P. 1
Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2012. Pelengkap Buku Pegangan. Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah Tahun 2012. Pelengkap Buku Pegangan. Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

|Views: 792|Likes:
Published by Oswar Mungkasa

Dokumen ini diterbitkan oleh Kementerian Keuangan melengkapi dokumen Buku Pegangan yang dikeluarkan oleh Bappenas

Dokumen ini diterbitkan oleh Kementerian Keuangan melengkapi dokumen Buku Pegangan yang dikeluarkan oleh Bappenas

More info:

Published by: Oswar Mungkasa on Oct 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

Sections

Pelengkap BUKU PEGANGAN

Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

2012

Kebijakan Hubungan
Keuangan Pusat dan Daerah

2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan April 2012

KEMENTERIAN KEuANgAN REPuBlIK INDoNEsIA DIREKToRAT JENDERAl PERIMBANgAN KEuANgAN gedung Radius Prawiro lantai 9 Jl. DR. Wahidin No. 1 Jakarta Pusat 10710 Tlp. 021.350.9442, Faks. 021.350.9443 Website: www.djpk.depkeu.go.id Email: info@djpk.depkeu.go.id
ii

Pelengkap Buku Pegangan 2012

KATA PENGANTAR

MENTERI KEuANgAN REPuBlIK INDoNEsIA

Kerangka otonomi daerah dan desentralisasi fiskal memberikan dimensi yang lebih jelas bagi Daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pelayanan serta pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. Melalui otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, pembangunan nasional yang bersifat inklusif mengedepankan pembangunan berdimensi kewilayahan dengan daerah sebagai pusat pertumbuhan. Dengan dimensi yang jelas tersebut, maka urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat didanai dari APBN, sedangkan urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah daerah didanai dari APBD. Dengan demikian sistem pendanaan penyelenggaraan pemerintahan dapat berjalan dengan lebih efisien, efektif dan tidak menimbulkan tumpang tindih ataupun tidak tersedianya pendanaan pada suatu bidang pemerintahan. Pelaksanaan kebijakan otonomi daerah telah mengubah pola pengelolaan administrasi pemerintahan dan fiskal di Indonesia yang semula bersifat sentralisasi menjadi desentralisasi. Implikasi langsung dari kebijakan
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 iii

tersebut adalah kepada daerah diberikan diskresi untuk mengelola belanjanya sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah masingmasing. sumber dana dalam APBD dapat dialokasikan untuk mendanai pelaksanaan urusan wajib dan urusan pilihan dalam bentuk program dan kegiatan yang terkait dengan peningkatan pelayanan publik, penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi daerah. sebagai konsekuensi atas kebijakan tersebut, kebutuhan terhadap dana untuk membiayai pelaksanaan fungsi-fungsi yang telah menjadi kewenangan daerah juga meningkat. untuk itu, pemerintah pusat melaksanakan kebijakan desentralisasi fiskal melalui perimbangan keuangan antara pusat dan daerah sesuai dengan asas money follows function sebagai upaya untuk mendukung pembiayaan berbagai urusan dan kewenangan yang telah dilimpahkan kepada daerah. Tujuan utama dari perimbangan keuangan tersebut adalah untuk mengurangi ketimpangan fiskal antara pemerintah pusat dan daerah, serta mengurangi kesenjangan kemampuan fiskal antardaerah. selain itu, kebijakan pendanaan kepada daerah dalam rangka menjalankan urusan dan kewenangan yang telah dilimpahkan tersebut diikuti dengan pemberian kewenangan dalam hal perpajakan daerah. sangat disadari bahwa kebijakan desentralisasi fiskal erat kaitannya dengan pelayanan publik mengingat fungsinya sebagai alat bagi pemerintah daerah untuk menyediakan dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Desentralisasi fiskal akan terlaksana dengan baik bila didukung oleh pemerintah yang mampu melakukan pengawasan dan law enforcement, adanya sumber daya manusia yang kuat pada jajaran aparatur pemerintah daerah, serta adanya keseimbangan dan kejelasan

iv

Pelengkap Buku Pegangan 2012

dalam hal pembagian kewenangan dan tanggung jawab untuk melakukan pungutan pajak dan retribusi daerah dalam rangka meningkatkan PAD. untuk itu, peranan pemerintah daerah dalam fungsi alokasi menjadi semakin besar terutama untuk merencanakan dan melaksanakan kebijakan di daerah, sehingga tujuan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal dapat tercapai. Dalam kaitan inilah, maka upaya untuk membangun kebijakan yang lebih mempertimbangkan kepentingan publik dirasakan semakin penting. Dengan demikian, penciptaan lingkungan yang kondusif perlu dibangun, antara lain melalui kepastian peraturan, transparansi pelaksanaan aturan, kecepatan pemberian layanan, kemudahan dan kesederhanaan proses memperoleh layanan publik tersebut, serta sinergi pembangunan serta kebijakan antara pusat dan daerah, serta antardaerah. sementara itu, Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2012 ini disusun agar dapat mendiseminasikan prinsip-prinsip dan implementasi kebijakan desentralisasi fiskal melalui Transfer ke Daerah, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, Pinjaman Daerah, dan Hibah Daerah. selain itu, buku ini memberikan gambaran yang kuat atas pelaksanaan pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan, serta pelaksanaan pendanaan urusan bersama antara Pusat dan Daerah, terutama dalam hal penanggulangan kemiskinan. Dalam rangka meningkatkan transparansi atas kebijakan dan pelaksanaan kebijakan desentralisasi fiskal, Kementerian Keuangan merasa perlu membangun komunikasi dan informasi yang efektif bagi pemerintah daerah dan stakeholders lainnya, maka instrumen kunci yang juga menjadi penting bagi kesuksesan pelaksanaan sebuah kebijakan adalah apabila ditunjang oleh sistem informasi yang terpadu. saat ini melalui Komunikasi dan Manajemen Data Nasional sIKD (KoMANDAN sIKD) diharapkan informasi keuangan daerah yang komprehensif dapat

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

v

dinikmati oleh masyarakat luas agar proses pelaksanaan pembangunan melalui desentralisasi fiskal dapat sejalan dengan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Pada kesempatan ini saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan buku ini, mulai dari proses perancangan hingga finalisasi dan harmonisasi substansinya. Akhirnya saya berharap semoga buku ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan pihak-pihak terkait lainnya dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang lebih baik di Indonesia.

Jakarta,

April 2012

MENTERI KEUANGAN,

AGUS D.W. MARTOWARDOJO

vi

Pelengkap Buku Pegangan 2012

DAFTAR ISI
KATA PENgANTAR ......................................................................................iii DAFTAR IsI .................................................................................................vii DAFTAR gAMBAR .....................................................................................xiii DAFTAR TABEl ..........................................................................................xv DAFTAR gRAFIK ......................................................................................xvii BAB I PENDAHuluAN .......................................................................................... 3 BAB II HuBuNgAN KEuANgAN PusAT DAN DAERAH .................................... 11 2.1. sIsTEM PENDANAAN uRusAN PEMERINTAHAN ........................... 11 2.2. PENguATAN sIsTEM PERPAJAKAN DAERAH ................................ 17 2.3. KEBIJAKAN TRANsFER KE DAERAH............................................... 22 2.3.1. 2.3.2. 2.3.3. 2.3.4. Dana Bagi Hasil (DBH) ........................................................... 24 Dana Alokasi umum (DAu) .................................................... 26 Dana Alokasi Khusus (DAK) ................................................... 28 Dana otonomi Khusus dan Penyesuaian ............................... 31

2.4. DANA DARuRAT ................................................................................. 33 2.5. PINJAMAN DAERAH ........................................................................... 34 2.6. HIBAH DAERAH .................................................................................. 36 2.7. DANA DEKoNsENTRAsI DAN TugAs PEMBANTuAN.................... 37 BAB III KEBIJAKAN HuBuNgAN KEuANgAN PusAT DAN DAERAH TAHuN 2012............................................................................................................ 43 3.1. TRANsFER KE DAERAH ................................................................... 43 3.1.1. 3.1.2. PENDAHuluAN ..................................................................... 43 Dana Bagi Hasil (DBH) ........................................................... 45

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

vii

3.1.2.1. DBH Pajak ................................................................. 45 3.1.2.1.1. PAJAK PENgHAsIlAN (PPh) WAJIB PAJAK oRANg PRIBADI DAlAM NEgERI (WPoPDN) DAN PPh PAsAl 21 ............................................... 48 3.1.2.1.2. 3.1.2.1.3. DBH PAJAK BuMI DAN BANguNAN (PBB) ...................................................... 49 DBH CuKAI HAsIl TEMBAKAu (DBH CHT) ............................................. 51 3.1.2.2. Dana Bagi Hasil sumber Daya Alam (DBH sDA) ...... 61 A. DBH sDA PERTAMBANgAN MINYAK DAN gAs BuMI (DBH sDA MIgAs) ........................... 66 B. DBH sDA PERTAMBANgAN uMuM .................. 82 C. DBH sDA KEHuTANAN ...................................... 84 D. DBH sDA PERIKANAN ....................................... 87 E. DBH sDA PERTAMBANgAN PANAs BuMI ....... 90 F. 3.1.3. PENETAPAN AloKAsI DBH suMBER DAYA AlAM ........................................................ 91 DANA AloKAsI uMuM (DAu) ............................................... 93 3.1.3.1. PENYusuNAN FoRMulA DAN PERHITuNgAN DAu ........................................................................... 93 3.1.3.2. VARIABEl DAu ........................................................ 93 3.1.3.3. PERHITuNgAN AloKAsI DAu ................................ 94 A. BENTuK uMuM FoRMulA DAu ....................... 94 B. DATA PENgHITuNgAN DAu ............................. 96 3.1.3.4. DAu DAERAH PEMEKARAN .................................. 101 3.1.4. DANA AloKAsI KHusus (DAK) ........................................... 101 3.1.4.1. Formulasi Kebijakan Dana Alokasi Khusus TA 2012 .................................................................... 102 3.1.4.1.1. Arah dan Penggunaan DAK ..................... 102 3.1.4.1.2. Penetapan Program Dan Kegiatan .......... 103
viii

Pelengkap Buku Pegangan 2012

3.1.4.1.3. Penghitungan Alokasi DAK ..................... 104 A. KRITERIA uMuM ................................. 105 B. KRITERIA KHusus ............................. 106 C. KRITERIA TEKNIs ............................... 107 3.1.4.1.4. Administrasi Pengelolaan DAK ............... 126 A. Dana Pendamping ................................ 126 B. Penganggaran ...................................... 126 C. Pemantauan dan Pengawasan ............ 127 D. Pelaporan ............................................. 128 3.1.5. 3.1.6. BANTuAN oPERAsIoNAl sEKolAH (Bos) ..................... 129 PENYAluRAN ANggARAN TRANsFER KE DAERAH ...... 130 3.1.6.1. PENYAluRAN DBH PAJAK .................................... 131 3.1.6.1.1. Penyaluran Dana Bagi Hasil PPh ............ 131 3.1.6.1.2. Penyaluran Dana Bagi Hasil PBB ............ 133 3.1.6.5. PENYAluRAN Bos ................................................ 137 3.1.7. DANA BAgI HAsIl PBB MIgAs DAN PANAs BuMI ........... 142 3.1.7.1. Pengadministrasian objek dan subjek PBB Migas dan Panas Bumi ............................................ 144 3.1.7.2. Pembayaran PBB Migas dan Panas Bumi .............. 148 3.1.7.3. Alokasi dan Penyaluran DBH PBB Migas dan Panas Bumi .............................................................. 150 3.1.7.4. PBB Migas sebagai Faktor Pengurang dalam .............. Perhitungan DBH sDA Migas .................................. 152 3.2. KEBIJAKAN DI BIDANg PERPAJAKAN DAN RETRIBusI DAERAH ........................................................................ 154 3.2.1. 3.2.2. 3.2.3. latar Belakang ...................................................................... 154 Kebijakan Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB) .............................................................................. 158 Pendaerahan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan serta Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan....................................................................... 162
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 ix

A. PElAKsANAAN PENgAlIHAN BPHTB ........................ 165 B. PElAKsANAAN PENgAlIHAN PBB-P2 ....................... 170 3.2.4. 3.3.1 3.3.2. Penambahan Jenis Retribusi Daerah ................................... 173 Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah ................................................................. 176 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 127/PMK.07/2011 Tentang Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Dan Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2012 .............................................. 182 3.3.3. 3.3.4. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Hibah Kepada Daerah ..................................................................... 185 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 162/Pmk.07/2011 Tentang Tata Cara Pemotongan DAu dan/atau DBH Bagi Daerah Induk/Provinsi Yang Tidak Memenuhi Kewajiban Hibah/Bantuan Pendanaan Kepada Daerah otonom Baru (DoB) .................................................................................... 188 3.5. DANA DEKoNsENTRAsI, DANA TugAs PEMBANTuAN DAN DANA uRusAN BERsAMA PusAT DAN DAERAH ................ 191 3.5.1. Dana dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan ............. 191 3.5.1.1. gambaran umum .................................................... 191 3.5.1.2. Formulasi Keseimbangan Pendanaan di Daerah untuk Perencanaan lokasi dan Anggaran Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ................... 194 3.5.1.3. Rekomendasi Menteri Keuangan tentang Keseimbangan Pendanaan di Daerah Dalam Rangka Perencanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2012 ........................ 196 3.5.2. Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan ............................................... 197 3.5.2.1. gambaran umum .................................................... 197 3.5.2.2. Peraturan Menteri Keuangan tentang Indeks
x

3.3. PINJAMAN, HIBAH, DAN PEMBIAYAAN PENATAAN DAERAH....... 176

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Fiskal dan Kemiskinan Daerah Dalam Rangka Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2012 .............................................. 199 BAB IV PENDuKuNg KEBIJAKAN HuBuNgAN KEuANgAN PusAT DAN DAERAH TAHuN 2012 ............................................................................ 207 4.1. PENERusAN PINJAMAN luAR NEgERI: PRoYEK JAKARTA EMERGENCY DREDGING INITIATIVE (JEDI) / JAKARTA URGENT FLOOD MITIGATION PROJECT (JuFMP) ............................................................................................. 207 4.2. oBlIgAsI DAERAH: usulAN PENERBITAN oBlIgAsI DAERAH PEMERINTAH PRoVINsI DKI JAKARTA .......................... 209 4.3. PINJAMAN DAERAH DARI PEMERINTAH PusAT: PusAT INVEsTAsI PEMERINTAH ................................................... 210 4.4. PENERusAN HIBAH luAR NEgERI KEPADA PEMERINTAH DAERAH ............................................................................................ 211 4.5. PElATIHAN PENgElolAAN KEuANgAN DAERAH (lKD, KKD, DAN KKDK) .................................................................... 215 4.6. REVIEW ATAs BElANJA DAERAH DAN DANA PEMDA DI PERBANKAN ................................................................................ 219 4.6.1. 4.6.2. 4.6.3. Tren Belanja APBD secara Nasional .................................... 219 Dana Idle Pemda di Perbankan ............................................ 223 Hubungan Belanja Daerah dengan Indikator Kesejahteraan Masyarakat ................................................... 224 4.7. KoMuNIKAsI DAN MANAJEMEN DATA NAsIoNAl sIKD (KoMANDAN sIKD) .......................................................................... 226 4.7.1. 4.7.2. 4.7.3. Pendahuluan ......................................................................... 226 landasan Hukum .................................................................. 228 Konsep KoMANDAN sIKD ................................................... 229 4.7.3.1. Definisi ..................................................................... 229
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 xi

4.7.3.2. Helpdesk .................................................................. 230 4.7.4. Manfaat Komandan sIKD ..................................................... 230 4.8. WEB-BASED REPORTING SYSTEM (WBRs) ................................ 230 4.8.1. latar Belakang ......................................................................... 230 4.8.2. Ruang lingkup ......................................................................... 232 4.8.3. Manfaat .................................................................................... 233 4.9. KoNsolIDAsI lAPoRAN KEuANgAN PEMERINTAH DAERAH DENgAN lAPoRAN KEuANgAN TRANsFER KE DAERAH TAHuN ANggARAN 2010................................................................. 233 4.9.1. latar Belakang ......................................................................... 233 4.9.2. lingkup, Tujuan dan sumber Data .......................................... 234 4.9.3. Dasar Penyusunan laporan Konsolidasian ............................. 234 4.9.4. gambaran umum Hasil Konsolidasi ........................................ 235 4.10. PENETAPAN DAN PENYAMPAIAN PERDA APBD ................. 237 BAB V ....................................................................................................... 243 PENuTuP ................................................................................................ 243 DAFTAR PusTAKA .................................................................................. 245 INDEX....................................................................................................... 251 uCAPAN TERIMA KAsIH ......................................................................... 255

xii

Pelengkap Buku Pegangan 2012

DAFTAR GAMBAR
gambar 2.1 gambar 3.1 gambar 3.2 gambar 3.3 gambar 3.4 gambar 3.5 gambar 3.6 gambar 3.7 gambar 3.8 gambar 3.9 gambar 3.10 gambar 3.11 gambar 3.12 gambar 3.13 gambar 3.14 gambar 3.15 gambar 3.16 gambar 3.17 gambar 3.18 Kerangka Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah .............................................................................. 14 Prosentase Pembagian Bagi Hasil Pajak ......................... 47 skema Perhitungan DBH sumber Daya Alam (sDA)....... 64 Porsi Pembagian DBH sDA Minyak Bumi ........................ 68 Porsi Pembagian DBH sDA gas Bumi............................. 69 Mekanisme Penetapan Perkiraan Alokasi DBH sDA Migas ................................................................................ 73 Mekanisme Perhitungan DBH sDA Migas ....................... 76 Counter Balance dalam Management Cashflow DBH Migas ....................................................................... 79 Perhitungan DBH sDA Kehutanan ................................... 86 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH sDA........................ 92 Mekanisme Penetapan Alokasi Pagu DAu Nasional ....... 93 Formula umum DAu Menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 .................................................... 100 Pembagian DAu bagi Daerah Pemekaran ..................... 101 Penetapan Program dan Kegiatan ................................. 104 Proses Penentuan Besaran Alokasi per Daerah ............ 124 Penyaluran Dana Bos Per Triwulan .............................. 138 Penyaluran Dana Cadangan Bos Per Triwulan............. 139 Pola Hubungan Fungsi Antar lembaga Dalam Hibah Daerah ................................................................. 187 Mekanisme Pemotongan DAu dan/atau DBH Bagi Daerah Induk/Provinsi Yang Tidak Memenuhi Kewajiban Hibah Bantuan Pendanaan Kepada Daerah otonom Baru (DoB) .......................................... 189

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

xiii

gambar 3.19

Pola Hubungan Antar Instansi Terkait dalam Penyelengaraan dan Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ........................................................ 194

gambar 3.20 gambar 3.21 gambar 3.22

Alur Pikir Formulasi Keseimbangan Pendanaan di Daerah ........................................................................ 195 sumber Pendanaan urusan Bersama............................ 199 Alur Pikir Formulasi Indeks Fiskal Dan Kemiskinan Daerah ............................................................................ 203

xiv

Pelengkap Buku Pegangan 2012

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Pola Penyaluran DBH Pertambangan Minyak Bumi dan gas Bumi .......................................................................... 80 Tabel 3.2 Tabel 3.3 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 3.6 Tabel 3.7 Tabel 3.8 Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6 Tabel 4.7 Porsi Pembagian DBH sDA Pertambangan umum ................ 84 Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) ...................... 89 Tarif Pungutan Pungutan Hasil Perikanan (PHP) ................... 89 Tarif PBB-KB Berdasarkan Perda Provinsi .......................... 160 Kesiapan Daerah dalam memungut BPHTB (Posisi: 20 April 2012) ........................................................... 166 Realisasi Penerimaan BPHTB Tahun 2011 (Daerah Tertentu) .................................................................. 168 Kesiapan daerah dalam memungut PBB-P2 ....................... 172 Rencana komposisi pendanaan untuk Proyek JuFMP/JEDI ......................................................................... 208 Realisasi Penyaluran Hibah dan output Kegiatan Hibah Tahun 2010 s.d. 2011 ............................................................ 213 PEsERTA lKD, KKD, KKDK sAMPAI DENgAN TAHuN 2011 (oRANg) .......................... 216 Trend Belanja Pegawai Daerah 2008-2011 .......................... 221 Trend Belanja Modal Daerah 2008-2011 .............................. 222 Konsolidasi Realisasi APBD & Transfer ke Daerah TA 2008 – 2010 236 (dalam juta rupiah) ............................... 236 Penetapan Perda APBD TA 2007-2012 .................................238

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

xv

xvi

Pelengkap Buku Pegangan 2012

DAFTAR GRAFIK
grafik 4.1 grafik 4.2 grafik 4.3 grafik 4.4 grafik 4.5 grafik 4.6 Tren Belanja APBD secara Nasional (%) 2008 - 2011 .......... 220 Trend silPA 2007-2010 ........................................................ 223 Trend Dana Pemda di Perbankan 2006-2011....................... 223 (data Per Desember) ............................................................ 223 Hubungan Realisasi Belanja Daerah dengan Jumlah Kemiskinan dan Pengangguran ........................................... 225 Hubungan antara Realisasi Belanja Daerah dengan Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran .............................. 226 Penyampaian APBD 2012 Prov., Kab., dan Kota se-Indonesia ....................................................................... 239

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

xvii

BAB I PENDAHULUAN

2

Pendahuluan

Pelengkap Buku Pegangan 2012

BAB I PENDAHULUAN
Pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia telah melewati beberapa fase penting dalam upaya mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional serta memberikan arah yang jelas bagi pembangunan nasional. Fase awal pelaksanaan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia bergulir pada awal tahun 2000 saat ditetapkannya undangundang Nomor 22 Tahun 1999 dan undang-undang Nomor 25 Tahun 1999. saat ini, pelaksanaan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal dilaksanakan berdasarkan undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 yang mengamanatkan bahwa pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah harus dilakukan secara adil, proporsional, dan akuntabel sehingga kebutuhan pengeluaran yang akan menjadi tanggung jawab daerah dapat dibiayai dari sumber-sumber penerimaan dana desentralisasi secara efektif dan efisien untuk mendanai kebutuhan pengeluaran yang menjadi kewenangan daerah. Perjalanan penerapan desentralisasi dari masa ke masa telah memberikan pelajaran penting bahwa sistem yang sentralistis dapat berakibat pada inefficiency dan high cost economy dalam penyediaan pelayanan sektor publik dan penyediaan sarana dan prasarana dalam mengembangkan perekonomian dan iklim investasi. Dengan demikian, diperlukan adanya peran Pemerintah dalam menjaga adanya keseimbangan fiskal antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan keseimbangan fiskal antardaerah.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

3

Pengalaman membuktikan bahwa pengambilan keputusan yang terlalu sentralistis di bidang pelayanan sektor publik dan pengembangan bisnis dan investasi di Indonesia, memberikan kontribusi terhadap rendahnya akuntabilitas, lambatnya proses pembangunan infrastruktur, menurunnya tingkat pengembalian pada proyek-proyek industri, dan terhambatnya pengembangan investasi di daerah. Dengan melakukan ekspansi ekonomi, kebutuhan dan peluang terhadap meningkatnya pelaksanaan desentralisasi menjadi sebuah keharusan. Hal ini terlihat dengan transisi ekonomi yang cukup cepat dilakukan di Indonesia. Namun demikian, sejalan dengan cepatnya transformasi tersebut maka pemerintah menghadapi kendala dalam implementasinya terutama dari kapasitas keuangan negara dan institusi pengelola keuangan negara. Penerimaan negara dari sumber daya alam terutama minyak dan gas relatif semakin terbatas, terlebih lagi dengan posisi Indonesia saat ini sebagai net importir. Terlebih lagi mobilisasi penerimaan negara dari sektor perpajakan masih menghadapi banyak kendala. Akibatnya keuangan negara masih harus ditopang dari pembiayaan melalui pinjaman dalam dan luar negeri. sementara di sisi lain, ketergantungan pemerintah daerah terhadap dana transfer dari pemerintah pusat (dari APBN) cenderung semakin meningkat. sejalan dengan makin meningkatnya dana yang ditransfer ke daerah, maka kebijakan pemerintah pusat terkait dengan anggaran dan penggunaannya akan lebih efektif apabila daerah dapat mengelolanya dengan lebih profesional. Dengan kewenangan yang yang dimiliki daerah dan keleluasaan dalam penggunaan dana transfer, daerah dapat berbuat banyak untuk penguatan sektor riil di wilayahnya masing-masing. Di samping itu koordinasi dan kerjasama antardaerah juga perlu dilakukan agar terjadi sinergi dalam pelaksanaan program yang direncanakan oleh daerah.

4

Pendahuluan

Pelengkap Buku Pegangan 2012

selanjutnya masyarakat sebagai subyek dan obyek dari semua program yang dilaksanakan pemerintah perlu diminta masukan dan sarannya agar terjadi kesesuaian apa yang dilakukan oleh pemerintah dan apa yang dikehendaki oleh masyarakat. sementara itu, dimensi lain dari hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah bukan hanya terkait pola pembagian keuangan dalam rangka mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah (vertical fiscal imbalance) dan antardaerah (horizontal fiscal imbalance), namun juga mencakup dukungan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing daerah. untuk itu, pemerintah juga perlu memberikan bimbingan kepada daerah dalam rangka peningkatan efektifitas pengelolaan keuangan daerah sebagai subsistem pengelolaan keuangan daerah, termasuk optimalisasi pengelolaan PAD, pinjaman daerah dan hibah ke daerah. Kerangka hubungan keuangan antara pusat dan daerah memberikan landasan bagi pola pendanaan kepada daerah yang mengacu pada 3 (tiga) prinsip utama yaitu : (1) perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah merupakan subsistem keuangan negara sebagai konsekuensi penyerahan urusan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah; (2) pemberian sumber keuangan negara kepada pemerintah daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi harus memperhatikan keseimbangan fiskal; dan (3) perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah merupakan suatu sistem yang menyeluruh dalam rangka pendanaan penyelenggaraan asas desentralisasi, dekonsentrasi, dan tugas pembantuan. untuk itu, pengaturan hubungan keuangan pusat dan daerah berdasarkan uu 33/2004 didasarkan atas 4 (empat) prinsip yaitu:

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

5

1. urusan yang merupakan tugas pemerintah pusat di daerah dalam rangka dekonsentrasi, dibiayai dari dan atas beban APBN; 2. urusan yang merupakan tugas pemerintah daerah sendiri dalam rangka desentralisasi, dibiayai dari dan atas beban APBD; 3. urusan yang merupakan tugas pemerintah pusat atau pemerintah daerah tingkat atasnya, yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan, dibiayai oleh pemerintah pusat atas beban APBN atau oleh pemerintah daerah tingkat atasnya atas beban APBD-nya sebagai pihak yang menugaskan; dan 4. sepanjang potensi sumber-sumber keuangan daerah belum mencukupi, maka pemerintah pusat memberikan sejumlah bantuan. Implementasi prinsip hubungan keuangan antara pusat dan daerah dapat mendukung sinkronisasi pembangunan nasional dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dengan mengedepankan pembangunan berdimensi kewilayahan yang menempatkan daerah sebagai pusat pertumbuhan. Peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk mendukung upaya pemerintah dalam menjaga keserasian dan keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan (growth with equity). Disamping itu, dalam menjaga keselarasan dengan prioritas nasional, pemerintah daerah harus tetap memperhatikan pembangunan daerah yang memprioritaskan pada pengentasan kemiskinan (pro poor), menciptakan lapangan kerja (pro job), dan memperhatikan kelestarian lingkungan (pro environment). Dengan demikian, setiap daerah dapat memberikan kontribusi terbaik dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan nasional dengan tetap mengutamakan kemandirian daerah dalam mengelola sumber-sumber keuangan daerah.

6

Pendahuluan

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Pelengkap Buku Pegangan ini disusun untuk dapat memberikan informasi atas kebijakan hubungan keuangan antara pusat dan daerah mencakup beberapa hal sebagai berikut: 1. Prinsip-prinsip dasar HKPD yang ditinjau dari sistem pandanaan urusan pemerintahan, penguatan sistem perpajakan, kebijakan transfer ke daerah, pembiayaan melalui pinjaman daerah, pelengkap pendanaan melalui hibah daerah, dan pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan; 2. Kebijakan penting di bidang HKPD tahun 2012 yang meliputi : informasi tentang formulasi kebijakan DAK Tahun 2012, Bantuan operasional sekolah (Bos), Dana Bagi Hasil PBB Migas dan Panas Bumi, Kebijakan di Bidang Perpajakan dan Retribusi Daerah, ketentuan mengenai batas maksimal defisit APBD, pelaksanaan pinjaman dan hibah ke daerah, pengembangan kapasitas melalui pelatihan pengelolaan keuangan daerah, review atas belanja daerah, pelaksanaan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan serta dana urusan bersama, dan pengembangan sistem informasi keuangan daerah serta konsolidasi laporan Keuangan Pemerintah.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

7

8

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

BAB II HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH

10

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

BAB II HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH
2.1. SISTEM PENDANAAN URUSAN PEMERINTAHAN Pembukaan undang-undang Dasar 1945 telah memberikan pedoman yang jelas bahwa tujuan kehidupan bernegara adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. untuk mencapai cita-cita yang luhur tersebut, maka diperlukan adanya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan mampu melaksanakan urusan pemerintah berdasarkan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, undang-undang Dasar 1945 telah mengamanatkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi yang terdiri atas daerah-daerah kabupaten dan kota. Tiap-tiap daerah tersebut mempunyai hak dan kewajiban dalam mengatur dan mengurus urusan pemerintahannya sendiri, untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan serta pelayanan kepada masyarakat. Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus melaksanakan hubungan keuangan, pelayanan umum, serta pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang. Filosofi tersebut melandasi pembagian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, pemerintahan provinsi, dan pemerintahan
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 11

kabupaten/kota beserta sistem pendanaan untuk melaksanakan masingmasing urusan dimaksud. Berdasarkan undang-undang Nomor 22 tahun 1999 yang kemudian diganti dengan undang-undang Nomor 32 tahun 2004, sebagian urusan pemerintahan telah diserahkan kepada pemerintahan daerah. urusan utama pemerintahan yang terkait dengan perencanaan, pembangunan, penyediaan dan penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat telah dilimpahkan kepada pemerintahan kabupaten/ kota dan provinsi untuk dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan karateristik daerah (otonomi daerah). sementara pemerintah pusat hanya melaksanakan 6 (enam) urusan pemerintahan yang bersifat mutlak, yaitu politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama, serta beberapa urusan yang tidak diserahkan kepada daerah. selain urusan pemerintahan, daerah juga telah diberikan sumber pendanaan yang besar dan kewenangan yang luas untuk mengelola sumber-sumber pendapatan asli daerah, utamanya dari perpajakan (desentralisasi fiskal). sesuai dengan undang-undang No. 25 tahun 1999 yang kemudian diganti dengan undang-undang No. 33 tahun 2004, untuk mendanai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, daerah diberikan dana perimbangan dan/atau hibah dari APBN dan kewenangan untuk memungut dan mengelola perpajakan daerah (local taxing power) serta kewenangan untuk melakukan pinjaman. sistem pendanaan atas urusan pemerintahan di daerah dilaksanakan berdasar prinsip (money follow functions), pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan. Pembagian keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi,

12

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

dan kebutuhan daerah, karena pemerintahan pada hakikatnya harus melaksanakan tiga fungsi utama yakni fungsi distribusi, fungsi stabilisasi, dan fungsi alokasi. Pemerintah pusat pada umumnya lebih efektif untuk melaksanakan fungsi distribusi dan fungsi stabilisasi, sehingga 6 urusan pemerintahan yang bersifat mutlak, yaitu politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama, serta beberapa urusan pemerintahan yang terkait dengan pelaksanaan fungsi tersebut tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat. sementara fungsi alokasi lebih efektif untuk dilaksanakan oleh Pemerintahan Daerah karena Pemerintah Daerah lebih dekat dan lebih mengetahui kebutuhan, kondisi, dan situasi masyarakat di daerah yang bersangkutan. Kerangka otonomi daerah dan desentralisasi fiskal telah memberikan dimensi yang lebih jelas bagi Daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pelayanan serta pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas. urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat didanai dari APBN, sedangkan urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah daerah didanai dari APBD. Dengan demikian sistem pendanaan penyelenggaraan pemerintahan bisa berjalan efisien, efektif dan tidak menimbulkan tumpang tindih ataupun tidak tersedianya pendanaan pada suatu bidang pemerintahan. Namun demikian, pemerintah pusat masih dapat melimpahkan kewenangan kepada gubernur selaku wakil pemerintah pusat di daerah dan/atau menugaskan kepada gubernur/Bupati/Walikota selaku kepala daerah otonom untuk melaksanakan urusan pemerintahan lainnya di luar 6 urusan yang bersifat mutlak dalam rangka penyediaan pelayanan yang berskala nasional (lintas provinsi). Pelimpahan kewenangan kepada gubernur tersebut dilaksanakan melalui pendanaan dekonsentrasi, sedangkan penugasan

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

13

kepada gubernur/Bupati/Walikota dilaksanakan melalui pendanaan tugas pembantuan. Kedua sumber pendanaan tersebut dialokasikan melalui anggaran Kementerian Negara/lembaga dan tidak masuk dalam APBD karena yang bertanggung jawab untuk melaksanakan kewenangan atas urusan pemerintahan yang didanai dari dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan adalah pemerintah pusat. Kerangka hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pelaksanaan urusan pemerintahan sebagaimana terinci pada Gambar 2.1. Gambar 2.1 Kerangka Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah

untuk melaksanakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah, sumber-sumber pendanaan yang dapat dikelola oleh Pemerintah Daerah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Pinjaman Daerah, dan lain-lain Pendapatan Yang sah. Pendapatan Asli Daerah bertujuan memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk
14

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi. Pendapatan Asli Daerah bersumber dari hasil Pajak Daerah, hasil Retribusi Daerah, hasil pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah, yang digali dari daerah yang bersangkutan berdasarkan asas desentralisasi. Dana Perimbangan merupakan pendanaan Daerah yang bersumber dari APBN yang terdiri atas Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi umum (DAu), dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Ketiga komponen Dana Perimbangan dialokasikan kepada daerah dalam satu kesatuan sistem transfer dana dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah guna mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara Pusat dan Daerah (vertical imbalance) serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar-Daerah (horizontal imbalance). Pemerintah mengalokasikan Dana Darurat yang berasal dari APBN untuk keperluan mendesak yang diakibatkan oleh bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi oleh Daerah dengan menggunakan sumber APBD. Dana Darurat merupakan bagian dari lainlain Pendapatan dalam APBD dan diberikan dalam kerangka hubungan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Dana Darurat digunakan untuk mendanai kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pada tahap pascabencana yang menjadi kewenangan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengelolaan Dana Darurat harus dilakukan secara tertib, taat pada ketentuan peraturan perundangundangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan aspek keadilan dan kepatutan. oleh karena itu, penggunaan Dana Darurat hanya digunakan untuk keperluan mendesak

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

15

dan penggunaannya tidak dapat digunakan untuk mendanai kegiatan yang telah didanai dari sumber lainnya dalam APBN. Pinjaman Daerah merupakan salah satu sumber pembiayaan yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Mengingat peranannya sebagai salah satu sumber pembiayaan, Pemerintah Daerah dituntut mampu mengelola pinjaman berdasarkan kriteria, persyaratan dan mekanisme yang diatur dalam peraturan perundang-undangan agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi kondisi keuangan daerah yang bersangkutan serta stabilitas ekonomi dan moneter secara nasional. sementara lain-lain Pendapatan yang sah bertujuan memberikan peluang kepada daerah untuk memperoleh pendapatan lainnya yang berasal dari hasil kekayaan daerah yang tidak dipisahkan, hasil pemanfaatan atau pendayagunaan kekayaan negara yang tidak dipisahkan, jasa giro, pendapatan bunga, tuntutan ganti rugi, keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, dan komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh daerah. selain sumber pendanaan dan pembiayaan, dalam rangka desentralisasi fiskal, Daerah juga telah diberikan diskresi untuk mengelola belanja daerah sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah. sumber dana dalam APBD dapat dialokasikan untuk mendanai pelaksanaan urusan wajib dan urusan pilihan dalam bentuk program dan kegiatan yang terkait dengan peningkatan pelayanan publik, penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas lingkungan, dan pertumbuhan ekonomi daerah. Namun pengelolaan sumber dana APBD harus dilaksanakan secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan dan dapat dipertanggung-jawabkan, agar setiap dana yang dibelanjakan

16

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

dapat menghasilkan output yang terukur dalam menstimulasi peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah.

2.2. PENGUATAN SISTEM PERPAJAKAN DAERAH sejak otonomi daerah digulirkan tahun 2001, daerah telah diberikan keleluasaan untuk memungut dan mengelola sendiri sumber-sumber penerimaan yang berasal dari daerahnya. Dengan diundangkannya undangundang Nomor 34 tahun 2000 sebagai pengganti undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, daerah diberi kewenangan untuk memungut 11 (sebelas) jenis pajak, yaitu 4 (empat) jenis Pajak Provinsi dan 7 (tujuh) jenis Pajak Kabupaten/Kota sesuai dengan tarif pajak maksimum yang ditetapkan dalam undang-undang. selain itu, kabupaten/kota juga masih diberi kewenangan untuk menetapkan jenis Pajak lain sepanjang memenuhi kriteria yang ditetapkan dalam undang-undang dan menetapkan jenis retribusi selain yang ditetapkan dalam peraturan pemerintah. Namun keleluasan tersebut ternyata belum efektif untuk meningkatkan PAD agar dapat mendanai pelaksanaan otonomi daerah. Hal tersebut terutama terindikasi dari : 1. Belum adanya perubahan signifikan terhadap komposisi pendapatan daerah. Pada tahun 2010 dan 2011, kontribusi hasil penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap pendapatan APBD provinsi/kabupaten/ kota masing-masing adalah 14,2% dan 14,9%. Kondisi tersebut relatif tidak menunjukkan perubahan yang signifikan dibandingkan dengan tahun 2001, dimana kontribusi penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah terhadap total pendapatan APBD provinsi/kabupaten/kota

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

17

adalah sebesar 11,9%. Relatif rendahnya peranan pajak dan retribusi daerah tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar daerah masih banyak bergantung pada DAu, DBH, dan DAK sebagai sumber utama penerimaan APBD. sehingga pemberian peluang untuk mengenakan pungutan baru yang semula diharapkan dapat meningkatkan penerimaan daerah, dalam kenyataannya tidak banyak diharapkan dapat menutupi kekurangan kebutuhan pengeluaran APBD. 2. Jenis pajak dan retribusi cenderung kontraproduktif terhadap

perekonomian daerah. Hampir semua pungutan baru yang ditetapkan oleh Daerah memberikan dampak yang kurang baik terhadap iklim investasi. Banyak pungutan Daerah yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi karena tumpang tindih dengan pungutan pusat serta cenderung merintangi arus barang dan jasa antardaerah. Kondisi tersebut mengakibatkan kegiatan investasi di daerah menjadi tidak berkembang dan perekonomian daerah sangat bergantung pada pada ekspansi belanja APBD. 3. Rendahnya kepatuhan Daerah dalam menyampaikan Perda Pajak Daerah dan Retribusi Daerah kepada Pemerintah Pusat. secara prinsip, ketentuan perpajakan daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. untuk memastikan hal tersebut, setiap Perda yang mengatur pajak dan retribusi dalam jangka waktu 15 (lima belas) hari kerja sejak ditetapkan harus disampaikan kepada Pemerintah Pusat untuk dievaluasi. Namun demikian, masih banyak Daerah yang tidak menyampaikan Perda kepada pemerintah pusat dan beberapa Daerah masih tetap memberlakukan Perda yang telah dibatalkan oleh Pemerintah. Tidak efektifnya pengawasan tersebut karena undang18 Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

undang yang ada tidak mengatur sanksi terhadap Pemda yang melanggar ketentuan tersebut. 4. Masih terbatasnya basis pajak di kabupaten/kota Pengaturan kewenangan perpajakan dan retribusi yang ada

pada saat itu kurang mendukung pelaksanaan otonomi daerah. Pemberian kewenangan yang semakin besar kepada daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat seharusnya diikuti dengan pemberian kewenangan yang besar pula dalam perpajakan dan retribusi. Basis pajak kabupaten dan kota yang sangat terbatas dan tidak adanya kewenangan provinsi dalam penetapan tarif pajaknya mengakibatkan daerah selalu mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pengeluarannya. Ketergantungan daerah yang sangat besar terhadap dana perimbangan dari pusat dalam banyak hal kurang mencerminkan akuntabilitas daerah. Pemerintah Daerah tidak terdorong untuk mengalokasikan anggaran secara efisien dan kurangnya kontrol masyarakat setempat atas penggunaan anggaran daerah karena merasa tidak dibebani dengan pajak dan retribusi. untuk meningkatkan akuntabilitas penyelenggaraan otonomi daerah, Pemerintah Daerah seharusnya diberi kewenangan yang lebih besar dalam perpajakan dan retribusi. Kebutuhan akan hal tersebut diakomodir oleh Pemerintah Pusat dengan dilakukannya perubahan perpajakan di daerah melalui undang-undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam undang-undang tersebut telah diatur ketentuan baru terkait dengan: 1. Perluasan basis pajak dan retribusi yang dapat dikelola oleh daerah

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

19

Perluasan basis pajak dan retribusi yang dapat dikelola oleh daerah melalui perluasan terhadap objek pengenaan pajak dan retribusi, pengalihan sebagian pajak pusat menjadi pajak daerah, dan penambahan jenis pajak baru. Perluasan objek pengenaan pajak dilakukan terhadap Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor yang diperluas hingga mencakup kendaraan Pemerintah, Pajak Hotel diperluas hingga mencakup seluruh persewaan di hotel, Pajak Restoran diperluas hingga mencakup pelayanan katering. sementara itu, perluasan objek retribusi dilakukan terhadap Retribusi Izin gangguan yang pengenaannya diperluas hingga mencakup pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha secara terus-menerus untuk mencegah terjadinya gangguan ketertiban, keselamatan, atau kesehatan umum, memelihara ketertiban lingkungan dan memenuhi norma keselamatan dan kesehatan kerja. Pajak pusat yang dialihkan menjadi pajak daerah meliputi Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), yang dialihkan pada tahun 2011 dan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB P2) yang dialihkan paling lambat tahun 2014. sementara jenis pajak dan retribusi baru yang dapat dikelola daerah adalah Pajak sarang Burung Walet sebagai pajak kabupaten/kota dan Pajak Rokok sebagai pajak baru bagi provinsi, Retribusi Pelayanan Tera/Tera ulang, Retribusi Pelayanan Pendidikan, Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi, dan Retribusi Izin usaha Perikanan. 2. Ketentuan batas maksimum dan minimum dalam pengenaan tarif pajak daerah. Maksud penentuan batas maksimum adalah guna menghindari penetapan tarif pajak yang tinggi yang dapat menambah beban bagi
20 Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

masyarakat secara berlebihan. sementara itu, penentuan tarif minimum dimaksudkan untuk menghindari perang tarif pajak antardaerah untuk objek pajak yang mudah bergerak, seperti kendaraan bermotor. Khusus Pajak Kendaraan Bermotor, kebijakan penetapan tarifnya diarahkan untuk mengurangi tingkat kemacetan di daerah perkotaan dengan memberikan kewenangan Daerah menerapkan tarif pajak progresif untuk kepemilikan kendaraan kedua dan seterusnya. 3. Dasar Pengenaan Pajak Rokok atas cukai rokok. Tarif Pajak Rokok ditetapkan secara definitif agar Pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara beban cukai yang harus dipikul oleh industri rokok dengan kebutuhan fiskal nasional dan daerah melalui penetapan tarif cukai nasional. 4. Penambahan jenis Retribusi selain yang telah ditetapkan dalam undang-undang. Daerah diberikan peluang untuk menambah jenis Retribusi selain yang ditetapkan dalam undang-undang sepanjang memenuhi kriteria yang ditetapkan. Penambahan jenis retribusi tersebut dimaksudkan untuk mengantisipasi penyerahan fungsi pelayanan dan perizinan dari Pemerintah Pusat kepada Daerah yang akan diatur dengan peraturan pemerintah. 5. Kebijakan earmarking untuk jenis pajak daerah tertentu untuk meningkatkan akuntabilitas pengenaan pungutan, sebagian hasil pendapatan pajak daerah tertentu dialokasikan untuk membiayai kegiatan yang dapat dirasakan secara langsung oleh pembayar pajak tersebut. Pajak Penerangan Jalan sebagian dialokasikan untuk membiayai penerangan jalan, Pajak Kendaraan Bermotor sebagian

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

21

dialokasikan

untuk

pembangunan

dan/atau

pemeliharaan

jalan

serta peningkatan moda dan sarana transportasi umum, dan Pajak Rokok sebagian dialokasikan untuk membiayai pelayanan kesehatan masyarakat dan penegakan hukum. 6. Perubahan mekanisme pengawasan terhadap pungutan daerah dari sistem represif menjadi sistem preventif dan korektif. setiap Rancangan Perda tentang pajak dan retribusi, sebelum ditetapkan menjadi Perda harus dievaluasi terlebih dahulu oleh Pemerintah. Perda yang sudah ditetapkan dapat dibatalkan oleh Pemerintah apabila bertentangan dengan kepentingan umum dan/ atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Kewenangan pembatalan Perda yang semula berada pada Menteri Dalam Negeri dialihkan kepada Presiden untuk memperkuat dasar hukum pembatalan. selain itu, daerah yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pajak daerah dan retribusi daerah dapat dikenakan sanksi berupa penundaan dan/atau pemotongan dana alokasi umum dan/atau dana bagi hasil atau restitusi.

2.3. KEBIJAKAN TRANSFER KE DAERAH Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2007 telah digunakan instrumen kebijakan Dana Perimbangan untuk menciptakan keseimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan antar Pemerintahan Daerah. Instrumen kebijakan tersebut telah diperluas sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pendanaan urusan pemerintahan yang harus dilaksanakan oleh daerah.

22

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

sejak tahun 2008 dana desentralisasi yang dialokasikan dalam APBN dengan nomenklatur anggaran yang dialokasikan ke daerah telah mengalami perubahan dari yang semula “Anggaran Belanja Daerah” menjadi “Anggaran Transfer ke Daerah”. Perubahan tersebut dilakukan sesuai dengan filosofi dasar dari otonomi daerah yaitu bahwa dana desentralisasi yang dialokasikan ke daerah dilakukan berdasarkan prinsip money follows function. Hakikatnya yang mempunyai kewenangan membelanjakan dan mempertanggungjawabkan anggaran adalah pemerintahan daerah. selain itu perubahan tersebut juga dimaksudkan untuk memperluas cakupan dana yang dialokasikan ke daerah, sesuai dengan kebutuhan untuk mendanai beberapa urusan pemerintahan yang kewenangannya telah diserahkan kepada daerah. Transfer ke Daerah terdiri dari Dana Perimbangan berupa Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi umum (DAu), dan Dana Alokasi Khusus (DAK), serta Dana otonomi Khusus dan Penyesuaian. Kebijakan alokasi Transfer ke Daerah diarahkan untuk mencapai tujuan sebagai berikut: 1. Meningkatkan kapasitas fiskal daerah dan mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah dan antardaerah. 2. Menyelaraskan kebutuhan pendanaan di daerah sesuai dengan pembagian urusan pemerintahan. 3. Meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah. 4. Meningkatkan kemampuan daerah dalam mendorong perekonomian daerah. 5. Mendukung kesinambungan fiskal nasional. 6. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 23

7. Meningkatkan sinkronisasi antara rencana pembangunan nasional dengan rencana pembangunan daerah.

2.3.1. Dana Bagi Hasil (DBH) Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DBH dialokasikan berdasarkan prinsip by origin, dimana daerah penghasil penerimaan negara mendapatkan bagian (persentase) yang lebih besar dan daerah lainnya dalam satu provinsi mendapatkan bagian (persentase) berdasarkan pemerataan. sedangkan penyaluran DBH dilakukan berdasarkan prinsip by actual, dimana besarnya DBH yang disalurkan kepada daerah, baik daerah penghasil maupun yang mendapat alokasi pemerataan didasarkan atas realisasi penyetoran Penerimaan Negara Pajak (PNP) dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tahun anggaran berjalan. Dana Bagi Hasil terdiri dari DBH Pajak dan DBH sumber Daya Alam (sDA). Dana Bagi Hasil Pajak meliputi DBH Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), DBH Pajak Penghasilan Pasal 25 dan Pasal 29 Wajib Pajak orang Pribadi Dalam Negeri (PPh Pasal 25/29 WP oPDN) dan Pajak Penghasilan Pasal 21 (PPh Pasal 21), dan DBH Cukai Hasil Tembakau (CHT). Dana Bagi Hasil sumber Daya Alam berasal dari kehutanan, pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, dan pertambangan panas bumi. Perhitungan Dana Bagi Hasil sDA dilakukan berdasarkan Penerimaan Negara bukan Pajak dari masing-masing jenis sumber daya alam yang

24

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

menurut ketentuan undang-undang Nomor 33 tahun 2004 dibagihasilkan kepada daerah. Dasar Perhitungan DBH sDA adalah sebagai berikut: 1. DBH sDA Minyak bumi, dihitung berdasarkan produksi minyak yang terjual (lifting) dan produksi gas yang terjual dari masing-masing Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKs) setelah dikurangi dengan Domestic Market Obligation (DMo), Fee usaha Hulu Migas, Pajakpajak (PPN dan PBB), serta Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 2. DBH sDA Pertambangan umum, dihitung berdasarkan penerimaan dari iuran yang diterima negara sebagai imbalan atas kesempatan penyelidikan umum, eksplorasi atau eksploitasi pada suatu wilayah kerja (Landrent) dan iuran produksi pemegang kuasa usaha pertambangan atas hasil dari kesempatan eksplorasi/eksploitasi (Royalty). 3. DBH sDA Kehutanan, dihitung berdasarkan penerimaan negara dari Iuran Izin usaha Pemanfaatan Hutan (IIuPH), Provisi sumber Daya Hutan (PsDH), dan Dana Reboisasi (DR). IIuPH merupakan pungutan yang dikenakan kepada Pemegang Izin usaha Pemanfaatan Hutan atas suatu kawasan hutan tertentu yang dilakukan sekali pada saat izin usaha diberikan. PsDH adalah pungutan yang dikenakan sebagai pengganti nilai intrinsik dari hasil yang dipungut dari Hutan Negara. sedangkan DR adalah dana yang dipungut dari Pemegang Izin usaha Pemanfaatan Hasil Hutan dari Hutan Alam yang berupa kayu dalam rangka reboisasi dan rehabilitasi hutan. 4. DBH sDA Perikanan, dihitung berdasarkan Pungutan Pengusahaan Perikanan (P3) dan Pungutan Hasil Perikanan (PHP). Pungutan Pengusahaan Perikanan adalah pungutan negara yang dikenakan kepada pemegang Izin usaha Perikanan dan/atau Persetujuan Penggunaan Kapal Asing (PPKA) sebagai imbalan atas kesempatan
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 25

yang diberikan oleh Pemerintah untuk melakukan usaha perikanan dalam Wilayah Perikanan Republik Indonesia. Pungutan Hasil Perikanan adalah pungutan negara yang dikenakan kepada pemegang surat Penangkapan Ikan (sPI) dan atau surat Izin Kapal Penangkap dan Pengangkut Ikan Indonesia (sIKPPII) dan atau surat Izin Penangkapan Ikan (sIPI) sesuai dengan hasil produksi perikanan yang diperoleh dan dijual di dalam negeri dan atau luar negeri. 5. DBH sDA Panas Bumi, dihitung berdasarkan setoran bagian Pemerintah setelah dikurangi kewajiban perpajakan dan pungutan lainnya atas dasar kontrak pengusahaan panas bumi yang ditandatangani sebelum undang-undang Nomor 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi ditetapkan dan Iuran Tetap dan Iuran Produksi. Iuran Tetap merupakan iuran yang dibayarkan kepada negara sebagai kesempatan atas eksplorasi, studi kelayakan, dan ekspoitasi pada suatu wilayah, sedangkan Iuran Produksi adalah iuran yang diberikan kepada negara atas hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan panas bumi. selanjutnya PNBP sDA dimaksud dibagi hasilkan ke daerah secara triwulan sesuai dengan proporsi dana bagi hasil sDA yang diatur dalam ketentuan undang-undang No. 33 Tahun 2004.

2.3.2. Dana Alokasi Umum (DAU) DAu adalah dana yang bersumber dari Pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. sebagai equalization grant, DAu merupakan instrumen

26

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

transfer yang alokasinya ditujukan untuk meminimumkan ketimpangan fiskal antar daerah, sekaligus memeratakan kemampuan antar daerah. DAu dialokasikan untuk provinsi dan kabupaten/kota berdasarkan jumlah keseluruhan DAu (DAu nasional) yang secara final ditetapkan dalam APBN, yakni sekurang-kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri (PDN) neto. PDN neto merupakan pendapatan dalam negeri setelah dikurangi dengan penerimaan negara yang dibagihasilkan kepada daerah. Proporsi DAu untuk provinsi dan kabupaten/kota dihitung berdasarkan perbandingan antara bobot urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. Namun apabila proporsi DAu untuk provinsi dan kabupaten/ kota belum dapat dihitung secara kuantitatif, proporsinya dapat ditetapkan dengan imbangan 10% untuk provinsi dan 90% untuk kabupaten/kota. Pengalokasian DAu untuk suatu daerah didasarkan atas formula yang memperhitungkan Alokasi Dasar dan Celah Fiskal (Fiscal Gap). Alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Daerah, yang meliputi gaji pokok, tunjangan keluarga, dan tunjangan jabatan sesuai dengan peraturan penggajian Pegawai Negeri sipil termasuk didalamnya tunjangan beras dan tunjangan Pajak Penghasilan (PPh Pasal 21). sedangkan Celah Fiskal merupakan selisih antara Kebutuhan Fiskal dengan Kapasitas Fiskal. Kebutuhan Fiskal mencerminkan kebutuhan dana yang diperlukan oleh daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum. sehingga untuk mengukur Kebutuhan Fiskal digunakan variable jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan Kontruksi, Produk Domestik Regional Bruto per Kapita, dan Indeks Pembangunan Manusia. sementara Kapasitas Fiskal mencerminkan kemampuan fiskal daerah dalam mendanai pelaksanaan layanan dasar umum. Pengukuran Kapasitas

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

27

Fiskal dilakukan dengan berdasarkan Pendapatan Asli Daerah dan Dana Bagi Hasil yang secara cash basis diterima daerah. DAu atas dasar celah fiskal untuk suatu provinsi dihitung berdasarkan perkalian bobot provinsi yang bersangkutan dengan jumlah DAu seluruh provinsi, dimana angka bobot provinsinya diperoleh dari perbandingan antara celah fiskal provinsi yang bersangkutan dengan total celah fiskal seluruh provinsi. Begitu juga dengan DAu atas dasar celah fiskal untuk suatu kabupaten/kota, besarnya dihitung dari perkalian bobot provinsi yang bersangkutan dengan jumlah DAu seluruh provinsi. Bobot kabupaten/kota diperoleh dari perbandingan antara celah fiskal provinsi yang bersangkutan dengan total celah fiskal seluruh kabupaten/kota. untuk daerah otonom baru, DAu dialokasi setelah adanya penetapan definitif daerah yang bersangkutan melalui undang-undang pembentukan daerah. Alokasi DAu-nya dihitung setelah tersedianya data yang digunakan untuk menghitung alokasi dasar dan celah fiskal. sebelum adanya ketersediaan data, DAu untuk daerah tersebut dihitung dengan cara membagi DAu secara proporsional dengan daerah induknya berdasarkan jumlah penduduk, luas wilayah, dan belanja pegawai.

2.3.3. Dana Alokasi Khusus (DAK) Dana Alokasi Khusus (DAK) merupakan dana yang bersumber dari Pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah sesuai prioritas nasional. Kegiatan khusus yang didanai DAK adalah penyediaan/perbaikan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat serta kegiatan yang dapat mendorong percepatan pembangunan daerah

28

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

dan pencapaian sasaran prioritas nasional. Adapun kebijakan umum pengalokasian DAK adalah sebagai berikut: 1. mendukung pencapaian prioritas nasional, termasuk program-program prioritas nasional yang bersifat lintas sektor/kewilayahan sesuai dengan kerangka pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framework) dan penganggaran berbasis kinerja (performance based budgeting). 2. membantu daerah-daerah yang memiliki kemampuan keuangan relatif rendah dalam membiayai pelayanan publik dalam rangka pemerataan pelayanan dasar dan mendorong pencapaian standar Pelayanan Minimal (sPM). 3. meningkatkan kualitas perhitungan alokasi DAK, serta mempercepat penyusunan petunjuk teknis penggunaan DAK yang ditujukan untuk mendorong penyusunan APBD yang efektif, efisien, dan tepat waktu. 4. meningkatkan koordinasi pengelolaan DAK secara utuh dan terpadu di pusat dan daerah sehingga terwujud sinkronisasi kegiatan DAK dengan kegiatan lain yang didanai dari sumber-sumber pendanaan lainnya. 5. meningkatkan penyediaan data-data teknis yang lebih akurat sebagai basis kebijakan kementerian dan lembaga dalam rangka meningkatkan keserasian dan menghindari duplikasi kegiatan antar Bidang DAK. 6. mendorong penggunaan kinerja pelaporan sebagai salah satu pertimbangan dalam penyusunan kriteria pengalokasian DAK. Penentuan alokasi DAK dilakukan melalui 2 tahapan, yaitu (1) penentuan daerah tertentu yang menerima DAK dan (2) penentuan alokasi DAK untuk masing-masing daerah. Penentuan daerah tertentu didasarkan atas tiga kriteria yang dilakukan secara berjenjang, yaitu:

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

29

Pertama; Kriteria Umum (KU), yang ditentukan berdasarkan kemampuan keuangan daerah (indeks fiskal neto) yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD setelah dikurangi belanja Pegawai Negeri sipil di daerah. Penerimaan umum APBD terdiri dari PAD, DAu, dan DBH kecuali DBH yang penggunaannya diarahkan (earmarking). Daerah dengan Ku dibawah rata-rata Ku secara Nasional adalah daerah yang menjadi prioritas mendapatkan DAK. Kedua; Kriteria Khusus (KK), yang ditentukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur penyelenggaraan otonomi khusus dan aspek karakteristik daerah. Karakteristik daerah, meliputi:

a. Daerah tertinggal; b. Daerah perbatasan dengan negara lain; c. Daerah rawan bencana;

d. Daerah pesisir dan/atau kepulauan; e. Daerah ketahanan pangan; f. Daerah pariwisata

Ketiga; Kriteria Teknis (KT), yang ditentukan berdasarkan indikatorindikator teknis yang dapat menggambarkan kondisi sarana dan prasarana yang akan didanai dari DAK. Kriteria ini dirumuskan melalui indeks teknis yang disusun oleh Menteri Teknis terkait.

2.3.4. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian Dana otonomi Khusus (Dana otsus) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang diberikan kepada daerah yang telah ditetapkan
30

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

sebagai daerah otonomi khusus berdasarkan undang-undang otonomi khusus. Ada dua undang-undang yang mengatur otonomi Khusus, yaitu uu No. 21/2001 tentang otonomi Khusus Papua (jo) uu No. 35/2008 dan uu No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh. Alokasi Dana otsus bagi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat besarnya adalah 2% dari Pagu DAu Nasional, dengan pembagian 70% untuk Provinsi Papua dan 30% untuk Provinsi Papua Barat. selain dana otsus, Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat juga mendapatkan alokasi alokasi Dana Tambahan Infrastruktur yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara dan tambahan porsi DBH sDA Minyak Bumi dan DBH sDA gas Bumi masing-masing sebesar 55% dan 40% dari PNBP sDA Minyak bumi dan gas Bumi yang berasal dari wilayah provinsi yang bersangkutan. Dana otonomi Khusus Provinsi Aceh berlaku untuk jangka waktu 20 tahun sejak 2008, yang alokasinya dibedakan menjadi dua, yakni : (i) untuk tahun pertama s.d tahun ke lima belas, besarnya setara dengan 2% plafon DAu Nasional, dan (ii) untuk tahun keenam belas s.d tahun kedua puluh, besarnya setara dengan 1% plafon DAu Nasional. sedangkan tambahan porsi DBH sDA Migas dalam rangka otsus besarnya sama dengan untuk Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, yakni masing-masing sebesar 55% dan 40% dari PNBP sDA Minyak bumi dan gas Bumi yang berasal dari wilayah provinsi yang bersangkutan. Dana Penyesuaian dialokasikan dari pendapatan APBN untuk mendukung pelaksanaan bidang pendidikan dan bidang lainnya yang menjadi prioritas nasional di daerah. Alokasi dana penyesuaian yang terkait dengan bidang pendidikan adalah: 1. Dana Tunjangan Profesi guru PNsD; dialokasikan untuk memberikan tunjangan profesi kepada daerah guru PNs di daerah. Alokasi dana

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

31

tersebut dihitung berdasarkan jumlah guru PNsD yang telah memiliki sertifikasi profesi dan besarnya gaji pokok guru yang bersangkutan sesuai dengan jenjang kepangkatan dan golongan. 2. Dana Tunjangan Tambahan Penghasilan guru PNsD; dialokasikan untuk memberikan tambahan penghasilan kepada daerah guru PNs di daerah yang belum memiliki sertifikasi profesi. Alokasi dana tersebut dihitung berdasarkan jumlah guru PNsD yang belum memiliki sertifikasi profesi dan besarnya tambahan penghasilan yang ditetapkan, yakni sebesar Rp250 ribu per guru per bulan tanpa memperhatikan jenjang kepangkatan dan golongan. 3. Dana Bantuan operasional sekolah (Bos); dialokasikan terutama untuk mendanai kebutuhan biaya non personalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana program wajib belajar dan dapat dimungkinkan untuk mendanai beberapa kegiatan lain sesuai petunjuk teknis yang ditetapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dana Bos dialokasikan berdasarkan jumlah siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama dan penetapan besarnya tarif bantuan per siswa per tahun. 4. Dana Insentif Daerah (DID); dialokasikan kepada beberapa daerah sebagai insentif atas prestasi yang dicapai dalam kinerja pengelolaan keuangan, pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan. Alokasi DID bertujuan untuk mendorong daerah agar selalu berupaya mengelola keuangannya secara lebih baik yang ditunjukkan dari perolehan opini Badan Pemeriksa Keuangan atas laporan Keuangan Pemerintah Daerah dan dapat menetapkan APBD secara tepat waktu. Daerah yang menerima DID dapat menggunakan dana tersebut untuk membiayai

32

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggungjawab pemerintah daerah.

2.4. DANA DARURAT Kebijakan Dana Darurat merupakan amanat uu Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah. Berdasarkan Pasal 46 ayat (1), Pemerintah mengalokasikan Dana Darurat yang berasal dari APBN untuk keperluan mendesak yang diakibatkan oleh bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi oleh Daerah dengan menggunakan sumber APBD. Pengaturan lebih lanjut mengenai Dana Darurat diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 2012 tentang Dana Darurat yang mulai berlaku pada tanggal 19 Maret 2012. Pemerintah mengalokasikan Dana Darurat kepada Daerah yang mengalami Bencana Nasional dan/atau Peristiwa luar Biasa dan tidak dapat ditanggulangi dengan APBD. Keadaan yang digolongkan sebagai Bencana Nasional dan/atau Peristiwa luar Biasa tersebut ditetapkan oleh Presiden. Dana Darurat hanya dapat digunakan untuk keperluan mendesak dan mendanai kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pada tahap pascabencana yang menjadi kewenangan daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dana Darurat dapat diteruskan oleh Pemerintah Daerah kepada badan usaha milik daerah yang melaksanakan fungsi pelayanan publik. Menteri Keuangan menetapkan alokasi Dana Darurat bagi Daerah yang terkena Bencana Nasional dan/atau Peristiwa luar Biasa sebelum tahun anggaran berakhir setelah melalui persetujuan DPR, dan alokasi tersebut

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

33

merupakan bagian dari belanja transfer ke Daerah. Dana Darurat disalurkan secara bertahap sesuai dengan capaian kinerja. Penyaluran Dana Darurat tersebut dilaksanakan berdasarkan penilaian Menteri Keuangan dengan berkoordinasi dengan menteri/pimpinan lembaga nonpemerintah terkait.

2.5. PINJAMAN DAERAH Pinjaman daerah merupakan salah satu sumber pembiayaan bagi daerah yang diatur dalam undang-undang No. 33/2004. Pinjaman daerah merupakan salah satu sumber penerimaan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi, yang dicatat dan dikelola dalam APBD. Hal ini sejalan dengan undang-undang No.17/2003 tentang Keuangan Negara yang menyatakan bahwa selain mengalokasikan Dana Perimbangan kepada Pemerintah Daerah, Pemerintah dapat memberikan pinjaman dan/ atau hibah kepada Pemerintah Daerah. Peraturan perundang-undangan tersebut secara tegas menjelaskan pelaksanaan kebijakan pinjaman dan hibah daerah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan asas desentralisasi dan otonomi daerah. Pemberian pinjaman dan/atau hibah oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah atau sebaliknya merupakan wujud pelaksanaan Hubungan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang merupakan suatu sistem pendanaan pemerintahan dalam kerangka negara kesatuan, yang mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta pemerataan antardaerah secara proporsional, demokratis, adil, dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi, dan kebutuhan daerah, sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan serta tata cara penyelenggaraan kewenangan tersebut, termasuk pengelolaan dan pengawasan keuangannya.
34 Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Pinjaman daerah dapat digunakan untuk membiayai kegiatan yang merupakan inisiatif dan kewenangan daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan dan/atau digunakan untuk menutup kekurangan kas daerah. Dana pinjaman dapat ditujukan untuk mendanai kegiatan investasi berupa pengadaan prasarana dan/atau sarana daerah yang memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat. Kegiatan investasi tersebut memberikan sumbangan bagi perekonomian daerah pada umumnya dan/ atau penerimaan daerah pada khususnya. selain itu, dana pinjaman juga dapat ditujukan untuk mengatasi masalah jangka pendek yang berkaitan dengan arus kas daerah. oleh karena itu, bagi Pemerintah Daerah yang akan melakukan percepatan pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan daya saing daerah, pinjaman daerah dapat menjadi salah satu alternatif pembiayaannya. Namun demikian, Pemerintah Daerah juga harus memperhitungkan risiko apabila akan melakukan pinjaman daerah, seperti risiko kesinambungan fiskal, risiko tingkat bunga, dan risiko pembiayaan kembali. untuk itu diperlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam pengelolaan pinjaman daerah. Pemerintah Daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri, kecuali dalam hal pinjaman langsung kepada pihak luar negeri yang terjadi karena kegiatan transaksi obligasi daerah di Pasar Modal Domestik. Pendapatan daerah dan/atau barang milik daerah tidak boleh dijadikan jaminan pinjaman daerah. Khusus untuk obligasi Daerah, Pemerintah Daerah dapat menggunakan proyek yang dibiayai dari obligasi daerah beserta barang milik daerah yang melekat dalam proyek tersebut sebagai jaminan obligasi daerah.

2.6. HIBAH DAERAH
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 35

Hibah merupakan penerimaan daerah yang berasal dari pemerintah negara asing, badan/lembaga asing, badan/lembaga internasional, Pemerintah, badan/lembaga dalam negeri atau perseorangan, baik dalam bentuk devisa, rupiah maupun barang dan/atau jasa, termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali. Hibah daerah meliputi hibah kepada Pemerintah Daerah dan hibah dari Pemerintah Daerah dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa. Hibah kepada Pemerintah Daerah dapat bersumber dari : (i) Pemerintah, (ii) Pemerintah Daerah lain, (iii) Badan/lembaga organisasi swasta dalam negeri; dan/atau (iv) Kelompok masyarakat/ perorangan dalam negeri. Hibah dari Pemerintah dapat bersumber dari penerimaan dalam negeri, pinjaman luar negeri, dan hibah luar negeri yang berasal dari Pemerintah negara asing, Badan/lembaga asing, Badan/ lembaga internasional; dan/atau donor lainnya. Hibah kepada Pemerintah Daerah yang bersumber dari penerimaan dalam negeri dan pinjaman luar negeri, serta hibah dari Pemerintah Daerah dituangkan dalam Perjanjian Hibah Daerah. Hibah yang bersumber dari hibah luar negeri dilakukan melalui Pemerintah dengan penandatanganan Perjanjian Penerusan Hibah. Perjanjian Hibah kepada Pemerintah Daerah ditandatangani antara Menteri atau pejabat yang diberi kuasa dan gubernur atau Bupati/Walikota atau pejabat yang diberi kuasa. Hibah daerah merupakan kewenangan Pemerintah dan bersifat bantuan untuk melaksanakan urusan pemerintahan yang merupakan kewenangan Pemerintah Daerah. Pengusulan Pemerintah Daerah sebagai penerima hibah dilakukan oleh Kementerian/lembaga dengan mempertimbangkan: 1. Kapasitas fiskal daerah; 2. Daerah yang ditentukan oleh Pemberi Hibah luar Negeri;

36

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

3. Daerah yang memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh kementerian negara/lembaga pemerintah non kementerian terkait; dan/atau 4. Daerah tertentu yang ditetapkan oleh Pemerintah. sebagai salah satu instrumen pendanaan desentralisasi, hibah daerah merupakan suatu upaya mendukung dan melengkapi mekanisme dana perimbangan. Hibah daerah dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: 1. Hibah dari Pemerintah kepada Pemerintah Daerah dilaksanakan dalam kerangka hubungan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah. 2. Hibah dapat diteruskan kepada Badan usaha Milik Daerah. 3. Hibah diprioritaskan untuk penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. 4. Hibah dilaksanakan dengan memperhatikan stabilitas dan

keseimbangan fiskal. 5. Kegiatan yang dibiayai hibah diusulkan oleh Kementerian Negara/ lembaga terkait merupakan diskresi Pemerintah. 6. Hibah disalurkan dengan menerapkan prinsip transfer berbasis kinerja (performance-based).

2.7. DANA DEKONSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN Penyerahan beberapa urusan pemerintahan kepada daerah, telah memberikan konsekuensi bahwa Kementerian/lembaga Negara tidak lagi memerlukan instansi vertikal di daerah sebab urusan pemerintahan tersebut akan dilaksanakan oleh satuan Kerja Perangkat Daerah (sKPD) sesuai

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

37

dengan bidang tugasnya. urusan Kementerian Negara/lembaga yang mempunyai instansi vertikal didaerah hanya sebatas yang terkait dengan pelaksanaan politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional, dan agama. untuk melaksanakan program/kegiatan atas urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, Kementerian Negara dapat menggunakan sKPD melalui dana dekonsentrasi dan/atau dana tugas pembantuan, atau menggunakan sKPD kabupaten/kota melalui dana tugas pembantuan. Namun pengalokasian dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan tersebut harus didahului dengan pelimpahan wewenang dan penugasan kepada kepala daerah yang ditunjuk dan dilakukan sesuai dengan mekanisme perencanaan dan penganggaran dalam APBN dan APBD. Pada tahap perencanaan anggaran, Menteri atau Pimpinan lembaga harus memberikan informasi kepada gubernur dan/atau Bupati/Walikota mengenai program/kegiatan yang akan dilimpahkan kepada gubernur dan akan ditugaskan kepada gubernur/Bupati/Walikota. Hal ini dimaksudkan agar informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan penyusunan APBD, sehingga ada sinkronisasi antara program/kegiatan yang akan dilaksanakan melalui dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan dengan program/kegiatan yang akan dilaksanakan melalui dana APBD. Prinsipnya, program dan kegiatan yang didanai oleh kementerian Negara/ lembaga melalui dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan tidak akan tumpang tindih (overlap) dengan program dan kegiatan yang akan didanai dari APBD, karena jenis urusan yang didanainya berbeda. Kementerian negara/lembaga tidak boleh mendanai program/kegiatan yang mencerminkan urusan pemerintahan daerah. Apabila ada anggaran

38

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

Pelengkap Buku Pegangan 2012

kementerian Negara/lembaga, termasuk yang sebelumnya dialokasikan dalam bentuk dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan, maka sesuai dengan ketentuan Pasal 108 undang-undang Nomor 33 tahun 2004 dana tersebut perlu dialihkan secara bertahap menjadi DAK agar dapat dikelola oleh pemerintahan daerah sesuai dengan kewenangannya. Mekanisme dan proses pengalihan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan secara bertahap telah diatur dalam PP No. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Pada tahap pelaksanaan, gubernur atau Bupati/Walikota melalui sKPD yang ditunjuk melaksanakan dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan, mempunyai kewajiban menyampaikan laporan teknis dan keuangan terhadap pelaksanaan dana dimaksud kepada menteri/ pimpinan lembaga. selanjutnya menteri/pimpinan lembaga yang akan mempertanggungjawabkan pelaksanaan dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan karena dana tersebut merupakan bagian dari anggaran Kementerian Negara/lembaga. Walaupun dalam penganggaran, pelaksanaan dan pertanggungjawaban dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan terpisah dari APBD, namun dana tersebut bisa menjadi pendukung bagi APBD. Hal ini karena asset yang dihasilkan dari pelaksanaan dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan dapat dihibahkan oleh kementerian negara/lembaga kepada daerah agar dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat di daerah.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

39

40

Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah

BAB III KEBIJAKAN HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH TAHUN 2012

42

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

BAB III KEBIJAKAN HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH TAHUN 2012
3.1. TRANSFER KE DAERAH 3.1.1. PENDAHULUAN secara konseptual, kebijakan Transfer ke Daerah diarahkan dalam mengurangi ketimpangan vertikal antara pusat dan daerah melalui alokasi DBH dan meminimalkan kesenjangan fiskal antar daerah melalui DAu dan DAK sehingga dapat mendukung kebutuhan pendanaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan terutama kepada daerah-daerah marginal yang memiliki potensi DBH sDA dan DBH Pajak sangat terbatas. Namun demikian, seiring dengan perjalanan desentralisasi fiskal di Indonesia yang telah memasuki tahun ke 12, tantangan dari tahun ke tahun semakin berat. salah satu keberhasilan Pemerintah dalam rangka melaksanakan formula dan kriteria Transfer ke Daerah secara konsisten adalah dengan menghilangkan komponen Dana Penyesuaian yang bersifat adhoc dalam TA 2012. Reformulasi kebijakan, penghitungan, dan alokasi Transfer ke Daerah setiap tahun dapat memberikan benefit yang cukup signifikan bagi pembangunan di daerah provinsi, kabupaten, dan kota serta dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara nasional. Hal ini ditunjukkan dengan adanya indikator di beberapa daerah yang telah mampu meningkatkan perbaikan kesejahteraan masyarakat baik yang tercermin dari pertumbuhan PDRB perkapita maupun berdasarkan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

43

yang terus meningkat setiap tahun dan diiringi pula dengan peningkatan kualitas pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik yang lebih baik. untuk mendukung reformulasi kebijakan yang berkelanjutan, maka arah kebijakan Transfer ke Daerah tetap diarahkan untuk : 1. meningkatkan kapasitas fiskal daerah dan mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat & daerah dan antardaerah; 2. menyelaraskan kebutuhan pendanaan di daerah sesuai dengan pembagian urusan pemerintahan; 3. meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi kesenjangan pelayanan publik antardaerah; 4. mendukung kesinambungan fiskal nasional; 5. meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi daerah; 6. meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional; dan 7. meningkatkan sinkronisasi antara rencana pembangunan nasional dengan rencana pembangunan daerah. Kebijakan alokasi Dana Transfer ke Daerah pada Tahun 2012 yang terdiri dari Dana Perimbangan, Dana otonomi Khusus dan Penyesuaian ditetapkan sebesar Rp. 478.775,9 miliar. selanjutnya, Dana Perimbangan tahun 2012 dialokasikan sebesar Rp. 408.352,1 miliar yang terdiri dari Dana Bagi Hasil sebesar Rp.108.421,7 miliar, Dana Alokasi umum sebesar Rp. 273.814,4 miliar dan Dana Alokasi Khusus sebesar Rp. 26.115,9 miliar. Dana Perimbangan merupakan komponen terbesar dalam alokasi Transfer ke Daerah, sehingga mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendukung pelaksanaan desentralisasi fiskal dan otonomi daerah. Pemerintah terus berupaya melakukan perbaikan (continuous improvement)
44 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

terhadap mekanisme penyaluran Transfer ke Daerah. Perbaikan tersebut dapat dilihat dari telah terbitnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/ PMK.07/2012 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah yang menyempurnakan PMK-PMK sebelumnya yaitu Peraturan Menteri Keuangan Nomor 04/PMK.07/2008, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/PMK.07/2009 dan direvisi lagi dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 126/PMK.07/2010. Perbaikan mekanisme penyaluran anggaran Transfer ke Daerah tersebut terutama dimaksudkan untuk memperbaiki efektifitas dan efisiensi penyaluran. Implementasi perbaikan mekanisme penyaluran tersebut telah memberikan dampak positif terhadap pengelolaan keuangan daerah, yakni: (1) mempercepat penyelesaian Perda APBD; (2) mendorong pelaksanaan sistem treasury single account dengan disalurkannya semua dana transfer melalui satu rekening bank yang ditunjuk daerah; (3) memberikan kepastian terhadap penerimaan kas daerah sehingga daerah dapat mengatur pola belanja; (4) mempercepat pelaksanaan kegiatan/pembangunan daerah dengan semakin cepat tersedianya dana; (5) mengurangi sisa anggaran pada akhir tahun dengan pelaksanaan kegiatan yang lebih awal; (6) mempercepat tersedianya data realisasi transfer; (7) meningkatkan akuntabilitas penyusunan laporan Realisasi Anggaran (lRA) Transfer ke Daerah; dan (8) meningkatkan akurasi sistem Informasi Keuangan Daerah (sIKD).

3.1.2. Dana Bagi Hasil (DBH) 3.1.2.1. DBH Pajak DBH Pajak dialokasikan kepada daerah berdasarkan persentase tertentu dalam APBN yang bersumber dari penerimaan pajak yang diperoleh
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 45

Pemerintah sebagaimana yang telah ditetapkan berdasarkan undangundang Nomor 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005. Tujuan utama dari DBH Pajak adalah dalam rangka memperkecil kesenjangan penerimaan dari sektor perpajakan antara Pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Penyempurnaan mekanisme perhitungan dan penyediaan data DBH Pajak perlu didukung oleh instansi teknis terkait di tingkat pusat maupun daerah agar penerimaan pajak dan DBH lebih optimal. Kebijakan adanya DBH Pajak ini dilatarbelakangi oleh: 1. kebutuhan pendanaan daerah dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan di daerah, tidak seimbang dengan besarnya pendapatan daerah itu sendiri; 2. keterbatasan kemampuan pemerintah daerah dalam pengumpulan dana secara mandiri; 3. adanya jenis penerimaan pajak dan atau bukan pajak yang berdasarkan pertimbangan tertentu pemungutannya harus dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat, namun obyek dan atau subyek pajaknya berada di daerah; 4. memperkecil kesenjangan ekonomi antar daerah; 5. memberikan insentif kepada daerah dalam melaksanakan program Pemerintah Pusat; 6. memberikan kompensasi kepada daerah atas timbulnya beban dari kegiatan yang dilimpahkan oleh Pemerintah Pusat. Proporsi DBH Pajak yang diterima oleh daerah ditentukan berdasarkan formula persentase tertentu sesuai dengan peraturan yang berlaku. DBH Pajak bersumber dari:
46

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

1. PPh Pasal 21 dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/Pasal 29 Wajib Pajak orang Pribadi Dalam Negeri; 2. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB); 3. Cukai Hasil Tembakau (dialokasikan sejak tahun 2009). sesuai dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, BPHTB sudah dialihkan menjadi pajak daerah terhitung mulai 1 Januari 2011. Pembagian Bagi Hasil Pajak dilakukan dengan menggunakan prosentase sebagaimana terinci pada skema gambar 3.1 Gambar 3.1 Prosentase Pembagian Bagi Hasil Pajak

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

47

3.1.2.1.1.

PAJAK PENGHASILAN (PPh) WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DALAM NEGERI (WPOPDN) DAN PPh PASAL 21

Alokasi DBH PPh didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. a. Pajak Negara dari PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 25 dan 29 WPoPDN dialokasikan kepada Pemerintah Daerah dalam bentuk DBH. b. Bagian Pemerintah sebesar 80%. c. Bagian pemerintah daerah sebesar 20%, yang dibagi kembali dengan komposisi sebagai berikut: • • Bagian daerah provinsi sebesar 8%. Bagian daerah kabupaten atau kota sebesar 12%, akan dibagi kembali dengan rincian : — 8,4% untuk kabupaten/kota tempat wajib pajak terdaftar; dan — 3,6% untuk seluruh kabupaten/kota dalam provinsi yang bersangkutan dengan bagian yang sama besar. d. Alokasi sementara, yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan, sebagai dasar penyaluran triwulan I, II, dan III tahun anggaran berjalan dimana ditetapkan masing-masing sebesar 20%. e. Alokasi definitif, yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat pada bulan pertama triwulan IV tahun anggaran berjalan, sebagai dasar penyaluran triwulan IV dengan memperhitungkan jumlah dana yang telah dicairkan selama triwulan I, II, dan III.

48

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

3.1.2.1.2.

DBH PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB)

Alokasi DBH PBB a. Penerimaan Negara dari PBB dialokasikan kepada pemerintah daerah dalam DBH. b. Bagian Pemerintah 10%. c. Bagian pemerintah daerah 90%.

d. Bagian pemerintah pusat dibagi kembali ke daerah dengan imbangan sebagai berikut: — 6,5% dibagi secara merata kepada seluruh kabupaten/kota. — 3,5% dibagikan sebagai insentif kepada daerah kabupaten/kota yang realisasi penerimaan PBB sektor pedesaan dan perkotaan pada TA sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. e. Bagian daerah dari PBB sebesar 90% tersebut diperinci dengan imbangan: — 16,2% untuk daerah provinsi. — 64,8% untuk daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. — 9% untuk biaya pemungutan PBB. f. Penyaluran DBH PBB didasarkan atas perkiraan alokasi, yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan, sebagai dasar penyaluran tahun anggaran berjalan. g. untuk DBH PBB bagian Pusat, perkiraan alokasi merupakan dasar penyaluran tahap I dan II dimana ditetapkan masing-masing sebesar 25% dan 50%.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 49

h. untuk DBH PBB bagian Pusat, prognosa realisasi penerimaan oleh Ditjen Pajak ditetapkan sebagai dasar alokasi definitif, sebagai dasar penyaluran tahap III dengan memperhitungkan jumlah dana yang telah dicairkan selama tahap I dan II. Berdasarkan prognosa realisasi penerimaan tersebut dalam tahap III ini dialokasikan pula insentif kepada kabupaten/kota yang realisasi penerimaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan.

Perhitungan DBH PBB a. Besaran PBB yang dibebankan ke wajib pajak tergantung hasil penilaian yang diklasifikasikan dan digolongkan berdasarkan nilai Nilai Jual obyek Pajak (NJoP) per m2. NJoP ditentukan melalui perbandingan harga dengan obyek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru, atau NJoP Pengganti. b. Tarif untuk pengenaan PBB ditetapkan sebesar 0,5% dari Nilai Jual Kena Pajak (NJKP), sedangkan untuk NJKP Assessment Ratio yang berlaku saat ini adalah 40% untuk obyek pajak perumahan dengan NJoP Rp. 1 milyar atau lebih, bidang usaha perkebunan, serta perhutanan, dan 20% untuk obyek pajak lainnya. c. Dengan dasar perhitungan di atas maka perhitungan PBB adalah sebagai berikut: = tarif X NJKP = 0,5 % X(40 % X NJoP) = (20% X NJoP)

50

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

d. NJoP sebagai dasar pengenaan PBB sebelum dihitung beban PBBnya, terlebih dahulu dikurangi dengan NJoP-TKP (Tidak Kena Pajak) per Wajib Pajak yang ditetapkan secara regional. e. Pengenaan PBB diberitahukan kepada Wajib Pajak dengan menerbitkan surat Pemberitahuan Pajak Terutang (sPPT) yang berisikan antara lain nama serta alamat wajib pajak, besarnya pajak terutang, serta datadata mengenai obyek pajak.

3.1.2.1.3.

DBH CUKAI HASIL TEMBAKAU (DBH CHT)

DBH CHT merupakan bentuk pelaksanaan amanat Pasal 66A undangundang Nomor 39 Tahun 2007. DBH CHT bersumber dari penerimaan cukai hasil tembakau yang diproduksi dalam negeri yang dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau sebesar 2% (dua persen). Dalam pengelolaan dan penggunaannya, gubernur mengatur pembagian dana bagi hasil cukai hasil tembakau kepada Bupati/Walikota di daerahnya masing-masing berdasarkan besaran kontribusi penerimaan cukai hasil tembakaunya. Pembagian DBH CHT dilakukan dengan persetujuan Menteri Keuangan, dengan komposisi 30% (tiga puluh persen) untuk provinsi penghasil, 40% (empat puluh persen) untuk kabupaten/kota daerah penghasil, dan 30% (tiga puluh persen) untuk kabupaten/kota lainnya. Perhitungan pembagian alokasi DBH CHT kepada Provinsi penghasil cukai dan/atau penghasil tembakau (sebelum dibagihasilkan oleh Provinsi kepada Kabupaten/Kota) sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 197/PMK.07/2009 tentang Dasar Pembagian Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Kepada Provinsi Penghasil Cukai dan/atau Penghasil Tembakau menggunakan pola sebagai berikut :

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

51

a. 2% (dua persen) yang dibagihasilkan dihitung berdasarkan penerimaan cukai hasil tembakau yang diproduksi dalam negeri yang ditetapkan dalam undang-undang APBN dan Perubahannya. b. Variabel yang digunakan dalam perhitungan tersebut meliputi (i) Penerimaan cukai hasil tembakau 2 (dua) tahun sebelumnya yang bersumber dari Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan, (b) rata-rata produksi kering selama 3 (tiga) tahun sebelumnya yang bersumber dari Kementerian Pertanian, (c) Pembinaan lingkungan sosial yang diukur dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2 (dua) tahun sebelumnya yang bersumber dari BPs, (d) Tingkat penyerapan DBH CHT 2 (dua) tahun sebelumnya yang bersumber dari laporan realisasi daerah penerima DBH CHT, dan (e) Tingkat pemberantasan barang kena cukai ilegal 2 (dua) tahun sebelumnya yang bersumber dari realisasi penggunaan DBH CHT masing-masing daerah penerima DBH CHT untuk pemberantasan cukai ilegal. c. Tiap-tiap variabel ditetapkan dengan bobot yaitu : (i) Penerimaan cukai hasil tembakau sebesar 57,5%, (b) rata-rata produksi kering sebesar 37,5%, (c) Pembinaan lingkungan sosial (diukur dengan angka IPM) sebesar 3%, (d) Tingkat penyerapan DBH CHT 1%, dan (e) Tingkat pemberantasan barang kena cukai ilegal sebesar 1% Adapun penggunaan DBH CHT diarahkan untuk mendanai lima kegiatan utama yang sudah ditentukan (earmark) sebagaimana diatur dalam Pasal 66A ayat (1) undang-undang Nomor 39 tahun 2007 tersebut, yaitu (1) peningkatan bahan baku industri hasil tembakau, (2) pembinaan industri hasil tembakau, (3) pembinaan lingkungan sosial, (4) sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan (5) pemberantasan barang kena cukai ilegal. Tujuan diarahkannya penggunaan DBHCT tersebut adalah agar

52

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

DBHCT yang dibagikan ke daerah penghasil cukai hasil tembakau betulbetul dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya, baik dalam rangka peningkatan produksi maupun pengendalian dampak yang ditimbulkannya sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 39 tahun 2007. selanjutnya dalam rangka memberikan acuan penggunaan yang lebih jelas, melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau dan sanksi atas Penyalahgunaan Alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau, kelima kegiatan utama tersebut dijabarkan lagi menjadi rincian kegiatan, yaitu : 1) Peningkatan kualitas bahan baku industri hasil tembakau, yang meliputi: a) standardisasi kualitas bahan baku; b) pembudidayaan bahan baku dengan kadar nikotin rendah; c) pengembangan sarana laboratorium uji dan pengembangan metode pengujian; d) penanganan panen dan pascapanen bahan baku; dan/atau e) penguatan kelembagaan kelompok petani bahan baku untuk industri hasil tembakau. 2) Pembinaan industri hasil tembakau, yang meliputi: a) pendataan mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau

(registrasi mesin/ peralatan mesin) dan memberikan tanda khusus; (i) jumlah mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau di setiap pabrik atau tempat lainnya; (ii) identitas mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau (merek, tipe, kapasitas, asal negara pembuat);

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

53

(iii) identitas kepemilikan mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau; dan (iv) perpindahan kepemilikan mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau. b) penerapan ketentuan terkait Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI); c) pembentukan kawasan industri hasil tembakau; d) pemetaan industri hasil tembakau berupa kegiatan pengumpulan data yang berkaitan dengan industri hasil tembakau di suatu daerah, meliputi: (i) nama pabrik, Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC), dan nomor izin usaha industri; (ii) lokasi/alamat pabrik (jalan/desa, kota/kabupaten, dan provinsi); (iii) realisasi produksi; (iv) jumlah tenaga kerja linting/ giling, tenaga kerja pengemasan, dan tenaga kerja lainnya; (v) realisasi pembayaran cukai; (vi) wilayah pemasaran; (vii) jumlah, merek, tipe, dan kapasitas mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau; (viii) jumlah alat linting; e) asal daerah bahan baku (tembakau dan cengkih); f) kemitraan usaha Kecil Menengah (uKM) dan usaha besar dalam pengadaan bahan baku; g) penguatan kelembagaan asosiasi industri hasil tembakau; dan/atau

54

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

h) pengembangan industri hasil tembakau dengan kadar tar dan nikotin rendah melalui penerapan Good Manufacturing Practices (gMP). 3) Pembinaan lingkungan sosial, meliputi : a) pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau dan/atau daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau; b) penerapan manajemen limbah industri hasil tembakau yang mengacu kepada Analisis Dampak lingkungan (AMDAl); c) penetapan kawasan tanpa asap rokok dan pengadaan tempat khusus untuk merokok di tempat umum; dan/ atau d) peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan penyediaan fasilitas perawatan kesehatan bagi penderita akibat dampak asap rokok. 4) sosialisasi ketentuan di bidang cukai merupakan kegiatan

menyampaikan ketentuan di bidang cukai kepada masyarakat yang bertujuan agar masyarakat mengetahui, memahami, dan mematuhi ketentuan di bidang cukai yang dilaksanakan dalam periode tertentu dan/atau secara insidentil. 5) Pemberantasan barang kena cukai ilegal, meliputi: a) pengumpulan informasi hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu di peredaran atau tempat penjualan eceran; b) pengumpulan informasi hasil tembakau yang tidak dilekati pita cukai di peredaran atau tempat penjualan eceran; dan

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

55

c) pengumpulan informasi barang kena cukai berupa etil alkohol dan minuman mengandung etil alkohol yang ilegal di peredaran atau tempat penjualan eceran. d) apabila dalam pelaksanaan kegiatan pengumpulan informasi ditemukan indikasi adanya hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu, hasil tembakau yang tidak dilekati pita cukai, atau etil alkohol dan minuman mengandung etil alkohol yang ilegal di peredaran atau tempat penjualan eceran, gubernur/Bupati/Walikota menyampaikan informasi secara tertulis kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Dalam perkembangannya, sejalan dengan kebijakan Pemerintah dalam rangka pengentasan kemiskinan dan pengurangan pengangguran, telah dilakukan penyempurnaan terhadap Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 khususnya Pasal 1, Pasal 3, Pasal 6 , Pasal 7, dan Pasal 9 melalui penetapan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009. Dalam Peraturan Menteri Keuangan ini ditetapkan penambahan 2 (dua) butir kegiatan yang cukup memperluas penggunaan DBH CHT yaitu: Butir e : Penguatan sarana dan prasarana kelembagaan pelatihan bagi tenaga kerja industri hasil tembakau, dan/atau Butir f : Penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau dalam rangka pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dilaksanakan antara lain melalui bantuan permodalan dan sarana produksi. sesuai surat Edaran Menteri Keuangan Nomor sE-151/MK.07/2010 tanggal 27 April 2010 tentang Prioritas Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau TA 2010, akibat dari adanya kenaikan tarif cukai hasil tembakau yang diperkirakan berdampak pada terbatasnya kesempatan
56 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

kerja di industri rokok kecil (golongan III) dan beredarnya rokok ilegal maka dihimbau kepada gubernur/Bupati dan Walikota agar menetapkan prioritas penggunaan DBH CHT untuk kegiatan sebagai berikut: 1. Pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau dan/atau daerah penghasil bahan baku industri hasil tembakau. Kegiatan ini lebih diarahkan untuk pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja dalam rangka alih profesi tenaga kerja; 2. Penguatan sarana dan prasarana kelembagaan pelatihan bagi tenaga kerja industri tembakau. Kegiatan ini lebih diarahkan untuk penguatan sarana dan prasarana balai latihan kerja dalam mendukung alih profesi; 3. Penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau dalam rangka pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dilaksanakan antara lain melalui bantuan permodalan dan sarana produksi; 4. Pengumpulan informasi hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu dan tidak dilekati pita cukai di peredaran atau tempat penjualan eceran, agar berkoordinasi dengan kantor Bea dan cukai setempat dalam rangka pemberantasan rokok/pita cukai ilegal. Dalam pelaksanaannya, gubernur/bupati/walikota bertanggung jawab untuk menggerakkan, mendorong, dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan prioritas dan karakteristik daerah masing-masing daerah. Keberhasilan pemanfaatan DBH CHT sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 jo. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009 adalah tergantung dari bagaimana para gubernur/bupati/ walikota menjabarkan lebih lanjut kegiatan-kegiatan penggunaan DBH CHT sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah yang dikaitkan dengan tujuan
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 57

DBH CHT. Penjabaran tersebut seyogyanya dituangkan dalam peraturan gubernur/Bupati/Walikota Isu utama yang mengemuka dalam pelaksanaan ketentuan penggunaan DBH CHT dari tahun ke tahun antara lain adalah (1) percepatan penetapan alokasi DBH CHT, (2) penjabaran lebih teknis terhadap program/kegiatan yang didanai dari DBH CHT, dan (3) penerapan sanksi yang mempertegas penggunaan DBH CHT agar sesuai dengan peruntukannya. Penyelesaian atas isu-isu utama tersebut direncanakan akan dilakukan melalui penyempurnaan berbagai aturan yang terkait dengan DBH CHT di antaranya melalui Revisi uu 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah agar tujuan yang diemban dari kebijakan DBH CHT dapat terwujud. Keberhasilan pemanfaat DBH CHT sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK.07/2008 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.07/2009 adalah tergantung dari bagaimana para gubernur/bupati/walikota menjabarkan lebih lanjut kegiatan-kegiatan penggunaan DBH CHT sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah. Penjabaran tersebut seyogyanya dituangkan dalam peraturan gubernur/ Bupati/Walikota yang masing-masing kegiatan dilengkapi dengan kerangka acuan (Term of Reference/ToR) yang komprehensif. ToR tersebut sebaiknya meliputi substansi 7W & 2H sebagai berikut: 1. What – kegiatan apa : nama kegiatan yang akan didanai dari DBH CHT; 2. Which – kegiatan yang mana : penjelasan kaitannya dengan salah satu kegiatan yang mana dari PMK No 84/PMK.07/2008 dan PMK No 20/ PMK.07/2009;

58

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

3. Why – mengapa perlu kegiatan tersebut : Penjelasan alasan perlunya, maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut bagaimana cara melaksanakannya, dilengkapi dengan data dan gambaran kasus-kasus yang telah terjadi sehingga mendorong perlunya solusi melalui kegiatan tersebut; 4. Who – siapa yang melaksanakan : penjelasan mengenai pelaksanan kegiatan antara lain satuan Kerja Pemerintah Daerah (sKPD), unit dibawah sKPD yang sesuai dengan tugas dan fungsinya. 5. Whom – siapa penerima manfaat : penjelasan mengenai masyarakat yang akan menerima manfaat dari keluaran; 6. Where – lokasi kegiatan : penjelasan mengenai dimana kegiatan dilaksanakan dan dimana keluaran (output) kegiatan akan berada; 7. When – waktu kegiatan : penjelasan mengenai waktu mulai dan waktu selesai pelaksanaan kegiatan (lamanya), dengan tabel penjadwalan pelaksanaan kegiatan rinci dan jelas; 8. How – bagaimana cara melaksanakannya : penjelasan mengenai cara-cara mencapai keluaran, misalnya melaui proses pengadaan, melalui pengerahan tenaga kerja (padat karya), melalui koperasi dan sebagainya; 9. How much – berapa harga kegiatan : penjelasan mengenai sumber dana dan besaran dana yang diperlukan, pengembangan dari butir how much ini adalah Rincian Anggaran Biaya (RAB).

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

59

Boks
DBH CuKAI HAsIl TEMBAKAu

sejak diberlakukannya undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai, disadari masih terdapat hal-hal yang belum tertampung untuk mengoptimalkan upaya pengawasan dan pengendalian serta memberdayakan peranan cukai sebagai salah satu sumber penerimaan negara sehingga diperlukan adanya penyempurnaan kebijakan yang disesuaikan dengan perkembangan sosial ekonomi nasional dan kebijakan Pemerintah lainnya. untuk itu, pada tanggal 15 Agustus 2007 telah diundangkan undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai Perubahan Atas undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. salah satu ruang lingkup perubahan uu tersebut adalah mengenai pengaturan tambahan komponen DBH, yaitu DBH Cukai Hasil Tembakau kepada Pemerintah Daerah, yang diatur dalam Pasal 66A sampai dengan Pasal 66D. Dalam uu tersebut menyatakan bahwa “Penerimaan Negara dari Cukai Hasil Tembakau yang dibuat di Indonesia dibagikan kepada provinsi penghasil Cukai Hasil Tembakau sebesar 2 (dua) persen yang digunakan untuk mendanai peningkatan kualitas bahan baku, pembinaan industri, pembinaan lingkungan sosial, sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan/atau pemberantasan barang kena cukai ilegal.” Dalam ketentuan tersebut, terdapat komponen utama, yaitu provinsi penghasil Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan provinsi penghasil tembakau sebagai hasil pertanian atau tembakau sebagai produk primer. Dalam hal ini penggunaan CHT bersifat limitatif, sehingga yang memperoleh DBH CHT adalah daerah provinsi dimana pabrik hasil tembakau berada. Hal tersebut didasarkan pada sifat dan karakteristik dari pungutan cukai yang tidak dikenakan secara langsung.

60

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

selanjutnya, sejalan dengan hasil peninjauan undang-undang cukai berdasarkan amar putusan mahkamah konstitusi, dapat disampaikan bahwa pengalokasian DBH CHT untuk provinsi penghasil tembakau dapat dipenuhi paling lambat Tahun Anggaran 2010.

3.1.2.2. Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (DBH SDA) Dana Bagi Hasil sDA memegang peranan cukup dominan dalam memberikan kontribusi terhadap penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terutama kepada daerah-daerah penghasil yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). sebagai tools untuk memperkecil kesenjangan vertikal antara Pusat dan Daerah, DBH sDA diharapkan dapat pula mendukung daerah-daerah penghasil tersebut untuk mendanai penyelenggaraan pembangunan infrastruktur, menjaga kelestarian lingkungan saat pra dan pasca eksploitasi sDA, mengurangi dampak eksternalitas sosial di sekitar lokasi sDA, serta membantu mendanai kebutuhan daerah dalam menyediakan layanan publik yang lebih memadai. sebagai bagian terbesar dari DBH dalam APBN, pendapatan dari sDA dapat memiliki dampak terhadap Horizontal Fiscal Imbalance (HFI). Pengalaman di berbagai negara, kebijakan pengalokasian DBH sDA dijadikan sebagai argumen bahwa penerimaan negara dari sumber daya alam dapat memberikan kompensasi terhadap kerusakan lingkungan dan infrastruktur akibat eksploitasi dan ekternalitas, sedangkan di sisi lain pemerintah di negara-negara tersebut mengalami kesulitan dalam rangka menerapkan kebijakan alokasi dari anggaran block grant dan specific allocation grant lainnya yang bertujuan untuk pemerataan kapasitas fiskal

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

61

dan mendukung penyediaan layanan dasar terutama kepada daerah marginal dan non penghasil. Berbeda halnya dengan pengalaman di Indonesia, bahwa isu ketidakseimbangan fiskal di negara-negara lain tersebut dijadikan sebagai pelajaran penting bagi Indonesia sehingga Pemerintah dapat meminimalisasi isu ketimpangan secara integratif melalui mekanisme pengalokasian DAu berdasarkan formula dan DAK berdasarkan kriteria yang saling melengkapi dan saling mengisi Fiscal Gap antar daerah sebagai bagian dari Trilogi Dana Perimbangan. Isu-isu lain yang mendasar dalam kaitan dengan pengelolaan penerimaan sumber daya alam secara umum dari praktek internasional dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Mengapa perlu meningkatkan pendapatan dari sumber daya alam, sedangkan rasio kontribusi terhadap APBN dari tahun ke tahun semakin menurun sementara kerusakan lingkungan dan eksternalitas lainnya tidak sebanding dengan penerimaan yang masuk; 2. sejauh mana tingkat pemerintahan yang dapat diberikan

memiliki akses terhadap data-data produksi, setoran PNBP, data lifting, dari kementerian teknis; 3. sejauh mana peran pemerintahan daerah dalam proses perencanaan penerimaan dari DBH sDA, apakah cukup hanya menunggu dari Pusat ataukah dapat dilibatkan dalam proses rekonsiliasi perencanaan di level kementerian teknis sehingga tingkat akurasi perencanaan APBD dapat ditingkatkan; 4. Bagaimanakah seharusnya alokasi pemerintahan DBH Daerah sDA tersebut dan

didistribusikan antara tingkat

Provinsi

Kabupaten/Kota penghasil yang berbatasan, apakah cukup pemerataan

62

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

antar Kabupaten/Kota dalam lingkup satu Provinsi ataukah dapat diperluas realokasi antar Provinsi apabila wilayah kerja pertambangan (WKP) berbatasan dengan Provinsi lainnya. sebagaimana diketahui, sumber penerimaan sDA adalah bersifat Non Renewable Resources atau tidak dapat diperbaharui, hal ini telah menjadi bahan diskusi para akademisi di berbagai negara mengenai batasan dan kriteria penerimaan sDA mana yang dapat dibagihasilkan kepada daerah. Beberapa sektor sDA yang menurut best practices dapat dibagihasilkan antara lain sumber daya mineral yang berasal dari minyak bumi, gas bumi, pertambangan umum, dan geothermal karena diasumsikan memiliki keterbatasan input dan tidak terbarukan. Namun demikian, terdapat sektor sDA lainnya seperti kehutanan dan perikanan dapat pula dibagihasilkan walaupun secara teoritis termasuk sumber daya yang terbarukan (replenishable) karena hal ini dimungkinkan dengan asumsi masa pemulihan yang relatif lama, tingkat eksploitasi dan konsumsi lebih tinggi daripada upaya untuk memperbaharuinya, dan memiliki nilai ekonomi yang cukup signifikan terhadap penerimaan negara. Penerimaan DBH sDA sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005, bersumber dari PNBP dalam APBN yang dibagihasilkan kepada daerah dengan angka persentase tertentu didasarkan atas daerah penghasil untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DBH sDA berasal dari penerimaan: a. Pertambangan Minyak Bumi; b. Pertambangan gas Bumi; c. Pertambangan umum;

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

63

d. Pertambangan Panas Bumi; e. Kehutanan; dan f. Perikanan.

Persentase alokasi DBH sDA ditunjukkan dalam skema berikut: Gambar 3.2 Skema Perhitungan DBH Sumber Daya Alam (SDA)

Bagi Hasil Sumber Daya Alam

Pusat (20%) Iuran Hak Penguasaan Hutan (IHPH) Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) Daerah (80%) Pusat (20%) Daerah (80%) Pusat (60%) Daerah (40%) Iuran Tetap (Land Rent) Pusat (20%) Daerah (80%) Iuran Eksplorasi dan Eksploitasi (Royalty) Pungutan Pengusahaan Perikanan Pungutan Hasil Perikanan Pusat (84,5%) Daerah (15,5%) Pusat (69,5%) Daerah (30,5%) Setoran Bagian Pemerintah Iuran Tetap dan Produksi Pusat (20%) Daerah (80%)

Provinsi (16%) Kabupaten/Kota (64%) Provinsi (16%) Kabupaten/Kota Penghasil (32%) Kabupaten/Kota dalam satu provinsi (32%)

Kehutanan

Dana Reboisasi

Provinsi (16%) Kabupaten/Kota (64%) Provinsi (16%) Kabupaten/Kota Penghasil (32%) Kabupaten/Kota dalam satu provinsi (32%)

Pertambangan Umum

Perikanan

Pusat (20%) Kabupaten/Kota (80%)

Provinsi (3,1%) Kabupaten/Kota Penghasil (6,2%) Kabupaten/Kota dalam satu provinsi (6,2%)

0,1% untuk Anggaran Pendidikan Dasar 0,2% untuk Anggaran Pendidikan Dasar 0,2% untuk Anggaran Pendidikan Dasar 0,1% untuk Anggaran Pendidikan Dasar 0,2% untuk Anggaran Pendidikan Dasar 0,2% untuk Anggaran Pendidikan Dasar

Pertambangan Minyak Bumi

Pertambangan Gas Bumi

Provinsi (6,1%) Kabupaten/Kota Penghasil (12,2%) Kabupaten/Kota dalam satu provinsi (12,2%) Pusat (20%) Daerah (80%)

Pertambangan Panas Bumi

16 % Provinsi; 32% Kab/Kota Penghasil; 32% Kab/Kota dalam satu provinsi

Keterangan: selain mendapatkan alokasi DBH sDA Minyak Bumi sebesar 15,5% dan DBH sDA gas Bumi sebesar 30,5%, khusus untuk Provinsi Aceh dan Provinsi Papua Barat juga mendapatkan alokasi DBH sDA Minyak Bumi dan DBH sDA gas Bumi Dalam Rangka otonomi Khusus di Provinsi Aceh masing-masing sebesar 55% dan 40% yang diperuntukkan untuk mendanai program/kegiatan bidang pendidikan dan kesehatan.

64

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Beberapa hal baru yang diatur dan ditegaskan dalam hal DBH sDA oleh undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 adalah sebagai berikut: 1) Adanya penambahan obyek dana bagi hasil sumber daya alam, yaitu: • Dana Reboisasi (sebelumnya Dana Alokasi Khusus Dana

Reboisasi/DAK-DR). Mulai tahun 2006 dilakukan pengalihan sumber penerimaan yang berasal dari kehutanan yakni semula DAK-DR menjadi DBH Dana Reboisasi (DBH-DR). • sumber Daya Alam Panas Bumi.

2) Adanya penegasan mekanisme, yakni: • Penetapan alokasi DBH sDA dilakukan berdasarkan daerah penghasil, dan dasar perhitungan. • • Jadwal penetapan. Penyaluran DBH sDA dilakukan secara triwulanan.

3) Penambahan persentase sebesar 0,5% dari penerimaan pertambangan minyak bumi kepada daerah yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. • • Bagian Pemerintah dari minyak bumi menjadi sebesar 84,5%. Bagian daerah dari minyak bumi menjadi sebesar 15,5%.

4) Penambahan persentase sebesar 0,5% dari penerimaan gas bumi kepada daerah yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. • • Bagian Pemerintah dari minyak bumi menjadi sebesar 69,5%. Bagian daerah dari minyak bumi menjadi sebesar 30,5%.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 65

5) Tambahan DBH dari pertambangan minyak bumi dan gas bumi untuk daerah sebesar 0,5% dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar dan dilaksanakan mulai tahun anggaran 2009. Adapun pembagian porsi tambahan tersebut dibagikan dengan perincian: — untuk provinsi yang bersangkutan sebesar 0,1%; — untuk kabupaten/kota penghasil 0,2%; dan — untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan 0,2%. 6) Realisasi penyaluran DBH dari sektor minyak bumi dan gas bumi tidak melebihi 130% dari asumsi dasar harga minyak bumi dan dan gas bumi dalam APBN tahun berjalan; dan apabila melebihi 130%, penyalurannya dilakukan melalui mekanisme formula DAu.

A. DBH SDA PERTAMBANGAN MINYAK DAN GAS BUMI (DBH SDA MIGAS) 1. Pola Pembagian DBH SDA Migas Dalam rangka mendukung pelaksanaan kebijakan dimaksud diperlukan kegiatan-kegiatan yang meliputi penyusunan rencana (perkiraan) dan realisasi di bidang DBH sDA Migas dari hasil kegiatan Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKs). Terkait dengan perhitungan DBH sDA Migas per provinsi/kabupaten/kota, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan selanjutnya menghitung perkiraan alokasi maupun realisasi DBH sDA Migas sebagai dasar penyaluran DBH sDA Migas per provinsi/ kabupaten/kota.

66

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Porsi pembagian DBH sDA Migas menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 yang ditindaklanjuti dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 adalah sebagai berikut: a. DBH sDA Minyak Bumi sebesar 15,5% berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan minyak bumi dari wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya. Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : • • • 3,1% dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan; 6,2% dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil; dan 6,2% dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. b. DBH sDA Minyak Bumi sebesar 15,5% berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan minyak bumi dari wilayah provinsi yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya. Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : • • 5,17% dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan; dan 10,33% dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

67

Gambar 3.3 Porsi Pembagian DBH SDA Minyak Bumi
Daerah Penghasil Provinsi 3% 5% 10% Daerah Penghasil: Kab/Kota Provinsi ybs Kab/Kota Penghasil Kab/Kota lainnya dalam Provinsi ybs Provinsi ybs Kab/Kota Penghasil

Provinsi Penghasil seluruh Kab/Kota dalam Prov ybs

15%

6% 6% 0,1%

Provinsi Penghasil seluruh Kab/Kota dalam Prov ybs

0,17% 0,33%

0,5%
untuk Pendidikan Dasar

0,2%

0,2% Kab/Kota lainnya dalam Provinsi ybs

c.

DBH sDA gas Bumi sebesar 30,5% berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan gas Bumi dari wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya. Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : • • • 6,1% dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan; 12,2% dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil; dan 12,2% dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.

d. DBH sDA gas Bumi sebesar 30,5% berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan gas Bumi dari wilayah provinsi yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya. Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : • • 10,17% dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan; dan 20,33% dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.
68 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Gambar 3.4 Porsi Pembagian DBH SDA Gas Bumi

e. Pengecualian untuk Daerah otonomi Khusus yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Papua Barat, selain mendapatkan DBH Migas, daerah otonomi khusus tersebut mendapatkan tambahan DBH Migas yang merupakan bagian dari penerimaan pemerintah provinsi dengan ketentuan sebagai berikut : • • bagian dari pertambangan Minyak Bumi sebesar 55%; dan bagian dari pertambangan gas Bumi sebesar 40%.

2. Penyusunan Perkiraan DBH SDA Migas a. Mekanisme Penyusunan Perkiraan DBH sDA Migas per provinsi/kabupaten/kota yang dihitung oleh Ditjen Perimbangan Keuangan selanjutnya akan dituangkan ke dalam Peraturan Menteri Keuangan mengenai Perkiraan Alokasi Dana Bagi Hasil

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

69

sDA Migas. Data yang digunakan sebagai dasar perhitungan perkiraan dan mekanisme perhitungannya sebagai berikut : 1) Data a) Prognosa lifting per daerah penghasil berdasarkan surat Keputusan Menteri Energi dan sumber Daya Mineral tentang Penetapan Daerah Penghasil Migas dan Dasar Perhitungan DBH sDA Migas; b) surat Dirjen Anggaran-Kementerian Keuangan tentang Perkiraan PNBP Migas per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP). 2) Mekanisme a) Ditjen Perimbangan Keuangan melakukan grouping per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) berdasarkan data Prognosa lifting dalam surat Keputusan Menteri EsDM tentang penetapan daerah penghasil Migas dan Dasar Perhitungan DBH sDA Migas yang disampaikan oleh Ditjen Migas dengan data perkiraan PNBP per KKKs yang disampaikan Ditjen Anggaran. lifting yang tersusun perdaerah penghasil per KKKs pada data Ditjen migas dikonsolidasi dengan data lifting per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) dari Ditjen Anggaran sehingga didapatkan data lifting per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil; b) data hasil grouping tersebut di persentasekan dengan total lifting per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) sehingga didapat rasio lifting per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per

70

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

daerah penghasil. Rasio lifting dimaksud untuk mengetahui porsi lifting yang dihasilkan KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) pada daerah penghasil tertentu; c) rasio tersebut dikalikan dengan PNBP per KKKs (sebagaimana yang tercantum dalam surat Dirjen Anggaran tentang Perkiraan PNBP Migas) untuk mengetahui PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil; d) PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil yang berada pada daerah penghasil yang sama dijumlahkan sehingga didapatkan PNBP per daerah penghasil; e) PNBP per daerah penghasil dihitung porsi DBH-nya untuk bagian Pemerintah, daerah penghasil, dan daerah pemerataan berdasarkan undang-undang dan peraturan pemerintah; f) porsi DBH dari masing-masing daerah penghasil tersebut dijumlah sehingga didapat perkiraan alokasi DBH sDA Migas per provinsi/ kabupaten/kota untuk selanjutnya ditetapkan dalam peraturan Menteri Keuangan. b. Penetapan Proses penetapan perkiraan alokasi DBH sDA Migas sebagai berikut: 1) Penetapan besaran asumsi dasar berupa prognosa lifting, kurs Rupiah terhadap Dollar, dan harga minyak Indonesia (ICP) melalui penetapan asumsi makro APBN antara Pemerintah dengan DPR; 2) Berdasarkan asumsi tersebut Menteri EsDM menetapkan

daerah penghasil dan dasar perhitungan DBH sDA Migas.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 71

Ketetapan tersebut paling lambat 60 hari sebelum tahun anggaran bersangkutan setelah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. selanjutnya ketetapan tersebut disampaikan kepada Menteri Keuangan. Dalam hal lapangan migas tersebut berada pada wilayah yang berbatasan atau berada pada lebih dari satu daerah, Menteri Dalam Negeri menetapkan daerah penghasil berdasarkan pertimbangan menteri teknis paling lambat 60 hari setelah diterimanya usulan pertimbangan dari menteri teknis. Ketetapan Menteri Dalam Negeri tersebut menjadi dasar perhitungan lifting per daerah penghasil sDA Migas oleh Menteri EsDM. 3) Bersamaan dengan proses tersebut, Badan Pelaksana Kegiatan usaha Hulu Minyak dan gas Bumi (BP Migas) melakukan perhitungan perkiraan Cost Recovery, Gross Revenue, First Trance Petroleoum (FTP), dan Bagian Pemerintah per KKKs; 4) Berdasarkan ketetapan Menteri EsDM tersebut, Dirjen Anggaran melakukan perhitungan perkiraan faktor-faktor pengurang (Domestic Market Obligation/DMo, Fee usaha Hulu Migas, PPN, PBB sektor pertambangan Migas, PDRD). Hasil perhitungan PNBP sDA Migas per KKKs tersebut disampaikan kepada Dirjen Perimbangan Keuangan; 5) Berdasarkan Ketetapan Menteri EsDM dan perhitungan Dirjen Anggaran tersebut, Dirjen Perimbangan Keuangan melakukan perhitungan Perkiraan Alokasi DBH sDA Migas yang kemudian diajukan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang Perkiraan Alokasi DBH sDA Migas paling lambat 30 hari setelah diterimanya ketetapan Menteri EsDM dan perhitungan Dirjen Anggaran.

72

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Diagram proses pelaksanaannya sebagai berikut: Gambar 3.5 Mekanisme Penetapan Perkiraan Alokasi DBH SDA Migas
Penetapan Daerah Penghasil Men. EsDM Konsultasi Batas Wilayah
Dalam hal sumber daya alam berada pada wilayah yang berbatasan atau berada pada lebih dan 1 daerah

APBN

Mendagri

Per Kab/Kota

sK Daerah Penghasil

Ditjen Perimbangan Keuangan DBH sDA Migas

PMK

Ditjen Anggaran PNBP Per KKKs (termasuk faktor pengurang)

Per Prov/Kab/ Kota (dalam rupiah)

3. Penyusunan Realisasi DBH SDA Migas a. Mekanisme Penghitungan Proses penghitungan realisasi DBH sDA Migas berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut: 1. penghitungan realisasi DBH sDA Migas dilakukan setiap triwulan; 2. dana yang dibagihasilkan adalah penerimaan negara dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai peraturan perundang-undangan; 3. mekanisme perhitungan realisasi DBH sDA Migas hampir sama dengan penghitungan perkiraan alokasi DBH sDA Migas, yang membedakannya adalah data yang dirasiokan yakni data Realisasi Gross Revenue, sedangkan pada mekanisme penghitungan perkiraan alokasi DBH sDA Migas yang digunakan adalah data prognosa lifting. Hal ini dikarenakan
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 73

Realisasi Gross Revenue sudah berbentuk satuan mata uang, sehingga perhitungan yang dihasilkan dianggap lebih mendekati dibanding jika menggunakan realisasi lifting; 4. Data yang disajikan baik oleh Ditjen Migas maupun Ditjen Anggaran dalam mekanisme penghitungan realisasi DBH sDA Migas ini merupakan kumulatif triwulanan, sehingga dikenal data realisasi triwulan I, realisasi s.d. triwulan II, realisasi s.d. triwulan III, dan realisasi s.d. triwulan IV. Data yang digunakan sebagai dasar penghitungan dan mekanisme penghitungan realisasi DBH sDA Migas adalah sebagai berikut : 1) Data a) realisasi lifting per daerah penghasil per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi) berdasarkan berita acara rekonsiliasi lifting yang disampaikan oleh Ditjen Migas; b) Perkiraan Realisasi PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) yang disampaikan oleh Ditjen Anggaran. 2) Mekanisme a) Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan grouping per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) berdasarkan data Realisasi Gross Revenue yang disampaikan oleh Ditjen Migas dengan data perkiraan realisasi PNBP per KKKs yang disampaikan Direktorat Jenderal Anggaran. Gross Revenue yang tersusun per daerah penghasil per KKKs pada data Direktorat Jenderal Migas dielaborasi dengan data Gross Revenue per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT
74

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

PERTAMINA EP) dari Ditjen Anggaran sehingga didapatkan data Gross Revenue per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil; b) data Gross Revenue per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil hasil grouping tersebut di persentasekan dengan total Gross Revenue per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) sehingga didapat rasio Gross Revenue per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil. Rasio Gross Revenue dimaksud untuk mengetahui porsi Gross Revenue yang dihasilkan KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) pada daerah penghasil tertentu; c) Dalam hal dimana suatu KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) tidak terdapat realisasi lifting untuk periode berjalan, sementara terdapat realisasi penerimaan sDA migas (dari DMo, over/under lifting, dll) untuk periode dimaksud, maka perhitungan rasionya menggunakan rasio periode lifting tahun sebelumnya. d) rasio tersebut dikalikan dengan PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) sebagaimana yang tercantum dalam surat Dirjen Anggaran tentang Realisasi PNBP sDA Migas untuk mengetahui PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil; e) PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil yang berada pada daerah

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

75

penghasil yang sama dijumlahkan sehingga didapatkan PNBP per daerah penghasil; f) dihitung porsi DBH-nya dari PNBP per daerah penghasil untuk bagian Pemerintah, daerah penghasil, dan daerah pemerataan berdasarkan undang-undang dan peraturan pemerintah; g) porsi DBH dari masing-masing daerah penghasil tersebut dijumlah sehingga didapat realisasi DBH sDA Migas per provinsi/kabupaten/kota untuk selanjutnya disalurkan ke tiap-tiap daerah; h) sebelum disalurkan, realisasi DBH sDA Migas dikurangi terlebih dahulu dengan kelebihan salur tahun sebelumnya dan total DBH sDA Migas yang telah disalurkan pada triwulan sebelumnya pada tahun anggaran berjalan. Diagram proses pelaksanaan perhitungannya sebagai berikut: Gambar 3.6 Mekanisme Perhitungan DBH SDA Migas

76

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

4. Mekanisme Counter Balance Penyaluran DBH SDA Migas a. Prinsip DBH Prinsip DBH secara umum meliputi : (1) harus ada PNBP-nya, (2) besarannya adalah persentase tertentu dari PNBP (migas 84,5% pusat, 15,5% daerah); (3) alokasinya dalam APBN berdasarkan perkiraan PNBP dalam satu tahun – dalam hal migas perkiraan tersebut sangat tergantung dari asumsi jumlah lifting, harga Indonesian Crude Price (ICP), serta kurs Rp terhadap us$ dalam APBN; (4) penyalurannya kepada daerah berdasarkan realisasi PNBP dalam satu tahun – dalam hal DBH Migas, waktu satu tahun tersebut dimulai dari Desember suatu tahun sampai November tahun berikutnya (tetap 12 bulan).

b. Waktu Perhitungan realisasi PNBP/DBH Migas. Penetapan segmen waktu tersebut semula dimaksudkan agar alokasi DBH sDA seluruhnya dapat tersalur ke daerah pada akhir tahun anggaran. Realisasi PNBP dihitung mulai dari Awal Desember sampai dengan Akhir November agar hasil perhitungan PNBP tersebut dapat disalurkan DBHnya pada bulan Desember. Namun kenyataannya sampai dengan bulan Desember pihak penyedia data PNBP Migas belum siap menyediakan data, baru kemudian pada pertengahan Februari data realisasi PNBP satu tahun dapat disediakan yang berarti sudah melewati tahun anggaran. Hal ini menimbulkan masalah tersendiri dalam penyaluran DBH Migas sehingga perlu diambil kebijakan penyaluran DBH Migas pada setiap tahunnya.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

77

c. Kebijakan Pengalihan Sisa Anggaran ke Rekening Cadangan Pada bulan Desember data realisasi penerimaan migas yang tersedia hanya sampai pada bulan Agustus, idealnya (yang menjadi harapan semula) sudah sampai pada bulan November. Dengan demikian pagu anggaran DBH Migas baru akan dibebani untuk membayar realisasi migas dari bulan Desember sampai dengan bulan Agustus atau 9 bulan, yang berarti masih tersisa pagu anggaran 3 bulan. sisa pagu ini akan hangus setelah akhir Desember apabila tidak direalisasikan. oleh karena itu, perlu diambil kebijakan untuk mengalihkan sisa anggaran tersebut ke Rekening Cadangan Menteri Keuangan (atau biasa disebut dengan Escrow Account) pada Bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan (dalam hal ini kewenangannya dilimpahkan kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan selaku Pengelola Rekening Kas Negara). Dengan kebijakan tersebut, status sisa anggaran yang ditampung di rekening cadangan sudah sebagai belanja dari rekening Kas Negara. Penyalurannya ke rekening kas daerah dilaksanakan setelah data realisasi PNBP Migas (per KKKs) diterima unit penyalur (DJPK) dan dihitung DBHnya (per daerah). Dengan demikian realisasi PNBP Migas yang dibagikan ke daerah tetap meliputi waktu 12 bulan (misalnya Desember 2008 s/d Agustus 2009 yang disalurkan pada Desember 2009, dan september s/d November 2009 yang disalurkan pada Pertengahan Februari 2010). Kebijakan ini akan dilakukan setiap tahun sepanjang unit penyedia data realisasi belum bisa menyediakan data selama 12 bulan pada akhir November, yang berarti terjadi selisih waktu antara realisasi dan penyaluran selama satu triwulan.

78

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

d. Kebijakan Mekanisme Counter Balance Dari aspek pergeseran waktu penyaluran yang seharusnya selesai pada bulan Desember menjadi bulan Februari memang jelas menunjukkan keterlambatan. Namun dari aspek jumlah bulan realisasi tetap meliputi waktu 12 bulan, yang berarti hak daerah atas DBH satu tahun tidak berkurang. Pengalihan penyaluran dari Desember menjadi Februari namun tetap berdasarkan data realisasi tahun yang bersangkutan biasa disebut dengan kebijakan Counter Balance. sisa anggaran tersebut tetap membebani anggaran tahun lalu namun daerah mencatat pendapatan sebagai penerimaan tahun berikutnya (lihat skema Counter Balance). Gambar3.8 Gambar 3.7 Counter Balance dalam Management Cashflow DBH Migas Counter Balance dalam Management Cashflow DBH MIgas

LOGO Balance dalam Management Cashflow DBH Migas Counter
2010
DES JAN PE B MAR APR

2011
MEI JUN JUL AG U SEP OKT NOP DES NOP DES

2012
JA JA N N

Tw V Tw I 2010 2011
Counter Balance : DBH 2010 yang dibagikan pada 2011 menjadi penerimaan APBD 2011

Tw II 2011

Tw III 2011

Tw IV 2011
Counter Balance Counter Balance :: DBH 2011 yang DBH 2011 yang dibagikan pada 2012 dibagikan pada 2012 menjadi penerimaan menjadi penerimaan APBD 2012 APBD 2012

bulan Jumlah bulan penyaluran tetap 12 bulan

5. Pola Penyaluran DBH SDA Migas

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

79

Sejak tahun 2008 Pemerintah melaksanakan penyaluran dana Transfer ke daerah dengan pendekatan baru yang mengedepankan semangat untuk menjamin kepastian, kecepatan, akurasi,

5. Kebijakan Dana Cadangan Sisa DBH SDA Migas Pola penyaluran Triwulan I s/d Triwulan IV ditambah Triwulan V telah dilaksanakan secara rutin dan terpola. Pola yang direalisasikan secara urut sebenarnya adalah sebagai berikut: Tabel 3.1 Pola Penyaluran DBH Pertambangan Minyak Bumi dan gas Bumi Triwulan Periode realisasi Besaran Penyaluran I II Tidak mempertimbangkan 20% dari perkiraan realisasi realisasi III Desember s/d Mei alokasi Juni alokasi Realisasi dikurangi penyaluran Tw I dan Tw II IV Desember s/d Agustus Realisasi dikurangi penyaluran Tw I s/d Tw III V Desember s/d November Realisasi Tw IV
sumber : Kementerian Keuangan

Waktu Penyaluran Maret

Tidak mempertimbangkan 20% dari perkiraan

september

Desember

dikurangi Februari

penyaluran Tw I s/d

Dengan pola yang rutin dan tetap tersebut, maka kebijakan counter balance dalam managemen penyaluran DBH Migas dapat dipersepsikan tidak ada keterlambatan penyaluran DBH Migas, dengan penjelasan : (1) hak yang dibagikan meliputi waktu 12 bulan; (2) besaran dana yang disalurkan sesuai
80 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

realisasi; (3) pelaksanaan penyaluran dengan pola yang konsisten. Pola ini dapat diacu oleh daerah dalam membukukan penerimaan yang bersumber dari DBH Migas, yaitu penerimaan yang masuk ke kas daerah dalam satu tahun, dibelanjakan pada tahun yang sama (dalam satu tahun anggaran, bulan Januari s/d Desember) terdapat 5 kali penerimaan DBH Migas yang masuk ke kas daerah pada bulan Februari, Maret, Juni, september dan Desember. Dari pola ini dapat dipersepsikan bahwa tidak ada keterlambatan dalam penyaluran DBH Migas.

6. Pemantauan dan Evaluasi Pada dasarnya DBH sDA Migas sebagaimana DBH sDA lainnya bersifat Block Grant yang kewenangan penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada pemda penerima, kecuali untuk dana Tambahan Anggaran Pendidikan Dasar sebesar 0,5% dari porsi DBH sDA Migas harus digunakan untuk sektor pendidikan dasar yang tata cara penggunaannya akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan. Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi atas penggunaan dana tambahan anggaran pendidikan dasar tersebut. Pemantauan atas dana tambahan ini menyangkut apakah penggunaannya sesuai dengan peruntukannya. Apabila hasil pemantauan dan evaluasi mengindikasikan adanya

penyimpangan dalam pelaksanaannya, maka Menteri Keuangan meminta aparat pengawasan fungsional untuk melakukan pemeriksaan. Hasil pemeriksaan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengalokasian DBH sDA Migas untuk tahun anggaran berikutnya, yaitu daerah tersebut dapat dikenai sanksi administrasi berupa pemotongan penyaluran DBH sDA Migas untuk periode berikutnya.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 81

B. DBH SDA PERTAMBANGAN UMUM Penerimaan Negara Bukan Pajak dari sektor pertambangan umum terdiri dari iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty) dan iuran tetap (landrent). Kedua iuran tersebut ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen EsDM. Dalam peraturan tersebut, tarif iuran tetap merupakan tarif satuan atas nilai us $ per luas area eksploitasi/eksplorasi (hektar). Besarnya tarif dibedakan atas dasar tahap kegiatan dan status (perpanjangan atau tidak) untuk Kuasa Pertambangan, tarif iuran tetap yang dikenakan pada Kuasa Pertambangan merupakan tarif satuan atas nilai rupiah per satuan luas eksploitasi/ eksplorasi (hektar) dan besarnya tarif juga dibedakan atas dasar tahap kegiatan dan status (perpanjangan atau tidak). Pemungutan iuran tetap, yang dikenakan di sektor pertambangan dilakukan setiap semester. Iuran Eksplorasi/Eksploitasi (royalty) adalah iuran produksi yang diterima Negara dalam hal Pemegang Kuasa Pertambangan Eksplorasi mendapat hasil berupa bahan galian yang tergali atas kesempatan eksplorasi yang diberikan kepadanya serta atas hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan eksploitasi satu atau lebih bahan galian. Royalty adalah pembayaran kepada Pemerintah berkenaan dengan produksi mineral yang berasal dari area penambangan. Royalti harus dibayar dalam satuan rupiah atau satuan lainnya yang disetujui bersama. Tarif royalti untuk pertambangan mineral dan batubara ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003, tarif royalti bersifat ad valorem (dalam persentasi) dan dikenakan terhadap harga jual yang telah dikalikan dengan jumlah produksi.

82

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Tata cara penghitungan Iuran Eksplorasi/Eksploitasi (royalty) sebagai berikut: Jumlah Produksi yang Terjual x Persentase Tarif (%) x Harga Jual (US$) Besarnya tarif berbeda-beda untuk setiap jenis dan kualitas bahan galian. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 ini juga memasukkan peraturan mengenai besarnya tarif royalti untuk bahan tambang batubara. sebelumnya pengenaan royalti untuk batubara sudah termasuk dalam bagian Pemerintah dari Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB) yang diatur dalam Keputusan Presiden Nomor 75 Tahun 1996. Dalam peraturan tersebut, Pemerintah mendapat 13,5% dari produksi batubara (dana hasil produksi batubara/DHPB). Bagian Pemerintah sebesar 13,5% tersebut sudah mencakup pembayaran royalti yang diestimasikan sebesar 3,3% dari 13,5% DHPB. Iuran Tetap (landrent/deadrent) adalah seluruh penerimaan iuran yang diterima Negara sebagai imbalan atas kesempatan penyelidikan umum, eksplorasi atau eksploitasi pada suatu Wilayah Kuasa Pertambangan (dalam hal ini termasuk Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara). Tatacara penghitungan Iuran Tetap (landrent/deadrent) sebagai berikut: Luas Wilayah KP/KK/PKP2B (Ha) x Tarif (Rp/US $) selanjutnya untuk perhitungan DBH sDA Pertambangan umum

sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005, bagian daerah dari landrent adalah sebesar 80% dengan rincian 16% untuk provinsi yang bersangkutan dan 64% untuk kabupaten/kota penghasil. untuk bagian daerah dari royalti adalah sebesar 80% dengan rincian 16%

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

83

untuk provinsi yang bersangkutan, 32% untuk kabupaten/kota penghasil dan 32% untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. Tabel 3.2 Porsi Pembagian DBH SDA Pertambangan umum
JENIS DBH PERTAMBANGAN UMUM A. LAND RENT PENgHAsIl KAB/KoTA B. LAND RENT PENgHAsIl PRoVINsI C. RoYAlTI PENgHAsIl KAB/KoTA D. RoYAlTI PENgHAsIl PRoVINsI PORSI % UNTUK KAB/KOTA KAB/KOTA LAIN DAERAH PROV PENGHASIL DALAM PROV 80% 80% 80% 80% 16% 80% 16% 26% 64% 32% 32% 54%

C. DBH SDA KEHUTANAN Dana Bagi Hasil sDA Kehutanan berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak dari sektor kehutanan terdiri: (1) Iuran Izin usaha Pemanfaatan Hutan (IIuPH); (2) Provisi sumber Daya Hutan (PsDH) yang merupakan royalti; dan (3) Dana Reboisasi. Definisi masing-masing penerimaan adalah berikut : a. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH); adalah pungutan yang dikenakan sebagai pengganti nilai intrinsik dari hasil yang dipungut dari Hutan Negara, dan b. Dana Reboisasi (DR); adalah dana yang dipungut dari pemegang Izin usaha Pemanfaatan Hasil Hutan dari Hutan Alam yang berupa kayu dalam rangka reboisasi dan rehabilitasi hutan c. Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH); adalah pungutan yang bersifat license fee (terkait dengan perizinan) yang dikenakan
84 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

kepada Pemegang Izin usaha Pemanfaatan Hutan atas suatu kawasan hutan tertentu yang dilakukan sekali pada saat izin tersebut diberikan. Tarif IIuPH terakhir diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 1998. Di dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa tarif yang dikenakan adalah tarif satuan Rupiah per satuan luas Hak Pengusahaan Hutan (HPH) (hektar). Besarnya tarif tergantung dari (1) kategori wilayah dan (2) status HPH (baru/ perpanjangan/ HPHTI). IHPH dikenakan satu kali untuk jangka waktu berlakunya HPH (atau sekitar 20 tahun). Tarif PsDH tertuang dalam surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 859/Kpts-II/1999. Dalam peraturan tersebut, tarif yang dikenakan adalah tarif satuan Rupiah per m3, yang besarnya tergantung dari (1) kategori wilayah dan (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. Provisi sumber Daya Hutan (PsDH) dikenakan terhadap pemegang HPH, pemegang Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH) dan pemegang Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) (lihat undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 juga Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1999). Pada HPH, untuk penyaluran produksi ke industri terkait dengan HPH, pembayaran dilakukan oleh pihak industri penerima. untuk produksi yang disalurkan ke industri yang tidak terkait dengan pemegang HPH, pembayaran dilakukan oleh pemegang HPH pada saat pengangkutan. Pembayaran dilakukan setiap bulan atas dasar produksi bulan sebelumnya, disetor langsung ke Rekening Menteri Kehutanan dan Perkebunan. Perhitungan jumlah kayu yang dikenai kewajiban untuk membayar PsDH dan Dana Reboisasi didasarkan dari laporan Hasil Penebangan (lHP). sistem pelaporan produksi hasil hutan tersebut bersifat self assessment yaitu perusahaan pemegang HPH mengisi volume produksi dan jenis tanaman.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

85

setelah itu diterbitkan dokumen surat Keterangan sahnya Hasil Hutan (sKsHH) yang sebelumnya disebut surat Angkutan Kayu olahan (sAKo). Pengesahan lHP dilakukan setelah diadakan pengukuran sampling 10% dari area produksi oleh petugas kehutanan untuk menguji kebenaran pengisian dokumen lHP. Jika terjadi penyimpangan volume <5%, lHP tetap disahkan, namun tidak berlaku untuk kesalahan pengisian jenis tanaman. Gambar 3.8 Perhitungan DBH SDA Kehutanan

Mulai tahun 2006 dilakukan pengalihan sumber penerimaan yang berasal dari kehutanan yakni semula Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi (DAKDR) menjadi DBH Dana Reboisasi (DBH-DR) serta Penetapan DBH PPh Wajib Pajak orang Pribadi Dalam Negeri (WPoPDN) dan PPh Psl 21 masingmasing kabupaten/kota yang sebelumnya ditetapkan oleh gubernur mulai tahun 2006 ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Dalam perkembangannya, realisasi DBH senantiasa menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan meningkatnya realisasi penerimaan dalam negeri yang dibagihasilkan.

86

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Tarif Dana Reboisasi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 92 Tahun 1999 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 1998 Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Kehutanan Dan Perkebunan. Tarif Dana Reboisasi merupakan tarif satuan us $ per m3, dimana besarnya tergantung dari (1) kategori wilayah dan (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. Menurut undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, pungutan Dana Reboisasi ini dikenakan terhadap pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan pemegang Hak Pemungutan Hasil Hutan. Perhitungan bagian daerah akan ditetapkan berdasarkan rencana produksi hasil hutan dan rencana penerbitan izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) atau usaha Pemanfaatan Hutan (uPH) dengan perhitungan sebagai berikut: Perkiraan penerimaan IHPH/IIuPH, baik hutan alam maupun tanaman yang dihitung dari luas areal yg akan diterbitkan izin HPH/uPH dikalikan tarif IHPH yang berlaku; Perkiraan penerimaan PsDH yang dihitung dari target produksi hasil hutan kayu dan bukan dan dikali tarif PsDH yang berlaku; Perkiraan Penerimaan PsDH dan yang bersumber dari tunggakan PsDH.

D. DBH SDA PERIKANAN Dana Bagi Hasil sumber Daya Alam Perikanan berasal dari Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) dan Pungutan Hasil Perikanan (PHP). Pungutan Pengusahaan Perikanan, yaitu pungutan hasil perikanan yang dikenakan kepada perusahaan perikanan Indonesia yang memperoleh

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

87

Izin usaha Perikanan (IuP), Alokasi Penangkapan Ikan Penanaman Modal (APIPM), dan surat Ijin Kapal Pengangkut Ikan (sIKPI), sebagai imbalan atas kesempatan yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia untuk melakukan usaha perikanan dalam wilayah perikanan Republik Indonesia. Pungutan Hasil Perikanan, yaitu pungutan hasil perikanan yang dikenakan kepada perusahaan perikanan Indonesia yang melakukan usaha penangkapan ikan sesuai dengan surat Penangkapan Ikan (sPI) yang diperoleh. Pungutan untuk sektor perikanan ini diatur dalam sK Menteri Pertanian Nomor 424/ Kpts/7/1977. Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) bersifat license fee, dikenakan satu kali pada saat pengajuan permohonan surat Ijin Kapal Perikanan. Tarif PPP merupakan tarif nominal (us $) dan didasarkan atas ukuran kapal penangkapan ikan (Dead weight Ton -DWT). Dalam hal ini tarif dikenakan atas dasar berat kosong kapal. Adapun Pungutan Hasil Perikanan (PHP) dikenakan pada hasil produksi sektor perikanan yang diekspor. Tarif yang dikenakan bersifat ad valorem (persentasi), dimana besar tarif dibedakan menurut kelompok jenis ikan.

Perhitungan DBH SDA Perikanan a. Pungutan Pengusahaan Perikanan, obyek yang penting dalam penghitungan PPP adalah: Kapal Penangkapan Ikan. Rumus yang dipakai untuk menghitung PPP adalah:

PPP = Tarif (US $) x Ukuran Kapal (DWT) Data yang dibutuhkan untuk dapat menghitung PPP adalah: 1. Data Jumlah surat Izin Kapal Perikanan yang dikeluarkan. 2. Daftar Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP)

88

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Tabel 3.3 Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP)
No. 1 2 Ukuran Kapal <50 DWT 50-100 DWT Tarif us $ 500 us $ 1000

sumber: sK Mentan No.424/Kpts/7/1977

Catatan: untuk setiap kelebihan di atas 100 DWT dengan pembulatan perhitungan sampai dengan 50 DWT dikenakan tambahan us $ 250. b. Pungutan Hasil Perikanan (PHP) obyek dalam penghitungan PHP ini adalah: Hasil Produksi sektor Perikanan yang diekspor, dengan rumus sebagai berikut: PHP = Hasil Produksi (Ton) x Tarif (%) data yang diperlukan adalah: 1. Data Hasil Ekspor Produksi sektor Perikanan. 2. Daftar Tarif PHP untuk setiap jenis ikan. Dalam penghitungan ini hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah jumlah kapal dan volume hasil produksi perikanan yang akan diekspor. Tabel 3.4 Tarif Pungutan Pungutan Hasil Perikanan (PHP)
No. 1 2 3 udang Ikan Tuna, Cakalang. lain-lain yang tidak termasuk gol.1 dan 2 Golongan Jenis Tarif (%) 2 1.5 1

sumber: sK Mentan No.424/Kpts/7/1977

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

89

E. DBH SDA PERTAMBANGAN PANAS BUMI Dana Bagi Hasil sumber Daya Alam Pertambangan Panas Bumi diperhitungkan berdasarkan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berasal dari: a. setoran Bagian Pemerintah setoran pengusahaan panas bumi yang diterima pemerintah sebesar 34% dari pemerimaan bersih usaha atau Net Operating Income (NoI) setelah dikurangi kewajiban perpajakan. setoran bagian pemerintah ini dikenakan atas kontrak pengusahaan panas bumi yang ditandatangani sebelum berlakunya uu No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. b. Iuran Tetap dan Iuran Produksi Iuran Tetap adalah Iuran yang dibayarkan kepada negara sebagai kesempatan atas eksplorasi, studi kelayakan, dan eksploitasi sDA pada suatu wilayah. Iuran Produksi adalah iuran yang diberikan kepada negara atas hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan panas bumi. Penerimaan Iuran Tetap dan Iuran Produksi ini dikenakan atas kontrak pengusahaan panas bumi yang ditandatangani setelah berlakunya uu No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. PNBP dari pertambangan panas bumi sampai dengan tahun 2011 (existing) masih berasal dari setoran Bagian Pemerintah yang ditempatkan pada Rekening Panas Bumi nomor 508.000084 pada Bank Indonesia. selain untuk menampung penerimaan setoran bagian Pemerintah, rekening tersebut juga digunakan untuk membayarkan pengeluaran kewajiban Pemerintah terkait dengan kegiatan usaha panas bumi yaitu: •
90

Pembayaran kembali (reimbursment) Pajak Pertambahan Nilai (PPN);
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

• •

Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB); Pembayaran lainnya.

selisih dari penerimaan dan pembayaran kewajiban pemerintah tersebut merupakan penerimaan negara yang dapat dibagihasilkan kepada daerah dalam bentuk DBH sDA Panas Bumi. DBH sDA Panas Bumi sesuai Pasal 14 huruf g uu No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dibagi dengan imbangan 20% bagian Pemerintah dan 80% bagian daerah. Bagian daerah dengan rincian: 16% bagian provinsi, 32% bagian kab/kota penghasil dan 32% bagian kab/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. F. PENETAPAN ALOKASI DBH SUMBER DAYA ALAM Penetapan Alokasi DBH sDA diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 pasal 27 sebagai berikut: a. Menteri Teknis menetapkan daerah penghasil dan dasar penghitungan DBH sDA paling lambat 60 (enam puluh) hari sebelum tahun anggaran bersangkutan dilaksanakan setelah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. b. Dalam hal sumber daya alam berada pada wilayah yang berbatasan atau berada pada lebih dari satu daerah, Menteri Dalam Negeri menetapkan daerah penghasil sumber daya alam berdasarkan pertimbangan menteri teknis terkait paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah diterimanya usulan pertimbangan dari menteri teknis.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

91

Gambar 3.9 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH SDA

c. Ketetapan Menteri Dalam Negeri sebagaimana dimaksud menjadi dasar penghitungan DBH sumber daya alam oleh menteri teknis. d. Ketetapan Menteri teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Menteri Keuangan. e. Menteri Keuangan menetapkan perkiraan alokasi DBH sDA untuk masing-masing daerah paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya ketetapan dari menteri teknis. f. Perkiraan alokasi DBH sDA Minyak Bumi dan/atau gas Bumi untuk masing-masing daerah ditetapkan paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah menerima ketetapan dari menteri teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), perkiraan bagian pemerintah, dan perkiraan unsur-unsur pengurang lainnya.

92

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

3.1.3. DANA ALOKASI UMUM (DAU) 3.1.3.1. PENYUSUNAN FORMULA DAN PERHITUNGAN DAU Dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 porsi Dana Alokasi umum (DAu) ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari Penerimaan Dalam Negeri Netto. sementara itu, proporsi pembagian DAu adalah bagian 10% untuk Provinsi dan bagian 90% untuk Kabupaten/Kota. Gambar 3.10 Mekanisme Penetapan Alokasi Pagu DAU Nasional

3.1.3.2. VARIABEL DAU 1. Variabel Alokasi Dasar adalah belanja pegawai yang dicerminkan oleh jumlah gaji Pegawai Negeri sipil Daerah (PNsD). 2. Variabel kebutuhan fiscal terdiri dari jumlah penduduk, luas wilayah darat dan perairan, Indeks Pembangunan Manusia, Indeks
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 93

Kemahalan Konstruksi, dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita (sesuai undang-undang Nomor 33 Tahun 2004). 3. Variabel kapasitas fiskal yang merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan DBH Pajak dan DBH sDA.

3.1.3.3. PERHITUNGAN ALOKASI DAU sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004, kebijakan dalam pengalokasian DAu tahun 2012 adalah sebagai berikut : a. DAu ditetapkan 26% dari Penerimaan Dalam Negeri (PDN) Neto yang ditetapkan dalam APBN. Besaran alokasi DAu per daerah sesuai dengan uu Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005 ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden. b. Proporsi pembagian DAu adalah sebesar 10% (sepuluh persen) untuk Daerah Provinsi dan sebesar 90% (sembilan puluh persen) untuk Daerah Kabupaten/Kota dari besaran DAu secara Nasional. c. Pengalokasian DAu kepada masing-masing daerah menggunakan formula DAu, yaitu dihitung berdasarkan formula atas dasar Celah Fiskal (CF) dan alokasi Dasar (AD). CF suatu daerah merupakan selisih antara Kebutuhan Fiskal (KbF) dengan Kapasitas Fiskal (KpF), sedangkan AD dihitung berdasarkan Jumlah gaji PNsD.

A. BENTUK UMUM FORMULA DAU Bentuk umum formula alokasi DAu kepada masing-masing daerah secara formula dapat ditunjukkan pada persamaan berikut ini:

94

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

DAU = AD + CF
Dimana: DAu = Dana Alokasi umum AD CF = Alokasi Dasar = Celah Fiskal

Dimana CF = KbF – KpF (celah fiscal merupakan selisih dari kebutuhan fiscal dan kapasitas fiskal). • Celah Fiskal (CF) merupakan selisih antara Kebutuhan Fiskal (KbF) dengan Kapasitas Fiskal (KpF), atau dirumuskan: CF = KbF – KpF • Kebutuhan Fiskal (KbF): Rumusan tentang kebutuhan fiskal (KbF) dapat ditunjukkan sebagai berikut: KbF = TBR (α IP + α IW + α IPM + α IKK + α iPDRB/kap)
1 2 3 4 5

Dimana: TBR IP IW IPM IKK IPDRB/kapita α1, α2, α3, α4, α5 α1+α2+α3+α4+α5 = Total Belanja Rata-rata APBD = Indeks Jumlah Penduduk = Indeks luas Wilayah = Indeks Pembangunan Manusia = Indeks Kemahalan Konstruksi = Indeks Produk Domestik Regional Bruto per kapita = Bobot dari masing-masing indeks variable = 100%

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

95

Kapasitas (KpF): KpF = PAD + DBH Pajak + DBH sDA DBH Pajak = PBB + BPHTB + PPh + CHT Keterangan : PAD DBH PBB : : : Pendapatan Asli Daerah; Dana Bagi Hasil; Pajak Bumi dan Bangunan; Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan; Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dan Pasal 25 dan 29, PPh WPoPDN; CHT sDA : : Cukai Hasil Tembakau; sumber Daya Alam.

BPHTB : PPh :

B. DATA PENGHITUNGAN DAU Penghitungan alokasi DAu telah menggunakan data yang berdasar pada Pasal 41 PP Nomor 55 Tahun 2005 yang mengamanatkan penggunaan data yang dapat dipertanggungjawabkan yang bersumber dari instansi lembaga statistik Pemerintah dan/atau lembaga Pemerintah yang berwenang menerbitkan data, termasuk dalam hal penggunaan data dasar penghitungan DAu tahun sebelumnya jika data tidak tersedia. i. Alokasi Dasar (AD). Alokasi Dasar dalam penghitungan DAu tahun 2012 dihitung berdasarkan data jumlah Pegawai Negeri sipil Daerah (PNsD) dan besaran belanja gaji PNsD dengan memperhatikan kebijakan-kebijakan

96

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

perbaikan penghasilan PNs antara lain kenaikan gaji pokok, gaji bulan ke-13, formasi CPNsD tahun 2011, dan kebijakan-kebijakan lain terkait penggajian. Adapun data dasar yang digunakan adalah data gaji induk bulan Juni 2011 yang terdiri dari komponen gaji Pokok, Tunjangan Keluarga, Tunjangan Jabatan, Tunjangan PPh, Tunjangan Beras. untuk lebih mengoptimalkan peranan formula celah fiskal (CF) dalam perhitungan DAu maka panja menyepakati untuk membatasi Porsi AD terhadap DAu secara nasional sebesar 49% (empat puluh sembilan persen) untuk provinsi dan 48% (empat puluh delapan persen) untuk kabupaten/kota. Komponen Alokasi Dasar dalam DAu tidak dimaksudkan untuk menutup seluruh kebutuhan belanja gaji PNsD, terlebih untuk daerah yang memiliki kapasitas fiskal tinggi (Penjabaran dari pasal 32, uu No.33 Tahun 2004). ii. Kebutuhan Fiskal (KbF)
1.

Data Jumlah Penduduk yang digunakan bersumber dari Badan Pusat statistik (BPs) berbasis data Juni 2011.

2.

luas wilayah merupakan variabel yang mencerminkan kebutuhan atas penyediaan sarana prasarana per satuan wilayah. Data luas wilayah yang akan digunakan untuk penghitungan alokasi DAu meliputi data luas wilayah daratan (administratif) yang bersumber dari Departemen Dalam Negeri dan data luas wilayah perairan (laut) yang bersumber dari Bakosurtanal. Data luas wilayah daratan dan perairan dimaksud sudah mencakup daerah pemekaran yang secara hukum sudah disahkan pembentukannya berdasarkan undang-undang. luas wilayah perairan laut dihitung 4 mil dari garis pantai untuk kabupaten/kota dan 12 mil untuk provinsi.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

97

3.

IKK digunakan sebagai proxy untuk mengukur tingkat kesulitan geografis suatu daerah, semakin sulit letak geografis suatu daerah maka semakin tinggi pula tingkat harga di daerah tersebut. Data IKK bersumber dari BPs dengan basis Juni 2011.

4.

IPM merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/ penduduk) atau secara komprehensif dianggap sebagai ukuran kinerja suatu negara/wilayah dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi.

5.

Data PDRB per kapita yang bersumber dari BPs berbasis Juni 2011, dan diberlakukan kebijakan khusus terhadap PDRB per kapita suatu daerah yang dinilai outlier atau pencilan. Pada data PDRB per kapita yang terlalu tinggi dibandingkan dengan yang lainnya diputuskan untuk ditarik ke tingkat PDRB per kapita setingkat lebih rendah agar tidak berdampak pada komposisi data PDRB per kapita secara keseluruhan.

6.

Total Belanja Rata-rata (TBR) didapat dari APBD realisasi tahun 2010 yang bersumber dari Daerah dan Kementerian Keuangan.

7.

Bobot masing-masing variabel adalah sebagai berikut, untuk Provinsi: o o Indeks Jumlah Penduduk (IP) Indeks luas Wilayah (IW) luas perairan : 30% : 13% : 35% : 30% : 15%

 o o

Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) Indeks PDRB per Kapita

98

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

o
8.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

: 12%

Bobot masing-masing variabel adalah sebagai berikut, untuk Kabupaten/Kota: o o Indeks Jumlah Penduduk (IP) Indeks luas Wilayah (IW) luas perairan : 30% : 13% : 40% : 31% : 15% : 11%

 o o o

Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) Indeks PDRB per Kapita Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

iii. Kapasitas Fiskal (KpF) Variabel Kapasitas Fiskal yang digunakan dalam penghitungan DAu 2012 adalah data realisasi tahun 2010 yang terdiri dari:
1.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) berdasarkan laporan APBD realisasi tahun 2010 yang bersumber dari Daerah dan Kementerian Keuangan. Bobot untuk provinsi dihitung sebesar 50%, sedangkan untuk Kabupaten/Kota sebesar 60%;

2.

DBH Pajak termasuk DBH Cukai Hasil Tembakau bersumber dari Kementerian Keuangan. Bobot untuk provinsi dihitung sebesar 75%, sedangkan untuk kabupaten/kota sebesar 60%;

3.

DBH sDA bersumber dari Kementerian Keuangan. Bobot untuk provinsi dihitung sebesar 70%, sedangkan untuk kabupaten/kota sebesar 52%.

secara sistematika Penyusunan Formula DAu dapat digambarkan dalam Gambar 3.11 berikut ini :

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

99

Gambar 3.11 Formula umum DAU Menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004

sementara itu, terkait dengan daerah pemekaran baru, perhitungan alokasi DAu untuk daerah tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.12.

100

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Gambar 3.12 Pembagian DAU bagi Daerah Pemekaran
Alokasi Dasar Celah Fiskal Dibagi secara proporsional luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Daerah Induk (Persentase) DAu Daerah Induk

Dibagi secara proporsional

Belanja PNsD Daerah Induk (Persentase)

Belanja PNsD Daerah Pemekaran (Persentase)

luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Daerah Pemekaran (Persentase)

DAu Daerah Pemekaran

3.1.3.4. DAU DAERAH PEMEKARAN sejak dimulainya implementasi otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia telah memberikan warna baru dengan adanya pemekaran daerah baik di tingkat provinsi serta ter utama di tingkat kabupaten/ kota. Pemekaran daerah memberi serta dampak terutama terhadap jumlah DAu yang diterima oleh daerah pemekaran. Pembagian DAu pada daerah yang mengalami pemekaran dialokasikan pada daerah induk sebelum pemekaran, dan dibagi secara proporsional dengan menggunakan 3 variabel luas wilayah, jumlah penduduk, dan jumlah PNsD.

3.1.4. DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) sesuai dengan Pasal 39 undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 disebutkan bahwa Dana Alokasi Khusus (DAK) dialokasikan kepada pemerintah
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 101

daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah. sementara itu, Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 menyebutkan bahwa DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional dan menjadi urusan daerah.

3.1.4.1. Formulasi Kebijakan Dana Alokasi Khusus TA 2012 Formulasi yang berkaitan dengan alokasi DAK secara garis besar dapat dibagi menjadi 4 kelompok besar, yaitu (1) arah dan penggunaan DAK, (2) penetapan program dan kegiatan, (3) penghitungan alokasi DAK, dan (4) administrasi pengelolaan DAK.

3.1.4.1.1. Arah dan Penggunaan DAK Arah Kebijakan DAK Tahun 2012, yaitu: 1. mendukung pencapaian prioritas nasional, termasuk program-program prioritas nasional yang bersifat lintas sektor/kewilayahan sesuai dengan kerangka pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framework) dan penganggaran berbasis kinerja (performance based budgeting); 2. membantu daerah-daerah yang memiliki kemampuan keuangan relatif rendah dalam membiayai pelayanan publik dalam rangka pemerataan pelayanan dasar dan mendorong pencapaian standar Pelayanan Minimal (sPM). 3. meningkatkan kualitas perhitungan alokasi DAK, serta mempercepat penyusunan petunjuk teknis penggunaan DAK yang ditujukan untuk mendorong penyusunan APBD yang efektif, efisien, dan tepat waktu.
102 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

4. meningkatkan koordinasi pengelolaan DAK secara utuh dan terpadu di pusat dan daerah sehingga terwujud sinkronisasi kegiatan DAK dengan kegiatan lain yang didanai dari sumber-sumber pendanaan lainnya. 5. meningkatkan penyediaan data-data teknis yang akurat sebagai basis kebijakan kementerian dan lembaga dalam rangka meningkatkan keserasian dan menghindari duplikasi kegiatan antar Bidang DAK. 6. mendorong penggunaan kinerja pelaporan sebagai salah satu pertimbangan dalam penyusunan kriteria pengalokasian DAK. DAK Tahun 2012 digunakan untuk mendanai kegiatan di 19 bidang, yaitu: (1) Pendidikan; (2) Kesehatan; (3) Infrastruktur Jalan; (4) Infrastruktur Irigasi; (5) Infrastruktur Air Minum; (6) Infrastruktur sanitasi; (7) Prasarana Pemerintahan Daerah; (8) Kelautan dan Perikanan; (9) Pertanian; (10) lingkungan Hidup; (11) Keluarga Berencana; (12) Kehutanan; (13) sarana Perdagangan; (14) sarana dan Prasarana daerah tertinggal; (15) listrik Perdesaan; (16) Perumahan dan Kawasan Permukiman; (17) Keselamatan Transportasi Darat; (18) Transportasi Perdesaan; serta (19) sarana dan Prasarana Kawasan Perbatasan.

3.1.4.1.2. Penetapan Program Dan Kegiatan sebagaimana diketahui bahwa kegiatan khusus yang di danai dari DAK merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional dan menjadi urusan daerah. Pasal 52 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 menyatakan bahwa program yang menjadi prioritas nasional dimaksud dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun anggaran bersangkutan. Berdasarkan prioritas nasional sebagaimana tercantum dalam RKP tersebut, menteri teknis mengusulkan kegiatan khusus dan

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

103

ditetapkan setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. selanjutnya, menteri teknis menyampaikan kegiatan khusus yang telah ditetapkan tersebut kepada Menteri Keuangan. Gambar 3.13 Penetapan Program dan Kegiatan

3.1.4.1.3. Penghitungan Alokasi DAK Penghitungan alokasi DAK dilakukan melalui 2 tahapan, yaitu: 1. Penentuan daerah tertentu yang menerima alokasi DAK 2. Penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah. Penentuan daerah tertentu yang mendapat alokasi DAK harus memenuhi kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis. sementara itu, penentuan

104

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

besaran alokasi DAK masing-masing daerah ditentukan dengan perhitungan indeks berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis.

A. KRITERIA UMUM sesuai dengan pasal 40 undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 dinyatakan bahwa alokasi DAK mempertimbangkan kemampuan Keuangan Daerah dalam APBD. Kriteria umum dihitung untuk melihat kemampuan APBD untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan dalam rangka pembangunan daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD dikurangi belanja pegawai. Dalam bentuk rumus, kriteria umum tersebut dapat ditunjukkan pada beberapa persamaan di bawah ini: Kemampuan = Keuangan Daerah Penerimaan umum = APBD PAD + DAu + (DBH – DBHDR) = Belanja PNsD Penerimaan Umum Belanja Pegawai Daerah

Belanja Pegawai Daerah Dimana: PAD APBD DAu DBH DBHDR PNsD = = = = = =

Pendapatan Asli Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Dana Alokasi umum Dana Bagi Hasil Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi Pegawai Negeri sipil Daerah

Kemampuan keuangan daerah dihitung melalui indeks fiskal neto (IFN) tertentu yang ditetapkan setiap tahun. Dalam tahun 2012, arah kebijakan

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

105

umum DAK adalah untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah. Hal ini diterjemahkan bahwa DAK dialokasikan untuk daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya berada di bawah rata-rata nasional atau IFN-nya kurang dari 1 (satu). Dalam hal ini, rata-rata kemampuan keuangan daerah secara nasional dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini. Rata-rata Kemampuan Keuangan Daerah secara Nasional = Total Kemampuan Keuangan Daerah Jumlah Daerah

selanjutnya, perhitungan IFN dilakukan dengan membagi kemampuan keuangan daerah dengan rata-rata nasional kemampuan keuangan daerah. Jika IFN < 1, atau dengan kata lain daerah tersebut memiliki kemampuan keuangan daerah lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata nasional, maka daerah tersebut mendapatkan prioritas dalam memperoleh DAK. Rumus IFN dapat dilihat di bawah ini. Indeks Fiskal Netto Daerah Z = Kemampuan Keuangan Daerah Z Rata-rata Nasional Kemampuan Keuangan Daerah

B. KRITERIA KHUSUS Ditetapkan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan,

dan karakteristik daerah. untuk daerah provinsi, kabupaten dan kota di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat serta seluruh daerah tertinggal diprioritaskan mendapatkan alokasi DAK Karakteristik daerah yang meliputi : 1. untuk Provinsi : a. Daerah tertinggal b. Daerah pesisir dan/atau kepulauan

106

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

c.

Daerah perbatasan dengan negara lain

d. Daerah rawan bencana e. Daerah ketahanan pangan f. Daerah pariwisata

2. untuk Kabupaten dan Kota : a. Daerah tertinggal b. Daerah pesisir dan/atau kepulauan c. Daerah perbatasan dengan negara lain

d. Daerah rawan bencana e. Daerah ketahanan pangan f. Daerah pariwisata

C. KRITERIA TEKNIS Kriteria teknis dirumuskan oleh kementerian negara/departemen teknis terkait. Kriteria teknis tersebut dicerminkan dengan indikator-indikator yang dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi sarana-prasarana pada masing-masing bidang/kegiatan yang akan didanai oleh DAK.

1. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup Kegiatan DAK Pendidikan Lingkup Kegiatan a. sD/sDlB : menuntaskan rehabilitasi ruang kelas rusak berat pembangunan ruang perpustakaan beserta perabotnya dan untuk peningkatan mutu pendidikan dan

sarana

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

107

b. sMP/sMPlB : 1) rehabilitasi ruang kelas (RK) rusak sedang dan berat, 2) membangun ruang kelas baru (RKB) untuk memenuhi kesenjangan antara jumlah rombongan belajar (rombel) dengan jumlah RK yang ada dan memenuhi target APK di tahun 2015; 3) membangun ruang perpustakaan beserta perabotnya; dan 4) membangun ruang belajar lainnya termasuk penyediaan alat pendidikan untuk laboratorium IPA, komputer, bahasa, dan ruang ketrampilan/serbaguna

Indikator Teknis a. sD 1) Jumlah Ruang Kelas Rusak sedang 2) Jumlah Ruang Kelas Rusak Berat 3) Jumlah sD yang Belum Memiliki Perpustakaan 4) Angka Partisipasi Murni (APM) sD b. sMP 1) Jumlah ruang belajar rusak sedang sMP/sMPlB 2) Jumlah ruang belajar rusak berat sMP/sMPlB 3) Jumlah sMP/sMPlB yang belum memiliki perpustakaan 4) Jumlah ruang kelas baru (RKB) yang masih dibutuhkan sekolah 5) Jumlah ruang belajar lain (RBl) yang masih dibutuhkan sekolah 6) Jumlah sMP/sMPlB yang masih membutuhkan alat laboratorium IPA
108 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

7) Jumlah sMP/sMPlB yang masih membutuhkan alat peraga matematika 8) Jumlah sMP/sMPlB yang masih membutuhkan alat peraga IPs 9) Jumlah sMP/sMPlB yang masih membutuhkan alat olahraga 10) Jumlah sMP/sMPlB yang masih membutuhkan alat kesenian 11) Jumlah sMP/sMPlB yang masih membutuhkan alat laboratorium bahasa 12) Capaian Partisipasi Pendidikan (Angka Partisipasi Kasar sMP/ sMPlB)

2. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup Kegiatan DAK Kesehatan Lingkup Kegiatan a. pelayanan kesehatan dasar yakni pemenuhan sarana, prasarana dan peralatan bagi puskesmas dan jaringannya, antara lain meliputi peningkatan puskesmas mampu menjalankan persalinan normal, pembangunan puskesmas baru termasuk rumah dinas tenaga kesehatan; serta Pembangunan Poskesdes; b. pelayanan kesehatan rujukan, antara lain meliputi pemenuhan

fasilitas tempat tidur kelas III Rs, pemenuhan sarana, prasarana dan peralatan PoNEK Rs, serta pemenuhan sarana, prasarana dan peralatan untuk pelayanan darah; c. pelayanan kefarmasian, antara lain meliputi pengadaan obat dan perbekalan kesehatan, pembangunan baru/rehabilitasi dan penyediaan sarana pendukung instalasi farmasi kabupaten dan kota, dan

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

109

pembangunan baru instalasi farmasi gugus pulau/satelit dan sarana pendukungnya

Indikator Teknis a. Pelayanan Dasar 1) Jumlah poskesdes, Jumlah Desa dan usulan Poskesdes 2) Jumlah Puskesmas, jumlah penduduk, usulan puskesmas 3) Jumlah Puskesmas PoNED, usulan puskesmas PoNED 4) IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) 5) luas Wilayah b. Pelayanan Rujukan Provinsi dan Kab/kota 1) BoR Klas III 2) sarana prasarana PoNEK Rs 3) sarana Prasarana Pelayanan Darah 4) sarana Prasarana IgD Rs di Rs Pemerintah type D c. Farmasi 1) Jumlah penduduk miskin data jamkesmas Th 2011 2) Jumlah penduduk 3) Anggaran obat dan Perbekkes APBD 2 Th 2011 4) Prediksi sisa stok obat s/d Desember 2011 5) Kondisi sarana prasarana Instalasi Farmasi 6) Kondisi sarana prasarana pendukung Instalasi Farmasi

110

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

3. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Bidang Infrastruktur Lingkup Kegiatan a. Bidang Infrastruktur Jalan Pemeliharaan berkala jalan dan jembatan provinsi/kabupaten/kota, peningkatan kapasitas jalan dan jembatan provinsi/kabupaten/kota, serta pembangunan jalan dan jembatan provinsi/kabupaten/kota b. Bidang Infrastruktur Irigasi rehabilitasi jaringan irigasi pada daerah irigasi yang rusak agar kualitas layanan irigasi dapat segera kembali seperti sedia kala, dan peningkatan/pembangunan jaringan irigasi sebagai perwujudan kontribusi daerah terhadap pemenuhan target nasional tersebut. c. Bidang Infrastruktur Air Minum mendorong peningkatan sambungan rumah untuk masyarakat

berpenghasilan rendah (MBR) di perkotaan, pemasangan master meter untuk masyarakat miskin perkotaan; serta peningkatan pelayanan air minum di lokasi rawan air dan/atau terpencil. d. Bidang Infrastruktur sanitasi untuk air limbah, persampahan, dan drainase, pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal; pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce, reuse, dan recycle), serta pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan, ecodrainage, drainase skala kawasan.

Indikator Teknis a. Bidang Infrastruktur Jalan
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 111

1) Panjang Jalan 2) Panjang Jalan Kondisi Tidak Mantap 3) luas Wilayah 4) Jumlah Penduduk 5) Besaran APBD Pembangunan tahun berjalan 6) Alokasi sektor Jalan (di luar DAK) 7) Pelaporan b. Bidang Infrastruktur Irigasi 1) luas Daerah Irigasi 2) Kondisi Daerah Irigasi 3) Rata-rata produksi pada sawah 4) luas Wilayah 5) Besaran APBD Pembangunan tahun berjalan 6) Alokasi sektor Irigasi (di luar DAK) 7) Pelaporan c. Bidang Infrastruktur Air Minum 1) Jumlah Desa/Kelurahan Rawan Air Bersih 2) Jumlah Penduduk Miskin 3) Cakupan Air Minum 4) Besaran APBD Pembangunan tahun berjalan 5) Alokasi sektor Air Minum (di luar DAK) 6) Pelaporan d. Bidang Infrastruktur sanitasi 1) Jumlah Desa/Kelurahan Rawan sanitasi

112

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

2) Jumlah Penduduk Miskin 3) luas Wilayah Kumuh 4) Cakupan Pelayanan sanitasi 5) Besaran APBD Pembangunan tahun berjalan 6) Alokasi sektor sanitasi (di luar DAK) 7) Pelaporan

4. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Kelautan dan Perikanan Lingkup Kegiatan Pengembangan sarana dan prasarana perikanan tangkap termasuk didalamnya pengadaan kapal untuk DAK provinsi; pengembangan sarana dan prasarana perikanan budidaya; pengembangan sarana dan prasarana pengolahan, peningkatan mutu dan pemasaran hasil perikanan; pengembangan sarana dan prasarana pemberdayaan ekonomi masyarakat di pesisir dan pulau-pulau kecil; pengembangan sarana dan prasarana pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan; pengembangan sarana dan prasarana penyuluhan perikanan; dan pengembangan sarana statistik kelautan dan perikanan.

Indikator Teknis a. Provinsi 1) Produksi Tangkap 2) Panjang Pantai 3) Jumlah Nelayan b. Kab/Kota
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 113

1) Jumlah Produksi Perikanan (ton) 2) Jumlah Kapal Berlabuh (unit) 3) Jumlah Pangkalan Pendaratan Ikan (unit) 4) luas lahan Budidaya (ha) 5) Jumlah Tenaga Kerja Perikanan (orang) 6) Jumlah Pokmaswas (kelompok) 7) luas Kawasan Konservasi Perairan (ha) 8) Jumlah Pasar Ikan Tradisional (unit) 9) Jumlah unit Pengolahan Ikan (unit) 10) Jumlah Penyuluh Perikanan (orang) 11) Jumlah Kawasan Minapolitan (kawasan)

5. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Pertanian Lingkup Kegiatan a. perluasan areal pertanian; b. penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan air; c. penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan lahan;

d. penyediaan lumbung pangan masyarakat atau gudang pangan pemerintah; e. pembangunan/rehabilitasi Balai Penyuluhan Pertanian di Kecamatan; f. penyediaan Kabupaten Peternakan; prasarana untuk dan sarana Balai Perbenihan/Perbibitan

Tanaman

Pangan/Hortikultura/Perkebunan/

114

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

g. pembangunan/rehabilitasi

Pusat/Pos/Klinik

Pelayanan

Kesehatan

Hewan dan Inseminasi Buatan; h. penanganan pasca panen. Indikator Teknis a. luas Penggunaan lahan b. Jumlah Balai Penyuluhan Pertanian c. Jumlah Penyuluh Pertanian

d. Jumlah Balai Benih/Perbibitan e. Jumlah Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan)/Pos Inseminasi Buatan (IB)

6. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Lingkungan Hidup Lingkup Kegiatan Pemantauan kualitas air yang dilakukan melalui kegiatan pembangunan gedung laboratorium, penyediaan sarana dan prasarana pemantauan kualitas air, pembangunan laboratorium bergerak, dan kendaraan operasional; pengendalian pencemaran melalui kegiatan penerapan teknologi sederhana untuk pengurangan limbah), Taman Kehati, Instalasi Pengolahan Air limbah (IPAl) medik dan usaha Kecil dan Menengah (uKM), dan pengadaan kendaraan pengangkut sampah; pengendalian polusi udara melalui kegiatan pengadaan alat pemantau kualitas udara; serta perlindungan sumber daya air melalui kegiatan penanaman di luar kawasan hutan, dan pengadaan papan informasi

Indikator Teknis a. Kepadatan penduduk
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 115

b. Panjang sungai tercemar c. luas tutupan lahan

d. Bentuk kelembagaan e. Ruang tutupan hijau f. Volume sampah

g. Kinerja Pelaporan/Pelaksanaan DAK

7. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Prasarana Pemerintahan Daerah Lingkup Kegiatan Pembangunan kantor Bupati, Walikota, sekretariat Daerah, DPRD, sekretariat DPRD, Dinas, Badan dan Kantor sKPD lainnya. Indikator Teknis a. Jumlah sKPD yang belum memiliki kantor sendiri b. Jumlah sKPD yang kondisinya rusak c. Daerah yang pindah ibukota

d. luas Praspem yang masih dibutuhkan

8. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Keluarga Berencana Lingkup Kegiatan Penyediaan sarana mobilitas (motor) dan sarana pengelolaan data berbasis teknologi informasi (Personal computer) bagi PKB/PlKB/PPlKB, pemenuhan sarana pelayanan KB di Klinik KB statis (Implant Kit, IuD Kit) dan sarana Pelayanan KB Keliling (MuYAN) dan pembangunan gudang
116 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Alat/obat Kontrasepsi, dan penyediaan sarana dan prasarana penerangan KB keliling (MuPEN), pengadaan Public Adress dan KIE

Indikator Teknis a. Indeks Penyuluh KB / Petugas lapangan KB b. Indeks Pengendali Petugas lapangan KB c. Indeks Jumlah Desa / Kelurahan

d. Indeks Jumlah Kecamatan e. Indeks Klinik KB

9. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Kehutanan Lingkup Kegiatan Rehabilitasi hutan produksi, hutan lindung, lahan kritis, Tahura dan Hutan Kota; sarana dan prasarana pengamanan hutan; sarana dan prasarana Taman Hutan Rakyat (Tahura); sarana dan prasarana KPH; serta sarana dan prasarana penyuluhan.

Indikator Teknis a. Kab/ Kota 1) luas Wilayah 2) luas Hutan Mangrove 3) luas lahan Kritis 4) luas lahan Kritis di luar Kawasan 5) luas Hutan lindung
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 117

6) luas Kawasan Konservasi 7) luas lahan gambut 8) Daerah Penghasil/Jumlah DBH yang Diperoleh 9) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) 10) Rencana Reboisasi Hutan dan lahan (RHl) 11) Pelaporan b. Provinsi 1) luas Tahura 2) luas Kawasan Konservasi 3) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) 4) Rencana Reboisasi Hutan dan lahan (RHl) 5) Pelaporan

10. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Sarana Perdagangan Lingkup Kegiatan Mendanai kegiatan pembangunan dan pengembangan pasar tradisional; peningkatan sarana metrologi legal; serta pembangunan gudang, fasilitas dan peralatan penunjangnya dalam kerangka sistem Resi gudang.

Indikator Teknis a. Pembangunan, Perluasan dan Renovasi Pasar Tradisional : 1) Jumlah desa yang tdk memiliki pasar permanen/semi permanen pd jarak < 3 km

118

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

2) Jumlah Pasar Tanpa Bangunan 3) Prosentase jumlah pasar rusak b. Peningkatan sarana Metrologi legal : 1) Jumlah unit pengawasan berjalan Tera/Tera ulang uTTP Jumlah sKPD yang menangani metrologi legal Jumlah potensi uTTP yang belum tertangani

2) Jumlah Pengadaan Pos ukur ulang c. Jumlah pasar percontohan Jumlah pasar tertib ukur

Pembangunan gudang, sarana Penunjang, & Peralatan gudang 1) Jumlah Produksi Padi 2) Jumlah Produksi Jagung 3) Jumlah Produksi Kopi 4) Jumlah Produksi Kakao 5) Jumlah Produksi lada 6) Jumlah Produksi Karet 7) Jumlah Produksi Rumput laut

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

119

11. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Perumahan dan Kawasan Permukiman Lingkup Kegiatan Membantu daerah dalam mendanai kebutuhan fisik infrastruktur perumahan dan permukiman dalam rangka mencapai standar Pelayanan Minimum (sPM) meliputi : a. penyediaan sarana dan prasarana air minum, b. sarana septik tank komunal, c. tempat pengolahan sampah terpadu (TPsT),

d. jaringan distribusi listrik, dan e. penerangan jalan umum.

Indikator Teknis a. Indeks Backlog Perumahan b. Indeks Kemiskinan c. Indeks Kesiapan lokasi Perumahan dan Permukiman : 1) sub Indeks Perda Tata Ruang (RTRW) 2) sub Indeks Bantuan stimulan Psu Kemenpera 3) sub Indeks Pembangunan Rumah Tahun 2012 4) sub Indeks Rawan Air Minum dan atau sanitasi d. Indeks Rencana Pembangunan Rumah per Kab/Kota2012

120

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

12. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Listrik Perdesaan Lingkup Kegiatan Pembangunan pembangkit listrik dengan memanfaatkan potensi energi terbarukan.

Indikator Teknis a. Rasio elektrifikasi kabupaten kota (pada propinsi yang mempunyai rasio elektrifikasi dibawah 50%) b. Harga BPP listrik per propinsi

13. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Sarana dan Prasarana Kawasan Perbatasan

Lingkup Kegiatan Pembangunan jalan/peningkatan kondisi permukaan jalan non-status yang menghubungkan kecamatan perbatasan prioritas dengan pusat kegiatan disekitarnya.

Indikator Teknis a. Panjang garis Batas Kecamatan Perbatasan b. Jumlah Desa Wilayah Perbatasan c. luas Wilayah Perbatasan

d. Jumlah Penduduk di Kecamatan Perbatasan

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

121

14. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Transportasi Perdesaan Lingkup Kegiatan Jalan poros desa melalui pembangunan, peningkatan dan pemeliharaan jalan antardesa yang menghubungkan sentra produksi dengan sentra pemasaran di kawasan strategis cepat tumbuh (KsCT), serta angkutan perdesaan melalui pengadaan sarana transportasi angkutan penumpang dan barang yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan daerah.

Indikator Teknis a. Indeks Kebutuhan Prasarana Angkutan yaitu Rasio jumlah desa bukan aspal / jumlah desa moda transport darat b. Indeks Kebutuhan sarana Angkutan yaitu rata-rata waktu tempuh per km dari desa ke kecamatan c. Indeks Karakteristik Kewilayahan yaitu rasio jumlah desa pertanian, jasa dibagi total jumlah desa d. Kawasan strategis Cepat Tumbuh

15. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Keselamatan Transportasi Darat Lingkup Kegiatan Pengadaan dan pemasangan fasilitas dan peralatan keselamatan jalan melalui pemasangan rambu jalan, marka jalan, pagar pengaman jalan, alat pengatur isyarat lalu lintas, paku jalan; dan delienator.

Indikator Teknis
122 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

a. Indeks Aksesibilitas (panjang jalan/luas wilayah) b. Indeks Kepadatan Penduduk (jumlah penduduk/luas wilayah)

16. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Sarana dan Prasarana Daerah Tertinggal Lingkup Kegiatan Penyediaan moda transportasi darat/perairan untuk meningkatkan

mobilitas barang dan penumpang antar wilayah perdesaan dengan pusat pertumbuhan; pembangunan dan rehabilitasi dermaga kecil atau tambatan perahu untuk Kementerian mendukung angkutan orang dan barang, khususnya Perhubungan; penyediaan/pembangunan pembangkit dermaga kecil atau tambatan perahu di wilayah pesisir yang tidak ditangani energi listrik perdesaan yang memanfaatkan sumber energi mikrohidro dan pikohidro dan; serta pembangunan/rehabilitasi embung irigasi untuk menunjang sektor pertanian.

Indikator Teknis a. Indeks Infrastruktur 1) Indeks Infrastruktur energi Indeks Rumah Tangga Indeks Desa

2) Indeks Infrastruktur Transportasi Indeks Akses Kendaraan Roda 4 Indeks Jalan Indeks Moda Transportasi
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 123

b. Indeks Administrasi Pelaporan Dari beberapa penjelasan di atas, proses pengalokasian DAK dijelaskan pada Gambar 3.14 di bawah ini. Gambar 3.14 Proses Penentuan Besaran Alokasi per Daerah dapat

IFN<1

T

UU & PP

T Y IFN + IKW IFW > 1 Y LAYAK Bobot DAK BD = IFWT x IKK

Y

T

IFW + IT IFWT > 1

Y

Alokasi DAK per Bidang ABD=BD x Pagu per Bidang Alokasi DAK (AD) = (ADB1) + (ADB2) + … (ADBn)

Dari gambar 3.14 di atas, terdapat serangkaian proses yang harus dilalui, baik dalam menentukan daerah tertentu yang menerima DAK maupun dalam menentukan besaran alokasi masing-masing daerah.

124

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Tahap 1 : Menentukan Daerah Tertentu Penerima DAK 1. Jika suatu daerah memenuhi kriteria umum yang ditunjukkan dengan IFN < 1, maka daerah tersebut pada proses ini layak mendapat alokasi DAK; 2. Jika pada proses no. 1 di atas daerah tidak memenuhi, maka dilihat kriteria khusus yang pertama yaitu apakah daerah tersebut termasuk dalam pengaturan otonomi khusus atau termasuk dalam 199 kabupaten tertinggal. Jika ya, maka daerah tersebut layak memperoleh alokasi DAK; 3. Jika daerah tersebut tidak termasuk dalam kriteria khusus pada butir 2 di atas, maka lihat kembali kriteria khusus yang kedua yaitu karakteristik wilayah yang ditunjukkan dengan indeks kewilayahan (IKW). Pada proses ini, IFN dan IKW digabungkan sehingga menghasilkan IFW. Dalam hal ini apabila IFW > 1, maka daerah tersebut layak memperoleh DAK; 4. Jika daerah tersebut ternyata masih belum layak untuk mendapatkan DAK pada proses nomor 3 di atas, maka dilihat kriteria teknisnya untuk masing-masing bidang yang didanai dari DAK yang dicerminkan dengan indeks teknis (IT). Pada proses ini, IT digabungkan dengan IFW sehingga menghasilkan IFWT. Jika IFWT > 1, maka daerah tersebut layak mendapat alokasi DAK pada bidang tersebut.

Tahap 2 : Menentukan Besaran Alokasi DAK masing-masing Daerah setelah proses penentuan daerah tertentu dilalui, maka harus dihitung besaran alokasi untuk masing-masing bidang dan masing-masing daerahnya (ADB, alokasi daerah dan bidang);

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

125

IFWT masing-masing daerah dikalikan dengan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) dan menghasilkan Bobot Daerah (BD) untuk masingmasing daerah; selanjutnya, BD tersebut dikalikan dengan pagu alokasi DAK masingmasing bidang sehingga dihasilkan alokasi daerah bersangkutan untuk masing-masing bidang.

3.1.4.1.4. Administrasi Pengelolaan DAK A. Dana Pendamping untuk menyatakan komitmen dan tanggung jawab daerah dalam pelaksanaan program yang didanai DAK, daerah penerima DAK wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10% (sepuluh persen) dari nilai DAK yang diterimanya untuk mendanai kegiatan fisik. Dana Pendamping tersebut wajib dianggarkan dalam APBD tahun anggaran berjalan. Jika daerah tidak menganggarkan Dana Pendamping, pencairan DAK tidak dapat dilakukan. Dana Pendamping juga dicantumkan dalam Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA-sKPD) atau dokumen pelaksana anggaran sejenis lainnya. untuk daerah dengan kemampuan keuangan tertentu, yaitu selisih antara penerimaan umum APBD dan Belanja Pegawainya sama dengan 0 (nol) atau negatif maka tidak diwajibkan menganggarkan Dana Pendamping.

B. Penganggaran untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan yang dapat dibiayai dari DAK, Menteri Teknis menetapkan Petunjuk Teknis pelaksanaan kegiatan DAK untuk masing-masing bidang. selanjutnya, pelaksanaan kegiatan yang
126 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

didanai DAK harus selesai paling lambat 31 Desember tahun anggaran berjalan dan hasil dari kegiatan yang didanai DAK harus sudah dapat dimanfaatkan pada akhir tahun anggaran tesebut. sesuai dengan PMK Nomor 216/PMK.07/2010 diatur bahwa daerah wajib menyampaikan rencana penggunaan DAK kepada Menteri/Kepala Badan terkait dengan tembusan Menteri Keuangan c.q. Dirjen Perimbangan Keuangan, yang memuat pilihan kegiatan, volume dan besaran, serta dana pendamping. sementara itu, berdasarkan PMK No. 6/PMK.07/2012 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Transfer ke Daerah Pasal 29, daerah penerima DAK dapat melakukan optimalisasi penggunaan DAK dengan merencanakan dan menganggarkan kembali kegiatan DAK dalam APBD Perubahan tahun berjalan apabila akumulasi nilai kontrak pada suatu bidang DAK lebih kecil dari pagu bidang DAK tersebut. optimalisasi penggunaan DAK tersebut dilakukan untuk kegiatan-kegiatan pada bidang DAK yang sama dan sesuai dengan petunjuk teknis yang ditetapkan. Dalam hal terdapat sisa DAK pada kas daerah saat tahun anggaran berakhir, daerah dapat menggunakan sisa DAK tersebut untuk mendanai kegiatan DAK pada bidang yang sama tahun anggaran berikutnya sesuai dengan petunjuk teknis tahun anggaran sebelumnya dan/atau tahun berjalan. sisa DAK tidak dapat digunakan untuk dana pendamping DAK.

C. Pemantauan dan Pengawasan Pemantauan dan pengawasan dari kegiatan yang dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus ini melibatkan tiga hal penting, yaitu pemantauan teknis, pelaksanaan kegiatan dan administrasi keuangan serta penilaian terhadap manfaat kegiatan yang dibiayai oleh DAK tersebut. Menteri Teknis
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 127

melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan teknis pelaksanaan kegiatan yang didanai dari DAK sesuai dengan kewenangan masing-masing. Pengawasan fungsional/pemeriksaan pelaksanaan kegiatan dan administrasi keuangan DAK dilaksanakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan/atau aparat pengawasan intern pemerintah daerah. Apabila dalam pemeriksaan tersebut terdapat penyimpangan dan/atau penyalahgunaan, BPK dan/atau aparat pengawas intern pemerintah daerah menindaklanjutinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Daerah sendiri melalui tim koordinasi melakukan evaluasi terhadap manfaat pelaksanaan DAK yang melibatkan pihak terkait setempat. sementara itu, untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan DAK di daerah dalam kaitannya dengan penyempurnaan kebijakan DAK, telah diterbitkan surat Edaran Bersama (sEB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Nomor 0239/M.PPN/11/2008, sE 1722/MK.07/2008, 900/3556/sJ Petunjuk Pelaksanaan Pemantauan Teknis Pelaksanaan Dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK). sEB dimaksud lebih banyak mengatur tata hubungan dalam pelaksanaan pemantauan dan evaluasi DAK yang dilaksanakan antar tingkat pemerintahan.

D. Pelaporan Daerah menyampaikan laporan triwulanan yang memuat laporan

pelaksanaan kegiatan dan penggunaan DAK kepada Menteri/Kepala Badan terkait dengan tembusan Menteri Keuangan c.q. Dirjen Perimbangan Keuangan, meliputi gambaran, rencana kegiatan, sasaran, hasil yang telah dicapai, hambatan, serta jumlah realisasi dana.
128 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

selanjutnya, Menteri Teknis menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan DAK pada akhir tahun anggaran kepada Menteri Keuangan, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, dan Menteri Dalam Negeri.

3.1.5. BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS) sesuai pasal 51 uu No 20 tahun 2003 tentang sIsDIKNAs disebutkan bahwa Pengelolaan satuan pendidikan dasar dilaksanakan dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. sementara itu pasal 3 PP No. 48 Tahun 2008 Tentang Pendanaan Pendidikan menyebutkan biaya operasi sekolah termasuk dalam Biaya satuan Pendidikan dan pada pasal 5 disebutkan bahwa Pemerintah atau Pemerintah Daerah dapat mendanai investasi dan/atau biaya operasi satuan pendidikan dalam bentuk hibah atau bantuan sosial sesuai peraturan perundang-undangan. sejalan dengan itu dalam PMK 201/PMK.07/2011 disebutkan bahwa Bos adalah dana yang digunakan terutama untuk biaya non personalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana program wajib belajar, dan dapat dimungkinkan untuk mendanai beberapa kegiatan lain sesuai petunjuk teknis Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Bos dialokasikan kepada daerah provinsi untuk meringankan beban masyarakat terhadap pembiayaan pendidikan dalam rangka wajib belajar 9 tahun yang bermutu. sekolah penerima Bos adalah sekolah Dasar/sekolah Dasar luar Biasa (sD/sDlB) dan sekolah Menengah Pertama/sekolah Menengah Pertama luar Biasa/sekolah Menengah Pertama Terbuka (sMP/sMPlB/sMPT), termasuk sD-sMP satu Atap (sATAP) dan Tempat Kegiatan Belajar Mandiri

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

129

(TKBM) yang diselenggarakan oleh masyarakat baik negeri maupun swasta di seluruh provinsi di Indonesia. Dalam Tahun 2012 Bos merupakan komponen Anggaran Transfer ke Daerah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012 dan menjadi bagian dari pendapatan daerah, serta dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Tahun Anggaran 2012 atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Perubahan Tahun Anggaran 2012 pada kelompok lain-lain Pendapatan yang sah. Dalam hal ini, Bos ditujukan terutama untuk stimulus bagi daerah dan bukan sebagai pengganti dari kewajiban daerah untuk menyediakan anggaran pendidikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, baik untuk Bos Daerah dan/atau Bantuan operasional Pendidikan.

3.1.6. PENYALURAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH Pasal 6 undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyatakan bahwa Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, kekuasaan pengelolaan keuangan negara tersebut diserahkan kepada gubernur/ Bupati/Walikota selaku kepala pemerintahan daerah untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintahan daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. Hal ini berarti, pemerintah daerah melakukan sendiri pengelolaan keuangan daerah mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan sampai dengan pertanggungjawabannya. sejalan dengan amanat bagan undang-undang akun standar tersebut, Menteri dalam upaya telah

menyempurnakan

Keuangan

130

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

mengelompokkan bagan akun yang terkait dengan pengalokasian Dana Perimbangan dan Dana otonomi Khusus dan Penyesuaian ke dalam kelompok bagan akun tersendiri yaitu ”Kelompok Transfer ke Daerah” menggantikan ”Kelompok Belanja ke Daerah”. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 91/PMK.06/2007 tentang Bagan Akun standar. selanjutnya pada tahun 2008, perubahan ini diimplementasikan ke dalam perubahan nomenklatur APBN dari sebelumnya ”Belanja ke Daerah” menjadi ”Transfer ke Daerah” dan diikuti pula dengan perubahan mendasar dalam pelaksanaan penyalurannya dari kas negara ke kas daerah. Pelaksanaan penyaluran ini terakhir diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PMK.07/2012 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. Penyaluran angggaran Transfer ke Daerah dilakukan dengan cara pemindahbukuan dari rekening Kas umum Negara ke Rekening Kas umum Daerah. Dalam rangka penyaluran tersebut, Bendaharawan umum Daerah (BuD) atau Kuasa BuD membuka rekening pada bank sentral atau bank umum untuk menampung penyaluran semua anggaran Transfer ke Daerah (DBH Pajak, DBH sDA, DAu, dan DAK) dengan nama Rekening Kas umum Daerah.

3.1.6.1. PENYALURAN DBH PAJAK 3.1.6.1.1. Penyaluran Dana Bagi Hasil PPh Penyaluran DBH PPh mengacu pada PMK No. 06/PMK.07/2012 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. a. Penyaluran DBH PPh WPoPDN dan DBH PPh Pasal 21 dilaksanakan berdasarkan prognosa realisasi penerimaan PPh WPoPDN dan PPh Pasal 21 tahun anggaran berjalan.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 131

b. Penyaluran DBH PPh WPoPDN dan DBH PPh Pasal 21 dilaksanakan secara triwulanan, dengan rincian sebagai berikut : • Penyaluran triwulan I sampai dengan triwulan III masing-masing sebesar 20% dari alokasi sementara; • Penyaluran triwulan IV didasarkan pada selisih antara pembagian definitif dengan jumlah dana yang telah dicairkan selama triwulan I sampai dengan triwulan III. • Dalam hal terjadi kelebihan penyaluran karena penyaluran triwulan I sampai dengan triwulan III yang didasarkan atas alokasi sementara lebih besar daripada alokasi definitif, maka kelebihan dimaksud diperhitungkan dalam penyaluran tahun anggaran berikutnya. c. Penyaluran DBH Cukai Hasil Tembakau • Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) disalurkan secara triwulanan, yaitu: a. Triwulan I sebesar 20% dari pagu alokasi sementara, dilaksanakan pada bulan Maret. b. Triwulan II sebesar 30% dari pagu alokasi sementara, dilaksanakan pada bulan Juni. c. Triwulan III sebesar 30% dari pagu alokasi sementara, dilaksanakan pada bulan september. d. Triwulan IV didasarkan pada selisih antara pagu alokasi definitif dengan jumlah dana yang telah disalurkan pada triwulan I s.d. III.

132

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Apabila sampai dengan lima hari kerja sebelum berakhirnya tahun anggaran berjalan alokasi definitife belum ditetapkan, penyaluran triwulan IV adalah sebesar sisa pagu alokasi sementara.

Penyaluran triwulan IV dilaksanakan setelah daerah melalui gubernur menyampaikan laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT semester I tahun anggaran berjalan. Namun apabila laporan konsolidasi tersebut tidak menunjukkan adanya realisasi penggunaan dana, penyaluran triwulan IV ditunda sampai dengan disampaikannya laporan konsolidasi penggunaan dana atas pelaksanaan kegiatan DBH CHT yang menunjukkan adanya realisasi penggunaan dana. DBH CHT yang ditunda dalam penyaluran triwulan IV dapat disalurkan kembali setelah dipenuhinya kewajiban penyampaian laporan dari daerah sepanjang tidak melampaui tahun anggaran berjalan.

3.1.6.1.2. Penyaluran Dana Bagi Hasil PBB Penyaluran DBH PBB mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 06/PMK.07/2012 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. a. Penyaluran DBH PBB dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan PBB tahun anggaran berjalan. b. Penyaluran DBH PBB dan biaya pemungutan PBB bagian daerah dilaksanakan secara mingguan melalui KPPN di daerah sesuai dengan realisasi penerimaan. c. Penyaluran DBH PBB bagian pemerintah yang dibagikan secara merata kepada seluruh kabupaten dan kota dilaksanakan dalam tiga tahap,
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 133

yaitu bulan April sebesar 25%, bulan Agustus sebesar 50% dari alokasi sementara, dan bulan November tahun anggaran berjalan. Berdasarkan realisasi penerimaan PBB dikurangi dengan dana yang sudah disalurkan pada triwulan I dan II. d. Penyaluran DBH PBB bagian pemerintah yang dibagikan sebagai insentif kepada kabupaten dan kota yang realisasi penerimaan PBB sektor pedesaan dan perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan, dilaksanakan dalam bulan November tahun anggaran berjalan.

3.1.6.2. PENYALURAN DBH SUMBER DAYA ALAM a. Triwulan I sebesar : 20% dari pagu perkiraan alokasi DBH sDA migas, panas bumi, dan pertambangan umum; 15% dari pagu perkiraan alokasi DBA sDA kelautan dan perikanan;

b. Triwulan II sebesar : 20% dari pagu perkiraan alokasi DBA sDA migas dan panas bumi; 15% dari pagu perkiraan alokasi DBA sDA pertambangan umum, kelautan dan perikanan; c. Triwulan III disalurkan berdasarkan realisasi penerimaan negara sampai dengan triwulan III dikurangi dengan realisasi pengeluaran triwulan I dan II. d. Triwulan IV disalurkan berdasarkan realisasi penerimaan negara sampai dengan triwulan IV dikurangi dengan realisasi pengeluaran triwulan I, II, dan III.
134 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Pola Penyaluran DBH SDA Migas sejak tahun 2008 Pemerintah melaksanakan penyaluran dana Transfer ke daerah dengan pendekatan baru yang mengedepankan semangat untuk menjamin kepastian, kecepatan, akurasi, dan akuntabilitas. semangat ini diwujudkan dengan penyaluran DBH Migas Triwulan I dan Triwulan II masing-masing 20% dari alokasi per daerah, disalurkan dalam bulan Maret dan bulan Juni. Maksud dari pola ini adalah agar daerah mendapatkan kepastian waktu dan ketepatan jumlah, tanpa menunggu perhitungan realisasi PNBP Migas. selanjutnya Triwulan III disalurkan pada bulan september berdasarkan hasil rekonsiliasi PNBP yang disetor ke kas negara mulai bulan Desember sampai dengan bulan Mei, yang datanya sudah dapat disediakan dalam bulan Agustus. Besarnya penyaluran Triwulan III adalah jumlah DBH suatu daerah berdasarkan hasil rekonsiliasi dikurangi penyaluran Triwulan I dan Triwulan II. sedangkan Triwulan IV disalurkan dalam bulan Desember berdasarkan realisasi PBNP sampai dengan bulan Agustus. selanjutnya realisasi sampai dengan Bulan November akan disalurkan ke daerah sebagai sisa DBH sDA pada bulan Februari tahun anggaran berikutnya.

3.1.6.3. PENYALURAN DAU sampai dengan tahun 2007 penyaluran DAu dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan melalui KPPN setempat. Kepala daerah bertindak selaku KPA dari Bendaharawan umum Negara (BuN) membuat DIPA dan menyampaikannya kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan. selanjutnya, kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan sPM dan menyampaikannya kepada KPPN setempat untuk penyaluran DAu setiap bulan.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 135

sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, mulai tahun 2008 Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan bertindak selaku KPA yang menyusun DIPA dan menyampaikannya kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan. Penyaluran DAu dilaksanakan setiap bulan masing-masing sebesar 1/12 dari besaran alokasi masing-masing daerah. Dalam rangka penyaluran tersebut, Dirjen Perimbangan Keuangan atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan sPM setiap bulan dan menyampaikannya kepada Kuasa BuN (KPPN Jakarta II - DJPB).

3.1.6.4. PENYALURAN DAK Mulai tahun 2008 penyaluran DAK dilaksanakan langsung melalui Kuasa BuN (KPPN Jakarta II - DJPB) dengan cara memindahbukukan dari rekening kas umum negara ke rekening kas umum daerah. Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, Dirjen Perimbangan Keuangan ditunjuk sebagai KPA yang menyusun DIPA dan menyampaikannya kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan. Dalam rangka menyalurkan DAK, Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan sPM yang terbagi dalam 3 tahap yaitu; • Tahap I sebesar 30 persen dari alokasi, dilaksanakan setelah Perda mengenai APBD, laporan Penyerapan Penggunaan DAK tahun anggaran sebelumnya, dan surat Pernyataan Penyediaan Dana Pendamping diterima oleh Dirjen Perimbangan Keuangan,

136

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Tahap II sebesar 45 persen dari alokasi, dilaksanakan selambatlambatnya 15 (lima belas) hari kerja setelah laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap I diterima oleh Dirjen Perimbangan Keuangan, dan

Tahap III sebesar 25 persen dari alokasi, dilaksanakan selambatlambatnya 15 (lima belas) hari kerja setelah laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap II diterima oleh Dirjen Perimbangan Keuangan.

sesuai dengan PMK, pelaksanaan penyaluran secara bertahap tersebut tidak dapat dilakukan sekaligus dan tidak boleh melampaui tahun anggaran berjalan.

3.1.6.5. PENYALURAN BOS Mekanisme penyaluran Bos Tahun Anggaran 2012 dilakukan melalui pemindahbukuan dana dari Rekening Kas umum Negara ke Rekening Kas umum Daerah Provinsi, untuk selanjutnya diteruskan secara langsung ke satuan pendidikan dasar dalam bentuk hibah. 1. Penyaluran Bos dilakukan secara triwulanan, yaitu: a. Triwulan I dilakukan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja pada awal bulan Januari 2012; b. Triwulan II dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja pada awal bulan April 2012; c. Triwulan III dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja pada awal bulan Juli 2012; dan

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

137

d. Triwulan IV dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja pada awal bulan oktober 2012. Penyaluran Triwulan I, Triwulan II, Triwulan III, dan Triwulan IV sebagaimana dimaksud diatas dilakukan sebesar ¼ (satu perempat) dari alokasi Bos Gambar 3.15 Penyaluran Dana BOS Per Triwulan

2. Penyaluran Dana Cadangan BOS dilakukan secara triwulanan, yaitu: a. Triwulan I dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum triwulan I berakhir; b. Triwulan II dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum triwulan II berakhir;

138

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

c.

Triwulan III dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sebelum triwulan III berakhir; dan

d. Triwulan IV dilakukan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sebelum triwulan IV berakhir. Gambar 3.16 Penyaluran Dana Cadangan BOS Per Triwulan

Mekanisme transfer per Triwulan Perhitungan Kurang /Lebih Salur Mekanisme penyaluran sesuai ketentuan APBD Rekomendasi kurang/lebih salur

selanjutnya, untuk mendukung kelancaran penyaluran Bos di daerah terpencil, sesuai dengan PMK nomor 26/PMK.07/2012 tentang Pedoman umum dan Alokasi Bantuan operasional sekolah untuk sekolah di Daerah Terpencil Tahun Anggaran 2012 diatur mekanisme penyaluran sebagai berikut : Penyaluran Bos untuk sekolah di daerah terpencil Tahun Anggaran 2012 dilakukan melalui pemindahbukuan dana dari Rekening Kas umum Negara
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 139

ke Rekening Kas umum Daerah Provinsi, untuk selanjutnya diteruskan secara langsung ke satuan pendidikan dasar dalam bentuk hibah yang dilakukan secara semesteran. 1. semester pertama dilakukan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah Peraturan Menteri ini ditetapkan; a. sebesar ¼ (satu per empat) dari alokasi BOS sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 201/ PMK.07/2011 tentang Pedoman Umum dan Alokasi Bantuan Operasional Sekolah Tahun Anggaran 2012; dan ditambah b. sebesar ¼ (satu per empat) dari alokasi BOS daerah terpencil sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. 2. semester kedua dilakukan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja pada awal bulan Juli 2012; sebesar ½ (satu per dua) dari alokasi BOS daerah terpencil sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri nomor 26/ PMK.07/2012 Anggaran 2012. Penyaluran Tunjangan Profesi guru Pegawai Negeri sipil Daerah (PNsD) Tunjangan Profesi guru PNsD disalurkan secara triwulanan, yaitu masingmasing sebesar 25% dari pagu alokasi per daerah, yang dilaksanakan pada bulan Maret, Juni, september dan Desember.  Penyaluran triwulan I dilaksanakan setelah Daerah menyampaikan laporan Realisasi Pembayaran TPg PNsD semester II tahun anggaran
140

tentang

Pedoman

umum

dan

Alokasi

Bantuan

operasional sekolah untuk sekolah di Daerah Terpencil Tahun

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

sebelumnya kepada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Apabila Daerah belum menyampaikan laporan tersebut, maka penyaluran triwulan I akan ditunda sampai dengan disampaikannya laporan dimaksud.  Penyaluran triwulan IV dilaksanakan setelah Daerah menyampaikan laporan Realisasi Pembayaran TPg PNsD semester I tahun anggaran berjalan kepada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Apabila Daerah belum menyampaikan laporan tersebut, maka penyaluran triwulan I akan ditunda sampai dengan disampaikannya laporan dimaksud. Penyaluran Dana Tambahan Penghasilan guru Pegawai Negeri sipil Daerah (PNsD)  Dana Tambahan Penghasilan guru PNsD disalurkan secara triwulanan, yaitu masing-masing sebesar 25% dari pagu alokasi per daerah, yang dilaksanakan pada bulan Maret, Juni, september dan Desember.  Penyaluran triwulan I dilaksanakan setelah Daerah menyampaikan laporan Realisasi Pembayaran guru PNsD Dana Tambahan Penghasilan semester II tahun anggaran sebelumnya kepada

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Apabila Daerah belum menyampaikan laporan tersebut, maka penyaluran triwulan I akan ditunda sampai dengan disampaikannya laporan dimaksud.  Penyaluran triwulan IV dilaksanakan setelah Daerah menyampaikan laporan Realisasi Pembayaran Dana Tambahan Penghasilan guru PNsD semester I tahun anggaran berjalan kepada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Apabila Daerah belum menyampaikan laporan tersebut, maka penyaluran triwulan I akan ditunda sampai dengan disampaikannya laporan dimaksud.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 141

Penyaluran Dana Insentif Daerah (DID) Dana Insentif Daerah (DID) disalurkan sekaligus (100%) dalam setahun berdasarkan alokasi DID yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keungan . Penyaluran DID dilakukan setelah Daerah menyampaikan dokumen persyaratan kepada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, berupa: a. Peraturan Daerah mengenai APBD tahun anggaran yang bersangkutan; b. surat Pernyataan dari Daerah akan mencantumkan DID dalam APBD atau APBD Perubahan tahun anggaran bersangkutan; dan c. Rencana Penggunaan DID

3.1.7. DANA BAGI HASIL PBB MIGAS DAN PANAS BUMI Pajak Bumi dan Bangunan atau disingkat PBB merupakan salah satu jenis pajak yang sangat populer bagi daerah. Bukan hanya karena proses pemungutan dan administrasinya yang melibatkan peran serta aparat Pemda, tapi juga karena nilai penerimaan pajaknya seluruhnya akan dinikmati oleh Daerah dalam bentuk Dana Bagi Hasil. PBB sesungguhnya adalah pajak yang dikenakan terhadap ”bumi” dan ”bangunan”. Bumi mencakup permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya, sedangkan bangunan merupakan konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap (permanen) pada tanah dan/atau perairan. Komponen bumi dan bangunan tersebut merupakan objek yang dikenakan PBB berdasarkan nilai ekonomi dari objek yang bersangkutan dimana objek itu berada. Namun cakupan objek tersebut tidak termasuk bumi dan bangunan yang digunakan untuk : (i) melayani kepentingan umum, seperti

142

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

tempat ibadah dan sekolah, (ii) hutan lindung dan suaka, dan (iii) kantor perwakilan diplomatik dan organisasi internasional lainnya. secara sektoral, objek PBB terdiri dari 5 sektor, yakni sektor perdesaan, sektor perkotaan, sektor perkebunan, sektor kehutanan, dan sektor pertambangan. PBB sektor pertambangan mencakup pertambangan minyak bumi gas bumi dan panas bumi (PBB Migas dan panas bumi), dan pertambangan umum. Diantara lima sektor PBB tersebut, PBB sektor pertambangan Migas dan panas bumi mempunyai karateristik yang agak berbeda, antara lain karena adanya beberapa hal sebagai berikut: 1. objek yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak selain berada di permukaan daratan, perairan dan juga pada tubuh bumi. 2. PBB Migas dan panas bumi disetor oleh pengusaha penambangan migas dan panas bumi bersamaan dengan setoran bagian pemerintah atas nilai penjualan migas dan panas bumi. sehingga untuk memisahkan nilai pembayaran PBB Migas dan Panas Bumi, Pemerintah harus melakukan pemindahbukuan dari rekening penerimaan Migas dan Panas Bumi ke rekening bank persepsi yang ditunjuk untuk membukukan Penerimaan Negara dari Pajak. 3. PBB Migas dari permukaan perairan dan tubuh bumi dibagihasilkan kepada seluruh kabupaten/kota berdasarkan pembagian objek PBB Migas pada saat penerbitan dokumen surat Pemberitahuan Pajak Terutang (sPPT). 4. secara nominal nilai PBB Migas dan panas bumi jauh lebih besar dibandingkan dengan nilai PBB dari sektor perdesaan, perkotaan, perkebunan, dan juga kehutanan, sehingga DBH PBB Migas dan panas

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

143

bumi yang diterima daerah relatif lebih besar dibandingkan dengan DBH PBB sektor lainnya. 5. PBB Migas merupakan faktor pengurang dalam rangka perhitungan PNBP Migas yang digunakan untuk menghitung alokasi DBH sDA Migas.

3.1.7.1. Pengadministrasian Objek dan Subjek PBB Migas dan Panas Bumi PBB adalah pajak yang dikenakan terhadap ”bumi” dan ”bangunan”. Bumi mencakup permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya, sedangkan bangunan merupakan konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap (permanen) pada tanah dan/atau perairan. Komponen bumi dan bangunan tersebut merupakan objek yang dikenakan PBB berdasarkan nilai ekonomi dari objek yang bersangkutan dimana objek itu berada. objek bumi dan bangunan yang dikenakan pajak adalah yang berada di dalam wilayah kerja atau wilayah kuasa pertambangan minyak bumi dan gas bumi serta panas bumi yang dimiliki, dikuasai, dan/ atau dimanfaatkan oleh Kontraktor Kontrak Kerja sama (KKKs) untuk pertambangan migas atau pengusaha panas bumi untuk pertambangan panas bumi. Namun cakupan objek tersebut tidak termasuk bumi dan bangunan yang digunakan untuk : (i) melayani kepentingan umum, seperti tempat ibadah dan sekolah, (ii) hutan lindung dan suaka, dan (iii) kantor perwakilan diplomatik dan organisasi internasional lainnya. Dalam menentukan klasifikasi bumi/tanah yang akan dikenakan pajak, diperhitungkan beberapa faktor mempengaruhi nilai ekonomi dari objek tersebut, antara lain berupa faktor : (i) letak tanah, (ii) peruntukan tanah

144

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

oleh subjek Pajak, (iii) pemanfaatan tanah oleh subjek Pajak, dan (iv) kondisi lingkungan. Permukaan bumi yang dikenakan PBB Migas meliputi areal daratan (onshore) dan areal perairan lepas pantai (offshore), yang digunakan untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi pertambangan Migas dan panas bumi. sedangkan klasifikasi bangunan yang dikenakan pajak memperhatikan faktor : (i) kuantitas dan kualitas bahan bangunan yang digunakan, (ii) proses rekayasa/teknik arsitektur yang mempenguhi nilai bangunan, (iii) letak bangunan, (iv) dan kondisi lingkungannya. Bangunan yang dikenakan PBB meliputi konstruksi teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap di areal onshore atau areal offshore. Pelaksanaan kegiatan pertambangan Migas dan panas bumi, dilakukan oleh perusahaan penambang yang melakukan kontrak karya dengan pemerintah Indonesia atau KKKs. Berdasarkan data dari Badan Pelaksana Kegiatan usaha Hulu Minyak dan gas Bumi (BP Migas), jumlah KKKs yang melakukan kegiatan eksploitasi (produksi) di Indonesia saat ini adalah sebanyak 73 perusahaan dan yang melakukan kegiatan eksplorasi sebanyak 172 perusahaan. selain itu terdapat pula 42 perusahaan penambang gas bumi yang berasal dari gas metan batubara (coal bed methans, CBM). sesuai dengan dokumen kontrak kerjasama, perusahaanperusahaan tersebut diberikan kewenangan/hak atas bumi dan/atau memperoleh manfaat atas bumi. Apabila dalam rangka kegiatan eksplorasi dan eksploitasi Migas dan panas bumi perusahaan tersebut membangun konstruksi fisik, maka bangunan tersebut juga termasuk dimiliki, dikuasai, diperoleh manfaatnya oleh perusahaan penambang. Karena mempunyai kewenangan atas bumi dan bangunan yang terkait dengan eksplorasi dan eksploitasi Migas dan panas bumi, perusahaan penambang tersebut

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

145

diperlakukan sebagai subjek Pajak, yang apabila mempunyai kewajiban membayar PBB Migas maka ia juga berkedudukan sebagai Wajib Pajak. sebagai subjek Pajak atau Wajib Pajak, KKKs dan perusahaan penambang panas bumi mempunyai kewajiban untuk mendaftarkan atau memutakhirkan (up-dating) data objek PBB Migas dan panas bumi setiap tahun dengan cara mengisi surat Pemberitahuan objek Pajak (sPoP). Isian sPoP harus sudah disampaikan ke Direktorat Jenderal Pajak paling lambat akhir Maret tahun berjalan. Data objek pajak dari sPoP akan ditatausahakan oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) sesuai dengan jenis dan lokasi objeknya untuk digunakan sebagai dasar penerbitan surat Pemberitahuan Pajak Terutang (sPPT). untuk data objek PBB Migas untuk areal onshore dan PBB Panas Bumi ditatausahakan oleh KPP setempat berdasarkan wilayah kabupaten/kota atau wilayah DKI Jakarta, yang wilayah kerjanya meliputi letak objek pajak berada. sedangkan penatausahaan data objek PBB Migas dari areal offshore dan tubuh bumi dilakukan melalui pembagian (men-split) data objek PBB Migas kepada seluruh kabupaten/kota, baik penghasil maupun non penghasil migas, pada saat penerbitan sPPT. Pembagian data objek pajak tersebut menggunakan formula Angka Pembanding Tertimbang (APT), yang variabelnya mencakup jumlah penduduk, luas wilayah, Pendapatan Asli Daerah, Potensi Areal sumber Daya Migas, dan Potensi Produksi sumber Daya Migas. objek pajak yang telah terbagi berdasarkan dokumen sPPT tersebut akan menjadi dasar pencatatan penerimaan PBB Migas per daerah, dan selanjutnya penerimaan tersebut digunakan untuk menghitung alokasi DBH PBB Migas kepada provinsi/kabupaten/kota berdasarkan prosentase yang ditetapkan dalam uu Nomor 33 tahun 2004 dan PP Nomor 55 tahun 2005.

146

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Dengan demikian, maka pengisian sPoP akan menjadi suatu tahapan proses sangat penting dalam menentukan besarnya pengenaan PBB Migas dan panas bumi. setiap Wajib Pajak dituntut dapat melakukan pengisian sPoP secara jelas, benar, dan lengkap termasuk dilengkapi dengan peta wilayah kerja perusahaan penambang. Apabila subjek Pajak atau Wajib Pajak tidak menyampaikan sPoP atau mengisi sPoP tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya sehingga bisa menimbulkan kerugian negara, maka ia akan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan. Dasar pengenaan PBB Migas dan PBB Panas Bumi adalah Nilai Jual objek Pajak (NJoP) atas bumi dan bangunan yang ada dalam wilayah kerja KKKs atau perusahaan penambang panas bumi. Penentuan NJoP PBB Migas dan panas bumi untuk ”bumi“adalah sebagai berikut: 1. PBB Migas dan PBB Panas Bumi untuk permukaan bumi, NJoP-nya ditentukan melalui harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar atau perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis. 2. PBB Migas untuk tubuh bumi, NJoP-nya ditentukan melalui pendekatan nilai jual pengganti yang dihitung berdasarkan hasil perkalian angka kapitalisasi, hasil produksi, harga minyak mentah Indonesia, dan harga produksi gas bumi. 3. PBB Panas Bumi untuk tubuh bumi, NJoP-nya ditentukan melalui pendekatan nilai jual pengganti yang dihitung berdasarkan hasil perkalian angka kapitalisasi, hasil dan harga produksi uap, serta hasil dan harga produksi listrik.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

147

Angka kapitalisasi yang digunakan dalam penetapan NJoP tersebut adalah suatu faktor untuk mengkonversi hasil produksi menjadi nilai jual objek. sedangkan hasil produksi yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak adalah berupa minyak bumi yang terjual (lifting) dan gas bumi yang terjual dalam satu tahun sebelum tahun pajak berjalan. untuk panas bumi, hasil produksi yang digunakan sebagai dasar pengenaan pajak adalah berupa uap dan listrik yang terjual dalam satu tahun sebelum tahun pajak berjalan. untuk faktor harga minyak, harga produksi uap, harga produksi listrik, dan kurs yang digunakan sebagai dasar penetapan NJoP PBB Migas dan NJoP PBB Panas Bumi dapat ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan besaran harga dan nilai kurs yang digunakan dalam APBN atau APBN Perubahan. Penentuan NJoP PBB Migas dan PBB Panas Bumi untuk ”bangunan” dilakukan melalui nilai perolehan baru sebesar biaya pembangunan baru setelah dikurangi dengan penyusutan.

3.1.7.2. Pembayaran PBB Migas dan Panas Bumi sesuai dengan ketentuan umum perpajakan, yang mempunyai kewajiban untuk membayar pajak adalah perorangan atau badan yang berkedudukan sebagai Wajib Pajak. Namun khusus untuk PBB Migas dan panas bumi, mekanisme pembayarannya dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. untuk KKKs dan pengusaha panas bumi membuat kontrak kerjasama sebelum adanya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 tahun 2010 tentang Biaya operasi Yang Dapat Dikembalikan Dan Perlakuan Pajak Penghasilan Di Bidang usaha Hulu Minyak Dan gas Bumi, PBB Migas dan panas buminya ditanggung oleh pemerintah. sehingga walaupun KKKs dan pengusaha panas bumi bertindak juga sebagai Wajib Pajak, namun mereka tidak mempunyai kewajiban langsung untuk membayar
148 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

PBB Migas dan panas bumi. Karena sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam uu Migas dan Kontrak Kerjasama, perusahaan KKKs dan pengusaha panas bumi mempunyai kewajiban untuk menyetor bagian pemerintah atas hasil penjualan Migas dan panas bumi ke rekening Migas pada bank sentral. setoran tersebut didalamnya sudah termasuk Pajak-pajak seperti PPN dan PBB, Bea masuk, serta Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. 2. untuk perusahaan KKKs yang melakukan eksplorasi dan eksploitasi setelah berlakunya PP Nomor 79 tahun 2010, dapat melakukan pembayaran PBB Migas dengan cara menyetor langsung ke rekening penerimaan negara yang ditentukan. Pembayaran PBB Migas dan panas bumi untuk KKKs dan pengusaha panas bumi yang melakukan kontrak kerjasama sebelum adanya PP Nomor 79 tahun 2010, dilakukan melalui mekanisme sebagai berikut: 1. Direktorat Jenderal Pajak, selaku unit yang bertugas

mengadministrasikan penerimaan negara pajak (PNP) mengajukan permintaan pembayaran PBB Migas dan panas Bumi kepada Direktorat Jenderal Anggaran, selaku unit yang bertugas mengadministrasikan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Besarnya permintaan pembayaran tersebut dihitung berdasarkan rekapitulasi sPPT PBB Migas dan panas bumi untuk satu tahun pajak. Permintaan pembayaran yang diajukan harus dilengkapi dengan rincian sPPT per kabupaten/ kota yang displit objek pajaknya dengan menggunakan formula APT. surat permintaan pembayaran tersebut harus sudah disampaikan paling lambat minggu kedua bulan Juli agar pembayarannya dapat dilakukan sebelum akhir Desember sehingga tidak melampau batas

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

149

waktu yang ditetapkan dalam uu No. 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan. 2. Direktorat Jenderal Anggaran meneliti permintaan pembayaran dari Direktorat Jenderal Pajak dan selanjutnya meminta kepada Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk memindahbukukan dana dari rekening migas ke rekening kas negara pada bank persepsi guna pembayaran PBB Migas dan panas bumi. 3. Dana yang sudah diterima pada bank persepsi dapat dibukukan oleh Direktorat Jenderal Pajak sebagai realisasi penerimaan PBB Migas dan panas bumi tahun anggaran berjalan. Pembayaran PBB Migas dan panas bumi dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan rencana penggunaan dana pada rekening Migas dan panas bumi. Namun pelunasan pembayaran PBB Migas dan panas bumi tidak boleh lebih dari enam bulan sejak adanya penyampaian sPPT sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam uu Nomor 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.

3.1.7.3. Alokasi dan Penyaluran DBH PBB Migas dan Panas Bumi PBB Migas dan panas bumi dibagi kepada daerah penghasil maupun non daerah penghasil Migas dan panas bumi. Pembagian dilakukan melalui pengalokasian DBH PBB Migas dan panas bumi pada setiap awal tahun anggaran yang perhitungannya dilakukan berdasarkan rencana penerimaan PBB Migas dan panas bumi yang di-split objeknya ke seluruh kabupaten/ kota. Mekanisme perhitungan alokasi DBH PBB Migas dan panas bumi adalah sebagai berikut:

150

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

1. Berdasarkan pagu penerimaan PBB yang ditetapkan dalam APBN, Direktorat Jenderal Pajak menyampaikan rencana penerimaan PBB Migas dan panas bumi yang dirinci per kabupaten/kota kepada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. 2. Berdasarkan rencana penerimaan PBB tersebut Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan perhitungan alokasi sementara DBH PBB Migas dan panas bumi per daerah sesuai dengan persentase pembagian yang ditetapkan uu Nomor 33 tahun 2004 dan PP Nomor 55 tahun 2005, yaitu : a. 10% dari penerimaan adalah bagian pemerintah pusat b. 64,8% dari penerimaan adalah bagian kabupaten/kota yang bersangkutan c. 16,2% dari penerimaan adalah bagian dari provinsi yang bersangkutan d. 9% dari penerimaan adalah bagian biaya pemungutan yang merupakan haknya kabupaten/kota dan Direktorat Jenderal Pajak. 3. Hasil perhitungan alokasi sementara DBH PBB Migas dan panas bumi tersebut bersamaan dengan alokasi sementara DBH PBB nonmigas disampaikan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK). Alokasi DBH PBB Migas dan panas bumi yang telah ditetapkan melalui PMK digunakan sebagai dasar untuk pelaksanaan penyaluran kepada daerah. Pada triwulan 1 s.d. triwulan 3, besarnya dana yang disalurkan ke rekening kas umum daerah masing-masing adalah 25% dari alokasi sementara DBH PBB Migas dan panas bumi yang ditetapkan dalam PMK. Penyaluran triwulan 1 dilaksanakan bulan Maret, triwulan 2 bulan Juni dan
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 151

triwulan 3 bulan september. Pengaturan terhadap besaran prosentase dan waktu penyaluran tersebut dimaksudkan agar daerah mempunyai kepastian mengenai dana yang akan masuk di kas daerah sehingga diharapkan dapat memudahkan pengelolaan kas daerah. untuk penyaluran triwulan 4, besarnya DBH PBB Migas dan panas bumi disesuaikan dengan realisasi penerimaan PBB Migas dan panas bumi yang dibukukan oleh bank persepsi atas pembayaran dari Direktorat Jenderal Anggaran. Berdasarkan pembayaran tersebut, Direktorat Jenderal Pajak menyampaikan ketetapan penerimaan PBB Migas dan panas bumi yang terinci per daerah (yang objeknya di-split per kabupaten/kota dengan menggunakan formula APT). Ketetapan penerimaan PBB Migas dan panas bumi tersebut digunakan oleh Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan untuk menghitung alokasi definitif DBH PBB Migas dan panas bumi dengan menggunakan prosentase pembagian sebagaimana yang digunakan dalam pembagian rencana penerimaan PBB Migas dan Panas bumi pada saat menghitung alokasi sementara DBH PBB Migas dan Panas Bumi. Apabila DBH PBB Migas dan panas bumi yang dihitung dari realisasi penerimaan PBB Migas dan panas bumi sampai dengan triwulan 4 lebih rendah dari jumlah DBH PBB Migas dan panas bumi yang sudah disalurkan pada triwulan 1 s.d. 3, maka berarti terjadi adanya lebih salur kepada daerah. Kelebihan penyaluran tersebut akan diperhitungkan dalam penyaluran DBH PBB Migas dan panas bumi pada tahun berikutnya sehingga tidak menimbulkan utang jangka panjang bagi daerah.

3.1.7.4. PBB Migas sebagai Faktor Pengurang dalam Perhitungan DBH SDA Migas
152 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

PBB Migas dan panas bumi merupakan penerimaan negara yang bukan hanya digunakan sebagai penentu dalam perhitungan alokasi DBH PBB Migas dan panas bumi, namun juga digunakan sebagai komponen pengurang dalam perhitungan alokasi DBH sDA Migas dan panas bumi. Alokasi DBH sDA migas dihitung berdasarkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor migas. PNBP yang digunakan untuk menghitung DBH sDA Migas tersebut adalah produksi minyak yang terjual (lifting) dan produksi gas yang terjual dari masing-masing Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKs) setelah dikurangi dengan beberapa faktor pengurang, yaitu Domestic Market Obligation (DMO), Fee usaha Hulu Migas, Pajakpajak yakni PPN dan PBB, Bea masuk serta Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. PNBP Migas per KKKs yang telah dikurangi dengan beberapa faktor pengurang tersebut digunakan untuk menghitung rincian PNBP Migas per daerah. Acuan daftar daerah yang digunakan dalam perhitungan DBH sDA Migas adalah ketetapan daerah penghasil yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan sumber Daya Mineral setelah memperhatikan lokasi sumur migas dari masing-masing KKKs. Berdasarkan PNBP Migas per daerah, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan perhitungan alokasi DBH sDA Migas dengan prosentase pembagian yang ditetapkan dalam uu Nomor 33 tahun 2004 dan PP Nomor 55 tahun 2005, yaitu bahwa 85% dari PNBP per daerah adalah bagian pemerintah pusat dan 15% lainnya merupakan bagian dari pemerintah Daerah. Bagian pemerintah daerah sebesar 15% tersebut, dibagi kepada kabupaten/kota penghasil migas sebesar 6%, kabupaten/kota nonpenghasil migas 6%, dan provinsi yang bersangkutan 3%.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

153

DBH sDA Migas pada dasarnya dihitung berdasarkan PNBP Migas yang dihasilkan oleh masing-masing KKKs. Alokasi DBH sDA Migas kepada daerah penghasil ditentukan oleh kemampuan KKKs dalam menghasilkan lifting migas. sedangkan penetapan daerah penghasil migas ditentukan berdasarkan lokasi sumur migas KKKs yang menghasilkan migas terjual. Daerah yang mempunyai sumur migas berhak mendapatkan bagian DBH sDA Migas yang lebih besar, dan sebaliknya daerah nonpenghasil hanya akan mendapatkan alokasi yang lebih kecil dibandingkan dengan daerah penghasil. sementara dari sisi perpajakan, PBB Migas dikenakan terhadap objek PBB Migas yang dimiliki, dikuasai, dan dimanfaatkan oleh KKKs, baik yang sudah menghasilkan maupun yang belum menghasilkan lifting migas. Dalam rangka alokasi DBH sDA Migas, PBB Migas yang digunakan sebagai faktor pengurang dalam perhitungan PNBP Migas adalah PBB Migas per KKKs yang sudah menghasilkan lifting Migas. PBB Migas dari KKKs yang belum menghasilkan lifting Migas tidak digunakan sebagai faktor pengurang. Hal ini mengakibatkan bahwa secara nasional jumlah PBB Migas yang digunakan sebagai dasar perhitungan DBH PBB Migas lebih besar dibandingkan dengan yang digunakan sebagai dasar untuk perhitungan DBH sDA Migas. selain itu daerah penerima alokasi DBH PBB Migas juga lebih banyak dibandingkan dengan daerah penerima alokasi DBH sDA Migas.

3.2. KEBIJAKAN DI BIDANG PERPAJAKAN DAN RETRIBUSI DAERAH 3.2.1. Latar Belakang Instrumen utama dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal dilakukan melalui pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah untuk memungut pajak (taxing power) dan transfer ke daerah. Dalam hal ini, kebijakan taxing power
154 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

kepada daerah dilaksanakan berdasarkan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (uu 28/2009). uu tersebut merupakan langkah strategis untuk lebih memperkuat kebijakan desentralisasi fiskal, khususnya dalam rangka membangun hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah yang lebih ideal. Beberapa kebijakan mendasar yang diatur dalam uu tersebut, antara lain, adalah: 1. Perubahan penetapan pajak daerah dan retribusi daerah dari open-list system menjadi closed-list system. salah satu pertimbangan penerapan closed-list system adalah untuk memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha mengenai jenis pungutan daerah yang wajib dibayar, serta meningkatkan efisiensi pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah. Dengan closed-list system, pemerintah daerah hanya dapat memungut jenis pajak daerah dan retribusi daerah yang tercantum dalam uu. 2. Pemberian kewenangan yang lebih besar kepada daerah di bidang perpajakan dan retribusi daerah (local taxing empowerment), melalui beberapa kebijakan, yaitu: a. memperluas basis pajak daerah dan retribusi daerah yang sudah ada, seperti perluasan basis Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Retribusi Izin gangguan; b. menambah jenis pajak daerah dan retribusi daerah, seperti Pajak Rokok, Pajak sarang Burung Walet, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2), Retribusi Pelayanan Tera/Tera ulang,

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

155

Retribusi Pelayanan Pendidikan, Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi, dan Retribusi Izin usaha Perikanan; c. menaikkan tarif maksimum beberapa jenis pajak daerah, seperti Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, Pajak Hiburan, Pajak Parkir, dan Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan; dan d. memberikan diskresi penetapan tarif pajak kepada daerah kecuali Pajak Rokok. Daerah diberikan kewenangan sepenuhnya untuk menetapkan besaran tarif pajak daerah untuk diberlakukan di daerahnya sepanjang tidak melampaui tarif minimum dan maksimum yang tercantum dalam uu 28/2009. Kewenangan yang lebih luas di bidang perpajakan daerah ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah sehingga dapat mengkompensasi hilangnya penerimaan dari beberapa jenis pungutan daerah sebagai akibat dari adanya perubahan open-list system menjadi closed-list system. Dalam kaitan ini, daerah didorong untuk mengoptimalkan pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah dengan landasan hukum yang kuat dan tidak menciptakan jenis pungutan baru yang potensinya relatif kecil dan tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 3. Memperbaiki sistem pengelolaan pajak daerah dan retribusi daerah melalui kebijakan bagi hasil pajak provinsi kepada kabupaten/kota yang lebih pasti, serta kebijakan earmarking untuk jenis pajak daerah tertentu. Kebijakan bagi hasil pajak ini mencerminkan bentuk tanggungjawab pemerintah provinsi untuk ikut serta menanggung beban biaya

156

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

yang diperlukan oleh kabupaten/kota dalam pelaksanaan fungsinya memberikan pelayanan kepada masyarakat. sementara itu, dengan adanya kebijakan earmarking, sebagian hasil pendapatan pajak daerah tertentu dialokasikan untuk membiayai kegiatan yang dapat dirasakan secara langsung oleh pembayar pajak tersebut. 4. Meningkatkan efektivitas pengawasan pungutan daerah dengan mengubah mekanisme pengawasan dari sistem represif (berdasarkan undang-undang Nomor 34 Tahun 2000) menjadi sistem preventif dan korektif. setiap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pajak daerah dan retribusi daerah, sebelum ditetapkan menjadi Perda harus dievaluasi terlebih dahulu oleh Pemerintah. Perda yang sudah ditetapkan dapat dibatalkan oleh Pemerintah apabila bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. Kewenangan pembatalan Perda yang semula berada pada Menteri Dalam Negeri dialihkan kepada Presiden dalam rangka memperkuat dasar hukum pembatalan Perda. selain itu, daerah yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pajak daerah dan retribusi daerah dapat dikenakan sanksi berupa penundaan dan/atau pemotongan dana alokasi umum dan/atau dana bagi hasil atau restitusi. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan desentralisasi fiskal, perubahan kebijakan tersebut diharapkan akan memberikan dampak positif khususnya bagi Pemerintah Daerah. Dampak positif yang diharapkan, antara lain, Pemerintah Daerah dapat lebih menyesuaikan kebijakan perpajakan dengan kondisi daerah masing-masing, munculnya competitiveness antar daerah untuk lebih menciptakan iklim investasi
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 157

yang lebih baik di masing-masing daerah, terjalinnya hubungan kemitraan yang lebih baik antara Pemerintah Daerah dengan pengusaha/investor dan masyarakat untuk memikul tanggung jawab pembangunan karena didukung adanya kejelasan, kepastian dan kesederhanaan berbagai regulasi yang ada, serta pertumbuhan ekonomi daerah akan lebih cepat karena didorong dengan sumber pendanaan yang memadai dalam memenuhi kebutuhan pembangunan sarana dan prasarana perekonomian.

3.2.2.

Kebijakan Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB)

salah satu kebijakan yang diatur dalam uu 28/2009 adalah menaikkan tarif PBB-KB dari 5 persen menjadi maksimum 10 persen. Pemerintah Provinsi diberikan kewenangan untuk menerapkan tarif PBB-KB sampai dengan 10 persen yang ditetapkan dalam Perda. Kebijakan lain yang diatur dalam uu tersebut adalah tarif PBB-KB untuk bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan kendaraan umum dapat ditetapkan paling sedikit 50% lebih rendah dari tarif PBB-KB untuk kendaraan pribadi. Dengan demikian, pengenaan tarif PBB-KB dapat dilakukan secara diskriminatif baik antar daerah maupun antar jenis kendaraan bermotor. Pengenaan tarif diskriminatif antara kendaraan bermotor dilakukan dengan memperhatikan aspek kesiapan daerah untuk membedakan pengguna bahan bakar. Peluang pemberlakuan diskriminasi tarif tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing daerah, karena harga jual per liter BBM dapat berbeda antar daerah. Diskriminasi harga tersebut secara tidak langsung juga ditujukan agar Pemerintah Daerah dapat berperan optimal menurunkan konsumsi BBM, memperbaiki moda transporasi umum, mengurangi tingkat

158

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

kemacetan, mengurangi polusi, meningkatkan produktifitas masyarakat dengan adanya penurunan kemacetan, serta untuk meningkatkan Penerimaan Asli Daerah (PAD). Bagi Pemerintah Pusat, kenaikan tarif PBBKB tersebut untuk jangka panjang akan mengurangi beban subsidi dengan asumsi penggunaan BBM bersubsidi (bensin dan minyak solar) menurun akibat adanya kenaikan harga. Dalam kondisi tertentu, sesuai uu 28/2009, Pemerintah diberikan kewenangan untuk mengintervensi tarif PBB-KB yang telah ditetapkan oleh daerah dengan menerbitkan Peraturan Presiden. Penetapan tarif oleh Pemerintah dilakukan untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun. Kewenangan Pemerintah untuk mengubah tarif PBB-KB tersebut dilakukan dalam hal: 1. terjadi kenaikan harga minyak dunia melebihi 130 persen dari asumsi harga minyak dunia yang ditetapkan dalam undang-undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun berjalan. Bila harga minyak dunia sudah kembali normal, Peraturan Presiden dicabut dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan. 2. diperlukan stabilisasi harga bahan bakar minyak untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak ditetapkannya uu 28/2009. Ketentuan ini diperlukan untuk menghindari gejolak sosial akibat adanya kemungkinan perbedaan harga BBM antardaerah. Berdasarkan data yang ada, sampai dengan tanggal 20 Maret 2012, dari 33 Pemerintah Provinsi yang telah menetapkan Perda tentang PBBKB, sebanyak 14 daerah menetapkan tarif sebesar 5 persen, 13 daerah sebesar 7,5 persen dan 6 daerah sebesar 10 persen. Data daerah yang telah menetapkan Perda tentang PBB-KB selengkapnya dapat dilihat pada Tabel. 3.5 di bawah.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 159

Tabel 3.5 Tarif PBB-KB Berdasarkan Perda Provinsi
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Pemerintah Provinsi Aceh sumatera utara sumatera Barat Riau Jambi sumatera selatan Bengkulu lampung Kepulauan Bangka Belitung Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Daerah Istimewa Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan selatan Kalimantan Timur sulawesi utara sulawesi Tengah sulawesi selatan sulawesi Tenggara Nomor dan Tahun Perda Perda 2 Tahun 2012 Perda 1 Tahun 2011 Perda 1 Tahun 2012 Perda 8 Tahun 2011 Perda 6 Tahun 2011 Perda 3 Tahun 2011 Perda 2 Tahun 2011 Perda 2 Tahun 2011 Perda 1 Tahun 2011 Perda 8 Tahun 2011 Perda 10 Tahun 2010 Perda 13 Tahun 2011 Perda 2 Tahun 2011 Perda 3 Tahun 2011 Perda 9 Tahun 2010 Perda 1 Tahun 2011 Perda 1 Tahun 2011 Perda 1 Tahun 2011 Perda 2 Tahun 2010 Perda 8 Tahun 2010 Perda 7 Tahun 2010 Perda 5 Tahun 2011 Perda 01 Tahun 2011 Perda 7 Tahun 2011 Perda 1 Tahun 2011 Perda 10 Tahun 2010 Perda 5 Tahun 2011 Tarif PBB-KB 5% 10% 5% 5% 7,5% 7,5% 5% 7,5% 5% 10% 5% 5% 5% 5% 10% 5% 10% 10% 10% 7,5% 7,5% 7,5% 7,5% 5% 7,5% 7,5% 7,5%

160

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

No. 28 29 30 31 32 33

Pemerintah Provinsi gorontalo sulawesi Barat Maluku Maluku utara Papua Barat Papua

Nomor dan Tahun Perda Perda 5 Tahun 2011 Perda 01 Tahun 2011 Perda 05 Tahun 2010 Perda 05 Tahun 2011 Perda 5 Tahun 2011 Perda 4 Tahun 2011

Tarif PBB-KB 5% 7,5% 7,5% 7,5% 5% 5%

sumber: Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan.

Mengingat saat ini harga jual eceran jenis BBM tertentu, antara lain, bensin (gasoline) RoN 88 dan minyak solar (gas oil) masih disubsidi oleh Pemerintah, peningkatan tarif PBB-KB yang ditetapkan oleh daerah tersebut di satu pihak akan meningkatkan PAD, namun di lain pihak dapat berdampak terhadap peningkatan subsidi BBM. Dalam rangka mengendalikan beban subsidi dan stabilitasi harga BBM, Pemerintah mengambil kebijakan mengubah tarif PBB-KB dengan menetapkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Tarif PBB-KB. Peraturan Presiden tersebut mengubah tarif PBB-KB yang telah ditetapkan dalam Perda Provinsi menjadi sebesar 5 persen dan berlaku sampai dengan tanggal 15 september 2012. Dengan demikian, mulai tanggal 16 september 2012, tarif PBB-KB yang berlaku adalah sebagaimana ditetapkan dalam Perda. Berkaitan dengan akan berakhirnya masa berlaku Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2011, Pemerintah perlu menyiapkan kebijakan/regulasi yang selaras dengan uu 28/2009 dengan mempertimbangkan dampak tarif PBB-KB terhadap fiskal, inflasi, dan sosial. Pemerintah juga perlu mencermati tren harga minyak mentah di pasar dunia yang semakin meningkat. Kebijakan penetapan tarif PBB-KB seragam sebesar 5 persen oleh Pemerintah, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor
161

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

15 Tahun 2012 tentang Harga Jual Eceran dan Konsumen Pengguna Jenis BBM Tertentu dan undang-undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2012, belum mencerminkan harga keekonomian. Di satu sisi, dengan adanya kenaikan tarif PBB-KB tanpa menaikan harga BBM akan menambah beban subsidi. Di sisi lain, peningkatan tarif PBB-KB on top dari harga eceran yang ditetapkan oleh Pemerintah akan mengakibatkan harga BBM yang berbeda antardaerah. Kenaikan harga BBM dan perbedaan harga jual antardaerah tersebut perlu dilakukan secara hati-hati. sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah Daerah perlu menyiapkan sistem, mekanisme serta sarana dan prasarana yang memadai dalam pelaksanaan penjualan BBM serta pendataan terhadap jenis kendaraan umum dan pribadi sebelum dilaksanakannya pemberlakuan kebijakan diskriminasi tarif agar kebijakan tersebut dapat dioptimalkan dalam mengurangi subsidi BBM. Perlu adanya sistem pengawasan terpadu serta penegakan disiplin yang konsisten dalam alur distribusi BBM dari produsen hingga konsumen akhir dalam menghadapi kemungkinan terjadinya black market atau kelangkaan BBM di daerah-daerah tertentu. Perlu dilakukan sosialisasi sebelum diberlakukannya penetapan tarif PBB-KB yang baru, baik yang bersifat seragam maupun apabila dilaksanakan diskriminasi tarif guna mengantisipasi terjadinya gejolak pada masyarakat. selain itu pemberlakuan aturan baru dalam penerapan PBB-KB perlu dilaksanakan pada situasi dan kondisi yang tepat. selanjutnya untuk mengurangi konsumsi BBM yang tidak terkendali, perlu dilakukan perbaikan infrastruktur transportasi yang memadai sekaligus penyediaan alternatif moda transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau oleh masyarakat.

162

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

3.2.3.

Pendaerahan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan

Serta Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan sebagai salah satu bentuk continuous improvement, Pemerintah secara konsisten memperkuat dan menyempurnakan kebijakan desentralisasi fiskal untuk mendukung tercapainya peningkatan layanan publik bagi masyarakat di daerah. Konsistensi tersebut diwujudkan tidak hanya melalui penguatan desentralisasi fiskal dari sisi pengeluaran, namun juga melalui desentralisasi fiskal dari sisi penerimaan berupa perluasan local taxing power. salah satu wujud nyata komitmen tersebut adalah dengan mengalihkan beberapa jenis pajak pusat menjadi pajak daerah, yaitu Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2). langkah awal yang dilakukan untuk memperbaiki struktur keuangan daerah salah satunya adalah dengan menyerahkan pengelolaan BPHTB dan PBB-P2 kepada Pemerintah Daerah. Jika ditelaah lebih jauh sebenarnya karakteristik kedua jenis pajak ini merupakan pajak daerah, paling tidak jika dillihat dari sisi kepada siapa sebagian besar penerimaannya diserahkan. Namun demikian, kewenangan dalam hal penentuan basis pajak, pentarifan, pemberian hasil penerimaan (sharing tax) dan pengelolaan administrasinya masih berada pada Pemerintah Pusat. Dengan diberlakukan uu 28/2009, maka seluruh kewenangan dalam pemungutan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Dengan penyerahan ini, BPHTB dan PBB-P2 diharapkan akan menjadi salah satu sumber PAD yang cukup potensial bagi daerah, dibandingkan keseluruhan penerimaan pajak-pajak daerah yang selama ini telah ada. Beberapa dasar pemikiran dan alasan pokok pengalihan (devolution) BPHTB dan PBB-P2 menjadi pajak daerah, antara lain, pertama
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 163

berdasarkan teori, property tax lebih bersifat lokal (local origin), visibilitas, objek pajak tidak berpindah-pindah (immobile), dan terdapat hubungan erat antara pembayar pajak dan yang menikmati hasil pajak tersebut (the benefit tax-link principle). Kedua, pengalihan kedua jenis pajak tersebut diharapkan akan meningkatkan PAD dan sekaligus memperbaiki struktur APBD. Ketiga, untuk meningkatkan pelayanan masyarakat (public services), akuntabilitas, dan transparasi dalam pengelolaan BPHTB dan PBB-P2. Keempat, bahwa berdasarkan praktek di berbagai negara, BPHTB dan PBB-P2 termasuk dalam jenis local tax. Diserahkannya pemungutan BPHTB dan PBB-P2 kepada daerah, tidak hanya sekedar untuk meningkatkan kemampuan daerah dalam memenuhi kebutuhan pengeluarannya dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, namun juga untuk lebih mengefektifkan pengelolaan BPHTB dan PBBP2. Pemerintah Daerah tentunya lebih memahami karakteristik daerahnya dan mengetahui apa yang terbaik yang akan dilakukan bagi masyarakat setempat. singkatnya dengan dialihkannya BPHTB dan PBB-P2 menjadi pajak daerah diharapkan pelayanan kepada Wajib Pajak akan menjadi lebih baik, efektif, efisien dan akuntabel. Agar kualitas layanan kepada Wajib Pajak dan stakeholder tetap terjaga selama masa peralihan, maka proses dalam masa peralihan menjadi hal yang paling penting untuk dipikirkan dan direncanakan secara cermat. Kunci sukses pelaksanaan devolusi BPHTB dan PBB-P2 kepada Pemerintah Daerah, antara lain adalah: 1. Proses peralihan kewenangan pemungutan BPHTB dan PBB-P2 berjalan lancar (smooth) dengan harga (cost) yang minimal, baik untuk pihak yang mengalihkan maupun pihak yang menerima pengalihan;

164

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

2. stabilitas penerimaan BPHTB dan PBB-P2 bagi Pemerintah Daerah tetap terjaga dengan tingkat deviasi yang dapat ditekan seminimal mungkin sehingga daerah tidak banyak kehilangan penerimaan dengan adanya pengalihan tersebut; 3. Masyarakat sebagai Wajib Pajak tidak merasakan adanya perubahan pelayanan atau bahkan dapat merasakan adanya peningkatan yang signifikan dalam hal kualitas dan kecepatan pelayanan. A. PELAKSANAAN PENGALIHAN BPHTB sesuai dengan uu 28/2009, BPHTB secara efektif dialihkan menjadi pajak kabupaten/kota sejak tanggal 1 Januari 2011. sebagaimana halnya dengan pajak daerah lainnya, pemungutan BPHTB hanya dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan menerbitkan Perda. Perda tentang BPHTB merupakan dasar hukum yang mengatur kebijakan BPHTB di suatu daerah yang mencakup objek, subjek dan wajib pajak, tarif, dasar pengenaan, dan ketentuan lain yang diperlukan untuk pemungutan BPHTB sesuai dengan kondisi masyarakat dan karakteristik daerah masing-masing. selanjutnya, Pemerintah Daerah harus menyusun Peraturan Kepala Daerah sebagai pelaksanaan dari Perda untuk mengatur secara rinci tata cara pemungutan BPHTB, menyiapkan sumber daya manusia (sDM), melakukan kerjasama dengan pihak terkait, serta membuka rekening penerimaan BPHTB. Berbagai langkah telah dilakukan Pemerintah untuk mendorong daerah agar segera menetapkan Perda BPHTB. Dalam setiap kegiatan sosialisasi pengalihan BPHTB dan PBB-P2 dan kegiatan lain yang berhungan dengan Pemerintah Daerah, seperti konsultasi regional dan bimbingan teknis, Pemerintah selalu mendorong daerah untuk segera mempercepat penetapan Perda BPHTB serta mengingatkan implikasinya apabila daerah tidak menetapkan Perda BPHTB. Namun demikian, masih terdapat sejumlah
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 165

daerah yang belum menetapkan Perda BPHTB karena berbagai kendala dan pertimbangan. Kendala dan pertimbangan yang dihadapi tersebut, antara lain, daerah mengambil kebijakan untuk tidak menerbitkan Perda karena tidak adanya atau kecilnya potensi penerimaan BPHTB, proses pembahasan Raperda dengan DPRD yang berlarut-larut karena perbedaan kepentingan politik. selain itu, beberapa Kepala Daerah sedang tersangkut masalah hukum, persiapan pemilihan Kepala Daerah, serta masa transisi pergantian Kepala Daerah juga mengakibatkan proses penyusunan Perda BPHTB menjadi terhambat. Berdasarkan data sampai dengan 20 April 2012, terdapat 474 daerah atau 96,3 persen dari jumlah daerah yang telah menetapkan Perda BPHTB. Kelompok daerah ini memiliki potensi BPHTB sekitar 99,991 persen dari total penerimaan BPHTB tahun 2010. sementara itu, masih terdapat 18 daerah atau 3,7 persen dari jumlah daerah yang masih dalam proses menetapkan Perda BPHTB. Kelompok daerah ini memiliki potensi penerimaan BPHTB sekitar 0,009 persen dari total penerimaan BPHTB tahun 2010. Dengan demikian, 18 daerah yang belum menetapkan Perda tersebut dipastikan akan kehilangan potensi penerimaan BPHTB sekitar Rp733,8 juta. Data kesiapan daerah dalam memungut BPHTB selengkapnya dapat dilihat pada Tabel. 3.6 Tabel 3.6 Kesiapan Daerah dalam memungut BPHTB (Posisi: 20 April 2012)
Jumlah No. Kesiapan Daerah Daerah Penerimaan BPHTB 2010 (Rp) Prosentase (%) Jumlah Daerah Penerimaan BPHTB 2010

166

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

1.

Perda yang telah

474 18 0 492

8.017.682.511.780 733.888.146 0 8.018.416.399.926

96,3 3,7 0,0 100

99,991 0,009
0,0

siap 2. Raperda (dalam proses) 3. Belum menyusun Raperda Total

100

Sumber: Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak

Pelaksanaan pengalihan BPHTB dari pajak pusat menjadi pajak daerah telah berjalan lebih dari 1 (satu) tahun. untuk melihat sejauh mana efektivitas kebijakan pengalihan BPHTB seyogyanya dikaitkan dengan tujuan pengalihan BPHTB itu sendiri, yaitu untuk meningkatkan pendapatan daerah (local taxing power). Perlu diperhatikan bahwa salah satu prinsip perpajakan daerah yang baik adalah prinsip kecukupan dan elastisitas. sumber pendapatan harus menghasilkan pendapatan yang lebih besar dalam kaitannya dengan seluruh atau sebagian biaya pelayanan yang akan dikeluarkan. selain itu, dengan adanya pajak tersebut diharapkan mampu menghasilkan tambahan pendapatan agar dapat menutup tuntutan pelayanan yang lebih baik dari Pemerintah Daerah. salah satu indikator keberhasilan pengalihan BPHTB menjadi pajak daerah adalah kemampuan daerah untuk memungut seluruh potensi BPHTB di daerahnya. Karena potensi BPHTB sangat ditentukan oleh kegiatan ekonomi yang berlangsung di daerahnya, maka tolok ukur yang digunakan sebagai pembanding adalah realisasi penerimaan BPHTB pada tahun sebelum pengalihan. Berdasarkan data daerah (66 daerah) yang telah menyampaikan laporan realisasi penerimaan BPHTB tahun 2011, lebih dari 50 persen (36 daerah) mengalami kenaikan penerimaan. secara

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

167

keseluruhan, penerimaan BPHTB setelah dipungut daerah mengalami peningkatan sebesar 13,26 persen. Dari data tersebut diketahui bahwa kenaikan penerimaan BPHTB tahun 2011 Pemerintah Kabupaten ternyata lebih besar dari pada Pemerintah Kota, yaitu 27,35 persen berbanding 11,87 persen. Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Way Kanan merupakan 2 (dua) daerah yang mengalami peningkatan penerimaan BPHTB yang paling besar. sedangkan Kabupaten Kerinci dan Kabupaten sarolangun merupakan daerah yang mengalami penurunan penerimaan BPHTB paling besar. Data realisasi penerimaan BPHTB tahun 2011 selengkapnya dapat dilihat pada tabel.3.7.

Tabel 3.7 Realisasi Penerimaan BPHTB Tahun 2011 (Daerah Tertentu)
No
1.
1. 3. 2. 3. 4. 4. 5. 5. 6. 6. 7. 7. 8. 8. 9. 10. 9. 11. 10. 12. 13. 11. 14. 12. 15. 13. 16. 17. 14. 18. 15. 19. 20. 21. 168 22. 23. 24. 25. 26. 27.

Tabel 3.7 Daerah Nomor dan Penerimaan BPHTB Realisasi Penerimaan BPHTB Tahun 2011 (Daerah Tertentu) Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun Perda
Prop. DKI Jakarta Kota Palembang Kota Medan Kota semarang Kota Depok Kota Batam Kota Pekanbaru Kota Yogyakarta
Kota Bandar lampung

%
18.17 (77.22) 26.29 (0.04) (16.39) 18.70 68.55 49.19 34.02 (25.60) 33.18 7.61 40.49 16.90 14.85

Perda 18/2010 Perda 1/2011 Perda 1/2011 Perda 2/2011 Perda 07/2010 Perda 1/2011 Perda 4/2010 Perda 8/2010 Perda 1/2011 Perda 1/2011 Perda 10/2010 Perda 5/2010 Perda 1/2011 Perda 3/2011 Perda 12/2010

2,529,429,323,126 2,988,908,444,409 328,960,804,265 201,296,912,754 154,359,578,638 140,356,172,434 130,925,385,000 40,743,083,985 30,572,531,195 29,315,256,500 19,824,105,987 13,890,943,976 9,582,354,208 6,255,397,091 4,405,813,530 3,601,482,791 74,946,134,964 254,217,144,359 154,291,807,387 117,351,949,865 155,402,406,174 68,670,971,803 45,610,273,626 39,288,758,264 14,748,363,377 18,500,000,000 10,311,619,867 8,788,124,540 5,150,434,236 4,136,278,342

2.

Kota Padang Kota Jambi Kota Kendari Kota Tegal Kota Bukit Tinggi Kota Mojokerto

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 1. 18. 2. 19. 3. 20. 4. No 21. 5. 22. 6. 23. 7. 16. 24. 8. 17. 25. 9. 26. 10. 18. 27. 11. 19. 28. 12. 29. 13. 20. 30. 14. 21. 31. 15. 32. 22. 16. 33. 17. 23. 34. 18. 24. 35. 19. 36. 20. 25. 37. 21. 26. 38. 22. 39. 23. 27. 40. 24. 28. 41. 25. 29. 42. 26. 43. 27. 30. 44. 28. 31. 45. 29. 46. 30. 32. 47. 31. 33. 48. 32. 49. 34. 33. 50. 34. 35. 51. 35. 36. 52. 36. 53. 37. 37. 54. 38. 38. 55. 39. 56. 40. 39. 57. 41. 40. 58. 42. 41. 59. 43. 60. 44. 42. 61. 45. 43. 62. 46. 63. 47. 44. 64. 48. 45. 65. 66. 46.

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Tabel 3.7 Realisasi Penerimaan BPHTB Tahun 2011 (Daerah Tertentu)

Daerah
Kota Magelang Kab. Deli serdang Kab. sleman Kab. gresik Kab. Bandung Barat Kab. Cianjur Kab. sukoharjo Kab. Bantul Kab. Banyuasin Kab. Pati Kab. sumedang Kab. Karimun Kab. Kendal Kab. Bungo Kab. sarolangun Kab. Muaro Jambi Kab. lamongan Kab. Pekalongan Kab. Madiun Kab. Bengkalis Kab. Kulon Progo Kab. sorong Kab. Batanghari Kab. gunung Kidul Kab. Tanah laut Kab. Dharmasraya Kab. lahat Kab. sumbawa Kab. Bangka Tengah Kab. lombok utara Kab. Kutai Barat

Nomor dan Tahun Perda
Perda 9/2010 Perda 2/2011 Perda 14/2010 Perda 2/2011 Perda 1/2011 Perda 2/2011 Perda 10/2010 Perda 9/2010 Perda 8/2011 perda 1/2011 Perda 8/2010 Perda 19/2010 Perda 11/2011 Perda 6/2011 Perda 8/2010 Perda 2/2011 Perda 12/2010 Perda 10/2010 Perda 12/2010 Perda 2/2011 Perda 9/2010 Perda 5/2011 Perda 3/2011 Perda 15/2010 Perda 1/2011 Perda 13/2010 Perda 3/2011 Perda 33/2010 Perda 12/2011 Perda 3/2010 Perda 10/2010

Penerimaan BPHTB Tahun 2010
3,095,756,852 56,263,594,981 49,190,514,144 43,677,407,599 42,516,539,040 24,388,118,837 19,867,470,795 15,529,119,154 13,683,078,335 6,513,059,133 6,029,444,750 5,604,440,131 5,052,387,998 4,183,687,716 4,014,985,757 3,382,726,212 3,113,140,043 2,874,741,998 2,259,366,628

%
(6.67) (3.29) 0.48 67.20 34.87 0.89 (12.87) 0.95 (71.55) 92.59 (12.78) (44.22) (12.61) (72.70) (86.56) 28.58 (47.35) (69.23) (17.56)

Tahun 2011
2,889,205,213 54,413,522,668 49,427,864,663 73,028,382,302 57,342,473,655 24,606,285,868 17,311,116,917 15,676,962,927 3,893,457,217 12,543,202,742 5,258,594,026 3,126,397,673 4,415,114,450 1,142,300,813 539,450,321 4,349,381,675 1,638,994,779 884,459,234 1,862,588,950

2,063,184,826 13,052,021,575 Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2012 532.62 1 1,961,072,095 1,681,820,836 (14.24) 1,484,577,100 1,460,276,110 1,336,683,439 1,304,269,364 1,294,246,978 1,159,500,107 1,090,812,116 963,156,929 596,388,324 2,920,598,940 2,014,092,497 812,205,285 1,382,089,562 425,165,641 557,206,046 472,611,868 1,040,475,776 3,962,154,890 96.73 37.93 (39.24) 5.97 (67.15) (51.94) (56.67) 8.03 564.36

521,920,000 8,110,587,556 1,453.99 Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2012 1
169

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

49. 50. 51. 52. 53. 54. Tabel 3.7 55. 56. Realisasi Penerimaan BPHTB Tahun 2011 (Daerah Tertentu) 57. 58. No Daerah Nomor dan Penerimaan BPHTB % 59. No Daerah Nomor dan Penerimaan BPHTB % 60. Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun Perda 61. 1. Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun Perda 62. 2. 47. Kab. Hulu sungai Perda 3/2011 495,557,887 5,160,680,027 941.39 50. Kab. Timor Tengah Perda 7/2011 240,589,947 65,755,100 (72.67) 63. selatan 3. selatan 64. 4. 48. Kab. Barito Perda 1/2011 457,254,128 309,079,700 (99.67) 65. 5. 51. Kab. Kerinciutara Perda 17/2011 150,953,884 500,000 (32.41) 66. Kab. Tanjung Jabung Perda 6/2011 6. 49. 443,549,675 3,727,334,328 (49.61) 52. Kab. Bangka selatan Perda 2/2011 119,387,000 60,164,935 740.34 7. Barat 8. Sumber: Direktorat JenderalPerda 7/2011 Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak (72.67) Perimbangan 9. 50. Kab. Timor Tengah 240,589,947 65,755,100 10. selatan 11. 51. Kab. Kerinci Perda 17/2011 150,953,884 500,000 (99.67) 12. 52. Kab. Bangka selatan Perda 2/2011 119,387,000 60,164,935 (49.61) 13. B. PELAKSANAAN PENGALIHAN PBB-P2 14. 15. Sumber: Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak sesuai dengan uu28/2009, PBB-P2 dialihkan secara bertahap sampai 16. 17. dengan 31 Desember 2013. Pengalihan kewenangan tersebut meliputi 18. 19. B. PELAKSANAAN PENGALIHAN PBB-P2 seluruh proses administrasi pemungutan pajak mulai dari pendataan sampai 20. 21. dengan dengan uu28/2009, PBB-P2 dialihkanpajak. Pengalihan tersebut 22. sesuai pembayaran dan pengajuan keberatan secara bertahap sampai 23. menuntut pemerintah daerah untuk mempersiapkan langkah-langkah yang 24. dengan 31 Desember 2013. Pengalihan kewenangan tersebut meliputi 25. diperlukan sehingga dapatpemungutan pajak mulai dari pendataan sampai 26. seluruh proses administrasi meningkatkan penerimaan pajak daerahnya. 27. Pengalihan PBB-P2 dan pengajuan keberatan pajak. Pengalihan tersebut 28. dengan pembayaran didesain tidak dilakukan serentak pada seluruh 29. Pemerintah Daerah. Hal ini dilakukan supaya proses pengalihan tersebut menuntut pemerintah daerah untuk mempersiapkan langkah-langkah yang 30. 31. benar-benar dipersiapkan oleh Pemerintah Daerah, baik dari sisi peraturan diperlukan sehingga dapat meningkatkan penerimaan pajak daerahnya. 32. 33. pelaksanaan PBB-P2 didesain tidak hukum, perangkat lunak danseluruh Pengalihan yang menjadi payung dilakukan serentak pada keras, 34. 35. dan sumber Daerah. Hal iniyang akan mengelolanya, sehingga pengalihan Pemerintah daya manusia dilakukan supaya proses pengalihan tersebut 36. 37. PBB-P2 tidak menimbulkan permasalahanDaerah, baik membebani wajib benar-benar dipersiapkan oleh Pemerintah baru yang dari sisi peraturan 38. 39. pajak dan Pemerintah Daerah. pelaksanaan yang menjadi payung hukum, perangkat lunak dan keras, 40. 41. dan sumber daya manusia yang akan mengelolanya, sehingga pengalihan Dalam rangka persiapan menerima pengalihan kewenangan 2012 42. Pelengkap Buku Pegangan Tahun memungut 2 43. PBB-P2 tidak menimbulkan permasalahan baru yang membebani wajib PBB-P2, sesuai dengan Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri 44. 45. pajak dan Pemerintah Daerah. Dalam Negeri Nomor: 213/PMK.07/2010 dan Nomor: 58 Tahun 2010 46. 47. tentang rangka persiapan menerima pengalihan kewenangan memungut Dalam Tahapan Persiapan Pengalihan PBB-P2 sebagai Pajak Daerah, 48.

sesuai amanat Pasal 182 angka 1 Bersama Menteri Keuangan dan Menteri PBB-P2, sesuai dengan Peraturan uu Nomor 28 Tahun 2009, Pemerintah
Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2012 1
170 170

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Dalam Negeri Nomor: 213/PMK.07/2010 dan Nomor: 58 Tahun 2010 tentang Tahapan Persiapan Pengalihan PBB-P2 sebagai Pajak Daerah, sesuai amanat Pasal 182 angka 1 uu Nomor 28 Tahun 2009, Pemerintah Daerah mempunyai tanggung jawab untuk mempersiapkan beberapa hal, yaitu Perda tentang PBB-P2, Peraturan Kepala Daerah mengenai Standard Operating Procedure (soP) pemungutan PBB-P2, sarana dan prasarana, kerjasama dengan pihak terkait, dan pembukaan rekening penerimaan PBB-P2. langkah persiapan tersebut perlu dilakukan sedini mungkin oleh Pemerintah Daerah. Berdasarkan data sampai dengan 20 April 2012, terdapat 188 daerah atau 38,2 persen dari jumlah daerah yang telah menetapkan Perda PBBP2. Kelompok daerah ini memiliki potensi PBB-P2 sekitar 78,3 persen dari total penerimaan PBB-P2 tahun 2010. sementara itu, terdapat 26 daerah atau 5,3 persen dari jumlah daerah yang masih dalam proses menetapkan Perda PBB-P2. Kelompok daerah ini memiliki potensi penerimaan PBB-P2 sekitar 4,6 persen dari total penerimaan PBB-P2 tahun 2010. sementara itu, terdapat 278 daerah atau 56,5 persen dari jumlah daerah yang belum menyusun Perda PBB-P2. Kelompok ini memiliki potensi penerimaan PBBP2 sekitar 20,1 persen dari total penerimaan tahun 2010. Dari 188 daerah yang telah menetapkan Perda PBB-P2, terdapat 1 daerah, yaitu Kota surabaya yang telah memungut PBB-P2 tahun 2011 dan 17 daerah mulai memungut PBB-P2 tahun 2012. sementara itu, 52 daerah merencanakan akan memungut PBB-P2 pada tahun 2013 dan sejumlah 118 daerah akan memungut pada tahun 2014. Data kesiapan daerah dalam memungut PBB-P2 selengkapnya dapat dilihat pada Tabel. 3.8

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

171

Tabel 3.8 Kesiapan Daerah dalam memungut PBB-P2 (Posisi: 20 April 2012)
Jumlah No. 1. 2. 3. Kesiapan Daerah Daerah Penerimaan PBBP2 2010 (Rp) Prosentase (%) Jumlah Daerah Penerimaan PBB-P2 2010

Perda yang telah siap Raperda (dalam proses) Belum menyusun Raperda

188 5.718.348.452.823 26 350.870.824.187 278 1.529.102.193.372 492 7.598.321.470.382

38,2 5,3 56,5 100

75,3 4,6
20,1

Total

100

Sumber: Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak

Dalam rangka mempercepat pengalihan PBB-P2 dan sekaligus sebagai bentuk tanggung jawab moral, pada tahun 2011 Pemerintah bersama dengan DPR-RI telah melakukan kegiatan sosialisasi di 160 Pemerintah Kabupaten/Kota. Kegiatan sosialisasi ini akan terus dilakukan kepada seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota sampai dengan tahun 2013. Pada tahun 2012, kegiatan sosialisasi akan dilaksanakan di 150 Pemerintah Kabupaten/Kota. sosialisasi tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan awareness dan memotivasi daerah agar segera menyiapkan fasilitas dan infrastruktur yang diperlukan untuk menerima pengalihan pemungutan PBB-P2. Disisi lain, sosialisasi ini juga sebagai public announcement, khususnya kepada masyarakat dan aparat yang akan menangani
172

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

pemungutan terkait dengan kebijkan pengalihan PBB-P2 sebagai pajak daerah. Pelaksanaan sosialisasi ini melibatkan Komisi XI DPR-RI, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri. Materi yang disampaikan meliputi, filosofi pengalihan, kebijakan pengalihan, teknis pemungutan PBB-P2, serta struktur organisasi dan tata kerja Pemerintah Daerah terkait dengan persiapan pengalihan. Peserta sosialisasi meliputi, unsur DPRD Kabupaten/Kota setempat, sKPD terkait, Camat, Kepala Desa/ lurah, sekretaris Desa/lurah, Kantor Pertanahan (BPN), KPP Pratama, Notaris/PPAT, akademisi, dan tokoh masyarakat. selanjutnya sebagai upaya Pemerintah mendukung suksesnya pengalihan PBB-P2, khususnya terkait dengan penyiapan sumber daya manusia, sekolah Tinggi Akuntansi Negara, bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, telah membuka program D1 Keuangan spesialisasi Pajak Konsentrasi Penilai PBB-P2 dan D1 Keuangan spesialisasi Pajak Konsentrasi operator console (oC). Pemerintah Daerah dapat mengirimkan beberapa pegawai yang akan menangani pemungutan PBB-P2 untuk dididik dan dipersiapkan agar pada saatnya nanti bisa mengelola PBB-P2 dengan baik.

3.2.4. Penambahan Jenis Retribusi Daerah Kebijakan lainnya yang diatur dalam uu 28/2009 adalah perubahan kewenangan penetapan pajak daerah dan retribusi daerah dari open-list system menjadi closed-list system. salah satu pertimbangan penerapan closed-list system adalah untuk memberikan kepastian bagi masyarakat

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

173

dan dunia usaha mengenai jenis pungutan daerah yang wajib dibayar, serta meningkatkan efisiensi pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah. Dengan closed-list system, pemerintah daerah hanya dapat memungut jenis pajak daerah yang tercantum dalam undang-undang. untuk retribusi daerah, dengan peraturan pemerintah masih dibuka kemungkinan dan peluang untuk dapat menambah jenis retribusi daerah selain yang telah ditetapkan sepanjang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam undang-undang. Dengan kebijakan closed-list system tersebut, Pemerintah Daerah diharapkan akan lebih fokus dalam mengelola pajak daerah dan retribusi daerah yang ditetapkan dalam uu. salah satu maksud dibukanya peluang untuk menambah jenis retribusi daerah adalah untuk mengantisipasi penyerahan fungsi pelayanan dan perizinan dari Pemerintah kepada daerah. selain itu, peluang untuk menambah jenis retribusi daerah ini juga dapat dijadikan sebagai instrumen kebijakan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi Pemerintah. salah satu permasalahan yang menjadi isu nasional adalah kemacetan lalu lintas di berbagai kota besar. Kemacetan lalu lintas terutama di kota-kota besar bukan merupakan masalah yang berdiri sendiri. Pertumbuhan kendaraan bermotor merupakan dampak langsung dari kemajuan ekonomi masyarakat. sejalan dengan kemajuan dan pertumbuhan ekonomi tersebut, kepemilikan kendaraan pribadi terus meningkat. Pada kondisi ini, kemudian jumlah kendaraan yang beredar di jalan makin bertambah, sementara volume jalan tidak tumbuh secara signifikan sehingga mengakibatkan tingkat kemacetan yang semakin tinggi. Kemacetan yang terjadi secara langsung akan menyebabkan dampak negatif lainnya, yaitu meningkatnya tingkat pencemaran/polusi udara dan

174

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

suara, kerugian ekonomi, gangguan kesehatan karena kualitas udara yang semakin buruk, pemborosan konsumsi BBM dan lain sebagainya. Pemecahan masalah kemacetan dengan menambah kapasitas jalan atau membangun jalan-jalan baru di kota-kota besar tidak mudah untuk dilakukan, karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan lahan yang akan digunakan makin terbatas. salah satu instrumen yang akan diaplikasikan guna mengatasi permasalahan kemacetan adalah dengan menerapkan Electronic Road Pricing (ERP). Pengenaan ERP diharapkan akan dapat mengurangi kemacetan lalu lintas dan hasil penerimaannya dapat di-earmark untuk memperbaiki infrastruktur serta sistem angkutan massal. sejalan dengan pemberian kewenangan untuk menetapkan jenis retribusi daerah lain, saat ini Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Penambahan Jenis Retribusi Daerah sedang dalam proses penetapan. RPP tersebut akan menetapkan 2 (dua) jenis retribusi daerah baru, salah satunya adalah Retribusi Pengendalian lalu lintas. Jenis retribusi daerah lainnya yang akan ditetapkan adalah Retribusi Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tanaga Kerja Asing (IMTA). sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, penerbitan perpanjangan IMTA merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/ Kota sesuai dengan cakupan wilayah kerja tenaga kerja. Namun demikian, pada prakteknya pungutan atas penerbitan perpanjangan IMTA dilakukan oleh Pemerintah Pusat (PNBP). Ke depan, dalam rangka menata kembali fungsi dan kewenangan yang lebih akuntabel, Pemerintah Pusat tidak lagi memungut PNBP atas perpanjangan IMTA. sejalan dengan kebijakan

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

175

tersebut, kewenangan pemungutan perpanjangan IMTA akan diserahkan kepada daerah dan ditetapkan menjadi salah satu jenis retribusi daerah.

3.3. 3.3.1

PINJAMAN, HIBAH, DAN PEMBIAYAAN PENATAAN DAERAH Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah

Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan pinjaman daerah serta menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan dalam rangka pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, dilakukan revisi Peraturan Pemerintah No.54/2005 tentang Pinjaman Daerah menjadi Peraturan Pemerintah No. 30/ 2011 tentang Pinjaman Daerah. Revisi Peraturan Pemerintah sejalan dengan dilakukannya revisi Peraturan Pemerintah ini dilakukan No.2/2006

tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri menjadi Peraturan Pemerintah No.10/2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman luar Negeri dan Penerimaan Hibah. Beberapa pokok perubahan yang dimuat dalam Peraturan Pemerintah No.30/2011 tentang Pinjaman Daerah antara lain : 1. Peningkatan fleksibilitas penggunaan pinjaman daerah. sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 30/2011 tentang Pinjaman Daerah, jenis dan penggunaan pinjaman daerah adalah sebagai berikut: a. Pinjaman Jangka Pendek
176 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Pinjaman jangka pendek merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) tahun anggaran. Kewajiban pembayaran kembali Pinjaman Jangka Pendek yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan/atau kewajiban seluruhnya harus dilunasi dalam tahun anggaran berkenaan. Pinjaman Jangka Pendek digunakan hanya untuk menutup kekurangan arus kas. b. Pinjaman Jangka Menengah Pinjaman Jangka Menengah merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun anggaran. Kewajiban pembayaran kembali Pinjaman Jangka Menengah meliputi pokok pinjaman, bunga, dan/atau kewajiban lainnya seluruhnya harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi sisa masa jabatan gubernur, bupati atau walikota yang bersangkutan. Pinjaman Jangka Menengah digunakan untuk membiayai pelayanan publik yang tidak menghasilkan penerimaan. c. Pinjaman Jangka Panjang Pinjaman Jangka Panjang merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun anggaran. Kewajiban pembayaran kembali Pinjaman Jangka Panjang meliputi pokok pinjaman, bunga dan/atau kewajiban lain seluruhnya harus dilunasi pada tahun anggaran berikutnya sesuai dengan persyaratan perjanjian pinjaman yang bersangkutan. Peningkatan pengaturan fleksibilitas bahwa penggunaan jangka pinjaman panjang daerah digunakan melalui untuk

pinjaman

mendanai kegiatan investasi prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan pelayanan publik yang:

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

177

menghasilkan penerimaan langsung berupa pendapatan bagi APBD yang berkaitan dengan pembangunan prasarana dan sarana tersebut;

menghasilkan penerimaan tidak langsung berupa penghematan terhadap belanja APBD yang seharusnya dikeluarkan apabila kegiatan tersebut tidak dilaksanakan; dan/atau

memberikan manfaat ekonomi dan sosial.

Namun demikian, khusus untuk pinjaman jangka panjang berupa obligasi daerah dibatasi hanya untuk membiayai kegiatan investasi prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan pelayanan publik yang menghasilkan penerimaan bagi APBD yang diperoleh dari pungutan atas penggunaan prasarana dan/atau sarana tersebut. 2. Penambahan prinsip umum pinjaman daerah. Dalam Peraturan Pemerintah No.54/2005 tentang Pinjaman Daerah, prinsip umum pinjaman daerah belum diatur. Dalam Peraturan Pemerintah No.30/2011 tentang Pinjaman Daerah, terdapat prinsip umum pinjaman daerah seperti: a. penegasan peran Menteri Keuangan selaku Bendaharawan umum Negara (BuN) yang mempunyai kewenangan untuk memberikan pinjaman Pemerintah kepada Pemerintah Daerah; b. penegasan bahwa Pemerintah Daerah dapat melakukan pinjaman dan pinjaman tersebut harus merupakan inisiatif Pemerintah Daerah dalam rangka melaksanakan kewenangan Pemerintah Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;

178

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

c.

pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah diberikan dalam kerangka hubungan keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah; dan

d. Pemerintah Daerah dapat meneruskan pinjaman daerah sebagai pinjaman, hibah, dan/atau penyertaan modal kepada Badan usaha Milik Daerah dalam kerangka hubungan keuangan antara pemerintahan daerah dan Badan usaha Milik Daerah. 3. Penambahan sumber pinjaman yang bersumber dari Pemerintah. Pinjaman daerah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah No.30/2011 tentang Pinjaman Daerah dapat bersumber dari: a. Pemerintah; b. Pemerintah Daerah lain; c. lembaga keuangan bank;

d. lembaga keuangan bukan bank; dan e. masyarakat. sejalan dengan Peraturan Pemerintah No.1/2008 tentang Investasi Pemerintah telah dibentuk Pusat Investasi Pemerintah. Dalam perkembangannya Pusat Investasi Pemerintah dapat memberikan pinjaman kepada Pemerintah Daerah. untuk itu, dalam Peraturan Pemerintah No. 30/2011, diatur bahwa pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah berasal dari APBN termasuk dana investasi Pemerintah yang dilaksanakan melalui Pusat Investasi Pemerintah, penerusan Pinjaman Dalam Negeri, dan/atau penerusan Pinjaman luar Negeri. 4. Peningkatan reliabilitas perhitungan rasio kemampuan keuangan daerah.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 179

Dalam melakukan pinjaman daerah, Pemerintah Daerah wajib memenuhi persyaratan: a. Jumlah sisa pinjaman daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya. b. Memenuhi ketentuan rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman (Debt Service Coverage Ratio/DSCR) yang ditetapkan Pemerintah yaitu paling sedikit 2,5 (dua koma lima). Persyaratan lainnya yang ditetapkan oleh calon pemberi pinjaman. c. Dalam hal pinjaman tunggakan daerah atas diajukan kepada Pemerintah, yang

Pemerintah Daerah juga wajib memenuhi persyaratan tidak mempunyai pengembalian pinjaman bersumber dari Pemerintah. d. untuk pinjaman jangka menengah dan pinjaman jangka panjang wajib mendapatkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. semula perhitungan DsCR menggunakan proyeksi PAD, DAu, DBH, BW, Pokok Pinjaman selama jangka waktu pinjaman. Hal ini menyebabkan perhitungan DsCR sulit untuk dijadikan landasan mengingat proyeksi tersebut sangat subyektif dan penuh justifikasi yang sulit dicari dasar pembenarannya. untuk itu dalam Peraturan Pemerintah No.30/2011, terdapat perubahan cara penghitungan DsCR yang semula berdasarkan angka proyeksi selama masa pinjaman menjadi rata-rata realisasi per tahun selama 3 (tiga) tahun terakhir.

180

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Penghitungan sebagai berikut: DSCR = Keterangan: DsCR PAD DAu DBHDR BW : : : : :

Debt Service Coverage Ratio/DSCR dengan rumus

{PAD + DAU +(DBH-DBHDR)}–BW Pokok pinjaman + Bunga + BL

≥ 2,5

Rasio kemampuan membayar kembali pinjaman daerah yang bersangkutan; Pendapatan Asli Daerah; Dana Alokasi umum; Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi; Belanja Wajib, yaitu belanja pegawai dan belanja DPRD dalam tahun anggaran bersangkutan; Angsuran Pokok Pinjaman; Beban Bunga pinjaman; Biaya lain (misal biaya administrasi, komitmen, provisi, asuransi, dan denda yang terkait dengan Pinjaman Daerah.

Pokok pinjaman B Bl

: : :

DsCR Pemda X

≥ :

X Rasio kemampuan membayar kembali pinjaman (DsCR) yang ditetapkan Pemerintah

5. optimalisasi mekanisme penarikan dana pinjaman daerah. Cakupan penarikan dana pinjaman dioptimalkan melalui pembayaran langsung, rekening khusus, pemindahbukuan ke Rekening Kas umum Daerah, Letter of Credit (l/C), dan pembiayaan pendahuluan.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

181

3.3.2.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 127/PMK.07/2011 Tentang Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah Dan Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2012

Dalam rangka pengendalian batas maksimal defisit dan pinjaman Pemerintah Daerah, Menteri Keuangan setiap bulan Agustus menetapkan Peraturan Menteri Keuangan mengenai batas maksimal defisit APBD dan batas maksimal pinjaman daerah. untuk tahun anggaran 2012, telah ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan No. 127/PMK.07/2011 tentang Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2012. Dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut diatur hal-hal sebagai: 1. Batas Maksimal Kumulatif Defisit APBD untuk Tahun Anggaran 2012 ditetapkan sebesar 0,5% (nol koma lima persen) dari proyeksi PDB Tahun Anggaran 2012. 2. Batas Maksimal Defisit APBD Tahun Anggaran 2012 untuk masingmasing daerah ditetapkan sebesar 6% (enam persen) dari perkiraan Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2012. 3. Batas maksimal kumulatif pinjaman daerah yang masih menjadi kewajiban daerah sampai dengan Tahun Anggaran 2012 ditetapkan sebesar 0,35% (nol koma tiga puluh lima persen) dari proyeksi PDB Tahun Anggaran 2012. 4. Pinjaman daerah tersebut termasuk pinjaman daerah yang diteruskan menjadi pinjaman, hibah, dan/atau penyertaan modal kepada Badan usaha Milik Daerah.
182

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

5. Pemerintah Daerah wajib melaporkan rencana pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD kepada Menteri Keuangan sebelum APBD ditetapkan. 6. Dalam hal defisit APBD akan dibiayai dari Pinjaman Daerah yang bersumber dari penerusan pinjaman luar negeri, Pemerintah Daerah lain, lembaga keuangan bank, dan lembaga keuangan bukan bank dengan jumlah Pinjaman Daerah melampaui 6% (enam persen) dari perkiraan Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2012, maka defisit APBD tersebut harus mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan. 7. Menteri Keuangan dalam memberikan persetujuan terlebih dahulu meminta pertimbangan kepada Menteri Dalam Negeri. 8. Persetujuan atau penolakan Menteri Keuangan terhadap pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD yang dibiayai dari Pinjaman Daerah menjadi dokumen yang dipersyaratkan dalam proses evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD atau evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Perubahan. Tata cara pengajuan permohonan persetujuan pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: 1. gubernur, bupati, atau walikota mengajukan permohonan persetujuan atas pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dan Menteri Dalam Negeri c.q. Direktur Jenderal Keuangan Daerah. 2. surat permohonan persetujuan yang diajukan oleh bupati atau walikota ditembuskan kepada gubernur. 3. Pengajuan permohonan persetujuan sebagaimana dimaksud dilakukan sekurang-kurangnya 1 (satu) bulan sebelum Rancangan Peraturan

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

183

Daerah tentang APBD atau Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD Perubahan dikirimkan untuk dievaluasi. 4. surat permohonan persetujuan sebagaimana tersebut di atas memuat alasan melampaui Batas Maksimal Defisit APBD dan rencana penggunaan pinjaman, dengan dilampiri dokumen: a. laporan Keuangan Pemerintah Daerah selama 3 (tiga) tahun terakhir; b. Rancangan APBD atau Rancangan APBD Perubahan tahun berkenaan; c. Perhitungan sisa Pinjaman Daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya; dan d. Perhitungan tentang rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan pinjaman. 5. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan meminta pertimbangan kepada Menteri Dalam Negeri c.q. Direktur Jenderal Keuangan Daerah. 6. Direktur Jenderal Keuangan Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri memberikan pertimbangan dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja setelah diterimanya surat permintaan pertimbangan dari Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan. 7. Dalam hal Direktur Jenderal Keuangan Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri tidak menyampaikan pertimbangan dalam jangka waktu yang ditetapkan, Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan dapat memberikan persetujuan atau penolakan atas pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD.
184

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

8. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan wajib memberikan persetujuan atau penolakan paling lama 20 (dua puluh) hari kerja setelah surat permohonan diterima dari Pemerintah Daerah beserta dokumen kelengkapannya.

3.3.3.

Peraturan Pemerintah Kepada Daerah

Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Hibah

Hibah Daerah adalah pemberian dengan pengalihan hak atas sesuatu dari Pemerintah atau pihak lain kepada Pemerintah Daerah atau sebaliknya yang secara spesifik telah ditetapkan peruntukkannya dan dilakukan melalui perjanjian. Dasar hukum yang mengatur mengenai pemberian dan penggunaan hibah kepada Pemerintah Daerah tersebut telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57/2005 tentang Hibah Kepada Daerah. sebagai pelaksanaannya, telah diterbitkan pula Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.07/2008 Tentang Hibah Daerah dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/PMK.07/2008 Tentang Tata Cara Penyaluran Hibah Kepada Pemerintah Daerah. sebagai upaya peningkatan akuntabilitas dan transparansi pelaksanaan hibah daerah, pada tahun 2012 telah diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 2/2012 tentang Hibah Daerah sebagai pengganti Peraturan Pemerintah No. 57/2005. Beberapa ketentuan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 2/2012 antara lain: 1. Penegasan bahwa hibah dari pemerintah kepada Pemerintah Daerah atau sebaliknya dilaksanakan melalui mekanisme APBN dan APBD. 2. Pengaturan mengenai perencanaan hibah, baik yang bersumber dari luar negeri maupun penerimaan dalam negeri yang diberikan

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

185

berdasarkan kriteria tertentu dan kewenangan pihak-pihak yang terkait pemberian atau penerusan hibah. 3. Pengaturan terhadap variasi metode penyaluran hibah dalam bentuk uang untuk Pemerintah Daerah sejalan dengan Peraturan Pemerintah No. 10/2011 yang mencakup pemindahbukuan dari Rekening Kas umum Negara ke Rekening Kas umum Daerah, pembayaran langsung, rekening khusus, Letter of Credit (l/C), dan pembiayaan pendahuluan. 4. Pengaturan bahwa penyaluran hibah kepada Pemerintah Daerah dapat disalurkan secara bertahap sesuai dengan capaian kinerja dan dilakukan setelah mendapat pertimbangan terlebih dahulu dari kementerian negara/lembaga pemerintah non kementerian. 5. Penerapan asas fleksibilitas dalam penerimaan, penganggaran, dan pelaksanaan hibah kepada daerah terutama yang bersumber dari hibah luar negeri. Perubahan peraturan sebagaimana dimaksud di atas merupakan

respon akomodatif atas permasalahan pelaksanaan hibah daerah dan perubahan peraturan terkait pelaksanaan hibah. Perubahan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat mekanisme hibah kepada daerah dalam upaya mendorong peningkatan kualitas belanja publik. Karakteristik ini didukung oleh 2 (dua) hal yang menjadi pilar dalam praktek dan termuat dalam peraturan pelaksanaan hibah kepada daerah. Pertama, penguatan hubungan antar lembaga berbasis pada penegasan fungsi dalam penyaluran dana hibah ke daerah, dimana Pemerintah Daerah bertindak selaku implementing agency, kementerian/lembaga selaku executing agency, dan Kementerian Keuangan selaku bendahara; Kedua, penerapan pola penyaluran dana hibah berbasis kinerja (performance-based grant),

186

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

dimana transfer dana hanya dimungkinkan jika Pemerintah Daerah sudah memenuhi persyaratan tertentu yang telah ditetapkan. Gambar 3.17 Pola Hubungan Fungsi Antar Lembaga Dalam Hibah Daerah

Karakteristik ini didesain dengan sistem yang fleksibel namun terkontrol. Perjanjian hibah menjamin adanya komitmen bersama untuk mencapai tujuan/output dari pelaksanaan dana hibah. Mekanisme penyaluran yang bersifat performance-based menjamin bahwa setiap realisasi dana hibah akan menghasilkan target yang telah ditetapkan. Fungsi kementerian/ lembaga selaku verifikator teknis akan memperkuat kualitas output yang dihasilkan. selain itu, salinan perjanjian yang juga disampaikan kepada pemeriksa akan menjamin akuntabilitas pelaksanaan hibah. Ditambah dengan sistem monitoring yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak, maka pendanaan dengan mekanisme hibah diharapkan menjadi suatu model pendanaan yang meningkatkan pemenuhan atas asas akuntabilitas, transparansi, dan efisiensi dalam kerangka hubungan keuangan pusat dan daerah.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

187

3.3.4.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 162/PMK.07/2011 Tentang Tata Cara Pemotongan DAU dan/atau DBH Bagi Daerah Induk/ Provinsi Yang Tidak Memenuhi Kewajiban Hibah/Bantuan Pendanaan Kepada Daerah Otonom Baru (DOB)

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 162/PMK.07/2011 ditetapkan sebagai pelaksanaan amanat Pasal 24 Peraturan Pemerintah No. 78/2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan Penggabungan Daerah. Dalam Peraturan Pemerintah tersebut diatur bahwa Pemerintah Pusat melakukan fasilitasi terhadap Daerah otonom Baru (DoB) berupa pemberian hibah dari Daerah Induk dan pemberian bantuan dari Provinsi. Pemerintah mengenakan sanksi Pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil Bagi Daerah Induk/Provinsi yang tidak melaksanakan kewajiban hibah/ bantuan pendanaan kepada DoB, dalam hal undang-undang mengenai pembentukan DoB mengamanatkan. Adapun ketentuan pemotongan DAu dan/atau DBH terhadap Daerah Induk yang tidak memenuhi kewajiban hibah/bantuan pendanaan kepada DoB antara lain: 1. Tertera dalam amanat undang-undang pembentukan DoB. 2. Jumlah kewajiban diperhitungkan yang belum terealisasi (belum terbayarkan). 3. Apabila DAu tidak mencukupi, maka pemotongan dilakukan terhadap DBH. 4. Pemotongan DAu dan/atau DBH pertahun maksimal sebesar 10% (sepuluh per seratus) dari jumlah DAu dan/atau DBH yang akan disalurkan pada tahun anggaran berkenaan.

188

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Perhitungan persentase pemotongan harus memperhatikan kapasitas fiskal daerah secara berkala artinya seberapa kemampuan keuangan daerah induk/provinsi yang bersangkutan dalam memenuhi kewajiban hibah/bantuan pendanaannya. 5. Memperhatikan pertimbangan Menteri Dalam Negeri berapa tahap (per periode transfer) daerah induk/provinsi dilakukan pemotongan DAu/DBH. Mekanisme Pemotongan DAu dan/atau DBH Bagi Daerah Induk/ Provinsi Yang Tidak Memenuhi Kewajiban Hibah Bantuan Pendanaan kepada Daerah otonom Baru (DoB) adalah sebagai berikut: Gambar 3.18 Mekanisme Pemotongan DAU dan/atau DBH Bagi Daerah Induk/ Provinsi Yang Tidak Memenuhi Kewajiban Hibah Bantuan Pendanaan Kepada Daerah Otonom Baru (DOB)
Mekanisme Pemotongan DAU dan/atau DBH terkait Kewajiban Hibah/Bantuan Pendanaan Daerah Induk/Provinsi kepada Daerah Otonom Baru
DOB
Surat Permintaan Penyelesaian Kewajiban Hibah dan/atau Bantuan Pendanaan DOB

DJPK (PA/KPA Transfer ke Daerah) Dit. PKD Dit. Daper
Tembusan

Kemendagri
Surat Permintaan Penyelesaian Kewajiban Hibah dan/atau Bantuan Pendanaan DOB

(KPPN Jakarta II)

DJPB

Daerah Induk

(1) Surat Permintaan Penyelesaian Kewajiban Hibah dan/atau Bantuan Pendanaan DOB (2)

Surat Permintaan Pertimbangan

Surat Ketetapan Sanksi Pemotongan (SKSP) DAU/DBH
(4) SKSP DAU/DBH antara lain berisi:  Nama Daerah induk/Provinsi  Rek.Daerah Induk/Provinsi  Nominal yag dipotong

Surat Pertimbangan Penyelesaian Kewajiban Hibah / Bantuan Pendanaan (3)

Surat Pertimbangan a.l. berisi:  Nama Daerah induk/Provinsi  Jumlah tunggakan kewajiban Persetujuan/penolakan potong DAU/DBH

SPP & SPM DAU/DBH

(5)

Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) Pemotongan DAU/DBH (6)

LRA DAU/DBH Bruto
Pemerintah tidak melakukan akuntansi terhadap pemotongan tersebut
Mengkredit Rekening DOB Mendebit rekening DAU/DBH Induk

(Tambahan Potongan DAU)

(DAU/DBH Bruto) +

(7)

(8)

– (Pemotongan Untk DOB)

(DAU/DBH Bruto)

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

189

1. DoB menyampaikan surat Permintaan Penyelesaian Kewajiban (sPPK) Hibah/Bantuan Pendanaan kepada Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dengan tembusan Menteri Dalam Negeri c.q. Direktur Jenderal otonomi Daerah. 2. Berdasarkan surat Permintaan tersebut, Menteri Keuangan

menyampaikan surat Permintaan Pertimbangan Penyelesaian (sPPP) kewajiban hibah/bantuan pendanaan kepada Menteri Dalam Negeri cq. Direktur Jenderal otonomi Daerah. 3. Menteri Dalam Negeri menyampaikan pertimbangan setidaknya mencakup jumlah tunggakan dan persetujuan pemotongan DAu/DBH dalam kurun waktu 15 (lima belas) hari kerja sejak diterimanya surat permintaan pertimbangan dari Menteri Keuangan. 4. Pertimbangan Menteri Dalam Negeri ditetapkan setelah melakukan fasilitasi penyelesaian antara daerah induk/provinsi dan daerah otonom baru. 5. Berdasarkan surat pertimbangan Menteri Dalam Negeri, Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan cq. Direktur Pembiayaan dan Kapasitas Daerah melakukan perhitungan besaran pemotongan DAu/ DBH dan membuat surat Ketetapan Pemotongan DAu/DBH (sKP DAu/ DBH) yang ditandatangani Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan. 6. Berdasarkan sKP DAu/DBH, maka PA/KPA Transfer mencantumkan pemotongan DAu/DBH pada lampiran surat Permintaan Pembayaran (sPP) DAu/DBH daerah induk/provinsi; 7. PA/KPA Transfer ke Daerah melaksanakan pemotongan DAu/DBH dengan mencantumkan sanksi pemotongan DAu/DBH pada lampiran surat Perintah Membayar (sPM) DAu/DBH dan disampaikan ke KPPN Jakarta II.

190

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

8. PA/KPA Transfer ke Daerah tetap melaporkan DAu/DBH Bruto dalam laporan Realisasi Anggaran. 9. KPPN Jakarta II menerbitkan surat Perintah Pencairan Dana (sP2D) DAu/DBH Bruto sebesar jumlah Bruto ditambah pemotongan DAu/ DBH daerah Induk/Provinsi. KPPN Jakarta II menerbitkan surat Perintah Pencairan Dana (sP2D) DAu/ DBH Daerah Induk/Provinsi sebesar jumlah Bruto dikurangi pemotongan DAu/DBH Penyelesaian Kewajiban Hibah/Bantuan Pendanaan Ke DoB.

3.5.

DANA DEKONSENTRASI, DANA TUGAS PEMBANTUAN DAN DANA URUSAN BERSAMA PUSAT DAN DAERAH

3.5.1.

Dana dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan

3.5.1.1. Gambaran Umum
Dekonsentrasi dapat didefinisikan sebagai pelimpahan wewenang/urusan pemerintahan dari Pemerintah kepada gubernur selaku wakil Pemerintah di daerah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu. sedangkan Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa, dari pemerintah provinsi kepada kabupaten, atau kota dan/atau desa, serta dari pemerintah kabupaten, atau kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan. Mekanisme penyelenggaraan dan pendanaan Dekonsentrasi dan

Tugas Pembantuan melibatkan beberapa instansi Pemerintah di Pusat dan daerah dalam suatu pola hubungan penyelenggaraan tugas dan wewenang. Pada tingkat Pemerintah Pusat, Instansi yang terlibat terdiri dari Kementerian Dalam Negeri, Bappenas, Kementerian Keuangan, dan
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 191

Kementerian Teknis yang berkoordinasi dalam perumusan kebijakan, perencanaan, dan evaluasi. Kementerian Dalam Negeri mempunyai tugas dan wewenang dalam hal penataan urusan pemerintahan sejalan dengan ketentuan uu No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan aturan pelaksanaannya. Bappenas mempunyai tugas dan wewenang dalam hal penetapan dan sinkronisasi program sejalan dengan ketentuan uu No. 25 Tahun 2004 tentang sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Kementerian Keuangan mempunyai tugas dan wewenang dalam hal pengelolaan pendanaan sejalan dengan uu No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, uu No. 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, uu No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, dan aturan pelaksanaannya. sementara Kementerian Teknis mempunyai tugas dan wewenang dalam hal pelimpahan/penugasan urusan kepada Daerah yang berkaitan dengan program/kegiatan. lebih spesifik terhadap pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan, pelimpahan dan penugasan urusan pemerintahan dimaksud didanai dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara melalui bagian anggaran kementerian/lembaga (K/l). Hal ini berarti dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan penyelenggaran sebagian urusan Pemerintah di daerah yang dilaksanakan oleh aparat pemerintah daerah, sedangkan pertanggungjawabannya kepada K/l yang memberikan Dana Dekonsentrasi/ Dana Tugas Pembantuan Pengalokasian dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan di Kementerian Keuangan dilaksanakan oleh beberapa unit Eselon I yang mempunyai peranan dalam siklus pendanaan. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan mempunyai tugas dalam pengelolaan informasi, evaluasi, dan

192

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

perumusan rekomendasi Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan sejalan dengan PP No. 7 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan PMK No. 156/PMK.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan sebagaimana telah disempurnakan dengan PMK No.248/PMK.07/2010. Direktorat Jenderal Anggaran mempunyai tugas dalam penelaahan RKA-Kl, penerbitan RABPP dan sAPsK sejalan dengan PP 21 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga dan aturan pelaksanaannya termasuk PMK yang mengatur mengenai standar Biaya. Direktorat Jenderal Perbendaharaan mempunyai tugas dalam pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), penerbitan surat Rincian Alokasi Anggaran (sRAA), pencairan dana, pengenaan sanksi, pembinaan dan koordinasi sistem akuntansi instansi (sAI) dan pelaporan keuangan sejalan dengan PP No. 71 Tahun 2010 tentang standar Akuntansi Pemerintahan, PP No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, PMK No. 171/PMK.06/2007 sebagaimana disampaikan dengan PMK No.233/PMK.05/2011 tentang sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan pemerintah Pusat, serta aturan pelaksanaanya. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara mempunyai tugas dalam bidang pengelolaan barang milik Negara/daerah sejalan dengan PP No. 6 Tahun 2006 sebagaimana disampaikan dengan PP No. 38 Tahun 2008 tentang pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan aturan pelaksanaannya. Terkait BMN Eks Dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara telah mengeluarkan PMK No.125/PMK.06/2011 tentang Pengelolaan BMN yang Berasal dari Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan sebelum Tahun Anggaran 2011. PMK ini secara garis besar memuat pengaturan mengenai penggunaan, pemindahtanganan,

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

193

pemusnahan, Pembantuan.

penghapusan,

penatausahaan,

pengawasan

dan

pengendalian serta batas waktu BMN Eks Dekonsentrasi dan/atau Tugas

Gambar 3.19 Pola Hubungan Antar Instansi Terkait dalam Penyelengaraan dan Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan

3.5.1.2. Formulasi

Keseimbangan

Pendanaan

di

Daerah

Untuk

Perencanaan Lokasi dan Anggaran Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Agar sebaran lokasi dan alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan tidak terkonsentrasi pada daerah tertentu, menjadi efektif dan efisien serta

194

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

transparan dan akuntabel maka proporsionalitas perlu dilakukan dengan memperhatikan aspek keseimbangan pendanaan. Keseimbangan pendanaan di daerah diformulasikan dari 2 (dua) jenis variabel umum, yaitu Variabel Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) dan Variabel Pembangunan di Daerah. Kemampuan Fiskal Daerah menggambarkan kemampuan keuangan daerah dan besarnya dana transfer ke daerah. sedangkan variabel pembangunan di daerah diukur dengan menggunakan indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Data yang digunakan dalam formulasi keseimbangan pendanaan di daerah meliputi data fiskal dan data non fiskal. Data fiskal terdiri dari data kemampuan keuangan daerah sedangkan data non fiskal terdiri dari data IPM, Jumlah Penduduk, dan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) yang bersumber dari Badan Pusat statistik (BPs). Gambar 3.20 Alur Pikir Formulasi Keseimbangan Pendanaan di Daerah

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

195

3.5.1.3. Rekomendasi Pendanaan

Menteri di

Keuangan Dalam

tentang Rangka

Keseimbangan Perencanaan

Daerah

Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2012 Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan Pasal 21 Ayat (2) dan Pasal 50 Ayat (2) mengamanatkan bahwa rencana lokasi dan anggaran untuk program dan kegiatan yang akan didekonsentrasikan/ditugaskan disusun dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara, keseimbangan pendanaan di daerah, dan kebutuhan pembangunan daerah. selanjutnya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008 tentang pedoman pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Perbantuan pada Pasal 10 menyatakan bahwa Kementerian Keuangan merumuskan keseimbangan pendanaan di daerah serta melakukan koordinasi dengan Kementerian/lembaga dan instansi terkait lainnya dalam rangka pengumpulan data dan informasi pendanaan program dan kegiatan yang dijadikan sebagai bahan evaluasi dan kajian yang hasilnya dituangkan dalam Rekomendasi Menteri Keuangan. lebih lanjut, pada tanggal 23 Maret 2011 Kementerian Keuangan dalam hal ini Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan telah menyampaikan Rekomendasi Menteri Keuangan Tentang Keseimbangan Pendanaan Di Daerah Dalam Rangka Perencanaan Dekonsentrasi Dan Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2012. Penyampaian rekomendasi tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas, serta pengalokasian dana dekonsentrasi dan tugas perbantuan yang proporsional; meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan dana dekonsentrasi dan tugas perbantuan; dan memberikan masukan bagi Kementerian/lembaga dalam merencanakan lokasi dan alokasi dana dekonsentrasi/tugas perbantuan agar tepat sasaran dan tidak terkonsentrasi di daerah tertentu.

196

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

secara garis besar, rekomendasi dimaksud memuat penjelasan mengenai gambaran umum pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan berikut permasalahannya, penjelasan mengenai landasan hukum, penggunaan rekomendasi Menteri Keuangan, dan gambaran serta analisis atas penerapan rekomendasi Menteri Keuangan tahun 2010 serta rekomendasi menteri keuangan dalam rangka perencanaan lokasi dan anggaran dekonsentrasi dan tugas pembantuan T.A 2012.

3.5.2.

Pendanaan

Urusan

Bersama

Pusat

dan

Daerah

Untuk

Penanggulangan Kemiskinan 3.5.2.1. Gambaran Umum Dalam rangka melaksanakan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Menteri Keuangan selaku Pengelola Fiskal dan Bendahara umum Negara perlu mengatur penyediaan dan tata cara pengelolaan dana program Nasional penanggulangan kemiskinan. Dengan ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan, yang hanya diperuntukkan bagi pendanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan dan PNPM Mandiri Perdesaan maka pemerintah telah melakukan upaya untuk memberikan dasar hukum bagi daerah untuk menyediakan dana pendamping dari APBD untuk program PNPM Mandiri atau yang disebut Dana Daerah untuk urusan Bersama (DDuB). Disamping itu PMK dimaksud juga merupakan upaya untuk menyempurnakan mekanisme pendanaan yang digunakan untuk program PNPM Mandiri selama ini.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 197

PNPM Mandiri merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat, yaitu suatu program yang merupakan harmonisasi dan konsolidasi program-program pemberdayaan masyarakat yang diperlukan untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan dan mempercepat penciptaan lapangan kerja. Harmonisasi dan konsolidasi program-program penanggulangan kemiskinan yang tersebar di beberapa kementerian/lembaga ke dalam satu program PNPM Mandiri tersebut telah dimulai pada tahun 2007. urusan urusan Bersama Pusat di dan luar Daerah urusan dapat didefinisikan sebagai

pemerintahan

pemerintahan

yang menjadi

kewenangan sepenuhnya Pemerintah, yang diselenggarakan bersama oleh Pemerintah, Pemda Provinsi, dan Pemda Kabupaten/Kota. urusan bersama pusat dan daerah difokuskan untuk penanggulangan kemiskinan yang merupakan kebijakan dan program Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang dilakukan secara sistematis, terencana, dan bersinergi dengan dunia usaha dan masyarakat untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dalam rangka meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat. Pendanaan urusan Bersama adalah pendanaan yang bersumber dari APBN dan APBD yang digunakan untuk mendanai program/kegiatan bersama Pusat dan daerah untuk penanggulangan kemiskinan. Berdasarkan sumber pendanaannya, dibedakan menjadi Dana Urusan Bersama yang selanjutnya disebut DUB, yaitu dana yang bersumber dari APBN; serta Dana Daerah untuk Urusan Bersama yang selanjutnya disebut DDUB, yaitu dana yang bersumber dari APBD. gambar dibawah ini memberikan penjelasan singkat mengenai hal tersebut.

198

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Gambar 3.21 Sumber Pendanaan Urusan Bersama

Pengaturan lebih lanjut mengenai Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan tercantum dalam PMK No. 168/PMK.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan.

3.5.2.2. Peraturan Menteri Keuangan tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah Dalam Rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah Untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2012 salah satu perwujudan dari upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam penguatan sinergi antar kementerian/lembaga dan pemerintah daerah,
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 199

adalah dengan disusun dan ditetapkannya PMK 66/PMK.07/2011 tanggal 31 Maret 2011 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah Dalam Rangka Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan TA 2012. PMK tersebut merupakan pengaturan lebih lanjut ketentuan dalam Pasal 7 ayat (6) PMK No. 168/ PMK.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan, yang menyatakan bahwa “Indeks fiskal dan kemiskinan daerah disusun dan ditetapkan oleh Menkeu, serta disampaikan kepada Bappenas dan K/l penyelenggara urusan bersama untuk penanggulangan kemiskinan dengan tembusan kepada TKPK Nasional paling lambat bulan Maret sebelum penyusunan Renja-Kl”. secara umum PMK tersebut bertujuan untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas, serta proporsional dalam pendanaan urusan bersama; serta mendukung K/l penyelenggara dalam merencanakan pendanaan urusan bersama agar tepat sasaran dan tujuan yang nantinya diharapkan akan bermuara pada peningkatan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan Dana urusan Bersama (DuB). Proses penyusunan PMK 66/PMK.07/2011 dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu : A. Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dilakukan melalui 4 (empat) tahap, yaitu: 1. Penghitungan Ruang Fiskal Daerah a. Penghitungan Ruang Fiskal Daerah dilakukan dengan

menghitung besaran kemampuan keuangan daerah dan transfer ke daerah dikurangi dengan belanja wajib.

200

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

b. Besaran kemampuan keuangan daerah meliputi Pendapatan Asli Daerah dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah. c. Besaran transfer ke daerah meliputi Dana Alokasi umum, Dana Bagi Hasil, Dana Penyesuaian, dan Dana otonomi Khusus. d. Hasil penghitungan Ruang Fiskal Daerah tersebut dibagi dengan jumlah penduduk dan Indeks Kemahalan Konstruksi agar tercermin kemampuan fiskal daerah riil per kapita. e. Penghitungan Ruang Fiskal Daerah didasarkan data anggaran. 2. Penghitungan Indeks Fiskal Daerah Penghitungan Indeks Fiskal Daerah dilakukan dengan menghitung Ruang Fiskal masing-masing daerah dibagi dengan rata-rata Ruang Fiskal seluruh daerah. 3. Penghitungan Indeks Kemiskinan Daerah; a. Penghitungan Indeks Kemiskinan Daerah dilakukan dengan menghitung persentase jumlah penduduk miskin masingmasing daerah dibagi dengan rata-rata persentase jumlah penduduk miskin seluruh daerah (nasional). b. Persentase jumlah penduduk miskin tersebut adalah persentase jumlah penduduk miskin berdasarkan data dari Badan Pusat statistik pada tahun terakhir. 4. Pengkaitan Indeks Fiskal dengan Indeks Kemiskinan Daerah. a. Pengkaitan Indeks Fiskal dengan Indeks Kemiskinan Daerah dilakukan dengan mengkaitkan hasil penghitungan Indeks Fiskal Daerah dan Indeks Kemiskinan Daerah masing-masing

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

201

sebagai sumbu tegak dan sumbu mendatar dalam peta kuadran. b. Berdasarkan hasil pengkaitan tersebut, daerah sasaran dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kelompok, sbb: Kelompok 1 adalah daerah yang indeks fiskal dan indeks persentase penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional; Kelompok 2 adalah daerah yang indeks fiskalnya di bawah rata-rata nasional, namun indeks persentase penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional; Kelompok 3 nasional; Kelompok 4 adalah daerah yang indeks fiskalnya di atas rata-rata nasional, namun indeks persentase penduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional. B. Formulasi Penghitungan Persentase Besaran Penyediaan DDuB Per Kelompok dan Per Daerah DDuB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan indeks fiskal dan kemiskinan daerah, dengan rincian tingkatan: 1. Kelompok 1 adalah daerah yang indeks ruang fiskal dan indeks persentase penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional (IRFD dan IPPMD > 1); menyediakan DDuB Sangat Tinggi. 2. Kelompok 2 adalah daerah yang indeks ruang fiskalnya di bawah rata-rata nasional, namun indeks persentase penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional (IRFD < 1, IPPMD > 1); menyediakan DDuB Sedang. adalah daerah yang indeks fiskal dan

indeks persentase penduduk miskinnya di bawah rata-rata

202

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

3. Kelompok 3 adalah daerah yang indeks ruang fiskal dan indeks persentase penduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional (IRFD < 1, IPPMD < 1); menyediakan DDuB Rendah. 4. Kelompok 4 adalah daerah yang indeks ruang fiskalnya di atas rata-rata nasional, namun indeks persentase penduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional (IRFD> 1, IPPMD < 1);menyediakan DDuB Tinggi. 5. Persentase untuk menentukan besaran penyediaan DDuB untuk masing-masing tingkatan tersebut ditetapkan lebih lanjut melalui Keputusan Ketua TKPK Nasional atau berdasarkan pertimbangan Menteri Keuangan. Gambar 3.22 Alur Pikir Formulasi Indeks Fiskal Dan Kemiskinan Daerah

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

203

Dengan demikian dapat digarisbawahi bahwa pendanaan program PNPM mandiri seyogyanya dilakukan dengan mekanisme tersendiri, yaitu pendanaan urusan bersama Pusat dan daerah. Dengan adanya PMK ini diharapkan Daerah tidak khawatir atau ragu-ragu lagi dalam mengalokasikan DDuB dari APBD sehingga dapat mendukung pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan secara optimal. Terkait dengan kriteria/dasar penentuan besaran DDuB yang harus disediakan oleh daerah, PMK 168 Tahun 2009 mengamanatkan untuk menindaklanjuti dengan PMK tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah yang merupakan dasar pertimbangan bagi Ketua Tim Koodinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Nasional atau tim sejenis yang menangani masalah kemiskinan dalam menetapkan besaran DDuB untuk masing-masing daerah. PMK tentang Indeks fiskal dan kemiskinan daerah bertujuan agar besaran DDuB yang disediakan oleh daerah sesuai dengan kondisi kemampuan/ruang fiskal daerah dan jumlah penduduk miskin daerah.

204

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

BAB IV PENDUKUNG KEBIJAKAN HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH TAHUN 2012

206

Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

BAB IV PENDUKUNG KEBIJAKAN HUBUNGAN KEUANGAN PUSAT DAN DAERAH TAHUN 2012
4.1. PENERUSAN PINJAMAN LUAR NEGERI: FLOOD MITIGATION PROJECT (JUFMP) JuFMP/JEDI bertujuan mendukung peningkatan operasional dan PROYEK JAKARTA

EMERGENCY DREDGING INITIATIVE (JEDI) / JAKARTA URGENT

pemeliharaan sistem pengendalian banjir di wilayah DKI Jakarta melalui: 1. Pengerukan sungai/kanal dan waduk. 2. Rehabilitasi dan konstruksi tanggul. 3. Peningkatan kapasitas instansi yang bertanggung jawab dalam meningkatkan operasional, pemeliharaan dan pengelolaan sistem pengendalian banjir. Berdasarkan simulasi banjir yang terjadi pada tahun 2007 bisa diprediksikan bahwa 40% dari dampak banjir dapat dihindari jika sistem pengendalian banjir yang ada bisa berfungsi pada kapasitas yang semestinya. Rencana komposisi pendanaan untuk keseluruhan proyek JuFMP/JEDI adalah sebagaimana tabel berikut:

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

207

Tabel 4.1 Rencana komposisi pendanaan untuk Proyek JUFMP/JEDI Item Total Counterpart Funding (US$ million)
COMPONENT 1 1 Dredging and rehabilitation of selected key floodways, canals and retention basins. a. DgWR b. c. DgCK DKI Jakarta 53.2 22.4 100.5 176.1 9.6 10.8 4.6 31.16 46.56 42.4 17.8 69.34 129.54 9.6

IBRD

Bilateral Grant

Subtotal Component 1 COMPONENT 2 2 supervision Consultant (contracts management, engineering design reviews and construction supervision, support to project gRs and implementation of RPs) 3 Flood Management Information system (FMIs) 4 Panel of Experts 5 Resettlement Costs (DKI Jakarta) Subtotal Component 2 Total Project Cost Front End Fee (0.25%) Total Financing Required

0.5 0.5 2.8 2.8 0.5

0.5

13.4 189.5 0.35 189.9

2.8 49.36 0.35 49.71

10.1 139.64 139.64

0.5 0.5 0.5

208

Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Pada tanggal 17 Januari 2012, Board of Executive Directors The World Bank telah menyetujui pinjaman untuk JuFMP/JEDI dan secara resmi telah disampaikan melalui surat Executive Director The World Bank tanggal 20 Januari 2012. Pada tanggal 17 Februari 2012 telah dilakukan penandatangan loan Agreement antara GoI (Goverment Of Indonesia) dan World Bank. Proses selanjutnya adalah Penandatangan Penerusan Pinjaman luar Negeri (slA) antara Pemerintah Pusat c.q Kementerian Keuangan dan Pemprov DKI Jakarta.

4.2. OBLIGASI DAERAH: USULAN PENERBITAN OBLIGASI DAERAH PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA obligasi Daerah merupakan salah satu alternatif pembiayaan investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Pemerintah Daerah dapat menerbitkan obligasi Daerah sepanjang memenuhi persyaratan Pinjaman Daerah. obligasi Daerah merupakan efek yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah dan tidak dijamin oleh Pemerintah. Penerbitan obligasi Daerah hanya dapat digunakan untuk membiayai kegiatan investasi prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan pelayanan publik yang menghasilkan penerimaan bagi APBD yang diperoleh dari pungutan atas penggunaan prasarana dan/atau sarana tersebut. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah mengajukan usulan rencana penerbitan obligasi Daerah kepada Menteri Keuangan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur sebagai berikut: 1. Rumah susun Daan Mogot. 2. Rumah sakit umum Jakarta selatan.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

209

3. Pembangunan sistem Air limbah Casablanca. 4. Terminal Bus Pulo gebang.

4.3. PINJAMAN

DAERAH

DARI

PEMERINTAH

PUSAT:

PUSAT

INVESTASI PEMERINTAH salah satu sumber pinjaman dari Pemerintah Pusat yaitu Dana Investasi Pemerintah, termasuk di dalamnya dana yang dikelola oleh Pusat Investasi Pemerintah (PIP). PIP merupakan Sovereign Wealth Fund (sWF) Indonesia dan menjadi operator investasi Pemerintah. Adapun cakupan sektor investasi PIP meliputi bidang infrastruktur dan bidang lainnya yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Investasi di bidang pembangunan infrastruktur sebagai salah satu fokus dari investasi PIP didasarkan pada alasan filosofis bahwa pembangunan infrastruktur merupakan salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan dipandang sebagai lokomotif pembangunan nasional dan daerah. salah satu bentuk investasi langsung PIP adalah pemberian pinjaman kepada Pemerintah Daerah. Pinjaman yang diberikan PIP kepada Pemerintah Daerah dibatasi hanya untuk pembangunan infrastruktur dasar, antara lain mencakup: ketenagalistrikan, Jalan/Jembatan, Transportasi, Pasar, Rumah sakit, Terminal, dan Air Bersih. Pemerintah Daerah yang sudah menerima pinjaman ke PIP adalah sebagai berikut : 1. Pemerintah Provinsi sulawesi Tenggara, perjanjian pinjaman dilakukan pada tanggal 28 Januari 2011 dengan nilai pinjaman Rp190 Milyar dimana dana tersebut digunakan untuk pembangunan RsuD Provinsi; dan

210

Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

2. Pemerintah Kota surakarta, perjanjian

pinjaman dilakukan pada

tanggal 27 Juni 2011 dengan nilai pinjaman Rp40,5 Milyar dimana dana tersebut digunakan untuk pembangunan proyek RsuD.

4.4. PENERUSAN HIBAH LUAR NEGERI KEPADA PEMERINTAH DAERAH Mekanisme hibah kepada daerah mulai efektif pada tahun 2010 dengan disalurkannya dana hibah untuk kegiatan Local Basic Education Capacity (l-BEC) meskipun penganggarannya telah tercatat dalam APBN-P 2009. APBN-P 2009 mencatat 2 (dua) program hibah, yaitu l-BEC dan Support to Community Health Services (sCHs). l-BEC merupakan penerusan hibah yang bersumber dari hibah Pemerintah Kerajaan Belanda dan uni Eropa dengan perwalian Bank Dunia dan akan dilaksanakan sampai dengan tahun 2012. Hibah ini diberikan kepada 50 (lima puluh) pemerintah kabupaten/ kota dengan tujuan meningkatkan kapasitas penyelenggara pendidikan dalam hal perencanaan, pengelolaan, dan pertanggungjawaban anggaran sekolah berbasis teknologi informasi. sedangkan sCHs merupakan hibah dari uni Eropa yang dikelola oleh World Health Organization (WHo) untuk pembangunan instalasi perawatan pasien flu burung di 10 (sepuluh) daerah. Namun, pada tahun 2009 tidak ada dana hibah yang disalurkan kepada Pemerintah Daerah karena masih terdapat perbedaan penafsiran terhadap peraturan penganggaran dan penatausahaan hibah ke daerah. Pada APBN 2010, sempat tercantum alokasi hibah yang bersumber dari penerimaan dalam negeri. seiring dengan proses politik anggaran, terdapat realokasi dana ini menjadi salah satu instrumen Transfer Ke Daerah pada APBN-P 2010. Namun dalam APBN-P 2010 muncul tambahan alokasi dan program hibah selain l-BEC, yaitu Mass Rapid Transit (MRT), Hibah Air
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 211

Minum, Hibah Air limbah, dan Water and Sanitation Program D (WAsAPD). Proyek MRT yang bersumber dari pinjaman Japan International Cooperation Agency (JICA) bertujuan untuk mengatasi permasalahan transportasi di Jakarta yang menjadi prioritas nasional dan telah tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hibah Air Minum dan Hibah Air limbah merupakan penerusan hibah yang bersumber dari hibah Pemerintah Australia. Hibah Air Minum bertujuan untuk meningkatkan akses penyediaan air minum bagi masyarakat yang belum memiliki akses sambungan air minum perpipaan secara berkesinambungan dalam upaya mencapai target MDgs di 35 (tiga puluh lima) daerah. sedangkan Hibah Air limbah bertujuan untuk meningkatkan akses sistem air limbah perpipaan bagi masyarakat khusus untuk kota-kota yang sudah memiliki sistem pengelolaan air limbah terpusat di 5 (lima) daerah. Dalam kegiatan WAsAPD, Bank Dunia memberikan hibah yang ditujukan untuk pembangunan sarana pengelolaan air limbah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di 6 (enam) daerah. APBN 2011 mencatat 7 (tujuh) program hibah yang sebagian besar merupakan kelanjutan dari program tahun sebelumnya. Program baru yang muncul dalam tahun ini adalah Infrastructure Enhancement Grant (IEg) sanitasi dan Infrastructure Enhancement Grant (IEg) Transportasi yang bersumber dari hibah Pemerintah Australia. IEg sanitasi diberikan kepada 22 (dua puluh dua) daerah yang memiliki kepedulian dan komitmen dalam pembangunan sanitasi. sedangkan IEg Transportasi diberikan kepada 2 (dua) daerah yang telah memenuhi syarat tertentu dan ditetapkan oleh kementerian/lembaga terkait.

212

Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Tercatat 3 (tiga) program hibah baru dalam APBN 2012 mendampingi 2 (dua) program lama (l-BEC dan MRT). Pertama, Simeulue Physical Infrastructure Project II (sPIP II) yang bersumber dari pinjaman Islamic Development Bank (IDB) kepada Pemerintah Kabupaten simeulue untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana tsunami. Kedua, Exploration of Seulawah Agam Geothermal Working Area Project merupakan hibah dari KfW Jerman kepada Pemerintah Provinsi Aceh untuk eksplorasi energi panas bumi. Terakhir, Water Resources and Irrigation Sector Management Program Phase 2 (WIsMP-2) yang bersumber dari pinjaman World Bank bertujuan untuk peningkatan pengelolaan irigasi partisipatif di 115 (seratus lima belas) daerah yang telah berkinerja baik pada WIsMP-1 dan memenuhi syarat yang ditentukan oleh kementerian/ lembaga terkait. Berdasarkan kondisi di atas, kelembagaan mekanisme hibah kepada daerah sudah mulai diakui sebagai salah satu instrumen pendanaan desentralisasi. Namun terdapat hal yang membedakan dengan pendanaan desentralisasi lainnya. Karakteristik tersebut terlihat dari kemampuan untuk mengungkap output kinerja daerah atas dana hibah yang telah disalurkan. Tabel 4.2 menyajikan besaran dana yang disalurkan dan output yang dihasilkan oleh mekanisme hibah kepada daerah selama tahun 2010-2011.

Tabel 4.2 Realisasi Penyaluran Hibah dan Output Kegiatan Hibah Tahun 2010 s.d. 2011 Penerbitan Peraturan Pemerintah No. 2/2012 tentang Hibah Daerah telah membawa perubahan yang cukup signifikan dalam peletakan kerangka
213 Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 hukum hibah kepada daerah. Kemajuan terutama terjadi pada peningkatan

fleksibilitas penyaluran hibah seiring dengan semakin banyaknya variasi

Program 2010 Hibah Realisasi (Rp) Output
l-BEC

2011 Realisasi (Rp) Output

Air limbah Air Minum

WAsAP-D

IEg

MRT

24.535.777.575 265 kegiatan 45.937.448.826 427 kegiatan peningkatan kapasitas peningkatan kapasitas di bidang pendidikan di di bidang pendidikan 50 kab/kota di 50 kab/kota 8.100.000.000 Terpasangnya 1.620 16.030.000.000 Terpasangnya 4.826 sR Pengelolaan Air sR Pengelolaan Air limbah limbah 37.373.000.000 Terpasangnya 15.441 161.677.000.000 Terpasangnya 77.000 sambungan Rumah sambungan Rumah (sR) Air Minum (sR) Air Minum 0 6.297.150.700 Pembangunan fisik sanitasi berbasis masyarakat dan berbasis institusi 43.389.800.400 Pembangunan sarana persampahan dan air limbah di 21 kab/kota 6.777.398.429 Pelaksanaan Tender Assistance Services –1

Jumlah

70.008.777.575

280.108.798.355

Penerbitan Peraturan Pemerintah No. 2/2012 tentang Hibah Daerah telah membawa perubahan yang cukup signifikan dalam peletakan kerangka hukum hibah kepada daerah. Kemajuan terutama terjadi pada peningkatan fleksibilitas penyaluran hibah seiring dengan semakin banyaknya variasi karakteristik program yang didanai dengan pinjaman/hibah luar negeri yang diteruskan sebagai hibah kepada daerah. Pedoman pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 2/2012 akan diterbitkan dalam bentuk Peraturan Menteri Keuangan yang saat ini sedang dalam proses finalisasi. Penyempurnaan

214

Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

atas peraturan-peraturan terkait hibah kepada daerah ini diharapkan meningkatkan daya serap anggaran, yang akan membawa pengaruh positif bagi pelaksanaan desentralisasi fiskal di Indonesia. Pada akhirnya, perkembangan peraturan hibah kepada daerah yang progresif saat ini masih membuka adanya kemungkinan upaya-upaya optimalisasi dalam implementasi kebijakannya. upaya tersebut salah satunya dilakukan dengan penegasan pembagian urusan antar tingkat pemerintahan dalam pelaksanaan kegiatan di daerah khususnya untuk kegiatan bersumber dari pinjaman/hibah luar negeri. Mekanisme hibah kepada daerah dapat menjadi alternatif fund channelling dalam meneruskan pinjaman/hibah luar negeri untuk mendanai kegiatan yang sudah menjadi urusan daerah yang semula menggunakan mekanisme dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Hal ini merupakan wujud komitmen kementerian/ lembaga untuk ikut mendukung upaya desentralisasi pendanaan sesuai dengan kewenangan yang dimiliki (money follow function). Di sisi lain, hal ini juga menunjukkan komitmen Pemerintah Daerah untuk bersama-sama mendukung upaya pencapaian target dan prioritas nasional. Terkait dengan hibah kepada daerah yang bersumber dari penerimaan dalam negeri, upaya optimalisasi dapat dilakukan antara lain dengan penataan ulang atas dana-dana APBN yang didesentralisasikan. Diperlukan adanya konsistensi dan ketegasan kriteria antar dana-dana yang dilaksanakan di daerah agar tercipta pola pendanaan yang lebih adil, transparan, dan akuntabel.

4.5. PELATIHAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH (LKD, KKD, DAN KKDK) Kegiatan latihan Keuangan Daerah (lKD) dan Kursus Keuangan Daerah (KKD) dilaksanakan sejak tahun 1981/1982. Kegiatan ini diawali dengan
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 215

kerja sama dengan universitas Birmingham Inggris untuk melatih dan melakukan pendidikan formal lanjutan yaitu program short course, program s2 dan s3 untuk pengembangan ilmu keuangan daerah bagi para pengajar di perguruan tinggi, PNs di Pemerintah Pusat dan PNs Daerah, dengan bantuan pendanaan dari pemerintah Kerajaan Inggris. Jumlah peserta untuk kegiatan lKD, KKD, dan Kursus Keuangan Daerah Khusus (KKDK) Penata usahaan/Akuntansi Keuangan Daerah sampai dengan tahun 2011 dapat terlihat dari tabel berikut ini: Tabel 4.3 PESERTA LKD, KKD, KKDK SAMPAI DENGAN TAHUN 2011 (ORANG) CENTER universitas Indonesia (uI) universitas gadjah Mada (ugM) universitas Andalas (uNAND) universitas Hasanuddin (uNHAs) universitas sam Ratulangi (uNsRAT) universitas Brawijaya (uNIBRAW) sekolah Tinggi Akuntansi (sTAN) SUB TOTAL TOTAL LKD 1.498 325 0 0 0 0 0 1.823 KKD 1.098 952 748 852 315 385 0 4.350 8.995 KKDK 400 429 372 400 359 395 467 2.822

Pada tahun 2012 direncanakan untuk melaksanakan kegiatan KKD dan KKDK. Pusat penyelenggara KKD masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu: universitas Indonesia, universitas gadjah Mada, universitas Hasanuddin, universitas Andalas, universitas Brawijaya,
216 Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

universitas sam Ratulangi. sedangkan untuk KKDK terdapat satu pusat lain yaitu sekolah Tinggi Akuntansi Negara (sTAN). Dalam rangka efektifitas dan agar tidak terjadi overlap diantara center penyelenggara dalam melaksanakan kegiatan Kursus Keuangan Daerah, maka dilakukan pembagian wilayah untuk masing-masing center. Adapun pembagian wilayah center untuk KKD sebagaimana dimaksud di atas adalah sebagai berikut:

No. 1. 2.

Center Penyelenggara universitas Indonesia universitas gadjah Mada

Wilayah (Provinsi) DKI Jakarta, Jawa Barat, Bangka Belitung, sumatera utara, dan Maluku D.I. Yogyakarta, Jawa tengah, Kalimantan selatan, gorontalo, Kalimantan Tengah, dan Banten

3.

universitas Hasanuddin

sulawesi selatan, sulawesi Barat, sulawesi Tenggara, Papua Barat, sulawesi Tengah, dan sumatera selatan

4.

universitas Andalas

sumatera Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, Jambi, Bengkulu, Riau, dan Kepulauan Riau

5.

universitas Brawijaya

Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan lampung

6.

universitas sam Ratulangi sulawesi utara, Papua, Maluku utara, Nusa Tengara Timur, dan Kalimantan Timur

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

217

sedangkan untuk KKDK, pembagian wilayahnya sebagai berikut: No. 1. 2. Center Penyelenggara universitas Indonesia universitas gadjah Mada Wilayah (Provinsi) DKI Jakarta, Jawa Barat, Bangka Belitung, sumatera utara, dan Maluku D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, Kalimantan selatan, Kalimantan Tengah 3. 4. 5. universitas Andalas universitas Brawijaya universitas Hasanudin sumatera Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, Jambi, Bengkulu, Riau Jawa Timur, Bali, Nuas Tenggara Barat, Kalimantan Barat sulawesi selatan, sulawesi Barat, sulawesi Tenggara, Papua Barat, sulawesi Tengah 6. 7 universitas sam Ratulangi sekolah Tinggi Akuntansi Negara sulawesi utara, Papua, Maluku utara, Nusa Tenggara Timur Banten, lampung, Kepulauan Riau, sumatera selatan, Kalimantan Timur

Kementerian Keuangan berencana untuk melakukan kerja sama dengan universitas Terbuka (uT) dalam hal Pelatihan Pengelolaan Keuangan Daerah pada tahun 2012 ini. Kerja sama ini dimaksudkan untuk menjadi pelengkap (complement) dari kegiatan pelatihan pengelolaan keuangan daerah yang sudah ada sebelumnya (KKD dan KKDK). Kegiatan pelatihan tersebut rencananya berupa Pelatihan Keuangan Daerah.
218 Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Tujuan dari kerja sama dimaksud antara lain: 1. Membantu Kementerian Keuangan dalam meningkatkan koordinasi, perencanaan, dan pengembangan kapasitas aparatur pemerintah daerah dalam pengelolaan keuangan daerah khususnya di bidang akuntansi keuangan daerah. 2. Menjangkau wilayah Pemda yang selama ini belum dapat dijangkau oleh ketujuh center KKD-KKDK. sedangkan ruang lingkup kerjasama tersebut antara lain: 1. Penyusunan kurikulum pelatihan. 2. Penyusunan modul/ bahan ajar. 3. Pelaksanaan pelatihan: a. Pelatihan dilaksanakan di 7 (tujuh) pusat KKD-KKDK (uI, ugM, unibraw, unand, unhas, dan sTAN) b. Tenaga Pengajar berasal dari uT, pusat KKD-KKDK, dan Kementerian Keuangan. Dalam hal pendanaan, uT menanggung seluruh dana pelatihan termasuk untuk tahap persiapan pelaksanaan pelatihan, misalnya pendanaan kegiatan workshop penyusunan kurikulum dan workshop penyusunan modul yang melibatkan Kementerian Keuangan dan Pusat KKD-KKDK.

4.6. REVIEW ATAS BELANJA DAERAH DAN DANA PEMDA DI PERBANKAN 4.6.1. Tren Belanja APBD secara Nasional
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 219

Total belanja daerah pada APBD TA 2011 secara nasional mencapai Rp514,4 triliun, yang terdiri dari Rp128,0 triliun belanja pemerintah provinsi (24,9%) dan Rp386,3 belanja pemerintah kabupaten/kota (75,1%). Porsi belanja pemerintah provinsi yang terbesar adalah belanja barang & jasa (26,5%) kemudian diikuti belanja pegawai (24,7%), belanja modal (20,7%), belanja transfer dan bagi hasil ke kab/kota (19,9%) dan sisanya belanja lainnya. sementara belanja pemerintah kabupaten/kota di dominasi belanja pegawai yang sangat tinggi hingga mencapai 51% total belanja, sedangkan belanja modal hanya sebesar 23% serta belanja barang dan jasa sebesar 18%. Grafik 4.1 Tren Belanja APBD secara Nasional (%) 2008 - 2011

sumber: APBD 2008-2011, DJPK

secara nasional porsi belanja yang paling dominan adalah belanja pegawai, dengan porsi yang terus meningkat di tahun 2007-2010 dan sedikit menurun di tahun 2011. Belanja pegawai terdiri dari belanja pegawai tidak langsung
220 Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

(gaji) dan belanja pegawai langsung (honorarium/upah) sebagaimana terlihat dalam tabel 4.4 Dalam tabel tersebut terlihat bahwa secara nominal belanja pegawai tidak langsung (gaji PNs) meningkat dengan besar peningkatan lebih tinggi dibanding tahun 2009 dan 2010 dan untuk belanja pegawai langsung (honor-honor) kembali mengalami peningkatan. Namun jika dilihat porsi terhadap total belanja, belanja pegawai mengalami penurunan, baik belanja pegawai langsung dan tidak langsung. Penurunan porsi belanja pegawai menunjukkan kondisi yang baik, karena dengan penurunan porsi belanja pegawai belanja lainnya khususnya belanja modal menjadi lebih besar. Di tahun 2011 porsi belanja modal naik 0,7% menjadi 22,1%, secara nominal belanja modal APBD 2011 lebih besar dibanding dengan APBD TA 2010 dan TA 2008. Tabel 4.4 Trend Belanja Pegawai Daerah 2008-2011 Tahun Total Belanja Total 2008 2009 2010 2011 390.392 429.580 435.479 514.380 153.823 180.439 197.126 229.081 Belanja Pegawai (miliar rupiah) Persentase terhadap total Belanja (%)

Tidak langsung Tidak langsung langsung langsung 128.071 155.959 173.625 203.386 25.752 24.480 23.501 25.695 32,81 36,30 39,87 39,54 6,60 5,70 5,40 5,00

sumber: APBD 2008 – 2011, DJPK

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

221

Tabel 4.5 Trend Belanja Modal Daerah 2008-2011 Tahun 2008 2009 2010 2011 Total Belanja (miliar rupiah) 390.392 429.580 435.479 514.380 Belanja Modal (miliar rupiah) 112.134 114.598 96.179 113.523 Persentase terhadap total Belanja (%) 28,7 26,7 21,7 22,1

sumber: APBD 2008 – 2011, DJPK

selanjutnya apabila dilihat dari realisasi belanja daerah secara nasional pada tahun 2010 maka realisasi belanja daerah adalah Rp443 ,1 triliun sedikit lebih rendah dibanding anggarannya sebesar Rp439,5 triliun (99,1%). Realisasi belanja tersebut merupakan realisasi belanja daerah terbesar dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana komponen belanja daerah yang secara persentase mempunyai realisasi terbesar adalah belanja pegawai (101,2%). sedangkan realisasi belanja lainnya berkisar antara 95%-98%. Realisasi belanja daerah tahun 2010 hampir mencapai 100 persen, namun besaran silPA tahun berkenaan tahun 2010 tetap mengalami peningkatan yang cukup besar (Rp4,3 triliun), dimana peningkatan silPA tahun berkenaan TA 2010 cenderung disebabkan realisasi pendapatan yang mencapai 111,4% dan pembiayaan (115%). secara nominal silPA tahun berkenaan TA 2010 lebih besar dari TA 2009, namun secara proporsi terhadap pendapatan TA 2010 lebih kecil dari TA 2009. Proporsi silPA yang

222

Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

lebih kecil menunjukkan kuantitas pengeluaran daerah yang lebih besar. selanjutnya untuk memperkirakan besaran silPA tahun berkenaan tahun 2011 dapat digunakan data dana pemda di Perbankan, baik bank umum ataupun BPR. Penurunan atau peningkatan dana pemda di perbankan pasti diikuti oleh penurunan atau peningkatan silPA tahun berkenaan, oleh karena itu dapat diprediksi realisasi silPA tahun berkenaan TA 2011 lebih besar dari TA 2010.

4.6.2. Dana Idle Pemda di Perbankan Grafik 4.2 Trend SiLPA 2007-2010 Grafik 4.3 Trend Dana Pemda di Perbankan 2006-2011 (data Per Desember)

sumber: Realisasi APBD 2007-2010, DJPK sumber: BI

untuk mengetahui besarnya dana pemda yang idle atau tidak digunakan, maka dapat dilakukan analisis trend dana pemda di perbankan per bulan yang biasanya pada akhir Desember merupakan titik terendah dalam satu tahun anggaran. secara akumulatif dana pemda kabupaten/kota di perbankan lebih besar dari akumulasi dana pemda provinsi di perbankan.
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 223

Meskipun demikian, apabila dilihat per entitas unit pemerintahan, terlihat bahwa rata-rata dana pemerintah provinsi di Perbankan lebih besar daripada rata-rata dana pemerintah kabupaten/kota di Perbankan. secara tidak langsung hal tersebut menggambarkan dana pemerintah provinsi yang menganggur lebih besar dibanding dana pemerintah kabupaten/kota. Besaran dana yang belum tergunakan baik di provinsi ataupun kabupaten/ kota diharapkan dapat dikelola dengan lebih bijaksana, mengingat besaran dana tersebut yang cukup besar (kurang lebih 6% APBN), sedangkan fungsi utama pemerintah daerah adalah memberikan pelayanan dasar pada masyarakat, bukan mengembangkan transaksi pembiayaan secara berlebihan.

4.6.3.

Hubungan Belanja Daerah dengan Indikator Kesejahteraan Masyarakat

secara teoritis, indikator ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang dapat dipengaruhi oleh pemerintah daerah melalui kebijakan belanjanya adalah pengurangan pengangguran dan kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi juga merupakan indikator yang dapat dipengaruhi oleh belanja daerah, namun mengingat bahwa kontribusi belanja pemerintah daerah dalam pembentukan PDRB relatif kecil, maka signifikansi secara langsung mungkin tidak terlalu besar. Namun demikian, belanja pemerintah daerah tentunya bukan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi indikator ekonomi, masih banyak faktor lain seperti investasi swasta, kebijakan ekonomi nasional, kondisi sosial politik, dan lain-lain. Mengenai hubungan antara realisasi belanja daerah dengan jumlah pengangguran dan jumlah kemiskinan, grafik di bawah menunjukkan pola hubungan yang relatif sama, yaitu hubungan negatif kedua indikator
224 Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

ekonomi dengan realisasi belanja daerah (grafik menunjukkan hubungan belanja tahun t-1 dengan pengangguran dan kemiskinan tahun t). Hal ini berarti peningkatan belanja daerah diikuti dengan penurunan pengangguran dan kemiskinan ditahun berikutnya. Kenaikan realisasi belanja daerah tahun 2010 dibandingkan dengan tahun 2009 ternyata selaras dengan penurunan baik jumlah pengangguran maupun jumlah kemiskinan. Kenaikan realisasi belanja dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar Rp37,7 Triliun (10,3%) diikuti penurunan jumlah pengangguran dan jumlah kemiskinan dari tahun 2009 ke tahun 2010 sebesar masing-masing 640 ribu orang (7,14%) dan 1,33 juta orang (4,09%). sementara itu, untuk tahun 2010 belanja mengalami kenaikan sebesar Rp34,9 Triliun (8,61%) dan diikuti penurunan baik jumlah pengangguran dan kemiskinan pada tahun 2011 sebesar masing-masing 200 ribu orang (2,4%) dan 1 juta orang (3,21%).

Grafik 4.4 Hubungan Realisasi Belanja Daerah dengan Jumlah Kemiskinan dan Pengangguran

sumber: DJPK dan BPs

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

225

Grafik 4.5 Hubungan antara Realisasi Belanja Daerah dengan Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran

sumber: DJPK dan BPs

Pola yang sama juga terjadi untuk perbandingan antara belanja daerah dengan tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan sebagaimana dapat dilihat pada grafik di atas. Kenaikan realisasi belanja daerah dari tahun 2008 ke tahun 2009 diikuti pola penurunan persentase tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan pada tahun 2010 masing-masing sebesar 0,8% dan 0,9%, sementara untuk 2010, kenaikan realisasi belanja daerah diikuti oleh penurunan tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan pada tahun 2011 masing-masing sebesar 0,3% dan 0,8%.

4.7. KOMUNIKASI

DAN

MANAJEMEN

DATA

NASIONAL

SIKD

(KOMANDAN SIKD) 4.7.1. Pendahuluan Pemerintah Pusat sebagai perumus dan pelaksana kebijakan APBN berkewajiban untuk terbuka dan bertanggung jawab terhadap seluruh
226 Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

hasil pelaksanaan pembangunan. salah satu bentuk tanggung jawab tersebut adalah menyediakan informasi keuangan yang komprehensif kepada masyarakat luas, termasuk di dalamnya informasi keuangan daerah. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah berkewajiban untuk mengembangkan dan memanfaatkan perkembangan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan kemampuan mengelola keuangan daerah dan menyampaikan informasi keuangan daerah kepada stakeholder. Hal ini dilakukan agar proses pembangunan sejalan dengan prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Dalam rangka mewujudkan good governance, Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang sistem Informasi Keuangan Daerah (sIKD) sebagaimana direvisi dengan PP Nomor 65 Tahun 2010, mengatur mengenai penyelenggaraan sIKD. Dalam PP tersebut diamanatkan bahwa penyelenggara sIKD secara nasional adalah Menteri Keuangan, sedangkan Pemerintah Daerah menyelenggarakan sIKD di daerahnya masing-masing dengan menggunakan sistem informasi pengelolaan keuangan daerah. sistem informasi pengelolaan keuangan daerah yang dipergunakan oleh 524 Pemerintah Daerah cukup beragam. sistem informasi pengelolaan keuangan daerah yang berhasil diidentifikasi antara lain Aplikasi sIPKD yang dikelola Kementerian Dalam Negeri, aplikasi sIMDA dikelola BPKP dan beberapa aplikasi lainnya yang dikembangkan oleh pengembang swasta. Proses penyampaian informasi keuangan daerah hingga saat ini mayoritas masih dikirimkan dalam bentuk hardcopy sehingga harus diolah terlebih dahulu sebelum bisa digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan. untuk mengatasi kendala tersebut pada tahun anggaran 2010 DJPK mengembangkan suatu sistem Komunikasi dan Manajemen Nasional

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

227

sIKD (Komandan sIKD) sebagai perwujudan pelaksanaan sIKD secara nasional. Konsep dasar Komandan adalah sistem integrasi, yaitu sistemsistem berbeda yang ada di pemerintah daerah disatukan outputnya dengan pembakuan elemen data. Komandan sIKD merupakan suatu sistem integrasi yang menjembatani komunikasi data antara berbagai sistem pengelolaan keuangan daerah dengan menggunakan teknologi informasi sesuai standardisasi input, proses dan ouput yang ditetapkan serta mengolah data tersebut dalam suatu manajemen data nasional dengan prinsip akurat, relevan dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga menghasilkan informasi yang dapat membantu pengambilan keputusan dalam penetapan kebijakan desentralisasi fiskal.

4.7.2. Landasan Hukum Komandan sIKD sebagai penyelenggaraan sIKD secara nasional erat kaitannya dengan Penyelenggara, Tata Cara Penyampaian IKD, dan tata cara teknis penyampaian IKD. 1. Penyelenggaraan sIKD secara Nasional Penyelenggaraan sIKD secara Nasional dilaksanakan oleh Menteri Keuangan c.q Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan dengan dasar hukum: a. BAB XII Pasal 101 – 104 Pasal uu Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah; b. PP Nomor 56 Tahun 2005 tentang sistem Informasi Keuangan Daerah;

228

Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

c.

PP Nomor 65 Tahun 2010 tentang Perubahan atas PP Nomor 56 Tahun 2005 tentang sistem Informasi Keuangan Daerah.

2. Tata Cara Penyampaian Informasi Keuangan Daerah Tata cara penyampaian informasi keuangan daerah diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 46/PMK.02/2006 yang telah dilakukan perubahan dengan PMK Nomor 04/PMK.07/2011 tentang Tata Cara Penyampaian Informasi Keuangan Daerah. 3. Tata Cara Teknis Penyampaian Informasi Keuangan Daerah Dalam rangka percepatan penyampaian informasi keuangan daerah maka disusun surat Edaran Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Nomor sE-03/PK/2011 tentang Tata Cara Teknis Penyampaian Informasi Keuangan Daerah Melalui sistem Komunikasi dan Manajemen Data Nasional sIKD (Komandan sIKD).

4.7.3.

Konsep KOMANDAN SIKD

4.7.3.1. Definisi Komandan sIKD merupakan suatu sistem integrasi yang menjembatani komunikasi data antara berbagai sistem pengelolaan keuangan daerah yang diselenggarakan oleh Pemerintah daerah dengan menggunakan teknologi informasi sesuai standardisasi input, proses dan ouput yang ditetapkan serta mengolah data tersebut dalam suatu manajemen data nasional dengan prinsip akurat, relevan dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga menghasilkan informasi yang dapat membantu pengambilan keputusan dalam penetapan kebijakan desentralisasi fiskal.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

229

4.7.3.2. Helpdesk Komandan sIKD dapat diakses di website DJPK dengan alamat www.djpk. depkeu.go.id. Apabila memerlukan penjelasan teknis dapat menghubungi Tim Helpdesk Komandan sIKD pada Telepon (021) 3440715; Fax. (021) 3505103 atau Email : komandansikd@djpk.depkeu.go.id.

4.7.4. Manfaat Komandan SIKD Manfaat pelaksanaan penyelenggaraan Komandan sIKD sebagai

perwujudan sIKD secara Nasional adalah sebagai berikut: 1. Memberi kemudahan bagi Pemerintah Daerah dalam mengirimkan Informasi Keuangan Daerah kepada DJPK. 2. Menyediakan Informasi Keuangan Daerah secara nasional yang lengkap, dapat diandalkan, akurat dan up-to-date. 3. Menyediakan analisa pengelolaan keuangan daerah sebagai bahan evaluasi dalam perumusan kebijakan. 4. Menyediakan informasi keuangan daerah yang diperlukan dalam perhitungan alokasi Transfer ke Daerah.

4.8. WEB-BASED REPORTING SYSTEM (WBRS) 4.8.1. Latar Belakang sejak dilaksanakan desentralisasi fiskal pada tahun 2001 berdasarkan uu Nomor 25 Tahun 1999 yang direvisi dengan uu Nomor 33 Tahun 2004, jumlah alokasi dana yang didaerahkan dari tahun ke tahun semakin meningkat. Besaran dana dari pemerintah pusat yang didaerahkan untuk
230 Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

provinsi rata-rata 60% dari APBD dan untuk kabupaten/kota sekitar 85% dari APBD. Dana tersebut berupa Dana Alokasi umum (DAu) dan Dana Bagi Hasil (DBH) yang bersifat block-grant, dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang bersifat specific-grant. sejalan dengan reformasi keuangan negara, sejak tahun 2008 Pemerintah Pusat menyalurkan langsung dana transfer ke daerah. Transfer ke daerah terdiri dari DAu, DBH, DAK dan Dana Penyesuaian. Pasal 39 uu Nomor 33 Tahun 2004 menyebutkan bahwa DAK dialokasikan kepada pemerintah daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah. Demikian halnya dalam Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 ditegaskan bahwa DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional dan menjadi urusan daerah. sebagai bagian dari perwujudan prioritas nasional, DAK terutama sektor infrastruktur seperti proyek jalan, irigasi, air minum dan sanitasi merupakan dana transfer ke daerah yang outputnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. sampai dengan tahun 2010, Pemerintah pusat sudah menyalurkan DAK secara langsung sebesar Rp66,85 Triliun kepada pemerintah daerah. Pertanggungjawaban dana yang telah disalurkan kepada Pemerintah Daerah dilakukan dengan membuat suatu laporan pertanggungjawaban keuangan dan teknis proyek DAK. laporan tersebut selama ini dicetak dalam jumlah terbatas dan didistribusikan pada kalangan terbatas sehingga informasi yang komprehensif mengenai proyek tersebut hingga saat ini belum bisa dijadikan sebagai bahan pengambilan kebijakan. Meskipun Kementerian Keuangan dan Kementerian Pekerjaan umum masing-masing telah mengembangkan suatu sistem evaluasi dan pelaporan teknis dan keuangan yang berbasis web namun masih belum seperti yang

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

231

diharapkan sehingga akuntabilitas pelaporan teknis dan keuangan DAK belum bisa terukur secara komprehensif. laporan keuangan dan teknis DAK diharapkan berisi laporan yang lengkap (complete), andal (realiable), terkini (up to date) dan akurat (accurate) dengan menggunakan sistem pelaporan yang aman (secure). Dalam rangka meningkatkan akuntabilitas terhadap hasil pelaksanaan DAK baik dari sisi keuangan maupun teknis maka perlu dikembangkan suatu sistem pelaporan terintegrasi yang mudah diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan termasuk masyarakat. untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka pada tahun anggaran 2011 Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan mengembangkan sebuah sistem pelaporan DAK berbasis web yang diberi nama Web-Based Reporting System (WBRs) melalui Proyek Pemerintah Daerah dan Desentralisasi (P2D2).

4.8.2. Ruang Lingkup WBRs diharapkan dapat menyatukan pelaporan keuangan di Kementerian Keuangan, pelaporan teknis di Kementerian Pekerjaan umum, monitoring dan evaluasi serta verifikasi output yang dilakukan oleh BPKP. Pada tahap awal sistem ini akan diterapkan hanya pada DAK untuk bidang infrastruktur (jalan, irigasi, air minum, dan sanitasi) di 5 provinsi sebagai pilot project yaitu Jambi, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, sulawesi Barat, dan Maluku utara beserta kabupaten/kota di dalamnya. Tahap selanjutnya aplikasi WBRs tersebut akan diterapkan di seluruh daerah penerima DAK bidang infrastruktur. Dengan adanya WBRs maka seluruh informasi proyek DAK bidang infrastruktur dapat disajikan secara cepat dan lengkap. Informasi tentang lokasi proyek, gPs, data teknis, kemajuan fisik, dan gambar (foto) riil
232 Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

kemajuan proyek beserta informasi penggunaan/penyerapan dana tersaji lengkap dalam WBRs.

4.8.3. Manfaat Aplikasi WBRs akan diimplementasikan kepada Pemerintah Daerah yang masuk sebagai pilot project mulai tahun 2012. Adapun manfaat yang didapat dari implementasi WBRs antara lain adalah: 1. Meningkatkan akuntabilitas pengelolaan DAK baik di Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah; 2. Memudahkan akses pihak-pihak terkait dan masyarakat terhadap informasi tentang DAK; 3. Penyajian informasi keuangan dan fisik suatu proyek DAK secara komprehensif, cepat dan akurat; 4. Memudahkan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan DAK di daerah.

4.9. KONSOLIDASI LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN LAPORAN KEUANGAN TRANSFER KE DAERAH TAHUN ANGGARAN 2010 4.9.1. Latar Belakang Penyusunan laporan keuangan konsolidasi antara laporan Keuangan Pemerintah Daerah (lKPD) dengan laporan Keuangan Transfer ke Daerah (lKTD) merupakan inisiasi untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

233

Berdasarkan hasil pemeriksaan BPK yang termuat dalam laporan hasil reviu transparansi fiskal pemeriksanan tahun 2008 nomor 25/05/lHP/XV/05/2009 pada tanggal 20 Mei 2009, BPK menyatakan bahwa pelaksanaan peran dan tanggung jawab Pemerintah Pusat dalam pengelolaan fiskal masih memiliki kelemahan antara lain belum adanya mekanisme konsolidasi lKPD dan rendahnya transparansi fiskal pada tingkat Pemerintah Daerah. Dengan demikian, perlu melaksanakan konsolidasi lKPD dengan lKTD.

4.9.2. Lingkup, Tujuan dan Sumber Data lingkup penyajian laporan keuangan konsolidasi antara lKPD dengan lKTD ini dibatasi pada penggabungan laporan Realisasi Anggaran/lRA pada lKPD dan lKTD dengan unsur-unsur pendapatan dan belanja. Tujuan utama penyajian laporan konsolidasi adalah dalam rangka memenuhi kewajiban transparansi fiskal oleh Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal nasional. Data yang tersaji diharapkan memberi manfaat bagi para pihak yang berkepentingan seperti kalangan dunia usaha, akademisi dan masyarakat luas serta kalangan pengambil keputusan di pemerintahan, baik pusat maupun daerah. selanjutnya, laporan konsolidasi ini akan menjadi bahan untuk konsolidasi dengan laporan Keuangan Pemerintah Pusat (lKPP) sumber data dalam penyusunan laporan keuangan konsolidasi ini antara lain lKTD, lKPD berupa lRA pemerintah provinsi, kabupaten.

4.9.3. Dasar Penyusunan Laporan Konsolidasian PsAP Nomor 11 tentang laporan Keuangan Konsolidasian (PP 71 tahun 2010 tentang sAP lampiran II) menyatakan laporan konsolidasian adalah
234

Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

suatu laporan keuangan yang merupakan gabungan keseluruhan laporan keuangan entitas pelaporan sehingga tersaji sebagai satu laporan tunggal. Hasil akhir dari laporan konsolidasian tidak dimaksudkan untuk tujuan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan, tetapi lebih pada tujuan transparansi fiskal. Tanggung jawab atas nilai dari masing-masing unsur laporan keuangan yang dikonsolidasikan tetap berada pada masing-masing entitas pelaporan. Konsolidasi dilaksanakan dengan cara menggabungkan dan menjumlahkan akun yang diselenggarakan oleh entitas pelaporan dengan entitas pelaporan lainnya dengan atau tanpa mengeliminasi akun timbal balik. salah satu unsur pokok pendapatan pada lKPD adalah transfer dari pemerintah pusat, maka penyusunan laporan konsolidasi lKPD menjadi lebih mudah dan bermanfaat jika prosesnya dimulai dari konsolidasi.

4.9.4. Gambaran Umum Hasil Konsolidasi Berdasarkan hasil konsolidasi, pada tahun 2010 transfer dari pemerintah pusat menyumbang 80,91% dari seluruh pendapatan daerah dengan jumlah nominal sebesar Rp343,9 triliun, sedangkan PAD menyumbang 19,09% dengan jumlah nominal sebesar Rp81,1 triliun. Di sisi belanja, porsi terbesar digunakan untuk belanja pegawai, yaitu mencapai 47,26% dari total pendapatan dengan nominal sebesar Rp200,9 triliun, sedangkan belanja modal mendapatkan porsi 22,11% dengan nominal sebesar Rp94 triliun. Di sisi belanja, Belanja Pegawai yang merupakan komponen terbesar pengeluaran daerah terus mengalami kenaikan. Pada tahun anggaran (TA) 2009 kenaikan jenis belanja ini adalah sebesar 13,25% dibanding TA 2008, yaitu dari Rp148,5 triliun menjadi Rp168,2 triliun, sementara pada tahun
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 235

2010 terjadi kenaikan 19,44% sehingga jumlah Belanja Pegawai mencapai Rp200,9 triliun. Di lain pihak, Belanja Transfer (didominasi dari pemerintah kabupaten ke desa) terus mengalami penurunan, dari Rp4,5 triliun di tahun 2008 turun 12,25% menjadi Rp3,9 triliun pada tahun 2009, dan turun lagi 41,0% hingga mencapai Rp2,3 triliun di tahun 2010. Peningkatan pendapatan dari tahun 2009 ke tahun 2010 sebesar 14,43% atau dari Rp371,5 triliun menjadi Rp425,1 triliun yang diikuti peningkatan belanja hanya sebesar 4,35% dari Rp390,49 triliun menjadi Rp407,35 triliun mengubah defisit Rp19,0 triliun pada tahun 2009 menjadi surplus Rp17,7 triliun pada tahun 2010. surplus ini dipengaruhi oleh adanya penyaluran transfer non-DAu sebesar Rp38 triliun pada Desember 2010 yang mengakibatkan daerah baru dapat membelanjakan pendapatan tersebut pada tahun 2011. Tabel 4.6 Konsolidasi Realisasi APBD & Transfer ke Daerah TA 2008 – 2010 (dalam juta rupiah) No. 1 2 3 4 5 7 8 9 PENDAPATAN/BELANJA PENDAPATAN PENDAPATAN AslI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah PAD lainnya1) PENDAPATAN TRANsFER DBH Pajak DBH sDA TA 2008 TA 2009 TA 2010 425.080.266 81.140.393 56.171.965 7.700.594 17.267.835 343.939.872 45.799.404 44.394.237

353.392.243 371.466.770 64.745.871 44.693.411 8.003.155 12.049.304 37.680.548 36.952.510 67.528.250 45.127.168 7.656.295 14.770.316 40.318.393 30.099.773

288.646.372 303.938.520

236

Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

No.

PENDAPATAN/BELANJA

TA 2008 t.a. 20.787.347

TA 2009 1.065.069 24.707.415 21.333.769

TA 2010 1.202.111 203.571.491 20.956.311 28.016.319 407.355.390 200.889.683 80.727.070 93.995.193 29.440.130 2.303.314

10 DBH CHT2) 11 DAu 12 DAK 13 Transfer lainnya 14 BElANJA 15 Belanja Pegawai 16 Belanja Barang 17 Belanja Modal 18 Belanja lainnya 19 Transfer
4) 3)

179.507.145 186.414.100 13.718.822

347.915.951 390.489.653 148.515.158 168.188.147 66.584.523 31.065.096 4.450.465 75.226.171 40.640.492 3.905.435 97.300.708 102.529.407

Keterangan: 1) PAD lainnya terdiri dari Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan/HPKDYD dan lain-lain PAD. 2) DBH CHT/Cukai Hasil Tembakau baru ada mulai TA 2009. 3) Transfer lainnya terdiri dari Dana otonomi Khusus dan Dana Penyesuaian. 4) Transfer pada kelompok belanja merupakan transfer ke desa.

4.10. PENETAPAN DAN PENYAMPAIAN PERDA APBD sejalan dengan tuntutan reformasi untuk menyelenggarakan tata kelola pemerintahan yang baik, salah satu hal yang harus dilakukan dibidang Keuangan Negara/Daerah adalah melaksanakan pengelolaan keuangan secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. siklus pengelolaan keuangan daerah diawali dengan penyusunan Perda APBD. APBD merupakan alat yang penting dalam rangka mewujudkan pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, pertumbuhan ekonomi di daerah serta penyempurnaan program pembangunan baik di bidang infrastruktur,
Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 237

pendidikan, kesehatan maupun bidang-bidang lainnya sesuai dengan standar pelayanan minimal yang ditetapkan. Berdasarkan PP No 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, Perda APBD harus sudah ditetapkan paling lambat 31 Desember TA sebelumnya. sementara itu, sesuai amanat PP No 56 Tahun 2005 sebagaimana direvisi dengan PP No 65 Tahun 2010, penyampaian Perda APBD oleh Pemda ke Menteri Keuangan paling lambat 31 Januari TA berjalan. Pada tabel berikut dapat dilihat perkembangan penyelesaian atau penetapan Perda APBD dalam kurun waktu tahun 2007-2012. Tabel 4.7 Penetapan Perda APBD TA 2007-2012 Batas Waktu Des Thn Sebelum Jan Peb Mar Setelah Maret Total Jumlah Daerah 2007 25 85 105 125 127 467 2008 118 188 93 50 35 484 2009 118 186 109 73 24 510 2010 214 160 76 60 14 524 2011 211 176 62 62 13 524 2012 274 139 60 41 10 524

Tabel 4.7 menunjukkan tren kepatuhan daerah dalam menetapkan Perda APBD mengalami peningkatan dari tahun ke tahun meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2011 tetapi kembali meningkat pada tahun 2012. Namun demikian pada tahun 2012, masih terdapat 250 daerah

238

Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

Pelengkap Buku Pegangan 2012

(47,71%) yang terlambat menetapkan APBD, yaitu menetapkan APBD TA 2012 pada tahun berjalan. Grafik 4.6 Penyampaian APBD 2012 Prov., Kab., dan Kota Se-Indonesia

Berdasarkan grafik 4.6, dapat dilihat bahwa secara umum, jumlah daerah yang menyampaikan APBD tepat waktu, yaitu pada bulan Januari TA berjalan, semakin meningkat. Namun jika dilihat dari jumlah daerah, masih banyak daerah yang menyampaikan Perda APBD setelah bulan Januari. Pada tahun 2012 misalnya, terdapat 267 daerah (50,95%) yang menyampaikan perda APBD tepat waktu, sedangkan sisanya menyampaikan setelah bulan Januari TA berjalan.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

239

Kendala-kendala yang mempengaruhi proses penetapan APBD Keterlambatan penetapan APBD akan berpengaruh secara langsung terhadap penyampaian APBD ke Menteri Keuangan. Beberapa kendala yang dihadapi daerah, diantaranya: 1. Peraturan-peraturan tentang pengelolaan keuangan daerah yang ada saat ini masih belum sinkron satu dengan yang lain. 2. Pelaksanaan bimtek, sosialisasi dan diseminasi mengenai pengelolaan keuangan daerah yang dilakukan pemerintah pusat dirasa masih kurang, baik dari sisi materi maupun frekuensi. 3. Kualitas dan kuantitas sDM yang dimiliki oleh Pemda masih belum memadai. 4. sarana dan prasarana pendukung yang masih terbatas. 5. Penggunaan aplikasi berbasis komputer dalam proses penyusunan APBD masih belum memadai.

Langkah Strategis yang perlu dilakukan Terkait dengan kendala-kendala tersebut diatas, perlu dilakukan berbagai upaya antara lain: 1. sinkronisasi daerah 2. Dalam rangka meningkatkan kualitas sDM, Pemerintah Pusat perlu melakukan program bimbingan teknis terkait proses penyusunan APBD secara berkesinambungan 3. Perlu pengembangan prasarana pendukung di daerah sesuai peraturan-peraturan tentang pengelolaan keuangan

kebutuhan.
240

Pendukung Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Tahun 2012

BAB V PENUTUP

242

Penutup

Pelengkap Buku Pegangan 2012

BAB V PENUTUP
Penyelenggaraan desentralisasi fiskal antara lain menekankan peningkatan peranserta masyarakat, dan pemerataan keadilan dengan memperhitungkan berbagai aspek yang berkenaan dengan potensi dan keanekaragaman antardaerah. Pelaksanaan desentralisasi fiskal ini dianggap sangat penting, karena tantangan perkembangan lokal, nasional, regional, dan internasional di berbagai bidang ekonomi, politik dan kebudayaan terus meningkat dan mengharuskan diselenggarakannya desentralisasi fiskal yang luas, nyata, dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional. Pelaksanaan desentralisasi fiskal itu diwujudkan dengan pengaturan, pembagian, dan pemanfaatan sumberdaya masing-masing serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. sumber-sumber pendapatan potensial yang dimiliki suatu daerah akan menentukan juga tingkat kemampuan keuangannya. setiap daerah mempunyai potensi pendapatan yang berbeda karena perbedaan kondisi ekonomi, sumber daya alam, besaran wilayah, tingkat pengangguran dan jumlah penduduk. sumber-sumber pendapatan potensial tercermin dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pendapatan Asli Daerah sebagai salah satu sumber pendapatan daerah merupakan sumber pendapatan yang dapat diperoleh dengan memanfaatkan serta mengelola sumber-sumber keuangan daerahnya sendiri. Besarnya PAD sangat menentukan tingkat perkembangan otonomi suatu daerah. semakin besar jumlah penerimaan PAD berarti semakin besar pula kesempatan daerah tersebut untuk mengadakan perkembangan

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

243

dan pembangunan daerah menuju penyelenggaraan otonomi daerah yang nyata dan bertanggung jawab. Peningkatan daya saing merupakan kinerja pemerintah yang berfokus pada peningkatan iklim investasi dan usaha, percepatan penyediaan infrastruktur atau pembangunan jalur penyambung antar daerah, peningkatan pembangunan industri di berbagai koridor ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja. Melalui kebijakan desentralisai fiskal diharapkan perekonomian daerah menjadi tumbuh lebih pesat yang akhirnya akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapan ini tidaklah berlebihan mengingat transfer uang ke daerah dalam era desentralisasi fiskal semakin besar dibandingkan dengan era sebelumnya. Disamping itu Pemerintah Pusat juga telah mendelegasikan sejumlah wewenang ke daerah.

244

Penutup

Pelengkap Buku Pegangan 2012

DAFTAR PUSTAKA
Asian Development Bank (ADB) TA 3967-INo: local government Provision of Minimum Basic service for the Poor, 2005. Bappenas, (2004), “sistem Perencanaan Pembangunan Nasional”, Jakarta: Bappenas (www.bappenas.go.id). BPKP, Pedoman Penyusunan APBD Berbasis Kinerja, 2005. Brodjonegoro, Bambang Ps dan Robert A. simanjuntak, (2005), “study on Decentralization Framework and Fiscal and Administrative Capacity of local governments in Indonesia”, laporan Akhir, Japan Bank for International Cooperation (JBIC) and Institute for Economics and social Research-Faculty of Economics university of Indonesia (lPEMFEuI), Jakarta: lPEM-FEuI. Building Institutions for good governance (BIgg), “Pedoman Acuan Anggaran Kinerja”, 2003-2004. Ikatan sarjana Ekonomi Indonesia (IsEI) Pusat, (2005). “sinergi Pembangunan antara Pusat dan Daerah”, draft hasil Focus group Discussion (FgD) sinergi Pembangunan antara Pusat dan Daerah, Ikatan sarjana Ekonomi Indonesia (IsEI) Pusat, Jakarta, Juli 2005. Kementerian Keuangan, (2010), Buku Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2010. Kementerian Keuangan, (2010), “Nota Keuangan APBN 2011”, Jakarta: Kemenkeu RI (www. depkeu.go.id). Kuncoro, M., (2004). “otonomi Daerah: Reformasi, Perencanaan, strategi dan Peluang”. Jakarta: Penerbit Erlangga. laporan Panitia Kerja Belanja Daerah dalam Rangka Pembicaraan Tingkat I/Pembahasan Ruu tentang RAPBN TA.2006. lPEM FEuI dan PsE-KP FEugM. Reformulasi Dana Alokasi umum: laporan Penelitian, 2004. Pemerintah Republik Indonesia, (2009), “Produk Hukum dan Perundang-undangan”, Jakarta: Pemerintah RI (www.indonesia.go.id). Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri No. 186/PMK.07/2010 dan 53 Tahun 2010 tentang Tahapan Pengalihan BPHTB menjadi Pajak Daerah.

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

245

Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri No. 213/PMK.07/2010 dan 58 Tahun 2010 tentang Tahapan Pengalihan PBB Perdesaan dan Perkotaan menjadi Pajak Daerah. Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas No. 005/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan Pengajuan usulan serta Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri yang mengatur perencanan dan proses lebih lanjut pengadaan Pinjaman/ Hibah luar Negeri oleh Pemerintah Pusat. Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Perpres Nomor 15 Tahun 2012 tentang Harga Jual Eceran dan Konsumen Pengguna Jenis BBM Tertentu. PMK No. 04/PMK.07/2011 tentang tentang Tata Cara Penyampaian Informasi Keuangan Daerah. PMK No. 53/2006 tentang Tatacara Pemberian Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya Bersumber dari Pinjaman luar Negeri yang mengatur proses lebih lanjut penerusan Pinjaman luar Negeri Pemerintah kepada pemerintah daerah dalam bentuk pinjaman. PMK No. 147/PMK.07/2006 tentang Tatacara Penerbitan, Pertanggungjawaban dan Publikasi Informasi obligasi Daerah, diatur lebih lanjut tentang perencanaan, pengajuan usulan dan persetujuan serta pernyataan pendaftaran umum. PMK No. 171/PMK.06/2007 tentang sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan pemerintah Pusat, serta aturan pelaksanaanya. PMK No. 129/PMK.07/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan sanksi Pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil Dalam Kaitannya Dengan Pinjaman Daerah Dari Pemerintah Pusat. PMK No. 153/PMK.05/2008 Tentang Penyelesaian Piutang Negara Yang Bersumber Dari Penerusan Pinjaman luar Negeri, Rekening Dana Investasi, Dan Rekening Pembangunan Daerah pada Pemerintahan Daerah. PMK No. 156/PMK.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. PMK No. 20/PMK.07/2008 tenntang Perubahan PMK no. 84/PMK.07/2008 tentang Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau dan sanksi akan Penyalahgunaan Alokasi DBH Cukai Tembakau.

246

Daftar Pustaka

Pelengkap Buku Pegangan 2012

PMK No. 21/PMK.07/2009 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. PMK No. 223 Tahun 2009 tentang Alokasi dan Pedoman umum Dana Tambahan Penghasilan Bagi guru PNsD Kepada Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2009. PMK No. 197 Tahun 2009 tentang Dasar Pembagian Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Kepada Provinsi Penghasil Cukai dan/atau Provinsi Penghasil Tembakau. PMK No. 174 Tahun 2009 tentang Peta Kapasitas Fiskal Daerah. PMK No. 168 Tahun 2009 tentang Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan. PMK No. 11/PMK.07/2010 tentang Tata Cara Pengenaan sanksi Terhadap Pelanggaran Ketentuan di Bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. PMK No. 147/PMK.07/2010 tentang Badan atau Perwakilan Internasional yang Dikecualikan sebagai subjek BPHTB. PMK No. 148/PMK.07/2010 tentang Badan atau Perwakilan Internasional yang Dikecualikan sebagai subjek PBB Perdesaan dan Perkotaan. PMK No. 149/PMK.07/2010 tentang Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, dan Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2011. PMK No. 216/PMK.07/2010 tentang Pedoman umum dan Alokasi DAK Tahun Anggaran 2011. PMK No. 245/PMK.07/2010 tentang Peta Kapasitas Fiskal Daerah. PMK No. 47/PMK.07/2011 tentang Tata Cara Penyelesaian Tunggakan Pinjaman Pemerintah Daerah Kepada Pemerintah Melalui sanksi Pemotongan Dana Alokasi umum (DAu) dan/atau Dana Bagi Hasil (DBH). PMK No. 66/PMK.07/2011 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam rangka Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2012. PMK No. 125/PMK.06/2011 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara yang Berasal Dari Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan sebelum TA 2011. PMK No. 162/PMK.07/2011 tentang Tata Cara Pemotongan DAu dan/atau DBH Bagi Daerah Induk/Provinsi yang tidak mematuhi Kewajiban Hibah/Bantuan Pendanaan Kepada Daerah otonom Baru (DoB).

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

247

PMK No. 201/PMK.07/2011 tentang Pedoman umum dan Alokasi Bantuan operasional sekolah Tahun Anggaran 2012. PMK No. 20/PMK.07/2012 tentang Pedoman umum dan Alokasi Bantuan operasional sekolah untuk sekolah di Daerah Terpencil TA 2012. PMK No. 6/PMK.07/2012 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Transfer ke Daerah. PP No. 92 Tahun 1999 tentang Perubahan Kedua atas PP Nomor 59 Tahun 1998 tentang Tarif Atas Jenis PNBP yang berlaku pada Departemen Kehutanan dan Perkebunan. PP No. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah otonom. PP No. 106 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. PP No. 75 Tahun 2001 tentang Perubahan Kedua Atas PP No. 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan uu No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. PP No. 56 Tahun 2001 tentang laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. PP No. 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. PP No. 45 Tahun 2003 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan pajak yang berlaku pada Departemen EsDM. PP No. 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga. PP No. 24 Tahun 2005 tentang standar Akuntansi Pemerintahan. PP No. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. PP No. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. PP No. 65 Tahun 2010 tentang sistem Informasi Keuangan Daerah. PP No. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. PP no. 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. PP No. 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri.

248

Daftar Pustaka

Pelengkap Buku Pegangan 2012

PP No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Kekayaan Negara/ Daerah. PP No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. PP No. 3 Tahun 2007 tentang laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Pemerintah, laporan Keterangan Pertanggungjawaban Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Informasi laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat. PP No. 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan uang Negara/Daerah, PP No. 78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah. PP No. 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah. PP No. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. PP No. 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. PP No. 79 tahun 2010 tentang Biaya operasi Yang Dapat Dikembalikan Dan Perlakuan Pajak Penghasilan Di Bidang usaha Hulu Minyak Dan gas Bumi. PP No. 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah yang Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah (official Assessment) atau Dibayar sendiri oleh Wajib Pajak (self Assessment). PP No. 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah. PP No. 2 tahun 2012 tentang Hibah Daerah. PP No. 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman luar Negeri dan Penerimaan Hibah. sidik, Machfud et.all. Dana Alokasi umum: Konsep, Hambatan, dan Prospek di Era otonomi Daerah. (Jakarta: Kompas, 2002). smoke, Paul, “Can Desentralization Help Rebuild Indonesia”, paper for Conference Expenditure Assignment under Indonesia’s Emerging Decentralization: A Review of Progress and Issues for the Future, sponsored by the International studies Program, Andrew Young school of Policy studies, georgia state university, Atlanta, May 2002. surat Edaran Bersama (sEB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Nomor: 0239/M.PPN/11/2008,

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

249

sE-1722/MK.07/2011, 950/3556/sJ tentang Petunjuk Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan DAK. surat Edaran Menteri Nomor: 151/MK.07/200 tanggal 27 April 2010 tentang Prioritas Penggunaann DBH Cukai Hasil tembakau TA 2010. uuD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. uu No. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. uu No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. uu No. 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan. uu No. 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. uu No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. uu No. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. uu No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. uu No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. uu No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. uu No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. uu No. 39 Tahun 2007 tentang Cukai Perubahan Atas undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai. uu No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. uu No. 22 Tahun 2011 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara TA 2012. World Bank Dutch Trust Fund, “strengthening Indonesia’s Framework for Decentralization”, support to the Ministry of Home Affairs, November 2002. World Bank Report of Dutch Trust Fund Package 8 on “Reformulasi Dana Alokasi umum”, 2004.

250

Daftar Pustaka

Pelengkap Buku Pegangan 2012

INDEX
A
Akuntabilitas 4, 13, 20, 22, 45, 135, 164, 185, 187, 196, 200, 232, 233

B
Bantuan operasional sekolah (Bos) 7, 32 Belanja daerah 7, 17, 219, 222, 224, 225, 226

D
Dana Dana urusan Bersama 3, 4, 7, 12, 14, 15, 17, 20, 23, 24, 26, 27, 28, 29, 31, 32, 33, 35, 37, 38, 39, 40, 45, 46, 48, 50, 51, 59, 65, 73, 80, 81, 83, 84, 127, 128, 129, 132, 133, 134, 135, 137, 139, 149, 150, 151, 157, 179, 181, 186, 187, 192, 193, 194, 195, 196, 197, 198, 210, 211, 213, 215, 219, 223, 224, 230, 231, 233 Dana Alokasi umum 15, 24, 27, 44, 93, 181, 188, 201, 231, 246, 247, 248, 251, 253 Dana Bagi Hasil dana bagi hasil pajak 7, 15, 24, 25, 28, 44, 45, 51, 53, 56, 61, 67, 68, 69, 84, 87, 90, 96, 105, 131, 132, 133, 142, 181, 188, 201, 231, 247, 248 dana bagi hasil sDA 7, 15, 24, 25, 28, 44, 45, 51, 53, 56, 61, 67, 68, 69, 84, 87, 90, 96, 105, 131, 132, 133, 142, 181, 188, 201, 231, 247, 248 Dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan 7, 39, 40

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

251

H
Hibah Hibah daerah 5, 7, 12, 34, 35, 36, 37, 38, 129, 137, 140, 178, 182, 185, 186, 187, 188, 189, 190, 211, 212, 213, 214, 215 Hibah luar negeri 5, 7, 12, 34, 35, 36, 37, 38, 129, 137, 140, 178, 182, 185, 186, 187, 188, 189, 190, 211, 212, 213, 214, 215

K
Komandan sIKD 226, 229 Kriteria khusus Kriteria teknis 104, 105, 125

O
obligasi daerah 36, 178

P
Pajak Pajak Bumi dan Bangunan 21, 25, 47, 91, 96, 142, 149, 150, 155, 162, 163, 252 Pajak daerah dan retribusi daerah 15, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 25, 28, 43, 45, 46, 47, 48, 50, 51, 61, 82, 84, 86, 87, 90, 91, 94, 96, 99, 131, 142, 143, 144, 145, 146, 147, 148, 149, 150, 151, 152, 153, 154, 155, 156, 158, 162, 163, 164, 165, 167, 170, 172, 173, 236, 246, 248, 251, 252, 253 Pajak Penghasilan 15, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 25, 28, 43, 45, 46, 47, 48, 50, 51, 61, 82, 84, 86, 87, 90, 91, 94, 96, 99, 131, 142, 143, 144, 145, 146, 147, 148, 149, 150, 151, 152, 153, 154, 155, 156, 158, 162, 163, 164, 165, 167, 170, 172, 173, 236, 246, 248, 251, 252, 253

252

Index

Pelengkap Buku Pegangan 2012

Pendanaan urusan bersama pusat dan daerah 5, 7, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 23, 24, 30, 35, 37, 43, 44, 46, 94, 103, 158, 187, 188, 190, 191, 192, 194, 195, 196, 197, 198, 200, 204, 207, 208, 213, 215, 216, 219 Pendapatan Asli Daerah 14, 15, 28, 94, 96, 99, 105, 146, 181, 201, 243 Pinjaman Pinjaman daerah 34, 176, 207, 210 Pinjaman luar negeri vii, x, xi, 34, 176, 207, 210 PNPM Mandiri 197, 198

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

253

254

Index

Pelengkap Buku Pegangan 2012

UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada para kontributor yang telah meluangkan waktunya untuk menyumbangkan bahan, menyusun materi, dan kepada semua pendukung yang telah membantu terbitnya Buku “Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012 sebagai Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah. ucapan terima kasih disampaikan kepada Dr. Marwanto Harjowiryono, MA., Prof. Heru subiyantoro, Ph.D., Drs. Pramudjo, M.soc.sc., Ir. Adijanto, M.P.A., Drs. Adriansyah, Drs. Yusrizal Ilyas, MA., Dr. Ahmad Yani, sH, Ak., MM., Putut Hari satyaka, s.E., M.P.P., ubaidi socheh Hamidi, sE, MM., Anwar syahdat, sH, ME., Dra. Diah sarkorini, M.A., Berlin Panjaitan, sE, MM., Dra. Wendy Julianti, M.soc.sc., Rukijo, sE, MM., sugiyarto, sE,Ak,M. sc., Edison sihombing, s.E., M.T., Drs. Matheus Agus Kristianto, M.A., Dudi Hermawan. s.E., M.M., M.si., Erny Murniasih, s.sos, M.sc., Esthi Budilestari, s.E., M.M., Drs. Masagus Zenaidi, MM., Fachroedy Junianto, s.E., Endang Zainatun, sE., Nafi, sE, MM., Anang Adik Rustiadi, s.IP., Imaduddin, sE, MM., Muhammad Zainuddin, s.E., M.F.M., Yadi Hadian, s.E., M.A., Wahyu Widjayanto, s.E., M.M., lily Kuntratih, sH, MPA. atas kontribusinya membantu penyusunan materi, serta masukannya sehingga terselesaikannya buku ini. Tidak lupa disampaikan terima kasih kepada Ichwan setyarno, Kurnia, Agung setio Budi, Hesti Budi utomo, Denny Kurniawan, Ricka Yunita Prasetya, Titik Fatmawati, David Rudolf, lukman Adi santoso, Alit Ayu Meinarsari, Helmy Rukmana, Adhi Kurniawan, dan Nanang Faosi yang

Kebijakan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah 2012

255

telah membantu proses pengumpulan naskah editing sampai setting, serta semua pihak yang tidak bisa disebut satu-persatu. Kepada semuanya sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas kerja kerasnya.

256

Ucapan Terima Kasih

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->