Akhlak Tercela

Akhlak Tercela

1. DENDAM
1. Pengertian Dendam Dendam dalam bahasa Arab disebut juga dengan Al-Hiqdu ‫ . اىحقذ‬Menurut Al-Gazalidalam bukunya Ihya Ulumud Din jilid III, dijelaskan bahwa Hiqdu atau dendam berawal dari sifat pemarah. Sifat marah (gadab) itu terus dipelihara dan tidak segra diobati dengan memaafkan, maka akan menjadi dendam terhadap orang yang menyakiti kita. Pengertian dendam secara istilah adalah perasaan ingin membalas karena sakit hati yag timbul sebab permusuhan, dan selalu mencari kesempatan untuk melampiaskan sakit hatinya agar lawannya mendapat celaka, barulah ia merasa puas. Nabi muhammad SAW dan para sahabatnya ketika mereka berdakwah di Makkah selalu mendapatkan tekanan dan gangguan yang berat yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy. Gangguan dan tekanan itu berupa siksaan, hinaan bahkan ada anggota keluarganya yang dibunuh, sehingga nabi dan para sdahabatnya hijrah ke Madinah.akan tetapi ketika Fathul Makkah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya tidak membalas perbuatan orang-orang kafir tersebut, meskipun nabi memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kaum kafir Quraisy. Bahkan nabi mengumandangkan perdamaian dan memaafkan kesalahan – kesalahan mereka pada waktu yang lalu. Rasulullah juga memberikan teladan tentang perilaku pemaaf, bukan dendam. Misalnya, perlakuan orang Thaif terhadap rasulullah para sahabatnya yang telah mengusirnya, bahkan melemparinya dengan batu. Ketika malaikat menawari Rasulullah untuk menghancurkan kaum itu Rasulullah justru berdoa : َُ ََْ٘‫اَىَّيٌُٖ إذ قَْ٘ ٍى فَئٌَُِّّٖ الٌََعي‬ ُ ْ ْ ِ ِ ْ َّ Artinya: “Ya Allah, berilah petunujuk atas kaumku karena sesungguhnya mereka itu belum mengetahui.” Kisah diatas memberikan gambaran , bahwa akhlak yang pantas dimilki oleh kaum beriman bukanlah sifat dendam dan sombong, tetapi adalah sifat terpuji diantaranya memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman : ْ ِ َ ْ ِ َ )999 : ‫خز ْاىعف٘ ٗ ْأٍشْ ثِب ْىعُشْ ف ٗأَعشضْ عِ اىجٖيٍَِِ (االعشاف‬ ُ َ ََْ ُِ ِ ْ َ ِ

.”(An-Nuur : 22) 2.Muslim) b. Ciri-ciri sifat dendam       Tujuan hidupnya membinasakan orang yang menjadi lawannya Perbuatan yang dilakukannya selalu bertujuan mengalahkan lawannya Tidak merasa puas bila lawannya belum mendapatkan kekalahan Hobi menyimpan rasa sakit hati dan berusaha membalas dikemudian hari Tidak mau mamaafkan kesalahan orang lain Selalu menjelek-jelekkan orang lain dan membuka aib orang lain 3. Perbuatan yang dibenci oleh Allah ْ ٌ‫أَثغَطُ اىشجو إِىَى هللاِ أَىَذ اىخصبً (أخشجٔ ٍغي‬ ِ َ ِ ْ ُّ ِ ُ َّ Artinya: “orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam kesumat (bertengkar). Hilangnya ketenangan jiwa. apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang. Firman Allah: ُ ْ ُ َ َ َ ْ ِ َ َ ْ ِّ ْ ُ ْ َ )91 : ‫ٌَبأٌََُّٖب اىَّْبطُ إَِّّب خيَقَْنٌ ٍِ رمش َّٗأُّثَى ٗجع ْيَْنٌ شعُْ٘ ثًب ٗقَجَبئِو ىِزَعبسفُْ٘ ا. saling menghormati dengan sesama. melainkan agar saling kenal-menganal...Artinya: “jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. ٗ ْاىٍَعفُْ٘ اٗاىٍَصْ فَحُْ٘ ا أَالَرُحجُّْ٘ َُ أَُ ٌُغفِش هللاُ ىَنٌ ٗهللاُ غفُْ٘ سسَّحٌٍْ (اىْ٘س‬ َ ْ ْ ِ ُ َ ِ َ ُْ Artinya: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada . Menghindar bila bertemu dengan orang yang dibenci Padahal Allah menciptakan manusia dimuka bumi bukan untuk bermusuh-musuhan dan saling dendam.”(Qs. Bahaya sifat dendam a..Al-A‟raf : 199) Allah berfirman : ْ َ ْ َ )22 :‫. (اىحجشاد‬ َ َ َ َ .”(HR. jiwanya akan selalu bergemuruh oleh perasaan yang tidak nyaman c.

3. berupaya agar orang lain membencinya. merendahkan martabatnya dll. bahkan semata-mata merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain itu sudah terhitung hasad baik diiringi harapan agar nikmat tersebut hilang ataupun sekedar merasa tidak suka. Hasad memiliki banyak bahaya di antaranya: 1. 2.Artinya: “Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan manjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Dikucilkan dalam pergaulan 4. Cara menghindari sifat dendam 1. Hasad Bahaya Hasad Hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain. Bukanlah definisi yang tepat untuk hasad adalah mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain. Hasad itu akan melahap kebaikan seseorang sebagaimana api melahap kayu bakar yang kering karena biasanya orang yang hasad itu akan melanggar hak-hak orang yang tidak dia sukai dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya. Merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain pada hakikatnya adalah tidak suka dengan apa yang telah Allah takdirkan dan menentang takdir Allah. Selalu marah ketika mendengar kebaikan orang yang dibenci e. Setiap kali dia saksikan tambahan nikmat yang didapatkan oleh orang lain maka dadanya terasa sesak dan . Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad. Ini semua adalah dosa besar yang bisa melahap habis berbagai kebaikan yang ada. 3.”(al-Hujurat :13) d. Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan. Mengetahui bahaya dari sifat dendam Senantiasa ingat kepada Allah dalam keadaan apapun Memaafkan kesalahan orang lain Saling menghormati dan menyayangi sesama manusia 2. Demikianlah hasil pengkajian yang dilakukan oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah. 2. 4. Beliau menegaskan bahwa definisi hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.

meremehkan kebaikan yang telah dia lakukan dll. Jika telah disadari bahwa itu adalah suatu yang mustahil mengapa masih ada hasad di dalam hati. 5. Tuntutan hadits di atas adalah merasa tidak suka dengan hilangnya nikmat Allah yang ada pada saudara sesama muslim. meskipun demikian sangat disayangkan hasad ini banyak ditemukan di antara para ulama dan dai serta di antara para pedagang. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. Orang yang hasad mengawasi nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang di sekelilingnya dan berusaha menjauhkan orang lain dari orang yang tidak sukai tersebut dengan cara merendahkan martabatnya.” (HR Ahmad dan Abu Daud. “Barang siapa menyerupai sekelompok orang maka dia bagian dari mereka. Orang yang hasad selalu memikirkan nikmat yang ada pada orang lain sehingga tidak pernah berdoa meminta karunia Allah padahal Allah ta‟ala berfirman. Ketika hasad timbul umumnya orang yang di dengki itu akan dizalimi sehingga orang yang di dengki itu punya hak di akhirat nanti untuk mengambil kebaikan orang yang dengki kepadanya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (HR Bukhari dan Muslim). Karena siapa saja yang memiliki ciri khas orang kafir maka dia menjadi bagian dari mereka dalam ciri khas tersebut. 10. Orang yang . Jika engkau tidak merasa susah dengan hilangnya nikmat Allah dari seseorang maka engkau belum menginginkan untuk saudaramu sebagaimana yang kau inginkan untuk dirimu sendiri dan ini bertolak belakang dengan iman yang sempurna. Ringkasnya. an Nisa‟: 32) 8. Jika kebaikannya sudah habis maka dosa orang yang di dengki akan dikurangi lalu diberikan kepada orang yang dengki. “Kalian tidak akan beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri. Memiliki sifat hasad adalah menyerupai karakter orang-orang Yahudi. 7. Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna. tidak mungkin baginya untuk menghilangkan nikmat yang telah Allah karuniakan. Setelah itu orang yang dengki tersebut akan dicampakkan ke dalam neraka. Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah. dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. shahih) Seberapa pun besar kadar hasad seseorang. Hasad adalah akhlak tercela. Nabi bersabda. 6. Pada saat demikian orang tersebut akan meremehkan nikmat yang ada pada dirinya sehingga dia tidak mau menyukuri nikmat tersebut. dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan.” (QS. Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada. Orang yang dia dengki-lah yang mendapatkan nikmat yang lebih besar dari pada nikmat yang Allah berikan kepadanya. dengki adalah akhlak yang tercela. Nabi bersabda. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan.4. bersusah hati. Maksudnya orang yang hasad berpandangan bahwa dirinya tidak diberi nikmat. Akan selalu dia awasi orang yang tidak dia sukai dan setiap kali Allah memberi limpahan nikmat kepada orang lain maka dia berduka dan susah hati. 9.

(Al Hujurat 12) Allah U telah menyamakan mengghibahi saudara kita dengan memakan daging saudara (yang digibahi tadi) yang telah menjadi bangkai yang (hal ini) sangat dibenci oleh jiwa-jiwa manusia sepuncak-puncaknya kebencian.punya profesi yang sama itu umumnya saling dengki. senantiasa pusa senin kamis. namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara ‫ ع‬kita.Sesungguhnya memakan daging manusia merupakan sesuatu yang paling menjijikan untuk bani Adam secara tabi‟at walaupun (yang dimakan tersebut) orang kafir atau musuhnya yang melawan. ٗالَ ٌغزتْ ثَععنٌ ثَعْعً ب أٌَُحتُّ أَحذمٌ أَُ ٌَأْمو ىَحْ ٌ أَخٍْٔ ٍٍزًب فَنشٕزَُْ٘ ُٓ ٗارَّقُْ٘ ا هللاَ إُِ هللاَ رََّ٘اة سح‬ ُْ ُ ْ ْ َ ِ َ ِ َ ُ ْ ِ َ َْ ِ ِ َ َ ُ ْ ُْ ُ َ َ Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi r. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati. sesungguhnya rasa kebencian dan jijiknya semakin bertambah. Sebagaimana kalian membenci memakan dagingnya -apalagi dalam keadaan bangkai. Sebagaimana dikatakan oleh „Amru bin Al-„Ash t: ْ َْ ‫6. Allah U berfirman : َّ ٌٍْ‫5. Berkata Syaikh Nasir As-Sa‟di : “Kemudian Allah U menyebutkan suatu permisalan yang membuat (seseorang) lari dari gibah. mampu untuk menjauhkan dirinya dari zina.mereka tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah.maka demikian pula hendaklah kalian membenci mengghibahinya dan memakan dagingnya dalam keadaan hidup”. Syaikh Salim Al-Hilaly berkata : “. tidak bernyawa.. 3. bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari. Namun sangat disayangkan di antara para ulama dan para dai itu lebih besar. َْ عِ قٍَظ قَبه : ٍش عَشُٗ ثُِْ اىعبص عيَى ثجَغو ٍٍِّذ. Padahal sepantasnya dan seharusnya mereka adalah orangorang yang sangat menjauhi sifat hasad dan manusia yang paling mendekati kesempurnaan dalam masalah akhlak. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah. namun…. فَقَبه: ٗهللاِ ألََْ ُ ٌَأْمو أَحذمٌ ٍِ ىَحْ ٌ َٕزا (حزَّى ٌََلََْ ثَطَُْٔ) خَ ٍْش‬ َ ِ َ ٍ َ ٍ ْ َ َ ِ ْ ِ ُْ ُ َ َ ُ ْ ْ َ َّ َ َ ٍ ْ ْ َ ْ‫ىَُٔ ٍِ أَُ ٌَأْمو ىَحْ ٌ أَخٍٔ (اى‬ ْ ُ )ٌِ‫ِ ْ ْ ُ َ َ ِ ْ ِ َغي‬ Dari Qois berkata : „Amru bin Al-„Ash t melewati bangkai seekor begol (hasil persilangan kuda dan keledai). pasti kalian membencinya. Bahkan walaupun mereka telah tahu bahwasanya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah.. Memakan bangkai hewan yang sudah busuk saja menjijikkan. sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih. minum khomer. maka beliau berkata :”Demi Allah. Ghibah Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan perintah Allah U dengan baik. bagaimana pula jika (yang engkau makan adalah) saudara engkau seagama ?. Dan bagaimanakah lagi jika dalam keadaan bangkai? karena . salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”. berkata dusta. Allah benar-benar telah mencela penyakit ghibah ini dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik.

“Perutnya besar”. “Kaki meja (jika kakinya tidak berbulu)”. dan hartanya. “Dia sumbing”. Dan demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan sebagaimana si goib juga tidak mengetahui gibah yang telah dilakukan oleh orang yang mengghibahinya ” Adapun menyebutkan kekurangannya yang ada pada badannya. Hal ini juga telah dijelaskan oleh Ibnu Mas‟ud t: َ َ ِْ ُ ْ َ َ ِْ ْ ِ َ ُ ْ ْ َ َ َِْ َ ْ ْ ِْْ ُ ‫ٌَقُْ٘ ه : اىغٍجَخُ أَُ رَزمش ٍِ أَخٍل ٍب رَعيٌَ فٍِٔ. “Dia kurus”. kehormatannya. misalnya engkau berkata pada saudaramu itu : “Dia buta”. Berkata Syaikh Salim Al-Hilali :”Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) dan dia dalam keadaan goib (tidak hadir dihadapan engkau). tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”.فَقَبه اىَّْج‬ َ َ ِْ َ ْ ِ َ ََ ُّ . karena si goib tidak mampu untuk membela dirinya. Nabi r ditanya : Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya ? Nabi r menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya. “Dia pendek” dan lain sebagainya. akan menjadi menjijikan jika telah menjadi bangkai…” ُُٔ‫قَبه : موُّ اىَغيٌِ عيَى اىَغيٌِ حشاً، دٍُٔ ٗعشْ ظُٔ ٍٗبى‬r ِ‫أَُ سعُْ٘ ه هللا‬t َ‫7. عَِ أَثًِ حزٌفَخَ عَِ عَبئِشخَ. عَِ أَثًِ ُٕشٌشح‬ َ ِ ْ ُْ ُ َ َ َ ِ ْ ُْ َ َ َّ َ َْ ْ ْ َ َ ُ ِ َ َُ Dari Abu Huroiroh t bahwasanya Rosulullah r bersabda : Semua muslim terhadap muslim yang lain adalah harom. أَََّّٖب رمشد اٍشأَحً فَقَبىَذ :إََِّّٖب قَصٍشح. “Pantatnya besar”.. “Dia gendut”. ٗ إُِ ىٌَ ٌَنِ فٍِٔ ٍب رَقُْ٘ ه فَقَذ ثََٖز‬ َ ْ َ َ ْ ُٔ ْ ُ ُ َ ِ ِْ ْ ِ ِْ َ ْ ِ ْ Dari Abu Huroiroh t bahwsanya Rosulullah r bersabda : Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.sesungguhnya makanan yang baik dan halal dimakan. oleh karena itu saudaramu) yang goib tersebut disamakan dengan mayat. “Dia juling”. Sama saja apakah yang engkau sebutkan adalah kekurangannya yang ada pada badannya atau nasabnya atau akhlaqnya atau perbuatannya atau pada agamanya atau pada masalah duniawinya. عَِ أَثًِ ُٕشٌشح‬ َ َ ْ َ َ َ َ َ َ َّ َ َْ ْ ْ ُ ْ ُ ْ ْ َ ْ ْ ِ ُ َّ‫أَفَشأٌَْذَ إُِ مبَُ فًِ أَخً ٍب أَقُْ٘ ه ؟ قَبه : إُِ مبَُ فٍِٔ ٍب رَقُْ٘ ه فَقَذ اْغزَجزَُٔ. “Dia tuli”. ْ ْ َ ْ ْ ْ َْ ُ ْ ْ ‫: اِغزَجزٍَِٖب‬r ًِ‫19. Dan engkau menyebutkan aibnya dihadapan manusia dalam keadaan dia goib (tidak hadir). “Dia itu agak miring sedikit”.. “Dia hitam”. Nabi r berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”. yaitu darahnya. Definisi ghibah ِْ َ ْ ِْْ َ : ‫ قَبه : أَرَذسُْٗ َُ ٍب اىغٍجَخُ ؟ قَبىُْ٘ ا : هللاُ ٗ سعُْ٘ ىُٔ ُ أَعيٌَ، قَبه : رمشُكَ أَخَ بكَ ثَِب ٌَنشُٓ، فَقٍِْو‬rِ‫أَُ سعُْ٘ ه هللا‬t َ‫8. ٗإِرا قُ ْيذَ ٍب ىٍَْظ فٍِٔ فَزاك‬t ‫9. عَِ حَبد عَِ إثشإٌٍ قَبه : مبَُ اِثُِْ ٍغعُْ٘ د‬ َ َ ِْ َ ٍ ْ َ َّ َ ْ َ ُُ‫اىجُٖزَب‬ ْ ْ Dari Hammad dari Ibrohim berkata : Ibnu Mas‟ud t berkata :”Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu. (Muslim) Orang yang mengghibah berati dia telah mengganggu kehormatan saudaranya.. karena yang dimaksud dengan kehormatan adalah sesuatu yang ada pada manusia yang bisa dipuji dan dicela. “Dia itu orangnya bodoh”. dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan” Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah adalah :”Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang seandainya dia tahu maka dia akan membencinya”.

Maka Nabi r berkata :”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya” ْ ْ ِ ْ َ ْ ُُٔ‫عَِ جشٌْش ثِ حبصً قَبه : رمش اثُِْ عٍْشٌَِ سجالً فَقَأه : راك اىشجو األَعْ٘دُ. dia berkata : “Aku menemui Muhammad bin Sirin dan aku dalam keadaan sakit. “Dia keturunan maling”. “Jorok”. tidak mengeluarkan zakat”. عَِ عَبئِشخَ قَبىَذ : قُ ْيذ ىِيَّْج‬ َ َ ِْ ْ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ِّ َ َ َ ِ ْ‫ٍضجذ ثَِبء اى‬ َْ َ َ ِ . aku berkata :”Benar”. misalnya engkau berkata :”Dia pencuri”. فَقَبه : ىَقَذ قُ ْيذ ميَِخً ى‬r ًِ‫99. Sebagian rowi berkata :”‟Aisyah mengatakan Sofiyah pendek”. Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits : َ َ ْ َّ َ َ ْ ُ َ َ ْ ُ َ َ َ ْ ‫29. “Dia pendusta”. “Dia pengkhianat”.ُٔ‫ُ ِ َ ْ َ ِ جَحْ ش ىََضجز‬ Dari „Aisyah beliau berkata : Aku berkata kepada Nabi r: “Cukup bagimu dari Sofiyah ini dan itu”.Dari Abu Hudzaifah dari „Aisyah bahwasanya beliau („Aisyah) menyebutkan seorang wanita lalu beliau („Aisyah) berkata :”Sesungguhnya dia (wanita tersebut) pendek”…. “Dia keturunan pezina”. “Dia tidak berbakti kepada orang tua”. dan lain-lain. Adapun pada agamanya. “Dia itu hatinya lemah”. Kemudian dia berkata : “Aku mohon ampun kepada Allah. ثٌُ قَبه : أَعزَغفِش هللاَ. Maka Nabi r pun berkata :”Saya tidak suka meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang (walaupun) saya mendapatkan sekian-sekian” . “Dia itu tempramental”.maka Nabi r berkata :”Engkau telah mengghibahi wanita tersebut” ْ ََ َ ََ ُ ْ ْ َ َْ٘‫حغجُل ٍِ صفٍَِّخ مزا ٗ مزاص قَبه ثَعْطُ اىشُّ ٗاحُ : رَعًِْ قَصٍشح. (tetapi) kemudian dia berkata :”Pergilah ke fulan (tabib yang lain) karena dia lebih baik dari pada si fulan (tabib yang pertama)”. قَبىَذ : ٗحنٍْذ ىَُٔ إِّغبًّب فَقَبه : ٍب أُحتُّ أًَِّّ حنٍْذ إِّغبًّب ٗ إُِ ىًِ مزا‬ َ ْ ِ َ َ „Aisyah berkata : “Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang seseorang pada Nabi r”. misalnya engkau berkata :”Dia akhlaqnya jelek…orang yang pelit”. Termasuk ghibah yaitu seseorang meniru-niru orang lain. “Dia penakut”. misalnya engkau berkata : “Tukang makan”. Adapun pada perbuatannya yang menyangkut keduniaan. misalnya berjalan dengan pura-pura pincang atau pura-pura bungkuk atau berbicara dengan pura-pura sumbing. “Dia peminum khomer”. Kemudian dia berkata :”Aku mohon ampunan dari Allah”. “Dia itu orangnya lemah”. Maka dia (Ibnu Sirin) berkata :”Aku melihat engkau sedang sakit”. “Tidak memperhatikan orang lain”. mitalah resep kepadanya”. Adapun pada akhlaknya. Maka dia berkata :”Pergilah ke tabib fulan. “Tidak ihtirom kepada manusia”. menurutku aku telah mengghibahi dia (tabib yang pertama)”. إًِِّّ أَساًِّ قَذ اغزَجز‬ ُ ْ ْ ُ ُ َّ َ َ َ ُ َ ِْ ِ َ َّ َ َ َ َ َ ٍِ َ ِ ْ ِ ِ َ ْ Dari Jarir bin Hazim berkata : Ibnu Sirin menyebutkan seorang laki-laki kemudian dia berkata :”Dia lelaki yang hitam”. sesungguhnya aku melihat bahwa diriku telah mengghibahi laki-laki itu” Adapun pada nasab misalnya engkau berkata :”Dia dari keturunan orang rendahan”. “Dia itu orang yang dzolim. “Bapaknya orang fasik”. “Dia tidak membaguskan sujud dan ruku‟ kalau sholat”. dan lain-lain. atau yang selainnya dengan maksud meniru-niru keadaan seseorang. “Tukang tidur”. yang hal ini berarti merendahkan dia. “Dia sombong. “Tidak punya adab”. Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Hammad bin Zaid berkata :Telah menyampaikan kepada kami Touf bin Wahbin. “Si fulan lebih baik dari pada dia” dan lain-lain. tukang cari muka (cari perhatian)”.

atau untuk menjelaskan lemahnya ilmu orang tersebut agar orang-orang tidak tertipu dengannya dan menerima pendapatnya (karena orang-orang menyangka bahwa dia adalah orang yang ‘alim –pent). apakah tetap termasuk ghibah? Berkata As-Shon‟ani : “ Dan pada perkataan Rosulullah r (dengan apa yang dia banci). Yang disebut ghibah jika kita menyebutkan orang tertentu atau kaum tertentu atau jama‟ah tertentu. maka hal ini bukanlah ghibah. maka ini bukanlah ghibah”. Bahkan lebih parah lagi. dan seluruh pemeluk agama-agama (yang lain). atau “Semoga Allah U melindungi kita dari memakan harta manusia dengan kebatilan”. menunjukan bahwa jika dia (saudara kita yang kita ghibahi tersebut) tidak membencinya aib yang ditujukan kepadanya. Jika si penulis menghendaki untuk menjelaskan kesalahan orang tersebut agar tidak diikuti. nasrani. sebab ghibah adalah engkau menyebut saudaramu . atau yang lainnya. maka tidak ada (tidak mengapa) ghibah terhadapnya”. Ghibah itu bisa dengan perkataan yang jelas atau dengan yang lainnya seperti isyarat dengan perkataan atau isyarat dengan mata atau bibir dan lainnya. Sebab engkau telah menunjukan kepada manusia bahwa engkau tidak melakukan sifat jelek orang yang disebutkan namanya tadi. dan (juga) orang yang kebid‟ahannya telah mengeluarkannya dari Islam. seperti orang-orang yang mengumbar nafsunya dan orang gila. Diantaranya yaitu jika seseorang namanya disebutkan di sisi engkau lantas engkau berkata: “Segala puji bagi Allah U yang telah menjaga kita dari sifat pelit”.demikian-demikian…. yang penting bisa dipahami bahwasanya hal itu adalah merendahkan saudaranya yang lain. Demikian pula jika seorang penulis berkata atau yang lainnya berkata : “Telah berkata suatu kaum -atau suatu jama‟ah. maka hal ini bukanlah ghibah.Termasuk ghibah yaitu seorang penulis menyebutkan seseorang tertentu dalam kitabnya seraya berkata :”Si fulan telah berkata demikian-demikian”. Berkata Syaikh Salim Al-Hilal :”Jika kita telah mengetahui hal itu (yaitu orang yang dipanggil dengan julukan-julukan yang jelek namun dia tidak membenci julukan-julukan jelek tersebut – pent) bukanlah suatu ghibah yang harom. dengan tujuan untuk merendahkan dan mencelanya. Bagaimana jika yang dighibahi adalah orang kafir ? Berkata As-Shon‟ani : “Dan perkataan Rosulullah r (dalam hadits Abu Huroiroh di atas) (saudaramu) yaitu saudara seagama merupakan dalil bahwasanya selain mukmin boleh mengghibahinya”. sebab orang yang mendengar perkataan engkau itu faham bahwasanya berarti orang yang namanya disebutkan memiliki sifat-sifat yang jelek. dan pendapat ini merupakan kesalahan atau kekeliruan atau kebodohan atau keteledoran dan semisalnya”. Maka hal ini adalah harom. namun saudara kita tersebut tidak membenci laqob itu. perkataan engkau tidak hanya menunjukkan kepada ghibah. Berkata Ibnul Mundzir :”Dalam hadits ini ada dalil bahwasanya barang siapa yang bukan saudara (se-Islam) seperti yahudi. bahkan merupakan nasihat yang wajib yang mendatangkan pahala jika dia berniat demikian. tetapi lebih dari itu dapat menjatuhkan engkau ke dalam riya‟. Bagaimana jika kita memberi laqob (julukan) yang jelek kepada saudara kita.

عَِ أََّظ ثِ ٍبىِل‬ ُ َ َ َ ْ َ ِ ُ ٍ َ ِ ْ ِ ِْ ِْ ْ َ ْ ِْ ْ َ ِ ِْ ِ ٌٖ‫ججْشٌوُْ ٍِ َٕؤَُء؟ قَبه : اىَّزٌَِ ٌَغزَبثُْ٘ َُ اىَّْبط. Dan hadits-hadits yang memperingatkan ghibah sangat banyak sekali yang menunjukan akan kerasnya pengharaman ghibah. lalu aku berkata :”Siapakah mereka ya Jibril?”. mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. apakah ghibah termasuk dosa besar atau termasuk dosa kecil?. ٍشسْ د ثِقَْ٘ ً ىٌَُٖ أَظفَبس ٍِ ُّحبط ٌَخَشْ٘ َُ ٗجُْ٘ ٌَُٕٖ ٗ صذْٗ سٌُٕ فَق ُ ْيذ : ٍِ َٕؤَُء ٌَب ججْشٌوُْ؟‬r ‫19. dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia”. padahal Allah menempatkan ghibah sebagaimana memakan bangkai daging manusia. aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga. ٌَٗقَعُْ٘ َُ فًِ أَعشاظ‬ ِْ ِ َ ْ ْ َ ِ َ َ Dari Anas bin Malik t berkata : Rosulullah r bersabda :”Pada malam isro‟ aku melewati sebuah kaum yang mereka melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka”. قَبه سعُْ٘ ه هللا‬ ُ َ َ ُ ِ ِْ ِ ْ َ ُُ َ ْ َّ ُ ِْ ٌٖ‫قَبه : َٕؤَُء اىَّزٌَِ ٌَأْميُْ٘ َُ ىُحُْ٘ ً اىَّْبط ٌَٗقَعُْ٘ َُ فًِ أَعشاظ‬ ِْ ِ َ ْ ْ َ َ َ َ Rosulullah r bersabda : Ketika aku dinaikkan ke langit. Imam Al-Qurthubi menukilkan ijma‟ bahwasanya ghibah termsuk dosa besar.dengan apa yang dia benci. Namun terjadi khilaf diantara para ulama. Beliau berkata :”Yaitu orang-orang yang mengghibahi manusia. Az-Zarkasyi berkata : “Dan sungguh aneh orang yang menganggap bahwasanya memakan bangkai daging (manusia) sebagai dosa besar (tetapi) tidak menganggap bahwasanya ghibah juga adalah dosa besar. Hukum ghibah ُ ِ ْ ٍ ُ ْ ْ ُ َ َ ‫: ٍشسْ د ىٍَيَخَ أُعْشي ثًِ عيَى قَْ٘ ً ٌَخَشْ٘ َُ ٗجُْ٘ ٌُٕٖ ثِأَظَبفِشٌٌٖ. . beliau berkata :”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela kehormatankehormatan manusia”. Maka aku bertanya :”Siapakah mereka ya Jibril?”. (AlHujurot: 11)-pent) yang jelas melarang saling panggil-memanggil dengan julukan (yang jelek) sebagaimana tidak samar lagi (larangan itu)”. Sedangkan Al-Gozhali dan penulis Al-„Umdah dari Syafi‟iyah berpendapat bahwasanya ghibah termasuk dosa kecil. tetapi orang yang memanggil saudaranya dengan laqob (yang jelek) telah jatuh di dalam larangan Al-Qur‟an (yaitu firman Allah: Dan janganlah kalian saling. Berkata Al-Auza‟i : “Aku tidak mengetahui ada orang yang jelas menyatakan bahwa ghibah termasuk dosa kecil selain mereka berdua”. Hukum ghibah adalah harom berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan ijma‟ kaum muslimin.panggil-memanggil dengan julukan-julukan yang buruk. فَقُ ْيذ : ٌَب‬r ‫ قَبه : قَبه سعُْ٘ ه هللا‬t ‫19. Dalam riwayat yang lain : ْ ْ ٍ ُ ِ ْ ٍ َ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ِ ْ َ ُ ‫: ىََب عُشج ثًِ.

Jika dia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau dengan memotong pembicaraan ghibah tadi dengan pembicaraan yang lain. namun hatinya ingin pembicaraan gibah tersebut dilanjutkan. Dan alasan ini juga tertolak sebab tersebarnya kemaksiatan ini hanya kalau ditinjau pada zaman sekarang. atau dia telah mengingkari namun tidak diterima. Yang dia lakukan adalah hendaklah dia berdzikir kepada Allah U dengan lisannya dan hatinya. maka hal itu adalah kemunafikan yang tidak bisa membebaskan dia dari dosa. tanpa mendengarkan dengan baik ghibah itu jika memang keadaannya seperti ini (karena terpaksa tidak bisa meninggalkan majelis gibah itu –pent). maka wajib baginya untuk meninggalkan majelis” Allah U berfirman : ُ ْ ِ َْ ُْْ ْ َّ ُ ُ ِ ْ َّ َ ِ ِ َ ٍ ْ ِ َ ْ ‫59.Berkata Syaikh Nasir As-Sa‟di :”Dalam ayat ini (Al-Hujurot :12) ada peringatan keras terhadap gibah dan bahwasanya gibah termasuk dosa-dosa besar karena diserupakan dengan memakan daging bangkai (manusia) dan hal itu (memakan daging bangkai) termasuk dosa besar”. Dia harus membenci gibah tersebut dengan hatinya (agar bisa bebas dari dosa-pent). atau dengan hatinya. Jika dia tidak melakukannya berarti dia telah bermaksiat. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. agar dia bisa melepaskan diri dari mendengarkan gibah itu. diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. ٗ إًِ ٌُْغٍََّْنٌ اىشٍطَبُُ فَالَ رَقعذ ثَعذ اىزك‬ ُ ُ ِْ َ ْ َْ ْ َ َ َ ِ ْ . atau seluruh manusia menjadi fasik. serta dia tidak memungkinkan baginya untuk meninggalkan majelis tersebut. ٗإرا سأٌَْذَ اىَّزٌَِ ٌَخْ٘ ظْ٘ َُ فًِ آٌَبرَِْب فَأَعشضْ عٌُْٖ حزَّى ٌَخْ٘ ظُْ٘ ا فًِ حذٌث غٍْشٓ. Adapun pada zaman dahulu (zaman para salaf) kemaksiatan-kemaksiatan (termasuk ghibah) tidak tersebar sebagaimana sekarang. Jika dia terpaksa di majelis yang ada ghibahnya dan dia tidak mampu untuk mengingkari ghibah itu. kecuali hanya sedikit sekali yang bisa lolos dari penyakit ini. maka wajib bagi dia untuk melakukannya. karena bahwasanya tersebarnya suatu kemaksiatan dan banyak manusia yang melakukannya tidaklah menunjukan bahwa kemaksiatan tersebut adalah dosa kecil. Alasan mereka yang menyatakan bahwa ghibah adalah dosa kecil diantaranya perkataan mereka :”Kalau seandainya ghibah itu bukan dosa kecil maka sebagian besar manusia tentu menjadi fasik. maka harom baginya untuk istima‟(mendengarkan) dan isgo‟ (mendengarkan dengan saksama) pembicaraan ghibah itu. Dan jika dia takut kepada orang itu. Jika dia berkata dengan lisannya :”Diamlah”. Namun alasan ini terbantahkan. Hukum mendengarkan ghibah Berkata Imam Nawawi dalam Al-Adzkar :”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi. Justru yang tersebar adalah kebaikan. maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika memungkinkan hal itu. atau dia memikirkan perkara yang lain. Namun jika (beberapa waktu) kemudian memungkinkan dia untuk meninggalkan majelis dan mereka masih terus melanjutkan ghibah. Setelah itu maka tidak mengapa baginya untuk mendengar ghibah (yaitu sekedar mendengar namun tidak memperhatikan dan tidak faham dengan apa yang didengar –pent). Dan hal ini adalah kesulitan yang sangat besar”.

Baik yang disebarkan itu berupa perkataan maupun perbuatan. “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela. Bahkan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam memberi jaminan surga pada seorang muslim yang dapat menjamin lisannya. Dari Sahal bin Sa‟ad radhiyallahu „anhu. “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba).” (QS. sedangkan pepatah jawa mengatakan ajining diri ono ing lati. Sebagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah mungkin akan mengatakan. Oleh karena itu kita benarbenar harus mengenal apakah itu namimah. Atau meski bisa menjaga lisan dari namimah. Baik berupa aib ataupun bukan. Kata adu domba identik dengan kebencian dan permusuhan. Al Bukhari) Ibnu Katsir menjelaskan. hanya ada satu di tubuh. ini menunjukkan betapa bahayanya lisan ketika kita tidak menjaganya. yang kian kemari menghambur fitnah.4. Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaani rahimahullah mengatakan bahwa namimah tidak khusus itu saja. “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji). maka aku akan menjamin untuknya surga.” . Sebagaimana firman Allah Ta‟ala. Al-Bukhari) Salah satu bentuk kejahatan lisan adalah namimah (adu domba). yang maknanya bahwa nilai seseorang ada pada lisannya. lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba. yang artinya. maupun pihak lainnya. “Ah. Al Qalam: 10-11) Dalam sebuah hadits marfu‟ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu „anhu disebutkan. Namun intinya adalah membeberkan sesuatu yang tidak suka untuk dibeberkan. “Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka. akan tetapi tidak kita sadari bahwa terkadang kita terpengaruh oleh namimah yang dilakukan seseorang. Lisan. Namimah (Adu Domba) Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya.” (HR. As Sunnah dan Ijma‟. atau sebaliknya.” (HR. saya tidak mungkin berbuat demikian…” Tapi jika kita tak benar-benar menjaganya ia bisa mudah tergelincir. tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak bisa menjaganya dengan baik. Banyak sekali dalil-dalil yang menerangkan haramnya namimah dari Al Qur‟an. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Hukum dan Ancaman Syariat Terhadap Pelaku Namimah Namimah hukumnya haram berdasarkan ijma‟ (kesepakatan) kaum muslimin. nilainya akan baik jika lisannya baik. Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”. Definisi Namimah Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan untuk mengadu domba antara seseorang dengan si pembicara. Apalagi ketika rasa benci dan hasad (dengki) telah memenuhi hati. Baik yang tidak suka adalah pihak yang dibicarakan atau pihak yang menerima berita.

“Jika ada kepentingan menyampaikan namimah.” maka hendaklah ia melakukan enam perkara berikut: 1.Perkataan “Tidak akan masuk surga…” sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas bukan berarti bahwa pelaku namimah itu kekal di neraka.” . “Fulan telah menyampaikan padaku begini dan begini. atau keluarga atau hartanya. Yang pertama.” Dengan begitu ia telah menjadi tukang namimah karena ia telah melakukan perkara yang dilarang tersebut. Maksudnya adalah ia tidak bisa langsung masuk surga. “Dan setiap orang yang disampaikan kepadanya perkataan namimah. “(suatu hari) Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu berkata. Bukan Termasuk Namimah Apakah semua bentuk berita tentang perkataan/perbuatan orang dikatakan namimah? Jawabannya. Bukan termasuk namimah seseorang yang mengabari orang lain tentang apa yang dikatakan tentang dirinya apabila ada unsur maslahat di dalamnya. Maka wajib membenci orang yang dibenci oleh Allah. orang yang mau berbuat aniaya terhadap orang lain. Janganlah ia menyebarkan perkataan namimah itu dengan mengatakan. Sedang yang kedua. An-Nawawi rahimahullah berkata. “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab. berjalan kesana kemari menyebarkan namimah. Misalnya. Karena tukang namimah adalah orang fasik. Mencegahnya dari perbuatan tersebut. sedangkan dirinya sendiri melarangnya. Inilah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama‟ah untuk tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukannya selama ia tidak menghalalkannya (kecuali jika dosa tersebut berstatus kufur akbar semisal mempraktekkan sihir -ed). Tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah. Pelaku namimah juga diancam dengan adzab di alam kubur. lalu bersabda. maka tidak ada halangan menyampaikannya. Dan keduanya bukanlah diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. 2. Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudaranya dikarenakan namimah yang didengarnya. 3. Atau melakukan ini dan ini terhadapmu. 6. dan lain-lain. dikatakan kepadanya: “Fulan telah berkata tentangmu begini begini. 5. Ibnu Abbas meriwayatkan. tidak membersihkan diri dari air kencingnya.” (HR. tidak. Tidak membenarkan perkataannya. Tidak membiarkan dirinya ikut melakukan namimah tersebut. Membencinya karena Allah.”. menasehatinya dan mencela perbuatannya. Misalnya jika ia menyampaikan kepada seseorang bahwa ada orang yang ingin mencelakakannya. AlBukhari) Sikap Terhadap Pelaku Namimah Imam An-Nawawi berkata. melaporkan pada pemerintah tentang orang yang mau berbuat kerusakan. Hukumnya bisa sunnat atau bahkan wajib bergantung pada situasi dan kondisi. 4. karena ia adalah orang yang dibenci di sisi Allah.

maka lebih baik dia diam. Karena betapa banyak perbuatan namimah yang terjadi karena timbulnya hasad di hati. dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. hendaknya kita tidak memendam hasad (kedengkian) kepada saudara kita sesama muslim.) .” (Ya Allah. Imam Asy-Syafi‟i rahimahullah berkata.” (HR. Bahkan. lisanku. Adapun bila tujuannya adalah untuk memberi nasehat. Akan tetapi terkadang sangat sulit untuk membedakan keduanya. Bukankah mulut seorang mukmin tidak akan berkata kecuali yang baik. Muslim) Berusaha dan bersungguh-sungguhlah untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tidak berguna. hatiku dan kejahatan maniku. “Seseorang selayaknya memikirkan apa yang hendak diucapkannya. dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain. “Janganlah kalian saling mendengki. Lebih dari itu.Pada kondisi seperti apa menyebarkan berita menjadi tercela? Yaitu ketika ia bertujuan untuk merusak. bagi yang khawatir adalah lebih baik untuk menahan diri dari menyebarkan berita. ada kala niat dalam hati berubah ketika kita melakukannya. apalagi dari perkataan yang karenanya saudara kita tersakiti dan terdzalimi. saling bermusuhan. maka dia boleh mengucapkannya. penglihatanku. saling membenci. Jika tampak baginya bahwa ucapannya akan benar-benar mendatangkan kebaikan tanpa menimbulkan unsur kerusakan serta tidak menjerumuskan ke dalam larangan. Hasad serta namimah adalah akhlaq tercela yang dibenci Allah karena dapat menimbulkan permusuhan. termasuk dalam hal ini adalah namimah.” Bagaimana Melepaskan Diri dari Perbuatan Namimah Ya ukhty. janganlah rasa tidak suka atau hasad kita pada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya. “Allahumma inni a‟uudzubika min syarri sam‟ii wa min syarri bashori wa min syarri lisaanii wa min syarri maniyyii. Jika sebaliknya. sedangkan Islam memerintahkan agar kaum muslimin bersaudara dan bersatu bagaikan bangunan yang kokoh. Semoga Allah Ta‟ala selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi di akhirat dikarenakan lisan yang tidak terjaga. mencari kebenaran dan menjauhi/mencegah gangguan maka tidak mengapa. Dan hendaklah dia membayangkan akibatnya. sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kejahatan pendengaranku. Sehingga. meskipun sudah berhati-hati. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda.

Indonesia. maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat. kafir kepada Allah. menunjukkan bahwa ada kesalahpahaman besar seputar pemaknaan kata tersebut. (QS Al-Baqarah 217) َ ُِْْ َ َ ‫إُِ اىَّزٌَِ جبءٗا ثِبْلفل عُصْ جَخ ٍْنٌ ال رَحْ غجُُ٘ٓ ششا ىَنٌ ثَوْ ُٕ٘ خٍْش ىَنٌ ىِنو اٍشا‬ ُ َ ْ ُ ًّ َ َ ِ ْ ِْ ِ َّ ٍ ِ ْ ِّ ُ ْ ُ ََ ٌٍ‫ٌٍُْٖ ٍب امزَغت ٍَِ اْلثٌ ٗاىَّزي رَ٘ىَّى مجشُٓ ٌٍُْٖ ىَُٔ عزاة عَظ‬ ْ ِْ َ ِْ ِ ِ َ ِْ ِْ ِ َ َ ْ َ ْ ِْ َ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Seringkali pula mereka beranggapan bahwa masyarakat Indonesia sudah begitu akrab dengan kata tersebut. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Pasalnya. dan mereka itulah penghuni neraka. lebih besar (dosanya) di sisi Allah. kata tersebut berbeda makna dalam bahasa kita.S. seandainya mereka sanggup. An-Nur 24:11) Pendapat Para Ulama tentang Fitnah Makna satu kata. tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. dibandingkan . saat kata itu disebutkan oleh seorang juru dakwah. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. dalam berbagai bahasan. di tengah masyarakat kita. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran). (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. mereka kekal di dalamnya.5. lalu dia mati dalam kekafiran. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. sehingga mereka pasti paham. Berbagai realitas -termasuk yang saya dengar-. FITNAH Dalil Tentang Fitnah َ ِ ‫ٌَغْأَىَُّ٘ل عَِ اىشْٖش اىحشاً قِزَبه فٍِٔ قُوْ قِزَبه فٍِٔ مجٍِش ٗصذ عَِ عجٍِو هللاِ ٗمفش ثِٔ ٗاىَغجذ‬ ِ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ ُ َ َّ ِ َ ْ ٌّ َ َ ِ ٍ ِ َ َ ْ ِ َّ ِ َ َ َ َ ِ ْ ْ ِ ُ ْ ْ ْ َ َّ َ ْ ِ ُ ْ ْ ِ ِ ْ ُ َ ْ َ ِ َ َ ْ ْ ُ ُّ ُ َُُ٘‫ٌُقَبرِيَُّ٘نٌ حزَّى ٌَشدٗمٌ اىحشاً ٗإِخشاج إَٔئِ ٍُْٔ أَمجَش عْذ هللاِ ٗاىفِزَْخُ أَمجَش ٍَِ اىقَزو ٗال ٌَضاى‬ َ ُْ ْ َ َ ُ َ َ َ ْ ُ ِ ِ ْ ُْ ِْ ِْ ْ ِ ُْ ِ ْ ًِ‫عَِ دٌِْنٌ إُِ اعزَطَبع٘ا ٍِٗ ٌَشْ رَذد ٍْنٌ عَِ دٌِْٔ فٍَََذ ُٕٗ٘ مبفِش فَأُٗىَئِل حجطَذ أَعَبىٌُُٖ ف‬ ْ َ ْ ْ َِ َ ُ َ َُٗ‫اىذٍَّب ٗاَخشح ٗأُٗىَئِل أَصْ حبةُ اىَّْبس ٌُٕ فٍَِٖب خبىِذ‬ َ ْ ِ َ َ ِ َ ِ ْ َ ْ ُّ Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Fitnah Seringkali para juru dakwah menyebut-nyebut kata fitnah. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya. ” (Q.

seperti disebutkan dalam banyak kamus bahasa Indonesia adalah: menuduh tanpa bukti.ال ف ت نة‬Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia. (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh…” (Al Baqarah: 217) Firman-Nya lagi yang bermaksud: “Dan perangilah mereka itu. A.‟…. Pengertian Fitnah dalam bahasa Arab disebut ‫ . Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. kecuali terhadap orang-orang yang zalim” (Al Baqarah: 193) Kata fitnah dalam ayat ini menurut para ulama tafsir adalah bermaksud „kekafiran‟ atau „kemusyrikan‟. Dalam bahasa Indonesia.makna kata itu di dalam bahasa Arab.khawatir akan terjadi bencana. Maksud Fitnah Kata "fitnah" asalnya diserap daripada bahasa Arab. wibawa atau reputasi. Seperti disebutkan dalam hadits tentnag ghibah. Fitnah yaitu komunikasi dengan satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan berdasarkan fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan. Sehingga. yang kesohor itu. dan Kesesatan seperti yang dijelaskan dalam surat AlMaidah: 41. mulai dari yang paling ringan. dan pengertian asalnya adalah "cobaan" atau "ujian". kata itu berarti buhtaan. ketika seorang juru dakwah mengatakan. dituduh berbuat mesum dan sejenisnya. Yakni.‟ 1. Sementara kerap disampaikan para juru dakwah adalah makna kata itu dalam bahasa Arab. kata fitnah. Bencana Sabda nabi Sallallhu alaihi Wasallam yang bermaksud: . Kufur/Kafir Friman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermkasud: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Iaitu bahawa mereka itu menyebarkan kekafiran. sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. B. Dalam bahasa Arab. tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah.khawatir mereka berdua akan difitnah. karena dikhawatirkan terjadi fitnah….‟ Padahal yang dimaksud juru dakwah tersebut. “seorang pria muslim tidak boleh berduaan dengan seorang wanita muslimah yang bukan muhrimnya. lebih besar (dosanya) di sisi Allah .. Fitnah juga diartikan sebagai Kekufuran seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqoroh:217. Maksud dan pengertian fitnah jika diselak lebar al-Quran dan hadis adalah sebagaimana berikut.‟…. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu).” kebanyakan masyarakat Indonesia akan memahaminya. kafir kepada Allah. kata Fitnah diartikan sebagai perkataan yang bermaksud menjelekkan orang. hingga perzinaan. Yakni bencana maksiat. maka tidak ada permusuhan (lagi).

D. sehingga melencong dari tafsiran yang tepat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir” (At Taubah: 49) Dalam ayat ini kaum munafik di masa Nabi sallallahu „alaihi wasallam enggan menyertai peperangangan kerana menganggap itu adalah suatu kebinasaan (fitnah). kecuali mengatakan: “Demi Allah.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah . Tipu Firman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermaksud : “Kemudian tiadalah fitnah mereka. . Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan. Tujuan mereka semata-mata menyebar fitnah. Padahal Allah mengetahui hakikat mereka. padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya melainkan Allah…” (Ali Imran: 7) Terdapat sebagian orang Islam yang hanya menggunakan semata-mata penilaian mengikut aspek rasional. Binasa Firman Allah Subhanahu Wata‟ala: yang bermaksud: “Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah. tiadalah kami mempersekutukan Allah” (Al An‟am: 23) Fitnah yang dimaksud dalam ayat ini adalah ucapan tipu dan dusta.“Apabila datang (meminang) kepada kamu seorang pemuda yang kamu sukai agama dan akhlaknya. Konflik Firman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermaksud: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur‟an) kepada kamu. Ia bermaksud menimbulkan konflik dan kekeliruan dalam masyarakat. Padahal sesungguhnya mereka telah berada dalam kebinasaan dengan sifat munafik. Iaitu kebinasaan diri mereka di akhirat kelak dengan balasan neraka yang paling bawah. maka kahwinkanlah dia dengan anak perempuan mu. Di antara (isi) nya ada ayatayat yang muhkamaat. Ini kerana syarat pemuda soleh itu adalah sebaik-baik pilihan untuk dijadikan suami kepada anak-anak perempuan. maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta‟wilnya. Sengaja mencari penafsiran ayat melalui pendekatan logika akal manusia yang terbatas semata-mata. iaitu mencari konflik dan perselisihan dengan sesama muslim. itulah pokok-pokok isi Al qur‟an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. untuk membela diri mereka di hadapan Allah. Tuhan kami. Dikhuatiri akan terjadi fitnah (bencana) dan kerosakan yang besar di muka bumi. C. dan apa yang tersembunyi dalam hati mereka.” Perkataan fitnah dalah hadis ini memberikan maksud bencana atau musibah yang akan berlaku sekiranya perkahwinan ditangguhkan. Ia juga disebut sebagai propaganda. Inilah penjelasan kepada ayat ini yang dengan jelas menyebut perkatan fitnah. E.

3. Reaktif tidak diperlukan dan tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan tega mengorbankan sahabat dan kelompok seperjuangan. karena lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah. Menghindari Akhlak Tercela (Fitnah) Untuk menghindari fitnah ada beberapa tips yang perlu diperhatikan.F. Dan ketika orang itu datang. maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah. Ketika dia merasa gagal. maka pembicaraan pun berhenti dengan sendirinya. Hidup dan kehidupannya dihantui oleh prasangka buruk. Namun. orang yang suka mengadu domba adalah penjilat bermuka dua. 2. Orang yang suka memfitnah dan mengadu domba berpotensi menjadi pengkhianat. Karena sikap reaktif cenderung lebih tergesa-gesa. iri dan dengki yang muncul. bahkan menjadi darah daging. Sifat dan Karakteristik Inilah gambaran orang yang suka memfitnah (mengadu domba) :Pengecut dan curang.. ketika memperoleh kesuksesan. Orang yang suka memfitnah adalah orang yang tidak bersyukur atas ni'mat Allah. dengki dan sombong selalu menempel di hatinya.  Kufur ni'mat.Iri. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu.. Dia rela memfitnah dan mengadu domba orang lain agar posisi dan jabatannya aman. Karena akal. dia sombong dan hidup melampaui batas. kata fitnah membawa maksud ganguan. Orang yang suka memfitnah tidak mampu bersaing secara sehat. jangan merespon dengan cepat berita-berita yang masih berkategori “katanya. Gangguan Firman Allah Subhanahu Wata‟ala: yang bermaksud: “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”. Hatinya terdorong untuk mengeruk keuntungan dengan jalan pintas. ketika orang itu tidak ada. Dusta/bohong menjadi menu utama dalam aksinya untuk memfitnah dan mengadu domba orang lain. Dengan kata lain. kemudian berganti dengan memuji dan menyanjung.”. Hubbuddunya (lebih cinta kepada gemerlap duniawi daripada cinta kepada Allah)  Aqidahnya telah rusak. Menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadi. ia menganggap fitnah (gangguan) manusia itu sebagai azab Allah . hati dan raganya digunakan untuk merugikan orang lain. mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah bersamamu”.  Suka memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang lain. 1) Jangan reaktif. Inilah sifat biasa manusia yang menganggap ujian Allah dalam bentuk gangguan manusia sebagai azab. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?” (Al Ankabut: 10) Dalam ayat ini. keburukan dan kebusukan seseorang. Ini adalah perbuatan hina dan jijik.  Pendusta. . Dia asyik sekali membongkar rahasia. Yang terpenting baginya adalah uang dan jabatan. Ada ungkapan al khabar kal ghabar (berita itu seperti debu) melayang ke mana-mana dan tidak bertuan.

sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada Allah. 2) Mintalah ridho dan restu orangtua. Jangan memandang / menilai seseorang dari sisi negatifnya." 4) Jika memang apa yang diberitakan itu benar terjadi tetapi tidak kita inginkan selesaikan dengan cara dewasa dan penuh kesadaran serta kasih sayang antar sesama. 5) Hati-hati dalam berbicara. Laksanakan amanah dengan mengedepankan kejujuran dan penuh tanggungjawab. "Hai orang-orang yang beriman. bertindak dan dalam menerima informasi/berita. jabatan dan kedudukan. saja.2) Pastikan bahwa berita itu ada pembawanya. 9) Amar Ma'ruf Nahi Mungkar. Gunakan akal sehat dan hati yang sholeh untuk menganalisa dan menemukan kebenaran dari setiap informasi/berita. Perdalamlah ilmu agama dengan rajin mengikuti majelis ilmu atau pengajian dan mengamalkan ajaran Islam dalam hidup dan kehidupan seharihari. maka ikuti aturan Islam. yang baik dan tulus hanya untuk mendapatkan ridho Allah. Inilah yang di ingatkan oleh QS: al Hujurat:6 . mintalah kepada orangtua untuk mendoakan agar kita selamat. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. Sumber berita adalah penentu kebenaran berita itu sendiri. 10) Senantiasa bersyukur kepada Allah. 3) Berpikir positif (husnuzhon). 7) Hati-hati dalam mengemban amanah. karena zikir kepada Allah dapat melembutkan hati dan menyehatkan akal. Apa yang dapat kita lakukan sebagai upaya membentengi hati dari fitnah (adu domba) dan memeranginya : 1) Mulailah segala aktivitas dengan niat yang benar. Selalu mengajak sahabat-sahabat kita untuk berbuat baik dan mengingatkannya jika berbuat kemunkaran dan maksiat. Rajinlah bershodaqoh kepada fakir miskin dan anak yatim. agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Jangan lupa untuk memohon petunjuk dari Allah dengan sholat istikhoroh. Bencilah kepada perilakunya yang negatif. 8) Jika cinta Islam. terkadang berita dari satu tempat ke tempat lain sudah tidak akurat dan banyak dibumbuhi atau di sisipi berita lain. 6) Hati-hati terhadap kesenangan dunia. Jangan pernah membenci manusia. karena benci kepada ciptaan Allah berarti benci kepada Allah. . maka periksalah dengan teliti. Perjelas lagi berita itu kepada sumber aslinya. 3) Tabayyun. 4) Perbanyaklah mengingat Allah (zikrullah).

sehingga pada akhirnya meruntuhkan bangunan masyarakat. Nabi isa as. tentu tidak perlu mengada-ada. Orang yang memfitnah dan menggunjing berarti menunjukkan kelemahan dan kemiskinannya sendiri.. tetangga yang lain menuduh yang bukan-bukan. Contohnya ketika salah seorang diantara tetangga ada yang membeli mobil baru.” Mendengar hal itu. Nilai Negatif dari Fitnah Keutuhan masyarakat tercipta apabila anggota-anggotaynya saling mempercayai dan kasihmengasihi. Menggunjing apalagi memfitnah seseorang . . sungguh merugikan. Apabila tidak miskin dalam pengetahuan. “Lihatlah betapa putih giginya. mestinya tidak perlu menjadikan keburukan orang seagai bahan pembicaraan. karena nyatanya dia tak mampu menjadi seperti tetangganya. masih banyak bahan pembicaraan yang lain. Ketika itu benih perpecahan tertanam. Dengan menggunjing. Selain itu.\ Jika di masyarakat umum. Hal seperti ini banyak terjadi dikalangan masyarakat yang rasa kekeluargaannya sudah mulai pudar. Suatu ketika Nabi Isa as. Seandainya kuat dalam argumentasi. Tinjauan Masa Kini terhadap Fitnah Pada zaman sekarang sudah banyak orang yang saling tuduh menuduh dan saling mengadu domba pada setiap masalah yang sedang terjadi. mengarahkan mereka sambil berkata. tuduhan penggelapan uang dan lain-lain. Seperti tuduhan korupsi. apabila yang kita tuduhkan itu salah dan tidak terbukti.” Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang harus melihat isi positif pada suatu yang negatif dan berusaha menemukan kebaikan dalam suatu yang terliht buruk. Sehingga menyebabkan perpecahan terjadi diantara keduanya. maka kita akan menjadi orang yang dibenci masyarakat. bahkan menganggapnya tidak memiliki keburukan. banyak sekali dugaan yang belum tentu benar adanya mengenai masalah amanah dan tugas yang diemban. keburukan orang lain ditonjlkan. rasa percaya dari kasih itu sirna. Ini mengharuskan masing-masing anggota mengenal yang lain sebagai manusia yang baik. Para murid beliau berkata. bersama murid-muridnya menemukan bangkai binatang yang telah membusuk. Naudzubillah. Di kalangan pemerintahan.”Alangkah busuk bau bangkai ini. berarti merusak keutuhan masyarakat satu demi satu. fitnah yang terjadi kebanyakan disebabkan ke-iri hatian seseorang terhadap orang lain..4. selain itu juga banyak terjadi di kalangan pemerintahan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful