Akhlak Tercela

1. DENDAM
1. Pengertian Dendam Dendam dalam bahasa Arab disebut juga dengan Al-Hiqdu ‫ . اىحقذ‬Menurut Al-Gazalidalam bukunya Ihya Ulumud Din jilid III, dijelaskan bahwa Hiqdu atau dendam berawal dari sifat pemarah. Sifat marah (gadab) itu terus dipelihara dan tidak segra diobati dengan memaafkan, maka akan menjadi dendam terhadap orang yang menyakiti kita. Pengertian dendam secara istilah adalah perasaan ingin membalas karena sakit hati yag timbul sebab permusuhan, dan selalu mencari kesempatan untuk melampiaskan sakit hatinya agar lawannya mendapat celaka, barulah ia merasa puas. Nabi muhammad SAW dan para sahabatnya ketika mereka berdakwah di Makkah selalu mendapatkan tekanan dan gangguan yang berat yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy. Gangguan dan tekanan itu berupa siksaan, hinaan bahkan ada anggota keluarganya yang dibunuh, sehingga nabi dan para sdahabatnya hijrah ke Madinah.akan tetapi ketika Fathul Makkah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya tidak membalas perbuatan orang-orang kafir tersebut, meskipun nabi memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kaum kafir Quraisy. Bahkan nabi mengumandangkan perdamaian dan memaafkan kesalahan – kesalahan mereka pada waktu yang lalu. Rasulullah juga memberikan teladan tentang perilaku pemaaf, bukan dendam. Misalnya, perlakuan orang Thaif terhadap rasulullah para sahabatnya yang telah mengusirnya, bahkan melemparinya dengan batu. Ketika malaikat menawari Rasulullah untuk menghancurkan kaum itu Rasulullah justru berdoa : َُ ََْ٘‫اَىَّيٌُٖ إذ قَْ٘ ٍى فَئٌَُِّّٖ الٌََعي‬ ُ ْ ْ ِ ِ ْ َّ Artinya: “Ya Allah, berilah petunujuk atas kaumku karena sesungguhnya mereka itu belum mengetahui.” Kisah diatas memberikan gambaran , bahwa akhlak yang pantas dimilki oleh kaum beriman bukanlah sifat dendam dan sombong, tetapi adalah sifat terpuji diantaranya memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman : ْ ِ َ ْ ِ َ )999 : ‫خز ْاىعف٘ ٗ ْأٍشْ ثِب ْىعُشْ ف ٗأَعشضْ عِ اىجٖيٍَِِ (االعشاف‬ ُ َ ََْ ُِ ِ ْ َ ِ

apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang.. Menghindar bila bertemu dengan orang yang dibenci Padahal Allah menciptakan manusia dimuka bumi bukan untuk bermusuh-musuhan dan saling dendam. Firman Allah: ُ ْ ُ َ َ َ ْ ِ َ َ ْ ِّ ْ ُ ْ َ )91 : ‫ٌَبأٌََُّٖب اىَّْبطُ إَِّّب خيَقَْنٌ ٍِ رمش َّٗأُّثَى ٗجع ْيَْنٌ شعُْ٘ ثًب ٗقَجَبئِو ىِزَعبسفُْ٘ ا.Al-A‟raf : 199) Allah berfirman : ْ َ ْ َ )22 :‫.Artinya: “jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.. jiwanya akan selalu bergemuruh oleh perasaan yang tidak nyaman c.”(HR. Perbuatan yang dibenci oleh Allah ْ ٌ‫أَثغَطُ اىشجو إِىَى هللاِ أَىَذ اىخصبً (أخشجٔ ٍغي‬ ِ َ ِ ْ ُّ ِ ُ َّ Artinya: “orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam kesumat (bertengkar).. Hilangnya ketenangan jiwa. Ciri-ciri sifat dendam       Tujuan hidupnya membinasakan orang yang menjadi lawannya Perbuatan yang dilakukannya selalu bertujuan mengalahkan lawannya Tidak merasa puas bila lawannya belum mendapatkan kekalahan Hobi menyimpan rasa sakit hati dan berusaha membalas dikemudian hari Tidak mau mamaafkan kesalahan orang lain Selalu menjelek-jelekkan orang lain dan membuka aib orang lain 3. melainkan agar saling kenal-menganal. Bahaya sifat dendam a. saling menghormati dengan sesama. (اىحجشاد‬ َ َ َ َ ..”(Qs. ٗ ْاىٍَعفُْ٘ اٗاىٍَصْ فَحُْ٘ ا أَالَرُحجُّْ٘ َُ أَُ ٌُغفِش هللاُ ىَنٌ ٗهللاُ غفُْ٘ سسَّحٌٍْ (اىْ٘س‬ َ ْ ْ ِ ُ َ ِ َ ُْ Artinya: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada .”(An-Nuur : 22) 2.Muslim) b.

Demikianlah hasil pengkajian yang dilakukan oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah. Bukanlah definisi yang tepat untuk hasad adalah mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain. Cara menghindari sifat dendam 1. 3. Dikucilkan dalam pergaulan 4.”(al-Hujurat :13) d. Hasad memiliki banyak bahaya di antaranya: 1. Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad. bahkan semata-mata merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain itu sudah terhitung hasad baik diiringi harapan agar nikmat tersebut hilang ataupun sekedar merasa tidak suka. Hasad Bahaya Hasad Hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain. Selalu marah ketika mendengar kebaikan orang yang dibenci e. 2. 3. Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan. Merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain pada hakikatnya adalah tidak suka dengan apa yang telah Allah takdirkan dan menentang takdir Allah. 2.Artinya: “Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan manjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Ini semua adalah dosa besar yang bisa melahap habis berbagai kebaikan yang ada. merendahkan martabatnya dll. Hasad itu akan melahap kebaikan seseorang sebagaimana api melahap kayu bakar yang kering karena biasanya orang yang hasad itu akan melanggar hak-hak orang yang tidak dia sukai dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya. Mengetahui bahaya dari sifat dendam Senantiasa ingat kepada Allah dalam keadaan apapun Memaafkan kesalahan orang lain Saling menghormati dan menyayangi sesama manusia 2. 4. Setiap kali dia saksikan tambahan nikmat yang didapatkan oleh orang lain maka dadanya terasa sesak dan . Beliau menegaskan bahwa definisi hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. berupaya agar orang lain membencinya.

9.” (HR Ahmad dan Abu Daud. Nabi bersabda. 10. meskipun demikian sangat disayangkan hasad ini banyak ditemukan di antara para ulama dan dai serta di antara para pedagang. dengki adalah akhlak yang tercela. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan. Hasad adalah akhlak tercela. “Barang siapa menyerupai sekelompok orang maka dia bagian dari mereka. Ketika hasad timbul umumnya orang yang di dengki itu akan dizalimi sehingga orang yang di dengki itu punya hak di akhirat nanti untuk mengambil kebaikan orang yang dengki kepadanya. dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan. Jika engkau tidak merasa susah dengan hilangnya nikmat Allah dari seseorang maka engkau belum menginginkan untuk saudaramu sebagaimana yang kau inginkan untuk dirimu sendiri dan ini bertolak belakang dengan iman yang sempurna. dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah. Maksudnya orang yang hasad berpandangan bahwa dirinya tidak diberi nikmat. Pada saat demikian orang tersebut akan meremehkan nikmat yang ada pada dirinya sehingga dia tidak mau menyukuri nikmat tersebut. Orang yang . Jika telah disadari bahwa itu adalah suatu yang mustahil mengapa masih ada hasad di dalam hati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. Jika kebaikannya sudah habis maka dosa orang yang di dengki akan dikurangi lalu diberikan kepada orang yang dengki. 6. Nabi bersabda. Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna.4. Orang yang hasad selalu memikirkan nikmat yang ada pada orang lain sehingga tidak pernah berdoa meminta karunia Allah padahal Allah ta‟ala berfirman. Ringkasnya. Tuntutan hadits di atas adalah merasa tidak suka dengan hilangnya nikmat Allah yang ada pada saudara sesama muslim. meremehkan kebaikan yang telah dia lakukan dll. shahih) Seberapa pun besar kadar hasad seseorang. 5. Karena siapa saja yang memiliki ciri khas orang kafir maka dia menjadi bagian dari mereka dalam ciri khas tersebut. Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada. 7. Orang yang dia dengki-lah yang mendapatkan nikmat yang lebih besar dari pada nikmat yang Allah berikan kepadanya. “Kalian tidak akan beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim).” (QS. tidak mungkin baginya untuk menghilangkan nikmat yang telah Allah karuniakan. Setelah itu orang yang dengki tersebut akan dicampakkan ke dalam neraka. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. Akan selalu dia awasi orang yang tidak dia sukai dan setiap kali Allah memberi limpahan nikmat kepada orang lain maka dia berduka dan susah hati. an Nisa‟: 32) 8. Memiliki sifat hasad adalah menyerupai karakter orang-orang Yahudi. bersusah hati. Orang yang hasad mengawasi nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang di sekelilingnya dan berusaha menjauhkan orang lain dari orang yang tidak sukai tersebut dengan cara merendahkan martabatnya.

Syaikh Salim Al-Hilaly berkata : “.Sesungguhnya memakan daging manusia merupakan sesuatu yang paling menjijikan untuk bani Adam secara tabi‟at walaupun (yang dimakan tersebut) orang kafir atau musuhnya yang melawan. pasti kalian membencinya. 3. sesungguhnya rasa kebencian dan jijiknya semakin bertambah. bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari. Namun sangat disayangkan di antara para ulama dan para dai itu lebih besar. sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih.punya profesi yang sama itu umumnya saling dengki. Dan bagaimanakah lagi jika dalam keadaan bangkai? karena . namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara ‫ ع‬kita. ٗالَ ٌغزتْ ثَععنٌ ثَعْعً ب أٌَُحتُّ أَحذمٌ أَُ ٌَأْمو ىَحْ ٌ أَخٍْٔ ٍٍزًب فَنشٕزَُْ٘ ُٓ ٗارَّقُْ٘ ا هللاَ إُِ هللاَ رََّ٘اة سح‬ ُْ ُ ْ ْ َ ِ َ ِ َ ُ ْ ِ َ َْ ِ ِ َ َ ُ ْ ُْ ُ َ َ Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Allah U berfirman : َّ ٌٍْ‫5. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah. tidak bernyawa. (Al Hujurat 12) Allah U telah menyamakan mengghibahi saudara kita dengan memakan daging saudara (yang digibahi tadi) yang telah menjadi bangkai yang (hal ini) sangat dibenci oleh jiwa-jiwa manusia sepuncak-puncaknya kebencian. minum khomer. senantiasa pusa senin kamis. mampu untuk menjauhkan dirinya dari zina.. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati.mereka tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah. فَقَبه: ٗهللاِ ألََْ ُ ٌَأْمو أَحذمٌ ٍِ ىَحْ ٌ َٕزا (حزَّى ٌََلََْ ثَطَُْٔ) خَ ٍْش‬ َ ِ َ ٍ َ ٍ ْ َ َ ِ ْ ِ ُْ ُ َ َ ُ ْ ْ َ َّ َ َ ٍ ْ ْ َ ْ‫ىَُٔ ٍِ أَُ ٌَأْمو ىَحْ ٌ أَخٍٔ (اى‬ ْ ُ )ٌِ‫ِ ْ ْ ُ َ َ ِ ْ ِ َغي‬ Dari Qois berkata : „Amru bin Al-„Ash t melewati bangkai seekor begol (hasil persilangan kuda dan keledai). Ghibah Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan perintah Allah U dengan baik. berkata dusta. bagaimana pula jika (yang engkau makan adalah) saudara engkau seagama ?. Sebagaimana kalian membenci memakan dagingnya -apalagi dalam keadaan bangkai. Berkata Syaikh Nasir As-Sa‟di : “Kemudian Allah U menyebutkan suatu permisalan yang membuat (seseorang) lari dari gibah. Padahal sepantasnya dan seharusnya mereka adalah orangorang yang sangat menjauhi sifat hasad dan manusia yang paling mendekati kesempurnaan dalam masalah akhlak. maka beliau berkata :”Demi Allah. َْ عِ قٍَظ قَبه : ٍش عَشُٗ ثُِْ اىعبص عيَى ثجَغو ٍٍِّذ. bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi r.maka demikian pula hendaklah kalian membenci mengghibahinya dan memakan dagingnya dalam keadaan hidup”. Memakan bangkai hewan yang sudah busuk saja menjijikkan. salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”. Bahkan walaupun mereka telah tahu bahwasanya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah.. namun…. Sebagaimana dikatakan oleh „Amru bin Al-„Ash t: ْ َْ ‫6. Allah benar-benar telah mencela penyakit ghibah ini dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik.

Nabi r ditanya : Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya ? Nabi r menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya. ٗإِرا قُ ْيذَ ٍب ىٍَْظ فٍِٔ فَزاك‬t ‫9. dan hartanya.. عَِ أَثًِ ُٕشٌشح‬ َ َ ْ َ َ َ َ َ َ َّ َ َْ ْ ْ ُ ْ ُ ْ ْ َ ْ ْ ِ ُ َّ‫أَفَشأٌَْذَ إُِ مبَُ فًِ أَخً ٍب أَقُْ٘ ه ؟ قَبه : إُِ مبَُ فٍِٔ ٍب رَقُْ٘ ه فَقَذ اْغزَجزَُٔ. أَََّّٖب رمشد اٍشأَحً فَقَبىَذ :إََِّّٖب قَصٍشح. “Dia sumbing”. “Perutnya besar”. عَِ أَثًِ حزٌفَخَ عَِ عَبئِشخَ. ٗ إُِ ىٌَ ٌَنِ فٍِٔ ٍب رَقُْ٘ ه فَقَذ ثََٖز‬ َ ْ َ َ ْ ُٔ ْ ُ ُ َ ِ ِْ ْ ِ ِْ َ ْ ِ ْ Dari Abu Huroiroh t bahwsanya Rosulullah r bersabda : Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. akan menjadi menjijikan jika telah menjadi bangkai…” ُُٔ‫قَبه : موُّ اىَغيٌِ عيَى اىَغيٌِ حشاً، دٍُٔ ٗعشْ ظُٔ ٍٗبى‬r ِ‫أَُ سعُْ٘ ه هللا‬t َ‫7. “Pantatnya besar”. Definisi ghibah ِْ َ ْ ِْْ َ : ‫ قَبه : أَرَذسُْٗ َُ ٍب اىغٍجَخُ ؟ قَبىُْ٘ ا : هللاُ ٗ سعُْ٘ ىُٔ ُ أَعيٌَ، قَبه : رمشُكَ أَخَ بكَ ثَِب ٌَنشُٓ، فَقٍِْو‬rِ‫أَُ سعُْ٘ ه هللا‬t َ‫8. “Dia kurus”. Dan engkau menyebutkan aibnya dihadapan manusia dalam keadaan dia goib (tidak hadir). Sama saja apakah yang engkau sebutkan adalah kekurangannya yang ada pada badannya atau nasabnya atau akhlaqnya atau perbuatannya atau pada agamanya atau pada masalah duniawinya. Berkata Syaikh Salim Al-Hilali :”Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) dan dia dalam keadaan goib (tidak hadir dihadapan engkau). ْ ْ َ ْ ْ ْ َْ ُ ْ ْ ‫: اِغزَجزٍَِٖب‬r ًِ‫19. Nabi r berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”..فَقَبه اىَّْج‬ َ َ ِْ َ ْ ِ َ ََ ُّ . “Dia pendek” dan lain sebagainya. yaitu darahnya. “Dia itu orangnya bodoh”. “Dia itu agak miring sedikit”. (Muslim) Orang yang mengghibah berati dia telah mengganggu kehormatan saudaranya. Hal ini juga telah dijelaskan oleh Ibnu Mas‟ud t: َ َ ِْ ُ ْ َ َ ِْ ْ ِ َ ُ ْ ْ َ َ َِْ َ ْ ْ ِْْ ُ ‫ٌَقُْ٘ ه : اىغٍجَخُ أَُ رَزمش ٍِ أَخٍل ٍب رَعيٌَ فٍِٔ. karena si goib tidak mampu untuk membela dirinya.. kehormatannya. “Kaki meja (jika kakinya tidak berbulu)”. karena yang dimaksud dengan kehormatan adalah sesuatu yang ada pada manusia yang bisa dipuji dan dicela. oleh karena itu saudaramu) yang goib tersebut disamakan dengan mayat. “Dia hitam”. dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan” Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah adalah :”Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang seandainya dia tahu maka dia akan membencinya”. عَِ أَثًِ ُٕشٌشح‬ َ ِ ْ ُْ ُ َ َ َ ِ ْ ُْ َ َ َّ َ َْ ْ ْ َ َ ُ ِ َ َُ Dari Abu Huroiroh t bahwasanya Rosulullah r bersabda : Semua muslim terhadap muslim yang lain adalah harom. misalnya engkau berkata pada saudaramu itu : “Dia buta”. tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. “Dia juling”. “Dia gendut”.sesungguhnya makanan yang baik dan halal dimakan. عَِ حَبد عَِ إثشإٌٍ قَبه : مبَُ اِثُِْ ٍغعُْ٘ د‬ َ َ ِْ َ ٍ ْ َ َّ َ ْ َ ُُ‫اىجُٖزَب‬ ْ ْ Dari Hammad dari Ibrohim berkata : Ibnu Mas‟ud t berkata :”Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu. “Dia tuli”. Dan demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan sebagaimana si goib juga tidak mengetahui gibah yang telah dilakukan oleh orang yang mengghibahinya ” Adapun menyebutkan kekurangannya yang ada pada badannya.

yang hal ini berarti merendahkan dia. Termasuk ghibah yaitu seseorang meniru-niru orang lain. (tetapi) kemudian dia berkata :”Pergilah ke fulan (tabib yang lain) karena dia lebih baik dari pada si fulan (tabib yang pertama)”. dia berkata : “Aku menemui Muhammad bin Sirin dan aku dalam keadaan sakit. misalnya engkau berkata : “Tukang makan”. dan lain-lain. “Dia keturunan maling”. “Dia pengkhianat”. Maka Nabi r berkata :”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya” ْ ْ ِ ْ َ ْ ُُٔ‫عَِ جشٌْش ثِ حبصً قَبه : رمش اثُِْ عٍْشٌَِ سجالً فَقَأه : راك اىشجو األَعْ٘دُ. Adapun pada perbuatannya yang menyangkut keduniaan. Adapun pada agamanya. “Dia sombong. “Dia tidak membaguskan sujud dan ruku‟ kalau sholat”. Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Hammad bin Zaid berkata :Telah menyampaikan kepada kami Touf bin Wahbin. “Tidak punya adab”. Kemudian dia berkata : “Aku mohon ampun kepada Allah.ُٔ‫ُ ِ َ ْ َ ِ جَحْ ش ىََضجز‬ Dari „Aisyah beliau berkata : Aku berkata kepada Nabi r: “Cukup bagimu dari Sofiyah ini dan itu”. Adapun pada akhlaknya. “Dia itu hatinya lemah”. tukang cari muka (cari perhatian)”. “Dia tidak berbakti kepada orang tua”. فَقَبه : ىَقَذ قُ ْيذ ميَِخً ى‬r ًِ‫99. “Dia itu orangnya lemah”. Kemudian dia berkata :”Aku mohon ampunan dari Allah”. misalnya engkau berkata :”Dia pencuri”. “Tidak memperhatikan orang lain”. “Dia itu tempramental”. misalnya berjalan dengan pura-pura pincang atau pura-pura bungkuk atau berbicara dengan pura-pura sumbing. sesungguhnya aku melihat bahwa diriku telah mengghibahi laki-laki itu” Adapun pada nasab misalnya engkau berkata :”Dia dari keturunan orang rendahan”. Sebagian rowi berkata :”‟Aisyah mengatakan Sofiyah pendek”. “Si fulan lebih baik dari pada dia” dan lain-lain. “Tukang tidur”. mitalah resep kepadanya”. ثٌُ قَبه : أَعزَغفِش هللاَ. Maka Nabi r pun berkata :”Saya tidak suka meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang (walaupun) saya mendapatkan sekian-sekian” . dan lain-lain.maka Nabi r berkata :”Engkau telah mengghibahi wanita tersebut” ْ ََ َ ََ ُ ْ ْ َ َْ٘‫حغجُل ٍِ صفٍَِّخ مزا ٗ مزاص قَبه ثَعْطُ اىشُّ ٗاحُ : رَعًِْ قَصٍشح. “Dia itu orang yang dzolim. “Bapaknya orang fasik”. misalnya engkau berkata :”Dia akhlaqnya jelek…orang yang pelit”. menurutku aku telah mengghibahi dia (tabib yang pertama)”. Maka dia (Ibnu Sirin) berkata :”Aku melihat engkau sedang sakit”. “Dia peminum khomer”. “Dia pendusta”. “Dia keturunan pezina”. tidak mengeluarkan zakat”. Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits : َ َ ْ َّ َ َ ْ ُ َ َ ْ ُ َ َ َ ْ ‫29. “Tidak ihtirom kepada manusia”. قَبىَذ : ٗحنٍْذ ىَُٔ إِّغبًّب فَقَبه : ٍب أُحتُّ أًَِّّ حنٍْذ إِّغبًّب ٗ إُِ ىًِ مزا‬ َ ْ ِ َ َ „Aisyah berkata : “Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang seseorang pada Nabi r”. aku berkata :”Benar”. Maka dia berkata :”Pergilah ke tabib fulan. atau yang selainnya dengan maksud meniru-niru keadaan seseorang.Dari Abu Hudzaifah dari „Aisyah bahwasanya beliau („Aisyah) menyebutkan seorang wanita lalu beliau („Aisyah) berkata :”Sesungguhnya dia (wanita tersebut) pendek”…. “Dia penakut”. عَِ عَبئِشخَ قَبىَذ : قُ ْيذ ىِيَّْج‬ َ َ ِْ ْ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ِّ َ َ َ ِ ْ‫ٍضجذ ثَِبء اى‬ َْ َ َ ِ . إًِِّّ أَساًِّ قَذ اغزَجز‬ ُ ْ ْ ُ ُ َّ َ َ َ ُ َ ِْ ِ َ َّ َ َ َ َ َ ٍِ َ ِ ْ ِ ِ َ ْ Dari Jarir bin Hazim berkata : Ibnu Sirin menyebutkan seorang laki-laki kemudian dia berkata :”Dia lelaki yang hitam”. “Jorok”.

atau untuk menjelaskan lemahnya ilmu orang tersebut agar orang-orang tidak tertipu dengannya dan menerima pendapatnya (karena orang-orang menyangka bahwa dia adalah orang yang ‘alim –pent). Bagaimana jika yang dighibahi adalah orang kafir ? Berkata As-Shon‟ani : “Dan perkataan Rosulullah r (dalam hadits Abu Huroiroh di atas) (saudaramu) yaitu saudara seagama merupakan dalil bahwasanya selain mukmin boleh mengghibahinya”. nasrani.demikian-demikian…. sebab orang yang mendengar perkataan engkau itu faham bahwasanya berarti orang yang namanya disebutkan memiliki sifat-sifat yang jelek. menunjukan bahwa jika dia (saudara kita yang kita ghibahi tersebut) tidak membencinya aib yang ditujukan kepadanya. dan (juga) orang yang kebid‟ahannya telah mengeluarkannya dari Islam. Maka hal ini adalah harom. Ghibah itu bisa dengan perkataan yang jelas atau dengan yang lainnya seperti isyarat dengan perkataan atau isyarat dengan mata atau bibir dan lainnya. yang penting bisa dipahami bahwasanya hal itu adalah merendahkan saudaranya yang lain. maka tidak ada (tidak mengapa) ghibah terhadapnya”. maka hal ini bukanlah ghibah. Jika si penulis menghendaki untuk menjelaskan kesalahan orang tersebut agar tidak diikuti. Bahkan lebih parah lagi. sebab ghibah adalah engkau menyebut saudaramu . maka ini bukanlah ghibah”. atau yang lainnya. Sebab engkau telah menunjukan kepada manusia bahwa engkau tidak melakukan sifat jelek orang yang disebutkan namanya tadi. Yang disebut ghibah jika kita menyebutkan orang tertentu atau kaum tertentu atau jama‟ah tertentu. Bagaimana jika kita memberi laqob (julukan) yang jelek kepada saudara kita. apakah tetap termasuk ghibah? Berkata As-Shon‟ani : “ Dan pada perkataan Rosulullah r (dengan apa yang dia banci). dan pendapat ini merupakan kesalahan atau kekeliruan atau kebodohan atau keteledoran dan semisalnya”. seperti orang-orang yang mengumbar nafsunya dan orang gila. Berkata Syaikh Salim Al-Hilal :”Jika kita telah mengetahui hal itu (yaitu orang yang dipanggil dengan julukan-julukan yang jelek namun dia tidak membenci julukan-julukan jelek tersebut – pent) bukanlah suatu ghibah yang harom. perkataan engkau tidak hanya menunjukkan kepada ghibah.Termasuk ghibah yaitu seorang penulis menyebutkan seseorang tertentu dalam kitabnya seraya berkata :”Si fulan telah berkata demikian-demikian”. maka hal ini bukanlah ghibah. atau “Semoga Allah U melindungi kita dari memakan harta manusia dengan kebatilan”. bahkan merupakan nasihat yang wajib yang mendatangkan pahala jika dia berniat demikian. Demikian pula jika seorang penulis berkata atau yang lainnya berkata : “Telah berkata suatu kaum -atau suatu jama‟ah. Berkata Ibnul Mundzir :”Dalam hadits ini ada dalil bahwasanya barang siapa yang bukan saudara (se-Islam) seperti yahudi. dengan tujuan untuk merendahkan dan mencelanya. Diantaranya yaitu jika seseorang namanya disebutkan di sisi engkau lantas engkau berkata: “Segala puji bagi Allah U yang telah menjaga kita dari sifat pelit”. namun saudara kita tersebut tidak membenci laqob itu. dan seluruh pemeluk agama-agama (yang lain). tetapi lebih dari itu dapat menjatuhkan engkau ke dalam riya‟.

Hukum ghibah ُ ِ ْ ٍ ُ ْ ْ ُ َ َ ‫: ٍشسْ د ىٍَيَخَ أُعْشي ثًِ عيَى قَْ٘ ً ٌَخَشْ٘ َُ ٗجُْ٘ ٌُٕٖ ثِأَظَبفِشٌٌٖ. apakah ghibah termasuk dosa besar atau termasuk dosa kecil?. beliau berkata :”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela kehormatankehormatan manusia”. Az-Zarkasyi berkata : “Dan sungguh aneh orang yang menganggap bahwasanya memakan bangkai daging (manusia) sebagai dosa besar (tetapi) tidak menganggap bahwasanya ghibah juga adalah dosa besar. mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. Beliau berkata :”Yaitu orang-orang yang mengghibahi manusia. tetapi orang yang memanggil saudaranya dengan laqob (yang jelek) telah jatuh di dalam larangan Al-Qur‟an (yaitu firman Allah: Dan janganlah kalian saling. عَِ أََّظ ثِ ٍبىِل‬ ُ َ َ َ ْ َ ِ ُ ٍ َ ِ ْ ِ ِْ ِْ ْ َ ْ ِْ ْ َ ِ ِْ ِ ٌٖ‫ججْشٌوُْ ٍِ َٕؤَُء؟ قَبه : اىَّزٌَِ ٌَغزَبثُْ٘ َُ اىَّْبط. aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga.panggil-memanggil dengan julukan-julukan yang buruk. Sedangkan Al-Gozhali dan penulis Al-„Umdah dari Syafi‟iyah berpendapat bahwasanya ghibah termasuk dosa kecil. ٌَٗقَعُْ٘ َُ فًِ أَعشاظ‬ ِْ ِ َ ْ ْ َ ِ َ َ Dari Anas bin Malik t berkata : Rosulullah r bersabda :”Pada malam isro‟ aku melewati sebuah kaum yang mereka melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka”. قَبه سعُْ٘ ه هللا‬ ُ َ َ ُ ِ ِْ ِ ْ َ ُُ َ ْ َّ ُ ِْ ٌٖ‫قَبه : َٕؤَُء اىَّزٌَِ ٌَأْميُْ٘ َُ ىُحُْ٘ ً اىَّْبط ٌَٗقَعُْ٘ َُ فًِ أَعشاظ‬ ِْ ِ َ ْ ْ َ َ َ َ Rosulullah r bersabda : Ketika aku dinaikkan ke langit. padahal Allah menempatkan ghibah sebagaimana memakan bangkai daging manusia. (AlHujurot: 11)-pent) yang jelas melarang saling panggil-memanggil dengan julukan (yang jelek) sebagaimana tidak samar lagi (larangan itu)”. Namun terjadi khilaf diantara para ulama. dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia”. فَقُ ْيذ : ٌَب‬r ‫ قَبه : قَبه سعُْ٘ ه هللا‬t ‫19. Imam Al-Qurthubi menukilkan ijma‟ bahwasanya ghibah termsuk dosa besar. Berkata Al-Auza‟i : “Aku tidak mengetahui ada orang yang jelas menyatakan bahwa ghibah termasuk dosa kecil selain mereka berdua”. Dalam riwayat yang lain : ْ ْ ٍ ُ ِ ْ ٍ َ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ِ ْ َ ُ ‫: ىََب عُشج ثًِ. Dan hadits-hadits yang memperingatkan ghibah sangat banyak sekali yang menunjukan akan kerasnya pengharaman ghibah. ٍشسْ د ثِقَْ٘ ً ىٌَُٖ أَظفَبس ٍِ ُّحبط ٌَخَشْ٘ َُ ٗجُْ٘ ٌَُٕٖ ٗ صذْٗ سٌُٕ فَق ُ ْيذ : ٍِ َٕؤَُء ٌَب ججْشٌوُْ؟‬r ‫19. . Hukum ghibah adalah harom berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan ijma‟ kaum muslimin. lalu aku berkata :”Siapakah mereka ya Jibril?”.dengan apa yang dia benci. Maka aku bertanya :”Siapakah mereka ya Jibril?”.

Dan hal ini adalah kesulitan yang sangat besar”. Setelah itu maka tidak mengapa baginya untuk mendengar ghibah (yaitu sekedar mendengar namun tidak memperhatikan dan tidak faham dengan apa yang didengar –pent). Jika dia tidak melakukannya berarti dia telah bermaksiat. ٗإرا سأٌَْذَ اىَّزٌَِ ٌَخْ٘ ظْ٘ َُ فًِ آٌَبرَِْب فَأَعشضْ عٌُْٖ حزَّى ٌَخْ٘ ظُْ٘ ا فًِ حذٌث غٍْشٓ. Dan alasan ini juga tertolak sebab tersebarnya kemaksiatan ini hanya kalau ditinjau pada zaman sekarang. Jika dia terpaksa di majelis yang ada ghibahnya dan dia tidak mampu untuk mengingkari ghibah itu. atau dengan hatinya. Namun alasan ini terbantahkan. Jika dia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau dengan memotong pembicaraan ghibah tadi dengan pembicaraan yang lain. kecuali hanya sedikit sekali yang bisa lolos dari penyakit ini. agar dia bisa melepaskan diri dari mendengarkan gibah itu. atau dia memikirkan perkara yang lain. maka harom baginya untuk istima‟(mendengarkan) dan isgo‟ (mendengarkan dengan saksama) pembicaraan ghibah itu. serta dia tidak memungkinkan baginya untuk meninggalkan majelis tersebut. karena bahwasanya tersebarnya suatu kemaksiatan dan banyak manusia yang melakukannya tidaklah menunjukan bahwa kemaksiatan tersebut adalah dosa kecil. Adapun pada zaman dahulu (zaman para salaf) kemaksiatan-kemaksiatan (termasuk ghibah) tidak tersebar sebagaimana sekarang. Hukum mendengarkan ghibah Berkata Imam Nawawi dalam Al-Adzkar :”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi. atau seluruh manusia menjadi fasik. Yang dia lakukan adalah hendaklah dia berdzikir kepada Allah U dengan lisannya dan hatinya. maka wajib baginya untuk meninggalkan majelis” Allah U berfirman : ُ ْ ِ َْ ُْْ ْ َّ ُ ُ ِ ْ َّ َ ِ ِ َ ٍ ْ ِ َ ْ ‫59. maka hal itu adalah kemunafikan yang tidak bisa membebaskan dia dari dosa. maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika memungkinkan hal itu. Dan jika dia takut kepada orang itu. namun hatinya ingin pembicaraan gibah tersebut dilanjutkan. Alasan mereka yang menyatakan bahwa ghibah adalah dosa kecil diantaranya perkataan mereka :”Kalau seandainya ghibah itu bukan dosa kecil maka sebagian besar manusia tentu menjadi fasik. tanpa mendengarkan dengan baik ghibah itu jika memang keadaannya seperti ini (karena terpaksa tidak bisa meninggalkan majelis gibah itu –pent). Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. atau dia telah mengingkari namun tidak diterima. diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Namun jika (beberapa waktu) kemudian memungkinkan dia untuk meninggalkan majelis dan mereka masih terus melanjutkan ghibah.Berkata Syaikh Nasir As-Sa‟di :”Dalam ayat ini (Al-Hujurot :12) ada peringatan keras terhadap gibah dan bahwasanya gibah termasuk dosa-dosa besar karena diserupakan dengan memakan daging bangkai (manusia) dan hal itu (memakan daging bangkai) termasuk dosa besar”. Dia harus membenci gibah tersebut dengan hatinya (agar bisa bebas dari dosa-pent). Jika dia berkata dengan lisannya :”Diamlah”. Justru yang tersebar adalah kebaikan. maka wajib bagi dia untuk melakukannya. ٗ إًِ ٌُْغٍََّْنٌ اىشٍطَبُُ فَالَ رَقعذ ثَعذ اىزك‬ ُ ُ ِْ َ ْ َْ ْ َ َ َ ِ ْ .

ini menunjukkan betapa bahayanya lisan ketika kita tidak menjaganya. maka aku akan menjamin untuknya surga.” (HR. Namimah (Adu Domba) Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya. Definisi Namimah Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan untuk mengadu domba antara seseorang dengan si pembicara. Baik yang tidak suka adalah pihak yang dibicarakan atau pihak yang menerima berita. atau sebaliknya. Kata adu domba identik dengan kebencian dan permusuhan. yang maknanya bahwa nilai seseorang ada pada lisannya.” (QS. Al-Bukhari) Salah satu bentuk kejahatan lisan adalah namimah (adu domba). Hukum dan Ancaman Syariat Terhadap Pelaku Namimah Namimah hukumnya haram berdasarkan ijma‟ (kesepakatan) kaum muslimin. Sebagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah mungkin akan mengatakan. sedangkan pepatah jawa mengatakan ajining diri ono ing lati. yang artinya. Dari Sahal bin Sa‟ad radhiyallahu „anhu. Lisan.” (HR. akan tetapi tidak kita sadari bahwa terkadang kita terpengaruh oleh namimah yang dilakukan seseorang. saya tidak mungkin berbuat demikian…” Tapi jika kita tak benar-benar menjaganya ia bisa mudah tergelincir. Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”. “Ah. hanya ada satu di tubuh. maupun pihak lainnya. “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba). As Sunnah dan Ijma‟. Al Bukhari) Ibnu Katsir menjelaskan. Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaani rahimahullah mengatakan bahwa namimah tidak khusus itu saja. Banyak sekali dalil-dalil yang menerangkan haramnya namimah dari Al Qur‟an. Bahkan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam memberi jaminan surga pada seorang muslim yang dapat menjamin lisannya. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Apalagi ketika rasa benci dan hasad (dengki) telah memenuhi hati. “Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka.4. yang kian kemari menghambur fitnah. Sebagaimana firman Allah Ta‟ala. Al Qalam: 10-11) Dalam sebuah hadits marfu‟ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu „anhu disebutkan. nilainya akan baik jika lisannya baik. lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba. “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela. Baik berupa aib ataupun bukan. “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji). Namun intinya adalah membeberkan sesuatu yang tidak suka untuk dibeberkan. Oleh karena itu kita benarbenar harus mengenal apakah itu namimah. Atau meski bisa menjaga lisan dari namimah. Baik yang disebarkan itu berupa perkataan maupun perbuatan.” . tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak bisa menjaganya dengan baik.

Bukan termasuk namimah seseorang yang mengabari orang lain tentang apa yang dikatakan tentang dirinya apabila ada unsur maslahat di dalamnya. 2. Janganlah ia menyebarkan perkataan namimah itu dengan mengatakan. Pelaku namimah juga diancam dengan adzab di alam kubur.Perkataan “Tidak akan masuk surga…” sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas bukan berarti bahwa pelaku namimah itu kekal di neraka. dikatakan kepadanya: “Fulan telah berkata tentangmu begini begini.”. orang yang mau berbuat aniaya terhadap orang lain. Mencegahnya dari perbuatan tersebut. Tidak membiarkan dirinya ikut melakukan namimah tersebut. 6. “Dan setiap orang yang disampaikan kepadanya perkataan namimah. Misalnya. “Jika ada kepentingan menyampaikan namimah. Tidak membenarkan perkataannya. Membencinya karena Allah. “(suatu hari) Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu berkata.” Dengan begitu ia telah menjadi tukang namimah karena ia telah melakukan perkara yang dilarang tersebut.” (HR. berjalan kesana kemari menyebarkan namimah. Yang pertama.” . Inilah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama‟ah untuk tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukannya selama ia tidak menghalalkannya (kecuali jika dosa tersebut berstatus kufur akbar semisal mempraktekkan sihir -ed). An-Nawawi rahimahullah berkata. Ibnu Abbas meriwayatkan. 5. menasehatinya dan mencela perbuatannya. Sedang yang kedua. Atau melakukan ini dan ini terhadapmu. maka tidak ada halangan menyampaikannya. Dan keduanya bukanlah diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. atau keluarga atau hartanya. tidak membersihkan diri dari air kencingnya. Karena tukang namimah adalah orang fasik. 4. Misalnya jika ia menyampaikan kepada seseorang bahwa ada orang yang ingin mencelakakannya. Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudaranya dikarenakan namimah yang didengarnya. Bukan Termasuk Namimah Apakah semua bentuk berita tentang perkataan/perbuatan orang dikatakan namimah? Jawabannya. karena ia adalah orang yang dibenci di sisi Allah. dan lain-lain. Tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah. tidak. 3. AlBukhari) Sikap Terhadap Pelaku Namimah Imam An-Nawawi berkata. Hukumnya bisa sunnat atau bahkan wajib bergantung pada situasi dan kondisi. Maksudnya adalah ia tidak bisa langsung masuk surga. “Fulan telah menyampaikan padaku begini dan begini. lalu bersabda. sedangkan dirinya sendiri melarangnya.” maka hendaklah ia melakukan enam perkara berikut: 1. melaporkan pada pemerintah tentang orang yang mau berbuat kerusakan. “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab. Maka wajib membenci orang yang dibenci oleh Allah.

maka dia boleh mengucapkannya. bagi yang khawatir adalah lebih baik untuk menahan diri dari menyebarkan berita. Bukankah mulut seorang mukmin tidak akan berkata kecuali yang baik. dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Karena betapa banyak perbuatan namimah yang terjadi karena timbulnya hasad di hati. maka lebih baik dia diam. ada kala niat dalam hati berubah ketika kita melakukannya. Semoga Allah Ta‟ala selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi di akhirat dikarenakan lisan yang tidak terjaga. apalagi dari perkataan yang karenanya saudara kita tersakiti dan terdzalimi. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. penglihatanku.) . saling membenci. Lebih dari itu. Hasad serta namimah adalah akhlaq tercela yang dibenci Allah karena dapat menimbulkan permusuhan. janganlah rasa tidak suka atau hasad kita pada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya. Jika sebaliknya. Bahkan. hatiku dan kejahatan maniku.Pada kondisi seperti apa menyebarkan berita menjadi tercela? Yaitu ketika ia bertujuan untuk merusak. Jika tampak baginya bahwa ucapannya akan benar-benar mendatangkan kebaikan tanpa menimbulkan unsur kerusakan serta tidak menjerumuskan ke dalam larangan. termasuk dalam hal ini adalah namimah. dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain. mencari kebenaran dan menjauhi/mencegah gangguan maka tidak mengapa.” (HR.” Bagaimana Melepaskan Diri dari Perbuatan Namimah Ya ukhty. sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kejahatan pendengaranku. Sehingga. hendaknya kita tidak memendam hasad (kedengkian) kepada saudara kita sesama muslim. Muslim) Berusaha dan bersungguh-sungguhlah untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tidak berguna. Akan tetapi terkadang sangat sulit untuk membedakan keduanya.” (Ya Allah. Adapun bila tujuannya adalah untuk memberi nasehat. meskipun sudah berhati-hati. “Seseorang selayaknya memikirkan apa yang hendak diucapkannya. Dan hendaklah dia membayangkan akibatnya. “Allahumma inni a‟uudzubika min syarri sam‟ii wa min syarri bashori wa min syarri lisaanii wa min syarri maniyyii. Imam Asy-Syafi‟i rahimahullah berkata. saling bermusuhan. lisanku. “Janganlah kalian saling mendengki. sedangkan Islam memerintahkan agar kaum muslimin bersaudara dan bersatu bagaikan bangunan yang kokoh.

dalam berbagai bahasan. maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. kata tersebut berbeda makna dalam bahasa kita. di tengah masyarakat kita. kafir kepada Allah. saat kata itu disebutkan oleh seorang juru dakwah. Berbagai realitas -termasuk yang saya dengar-. Indonesia. lebih besar (dosanya) di sisi Allah. dibandingkan .5. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya. Seringkali pula mereka beranggapan bahwa masyarakat Indonesia sudah begitu akrab dengan kata tersebut. ” (Q. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. An-Nur 24:11) Pendapat Para Ulama tentang Fitnah Makna satu kata. FITNAH Dalil Tentang Fitnah َ ِ ‫ٌَغْأَىَُّ٘ل عَِ اىشْٖش اىحشاً قِزَبه فٍِٔ قُوْ قِزَبه فٍِٔ مجٍِش ٗصذ عَِ عجٍِو هللاِ ٗمفش ثِٔ ٗاىَغجذ‬ ِ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ ُ َ َّ ِ َ ْ ٌّ َ َ ِ ٍ ِ َ َ ْ ِ َّ ِ َ َ َ َ ِ ْ ْ ِ ُ ْ ْ ْ َ َّ َ ْ ِ ُ ْ ْ ِ ِ ْ ُ َ ْ َ ِ َ َ ْ ْ ُ ُّ ُ َُُ٘‫ٌُقَبرِيَُّ٘نٌ حزَّى ٌَشدٗمٌ اىحشاً ٗإِخشاج إَٔئِ ٍُْٔ أَمجَش عْذ هللاِ ٗاىفِزَْخُ أَمجَش ٍَِ اىقَزو ٗال ٌَضاى‬ َ ُْ ْ َ َ ُ َ َ َ ْ ُ ِ ِ ْ ُْ ِْ ِْ ْ ِ ُْ ِ ْ ًِ‫عَِ دٌِْنٌ إُِ اعزَطَبع٘ا ٍِٗ ٌَشْ رَذد ٍْنٌ عَِ دٌِْٔ فٍَََذ ُٕٗ٘ مبفِش فَأُٗىَئِل حجطَذ أَعَبىٌُُٖ ف‬ ْ َ ْ ْ َِ َ ُ َ َُٗ‫اىذٍَّب ٗاَخشح ٗأُٗىَئِل أَصْ حبةُ اىَّْبس ٌُٕ فٍَِٖب خبىِذ‬ َ ْ ِ َ َ ِ َ ِ ْ َ ْ ُّ Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Pasalnya. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya.S. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran). seandainya mereka sanggup. menunjukkan bahwa ada kesalahpahaman besar seputar pemaknaan kata tersebut. mereka kekal di dalamnya. sehingga mereka pasti paham. (QS Al-Baqarah 217) َ ُِْْ َ َ ‫إُِ اىَّزٌَِ جبءٗا ثِبْلفل عُصْ جَخ ٍْنٌ ال رَحْ غجُُ٘ٓ ششا ىَنٌ ثَوْ ُٕ٘ خٍْش ىَنٌ ىِنو اٍشا‬ ُ َ ْ ُ ًّ َ َ ِ ْ ِْ ِ َّ ٍ ِ ْ ِّ ُ ْ ُ ََ ٌٍ‫ٌٍُْٖ ٍب امزَغت ٍَِ اْلثٌ ٗاىَّزي رَ٘ىَّى مجشُٓ ٌٍُْٖ ىَُٔ عزاة عَظ‬ ْ ِْ َ ِْ ِ ِ َ ِْ ِْ ِ َ َ ْ َ ْ ِْ َ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Fitnah Seringkali para juru dakwah menyebut-nyebut kata fitnah. lalu dia mati dalam kekafiran. dan mereka itulah penghuni neraka. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya.

Iaitu bahawa mereka itu menyebarkan kekafiran. Maksud dan pengertian fitnah jika diselak lebar al-Quran dan hadis adalah sebagaimana berikut. kata itu berarti buhtaan. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh…” (Al Baqarah: 217) Firman-Nya lagi yang bermaksud: “Dan perangilah mereka itu. kata fitnah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu). Yakni. Fitnah yaitu komunikasi dengan satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan berdasarkan fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan. (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya. seperti disebutkan dalam banyak kamus bahasa Indonesia adalah: menuduh tanpa bukti.khawatir mereka berdua akan difitnah. Seperti disebutkan dalam hadits tentnag ghibah.ال ف ت نة‬Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia. kecuali terhadap orang-orang yang zalim” (Al Baqarah: 193) Kata fitnah dalam ayat ini menurut para ulama tafsir adalah bermaksud „kekafiran‟ atau „kemusyrikan‟. dituduh berbuat mesum dan sejenisnya. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. ketika seorang juru dakwah mengatakan. lebih besar (dosanya) di sisi Allah . Dalam bahasa Indonesia. Fitnah juga diartikan sebagai Kekufuran seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqoroh:217.. Kufur/Kafir Friman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermkasud: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. maka tidak ada permusuhan (lagi). karena dikhawatirkan terjadi fitnah…. wibawa atau reputasi. dan Kesesatan seperti yang dijelaskan dalam surat AlMaidah: 41. Yakni bencana maksiat.‟…. mulai dari yang paling ringan. A. Sehingga. Sementara kerap disampaikan para juru dakwah adalah makna kata itu dalam bahasa Arab.‟ 1. Bencana Sabda nabi Sallallhu alaihi Wasallam yang bermaksud: . Maksud Fitnah Kata "fitnah" asalnya diserap daripada bahasa Arab.‟ Padahal yang dimaksud juru dakwah tersebut. sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.khawatir akan terjadi bencana. hingga perzinaan.makna kata itu di dalam bahasa Arab.” kebanyakan masyarakat Indonesia akan memahaminya. tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah. kafir kepada Allah. kata Fitnah diartikan sebagai perkataan yang bermaksud menjelekkan orang. yang kesohor itu. dan pengertian asalnya adalah "cobaan" atau "ujian". B. Pengertian Fitnah dalam bahasa Arab disebut ‫ . Dalam bahasa Arab.‟…. “seorang pria muslim tidak boleh berduaan dengan seorang wanita muslimah yang bukan muhrimnya.

tiadalah kami mempersekutukan Allah” (Al An‟am: 23) Fitnah yang dimaksud dalam ayat ini adalah ucapan tipu dan dusta. Padahal sesungguhnya mereka telah berada dalam kebinasaan dengan sifat munafik.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah . Padahal Allah mengetahui hakikat mereka. untuk membela diri mereka di hadapan Allah. Binasa Firman Allah Subhanahu Wata‟ala: yang bermaksud: “Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah. Di antara (isi) nya ada ayatayat yang muhkamaat. .“Apabila datang (meminang) kepada kamu seorang pemuda yang kamu sukai agama dan akhlaknya. padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya melainkan Allah…” (Ali Imran: 7) Terdapat sebagian orang Islam yang hanya menggunakan semata-mata penilaian mengikut aspek rasional. Sengaja mencari penafsiran ayat melalui pendekatan logika akal manusia yang terbatas semata-mata.” Perkataan fitnah dalah hadis ini memberikan maksud bencana atau musibah yang akan berlaku sekiranya perkahwinan ditangguhkan. itulah pokok-pokok isi Al qur‟an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. maka kahwinkanlah dia dengan anak perempuan mu. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan. Ia bermaksud menimbulkan konflik dan kekeliruan dalam masyarakat. iaitu mencari konflik dan perselisihan dengan sesama muslim. Tujuan mereka semata-mata menyebar fitnah. Tuhan kami. kecuali mengatakan: “Demi Allah. Dikhuatiri akan terjadi fitnah (bencana) dan kerosakan yang besar di muka bumi. Ia juga disebut sebagai propaganda. sehingga melencong dari tafsiran yang tepat. D. C. maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta‟wilnya. Konflik Firman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermaksud: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur‟an) kepada kamu. Inilah penjelasan kepada ayat ini yang dengan jelas menyebut perkatan fitnah. Ini kerana syarat pemuda soleh itu adalah sebaik-baik pilihan untuk dijadikan suami kepada anak-anak perempuan. E. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir” (At Taubah: 49) Dalam ayat ini kaum munafik di masa Nabi sallallahu „alaihi wasallam enggan menyertai peperangangan kerana menganggap itu adalah suatu kebinasaan (fitnah). Iaitu kebinasaan diri mereka di akhirat kelak dengan balasan neraka yang paling bawah. Tipu Firman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermaksud : “Kemudian tiadalah fitnah mereka. dan apa yang tersembunyi dalam hati mereka.

Menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadi. Hubbuddunya (lebih cinta kepada gemerlap duniawi daripada cinta kepada Allah)  Aqidahnya telah rusak. Ada ungkapan al khabar kal ghabar (berita itu seperti debu) melayang ke mana-mana dan tidak bertuan.  Pendusta. Menghindari Akhlak Tercela (Fitnah) Untuk menghindari fitnah ada beberapa tips yang perlu diperhatikan. 2.. keburukan dan kebusukan seseorang. Karena akal. Namun. Ini adalah perbuatan hina dan jijik. Orang yang suka memfitnah tidak mampu bersaing secara sehat.Iri. Dusta/bohong menjadi menu utama dalam aksinya untuk memfitnah dan mengadu domba orang lain. kemudian berganti dengan memuji dan menyanjung. Ketika dia merasa gagal. ketika memperoleh kesuksesan. Sifat dan Karakteristik Inilah gambaran orang yang suka memfitnah (mengadu domba) :Pengecut dan curang. Gangguan Firman Allah Subhanahu Wata‟ala: yang bermaksud: “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”. mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah bersamamu”. Dia asyik sekali membongkar rahasia.  Kufur ni'mat. ia menganggap fitnah (gangguan) manusia itu sebagai azab Allah . Hatinya terdorong untuk mengeruk keuntungan dengan jalan pintas. hati dan raganya digunakan untuk merugikan orang lain.”. maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah. Hidup dan kehidupannya dihantui oleh prasangka buruk. . dia sombong dan hidup melampaui batas. Karena sikap reaktif cenderung lebih tergesa-gesa. iri dan dengki yang muncul. Yang terpenting baginya adalah uang dan jabatan. Dan ketika orang itu datang. kata fitnah membawa maksud ganguan. orang yang suka mengadu domba adalah penjilat bermuka dua. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?” (Al Ankabut: 10) Dalam ayat ini. 1) Jangan reaktif.. karena lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah. Dengan kata lain. dengki dan sombong selalu menempel di hatinya. Dia rela memfitnah dan mengadu domba orang lain agar posisi dan jabatannya aman. bahkan menjadi darah daging. Inilah sifat biasa manusia yang menganggap ujian Allah dalam bentuk gangguan manusia sebagai azab.F. Orang yang suka memfitnah dan mengadu domba berpotensi menjadi pengkhianat. 3. Reaktif tidak diperlukan dan tidak akan menyelesaikan masalah.  Suka memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang lain. jangan merespon dengan cepat berita-berita yang masih berkategori “katanya. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu. Orang yang suka memfitnah adalah orang yang tidak bersyukur atas ni'mat Allah. maka pembicaraan pun berhenti dengan sendirinya. Bahkan tega mengorbankan sahabat dan kelompok seperjuangan. ketika orang itu tidak ada.

Jangan lupa untuk memohon petunjuk dari Allah dengan sholat istikhoroh. Gunakan akal sehat dan hati yang sholeh untuk menganalisa dan menemukan kebenaran dari setiap informasi/berita. Inilah yang di ingatkan oleh QS: al Hujurat:6 . karena benci kepada ciptaan Allah berarti benci kepada Allah. mintalah kepada orangtua untuk mendoakan agar kita selamat. Bencilah kepada perilakunya yang negatif. 9) Amar Ma'ruf Nahi Mungkar.2) Pastikan bahwa berita itu ada pembawanya. 10) Senantiasa bersyukur kepada Allah. "Hai orang-orang yang beriman. 2) Mintalah ridho dan restu orangtua. Jangan pernah membenci manusia. 5) Hati-hati dalam berbicara. 7) Hati-hati dalam mengemban amanah. Jangan memandang / menilai seseorang dari sisi negatifnya. Perjelas lagi berita itu kepada sumber aslinya. sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada Allah. Sumber berita adalah penentu kebenaran berita itu sendiri. saja. bertindak dan dalam menerima informasi/berita. maka periksalah dengan teliti. 6) Hati-hati terhadap kesenangan dunia. Laksanakan amanah dengan mengedepankan kejujuran dan penuh tanggungjawab. 4) Perbanyaklah mengingat Allah (zikrullah)." 4) Jika memang apa yang diberitakan itu benar terjadi tetapi tidak kita inginkan selesaikan dengan cara dewasa dan penuh kesadaran serta kasih sayang antar sesama. karena zikir kepada Allah dapat melembutkan hati dan menyehatkan akal. Apa yang dapat kita lakukan sebagai upaya membentengi hati dari fitnah (adu domba) dan memeranginya : 1) Mulailah segala aktivitas dengan niat yang benar. maka ikuti aturan Islam. agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Rajinlah bershodaqoh kepada fakir miskin dan anak yatim. Selalu mengajak sahabat-sahabat kita untuk berbuat baik dan mengingatkannya jika berbuat kemunkaran dan maksiat. 3) Berpikir positif (husnuzhon). yang baik dan tulus hanya untuk mendapatkan ridho Allah. terkadang berita dari satu tempat ke tempat lain sudah tidak akurat dan banyak dibumbuhi atau di sisipi berita lain. . Perdalamlah ilmu agama dengan rajin mengikuti majelis ilmu atau pengajian dan mengamalkan ajaran Islam dalam hidup dan kehidupan seharihari. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. 8) Jika cinta Islam. jabatan dan kedudukan. 3) Tabayyun.

apabila yang kita tuduhkan itu salah dan tidak terbukti.\ Jika di masyarakat umum. . Ini mengharuskan masing-masing anggota mengenal yang lain sebagai manusia yang baik. Dengan menggunjing. maka kita akan menjadi orang yang dibenci masyarakat. karena nyatanya dia tak mampu menjadi seperti tetangganya. Contohnya ketika salah seorang diantara tetangga ada yang membeli mobil baru. fitnah yang terjadi kebanyakan disebabkan ke-iri hatian seseorang terhadap orang lain. bersama murid-muridnya menemukan bangkai binatang yang telah membusuk. berarti merusak keutuhan masyarakat satu demi satu. banyak sekali dugaan yang belum tentu benar adanya mengenai masalah amanah dan tugas yang diemban. Naudzubillah.. Ketika itu benih perpecahan tertanam. Seandainya kuat dalam argumentasi. Apabila tidak miskin dalam pengetahuan.4. Hal seperti ini banyak terjadi dikalangan masyarakat yang rasa kekeluargaannya sudah mulai pudar. keburukan orang lain ditonjlkan. rasa percaya dari kasih itu sirna. Nabi isa as. selain itu juga banyak terjadi di kalangan pemerintahan..” Mendengar hal itu. tuduhan penggelapan uang dan lain-lain. “Lihatlah betapa putih giginya. masih banyak bahan pembicaraan yang lain. mestinya tidak perlu menjadikan keburukan orang seagai bahan pembicaraan. mengarahkan mereka sambil berkata. tentu tidak perlu mengada-ada. Sehingga menyebabkan perpecahan terjadi diantara keduanya. Para murid beliau berkata.”Alangkah busuk bau bangkai ini. tetangga yang lain menuduh yang bukan-bukan. Di kalangan pemerintahan. bahkan menganggapnya tidak memiliki keburukan. sungguh merugikan. Tinjauan Masa Kini terhadap Fitnah Pada zaman sekarang sudah banyak orang yang saling tuduh menuduh dan saling mengadu domba pada setiap masalah yang sedang terjadi. Suatu ketika Nabi Isa as. Seperti tuduhan korupsi. sehingga pada akhirnya meruntuhkan bangunan masyarakat. Menggunjing apalagi memfitnah seseorang . Nilai Negatif dari Fitnah Keutuhan masyarakat tercipta apabila anggota-anggotaynya saling mempercayai dan kasihmengasihi. Orang yang memfitnah dan menggunjing berarti menunjukkan kelemahan dan kemiskinannya sendiri.” Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang harus melihat isi positif pada suatu yang negatif dan berusaha menemukan kebaikan dalam suatu yang terliht buruk. Selain itu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful