Akhlak Tercela

1. DENDAM
1. Pengertian Dendam Dendam dalam bahasa Arab disebut juga dengan Al-Hiqdu ‫ . اىحقذ‬Menurut Al-Gazalidalam bukunya Ihya Ulumud Din jilid III, dijelaskan bahwa Hiqdu atau dendam berawal dari sifat pemarah. Sifat marah (gadab) itu terus dipelihara dan tidak segra diobati dengan memaafkan, maka akan menjadi dendam terhadap orang yang menyakiti kita. Pengertian dendam secara istilah adalah perasaan ingin membalas karena sakit hati yag timbul sebab permusuhan, dan selalu mencari kesempatan untuk melampiaskan sakit hatinya agar lawannya mendapat celaka, barulah ia merasa puas. Nabi muhammad SAW dan para sahabatnya ketika mereka berdakwah di Makkah selalu mendapatkan tekanan dan gangguan yang berat yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy. Gangguan dan tekanan itu berupa siksaan, hinaan bahkan ada anggota keluarganya yang dibunuh, sehingga nabi dan para sdahabatnya hijrah ke Madinah.akan tetapi ketika Fathul Makkah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya tidak membalas perbuatan orang-orang kafir tersebut, meskipun nabi memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan kaum kafir Quraisy. Bahkan nabi mengumandangkan perdamaian dan memaafkan kesalahan – kesalahan mereka pada waktu yang lalu. Rasulullah juga memberikan teladan tentang perilaku pemaaf, bukan dendam. Misalnya, perlakuan orang Thaif terhadap rasulullah para sahabatnya yang telah mengusirnya, bahkan melemparinya dengan batu. Ketika malaikat menawari Rasulullah untuk menghancurkan kaum itu Rasulullah justru berdoa : َُ ََْ٘‫اَىَّيٌُٖ إذ قَْ٘ ٍى فَئٌَُِّّٖ الٌََعي‬ ُ ْ ْ ِ ِ ْ َّ Artinya: “Ya Allah, berilah petunujuk atas kaumku karena sesungguhnya mereka itu belum mengetahui.” Kisah diatas memberikan gambaran , bahwa akhlak yang pantas dimilki oleh kaum beriman bukanlah sifat dendam dan sombong, tetapi adalah sifat terpuji diantaranya memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman : ْ ِ َ ْ ِ َ )999 : ‫خز ْاىعف٘ ٗ ْأٍشْ ثِب ْىعُشْ ف ٗأَعشضْ عِ اىجٖيٍَِِ (االعشاف‬ ُ َ ََْ ُِ ِ ْ َ ِ

Al-A‟raf : 199) Allah berfirman : ْ َ ْ َ )22 :‫. saling menghormati dengan sesama.. Ciri-ciri sifat dendam       Tujuan hidupnya membinasakan orang yang menjadi lawannya Perbuatan yang dilakukannya selalu bertujuan mengalahkan lawannya Tidak merasa puas bila lawannya belum mendapatkan kekalahan Hobi menyimpan rasa sakit hati dan berusaha membalas dikemudian hari Tidak mau mamaafkan kesalahan orang lain Selalu menjelek-jelekkan orang lain dan membuka aib orang lain 3.”(Qs. melainkan agar saling kenal-menganal. Hilangnya ketenangan jiwa. Perbuatan yang dibenci oleh Allah ْ ٌ‫أَثغَطُ اىشجو إِىَى هللاِ أَىَذ اىخصبً (أخشجٔ ٍغي‬ ِ َ ِ ْ ُّ ِ ُ َّ Artinya: “orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam kesumat (bertengkar).Muslim) b.”(An-Nuur : 22) 2. ٗ ْاىٍَعفُْ٘ اٗاىٍَصْ فَحُْ٘ ا أَالَرُحجُّْ٘ َُ أَُ ٌُغفِش هللاُ ىَنٌ ٗهللاُ غفُْ٘ سسَّحٌٍْ (اىْ٘س‬ َ ْ ْ ِ ُ َ ِ َ ُْ Artinya: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada . (اىحجشاد‬ َ َ َ َ ...”(HR. apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah adalah maha pengampun lagi maha penyayang.. Bahaya sifat dendam a. Menghindar bila bertemu dengan orang yang dibenci Padahal Allah menciptakan manusia dimuka bumi bukan untuk bermusuh-musuhan dan saling dendam. Firman Allah: ُ ْ ُ َ َ َ ْ ِ َ َ ْ ِّ ْ ُ ْ َ )91 : ‫ٌَبأٌََُّٖب اىَّْبطُ إَِّّب خيَقَْنٌ ٍِ رمش َّٗأُّثَى ٗجع ْيَْنٌ شعُْ٘ ثًب ٗقَجَبئِو ىِزَعبسفُْ٘ ا. jiwanya akan selalu bergemuruh oleh perasaan yang tidak nyaman c.Artinya: “jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.

3. Merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain pada hakikatnya adalah tidak suka dengan apa yang telah Allah takdirkan dan menentang takdir Allah. 4. 3. Ini semua adalah dosa besar yang bisa melahap habis berbagai kebaikan yang ada. Dikucilkan dalam pergaulan 4. Selalu marah ketika mendengar kebaikan orang yang dibenci e.Artinya: “Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan manjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Tidak menyukai apa yang Allah takdirkan. Kesengsaraan yang ada di dalam hati orang yang hasad. 2. Hasad Bahaya Hasad Hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang telah Allah berikan kepada orang lain. bahkan semata-mata merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain itu sudah terhitung hasad baik diiringi harapan agar nikmat tersebut hilang ataupun sekedar merasa tidak suka. merendahkan martabatnya dll. Mengetahui bahaya dari sifat dendam Senantiasa ingat kepada Allah dalam keadaan apapun Memaafkan kesalahan orang lain Saling menghormati dan menyayangi sesama manusia 2. Demikianlah hasil pengkajian yang dilakukan oleh Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah. 2. Cara menghindari sifat dendam 1. Hasad memiliki banyak bahaya di antaranya: 1. Beliau menegaskan bahwa definisi hasad adalah merasa tidak suka dengan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.”(al-Hujurat :13) d. Hasad itu akan melahap kebaikan seseorang sebagaimana api melahap kayu bakar yang kering karena biasanya orang yang hasad itu akan melanggar hak-hak orang yang tidak dia sukai dengan menyebutkan kejelekan-kejelekannya. Setiap kali dia saksikan tambahan nikmat yang didapatkan oleh orang lain maka dadanya terasa sesak dan . Bukanlah definisi yang tepat untuk hasad adalah mengharapkan hilangnya nikmat Allah dari orang lain. berupaya agar orang lain membencinya.

” (HR Bukhari dan Muslim).” (HR Ahmad dan Abu Daud. Hasad adalah penyebab meninggalkan berdoa meminta karunia Allah. Nabi bersabda. Hasad penyebab sikap meremehkan nikmat yang ada. meremehkan kebaikan yang telah dia lakukan dll. bersusah hati. Orang yang dia dengki-lah yang mendapatkan nikmat yang lebih besar dari pada nikmat yang Allah berikan kepadanya. Tuntutan hadits di atas adalah merasa tidak suka dengan hilangnya nikmat Allah yang ada pada saudara sesama muslim. 5.4. Memiliki sifat hasad adalah menyerupai karakter orang-orang Yahudi. 6. Nabi bersabda. Hasad bertolak belakang dengan iman yang sempurna. Orang yang . 7. Karena siapa saja yang memiliki ciri khas orang kafir maka dia menjadi bagian dari mereka dalam ciri khas tersebut. Jika engkau tidak merasa susah dengan hilangnya nikmat Allah dari seseorang maka engkau belum menginginkan untuk saudaramu sebagaimana yang kau inginkan untuk dirimu sendiri dan ini bertolak belakang dengan iman yang sempurna. shahih) Seberapa pun besar kadar hasad seseorang. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan. an Nisa‟: 32) 8. 10. “Barang siapa menyerupai sekelompok orang maka dia bagian dari mereka. meskipun demikian sangat disayangkan hasad ini banyak ditemukan di antara para ulama dan dai serta di antara para pedagang. Pada saat demikian orang tersebut akan meremehkan nikmat yang ada pada dirinya sehingga dia tidak mau menyukuri nikmat tersebut. dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. “Kalian tidak akan beriman hingga menginginkan untuk saudaranya hal-hal yang dia inginkan untuk dirinya sendiri. tidak mungkin baginya untuk menghilangkan nikmat yang telah Allah karuniakan. Akan selalu dia awasi orang yang tidak dia sukai dan setiap kali Allah memberi limpahan nikmat kepada orang lain maka dia berduka dan susah hati. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. dengki adalah akhlak yang tercela. Ketika hasad timbul umumnya orang yang di dengki itu akan dizalimi sehingga orang yang di dengki itu punya hak di akhirat nanti untuk mengambil kebaikan orang yang dengki kepadanya.” (QS. Hasad adalah akhlak tercela. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. Ringkasnya. Jika kebaikannya sudah habis maka dosa orang yang di dengki akan dikurangi lalu diberikan kepada orang yang dengki. Orang yang hasad selalu memikirkan nikmat yang ada pada orang lain sehingga tidak pernah berdoa meminta karunia Allah padahal Allah ta‟ala berfirman. dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan. Maksudnya orang yang hasad berpandangan bahwa dirinya tidak diberi nikmat. Orang yang hasad mengawasi nikmat yang Allah berikan kepada orang-orang di sekelilingnya dan berusaha menjauhkan orang lain dari orang yang tidak sukai tersebut dengan cara merendahkan martabatnya. Setelah itu orang yang dengki tersebut akan dicampakkan ke dalam neraka. Jika telah disadari bahwa itu adalah suatu yang mustahil mengapa masih ada hasad di dalam hati. 9.

maka demikian pula hendaklah kalian membenci mengghibahinya dan memakan dagingnya dalam keadaan hidup”.. Syaikh Salim Al-Hilaly berkata : “.punya profesi yang sama itu umumnya saling dengki. sesungguhnya rasa kebencian dan jijiknya semakin bertambah. ٗالَ ٌغزتْ ثَععنٌ ثَعْعً ب أٌَُحتُّ أَحذمٌ أَُ ٌَأْمو ىَحْ ٌ أَخٍْٔ ٍٍزًب فَنشٕزَُْ٘ ُٓ ٗارَّقُْ٘ ا هللاَ إُِ هللاَ رََّ٘اة سح‬ ُْ ُ ْ ْ َ ِ َ ِ َ ُ ْ ِ َ َْ ِ ِ َ َ ُ ْ ُْ ُ َ َ Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sebagaimana kalian membenci memakan dagingnya -apalagi dalam keadaan bangkai. Allah benar-benar telah mencela penyakit ghibah ini dan telah menggambarkan orang yang berbuat ghibah dengan gambaran yang sangat hina dan jijik.. tidak bernyawa. namun hal ini masih lebih baik daripada memakan daging saudara ‫ ع‬kita. bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari.mereka tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah. berkata dusta. bagaimana pula jika (yang engkau makan adalah) saudara engkau seagama ?. Ghibah Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan perintah Allah U dengan baik. namun…. pasti kalian membencinya. Padahal sepantasnya dan seharusnya mereka adalah orangorang yang sangat menjauhi sifat hasad dan manusia yang paling mendekati kesempurnaan dalam masalah akhlak. bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi r. فَقَبه: ٗهللاِ ألََْ ُ ٌَأْمو أَحذمٌ ٍِ ىَحْ ٌ َٕزا (حزَّى ٌََلََْ ثَطَُْٔ) خَ ٍْش‬ َ ِ َ ٍ َ ٍ ْ َ َ ِ ْ ِ ُْ ُ َ َ ُ ْ ْ َ َّ َ َ ٍ ْ ْ َ ْ‫ىَُٔ ٍِ أَُ ٌَأْمو ىَحْ ٌ أَخٍٔ (اى‬ ْ ُ )ٌِ‫ِ ْ ْ ُ َ َ ِ ْ ِ َغي‬ Dari Qois berkata : „Amru bin Al-„Ash t melewati bangkai seekor begol (hasil persilangan kuda dan keledai). Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati. Bahkan walaupun mereka telah tahu bahwasanya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah. maka beliau berkata :”Demi Allah. Sebagaimana dikatakan oleh „Amru bin Al-„Ash t: ْ َْ ‫6. 3. salah seorang dari kalian memakan daging bangkai ini (hingga memenuhi perutnya) lebih baik baginya daripada ia memakan daging saudaranya (yang muslim)”. Allah U berfirman : َّ ٌٍْ‫5. Memakan bangkai hewan yang sudah busuk saja menjijikkan. َْ عِ قٍَظ قَبه : ٍش عَشُٗ ثُِْ اىعبص عيَى ثجَغو ٍٍِّذ. Dan bagaimanakah lagi jika dalam keadaan bangkai? karena . (Al Hujurat 12) Allah U telah menyamakan mengghibahi saudara kita dengan memakan daging saudara (yang digibahi tadi) yang telah menjadi bangkai yang (hal ini) sangat dibenci oleh jiwa-jiwa manusia sepuncak-puncaknya kebencian. senantiasa pusa senin kamis.Sesungguhnya memakan daging manusia merupakan sesuatu yang paling menjijikan untuk bani Adam secara tabi‟at walaupun (yang dimakan tersebut) orang kafir atau musuhnya yang melawan. sungguh Allah Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih. Namun sangat disayangkan di antara para ulama dan para dai itu lebih besar. Berkata Syaikh Nasir As-Sa‟di : “Kemudian Allah U menyebutkan suatu permisalan yang membuat (seseorang) lari dari gibah. mampu untuk menjauhkan dirinya dari zina. minum khomer. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah.

“Dia gendut”. Dan engkau menyebutkan aibnya dihadapan manusia dalam keadaan dia goib (tidak hadir). “Dia sumbing”.. Definisi ghibah ِْ َ ْ ِْْ َ : ‫ قَبه : أَرَذسُْٗ َُ ٍب اىغٍجَخُ ؟ قَبىُْ٘ ا : هللاُ ٗ سعُْ٘ ىُٔ ُ أَعيٌَ، قَبه : رمشُكَ أَخَ بكَ ثَِب ٌَنشُٓ، فَقٍِْو‬rِ‫أَُ سعُْ٘ ه هللا‬t َ‫8. karena yang dimaksud dengan kehormatan adalah sesuatu yang ada pada manusia yang bisa dipuji dan dicela. “Dia kurus”. أَََّّٖب رمشد اٍشأَحً فَقَبىَذ :إََِّّٖب قَصٍشح. Dan demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan sebagaimana si goib juga tidak mengetahui gibah yang telah dilakukan oleh orang yang mengghibahinya ” Adapun menyebutkan kekurangannya yang ada pada badannya. misalnya engkau berkata pada saudaramu itu : “Dia buta”. عَِ حَبد عَِ إثشإٌٍ قَبه : مبَُ اِثُِْ ٍغعُْ٘ د‬ َ َ ِْ َ ٍ ْ َ َّ َ ْ َ ُُ‫اىجُٖزَب‬ ْ ْ Dari Hammad dari Ibrohim berkata : Ibnu Mas‟ud t berkata :”Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu. “Perutnya besar”. “Dia hitam”. oleh karena itu saudaramu) yang goib tersebut disamakan dengan mayat. dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan” Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah adalah :”Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang seandainya dia tahu maka dia akan membencinya”. “Dia juling”. ٗإِرا قُ ْيذَ ٍب ىٍَْظ فٍِٔ فَزاك‬t ‫9. Berkata Syaikh Salim Al-Hilali :”Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) dan dia dalam keadaan goib (tidak hadir dihadapan engkau).. Sama saja apakah yang engkau sebutkan adalah kekurangannya yang ada pada badannya atau nasabnya atau akhlaqnya atau perbuatannya atau pada agamanya atau pada masalah duniawinya. “Kaki meja (jika kakinya tidak berbulu)”. “Dia itu orangnya bodoh”. “Pantatnya besar”. Hal ini juga telah dijelaskan oleh Ibnu Mas‟ud t: َ َ ِْ ُ ْ َ َ ِْ ْ ِ َ ُ ْ ْ َ َ َِْ َ ْ ْ ِْْ ُ ‫ٌَقُْ٘ ه : اىغٍجَخُ أَُ رَزمش ٍِ أَخٍل ٍب رَعيٌَ فٍِٔ. karena si goib tidak mampu untuk membela dirinya. ٗ إُِ ىٌَ ٌَنِ فٍِٔ ٍب رَقُْ٘ ه فَقَذ ثََٖز‬ َ ْ َ َ ْ ُٔ ْ ُ ُ َ ِ ِْ ْ ِ ِْ َ ْ ِ ْ Dari Abu Huroiroh t bahwsanya Rosulullah r bersabda : Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi r berkata : “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”.فَقَبه اىَّْج‬ َ َ ِْ َ ْ ِ َ ََ ُّ . ْ ْ َ ْ ْ ْ َْ ُ ْ ْ ‫: اِغزَجزٍَِٖب‬r ًِ‫19. kehormatannya.sesungguhnya makanan yang baik dan halal dimakan. dan hartanya. yaitu darahnya.. عَِ أَثًِ ُٕشٌشح‬ َ ِ ْ ُْ ُ َ َ َ ِ ْ ُْ َ َ َّ َ َْ ْ ْ َ َ ُ ِ َ َُ Dari Abu Huroiroh t bahwasanya Rosulullah r bersabda : Semua muslim terhadap muslim yang lain adalah harom. “Dia itu agak miring sedikit”. عَِ أَثًِ ُٕشٌشح‬ َ َ ْ َ َ َ َ َ َ َّ َ َْ ْ ْ ُ ْ ُ ْ ْ َ ْ ْ ِ ُ َّ‫أَفَشأٌَْذَ إُِ مبَُ فًِ أَخً ٍب أَقُْ٘ ه ؟ قَبه : إُِ مبَُ فٍِٔ ٍب رَقُْ٘ ه فَقَذ اْغزَجزَُٔ. tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. “Dia tuli”. “Dia pendek” dan lain sebagainya. (Muslim) Orang yang mengghibah berati dia telah mengganggu kehormatan saudaranya. akan menjadi menjijikan jika telah menjadi bangkai…” ُُٔ‫قَبه : موُّ اىَغيٌِ عيَى اىَغيٌِ حشاً، دٍُٔ ٗعشْ ظُٔ ٍٗبى‬r ِ‫أَُ سعُْ٘ ه هللا‬t َ‫7. Nabi r ditanya : Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya ? Nabi r menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya. عَِ أَثًِ حزٌفَخَ عَِ عَبئِشخَ.

“Dia penakut”. “Tidak memperhatikan orang lain”. “Dia pengkhianat”. sesungguhnya aku melihat bahwa diriku telah mengghibahi laki-laki itu” Adapun pada nasab misalnya engkau berkata :”Dia dari keturunan orang rendahan”. yang hal ini berarti merendahkan dia. “Bapaknya orang fasik”. misalnya engkau berkata : “Tukang makan”.ُٔ‫ُ ِ َ ْ َ ِ جَحْ ش ىََضجز‬ Dari „Aisyah beliau berkata : Aku berkata kepada Nabi r: “Cukup bagimu dari Sofiyah ini dan itu”. “Dia keturunan maling”. tidak mengeluarkan zakat”. misalnya engkau berkata :”Dia akhlaqnya jelek…orang yang pelit”. Maka dia berkata :”Pergilah ke tabib fulan. “Dia itu orangnya lemah”. “Dia itu tempramental”. إًِِّّ أَساًِّ قَذ اغزَجز‬ ُ ْ ْ ُ ُ َّ َ َ َ ُ َ ِْ ِ َ َّ َ َ َ َ َ ٍِ َ ِ ْ ِ ِ َ ْ Dari Jarir bin Hazim berkata : Ibnu Sirin menyebutkan seorang laki-laki kemudian dia berkata :”Dia lelaki yang hitam”. aku berkata :”Benar”. atau yang selainnya dengan maksud meniru-niru keadaan seseorang. “Dia tidak berbakti kepada orang tua”. “Tidak ihtirom kepada manusia”. “Dia pendusta”. Sebagian rowi berkata :”‟Aisyah mengatakan Sofiyah pendek”. Termasuk ghibah yaitu seseorang meniru-niru orang lain.maka Nabi r berkata :”Engkau telah mengghibahi wanita tersebut” ْ ََ َ ََ ُ ْ ْ َ َْ٘‫حغجُل ٍِ صفٍَِّخ مزا ٗ مزاص قَبه ثَعْطُ اىشُّ ٗاحُ : رَعًِْ قَصٍشح.Dari Abu Hudzaifah dari „Aisyah bahwasanya beliau („Aisyah) menyebutkan seorang wanita lalu beliau („Aisyah) berkata :”Sesungguhnya dia (wanita tersebut) pendek”…. ثٌُ قَبه : أَعزَغفِش هللاَ. “Dia peminum khomer”. mitalah resep kepadanya”. “Tukang tidur”. Adapun pada akhlaknya. Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Hammad bin Zaid berkata :Telah menyampaikan kepada kami Touf bin Wahbin. misalnya berjalan dengan pura-pura pincang atau pura-pura bungkuk atau berbicara dengan pura-pura sumbing. Adapun pada agamanya. (tetapi) kemudian dia berkata :”Pergilah ke fulan (tabib yang lain) karena dia lebih baik dari pada si fulan (tabib yang pertama)”. “Tidak punya adab”. Kemudian dia berkata : “Aku mohon ampun kepada Allah. “Dia tidak membaguskan sujud dan ruku‟ kalau sholat”. Maka dia (Ibnu Sirin) berkata :”Aku melihat engkau sedang sakit”. tukang cari muka (cari perhatian)”. “Si fulan lebih baik dari pada dia” dan lain-lain. Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits : َ َ ْ َّ َ َ ْ ُ َ َ ْ ُ َ َ َ ْ ‫29. عَِ عَبئِشخَ قَبىَذ : قُ ْيذ ىِيَّْج‬ َ َ ِْ ْ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ِّ َ َ َ ِ ْ‫ٍضجذ ثَِبء اى‬ َْ َ َ ِ . “Dia sombong. “Dia itu hatinya lemah”. “Dia keturunan pezina”. Maka Nabi r berkata :”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya” ْ ْ ِ ْ َ ْ ُُٔ‫عَِ جشٌْش ثِ حبصً قَبه : رمش اثُِْ عٍْشٌَِ سجالً فَقَأه : راك اىشجو األَعْ٘دُ. قَبىَذ : ٗحنٍْذ ىَُٔ إِّغبًّب فَقَبه : ٍب أُحتُّ أًَِّّ حنٍْذ إِّغبًّب ٗ إُِ ىًِ مزا‬ َ ْ ِ َ َ „Aisyah berkata : “Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang seseorang pada Nabi r”. “Jorok”. Maka Nabi r pun berkata :”Saya tidak suka meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang (walaupun) saya mendapatkan sekian-sekian” . misalnya engkau berkata :”Dia pencuri”. “Dia itu orang yang dzolim. فَقَبه : ىَقَذ قُ ْيذ ميَِخً ى‬r ًِ‫99. dan lain-lain. dan lain-lain. Kemudian dia berkata :”Aku mohon ampunan dari Allah”. Adapun pada perbuatannya yang menyangkut keduniaan. menurutku aku telah mengghibahi dia (tabib yang pertama)”. dia berkata : “Aku menemui Muhammad bin Sirin dan aku dalam keadaan sakit.

Diantaranya yaitu jika seseorang namanya disebutkan di sisi engkau lantas engkau berkata: “Segala puji bagi Allah U yang telah menjaga kita dari sifat pelit”. perkataan engkau tidak hanya menunjukkan kepada ghibah. Maka hal ini adalah harom. Jika si penulis menghendaki untuk menjelaskan kesalahan orang tersebut agar tidak diikuti. Bagaimana jika yang dighibahi adalah orang kafir ? Berkata As-Shon‟ani : “Dan perkataan Rosulullah r (dalam hadits Abu Huroiroh di atas) (saudaramu) yaitu saudara seagama merupakan dalil bahwasanya selain mukmin boleh mengghibahinya”. Sebab engkau telah menunjukan kepada manusia bahwa engkau tidak melakukan sifat jelek orang yang disebutkan namanya tadi. yang penting bisa dipahami bahwasanya hal itu adalah merendahkan saudaranya yang lain.demikian-demikian…. dengan tujuan untuk merendahkan dan mencelanya. Bahkan lebih parah lagi. bahkan merupakan nasihat yang wajib yang mendatangkan pahala jika dia berniat demikian. maka ini bukanlah ghibah”. maka hal ini bukanlah ghibah. menunjukan bahwa jika dia (saudara kita yang kita ghibahi tersebut) tidak membencinya aib yang ditujukan kepadanya. seperti orang-orang yang mengumbar nafsunya dan orang gila. Berkata Ibnul Mundzir :”Dalam hadits ini ada dalil bahwasanya barang siapa yang bukan saudara (se-Islam) seperti yahudi. tetapi lebih dari itu dapat menjatuhkan engkau ke dalam riya‟. Ghibah itu bisa dengan perkataan yang jelas atau dengan yang lainnya seperti isyarat dengan perkataan atau isyarat dengan mata atau bibir dan lainnya. Berkata Syaikh Salim Al-Hilal :”Jika kita telah mengetahui hal itu (yaitu orang yang dipanggil dengan julukan-julukan yang jelek namun dia tidak membenci julukan-julukan jelek tersebut – pent) bukanlah suatu ghibah yang harom. Demikian pula jika seorang penulis berkata atau yang lainnya berkata : “Telah berkata suatu kaum -atau suatu jama‟ah. atau “Semoga Allah U melindungi kita dari memakan harta manusia dengan kebatilan”. sebab orang yang mendengar perkataan engkau itu faham bahwasanya berarti orang yang namanya disebutkan memiliki sifat-sifat yang jelek. maka hal ini bukanlah ghibah. Bagaimana jika kita memberi laqob (julukan) yang jelek kepada saudara kita. maka tidak ada (tidak mengapa) ghibah terhadapnya”. Yang disebut ghibah jika kita menyebutkan orang tertentu atau kaum tertentu atau jama‟ah tertentu. dan seluruh pemeluk agama-agama (yang lain).Termasuk ghibah yaitu seorang penulis menyebutkan seseorang tertentu dalam kitabnya seraya berkata :”Si fulan telah berkata demikian-demikian”. dan (juga) orang yang kebid‟ahannya telah mengeluarkannya dari Islam. atau yang lainnya. sebab ghibah adalah engkau menyebut saudaramu . atau untuk menjelaskan lemahnya ilmu orang tersebut agar orang-orang tidak tertipu dengannya dan menerima pendapatnya (karena orang-orang menyangka bahwa dia adalah orang yang ‘alim –pent). namun saudara kita tersebut tidak membenci laqob itu. apakah tetap termasuk ghibah? Berkata As-Shon‟ani : “ Dan pada perkataan Rosulullah r (dengan apa yang dia banci). dan pendapat ini merupakan kesalahan atau kekeliruan atau kebodohan atau keteledoran dan semisalnya”. nasrani.

dengan apa yang dia benci. Az-Zarkasyi berkata : “Dan sungguh aneh orang yang menganggap bahwasanya memakan bangkai daging (manusia) sebagai dosa besar (tetapi) tidak menganggap bahwasanya ghibah juga adalah dosa besar. Sedangkan Al-Gozhali dan penulis Al-„Umdah dari Syafi‟iyah berpendapat bahwasanya ghibah termasuk dosa kecil. Beliau berkata :”Yaitu orang-orang yang mengghibahi manusia. dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia”. Berkata Al-Auza‟i : “Aku tidak mengetahui ada orang yang jelas menyatakan bahwa ghibah termasuk dosa kecil selain mereka berdua”. Dan hadits-hadits yang memperingatkan ghibah sangat banyak sekali yang menunjukan akan kerasnya pengharaman ghibah. beliau berkata :”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela kehormatankehormatan manusia”. lalu aku berkata :”Siapakah mereka ya Jibril?”. padahal Allah menempatkan ghibah sebagaimana memakan bangkai daging manusia. ٍشسْ د ثِقَْ٘ ً ىٌَُٖ أَظفَبس ٍِ ُّحبط ٌَخَشْ٘ َُ ٗجُْ٘ ٌَُٕٖ ٗ صذْٗ سٌُٕ فَق ُ ْيذ : ٍِ َٕؤَُء ٌَب ججْشٌوُْ؟‬r ‫19. Imam Al-Qurthubi menukilkan ijma‟ bahwasanya ghibah termsuk dosa besar. عَِ أََّظ ثِ ٍبىِل‬ ُ َ َ َ ْ َ ِ ُ ٍ َ ِ ْ ِ ِْ ِْ ْ َ ْ ِْ ْ َ ِ ِْ ِ ٌٖ‫ججْشٌوُْ ٍِ َٕؤَُء؟ قَبه : اىَّزٌَِ ٌَغزَبثُْ٘ َُ اىَّْبط. Dalam riwayat yang lain : ْ ْ ٍ ُ ِ ْ ٍ َ ْ ِ ُ َ َ ْ َ ِ ْ َ ُ ‫: ىََب عُشج ثًِ. mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka.panggil-memanggil dengan julukan-julukan yang buruk. . قَبه سعُْ٘ ه هللا‬ ُ َ َ ُ ِ ِْ ِ ْ َ ُُ َ ْ َّ ُ ِْ ٌٖ‫قَبه : َٕؤَُء اىَّزٌَِ ٌَأْميُْ٘ َُ ىُحُْ٘ ً اىَّْبط ٌَٗقَعُْ٘ َُ فًِ أَعشاظ‬ ِْ ِ َ ْ ْ َ َ َ َ Rosulullah r bersabda : Ketika aku dinaikkan ke langit. (AlHujurot: 11)-pent) yang jelas melarang saling panggil-memanggil dengan julukan (yang jelek) sebagaimana tidak samar lagi (larangan itu)”. Hukum ghibah adalah harom berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan ijma‟ kaum muslimin. Namun terjadi khilaf diantara para ulama. ٌَٗقَعُْ٘ َُ فًِ أَعشاظ‬ ِْ ِ َ ْ ْ َ ِ َ َ Dari Anas bin Malik t berkata : Rosulullah r bersabda :”Pada malam isro‟ aku melewati sebuah kaum yang mereka melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka”. apakah ghibah termasuk dosa besar atau termasuk dosa kecil?. tetapi orang yang memanggil saudaranya dengan laqob (yang jelek) telah jatuh di dalam larangan Al-Qur‟an (yaitu firman Allah: Dan janganlah kalian saling. Maka aku bertanya :”Siapakah mereka ya Jibril?”. فَقُ ْيذ : ٌَب‬r ‫ قَبه : قَبه سعُْ٘ ه هللا‬t ‫19. Hukum ghibah ُ ِ ْ ٍ ُ ْ ْ ُ َ َ ‫: ٍشسْ د ىٍَيَخَ أُعْشي ثًِ عيَى قَْ٘ ً ٌَخَشْ٘ َُ ٗجُْ٘ ٌُٕٖ ثِأَظَبفِشٌٌٖ. aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga.

Namun alasan ini terbantahkan. Setelah itu maka tidak mengapa baginya untuk mendengar ghibah (yaitu sekedar mendengar namun tidak memperhatikan dan tidak faham dengan apa yang didengar –pent). namun hatinya ingin pembicaraan gibah tersebut dilanjutkan. Dia harus membenci gibah tersebut dengan hatinya (agar bisa bebas dari dosa-pent). Dan alasan ini juga tertolak sebab tersebarnya kemaksiatan ini hanya kalau ditinjau pada zaman sekarang. tanpa mendengarkan dengan baik ghibah itu jika memang keadaannya seperti ini (karena terpaksa tidak bisa meninggalkan majelis gibah itu –pent). Adapun pada zaman dahulu (zaman para salaf) kemaksiatan-kemaksiatan (termasuk ghibah) tidak tersebar sebagaimana sekarang. Hukum mendengarkan ghibah Berkata Imam Nawawi dalam Al-Adzkar :”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi. Justru yang tersebar adalah kebaikan. diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Jika dia tidak melakukannya berarti dia telah bermaksiat. atau dengan hatinya. Namun jika (beberapa waktu) kemudian memungkinkan dia untuk meninggalkan majelis dan mereka masih terus melanjutkan ghibah. Jika dia berkata dengan lisannya :”Diamlah”. maka harom baginya untuk istima‟(mendengarkan) dan isgo‟ (mendengarkan dengan saksama) pembicaraan ghibah itu. karena bahwasanya tersebarnya suatu kemaksiatan dan banyak manusia yang melakukannya tidaklah menunjukan bahwa kemaksiatan tersebut adalah dosa kecil. Jika dia terpaksa di majelis yang ada ghibahnya dan dia tidak mampu untuk mengingkari ghibah itu. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. maka wajib baginya untuk meninggalkan majelis” Allah U berfirman : ُ ْ ِ َْ ُْْ ْ َّ ُ ُ ِ ْ َّ َ ِ ِ َ ٍ ْ ِ َ ْ ‫59. atau seluruh manusia menjadi fasik. atau dia memikirkan perkara yang lain. Dan hal ini adalah kesulitan yang sangat besar”. agar dia bisa melepaskan diri dari mendengarkan gibah itu. Dan jika dia takut kepada orang itu. serta dia tidak memungkinkan baginya untuk meninggalkan majelis tersebut. Yang dia lakukan adalah hendaklah dia berdzikir kepada Allah U dengan lisannya dan hatinya. maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika memungkinkan hal itu.Berkata Syaikh Nasir As-Sa‟di :”Dalam ayat ini (Al-Hujurot :12) ada peringatan keras terhadap gibah dan bahwasanya gibah termasuk dosa-dosa besar karena diserupakan dengan memakan daging bangkai (manusia) dan hal itu (memakan daging bangkai) termasuk dosa besar”. atau dia telah mengingkari namun tidak diterima. kecuali hanya sedikit sekali yang bisa lolos dari penyakit ini. Jika dia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau dengan memotong pembicaraan ghibah tadi dengan pembicaraan yang lain. maka wajib bagi dia untuk melakukannya. ٗ إًِ ٌُْغٍََّْنٌ اىشٍطَبُُ فَالَ رَقعذ ثَعذ اىزك‬ ُ ُ ِْ َ ْ َْ ْ َ َ َ ِ ْ . Alasan mereka yang menyatakan bahwa ghibah adalah dosa kecil diantaranya perkataan mereka :”Kalau seandainya ghibah itu bukan dosa kecil maka sebagian besar manusia tentu menjadi fasik. ٗإرا سأٌَْذَ اىَّزٌَِ ٌَخْ٘ ظْ٘ َُ فًِ آٌَبرَِْب فَأَعشضْ عٌُْٖ حزَّى ٌَخْ٘ ظُْ٘ ا فًِ حذٌث غٍْشٓ. maka hal itu adalah kemunafikan yang tidak bisa membebaskan dia dari dosa.

“Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba). Baik berupa aib ataupun bukan. Al Bukhari) Ibnu Katsir menjelaskan. As Sunnah dan Ijma‟.” (HR. Baik yang tidak suka adalah pihak yang dibicarakan atau pihak yang menerima berita. Sebagian dari kita yang mengetahui bahaya namimah mungkin akan mengatakan. Banyak sekali dalil-dalil yang menerangkan haramnya namimah dari Al Qur‟an. yang kian kemari menghambur fitnah. atau sebaliknya. Al-Bukhari) Salah satu bentuk kejahatan lisan adalah namimah (adu domba). yang artinya. “Ah. Baik yang disebarkan itu berupa perkataan maupun perbuatan. nilainya akan baik jika lisannya baik. yang maknanya bahwa nilai seseorang ada pada lisannya. Apalagi ketika rasa benci dan hasad (dengki) telah memenuhi hati. maka aku akan menjamin untuknya surga. Atau meski bisa menjaga lisan dari namimah. Bahkan Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam memberi jaminan surga pada seorang muslim yang dapat menjamin lisannya. “Barangsiapa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua dagunya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan/farji). Ada pepatah yang mengatakan “mulutmu adalah harimaumu”. saya tidak mungkin berbuat demikian…” Tapi jika kita tak benar-benar menjaganya ia bisa mudah tergelincir. tapi betapa besar bahaya yang ditimbulkan olehnya jika sang pemilik tak bisa menjaganya dengan baik.” (HR.” (QS. Kata adu domba identik dengan kebencian dan permusuhan. Al Qalam: 10-11) Dalam sebuah hadits marfu‟ yang diriwayatkan Hudzaifah radhiyallahu „anhu disebutkan. Lisan. “Al qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka. ini menunjukkan betapa bahayanya lisan ketika kita tidak menjaganya.” . Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. akan tetapi tidak kita sadari bahwa terkadang kita terpengaruh oleh namimah yang dilakukan seseorang. sedangkan pepatah jawa mengatakan ajining diri ono ing lati. Hukum dan Ancaman Syariat Terhadap Pelaku Namimah Namimah hukumnya haram berdasarkan ijma‟ (kesepakatan) kaum muslimin. Namimah (Adu Domba) Berbicara mengenai bahaya lisan memang tidak ada habisnya. Dari Sahal bin Sa‟ad radhiyallahu „anhu. Definisi Namimah Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan bahwa namimah adalah mengutip suatu perkataan dengan tujuan untuk mengadu domba antara seseorang dengan si pembicara. Adapun Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalaani rahimahullah mengatakan bahwa namimah tidak khusus itu saja. Namun intinya adalah membeberkan sesuatu yang tidak suka untuk dibeberkan. Oleh karena itu kita benarbenar harus mengenal apakah itu namimah. maupun pihak lainnya. Sebagaimana firman Allah Ta‟ala.4. hanya ada satu di tubuh. “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela. lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.

6. 2.” Dengan begitu ia telah menjadi tukang namimah karena ia telah melakukan perkara yang dilarang tersebut. dan lain-lain. Bukan Termasuk Namimah Apakah semua bentuk berita tentang perkataan/perbuatan orang dikatakan namimah? Jawabannya. Sedang yang kedua. Hukumnya bisa sunnat atau bahkan wajib bergantung pada situasi dan kondisi. “(suatu hari) Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam melewati dua kuburan lalu berkata. Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudaranya dikarenakan namimah yang didengarnya. melaporkan pada pemerintah tentang orang yang mau berbuat kerusakan. Misalnya.” . AlBukhari) Sikap Terhadap Pelaku Namimah Imam An-Nawawi berkata. “Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab. Tidak membenarkan perkataannya. Tidak berprasangka buruk kepada saudaranya yang dikomentari negatif oleh pelaku namimah. 4. Atau melakukan ini dan ini terhadapmu. Maksudnya adalah ia tidak bisa langsung masuk surga.Perkataan “Tidak akan masuk surga…” sebagaimana disebutkan dalam hadist di atas bukan berarti bahwa pelaku namimah itu kekal di neraka. atau keluarga atau hartanya. sedangkan dirinya sendiri melarangnya. orang yang mau berbuat aniaya terhadap orang lain. Ibnu Abbas meriwayatkan. 5.” maka hendaklah ia melakukan enam perkara berikut: 1. menasehatinya dan mencela perbuatannya. “Fulan telah menyampaikan padaku begini dan begini. An-Nawawi rahimahullah berkata. berjalan kesana kemari menyebarkan namimah. Dan keduanya bukanlah diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. dikatakan kepadanya: “Fulan telah berkata tentangmu begini begini. Membencinya karena Allah. Karena tukang namimah adalah orang fasik. Pelaku namimah juga diancam dengan adzab di alam kubur. karena ia adalah orang yang dibenci di sisi Allah. maka tidak ada halangan menyampaikannya. Janganlah ia menyebarkan perkataan namimah itu dengan mengatakan. Maka wajib membenci orang yang dibenci oleh Allah. lalu bersabda. Yang pertama. 3. tidak. Mencegahnya dari perbuatan tersebut.” (HR. Inilah madzhab Ahlu Sunnah wal Jama‟ah untuk tidak mengkafirkan seorang muslim karena dosa besar yang dilakukannya selama ia tidak menghalalkannya (kecuali jika dosa tersebut berstatus kufur akbar semisal mempraktekkan sihir -ed). “Dan setiap orang yang disampaikan kepadanya perkataan namimah. Bukan termasuk namimah seseorang yang mengabari orang lain tentang apa yang dikatakan tentang dirinya apabila ada unsur maslahat di dalamnya. Tidak membiarkan dirinya ikut melakukan namimah tersebut.”. “Jika ada kepentingan menyampaikan namimah. tidak membersihkan diri dari air kencingnya. Misalnya jika ia menyampaikan kepada seseorang bahwa ada orang yang ingin mencelakakannya.

termasuk dalam hal ini adalah namimah.” Bagaimana Melepaskan Diri dari Perbuatan Namimah Ya ukhty. Muslim) Berusaha dan bersungguh-sungguhlah untuk menjaga lisan dan menahannya dari perkataan yang tidak berguna.” (Ya Allah. “Seseorang selayaknya memikirkan apa yang hendak diucapkannya. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda. Semoga Allah Ta‟ala selalu melindungi kita dari kejahatan lisan kita dan tidak memasukkan kita ke dalam golongan manusia yang merugi di akhirat dikarenakan lisan yang tidak terjaga. maka dia boleh mengucapkannya. hendaknya kita tidak memendam hasad (kedengkian) kepada saudara kita sesama muslim. dan janganlah kamu menjual barang serupa yang sedang ditawarkan saudaramu kepada orang lain. Imam Asy-Syafi‟i rahimahullah berkata. Hasad serta namimah adalah akhlaq tercela yang dibenci Allah karena dapat menimbulkan permusuhan. janganlah rasa tidak suka atau hasad kita pada seseorang menjadikan kita berlaku jahat dan tidak adil kepadanya.” (HR. Bahkan. maka lebih baik dia diam. bagi yang khawatir adalah lebih baik untuk menahan diri dari menyebarkan berita. ada kala niat dalam hati berubah ketika kita melakukannya. Adapun bila tujuannya adalah untuk memberi nasehat. lisanku. penglihatanku. Bukankah mulut seorang mukmin tidak akan berkata kecuali yang baik. Jika tampak baginya bahwa ucapannya akan benar-benar mendatangkan kebaikan tanpa menimbulkan unsur kerusakan serta tidak menjerumuskan ke dalam larangan. Dan hendaklah dia membayangkan akibatnya. hatiku dan kejahatan maniku. “Allahumma inni a‟uudzubika min syarri sam‟ii wa min syarri bashori wa min syarri lisaanii wa min syarri maniyyii. Sehingga. Akan tetapi terkadang sangat sulit untuk membedakan keduanya. mencari kebenaran dan menjauhi/mencegah gangguan maka tidak mengapa. meskipun sudah berhati-hati. Lebih dari itu. saling membenci. sedangkan Islam memerintahkan agar kaum muslimin bersaudara dan bersatu bagaikan bangunan yang kokoh. dan jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. “Janganlah kalian saling mendengki.Pada kondisi seperti apa menyebarkan berita menjadi tercela? Yaitu ketika ia bertujuan untuk merusak.) . sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kejahatan pendengaranku. Karena betapa banyak perbuatan namimah yang terjadi karena timbulnya hasad di hati. Jika sebaliknya. apalagi dari perkataan yang karenanya saudara kita tersakiti dan terdzalimi. saling bermusuhan.

mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah 217) َ ُِْْ َ َ ‫إُِ اىَّزٌَِ جبءٗا ثِبْلفل عُصْ جَخ ٍْنٌ ال رَحْ غجُُ٘ٓ ششا ىَنٌ ثَوْ ُٕ٘ خٍْش ىَنٌ ىِنو اٍشا‬ ُ َ ْ ُ ًّ َ َ ِ ْ ِْ ِ َّ ٍ ِ ْ ِّ ُ ْ ُ ََ ٌٍ‫ٌٍُْٖ ٍب امزَغت ٍَِ اْلثٌ ٗاىَّزي رَ٘ىَّى مجشُٓ ٌٍُْٖ ىَُٔ عزاة عَظ‬ ْ ِْ َ ِْ ِ ِ َ ِْ ِْ ِ َ َ ْ َ ْ ِْ َ “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian. Fitnah Seringkali para juru dakwah menyebut-nyebut kata fitnah. seandainya mereka sanggup. tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah. An-Nur 24:11) Pendapat Para Ulama tentang Fitnah Makna satu kata.S. kafir kepada Allah.5. menunjukkan bahwa ada kesalahpahaman besar seputar pemaknaan kata tersebut. dibandingkan . lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Berbagai realitas -termasuk yang saya dengar-. kata tersebut berbeda makna dalam bahasa kita. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar. sehingga mereka pasti paham. dalam berbagai bahasan. Pasalnya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. dan mereka itulah penghuni neraka. saat kata itu disebutkan oleh seorang juru dakwah. lalu dia mati dalam kekafiran. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya. Indonesia. Seringkali pula mereka beranggapan bahwa masyarakat Indonesia sudah begitu akrab dengan kata tersebut. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran). ” (Q. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat. di tengah masyarakat kita. FITNAH Dalil Tentang Fitnah َ ِ ‫ٌَغْأَىَُّ٘ل عَِ اىشْٖش اىحشاً قِزَبه فٍِٔ قُوْ قِزَبه فٍِٔ مجٍِش ٗصذ عَِ عجٍِو هللاِ ٗمفش ثِٔ ٗاىَغجذ‬ ِ ِ ْ َ ْ َ ِ ْ ُ َ َّ ِ َ ْ ٌّ َ َ ِ ٍ ِ َ َ ْ ِ َّ ِ َ َ َ َ ِ ْ ْ ِ ُ ْ ْ ْ َ َّ َ ْ ِ ُ ْ ْ ِ ِ ْ ُ َ ْ َ ِ َ َ ْ ْ ُ ُّ ُ َُُ٘‫ٌُقَبرِيَُّ٘نٌ حزَّى ٌَشدٗمٌ اىحشاً ٗإِخشاج إَٔئِ ٍُْٔ أَمجَش عْذ هللاِ ٗاىفِزَْخُ أَمجَش ٍَِ اىقَزو ٗال ٌَضاى‬ َ ُْ ْ َ َ ُ َ َ َ ْ ُ ِ ِ ْ ُْ ِْ ِْ ْ ِ ُْ ِ ْ ًِ‫عَِ دٌِْنٌ إُِ اعزَطَبع٘ا ٍِٗ ٌَشْ رَذد ٍْنٌ عَِ دٌِْٔ فٍَََذ ُٕٗ٘ مبفِش فَأُٗىَئِل حجطَذ أَعَبىٌُُٖ ف‬ ْ َ ْ ْ َِ َ ُ َ َُٗ‫اىذٍَّب ٗاَخشح ٗأُٗىَئِل أَصْ حبةُ اىَّْبس ٌُٕ فٍَِٖب خبىِذ‬ َ ْ ِ َ َ ِ َ ِ ْ َ ْ ُّ Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram.

dan Kesesatan seperti yang dijelaskan dalam surat AlMaidah: 41. karena dikhawatirkan terjadi fitnah…. tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah.‟…. Pengertian Fitnah dalam bahasa Arab disebut ‫ . Iaitu bahawa mereka itu menyebarkan kekafiran. kata fitnah.khawatir akan terjadi bencana.. wibawa atau reputasi. Sehingga.makna kata itu di dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Indonesia.” kebanyakan masyarakat Indonesia akan memahaminya.‟…. Yakni bencana maksiat. Bencana Sabda nabi Sallallhu alaihi Wasallam yang bermaksud: . B. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar.‟ Padahal yang dimaksud juru dakwah tersebut. kata itu berarti buhtaan. Fitnah yaitu komunikasi dengan satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan berdasarkan fakta palsu yang dapat mempengaruhi penghormatan. dan pengertian asalnya adalah "cobaan" atau "ujian". Maksud Fitnah Kata "fitnah" asalnya diserap daripada bahasa Arab. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh…” (Al Baqarah: 217) Firman-Nya lagi yang bermaksud: “Dan perangilah mereka itu. yang kesohor itu. ketika seorang juru dakwah mengatakan. mulai dari yang paling ringan. kafir kepada Allah. “seorang pria muslim tidak boleh berduaan dengan seorang wanita muslimah yang bukan muhrimnya. hingga perzinaan. Sementara kerap disampaikan para juru dakwah adalah makna kata itu dalam bahasa Arab. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu). maka tidak ada permusuhan (lagi). kecuali terhadap orang-orang yang zalim” (Al Baqarah: 193) Kata fitnah dalam ayat ini menurut para ulama tafsir adalah bermaksud „kekafiran‟ atau „kemusyrikan‟. Seperti disebutkan dalam hadits tentnag ghibah. dituduh berbuat mesum dan sejenisnya. sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. seperti disebutkan dalam banyak kamus bahasa Indonesia adalah: menuduh tanpa bukti. Maksud dan pengertian fitnah jika diselak lebar al-Quran dan hadis adalah sebagaimana berikut. lebih besar (dosanya) di sisi Allah .khawatir mereka berdua akan difitnah. (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya. Yakni. A. kata Fitnah diartikan sebagai perkataan yang bermaksud menjelekkan orang.ال ف ت نة‬Menurut Kamus Besar bahasa Indonesia. Dalam bahasa Arab. Fitnah juga diartikan sebagai Kekufuran seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqoroh:217.‟ 1. Kufur/Kafir Friman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermkasud: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram.

E. itulah pokok-pokok isi Al qur‟an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir” (At Taubah: 49) Dalam ayat ini kaum munafik di masa Nabi sallallahu „alaihi wasallam enggan menyertai peperangangan kerana menganggap itu adalah suatu kebinasaan (fitnah). Ia juga disebut sebagai propaganda. Di antara (isi) nya ada ayatayat yang muhkamaat. tiadalah kami mempersekutukan Allah” (Al An‟am: 23) Fitnah yang dimaksud dalam ayat ini adalah ucapan tipu dan dusta. D. Inilah penjelasan kepada ayat ini yang dengan jelas menyebut perkatan fitnah. untuk membela diri mereka di hadapan Allah.” Perkataan fitnah dalah hadis ini memberikan maksud bencana atau musibah yang akan berlaku sekiranya perkahwinan ditangguhkan. maka kahwinkanlah dia dengan anak perempuan mu. Ini kerana syarat pemuda soleh itu adalah sebaik-baik pilihan untuk dijadikan suami kepada anak-anak perempuan. Padahal Allah mengetahui hakikat mereka. Sengaja mencari penafsiran ayat melalui pendekatan logika akal manusia yang terbatas semata-mata. Dikhuatiri akan terjadi fitnah (bencana) dan kerosakan yang besar di muka bumi.” Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah . C. Iaitu kebinasaan diri mereka di akhirat kelak dengan balasan neraka yang paling bawah. Tujuan mereka semata-mata menyebar fitnah. maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta‟wilnya. Tuhan kami. Tipu Firman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermaksud : “Kemudian tiadalah fitnah mereka. padahal tidak ada yang mengetahui ta‟wilnya melainkan Allah…” (Ali Imran: 7) Terdapat sebagian orang Islam yang hanya menggunakan semata-mata penilaian mengikut aspek rasional. .“Apabila datang (meminang) kepada kamu seorang pemuda yang kamu sukai agama dan akhlaknya. sehingga melencong dari tafsiran yang tepat. dan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Ia bermaksud menimbulkan konflik dan kekeliruan dalam masyarakat. Konflik Firman Allah Subhanahu Wata‟ala yang bermaksud: “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur‟an) kepada kamu. kecuali mengatakan: “Demi Allah. Binasa Firman Allah Subhanahu Wata‟ala: yang bermaksud: “Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah. iaitu mencari konflik dan perselisihan dengan sesama muslim. Padahal sesungguhnya mereka telah berada dalam kebinasaan dengan sifat munafik. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan.

ketika orang itu tidak ada.F. Ketika dia merasa gagal. orang yang suka mengadu domba adalah penjilat bermuka dua. Gangguan Firman Allah Subhanahu Wata‟ala: yang bermaksud: “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”. mereka pasti akan berkata: “Sesungguhnya kami adalah bersamamu”. Hubbuddunya (lebih cinta kepada gemerlap duniawi daripada cinta kepada Allah)  Aqidahnya telah rusak. 3. . Menghindari Akhlak Tercela (Fitnah) Untuk menghindari fitnah ada beberapa tips yang perlu diperhatikan. ketika memperoleh kesuksesan. 2. Dia rela memfitnah dan mengadu domba orang lain agar posisi dan jabatannya aman. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu. Menghalalkan segala cara untuk kepentingan pribadi. jangan merespon dengan cepat berita-berita yang masih berkategori “katanya. Dan ketika orang itu datang.. Orang yang suka memfitnah tidak mampu bersaing secara sehat. Inilah sifat biasa manusia yang menganggap ujian Allah dalam bentuk gangguan manusia sebagai azab. kemudian berganti dengan memuji dan menyanjung. Karena sikap reaktif cenderung lebih tergesa-gesa. Dengan kata lain. Ada ungkapan al khabar kal ghabar (berita itu seperti debu) melayang ke mana-mana dan tidak bertuan. Reaktif tidak diperlukan dan tidak akan menyelesaikan masalah.  Pendusta. Hatinya terdorong untuk mengeruk keuntungan dengan jalan pintas. iri dan dengki yang muncul. Dia asyik sekali membongkar rahasia. maka pembicaraan pun berhenti dengan sendirinya.  Kufur ni'mat. Sifat dan Karakteristik Inilah gambaran orang yang suka memfitnah (mengadu domba) :Pengecut dan curang. Yang terpenting baginya adalah uang dan jabatan. Bahkan tega mengorbankan sahabat dan kelompok seperjuangan.”. dia sombong dan hidup melampaui batas. karena lebih takut kepada manusia daripada takut kepada Allah. Namun. Ini adalah perbuatan hina dan jijik.. keburukan dan kebusukan seseorang.Iri. maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah. kata fitnah membawa maksud ganguan. ia menganggap fitnah (gangguan) manusia itu sebagai azab Allah . Orang yang suka memfitnah dan mengadu domba berpotensi menjadi pengkhianat. bahkan menjadi darah daging.  Suka memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang lain. hati dan raganya digunakan untuk merugikan orang lain. dengki dan sombong selalu menempel di hatinya. Karena akal. Orang yang suka memfitnah adalah orang yang tidak bersyukur atas ni'mat Allah. Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia?” (Al Ankabut: 10) Dalam ayat ini. Hidup dan kehidupannya dihantui oleh prasangka buruk. 1) Jangan reaktif. Dusta/bohong menjadi menu utama dalam aksinya untuk memfitnah dan mengadu domba orang lain.

mintalah kepada orangtua untuk mendoakan agar kita selamat. terkadang berita dari satu tempat ke tempat lain sudah tidak akurat dan banyak dibumbuhi atau di sisipi berita lain. . Apa yang dapat kita lakukan sebagai upaya membentengi hati dari fitnah (adu domba) dan memeranginya : 1) Mulailah segala aktivitas dengan niat yang benar. maka periksalah dengan teliti. 2) Mintalah ridho dan restu orangtua. 3) Berpikir positif (husnuzhon). 3) Tabayyun. 9) Amar Ma'ruf Nahi Mungkar. Jangan lupa untuk memohon petunjuk dari Allah dengan sholat istikhoroh. 6) Hati-hati terhadap kesenangan dunia. yang baik dan tulus hanya untuk mendapatkan ridho Allah. Jangan pernah membenci manusia. "Hai orang-orang yang beriman. Jangan memandang / menilai seseorang dari sisi negatifnya. 5) Hati-hati dalam berbicara. 7) Hati-hati dalam mengemban amanah." 4) Jika memang apa yang diberitakan itu benar terjadi tetapi tidak kita inginkan selesaikan dengan cara dewasa dan penuh kesadaran serta kasih sayang antar sesama. maka ikuti aturan Islam. agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Sumber berita adalah penentu kebenaran berita itu sendiri. Gunakan akal sehat dan hati yang sholeh untuk menganalisa dan menemukan kebenaran dari setiap informasi/berita. saja. sebagai perwujudan rasa syukur kita kepada Allah. 4) Perbanyaklah mengingat Allah (zikrullah). Perjelas lagi berita itu kepada sumber aslinya. 8) Jika cinta Islam. Laksanakan amanah dengan mengedepankan kejujuran dan penuh tanggungjawab. Rajinlah bershodaqoh kepada fakir miskin dan anak yatim. 10) Senantiasa bersyukur kepada Allah.2) Pastikan bahwa berita itu ada pembawanya. Perdalamlah ilmu agama dengan rajin mengikuti majelis ilmu atau pengajian dan mengamalkan ajaran Islam dalam hidup dan kehidupan seharihari. bertindak dan dalam menerima informasi/berita. jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita. Bencilah kepada perilakunya yang negatif. Inilah yang di ingatkan oleh QS: al Hujurat:6 . Selalu mengajak sahabat-sahabat kita untuk berbuat baik dan mengingatkannya jika berbuat kemunkaran dan maksiat. karena benci kepada ciptaan Allah berarti benci kepada Allah. jabatan dan kedudukan. karena zikir kepada Allah dapat melembutkan hati dan menyehatkan akal.

Tinjauan Masa Kini terhadap Fitnah Pada zaman sekarang sudah banyak orang yang saling tuduh menuduh dan saling mengadu domba pada setiap masalah yang sedang terjadi. masih banyak bahan pembicaraan yang lain. sehingga pada akhirnya meruntuhkan bangunan masyarakat. Naudzubillah. maka kita akan menjadi orang yang dibenci masyarakat. . tetangga yang lain menuduh yang bukan-bukan. “Lihatlah betapa putih giginya. keburukan orang lain ditonjlkan.”Alangkah busuk bau bangkai ini. rasa percaya dari kasih itu sirna. Hal seperti ini banyak terjadi dikalangan masyarakat yang rasa kekeluargaannya sudah mulai pudar. tuduhan penggelapan uang dan lain-lain. Seperti tuduhan korupsi. fitnah yang terjadi kebanyakan disebabkan ke-iri hatian seseorang terhadap orang lain. apabila yang kita tuduhkan itu salah dan tidak terbukti. Para murid beliau berkata. Contohnya ketika salah seorang diantara tetangga ada yang membeli mobil baru.4. Suatu ketika Nabi Isa as. Seandainya kuat dalam argumentasi. Orang yang memfitnah dan menggunjing berarti menunjukkan kelemahan dan kemiskinannya sendiri.. karena nyatanya dia tak mampu menjadi seperti tetangganya. Dengan menggunjing. Sehingga menyebabkan perpecahan terjadi diantara keduanya. Selain itu. bahkan menganggapnya tidak memiliki keburukan. mengarahkan mereka sambil berkata.. mestinya tidak perlu menjadikan keburukan orang seagai bahan pembicaraan. Ini mengharuskan masing-masing anggota mengenal yang lain sebagai manusia yang baik. Menggunjing apalagi memfitnah seseorang . berarti merusak keutuhan masyarakat satu demi satu. Di kalangan pemerintahan. sungguh merugikan.” Mendengar hal itu. Nabi isa as. Nilai Negatif dari Fitnah Keutuhan masyarakat tercipta apabila anggota-anggotaynya saling mempercayai dan kasihmengasihi. banyak sekali dugaan yang belum tentu benar adanya mengenai masalah amanah dan tugas yang diemban. bersama murid-muridnya menemukan bangkai binatang yang telah membusuk.” Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang harus melihat isi positif pada suatu yang negatif dan berusaha menemukan kebaikan dalam suatu yang terliht buruk. tentu tidak perlu mengada-ada. Ketika itu benih perpecahan tertanam. Apabila tidak miskin dalam pengetahuan. selain itu juga banyak terjadi di kalangan pemerintahan.\ Jika di masyarakat umum.