P. 1
Ispa

Ispa

|Views: 37|Likes:
Published by Rachman Usman

More info:

Published by: Rachman Usman on Oct 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2012

pdf

text

original

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA

)
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan atas atau bawah, biasanya menular, yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya, faktor lingkungan, dan faktor pejamu. Namun demikian, di dalam pedoman ini, ISPA didefinisikan sebagai penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh agen infeksius yang ditularkan dari manusia ke manusia. Timbulnya gejala biasanya cepat, yaitu dalam waktu beberapa jam sampai beberapa hari. Gejalanya meliputi demam, batuk, dan sering juga nyeri tenggorok, coryza (pilek), sesak napas, mengi, atau kesulitan bernapas. Contoh patogen yang menyebabkan ISPA yang dimasukkan dalam pedoman ini adalah rhinovirus, respiratory syncytial virus, paraininfluenzaenza virus, severe acute respiratory syndromeassociated coronavirus (SARS-CoV), dan virus Influenza.

Salah satu penyakit yang diderita oleh masyarakat terutama adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yaitu meliputi infeksi akut saluran pernapasan bagian atas dan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah. ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara berkembang maupun dinegara maju dan sudah mampu. dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada,masa dewasa. dimana ditemukan adanya hubungan dengan terjadinya Chronic Obstructive Pulmonary Disease (2,3). ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % -60 % dari kunjungan diPuskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % -30 %. Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari 2 bulan (4,5). Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat dan sering disertai penyulit-penyulit dan kurang gizi (3). Data morbiditas penyakit pneumonia di Indonesia per tahun berkisar antara 10 -20 % dari populasi balita. Hal ini didukung oleh data penelitian dilapangan (Kecamatan Kediri, NTB adalah 17,8 % ; Kabupaten Indramayu adalah 9,8 %). Bila kita mengambil angka morbiditas 10 % pertahun, ini berarti setiap tahun jumlah penderita pneumonia di Indonesia berkisar 2,3 juta .Penderita yang dilaporkan baik dari rumah sakit maupun dari Puskesmas pada tahun 1991 hanya berjumlah 98.271. Diperkirakan bahwa separuh dari penderita pneumonia didapat pada kelompok umur 0-6 bulan (6).
Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulai dengan keluhan-keluhan dan gejala-gejala yang ringan. Dalam perjalanan penyakit mungkin gejala-gejala menjadi lebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam keadaan kegagalan pernapasan dan mungkin meninggal. Bila sudah dalam kegagalan pernapasan maka dibutuhkan penatalaksanaan yang lebih rumit, meskipun demikian mortalitas masih tinggi, maka perlu diusahakan agar yang ringan tidak menjadi lebih berat dan yang sudah berat cepat-cepat ditolong dengan tepat agar tidak jatuh dalam kegagalan pernapasan. Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda-tanda laboratoris. Tanda-tanda klinis

kesadaran menurun. Gejalanya Penyakit Bronkitis berupa:     batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan) sesak napas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan sering menderita infeksi pernapasan (misalnya flu) bengek . • hypercapnia dan • acydosis (metabolik dan atau respiratorik) (4). papil bendung. hypertensi. kejang. retraksi dinding thorak. bakteri dan organisme yang menyerupai bakteri (Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia) Serangan Penyakit Bronkitis berulang bisa terjadi pada perokok dan penderita penyakit paruparu dan saluran pernapasan menahun. hidrogen sulfida. Tanda-tanda laboratoris • hypoxemia. kejang dan coma. demam dan dingin BRONKITIS Penyakit Bronkitis infeksiosa disebabkan oleh virus. sakit kepala. beberapa pelarut organik. napas tak teratur (apnea). Tanda-tanda bahaya pada anak golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun adalah: tidak bisa minum. Wheezing. sedangkan tanda bahaya pada anak golongan umur kurang dari 2 bulan adalah: kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun ampai kurang dari setengah volume yang biasa diminumnya). • Pada sistem cerebral adalah : gelisah. stridor. mudah terangsang. bingung. sulfur dioksida dan bromin Polusi udara yang menyebabkan iritasi ozon dan nitrogen dioksida Tembakau dan rokok lainnya. • Pada hal umum adalah : letih dan berkeringat banyak. napas cuping hidung. kejang. cyanosis.• Pada sistem respiratorik adalah: tachypnea. Infeksi berulang bisa merupakan akibat dari:     Sinusitis kronis Bronkiektasis Alergi Pembesaran amandel dan adenoid pada anak-anak. bradycardiam. stridor dan gizi buruk. amonia. hypotensi dan cardiac arrest. • Pada sistem cardial adalah: tachycardia. grunting expiratoir dan wheezing. klorin. Penyakit Bronkitis iritatif bisa disebabkan oleh:     Berbagai jenis debu Asap dari asam kuat. kesadaran menurun. suara napas lemah atau hilang.

kaki dan tungkai kiri dan kanan wajah. Dalam penelitian Alberta Medical Association. 2005). terutama setelah batuk. sampai gejala distres pernapasan (Oma dkk. Batuk biasanya merupakan tanda dimulainya Penyakit Bronkitis. kadang terjadi demam tinggi selama 3-5 hari dan batuk bisa menetap selama beberapa minggu. yaitu hidung meler.3 Klasifikasi . menggigil. lebih dari 60% anak yang didiagnosis menderita croup dengan gejala ringan. suara parau. sakit punggung. setelah sebagian besar gejala lainnya membaik. 2008). Croup umumnya terjadi pada anak yang berusia diantara 6 bulan sampai 3 tahun. lelah. sindrom ini jarang terjadi pada orang dewasa (Alberta Medical Association.1 Definisi Sindrom croup 2. 2008). sakit otot. sekitar 4% dirawat di rumah sakit. Bisa terjadi pneumonia.5 kali pada anak laki-laki daripada anak perempuan (Cherry. Pada Penyakit bronkitis berat. tetapi dapat juga terjadi pada anak berusia 3 bulan dan sampai 15 tahun. Insidensinya lebih tinggi 1. Selanjutnya dahak akan bertambah banyak. Dilaporkan. 2008). telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan pipi tampak kemerahan sakit kepala gangguan penglihatan.2 Epidemiologi adalah berbagai penyakit respiratorik yang ditandai dengan gejala akibat obstruksi laring yang bervariasi dari ringan sampai berat berupa stridor inspirasi. batuk menggonggong. 2.500 anak yang diintubasi (sekitar 1 dari 170 anak yang dirawat di rumah sakit) (Alberta Medical Association. berwarna kuning atau hijau. tetapi 1-2 hari kemudian akan mengeluarkan dahak berwarna putih atau kuning. Penyakit Bronkitis infeksiosa seringkali dimulai dengan gejala seperti pilek. 2. dan kira-kira 1 dari 4. demam ringan dan nyeri tenggorokan. Sesak napas terjadi jika saluran udara tersumbat. Sering ditemukan bunyi napas mengi. Pada awalnya batuk tidak berdahak.      lelah pembengkakan pergelangan kaki.

stridor inspirasi yang menonjol dan –kadang-kadang – stidor ekspirasi. Sehingga penting untuk memberikan edukasi kepada orang tua tentang penyakit yang secara alami dapat sembuh sendiri ini. 3). kulit tampak kegelapan.1 Terapi suportif Oleh karena gejala croup sering timbul pada malam hari.3. tidak terdengar suara stridor saat istirahat. sehingga meningkatkan kunjungan ke unit gawat darurat. Melembabkan Udara (Pengabutan) . 2. Berat Gejala batuk menggonggong yang lebih sering.7 Penatalaksanaan 2. dan jika tanpa tambahan oksigen. dan tidak adanya retraksi sampai adanya retraksi ringan suprastrenal dan/atau interkostal. Ringan Gejala batuk menggonggong yang kadang-kadang. retraksi dinding sternal (dapat tidak jelas).7. 4). tetapi tidak ada atau sedikit gejala distres pernapasan atau agitasi. banyak orang tua yang merasa khawatir dengan penyakit ini. Kegagalan pernapasan terjadi segera Batuk menggonggong (sering tidak menonjol). 2). dan adanya gejala distres pernapasan dan agitasi yang signifikan.1 Klasifikasi Berdasarkan Beratnya Gejala Anak-anak yang menderita sindrom croup. Sedang Gejala batuk menggonggong yang lebih sering. terdengar stridor saat istirahat (kadang-kadang sulit di dengar). suara stidor saat istirahat yang dapat dengan mudah didengar. retraksi dinding sternal yang jelas. secara luas dapat dikategorikan berdasarkan 4 derajat beratnya gejala: 1). letargi atau penurunan kesadaran.2. dan retraksi suprasternal dan dinding sternal saat istirahat.

sehingga secara empiris terapi antibiotik tidak rasional. 2. Antitusif dan Dekongestan Tidak ada penelitian yang bersifat eksperimental yang potensial dalam menunjukkan keuntungan pemberian antitusif atau dekongestan pada anak dengan croup. Lagipula. Oksigen Tatalaksana pemberian oksigen dapat dipakai untuk anak dengan hipoksia (dimana saturasi Oksigen dalam ruangan biasa < style="">Alberta Medical Association.Pada abad ke-20 terapi dengan melembabkan udara (terapi uap) merupakan dasar dari manajemen croup. 2008). sangat beralasan memberikan obat ini karena membuat anak lebih nyaman dengan menurunkan demam dan nyeri (Alberta Medical Association. tidak ada dasar yang rasional dalam penggunaannya.2 Farmakoterapi Analgesik/Antipiretik Walaupun belum ada penelitian khusus tentang manfaat analgesik atau antipiretik pada anak dengan croup. 2008). Rumah sakit saat ini menggunakan peralatan penguapan untuk tujuan ini. 2008). dan karena itu tidak diberikan pada anak yang menderita croup (Alberta Medical Association. Antibiotik Tidak ada penelitian yang potensial tentang manfaat antibiotik pada anak dengan croup. Gabungan Oksigen-Helium Pemberian gas Helium pada anak dengan croup diusulkan karena potensinya sebagai gas dengan densitas rendah (dibanding nitrogen) dalam menurunkan turbulensi udara pada penyempitan saluran pernapasan (Alberta Medical Association. Croup sebenarnya selalu berhubungan dengan infeksi virus. tetapi sekarang ini efektivitasnya masih dipertanyakan. jika terjadi super infeksi –paling sering bacterial tracheitis dan . Cara yang sederhana termasuk memaparkan anak pada udara malam yang basah. 2008). 2008). Lagipula. atau memaparkan anak pada uap air yang panas (Wikipedia.7.

000 memiliki efek yang sebanding dan sama amannya dengan bentuk tartar. dan angka kunjungan berulang ke pelayanan kesehatan. Kerby. memberikan respon klinis yang baik pada sebagian besar pasien (Alberta Medical Association. serta menurunkan durasi gejala pada anak yang menderita gejala derajat ringan. dapat diberikan epinephrine secara berulang. 2003). sedang dan berat (Alberta Medical Association.merupakan kejadian yang jarang (kurang dari 1:1. reintubasi. angka dan durasi dirawat di rumah sakit. 2008). Beberapa penelitian retrospektif dan prospektif menyarankan pasien yang mendapat terapi epinephrine dapat dipulangkan selama gejalanya tidak timbul kembali setidaknya dalam 2-3 jam setelah terapi (Alberta Medical Association. 2008). Kerby. Dosis tunggal (0. Di sisi lain.000) digunakan untuk semua anak tanpa menghiraukan berat badan (Alberta Medical Association. 2008.6 mg/kg BB merupakan dosis yang umumnya digunakan.pneumonia.000) sehingga pemakaian antibiotik untuk profilaksis juga tidak rasional (Alberta Medical Association.0 ml epinephrine 1:1. yang memberikan kortikosteroid dosis lebih tinggi. . Bentuk epinephrine tartar yang umum digunakan untuk pasien croup. 2008. Pemberiannya dapat diulang dalam 6 sampai 24 jam. Anak yang hampir mengalami gagal napas. Dexamethasone dosis 0. penggunaan epinephrine pada anak dengan croup berat.25% dan 5. epinephrin 1:1. Epinephrine dapat mengurangi distres pernapasan dalam waktu 10 menit dan bertahan dalam waktu 2 jam setelah penggunaan. Glucocorticoids Steroid adalah terapi utama pada croup.15 mg/kg BB juga sama efektifnya. Epinephrine Berdasarkan data terdahulu. 2003). dapat mengurangi kebutuhan alat bantu pernapasan. Beberapa penelitian menunjukkan penggunaan kortikosteroid dapat menurunkan jumlah dan durasi pemakaian intubasi. penelitian meta-analisis dengan kontrol. Dexamethasone sama efektifnya jika diberikan per oral atau parenteral. Terdapat beberapa bukti juga yang mengatakan dexamethasone dosis rendah 0. Pemberian epinephrine yang kontinyu dilaporkan telah digunakan dibeberapa unit perawatan intensif anak (Alberta Medical Association. 2008). 2008).5 ml epinephrine tartar 2.

Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru dibandingkan bagian lain tubuh manusia. 2. tetapi cara pemakaiannya lebih traumatik dan lebih mahal sehingga tidak secara rutin digunakan. Demikian pula di Indonesia.8 Komplikasi Komplikasi yang dapat timbul adalah:  Perlunya pemasangan intubasi pada sejumlah kecil pasien (<1%)  Bacterial tracheitis dapat memperburuk keadaan pasien croup  Henti kardiopulmoner dapat timbul pada pasien yang tidak dimonitor dan tidak diterapi secara adekuat  Serta timbulnya pneumonia yang merupakan komplikasi dari croup yang jarang terjadi (Alberta Medical Association. Penatalaksanaan simdrom croup berdasarkan beratnya gejala terdapat pada lampiran 1. dan sangat jarang menyebabkan kematian akibat obstruksi saluran pernapasan total. 2008). 2008). Gejalanya dapat berlangsung dalam 7 hari. maka sindroma ini dapat sembuh dengan sendirinya. Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa.9 Prognosis Oleh karena pada umumnya penyebab sindrom croup adalah virus. Pada pasien dengan gejala gagal napas yang berat. baik dari sisi angka kematian . pemberian budesonide dan epinephrine secara bersamaan adalah logis dan dapat lebih efektiv daripada pemberian epinephrine saja. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. 2. Tuberkulosis / TBC merupakan masalah kesehatan. Pada pasien dengan gejala muntah-muntah juga merupakan alasan untuk memberikan inhalasi steroid (Alberta Medical Association. tetapi puncaknya pada hari kedua dari perjalanan penyakit (Wikipedia. Insidensi TBC dilaporkan meningkat secara drastis pada dekade terakhir ini di seluruh dunia.Inhalasi budesonide juga menunjukkan efektivitas yang sama dengan dexamethasone oral. 2008).

nyeri dada.000 penduduk. paling sering di daerah leher. bersin atau berbicara sehingga kuman/basil dilepaskan ke udara. 2. menunjukkan bahwa Tuberkulosis / TBC merupakan penyakit kedua penyebab kematian. Dengan penduduk lebih dari 200 juta orang. Kenyataan mengenai penyakit TBC di Indonesia begitu mengkhawatirkan. Penularannya melalui udara apabila orang yang menderita TBC dalam paru-paru atau tenggorokan batuk. Gejala dari saluran nafas. nafsu makan dan berat badan . Adapun gejala-gejala lain dari TB pada orang dewasa adalah sesak nafas dan nyeri dada.000 penduduk tiap tahun. meliputi : Berat badan turun selama 3 bulan berturut-turut tanpa sebab yang jelas dan tidak naik dalam 1 bulan meskipun sudah dengan penanganan gizi yang baik.4 TANDA – TANDA DAN GEJALA KLINIS Gejala TB pada orang dewasa umumnya penderita mengalami batuk dan berdahak terus-menerus selama 3 minggu atau lebih. demam meriang lebih dari sebulan. Bahkan setiap empat menit sekali satu orang meninggal akibat TBC di Indonesia. Indonesia menempati urutan ketiga setelah India dan China dalam hal jumlah penderita di antara 22 negara dengan masalah TBC terbesar di dunia. badan lemah. Pembesaran kelenjar limfe superfisialis yang tidak sakit. rasa kurang enak badan (malaise). angka kejadian penyakit (morbiditas). misalnya batuk lebih dari 30 hari (setelah disingkirkan sebab lain dari batuk). yakni gejala umum dan gejala khusus. tanda cairan di dada dan nyeri dada. badan lemah. Demam lama atau berulang tanpa sebab yang jelas (bukan tifus. maka jika ada orang disekitar penderita maka kuman/basil akan mudah menular ke semua orang disekitarnya/yang kontak dengan penderita. sehingga kita harus waspada sejak dini & mendapatkan informasi lengkap tentang penyakit TBC . maupun diagnosis dan terapinya. TBC adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Basil Mycobacterium Tuberculosis atau basil tuberkel yang tahan asam. Pada tahun 1999 WHO Global Surveillance memperkirakan di Indonesia terdapat 583.000 BTA positif atau insidens rate kirakira 130 per 100. malaria atau infeksi saluran nafas akut) dapat disertai dengan keringat malam. ketiak dan lipatan paha. dan setiap dua menit muncul satu penderita baru TBC paru yang menular. nafsu makan dan berat badan menurun. sedangkan pada tahun 1986 merupakan penyebab kematian keempat. Pada anak-anak gejala TB terbagi 2. Kuman/basil dapat bertahan beberapa jam dalam suhu kamar/lingkungan rumah. Jumlah penderita TBC paru dari tahun ke tahun di Indonesia terus meningkat. Saat ini setiap menit muncul satu penderita baru TBC paru. Gejala umum. walaupun tanpa kegiatan. berkeringat malam.(mortalitas). Kematian akibat Tuberkulosis / TBC diperkirakan menimpa 140. Jika anda menemui pasien mengeluh : Sesak nafas. batuk darah atau pernah batuk darah. Hasil survei Kesehatan Rumah Tangga Depkes RI tahun 1992.000 penderita Tuberkulosis / TBC baru pertahun dengan 262.

Apabila hanya 1 spesimen yang positif maka perlu dilanjutkan dengan rontgen dada atau pemeriksaan SPS diulang. benjolan (massa) di abdomen. 2. Gejala Khusus. rasa kurang enak badan (malaise). Misalnya nyeri dada terdapat pada TB pleura (pleuritis). malnutrisi berat. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya 2 dari 3 spesimen SPS BTA hasilnya positif. Selain itu. sesuai dengan bagian tubuh yang diserang.menurun. Misalnya pada penderita HIV (Human Immunodeficiency Virus). Seorang penderita TB ekstra paru kemungkinan besar juga menderita TB paru. hasil uji tuberkulin dapat negatif meskipun orang tersebut menderita TB. berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan. Sementara diagnosis TB ekstra paru. pembengkakan di pinggul • Tulang lutut: pincang dan atau bengkak TB otak dan saraf Meningitis dengan gejala kaku kuduk. misalnya obat sesak. meliputi : • Tulang punggung (spondilitis) : gibbus • Tulang panggul (koksitis): pincang. demam meriang lebih dari sebulan Maka Minta yang bersangkutan untuk melakukan pemeriksaan ke rumah sakit.4 DIAGNOSIS Diagnosis TB paru pada orang dewasa yakni dengan pemeriksaan sputum atau dahak secara mikroskopis. dan tanda-tanda cairan dalam abdomen. TB milier dan morbili. oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan dahak dan foto . uji tuberkulin tidak mempunyai arti dalam diagnosis. pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan pembengkakan tulang belakang pada Sponsdilitis TB. misalnya : TB kulit atau skrofuloderma TB tulang dan sendi. hal ini disebabkan suatu uji tuberkulin positif hanya menunjukkan bahwa yang bersangkutan pernah terpapar dengan Mycobacterium tubeculosis. muntah-muntah dan kesadaran menurun. tergantung pada organ yang terkena. obat demam. Puskesmas atau Dokter Praktek Swasta ! Sebaiknya jangan memberikan obat. 20 Gejala dari saluran cerna. obat penambah nafsu makan dan lain sebagainya. misalnya diare berulang yang tidak sembuh dengan pengobatan diare. 21 Pada orang dewasa. • Terdapat reaksi kemerahan cepat setelah penyuntikkan BCG (dalam 3-7 hari). Gejala mata • Conjunctivitis phlyctenularis • Tuburkel koroid (hanya terlihat dengan funduskopi) Seorang anak juga patut dicurigai menderita TB apabila: • Mempunyai sejarah kontak erat (serumah) dengan penderita TB BTA positif.

dan lain-lain).1 PENGANTAR TERAPI Pengendalian atau penanggulangan TB yang terbaik adalah mencegah agar tidak terjadi penularan maupun infeksi.rontgen dada. Tindakan mencegah terjadinya penularan dilakukan dengan berbagai cara. Pemeriksaan serologis seperti ELISA. menunjukkan adanya infeksi TB dan kemungkinan ada TB aktif pada anak. Pemeriksaan mikrobiologi dan serologi Pemeriksaan BTA secara mikroskopis lansung pada anak biasanya dilakukan dari bilasan lambung karena dahak sulit didapat pada anak. . uji tuberkulin dapat negatif pada anak TB 22 berat dengan anergi (malnutrisi. Gambaran foto rontgen dada Gejala-gejala yang timbul adalah: • Infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal • Milier • Atelektasis/kolaps konsolidasi • Konsolidasi (lobus) • Reaksi pleura dan atau efusi pleura • Kalsifikasi • Bronkiektasis • Kavitas • Destroyed lung Uji tuberkulin Uji ini dilakukan dengan cara Mantoux (penyuntikan dengan cara intra kutan) Bila uji tuberkulin positif. Mycodot dan lain-lain. Respons terhadap pengobatan dengan OAT Kalau dalam 2 bulan menggunakan OAT terdapat perbaikan klinis. pemberian imunosupresif. maka anak tersebut telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Namun. akan menunjang atau memperkuat diagnosis TB. Secara umum diagnosis TB paru pada anak didasarkan pada: Gambaran klinik Meliputi gejala umum dan gejala khusus pada anak. masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk pemakaian dalam klinis praktis. 23 BAB III TERAPI 3. Pencegahan TB pada dasarnya adalah : 1) Mencegah penularan kuman dari penderita yang terinfeksi 2) Menghilangkan atau mengurangi faktor risiko yang menyebabkan terjadinya penularan. serta dipakai dengan patuh sesuai ketentuan penggunaan obat. yang utama adalah memberikan obat anti TB yang benar dan cukup. PAP. penyakit sangat berat. Reaksi cepat BCG Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat (dalam 3-7 hari) berupa kemerahan dan indurasi > 5 mm.

antara lain dengan pengaturan rumah agar memperoleh cahaya matahari. menghindari meludah sembarangan. dan 4) menurunkan tingkat penularan. 2) mencegah kematian. Penyuluhan TB dilakukan berkaitan dengan masalah pengetahuan dan perilaku masyarakat. Tujuan penyuluhan adalah untuk meningkatkan kesadaran. yakni pada dasarnya adalah mengupayakan kesehatan perilaku dan lingkungan.. Terapi atau Pengobatan penderita TB dimaksudkan untuk. Dengan demikian salah satu upaya pencegahan adalah dengan penyuluhan. kemauan dan peranserta masyarakat dalam penanggulangan TB. batuk sembarangan. mengurangi kepadatan anggota keluarga. 1) menyembuhkan penderita sampai sembuh. mengkonsumsi makanan yang bergizi yang baik dan seimbang. . mengatur kepadatan penduduk. 3) mencegah kekambuhan.Pencegahan dilakukan dengan cara mengurangi atau menghilangkan faktor risiko.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->