P. 1
Akhlak Tercela

Akhlak Tercela

|Views: 38|Likes:
Published by Budi Sumarsono

More info:

Published by: Budi Sumarsono on Oct 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/26/2013

pdf

text

original

Akhlak Tercela

1. DENDAM
1. Pengertian Dendam Dendam dalam bahasa Arab disebut juga dengan Al-Hiqdu ‫ . اىحقذ‬Menurut Al-Gazalidalam bukunya Ihya Ulumud Din jilid III, dijelaskan bahwa Hiqdu atau dendam berawal dari sifat pemarah. Sifat marah (gadab) itu terus dipelihara dan tidak segra diobati dengan memaafkan, maka akan menjadi dendam terhadap orang yang menyakiti kita. Pengertian dendam secara istilah adalah perasaan ingin membalas karena sakit hati yag timbul sebab permusuhan, dan selalu mencari kesempatan untuk melampiaskan sakit hatinya agar lawannya mendapat celaka, barulah ia merasa puas. Nabi muhammad SAW dan para sahabatnya ketika mereka berdakwah di Makkah selalu mendapatkan tekanan dan gangguan yang berat yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy. Gangguan dan tekanan itu berupa siksaan, hinaan bahkan ada anggota keluarganya yang dibunuh, sehingga nabi dan para sdahabatnya hijrah ke Madinah.akan tetapi ketika Fathul Makkah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya tidak membalas perbuatan orang-orang kafir tersebut, meskipun nabi memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kaum kafir Quraisy. Bahkan nabi mengumandangkan perdamaian dan memaafkan kesalahan – kesalahan mereka pada waktu yang lalu. Rasulullah juga memberikan teladan tentang perilaku pemaaf, bukan dendam. Misalnya, perlakuan orang Thaif terhadap rasulullah para sahabatnya yang telah mengusirnya, bahkan melemparinya dengan batu. Ketika malaikat menawari Rasulullah untuk menghancurkan kaum itu Rasulullah justru berdoa : َُ ََْ٘‫اَىَّيٌُٖ إذ قَْ٘ ٍى فَئٌَُِّّٖ الٌََعي‬ ُ ْ ْ ِ ِ ْ َّ Artinya: “Ya Allah, berilah petunujuk atas kaumku karena sesungguhnya mereka itu belum mengetahui.” Kisah diatas memberikan gambaran , bahwa akhlak yang pantas dimilki oleh kaum beriman bukanlah sifat dendam dan sombong, tetapi adalah sifat terpuji diantaranya memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman : ْ ِ َ ْ ِ َ )999 : ‫خز ْاىعف٘ ٗ ْأٍشْ ثِب ْىعُشْ ف ٗأَعشضْ عِ اىجٖيٍَِِ (االعشاف‬ ُ َ ََْ ُِ ِ ْ َ ِ

apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang. Hilangnya ketenangan jiwa.. saling menghormati dengan sesama.Artinya: “jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. jiwanya akan selalu bergemuruh oleh perasaan yang tidak nyaman c. (اىحجشاد‬ َ َ َ َ . ٗ ْاىٍَعفُْ٘ اٗاىٍَصْ فَحُْ٘ ا أَالَرُحجُّْ٘ َُ أَُ ٌُغفِش هللاُ ىَنٌ ٗهللاُ غفُْ٘ سسَّحٌٍْ (اىْ٘س‬ َ ْ ْ ِ ُ َ ِ َ ُْ Artinya: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada .”(Qs. melainkan agar saling kenal-menganal..Muslim) b.”(An-Nuur : 22) 2.Al-A‟raf : 199) Allah berfirman : ْ َ ْ َ )22 :‫. Perbuatan yang dibenci oleh Allah ْ ٌ‫أَثغَطُ اىشجو إِىَى هللاِ أَىَذ اىخصبً (أخشجٔ ٍغي‬ ِ َ ِ ْ ُّ ِ ُ َّ Artinya: “orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam kesumat (bertengkar). Firman Allah: ُ ْ ُ َ َ َ ْ ِ َ َ ْ ِّ ْ ُ ْ َ )91 : ‫ٌَبأٌََُّٖب اىَّْبطُ إَِّّب خيَقَْنٌ ٍِ رمش َّٗأُّثَى ٗجع ْيَْنٌ شعُْ٘ ثًب ٗقَجَبئِو ىِزَعبسفُْ٘ ا.. Ciri-ciri sifat dendam       Tujuan hidupnya membinasakan orang yang menjadi lawannya Perbuatan yang dilakukannya selalu bertujuan mengalahkan lawannya Tidak merasa puas bila lawannya belum mendapatkan kekalahan Hobi menyimpan rasa sakit hati dan berusaha membalas dikemudian hari Tidak mau mamaafkan kesalahan orang lain Selalu menjelek-jelekkan orang lain dan membuka aib orang lain 3. Menghindar bila bertemu dengan orang yang dibenci Padahal Allah menciptakan manusia dimuka bumi bukan untuk bermusuh-musuhan dan saling dendam. Bahaya sifat dendam a..”(HR.

”(al-Hujurat :13) d. bahkan semata-mata merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain itu sudah terhitung hasad baik diiringi harapan agar nikmat tersebut hilang ataupun sekedar merasa tidak suka. Demikianlah hasil pengkajian yang dilakukan oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah. Hasad itu akan melahap kebaikan seseorang sebagaimana api melahap kayu bakar yang kering karena biasanya orang yang hasad itu akan melanggar hak-hak orang yang tidak dia sukai dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya. 2. Ini semua adalah dosa besar yang bisa melahap habis berbagai kebaikan yang ada. Merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain pada hakikatnya adalah tidak suka dengan apa yang telah Allah takdirkan dan menentang takdir Allah. Hasad Bahaya Hasad Hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain. 3. merendahkan martabatnya dll.Artinya: “Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan manjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad. Hasad memiliki banyak bahaya di antaranya: 1. Selalu marah ketika mendengar kebaikan orang yang dibenci e. 4. Cara menghindari sifat dendam 1. Dikucilkan dalam pergaulan 4. Beliau menegaskan bahwa definisi hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. 2. Setiap kali dia saksikan tambahan nikmat yang didapatkan oleh orang lain maka dadanya terasa sesak dan . Mengetahui bahaya dari sifat dendam Senantiasa ingat kepada Allah dalam keadaan apapun Memaafkan kesalahan orang lain Saling menghormati dan menyayangi sesama manusia 2. Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan. berupaya agar orang lain membencinya. Bukanlah definisi yang tepat untuk hasad adalah mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain. 3.

Jika kebaikannya sudah habis maka dosa orang yang di dengki akan dikurangi lalu diberikan kepada orang yang dengki. Orang yang hasad mengawasi nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang di sekelilingnya dan berusaha menjauhkan orang lain dari orang yang tidak sukai tersebut dengan cara merendahkan martabatnya. an Nisa‟: 32) 8. tidak mungkin baginya untuk menghilangkan nikmat yang telah Allah karuniakan. 9. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan. Setelah itu orang yang dengki tersebut akan dicampakkan ke dalam neraka. Ketika hasad timbul umumnya orang yang di dengki itu akan dizalimi sehingga orang yang di dengki itu punya hak di akhirat nanti untuk mengambil kebaikan orang yang dengki kepadanya. Nabi bersabda. Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah. Tuntutan hadits di atas adalah merasa tidak suka dengan hilangnya nikmat Allah yang ada pada saudara sesama muslim. meskipun demikian sangat disayangkan hasad ini banyak ditemukan di antara para ulama dan dai serta di antara para pedagang.” (HR Ahmad dan Abu Daud. dengki adalah akhlak yang tercela. Maksudnya orang yang hasad berpandangan bahwa dirinya tidak diberi nikmat. “Barang siapa menyerupai sekelompok orang maka dia bagian dari mereka. Pada saat demikian orang tersebut akan meremehkan nikmat yang ada pada dirinya sehingga dia tidak mau menyukuri nikmat tersebut. dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan.” (HR Bukhari dan Muslim). Karena siapa saja yang memiliki ciri khas orang kafir maka dia menjadi bagian dari mereka dalam ciri khas tersebut. Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna.” (QS. Orang yang dia dengki-lah yang mendapatkan nikmat yang lebih besar dari pada nikmat yang Allah berikan kepadanya. 10. meremehkan kebaikan yang telah dia lakukan dll. Orang yang . Orang yang hasad selalu memikirkan nikmat yang ada pada orang lain sehingga tidak pernah berdoa meminta karunia Allah padahal Allah ta‟ala berfirman. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. Akan selalu dia awasi orang yang tidak dia sukai dan setiap kali Allah memberi limpahan nikmat kepada orang lain maka dia berduka dan susah hati. Jika engkau tidak merasa susah dengan hilangnya nikmat Allah dari seseorang maka engkau belum menginginkan untuk saudaramu sebagaimana yang kau inginkan untuk dirimu sendiri dan ini bertolak belakang dengan iman yang sempurna. 5. 6. shahih) Seberapa pun besar kadar hasad seseorang. 7. Memiliki sifat hasad adalah menyerupai karakter orang-orang Yahudi. dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. “Kalian tidak akan beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada. Ringkasnya. Hasad adalah akhlak tercela. bersusah hati.4. Jika telah disadari bahwa itu adalah suatu yang mustahil mengapa masih ada hasad di dalam hati. Nabi bersabda.

(Al Hujurat 12) Allah U telah menyamakan mengghibahi saudara kita dengan memakan daging saudara (yang digibahi tadi) yang telah menjadi bangkai yang (hal ini) sangat dibenci oleh jiwa-jiwa manusia sepuncak-puncaknya kebencian. َْ عِ قٍَظ قَبه : ٍش عَشُٗ ثُِْ اىعبص عيَى ثجَغو ٍٍِّذ. maka beliau berkata :”Demi Allah. فَقَبه: ٗهللاِ ألََْ ُ ٌَأْمو أَحذمٌ ٍِ ىَحْ ٌ َٕزا (حزَّى ٌََلََْ ثَطَُْٔ) خَ ٍْش‬ َ ِ َ ٍ َ ٍ ْ َ َ ِ ْ ِ ُْ ُ َ َ ُ ْ ْ َ َّ َ َ ٍ ْ ْ َ ْ‫ىَُٔ ٍِ أَُ ٌَأْمو ىَحْ ٌ أَخٍٔ (اى‬ ْ ُ )ٌِ‫ِ ْ ْ ُ َ َ ِ ْ ِ َغي‬ Dari Qois berkata : „Amru bin Al-„Ash t melewati bangkai seekor begol (hasil persilangan kuda dan keledai). Padahal sepantasnya dan seharusnya mereka adalah orangorang yang sangat menjauhi sifat hasad dan manusia yang paling mendekati kesempurnaan dalam masalah akhlak. ٗالَ ٌغزتْ ثَععنٌ ثَعْعً ب أٌَُحتُّ أَحذمٌ أَُ ٌَأْمو ىَحْ ٌ أَخٍْٔ ٍٍزًب فَنشٕزَُْ٘ ُٓ ٗارَّقُْ٘ ا هللاَ إُِ هللاَ رََّ٘اة سح‬ ُْ ُ ْ ْ َ ِ َ ِ َ ُ ْ ِ َ َْ ِ ِ َ َ ُ ْ ُْ ُ َ َ Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain.maka demikian pula hendaklah kalian membenci mengghibahinya dan memakan dagingnya dalam keadaan hidup”. tidak bernyawa.Sesungguhnya memakan daging manusia merupakan sesuatu yang paling menjijikan untuk bani Adam secara tabi‟at walaupun (yang dimakan tersebut) orang kafir atau musuhnya yang melawan. pasti kalian membencinya. Syaikh Salim Al-Hilaly berkata : “. bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari. Memakan bangkai hewan yang sudah busuk saja menjijikkan. salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”. sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih. Namun sangat disayangkan di antara para ulama dan para dai itu lebih besar. namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara ‫ ع‬kita. Allah benar-benar telah mencela penyakit ghibah ini dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati.punya profesi yang sama itu umumnya saling dengki. Allah U berfirman : َّ ٌٍْ‫5. Sebagaimana dikatakan oleh „Amru bin Al-„Ash t: ْ َْ ‫6. 3. Berkata Syaikh Nasir As-Sa‟di : “Kemudian Allah U menyebutkan suatu permisalan yang membuat (seseorang) lari dari gibah. Ghibah Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan perintah Allah U dengan baik. Bahkan walaupun mereka telah tahu bahwasanya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah. Dan bagaimanakah lagi jika dalam keadaan bangkai? karena . senantiasa pusa senin kamis.. namun…. bagaimana pula jika (yang engkau makan adalah) saudara engkau seagama ?. berkata dusta..mereka tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah. sesungguhnya rasa kebencian dan jijiknya semakin bertambah. bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi r. mampu untuk menjauhkan dirinya dari zina. Sebagaimana kalian membenci memakan dagingnya -apalagi dalam keadaan bangkai. minum khomer. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah.

“Dia pendek” dan lain sebagainya. “Dia itu orangnya bodoh”. “Kaki meja (jika kakinya tidak berbulu)”. karena si goib tidak mampu untuk membela dirinya. oleh karena itu saudaramu) yang goib tersebut disamakan dengan mayat. عَِ أَثًِ ُٕشٌشح‬ َ ِ ْ ُْ ُ َ َ َ ِ ْ ُْ َ َ َّ َ َْ ْ ْ َ َ ُ ِ َ َُ Dari Abu Huroiroh t bahwasanya Rosulullah r bersabda : Semua muslim terhadap muslim yang lain adalah harom. “Dia kurus”. “Dia gendut”. (Muslim) Orang yang mengghibah berati dia telah mengganggu kehormatan saudaranya. tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. Nabi r berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”. ْ ْ َ ْ ْ ْ َْ ُ ْ ْ ‫: اِغزَجزٍَِٖب‬r ًِ‫19. dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan” Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah adalah :”Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang seandainya dia tahu maka dia akan membencinya”. “Dia itu agak miring sedikit”. Sama saja apakah yang engkau sebutkan adalah kekurangannya yang ada pada badannya atau nasabnya atau akhlaqnya atau perbuatannya atau pada agamanya atau pada masalah duniawinya.فَقَبه اىَّْج‬ َ َ ِْ َ ْ ِ َ ََ ُّ . Berkata Syaikh Salim Al-Hilali :”Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) dan dia dalam keadaan goib (tidak hadir dihadapan engkau). عَِ أَثًِ حزٌفَخَ عَِ عَبئِشخَ. Definisi ghibah ِْ َ ْ ِْْ َ : ‫ قَبه : أَرَذسُْٗ َُ ٍب اىغٍجَخُ ؟ قَبىُْ٘ ا : هللاُ ٗ سعُْ٘ ىُٔ ُ أَعيٌَ، قَبه : رمشُكَ أَخَ بكَ ثَِب ٌَنشُٓ، فَقٍِْو‬rِ‫أَُ سعُْ٘ ه هللا‬t َ‫8. عَِ أَثًِ ُٕشٌشح‬ َ َ ْ َ َ َ َ َ َ َّ َ َْ ْ ْ ُ ْ ُ ْ ْ َ ْ ْ ِ ُ َّ‫أَفَشأٌَْذَ إُِ مبَُ فًِ أَخً ٍب أَقُْ٘ ه ؟ قَبه : إُِ مبَُ فٍِٔ ٍب رَقُْ٘ ه فَقَذ اْغزَجزَُٔ.sesungguhnya makanan yang baik dan halal dimakan. Nabi r ditanya : Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya ? Nabi r menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya. karena yang dimaksud dengan kehormatan adalah sesuatu yang ada pada manusia yang bisa dipuji dan dicela. kehormatannya. Hal ini juga telah dijelaskan oleh Ibnu Mas‟ud t: َ َ ِْ ُ ْ َ َ ِْ ْ ِ َ ُ ْ ْ َ َ َِْ َ ْ ْ ِْْ ُ ‫ٌَقُْ٘ ه : اىغٍجَخُ أَُ رَزمش ٍِ أَخٍل ٍب رَعيٌَ فٍِٔ. “Perutnya besar”. ٗ إُِ ىٌَ ٌَنِ فٍِٔ ٍب رَقُْ٘ ه فَقَذ ثََٖز‬ َ ْ َ َ ْ ُٔ ْ ُ ُ َ ِ ِْ ْ ِ ِْ َ ْ ِ ْ Dari Abu Huroiroh t bahwsanya Rosulullah r bersabda : Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. “Dia sumbing”.. ٗإِرا قُ ْيذَ ٍب ىٍَْظ فٍِٔ فَزاك‬t ‫9. “Dia tuli”. akan menjadi menjijikan jika telah menjadi bangkai…” ُُٔ‫قَبه : موُّ اىَغيٌِ عيَى اىَغيٌِ حشاً، دٍُٔ ٗعشْ ظُٔ ٍٗبى‬r ِ‫أَُ سعُْ٘ ه هللا‬t َ‫7. “Dia juling”.. yaitu darahnya. “Pantatnya besar”. “Dia hitam”. أَََّّٖب رمشد اٍشأَحً فَقَبىَذ :إََِّّٖب قَصٍشح. misalnya engkau berkata pada saudaramu itu : “Dia buta”. Dan demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan sebagaimana si goib juga tidak mengetahui gibah yang telah dilakukan oleh orang yang mengghibahinya ” Adapun menyebutkan kekurangannya yang ada pada badannya.. dan hartanya. عَِ حَبد عَِ إثشإٌٍ قَبه : مبَُ اِثُِْ ٍغعُْ٘ د‬ َ َ ِْ َ ٍ ْ َ َّ َ ْ َ ُُ‫اىجُٖزَب‬ ْ ْ Dari Hammad dari Ibrohim berkata : Ibnu Mas‟ud t berkata :”Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu. Dan engkau menyebutkan aibnya dihadapan manusia dalam keadaan dia goib (tidak hadir).

إًِِّّ أَساًِّ قَذ اغزَجز‬ ُ ْ ْ ُ ُ َّ َ َ َ ُ َ ِْ ِ َ َّ َ َ َ َ َ ٍِ َ ِ ْ ِ ِ َ ْ Dari Jarir bin Hazim berkata : Ibnu Sirin menyebutkan seorang laki-laki kemudian dia berkata :”Dia lelaki yang hitam”. Maka dia (Ibnu Sirin) berkata :”Aku melihat engkau sedang sakit”. “Dia tidak berbakti kepada orang tua”. Kemudian dia berkata :”Aku mohon ampunan dari Allah”. (tetapi) kemudian dia berkata :”Pergilah ke fulan (tabib yang lain) karena dia lebih baik dari pada si fulan (tabib yang pertama)”. “Tidak ihtirom kepada manusia”. “Dia keturunan maling”. “Dia itu orangnya lemah”. “Bapaknya orang fasik”. misalnya engkau berkata : “Tukang makan”. “Dia pendusta”. “Dia peminum khomer”. Termasuk ghibah yaitu seseorang meniru-niru orang lain. dan lain-lain. menurutku aku telah mengghibahi dia (tabib yang pertama)”. misalnya engkau berkata :”Dia akhlaqnya jelek…orang yang pelit”. “Dia itu orang yang dzolim. aku berkata :”Benar”. Kemudian dia berkata : “Aku mohon ampun kepada Allah. “Tidak punya adab”.ُٔ‫ُ ِ َ ْ َ ِ جَحْ ش ىََضجز‬ Dari „Aisyah beliau berkata : Aku berkata kepada Nabi r: “Cukup bagimu dari Sofiyah ini dan itu”. dia berkata : “Aku menemui Muhammad bin Sirin dan aku dalam keadaan sakit. “Dia tidak membaguskan sujud dan ruku‟ kalau sholat”. “Tidak memperhatikan orang lain”. “Dia itu tempramental”. ثٌُ قَبه : أَعزَغفِش هللاَ. Maka Nabi r pun berkata :”Saya tidak suka meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang (walaupun) saya mendapatkan sekian-sekian” . “Si fulan lebih baik dari pada dia” dan lain-lain. tidak mengeluarkan zakat”. yang hal ini berarti merendahkan dia. Maka Nabi r berkata :”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya” ْ ْ ِ ْ َ ْ ُُٔ‫عَِ جشٌْش ثِ حبصً قَبه : رمش اثُِْ عٍْشٌَِ سجالً فَقَأه : راك اىشجو األَعْ٘دُ. Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits : َ َ ْ َّ َ َ ْ ُ َ َ ْ ُ َ َ َ ْ ‫29. misalnya engkau berkata :”Dia pencuri”. “Dia keturunan pezina”. Adapun pada perbuatannya yang menyangkut keduniaan. atau yang selainnya dengan maksud meniru-niru keadaan seseorang. “Dia penakut”. misalnya berjalan dengan pura-pura pincang atau pura-pura bungkuk atau berbicara dengan pura-pura sumbing. “Jorok”. Maka dia berkata :”Pergilah ke tabib fulan. Sebagian rowi berkata :”‟Aisyah mengatakan Sofiyah pendek”. “Tukang tidur”. tukang cari muka (cari perhatian)”. Adapun pada akhlaknya. Adapun pada agamanya. “Dia itu hatinya lemah”. “Dia sombong. “Dia pengkhianat”. فَقَبه : ىَقَذ قُ ْيذ ميَِخً ى‬r ًِ‫99.Dari Abu Hudzaifah dari „Aisyah bahwasanya beliau („Aisyah) menyebutkan seorang wanita lalu beliau („Aisyah) berkata :”Sesungguhnya dia (wanita tersebut) pendek”…. عَِ عَبئِشخَ قَبىَذ : قُ ْيذ ىِيَّْج‬ َ َ ِْ ْ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ِّ َ َ َ ِ ْ‫ٍضجذ ثَِبء اى‬ َْ َ َ ِ . mitalah resep kepadanya”. sesungguhnya aku melihat bahwa diriku telah mengghibahi laki-laki itu” Adapun pada nasab misalnya engkau berkata :”Dia dari keturunan orang rendahan”. Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Hammad bin Zaid berkata :Telah menyampaikan kepada kami Touf bin Wahbin. dan lain-lain. قَبىَذ : ٗحنٍْذ ىَُٔ إِّغبًّب فَقَبه : ٍب أُحتُّ أًَِّّ حنٍْذ إِّغبًّب ٗ إُِ ىًِ مزا‬ َ ْ ِ َ َ „Aisyah berkata : “Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang seseorang pada Nabi r”.maka Nabi r berkata :”Engkau telah mengghibahi wanita tersebut” ْ ََ َ ََ ُ ْ ْ َ َْ٘‫حغجُل ٍِ صفٍَِّخ مزا ٗ مزاص قَبه ثَعْطُ اىشُّ ٗاحُ : رَعًِْ قَصٍشح.

dan seluruh pemeluk agama-agama (yang lain). perkataan engkau tidak hanya menunjukkan kepada ghibah.demikian-demikian…. tetapi lebih dari itu dapat menjatuhkan engkau ke dalam riya‟. bahkan merupakan nasihat yang wajib yang mendatangkan pahala jika dia berniat demikian. menunjukan bahwa jika dia (saudara kita yang kita ghibahi tersebut) tidak membencinya aib yang ditujukan kepadanya. dan (juga) orang yang kebid‟ahannya telah mengeluarkannya dari Islam. apakah tetap termasuk ghibah? Berkata As-Shon‟ani : “ Dan pada perkataan Rosulullah r (dengan apa yang dia banci). dan pendapat ini merupakan kesalahan atau kekeliruan atau kebodohan atau keteledoran dan semisalnya”. Yang disebut ghibah jika kita menyebutkan orang tertentu atau kaum tertentu atau jama‟ah tertentu. Berkata Syaikh Salim Al-Hilal :”Jika kita telah mengetahui hal itu (yaitu orang yang dipanggil dengan julukan-julukan yang jelek namun dia tidak membenci julukan-julukan jelek tersebut – pent) bukanlah suatu ghibah yang harom. atau untuk menjelaskan lemahnya ilmu orang tersebut agar orang-orang tidak tertipu dengannya dan menerima pendapatnya (karena orang-orang menyangka bahwa dia adalah orang yang ‘alim –pent). maka hal ini bukanlah ghibah. Ghibah itu bisa dengan perkataan yang jelas atau dengan yang lainnya seperti isyarat dengan perkataan atau isyarat dengan mata atau bibir dan lainnya. seperti orang-orang yang mengumbar nafsunya dan orang gila. maka ini bukanlah ghibah”. namun saudara kita tersebut tidak membenci laqob itu. Bagaimana jika yang dighibahi adalah orang kafir ? Berkata As-Shon‟ani : “Dan perkataan Rosulullah r (dalam hadits Abu Huroiroh di atas) (saudaramu) yaitu saudara seagama merupakan dalil bahwasanya selain mukmin boleh mengghibahinya”. yang penting bisa dipahami bahwasanya hal itu adalah merendahkan saudaranya yang lain. Bagaimana jika kita memberi laqob (julukan) yang jelek kepada saudara kita. Diantaranya yaitu jika seseorang namanya disebutkan di sisi engkau lantas engkau berkata: “Segala puji bagi Allah U yang telah menjaga kita dari sifat pelit”. Sebab engkau telah menunjukan kepada manusia bahwa engkau tidak melakukan sifat jelek orang yang disebutkan namanya tadi. atau “Semoga Allah U melindungi kita dari memakan harta manusia dengan kebatilan”. Jika si penulis menghendaki untuk menjelaskan kesalahan orang tersebut agar tidak diikuti. dengan tujuan untuk merendahkan dan mencelanya. nasrani. atau yang lainnya. sebab ghibah adalah engkau menyebut saudaramu . sebab orang yang mendengar perkataan engkau itu faham bahwasanya berarti orang yang namanya disebutkan memiliki sifat-sifat yang jelek. Berkata Ibnul Mundzir :”Dalam hadits ini ada dalil bahwasanya barang siapa yang bukan saudara (se-Islam) seperti yahudi.Termasuk ghibah yaitu seorang penulis menyebutkan seseorang tertentu dalam kitabnya seraya berkata :”Si fulan telah berkata demikian-demikian”. Demikian pula jika seorang penulis berkata atau yang lainnya berkata : “Telah berkata suatu kaum -atau suatu jama‟ah. maka hal ini bukanlah ghibah. Maka hal ini adalah harom. maka tidak ada (tidak mengapa) ghibah terhadapnya”. Bahkan lebih parah lagi.

mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. Az-Zarkasyi berkata : “Dan sungguh aneh orang yang menganggap bahwasanya memakan bangkai daging (manusia) sebagai dosa besar (tetapi) tidak menganggap bahwasanya ghibah juga adalah dosa besar. apakah ghibah termasuk dosa besar atau termasuk dosa kecil?. Hukum ghibah ُ ِ ْ ٍ ُ ْ ْ ُ َ َ ‫: ٍشسْ د ىٍَيَخَ أُعْشي ثًِ عيَى قَْ٘ ً ٌَخَشْ٘ َُ ٗجُْ٘ ٌُٕٖ ثِأَظَبفِشٌٌٖ. Sedangkan Al-Gozhali dan penulis Al-„Umdah dari Syafi‟iyah berpendapat bahwasanya ghibah termasuk dosa kecil. Hukum ghibah adalah harom berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan ijma‟ kaum muslimin. عَِ أََّظ ثِ ٍبىِل‬ ُ َ َ َ ْ َ ِ ُ ٍ َ ِ ْ ِ ِْ ِْ ْ َ ْ ِْ ْ َ ِ ِْ ِ ٌٖ‫ججْشٌوُْ ٍِ َٕؤَُء؟ قَبه : اىَّزٌَِ ٌَغزَبثُْ٘ َُ اىَّْبط.panggil-memanggil dengan julukan-julukan yang buruk. فَقُ ْيذ : ٌَب‬r ‫ قَبه : قَبه سعُْ٘ ه هللا‬t ‫19. . aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga. padahal Allah menempatkan ghibah sebagaimana memakan bangkai daging manusia. Dan hadits-hadits yang memperingatkan ghibah sangat banyak sekali yang menunjukan akan kerasnya pengharaman ghibah. Beliau berkata :”Yaitu orang-orang yang mengghibahi manusia. Namun terjadi khilaf diantara para ulama. tetapi orang yang memanggil saudaranya dengan laqob (yang jelek) telah jatuh di dalam larangan Al-Qur‟an (yaitu firman Allah: Dan janganlah kalian saling.dengan apa yang dia benci. قَبه سعُْ٘ ه هللا‬ ُ َ َ ُ ِ ِْ ِ ْ َ ُُ َ ْ َّ ُ ِْ ٌٖ‫قَبه : َٕؤَُء اىَّزٌَِ ٌَأْميُْ٘ َُ ىُحُْ٘ ً اىَّْبط ٌَٗقَعُْ٘ َُ فًِ أَعشاظ‬ ِْ ِ َ ْ ْ َ َ َ َ Rosulullah r bersabda : Ketika aku dinaikkan ke langit. (AlHujurot: 11)-pent) yang jelas melarang saling panggil-memanggil dengan julukan (yang jelek) sebagaimana tidak samar lagi (larangan itu)”. beliau berkata :”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela kehormatankehormatan manusia”. dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia”. Imam Al-Qurthubi menukilkan ijma‟ bahwasanya ghibah termsuk dosa besar. lalu aku berkata :”Siapakah mereka ya Jibril?”. ٍشسْ د ثِقَْ٘ ً ىٌَُٖ أَظفَبس ٍِ ُّحبط ٌَخَشْ٘ َُ ٗجُْ٘ ٌَُٕٖ ٗ صذْٗ سٌُٕ فَق ُ ْيذ : ٍِ َٕؤَُء ٌَب ججْشٌوُْ؟‬r ‫19. Maka aku bertanya :”Siapakah mereka ya Jibril?”. ٌَٗقَعُْ٘ َُ فًِ أَعشاظ‬ ِْ ِ َ ْ ْ َ ِ َ َ Dari Anas bin Malik t berkata : Rosulullah r bersabda :”Pada malam isro‟ aku melewati sebuah kaum yang mereka melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka”. Dalam riwayat yang lain : ْ ْ ٍ ُ ِ ْ ٍ َ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ِ ْ َ ُ ‫: ىََب عُشج ثًِ. Berkata Al-Auza‟i : “Aku tidak mengetahui ada orang yang jelas menyatakan bahwa ghibah termasuk dosa kecil selain mereka berdua”.

atau seluruh manusia menjadi fasik.Berkata Syaikh Nasir As-Sa‟di :”Dalam ayat ini (Al-Hujurot :12) ada peringatan keras terhadap gibah dan bahwasanya gibah termasuk dosa-dosa besar karena diserupakan dengan memakan daging bangkai (manusia) dan hal itu (memakan daging bangkai) termasuk dosa besar”. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Yang dia lakukan adalah hendaklah dia berdzikir kepada Allah U dengan lisannya dan hatinya. atau dengan hatinya. maka hal itu adalah kemunafikan yang tidak bisa membebaskan dia dari dosa. Jika dia tidak melakukannya berarti dia telah bermaksiat. Dan alasan ini juga tertolak sebab tersebarnya kemaksiatan ini hanya kalau ditinjau pada zaman sekarang. atau dia memikirkan perkara yang lain. Jika dia berkata dengan lisannya :”Diamlah”. atau dia telah mengingkari namun tidak diterima. namun hatinya ingin pembicaraan gibah tersebut dilanjutkan. Justru yang tersebar adalah kebaikan. Jika dia terpaksa di majelis yang ada ghibahnya dan dia tidak mampu untuk mengingkari ghibah itu. Dan hal ini adalah kesulitan yang sangat besar”. Setelah itu maka tidak mengapa baginya untuk mendengar ghibah (yaitu sekedar mendengar namun tidak memperhatikan dan tidak faham dengan apa yang didengar –pent). Jika dia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau dengan memotong pembicaraan ghibah tadi dengan pembicaraan yang lain. Namun alasan ini terbantahkan. karena bahwasanya tersebarnya suatu kemaksiatan dan banyak manusia yang melakukannya tidaklah menunjukan bahwa kemaksiatan tersebut adalah dosa kecil. maka wajib bagi dia untuk melakukannya. serta dia tidak memungkinkan baginya untuk meninggalkan majelis tersebut. maka harom baginya untuk istima‟(mendengarkan) dan isgo‟ (mendengarkan dengan saksama) pembicaraan ghibah itu. Hukum mendengarkan ghibah Berkata Imam Nawawi dalam Al-Adzkar :”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi. diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. ٗإرا سأٌَْذَ اىَّزٌَِ ٌَخْ٘ ظْ٘ َُ فًِ آٌَبرَِْب فَأَعشضْ عٌُْٖ حزَّى ٌَخْ٘ ظُْ٘ ا فًِ حذٌث غٍْشٓ. maka wajib baginya untuk meninggalkan majelis” Allah U berfirman : ُ ْ ِ َْ ُْْ ْ َّ ُ ُ ِ ْ َّ َ ِ ِ َ ٍ ْ ِ َ ْ ‫59. Adapun pada zaman dahulu (zaman para salaf) kemaksiatan-kemaksiatan (termasuk ghibah) tidak tersebar sebagaimana sekarang. agar dia bisa melepaskan diri dari mendengarkan gibah itu. Alasan mereka yang menyatakan bahwa ghibah adalah dosa kecil diantaranya perkataan mereka :”Kalau seandainya ghibah itu bukan dosa kecil maka sebagian besar manusia tentu menjadi fasik. kecuali hanya sedikit sekali yang bisa lolos dari penyakit ini. Dan jika dia takut kepada orang itu. Dia harus membenci gibah tersebut dengan hatinya (agar bisa bebas dari dosa-pent). tanpa mendengarkan dengan baik ghibah itu jika memang keadaannya seperti ini (karena terpaksa tidak bisa meninggalkan majelis gibah itu –pent). ٗ إًِ ٌُْغٍََّْنٌ اىشٍطَبُُ فَالَ رَقعذ ثَعذ اىزك‬ ُ ُ ِْ َ ْ َْ ْ َ َ َ ِ ْ . maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika memungkinkan hal itu. Namun jika (beberapa waktu) kemudian memungkinkan dia untuk meninggalkan majelis dan mereka masih terus melanjutkan ghibah.

Sebagaimana firman Allah Ta‟ala.” . Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. hanya ada satu di tubuh. “Ah. Sebagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah mungkin akan mengatakan. Lisan. maka aku akan menjamin untuknya surga. akan tetapi tidak kita sadari bahwa terkadang kita terpengaruh oleh namimah yang dilakukan seseorang. Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaani rahimahullah mengatakan bahwa namimah tidak khusus itu saja. Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”. atau sebaliknya. maupun pihak lainnya. yang artinya. Baik yang disebarkan itu berupa perkataan maupun perbuatan. Atau meski bisa menjaga lisan dari namimah. Baik yang tidak suka adalah pihak yang dibicarakan atau pihak yang menerima berita. Al-Bukhari) Salah satu bentuk kejahatan lisan adalah namimah (adu domba). ini menunjukkan betapa bahayanya lisan ketika kita tidak menjaganya. Banyak sekali dalil-dalil yang menerangkan haramnya namimah dari Al Qur‟an. Hukum dan Ancaman Syariat Terhadap Pelaku Namimah Namimah hukumnya haram berdasarkan ijma‟ (kesepakatan) kaum muslimin. “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji).” (HR. yang kian kemari menghambur fitnah.” (HR. tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak bisa menjaganya dengan baik. lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba. As Sunnah dan Ijma‟. Namun intinya adalah membeberkan sesuatu yang tidak suka untuk dibeberkan. Oleh karena itu kita benarbenar harus mengenal apakah itu namimah. yang maknanya bahwa nilai seseorang ada pada lisannya. Apalagi ketika rasa benci dan hasad (dengki) telah memenuhi hati. “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela.4. Definisi Namimah Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan untuk mengadu domba antara seseorang dengan si pembicara. Al Qalam: 10-11) Dalam sebuah hadits marfu‟ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu „anhu disebutkan.” (QS. nilainya akan baik jika lisannya baik. sedangkan pepatah jawa mengatakan ajining diri ono ing lati. “Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka. “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba). Al Bukhari) Ibnu Katsir menjelaskan. Kata adu domba identik dengan kebencian dan permusuhan. saya tidak mungkin berbuat demikian…” Tapi jika kita tak benar-benar menjaganya ia bisa mudah tergelincir. Dari Sahal bin Sa‟ad radhiyallahu „anhu. Namimah (Adu Domba) Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya. Baik berupa aib ataupun bukan. Bahkan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam memberi jaminan surga pada seorang muslim yang dapat menjamin lisannya.

Mencegahnya dari perbuatan tersebut. Sedang yang kedua. An-Nawawi rahimahullah berkata. Misalnya jika ia menyampaikan kepada seseorang bahwa ada orang yang ingin mencelakakannya.” Dengan begitu ia telah menjadi tukang namimah karena ia telah melakukan perkara yang dilarang tersebut. dan lain-lain. sedangkan dirinya sendiri melarangnya. “(suatu hari) Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu berkata. orang yang mau berbuat aniaya terhadap orang lain. menasehatinya dan mencela perbuatannya. 5.Perkataan “Tidak akan masuk surga…” sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas bukan berarti bahwa pelaku namimah itu kekal di neraka. Yang pertama. maka tidak ada halangan menyampaikannya. melaporkan pada pemerintah tentang orang yang mau berbuat kerusakan. Atau melakukan ini dan ini terhadapmu.” . Bukan termasuk namimah seseorang yang mengabari orang lain tentang apa yang dikatakan tentang dirinya apabila ada unsur maslahat di dalamnya. “Jika ada kepentingan menyampaikan namimah. Dan keduanya bukanlah diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. dikatakan kepadanya: “Fulan telah berkata tentangmu begini begini. Bukan Termasuk Namimah Apakah semua bentuk berita tentang perkataan/perbuatan orang dikatakan namimah? Jawabannya. lalu bersabda. Inilah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama‟ah untuk tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukannya selama ia tidak menghalalkannya (kecuali jika dosa tersebut berstatus kufur akbar semisal mempraktekkan sihir -ed).”. Misalnya. 4. berjalan kesana kemari menyebarkan namimah. “Dan setiap orang yang disampaikan kepadanya perkataan namimah. atau keluarga atau hartanya. Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudaranya dikarenakan namimah yang didengarnya. 6. Hukumnya bisa sunnat atau bahkan wajib bergantung pada situasi dan kondisi. 2. Tidak membenarkan perkataannya.” (HR. Pelaku namimah juga diancam dengan adzab di alam kubur. Tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah. Maka wajib membenci orang yang dibenci oleh Allah. karena ia adalah orang yang dibenci di sisi Allah. 3. Ibnu Abbas meriwayatkan. Karena tukang namimah adalah orang fasik. Membencinya karena Allah. tidak membersihkan diri dari air kencingnya. Maksudnya adalah ia tidak bisa langsung masuk surga.” maka hendaklah ia melakukan enam perkara berikut: 1. Tidak membiarkan dirinya ikut melakukan namimah tersebut. AlBukhari) Sikap Terhadap Pelaku Namimah Imam An-Nawawi berkata. “Fulan telah menyampaikan padaku begini dan begini. “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab. tidak. Janganlah ia menyebarkan perkataan namimah itu dengan mengatakan.

Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain. mencari kebenaran dan menjauhi/mencegah gangguan maka tidak mengapa. hendaknya kita tidak memendam hasad (kedengkian) kepada saudara kita sesama muslim. saling membenci. hatiku dan kejahatan maniku. saling bermusuhan. Semoga Allah Ta‟ala selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi di akhirat dikarenakan lisan yang tidak terjaga. penglihatanku.” Bagaimana Melepaskan Diri dari Perbuatan Namimah Ya ukhty. Bahkan. maka dia boleh mengucapkannya. dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan hendaklah dia membayangkan akibatnya. Sehingga. “Janganlah kalian saling mendengki. ada kala niat dalam hati berubah ketika kita melakukannya. lisanku.” (Ya Allah. sedangkan Islam memerintahkan agar kaum muslimin bersaudara dan bersatu bagaikan bangunan yang kokoh.” (HR.Pada kondisi seperti apa menyebarkan berita menjadi tercela? Yaitu ketika ia bertujuan untuk merusak. sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kejahatan pendengaranku. Bukankah mulut seorang mukmin tidak akan berkata kecuali yang baik. bagi yang khawatir adalah lebih baik untuk menahan diri dari menyebarkan berita. maka lebih baik dia diam. Hasad serta namimah adalah akhlaq tercela yang dibenci Allah karena dapat menimbulkan permusuhan.) . meskipun sudah berhati-hati. Muslim) Berusaha dan bersungguh-sungguhlah untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tidak berguna. “Seseorang selayaknya memikirkan apa yang hendak diucapkannya. apalagi dari perkataan yang karenanya saudara kita tersakiti dan terdzalimi. Lebih dari itu. Jika sebaliknya. janganlah rasa tidak suka atau hasad kita pada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya. Imam Asy-Syafi‟i rahimahullah berkata. Karena betapa banyak perbuatan namimah yang terjadi karena timbulnya hasad di hati. Jika tampak baginya bahwa ucapannya akan benar-benar mendatangkan kebaikan tanpa menimbulkan unsur kerusakan serta tidak menjerumuskan ke dalam larangan. termasuk dalam hal ini adalah namimah. Akan tetapi terkadang sangat sulit untuk membedakan keduanya. Adapun bila tujuannya adalah untuk memberi nasehat. “Allahumma inni a‟uudzubika min syarri sam‟ii wa min syarri bashori wa min syarri lisaanii wa min syarri maniyyii.

seandainya mereka sanggup. dan mereka itulah penghuni neraka. An-Nur 24:11) Pendapat Para Ulama tentang Fitnah Makna satu kata.5. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran). Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. Seringkali pula mereka beranggapan bahwa masyarakat Indonesia sudah begitu akrab dengan kata tersebut. (QS Al-Baqarah 217) َ ُِْْ َ َ ‫إُِ اىَّزٌَِ جبءٗا ثِبْلفل عُصْ جَخ ٍْنٌ ال رَحْ غجُُ٘ٓ ششا ىَنٌ ثَوْ ُٕ٘ خٍْش ىَنٌ ىِنو اٍشا‬ ُ َ ْ ُ ًّ َ َ ِ ْ ِْ ِ َّ ٍ ِ ْ ِّ ُ ْ ُ ََ ٌٍ‫ٌٍُْٖ ٍب امزَغت ٍَِ اْلثٌ ٗاىَّزي رَ٘ىَّى مجشُٓ ٌٍُْٖ ىَُٔ عزاة عَظ‬ ْ ِْ َ ِْ ِ ِ َ ِْ ِْ ِ َ َ ْ َ ْ ِْ َ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. di tengah masyarakat kita. maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat. tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Indonesia. (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya. FITNAH Dalil Tentang Fitnah َ ِ ‫ٌَغْأَىَُّ٘ل عَِ اىشْٖش اىحشاً قِزَبه فٍِٔ قُوْ قِزَبه فٍِٔ مجٍِش ٗصذ عَِ عجٍِو هللاِ ٗمفش ثِٔ ٗاىَغجذ‬ ِ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ ُ َ َّ ِ َ ْ ٌّ َ َ ِ ٍ ِ َ َ ْ ِ َّ ِ َ َ َ َ ِ ْ ْ ِ ُ ْ ْ ْ َ َّ َ ْ ِ ُ ْ ْ ِ ِ ْ ُ َ ْ َ ِ َ َ ْ ْ ُ ُّ ُ َُُ٘‫ٌُقَبرِيَُّ٘نٌ حزَّى ٌَشدٗمٌ اىحشاً ٗإِخشاج إَٔئِ ٍُْٔ أَمجَش عْذ هللاِ ٗاىفِزَْخُ أَمجَش ٍَِ اىقَزو ٗال ٌَضاى‬ َ ُْ ْ َ َ ُ َ َ َ ْ ُ ِ ِ ْ ُْ ِْ ِْ ْ ِ ُْ ِ ْ ًِ‫عَِ دٌِْنٌ إُِ اعزَطَبع٘ا ٍِٗ ٌَشْ رَذد ٍْنٌ عَِ دٌِْٔ فٍَََذ ُٕٗ٘ مبفِش فَأُٗىَئِل حجطَذ أَعَبىٌُُٖ ف‬ ْ َ ْ ْ َِ َ ُ َ َُٗ‫اىذٍَّب ٗاَخشح ٗأُٗىَئِل أَصْ حبةُ اىَّْبس ٌُٕ فٍَِٖب خبىِذ‬ َ ْ ِ َ َ ِ َ ِ ْ َ ْ ُّ Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. kafir kepada Allah. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Berbagai realitas -termasuk yang saya dengar-. dalam berbagai bahasan. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. sehingga mereka pasti paham. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya. mereka kekal di dalamnya. ” (Q. Fitnah Seringkali para juru dakwah menyebut-nyebut kata fitnah. saat kata itu disebutkan oleh seorang juru dakwah. Pasalnya. dibandingkan . lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. lalu dia mati dalam kekafiran. kata tersebut berbeda makna dalam bahasa kita.S. menunjukkan bahwa ada kesalahpahaman besar seputar pemaknaan kata tersebut. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu.

kata fitnah. dan pengertian asalnya adalah "cobaan" atau "ujian".khawatir akan terjadi bencana. maka tidak ada permusuhan (lagi). karena dikhawatirkan terjadi fitnah….‟ Padahal yang dimaksud juru dakwah tersebut. seperti disebutkan dalam banyak kamus bahasa Indonesia adalah: menuduh tanpa bukti. dan Kesesatan seperti yang dijelaskan dalam surat AlMaidah: 41.khawatir mereka berdua akan difitnah. Iaitu bahawa mereka itu menyebarkan kekafiran. kafir kepada Allah. Fitnah juga diartikan sebagai Kekufuran seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqoroh:217. A.‟…. lebih besar (dosanya) di sisi Allah .” kebanyakan masyarakat Indonesia akan memahaminya. Maksud dan pengertian fitnah jika diselak lebar al-Quran dan hadis adalah sebagaimana berikut. dituduh berbuat mesum dan sejenisnya. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. kecuali terhadap orang-orang yang zalim” (Al Baqarah: 193) Kata fitnah dalam ayat ini menurut para ulama tafsir adalah bermaksud „kekafiran‟ atau „kemusyrikan‟. hingga perzinaan. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh…” (Al Baqarah: 217) Firman-Nya lagi yang bermaksud: “Dan perangilah mereka itu.‟…. “seorang pria muslim tidak boleh berduaan dengan seorang wanita muslimah yang bukan muhrimnya. Pengertian Fitnah dalam bahasa Arab disebut ‫ .ال ف ت نة‬Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia. B. Fitnah yaitu komunikasi dengan satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan berdasarkan fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan.. kata Fitnah diartikan sebagai perkataan yang bermaksud menjelekkan orang. Dalam bahasa Arab. yang kesohor itu. tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah.makna kata itu di dalam bahasa Arab. Yakni bencana maksiat.‟ 1. Yakni. Sehingga. Dalam bahasa Indonesia. kata itu berarti buhtaan. ketika seorang juru dakwah mengatakan. Seperti disebutkan dalam hadits tentnag ghibah. Sementara kerap disampaikan para juru dakwah adalah makna kata itu dalam bahasa Arab. mulai dari yang paling ringan. Bencana Sabda nabi Sallallhu alaihi Wasallam yang bermaksud: . wibawa atau reputasi. Kufur/Kafir Friman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermkasud: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu). Maksud Fitnah Kata "fitnah" asalnya diserap daripada bahasa Arab. (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya. sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.

C. Padahal Allah mengetahui hakikat mereka. iaitu mencari konflik dan perselisihan dengan sesama muslim. Di antara (isi) nya ada ayatayat yang muhkamaat. D. Inilah penjelasan kepada ayat ini yang dengan jelas menyebut perkatan fitnah. padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya melainkan Allah…” (Ali Imran: 7) Terdapat sebagian orang Islam yang hanya menggunakan semata-mata penilaian mengikut aspek rasional. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir” (At Taubah: 49) Dalam ayat ini kaum munafik di masa Nabi sallallahu „alaihi wasallam enggan menyertai peperangangan kerana menganggap itu adalah suatu kebinasaan (fitnah). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan. .” Perkataan fitnah dalah hadis ini memberikan maksud bencana atau musibah yang akan berlaku sekiranya perkahwinan ditangguhkan. Padahal sesungguhnya mereka telah berada dalam kebinasaan dengan sifat munafik. Binasa Firman Allah Subhanahu Wata‟ala: yang bermaksud: “Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.“Apabila datang (meminang) kepada kamu seorang pemuda yang kamu sukai agama dan akhlaknya. Tuhan kami. E.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah . itulah pokok-pokok isi Al qur‟an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Konflik Firman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermaksud: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur‟an) kepada kamu. Tipu Firman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermaksud : “Kemudian tiadalah fitnah mereka. maka kahwinkanlah dia dengan anak perempuan mu. Tujuan mereka semata-mata menyebar fitnah. Ia juga disebut sebagai propaganda. Sengaja mencari penafsiran ayat melalui pendekatan logika akal manusia yang terbatas semata-mata. Dikhuatiri akan terjadi fitnah (bencana) dan kerosakan yang besar di muka bumi. Iaitu kebinasaan diri mereka di akhirat kelak dengan balasan neraka yang paling bawah. sehingga melencong dari tafsiran yang tepat. dan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. untuk membela diri mereka di hadapan Allah. tiadalah kami mempersekutukan Allah” (Al An‟am: 23) Fitnah yang dimaksud dalam ayat ini adalah ucapan tipu dan dusta. maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta‟wilnya. kecuali mengatakan: “Demi Allah. Ia bermaksud menimbulkan konflik dan kekeliruan dalam masyarakat. Ini kerana syarat pemuda soleh itu adalah sebaik-baik pilihan untuk dijadikan suami kepada anak-anak perempuan.

2. Hidup dan kehidupannya dihantui oleh prasangka buruk..”. Menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadi.  Pendusta. ketika memperoleh kesuksesan. bahkan menjadi darah daging. Ketika dia merasa gagal. orang yang suka mengadu domba adalah penjilat bermuka dua. Hatinya terdorong untuk mengeruk keuntungan dengan jalan pintas. Dia asyik sekali membongkar rahasia. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu.Iri. Dengan kata lain. Gangguan Firman Allah Subhanahu Wata‟ala: yang bermaksud: “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”. Orang yang suka memfitnah tidak mampu bersaing secara sehat. Namun. iri dan dengki yang muncul. Dia rela memfitnah dan mengadu domba orang lain agar posisi dan jabatannya aman. keburukan dan kebusukan seseorang. karena lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah. Ada ungkapan al khabar kal ghabar (berita itu seperti debu) melayang ke mana-mana dan tidak bertuan. dengki dan sombong selalu menempel di hatinya. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?” (Al Ankabut: 10) Dalam ayat ini. Inilah sifat biasa manusia yang menganggap ujian Allah dalam bentuk gangguan manusia sebagai azab. hati dan raganya digunakan untuk merugikan orang lain. kemudian berganti dengan memuji dan menyanjung. mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah bersamamu”. Reaktif tidak diperlukan dan tidak akan menyelesaikan masalah. ketika orang itu tidak ada.F. ia menganggap fitnah (gangguan) manusia itu sebagai azab Allah . Dan ketika orang itu datang.  Kufur ni'mat. maka pembicaraan pun berhenti dengan sendirinya. . kata fitnah membawa maksud ganguan.. Ini adalah perbuatan hina dan jijik. Dusta/bohong menjadi menu utama dalam aksinya untuk memfitnah dan mengadu domba orang lain.  Suka memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang lain. Menghindari Akhlak Tercela (Fitnah) Untuk menghindari fitnah ada beberapa tips yang perlu diperhatikan. dia sombong dan hidup melampaui batas. Orang yang suka memfitnah adalah orang yang tidak bersyukur atas ni'mat Allah. Bahkan tega mengorbankan sahabat dan kelompok seperjuangan. Hubbuddunya (lebih cinta kepada gemerlap duniawi daripada cinta kepada Allah)  Aqidahnya telah rusak. jangan merespon dengan cepat berita-berita yang masih berkategori “katanya. 1) Jangan reaktif. Karena akal. Karena sikap reaktif cenderung lebih tergesa-gesa. Sifat dan Karakteristik Inilah gambaran orang yang suka memfitnah (mengadu domba) :Pengecut dan curang. Orang yang suka memfitnah dan mengadu domba berpotensi menjadi pengkhianat. 3. maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah. Yang terpenting baginya adalah uang dan jabatan.

Rajinlah bershodaqoh kepada fakir miskin dan anak yatim. 7) Hati-hati dalam mengemban amanah. Apa yang dapat kita lakukan sebagai upaya membentengi hati dari fitnah (adu domba) dan memeranginya : 1) Mulailah segala aktivitas dengan niat yang benar. Perdalamlah ilmu agama dengan rajin mengikuti majelis ilmu atau pengajian dan mengamalkan ajaran Islam dalam hidup dan kehidupan seharihari. 2) Mintalah ridho dan restu orangtua. mintalah kepada orangtua untuk mendoakan agar kita selamat. saja. yang baik dan tulus hanya untuk mendapatkan ridho Allah. Bencilah kepada perilakunya yang negatif. 6) Hati-hati terhadap kesenangan dunia. 5) Hati-hati dalam berbicara. jabatan dan kedudukan. karena zikir kepada Allah dapat melembutkan hati dan menyehatkan akal. 3) Berpikir positif (husnuzhon). "Hai orang-orang yang beriman. 8) Jika cinta Islam. maka periksalah dengan teliti. Laksanakan amanah dengan mengedepankan kejujuran dan penuh tanggungjawab." 4) Jika memang apa yang diberitakan itu benar terjadi tetapi tidak kita inginkan selesaikan dengan cara dewasa dan penuh kesadaran serta kasih sayang antar sesama.2) Pastikan bahwa berita itu ada pembawanya. sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada Allah. bertindak dan dalam menerima informasi/berita. . Jangan pernah membenci manusia. agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. 3) Tabayyun. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. 10) Senantiasa bersyukur kepada Allah. terkadang berita dari satu tempat ke tempat lain sudah tidak akurat dan banyak dibumbuhi atau di sisipi berita lain. Jangan memandang / menilai seseorang dari sisi negatifnya. Jangan lupa untuk memohon petunjuk dari Allah dengan sholat istikhoroh. 9) Amar Ma'ruf Nahi Mungkar. Selalu mengajak sahabat-sahabat kita untuk berbuat baik dan mengingatkannya jika berbuat kemunkaran dan maksiat. 4) Perbanyaklah mengingat Allah (zikrullah). Inilah yang di ingatkan oleh QS: al Hujurat:6 . Sumber berita adalah penentu kebenaran berita itu sendiri. Gunakan akal sehat dan hati yang sholeh untuk menganalisa dan menemukan kebenaran dari setiap informasi/berita. karena benci kepada ciptaan Allah berarti benci kepada Allah. Perjelas lagi berita itu kepada sumber aslinya. maka ikuti aturan Islam.

Selain itu.. masih banyak bahan pembicaraan yang lain. Di kalangan pemerintahan. rasa percaya dari kasih itu sirna. sehingga pada akhirnya meruntuhkan bangunan masyarakat. Para murid beliau berkata. banyak sekali dugaan yang belum tentu benar adanya mengenai masalah amanah dan tugas yang diemban. Sehingga menyebabkan perpecahan terjadi diantara keduanya. Apabila tidak miskin dalam pengetahuan. mestinya tidak perlu menjadikan keburukan orang seagai bahan pembicaraan. Orang yang memfitnah dan menggunjing berarti menunjukkan kelemahan dan kemiskinannya sendiri.4. Hal seperti ini banyak terjadi dikalangan masyarakat yang rasa kekeluargaannya sudah mulai pudar.\ Jika di masyarakat umum. Seandainya kuat dalam argumentasi. selain itu juga banyak terjadi di kalangan pemerintahan. Naudzubillah. Nabi isa as.”Alangkah busuk bau bangkai ini. tuduhan penggelapan uang dan lain-lain. Suatu ketika Nabi Isa as.” Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang harus melihat isi positif pada suatu yang negatif dan berusaha menemukan kebaikan dalam suatu yang terliht buruk. mengarahkan mereka sambil berkata. fitnah yang terjadi kebanyakan disebabkan ke-iri hatian seseorang terhadap orang lain. Menggunjing apalagi memfitnah seseorang . karena nyatanya dia tak mampu menjadi seperti tetangganya. keburukan orang lain ditonjlkan. Tinjauan Masa Kini terhadap Fitnah Pada zaman sekarang sudah banyak orang yang saling tuduh menuduh dan saling mengadu domba pada setiap masalah yang sedang terjadi. Nilai Negatif dari Fitnah Keutuhan masyarakat tercipta apabila anggota-anggotaynya saling mempercayai dan kasihmengasihi. sungguh merugikan. bersama murid-muridnya menemukan bangkai binatang yang telah membusuk. apabila yang kita tuduhkan itu salah dan tidak terbukti. Ini mengharuskan masing-masing anggota mengenal yang lain sebagai manusia yang baik. tentu tidak perlu mengada-ada. berarti merusak keutuhan masyarakat satu demi satu. “Lihatlah betapa putih giginya.” Mendengar hal itu. maka kita akan menjadi orang yang dibenci masyarakat. tetangga yang lain menuduh yang bukan-bukan. Dengan menggunjing. bahkan menganggapnya tidak memiliki keburukan.. . Contohnya ketika salah seorang diantara tetangga ada yang membeli mobil baru. Seperti tuduhan korupsi. Ketika itu benih perpecahan tertanam.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->