P. 1
Asuhan Keperawatan Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas

Asuhan Keperawatan Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas

|Views: 3,108|Likes:
Published by Argitya

More info:

Published by: Argitya on Oct 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2015

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PERDARAHAN SALURAN CERNA BAGIAN ATAS ( SCBA

)

DISUSUN OLEH

ARIEFHANY RANSHA ARGITYA RIGHO AGNES THERESIA LIA SHERLYANTI

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH PONTIANAK ( STIK MUH ) TAHUN AJARAN 2012

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) adalah perdarahan saluran makanan proksimal dari ligamentun Treitz. Untuk keperluan klinik dibedakan perdarahan varises esofagus dan non-varises, karena antara keduanya terdapat ketidaksamaan dalam pengelolaan dan prognosisnya. Manifestasi klinik perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) bisa beragam tergantung lama, kecepatan, banyak sedikitnya darah yang hilang, dan apakah perdarahan berlangsung terus menerus atau tidak. Pasien SCBA biasanya datang dengan kemungkinan: 1. 2. Anemia defisiensi besi akibat perdarahan tersembunyi yang berlangsung lama. Hematemesis dan atau melena yang disertai atau tanpa anemia, dengan atau tanpa gangguan hemodinamik dimana derajat hipovolemik menentukan tingkat kegawatan pasien. Penyebab perdarahan SCBA yang sering dilaporkan adalah pecahnya varises esofagus, gastritis erosif, tukak peptik, gastropati kongestif, sindroma Mallory-Weiss, dan keganasan. Perbedaan di antara laporan-laporan penyebab perdarahan SCBA terletak pada urutan penyebab tersebut. (Adi, 2007) B. Tujuan Penulisan makalah berjudul “Asuhan Keperawatan Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas” ini bertujuan untuk menjelaskan definisi, etiologi, gejala dan tanda klinis, penegakan diagnosis, serta penatalaksanaan yang tepat, cepat dan akurat mengenai “Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas” sehingga mendapatkan prognosis yang baik dan keselamatan pasien terjamin.

BAB II PERDARAHAN SALURAN CERNA ATAS

A. Definisi Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) adalah perdarahan saluran makanan proksimal dari ligamentum Treitz. Ligamentum Treitz merupakan pita dasar otot polos yang berasal dari krus sinistra diafragma dan bersambung dengan selubung otot duodenum pada persambungan dengan jejunum. ( Adi, 2006 & Laine, 2004 ). Menurut Shuhart, Kowdley, and Neighbor, 2002 Perdarahan saluran cerna bagian atas adalah perdarahan yang terjadi dan berasal pada area proksimal saluran pencernaan bagian proximal dari Ligamentum Treitz. Yang termasuk organ – organ saluran cerna di proximal Ligamentum Trieitz adalah esofagus, lambung (gaster), duodenum dan sepertiga proximal dari jejunum. B. Etiologi Beberapa penyebab timbulnya perdarahan saluran cerna bagian atas diantaranya adalah: ( Umar, 2003 & Kahan & Smith, 2004 ) 1. Kelainan di esofagus     Varises esofagus; biasanya pada penderita sirosis dan alkoholik Esofagitis Ulkus atau erosi esofagus Tumor esofagus

             

Sindroma Mallory-Weiss

2. Kelainan di lambung dan duodenum Ulkus peptikum yang kronis dan akut (stress ulcer) Post gastrektomi Obat-obatan

3. Beberapa penyakit darah Polisitemia rubra vera Lekemia Trombositopenia purpura Hemofilia Terapi antikoagulasi (misalnya, warfarin) Hereditary hemorrhagic telangiectasia

4. Beberapa penyakit lainnya. Hipertensi maligna Alergi makanan Connective tissue disease Uremia, dan lain-lain

Keadaan ini merupakan 90% dari semua kasus perdarahan saluran cerna bagian atas, dimana kita temukan lesi yang jelas ( Laine, 2004 )

Gambar 2. Sumber perdarahan pada lambung dan usus

Penyebab utama perdarahan saluran cerna bagian atas adalah ulkus peptikum, sedangkan penyakit hati menahun dengan komplikasi hipertensi portal yang disertai perdarahan esophagus hanya 10% dari penderita, tetapi masih tetap merupakan penyebab utama kematian ( Willson, 2000 ) Tabel 2. Sources of Bleedingin Patients Hospitalized for Acute UGIB Proportion of patients Sources of bleeding Ulcers Varices Mallory-Weiss tears Gastroduodenal erosions Erosive esophagitis Malignancy No source identified % 35–62 4–31 4–13 3–11 2–8 1–4 7–25

Dari 1673 kasus perdarahan SCBA di SMF Penyakit Dalam RSU dr. Sutomo Surabaya, penyebabnya 76,9% pecahnya varises esofagus, 19,2% gastritis erosif, 1,0% tukak peptik, 0,6% kanker lambung, dan 2,6% karena sebab-sebab lain. Laporan dari RS Pemerintah di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta urutan 3 penyebab terbanyak perdarahan SCBA sama dengan di RSU dr. Sutomo Surabaya. Sedangkan laporan di RS Pemerintah di Ujung Pandang menyebutkan tukak peptik menempati urutan pertama penyebab perdarahan SCBA. Laporan kasus di RS swasta, yakni RS Darmo Surabaya perdarahan karena tukak peptik 51,2%, gastritis erosif 11,7%, varises esofagus 10,9%, keganasan 9,8%, esofagitis 5,3%, sindrom Mallory-Weiss 1,4%, tidak diketahui 7%, dan penyebabpenyebab lain 2,7% ( Adi, 2006 ) C. Patofisiologi Pada gagal hepar sirosis kronis, kematian sel dalam hepar mengakibatkan peningkatan tekanan vena porta. Sebagai akibatnya terbentuk saluran kolateral dalam submukosa esopagus dan rektum serta pada dinding abdomen anterior untuk mengalihkan darah dari

sirkulasi splenik menjauhi hepar. Dengan meningkatnya teklanan dalam vena ini, maka vena tersebut menjadi mengembang dan membesar (dilatasi) oleh darah (disebut varises). Varises dapat pecah, mengakibatkan perdarahan gastrointestinal masif. Selanjutnya dapat mengakibatkan kehilangan darah tiba-tiba, penurunan arus balik vena ke jantung, dan penurunan curah jantung. Jika perdarahan menjadi berlebihan, maka akan mengakibatkan penurunan perfusi jaringan. Dalam berespon terhadap penurunan curah jantung, tubuh melakukan mekanisme kompensasi untuk mencoba mempertahankan perfusi. Mekanisme ini merangsang tandatanda dan gejala-gejala utama yang terlihat pada saat pengkajian awal. Jika volume darah tidak digantikan, penurunan perfusi jaringan mengakibatkan disfungsi seluler. Sel-sel akan berubah menjadi metabolisme anaerob, dan terbentuk asam laktat. Penurunan aliran darah akan memberikan efek pada seluruh sistem tubuh, dan tanpa suplai oksigen yang mencukupi sistem tersebut akan mengalami kegagalan D. Manifestasi Klinis Gambaran klinik perdarahan saluran cerna ini tergantung kepada beratnya perdarahan, cepatnya perdarahan, dan penyakit dasarnya atau penyakit yang menyertainya. Bila kehilangan darah mencapai 40% dari volume darah tubuh, akan timbul syok. Perdarahan saluran cerna bagian atas sering mengakibatkan hematemesis dan melena. Warna muntah darah ini bervariasi dari merah segar sampai hitam, tergantung kepada lamanya kontak dengan asam lambung. Jika muntah terjadi segera sesudah perdarahan, maka cenderung berwarna merah tua sampai hitam (“coffee ground”), karena lamanya kontak dengan asam lambung yang mengakibatkan terbentuknya hematin. ( Kahan & Smith, 2004 ) Melena adalah berak darah berwarna hitam seperti aspal (“tarry stool”) bisa terjadi sendiri saja atau bersamaan dengan hematemesis. Seandainya hematemesis yang menyolok, kita cenderung kepada suatu lesi di esofagus, sedangkan melena yang menonjol kemungkinan besar berasal dari ulkus duodenum. Gambaran klasik perdarahan ini adalah penderita pucat, berkeringat, takikardia, kulit dingin dan lembab, tekanan darah yang menurun, tetapi ini tidak selalu ditemukan ( Kahan & Smith, 2004 & Wrongdiagnosis, 2004 ) Cepatnya darah yang hilang dalam volume besar menurunkan venous return dan cardiac output, dan menyebabkan vasokonstriksi. Penderita bisa mengalami pusing,

muntah, haus dan sinkop. Perdarahan hebat saluran cerna bagian atas tidak selalu menyebabkan gejala muntah, tetapi pada penderita tersebut akan timbul melena tanpa disertai hematemesis. Sebaliknya bila ditemukan tinja yang hitam lembek seperti aspal (dark tarry blood feaces) ini biasanya selalu perdarahan yang berasal dari bagian atas dan sering juga penyebab timbulnya hematemesis. E. Komplikasi 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Anemia Dehidrasi Pusing Nyeri Dada – jika ada juga penyakit jantung. Kehilangan darah Syok ( hipovolemik, kardiogenik, neurogenik ) Kematian Gagal jantung Gagal hepar sirosis kronis

10. Gastritis F. Pemeriksaan Diagnostik 1. Pemeriksaan Lab a. Hitung darah lengkap: penurunan Hb, Ht, peningkatan leukosit b. Elektrolit: penurunan kalium serum; peningkatan natrium, glukosa serum dan laktat. c. Profil hematologi: perpanjangan masa protrombin, tromboplastin d. Gas darah arteri: alkalosis respiratori, hipoksemia.

2. Pemeriksaan Radiologis a. Dilakukan dengan pemeriksaan esopagogram untuk daerah esopagus dan double contrast untuk lambung dan duodenum. b. Pemeriksaan tersebut dilakukan pada berbagai posisi terutama pada 1/3 distal esopagus, kardiadan fundus lambung untuk mencari ada tidaknya varises, sedini mungkin setelah hematemisis berhenti. 3. Pemeriksaan Endoskopi a. Untuk menentukan asal dan sumber perdarahan b. Keuntungan lain: dapat diambil foto, aspirasi cairan dan biopsi untuk pemeriksaansitopatologik 4. Rongtenologik Pemeriksaan X-ray perlu sekali dikerjakan. Hampton (1937) melakukan pemeriksaan fluoroskopik pertama kalinya dengan bubur barium beberapa saat setelah penderita mengalami hematemesis, guna menentukan sebab perdarahan dan lokalisasinya. Dengan pemeriksaan radiologis yang memakai kontras biasanya sudah dapat ditemukan asal perdarahan sekitar 75% ( Umar, 2003 ) Pemeriksaan radiologis ini dapat dilakukan beberapa hari sampai beberapa minggu setelah perdarahan berhenti. Tetapi beberapa ahli tidak setuju untuk melakukan pemeriksaan ini setelah perdarahan berhenti dengan alasan kemingkinan besar timbul perdarahan baru. Sebaliknya Schatzki mengatakan pemeriksaan tersebut setelah perdarahan berhenti tidak membahayakan. Walaupun pemeriksaan radiologis ini mempunyai arti yang kurang, tetapi mutlak harus dilakukan seperti halnya melakukan endoskopi pada penderita perdarahan saluran cerna bagian atas. G. Penatalaksanaan Prinsip umum pengelolaan perdarahan akut saluran cerna bagian atas 1. Pengelolaan dasar atau standar a) Penilaian cepat status kegawatan (hemodinamik & respirasi)

b) Resusitasi (fungsi hemodinamik dan respirasi) c) Pemeriksaan data dasar d) Pasang pipa nasogastrik e) Pemberian obat penghambat sekresi asam, sitoproteksi, dll 2. Pengelolaan intensif Untuk menghentikan/kontrol perdarahan yang masih aktif/masif a) Terapi medik intensif (obat vasokonstriktif) b) Pemasangan pipa sengstaken-Blakemore c) Terapi endoskopi (skleroterapi/ligasi, hemostatik, dll) d) Terapi bedah darurat 3. Pengelolaan definitif Menentukan sumber/penyebab perdarahan dan terapi spesifik

H. Askep Kasus Pemicu 1 Tn A. Dibawa ke RS. Anugrah oleh keluarganya. Dari hasil pengkajian dengan anggota keluarganya mengatakan bahwa 1 jam yang lalu sebelum dibawa ke rumah sakit Tn A. Mengeluh badannya tremor dan pusing serta muntah darah. Keluarga pasien mengatakan Tn. A mengatakan mempunyai riwayat penyakit maag sudah 5 tahun. Dari hasil pemeriksaan didpatkan hasil bahwa klien terlihat pucat dan lemah, td 100/80 mmHg, suhu 37 C. Frekuensi nadi 86 x menit, frekuensi napas 20 x permenit. Pasien mengatakannya nyeri dada dan pusing. Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tim medis didapatkan diagnosa perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA). 1. Analisa Data Do : Klien terlihat pucat dan lemah TD 100/80 ( normal 120/80 ), suhu 37 C

( normal 36 ), Frek. Nadi 86 x/menit ( normal dewasa 60-80 x/menit ), Frekuensi Napas 20 x /menit ( normal dewasa 16-18 x/menit ).

Ds

: Tn A mengeluh badannya tremor dan pusing serta muntah darah, keluarga

Tn A mengatakan mempunyai riwayat penyakit maag sudah 5 thn. Pasien mengatakan nyeri dada dan pusing. 2. Diagnosa Keperawatan a. Pola napas tidak efektif b/d penurunan curah jantung akibat dari kehilangan darah secara tiba-tiba. b. Nyeri Akut b/d syok kardiogenik. Ditandai dengan Ds : pasien mengatakan nyeri dada c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi tidak adekuat ditandai dengan Ds : Tn A mengeluh badannya tremor dan pusing serta muntah darah. d. Defisit volume cairan b/d dehidrasi, syok hipovolemik, dan perdarahan berlebihan. e. Hipertermi b/d peningkatan suhu tubuh. Ditandai dengan Do : suhu 37 C f. Ansietas b/d ancaman kematian 3. Intervensi a. Pola napas tidak efektif b/d penurunan curah jantung akibat dari kehilangan darah secara tiba-tiba. Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Pola Nafas tidak efektif berhubungan dengan : - Hiperventilasi - Penurunan energi/kelelahan - Perusakan/pelemahan muskulo-skeletal - Kelelahan otot pernafasan - Hipoventilasi sindrom - Nyeri - Kecemasan - Disfungsi Neuromuskuler - Obesitas - Injuri tulang belakang Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC: NIC: Respiratory status :  Posisikan pasien untuk Ventilation memaksimalkan ventilasi Respiratory status : Airway  Pasang mayo bila perlu patency  Lakukan fisioterapi dada jika Vital sign Status perlu  Keluarkan sekret dengan Setelah dilakukan tindakan batuk atau suction keperawatan selama  Auskultasi suara nafas, catat ………..pasien menunjukkan adanya suara tambahan keefektifan pola nafas,  Berikan bronkodilator : dibuktikan dengan kriteria -………………….. hasil: ……………………. Mendemonstrasikan batuk  Berikan pelembab udara efektif dan suara nafas yang

DS: - Dyspnea - Nafas pendek DO: - Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi - Penurunan pertukaran udara per menit - Menggunakan otot pernafasan tambahan - Orthopnea - Pernafasan pursed-lip - Tahap ekspirasi berlangsung sangat lama - Penurunan kapasitas vital - Respirasi: < 11 – 24 x /mnt

bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dg mudah, tidakada pursed lips) Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal) Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernafasan)

Kassa basah NaCl Lembab  Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.  Monitor respirasi dan status O2  Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea  Pertahankan jalan nafas yang paten  Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi  Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi  Monitor vital sign  Informasikan pada pasien dan keluarga tentang tehnik relaksasi untuk memperbaiki pola nafas.  Ajarkan bagaimana batuk efektif  Monitor pola nafas

b. Nyeri Akut b/d syok kardiogenik. Ditandai dengan Ds : pasien mengatakan nyeri dada Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Nyeri akut berhubungan dengan: Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis), kerusakan jaringan DS: - Laporan secara verbal DO: - Posisi untuk menahan nyeri - Tingkah laku berhati-hati - Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai) - Terfokus pada diri sendiri Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC :  Pain Level,  pain control,  comfort level Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selama …. Pasien tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil:  Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)  Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen Intervensi NIC :  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan  Kurangi faktor presipitasi nyeri  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

- Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan) - Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan, menemui orang lain dan/atau aktivitas, aktivitas berulang-ulang) - Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil) - Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku) - Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang/berkeluh kesah) - Perubahan dalam nafsu makan dan minum

nyeri  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang  Tanda vital dalam rentang normal  Tidak mengalami gangguan tidur

 Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri: ……...  Tingkatkan istirahat  Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur  Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali

c. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake nutrisi tidak adekuat ditandai dengan Ds : Tn A mengeluh badannya tremor dan pusing serta muntah darah. Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Berhubungan dengan : Ketidakmampuan untuk memasukkan atau mencerna nutrisi oleh karena faktor biologis, psikologis atau ekonomi. DS: - Nyeri abdomen - Muntah - Kejang perut - Rasa penuh tiba-tiba setelah makan DO: - Diare - Rontok rambut yang berlebih - Kurang nafsu makan - Bising usus berlebih - Konjungtiva pucat - Denyut nadi lemah Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC: a. Nutritional status: Adequacy of nutrient b. Nutritional Status : food and Fluid Intake c. Weight Control Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama….nutrisi kurang teratasi dengan indikator:  Albumin serum  Pre albumin serum  Hematokrit  Hemoglobin  Total iron binding capacity  Jumlah limfosit Intervensi  Kaji adanya alergi makanan  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien  Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi  Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.  Monitor adanya penurunan BB dan gula darah  Monitor lingkungan selama makan  Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan  Monitor turgor kulit  Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan kadar Ht  Monitor mual dan muntah  Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva  Monitor intake nuntrisi  Informasikan pada klien dan keluarga tentang manfaat nutrisi  Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan yang adekuat dapat dipertahankan.  Atur posisi semi fowler atau fowler tinggi selama makan  Kelola pemberan anti emetik:.....  Anjurkan banyak minum  Pertahankan terapi IV line  Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oval

d. Defisit volume cairan b/d dehidrasi, syok hipovolemik, dan perdarahan berlebihan. Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Defisit Volume Cairan Berhubungan dengan: - Kehilangan volume cairan secara aktif - Kegagalan mekanisme pengaturan DS : - Haus DO: - Penurunan turgor kulit/lidah - Membran mukosa/kulit kering - Peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah, penurunan volume/tekanan nadi - Pengisian vena menurun - Perubahan status mental - Konsentrasi urine meningkat - Temperatur tubuh meningkat - Kehilangan berat badan secara tiba-tiba - Penurunan urine output - HMT meningkat - Kelemahan Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NOC: NIC :  Fluid balance  Pertahankan catatan intake  Hydration dan output yang akurat  Nutritional Status : Food  Monitor status hidrasi and Fluid Intake ( kelembaban membran Setelah dilakukan tindakan mukosa, nadi adekuat, keperawatan selama….. tekanan darah ortostatik ), jika defisit volume cairan teratasi diperlukan dengan kriteria hasil:  Monitor hasil lab yang sesuai  Mempertahankan urine dengan retensi cairan (BUN , output sesuai dengan Hmt , osmolalitas urin, usia dan BB, BJ urine albumin, total protein ) normal,  Monitor vital sign setiap  Tekanan darah, nadi, 15menit – 1 jam suhu tubuh dalam batas  Kolaborasi pemberian cairan normal IV  Tidak ada tanda tanda  Monitor status nutrisi dehidrasi, Elastisitas  Berikan cairan oral turgor kulit baik,  Berikan penggantian membran mukosa nasogatrik sesuai output (50 – lembab, tidak ada rasa 100cc/jam) haus yang berlebihan  Dorong keluarga untuk  Orientasi terhadap waktu membantu pasien makan dan tempat baik  Kolaborasi dokter jika tanda  Jumlah dan irama cairan berlebih muncul pernapasan dalam batas meburuk normal  Atur kemungkinan tranfusi  Elektrolit, Hb, Hmt dalam  Persiapan untuk tranfusi batas normal  Pasang kateter jika perlu  pH urin dalam batas  Monitor intake dan urin output normal setiap 8 jam  Intake oral dan intravena adekuat

e. Hipertermi b/d peningkatan suhu tubuh. Ditandai dengan Do : suhu 37 C Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Hipertermia Berhubungan dengan : - penyakit/ trauma - peningkatan metabolisme - aktivitas yang berlebih - dehidrasi DO/DS:  kenaikan suhu tubuh diatas rentang normal  serangan atau konvulsi (kejang)  kulit kemerahan  pertambahan RR  takikardi  Kulit teraba panas/ hangat Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil NOC: Thermoregulasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama………..pasien menunjukkan :
Suhu tubuh dalam batas normal dengan kreiteria hasil:  Suhu 36 – 37C  Nadi dan RR dalam rentang normal  Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman NIC :

Intervensi

               

Monitor suhu sesering mungkin Monitor warna dan suhu kulit Monitor tekanan darah, nadi dan RR Monitor penurunan tingkat kesadaran Monitor WBC, Hb, dan Hct Monitor intake dan output Berikan anti piretik: Kelola Antibiotik:……………………… .. Selimuti pasien Berikan cairan intravena Kompres pasien pada lipat paha dan aksila Tingkatkan sirkulasi udara Tingkatkan intake cairan dan nutrisi Monitor TD, nadi, suhu, dan RR Catat adanya fluktuasi tekanan darah Monitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa)

f. Ansietas b/d ancaman kematian Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Kecemasan berhubungan dengan Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi

NIC : NOC : - Kontrol kecemasan Anxiety Reduction (penurunan - Koping kecemasan) Faktor keturunan, Krisis Setelah dilakukan asuhan situasional, Stress, selama ……………klien  Gunakan pendekatan yang menenangkan kecemasan teratasi dgn perubahan status  Nyatakan dengan jelas kriteria hasil: kesehatan, ancaman harapan terhadap pelaku  Klien mampu kematian, perubahan pasien mengidentifikasi dan konsep diri, kurang  Jelaskan semua prosedur dan mengungkapkan gejala pengetahuan dan apa yang dirasakan selama cemas hospitalisasi prosedur  Mengidentifikasi, pasien untuk mengungkapkan dan  Temani memberikan keamanan dan menunjukkan tehnik DO/DS: mengurangi takut untuk mengontol cemas  Vital sign dalam batas  Berikan informasi faktual - Insomnia normal mengenai diagnosis, tindakan - Kontak mata kurang  Postur tubuh, ekspresi prognosis - Kurang istirahat wajah, bahasa tubuh  Libatkan keluarga untuk - Berfokus pada diri sendiri dan tingkat aktivitas mendampingi klien - Iritabilitas menunjukkan  Instruksikan pada pasien - Takut berkurangnya untuk menggunakan tehnik - Nyeri perut kecemasan relaksasi - Penurunan TD dan denyut  Dengarkan dengan penuh nadi perhatian - Diare, mual, kelelahan  Identifikasi tingkat kecemasan - Gangguan tidur  Bantu pasien mengenal - Gemetar situasi yang menimbulkan - Anoreksia, mulut kering kecemasan - Peningkatan TD, denyut  Dorong pasien untuk nadi, RR mengungkapkan perasaan, - Kesulitan bernafas ketakutan, persepsi - Bingung  Kelola pemberian obat anti - Bloking dalam cemas:........ pembicaraan - Sulit berkonsentrasi

BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) adalah perdarahan saluran makanan proksimal dari ligamentun Treitz. Untuk keperluan klinik dibedakan perdarahan varises esofagus dan non-varises, karena antara keduanya terdapat ketidaksamaan dalam pengelolaan dan prognosisnya. Manifestasi klinik perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) bisa beragam tergantung lama, kecepatan, banyak sedikitnya darah yang hilang, dan apakah perdarahan berlangsung terus menerus atau tidak. Pasien SCBA biasanya datang dengan kemungkinan: 1. 2. Anemia defisiensi besi akibat perdarahan tersembunyi yang berlangsung lama. Hematemesis dan atau melena yang disertai atau tanpa anemia, dengan atau tanpa gangguan hemodinamik dimana derajat hipovolemik menentukan tingkat kegawatan pasien.

B. Saran Semoga apa yang kami sajikan dalam makalah ini terkait dengan penyakit tentang kasus yang kami buat ini dapat menjadi sebuah pelajaran untuk mahasiswa maupun pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Adi P. Pengelolaan perdarahan saluran cerna bagian atas. Dalam: Buku ajar ilmu penyakit dalam Jilid I, Ed.IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006:289-97 Kahan S and Smith EG. Sign and symptoms. In: Gastrointestinal hematemesis. 2004. Available from http://www.wrongdiagnosis.com/h/hematemesis/book-diseases-2a.htm Laine L. Gastrointestinal bleding. In: Harrison’s Principle of Internal Medicine 16th Ed, Volume II, Part VIII. Newyork: Mc Graw-Hill Companies, Inc. 2004, Chapter 226:23538. Umar S. Penanggulangan perdarahan saluran cerna bagian atas. Mei 2003. Available from http://www.scribd.com/doc/3023325/Hematemesis-and-GIT-bleeding-CausesTheDoctorsLounge(TM).htm Wilson ID. Hematemesis, melena, and hematochezia. In: Clinical methods. 2000. Available from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/bookshelf/br.fcgi?book =cm& part= A2793 Wrongdiagnosis.com. Diagnosis of hematemesis. 2004. Available from

http://www.wrongdiagnosis.com/h/hematemesis/diagnosis.htm

Lampiran Pathways

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->