P. 1
Poligami Dan Poliandri

Poligami Dan Poliandri

|Views: 389|Likes:
Published by Puank Jun

More info:

Published by: Puank Jun on Oct 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/05/2015

pdf

text

original

BAB I POLIGAMI DAN POLIANDRI

1. POLIGAMI a) Pengertian Poligami Poligami ialah mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang sama. Berpoligami atau menjalankan (melakukan) poligami sama dengan poligini mengawini beberapa wanita dalam waktu yang sama. Sebenarnya istilah poligami itu mengandung pengertian poligini dan poliandri tetapi karena poligami lebih banyak dikenal terutama di Indonesia dan Negara-negara yang memakai hokum Islam maka tanggapan tentang poligini dan poligami.

b) Hukum Poligami Para ulama klasik dari kalangan mufassir maupun fakih (ahli hukum) berpendapat berdasarkan QS. 4:3, pria muslim dapat menikahi empat perempuan. Tafsir ini telah mendominasi nalar seluruh umat Islam. Jadi dalam pengertian poligami itu tidak dilarang asalkan tidak lebih dari 4 istri. Akan tetapi, ulama seperti Muhammad Abduh (1849 – 1905) tidak sepakat dengan penafsiran itu. Baginya diperbolehkannya poligami karena keadaan memaksa pada awal Islam muncul dan berkembang, yakni dengan alasan : Pertama : Saat itu jumlah pria sedikit dibandingkan dengan jumlah wanita akibat gugur dalam peperangan antara suku dan kabilah, maka sebagai bentuk perlindungan terhadap wanita, para pria menikahi wanita lebih dari satu. Kedua : Saat itu Islam masih sedikit sekali pemeluknya. Dengan poligami wanita yang dikasihi diharapkan masuk Islam dan memengaruhi sanak keluarganya. Ketiga : Dengan poligami terjalin ikatan pernikahan antar suku yang mencegah peperangan dan konflik. Tetapi menurut Mohammad Abduh keadaan telah berubah, poligami justru menimbulkan permusuhan, kebencian dan pertengkaran antara para istri dan anak bahkan Syeikh Mohammad Abduh yang juga merupakan mantan

1

Syeikh di Al – Azhar ini berfatwa bahwa berpoligami ini hukumnya haram, dengan alasan : Pertama : Syarat poligami adalah berbuat adil, syarat ini sangat sulit dipenuhi dan hamper mustahil, sebab Allah sudah jelas mengatakan dalam QS. 4 : 129 bahwa lelaki tidak akan mungkin berbuat adil. Kedua : Buruknya perlakuan para suami yang berpoligami terhadap para istrinya, karena mereka tidak dapat melaksanakan kewajiban untuk member nafkah lahir dan batin secara baik dan adil. Ketiga : Dampak psikologis anak-anak dari hasil pernikahan

poligami mereka tumbuh dalam kebencian, dan pertengkaran sebab itu mereka bertengkar baik dengan suami atau dengan istri yang lain. Pendapat Ulama’ Dalam Berpoligami  Syeikh Mohammad Abduh juga menjelaskan hanya Nabi Muhammad saja yang dapat berbuat adil sementara yang lain tidak, dan satu ini tidak dapat dijadikan patokan sebab ini kekhususan dari akhlak Nabi kepada istriistrinya. Mohammad Abduh membolehkan poligami hanya kalau istri itu mandul. Fatwa dan tafsiran Mohammad Abduh tentang peoligami tersebut membuat hanya dialah satu-satunya ulama’ di dunia Islam yang secara tegas mengharamkan poligami.  Selanjutnya praktik pernikahan Arab pra-Islam ini ada yang berlangsung hingga masa Nabi bahkan hingga masa Khulafaur Roshidin. Poligami yang termaktub dalam QS. 4 : 3 adalah sisa praktik pernikahan jahiliyah sebagaimana disebutkan di atas, oleh karenanya tepat kiranya Thaha Husain menyatakan dalam bukunya Fi Syi’r Al – Jahli yang menggemparkan dunia Arab tahun 1920-an hingga dia di plat sebagai dosen Universitas Kairo, bahwa Al – Qur’an adalah cermin budaya Masyarakat Arab Jahiliyah.  Perempuan kala itu dalam kondisi terpinggirkan, kurang menguntungkan dan menyedihkan, dan al – Qur’an merekamnya melalui teks-teksnya yang masih dapat kit abaca saat ini. Dalam hal poligam, al – Qur’an merekam praktik tersebut sebab poligami adalah realitas social masyarakat saat itu.

2

Oleh karenanya QS. 4 : 3 harus dilihat sebagai ayat yang belum selesai, sebab al – Qur’an adalah produk yang tak luput dari konteks social, budaya, politik masyarakat Arab Hijaz saat itu, al – Qur’an sesungguhnya respon Allah terhadap persoalan umat yang dihadapi Muhammad kala itu, sebagaimana respon tentu al – Qur’an menyesuaikan dengan keadaan setempat yang pada saat itu diisi budaya kelelakian yang dominan. Selanjutnya pendapat para ulama’ Mahmud Syaltut, hukum poligami

adalah “Mubah”. Poligami dibolehkan selama tidak dikhawatirkan terjadinya penganiayaan terhadap istri, jika terdapat kemungkinan terjadinya

penganiayaan, kemungkinan dosa tidak bisa dilepaskan. Sedangkah pendapat Zyamahsyari dalam kitabnya tafsir Al – Kasy Syaaf mengatakan bahwa poligami menurut Syariat Islam adalah rukhshah (kelonggaran) ketika darurat, sama halnya dengan rukhshah bagi musafir dan orang sakit yang dibolehkan buka puasa Ramadhan ketika dalam perjalanan. Darurat yang dimaksud ini adalah berkaitan dengan tabiat lelaki dari segi kecenderungannya untuk bergaul lebih dari seorang istri, kecenderungan yang ada pada seorang lelaki itulah seandainya syariat Islam tidak memberikan kelonggaran berpoligami niscaya akan membawa kepada perzinahan. Selanjutnya dalam UU RI Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan membolehkan poligami dengan syarat atas izin istri pertama. UU ini diperkuat dengan keluarnya UU RI No. 7/1989 tentang Pengadilan Agama. Kompilasi hukum Islam semakin memperjelas kebolehan poligami di Indonesia. Menurut ulama’ Mohammad Rasyid Ridha berpendapat mengenai poligami dalam mencantumkan beberapa hal yang boleh dijadikan alasan berpoligami, antara lain; 1. Isteri mandul 2. Isteri yang mempunyai penyakit yang luar biasa yang dapat menghalangi suaminya untuk memberkan nafkah batin. 3. Bila suami mempunyai kemauan seks luar biasa, sehingga isterinya haid beberapa hari saja menghawatirkan dirinya berbuat serong. 4. Bila satu daerah yang jumlah perempuannya lebih banyak daripada lelaki. c) Ayat – ayat yang menjelaskan poligami Dalam hukum poligami di sebutkan dalam surat an Nisa’ yang artinya:

3

“Dan jika kamu takut tidak akan belaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bila kamu mengawininya) maka kawinilah wanitawanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki yang demikian itu adalah lebih dekat tidak berbuat aniaya. Jadi maksud ayat surat An-Nisa’ itu adalah bahwa kamu boleh mengawini yatim Asuhanmu denga syarat adil. Bila tidak dapat berlaku demikian, hendaklah kamu memilih wanita yang lain saja, sebab perempuan selain yatim yang dalam asuhanmu masih banyak jumlahnya, namun jika kamu tidak dapat berbuat adil, maka kawinilah seorang wanita saja.

Dalam hadits lain disebutkan yaitu : “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW. berkata kepada Ghailan bin Umaiyyah al – Tsaqafi yang waktu masuk Islam mempunyai sepuluh isteri, pilihlah empat diantara mereka dan ceraikanlah yang lainnya” (HR. An-Nasai’ dan Daruquthni). Selanjutnya Hadits riwayat Abu Daud “Saya masuk Islam bersama-sama denga isteri saya, lalu saya ceritakan kepada Nabi Muhammad SAW. maka beliau bersabda “Pilihlah empat dari mereka” (HR. Abu Daud).

d) Dampak Poligami 1) Timbul perasaan inferior, menyalahkan diri sendiri, isteri merasa tindakan suaminya berpoligami adalah akibat dari ketidak mampuan dirinya memenuhi kebutuhan biologis suaminya. 2) Ketergantungan secara ekonomi kepada suami 3) Hal lain yang terjadi akibat adanya poligami adalah sering terjadinya kekerasan terhadap perempuan, baik fisik, ekonomi, maupun psikologi. 4) Selain itu, dalam masyarakat sering terjadi nikah bawah tangan, yaitu perkawinan yang tidak dicatatkan pada kantor pencatatan nikah (KUA). 5) Kebiasaan berganti-ganti pasangan menyebabkan suami/istri menjadi rentan terhadap penyakit menular, bahkan rentan terjangkit virus HIV/AIDS.

4

2. POLIANDRI a) Pengertian Poliandri Poliandri adalah satu orang perempuan memiliki banyak suami. Disebut poliandri franternal jika suami beradik kakak, disebut non franternal bila suami-suami tidak ada hubungan kakak adik kandung. b) Hukum Poliandri Hukum poliandri adalah haram berdasarkan Al – Qur’an dan As – Sunnah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa’ (4) : 24 yaitu : “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki”. Pendapat Imam Syafi’i menafsirkan ayat di atas lebih jauh dengan mengatakan : “Wanita-wanita yang bersuami baik wanita merdeka atau budak diharamkan tas selain suami-suami mereka, hingga suami-suami mereka berpisah dengan mereka karena kematian, cerai atau fasakh nikah, dan lain-lain”. Jelas bahwa wanita yang bersuami haram dinikahi oleh laki-laki lain, dengan kata lain ayat di atas merupakan dalil al – Qur’an atas haramnya poliandri. Adapun dalil As-Sunnah bahwa Nabi SAW. telah bersabda. “Siapapun saja yang dinikahkan oleh 2 orang wali maka wanita itu bagi wali yang pertama dari keduanya”. (Imam Asy-Syaukani, Nailul Authar, Hadits no, 2185, Imam Ash-Syan’ami, Subulus Salam, juz III/123) c) Dampak Poliandri Poliandri Berdampak  Kurangnya keharmonisan dalam rumah tangga  Dampak psikologis anak yang dimiliki banyak bapak  Mendapat celaan masyarakat sekitar.

5

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->