P. 1
Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah. Ringkasan Eksekutif Buku Pegangan Tahun 2010. Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan daeran dan Antardaerah.

Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah. Ringkasan Eksekutif Buku Pegangan Tahun 2010. Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan daeran dan Antardaerah.

|Views: 33|Likes:
Published by Oswar Mungkasa
Dokumen diterbitkan oleh Bappenas setiap tahun dengan tema yang berbeda-beda. Pertama kali diterbitkan tahun 2006
Dokumen diterbitkan oleh Bappenas setiap tahun dengan tema yang berbeda-beda. Pertama kali diterbitkan tahun 2006

More info:

Published by: Oswar Mungkasa on Oct 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/22/2013

pdf

text

original

Sections

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

PENDAHULUAN
 

 

 

Pemecahan masalah kemiskinan, pengangguran, ketahanan pangan, kerusakan  infrastruktur  dan  degradasi  lingkungan  di  daerah,  serta  percepatan  pertumbuhan  ekonomi  memerlukan  suatu  manajemen  pembangunan  yang  mengatur  koordinasi  dan  kerjasama  yang  solid  antara  Pemerintah  Pusat,  Pemerintah  Provinsi  dan  Pemerintah  Kabupaten/Kota.  Hambatan  yang  sering  muncul  dalam  penataan  manajemen  pembangunan  menyangkut  inkonsistensi  kebijakan  pusat  dan  daerah,  ketidakselarasan  antara  perencanaan  dan  penganggaran,  rendahnya  transparansi  dalam  perumusan  kebijakan  dan  program,  rendahnya  akuntabilitas  pemanfaatan  sumberdaya keuangan publik, dan belum optimalnya penilaian kinerja.     Perumusan  kebijakan,  program  dan  kegiatan  pembangunan  di  tingkat  pusat  perlu  mempertimbangkan  keragaman  kondisi  dan  dinamika  kehidupan  sosial,  budaya,  ekonomi  dan  politik  daerah.  Perumusan  kebijakan  perlu  didasarkan  pada  pemahaman  yang  akurat,  utuh,  lengkap,  dan  komprehensif  tentang  wilayah,  serta  komunikasi, koordinasi dan konsultasi secara terus menerus dengan para pengambil  keputusan  dan  pelaksana  kebijakan  di  setiap  daerah.  Hal  ini  berarti  bahwa  setiap  kementerian/lembaga  perlu  memperhatikan  karakteristik  dan  permasalahan  yang  dihadapi oleh rakyat di daerah, mempercepat pembangunan ekonomi daerah secara  efektif  dan  berkelanjutan,  memberdayakan  pelaku  dan  potensi  daerah,  serta  memperhatikan  penataan  ruang,  baik  fisik  maupun  sosial  sehingga  terjadi  pemerataan pertumbuhan ekonomi antaraderah.  Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah daerah mempunyai  kewenangan  untuk  merumuskan  kebijakan,  program  dan  kegiatan  pembangunan  sesuai dengan permasalahan yang terjadi di daerah. Di sisi lain, perumusan kebijakan,  program dan kegiatan pembangunan di daerah perlu mempertimbangkan tujuan dan  sasaran  pembangunan  nasional.  Dengan  kata  lain,  setiap  satuan  kerja  perangkat  daerah  (SKPD)  perlu  mempertimbangkan  berbagai  prioritas  program  dan  kegiatan  kementerian/lembaga dalam mencapai tujuan dan sasaran pembangunan nasional.  Secara internal, besarnya pasar domestik dan keragaman potensi antarwilayah  merupakan  potensi  yang  besar  untuk  membangun  perekonomian  yang  tangguh.  Mengingat  keterbatasan  sumberdaya  nasional,  maka  harus  diperkuat  hubungan  antara  pusat  dan  daerah  melalui  sinergi  antara  pusat‐daerah  sebagai  bagian  dari  strategi  dan  kebijakan  nasional  yang  komprehensif.  Hubungan  pusat‐daerah  merupakan  wujud  aktualisasi  komitmen  bersama  seluruh  elemen  bangsa  ketika  negara Republik Indonesia didirikan, yaitu suatu bangsa yang melekat dan menyatu  dalam tanah tumpah darah, yakni Indonesia.   Dalam tataran yang lebih luas, perlu adanya sinergi kementerian/lembaga dan  satuan  kerja  perangkat  daerah  (SKPD)  dari  sisi  perencanaan,  penganggaran,  pelaksanaan,  pengendalian  dan  pengawasan,  serta  evaluasi  berbagai  kebijakan,  program dan kegiatan pembangunan baik yang dibiayai melalui APBN maupun APBD.  Dari  segi  perencanaan,  berbagai  kebijakan,  prorgam  dan  kegiatan  pembangunan 

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐1     

   Ringkasan Eksekutif 

   

RPJMN menjadi acuan bagi kementerian/lembaga dalam penyusunan Rencana Kerja  Pemerintah  (RKP)  dan  Rencana  Kerja  (Renja)  Kementerian/Lembaga  yang  bersifat  tahunan.  RPJMD  menjadi  pedoman  dalam  penyusunan  Rencana  Kerja  Pemerintah  Daerah  (RKPD)  dan  Rencana  Kerja  SKPD  yang  bersifat  tahunan.  Penyelenggaraan  Musyawarah  Perencanaan  Pembangunan  (Musrenbang)  Kabupaten/Kota,  Musrenbang  Provinsi  dan  Musrenbang  Nasional  menjadi  forum  untuk  melakukan  sinergi program dan kegiatan pemerintah dan pemerintah daerah. Selain itu, sinergi  pusat  dan  daerah  perlu  mempertimbangkan  penataan  ruang  dan  pertanahan  secara  tertib dan tepat dengan memperhatikan kaidah teknis, ekonomis, kepentingan umum,  kualitas dan daya dukung lingkungan serta kepentingan antargenerasi.  Dari  segi  penganggaran,  sinergi  pusat  dan  daerah  terutama  menyangkut  keterpaduan  pengalokasian  dana  dekonsentrasi,  dana  tugas  perbantuan  dan  dana  perimbangan  dalam  mendukung  pelaksanaan  kebijakan,  prorgam  dan  kegiatan  kementerian/lembaga  yang  dituangkan  dalam  RKA‐KL,  dan  progam  dan  kegiatan  SKPD  dalam  RKA‐SKPD.  Dari  segi  pelaksanaan,  sinergi  pusat  dan  daerah  bertujuan  untuk mengoptimalkan pengelolaan anggaran kementerian/lembaga dan SKPD dalam  mendukung  peningkatan  pelayanan  publik,  perbaikan  produktivitas,  peningkatan  kualitas  pertumbuhan  ekonomi  wilayah,  dan  percepatan  pembangunan  wilayah  dengan  memperhatikan  berbagai  tujuan  dan  sasaran  pembangunan  nasional.  Dari  segi  pengendalian  dan  evaluasi,  sinergi  pusat  dan  daerah  perlu  dilakukan  untuk  menjamin  pelaksanaan  kebijakan,  prorgam  dan  kegiatan  kementerian/lembaga  dan  SKPD dapat mendukung pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan yang tertuang  dalam RPJMN 2010‐2014.  Adapun  tujuan  penyusunan  Buku  Pegangan  2010  ini,  secara  spesifik  dijabarkan menjadi beberapa poin di bawah ini:        menguraikan  prioritas  dan  sasaran  pokok  pembangunan  nasional  yang  merupakan  tanggung  jawab  bersama  pemerintah  pusat  dan  daerah  serta  lintaswilayah;  menjelaskan peluang dan tantangan baik internal maupun eksternal;  menjelaskan  pentingnya  membangun  sinergi  antarsektor,  antara  pusat  dan  daerah, dan antardaerah;  menguraikan  kebijakan,  mekanisme,  dan  instrumen  yang  bisa  digunakan  untuk membangun sinergi;  menginformasikan perkembangan penyelenggaraan pemerintahan daerah;  menjelaskan arah kebijakan pembangunan nasional.   

Melalui  Buku  Pegangan  yang  diterbitkan  setiap  tahun  ini,  semua  pihak  yang  berkepentingan  diharapkan  dapat  memperoleh  gambaran  umum  tentang  proses  penyelenggaraan  pemerintahan  dan  pembangunan  daerah.  Tema  utama  Buku  Pegangan Tahun 2010 ini adalah : “Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan  Antardaerah”. 

I‐2       

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

PEMBAGIAN KEWENANGAN PUSAT­DAERAH 
Dalam  mengatur  dan  mengurus  sendiri  urusannya,  pemerintah  daerah  menyelenggarakan  urusan  pemerintahan  yang  menjadi  kewenangannya,  kecuali  urusan  pemerintahan  yang  oleh  undang‐undang  ditentukan  menjadi  urusan  Pemerintah Pusat. Pengaturan terkait pembagian urusan ini diatur dalam Peraturan  Pemerintah  No.  38  Tahun    2007,  dalam  PP  tersebut  membagi  urusan  pemerintahan  menjadi  urusan  Pemerintah  dan  urusan  pemerintahan  yang  dibagi  bersama  antar  tingkatan  atau  susunan  pemerintahan.  Urusan  pemerintah  mencakup  bidang  luar  negeri,  pertahanan,  keamanan,  yustisi,  moneter,  fiskal  nasional,  dan  agama.  Sedangkan  urusan  yang  dibagi  bersama  antartingkatan  atau  susunan  pemerintahan  antara  lain:  pendidikan;  kesehatan;  pekerjaan  umum;  perumahan;  penataan  ruang;  perencanaan  pembangunan;  perhubungan;  lingkungan  hidup;  pertanahan;  kependudukan dan catatan sipil; pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak;  keluarga  berencana  dan  keluarga  sejahtera;  sosial;  ketenagakerjaan  dan  ketransmigrasian;  koperasi  dan  usaha  kecil  dan  menengah;  penanaman  modal;  kebudayaan dan pariwisata; kepemudaan dan olah raga; kesatuan bangsa dan politik  dalam negeri; otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah,  perangkat  daerah,  kepegawaian,  dan  persandian;  pemberdayaan  masyarakat  dan  desa; statistik; kearsipan; perpustakaan; komunikasi dan informatika; pertanian dan  ketahanan  pangan;  kehutanan;  energi  dan  sumber  daya  mineral;  kelautan  dan  perikanan; perdagangan; dan perindustrian.  Urusan  pemerintahan  yang  dibagi  bersama  antar  tingkatan  atau  susunan  pemerintahan, dibagi menjadi urusan wajib dan urusan pilihan. Urusan wajib terdiri  dari  urusan  di  bidang  pendidikan;  kesehatan;  lingkungan  hidup;  pekerjaan  umum;  penataan ruang; perencanaan pembangunan; perumahan; kepemudaan dan olahraga;  penanaman  modal;  koperasi  dan  usaha  kecil  dan  menengah;  kependudukan  dan  catatan  sipil;  ketenagakerjaan;  ketahanan  pangan;    pemberdayaan  perempuan  dan  perlindungan  anak;  keluarga  berencana  dan  keluarga  sejahtera;  perhubungan;  komunikasi dan informatika; pertanahan; kesatuan bangsa dan politik dalam negeri;  otonomi  daerah;  pemerintahan  umum;  administrasi  keuangan  daerah;  perangkat  daerah;  kepegawaian  dan  persandian;  pemberdayaan  masyarakat  dan  desa;  sosial;  kebudayaan;  statistik;  kearsipan;  dan  perpustakaan.  Sedangkan  urusan  pilihan  meliputi delapan bidang yaitu kelautan dan perikanan, pertanian, kehutanan, energi  dan sumber daya mineral, pariwisata, industri, perdagangan, dan ketransmigrasian.   Selanjutnya,  berdasarkan  peraturan  pemerintah  ini,  pemerintahan  daerah  diharapkan  menyusun  peraturan  daerah  tentang  urusan  yang  telah  menjadi  kewenangannya.  Kemudian,  pemerintahan  daerah  juga  diharapkan  menyusun  kelembagaan  atau  organisasi  perangkat  daerah  yang  sesuai,  untuk  melaksanakan  berbagai  urusan  yang  telah  menjadi  kewenangan  daerah  tersebut  dengan  mempertimbangkan potensi dan kemampuan tiap‐tiap daerah. Dalam melaksanakan  urusan  pemerintahan  baik  wajib  maupun  pilihan,  pemerintah  daerah  berpedoman  pada  Norma,  Standar,  Prosedur  dan  Kriteria  (NSPK)  yang  telah  disusun  oleh  Kementerian/Lembaga Pemerintah terkait. Khusus pelaksanaan urusan wajib, selain 
BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐3     

   Ringkasan Eksekutif 

   

berpedoman kepada NSPK juga harus berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal  (SPM).  Terkait  dengan  proses  pelaksanaan  SPM,  dengan  mengacu  pada  PP  No.  65  Tahun  2005  tentang  Pedoman  Penyusunan  dan  Penerapan  SPM,  telah  diterbitkan  Permendagri No. 6 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penetapan  SPM,  Permendagri  No.  79  Tahun  2007  tentang  Pedoman  Penyusunan  Rencana  Pencapaian  SPM,  Keputusan  Menteri  Dalam  Negeri  No.  100.05‐76  Tahun  2007  tentang  Pembentukan  Tim  Konsultasi  Penyusunan  SPM  dan  Surat  Edaran  Menteri  Dalam  Negeri  kepada  Gubernur/Bupati/Walikota  tentang  Pelaksanaan  SPM  di  daerah.  Sampai dengan awal Maret 2010 telah ditetapkan 6 (enam) Bidang SPM, yaitu:  SPM  Bidang  Pemerintahan  Dalam  Negeri,  SPM  Bidang  Kesehatan,  SPM  Bidang  Lingkungan  Hidup,  SPM  Bidang  Sosial,  SPM  Bidang  Perumahan  Rakyat,  serta  SPM  Bidang  Pelayanan  Terpadu  bagi  Saksi  dan/atau  Korban  Tindak  Pidana  Perdaganan  Orang.  Dari 6 (enam) Bidang SPM yang telah ditetapkan tersebut, diperkirakan baru  2  (dua)  Bidang  SPM  yang  dapat  diterapkan  pada  tahun  2010  karena  sudah  disusun  Analisis  Standar  Biaya  (ASB),  yaitu:  SPM  Bidang  Kesehatan  dan  Bidang  Lingkungan  Hidup. Selain 6 (enam) Bidang SPM, yang telah ditetapkan, Pemerintah saat  ini juga  sedang menyusun 8 (delapan) Bidang SPM lainnya, yaitu:   1. SPM bidang Pendidikan (disusun oleh Kementerian Pendidikan Nasional);  2. SPM  bidang  Kelurga  Berencana  dan  Keluarga  Sejahtera  (disusun  oleh  Badan  Koordinasi Keluarga Berencana Nasional);  3. SPM  bidang  Pelayanan  Terpadu  Bagi  Anak  dan  Perempuan  Korban  Kekerasan  (disusun oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan);  4. SPM  bidang  Ketenagakerjaan  (disusun  oleh  Kementerian  Tenaga  Kerja  dan  Transmigrasi);  5. SPM bidang Pekerjaan Umum (disusun oleh Badan Ketahanan Pangan);  6. SPM Bidang Ketahanan Pangan (disusun oleh Badan Ketahanan Pangan);  7. SPM bidang Perhubungan (disusun oleh Kementerian Perhubungan);  8. SPM bidang Budaya (disusun oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata). 

I‐4       

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

URUSAN BERSAMA LINTAS SEKTOR  
 

Peningkatan Investasi Sektor Riil 
Pemerintah  sudah  melaksanakan  beberapa  upaya  terkait  peningkatan  iklim  investasi dan sektor riil diantaranya:  (1)   Kemudahan Pelayanan   Salah satu bentuk kelembagaan pemerintah daerah yang sedang ditingkatkan  terkait  pelayanan  publik  adalah  Pelayanan  Terpadu  Satu  Pintu  (PTSP).  Pelayanan  satu  pintu  ini  diharapkan  dapat  memberikan  pelayanan  yang  cepat,  mudah,  transparan,  dan  akuntabel  sehingga  dapat  mendorong  peningkatan  penanaman  modal  di  daerah.  Sistem  pelayanan  ini  dikembangkan  dalam  rangka  mendorong  pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi, sesuai Instruksi Presiden No. 3  Tahun  2006  tentang  Paket  Kebijakan  Perbaikan  Iklim  Investasi.  Sampai  dengan  Februari  2010,  jumlah  Kabupaten/Kota  yang  telah  memiliki  PTSP  atau  One  Stop  Service  (OSS)  adalah  341  dari  491  Kabupaten/Kota.  Terkait  dengan  hal  tersebut,  beberapa  wilayah  di  Indonesia  telah  melaksanakan  pelayanan  terpadu  satu  pintu  dengan  berbagai  macam  bentuk  kelembagaan,  yaitu  kantor,  badan  dan  unit  pelayanan.  (2) Kepastian Hukum  Terkait  dengan  upaya  pemerintah  untuk  menciptakan  iklim  usaha  yang  kondusif di daerah, pemerintah pusat telah melakukan evaluasi terhadap       perda‐ perda tentang pungutan daerah (pajak daerah dan retribusi daerah) dan selanjutnya  membatalkan/merevisi  perda‐perda  yang  dinilai  telah  menimbulkan  biaya  ekonomi  tinggi  bagi  peningkatan  penanaman  modal  dan  sektor  riil  di  daerah.  Upaya  review  dan kajian ini bertujuan untuk mensinkronisasikan berbagai peraturan perundangan  yang ada di daerah dengan regulasi Pusat.  (3)  Info Potensi Daerah   Sebagai  wujud  transparansi  publik  dalam  agenda  reformasi  birokrasi,  Pemerintah  tengah  mengarahkan  pengembangan  perolehan  akses  informasi  yang  dibutuhkan masyarakat dan kalangan usaha. Hal ini tercermin dalam Inpres Nomor 3  tahun  2003  tentang  Kebijakan  dan  Strategi  Nasional  Pengembangan  e‐Government  yang menyebutkan bahwa arah pengembangan e­government ditujukan untuk :   Pembentukan  jaringan  informasi  dan  transaksi  pelayanan  publik  (web  presence).   Pembentukan hubungan interaktif dengan dunia usaha (interaction).   Pembentukan  mekanisme  dan  saluran  komunikasi  dengan  lembaga‐lembaga  negara (transaction).   Pembentukan sistem manajemen dan proses kerja (transformation).  (4) Kerjasama Antardaerah  Dalam  mengembangkan  potensi  daerahnya,  masing‐masing  daerah  dapat  melakukan kerjasama dengan berpedoman pada PP 50 Tahun 2007 tentang Tata Cara 
BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 
 

I‐5     

   Ringkasan Eksekutif 

   

Pelaksanaan  Kerjasama  Daerah.  Beberapa  prinsip  diantara  prinsip  good  governance  yang  ada  dapat  dijadikan  pedoman  dalam  melakukan  kerjasama  antar  Pemda  yaitu  (1) Transparansi; (2) Akuntabilitas; (3) Partisipatif; (4) Efisiensi; (5) Efektivitas; (6)  Konsensus; (7) Saling menguntungkan dan memajukan.   (5) Kebijakan Ketenagakerjaaan  Arah kebijakan ketenagakerjaan meliputi upaya mendorong terselenggaranya  sosialisasi amandemen Undang‐Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,  agar  dapat  berjalan  dengan  baik.  Beberapa  hal  yang  patut  mendapat  sorotan  dalam  penyempurnaan  UU  No.  13/2003  adalah  yang  berkaitan  dengan  pengupahan,  pesangon,  pekerja  kontrak  serta  outsourcing.  Dalam  rangka  mewujudkan  suatu  perlindungan  tenaga  kerja,  pemerintah  harus  melakukan  berbagai  hal,  antara  lain  dengan:  (a)  menetapkan  besarnya  pesangon  yang  harus  dibayarkan  pemberi  kerja,  (b)  menetapkan  batasan‐batasan  terhadap  penggunaan  pekerja  untuk  jangka  waktu  tertentu (kontrak kerja), dan (c) kegiatan pengalihan pekerjaan melalui sistem kerja   borongan (outsourcing).   Urusan  ketenagakerjaan  adalah  salah  satu  urusan  wajib  yang  harus  dilaksanakan  oleh  pemerintah  daerah  provinsi  dan  pemerintah  daerah  kabupaten/kota.  Karena  itu  pemerintah  daerah  perlu  menjaga  agar  kondisi  pasar  kerja di daerahnya semakin baik. Untuk itu pemerintah daerah bersama‐sama dengan  pemerintah  pusat  perlu  menyusun  kebijakan  bersama  dalam  rangka  menciptakan  lapangan pekerjaan bagi para penganggur di daerahnya.  Kebijakan  ketenagakerjaan  yang  baik  akan  mendorong  penciptaan  kesempatan  kerja  baru  dan  menurunkan  tingkat  pengangguran.  Untuk  mewujudkannya, Pemerintah  daerah  bersama‐sama  dengan  pemerintah  pusat  perlu  melaksanakan:  (1) Mensosialisasikan  rancangan  amandemen  UU  No.  13/2003  kepada  serikat  pekerja, asosiasi pengusaha, perusahaan, lembaga legislatif tingkat Provinsi,  dan  Kabupaten/Kota;  (2) Meningkatkan  kualitas  hubungan  industrial  antara  pekerja  dan  pemberi  kerja  dalam  rangka  mendorong  pencapaian  proses  negosiasi  bipartite,  dengan  meningkatkan teknik‐teknik bernegosiasi;  (3) Memperkuat kapasitas organisasi serikat pekerja dan asosiasi pengusaha; dan  (4) Memberikan  pemahaman  dan  menyamakan  persepsi  tentang  peraturan/kebijakan ketenagakerjaan dengan cara melakukan dialog; serta  (5) Meningkatkan  edukasi  pekerja  dan  pengusaha  dalam  penanganan  dan  penyelesaian perselisihan hubungan industrial.  Fasilitasi dari pemerintah daerah untuk mendorong kualitas hubungan antara  pekerja dan pemberi kerja yang lebih baik, dapat mengurangi terjadinya perselisihan  bahkan  lebih  luas  lagi  dapat  menekan  terjadinya  pemogokan  kerja.  Kebijakan  ini  merupakan  salah  satu  upaya  dalam  rangka  menciptakan  kesempatan  kerja  melalui  investasi. 
 

I‐6       

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

Penanggulangan Kemiskinan 
Kemiskinan masih menjadi salah satu masalah bangsa yang genting dan harus  segera  diselesaikan  disamping  permasalahan  strategis  lainnya  dalam  lima  tahun  ke  depan.  Isu  kemiskinan  ini  sangat  erat  kaitannya  dengan  masalah  pangan,  tingkat  pengangguran,  pembangunan  sosial,  dan  peningkatan  kualitas  hidup  melalui  pencapaian  target‐target  MDG’s.  Oleh  karena itu,  pemerintah  sudah  dan  masih  akan  terus memberikan prioritas terhadap upaya penanggulangan kemiskinan.  Pemerintah  telah  menetapkan  pengurangan  kemiskinan  sebagai  prioritas  utama  pembangunan  dalam  RPJMN  2010‐2014.  Oleh  karena  itu  strategi  penanggulangan  kemiskinan  yang  diupayakan,    dilakukan  secara  berlapis  dan  bersinergi,  dan    dapat  dibagi  menjadi  3  klaster,  yaitu:  (i)  klaster  1,  bantuan  dan  perlindungan  sosial,  melalui  program  ini  pemerintah  memberikan  pemenuhan  hak‐ hak  dasar,  pengurangan  biaya  hidup,  dan  perbaikan  kualitas  hidup  pada  rumah  tangga  sasaran  dan  kelompok  rentan  lainnya;  (ii)  klaster  2,  pemberdayaan  masyarakat,  melalui  program  ini  pemerintah  mendorong  keberdayaan  masyarakat  terutama  masyarakat  miskin  untuk  mengembangkan  potensi  dan  memperkuat  kapasitasnya  dan  ikut  berpartisipasi  dalam  pembangunan;  dan  (iii)  Klaster  3,  pemberdayaan usaha mikro dan kecil, melalui program ini pemerintah memberikan  akses dan penguatan ekonomi bagi pelaku usaha mikro dan kecil.  Namun  demikian,  upaya  penanggulangan  kemiskinan  secara  menyeluruh  membutuhkan  dukungan  stabilitas  makroekonomi  dan  perekonomian  lokal.  Oleh  karena  itu,  stabilitas  makroekonomi  dan  perekonomian  lokal  perlu  dijaga  agar  pembangunan  pro  terhadap  masyarakat  miskin.  Pemerintah  akan  terus  meningkatkan  koordinasi  penanggulangan  kemiskinan  agar  program  penanggulangan  kemiskinan  berjalan  lebih  efektif  dan  efisien  baik  di  tingkat  pusat  maupun  di  tingkat  daerah.  Upaya  penanggulangan  kemiskinan  secara  menyeluruh  membutuhkan dukungan keterlibatan semua pihak:  (1) Bantuan dan Perlindungan Sosial   Pemerintah  telah  menyelenggarakan  pelayanan  kesejahteraan  sosial  melalui  berbagai sasaran dan implementasi program. Dalam UU No. 40 Tahun 2004 tentang  Sistem  Jaminan  Sosial  Nasional  pemerintah  berkewajiban  menyediakan  jaminan  sosial    secara  menyeluruh  dan  mengembangkan  penyelenggaraan  jaminan  sosial  untuk  seluruh  lapisan  masyarakat.  Upaya  peningkatan  pelayanan  kesejahteraan  sosial juga dilakukan antara lain melalui: (i) Mengembalikan fungsi‐fungsi panti sosial  sebagai  tempat  pelaksanaan  kegiatan  pelayanan  sosial;  (ii)  Meningkatkan  kapasitas  individu  dan  kelembagaan  PMKS  sebagai  upaya  pemberdayaan  sosial;  (iii)  Peningkatan  jumlah  sasaran  untuk  program  jaminan  sosial  yang  sudah  ada  khususnya  untuk  pekerja  sektor  informal  yang  saat  ini  belum  dijangkau;  (iv)  Pelaksanaan  sosialisasi  dan  peningkatan  pemahaman  secara  menyeluruh  kepada  masyarakat mengenai jaminan sosial berbasis masyarakat. 

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐7     

   Ringkasan Eksekutif 

   

(2) Program Jaminan Sosial Kesehatan Bagi  Seluruh Penduduk  Program  Jaminan  Kesehatan  Masyarakat  (Jamkesmas)  bagi  penduduk  miskin  telah  mampu  meningkat  cakupannya.    Namun  demikian,  program  ini  belum  sepenuhnya  dapat  meningkatkan  status  kesehatan  masyarakat  miskin  terutama  untuk  daerah  tertinggal,  terpencil,  perbatasan  dan  kepulauan.  Strategi  yang  ditetapkan untuk pengembangan sistem jaminan kesehatan masyarakat, antara lain :  (1)  peningkatan  akses  dan  kualitas  pelayanan  jaminan  kesehatan  masyarakat;  (2)  peningkatan  cakupan  jaminan  kesehatan  masyarakat  semesta  secara  bertahap;  (3)  peningkatan  pembiayaan  pelayanan  kesehatan  dasar  (esensial)  bagi  penduduk  miskin dan golongan rentan (bayi, ibu hamil dan lansia).  (3)   Pemberdayaan Masyarakat  Upaya penanggulangan kemiskinan perlu didukung oleh partisipasi masyarakat,  karena Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam mengatasi masalah kemiskinan.  Pemberdayaan  masyarakat  dapat  menguatkan  kapasitas  dan  potensi  masyarakat  untuk  turut  berpartisipasi  dalam  pembangunan  khususnya  upaya  pengurangan  kemiskinan.    Salah  satu  upaya  yang  dilakukan  oleh  pemerintah  dalam  rangka  mengurangi  angka  kemiskinan  melalui  pendekatan  pemberdayaan  masyarakat  adalah  dengan  melaksanakan Program  Nasional  Pemberdayaan  Masyarakat  (PNPM)  Mandiri.    PNPM  Mandiri  difokuskan  pada  terbangunnya  kapasitas  dan  keberdayaan  masyarakat  dalam  skala  komunitas  untuk  bersama‐sama  memahami  penyebab  kemiskinan,  mencari  alternatif  solusi  dengan  skala  prioritas,  dan  melaksanakan  kegiatan  yang  secara  nyata  berpengaruh  besar  terhadap  peningkatan  kesempatan  kepada  kelompok  miskin  untuk  dapat  meningkatkan  kesejahteraannya,  baik  di  daerah perkotaan maupun perdesaan.   (4) Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah  Pemberdayaan  koperasi  dan  usaha  mikro,  kecil  dan  menengah  (UMKM)  ditempatkan  dalam  konteks  tidak  saja  untuk  memperbaiki  struktur  ekonomi  dan  distribusi  pendapatan  yang  lebih  merata  dan  berkeadilan,  terutama  yang  berkaitan  dengan  upaya  penanggulangan  kemiskinan,  namun  juga  untuk  mewujudkan  pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing. Upaya penguatan sinergi Pusat ‐  Daerah diarahkan pada lima fokus prioritas pemberdayaan koperasi dan UMKM yaitu  (1)  peningkatan  iklim  usaha  yang  kondusif  bagi  koperasi  dan  UMKM,  (2)  pengembangan  produk  dan  pemasaran  bagi  koperasi  dan  UMKM,  (3)  peningkatan  daya  saing  SDM  koperasi  dan  UMKM,  (4)  penguatan  kelembagaan  koperasi,  dan  (5)  peningkatan  akses  usaha  mikro  dan  kecil  kepada  sumber  daya  produktif.  Sinergitas  dalam upaya peningkatan iklim usaha yang kondusif bagi koperasi dan UMKM dapat  diarahkan  untuk  menghapus  peraturan‐peraturan  sektoral  dan  daerah  yang  menghambat  atau  merugikan  UMKM,  dan  memfasilitasi  usaha  mikro  dan  kecil  yang  memulai usaha, termasuk melindungi mereka dari persaingan usaha yang tidak sehat.   Sementara  itu,  sinergi  yang  dapat  dibangun  dalam  rangka  mengembangkan  produk dan pemasaran bagi koperasi dan UMKM dapat difokuskan pada pembinaan  UMKM  berbasis  produk  unggulan,  inovasi  dan  berorientasi  ekspor,  yang  disertai 
BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐8       

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

dengan pengembangan kemitraan dan pembimbingan dan pelatihan kepada lembaga  pendukung  usaha.  Upaya‐upaya  sinergi  juga  dapat  dilakukan  dalam  rangka  meningkatkan  daya  saing  SDM  koperasi  dan  UMKM  melalui  penguatan  kompetensi  pelaku  usaha  dan  jiwa  wirausaha,  yang  disertai  dengan  revitalisasi  lembaga  pendidikan dan pelatihan koperasi dan UMKM, dan pengoptimalan layanan inkubator  bisnis. Upaya lainnya yaitu dengan meningkatkan akses usaha mikro dan kecil kepada  sumber  daya  produktif,  terutama  akses  pada  sumber  permodalan,  teknologi  dan  pasar.  Upaya  perkuatan  kelembagaan  koperasi  juga  membutuhkan  adanya  sinergi  antara  Pemerintah  Pusat‐Daerah  mengingat  pemasyarakatan  praktik  berkoperasi  yang  benar  yang  disertai  dengan  contoh‐contoh  koperasi  yang  sukses  perlu  terus  dilakukan  dengan  melibatkan  seluruh  aparat  pembina  di  tingkat  pusat  dan  daerah.  Gerakan koperasi juga perlu didorong untuk meningkatkan kemandiriannya sehingga  dapat melengkapi upaya‐upaya yang dilakukan oleh Pemerintah.  Secara keseluruhan,  hasil  yang  dapat  diharapkan  dari  penguatan  sinergi  Pemerintah  Pusat‐Daerah  dan  Antardaerah dalam pemberdayaan koperasi dan UMKM yaitu terwujudnya perbaikan  iklim  usaha  dan  sistem  pendukung  usaha  yang  memungkinkan  berkembangnya  kesempatan usaha dan produktivitas koperasi dan UMKM. 

Ketahanan Pangan dan Perbaikan Gizi Masyarakat 
Mengacu  kepada  Undang‐undang  Nomor  1  Tahun  1996  tentang  Pangan,  ketahanan  pangan  dapat  didefinisikan  sebagai  suatu  kondisi  ketersediaan  dan  konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang hingga ke tingkat  rumah  tangga.  Dengan  demikian,  ketahanan  pangan  pada  level  nasional  dan  daerah  hanya  dapat  diwujudkan  apabila  ketiga  komponen  mampu  dipenuhi,  yaitu  ketersediaan,  distribusi  dan  aksesibilitas,  serta  konsumsi.  Sementara  pada  level  rumah  tangga  maupun  individu,  kualitas  dan  kuantitas  konsumsi  menjadi  prasyarat  utama dalam mendukung mewujudkan ketahanan pangan nasional dan wilayah.   Ketersediaan  pangan  pada  suatu  daerah  dapat  dipenuhi  dari  dua  cara,  yaitu  produksi bahan pangan dan dengan mendatangkan pangan dari daerah luar (impor).  Namun  demikian,  bagi  daerah  yang  berpotensi  memproduksi  bahan  pangan,  tentu  menjadikan impor sebagai alternatif terakhir dalam memenuhi ketersediaan pangan  di  daerahnya.  Khusus  untuk  daerah  sentra  produksi  pangan,  upaya  untuk  menjaga  tingkat produksi pada tingkat optimal merupakan tantangan tersendiri agar produksi  pangan dapat terus berlanjut.   Selanjutnya,  distribusi  pangan  yang  merata  serta  dapat  terjangkau  oleh  masyarakat  merupakan  kondisi  yang  harus  dipenuhi  dalam  menyediakan  pangan  bagi  masyarakat/konsumen.  Untuk  memenuhi  kondisi  tersebut,  maka  harus  ditunjang dengan penyediaan infrastruktur transportasi dan tata niaga pangan yang  baik. Sementara itu, tingkat daya beli masyarakat dan pemahaman akan pola pangan  sehat  menjadi  faktor  yang  sangat  menentukan  tingkat  konsumsi  yang  cukup,  aman,  bermutu, dan bergizi seimbang.  

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐9     

   Ringkasan Eksekutif 

   

(1)  Ketahanan Pangan  Penekanan  komponen  pertama  dalam  ketahanan  pangan  adalah  ketersediaan,  dan  bukan  kepada  produksi.  Hal  ini  memberikan  pengertian  bahwa  dalam  suatu  wilayah,  baik  nasional  maupun  daerah,  tetap  harus  memperhatikan  ketersediaan  pangan  termasuk  bagi  daerah  yang  secara  comparative  advantages‐nya  bukan  produsen  bahan  pangan.  Komponen  kedua  adalah  distribusi  dan  aksesibilitas.  Distribusi  dapat  dilihat  dari  dua  hal,  yaitu:  (i)  distribusi  antar  waktu  yang  menunjukkan  kondisi  pergerakan  harga  dalam  periode  waktu,  serta  (ii)  distribusi  antar  wilayah  yang  menunjukkan  persebaran  produk  pada  berbagai  daerah.   Sementara dari sisi wilayah, kondisi geografis suatu daerah akan sangat menentukan  kelancaran  distribusi  pangan  ke  daerah.  Bahkan  untuk  beberapa  daerah,  apabila  kondisi  iklim  tidak  baik  akan  sangat  mempengaruhi  distribusi,  seperti  daerah  kepulauan  dan  pegunungan.  Dalam  menghadapi  tantangan  geografis  tersebut,  maka  keberadaan  infrastruktur  akan  sangat  mendukung  kelancaran  distribusi  pangan.  Selanjutnya, aksesibilitas masyarakat menunjukkan tingkat kemampuan masyarakat  dalam  memperoleh  pangan.  Aksesibilitas  juga  sangat  dipengaruhi  dengan  kondisi  fisik wilayah (akses fisik) dan daya beli masyarakat (akses non fisik).   (2)  Kebijakan Perbaikan Gizi Masyarakat  Dalam  penanganan  masalah  gizi,  beberapa  faktor  yang  mempengaruhi,  antara  lain,  adalah  masih  tingginya  angka  kemiskinan;  rendahnya  kesehatan  lingkungan;  belum  optimalnya  kerjasama  lintas  sektor  dan  lintas  program;  melemahnya  partisipasi  masyarakat;  terbatasnya  aksesibilitas  pangan  pada  tingkat  keluarga  terutama pada keluarga miskin; tingginya penyakit infeksi; belum memadainya pola  asuh  ibu;  dan  rendahnya  akses  keluarga  terhadap  pelayanan  kesehatan  dasar.  Penanganan  masalah  gizi  memerlukan  upaya  komprehensif  dan  terkoordinasi,  dari  mulai  proses  produksi  pangan,  pengolahan,  distribusi,  hingga  konsumsi  yang  cukup  nilai  gizinya  dan  aman  dikonsumsi.  Oleh  karena  itu,  kerjasama  lintas  bidang  dan  lintas  program  terutama  pertanian,  perdagangan,  perindustrian,  transportasi,  pendidikan,  agama,  kependudukan,  perlindungan  anak,  ekonomi,  kesehatan,  pengawasan  pangan  dan  budaya  sangat  penting  dalam  rangka  sinkronisasi  dan  integrasi kebijakan perbaikan status gizi masyarakat.    

Pembangunan Kawasan 
Pembangunan Kawasan Perbatasan  Pengelolaan  batas  wilayah  dan  pengembangan  kawasan  perbatasan  juga  memerlukan  kerjasama  yang  erat  antara  Pemerintah,  Pemerintah  provinsi,  dan  pemerintah  Kabupaten/Kota  terkait.  Saat  ini  pemerintah  telah  memiliki  dasar  pengaturan tentang  pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, provinsi dan  kabupaten/kota  dalam  pengelolaan  batas  wilayah  dan  pengembangan  kawasan  perbatasan  yang  dirumuskan  dalam  UU  No  43/2008  tentang  Wilayah  Negara.  Berdasarkan  tabel  dibawah  ini,  terlihat  bahwa  pengelolana  batas  wilayah  dan  pengembangan kawasan perbatasan merupakan urusan bersama, bukan semata‐mata 

BUKU PEGANGAN 2010 
I‐10        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

menjadi  kewenangan  Pemerintah,  namun  juga  menjadi  kewenangan  Pemerintah  Provinsi  dan Pemerintah Kabupaten/Kota terkait.  Disamping  pentingnya  keterpaduan  antar  sektor  dan  antar  pusat‐daerah,  persoalan‐persoalan  di  kawasan  perbatasan  yang  berjuga  perlu  ditangani  melalui  kerjasama  antar  wilayah.  Hal  ini  disebabkan  isu‐isu  yang  terjadi  di  kawasan  perbatasan  bersifat  lintas  administrasi  wilayah,  termasuk  lintas  negara.  Dengan  demikian kerjasama yang perlu dilakukan bukan hanya kerjasama antar pemerintah  daerah,  namun  juga  kerjasama  antara  pemerintah  daerah  dengan  pemerintahan  di  bagian wilayah negara tetangga.  Beberapa hal yang memerlukan kerjasama dengan  negara  tetangga  misalnya  pengawasan  dan  penanganan  kebakaran  hutan,  penanggulangan  penyakit  menular,  promosi  pariwisata,    pembangunan  PLB/CIQS,  pencegahan  penyelundupan,  transportasi  antar  wilayah,  dan  sebagainya.  Sebagai  contoh  forum  kerjasama  antara  wilayah  perbatasan  dengan  Negara  tetangga  yang  telah  berjalan  saat  ini  adalah  forum  kerjasama  Sosial  Ekonomi  Malaysia  Indonesia  (Sosek  Malindo)  antara  Provinsi  Kalbar,  Kaltim,  Riau,  dan  Kepulauan  Riau  dengan  Negara Bagian Sabah‐Sarawak (Malaysia).  Untuk  menciptakan  kondisi  keamanan  dan  ketertiban  di  wilayah  perbatasan  dan  pulau‐pulau  kecil  terluar  berpenghuni,  Polri  secara  rutin  terus  melakukan  pembinaan  keamanan  dan  ketertiban.  Kawasan  perbatasan  dan  pulau‐pulau  kecil  terluar berpenghuni, relatif rawan terhadap aktivitas illegal yang melintas perbatasan  baik yang dilakukan oleh warga negara Indonesia maupun oleh warga negara asing.  Oleh  karena  itu,  untuk  meningkatkan  kemampuan  pelaksanaan  tugas  dan  fungsi  kepolisian  di  kawasan  perbatasan,  dalam  tahun  2010  Polri  melalui  Program  Peningkatan  Sarana  dan  Prasana  Kepolisian  melaksanakan  pengadaan  materiil  dan  sarana  prasarana  perbatasan,  diantaranya  meliputi  sarana  komunikasi,  sarana  transportasi darat dan laut, serta sarana markas Polsek dan Pospol.  Kebijakan Pembangunan Perkotaan dan Perdesaan  Arah  kebijakan  pembangunan  perkotaan  pada  2010–2014  adalah  mengembangkan  kota  sebagai  suatu  kesatuan  kawasan/wilayah,  yaitu  kota  sebagai  pendorong  pertumbuhan  nasional  dan  regional  serta  kota  sebagai  tempat  tinggal  yang  berorientasi  pada  kebutuhan  penduduk  kota.  Prinsip  pembangunan  perkotaan  adalah  mewujudkan:  (a)  kota  yang  nyaman/layak  huni,  yaitu  kota  yang  dapat  memenuhi  kebutuhan  warganya  akan  kenyamanan  hidup,  fisik,  sosial  budaya  dan  lingkungan;  (b)  kota  yang  berkelanjutan,  yaitu  kota  yang  dapat  mengantisipasi  perubahan  iklim  dan  bencana  alam  serta  memenuhi  keperluan  hidup  manusia  kini  dengan  tanpa  mengabaikan  keperluan  hidup  manusia  masa  datang;  (c)  kota  yang  berkeadilan,  yaitu  kota  yang  menyediakan  ruang  hidup  dan  usaha  bagi  seluruh  golongan  masyarakat;  serta  (d)  kota  sebagai  pendorong  pertumbuhan  yang  mampu  berkompetisi  dalam  perkembangan  ekonomi  global  dengan  memanfaatkan  potensi  sosial budaya dan kreatifitas lokal serta mampu menciptakan hierarki pasar bagi kota  menengah, kecil dan perdesaan.  

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐11     

   Ringkasan Eksekutif 

   

Pembangunan  perdesaan  menghadapi  berbagai  masalah,  yang  antara  lain,  belum  optimalnya  kebijakan  dan  program‐program  dari  berbagai  sektor  yang  berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat  perdesaan, belum optimalnya koordinasi antarpemerintah desa dan kabupaten/kota  serta  berkembangnya  mekanisme  koordinasi  dengan  berbagai  pemangku  kepentingan  termasuk  K/L  dalam  pembangunan  perdesaan  serta  masih  belum  optimalnya  keberpihakan  dari  kepemimpinan  lokal  dan  kelembagaan  pemerintahan  baik  di  pusat  maupun  di  daerah  dalam  pembangunan  perdesaan.  Arah  kebijakan  pembangunan  perdesaan  tahun  2010‐‐2014  adalah  memperkuat  kemandirian  desa  dalam  pemerintahan,  pembangunan  dan  kemasyarakatan;  meningkatkan  ketahanan  desa  sebagai  wilayah  produksi;  serta  meningkatkan  daya  tarik  perdesaan  melalui  peningkatan kesempatan kerja, kesempatan berusaha dan pendapatan seiring dengan  upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia dan lingkungan.  Kebijakan Penanggulangan Bencana  Pada  pelaksanaan  RPJMN  pertama  (2004‐2009)  upaya  penanggulangan  bencana dan pengurangan risiko bencana telah ditetapkan Undang‐Udang Nomor 24  Tahun  2007  tentang  penanggulangan  bencana,  serta  tiga  Peraturan  Pemerintah  turunannya,  yaitu:  (1)  PP  Nomor  21  tahun  2008  tentang  Penyelenggaraan  Penanggulangan  Bencana;  (2)  PP  Nomor  22  tahun  2008  tentang  Pendanaan  dan  Pengelolaan  Bantuan  Bencana;  serta  (3)  PP  Nomor  23  tahun  2008  tentang  Peran  Serta  Lembaga  Internasional  dan  Lembaga  Asing  Non‐Pemerintah  dalam  Penanggulangan Bencana.   Selanjutnya  pada  pelaksanaan  RPJMN  kedua  (2010‐2014)  pada  triwulan  pertama,  sebagai  penjabaran  upaya  pengurangan  risiko  bencana  telah  diterbitkan  Peraturan  Kepala  BNPB  No.5  Tahun  2010  tentang  Rencana  Aksi  Nasional  Pengurangan  Risiko  Bencana  (RAN  PRB)  2010‐2012  yang  digunakan  sebagai  masukan  terhadap  penyusunan  RKP  tahunan,  juga  sebagai  acuan  bagi  pelaksanaan  upaya pengurangan risiko bencana bagi lembaga‐lembaga non pemerintah termasuk  lembaga/organisasi  internasional,  sesuai  dengan  penjelasan  di  dalam  Undang‐ Undang  Nomor  24  Tahun  2007  bahwa  penanggulangan  bencana  merupakan  tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, lembaga/organisasi  non pemerintah, swasta dan masyarakat.  Selain  Undang‐undang  No.24  Tahun  2007  tentang  Penanggulangan  Bencana,  upaya  mitigasi  dan  pengurangan  risiko  bencana  juga  telah  dikerangkakan  dalam  kebijakan  penataan  ruang  dalam  Undang‐undang  No.26  Tahun  2007  tentang  Penataan Ruang, bahwa secara geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia berada  pada  kawasan  rawan  bencana  sehingga  diperlukan  penataan  ruang  yang  berbasis  mitigasi  bencana  sebagai  upaya  meningkatkan  keselamatan  dan  kenyamanan  kehidupan  dan  penghidupan.  Sedangkan  Undang‐undang  No.27  tahun  2007  tentang  Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau‐Pulau Kecil, bahwa Dalam menyusun rencana  pengelolaan  dan  pemanfaatan  Wilayah  Pesisir  dan  Pulau–Pulau  Kecil  terpadu,  Pemerintah  dan/atau  Pemerintah  Daerah  wajib  memasukkan  dan  melaksanakan 

BUKU PEGANGAN 2010 
I‐12        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

bagian yang memuat mitigasi bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau‐Pulau Kecil sesuai  dengan jenis, tingkat, dan wilayahnya.  Namun  demikian  bencana  alam  tetap  saja  tidak  dapat  dihindarkan.  Untuk  itu,  maka  upaya  pengurangan  risiko  bencana  menjadi  sangat  penting  sebagai  prioritas  ditingkat  nasional  dan  di  daerah.  Untuk  meningkatkan  kemampuan  dan  efektifitas  penanganan  kedaruratan,  pemerintah  melalui  inisiatif  Presiden  membentuk  Satuan  Reaksi  Cepat  Penanggulangan  Bencana.  Pengurangan  risiko  bencana  dalam  pembangunan  nasional  lima  tahun  kedepan  masih  dihadapkan  pada  masalah  belum  memadainya  kinerja  penanggulangan  bencana,  serta  masih  rendahnya  kesadaran  terhadap  risiko  bencana  dan  masih  rendahnya  pemahaman  terhadap  kesiapsiagaan  dalam  menghadapi  bencana.  Selanjutnya  arah  kebijakan  yang  akan  dtempuh  untuk  mencapai  sasaran  pengurangan  risiko  bencana,  meliputi  pengarusutamaan  pengurangan  risiko  bencana  sebagai  prioritas  pembangunan  nasional  dan  daerah,  penguatan  kapasitas  penanggulangan  bencana  di  pusat  dan  daerah,  optimalisasi  instrumen  pengendalian  pemanfaatan  ruang  dalam  aspek  pengurangan  risiko  bencana,  mendorong  keterlibatan  dan  partisipasi  masyarakat  dalam  upaya  penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana, peningkatan sumber daya  penanganan  kedaruratan  dan  bantuan  kemanusiaan,  serta  percepatan  pemulihan  wilayah yang terkena dampak bencana. 
                                           

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐13     

   Ringkasan Eksekutif 

   

MEKANISME DAN INSTRUMEN UNTUK SINERGI   PUSAT­DAERAH DAN ANTARDAERAH 
 

Harmonisasi Peraturan Perundang­Undangan 
Upaya  pengharmonisasian  peraturan  perundang‐undangan  dilakukan,  selain  untuk  memenuhi  ketentuan  Pasal  18  ayat  (2)  Undang‐Undang  Nomor  10  Tahun  2004  tentang Pembentukan Peraturan Perundang‐undangan, paling tidak  ada 3 alasan lain  yang  perlu  dipertimbangkan,  yaitu  (1)  Peraturan  perundang‐undangan  merupakan  bagian  integral  dari  sistem  hukum;  (2)  Peraturan  perundang‐undangan  dapat  diuji  (judicial  review)  baik  secara  materiel  maupun  formal;  serta  (3)  Menjamin  proses  pembentukan  peraturan  perundang‐undangan  dilakukan  secara  taat  asas  demi  kepastian hukum.   Mekanisme  Harmonisasi  Permasalahannya  Peraturan  Perundang­Undangan  Serta 

1. Peraturan  Perundang­undangan  di  Tingkat  Pusat,  mekanisme  harmonisasi  terdiri dari beberapa tahap yaitu :  a. Proses pengharmonisasian pada tahap penyusunan Prolegnas.  b. Pengharmonisasian di Tingkat Internal/Antardep pada Pemrakarsa.  c. Koordinasi pengharmonisasian oleh Kementerian Hukum dan HAM.  d. Ada 2 aspek  yang diharmonisasikan pada waktu menyusun peraturan     perundang‐undangan,  yaitu  yang  berkaitan  dengan  aspek  konsepsi  materi  muatan dan aspek teknik penyusunan peraturan perundang‐undangan.  e. Permasalahan pengharmonisasian   Masih  adanya  semangat  egoisme  sektoral  dari  masing‐masing  instansi  terkait,   Wakil‐wakil yang diutus oleh instansi terkait sering berganti‐ganti dan tidak  berwenang untuk mengambil keputusan   Rancangan  peraturan  perundang‐undangan  yang  akan  diharmoniskan  sering baru dibagikan atau baru dipelajari pada saat rapat   Pendapat  atasan  yang  sering  dilatarbelakangi  dengan  adanya  kepentingan  tertentu   Struktur biro hukum/satuan kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang  peraturan  perundang‐undangan  tidak  fokus  pada  masalah  hukum  (peraturan perundang‐undangan)   Tenaga  fungsional  Perancang  Peraturan  Perundang‐undangan   (legislative  drafter) masih terbatas dan belum memiliki spesialisasi.  2. Peraturan Perundang­undangan di Daerah (Perda)  Perda dianggap memenuhi segi harmonis manakala konsisten dengan peraturan  perundang‐undangan  baik  secara  vertikal  dan  horisontal:  tidak  bertentangan  dengan  peraturan  perundang‐undangan  yang  lebih  tinggi,  kejelasan  konsideran  yang mengacu kepada peraturan terkait dan yang masih berlaku sebagai hukum  positif,  serta  tidak  bertentangan  dengan  perda  yang  lain.  Perda  juga  harus 
BUKU PEGANGAN 2010 
I‐14        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

memenuhi  ketaatan  pada  asas  hukum,  yaitu:  (i)  Asas  pembentukan;  (ii)  Materi  muatan;  (iii)  Asas  lain  yang  sesuai  dengan  bidang  hukum  pelayanan  publik:  pidana,  perdata  dan  asas  hukum  lainnya;  dan  (iv)  Tidak  bertentangan  dengan  kepentingan umum: perda tidak berakibat terganggunya kerukunan antar warga  masyarakat,  terganggunya  pelayanan  umum,  dan  terganggunya  ketenteraman/ketertiban umum, serta tidak bersifat diskriminatif.   Peraturan Presiden mengenai Penyusunan Peraturan Daerah yang diamanatkan  oleh  UU  10  Tahun  2004  yang  seharusnya  memuat  pengaturan  mengenai  harmonisasi Perda sampai dengan saat ini belum disahkan. Keterbatasan sumber  daya manusia di daerah yang menyusun Perda baik dari sisi pemerintah daerah  maupun DPRD menambah kesulitan harmonisasi di level daerah.   3. Dukungan yang Diperlukan dari Pemerintah Daerah  Dukungan  yang  diperlukan  dari  pemerintah  daerah  dapat  berupa  beberapa  hal  sebagai  berikut  :  prolegda  wajib  disusun  dan  dijalankan  secara  konsekuen,  partisipasi  masyarakat,  pembangunan  pusat  informasi  peraturan  daerah,  penelitian atau pengkajian pendahuluan yang dirumuskan dalam sebuah naskah  akademik, konsultasi dengan kelompok yang akan terkena dampak baik langsung  maupun  tidak  langsung  dari  pemberlakuan  perda,  dan  evaluasi  implementasi  peraturan daerah.  

Harmonisasi  dan  Sinkronisasi  Peraturan  Perundang­undangan  Pusat dan Daerah 
Mekanisme  Harmonisasi  dan  Sinkronisasi  Peraturan  dan  Perundang­             undangan antara Pusat dan Daerah  Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah berwenang melakukan  pembinaan  dan  pengawasan  terhadap  penyelenggaraan  pemerintahan  daerah  sebagaimana diatur dalam Undang‐undang Nomor 22 Tahun 1999 yang telah diganti  dengan Undang‐undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Salah satu  substansi  dalam  UU  No.  32/2004  yang  terkait  dengan  mekanisme  harmonisasi  dan  sinkronisasi  diantaranya  mengenai  tugas  Gubernur  sebagai  wakil  Pemerintah  di  daerah yang memiliki kewenangan untuk membina dan mengawasi penyelenggaraan  pemerintahan  kab/kota,  melakukan  koordinasi  penyelenggaraan  urusan  pemerintahan  di  daerah  provinsi  dan  kab/kota  serta  pembinaan  dan  pengawasan  tugas pembantuan di daerah provinsi dan kab/kota. Peranan gubernur ini diperkuat  dalam  Peraturan  Pemerintah  No.  19  Tahun  2010  tentang  Tata  Cara  Pelaksanaan  Tugas  dan  Wewenang  serta  Kedudukan  Keuangan  Gubernur  sebagai  Wakil  Pemerintah di Wilayah Provinsi mengatur Gubernur untuk mengevaluasi  rancangan  peraturan  daerah  tentang  Anggaran  Pendapatan  dan  Belanja  Daerah,  pajak  daerah,  retribusi daerah, dan tata ruang wilayah kabupaten/kota.  Selanjutnya untuk meminimalisir agar produk hukum kab/kota yang dihasilkan  tidak bertentangan dengan Perundang‐undangan yang lebih tinggi, Pemerintah telah  memfasilitasi  kab/kota  dalam  penyusunan  produk  hukumnya  sesuai  dengan  Surat  Edaran Menteri Dalam Negeri No. 188.34/1586/SJ tanggal 18 Februari 2008 yaitu: 
BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐15     

   Ringkasan Eksekutif 

   

1. Sebelum  rancangan  perda  disampaikan  oleh  pemerintah  daerah  kepada  DPRD  untuk  dibahas  lebih  lanjut,  Rancangan  Peraturan  Daerah  Kab/Kota  tersebut  terlebih dahulu dikonsultasikan oleh bagian hukum Kab/Kota kepada Biro Hukum  Provinsi;   2. Rancangan  Peraturan  Daerah  yang  merupakan  hasil  inisiatif  DPRD,  sebelum  dibahas  lebih  lanjut  dengan  Pemerintah  Daerah,  Rancangan  Perda  Kab/Kota  terlebih  dahulu  dikonsultasikan  oleh  bagian  Hukum  Kab/Kota  Kepada  Biro  Hukum.  Regulatory Impact Assessment (RIA)   Upaya  harmonisasi  dan  sinkronisasi  peraturan  perundang‐undangan,  selain  dilakukan  melalui  program  Penataan  Peraturan  Perundang‐undangan  mengenai  Desentralisasi dan Otonomi Daerah, juga dilakukan secara preventif, melalui Program  Peningkatan  Kapasitas  Kelembagaan  Pemerintah  Daerah,  kegiatan  Fasilitasi  Pemantapan Aparatur Pejabat Negara dan DPRD, dengan keluaran terselenggaranya  workshop  untuk  meningkatkan  kemampuan  Pemda  dan  Anggota  DPRD  dalam  penyusunan  Perda,  diantaranya  workshop  tentang  RIA  (Regulatory  Impact  Assessment),  dan  workshop  terkait  dengan  penyusunan  peraturan  perundang‐ undangan daerah yang baru. RIA adalah metode penilaian secara sistematis terhadap  dampak  dari  tindakan  pemerintah,  dan  mengkomunikasikan  informasi  kepada  decision­makers dan masyarakat. Penilaian sistematis mencakup perumusan masalah,  identifikasi tujuan, alternatif tindakan, analisis biaya dan manfaat, pemilihan tindakan  dan strategi implementasi.  Musyawarah Perencanaan Pembangunan  Sesuai amanat Undang‐undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan  Pembangunan  Nasional  (UU‐PPN),  salah  satu  tahap  yang harus  dilalui  dalam  proses  penyusunan  rencana  pembangunan  jangka  panjang,  jangka  menengah,  dan  tahunan  melalui  penyelenggaraan  Musyawarah  Perencanaan  Pembangunan  (Musrenbang).  Sebagai  komponen  dari  komunikasi  publik,  Musrenbang  mempunyai  peranan  strategis  untuk  mengakomodasi semua  masukan  dari kementerian  terkait,  lembaga  non  kementerian,  pemerintahan  daerah  (provinsi  dan  kabupaten/Kota),  dan  komponen  masyarakat  guna  mencapai  perencanaan  aspiratif  yang  berjenjang  dari  tingkat  lokal  sampai  nasional.  Tujuan  pelaksanaan  Musrenbang  pada  intinya  adalah  untuk  menghasilkan  kesepakatan  –kesepakatan  antar  pelaku  pembangunan  tentang  rancangan  rencana  kerja  pemerintah  dan  rancangan  kerja  pemerintah  daerah,  yang  menitik  beratkan  pada  pembahasan  untuk  sinkronisasi  rencana  kerja  antar  kementerian/lembaga/satuan kerja perangkat daerah dan antar daerah.   Pemerintah telah merintis langkah‐langkah yang membuka peluang masyarakat  untuk  turut  merencanakan  dan  menganggarkan  biaya  yang  diperlukan  untuk  pembangunan  di  wilayah  mereka,  baik  dari  aspek  regulasi  maupun  praktek  di  lapangan.  Secara  rutin  dan  konsisten  pelaksanaan  Musrenbang  ini  telah  diselenggarakan  dalam  proses  penyusunan  perencanaan  pembangunan  baik  untuk  rencana pembangunan jangka pendek, menengah, dan panjang.  Sampai dengan saat 
BUKU PEGANGAN 2010 
I‐16        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

ini, Pemerintah masih berkomitmen dan berupaya untuk melakukan penyempurnaan  mekanisme  dan  format  Musrenbang  baik  dari  segi  tingkat  partisipasi,  implementasi  dan keluarannya.  

Perkuatan  Implementasi  Penganggaran  Berbasis  Kinerja  dan    Kerangka Penganggaran Jangka Menengah 
Reformasi Perencanaan dan Penganggaran  Perencanaan  dan  penganggaran  yang  berbasis  kinerja,  berjangka  menengah  serta  penganggaran  terpadu  merupakan  perwujudan  dari  pelaksanaan  tiga  prinsip  pengelolaan keuangan publik (Public Financial Management), yaitu:  (i) Kerangka  Kebijakan  Fiskal  Jangka  Menengah  (Medium  Term  Fiscal  Framework)  yang dilaksanakan secara konsisten (aggregate fiscal disciplin);   (ii)  Alokasi  pada  prioritas  untuk  mencapai  manfaat  yang  terbesar  dari  dana  yang  terbatas  (allocative  efficiency)  yaitu  melalui  penerapan  Kerangka  Pengeluaran  Jangka  Menengah  (Medium  Term  Expenditure  Framework)  yang  terdiri  dari  penerapan  Prakiraan  Maju  (Forward  Estimates),  Anggaran  Berbasis  Kinerja  (Performance Based Budgeting), dan Anggaran Terpadu (Unified Budget); dan  (iii) Efisiensi  dalam  pelaksanaan  dengan  meminimalkan  biaya  untuk  mencapai  sasaran yang telah ditetapkan (technical and operational efficiency).  Agar  penerapan  Kerangka  Pengeluaran  Jangka  Menengah  (KPJM),  Anggaran  Berbasis Kinerja, dan Anggaran Terpadu dapat dioptimalkan, diperlukan suatu upaya  untuk  menata  kembali  struktur  program  dan  kegiatan  Kementerian/Lembaga  (restrukturisasi  program  dan  kegiatan).  Restrukturisasi  program  dan  kegiatan  tersebut  bertujuan  mewujudkan  perencanaan  yang  berorientasi  kepada  hasil  (outcome) dan keluaran (output) sebagai dasar:  (i) Penerapan akuntabilitas Kabinet, dan  (ii) Penerapan akuntabilitas kinerja Kementerian/Lembaga.   Konsep Kerangka Pendanaan  Dalam  rangka  mewujudkan  anggaran  yang  sehat  dan  berkesinambungan  perlu  diterapkan  konsep  aggregate  fiscal  discipline  yang  menitikberatkan  pada  peran  central  agencies.  Konsep  allocative  efficiency  mengacu  kepada  kapasitas  pemerintah  untuk  mendistribusikan  sumber  daya  yang  ada  kepada  program  maupun  kegiatan  yang  lebih  efektif  dalam  mencapai  sasaran  pembangunan  nasional  (strategic  objective).  Penerapan  konsep  Allocative  Efficiency  dilaksanakan  melalui  Unified  Budget  (anggaran  terpadu),  Forward  Estimates,  Performances  Based  Budgeting  (anggaran berbasis kinerja).  Ada beberapa hal yang harus dipenuhi terlebih dahulu untuk menerapkan konsep  allocative efficiency dalam sistem perencanaan dan penganggaran yaitu :  1.   Adanya kerangka sasaran jangka menengah (terkait disiplin fiskal).  2.   Adanya  prioritas  yang  terdesain  dengan  baik  dalam  mencapai  sasaran  pembangunan baik yang bersifat nasional maupun sektoral. 

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐17     

   Ringkasan Eksekutif 

   

3.   Adanya kewenangan pengeluaran, perubahan maupun penghematan alokasi pada  pengguna anggaran.  4.   Pemerintah mendorong realokasi untuk meningkatkan efektivitas program.   5.   Adanya  cabinet  review  yang  memfokuskan  pada  perubahan  kebijakan  yang  ada  atau kebijakan baru.  Adapun  kondisi  penerapan  konsep  allocative  efficiency  (efisiensi  alokasi)  dalam  konteks  perencanaan  dan  penganggaran  berbasis  kinerja  dan  berjangka  menengah  dibagi  menjadi  3  tahapan  penerapan  yaitu  Presentational,  Performance  informed  budgeting, dan Direct/formula performance budgeting. 
 

Penerapan Perencanaan dan Penganggaran Berjangka Menengah Penerapan  perencanaan  dan  penganggaran  berjangka  menengah  dalam  Kerangka  Pengeluaran  Jangka  Menengah  (Medium  Term  Expenditure  Framework/KPJM), membutuhkan kondisi lingkungan dengan karakteristik:  1.   Kebijakan, perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan yang saling terkait.  2.   Proses pengambilan keputusan yang terkendali, melalui :   a. Penentuan prioritas program dalam batas ketersediaan anggaran;  b. Penyusunan kegiatan yang mengacu pada pencapaian sasaran program;   c. Pembiayaan disesuaikan dengan kegiatan yang diharapkan;   d. Ketersediaan informasi atas hasil monitoring dan evaluasi.   3.   Tersedianya  media  kompetisi  bagi  kebijakan,  program,  dan  kegiatan  yang  diambil.  4.   Meningkatnya  kapasitas  dan  kesediaan  untuk  melakukan  penyesuaian  prioritas  program dan kegiatan sesuai alokasi sumber daya yang disetujui legislatif.  Penerapan Perencanaan dan Penganggaran Berbasis Kinerja  Adapun  prinsip‐prinsip  dalam  penerapan  perencanaan  dan  penganggaran  berbasis kinerja adalah sebagai berikut:  1.   Alokasi Anggaran Berorientasi pada Kinerja (output and outcome oriented);  2.        Fleksibilitas  pengelolaan  anggaran  untuk  mencapai  hasil  dengan  tetap  menjaga    prinsip akuntabilitas (let the manager manages);  3.   Money Follow Function, Function Followed by Structure    Penetapan kinerja harus mempertimbangkan beberapa faktor sebagai berikut:  a. Memiliki  dasar  penetapan  yang  selanjutnya  akan  digunakan  sebagai  alat  justifikasi penganggaran terkait dengan pelaksanaan prioritasi;  b. Kelanjutan setiap program;  c. Tingkat inflasi dan tingkat efisiensi;  d. Ketersediaan sumber daya dalam kegiatan, misal: dana, Sumber Daya Manusia  (SDM), teknologi, dan sebagainya;  e. Ketersediaan informasi yang dapat diandalkan dan konsisten atas pengkuruan  pencapaian kinerja;  f. Kendala yang mungkin dihadapi pada masa mendatang. 

BUKU PEGANGAN 2010 
I‐18        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

Pencapaian dan Permasalahan Yang Dihadapi Saat Ini   Agregat  Fiscal  Discipline.  Telah  diperkenalkan  adanya  MTFF,  dimana  sudah  terdapat  upaya  dalam  menjaga  kebersinabungan  fiscal  (fiscal  sustanability)  melalui  kontrol  terhadap  nila  rasio  pajak/PDB,  rasio  Defisit/PDB  dan  rasio  utang/PDB.  Allocative  Efficiency.  (a)  Penerapan  Anggaran  Terpadu  (Unified  Budget);  (b)  Penerapan  Anggaran  Berbasis  Kinerja.  Dari  segi  penerapan  anggaran  berbasis  kinerja,  pemerintah  telah  menetapkan  prioritas  strategis  yang  dilengkapi  dengan  indikator  dan  target  kinerja  (untuk  meningkatkan  hubungan  antara  kinerja  dan  pendanaan)  dalam  rangka  pencapaian  sasaran  pembangunan  nasional,  yang  kemudian  dilaksanakan  dalam  bentuk  intervensi  regulasi  serta intervensi  anggaran;  (c) Penerapan Prakiraan Maju. forward estimates, telah disediakan template prakiraan  maju  untuk  2  tahun  kedepan  dalam  dokumen  RKP  dan  Renja  K/L.  Namun  dalam  pelaksanaanya  masih  bersifat  “on­paper”,  atau  belum  dipergunakan  sesuai  dengan  konsep  KPJM  dimana  penerapanya  masih  tidak  konsisten  dilaksanakan,  sedangkan  berdasarkan  konsep  KPJM  perubahan  terhadap  hasil  prakiraan  maju  hanya  dapat  terjadi  jika  terdapat:  (i)  perubahan  inflasi,  (ii)  parameter  di  luar  jangkauan  pemerintah untuk mengatasinya, (iii) perubahan kebijakan pemerintah. Operational  Efficiency. Telah diperkenalkan Satuan Biaya Umum (SBU) dan Satuan Biaya Khusus  (SBK) yang mengakomodasi kekhasan (kebutuhan khusus) masing‐masing lembaga.   Permasalahan Desain Program   Berbagai permasalahan yang berkaitan dengan struktur program dan kegiatan  dalam proses perencanaan dan penganggaran antara lain sebagai berikut:  1. Program disusun dengan pendekatan input based;  2. Program digunakan oleh beberapa Kementerian/Lembaga (K/L).  3. Program memiliki tingkatan yang sama atau lebih rendah dibanding kegiatan.  4. Program memiliki tingkat kinerja yang terlalu luas.   5. Program tidak terkait secara langsung dengan kegiatan‐kegiatannya.  6. Program untuk menampung biaya  pengelolaan administrasi K/L (overhead cost)  masih beragam.   7. Program‐program  generik  seperti  Program  Peningkatan  Sarana  dan  Prasarana  Aparatur  dan  Program  Penerapan  Kepemerintahan  yang  Baik  masih  digunakan  untuk menampung biaya‐biaya pengelolaan administrasi dari kebijakan teknis.  

Restrukturisasi Program dan Kegiatan 
a)   Prinsip Restrukturisasi Program dan Kegiatan  Pendekatan  dasar  dalam  proses  penyempurnaan  program  dan  kegiatan/restrukturisasi program dan kegiatan, yaitu:  1. Prinsip Akuntabilitas Kinerja Kabinet (Perencanaan Kebijakan/Policy Planning).  2. Prinsip  Akuntabilitas  Kinerja  Organisasi  (Struktur  Organisasi  dan  Struktur  Anggaran). 

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐19     

   Ringkasan Eksekutif 

   

b)  Desain Arsitektur Program  Kerangka Arsitektur Program dibangun dari 4 (empat) struktur utama, yaitu:  1.   Struktur Organisasi  Organisasi  pemerintahan  terdiri  dari  4  (empat)  karakteristik  K/L,  yaitu:  (i)  Lembaga  Tinggi  Negara;  (ii)  Departemen;  (iii)  Kementerian  Negara  dan  Kementerian  Koordinator;  dan  (iv)  Lembaga  Pemerintahan  Non  Departemen  (LPND) dan Lembaga Non‐Struktural.   2.   Struktur Anggaran  Berdasarkan  UU  Nomor  17  tahun  2003  tentang  Keuangan  Negara,  struktur  anggaran belanja negara dirinci menurut: (i) Fungsi (Sub‐fungsi);  (ii) Organisasi;  (iii) Program; (iv) Kegiatan; dan (v) Jenis Belanja.  3.   Struktur  Perencanaan  Kebijakan  (Policy  Planning)  terdiri  dari;  (i)  Prioritas;  (ii)  Fokus prioritas; dan (iii) Kegiatan prioritas.   4.   Struktur  Manajemen  Kinerja,  pendekatan  manajemen  kinerja  yang  akan  diterapkan  terbagi  menjadi  dua  bagian  utama,  yaitu:  (i)  Kinerja  pada  tingkat  Kabinet  dan  (ii)  Kinerja  pada  tingkat  K/L.  Terkait  dengan  struktur  informasi  kinerja, tingkat kinerja yang akan disusun terdiri dari impact, outcome, dan output. 

Pendekatan Penyusunan Kinerja 
(1) Definisi Kinerja  Kinerja dalam Arsitektur Program merupakan struktur yang menghubungkan  antara  sumberdaya  dengan  hasil  atau  sasaran  perencanaan,  serta  merupakan  instrumen  untuk  merancang,  memonitor  dan  melaporkan  pelaksanaan  anggaran.  Kerangka  penyusunannya  dimulai  dari  “apa  yang  ingin  diubah”  (impact)  yang  memerlukan  indikator  “apa  yang  akan  dicapai”  (outcome)  guna  mewujudkan  perubahan  yang  diinginkan.  Selanjutnya,  untuk  mencapai  outcome  diperlukan  informasi  tentang  “apa  yang  dihasilkan”  (output).  Untuk  menghasilkan  output  tersebut diperlukan “apa yang akan digunakan”.  (2) Pengukuran Kinerja   Dalam  penyusunanannya,  indikator  kinerja  perlu  untuk  mempertimbangkan  kriteria sebagai berikut:   a)   Relevant: indikator terkait secara logis dan langsung dengan tugas institusi, serta  realisasi tujuan dan sasaran strategis institusi;   b)   Well­defined: definisi indikator jelas dan  tidak bermakna ganda sehingga mudah  untuk dimengerti dan digunakan;   c)   Measurable  :  indikator  yang  digunakan  diukur  dengan  skala  penilaian  tertentu  yang disepakati, dapat berupa pengukuran secara kuantitas, kualitas atau harga;  d)   Appropriate:  pemilihan  indikator  yang  sesuai  dengan  upaya  peningkatan  pelayanan/kinerja;  e)   Reliable:  indikator  yang  digunakan  akurat  dan  dapat  mengikuti  perubahan  tingkatan kinerja; 

BUKU PEGANGAN 2010 
I‐20        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

f)   Verifiable:  memungkinkan  proses  validasi  dalam  sistem  yang  digunakan  untuk  menghasilkan indikator;  g)   Cost­effective: kegunaan indikator sebanding dengan biaya pengumpulan data.  (3) Target Indikator Kinerja  Kriteria dalam menentukan target indikator kinerja menggunakan pendekatan  “SMART”, yaitu:  1.   Specific: sifat dan tingkat kinerja dapat diidentifikasi dengan jelas;  2.   Measurable:  target  kinerja  dinyatakan  dengan  jelas  dan  terukur  baik  bagi  indikator yang dinyatakan dalam bentuk kuantitas, kualitas dan biaya;  3.   Achievable:  target  kinerja  dapat  dicapai  terkait  dengan  kapasitas  dan  sumber  daya yang ada;  4.   Relevant:  mencerminkan  keterkaitan  (relevansi)  antara  target  output  dalam  rangka  mencapai  target  outcome  yang  ditetapkan;  serta  antara  target  outcome  dalam rangka mencapai target impact yang ditetapkan; dan  5.   Time Bond: waktu/periode pencapaian kinerja ditetapkan.  (4) Informasi Indikator Kinerja  Adapun  informasi  indikator  kinerja  yang  dapat  disyaratkan  untuk  disusun  adalah  nama  indikator;  Tujuan/kepentingan;  Metode  penghitungan;  Tipe  penghitungan;  Indikator  baru;  Kinerja  yang  diharapkan;  Standar  indikator  (benchmark);  Penanggungjawab  indikator;  Pengelola  data  indikator;  Waktu  pelaksanaan  pengumpulan  data  indikator;    Jadwal  pelaporan;  Sumber  pengumpulan  data;  dan  Hambatan pengumpulan data. 

Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan 
Untuk  efektifitas  koordinasi  penyusunan  kebijakan,  pelaksanaan  serta  pengawasan  program  penanggulangan  kemiskinan,  program‐program  penanggulangan kemiskinan dikelompokan kedalam 3 klaster, yaitu:  1. Klaster I   : Bantuan dan Perlindungan Sosial Terpadu Berbasis Keluarga  2. Klaster II  : Pemberdayaan Masyarakat  3. Klaster III : Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah 
 

Upaya  koordinasi  dan  sinkronisasi  program‐program  penanggulangan  kemiskinan tidak dapat dilakukan tanpa dukungan data yang akurat. Untuk itu, upaya  untuk  memperbaiki  database,  khususnya  database  penerima  program  bantuan  yang  sifatnya  individu  atau  rumah  tangga,  terus  dilakukan.  Saat  ini,  telah  disepakati  ditingkat pusat bahwa database penerima program penanggulangan kemiskinan yang  bersifat  individu  atau  keluarga  adalah  data  dari  BPS  yang  dikumpulkan  melalui  Pendataan Program Solusi (PPLS) tahun 2008.  Selain itu juga diperlukan peran dari  pemerintah daerah.   Dalam  era  desentralisasi,  peran  pemerintah  kabupaten/kota  menjadi  sangat  penting  agar  dapat  mendekatkan  pelayanan  publik  kepada  masyarakat  secara  lebih  efektif dan efisien. Untuk itu, peningkatan kapasitas Pemda Kabupaten/Kota menjadi 

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐21     

   Ringkasan Eksekutif 

   

penting,  agar  pemda  lebih  peka  dan  tanggap  serta  mampu  mengantisipasi  permasalahan  kemiskinan.  Dalam  hal  ini  diharapkan  pemda  dapat  mengidentifikasi  kondisi  permasalahan  di  daerahnya,  menyusun  alternatif  pemecahan  masalah  serta  malakukan  langkah‐langkah  koordinatif  untuk  efektifitas  pencapaian  tujuan  pembangunan.  Salah  satu  upaya  yang  dilakukan  dalam  rangka  meningkatkan  kapasitas  pemerintah  daerah  adalah  melalui  Pro‐Poor  Planing  and  Budgeting  (P3B).  Melalui  P3B, pemda dilatih agar dapat lebih efektif dan efisien dalam menyusun perencanaan  dan  pengalokasian  anggaran  sehingga  dapat  menjawab  akar  permasalahan  kemiskinan. Instrumen yang digunakan dalam kegiatan ini adalah score card,proverty  map dan budget analysis. Dengan ketiga instrument ini, diharapkan dapat diperoleh  gambaran  yang  lebih  tepat  mengenai  kondisi  kemiskinan  dimasing‐masing  daerah,  termasuk  gap  pencapaian  terhadap  target‐target  pembangunan  millenium  (MDGs)  yang masih perlu mendapatkan perhatian Pemda, serta mengevaluasi kondisi alokasi  pendanaan  saat  ini  sebagai  dasar  penyusunan  rencana  dan  anggaran  yang  lebih  berpihak pada masyarakat miskin. 

Koordinasi Penataan Ruang dan Wilayah 
Penjelasan  tentang  Perlunya  Konsistensi  dan  Keterkaitan  Antara  RTRWN,  RTRW Provinsi, RTRW Kabupaten dan Kota  Berdasarkan Undang‐Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang,  diketahui bahwa visi penataan ruang nasional adalah “Terwujudnya ruang nusantara  yang  aman,  nyaman,  produktif  dan  berkelanjutan”.  Aman  diartikan  dengan  masyarakat  dapat  menjalankan  aktivitas  kehidupannya  dengan  terlindungi  dari  berbagai ancaman. Nyaman berarti memberi kesempatan yang luas bagi masyarakat  untuk  mengartikulasikan  nilai‐nilasi  sosial  budaya  dan  fungsinya  sebagai  manusia  dalam  suasana  yang  tenang  dan  damai.  Produktif  berarti  proses  produksi  dan  distribusi berjalan secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi  untuk  kesejahteraan  masyarakat  sekaligus  meningkatkan  daya  saing.  Berkelanjutan  berarti  kualitas  lingkungan  fisik  dapat  dipertahankan,  bahkan  dapat  ditingkatkan,  tidak  hanya  untuk  kepentingan  generasi  saat  ini,  namun  juga  generasi  yang  akan  datang.  Dalam  rangka  mencapai  visi  penataan  ruang  nasional  tersebut,  penyelenggaraan  penataan  ruang  diklasifikasikan  berdasarkan  sistem,  fungsi  utama  kawasan,  wilayah  administratif,  kegiatan  kawasan  dan  nilai  strategis  kawasan.  Penataan  ruang  berdasarkan  sistem  terdiri  atas  pendekatan  penataan  ruang  yang  mempunyai  jangkauan  pelayanan  pada  tingkat  wilayah  (sistem  wilayah)  dan  jangkauan  pelayanan  di  dalam  kawasan  perkotaan  (sistem  internal  perkotaan).  Penataan  ruang  berdasarkan  fungsi  utama  kawasan  adalah  penataan  ruang  wilayah  kawasan  lindung  dan  kawasan  budidaya.  Penataan  ruang  berdasar  fungsi  utama  kawasan tersebut merupakan komponen dalam penataan ruang baik yang dilakukan  berdasarkan  wilayah  administratif,  kegiatan  kawasan,  maupun  nilai  strategis  kawasan.  Adapun  penataan  ruang  berdasar  wilayah  administratif  terdiri  atas 
BUKU PEGANGAN 2010 
I‐22        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

penataan  ruang  wilayah  nasional,  provinsi,  kabupaten  maupun  kota.  Penataa  ruang  berdasarkan  kegiatan  kawasan  terdiri  atas  penataan  ruang  kawasan  perkotaan  dan  perdesaan.  Sementara  penataan  ruang  berdasar  nilai  strategis  kawasan  terdiri  atas  penataan ruang kawasan strategis nasional, provinsi, kabupaten maupun kota  Penataan  ruang  wilayah  nasional,  provinsi,  kabupaten  dan  kota  dilakukan  secara  berjenjang  dan  memperhatikan  asas  komplementaritas.  Di  mana  penataan  ruang yang dilakukan di masing‐masing wilayah tersebut haruslah saling melengkapi  satu  sama  lain,  bersinergi  dan  menghindari  adanya  tumpang  tindih  kewenangan  dalam penyelenggaraannya. Hal ini perlu dilakukan agar produk rencana tata ruang,  sebagaimana dapat dilihat pada gambar di bawah berikut, dapat berjalan selaras dan  serasi.  Produk  rencana  tata  ruang  yang  memiliki  hirarki  lebih  tinggi  haruslah  mengakomodasi  kepentingan  dari  rencana  tata  ruang  di  bawahnya;  dan  demikian  pula sebaliknya, produk rencana tata ruang yang memiliki hirarki lebih rendah harus  berpedoman  pada  rencana  tata  ruang  yang  memiliki  hirarki  lebih  tinggi.  Selain  itu,  produk rencana tata ruang juga diklasifikasikan ke dalam rencana umum tata ruang  dan  rencana  rinci  tata  ruang.  Rencana  rinci  tata  ruang  adalah  perangkat  operasionalisasi  rencana  umum  tata  ruang.  Dalam  tingkat  yang  paling  rendah  (kabupaten/kota),  rencana  rinci  tata  ruang  ini  dilengkapi  dengan  peraturan  zonasi  yang  akan  menjadi  dasar  bagi  perijinan,  penerapan  sanksi,  maupun  implementasi  mekanisme disinsentif dan insentif. Oleh sebab itu, selain keselarasan lintas wilayah  administratif,  produk  rencana  tata  ruang  juga  harus  memiliki  keselarasan  antara  rencana umum dan rencana rinci.  Penjelasan  tentang  pentingnya  keterkaitan  antara  RTRW  dan  dokumen  perencanaan di semua tingkatan  Di  dalam  UU  No.  26  Tahun  2007  tentang  Penataan  Ruang  dijelaskan  pula  bahwa  (1)  Rencana  Tata  Ruang  Wilayah  Nasional  (RTRWN),  di  dalam  penyusunannya,  harus  memperhatikan  RPJP  Nasional  dan  sekaligus  menjadi  pedoman  untuk  penyusunan  RPJP  Nasional  dan  Rencana  Pembangunan  Jangka  Menengah  (RPJM)  Nasional;  (2)  Rencana  Tata  Ruang  Wilayah  Provinsi  (RTRWP),  dalam penyusunannya, mengacu kepada dan harus memperhatikan RPJP daerah dan  sekaligus  menjadi  pedoman  untuk  penyusunan  RPJP  daerah  dan  RPJM  daerah;  dan  (3) Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK), dalam penyusunannya,  mengacu  pada  dan  harus  memperhatikan  RPJP  daerah  dan  sekaligus  menjadi  pedoman untuk penyusunan RPJP daerah dan RPJM daerah.   Mekanisme  dan  kelembagaan  penataan  ruang  di  tingkat  nasional  (BKPRN),  wilayah dan daerah.  BKPRN,  dalam  rangka  pembinaan  kepada  Pemerintah  Daerah  mengenai  kebijakan  tata  ruang  dan  tata  wilayah,  memberikan  amanat  kepada  masing‐masing  instansi  anggotanya  untuk  dapat  menjalankan  tugas  koordinasi  yang  saling  melengkapi satu sama lain dan saling bersinergi, di antaranya melalui:  1. Penyelenggaraan kebijakan penataan ruang nasional;  2. Mengkoordinasikan penyelenggaraan teknis penataan ruang; 

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐23     

   Ringkasan Eksekutif 

   

3. 4.

Di  tingkat  daerah,  koordinasi  penataan  ruang  dilaksanakan  melalui  Badan  Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD) yang diatur melalui Keputusan Menteri  Dalam  Negeri  No.  50  Tahun  2009  tentang  Pedoman  Koordinasi  Penataan  Ruang  Daerah. Selain bersifat multisektor, penataan ruang juga bersifat lintas wilayah. Oleh  sebab itu, pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah  juga  tertera  jelas  di  dalam  UU  No.  26  Tahun  2007  tentang  Penataan  Ruang.  Berikut  diuraikan secara lengkap pembagian kewenangan lintas wilayah administrasi terkait  penataan ruang:  1. Wewenang Pemerintah Pusat di dalam penyelenggaraan penataan ruang meliputi:  a. Pengaturan,  pembinaan,  dan  pengawasan  terhadap  pelaksanaan  penataan  ruang  wilayah  nasional,  provinsi,  dan  kabupaten/kota,  serta  terhadap  pelaksanaan  penataan  ruang  kawasan  strategis  nasional,  provinsi,  dan  kabupaten/kota;  b. Pelaksanaan  penataan  ruang  wilayah  nasional,  yang  meliputi  perencanaan,  pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional;  c. Pelaksanaan  penataan  ruang  kawasan  strategis  nasional,  yang  meliputi  penetapan  kawasan  strategis  nasional,  perencanaan,  pemanfaatan  dan  pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis nasional; dan  d. Kerja  sama  penataan  ruang  antarnegara  dan  pemfasilitasian  kerja  sama  penataan ruang antar provinsi.  2. Wewenang Pemerintah Provinsi dalam penyelenggaraan penataan ruang meliputi:  a. Pengaturan,  pembinaan,  dan  pengawasan  terhadap  pelaksanaan  penataan  ruang  wilayah  provinsi,  dan  kabupaten/kota,  serta  terhadap  pelaksanaan  penataan ruang kawasan strategis provinsi dan kabupaten/kota;  b. Pelaksanaan  penataan  ruang  wilayah  provinsi,  yang  meliputi  perencanaan,  pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi;  c. Pelaksanaan  penataan  ruang  kawasan  strategis  provinsi,  yang  meliputi  penetapan  kawasan  strategis  provinsi,  perencanaan,  pemanfaatan  dan  pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis provinsi; dan  d. Kerja  sama  penataan  ruang  antarprovinsi  dan  pemfasilitasian  kerja  sama  penataan ruang antarkabupaten/kota.  3. Wewenang Pemerintah Kabupaten/Kota dalam penyelenggaraan penataan  ruang  meliputi:  a. Pengaturan,  pembinaan,  dan  pengawasan  terhadap  pelaksanaan  penataan  ruang wilayah kabupaten/kota dan kawasan strategis kabupaten/kota;  b. Pelaksanaan  penataan  ruang  wilayah  kabupaten/kota,  yang  meliputi  perencanaan,  pemanfaatan  dan  pengendalian  pemanfaatan  ruang  wilayah  kabupaten/kota; 
   

 

Mengkoordinasikan  pelaksanaan  kelembagaan  penataan  ruang  serta  hubungan  dengan pemerintah daerah; dan  Sosialisasi  kepada  pemerintah  daerah  dan  masyarakat  tentang  kebijakan  penataan ruang nasional. 

BUKU PEGANGAN 2010 
I‐24        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

c. Pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis kabupaten/kota, yang meliputi  penetapan kawasan strategis kabupaten/kota, perencanaan, pemanfaatan dan  pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis kabupaten/kota; dan  d. Kerja sama penataan ruang antarkabupaten/kota.   4. Uraian tentang dukungan yang diharapkan dari pemerintah daerah.  Mengingat bahwa rencana tata ruang sangat penting peranannya dalam menjamin  kelancaran  pembangunan  di  daerah,  maka  peran  aktif  pemerintah  daerah  juga  sangat diperlukan. Beberapa dukungan yang dapat dilakukan pemerintah daerah  untuk  mencapai  visi  penataan  ruang  nasional  antara  lain  adalah  (1)  Menyelesaikan  proses  revisi  rencana  tata  ruang  wilayahnya  masing‐masing  dengan mengacu kepada UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan PP  No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN); (2)  Membentuk kelembagaan BKPRD sebagai wadah koordinasi lintas sektor di dalam  penyelenggaraan  penataan  ruang  di  daerah;  (3)  Menyelaraskan  proses  revisi  RTRW daerah dengan proses penyusunan RPJP daerah dan RPJM daerah; serta (4)  Mengikuti prosedur revisi tata ruang yang ditetapkan oleh kementerian/instansi  yang berwenang dalam penyelenggaraan penataan ruang. 
   

Koordinasi Pembangunan Perbatasan  
  Koordinasi antar sektor di tingkat pusat dalam pengelolaan perbatasan secara  nasional akan dilaksanakan oleh Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) yang  telah  disahkan  pada  tanggal  28  Januari  2010  melalui  Peraturan  Presiden  no.  12  Tahun  2010.  Susunan  organisasi  BNPP  terdiri  dari  :  (1)  Pengarah,  yang  terdiri  dari  Menteri  Koordinator  Bidang  Politik  Hukum  dan  Keamanan  sebagai  Ketua  Pengarah,  Menteri  Koordinator  Bidang  Perekonomian  sebagai  Wakil  Ketua  Pengarah  I,  dan  Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat sebagai Wakil Ketua Pengarah II;  (2) Kepala, yang dijabat oleh Menteri Dalam Negeri; dan (3) Anggota, yang terdiri dari  14  menteri  dan  gubernur‐gubernur  di  Kawasan  Perbatasan.  Untuk  mewujudkan  sinergi  yang  lebih  efektif  antar  pusat‐daerah  dalam  pengelolaan  batas  wilayah  dan  pengembangan  kawasan  perbatasan,  BNPP  perlu  melakukan  koordinasi  dengan  Badan Pengelola Perbatasan di tingkat  daerah yang dikoordinasikan oleh Gubernur.   
 

Koordinasi Mitigasi Bencana 
  Untuk  mengatur  kelembagaan  penanggulangan  bencana  ditingkat  pusat  dan  daerah telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden No.8 Tahun 2008 tentang Badan  Nasional  Penanggulangan  Bencana,  sebagai  Lembaga  Pemerintah  Non  Kementerian  yang memiliki fungsi dan peran dalam mengkoordinasikan kegiatan penanggulangan  bencana  dan  pengurangan  risiko  bencana  baik  di  tingkat  pusat  maupun  di  daerah.

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐25     

   Ringkasan Eksekutif 

   

PERKEMBANGAN  PENYELENGGARAAN  DAN PEMBANGUNAN DAERAH 

PEMERINTAHAN 

Penguatan Peran dan Posisi Pemerintah Provinsi 
UU  No.  32  Tahun  2004  tentang  Pemerintahan  Daerah  sebagai  revisi  dari  UU  No.  22  Tahun  1999  telah  menetapkan  perlunya  peningkatan  peran  dan  posisi  Pemerintah  Provinsi  dalam  sistem  desentralisasi  dan  otonomi  daerah  di  Indonesia.  Salah  satu  revisi  yang  dilakukan  pada  tahun  2004  itu  adalah  dalam  hal  mengembalikan  peran  Pemerintah  Provinsi  dalam  melakukan  pembinaan  dan  pengawasan  terhadap  Pemerintah  Kabupaten/Kota.  Hal  ini  diperlukan  mengingat  Pemerintah  tidak  mungkin  melaksanakan  fungsi  tersebut  terhadap  seluruh  Kabupaten/Kota  tanpa  dukungan  dari  Pemerintah  Provinsi.  Salah  satu  isu  penting  dalam  hal  ini  adalah  mengenai  kedudukan  Gubernur  yang  memegang  peran  ganda,  yaitu sebagai representasi Pemerintah (termasuk diantaranya melalui dekonsentrasi  dan tugas pembantuan) sekaligus sebagai Kepala Daerah (Provinsi).  Pemerintah  telah  menetapkan  Peraturan  Pemerintah  No.  19  Tahun  2010  tentang  Tata  Cara  Pelaksanaan  Tugas  Dan  Wewenang  Serta  Kedudukan  Keuangan  Gubernur  Sebagai  Wakil  Pemerintah  Di  Wilayah  Provinsi  yang  bertanggung  jawab  kepada  Presiden.  Gubernur  sebagai  wakil  Pemerintah  memiliki  tugas  melaksanakan  urusan pemerintahan meliputi:  a. koordinasi penyelenggaraan pemerintahan antara pemerintah daerah provinsi  dengan  instansi  vertikal,  dan  antarinstansi  vertikal  di  wilayah  provinsi  yang  bersangkutan;  b. koordinasi penyelenggaraan pemerintahan antara pemerintah daerah provinsi  dengan  pemerintah  daerah  kabupaten/kota  di  wilayah  provinsi  yang  bersangkutan;  c. koordinasi  penyelenggaraan  pemerintahan  antarpemerintahan  daerah  kabupaten/kota di wilayah provinsi yang bersangkutan;  d. pembinaan  dan  pengawasan  penyelenggaraan  pemerintahan    daerah  kabupaten/kota;   e. menjaga  kehidupan  berbangsa  dan  bernegara  serta  memelihara  keutuhan  Negara Kesatuan Republik Indonesia;  f. menjaga dan mengamalkan ideologi Pancasila dan kehidupan demokrasi;  g. memelihara stabilitas politik;  h. menjaga etika dan norma penyelenggaraan pemerintahan di daerah; dan  i. koordinasi  pembinaan  dan  pengawasan  penyelenggaraan  tugas  pembantuan  di daerah provinsi dan kabupaten/kota. 
 

Pelaksanaan Penataan Ruang Wilayah 
Dengan ditetapkannya UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dan PP  No.  26  Tahun  2008  tentang  Rencana  Tata  Ruang  Wilayah  Nasional,  maka  provinsi  diberi  waktu  dua  tahun,  sejak  berlakunya  UU  tersebut,  untuk  menyesuaikan  (atau  menyusun) rencana tata ruang wilayahnya dan tiga tahun bagi kabupaten/kota untuk 
BUKU PEGANGAN 2010 
I‐26        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

menyesuaikan  (atau  menyusun)  rencana  tata  ruang  wilayahnya.  Hingga  bulan  Februari 2010, tercatat sudah dua provinsi yang telah menetapkan peraturan daerah  tentang rencana tata ruangnya, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan (melalui Perda No. 9  Tahun  2009)  dan  Provinsi  Bali  (melalui  Perda  No.  16  Tahun  2009).  Sementara  itu,  hingga  bulan  Januari  2010,  tercatat  tujuh  kabupaten  dan  satu  kota  yang  telah  menetapkan  peraturan  daerah  tentang  rencana  tata  ruangnya,  yaitu:  (1)  Kabupaten  Bandung  (Provinsi  Jawa  Barat),  melalui  Perda  No.  3  Tahun  2008;  (2)  Kabupaten  Bogor  (Provinsi  Jawa  Barat),  melalui  Perda  No.  19  Tahun  2008;  (3)  Kabupaten  Sidoarjo  (Provinsi  Jawa  Timur),  melalui  Perda  No.  9  Tahun  2009;  (4)  Kabupaten  Bangkalan (Provinsi Jawa Timur), melalui Perda No. 10 Tahun 2009; (5) Kabupaten  Flores Timur (Provinsi NTT), melalui Perda No. 13 Tahun 2008; (6) Kabupaten Timor  Tengah  Utara  (Provinsi  NTT),  melalui  Perda  No.  19  Tahun  2008;  (7)  Kabupaten  Nabire (Provinsi Papua), melalui Perda No. 13 Tahun 2009; dan (8) Kota Banda Aceh  (Provinsi NAD), melalui Perda No. 4 Tahun 2009.  Masih  rendahnya  jumlah  rencana  tata ruang wilayah yang telah diselesaikan,  baik  di  tingkat  provinsi,  kabupaten  maupun  kota,  disebabkan  karena  beberapa  persoalan.  Pada  tahapan  proses  revisi  di  daerah,  kendala  yang  ditemui  adalah:  (a)  Keterbatasan data dan informasi di daerah tentang tata ruang (peta, data penduduk,  dan  lain  sebagainya);  (b)  Substansi  RTRW  (sesuai  UU  26/2007)  sangat  banyak  dan  kompleks; (c) Terbatasnya SDM tenaga ahli penyusun RTRW Provinsi; (d) urangnya  pembinaan  tentang  penyusunan  RTRW  Provinsi  di  daerah;  (e)  Kurang  optimalnya  peran  BKPRD  dalam  proses  penyusunan  RTRW  Provinsi  maupun  proses  pemberian  rekomendasi Gubernur untuk rancangan RTRW Kabupaten/Kota; dan (f) Di beberapa  kabupaten/kota, revisi RTRW belum menjadi prioritas karena keterbatasan APBD.  

Pembangunan Kawasan Perbatasan dan Pulau­pulau Terdepan 
Arah  kebijakan  pengembangan  kawasan  perbatasan  dalam  Rencana  Pembangunan  Jangka  Panjang  Nasional  (RPJP)  2005‐2025  yaitu  dengan  mengembangan  kawasan  tersebut    sebagai  pintu  gerbang  aktivitas  ekonomi  dan  perdagangan  dengan  negara  tetangga.  Pendekatan  yang  digunakan  selain  menggunakan  pendekatan  keamanan  juga  dengan  menggunakan  pendekatan  kesejahteraan.  Sebagai  penjabaran  dari  arah  kebijakan  RPJP  Nasional  2005‐2025,  pengembangan  kawasan  perbatasan  telah  menjadi  perhatian  pemerintah  sejak  pelaksanaan  RPJMN  2004‐2009  melalui  pelaksanaan  Program  Pengembangan  Wilayah  Perbatasan  dan  berbagai  program  sektoral  terkait  yang  dilanjutkan  pada  RPJMN periode 2010‐2014. Melalui Perpres no. 5 tahun  2010 tentang RPJMN 2010‐ 2014 telah ditetapkan   pengelolaan batas wilayah dan kawasan perbatasan sebagai  salah  satu  prioritas  pembangunan  nasional.  Dengan  diakomodasinya  pengelolaan  batas  wilayah  dan  kawasan  perbatasan  sebagai  prioritas  nasional  dalam  RPJMN  2010‐2014 akan semakin mempertegas sekaligus  mendorong implementasi berbagai  peraturan  perundang‐undangan  yang  telah  dikeluarkan  sebelumnya  dalam  rangka  meningkatkan  keberpihakan  seluruh  sektor  terkait    beserta  pemerintah  daerah  dalam  pengelolaan  batas  wilayah  dan  pengembangan  kawasan  perbatasan,  antara 
 

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐27     

   Ringkasan Eksekutif 

   

lain  Peraturan  Presiden  no.  78  Tahun  2005  tentang  Pengelolaan  Pulau‐Pulau  Kecil  Terluar dan Undang‐Undang no. 43 tahun 2008 tentang Wilayah Negara.  

Perkembangan Pelaksanaan Pembangunan Daerah Tertinggal 
Pemerintah  menggulirkan  kebijakan  program  pembangunan  daerah  tertinggal  sebagai upaya percepatan pembangunan daerah tertinggal. Kegiatan untuk mencapai  tujuan  tersebut  adalah  peningkatan  komitmen  pemerintah  dan  pemerintah  daerah,  penguatan  database  daerah  tertinggal,  penyusunan  kebijakan  strategi  nasional  Percepatan  Pembangunan  Daerah  Tertinggal  (STRANAS  PPDT)  dan  Rencana  Aksi  Nasional  Percepatan  Pembangunan  Daerah  Tertinggal  (RAN  PPDT),  pengembangan  instrumen  percepatan  pembangunan  daerah  tertinggal,  peningkatan  prasarana  dan  sarana  dasar  di  daerah  tertinggal  (P2IPDT  dan  P2SEDT),  dan  monitoring  serta  evaluasi  perkembangan  pembangunan  daerah  tertinggal  secara  berkala,  sistematis,  dan  terkoordinasi.    Sejalan  dengan  adanya  pemekaran  daerah,  saat  ini  terdapat  34  kabupaten Daerah Otonom Baru hasil pemekaran dari daerah induk yang merupakan  daerah  tertinggal,  sehingga  total  daerah  tertinggal  pada  tahun  2009  sebanyak  183  kabupaten.  Mengingat masih banyaknya daerah tertinggal, juga masih banyaknya permasalahan  dan  tantangan  yang  dihadapi  dalam  pembangunan  daerah  tertinggal,  diantaranya  belum  optimalnya  pengelolaan  potensi  sumberdaya  lokal,  rendahnya  kualitas  SDM  dan  kesejahteraan  masyarakat,  lemahnya  koordinasi  antarpelaku  pembangunan  di  daerah  tertinggal,  belum  optimalnya  tindakan  afirmatif  kepada  daerah  tertinggal,  rendahnya  aksesibilitas  ke  pusat  pertumbuhan,  serta  keterbatasan  prasarana  dan  sarana  pendukung,  maka  arah  kebijakan  pembangunan  daerah  tertinggal  sebagaimana yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)  Nasional  2010‐2014  adalah  melakukan  percepatan  pembangunan  daerah  tertinggal  dengan  meningkatkan  pengembangan  perekonomian  daerah  dan  kualitas  sumberdaya  manusia  yang  didukung  oleh  kelembagaan  dan  ketersediaan  infrastruktur  perekonomian  dan  pelayanan  dasar,  sehingga  daerah  tertinggal  dapat  tumbuh  dan  berkembang  secara  lebih  cepat  guna  dapat  mengejar  ketertinggalan  pembangunannya dari daerah lain yang sudah relatif lebih maju. 
 

Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) 
KEK  merupakan  suatu  kawasan  yang  ditetapkan  untuk    menyelenggarakan  fungsi  perekonomian  dan  memperoleh  fasilitas  tertentu  yang  ditujukan  untuk  melipatgandakan  pertumbuhan  ekonomi  nasional,  melalui  pengembangan  industri  berorientasi ekspor dan modernisasi industri dan  perdagangan sehingga diharapkan  memberikan  dampak  pada  penciptaan  lapangan  kerja,  peningkatan  devisa,  serta  peningkatan produk jasa. KEK akan dikembangkan melalui penyiapan kawasan yang  memiliki keunggulan geoekonomi dan geostrategi serta berfungsi untuk menampung  kegiatan  industri,  ekspor,  impor,  dan  kegiatan  ekonomi  lain  yang  memiliki  nilai  ekonomi  tinggi  dan  daya  saing internasional.  Arah  kebijakan  tersebut  dijabarkan  ke  dalam strategi, melalui fokus prioritas sebagai berikut:  

BUKU PEGANGAN 2010 
I‐28        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

a. Percepatan  pengembangan  iklim  investasi  yang  kondusif  bagi  pengembangan KEK;  b. Meningkatkan peran dunia usaha dalam pengelolaan KEK;  c. Pembangunan  sarana  dan  prasarana  transportasi  dan  energi  yang  mendukung pengembangan KEK;  d. Pembentukan dan pengembangan kelembagaan pengelola KEK.  Strategi  dan  fokus  prioritas  pembentukan  dan  pengembangan  kelembagaan  pengelola  KEK    merupakan  upaya  pengaturan  hubungan  antara  pemerintah  pusat  dengan pemerintah daerah, antara pengelola kawasan dengan daerah untuk menjiwai  semangat  otonomi  daerah  dan  desentralisasi.  Pemerintah  daerah  memiliki  kewenangan  untuk  menentukan  sikap  dan  arah  kebijakannya  terhadap  fungsionalisasi  pembangunan  yang  berbasis  karakteristik  daerah,  yang  sekaligus  dalam  rangka  meningkatkan  daya  saing  terhadap  daerah  lainnya  secara  ragional,  nasional,  dan  internasional.  Strategi  ini  diharapkan  dapat  menghasilkan  suatu  pengaturan  mekanisme  pengadministrasian  pemerintahan  di  kawasan,  dan  terbentuknya  intervensi  pembangunan  antara  pemerintah  daerah  dengan  lembaga  pengelola  kawasan  serta  pemerintah  pusat  yang  sinergis.  Kebijakan  ini  menjadi  prioritas  utama  dalam  prioritas  bidang  pengembangan  kawasan  strategis  untuk  mengawal  efisiensi  dan  efektifitas  kelembagaan  dalam  pelaksanaan  koordinasi  dan  pengelolaan kawasan, sehingga sasaran pembangunan KEK dapat tercapai. 

Pembangunan Perkotaan dan Perdesaan 
Arah  kebijakan  pembangunan  perkotaan  pada  2010–2014  adalah  mengembangkan  kota  sebagai  suatu  kesatuan  kawasan/wilayah,  yaitu  kota  sebagai  pendorong  pertumbuhan  nasional  dan  regional  serta  kota  sebagai  tempat  tinggal  yang  berorientasi  pada  kebutuhan  penduduk  kota.  Prinsip  pembangunan  perkotaan  adalah  mewujudkan:  (a)  kota  yang  nyaman/layak  huni,  yaitu  kota  yang  dapat  memenuhi  kebutuhan  warganya  akan  kenyamanan  hidup,  fisik,  sosial  budaya  dan  lingkungan;  (b)  kota  yang  berkelanjutan,  yaitu  kota  yang  dapat  mengantisipasi  perubahan  iklim  dan  bencana  alam  serta  memenuhi  keperluan  hidup  manusia  kini  dengan  tanpa  mengabaikan  keperluan  hidup  manusia  masa  datang;  (c)  kota  yang  berkeadilan,  yaitu  kota  yang  menyediakan  ruang  hidup  dan  usaha  bagi  seluruh  golongan  masyarakat;  serta  (d)  kota  sebagai  pendorong  pertumbuhan  yang  mampu  berkompetisi  dalam  perkembangan  ekonomi  global  dengan  memanfaatkan  potensi  sosial budaya dan kreatifitas lokal serta mampu menciptakan hierarki pasar bagi kota  menengah, kecil dan perdesaan.  Arah kebijakan pembangunan perdesaan tahun 2010‐2014 adalah memperkuat  kemandirian  desa  dalam  pemerintahan,  pembangunan  dan  kemasyarakatan;  meningkatkan  ketahanan  desa  sebagai  wilayah  produksi;  serta  meningkatkan  daya  tarik  perdesaan  melalui  peningkatan  kesempatan  kerja,  kesempatan  berusaha  dan  pendapatan  seiring  dengan  upaya  peningkatan  kualitas  sumber  daya  manusia  dan  lingkungan.  Berbagai  pertimbangan  utama  yang  perlu  diperhatikan  dalam  pembangunan  perdesaan  pada  lima  tahun  mendatang  adalah  (1)  kegiatan 

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐29     

   Ringkasan Eksekutif 

   

pembangunan  perdesaan  di  dalam  kerangka  wilayah  bukan  sektoral  yang  di  dalamnya  pembangunan  perdesaan  bukan  merupakan  penjumlahan  dari  seluruh  kegiatan  sektor  masing‐masing  secara  terpisah  tetapi  didasarkan  pada  kebutuhan  wilayah  perdesaan  secara  keseluruhan;  (2)  kegiatan  ekonomi  dan  pembangunan  lainnya  diarahkan  untuk  memaksimumkan  manfaat  bagi  daerah  lokal  melalui  pemanfaatan  sumberdaya  lokal,  fiskal  maupun  manusia  dan  budayanya;  (3)  pembangunan  dilaksanakan  melalui  pemusatan  perhatian  terhadap  kebutuhan,  kapasitas,  dan  perspektif  masyarakat  lokal,  yang  berarti  bahwa  suatu  wilayah  seyogyanya  mengembangkan  kapasitasnya  untuk  melakukan  pembangunan  sosio‐ ekonomi  yang  khas  wilayah  tersebut;  (4)  pembangunan  tidak  terbatas  hanya  pada  aspek  ekonomi  saja,  tetapi  juga  ekologis,  dan  sosial  kultural  secara  setara  sehingga  dapat tercipta pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development); dan (5)  partisipasi  masyarakat  lokal  dalam  proses  pengambilan  keputusan  terkait  pembangunan perdesaan sangat penting karena ditentukan sendiri (self‐determined)  oleh masyarakat lokal dan mengacu kepada kebutuhan lokal. 

Pengembangan Ekonomi Lokal  
Arah  kebijakan  pengembangan  ekonomi  lokal  pada  tahun  2010‐2014  adalah  meningkatkan  keterkaitan  ekonomi  antara  desa‐kota  atau  antara  wilayah  pusat  pertumbuhan  dengan  wilayah  produksi  (hulu‐hilir).  Untuk  dapat  melaksanakannya,  maka dilakukan dengan prinsip‐prinsip:   a. berorientasi pada pengembangan rantai nilai komoditas, mulai dari tahap input,  proses produksi, output, sampai dengan pemasaran;   b. dilakukan  berdasarkan  pengembangan  sektor/  komoditas  unggulan  berbasis  karakteristik  dan  kebutuhan  serta  aspirasi  lokal  (locality),  dengan  didukung  oleh  industri  pengolahan  sebagai  sektor  pendorong,  dan  sektor  pendukung  lainnya; serta   c. fokus pada pengembangan sistem pasar.  Arah  kebijakan  dan  strategi  pengembangan  ekonomi  lokal  dan  daerah  dalam  RPJMN 2010‐2014 diwujudkan dalam 5 (lima) fokus prioritas sebagai berikut :  1. Meningkatkan tata kelola ekonomi daerah;  2. Meningkatkan kapasitas SDM pengelola ekonomi daerah  3. Meningkatkan fasilitasi/ pendampingan dalam pengembangan ekonomi lokal dan  daerah;   4. Meningkatkan kerjasama dalam pengembangan ekonomi lokal dan daerah;   5. Meningkatkan  akses  terhadap  sarana  dan  prasarana  fisik  pendukung  kegiatan  ekonomi lokal dan daerah.  Pengembangan  ekonomi  lokal  dan  daerah,  selain  bertujuan  untuk  meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam rangka peningkatan daya saing ekonomi  daerah,  tetapi  juga  untuk  memeratakan  pembangunan  ekonomi,  antarwilayah Jawa‐ luar  Jawa,  antarprovinsi,  antarkabupaten/kota,  juga  antardesa‐kota  secara  berkeadilan  melalui peningkatan daya saing daerah. Untuk meningkatkan daya saing  daerah dan nasional, pemerintah telah melakukan berbagai kebijakan, seperti upaya 

BUKU PEGANGAN 2010 
I‐30        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

mendorong  kerjasama  antara  pemerintah  dengan  swasta  dalam    penyediaan  infrastruktur  melalui  Peraturan Presiden  No  67  Tahun  2005,  pengembangan Sistem  Pelayanan  Informasi  dan  Perizinan  Investasi  Secara  Elektronik  (SPIPISE)  yang  terintegrasi  antara  Badan  Koordinasi  Penanaman  Modal  (BKPM)  dengan  Kementerian/Lembaga  yang  memiliki  kewenangan  perizinan  terkait  dengan  investasi.   Upaya  lainnya  dalam  pengembangan  ekonomi  lokal  dan  daerah  adalah  pengembangan  kawasan  sentra  produksi  (KSP)  yang  pada  dasarnya  mengaitkan  kegiatan  produksi  dan  pemasaran,  melalui  pengembangan  kelembagaan  bisnis  yang  meliputi  seluruh  proses  kegiatan  agrobisnis,  yaitu  subsistem  produksi  dan  pendukungnya, subsistem pengolahan, dan subsistem distribusi pemasaran sehingga  dapat  memberikan  hasil  yang  menguntungkan  bagi  semua  pelaku  pembangunan  secara  optimal.  Pengembangan  kawasan  industri  berbasis  kompetensi  inti  industri  daerah  dapat  menghasilkan  sekumpulan  keunggulan  atau  keunikan  sumberdaya  termasuk sumber daya alam dan kemampuan suatu daerah untuk membangun daya  saing  dengan  upaya  mengelompokkan  industri  inti  yang  saling  berhubungan,  baik  dengan  industri  pendukung  maupun  dengan  industri  terkait  sehingga  dapat  meningkatkan daya saing daerah.    

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐31     

   Ringkasan Eksekutif 

   

ARAH KEBIJAKAN PEMERINTAH 
Sasaran Pokok dan Prioritas Nasional RPJMN 2010­2014 
Kerangka  Visi  Indonesia  2014  adalah  :  “TERWUJUDNYA  INDONESIA  YANG  SEJAHTERA, DEMOKRATIS, DAN BERKEADILAN” dengan penjelasan sebagai berikut.    Kesejahteraan  Rakyat.  Terwujudnya  peningkatan  kesejahteraan  rakyat,  melalui  pembangunan  ekonomi  yang  berlandaskan  pada  keunggulan  daya  saing,  kekayaan  sumber  daya  alam,  sumber  daya  manusia  dan  budaya  bangsa.  Tujuan  penting  ini  dikelola  melalui  kemajuan  penguasaan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi.  Demokrasi.  Terwujudnya  masyarakat,  bangsa  dan  negara  yang  demokratis,  berbudaya,  bermartabat  dan  menjunjung  tinggi  kebebasan  yang  bertanggung  jawab  serta hak asasi manusia. Keadilan. Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata,  yang dilakukan oleh seluruh  masyarakat secara aktif, yang hasilnya dapat dinikmati  oleh seluruh bangsa Indonesia.    Sasaran Pokok RPJMN 2010­2014  I. SASARAN PEMBANGUNAN KESEJAHTERAAN RAKYAT  1. Ekonomi  a. Pertumbuhan Ekonomi  : rata‐rata  6,3  –  6,8  persen  pertahun  (sebelum tahun  2014 tumbuh 7%)  b. Inflasi Rata‐rata : 4 ‐ 6 persen pertahun  c. Tingkat Pengangguran (terbuka) : 5 ‐ 6 persen pada akhir tahun 2014  d. Tingkat Kemiskinan : 8 ‐ 10 persen pada akhir tahun 2014  2. Pendidikan  a. Meningkatnya  rata‐rata  lama  sekolah  penduduk  berusia  15  tahun  ke  atas  (tahun), status awal 2008 : 7,50 persen, target 2014 : 8,25 persen  b. Menurunnya angka buta aksara penduduk berusia 15 tahun ke atas (persen)  status awal 2008 : 5,97 persen,  target 2014 : 4,18 persen  c. Meningkatnya APM SD/SDLB/ MI/Paket A (persen) status awal 2008 :  95,14  persen, target 2014 : 96,0 persen  d. Menin  gkatnya  APM  SMP/SMPLB/  MTs/Paket  B  (persen)  status  awal  2008:72,28 persen, target 2014 : 76,0 persen  e. Meningkatnya APK SMA/SMK/ MA/Paket C (persen) status awal 2008 : 64,28  persen, target 2014:85,0 persen  f. Meningkatnya  APK  PT  usia  19‐23  tahun  (persen)  status  awal  2008  :  21,26  persen,  target 2014 : 30,0 persen  g. Menurunnya  disparitas  partisipasi  dan  kualitas  pelayanan  pendidikan  antarwilayah, gender, dan sosial ekonomi, serta antarsatuan pendidikan yang  diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat  3. Kesehatan  a. Meningkatnya  umur  harapan  hidup  dari  status  awal  2008  sebesar  70,7tahun  menjadi 72, 0 tahun pada tahun 2014 

BUKU PEGANGAN 2010 
I‐32        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

b. Menurunnya  angka  kematian  ibu  melahirkan  per  100.000  kelahiran  hidup  (status awal 2008: 228/ target 2014:118 )  c. Menurunnya  angka  kematian  bayi  per  1.000  kelahiran  hidup  (status  awal  2008 : 34/target 2014: 24)  d. Menurunnya  prevalensi  kekurangan  gizi(gizi  kurang  dan  gizi  buruk)  pada  anak balita (status awal 2008 : 18,4 persen/target 2014 : < 15,0 persen)  4. Pangan  a. Produksi Padi  Tumbuh 3,22 persen per tahun  b. Produksi Jagung  Tumbuh 10,02 persen per tahun  c. Produksi Kedelai  Tumbuh 20,05 persen per tahun  d. Produksi Gula  Tumbuh 12,55 persen per tahun  e. Produksi Daging Sapi  Tumbuh 7,30 persen per tahun  5. Energi  a. Peningkatan kapasitas pembangkit listrik3.000 MW pertahun  b. Meningkatnya  rasio  elektrifikasi  Pada  tahun  2014  mencapai  80  persen  Meningkatnya  produksi  minyak  bumi  Pada  tahun  2014  mencapai  1,01  juta  barrel perhari  c. Peningkatan  pemanfaatan  energi  panas  bumi  Pada  tahun  2014  mencapai  5.000 MW  6. Infrastruktur  a. Pembangunan  Jalan  Lintas  Sumatera,  Jawa,  Kalimantan,  Sulawesi,  Nusa  Tenggara  Barat,  Nusa  Tenggara  Timur,  dan  Papua  Hingga  tahun  2014  mencapai sepanjang 19.370 km  b. Pembangunan  jaringan  prasarana  dan  penyediaan  sarana  transportasi  antar‐ moda  dan  antar‐pulau  yang  terintegrasi  sesuai  dengan  Sistem  Transportasi  Nasional dan Cetak Biru Transportasi Multimoda Selesai tahun 2014  c. Penuntasan  pembangunan  Jaringan  Serat  Optik  di  Indonesia  Bagian  Timur  Selesai sebelum tahun 2013  d. Perbaikan sistem dan jaringan transportasi di 4 kota besar (Jakarta, Bandung,  Surabaya, dan Medan) Selesai tahun 2014.  II. SASARAN PERKUATAN PEMBANGUNAN DEMOKRASI  Meningkatnya kualitas demokrasi Indonesia  1)  Semakin terjaminnya peningkatan iklim politik kondusif bagi berkembangnya  kualitas  kebebasan  sipil  dan  hak‐hak  politik  rakyat  yang  semakin  seimbang  dengan peningkatan kepatuhan terhadap pranata hukum;   2)    Meningkatnya  kinerja  lembaga‐lembaga  demokrasi,  dengan  indeks  rata‐rata  70 pada akhir tahun 2014;   3)    Menyelenggarakan  pemilu  tahun  2014  yang  dapat  dilaksanakan  dengan  adil  dan  demokratis,  dengan  tingkat  partisipasi  politik  rakyat  75%  dan  berkurangnya diskriminasi hak dipilih dan memilih;   4)    Meningkatnya  layanan  informasi  dan  komunikasi.  Pada  Tahun  2014:  Indeks  Demokrasi Indonesia 73. 

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐33     

   Ringkasan Eksekutif 

   

III. SASARAN PEMBANGUNAN PENEGAKAN HUKUM  Tercapainya  suasana  dan  kepastian  keadilan  melalui  penegakan  hukum  (rule  of  law) dan terjaganya ketertiban umum.  1)  Persepsi  masyarakat  pencari  keadilan  untuk  merasakan  kenyamanan,   kepastian,  keadilan  dan  keamanan  dalam  berinteraksi  dan  mendapat  pelayanan dari para penegak hukum   2)    Tumbuhnya  kepercayaan  dan  penghormatan  publik  kepada  aparat  dan  lembaga penegak hukum   3)    Mendukung  iklim  berusaha  yang  baik  sehingga  kegiatan  ekonomi  dapat  berjalan dengan pasti dan aman serta efisisen. Indeks Persepsi Korupsi (IPK)  tahun 2014 sebesar 5,0 yang meningkat dari 2,8 pada tahun 2009.  Arah Kebijakan Umum Pembangunan Nasional   Mengacu pada permasalahan dan tantangan yang dihadapi bangsa dan negara  Indonesia  baik  dewasa  ini  maupun  dalam  lima  tahun  mendatang,  maka  arah  kebijakan umum pembangunan nasional 2010‐2014 adalah sebagai berikut:   1.  Arah kebijakan umum untuk melanjutkan pembangunan mencapai Indonesia  yang  sejahtera.   2. Arah kebijakan umum untuk memperkuat pilar‐pilar demokrasi dengan penguatan  yang  bersifat  kelembagaan  dan  mengarah  pada  tegaknya  ketertiban  umum,  penghapusan  segala  macam  diskriminasi,  pengakuan  dan  penerapan  hak  asasi  manusia serta kebebasan yang bertanggung jawab.   Prioritas RPJMN 2010­2014  Visi dan Misi pemerintah 2009‐2014, perlu dirumuskan dan dijabarkan lebih  operasional  ke  dalam  sejumlah  program  prioritas  sehingga  lebih  mudah  diimplementasikan dan diukur tingkat keberhasilannya. Sebelas Prioritas Nasional di  bawah ini bertujuan untuk sejumlah tantangan yang dihadapi oleh bangsa dan negara  di masa mendatang. Sebagian besar sumber daya dan kebijakan akan diprioritaskan  untuk  menjamin  implementasi  dari  11  prioritas  nasional  yaitu:  (1)  reformasi  birokrasi  dan  tata  kelola;  (2)  pendidikan;  (3)  kesehatan;  (4)  penanggulangan  kemiskinan;  (5)  ketahanan  pangan;  (6)  infrastruktur;  (7)  iklim  investasi  dan  usaha;  (8)  energi;  (9)  lingkungan  hidup  dan  bencana;  (10)  daerah  tertinggal,  terdepan,  terluar, dan pasca‐konflik; serta (11) kebudayaan, kreativitas, dan inovasi teknologi.  Di samping sebelas prioritas nasional tersebut di atas, upaya untuk mewujudkan visi  dan misi pembangunan 2010‐2014 juga melalui pencapaian prioritas nasional lainnya  di  bidang  politik,  hukum,  dan  keamanan,  di  bidang  perekonomian,  dan  di  bidang  kesejahteraan rakyat.  Prioritas dan Sasaran Pokok RKP 2010            Perencanaan  pembangunan  perlu  diterjemahkan  ke  dalam  program  dan  kegiatan pembangunan yang nyata, spesifik dan jelas besaran alokasi pendanaannya.  Pelaksanaan  Rencana  Pembangunan  Jangka  Menengah  Nasional  2010‐2014  dituangkan  dalam  dokumen  Rencana  Kerja  Pemerintah  yang  memuat  kebijakan, 

BUKU PEGANGAN 2010 
I‐34        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

program  dan  kegiatan  pembangunan  yang  telah  disepakati  bersama  dengan  Dewan  Perwakilan Rakyat (DPR).            Berdasarkan  kemajuan  yang  dicapai  dalam  tahun  2008  dan  perkiraan  2009,  serta  tantangan  yang  dihadapi  tahun  2009,  tema  pembangunan  pada  tahun  2010  adalah:  “PEMULIHAN  PEREKONOMIAN  NASIONAL  DAN  PEMELIHARAAN  KESEJAHTERAAN RAKYAT”.  Berdasarkan  sasaran  yang  harus  dicapai  dalam  RPJM  II  Tahun  2010‐2014,  kemajuan yang telah dicapai dalam RPJM I Tahun 2005‐2009, serta berbagai masalah  dan  tantangan  pokok  yang  harus  dipecahkan  dan  dihadapi  pada  tahun  2010,  maka  prioritas pembangunan nasional pada tahun 2010 adalah sebagai berikut:  1. Pemeliharaan  Kesejahteraan  Rakyat,  serta  Penataan  Kelembagaan  dan  Pelaksanaan Sistem Perlindungan Sosial;  2. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia;  3. Pemantapan  Reformasi  Birokrasi  dan  Hukum,  serta  Pemantapan  Demokrasi  dan  Keamanan Nasional;  4. Pemulihan  Ekonomi  yang  Didukung  oleh  Pembangunan  Pertanian,  Infrastruktur,  dan Energi;  5. Peningkatan  Kualitas  Pengelolaan  Sumber  Daya  Alam  dan  Kapasitas  Penanganan  Perubahan Iklim.  Asumsi Makro dan Kebijakan Fiskal 2010  Memperhatikan perkembangan ekonomi dunia dan domestik sepanjang tahun  2009  dan  perkembangan  terkini,  besaran  asumsi  dasar  ekonomi  makro  yang  digunakan sebagai acuan perhitungan besaran APBN 2010 diperkirakan tidak sesuai  lagi. Dalam rangka memutakhirkan asumsi dasar ekonomi makro agar lebih realistis,  dalam RAPBN‐P 2010 asumsi dasar ekonomi makro adalah sebagai berikut:   (1) pertumbuhan ekonomi diperkirakan tetap tumbuh sebesar 5,5 persen,  (2) tingkat inflasi meningkat menjadi 5,7 persen,   (3) rata‐rata suku bunga SBI‐3 bulan meningkat menjadi 7,0 persen,   (4) nilai tukar menguat menjadi sekitar Rp9.500 per US$,   (5) harga minyak mentah Indonesia rata‐rata meningkat menjadi US$77 per barel,  (6) lifting minyak tetap sebesar 0,965 juta barel per hari.   Penyesuaian  ini  diperlukan  dalam  rangka  penetapan  besaran  APBN  guna  menghadapi  perubahan  kondisi  ekonomi  agar  target  dan  sasaran  ekonomi  lebih  realistis.  Pokok­Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2010  Berdasarkan  hasil  evaluasi  kinerja  ekonomi  di  tahun  2009  serta  melihat  perkembangan  perekonomian  dan  pembangunan  di  tahun  2010,  Pemerintah  memandang  perlu  untuk  melakukan  perubahan  terhadap  APBN  2010.  Dalam  kerangka  tersebut,  perubahan  APBN  2010  ditujukan  antara  lain  untuk:  (a)  mengantisipasi perubahan indikator ekonomi makro dalam tahun 2010; (b) menjaga  stabilitas harga barang dan jasa di dalam negeri; serta (c) mempercepat pelaksanaan  program‐program  prioritas  pembangunan  nasional  dalam  tahun  2010  dan  jangka 

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐35     

   Ringkasan Eksekutif 

   

menengah.  Perubahan  APBN  2010  tersebut  dilakukan  secara  menyeluruh  guna  menampung  seluruh  perubahan  dalam  pendapatan,  belanja,  serta  defisit  dan  pembiayaan anggaran.  Dalam  RAPBN‐P  2010  pendapatan  negara  dan  hibah  diperkirakan  menjadi  Rp974.819,7  miliar,  atau  2,6  persen  lebih  tinggi  dari  target  APBN  2010  sebesar  Rp949.656,1  miliar.  Di  sisi  belanja  negara,  perubahan  pagu  berasal  dari  kombinasi  penambahan  anggaran  belanja  negara  baru,  dan  realokasi  anggaran.  Penambahan  anggaran belanja negara dalam RAPBN‐P 2010 tersebut bersumber dari penambahan  anggaran  belanja  Pemerintah  pusat,  dan  penambahan  anggaran  transfer  ke  daerah.   Secara  keseluruhan  tambahan  belanja  negara  yang  dibutuhkan  diperkirakan  mencapai sebesar Rp56.970,5 miliar, sehingga dalam RAPBN‐P 2010 belanja negara  diperkirakan menjadi Rp1.104.636,6 miliar.  Pokok­Pokok Perubahan Kebijakan dan Anggaran Belanja Pusat Tahun 2010   Perubahan  terhadap  APBN  tahun  anggaran  2010  yang  ditetapkan  dengan  Undang‐undang  No.  47  tahun  2009  perlu  dilakukan  karena  adanya  beberapa  pertimbangan sebagai berikut.  Pertama,  APBN  tahun  2010  merupakan  APBN  transisi,  yang  disusun  oleh  Pemerintahan  yang  periodenya  berakhir  tahun  2009  bersama‐sama  dengan  DPR  periode  yang  sama,  namun  dilaksanakan  oleh  Pemerintah  hasil  Pemilihan  Presiden  2009.   Kedua,  sejak  ditetapkan  dengan  Undang‐undang  Nomor  47  Tahun  2009  tentang  APBN  tahun  2010,  telah  terjadi  perkembangan  dan  perubahan  yang  sangat  signifikan  pada  berbagai  indikator  ekonomi  makro  yang  menjadi  asumsi  dasar  penyusunan APBN tahun 2010 yang tidak sesuai lagi dengan kondisi riil saat ini dan  perkiraan setahun ke depan.   Ketiga, adanya perubahan pokok‐pokok kebijakan fiskal tahun 2010, sebagai  dampak  perkembangan  lingkungan  ekonomi  dan  sosial  serta  upaya  percepatan  pencapaian target‐target pembangunan. Perubahan pokok‐pokok kebijakan tersebut  antara lain meliputi: (1) pelonggaran defisit anggaran, dari 1,6 persen terhadap PDB  dalam APBN tahun 2010 menjadi 2,1 persen terhadap PDB; (2) rencana pelaksanaan  program stabilisasi harga beberapa komoditas pokok dan vital, seperti beras, listrik,  pupuk,  dan  minyak  goreng;  (3)  program  rehabilitasi  dan  rekonstruksi  Padang  ‐  Sumatera  Barat,  dan  Jawa  Barat  pasca  bencana  alam  gempa  bumi;  (4)  dukungan  anggaran bagi pelaksanaan Inpres No.1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan  Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010; (5) program kegiatan prioritas lainnya  yang belum tertampung dalam APBN tahun 2010; serta (6) penggunaan sebagian dari  Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) tahun 2009 untuk membiayai peningkatan  defisit anggaran tahun 2010.  Di  bidang  belanja  negara,  perubahan  pokok‐pokok  kebijakan  fiskal  yang  mempunyai  implikasi  pada  peningkatan  beban  belanja  non  Kementerian  Negara/Lembaga  (K/L)  antara  lain  meliputi:  (i)  penundaan  kenaikan  tarif  dasar  listrik  (TDL)  dari  yang  semula  direncanakan  akan  diberlakukan  sejak  Januari  2010  menjadi  mulai  awal  Semester  II  tahun  2010;  (ii)  penundaan  kenaikan  harga  eceran 

BUKU PEGANGAN 2010 
I‐36        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

 

 Memperkuat Sinergi Antara Pusat dan Daerah dan Antardaerah

tertinggi (HET) pupuk yang seharusnya dilakukan pada bulan Januari 2010 menjadi  mulai  bulan  April  2010  untuk  menyesuaikan  periode  musim  tanam  yang  biasanya  dilakukan pada bulan Oktober‐Maret; (iii) kebijakan kenaikan harga pembelian gabah  kering panen untuk mengurangi dampak kenaikan HET pupuk terhadap pendapatan  petani dan meningkatkan ketahanan pangan.  Pokok­Pokok Perubahan Alokasi Transfer ke Daerah Tahun 2010  Dengan  memperhatikan  berbagai  peraturan  perundang‐undangan  serta  berpijak  pada  hasil  evaluasi  selama  implementasi  tahun  2006‐2009,  dan  mengacu  pada  hasil  pembahasan  antara  DPR  RI  dan  Pemerintah  dalam  rangka  Pembicaraan  Pendahuluan  Penyusunan  APBN  tahun  2010,  kebijakan  transfer  ke  daerah  pada  tahun 2010 akan lebih dipertajam untuk:  1. mengurangi  kesenjangan  fiskal  antara  pusat  dan  daerah  (vertical  fiscal         imbalance) dan antardaerah (horizontal fiscal imbalance);   2. meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi   kesenjangan  pelayanan publik antardaerah;   3. mendukung  kesinambungan  fiskal  nasional  (fiscal  sustainability)  dalam  rangka  kebijakan ekonomi makro;  4. meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah;  5. meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional; serta   6. meningkatkan  sinkronisasi  antara  rencana  pembangunan  nasional  dengan  rencana pembangunan daerah.  Guna mendukung arah kebijakan transfer ke daerah tersebut, dalam RAPBN‐P  tahun 2010 alokasi anggaran Transfer ke Daerah diperkirakan sebesar Rp334.268,3  miliar  atau  5,3  persen  terhadap  PDB.  Secara  nominal,  jumlah  tersebut  berarti  mengalami  peningkatan  sebesar  Rp11.845,3  miliar  atau  3,7  persen  dari  pagu  anggaran  transfer  ke  daerah  dalam  APBN  tahun  2010  sebesar  Rp322.423,0  miliar.  Peningkatan  Transfer  ke  Daerah  dalam  RAPBN‐P  tahun  2010  tersebut  selain  disebabkan  oleh  adanya  peningkatan  DBH,  juga  disebabkan  oleh  adanya  pos  baru,  yaitu  hibah  ke  daerah.  Alokasi  anggaran  transfer  ke  daerah  dalam  RAPBN‐P  tahun  2010 tersebut terdiri atas dana perimbangan 92,9 persen, dana otonomi khusus dan  penyesuaian 4,9 persen, serta hibah ke daerah 2,2 persen. 

BUKU PEGANGAN 2010  Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

I‐37     

   Ringkasan Eksekutif 

   

PENUTUP 
Sinergi pusat‐daerah dan antardaerah merupakan penentu utama kelancaran  pencapaian  tujuan  dan  sasaran  pembangunan  yang  tercantum  dalam  Rencana  Pembangunan  Jangka  Menengah  Nasional  (RPJMN)  2010‐2014.  Pemecahan  masalah  pembangunan  seperti  kemiskinan,  pengangguran,  ketahanan  pangan,  kondisi  infrastruktur  yang  kurang  tersedia  dan  degradasi  lingkungan  di  daerah,  serta  percepatan  pertumbuhan  ekonomi  memerlukan  suatu  manajemen  pembangunan  yang mengatur koordinasi dan kerjasama yang solid antara Pemerintah, Pemerintah  Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Hal terpenting dalam pelaksanaan sinergi  pusat dan daerah adalah terwujudnya sinergi kebijakan antara pemerintah pusat dan  daerah  sehingga  setiap  kebijakan  dirumuskan  dengan  memperhatikan  dan  menampung  aspirasi  daerah,  serta  mengutamakan  penyelesaian  permasalahan  secara  nyata  di  daerah.  Sinergi  pusat‐daerah  dan  antardaerah  dilakukan  dalam  seluruh proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi yang  mencakup kerangka kebijakan, regulasi,  anggaran, kelembagaan, dan pengembangan  wilayah.   Sinergi  kebijakan  pembangunan  antara  pusat  dan  daerah  dan  antardaerah  diperlukan  untuk:  (1)  memperkuat  koordinasi  antarpelaku  pembangunan  di  pusat  dan  daerah;  (2)  menjamin  terciptanya  integrasi,  sinkronisasi,  dan  sinergi  baik  antardaerah,  antarruang,  antarwaktu,  antarfungsi  pemerintah  maupun  antara  Pusat  dan  Daerah;  (3)  menjamin  keterkaitan  dan  konsistensi  antara  perencanaan,  penganggaran,  pelaksanaan,  dan  pengawasan;  (4)  mengoptimalkan  partisipasi  masyarakat  di  semua  tingkatan  pemerintahan;  serta  (5)  menjamin  tercapainya  penggunaan sumber daya secara efisien, efektif,  berkeadilan, dan berkelanjutan.  Buku  Pegangan  Tahun  2010  Penyelenggaraan  Pemerintahan  dan  Pembangunan  Daerah  ini  ditujukan  untuk  menjadi  pegangan  Pemerintah  Daerah  dalam  pelaksanaan  sinergi  kebijakan  yang  dimaksudkan  agar  pemerintah  daerah  mampu  memahami  dan  melaksanakan  kebijakan  pemerintah  pusat  dengan  efisien  dan  efektif;  serta  mendukung  pelaksanaan  kebijakan  tersebut  dengan  berbagai  sumber  daya  yang  tersedia.  Dengan  disusunnya  Buku  Pegangan  Tahun  2010  ini  diharapkan  berbagai  permasalahan  dan  hambatan  yang  muncul  dalam  proses  pembangunan  mulai  dari  perencanaan,  penganggaran,  pelaksanaan,  pengendalian  dan  evaluasi  dapat  teridentifikasi,  serta  dapat  dirumuskan  berbagai  alternatif  pemecahan  masalah  melalui  sinergi  pelaksanaan  berbagai  kebijakan  yang  telah  disusun  atau  yang  akan  disusun  di  masa  yang  akan  datang.  Selanjutnya  Buku  Pegangan  Tahun  2010  ini  dapat  menjadi  pegangan  bagi  pemerintah  daerah  untuk  melaksanakan  agenda  pembangunan  dengan  memperkuat  sinergi  pusat  dan  daerah  dan antardaerah.   

BUKU PEGANGAN 2010 
I‐38        Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->