PERBANDINGAN SISTEM PEMERINTAHAN ISLAM DAN

DEMOKRASI INDONESIA
Disusun Oleh BAYU ENDRAGUPTA
(Staf Administrasi PTA.Palu)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Demokrasi dan Partisipasi Politik
Demokrasi adalah satu konsep tentang bentuk bernegara dari sistem
liberalisme, yang merupakan suatu sistem hak turut menentukan secara politik,
yang memungkinkan setiap warga negara mempunyai pengaruh kepada keputusan
- keputusan politik.
1

Setiap masyarakat, bangsa dan negara dapat berbeda pandang dalam
melihat dan mengamalkan partisipasi politik. Masyarakat sangat bergantung pada
latar belakang budaya, agama, pendidikan dan sosial ekonomi masyarakatnya.
Partispasi politik yang tinggi, tidak selamanya baik untuk demokrasi. Oleh karena
itu, cara melaksanakan partisipasi politik dan kualitas partisipasi itu sendiri amat
penting, sehingga tujuannya untuk mempengaruhi berbagai keputusan politik
dapat terwujud.
Demokrasi sebagai sebuah sistem untuk membentuk pemerintahan, adalah
suatu sistem yang rumit dan mahal. Maka berbagai pemikiran mengenai
demokrasi dan kekuasaan tidak bisa dilakukan dengan sederhana. Oleh karena itu,
sistem demokrasi tidak sepatutnya sama persis di setiap negara. Setiap negara bisa
mengembangkan sebuah sistem demokrasi yang sesuai dengan budaya, agama dan
sosio ekonomi masyarakatnya. Ragam demokrasi banyak, tidak ada satupun
kesimpulan yang dapat mencakup untuk semua. Yang perlu diperhatikan, dalam
mengamalkan demokrasi, jangan sampai syarat - syarat minimal demokrasi tidak
dijalankan seperti partisipasi politik yang otonom, pemilu yang demokratis,
kebebasan berpendapat, berkumpul, dan berserikat. Maka, arti demokrasi dapat

1
Eberhard Puntsch, Politik dan Martabat Manusia, Occasional Papers and Documents,
Friedrich-Naumann-Stiftung, Jakarta, 1998, hal. 26.
merujuk kepada dua kata dalam bahasa Yunani yaitu “demos” (rakyat) dan
“kratein” (pemerintahan). Secara umum berarti ‘pemerintahan oleh rakyat’, yaitu
satu sistem pemerintahan yang bertanggungjawab kepada rakyat melalui wakil -
wakil mereka yang dipilih dalam pemilihan umum, karena kegiatan pemerintah di
lapangan umum dan pemerintahan.
2

Unsur yang amat penting dalam partisipasi politik ialah para anggota
masyarakat ikut serta secara sukarela untuk menyeleksi para calon pemimpin
langsung ataupun tidak langsung, terlibat dalam pembuatan kebijakan publik, dan
sebagainya.
Tetapi walaupun banyak negara yang berpindah ke sistem pemerintahan
demokrasi, tidak demikian dengan negara Muslim, Belum ada negara Islam
demokrasi yang dapat dijadikan model negara demokrasi, tidak juga Indonesia
atau bisa disebut belum, karena Indonesia sebenarnya juga bukan negara Islam,
tetapi negara yang penduduknya mayoritas Muslim.
Sekarang Indonesia telah memakai sistem demokrasi seutuhnya, atau
disebut dengan Demokrasi Pancasila. Setelah menjalani sistem pemerintahan
demokrasi terpimpin pada masa Orde Lama dan sistem pemerintahan yang
otoriter pada rezim Orde Baru Presiden Soeharto, Indonesia merasa terlahir
kembali dan memiliki jiwa yang baru yang berasal dari reformasi.
Disini timbul permasalahan, Indonesia sebagai negara yang berpenduduk
Muslim terbesar di dunia, menganut sistem pemerintahan demokrasi, yang jelas -
jelas berasal dari dunia barat. Timbul pertentangan, apakah Islam yang dianut
sebagian besar penduduk Indonesia kompatibel dan sejalan dengan demokrasi?.
B. Demokrasi dalam Islam
Demokrasi sering diartikan sebagai penghargaan terhadap hak - hak asasi
manusia, partisipasi dalam pengambilan keputusan dan persamaan hak di depan
hukum. Dari sini kemudian muncul idiom-idiom demokrasi, seperti egalite
(persamaan), equality (keadilan), liberty (kebebasan), human right (hak asasi
manusia) dan lain - lain.

2
C. Schmitter and Terry Lynn Karl, “What Democary is Philippe … and is not”. Dalam
Journal of Democarcy, Vol. 2, No. 3 (summer 1991), hal. 20.
Dalam tradisi Barat, demokrasi didasarkan pada penekanan bahwa rakyat
seharusnya menjadi “pemerintah” bagi dirinya sendiri dan wakil rakyat
seharusnya menjadi pengendali yang bertanggung jawab atas tugasnya. Karena
alasan inilah maka lembaga legislatif di dunia Barat menganggap sebagai pioner
dan garda depan demokrasi. Lembaga legislatif benar - benar menjadi wakil
rakyat dan berfungsi sebagai agen rakyat yang aspiratif dan distributif.
Keberadaan wakil rakyat didasarkan atas pertimbangan, bahwa tidak mungkin
semua rakyat dalam suatu negara mengambil keputusan karena jumlahnya yang
terlalu besar. Oleh sebab itu kemudian dibentuk dewan perwakilan. Di sini lantas
prinsip amanah dan tanggung jawab (credible and accoOntable) menjadi
keharusan bagi setiap anggota dewan. Sehingga jika ada tindakan pemerintah
yang cenderung mengabaikan hak - hak sipil dan hak politik rakyat, maka harus
segera ditegur. Itulah perlunya perwakilan rakyat yang kuat untuk menjadi
penyeimbang dan kontrol pemerintah.
Secara normatif, Islam menekankan pentingnya ditegakkan amar ma’ruf
nahi munkar bagi semua orang, baik sebagai individu, anggota masyarakat
maupun sebagai pemimpin negara. Doktrin tersebut merupakan prinsip Islam
yang harus ditegakkan dimana pun dan kapan saja, supaya terwujud masyarakat
yang aman dan sejahtera.
Jika dilihat basis empiriknya, menurut Aswab Mahasin (1993:30), agama
dan demokrasi memang berbeda. Agama berasal dari wahyu sementara demokrasi
berasal dari pergumulan pemikiran manusia. Dengan demikian agama memiliki
dialeketikanya sendiri. Namun begitu menurut Mahasin, tidak ada halangan bagi
agama untuk berdampingan dengan demokrasi.
Membedah wacana Islam dan demokrasi tentu saja tidak bisa lepas dari
panggung pergulatan politik, negara, kekuasaan dan pemerintahan di satu sisi,
serta relasi antara Islam dengan entitas lain di luar Islam, pada sisi yang lain.
Islam yang dimaksudkan bukanlah sebuah basis nilai dan ajaran yang sama dan
tunggal. Islam hanya bisa dilihat dan dirasakan dari ekspresi para pemeluknya.
Justeru karena Islam hanya bisa dilihat dan dirasakan dari ekspresi para
pemeluknya, maka Islam pun sudah pasti berwajah banyak. Jika Islam berwajah
banyak, maka ekspresi politik Islam pun, tentu saja, amat beragam. Islam kadang
sejalan dengan demokrasi, tapi kadang juga berseberangan.
Setidaknya terdapat tiga pandangan tentang Islam dan demokrasi yaitu.
1. Pertama, Islam dan demokrasi adalah dua sistem politik yang berbeda. Islam
tidak bisa disubodinatkan dengan demokrasi karena Islam merupakan sistem
politik yang mandiri (self suffcient). Dalam bahasa politik muslim, Islam
sebagai agama yang kaffaah (sempurna) tidak saja mengatur persoalan
keimanan (akidah) dan ibadah, melainkan mengatur segala aspek kehidupan
umat manusia termasuk aspek kehidupan bernegara;
2. Kedua, Islam berbeda dengan demokrasi jika demokrasi didefinisikan secara
procedural seperti dipahami dan dipraktikkan di negara - negara Barat.
Kelompok kedua ini menyetujui adanya prinsip - prinsip demokrasi dalam
Islam. Tetapi, mengakui adanya perbedaan antara Islam dan demokrasi. Bagi
kelompok ini, Islam merupakan sistem politik demokratis kalau demokrasi
didefinisikan secara substantif, yaitu kedaulatan di tangan rakyat dan negara
merupakan terjemahan dari kedaulatan rakyat ini;
3. Ketiga, Islam adalah sistem nilai yang membenarkan dan mendukung sisstem
politik demokrasi seperti yang diperaktikkan negara-negara maju. Islam di
dalam dirinya demokratis tidak hanya karena prinsip syura (musyawarah),
tetapi juga karena adanya konsep ijtihad dan ijma (konsensus). Di Indonesia
pandangan ketiga ini lebih dominan karena demokrasi sudah menjadi bagian
integral sistem pemerintahan Indonesia dan negara-negara muslim lainnya.
Islam dan demokrasi.
Sebenarnya ada beberapa prinsip Islam yang sesuai dengan demokrasi,
yaitu.
1. Syura (Musyawarah)
Musyawarah dijelaskan dalam QS.42:28, yang berisi perintah kepada para
pemimpin dalam kedudukan apapun untuk menyelesaikan urusan mereka yang
dipimpinnya dengan cara bermusyawarah.


2. Keadilan
Artinya dalam menegakkan hukum termasuk rekrutmen dalam berbagai
jabatan pemerintahan harus dilakukan secara adil dan bijaksana. Tidak boleh
kolusi dan nepotis. Arti pentingnya penegakan keadilan dalam sebuah
pemerintahan ini ditegaskan oleh Allah S.W.T. dalam beberapa ayat-Nya,
antara lain dalam surat an-Nahl:90; as-Syura:15; al-Maidah:8; An-Nisa’:58.
Prinsip keadilan dalam sebuah negara memang sangat diperlukan, sehingga
ada ungkapan yang “ekstrim” berbunyi “Negara yang berkeadilan akan lestari
kendati ia negara kafir, sebaliknya negara yang zalim akan hancur meski
mengatasnamakan Islam”.
3. Kesejajaran (Al-MuS.A.W.ah)
Artinya tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi dari yang lain sehingga dapat
memaksakan kehendaknya. Penguasa tidak bisa memaksakan kehendaknya
terhadap rakyat, berlaku otoriter dan eksploitatif. Kesejajaran ini penting
dalam suatu pemerintahan demi menghindari dari hegemoni penguasa atas
rakyat. Ayat Al-Qur’an yang sering digunakan adalah QS. Al-Hujurat ayat 13.
4. Kebebasan Untuk Hidup
Ini dijelaskan pada QS.17:33 dan QS.5:52 yang menyebutkan bahwa manusia
mempunyai kemuliaan dan martabat yang tinggi dibandingkan mahluk yang
lain, sehingga manusia diberi kebebasan unuk hidup dan merasakan
kenikmatan dalam kehidupannya.
5. Prinsip Persamaan
Dijelaskan pada QS.49:13 yaitu pada dasarnya semua manusia itu sama,
karena semuanya adalah hamba Allah, yang membedakan manusia dengan
manusia lainnya adalah ketakwaannya kepada Allah S.W.T..
6. Kebebasan Menyatakan Pendapat
Al-Qur’an memerintahkan kepada manusia agar mau dan berani menggunakan
akal pikiran mereka untuk menyatakan pendapat yang benar dan dipenuhi rasa
tanggung jawab.


7. Kebebasan Beragama
Allah secara tegas telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk
menganut dan menjalankan agama yang diyakini kebenarannya, sehingga tak
seorangpun dapat dibenarkan memaksa orang lain untuk masuk Islam.
Perintah ini terdapat dalam QS.2:256, QS.88:22, dan QS.50:45.
Inilah yang menjadi dasar seseorang yang menyatakan bahwa Islam
sejalan dan kompatibel dengan demokrasi. Tetapi ada pula prinsip - prinsip Islam
yang bertentangan dengan prinsip - prinsip demokrasi, yaitu.
1. Perbedaan sumber
Demokrasi bersumber dari pikiran atau akal manusia, sedangkan Islam berasal
dari wahyu Allah S.W.T. yang disampaikan kepada Nabi Muhammad S.A.W..
2. Perbedaan derajat antara Muslim dan Non-Muslim
Dalam Islam derajat orang Muslim lebih tinggi daripada Non-Muslim,
sedangkan pada demokrasi derajat orang Muslim dan Non-Muslim sama.
Dalam masalah inilah sepertinya Islam tidak menghormati prinsip
kesetaraan. Saat Indonesia ditetapkan sebagai negara demokrasi dulunya, tidak
ada pertanyaan yang diajukan maupun pertimbangan tentang apakah Islam
kompatibel dengan demokrasi.
Suara demokrasi lebih disuarakan karena didorong kebutuhan untuk
memiliki lebih banyak ruang dan lebih banyak pendapat bagi masyarakat dan
orang - orang yang berada di non negara, jadi bukan oleh nilai-nilai agamanya.
Para sarjana Islam berpendapat bahwa konsep demokrasi dalam Islam
adalah “syura” yang disebutkan dalam Al-Qur’an yang artinya “Dan
bermusyawarahlah mereka dalam suatu perkara”.
3
Selain itu, ada pula ayat lain
yang menyebut. “Dan orang - orang yang suka mematuhi seruan Tuhannya,
mengerjakan sholat, menyelesaikan setiap persoalan antara sesamanya secara

3
Ayat Al-Qur’an tentang “syura” terdapat dalam Surat ke 3 Al-Imran ayat 159.
bermusyawarah”.
4
Pada umumnya, sarjana Islam menafsirkan kata “syura” adalah
secara harfiah yaitu “musyawarah”.
Akan tetapi, Abu Bakar Ba’asyir menafsirkan kata “syura” sebagai sebuah
konsep Ilahi yang diturunkan untuk mengatur manusia dalam menjalankan
kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan. Menurut beliau, dalam konsep syura,
kedaulatan (kekuasaan) tertinggi dalam membuat Undang - Undang adalah hak
Allah.
Javid Iqbal menyatakan bahwa kedaulatan dan kekuataan absolut adalah
hak Allah semata, oleh karena itu ia mengakui supremasi hukum Islam. Namun, ia
menerima metode demokrasi sepanjang pemilihan mengenai kepemimpinan Islam
dan amalan syari’ah diperhatikan.
5
Menurut Abu Bakar Ba’asyir, konsep “syura”
mengandung prinsip - prinsip kebebasan (al-hurriyah), kesamaan (al-muS.A.W.a),
toleransi (al-tasamuh), keadilan (al’adalah), dan kebenaran (al-shidq) adalah wajib
hukumnya untuk diamalkan, tidak sama dengan prinsip - prinsip demokrasi yang
banyak diamalkan sekarang ini.
6

Prinsip kebebasan misalnya, menurut Abu Bakar Ba’asyir adalah kebebasan yang
menjamin dan melindungi agama, hak - hak manusia serta makhluk lain. A. Brohi
menjelaskan pentingnya kebebasan berpikir dan berpendapat dijamin dalam
melaksanakan “syura”, seperti dikemukakan.
“… setiap pemerintah wajib meminta pendapat rakyat mengenai persoalan -
persoalan penting baik melalui parlemen maupun referendum, shura (syura)
hanya bererti jika ada kebebasan berfikir dan berpendapat. Jika kebebasan
berfikir dan berpendapat ditekan atau dibatasi dengan berbagai cara dan
rakyat dipaksa untuk berfikir dan berbicara hanya dalam cara yang
dikehendaki penguasa, shura atau musyawarah dengan rakyat menjadi tidak
berarti.”
7


4
Pada Surah ke 42 Asy-Syura ayat 38, Allah menegaskan yang artinya “Dan mereka
yang suka mematuhi seruan Tuhannya, mengerjakan shalat, menyelesaikan setiap persoalan antara
sesamanya secara bermusyawarah, menafkahkan sebahagian rezeki yang Allah telah berikan
kepadanya”.
5
Abu Bakar Ba’asyir, Demokrasi dan Islam di Solo dalam Era Reformais, Wawancara,
Markaz besar Polis Republik Indonesia, Jakarta, 2004.
6
Javid Iqbal, “Democracy and the Modern State”, dalam John L. Esposito (pnyt.), Voice
of Resurgent Islam, Oxford University Press, New York, 1984, hal. 257.
7
Abu Bakar Ba’asyir, Demokrasi dan Islam di Solo dalam Era Reformais, Wawancara,
Markaz besar Polis Republik Indonesia, Jakarta, 2004.
Musyawarah yang dilandasi kebebasan berpikir dan berpendapat, yang
dipandu oleh wahyu Ilahi belum menjadi budaya dalam masyarakat. Kendati pun
praktik musyawarah sejak lama telah diamalkan, tetapi tidak berkait dengan
dengan konsep ”syura” dalam Islam, walau pun prinsip semacam itu secara luas
telah diterima oleh masyarakat Islam. Deklarasi Universal Hak - Hak Asasi
Manusia dalam Islam, telah diterima oleh Dewan Islam Eropa yang didirikan di
London pada 1965 dan mempunyai status peninjau dalam Organisasi Konperensi
Islam (OKI) yang menyatakan bahwa suatu masyarakat Islam yang benar harus
menerima prinsip musyawarah.
8

Afan Gaffar berpendapat bahwa Islam sangat percaya pada demokrasi,
karena hal itu merupakan salah satu ajaran politik Islam.
9
Wa amruhum syura
bainahum,
10
segala permasalahan hendaknya dimusyawarahkan secara bersama,
merupakan ekspresi demokrasi dalam Islam. Perintah untuk melaksanakan
musyawarah telah ditegaskan dalam Al-Qur’an. Hal seperti itu menurutnya, telah
diamalkan pada jaman Nabi Muhammad S.A.W. serta jaman Khulafa Al-
Rasyidin.
Islam juga sangat jelas mengutamakan prinsip - prinsip persamaan
(egalitarian) yang sudah tentu amat dekat dengan wajah demokrasi, prinsip -
prinsip persamaan ini banyak ditemukan di dalam Al-Qur’an maupun Hadist Nabi
Muhammad S.A.W. seperti penciptaan lelaki dan perempuan yang berbangsa -
bangsa dan bersuku - suku untuk saling mengenal, akan tetapi yang paling mulia
diantara mereka ialah yang lebih bertakwa.
11


8
L. Fitzgerald, The Justice God Wants: Islam and Human Rights, North Blackburn, 1993,
hlm. 29.
9
Afan Gaffar, Islam dan Demokrasi: Pengalaman Empirik yang Terbatas, hlm. 346.
10
Al-Qur’an, surah ke 3 Al-Imran ayat 159. Allah memerintahkan untuk melaksanakan
musyawarah. ”Oleh karena rahmat Allah-lah engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati bengis, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari
padamu. Karena itu maafkanlah mereka mohonkanlah amounan bagi mereka dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam beberapa urusan perang dan kemasyarakatan. Bila
engkau telah mempunyai tekad yang bulat, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
mencintai orang - orang yang bertawakal kepada-Nya”. Selanjutnya, dalam surat ke 42 Asy-
Syura, ayat 38, Allah berfirman: ”Dan mereka yang suka mematuhi seruan Tuhannya,
mengerjakan sholat, menyelesaikan setiap persoalan antara sesamanya secara bermusyawarah”.
11
Al-Qur’an, Surah ke 2 al-Baqarah ayat 136. Artinya: “Katakanlah hai orang - orang
yang beriman “Kami beriman kepada Allah dan wahyu yang diturunkannya kepada kami, dan
wahyu yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, begitu juga yang
Di samping itu, perintah zakat juga merupakan perwujudan dari praktik
demokrasi, karena orang miskin yang marjinal secara ekonomi dan tidak punya,
dibantu dengan tidak membeda - bedakan diantara mereka. Di dalam Al-Qur’an
banyak sekali ayat yang menyebut ”kerjakanlah sholat dan tunaikan zakat”.
12

Begitu juga sholat jama’ah adalah manifestasi dari demokrasi yang tidak
membeda - bedakan siapa yang datang lebih dahulu boleh duduk di barisan paling
depan. Demikian pula halnya dalam ibadah haji, semua sama kedudukannya
dalam menjalankan rukun haji dan wajib haji, pakaiannya putih - putih dan tidak
berjahit serta sama bentuknya yang lazim disebut pakaian ihram, tidak membeda -
bedakan siapa pun kecuali derajat taqwanya.
Sukarno, Presiden Republik Indonesia pertama, pernah berkata.
“ajaran - ajaran Islam banyak menunjukkan hal - hal yang berkaitan dengan
kehidupan yang demokratis. Islam adalah satu - satunya agama yang memiliki
prinsip kesamarataan. Kesamarataan dalam hak dan kewajiban yang
menuntut terbinanya kehidupan yang demokratis. Dalam suasana demokrasi
itulah api Islam dapat bernyala dan gemilang kehidupan berpikir dapat
berkembang. Kreativitas bermunculan dan pemikir - pemikir agama lahir.”
13

Praktik politik yang mengaitkan Islam dengan memilih partai Islam yang
diwujudkan dalam pemilu, hanya sebagian kecil masyarakat yang
mengamalkannya. Kalangan santri yang terbagi ke dalam aliran modern dan
konservatif, baik dari kalangan Muhammadiyah maupun Nahdlatul Ulama, tidak
semuanya menganut budaya politik Islam yang otomatis memilih partai politik
Islam.
Mungkin hal itu menjadi pertimbangan Amien Rais, mantan Ketua Umum
Pengurus Pusat Muhammadiyah, dan Abdurrahman Wahid, mantan Ketua Umum
Pengurus Besar Nahdatul Ulama, di awal reformasi 1998, keduanya mendirikan

diturunkan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya, kami
tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami, adalah orang - orang yang
menyerahkan diri kepada-Nya”.
12
Dalam surah ke 2 Al-Baqarah ayat 43, Allah menyuruh untuk melaksanakan sholat dan
menunaikan zakat. Perintah tersebut dapat dimaknai, pentingnya selalu memelihara hubungan
dengan Allah, yang diwujudkan dalam bentuk sholat, dan perintah menunaikan zakat, dapat juga
dimaknai untuk selalu peduli terhadap sesama manusia yang kurang beruntung dalam hidup ini,
dan zakat dapat dimaknai sebagai wujud pembangunan demokrasi ekonomi.
13
Badri Yatim, Soekarno, Islam dan Nasionalisme Rekonstruksi Pemikiran Islam-
Nasionalis, Inti Sarana Aksara, Jakarta, 1985, hlm. 122.
partai politik, mereka mendirikan partai politik sekuler bukan partai politik Islam.
Amien Rais mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) dan Abdurrahman Wahid
mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang kedua - duanya adalah partai
sekular (secular party).
1. Persamaan Islam dan Demokrasi
Dhiyauddin ar Rais mengatakan, ada beberapa persamaan yang
mempertemukan Islam dan demokrasi. Namun, perbedaannya lebih banyak.
Persamaannya jika demokrasi diartikan sebagai sistem yang diikuti asas
pemisahan kekuasaan, itu pun sudah ada di dalam Islam. Kekuasaan legislatif
sebagai sistem terpenting dalam sistem demokrasi diberikan penuh kepada rakyat
sebagai satu kesatuan dan terpisah dari kekuasaan Imam atau Presiden. Pembuatan
Undang - Undang atau hukum didasarkan pada Al-Quran dan Hadist, ijma atau
ijtihad. Dengan demikian, pembuatan Undang - Undang terpisah dari Imam,
bahkan kedudukannya lebih tinggi dari Imam. Adapun Imam harus menaatinya
dan terikat Undang - Undang. Pada hakikatnya, Imamah (kepemimpinan) ada di
kekuasaan eksekutif yang memiliki kewenangan independen karena pengambilan
keputusan tidak boleh didasarkan pada pendapat atau keputusan penguasa atau
presiden, melainkan berdasarkan pada hukum - hukum syariat atau perintah Allah
S.W.T.
Demokrasi seperti definisi Abraham Lincoln, dari rakyat dan untuk rakyat
pengertian itu pun ada di dalam sistem negara Islam dengan pengecualian bahwa
rakyat harus memahami Islam secara komprehensif.
Demokrasi adalah adanya dasar - dasar politik atau sosial tertentu
(misalnya, asas persamaan di hadapan Undang - Undang, kebebasan berpikir dan
berkeyakinan, realisasi keadilan sosial, atau memberikan jaminan hak - hak
tertentu, seperti hak hidup dan bebas mendapat pekerjaan). Semua hak tersebut
dijamin dalam Islam.
2. Perbedaan Islam dan Demokrasi
Demokrasi yang sudah populer di Barat, definisi bangsa atau umat dibatasi
batas wilayah, iklim, darah, suku bangsa, bahasa dan adat - adat yang mengkristal.
Dengan kata lain, demokrasi selalu diiringi pemikiran nasionalisme atau
rasialisme yang digiring tendensi fanatisme. Adapun menurut Islam, umat tidak
terikat batas wilayah atau batasan lainnya. Ikatan yang hakiki di dalam Islam
adalah ikatan akidah, pemikiran dan perasaan. Siapa pun yang mengikuti Islam, ia
masuk salah satu negara Islam terlepas dari jenis, warna kulit, negara, bahasa atau
batasan lain. Dengan demikian, pandangan Islam sangat manusiawi dan bersifat
internasional.
Tujuan - tujuan demokrasi modern Barat atau demokrasi yang ada pada
tiap masa adalah tujuan - tujuan yang bersifat duniawi dan material. Jadi,
demokrasi ditujukan hanya untuk kesejahteraan umat (rakyat) atau bangsa dengan
upaya pemenuhan kebutuhan dunia yang ditempuh melalui pembangunan,
peningkatan kekayaan atau gaji. Adapun demokrasi Islam selain mencakup
pemenuhan kebutuhan duniawi (materi) mempunyai tujuan spiritual yang lebih
utama dan fundamental.
Kedaulatan umat (rakyat) menurut demokrasi Barat adalah sebuah
kemutlakan. Jadi, rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi tanpa peduli
kebodohan, kezaliman atau kemaksiatannya. Namun dalam Islam, kedaulatan
rakyat tidak mutlak, melainkan terikat dengan ketentuan - ketentuan syariat
sehingga rakyat tidak dapat bertindak melebihi batasan - batasan syariat, Al-Quran
dan As-Sunnah tanpa mendapat sanksi.
3. Pandangan Ulama tentang Demokrasi
Menurut Yusuf Al-Qardhawi, substasi demokrasi sejalan dengan Islam.
Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal. misalnya.
a. Dalam demokrasi proses pemilihan melibatkkan banyak orang untuk
mengangkat seorang kandidat yang berhak memimpin dan mengurus keadaan
mereka. Tentu saja, mereka tidak boleh akan memilih sesuatu yang tidak
mereka sukai. Demikian juga dengan Islam. Islam menolak seseorang menjadi
imam shalat yang tidak disukai oleh makmum dibelakangnya;
b. Usaha setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang tiran juga sejalan
dengan Islam. Bahkan amar makruf dan nahi mungkar serta memberikan
nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari ajaran Islam;
c. Pemilihan umum termasuk jenis pemberian saksi. Karena itu, barangsiapa
yang tidak menggunakan hak pilihnya sehingga kandidat yang mestinya layak
dipilih menjadi kalah dan suara mayoritas jatuh kepada kandidat yang
sebenarnya tidak layak, berarti telah menyalahi perintah Allah untuk
memberikan kesaksian pada saat dibutuhkan;
d. Penetapan hukum yang berdasarkan suara mayoritas juga tidak bertentangan
dengan prinsip Islam. Contohnya dalam sikap Umar yang tergabung dalam
syura. Mereka ditunjuk Umar sebagai kandidat khalifah dan sekaligus memilih
salah seorang di antara mereka untuk menjadi khalifah berdasarkan suara
terbanyak. Sementara, lainnya yang tidak terpilih harus tunduk dan patuh. Jika
suara yang keluar tiga lawan tiga, mereka harus memilih seseorang yang
diunggulkan dari luar mereka. Yaitu Abdullah ibn Umar. Contoh lain adalah
penggunaan pendapat jumhur ulama dalam masalah khilafiyah. Tentu saja,
suara mayoritas yang diambil ini adalah selama tidak bertentangan dengan
nash syariat secara tegas;
e. Juga kebebasan pers dan kebebasan mengeluarkan pendapat, serta otoritas
pengadilan merupakan sejumlah hal dalam demokrasi yang sejalan dengan
Islam.
Menurut Salim Ali Al-Bahna, demokrasi mengandung sisi yang baik yang
tidak bertentangan dengan Islam dan memuat sisi negatif yang bertentangan
dengan Islam. Sisi baik demokrasi adalah adanya kedaulatan rakyat selama tidak
bertentangan dengan Islam. Sementara, sisi buruknya adalah penggunaan hak
legislatif secara bebas yang bisa mengarah pada sikap menghalalkan yang haram
dan menghalalkan yang haram. Karena itu, beliau menawarkan adanya Islamisasi
sebagai berikut.
a. Menetapkan tanggung jawab setiap individu di hadapan Allah;
b. Wakil rakyat harus berakhlak Islam dalam musyawarah dan tugas - tugas
lainnya;
c. Mayoritas bukan ukuran mutlak dalam kasus yang hukumnya tidak ditemukan
dalam Al-Quran dan Sunnah (An-Nisa : 59) dan (Al-Ahzab : 36);
d. Komitmen terhadap Islam terkait dengan persyaratan jabatan sehingga hanya
yang bermoral yang duduk di parlemen.
C. Hubungan Islam dan Negara
Saat membincangkan Islam dan negara, terutama hubungan antara umat
Islam dengan pemerintah, karena sejak Indonesia merdeka, hal ini selalu
mengalami masalah. Negara Indonesia dengan sistem pemerintahannya adalah
wujud sebagai satu organisasi yang besar dan mempunyai struktur yang rumit.
Walau pun Indonesia adalah negara sekuler, tetapi dalam amalan agama tidak
dipisahkan secara seratus persen dengan urusan negara. Masalah perkawinan,
warisan, haji, wakaf, pendidikan agama dan sebagainya, masih diurus oleh negara
melalui Departemen Agama.
Muhammad Arkoun, salah seorang sarjana Islam terkemuka menyebut,
usaha Nabi Muhammad S.A.W. membangun negara Madinah mengenal
pendelegasian wewenang (authority). Kekuasaan yang dibangun dalam negara
Madinah, tidak memusat pada tangan satu orang seperti pada sistem diktatorial
atau kerajaan, melainkan kepada golonagn masyarakat melalui musyawarah dan
kehidupan berkonstitusi. Artinya, sumber wewenang dan kekuasaan tidak pada
keinginan dan keputusan lisan pribadi, tetapi pada suatu dokumen tertulis yang
prinsip - prinsipnya disepakati bersama. Kewujudan terpenting dari sistem sosial
politik eksperimen negara Madinah itu ialah dokumen yang termasyhur, ”Piagam
Madinah” (Mitsaq Al-Madinah), yang kemudian dikenal sebagai “Konstitusi
Madinah”. Kejayaan yang dicapai pada masa Rasulullah S.A.W., kemudian
dilanjutkan oleh para sahabat Nabi yang empat, yang sering disebut Khulafa’ al-
Rasyidin sesudah beliau wafat.
Sejarah Nabi Muhammad S.A.W dalam membangun negara Madinah,
telah menjadi inspirasi yang terus - menerus hidup dalam pikiran, perasan dan cita
- cita para tokoh dan pemuda Islam untuk membangun Indonesia seperti negara
Madinah Al-Munawwarah.
Hubungan antara umat Islam dengan pemerintah sepanjang sejarah
Indonesia, umumnya selalu mengalami hubungan yang kurang harmonis.
Penyebab utamanya adalah masalah ideologi yang tidak pernah selesai
dibincangkan dan diterima oleh semua pihak.
Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, timbul pemberontakan Darul
Islam/Tentera Islam Indonesia (DI/TII) di Sulawesi yang dipimpin oleh Kahar
Muzakkar. Begitu pula pemberontakan di Aceh yang dipimpin Daud Beureuh, di
Jawa Barat dipimpin Kartosuwiryo dan lain - lain.
Walaupun begitu, di bidang politik nampak di permukaan berjalan baik
dan harmonis. Dalam sejarah disebutkan bahwa Mohammad Natsir dari Partai
Majelis Syura Muslimin Indonesia (MASYUMI), dapat bekerja sama dengan
Presiden Sukarno dari Partai Nasional Indonesia (PNI) dan bahkan Mohammad
Natsir pernah dilantik menjadi Perdana Menteri. Akan tetapi, hubungan itu
bagaikan api dalam sekam, karena Partai Masyumi mencita - citakan mendirikan
negara Islam yang demokratis.
Hubungan itu mengalami masa yang amat buruk setelah Presiden Sukarno
mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang membubarkan Parlemen dan
Majelis Konstituante hasil pemilu 1955. Majelis konstituante adalah satu majelis
yang dipilih para anggotanya bersamaan dengan pemilu legislatif (parlemen)
untuk menyusun konstitusi baru bagi Indonesia.
Hubungan antara pemerintah dengan golongan Islam bertambah buruk
setelah Presiden Sukarno membubarkan Partai Majelis Syura Muslimin Indonesia
(Parti Masyumi) dan Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Untuk meredakan situasi, Presiden Sukarno memerintahkan penahanan
para tokoh politik termasuk tokoh - tokoh Islam seperti Mohammad Natsir, Buya
Hamka, Kasman Singodimedjo dan lain - lain. Keadaan ini berlangsung sampai
akhirnya terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) 1965, yang
kemudian Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang seluruh
anggotanya dilantik Presiden Sukarno, memberhentikan Soekarno sebagai
Presiden Republik Indonesia yang dianggap bertanggung jawab terjadinya
pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Setelah runtuh kekuasaan Presiden Sukarno dan digantikan oleh Presiden
Soeharto yang menandai lahirnya Orde Baru, maka pada awalnya, hubungan
antara umat Islam dengan pemerintah berjalan baik dan harmonis. Namun, setelah
Soeharto melakukan konsolidasi politik dan menyelenggarakan pemilu 1971,
hubungan tersebut mulai buruk. Tentara (ABRI) yang tampil ke panggung
kekuasaan curiga terhadap umat Islam yang mengembangkan politik Islam,
sehingga dilakukan berbagai upaya sistematik untuk mengetepikan peranan para
tokoh Islam di pentas politik.
Pada waktu diadakan pemilihan umum pertama di era pemerintahan Orde
Baru 1971, Parmusi berusaha memanfaatkan ikatan emosional umat Islam dengan
partai Masyumi melalui penggalangan massa dengan mencalonkan para mantan
tokoh Masyumi sebagai calon anggota parlemen dalam pemilu 1971. Selain itu,
menggunakan mereka untuk aktif dalam kampanye pemilu sebagai pengumpul
suara (vote getter). Kebijakan pimpinan Parmusi itu tidak diterima oleh
pemerintahan Soeharto, sehingga sejumlah calon anggota parlemen yang menjadi
pengumpul suara (vote getter) dan calon anggota parlemen dibatalkan namanya
oleh Lembaga Pemilihan Umum (LPU) yang dikuasai pemerintah dan mereka
tidak dibolehkan menjadi juru kampanye.
Dalam Sidang Umum MPR 1973, Kyai Bisri Syamsuri dan Kyai Wahid
Hasyim dari Nahdlatul Ulama dan kawan - kawan yang tergabung dalam Partai -
Partai Islam, melakukan protes dengan keluar meninggalkan sidang (walk out)
sehubungan adanya kebijakan pemerintah untuk mengakui aliran kepercayaan.
Protes dari umat Islam dilakukan pula diluar parlemen, yang diikuti para pemuda
dan tokoh Islam.
Protes tersebut tidak menjadikan pemerintahan Soeharto surut dari
tujuannya untuk mengakui secara nyata (de facto) terhadap “Aliran Kepercayaan”.
Dalam penyusunan Undang - Undang Perkawinan 1974, diakui keberadaan Aliran
Kepercayaan, dengan menetapkan dalam pasal 1 ayat 2 bahwa.
“Perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing - masing agama
dan kepercayaannya itu.”
Akibat dari kebjiakan itu, telah menimbulkan ketegangan yang amat tinggi
di kalangan masyarakat, yang puncaknya ialah pada waktu Sidang Umum Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1978. Salah satu agenda politik yang bersifat
kontroversi dari pemerintah yang ditentang oleh umat Islam yaitu rencana
pemerintah memasukkan “Aliran Kepercayaan” ke dalam Garis - Garis Besar
Haluan Negara (GBHN) yang dirumuskan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat
(MPR) pada 1973 yang berbunyi sebagai berikut.
1. Atas dasar kepercayaan Bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Mahaesa
maka perikehidupan beragama dan perikehidupan berkepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa didasarkan atas kebebasan menghayati dan
mengamalkan Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan falsafah Pancasila.
2. Pembangunan Agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
ditujukan untuk pembinaan suasana hidup rukun di antara sesama umat
beragama sesama penganut Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan
antara sesama umat beragama dan semua penganut Kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa serta meningkatkan amal dalam bersama - sama
membangun masyarakat.
14

Kebijakan pemerintahan Soeharto memasukkan “Aliran Kepercayaan” ke
dalam GBHN, telah membangkitkan protes umat Islam yang dilakukan para
pemuda Islam. Penentangan itu dilakukan melalui demonstrasi di DPR Jakarta.
Alasannya, mereka tidak setuju kebijakan pemerintah untuk mengakui Aliran
Kepercayaan yang terpisah dari agama, karena dapat berarti sebagai meletakkan
“Aliran Kepercayaan” sejajar dengan agama, yang tujuannya bersifat politik, yaitu
untuk melemahkan umat Islam dengan memisahkan kaum dari agamanya (Islam).
Pentangan keras dari umat Islam, dibalas dengan menahan para
demonstran, dengan memenjarakan mereka tanpa melalui proses pengadilan,
bahkan pada tahun 1984 Presiden Soeharto, menetapkan bahwa semua partai
politik dan organisasi kemasyarakatan mesti mengadopsi Pancasila sebagai dasar
ideologinya (ideological basis).
15


14
Garis - Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1973, di mana MPR yang dikuasai oleh
para penyokong rezim Soeharto berjaya memasukkan aliran kepercayaan ke dalam GBHN, yang
mendapat reaksi keras dari umat Islam.
15
Mark R. Woodward (pnyt.). 1996 dalam Democracy and Islam Neo Modernismnist,
dalam “The Response of Neo Modernity to Consepts of Democracy in Indonesia”, my
document/website/democracy and islam neo-modernists in Indonesia.htm. dan Memahami
semangat baru Islam Indonesia: percakapan dengan Abdurrahman Wahid, dalam Jalan Baru Islam
Pemerintahan Presiden Soeharto membuat berbagai kebijakan semacam
itu, karena mengetahui bahwa sebagian umat Islam, tidak pernah berhenti bercita -
cita, berpikir dan berjuang untuk mewujudkan negara Islam seperti yang pernah
dibangun dan dikembangkan oleh Nabi Muhammad S.A.W. di Madinah. Untuk
menghentikan cita - cita itu, maka pemerintahan Soeharto melakukan beberapa
langkah politik yang keras diantaranya.
1. Memberantas orang - orang Islam yang mencoba mempersoalkan Pancasila
dan menggantinya dengan ideologi lain melalui penahanan dan penyiksaan di
penjara;
2. Menutup karir politik bagi mereka yang digolongkan ekstrim kanan (Islam
garis keras) melalui pengujian ideologi yang dilakukan tentara bagi setiap
calon anggota parlemen, calon tentara dan polisi, calon pegawai pemerintah,
calon pegawai badan usaha milik Negara (BUMN) dan lain - lain;
3. Melemahkan partai politik Islam melalui campur tangan pemerintah dalam
penetapan pimpinan partai Islam;
4. Membesarkan ekonomi kaum non pribumi terutama Cina dan agama lain, agar
terjadi “balance of power” antara umat Islam yang majoritas dengan umat lain
yang minoritas, sehingga walau pun umat Islam majoritas jumlahnya, tetapi
minoritas dalam bidang ekonomi.
Oleh karena berbagai kebijakan politik pemerintahan Soeharto dianggap
merugikan umat Islam, maka sekitar 1970-an sampai 1980-an, muncul sejumlah
kasus keganasan seperti Komando Jihad, Teror Warman, Pembajakan pesawat
terbang Garuda dan lainnya. Berbagai kejadian itu, ada yang mengatakan sengaja
diciptakan pemerintah untuk merusak nama baik umat Islam dan ada pula yang
berpendapat bahwa itu merupakan reaksi dari sikap tidak adil pemerintah terhadap
umat Islam, sehingga tumbuh penentangan keras kepada pemerintahan Soeharto.
Hubungan yang selalu kurang harmonis antara sebagian umat Islam
dengan pemerintah, walau pun penyebabnya adalah masalah ideologi, tetapi jika
budaya politik yang demokratis diamalkan oleh pemerintahan Presiden Sukarno

memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia, Bandung, Penerbit Mizan, hal. 146. dan Adam
Schwarsz, A Nation in Waiting Indonesia’s Search for Stability, Allen and Unwin, 1994.
dan Presiden Soeharto, maka tidak akan terjadi berbagai persoalan besar yang
merusak hubungan antara sebagian besar umat Islam dengan pemerintah, karena
segala persoalan yang dihadapi dapat dimusyawarahkan dengan baik, karena pada
dasarnya masyarakat dapat menerima perbedaan, asalkan dibicarakan melalui
forum musyawarah yang bebas, adil dan jujur.
Sekitar 1990-an Presiden Soeharto, mulai mendekati umat Islam yang
ditandai antara lain beliau dan keluarganya ke Mekah untuk menunaikan ibadah
haji, kemudian menyetujui pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia
(ICMI). Kemudian meprakarsai pendirian Bank Islam yang disebut Bank
Muamalat Indonesia (BMI), pengumpulan dana dari pegawai negeri untuk
membangun masjid di seluruh Indonesia melalui Yayasan Amal Bakti Muslim
Pancasila, dan berbagai langkah pragmatis yang dilakukan pemerintah. Hubungan
harmonis itu, terus berlanjut setelah Soeharto berhenti 21 Mei 1998 sebagai
Presiden Republik Indonesia, yang digantikan oleh BJ. Habibie.
Reformasi politik 1998 yang digerakan kaum muda dan disponsori oleh
kekuatan global, telah membawa angin kebebasan dan demokrasi. Dampaknya,
dalam masa sepuluh tahun sejak reformasi, telah terjadi pergantian kekuasaan
selama lima kali, yaitu dari Soeharto kepada BJ. Habibie, kemudian ke
Abdurrahman Wahid kepada Megawati Sukarnoputri dan sekarang Susilo
Bambang Yudhoyono yang dipilih langsung oleh rakyat Indonesia.
Walaupun pada saat ini, hubungan pemerintah dengan umat Islam berjalan
baik, tetapi persoalan ideologi yang belum tuntas bagi sebagian umat Islam, tetap
menjadi “batu sandungan” yang berpotensi melahirkan ketegangan dan
menciptakan ketidakstabilan politik dan keamanan. Ini karena ketegangan itu
bersifat “laten”, yang sewaktu - waktu dapat memunculkan kekacauan yang tidak
ada akhirnya, datang dan tenggelam kemudian muncul lagi.
Untuk menyelesaikan masalah ideologi negara yang masih terus
dipersoalkan dan sewaktu - waktu bisa melahirkan ketegangan baru antara
sebagian umat Islam dengan pemerintah, maka partisipasi politik dan praktik
demokrasi perlu terus dipelihara kualitasnya dan dilakukan secara
berkesinambungan.
BAB II
PEMERINTAHAN KHALIFAH ISLAM
Bisakah Islam bertemu dengan demokrasi barat?. Apakah mereka sejalan?.
Atau apakah demokrasi barat mengambil konsep dari Islam?. Atau sebaliknya
Islam mengambil nilai - nilai demokrasi yang telah berkembang di Yunani?. Atau
konsep nilai Islam telah berubah karena jaman sudah berubah pula dan karena saat
ini penduduk dunia semakin banyak hingga dibutuhkanlah sebuah sistem yang
berguna untuk menyederhanakan dalam sistem pemerintahan, makanya kaum
muslim bersedia menerima konsep demokrasi barat sebagai jalan keluar yang
modern?.
Ada satu pertanyaan yang membuat berfikir berkali - kali bagi penulis,
kenapa barat (Amerika dan sekutunya) selalu mengirimkan pasukan perangnya
bila ada suatu negara menolak sistem demokrasi barat? dan kenapa Amerika dan
sekutunya tidak merasa perlu mengirimkan pasukan senjata perangnya bila suatu
negara muslim sudah mengadopsi sistem demokrasi barat dalam
pemerintahannya?. Apakah demokrasi itu merupakan cara hidup kaum barat? dan
bila ada Negara muslim memakai sistem tersebut, kaum barat sudah merasakan
negara muslim demokrasi tersebut sudah sama dengan mereka?. Jadi tidak perlu
berperang?.
A. Analisis Pemikir Islam
Berikut beberapa analisis pemikir Islam, semoga hal - hal tersebut terurai
sedikit demi sedikit kenapa kita harus selalu memegang harta termahal kita yaitu
Islam.
1. Abul Ala Maududi
Abul Ala Maududi dalam bukunya Human Right in Islam, menjelaskan
perbedaan mendasar antar keduanya, Islam dan demokrasi barat. Dan ternyata
tidak terdapat irisan dan titik singgung antar kedua sistem tersebut. Singkatnya,
tidak ada penyandingan yang layak antar kedua sistem tersebut, tidak ada Islam
demokrasi.
Demokrasi barat didasarkan atas kedaulatan rakyat. Sedang Islam,
kedaulatan hanya ada di tangan Allah dan manusia/masyarakat hanyalah khalifah
- khalifah atau wakil - wakilnya.
Demokrasi barat, masyarakatlah yang membuat hukum - hukum mereka
sendiri. Sedang Islam, masyarakatnya harus tunduk pada hukum - hukum Allah
(syariat Allah) yang diberikannya melalui rasulnya.
Demokrasi barat, pemerintah memenuhi apapun kehendak rakyat. Sedang
Islam, pemerintah dan rakyat yang membentuk pemerintahan, kedua - duanya
harus memenuhi kehendak dan tujuan Allah.
Demokrasi Barat adalah semacam wewenang mutlak yang menjalankan
kekuasaan - kekuasaannya dengan cara bebas dan tidak terkontrol. Sedang Islam,
adalah kepatuhan kepada hukum Allah dan melaksanakan wewenangnya sesuai
dengan perintah - perintah Allah dan dalam batas - batas yang telah digariskan
olehnya.
2. Muhammad Assad
Untuk melengkapi pemahaman demokrasi barat, menurut Muhammad
Assad, dalam bukunya Minhaj Al Islam fi al Hukumi, konsep demokrasi asli yang
dimiliki oleh bangsa yunani, Negara penemu sistem demokrasi berawal. Bagi
bangsa yunani (kuno), istilah pemerintahan dari rakyat untuk rakyat, yang
merupakan inti dari demokrasi, dimaksudkan sebagai suatu pemerintahan
oligarchis, suatu pemerintahan yang dipegang oleh elite tertentu yang tidak
mencakup seluruh rakyat. Di dalam negara - negara yang pernah ada pada masa
mereka, istilah rakyat berarti warga negara sejati yang merupakan penduduk yang
dilahirkan secara merdeka yang lazimnya jumlahnya tidak lebih dari sepersepuluh
jumlah penduduk yang ada. Sedangkan sisanya yang Sembilan puluh persen itu
terdiri dari budak - budak dan hamba yang tidak diberi kesempatan melakukan
aktifitas apapun selain pekerjaan - pekerjaan fisik yang kasar dan mereka,
sekalipun tetap diwajibkan berpartisipasi dalam pertahanan negara, sama sekali
tidak diberi hak dalam hal kewarganegaraan. Hanya warga negara sejati itu (yang
hanya 10%) sajalah yang memegang hak kebebasan aktif maupun pasif, yang
dengan demikian seluruh kekuasaan politik berpusat sepenuhnya ditangan mereka.
Sebuah sistem yang katanya menuntut persamaan, hak asasi manusia, tapi
nyatanya persamaan dan hak asasi manusia itu semu dan hanya berlaku bagi
warga negara khusus antara mereka saja. Sistem yang berlaku bila hanya
kelompok yang mereka setujui saja yang memenangi pemilihan umum dan tidak
berlaku bila kelompok Islam yang memenangi pemilihan rakyat, lihatlah FIS di
Aljazair, lihatlah Hamas di Palestina. Sistem demokrasi adalah sebuah sistem jadi
jadian mereka, jebakan politik, sistem yang menuruti sekehendak hawa nafsu dan
syahwat kelompok borjuis saja dan tidak berlaku bagi yang mereka anggap
sebagai musuh bersama mereka.
B. Sistem Pemerintahan Islam ialah Khilafah
Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslimin di
dunia untuk menegakkan syari'at Islam dan mengembang dakwah Islam ke
segenap penjuru dunia. Kata lain dari Khilafah adalah Imamah. Imamah dan
Khilafah mempunyai makna yang sama. Bahkan banyak hadis sahih yang
menunjukkan bahwa dua kata ini memiliki konotasi yang sama. Tidak ada satu
nash syara pun yang menunjukkan adanya konotasi yang berbeda, baik di dalam
Al-Quran maupun As-Sunnah. Mendirikan Khilafah adalah fardhu bagi setiap
Muslim di seluruh dunia. Melaksanakan penegakannya adalah tidak ubah seperti
melaksanakan kefardhuan yang lain, yang telah difardhukan oleh Allah S.W.T.
bagi kaum Muslimin. Tuntutannya bersifat jazm (pasti), dimana tidak ada lagi
pilihan atau penundaan dalam rangka menegakkannya. Mengabaikan
pelaksanaannya merupakan kemaksiatan yang paling besar, dimana Allah S.W.T
akan mengazab pelakunya dengan azab yang amat pedih.
Hisyam Bin Urwah meriwayatkan dari Abi Salih dari Abu Hurairah,
bahwa Rasulullah S.A.W. bersabda.
"Setelahku akan ada para pemimpin diantara kalian. Maka ada yang baik
kemudian berlalu dengan kebaikannya. Begitu pula ada yang jahat kemudian
berlalu dengan kejahatannya. Maka dengar dan taatilah (perintah dan
larangan) mereka, bila sesuai dengan kebenaran. Bila mereka berbuat baik,
maka itu menjadi hak kalian (untuk mendapatkan kebaikannya). Dan apabila
mereka berbuat jahat, maka itu adalah hak dan sekaligus kewajiban kalian
(untuk mengingatkannya)".
Imam Muslim meriwayatkan dari Al A'raj dari Abu Hurairah dari Nabi
S.A.W. bersabda.
ªِ- _َ--ُ- َ و ِ ªِ-اَ رَ و ْQِ- ُ Jَ-'َ-ُ- ٌª-ُ= ُ م'َ-ِ (ْا 'َ--ِ إ
"Sesungguhnya imam itu adalah laksana perisai, dimana orang - orang akan
berperang dibelakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung".
Hadist - hadist diatas antara lain merupakan ikhbar (pemberitahuan) dari
Rasulullah S.A.W. bahwa akan ada para penguasa yang memerintah kaum
Muslimin dan bahwa seorang Khalifah adalah laksana perisai. Sabda Rasulullah
S.A.W. bahwa "seorang imam itu laksana perisai" menunjukkan pemberitahuan
tentang adanya makna yang membawa fungsi tertentu dari keberadaan seorang
imam dan ini merupakan suatu thalab (tuntutan). Ini kerana setiap pemberitahuan
yang berasal dari Allah S.W.T. dan RasulNya, apabila ia mengandungi celaan
(adz-dzam) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk meninggalkan (thalabu at-
tarki) atau merupakan larangan (nahyi) dan apabila ia mengandungi pujian (al-
madhu) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk melakukan perbuatan (thalab
al-fi'li). Dan apabila pelaksanaan perbuatan yang dituntut itu menyebabkan
tegaknya hukum syara, atau jika ditinggalkan mengakibatkan terabainya hukum
syara, maka tuntutan untuk melaksanakan perbuatan itu bererti bersifat tegas
(thalab jazim) yaitu bermaksud wajib melaksanakannya.
Dalam hadist - hadist ini juga disebutkan bahwa yang memimpin dan
mengatur kaum Muslimin adalah para Khalifah dan bukan yang lainnya. Ini
menunjukkan tuntutan untuk mendirikan Khilafah. Salah satu hadist tersebut ada
yang menjelaskan keharaman kaum Muslimin keluar (memberontak) dari
penguasa. Semuanya ini menegaskan bahwa kegiatan mendirikan pemerintahan
bagi kaum Muslimin statusnya adalah wajib. Selain itu, Rasulullah S.A.W. telah
memerintahkan kaum Muslimin untuk mentaati para Khalifah dan memerangi
orang yang ingin merebut kekuasaan mereka. Perintah Rasul ini adalah perintah
untuk mengangkat seorang Khalifah dan memelihara kekhilafahannya dengan
cara memerangi orang - orang yang ingin merebutnya.
Jadi, perintah mentaati imam (Khalifah) berarti pula perintah mewujudkan
sistem kekhilafahannya. Sedangkan perintah memerangi orang yang merebutnya
merupakan indikasi (qarinah) yang menegaskan secara pasti akan kewajiban
melestarikan adanya pemimpin yang tunggal (Khalifah) di tengah - tengah kaum
Muslimin.
C. Peradaban Islam pada Masa Khulafaur Rasyidin
Pemerintah politik masa khulafar rosyidin di masa Abu bakar, Umar,
Usman dan Ali sudah pasti berbeda setiap memegang kepimpinannya, pada masa
Khulafar Rasydin prinsip musyawarah, pemerintahan yang dilaksanakanya
merupakan realisasi dan dari pada penerapan ajaran Al-Quran dan sunah rasul.
Pemahaman dan penafsiran terhadap pemerintahan Khulafar Rasyidin dan sistem
pendidikanya. Sistem pemerintahan yang diwariskan oleh pendahulunya yang
dapat menambah wawasan pembaca tentang pemerintahan yang pernah
dipraktekan dan diterapkan dalam dunia Islam hingga saat ini.
Umat Islam seharusnya merasa bangga, karena dalam sejarah hanya umat
Islamlah yang telah dapat menguasai sepertiga dari dunia. Semua ini tidak terlepas
dari kesungguhan umat Islam dalam menaklukan serta menda`wahkan ajaran
Islam keberbagai penjuru. Mulai dari jaman rasul hingga pada jaman khulafa ar-
Rasyidun.
Pembunuhan khlifah Usman secara zalim ketika itu diakibatkan fitnah
yang dibangkitkan oleh Abd Allah ibn Saba. Beliau seorang Yahudi dari Yaman
yang berpura - pura mengaku Islam dan mencetuskan fitnah terhadap Khalifah
Usman. Fitnahnya sampai sekarang masih dipercayai oleh golongan Syi’ah. Dan
khalifah yang lainya pun juga demikian.
Salah satu hasutannya adalah dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad
S.A.W. telah mewasiatkan yang akan menjadi pengganti beliau adalah Ali. Abd
Allah ibn Saba menuduh bahwa Usman telah berlaku zalim karena tidak
mematuhi wasiat Nabi S.A.W., dikarenakan mengangkat dirinya sebagai khalifah,
bukannya Ali. Abd Allah ibn Saba mengapi - apikan masyarakat untuk bangkit
dan mencerca pemimpin - pemimpin mereka yaitu Usman dan para gubernurnya.
Cerita tentang keburukan Usman dan para gubernurnya semakin meluas sehingga
tersebar ke wilayah lain.
Nabi Muhammad S.A.W. tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang
akan menggantikan beliau sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliau
wafat. Beliau tampaknya menyerahkan total persoalan tersebut kepada kaum
muslimin sendiri untuk menentukanya. Tidak lama setelah beliau wafat, dan
belum lagi jenazah beliau di makamkan, para sejumlah tokoh muhajirin dan
anshar berkumpul dibalai kota Sa’idah, kota Madinah. guna merundingkan siapa
yang akan menjadi pemimpin pemerintahan untuk menggantikan beliau. Dengan
semangat ukhuwah yang tinggi, akhirnya Abu Bakar ash shiddiq lah yang terpilih
untuk menjadi pemimpin menggantikan rasulullah S.A.W.
Sepeninggal rasulullah, empat orang pengganti beliau adalah pemimpin
yang adil dan benar. Mereka menyelamatkan dan mengembangkan dasar- dasar
tradisi dari sang guru agung bagi kemajuan Islam dan ummatnya. Oleh karena itu,
gelar khulafaur rasyidin yang mendapat bimbingan di jalan lurus diberikan kepada
mereka. Yaitu Abu Bakar Ash- Shiddiq, Umar bin Khoththab, Usman bin Affan,
serta Ali bin Abi Thalib.
1. Pemerintahan Abu Bakar Ash- Shiddiq (11-13 H/632-634 M)
Abu Bakar lahir pada tahun 573 M dari sebuah keluarga terhormat. Abu
Bakar adalah nama gelar yang diberikan oleh kaum muslim kepadanya. Nama
aslinya adalah Abdullah abu quhafah. Lalu ia mendapat gelar Ash-Shiddiq setelah
masuk Islam karena ia dengan segera membenarkan nabi dalam berbagai
peristiwa, terutama isra’ wal mi’raj.
Sebagai seorang pemimpin umat Islam setelah rasul. Abu Bakar disebut
khalifah rasulillah (pengganti rasul) yang dalam perkembanganya disebut khalifah
saja. Sedangkan pengertian dari khalifah adalah seorang pemimpin yang diangkat
setelah nabi wafat untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas - tugas sebagai
pemimpin agama dan kepala pemerintahan. Dalam hal ini perlu dijelaskan bahwa
sesungguhnya kedudukan nabi tidak bisa digantikan. Karena tidak ada seorangpun
yang menerima ajaran tuhan setelah nabi Muhammad S.A.W. Sebagai penyampai
wahyu yang diturunkan dan sebagai utusan tuhan yang tidak dapat diambil alih
oleh seorngpun. Menggantikan rasul hanyalah perjuangan nabi.
Hal menarik dari Abu Bakar adalah pidato yang disampaikan sehari
setelah pengangkatanya, menegaskan totalitas kepribadian dan komitmen abu
Bakar terhadap nilai - nilai Islam dan strategi meraih keberhasilan tertinggi bagi
umat sepeninggal rasulullah S.A.W.. Dibawah ini adalah kutipan dari pidato Abu
Bakar.
“Wahai manusia! Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu,
padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantaramu. Maka jikalau aku
dapat menunaikan tugasku dengan baik, bantulah (ikutlah) aku, tetapi jika
aku berlaku salah, maka luruskanlah……..”
Pada masa awal pemerintahannya, khalifah Abu Bakar telah dihadapkan
pada tiga peristiwa penting yang memerlukan solusi segera. Pertama adalah orang
yang murtad, kedua adalah munculnya nabi - nabi palsu dan ketiga, orang yang
enggan membayar zakat.
Pada waktu kepemimpinan Abu Bakar terjadi beberapa masalah bagi
masyarakat muslim. Beberapa orang arab yang masih lemah imannya, justru
menyatakan murtad. Mereka melepaskan diri kesetiaan dengan menolak memberi
baiat kepada khalifah yang baru dan bahkan menentang agama Islam.
Dengan adanya pembangkangan orang arab tersebut, khalifah dengan
tegas melancarkan operasi pembersihan terhadap mereka. Mula - mula hal itu
dimaksudkan sebagai tekanan untuk mengajak mereka kembali kejalan yang
benar, lalu berkembang menjadi perang merebut kemenangan. Tindakan
pembersihan juga dilakukan untuk menumpas nabi - nabi palsu dan orang - orang
yang enggan membayar zakat.
Dengan berbagai permasalahan tersebut, maka khalifah Abu Bakar
mengirimkan pasukan untuk menumpas para pemberontak di Yamamah. Dengan
operasi penumpasan yang dipimpin oleh panglima perang Khalid Bin Walid telah
gugur sebanyak 73 (tujuh puluh tiga) orang sahabat dekat Rasulullah. Dan para
penghafal Al-Qur’an. Kenyataan ini menyebabkan umat Islam telah kehilangan
sebagian para penghafal Al-Qur’an. Dan jika hal ini tidak diperhatikan, maka
lama kelamaan sahabat - sahabat penghafal Al-Qur’an akan habis dan akhirnya
akan terjadi perselisihan di kalangan umat Islam tentang kitab suci mereka. Oleh
karena itu sahabat Umar Bin Khathab mengusulkan kepada khalifah supaya
segera mengumpulkan ayat - ayat suci Al-Qur’an dari hafalan - hafalan para
sahabat Nabi penghafal Al-Qur’an yang masih tersisa.
Khalifah Abu Bakar menjadi khalifah hanya dua tahun tiga bulan sebelas
hari. Pada tahun 634 M ia meninggal. Masa sesingkat itu habis untuk
menyelesaikan masalah atau persoalan dalam negeri terutama tantangan yang
ditimbulkan oleh suku bangsa arab yang tidak mau tunduk lagi kepada pemerintah
Madinah. Tampaknya, kekuasaan yang dijalankan oleh khalifah Abu Bakar,
sebagaimana Rasulullah, bersifat sentral. Kekuasaan legislative, eksekutif, dan
yudikatif terpusat di tangan khalifah. Dan dalam pemerintahanya pula sang
khalifah Abu Bakar selalu mengajak para sahabat - sahabatnya untuk
bermusyawarah dalam menjalankan roda kepemerintahannya, juga dalam
menjalankan hukum.
Selain keberhasilanya menegakan kekuatan hukum dan politik Islam,
banyak pula yang dicapai pada masa kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq,
seperti.
1. Perbaikan sosial kemasyarakatan;
2. Pengumpulan ayat - ayat Al-Qur’an;
3. Perluasan dan penyebaran agama Islam.
Selain itu, terdapat usaha lain yang dilakukan oleh khalifah Abu Bakar
dalam upaya pencapian kebesaran peradapan Islam, misal perluasan wilayah
Islam ke luar jazirah arab. Perluasan dan penyebaran agama Islam tersebut mulai
dilakukan khalifah Abu Bakar ke wilayah irak, Persia dan syiria.
Setelah memulihkan keadaan atau ketertiban di dalam negeri, Abu Bakar
lalu mengalihkan perhatiannya untuk memperkuat perbatasan dengan wilayah
Persia dan bizantium, yang pada akhirnya menjurus kepada peperangan. Melawan
dua kekaisaran itu. Yaitu kekaisaran Romawi dan kekaisaran syiria. Dengan
mengirimkan pasukan secara besar - besaran untuk melawan mereka. Yang mana
tentara Islam pada waktu itu dipimpin oleh Musanna dan Kholid bin Walid untuk
datang ke Irak dan menaklukan Hirah. Sedangkan yang ke syiria, suatu Negara di
sebelah utara arab yang dikuasai oleh bangsa romawi timur (Bizantium) Abu
Bakar mengutus empat panglima, yaiti Abu Ubaidah, Yazid bin Abi sufyan, Amr
bin Ash dan syurahbil. Ekspedisi ke syiria ini memang sangat besar artinya dalam
konstalasi politik umat Islam karena daerah protektorat itu merupakan front
terdepan wilayah kekuasaan Islam dengan Romawi timur.
Faktor penting lainnya dari pengiriman pasukan besar - besaran ke syiria
ini adalah dipimpin oleh empat panglima dan karena umat Islam arab memandang
syiria sebagai bagian integral dari semenanjung arab. Negeri itu didiami oleh suku
bangsa arab yang berbicara menggunakan bahasa arab. Dengan demikian baik
untuk keamanan umat Islam (arab) maupun untuk pertalian nasional dengan orang
- orang syiria adalah sangat penting bagi kaum muslimin (arab). Ketika pasukan
Islam sedang mengancam Palestina, Iraq dan kerajaan Hirah dan telah meraih
beberapa kemenangan yang dapat memberikan kepada mereka beberapa
kemungkinan besar bagi keberhasilan selanjutnya, khalifah Abu Bakar meninggal
dunia pada usia 63 tahun hari senin, 23 agustus 624 M setelah lebih kurang 15
hari terbaring ditempat tidur.
a. Perekonomian pada masa Abu Bakar
Kebijakan umum khalifah Abu Bakar Ash- Shiddiq dibidang ekonomi
antara lain adalah.
1) Menegakan hukum dengan memerangi mereka yang tidak mau membayar
zakat;
2) Tidak menjadikan ahli badar (orang - orang yang berjihad pada perang badar)
sebagai pejabat negara;
3) Tidak mengistimewakan ahli badar dalam pembagian kekayaan negara
4) Mengelolah barang tambang (rikaz) yang terdiri dari emas, perak, perunggu,
besi dan baja sehingga menjadi sumber pendapatan negara;
5) Menetapkan gaji pegawai berdasarkan karakteristik daerah kekuasaan masing
- masing;
6) Tidak merubah kebijakan Rasululah S.A.W. dalam masalah jizyah.
Sebagaimana Rasululah S.A.W. Abu Bakar RA tidak membuat ketentuan
khusus tentang jenis dan kadar jizyah, maka pada masanya, jizyah dapat
berupa emas, perhiasan, pakaian, kambing, onta atau benda benda lainya.
Dalam usahanya meningkatkan kesejatrahan masyarakat, khalifah abu
Bakar RA melaksanakan kebijakan ekonomi sebagaimana yang dilakukan
Rasululah S.A.W. Beliau memperhatikan akurasi penghitungan Zakat. Hasil
penghitungan zakat dijadiakn sebagai pendapatan negara yang disimpan dalam
Baitul Mal dan langsung didistribusikan seluruhnya pada kaum muslimin.
b. Wafatnya khalifah Abu Bakar RA.
Al-Waqidi dan Al-Hakim meriwayatkan dari Aisyah, ia berkata.
”Awal sakit ayahku ialah pada saat beliau mandi pada hari senin tanggal 7
jumadil akhir. Kemudian ia merasa kedinginan seharian. Beliau terkena
demam selama 15 hari yang membuatnya tidak bisa menghadiri shalat
jamaah. Ayahku meninggal pada malam selasa tanggal 22 jumadil akhir,
akhir tahun ke 13 H dalam usia 63 tahun”
Menjelang ajalnya menurut Ibnu Asaikar dari Yasir bin Hamzah, Abu
Bakar RA., berkata.
”Sesungguhnya saya telah mewasiatkan sesutu tentang penggantiku, apakah
kalian rela dengan apa yang aku lakukan?, orang - orang itu berkata, kami
rela kecuali yang engkau tentukan sebagai penggantimu adalah Umar!,
khalifah Abu Bakar berkata, Ya, Dia memeng Umar”
Dengan demikian, khalifah Abu Bakar RA. wafat dengan mewasiatkan
pengangkatan Umar sebagai penggantinya.
2. Umar Bin Khathab (13-23 H/634-644 M)
Umar bin Khathab lahir pada tahun 513 M. nama lengkapnya adalah Umar
bin Khathab bi Nufail. Ayahnya bernama Nufail Ibnu Abdul uzza al-Quraisyi dan
berasal dari suku bani Adi. Sedangkan ibunya bernama Hantamah binti Hasyim
Ibnu Mughirah Ibnu Abdillah. Silsilahnya berhubungan dengan Nabi Muhammad
S.A.W. pada generasi kedelapan yaitu Fihr. Umar dilahirkan di makkah empat
tahun sebelum kelahiran Nabi S.A.W. Ia adalah seorang yang berbudi luhur, fasih,
dan adil serta pemberani.
Ternyata waktu dua tahun belumlah cukup untuk menciptakan stabilitas
keamanan. Maka Khalifah Abu Bakar menunjuk Umar untuk menggantikanya.
Penunjukan itu dimaksudkan untuk mencegah terjadinya perselisihan dikalangan
umat Islam. Setelah Umar menjadi khalifah, ia berkata kepada umatnya.
“Orang - orang arab seperti halnya seekor Onta yang keras kepala dan ini
akan bertalian dengan pengendara dimana jalan yang akan dilalui, dengan
nama Allah S.W.T., begitulah aku akan menunjukan kepada kamu kejalan
yang harus engkau lalui”
Meskipun pengangkatan Umar sebagai Khalifah itu merupakan fenomena
yang baru, tetapi harus tetap dicatat bahwa proses peralihan kepemimpinan tetap
dalam bentuk musyawarah. Yaitu berupa usulan atau rekomendasi dari Abu Bakar
yang diserahkan kepada persetujuan umat Islam. Pada awalnya terdapat berbagai
keberatan mengenai pengangkatan Umar. Sahabat thalhah misalnya, segera
menemui Abu Bakar untuk menyampaikan rasa kecewanya itu. Namun karena
Umar adalah orang yang tepat untuk menduduki kursi kekhalifahan, maka
pengangkatan Umar mendapat persetujuan dan baiat dari semua masyarakat
Islam. Umar bin Khathab menyebut dirinya “Khalifah Khalifati Rasulillah”
(pengganti dari pengganti rasululah). Ia juga mendapat gelar Amir al-Mukminin
(komandan orang - orang beriman) sehubungan dengan penaklukan - penaklukan
yang berlangsung pada masa pemerintahanya.
Di jaman Umar gelombang ekspansi perluasan wilyah pertama terjadi, ibu
kota Syiria, Damaskus, jatuh pada tahun 635 M dan setahun kemudian setelah
tentara bizantium kalah dipertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syiria jatuh ke
bawah kekuasaan Islam.
Karena perluasan wilayah terjadi sangat cepat, Umar pada waktu itu
sesegera mungkin menyusun dan mengatur administrasi negara dengan
mencontoh administrasi yang sudah berkenbang terutama di Persia. Administrasi
pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah provinsi, yaitu Makkah, Madinah,
Syiria, Jazirah Arab, Basrah, Kuffah, Palestina dan Mesir.
Dengan meluasnya wilayah Islam sampai keluar jazirah Arab, penguasa
memikirkan pendidikan di daerah - daerah diluar jazirah Arab karena bangsa -
bangsa tersebut memiliki adaptaso dan kebudayaan yang berbeda dengan Islam.
Untuk itu, khalifah Umar memerintahkan kepada para panglima yang berhasil
menguasai suatu kota, hendaknya mereka mendirikan masjid sebagai tempat
ibadah dan pendidikan. Maka khalifah Umar pun mengangkat dan menunjuk guru
- guru untuk tiap - tiap daerah yang ditaklikan, yang bertugas mengajarkan isi
kandungan Al-Qur’an dan ajaran Islam kepada penduduk yang baru masuk Islam.
Karena Negara Islam sudah menyebar luas keluar jazirah Arab, maka
pusat pendidikan bukan saja di Madinah tetapi tersebar juga di kota - kota besar
lainya. Pada waktu itu juga, sarana - sarana pendidikan yang berbentuk halaqoh
telah tumbuh dengan baik. Menurut sebagian riwayat bahwa khuttab sebagai
lembaga pendidikan untuk mengajarkan membaca Al-Qur’an dan pokok - pokok
agama Islam telah tumbuh pada masa khulafa’ Al-Rasyidin.
Pada masa khulafa’ Al-Rasyidin sebenarnya sudah ada tingkat
pengaajaran. Hampir seperti masa sekarang, tingkat pertama ialah kuttab, yaitu
tempat anak - anak belajar menulis dan membaca atau menghafal Al-Qur’an serta
belajar pokok - pokok agama Islam. Setelah tamat Al-Qur’an, mereka meneruskan
pelajaran ke masjid. Pelajaran di masjid ini terdiri dari tingkat menengah dan
tingkat tinggi.
Keberhasilan pasukan Islam dalam penaklukan Suriah di masa khalifah
Umar tidak lepas dari rentetan penaklukan pada masa sebelumnya. Dari suriah,
pasukan kaum muslimin melanjutkan langkah ke mesir dan membuat kemenangan
- kemenangan di wilayah Afrika utara.
Umar memerintah selama sepuluh tahun (13-23 H/634-644 M). masa
jabatanya berakhir dengan kematian. Ia dibunuh oleh seorang budak dari Persia
bernama Abu Lu’lu’a yang secara tiba - tiba menyerang dengan tikaman pisau
tajam kearah khalifah yang hendak mendirikan sholat Subuh yang telah ditunggu
oleh jamaahnya di masjid nabawi di pagi buta itu. Umar terluka parah, dari
pembaringanya ia mengangkat syura’ yang akan memilih penerus tongkat
kekhalifahan Umar. Umar wafat tiga hari setelah penikaman atas dirinya yaitu 1
muharram 23 H/ 644M. Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh
jalan yang dilakukan oleh Abu Bakar. Ia menunjuk enam orang sahabat dan
meminta kepada mereka untuk memilih salah satu dari mereka untuk menjadi
khalifah menggantikan Umar. Enam orang tersebut adalah Usman, Ali, Thalhah,
Zubair, Sa’ad ibn Abi Waqas dan Abdurrahman bin ‘Auf.
Pusat kekuasaan di madinah mengalami perkembangan yang sangat pesat,
Khalifah Umar telah berhasil membuat dasar - dasar bagi suatu pemerintahan
yang handal untuk melayani tuntutan masyarakat baru yang terus berkembang.
Umar mendirikan beberapa dewan, membangun baitul mal, mencetak uang,
membentuk kesatuan tentara untuk melindungi daerah tapal batas, mengatur gaji,
mengangkat para hakim dan menyelenggarakan “Hisbah”. Umar juga meletakkan
prinsip - prinsip demokratis dalam pemerintahannya dengan membangun jaringan
pemerintahan sipil yang sempurna. Khalifah Umar dikenal bukan saja pandai
menciptakan peraturan - peraturan baru, ia juga memperbaiki dan mengkaji ulang
terhadap kebijaksanaan yang telah ada jika itu diperlukan demi tercapainya
kemaslahatan umat Islam.
a. Pendirian lembaga Baitul Mal
Dalam catatan sejarah, pembangunan institusi Baitul Mal dilatarbelakangi
oleh kedatangan Abu Hurairah yang ketika itu menjabat sebagai Gubernur
Bahrain dengan membawa harta hasil pengumpulan pajak al-kharaj sebesar
500.000,- Dirham. Hal ini terjadi pada tahun 16 H. oleh karena jumlah tersebut
sangat besar, khalifah Umar mengambil inisiatif memanggil dan mengajak
bermusyawarah para sahabat terkemuka tentang penggunaan dana Baitul Mal
tersebut. Setelah melalui diskusi yang cukup panjang, Khalifah Umar
memutuskan untuk tidak mendistribusikan harta Baitul Mal, tetapi disimpan
sebagai cadangan, baik untuk keperluan darurat, pembayaran gaji para tentara
maupun berbagai kebutuhan umat lainnya.
Untuk mendistribusikan harta Baitul Mal, Khalifah Umar bin Al-Khattab
mendirikan beberapa departemen yang dianggap perlu, seperti.
1) Departemen Pelayanan Militer
Departemen ini berfungsi untuk mendistribusikan dana bantuan kepada orang
- orang yang terlibat dalam peperangan.
2) Departemen Kehakiman dan Eksekutif
Bertanggung jawab atas pembayaran gaji para hakim dan pejabat eksekutif.
3) Departemen Pendidikan dan Pengembangan Islam
Departemen ini mendistribusikan bantuan dana bagi penyebar dan
pengembang ajaran Islam beserta keluarganya, seperti guru dan juru dakwah.
4) Departemen Jaminan Sosial
Berfungsi untuk mendistribusikan dana bantuan kepada seluruh fakir miskin
dan orang - orang yang menderita.
b. Kepemilikan Tanah
Selama pemerintahan Khalifah Umar, wilayah kekuasaan Islam semakin
luas seiring dengan banyaknya daerah - daerah yang berhasil ditaklukkan, baik
melalui peperangan maupun secara damai. Hal ini menimbulkan berbagai
permasalahan baru. Pertanyaan yang paling mendasar dan utama adalah kebijakan
apa yang akan diterapkan negara terhadap kepemilikan tanah - tanah yang berhasil
ditaklukkan tersebut.
c. Zakat
Pada masa Rasulullah S.A.W. jumlah kuda di Arab masih sangat sedikit,
terutama kuda yang dimiliki oleh kaum Muslimin karena digunakan untuk
kebutuhan pribadi dan jihad. di Hudaybiyah mereka mempunyai sekitar dua ratus
kuda. Karena zakat dibebankan terhadap barang - barang yang memiliki
produktivitas, seorang budak atau seekor kuda yang dimiliki kaum Muslimin
ketika itu tidak dikenakan zakat.
d. Sedekah dari non-Muslim
Tidak ada ahli kitab yang membayar sedekah atas ternaknya kecuali orang
Kristen. Bani Taghlib yang keseluruhan kekayaannya terdiri dari hewan ternak.
Mereka membayar dua kali lipat dari yang dibayar kaum Muslimin. Bani Taghlib
merupakan suku Arab Kristen yang gigih dalam peperangan. Umar mengenakan
jizyah kepada mereka, tetapi mereka terlalu gengsi sehingga menolak membayar
jizyah dan malah membayar sedekah.
3. Usman Bin Affan (23-36 H/644-656 M)
Kekhalifahan yang ketiga adalah Usman bin Affan. Nama lengkapnya
ialah Usman bin Affan bin Abil Ash bin Umayyah dari suku quraisy. Usman
dilahirkan pada tahun 573 M. Usman memeluk Islam karena ajakan Abu Bakar,
dan menjadi salah satu sahabat terdekat Nabi S.A.W. Usman adalah orang yang
kaya namun ia berlaku selayaknya orang yang tidak punya dan kekayaanya
sebagian besar digunakan untuk kepentingan Islam, sehingga Usman mendapat
gelar Zunnurain artinya yang memiliki dua cahaya, karena menikahi dua putri
Nabi S.A.W. secara berurutan setelah salah satu meninggal.
Seperti halnya Umar, Usman diangkat menjadi khalifah melalui proses
pemilihan bedanya, Umar ditunjuk secara langsung sedangkan Usman diangkat
dengan penunjukan tidak langsung, yaitu melewati badan syura’ yang dibentuk
oleh Umar menjelang wafatnya Khalifah Umar membentuk sebuah komisi yang
terdiri dari enam orang calon. Dengan perintah memilih salah seorang dari mereka
untuk diangkat menjadi seorang khalifah. Wal hasil Usmanlah yang terpilih untuk
menjadi khalifah selanjutnya untuk menggantikan Umar. Pada masa awal - awal
pemerintahanya, Usman melanjutkan sukses para pendahulunya, terutama dalam
perluasan wilayah kekuasaan Islam. Sedangkan tempat - tempat strategis yang
sudah dikuasai seperti Mesir dan Irak terus dilindungi dan dikembangkan dengan
melakukan serangkaian ekspedisi militer yang terencana secara cermat di semua
lini.
Karya monumental Usman lain yang dipersembahkan kepada umat Islam
adalah penyusunan kitab suci Al-Qur’an. Maksud dari penyusunan itu ialah untuk
mengakhiri perbedaan - perbedaan serius dalam bacaan Al-Qur’an. Yang pada
waktu itu diketuai oleh Zaid bin Tsabit, sedangkan yang mengumpukan tulisan -
tulisan Al-Qur’an adalah dari Habsyah, salah seorang istri Nabi S.A.W. Kemudian
dewan itu membuat beberapa salinan naskah Al-Qur’an untuk disebarkan ke
berbagai daerah atau wilayah kegubernuran sebagai pedoman yang benar untuk
masa selanjutnnya.
Setelah melewati beberapa kemajuan, pada paruh terakhir masa
kekuasaanya, Usman menghadapi berbagai pemberontakan dan penbangkangan di
dalam negeri yang dilakukan oleh orang - orang yang kecewa terhada tabiat
khalifah dan beberapa kebijakan pemerintahannya. Situasi politik di akhir
pemerinthan Usman benar - benar semakin mencekam. Bahkan juga berbagai
usaha yang bertujuan baik dan mempunyai alasan kuat untuk kemaslahatan umat
disalahpahami dan melahirkan perlawanan dari masyarakat. Dan bahkan
masyarakat mengecam Usman serta menuduh bahwa Usman tidak mempunyai
otoritas untuk menerapkan isi Al-Qur’an yang dibukukan itu. Dengan kata lain
mereka mendakwa Usman secara tidak benar telah menggunakan kekuasaan
keagamaan yang tidak dimilikinya.
Dengan berbagai kecaman dari masyarakatnya itu, Usman telah berupaya
untuk membela diri dan melakukan tindakan politis sebatas kemampuanya.
Tentang pemborosan uang misalnya, memang benar jika dikatakan bahwa Usman
membantu para saudaranya, namun Usman membantu itu tidak mengambil uang
dari kas Negara, melainkan dari uang pribadinya sendiri. Bahkan Usman tidak
mengambil gaji yang menjadi haknya. Justu Usman jatuh miskin ketika ia
menjabat sebagai khalifah karena hartanya dipergunakan untuk membantu
saudaranya. Selain itu juga waktu habis untuk mengurusi umatnya. Dalam hal ini
Usman berkata.
“Pada saat pencapaianku menjadi khalifah, aku adalah pemilik kambing dan
Onta yang paling banyak di Arab. Hari ini aku tidak memiliki kambing atau
Onta kecuali yang digunakan untuk ibadah haji. Tentang penyokong mereka,
aku memberikan kepada mereka apapun yang dapat aku berikan dari milik
pribadiku. Tentang harta kekayaan Negara, aku menganggapnya tidak halal
(haram) baik bagi diriku sendiri maupaun orang lain. Aku tidak mengambil
apapun dari kekayaan Negara, apa yang aku makan adalah hasil dari
nafkahku sendiri”
Pemberontakan demi pemberontakan terus terjadi dan menyeluruh. Rakyat
bangkit menentang Gubernur yang diangkat oleh khalifah menggantikan Amr bin
Ash karena konflik soal pembagian ghanimah Pemberontakan itu berhasil
mengusir Gubernur yang diangkat oleh khalifah. Kemudian mereka pergi secara
berramai - ramai menuju kota Madinah, di tengah perjalanan, pemberontak dari
basrah bertemu dengan pemberontak dari kuffah dan mereka pun bergabung untuk
menyampaikan keluhan mereka. Kemudian khalifah pun menuruti mereka,
akhirnya mereka pulang ke daerahnya masing - masing, akan tetapi ditengah
perjalanan mereka menemukan surat yang dibawa oleh utusan khusus yang
menerangkan para wakil itu harus dibunuh setelah sampai di Mesir. Menurut
mereka, surat itu ditulis oleh Marwan bin Hakam, sekretaris khalifah, sehingga
mereka meminta supaya Marwan diserahkan. Namun khalifah tidak mengizinkan.
Sedangkan Ali ingin menyelesaikan masalah ini dengan damai tetapi mereka tidak
menerimanya. Kemudian mereka mengepung rumah khalifah dan membunuhnya,
ketika khalifah sedang membaca Al-Qur’an pada tahun 53 H/17 juni 656 M.
Selain peristiwa politik diatas, juga akan dibahas mengenai pelaksanaan
pendidikan Islam. Pelaksanaan pendidikan pada masa ini tidak jauh berbeda
dengan masa - masa sebelunya. Pendidikan pada masa ini hanya melanjutkan apa
yang telah ada. Usaha kongkrit dalam bidang pendidikan Islam belum
dikembangkan pada masa khalifah Usman. Karena Usman sudaah merasa puas
terhadap pendidikan Islam yang telah berjalan pada masa - masa sebelumnya.
Namun yang penting untuk dicatat, suatu prestasi yang gemilang telah dicapai
pada masa pemerintahan khalifah ketiga ini. Yaitu usaha pembukuan kitab suci
Al-Qur’an yang mempunyai pengaruh yang luar biasa bagi pendidikan Islam.
a. Perluasan Islam dimasa Usman bin Affan
Masa pemerintahan khallifah Usman tidak terputus dengan rangkaian
penaklukan yang dilakukan kaum Muslimin pada masa pemerintahan khalifah
Umar. Ketika itu Armenia, Afrika, dan Cyprus telah dikuasai. Kaum muslimin
terus memperkokoh kekuatan di Persia yang telah takluk di tangan mereka
sebelumnya. Perluasan itu meliputi bagian pesisir pantai atau kelautan, karena
pada saat itu kaum muslimin telah memiliki armada laut.
Pada pemerintahan Usman negeri Tabaristan berhasil ditaklukan oleh
Sa`id bin Ash. Dikatakan, bahwa tentara Islam dalam penaklukan ini telah
meyertakan Al-Hasan dan Al-Husain, kedua putra Ali, begitu pula Abdullah bin
Al-Abbas, Amr bin Ash dan zubair bin Awwam. Pada masa pemerintahan Usman
pun kaum muslimin berhasil memaksa raja Jurjun untuk memohon berdamai dari
Sa`ad bin Ash dan untk ini ia bersedia menyerahkan upeti senilai 200.000 Dirham
setiap tahun kepadanya.
Termasuk juga menumpas pendurhakaan dan pemberontakan yang terjadi
di beberapa negeri yang telah masuk kebawah kekuasaan Islam di jaman Umar.
Pendurhakaaan itu ditimbulkan oleh pendukung - pendukung pemerintah yang
lama atau dengan kata lain pemerintahan sebelum daerah itu berada dalam
kekuasaan Islam, mereka hendak mengembalikan kekuasaannya. Daerah tersebut
antara lain adalah Khurasan dan Iskandariah.
Pada tahun 25 H. penguasa di Iskandariyah mengingkari perjanjiaan
dengan Islam, karena mereka dihasut oleh bangsa Romawi yang menjanjikan
mereka bermacam - macam janji yang muluk - muluk. Maka Usman
memerintahkan gubernur Amru bin Ash yang ketika itu menjabat sebagi penguasa
di Mesir untuk memerangi Iskandariyah, sehingga akhirnya penguasanya
mengutus dutanya untuk membuat perjanjian dan kembali tunduk kepada kerajaan
Islam di Madinah.
Pada tahun 31 H penduduk Khurasan mendurhaka sehingga Usman
mengirim Abdullah bin Amir, gubernur Basrah, bersama sejumlah besar tentara
untuk menaklukkan kembali mereka. Terjadilah perang antara tentara Islam
dengan penduduk Merw, Naisabur, Nama, Hirang, Fusang, Bigdis, Merw As-
Syahijan dan lain - lain dari penduduk wilayah Khurasan. Dalam perang ini kaum
muslimin berhasil menaklukan kembali wilayah Khurasan. Secara singkat daerah
- daerah selain dari dua ini yang telah dikuasai pada masa Usman adalah
Azerbaijan, Arminiyah, Sabur, Afrika Selatan, Undulus (Spain), Cyprus, Persia
dan Tabristan. Menurut para ahli sejarah mereka berpendapat bahwa jaman
pemerintahan khalifah Usman bin Affan sebagai Jaman keemasan dimana tentara
Islam mendapat kemenangan yang luar biasa, satu demi satu dan mereka dapat
menguasai banyak dari negeri - negeri yang dahulunya berada dibawah kekuasaan
Romawi Persia dan juga Turki. Secara singkat umat Islam pada saat itu telah
sampai pada puncak kekuasaan dan kekuatan dibidang kemiliteran, yang tidak
diraih oleh jaman - jaman sesudahnya.
b. Awal terjadinya fitnah dan pembunuhan Usman
1) Penyebab timbulnya fitnah
Pembahasan mengenai sebab - sebab timbulnya fitnah sebagaimana
dikemukakan dalam buku - buku sejarah dari berbagai sumber tanpa melihat benar
atau setidaknya tak dapat mejelaskan dinamika peristiwa - peristiwa yang terjadi,
atau menjelaskan sebab - sebab esensial di balik fitnah. Berikut ini dikemukakan
secara garis besar sebab - sebab munculnya fitnah.
Pada masa Usman ada orang - orang yang murka kepadanya. Karena
Usman suka memperhatikan dan mengontrol mereka, baik sahabat atau bukan
sahabat. Usman meminta pertanggung jawaban atas pekerjaan mereka dan
menanyai mereka mengenai masalah tersebut. Orang - orang yang tidak suka
kepada Usman ada juga dari kalangan borjuis. Sebab, pada masa Usman aneka
bentuk hura - hura telah menjalar. Lalu Usman mengasingankan mereka ke luar
Madinah dan terputus sama sekali dengan kehidupan Madinah, sehingga membuat
mereka murka kepadanya.
Ada juga orang - orang yang tidak senang kepda Usman dari orang - orang
juhud dan wara` yang melihat harta dan kekayaan sudah memperdaya kaum
muslimin, akibat penaklukan - penaklukan perang, sehingga melupakan mereka
dari akhirat, selain itu melimpahnya harta rampasan perang juga telah melahirkan
kecenderungan hidup bersenang - senang bukan hanya di kalangan prajurit yang
baru memeluk Islam, tetapi juga di kalangan sebagian sahabat - sahabat nabi yang
pada umumnya diberi jabatan terhormat dalam dinas kemiliteran.
Diantara mereka juga ada pegawai - pegawai yang diberhentikan dari
jabatannya seperti Amru bin Ash, sehingga tersingung pada Usman. Begitu juga
kebencian mulai tersebar kesejumlah orang yang cemburu pada bani Umayyah
yang mendapatkan posisi bagus, sehingga mereka itu dendam pada Usman karena
menggunakan kaum kerabatnya. Selain kebijakan politik, kebijakan keagamaan
dan ijtihad Khalifah dalam beberapa kasus hukum ibadah juga menimbulkan
reaksi negatif yang keras.
Sesungguhnya pertama kali munculnya pembicaraan orang tentang Usman
secara terang - terangan bahwa selama masa kepemimpinannya ia melakukan
shalat secara lengkap (tidak qasar) di Mina, (saat ibadah haji), (perkataan Ibn
Abbas ini merujuk kepada cara shalat di waktu safar seperti haji. Rasulullah
menetapkan bahwa orang yang bepergian melakukan shalat dengan cara di qasar,
yaitu meringkas jumlah rakaat shalat dari empat menjadi dua - dua).
mendahulukan khutbah sebelum shalat ied, mengizinkan orang membayar zakat
sendiri - sendiri, memberikan sebagian tanah sitaan (negara) kepada sahabat
dekatnya, mempersatukan umat Islam dengan satu mushaf Al-Qur’an,
menentukan kawasan lahan terlindung, menghadiahkan pemberian dari bait al-mal
kepada keluarga dekatnya.
2) Terbunuhnya khalifah Usman
Semua faktor antagonisme yang berakumulasi dalam rentan waktu yang
cukup lama. Kemudian mengkristal menjadi pembangkangan terhadap khalifah
dan para pejabatnya. Dimulai dengan membangun jaringan oposisi yang bersifat
kritis terhadap kebijakan - kebijakan khalifah yang dipandang nepotis dan boros
dalam penggunaan uang negara, sampai akhirnya jadi gerakan ”pressure group”
yang menuntut paksa aga khalifah Usman bersedia meletaka jabatannya. Beberapa
kali delegasi kaum penentang datang menemui khalifah untuk menyampaikan
aspirasi politilk mereka, tetapi tampaknya tidak ada perubahan kebijakan yang
dapat memuaskan hati mereka, sehingga bertambah tahun kecaman mereka
semakin meningkat.
Tahun 35 H. merupakan puncak kematangan rencana kaum penentang
untuk memaksa khalifah mundur dari jabatannya atau memecat pejabat yang
berasal dari sukunya kemudian mengubah kebijakan pendistribusian kekayaan
negara lebih berpihak kepada masyarakat miskin. Yang pada dasarnya ini
hanyalah taktik mereka untuk menjatuhkan Usman, adapun mengenai pemberian
kepada mereka (pejabat pemerintahan dalam hal ini lebih banyak dari
keluarganya), Usman memberi dari hartanya sendiri, bukan menggunakan harta
kaum muslimin untuk kepentingan saya atau kepentingan siapapun. Usman telah
memberikan tunjangan yang menyenangkan dalam jumlah besar dari pangkal
hartanya sendiri sejak masa Rasulullah S.A.W, masa Abu Bakar dan masa Umar.
Setelah terjadi beberapa insiden yang benar - benar mengancam
keselamatn jiwa khalifah karena keberingasan para pendemonstran, maka dengan
bantuan Ali, Kalifah Usman berhasil meyakinkan mereka bahwa beliau bersedia
mengabulkan tuntunan mereka selain mengundurkan diri. Yaitu merubah
kebijakan serta mengadakan penggantian para pejabat yang tidak disukai rakyat,
termasuk mengganti Gubernur Mesir, Abdullah bin Sa’an bin Abi Sarah dengan
Muhammad bin Abu Bakar. Keputusan itu untuk sementara memberikan rasa lega
kepada rombongan penentang dia memberi optimisme pulihnya kedamaian.
Karena itu pula mereka bersedia membubarkan diri untuk kemudian pulang ke
negeri asal mereka. Tetapi sejarah berbicara lain, selang beberapa hari rombongan
demonstran dari Mesir meninggalkan Madinah, mereka kembali lagi dengan
membawa kemarahan yang meluap - luap. Kini di tangan mereka ada sebuah surat
rahasia yang dirampas dari seorang budak Usman yang sedang berlari kencang
menuju Mesir. Isi surat yang bersetempelkan Khalifah Usman memerintahkan
kepada Gubernur Mesir agar menangkap dan membunuh para pemberontak yang
dipimpin Muhammad bin Abi Bakar. Ali bin Abi Thalib mencoba mengklarifikasi
surat itu kepada Usman. Dengan bersumpah atas nama Allah Usman menolak
telah menulis maupun mengirim surat tersebut. Beliau bahkan menantang agar
dibawakan bukti dan dua orang saksi atas tuduhan penulisan surat itu. Kini Usman
dihadapkan kepada dua tuntutan dari para demonstran segera mengundurkan diri
atau menyerahkan Marwan bin al Hakam, sekretaris Khalifah yang juga
keponakan kepada mereka untuk diminta pertanggung jawabannya tentang surat
itu. Namun Usman bersikukuh pasa pendiriannya tidak akan mengundurkan diri
dan tidak menyerahkan Marwan kepada mereka. Setelah tiga hari tiga malam
ultimatum para perusuh tidak digubris oleh Usman, beberapa penjaga berhasil
menerobos barisan penjaga gedung Usman dari atap rumah bagian samping lalu
membunuh Usman yang ketika itu sedang membaca Al-Qur’an.
Terbunuhnya Khalifah Usman di tangan para demonstran menyisakan
banyak teka - teki sejarah yang tak kunjung terjawab secara memuaskan.
Terutama mengenai surat rahasia itu, siapa sebenarnya yang paling mungkin
menulisnya?. Demikian juga mengenai orang yang paling bertanggung jawab
sebagai eksekutor dalam pembunuhan Usman, sehingga lebih pantas untuk di
Qishas kepadanya?. Kemudian, mungkinkah ada aktor intelektual yang bekerja
secara sistematis di belakang layar dari jaringan gerakan pembangkangan terhadap
Khalifah Usman itu, sebagaimana disebut - sebut adanya tokoh misterius
Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang kemudian berpura - pura masuk Islam
dan kemudian membawa paham - paham aneh ke tubuh Umat?.
Usman menjabat sebagai khalifah selama dua belas tahun. Tidak ada
sesuatu yang dapat dijadikan celah untuk mendendamnya. Beliau bahkan lebih di
cintai oleh orang - orang Qurais ketimbang Umar. Karena Umar bersikap keras
terhadap mereka, sedangkan Usman bersikap lemah lembut dan selalu menjalin
hubungan dengan mereka. Akan tetapi, masyarakat mulai berubah sikap tatkala
Usman lebih mengutamakan kerabatnya dalam pemerintahanya. Kebijakan ini
dilakukan Usman atas pertimbangan silaturrahim yang merupakan salah satu
perintah Allah S.W.T.. Namun atas kebijakan itulah yang menyebabkan
pembunuhannya.
4. Ali bin Abi Thalib (36-41 H/656-661 M)
Setelah khalifah Usman wafat, masyarakat secara beramai - ramai memilih
Ali ibn Abi Thalib untuk menjadi Khalifah pada waktu itu. Dengan begitu, Ali
menjadi khalifah keempat dari kekhalifahan Islam. Ali merupakan keponakan
sekaligus menantu Nabi S.A.W. Ali adalah putra dari Abi Thalib bin Abdul
Muthalib. Ia adalah sepupu Nabi yang telah ikut sejak bahaya kelaparan
mengancam kota makkah.
Setelah bencana terjadi, Nabi Muhammad S.A.W. memohon kepada
pamannya yang lain, agar Ibnu Abdul Mutahlib membantu saudaranya yang
sedang terkena musibah. Akhirnya Abbas setuju dan mengambil Ja’far Ibnu Abi
Thalib untuk diasuh, sementara Nabi mengambil Ali bin Abi Thalib untuk
diasuhnya juga. Dengan demikian, Ali bin Abi Thalib tumbuh menjadi anak yang
baik dan cerdas dibawah asuhan Rasulullah S.A.W. Rasulullah S.A.W. selalu
memberi kasih sayang yang besar kepadanya, sebagaimana yang diberikan kepada
anak - anaknya.
Ali adalah orang yang memiliki banyak kelebihan. Selain itu ia adalah
pemegang kekuasaan. Beberapa hari setelah pembunuhan Usman, stabilitas
keamanan kota Madinah menjadi rawan. Galiqi bin Harb memegang kekuasaan
ibu kota Islam itu selama kurang lebih lima hari sampai terpilihnya khalifah yang
baru kemudian Ali bin Abi Thalib tampil menggantikan Usman. Dan mendapat
dukungan dari sejumlah kaum muslimin.
Kota Madinah pada waktu sedang kosong, para sahabat banyak yang
sedang berkunjung ke wilayah - wilayah yang baru ditaklukan. Hanya beberapa
sahabat yang masih ada di Madinah. Antara lain Thalhah bin Ubaidillah dan
zubair bin Awwam.
Tugas pertama yang dilakukan oleh khalifah Ali adalah menghidupkan cita
- cita Abu Bakar, Ali untuk menarik kembali semua tanah dan hibah yang telah
dibagikan Usman kepada kaum kerabatnya ke dalam kepemilikan Negara. Ali
juga mengganti Gubernur yang tidak disenangi oleh rakyat.
Oposisi terhadap khalifah secara terang - terangan dimulai oleh Aisyah,
Thalhah dan zubair. Mereka memiliki alasan tersendiri. Mereka menuntut Ali
untuk menghukum para pembunuh Usman. Akan tetapi tuntutan mereka tidak
mungkin dikabulkan oleh Ali.
Pertama, karena tugas utama yang mendesak dilakukan dalam situasi kritis
yang penuh intimidasi seperti saat itu ialah memulihkan ketertiban dan
mengonsolidasikan kedudukan kekhalifahan. Kedua, menghukum para pembunuh
bukanlah perkara yang mudah. Khalifah Usman tidak dibunuh oleh hanya satu
orang, melainkan banyah orang dari Mesir, Irak dan arab secara langsung terlibat
pembunuhan itu.
Sebenarnya khalifah Ali ingin menghindari pertikaian atau peperangan.
Ali mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya mau berunding
untuk menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun, ajakan tersebut ditolak.
Dan akhirnya pertempuran dahsyat pun terjadi. Perang ini dikenal dengan perang
“jamal (Onta)” karena ‘Aisyah dalam pertempuran itu menunggangi Onta. Ali
berhasil mengalahkan mereka. Zubair dan Thalhah terbunuh ketika mereka
hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke
Madinah.
Bersamaan dengan itu, kebijakan - kebijakan Ali juga menimbulkan
perlawanan dari para Gubernur di Damaskus, Mu’awiyah yang didukung bekas
pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Setelah Ali
berhasil mengalahkan Zubair dan kawan - Kawan, Ali kemudian bergerak ke
Kuffah menuju Damaskus dengan sejumlah tentaranya. Pasukannya bertemu
dengan pasukan mu’awayah di siffin. Dan pertempuran pun terjadi di daerah ini.
Yang kemudian kita kenal dengan peristiwa perang siffin. Peperangan ini diakhiri
dengan Arbitrase, tetapi hal itu tidak menyelesaikan masalah. Malah
menimbulkan pihak ketiga. Yaitu Al-Khawarij yaitu orang yang keluar dari
golongan Ali. Dengan munculnya kelompok Al- Khawarij, menjadikan tentara Ali
semakin lemah. Sementara posisi Mu’awayah semakin kuat. Dan pada tanggal 20
Ramadhan 40 H (660 M) Ali terbunuh oleh salah seorang dari golongan khawarij.
Dalam suatu kisah diceritakan bahwa kematian khalifah diakibatkan oleh
pukulan pedang beracun Abdurrahman Ibn Muljam, sebagaimana yang dijelaskan
oleh Philip K. Hitty dalam bukunya, bahwa.
“Pada tanggal 24 januari 661 M., ketika Ali sedang dalam perjalanan menuju
masjid kuffah ia terkena hantaman pedang beracun di dahinya. Pedang yang
mengenai otaknya tersebut diayunkan oleh seorang pengikut khawarij, Abd
Ar-Rahman Ibn Muljam, yang ingin membalas dendam atas kematian
keluarga seorang wanita temannya yang terbunuh di Nahrawan“
Tempat terpencil di kuffah yang menjadi makam Ali, kini masyhad Ali di
Najaf, berkembang menjadi salah satu pusat ziarah terbesar dalam agama Islam.
Sebelum Khalifah Ali bin Abi Tholib meninggal dunia, beliau masih sempat
berwasiat kepada kedua putera beliau, yaitu Hasan dan husain sebagai berikut.
a. Hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah;
b. Jangan kamu pentingkan dunia dan jangan kamu tangisi apa yang hilang di
dunia ini;
c. Kasihanilah dan bantulah anak yatim;
d. Bantulah orang yang teraniaya;
e. Berkatalah yang haq walaupun sebagai akibatnya, kamu akan mendapatkan
celaan;
f. Beramallah menurut Al-Qur’an;
g. Kerjakan Sholat pada waktunya;
h. Bayarlah zakat bilamana datang waktunya;
i. Berwudhulah dengan sempurna karena tidak sah sholat tanpa berwudhu;
j. Hendaklah engkau selalu meminta ampun kepada Allah S.W.T.;
k. Tahanlah amarahmu;
l. Hendaklah hubungkan kasih sayang/silaturrohmi;
m. Ajarkan kaum Muslimin beragama;
Kedudukan Ali sebagai khalifah kemudian dijabat oleh anaknya. Yaitu
Hasan dalam beberapa bulan. Karena Hasan lemah dalam pemerintahanya,
sedangkan Mu’awiyah semakin kuat, maka pada akhirnya Hasan membuat
perjanjian damai. Yang mana perjanjian ini dapat mempersatukan umat Islam
dalam satu pemerintahan politik. Dengan ini, Mu’awiyahlah yang menjadi
penguasa absolute dalam Islam. Maka pada tahun 41 H/661 M dengan persatuan
tersebut dikenal dengan tahun jamaah (am-Jamaah). Dengan demikian berakhirlah
yang disebut dengan masa Khulafaur Rasyidin. Dan dimulailah kekuasaan bani
umayyah dalam sejarah politik Islam.
BAB III
PERBANDINGAN SISTEM PEMERINTAHAN ISLAM DAN
DEMOKRASI INDONESIA
A. Sistem Pemerintahan/Politik Islam
1. Definisi Sistem Pemerintahan Islam
Sistem pemerintahan Islam adalah sistem yang menjelaskan bentuk, sifat,
dasar, pilar, struktur, asas yang menjadi landasan, pemikiran, konsep serta standar
- standar yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umat, serta Undang -
Undang dasar dan perundangan - undangan yang diberlakukan.
Inilah sistem yang khas dan unik bagi sebuah Negara yang unik, yang
berbeda dengan semua sistem pemerintahan manapun yang ada di dunia dengan
perbedaan yang mendasar. Baik dari segi asas yang dipergunakan sebagai
landasan sistem tersebut, atau dari segi pemikiran, konsep serta standar yang
dipergunakan untuk melayani kepentingan umat, atau dari segi bentuk yang
terlukis dari sana, maupun Undang - Undang dasar serta perundangan - undangan
yang diberlakukanya.
Sistem pemerintahan Islam adalah sistem pemerintahan yang
menggunakan Al-Quran dan Sunnah sebagai rujukan dalam semua aspek hidup,
seperti dasar Undang - Undang, mahkamah perundangan, pendidikan, dakwah dan
perhubungan, kebajikan, ekonomi, sosial, kebudayaan dan penulisan, kesehatan,
pertanian, sains dan teknologi, penerangan dan peternakan. Dasar negaranya
adalah Al-Quran dan Sunnah. Para pemimpin dan pegawai - pegawai
pemerintahannya adalah orang - orang baik, bertanggung jawab, jujur, amanah,
adil, paham Islam, berakhlak mulia dan bertakwa. Untuk lebih jelas kita
memahami tentang sistem pemerintahan Islam sebagaimana penjelasan isi
dibawah ini.
2. Perbedaan Sistem Pemerintahan Islam dengan Sistem Pemerintahan
Lain
a. Pemerintahan Islam bukan Monarchi
Sistem pemerintahan Islam tidak berbentuk monarchi. Bahkan, Islam tidak
mengakui sistem monarchi, maupun yang sejenis dengan sistem monarchi. Kalau
sistem monarchi, pemerintahannya menerapkan sistem waris (putra mahkota),
dimana singgasana kerajaan akan diwarisi oleh seorang putra mahkota dari orang
tuanya, seperti kalau mereka mewariskan harta warisan. Sedangkan sistem
pemerintahan Islam tidak mengenal sistem waris. Namun, pemerintahan akan
dipegang oleh orang yang dibai'at oleh umat yang bebas memilih.
b. Pemerintahan Islam bukan Republik
Sistem pemerintahan Islam juga bukan sistem republik. Dimana sistem
republik berdiri diatas pilar sistem demokrasi, yang kedaulatannya jelas di tangan
rakyat. Rakyatlah yang memiliki hak untuk memerintah serta membuat aturan,
termasuk rakyatlah yang kemudian memiliki hak untuk menentukan seseorang
untuk menjadi penguasa dan sekaligus hak untuk memecatnya. Rakyat juga
berhak membuat aturan berupa Undang - Undang dasar serta perundang -
undangan, termasuk berhak menghapus, mengganti serta merubahnya.
16

Sementara sistem pemerintahan Islam berdiri di atas pilar akidah Islam,
serta hukum - hukum syara. Dimana kedaulatannya di tangan syara, bukan di
tangan umat. Dalam hal ini, baik umat maupun khalifah tidak berhak membuat
aturan sendiri. Karena yang berhak membuat aturan adalah Allah SWT. semata.
Sedangkan khalifah hanya memiliki hak untuk mengadopsi hukum - hukum untuk
dijadikan sebagai Undang - Undang dasar serta perundang - undangan dari
kitabullah dan sunah Rasul-Nya. Begitu pula umat tidak berhak untuk memecat
khalifah.
c. Pemerintahan Islam bukan Kekaisaran
Sistem pemerintahan Islam juga bukan sistem kekaisaran, bahkan sistem
kekaisaran jauh sekali dari ajaran Islam. Sebab wilayah yang diperintah dengan
sistem Islam sekalipun ras dan sukunya berbeda serta sentralisasi pada pemerintah
pusat, dalam masalah pemerintahan tidak sama dengan wilayah yang diperintah
dengan sistem kekaisaran. Bahkan, berbeda jauh dengan sistem kekaisaran, sebab
sistem ini tidak menganggap sama antara ras satu dengan yang lain dalam hal

16
H. Madjid H. Abdulah, Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia “Mencari Format
Studi Islam di Perguruan Tinggi Agama Islam”, Pustaka Pelajar, Yogyakarta 2005, hal. 208-210.
pemberlakuan hukum di dalam wilayah kekaisaran. Dimana sistem ini telah
memberikan keistimewaan dalam bidang pemerintahan, keuangan dan ekonomi di
wilayah pusat.
d. Pemerintahan Islam bukan Federasi
Sistem pemerintahan Islam juga bukan sistem federasi, yang membagi
wilayah - wilayahnya dalam otonominya sendiri-sendiri, dan bersatu dalam
pemerintahan secara umum. Tetapi sistem pemerintahan Islam adalah sistem
kesatuan. Yang mecakup seluruh negeri seperti Marakis di bagian barat dan
Khurasan di bagian timur. Seperti halnya yang dinamakan dengan mudiriyatul
fuyum ketika ibu kota Islam berada di Kairo. Harta kekayaan seluruh wilayah
negera Islam dianggap satu. Begitu pula anggaran belanjanya akan diberikan
secara sama untuk kepentingan seluruh rakyat, tanpa melihat daerahnya.
e. Tanggapan Kelompok
Setelah kelompok berdiskusi mengenai pemerintahan Islam, maka
kelompok lebih menyetujui bentuk pemerintahan yang cocok untuk Negara
Indonesia adalah pemerintahan Republik. Kelompok kurang setuju apabila bentuk
pemerintahan Islam yaitu syariat Islam diterapkan di Indonesia. Karena Negara
Indonesia bukanlah negara agama dan bukan hanya dimiliki oleh satu agama yaitu
Islam. Indonesia adalah negara yang memiliki beragam kepercayaan (agama) atau
disebut juga pluralistik. Selain itu, kita juga harus melihat kebelakang yaitu latar
belakang sejarah Indonesia.
Orang - orang yang memperjuangkan bangsa Indonesia dari penjajahan
bukan hanya orang yang beragama Islam saja. Melainkan dari berbagai latar
belakang agama seperti Kristen juga ikut ambil bagian dalam mempertahankan
dan memperjuangkan serta membela bangsa Indonesia menjadi bangsa yang
bersatu dan berdaulat, sehingga akhirnya bangsa Indonesia dapat merdeka. Oleh
karena itu, bentuk pemerintahan Negara Indonesia yang lebih cocok yaitu sistem
Republik dan UUD 1945, yang memberi kebebasan beragama. Apabila hukum
atau syariat Islam diterapkan sebagai sistem pemerintahan bangsa Indonesia,
maka tidak tertutup kemungkinan beberapa tahun kedepan bangsa Indonesia akan
menjadi Negara Islam. Hal ini yang kami khawatirkan akan terjadi. Oleh karena
itu, kami sangat setuju bahwa piagam Jakarta dihapuskan. Namun demikian, kita
juga dapat melihat bahwa Nangroh Aceh Darussalam menerapkan hukum Islam di
Jakarta tersebut. Hal ini terjadi karena Aceh merupakan daerah istimewa sehingga
dapat menerapkan hukum Islam di daerah tersebut dan hukum Islam tersebut
hanya berlaku bagi mereka yang mendiami Daerah Istimewa Aceh Darussalam.
B. Bentuk Pemerintahan Islam
1. Kedaulatan di tangan syara (As siyadah li as syar’i)
Pilar yang pertama ialah kedaulatan di tangan syara. Pilar ini memiliki
fakta, yaitu berasal dari kata as siyadah atau kedaulatan. Dimana kata as siyadah
atau kedaulatan tersebut memiliki bukti, bahwa kedaulatan tersebut adalah di
tangan syara dan bukan di tangan umat, untuk lebih jelasnya mengenai syara dapat
kita lihat sebagaimana di bawah ini
17
.
a. Asasnya adalah hukum syara;
b. Mempunyai kedudukan yang sama dihadapan hukum syara tanpa
membedakan penguasa (khalifah) maupun rakyat (umat);
c. Ketaatan kepada khalifah terikat dengan ketentuan hukum syara, bukan
ketaatan secara mutlak;
d. Wajib mengembalikan masalah kepada hukum syara apabila berlaku
perselisihan antara umat dengan khalifah;
e. Wajib ada kontrol yang dilakukan oleh jamaah Islam;
f. Adanya pengadilan yang berfungsi untuk menghilangkan penyimpangan
terhadap hukum syara yaitu mahkamah mazalim;
g. Mengangkat senjata untuk mengambil alih kekuasaan apabila khalifah
menyimpang dari hukum syara. Pengangkat senjata tidak dihukum sebagai
tindakan pembangkang.
Dalil kedaulatan ditangan Syara.
“Hai orang yang beriman, taatlah Allah dan taatlah Rasul-Nya, dan ulil amri
(penguasa) diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang

17
Taqiyuddin Op.cit, hal. 49
sesuatu, maka kembalilah ia kepada Allah(Al Quran) dan rasul (sunnahnya),
jika kalian benar - benar beriman kepada Allah dan hari kemudian” (Surah
An Nisa, 59)
2. Kekuasaan Ditangan umat (as sulthan lil ummah)
Adapun pilar kedua, yaitu kekuasaan di tangan umat, diambil dari fakta
bahwa syara telah menjadi pengangkatan khalifah oleh umat, dimana seorang
khalifah hanya memiliki kekuasaan melalui bai’at. Dalil bahwa syara telah
menjadi pengangkatan khalifah oleh umat adalah tegas sekali terdapat dalam
hadist - hadist tentang bai’at
18
. Lebih rincinya penjelasan mengenai hal diatas
tertera dibawah ini.
a. Tidak ada kekuasaan yang diperolehi oleh seorang muslim kecuali diberikan
oleh umat. Dengan cara bai’at itu, hukum fardhu untuk mengangkat khalifah.
Hukum fardhu ain untuk mentaati khalifah;
b. Umat mempunyai hak untuk mengangkat khalifah dengan redha (rela) seperti
Muawiyah yang mulanya diambil dengan paksa dari khalifah Ali bin Abu
talib;
c. Pemerintahan Islam tidak berbentuk kerajaan yang diperoleh dengan warisan.
Kuasa ditangan umat kepada khalifah secara bai’at perlu diserahkan kepada
umatnya juga.
d. Meskipun umat berhak mengangkat penguasa namun kedudukannya bukan
sebagai mustajir (majikan) dan khalifah bukan sebagai ajir (buruh).tidak
seperti sistem demokrasi, rakyat (majikan) memilih/mengangkat pemimpin
(buruh), rakyat pengubah Undang - Undang dan pemimpin melaksanakan
Undang - Undang tersebut. Sistem penafsiran Islam tidak seperti itu. Tak sama
langsung. Khalifah bertindak tegas terhadap rakyat/umat jika berlaku
penyelewengan dari hukum syara.
e. Umat berhak syura (berbincang/bersuara) dengan khalifah, meskipun tidak
mempunyai hak untuk melucutkan jabatan khalifah.

18
Taqiyuddin op.cit, hal. 50-51.
f. Khalifah adalah pelayan umat dengan memenuhi maslahat mereka dan
mencegah mudarat yang menimpa mereka. Diantara salah satu dalil kekuasaan
ditangan umat. Dari Nafi’ berkata, Abdullah bin Umar berkata kepadaku,
“Siapa saja yang melepaskan tangan dari ketaatan kepada Alllah, ia akan
bertemu dengan Allah di hari kiamat tanpa hujjah dan siapa saja mati
sedangkan diatas pundaknya (bahunya) tidak ada bai’at, maka ia mati seperti
mati jahiliyah” (HR Muslim)
3. Pengangkat satu khalifah untuk seluruh muslimin hukumnya wajib
(wujub nashbi al khalifah al-wahid lil muslimin)
Pilar yang ketiga adalah mengangkat satu khalifah hukumnya fardlu bagi
seluruh kaum muslimin. Dimana hukum fardlu tersebut sebenarnya telah
ditetapkan di dalam hadits
19
.
a. Khalifah
Khalifah - Khalifah adalah individu yang mewakili umat dalam urusan
pemerintahan dan kekuasaan serta dalam menerapkan hukum syara. Oleh sebab
Islam telah menjadikan pemerintahan dan kekuasaan tersebut milik umat, dalam
hal ini, umat mewakilkan kepada seseorang untuk melaksanakan urusan tersebut
sebagai wakilnya. Bahkan Allah juga telah mewajibkan kepada umat untuk
menerapkan hukum syara secara keseluruhannya. Dengan demikian, Khalifah
adalah orang yang diangkat oleh umat Islam untuk menerapkan hukum Allah
secara kaffah. Oleh karena itu juga, tidak ada seorang Khalifah pun yang akan
terlantik kecuali setelah dibai’at oleh umat. Bai’at yang dilakukan oleh umatlah
yang akan menjadikan seseorang itu sebagai wakil umat sekaligus sebagai seorang
Khalifah.
Pengangkatan seorang Khalifah oleh umat dengan bai’at berarti umat telah
memberikan kekuasaan (untuk memerintah) kepada Khalifah dan umat wajib
mentaatinya selama mana dia (Khalifah) menerapkan hukum syara Orang yang
memimpin urusan kaum Muslimin tidak boleh disebut Khalifah kecuali setelah ia
dibai’at oleh ahlu halli wal aqdi yang ada di kalangan umat dengan bai’at in’iqad
(bai’at pengangkatan) yang sah dari segi syara, yaitu ia mesti dilakukan dengan

19
Taqiyuddin op.cit, hal. 53.
redha dan kebebasan memilih (tidak dipaksa) serta calon Khalifah tersebut
memenuhi syarat - syarat in’iqad. Syarat in’iqad Khalifah ada tujuh yaitu dia
mestilah seorang Muslim, lelaki, baligh, berakal, adil, merdeka dan mampu.
Selain tujuh syarat ini, terdapat juga syarat afdhaliyyah (keutamaan) yang
didukung oleh nas - nas sahih ataupun rentetan dari nas-nas sahih. Sebagai contoh,
Khalifah itu harus dari kalangan Quraisy, seorang mujtahid, pemberani, seorang
politikus yang ulung, pakar perang dan sebagainya. Walau yang berhak yang
menjadi khafilah adalah kaum laki - laki kita tidak pungkiri seorang khafilah ada
dari kaum perempuan sebagai pemimpin pemerintahan. Hal ini didasarkan bahwa
paham Islam ada yang memberi peluang untuk itu yaitu perempuan adalah
pemimpin pemerintahan bukan pemimpin agama.
20

Khalifah tidak periodik. Dia tetap Khalifah selama dia mampu memikul
tanggungjawab khalifah dan selama mana dia menerapkan hukum Allah. Tidak
sama seperti Sistem Demokrasi yang menetapkan masa jabatan, karena dianggap
salah satu implikasi yang menggugat kestabilan Negara.
b. Khalifah Islam wajib hanya ada satu
Tidak boleh ada lebih dari satu khalifah dalam satu zaman seperti pada
zaman Abbasiyah adalah kesalahan yang tidak dijadikan sebagai dasar hukum
syara.
c. Bentuk negara kekhalifahan Islam adalah berbentuk kesatuan
Hanya dibenarkan ada satu ketua negara (khalifah), satu Undang - Undang
dan hanya satu.
d. Sistem pemerintahan khalifah Islam mengikut sistem pusat
Pemerintahan merupakan kuasa khalifah dan kekuasaan dalam satu negara
adalah tunggal. Dalam dunia ini hanya ada satu negara Islam sahaja.
e. Khalifah adalah negara.
Ahli politik barat mendefinisikan negara adalah kumpulan daripada
wilayah, rakyat dan pemerintahan. Islam menggambarkan negara sebagai

20
Said Al-Afghani, Pemimpin Wanita di Kancah Politik, Pustaka Pelajar, Jakarta, 2001,
hal. 7.
kekuasaan kerana wilayah Islam sentiasa berkembang. Dalil mengenai tajuk
diatas, dari Adi Said Al Khudri dari Nabi S.A.W. bersabda.
“Apabila dibai’at dua khalifah,maka bunuhlah yang terakhirnya dari
keduanya” (HR. Muslim)
4. Khalifah mempunyai hak untuk mengambil dan menetapkan hukum
syara untuk menjadi Undang - Undang (lil Khalifah wahdah haq at
tabanni)
Pilar yang keempat adalah, bahwa hanya khalifah yang berhak melakukan
tabanni (adopsi) terhadap hukum - hukum syara. Pilar ini ditetapkan berdasarkan
dalil ijma sahabat. Ijma, sahabat telah menetapkan bahwa hanya khalifah yang
berhak untuk mengadopsi hukum - hukum syara
21
. Selain hal ini kita juga dapat
melihat penjelasan mengenai hak - hak seorang khalifah dibawah ini.
a. Mengambil dan menetapkan hukum mestilah terikat dengan hukum syara.
Hanya menggunakan Al Quran,Al hadis, Ijmak sahabat dan Qisas sebagai
landasannya;
b. Untuk menghilangkan perselisihan ditengah masyarakat;
c. Kepimpinan secara tunggal, tidak ada lembaga lain sebanding dengan
kekuasaan khalifah;
d. Tidak ada hak membuat Undang - Undang kecuali khalifah, termasuk majelis
umat tidak berhak membuat Undang - Undang dan tidak ada lembaga legislatif
didalam khalifah. Tidak ada konsep pengasingan kuasa seperti legislatif,
eksekutif dan judikatif. Hanya khalifah yang memiliki hak. Dalil ini diambil
dalil ijimak sahabat. Berdasarkan Ijimak Sahabat ini diambil kaidah ushul
fiqih sangat popular.
“Perintah Imam (khalifah) menghilang perselisihan” “Perintah
Imam(khalifah) harus dilaksanakan”
5. Landasan Politik di Masa Rasulullah
Langkah - langkah Rasulullah dalam memimpin masyarakat setelah
hijrahnya ke Madinah, juga beberapa kejadian sebelumnya, menegaskan bahwa

21
Taqiyuddin op.cit, hal. 54.
Rasulullah adalah kepala sebuah masyarakat dalam apa yang disebut sekarang
sebagai negara. Beberapa bukti bisa disebut, diantaranya.
a. Bai’at Aqabah
Pada tahun kesebelas kenabian, enam orang dari suku Khajraz di Yathrib
bertemu dengan Rasululah di Aqabah, Mina. Mereka datang untuk berhaji.
Sebagai hasil perjumpaan itu, mereka semua masuk Islam. Dan mereka berjanji
akan mengajak penduduk Yathrib untuk masuk Islam pula. Pada musim haji
berikutnya, dua belas laki - laki penduduk Yathrib menemui Nabi di tempat yang
sama, Aqabah. Mereka, selain masuk Islam, juga mengucapkan janji setia (bai’at)
kepada Nabi untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak
berdusta, serta tidak mengkhianati Nabi. Inilah Bai’at Aqabah Pertama. Kemudian
pada musim haji berikutnya sebanyak tujuh puluh lima penduduk Yathrib yang
sudah masuk Islam berkunjung ke Mekkah. Nabi menjumpai mereka di Aqabah.
Di tempat itu mereka mengucapkan bai’at juga, yang isinya sama dengan bai’at
yang pertama, hanya saja pada yang kedua ini ada isyarat jihad. Mereka berjanji
akan membela Nabi sebagaimana membela anak istri mereka, bai’at ini dikenal
dengan Bai’at Aqabah Kedua.
Kedua bai’at ini menurut Munawir Sadjali (Islam dan Tata Negara, 1993)
merupakan batu pertama bangunan negara Islam. Bai’at tersebut merupakan janji
setia beberapa penduduk Yathrib kepada Rasulullah, yang merupakan bukti
pengakuan atas Muhammad sebagai pemimpin, bukan hanya sebagai Rasul, sebab
pengakuan sebagai Rasulullah tidak melalui bai’at melainkan melalui syahadat.
Dengan dua bai’at ini Rasulullah telah memiliki pendukung yang terbukti sangat
berperan dalam tegaknya negara Islam yang pertama di Madinah. Atas dasar
bai’at ini pula Rasulullah meminta para sahabat untuk hijrah ke Yathrib, dan
beberapa waktu kemudian Rasulullah sendiri ikut Hijrah bergabung dengan
mereka.
b. Piagam Madinah
Umat Islam memulai hidup bernegara setelah Rasulullah hijrah ke Yathrib,
yang kemudian berubah menjadi Madinah. Di Madinahlah untuk pertama kali
lahir satu komunitas Islam yang bebas dan merdeka dibawah pimpinan Nabi
Muhammad, Penduduk Madinah ada tiga golongan. Pertama kaum muslimin yang
terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar dan ini adalah kelompok mayoritas.
Kedua, kaum musyrikin, yaitu orang - orang suku Aus dan Kharaj yang belum
masuk Islam, kelompok ini minoritas. Ketiga, kaum Yahudi yang terdiri dari
empat kelompok. Satu kelompok tinggal di dalam kota Madinah, yaitu Banu
Qunaiqa. Tiga kelompok lainnya tinggal diluar kota Madinah, yaitu Banu Nadlir,
Banu Quaraizhah, dan Yahudi Khibar. Jadi Madinah adalah masyarakat majemuk.
Setelah sekitar dua tahun berhijrah Rasulullah memaklumkan satu piagam yang
mengatur hubungan antar komunitas yang ada di Madinah, yang dikenal dengan
Piagam (Watsiqah) Madinah.Inilah yang dianggap sebagai konstitusi negara
tertulis pertama di dunia. Piadam Madinah ini adalah konstitusi negara yang
berasaskan Islam dan disusun sesuai dengan syariat Islam.
c. Peran Sebagai Kepala Negara
1) Dalam negeri
Sebagai Kepala Negara, Rasulullah sadar betul akan arti pengembangan
sumber daya manusia dan yang utama sehingga didapatkan manusia yang tangguh
adalah penanaman aqidah dan ketaatan kepada Syariat Islam. Di sinilah
Rasulullah, sesuai dengan misi kerasulannya memberikan perhatiaan utama.
Melanjutkan apa yang telah beliau ajarkan kepada para sahabat di Mekkah, di
Madinah Rasul terus melakukan pembinaan seiring dengan turunnya wahyu.
Rasul membangun masjid yang dijadikan sebagai sentra pembinaan umat. Di
berbagai bidang kehidupan Rasulullah melakukan pengaturan sesuai dengan
petunjuk dari Allah SWT. Di bidang pemerintahan, sebagai kepala pemerintahan
Rasulullah mengangkat beberapa sahabat untuk menjalankan beberapa fungsi
yang diperlukan agar manajemen pengaturan masyarakat berjalan dengan baik.
Rasul mengangkat Abu Bakar dan Umar bin Khattab sebagai wajir. Juga
mengangkat beberapa sahabat yang lain sebagai pemimpin wilayah Islam,
diantaranya Muadz Bin Jabal sebagai wali sekaligus qadhi di Yaman.
2) Luar Negeri
Sebagai Kepala Negara, Rasulullah melaksanakan hubungan dengan
negara - negara lain. Menurut Tahir Azhari (Negara Hukum, 1992) Rasulullah
mengirimkan sekitar 30 buah surat kepada kepala negara lain, diantaranya kepada
Al Muqauqis Penguasa Mesir, Kisra Penguasa Persia dan Kaisar Heraclius,
Penguasa Tinggi Romawi di Palestina. Nabi mengajak mereka masuk Islam,
sehingga politik luar negeri negara Islam adalah dakwah semata, bila mereka tidak
bersedia masuk Islam maka diminta untuk tunduk, dan bila tidak mau juga maka
barulah negara tersebut diperangi.
d. Hubungan Rakyat dan Negara
1) Peran Rakyat
Dalam Islam sesungguhnya tidak ada dikotomi antara rakyat dengan
negara, karena negara didirikan justru untuk kepentingan mengatur kehidupan
rakyat dengan syariat Islam. Kepentingan tersebut yaitu tegaknya syariat Islam
secara keseluruhan di segala lapangan kehidupan.
22
Dalam hubungan antara
rakyat dan negara akan dihasilkan hubungan yang sinergis bila keduanya memiliki
kesamaan pandangan tentang tiga hal (Taqiyyudin An Nabhani, Sistem
Pemerintahan Islam, 1997), pertama asas pembangunan peradaban (asas al
Hadlarah) adalah aqidah Islam, kedua tolok ukur perbuatan (miqyas al ‘amal)
adalah perintah dan larangan Allah, ketiga makna kebahagiaan (ma’na sa’adah)
dalam kehidupan adalah mendapatkan ridha Allah. Ketiga hal tersebut ada pada
masa Rasulllah. Piagam Madinah dibuat dengan asas Islam serta syariat Islam
sebagai tolok ukur perbuatan.
Adapun peran rakyat dalam negara Islam ada tiga, pertama melaksanakan
syariat Islam yang wajib ia laksanakan, ini adalah pilar utama tegaknya syariat
Islam, yaitu kesediaan masing - masing individu tanpa pengawasan orang lain
karena dorongan taqwa semata, untuk taat pada aturan Islam, kedua, mengawasi
pelaksanaan syariat Islam oleh negara dan jalannya penyelenggaraan negara,
ketiga, rakyat berperan sebagai penopang kekuatan negara secara fisik maupun
intelektual, agar menjadi negara yang maju, kuat, disegani di tengah - tengah
percaturan dunia. Di sinilah potensi umat Islam dikerahkan demi kejayaan Islam
(izzul Islam wa al Muslimin).

22
H. Akhmad Wardi Muslik, Hukum Pidana Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2003, hal. 4.
2) Aspirasi Rakyat
Dalam persoalaan hukum syara, kaum muslimin bersikan sami’ na wa
atha’na. Persis sebagaimana ajaran al Qur’an, kaum muslimin wajib
melaksanakan apa saja yang telah ditetapkan dan meninggalkan yang dilarang.
Dalam masalah ini Kepala Negara Islam menetapkan keputusannya berdasarkan
kekuatan dalil, bukan musyawarah, atau bila hukumnya sudah jelas maka tinggal
melaksanakannya saja. Menjadi aspirasi rakyat dalam masalah tasyri’ untuk
mengetahui hukum syara atas berbagai masalah dan terikat selalu dengannya
setiap waktu. Menjadi aspirasi mereka juga agar seluruh rakyat taat kepada
syariat, dan negara melaksanakan kewajiban syaranya dengan sebaik-baiknya.
Rakyat akan bertindak apabila terjadi penyimpangan.
Diluar masalah tasyri’, Rasulullah membuka pintu musyawarah. Dalam
musyawarah kada Rasulullah mengambil suara terbanyak, kadang pula
mengambil pendapat yang benar karena pendapat tersebut keluar dari seorang
yang ahli dalam masalah yang dihadapi. Dan para sahabat pun tidak segan-segan
mengemukakan pendapatnya kepada Rasulullah, setelah mereka menanyakan
terlebih dahulu apakah hal ini wahyu dari Allah atau pendapat Rasul sendiri.
3) Penegakkan Hukum
Hukum Islam ditegakkan atas semua warga, termasuk non muslim di luar
perkara ibadah dan aqidah. Tidak ada pengecualian dan dispensasi. Tidak ada
grasi, banding, ataupun kasasi. Tiap keputusan Qadhi adalah hukum syara yang
harus dieksekusi. Peradilan berjalan secara bebas dari pengaruh kekuasaan atau
siapapun.
Kalau teori sosial, khusunya kritikal teori, selalu melihat hubungan teori
sosial dan praktik politik, dibalik pemikiran apa pun dari mereka, pada hakikatnya
termuat pandangan mengenai praktik politik. Demikianlah setiap pemikiran Islam
pun, pada hakikatnya baik secara implisit maupun eksplisit mempunyai
kandungan politik tertentu. Hubungan antara sebuah refleksi pemikiran kesilamam
demgan praltol politik inilah yang lain dilihat untuk memperjelas spektrum
pemikiran cendikiawan “neo-modernis”
23
.
Sifat religius syariah dan fokusnya pada pengaturan hubungan antara
Tuhan dan manusia mungkin satu - satunya lasan utama bertahan dan
berkembangnya pegadilan - pengadilan sekular yang berfungsi memutuskan
perkara-perkara praktis alam pelaksanaan peradilan dan pemerintahan secara
umum. Aspek lain dari sejarah hukum masyarakat Islam yang diasosiasikan
dengan sifar religius syariah adalah perkembangan fatwa (ifta).
Umum diketahui bahwa Islam merupakan agama monoteistik yanhg
disebarkan Nabi Muhammad Saw. Antara 610-632 Masehi manakala beliau
menyampaikan Al-Quran dan menguraikan makna - makna dan aplikasi-aplikasi
secara terperinci melalui apa yang kemudian diknal sebagai Sunnah Nabi,
merupakan dasar dari pengertian istilah Islam dan konsep - konsep turunan serta
ajektiva yang digunakan, khususnya di kalangan umat Islam. Al-Quran dan
Sunnah Nabi adalah sumber rukum iman yang dijunjung tinggi oleh individu-
individu Muslim, sumber praktik - praktik ritual yang mesti mereka jalankan,
serta ajaran - ajaran moral dan etika yang mereka hormati. Al-Quran dan Sunnah
Nabi juga adlaah pedoman bagi umat Islam dalam mengembangkan hubungan2
sosialdan politik, serya mengembangkan norma - norma dan institusi hukumnya.
Islam dalam artian pokok ajaran ini adalah tentang bagaimana mewujudkan
kekuatan yang membebaskan dari sebuah kesaksian yang hidup dan proaktif akan
Tuhan yang Maha Esa, Mahakuasa dan Mahaada (tauhid).
24

4) Peranan militer
pemerintahan Islam bukan pemerintahan militer. Oleh karena itu, militer
dalam daulah Islam bukan untuk melayani dan mengendalikan urusan-urusan
rakyat. Artinya adalah bahwa militer tidak identik dengan kekuasaan, sekalipun
adanya militer, pembentukannya, pengaturan serta penyiapannya hanya bias
diwujudkan dengan adanya kekuasaan. Militer meruipakan gambaran kekuataan
fisik, yang tercermin dalam angkatan bersenjata termasuk di dalamnya polisi.

23
Rachman, Op. cit., hal. 352.
24
Abdullahi Ahmed An-Na’im, Islam dan Negara Sekular, Mizam Media Utama,
Bandung, 2007, hal. 26.
Dimana penguasa akan mempergunakan untuk menerapkan hukum-hukum syara,
serta untuk menekan tindakan para pelaku criminal dan orang-orang fasik. Militer
juga bias dipergunakan untuk memaksa orang-orang yang keluar dari kekuasaan
daulah Islam serta menyeret para pembangkang
25
.
5) Melakukan koreksi kepada penguasa
Islam wajib memerangi penguasa yang jelas - jelas kafir sebagaimana
perintah ketaatan di atas telah dikecualikan dari satu hal, yaitu dari perintah untuk
melakukan kemaksiatan, maka demikian halnya keharaman untuk memisahkan
diri dari kekuasaan seorang penguasa, serta mengankat senjata dalam rangka
menentangnya juga dikecualikan dari suatu hal, yaitu adanya kekufuran yang
nyata. Kalau kekufuran yang nyata itu benar - benar telah nampak maka wajib
diperangi
26
.
6) Mendirikan partai politik
Untuk melakukan koreksi terhadap penguasa yang telah diperintahkan
allah atas kaum muslimin, esensinya merupakan tugas individu sebagai pribadi
serta tugas jamaah dan partai sebagai kelompok. Allah S.W.T. telah memerintah
berdakwa kepada Islam dan serta mengoreksi kepada para penguasa, maka Allah
juga memerintah mereka untuk mendirikan partai politik diantara mereka, yang
berdiri sebagai sebuah kelompok dakwa yang menyeru kepada kebaikan atau
kepada Islam
27
.
C. Kegagalan Demokrasi Indonesia
Apabila kita melihat gelombang demokrasi di Indonesia, sebagian
pendapat terutama negara - negara tetangga seperti Malayasia ada yang
mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia dapat dijadikan teladan untuk negara -
negara di kawasan Asia. Pri Sulisto mengatakan, keberhasilan Indonesia dalam
bidang demokrasi bisa menjadi contoh bagi negara - negara di kawasan Asia yang
hingga saat ini beberapa diantaranya masih diperintah dengan ”tangan besi”.

25
Taqiyuddin Op.cit, hal. 343.
26
Taqiyuddin Op.cit, hal. 347.
27
Taqiyuddin Op.cit, hal. 355.
Indonesia juga bisa menjadi contoh, bahwa pembangunan sistem demokrasi dapat
berjalan seiring dengan upaya pembangunan ekonomi. Beliau menilai,
keberhasilan Indonesia dalam bidang demokrasi yang tidak banyak disadari itu,
membuat pihak luar termasuk Asosiasi Internasional Konsultan Politik (IAPC),
membuka mata bangsa Indonesia, bahwa keberhasilan tersebut merupakan sebuah
prestasi yang luar biasa. Prestasi tersebut juga menjadikan Indonesia sangat
berpotensi mengantar datangnya suatu era baru di Asia yang demokratis dan
makmur .
Namun dalam pelaksanaannya dilapangan substansi dan tujuan dari
demokrasi di Indonesia bisa dikatakan belum terwujud. Kita rasakan sekarang
masih banyak warga negara kita yang sampai saat ini masih berada dalam angka
kemiskinan, masih ada kasus anak - anak yang terlantar, tidak bisa melanjutkan
sekolah karena tidak adanya biaya. Padahal seperti yang tercantum dalam
Konstitusi kita pasal 34 sudah sangat jelas disana disebutkan bahwa negara
menjamin akan kemakmuran rakyatnya. Namun yang terjadi justru sebaiknya
hanya orang - orang tertentu saja yang dapat menikmati kekayaan Indonesia. Dan
ini apakah konsep demokrasi kita yang kurang tepat atau justru kita sendirilah
yang tidak memahami hakikat dari demokrasi itu sendiri. Semboyan demokrasi
yang selalu mendengung ditelinga kita bahwa kekuasaan berada ditangan rakyat
kini sebaliknya kekuasaan benar - benar berada ditangan wakil rakyat.
Indonesia tengah dilanda berbagai masalah yang kompleks. Sistem
demokrasi yang seyogyanya menghasilkan masyarakat yang bebas dan sejahtera,
tidak terlihat hasilnya, malah kenyataannya bertolak belakang. Berikut ini adalah
beberapa fenomena kegagalan demokrasi di Indonesia.
1. Presiden tidak cukup kuat untuk menjalankan kebijakannya. Presiden dipilih
langsung oleh rakyat. Ini membuat posisi presiden presiden kuat dalam ati
sulit untuk digulingkan. Namun, di parlemen tidak terdapat partai yang
dominan, termasuk partai yang mengusung pemerintah. Ditambah lagi peran
lagislatif yang besar pasca reformasi ini dalam menentukan banyak kebijakan
presiden. Dalam memberhentikan menteri misalnya, Presiden sulit untuk
memberhentikan menteri karena partai yang “mengutus” menteri tersebut akan
menarik dukungannya dari pemerintah dan tentunya akan semakin
memperlemah pemerintah. Hal ini membuat presiden sulit mengambil langkah
kebijakannya dan mudah ”disetir” oleh partai;
2. Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat justru ditengah kebebasan
demokrasi. Tingkat kesejahteraan menurun setelah reformasi, yang justru saat
itulah dimulainya kebebasan berekspresi, berpendapat dan lain - lain. Ini aneh
mengingat sebenarnya tujuan dari politik adalah kesejahteraan. Demokrasi
atau sistem politik lainnya hanyalah sebuah alat. Begitu pula dengan
kebebasan dalam alam demokrasi, hanyalah alat untuk mencapai
kesejahteraan;
3. Tidak berjalannya fungsi partai politik. Fungsi partai politik yang diantaranya
yaitu penyalur aspirasi rakyat, pemusatan kepentingan - kepentingan yang
sama dan sarana pendidikan politik masyarakat. Selama ini dapat dikatakan
ketiganya tidak berjalan. Partai politik lebih mementingkan kekuasaan
daripada aspirasi rakyat. Fungsi partai politik sebagai pemusatan kepentingan
- kepentingan yang sama pun tidak berjalan mengingat tidak adanya partai
politik yang konsisten dengan ideologinya. Kita melihat partai mengambil
suara dari masyarakat bukan dengan pencerdasan terhadap visi, program
partai, atau kaderisasi. Melainkan dengan uang, artis, kaos, yang sama sekali
tidak mencerdaskan malah membodohi masyarakat;
4. Ketidakstabilan kepemimpinan nasional. Jika kita cermati, semua pemimpin
bangsa ini mulai dari Soekarno sampai Gus Dur, tidak ada yang
kepemimpinannya berakhir dengan bahagia. Semua berakhir tragis alias
diturunkan. Ini sebenarnya merupakan dampak dari tidak adanya pendidikan
politik bagi masyarakat. Budaya masyarakat Indonesia tentang pemimpinnya
adalah mengharapkan hadirnya “Ratu Adil” yang akan menyelesaikan semua
masalah mereka. Ini bodoh. Masyarakat tidak diajari bagaimana
merasionalisasikan harapan-harapan mereka. Mereka tidak diajarkan tentang
proses dalam merealisasikan harapan dan tujuan nasional.
Hal ini diperburuk dengan sistem pemilihan pemimpin yang ada sekarang
(setelah otonomi), termasuk pemilihan kepala daerah yang menghabiskan
biaya yang mahal. Calon pemimpin yang berkualitas namun tidak berduit akan
kalah populer dengan calon yang tidak berkualitas namun memiliki uang yang
cukup untuk kampanye besar-besaran, memasang foto wajah mereka besar-
besar di setiap perempatan. Masyarakat yang tidak terdidik tidak dapat
memilih pemimpin berdasarkan value;
5. Birokrasi yang politis, KKN dan berbelit - belit. Birokrasi semasa orde baru
sangat politis. Setiap PNS itu KORPRI dan wadah KORPRI adalah
GOLKAR. Jadi sama saja dengan PNS itu GOLKAR. Ini berbahaya karena
birokrasi merupakan wilayah eksekusi kebijakan. Jika birokrasi tidak netral,
maka jika suatu saat partai lain yang memegang pucuk kebijakan, maka dia
akan sulit dalam menjalankan kebijakannya karena birokrasi yang seharusnya
menjalankan kebijakan tersebut memihak pada partai lain. Aknibatnya
kebijakan tinggal kebijakan dan tidak terlaksana. Leibih parahnya, ini dapat
memicu reformasi birokrasi besar - besaran setiap kali ada pergantian
kepemimpinan dan tentunya ini bukanlah hal yang baik untuk stabilitas
pemerintahan. Maka seharusnya birokrasi itu netral.
Banyak sekali kasus KKN dalam birokrasi. Contoh kecil adalah pungli, suap,
dll. Ini menjadi bahaya laten karena menimbulkan ketidakpercayaan yang akut
dari masyarakat kepada pemerintah. Selain itu berdampak pula pada iklim
investasi. Investor tidak berminat untuk berinvestasi karena adanya
kapitalisasi birokrasi.
Hal diatas mendorong pada birokrasi yang tidak rasional. Kinerja menjadi
tidak professional, urusan dipersulit dan sebagainya. Prinsip yang digunakan
adalah “jika bisa dipersulit, buat apa dipermudah”;
6. Banyaknya ancaman separatisme. Misalnya Aceh, Papua, RMS dan lain - lain.
Ini merupakan dampak dari dianaktirikannya daerah - daerah tersebut semasa
orde baru, yang tentunya adalah kesalahan pemerintah dalam “mengurus
anak”. Tentunya ini membuat ketahanan nasional Indonesia menjadi lemah,
mudah diadu domba, terkurasnya energi bangsa ini, dan mudah dipengaruhi
kepentingan asing.
Sejak Pemilu 1999, secara formal Indonesia telah menempuh rute
demokrasi dalam perjalanan politiknya sebagai bangsa menuju masa depan
dimana, semua hak asasi dari semua dimajukan dan dilindungi.
Jika rute ini bisa ditempuh dengan sukses, Indonesia akan menjadi negara
demokrasi terbesar ketiga di dunia setelah AS dan India, negara berpenduduk
muslim terbesar di dunia. Tetapi jika pilihan untuk menempuh demokrasi ini
gagal, maka kegagalannya akan menjadi kegagalan keempat dalam pengalaman
sejarahnya sejak 1945. Seperti diketahui, kegagalan pertama terjadi pada 1959
ketika demokrasi liberal diganti menjadi demokrasi terpimpin. Kegagalan kedua
terjadi pada 1965/66 dengan dimusnahkannya gerakan kiri dan demokrasi
kerakyatannya. Dan kegagalan ketiga adalah pupusnya upaya-upaya kelas
menengah liberal pada awal 1970an untuk meliberalisasi politik Orde Baru yang
diikuti oleh pelembagaan sistem politik otoritarian hingga 1998.
Pengalaman selama lima tahun terakhir ini memperlihatkan beberapa
gejala bahwa ternyata demokrasi liberal pasca reformasi tidak berhasil
menanggulangi masalah-masalah kritis yang dihadapi bangsa, bahkan cenderung
mengidap potensi - potensi kegagalan.
Institusi - institusi demokrasi telah dikuasai (kembali) oleh kalangan elite,
sementara para aktivis pro demokrasi yang dulu merebutnya dari Orde Baru tetap
berada pada posisi marginal. Demokrasi liberal ternyata hanya menguntungkan
kalangan elite dan menjadi suatu bentuk demokrasi elitis untuk tidak
menyebutnya oligarki liberal.
Korupsi terus tidak tertanggulangi, bahkan makin merajalela sampai ke
tingkat lokal. Sementara desentralisasi berpotensi menyebabkan munculnya
kekuasaan bos lokal yang pada gilirannya berpotensi menjadi kaki tangan
berbagai kekuatan sentralistis yang berada di Jakarta, Tokyo, New York, London
dan pusat - pusat kekuasaan ekonomi politik.
Depolitisasi masyarakat sipil masih terus berlangsung dengan menguatnya
suasana anti politik yang terus meluas. Partisipasi memang tumbuh subur, tetapi
perluasan partisipasi tampaknya tidak berbanding lurus dengan perubahan
hubungan - hubungan kekuasaan yang memungkinkan rakyat banyak menikmati
sumber - sumber daya politik dan ekonomi.
Kegagalan demokrasi tampaknya juga disebabkan karena faktor lain, yaitu
bahwa para aktor pro demokrasi tidak cukup punya akses, kemauan dan kapasitas
untuk mengendalikan (controle) proses pengambilan keputusan yang menyangkut
kepentingan mereka. Mereka terus berada di barisan anti negara, diluar sistem,
diluar struktur. Urusan demokrasi bagaimanapun masih dipahami oleh para aktivis
sebagai urusan pergantian rezim, padahal agenda demokratisasi memerlukan
energi lebih besar untuk rekonstruksi negara dan masyarakat.
Soemardjan menyatakan bahwa konsep primus inter pares (yang utama
dari yang lain) yang disiratkan Demokrasi Terpimpin sejatinya lebih cocok untuk
Indonesia. Perjalanan sejarah telah memperlihatkan bahwa kedua solusi terhadap
"penyakit" demokrasi kepartaian sama - sama gagal. Hanya, patut dipertanyakan
apakah kegagalan tersebut terletak pada konsep atau pelaksanaan. Kalau gagal,
perlu ditinjau kembali konsep demokrasi yang lebih tepat konsep Soekarno atau
Hatta. Namun, bila gagal dalam pelaksanaan, juga patut ditanyakan mengapa
pelaksanaannya menyimpang.
Singkat kata, tampaknya memang perlu refleksi serius lagi tentang haluan
politik kita. Hanya dengan begitu bangsa ini memiliki pegangan arah politik yang
mau ditempuh. Sebab tanpa kompas, jelas bangsa berjalan dalam ketidakpastian
arah.




BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sistem pemerintahan Islam adalah sistem pemerintahan yang
menggunakan Al-Quran dan Sunnah sebagai rujukan dalam semua aspek hidup,
seperti dasar undang-undang, mahkamah perundangan, pendidikan, dakwah dan
perhubungan, kebajikan, ekonomi, sosial, kebudayaan dan penulisan, kesehatan,
pertanian, sain dan teknologi, penerangan dan peternakan. Dasar negaranya adalah
Al-Quran dan Sunnah. Para pemimpin dan pegawai - pegawai pemerintahannya
adalah orang - orang jujur, amanah, adil, faham Islam, berakhlak mulia dan
bertakwa.
Islam dan demokrasi adalah dua sistem politik yang berbeda. Islam tidak
bisa disubordinatkan dengan demokrasi karena Islam merupakan sistem politik
yang mandiri (self suffcient). Dalam bahasa politik muslim, Islam sebagai agama
yang kaffaah (sempurna) tidak saja mengatur persoalan keimanan (akidah) dan
ibadah, melainkan mengatur segala aspek kehidupan umat manusia termasuk
aspek kehidupan bernegara.
Islam berbeda dengan demokrasi jika demokrasi didefinisikan secara
procedural seperti dipahami dan dipraktikkan di negara - negara Barat. Kelompok
kedua ini menyetujui adanya prinsip - prinsip demokrasi dalam Islam. Tetapi,
mengakui adanya perbedaan antara Islam dan demokrasi. Bagi kelompok ini,
Islam merupakan sistem politik demokratis kalau demokrasi didefinisikan secara
substantif, yakni kedaulatan di tangan rakyat dan negara merupakan terjemahan
dari kedaulatan rakyat ini.
Islam adalah sistem nilai yang membenarkan dan mendukung sistem
politik demokrasi seperti yang diperaktikkan negara - negara maju. Islam di dalam
dirinya demokratis tidak hanya karena prinsip syura (musyawarah), tetapi juga
karena adanya konsep ijtihad dan ijma (konsensus). Di Indonesia pandangan
ketiga ini lebih dominan karena demokrasi sudah menjadi bagian integral sistem
pemerintahan Indonesia dan negara - negara muslim lainnya.
B. Kata Penutup
Karya tulis ini didedikasikan kepada Bapak SAFAAT atas gagasan, ide
dan bimbingannyalah yang membuat penulis dapat menuangkannya dalam sebuah
karya sederhana ini.
Penulisan karya tulis ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu saran dan kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat diharapkan guna kesempurnaan karya tulis ini.
Akhir kata semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abudin, Nata, 2001, Ilmu kalam Filsafat dan Tasawuf, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Al-Afghani, Said, 2001, Pemimpin Wanita di Kancah Politik, Pustaka Pelajar,
Jakarta.
Amin, Samsul, Munir, Sejarah Peradapan Islam, Amzah, Jakarta, 2010.
An-Nabhani, Taqiyuddin, 1997, Sistem Pemerintahan Islam, Bangil.
An-Na’im, Ahmed, Abdullahi, 2007, Islam dan Negara Sekular, Mizam Media
Utama, Bandung.
Choirun, Niswah, 2010, Sejarah Pendidikan Islam, Rafah Press, Palembang.
Dedi, Supriady, 2008, Sejarah Peradapan Islam, Pustaka Setia, Bandung.
Dharwis, KH. Ellysa, 2001, Agama Demokrasi dan Keadilan, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Effendy, Bahtiar, 2009, Islam and Democracy in Indonesia Prospects and
Challenges.
http://ummahonline.wordpress.com/2008/01/29/Islam-dan-demokrasi.
http://www.ahmadheryawan.com/opini-media/sosial-politik.
http://www.ditpertais.net/jurnal/vol62003k.asp.
http://www.zulkieflimansyah.com/in/kompatibilitas-Islam-dan-demokrasi.html.
Madjid, Abdullah, 2005, Pemikiran Islam Kontemporer di Indonesia “Mencari
Format Studi Islam di Perguruan Tinggi Agama Islam”, Pustaka
Pelajaran, Yogyakarta.
Mnawar, Budhy, Rachman, 2004, Islam Pluralis, PT. RajaGrafindo Persada,
Jakarta.
Murodi, 2002, Sejarah Kebudayaan Islam, PT. Karya Toha Putra, Semarang.
Muslik, Wardi, Akhmad, 2003, Hukum Pidana Islam, Sinar Grafika, Jakarta.
Wahyuddin dkk, Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi, Grasindo,
Jakarta.
Yatim Badri, 2010, Sejarah Peradapan Islam, Rajawali Pers, Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful