P. 1
daftar pustaka Penelitian

daftar pustaka Penelitian

|Views: 157|Likes:
Published by Wellya Sari

More info:

Published by: Wellya Sari on Oct 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2013

pdf

text

original

1

A. Judul Penelitian : Rancangan Dan Pembuatan Alat Pengiris Singkong dengan Motor DC Berbasis Mikrokontroler ATMEGA 8535 Optocoupler dan Sensor LDR. B. Bidang Kajian Fisika Elektronika dan instrumentasi C. Latar Belakang Sumatra Barat merupakan salah satu daerah yang memiliki beraneka ragam makanan khas. Salah satu di antaranya adalah keripik sanjai balado. Makanan khas Ranah Minang ini selain memberikan rasa khusus, yakni pedas, juga mengandung kalori, kalsium, fosfor, dan karbohidrat yang tinggi. Di Sumatera Barat banyak pengerajin makanan khas ini, baik yang berskala besar ataupun yang berskala kecil. Dimana ini bisa dijumpai di daerah yang banyak menghasilkan ubi pohon (singkong),salah satunya adalah daerah bukit tinggi. Dalam proses pembuatan keripik singkong (sanjai), ketebalan keripik merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap rasa atau kerenyahan dari makanan tersebut. Dimana keripik yang diiris terlalu tebal atau tidak merata akan mudah mengalami case hardening pada saat penggorengan, yaitu bagian luar telah matang tetapi bagian dalamnya masih mentah. Hal ini dapat diatasi dengan ukuran irisan yang tipis, sehingga pematangan merata pada saat digoreng. Di Sumatera Barat pembuatan keripik tersebut pengirisannya masih banyak dilakukan secara manual dan dilakukan oleh tenaga manusia. Hal ini akan Dan Pengentrolan dengan Sensor

2

menyebabkan ketebalan dari keripik kadang tidak sama atau terlalu tebal disetiap sisinya. Pada pembuatan dalam jumlah yang besar membutuhkan waktu lama dan dari sisi ini pula keselamatan menjadi beresiko, sehingga dibutuhkan pengirisan ubi pohon (singkong) yang cepat, tepat dan aman. Dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masalah tersebut bisa diatasi. Salah satu caranya adalah dengan merancang alat yang mampu mengiris dengan ketebalannya yang sama (sudah diatur) dalam kapasitas besar dan efisien terhadap waktu. Untuk itu penulis merancang pembuatan sebuah alat pengiris keripik singkong menggunakan motor DC sebagai tenaga penggerak yang beroperasi secara otomotis dan dilengkapi dengan sensor optocoupler untuk mengontrol putaran dari motor pengiris dan konveyor. Alat ini prinsip kerjanya manggunakan sebuah peringan pisau pengiris yang diputar oleh motor DC sehingga singkong terdapat pada corong penampung akan turun menuju konveyor. Ketika LDR pertama mendeteksi adanya singkong, maka motor akan hidup secara otomatis. Hidupnya motor menyebabkan konveyor berputar,sehingga singkong bergerak menuju pisau pengiris dan siap diiris. Sehubungan dengan hal diatas maka penulis tertarik untuk membuat suatu tugas akhir (TA) yang berjudul “ Perancangan dan Pembuatan Alat Pengiris keripik singkong Menggunakan Motor DC Berbasis Mikrokontroler ATMEGA8535 dengan Pengontrol Sensor optocoupler dan sensor LDR”. D. Perumusan Masalah

3

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka dapat dikemukakan rumusan masalah dari penelitian ini yaitu : “ Bagaiman cara membuat alat pengiris singkong yang dapat mengiris secara cepat dalam kapasitas besar dan bekerja otomatis dengan ketebalan diatur seperti yang diinginkan”. E. Batasan Masalah Dalam perancangan alat pengiris bawang ini, agar penulis tidak terlalu ngambang, maka perlu dilakukan beberapa pembatasan masalah dalam penelitian ini, penulis memberikan batasan masalah,yaitu : 1. Membahas mengenai perancangan dan cara pembuatan alat pengiris

singkong berbasis mikrokontroler dan pengontrolan dengan sensor Optocoupler dan sensor LDR. 2. listrik. 3. Sensor yang digunakan sebagai pengontrol motor DC adalah Sensor Pengirisan dilakukan dengan motor DC yang digerakkan oleh tenaga

Optocoupler. 4. Pengukuran dilakukan pada ketebalan irisan singkong.

F. Pertanyaan Penelitian Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini perlu dikemukakan beberapa pertanyaan sebagai berikut : 1. Bagaimana hasil perancangan alat pengirisan singkong

menggunakan motor DC dengan pengontrolan sensor Optocoupler dan sensor LDR?

4

2.

Bagaimana spesifikasi desain dan kerja dari system alat pengiris singkong menggunakan motor DC dengan pegontrolan sensor Optocoupler dan sensor LDR?

G. Tujuan Penelitian Merancang dan membuat alat pengiris keripik yang dapat beroperasi secara otomatis menggunakan motor DC berbasis mikrokontroler ATMEGA8535 dengan pengontrolan sensor Optocoupler dan sensor LDR. H. Konstribusi Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan memberikan konstribusi pada : 1. khususnya Sumatra Barat. 2. dalam pengembangan instrumentasi Kelompok kajian elektronika berbasis elektronika, khususnya Pengusaha keripik singkong,

pengembangan sistem perancangan alat pengiris keripik. 3. Pembaca, untuk menambah

pengetahuan dan memperluas wawasan dalam bidang kajian elektronika dan dalam upaya pengembangan instrumentasi berbasis elektronika khususnya pada sistem perancangan alat pengiris keripik. 4. Peneliti, sebagai syarat untuk

menyelesaikan program studi Fisika S1 dan pengembangan diri dalam bidang penelitian Fisika.

5

5.

Peneliti lain, sebagai sumber

ide dan referensi dalam pengembangan penelitian tentang instrumentasi

I. Kajian Pustaka 1. dan Pengukuran Sistem kontrol adalah kumpulan yang dirangkaikan untuk mengatur energy masukan sehingga memperoleh keluaran yang diinginkan. Pendapat ini diperkuat dengan pernyataan Ridwan (1999) “Sistem pengontrolan merupakan suatu alat yang mengatur aliran energy benda atau sumber lain, kompleksitas dan pengaturan yang bervariasi berdasarkan fungsi dan tujuan yang diinginkan”. Dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan aliran energy dari suatu alat dapat diciptakan sistem pengontrolan. Suatu sistem pengontrolan memiliki peranan yang penting dalam berbagai sector kehidupan. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya penerapan sistem ini pada bidang kehidupan. Pendapat ini sesuai dengan Ogata, K (1996) yang mengatakan bahwa: Kontrol automatic ini telah menjadi bagian yang penting dan terpadu dari proses-proses dalam pabrik dan industry modern. Sebagai contoh control automatic sangat diperlukan dalam operasi-operasi di indutri untuk mengontrol tekanan, temperatur, kelembaban, viskositas, dan clan aliran dalam industry proses: pengerjaan denganmesin perkakas, penanganan dan perakitan bagian-bagian mekanik dalam indstri manufaktur dan sebagainya. a. Sistem kontrol lup tertutup Sistem Pengontrolan

6

Di bawah ini gambar sistem loop tertutup pada sistem kontrol

Gambar 1. Diagram blok sistem lup tertutup Gambar 4 diatas merupakan blok diagram sistem lup tertutup. Suatu sistem
control terbuka yang keluarannya tidak berpengaruh terhadap aksi pengontrolan. Dengan demikian pada sistem kontrol ini, nilai keluaran tidak di umpan-balikkan ke parameter pengendalian.

Menurut Yudi Andriana (2005) ciri lup tertutup menentukan spesifikasi pengaturan yang mampu meredam kesalahan (error) secara cepat tetapi tidak berlebihan sehingga menimbulkan osilasi. b. Sistem kontrol lup terbuka

Gambar 2. Diagram blok sistem kontrol lup terbuka
Dari gambar 5 dapat dijelaskan bahwa pada sistem pengontrolan tertutup yang sinyal keluarannya memiliki pengaruh langsung terhadap aksi pengendalian yang dilakukan. Sinyal error yang merupakan selisih dari sinyal masukan dan sinyal umpan balik (feedback), lalu diumpankan pada komponen pengendalian (controller) untuk memperkecil kesalahan sehingga nilai keluaran sistem semakin mendekati harga yang diinginkan.

Menurut Yudi Andriana (2005) Ciri suatu sistem ikal terbuka (tanpa umpan balik) adalah apabila terjadi perubahan pada masukan sistem tersebut baik karena

7

patokan ataupun karena gangguan, maka akan secara langsung diikuti oleh perubahan keluaran sistem tersebut. Sedangkan sistem pengaturan yang terdapat umpan baliknya berpengaruh terhadap respon sistem yang tidak berpengaruh oleh gangguan eksternal dan internal pada sistem. Pengukuran adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengidentifikasi besar kecilnya obyek atau gejala (Hadi, 1995). Pengukuran dapat dilakukan dengan dua cara yaitu menggunakan alat-alat yang standar dan menggunakan alat-alat yang tidak standar. Septo Pawales membagi pengukuran variabel menjadi 4 bagian yaitu: a. Pengukuran merupakan suatu langkah dalam menjalankan penelitian untuk mencapai tujuan penelitian b. Instrument penelitian merupakan penjabaran dari definisi operasional dengan pengumpulan datanya c. Gunakan cara pengukuran yang sudah ada dan baku d. Bila belum ada peneliti harus kembangkan sendiri cara pengukuran yang tepat. Dalam pengukuran terdapat 2 buah sistem pengukuran yang dilakukan dalam eksperimen ataupun dalam penelitian. Ada dua sistem pengukuran, yaitu : a. Sistem analog Berhubungan dengan informasi dan data analog. Sinyal analog berbentuk fungsi kontinyu, misalnya penunjukan temperatur dalam ditunjukkan oleh skala, penunjuk jarum pada skala meter, atau penunjukan skala elektronik b. Sistem digital

8

Berhubungan dengan informasi dan data digital. Penunjukan angka digital berupa angka diskret dan pulsa diskontinyu berhubungan dengan waktu. Penunjukan display dari tegangan atau arus dari meter digital berupa angka tanpa harus membaca dari skala meter.

2. keripik singkong a. Singkong

Tinjauan

tentang

Singkong (Manihot utilissima) sering juga disebut sebagai ubi kayu atau ketela pohon, merupakan tanaman yang sangat populer di seluruh dunia, khususnya di negara-negara tropis. Di Indonesia, singkong memiliki arti ekonomi terpenting dibandingkan dengan jenis umbi-umbian yang lain. Tumbuhan berumbi ini mudah tumbuh di seluruh bumi Nusantara sepanjang tahun, yaitu pada ketinggian 0-1.500 meter dari permukaan laut. Tanaman singkong tidak membutuhkan tanah subur, hanya memerlukan tanah yang cukup gembur agar hasilnya memuaskan. Dengan demikian, singkong adalah jenis umbi-umbian daerah tropis yang merupakan sumber energi paling murah sedunia. Umbi singkong berbentuk silindris yang ujungnya mengecil, diameter ratarata 2-5 cm dan panjng sekitar 20-30 cm. Umbi memiliki kulit yang terdiri dari dua lapis, yaitu kulit luar dan kulit dalam. Daging umbi berwarna putih dan kuning. Di antara kulit dalam dan kulit luar, terdapat jaringan kambium yang menyebabkan umbi dapat membesar. b. keripik

9

Keripik (chip) adalah sejenis makanan kecil (snack), umumnya dibuat dari bahan yang mengandung kadar pati cukup tinggi dan mengalami proses pengeringan (dengan cara penggorengan) untuk menghilangkan sebagian air yang dikandungnya. Jenis keripik di pasaran biasanya dinamakan berdasarkan bahan baku yang digunakan, seperti keripik kentang, keripik singkong, keripik talas, keripik pisang, keripik tempe, dan lain-lain. Selain dari jenis bahan bakunya, juga dikenal jenis keripik berdasarkan proses pengolahannya. Bahan pembuatan keripik adalah jenis umbi-umbian (singkong, ubi jalar, talas, kentang, garut, dan sebagainya), buah (nangka, pisang, sukun, nanas, dan lain-lain), hasil olahan kacang-kacangan (tempe, tahu), dan sebagainya. Untuk pembuatan keripik simulasi, bahan tambahan yang dibutuhkan adalah tepung untuk pencampuran, garam, dan bumbu-bumbu lain. Proses pembuatan keripik umumnya melalui tahap pengupasan, pencucian, pengirisan, dan penggorengan. Namun, selain tahap-tahap tersebut, sering ada tambahan tahap lain dengan tujuan memperbaiki penampakan dan cita rasa produk akhir. Misalnya perendaman, blanching (pencelupan di dalam air mendidih selama beberapa saat), pengeringan, dan lain-lainnya. Pada kondisi tertentu, dapat dihasilkan keripik yang sangat keras. Tingkat kekerasan keripik dapat dikurangi dengan melakukan proses blanching, pemanasan pendahuluan, atau dengan penurunan kadar air sebelum penggorengan. Pengeringan parsial sebelum penggorengan dapat membantu menekan kehilangan kerenyahan produk selama penyimpanan akibat penyerapan air.

10

Keripik yang diiris terlalu tebal akan mudah mengalami case hardening pada saat penggorengan, yaitu bagian luar telah matang tetapi bagian dalamnya masih mentah. Hal ini dapat diatasi dengan ukuran irisan yang tipis, sehingga pematangan merata pada saat digoreng. Semakin tinggi kadar air suatu bahan pada saat digoreng, semakin banyak minyak yang dapat diserap. Kandungan minyak yang tinggi membuat produk menjadi padat energi, sehingga kurang baik untuk makanan kudapan. Produk pun menjadi mudah berbau tengik dan berpenampilan kurang baik. 3. Motor DC Motor listrik merupakan sebuah perangkat elektromagnetis yang mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini digunakan untuk, misalnya, memutar impeller pompa, fan atau blower, menggerakan kompresor, mengangkat bahan, dll. Motor listrik digunakan juga di rumah (mixer, bor listrik, fan angin) dan di industri. Motor listrik kadangkala disebut “kuda kerja” nya industri sebab diperkirakan bahwa motor-motor menggunakan sekitar 70% beban listrik total di industri. Motor-motor listrik kecil yang dapat dipakai untuk mengoperasikan rancangan-rancangan kecil bekerja pada tegangan 6 atau 9 volt. Terdapat 3 jenis motor listrik yang dibedakan atas kelakuan dan kegunaannya: a. motor AC, dioperasikan oleh arus listrik bolak-balik b. motor DC, dioperasikan oleh arus listrik searah c. motor stepper, dioperasikan oleh pulsa-pulsa listrik

11

Pada umumnya motor dc dan motor stepper yang paling banyak digunakan. Meskipun tersedia piranti elektronik yang dapat mengontrol motor AC. Hal ini kurang begitu disukai karena dianggap dapat menimbulkan kerumitan yang tidak perlu terjadi. Keterbatasan lainnya dari motor ac tersebut sdalah

ketidakmampuannya dalam menahan kelebihan beban hingga dua kali torsi rataratanya. Sedangkan motor DC dapat menahan beban hingga beberapa kali torsi rataratanya. Didalam motor dc energy listrik diambil langsung dari kumparan armature dengan melalui sikat komutator. Oleh karena itu motor dc disebut juga motor konduksi. Adanya suatu penghantar dalam medan magnet dan penghantar itu dialiri arus listrik. Apabila penghantar berada dalam medan magnet, maka pada penghantar akan timbul gaya Lorentz/gaya magnet. Motor arus searah mempunyai magnet permanen yang memberikan medan magnet yang tetap Armatur dari motor yang berputar ditaruh dalam medan magnet. Armatur terdiri dari beberapa kumparan yang dililitkan pada inti besi dan dirangkaikan dengan sebuah akumulator. Sewaktu arus lewat kumparan armatur, dia berputar. Arus yang lewat komutator diambil dari sikat.

12

Gambar 3. Prinsip motor DC Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa Catu tegangan dc dari baterai menuju ke lilitan melalui sikat yang menyentuh komutator, dua segmen yang terhubung dengan dua ujung lilitan. Kumparan satu lilitan pada gambar di atas disebut angker dinamo. Angker dinamo adalah sebutan untuk komponen yang berputar di antara medan magnet. 4. konveyor
Konveyor merupakan suatu alat yang digunakan untuk tujuan peng- angkutan. Penggunaan konveyor juga dilakukan untuk efisiensi waktu. Konveyor di industri digunakan untuk mengangkut bahan produksi yang akan diproses lebih lanjut atau mengangkut barang hasil produksi. Konveyor yang ada biasanya selalu dalam keadaan hidup dan terus berjalan meskipun belum ada benda hasil produksi, maka yang terjadi adalah pemborosan energi. Dalam aplikasinya konveyor diputar dengan menggunakan motor listrik yang dikendalikan oleh sistem control baik secara manual maupun otomatis.

5. Komponen Elektronika

Sensor

dan

13

a. Sensor Optocoupler Optocoupler dibentuk dari penggabungan sebuah sumber cahaya dengan phototransistor (Malvino, 1999 : 167). Optocoupler merupakan salah satu jenis komponen yang memanfaatkan sinar sebagai pemicu on/off-nya. Opto berarti optic dan coupler berarti pemicu. Sehingga bisa diartikan bahwa optocoupler merupakan salah satu komponen yang bekerja berdasarkan picu cahaya. Optocoupler terdiri atas dua bagian yaitu transmitter dan receiver. Transmitter dibangun dari sebuah LED infra merah. Jika dibandingkan dengan menggunakan LED biasa, LED infra merah memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap sinyal tampak. Cahaya yang dipancarkan oleh LED infra merah tidak terlihat oleh mata telanjang. Bentuk dari sensor optocoupler merupakan bagian yang terhubung dengan rangkaian output atau rangkaian beban, dan berisi komponen penerima cahaya yang dipancarkan oleh transmitter. Komponen penerima cahaya ini dapat berupa photodioda atapun phototransistor. Pada bagian receiver dibangun dengan dasar komponen phototransistor. Phototransistor merupakan suatu transistor yang peka terhadap tenaga cahaya. Suatu sumber cahaya menghasilkan energi panas, begitu pula dengan spektrum infra merah. Karena spekrum infra mempunyai efek panas yang lebih besar dari cahaya tampak, maka phototransistor lebih peka untuk menangkap radiasi dari sinar infra merah.

14

Gambar 4. Bentuk Sensor Optocoupler Sensor optocoupler memiliki transmitter dan receivernya secara terpisah, dan jarak antara receiver dan transmitternya tidak terlalu jauh sehingga pada saat dipancarkan LED nya sinar itu langsung ditangkap oleh transmitter. Optocoupler merupakan gabungan dari LED infra merah dengan fototransistor yang terbungkus menjadi satu chips. Cahaya infra merah termasuk dalam gelombang elektromagnetik yang tidak tampak oleh mata telanjang. Sinar ini tidak tampak oleh mata karena mempunyai panjang gelombang berkas cahaya yang terlalu panjang bagi tanggapan mata manusia. Sinar infra merah mempunyai daerah frekuensi 1 x 1012 Hz sampai dengan 1 x 1014 GHz atau daerah frekuensi dengan panjang gelombang 1μm – 1mm. Prinsip kerja dari rangkaian Optocoupler adalah jika antara phototransistor terhalang maka phototransistor tersebut akan off sehingga output dari kolektorakan berlogika high. Sebaliknya jika antara phototransistor dan LED tidak terhalang maka phototransistor tersebut akan on sehingga outputnya akan berlogika low (Yudi Andriana: 2005). b. Mikrokontroler ATMEGA8535

15

Mikrokontroler adalah suatu komponen elektronika yang dapat diprogram dan memiliki kemampuan untuk mengeksekusi langkah-langkah yang telah diprogram tersebut. Secara umum mikrokontroler terdiri atas sebuah CPU (Central Processing Unit) yang berfungsi sebagai pengontrol program, ROM peralatan pendamping yang dikemas dalam suatu chip tunggal. Mikrokontroler akan bekerja sesuai dengan program yang telah diberikan kepadanya. Mikrokontroler yang digunakan pada perancangan ini adalah

ATMEGA8535. Mikrokontroller ATMEGA8535 merupakan mikrokontroller generasi AVR (Alf and Vegard's Risk processor). Mikrokontroller AVR memiliki arsitektur RISC (Reduced Instruction Set Computing) dengan lebar bus data 8 bit dan kecepatan maksimal 16 MHz. IC ini mempunyai 40 kaki, 32 kaki diantaranya adalah kaki untuk keperluan port paralel. Satu port terdiri atas 8 kaki. Sehingga 32 kaki tersebut membentuk 4 port paralel, yang masing-masing dikenal dengan port A, port B, port C, port D. Nomor dari masing-masing kaki port paralel dimulai dari 0 sampai 7.

16

Gambar 5. Diagram Pin Mikrokontroler ATMEGA8535 (sumber: Datasheet ATMEGA8535, www.atmel.com) Fungsi dari masing-masing kaki (pin) mikrokontroler: a. VCC merupakan pin yang berfungsi sebagai pin masukan catu daya. b.GND merupakan pin ground. c. Port A (PA0..PA7) merupakan pin I/O dua arah dan pin masukan ADC. d. Port B (PB0..PB7) merupakan pin I/O dua arah dan pin fungsi khusus untuk Timer/Counter, Komparator analog, dan SPI. e. Port C (PC0..PC7) merupakan pin I/O dua arah dan pin khusus untuk TWI, Komparator analog, dan Timer Oscilator. f. Port D (PD0..PD7) merupakan pin I/O dua arah dan pin khusus untuk Komparator analog, Interupsi eksternal, dan Komunikasi serial. g. RESET (kaki 9) merupakan pin yang digunakan untuk me-reset mikrokontroller. h.XTAL1 dan XTAL2 merupakan pin masukan clock eksternal. i. AVCC merupakan pin masukan tegangan untuk ADC. j. AREF merupakan pin masukan tegangan referensi ADC. Mikrokontroler ATmega8535 memiliki 3 jenis memori, yaitu memori program, memori data dan memori EEPROM. Ketiganya memiliki ruang sendiri dan terpisah. a. Memori program ATmega8535 memiliki kapasitas memori progam sebesar 8 Kbyte yang terpetakan dari alamat 0000h – 0FFFh dimana masing-masing alamat memiliki

17

lebar data 16 bit. Memori program ini terbagi menjadi 2 bagian yaitu bagian program boot dan bagian program aplikasi. b. Memori data ATmega8535 memiliki kapasitas memori data sebesar 608 byte yang terbagi menjadi 3 bagian yaitu register serba guna, register I/O dan SRAM. ATmega8535 memiliki 32 byte register serba guna, 64 byte register I/O yang dapat diakses sebagai bagian dari memori RAM (menggunakan instuksi LD atau ST) atau dapat juga diakses sebagai I/O (menggunakan instruksi IN atau OUT), dan 512 byte digunakan untuk memori data SRAM.

c. Memori EEPROM ATmega8535 memiliki memori EEPROM sebesar 512 byte yang terpisah dari memori program maupun memori data. Memori EEPROM ini hanya dapat diakses dengan menggunakan register-register I/O yaitu register EEPROM Address, register EEPROM Data, dan register EEPROM Control. Untuk mengakses

memori EEPROM ini diperlakukan seperti mengakses data eksternal, sehingga waktu eksekusinya relatif lebih lama bila dibandingkan dengan mengakses data dari SRAM. ATmega8535 merupakan tipe AVR yang telah dilengkapi dengan 8 saluran ADC internal dengan fidelitas 10 bit. Dalam mode operasinya, ADC ATmega8535 dapat dikonfigurasi, baik secara single ended input maupun differential input. Selain itu, ADC ATmega8535 memiliki konfigurasi pewaktuan, tegangan

18

referensi, mode operasi, dan kemampuan filter derau yang amat fleksibel, sehingga dengan mudah disesuaikan dengan kebutuhan ADC itu sendiri. a. Liquid Crystal Display (LCD) LCD merupakan salah satu media yang digunakan sebagai penampil data pada sistem berbasis mikrokontroler. LCD memberikan beberapa keuntungan dibandingkan dengan perangkat lain untuk menampilkan sebuah data, antara lain, hemat energi, ringan dan proses perancangan yang relatif lebih mudah. Disamping itu LCD mampu menampilkan karakter berbasis kode ASCII, dan mampu menampilkan karakter sesuai dengan yang diinginkan. LCD yang tersedia saat ini terdiri atas LCD grafik dan LCD teks. LCD grafik mampu menampilkan data dalam bentuk image, sedangkan LCD text akan menampilkan karakter. LCD teks yang umum digunakan adalah 2X16 ( 2 baris X 16 baris ), 2X20 dan 4X20. Bentuk fisik LCD diperlihatkan pada gambar berikut:

L D2x1 C 6
d7 b 16 P0.7 P0.6 P0.5 P0.4 P0.3 P0.2 P0.1 P0.0 15 d b 6 d5 b d d3 b b 4 d b 2 d b 1 d b 0 E R /w R S V ee V c c Gd n Vcc

R 1 10K

P2 .0 P2 .1

(a)

(b)

Gambar 6. Bentuk LCD (Sumber : Didin, 2006) (a) Bentuk Fisik LCD 2 x 16 (b) Rangkaian Display LCD Operasi dasar LCD terdiri dari empat kondisi, yaitu instruksi mengakses prose internal, instruksi menulis data, instruksi membaca kondisi sibuk dan

19

instruksi membaca data. Kombinasi instruksi dasar inilah yang dimanfaatkan untuk mengirim data ke LCD. Mikrokontroler akan melakukan inisialisasi ketika sistem mulai diaktifkan. Selama proses inisialisasi ini maka akan ditampilkan pesan-pesan yang berhubungan dengan proses tersebut. LCD akan menampilkan kata-kata pembuka dan menungga hingga user mengaktifkan menu utama. Tabel 1. Fungsi pin pada LCD: No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Simbol Level Keterangan Vss Dihubungkan ke 0 V (Ground) Vcc Dihubungkan dengan tegangan supply +5V dengan Vee RS R/W E DB0 DB1 DB2 DB3 DB4 DB5 DB6 DB7 V+BL V-BL H/L H/L H H/L H/L H/L H/L H/L H/L H/L H/L toleransi ± 10%. Digunakan untuk mengatur tingkat kontras LCD. Bernilai logika ‘0’ untuk input instruksi dan bernilai logika ‘1’ untuk input data. Bernilai logika ‘0’ untuk proses ‘write’ dan bernilai logika ‘1’ untuk proses ‘read’. Merupakan sinyal enable. Sinyal ini akan aktif pada failing edge dari logika ‘1’ ke logika ‘0’. Pin data D0 Pin data D1 Pin data D2 Pin data D3 Pin data D4 Pin data D5 Pin data D6 Pin data D7 Back Light pada LCD ini dihubungkan dengan tegangan sebesar 4 – 4,2 V dengan arus 50 – 200 mA Back Light pada LCD ini dihubungkan dengan ground

20

LCD hanya memerlukan daya yang sangat kecil, tegangan yang dibutuhkan juga sangat rendah yaitu +5 VDC. Panel TN LCD untuk pengaturan kekontrasan cahaya pada display dan CMOS LCD drive sudah terdapat di dalamnya. Semua fungsi display dapat dikontrol dengan memberikan instruksi dan dapat dengan mudah dipisahkan oleh MPU. Hal ini membuat LCD berguna untuk range yang luas dari terminal display unit untuk mikrokomputer dan display unit measuring gages (Widodo,2005). b. Catu Daya Catu daya atau power supply merupakan suatu rangkaian elektronic yang mengubah arus listrik bolak-balik menjadi arus listrik searah. Hampir semua

peralatan elektronik membutuhkan catu daya agar dapat berfungsi. Catu daya teregulasi dapat dibangun dari IC regulator tegangan. IC regulator tegangan ini diantaranya adalah 78xx dan 79xx. Hal ini senada dengan yang dinyatakan Sutrisno (1999:80): Untuk regulasi tegangan yang tidak terlalu ketat kita dapat gunakan regulator tegangan IC tiga terminal. Regulator ini dikenal dengan 78xx dan 79xx. Regulator IC 78xx adalah adalah regulator tegangan positif untuk xx volt, sedangkan 79xx adalah regulator tegangan negatif untuk xx volt.

Dari kutipan di atas jelas bahwa tegangan teregulasi yang diharapkan dapat diperoleh dengan memilih IC regulator tegangan yang sesuai. Sebagai contoh IC 7812 artinya tegangan teregulasi yang diberikan adalah 12 volt.

21

Gambar 7. Rangkaian Catu Daya Teregulasi

Tegangan DC teregulasi diperoleh dengan cara terlebih dahulu menurunkan tegangan bolak-balik (AC) dari PLN melalui sebuah transformator step-down. Tegangan AC yang telah diturunkan kemudian disearahkan dengan menggunakan empat dioda yang membentuk penyearah sistem jembatan. Keluaran dari penyearah dihubungkan dengan kapasitor sebagai filter, sehingga dihasilkan tegangan keluaran DC tak teregulasi. c. Relay Relay adalah suatu piranti yang menggunakan magnet listrik untuk mengoperasikan seperangkat kontak. Susunan relay yang paling sederhana terdiri atas kumparan kawat penghantar yang digunakan pada former memutari teras magnet. Menurut Loveday (1992) “bila kumparan ini dienergikan oleh arusnya (biasanya DC), medan magnet yang dibangun menarik armatur berporos, memaksanya bergerak cepat ke arah teras. Gerakan armatur ini dipakai melalui pengungkit, untuk menutup (atau membuka) kontak-kontaknya”. Relay berdasarkan cara kerjanya dibedakan atas normal terbuka dan normal tertutup. Normal terbuka (normally open / NO) yaitu keadaan menjadi aktif bila

22

diberikan catu daya atau kontak-kontak tertutup bila relay dienergikan. Normal tertutup (normally closed / NC ) mengakibatkan kontak–kontak terbuka bila relay dienergikan. d. LDR (Light Dependent Resistor) LDR singkatan dari Light Dependent Resistor adalah resistor yang nilai resistansinya berubah-ubah karena adanya intensitas cahaya yang diserap. LDR juga merupakan resistor yang mempunyai koefisien temperature negative, dimana resistansinya dipengaruhi oleh intrensitas cahaya. LDR dibentuk dari cadium Sulfied (CDS) yang mana CDS dihasilkan dari serbuk keramik. Cadium Sulfied (CDS) disebut juga peralatan photo conductive, selama konduktivitas atau resistansi dari CDS bervariasi terhadap intensitas cahaya. Bahanbahan ini paling sensitif terhadap cahaya dalam spektrum tampak, dengan puncaknya sekitar 0,6 µm untuk CdS dan 0,75 µm untuk CdSe. Sebuah LDR CdS yang typikal memiliki resistansi sekitar 1 MΩ dalam kondisi gelap gulita dan kurang dari 1 KΩ ketika ditempatkan dibawah sumber cahaya terang (Mike Tooley, 2003).

Gambar 8. Lambang LDR Light Dependent Resistor, terdiri dari sebuah cakram semikonduktor yang mempunyai dua buah elektroda pada permukaannya.

23

Gambar 9. Light Dependent Resistor Pada saat gelap atau cahaya redup, bahan dari cakram tersebut menghasilkan elektron bebas dengan jumlah yang relatif kecil. Sehingga hanya ada sedikit elektron untuk mengangkut muatan elektrik. Artinya pada saat cahaya redup LDR menjadi konduktor yang buruk, atau bisa disebut juga LDR memiliki resistansi yang besar pada saat gelap atau cahaya redup . Pada saat cahaya terang, ada lebih banyak elektron yang lepas dari atom bahan semikonduktor tersebut. Sehingga akan ada lebih banyak elektron untuk mengangkut muatan elektrik. Artinya pada saat cahaya terang LDR menjadi konduktor yang baik, atau bisa disebut juga LDR memiliki resistansi yang kecil pada saat cahaya terang. LDR adalah suatu bentuk komponen yang mempunyai perubahan resistansi yang besarnya tergantung pada cahaya. LDR merupakan suatu sensor cahaya

dimana akan mengalami perubahan resistansi apabila terjadi perubahan intensitas cahaya yang diterimanya.

24

Gambar 10. Light Dependent Resistor Pada perancangan penelitian ini, sensor digunakan sebagai peralatan untuk mengindra besaran fisis dalam sistem sensor pengindera yang berupa besaran intensitas cahaya untuk diubah menjadi besaran listrik. Untuk mendeteksi intensitas cahaya menggunakan Light Dependent Resistor (LDR) tersebut. J. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi Jurusan Fisika Universitas Negeri Padang.Kegiantan ini dimulai Mai 2011 sampai selesai dengan beberapa tahap kegiatan. Tahap-tahap kegiatan meliputi penulisan proposal penelitian, perancangan alat, perakitan komponen, pengambilan data dan pengolahan data serta analisis data. K. Jenis Penelitian 1. Variabel penelitian Variabel penelitian merupakan segala sesuatu yang akan menjadi objek penelitian atau faktor-faktor yang berperan penting dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti. Dalam penelitian ini terdiri dari tiga variable penelitian yaitu variable terikat, variable bebas dan variabelkontrol. Variabel bebas adalah

25

singkong, sedangkan variabel terikat berupa bacaan sensor terhadap kerja alat. Untuk variabel control komponen elektronika yang digunakan. 2. Model Penelitian Model penelitian ini tergolong kedalam penelitian rekayasa yaitu penelitian yang menerapkan ilmu pengetahuan menjadi suatu rancangan guna mendapat kinerja sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Langkah-langkah dalam penelitian rekayasa menurut Suprodjo (2009) yaitu: Langkah-langkah untuk melaksanakan penelitian rekayasa yaitu : menentukan spesifikasi rancangan yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan, memilih alternatif yang terbaik, dan membuktikan bahwa rancangan yang dipilih dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan secara efisiensi, efektif dan dengan biaya yang murah. Dapat disimbulkan bahwa langkah-langkah dalam penelitian rekayasa adalah membuat rancangan sistem sesuai dengan yang dibutuhkan, membuat sistem dengan memilih alternatif yang terbaik, dan menguji cobakan system. . Dari uji coba dapat diketahui ketercapaian persyaratan yang telah ditentukan dari rancangan awal system. L. Alat dan Bahan Dalam pembuatan dan perancangan alat pengiris bawang menggunakan motor DC ini, alat dan bahan yang digunakan adalah motor DC, pisau pengiris, kompling sabuk V, puli, corong tempat memasukkan ubi yang akan diiris, besi siku sebagai pembangun alat,konveyor dan komponen-komponen elektronika sebagai rangkaian control kerja alat.

26

M. Desain Penelitian 1. Desain perangkat keras a. Rancangan mekanik alat pengiris singkong Pada pembuatan alat pengiris singkong ini menggunakan motor DC sebagai tenaga penggerak, untuk mentransmisikan daya mekanik motor ke mesin beban digunakan puli dan sabuk. Sabuk yang digunakan adalah sabuk V, sedangkan pemutar konstruksi ( body ) alat menggunakan besi siku agar alat ini lebih kuat dan kokoh saat beroperasi. Adapun prinsip kerja alat pengiris singkong ini adalah menggunakan sebuah sensor pengindera LDR, yang berfungsi sebagai pengontrol menghidupkan dan mematikan motor pengiris sesuai dengan kontrol yang diberikan. Ketika mikrokontroller mendapat masukan sinyal dari sensor pengindera LDR pertama, yaitu disaat LDR tidak mendeteksi adanya cahaya maka mikrokontroller akan memproses inputan tersebut, kemudian mikrontroller mengendalikan pergerakan motor konveyor yang mengarah ke mata pisau dan motor pisau sebagai penggerak naik turunnya pisau yang diatur. Sedangkan motor akan mati ketika mikrokontroller mendapat masukan sinyal dari sensor pengindera LDR pertama dan sensor pengindera LDR kedua, yaitu disaat sensor pengindera LDR pertama dan sensor pengindera LDR kedua mendeteksi adanya cahaya. Untuk ketebalan irisan keripik diatur dari mikrokontroller ke pergerakan motor pisau.

27

b. Perencanaan pemilihan motor Pemilihan motor perlu diketahui karakteristik dari mesin beban, hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya gangguan motor pada saat beroperasi. Faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan motor yang akan digunakan adalah sebagai berikut : 1) Karakteristik putaran motor

2) Kecepatan atau putaram motor permenit 3) Daya yang digunakan untuk menggerakkan beban 4) Cara pengasutan ( manual atau otomatis ) 5) Cara kopling dari motor ( kopling langsung, bergigi, atau sabuk ) ( Soelaiman ; 1984 :113 ) c. Pembuatan Konstruksi Alat 1. Konstruksi rangka pengiris Konstruksi rangka pengiris berbentuk kotak persegi, merupakan tempat meletakkan komponen lain. Pada rangka pengiris bagian atas terdapat poros yang berfungsi sebagai tempat pemasangan pisau pengiris. Pisau pengiris berfungsi untuk mengiris singkong dari konveyor. 2. Corong masuk Corong berfungsi sebagai tempat masuknya singkong yang akan diiris. Corong masuk ini terbuat dari besi seng dengan ketebalan 2mm, konstruksi

28

berbentuk setengah prisma yang mempunyai ukuran alas atas 10x10 cm, tinggi alas atas dari konveyor 15 cm. 3. Piringan pengiris Piringan pengiris terbuat dari besi padu yang memiliki ketebalan5 mm, piringan pengiris tersebut memiliki tiga buah lobang berbentuk persegi panjang yang dipasangi tiga buah pisau, pisau pengiris terbuat dari baja yang tahan karat (stainlesstel), diameter dari piringan pengiris ini adalah 18 cm, panjang lobang 7 cm, lebar 2 cm. 4. Konveyor Merupakan alat yang menggerakkan ubi menuju ke pisau pengiris setelah masuk dari corong. Gaya gerak konveyor yaitu berasal dari motor. 5. Plat besi penahan ubi Plat besi penahan ubi terletak 10cm diatas konveyor. Plat besi ini berfungsi menahan gerak ubi yang mungkin terjadi. Gerak ini ditimbulkan karena daya dorong dari pisau pengiris terhadap singkong. 6. Panel Kontrol Panel kontrol terdiri dari rangkaian–rangkaian elektronika yang berfunsi sebagai pengontrol alat pengiris bawang merah. Panel kontrol mendapat sember energy listrik dari PLN yang telah teregulasi oleh rangkaian regulator.

29

keterangan : 1. motor 2. pintu corong 3. pelindung piringan pengiris 4. konveyor 5. kompling sabuk V 6. pisau pengiris 7. piringan pengiris 8. plat penahan ubi

Gambar 11. Desaian mekanik alat pengiris singkong Pembuatan alat pengiris singkong ini berdimensi 60x30x40 cm dengan kerangka-kerangka terbuat dari besi siku, seperti terlihat pada Gambar 12. Singkong dimasukkan pada corong masuk pada saat motor mati. Ketika sensor pengindera LDR pertama tidak mendeteksi adanya cahaya, maka sensor memberi perintah pada mikrokontroller dan mikrokontroler memerintahkan driver motor untuk memjalankan motor DC. Putaran motor DC menyebabkan konveyor ikut berputar, sehingga membuat singkong bergerak menuju pisau pengiris. Dan ketika sensor pengindera LDR pertama dan sensor pengindera LDR kedua mendeteksi adanya cahaya, maka sensor memberi perintah pada mikrokontroller dan mikrokontroler memerintahkan driver motor untuk memberhentikan motor DC. d. Perancangan rangkaian elektronika alat pengiris singkong

30

Pembuatan alat pengiris singkong ini berbasis mikrokontroler. Sebagai sumber tegangan system ini memamfaatkan catu daya. Secara umum blok diagram alat pengiris bawang merah dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 12. Desain rangkaian elektronika alat pengiris singkong Kerja alat dimulai ketika keripik dimasukkan kedalam corong penampung, ketika sensor Ldr pertama mendeteksi adanya singkong maka motor akan hidup secara otomatis. Putaran motor menyebabkan konveyor dan pengiris berputar. Putaran motor di atur menggunakan sensor optocoupler. Karena putaran konveyor menyebabkan singkong bergerak menuju pengiris. Dan ketika sensor LDR pertama dan kedua tidak mendeteksi adanya singkong maka motor akan mati secara otomatis. Output dari rangkaian ini masih dalam bentuk analog, sedangkan mikrokontroler hanya dapat membaca data dalam bentuk digital. Untuk output dari

31

rangkaian penguat ini perlu diubah dalam bentuk digital dengan menggunakan ADC. Setelah sinyal berbentuk digital barulah sinyal diumpankan ke

mikrokontroler untuk dilakukan pengolahan data. Output dari mikrokontroler ditampilkan pada dislay LCD. Driver motor bekerja untuk mengaktifkan motor DC yang berfungsi sebagai tenaga penggerak pada proses pengirisan singkong. 3. Desain perangkat lunak alat pengeris keripik Desain perangkat lunak dari sistem ini berupa flowchart dari program untuk mikrokontroler menggunakan bahasa basic computer. Flowchart dari alat pengiris singkong ini adalah:
Mulai

Inisialisasi mikrokontroler

Jumlah putaran dan waktu

Tampilkan pada LCD

Kontrol motor DC

Ukur kecepatan

Tampilkan hasil

selesai

32

Gambar 13. Desain perangkat lunak alat pengiris singkong 4. Desain pengukuran penentuan ketepatan dan ketelitian Ketepatan atau presisi adalah Suatu ukuran seberapa dekatnya hasil dari output sensor (eksperimen) dengan nilai sebenarnya. Ketepatan dari sistem dapat ditentukan dari persentase kesalahan antara nilai aktual dengan nilai yang terlihat. Adapun langkah-langkah dalam menentukan ketepatan pada alat

pengukuran ini adalah: 1) 2) 3) Sensor optocoupler diletakkan pada motor DC Membaca keluaran yang ditunjukkan pada display Membandingkan hasil yang ditunjukkan pada display dengan hasil

pengukuran dengan alat ukur ketebalan 4) Menentukan persentase kesalahan pengukuran oleh sensor massa

LDR dan pegas Sedangkan untuk menentukan ketelitian sensor, dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini, yaitu: 1) 2) 3) Menset alat untuk melakukan pengirisan singkong Membaca nilai hasil pengukuran yang ditunjukkan pada display Melakukan pengukuran berulang sebanyak 10 kali pengukuran

dengan ketebalan singkong yang berbeda. 4) Menentukan kesalahan mutlak dan kesalah relatif serta melaporkan

hasil pengukuran. N. Teknik Pengumpulan Data

33

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui pengukuran terhadap besaran Fisika yang terdapat dalam alat pengirisan singkong. Teknik pengukuran yang dilakukan meliputi dua cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pengukuran secara langsung adalah pengukuran yang tidak bergantung pada besaran-besaran lain. Pengukuran secara tidak langsung adalah pengukuran suatu besaran yang nilainya dipengaruhi oleh besaran-besaran lain dan nilainya tidak langsung didapat. Data yang diperoleh secara langsung adalah ketebalan singkong, tegangan catu daya, waktu pengirisan, tegangan keluaran rangkaian pengolah sinyal, sedangkan data yang diperoleh secara tidak langsung adalah ketepatan dan ketelitian dari alat pengiris singkong menggunakan sensor Optocoupler dan sensor LDR. O. Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan untuk mendapatkan kesimpulan. Teknik analisis data yang dilakukan adalah secara grafik dan secara statistik, grafik berguna untuk memberikan hasil secara visual dalam melukiskan hubungan dua variabel yang diperoleh dari pengukuran atau perhitungan. Plot data bertujuan untuk menentukan hubungan antara variabel-variabel yang diukur. Hal ini dapat dilakukan dengan memplot data pada koordinat XY menggunakan program Microsoft excel. Teknik umum yang digunakan untuk memplot data pada grafik XY yaitu variabel bebas pada sumbu X dan variabel terikat pada sumbu Y (Kirkup, 1994). Analisis data hasil pengukuran merupakan proses untuk mengetahui tingkat ketepatan dan ketelitian dari suatu sistem pengukuran. Ketepatan (accuracy)

merupakan tingkat kesesuaian atau dekatnya suatu hasil pengukuran terhadap harga

34

sebenarnya. Ketepatan dari sistem dapat ditentukan dari persentase kesalahan antara nilai aktual dengan nilai yang terlihat. Persentase kesalahan dapat ditentukan dari persamaan : Persentase kesalahan = (11) dimana; Yn = Nilai sebenarnya dan Xn = Nilai yang terbaca pada alat ukur. Ketepatan pengukuran dari suatu sistem pengukuran dapat ditentukan melalui persamaan :
A = 1− Yn − Xn Yn Yn − Xn × 100 % Yn

(12) Ketepatan relatif rata-rata dari sistem pengukuran dapat ditentukan melalui persamaan:
%A = 1− Yn − Xn × 100% Yn

(13) Pada persamaan A merupakan akurasi relatif yang sering dikenal dengan ketepatan (Jones, L.D, 1995).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->