P. 1
Minyak Serai

Minyak Serai

|Views: 949|Likes:
Published by unig31_804201482

More info:

Published by: unig31_804201482 on Oct 22, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2013

pdf

text

original

Minyak Atsiri Serai Wangi

DISUSUN OLEH

Ayuwuni Vidiani Putri 06091010028

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012
Minyak Atsiri Serai Wangi 1

Kata Pengantar

Assalamu alaikum Wr.Wb Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. karena dengan rahmat dan ridhoNya penyusun dapat menyelesaikan Makalah Kimia Organik II mengenai “Minyak Atsiri Serai Wangi” ini dengan baik. Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi rekan-rekan yang membutuhkan dan juga sebagai referensi untuk tugas-tugas selanjutnya. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Andi Suherman selaku dosen mata kuliah Kimia Organik II yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini. Terima kasih juga penulis ucapkan kepada rekan-rekan sekalian yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Kritik dan saran yang membangun akan kami terima supaya dapat digunakan dalam pembuatan tugas selanjutnya agar menjadi lebih baik. Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Palembang, 29 Mei 2012 Penyusun,

Ayuwuni Vidiani Putri NIM: 06091010028

Minyak Atsiri Serai Wangi

2

Daftar Isi

Kata Pengantar……………........……….……………………………………..…………... i Daftar Isi…………………………..........……………………………………….…………. ii Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang.................................................................................................1

B. Rumusan Masalah ............................................................................................3 C. Tujuan ..............................................................................................................3

Bab II Isi A. Serai dan Minyak Serai.................................................................................................4 B. Jenis-jenis serai......................................................................................................5 C. Syarat tumbuh dan Budidaya...........................................................................................6 D. Cara memperoleh minyak serai......................................................................................8 E. Manfaat minyak serai............................................................................................10 F. Komponen Kimia Minyak serai Wangi........................................................................11 G. Minyak serai sebagai bio-aditif...........................................................................12

Bab III Penutup A. Kesimpulan......................................................................................................14 B. Saran.................................................................................................................14 Daftar Pustaka

Minyak Atsiri Serai Wangi

3

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Minyak yang terdapat di alam dibagi menjadi 3 golongan yaitu minyak mineral (mineral oil), minyak nabati dan hewani yang dapat dimakan (edible fat), dan minyak atsiri (essential oil). Minyak atsiri / minyak asiri adalah cairan lembut, bersifat aromatik, dan mudah menguap pada suhu kamar. Minyak ini diperoleh dari ekstrak bunga, biji, daun, kulit batang, kayu, dan akar tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan tersebut dapat berupa semak, belukar, atau pohon. Minyak asiri merupakan formula obat dan kosmetik tertua yang diketahui manusia dan diklaim lebih berharga daripada emas. Minyak Atsiri, atau dikenal juga sebagai Minyak Eteris (Aetheric Oil), Minyak Esensial, Minyak Terbang, serta Minyak Aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak Atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam perdagangan,sulingan Minyak Atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi. Para ahli biologi menganggap, Minyak Atsiri merupakan metabolit sekunder yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain (lihat alelopati) dalam mempertahankan ruang hidup. Walaupun hewan kadang-kadang juga mengeluarkan baubauan (seperti kesturi dari beberapa musang atau cairan yang berbau menyengat dari beberapa kepik), zat-zat itu tidak digolongkan sebagai Minyak Atsiri. Zat beraroma yang berpotensi ini ditempatkan dalam kelenjar kecil di bagian luar atau jauh di dalam akar, kayu, daun, buah atau bunga tanaman. Kebanyakan tanaman mengandung minyak atsiri, tetapi sering dalam jumlah minimal sehingga ekstraksi tidak akan bernilai, atau harga minyak atsiri menjadi terlalu tinggi.

Minyak Atsiri Serai Wangi

4

Minyak atsiri sangat terkonsentrat dan dalam banyak kasus harus diencerkan sebelum digunakan. Konsentrat tinggi tersebut memiliki beberapa keuntungan. Sebagai contoh, minyak atsiri tidak makan banyak tempat dan dapat dengan mudah dipindahkan. Zat ini dapat dikombinasikan satu sama lain dalam berbagai cara untuk tujuan yang berbeda. Minyak Atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile oil) biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus alkohol, aldehid, keton dan berantai pendek. Minyak atsiri yang dikenal juga dengan nama minyak eteris atau minyak terbang (essential oil, volatile oil) dihasilkan oleh tanaman. Minyak tersebut mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir (pungent tase), berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya, umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air. Tanaman yang menghasilkan minyak atsiri diperkirakan berjumlah 150-200 spesies tanaman, yang termasuk dalam famili Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauraceae, Myrtaceae dan Umbelliferaceae. Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian tanaman yaitu dari daun, bunga, buah, biji, batang atau kulit dan akar atau rhizome. Khususnya di Indonesia telah dikenal sekitar 40 jenis tanaman penghasil minyak atsiri, namun baru sebagian dari jenis tersebut telah digunakan sebagai sumber minyak atsiri secara komersil. Minyak atsiri dapat diperoleh dari penyulingan akar, batang, daun, bunga, maupun biji tumbuhan, selain itu diperoleh juga terpen yang merupakan senyawaan hidrokarbon yang bersifat tidak larut dalam air dan tidak dapat disabunkan. Beberapa contoh minyak atsiri yaitu minyak cengkeh, minyak sereh, minyak kayu putih, minyak lawang dan dan lain-lain.

Minyak Atsiri Serai Wangi

5

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Apa itu serai dan minyak serai? 1.2.2 Apa saja jenis-jenis serai? 1.2.3 Bagaimana syarat tumbuh dan budidaya serai? 1.2.4 Bagaimana cara memperoleh minyak serai? 1.2.5 Apa saja manfaat minyak serai? 1.2.6 Apa saja komponen kimia dalam minyak serai? 1.2.7 Penggunaan minyak serai wangi sebagai bio-aditif?

1.3 Tujuan 1.3.1 Untuk memahami tentang serai dan minyak serai. 1.3.2 Untuk mengetahui jenis-jenis serai. 1.3.3 Untuk memahami syarat tumbuh dan budidaya serai. 1.3.4 Untuk memahami cara memperoleh minyak serai. 1.3.5 Untuk memahami manfaat minyak serai. 1.3.6 Untuk mengetahui komponen kimia dalam minyak serai. 1.3.7 Untuk mengetahui penggunaan minyak serai wangi sebagai bio-aditif.

Minyak Atsiri Serai Wangi

6

Bab II Pembahasan

2.1 Serai dan Minyak serai Pernah mendengar serai dapur? Membaca namanya, sudah semestinya benda yang satu ini akan sering kita jumpai di dapur. Ibu-ibu sangat familiar dengannya sebagai bumbu dapur seperti lengkuas, daun salam, daun salam, jahe, kunyit, dll. Bagian tanaman yang digunakan sebagai bumbu dapur adalah pangkal tangkainya. Karena beraroma seperti lemon, serai dapur sering disebut lemongrasss (rumput lemon). Menurut ilmu takosnomi, bumbu dapur yang sering terdapat dalam opor ayam ini temasuk dalam famili gramineae ( rumput-rumputan) dan genus Cymbopogon. Sereh dapur merupakan tanaman tahunan (perenial) dan stolonifera (berbatang semu). Berdaun memanjang seperti pita, makin ke ujung main meruncing dan berwarna hijau, sebagaimana layaknya famili rumput-rumputan yanga lain seperti ilalang dan padi. Panjang daunnya berkisar 0,6 – 1,2 m yang tesusun pada stolon. Rumput ini tidak menghasilkan biji meskipun dibiarkan tidak dipangkas dalam kondisi dan waktu tertentu. Serai atau lebih dikenal dengan sereh adalah tumbuhan anggota suku rumputrumputan yang dimanfaatkan sebagai bumbu dapur untuk mengharumkan makanan. Minyak serai adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan jalan menyuling bagaian atas tumbuhan tersebut. Minyak serai dapat digunakan sebagai pengusir (repelen) nyamuk, baik berupa tanaman ataupun berupa minyaknya.

Minyak Atsiri Serai Wangi

7

2.2 Jenis-jenis serai Sebelum membicarakan serai dapur ada baiknya jika membahas macam-macam serai. Secara umum, serai dibagi menjadi 2 jenis, yaitu serai dapur ( lemongrass) da serai wangi (sitronella). Keduanya memiliki aroma yang berbeda. Minyak serai yang selama ini dikenal di Indonesia merupakan minyak serai wangi ( citronella oil) yang biasanya terdapat dalam komposisi minyak tawon dan minyak gandapura. Minyak serai wangi telah dikembangkan di Indonesia dan minyak atsirinya sudah diproduksi secara komersial dan termasuk komoditas ekspor. Sedangkan minyak serai dapur (lemongrass oil) belum pernah diusahakan secara komersial. Dari segi komposisi kimianya, keduanya memiliki komponen utama yang berbeda. Serai wangi kandungan utamnya adalah citronella, sedangkan serai dapur adalah sitral. Serai dapur terbagi menjadi dua varitas, yaitu serai flexuosus ( Cymbopogon flexuosus) dan serai citratus ( Cymbopogon citratus ). Dalam dunia perdagangan minyak atsiri, minyak serai flexuosus disebut sebagai East Indian Lemongrass oil. Sedangkan serai citratus dikenal ddengan West Indian lemongrass oil. Keduanya dapat tumbuh subur di Indonesia meskipun yang terbanyak dalah jenis West Indian. Perbedaan yang sangat jelas dari keduanya terletak pada sifat-sifat minya atsiri yang dihasilkan. Minyak serai India timur lebih berharga daripada India barat, terutama karena kandungan sitralnya yang lebih tinggi.

Minyak Atsiri Serai Wangi

8

2.3 Syarat tumbuh dan budidaya Serai dapur tumbuh liar di daerah-daerah tropis seperti Indonesia, Malaysia, Vietnam, India, Amerika tengah,sebagian Amerika Selatan dan Afrika. Meskipun dapat juga tumbuh pada iklim dingin namun produktivitasnya menurun. Serai dapur lebih menyukai daerah dengan limpahan cahaya matahri yang besar, curah hujan tidak terlalu berlimpah, serta ketinggian sampai 100 m dpl. Cuaca yang panas dan sinar matahari akan merangsang pembentukan minyak dalam tanaman. Di daerah yang curah hujannya melimpah, serai dapat dipanen lebih sering dibandingkan dengan daerah kering namun minyak yang dihasilkan berkadar sitral lebih rendah. Tanaman ini tumbuh baik pada tanah yang berdrainase baik, bertekstur ringan, lempung berpasir, sampai pasir berdebu. Namun hasilnya kurang pada tanah bertekstur berat, keras, dan dapat menahan air. Tanaman yang dibudidayakan diatas tanah yang baik dapat menigkatkan rendemen minyak serta kandungan sitralnya lebih tinggi. Serai dapur masih belum banyak dibudidayakan di Indonesia, karena sebagian besar digunakan untuk kebutuhan sehari-hari sebagai campuran makanan / rempah-rempah. Padahal serai dapat termasuk jenis tanaman yang mudah dalam hal budidaya dan perawatan. Ham dan penyakit yang menyerang tanaman ini boleh dikatakan tidak ada. Begitu pula minyak atisirinya lebih bernilai dibandingkan minyak serai wangi. Perkembangbiakan dilakukan dengan sistem bonggol akar pada batang semu (stool). Batang semu yang telah dewasa (minimal terdiri dari 10 pelepah daun) digunakan sebagai bibit. Satu rumpun serai dapur yang telah dewasa yang berumur lebih dari 1 tahun dapat menghasilkan bibit di atas 50 batang. Tanaman serai yang telah dewasa dicabut dan akarnya dipotong seperlunya. Daun dan batang semu dipangkas hingga keseluruhan bibit mencapai panjang kurang lebih 20-30 cm. Persiapan lahan dilakukan dengan pencangkulan dan pemberian pupuk kompos agar produktivitas daun segar yang dihasilkan mencapai maksimal. Untuk penghematan, pupuk kompos ini dapat diperoleh dari ampas daun sisa penyulingan. Lebih bagus lagi apabila dibuat bedengan- bedengan. Pada lahan yang telah diolah, bibit serai ditanam pada jarak 75 cm x 75 cm pada lubang tanam yang dibuat menggunakan linggis dengan kedalaman 10 -15 cm. Lubang tanam harus benar-benar tertutup rapat dengan tanah
Minyak Atsiri Serai Wangi 9

agara pertumbuhan sistem akar cukup baik. Penanaman hendaknya dilakukan pada awal musim hujan untuk merangsang pertumbuhan sehingga lebih cepat dipanen untuk pertama kali. Bagian bibit yang muncul dipermukaan tanah kira – kira memiliki panjang 10-15 cm. Jika tanaman tumbuh baik, serai dapur dapat dipanen untuk pertamakali setelah berumur 6 bulan atau panjang daun telah mencapai sekitar 1 m. Pemanenan dilakukan dengan cara memangkas batang semu yang tersusun oleh pelepah-pelepah daun. Pemangkasan dapat dilakukan dengan sabit atau ani-ani. Ketinggian tanaman dari permukaan tanah diperkirakan 15-20 cm. Satu rumpun tanaman dapat menghasilkan 1-2 kg. Setelah panen pertama, rumpun akan tumbuh kembali dengan cepat dan dapat dipanen kembali setelah 3 – 4 bulan tergantung perawatan dan iklim daerah tanam. Masa produktif tanaman serai dapur adalah 4 – 5 tahun. Semakin lama, produktivitas daun basah yang dihasilkan semakin sedikit. Dalam 1 ha lahan dapat dihasilkan daun serai dapur segar 60 – 120 ton/tahun ( 4 kali panen ). Hasil penelitian mengatakan bahwa penambahan produk buatan setelah masa panen dapat menambha produktivitas tanaman. Pemberian pupuk urea berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan. Sedangkan pupuk KCl berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Sehingga penambahan campuran urea dan KCl dapat meningkatkan hasil panenan.

Minyak Atsiri Serai Wangi

10

2.4 Cara memperoleh minyak serai Minyak serai wangi diperoleh dari penyulingan tanaman serai wangi

(Cymbopogonnardus L) yang mengandung senyawa sitronellal sekitar 32-45%, geraniol 10-12%, sitronellol 11-15%, geranil asetat 3-8%, sitronellal asetat 2-4% dan sedikit mengandung seskuiterpen serta senyawa lainnya. Setelah panen, daun serai hendaknya disuling untuk menghindari kehilangan minyak karena penguapan. Dauan serai dirajang dahulu sampai panjangnya menjadi sekitar 10 -15 cm dan secepatnya dimasukkan ke dalam ketel suling. Perajangan ini berfungsi untuk memperbesar bulk density bahan, sehingga secara kuantitas dapat dimasukkan lebih banyak bahan ke dalam ketel suling. Perajangan ini berpengaruh terhadap rendemen minyak yang menguap ke udara bebas. Ketel suling bevolume 3000 liter mamnpu menampung bahan olah 800-1000 kg daun rajangan. Penyulingan dilakukan baik dengan penyulingan uap air atau penyulingan uap pada tekanan sedidikt di atas 1 atm. Waktu penyulinga antara 1 – 3 jam, tegantung pada jumlah uap dan jumlah bahan yang diolah. Rendemen minyak bervariasi antara 0,2 – 0,4 % basis basah. Rendemen minyak pada serai dapur dipengaruhi oleh :  Tingkat kesegaran bahan olah. Semakin segar bahan olah, semakin tinggi rendemannya. Bahan yang kering kemungkinan telah terjadi penguapan sejumlah kecil minyak ke udara bebas.  Kualitas bahan olah. Bahan olah yang mengandung banyak batang semu dibandingkan daunnya akan menghasilkan rendemen minyak yang kecil. Minyak atsiri banyak terdapat dalam daun sedangkan tangkai / batang pada bahan olah sedikit menghasilkan minyak dan berkontribusi besar terhadap berat bahan olah.  Jenis serai dapur. Jenis serai flexuosus mengahsilkan rendemen minyak yang lebih baik daripada serai citratus.  Perlakuan awak bahan olah. Minyak serai dapur harus dismpan dalam wadah yang terlindung dari udara dan cahaya, dan bebas dari air sebelum dimasukkan ke dalam wadah penyimpanan. Media simpan yang paling baik adalah botol-botol tertutup berwarna gelap sehingga tidak tembus cahaya. Penyimpanan minyak serai perlu diperhatikan dengan baik karena sangat berpengaruh terhadap kualitas minyak, terutama kadar sitralnya. Apalagi untuk penyimpanan dalam jangka waktu lama yang memungkinkan terjadinya degradasi

Minyak Atsiri Serai Wangi

11

kualitas minyak, seperti terjadinya oksidasi aldehid, hidrolisa ester, polimerisasi, dan resinifikasi. Komponen utama minyak serai wangi adalah sitronellal dan geraniol yang masingmasing mempunyai aroma yang khas dan melebihi keharuman minyak serai sendiri. Komponen-komponen tersebut diisolasi lalu diubah menjadi turunannya. Baik minyak, komponen utama atau turunannya banyak digunakan dalam industri kosmetika, parfum, sabun dan farmasi. Kandungan sitronellal dan geraniol yang tinggi merupakan persyaratan ekspor. Minyak yang kurang memenuhi persyaratan ekspor, dijual di pasar dalam negeri sebagai bahan baku industri sabun, pasta gigi dan obat-obatan. Sebelum Perang dunia kedua, Indonesia merupakan negara pengekspor utama minyak serai wangi. Namun saat ini negara produsen utama adalah RRC. Hal ini disebabkan karena produksi minyak serai wangi Indonesia selalu menurun dan mutunya kalah dibanding China dan Taiwan. Padahal permintaan cukup besar, karena kebutuhan pasar selalu meningkat 3-5% per tahun. Untuk meningkatkan produktivitas dan mutu minyak tersebut, Balittro telah mendapatkan 3 varietas unggul seraiwangi produksi tinggi yaitu Gl, G2, dan G3 dengan produktivitas minyak masing-masing 300-600 kg/ha/th dengan kadar sitronela 44%, 280580 kg/ha/th dengan kadar sitronella 46%, dan 300-600 kg/ha/th dengan kadar sitronela 44%. Pada saat ini pengembangan tanaman 4 serai wangi dilakukan di Kebun Percobaan Balittro di Manoko, Lembang Bandung.

Minyak Atsiri Serai Wangi

12

2.5 Manfaat minyak serai Minyak atsiri ( minyak esensial) serai digunakan secara luas di wilayah Asia. Tida seperti minyak atsiri dari tumbuhan lain, semua bagian tanaman serai dapat diesktrak untuk memperoleh minyak atisirinya. Minyak atsiri serai memiliki banyak keguanaan dari perawatan kulit hingga untuk mengusir serangga.  Menyembuhkan kurap Ini adalah resep yang banyak digunakan di India. Campurakan 3 – 5 tetes minyak serai dengan 100 mL minyak carrier, seperti sweet almond atau minyak jojoba.  Sebagai pewangi untuk produk perawatan kulit Minyak serai banyak digunakan dalam lotion, krim dan sabun. Tambahkan beberapa tetes minyak serai ke lotion yang belum diberi pewangi atau lotion buatan sendiri, atau tambahkan minyak serai pada sabun gliserin dan nikmati aroma wanginya.  Meringankan sinus dan membuka saluran pernapasan Sifat aromatik kuat pada minyak serai akan melancarkan pernapasan, terutama dalam kasus sinusitis parah. Tambahkan 3 -3 5 tetes minyak atisiri serai dalam semangkuk air panas dan hirup uapnya. Cara lain, juga bisa dengan menghirup langsung minyak serai dari botolnya.  Digunakan sebagai minyak pijat Minyak serai memiliki sifat menenangkan dan anti spasmodik sehingga ideal untuk pijat. Campurkan 3 – 5 tetes minyak serai dengan 100 mL minyak carrie dan gunakan untuk pijat. Minyak pijat serai juga akan membantu anda tidur lebih nyenyak.  Pengusir serangga alami Serangga tidak tertarik dengan aromanya yang kuat. Campurkan 10 – 20 tetes minyak serai dalam 200 mL air. Tuangkan larutan ke dalam botol semprot. Semprotkan larutan ke kulit untuk mengusir serangga. Minyak serai wangi juga digunakan secara meluas pada pewangi sabun, detergen, pembersih lantai, aeorosol dan aneka jenis produk teknis lainnya. Dalam jumlah yang kecil digunakan pada industri makanan dan minuman seperti anggur, saus permen, rempah dan lainnya. Selain itu, minyak serai wangi juga digunakan sebagai bahan yang digunakan di luar seperti keperluan obat sakit kepala, sakit gigi, ramuan air mandi.

Minyak Atsiri Serai Wangi

13

2.6 Komponen kimia minyak serai dapur

Lemongrass oil memiliki aroma khas lemon. Biang keladi aroma tersebut adalah sebuah senyawa bergugus fungsi aldehid, yakni sitral sebagai senyawa utama minyak. Minyak serai dapur tipe East Indian memiliki kandungan sitral lebih tinggi daripada tipe West Indian. Kandunga sitral kedua tipe minyak ini anatra 75 -88 %. Sedangakan standar perdagangan minyak serai dapur adalah kadar sitratnya minimal 75 %. Hal inilah yang paling membedakan kedua tipe serai ini. Tipe East Indian larut sempurna 1:2 volume pada alkohol 70%, sedangkan West Indian larut pada 1:4 volume. Hal ini menandakan bahwa pada minyak tipe West Indian terdapat banyak kandungan terpen-terpen tak beroksigen yang sukar larut dalam alkohol. Terpen-terpen tak beroksigen ini kurang disukai kehadirannya dalam minyak atsiri. Secara visual, warna minyak kedua tipe ini juga berbeda. Minyak East Indian berwarna kuning tua sampai coklat merah tua. Tipe West Indian berwarna kuning muda sampai coklat muda. Selain sitral, minyak serai wangi juga mengandung beberapa senyawa penyusun minyak atsiri seperti sitronellal, geraniol, mirsen, nerol, farnesol, metil heptenol, dipenten, n-desialdehid, linalool, metal heptenon, dan senyawa-senyawa lain dalam jumlah kecil. Minyak serai wangi merupakan salah satu jenis minyak atsiri terpenting sebagai sumber senyawa sitral. Sitral digunakan sebagai bahan baku pmbuatan senyawa ionon. Ionon adalah golongan senyawa-senyawa aromatis sintetik yang banyak digunakan sebagai pewangi dalam berbagai macam parfum dan kosmetik. Ionon memiliki bau seperti violet yang intensif dan tahan lama. Di samping itu sitral, sangat penting sebagai bahan baku pada sintesa vitamin A.

Minyak Atsiri Serai Wangi

14

2.7 Minyak serai wangi sebagai bio-aditif

Penggunaan minyak serai wangi sebagai bio-aditif diawali dengan serangkaian penelitian dari penyulingan tanaman serai wangi, dan dilanjutkan dengan karakterisasi minyak atsiri seperti meliputi berat jenis, kekentalan, titik nyala, titik didih, derajat penguapan, residu penguapan, kadar sulfur, angka kalori dan komposisi kimia menggunakan GCMS. Dari hasil data parameter yang diperoleh kemudian diformulasikan sebagai bioaditif. Pengujian formula meliputi berat jenis, kekentalan, titik nyala, derajat penguapan, residu penguapan, angka octan, angka cetana dan karakter pembakaran serta pengujian campuran aditif dengan bensin dan solar. Pengujian di lapang dilakukan untuk aplikasi aditif dan bahan bakar pada kendaraan bermotor. Parameter yang diuji terdiri dari kinerja pembakaran pada mesin (power performance), residu deposit karbon, komposisi gas buang dan tingkat penurunan konsumsi bahan bakar. Penggunaan bio-aditif dari serai wangi dapat menghemat penggunaan bensin 30-50 % pada kendaraan roda 2 (Gambar 2 atas), sedangkan pada kendaraan roda 4 penambahan aditif dapat menghemat 15-25% (gambar 2 bawah). Artinya bahwa jarak tempuh kendaraan roda 2 maupun 4 akan lebih jauh dengan penambahan bio-aditif serai wangi dengan volume bensin yang sama dibandingkan dengan tanpa penambahan bioaditif ini. Penggunaan bio-aditif pada kendaraan roda 4 dengan bahan bakar solar juga dapat menghemat 15-40% (Gambar 3). Bio-aditif serai wangi 100% bahan baku dari minyak atsiri (nabati), tidak mengandung bahan sintetis, dapat berfungsi sebagai katalisator dan mempunyai sifat detergensi pada system bahan bakar mesin sehingga memberikan manfaat; menghemat BBM, menyempurnakan proses pembakaran BBM, membersihkan sistem bahan bakar (fuel system) sejak dari tangki, karburator/injection sampai ruang bakar, menghaluskan suara mesin, mempertahankan temperatur mesin pada kondisi normal hingga terhindar dari over heating, menurunkan kadar emisi dari gas buangan beracun, mengurangi asap hitam, tidak menimbulkan iritasi kulit, tidak bersifat korosif dan tidak explosive. Bio-aditif berbasis seraiwangi untuk sementara diberi nama Gastrofac untuk BBM bensin dan, Cetrofac untuk solar, dan telah dilaunching pada acara ENIP 2010 (Expo Nasional Inovasi Perkebunan) 12-14 November 2010. Penggunaan bio-aditif ini dapat
Minyak Atsiri Serai Wangi 15

dilakukan dengan menambahkan 1 ml bio-aditif ke dalam 1000 ml bahan bakar minyak bensin atau solar kendaraan, tunggu 4-6 detik, dan dapat dirasakan bedanya ketika dikendarai. Pengembangan formula bio-aditif berbasis minyak seraiwangi kini masih terus dikembangkan oleh Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, bekerjasama dengan PT. Sinergi Alam Bersama. Penggunaan aditif nabati diharapkan dapat membantu program penghematan BBM, berkontribusi dalam mengurangi polusi udara dan pemanasan global, meningkatkan penggunaan bahan dalam negeri, serta upaya dalam pemberdayaan petani.

Minyak Atsiri Serai Wangi

16

Bab III Penutup

Kesimpulan Minyak serai adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan jalan menyuling bagaian atas tumbuhan tersebut. Minyak serai dapat digunakan sebagai pengusir (repelen) nyamuk, baik berupa tanaman ataupun berupa minyaknya. Minyak serai wangi telah dikembangkan di Indonesia dan minyak atsirinya sudah diproduksi secara komersial dan termasuk komoditas ekspor. Sedangkan minyak serai dapur (lemongrass oil) belum pernah diusahakan secara komersial. Dari segi komposisi kimianya, keduanya memiliki komponen utama yang berbeda. Serai wangi kandungan utamnya adalah citronella, sedangkan serai dapur adalah sitral. Serai dapur terbagi menjadi dua varitas, yaitu serai flexuosus ( Cymbopogon flexuosus) dan serai citratus ( Cymbopogon citratus ). Dalam dunia perdagangan minyak atsiri, minyak serai flexuosus disebut sebagai East Indian Lemongrass oil. Sedangkan serai citratus dikenal ddengan West Indian lemongrass oil. Keduanya dapat tumbuh subur di Indonesia meskipun yang terbanyak dalah jenis West Indian. Minyak serai wangi diperoleh dari penyulingan tanaman serai wangi

(Cymbopogonnardus L) yang mengandung senyawa sitronellal sekitar 32-45%, geraniol 10-12%, sitronellol 11-15%, geranil asetat 3-8%, sitronellal asetat 2-4% dan sedikit mengandung seskuiterpen serta senyawa lainnya.

Saran Dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, seperti dalam hal penulisan atau menemui kalimat yang sukar dimengerti apa maknanya. Dalam hal ini penulis mengharapkan saran dan kriktik yang membangun dari pembaca.

Minyak Atsiri Serai Wangi

17

Daftar Pustaka

Anonim. 2010. Khasiat dan Manfaat Minyak Serai. http://oketips.com/khasiat-dan-manfaatminyak-serai (diakses tanggal 27 Mei 2012). Ferry. 2005. Minyak Sereh Dapur/Lemongrass Oil. http://ferry-atsiri.blogspot.com/minyaksereh-dapur-lemongrass-oil.html (diakses tanggal 27 Mei 2012). Hart. 2003. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga

Minyak Atsiri Serai Wangi

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->