P. 1
Anti Konvulsi

Anti Konvulsi

|Views: 134|Likes:
Published by Yossy Rosmalasari

More info:

Published by: Yossy Rosmalasari on Oct 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

ANTI KONVULSI

Antikonvulsi (antikejang) digunakan untuk mencegah dan mengobati bangkitan epilepsi ( epileptic seizure) dan bangkitan non epilepsi. Epilepsi adalah gangguan atau penyakit SSP yang timbul spontan dan berulang dengan episode singkat (disebut bangkitan atau seizure) dengan gejala utama kesadaran menurun sampai hilang. Epilepsi dapat dibagi menjadi 3 golongan, yaitu : 1. Epilepsi umum (terdiri dari bangkitan tonik klonik, bangkitan lena) 2. Epilepsi parsial (bangkitan parsial sederhana, parsial kompleks) 3. Bangkitan lain-lain (tidak termasuk 1 dan 2)

Mekanisme kerja : Menghambat proses inisiasi dan penyebaran kejang. Penetapan kadar antiepilepsi yang merupakan kegiatan Therapeutic Drug Monitoring/TDM berperan penting dalam individualisasi dosis antiepilepsi, yang manfaatnya adalah untuk mengetahui /mendeteksi: 1. Kepatuhan pasien 2. Apakah kadar terapi sudah dicapai dengan dosis yang diberikan 3. Apakah peningkatan dosis masih dapat dilakukan pada bangkitan yang belum terkendali tanpa menimbulkan efek toksik 4. Besarnya dosis untuk penyesuaian bila terjadi interaksi obat, perubahan keadaan fisiologis maupun penyakit.

Obat antiepilepsi terdiri dari :
1. Golongan Hidantoin, contohnya Fenitoin (Dilantin®). Fenitoin digunakan untuk bangkitan tonik klonik dan parsial, tanpa menyebabkan depresi umum SSP. Sifat antikonvulsi Fenitoin didasarkan pada penghambatan penjalaran rangsang dari fokus ke bagian lain di otak. Memiliki batas keamanan (indeks terapi) sempit sehingga lebih disukai penggunaan Fenobarbital terutama pada anak. Efek samping Fenitoin tersering adalah diplopia, ataksia vertigo, nistagmus, sukar berbicara disertai gejala lain berupa tremor, gugup, kantuk, rasa lelah, gangguan mental yang sifatnya berat, ilusi, halusinasi sampai psikotik. Pemberian sesudah makan atau dalam dosis terbagi dapat mencegah atau mengurangi gangguan saluran cerna. Fenitoin bersifat teratogenik pada wanita hamil trimester pertama kehamilan  bayi cacat congenital. Sediaan : kapsul 100 mg, tab kunyah 30 mg, suntik dan sirup

2. Golongan Barbiturat, contohnya Fenobarbital. Fenobarbital merupakan obat antikonvulsi pilihan karena cukup efektif dan murah, terutama untuk terapi kejang dan kejang demam pada anak Efek samping berupa sedasi, psikosis akut dan agitasi sehingga lebih sering dipakai adalah turunan fenobarbitalnseperti metabarbital atau mefobarbital. 3. Golongan Oksazolidindion, contohnya Trimetadion. Indikasinya hanya untuk bangkitan lena murni Terapi dengan Trimetadion dapat menimbullkan bangkitan tonik klonik, sudah jarang digunakan. 4. Golongan Suksimid, contohnya Etosuksimid, Metsuksimid dan Fensuksimid. Etosuksimid merupakan obat terpilih untuk bangkitan lena dan paling efektif dibandingkan Metsuksimid dan Fensuksimid.

5. Karbamazepin (Tegretol®). Pertama kali digunakan untuk pengobatan trigeminal neuralgia kemudian ternyata efektif terhadap bangkitan parsial dan bangkitan tonik-klonik. Karbamazepin mempunyai efek analgesik selektif misalnya pada neuropati yang sukar diatasi dengan analgesik biasa. Efek samping berupa pusing, vertigo, ataksia, diplopia dan penglihatan kabur. Fenobarbital dan Fenitoin dapat meningkatkan metabolisme Karbamazepin. Karbamazepin menurunkan kadar Asam Valproat, Fenobarbital dan Fenitoin. Sediaan : tab, chewable tab dan tab CR. 6. Golongan Benzodiazepin, contohnya Diazepam, Klonazepam, Nitrazepam. Diazepam digunakan untuk terapi konvulsi rekuren/berulang (misalnya status epileptikus), juga untuk terapi bangkitan parsial.

7. Asam Valproat (Depakene ®, Depakote ®) Efek terhadap SSP berupa kantuk, ataksia dan tremor, menghilang dengan penurunan dosis. Asam Valproat efektif terhadap epilepsi umum dan parsial. Toksisitas valproat berupa gangguan sal. cerna, sistem saraf, hati, ruam kulit dan alopesia. 8. Lain-lain Contohnya Fenasemid dan Asetazolamid. Fenasemid efektif terhadap epilepsi umum dan parsial, sering dikombinasi dengan Fenobarbital karena efek kantuk jarang ada. Asetazolamid berguna untuk mengatasi bengkitan lena dan bangkitan tonik klonik yang bangkitannya berhubungan dengan siklus menstruasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->