai dengan

peran-peran yang dimainkannya. Manusia memiliki kemampuan untuk mengubah atau mengembangkan diri. B. KOMUNIKASI KEPERAWATAN 1. Klarifikasi Nilai Adalah suatu proses yang digunakan seseorang untuk mengidentifikasi, mengkaji, dan mengembangkan nilai individual mereka. Prinsip klarifikasi nilai adalah bahwa tidak ada satupun kelompok nilai yang tepat bagi setiap orang. Klarifikasi nilai meningkatkan pertumbuhan personal dengan cara membantu kewaspadaan, empati, dan tilik diri.

15

Klarifikasi Nilai Proses Memilih Kognitif Domain Tindakan Refleksi dan pertimbangan alternatif menghasilkan kebebasan dan memilih keyakinan Menghargai Afektif Keyakinan yang dipilih dihargai Bertindak Perilaku Keyakinan yang dipilih digabungkan ke perilaku yang ditegaskan ke orang lain dan diulang secara keseluruhan

Para perawat perlu membantu klien mengklarifikasi nilai-nilai mereka karena nilai tersebut mempengaruhi dan berhubungan dengan masalah kesehatan tertentu / dengan isu akhir kehidupan.

C. EKSPLORASI PERASAAN
Eksplorasi perasaan adalah mengkaji/menggali perasaan-perasaan yang muncul sebelum dan sesudah berinteraksi dengan orang lain, dimana eksplorasi perasaan membantu seseorang untuk mempersiapkan objektif secara komplit dan sikap yang sangat berpengaruh. Objektif yang komplit dan yang sangat berpengarruh dijabarkan sebagai seseorang yang tidak responsif, kesalah mudah ditemui, tidak mengenai orang tertentu dimana mutu hubungan terapeutik perawat sangat terbuka, sadar, dan kontrol diri, akal, perasaan, dimana dapat membantu pasien.Perawat harus terbuka akan perasaan pasien dan bagaimana perawat mengerti akan pasien serta bagaimana pendekatan pasien. Perasaan perawat adalah petunjuk tentang kemungkinan nilai dari masalah pasien.

16

4. KomunikasiTerapeutik A.DEFINISI KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Indrawati, 2003 48). Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi in adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati, 2003 : 48). Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani, 2003 50).

B.MANFAAT KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Mengidentifikasi. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat (Indrawati, 2003 : 50).

C.TUJUAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri (Indrawati, 2003 48). Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien, Bila perawat tidak memperhatikan hal ini, hubungan perawat-klien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien, tetapi hubungan sosial biasa.

D.JENIS KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993) dalam Purba (2003), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik. Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) dalam Purba (2003) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik. 17

1. Komunikasi Verbal Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kata-kata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung.Komunikasi Verbal yang efektif harus: a. Jelas dan ringkas Komunikasi yang efektif harus sederhana, pendek dan langsung. Makin sedikit katakata yang digunakan makin kecil keniungkinan teijadinya kerancuan. Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas. Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa dan dimana. Ringkas, dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana. b. Perbendaharaan Kata (Mudah dipahami) Komunikasi tidak akan berhasil, jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam keperawatan dan kedokteran, dan jika ini digunakan oleh perawat, klien dapat menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti klien. Daripada mengatakan “Duduk, sementara saya akan mengauskultasi paru paru anda” akan lebih baik jika dikatakan “Duduklah sementara saya mendengarkan paruparu anda”. c. Arti denotatif dan konotatif Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kata serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian, tetapi perawat akan menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati kematian. Ketika berkomunikasi dengan keperawat harus hati-hati memilih kata-kata sehingga tidak mudah untuk disalah tafsirkan, terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi, terapi dan kondisi klien. d. Selaan dan kesempatan berbicara Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan sesuatu terhadap klien. 18

Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan cepat sehingga kata-kata tidak jelas. Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu, memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata. Selaan yang tepat dapat dilakukan dengan memikirkan apa yang akan dikatakan sebelum mengucapkannya, menyimak isyarat nonverbal dari pendengar yang mungkin menunjukkan. Perawat juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang. e. Waktu dan Relevansi Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. Bila klien sedang menangis kesakitan, tidak waktunya untuk menjelaskan resiko operasi. Kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat, tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Oleh karena itu, perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. Begitu pula komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat dan kebutuhan klien.

f. Humor Dugan (1989) dalam Purba (2003) mengatakan bahwa tertawa membantu pengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stres, dan meningkatkan keberhasilan perawat dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien. Sullivan dan Deane (1988) dalam Purba (2006) melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan hormon yang menimbulkan perasaan sehat, meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit, mengurangi ansietas, memfasilitasi relaksasi pernapasan dan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dengan klien. 2. Komunikasi Tertulis Komunikasi tertulis merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam bisnis, seperti komunikasi melalui surat menyurat, pembuatan memo, laporan, iklan di surat kabar dan lain- lain. Prinsip-prinsip komunikasi tertulis terdiri dari : a. Lengkap b. Ringkas c. Pertimbangan d. Konkrit e. Jelas f. Sopan g. Benar 19

Fungsi komunikasi tertulis adalah: a. Sebagai tanda bukti tertulis yang otentik, misalnya; persetujuan operasi. b. Alat pengingat/berpikir bilamana diperlukan, misalnya surat yang telah diarsipkan. c. Dokumentasi historis, misalnya surat dalam arsip lama yang digali kembali untuk mengetahui perkembangan masa lampau. d. Jaminan keamanan, umpamanya surat keterangan jalan. e. Pedoman atau dasar bertindak, misalnya surat keputusan, surat perintah, surat pengangkatan. Keuntungan Komunikasi tertulis adalah: a. Adanya dokumen tertulis b. Sebagai bukti penerimaan dan pengiriman c. Dapat meyampaikan ide yang rumit d. Memberikan analisa, evaluasi dan ringkasan e. menyebarkan informasi kepada khalayak ramai f. Dapat menegaskan, menafsirkan dan menjelaskan komunikasi lisan. g. Membentuk dasar kontrak atau perjanjian h. Untuk penelitian dan bukti di pengadilan Kerugian Komunikasi tertulis adalah: a. Memakan waktu lama untuk membuatnya b. Memakan biaya yang mahal c. Komunikasi tertulis cenderung lebih formal d. Dapat menimbulkan masalah karena salah penafsiran e. Susah untuk mendapatkan umpan balik segera f. Bentuk dan isi surat tidak dapat di ubah bila telah dikirimkan g. Bila penulisan kurang baik maka akan membingungkan Si pembaca.

20

3. Komunikasi Non Verbal Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dan saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat non verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. Morris (1977) dalam Liliweni (2004) membagi pesan non verbal sebagai berikut: a. Kinesik Kinesik adalah pesan non verbal yang diimplementasikan dalam bentuk bahasa isyarat tubuh atau anggota tubuh. Perhatikan bahwa dalam pengalihan informasi mengenai kesehatan, para penyuluh tidak saja menggunakan kata-kata secara verbal tetapi juga memperkuat pesan-pesan itu dengan bahasa isyarat untuk mengatakan suatu penyakit yang berbahaya, obat yang mujarab, cara memakai kondom, cara mengaduk obat, dan lain-lain. b. Proksemik Proksemik yaitn bahasa non verbal yang ditunjukkan oleh “ruang” dan “jarak” antara individu dengan orang lain waktu berkomunikasi atau antara individu dengan objek. c. Haptik Haptik seringkali disebut zero proxemics, artinya tidak ada lagi jarak di antara dua orang waktu berkomunikasi. Atas dasar itu maka ada ahli kumunikasi non verbal yang mengatakan haptik itu sama dengan menepuk-nepuk, meraba-raba, memegang, mengelus dan mencubit. Haptik mengkomunikasikan relasi anda dengan seseorang. d. Paralinguistik Paralinguistik meliputi setiap penggunaan suara sehingga dia bermanfaat kalau kita hendak menginterprestasikan simbol verbal. Sebagai contoh, orang-orang Muang Thai merupakan orang yang rendah hati, mirip dengan orang jawa yang tidak mengungkapkan kemarahan dengan suara yang keras. Mengeritik orang lain biasanya tidak diungkapkan secara langsung tetapi dengan anekdot. Ini berbeda dengan orang Batak dan Timor yang mengungkapkan segala sesuatu dengan suara keras. e. Artifak Kita memehami artifak dalam komunikasi komunikasi non verbal dengan pelbagai benda material disekitar kita, lalu bagaimana cara benda-benda itu digunakan untuk menampilkan pesan tatkala dipergunakan. Sepeda motor, mobil, kulkas, pakaian, televisi, komputer mungkin sekedar benda. Namun dalam situasi sosial tertentu benda-benda itu memberikan pesan kepada orang lain. Kita dapat menduga status sosial seseorang dan pakaian atau mobil yang mereka gunakan. Makin mahal mobil yang mereka pakai, maka makin tinggi status sosial orang itu. 21

f. Logo dan Warna Kreasi dan perancang untuk menciptakan logo dalam penyuluhan merupaka karya komunikasi bisnis, namun model kerajinan dapat ditiru dalam komunikasi kesehatan. Biasanya logo dirancang untuk dijadikan simbol da suatu karaya organisasi atau produk da suatu organisasi, terutama bagi organisasi swasta. Bentuk logo umumnya berukuran kecil dengan pilihan bentuk, warna dan huruf yang mengandung visi dan misi organisasi. g. Tampilan Fisik Tubuh Acapkali anda mempunyai kesan tertentu terhadap tampilan fisik tubuh dari lawan bicara anda. Kita sering menilai seseorang mulai dari warna kulitnya, tipe tubuh (atletis, kurus, ceking, bungkuk, gemuk, gendut, dan lain-lain). Tipe tubuh itu merupakan cap atau warna yang kita berikan kepada orang itu. Salah satu keutamaan pesan atau informasi kesehatan adalah persuasif, artinya bagaimana kita merancang pesan sedemikian rupa sehingga mampu mempengaruhi orang lain agar mereka dapat mengetahui informasi, menikmati informasi, memutuskan untuk membeli atau menolak produk bisnis yang disebarluaskan oleh sumber informasi. (Liliweri, 2007:108).

E. KARAKTERISTIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi terapeutik yaitu sebagai berikut: (Arwani, 2003 : 54). 1. Ikhlas (Genuiness) Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh pasien barus bisa diterima dan pendekatan individu dengan verbal maupun non verbal akan memberikan bantuan kepada pasien untuk mengkomunikasikan kondisinya secara tepat. 2. Empati (Empathy) Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien. Obyektif dalam memberikan penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak berlebihan. 3. Hangat (Warmth) Kehangatan dan sikap permisif yang diberikan diharapkan pasien dapat memberikan dan mewujudkan ide-idenya tanpa rasa takut, sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya lebih mendalam.

F. FASE – FASE DALAM KOMUNIKASI TERAPEUTIK
1. Orientasi (Orientation) Pada fase ini hubungan yang terjadi masih dangkal dan komunikasi yang terjadi bersifat penggalian informasi antara perawat dan pasien. Fase ini dicirikan oleh lima

22

kegiatan pokok yaitu testing, building trust, identification of problems and goals, clarification of roles dan contract formation. 2. Kerja (Working) Pada fase ini perawat dituntut untuk bekerja keras untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan pada fase orientasi. Bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian tujuan. Fase ini terdiri dari dua kegiatan pokok yaitu menyatukan proses komunikasi dengan tindakan perawatan dan membangun suasana yang mendukung untuk proses perubahan. 3. Penyelesaian (Termination) Pada fase ini perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atas tujuan telah dicapai, agar tujuan yang tercapai adalah kondisi yang saling menguntungkan dan memuaskan. Kegiatan pada fase ini adalah penilaian pencapaian tujuan dan perpisahan (Arwani, 2003 61).

G. TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK
Menurut Stuart dan Sundeen tahun 1995, tehnik komunikasi terdiri dari: 1. Mendengar aktif; Mendengar mempunyai arti: konsentrasi aktif .dan persepsi terhadap pesan orang lain yang menggunakan semua indra, Liendberg et al, cit Nurjanah (2001) 2. Mendengar pasif; Mendengar pasif adalah kegiatan mendengar dengan kegiatan non verbal untuk klien. Misalnya dengan kontak mata, menganggukkan kepala dan juga keikutsertaan secara verbal 3. Penerimaan: Yang dimaksud menerima adalah mendukung dan menerima

informasi dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai. Penerimaan bukan berarti persetujuan. Menunjukkan penerimaan berarti kesediaan mendengar tanpa menunjukkan keraguan atau ketidaksetujuan. 4. Klarifikasi; Klarifikasi sama dengan validasi yaitu menanyakan kepada klien apa yang tidak dimengerti perawat terhadap situasi yang ada. Klarifikasi dilakukan apabula pesan yang disampaikan oleh klien belum jelas bagi perawat dan perawat mencoba memahami situasi yang digambarkan oleh klien. 5. Fokusing; Fokusing adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan untuk membatasi area diskusi sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti, Stuart & Sundeen, cit Nurjanah (2001). 6. Observasi; Observasi merupakan kegiatan mengamati klien/orang lain. Observasi dilakukan apabila terdapat konflik antara verbal dan non verbal klien dan saat tingkah laku verbal dan non verbal nyata dan tidak biasa ada pada klien, Stuart & Sundeen,

23

cit Nurjanah (2001). Observasi dilakukan sedemikian rupa sehingga klien tidak menjadi malu atau marah. 7. Menawarkan informasi; Menyediakan tambahan informasi dengan tujuan untuk mendapatkan respon lebih lanjut. Beberapa keuntungan dari menawarkan informasi adalah akan memfasilitasi komunikasi, mendorong pendidikan kesehatan, dan memfasilitasi klien untuk mengambil keputusan, Stuart & Sundeen, cit, Nurjanah, (2001). Penahanan informasi pada saat klien membutuhkan akan mengakibatkan klien tidak percaya. Hal yang tidak boleh dilakukan adalah menasehati klien pada saat memberikan informasi. 8. Diam (memelihara ketenangan); Diam dilakukan dengan tujuan mengorganisir pemikiran, memproses informasi, menunjukkan bahwa perawat bersedia untuk menunggu respon. Kediaman ini akan bermanfaat pada saat klien mengalami kesulitan untuk membagi persepsinya dengan perawat. Diam tidak dapat dilakukan dalam waktu yang lama karena akan mengakibatkan klien menjadi khawatir. Diam dapat juga diartikan sebagai mengerti, atau marah. Diam disini juga menunjukkan kesediaan seseorang untuk menanti orang lain agar punya kesempatan berpikir, meskipun begitu diam yang tidak tepat menyebabkan orang lain merasa cemas. 9. Assertive: Assertive adalah kemampuan dengan secara meyakinkan dan nyaman mengekspresikan pikiran dan perasaan diri dengan tetap menghargai hak orang lain, Nurjanah, 2001. 10. Menyimpulkan; Membawa poin-poin penting dari diskusi untuk meningkatkan pemahaman. Memberi kesempatan untuk mengklarifikasi komunikasi agar sama denga ide dalam pikiran, Varcarolis, cit, Nurjanah, 2001. 11. Giving recognition (memberiakn pengakuan/penghargaan); Memberi

penghargan merupakan tehnik untuk memberikan pengakkuan dan menandakan kesadaran, Schultz & Videbeck, cit, Nurjanah, 2001. 12. Offering Sel (menawarakan diri); Menawarkan diri adalah menyediakan diri anda tanpa respon bersyarat atau respon yang diharapkan, Schultz & Videbeck.cit. Nurjanah, 2001 13. Offering general leads (memberikan petunjuk umum); Mendukung klien untuk meneruskan, Schultz & Videbeck cit, Nurjanah, 2001 14. Giving broad opening (memberikan pertanyaan terbuka): Mendorong klien untuk menyeleksi topik yang akan dibicarakan. Kegiatan ini bernilai terapeuitik apabila klien menunjukkan penerimaan dan nilai dari inisiatif klien dan menjadi non terapeuitk apabila perawatan mendominasi interaksi dan menolak res[pon klien, Stuart % Sundeen, cit, Nurjanah, 2001.

24

15. Placing the time in time/sequence (penempatan urutan/waktu); Melakukan klarifikasi antara waktu dan kejadian atau antara satu kejadian dengan kejadian lain. Teknik bernilai terapeutik apabila perawat dapat mengeksplorasi klien dan memahami masalah yang penting. Tehnik ini menjadi tidak terapeutik bila perawat memberikannasehat, meyakinkan atau tidak mengakui klien. 16. Encourage deskripition of perception (mendukung deskripsi dari persepsi); Meminta kepada klien mengungkapkan secara verbal apa yang dirasakan atau diterima, Schulz & Videbeck, cit, Nurjanah, 2001 17. Encourage Comparison (mendukung perbandingan); Menanyakan kepada klien mengenai persamaan atau perbedaan 18. Restating (mengulang) Restating; adalah pengulangan pikiran utama yang

diekspresiakn klien, Stuart & Sundeen, Cit Nurjanah, 2001. 19. Reflekting (Refleksi): Digunakan pada saat klien menanyakan pada perawat tentang peneliaian atau kesetujuannya. Tehnik ini akan membantu perawat untuk tetap memelihara pendekatan yang tidak menilai, Boyd & Nihart, cit, Nurjanah 20. Eksploring (Eksporasi); Mempelajari suatu topik lebih mendalam 21. Presenting reality (menghadikan realitas/kenyataan); Menyediakan informasi dengan perilaku yang tidak menilai 22. Voucing doubt (menunjukkan keraguan); Menyelipkan persepsi perawat

mengenai realitas. Tehnik ini digunakan dengan sangat berhati-hati dan hanya pada saat perawat merasa yakin tentang suatu yang detil. Ini digunakan pada saat perawat ingin memberi petunjuk pada klien mengenai penjelasan lain. 23. Seeking consensual validation; Pencarian pengertian mengenai komunikasi baik oleh perawat maupun klien. Membantu klien lebih jelas terhadap apa yang mereka pikirkan. 24. Verbalizing the implied: Memverbalisasikan kata-kata yang klien tunjukkan atau anjuran. 25. Encouraging evaluation (mendukung evaluasi): Perawat membantu klien

mempertimbangkan orang dan kejadian kedalam nilai dirinya 26. Attempting to translate into feeling (usaha menerjemahkan perasaan); Membantu klien untuk mengidentifikasi perasaan berhubungan dengan kejadian atau pernyataan . 27. Suggesting collaborating (menganjurkan kolaborasi): Penekanan kegiatan kerja dengan klien tidak menekan melakukan sesuatu untuk klien. Mendukung pandangan bahwa terdapat kemungkinan perubahan melalui kolaborasi.

25

28. Encouragingformulation of plan of action (mendukng terbentuknya rencana tindakan): Memberikan kesempatan pada klien untuk mengantisipasi alternative dari tindakan untuk masa yang akan datang. 29. Estabilising guidelines (menyediakan petunjuk); Statemen yang menunjukkan peran, tujuan dan batasan untuk interaksi. Hal ini akan menolong klien untuk mengetahui apa yang dia harapkan dari dirinya. 30. Open-ended comments (komentar terbuka-tertutup): Komentar secara umum untuk menentukan arah dari interaksi yang seharusnya dilakukan. Hal ini akan mengijinkan klien untuk memutuskan apa topik/materi yang paling relevan dan mendukung klien untuk meneruskan interaksi. 31. Reducing distant (penurunan jarak); Menurunkan jarak fisik antara perawat dank lien. Hal ini menunjukkan komunikasi non verbal dimana perawat ingin terlibat dengan klien. 32. Humor; Dugan (1989) menyebutkan humor sebagai hal yang penting dalam komunikasi verbal dikarenakan: tertawa mengurangi keteganan dan rasa sakit akibat stress, serat meningkatkan keberhasilan asuhan keperawatan .

H. FAKTOR – FAKTOR PENGHAMBAT KOMUNIKASI
Teknik-teknik yang Menghambat Komunikasi Efektif a. Penggunaan Pertanyaan Tertutup Pertanyaan tertutup akan membatasi jawaban klien yang hanya akan seputar „ya‟ atau „tidak‟ saja.Pertanyaan tertutup tidak mampu mengembangkan klien.Jawaban klien hanya akan di alam lingkup sempit saja,sehingga masalah klien tidak dapat teratasi dengan sempurna. b. Tidak Fokus Pembicaraan yang tidak fokus dan meluas tidak akan mampu menyelesaikan masalah dengan tepat karena terlalu luasnya pembicaraan.Masalah klien justeru menjadi tidak jelas. c. Sikap yang kurang tepat d. Kecakapan yang kurang dalam komunikasi e. Kurangnya pengetahuan f. Kurang mengetahui system sosial

g. Prasangka yang tidak beralasan h. Jarak fisik i. j. Tidak ada persamaan persepsi Indera yang rusak 26

k. Berbicara yang berlebihan l. Mendominir pembicaraan Faktor-faktor yang menghambat komunikasi terapeutik adalah (Indrawati, 2003 : 21): 1. Perkembangan. 2. Persepsi. 3. Nilai. 4. Latar belakang sosial budaya. 5. Emosi. 6. Jenis kelamin. 7. Pengetahuan. 8. Peran dan hubungan. 9. Lingkungan. 10. Jarak. 11. Citradiri. 12. Kondisi fisik Untuk mengatasihambatan komunikasi terapeutik, perawat harus siap untuk mengungkapkan perasaan emosional yang sangat kuat dalam konteks hubungan perawatklien (Hamid, 1998). Awalnya, perawat harus mempunyai pengetahuan tentang hambatan komunikasi terapeutik dan mengenali perilaku yang menunjukkan adanya hambatan tersebut. Latar belakang perilaku digali baik klien atau perawat bertanggung jawab terhadap hambatan terapeutik dan dampak negative pada proses terapeutik.

27

5. INTERAKSI SOSIAL DAN INTERAKSI INFORMASI
A. INTERAKSI SOSIAL
Usaha pertama dalam komunikasi dengan klien adalah melakukan interaksi sosial. Perawat seringakali menggunakan interaksi sosial superficial pada pembicaraan dengan klien untuk memberikan dasar bagi hubungan yang lebih dekat.

B. INTERAKSI INFORMASI
Dalam melakukan interaksi dan membina hubungan antara pasien dengan klien, maka perawat harus dapat memperoleh informasi ataupun bertukar informasi dengan klien.

C. PENGEMBANGAN KONSEP HELPING RELATIONSHIP
Pesan perawat merupakan bentuk bantuan bagi klien yang mengalami masalah kesehatan. Ketika seseorang masuk ke setting pelayanan kesehatan, ia memerlukan bantuan dari brangluin. Ada suatu motif yang mendasari hubungan yang terbentuk antara klien dan petugas kesehatan, termasuk perawat, yaitu hubungan saling membantu dengan tujuan mengatasi masalah kesehatan. Situasi ini dikenal sebagai hubungan yang berfokus membantu (helping Relationship).

28

BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Indrawati, 2003 48). Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi in adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati, 2003 : 48).

B. KRITIK DAN SARAN
Diharapakan bagi semua perawat dapat mengimplementasikan dari konsep komunikasi kepada klien atau pasien.

29

DAFTAR PUSTAKA

Cangara, Hafid. 2006.Pengantar Ilmu Komunikasi.PT Raja Grafindo Persada:Jakarta Ellis,R.,Gates, R, & Kenworthy,N. 2000. Komunikasi Interpersonal Dalam Keperawatan: Teori dan Praktik.Alih Bahasa :Susi Purwoko.EGC: Jakarta. Helmi, A. F. Dan Ramdhani, N. 1992. Konsep Diri dan Kemampuan Bergaul. Jalaluddin Rakhmat.2004.Psikologi Komunikasi.Cetakan 2004 Keliat, B.A. 2002.Hubungan Terapeutik Perawat-Klien. EGC:Jakarta. Koentjoro. 1989. Konsep Pengenalan Diri dalam AMT. Makalah Dalam Modul Pelatihan AMT. Jurusan Psikologi Sosial UGM, dalam rangka Lustrum V Fak.Psikologi UGM, Yogyakarta. Notoatmodjo, S .1997.Ilmu Perilaku dan komunikasi Kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta Laporan Penelitian. Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM. Purwanto, H. 1998. Komunikasi untuk Perawat. EGC: Jakarta. Stuart.G.W. & Sundeen.S.J.1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa.Alih Bahasa: Achir Yani S. Hamid. ed ke-3. Jakarta: EGC Suryani. (2005). Komunikasi Terapeutik Teori & Praktek. Jakarta: EGC.

30

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->