P. 1
kesenian madura

kesenian madura

|Views: 427|Likes:
Published by Evryna Dyagustin

More info:

Published by: Evryna Dyagustin on Oct 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2015

pdf

text

original

Paterongan

CALO'COLONUTAN Kesenian yang ada di galis khususnya di paterongan salah satunya adalah sabit (are,takabuh)
munteng ,pisau dapur ataupunpisau jenis senjata guna untuk perlindungan diri dan calo’ khas-khas ciptaan maduraberangamantikiniada di Paterongan Galis Bangkalan karna disanaadalah tempat salah satupembuatatan senjata-senjata pusaka yang terkenal ini dan terkenal dimana-mana. Barang-barang iniadalah merupakan bahan yang sangat terkenal sekali apalagi barang antic tersebut terbuat dari bahan pilihan (besi-besi kuno) dan bahan- bahan ini telah merupakan sumber untuk memenuhi kebutuhan atau sumber mata pencaharian untuk kebutuhan hidupnya. Dipaterongan juga merupakan tempatpembersihan senjata-aenjata kuno (gaman) agar pamur_pamurnya jadi terlihat nampak dan bersih.

MACAM-MACAM BUDAYA DI PATERONGAN Banyak sekali berbagai macam budaya yang memang ada sejak dahulu dan dilestarikan sampai saat ini dan untuk masa yang akan datang diantaranya :

a.

mandhih yang merupakan suatu budaya yang menetap disana yang man hal itu merupakan sutu pekerjaan untuk masyarakat orang laki-laki mupun pemuda laki-laki sehingga menghasilkan Pusaka yang bermacam-macam dan bias dijual diseluruh pasar daerah Madura dan juga didaerah Jawa bahkan hampir di mana-mana ad pusaka khas madura.

b.

Pencak silat yang merupakan seni bela diri bagi masyarakat disana dan juga apabila ada bulan-bulan tertentu atau di akhir tahun ada Even antan perguruan pencak silat sehingga masyarakat disana dapat terhibur dan kesenian ini di lakukan oleh orang laki-laki maupun orang perempuan

c. d.

Penanaman cabe sering dilakukan masyarakat di dana dan di sana sangat cocok serkali tanahnya untuk penanaman cabe. Pasar ARENG telah menjadi bahan kebutuhan masyarakat disana karna tampa adany sreng tersebut masyarakat disana akan mempunyai hambatan untuk bahan baker pembuatan benda-benda antik (Pusaka)

Demikianlah hasil dari identisifikasi saya apabila ada kesalahan dan kekurangan saya minta maaf yang tiada terhinngga Terimakasih

Man Bangkalan 2010/2011

Artikel Terkait:
potensi
• • • • • • • • • •

Menyabet Laba dari Kerajinan Pecut SEJARAH BUDAYA MADURA kARAPan Sapi Tengtang Clurit Madura Lebih baik tanam padi daripada tembkau Makanan Tradisional Madura Orang Madura di Mata Media Amerika Pesilat Madura Wakil Indonesia Air terjun Toroan potensi KABUPATEN BANGKALAN

Read more: http://galisbangkalan.blogspot.com/2011/06/kesenian-budaya-galis-bangkalanmadura.html#ixzz1eaGyZ4YP

• • • • • • • • • •

Awal GERBANG ARTIKEL TRADISI BUDAYA SEJARAH SASTRA TOKOH WISATA POLA TRADISI

RSS Subscribe: RSS feed Media Madura Melestarikan Tradisi, Merambah Budaya

Kesenian di Madura: Erat dengan Konteks Historis dan Kebudayaan
Posted on 15/04/2011 0

Rate This I

madura: guna cara nuru pita satya pura

Apa yang ada dalam pikiran anda ketika mendengar kata ‘Madura’? Beberapa dengan segera akan berpikir mengenai kondisi geografis Madura yang panas dan gersang,

beberapa segera berpikir mengenai ramuan jamu Madura yang terkenal, beberapa segera berpikir mengenai jembatan Suramadu (saya termasuk yang ini), beberapa segera berpikir mengenai sate dan sop kambing (saya juga termasuk yang ini), dan beberapa yang lain berpikir mengenai carok. Sedikit sekali yang berpikir mengenai kesenian. Hélène Bouvier termasuk dalam yang sedikit itu. Hélène Bouvier meneliti mengenai kesenian di Madura, lebih tepatnya di Kabupaten Sumenep. Sebagai kabupaten di ujung pulau Madura, Sumenep berbagai karakteristik yang sama dengan tiga kabupaten lainnya di pulau Madura. Jika Kuntowijoyo mengaitkan kehidupan orang Madura terkait dengan ekosistem tegalan sebagai jiwanya, maka Hélène Bouvier mengaitkan kehidupan orang Madura dengan kesenian sebagai napasnya.

Kesenian di Madura pada hakikatnya berkaitan erat dengan konteks historis dan kebudayaan Madura itu sendiri. Dalam pandangan Bouvier, sebagai tindakan sekaligus ekspresi, kesenian pada dasarnya bersandar pada irama kehidupan, yang di dapat dengan menggali kedalaman dan jati diri setiap insan. Meskipun demikian Bouvier membatasi diri hanya pada kesenian yang berkembang di Sumenep dengan memberikan detail pada genre, repertoar, kesempatan, pelaku, dan audien penikmat seni. Kajian ini merupakan sedikit dari etnografi mengenai kesenian tradisional yang berhasil menggugah minat saya terhadap seni tradisional. II

sattanangnga ma’ èsassa’a (kan ku cuci saputangan ku) ngala’ bato entar ka lorong (di lorong ku ambil batu) ma’ èmanna sè apèsa’a (sakitnya meninggalkan dirimu) mon sanonto èkapolong (sekarang kita kembali bersatu) Adalah sebuah kesalahan, dalam pandangan Bouvier, memiliki gagasan bahwa kesenian urban memiliki nilai dari kesenian tradisional yang berlangsung di desadesa, terlebih di desa yang terpencil. Dalam kegiatan penelitian yang dilakukan, nampak bahwa kesenian, khususnya musik, tampil di banyak kesempatan. Musik sendiri muncul ke dalam setiap kegiatan kesenian yang berlangsung. Dalam setiap kegiatan seperti itu, musik muncul dalam bentuk vokal solo, instrumental, maupun instrumental-vokal.

Kesenian memiliki posisi yang penting dalam denyut nadi kehidupan masyarakat di Sumenep. Sebagaimana tergambar dalam kata lèbur, yang berarti bagus,

menyenangkan, menghibur. Secara spesifik kata ini adalah bentuk apresiasi positif atas kesenian yang ditampilkan. Kesenian muncul dalam setiap kegiatan yang termanifestasi dalam dua hal: kesenian itu sendiri dan gelegar suara dari kesenian yang ditampilkan. Dalam masyarakat Madura, gelegar suara adalah penanda paling mudah untuk mengetahui apakah sebuah kegiatan kesenian sedang dilangsungkan atau tidak. Pengeras suara tidak hanya merupakan aspek pragmatis untuk memperbesar jangkauan suara, namun juga pendongkrak gengsi bagi pemilik acara. Pengeras suara dengan demikian menghapus batasan-batasan kesenian, sehingga kesenian dapat dinikmati oleh masyarakat luas, yang pada gilirannya akan mendorong mereka datang, dan menaikkan gengsi pemilik acara.

Dalam tradisi kultural masyarakat, kesenian merupakan salah satu perekat hubungan personal sekaligus komunal, sebab melalui kesenian lah hubungan-hubungan tersebut berlangsung dan bertahan. Dalam dunia di mana hubungan-hubungan komunal dipertahankan melalui kegiatan dan upacara keagamaan, maka kesenian merupakan elemen pendukung yang tidak dapat dikesampingkan.

Genre kesenian yang berkembang di Madura boleh lah dikatakan sangat unik dan khas. Di Madura, seni musik, nanyian, tarian, maupun pertunjukkan, bergabung bersama, seringkali terpisah sehingga membentuk entitas yang berbeda, walaupun seringkali bersatu membentuk konfigurasi yang membingungkan. Tidak mudah mengklasifikasikan kesenian Madura dalam terminologi kesenian Barat, hal ini diakui oleh Bouvier. Loddrok misalnya, tidak dapat diklasifikasikan sebagai opera atau operet per se, karena memiliki unsur komedi yang berhiaskan nyanyian.

Meskipun kesenian di Madura tidak dapat dipisahkan secara taksonomis, namun terdapat perbedaan antara ‘kesenian agama’ dengan kesenian umum. Kesenian agama di sini, walaupun menggunakan terma agama sebagai payung, namun hanya merujuk pada kesenian yang berkembang melalui tradisi Islam Madura. Oleh karena itu, model kesenian ini dinamakan oleh Bouvier sebagai kesenian Islam. Dalam konteks historis yang membentuk Madura, terutama Sumenep, yang telah lama terpapar dengan berbagai kebudayaan, hal ini berpengaruh besar terhadap bentuk kesenian yang berkembang di Madura, khususnya Sumenep. Kedatangan Islam misalnya, memberikan dampak yang tidak sedikit dalam membentuk kesenian di Madura.

Kesenian yang ada di Madura, secara ringkas, dapat dilihat dari dua hal: intrumentasi dan g

enre. Instrumentasi sendiri dilihat dalam tiga konteks: musik, instrumen, dan orkes yang terbagi dalam tujuh kelompok: tongtong adalah bunyi yang berasal dari batang bambu atau akar bambu), orkes okol (orkes kecil dengan jumlah pemain yang berbeda-beda, instrumennya seringkali berupa tongtong), saronen (biasanya muncul ketika Karapan Sapi, berbentuk seperti kerucut [mirip terompet kecil] terbuat dari pohon jati), gamelan (sama dengan gamelan Jawa dan merupakan ciptaan bangsawan keraton yang memiliki hubungan kekerabatan dengan bangsawan Jawa), gambus (alat musik dawai yang berasal dari budaya Arab yang terbuat dari kayu dadap), terbhang (sebuah tambur kulit berbadan datar yang kemungkinan besar datangnya dari masyarakat Arab, atau rebana rebanna dalam bahasa Madura), dan orkes melayu (termasuk genre musik pop dan dangdut).

Genre musik memiliki taksonominya tersendiri. Antara lain teater (antara lain wayang kulit, pertunjukan topeng, drama, dan loddrok), tembang atau mamaca, tayub atau tandha’ (merupakan nyanyian selang-seling yang ditarikan), lok-alok (merupakan bentuk deklamasi yang ditarikan), dhamong gardam dan ratep (merupakan ritus yang ditarikan), tari-tarian, seni tarung (antara lain ojhung dan penca’ silat), seni Islam (antara lain diba’, samrah/qasidah, hadrah, gambus), dan seni lainnya (antara lain dangdut [O.M atau orkes melayu]). III

dhalimana èpancara, Wara (buah delima merekah, Wara) ngarantong buwana billa, manes (tergantung buah maja, manis) baramma bula sè mencara (apa jadinya kalau kita berpisah) macaltong atèna bulla (hatiku hancur berantakan)

Sebagai sebuah bentuk kesenian, sebagaimana kesenian lainnya di dunia, tidak dapat berdiri sendiri. Kesenian di Madura terkait erat dengan konteks ruang pelaksanaan di mana kesenian tersebut dimainkan, waktu pelaksanaan, dan latar belakang penanggap. Berbagai kesenian dimainkan sesuai dengan lokasi dimainkan maupun tujuan acara dilaksanakan. Konteks yang lain dapat pula dilihat dari peminat, seniman, maupun perajin kesenian, dan konteks sosial ekonomi yang melingkupinya. Sangat sulit untuk menjelaskan detail-detail terkecil dari kesenian yang digambarkan dengan sangat baik oleh Bouvier.

Meskipun hampir semua kesenian dapat berlangsung di rumah, dalam hal ini orang yang menanggap kesenian, namun beberapa kesenian hanya dapat dilaksanakan di lapangan luas atau lebih tepatnya lingkungan alami, seperti lok-olok, ratep atau ojhung. Bebepa kesenian lainnya hanya dilaksanakan di makam keramat, seperti pertunjukan loddrok yang merupakan bagian dari rokat bhuju’ atau upacara ritual bagi makam keramat, di mana kesenian tersebut selalu dilaksanakan di hadapan sebuah meja yang penuh sesajen di depan tempat keramat. Kesenian lain muncul di ruang khusus, utamanya adalah kesenian yang bersifat resmi dan bertempat di tempat yang resmi, seperti pendopo keraton Sumenep atau gedung pertunjukan. Kesenian lainnya muncul berdasarkan daur ulang dalam kehidupan. Daur ulang tersebut terkait dengan dua hal pokok: daur berdasarkan kalender pertanian, dan daur kehidupan manusia.

Satu hal yang menarik, bahkan Bouvier sendiri tidak dapat merumuskan korpus kesenian dengan ketat dan tegas. Beberapa kesenian muncul dalam momen yang sama, meskipun memiliki dimensi yang bertolak belakang. Kesenian loddrok misalnya, kadangkala tampil setelah kesenian hadrah atau samrah. Keduanya pada dasarnya memiliki akar yang berbeda, dan memiliki konteks yang berbeda pula. Perbendaan konteks ini barangkali tidak lah terlalu signifikan, namun dalam konteks yang berbeda kesenian yang muncul pun akan sangat berbeda, antara lain latar belakang si penanggap atau tujuan acara tersebut dilaksanakan. Latar belakang penanggap kesenian maupun tujuan acara dilaksanakan memiliki peran penting terkait dengan kesenian apa yang akan ditanggap. Mereka yang memiliki kedekatan khusus dengan keaye atau memiliki keagamaan yang kuat misalnya, cenderung untuk memilih kesenian Islam dalam kegiatan kesenian yang mereka panggil. Demikian pula jika tujuan melaksanakan kesenian terkait erat dengan kegiatan keagamaan.

Kesenian yang berkembang di Madura tidak dapat melepaskan diri dengan kontekskonteks khusus, yang membawa kesenian tersebut ke akar historis di satu sisi, dan ke arah pemanfaatan di sisi lain. Konteks ini lebih pada kondisi dialektis antara agama dan seni. Beberapa unsur kesenian, seperti dicatat Bouvier, berasal dari masa pra Islam. Misalnya pada pengantar pertunjukan topeng dan loddrok, bahkan beberapa repertoar dari lakon yang dimainkan, mengambil secuplik dari epos Mahabharata atau Ramayana. Beberapa membutuhkan perangkat sesajian khusus sebelum dan dalam proses kegiatan kesenian itu sendiri. Barangkali dialektika yang paling terlihat, antara kesenian dan Islam, termanifestasi dalam kesenian Islam, yang mengusuk repertoar Islam dan setiap sentuhan seninya. Alat musik khas arab, gambus dan terbhang misalnya, mengambil akar historisnya dari masyarakat Arab (atau umumnya Timur Tengah) yang datang ke Madura; demikian pula bacaan maulid maupun lagu-lagu atau syair Arab.

Sebagai sebuah bentuk yang mengambil kehidupan dari denyut nadi masyarakat, kesenian mengikuti perkembangan yang ada di masyarakat. Perkembangan tersebut tidak hanya dalam masalah teknologi saja, namun juga perubahan-perubahan, yang sifatnya pasang-surut. Ada masa ketika kesenian di Madura berkembang sangat pesat dan memperoleh pendapatan yang tidak sedikit, namun ada masa ketika mereka berada dalam mu sim paceklik. Terkait dengan hal ini, maka para pelaku kesenian pun membentuk sebuah mekanisme khusus yang dapat memberikan jalan keluar bagi masalah mereka, arisan misalnya. Adapula hubungan tawar-menawar antara pelaku seni dengan penanggap seni, terutama dengan kontrak dan bayaran yang akan mereka dapatkan.

Kesenian di Madura tentu saja mengalami perubahan, yang terkait erat dengan perubahan dan kecenderungan yang ada di masyarakat. Adanya media massa, seperti media elektronik, menyebabkan turbulensi dunia kesenian Madura bahkan lebih kencang lagi. Pilihan tidak lagi terbatas hanya pada seni tradisional, sebab media elektronik memberikan piliha yang jauh lebih luas. Barangkali saat ini, pukulan media bahkan lebih keras lagi ketimbang di saat penelitian ini dilaksanakan oleh Bouvier. Kesenian bahkan ikut terseret arus politik. Loddrok misalnya, lebih sering dimanipulasi sebagai alat kampanye publik oleh para elite politik. Hal-hal ini membawa pengaruh yang tidak sedikit terhadap keberadaan kesenian di Madura.

Bouvier menyebut hal ini dengan “kodrat ganda seni”. Sebab seni tidak pernah berdiri sendiri dan sepi dari kepentingan, maka seni selalu memiliki wajah ganda. Kesenian di Madura tidak pernah hanya untuk kepentingan hiburan semata, namun juga memiliki aspek sosial, gengsi yang dipertaruhkan, pesan-pesan moral dan agama yang hendak diteruskan, hingga pesan kampanye politik dan pembangunan. Kesenian di Madura, pada saat penelitian ini dilangsungkan, membawa multiperan tersebut dalam setiap langkah mereka.

Kesenian tidak pernah murni seni. Terdapat dimensi-dimensi spesifik, baik itu pragmatis maupun kultural, yang mempengaruhi kesenian, yang notabene tumbuh dan besar di masyarakat. Dengan korpus yang mengambil harmoni dari denyut nadi masyarakat, napas seni selalu berirama dengan kehidupan inangnya. Di saat Bouvier melakukan penelitian, cukup banyak kesenian yang tidak memungut bayaran, sebab seluruh biaya utamanya ditanggung penanggap. Di tambah lagi dengan tidak banyaknya pilihan media hiburan di luar seni itu sendiri. Barangkali agak terlalu naif dengan bertahan pada posisi ini, sebab selalu terdapat perubahan yang memaksa

seni untuk turut berubah. Dalam hal ini saya berharap, terdapat penelitian yang lebih baru mengenai ragam kesenian di Madura, yang akan memberikan pemahaman yang lebih baru, mengenai bagaimana suatu seni tumbuh dan berkembang di masyarakat yang selalu tumbuh dan berkembang.
judul asli : bacaan hari ini: lèbur, seni musik dan pertunjukan dalam masyarakat madura – H. Bouvier dari : http://umamnoer.com/i

KESENIAN MADURA
Madura merupakan pulau kecil yang kaya dengan kesenian dan budaya lokal, Madura terdiri dari empat kabupaten, yaitu kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Pada masing-masing kabupaten tersebut mempunyai kekayaan dibidang seni yang berbeda-beda. Kabupaten Sumenep sampai saat ini terkenal dengan kota budaya di Madura karena disan terdapat banyak jenis seni-budaya yang terus berkembang, misalnya tari, lludruk, macopat, topeng dan masih banyak yang lainnya. Bagi masyarakat Madura, bulan Agustus hingga September adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu, karena saat inilah mereka panen raya tembakau. Meskipun harga tembakau anjlok tetapi warga tetap mensyukurinya.

Mereka menggelar pangelaran seni yang menampilkan berbagai kesenian khas Madura hingga karapan sapi. Kembang api ini menandai dibukanya pangelaran seni yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas panen raya tembakau. Warga yang berkumpul di alun-alun Kota Pamekasan Madura, Jawa Timur, dihibur dengan aneka tarian yang diiringi dengan musik tradisional kas Pamekasan yang disebut musik dault. Musik ini merupakan musik tradisional yang kerap digunakan untuk membangunkan warga saat sahur tiba. Dalam pertunjukkan musik dault ini, seluruh pemain musik dan penari memakai topeng. Dalam tariannya, para penari membawa tong kosong.

Tong ini melambangkan kritik pada pemimpin yang bisanya hanya bicara nyaring seperti tong kosong. Tarian lain yang dipentaskan adalah tari Samper Nyacek. Konon, tarian ini merupakan tarian para putri Keraton Sumenep yang mengambarkan kepedulian mereka terhadap petani. Tarian yang gerakannya berdasarkan gerakan menanam padi ini dilanjutkan dengan Tari Pecot, kas Kabupaten Bangkalan. Tarian ini juga melambangkan kehidupan petani saat bekerja di sawah.
Pesta rakyat ini ditutup dengan karapan sapi yang digelar keesokan harinya. Dalam karapan sapi ini, gengsi para peternak sapi dipertaruhkan. Karena karapan sapi yang disebut Gubeng ini adalah yang terbesar.

Menjaga Kesenian Tradisional Dalam dimensi kebudayaan, kesenian bukan semata-mata produk estetika, serta bukan semata-mata berfungsi estetik. Ia lahir dari kesadaran utuh masyarakat, baik itu kesadaran religius, kesadaran sosial, kesadaran moral, kesadaran estetik, kesadaran pedagogik, dan sebagainya. Oleh karena itu, kesenian sudah selayaknya didudukkan dalam fungsinya yang benar di masyarakat, yakni sebagai media penyadaran religiositas, penyadaran sosial, penyadaran moral, dan seterusnya. Bukan malah dipinggirkan. Kesenian tradisional lahir dari kesadaran semacam itu. Jarang dijumpai kesenian tradisional yang lahir demi kepentingan entertainment yang bersifat kitch. Kesenian tradisional yang berupa nyanyian, musik, sastra, pertunjukan, tari, dan sebagainya pada umumnya lahir demi kepentingan ritual, upacara-upacara, pendidikan anak-anak, dan sebagainya. Dalam fungsinya yang begitu luhur dan agung itu, kesenian tradisional sudah selayaknya selalu dijaga keberadaannya agar tidak dilindas waktu dan jaman. Madura memiliki kekayaan kesenian tradisional yang amat banyak, beragam, dan amat bernilai. Dalam menghadapi dunia global yang lebih membawa pengaruh materialisme dan pragmatisme, kehadiran kesenian tradisional dalam hidup bermasyarakat di Madura sangat diperlukan agar kita tidak terjebak pada moralitas asing yang bertentangan dengan moralitas lokal atau jati diri bangsa. Buku yang berjudul Berkenalan Dengan Kesenian Tradisional Madura ini secara lugas dan sederhana akan mengajak kita untuk mengenal kesenian tradisional Madura yang masih hidup dan

yang sudah mulai punah. Pengenalan terhadap pelbagai macam kesenian itu diharapkan akan mampu menggugah kebanggaan kita akan kesenian bumi sendiri dan termotivasi untuk ikut serta melestarikan. Oleh karena itu buku ini memang amat penting bagi para pembuat kebijakan dalam mengembangkan daerah berdasarkan paradigma kebudayaan, para mahasiswa yang tertarik untuk melakukan penelitian terhadap kesenian tradisional, dan semua masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kedudukan, fungsi, dan masa depan kesenian tradisional. Buku ini memang masih berupa gambaran umum. Tetapi sudah cukup bisa untuk dipakai melihat gambaran kesenian tradisional Madura secara sepintas. Buku ini merupakan gerbang pertama untuk memasuki gerbang-gerbang berikutnya. Melalui buku ini kita akan dirangsang untuk mengenali kesenian tradisional Madura, sebelum kita menyadari bahwa sebenarnya kesenian tradisional itu ternyata jauh lebih kompleks, unik, dan beragam daripada informasi yang didapatkan dari buku ini. Mari kita jaga kesenian kita sendiri. Tengsoe Tjahyono Tulisan ini menyalin dari: Lilik Rosida Irmawati: Berkenalan dengan Kesedian Tradisional Madura http://lidawati.blogspot.com/2011/02/berkenalan-dengan-kesediantradisional_485.html#ixzz1eaI0EwZp Mohon cantumkan sumber link diatas

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->