P. 1
Diktat Matematika Ekonomi

Diktat Matematika Ekonomi

5.0

|Views: 1,580|Likes:
Published by Yusmia_Widiastuti

More info:

Published by: Yusmia_Widiastuti on Oct 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2014

pdf

text

original

Sections

1

PENGETAHUAN DASAR
MATEMATIKA

1.1 PENDAHULUAN
Banyak model dan permasalahan ilmu ekonomi yang dinyatakan dengan bahasa
matematika dan dianalisis dengan tekni matematika. Perhitungan aljabar akan menjadi
bagian dari keseluruhan alat analisis kuantitatif dengan matematika. Mengingat matematika
merupakan ilmu yang lebih mudah dipelajari dengan menggunakan contoh, maka dalam
buku ini terdapat contoh-contoh yang harus dikerjakan untuk memastikan bahwa
ketrampilan penggunaan alat aalisis dengan matematika sudah terkuasai.

1.2 BILANGAN RIIL
Terdapat 4 garis A dengan skala sebagai berikut :
a.

Nilai a merupakan bilangan riil yang ditentukan dengan skala yang dibuat

b.

Karena a berada di sebelah kiri b, maka dapat dinyatakan sebagai a < b. Jika
nilai yang sebenarnya tidak hanya satu titik, maka bisa dinyatakan sebagai a < b
jika a < b atau a = b

c.


0,1, 2, a, b, ... disebut sebagai bilangan natural

d.

Bila a dinyatakan negatif, maka a < 0 (bukan a > 0 atau a > 0). Jadi nilai -· s/d
· disebut sebagai poros bilangan riil. (Nilai -2, -1, 0, ... disebut nilai bilangan
integer (bilangan bulat)


Bab 1

2


Untuk lebih jelasnya, dibawah ini adalah diagram bilangan riil :










1.2.1 Operasi Bilangan Penjumlahan dan Pengurangan
Untuk memudahkan pemahaman, dirumuskan aturan sebagai berikut :
1. a + ( -b ) = a – b
2. a + ( +b ) = a + b
3. a - ( +b ) = a – b
4. a - ( -b ) = a + b
Dengan demikian bilangan bisa berubah tanda karena ada tanda di depannya seperti
tanda positif atau negatif di depan bilangan x sebagai berikut :
1. + (+x) = x
2. + (-x) = -x
3. - (+x) = -x
4. - (-x) = x

1.2.2 Operasi Bilangan Perkalian dan Pembagian
Abstraksi perkalian :
1. a x ( -b ) = - ( a x b ) = - ab
2. ( -a ) x b = - ( a x b ) = - ab
BILANGAN RIIL
RASIONAL IRASIONAL
ALJABAR TRANSENDENTAL
Gambar 1. Diagram Bilangan Riil

3
3. ( -a ) x ( -b ) = a x b = ab
Abstraksi pembagian :



1.2.3 Hasil Akhir Urut-urutan Perhitungan
Urutan prioritas perhitungan :
1. Perhitungan dalam kurung ( ... ), kemudian { ... }, kemudian [ ... ]
2. Pangkat atau akar
3. Perkalian dan pembagian (terdepan didahulukan)
4. Penjumlahan dan pengurangan (terdepan didahulukan)

1.3 BILANGAN PECAHAN
Bilangan pecahan adalah suatu jumlah nilai utuh yang dibagi menjadi beberapa bagian.
Bila a adalah bilangan utuh dan b adalah pembagi maka dapat dirumuskan menjadi

. Nilai
b tidak boleh nol ( b = 0 ). a disebut sebagai pembilang (numerator) dan b disebut penyebut
(denumerator).
Contoh :

Operasi perkalian :


Untuk pembagian, berlaku :



1.4 BILANGAN DESIMAL
Karena bilangan pecahan tidak semua bisa ditampilkan dengan baik dalam bentuk
desimal, maka perlu ada kesepakatan penulisan dengan format desimal digit berapa.

4
Misal satu digit seperti 0,2, 0,5, 0,4, dan seterusnya . Dua digit seperti 0,45, 0,32, 0,86,
dan seterusnya.
Hasil dari pembatasan penulisa tersebut kadang kala membuat nilai bilangan pecahan
berbeda dengan yang semestinya. Misal

, kemudian format dua digit menjadi 0,33,
padahal bisa menjadi 0,3333 ... dan seterusnya.

1.5 PANGKAT DAN EKSPONEN
Bila diketahui x sebagai variabel angka dan n sebagai bilangan integer positif, maka
hasil kali x sebanyak n kali disebut sebagai operasi pangkat atau eksponen (Power and
Indices). Contoh : a
5
= a x a x a x a x a
Aturan untuk pangkat dan eksponen :
1. a
n
x a
m
= a
n + m

2. a
n
: a
m
= a
n – m

3.

4.

5. (

)

6.

7. (

)

1.6 PENYEDERHANAAN PENULISAN BILANGAN SECARA ALJABAR
Suatu penulisan bilangan dibuat terminologi sebagai 7x
3
, dimana x disebut sebagai
variabel dan 7 sebagai koefisien dari x
3
.

1.6.1 Perkalian dan Pembagian Variabel dalam Kurung
Bentuk umum perkalian :
1. a ( b + c ) = ab + ac
2. ( a + b ) ( c + d ) = ac + ad + bc + bd

5



1.6.2 Faktorisasi
Tujuan dari faktorisasi adalah untuk membuat persamaan yang sudah ada
dikembalikan menjadi persamaan perkalian dalam kurung yang berdekatan dengan variabel
tertentu.
Ada dua teknik penyelesaian, yaitu :
1. Teknik penyelesaian sederhana
Contoh : ax + ac = a ( x + c )
2. Teknik penyelesaian dua variabel bilangan dalam kurung
Contoh : a
2
– b
2
= ( a + b ) ( a – b )

1.7 PERSAMAAN ALJABAR
Persamaan aljabar adalah suatu persamaan yang berisi satu atau lebih nilai bilangan
yang tak dikenal. Secara umum nilai bilangan yang tidak dikenal diwakili oleh huruf-huruf x, y
dan z.
Contoh : x + 2 = 5
Terdapat beberapa macam persamaan aljabar :
1. Persamaan Pembagian
Contoh :

=> x = 12 . 4
x = 48
2. Persamaan Akar
Contoh : √ => x = 5
2

x = 25

3. Persamaan Logaritma / Pangkat
a. Pengubahan logaritma menjadi persamaan pangkat
Contoh :
2
log (x) = 2 => x = 2
2


6
x = 4
b. Pengubahan pangkat menjadi persamaan logaritma
Contoh :

=> x =
2
log8 => x = 3

PERSAMAAN
LINIER

2.1 PENDAHULUAN
Bentuk umum persamaan linier :
1. Hubungan antara dua variabel
y = ax + b
atau ditulis sebagai :
f(x) = ax + b
dimana :
y = variabel dependen
x = variabel independen
a = koefisien x
b = konstanta
2. Hubungan antara tiga variabel
z = ax + by + c atau z(x, y) = ax + by + c
dimana :
z = variabel dependen
x = variabel independen
a = koefisien x
b = koefisien y
c = konstanta

Macam persamaan ditinjau dari perbedaan hubungan yang dilihat dari tanda :
Bab 2

7
1. Hubungan dengan tanda di depan koefisien x positif
Contoh : y = 3x + 5

x 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

5 8 11 14 17 20 23 26 29 32 35


Gambar 1. Hubungan Positif

2. Hubungan dengan tanda di depan koefisien x negatif
Contoh : y = -2x + 5
x 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
y 4 2 0 -2 -4 -6 -8 -10 -12 -14 -16


Gambar 2. Hubungan Negatif

3. Hubungan z dengan x positif dan hubungan z dengan y negatif
Contoh : z = 2x – 3y

8
x 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
y 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
z -3 -4 -5 -6 -7 -8 -9 -10 -11 -12 -13


Gambar 3. Hubungan Tiga Dimensi

2.2 GRAFIK LINIER MODEL EKONOMI DAN KEUANGAN
Hubungan antar variabel ekonomi, supaya lebih mudah dipahami, dibuat sederhana,
yakni menjadi bentuk hubungan linier yang kemudian digambar sebagai grafik atau kurva.
Bentuk hubungan linier kasus ekonomi mikro :
1. Kurva Biaya Linier
adalah Kurva yang menunjukkan hubungan antara output (barang/jasa yang
diproduksi) dengan biaya
Rumus : TC = FC + VC
Dimana :
TC = Total Cost (Biaya Total)
FC = Fixed Cost (Biaya Tetap = konstanta)
VC = Variable Cost (Biaya Variabel = fungsi Q ; ditulis VC = f(Q) )
Sehingga persamaan liniernya menjadi :
TC = aQ = b
2. Kurva Revenue Linier
adalah Kurva yang menunjukkan hubungan antara Revenue (R) dengan Output (Q)

9
Rumus : R= Harga x Q
Karena harga pada persaingan sempurna bersifat konstan (harga/unit Q = a), maka R =
f(Q)
menjadi
R = aQ

3. Kurva Total Produksi Linier
adalah Kurva yang menunjukkan hubungan satu input dengan output
Rumus : Q = f(L)
Dimana :
Q = output
L = input kerja

4. Kurva Permintaan Linier
Adalah Kurva yang menunjukkan hubungan antara harga (P) dengan jumlah barang yang
diminta (Q)
Rumus : Q = f(P)
Persamaan Linier : Q = aP + b (nilai a < 0)

5. Kurva Penawaran Linier
Adalah Kurva yang menunjukkan hubungan antara harga (P) dengan jumlah barang yang
ditawarkan (Q)
Rumus : Q = f(P)
Persamaan Linier : Q = aP + b (nilai a > 0)



6. Kurva Anggaran Belanja

10
Adalah Persamaan linier garis anggaran belanja (B) untuk konsumsi dua macam barang X
dan Y
Rumus : B = P
x
X + P
y
Y

Bentuk hubungan linier kasus ekonomi makro :
1. Kurva Konsumsi Tanpa Pajak Linier
Adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara konsumsi ( C ) dengan pendapatan ( Y)
Rumus : C = f(Y)
Persamaan Linier : C = a + bY
Dimana :
a = konstanta
b = Marginal Propensity to Consume (MPC). Nilai b adalah 0 < b < 1

2. Kurva Pajak Linier
Adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara pajak ( P ) dengan pendapatan ( Y )
Rumus : T = f(Y)
Persamaan Linier : T= tY ( nilai t : 0 < t < 1)

3. Kurva Konsumsi Karena Ada Pajak Linier
Adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara konsumsi ( C ) dengan pendapatan
disposable
Rumus : C = f( Yd )
Yd = Y – T
Karena T = tY, maka Persamaan Linier :
C = a + bY – bt(Y)

Bentuk hubungan linier kasus ekonomi keuangan :
1. Hubungan antara jumlah uang beredar (M) dengan uang inti (H)
Rumus : M = f(H)

11
Persamaan Linier : M = mH


2. Hubungan antara tingkat bunga (r) dengan investasi (I)
Rumus : I = f(r)
Persamaan Linier : I = a - br

3. Hubungan antara pendapatan (Y) dengan permintaan uang (M
d
)
Rumus : M
d
= f(Y)
Persamaan Linier : M
d
= kY

4. Perhitungan nilai yang akan datang dengan bunga sederhana
Persamaan linier : FV = PV ( 1 + in )
Dimana :
FV = future value
PV = present value
i = tingkat bunga per periode
n = periode perhitungan

2.2.1 Grafik Biaya Produksi
Contoh persamaan aljabar : TC = 10 + 2Q
Jika : FC = 10 Q = 0 sampai 5, dan VC = 2Q, maka TC dapat dihitung :
Q FC VC TC
0 10 0 10
1 10 2 12
2 10 4 14
3 10 6 16
Q FC VC TC
4 10 8 18
5 10 10 20



12





2.2.2 Grafik Total Revenue
Contoh persamaan linier : TR = 5Q
Jika Q = 0 sampai 5, maka TR dapat dihitung :
Q Harga (Q) TR
0 5 0
1 5 5
2 5 10
3 5 15
4 5 20
5 5 25



FC = 10
TC = 2Q + 10
VC = 2Q
Q
TC / VC / FC
Gambar 4. Kurva Biaya Produksi
TR
TR = 5Q
Q
Gambar 5. Kurva Total Revenue

13


2.2.3 Grafik Kurva Permintaan
Sesuai ketentuan, sumbu vertikal adalah Q ( satuan unit) dan sumbu vertikal adalah P
(harga per unit dalam satuan moneter).
Contoh persamaannya adalah Q = 10 – 2P . Jika nilai P dari 0 sampai 5, maka :
P Q
0 10
1 8
2 6
3 4
4 2
5 0





2.2.4 Grafik Kurva Penawaran
Contoh persamaan linier fungsi penawaran Q = 4P – 2. Bila diketahui besarnya harga
(P) diantara nilai 0 sampai 5, maka dapat disusun tabel berikut :
P Q
0 -2
1 2
2 6
Q
Gambar 6. Kurva Permintaan
Q
P
Q = 10 – 2P

14
3 10
4 12
5 18



2.2.5 Grafik Anggaran Belanja (Budget Line )
Garis anggaran dibuat untuk analisa optimalisasi konsumsi terbatas pada dua
komoditas yang disebut sebagai konstrain atau kendala atau batasan. Persamaan liniernya
muncul dengan pernyataan sebagai berikut :
Konsumen memiliki anggaran sebesar 60 yang digunakan untuk belanja barang X dan
Y yang masing-masing harganya P
x
= 3 dan P
y
= 2. Pernyataan tersebut dirumuskan dalam
hubungan linier : 60 = 3X + 2Y. Persamaan ini bukan berupa fungsi. Untuk menggambar
dalam grafik maka persamaan tersebut diubah dalam bentuk fungsi, misal Y = f(X) atau X =
f(Y).
Sebelum digambar, persamaan diubah menjadi Y = f(X), sehingga menjadi Y = 30
– 1,5X. Untuk itu dibuat tabel perhitungan dengan nilai X antara 0 sampai 20 :
X Y
0 30
4 24
8 18
12 12
16 6
0 0

Q
p
Gambar 7. Kurva Penawaran

15



2.2.6 Grafik Konsumsi
Hubungan linier konsumsi dengan pendapatan adalah hubungan linier. Contoh
persamaan yang paling sederhana adalah C = 12 + 0,8 Y. Bila dimisalkan Y bernilai antara 0
sampai 100, maka dapat disusun tabel konsumsi sebagai berikut :
Y C
0 12
20 28
40 44
60 60
80 76
100 92





X
Y
Y = 30 – 1,5 X
X
C
C = 12 + 0,8 Y
Y = C (garis keseimbangan)
Gambar 8. Garis Anggaran Y = 30 – 1,5 X
Gambar 9. Fungsi Konsumsi C = 12 + 0,8 Y

16
2.2.7 Grafik Pajak
Hubungan linier pajak dengan pendapatan adalah hubungan linier yang paling
sederhana. Contoh persamaannya adalah T = 0,1 Y . Bila dimisalkan Y sebesar 0 sampai 100,
maka hasilnya dapat disusun dalam tabel pajak berikut :
Y T
0 0
20 2
40 4
60 6
80 8
100 10




2.2.8 Grafik Konsumsi Setelah Ada Pajak
Hubungan linier konsumsi dengan pendapatan disposible (Yd) adalah hubungan linier
antara konsumsi dengan pendapatan yang sudah disesuaikan dengan adanya pajak. Contoh
persamaannya adalah C = 12 + 0,8 Y
d
dan T = 0,1 Y, sehingga disesuaikan menjadi C = 12 + 0,72
Y. Bila dimisalkan Y sebesar 0 sampai 100, sehingga dapat disusun tabel konsumsi sebelum
dan sesudah pajak sebagai berikut :
Y C sebelum pajak Pajak C setelah pajak
0 12 0 12
20 28 2 26,4
40 44 4 40,8
60 60 6 55,2
80 76 8 69,6
Gambar 10. Kurva Pajak
Pendapatan
Pajak

17




2.2.9 Gambar Tanda Koefisien Positif dan Negatif
Tanda koefisien perlu diperhatikan , karena bila koefisien positif, maka arah garis selalu
dari kiri bawah naik ke kanan atas. Sedangkan bila koefisien negatif, maka arah garis dari kiri
atas ke kanan bawah.
Gambar 12 menggambarkan koefisien negtif dari -1000 sampai -0,001. Bila koefisien
mendekat 0 maka garis cenderung tampak sejajar dengan sumbu horizontal dan bila
koefisien membesar secara negatif maka garis cenderung seajajar dengan sumbu vertikal
(Gambar 13).


Pendapatan
Konsumsi dan Pajak
Pajak
Konsumsi setelah Pajak
Konsumsi sebelum Pajak
Keseimbangan
Gambar 11. Kurva Konsumsi Setelah Pajak
X
Y
Y = 3 X - 1000
Y = 0,5 X + 250
Y = 0,001 X + 500
Gambar 12. Koefisien Positif

18



2.3 SISTEM DUA PERSAMAAN
Dua persamaan digunakan untuk menyelesaikan masalah seperti ingin mengetahui
harga dan kuantitas keseimbangan di pasar. Padahal keseimbangan di pasar akan terjadi bila
permintaan berinteraksi dengan penawaran sampai pada posisi permintaan sama dengan
penawaran.
Misalnya, diketahui dua persamaan linier sebagai y = 5x + 6 dan y = 20 – 2x. Untuk
mengetahui berapa x dan y keseimbangan (koordinasi titik potong) digunakan sistem dua
persamaan

2.3.1 Solusi Keseimbangan Pasar
Salah satu bidang teori ekonomi adalah ekonomi mikro. Di dalamnya terdapat analisa
pasar. Dalam analisa pasar terdapat perhitungan harga dan kuantitas keseimbangan.
Salah satu kasus yang terjadi adalah, fungsi linier permintaan Qd = -4P + 240 dan
fungsi linier penawaran Qx = 5P - 30. Untuk mengetahui berapa harga dan kuantitas
keseimbangan digunakan solusi keseimbangan pasar dimana bentuk hubungan tersebut bila
diaggap linier maka secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :
Q = aP + b
Dimana :
X
Y
Y = 2000 – 3X
Y = 750 – 0,5 X
Y = 1000 - X
Gambar 13. Koefisien Negatif

19
Q = output dalam satuan unit ( R
+
)
P = harga dalam satuan moneter ( R
+
)
a = koefisien P ( R )
b = konstanta ( R )
R
+
= bilangan riil positif
R = bilangan riil
Bila Q = aP + b sebagai hubungan linier fungsi permintaan maka a merupakan bilangan
riil negatif ( R
-
). Bila Q = aP + b sebagai hubungan linier fungsi penawaran maka a
merupakan bilangan riil positif ( R
+
). Hal ini berlaku untuk kasus barang normal.

2.3.2 Solusi Keseimbangan Pasar Karena Ada Pajak
Contoh kasus 2.3.1 bila dikembangkan menjadi permasalahan 2.3.2, yakni
keseimbangan pasar karena adaya pajak. Pajak adalah beban yag ditanggung oleh
masyarakat karena pemerintah ingin mendapat perolehan dari transaksi jual beli di pasar.
Contohnya adalah pajak penjualan. Pengaruh yang terjadi terhadap pasar adalah berubahnya
fungsi penawaran.
Contohnya fungsi permintaan Qd = -P + 125 dan fungs penawaran Qs =

P – 10.
Pemerintah menetapkan pajak penjualan sebesar 30/unit. Berapa besar keseimbangan pasar
sebelum dan sesudah adanya pajak?

2.3.3 Solusi Keseimbangan Pasar Dua Komoditas
Keseimbangan pasar dua komoditas merupaka pengembangan analisa keseimbangan
suatu komoditas. Analisa akan diselesaikan dengan persoalan yang terjadi bila pasar yang
dihadapi perusahaan akan memproduksi dua macam barang, yakni Q
1
dan Q
2
. Harganya juga
menjadi P
1
dan P
2
.
Contoh kasus :
Permintaan dan penawaran dua komoditas :
Q
d1
= 145 – 2P
1
+ P
2

Q
s1
= -45 + P
1

20
Q
d2
= 30 + P
1
- 2P
2
Q
s2
= -40 + 5P
2

Berapa keseimbangan kuantitas dan harga dua macam barang tersebut ?

2.3.4 Solusi Keseimbangan GDP
GDP atau Gross National Product adalah analisa di bidang ekonomi makro yang
dipopulerkan oleh JM. Keynes. Pembahasan model persamaan bisa dibuat menjadi beberapa
kelompok :
1. Perekonomian Sederhana
Model Persamaan : Y = C + I
C = a + b Y
I = I
0

2. Perekonomian Tertutup
Model Persamaan : Y = C + I + G
C = a + b Y
d

T = t Y
I = I
0

G = G
0

Contoh Kurva Perekonomian Tertutup :


2.3.1 Solusi BEP
Gambar 14. Perekonomian Tertutup
Y
C, I, G
C
I
G

21
BEP atau Break Event Point adalah analisa ekonomi yang menggambarkan kegiatan
usaha pada posisi biaya produksi sama besar dengan revenue ( C = R ).
Contoh kasus : Untuk mendirikan perusahaan diperlukan biaya tetap sebesar Rp
200.000,00. Bila kegiatan usaha dilakukan untuk memproduksi Q sampai kapasitas penuh
1000 unit maka diperlukan biaya variabel sebesar Rp 250,00/unit. Harga output per unit
sebesar Rp 750,00. Hitung berapa besarnya BEP ?

2.4 SISTEM TIGA PERSAMAAN
Persamaan yang terrdiri dari tiga variabel akan mencari 3 nilai bilangan yang tidak
dikenal, dengan syarat tersedia 3 persamaan. Contoh permasalahanya :
Sebuah toko menjual 3 jenis merk barang, A, B dan C dengan harga yang berbeda, yaitu P
A
,
P
B
, P
C
. Selama 3 bula dikumpulkan data tentang jumlah dan hasil penjualan :
BULAN A B C Hasil Penjualan (Rp)
Januari 25 62 54 2.765.000
Februari 28 42 58 2.695.000
Maret 45 53 56 3.124.000
Berapa harga rata-rata dari ketiga merk barang tersebut?













22
TUGAS MAHASISWA
1. Suatu barang jika dijual seharga Rp 5000 perbuah akan terjual sebanyak 3000 buah. Akan tetapi
jika dijual dengan harga lebih murah yaitu Rp 4000 per buah, maka jumlah permintaan meningkat
menjadi 6000 buah. Bagaimanakah fungsi permintaannya? Gambarkan fungsi permintaan
tersebut pada grafik cartesius

2. Penawaran suatu barang sebanyak 500 buah pada saat harga Rp 4000. Apabila setiap kenaikan
harga sebesar Rp 1.250 akan menyebabkan jumlah penawaran mengalami peningkatan sebesar
250. Bagaimana fungsi penawarannya dan gambarkan fungsi penawaran tersebut pada grafik
cartesius?

3. Diketahui persamaan harga permintaan dan penawaran :
P + 2Qd = 144 dan 4P – 3Qs = 136
Carilah
a. Harga (P) dan (Q) keseimbangan
b. Gambarkan grafik dua persamaan tersebut
c. Bila pemerintah menentukan pajak Rp 5,0 per unit, berapa P dan Q setelah ada pajak?

4. Permintaan dan penawaran komoditas celana panjang :
Q
dC
= 410 - 5P
C
- 2P
J
dan Q
SC
= -60 + 3P
C

Permintaan dan penawaran komoditas jaket :
Q
dJ
= 295 – P
C
– 3P
J
dan Q
SJ
= -120 + 2P
J

Tentukan harga keseimbangan P
C
, P
J
dan kuantitas keseimbangan Q
C
dan Q
J

5. Sebuah toko menjual 3 jenis merk barang, A, B dan C dengan harga yang berbeda P
A
, P
B
, dan P
C
.
Selama 3 bulan data dikumpulkan dan hasilnya tampak sebagai berikut :
Bulan A B C Hasil Penjualan
1 25 52 55 2765000
2 30 40 62 2695000
3 26 35 54 3124000
Berapa harga rata-rata ketiga merk tersebut


23
PERSAMAAN
KUADRAT

3.1 PENDAHULUAN
Bentuk umum fungsi :
1. Fungsi satu variabel :
Rumus : y = f(x)
Contoh :
Fungsi satu linier (fungsi linier) : y = ax + b
2. Fungsi dua variabel : y = f(x
1
, x
2
)
Rumus : y = (x
1
, x
2
)
Contoh :
Fungsi kuadrat : y = ax
2
+ bx + c
3. Fungsi satu linier (fungsi linier) : y = ax + b

4. Fungsi k variabel : y = f(x
1
, x
2, .
..,, x
k
)

Bentuk umum persamaan kuadrat :
y = ax
2
+ bx + c
atau ditulis sebagai :
f(x) = ax
2
+ bx + c
dimana :
a, b, dan c bilangan konstan ddan a = 0

3.2 GRAFIK PERSAMAAN KUADRAT
Apabila nilai a > 0, bentuk gambarnya menjadi seperti huruf U. Sementara bila a < 0,
maka gambar garis menjadi ·

Bab 3

24
Contoh :
Diketahui f(x) = x
2
– 5x – 6. Gambarkan fungsinya
Penyelesaian :
x y
-3 18
-2 8
-1 0
0 -6
1 -10
2 -12
3 -12
4 -10
5 -6
6 0
7 8
8 18


3.2 SOLUSI DUA PERSAMAAN VERSUS PERSAMAAN KUADRAT
Bentuk umum persamaan kuadrat masih merupakan persamaan tunggal sebagai y = f(x).
Tidak berbeda dengan persamaan linier, bila hanya satu persamaan maka belum ada titik
potong dengan kurva lainnya. Untuk keperluan analisis maka nilai y dimisalkan sebagai nilai
tertentu sehingga akan terdapat perpotongan dengan persamaan kuadrat tersebut.

Contoh :
Diketahui y = x
2
+ x + 30 dan y = 3x + 15. Cari titik potong dua persamaan tersebut?

Aturan dalam Persamaan Kuadrat :
1. Akar-akar
1
x dan
2
x dengan rumus abc :
a
ac b b
x
2
4
2
2 , 1
÷ ± ÷
= atau
a
D b
x
2
2 , 1
± ÷
=
dimana D (diskriminan) = b
2
– 4ac
2. Jika D > 0, maka Persamaan Kuadrat mempunyai dua akar real berlainan (
2 1
x x = )
3. Jika D = 0, maka Persamaan Kuadrat mempunyai dua akar real kembar (
1
x =
2
x )

x
y

25
4. Jika D < 0, maka Persamaan Kuadrat tidak mempunyai akar real

Contoh :
Carilah akar persamaan dari 3x
2
- 9x + 5 = 0 dan gambarkan grafiknya

3.3 PENERAPAN DI BIDANG EKONOMI
Beberapa persoalan ekonomi yang terjadi :
1. Break Event Point (BEP)
2. Keuntungan maksimum dan kerugian minimum
3. Keseimbangan pasar

Contoh :
1. Diketahui R = 24Q – 2Q
2
dan C = 18 + 4Q. Hitung BEP dan keuntungan maksimum
2. Diketahui fungsi permintaan dan penawaran :
P
1
= Q
2
+ 12Q + 32 dan P
2
= -Q
2
- 4Q + 200. Hitung berapa besar keseimbangan P dan Q dan
gambarkan fungsinya














Bab 4

26
HUBUNGAN
ANTAR VARIABEL

4.1 PENDAHULUAN
Bentuk umum fungsi :
1. Fungsi satu variabel
Rumus : y = f(x)
Contoh :
Fungsi satu linier (fungsi linier) : y = ax + b
2. Fungsi dua variabel
Rumus : y = (x
1
, x
2
)
Contoh :
Fungsi kuadrat : y = ax
2
+ bx + c
3. Fungsi k variabel
Rumus : y = f(x
1
, x
2, .
..,, x
k
)
Contoh : y = ax
4

4.2 FUNGSI SATU VARIABEL
Pada hubungan fungsi linier akan terjadi hubungan one to one. Pada fungsi kuadratik
akan terjadi hubungan many to one dan akhirnya bentuk fungsi tersebut dirumuskan fungsi
polinomial secara umum sebagai :

()

()

4.2.1 GRAFIK FUNGSI SATU VARIABEL
Hubungan satu variabel terdiri dari beberapa macam :
1. Monomial

27


2. Polynomial







X
Y
X
4

100X
X
X
3

Y
100X + 1000
X
3
+X
2
+13X-100
X
4
-10X
3
+2X
2
+X

28
3. Pangkat Pecahan

4. Pangkat Negatif








X
Y

X
Y

29
5. Pangkat Pecahan

4.2.2 LIMIT
Untuk mengetahui bagaimana suatu fungsi cenderung pada suatu nilai tertentu maka
diperlukan alat hitung. Misalnya, ingin mengetahui bagaimana rata-rata biaya produksi
berkurang karena adanya peningkatan produksi. Jawabannya adalah dengan menggunakan
konsep perhitungan limit.
Rumus umum limit adalah :
L x f
c x
=
÷
) ( lim
berarti bahwa bilamana x dekat tetapi berlainan dari c, maka f(x) dekat ke L.
Andaikan n bilangan bulat positif, k konstanta, dan f dan g adalah fungsi-fungsi yang
mempunyai limit di c, maka :
1. k k
c x
=
÷
lim
2. c x
c x
=
÷
lim
3. ) ( lim ) ( lim x f k x kf
c x c x ÷ ÷
=
4. | | ) ( lim ) ( lim ) ( ) ( lim x g x f x g x f
c x c x c x ÷ ÷ ÷
+ = +
X
Y

6. | | ) ( lim . ) ( lim ) ( . ) ( lim x g x f x g x f
c x c x c x ÷ ÷ ÷
=
7.
) ( lim
) ( lim
) (
) (
lim
x g
x f
x g
x f
c x
c x
c x
÷
÷
÷
= ,asal 0 ) ( lim =
÷
x g
c x

8. | | | |
n
c x
n
c x
x f x f ) ( lim ) ( lim
÷ ÷
=
9. n
c x
n
c x
x f x f ) ( lim ) ( lim
÷ ÷
= asalkan 0 ) ( lim >
÷
x f
c x
,
bilamana n genap


30
5. | | ) ( lim ) ( lim ) ( ) ( lim x g x f x g x f
c x c x c x ÷ ÷ ÷
÷ = ÷

4.2 3. FUNGSI BERBANDING TERBALIK
Bentuk fungsi berbanding terbalik yang paling sederhana adalah :
()

dimana x > 0


Contoh :
Diketahui biaya tetap untuk produks barang Q adalah Rp 10 dan biaya variabel Rp 4/unit.
Tentukan persamaan total biayanya ( C ) dan biaya rata-ratanya ( AC ), kemudian gambarkan
grafiknya.

Penyelesaian :
C = FC + (AVC x Q) = 10 + 4Q
AC =

=

()

(

)
Hasilnya bila Q mendekati · maka AC = 4. Nilai AC = 4 adalah nilai VC per unit.

y
x
(x) =

31

4.2.4 FUNGSI KEBALIKAN
Fungsi kebalikan digunakan dalam ekonomi agar analisis lebih mudah dilakukan.
Contoh yang sering terjadi adalah analisis pasar. Bila dalam teori ekonomi Q = f(P), tetapi
dalam menggambar grafik diubah menjadi P = f(Q)

Contoh :
Gambar fungsi permintaan Q = 32 – 2P

Penyelesaian :
Secara matematis fungsi tersebut adalah Q = f(P). Tetapi untuk menggambar fungsi, maka
kurva permintaan ditunjukkan oleh garis vertikal P, sehingga seolah-olah P = f(Q), sehingga
persamaan menjadi P = 16 – ½Q
Gambar :


4.2.5 FUNGSI EKSPONEN
Bentuk umum fungsi eksponan adalah y = a
x
. Kebalikan dari fungsi eksponen adalah
fungsi logaritma. Kedua fungsi ini dihubungkan dengan :
x = a
y
dihitung sebagai y =
x
log a
x
y

32

Contoh :
Dalam masa resesi pendapatan perusahaan mengalami penurunan sebesar 10% per tahun.
Keadaan tersebut dirumuskan dalam fungsi eksponen sebagai berikut : R = 8e
-0,1t
dimana R
adalah pendapatan/tahun, t adalah periode tahun
Tentukan pendapatan R sampai tahun ke 2

Penyelesaian :
Pendapatan R berdasarkan fungsi R = f(t) adalah :
a. t= 0, maka R = 8e
0
= 8
b. t= 1, maka R = 8e
-0,1(1)
= 8 x 0,9048 = 7,2384
c. t= 2, maka R = 8e
-0,1(2)
= 8 x 0,8187 = 6,5496

4.3 FUNGSI LEBIH DARI SATU VARIABEL
4.3.1 FUNGSI LOGARITMA
Bentuk ( ) x f y
a
log = disebut fungsi logaritma dengan a bilangan pokok (a> 0 dan a =
1) serta f(x) disebut numerus dengan f(x) > 0
Contoh :
Diketahui fungsi cobb-douglass sebagai Q = A.K
o
.L
|
. Ubah fungsi tersebut menjadi linier

4.3.2 FUNGSI PRODUKSI COBB-DOUGLASS
Bentuk umum fungsi Cobb-Douglass :
Q (K, L) = A.K
o
.L
|

Dimana :
A = konstanta (koefisen teknis)
o, | = konstanta (elastisitas atau derajat homogenitas)
Q = kuantitas output
K = kapital
L = labor

33

Contoh :
Diketahui fungsi produksi sebagai Q = K
2
+ 3KL, dimana fungsi tersebut adalah homogen.
Tentukan skala produksinya





























34




5.1 PENDAHULUAN
Diferensial adalah ilmu matematika yang mempelajari pengaruh perubahan suatu variabel
terhadap variabel lain. Contoh di bidang ekonomi :
 Konsumen ingin mengetahui pengaruh perubahan harga terhadap jumlah barang yang
akan dibeli
 Produsen ingin mengetahui perubahan jumlah produksi karena adanya tambahan tenaga
kerja
 Produsen ingin mengetahui kapan jumlah produksi mencapai posisi yang memberikan
keuntungan maksimum
Rumus umum untuk diferensial adalah :

Dimana :
AQ = perubahan jumlah barang
AP = perubahan harga

= derivasi pertama jumlah barang terhadap barang

5.2 KAIDAH DIFERENSIAL
1.
0 ) ( = c
dx
d
, c konstan
2.
1
) (
÷
=
n n
x n x
dx
d

Bab 5
DIFERENSIAL

35
Misal u dan v adalah fungsi x yang dapat diturunkan, maka :
3. f’(x) = U ± V ¬ f’(x) = U’ ± V’
4. f’(x) = U . V ¬ f’(x) = U’V + V’U
5. f’(x) =
V
U
¬ f’(x) =
2
' '
V
U V V U ÷


5.3 NILAI MARGINAL SUATU FUNGSI
Fungsi marginal di bidang ekonomi :
Fungsi Utama Fungsi Marginal Contoh Fungsi Utama
Perhitungan
Marginal
Revenue ( R )
Marginal Revenue
(MR)
R = 2Q
2
+ 5Q MR = 4Q + S
Biaya ( C )
Marginal Cost (
MC )
C = 200 + 3Q
2
MC = 6Q
Konsumsi ( C )
Marginal Propensity
To Consume
C = 50 + 0,8 Y MPC = 0,8
Produksi
Marginal Physical
Produk Tenaga
TP = 50 + 4L MPP
L
= 4
Utilitas
Marginal Utilitas
U = 2x
2
+ 5x MU
x
= 4x + 5
Utilitas
Marginal Rate of
Substitution
U = f(x
1
, x
2
, ..., x
k
) MRS
x1,x2

Persentase Pajak
Marginal Tax Rate
T = 0,1 Y T = 10%
Import
Marginal Propensity
To Import
M = 10 + 0,2Y m = 0,2

5.4 DERIVASI ORDE LANJUTAN
Turunn ri y = f(x) yitu y’ =
dx
dy
adalah turunan pertama dari y terhadap x. Turunan
pertama dari y mungkin juga dapat diturunkan (disebut turunan kedua terhadap x) dan
turunannya adalah :
2
2
'
"
dx
y d
dx
dy
dx
d
dx
dy
y =
|
.
|

\
|
= =

36
Hingga, jika y mempunyai turunan-turunan yang dapat diturunkan, maka disebut turunun
ke-n dari y terhadap x, untuk n bilangan bulat positif :



5.5 MARGINAL REVENUE DAN MARGINAL COST
Penggabungan dua fungsi pada bagian sebelumnya dilakukan dengan membuat
persamaan R = C ( revenue = biaya ) sehingga diperoleh hasil BEP. Bagian ini juga akan
menggabungkan dua fungsi marginal, yaitu MR = MC dan akan diperoleh hasil nilai posisi
keuntungan maksimum atau kerugisn minimum sama dengan verteks.

Kasus :
R = 24Q – 2Q
2

C = 18 + 4Q
Hitung : a. MR
b. MC
c. Nilai Q pada saat BEP
d. Keuntungan
e. Grafik

5.6 MARGINAL PRODUCT
Marginal Product adalah hubungan variabel tingkat perubahan input ( contohnya tenaga
kerja ( L ) ) dengan tingkat perubahan variabel output ( contohnya barang atau jasa ( Q ) ).
Perhitungan marginal product berasal dari fungsi produksi ( TP ).

Kasus :
1. Diketahui Q = f(L) = √. Hitung MP
L
dan gambar grafiknya
( )
n
n
n
y n
n n
dx
y d
dx
d
dx
d
y
dx
d
y =
|
|
.
|

\
|
= =
÷
÷
÷
1
1
) 1 ( ) (


37
2. Diketahui fungsi produksi sebagai Q = √ - 5L. Hitung MP
L
bila diketahui L sebagai
berikut : L = 1, L = 16, L = 100 dan L = 900
3. Diketahui fungsi produksi sebagai Q = 15L2 – 0,2L3. Kapa penggunaan L menunjukkan
hukum berlakunya MP
L
menurun?

5.7 MARGINAL PROPENSITY TO CONSUME
Marginal Propensity to Consume (MPC) adalah rate of change konsumsi karena
perubahan pendapatan. Besar kecilnya MPC pertama kali ditentukan oleh fungsi konsumsi.
Rumus MPC :

38


6.1 PENDAHULUAN
Istilah maksimum atau minimum yang sesuai dengan bidang ekonomi yang dibahas pada
bagian ini adalah besarnya variabel dependen pada saat nilai variabel independen tertentu.

6.2 KARAKTERISTIK FUNGSI
Penerapan fungsi dalam bidang ekonomi terus berkembang, walau tidak akan
mendahului ilmu matematika seperti :
1. Fungsi Aljabar
a. Polinomial :

b. Rasional :

c. Irasional : √
2. Transendental
a. Eksponensial : y = a
x
; y = e
x

b. Logaritmik : y = ln x ; y = log x
c. Trigonometri dan kebalikannya
d. Hiperbolik dan kebalikannya
3. Composite (Gabungan)

6.2.1 Increasing dan Decreasing Function
Dengan menggunakan perhitungan nilai dari derivasi pertama maka bisa diperoleh
tanda increasing (naik) dan decreasing (turun) sebagai berikut :
 Bila nilai domain naik dan nilai domain positif berarti fungsi increasing
 Bila nilai domain naik dan nilai domain negatif berarti fungsi decreasing

6.2.2 Fungsi Cembung dan Cekung
Bab 6
MAKSIMUM DAN MINIMUM

39
 Fungsi y = f(x) disebut cembung bila kenaikan domain membentuk range mula-mula naik
kemudian turun
 Fungsi y = f(x) disebut cekung bila kenaikan domain membentuk range mula-mula turun
kemudian naik

6.3 LETAK EKSTRIM
Nilai ekstrim adalah terjadinya peristiwa perubahan x sebagai domain yang
mengakibatkan terjadinya perubahan f(x) sebagai range berhenti sejenak (stationary)
kemudian berubah arah secara berlawanan. Jadi suatu nilai x yang ada di sekitar kiri kanan
tanda slope f(x) berubah dari positif ( + ) menjadi negatif ( - ) atau sebaliknya.
Letak nilai ekstrim tersebut dapat diketahui dengan menggunakan perhitungan tes
letak sebagai berikut :
1. Dibuat persamaan derivasi pertama menjadi nol
2. Hitung nilai x sebagai titik berhenti (stationary point) sehingga diperoleh x = a
3. Hitung besarnya derivasi kedua f(x)
4. Gunakan x = a pada langkah ke 2 untuk menghitung f(a)
5. Bila :
 f”() > 0 mk f(x) minimum p x =
 f”() < 0 mk f(x) mksimum p x =
 f”() = 0 mk tes letk ekstrim ggl

Kasus :
1. Diketahui f(x) =

. Lakukan tes letak ekstrim fungsi tersebut dan
hitung berapa besarnya
2. Diketahui f(x) =

. Lakukan tes letak ekstrim fungsi
tersebut dan hitung berapa besarnya



40
6.4 EKSTRIM GLOBAL
Bila dijumlah ada nilai minimum atau maksimum lebih dari satu, maka harus dipilih nilai
yang paling maksimum atau disebut nilai ekstrim absolut.
Kasus :
Selidiki nilai ekstrim global dari f(x) =

6.5 TITIK BELOK
Ciri terdapatnya titik belok (inflection) dalam suatu fungsi apabila terdapat nilai derivasi
pertama paling tidak berbentuk U atau ∩.

Kasus :
Selidiki titik belok pada =3x
3
+ 159x
2
– 2430x + 10800

6.6 OPTIMALISASI DALAM FUNGSI PRODUKSI
Nilai optimal dalam fungs produksi bisa dilihat dari produk maksimum, AP
L
maksimum
dan MP
L
maksimum.
Rumus AP
L
maksimum :
()

Rumus MP
L
maksimum :

()

Kasus :
Diketahui f(x) = 30L
2
– 2L
3

Hitung :
1. Jumlah tenaga yang digunakan saat Q maksimum
2. AP
L
maksimum
3. Buktikan bahwa AP
L
maksimum = MP
L





41
6.7 OPTIMALISASI DALAM FUNGSI PROFIT
Fungsi profit adalah fungsi yang secara umum diperoleh dari selisih antara revenue
dengan biaya ( R – C ). Bentuk persamaannya adalah :

dimana :
t = keuntungan C = Biaya
R = Revenue
Syarat pertama yang harus dipenuhi adalah R dan C adalah fungsi variabel yang sama. Jadi
bila R = f(Q) maka C = f(Q)

Kasus :
Diketahui sebuah perusahaan manufaktur menjual produk per unit dengan harga P =
200 – 0,01Q. Manajer perusahaan menentukan biaya produksi sebagai fungsi C = 50Q +
20000.
Ditanyakan Besar Q yang harus diproduksi supaya perusahaan mencapai profit maksimum














Bab 7
MATEMATIKA KEUANGAN

42

7.1 PERHITUNGAN BUNGA SEDERHANA
Variabel yang diperlukan :
1. Tingkat bunga (interest)
adalah balas jasa penyimpanan sejumlah nilai uang tertentu, biasanya di bank atau
pinjaman
Satuan :

2. Pokok pinjaman atau uang yang dibungakan (principal)
Disimpan dengan satuan moneter (satuan mata uang)
3. Periode atau jangka waktu (t)
adalah satuan waktu perhitungan bunga yang diberlakukan

Perhitungan Nilai Bunga
Adalah hasil kali bunga dengan pokok pinjaman dan periode
Rumus :
I = P i t
Dimana :
I = Nilai bunga sederhana
P = pokok pinjaman
i = tingkat bunga per satuan waktu t
t = periode

Kasus :
Sebuah KSP meminjamkan uang sebesar Rp 5.000.000,00 dengan bunga 2% per bulan.
Berapa bunga yang harus dibayarkan pada bulan berikutnya?


7.2 PERHITUNGAN NILAI AKHIR DENGAN BUNGA SEDERHANA

43
Rumus :
NA = P + P i t
Dimana :
NA = nilai akhir dengan bunga sederhana
P = pokok pinjaman
i = tingkat bunga per satuan waktu t
t = periode

Kasus :
Pada kasus 7.3, hitung nilai akhir per hari, bulan dan tahun

7.3 BUNGA MAJEMUK DAN NILAI AKHIR (FV)
Bunga majemuk tidak dibayar per satu periode, tetapi bunga majemuk menghitung
bunga selama satu bulan dengan rumus bunga per hari (bunga harian). Perbedaannya
terletak pada bunga yang belum dibayarkan yang kemudian secara otomatis akan menjadi
pokok pinjaman.
Rumus :
FV = P (1 + i)
t

Dimana :
FV = future value = nilai akhir dengan bunga majemuk
P = pokok pinjaman
i = tingkat bunga per satuan waktu t
t = periode

Kasus :
Pokok pinjaman sebesar Rp 5.000.000,00, bunga 9% per tahun. Perhitungan bunga yang
diberlakukan adalah per hari. Tentukan FV pada hari ke 258



44
7.4 NILAI SEKARANG (PRESENT VALUE)
Nilai sekarang merupaka modifikasi rumus perhitungan FV :
Rumus :
FV = P (1 + i)
t

Rumus PV menjadi :

( )

Dimana :
PV = nilai sekarang
FV = future value = nilai akhir pada periode t
i = tingkat bunga per satuan waktu t

Kasus :
Simpaan yang diharapkan bernilai Rp 20.000.000,00 pada periode 20 tahun mendatang. Bila
tabungan yang akan disimpan menjanjikan bunga 12% per tahun dan dihitung setiap bulan,
hitunglah PV.

7.5 TINGKAT BUNGA EFEKTIF
Besar kecilnya tingkat bunga diukur dalam jangka waktu atau periode tahunan. Dalam
ilmu ekonomi, tingkat bunga tahunan menjadi variabel tingkat bunga nominal (nominal
interest rate). Kenyataannya, perhitungan nilai bunga tidak selalu dihitung dalam periode
tahunan. Bisa menjadi harian, bulanan atau kuartal yang menghasilkan FV atau PV yang
berbeda. Perhitungan FV per hari lebih besar dibanding FV per bulan. Demikian juga
sebaliknya, perhitungan PV per hari lebih kecil dibanding perhitungan PV per bulan.

Rumus untuk mencari tingkat bunga efektif per tahun :
(

)

Dimana :
r = tingkat bunga efektif per tahua (EAR = Effective Annual Rate)

45
i = tingkat bunga nominal per tahun
m = berapa kali perhitungan bunga per tahun

Kasus :
1. P = Rp 5.000.000,00
i = 9% per tahun
Hitung :
a. FV periode 10 tahun dihitung nilai bunga per hari
b. FV periode 10 tahun dihitung nilai bunga per bulan
c. FV periode 10 tahun dihitung nilai bunga per tahun
2. Tingkat bunga nominal 9% per tahun. Hitung :
a. Tingkat bunga efektif per tahun ( m = 360)
b. Tingkat bunga efektif per bulan ( m = 12)

7.6 NILAI SEKARANG DAN AKHIR DARI ANGSURAN
Perhitungan ini sering digunakan dalam pembayaran cicilan (misal pembelian barang
secara kredit, premi asuransi, dana pensiun, dan lainnya).
Rumus :

{
( )

}
{
( )

( )

}
{
( )

( )

}

Dimana :
S
n
= nilai akhir dari angsuran sebesar R
A = nilai akhir sekarang
R = angsuran tetap per periode
i = tingkat bunga per periode

46
n = lama periode angsuran

Kasus :
Pembelian barang seharga Rp 500.000,00 dengan tingkat suku bunga 9% per tahun
a. Berapa harga barang tersebut setelah 5 bulan
b. Berapa angsuran barang tersebut per bulan selama 5 bulan
c. Berapa nilai barang sekaran yang diangsur selama 5 bulan

7.7 PERHITUNGAN BUNGA, POKOK DAN SISA PINJAMAN
Dalam kehidupan sehar-hari tanpa disadari kemampuan masyarakat untuk membeli
barang dengan harga relatif mahal tidak akan terlaksana bila tanpa adanya pinjaman atau
kredit dari bank atau lainnya, atau bisa juga dengan menyimpan sebagian uangnya untuk
membeli barang di masa yang akan datang. Variabel yang berkaitan dengan simpan pinjam
tersebut antara lain besarnya nominal pinjaman, tingkat bunga nominal, periode
pembayaran, besarnya angsuran, dan seterusnya.

Kasus :
Seseorang ingin membeli sebuah rumah senilai Rp 200.000.000,00 dengan uang muka Rp
50.000.000,00. Kekurangan pembayaran dibayar dengan pinjam dari bank dengan tingkat
bunga sebesar 10% per tahun. Bunga pinjaman dihitung setiap bulan. Berapa angsuran yang
harus dibayar bila waktu pinjam 5 tahun, 10 tahun dan 15 tahun?









47
t

8.1 PENDAHULUAN
Dalam kenyataannya, fungsi ekonomi tidak hanya dipengaruhi oleh satu variabel,
melainkan lebih dari satu variabel. Misalnya, keuntungan ( t ) tidak hanya dipengaruhi oleh
jumlah produksi ( Q ) satu macam, tetapi menjadi dua macam ( Q
1
, Q
2
), sehingga model
hubungannya menjadi t = f ( Q
1
, Q
2
). Dengan adanya penambahan variabel independen
tersebut, maka analisis yang digunakan tidak lagi diferensial saja, melainkan diferensiasi
parsial. Alat analisisnya dinamaka derivasi parsial.

8.2 FUNGSI LEBIH DARI DUA VARIABEL
Notasi fungsi lebih dari dua variabel tidak hanya berupa x saja atau y saja. Karena lebih
dari satu variabel, maka fungsinya menjadi z = f (x , y ) , Q = f(P
q
, P
s
, P
k
, M, S) , t = f ( Q
1
, Q
2
)
dan lainnya.

Kasus :
Diketahui f(x, y) = 3x
2
+ 2xy + y + 1 sebagai fungsi dua variabel x dan y. Bila x = 1 dan y = 1,
berapa hasil dari f(1, 1)?

8.3 DERIVASI PARSIAL
Pada fungsi z = (x, y) jika y dipandang sebagai suatu konstanta, maka z adalah fungsi dari
x dan turunannya terhadap x adalah :
9
( ) ( )
x
y x f y x x f
x
z
x
A
÷ A + A
=
c
c
÷ A
0 0 0 0
0
, ,
lim

yang disebut DERIVASI PARSIAL dari z = f(x, y) terhadap x.
Bab 8
DERIVASI PARSIAL

48
Jika fungsi z = (x, y) jika x dipandang sebagai suatu konstanta, maka z adalah fungsi
dari y dan turunannya terhadap x adalah :
( ) ( )
y
y x f y y x f
y
z
y
A
÷ A +
=
c
c
÷ A
0 0 0 0
0
, ,
lim

yang disebut DERIVASI PARSIAL dari z = f(x, y) terhadap y.

Kasus :
Diketahui f(x, y) = 3x
2
y + 2xy + y
3
+ 10, bagaimana bentuk derivasi parsial untuk x dan derivasi
parsial untuk y. Gambarkan

8.4 DERIVASI PARSIAL ORDE LANJUTAN
Turunan parsial dapat diturunkan lagi untuk memperoleh turunan parsial kedua, yaitu:
2
2
x
f
x
f
x
f
XX
c
c
=
|
.
|

\
|
c
c
c
c
=
2
2
y
f
y
f
y
f
yy
c
c
=
|
|
.
|

\
|
c
c
c
c
=
x y
f
x
f
y
f
xy
c c
c
= |
.
|

\
|
c
c
c
c
=
2

y x
f
y
f
x
f
yx
c c
c
=
|
|
.
|

\
|
c
c
c
c
=
2

Hal ini bisa diderivasi lebih lanjut menjadi orde ketiga, keempat dan seterusnya
Kasus :
Hitung derivasi parsial orde pertama dan kedua dari f(x, y) = 8x
2
y
3


8.5 TINGKAT PERUBAHAN SECARA PARSIAL
Pengaruh perubahan variabel independen terhadap variabel dependen untuk kasus dua
variabel independen dapat disebut sebagai Small Increment Formula (SIF) dan notasinya :

49
Kasus :
Diketahui fungsi z(x, y) = x
2
+ 3y. Mula-mula x = 5 dan y = 8. Gunakan rumus SIF untuk
menghitung perubahan nilai z karena x berubah menjadi x = 5,021 dan y berubah menjadi y =
7,98

8.6 CHAIN RULE DAN TOTAL DERIVASI
Andaikan x = x(t) dan y = y(t) dapat dideferensialkan di t dan andaikan z = f(x, y)
dapat dideferensialkan di (x(t), y(t)). Maka z = f(x(t)) dapat dideferensialkan di t dan :
t
y
y
z
t
x
x
z
dt
dz
c
c
c
c
+
c
c
c
c
=

Kasus :
1. Diketahui y = u
3
dan u = x
2
. Hitung

2. Diketahui R = P.Q dan P = 120 – 6Q. Hitung nilai MR menggunakan Chain Rule

8.7 APLIKASI DERIVASI PARSAL
8.7.1 Derivasi Fungsi Implisit
Jika F(x, y, z) adalah fungsi kesatuan dari x, y dan z maka dapat dirumuskan menjadi
persamaan berikut :
F(x, y, z) = 0
Asumsi hubungan variabel tersebut (x, y) sebagai domain untuk F(x, y, z) dan (x, y) juga
sebagai domain untuk f(x, y). Kemudian menjadi :
F
x
.dx + F
y
.dy + F
z
.dz = 0
Karena z = f(x, y) dan juga dz = f
x
.dx + f
y
.dy, maka diperoleh :

Dengan syarat F = 0, untuk bisa diperoleh :

50

Kasus :
Diketahui x
2
y = 3, tentukan nilai

8.7.2 Elastisitas Permintaan
Analisis elastisitas ada tiga macam :
1. Elastisitas Harga
2. Elastisitas Silang
3. Elastisitas Pendapatan
Bila hubungan tersebut dirumuskan dalam bentuk fungsi lebih dari satu variabel maka
menjadi :
Q = f(P
Q
, P
A
, Y)
dimana :
Q = jumlah permintaan
P
Q
= harga Q per unit
P
A
= harga barang alternatif
Y = pendapatan konsumen

Perhitungan elastisitas dirumuskan sebagai :
1. Elastisitas Harga (

)

()
(

)

2. Elastisitas Silang (

)

()
(

)

3. Elastisitas Pendapatan (

)

()
()

51
Kasus :
Diketahui fungsi permintaan Q = 100 – 4Pq2 + 3Pa + 0,04 Y
½
. Ditanyakan :
1. Besarnya elastisitas harga, elastisitas silang dan elastisitas pendapata
2. Hitung nilai elastisitas

,

, dan

bila P
Q
= 5, P
A
= 6 dan Y = 1900
3. Apa yang terjadi bila :
a. Pq turun 25%
b. Pa naik 2%
c. Y naik 10%

3.7.1 Utilitas
Analisis utilitas adalah analisis yang menggambarkan tujuan konsumen yang selalu
ingin mencapai kepuasan maksimum. Bila diketahui kombinasi dua barang x dan y yang akan
dikonsumsi maka U = f(x, y).
Bila U(x, y) = 100, maka kurva indiference hanya satu, seperti tampak pada gambar di
bawah ini :

Dengan menggunakan gambar diatas, dijelaskan utilitas sebesar 100 bisa dicapai dengan
berbagai kemungkinan kombinasi barang x dan y, bisa dari 5 dan 30 sampai dengan 180 dan
35. Pergantian dari 5 dan 380 menjadi 30 dan 115 dinamakan Marginal Rate Commodity
Substitution (MRCS) yang dirumuskan :
MRCS =

Dimana :
x
y
U(x, y) =

= 100

52
U
x
= Marginal Utility of x
U
y
= Marginal Utility of y

Kasus :
Diketahui

. Hitung U
x
, U
y
dan MRCS bila x = 60 dan y = 80

3.7.2 Produksi
Analisis produksi adalah model matematika yang digunakan hampir sama dengan
model utilitas yang perbedaan pokoknya terletak pada hubungan antar variabel yang
digunakan. Bila utilitas menggambarkan keputusan konsumen maka produksi
menggambarkan keputusan produsen. Tujuan produsen adalah menggunakan kombinasi
berbagai kemungkinan input, sehingga bentuk fungsinya menjadi :
Q = f(K, L)
dimana :
Q = output
K = modal
L = tenaga kerja.
Dalam produksi, juga dikenal istilah Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS)
yang dirumuskan :
MRTS =

Dimana :
Q
k
= Marginal Product of K =

Q
L
= Marginal Product of L =

Kasus :
1. Fungsi produksi Q (K, L) = K
2
+ 2K + 3L
3


53
Hitung :
a. MP
k
dan MP
L

b. MRTS bila K = 3 dan L = 2
c. Besar pengurangan K bila L dinaikkan 5% tanpa mengubah Q
d. Gambar kurva produksi Q
2. Fungsi produksi Q =

. Hitung MP
k
dan MP
L
, dan MRTS






















Bab 9
OPTIMASI

54

9.1 PENDAHULUAN
Optimasi adalah konsep penting dalam analisa ekonomi :
 Perusahaan untuk memaksimalkan laba dan meminimalisasi biaya.
 Pemerintah berupaya untuk memperkecil pengangguran, inflasi dan memaksimalkan
hasil pajak
 Konsumen ingin memperoleh kepuasan maksimum dari produk yang mereka beli

9.2 OPTIMASI TANPA ADA BATASAN
Optimasi tanpa batasan memiliki variabel lebih dari satu ( x , y ) dimana titik stationer
pada x = x
0
dan y = y
0
. Jika derivasi pertama secara parsial untuk f kedua variabelnya sama
dengan nol, maka dapat dirumuskan :
f
x
(x
0
, y
0
) = f
y
(x
0
, y
0
) = 0

Kasus :
Hitung posisi stationer dari fungsi f(x, y) = 3x
2
+ y
2
+ 4x – 4y + 7

Selain titik maksimum dan minimum, juga bisa dihitung titik sadel (saddle point).
Untuk mengetahui titik ini, menggunakan fungsi diskriminan ( D ) yang dirumuskan :
D= f
xx
. f
yy
– ( f
xy
)
2


Dengan ketentuan :
1. D < 0, nilai stationer berada pada titik sadel
2. D = 0, nilai stationer berada pada nilai yang tidak jelas
3. D < 0, nilai stationer adalah nilai ekstrim dari fungsi f(x, y)

Nilai ekstrim ada dua kemungkinan, maksimum atau minimum :
1. Maksimum, jika f
xx
< 0 dan f
yy
< 0

55
2. Minimum , jika f
xx
> 0 dan f
yy
> 0
Kasus :
1. Fungsi f(x, y) = x
3
+ 5xy + y
3
+ 4, hitung nilai diskriminannya
2. Tentukan dan klasifikasikan titik stationer dari f(x, y) = x
2
+ 3y
2
– 2xy + 1
3. Fungsi biaya produksi ditentukan oleh dua barang, X dan Y :
C (X, Y) = 2 + 3X
2
+ 2Y
2
– 0,5 (XY)
Fungsi revenue : R (X, Y) = 10X + 15Y
Berapa besar produksi X dan Y yang mengakibatkan profit maksimum

9.3 OPTIMASI DENGAN BATASAN
Batasan atau kendala (constrain) sering ditemui dalam masalah ekonomi, misalnya
konsumen ingin mencapai kepuasan maksimum, ada batasan pendapatan.
Ada dua metode yang akan digunakan dalam bagian ini yaitu metode substitusi dan
metode lagrange multiplier

9.3.1 Metode Substitusi
Bila yang ditemui fungsi batasan hanya satu variabel, maka persamaan tersebut
disubstitusikan pada fungsi objeknya. Dengan demikian pencarian titik stationer sama
dengan metode optimasi tanpa batasan.
Langkah penghitungannya adalah :
1. Mencari derivasi pertama dan kedua dari fungsi
2. Mencari nilai maksimum atau minimum

Kasus :
1. Seorang produsen mempunyai fungsi produks Q =

dimana K adalah input modal
dan L adalah input tenaga. Biaya per unit penggunaan K dan L adalah 2 dan 1. Berapa
biaya terendah akan dicapai bila produsen memproduksi Q sebanyak 240 unit?
2. Seorang produsen menghadapi biaya produksi sebanyak K dan L per unit sebanyak 2 dan
4. Fungsi produksi dirumuskan sebagai Q = 6KL + 2L
3
.

56
a. Berapa output maksimum yang bisa dicapai bila TIC = 200?
b. Berapa biaya minimum input yang harus dikeluarkan untuk mencapai Q sebanyak 1200
unit?

9.3.2 Metode Lagrange Multiplier (LM)
Pada metode ini jumlah variabel bisa lebih dari dua variabel independen dimana
dengan metode lagrange multiplier akan menghasilkan variabel baru sebagai pembantu
pemecahan masalah optimasi dengan memisalkan nilai ì. Variabel ì digunakan untuk
membentuk fungsi baru lagrangian sebagai berikut :
F(x, y, ì) = f(x, y) + ì{ k - g(x, y) }

Hasil optimum akan diperoleh dengan mencari x = x
0
, y = y
0
dan ì = ì
0
. Langkah
penyelesaiannya adalah :
1. Bentuk persamaan lagrangian : F = f(x, y) + ì{ k - g(x, y) }
2. Mencari derivasi pertama untuk setiap variabel F
3. Hitung x, y dan ì dengan persamaan

,

,

ì

4. Gunakan x dan y pada perhitungan 3 untuk mencari nilai f(x, y)
5. Untuk mengatakan optimum sebagai maksimum atau minimum, digunakan perhitungan
nilai determinan matriks hessian atau jacobian

Kasus :
1. Sebuah perusahaan memproduksi barang x dan y masing-masing membentuk fungsi
harga sebagai p
1
(x, y) dan p
2
(x, y) yang dirumuskan sebagai p
1
(x, y) = 20 – x + 2y dan p
2
(x,
y) = 10 + x – y. Fungsi biaya yang dihadapi sebagai c(x, y) = 12x + xy + 6y.
Dalam kegiatan usahanya produsen dibatasi oleh jumlah produksi x + y = 20. Berapa unit
produksi x dan y untuk mencapai keuntunga maksimum?
2. Suatu perusahaan akan mengalokasikan dana Rp 600.000,00 untuk iklan dan penelitian.
Kegiatan usaha perusahaan dirumuskan sebagai fungsi penjualan f(x, y) =

57
unit produk. Berapa besar penjualan maksimum dicapai karena akibat dari penggunaan
barang untuk iklan dan penelitian?


























Bab 10
INTEGRAL

58

10.1 PENDAHULUAN
Perhitungan integral berkaitan dengan beberapa teori ekonomi, seperti perhitungan
marginal revenue, marginal cost, marginal product, dan lainnya. Dengan menghitung
integral, fungsi aslinya akan dapat ditemukan lagi.
Selain itu, penafsiran secara geometris fungsi juga digunakan untuk mencari besarnya
surplus konsumen dan produsen. Integral juga digunakan untuk penghitungan beban pajak
yang ditanggung konsumen dan produsen serta hilangnya kesejahteraan sebagai deadweight
loss.

10.2 KAIDAH INTEGRAL
Secara simbol integral ditulis :
}
+ = C x F dx x f ) ( ) (
dimana :
-
}
dibaca integral
- f (x) adalah integran, yaitu yang dikenai operasi integral
- dx adalah diferensial integrator yaitu kepada variabel apa kita akan mengintegralkan
- F(x) + C adalah hasil dari proses pengintegralan dengan C adalah konstanta integrasi

Beberapa kaidah integral :
1.
}
= + = a C ax dx a , konstanta
2.
}
+
+
=
+
C x
n
dx x
n n 1
1
1

3.
}
+ = C e dx e
x x

4. C
a
a
dx a
x
x
+ =
}
ln
, a konstanta, a > 0
5.
}
+ = C x dx
x
ln
1


59

Jika a konstanta sembarang dan f(x), g(x) adalah sebarang fungsi dalam x maka:
1.
} }
= dx x f a dx x f a ) ( ) (
2. { }
} } }
± = ± dx x g dx x f dx x g x f ) ( ) ( ) ( ) (

Kasus :
Fungsi MPC = 0,15 +


dimana Y adalah pendapatan. Hitung besarnya fungsi konsumsi C =
f(y) dan tabungan S = f(Y) bila C = 135 pada saat Y = 100

10.3 INTEGRAL TERBATAS
Sifat integral terbatas :
1.
} }
÷ =
a
b
b
a
dx x f dx x f ) ( ) (

2.
} } }
+ =
b
c
c
a
b
a
dx x f dx x f dx x f ) ( ) ( ) (

3.
} }
÷ =
a a
dx x a f dx x f
0 0
) ( ) (
4.
} } }
÷ + =
a a a
dx x a f dx x f dx x f
0 0
2
0
) 2 ( ) ( ) (
5. Jika f ( 2a – x ) = f (x), maka
} }
=
a a
dx x f dx x f
0
2
0
) ( 2 ) (

Jika f ( 2a – x ) = - f (x), maka
0 ) (
2
0
=
}
a
dx x f

6. Jika f(x) fungsi periodik dengan periode p, f(x) = f(x + p), maka :
} }
=
p np
dx x f n dx x f
0 0
) ( ) (
7. Jika f(x) fungsi genap, maka
} }
=
÷
a a
a
dx x f dx x f
0
) ( 2 ) (

60
Jika f(x) fungsi ganjil, maka
0 ) ( =
}
÷
a
a
dx x f


10.4 INTEGRAL TERBATAS : LUAS AREA DAN PENJUMLAHAN
Luas daerah di atas sumbu X ( A(R) ) ditentukan oleh :
}
=
b
a
dx x f R A ) ( ) (

Luas daerah di bawah sumbu X ( A(R) ) ditentukan oleh :
}
÷ =
b
a
dx x f R A ) ( ) (

Luas daerah diantara dua kurva ( A(R) ) ditentukan oleh : | |
}
÷ =
b
a
dx x g x f R A ) ( ) ( ) (

61


Kasus :
1. Tentukan luas daerah R di bawah kurva 2 2
3 4
+ ÷ = x x y antara x = -1 dan x = 2
2. Tentukan luas daerah R yang dibatasi oleh 4
3
2
÷ =
x
y , sumbu x, x = -2 dan x = 3
3. Tentukan luas daerah antara kurva
4
x y = dan
2
2 x x y ÷ =

10.5 SURPLUS PRODUSEN
Surplus produsen berkaitan dengan fungsi penawaran produsen terhadap barang yang
diproduksi. Dirumuskan :
de

∫()

Dimana :
P
b
= harga barang per unit yang terjadi di pasar dan P
b
> 0
Q
b
= unit barang yang dijual pada P
b
sesuai
b
P
b
= f(Q)
f(Q) = kebalikan dari fungsi penawaran Q = f(P)

Kasus :
Produsen menghadapi harga penawaran sebagai kebalikan fungsi penawaran P(Q) =

+ 250. Berapa besar surplus produsen bila harga barang per unit 506

62
10.6 SURPLUS KONSUMEN
Surplus konsumen berkaitan dengan fungsi permintaan konsumen terhadap barang yang
dikonsumsi. Dirumuskan :
∫()

dimana :
P
b
= harga barang per unit yang terjadi di pasar dan P
b
> 0
Q
b
= unit barang yang dijual pada P
b
sesuai
b
P
b
= f(Q)
f(Q) = kebalikan dari fungsi penawaran Q = f(P)


Kasus :
Seorang konsumen menghadapi kurva harga P(Q) =

+ 250. Hitung surplus konsumen jika
harga barang di pasar 129.

10.7 BESARNYA DEADWEIGHT LOSS (DWL) KARENA PAJAK
Sering dijumpai beban pajak penjuala akan berakibat hilangnya surplus konsumen dan
produsen. Tujuan pajak adalah mengambil alih sebagian kesejahteraan masyarakat baik
konsumen maupun produsen untuk menjadi pendapatan pemerintah.

Kasus :
Fungsi harga produsen Ps (Q) = 2Q + 250
Fungsi harga konsumen Pd (Q) = -Q + 2500
Fungsi harga produsen setelah ada pajak Pt (Q) = 2Q + 1000
Hitung :
1. Keseimbangan sebelum ada pajak
2. Keseimbangan setelah ada pajak
3. Surplus Konsumen sebelum ada pajak
4. Surplus Konsumen sesudah ada pajak

63
5. Surplus Produsen sebelum ada pajak
6. Surplus Produsen sesudah ada pajak
7. Besarnya DWL
8. Beban pajak yang ditanggung konsumen
9. Beban pajak yang ditanggung produsen

10.8 INVESTASI DAN AKUMULASI KAPITAL
Akumulasi kapital merupakan penjumlahan akibat tambahan stok kapital yang
berdasarkan pada proses waktu. Dirumuskan :
K(t) = ∫ () ∫


dimana :
K(t) = model stok kapital
I(t) = investasi
Kasus :
1. Tentukan K(t) dari I(t) = 3t
½

2. Diketahui investasi sebagai persamaan konstanta I = 1000. Berapa besarnya investasi dari
t = 0 sampai dengan t = 1
3. Bila 3t
½
(dalam juta rupiah per tahun) yang merupakan aliran kapital tidak konstan , maka
hitung akumulasi kapital dari t = 1 sampai t = 4










64


11.1 PENDAHULUAN
Perekonomian selalu bergerak dinamis. Untuk itu dibutuhkan alat perhitungan
matematika yang bersifat dinamis. Dinamis karena sudah memasukkan variabel waktu (t).
Contohnya dalam analisa keseimbangan pasar, permintaan tidak hanya bergantung pada
harga sekarang, tetapi juga harga masa lalu.
Sebelum sampai pada pembahasan persamaan diferensial, akan dibahas dulu pengertian
yang membantu, seperti model dinamis, ketentuan model dinamis, sifat-sifat dinamis serta
percobaan sistem dinamis.

11.2 MODEL DINAMIS
Bila variabel yang dinamis adalah x, maka besarnya x bisa dibuat rumusan tertentu.
Contoh : x(t+1) = 3 + ½ x(t)
Tabulasi x(t+1) = 3 + ½ x(t) adalah :
t x
t
t x
t

0 10 8 6,016
1 8 9 6,008
2 7 10 6,004
3 6,5 11 6,002
4 6,25 12 6,001
5 6,125 13 6
6 6,063 14 6
7 6,031 15 6


Model dinamis diatas dinamakan model berulang (recursive). Bila hubungan hanya
ditentukan oleh satu periode sebelumnya maka disebut persamaan berulang derajat pertama
(first order recursive equation). Bila dua periode sebelumnya dinamakan persamaan berulang
Bab 11
PERSAMAAN DIFERENSIAL LINEAR

t

65
derajat kedua (second order recursive equation). Nilai x
1
= 6 = x* disebut sebagai fixed point
atau titik stabil.
Dikatakan sebagai titik stabil karena x
1
= 6 = x* stabil karena bila x
0
= 3 bukan lagi 10, dan
nantinya akan kembali menuju 6 yang disebut dengan global stabil (equilibrium).

11.3 PERHITUNGAN NILAI VARIABEL DINAMIS
Untuk membentuk sistem dinamis yang terukur, diperlukan hal-hal sebagai berikut :
1. Nilai kondisi awal x(0) = x
0

2. Nilai parameter a dan b
3. Nilai berkelanjutan untuk x berdasarkan waktu (t)

11.4 PERCOBAAN SISTEM DINAMIS
Sistem model dinamis mempunyai karakteristik tertentu. Untuk memahaminya perlu
adanya percobaan seperti mengubah beberapa nilai dalam model. Karena ciri utama dinamis
adalah terbentuknya nilai stabil, maka bila variabel yang diubah apkah akan terdapat nilai
stabil atau tidak.
Perubahan yang akan dilakukan terdiri dari :
1. Perubahan kondisi awal
Bila yang diubah adalah kondisi awal maka sistem model dinamis tidak akan berubah.
Artinya bila x
0
diubah maka tetap akan terdapat nilai stabil.
Contoh : Ubah X
0
= 10 menjadi X
0
= 3 dari x(t+1) = 3 + ½ x(t). Nilai stabil tetap berada pada
nilai sebelumnya yaitu x(t) = x(t+1) = x* = 6
2. Perubahan parameter a
Kenaikan atau penurunan nilai parameter a akan mempengaruhi nilai stabil
Contoh : a = 3, b =
1
/
2
, maka bila a < 0 akibatnya x
t
< 0 tetapi tetap convergence,
nilai x* berubah
3. Perubahan parameter b
Kenaikan atau penurunan nilai parameter b akan mempengaruhi nilai stabil

66
Contoh : a = 3, b =
1
/
2
, maka bila b >1 akibatnya x
t
berubah semakin jauh. Jadi bila b
terbatas pada nilai b < 1 bila ingin ditambah. Bila b dikurangi maka akan
terbatas pada nilai b > -1, karena bila dikurangi sampai b < -1, maka nilai x
t
akan
semakin jauh.
11.5 PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE PERTAMA
Dalam persamaan diferensial orde pertama perlu dipelajari juga persamaan linier orde
pertama yang rumusnya :
x(t) = bx (t-1) + a
x* =

x(t) = {

(

)

Rumus diatas juga dapat diturunkan menjadi :

(
(

)
(( )

)
)
()

dimana :
t = periode waktu
ln = logaritma asli
a = konstanta
b = koefisien

Kasus :
1. Diketahui persamaan x(t) = 3 + ¼ x(0) dengan x(0) = 5
a. Berapa besar titik keseimbangan (x* )
b. Berp perioe keseimngn (t)’
2. Seorang nasabah ingin pinjam dana sebesar Rp 15.000.000,00. Tingkat bunga pinjaman
per tahun 9,6% dihitung per akhir bulan. Nasabah bersedia bayar pinjaman Rp 400.000,00
per bulan

67
a. Berapa lama pinjaman lunas
b. Berapa sisa pinjaman setelah satu tahun berjalan



11.6 STABILITAS
Dalam beberapa model ekonomi sering dijumpai bentuk persamaan diferensial linier orde
pertama sebagai berikut :
x
t
= a + b
t-1
, bila b = 1
Kemudian perhitungan nilainya disederhanakan menjadi :

(

) (

) b’A + (

)
A adalah konstan independen terhadap t (periode).
1. Bila - < < mk ’ enerung 0 il t esr (menik n is iientifiksi). Mk x
t

converges pada nilai

, kemudian disebut sebagai nilai keseimbangan (equilibrium
value). Pertemuan gerakan semakin mengecil atau melemah. Gerakan yang menuju ke
satu titik disebut stabil.
2. Bila b < - atau b > 1 maka x
t
melebar (diverges), nilai x
t
membesar tanpa batas. Keadaan
ini menggambarkan model persamaan diferensial tidak stabil (unstable).

Kasus :
Tentukan situasi persamaan diferensial untuk x
t
= -0,
5
x
t-1
+ 0,25, dimana x
0
= 0,5

11.7 MODEL COBWEB
Model sarang laba-laba (Cobweb) digunakan untuk mengetahui fluktuasi secara berkala
sekitar harga, persediaan dan permintaan yang bergerak ke arah keseimbangan yang terjadi
akibat interaksi antara perubahan harga dan jumlah permintaan berkaitan dengan jumlah
penawaran secara periodik.
Model matematikanya dapat dibuat sebagai berikut :
Q
SJ
= a + b P
t-1


68
Q
DJ
= c + d P
t

Keseimbangan akan terjadi bila Q
SJ
= Q
DJ
, sehingga persamaannya akan menjadi :
Pt =

Jika -1 < (b/d) < 0, maka converges dan menuju keseimbangan pada

Kasus :
Diketahui persamaan dan penawaran :
Q
SJ
= -12 + 3P
t-1
dan Q
DJ
= 28 – P
t

Tentukan apakah pada interaksi penawaran dan permintaan akan terjadi keseimbangan

11.8 PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE KEDUA
Bentuk umum persamaan diferensial orde kedua adalah :
X
t
+ c X
t-1
+ b X
t-2
= a
Dimana a, b da c adalah konstan independen terhadap t.
Solusi dalam persamaan diferensial orde kedua dapat dirumuskan sebagai :
General Solution = Particular Solution + Complementary Solution
Dimana :
Particular Solution : x
t
= a + b x
t-1
atau X
t
+ c X
t-1
+ b X
t-2
= a
Complementary Solution : x
t
= ’A

11.8.1 Solusi Komplementer
Solusi Komplementer dirumuskan :

{

( )

Kasus :
Diketahui persamaan linier homogen :
X
t
-7X
t-1
+ 10X
t-2
=0, dimana X
0
= 2 dan X
1
= 13. Hitung besarnya X
10
.


69
11.8.2 Solusi Partikular
Karena persamaan bukan homogen maka digunakan persamaan diferensial orde
kedua :
X
t
+ c X
t-1
+ b X
t-2
= a
Dimana a, b dan c adalah konstanta sehingga membentuk rumusan :

{

Kasus :
Selesaikan dengan solusi partikular persamaan diferensial untuk X
t
+ 7 X
t-1
+ 12 X
t-2
= 4


















70







12.1 PENDAHULUAN
Persamaan diferensial tidak jauh beda dengan persamaan diferensi. Pada persamaan
diferensi, variabel periode (t) dianggap bilangan bulat (integer), sedang persamaan
diferensial, variabel t dianggap kontinu.
Contohnya dalam pembahasan pasar, interaksi antara permintaan dan penawaran terjadi
secara terus menerus. Perubahan variabel sekarang akan berpengaruh terhadap variabel lain
di masa yang akan datang dan hal ini terus berkelanjutan.
Sehingga persamaan diferensial dirumuskan :
’(t)
()

dan seterusnya ’’(t)

()

Jadi dalam model perubahan harga (P) ditentukan oleh variabel yang berhubungan dengan P
dan kemudian diukur dengan derivasi. Dengan menggunakan persamaan diferensial, solusi
terhadap variabel perubahan P bisa ditemukan.

12.2 PERSAMAAN DIFERENSIAL ORDE PERTAMA
Bila y(t) adalah fungsi t dan mempunyai bentuk persamaan :

Dimana a dan b adalah konstanta dan bukan nol. Ini adalah persamaan diferensial orde
pertama. Persamaan dikatakan homogen bila b = 0, dan tidak homogen jika b = 0.
Persamaan diferensial orde pertama dirumuskan :
Bab 12
PERSAMAAN DIFERENSIAL

71

bila a = 0 menjadi

dimana A adalah konstata.
Solusi umum persamaan diferensial

adalah :
{

Kasus ;
1. Selesaikan persamaan diferensial

( ) dimana y = 3 ketika t = 0
2. Diketahui model perubahan penduduk sebagai N(t) dalam juta. Persamaan diferensialnya
adalah

. Pada t = 0 N(0) = 220
Hitung : a. Berapa jumlah penduduk pada tahun ke 10
b. Berapa t bila N(t) = 500
3. Diketahui persamaan diferensial sebagai

= (-0,05)y + 4,5 dimana nilai y = 100 pada saat t
= 0
Suatu persamaan diferensial dikatakan stabil bila a < 0 dan keseimbangan akan terjadi
pada

. Tidak stabil bila a > 0.

12.3 PERSAMAAN DIFERENSIAL NON-LINIER ORDE PERTAMA
Persamaan diferensal non linier orde pertama adalah :

( ) ( )

a, b dan n adalah konstanta, sementara n > 1

Kasus :
1. Selesaikan

= y - 2y
2
bila y(0) = 1/5
2. Selesaikan

bila y(0) = 1
3. Selesaikan

bila y(1) = -1/2

12.4 PERSAMAAN DIFERENSIAL LINIER ORDE KEDUA
Bentuk umum persamaan diferensial linier orde kedua :

72

12.4.1 Kasus Persamaan Homogen
Format persamaan homogen adalah :
{

( )




Kasus :
Selesaikan

il y(0) = 0 n y’(0) = 4

12.4.2 Kasus Partikular dan Umum
Bentuk umum persamaan yang diselesaikan adalah :

ata y” + ay’ + by c
Ada tiga kasus solusi partikular sebagai berikut :

{

Kasus :
Selesikn y” – y’ – 6y = 6 bila diketahui y(0) = 0 dan y(0) = 5

12.4.3 Stabilitas
Persamaan diferensial linier orde kedua akan berbentuk dua kemungkinan :
{

( )

Bila

cenderung0 atau · ditentukan oleh nilai ¸ < 0 atau ¸ > 0, solusi y akan membesar bila
o dan | positif. Bila negatif, maka solusi komplementernya bertendensi 0 sehingga y
converges menuju nilai solusi partikularnya sebesat

yag disebut juga nilai keseimbangan.

Kasus :
Tentukn onverges ri persmn y” – y’ – 6y = 6 bila diketahui y(0) = 0 dan y(0) = 5.
Berapa persamaan convergesnya.


73







You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->