P. 1
Makalah Ushul Fiqih

Makalah Ushul Fiqih

|Views: 127|Likes:
Published by Ismael Al-Ghifari

More info:

Published by: Ismael Al-Ghifari on Oct 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2013

pdf

text

original

MAKALAH

“ AL QUR’AN DAN SUNNAH SEBAGAI SUMBER DAN DALIL HUKUM SYARA’ ”
MAKALAH INI DISUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS :

Mata Kuliah Dosen Pengampu

: Ushul Fiqih : Ambar Hermawan, M.Si

Disusun Oleh :

Manto M. Nasrul Latif Inayah Ghofar Ismail

2021 211 128 2021 211 138 2021 211 146 2021 211 165

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI STAIN PEKALONGAN TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Geliat pemahaman Al qur’an dan Sunnah yang berbagai macam, baik dari segi lafaz dan maknanya. Sehingga memunculkan berbagai macam pula bentuk – bentuk hukum syar’i, yang hal ini keluar atas dasar pemahaman yang lain atau pengambilan sumber yang berbeda, akan tetapi pada dasarnya semua kembali kepada pokok dasar atau sumber hukum islam.

B. Rumusan Masalah Sumber Hukum Syara’ : 1. Al Qur’an 2. As Sunnah

C. Cara Pemecahan Masalah Dalam pembuatan makalah ini menempuh cara pemecahan masalah yang ada pada rumusan masalah yaitu dengan study pustaka.

Page |1

BAB II PEMBAHASAN A. Al Qur’an 1. Pengertian Al Qur’an Secara etimologi, Al-Qur’an merupakan bentuk mashdar dari kata qara’a, tambangan kata (wazan)-nya adalah fu’lan, artinya bacaan. Lebih lanjut, pengertian kebahasaan Al-Qur’an ialah, yang dibaca, dilihat, dan ditelaah. Menurut Imam As Suyuti Al Qur’an adalah kalamullah ( firman Allah ) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW guna melemahkan orang yang menentangnya, meskipun hanya satu surat dari padanya. Definisi as-Suyuthi tersebut hanya menitik beratkan bahwa al-Qur’anitu diturunkan diturunkankepada Nabi Muhammad SAW dalam kerangka mukjizat

beliau. Namun apabila kita memperhatikan banyak pernyataan-pernyataan Allah SWT dalam al-Qur’an itu adalah merupakan sumber petunjuk bagi umat manusia pada umumnya dan umat muslim pada khususnya. Bahkan juga tidak sedikit yang menunjukkan bahwa al-Qur’an itu adalah sumber dari segala sumber hokum syara’. Di samping itu, ditinjau dari caraNabi Muhammad SWS mengajarkan kepada umatnya dan penyebaran al-Qur’an kepada seluruh umat Islam dengan cara membaca dan juga dihafalkannya secara lafdziyah. 2. Fungsi Al-Qur’an a. Sebagai Mukjizat Nabi Muhammad saw. Al-Quran inilah bukti kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw, sekaligus ianya menjadi bukti bahawa Al-Quran merupakan firman Allah SWT, dan bukan ucapan atau ciptaan nabi Muhammad saw sendiri. b. Sumber Pokok Ajaran Islam Fungsi AL-Qur’an sebagai sumber ajaran islam sudah diyakini dan diakui kebenarannya oleh segenap hukum islam.Adapun ajarannya meliputi persoalan kemanusiaan secara umum seperti hukum ibadah, ekonomi, politik, sosial, budaya, ilmu pengetahuan, dan seni. c. Peringatan dan Pelajaran Bagi Manusia. Dalam Al-Qur’an banyak diterangkan tentang kisah para nabi dan umat terdahulu,baik umat yang taat melaksanakan perintah Allah maupun yang mereka yang menentang dan mengingkari ajaran Nya.Bagi kita,umat uyang akan datang

Page |2

kemudian tentu harus pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah-kisah yang diterangkan dalam Al-Qur’an. d.Sebagai Petunjuk. Al-Qur’an mengandung perintah Tuhan yang jelas, dan perintah itu menghendaki agar diikuti dan dilaksanakan semua hukum yang terkandung didalamnyadalam berbagai kondisi dan susunan kata-kata yang beragam. 3. Kehujjahan Al-Qur’an menurut Imam Madzhab Empat a. Imam Abu Hanifah (w. 150 H/767M) Imam abu Hanifah sependapat dengan jumhur ulama bahwa al-quran merupakan sumber hukum Islam. Namun menurut sebagian besar ulama, Imam Abu Hanifah berbeda dengan pendapat dengan jumhur ulama, mengenai al-quran itu mencakup lafadz dan maknanya atau maknanya saja. Di antara dalil yang menunjukkan pendapat Imam Abu Hanifah al-quran hanya maknanya saja adalah ia membolehkan solat dengan menggunakan bahasa selain Arab, misalnya dalam bahasa persia meskipun meskipun tidak dalam kondisi madaharat. b. Imam Malik bin Anas (w. 197 H/ 812 M) Menurut Imam Malik, hakikat al-quran adalah kalam Allah yang lafadz dan maknanya dari Allah. Ia bukan makhluk karena kalam Allah termasuk sifat Allah. c. Imam Al – Syafi’I (w.204 H/819 M) Sebagaimana para ulama lainnya, Imam Al – Syafi’I menetapkan bahwa Al Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang paling pokok, bahkan beliau berpendapat tidak ada yang diturunkan kepada agama manapun, kecuali petunjuknya terdapat dalam Al Qur’an. Oleh karena itu, Imam Al Syafi’i selalu mencantumkan nash Al Qur’an setiap kali mengeluarkan pendapatnya, sesuai dengan metode yang digunakannya. d. Imam Ahmad bin Hambal Imam Ahmad bin Hambal juga berpendapat bahwa Al Qur’an itu sebagai sumber pokok hukum Islam, kemudian disusul oleh Sunnah. Namun seperti halnya Imam al - Syafi’i, Imam Ahmad memandang bahwa sunnah mempunyai kedudukan yang kuat disamping Al – Qur’an, sehingga tidak jarang beliau menyebutkan bahwa sumber hukum Islam adalah nash, tanpa menyebutkan Al Qur’an dahulu atau Sunnah dahulu, tetapi yang dimaksud nash adalah Al Qur’an dan Sunnah.
Page |3

4. Petunjuk ( Dilalah ) Al Qur’an Kaum muslimin sepakat bahwa Al Qur’an merupakan sumber hukum syara’. Merekapun sepakat bahwa semua ayat Al qur’an dari segi wurud (kedatangan) dan tsubut (penetapannya) adalah qath’i. Hal ini karena semua ayatnya sampai kepada kita dengan jalan mutawatir. Adapun dari segi dilalah-nya, ayat – ayat Al qur’an itu dapat dibagi dalam dua bagian : a. Nash yang qath’i dilalah-nya (bersifat juz’iyah) Yaitu nash yang tegas dan jelas maknanya, tidak bisa di-takwil, tidak mempunyai makna lain, dan tidak tergantung pada hal – hal lain diluar nash itu sendiri. Contoh ayat yang qath’i dilalah-nya :

‫واَحََلََّهللاَُالبَيعَوحرمَالرِّ بَا‬ َ َ َّ َ َ َ ْ ْ
b. Nash yang zhanni dilalah-nya (bersifat kulliyah) Yaitu nash yang menunjukkan suatu makna yang dapat di-takwil atau nash yang mempunyai makna lebih dari satu, baik karena lafaznya musytarak (homonim) taupun karena susunan kata – katanya dapat dipahami dengan berbagai cara.

B. As Sunnah 1. Pengertian As Sunnah Secara etimologi, Sunnah adalah jalan yang biasa dilalui atau atau suatu cara yang senantiasa dilakukan, tanpa mempermasalahkan, apakah cara tersebut baik atau buruk. Sementara dari segi terminologi, arti sunnah dapat dilihat dari tiga disiplin ilmu sebagai berikut: a. Menurut para ahli hadis, sunnah sama dengan hadis, yaitu : sesuatu yang dinisbahkan kepada Rasulullah, baik perkataan, perbuatan maupun sikap beliau tentang suatu peristiwa. b. Menurut para ahli ushul fiqh, sunnah ialah : semua yang berkaitan dengan masalah hukum yang dinisbahkan kepada Rasulullah, baik perkataan, perbuatan maupun sikap beliau terhadap suatu peristiwa. c. Menurut ahli fiqh, Sunnah mengandung dua pengertian : yang pertama sama dengan yang dimaksud ahli ushul fiqh. Sedangkan pengertian yang

Page |4

kedua ialah suatu perbuatan yang jika dikerjakan mendapat pahala, tetapi jika ditinggalkan tidak berdosa. 2. Pembagian – pembagian Sunnah Sunnah memiliki bagian – bagian yang terdiri dari hal – hal sebagai berikut : a. Pembagian Sunnah dari segi Bentuknya Sesuai dengan definisi diatas, para ahli ushul fiqh membagi sunnah kepada tiga bagian sebagai berikut : 1. Sunnah Qauliyah Yaitu hadis – hadis yang diucapkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam berbagai kesempatan terhadap berbagai masalah, yang kemudian dikutip oleh para sahabat dalam bentuknya yang utuh seperti apa yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW tersebut. 2. Sunnah Fi’liyah Yaitu hadis – hadis yang berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW yang dilihat atau diketahui oleh para sahabat, kemudian disampaikan kepada orang lain. 3. Sunnah Taqririyah Perbuatan dan ucapan para sahabatyang dilakukan dihadapan atau sepengetahuan Rasulullah SAW tetapi beliau mendiamkan dan tidak menolaknya. Sikap diam Rasulullah dan tidak menolak atas perbuatan atau ucapan para sahabat tersebut dipandang merupakan sebuah persetujuan Rasulullah SAW. 4. Sunnah Hammiyah Sebagian ulama menambahkan Sunnah Hammiyah dalam pembagian menurut bentuknya. Sunnah Hammiyah sendiri yaitu kehendak dan keinginan Nabi Muhammad SAW untuk melakukan suatu perbuatan, namun beliau belum sempat melakukan perbuatan itu karena wafat. b. Pembagian Sunnah dari segi Kualitasnya 1. Hadis Shahih Hadis yang sanadnya bersambung, yang diriwayatkan orang adil yang cukup kuat ingatannya, sehingga terhindar dari keganjilan dan cacat. 2. Hadis Hasan

Page |5

Menurut al Tirmidzi adalah hadis yang didalam sanadnya tidak terdapat muttaham (perawi yang tertuduh dusta), tidak syadz (ganjil atau ganjal), dan diriwayatkan tidak satu jalur. 3. Hadis dha’if Yaitu hadis yang tidak memiliki syarat shahih dan syarat hasan. c. Pembagian Sunnah dari segi Kuantitas Rawi 1. Hadis Mutawatir Adalah hadis yang diriwayatkan oleh rawi yang jumlahnya banyak dan diyakini mustahil adanya kedustaan. 2. Hadis Masyhur Adalah hadis yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW oleh dua orang atau lebih, tidak mencapai tingkat mutawatir. 3. Hadis Ahad Adalah hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW tetapi tidak mencapai pada tingkatan mutawatir. 3. Fungsi dan Kedudukan Sunnah Sunnah merupakan sumber kedua setelah Al qur’an. Hal ini karena Sunnah merupakan penjelas Al qur’an, sehingga yang dijelaskan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pada yang menjelaskan. Ada 3 hal fungsi dan kedudukan Sunnah terhadap Al qur’an a. Sunnah sebagai muakkid (penguat) b. Sunnah sebagai mubayyin (penjelas) c. Sunnah sebagai Musyarr’i (pembuat syari’at) 4. Kehujjahan Sunnah Para ulama telah menyepakati kehujjahan Sunnah / hadis, terutama hadis mutawatir, namun mereka berbeda pendapat dalam menghukumi hadis ahad, yaituhadis yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW oleh seorang, dua orang atau jamaah, namun tidak mencapai derajat mutawatir. Namun demikian para ulama juga sepakat akan kehujjahan hadis ahad jika benar dan diyakini berasal dari Rasulullah SAW, dan telah disepakati oleh para sahabat, tabi’in, dan para ulama setelahnya. 5. Dalalah Sunnah Sunnah dilihat dari segi dalalah-nya, yaitu petunjuk yang dipahami terhadap makna atau pengertian yang dikehendaki dapat dibedakan kepada yang
Page |6

qath’i dalalah-nya dan dzanni dalalah-nya. Yang dimaksud dengan qath’i dalalah adalah hadis – hadis yang jika dilihat dari segi makna lafalnya tidak mungkin ditakwilkan. Sedangkan dzanni dalalah adalah hadis – hadis yang makna lafaznya tidak menunjukkan kepada pengertian yang tegas karena masih mungkin diartikan kepada pengertian lain.

Page |7

BAB III

PENUTUP A. Kesimpulan Pada dasarnya baik Al Qur’an maupun Sunnah merupakan sumber pokok utama bagi umat islam dan tidak ada keraguan sedikitpun, hanya saja perlu pemahaman lebih mendalam agar terhindar dari pengertian atau penerapan hukum yang keliru. B. Saran – saran Dalam pembuatan makalah ini, penulis dengan hati sadar menyampaikan banyak kekurangan baik dari isi maupun redaksi. Oleh karena itu, saran dan kritikan dari pada pembaca sangat kami harapkan untuk memperbaiki dan melengkapi makalah ini, sehingga menjadi benar – benar bahan bacaan yang pantas dan layak untuk dikonsumsi.

Page |8

DAFTAR PUSTAKA

Dedi Rohayana, Ade.2006.Ilmu Ushul Fiqh.Pekalongan:STAIN Press. Amirudin, Zen.2009.Ushul Fiqh.Yogyakarta:Teras. Syafe’i, Rahmat.1999.Ilmu Ushul Fiqh.Bandung:Pustaka Setia. Dahlan, Abd. Rahman.2010.Ushul Fiqh.Jakarta:Amzah Djalil, A. Basiq.2010.Ilmu Ushul Fiqh satu dan dua.Jakarta:Kencana.

Page |9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->