P. 1
Limbah Padat Baja

Limbah Padat Baja

|Views: 685|Likes:
Published by Aulia Kartika Dewi

More info:

Published by: Aulia Kartika Dewi on Oct 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2014

pdf

text

original

MODEL PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI BAJA SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMPERTAHANKAN KELESTARIAN WILAYAH PESISIR KAWASAN INDUSTRI KRAKATAU

CILEGON

JA’FAR SALIM

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa disertasi saya dengan judul “Model Pengelolaan Limbah Industri Baja sebagai Upaya untuk Mempertahankan Kelestarian Wilayah Pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon” adalah benar-benar asli karya saya dengan arahan komisi pembimbing, dan bukan hasil jiplakan atau tiruan dari tulisan siapa pun serta belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun.

Bogor, Juli 2009

Ja’far Salim NIM P.062050534

ABSTRACT
JA’FAR SALIM, Model of Steel Industrial Waste Management for Maintaining The Sustainability of Coastal Region Krakatau Industrial Estate Cilegon. Under supervision of ASEP SAEFUDDIN, MARIMIN, and ETTY RIANI. Indonesia is rich in natural resources, raw material resources, and also human resources. Nevertheless, the environment contamination has become worse, especially in industrial area. The aims of this research are: To get information about condition of existing and amount of steel industrial disposal production which have not exploited yet; To find out the contamination of territorial water and health of society in industrial estate of Krakatau Cilegon from steel waste which cannot be recycled; To formulate the model of steel industrial waste management for maintaining the sustainability of coastal region and health of society; To formulate sustainable environmental oriented policy of steel industrial waste management system. System approaches in used in this research are: Investment analysis; AHP; ISM; and dynamic modeling. The result of this analysis: the measurement of assessment result of investment analysis NPV is 1,885,022 USD and BCR > 3, its mean beneficial investment, besides best level (1) is waste of slurry CRM with criterion value is feasible. Social impact in management of industrial disposal based on factor analysis using Health of Society coefficient is equal (0.36) + (0.04) Employment. So the value of social impact in model management of steel disposal is 36,662 persons. Selection priority in asphodel is obtained by result of calculation of weight importance focus variable to target variable are 0.325, 0.214, 0.201, 0.119, 0.084, and 0.056 (consistency ratio = 0,099) with sequences are: (1) exploiting of waste return, (2) waste minimalists, (3) prevention of contamination of coastal area, (4) prevention of contamination to society, (5) effort maintain continuity of coastal region, and (6) policy of management of waste with vision of and environment have continuation. Beside that, the result of calculation weight important actor variable to alternative variable 0.276, 0.170, 0.145, 0.114, 0.086, 0.075, 0.070, 0.065 are respectively: (1) the changing of raw material, (2) the changing of product, (3) the changing of technology and process, (4) applying environmental 5R, (5) lessening waste, (6) recycling waste, (7) changing waste, (8) rewiring waste. The determination of key parameter policies of steel industrial waste management for maintaining the sustainability of coastal region Krakatau Industrial Estate Cilegon by using ISM method base on environmental experts judgments from 20 item of question/statement. Furthermore, 10 answer items are taken to make key parameter as expert judgments sub-element. The model development as scenario in management of steel industrial waste using modeling dynamic system approach with powersim program especially for making the model with cause loop diagram and model structure model at resident sub model, coastal area and industrial disposal. Those models are verified by using historical data and validated by using faced and statistical validation methods. Key words: Steel waste management, coastal region, AHP, ISM, dynamic modeling

RINGKASAN
JA’FAR SALIM. Model Pengelolaan Limbah Industri Baja sebagai upaya untuk Mempertahankan Kelestarian Wilayah Pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Dibimbing oleh: ASEP SAEFUDDIN, MARIMIN, dan ETTY RIANI Indonesia yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah, baik sumber daya energi, sumber daya bahan baku, serta sumber daya manusia yang kompetitif, akan menjadi negara yang kuat di era global apabila bangsa Indonesia mampu mengelola dengan baik sumber-sumber daya tersebut, sehingga tidak hanya dapat dieksplotasi saat ini, melainkan juga untuk masa mendatang Salah satu sumber daya alam yang melimpah dan dapat digunakan untuk pembangunan berkelanjutan adalah bahan baku baja untuk industri dan kemakmuran masyarakat. PT. Krakatau Steel merupakan pabrik baja terpadu dan termasuk salah satu industri baja terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini diharapkan mampu menjadi perusahaan unggulan terutama dalam teknis pembuatan baja dengan teknologi tinggi serta dituntut mampu meraih keuntungan secara finansial dalam meningkatkan kapasitas produksinya. Namun proses produksi tidak akan lepas dari timbulnya limbah. Seperti halnya limbah industri lainnya, jika limbah industri baja tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai permasalahan, bahkan pencemaran lingkungan saat ini terus meningkat dan cenderung semakin memprihatinkan terutama di kawasan industri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi kondisi eksisting jenis dan jumlah limbah industri baja yang dihasilkan namun belum dimanfaatkan kembali; untuk mengetahui pencemaran perairan dan kesehatan masyarakat di Kawasan Industri Krakatau Cilegon dari limbah baja yang tidak dapat didaur ulang; untuk merumuskan model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir dan kesehatan masyarakat disekitarnya; dan untuk merumuskan kebijakan pengelolaan limbah industri baja yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Model pengelolaan limbah industri baja yang dirancang dalam penelitian ini menggunakan metode maupun analisis penyelesaian masalah, yaitu: analisa investasi net present value (NPV) dan benefit cost ratio (BCR); model analisis statistik; model analytical hierarchy process (AHP Cdplus3.0); metode interpretative structural modelling (ISM VAXO); dan dynamic modeling (program powersim). Hasil analisis kelayakan pengelolaan limbah dapat dilakukan dengan menganalisis hasil penilaian net present value ini dengan tujuan agar semua investasi, pengeluaran dan penerimaan dalam pengelolaan limbah baja yang berbentuk cash flow untuk periode waktu tertentu sampai ekonomis proyek dan nilai suatu proyek diubah ke dalam nilai sekarang dengan menggunakan tingkat suku bunga yang relevan. Untuk mengukur hasil analisis penilaian net present value dan benefit cost ratio ini menggunakan suku bunga yang berlaku pada akhir tahun 2007 yaitu suku bunga SBI sebesar 14 %, minimum attractive rate of return (MARR) sebesar 15 %, dan laju inflasi 6 %. Hasil pengukuran penilaian investasi analisis net present value sebesar 1,885,022 USD dan benefit cost ratio > 3 berarti investasi menguntungkan. Limbah slurry CRM merupakan opsi pengelolaan yang dinilai paling layak untuk melakukan investasi pengelolaan limbah baja. Hasil analisis submodel dampak sosial pada model pengelolaan limbah baja ini dapat dilakukan dengan analisis multivariat. Dampak sosial pada pengelolaan limbah industri baja meliputi variabel kesehatan masyarakat, variabel lapangan kerja, dan variabel pencemaran lingkungan. Analisis dampak sosial berdasarkan analisis faktor dengan koefisien adalah (0,36) kesehatan masyarakat + (0,04) lapangan kerja, sehingga nilai dampak sosial dalam model pengelolaan limbah baja sebanyak 36.662 orang.

Analisis penentuan pemilihan prioritas dengan model AHP Cdplus3.0 dari pendapat para pakar lingkungan diperoleh hasil perhitungan bobot awal kepentingan variabel fokus terhadap variabel tujuan pengelolaan limbah baja adalah 0,325, 0,214, 0,201, 0,119, 0,084, dan 0,056 dengan consistency ratio = 0,099 atau urutan tingkat kepentingannya adalah (1) pemanfaatan limbah kembali, (2) minimalisasi limbah, (3) pencegahan pencemaran pesisir, (4) pencegahan pencemaran terhadap masyarakat masyarakat, (5) upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir, dan (6) kebijakan pengelolaan limbah berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Sedangkan hasil perhitungan akhir bobot kepentingan variabel aktor terhadap variabel alternatif pengelolaan limbah baja adalah 0,276, 0,170, 0,145, 0,114, 0,086, 0,075, 0,070, 0,065 atau urutannya: (1) perubahan bahan baku, (2) perubahan produk, (3) perubahan proses dan teknologi, (4) penerapan 5 R lingkungan, (5) mengurangi limbah, (6) mendaur ulang limbah, (7) mengganti limbah, (8) memakai kembali limbah. Hasil analisis penentuan parameter kunci kebijakan pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestaraian wilayah pesisir di kawasan industri Krakatau Cilegon dengan metode ISM VAXO diperoleh dari jawaban para pakar lingkungan dari 20 butir pertanyaan/pernyataan, kemudian diambil menjadi 10 butir jawaban untuk dijadikan parameter kunci. Langkah-langkah penyusunan ISM VAXO terdiri dari penentukan sub elemen pendapat pakar dengan hasil urutan Pabrik baja, Area penyimpanan limbah, Pembangunan area limbah yang jauh dari pemukiman, Pengolahan yang dapat dipertangungjawabkan, Jaringan pembuatan waste water, Kecepatan waktu pengolahan limbah, Membangun prasarana pengolahan limbah yang aman, Penerapan 3 R (Reuse, Recyling, Recovery), Studi pemanfaatan limbah, dan Mendatangkan pakar. Menentukan kontekstual antar elemen bertujuan untuk mengidentifikasi para pakar lingkungan terutama bekerja maupun yang berdomisili di sekitar lokasi pabrik yang berkecenderungan menghasilkan limbah untuk memberikan jawaban/pendapat kontekstual antar elemen dengan jumlah responden 5 orang pakar. Penentuan hasil pengolahan ISM VAXO diperoleh berdasarkan hasil pengolahan kontekstual antara elemen dengan melibatkan 5 orang responden dari para pakar lingkungan dengan meggunakan bantuan program ISM VAXO. Membuat grafik hasil pengolahan untuk melihat posisi elemen faktor parameter kunci model pengelolaan limbah baja. Tahapan analisis pada pengembangan model sebagai skenario dalam pengelolaan limbah industri baja melalui pendekatan sistem meliputi: (a) analisis kebutuhan stakeholders, (b) formulasi masalah, (c) identifikasi sistem, (d) pembuatan model, dan (e) pengujian model. Hasil analisisnya adalah: 1) Analisis analisis kebutuhan stakeholders dalam pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestaraian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon terdiri dari: Pemerintah yang mewakili kepentingan publik melalui Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Banten serta Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi Kota Cilegon, Perusahaan/industri perhasil baja, Lembaga swadaya masyarakat (LSM) peduli lingkungan, Masyarakat di sekitar kawasan industri Cilegon yang menggantungkan sumber penghasilannya pada sumberdaya perikanan, Perguruan Tinggi, serta Divisi Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH) PT. Krakatau Steel. 2) Formulasi masalah dilakukan untuk penentuan informasi yang telah dilaksanakan melalui identifikasi sistem secara bertahap. Dalam pelaksanaannya, seringkali terjadi konflik kepentingan dari kebutuhan para stakeholders, meskipun konflik kepentingannya dapat diidentifikasi antara keinginan yang diperoleh dari hasil perhitungan bobot kepentingan variabel kriteria terhadap variabel aktor. 3) Identifikasi sistem pada tahapan pengelolaan limbah baja menggunakan model dinamis (powersim construction) dengan membuar rancang bangun model dengan dilakukan penggambaran diagram sebab akibat (cause loop diagram), karena identifikasi sistem ini merupakan langkah penting untuk menetapkan ukuran-ukuran kuantitatif dari berbagai variabel pada pengelolaan limbah industri baja dalam upaya

mempertahankan kelestaraian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon. 4) Pembuatan model dirancang berdasarkan hasil identifikasi sistem yang akan digunakan dalam membuat model pengelolaan limbah industri baja dan dibuat rancang bangun modelnya dengan menggunakan paket program powersim constructor terutama untuk pembuatan model rancang bangun dengan cause loop diagram dan struktur model pada submodel penduduk, pesisir laut, dan limbah industri. Hasilnya dalam bentuk rancang bangun gambar cause loop diagram dan struktur model Cause loop diagram dan rancang bangun struktur model. 5) Pengujian model ini dilakukan agar hasil penelitian dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah melalui hasil informasi tentang verifikasi dan validitasi model sebagai pengujian yang harus disampaikan oleh peneliti. Verifikasi model merupakan proses verifikasi model yang telah dirancang, kemudian dilakukan secara iteratif untuk memodifikasi struktur model, sedangkan pada validasi model ditujukan untuk menguji substansi model yang dirancang untuk mengetahui sejauh mana model yang dibuat dalam lingkup aplikasinya memiliki kemampuan kisaran akurasi yang memuaskan, konsisten dengan tujuan yang telah direncanakan dari pembuatan aplikasi model. Validasi model pada submodel kependudukan dengan nilai AME = 0,045% dan nilai AVE = 0,254%, submodel pesisir laut dengan nilai AME = 0,0002% dan nilai AVE = 0 %, dan submodel limbah industri dengan nilai AME = 0,127% dan nilai AVE = 0,95%. Hasil validasi ketiga submodel tersebut adalah valid dan memenuhi batas penyimpangan yang diterima, yakni < 10 %. Kebijakan pengelolaan limbah industri baja yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan, dapat melakukan strategi kebijakan bersamaan dengan pengelolaan limbah berdasarkan aktivitas penduduk sebanyak 42.846.944 jiwa, aktivitas industri sebanyak 74 industri dengan luas lahan kawasan industr 1.500 ha., memperhatikan dampak sosial, dan melakukan pengelolaan limbah agar kualitas pesisir laut sehat dan aman. Pengelolaan limbah baja dengan penentuan pemilihan prioritas menggunakan model AHP Cdplus 3.0, penentuan parameter kunci menggunakan ISM VAXO menunjukkan hasil pendapat pakar lingkungan memposisikan yakni Sektor II (dependence) namun memiliki kekuatan penggerak (driver power) yang kecil pada posisi sub elemen pendapat pakar menyatakan kecepatan waktu pengolahan limbah (6); Sektor III (independent dan driver power yang kecil) posisi sub elemen pendapat pakar menyatakan area penyimpanan limbah (2), jaringan pembuatan waste water (5), membangun prasarana pengolahan limbah yang aman (7), penerapan 3 R (reuse, recyling, recovery) (8), Studi pemanfaatan limbah (9), dan mendatangkan pakar (9); Sektor IV (independent.) posisi sub elemen pendapat pakar menyatakan pabrik baja (1), pembangunan area limbah yang jauh dari pemukiman (3), dan pengolahan yang dapat dipertangungjawabkan (4) adalah peubah bebas, hal ini berarti kekuatan penggerak (driver power) yang besar namun memiliki sedikit ketergantungan terhadap program, dan pengembangan model menggunakan program dinamik (powersim). Strategi kebijakan dengan membuat submodel penyelesaian masalah meliputi submodel penduduk, pesisir laut, dan limbah industri yang digambarkan dengan diagram sebab akibat (cause loop) dan struktur model dengan model dinamik (powersim) yang memperlihatkan hasil analisis program berupa hasil trend naik maupun turun yang ditunjukkan dalam tabel maupun grafik. Arah kebijakan pengelolaan limbah berimplikasi pada metoda kebijakan yang didasarkan dari hasil analisis kebijakan berdasarkan hasil analisis struktur hirarki metoda AHP dan analisis sintesa terhadap penilaian investasi yang ekonomis dari hasil analisis NPV dan BCR. Kata kunci: Pengelolaan limbah baja, wilayah pesisir, AHP, ISM, dynamic modeling.

@ Hak cipta milik IPB, tahun 2009 Hak cipta dilindungi undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber. a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah. b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar di IPB. 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

MODEL PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI BAJA SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMPERTAHANKAN KELESTARIAN WILAYAH PESISIR KAWASAN INDUSTRI KRAKATAU CILEGON

JA’FAR SALIM

Disertasi Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor Pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009

Penguji luar pada ujian tertutup

: 1. Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudya, M.Eng. 2. Dr. Ir. Isdrajad Setyobudiandi

Penguji luar pada ujian terbuka

: 1. Prof. Dr. Ir. Rahman Abdullah, M.Sc. 2. Dr. Ir. Dedy Heryadi Sutisna, M.S.

Judul Disertasi

: Model Pengelolaan Limbah Industri Baja sebagai Upaya untuk Mempertahankan Kelestarian Wilayah Pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon

Nama NIM Program Studi

: Ja’far Salim : P.062050534 : Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Menyetujui: Komisi Pembimbing,

Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc. Ketua

Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc. Anggota Mengetahui:

Dr. Ir. Etty Riani, M.S. Anggota

Ketua Program Studi Pengelolaan SDA dan Lingkungan,

Dekan Sekolah Pascasarjana,

Prof. Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, M.S.

Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S.

Tanggal ujian: 09 Juli 2009

Tanggal lulus:

PRAKATA

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas Karunia dan Hidayat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan disertasi dengan judul: Model Pengelolaan Limbah Industri Baja sebagai Upaya untuk Mempertahankan Kelestarian Wilayah Pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Dr. Ir. Asep Saefuddin, M,Sc. sebagai Ketua Komisi Pembimbing, yang telah memberikan bimbingan, arahan dan motivasi kepada penulis sejak penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian hingga penyusunan disertasi ini. 2. Bapak Prof. Dr. Ir. Marimin, M.Sc. sebagai Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan petunjuk, arahan dan motivasi kepada penulis sejak penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian hingga penyusunan disertasi ini. 3. Ibu Dr. Ir. Etty Riani, MS. sebagai Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan petunjuk, arahan dan motivasi kepada penulis sejak penyusunan proposal, pelaksanaan penelitian hingga penyusunan disertasi ini. 4. Bapak Prof. Dr. Ir, Rahman Abdullah, M.Sc., selaku Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa – Serang, juga sebagai penguji luar ujian terbuka disertasi. 5. Rektor Institut Pertanian Bogor. 6. Bapak Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS. selaku Dekan Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 7. Prof. Dr. Ir. Surjono H. Sutjahjo, MS. selaku Ketua Program Studi Pengelolaan SDA dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor. 8. Bapak Prof. Dr. Bambang Pramudya, M.Eng,. selaku penguji luar ujian tertutup disertasi. 9. Bapak Dr. Ir. Isdrajad Setyobudiandi, selaku penguji luar ujian tertutup disertasi. 10. Bapak Dr. Ir. Dedy Heryadi Sutisna, MS. selaku penguji luar ujian terbuka disertasi. 11. Bapak dan Ibu Dosen Pengajar Program Studi Pengelolaan SDA dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor. 12. Pemerintah Daerah Provinsi Banten, dan Pemerintah Kota Cilegon. 13. Istriku Dra. Hj. Kaniri, M.Pd, dan anak-anak kami Shifa Dini F., Dzikri Hidayat, dan Faathira Y.H. yang terus menerus memberikan dorongan semangat, pengertian, dan pengorbanan selama melaksanakan studi di IPB.

14. Rekan-rekan mahasiswa Program S3 PSL 2005 Kelas Khusus, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. 15. Rekan-rekan dosen di lingkungan Fakultas Teknik, khususnya di Program Studi Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. 16. Staf Administrasi Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Akhirul kata, semoga disertasi ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan di Wilayah Pesisir Kota Cilegon.

Bogor,

Juli 2009 Ja’far Salim

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Serang pada tanggal 5 Juni 1963 sebagai anak ke 10 dari 11 bersaudara dari pasangan H.M. Salim dan Hj. Rubiah. Pendidikan sarjana (S1) di tempuh di Jurusan Teknik Industri Universitas Islam Bandung, lulus tahun 1988 dan pada tahun 1997 penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi di Pascasarjana (S2) Jurusan Teknik Industri Universitas Indonesia Jakarta, lulus pada tahun 1999. Kesempatan untuk melanjutkan ke program Doktor (S3) dimulai pada tahun 2005 di program studi

Pengelolaan SDA dan Lingkungan Sekolah Pascasarjana IPB. Penulis bekerja sebagai tenaga pengajar PNS sejak tahun 1991 di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang pada Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Industri. Mata kuliah yang menjadi tanggung jawab penulis adalah Pengetahuan Lingkungan, Sistem Produksi, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, dan Pengambilan Keputusan. Sebagian hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal ilmiah: 1. Jurnal penelitian ilmu-ilmu sosial dan eksakta LPPM Untirta, berjudul: Model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon, diterbitkan pada Edisi 1 Volume 10, November 2008. 2. Jurnal penelitian ilmu-ilmu sosial dan eksakta LPPM Untirta, berjudul: Model strategi pengelolaan limbah baja berkelanjutan di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon, diterbitkan pada Edisi 3 Volume 12, April 2009. Kedua hasil penelitian tersebut merupakan bagian dari disertasi penulis.

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL ...................................................................................................... DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................... I. PENDAHULUAN ................................................................................................. 1.1 Latar Belakang ................................................................................................. 1.2 Tujuan Penelitian .............................................................................................. 1.3 Kerangka Pemikiran .......................................................................................... 1.4 Perumusan Masalah ........................................................................................... 1.5 Kebaharuan ....................................................................................................... 1.6 Ruang Lingkup................................................................................................... II. TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................................... 2.1 Konsep Pengelolaan Limbah ............................................................................ 2.2 Dampak Limbah Terhadap Pencemaran Ekosistem Pesisir dan Kesehatan Masyarakat ...................................................................................................... 2.2.1 Pencemaran Laut ..................................................................................... 2.2.2 Limbah Logam Dalam Sistem Perairan dan Kesehatan Masyarakat ...... 2.2.3 Toksisitas Logam pada Manusia dan Pencegahannya ............................ 2.2.4 Beban Pencamaran Limbah Baja dan Kemampuan Asimilasi Wilayah Pesisir ………………………………………………….......................... 2.2.5 Persepsi dan Partisipasi Masyarakat ...……………………………….... 2.3 Pemanfaataan dan Pengelolaan Potensi Pesisir di Daerah ............................... 2.4 Parameter Kriteria Kualitas Air dan Konsentrasi Logam Dalam Air .............. 2.5 Proses Produksi dan Timbulnya Limbah ...................................................... 20 22 22 25 27 27 28 29 29 33 36 38 xiv 12 14 17 18 xix xxii xxiv 1 1 5 5 7 8 8 11 11

2.5.1 Proses Produksi dan Timbulnya Limbah Pabrik Spons .......................... 2.5.2 Proses Produksi dan Timbulnya Limbah Pabrik Slab Baja ..................... 2.5.3 Proses Produksi dan Timbulnya Limbah Pabrik Billet Baja ................... 2.6 Karakteristik Limbah Padat Industri Baja ........................................................ 2.7 Pemodelan Sistem, Verifikasi dan Validasi Model .......................................... 2.8 Analytical Hierarchy Process ......................................................................... 2.8.1 Matriks Perbandingan Berpasangan .......................................................

2.8.2 Besarnya bobot ....................................................................................... 2.8.3 Indeks Konsistensi ................................................................................ 2.9 Metode Interpretative Structural Modelling ................................................... 2.10 Pemodelan Sistem Dinamis ........................................................................... 2.11 Konsep Evaluasi Aspek Ekonomi dan Finansial .......................................... III. METODE PENELITIAN ...................................................................................... 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................................ 3.2 Jenis dan Sumber Data ................................................................................. 3.3 Tahapan Penelitian ....................................................................................... 3.3.1 Studi Pendahuluan ................................................................................ 3.3.2 Pengumpulan Data ............................................................................... 3.4 Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data .................................................. 3.5 Jenis Data dan Teknis Analisis yang Digunakan .......................................... 3.6 Model Analisis Investasi Pengelolaan Limbah ............................................. 3.7 Analisis Baku Mutu ..................................................................................... 3.8 Pengambilan Sampling Sedimen ................................................................. 3.9 Pengambilan Sampel Biota .......................................................................... 3.10 Pengelolaan Limbah berdasarkan Submodel ............................................ 3.11 Analisis Kebijakan Model Pengelolaan Limbah Industri Baja…………… 3.11.1 Diagram Sebab Akibat ..................................................................... 3.11.2 Pemodelan Sistem Dinamik ........................................................... 3.11.3 Proses Hierarki Analitik ...........………………………………… 3.11.4 Pemodelan Interpretasi Struktural ...............................………… 3.11.5 Model Dinamik …………………………………..………….. IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN ................................................ 4.1 Kondisi Geografis ............................................................................................ 4.2 Kependudukan .................................................................................................. 4.2.1 Luas Wilayah dan jumlah penduduk ....................................................... 4.2.2 Kesehatan Masyarakat ............................................................................. 4.3 Perekonomian Wilayah ................................................................................... 4.3.1 Industri ................................................................................................... 4.3.1.1 Kondisi Eksisting Pabrik di Kawasan Industri Krakatau .......... 4.3.1.2 Kondisi Eksisting Jumlah Limbah Baja ....................................

39 39 40 41 43 44 44 44 45 45 45 46 47 48 50 51 52 53 55 56 56 59 61 62 64 64 65 65 66 67 67 69 73

xv

4.3.2 Pertanian ................................................................................................. 4.3.2.1 Sumberdaya Perikanan ............................................................... 4.4 Kondisi Pesisir Laut ...................................................................................

74 75 76 77 77 77 79 80 80 80 81 82 84 84 84 94 96 96 98 98 99 99 99 100 100 101 102 102 103 105 106 108 108 109 xvi

V. ANALISIS PENGELOLAAN LIMBAH DI WILAYAH PESISIR .................. 5.1 Pendahuluan ...................................................................................................... 5.1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 5.1.2 Tujuan dan Lingkup Bahasan .................................................................. 5.2 Tinjauan Pustaka .............................................................................................. 5.2.1 Ekosistem Wilayah Pesisir ...................................................................... 5.2.2 Toksisitas ................................................................................................. 5.2.3 Proses Instalasi Pengelolaan Air Limbah................................................. 5.3 Metode Analisis Pengelolaan Limbah di Wilayah Pesisir .............................. 5.4 Hasil dan Pembahasan .................................................................................... 5.4.1 Penataan Ruang di Wilayah Pesisir ....................................................... 5.4.2 Uji Terhadap Pengaruh Lingkungan ..................................................... 5.4.3 Proses Instalasi Pengelolaan Air Limbah Baja ………………………. 5.5 Kesimpulan dan Saran …………..…………………………………………. 5.5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 5.5.2 Saran ........................................................................................................ Daftar Pustaka ........................................................................................................ VI. ANALISIS INVESTASI PENGELOLAAN LIMBAH ………………………. 6.1 Pendahuluan ………………………………………………………………… 6.1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 6.1.2 Tujuan dan Lingkup Bahasan ................................................................ 6.2 Tinjauan Pustaka ........................................................................................... 6.3 Metode Analisis Finansial Pengelolaan Limbah ……………………………. 6.4 Hasil dan Pembahasan ……………………………………………………… 6.4.1 Asumsi Analisis .................................................................................... 6.4.2 Analisis Keterpaduan Wilayah Pesisir ..........................……………… 6.4.3 Analisis Nilai Manfaat Investasi Wilayah Pesisir …. ……………… 6.4.4 Kelayakan pengelolaan Limbah ………………………………………. 6.5 Kesimpulan dan Saran ........…………………………………………………. 6.5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 6.5.2 Saran ......................................................................................................

Daftar Pustaka ........................................................................................................ VII. MODEL STRATEGI PENGELOLAAN LINGKUNGAN ............................. 7.1 Pendahuluan .................................................................................................... 7.1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 7.1.2 Tujuan dan Lingkup Bahasan ................................................................ 7.2 Tinjauan Pustaka .............................................................................................. 7.3 Metode Strategi Pengelolaan Lingkungan ...................................................... 7.4 Hasil dan Pembahasan Strategi Pengelolaan Lingkungan .............................. 7.4.1 Asumsi Model ........................................................................................ 7.4.2 Pengelolaan Limbah Berdasarkan Aktivitas Penduduk ........................ 7.4.3 Pengelolaan Limbah Berdasarkan Aktivitas Industri............................. 7.4.4 Pengelolaan Limbah Berdasarkan Dampak Sosial ................................ 7.4.5 Pengelolaan Limbah terhadap Pesisir Laut .......................................... 7.4.6 Analisis Baku Mutu ............................................................................... 7.4.7 Analisis terhadap Komponen-komponen Pengelolaan Limbah ........... 7.4.8 Penentuan-penentuan Pengelolaan Limbah ........................................... 7.4.8.1 Penentuan Pemilihan Prioritas ................................................... 7.4.8.2 Penentuan Parameter Kunci ...................................................... 7.4.8.3 Pengembangan Model Dinamis pada Pengelolaan Limbah ...... 7.5 Kesimpulan dan Saran........................................................................................ 7.5.1 Kesimpulan .............................................................................................. 7.5.2 Saran ...................................................................................................... Daftar Pustaka ......................................................................................................... VIII. IMPLIKASI ARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN LIMBAH ............... 8.1 Pendahuluan .................................................................................................... 8.1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 8.1.2 Tujuan kebijakan Pengelolaan Limbah .................................................. 8.2 Metode Kebijakan Pengelolaan Limbah ......................................................... 8.3 Hasil dan Pembahasan Kebijakan Pengelolaan Limbah ................................. 8.3.1 Analisis Kebijakan ................................................................................. 8.3.2 Sintesa ................................................................................................... 8.3.2.1 Analisis Logam Berat ................................................................ 8.3.2.2 Analisis Investasi Pengelolaan Limbah ..................................... 8.4 Kesimpulan dan Saran ....................................................................................

109 110 110 110 112 112 113 114 114 115 115 117 118 119 130 132 132 139 143 171 171 172 173 174 174 174 175 175 176 176 180 181 181 183 xvii

8.4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 8.4.2 Saran ...................................................................................................... Daftar Pustaka ....................................................................................................... IX . KESIMPULAN DAN SARAN AKHIR........................................................... 9.1 Kesimpulan .................................................................................................... 9.2 Saran ............................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ LAMPIRAN ............................................................................................................

183 183 184 185 185 186 187 192

xviii

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Sumber pencemaran di wilayah pesisir dan lautan ............................................... 2. Baku mutu limbah cair .......................................................................................... 3. Jenis teknologi direct reduction .......................................................................... 4. Jenis teknologi blast furnace ................................................................................ 5. Jenis teknologi direct smelting ............................................................................ 6. Skala banding secara berpasangan dalam AHP ................................................... 7. Stakeholder dalam menentukan model pengelolaan limbah baja ......................... 8. Tujuan penelitian, jenis data, teknis analisis dan keluaran .................................. 9. Luas wilayah dan jumlah penduduk Kota Cilegon .............................................. 10. Jenis penyakit di Kota Cilegon ............................................................................ 11. Perusahaan/pabrik baja hulu dan hilir di Kawasan Industri PT. Krakatau Steel Grup .................................................................................................................... 12. Kondisi eksisting Kawasan Industri: Krakatau Industrial Estate Cilegon .......... 13. Data kuantitas limbah padat/lumpur PT. Krakatau Steel tahun 2007 ................. 14. Produksi komoditi hasil pertanian Kota Cilegon tahun 2007 .............................. 15. Hasil toxicity characteristic leaching procedure (TCLP) limbah baja .............. 16. Data kualitas air laut di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon… 17. Logam berat pada sedimen ................................................................................ 18. Kandungan logam berat pada organ tubuh kerang-kerangan ............................ 19. Estimasi benefit dan cost pengelolaan limbah industri baja di Kawasan industri Krakatau Cilegon ……………………………………………………………….. 20. Penilaian benefit dan cost serta matriks kriteria penilaian terhadap pengelolaan limbah industri baja di Kawasan Industri Krakatau Cilegon …………………. 21. Presentase sektor lapangan usaha di empat Kecamatan Kota Cilegon tahun 2007 ……………………………………………………………………………. 22. Dampak sosial model pengelolaan limbah industri baja tahun 2007 …………… 23. Kondisi jumlah penduduk, jumlah limbah baja, dan jenis penyakit di Kecamatan Ciwandan tahun 2003 – 2007............................................................ 24. Kondisi jumlah penduduk, jumlah limbah baja, dan jenis penyakit di 122 114 117 108 107 70 71 73 74 86 88 90 91 16 26 30 30 31 39 47 48 66 68

xix

Kecamatan Citangkil tahun 2003 – 2007. ............................................................ 25. Kondisi jumlah penduduk, jumlah limbah baja, dan jenis penyakit di Kecamatan Grogol tahun 2003 – 2007.................................................................. 26. Kondisi jumlah penduduk, jumlah limbah baja, dan jenis penyakit di Kecamatan Pulomerak tahun 2003 – 2007. ......................................................... 27. Persentasi orang terkena penyakit tertentu di Kecamatan Ciwandan ................. 28. Persentasi orang terkena penyakit tertentu di Kecamatan Citangkil .................. 29. Persentasi orang terkena penyakit tertentu di Kecamatan Grogol ....................... 30. Persentasi orang terkena penyakit tertentu di Kecamatan Pulomerak ................. 31. Jumlah masyarakat yang terkena penyakit di Kecamatan Ciwandan tahun 2007 32. Jumlah masyarakat yang terkena penyakit di Kecamatan Citangkil tahun 2007.. 33. Jumlah masyarakat yang terkena penyakit di Kecamatan Grogol tahun 2007 ... 34. Jumlah masyarakat yang terkena penyakit di Kecamatan Pulomerak tahun 2007 35. Hasil analisis bobot fokus terhadap tingkat kepentingan tujuan strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC ............................................. 36. Hasil perhitungan bobot tujuan terhadap tingkat kepentingan kriteria pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC ................................ 37. Hasil analisis bobot tujuan terhadap tingkat kepentingan kriteria startegi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC ............................................. 38. Hasil perhitungan bobot kriteria terhadap tingkat kepentingan aktor pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC ............................... 39. Hasil analisis bobot kriteria terhadap tingkat kepentingan aktor strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC ............................................ 40. Hasil perhitungan bobot aktor terhadap tingkat kepentingan alternatif pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC ............................... 41. Hasil analisis bobot aktor terhadap tingkat kepentingan alternatif strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC ............................................ 42. Hasil pendapat pakar lingkungan tentang pengelolaan limbah baja ……………. 43. Sub elemen faktor kunci dalam pengelolaan limbah ......................................... 44. Formulasi masalah keinginan dan konflik kepentingan pengelolaan limbah …... 45. Struktur sub model kependudukan di wilayah pesisir Kota Cilegon .................. 46. PDRB dan pendapatan penduduk pada struktur sub model kependudukan di wilayah pesisir Kota Cilegon ............................................................................. 47. Kebutuhan tenaga kerja perairan dan pesisir pada struktur sub model pesisir

122

123

123 124 124 125 125 126 127 127 128

133

134

134

135

136

136

137 139 141 145 153

154

xx

laut di wilayah pesisir Kota Cilegon .................................................................... 48. Jumlah limbah baja pada struktur sub model limbah industri .............................. 49. Jumlah penduduk aktual dan hasil prediksi jumlah penduduk .........…………… 50. Luas pesisir aktual dan hasil prediksi luas pesisir .............................................. 51. Limbah baja aktual dan hasil prediksi limbah baja ............................................. 52. Urutan tingkat kepentingan faktor tujuan pengelolaan limbah baja …………… 53. Hirarki kriteria pengelolaan limbah baja berdasarkan faktor pendukung ……… 54. Hirarki aktor pengelolaan limbah baja berdasarkan faktor pendukung ………… 55. Hirarki alternatif pengelolaan limbah baja berdasarkan faktor pendukung …… 56. Nilai NPV dan BCR pada pengelolaan limbah industri baja ……………………

158 161 166 168 170 177 178 179 180 183

xxi

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Jenis limbah baja yang dapat di daur ulang kembali menjadi baja ......... ............ 2. Jenis limbah baja yang tidak dapat di daur ulang kembali menjadi baja ............. 3. Kerangka berpikir pengelolaan limbah industri baja ........................................... 4. Rancangan dan perumusan penyelesaian masalah ............................................... 5. Daur pencemaran lingkungan ................................................................................ 6. Kawasan industri dan potensi sumber daya alam kabupaten/kota di Provinsi Banten ................................................................................................................... 7. Sistem pengolahan air WTP DR plant ………………………………………….. 8. Sumberdaya dan cadangan bijih besi di Indonesia ............................................... 9. Tahap pendekatan sistem ...................................................................................... 10. Metode penelitian pengelolaan limbah industri baja ............................................. 11. Struktur hirarki kebijakan dan strategi model pengelolaan limbah baja .............. 12. Peta Kota Cilegon ................................................................................................. 13. Data kuantitas jenis limbah baja .......................................................................... 14 Pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir ........................................................ 15. Logam berat pada air, sedimen, insang, dan hepatopankreas ............................. 16. Konsentrasi sedimen, insang, hepatopankreas, dan air pada logam berat .......... 17. Diagram alir proses RTP/IPAL ............................................................................ 18. Model analisis investasi pengelolaan limbah ...................................................... 19. Pemodelan sistem pengelolaan/pengendalian limbah baja ................................ 20. Grafik prosentase sektor lapangan usaha di Kota Cilegon .................................. 21. Struktur hierarki kebijakan dan strategi model pengelolaan limbah baja ............ 22. Matriks driver-power – dependence untuk sub elemen faktor kunci ................ 23. Diagram model struktural dari elemen faktor kunci pengelolaan limbah ............. 24. Diagram input – output pengelolaan sumberdaya pesisir ................................... 25. Diagram hubungan sebab akibat submodel kependudukan pada model pengelolaan limbah industri baja ......................................................................... 26. Struktur model kependudukan pada model pengelolaan limbah industri baja ..... 27. Grafik PDRB Kota Cilegon tahun 2003 – 2015 pada struktur sub model kependudukan di wilayah pesisir Kota Cilegon ................................................ 154 150 151 28 32 35 46 60 65 74 83 92 92 97 102 114 116 138 142 143 149 3 3 7 10 14 17

xxii

28. Diagram hubungan sebab akibat submodel pesisir laut pada model pengelolaan limbah industri baja ......................................................................... 155

29. Struktur sub model pesisir laut pada model pengelolaan limbah industri baja ..... 156 30. Diagram hubungan sebab akibat submodel limbah industri pada model pengelolaan limbah industri baja ......................................................................... 31. Struktur sub model limbah industri pada model pengelolaan limbah industri baja ....................................................................................................................... 32. Struktur model keseluruhan model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon .................................................................................................. 33. Grafik jumlah penduduk aktual dan prediksi jumlah penduduk pada submodel kependudukan ..................................................................................................... 34. Grafik jumlah penduduk tahun 2003 – 2015 pada sub model kependudukan di wilayah pesisir Kota Cilegon ......................................................................... 35. Grafik luas pesisir aktual dan hasil prediksi luas pesisir pada submodel pesisir laut ...................................................................................................................... 36. Grafik luas pesisir tahun 2003 – 2015 pada submodel pesisir laut di wilayah pesisir Kota Cilegon .......................................................................................... 37. Grafik jumlah limbah aktual dan hasil prediksi jumlah limbah pada submodel limbah industri .................................................................................................. 38. Grafik jumlah limbah baja tahun 2003 – 2015 pada submodel limbah industri di wilayah pesisir Kota Cilegon ......................................................................... 171 170 169 168 167 167 162 160 159

xxiii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Daftar istilah (Glossary) ........................................................................................ 192 194 197 200 201 225

2. Analisa penilaian net present value limbah ............................. .......................... 3. Analisa penilaian benefit cost ratio limbah …………………........................... 4. Compound interest factors …………………..…………………………………. 5. Kuesioner analytical hierarchy process (AHP) ………………………………. 6. Kuesioner interpretative structural modelling (ISM) …………………………. 7. Hasil matriks pasangan Fokus - Tujuan analisis AHP model pengelolaan limbah baja ……………………………………………………………………………... 8. Hasil matriks pasangan Tujuan - Kriteria analisis AHP model pengelolaan limbah baja ……………………………………………………………………… 9 Hasil matriks pasangan Kriteria - Aktor analisis AHP model pengelolaan limbah baja ……………………………………………………………………… 10. Hasil matriks pasangan Aktor - Alternatif analisis AHP model pengelolaan limbah baja ……………………………………………………………………… 11. Hierarki analisis AHP aktor - alternatif model pengelolaan limbah baja ………. 12. Data input dan proses ISM VAXO .……………………………………………. 13. Program model dinamik pada model pengelolaan limbah baja, Sub model Kependudukan …………………………………………………………………. 14. Program model dinamik pada model pengelolaan limbah baja, Sub model Pesisir Laut….……………………..……………………………………………. 15. Program model dinamik pada model pengelolaan limbah baja, Sub model Limbah Industri ………………………………………………………………. 15. Prediksi hasil pemodelan sistem tahun 2003 - 2015………………………….

234

234

235

235 236 237

239

240

242 244

xxiv

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kemakmuran dan kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh ketersediaan dan pengelolaan sumber daya alam yang baik, seperti pengelolaan energi dan bahan baku, sumber daya manusia, pengelolaan pasar (market), strategi dan teknologi. Oleh karena itu, maka Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, baik sumber daya energi, sumber daya bahan baku, serta sumber daya manusia yang kompetitif, akan menjadi negara yang kuat di era global apabila bangsa Indonesia mampu mengelola dengan baik sumber-sumber daya tersebut, sehingga tidak hanya dapat dieksplotasi saat ini, melainkan juga untuk masa mendatang. Menurut Salim (1993), dalam

rangka mengisi pembangunan berkelanjutan, sumber-sumber daya yang telah dieksploitasi seperti bahan mentah pertambangan akan diolah menjadi sumber alam produksi lainnya dengan melibatkan teknologi pengolahan sumber alam. Salah satu sumber daya alam yang melimpah dan dapat digunakan untuk pembangunan berkelanjutan adalah bahan baku baja untuk industri. Menurut Mulyowahyudi (2005) industri baja sebagai based industry untuk banyak sektor lain. Oleh karena itu maka industri ini diharapkan mampu menjadi katalis untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemandirian dan produktivitas industri dengan melakukan optimalisasi natural resources secara berkesinambungan. Selain itu industri baja juga diharapkan mampu menjadi penggerak pembangunan infrastruktur nasional. Salah satu pabrik baja yang terkenal di Indonesia adalah PT. Krakatau Steel. PT. Krakatau Steel merupakan pabrik baja terpadu dan termasuk pada salah satu industri baja terkemuka di Indonesia. Perusahaan ini diharapkan mampu menjadi perusahaan unggulan terutama dalam teknis pembuatan baja dengan teknologi tinggi serta dituntut mampu meraih keuntungan secara finansial dalam meningkatkan proses produksi, tidak akan lepas dari

kapasitas produksinya. Namun dalam

timbulnya limbah. Seperti halnya limbah industri lainnya, jika limbah industri baja tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan berbagai permasalahan. Kompleksitas permasalahan dalam pengelolaan lingkungan di wilayah pesisir dan laut Teluk Banten semakin diperparah oleh beberapa faktor penghambat. Menurut Douven (2000) faktor penghambatnya antara lain adalah perencanaan wilayah pesisir yang masih sangat bersifat sektoral, perencanaan dan pengelolaan wilayah darat dan l aut yang masih

2

terpisah, dan rendahnya kesadaran para stakehoders pada masalah-masalah lingkungan, dan permasalahan pengelolaan limbah industri baja di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Khusus untuk limbah industri dengan semakin cerdasnya masyarakat, limbah industri baja banyak mendapat sorotan dari berbagai kalangan karena dikuatirkan akan membahayakan lingkungan. Dalam rangka meminimalisasi bahaya yang akan ditimbulkan oleh industri baja terhadap lingkungan, maka harus dilakukan pengelolaan secara komprehenshif, sehingga limbah industri baja tidak mencemari lingkungan, baik terhadap pertanian maupun kesehatan masyarakat sekitarnya. Menurut Galeotti (1997), pabrik insenerasi (pengabuan) memiliki teknologi yang efisien untuk perlakukan municipal solid wastes (MSW) menjadi bagian dari pabrik yang ditangani secara terintegrasi dan memiliki kemampuan untuk mengurangi volume limbah. Sedangkan pencemaran lingkungan saat ini terus meningkat dan cenderung semakin memprihatinkan di kawasan industri. Hal ini terjadi akibat belum optimalnya penanganan limbah industri yang berdampak pada kerugian bagi masyarakat sekitarnya. Namun sampai saat ini, pihak perusahaan belum menghitung berapa besar tingkat pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah baja dan dampaknya terhadap tingkat kerusakan lingkungan khususnya lahan pertanian maupun kesehatan masyarakat sekitarnya. Limbah industri merupakan bagian dari hasil produksi yang pada umumnya akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan yang kurang baik, namun jika limbah tersebut dapat dikelola atau dimanfaatkan kembali dalam bentuk daur ulang menjadi jenis produk lainnya akan mempunyai nilai tambah (added value) yang sangat menguntungkan. Salah satu contoh limbah industri baja yang dapat didaur ulang adalah limbah yang berasal dari proses manufacturing yakni proses pengubahan, baik bersifat fisik (bentuk atau ukuran) maupun bersifat kimiawi. Menurut Samsudin (2006), lokasi buangan limbah dapat menimbulkan pencemaran dan permasalahan pencemaran terjadi di area yang lembab, di mana kelembaban yang ada melebihi kemampuan dari timbunan limbah yang menyerap air. Jika limbah yang dihasilkan industri baja tidak dimanfaatkan kembali, maka

jumlahnya akan semakin banyak. Menurut Darmono (2006), dari jumlah tersebut diperkirakan 20 % dibuang ke laut berupa sludge, lumpur yang bercampur dengan bahan kimia toksik dan bahan padat yang berasal endapan pengelolaan limbah. Hal ini berarti bahwa tempat membuangnya limbah tersebut diperkirakan akan terkena pencemaran limbah baja yang dapat mengurangi produksi ikan laut terutama pesisir sekitar pabrik tersebut. Oleh karena kegiatan di pabrik berlangsung setiap hari, maka

3

sludge yang akan dibuang ke laut juga dilakukan setiap hari. Kondisi ini akan mengakibatkan semakin beratnya degradasi di pesisir tempat membuang limbah, karena pesisir merupakan wilayah sebagai tempat aktivitas yang paling banyak dilakukan, maka menurut MacDonald (2005), memperkirakan sekitar 70% penduduk dunia hidup dan tinggal di wilayah pesisir. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengelolaan limbah yang jumlahnya semakin banyak dengan mengolahnya terlebih dahulu pada instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dengan teknologi tertentu sehingga dapat mengurangi bahaya dari limbah tersebut. Limbah industri baja berupa limbah yang dihasilkan pabrik baja dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1. Limbah padat proses produksi : scrap dan slag 2. Limbah padat hasil pengelolaan air limbah industri : scale, slurry, dan sludge 3. Limbah padat hasil pengelolaan buangan gas/emisi udara : debu electric arc furnace. Jenis-jenis limbah padat yang dihasilkan pada proses manufacturing, baik yang dapat didaur ulang menjadi produk yang sejenis maupun disajikan pada Gambar 1 dan Gambar 2. produk yang tidak sejenis

(SLAG EAF)

(SCALE SSP)

(SCRAP)

Gambar 1. Jenis limbah baja yang dapat di daur ulang kembali menjadi baja

( DEBU EAF)

( SLUDGE)

(SLURRY)

Gambar 2. Jenis limbah baja yang tidak dapat di daur ulang kembali menjadi baja

4

Sebenarnya PT. Krakatau Steel telah melakukan pengolahan terhadap limbah yang dihasilkannya sehingga dihasilkan produk yang bernilai ekonomis melalui sebuah proses transformasi. Proses transformasi ini akan merubah bentuk dan dimensi fisik dari bahan baku serta sifat-sifat lainnya (non-fisik) sesuai dengan rancangan yang diinginkannya. Proses transformasi ini baru akan memberikan arti positif apabila diikuti dengan pertambahan nilai (added value) dari output yang dihasilkan, baik berupa pertambahan nilai fungsional maupun nilai ekonomisnya. Sedangkan pada umumnya perusahaan mengharapkan limbah yang dihasilkan seminimal mungkin (zero waste). Menurut Sheehan (2000), zero waste merupakan sistem manajemen sumber daya yang memaksimalkan pendauran ulang, memperkecil limbah, mengurangi konsumsi dan memastikan bahwa produk dibuat untuk digunakan kembali, diperbaiki atau didaur ulang kembali ke sifat asal atau menjadi barang yang diminta oleh pasar. Menurut Bateman (1997), baja dapat digunakan pada lokasi maupun tempat yang sering mengalami kerusakan terkait dengan cuaca atau bencana alam seperti angin topan, tsunami, dan gempa bumi. Banyak keuntungan dari baja dibandingkan dengan kayu, karena baja mempunyai umur ekonomis lebih lama, sekalipun tak memenuhi ramalan permintaan pasar tetapi industri baja dapat mengantisipasinya. Industri dan produk baja yang dihasilkannya mempunyai dampak pada basis sumberdaya alam melalui keseluruhan daur eksplotasi dan ekstrasi bahan mentah, trasformasi menjadi produk, konsumsi energi, limbah produksi, dan pemakaian produk serta pembuangan sampah yang dihasilkan produk itu oleh konsumen. Dampak negatif terhadap lingkungan yang ditimbulkan kegiatan industri pada mulanya hanya dipandang sebagai masalah pencemaran udara, air, dan tanah yang bersifat setempat. Walaupun pabrik baja telah berupaya melakukan transformasi dari limbah yang dihasilkannya menjadi produk yang bernilai ekonomis, namun masih tetap dihasilkan limbah yang harus dibuang ke lingkungan. Hal ini sudah dibuktikan dalam suatu percobaan, earthworms telah digunakan untuk menilai ecotoxicas dari waste foundry sands (WFSs). Di U.S sebagai contoh industri pengecoran logam menghasilkan beberapa juta ton limbah berupa pasir yang tidak lagi digunakan untuk metalcasting (Dungan, 2006), padahal produksi baja dunia pada beberapa tahun terakhir jumlahnya 900 juta ton dan sekitar 400 juta ton dari co-products, sludge dan limbah padat. Menurut Kallio (2005), lebih dari 80% dari co-products yang timbulkan dari produksi baja adalah ampas bijih (slags). Kondisi ini sudah barang

5

tentu akan mengganggu lingkungan karena limbah yang tidak dapat dimanfaatkan kembali akan dibuang ke lingkungan pesisir, oleh karena itu dalam rangka menjaga kelestarian wilayah pesisir dan menjaga kesehatan masyarakat di sekitar pabrik baja PT. Krakatau Steel dan Kawasan Industri Krakatau Cilegon, maka agar segera dilakukan. Sebenarnya sudah banyak dilakukan penelitian yang mengarah pada pemanfaatan limbah baja, namun hingga saat ini limbah industri baja masih menimbulkan berbagai masalah terutama masalah ekologi, masalah kesehatan dan masalah sosial. Namun masalah yang paling mendesak untuk dipecahkan saat ini adalah masalah kerusakan wilayah pesisir yang ada di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Oleh karena itu dalam rangka mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon maka perlu dicari model pengelolaan limbah baja. 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mendapatkan informasi kondisi eksisting jenis dan jumlah limbah industri baja yang dihasilkan, yang belum dimanfaatkan kembali. 2. Mengetahui pencemaran di wilayah pesisir dan kesehatan masyarakat di Kawasan Industri Krakatau Cilegon dari limbah baja yang tidak dapat didaur ulang. 3. Merumuskan model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya

mempertahankan kelestarian wilayah pesisir dan kesehatan masyarakat sekitarnya. 4. Merumuskan kebijakan pengelolaan limbah industri baja yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. 1.3 Kerangka Pemikiran Konsep berpikir pengelolaan limbah ke depan ditujukan pada pembangunan berkelanjutan yang tidak saja hanya memperhatikan kesejahteraan pada saat ini, namun mengusahakan kesejahteraan pada generasi yang akan datang. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengakses bahan pokok, tetapi juga harus mampu mencari alternatif lain untuk menaikkan tingkat kesejahteraannya. Salah satu yang dapat dilakukan adalah pemanfaatan kembali limbah industri baja (didaur ulang) menjadi produk lain yang mempunyai nilai tambah, sekaligus tidak merusak lingkungan. Namun negara Indonesia yang menghasilkan bahan dasar magnet dari limbah pabrik besi baja, saat ini belum mampu mengolah limbah berupa besi oksida menjadi magnet. Para

6

pengamat ekonomi Indonesia menginformasikan bahwa negara Indonesia setiap tahunnya menghasilkan sekurang-kurangnya 10.000 ton besi oksida. Karena tidak dilakukan proses pengolahan limbah, maka limbah tersebut dibeli dan diolah oleh negara-negara produsen magnet terbesar, seperti Jepang, Amerika Serikat, Cina, dan Jerman, yang kemudian mengekspor kembali produk magnet siap pakai ke Indonesia. Pemanfaatan lain limbah padat industri baja adalah sebagai bahan substitusi semen untuk pembuatan beton non struktur seperti produk batako, paving block, genteng press, dan sebagainya. Namun demikian limbah yang tidak dapat dimanfaatkan akan dibuang ke lingkungan, sehingga dalam jumlah yang banyak akan berakibat buruknya pada lingkungan. Untuk menghadapi permasalahan limbah yang setiap waktu bertambah dan dapat berakibat buruk pada lingkungan, baik udara, air, tanah serta pada lahan pertanian, diperlukan strategi pemecahan masalah ke depan. Berdasarkan data dan informasi dimulai dari timbulnya limbah industri dari hasil proses produksi sampai dengan model pengelolaan limbah menjadi produk yang mempunyai nilai tambah. Pada dasarnya limbah baja yang dihasilkan ada yang dapat didaur ulang kembali menjadi produksi sejenis dan ada juga limbah yang tidak dapat didaur ulang. Untuk limbah baja yang tidak dapat didaur ulang, jika dibiarkan di tempat penampungan limbah, suatu saat akan menimbulkan dampak pencemaran terhadap lingkungan sekitarnya. Untuk itu perlu pengelolaan secara optimal sehingga tidak memunculkan efek yang merugikan baik bagi karyawan, masyarakat di sekitar

perusahaan maupun lingkungan sekitarnya. Dalam rangka mencapai hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Beberapa penelitian limbah baja yang sudah dilakukan, antara lain oleh Nurdin (1992) yang meneliti mengenai proses pengendapan air pendingin limbah baja berupa lumpur dan scale yang dihasilkannya dan dijadikan bahan pembuatan magnet. Damanhuri (1997) mendapatkan konsep dasar atau teknologi terapan pengelolaan limbah baja terutama dikaitkan dengan upaya daur ulang. Penelitian model pengelolaan limbah industri baja dilakukan sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon yang belum pernah dilakukan, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian ini. Kerangka pemikiran penelitian ini, disajikan pada Gambar 3.

7

Tujuan Pengelolaan Limbah Baja: Pemanfaatan kembali limbah baja yang timbul, Meminimalisasi dampak limbah baja terhadap pencemaran lingkungan di masyarakat dan Upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir

Masalah pengelolaan limbah baja

Limbah baja (sludge,slurry, debu EAF, dll)

Upaya pengelolaan limbah baja yaitu pengendalian limbah, minimalisasi limbah yang timbul, pemanfaatan limbah

Mengurangi, memakai kembali, mendaur ulang, dan mengganti

Lingkungan (Ketahanan wilayah pesisir dan kesehatan masyarakat)

Pemanfaatan dan pengelolaan limbah industri baja

Hasil: Pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk kelestarian lingkungan

Gambar 3. Kerangka berpikir penelitian 1.4 Perumusan Masalah PT. Krakatau Steel sebagai industri baja terpadu pertama yang dimiliki

negara Indonesia mempunyai kemampuan untuk bersaing di pasar dalam dan luar negeri. Untuk menangkap peluang yang akan dicapai, perlu dilakukan tahapan pengelolaan yang merupakan tahapan sangat penting karena pengelolaan akan menjadi dasar acuan langkah-langkah selanjutnya. Pengelolaan limbah industri baja dipengaruhi oleh beberapa karakteristik yang kompleks, yang melibatkan variabelvariabel sumber daya yang membatasi setiap alternatif penanganan limbah dan seberapa besar pengaruh limbah industri baja tersebut terhadap tingkat pencemaran lingkungan industri maupun masyarakat sekitarnya.

8

Manajemen

perusahaan

memiliki

kebijakan

untuk

melakukan

penganekaragaman usaha dengan cara memanfaatkan limbah industri baja yang dihasilkan menjadi produk yang bernilai komersial. Hal ini juga dimaksudkan untuk membuka peluang lapangan kerja baru dan membuka peluang usaha di luar bidang usaha yang sudah ada, dan diharapkan usaha-usaha yang dilakukan selain menyerap tenaga kerja yang mendapatkan nilai tambah yang lebih baik bahkan bukan tidak mungkin akan mempunyai nilai yang lebih ekonomis. Menghadapi permasalahan limbah industri yang timbul dan harus segera dicari penyelesaiannya dalam rangka mengurangi pencemaran lingkungan, baik terhadap perikanan maupun kesehatan masyarakat, perlu dibuat kebijakan dan strategi model pengelolaan limbah industri yang meliputi: pemanfaatan limbah baja yang mempunyai nilai tambah, meminimalisasi limbah baja yang timbul dan pengendalian limbah baja. Selain itu, beberapa aspek dalam pengelolaan limbah baja berwawasan lingkungan dan berkelanjutan ini diharapkan terciptanya pendapatan masyakatan sekitar, penyerapan tenaga kerja, peningkatan ekonomi daerah, kesehatan masyarakat, serta terjaganya kelestarian pesisir. Adapun rancangan dan perumusan penyelesaian masalah selengkapnya disajikan pada Gambar 4. 1.5 Kebaharuan Kebaharuan (novelty) hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Model heuristik yang menggabungkan model AHP, metode ISM, dan pemodelan sistem dinamik pada pengelolaan limbah industri baja di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon, (2) Strategi pengelolaan limbah industri baja yang holistik dan berwawasan lingkungan. 1.6 Ruang Lingkup Untuk mengarahkan penulisan penelitian ini terfokus pada permasalahan yang akan diteliti, maka ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Penelitian dilakukan di Pabrik baja terpadu PT. Krakatau Steel dan wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon yang meliputi Kecamatan Ciwandan, Citangkil, Grogol, dan Pulomerak 2. Jenis limbah yang diteliti adalah limbah padat hasil pengelolaan air limbah

industri melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL): slurry, dan sludge dari: (a) direct reduction plant (DR I, II, III) yang berasal dari water treatment plant (WTP). (b) billet steel plant (BSP), slab steel plant (SSP) yang tergabung di fluid

9

centre (FC). (c) wire rode mill (WRM), berasal dari WTP. (d) hot strip mill (HSM), berasal dari WTP. (e) cold rolling mill (CRM), berasal dari WTP. Serta jenis limbah padat hasil pengelolaan buangan gas/emisi udara : debu electric arc furnace (EAF) dari SSP. 3. Dampak masyarakat terhadap pengelolaan limbah baja dalam upaya

mempertahankan kelestarian ekosistem pesisir dan kesehatan masyarakat di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. 4. Pengambilan sampel sedimen dan biota air khususnya kerang-kerangan dilakukan untuk melihat kelestarian ekosistem wilayah pesisir.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pengelolaan Limbah Pada Agenda 21 menganjurkan teknologi yang bersih dapat mengurangi jumlah limbah dan memudahkan pembuangan limbah secara aman (Memahami KTT Bumi, 1992). Namun pada permasalahan limbah industri baja ini diperlukan upayaupaya yang dapat dilakukan dalam mengelola limbah industri baja saat ini yaitu meminimasi jumlah limbah yang berada di sumber timbunan, pewadahan, pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan lebih diprioritaskan pada upaya daur ulang limbah. Adapun untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan kebijaksaan dapat dilakukan dengan memperhatikan sistem pengolahan, konsep pengelolaan limbah hingga pada konsep evaluasi investasi. Menurut Chini dan Gupta (1997), baja yang diproduksi secara terus-menerus diperoleh kembali dan didaur ulang tanpa penurunan atau kerugian. Respon industri terhadap polusi dan pengrusakan sumberdaya tidak pernah dan tidak boleh terbatas hanya pada kesediaan mengikuti peraturan. Industri harus menerima tanggung jawab sosial yang luas dan selalu mempertimbangkan lingkungan semua tingkat. Untuk mencapai itu, menurut Salim (1993) semua perusahaan industri harus menciptakan kebijakan-kebijakan dari semua tingkatan dalam memperhatikan pengelolaan lingkungan, termasuk ketaatan hukum dan persyaratan tempat beroperasinya suatu perusahaan. Intensitas pengolahan berikut kadar dampak kepada lingkungan sangat dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan, maka pilihan teknologi yang kurang merusak lingkungan menjadi sangat penting dalam usaha pengolahan sumber alam tanpa merusak lingkungan (Memahami KTT Bumi, 1992). Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengelola limbah industri baja saat ini yaitu meminimasi jumlah limbah yang berada di sumber timbunan, pewadahan, pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan lebih diprioritaskan pada upaya daur ulang limbah, baik untuk kebutuhan di lingkungan industri sendiri maupun untuk di luar lingkungan industri dengan cara menjual limbah. Menurut Heather (1997), limbah buangan padat telah menjadi suatu perhatian utama di dalam area penyimpanan dan berpotensi mengancam perekonomian. kesehatan masyarakat, merusak lingkungan, dan merintangi

12

Menurut Fenton (1998), konsumsi besi dan skrap baja dari skrap industri tergantung secara langsung terhadap industri pembuatan baja. Konsep tersebut sejalan dalam rangka peningkatan produksi baja dan kebutuhan konsumen yang semakin meningkat, maka suatu kegiatan industri pasti menimbulkan limbah, baik secara langsung maupun tak langsung tak lepas dari masalah penanganan limbahnya. Agar jumlah limbah yang ada saat ini berpotensi dapat mencemarkan lingkungan sekitarnya dan menambah beban biaya bagi perusahaan, maka diperlukan sistem pengelolaan limbah yang sudah dan akan ditimbulkan, sistem pengelolaan ini meliputi penanganan limbah dari sumbernya. Oleh karena itu, menurut Thale (1994) praktek buangan limbah pada masa lalu sudah ditinggalkan dari suatu warisan yang berbahaya menuju ke keselamatan dan kesehatan masyarakat. Menurut Djajadiningrat (2001), pengelolaan limbah baja dalam upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir sekitarnya, memerlukan adanya perubahan dalam pola berpikir dengan teknologi produksi bersih yang meliputi: (1) Sebagai alternatif faktor yang mempengaruhi, yaitu (a) Good house keeping, mencakup tindakan prosedural, administratif atau institusional yang dapat digunakan perusahaan untuk mengurangi terbentuknya limbah dan emisi. (b) Perubahan material input, bertujuan untuk mengurangi bahan berbahaya dan beracun (B3) yang masuk atau digunakan dalam proses produksi, sehingga dapat juga menghindari terbentuknya limbah B3 dalam proses produksi. (c) Perubahan teknologi, mencakup modifikasi proses dan peralatan dilaksanakan dengan tujuan untuk mengurangi limbah dan emisi. (d) Perubahan produk, meliputi substitusi produk, konservasi produk dan perubahan komposisi produk. (e) On-site reuse, merupakan upaya penggunaan kembali bahan-bahan yang terkandung dalam limbah, baik untuk digunakan kembali pada proses awal atau sebagai material input dalam proses yang lain; (2) Sedangkan sebagai manfaat yang mempengaruhinya, yaitu (a) Penghematan bahan baku. (b) Mengurangi biaya pengolahan limbah. (c) Mencegah kerusakan lingkungan. (d) Mengurangi bahaya terhadap kesehatan dan keselamatan kerja. (e) Meningkatkan daya saing poduk. 2.2 Dampak Limbah terhadap Pencemaran Ekosistem Pesisir dan Kesehatan Masyarakat Menurut Maduka (2006), proses perkembangan teknologi dan industrialisasi merupakan awal dari adanya bahaya bahan kimia (hazardous chemicals) terhadap lingkungan baik air, udara, maupun tanah. Sedangkan perkembangan industri yang

13

pesat dewasa ini tidak lain karena penerapan kemajuan teknologi oleh manusia guna mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Industri dan teknologi dimanfaatkan oleh manusia untuk mengolah kekayaan alam yang ada. Udara, air, tanah, dan segala kekayaan yang ada di dalamnya dicari dan diolah sedemikian rupa untuk mendapatkan hasil yang diinginkan (Wardhana, 2004). Namun, jika pengelolaannya menimbulkan dampak yang kurang baik, justru akan merugikan kelangsungan hidup manusia maupun makhluk hidup lainnya, seperti limbah hasil produksi dapat menimbulkan pencemaran ekosistem pesisir/perairan dan kesehatan masyarakat. Sedangkan menurut Bertram (2005), perjalanan ekosistem kesehatan di perairan berorientasi pada tujuan untuk mendapatkan proses hubungan stakeholders lainnya. Begitu juga, menurut Knuteson (2002) penggunaan pestisida dalam pertanian yang tidak sesuai dapat mendorong kearah permasalahan lingkungan seperti penurunan kualitas air dan tekanan terhadap ekologis. Di sisi lain, bahan kimia di udara yang berpengaruh negatif pada manusia, hewan, tanaman, dan lainnya dapat dikategorikan sebagai pencemar udara. Hampir semua emisi bahan pencemar yang berasal dari proses alamiah selalu tersebar ke seluruh permukaan bumi sehingga jarang terkonsentrasi dan mengakibatkan kerusakan. Pencemaran debu baja dari limbah yang dihasilkan dari proses produksi dapat merusak lingkungan alam sekitarnya. Pencemaran udara yang terjadi sejak revolusi industri telah banyak dilaporkan, dan dari tahun ke tahun jenis dan jumlah bahan pencemar terus meningkat. Menurut Darmono (2006), beberapa bahan pencemar yang menyebabkan polusi udara telah banyak dilaporkan, terutama di negara industri seperti: Amerika dan Jepang. Salah satu jenis bahan pencemaran yang sering dijumpai yaitu karbon manoksida (CO). Jenis bahan tersebut terdapat pada kandungan limbah baja. Selain itu, berat atau ringannya pencemaran udara di suatu daerah sangat tergantung pada iklim lokal, topografi, banyaknya industri yang berlokasi di daerah tersebut. Adapun daur pencemaran lingkungan disajikan pada Gambar 5. dan indikatornya adalah ketersediaan sumber alam, kesehatan manusia dan nilai sosial

14

Sumber Pencemaran

Udara

Air

Daratan

Tanaman

Tanaman

Hewan

Hewan

Manusia

Gambar 5. Daur pencemaran lingkungan (Wardhana, 2004) Sedangkan menurut Maduka (2006) dalam kebijakan lingkungan yang efisien terhadap polusi air/perairan dan kesehatan manusia, rekomendasinya kepada industri dan hasil limbahnya yaitu agar industri dapat mendaur ulang limbahnya sehingga permasalahan dampak pencemaran terhadap air/perairan maupun terhadap kesehatan masyarakat dapat ditangani dengan baik. 2.2.1 Pencemaran Laut Menurut Rodriguez (2007) berpendapat bahwa manusia mempunyai suatu pengaruh yang kuat terhadap perubahan ekosistem yang berhubungan dengan air dan aktivitasnya seperti kebutuhan akan kualitas perairan yang menggunakan teknologi efektif untuk mendeteksi, mengatur, dan memeriksa terhadap penurunan kualitas air (perairan) yang disebabkan oleh keaneka-ragaman polusi maupun pencemaran kualitas perairan. Sedangkan menurut Darmono (2006), dalam kehidupan manusia di bumi ini salah satunya sangat tergantung pada lautan, manusia harus menjaga kebersihan dan kelangsungan kehidupan organisme yang hidup di dalamnya. Lautan merupakan tempat pembuangan benda-benda asing dan pengendapan barang sisa yang diproduksi oleh manusia. Lautan juga menerima bahan-bahan yang terbawa oleh air dari daerah pertanian dan limbah rumah tangga, sampah, dan sebagainya.

15

Mengingat bahwa pencemaran lingkungan, baik yang melalui udara, air, daratan (tanah) pada akhirnya akan sampai juga kepada manusia. Dalam kegiatan industri yang dilakukan oleh manusia di daratan bermacammacam, namun yang paling potensial menimbulkan pencemaran disebabkan oleh limbah industri yang dihasilkan limbah adalah industri kertas dan pulp, industri pengolahan makanan dan minuman, industri pertambangan, industri farmasi-kimia, dan industri lainnya. Limbah industri-industri tersebut mengandung logam berat seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), timah (Pb), tembaga (Cu), seng (Zn) dan sebagainya. Unsur-unsur tersebut mempunyai daya racun yang kuat (toksisitas tinggi), sehingga dapat menurunkan kualitas air dan meracuni organisme makhluk hidup lainnya. Menurut Darmono (2006), daya racun (toksisitas) logam berat tergantung dari jenis, kadar, efek sinergis-antagonis dan sifat fisika-kimianya. Menurut Williams (1997), dalam International Oceangraphic Commission (IOC) untuk UNESCO mendefinisikan pencemaraan laut sebagai berikut: dimasukkannya oleh manusia langsung atau tidak langsung substansi ke dalam lingkungan laut menghasilkan pengaruh merusak terhadap sumberdaya alam, sehingga menggangu kesehatan manusia dan aktivitas dilaut. Pencemaran di laut memberikan dampak yang besar terhadap lingkungan. Kehidupan biota dan kenyamanan manusia serta sumberdaya menjadi terganggu akibat pencemaran. Oleh karena itu, pencemaran terjadi akibat dari aktivitas manusia dan alam. Menurut Miller (1991) menjelaskan terdapat dua bentuk sumber pencemar yang masuk ke perairan laut: (1) Sumber pencemar berasal dari pembungan limbah cair melalui pipa, saluran air kotor ke dalam badan air pada lokasi tertentu, seperti pabrik, tempat pengolahan limbah, rumah sakit, dan lain-lain. (2) Sumber pencemar berasal dari pembuangan limbah ke badan air maupun tanah pada suatu daerah yang luas, sepert limpasan air dari daerah pertanian, peternakan, lokasi pembangunan dan lain-lain. Adapun sumber pencemaran di wilayah pesisir dan lautan disajikan pada Tabel 1.

16

Tabel 1. Sumber pencemaran di wilayah pesisir dan lautan
Pencemar (Pollution)
Sediemen Nutrien Logan beracun Zat kimia beracun Pestisida Organisme eksotik Organisme patogen Sampah Bahan penyebab turunnya oksigen terlarut

Sumber
Pertanian *** *** * * *** Limbah Cair ** *** * ** Limbah Cair Perkotaan *** ** * * * * *** ** ** Pertambangan *** *** * Budidaya Perikanan * ** * * * Industri * *** ** Pelayaran * * * ** * **

* *

*** * ***

* *

Sumber: Dahuri (2001)

Keterangan: *** = sumber terbesar ** = sumber moderat * = sumber terkecil Selain itu, pencemaran pantai (pesisir) menurut Clark (1996) menyatakan bahwa pencemaran pantai dapat berakibat menurunnya populasi, kerusakan habitat dan lingkungan perairan sebagai media hidup ikan. Sebagai parameter yang berpengaruh yaitu menurunnya kandungan oksigen perairan yang membatasi habitan ikan, eutrofikasi menimbulkan blooming alga yang membahayakan kehidupan ikan, kehadiran zat beracun seperti logam berat. Juga pencemaran perairan pantai dapat berdampak pada kesehatan manusia secara tidak langsung. Mikroorganisme yang bersifat patogen dan bahan kimian beracun dapat terakumulasi pada jaringan tubuh biota laut seperti kerang-kerangan. Apabila manusia mengkonsumsi biota tersebut akan menimbulkan penyakit. Dampak lain akibat pencemaran perairan pantai yaitu menurunnya jumlah pengunjung dalam kegiatan parawisata di lokasi yang membutuhkan perairan yang bersih dan nyaman yang bebas dari pencemaran lingkungan perairan. Gambar 6 memperlihatkan kawasan industri dan potensi sumber alam di Provinsi Banten khususnya di Kota Cilegon terdapat beberapa industri yang berdiri di lokasi perairan pantai.

17

KAWASAN INDUSTRI DAN POTENSI SUMBER DAYA ALAM

SEKTOR UNGGULAN :
TAMBANG (FOSFAT ALAM, ZEOLIT, BENTONIK, EMAS, BATUBARA) PERKEBUNAN (KELAPA SAWIT, KARET, CENGKEH, MELINJO) PARIWISATA PERIKANAN INDUSTRI KEHUTANAN PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

Gambar 6. Kawasan industri dan potensi sumber daya alam kabupaten/kota di Provinsi Banten 2.2.2 Limbah Logam dalam Sistem Perairan dan Kesehatan Manusia Banyak logam berat yang bersifat toksik maupun esensial terlarut dalam air dan mencemari air tawar maupun air laut. Sumber pencemaran ini banyak berasal dari pertambangan, peleburan logam dan jenis industri lainnya, juga dapat berasal lahan pertanian yang menggunakan pupuk yang mengandung logam (Darmono, 2006). Sedangkan daya toksisitas logam berat terhadap makhluk hidup sangat tergantung pada spesies, lokasi, umur, daya tahan (detoksikasi) dan kemampuan individu untuk sifatmenghindari diri dari pengaruh polusi. Menurut Rachmansyah (1998), logam berat yang masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk hidup melalui beberapa jalan, yaitu: saluran pernapasan, pencernaan, dan penetrasi melalui kulit. Jika hal ini dibiarkan, maka toksik logam akan mengganggu terhadap kesehatan manusia maupun makhluk hidup lainnya. Karena pencemaran logam berat, juga dapat merusak lingkungan perairan dalam hal stabilitas,

18

keanekaragaman dan kedewasaan ekosistem. Dari aspek ekologis, kerusakan ekosistem perairan akibat pencemaran logam berat dapat ditentukan oleh faktor kadar dan keseimbangan zat pencemar yang masuk dalam perairan, sifat toksisitas dan bioakumulasi, karena pencemaran logam berat dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur komunitas perairan, jaringan makanan, tingkah laku, efek fisikologi, genetik dan resistensi. Di antara jenis-jenis logam yang telah ditemukan ternyata hanya beberapa logam yang sangat berbahaya dalam jumlah kecil yang dapat menyebabkan keracunan fatal. Menurut Gossel dan Bricker (1984) terdapat 5 logam yang berbahaya pada munusia yaitu: arsen (As), kadmium (Cd), timbal (Pb), merkuri (Hg), dan besi (Fe). Diantara kelima logam tersebut, maka logam besi (Fe) merupakan bagian dari proses produksi baja yang menghasilkan limbah baja. Menutur Darmono (2006), logam bersifat toksik karena logam tersebut terikat dengan ligan dari struktur biologi. Sebagian besar logam menduduki ikatan tersebut dalam beberapa jenis sistem enzim dalam tubuh. Ikatan tersebut mengakibatkan tidak dapat aktifnya enzim yang bersangkutan, hal inilah penyebab utama dari toksisitas logam tersebut. Tempat ikatan logam yang spesifik tersebut menjadi dasar perkiraan dari organ atau jaringan yang sensitif terhadap keracunan logam dosis kecil. Di sisi lain kegiatan manusia di darat yang mempunyai dampak meningkatnya sedimentasi khususnya di wilayah pesisir akan menghasilkan beban sedimen. Kelebihan sedimen cenderung akan membunuh biota-biota yang bernafas dengan insang dan hewan-hewan air pemakan sedimen, apalagi jika sedimen tersebut mengandung pestisida maupun logam berat yang mempunyai konsentrasinhya sangat tinggi. 2.2.3 Toksisitas Logam pada Manusia dan Pencegahannya Pengaruh negatif toksisitas logam terhadap manusia seperti keracunan logam telah banyak diketahui, seperti ada nama khusus terhadap keracunan logam tertentu, yaitu “Minamata Disease” karena keracunan metil merkuri. Keracunan akut dari logam berbahaya biasanya terjadi pada orang termakan dosis tinggi logam yang bersangkutan atau karena pengaruh obat yang mengandung logam. Hal tersebut biasanya terjadi pada kelompok orang tertentu atau perorangan. Tetapi pada keracunan kronis yang disebabkan oleh orang yang mengkonsumsi logam dalam jumlah sedikit tetapi berlangsung lama biasanya terjadi dalam komunitas atau

19

penduduk yang tinggal dalam suatu lingkungan yang tercemar, seperti penduduk di pemukiman nelayan sepanjang pesisir/pantai. Menurut Darmono (2006), terjadinya toksisitas logam dapat melalui beberapa jalan, yaitu inhalasi melalui pernapasan, termakan melalui saluran pencernaan, dan penetrasi melalui kulit. Hubungan antara lokasi industri dan inhalasi debu adalah sangat nyata dalam proses keracunan logam melalui saluran pernapasan. Kejadian luka pada kulit yang menyebabkan logam diserap melalui kulit sudah sering terjadi. Menurut Gossel dan Briker (1984) terdapat 5 logam yang berbahaya pada manusia yaitu: arsen (As), kadmium (Cd), timbal (Pb), merkuri (Hg), dan besi (Fe), selain itu terdapat 3 logam yang kurang beracun yaitu: tembaga (Cu), selenium (Se), dan seng (Zn). Limbah baja memiliki kandungan logam besi (Fe), meskipun logam ini termasuk kelompok logam esensial, tetapi kasus keracunan Fe sering dilaporkan terutama pada anak-anak. Keracunan pada anak-anak terjadi secara tidak sengaja, saat anak memakan makanan atau benda yang mengandung Fe, sedangkan pada orang dewasa jarang terjadi. Walaupun toksisitas Fe jarang menyebabkan kematian, tetapi dapat menyebabkan gangguan mental serius. Kasus terjadinya toksisitas Fe pada anak kemungkinan besar terjadi karena banyak preparat yang mengandung Fe diberikan pada anak, baik berupa obat dan vitamin. Di samping itu, kebiasaan anak makan sembarangan di lingkungan sekitarnya. Besi (Fe) merupakan logam dalam kelompok makromineral di dalam kerak bumi, tetapi termasuk kelompok mikro dalam sistem biologi. Logam ini termasuk yang pertama ditemukan dan digunakan oleh manusia sebagai alat pertanian. Sebagai sumber utama pencemaran udara oleh Fe adalah pabrik besi dan pabrik baja. Inhalasi Fe oksida dari asap dan debu yang sering terjadi di lokasi pertambangan atau pabrik baja, dapat menyebabkan radang paru-paru “benigna pneumoconiosis”. Pada waktu pemeriksaaan sinar rontgen terlihat adanya endapan Fe dalam alveoli paru-paru. Pada umumnya setiap jaringan tubuh manusia mengandung Fe sebanyak 4 g Fe. Hampir semua Fe dalam tubuh terikat dengan protein porfirin dan komponen hemoglobin. Besi (Fe) sering tersedia dalam preparat obat dan vitamin, termasuk tablet suplemen, sebagai sulfat, glukonat, dan garam fumarat. Dalam tablet multivitamin-mineral biasanya diberikan pada ibu hamil yang menjelang melahirkan untuk mencegah defisiensi Fe. Sebagai upaya untuk melakukan antisipasi pencegahan suatu kasus terjadinya keracunan logam yang lebih luas, perlu dilakukan pengamatan kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan yang menurun baik udara, air, ataupun makanan

20

yang selalu digunakan penduduk setiap hari perlu diteliti. Bilamana suatu kawasan lingkungan yang mulai dipergunakan sebagai kawasan industri, maka perlu dipikirkan relokasi pemindahan penduduk ke daerah lain yang bersih. 2.2.4 Beban Pencemaran Limbah Baja dan Kemampuan Asimilasi Wilayah Pesisir Peningkatan jumlah limbah baja pada pesisir akan mengalami peningkatan tingkat pencemaran melalui aliran sungai dari pabrik yang membawa limbah menuju daerah wilayah pesisir sekitarnya. Besarnya beban pencemaran limbah ditentukan melalui pengukuran debit air sungai dan konsentrasi limbah baja yang mengalir menuju wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon. Menurut Quano (1993) menerangkan bahwa kapasitas asimilasi sebagai kemampuan air atau sumber air dalam menerima pencemaran limbah tanpa menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air yang ditetapkan sesuai peruntukannya. Limbah yang ke pesisir akan mengalami 3 macam peristiwa yaitu: pengenceran (dilution), penyebaran (dispersion), dan penguraian (decompotition) (UNEP, 1993). Pengenceran terjadi ketika limbah masuk ke perairan akan bereaksi dengan unsur atau senyawa yang berada dalam air. Penyebaran terjadi akibat pengaruh arus atau gelombang, sedangkan penguraian dilakukan oleh aktifitas bakteri. Bila kemampuan asimilasi pesisir mengalami penurunan akibat dampak dari pengelolaan limbah baja tidak terkendali, kondisi tersebut akan merugikan di antaranya: (1) Meningkatnya evapontranspirasi. (2) Menurunnya jumlah cahaya yang masuk kedalam perairan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat kelarutan oksigen dalam air. (3) Meningkatnya habitat bagi vektor penyakit pada manusia. (4) Menurunkan nilai estetika lingkungan perairan. Di dalam pengukuran kapasitas asimilasi yang bersifat spesifik tergantung lokasi, membutuhkan pengembangan dari model skala hidrolik dan komputer yang menggunakan metode elemen terbatas dari persamaan penyebaran larutan (UNEP, 1993). Menurut Dahuri (2001), penentuan kapasitas asimilasi dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, yaitu: 1. Metode perhitungan pengukuran limbah awal, dispersi dan penguraian; Metode ini dipergunakan untuk menentukan nilai kapasitas asimilasi melalui penggabungan nilai pengurangan nilai limbah awal, nilai dispersi limbah dan nilai pengurangan limbah.

21

Kelebihan dari metode ini yaitu perhitungan lebih ditekankan pada faktor-faktor fisik, sehingga ketepatan perhitungannnya tinggi. Sedangkan kekurangan dari metode ini yaitu tidak memperhitungkan faktor-faktor kimia seperti perbedaan jenis limbah yang masuk ke sungai tidak diperhitungkan. 2. Metode arus bermuatan partikel; Metode ini dipergunakan untuk menentukan nilai kapasitas asimilasi dengan cara membandingkan konsentarasi limbah dengan konsentrasi air sungai menerima limbah. Kelebihan dari metode ini yaitu penentuan perbandingan antara konsentarasi limbah dan air sungai yang sangat penting bagi perhitungan kapasitas asimilasi. Sedangkan kekurangannya yaitu kesulitan dalam perhitungan konsentrasi limbah berupa bahan kimia yang masuk ke sungai karena membutuhkan waktu lama. 3. Metode penurunan oksigen dari streeter dan phelps; Metode ini menentukan nilai kapasitas asimilasi dengan cara mengamati pengurangan nilai oksigen terlarut. Faktor-faktor yang diperhitungkan antara lain waktu perjalanan limbah di sungai dan konsentrasi asam karbonat yang tetap pada saat perjalanan limbah. Kelebihannya adalah perhitungan yang lebih teliti karena perhitungan waktu perjalanan limabah. Sedangkan keekurangannya adalah membutuhkan waktu lebih lama. 4. Metode pengukuran biological oxygen demand dari Jorgensen; Metode ini menentukan kapasitas asimilasi yaitu hanya pada bahan yang mudah terurai dengan menentukan nilai BOD awal dan nilai BOD yang tersisa pada waktu akhir. Metode ini relatif mjudah dilakukan, namun kekurangannya adalah penggunaan banyak asumsi dan lebih sesuai untuk perairan agak tertutup seperti pelabuhan. 5. Metode hubungan antara kualitas air dengan beban limbahnya; Metode ini menentukan kapasitas asimilasi yaitu dengan cara memplotkan nilainilai kualitas air suatu perairan pada kurun waktu tertentu dengan beban limbah yang dikandungnya ke dalam suatu grafik, selanjutnya direferensikan dengan baku mutu air untuk diperuntukan bagi biota laut berdasarkan Kepmen KLH No. 51 tahun 2004. Selanjutnya dari titk potong yang diperoleh diketahui waktu (tahun) terjadinya, kemudian dilihat nilai beban limbahnya sebagai nilai kapasitas asimilasi. Kelebihannya mudah dilakukan dan dapat menerangkan semua parameter yang diamati. Sedangkan kekurangannya hanya berdasarkan hubungan

22

kualitas air dengan beban limbahnya tanpa memperhatikan dinamika perairan yang ada. 2.2.5 Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Dalam persepsi kehidupan masyarakat yang berada di daerah pesisir pantai dapat berupaya untuk menekan tingkat pencemaran dengan cara melakukan pengendalian dan pengurangan pencemaran di wilayah sekitarnya. Di sisi lain, menurut Soemarwoto (2004), persepsi masyarakat terdapat anggapan bahwa kehidupan di daerah pesisir pantai adalah masyarakat yang hidup terpisah dari masyakat umum padahal mereka butuh sosialisasi dengan masyarakat lainnya, butuh kehidupan yang layak baik lingkungan bersih, kesehatan dan pendapatan yang memadai. Menurut pendekatan ekologik, persepsi terjadi secara spontan dan langsung. Spontanitas terjadi karena organisme selalu menjajaki dengan lingkungannya dan penjajakan itu melibatkan setiap objek yang terdapat di lingkungannya. Setiap objek menonjolkan sifat-sifat yang khas untuk organisme yang bersangkutan. Begitu juga, partisipasi masyarakat dalam pengendalian pencemaran limbah di wilayah pesisir pantai harus berperan aktif, mengingat keterbatasan yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Partisipasi yang dimaksud adalah suatu proses ikut ambil bagian dalam suatu kagitan. Menurut Davis (1985), parisipasi adalah keterlibatan mental emosional, kesediaan memberikan kontribusi, kesediaan untuk bertanggung jawab dalam mencapai tujuan bersama. Pada penelitian ini persepsi dan partipasi masyarakat dalam hubungannya dengan pengelolaan limbah meliputi: pengendalian limbah, upaya pengurangan limbah yang timbul, dan pemanfaatan limbah.
2.3 Pemanfaatan dan Pengelolaan Potensi Pesisir di Daerah

Wilayah pesisir sekitar kawasan industri Krakatau Cilegon merupakan kawasan yang memiliki dinamika pertumbuhan yang paling pesat, terutama untuk industri-industri. Karena wilayah pesisir tersebut memiliki arti strategis yang merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut, serta memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang sangat kaya. Namun, karakteristik laut tersebut belum sepenuhnya dipahami dan diintegrasikan secara terpadu. Kebijakan pemerintah daerah yang sektoral dan bias, belum menyentuh pada kebutuhan masyarakat sekitar. Menurut Dahuri (1996), dari sisi sosial-ekonomi, pemanfaatan kekayaan laut masih terbatas pada kelompok pengusaha besar. Nelayan sebagai jumlah terbesar merupakan kelompok profesi paling miskin di Indonesia.

23

Sedangkan dalam permasalahan lingkungan hidup telah menjadi suatu penyakit kronis yang dirasa sangat sulit untuk dipulihkan. Padahal permasalahan lingkungan hidup yang selama ini terjadi di Perairan Indonesia disebabkan paradigma pembangunan yang mementingkan pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan faktor lingkungan yang dianggap sebagai penghambat. Posisi tersebut dapat menyebabkan terabaikannya pertimbangan-pertimbangan lingkungan hidup di dalam pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan. Akibatnya kualitas lingkungan makin hari semakin menurun, ditandai dengan terjadinya pencemaran dan perusakan lingkungan hidup di berbagai wilayah perairan atau pesisir. Di dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah kabupaten dan kota untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan kewenangan daerah di wilayah laut adalah: (1) Eksplorasi, eksploitasi, konservasi, dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut. (2) Pengaturan kepentingan administratif. (3) Pengaturan tata ruang. (4) Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah. (5) Bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. Oleh karena itu yang termasuk wilayah laut daerah provinsi adalah sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai arah laut lepas dan atau ke arah perairan kepulauan. Sedangkan wilayah laut daerah kabupaten dan kota adalah sepertiga dari wilayah laut daerah provinsi. Dengan memperhatikan ketentuan tersebut maka daerah pesisir merupakan kewenangan dari daerah kabupaten dan kota. Wilayah pesisir sebagai transisi dari ekosistem darat dengan ekosistem laut berada dalam kewenangan daerah di bidang kelautan. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 yang menyatakan bahwa wilayah laut dari kabupaten/kota adalah sepertiga dari wilayah laut provinsi berarti sepanjang 4 (empat) mil laut dari garis pantai, maka wilayah pesisir berada dalam kewenangan daerah kabupaten atau kota setempat. Sejalan dengan kewenangan daerah untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya, maka daerah akan mengelola dan memanfaatkan daerah wilayah pesisir untuk digunakan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat daerah. Untuk memenuhi kewajiban dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat di daerah maka seluruh potensi sumber daya yang tersedia di daerah akan dimanfaatkan seoptimal mungkin. Salah satu potensi sumber

24

daya yang dimiliki sebagian daerah adalah potensi daerah wilayah pesisir. Oleh sebab itu, secara alamiah potensi wilayah pesisir di daerah dimanfaatkan langsung oleh masyarakat yang bertempat tinggal di kawasan tersebut yang pada umumnya terdiri dari nelayan. Nelayan di wilayah pesisir memanfaatkan kekayaan laut mulai dari ikan, rumput laut, terumbu karang dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada umumnya potensi wilayah pesisir dan kelautan yang dimanfaatkan oleh para nelayan baru terbatas pada upaya pemenuhan kebutuhan hidup. Pemanfaatan potensi daerah wilayah pesisir secara besar-besaran untuk mendapatkan keuntungan secara ekonomis dalam rangka peningkatan pertumbuhan perekonomian rakyat belum banyak dilakukan. Pemanfaatan wilayah pesisir untuk usaha ekonomi dalam skala besar baru dilakukan pada sebagian Kabupaten dan Kota yang berada di daerah wilayah pesisir. Pada umumnya usaha ekonomi pemanfaatan daerah pesisir ini bergerak di sektor pariwisata. Sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah daerah berupaya untuk memanfaatkan potensi daerah wilayah pesisir ini untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Disamping itu pemerintah daerah juga memanfaatkan potensi daerah wilayah pesisir ini untuk meningkatkan pertumbuhan dan perekonomian masyarakat di daerah. Mengingat kewenangan daerah untuk melakukan pengelolaan bidang kelautan yang termasuk juga daerah wilayah pesisir masih merupakan kewenangan baru bagi daerah maka pemanfaatan potensi daerah wilayah pesisir ini belum sepenuhnya dilaksanakan oleh daerah kabupaten atau kota yang berada di wilayah pesisir, sehingga belum semua kabupaten dan kota dapat memanfaatkan potensi wilayah pesisir. Pemanfaatan dan pengelolaan wilayah pesisir yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah daerah sebagian belum memenuhi ketentuan pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari dan berkelanjutan. Hal ini akan berpengaruh terhadap kondisi dan kelestarian pesisir dan lingkungannya. Penyebab degradasi kondisi daerah pesisir secara tidak langsung juga disebabkan oleh pengelolaan sumber daya alam di hulu yang berpengaruh terhadap muara di pesisir. Berbagai permasalahan yang timbul dalam pemanfaatan dan pengelolaan daerah wilayah pesisir masih terdapat beberapa kendala sebagai berikut: (1) Pemanfaatan dan pengelolaan daerah wilayah pesisir belum diatur dengan peraturan perundang-undangan yang jelas, sehingga daerah mengalami kesulitan dalam menetapkan suatu kebijakan. (2) Pemanfaatan dan pengelolaan daerah wilayah pesisir cenderung bersifat sektoral, sehingga kadangkala melahirkan kebijakan yang tumpang tindih satu sama lain. (3) Pemanfaatan dan pengelolaan daerah wilayah

25

pesisir belum memperhatikan konsep daerah wilayah pesisir sebagai suatu kesatuan ekosistem yang tidak dibatasi oleh wilayah administratif pemerintahan, sehingga hal ini dapat menimbulkan konflik kepentingan antar daerah. (4) Kewenangan daerah dalam rangka otonomi daerah belum dipahami secara komprehensif oleh para stakeholders, sehingga pada setiap daerah dan setiap sektor timbul berbagai pemahaman dan penafsiran yang berbeda dalam pemanfaatan dan pengelolaan daerah wilayah pesisir. 2.4 Parameter Kriteria Kualitas dan Konsentrasi Logam di dalam Air Pesisir merupakan pertemuan daratan dan laut yang rentan pencemaran, karena banyak industri yang membuang limbah di pesisir baik limbah kimia, fisika atau biologi. Menurut Darmono (2006), dampaknya yang sudah pasti selain gangguan terhadap kelestarian lingkungan, juga keselamatan dan kesehatan masyarakat tidak dijamin. Meskipun logam berat biasa ditemukan di perairan/pesisir secara alamiah sangat sedikit yaitu dari 1µg/l, tetapi apabila terjadi erosi alamiah, konsentarasi logam tersebut dapat meningkat. Menurut Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor KEP-03/MENKLH/II/1991 tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan yang telah beroperasi di bagi empat golongan I, II, III, dan IV. Baku mutu limbah cair selengkapnya disajikan pada Tabel 2.

26

Tabel 2. Baku mutu limbah cair
Golongan Baku Mutu Air Limbah No. 1 2 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Parameter FISIKA Temperatur Zat padat terlarut Zat padat tersuspensi KIMIA pH Besi terlarut Mangan terlarut Barium Tembaga Seng Khrom hexavalen Khrom total Kadmium Raksa Timbal Stanum Arsen Selenium Nikel Kobalt Sianida Sulfida Fluorida Khlorin bebas Amoniak bebas Nitrat Nitrit BOD5 COD Senyawa aktif biru metilan Fenol Minyak nabati Minyak mineral Radioaktivitas** Pestisida, termasuk PCB*** Satuan C mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l
o

I 35 1500 100 6-9 1 0,5 1 1 2 0,05 0,1 0,01 0,001 0,03 1 0,05 0,01 0,1 0,2 0,02 0,01 1,5 0,5 0,02 10 0,06 20 40 0,5 0,01 1 1

II 35 2000 200 6-9 5 2 2 2 5 0,1 0,5 0,05 0,002 0,1 2 0,1 0,05 0,2 0,4 0,05 0,05 2 1 1 20 1 50 100 5 0,5 5 10

III 35 4000 400 6-9 10 5 3 3 10 0,5 1 0,1 0,005 1 3 0,5 0,5 0,5 0,6 0,5 0,1 3 2 5 30 3 150 300 10 1 10 50

IV 35 5000 500 5-9 20 10 5 5 15 1 2 0,5 0,01 2 5 1 1 1 1 1 1 5 5 20 50 5 300 600 15 2 20 100

Sumber: SK MENNEG KLH No. KEP-03/MENKLH/II/1991 *) Kadar limbah yang memenuhi persyaratan baku mutu air limbah tersebut tidak diperbolehkan dengan cara pengenceran yang airnya langsung diambil dari sember air. Kadar bahan limbah tersebut adalah kadar maksimum yang diperbolehkan, kecuali pH yang meliputi juga kadar yang minimal. **) Kadar radioaktivitas mengikuti peraturan yang berlaku. ***) Limbah pestisida yang berasal dari industri yang memformulasi atau memproduksi dan dari konsumen yang mempergunakan untuk pertanian dan

27

lain-lain tidak boleh menyebabkan pencemaran air yang mengganggu pemanfaatannya. 2.5 Proses Produksi dan Timbulnya Limbah Menurut Damanhuri (1997), untuk mengetahui proses produksi dan timbulnya limbah industri baja yang dihasilkan oleh masing-masing pabrik dapat dijelaskan dalam uraian subbab-subbab berikut ini. 2.5.1 Proses Produksi dan Timbulnya Limbah Pabrik Spons Pabrik besi spons atau DR plant terdari dua pabrik yang menggunakan teknologi HYL I (Hoyalata Y Lamina I disebut pabrik besi spons I dan II) serta satu pabrik dengan teknologi HYL III (disebut pabrik HYL III). Ketiga pabrik ini menghasilkan besi spons dari bahan baku pellet dengan proses reduksi langsung yaitu menggunakan gas reduksi CO dan H2. Di dalam proses pembuatan bijih besi spons merupakan proses reduksi Fe dari bijih besi Fe2O3. Oksigen yang diambil dari proses ini melalui oksidasi besi pada suhu di bawah titik lebur besi. Untuk kelangsungan proses tersebut digunakan gas alam (metana) dan uap air (Nurdin, 1992). Menurut Damanhuri (1997), aktivitas proses produksi yang berjalan oleh masing-masing pabrik tersebut, maka tidak lepas dari timbulnya limbah. Selama proses produksi berlangsung membutuhkan pendinginan aliran gas pereduksi setelah keluar dari reaktor. Gas keluar dengan temperatur berkisar antara 3800C - 4000C dengan membawa air dalam bentuk uap yang ditimbulkan reaksi reduksi secara kimia. Gambar 7 menunjukkan sistem pengolahan air WTP DR plant PT. Krakatau Steel.

28

Air dari Kerenceng

Hot Water

Cold Water

Quench Water System

Blow down tank

Cooling Tower

Clarifer

Sludge Draying Belt

Vacuum belt Filter press Thichener Coke

Gambar 7. Sistem pengolahan air WTP DR plant (Damanhuri, 1997) Berdasarkan gambar 7 di atas, sebagian aliran gas juga membawa debu-debu besi yang terbawa saat gas itu mengalir dalam reaktor. Sumber limbah diperoleh dari air yang didinginkan dan mengkondensikan gas. Air tersebut membilas vassel dan mendelegasi vassel kemudian mengalir ke clarifier. Pada clarifier, debu-debu dan bahan pengotor lainnya akan diendapkan dengan bantuan koagulan. 2.5.2 Proses Produksi dan Timbulnya Limbah Pabrik Slab Baja Pabrik slab baja ini memiliki 2 (dua) pabrik yaitu pabrik slab baja I dan II. Pabrik slab baja I mempunyai 4 (empat) unit dapur listrik dilengkapi dengan 2 (dua) continous feeding dan pabrik slab baja II yang merupakan perluasan dari pabrik slab baja I mempunyai 2 (dua) unit dapur listrik dilengkapi dengan 1 (satu) continous feeding. Dalam pembuatan slab baja menggunakan bahan baku besi spons yang dilebur dalam tanur listrik EAF (electric arc furnace) dan dicor ke dalam cetakan dengan menggunakan mesin continous casting (concast). Dalam proses pembuatan slab baja, dimasukkan juga scrap sebagai bahan tambahan dan bahan-bahan paduan logam lainnya seperti karbon, nikel, mangan, alunium, untuk menghasilkan baja dengan kualitas (grade) tertentu. Dari proses produksi tersebut, maka limbah yang ditimbulkan berupa buangan limbah padat lumpur (sludge), scale, dan debu EAF (Nurdin, 1992).

29

2.5.3 Proses Produksi dan Timbulnya Limbah Pabrik Billet Baja Menurut Damanhuri (1997), proses pembuatan billet baja tidak dengan proses pembuatan slab baja. Yang berbeda adalah dimensi produk baja yang dihasilkan. Billet baja ini merupakan bahan baku untuk pabrik kawat. Limbah yang dihasilkan adalah scale, sludge, dan debu EAF. Untuk pengolahan air yang mensuplai dan mengelola air bersih untuk pabrik slab baja dan pabrik billet baja diperlukan bangunan pengolahan air yang disebut fluid centre, yang terdiri dari fluid centre I dan II. Proses produksi di kedua pabrik ini sama yaitu menggunakan tanur listrik EAF untuk melebur besi spons. Sedangkan jenis buangan padat yang ditimbulkan di fluid centre I adalah scale dan sludge. Scale berasal dari proses pendinginan slab baja dan billet baja pada concast plant. Slab dan billet baja yang telah selesai dicetak didinginkan dengan menyemprotkannya dengan air. Sebagian sisik-sisik baja ikut terlepas dan akan terbawa air. Air ini juga membawa sebagian minyak pelumas mesin concast. Sisik-sisik baja kemudian akan disisihkan melalui pengendapan, minyak (grease) disisihkan dengan menggunakan oil skimmer. Buangan padat yang berasal dari sisik-sisik baja ini disebut dengan scale. Lumpur (sludge) ditimbulkan dari proses pencucian (backwash) gravel filter. Untuk pembuatan baja berkualitas, selain menggunakan bijih besi (sponge) juga menggunakan slag baja. Menurut Solomon (1994), slag baja digunakan sebagai bahan campuran pembuatan baja yang proses melalui tanur pembakaran bijih baja. Proses peleburan besi selain menghasilkan buangan lumpur juga mengemisi debu ke udara. Debu berasal dari EAF ini ditangkap dengan menggunakan dedusting plant. Sisa emisi debu EAF yang tidak tertangkap oleh dedusting plant akan masuk ke dalam aliran air pendingin proses dan tersaring di gravel filter. Pada suatu saat tertentu tangki-tangki akan dibersihkan dengan cara pencucian. Air buangan yang berasal dari tangki-tangki penyaring ini akan ditampung di backwash water basin dan lumpur yang dihasilkan ditampung ditangki lumpur (scale tank). 2.6 Karakteristik Limbah Padat Industri Baja Menurut Mulyowahyudi (2005), teknologi pengolahan besi menjadi baja dapat dipisahkan menjadi tiga macam. Masing-masing teknologi mempunyai karakteristik yang berbeda mengenai bahan baku, produk, dan bahan pendukung utama yang lain, sebagai berikut:

30

1. Direct Reduction (DR) DR adalah proses pembuatan besi dari bahan baku pellet (Fe2O3) menjadi DRI (direct reduced iron) dengan menggunakan bahan pembantu utama proses natural gas. Penggunaan bahan pembantu utama ini yang menjadi alasan utama pemilihan teknologi. Saat ini PT Krakatau Steel menggunakan teknologi HYL III. Bahan baku pellet PT Krakatau Steel seluruhnya diimport karena bijih besi lokal mengandung kadar Fe yang rendah dan tidak adanya industri pengolahan bijih besi menjadi pellet (pengkayaan dan pembuatan pellet). Perkembangan teknologi direct reduction terbaru sudah mampu mengolah bijih besi secara langsung melalui teknologi FINMET dan menggunakan bahan pembantu utama natural gas (NG) secara lebih hemat. Di masa mendatang, apabila supply sumber daya natural gas dapat berkembang dengan lebih baik, maka teknolog seperti FINMET merupakan pilihan yang direkomendasikan. Jenis teknologi direct reduction selengkapnya disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Jenis teknologi direct reduction (DR). HYL III (KS) Input Produk Konsumsi Pellet, Lump DRI/HBI NG Electricity MIDREX Pellet, Lump DRI/HBI NG Electricity FINMET Fines HBI NG Electricity

Sumber: Mulyowahyudi (2005) 2. Blast Furnace Blast Furnace merupakan teknologi tertua dalam pembuatan hot metal dari bahan baku agglomerated ore dan menggunakan cooking coal. Cooking coal disini adalah batu bara dengan kandungan karbon tertentu yang digunakan sebagai bahan baku proses pembuatan hot metal. Dan cooking coal jenis ini yang tidak ada di Indonesia. Jenis teknologi blast furnace disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Jenis teknologi blast furnac. Input Produk Karakeristik Agglomerated ore Hot metal Perlu coke/coking coal Issue lingkungan Investasi besar

Sumber: Mulyowahyudi, (2005)

31

3. Direct Smelting Teknologi direct smelting merupakan teknologi terbaru dari pengolahan besi baja. Teknologi ini mampu memproduksi DRI langsung dari bijih besi dengan bahan pembantu utama batu bara. Batu bara yang dibutuhkan bukan batu bara dengan kadar/kualitas tertentu, tapi bisa menggunakan batu bara muda yang banyak terdapat di Indonesia. Bijih besi yang dibutuhkan pun tidak perlu yang berkadar tinggi, tapi bisa bijih besi kadar rendah yang juga banyak terdapat di Indonesia. Sampai saat ini teknologi ini masih terus dikembangkan untuk disempurnakan dan belum banyak digunakan (skala komersial). Jenis teknologi direct smelting selengkapnya disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Jenis teknologi direct smelting. Corex Input Produk Konsumsi Status Iron ores DRI/HBI Coal Comercial Hismelt Iron ores DRI/HBI Coal NG Under Construction DIOS Iron ores HBI Coal NG Pilot Plant

Sumber: Mulyowahyudi, (2005) Dari ketiga teknologi di atas, mengingat ketersediaan bahan baku dan bahan pembantu utama yang banyak terdapat di Indonesia, teknologi direct reduction (sejenis FINMET) dan direct smelting merupakan pilihan teknologi pengolahan industri baja yang cocok untuk dikembangkan di Indonesia. Sedangkan kekayaan cadangan bijih beji Indonesia cukup besar, diperkirakan mencapai lebih dari 2 milyar ton dan belum termanfaatkan secara optimal baik secara industri maupun ekonomi. Prospek pemanfaatan bahan baku lokal ini dapat memberikan kontribusi cost advantages bagi penguatan daya saing industri nasional secara signifikan. Dalam mempotensikan pemberdayaan bahan baku lokal sebenarnya telah banyak upaya-upaya sistematis untuk mempersiapkan ke arah itu, mulai dari pemetaan cadangan bijih besi di Indonesia, penelitian skala laboratorium maupun industri, kajian-kajian prospek bisnis, hingga pelurusan pemahaman tentang bijih besi secara objektif dan proporsional. Menurut Mulyowahyudi (2005), Bahan baku industri baja domestik saat ini adalah pellet, disamping scrap. Bijih besi yang ada di Indonesia belum dapat digunakan langsung karena teknologi yang ada di Indonesia saat ini tidak bisa

32

mengakomodasi hal itu dan belum ada industri nasional yang mengolah bijih besi menjadi pellet. Bijih besi yang diproduksi di Indonesia semuanya di ekspor. Walaupun jumlahnya masih kecil, ada kekhawatiran, bahwa dimasa mendatang akan dilakukan eksplorasi dan eksploitasi bijih besi lokal secara besar-besaran dan di ekspor semuanya ke luar negeri. Padahal dengan mengolah sendiri ataupun menggunakan bijih besi untuk industri nasional, nilai tambah yang didapat secara nasional akan jauh lebih besar karena akan membawa multiplier effect dalam hal penciptaan kesempatan kerja, kegiatan ekonomi, dan sektor-sektor penunjang lainnya yang berujung pada kontribusi pembangkitan perekonomian nasional. Gambar 8 merupakan kondisi sumberdaya dan cadangan bijih besi di Indonesia.

Gambar 8. Sumberdaya dan cadangan bijih besi di Indonesia (Mulyowahyudi, 2005) Seharusnya bahan baku baja tersebut diatas merupakan ketahanan nasional untuk dapat menekan pasar, sehingga industri baja nasional mempunyai kekuatan posisi tawar dengan supplier. Untuk itu diperlukan kebijakan pemerintah agar penambangan bijih besi yang ada di dalam negeri dikelola dari hulu-hilir terjadi terciptanya keharmonisan, maka kebijakan pemerintah yang diperlukan adalah: 1. Izin konsesi penguasaan penambangan yang selama ini sudah terlanjur diotonomikan ke pemerintah daerah, agar dapat ditarik dan dikelola pemerintah pusat. Alasannya adalah : (a) Agar eksploitasi sumber daya dapat dilakukan secara good mining practice (sudah memperhatikan AMDAL dan dampak sosial

33

lainnya). (b) Untuk menghindar penambangan-penambangan liar yang dapat merusak lingkungan. (c) Pengelolaan industri mining harus dikelola secara industrialisasi agar memenuhi economic skill. (d) Untuk menjamin industri mining sustainable. 2. Untuk menjamin pengelolaan bijih besi dan komoditi lain atau produk turunannya dapat dikelola secara baik, dengan mengemukakan kepentingan nasional. 3. Menciptakan iklim investasi yang kondusif disektor industri mining, misalnya dengan memberikan incentif perpajakan terhadap aktivitas pembangunan industri mining. 4. Pemerintah membangun infrastruktur di pusat-pusat lokasi yang akan dibangun industri mining, terutama prasarana jalan, pelabuhan, sumber energi dan air. 2.7 Pemodelan Sistem Menurut Eriyatno (1999), menyatakan bahwa model merupakan suatu abstraksi dari realitas yang menunjukkan hubungan langsung maupun tidak langsung serta kaitan timbal balik dalam istilah. Menurut Arimin (2001), menjelaskan penggunaan istilah model menunjukkan dua hal, yaitu: (1) Model dalam pengertian contoh atau teladan atau suatu yang perlu ditiru. (2) Model dalam pengertian bentuk, pola, rancangan, Pemodelan merupakan teknik untuk membantu konseptualisasi dan pengukuran dari suatu sistem yang kompleks, atau untuk memprediksi konsekuensi dari sistem terhadap tindakan manusia. Menurut Murdick (1982) mengemukakan bahwa terdapat dua keuntungan menggunakan model yaitu: (1) Dengan modelkan sistem lebih ekonomik dari bentuk lain. Untuk melakukan perubahan (modifikasi) sistem lebih murah. (2) Model memungkinkan kita mengkaji dan melakukan percobaan situasi yang rumit sampai ke tingkat tertentu yang tidak mungkin dilakukan dengan membangun sistem nyata dengan lingkungannya. Membangun suatu model dilakukan bertujuan untuk melihat perilaku sistem dalam membantu kebijakan dan strategi pengololaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestaraian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Menurut Muhammadi (2001), mengelompokkan model menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu: (1) Model kuantitatif adalah model yang berbentuk rumus-rumus matematik, statistk, atau komputerisasi. (2) Model kualitatif adalah model yang berbentuk gambar, diagram atau matriks yang menyatakan hubungan antar unsur. (3) Model ekonik adalah model yang mempunyai bentuk fisik dengan barang yang ditirukan, meskipun skalanya dapat diperbesar atau diperkecil.

34

Pemodelan sistem dilakukan melalui pendekatan sistem. Pada dasarnya pendekatan sistem merupakan pendekatan analisis organisatoris yang menggunakan ciri-ciri sistem sebagai titik tolak analisisnya. Karena itu, di dalam manajemen sistem dapat diterapkan dengan mengarahkan perhatian pada berbagai ciri dasar sistem yang perubahan dan gerakannya akan mempengaruhi keberhasilan suatu sistem (Marimin, 2004). Dengan demikian, sistem dapat diartikan sebagai kumpulan elemen-elemen yang saling berkaitan dan terorganisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Eriyatno (1998), karena pemikiran sistem selalu mencari keterpaduan (integritas) antar bagian melalui pemahaman yang utuh, maka diperlukan suatu kerangka fikir baru yang terkenal sebagai pendekatan sistem (system approach). Pendekatan sistem merupakan cara penyelesaian permasalahan yang dimulai dengan dilakukannya identifikasi terhadap adanya sejumlah kebutuhan–kebutuhan sehingga dapat menghasilkan suatu operasi dari sistem yang dianggap efektif. Tahapan dalam pendekatan sistem meliputi : (1) Analisis kebutuhan antar pelaku, (2) Formulasi permasalahan, (3) Identifikasi sistem, (4) permodelan sistem, (5) Verifikasi dan Validasi model serta (6) Implementasi model. Pada tahap analisis kebutuhan dapat dijadikan sebagai permulaan pengkajian dari suatu sistem. Dalam tahap ini juga dicari secara selektif apa saja yang dibutuhkan dari masing-masing pelaku yang terlibat dalam sistem. Pada tahap formulasi permasalahan dirumuskan permasalahan yang dihadapi berdasarkan kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi dari masing-masing pelaku tersebut. Tahap identifikasi sistem merupakan suatu rantai hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyataan khusus dari masalah yang harus dipecahkan untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Di dalam tahap pemodelan sistem dibuat kaitan antara masukan dan keluaran sistem yang akan diverifikasi dan divalidasi pada tahap selanjutnya. Pada tahap akhir dilakukan rencana implementasi model, adapun tahapan pendekatan sistem disajikan pada Gambar 9.

35

Mulai

Analisis Kebutuhan Stakehoders

Tidak Absah ? Ya Formulasi Permasalahan

A

Pemodelan Sistem

Absah ? Ya Identifikasi Sistem

Tidak

Absah ? Ya Verifikasi dan Validasi

Tidak

Tidak Absah ? Ya A Absah ? Ya Selesai

Tidak

Gambar 9. Tahap pendekatan sistem (Eriyatno, 1999) Anderson (1977) menjelaskan bahwa verifikasi dan validasi model merupakan bagian penting dalam setiap menganalisis yang bersifat empiris. Artinya bahwa setelah model dibangun dengan pemograman komputer dan format input-output telah dirancang dan hasilnya memadai, maka tahap selanjutnya yaitu melakukan verifikasi (pembuktian) yang berkaitan dengan kesesuaian antara model konseptual dengan model matematik. Sedangkan menurut Eriyatno (1999), validasi merupakan usaha untuk menyimpulkan apakah model sistem merupakan perwakilan yang sah dan realitas yang dikaji. Karena itu, suatu model dikatakan valid jika struktur dasarnya dapat menggambarkan perilaku yang polanya dapat menggambarkan perilaku sistem nyata, atau dapat mewakili dengan cukup akurat, data yang dikumpulkan sehubungan dengan sistem nyata atau asumsi yang dibuat berdasarkan referensi sesuai cara sistem nyata bekerja. Pembuktian validasi model suatu hal yang sebenarnya sulit untuk dilakukan.

36

Muhammadi (2001) menjelaskan bahwa untuk menguji validasi model dibagi menjadi dua yaitu: validasi struktur dan validasi kinerja (output model). Validasi struktur bertjuan untuk memperoleh suatu keyakinan tentang sejauhmana kesamaan struktur model mendekati struktur nyata. Sedangkan validasi kinerja merupakan aspek pelengkap dalam metode berpikir sistem dan ditujukan untuk memperoleh suatu keyakinan tentang sejauhmana kinerja model sesuai dengan kinerja sistem nyata sehingga memenuhi syarat sebagai model ilmiah sesuai dengan fakta. Oleh karena itu, validasi kinerja dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: Pertama, cara kualitatif yaitu dengan membandingkan secara visual antara simulasi dengan aktual. Kedua, cara kuantitatif yaitu: dengan uji statistik antara simulasi dengan aktual. 2.8 Analytical Hierarchy Process Adapun prinsip kerja dalam pengelolaan limbah baja menggunakan model analytical hierarchy process (AHP – criterium decision plus). Pada dasarnya AHP ini berlandaskan pada pola pikir manusia yang sistematis guna menghadapi kompleksitas yang ditangkapnya, sehingga diwujudkan dalam suatu metode yang merumuskan masalah dalam bentuk hirarki dan pertimbangan-pertimbangan dimasukkan guna menghasilkan skala prioritas. Menurut Saaty (1999), analytical hierarchy process adalah suatu model yang luwes yang memungkinkan kita mengambil keputusan dengan mengkombinasikan pertimbangan dan nilai pribadi secara logis. Model AHP ditujukan untuk membuat suatu model permasalahan yang tidak mempunyai struktur, biasanya digunakan untuk memecahkan permasalahan (problem solving) yang dapat terukur, masalah yang memerlukan pendapat (judgement) maupun pada situasi yang kompleks atau tidak terkerangka, pada situasi di mana data, informasi statistik sangat minim atau tidak sama sekali dan hanya bersifat kuantitatif yang didasari oleh persepsi, pengalaman atau intuisi. Menurut Saaty (1999), selain itu model AHP juga banyak digunakan sebagai pengambilan keputusan untuk banyak kriteria, perencanaan, alokasi sumberdaya, dan penentuan prioritas dari strategistrategi yang dimiliki pemain dalam situasi konflik. Menurut Saaty (1993), terdapat beberapa keuntungan dalam penggunaan model AHP sebagai alat analisis, yaitu: 1. Memberi model tunggal yang mudah dimengerti, luwes untuk keragam persoalan yang tidak struktur; 2. Memadukan rancangan deduktif dan rancangan berdasarkan sistem dalam memcahkan persoalan kompleks;

37

3. Memberi suatu skala dalam mengukur hal-hal yang tidak terwujud untuk mendapatkan prioritas; 4. Dapat menangani saling ketergantungan elemen-elemen dalam suatu sistem dan tidak memaksa pemikiran linier; 5. Mencerminkan kecenderungan alami pemikiran untuk memilah-milah elemenelemen suatu sistem dalam berbagai tingkat yang berlainan dan mengelompokkan unsur serupa dalam setisiap tingkat; 6. Menuntun ke suatu tafsiran menyeluruh tentang kebaikan setiap alternatif; 7. Melacak konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang gunakan dalam penetapkan berbagai prioritas; 8. Mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor sistem dan memungkinkan orang memilih alternatif terbaik suatu tahapan pelaksanaan kegiatan, berdasarkan tujuan masing-masing; 9. Tidak memaksakan konsensus tetapi tetapi mensintesis suatu hasil yang representatif dari penilaian yang berbeda. 10. Memungkinkan orang memperhalus definisi mereka pada suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan dan pengertian mereka melalui pengulangan. Selain tersebut di atas, kelebihan model AHP dibandingkan dengan yang lainnya adalah: (1) struktur yang berhirarki, sebagi konsekuensi dari kriteria yang dipilih, sampai pada sub-sub kriteria yang paling dalam, (2) memperhitungkan validitas sampai dengan batas toleransi inkonsisten berbagai kriteria dan alaternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan, (3) memperhitungkan daya tahan output analisis sensitifitas pengambilan keputusan. Model AHP juga mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah yang multi-obyek dan multi-kriteria yang berdasar pada pertimbangan preferensi dari setiap elemen. Jadi, model ini merupakan model pengambilan keputusan yang komprehensif. Menurut Suryadi (2002), langkah-langkah yang dilakukan pada analisis AHP adalah sebagai berikut: 1. Mendefinisikan persoalan dan merinci pemecahan yang diinginkan. 2. Membuat matrik perbandingan berpasangan untuk setiap elemen dalam hirarki. 3. Memasukkan semua pertimbangan yang diperlukan untuk mengembangkan perangkat matrik. 4. Mengolah data dalam matrik perbandingan berpasangan sehingga didapatkan prioritas setiap elemen hirarki. 5. Menguji konsistensi dari prioritas yang telah diperoleh.

38

6. Melakukan langkah-langkah di atas untuk setiap level hirarki. 7. Menggunakan komposisi hirarki untuk membobotkan vektor-vektor prioritas dengan bobot-bobot kriteria dan menjumlahkan semua nilai prioritas yang sudah diberi bobot tadi dengan nilai prioritas dari level bawah berikutnya dan seterusnya. Hasilnya adalah vektor prioritas menyeluruh untuk level hirarki paling bawah. 8. Mengevaluasi konsistensi untuk seluruh hirarki dengan mengalikan setiap indeks konsistensi dengan prioritas kriteria yang bersangkutan dan menjumlahkan hasil kalinya. Hasil ini kemudian dibagi dengan pernyataan sejenis menggunakan indeks konsistensi random/acak yang sesuai dengan dimensi tiap matrik. Rasio konsistensi hirarki tersebut tidak boleh lebih dari 0,1. Jika tidak maka proses harus diperbaiki. 2.8.1 Matriks Perbandingan Berpasangan Matriks perbandingan berpasangan dibuat untuk menggambarkan pengaruh relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing-masing tujuan yang setingkat diatasnya, perbandingan berdasarkan penilaian (judgement) dari para pengambil keputusan, dengan menilai tingkat kepentingan satu elemen dibandingkan dengan elemen lainnya. Untuk menilai perbandingan tingkat kepentingan suatu elemen terhadap elemen yang lain, maka digunakan pembobotan berdasarkan skala proses AHP yang disarankan, seperti yang disajikan pada Tabel 6.

39

Tabel 6. Skala banding secara berpasangan dalam AHP
Tingkat Kepentingan 1 3 Keterangan Kedua elemen sama pentingnya. Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen yang lainnya. 5 Elemen yang satu lebih penting dari pada elemen yang lain. 7 9 Elemen yang satu jelas lebih penting dari pada elemen yang lain. Elemen yang satu mutlak lebih penting daripada elemen yang lain. Penjelasan Dua elemen mempunyai pengaruh yang sama terhadap tujuan. Pengalaman dan penilaian sedikit mendukung satu elemen dibandingkan elemen lainnya. Pengalaman dan penilaian sangat kuat mendukung satu elemen dibanding elemen lainnya. Satu elemen dengan kuat didukung dan dominan terlihat dalam praktek. Bukti yang mendukung elemen yang satu terhadap elemen lain memiliki tingkat penegasan tertinggi yang mungkin menguatkan. 2,4,6,8 Kebalikan Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan. Jika untuk aktifitas i mendapat satu angka bila dibandingkan dengan aktifitas j, maka j mempunyai nilai kebalikannya bila dibandingkan dengan i. Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi diantara dua pilihan.

Sumber: Saaty (1999) Untuk mengkuantifikasi data kualitatif pada materi wawancara digunakan nilai skala komparasi 1 sampai 9. Skala 1 sampai dengan 9 merupakan skala yang terbaik dalam mengkualifikasikan pendapat, yaitu berdasarkan akurasinya yang ditunjukkan dengan nilai RMS (root mean square deviation) dan MAD (median absolute deviation). 2.8.2 Besarnya Bobot Menurut Marimin (2005), terdapat 3 langkah untuk menentukan besarnya bobot yang dimulai kasus khusus yang sederhana sampai dengan kasus-kasus umum, adalah sebagai berikut: 1. Langkah 1: wi/wj wi wj wi = aij (i,j = 1, 2,...,n) ......................................................................... (1) = bobot input dalam baris = bobot input dalam lajur = aij wj (i,j = 1, 2,...,n) ..................................................................... (2)

2. Langkah 2:

40

Untuk kasus-kasus umum mempunyai bentuk: wi wi n = 1 ∑ aij wj (i = 1, 2,...,n) n j=i = rata-rata dari ai1 w1 , ..., ain wn

3. Langkah 3: Bila perkiraan aij baik akan cenderung untuk dekat dengan nisbah wi/wj. Jika n juga berubah, maka n diubah menjadi λ maksimum sehingga diperoleh: wi = n 1 ∑ aij wj (i = 1, 2,...,n) ................................................. λ max j=i (3)

2.8.3 Indeks Konsistensi (CI) Pengukuran ini dimaksudkan untuk mengetahui konsistensi jawaban yang akan berpengaruh kepada keabsahan hasil. Indeks konsistensi untuk menyatakan penyimpangan konsistensi dan menyatakan ukuran tentang konsisten tidaknya suatu penilaian atau pembobotan perbandingan berpasangan, dihitung dengan menggunakan rumus: CI =

λ max − n
n −1

............................................................. (4)

Keterangan: λ max = akar ciri maksimum; n = ukuran matriks Nilai pengukuran indeks konsistensi (CI) diperlukan untuk mengetahui kekonsistensian jawaban dari key person yang akan berpengaruh terhadap keabsahan hasil.

Perhitungan Consistency Ratio (CR)
Consistency ratio merupakan parameter yang digunakan untuk memeriksa apakah perbandingan berpasangan telah dilakukan dengan konsekuen atau tidak (Marimin, 2004). Consistency ratio dapat dihitung dengan persamaan:

CR =

CI RI

................................................ (5)

Di mana nilai RI diperoleh dari nilai indeks random.

2.9 Metode Interpretative Structural Modelling
Menurut Marimin (2005), salah satu teknik pemodelan yang dikembangkan untuk perencanaan kebijakan strategis adalah teknik pemodelan interpretasi struktural

41

(interpretative structural modelling - ISM). Sedangkan menurut Eriyatno (1998), ISM adalah proses pengkajian kelompok (group learning process) di mana modelmodel struktural dihasilkan guna memotret perihal yang kompleks dari suatu sistem, melalui pola yang dirancang secara seksama dengan menggunakan grafis serta kalimat. Oleh karena itu, Teknik ISM merupakan salah satu teknik pemodelan sistem untuk menangani kebiasaan yang sulit diubah dari perencana jangka panjang yang sering menerapkan secara langsung teknik penelitian operasional dan atau aplikasi statistik deskriptif. Metodologi dan teknik ISM dibagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu penyusunan hierarki dan klasifikasi subelemen. Prinsip dasarnya adalah identifikasi dari di dalam suatu sistem yang memberikan nilai manfaat yang tinggi guna meramu sistem secara efektif dan untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Menurut Marimin (2004), teknik ISM memberikan basis analisis di mana kebijakan serta perencanaan strategis, seperti yang diungkapkan Saxena (1992) program dapat dibagi menjadi 9 (sembilan) elemen: (1) Sektor masyarakat yang terpengaruh, (2) Kebutuhan dari program, (3) Kendala utama, (4) Perubahan yang dimungkinkan, (5) Tujuan dari program, (6) Tolak ukur untuk menilai setiap tujuan, (7) Aktivitas yang dibutuhkan guna perencanaan tindakan, (8) Ukuran aktivitas guna mengevaluasi hasil yang dicapai oleh setiap aktivitas, (9) Lembaga yang terlibat dalam pelaksanaan program. Adapun keluaran dari program ISM ini adalah berupa rangking masing-masing subelemen dan plot masing-masing subelemen ke dalam (4) empat sektor beserta koordinatnya. Dari hasil rangking masing-masing sub elemen, maka dapat dibuat hierarki setiap sub elemen secara manual di mana sub elemen dengan rangking yang lebih tinggi akan berada pada hierarki yang lebih rendah.

2.10 Pemodelan Sistem Dinamik
Menurut Muhammadi (2001), sistem merupakan keseluruhan interaksi antar unsur dari sebuah objek dalam batas lingkungan tertentu yang bekerja mencapai tujuan. Pengertian dari keseluruhan adalah lebih sekedar penjumlahan atau susunan (aggregate), yaitu terletak pada kekuatan (power) yang dihasilkan oleh seluruh itu jauh lebih besar dari suatu pen jumlahan atau susunan. Di dalam sistem dinamik, proses perumusan mekanisme tersebut pada dasarnya adalah penyederhanaan kerumitan untuk menciptakan sebuah konsep model (mental model). Penanganan kerumitan itu berarti membuat penyerhanaan terhadap kerumitan, namun penyederhanaan bukan berarti mengabaikan unsur-unsur yang saling mempengaruhi yang membentuk unjuk kerja sistem secara keseluruhan. Ada 2

42

(dua) jenis kerumitan yang perlu disederhanakan, yaitu kerumitan rinci (detail

complexity) dan kerumitan perubahan (dynamic complexity). Kerumitan rinci (detail complexity) yaitu yang menyangkut ciri dan cara bekerja unsur-unsur yang terlibat
dalam sistem yang diamati dalam mengisi kesenjangan. Sedangkan kerumitan perubahan (dynamic complexity) yaitu proses dan kecepatan/kelambatan waktu yang diperlukan sistem dalam bentuk simpal-simpal (loops) umpan balik, yang menunjukkan struktur dan mekanisme dinamis mempengaruhi proses nyata dalam menciptakan kejadian nyata (Muhammadi, 2001). Eriyanto (1999) menjelaskan elemen atau komponen sistem adalah unsur (entity) yang mempunyai tujuan atau realitas fisik. Elemen mempunyai atribut berupa nilai bilangan, formula intensitas atau statu keadaan fisik seperti seseorang, mesin, dan organisasi. Menurut Shrode dan Voich dalam Arimin (2001), secara garis besar sistem dibagi menjadi 2 (dua) pengertian yaitu: (1) Sistem sebagai entitas (wujud) merupakan statu himpunan bagi yang saling berkaitan membentuk satu keseluruhan yang rumit atau kompleks terapi merupakan satu kesatuan. Contoh wujud: alam semesta, manusia, pesawat, dan sebagainya. Dengan demikian sistem di sini menganggap sebagai suatu entitas yang pada dasarnya bersifat menggambarkan (deskriptif). (2) Sistem sebagi suatu metode. Sistem di sini dapat dirtikan sebagai tata cara yang bersifat preskriptif selain keteraturan dan ketertiban juga memiliki makna pendekatann rasional dan logik dalam mencapai suatu tujuan. Pengertian sistem sebagai suatu metode dikenal dalam pengertian umum sebagai pendekatan sistem. Di dalam pengelolaan limbah industri baja diperlukan suatu sistem yang melibatkan berbagai elemen seperti sumberdaya, konsep dan prosedur untuk pencapaian tujuan dengan menekan berbagai aspek tingkat pencemaran lingkungan melalui program pengendalian limbah, minimalisasi limbah dan pemanfaatan kembali limbah yang ada. Untuk membangun sistem model tersebut diperlukan model dinamik (dinamic modeling) yang dilakukan bertujuan untuk melihat perilaku sistem dalam membantu penyusunan model (Handoko, 2005), seperti model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Model dinamik ini dapat dibuat dengan bantuan software

powersim, sehingga kompleksitas permasalahan dapat diselesaikan sesuai dengan
keinginan yang diharapkan.

43

2.11 Konsep Evaluasi Aspek Ekonomi dan Finansial
Menurut Mulyowahyudi (2005), meningkatnya konsumsi baja di Indonesia akan sangat tergantung pada tingkat pertumbuhan ekonomi nasional, terutama untuk sektor-sektor yang erat kaitanya dengan baja, seperti halnya sektor konstruksi. Namun sejak terjadinya krisis moneter pada tahun 1997 dimana tingkat pertumbuhan ekonomi merosot tajam hingga mencapai rata-rata per tahun dibawah 4 %, ternyata berdampak pada pertumbuhan sektor konstruksi yang paling banyak menyerap baja, dengan pertumbuhan hanya di bawah 2,5 % per tahun. Namun kemudian, secara sektor industri konstruksi sudah mulai memperlihatkan kegiatannya, terbukti selama periode tahun 2000-2003 sektor ini mampu mencapai pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu rata-rata 8,19 % per tahun. Dengan berkembangnya sektor properti, infrastruktur dan pembangunan-pembangunan perumahan di Indonesia yang bersifat individual, akan sangat berperan dalam mendorong pertumbuhan di sektor ini. Oleh sebab itu, diperkirakan trend ini akan terus berkembang untuk tahun-tahun mendatang, diperkirakan kegiatan pembangunan di sektor infrastruktur akan semakin tinggi. Menurut Helfert (1997), berkembangnya kegiatan pembangunan di sektor infrastruktur harus diikuti dengan konsep evaluasi aspek ekonomi dan finansial. Konsep ini dilakukan untuk menentukan apakah suatu proyek itu akan memberikan sumbangan atau mempunyai peranan yang menguntungkan dalam mengelola limbah industri baja menjadi produk yang lebih bermanfaat dan mempunyai nilai tambah (added value). Diharapkan manfaat aspek ekonomi dapat memberikan kemampuan suatu perusahaan/proyek dapat menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan penghasilan suatu perusahaan dan sebagainya. Sedangkan pada aspek finansial, proyek dikatakan sehat apabila dapat memberikan keuntungan yang layak dan mampu memenuhi kewajiban finansialnya. Evaluasi aspek ekonomi dan finansial juga pada hakekatnya merupakan hasil keputusan yang diambil ketika diadakan aspek-aspek lainnya seperti aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi, dan aspek manajemen operasional, dari proyek yang direncanakan. Sebagai contoh perhitungan kebutuhan dana modal tetap sebagian besar dilakukan berdasarkan jumlah dan jenis harta tetap proyek seperti tanah, bangunan, mesin, peralatan yang secara teknis dan teknologi dinilai layak untuk disarankan dipergunakan dalam proyek.

III. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kawasan Industri Pabrik baja terpadu PT. Krakatau Steel Cilegon yang meliputi area pabrik besi sponge atau direct reduction (DR) plant, pabrik slab baja, dan pabrik billet baja dan wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon yang berlokasi empat kecamatan yaitu Kecamatan Ciwandan, Kecamatan Citangkil, Kecamatan Grogol, dan Kecamatan Pulomerak di Kota Cilegon. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret 2007 sampai dengan Mei 2008. 3.2 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang diperlukan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara observasi langsung di lokasi penelitian seperti pengambilan sampel sedimen dan kerang-kerangan di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon dan pengambilan data secara purpossive melalui kuesioner, diskusi dan wawancara dengan pakar lingkungan. Sedangkan data sekunder penelitian ini diperoleh dari jenis limbah baja yang dihasilkan oleh pabrik, baik limbah industri baja yang berada di area masing-masing pabrik tersebut maupun di area penampungan limbah industri baja yang sudah ditentukan lokasinya, yakni: 1. Jenis limbah padat hasil pengelolaan buangan gas/emisi udara : debu electric arc furnace (EAF) dari billet steel plant (BSP) dan slab steel plant (SSP I/II). 2. Jenis limbah padat hasil pengelolaan air limbah industri: sludge dari: direct reduction plant (DR I, II, III) yang berasal dari water treatment plant (WTP) dan wire rode mill (WRM), berasal dari WTP. 3. Jenis limbah padat hasil pengelolaan air limbah industri: slurry dari: cold rolling mill (CRM), berasal dari WTP. 4. Data demografi, kesehatan masyarakat, dan dampak industri terhadap kesehatan masyarakat di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Selain data tersebut di atas, juga diperlukan data untuk mendukung hasil penelitian berupa hasil pengujian-pengujian karakteristik jenis limbah industri baja, serta untuk kelengkapan data yang terkumpul sebagai validasi model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir, perlu dilakukan dengan bantuan pakar (expert) yang kemampuan dalam bidang pengendalian pencemaran pesisir.

45

Marimin (2002) menjelaskan kriteria-kriteria yang memenuhi syarat sebagai pakar, adalah sebagai berikut: 1. Pakar yang mendapat pendidikan formal S2/S3 pada bidang yang dikaji. 2. Pakar yang berpengalaman pada bidang yang dikaji, tetapi memilki pendidikan formal di bidang lain. 3. Pakar yang berpendidikan formal dan berpengalaman pada bidang yang dikaji. 4. Pakar berasal dari praktisi, didasarkan pada lama kerja dan kewenangan di suatu posisi tertentu. Dalam penelitian ini yang menjadi stakeholder sebagai pakar lingkungan yang berasal dari perguruan tinggi, instansi pemerintah maupun instansi terkait lainnya yang berpendidikan S2/S3 seperti IPB, ITB, dan UNTIRTA, Puspiptek Serpong, Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi Kota Cilegon, Provinsi Banten seperti Bapedalda, Dinas Perikanan dan Kelautan, Divisi K3LH PT. Krakatau Steel dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) pemerhati lingkungan. 3.3 Tahapan Penelitian Untuk mempermudah penyelesaian masalah dalam rangka menentukan model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Untuk itu diperlukan tahapan penelitian yang selengkapnya disajikan pada Gambar 10. 3.3.1 Studi Pendahuluan Sebelum dilakukan penelitian utama, dilakukan studi pendahuluan yang bertujuan untuk mengenal keadaan lokasi dan menemukan permasalahan pemanfaatan limbah inidustri baja untuk keperluan daur ulang limbah menuju ke arah dan sasaran yang hendak dicapai dalam rangka memanfaatkan penggunaan sumber daya yang dimiliki. Untuk keperluan tersebut yang dilakukan adalah mempelajari kepustakaan-kepustakaan, observasi lapang untuk mengidentifikasi permasalahanpermasalahan yang ada di perusahaaan serta mempelajari sistem pengelolaan limbah industri baja saat ini di Pabrik baja PT. Krakatau Steel. 3.3.2 Pengumpulan Data Penelitian ini dikumpulkan dan didentifikasi data jenis limbah baja yang timbul baik dalam bentuk sludge, slurry, slag, scale, dan debu EAF yang berasal dari hasil proses produksi pabrik baja yang sedang berjalan maupun jenis limbah yang ada saat ini di area penampungan limbah dari pabrik baja penghasil limbah yaitu: billet

46

steel plant, slab steel plant, direct reduction plant I, II, dan III, wire rode Mill, dan cold rolling mill. Selain itu penelitian ini juga dilakukan analisis terhadap parameter
STUDI PENDAHULUAN Studi Pustaka Observasi Lapangan Pengelolaan Limbah Baja Saat ini Dampak Pencemaran Lingkungan PENGUMPULAN DATA Identifikasi Data Jenis Limbah PEMANFAATAN LIMBAH Analiasa Limbah (Slurry, Sludge, Debu EAF)

Limbah: - Hasil uji Toksisitas - Hasil uji lainnya

Pengelolaan Limbah Baja

Pemanfaatan Limbah Industri Komponen Proses dan Teknologi, Penduduk dan Lingkungan, serta Ekonomi

Masyarakat Sekitar

Pesisir Laut

Kesehatan Masyarakat

Degradasi Pesisir

Penentuan Pemilihan Prioritas

Penentuan Parameter Kunci

Pengembangan Model

Proses Produksi bersubstitusi Limbah

Analisis Baku Mutu

(AHP, ISM) Analisis Kebijakan

(POWERSIM) Sintesa Model Dinamis Produk substitusi limbah yang memenuhi standar mutu

Kebijakan dan Strategi Model Pengelolaan Limbah Baja

Model Analisis Investasi Pengelolaan Limbah

(NPV, BCR)

Gambar 10. Tahapan penelitian pengembangan model pengelolaan limbah industri baja air yang akan menyebabkan terjadi degradasi pesisir maupun timbulnya penyakit bagi kesehatan manusia baik pada karyawan maupun penduduk di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, untuk penelitian ini data diperoleh dari instansi terkait yaitu: Divisi Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH) PT. Krakatau Steel, Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan, dan Energi (DLHPE) Kota Cilegon, Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten. Data kualitas air selanjutnya dibandingkan dengan baku mutu dan dianalisis secara deskriptif.

47

3.4 Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data Sejumlah data yang dikumpulkan merupakan jenis data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer diperoleh dari hasil pengambilan secara purpossive berjumlah 14 orang pakar lingkungan dengan jenjang pendidikan S2 dan S3 melalui penyebaran kuesioner dan wawancara dengan stakehoder, baik dari perguruan tinggi yang berasal dari IPB, ITB, Untirta, instansi terkait yang berasal dari Dinas Lingkungan Kota Cilegon dan Provinsi Banten, Puspiptek Serpong, DPRD Kota Cilegon dan Provinsi Banten, serta lembaga swadaya masyarakat (LSM) peduli lingkungan Kota Cilegon. Hasil kuesioner tersebut digunakan untuk penentuan pemilihan prioritas dan penentuan parameter kunci pada model pengelolaan limbah, selain itu juga dilakukan pengambilan sampel sedimen dan biota air khususnya kerang-kerangan di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Sedangkan pengumpulan data sekunder dilakukan dengan survei mendatangi instansi terkait berupa pengambilan data statistik, data demografi: jumlah penduduk, angka kelahiran dan angka kematian penduduk, kesehatan masyarakat, potensi wilayah, hasil-hasil penelitian, rencana pengelolaan limbah, dan data hasil olahan lainnya. Stakeholder yang terkait dengan kebijakan model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya untuk mempertahankan kelestarian pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon ditentukan berdasarkan hasil identifikasi dengan menggunakan kriteria kepentingan dan pengaruh setiap stakeholder. Pemilihan pakar didasarkan pada latar belakang pendidikan, pengalaman atau jabatan, dan perilaku (attitude) para stakeholder terkait. Secara rinci hasil identifikasi dengan para stakeholder disajikan pada Tabel 7. Tabel 7. Stakeholder dalam menentukan model pengelolaan limbah baja Stakeholder
Pemerintah

Provinsi Banten dan lainnya
- Bapedalda - Dinas Perindakop - Dinas Perikanan dan Kelautan - Dinas Pertanian dan Peternakan - Dinas Kesehatan Kadinda - LSM terkait - Walhi - DPRD Propinsi - Puspiptek, ITB, IPB

Kota Cilegon
- Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi - Badan Kependudukan dan Catatan Sipil - Dinas Koperasi dan Pertanian - Dinas Kesehatan - Badan Pusat Statistik Kadinda Divisi K3LH PT.KS, PT. KIEC - LSM terkait - DPRD Kota Cilegon UNTIRTA

Pengusaha Perusahaan LSM/Tokoh Masyarakat Peneliti/Pakar

48

3.5 Jenis Data dan Teknis Analisis yang Digunakan Jenis data dan teknis analisis yang digunakan serta keluaran (output) dalam proses penelitian disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Tujuan penelitian, jenis data, teknis analisis dan keluaran Tujuan Penelitian
Mendapatkan informasi kondisi eksisting jenis dan jumlah limbah industri baja yang dihasilkan, namun belum dimanfaatkan kembali. Mengetahui pencemaran di wilayah pesisir dan kesehatan masyarakat sekitar KIKC dari limbah baja yang tidak dapat didaur ulang. Merumuskan model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir dan kesehatan masyarakat sekitarnya.

Jenis data yang dikumpulkan
Data jenis limbah baja: slag, scale, sludge, slurry dan debu EAF di Area penampungan Data limbah baja yang mencemari perairan dan kesehatan masyarakat yang lolos dari proses IPAL, kualitas air, sedimen dan kandungan logam berat pada kerang . Nilai ekonomis limbah

Teknis Analisis
- Analisis hasil uji toksisitas - Analisis hasil uji kualitas air laut - Analisis IPAL Deskriptif

Keluaran
Karakteristiik jenis limbah baja: sludge, slurry dan debu EAF yang memenuhi standar mutu. Tingkat pemcemaran pesisir dan kesehatan bagi masyarakat sekitar dan konsentrasi logam berat pada organ tubuh kerang. . Nilai NPV dan BCR

. Analisis investasi pengolahan limbah NPV dan BCR . Analisis model pngelolaan limbah: AHP, ISM, dan pemodelan sistem dinamik (powersim)

.Indikator dari para Peneliti/pakar dan bobot setiap atribut hasil kuesioner

. Prioritas kebijakan . Faktor penentu parameter kunci . Penyusunan model untuk melihat perilaku sistem Model pengelolaan limbah baja dalam upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir

Merumuskan kebijakan pengelolaan limbah industri baja yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan

Instansi terkait: Pemerintah Daerah, LSM/tokoh masyarakat, Peneliti/pakar PT dan Pengusaha

.Analisis baku mutu . Model dinamis . Analisis kebijakan . Sintesa

3.6 Model Analisis Investasi Pengelolaan Limbah Model ini bertujuan untuk menentukan analisis pengelolaan limbah industri baja di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Juga model analisis investasi pengelolaan limbah baja digunakan untuk mengevaluasi peran lingkungan hidup di kawasan pesisir secara sinergi memberikan manfaat kepada masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan. Model analisis investasi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon dapat diukur dengan mengevaluasi manfaat nilai kelayakan

49

lingkungan, yaitu dengan menghitung net present value (NPV) dan benefit cost ratio analysis (BCR). A. Net Present Value Analysis Menurut Hisrich (1991), di dalam menganalisa nilai sekarang (net present value/NPV analysis) ini bertujuan agar semua investasi, pengeluaran dan penerimaan yang terbentuk cash flow untuk periode waktu tertentu sampai umur ekonomis proyek dan nilai suatu proyek diubah ke dalam nilai sekarang dengan menggunakan tingkat suku bunga yang relevan. Formulanya sebagai berikut: n n NPV(i) = ∑ Bt (1 + i)-t - ∑ Ct (1 + i)-t
t=0 t=0

............................................................. (6)

Keterangan: Bt Ct i
-t

= Total penerimaan (benefit) dari proyek pada periode t = Total biaya (cost) untuk proyek yang dikeluarkan = Tingkat suku bunga (interst rate) factor koreksi pengaruh waktu terhadap nilai uang pada periode t dengan interst rate i per-tahun.

(1+i) = Faktor nilai sekarang (present worth factors) atau discount

Jika nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa mendatang lebih besar dari nilai sekarang investasi, maka proyek tersebut dikatakan menguntungkan sehingga diterima (NPV > 0). Sedangkan jika nilai sekarang lebih kecil (NPV < 0), maka proyek ditolak karena dinilai tidak menguntungkan. Dan apabila NPV = 0, berarti nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa mendatang sama dengan nilai sekarang investasi. B. Benefit Cost Ratio Analysis Benefit cost ratio analysis digunakan untuk menentukan pengelolaan sumberdaya yang dimiliki di wilayah pesisir laut secara lebih efisien, terutama digunakan untuk menentukan kebijakan pengelolaan lingkungan pesisir di Kawasan Industri Krakatau Industri. Dengan menggunakan pendekatan benefit cost ratio analyisis (BCR) ini, sebuah proyek atau program dengan net present value (NPV) positif direkomendasikan sebagai sebuah investasi yang baik dalam arti bahwa proyek tersebut akan menghasilkan pengembalian yang lebih besar dan merupakan hasil pengelolaan sumberdaya terbaik di masa mendatang. Formulanya sebagai berikut:
n

Bt/(1 + i)t Ct /(1 + i)
t

BCR = ∑
t=1

…………………………………………. (7)

50

Prosedur untuk mengevaluasi penentuan pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir dan laut didasarkan pada nilai BCR tertinggi. 3.7 Analisis Baku Mutu Analisis baku mutu terhadap lingkungan ditujukan untuk mengetahui batas aman dari bahan yang membahayakan dalam pengelolaan limbah baja terhadap degradasi kelestarian wilayah pesisir atau terhadap ekosistem perairan dan kesehatan masyarakat. Batas aman disini apakah lingkungan masih dapat mentoleransi sehingga tidak terjadi akumulasi standar kualitas dan dapat dijadikan sebagai pembanding untuk mengetahui perubahan kualitas lingkungan. Tujuan dilakukan analisis baku mutu untuk: (1) keperluan pemantauan (monitoring), dan (2) pengendalian (controlling). Di dalam penetapan baku mutu ini terdapat prinsip-prinsip yang dapat dilakukan yaitu: (1) tidak terlalu memberatkan pengusaha (tidak terlalu ketat). (2) tidak mengabaikan kesehatan masyarakat (tidak terlalu longgar). Sehingga diharapkan dalam penetapan baku mutu ini terjadi keseimbangan antara kepentingan pengusaha dengan lingkungan sekitarnya. Menurut Suratmo (2002) menjelaskan teknik pendekatan penyusunan Baku Mutu melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1. Identifikasi dari penggunaan sumberdaya atau media ambien yang harus dilindungi. 2. Merumuskan formulasi dari kriteria dengan menggunakan kumpulan dan pengolahan dari berbagai informasi ilmiah. 3. Merumuskan baku mutu ambien (berkenaan dengan lingkungan) dari hasil penyusunan kriteria 4. Merumuskan baku mutu limbah yang boleh dikemas ke dalam lingkungan. 5. Membentuk program pemantauan dan pengumpulan berbagai informasi untuk penyempurnaan. Sedangkan menurut Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor: 03 tahun 1991 pasal 13, menyatakan untuk mencegah pembuangan kejutan (stock loading) pada sistem pengolahan limbah atau pada sumber air, setiap pabrik harus mengadakan suatu sistem dengan mencegah agar beban pencemaran limbah tidak boleh lebih tinggi 100% dari beban pencemaran cair rata-rata setiap bulan. Adapun penelitian ini difokuskan pada pengambilan sampel sedimen dan biota di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon.

51

3.8 Pengambilan Sampling Sedimen Pengambilan sampel sedimen dilakukan di wilayah pesisir dimana sampel bentik diambil dan stasiun yang diambil mengikuti stasiun pengambilan sampel bentik. Hal ini dimaksudkan agar ada kesinambungan terutama untuk interpretasikan data komunitas bentik sangat membutuhkan data karakter fisik dan kimia sedimen di lokasi tempat hidup biota bentik tersebut. Adapun alat yang digunakan adalah sama dengan pada pengambilan sample bentos yaitu Petersen Grab (luasan 0.1 m2) dengan cara pengambilan yang sama seperti pengambilan bentos. Adapun cara pengambilan sampling sedimen disajikan di bawah ini. A. Penggunaan Grab Sampler Turunkan grab sampler ke kolom air pada posisi terbuka dengan kecepatan terkontrol sekitar 1 m/3 detik melalui kabel dengan menggunakan whinch. Pastikan grab sampler tidak jatuh bebas ke dasar perairan. Hydrowire (kabel yang digunakan untuk menurunkan grab sampler) harus lurus selama grab sampler diturunkan. Sampler akan tertutup ketika menyentuh dasar dan kabel agak mengendor. Angkat sedikit grab sampler dari dasar air agar bisa tertutup dengan tepat tanpa ada sedimen tertumpah. Setelah grab sampler terangkat dari dasar air, kecepatan penarikan dapat dinaikkan sampai sekitar 1 m/detik. B. Pengambilan sampel Pada saat dilakukan pengambilan sampel tangan menggunakan sarung tangan lateks. Setelah grab diangkat ke permukaan yang pertama harus dilakukan adalah membuang air dari atas sedimen dengan menggunakan syringe tanpa jarum. Selanjutnya memeriksa sampel dan mencatat pada catatan buku lapangan hal-hal mengenai warna, tekstur, aroma, kotoran, struktur biologi, batu besar, kilap minyak, hal-hal yang tidak biasa pada sampel dan hal lain yang tidak biasa pada proses pengambilan sampel. Selanjutnya dilakukan pembuangan kotoran, struktur biologi, batu besar yang ada pada sampel. Sementara itu juga disiapkan botol sampel yang diberi label sesuai dengan nomor stasiun dengan tinta permanen, dan mencatat pada buku catatan lapang mengenai identifikasi sampel (lokasi pengambilan sampel), tanggal dan waktu pengambilan sampel, klien, parameter yang akan dianalisis dan petugas pengambil sampel. Selanjutnya 2 cm teratas dari sampel tersebut diambil dengan sendok stainless steel dan dimasukan ke dalam 3 botol sampel bersih yang masing-masing volumenya 250 ml dan masing-masing botol tersebut akan dimanfaatkan untuk analisa butiran

52

sedimen dan logam. Selain itu juga akan diambil sampel tambahan pada setiap stasiun untuk keperluan sampel duplikat. Selanjutnya botol dimasukan ke dalam plastik dua rangkap, dan dimasukkan pada cooler dengan kualitas yang baik, yang berisi frozen ice park dan tutup cooler dan didalamnya diberi es batu yang telah dibungkus plastik, sehingga selama penyimpanan dan pengiriman sampel tetap dingin. Namun demikian untuk keperluan pemeriksaan butir sedimen, sample tidak dibekukan. Selanjutnya sampel akan dikirim ke laboratorium. Analisis di laboratorium akan menggunakan metoda standar US EPA (environmental protection agence). Untuk ukuran butiran akan dianalisis distribusi ukuran butiran, sedangkan pemeriksaan logam merkuri, arsenik, besi, mangan, alumunium, dan silikon. Jika ada kelebihan air, maka akan diaduk masuk ke dalam sampel dan dihomogenkan (diaduk) dengan spatula, dan selanjutnya sampel akan dikeringkan dengan oven pada suhu 60C. C. Penentuan konsentrasi logam berat Pelarutan sampel dan analisis total merkuri digunakan metoda US EPA dengan menggunakan aqua regia sebagai bagian dari proses pelarutan, sehingga dihasilkan perolehan total (setiap jenis) logam berat pada sedimen laut yang baik. Selanjutnya dilakukan analisis terhadap setiap jenis logam berat menggunakan cold vapor atomic absorption. 3.9 Pengambilan Sampel Biota Pengambilan sampel biota khususnya kerang yang akan diambil contoh jaringannya dilakukan di lokasi dimana sampel sedimen diambil. Hal ini dimaksudkan agar ada kesinambungan terutama untuk interpretasi data kandungan logam pada jaringan kerang di lokasi diambil diduga ada kaitannya dengan kandungan logam pada sedimen. Adapun alat yang digunakan di sini adalah sama sampel yang diambil untuk dengan pada pengambilan sampel kerang.. Kerang dengan

dijadikan sampel dalam keadaan hidup. Selanjutnya kerang dicuci dengan deionized water, Setiap sampel tersebut dimasukkan pada cooler yang kualitasnya baik dengan dilengkapi es batu yang dibungkus dengan plastik. Pengambilan potongan sampel insang dan hati (hepatopankreas) pada kerang dilakukan secara hati-hati tidak boleh kena tangan langsung (menggunakan sarung tangan lateks) yang dilakukan di atas papan penyiangan yang bersih dengan menggunakan bilah scalpel stainless steel yang baru. Untuk keperluan tersebut yang pertama kali dilakukan adalah melepas kulit dan otot pengaitnya dengan hati-hati sehingga jaringan yang diambil tidak terkontaminasi lendir, kotoran, sedimen atau hal

53

lain. Selanjutnya sampel otot dorsal dimasukkan ke dalam plastik bersih yang dapat disegel dengan plastik rangkap dua, dan diantara kedua plastik tersebut diberi label yang berisi identifikasi sampel, tanggal dan jam pengumpulan, nama klien, parameter yang akan dianalisis dan nama pengumpul sampel. Selanjutnya sampel dibekukan, dan baik pada saat disimpan maupun sampel dikirim diupayakan semaksimal mungkin sehingga ada dalam keadaan beku. Sampel segera dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Analisis logam pada jaringan dilakukan di laboratorium dengan menggunakan metoda US EPA. Untuk keperluan ini sampel beku akan dithawing terlebih dahulu dan selanjutnya dihomogenkan dengan cara diblender pada blender dengan botol kaca dan bilahnya dari stainless steel yang sudah dibilas dengan asam dan blanko pembilasannya digunakan untuk memferifkasi. Selanjutnya sampel yang sudah dihomogenkan disimpan dalam keadaan beku. Pada waktu sampel tersebut akan dianalisis sampel dithawing kemudian dilarutkan pada asam nitrit/H2O2 dengan menggunakan wadah berupa bejana terbuka dan memanaskan serta melarutkan Selanjutnya logam berat dianalisis sampelnya dengan menggunakan hot plate. dengan cold vapor atomic adsorption (CVAA). 3.10 Pengelolaan limbah berdasarkan Submodel Pada penelitian ini dugunakan analisis sistem dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: (1) Analisis kebutuhan antar pelaku, (2) Formulasi permasalahan, (3) Identifikasi sistem, (4) permodelan sistem, (5) Verifikasi dan validasi model serta (6) Implementasi model. Pembangunan suatu model dilakukan dengan tujuan untuk melihat perilaku sistem dalam membantu perencanaan strategi dan kebijakan pengolahan limbah industri baja sebagai upaya mempetahankan kelestarian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Perumusan pemodelan ini dilakukan berdasarkan hasil pendekatan black box dan kondisi faktual hasil studi yang dikombinasikan dengan konsep teoritis dari berbagai kepustakaan yang digambarkan dalam diagram input-output pengelolaan sumberdaya pesisir/perikanan. Sedangkan untuk merumuskan model tersebut, maka dibangun sub-sub model yang akan disajikan di bawah ini. A. Submodel Penduduk Untuk membuat submodel penduduk perlu dirumuskan bahwa Pertambahan penduduk mengikuti suatu fungsi dari jumlah angka kelahiran, angka kematian, dan urbanisasi. Penduduk pada suatu waktu (Pti) (jiwa) ditentukan oleh jumlah populasi

54

penduduk saat ini (Pto) (jiwa), jumlah kelahiran (Kel)) (%), jumlah urbanisasi (Urb) (%), dan jumlah kematian (Kem)(%), dapat dirumuskan: Pti = Pto + Pto (Kel + Urb – Kem) ............................................................... (8) B. Submodel Industri Untuk menyusun submodel industri perlu dirumuskan bahwa Jumlah beban limbah industri (Li) (ton/tahun) dipengaruhi oleh Jumlah industri pada waktu ti (Jlti), Jumlah industri awal (Jlto), Fraksi pembangunan industri (FPI) (%), Luas lahan kawasan (LK) (ha), Fraksi limbah industri (Fli) (%). Dengan asumsi untuk setiap industri membutuhkan satu hektar lahan, dapat dirumuskan: Jlti = Jlto (1+FPI)/LK Li = Jlti * Fli ............................................................................. (9) ..............................................................................(10)

C. Submodel Pengolah limbah Untuk menyusun submodel pengolah limbah perlu dirumuskan bahwa jumlah limbah (JL) (ton/tahun) yang masuk ke pesisir pantai dipengaruhi oleh beban limbah (BL) (ton/tahun) bersumber dari industri baja dan kapasitas instalasi pengolahan limbah (Kipal) (ton/tahun), dapat dirumuskan: JL = BL – Kipal ....................................................................................... (11) Pengolahan limbah yaitu upaya untuk mengurangi beban limbah hingga memenuhi baku mutu. D. Submodel Dampak Sosial Untuk menyusun submodel dampak sosial pada model pengelolaan limbah baja digunakan model dinamis. Model dinamis ini digunakan untuk mengetahui dampak limbah terhadap demografi di Kawasan Industri Krakatau Cilegon dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Model dinamis ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Demografi = f(Kesehatan masyarakat, sosial ekonomi, dan daya dukung lingkungan) Dampak demografi tersebut merupakan model populasi yang berkaitan dengan submodel penduduk dapat diselesaikan dengan model dinamis (powersim) sebagai pada model pengelolaan limbah baja sebagai upaya untuk mempertahankan wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon.

55

3.11 Analisis Kebijakan Model Pengelolaan Limbah Industri Baja Pencemaran lingkungan hidup terjadi di mana-mana. Pesisir maupun perairan adalah korban pertama yang menderita di era pembangunan seperti ekosistem pantai. Dinamika pesisir/perairan pantai mempunyai kelebihan dalam kemampuan untuk mencerna limbah, namun bukan tidak ada batasnya. Keluhan tentang limbah yang mencemari pesisir/perairan laut melalui air sungai mengalir ke laut, yang menyebabkan makin berkurangnya produktivitas hasil tangkapan ikan dan lain-lain. Penanganannya banyak tergantung dari cara menangani limbah di darat. Penentuan kebijakan model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Komponen-komponen limbah industri baja, yaitu: (a) jenis limbah baja; (b) toksisitas limbah baja; (c) karakteristik limbah baja; dan (d) potensi tingkat pencemaran limbah terhadap lingkungan. 2. Faktor-faktor yang menimbulkan limbah industri baja, yaitu: (a) proses produksi pembuatan baja; (b) instalasi pengolahan air limbah (IPAL) kurang baik; (c) daya dukung lingkungan kurang; (d) Area penampungan limbah terbatas; dan (e) Kapasitas limbah baja semakin meningkat. 3. Indikatornya, yaitu: (a) Reduce (mengurangi); sebisa mungkin meminimalisasi material yang digunakan karena semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan; (b) Reuse (memakai kembali); sebisa mungkin memilih material yang bisa dipakai kembali dan menghindari pemakaian material yang disposable (sekali pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian material sebelum menjadi sampah; (c) Recycle (mendaurulang); sebisa mungkin, material yang sudah tidak berguna dapat didaur ulang; (d) Replace (mengganti); teliti material yang digunakan secara kontinu. Ganti material yang hanya bisa dipakai sekali dengan material yang lebih tahan lama; (e) Degradasi lingkungan; lakukan upaya untuk mengurangi degradasi pesisir; (f) Kesehatan masyarakat; upaya untuk menjaga keselamatan dan kesehatan masyarakat di lingkungan sekitar dari pengaruh limbah. Untuk memenuhi 3 (tiga) hal tersebut di atas, perlu dianalisis kebijakan dan strategi model pengelolaan limbah industri baja yang digunakan yaitu menyusun alternatif tindakan atau keputusan yang akan diambil untuk mempengaruhi proses nyata. Keputusan tersebut dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

56

Adapun analisis kebijakan model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon seperti berikut ini. 3.11.1 Diagram Sebab Akibat Hubungan antar variabel pada model pengelolaan limbah baja dapat digambarkan dengan diagram sebab akibat (cause loop). Keterkaitan antara pelaku maupun kegiatan yang terlibat dalam pengelolaan limbah baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Pemecahan masalah ini telah diformulasikan pada tahap sebelumnya dengan kerkaitan 3 (tiga) subsistem, yaitu subsistem kependudukan, subsistem pesisir laut, dan subsistem limbah industri. Dalam diagram sebab akibat (cause loop) ini, setiap subsistem memiliki struktur masing-masing dengan karakteristik kegiatannya. Selanjutnya dalam proses pengkontruksian diagram sebab akibat pada masing-masing subsistem dilakukan secara bertahap. 3.11.2 Pemodelan Sistem Dinamik Membangun suatu model dilakukan dengan tujuan untuk memperhatikan perilaku sistem dalam menentukan kebijakan dan strategi model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Model ini berstandar pada pendekatan sistem dengan menggunakan powersim, karena pemikiran sistem selalu mencari keterpaduan (integritas) antar bagian melalui pemahaman yang utuh, maka diperlukan suatu kerangka fikir melalui pendekatan sistem. Berdasarkan hasil identifikasi sistem yang akan dibuat untuk model pengelolaan limbah industri baja terutama yang berkaitan dengan diagram sebab akibat yang dirancang, maka perlu dilakukan pemodelan sistem dengan rancang bangun model dinamis dengan menggunakan bantuan progam powersim yang dapat menterjemahkan diagram sebab akibat (cause loop) yang telah dirancang ke dalam program komputer. Tahapan pendekatan sistem dalam pembangunan model pengelolaan limbah industri baja, adalah sebagai berikut:

57

A. Analisis Kebutuhan Analisa kebutuhan merupakan tahap awal dari pengkajian sistem. Pada tahap analisa ini dinyatakan dalam kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan, kemudian dilakukan tahapan yang mengarah pada pengembangan terhadap kebutuhankebutuhan. Menurut Marimin (2007), dalam analisis kebutuhan perlu diketahui faktor yang menentukan dari pengembangan sistem pakar, yaitu resiko yang diterima oleh pemakai, resiko teknik didalam pertukaran informasi dan jawaban yang diberikan pemakai, ketersediaan sumberdaya manusia yang mendukung, dan software yang tersedia. Tahap ini juga memberikan informasi mengenai tanggapan dari pengambil keputusan terhadap jalannya sistem. B. Formulasi Permasalahan Menurut Eriyatno (1999), formulasi permasalahan dilakukan atas dasar

penentuan informasi yang telah dilaksankan melalui identifikasi sistem secara bertahap. Karena formulasi permasalahan memberikan ilustrasi tentang kompleksitas permasalahan dalam hubungan dengan interaksi variabel baik di dalam maupun antar sistem. Untuk mengetahui permasalahan secara rinci maka dilakukan analisis berbagai keinginan dan konflik kepentingan oleh masing-masing aktor/pelaku, yaitu: pemerintah, industri, LSM, masyarakat sekitar, peneliti/pakar, dan Divisi K3LH. C. Identifikasi sistem Identifikasi sistem dilakukan untuk mengetahui komponen-komponen yang terlibat di dalam sistem yang akan dikaji. Identifikasi sistem merupakan suatu rantai hubungan antara pernyataan dari kebutuhan-kebutuhan dengan pernyatan khusus dari masalah yang harus diselesaikan untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Selanjutnya identifikasi sistem dilakukan dengan menghubungkan antara pernyataan-pernyataan masalah dengan kebutuhan-kebutuhan aktor yang terlibat dalam sistem. Identifikasi sistem bertujuan untuk mencari pemecahan terbaik dari permasalahan yang dihadapi. D. Pembuatan Model Model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestaraian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistem, kedudukan model sistem sebagai informasi dasar dalam menyusun strategi dengan merubah kondisi suatu daerah aliran beban limbah.

58

E. Simulasi Model Simulasi merupakan suatu aktivitas dimana pengkaji dapat menarik kesimpulan tentang perilaku sistem melalui penelaahan perilaku model. Simulasi model digunakan untuk melihat pola kecenderungan perilaku model berdasarkan hasil simulasi model akan dianalisis dan ditelusuri faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pola dan kecenderungan yang digambarkan dengan diagram sebab akibat (cause loop diagram). Tahap berikutnya perlu dijelaskan bagaimana mekanisme kejadian tersebut berdasarkan analisis struktur model. Hasil simulasi model dijadikan dasar untuk merumuskan kebijakan yang diperlukan dalam perbaikan kinerja sistem. F. Verifikasi dan Validasi Model Suatu model dapat dijalankan secara bebas apabila data maupun informasinya cocok. Karena itu, suatu model dikatakan valid jika struktur dasarnya dapat menggambarkan perilaku yang polanya dapat menggambarkan perilaku sistem nyata, atau dapat mewakili dengan cukup akurat, data yang dikumpulkan sehubungan dengan sistem nyata atau asumsi yang dibuat berdasarkan referensi sesuai cara sistem nyata bekerja. Verifikasi terhadap model yang disusun bertujuan untuk meyakinkan bahwa program komputer dan implementasi dari model konseptualnya adalah benar. Verifikasi model ini menggunakan software Powersim untuk pemodelan sistem dinamis akan menghasilkan tingkat kesalahan yang relatif lebih sedikit bila dibandingkan menggunakan bahasa simulasi yang penggunaannya secara general. Proses verifikasi terhadap model komputer, selain dilakukan sebelum validasi model, juga dilakukan setelah proses validasi model. Di dalam proses tersebut dapat dilakukan secara iteratif termasuk merubah atau memodifikasi struktur model komputer untuk menghasilkan yang memuaskan dan diperoleh kesesuaian dengan tujuan dari penyusunan model yang diharapkan. Sedangkan validasi terhadap model merupakan proses menguji substansi model, yaitu sejauhmana model komputer yang dibuat dalam lingkup aplikasinya memiliki kisaran akurasi yang memuaskan, konsisten dengan tujuan dari penerapan model tersebut. Menurut Sargent (1998), menjelaskan bahwa atribut yang digunakan dalam proses validasi sangat dipengaruhi oleh kondisi sistem yang digunakan dalam model tersebut, dengan kata lain apakah sistem dapat diobservasi atau sistem tidak dapat diobservasi. Sistem tersebut dapat diobservasi, bila memungkinkan data yang dikumpulkan di dunia nyata tentang perilaku operasional dari sistem yang dikaji.

59

Oleh karena itu, validasi kinerja dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: Pertama, cara kualitatif yaitu dengan membandingkan secara visual antara simulasi dengan aktual. Kedua, cara kuantitatif yaitu: dengan uji statistik antara simulasi dengan aktual. Validasi terhadap model dalam penelitian ini dilakukan bersamaan dengan proses simulasi yang dilakukan terhadap submodel kependudukan, pesisir laut, dan limbah industri. Ketiga submodel ini dirangkaikan menjadi satu kesatuan yang membentuk struktur model pada model pengelolaan limbah baja sebagai upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Dengan demikian proses validasi terhadap model ini terlihat bahwa output (keluaran) yang ditunjukkan dalam proses simulasi menggambarkan perilaku yang sesuai dengan tujuan dari model. Menurut Muhammadi (2001), pembuktian validasi model merupakan suatu hal yang sebenarnya sulit untuk dilakukan. Walaupun validasi suatu sistem dibatasi oleh mental model dari penyusun model, namun demikian untuk memenuhi kaidah keilmuan pada model sistem tetap perlu dilakukan uji validasi. Pengujian validasi perilaku model dilakukan dengan membandingkan antara besar dan sifat kesalahan dapat digunakan, yaitu: 1) Absolute mean error (AME) yaitu penyimpangan (deviasi) antara nilai rata-rata (mean) hasil simulasi terhadap nilai aktual, 2) Absolute variation error (AVE) yaitu penyimpangan nilai variasi (variance) simulasi terhadap aktual. Batas penyimpangan yang dapat diterima adalah antara 5 – 10%. AME = [(Si – Ai)/Ai].................................................................................. (12) Si = Si N, dimana S = nilai simulasi Ai = Ai N, dimana A = nilai aktual N = interval waktu pengamatan AVE = [(Ss – Sa)/Sa].................................................................................. (13) Ss = ((Si – Si)2 N) = deviasi nilai simulasi Sa = ((Ai – Ai) 2 N) = deviasi nilai aktual 3.11.3 Proses Hierarki Analitik Untuk menganalisis kebijakan pengelolaan limbah industri baja menggunakan model proses hierarki analitik (AHP-analytical hierarchy process) yang disajikan berdasarkan struktur hierarki pada Gambar 11.

FOKUS

STRATEGI PENGELOLAAN LIMBAH BAJA

TUJUAN

Pemanfaatan kembali limbah

Minimalisasi limbah

Pencegahan pencemaran pesisir

Pencegahan pencemaran thp kesehatan masyarakat

Upaya mempertahankan kelestarian wil. pesisir

Kebijakan pengelolaan limbah berwawasan lingk. dan berkelanjutan

KRITERIA

Timbulnya limbah

Pencemaran & kerusakan lingkungan

Efisiensi material & energi

“Environmental equity”

Degradasi lingkungan

Ekosistem lingkungan

Daya dukung lingkungan

AKTOR

Pemerintah Daerah

Industri Penghasil Baja

Divisi K3LH PT. KS

Masyarakat sekitar

LSM

Peneliti/ Pakar

ALTERNATIF

Perubahan bahan baku

Perubahan proses & teknologi

Perubahan produk

Penerapan 5R lingkungan

Mengurangi limbah

Memakai kembali limbah

Mendaur ulang limbah

Mengganti limbah

Gambar 11. Struktur hierarki kebijakan dan strategi model pengelolaan limbah baja

61

Gambar 11 tersebut di atas, terlihat bahwa struktur yang dibangun terdiri atas 5 level atau hirarki. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada analisis AHP adalah sebagai berikut: (1) Mendefinisikan persoalan dan merinci pemecahan yang diinginkan, (2) Membuat matrik perbandingan berpasangan untuk setiap elemen dalam hirarki, (3) Memasukkan semua pertimbangan yang diperlukan untuk mengembangkan perangkat matrik, (4) Mengolah data dalam matrik perbandingan berpasangan sehingga didapatkan prioritas setiap elemen hirarki, (5) Menguji konsistensi dari prioritas yang telah diperoleh. Sedangkan menurut Marimin (2004), penentuan pemilihan prioritas pengelolaan limbah industri baja menggunakan model AHP – criterium decision plus dengan langkah-langkah yang harus dilakukan adalah: (1) Jalankan program criterium decision plus dengan perintah start/program/criterium decision plus, lalu double klik criterium decision plus. (2) Buat file bainstorming dengan perintah file/new, lalu buat atruktur masalah. Setelah selesai simpan dengan perintah file/save as dan beri nama file.BST. (3) Buat struktur hierarki dengan perintah view/general hierarchy. (4) Tentukan model AHP dengan perintah model/technique/AHP. (5) Lakukan penilaian terhadap kriteria dengan perintah: a. Klik kotak memilih b. Lakukan perintah: block rate subcriteria c. Penilaian kriteria dengan jalan: i. Lakukan perintah: methods/full pairwase ii. Isikan nilai seperti yang ada pada contoh d. Lakukan penilaian perbandingan antara dua alternatif untuk setiap kriteria yang bersedia, tetapi untuk teknologi proses, harus diubah menjadi pengisiannya perintah method/direct, lalu dimasukkan masing-masing teknologi proses. e. Setelah selesai klik OK (6) Untuk melihat hasil akhir, gunakan perintah result decision/decision scores. Grafik hasilnya dapat diperoleh. (7) Untuk melihat hasil akhir dalam bentuk tabel gunakan perintah view/result data. Hasilnya dapat diperoleh. 3.11.4 Pemodelan Interpretasi Struktural Menurut Marimin (2004), penentuan parameter kunci dalam pengelolaan limbah industri baja menggunakan teknik pemodelan interpretasi struktural (ISMinterpretative structural modelling), dengan langkah-langkah adalah: (a) Identifikasi secara langsung data efisiensi dari

62

elemen yaitu elemen sistem diidentifikasi dan didaftar. Hal ini dapat diperoleh melalui penelitian, brainstorming, dan lain-lain. (b) Hubungan Kontekstual: Sebuah hubungan kontekstual antar elemen dibangun, tergantung pada tujuan dari pemodelan. (c) Matriks interkasi tunggal tersetruktur (structural self interaction matrix/SSIM). Matriks ini mewakili elemen persepsi responden terhadap elemen hubungan yang dituju. Empat simbol yang digunakan untuk mewakili tipe hubungan yang ada antara dua elemen dari sistem yang dipertimbangan, adalah: V … hubungan dari elemen Ei terhadap Ej, tidak sebaliknya. A ... hubungan dari elemen Ej terhadap Ei, tidak sebaliknya. X ... hubungan interrelasi antara Ei terhadap Ej (dapat sebaliknya) O ... menunjunjuk bahwa Ei dan Ej tidak berkaitan. (d) Matriks reachabilita (reachabilita matrix/RM. (e) Tingkat partisipasi dilakukan untuk mengklasifikasikan elemen-elemen dalam level-level yang berbeda dari struktur ISM. (f) Matriks canonial: Pengelompokan elemen-elemen dalam level yang sama mengembangkan matriks ini. Matriks resultan memiliki sebagian besar dari elemen-elemen triangular yang lebih tinggi adalah 0 dan terendah 1. (g) Digraph: adalah konsep yang berasal dari directional graph, sebuah elemen-elemen yang saling berhubungan secara langsung, dan level hirarki. Digraph awal dipersiapkan dalam baisis matriks canonical. Graph awal tersebut selanjutnya dipotong dengan memindahkan semua komponen yang transitif untuk membentuk digarph akhir. (h) Interpretative structural model: ISM dibangkitkan dengan memindahkan seluruh jumlah elemen dengan deskripsi elemen aktual. Oleh sebab itu, ISM memberikan gambaran yang sangat jelas dari elemen-elemen sistem dan alur hubungannya. 3.11.5 Pemodelan Sistem Dinamik Untuk membuat model pengelolaan limbah industri baja menggunakan sistem dinamis melalui analisis kebutuhan dan black box. Sebagai tahap awal dalam melakukan pengkajian menggunakan pendekatan sistem adalah analisa kebutuhan. Analisis ini dinyatakan dalam kebutuhan stakeholders yang berpengaruh terhadap sistem yang dikaji. Analisis kebutuhan stakeholders terhadap upaya pengendalian pencemaran kelestarian wilayah pesisir yaitu: (1) Pemerintah daerah: sebagai pengendali yang melibatkan partisipasi masyarakat, bantuan dana dan kerjasama dengan instansi lain. (2) Masyarakat: pengendalian yang berkeadilan secara menyeluruh. (3) Pengusaha: pengendalian yang tepat sasaran dan berkelanjutan. (4)

63

Lembaga swadaya masyarakat: pengendalian yang melibatkan partisipasi masyarakat dan berkeadilan. (5) Perguruan tinggi: sebagai pengendalian yang efektif dan efisien.

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
4.1 Kondisi Geografis Kota Cilegon merupakan kota otonomi yang secara yuridis dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 15/1999. Sebagai kota yang berada di ujung barat Pulau Jawa, juga bagian dari wilayah Provinsi Banten. Kota Cilegon merupakan pintu gerbang utama yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Secara geografis, Kota Cilegon yang berada pada koordinat 5o52’24”– 6o04’07” Lintang Selatan dan 105o54’05” – 106o05’11” Bujur Timur, dibatasi oleh: - Sebelah Barat - Sebelah Utara - Sebelah Timur - Sebelah Selatan : Selat Sunda : Kabupaten Serang : Kabupaten Serang : Kabupaten Serang

Kota Cilegon yang luasnya 175,45 Km2 dibagi kedalam delapan kecamatan yakni Kecamatan Ciwandan, Kecamatan Citangkil, Kecamatan Pulomerak, Kecamatan Grogol, Kecamatan Purwakarta, Kecamatan Cilegon, Kecamatan Jombang, dan Kecamatan Cibeber serta 43 kelurahan. Kota ini memiliki iklim tropis dengan temperatur berkisar 21,1oC – 34,1oC dan curah hujan rata-rata 114 mm per bulan. Kota Cilegon dilalui beberapa sungai antara lain Sungai Kahal, Tompos, Sehang, Gayam, Medek, Sangkanila, Cikuarsa, Sumur Wuluh, Grogol,

Cipangurungan, dan Sungai Cijalumpang. Diantara sebelas sungai tersebut Sungai Grogol merupakan yang terbesar dan hampir semuanya bermuara di Selat Sunda. Selain beberapa sungai, di Kota Cilegon juga terdapat sebuah waduk yang cukup luas yakni Waduk Kerenceng yang membelah Desa Kebonsari, Lebakdenok, dan Tamansari di Kecamatan Ciwandan dan merupakan sumber air PDAM yang dialirkan ke rumah tangga untuk sebagian wilayah di Kota Cilegon. Waduk Krenceng juga dimanfaatkan oleh industri-industri di wilayah kawasan industri Krakatau Cilegon yang pengelolaannya oleh PT. Krakatau Tirta Industri (KTI) yang merupakan anak perusahaan PT. Krakatau Steel. Kondisi geografis Kota Cilegon disajikan pada Gambar 12.

65

Gambar 12. Peta Kota Cilegon 4.2 Kependudukan 4.2.1 Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk Dari tahun ke tahun jumlah Kota Cilegon mengalami pertambahan yang semakin besar. Jumlah penduduk Kota Cilegon tahun 2007 sebesar 347.599 jiwa. Penduduk Kota Cilegon terdiri dari 180.366 jiwa laki-laki dan 167.232 jiwa perempuan, dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata sebesar 2,32 % per-tahun dan tingkat kepadatan mencapai 1.936 jiwa/km2. Selain itu, data Dinas Kesehatan Kota Cilegon tahun 2007 diperoleh rata-rata angka kelahiran penduduk sebanyak 1,85 % per-tahun dan angka kematian penduduk sebesar 1,15 % per-tahun dari jumlah penduduk. Sumber utama data pendudukan tersebut adalah sensus penduduk. Selain sensus untuk menjembatani ketersediaan data penduduk, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon melakukan survey penduduk. Di dalam sensus penduduk, pencacahan dilakukan terhadap seluruh penduduk yang berdomisili di wilayah geografis Kota

66

Cilegon. Luas wilayah dan jumlah penduduk Kota Cilegon tahun 2007 disajikan pada Tabel 9. Tabel 9. Luas wilayah dan jumlah penduduk Kota Cilegon tahun 2007
Luas Kecamatan
1. Ciwandan 2. Citangkil 3. Pulomerak 4. Grogol 5. Purwakarta 6. Cilegon 7. Jombang 8. Cibeber Jumlah

Km2
51,85 22,98 19,91 23,28 15,23 9,16 11,55 21,49 175,45

%
29,55 13,10 11,35 13,27 8,68 5,22 6,58 12,25 100,00

Lakilaki
21.115 30.029 22.260 17.455 19.655 19.922 29.028 20.893 180.366

Penduduk PerempuJumlah an
18.686 27753 20753 16.168 18.174 18.434 27.006 20.258 167.232 39.801 57.782 43.013 33.623 37.839 38.356 56.034 41.151 347.599

%
11,45 16,62 12,37 9,67 10,89 11,03 16,12 11,84 100.00

Sumber: Badan Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Cilegon, Tahun 2007

Adapun kecamatan yang didalamnya terdapat pada penelitian ini yaitu wilayah Kawasan Industri Krakatau Cilegon (KIKC) meliputi: Kecamatan Ciwandan, Kecamatan Citangkil, Kecamatan Pulomerak dan Kecamatan Grogol. Mengingat penelitian dilakukan di KIKC maka fokus penelitiannya ditujukan pada empat kecamatan tersebut. Dari keempat kecamatan tersebut yang merupakan wilayah pesisir: 1). di Kecamatan Ciwandan yang merupakan wilayah pesisir hádala Desa Tegal Ratu, Desa Gunung Sugih, Desa Kepuh, Desa Randakari, dan Desa Kubang Sari; 2). di Kecamatan Citangkil meliputi Desa Warnasari, dan Desa Semang Raya, 3). di Kecamatan Pulomerak meliputi Desa Suralaya, Desa Tamansari, Desa Mekarsari, dan Desa Lebak Gede; 4). di Kecamatan Grogol meliputi Desa Gerem, dan Desa Rawa Arum. 4.2.2 Kesehatan Masyarakat Perkembangan pesat industri di Kota Cilegon saat ini tidak lain karena banyaknya investor yang menanamkan sahamnya di daerah yang sangat strategis dan menjanjikan dalam dunia usaha. Di sisi lain penerapan teknologi oleh perusahaan maupun manusia guna mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik seringkali tidak diikuti oleh faktor keselamatan dan kesehatan kerja yang memadai, yang pada akhirnya berdampak pada kerusakan lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitarnya. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Cilegon terdapat sepuluh besar jenis penyakit yang hampir ditemukan pada setiap empat kecamatan yang merupakan

67

wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon, yaitu penyakit: ISPA, tukak lambung, TBC paru BTA, dermatitis (penyakit kulit), myalgia (nyeri sendi), hypertensi esensial, diare & gastroentiritis, artritis (radang), demam, dan gejala penyakit lainnya. Berdasarkan sepuluh jenis penyakit tersebut, selanjutnya dapat diidentifikasi menjadi empat jenis penyakit yang diakibatkan oleh pengaruh pencemaran limbah industri (polusi udara, air, dan tanah) di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Adapun empat jenis penyakit disajikan pada Tabel 10. Berdasarkan Tabel 10 tersebut, jumlah penderita penyakit yang paling besar yang dijumpai di empat kecamatan adalah jenis penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Hal ini terjadi karena masyarakat yang berdomisili dekat dengan kawasan industri yang udaranya sudah tercemar oleh pabrik-pabrik yang beroperasi di kawasan tersebut. 4.3 Perekonomian Wilayah Kota Cilegon merupakan wilayah bagian barat dari Provinsi Banten atau bagian barat dari daratan pulau Jawa. Oleh karena perkembangan pembangunan yang cukup, teutama dalam bidang industri, pertanian/perikanan, dan wisata. Salah satu kekuatan Kota Cilegon terletak bidang industri dan pelabuhan, secara sektoral pelabuhan memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan turut memberikan artikulasi politik bagi daerahnya, karena pelabuhan merupakan infrastruktur strategis bagi kegiatan ekonomi dan transportasi, terutama bagi industri untuk kegiatan arus masuk dan keluarnya barang, bahkan bagi kelancaran akulturasi dan komunitas antar berbagai wilayah, baik dalam negeri maupun dengan luar negeri. Perekonomian wilayah Kota Cilegon telah memasuki daerah industrialisasi yang secara tidak langsung memanfaatkan wilayah pesisir untuk pembangunan kawasan industri yang tumbuh dengan industri-industri raksasa seperti pabrik baja dan kimia, serta jenis-jenis industri lainnya. 4.3.1 Industri Pertumbuhan bidang industri di Kota Cilegon yang berkembang di masa sekarang ini mengakibatkan banyaknya aktivitas manusia di darat yang menyebabkan tekanan terhadap sektor perikanan, semakin meningkat. Pertambahan jumlah industri dan penduduk membawa dampak bertambahnya beban pencemaran. Pencemaran akibat kegiatan industri dapat menyebabkan kerugian besar, karena umumnya

Tabel 10. Jenis penyakit di wilayah pesisir Kota Cilegon
Jenis Penyakit di Wilayah Pesisir Kota Cilegon Tahun 2003 - 2007 Kecamatan Citangkil (Org) Kecamatan Grogol (Org)
2007 6.775 3.837 2.258 1.554 14.424 2003 9868 1844 925 985 13622 2004 10015 1995 997 1056 14063 2005 10.246 2.021 1.045 1.211 14.522 2006 11.017 2.173 1.123 1.302 15.615 2007 12.241 2.414 1.248 1.447 17.350 2003 318 152 169 159 798 2004 327 165 178 172 842 2005 336 175 201 192 904 2006 362 188 216 206 972 2007 402 209 240 229 1.08

No.
1 2 3 4

Jenis Penyakit
ISPA Dermatitis TBC Paru BTA Artritis lainnya Total 2003 5285 2878 1485 1160 10808

Kecamatan Ciwandan (Org)
2004 5465 3150 1658 1285 11558 2005 5.671 3.212 1890 1.301 12.074 2006 6.098 3.453 2.032 1.399 12.980

Kecamatan Pulomerak (Org)
2003 2468 590 603 305 3966 2004 2505 611 646 340 4102 2005 2.664 624 673 352 4.312 2006 2.865 671 724 378 4.637 2007 3.183 745 804 420 5.152

Sumber: Dinas Kesehatan Kota Cilegon tahun 2007

OBSERVASI LANGSUNG TERHADAP JENIS LIMBAH BAJA DI AREA PENAMPUNGAN YANG BERKECENDERUNGAN MENIMBULKAN PENCEMARAN LINGKUNGAN

PROSES INPUT – OUTPUT Area penyimpanan limbah
- Scrap, Slag - Scale,Sludge, Slurry - Debu EAF Data Order

Limbah yang akan diolah
Jenis Limbah: - Sludge, Slurry - Debu EAF

Input

Proses

Output

INFORMASI RANCANGAN PENGELOLAAN

Karakteristik jenis limbah proses hasil uji toksisitas

Pemanfaatan limbah

KEBIJAKAN DAN STRATEGI MODEL PENGELOLAAN LIMBAH BAJA
Jenis limbah Karakteristik limbah baja ANALISIS INVESTASI PENGELOLAAN LIMBAH

Pencemaran lingkungan

Pemanfaatan limbah

Minimalisasi limbah

Pengendalian limbah

Aspek-aspek Pengelolaan limbah berwawasan lingkungan dan berkelanjutan G

G

Kebijakan dan strategi model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian ekosistem pesisir kawasan industri

Pendapatan masyarakat sekitar

Penyerapan tenaga kerja

Peningkatan ekonomi daerah

Kesehatan masyarakatGa

Terjaganya kelestarian pesisir

Gambar 4. Rancangan dan perumusan penyelesaian masalah

69

buangan/limbah dari kegiatan industri tersebut mengandung zat beracun seperti senyawa klor, raksa, kadmium, krom, timbal dan lain sebagainya munculnya zat beracun ini disebabkan bahan tersebut sering digunakan dalam proses produksi suatu industri, baik bahan baku, katalisator, maupun bahan utamanya. Dilain pihak hingga saat ini industri yang tumbuh dan berkembang di Kota Cilegon setiap tahun selalu bertambah, baik industri menengah maupun industri berat. Saat ini terdapat 85 perusahaan swasta ditambah dengan industri yang bergerak pada kelompok industri Krakatau Steel Group di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. 4.3.1.1 Kondisi Eksisting Pabrik di Kawasan Industri Krakatau Cilegon Kawasan industri yang prospektif bila didukung oleh infrastruktur yang memadai dapat memacu perkembangan ekonomi kawasan di Kota Cilegon dan Provinsi Banten pada umumnya. Oleh karena itu, setelah diketahui kawasan industri yang prospektif tersebut, maka perlu diidentifikasi kebutuhan investasi infrastruktur sesuai kondisi masing-masing kawasan industri tersebut dengan memperhatikan langkah-langkah dukungan melalui pendekatan: (1) Mengidentifikasi kebutuhan infrastruktur untuk mendorong percepatan perkembangan kawasan industri yang prospektif berkembang. (2) Melakukan upaya sinkronisasi kebutuhan infrastruktur yang telah diidentifikasi tersebut terhadap sistem infrastruktur wilayah yang telah ditetapkan dalam struktur rencana tata ruang wilayah (RTRW Kota Cilegon dan Provinsi Banten). (3) Melakukan kajian dan analisa kebutuhan investasi untuk infrastruktur kawasan industri yang sinkron dengan kebijakan yang ditetapkan

dalam RTRW Kota Cilegon dan Propinsi Banten. (4) Menyusun dalam sebuah profil untuk kebutuhan investasi infrastruktur kawasan andalan. Kondisi eksisting Kawasan Industri PT. Krakatau Steel memiliki luas lahan + 1.500 ha dan Kawasan Krakatau Industrial Estate Cilegon yang dikelola oleh PT. KIEC sebuah anak perusahaan PT. Krakatau Steel mengelola luas lahan + 2.000 ha dan total luas lahan kawasan industri Cilegon luasnya + 3.500 ha. Nama-nama perusahaan/pabrik yang beroperasi di Kawasan Industri Krakatau Cilegon disajikan pada Tabel 11.

70

Tabel 11. Perusahaan/pabrik baja hulu dan hilir di Kawasan Industri PT. Krakatau Steel Group
No.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Nama Pabrik/Perusahaan
Besi Spons Billet Baja Slab Baja Hot Strip Mill (HSM) Cold Rolling Mill (CRM) Wire Rode Mill (WRM) PT. Krakatau Daya Listrik (KDL) PT. Krakatau Tirta Industri (KTI) PT. Krakatau Bandar Samudera (KBS) PT. Krakatau Information Technology (KITech) PT. Krakatau Medika PT. Krakatau Industrial Estate Cilegon PT. Krakatau Engineering PT. KHI Pipe Industries PT. Krakatau Wajatama PT. Plat Timah Nusantara (Latinusa)

Jenis Kegiatan
Mengolah besi pellet menjadi besi spons Mengolah besi spons menjadi billet baja Mengolah besi spons menjadi slab baja Mengolah slab baja menjadi baja lembaran Mengolah baja lembaran ngá ketebalan tertentu Mengolah billet baja menjadi batang kawat Mengelola listrik untuk kawasan industri, perumahan, dan perkantoran Mengelola air untuk kawasan industri, perumahan, dan perkantoran Mengelola pelabuhan barang eksport – import untuk keperluan PT. Krakatau Steek Group Mengelola jaringan informasi dan teknologi baik untuk keperluan PT. KS Group maupun non PT. KS. Mengelola Rumah Sakit untuk keperluan karyawan PT. KS Group maupun untuk umum. Mengelola lahan di kawasan industri Cilegon (+ 2.000 ha) Mengelola jasa konstruksi Memproduksi pipa baja Memproduksi besi ulir dan besi profil Memproduksi plat timah

11 12 13 14 15 16

Sumber: (Divisi Umum, PT. Krakatau Steel, 2007) Sedangkan untuk mengelola Kawasan Industri Krakatau Cilegon, PT.KIEC dalam kegiatannya bergerak juga dalam bidang property dan bidang pendukung lainnya sebagai berikut: 1. Property industri untuk kawasan industri: - Area industri baja - Area industri umum - Area komersial : 1.500 Ha : 602 Ha (kemungkinan diperluas sampai 1.600 Ha) : 1.250 Ha

2. Property komersil: perkantoran, hotel, stadion sepak bola dan lapangan golf 3. Property residen: perumahan direksi dan karyawan 4. Investasi dan perdagangan Kota Cilegon selain tumbuh dengan industri milik pemerintah pusat (BUMN) yaitu PT. Krakatau Steel, juga memiliki anak perusahaan yang tergabung dalam PT. Krakatau Steel Group dan nama-nama perusahaan yang tergabung dalam PT. Krakatau Group + 58 jenis perusahaan dengan berbagai jenis usaha. Pabrik-pabrik yang beroperasi di Kawasan Industri Krakatau Cilegon yang dikelola oleh PT. Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) disajikan pada Tabel 12.

71

Tabel 12. Kondisi eksisting Kawasan Industri Krakatau Cilegon
No.
1 2 3

Nama Investor
PT. Air Liquide Indonesia PT. Argamas Bajatama PT. Ashahimas Chemical

Jenis Produk/Kegiatan
Liquid nitrogen, liquid oxygen, liquid argon, gas hydrogen Paku, Bedrad Caustic Soda, Ethylene Dichlorida, Vinyl Chloride Monomer, Polyvinyl Chlorida, Hydrochloric Acid, Luquid Chlorine, Sodium Hypochlorite Workshop Jasa kontruksi & pemesinan (vessel) Polimer dispersion Concrete ready mix Zincalum coated coiol, paint coated coil Cold bricket iron Carbon black Design, engineering, fabrication and contruction, testing and painting of pressure vessel, column, heat exchanger, storage tank, drum, piping, steel structural and similar steel, material Pabrik tepung Garam Welded H-beam, steel fabricator, coil centre, electric pole Calcined coke Pig iron Bahan baku cat dan tekstil Grinding media (steel grinding balls) Industri kabel Heat exchange, pressure vessel, tower & column, boiler, tank. Pengolahan plat baja limbah CRM Azodicarbonamide, modified azodicarbonamide, dinitro pentamethylene, tetramine, urea promoter. Jasa perbaikan dan pemeliharaan alat-alat berat untuk keperluan operasi pertambangan minyak dan gas Zat warna tekstil Refractories Coal storage terminal Perotit S, Pertundit M, Peramit M, Perfrit HL-78 (basic refractories mixes) Kapur bakar

Keterangan

4 5 6 7 8 9 10 11

PT. Barchock & Wilcox Asia PT. Barata Indonesia PT. BASF PT. Beton Agung Cilegon PT. Blue Scope Steel Indonesia PT. Briketama Anugrah PT. Cabot Indonesia PT Cahya Anugrah Tama

Belum/tidak beroperasi

12 13 14

PT. Cerestar Flour Mills PT. Cheetham Garam Indonesia PT. Cigading Habeam Centra

Belum/tidak beroperasi

15

PT. Citra Indokarbon Perkasa

16 a PT. Citra Industri Logam Mesin 17 18 19 20 21 22 PT. Clariant Indonesia PT. Commonweath steel Indonesia PT. Commucation Cable PT. Daekyung Indah Heavy Industry PT. Daya Swahasta Cipta PT. Dongjin Indonesia

Belum/tidak beroperasi Belum/tidak beroperasi

23

PT. Dresser-Rand Services Indonesia

24 25 26 27

PT. DySar Colours Indonesia PT. Harbison-Walker Refractories PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk. PT. Indonesia Asri Refractories

28

PT. Kapurindo Sentana Baja

72

29 30

PT. Karunia Berca Indonesia PT. Kokusai Keiso

31 32 33 34 35

PT. Krakatau Prima Dharma Sentana PT. Lautan Otsuka Chemical PT. Man Ferrostaal Indonesia PT. Mitraguna Pancatama PT. Multi Fabrindo Gemilang

36 37

PT. Nusaraya Putra Mandiri PT. NX Indonesia

38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51

PT. Petrojaya Boral PlasterBoard PT. Prajamita Internusa PT. Pundi Kencana PT. RC Grease & Lublicant PT. Resource Management Indonesia PT. Rohm and Hass Indonesia PT. Samator Gas Indonesia PT. Samson Tiara PT. Santika Pramesti PT. Savanmulia Indah PT. Seamless Pipi Indonesia Jaya PT. Selago Makmur Plantation PT. Sentra Usahatama Jaya PT. Siemens Indonesia

Fabrikasi konstruksi baja umum dan galvanisasi Engineering, construction, and maintenance work of instrumentation and electrical Alumunium pellet & ingot Blowing agent (azodicarbonamide) Engineering, fabrication and industrial erection, maintenance Wire mesh Engineering, fabrication and Construction of pressured vessel, oil & gas production equipment, steel structure Pengemasan oli Fenite magnet, fenite material, die tooling (peralatan pengerjaan logam) Gypsum board Packaging oil & gas industry Pabrik tepung Manufaktur pelumas & gemuk CO2 Acrylic emulsion resin (adhesive chemical) Pembotolan gas oksigen Pusat pelatihan kesehatan Refined sugar Briket besi Seamless pipe Biodiesel dan minyak goreng Sugar refinery Servicing and manufacturing of turbine component & part, misc.power geraration component, kondensator, precision parts for industries Fabricator & Engineering Service Jasa telekomunikasi Komponen mesin, steel fabriated parts Steel inustry Kapur bakar Pengolahan limbah B3 Splier carbon, distributor semen padang

Belum/tidak beroperasi Belum/tidak beroperasi

Belum/tidak beroperasi

Belum/tidak beroperasi

52 53 54 55 56 57 58

PT. Surya Besindo Sakti PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. PT. Jokro Putra Persada PT. Tritara Pradipta PT. Umikasentana Bajatama PT. Wastec International PT. Yosomulyo Jajag

Belum/tidak beroperasi Belum/tidak beroperasi Belum/tidak beroperasi

Sumber: (Divisi Properti Industri PT. KIEC, 2007)

73

4.3.1.2 Kondisi Eksisting Jumlah Limbah Baja Kondisi eksisting jumlah limbah padat baja yang berasal dari pabrik-pabrik yang menghasilkan limbah baja dan disimpan di area penampungan limbah sebagai lahan pembuangan akhir dilakukan dengan menghitung frekuensi pengangkutan. Jumlah pengangkutan limbah dihitung tiap bulan kemudian dikonversikan menjadi satuan ton. Berdasarkan informasi dari Divisi K3LH PT. Krakatau Steel (2006), memperlihatkan bahwa kondisi eksiting jumlah limbah baja dibuang ke lahan pembuangan akhir berdasarkan limbah baja yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja sebagai sumber limbah dalam ukurun waktu 10 tahun terakhir (1994 – 2002) masingmasing menghasilkan jenis limbah: (1) Debu EAF yang berasal dari sumber limbah: BSP, SSP I/II, menghasilkan total limbah + 512.523 ton, (2) Sludge yang berasal dari sumber limbah: DR plant dan WRM plant menghasilkan total limbah + 260.361 ton, dan (3) Slurry yang berasal dari sumber limbah CRM plant menghasilkan total limbah + 1.056.375 ton. Di dalam ruang lingkup penelitian pengelolaan limbah industri baja di Kawasan Industri Krakatau Cilegon difokuskan pada pengambilan data kuantitas limbah padat/lumpur PT. Krakatau Steel tahun 2007 yang berasal dari pabrik besi spons, besi billet, direct reduction plant (DR), dan wire rode mill (WRM). Tabel 13. merupakan data kuantitas limbah padat/lumpur PT. Krakatau Steel tahun 2007. Tabel 13. Data kuantitas limbah padat/lumpur PT. Krakatau Steel tahun 2007
NO. Bulan Debu EAF BSP (Ton) 567 240 570 570 585 564 552 573 552 522 552 576 6423 Debu EAF SSP1 (Ton) 1107 498 740 1036 1151 1027 1010 1070 1110 1028 1123 1162 12062 Jenis Limbah Baja Debu EAF Sludge SSP2 DR (Ton) (Ton) 906 215 923 350 790 182 882 173 986 100 770 131 1030 203 869 173 679 145 429 464 926 367 779 0 9969 2503 Sludge WRM (Ton) 130 50 100 130 220 150 120 160 90 60 90 0 1300 Slurry CRM (Ton) 1146 968 1304 1096 701 789 928 1033 855 728 688 963 11196

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah

Sumber: Divisi K3LH PT. KS, (2007) Dari Tabel 13 di atas, memperlihatkan bahwa jumlah limbah baja tahun 2007 dari masing-masing jenis limbah yang dihasilkan oleh pabrik baja yakni BSP, SSP,

74

DR, WRM, CRM masih memperlihatkan jumlah limbah yang cukup besar. Untuk itu perlu penanganan limbah baja yang serius, agar limbah yang ada saat ini dapat dimanfaatkan dan mempunyai nilai tambah (added value). Adapun data kuantitas jenis limbah baja tahun 2007 yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik baja yang berada di area pabrik baja PT. Krakatau Steel disajikan pada Gambar 13.
JENIS LIMBAH BAJA
6000 Jm Lim l bah 5000 4000 3000 2000 1000 0 M ret a M ei A gustus O ktob er S eptem er b N opem er b A ril p Ju ni Juli D esem er b P ebrua ri Janua ri
Debu EAF BSP (Ton) Debu EAF SSP1 (Ton) Debu EAF SSP2 (Ton) Sludge DR (M2) Sludge WRM (Ton) Slurry (M2)

Bulan

Gambar 13. Kuantitas setiap jenis limbah baja tahun 2007 4.3.2 Pertanian Sektor pertanian di Kota Cilegon yang menjadi unggulan sebagai hasil produksi pertanian meliputi perikanan, tanaman pangan, dan perkebunan. Kegiatan pertanian ini banyak diperoleh di darat dan di Perairan Selat Sunda yang merupakan daerah pesisir pada empat kecamatan di wilayah Kota Cilegon yaitu Kecamatan Ciwandan, Kecamatan Citangkil, Kecamatan Grogol dan Kecamatan Pulomerak. Kegiatan sektor pertanian ini berupa komoditas hasil tanaman pangan yaitu padi (beras), hasil perkebunan yaitu kacang tanah. Sedangkan komoditas hasil perikanan berasal dari hasil penangkapan ikan laut. Berdasarkan hasil penelitian di Dinas Koperasi dan Pertanian Kota Cilegon diperoleh data komoditas hasil produksi pertanian berupa hasil tangkapan ikan, produksi padi dan produksi perkebunan kacang disajikan pada Tabel 14. Tabel 14. Produksi komoditi hasil pertanian Kota Cilegon tahun 2007
No. 1. 2. 3. Komoditi Tangkapan Ikan Padi Kacang Tanah Produksi Hasil Pertanian Tiap Kecamatan (Ton) Ciwandan Citangkil Pulomerak Grogol Jumlah 299
1.532

266
1.491

166 452 1.192

372 1.754 864

1.103 5.229 4.792

1.446

1.290

Sumber: Dinas Koperasi dan Pertanian Kota Cilegon, tahun 2007

75

Permasalahan yang dihadapi oleh Dinas Koperasi dan Pertanian Kota Cilegon sampai saat ini adalah 1). Kota Cilegon belum memiliki tempat pelelangan ikan (TPI) dan Peraturan Daerah tentang perijinan usaha perikanan; 2). Sebagian besar nelayan masih termasuk nelayan tradisional dengan armada perikanan dan alat tangkap yang sederhana karena kurangnya modal usaha. Meskipun demikian, ada upaya-upaya pemecahan masalah oleh Pemerintah Daerah, yaitu: 1). Pemerintah Kota Cilegon beserta pihak terkait lainnya berusaha untuk mendirikan TPI agar sistem pendaratan dan pemasaran ikan menjadi lebih baik, serta membuat peraturan daerah tentang peraturan perijinan usaha perikanan untuk menciptakan iklim usaha perikanan yang kondusif; 2). Akses permodalan bagi nelayan dibuat sesederhana mungkin dengan tidak memberatkan nelayan, serta mendorong para nelayan untuk menggunakan lembaga permodalan yang ada seperti Koperasi LEP-M3, Linbuk, dan sebagainya. 4.3.2.1 Sumberdaya Perikanan Kondisi pelimpahan ikan di perairan wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon terutama di daerah penangkapan ikan tradisional belum memiliki tempat pelelangan (TPI) yang hal ini menyulitkan bagi para petani khususnya masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan, terlihat bahwa para nelayan di wilayah pesisir 4 (empat) kecamatan yakni Kecamatan Ciwandan, Kecamatan Citangkil, Kecamatan Grogol, dan Kecamatan Pulomerak hanya mampu menangkap ikan + 1.103 ton/tahun, sedangkan konsumsi masyarakat untuk kebutuhan ikan lebih dari angka tersebut. Namun secara faktual Dinas Koperasi dan Pertanian Kota

Cilegon telah membentuk kelompok petani khususnya perikanan tangkap sampai tahun 2007 yang meliputi: 1). Jumlah petani: (a) Rumah tangga perikanan (RTP) terdiri dari: punya perahu sebanyak 519 Kepala Keluarga (KK), tanpa perahu sebanyak 77 KK; (b) Rumah tangga buruh perikanan (RTBP) sebanyak 208 KK. 2). Armada perikanan tangkap terdiri dari: perahu tanpa motor sebanyak 204 unit, motor tempel sebanyak 239 unit, dan kapal motor: < 5GT sebanyak 6 unit, dan 5 – 10 GT sebanyak 70 unit. 3). Alat tangkap terdiri dari: jaring insang hanyut 33 unit, jaring insang tetap 6 unit, bagan perahu 54 unit, bagan tancap 9 unit, pancing 421unit, bubu 71 unit, dan serok 80 unit. Program lain pemerintah Kota Cilegon dalam upaya meningkatkan produktifitas sumberdaya ikan di perairan wilayah pesisir yang dicanangkan dalam dekat akan membentuk Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Cilegon. Dinas tersebut

76

merupakan pemisahan Dinas Koperasi dan Pertanian Kota Cilegon, yang diharapkan wilayah pesisir Kota Cilegon mampu menghasilkan devisa bagi pendapatan asli daerah (PAD) Kota Cilegon. 4.4 Kondisi Pesisir Laut Pemukiman di sekitar pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon

menghasilkan pola-pola penggunaan lahan dan air yang khas, yang berkembang sejalan dengan tekanan dan tingkat pemanfaatan sesuai dengan keadaan lingkungan wilayah pesisir. Usaha-usaha budidaya ikan, penangkapan ikan, pembuatan garam, ekploitasi hutan laut, perdagangan dan industri merupakan dasar bagi tata ekonomi masyarakat wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Tekanan jumlah penduduk yang selalu bertambah sering mengakibatkan rusaknya/degradasi lingkungan, pencemaran perairan oleh sisa-sisa limbah rumah tangga, kesehatan masyarakat yang memburuk dan terganggunya ketertiban dan keamanan umum. Oleh karena itu perlu pemahaman tentang proses perubahan yang terjadi di wilayah pesisir tersebut. Perlu diketahui pula bahwa perairan wilayah pesisir umumnya merupakan perangkap zat-zat hara maupun bahan-bahan buangan, karena pemanfaatan ganda yang tidak direncanakan dengan cermat akan menimbulkan masalah lingkungan yang berhubungan dengan bahan buangan seperti dari sampah organik dari kota, sisa-sisa pestisida dan pupuk pertanian, bahan buangan industri dan sebagainya akann terbawa aliran sungai dan pada akhirnya akan mencapai perairan wilayah pesisir tersebut. Menurut laporan Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi Kota Cilegon hingga tahun 2007, bahwa kadar logam berat dalam air laut disepanjang wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon sangat bervariasi namun kisaran kadar logam beratnya konsentrasi masih tergolong rendah dan masih memenuhi baku mutu air laut yang ditetapkan oleh Kantor Menteri Negera Kependudukan dan Lingkungan Hidup tahun 1988 dan tahun 2004. Keputusan Menteri Negera Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. Kep 51/MNKLH/I/2004 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Air Laut.

V. ANALISIS PENGELOLAAN LIMBAH DI WILAYAH PESISIR
ABSTRAK Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan antara ekosistem darat dan lautan, juga merupakan kawasan di permukaan bumi yang padat dihuni oleh umat manusia serta tempat berlangsungnya berbagai macam jenis kegiatan dalam pembangunan. Kebijakan pengelolaan limbah di wilayah pesisir dirasakan sangat penting bagi masyarakat maupun pemerintah daerah. Tujuan analisis pengelolaan limbah ini yaitu: untuk mengetahui hasil uji toksisitas limbah industri baja, mengetahui kualitas air laut di wilayah pesisir, mengetahui proses instalasi pengelohan air limbah baja. Metode analisis pengelolaan limbah baja ini mengacu pada: toxicity characteristic leaching prosedure (TCLP) untuk mengetahui hasil uji toksisitas; Peraturan Pemerintah RI. No. 85 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3); Proses IPAL untuk regenerasi atau recovery limbah. Hasil analisisnya yaitu: hasil uji toksisitas limbah industri baja tersebut masuk pada limbah B3, karena melebihi baku mutu untuk limbah DR (untuk Pb), limbah HSM (untuk Cr, Cu, dan Pb), limbah FC (untuk Cr dan Cu) dan limbah EAF kecuali Cu sedangkan limbah baja WRM dan CRM tidak terkena kriteria limbah B3. Kualitas air laut di wilayah pesisir masih memenuhi batas aman, tidak melewati baku mutu air laut. Proses instalasi pengelohan air limbah baja dilakukan dengan proses regenerasi atau recovery sebagai upaya optimalisasi konsumsi dan minimalisasi kontaminasi dalam buangan limbah cair. Kata kunci: Limbah baja, toksisitas, kualitas air laut, IPAL, wilayah pesisir. 5.1 Pendahuluan 5.1.1 Latar Belakang Wilayah pesisir merupakan daerah peralihan antara ekosistem darat dan lautan, juga merupakan kawasan di permukaan bumi yang padat dihuni oleh umat manusia serta tempat berlangsungnya berbagai macam jenis kegiatan dalam pembangunan. Laporan dari UNESCO (1993), sekitar 60% dari total penduduk dunia bermukim di daerah sekitar 60 km dari garis pantai. Dua per tiga dari kota-kota dunia dengan penduduk lebih dari 2,5 juta jiwa terdapat di wilayah pesisir. Menurut Dahuri (1998), keadaan serupa juga terjadi di Indonesia, dalam hal ini hampir sebagian kota-kota besar serta lebih dari 60% jumlah penduduknya terdapat di wilayah pesisir. Konsentrasi kehidupan umat manusia dan berbagai kegiatan pembangunan di wilayah pesisir bukanlah suatu kebetulan, melainkan disebabkan oleh tiga alasan ekonomis (economic rationality) yang kuat, yaitu: (1) wilayah pesisir merupakan salah satu kawasan yang secara biologis paling produktif di planet bumi ini. Berbagai ekosistem dengan produktivitas hayati tertinggi, seperti hutan mangrove, padang lamun, terumbu karang, dan estuaria, berada di wilayah

78

pesisir. Menurut Clark yang dikeluarkan oleh FAO (1992), lebih dari 90% total produksi perikanan dunia (sekitar 82 juta ton), baik melalui kegiatan penangkapan maupun budidaya, berasal dari wilayah pesisir; (2) wilayah pesisir menyediakan berbagai kemudahan (accessibilities) yang paling praktis dan relatif lebih murah bagi kegiatan industri, pemukiman, dan kegiatan pembangunan lainnya, dari pada yang dapat disediakan oleh daerah lahan atas (up-landareas). Kemudahan tersebut berupa media transportasi, tempat pembuangan limbah, bahan baku air pendingin (cooling water) dari air laut untuk berbagai jenis pabrik dan pembangkit tenaga listrik, serta bahan baku industri lainnya; (3) wilayah pesisir pada umumnya memiliki panorama keindahan yang dapat dijadikan objek rekreasi dan pariwisata yang sangat menarik dan menguntungkan (lucrative), seperti pasir putih atau pasir bersih untuk berjemur, perairan pesisir untuk renang, selancar, dan berperahu; dan terumbu karang serta keindahan bawah laut lainnya untuk pariwisata selam, dan sebagainya. Kemajuan di bidang industri dan pertanian di masa sekarang ini mengakibatkan banyaknya aktivitas manusia di darat yang menyebabkan tekanan terhadap pertanian sekitarnya meningkat. Pertambahan jumlah industri dan penduduk membawa akibatnya bertambahnya beban pencemaran yang disebabkan oleh pembuangan limbah industri dan domestik. Pencemaran tersebut menyebabkan kerugian besar karena umumnya limbah mengandung zat beracun antara lain klor, raksa, kadmium, khrom, timbal, dan lain sebagainya yang sering digunakan dalam proses produksi suatu industri, baik sebagai bahan baku, katalisator atau bahan utama. Hal tersebut karena paradigma dan pola pembangunan yang selama ini terlampau berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tanpa adanya perhatian yang memadai terhadap karakteristik, fungsi, dan dinamika ekosistem wilayah pesisir yang menyusun daya dukung dan kapasitas ekosistem ini bagi kelangsungan pembangunan, maka dikawatirkan akan terjadi pencemaran lingkungan di wilayah pesisir. Menurut Dahuri (1998), banyak wilayah pesisir di dunia termasuk Indonesia telah mengalami tekanan ekologis yang semakin parah dan kompleks, baik berupa pencemaran, eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan dan pengikisan keanekaragaman hayati, degradasi fisik habitat pesisir, maupun konflik penggunaan ruang dan sumberdaya. Bahkan di beberapa daerah pesisir tingkat kerusakan ekologis tersebut telah mencapai atau melampaui daya dukung lingkungan dan kapasitas keberlanjutan (sustainable capacity) dari ekosistem wilayah pesisir untuk menopang kegiatan pembangunan dan kehidupan manusia di masa mendatang. Salah satu pencemaran lingkungan pesisir adalah masuknya logam berat di perairan.

79

Peningkatan kadar logam berat di dalam perairan akan diikuti oleh peningkatan kadar zat tersebut dalam organisme air seperti kerang, rumput laut dan biota laut lainnya. Akibatnya lingkungan menjadi salah satu sasaran pencemaran, terutama sekali lingkungan perairan yang sudah pasti terganggu oleh adanya limbah industri, baik industri pertanian maupun industri pertambangan. Sebagian besar dari limbah itu biasanya dibuang begitu saja tanpa pengolahan terlebih dahulu. Menurut Gaskin (2003), adanya kontaminan logam berat di tanah yang berasal dari lumpur (sludge) mendorong peningkatan akumulasi kandungan logam berkorelasi positif dengan dosis lumpur, sedangkan menurut Sukreeyapongse (2002), Peningkatan akumulasi logam Pb dan Cd di dalam lumpur (sludge) mengalami mobilisasi dan ditranslokasikan ke kawasan sekitarnya. Hal ini juga dapat menghambat perbaikan lingkungan yang rusak akibat pencemaran air limbah yang mengalir di lingkungan sekitarnya termasuk di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Karena hal yang paling ditakutkan adalah menurunnya kualitas badan air penerima, karena sebagian besar bahan baku industri logam bersifat karsinogenik. Meskipun beberapa industri telah memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) namun pengolahannya diduga belum maksimal. Memperhatikan permasalahan tersebut, maka perlu dikembangkan teknik pemanfaatan kembali (recovery) limbah tersebut untuk memperoleh kembali salah satu unsur logam yang ada didalamnya. Analisis pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon ditujukan untuk mengetahui hasil pengelolaan limbah, baik yang telah dilakukan melalui pengujian limbah terhadap lingkungan sekitar maupun di wilayah pesisir kawasan industri yang berkecenderungan terkena dampak pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas-aktivitas pabrik yang beroperasi di wilayah tersebut. 5.1.2 Tujuan dan Lingkup Bahasan Tujuan dari analisis pengelolaan limbah di wilayah pesisir ini, yaitu untuk: (1) Mengetahui hasil uji toksisitas limbah industri baja; (2) Mengetahui kualitas air laut di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon; dan (3) Mengetahui proses instalasi pengolahan air limbah baja. Sedangkan lingkup bahasan dari analisis pengelolaan limbah di wilayah pesisir ini yaitu: mengetahui toksisitas limbah industri baja berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan; mengetahui kondisi kualitas air laut di wilayah pesisir di empat

80

kecamatan Kota Cilegon yang termasuk wilayah pesisir; dan mengetahui proses IPAL yang dilakukan oleh pabrik baja tersebut. 5.2 Tinjauan Pustaka 5.2.1 Ekosistem Wilayah Pesisir Kawasan pesisir dikenal sebagai ekosistem perairan yang memiliki potensi sumberdaya yang sangat besar. Wilayah tersebut banyak dimanfaatkan dan memberikan sumbangan yang berarti, baik bagi peningkatan taraf hidup masyarakat maupun sebagai sebagai devisi negara yang sangat penting. Aktifitas perekonomian yang dilakukan di kawasan pesisir diantaranya kegiatan perikanan seperti perikanan tangkap dan perikanan budidaya, industri dan parawisata. Selain dimanfaatkan sebagai kegiatan perekonomian, wilayah pesisir juga sebagai digunakan sebagai tempat membuang limbah dari berbagai aktifitas manusia, baik di darat maupun di kawasan pesisir, sehingga wilayah pesisir juga kerap mendapat tekanan ekologis berupa pencemaran yang bersumber dari aktivitas manusia. Melimpahnya bahan pencemar di wilayah pesisir merupakan ancaman yang serius terhadap kelestarian perikanan laut. Menurut Dahuri (1996), akumulasi limbah yang terjadi di wilayah pesisir terutama diakibatkan oleh tingginya kepadatan populasi penduduk dan aktivitas industri. Hal tersebut disanyilir terjadi di perairan wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon yang berasal dari muara 11 sungai yang berada di Kota Cilegon . 5.2.2 Toksisitas Menurut Otobboni (1996) yang dikutip dari Sax (1957), toksisitas dapat diartikan sebagai kemampuan racun (molekul) untuk menimbulkan kerusakan apabila masuk ke dalam tubuh dan lokasi organ yang rentan terhadapnya. Semua pencemar baik yang berasal dari udara, air dan tanah sebagian besar akan tersalurkan dan masuk ke dalam pesisir/laut. Menurut Kunaefi (2000), dalam penelitian di Kepulauan Seribu menunjukkan bahwa konsentrasi beberapa logam berat sudah melampaui standar yang berlaku. Enam jenis ikan yang biasa dimakan turis, ternyata juga mengandung Cd, Cu, Pb, Zn, dan Hg dalam konsentrasi yang jauh lebih besar dari yang diperbolehkan. Hal ini dapat diperkirakan akibat dari proses biokonsentrasi. Faktor biokonsentrasi (BCF) yang diperkirakan untuk logam-logam tersebut sangat bervariasi, mulai dari yang terkecil 11,20 mol/l untuk Pb sampai 65.196,50 mol/l untuk Zn.

81

Menurut Sax (1957), Toksisitas dapat diartikan sebagai kemampuan racun (molekul) untuk menimbulkan kerusakan apabila masuk ke dalam tubuh dan lokasi organ yang rentan terhadapnya. Sedangkan menurut Sumirat (2003), di dalam pengujian toksisitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan racun dari limbah yang dapat menimbulkan kerusakan pada produk yang dibuat. Di dalam tujuan taksikologi lingkungan diharapkan mampu menguraikaan perlunya mencari substansi yang aman, mencegah terjadinya efek yang tidak dikehendaki dari racun terhadap organisme dan kualitas lingkungan, dapat membuat kriteria dasar untuk standarisasi lingkungan, dan dapat memperbaiki cara pengobatan karena mengetahui mekanisme terjadinya efek, dan keracunan. Adapun upaya yang dilakukan untuk antisipasi pencegahan terjadinya keracunan (toksisitas) logam yang lebih luas, perlu dilakukan pengamatan kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan yang menurun baik udara, air maupun yang selalu digunakan penduduk di wilayah pesisir setiap saat perlu diteliti. Bilamana suatu kawasan lingkungan yang mulai dipergunakan sebagai kawasan industri, maka perlu dipikirkan relokasi pemindahan penduduk ke daerah lain yang bersih. Adapun yang dimaksud dengan toksisitas dalam penelitian ini adalah tujuan toksisitas lingkungannya, menurut Soemirat (2003) dengan toksisitas lingkungan diharapkan mampu: (1) menguraikan perlunya mencari substansi yang aman, yang berarti harus mengetahui mekanisme bagaimana racun (toksik) menyerang organisme, sehingga timbul efek yang tidak dikehendaki atau terjadi struktur yang tidak normal; (2) Mencegah efek yang tidak dikehendaki dari racun terhadap organisme dan kualitas lingkungan; (3) dapat membuat kriteria dasar untuk standarisasi kualitas lingkungan, yakni menentukan konsentrasi yang dapat diterima masyarakat; (4) dapat memperbaiki cara pengobatan karena mengetahui mekanisme terjadinya efek dan keracunan. 5.2.3 Proses Instalasi Pengelolaan Air Limbah Saat ini beberapa industri hanya sebagian saja yang mempunyai instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang baik, sedangkan yang lainnya bisa dikatakan membuang limbahnya sembarangan, sehingga pada akhirnya akan menimbukan berbagai macam dampak. Salah satu dampak tersebut adalah merosotnya kualitas lingkungan akibat limbah yang dihasilkan dari kegiatan industri tersebut. Usaha yang dilakukan oleh pihak perusahaan untuk menghindari hal tersebut diantaranya adalah

82

dengan cara mengolah limbah terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air, sehingga pencemaran lingkungan dapat dihindari. Untuk mempertahankan efektivitas pengolahan air limbah baja, secara berkala lumpur diangkat dari dasar kolam di instalasi pengolahan air limbah oleh industri dan selanjutnya ditimbun di area penampungan limbah. Dalam hal limbah baja, penggunaan lumpur baja sebagai bahan campuran (substitusi) untuk produksi baja atau produk jenis lain yang telah banyak dilakukan di berbagai negara maju dengan pertimbangan bahwa limbah baja mengandung bahan perekat dan sejumlah elemen yang mendukung penggunaan limbah ini. Namun logam berat di dalam lumpur limbah dapat juga mengancam rantai makanan di tanah. Menurut Damanhuri (1997), konsep dasar atau teknologi terapan pengelolaan limbah baja terutama dikaitkan dengan upaya daur ulang mempunyai nilai tambah (added value) yang sangat menjanjikan, misal negara Jepang sudah membuat keramik dengan bahan substitusi (campuran) dari bahan limbah baja dengan nilai ekonomis yang sangat besar. Di sisi lain penggunaan lumpur limbah sebagai bahan campuran pada produksi baja maupun jenis produk lain merupakan cara yang praktis untuk memanfaatkan limbah, dan dianggap menguntungkan. Namun lumpur mengandung logam berat, sehingga penggunaan dalam jumlah berlebih dan jangka panjang dapat berpengaruh buruk terhadap kualitas tanah dan air/pesisir dan mengkontaminasi. Logam berat seperti baja ini yang masuk ke perairan laut/pesisir secara fisiologis tidak diperlukan bagi kehidupan makhluk hidup laut. Oleh karena itu, limbah yang dihasilkan dari proses produksi perlu mendapatkan prioritas penanganan melalui proses instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) yang distandarisasi, agar limbah baja yang mengalir ke pesisir dipastikan dosisnya memiliki nilai ambang batas yang memenuhi kualitas air laut yang disyarakatkan. Karena setiap makhluk hidup di perairan seperti ikan memiliki perbedaan sensitivitas terhadap logam berat dan memperlihatkan kemampuan yang berbeda dalam mengakumulasi logam berat. 5.3 Metode Analisis Pengelolaan Limbah di Wilayah Pesisir Metode analisis pengelolaan limbah baja ini meliputi: 1. Uji toksisitas, bertujuan untuk mengevaluasi jumlah komponen limbah yang terlepas kembali dari masing-masing sampel limbah yang telah disolidifikasi akibat pengaruh air yang bersifat asam. Uji ini berlaku untuk limbah baja berkategori B3 yang akan mengalami landfilling yang berlaku di Indonesia sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.19/1994 dan Peraturan Pemerintah No. 12/1995.

83

Pengujian dilakukan dengan cara

toxicity characteristic leaching prosedure

(TCLP). Setelah dianalisis, bila kandungan logam logam berat dari hasil leachate (lindi) tersebut lebih rendah dari baku mutu TCLP yang dikeluarkan oleh pemerintah, maka limbah padat tersebut dikatakan tidak berbahaya/beracun sehingga dapat di timbun setelah dilakukan proses stabilisasi dan solidifikasi terlebih dahulu. Adapun cara pengujian pelindian (leachate) limbah beracun ini adalah: a). Sampel padat imbah B3 tanpa fasa cair, diayak terlebih dahulu dengan partikel yang lolos dari ayakan 0,9 cm, b). Ke dalam masing-masing botol pengekstrak yang berkapasitas lebih dari 1000 mL, masukkan contoh limbah padat B3 masing-masing sebanyak 50 gram. Selanjutnya tambahkan larutan asam asetat (pH 5) sebanyak 1000 mL. Perbandingan berat limbah padat B3 dengan larutan asam asetat yaitu 1 : 20 2. Pengujian kualitas air ini, bertujuan untuk mengetahui tingkat atau daya racun logam berat berdasarkan sifat fisika, kimia, dan biologi dari limbah baja yang mengalir ke wilayah pesisir sesuai dengan Surat Keputusan Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup tahun 1991 tentang Golongan Baku Mutu Air Limbah. Untuk mengetahui jenis polutan yang terdapat dalam air limbah, dapat ditentukan unit proses yang diperlukan. 3. Menganalisis proses instalasi pengolahan air limbah (IPAL) oleh pabrik baja PT. Krakatau Steel dikenal dengan nama reject treatment plant (RTP) atau waste water treat plant (WWTP), tujuannya adalah sebagai upaya optimalisasi konsumsi dan minimalisasi kontaminasi dalam buangan limbah cair pada proses produksi baja melalui proses regenerasi atau recovery. Untuk memisahkan kontaminasinya dari air, dilakukan melalui proses asam dan proses basa. Oleh karena itu, dalam analisis pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir difokuskan pada hasil uji toksisitas, kualitas air laut, dan proses instalasi air limbah seperti yang disajikan pada Gambar 14.
LIMBAH BAJA

HASIL UJI TOKSISITAS

KUALITAS AIR LAUT

PROSES IPAL

ANALISIS PENGELOLAAN LIMBAH BAJA DI WILAYAH PESISIR

Gambar 14. Pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir

84

5.4 Hasil dan Pembahasan 5.4.1 Penataan Ruang di Wilayah Pesisir Pertumbuhan dan perkembangan penduduk yang cukup pesat menyebabkan peningkatan kebutuhan manusia akan pengelolaan sumberdaya. Pemenuhan kebutuhan penduduk akan menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Pada pengelolaan limbah bajapun memerlukan pengendalian dan pengelolaan yang harus dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Sehingga diharapkan limbah baja dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia secara lestari dan berkelanjutan. Adanya tekanan penduduk terhadap kebutuhan lahan pesisir dan laut, baik untuk kegiatan pertanian/perikanan, rekreasi, maupun kegiatan lain akan menyebabkan perubahan penggunaan sumberdaya pesisir. Perubahan penggunaan sumberdaya pesisir yang paling besar pengaruhnya terhadap kelestarian pesisir adalah perubahan dari kawasan pesisir ke penggunaan sumberdaya lainnya seperti perhotelan, perumahan, industri dan perumahan diperlukan tata ruang di wilayah pesisir. Struktur tata ruang wilayah meliputi sistem jaringan dan pusat-pusat kegiatan yang membentuk ruang fisik wilayah harus mendukung dan kondusif bagi pengembangan sektor unggulan, khususnya dalam kegiatan pemanfaatan tata ruang di wilayah pesisir yang menggunakan faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, kapital, teknologi, dan sebagainya. Untuk membuat kawasan industri kelautan dan perikanan perlu didukung oleh regulasi yang mengatur pembuatan kawasan industri (cluster industry) baik yang bersumber dari departemen teknis yaitu Departemen Kelautan dan Perikanan yang mengatur tata ruang pembangunan kawasan industri perikanan sehingga unsur untuk menjaga stabilitas lingkungan pesisir tetap terjaga maupun instansi lain yang berkaitan dengan pengaturan rencana tata ruang kabupaten/kota. Oleh karena itu, dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut bersifat unik dan sangat berbeda dengan pengelolaan sumberdaya terestrial (darat) atau sumber daya akuatik (perairan). 5.4.2 Uji Terhadap Pengaruh Lingkungan Berdasarkan hasil wawancara dan survei, maka penelitian pengaruh limbah terhadap lingkungan, adalah sebagai berikut:

85

A. Hasil Uji Toksisitas Limbah Berdasarkan hasil survei di lapangan, karakteristik limbah padat industri diperlukan sistem pengelolaan limbah secara tepat dalam upaya mengurangi pencemaran terhadap lingkungan dengan terlebih dahulu mengetahui hasil pengujian berupa hasil uji toksisitas terhadap limbah. Karakteristik fisik limbah menunjukkan bahwa semua limbah, kecuali CRM mempunyai specific gravity yang lebih besar daripada aggregate halus. Berat volume FC, HSM, DR, dan WRM lebih besar dibandingkan aggregate halus. Untuk modulus kehalusan, limbah FC dan CRM lebih besar dibandingkan aggregate halus. Sedangkan specific surface area limbah WRM dan DR lebih tinggi dibandingkan aggregate halus. Secara fisik diantara semua limbah, limbah CRM mempunyai bentuk yang paling sulit ditangani, hal ini antara lain disebabkan oleh kandungan air dan volatil yang tinggi dan limbah tersebut ada dalam bentuk slurry. Sedangkan untuk karakretistik kimia menunjukkan bahwa semua limbah mempunyai pH diatas 7 sehingga dapat dikatakan bersifat basa. Uji toksisitas limbah baja disebut sebagai uji pelindian atau toxicity charcteristic leaching prosedure (TCLP). Tujuan pengujian ini adalah untuk mengevaluasi jumlah komponen limbah yang terlepas kembali dari limbah baja yang telah disolidifikasi akibat pengaruh air yang bersifat asam. Uji ini berlaku untuk limbah berkategori B3 yang mengalami landfilling yang berlaku di Indonesia sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.19/1994 dan Peraturan Pemerintah No. 12/1995. Uji pelindian dilakukan dengan cara TCLP. Fitratnya kemudian dianalisis terhadap logam Cr, Cd, Cu, Ni, Pb, dan Zn. Limbah untuk uji TCLP diambil dari limbah yang dihasilkan. Untuk melakukan identifikasi limbah sebagai limbah B3, diperlukan uji karakteristik dan uji toksikologi atas limbah tersebut. Pengujian ini meliputi karateristik limbah atas sifat-sifat: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, bersifat korosif, dan dapat menyebabkan infeksi. Sedangkan uji toksikologi digunakan untuk mengetahui nilai akut dan atau kronik limbah. Hasil uji toksisitas digunakan untuk menilai efek akut, subakut, dan kronis. Uji ini perlu didasarkan atas waktu, karena semua zat baru akan memasuki atau dipakai di industri harus diuji terlebih dahulu toksisitasnya. Untuk melihat efek jangka panjang, maka uji toksisitas setiap zat harus dikaji pula efek kronisnya, Karena itu, menurut Sumirat (2003), di dalam toksisitas logam seperti limbah baja dapat bersifat kronis dan akut, sangat tergantung pada berbagai faktor:

86

1. Toksisitas akut tergantung pada: (a) dosis tinggi sekaligus dalam waktu yang pendek, maka efek bisa akut dan parah. (b) waktu pemaparan pendek tetapi pasif. (c) organ absorpsi memungkinkan masuk ke peredaran darah dengan cepat. 2. Toksisitas kronis tergantung pada: (a) dosis tidak tinggi, tetapi paparan yang menahun. (b) gejala tidak mendadak ataupun sangat gradual/kronis. (c) organ dapat seluruh terkena. Uji TCLP tersebut dilakukan untuk mengetahui kemungkinan pelindian logam berat dalam air hujan secara maksimum. Uji ini dilakukan terhadap limbah baja yang dihasilkan dari proses produksi baja. Hasil uji TCLP limbah baja selengkapnya disajikan pada Tabel 15. Tabel 15. Hasil toxicity characteristic leaching prosedure (TCLP) limbah baja. Jenis Limbah
DR WRM HSM CRM FC EAF

Cd
* * * * 3,8

Cr
* 4,5 7,2 6,2 19,2

Parameter(mg/l) Cu
* * 18,0 13,0 7,8

Pb
11,0 * 6,2 4,5 21,0

Zn
* * * * 60,5

Keterangan: (*) tidak dilakukan analisa karena total lebih kecil dari standar TCLP.

Dalam kaitannya dengan baku mutu yang ditetapkan, maka uji TCLP tersebut di atas merupakan pendekatan dalam upaya pengendalian terhadap pembuangan limbah berbahaya. Adapun sasaran uji TCLP ini adalah membatasi adanya lindi (leaching) berbahaya yang dihasilkan dari penimbunan (landfilling) setelah limbah di stabilisasi/solidifikasi. Untuk melakukan uji perlindian (TCLP) terhadap limbah beracun memerlukan alat rotary agitator yaitu suatu alat yang berputar secara rotasi end-over-end dengan kecepatan putaran 30 + 2 rpm selama 18 + 2 jam. Berdasarkan analisa TCLP di atas dapat disimpulkan bahwa limbah tersebut masuk pada kriteria limbah B3, karena beberapa komponen melebihi baku mutu seperti diatur dalam standar TCLP No. 04/09/1995 dan baku mutu TCLP Peraturan Pemerintah RI. No. 85 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), yaitu: direct reduction (DR, untuk Pb), hot strip mill (HSM, untuk Cr, Cu, dan Pb), furnace centre (FC, untuk Cr dan Cu) dan electric arc furnace (EAF, untuk semua komponen kecuali Cu). Limbah baja wire rode mill (WRM) dan cold

Tabel 16. Data kualitas air laut di wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon
No. PARAMETER A. FISIKA 1 2 3 4 5 6 Bau Kecerahan Zat padat tersuspensi Suhu Lapisan Minyak Sampah B. KIMIA pH Salinitas Amonia Total (NH3-N) Sulfida (H2S) Fenol Surfactan Anion Minyak dan Lemak Air Raksa (Hg) Kadmium (Cd) Tembaga (Cu) Timbal (Pb) Seng (Zn) C. MIKROBIOLOGI kolifrom Total Meter Mg/l o C Tdk berbau >3 80 Alami Nihil Nihil Tdk berbau 3,25 5 31,2 Negatif Negatif Tdk berbau 3,0 3 29,6 Negatif Negatif Tdk berbau 3,0 1 30,0 Negatif Negatif Tdk berbau 3,0 5 30,8 Negatif Negatif Tdk berbau 3,5 5 30,0 Negatif Negatif Tdk berbau 3,0 1 29,7 Negatif Negatif Tdk berbau 3,0 12 30,0 Negatif Negatif Tdk berbau 3,0 4 29,7 Negatif Negatif Tdk berbau 3,0 5 30,1 Negatif Negatif Tdk berbau 3,0 12 30,0 Negatif Negatif Tdk berbau 3,0 7 31,9 Negatif Negatif Tdk berbau 3,0 2 30,0 Negatif Negatif

SATUAN

BAKU MUTU

2005

CIWANDAN 2006 2007

HASIL UJI LABOTARIUM TIAP KECAMATAN CITANGKIL PULOMERAK 2005 2006 2007 2005 2006 2007

2005

GROGOL 2006 2007

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

/oo mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l mg/l
o

6,5 - 8,5 Alami 0,3 0,03 0,002 1,0 5,0 0,003 0,01 0,05 0,05 0,1

7,85 33,7 0,02 < 0,002 < 0,001 0,25 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,332

8,09 33,7 < 0,01 < 0,002 < 0,001 < 0,01 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,0284

7,70 32,4 < 0,01 < 0,002 < 0,001 < 0, 01 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,0208

7,89 33,3 0,02 < 0,002 < 0,001 0,23 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,0290

8,10 32,4 < 0,01 < 0,002 < 0,001 < 0,01 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,0284

7,80 32,32 < 0,01 < 0,002 < 0,001 < 0, 01 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,0211

8,4 33,2 0,05 < 0,002 < 0,001 0,21 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,332

7,87 32,0 < 0,01 < 0,002 < 0,001 < 0,01 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,0287

7,40 32,4 < 0,01 < 0,002 < 0,001 < 0, 01 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,0201

8,5 33,3 0,01 < 0,002 < 0,001 0,23 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,333

7,93 32,4 < 0,01 < 0,002 < 0,001 < 0,01 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,0265

7,70 32,2 < 0,01 < 0,002 < 0,001 < 0, 01 < 0,2 < 0,0005 < 0,0005 < 0,0005 < 0,005 0,0212

1

MPN/100 ml

1.000

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

0

Sumber: Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi, Kota Cilegon tahun 2007

87

rolling mill (CRM) tidak terkena kriteria tersebut. Setelah dicampur sebagai material lainnya, ternyata nilai TCLPnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. B. Kualitas Air Laut di Wilayar Pesisir Menurut Darmono (2006), logam berat adalah unsur-unsur kimia dengan bobot jenis lebih besar dari 5 gr/cm3, terletak di sudut kanan bawah sistem periodik, mempunyai afinitas yang tinggi terhadap unsur S dan biasanya bernomor atom 22 sampai 92 dari perioda 4 sampai 7. Sebagian logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), dan merkuri (Hg) merupakan zat pencemar yang berbahaya. Afinitas yang tinggi terhadap unsur S menyebabkan logam ini menyerang ikatan belerang dalam enzim, sehingga enzim bersangkutan menjadi tak aktif. Gugus karboksilat (-COOH) dan amina (-NH2) juga bereaksi dengan logam berat. Kadmium, timbal, dan tembaga terikat pada sel-sel membran yang menghambat proses transformasi melalui dinding sel. Logam berat juga mengendapkan senyawa fosfat biologis atau mengkatalis penguraiannya. Pada penelitian ini dilihat seberapa besar pengaruh limbah baja yang mengalir ke wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon terhadap kualitas air laut. Adapun pengaruh dari limbah baja ini ditunjukkan oleh kualitas air seperti yang disajikan pada Tabel 16. Analisis kualitas air dilihat pada penelitian ini terutama kandungan logam beratnya, karena adanya logam berat di perairan, berbahaya, baik secara langsung terhadap kehidupan organisme maupun efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Hal ini berkaitan dengan sifat-sifat logam berat, yaitu: 1. Sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan keberadaannya secara alami sulit dihilangkan. 2. Dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang dan ikan, dan akan membahayakan kesehatan manusia yang mengkomsumsi organisme tersebut. 3. Mudah terakumulasi di sedimen, sehingga konsentrasinya selalu lebih tinggi dari konsentrasi logam dalam air. Disamping itu sedimen mudah tersuspensi karena pergerakan masa air yang akan melarutkan kembali logam yang dikandungnya ke dalam air, sehingga sedimen menjadi sumber pencemar potensial dalam skala waktu tertentu. Kadmium (Cd) dalam air berasal dari pembuangan industri dan limbah pertambangan. Logam ini sering digunakan sebagai pigmen pada keramik, dalam penyepuhan listrik, pada pembuatan alloy, dan baterai alkali. Keracunan kadmium

89

dapat bersifat akut dan kronis. Efek keracunan yang dapat ditimbulkannya berupa penyakit paru-paru, hati, tekanan darah tinggi, gangguan pada sistem ginjal dan kelenjer pencernaan serta mengakibatkan kerapuhan pada tulang. Seperti diketahui bahwa limbah baja termasuk limbah logam berat, yang didalamnya terkandung unsur-unsur bahan kimia. Tembaga merupakan logam yang ditemukan dialam dalam bentuk senyawa dengan sulfida (CuS). Tembaga sering digunakan pada pabrik-pabrik yang memproduksi peralatan listrik, gelas, dan alloy. Tembaga masuk keperairan merupakan faktor alamiah seperti terjadinya pengikisan dari batuan mineral sehingga terdapat debu, partikel-partikel tembaga yang terdapat dalam lapisan udara akan terbawa oleh hujan. Tembaga juga berasal dari buangan bahan yang mengandung tembaga seperti dari industri galangan kapal, industri pengolahan kayu, dan limbah domestik. Pada konsentrasi 2,3 – 2,5 mg/l dapat mematikan ikan dan akan menimbulkan efek keracunan, yaitu kerusakan pada selaput lendir . Tembaga dalam tubuh berfungsi sebagai sintesa hemoglobin dan tidak mudah dieksresikan dalam urine karena sebagian terikat dengan protein, sebagian dieksresikan melalui empedu ke dalam usus dan dibuang kefeses, sebagian lagi menumpuk dalam hati dan ginjal, sehingga menyebabkan penyakit anemia dan tuberkulosis. Logam timbal (Pb) berasal dari buangan industri metalurgi, yang bersifat racun dalam bentuk Pb-arsenat. Dapat juga berasal dari proses korosi lead bearing alloys. Kadang-kadang terdapat dalam bentuk kompleks dengan zat organik. Namun pada penelitian ini terlihat bahwa konsentrasi timbal (Pb) pada air laut masih di bawah baku mutunya. Kadmium (Cd) lebih beracun bila terisap melalui saluran pernapasan daripada melalui saluran pencernaan. Kasus keracunan akut kadmium sebagian besar dari mengisap debu dan asap kadmium, terutama kadmium oksida (CdO). Dalam beberapa jam setelah mengisap, korban akan mengeluh pada gangguan pencernaan, muntah, kepala pusing, dan sakit pinggang. Kadmium merupakan logam toksik yang diketahui berinteraksi dengan seng (Zn), sehingga hadirnya Cd dapat mengganggu sifat esensial dari Zn. Dalam penelitian ini terlihat bahwa konsentrasi kadmium (Cd) dan seng (Zn) pada kualitas air laut di Kawasan Industri Krakatau Cilegon tergolong masih di bawah baku mutunya. Pada ion merkuri (Hg) menyebabkan pengaruh toksik karena terjadinya proses presipitasi protein, menghambat aktivitas enzim dan bertindak sebagai bahan yang korosif. Pengaruh toksisitas merkuri pada manusia bergantung pada bentuk komposisi

90

merkuri, rute masuknya ke dalam tubuh dan lamanya ekspose. Sedangkan tembaga (Cu) merupakan logam berat esensial, kecenderungan untuk menimbulkan keracunan pada hewan. Keracunan terjadi apabila garam Cu langsung kontak dengan dinding usus hewan sehingga menimbulkan radang, hewan menjadi shock dan akhirnya mati. Namun pada penelitian ini terlihat bahwa konsentrasi merkuri (Hg) dan tembaga (Cu) pada air laut masih di bawah baku mutunya. Walaupun kandungan logam berat di dalam air tidak terdeteksi, namun kandungan logam berat di dalam sedimen cukup tinggi, begitupun kandungan logam berat pada biota air terutama biota air yang bersifat menetap seperti kerang-kerangan. Rendahnya kandungan berat pada air disebabkan pada air disebabkan oleh tingginya flushing yang terjadi di wilayah pesisir dan sifat logam berat tersebut mempunyai densitas lebih dari 5, sehingga logam berat akan cenderung mengendap ke dasar perairan (Riani, dkk., 2004). Hal ini sesuai pendapat Law (1981) yang menyatakan bahwa terjadinya peningkatan sumber logam berat, namun konsentrasi dalam air dapat berubah setiap saat, karena adanya berbagai macam proses yang dialami oleh senyawa tersebut selama dalam kolom air. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dipahami jika kandungan logam berat pada air laut semuanya tidak terdeteksi. Sedangkan logam berat pada sedimen disajikan pada Tabel 17. Tabel 17. Logam berat pada sedimen No. 1 2 3 4 Logam berat pada sedimen Timbal (Pb) Kadmium (Cd) Crom (Cr Merkuri (Hg) Konsentrasi (mg/l) 11,05 10,2 0,7 8,3

Berdasarkan Tabel 17 di atas, kandungan logam berat pada sedimen memperlihatkan konsentrasi yang cukup tinggi, bila dibandingkan dengan ketentuan dari yang dikeluarkan oleh swedian environmental protection agence (SEPA) terutama pada kandungan logam berat kadmium (Cd) mencapai 0,02 mg/l dan merkuri (Hg) < 0,05 mg/l. Dari analisis hasil laboratorium memperlihatkan bahwa konsentrasi timbal (Pb) pada sedimen mencapai 11,05 mg/l. Kadmium (Cd) pada sedimen mencapai 10,2 mg/l, Crom (Cr) pada sedimen mencapai 0,7 mg/l dan merkuri (Hg) pada sedimen mencapai 8,3 mg/l. Kondisi ini memperlihatkan bahwa sumbangan dari limbah industri di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon cukup tinggi. Dan logam berat yang terdapat pada limbah industri terdapat di

91

Kawasan Industri tersebut akan mengendap dan terakumulasi di dasar perairan pesisir. Hal ini sesuai dengan pendapat environmental protection agence (APE) tahun 1973 yang menyatakan bahwa zat pencemar seperti logam berat akan masuk ke dalam ekosisitem laut dan melalui proses fisika kimia akan mengakibatkan logam berat mengendap di dasar air. Demikian juga pada kandungan logam berat pada organ tubuh kerang-kerangan seperti disajikan pada Tabel 18. Tabel 18. Kandungan logam berat pada organ tubuh kerang-kerangan No. 1 2 3 4 Jenis logam berat Timbal (Pb) Kadmium (Cd) Crom (Cr) Merkuri (Hg) Konsentrasi pada Insang (mg/l) 87 69 13,3 69 Konsentrasi pada Hati (mg/l) 97 171 75,64 121,52

Berdasarkan Tabel 18 di atas, berbeda dengan kandungan logam berat pada air dan sedimen, kandungan logam berat pada kerang-kerangan yang siap dikonsumsi, kandungan beratnya sangat tinggi. Dalam hal ini konsentrasi Pb pada insang mencapai 87 mg/l, sedangkan pada hati(hepatopankreas) mencapai 97 mg/l. Konsentrasi Cd pada insang mencapai 69 mg/l, sedangkan pada hati (hepatopankreas) mencapai 171 mg/l. Konsentarasi Cr pada insang mencapai 13,3 mg/l, sedangkan pada hati (hepatopankreas) mencapai 75,64 mg/l. Konsentrasi Hg pada insang mencapai 69 mg/l, sedangkan pada hati (hepatopankreas) mencapai 121,52 mg/l. Konsentarasi tersebut terjadi karena adanya akumulasi logam berat pada biota air (Lu, 1995). Hal ini sesuai dengan pernyataan EPA 1973 yang menyatakan bahwa logam berat yang masuk ke lingkungan laut akan dipekatkan melalui proses biologis, karena logam berat tersebut diserap oleh biota air terutama yang bersifat menetap seperti kerang-kerangan dan selanjutnya mengalami pemekatan di dalam kerang-kerangan tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Horiguchi, et al. (2006) yang menyatakan bahwa logam berat yang terdapat pada ekosistem perairan juga akan mengalami proses pemekatan dengan melalui proses makan memakan (biomagnifikasi). Untuk melihat pengaruh logam berat terhadap air, sedimen, dan biota air seperti kerang pada insang dan hati (hepatopankreas) disajikan pada histogram Gambar 15.

92

Gambar 15. Logam berat pada air, sedimen, insang dan hepatopankreas Sedangkan pengaruh sedimen, insan, hati (hepatopankreas), dan air pada logam berat disajikan pada histogram Gambar 16.

Sedimen 0,7 – 11,05 mg/l

Insang 13,3 – 87 mg/l

Hepatopankreas 75,64 – 171mg/l

Air tidak terdeteksi

Gambar 16. Konsentrasi sedimen, insang, hepatopankreas, dan air pada logam berat Masalah pencemaran lingkungan di pesisir merupakan masalah besar sebagai salah satu dampak negatif dari kemajuan di bidang industri. Limbah industri jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan dampak bagi lingkungan terhadap

93

manusia maupun organisme-organisme yang dihidup disekitarnya. Bahan pencemaran logam berat biasanya berasal dari kegiatan industri selain bersifat racun bagi organisme perairan, logam berat dapat terakumulasi dalam tubuh ikan maupun hasil laut lainnya. Hal ini berakibat akan membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsi hasil-hasil laut tersebut. Namun rendahnya logam berat Cu, Pb, Hg, Cd, dan Zn dalam perairan tidak berarti bahwa pasti aman, karena logam berat pada makhluk hidup bersifat akumulatif yang pada akhirnya dapat membahayakan makhluk hidup yang terdapat didalamnya. Bahan buangan yang sering menimbulkan pencemaran laut atau pantai ditemui di negara-negara yang sedang berkembang. Diketahui ada beberapa jenis logam berat yang dipertimbangkan sebagai pencemar, namun ada beberapa logam berat tersebut yang esensial untuk kehidupan organisme, misalnya Mn, Fe, dan Cu tetapi dalam penggunaan jumlah berlebih sangat beracun bagi kehidupan organisme. Sumber limbah yang banyak mengandung logam berat biasanya berasal dari aktivitas industri, pertambangan, pertanian dan pemukinan penduduk. Kandungan logam berat dalam perairan/pesisir dipengaruhi oleh parameter fisika dan kimia yaitu arus, suhu, salinitas, pedatan tersuspensi dan derajat keasaman (pH), namun kandungannya pada pesisir sekitar Kawasan Industri Krakatau Cilegon masih dalam batas belum membahayakan. Pencemaran logam berat terhadap alam lingkungan estuaria merupakan suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan logam tersebut oleh manusia. Menurut Darmono (2006), pada air laut di lautan lepas kontaminasi logam berat biasanya terjadi secara langsung dari atmosfir atau tumpahan minyak dari kapal-kapal tangker yang melaluinya, sedangkan di wilayah sekitar pantai kontaminasi logam kebanyakan berasal dari mulut sungai yang terkontaminasi oleh limbah buangan industri. Berdasarkan analisis kualitas air terhadap parameter bau, kecerahan, zat padat tersuspensi, suhu, lapisan minyak, sampah, pH, salinitas, amoniak sulfida, fenol, surfactan anion, minyak dan lemak, serta Hg, Cu, Cd, Pb, dan Zn memperlihatkan bahwa semua parameter ada di bawah ambang batas (Tabel 18). Hal ini mengandung arti bahwa wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon masih ada dalam kondisi baik.

94

5.4.3 Proses Instalasi Pengelohan Air Limbah Baja Proses instalasi pengolahan air limbah (IPAL) pada perusahan baja PT. Krakatau Steel dikenal dengan nama reject treatment plant (RTP) atau waste water treat plant (WWTP). Proses IPAL /RTP/WWTP limbah baja ini melalui fluida-fluida proses setelah digunakan pada proses cold rolling mill (CRM) sebelum dibuang sebagai limbah, dilakukan proses regenerasi atau recovery sebagai upaya optimalisasi konsumsi dan minimalisasi kontaminasi dalam buangan limbah cair. Limbah cair ini pada dasarnya dikelompokkan menjadi dua bagian menurut sifat keasamannya, yaitu: 1. Acid Effluent (AE) adalah limbah cair asam yang berasal dari bocoran-bocoran mekanikal seal diproses acid regenerasi plant (ARP) dan sisa-sisa FeCl2 < 10 gr/lt, HCl < 5 gr/lt dalam air demin (eks kondensat dan rinsing), dengan jumlah buangan rata-rata 8 m3/jam. 2. Waste Industrial Effluent (WIE) adalah limbah basa yang berasal dari sisa-sisa air pencucian strip di ECL 1-2, CAL, air eks coolant atau tumpahan rolling oil di CTCM dan TPM, tumpahan/bocoran pelumas-pelumas mesin maupun kotorankotoran dari cleaning mill. Jumlah rata-rata buangan adalah 60 m3/jam, dengan kontaminasinya adalah minyak berkisar 0,12%, NaOH < 0,66% dan partikelpartikel pengotor lainnya (pasir, tanah, dan sebagainya). Limbah cair tersebut dipompakan dari mill ke IPAL/RTP ke dalam masingmasing tangki penampungannya, yaitu asam ke AE Storage Tank dengan kapasitas penampung 200 m3 dan Presettler Tank dengan kapasitas 1.500 m3 untuk limbah basa. Dari kedua penampung ini selanjutnya diolah dalam tangki-tangki pengolahan yang tersedia guna memisahkan kontaminasinya dari air, yaitu melalui proses asam dan proses basa. A. Proses Asam Pada acid effluent (AE) storage tersedia dua buah pompa asam dengan kapasitas masing-masing sebesar 12 m3/jam (1 untuk standby). Limbah AE dipompokan ke tangki pencampuran slurry untuk dinaikkan pHnya, dari pH 8 – 10. Pada tangki ini dilengkapi dengan sebuah agitator dan sistem pH controller. Setelah pH sudah sesuai, fluida terolah akan mengalir secara gravitasi menuju ke tangki oksida yang berkapasitas 450 m3. Oksidasi dilakukan dengan menggunakan Aerator dan Blowing Fan yang berkapasitas 2.500 m3 udara/jam (1 unit operasi dan 1 unit standby). Pada oksidasi ini terjadi perubahan Fe2+ menjadi Fe3+, yang merupakan inti

95

koagulant. Oleh karenanya fluida hasil olahan ini akan dimanfaatkan lebih lanjut untuk koagulasi diproses basa (WIE). Berdasarkan proses asam ini, manfaat yang diperoleh adalah dapat melakukan optimalisasi konsumsi dan minimalisasi kontaminasi dalam buangan limbah cair. B. Proses Basa Seperti halnya dalam proses asam, proses basa juga bertujuan untuk melakukan upaya optimalisasi konsumsi dan minimalisasi kontaminasi dalam buangan limbah cair. Adapun proses basa yang dilakukan adalah limbah basa ditampung pada tangki presettler, akan mengalami pemisahan fisik sepanjang perjalanan (selama waktu tinggal 24 jam). Kontaminan minyak akan mengapung dipermukaan, partikel tak terlarut/kotoran akan mengendap di dasar dan di posisi tengah adalah air yang terkontaminasi emulsion oil dan sistem koloid atau terlarut lainnya. Bagian permukaan sebagai lumpur minyak akan dikumpulkan untuk dipompakan keluar tangki pada truk. Sementara pada bagian dasarnya adalah kumpulan partikel-partikel terendapkan yang secara kondisional dipompakan ke sludge tank. Untuk bagian cairannya, akan mengalir pada water separator berada di ujung tangki presettler, yaitu suatu desain system trapping yang dapat menghidari lumpur minyak ataupun partikel padatan yang masih terikut. Pada water separator tersedia 3 buah pompa dengan kapasitas masing-masing 80 m3/jam, 100 m3/jam dan 120 m3/jam, Pengolahan dilakukan secara semi kontinyu tergantung dari pada level permukaan tangki yang dialirkan ke tangki koagulasi, yaitu berfungsi untuk memecah emulsi minyak dan menstabilkan larutan koloid dengan menambahkan fluida hasil olahan oksidasi atau dari chemical koagulasi. Target hasil pada proses ini adalah ditandai dengan timbulnya bintik-bintik partikel yang berada dalam cairan bening. Selanjutnya, fluida terolah mengalir secara gravitasi ke tangki flokulasi yang bertujuan untuk memperbesar atau mengumpulkan bintik-bintik partikel padatan menjadi lebih besar sehingga cairan beningnya menjadi nyata. Kumpulan-kumpulan padatan ini dialirkan ke tangki pemisahan padatan. Untuk mempecepat pemisahannya dialirkan air jernih yang diinjeksikan udara pada kedalaman tertentu. Padatan yang terangkat maupun yang mengendap diangkat menggunakan scrapper untuk dimasukkan ke sludge pit, sludge tank untuk selanjutnya diumpankan ke filter press. Hasil dari filtrasi ini dari 5% menjadi 70% solid content (cake), sementara air beningnya di tampung pada tangki clear water, sebagian akan mengalir ke tangki netralisasi. Netralisasi dilakukan dengan menambah H2SO4 yang terkontrol melalui

96

pH controller, yang di set pada pH 6,5 sampai dengan pH 8,5. Air setelah dinetralkan akan dialirkan secara gravitasi ke bak Lamelia Settler. Bak ini memiliki sarana perangkap lumpur sehingga air terakhir dari hasil pengolahan di IPAL/RTP diharapkan sudah tidak terikut lagi kontamin-kontaminan atau minimal memenuhi nilai ambang batas (NAB) air buangan yang berlaku. Di dalam penanganan kualitas air limbah diperlukan pemahaman mengenai karakteristik sifat-sifat air limbah. Pemahaman ini akan memberikan gambaran mengenai akibat-akibat dari perlakuan industri terhadap air limbah tersebut. Gambar di bawah ini merupakan diagram alir proses RTP/IPAL pada pabrik baja PT. Krakatau Steel yang selengkapnya disajikan pada Gambar 17. Berdasarkan Gambar 17 tersebut memperlihatkan aliran proses RTP/IPAL di PT. Krakatau Steel yang selama ini penanganan instalasi pengelohan air limbah baja masih dilakukan di perusahaan tersebut, karena prosesnya sudah tergolong dan memenuhi standar operasional prosedur yang benar, baik peralatan yang digunakan, proses, dan hasil akhir proses Krakatau Cilegon. 5.5 Kesimpulan dan Saran 5.5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis pengelolaan limbah di wilayah pesisir, maka dapat disimpulkan: 1. Hasil uji toksisitas limbah industri baja tersebut masuk pada kriteria sebagai limbah B3, karena beberapa komponen melebihi baku mutu yaitu: limbah DR (untuk Pb), limbah HSM (untuk Cr, Cu, dan Pb), limbah FC (untuk Cr dan Cu) dan limbah EAF (untuk semua komponen kecuali Cu). Limbah baja WRM dan CRM tidak terkena kriteria limbah B3. 2. Walaupun limbah industri baja masuk pada kriteria limbah B3, namun tidak mengakibatkan buruknya kualitas air laut di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon sehingga masih memenuhi batas aman dan belum melewati baku mutu air laut. 3. Walaupun konsentarsi logam berat dalam air tidak terdeteksi, tetapi konsentrasi pada sedimen dan kerang cukup tinggi yakni Pb pada insang mencapai 87 mg/l, sedangkan pada hati (hepatopankreas) mencapai 97 mg/l. Konsentrasi Cd pada insang mencapai 69 mg/l, sedangkan pada hati mencapai 171 mg/l. Konsentarasi IPAL yang diharapkan limbahnya tidak akan mencemari lingkungan sekitarnya termasuk wilayah pesisir Kawasan Industri

97

MASUK
1 Sodic Effluent (Q -> 60 m3/jam)

PENGOLAHAN
TANKI PENAMPUNG LIMBAH BASA (pH .> 9)

KELUAR
OIL PIT (70OC)

60 m3/jam ke sludge

II Acid Effluent (Q -> 8 m3/jam)

TANKI PENAMPUNG LIMBAH ASAM (pH < 1) 8 m3/jam PH ADJUSMENT (pH: 8 – 9)

INCENIRATOR (850OC) (tidak diopesikan)

Emisi gas

Bahan Pembantu : 1. Air 2. Lime Hydrate (Ca(OH)2 .> 70%) - 80 Kg/Jam) 3. Udara

TANKI OKSIDA (Fe++ -> F+++ AERASI TANKI KOAGULASI/ OIL CRACKING

4. Koagulant (- 100 ppm) - 5,7 Lt/jam - 7,5 Kg/jam 5. Anionic Polimer (- 100 ppm) - 7,5 Kg/jam 6. Udara

TANKI FLOKULASI

KLARIFIKASI/ SEDIFLOAT

TANKI SLURRY

TANKI CLEAR WATER

FILTER PRESS (1,6 m3/jam, 12 bar) Filtrat

7. H2SO4 (- 25 Kg/jam) - 14 Lt/jam

TANKI NETRALISASI

Lumpur Bucket Truck - 0,105 m3/jam (- 0,117 ton/jam

LAMELLA SETTELER

LAMELLA SETTELER

74 m3 Air buangan pH: 6-9

Air .....

Gambar 17. Diagram alir proses RTP/IPAL Cr pada insang mencapai 13,3 mg/l, sedangkan pada hati mencapai 75,64 mg/l. Konsentrasi Hg pada insang mencapai 69 mg/l, sedangkan pada hati mencapai 121,52 mg/l . 4. Proses instalasi pengelohan air limbah baja dilakukan dengan proses regenerasi atau recovery sebagai upaya optimalisasi konsumsi dan minimalisasi kontaminasi dalam buangan limbah cair.

98

5.5.2 Saran Sebagai saran dalam analisis pengelolaan limbah di wilayah pesisir ini, adalah sebagai berikut: 1. Hendaknya perusahaan dapat menekan seminimum mungkin jumlah limbah yang ditimbulkan dari hasil proses produksi baja. 2. Perlunya pengelolaan limbah baja secara terpadu dan komprehensip melalui proses pengujian limbah baja dan upaya optimalisasi konsumsi dan minimalisasi kontaminasi buangan limbah. Daftar Pustaka Clark, J.R. 1992. Integrated Management of Coastal Zones. FAO Fisheries Technical Paper No 327. Rome.Italy. Dahuri, R 1998. Kebutuhan Riset untuk Mendukung Implementasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jurnal Pesisir dan Lautan: Indonesian Journal of Coastal and Marine Resources. No ISSN : 1410 7821. Vol. 1 No. 2 1998. IPB. Bogor. Damanhuri, E. dan Tim.1997. Studi Pengelolaan Limbah Industri PT. Krakatau Steel. Divisi Pengendalian Lingkungan Industri PT. Krakatau Steel. Cilegon Darmono. 2006. Lingkungan Hidup dan Pencemaran: Hubungan dengan Toksikologi Senyawa Logam. UI Press. Jakarta. Gaskin, J.W., R.B. Brobst, W. P. Miller, E.W. Tollner. 2003. Long-Term Biosolids Application Effects on Metal Concentration in Soils and Bermudagrass Forage, Journal of Environmental Quality 32:146-152 Hadi, A. 2005. Prinsip Pengelolaan Pengambilan Sampel Lingkungan, Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Horiguchi.T, M.Kojima, F. Hamada, A. Kajiwaha, H. Shiraishi, M. Morita and H. Shimizu. 2006. Impact Tributiltin and Tripeniltin on Evory Shell (Babylonia Japonika Population). Environmental Health Prospective. Vo. 114 Suplement. [Law]. 1981. Law EA 1981 Aquatic Pollution, John Wiley and Sons. New York. Koenafi, K.D. dan D.A Herto. 2000. Potensi Bioakumulasi Logam Berat di Perairan Sekitar Kepulauan Seribu. Studi Kasus Pulau Kelapa. Jurnal Taksikologi Indonesia Vol. 1 No. 2. 2000. h. 16 – 21. Riani, E., S.H. Sutjahjo, dan Firmansyah. 2004. Analisa Beban Pencemaran dan Kapasitas Asimilasi Teluk Jakarta. Kerjasama LPPM IPB dengan Pemprov. DKI Jakarta. Otobboni. 1996. Dangerous Properties of Industrial Materials. Reinhold Publishing Co. New York. Sukreeyapongse, O, P.E. Holm, B.W. Strobel, S. Panichasakpatana, J. Magid, H.C.B. Hansen. 2002. pH-Dependent Release of Cadmium, Copper, and Lead from Natural and Sludge Amended Soil, Journal Environmental. Quality, 31:19011909.

VI. ANALISIS INVESTASI PENGELOLAAN LIMBAH
ABSTRAK Pembangunan yang pesat dibidang perekonomian akan meningkatkan kualitas hidup manusia, di sisi lain pencemaran lingkungan baik yang berasal dari limbah industri maupun limbah rumah tangga berakibat pada penurunan kualitas kesehatan masyarakat sekitar. Tujuan dari analisis investasi pengelolaan limbah baja ini, yaitu: menganalisa pemanfaatan keterpaduan wilayah pesisir, menganalisis nilai manfaat finansial wilayah pesisir. Metode yang digunakan dalam analisis pengelolaan limbah ini yaitu model investasi NPV dan BCR analysis. Dari hasil pengukuran nilai investasi pengelolaan limbah baja: Pemanfaatan keterpaduan wilayah pesisir dilakukan secara berkelanjutan, agar kelestarian kawasan industri Krakatau Cilegon tetap terjaga sesuai harapan; Penilaian manfaat finansial wilayah pesisir dapat diketahui dengan melakukan kelayakan pengelolaan limbah melalui pengukuran hasil pengolahan limbah baja yang dapat dimanfaatkan sebesar 1,885,022USD dan benefit cost ratio dengan nilai rasio > 3, yang berarti bahwa investasi menguntungkan; Hasil analisis penilaian net present value dan benefit cost ratio, maka limbah baja slurry CRM merupakan opsi pengelolaan yang dinilai paling layak untuk melakukan investasi pengelolaan limbah baja. Kata kunci: Investasi pengelolaan limbah, NPV analysis, BCR analysis 6.1 Pendahuluan 6.1.1 Latar Belakang Pembangunan yang pesat dibidang perekonomian wilayah, disatu sisi akan meningkatkan kualitas hidup manusia yaitu dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, tetapi di sisi lain akan berakibat pada penurunan kesehatan akibat adanya pencemaran yang berasal dari limbah industri dan rumah tangga. Hal ini karena kurangnya atau tidak memadainya fasilitas untuk menangani dan mengelola limbah tersebut. Sedangkan dalam pembangunan berkelanjutan merupakan konsep

pembangunan tidak hanya melihat pada sisi ekonomi tetapi juga pada sisi sosial dan lingkungan hidup, hingga kini belum berhasil diterapkan di Indonesia. Selama ini boleh dibilang pembangunan hanya dilihat pada sisi ekonomi saja sehingga lingkungan hidup semakin rusak. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan karena justru akan mengakibatkan kemunduran pembangunan. Kebijakan pengelolaan limbah di wilayah pesisir dari waktu ke waktu semakin penting dirasakan masyarakat maupun pemerintah daerah. Hal ini tidak lepas dari pemanfaatan wilayah pesisir sebagai perekonomian pembangunan wilayah, karena pemanfaatan wilayah pesisir yang tidak sesuai dengan tata ruang akan berakibat

100

munculnya pemasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan tata ruang pesisir ini. Pada skala tertentu akan menimbulkan konflik antar kepentingan sektor, swasta dan masyarakat. Kegiatan yang tidak terpadu itu selain kurang bersinergi juga sering saling mengganggu dan merugikan antar kepentingan, seperti kegiatan industri yang polutif dengan kegiatan budidaya perikanan yang berdampingan. 6.1.2 Tujuan dan Lingkup Bahasan Tujuan dari analisis investasi pengelolaan limbah baja ini, yaitu: (1) menganalisis pemanfaatan keterpaduan wilayah pesisir; (2) Menganalisis nilai manfaat finansial wilayah pesisir. Sedangkan lingkup bahasan pengelolaan limbah baja ini difokuskan pada penilaian kelayakan investasi dengan analisis NPV dan BCR. 6.2 Tinjauan Pustaka Menurut Fauzi (2004), sesuatu untuk dapat dikatakan sebagai sumberdaya harus: 1) ada pengetahuan, teknologi atau keterampilan untuk memanfaatkannya; dan 2) harus ada permintaan (demand) terhadap sumberdaya tersebut. Dengan kata lain sumberdaya alam adalah faktor produksi yang digunakan untuk menyediakan barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi. Secara umum sumberdaya alam dapat diklasifikasi kedalam dua kelompok, yaitu: 1) Kelompok stok (non renewable), sumberdaya ini dianggap memiliki cadangan yang terbatas, sehingga eksploitasinya terhadap sumberdaya tersebut akan menghabiskan cadangan sumberdaya, sumber stok dikatakan tidak dapat diperbaharui (non renewable) atau terhabiskan (exhuastible), 2) Kelompok flow, jenis sumberdaya ini di mana jumlah dan kualitas fisik dari sumberdaya berubah sepanjang waktu. Berapa jumlah yang dimanfaatkan sekarang, bisa mempengaruhi atau bisa juga tidak mempengaruhi ketersediaan sumberdaya di masa mendatang. Sumberdaya ini dikatakan dapat diperbaharui (renewable) yang regenerasinya ada yang tergantung pada proses biologi dan ada yang tidak. Seperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya, bahwa Sumberdaya baja, menurut Mulyowahyudi (2005), bahan baku industri baja domestik saat ini adalah pellet, disamping scrap. Bijih besi yang ada di Indonesia belum dapat

digunakan langsung karena teknologi yang ada di Indonesia saat ini tidak bisa mengakomodasi, karena industri nasional yang mengolah bijih besi menjadi pellet belum ada. Bijih besi yang diproduksi di Indonesia semuanya berasal dari impor, meski terdapat bijih besi di Pulau Kalimantan yang disebut bijih besi laterit. Walaupun jumlahnya masih kecil, ada kekhawatiran, bahwa dimasa mendatang akan

101

dilakukan eksplorasi dan eksploitasi bijih besi lokal secara besar-besaran dan di ekspor semuanya ke luar negeri. Padahal dengan mengolah sendiri ataupun

menggunakan bijih besi untuk industri nasional, nilai tambah yang didapat secara nasional akan jauh lebih besar karena akan membawa multiplier effect terdapat penciptaan kesempatan kerja, kegiatan ekonomi, dan sektor-sektor penunjang lainnya yang berujung pada kontribusi pembangkitan perekonomian nasional. 6.3. Metode Analisis Investasi Pengelolaan Limbah Untuk menganalisis investasi pengelolaan limbah industri baja dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor pemanfaatan keterpaduan wilayah pesisir pada permasalahan di bidang kelautan yang dihadapi dalam pembangunan Kawasan Industri Krakatau Cilegon dan menganalisis nilai manfaat finansial wilayah pesisir melalui kelayakan pengelolaan limbah yang meliputi: analisis penilaian net present value (NPV) dan analisis penilaian benefit cost ratio (BCR) suatu kegiatan pengelolaan limbah industri baja. Hal tersebut diungkapkan oleh Heal (1998) yang menyatakan dalam konsep ekonomi berkelanjutan paling tidak mengandung dua dimensi, yaitu: 1) dimensi waktu karena keberlanjutan tidak lain menyangkut apa yang terjadi mendatang; 2) dimensi interaksi antara sistem ekonomi dan sistem sumberdaya alam dan lingkungan. Sedangkan menurut Fauzi (2000), perspektif ekonomi berkelanjutan dapat diartikan sebagai maksimimasi kesejahteraan sepanjang waktu pada perspektif sosio-ekonomi pada lingkungan termasuk di wilayah pesisir/pantai (marine park). Permasalahan limbah bukanlah permasalahan lingkungan hidup yang berdiri sendiri, karena sesungguhnya permasalahan limbah terkait dengan ekonomi yang diciptakan oleh pelaku ekonomi (perusahaan) yang memainkan peranannya di dalam melakukan rekayasa pengelolaan limbah yang terjadi pada saat produksi. Pada penelitian ini didasarkan pada hasil analisis finansial pengelolaan limbah industri baja di wilayah pesisir kawasan industri Krakatau dilakukan 10 tahun ke depan untuk analisis penilaian net present value dan analisis penilaian benefit cost ratio dengan tingkat suku bunga bank Indonesia (SBI) dan minimum attractive rate of return (MARR) (Newnan, 1988). Model analisis investasi pengelolaan limbah baja disajikan pada Gambar 18.

102

Jumlah dan Harga Limbah Baja

NPV Analysis

BCR Analysis

Model Analisis Investasi Pengelolaan Limbah

Gambar 18. Model analisis investasi pengelolaan limbah 6.4 Hasil dan Pembahasan 6.4.1 Asumsi Analisis Kota Cilegon yang memiliki luas wilayah sebesar 175,45 Km2 dan pada tahun 2007 terdapat 85 perusahaan swasta ditambah dengan industri yang bergerak pada kelompok industri Krakatau Steel Group di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Salah satu industrinya adalah PT. Krakatau Steel yang memproduksi baja. Industri tersebut, selain menghasil baja juga dalam proses produksinya menghasilkan limbah baja. Limbah baja tersebut setiap tahun bertambah sejalan dengan proses produksi dan bertumpuk pada area penampungan dengan jumlah ribuan ton limbah baja. Hal ini jika dibiarkan akan berdampak pada kerusakan lingkungan, baik di darat, udara, dan air khususnya di pesisir. Dengan jumlah ribuan ton limbah baja tersebut diperlukan pengelolaan limbah agar memiliki nilai tambah (added value). Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai pemanfaatan limbah baja menjadi produk yang tidak sejenis, namun tindak lanjutnya mengalami kendalakendala, baik terhadap nilai investasi awal yang cukup tinggi maupun produk yang dihasilkan belum menjamin terhadap kesehatan masyarakat maupun lingkungan. Dengan asumsi agar limbah baja tidak mencemari lingkungan sekitar, maka terdapat upaya lain yang dilakukan yaitu dengan menjual langsung baik untuk keperluan pabrik baja yang beroperasi di area Krakatau Group maupun dijual atas permintaan pabrik seperti pabrik semen, juga melakukan ekspor limbah baja dalam bentuk mill steel untuk keperluan pabrik baja di luar negeri. Untuk menghitung kelayakan

pengelolaan limbah tersebut, penulis membuat asumsi analisis dengan net present value (NPV) dan benefit cost ratio (BCR).

103

6.4.2 Analisis Keterpaduan Wilayah Pesisir Keterpaduan wilayah pesisir (integrated coastal management – ICM) Kawasan Industri Krakatau Cilegon yang memiliki luas + 11.520 hektar, termasuk zona ekonomi di Perairan Selat Sunda. Perairan ini termasuk zona penyeberangan antar pulau yaitu Pulau Jawa dan Pulau Sumatera yang padat dengan lalu lintas penyebaran maupun pelayaran. Pengelolaan sumberdaya pesisir dan Laut di wilayah ini bersifat unik dan sangat berbeda dengan pengelolaan sumberdaya terrestrial atau perairan, Oleh sebab itu di wilayah ini diperlukan program pengelolaan khusus yang disebut dengan integrated coastal zona Management (ICZM) (Clark, 1998), karena wilayah tersebut strategis untuk lalu perdagangan antar pulau bahkan antar negara, maka perlu dilakukan keterpaduan wilayah pesisir. ICZM ini berfokus pada pemanfaatan sumberdaya berkelanjutan, konservasi biodiversitas, perlindungan lingkungan dan penanggulangan bencana alam di wilayah pesisir dan Laut. Data produksi komoditas hasil pertanian Kota Cilegon tahun 2007 menyebutkan khususnya hasil tangkapan ikan sebesar 1.103 ton/tahun, jika dikaitkan dengan kuantitasnya maka besaran tersebut masing tergolong rendah dibandingkan dengan luas wilayah pesisir dan kerusakan ratusan hektar magrove di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Untuk itu, perlu pengelolaan lingkungan di wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan. ICZM dalam pengelolaan lingkungan di wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan perlu mempertimbangkan berbagai aspek penting seperti keterlibatan stakeholders, keluasan partisipasi publik, koordinasi antara pemerintah dengan swasta serta pengembangan keilmuan tentang konservasi wilayah pesisr dan laut. Dalam pengelolaan lingkungan faktor pendukung, maksud dan tujuan serta alternatif lain yang dapat diterapkan dalam membuat kebijakan pengelolaan lingkungan terutama yang berkaitan dengan model pengelolaan limbah di kawasan pesisir. Oleh karena itu, pemanfaatan limbah industri baja sangat penting dilakukan guna memperoleh nilai tambah (added value) bagi perusahaan dan berdampak bagi peningkatan kesejahteraan karyawan dan masyarakat disekitarnya. Sedangkan permasalahan yang timbul dari ketidakpaduan itu akan berimbas pada kelestarian alam dari wilayah pesisir itu sendiri, seperti potensi dan pemanfaatan hasil laut di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon mengalami tekanan lingkungan yang cukup berat, akibat dari sedimentasi, limbah aneka industri yang dibuang di laut, penangkapan ikan yang berlebihan, dan penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.

104

Permasalahan pesisir dan pantai yang terjadi juga kerusakan hutan mangrove, abrasi pantai, perubahan tata guna lahan di wilayah pesisir, dan pencemaran air laut. Pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon yang meliputi empat Kecamatan yaitu Ciwandan, Citangkil, Grogol dan Pulomerak nampaknya pada tahun belakangan ini menjadi semakin banyaknya industri-industri berat. Hal ini menjadi kebijaksanaan pemerintah daerah untuk menjadikan bagian barat daerah banten sebagai area pabrik industri berat atas beberapa pertimbangan, tetapi hal itu dapat ditanggulangi jika potensi dan daerah pesisir dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa harus merusak keindahan hayati pesisir bagi masyarakat terutama di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Semua hal tersebut terjadi akibat pemanfaatan pesisir yang kurang terpadu berdampak pada kepentingan social-ekonomi tanpa memperhatikan dampak lingkungan fisik dari wilayah pesisir dan pelestarian lingkungan. Pencemaran yang diakibatkan oleh pembuangan limbah ke laut yang semakin marak telah menurunkan potensi ekonomi kelautan, karena pembuangan limbah industri walaupun tidak berada di atas ambang batas yang sudah ditentukan namur karena banyak yang bersifat akumulatif seperti logam berat Hg, Cd, Pb, Cu, dan Zn maka dapat membahayakan kehidupan yang ada dudalamnya sangat rentan terhadap pemcemaran pesisir laut. Apabila pantai yang dikelilingi oleh kegiatan industri semisal pabrik, dan lain-lain, tentu dampaknya akan negatif bagi kuantitas mupun kualitas wilayah pesisir tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan hasil wawancara para stakeholders memperlihatkan bahwa permasalahan di bidang kelautan yang dihadapi dalam pembangunan Kawasan Industri Krakatau Cilegon antara lain: (1) belum optimalnya pengelolaan wilayah pesisir, laut, pulau-pulau kecil secara terpadu; (2) rusaknya ekosistem pesisir dan laut, seperti mangrove dan terumbu karang, yang disebabkan oleh manusia seperti penangkapan ikan yang bersifat merusak, sedimentasi dan pencemaran; (3) belum optimalnya pengelolaan konservasi laut dan perairan umum; (4) belum optimalnya upaya pengendalian dan pengawasan sumber daya kelautan dari kegiatan pencurian ikan di kawasan yang dapat menyebabkan turunnya kemampuan regenerasi ikan; (5) konflik pemanfaatan tata ruang di wilayah pesisir dan laut; (6) belum optimalnya pemanfaatan potensi sumber daya kelautan non konvensional seperti jasa kelautan dan keanekaragaman hayati laut; (7) belum berkembangnya sistem mitigasi bencana lingkungan laut, mengingat wilayah kelautan Indonesia terletak di wilayah rawan bencana seperti gempa bumi, tsunami, dan kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global; (8) masih lemahnya penegakan

105

hukum; dan (9) masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang arti penting dan nilai strategis sumber daya kelautan dan perikanan bagi pembangunan ekonomi daerahnya. 6.4.3 Analisis Nilai Manfaat Investasi Wilayah Pesisir Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa nilai manfaat ekonomi wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon, jika dipandang dari data produksi komoditas hasil pertanian Kota Cilegon tahun 2007 khususnya hasil tangkapan ikan sebesar 1.103 ton/tahun. Namun wilayah tersebut termasuk zona penyebarangan antar pulau bahkan antar negara, maka diharapkan wilayah ini akan memperoleh pendapatan sebagai devisa daerah atau devisa negara. Kenyataan ada wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon yang didalamnya tumbuh dan berkembang industri menengah dan industri berat yang sebagian besar mempunyai kepentingan melalui kawasan tersebut. Menurut hasil penelitian oceanografi yang oleh Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) tahun 2008 menyebutkan + seluas 300 hektar terjadi kerusakan berskala berat pada hutan mangrove (bakau) di Kawasan Industri Karakatau Cilegon, hal tersebut sangat berdampak terhadap kondisi pantai/pesisir karena fungsi hutan mangrove salah satunya adalah untuk mengantisipasi terjadinya abrasi pantai dan dapat meredam gelombang tsunami. Sejalan dengan kebijakan pengelolaan limbah pada wilayah pesisir merupakan suatu kebijakan politik dan ekonomi dalam rangka pembangunan ekonomi yang meninggalkan paradigma lama yang menempatkan kelautan sebagai sektor pinggiran. Dengan kata lain, kebijakan pengelolaan limbah pada wilayah pesisir merupakan paradigma baru yang menempatkan sektor kelautan sebagai arus utama (mainstream) dalam pembangunan perekonomian. Sedangkan perekonomian wilayah pesisir merupakan pemikiran ekonomi yang dipakai dalam mendayagunakan sumberdaya kelautan sebagai basis dalam mendorong pertumbuhan dan pemerataan pembangunan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan khususnya di wilayah pesisir. Di dalam aspek nilai finansial guna menentukan apakah aktivitas

pengelolaan limbah akan memberikan sumbangan atau mempunyai peranan yang positif dalam pengelolaan perekonomian wilayah pesisir dan peranannya cukup besar dalam penggunaan sumber-sumber yang dibutuhkan. Analisis aspek nilai finansial yang perlu diperhatikan adalah hasil total atau produktivitas yang diperoleh dari semua sumber yang dipakai dalam kegiatan untuk masyarakat atau perekonomian secara komprehensif tanpa melihat siapa yang menyediakan sumber-sumbernya dan

106

masyarakat dapat menerima hasil kegiatan tersebut. Manfaat aspek nilai perekonomian/sosial adalah kemampuan kegiatan dalam menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan perekonomian daerah, dan menunjang pendapatan devisa. Aspek nilai investasi pengelolaan limbah baja ini dapat menjadi aktivitas yang sehat apabila dapat memberikan kontribusi yang layak dan mampu memenuhi kewajiban finansialnya. Pengkajian berbagai aspek nilai investasi ini, kemungkinan yang akan timbul adalah: (a) Suatu proyek cukup sehat ditinjau dari berbagai aspek sehingga rencana investasi dapat dilanjutkan; (b) Proyek cukup sehat apabila syaratsyarat tertentu dapat dipenuhi; (c) Proyek tidak cukup sehat sehingga rencana investasi seyogyanya dibatalkan. Berdasarkan hasil pengamatan dilapangan dan hasil wawancara memperlihatkan bahwa limbah baja dapat dimanfaatkan dan dapat menghasilkan keuntungan investasi. Menurut Sjaifuddin (2008), untuk mengukur nilai investasi pengelolaan limbah yang akan berdampak pada wilayah pesisir, dapat dianalisis melalui hasil kelayakan pengelolaan limbah meliputi: analisis penilaian net present value dan benefit cost ratio. 6.4.4 Kelayakan Pengelolaan Limbah Saat ini limbah baja yang merupakan hasil proses pabrik baja yang dihasilkan oleh PT. Krakatau Steel sudah dimanfaatkan melalui penjualan langsung baik untuk keperluan pabrik baja yang beroperasi di area Krakatau Group maupun dijual atas permintaan pabrik semen dengan pengiriman limbah baja sebanyak 300 ton/bulan, juga melakukan ekspor limbah baja dalam bentuk mill steel di negara China untuk keperluan pabrik baja. Analisis kelayakan pengelolaan limbah dapat dilakukan dengan menganalisis hasil penilaian net present value ini dengan tujuan agar semua investasi, pengeluaran dan penerimaan dalam pengelolaan limbah baja yang berbentuk cash flow untuk periode waktu tertentu sampai kelayakan proyek dan nilai suatu proyek diubah ke dalam nilai sekarang dengan menggunakan tingkat suku bunga yang relevan. Untuk mengukur hasil analisis penilaian net present value dan benefit cost ratio ini menggunakan suku bunga yang berlaku pada akhir tahun 2007 yaitu suku bunga SBI sebesar 14 %, minimum attractive rate of return (MARR) sebesar 15 %, dan laju inflasi 6 %. Estimasi nilai jual limbah yang dapat dimanfaatkan yaitu: limbah sludge senilai $22/ton, sedangkan limbah baja yang berasal dari debu EAF atau DR slurry

107

senilai $18/ton. Harga jual limbah tersebut tidak termasuk biaya transportasi. Biaya transportasi untuk pengiriman (shipping) ke China melalui Kapal laut sebasar $ 34/ton, sedangkan jika menggunakan kontainer biaya transportasinya sebesar $ 27/ton. Biaya lain yang menjadi beban industri yaitu biaya pengerukan limbah yang berada di sekitar pabrik untuk dipindahkan ke area penampungan limbah sebesar $9/ton. Berikut ini besaran estimasi benefit dan cost pengelolaan limbah industri baja di Kawasan Industri Krakatau Cilegon tahun 2007 dapat disajikan pada Tabel 19. Tabel 19. Estimasi benefit dan cost pengelolaan limbah industri baja di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Benefit-Cost Komponen Jumlah (ton) 6.423 12.062 9.969 2.503 1.300 11.196 43.453 43.453 Harga (USD/ton) 18 18 18 22 22 22 24 9 Nilai (USD) 115,614 217,116 179,442 55,066 28,600 246,312 1,042,872 391,077

Benefit

Debu EAF BSP Debu EAF SSP1 Debu EAF SSP2 Sludge DR Sludge WRM Slurry CRM Shipping Area transport

Cost

Berdasarkan Tabel 19 di atas terlihat bahwa komponen limbah baja yang berasal dari debu EAF BSP, debu EAF SSP, dan debu EAF SSP2 memiliki benefit harga limbah sebesar 18 USD/ton, sedangkan komponen limbah baja yang berasal dari sludge DR, sludge WRM, dan slurry CRM memiliki benefit harga limbah sebesar 22 USD/ton, sehingga hasil pengelolaan limbah baja yang dapat dimanfaatkan sebesar 1,885,022USD, selanjutnya dilakukan perhitungan estimasi benefit dan cost pengelolaan limbah baja untuk 10 tahun yang disajikan pada lampiran 2 – 3. Untuk mengetahui hasil penilaian benefit dan cost serta matriks kriteria penilaian terhadap pengelolaan limbah industri baja di Kawasan Industri Krakatau Cilegon disajikan pada Tabel 20.

108

Tabel 20. Penilaian benefit dan cost serta matriks kriteria penilaian terhadap pengelolaan limbah industri baja di Kawasan Industri Krakatau Cilegon
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pengelolaan Limbah Debu EAF BSP Debu EAF SSP1 Debu EAF SSP2 Sludge DR Sludge WRM Slurry CRM Kriteria bobot NPV (USD) 10,929,328 20,722,145 17,087,813 4,588,718 2,275,133 21,306,917 BCR 3,6 3,6 3,6 3,7 3,7 3,7 Kriteria NPV(USD) 480 911 751 202 100 937 0,5 BCR 100 100 100 103 103 103 0,5 Nilai Opsi 290 506 426 153 102 520 Peringkat 4 2 3 5 6 1

Berdasarkan Tabel 20 di atas, pengukuran hasil penilaian investasi analisis net present value (NPV) untuk 10 tahun dapat diketahui dengan total nilai sebesar 76,910,054USD dan benefit cost ratio (BCR) dengan nilai rasio > 3, yang berarti bahwa investasi menguntungkan. Selanjutnya dilakukan analisis untuk menentukan kriteria, nilai opsi, dan peringkat dari masing-masing jenis limbah. Dari hasil analisis kriteria dan opsi pengelolaan diperoleh urutan nilai 520, 506, 426, 290, 153, 290, dan 102, maka berdasarkan urutan pengelolaan tersebut diperoleh peringkat terbaik (1) yakni limbah baja yang berasal dari limbah slurry CRM, hal ini berarti limbah slurry CRM merupakan opsi pengelolaan yang dinilai paling layak untuk melakukan investasi pengelolaan limbah baja. Meskipun demikian, jenis limbah baja lainnya juga perlu pengelolaan secara berkelanjutan agar semua limbah dapat dimanfaatkan, sehingga limbah tersebut mempunyai nilai tambah (added value) bagi perusahaan dan masyarakat sekitar dapat menerima manfaaatnya. 6.5 Kesimpulan dan Saran 6.5.1 Kesimpulan Hasil menganalisis investasi pengelolaan limbah dapat disimpulkan: 1. Pemanfaatan keterpaduan wilayah pesisir dilakukan secara berkelanjutan, agar Kawasan Industri Krakatau Cilegon tetap lestari sesuai harapan. 2. Penilaian pemanfaatan wilayah pesisir dapat diketahui dengan melakukan kelayakan pengelolaan limbah melalui pengukuran hasil pengolahan limbah baja yang dapat dimanfaatkan sebesar 1,885,022USD dan benefit cost ratio dengan nilai rasio > 3 berarti investasi menguntungkan. 3. Hasil analisis penilaian net present value dan benefit cost ratio berdasarkan nilai kriteria dan opsi pengelolaan, maka jenis limbah baja slurry CRM merupakan opsi yang dinilai paling layak dalam pengelolaan limbah baja.

109

6.5.2 Saran Sebagai saran dalam analisis investasi pengelolaan limbah ini adalah: 1. Perlu perusahaan mengelola limbah baja secara optimal, agar limbah yang ada saat ini dapat dimanfaatkan kembali, baik untuk kebutuhan perusahaan sendiri maupun perusahaan lainnya. 2. Agar perusahaan mencari alternatif penggunaan lain dari limbah baja yang bernilai lebih layak, sehingga masyarakat sekitar dapat merasakan manfaat hasil pengelolaan limbah. Daftar Pustaka Clark, J.R. 1998. Coastal Zone Management for The New Century. Ocean & Coastal Management. 37(2): 191. Fauzi, A. 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Fauzi, A. dan Buchary, E. 2002. A Socio-Economic Perspective of Environmental Degredation at Kepulauan Seribu Nasional Marine Park. Coastal Management Journal. Vol. 30 (2): 167 – 181. Heal, G. (1988). Valuing the Future: Economic Theory and Sustainability. Colombia University Press. New York. Newnan, D. G. 1990. Engineering Economic Analysis. Third Edition. Engineering Press Inc. California. Mulyowahyudi, A. 2005. KS-Review: Steel as National Power. PT. Krakatau Steel. Cilegon Sjaifuddin. 2008. Cost-Benefit Analysis Pengelolaan Sumberdaya Alam Wilayah Pesisir dan Laut Teluk Banten Berkelanjutan.Biodidaktika, Jurnal Biologi dan Pembelajaran Vol.3 No.1.

VII. MODEL STRATEGI PENGELOLAAN LINGKUNGAN
ABSTRAK Pengelolaan wilayah pesisir dan kelautan menjadi sektor unggulan dalam membangun perekonomian nasional. Kebijakan yang mampu memayungi semua kebijakan tata ruang perairan mampu bersinergi dengan pembangunan dan mensejahterakan masyarakatnya. Tujuan model strategi pengelolaan lingkungan ini yaitu: mengelola limbah baja berdasarkan aktivitas penduduk, industri sekitar, pesisir laut, dan dampak sosial; menganalisis baku mutu limbah; menentukan pengelolaan limbah dengan membuat submodel penyelesaian masalah meliputi submodel penduduk, pesisir laut, dan limbah industri. Metode yang digunakan dalam model strategi pengelolaan lingkungan ini, yaitu model analisis faktor, metode AHP Cdplus3.0, metode ISM VAXO, dan dinamic modeling (powersim). Hasil analisis model strategi pengelolaan lingkungan: Pengelolaan limbah berdasarkan aktivitas penduduk sebanyak 42.846.944 jiwa, aktivitas industri sebanyak 74 industri dengan luas lahan kawasan industri 1.500 ha., dampak sosial, dan pengelolaan limbah terhadap pesisir laut. Model pengelolaan limbah baja dapat dilakukan dengan penentuan pemilihan prioritas menggunakan AHP, penentuan parameter kunci menggunakan ISM, dan pengembangan model sebagai skenario pengelolaan dengan menggunakan dynamic modeling. Hasil analisis baku mutu limbah baja terhadap kesehatan masyarakat dan degradasi pesisir masih memenuhi nilai ambang batas (NAB). Sedangkan model strategi kebijakan dalam pengelolaan limbah baja dapat dilakukan dengan membuat submodel penyelesaian masalah meliputi submodel penduduk, pesisir laut, dan limbah industri yang digambarkan dengan diagram sebab akibat (cause loop) dan struktur model dengan bantuan program powersim. Kata kunci: Model AHP, metode struktur model. 7.1 Pendahuluan 7.1.1 Latar Belakang Pengelolaan wilayah pesisir dan kelautan menjadi sektor unggulan dalam membangun perekonomian nasional, Untuk itu diperlukan suatu kebijakan yang mampu memayungi semua kebijakan tata ruang perairan yang mampu bersinergi dengan pembangunan dan mensejahterakan masyarakatnya, khususnya Kota Cilegon. Hal ini juga, dikarenakan pendayagunaan sumberdaya kelautan sebagai basis dalam mendorong pertumbuhan dan pemerataan pembangunan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Menurut Sjaifuddin (2007), sampai saat ini banyak teori pengembangan wilayah yang dapat dijadikan acuan dalam konteks pengelolaan lingkungan pesisir dan teluk Banten. Teori tersebut dibangun atas dasar atas dasar dan tujuan yang berbeda-beda. Kelompok pertama adalah toeri-teori yang memberi penekanan pada kerjasama wilayah (regional prosperty). Kelompok kedua memberi penekanan pada ISM, dynamic modeling, NAB, cause loop,

111

sumberdaya alam dan lingkungan yang dinilai mempengaruhi keberlanjutan sistem produksi (sustainable production) atau kelompok yang peduli pada pembangunan berkelanjutan. Kelompok ketiga teori ini memberikan implikasi yang berbeda dalam fokus pengembangan wilayah. Penerapan teori ini didasarkan pada masalah utama yang dihadapi masyarakat/wilayah dengan sasaran tertentu. Menurut Dahuri (1998), dalam pengelolaan sumberdaya alam, seperti wilayah pesisir dan lautan, langkah pertama yang harus dikerjakan oleh para perencana dan pengambil keputusan adalah menentukan batas-batas (boundaries) dari wilayah yang akan dikelolanya sebagai suatu satuan pengelolaan (management unit). Dengan mengetahui batas-batas dari suatu wilayah pesisir dan lautan sebagai satuan pengelolaan lingkungan, maka komponen-komponen beserta segenap interaksi antar komponen tersebut di dalam sistem pengelolaan lingkungan dan interaksi antar satuan wilayah pengelolaan dengan satuan wilayah pengelolaan lingkungan lainnya dapat diketahui dengan baik. Menurut para pakar, diantaranya Brown (1997), bahwa penentuan batas-batas wilayah pesisir di dunia pada umumnya berdasarkan pada tiga kriteria berikut: (1) Garis linier secara arbiter tegak lurus terhadap garis pantai (coastline atau shoreline). Republik Rakyat Cina, misalnya, mendefinisikan wilayah pesisirnya sebagai suatu wilayah peralihan antara ekosistem darat dan lautan, ke arah darat mencakup lahan darat sejauh 15 km dari garis pantai, dan ke arah laut meliputi perairan laut sejauh 15 km dari garis pantai (Zhijie, 1990); (2) Batas-batas adiministrasi dan hukum. Negara bagian Washington, Amerika Serikat; Australia Selatan; dan Queensland, misalnya, batas ke arah laut dari wilayah pesisirnya adalah sejauh 3 mil laut dari garis dasar (coastal baseline) (Sorensen, 1990); (3) Karakteristik dan dinamika ekologis (biofisik), yakni atas dasar sebaran spasial dari karakteristik alamiah (natural features) atau kesatuan proses-proses ekologis (seperti aliran air sungai, migrasi biota, dan pasang surut). Contoh batas satuan pengelolaan wilayah pesisir menurut kriteria ketiga ini adalah: batasan menurut Daerah Aliran Sungai. Di dalam pengelolaan limbah baja ini terdapat upaya-upaya yang dapat dilakukan saat ini yaitu meminimasi jumlah limbah yang dihasilkan dan tersimpan di sumber penimbunan, pewadahan, pengumpulan dan lebih diutamakan pengolahan kembali untuk kebutuhan di lingkungan sendiri maupun dijual di luar lingkungan perusahaan. Oleh karena itu pengelolaan limbah harus tetap mengedepankan kelestarian wilayah dan kesejahteraan masyarakatnya. Untuk menghadapi

112

permasalahan-permasalahan tersebut di atas, maka diperlukan model-model yang secara komprehenship dan integral dapat menyelesaiakan permasalahan tersebut. 7.1.2 Tujuan dan Lingkup Bahasan Tujuan dan lingkup bahasan pada model strategi pengelolaan lingkungan ini yaitu: (1) Mengelola limbah baja berdasarkan aktivitas penduduk, industri sekitar, pesisir laut, dan dampak sosial; (2) Menganalisis baku mutu limbah; (3) Menentukan pengelolaan limbah dengan membuat submodel penyelesaian masalah meliputi submodel kependudukan, pesisir laut, dan limbah industri. 7.2 Tinjauan Pustaka A. Model Keputusan dengan Analysis Hierarchy Process Menurut Suryadi (2002), analysis hierarchy process (AHP) memfokuskan pada pencapaian obyektif. Penggunaan AHP menghasilkan keputusan yang rasional. Keputusan rasional adalah dimana pencapaian obyektif yang banyak oleh para pengambil keputusan. Kuncinya adalah fokus pada obyektif dari pada alternatif, kriteria atau atribut (Saaty, 1999). Sebagai metode yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan, AHP mempunyai beberapa kelebihan: 1) mampu memecahkan masalah yang bersifat multi obyektif dan multi kriteria. Kebanyakan model pengambilan keputusan yang ada hanya memakai tujuan tunggal dengan multi kriteria; 2) mampu memecahkan suatu masalah yang kompleks dan tidak terstruktur ke dalam beberapa kelompok atau bagian dan menyusun semua bagian tersebut menjadi suatu bentuk hirarki; 3) mampu memperhitungakan elemen atau kriteria kuantitatif sekaligus kualitatif, 4) memperhitungkan daya tahan atau ketahanan output analisis sensitifitas pengambil keputusan; 5) memiliki perhatian khusus terhadap penyimpangan dari konsistensi, pengukuran dan pada ketergantungan di dalam dan diantara kelompok kriteria strukturnya, atau dengan kata lain memperhitungkan validitas sampai batas toleransi inkonsistensi berbagai elemen dan alternatif yang dipilih oleh para pengambil keputusan. Sedangkan kelemahan dari analysis hierarchy process adalah

subyektifitas pengambil keputusan masih merupakan pengaruh besar pada keputusan akhir. Model keputusan dengan analysis hierarchy process selengkapnya telah diuraikan bagian sebelumnya.

113

B. Model Keputusan dengan Interpretative Structural Modelling Menurut Marimin (2005), interpretative structural modelling (ISM) merupakan salah satu metodologi berbasis komputer yang membantu kelompok mengidentifikasi hubungan antara ide dan struktur tetap pada isu yang komplek. Oleh karena itu ISM dapat menganalisis elemen-elemen sistem dan memecahkannya dalam struktur grafik dari hubungan langsung antar elemen dan tingkat hierarki. Elemenelemen itu merupakan tujuan kebijakan, target organisasi, faktor penilaian, dan lainlain. Model keputusan dengan interpretative structural modelling selengkapnya telah diuraikan pada bagian sebelumnya. C. Pemodelan Sistem Dinamis Menurut Ottosson (2003), dynamisc systems memiliki mekanisme internal untuk selalu mengalami perubahan sepanjang waktu. Dynamisc systems digunakan untuk mencari penjelasan tentang berbagai permasalahan jangka panjang yang terjadi secara berulang-ulang di dalam struktur internal. Mekanisme umpan balik merupakan konsep inti yang digunakan di dalam dynamisc systems untuk memahami struktur sistem. Untuk melakukan simulasi dari sebuah model diperlukan perangkat lunak (software) yang secara cepat dapat melihat perilaku (behavior) dari model yang dibuat. Pada bagian ini perangkat lunak yang digunakan berupa program yang dinamakan powersim. Menurut Muhammadi (2001), powersim digunakan untuk

membangun dan melakukan simulasi suatu model dinamis. Suatu model dinamis merupakan kumpulan dari variabel-variabel yang saling mempengaruhi antar satu dengan lainnya dalam suatu kurun waktu. Karena setiap variabel berkorespondensi dengan suatu besaran yang nyata atau besaran yang dibuat sendiri. Untuk menjalankan program powersim ini dibuatkan terlebih dahulu diagram sebab akibat (cause effect diagram) dan struktur modelnya, sedangkan hasil simulasinya berupa gambar atau grafik yang menggambarkan perilaku (behavior) dari sisitem. 7.3 Metoda Strategi Pengelolaan Lingkungan Untuk menentukan model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, perlu dilakukan langkah-langkah pemecahan masalah sebagai berikut: (1) Pengelolaan limbah berdasarkan aktivitas penduduk, industri sekitar, pesisir laut, dan dampak sosial; (2) Menganalisis komponen-komponen pengelolaan limbah: proses

114

dan teknologi, penduduk dan lingkungan, serta ekonomi; (3) Menganalisis baku mutu pengaruhnya terhadap: kesehatan masyarakat dan degradasi pesisir; (4) Penentuanpenentuan pengelolaan limbah: penentuan pemilihan parameter, penentuan parameter kunci, pengembangan model sebagai skenario pengelolaan. Selanjutnya untuk menentukan strategi pengelolaan lingkungan dilakukan langkah-langkah, yaitu penentuan pemilihan prioritas dengan menggunakan metode AHP, penentuan parameter kunci dengan menggunakan metode ISM, dan penentuan skenario dengan menggunakan dinamic modeling. Menurut Handoko (2005), untuk mengembangkan kebutuhan model tersebut diperlukan model dinamik (dinamic modeling) yang dilakukan bertujuan untuk melihat perilaku sistem dalam membantu penyusunan model, seperti model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Model dinamik ini dapat dibuat dengan bantuan software powersim, sehingga kompleksitas permasalahan dapat diselesaikan sesuai dengan keinginan yang diharapkan. Gambar 19 merupakan pemodelan sistem pengelolaan/pengendalian limbah baja.
Penentuan pakar (expert)

Kebijakan pengelolaan lingkungan wilayah pesisir

Analisis Kondisi Eksiting

Data primer & Data sekunder

PEMODELAN . Pendekatan system . Analisis dinamik

Powersim & MS-Excel

Strategi pengendalian limbah baja

Gambar 19. Pemodelan sistem pengelolaan/pengendalian limbah baja 7.4 Hasil dan Pembahasan Strategi Pengelolaan Lingkungan 7.4.1 Asumsi Model Model strategi pengelolaan lingkungan difokuskan pada pengelolaan limbah baja dengan asumsi model yang berkaitan dengan penentuan pemilihan prioritas, penentuan parameter kunci, dan pengembangan model dengan menggunakan dynamic

115

modeling. Untuk membuat asumsi model pengelolaan limbah baja ini, maka dapat dibuat struktur model. Rancang bangun struktur model ini meliputi submodel kependudukan, submodel pesisir laut, dan submodel limbah industri. Ketiga submodel tersebut diasumsikan secara terpadu pada pembuatan rancang bangun model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan

kelestarian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, sehingga model tersebut dapat menggambarkan kondisi obyektif, baik permasalahan penduduk, wilayah pesisir maupun limbah industri khususnya limbah baja di masa mendatang. 7.4.2 Pengelolaan Limbah Berdasarkan Aktivitas Penduduk Penduduk merupakan bagian terpenting di dalam pengelolaan limbah industri baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, Kota Cilegon pada tahun 2007 memiliki jumlah penduduk sebanyak 339.716 jiwa. Dengan komposisi 176.276 jiwa laki-laki dan 163.440 jiwa perempuan, dengan laju pertumbuhan penduduk ratarata sebesar 2,32 % per-tahun dan tingkat kepadatan mencapai 1.936 jiwa/km2. Selain itu, data Dinas Kesehatan Kota Cilegon tahun 2007 diperoleh rata-rata angka kelahiran penduduk sebanyak 1,85 % per-tahun dan angka kematian penduduk sebesar 1,15 % per-tahun dari jumlah penduduk, dan angka urbanisasi penduduk 0,90 % per-tahun jumlah penduduk. Dengan kondisi penduduk tersebut di atas, maka untuk menyusun submodel penduduk dilakukan dengan menggunakan analisis regresi, untuk mengetahui beban pencemaran limbah yang berasal dari aktivitas penduduk pada suatu waktu ditentukan oleh jumlah populasi penduduk saat ini, persentase jumlah angka kelahiran, persentase jumlah urbanisasi, dan persentase jumlah angka kematian, maka aktivitas jumlah penduduk Kota Cilegon adalah 42.846.944 jiwa (dari persamaan 8). 7.4.3 Pengelolaan Limbah Berdasarkan Aktivitas Industri Di dalam menentukan submodel industri ditentukan berdasakan hubungan antara luas areal kawasan industri Krakatau Cilegon dengan pertumbuhan industri, dimana pengelolaanya tangani oleh satu perusahaan yaitu PT. KIEC. Pertumbuhan dan perkembangan industri di Kota Cilegon setiap tahun selalu bertambah hingga saat ini, baik industri menengah maupun industri besar/berat sebanyak 85 perusahaan swasta ditambah dengan industri yang bergerak pada kelompok industri Krakatau Steel Grup di Kawasan Industri Krakatau Cilegon.

116

Prosentase sektor lapangan usaha baik sektor industri manufaktur maupun industri di Kota Cilegon tahun 2007 disajikan pada Tabel 21. Tabel 21. Prosentase sektor lapangan usaha di 4 kecamatan Kota Cilegon tahun 2007 Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Listrik, Gas, dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Jasa-jasa, dll Jumlah Tenaga Kerja 9.741 937 46.629 1.226 9.247 47.242 21.339 73.74 2 6.567 170,303 Prosentase (%) 5,72 0,55 27,38 0,72 5,43 27,74 12,53 4,33 15,60 100,00

Tabel 21 di atas, menunjukkan bahwa sektor lapangan usaha pada aktivitas industri terutama industri manufaktur yang berkecendrungan menghasilkan limbah sebanyak 27,38 % dari total sektor lapangan usaha yang ada di Kota Cilegon. Meskipun prosentase sektor lapangan usaha industri lebih kecil dari prosentase dari lapangan usaha perdagangan, hotel, dan restoran, maka aktivitas industri mendapat perhatian dari pemerintah daerah, terutama permasalahan AMDALnya. Prosentase sektor lapangan usaha di Kota Cilegon disajikan pada Gambar 20.

PROSENTASE SEKTOR LAPANGAN USAHA
30 25 20 15 10 5 0 Angkutan dan Pertanaian Bangunan Komunikasi Jasa-jasa Industri Prosentase

PROSENTASE

Sektor

Gambar 20. Grafik prosentase sektor lapangan usaha di Kota Cilegon Selain tersebut di atas, juga diperlukan penyusunan submodel industri untuk menentukan Jumlah beban limbah industri (Li) (ton/tahun) dipengaruhi oleh Jumlah industri pada waktu ti (Jlti), Jumlah industri awal (Jlto) sebanyak 16 pabrik/perusahaan, Fraksi pembangunan industri (FPI) sebesar 462,5 %, Luas lahan

117

kawasan (LK) seluas 1.500 Ha, Fraksi limbah industri (Fli) sebesar 15 %. Dari persamaan 10 dan 11 submodel industri halaman 56, maka diperoleh jumlah industri pada waktu ke ti adalah 74 pabrik/perusahaan/1.500 Ha. Sehingga dapat dihitung dan diperolah Jumlah beban limbah industri adalah 11,1 ton/tahun untuk 74 industri/pabrik dengan luas lahan kawasan pabrik 1.500 ha. Dalam menyusun submodel pengolah limbah perlu diketahui bahwa Jumlah limbah (JL) (ton/tahun) yang masuk ke pesisir pantai dipengaruhi oleh beban limbah sebesar 11,1 ton/tahun bersumber dari industri baja dan kapasitas instalasi pengolahan limbah yaitu 95 % dari beban limbah. Sehingga dari persamaan 12 submodel pengoleh limbah halaman 56, dapat diperoleh bahwa jumlah limbah yang masuk ke pesisir pantai adalah (11,1 – (0,95 x 11,1)) ton/tahun adalah 0,56 ton/tahun. 7.4.4 Pengelolaan Limbah Berdasarkan Dampak Sosial Untuk menyusun submodel dampak sosial pada model pengelolaan limbah baja ini dapat dilakukan dengan analisis regresi. Dampak sosial pada pengelolaan limbah industri baja meliputi variabel kesehatan masyarakat, variabel lapangan kerja, dan variabel pencemaran lingkungan. Hasil analisis submodel dampak sosial menggunakan analisis faktor dengan koefisien adalah (0,36) kesehatan masyarakat + (0,04) lapangan kerja. Hasil selengkapnya submodel dampak sosial model pengelolaan limbah baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon disajikan pada Tabel 22. Tabel 22. Dampak sosial model pengelolaan limbah baja tahun 2007 Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Total Kesehatan Masyarakat (orang) 2.487 2.488 2.489 2.480 2.484 2.441 2.480 2.484 2.489 2.488 2.516 2.521 29.847 Lapangan Kerja (orang) 564 564 564 564 569 569 569 569 570 570 570 570 6.812 Dampak Sosial (orang) 3.052 3.053 3.054 3.044 3.053 3.010 3.049 3.053 3.059 3.058 3.086 3.091 36.662

118

Berdasarkan Tabel 22 di atas dapat diketahui pengaruh kesehatan masyarakat dan lapangan kerja di Kota Cilegon terhadap dampak sosial dalam model kesehatan

pengelolaan limbah baja sebanyak 36.662 orang, hal ini berarti faktor

masyarakat sebanyak 29.847 orang dan faktor lapangan kerja sebanyak 6.812 orang dapat mempengaruhi dampak sosial di Kota Cilegon sebanyak 36.662 orang. 7.4.5 Pengelolaan Limbah terhadap Pesisir Laut Kelautan merupakan multi sektor dan lintas departemen, sehingga sangat wajar bila terjadi konflik kepentingan antar lembaga negara. Lembaga negara yang terlibat dalam mengurusi kelautan diantaranya, yaitu Departemen Pertahanan, POLRI, Perhubungan, Energi dan Sumberdaya Mineral, Pariwisata, Industri dan Perdagangan, Kelautan dan Perikanan, Keuangan, Lingkungan Hidup serta Pemukiman dan Prasarana Wilayah. Sementara itu, di samping kurangnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan kelautan yang berlangsung selama tiga dasa warsa, kompleksitas permasalahan kelautan juga disebabkan oleh banyaknya lembaga negara yang terlibat. Hal ini dikarenakan, pembangunan kelautan tidak dilakukan secara koordinatif oleh satu lembaga negara. Terutama yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi, masingmasing lembaga negara mengeluarkan aturan-aturan atau kebijakan-kebijakan yang sama. Akibatnya adalah, kerusakan lingkungan laut yang tidak bisa terelakan, padahal kelestarian sumberdaya menjadi isu sentral masyarakat dunia dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Perairan wilayah pesisir umumnya merupakan perangkap zat-zat hara bahanbahan buangan. Oleh karena itu pemanfaatan ganda yang tidak direncanakan dengan cermat akan menimbulkan masalah lingkungan yang berhubungan dengan bahan buangan. Sampah organik dari kota, sisa-sisa pestisida dan pupuk pertanian, bahan buangan dan sebaginya, akan terbawa aliran air sungai dan pada akhirnya akan mencapai ke perairan wilayah pesisir. Kota Cilegon dilalui oleh bebarapa sungai antara lain sungai Kahal, Tompos, Sehang, Gayam, Medek, Sangkanila, Cikuarsa, Sumur Wuluh, Grogol, Cipangurungan, dan sungai Cijalumpang. Diantara sebelas sungai tersebut sungai Grogol merupakan yang terbesar dan hampir semuanya bermuara di Selat Sunda atau pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon, karena kawasan ini juga berada di wilayah pesisir 4 (empat) kecamatan yaitu: Ciwandan, Citangkil, Grogol, dan Pulomerak merupakan badan air yang langsung menampung limbah, terutama limbah industri, sehingga wilayah ini rawan terhadap pencemaran.

119

Pesisir pantai wilayah Kawasan Industri Krakatau Cilegon mempunyai banyak kegiatan diantaranya terdapat di Kecamatan Ciwandan industri kimia, baja, pelabuhan, hotel dan wisata bahari. Perkembangan industri dan pertambahan penduduk yang cukup pesat sampai saat ini, akan berakibat timbulnya bahan/limbah cemaran. Kemajuan di bidang industri dan pertanian wilayah perairan/pesisir di masa sekarang ini mengakibatkan banyaknya aktivitas manusia di darat yang menyebabkan tekanan terhadap pertanian di perairan sekitarnya meningkat. Pertambahan jumlah industri dan penduduk membawa akibat bertambahnya beban pencemaran yang disebabkan oleh pembuatan limbah industri. Pencemaran akibat limbah industri dapat menyebabkan kerugian besar, karena umumnya buangan/limbah mengandung zat beracun antara lain senyawa khlor, raksa, cadmium, khrom, timbal dan zat lainnya yang sering digunakan dalam proses produksi suatu industri, baik sebagai bahan baku, katalisator, maupun bahan lama. Logam berat merupakan bahan buangan yang sudah sering menimbulkan pencemaran laut atau pantai. Diketahui jenis-jenis logam berat yang dipertimbangkan sebagai bahan pencemar, namun ada beberapa dari logam berat tersebut yang esensial untuk kehidupan organisme, seperti Mn, Fe, dan Cu, tetapi dalam jumlah berlebih sangat beracun bagi kehidupan organisme. Beberapa hal yang perlu diperhatikan terhadap bahan-bahan yang akan dibuang ke parairan termasuk perairan wilayah pesisir, yaitu: 1) Macam, sifat, banyaknya dan kontinuitas bahan buangan; 2) Kemampuan daya angkut dan pengencer perairan yang berkaitan dengan kondisi oseanografi setempat; 3) Kemungkinan interaksi antara sifat-sifat kimia dan biologi bahan buangan dengan lingkungan perairan; 4) Pengaruh bahan buangan terhadap kehidupan dan rantai makanan; 5) Proses degradasi dan perubahan biogeokimia; 6) Prognose terhadap jumlah dan macam tambahan bahan pencemar di masa datang; 7) Faktor-faktor lain yang has. Oleh karena itu, untuk mempertahankan kelestarian daya guna perairan wilayah pesisir perlu diatur berdasarkan peraturan perundangan maupun Perda. 7.4.6 Analisis Baku Mutu Produksi limbah (bahan pencemar) industri semakin meningkat dengan cepat, terutama limbah B3, dan pada umumnya dibuang langsung ke perairan laut. Limbah B3 yang dihasilkan oleh industri antara lain adalah logam berat, sianida, pestisida, zat pelarut, dan zat kimia berbahaya lainnya. Masukan kuantitas limbah ke dalam ekosistem pesisir dan lautan di Indonesia terus meningkat secara tajam terutama

120

dalam dua dasawarsa terakhir. Berbagai upaya telah diupayakan dalam mengontrol dan memantau kehadiran limbah B3, khususnya logam di perairan laut. Dalam upaya tersebut Pemerintah Indonesia menetapkan suatu aturan baku sebagai suatu patokan penilaian kualitas suatu lingkungan, aturan baku yang dikenal untuk perairan adalah baku mutu air laut (BMAL). Penetapan BMAL adalah sebagai salah satu instrumen dalam upaya perlindungan ekosistem perairan laut dan pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Namun pada BMAL Indonesia, khususnya dalam baku mutu limbah cair untuk logam, proses pengukuran konsentrasi logam, sebagai salah satu parameter pencemar air laut, hanya di titik beratkan pada air dan sedimen. Sekalipun menggunakan biota tetapi tidak mempertimbangkan pada dampak biologi yang signifikan di mana terjadi pada waktu yang lama setelah terjadi kontaminasi. Dengan demikian, hasil yang diperoleh belum dapat dianggap akurat secara ilmiah, mengingat kondisi ekosistem perairan laut sering mengalami perubahan akibat fenomena alam. Sampai saat ini orang masih menganggap bahwa perairan laut adalah tempat pembuangan sampah atau limbah yang paling aman. Salah satu kriteria aman adalah sejalan dengan kriteria penentuan ambang batas atau konsentrasi maksimum yang diijinkan menurut baku mutu air laut (BMAL) Indonesia untuk kegiatan pertambangan dan industri, misalnya baku mutu limbah cair untuk Industri Pelapisan Logam sesuai Kep-51/MENLH/10/1995. Selain itu, kriteria aman juga ditetapkan apabila limbah yang dimasud tidak termasuk dalam golongan limbah B3. Sedangkan Menurut Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor KEP-03/MENKLH/II/1991tentang baku mutu limbah cair bagi kegiatan yang telah beroperasi di bagi empat golongan I, II, III, dan IV. Golongan I diperuntukkan baku mutu alir limbah yang paling keras atau ketat, sedangkan Golongan IV diperuntukkan baku mutu air limbah yang paling longgar. Ketentuan golongan baku mutu air limbah yang akan digunakan di suatu daerah ditetapkan oleh pemerintah daerah misalnya Gubernur, yang disesuaikan dengan keadaan kualitas ambien daerah tersebut, sehingga baku mutu ambiennya dapat dijaga tidak akan dilampaui. Dalam penetapan kadar logam berat (Hg, Cd, Cu, Pb, dan Zn) dalam sedimen lebih rendah dibandingkan air laut. Data ini menunjukkan adanya akumulasi logam berat (Hg, Cd, Cu, Pb, dan Zn) dalam sedimen. Baku mutu logam berat di dalam lumpur atau sediman di Indonesia belum ditetapkan, padahal senyawa-senyawa logam berat lebih banyak terakumulasi dalam sedimen (karena proses pengendapan) di mana terdapat kehidupan biota dasar. Biota dasar yang resisten terhadap perubahan

121

kualitas lingkungan atau tercemar oleh logam berat, umumnya dijadikan sebagai indikator pencemaran. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu pengaturan baku mutu limbah dan baku mutu lingkungan, yaitu: (1) baku mutu lingkungan untuk mengarahkan pemanfaatan lingkungan, termasuk media lingkungan untuk budidaya, baku air laut, dan sebagainya (penggolongan media untuk berbagai keperluan); (2) baku mutu limbah untuk membatasi jumlah limbah yang dapat dikembalikan ke media lingkungan; serta (3) mengarahkan perencanaan penggunaan teknologi produksi, teknologi pengolahan limbah. A. Kesehatan Masyarakat Salah satu pencemaran pada badan air adalah masuknya logam berat. Peningkatan kadar logam berat di dalam perairan akan diikuti oleh peningkatan kadar zat tersebut dalam organisme air seperti kerang, rumput laut dan biota laut lainnya. Pemanfaatan organisme ini sebagai bahan makanan akan membahayakan kesehatan manusia. Besi adalah salah satu bahan baku yang digunakan untuk pembuatan baja. Pembuatan baja dalam proses produksinya menghasilkan limbah baja. Seperti yang telah diuraikan dalam penelitian ini sebelumnya, bahwa limbah baja berdasarkan hasil uji pelindian atau toxicity charcteristic leaching prosedure (TCLP) dapat diketahui berkriteria sebagai limbah B3, karena beberapa komponen melebihi baku mutu seperti diatur dalam standard TCLP No. 04/09/1995, yaitu: DR (untuk Pb), HSM (untuk Cr, Cu, dan Pb), FC (untuk Cr dan Cu) dan EAF (untuk semua komponen kecuali Cu). Limbah baja WRM dan CRM tidak terkena kriteria tersebut. Setelah dicampur sebagai material lainnya, ternyata nilai TCLPnya di bawah baku mutu yang dipersyaratkan. Berdasarkan hasil uji toksisitas limbah baja yang pada jenis limbah: DR (Pb 11 mg/l), HSM (Cr 7,2 mg/l, Cu 18 mg/l, Pb 6,2 mg/l), EAF (Cd 3,8 mg/l, Cr 19,2 mg/l, Pb 21 mg/l, Zn 60,5 mg/l) yang diketahui berkriteria sebagai limbah B3, maka pihak perusahaan maupun pemerintah daerah dapat antisipasi dampak negatif dari limbah B3 terhadap kesehatan masyarakat. Limbah industri baja yang mengandung unsur Fe, walaupun logam ini termasuk dalam kelompok logam esensial, namun pengaruh terhadap kesehatan masyarakat disekitarnya seperti penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat dari debu limbah baja dan sering pula dilaporkan terutama kasus keracunan Fe pada anak-anak. Keracunan Fe pada anak terjadi secara tidak sengaja, saat anak

122

memakan makanan atau benda yang menganndung Fe. Walaupun toksisitas Fe jarang menyebabkan kematian, tetapi dapat menyebabkan gangguan mental secara serius. Di sisi lain dampak pada kesehatan manusia terkait dengan sumber-sumber pencemaran lingkungan yang menimbulkan berbagai jenis penyakit. Untuk menunjang hal tersebut diperlukan data dari Badan Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Cilegon, Divisi K3LH PT. Krakatau Steel Cilegon, dan Dinas Kesehatan Kota Cilegon tahun 2007 yang selengkapnya disajikan pada Tabel 23 – 26. Tabel 23. Kondisi jumlah penduduk, jumlah limbah baja, dan jenis penyakit di Kecamatan Ciwandan tahun 2003 – 2007
Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Penduduk (Org) 36.384 37.658 38.552 38.898 39.800 Limbah (ton) 34.558 35.765 37.155 39.110 43.456 ISPA 5.285 5.465 5.671 6.098 6.775 Jenis Penyakit di Kecamatan Ciwandan (Org) Dermatitis TBC Paru TBA Artritis Lainnya 2.878 1.485 1.160 3.150 1.658 1.285 3.212 1.890 1.301 3.453 2.032 1.399 3.837 2.258 1.554

Berdasarkan Tabel 23 tersebut di atas, terlihat bahwa angka jumlah penduduk, jumlah limbah baja, dan jenis penyakit di Kecamatan Ciwandan Kota Cilegon dari tahun 2003 – 2007 berkecenderungan naik. Tabel 24. Kondisi jumlah penduduk, jumlah limbah baja, dan jenis penyakit di Kecamatan Citangkil tahun 2003 – 2007
Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Penduduk (Org) 53.040 54.299 55.589 56.472 57.782 Limbah (ton) 34.558 35.765 37.155 39.110 43.456 ISPA 9.868 10.015 10.246 11.017 12.241 Jenis Penyakit di Kecamatan Citangkil (Org) Dermatitis TBC Paru TBA Artritis Lainnya 1.844 925 985 1.995 997 1.056 2.021 1.045 1.211 2.173 1.123 1.302 2.414 1.248 1.447

Berdasarkan Tabel 24 tersebut di atas, terlihat bahwa angka jumlah penduduk dan jumlah limbah baja berkenderungan naik, sedangkan jumlah penyakit dari jenis penyakit di Kecamatan Citangkil Kota Cilegon dari tahun 2003 – 2007 berkecenderungan naik dengan jumlah penyakit lebih besar dibandingkan dengan kecamatan lainnya.

123

Tabel 25. Kondisi jumlah penduduk, jumlah limbah baja, dan jenis penyakit di Kecamatan Grogol tahun 2003 – 2007
Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Penduduk (Org) 30.810 31.425 32.291 32.862 33.624 Limbah (ton) 34.558 35.765 37.155 39.110 43.456 ISPA 918 932 991 1.066 1.184 Jenis Penyakit di Kecamatan Grogol (Org) Dermatitis TBC Paru TBA Artritis Lainnya 275 603 51 285 646 56 291 673 58 313 724 63 347 804 70

Berdasarkan Tabel 25 tersebut di atas, terlihat bahwa angka jumlah penduduk, jumlah limbah baja, dan jenis penyakit di Kecamatan Grogol Kota Cilegon dari tahun 2003 – 2007 berkecenderungan naik, namun jumlah penyakit dermatis, TBC Paru TBA, dan artritis lainnya cukup rendah kecuali penyakit ISPA tergolong tinggi. Tabel 26. Kondisi jumlah penduduk, jumlah limbah baja, dan jenis penyakit di Kecamatan Pulomerak tahun 2003 – 2007
Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Penduduk (Org) 38.884 40.831 41.801 42.037 43.012 Limbah (ton) 34.558 35.765 37.155 39.110 43.456 ISPA 234 327 336 362 402 Jenis Penyakit di Kecamatan Pulomerak (Org) Dermatitis TBC Paru TBA Artritis Lainnya 152 169 159 165 178 172 175 201 192 188 216 206 209 240 229

Berdasarkan Tabel 26 tersebut di atas, terlihat bahwa angka jumlah penduduk, jumlah limbah baja, dan jenis penyakit di Kecamatan Pulomerak Kota Cilegon dari tahun 2003 – 2007 berkecenderungan naik, namun tingkat kenaikan jumlah penyakit seperti halnya di Kecamatan Pulomerak menunjukkan angka yang kecil termasuk penyakit ISPA, karena di wilayah ini keberadaan jumlah industri tidak banyak. Berdasarkan Tabel-tabel tersebut di atas, baik jumlah penduduk, jumlah limbah, dan jenis penyakit di empat kecamatan Kota Cilegon yakni Kecamatan Ciwandan, Kecamatan Citangkil, Kecamatan Pulomerak, dan Kecamatan Grogol. Hal tersebut disebabkan oleh adanya pertumbuhan dan berkembangnya jumlah industri yang sangat pesat, sehingga sangat berpengaruh terhadap jumlah penduduk, jumlah limbah, dan berbagai jenis penyakit, dengan asumsi bahwa jenis penyakit di wilayah pesisir ini berasal dari limbah baja yang mencemari. Selanjutnya untuk mengetahui hubungan jenis penyakit dengan jumlah penduduk di tiap-tiap kecamatan wilayah pesisir Kota Cilegon dapat diperlihatkan besaran persentasinya (%) disajikan pada Tabel 27 – 30.

124

Tabel 27. Persentasi orang terkena penyakit tertentu di Kecamatan Ciwandan
No. Uraian Persentasi (%) Orang Terkena Penyakit Tertentu Di Kecamatan Ciwandan
2003 1 2 3 4 5 ISPA Dermatitis TBC Paru BTA Artritis lainnya Penduduk 5.285 2.878 1.485 1.160 36.384 % 14,53 7,91 4,08 3,19 2004 5.465 3.150 1.658 1.285 37.658 % 14,51 8,36 4,40 3,41 2005 5.671 3.212 1.890 1.301 38.552 % 14,71 8,33 4,90 3,37 2006 6.098 3.453 2.032 1.399 38.898 % 15,68 8,88 5,22 3,60 2007 6.775 3.837 2.258 1.554 39.800 % 17,02 9,64 5,67 3,90

Berdasarkan Tabel 27 di atas menunjukaan persentasi orang terkena penyakit ISPA > 14%. Urutan berikutnya jenis penyakit berikutnya adalah penyakit dermatitis > 7% tahun 2003 – 2007, hal tersebut terjadi karena di Kecamatan Ciwandan telah berdiri dan berkembangnya jumlah industri yang sangat pesat berkecenderungan terjadinya pencemaran lingkungan. Tabel 28. Persentasi orang terkena penyakit tertentu di Kecamatan Citangkil
No. Uraian Persentasi (%) Orang Terkena Penyakit Tertentu Di Kecamatan Citangkil
2003 1 2 3 4 5 ISPA Dermatitis TBC Paru BTA Artritis lainnya Penduduk 9.868 1.844 925 985 53.040 % 18,60 3,48 1,74 1,86 2004 10.015 1.995 997 1.056 54.299 % 18,44 3,67 1,84 1,94 2005 10.246 2.021 1.045 1.211 55.589 % 18,43 3,63 1,88 2,18 2006 11.017 2.173 1.123 1.302 56.472 % 19,51 3,85 1,99 2,31 2007 12.241 2.414 1.248 1.447 57.782 % 21,18 4,18 2,16 2,50

Berdasarkan Tabel 28 di atas menunjukaan persentasi orang terkena penyakit yang cukup tinggi, seperti halnya yang terjadi di Kecamatan Ciwandan. Di

Kecamatan Citangkil jenis penyakit tertinggi adalah penyakit ISPA > 18% dan di kecamatan ini telah tumbuh dan berkembangnya sejumlah industri, baik industri menengah maupun industri berat yang berkecenderungan terjadinya pencemaran lingkungan sehingga jumlah penyakit ISPA tergolong sangat besar dari tahun 2003 2007, namun jenis penyakit lainnnya masih tergolong normal.

125

Tabel 29. Persentasi orang terkena penyakit tertentu di Kecamatan Grogol
No. Uraian Persentasi (%) Orang Terkena Penyakit Tertentu Di Kecamatan Grogol
2003 1 2 3 4 5 ISPA Dermatitis TBC Paru BTA Artritis lainnya Penduduk 2.468 590 603 305 30.810 % 8,01 1,91 1,96 0,99 2004 2.505 611 646 340 31.542 % 7,94 1,94 2,05 1,08 2005 2.664 624 673 352 32.291 % 8,25 1,93 2,08 1,09 2006 2.865 671 724 378 32.862 % 8,72 2,04 2,20 1,15 2007 3.183 745 804 420 33.624 % 9,47 2,22 2,39 1,25

Berdasarkan Tabel 29 di atas, jenis penyakit ISPA di Kecamatan Grogol persentasinya tergolong cukup tinggi > 7% dan berkecenderungan naik, sedangkan jenis penyakit dermatitis, TBC paru TBA, dan artritis masih relatif rendah. Tabel 30. Persentasi orang terkena penyakit tertentu di Kecamatan Pulomerak
No. Uraian Persentasi (%) Orang Terkena Penyakit Tertentu Di Kecamatan Pulomerak
2003 1 2 3 4 5 ISPA Dermatitis TBC Paru BTA Artritis lainnya Penduduk 318 152 169 159 39.884 % 0,80 0,38 0,42 0,40 2004 327 165 178 172 40.831 % 0,80 0,40 0,44 0,42 2005 336 175 201 192 41.801 % 0,80 0,42 0,48 0,46 2006 362 188 216 206 42.037 % 0,86 0,45 0,51 0,49 2007 402 209 240 229 43.012 % 0,93 0,49 0,56 0,53

Berdasarkan Tabel 30 di atas, jumlah penyakit di Kecamatan Pulomerak menunjukaan persentasinya realatif kecil < 1% untuk jenis penyakit ISPA, dermatitis, TBC dan artritis. Meskipun jumlah penyakit ini berkecenderungan naik, namun tingkat kenaikan penyakitnya masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah penyakit yang terdapat di Kecamatan Ciwandan dan Citangkil. Selain hal tersebut di atas, untuk mengetahui pengaruh limbah baja terhadap jenis penyakit di empat kecamatan Kota Cilegon yakni Kecamatan Ciwandan,

Kecamatan Citangkil, Kecamatan Grogol, dan Kecamatan Pulomerak, adalah sebagai berikut: 1. Jumlah limbah baja dari tahun ke tahun cenderung meningkat, karena limbah tidak diolah dan menumpuk di area penyimpanan.

126

2. Sementara itu kapasitas produksi meningkat dari tahun ke tahun, sedangkan dampak teknologi untuk meminimalisasi limbah belum nampak berubah secara signifikan. 3. Secara deskriptif terdapat hubungan antara jumlah masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah pesisir dengan jenis penyakit yang ditimbulkannya dan ada indikasi bahwa tumbuhnya industri-industri yang terdapat di wilayah tersebut akan berdampak pada semakin meningkatnya orang terkena penyakit seperti penyakit ISPA, dermatitis, TBC, dan artritis lainnya. 4. Dari penelitian terlihat bahwa semakin jauh lokasi industri, maka jumlah masyarakat yang terkena penyakit semakin rendah, hal ini disebabkan semakin jauh dari lokasi industri maka pencemaran udara semakin rendah sehingga berdampak semakin rendahnya pencamaran udara. Untuk mengetahui dampak limbah terhadap jumlah orang yang terkena penyakit tertentu yang dipengaruhi oleh jarak, waktu musin hujan, bahan-bahan

mencemarinya yang ada diatmosfir sebagai akibat tercemarnya air hujan di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon tahun 2007 disajikan pada Tabel 31 – 34. Tabel 31. Jumlah masyarakat yang terkena penyakit di Kec. Ciwandan tahun 2007 Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jumlah Jumlah Masyarakat Terkena Penyakit di Kec. Ciwandan (org) ISPA Dermatitis TBC Paru TBA Artritis Lainnya 445 261 141 100 485 257 142 109 587 305 210 126 591 345 217 130 603 338 220 135 610 346 239 144 622 365 239 150 641 389 243 156 650 395 255 165 512 283 152 109 476 278 145 120 453 275 155 110 6.675 3.837 2.358 1.554

Wilayah pesisir di Kecamatan Ciwandan merupakan titik lokasi industri baja dan industri lainnya. Pada tahun 2007 wilayah ini berpenduduk 39.800 jiwa, karena jaraknya antara tempat tinggal penduduk dengan lokasi berdekatan, maka sangat memungkinkan sebagai sumber limbah dapat mencemari lingkungan sekitar yang mengakibatkan masyarakat mudah terkena penyakit tertentu yakni ISPA, dermatitis, TBC, dan artritis yang sangat tinggi seperti terlihat pada Tabel 31 di atas.

127

Tabel 32. Jumlah masyarakat yang terkena penyakit di Kec. Citangkil tahun 2007 Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jumlah Jumlah Masyarakat Terkena Penyakit di Kec. Citangkil (org) ISPA Dermatitis TBC Paru TBA Artritis Lainnya 965 107 85 100 968 113 87 109 1.023 187 105 115 1.011 209 116 119 1.013 235 122 121 1.065 245 125 124 1.085 265 124 130 1.103 272 130 150 1.109 270 96 162 986 185 88 109 968 111 86 106 945 215 84 102 12.241 2.414 1.248 1.447

Seperti halnya di Kecamatan Ciwandan, juga terjadi di wilayah pesisir Kecamatan Citangkil. Wilayah ini merupakan titik lokasi industri baja dan industri lainnya. Pada tahun 2007 wilayah ini berpenduduk 57.782 jiwa dan jaraknya antara tempat tinggal penduduk dengan lokasi sangat berdekatan, maka memungkinkan sekali penduduk tercemari lingkungannya oleh limbah yang mengakibatkan masyarakat mudah terkena penyakit tertentu yakni ISPA, dermatitis, TBC, dan artritis yang sangat tinggi seperti terlihat pada Tabel 32 di atas. Tabel 33. Jumlah masyarakat yang terkena penyakit di Kec.Grogol tahun 2007 Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jumlah Jumlah Masyarakat Terkena Penyakit di Kec. Grogol (org) ISPA Dermatitis TBC Paru TBA Artritis Lainnya 76 25 55 3 78 25 60 4 107 32 67 5 114 25 70 5 112 33 71 6 113 36 76 8 112 34 78 8 115 35 75 9 113 36 76 9 87 23 58 5 78 23 59 4 79 20 59 4 1184 347 804 70

Wilayah pesisir di Kecamatan Grogol berpenduduk 33.624 jiwa pada tahun 2007, relatif cukup rendah penduduk terkena penyakit akibat pencemaran lingkungan oleh pabrik-pabrik yang ada di Kota Cilegon. Wilayah ini tidak banyak industri yang

128

tumbuh dan berkembang di Kecamatan ini dan jarak antara penduduk dengan lokasi industri baja dan industri lainnya cukup jauh sehinga masyarakat tidak banyak terkena penyakit tertentu yakni ISPA, dermatitis, TBC, dan artritis, seperti terlihat pada Tabel 33 di atas. Tabel 34. Jumlah masyarakat yang terkena penyakit di Kec.Pulomerak tahun 2007 Bulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jumlah Jumlah Masyarakat Terkena Penyakit di Kec. Pulomerak (org) ISPA Dermatitis TBC Paru TBA Artritis Lainnya 26 13 15 16 26 14 15 16 34 16 19 20 35 18 21 21 37 20 22 22 37 21 25 22 35 22 26 24 36 20 26 22 39 18 25 20 33 18 15 15 32 14 15 15 32 15 16 16 402 209 240 229

Wilayah pesisir di Kecamatan Pulomerak berpenduduk 43.012 jiwa pada tahun 2007, lokasinya cukup aman dan relatif cukup rendah dari pencemaran lingkungan sehingga penduduk yang terkena penyakit akibat pencemaran lingkungan oleh pabrik-pabrik yang ada di Kecamatan Ciwandan dan Citangkil di Kota Cilegon. Wilayah ini jaraknya cukup jauh dari lokasi sumber pabrik baja dan hanya beberapa industri yang berdiri di wilayah ini, sehingga di waktu musim hujan limbah baja yang memcemari udara tidak sampai pada lokasi yang diinginkan. Jumlah penduduk yang terkena penyakit tertentu yakni ISPA, dermatitis, TBC, dan artritis, masih relatif rendah seperti terlihat pada Tabel 34 di atas. Berdasarkan tabel 31 - 34 di atas disimpulkan, bahwa 1) semakin jauh dari sumber limbah, maka semakin berkurang prosentasi masyarakat yang terkena penyakitnya, 2) dari data tahun 2007, pada musim hujan masyarakat yang terkena penyakit relatif berkurang. B. Degradasi Pesisir Lingkungan pesisir dan kelautan di Indonesia panjang seluruh garis pesisir di Indonesia mencapai 81.000 kilometer, hal ini adalah 14% dari seluruh pesisir di dunia. Indonesia adalah negara yang memiliki pesisir terpanjang di dunia. Ekosistem kelautan yang dimiliki oleh Indonesia sungguh sangat bervariasi, dan mendukung

129

kehidupan kumpulan spesies yang sangat besar. Indonesia memiliki hutan bakau yang paling luas, dan memiliki terumbu karang yang paling spektakuler di kawasan Asia. Keadaaan mikroorganisme ini sangat memungkinkan degradasi senyawa organik dalam sampel sehingga senyawa karbon rantai panjang putus dan menjadi senyawa karbon lebih pendek. Degradasi mikroorganisme pada umumnya diminimalisasi dengan pengendalian pH dan suhu atau penambahan bahan kimia. Kondisi pH yang sangat rendah atau sangat tinggi dan suhu rendah merupakan cara efektif untuk meminimalisasi degradasi, hal ini juga dapat terjadi pada degradasi pesisir. Sedangkan dalam pengelolaan sumberdaya alam termasuk pengelolaan limbah adalah permasalahan yang sangat serius dan berkesinambungan tentang manajemen dan kebijaksanaan, karena degradasi pengelolaan sumberdaya alam lebih banyak disebabkan oleh kelalaian manusia dalam mengikuti dan menerapkan kaidahkaidah syariat, serta keberanian manusia dalam melawan kaidah-kaidah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai persoalan krusial sebagai implikasi yang timbul dari tidak diterapkannya aturan yang benar yang mengatur tentang pengelolaan sumberdaya alam, sangat kita rasakan akibatnya hingga kini. Permasalahan berpangkal dari tidak tegaknya aturan main regulasi penerapan dan mekanisme pengelolaan sumberdaya alam sebagai syarat utama bekerjanya sistem aturan pengelolaan sumberdaya alam. Berdasarkan hasil pengamatan pada Tabel 18 mengenai data kualitas air laut di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon yang meliputi kecamatan, yaitu: Ciwandan, Citangkil, Grogol, dan Pulomerak, memperlihatkan parameter fisik pada kadar logam berat dalam air laut: tidak berbau, kecerahan > 3,0 m, zat padat tersuspensi < 80 mg/l, lapisan minyak negatif, sampah bernilai negatif. Begitu juga, Parameter kimia memperlihatkan kadar logam berat dalam sedimen (Hg, Cd, Cu, Pb, dan Zn) pada kadar logam berat dalam air laut masih tergolong rendah, sehingga degradasi pesisir masih menunjukkan titik atau angka aman. Hasil analisa logam berat dalam air laut menunjukkan air raksa (Hg), kadmium (Cd), dan tembaga (Cu) berkisar (rata-rata < 0,0005 mg/l), tembaga (Pb) rata-rata: < 0,0005 mg/l. Sedangkan untuk Seng (Zn ) rata-rata: 0,005 mg/l. Rendahnya kadar logam Hg, Cd, Cu, Pb, dan Zn kemungkinan karena logam tersebut mengalami proses pengenceran oleh pola arus pasang surut. Pengelolaan limbah baja adalah perkara yang sangat serius dan

berkesinambungan tentang manajemen dan kebijaksanaan. Degradasi pengelolaan limbah lebih banyak disebabkan oleh kelalaian manusia dalam mengikuti dan

130

menerapkan kaidah-kaidah syariat, serta keberanian manusia dalam melawan kaidahkaidah tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai persoalan krusial sebagai implikasi yang timbul dari tidak diterapkannya aturan yang benar yang mengatur tentang pengelolaan limbah baja sangat kita rasakan akibatnya hingga kini. Permasalahan berpangkal dari tidak tegaknya aturan main regulasi penerapan dan mekanisme pengelolaan limbah baja sebagai syarat utama bekerjanya sistem aturan pengelolaan limbah baja. Dengan melihat keterkaitan pada semua level yang dikaitkan dengan konteks kekinian, gagasan ini perlu dikembangkan dalam merumuskan pembangunan

kelautan nasional. Hal ini dikarenakan mencuatnya beberapa isu yang bersifat multi dimensi, multi struktural, dan memiliki keterkaitan antar lembaga pemerintahan (antar departemen maupun lembaga non-departemen), sehingga memudahkan dalam proses penyelesaian. Mencermati perkembangan permasalahan yang terjadi hingga sekarang, sudah selayaknya gagasan ocean policy yang komprehensif tersebut mampu mengatasi kompleksnya permasalahan, diantaranya yaitu penambangan pasir laut, illegal fishing, kerusakan pulau-pulau kecil, pengembangan pariwisata bahari, pengembangan budidaya ikan, penanganan pelabuhan umum dan perikanan serta lemahnya armada laut nasional, ancaman perdagangan perikanan, lemahnya sumberdaya manusia, degradasi lingkungan pesisir dan laut, serta pertahanan dan keamanan laut. 7.4.7 Analisis terhadap Komponen-komponen Pengelolaan Limbah Untuk memperoleh hasil analisis pengelohan air limbah yang baik, diperlukan sampling yang tepat. Sample yang diambil harus mewakili seluruh air limbah baja. Untuk menganalisis pengelolaan limbah baja dapat dilakukan dengan melihat komponen proses dan teknologi, komponen penduduk dan lingkungan, serta komponen ekonomi. A. Komponen Proses dan Teknologi Untuk analasis instalasi pengolahan air limbah pada komponen proses dan teknologi yang menghasilkan limbah industri baja akan tergantung pada kompleksitas instalasi. Masalah-masalah yang mengkin muncul dapat diakibatkan oleh kelemahan desain, penurunan kualitas kerja konstruksi, kesalahan peralatan, dan kesalahan yang dibuat oleh buruh operasi. Kesalahan yang berhubungan dengan desain biasanya merupakan masalah yang serius karena dapat menimbulkan gangguan aktivitas secara

131

keseluruhan untuk jangka waktu tidak pasti. Misalnya, desain proses dan teknologi yang tidak tepat atau kesalahan dalam perhitungan kapasitas dan dimensi. Komponen proses dan teknologi dalam penanganan instalasi pengolahan air limbah industri berpengaruh terhadap jumlah limbah, jenis industri, daya dukung lingkungan, bahkan terhadap jumlah industri. Untuk memperbaiki komponen proses dan teknologi tersebut diperlukan investasi yang tidak sedikit. B. Komponen Penduduk dan Lingkungan Permasalahan lingkungan hidup pada dasarnya mencakup interaksi antara manusia/penduduk dengan lingkungannya, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Hubungan dan keadaan saling tergantung ini haruslah didasari dengan adanya keselarasan dan keseimbangan. Kesesuaian tersebut dapat terjadi apabila manusia dapat memilih berbagai alternatif yang disajikan lingkungannya. Untuk menyelaraskan dan menyeimbangkan pengelolaan limbah yang mempengaruhi faktor penduduk dan lingkungannya diperlukan langkah-langkah: 1) pengurangan limbah; 2) melestarikan tatanan lingkungan; 3) mengindahkan daya dukung lingkungan; 4) menaikkan mutu lingkungan; 5) menggairahkan peran serta masyarakat pada peduli lingkungan melalui program kesehatan masyarakat, dan sebagainya. C. Komponen Ekonomi Pembangunan yang pesat dibidang ekonomi disatu sisi akan meningkatkan kualitas hidup manusia, yaitu dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, tetapi di sisi lain akan berakibat pada penurunan kesehatan akibat adanya pencemaran yang berasal dari limbah industri dan rumahtangga. Hal ini karena kurangnya atau tidak memadainya fasilitas atau peralatan untuk menangani dan mengelola limbah tersebut. Di dalam pengelolaan limbah tidak lepas dari beban pembiayaan, karena pengelolaan dan peningkatan kualitas lingkungan bukan pilihan yang cuma-cuma, akan tetapi membutuhkan dana dan memanfaatkan sumber-sumber yang riil. Pengeluaran yang aktual sebagai pengelolaan limbah atau pengurangan kerusakan lingkungan diperlukan perhitungan ekonomi dari manfaat lingkungan yang dapat dilestarikan. Untuk dapat membantu setiap analisis sampai kesesuaian sosial dari pengelolaan limbah, yaitu pilihan dengan manfaat bersih (manfaat lebih besar dari biaya) merupakan hal yang diutamakan berdasarkan konsiderasi yang berkaitan dengan minat generasi masa depan. Pemikiran tersebut dapat diformulasikan, dengan

132

perhitungan untuk membandingkan biaya dan manfaat dua atau lebih pilihan dalam pengelolaannya menggunakan analisa biaya manfaat (cost-benefit analysis). 7.4.8 Penentuan-penentuan Pengelolaan Limbah Upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas lingkungan pada wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, yaitu dengan cara melakukan pengelolaan limbah industri baja. Penentuan pengelolaan limbah baja ini meliputi: penentuan pemilihan parameter, penentuan parameter kunci, dan pengembangan model berdasarkan skenario pengelolaan 7.4.8.1 Penentuan Pemilihan Prioritas Untuk penentukan pemilihan prioritas pada model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon ini didasarkan oleh pengumpulan pendapat pakar terutama para pakar pengamat, pemerhati dan pelaksana lingkungan. Pelaksanaan penjaringan pendapat para pakar tentang perbandingan tingakat kepentingan yang mempunyai peranan masing-masing derajat kepentingan dalam pengelolaan limbah industri baja menggunakan model AHP-criterium decision plus (Cdplus3.0). Pada analisis ini, struktur pengelolaan limbah industri baja dikelompokkan menurut fokus, tujuan, kriteria, aktor, dan alternatif. a. Analisis tingkat kepentingan variabel fokus terhadap variabel tujuan Berdasarkan struktur tersebut, fokus yang ingin dicapai adalah strategi dan kebijakan pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestaraian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon (KIKC). Tujuan yang ingin dicapai adalah pemanfaatan kembali limbah, minimalisasi limbah,

pencegahan pencemaran terhadap wilayah pesisir, pencegahan pencemaran terhadap kesehatan masyarakat, upaya mempertahankan wilayah pesisir, dan kebijakan pengelolaan limbah berwawasan lingkungan dan berkelajutan. Kriteria yang menjadi sasaran keberhasilan dalam pengelolaan limbah ini adalah melakukan pencegahan timbulnya limbah, mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan, efisiensi material dan energi, mendukung prinsip “environmental equity”, mencegah degradasi lingkungan, memelihara ekosistem lingkungan, dan memperkuat daya dukung lingkungan. Aktor yang berkepentingan terdiri: pemerintah daerah, industri penghasil baja, Divisi K3LH PT. Krakatau Steel, masyarakat sekitar, lembaga swadaya masyarakat, dan para peneliti/pakar dari berbagai perguruan tinggi maupun instansi

133

terkait lainnya. Selanjutnya untuk mencapai sasaran yang diinginkan dalam pengelolaan limbah industri baja ini diperlukan kebijakan atau alternatif-alternatif program yang diperlukan sesuai dengan fokus yang ditetapkan. Dalam strategi dan kebijakan pengelolaan limbah industri baja ini alternatif program yang dilaksanakan adalah perubahan bahan baku, perubahan proses dan teknologi, perubahan produk, perubahan 5 R lingkungan, mengurangi limbah, memakai kembali limbah, mendaur ulang limbah, dan mengganti limbah. Berdasarkan hasil pengumpulan pendapat pakar lingkungan dapat dilakukan dengan menggunakan model AHP Cdplus3.0 diperoleh hasil perhitungan tingkat kepentingan variabel fokus terhadap variabel tujuan disajikan pada Tabel 35. Tabel 35. Hasil analisis bobot fokus terhadap tingkat kepentingan tujuan pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC No. 1 2 3 4 5 6 Variabel Pemanfaatan limbah kembali Minimalisasi limbah Pencegahan pencemaran pesisir Pencegahan pencemaran terhadap kesehatan masyarakat Upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kebijakan pengelolaan limbah berwawasan lingkungan dan berlanjutan Consisitency ratio Nilai 0,325 0,214 0,201 0,119 0,084 0,056 0,099

Berdasarkan Tabel 35 di atas, terlihat bahwa bobot fokus terhadap tingkat kepentingan tujuan yang memiliki rangking tertinggi adalah pemanfaatan kembali limbah baja dengan nilai bobot 0,325 pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC. b. Analisis tingkat kepentingan variabel tujuan terhadap variabel kriteria Penjaringan pendapat pakar tentang perbandingan tingkat kepentingan diperoleh bobot masing-masing variabel kriteria sesuai dengan acuan yang menjadi variabel tujuan pengelolaan limbah industri baja ini. Hasil pengolahan selengkapnya disajikan pada Tabel 36.

134

Tabel 36. Hasil perhitungan bobot tujuan terhadap tingkat kepentingan kriteria pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC
Tujuan Kriteria Timbulnya limbah Pencemaran & kerusakan lingkungan Efisiensi material & energi “Environmental equity” Degradasi lingkungan Ekosistem lingkungan Daya dukung lingkungan Consistency Pemanfaatan limbah kembali 0.402 0.153 0.050 0.118 0.062 0.117 0.098 0,100 Minimalisasi limbah Pencegahan pencemaran pesisir 0.239 0.104 0.233 0.088 0.121 0.152 0.062 0,097 Upaya menpertahankan kelesterian wilayah pesisir 0.219 0.119 0.085 0.088 0.140 0.254 0.096 0,095 Kebijakan Pengel. Limb berwws lingk dan berkelanjutan 0.170 0.149 0.051 0.277 0.050 0.199 0.104 0,096 Pencegahan pencemaran terhadap kesehatan masyarakat 0.297 0.216 0.161 0.101 0.090 0.055 0.079 0,099

0.092 0.067 0.151 0.153 0.147 0.162 0.229 0,092

Berdasarkan Tabel 36 di atas, menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut memiliki konsistensi positif, antara variabel tujuan terhadap variabel kriteria pada pengelolaan limbah industri baja ini. Juga dilakukan pengolahan data hasil pengumpulan pendapat pakar tentang perbandingan berpasangan antara variabel tujuan dengan variabel kriteria. Pada tahapan ini, dapat dilakukan perhitungan bobot untuk setiap faktor yang mengacu pada masing-masing variabel tujuan terhadap variabel kriteria. Hasil perhitungan dengan menggunakan model AHP Cdplus3.0, maka dapat diketahui bobot masing-masing faktor yang mengacu dari variabel tujuan terhadap masing-masing variabel kriteria. Berdasarkan hasil pengolahan pendapat pakar yang menggunakan model AHP Cdplus3.0 berupa hasil perhitungan tingkat kepentingan variabel tujuan yaitu pemanfaatan kembali limbah, menimalisasi limbah, pencegahan pencemaran terhadap wilayah pesisir, pencegahan pencemaran terhadap kesehatan masyarakat, upaya mempertahankan wilayah pesisir, dan kebijakan pengelolaan limbah berwawasan lingkungan dan berkelajutan terhadap variabel kriteria dalam pengelolaan limbah industri baja ini disajikan pada Tabel 37. Tabel 37. Hasil analisis bobot tujuan terhadap tingkat kepentingan kriteria pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC No. 1 2 3 4 5 6 7 Variabel Timbulnya limbah Ekosistem lingkungan “Environmental equity” Pencemaran dan kerusakan Efisiensi material dan energi Daya dukung lingkungan Degradasi lingkungan Bobot Nilai 0,237 0,157 0,137 0,135 0,122 0,111 0,102

135

Berdasarkan Tabel 37 di atas, terlihat bahwa bobot tujuan terhadap tingkat kepentingan kriteria yang memiliki rangking tertinggi adalah timbulnya limbah baja dengan nilai bobot sebesar 0,237 dengan consistency ratio sebesar 0,100 pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC. c. Analisis tingkat kepentingan variabel kriteria terhadap variabel aktor Penjaringan pendapat pakar tentang perbandingan tingkat kepentingan diperoleh bobot masing-masing variabel aktor sesuai dengan acuan yang menjadi variabel kriteria pengelolaan limbah industri baja ini. Hasil pengolahan selengkapnya disajikan pada Tabel 38. Tabel 38. Hasil perhitungan bobot kriteria terhadap tingkat kepentingan aktor pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC
Kriteria
Aktor Pemerintah Daerah Industri Penghasil Baja Divisi K3LH PT. KS Masyarakat sekitar Lembaga Swadaya Masyrakat Peneliti/ Pakar Consistency 0.301 0.168 0.403 0.219 Timbulnya limbah Pencemaran & Kerusakan Lingkungan Effisiensi Material dan Energi 0.335 0.248 Environmental Equity Degradasi Lingkungan Ekosistem Lingkungan Daya Dukung Lingkungan 0.076 0.244

0.313 0.162

0.293 0.238

0.353 0.187

0.222

0.157

0.155

0.203

0.178

0.192

0.155

0.118 0.107

0.074 0.074

0.099 0.094

0.119 0.129

0.124 0.105

0.092 0.100

0.121 0.091

0.083 0,095

0.074 0,086

0.068 0,078

0.075 0,090

0.063 0,099

0.076 0,081

0.078 0,094

Berdasarkan Tabel 38 di atas, menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut memiliki konsistensi positif, antara variabel kriteria terhadap variabel aktor pada pengelolaan limbah industri baja ini. Juga dilakukan pengolahan data hasil pengumpulan pendapat pakar tentang perbandingan berpasangan antara variabel kriteria dengan variabel aktor. Pada tahapan ini, juga dapat dilakukan perhitungan bobot untuk setiap faktor yang mengacu pada masing-masing variabel kriteria terhadap variabel aktor. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan model AHP Cdplus3.0, maka dapat diketahui bobot masing-masing faktor yang mengacu dari variabel kriteria terhadap masing-masing variabel aktor. Berdasarkan hasil pengolahan pendapat pakar yang menggunakan model AHP Cdplus3.0 berupa hasil perhitungan bobot kepentingan variabel kriteria yaitu: timbulnya limbah, pencemaran dan kerusakan lingkungan, efisiensi material dan energi, “environmental equity”, degradasi lingkungan, ekosistem lingkungan, dan

136

daya dukung lingkungan terhadap variabel aktor dalam pengelolaan limbah industri baja ini disajikan pada tabel 39. Tabel 39. Hasil analisis bobot kriteria terhadap tingkat kepentingan aktor pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC No. 1 Sar 3 4 5 6 Variabel Pemerintah Daerah Industri penghasil baja Divisi K3LH PT. KS Masyarakat sekitar Lembaga Swadaya Masyarakat Peneliti/Pakar Bobot Nilai 0,330 0,209 0,189 0,107 0,100 0,074

Berdasarkan Tabel 39 di atas, terlihat bahwa bobot kriteria terhadap tingkat kepentingan aktor yang memiliki rangking tertinggi adalah pemerintah daerah dengan nilai bobot sebesar 0,330 dan consistency ratio sebesar 0,099 pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC. d. Analisis tingkat kepentingan variabel aktor terhadap variabel alternatif Penjaringan pendapat pakar tentang perbandingan tingkat kepentingan diperoleh bobot masing-masing variabel alternatif sesuai dengan acuan yang menjadi variabel aktor pengelolaan limbah industri baja ini. Hasil pengolahan selengkapnya disajikan pada Tabel 40. Tabel 40. Hasil perhitungan bobot aktor terhadap tingkat kepentingan alternatif pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC
Aktor Alternatif Perubahan Bahan Baku Perubahan proses dan Teknologi Perubahan Prosuk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali Limbah Mendaur Ulang Limbah Mengganti Limbah Consistency Lembaga Swadaya Masyarakat 0.295 0.142 0.160 0.111 0.074 0.068 0.077 0.073 0,094 Masyarakat Sekitar 0.283 0.187 0.130 0.115 0.098 0.053 0.067 0.067 0,099 Divisi K3LH PT. KS 0.297 0.127 0.169 0.125 0.117 0.059 0.060 0.045 0,093 Industri Penghasil Baja 0.252 0.114 0.203 0.091 0.095 0.091 0.096 0.058 0,093 Peneliti/ Pakar 0.223 0.159 0.195 0.141 0.052 0.058 0.078 0.093 0,090 Pemerintah Daerah 0.306 0.139 0.161 0.100 0.078 0.062 0.069 0.086 0,080

Berdasarkan Tabel 40 di atas, menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut memiliki konsistensi positif, antara variabel aktor terhadap variabel alternatif pada pengelolaan limbah industri baja ini. Juga dilakukan pengolahan data hasil pengumpulan pendapat pakar tentang perbandingan berpasangan antara variabel aktor

137

dengan variabel alternatif. Pada tahapan ini, juga dilakukan perhitungan bobot untuk setiap faktor yang mengacu pada masing-masing variabel aktor terhadap variabel alternatif. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan model AHP Cdplus3.0, maka dapat diketahui bobot masing-masing faktor yang mengacu dari variabel aktor terhadap masing-masing variabel alternatif. Berdasarkan hasil pengolahan pendapat pakar yang menggunakan berupa hasil perhitungan bobot kepentingan variabel aktor yaitu: Pemerintah Daerah, Industri penghasil baja, Divisi K3LH PT. Krakatau Steel, Masyarakat sekitar, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan para peneliti/pakar terhadap variabel alternatif dalam pengelolaan limbah industri baja ini disajikan pada Tabel 41. Tabel 41. Hasil analisis bobot aktor terhadap tingkat kepentingan alternatif pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Variabel Perubahan bahan baku Perubahan produk Perubahan proses dan teknologi Penerapan 5 R lingkungan Mengurangi limbah Mendaur ulang limbah Mengganti limbah Memakai kembali limbah Bobot Nilai 0,276 0,170 0,145 0,114 0,086 0,075 0,070 0,065

Berdasarkan Tabel 41 di atas, terlihat bahwa bobot aktor terhadap tingkat kepentingan alternatif yang memiliki rangking tertinggi adalah perubahan bahan baku dengan nilai bobot sebesar 0,276 dan consistency ratio sebesar 0,099 pada strategi pengelolaan limbah baja di wilayah pesisir KIKC. Berdasarkan hasil terhadap variabel-variabel terhadap tingkat kepentingan, maka disusun suatu strategi kebijakan pengelolaan limbah yang ditunjukkan pada struktur hierarki disajikan pada Gambar 21.

138

139

7.4.8.2 Penentuan Parameter Kunci Untuk mengidentifikasi struktur sistem pada penentuan parameter kunci kebijakan pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestaraian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon menggunakan metodologi interpretative structural modelling (model ISM). Hasil pengolahan data kuesioner beberapa pendapat pakar lingkungan yang mendominasi jawaban

pertanyaan/pernyataan seperti pada Tabel 42. Tabel 42. Hasil pendapat pakar lingkungan tentang pengelolaan limbah baja No. 1 Pertanyaan/Pernyataan Dalam pengelolaan limbah baja, menurut saudara mana urutan aktor yang paling berperan? Jika akan memilih area penyimpanan limbah baja, menurut bapak/ibu urutan aspek pemilihan penyimpanan limbah baja yang bagaimana yang akan dipilih? Jika akan memilih area penyimpanan limbah baja, menurut bapak/ibu bagaimana urutan bentuk Area penyimpanan limbah yang akan dipilih? Pengelolaan limbah baja yang selama ini dilaksanakan oleh pabrik baja ini ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan ekologi, ekonomi maupun sosial, menurut bapak/ibu bagaimana urutan permasalahan yang telah berhasil diatasi dengan dimulai sistem pengelolaan limbah baja? Model pengelolaan limbah baja akan berdampak pada permasalahan ekologi, ekonomi maupun sosial, menurut bapak/ibu bagaimana dampak yang paling besar terjadi dengan dibangunnya model pengelolaan limbah baja? Model pengelolaan limbah baja dipengaruhi oleh beberapa faktor, menurut bapak/ibu bagaimana urutan faktor yang paling penting dengan dibangunnya model pengelolaan limbah baja? Model pengelolaan limbah baja diikuti dengan pembangunan Pendapat Pakar Pabrik baja

2

Area penyimpanan limbah yang jelas status kawasannya

3

Pembangunan Area penyimpanan limbah dari yang jauh pemukiman penduduk

4

Pergeseran lokasi/Area penyimpanan limbah

5

Pergeseran lokasi pembangunan

6

Pengelolaan yang bisa dipertanggungjawabkan dari segi lingkungan

7

Jaringan pembuangan air limbah/waste water

140

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

prasarana, menurut bapak/ibu bagaimana urutan faktor prasarana dasar penyimpanan limbah yang paling penting? Penggunaan teknologi pengolahan limbah ditinjau dari beberapa aspek, menurut bapak/ibu bagaimana urutan teknologi pengolahan limbah yang baik dan dapat meminimalkan jumlah pencemaran lingkungan yang akan bapak/ibu pilih? Apakah bapak/ibu pernah melihat limbah baja menumpuk di sekitar penampungan? Apakah bapak/ibu pernah melihat limbah baja menyumbat di saluran drainase sekitar perusahaan pada waktu musim hujan? Apakah bapak/ibu pernah melihat limbah baja di lingkungan saudara pada saat anda melintasi kawasan industri tersebut? Pernahkah pemerintah melibatkan bapak/ibu dalam pengelolaan lingkungan dari limbah baja? Apakah di lingkungan bapak/ibu pernah ada sosialisasi kebijakan pengelolaan limbah baja ? Adakah fasilitas pengelolaan limbah baja di daerah sekitar tempat tinggal bapak/ibu? Apakah bapak/ibu setuju dengan model pengelolaan limbah baja yang ada sekarang? Menurut bapak/ibu apakah sudah ada Perda yang mengatur tentang pengelolaan limbah baja? Menurut bapak/ibu apakah sudah ada Perda yang mengatur tentang pengelolaan limbah baja Apakah di lingkungan bapak/ibu sudah mempunyai strategi pengelolaan limbah baja (diPerdakan)? Apakah bapak/ibu dilibatkan dalam menyusun strategi pengelolaan limbah baja? Menurut bapak/ibu apakah di lingkungannya sudah terjadi pencemaran saat ini?

Kecepatan waktu yang dibutuhkan untuk mengolah limbah baja

Pernah, karena kebutuhan biaya untuk membuat prasarana pengolahan limbah yang aman, dan sebagainya. Tidak pernah, karena penerapan 3R sudah jalan (Reuse, Recyling, Recovery) Ya pernah disekitar tahun 70 – 80-an

Pernah, Studi pemanfaatan limbah baja Pemerintah melalui KLH yang mendatang ahli-ahli yang berpengalaman Kerjasama yang saling menguntungkan untuk pelaksanaan pemanfaatan kembali limbah Setuju, karena sifatnya adalah pemanfaatan limbah - Ditinjau dari lokasi sudah sesuai - Ditinjau dari sistem perlu Peningkatan Ada, PP 95 tahun 1994, dan lain-lain

Perda layak uji belum ada, dan hanya terbatas pada NAB

Tidak

Sejauh ini belum terasa adanya pencemaran lingkungan

141

Berdasarkan hasil dari 20 butir pertanyaan/pernyataan dan pendapat para pakar tersebut di atas, maka diambil 10 jawaban pendapat para pakar sebagai parameter kunci pada model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestaraian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, yang selanjutnya diolah dengan bantuan program ISM VAXO, dengan tahapan sebagai berikut: 1. Menentukan sub elemen pendapat pakar Sub elemen pendapat pakar dari hasil jawaban pendapat para pakar lingkungan dari berbagai instansi terkait seperti pakar lingkungan yang berasal dari perguruan tinggi, instansi pemerintah maupun instansi terkait lainnya yang berpendidikan S2/S3 seperti: IPB, ITB, dan UNTIRTA, Puspiptek Serpong, Dinas Lingkungan Hidup, Pertambangan dan Energi Kota Cilegon, Provinsi Banten seperti: Bapedalda, Dinas perikanan dan Kelautan, Divisi K3LH PT. Krakatau Steel dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pemerhati lingkungan, dengan jumlah 15 orang responden sebagai pakar lingkungan yang telah memberikan kontribusi jawaban atas 20 butir pertanyaan/pernyataan, kemudian diambil menjadi 10 butir jawaban yang memenuhi keseragaman jawaban untuk diprioritaskan sebagai parameter kunci dalam menentukan sub elemen pendapat pakar, seperti yang disajikan pada Tabel 43. Tabel 43. Sub elemen faktor kunci dalam pengelolaan limbah No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sub Elemen Pabrik baja Area penyimpanan limbah Pembangunan area limbah yang jauh dari pemukiman Pengolahan yang dapat dipertangungjawabkan Jaringan pembuatan waste water Kecepatan waktu pengolahan limbah Membangun prasarana pengolahan limbah yang aman Penerapan 3 R (Reuse, Recyling, Recovery) Studi pemanfaatan limbah Mendatangkan pakar

2. Menentukan kontekstual antar elemen Setelah menentukan sub elemen pendapat pakar, selanjutnya peneliti melakukan identifikasi para pakar lingkungan terutama bekerja maupun yang berdomisili di sekitar lokasi pabrik yang berkecenderungan menghasilkan limbah untuk memberikan jawaban/pendapat kontekstual antar elemen dengan jumlah responden 5 orang pakar, hasilnya seperti yang tersedia pada Lampiran 10.

142

3. Menentukan hasil pengolahan ISM VAXO Hasil pengolahan ISM VAXO diperoleh berdasarkan hasil pengolahan kontekstual antara elemen dengan melibatkan 5 orang responden dari para pakar lingkungan dengan meggunakan bantuan program ISM VAXO. Hasil pengolahan program ISM VAXO tersedia pada lampiran 10. 4. Membuat grafik hasil pengolahan Grafik hasil pengolahan ini dibuat dengan bantun program ISM VAXO (matriks driver power - dependence) atau diagram kartesius dengan sumbu Y adalah driver power dan sumbu X adalah dependence. Grafik ini dapat melihat posisi elemen faktor parameter kunci model pengelolaan limbah baja disajikan pada Gambar 22.

Driver Power (Daya Dorong)

Dependence(Ketergantungan)

Gambar 22. Matriks driver power-dependence untuk sub elemen faktor kunci Berdasarkan grafik matriks driver power-dependence di atas menunjukkan sub elemen faktor kunci pendapat pakar lingkungan memposisikan yakni Sektor II (dependence) namun memiliki kekuatan penggerak (driver power) yang kecil posisi sub elemen pendapat pakar menyatakan kecepatan waktu pengolahan limbah (6); Sektor III (independent dan driver power yang kecil) posisi sub elemen pendapat pakar menyatakan area penyimpanan limbah (2), jaringan pembuatan waste water (5), membangun prasarana pengolahan limbah yang aman (7), penerapan 3 R (reuse, recyling, recovery) (8), Studi pemanfaatan limbah (9), dan mendatangkan pakar (9); Sektor IV (independent.) posisi sub elemen pendapat pakar menyatakan pabrik baja (1), pembangunan area limbah yang jauh dari pemukiman (3), dan pengolahan yang dapat dipertangungjawabkan (4) adalah peubah bebas, hal ini berarti kekuatan

143

penggerak (driver power) yang besar namun memiliki sedikit ketergantungan terhadap program. Berdasarkan hasil keluaran program tersebut di atas, maka dapat disajikan pada Gambar 23. Level 1

6. Kecepatan waktu pengolahan limbah

Level 2
2. Area penyimpanan limbah 5. Jaringan pembuatan waste water 7. Membangun prasarana pengolahan limbah yang aman 8. Penerapan 5R 9. Studi pemanfaatan limbah 10. Men datangkan pakar

Level 3

3. Membangun area limbah yang jauh dari pemukiman

4. Pengolahan yang dapat dipertanggungjawabkan

Level 4
1. Pabrik baja

Keterangan: artinya mempengaruhi Gambar 23. Diagram model struktural dari elemen faktor kunci pengelolaan limbah Dari Gambar 23 di atas, tertera bahwa untuk melakukan kecepatan waktu pengolahan limbah (6) adalah pengubah pengait dari sistem, karena diharapkan setiap tindakan tersebut akan menghasilkan sukses program pengelolaan limbah industri baja di wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Berdasarkan diagram model struktural di atas, maka yang menjadi elemen kunci (key element) adalah submodel dengan peringkat satu pada model pengelolaan limbah industi baja ini adalah subelemen pabrik baja (1). 7.4.8.3 Pengembangan Model Dinamis pada Pengelolaan Limbah Pengembangan model sebagai skenario dalam pengelolaan limbah industri baja melalui pendekatan sistem yang tahapannya meliputi: (a) analisis kebutuhan stakeholders, (b) formulasi masalah, (c) identifikasi sistem, (d) pembuatan model, dan (e) pengujian model.

144

A. Analisis Kebutuhan Stakeholders Analisis kebutuhan dapat diidentifikasi melalui stakeholders yang terlibat dalam pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestaraian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon adalah pemerintah yang mewakili kepentingan publik melalui Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Banten serta Dinas Lingkungan Hidup,

Pertambangan dan Energi Kota Cilegon, Perusahaan/industri perhasil baja, Lembaga swadaya masyarakat (LSM) peduli lingkungan, Masyarakat di sekitar yang menggantungkan sumber penghasilannya pada sumberdaya perikanan, Perguruan Tinggi, serta Divisi Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Hidup (K3LH) PT. Krakatau Steel. Analisis kebutuhan stakeholders digunakan untuk menentukan pelaku sistem dengan kebutuhan pelaku sistem dengan komponen-komponen yang terlibat serta kebutuhan masing-masing komponen yang dilaksanakan dalam pengelolaan limbah industri baja adalah sebagai berikut: 1) Pemerintah Provinsi Banten dan Kota Cilegon serta dinas instansi teknis lainnya membutuhkan pengelolaan limbah industri baja dalam upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan, penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, peningkatan pendapatan asli daerah, dan peningkatan dinamika ekonomi daerah. 2) Perusahaan/Industri penghasil baja membutuhkan keberlanjutan usaha,

terjaminnya sumber bahan baku baja yang kontinu, dan harga produk yang memiliki daya saing tinggi untuk dapat dijual. 3) Lembaga swadaya masyarakat (LSM) membutuhkan dan mengharapkan terjaminnya hak-hak masyarakat sekitar pabrik baja, terjaganya kelestarian wilayah pesisir sekitar dan penyediaan tenaga kerja daerah sekitar. 4) Masyarakat sekitar membutuhkan tersedianya sumber daya alam sebagai sumber pendapatan dan mata pencaharian masyarakat sekitar. 5) Peneliti/pakar dari perguruan tinggi membutuhkan pengelolaan limbah industri ini sebagai bahan kajian akademik/ilmiah. 6) Divisi K3LH PT. Krakatau Steel membutuhkan dan mempersiapkan pengelolaan kawasan industri baja secara komprehensif dan holisik serta berkelanjutan. B. Formulasi Masalah Formulasi masalah dilakukan atas dasar penentuan informasi yang telah

dilaksanakan melalui identifikasi sistem secara bertahap. Pada pelaksanaannya,

145

seringkali terjadi konflik kepentingan dari kebutuhan para stakeholders, meskipun demikian konflik kepentingan dalam pengelolaan limbah industri baja perlu diidentifikasi antara keinginan yang diperoleh dari hasil perhitungan bobot kepentingan variabel kriteria terhadap variabel aktor pada Tabel 38 dengan konflik kepentingannya seperti yang disajikan pada Tabel 44. Tabel 44. Formulasi masalah keinginan dan konflik kepentingan pengelolaan limbah No. 1 Aktor/Pelaku Pemerintah Keinginan Mencegah limbah dari pencemaran dan kerusakan lingkungan, baik di sekitar pabrik maupun di wilayah pesisir Konflik Kepentingan Produsen: Masih banyak limbah baja yang tersimpan di area penampungan limbah, namun belum dikelola dengan baik Petani: Petani menilai wilayah pesisir belum terbebas dari limbah industri yang mengalir, karena masih ada industri yang belum memanfaatkan limbah menjadi material yang mempunyai nilai tambah Produsen: Just in time sudah dilakukan pada pemakaian bahan baku baja dan energinya, namun masih ada sarana yang kurang mendukung. Produsen: Masih lemahnya tanggung jawab dan kepedulian para stakeholder untuk menjaga kelestarian lingkungan. Masyarakat/Petani: Masyarakat menilai prinsip “environmental equity” masih membutuhkan waktu, sehingga belum terpikir kearah tersebut. Pemerintah Daerah: Peraturan yang memperkuat daya dukung lingkungan masih mempunyai faktor kepentingan, sehingga potensi wilayah pesisir belum memiliki tata ruang. Petani: Petani perikanan belum

2

Industri

Efisiensi pemakaian material dan energi

3.

Lembaga Swadaya Masyarakat

Mendukung prinsip “environmental equity”

4.

Masyarakat Sekitar

Memperkuat daya dukung lingkungan

146

5.

Pakar/Peneliti

Perlunya pencegahan timbulnya limbah

6.

Divisi K3LH

Mencegah timbulnya limbah dengan menekan angka kecelakaan kerja, dan penyakit lingkungan

merasakan daya dukung lingkungan, sehingga hasil laut dirasakan masih minim dan masih sulitnya masyarakat pesisir mencari pekerjaan yang layak. Produsen/Pengusaha: Upaya untuk pencegahan timbulnya limbah sudah ada, namun pengelolaannya belum optimal sehingga masih banyak limbah yang belum tertangani. Petani: Hasil laut semakin menurun dikarenakan buangan limbah industri sampai mengalir di pesisir Produsen/Pengusaha: Biaya pencegahan timbulnya limbah masih terbatas dan tidak terfokuskan pada upaya penanganannya.

Seperti yang diuraikan di atas, maka permasalahan yang menjadi perhatian para stakeholders yaitu bagaimana pengelolaan limbah baja yang tidak dapat mengganggu kelestarian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Perlu diketahui bahwa permasalahan rendahnya hasil pertanian di empat Kecamatan yaitu Ciwandan, Citangkil, Grogol, dan Pulomerak yang merupakan daerah termasuk wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon yang memiliki produksi komoditas hasil pertanian yang sangat rendah pada tahun 2007 seperti tangkapan ikan, padi, dan kacang tanah. Diketahui pula bahwa hasil laut di wilayah pesisir berupa tangkapan ikan sebanyak 1.103 ton/tahun. Jika dikaitkan dengan jumlah penduduk Kota Cilegon, maka kebutuhan ikan/lauk pauk tidak mencukupi dan sampai saat ini masih dipasok oleh daerah lain seperti Kabupaten/Kota Serang dan Kabupaten Pandeglang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka perlu mencari sumber penyebab akar permasalahan yang menjadi penghambat perkembangan dan pembangunan wilayah. Pengelolaan limbah industri dan berkembang industri budi daya hasil kelautan secara tidak langsung akan mengurangi kerusakan terumbu karang akibat lahan penangkapan ikan dilakukan dengan cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Bagi pemerintah daerah dan industri di Kota Cilegon, pengelolaan limbah industri akan memberikan dampak ekonomi yaitu peningkatan pendapatan nelayan atau petani ikan, juga berpengaruh terhadap

147

peningkatan devisa daerah meningkat dan pada akhirnya akan terwujud yang berdampak pada kelestarian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakakatau Cilegon. C. Identifikasi Sistem Pada identifikasi sistem ini, tahapan pengelolaan limbah baja menggunakan model dinamis. Dalam tahap ini dilakukan rancang bangun model dengan dilakukan penggambaran diagram sebab akibat (cause loop diagram), karena identifikasi sistem merupakan langkah penting untuk menetapkan ukuran-ukuran kuantitatif dari berbagai variabel pada pengelolaan limbah industri baja dalam upaya

mempertahankan kelestaraian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Secara spesifik konsep diagram sebab akibat untuk model pengelolaan limbah industri baja di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon dapat digambarkan dalam struktur sub model. 1. Cause loop diagram Hubungan antar variabel yang terlibat dalam model pengelolaan limbah industri di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon digambarkan dalam diagram sebab akibat (cause loop diagram) pada Gambar 30. Penelitian ini ditujukan pada pemecahan berbagai jenis masalah yang diformulasikan pada tahap sebelumnya. Dalam diagram sebab akibat ini terfokus pada 3 (tiga) subsistem, yaitu kependudukan, pesisir laut dan limbah industri. Diagram sebab akibat untuk subsistem kependudukan di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon menunjukkan adanya timbal balik antara jumlah penduduk, angka kelahiran, angka kematian, dan tingkat kedewasaan penduduk. Laju pertumbuhan penduduk ditentukan oleh laju kelahiran, laju kematian, dan jumlah penduduk. Karena jumlah penduduk akan meningkatkan pendapatan perkapita dan konsumsi hasil laut penduduk. Laju penduduk juga medorong laju kelahiran semakin tinggi, jumlah penduduk yang meningkat memberi peluang laju kematian yang lebih tinggi sehingga mengurangi jumlah penduduk. Jumlah penduduk produktif usia 19 – 60 tahun yang merupakan angkatan kerja di Kota Cilegon memiliki presentasi yang paling besar, sehingga memenuhi ketersediaan tenaga kerja yang dibutuhkan termasuk tenaga kerja pertanian atau perikanan di pesisir. Diagram sebab akibat untuk subsistem pesisir laut Kawasan Industri Krakatau Cilegon diawali dari lahan pesisir/perairan laut yang dipersiapkan menjadi luas pesisir. Luas pesisir yang diharapkan ini memerlukan produktivitas pesisir, dan konsumsi ikan total. Wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon mengalami

148

pengurangan luas pesisir akibat dibangunnya beberapa pabrik menjadi luas konversi perairan laut, pengalihan lahan pesisir yang menyebabkan berkurangnya pendapatan nelayan sekitar pesisir tersebut. Demikian juga pendapatan nelayan diperoleh dari produksi ikan dan pengaruh supply dan demand ikan terhadap harga ikan ditentukan. Diagram sebab akibat untuk subsistem untuk limbah industri baja menunjukkan tingkat permintaan limbah yang terkait dengan hasil limbah pada proses produksi, tingkat persediaan limbah, dan penilaian hasil limbah yang berasal dari limbah dalam proses produksi. Sedangkan tingkat penerimaan limbah dipengaruhi oleh jumlah produksi baja, produksi yang menghasilkan limbah, dan waktu proses produksi baja. Selain itu persediaan limbah juga dipengaruhi oleh tingkat kedatangan limbah dan waktu persediaan limbah yang diharapkan. 2. Diagram Input-output Diagram input dan output merupakan tahapan lebih lanjut dari diagram sebab akibat. Diagram ini juga sebagai implementasi dari konsep block box. Menurut Eriyatno, (1999), konsep black box dapat dikategorikan ke dalam 3 (tiga) golongan yaitu: 1) peubah input, 2) peubah output, 3) parameter-parameter yang membatasi struktur sistem. Peubah input terbagi dalam 2 golongan yaitu: a) input yang tidak terkendali meliputi kondisi area penampungan limbah, daya dukung lingkungan, tingkat keanekaragaman hayati pesisir/perikanan, dan kondisi iklim dan cuaca; b) input yang terkendali meliputi teknologi, sarana dan prasarana, SDM dan modal. Input lingkungan meliputi Undang-Undang Republik Indonesia tentang pengelolaan lingkungan hidup, dan peraturan Perundang-perundangan yang berlaku seperti peraturan daerah lainnya (Perda). Sedangkan peubah output terbagi dalam 2 golongan yaitu: a) output yang diinginkan kelestarian sumber daya di perairan pesisir, penyerapan tenaga kerja di perairan pesisir, dan sebagainya; b) output yang tidak diinginkan seperti degradasi pesisir, dan menurunnya kesehatan masyarakat, menurunnya kualitas lingkungan, dan terjadinya konflik. Pada diagram input output model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah di Kawasan Industri Krakatau Cilegon ini bertujuan secara penilaian ekonomis adalah peningkatan devisa negara dan pendapatan asli daerah, penyerapan tenaga kerja daerah, dan peningkatan dinamika ekonomi daerah. Meskipun demikian, jika output yang tidak diinginkan terdapat penurunan kualitas lingkungan di wilayah pesisir tersebut dan terjadi konflik antara wilayah perbatasan antara Kota Cilegon dengan wilayah lainnya, maka perlu pengendalian sistem dalam pengelolaan ini.

149

Untuk pengendalian sistem agar terfokus pada output yang diinginkan, maka dibuatlah suatu mekanisme umpat balik (feedback) berupa manajemen pengendali model pengelolaan limbah industri baja mengarah pada output yang diinginkan. Dengan demikian pengelolaan limbah industri baja di wilayah pesisir akan mencegah terjadi eksploitasi hasil laut di perairan Kawasan Industri Krakatau Cilegon, sehingga dapat menjaga dan mempertahankan kelestariannya. Adapun diagram Input-Output pengelolaan sumberdaya pesisir selengkapnya disajikan pada Gambar 24.

INPUT LINGKUNGAN

OUTPUT DIINGINKAN

INPUT TIDAK TERKENDALI • Kondisi area penampungan limbah • Daya dukung lingkungan. • Tingkat keanekaragamaan hayati perikanan • Kondisi iklim dan cuaca INPUT TERKENDALI

• UU RI No. 23/1997 • Peraturan perundangundangan lainnya (Perda)

MODEL PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI BAJA

• Kelestarian sumberdaya perikanan/pesisir • Peningkatan devisa negara dan PAD • Penyerapan tenaga kerja • Peningkatan dinamika ekonomi daerah • Terbinanya hubungan yang harmonis dengan daerah perbatasan

OUTPUT TIDAK DIINGINKAN

• Teknologi • Sarana dan prasarana, SDM, dan Modal. • Kerjasama lintas sektor. • Kuantitas dan kualitas produk • Kapasitas produksi terpasang

• Degradasi Pesisir • Penurunan kesehatan masyarakat • Penurunan kualitas lingkungan • Terjadi konflik Manajemen Pengendalian

Gambar 24. Diagram Input-Output pengelolaan sumberdaya pesisir D. Pembuatan Model Berdasarkan hasil identifikasi sistem yang akan digunakan dalam membuat model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan

150

kelestarian wilayah di Kawasan Industri Krakatau Cilegon, maka dibuat rancang bangun model dinamis dengan menggunakan paket program powersim. 1. Pengelolaan limbah industri baja berdasarkan submodel penduduk Penduduk merupakan bagian terpenting bagi aktivitas pembangunan daerah, karena jumlah penduduk yang memadai akan berpengaruh besar kecilnya terhadap perubahan suatu wilayah. Submodel penduduk yang merupakan main model dari model pengelolaan limbah industri baja yang secara terinci disajikan dapat ditunjukkan pada Gambar 25.

Gambar 25. Diagram hubungan sebab akibat submodel penduduk pada model pengelolaan limbah industri baja Berdasarkan Gambar 25 di atas, dapat dideskripsikan keterkaitan antar elemen yang terlibat dalam submodel penduduk pada model pengelolaan limbah industri baja akan terjadi ketersediaan tenaga kerja seperti tenaga kerja pertanian atau perikanan. Hal tersebut dapat terjadi karena wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon sangat membutuhan tenaga kerja di bidang perairan atau kelautan, tenaga kerja di wilayah ini sudah banyak yang terserap oleh industri-industri yang berada di

151

kawasan ini. Penduduk yang tergolong angkatan kerja usia 19 sampai 60 tahun sangat dibutuhkan, oleh karena itu dengan jumlah penduduk yang cukup dan lapangan kerja yang serap banyak akan mempengaruhi pendapatan perkapita daerah atau produk domestik regional brutto (PDRB) semakin meningkat di Kota Cilegon. Selanjutnya setelah dibuatkan diagram sebab akibat (cause loop diagram) secara utuh, maka perlu dibuat struktur sub model kependudukan pada model pengelolan limbah industri baja di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Diagram sebab akibat (cause loop) di atas dan hasil keterkaitan antar elemen submodel kependudukan pada model pengelolaan limbah industri baja, maka struktur model dengan menggunakan program powersim simulasi disajikan pada Gambar 26. yang digunakan untuk proses

Gambar 26. Struktur model kependudukan pada model pengelolaan limbah industri baja Keterangan: : Flow : Level : Konstanta : Fungsi Graph : Fungsi IF

152

Berdasarkan Gambar 26 di atas, struktur model kependudukan pada model pengelolaan limbah industri baja secara terperinci terdiri dari elemen-elemen yang tersusun sesuai dengan sistem operasi yang saling berkaitan yaitu jumlah penduduk, tingkat kelahiran penduduk, tingkat kematian penduduk, tingkat kedewasaan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, laju kematian penduduk, laju kematian penduduk, pendapatan penduduk, dan sebagainya. Sedangkan angka imigrasi penduduk dan emigrasi penduduk tingkat tidak mempengaruhi tingakat kepadatan penduduk di wilayah pesisir Kota Cilegon karena warga lebih menyukai tinggal di pemukiman di wilayah Kabupaten/Kota Serang sehingga untuk penentuan jumlah penduduk di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon dipengaruhi oleh laju kelahiran penduduk, dan laju kematian penduduk, maka untuk merumuskan hal tersebut dibuatkan persamaan matematis, adalah sebagai berikut: JPt LKlt LPPt Keterangan: JPt LKlt = Jumlah penduduk sekarang (orang) = JP(t-1) + (dt* LKlt – dt* LKmt) = LKlt-1) + JPt * AKlt = LPP(t-1) + ((LKlt – LKmt)/ JPt*100%)

LKmt = LKm(t-1) + JPt * AKmt

JP(t-1) = Jumlah penduduk sebelumnya (orang) = Laju kelahiran penduduk sekarang (orang/tahun) LKl(t-1) = Laju kelahiran penduduk sebelumnya (orang/tahun) LKmt = Laju kematian penduduk sekarang (orang/tahun) LKl(t-1) = Laju kematian penduduk sebelumnya (orang/tahun) AKlt dt LPPt = Angka kelahiran penduduk (orang) AKmt = Angka kematian penduduk (orang) = Laju kelahiran atau laju kematian penduduk (%) = Laju pertumbuhan penduduk sekarang (%/tahun)

LPP(t-1)= Laju pertumbuhan penduduk sebelumnya (%/tahun) Berdasarkan rumus tersebut di atas, maka dapat diasumsikan penduduk total, laju kelahiran penduduk, laju kematian penduduk, angka kelahiran penduduk, dan angka kematian penduduk di wilayah pesisir Kota Cilegon dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2015 seperti yang disajikan pada Tabel 45.

153

Tabel 45. Struktur sub model kependudukan di wilayah pesisir Kota Cilegon
Tahun Laju Kelahiran Laju Pert. Penddk. Laju Kematian Jumlah Penduduk

Berdasarkan Tabel 45 di atas menunjukkan bahwa jumlah penduduk, laju kelahiran penduduk dan laju kematian penduduk di wilayah Kota Cilegon dari tahun 2003 – 2015 mengalami trend kenaikan tiap tahunnya. Gambar 26, juga dapat memperlihatkan pendapatan penduduk di wilayah pesisir Kota Cilegon dipengaruhi oleh perekonomian daerah melalui PDRB (produk domestik regional bruto) Kota Cilegon. PDRB ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk merencana belanja daerah yang ditetapkan tiap tahun oleh pemerintah daerah. Untuk mengetahui pendapatan penduduk dapat dirumuskan berikut ini. PPt Keterangan: PPt = Pendapatan pendudukan sekarang (rupiah/orang) = PP(t-1) + (PDRBt/JPt*10)

PP(t-1) = Pendapatan pendudukan sebelumnya (rupiah/orang) PDRBt = Produk domestik regional brutto (rupiah/tahun) JPt = Jumlah penduduk (orang) Berdasarkan rumus di atas dapat diasumsikan bahwa PDRB dan pendapatan penduduk di wilayah pesisir Kota Cilegon dari tahun 2003 – 2015 diperlihatkan pada Tabel 46.

154

Tabel 46. PDRB dan pendapatan penduduk pada struktur sub model kependudukan di wilayah pesisir Kota Cilegon
Tahun Pendapatan Pendd.

Berdasarkan Tabel 46 di atas menunjukkan peningkatan PDRB dan pendapatan penduduk di wilayah pesisir Kota Cilegon dari tahun 2003 – 2015

seperti disajikan pada Gambar 27.

Tahun

Gambar 27. Grafik PDRB Kota Cilegon tahun 2003 - 2015 pada struktur sub model kependudukan di wilayah pesisir Kota Cilegon Berdasarkan Gambar 27 di atas terlihat bahwa PDRB Kota Cilegon

mengalami kenaikan setiap tahunnya. Kenaikan PDRB tersebut berdampak positif pada kenaikan pendapatan penduduk di wilayah pesisir Kota Cilegon. 2. Pengelolaan limbah industri baja berdasarkan submodel pesisir laut Wilayah pesisir di kawasan industri Krakatau Cilegon merupakan kawasan yang memiliki dinamika pertumbuhan yang paling pesat, terutama untuk industri yang tergolong industri berat. Karena wilayah pesisir tersebut memiliki arti strategis

155

yang merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut, serta memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang sangat kaya. Namun, karakteristik laut tersebut belum sepenuhnya dipahami dan diintegrasikan secara terpadu. Wilayah pesisir ini terdapat beberapa pelabuhan bongkar muat barang dan kebijakan pemerintah daerah yang sektoral dan bias, belum menyentuh pada kebutuhan masyarakat sekitar, sedangkan dari sisi sosial-ekonomi pemanfaatan kekayaan laut masih terbatas pada kelompok pengusaha besar/industri sehingga mata pencaharian para nelayan semakin terbatas dan termasuk kelompok profesi yang miskin. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dapat digambarkan diagram hubungan sebab akibat submodel pesisir laut pada model pengelolaan limbah industri baja yang secara terinci dapat ditunjukkan pada Gambar 28.

Gambar 28. Diagram hubungan sebab akibat submodel pesisir laut pada model pengelolaan limbah industri baja

156

Berdasarkan Gambar 28 di atas, dapat dideskripsikan bahwa keterkaitan antar elemen yang terlibat dalam submodel pesisir pada model pengelolaan limbah industri baja dengan angkatan kerja Kota Cilegon sebagai ketersediaan tenaga kerja/nelayan yang diharapkan saling memenuhi kebutuhan nelayan di wilayah pesisir, sehingga pemerintah daerah harus mempersiapkan lahan pesisir bagi kebutuhan petani/nelayan mengingat periran/pesisir di wilayah pesisir Kota Cilegon cukup luas belum seluruh dikelola secara optimal. Selanjutnya setelah dibuatkan diagram sebab akibat (cause loop diagram) secara terinci, maka perlu dibuat struktur sub model pesisir laut pada model pengelolan limbah industri baja di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Diagram sebab akibat (cause loop) di atas dan hasil keterkaitan antar elemen submodel pesisir laut pada model pengelolaan limbah industri baja, maka struktur model dengan menggunakan program powersim simulasi disajikan pada Gambar 29. yang digunakan untuk proses

Gambar 29. Struktur sub model pesisir laut pada model pengelolaan limbah industri baja Berdasarkan Gambar 29 di atas, struktur model pesisir laut pada model pengelolaan limbah industri baja secara terperinci terdiri dari elemen-elemen yang

157

tersusun sesuai dengan sistem operasi yang saling berkaitan yaitu luas pesisir, lahan yang dipersiapkan, pengurangan pesisir, luas panen, produksi hasil pesisir, pendapatann nelayan, luas lahan pesisir yang diharapkan dan sebagainya. Pengelolaan wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon terutama oleh pemerintah daerah Kota Cilegon perlu mendapat prioritas penanganannya, termasuk mempersiapkan tenaga kerja dan lahan pesisir tersedia. Untuk merumuskan hal tersebut, perlu dibuatkan persamaan matematis, adalah sebagai berikut: NTt LPt KNt LPSt Keterangan: NTt AKt LPt LPSt KNt PPt LPHt = Nelayan tersedia sekarang (orang) = NT(t-1) + AKt*PAK = LP(t-1) + (dt*LPSt – dt*PPt) = KN(t-1) + LPt*KNh = LPS(t-1) + ((LPt – LPHt)/WPPt*0,01)

NT(t-1) = Nelayan tersedia sebelumnya (orang) = Angkatan kerja Kota Cilegon (orang/tahun) PAK = Prosentase angkatan kerja (%) = Luas pesisir sekarang (ha)

LP(t-1) = Luas pesisir sebelumnya (ha) = Lahan pesisir yang dipersiapkan sekarang (ha) LPS(t-1)= Lahan pesisir yang dipersiapkan sebelumnya (ha) = Kebutuhan nelayan sekarang (orang) KN(t-1) = Kebutuhan nelayan sekarang (orang) = Pengurangan pesisir (ha) = luas pesisir diharapkan (ha)

WPPt = Waktu perluasan pesisir (tahun) Berdasarkan rumus di atas dapat diasumsikan bahwa angkatan kerja, kebutuhan nelayan, lahan pesisir yang dipersiapkan dan luas pesisir di wilayah pesisir Kota Cilegon dari tahun 2003 – 2015 disajikan pada Tabel 47.

158

Tabel 47 Kebutuhan tenaga kerja perairan, dan pesisir pada struktur sub model pesisir laut di wilayah pesisir Kota Cilegon
Tahun Nelayan Sedia Kebut.Nelayan Lahan Pesisir Siap Luas Pesisir

Berdasarkan Tabel 47 di atas menunjukkan bahwa ketersediaannya tenaga kerja di pesisir, kebutuhan nelayan, lahan pesisir yang persiapkan, dan luas pesisir di Kawasan Industri Kota Cilegon. 3. Pengelolaan limbah industri baja berdasarkan submodel limbah industri Jumlah limbah baja yang mengalir di wilayah pesisir akan mengalami

peningkatan tingkat pencemaran melalui aliran sungai dari industri yang membawa limbah menuju wilayah pesisir disekitarnya. Besarnya beban pencemaran limbah ditentukan melalui pengukuran debit air sungai dan konsentrasi limbah yang

mengalir menuju wilayah pesisir. Untuk itu rancangan submodel limbah industri yang merupakan main model dari model pengelolaan limbah industri baja yang secara terinci disajikan pada Gambar 30.

159

Gambar 30. Diagram hubungan sebab akibat submodel limbah industri pada model pengelolaan limbah industri baja Berdasarkan Gambar 30 di atas, dapat dideskripsikan bahwa keterkaitan antar elemen yang terlibat dalam submodel limbah industri pada model pengelolaan limbah industri baja meliputi penanganan limbah yang ada pada sumber dari lokasi pabrik sampai di area penyimpanan limbah. Pengelolaan limbah baja ini berkaitan dengan timbulnya limbah dari hasil proses produksi, persediaan limbah yang ada, tingkat kedatangan limbah, konsumsi pemakaian limbah, pengiriman limbah, dan sebagainya. Selanjutnya diagram sebab akibat (cause loop diagram) di atas dan hasil keterkaitan antar elemen submodel limbah industri pada model pengelolaan limbah industri baja, maka dibuatkan rancangan struktur model dengan menggunakan program powersim yang digunakan untuk proses simulasi seperti yang disajikan pada Gambar 31.

160

Gambar 31. Struktur sub model limbah industri pada model pengelolaan limbah industri baja Berdasarkan Gambar 31 di atas, struktur model limbah industri pada model pengelolaan limbah industri baja secara terperinci terdiri dari elemen-elemen yang tersusun sesuai dengan sistem operasi yang saling berkaitan yaitu persediaan limbah baja, jumlah produksi yang diharapkan, jumlah limbah baja dalam proses, persediaan limbah baja yang diharapkan, dan sebagainya. Untuk merumuskan hal tersebut, perlu dibuatkan persamaan matematis, adalah sebagai berikut: JLt Keterangan: JLt = Jumlah limbah baja sekarang (ton) = JL(t-1) + ( (dt*TKLt + dt*TKLLt) – dt*TPLt)

JL(t-1) = Jumlah limbah baja sebelumnya (ton) TKLLt = Tingkat kedatangan limbah luar (baja bongkah)(ton/tahun) TKLt = Tingkat kedatangan limbah (ton/tahun) TPLt = Tingkat pengiriman limbah keluar (ton/tahun) Berdasarkan rumus di atas dapat diasumsikan bahwa jumlah limbah baja sekarang dipengaruhi oleh jumlah limbah baja sebelumnya, tingkat kedatangan baja bongkah,

161

tingkat kedatangan limbah baja, dan tingkat pengiriman limbah ke luar. Adapun hasil simulasi jumlah limbah baja untuk tahun 2003 – 2015 disajikan pada Tabel 48. Tabel 48. Jumlah limbah baja pada struktur sub model limbah industri
Tahun Tk.KedatanganLimb Tk.Kedatangan Limb.Luar Tk.Pengiriman Limbah Jumlah Limbah

Berdasarkan Tabel 48 di atas, terjadi peningkatan jumlah limbah dari tahun 2003 – 2009, sedangkan pada tahun 2009 – 2015 terjadi penurunan jumlah limbah, sehingga pada akhir tahun 2015 jumlah limbah menjadi 1.863.258 ton. Selanjutnya rancang bangun pemodelan sistem dinamik struktur model keseluruhan pada pengelolaan limbah industri baja ini disajikan pada Gambar 32. Berdasarkan Gambar 32 diatas, maka struktur model yang dirancang tersebut dapat mensimulasikan submodel penduduk, submodel pesisir laut, dan submodel limbah industri yang merupakan pola model pengelolan limbah industri baja, sehingga keterpaduan tiga submodel ini dapat memberikan gambaran komprehenship pada pembentukan model-model yang diinginkan. E. Pengujian Model Pembuatan alat ukur tidaklah mudah karena dalam pendefinisian operasional (operational definition) variabel-variabel persepsi dan sikap (attitudes). Peneliti perlu mengevaluasi kebaikan atau kesesuaian alat ukur untuk menjamin bahwa instrumen tersebut dapat mengukur variabel-variabel yang semestinya diukur dengan sebaik mungkin. Dua kriteria pokok untuk menguji model adalah verifikasi dan validitas model. Agar hasil penelitian dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah, maka informasi tentang verifikasi dan validitasi model sebagai pengujian harus disampaikan dalam penelitian ini.

162

163

1. Verifikasi model Verifikasi model terhadap model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Model ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa program yang dijalankan oleh bantuan program Powersim ini memiliki kesesuaian dan implementasinya dari model konseptual adalah benar. Menurut Sargent (1998), jenis bahasa komputer yang digunakan akan mempengaruhi hasil pemrosesan program yang benar. Penggunaan program powersim untuk pemodelan sistem dinamik akan menghasilkan tingkat kesalahan yang relatif lebih kecil dibandingkann dengan bahasa simulasi pada umumnya. Proses verifikasi model ini yang menggunakan program powersim menggambarkan persamaan-persamaan dari struktur model yang merupakan bagian yang ditampilkan. Juga menggambarkan suatu persamaan sederhana seperti penjumlahan, penguraangan, perkalian, dan pembagian untuk membuat struktur model pada model pengelolaan limbah industri baja. Pada proses verifikasi terhadap model-model yang dirancang dilakukan sebelum dilakukan validasi model, tetapi dapat juga dilakukan setelah proses validasi model untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dan sesuai dengan tujuan penyusunan model yaitu pengaruh submodel kependudukan, submodel pesisir laut, dan submodel limbah industri pada model pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir di kawasan industri Krakatau Cilegon. Dalam proses verifikasi tersebut dilakukan secara iteratif untuk memodifikasi struktur model, yaitu: a. Verifikasi terhadap struktur model pada submodel kependudukan Verifikasi ini bertujuan untuk meyakinkan bahwa program komputer (powersim) dan implementasi dari model konseptualnya terutama untuk mengetahui jumlah penduduk, tingkat kedewasaan penduduk, laju kelahiran dan kematian penduduk, serta laju pertumbuhan penduduk di Kawasan Industri Cilegon. Adapun bentuk verifikasi modelnya adalah: init flow JPendd018 JPendd018 = 66753 = -dt*TkKmt018 +dt*LjKlhr -dt*TkDws1819 = Jumlah penduduk Cilegon (KIKC) usia 0-18 tahun (orang) = 75077

doc init

JPendd018 JPendd1960

164

flow

JPendd1960

doc aux doc aux doc aux doc aux doc aux doc aux doc init flow doc aux doc

JPendd1960 TkDws1819 TkDws1819 TkDws6065 TkDws6065 TkKmt018 TkKmt018 TkKmt1960 TkKmt1960 LjKlhr LjKlhr LjKmt LjKmt PenddTotal PenddTotal PenddTotal LjPertPendd LjPertPendd

= -dt*TkKmt1960 +dt*TkDws1819 -dt*TkDws6065 = Jumlah penduduk Cilegon (KIKC) usia 19-60 tahun (orang) = JPendd018 * (1- AKmtKasar)/18 = Tingkat Kedewasaan usia 18-19 tahun (orang/tahun) = JPendd1960*(1-AKmtKasar)/42 = Tingkat Kedewasaan usia 60-65 tahun (orang/tahun) = JPendd018*AKmtKasar = Tingkat Kematian usia 0-18 tahun (orang/tahun) = JPendd1960*AKmtKasar = Tingkat kematian usia 19 – 60 tahun. (orang/tahun) = PenddTotal*AKlhrKasar = Laju kelahiran (orang/tahun) = PenddTotal*AKmtKasar = Laju kematian (orang/tahun) = 166838 = -dt*LjKmt +dt*LjKlhr = Penduduk Total di 4 Kecamatan Kota Cilegon(orang) = (LjKlhr-LjKmt)/PenddTotal*100% = Laju Pertumbuhan Penduduk (%/tahun)

b. Verifikasi terhadap struktur model pada submodel pesisir laut Verifikasi model ini bertujuan untuk mengetahui luas pesisir, lahan pesisir yang dipersiapkan, dan pengurangan lahan pesisir di Kawasan Industri Cilegon. Adapun bentuk verifikasi modelnya adalah: init flow doc aux doc aux doc LuasPessr LuasPessr LuasPessr LahPessrSiap LahPessrSiap PengrngPessr PengrngPessr = 11520 = +dt*LahPessrSiap -dt*PengrngPessr = Luas lahan pesisir KIC (hektar) = (LuasPessr-LuasPessrHarap)/WPerlPessr*0.01 = Lahan Pesisir yang dipersiapkan (hektar/tahun) = LuasKonve/WPeralihLahan*PPendNelyn = Pengurangan Pesisir (hektar/tahun)

c. Verifikasi terhadap struktur model pada submodel limbah industri Verifikasi model ini bertujuan untuk mengetahui jumlah limbah dan tingkat permintaan limbah. Adapun bentuk verifikasi modelnya adalah: init flow = 1863817*WRataProd = +dt*TkPermtLimb -dt*TkPenerLimb -dt*TkPenerLimbLuar LimbahAw = Limbah baja awal (ton) JumlahLimb = 1863817*WPersedLimbHarap JumlahLimb = -dt*TkPengirmLimb +dt*TKedatgLimbLuar LimbahAw LimbahAw

doc init flow

165

doc aux doc

+dt*TkKedatgLimb JumlahLimb = Jumlah limbah baja (ton) TkPermtLimb = JProdHarap+NilaiPersedLimb TkPermtLimb = Tingkat permintaan limbah baja (ton/tahun)

2. Validasi model Validasi adalah keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen yang bersangkutan mampu mengukur apa yang akan diukur. Menurut Arikunto (2005), untuk mengukur validitasi tiap butir instrumen dilakukan pengujian dengan cara menganalisis hubungan antara skor tiap butir dan skor total.Validitasi menentukan sampai seberapa bagus suatu alat ukur yang dirancang mampu mengukur suatu konsep tertentu yang ingin diukur. Dalam penelitian survei maka kuesioner yang disusun oleh peneliti harus mengukur apa yang ingin diukurnya. Proses validitasi model ditujukan untuk menguji substansi model yang dirancang untuk mengetahui sejauh mana model yang dibuat dalam lingkup aplikasinya memiliki kemampuan kisaran akurasi yang memuaskan, konsisten dengan tujuan yang telah direncanakan dari pembuatan aplikasi model. Menurut Sargent (1998), atribut yang gunakan dalam proses validitasi sangat dipengaruhi oleh kondisi sistem yang digunakan dalam model tersebut apakah dapat diobservasi atau tidak dapat diobservasi. Rancangan model pemecahan masalah ini yang memfokuskan pada 3 (tiga) submodel kependudukan, submodel pesisir laut, dan submodel limbah industri semaksimal mungkin dapat memperoleh data observasi. Rancangan pembuatan struktur model kependudukan pada model pengelolaan limbah industri baja yang terdiri dari elemen-elemen yang tersusun sesuai dengan sistem operasi yang saling berkaitan yaitu jumlah penduduk, tingkat kelahiran penduduk, tingkat kematian penduduk, tingkat kedewasaan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, laju kematian penduduk, laju kematian penduduk, pendapatan penduduk, dan sebagainya dapat diperoleh. Rancangan pembuatan struktur model pesisir laut pada model pengelolaan limbah industri baja yang terdiri dari elemen-elemen yang tersusun sesuai dengan sistem operasi yang saling berkaitan yaitu luas pesisir, lahan yang dipersiapkan, pengurangan pesisir, luas panen, produksi hasil pesisir, pendapatann nelayan, luas lahan pesisir yang diharapkan, produksi ikan, dan sebagainya dapat diperoleh. Begitu juga pada rancangan struktur model limbah industri pada model pengelolaan limbah industri baja yang terdiri dari elemen-elemen yang tersusun sesuai dengan sistem operasi yang saling berkaitan yaitu jumlah limbah baja, persediaan, tingkat

166

kedatangan limbah, tingkat pengiriman limbah, tingkat permintaan limbah, jumlah produksi yang diharapkan, kebutuhan limbah, limbah dalam proses, penilaian hasil limbah, penilaian persediaan limbah, persediaan limbah yang diharapkan dan

sebagainya dapat diperoleh meskipun hampir semua jenis data adalah data skunder. Proses validasi terhadap model ini dilakukan dengan proses simulasi

menggunakan program powersim terhadap submodel kependudukan, submodel pesisir laut, dan submodel limbah industri yang menggunakan data dan informasi tahun 2003 sampai dengan 2007 diperlihatkan dalam bentuk Tabel dan Gambar: 1. Tabel dan Gambar validasi model pada submodel kependudukan Tabel ini, memperlihatkan jumlah penduduk aktual dengan prediksi jumlah penduduk menggunakan model 1 dan model 2 (simulasi dengan bantuan program powersim). Adapun formulasi masing-masing model yaitu: Model 1: Model 2: Keterangan: JPt = Jumlah penduduk sekarang (orang) JPt JPt = JP(t-1) + (JPt x PPPt) = JP(t-1) + (dt* LKlt – dt* LKmt)

JP(t-1) = Jumlah penduduk sebelumnya (orang) PPPt = Prosentase pertambahan penduduk (asumsi: 0,7 %/tahun) LKlt = Laju kelahiran penduduk sekarang (orang/tahun) LKl(t-1) = Laju kelahiran penduduk sebelumnya (orang/tahun) LKmt = Laju kematian penduduk sekarang (orang/tahun) Berdasarkan formulasi tersebut di atas, maka dapat diketahui hasil prediksi jumlah penduduk seperti yang disajikan pada Tabel 49. Tabel 49. Jumlah penduduk aktual dan hasil prediksi jumlah penduduk Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Jumlah Penduduk Aktual (Jiwa) 166.838 167.761 168.233 170.269 174.219 Prediksi Jumlah Penduduk (Jiwa) Model 1 Model 2 166.838 166.838 168.006 167.642 169.182 168.778 170.366 170.457 171.559 173.227

Dari Tabel 49 tersebut, maka dapat digambarkan kondisi jumlah penduduk aktual dan prediksi jumlah penduduk model 1 dan model 2 seperti yang disajikan pada Gambar 33.

167

Jumlah Penduduk Th. 2003 - 2007
176000 Jumlah Penduduk 174000 172000 170000 168000 166000 164000 162000 2003 2004 2005 Tahun 2006 2007 Penduduk Aktual Prediksi Penduduk Model 1 Prediksi Penduduk Model 2

Gambar 33. Grafik jumlah penduduk aktual dan prediksi jumlah penduduk pada submodel kependudukan Berdasarkan Tabel 49 dan Gambar 33 di atas, diperoleh hasil validasi model antara jumlah penduduk aktual dengan hasil prediksi jumlah penduduk model 1 yang memiliki nilai kesalahan rata-rata mutlak (AME) sebesar 0,162% dan nilai kesalahan variansi mutlak (AVE) sebesar 0,597%. Sedangkan hasil validasi

model antara jumlah penduduk aktual dengan hasil prediksi jumlah penduduk model 2 memiliki nilai kesalahan rata-rata mutlak (AME) sebesar 0,045% dan nilai kesalahan variansi mutlak (AVE) sebesar 0,254%. Hal ini berarti bahwa hasil validasi model 2 (simulasi) sangat valid dan memiliki kesalahan (AME dan AVE) sangat kecil dan memenuhi batas penyimpangan yang diterima, yakni < 10 %. Berdasarkan hasil submodel kependudukan diperoleh hasil prediksi jumlah penduduk tahun 2003 – 2015 dapat dilihat pada Lampiran 11. Selanjutnya hasil prediksi jumlah penduduk tahun 2003 – 2015 disajikan pada Gambar 34.

Jumlah Penduduk (jiwa)

250000 Jumlah Penduduk 200000 150000 100000 50000 0
20 07 20 09 20 03 20 05 20 13 20 11 20 15

Tahun

Gambar 34. Grafik jumlah penduduk tahun 2003 – 2015 pada struktur submodel kependudukan di wilayah pesisir Kota Cilegon Berdasarkan Gambar 34 di atas, memperlihatkan jumlah penduduk di wilayah pesisir Kota Cilegon berkecenderungan mengalami kenaikan setiap tahunnya.

168

2. Tabel dan Gambar validasi model pada submodel pesisir laut Tabel ini memperlihatkan luas pesisir aktual dengan prediksi luas pesisir menggunakan model 1 dan model 2 (simulasi dengan bantuan program powersim). Adapun formulasi masing-masing model yaitu: Model 1: Model 2: Keterangan: LPt = Luas pesisir sekarang (ha) LPt LPt = LP(t-1) - ( LPt x PPLPt) = LP(t-1) + (dt*LPSt – dt*PPt)

LP(t-1) = Luas pesisir sebelumnya (ha) PPLPt = Prosentase pengurangan luas pesisir (asumsi: 0,5 %/tahun) LPSt PPt = Lahan pesisir yang dipersiapkan sekarang (ha) = Pengurangan pesisir (ha)

Berdasarkan formulasi tersebut diatas, maka dapat diketahui hasil prediksi luas pesisir seperti yang disajikan pada Tabel 50. Tabel 50. Luas pesisir aktual dan hasil prediksi luas pesisir Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Luas Pesisir Aktual (ha) 11.520 11.520 11.520 11.520 11.520 Prediksi Luas Pesisir (ha) Model 1 Model 2 11.520 11.520.00 10.944 11.519.96 10.397 11.519.97 9.877 11.519.97 9.383 11.519.97

Dari Tabel 50 tersebut, maka dapat digambarkan kondisi luas pesisir aktual dan prediksi luas pesisir model 1 dan model 2 seperti yang disajikan pada Gambar 35.
Luas Pesisir Tahun 2003 - 2007
14000 Luas Pesisir (ha) 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 2003 2004 2005 Tahun 2006 2007 Luas Pesisir Aktual Prediksi Luas Pesisir Model 1 Prediksi Luas Pesisir Model 2

Gambar 35. Grafik luas pesisir aktual dan hasil prediksi luas pesisir pada submodel pesisir laut.

169

Berdasarkan Tabel 50 dan Gambar 35 di atas, dapat diperoleh hasil validasi model antara luas pesisir aktual dengan hasil prediksi luas pesisir model 1 yang memiliki nilai kesalahan rata-rata mutlak (AME) sebesar 9,512% dan nilai kesalahan variansi mutlak (AVE) sebesar 0 %. Sedangan hasi validasi model antara luas pesisir aktual dengan hasil prediksi luas pesisir model 2 memiliki nilai kesalahan rata-rata mutlak (AME) sebesar 0,0002% dan nilai kesalahan variansi mutlak (AVE) sebesar 0 %. Hal ini berarti bahwa hasil validasi model 2

(simulasi) sangat valid dan memiliki kesalahan (AME dan AVE) sangat kecil dan memenuhi batas penyimpangan yang diterima, yakni < 10 %. Berdasarkan Hasil submodel pesisir laut diperoleh hasil prediksi luas pesisir tahun 2003 – 2015 dapat dilihat pada Lampiran 11. Selanjutnya hasil prediksi luas pesisir tahun 2003 – 2015 disajikan pada Gambar 36.

11,520.50 Prediksi Luas Pesisir 11,520.00 Luas Pesisir 11,519.50 11,519.00 11,518.50 11,518.00

20 07

20 05

20 09

20 11

20 03

Tahun

Gambar 36. Grafik luas pesisir tahun 2003 – 2015 pada struktur sub model pesisir laut di wilayah pesisir Kota Cilegon Berdasarkan Gambar 36 di atas, dapat diketahui hasil simulasi luas pesisir di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon tahun 2003 – 2015 memperlihatkan berkecenderungan mengalami pengurangan luas pesisir.

Pengurangan lahan psesisir tersebut dapat terjadi, karena di wilayah pesisir ini tumbuh dan berkembangnya industri, jasa perhotelan, dan sebagainya, sehingga luas pesisir berkecenderungan mengalami pengurangan/penurunan. 3. Tabel dan Gambar validasi model pada submodel limbah industri Tabel ini memperlihatkan jumlah limbah aktual dengan prediksi jumlah limbah menggunakan model 1 dan model 2 (simulasi dengan bantuan program powersim). Adapun formulasi masing-masing model yaitu:

20 13

20 15

170

Model 1: Model 2:

JLt JLt JLt JLTt PPL t TKLt TPLt

= JL(t-1) + (JLTt + (PPLt x JLTt)) = JL(t-1) + ( (dt*TKLt + dt*TKLLt) – dt*TPLt) = Jumlah limbah baja sekarang (ton)

Keterangan:

JL(t-1) = Jumlah limbah baja sebelumnya (ton) = Jumlah limbah tahunan (ton) = Prosentase penambahan limbah (asumsi:10%/tahun ) = Tingkat kedatangan limbah (ton/tahun)

TKLLt = Tingkat kedatangan limbah luar (baja bongkah) (ton/tahun) = Tingkat pengiriman limbah keluar (ton/tahun) Berdasarkan formulasi tersebut diatas, maka dapat diketahui hasil prediksi jumlah limbah seperti yang disajikan pada Tabel 51. Tabel 51. Limbah baja aktual dan hasil prediksi limbah baja Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 Limbah Baja Aktual (ton) 1.863.817 1.865.024 1.865.024 1.869.369 1.872.715 Prediksi Limbah Baja (ton) Model 1 Model 2 1.863.817 1.863.817 1.867.273 1.864.217 1.871.074 1.864.793 1.875.256 1.865.342 1.879.856 1.865.891

Dari Tabel 51 tersebut, maka dapat digambarkan kondisi jumlah limbah aktual dan prediksi jumlah limbah model 1 dan model 2 seperti yang disajikan pada Gambar 37.

Limbah Industri Tahun 2003 - 2007
1885000 Jumlah Limbah (ton) 1880000 1875000 1870000 1865000 1860000 1855000 2003 2004 2005 Tahun 2006 2007 Prediksi Limbah Model 1 Prediksi Limbah Model 2 Limbah Aktual

Gambar 37. Grafik jumlah limbah aktual dan hasil prediksi jumlah limbah pada submodel limbah industri Berdasarkan Tabel 51 dan Gambar 37 di atas dapat diperoleh hasil validasi model antara jumlah limbah aktual dengan hasil prediksi limbah model 1 yang memiliki

171

nilai kesalahan rata-rata mutlak (AME) sebesar 0,228% dan nilai kesalahan variansi mutlak (AVE) sebesar 1,873%. Sedangkan hasil validasi model antara jumlah limbah aktual dengan hasil prediksi limbah model 2 memiliki dengan nilai kesalahan rata-rata mutlak (AME) sebesar 0,127% dan nilai kesalahan variansi mutlak (AVE) sebesar 0,95%. Hal ini berarti bahwa hasil validasi model 2 (simulasi) tersebut valid dengan tingkat kesalahan cukup kecil dan validasi tersebut memenuhi batas penyimpangan yang diterima, yakni < 10 %. Berdasarkan hasil submodel pesisir laut diperoleh hasil prediksi luas pesisir tahun 2003 – 2015 dapat dilihat pada Lampiran 11. Selanjutnya hasil prediksi limbah baja tahun 2003 – 2015 disajikan pada Gambar 38.

Jumlah limbah (ton)

1867000 1866000 1865000 1864000 1863000 1862000 1861000

Prediksi Limbah Industri

20 03

20 05

20 07

20 09

20 11

Tahun

Gambar 38. Grafik jumlah limbah baja pada struktur sub model limbah industri di wilayah pesisir Kota Cilegon Berdasarkan Gambar 38 tersebut di atas, menunjukkan terjadi peningkatan

jumlah limbah dari tahun 2003 – 2009, sedangkan pada tahun 2009 – 2015 terjadi penurunan jumlah limbah baja. 7.5 Kesimpulan dan Saran 7.5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan strategi model pengelolaan lingkungan dapat disimpulkan: 1. Strategi pengelolaan lingkungan dapat dilakukan bersamaan dengan pengelolaan limbah berdasarkan aktivitas penduduk sebanyak 42.846.944 jiwa, aktivitas industri sebanyak 74 industri dengan luas lahan kawasan industri 1.500 ha., dan dampak sosialnya pada model pengelolaan limbah baja sebanyak 36.662 jiwa. 2. Kesehatan masyarakat pada penduduk yang tinggal dipemukiman wilayah pesisir di empat Kecamatan Ciwandan, Citangkil, Grogol, dan Pulomerak

10 15

20 13

172

berkecenderungan mengalami penyakit ISPA, bahkan jenis penyakit tersebut dapat mengalami kenaikan jumlah penyakit ISPA, mengingat pada wilayah ini banyak berdiri industri menengah hingga industri berat. 3. Hasil analisis baku mutu limbah baja terhadap kesehatan masyarakat dan degradasi pesisir masih memenuhi nilai ambang batas (NAB), namun analisa logam berat dalam air laut menunjukkan air raksa (Hg), kadmium (Cd), dan tembaga (Cu) berkisar (rata-rata < 0,0005 mg/l), tembaga (Pb) rata-rata: < 0,0005 mg/l. Sedangkan untuk seng (Zn ) rata-rata: 0,005 mg/l. Rendahnya kadar logam Hg, Cd, Cu, Pb, dan Zn karena logam tersebut mengalami proses pengenceran oleh pola arus pasang surut. 4. Hasil pemilihan prioritas pendapat pakar yang menggunakan metode AHP

Cdplus3.0 terpilih perubahan bahan baku sebagai urutan kepentingan variabel alternatif pada menentuan strategi pengelolaan limbah baja. 5. Hasil penentuan parameter kunci model pengelolaan limbah baja berdasarkan sub elemen pendapat pakar lingkungan diposisikan pada sektor IV (independent) yang menyatakan pabrik baja (1), pembangunan area limbah yang jauh dari pemukiman (3), dan pengolahan yang dapat dipertangungjawabkan (4) adalah peubah bebas, hal ini berarti kekuatan penggerak (driver power) yang besar namun memiliki sedikit ketergantung terhadap program. 6. Strategi kebijakan dalam pengelolaan limbah baja dapat dilakukan dengan membuat submodel pemecahan masalah meliputi submodel penduduk, pesisir laut, dan limbah industri yang digambarkan dengan diagram sebab akibat (cause loop) dan struktur model dengan bantuan program powersim yang

memperlihatkan hasilnya trend meningkat maupun menurun, seperti yang diperlihatkan baik melalui tabel dan grafik pada sub model pengelolaan limbah baja. 7.5.2 Saran Sebagai saran dalam model strategi pengelolaan limbah, adalah berikut: 1. Hendaknya perusahaan dapat menentukan strategi pengelolaan limbah

berdasarkan pemilihan prioritas, parameter kunci, dan mengembangkan modelmodelnya. 2. Agar perusahaan memperhatikan secara kontinu melakukan strategi pengelolaan limbah baja dengan cara menganalisis baku mutu limbah baja yang pengaruhnya terhadap kesehatan masyarakat dan degradasi pesisir dari pencemaran lingkungan.

173

Daftar Pustaka Arikunto, S. 2005. Manajemen Penelitian. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta Brown, B.E. 1997. Integrated Coastal Management. South Asia. University of Newcastle Upon Tyne. United Kingdom. Dahuri, R 1998. Kebutuhan Riset untuk Mendukung Implementasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jurnal Pesisir dan Lautan: Indonesian Journal of Coastal and Marine Resources. No ISSN : 1410 7821. Vol. 1 No. 2 1998. IPB. Bogor. Eriyanto. 1999. Ilmu Sistem. Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. Jilid satu. IPB Press. Bogor. Handoko, I. 2005. Quantitative Modeling of System Dynamic for Natural Resources Management. SEAMEO BIOTROP. Bogor. Marimin. 2005. Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. PT. Gramedia. Jakarta. Muhammadi, E Aminullah, dan B Susilo. 2001. Analisis Sistem Dinamis: Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. Penerbit UMJ. Jakarta. Ottosson, S. and E. Bjorg. 2003. Research on Dynamic Systems-Some Considerations. Technovation 24: 863 – 869. Sargent, RG. 1998. Verification and Validation of Simulation Models. Proceeding of the 1998 Winter Simulation Conference. D.J. Medeiros, E.F. Watson. J.S. Carson and M.S. Manivannan, eds. Saaty, TL. 1999. Fundamental of Decision Making The Analytic Hierarchy Process and Priority Theory, Vol. VI. RWS Publication. Sjaifuddin. 2007. Pengelolaan Lingkungan Wilayah Pesisir dan Laut Teluk Banten. Jurnal Ilmu Perikanan dan Budidaya Perikanan. Vol. 4 No.1. Sorensen, J. C. and Mc.Creary, 1990. Coast: Institutional Arrangements for Managing Coastal Resources. University of California of Barkeley. Suryadi, K dan Ramdhani. 2002. Sistem Pendukung Keputusan: Suatu Wacana Struktural Idealisasi dan Implementasi Konsep Pengambilan Keputusan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Zhijie, F. and R. P. Cote. 1990. Coastal Zone of Peoples Republic of China: Management Approaches and Institutions. Marine Policy.

VIII. IMPLIKASI ARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN LIMBAH
ABSTRAK

Kebijakan merupakan upaya untuk mempengaruhi sistem pencapaian tujuan dalam pengelolaan limbah industri baja yang diinginkan mempengaruhi kerja unsur tertentu dari sebuah sistem yang sasarannya mempengaruhi unsur tertentu dari sistem, baik bersifat teknis maupun rutinitas yang umumnya bersifat jangka pendek dan terbatas. Tujuan dari kebijakan ini adalah Menganalisis kebijakan pengelolaan limbah industri baja berdasarkan hasil analisis struktur hirarki; Menganalisis sintesa terhadap penilaian investasi yang ekonomis; Menganalisis prospektif kebijakan ke arah produktivitas. Metode yang digunakan pada kebijakan pengelolaan limbah industri baja adalah: Analisis kebijakan dengan metode AHP, Menganalisis dan sintesa terutama terhadap perubahanperubahan nilai investasi. Hasil analisisnya, yaitu analisa kebijakan dengan metode AHP untuk menentukan 5 (lima) faktor tujuan pengelolaan limbah; memperoleh hasil analisis dan sintesa terhadap perubahan-perubahan nilai investasi seperti net present value analysis (NPV) terbesar adalah slurry CRM dengan nilai dana sebesar 21,306,917 USD dan benefit cost ratio (BCR) sebesar 3,7. Kata kunci: Implikasi, Analisis kebijakan, Analisis sintesa 8.1 Pendahuluan 8.1.1 Latar Belakang Kebijakan yang merupakan upaya untuk mempengaruhi sistem pencapaian tujuan dalam pengelolaan limbah industri baja yang diinginkan mempengaruhi kerja unsur tertentu dari sebuah sistem. Oleh karena sasarannya adalah mempengaruhi unsur tertentu dari sistem, maka tindakan tersebut bersifat teknis, bahkan rutinitas yang umumnya bersifat jangka pendek dan terbatas. Arah kebijakan pengelolaan limbah industri baja dapat dilakukan dengan cara membuat analisis kebijakan, Menurut Muhammadi (2001), analisis kebijakan merupakan pekerjaan intektual memilih dan mengelompokkan upaya dan tindakan untuk memperoleh pengetahuan tentang cara-cara yang strategis dalam mempengaruhi suatu sistem mencapai tujuan yang diinginkan. Menurut Sterner (2003), mengungkapkan terdapat beberapa altenatif kebijakan untuk mengatasi permaslahan pengelolaan sumberdaya alam dann lingkungan yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori, yaitu decentralized polices, command and control polices, dan incentives-based polices. Decentralized polices merupakan kebijakan publik yang memberikan kesempatan kepada para pihak untuk mengelola masalah sendiri.

175 Sedangkan command and control polices merupakan kebijakan publik yang menuntut

perilaku masyarakat agar mematuhi standar pengelolaan yang telah ditetapkan di dalam Undang-Undang. Begitu juga dengan incentives-based polices merupakan kebijakan publik yang memungkinkan masyarakat untuk memanfaatkan jasa-jasa lingkungan melalui mekanisme changes and subsidies. Kota Cilegon yang wilayahnya diperkirakan memiliki luas pesisir 11.520 ha merupakan daerah bahari yang dilalui oleh kapal-kapal besar yang singgah di Pelabuhan Merak maupun pelabuhan-pelabuhan yang dimiliki oleh berbagai industri di wilayah Kawasan Industri Krakatau Cilegon, namun menurut Douven (1999), Cilegon dan Bojonegara merupakan penyumbang industri terbesar pertama dan kedua yang mengalirkan limbahnya di Teluk Banten termasuk di wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon. Saat ini berbagai perkembangan dan pertumbuhan penduduk yang cukup pesat pada wilayah pesisir akan berakibat kepada intensitas penggunaan lahan yang semakin tinggi dan kecenderungan meluasnya lahan untuk pemenuhan kebutuhannya. Untuk menentukan pengelolaan limbah industri baja dalam upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir di Kawasaniindustri Krakatau Cilegon akan berhasil bila didukung oleh kebijakan dan strategi yang tepat dalam pengelolaannya. Hal ini dapat dilakukan dengan dukungan stakeholders yang memilki peran penting dari berbagai pihak yang berkepentingan seperti faktor pendukung dan tujuan pengelolaan yang ditentukan. 8.1.2 Tujuan kebijakan pengelolaan limbah Tujuan kebijakan pengelolaan limbah industri baja, yaitu: 1. Menganalisis kebijakan pengelolaan limbah industri baja berdasarkan hasil analisis struktur hirarki metoda AHP. 2. Menganalisis sintesa terhadap penilaian investasi yang ekonomis dari NPV dan BCR. 8.2 Metoda Kebijakan Pengelolaan Limbah Arah kebijakan pengelolaan limbah industri baja berimplikasi pada metoda kebijakan yang didasarkan dari hasil analisis kebijakan yang merupakan suatu aktivitas untuk memperoleh pengertian dan pemahaman dalam upaya atau tindakan untuk mempengaruhi sistem mencapai tujuan yang diinginkan.

176 Untuk melakukan analisis sintesa, para pakar berpendapat bahwa informasi dari publikasi ilmiah, data dan model ilmiah, serta pengetahuan yang dimiliki untuk melakuan kajian ilmiah dapat dijadikan sebagai sistem dalam upaya menjaga dan

mempertahankan kelestarian wilayah pesisir di kawasan industri dari pencemaran lingkungan disekitarnya. Pendekatan ini oleh pakar digunakan untuk membuat suatu dokumen sintesa yang merangkum hasil penelitian ilmiah dalam rangka menentukan kebijakan atas dasar proses pengambilan keputusan dan perencanaan di dalam pengelolaan limbah industri baja. Sedangkan pada analisis prospektif dalam pengelolaan limbah industri baja di wilayah pesisir digunakan untuk memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan yang bertujuan untuk penataan dan pengelolaan limbah,

penggunakan teknologi IPAL, serta peraturan daerah (Perda) yang membuat peraturan ketat agar kelangsungan kelestarian wilayah pesisir menjadi aman dan terkendali dari gangguan pencemaran limbah terhadap lingkungan sekitarnya mengingat banyaknya jenis-jenis industri yang berdiri di Kawasan Industri Krakatau Cilegon hingga terdapat 58 jenis industri yang sebagian besar adalah industri berat. 8.3 Hasil dan Pembahasan Kebijakan Pengelolaan Limbah Untuk mengkaji lebih dalam lagi, peneliti melakukan berbagai kebijakan pengelolaan limbah melalui analisis kebijakan, dan analisis sintesa. 8.3.1 Analisis Kebijakan Analisis pengelolaan limbah industri dalam upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir di Kawasan Industri Krakatau Cilegon dapat dilakukan dengan menggunakan metode analytical hierarchy process (AHP). Dalam analisis pengelolaan limbah ini terdapat 5 level pengambilan keputusan yang secara garis sebesar terdiri dari: 1) fokus pada strategi pengelolaan lingkungan; 2) tujuan upaya mempertahankan kelestarian wilayah pesisir yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan; 3) kriteria untuk mencegah timbulnya limbah dan pencemaran serta kerusakan lingkungan; 4) dukungan stakeholders dari berbagai pihak; dan 5) alternatif-alternatif kebijakan yang memungkinkan dapat dilaksanakan.

177 Kebijakan pengelolaan lingkungan sampai sekarang belum holistik (antar instansi) maupun integral (menyeluruh). Ketika terjadi persoalan lingkungan, instansi mempunyai program sendiri-sendiri dan saling berbenturan akibatnya program-program tersebut menjadi cuma-cuma (proyek semata). Sehubungan dengan permasalahan tersebut, maka berdasarkan pengolahan limbah dengan menggunakan model AHP Cdplus3.0 (Marimin, 2005) diperoleh hasil sebagai berikut: 1. Faktor tujuan pengelolaan limbah Untuk membuat strategi dan kebijakan model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon ini, diperlukan 6 (enam) faktor tujuan yang ingin dicapai pada tingkat kepentingan dalam strategi dan kebijakan pengelolaan limbah baja ini. Berdasarkan perhitungan dengan model AHP Cdplus3.0 disajikan pada Tabel 52. Tabel 52. Urutan tingkat kepentingan faktor tujuan pengelolaan limbah baja No. 1 2 3 4 5 6 Faktor Tujuan Pengelolaan Limbah Pemanfaatan kembali limbah Minimalisasi limbah Pencegahan pencemaran terhadap wilayah pesisir Upaya mempertahankan wilayah pesisir Kebijakan pengelolaan limbah berwawasan lingkungan dan berkelanjutan Pencegahan pencemaran terhadap kesehatan masyarakat

2. Hierarki kriteria pengelolaan limbah baja berdasarkan faktor pendukung (tujuan) Hierarki kriteria model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon ditentukan berdasarkan faktor pendukung (tujuan). Hasil pengolahan dengan menggunakan model AHP Cdplus3.0 disajikan pada Tabel 53.

178 Tabel 53. Hierarki kriteria pengelolaan limbah baja berdasarkan faktor pendukung
Faktor Kriteria Pengelolaan Limbah Baja Faktor Pendukung (Tujuan) Pemanfaatan limbah kembali Minimalisasi limbah Pencegahan pencemaran pesisir Upaya menpertahankan kelesterian wilayah pesisir Kebijakan pengelolaan limbah berwawasan lingk dan berkelanjutan Pencegahan pencemaran thd kesehatan masyarakat Results Timbulnya limbah 0.402 0.092 0.239 Pencemaran & kerusakan lingkungan 0.153 0.067 0.104 Efisiensi material & energi 0.050 0.151 0.233 "Environmental equity" 0.118 0.153 0.088 Degradasi lingkungan 0.062 0.147 0.121 Ekosistem lingkungan 0.117 0.162 0.152 Daya dukung lingkungan 0.098 0.229 0.062

0.219

0.119

0.085

0.088

0.140

0.254

0.096

0.170

0.149

0.051

0.277

0.050

0.199

0.104

0.297 0.237

0.216 0.135

0.161 0.122

0.101 0.138

0.090 0.102

0.055 0.157

0.079 0.111

Berdasarkan Tabel 53 tersebut di atas, memperlihatkan bahwa faktor pendukung tujuan paling penting pada pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon ini adalah: (1) Pemanfaatan limbah kembali memberi nilai tertinggi pada faktor kriteria timbulnya limbah dengan nilai 0,402, (2) Minimalisasi limbah memberi nilai pada faktor kriteria degradasi lingkungan dengan nilai 0,247 dan faktor kriteria daya dukung lingkungan dengan nilai 0,229, (3) Pencegahan pencemaran pesisir memberikan nilai tertinggi terdapat pada faktor kriteria efisiensi material dan energi dengan nilai 0,233, (4) Upaya mempertahankan pesisir memberikan nilai tertinggi terdapat pada faktor kriteria ekosistem lingkungan dengan nilai 0,254, (5) Kebijakan mengelola limbah berwawasan lingkungan dan berkelanjutan dengan memberikan nilai tertinggi terdapat pada faktor kriteria "Environmental equity" dengan nilai 0,277, (6) Pencegahan pencemaran thd kesehatan masyarakat dengan memberikan nilai tertinggi terdapat pada faktor kriteria pencemaran & kerusakan lingkungan dengan nilai 0,216. 3. Hierarki aktor pengelolaan limbah baja berdasarkan faktor pendukung (kriteria) Hierarki aktor model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon ditentukan berdasarkan faktor pendukung (kriteria). Hasil pengolahan dengan menggunakan model AHP Cdplus3.0 disajikan pada Tabel 54.

179 Tabel 54. Hierarki aktor pengelolaan limbah baja berdasarkan faktor pendukung
Faktor Aktor Pengelolaan Limbah Baja Faktor Pendukung (Kriteria) Tmbulnya limbah Pencemaran dan kerusakan lingkungan Efisiensi material dan energi "Environmental Equity” Degradasi lingkungan Ekosistem lingkungan Daya dukung lingkungan Results Pemerintah Daerah 0.301 0.403 0.335 0.313 0.293 0.353 0.312 0.330 Industri penghasil baja 0.168 0.219 0.248 0.162 0.238 0.187 0.244 0.209 Divisi K3LH PT. KS 0.222 0.157 0.155 0.203 0.178 0.192 0.155 0.180 Masyarakat sekitar 0.118 0.074 0.099 0.119 0.124 0.092 0.121 0.107 Lembaga Swadaya Masyrakat 0.107 0.074 0.094 0.129 0.105 0.100 0.091 0.100 Peneliti/ Pakar 0.083 0.074 0.068 0.075 0.063 0.076 0.078 0.074

Berdasarkan Tabel 54 tersebut di atas, menunjukkan bahwa faktor pendukung kriteria paling penting pada pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon ini terdapat 5 (lima) faktor pendukung yang memiliki nilai tertinggi dari 7 (tujuh) faktor pendukung (kriteria) yaitu: (1) Timbulnya limbah memberi nilai tertinggi pada faktor aktor adalah Divisi K3LH PT. Krakatau Steel dengan nilai 0,403 dan Peneliti/Pakar dengan nilai 0,083, (2) Pencemaran dan kerusakan lingkungan memberi nilai pada faktor aktor adalah pemerintah daerah dengan nilai 0,403, (3) Efisiensi material dan energi memberikan nilai tertinggi terdapat pada faktor aktor adalah Industri

penghasil baja dengan nilai 0,248, (4) "Environmental equity” memberikan nilai tertinggi terdapat pada faktor aktor adalah lembaga swadaya masyarakat dengan nilai 0,129, (5) Degradasi lingkungan dengan memberikan nilai tertinggi terdapat pada faktor aktor adalah masyarakat sekitar dengan nilai 0,124. 4. Hierarki alternatif pengelolaan limbah baja berdasarkan faktor pendukung (aktor) Hierarki alternatif model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon ditentukan berdasarkan faktor pendukung (aktor). Hasil pengolahan dengan menggunakan model AHP Cdplus3.0 disajikan pada Tabel 55.

180 Tabel 55. Hierarki alternatif pengelolaan limbah baja berdasarkan faktor pendukung
Faktor Alternatif Pengelolaan Limbah Baja Faktor Pendukung (Aktor) Lembaga Swadaya Masyrakat Masyarakat sekitar Divisi K3LH PT. Krakatau Steel Industri Penghasil Baja Peneliti/ Pakar Pemerintah Daerah Results Perubahan Bahan Baku 0.295 0.283 0.297 0.252 0.223 0.306 0.276 Perubahan proses dan Teknologi 0.142 0.187 0.127 0.114 0.159 0.139 0.145 Perubahan Produk Penerapan 5R Lingkungan 0.111 0.115 0.125 0.091 0.141 0.100 0.114 Mengurangi Limbah Memakai kembali Limbah 0.068 0.053 0.059 0.091 0.058 0.062 0.065 Mendaur ulang Limbah 0.077 0.067 0.06 0.096 0.078 0.069 0.075 Mengganti Limbah

0.160 0.130 0.169 0.203 0.195 0.161 0.170

0.074 0.098 0.117 0.095 0.052 0.078 0.086

0.073 0.067 0.045 0.058 0.093 0.086 0.070

Berdasarkan Tabel 55 tersebut di atas, memperlihatkan bahwa faktor pendukung aktor paling penting pada pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon ini, terdapat 5 (lima) faktor pendukung yang memiliki nilai tertinggi dari 6 (enam) faktor pendukung (aktor) yaitu: (1) Masyarakat sekitar memberi nilai tertinggi pada faktor alternatif Perubahan proses dan Teknologi dengan nilai 0,187, (2) Divisi K3LH PT. Krakatau Steel memberi nilai pada faktor alternatif Mengurangi limbah dengan nilai 0,117, (3) Industri penghasil baja memberikan nilai tertinggi terdapat pada 3 (tiga) faktor alternatif yaitu: Perubahan produk dengan nilai 0,203, Memakai kembali limbah dengan nilai 0,091, dan Mendaur ulang limbah dengan nilai 0,096, (4) Peneliti/Pakar memberikan nilai tertinggi terdapat pada 2 (dua) faktor alternatif Penerapan 5 R lingkungan dengan nilai 0,141, dan Mengganti limbah dengan nilai 0,093, (5) Pemerintah daerah memberikan nilai tertinggi terdapat pada faktor alternatif Perubahan bahan baku dengan nilai 0,306. Dari tabel 41 juga, terdapat dominasi faktor pendukung (aktor) terhadap 3 (tiga) faktor alternatif strategi dan kebijakan pengelolaan limbah baja. 8.3.2 Sintesa Pengelolaan limbah baja secara terpadu yang melibatkan Pemerintah daerah, dunia usaha, serta stakeholders lainnya, untuk membentuk kelompok kerja yang

melakukan analisis terhadap: (1) Kondisi dan kecenderungan ekosistem, serta kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir; (2) Skenario perubahan masa depan pada

181 ekosistem dan kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir; (3) Respons terhadap

pelestarian ekosistem yang lebih baik dan terhadap peningkatan peran ekosistem untuk kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir; dan (4) Penilaian sub-global terhadap

konsekuensi perubahan ekosistem untuk kesejahteraan masyarakat di wilayah pesisir. Para pakar maupun ilmuan dapat melakukan analisis sintesa informasi dari

publikasi ilmiah, data dan model ilmiah, serta menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk dapat berpartisipasi melakuan kajian ilmiah dalam upaya menjaga dan mempertahankan kelestarian wilayah pesisir di kawasan industri akibat adanya limbah yang mencemari maupun merusak lingkungan sekitarnya. Pendekatan yang digunakan oleh pakar yaitu membuat suatu dokumen sintesa singkat yang merangkum seluruh hasil kajian ilmiah dan siap digunakan oleh para penentu kebijakan atas dasar untuk

menyebarluaskan penemuan, metoda, data dan perangkat yang dapat digunakan dalam proses pengambilan keputusan dan perencanaan di dalam pengelolaan limbah industri baja. Untuk itu perlu dilakukan sintesa hasil penelitian, yakni analisis logam berat dan analisis investasi pengelolaan limbah baja. 8.3.2.1 Analisis Logam Berat Untuk menganalisis logam berat di perairan wilayah pesisir ini terutama pada air, sedimen, biota air yaitu walaupun logam berat dalam air tidak terdeteksi, tetapi dalam sedimen tinggi apalagi jika dilihat organ tubuh kerang. Hal ini memperlihatkan bahwa konsentrasi bahan pencemar yang berasal dari insang dan hepatopankreas (hati) yang jumlahnya kecil dalam air harus tetap diwaspadai karena bahan pencemar tersebut, dalam hal ini terutama bahan B3 yang berasal dari kegiatan industri di Kawasan Industri Krakatau Cilegon terutama yang berasal dari kegiatan pabrik baja dapat terakumulasi pada sedimen dan biota air, sehingga dapat mengakibatkan kelestarian wilayah pesisir disekitar industri Krakatau Cilegon akan terganggu. 8.3.2.2 Analisis Investasi Pengelolaan Limbah Untuk pengelolaan limbah industri baja ini, para pakar menilai, bahwa model penanganan limbah baja terdapat 2 (dua) opsi skenario. Skenario pertama, perusahaan dapat mengolah limbah baja menjadi produk yang mempunyai nilai tambah (value added). Opsi ini, perusahaan harus mengeluarkan dana untuk investasi awal yang cukup

182 besar dalam arti perusahaan mendirikan pabrik baru dengan bahan substitusi (campuran) limbah. Berapa negara seperti Jepang sudah memanfaatkan limbah baja untuk bahan substitusi (campuran) membuat produk tersebut, seperti batako, genteng, paving block, lantai keramik, dan sebagainya. Skenario kedua, perusahaan dapat menjual langsung limbah yang dihasilkan oleh pabrik saat beroperasi proses produksi. Opsi ini telah dilakukan oleh perusahan dengan cara menjual limbah baja ke perusahaan lain di dalam dan luar negeri. Setiap bulannya perusahaan dapat menjual + 3.000 ton untuk pabrik semen di Indonesia dan pabrik baja di negara Cina. Skenario opsi kedua dianggap mendukung program lingkungan bersih, karena secara berangsur-angsur limbah yang berada di area penampungan semakin berkurang, maka sejak tahun 2007 perusahaan memulai melaksanakan penanganan limbah baja dengan cara menjual. Analisis sistesa model pengelolaan limbah industri baja dapat dilakukan dengan penetapan prioritas penanganan limbah baja terpakai yang didasarkan atas hasil perhitungan. Hal ini dapat dilakukan untuk penetapan prioritas penanganan jenis limbah baja yang dihasilkan oleh masing-masing pabrik baja yang berada di Cilegon dengan memiliki karakteristik jenis limbah baja berbeda-beda, sehingga diperlukan analisis dan sintesa terutama terhadap perubahan-perubahan nilai investasi seperti net present value analysis dan benefit cost ratio analysis. Hasil analisis investasi pengelolaan limbah baja yang diuraikan pada bab sebelumnya diperoleh estimasi nilai manfaat (benefit) dari komponen debu EAF BSP, debu EAF SSP1, debu EAF SSP2, sludge DR, sludge WRM, slurry CRM, shipping bernilai 1.885.022 USD, sedangkan nilai biaya (cost) adalah 391.077 USD. Analisis investasi dari NPV dan BCR (Helfert, 1997 dan Perman, 2003) berdasarkan hasil perhitungan untuk masing-masing jenis limbah baja, seperti yang disediakan pada Tabel 59.

183 Tabel 59. Nilai NPV dan BCR pada pengelolaan limbah industri baja No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jenis Limbah Debu EAF BSP Debu EAF SSP1 Debu EAF SSP2 Sludge DR Sludge WRM Slurry CRM NPV (USD) 10,929,328 20,722,145 17,087,813 4,588,718 2,275,133 21,306,917 BCR 3,6 3,6 3,6 3,7 3,7 3,7

Berdasarkan Tabel di 59 atas menunjukkan bahwa nilai benefit cost ratio (BCR) masing-masing jenis limbah baja nilai >1, maka keputusan pengelolaan limbah industri baja dengan opsi menjual limbah baja langsung ke konsumen dianggap sangat menguntungkan. Sedangkan menurut Damanhuri (1997), limbah baja yang bertumpuk di area penampungan limbah perlu dimanfaatkan menjadi produk yang mempunyai nilai tambah (added value) artinya perusahaan dapat mengolah kembali menjadi produk yang sejenis atau tidak sejenis, namun dalam penanganan limbah baja ini memerlukan investasi awalnya cukup besar. 8.4 Kesimpulan dan Saran 8.4.1 Kesimpulan Implikasi arah kebijakan pengelolaan limbah industri baja dapat disimpulkan dalam 3 bagian, yaitu: 1. Analisis kebijakan menentukan hirarki kebijakan pengelolaan limbah baja dengan metoda AHP Cdplus 3.0, dapat mengungkap hal-hal yang menjadi fokus, tujuan, kriteria, aktor, dan alternatif. 2. Analisis sintesa untuk menghitung penilaian investasi NPV dan BCR dengan rasio > 1, berarti pengelolaan limbah baja sangat menguntungkan nilai investasinya. 8.4.2 Saran Sebagai saran dalam implikasi arah kebijakan pengelolaan limbah industri baja ini yaitu: 1. Agar manajemen perusahaan dalam menentukan arah kebijakannya harus melibatkan steakeholder dalam program pengelolaan limbah.

184 2. Perlu dibuat kebijakan pengelolaan limbah baja oleh perusahaan lebih mengarah pada peningkatan produktivitas hasil produksi dengan program minimasi timbulnya limbah. Daftar Pustaka Douven, WJAM.1999. Human Pressure on Marine Ecosystems in The Teluk Banten Coastal Zone: Present Situation and Future Prospects. Teluk Research Program Report Series 3: 1 – 38. Marimin. 2005. Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. PT. Gramedia. Jakarta. Muhammadi, E Aminullah, dan B Susilo. 2001. Analisis Sistem Dinamis: Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. Penerbit UMJ. Jakarta. Perman, R, Y Ma, J McGilvray, and M Common. 2003. Natural Resource and Environmental Economic., Pearson. Addison Wesley. Saaty, TL. 1999. Fundamental of Decision Making The Analytic Hierarchy Process and Priority Theory, Vol. VI. RWS Publication. Sterner, T. 2003. Policy Instrument for Environmental and Natural Resource Mangement. Resources for the Future. RFF Press. W shington, DC.

DAFTAR PUSTAKA

Amirin, M. 2001. Pokok-Pokok Teori Sistem, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Anderson,, JA.1977. An Overview of Modelling in Agricultural Management Review of Marketing and Economic. Vol. 40, No. 3, pp. 111 – 121. Arikunto, S. 2005. Manajemen Penelitian. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta Bateman, BW. 1997. Light-Gauge Steel Verses Conventional Wood Framing In Residential Construction. Journal of Construction Education by the Associated Schools of Construction Vol. 2, No. 2, pp. 99 – 108 Bergh, J and CJM Ven Den. 2002. Handbook of Environmental and Resaource Economics. MPG Books Ltd. Bodmin. Cornwall. Bertram, P., C. Forst and P. Horvatin. 2005. Ecology, Health and Management. Ecovision World Manograh Series. State of Lake Michigan. pp 505 – 519. Brown, B.E. 1997. Integrated Coastal Management. South Asia. University of Newcastle Upon Tyne. United Kingdom. Chini A. and K.Gupta. 1997. A Comparison Between Steel and Wood Residential Framing Systems. The Associated Schools of Construction Vol. 2, No. 2, pp. 133 – 145. Clark, RB. 1996. Marine Pollution. Clarendon Press. Oxford University Press. New York. Dahur,i R, J Rais, P Ginting dan MJ Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Terpadu. Pradya Paramita. Jakarta. Dahuri R 1998. Kebutuhan Riset untuk Mendukung Implementasi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jurnal Pesisir dan Lautan: Indonesian Journal of Coastal and Marine Resources. No ISSN : 1410 7821. Vol. 1 No. 2 1998. IPB. Bogor. Dahuri, R. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita. Jakarta. Damanhuri, E. dan Tim. 1997. Studi Pengelolaan Limbah Industri PT. Krakatau Steel. Divisi Pengendalian Lingkungan Industri PT. Krakatau Steel. Cilegon Darmono, 2006. Lingkungan Hidup dan Pencemaran: Hubungan dengan Toksikologi Senyawa Logam. UI Press. Jakarta. Davisna K. 1995. Human Relation at Work. McGraw Hill Book Company. New York. Djajadiningrat, ST. 2001. Pemikiran, Tantangan dan Permasalahan Lingkungan, Penerbit Studi Tekno Ekonomi. Departemen Teknik Industri, ITB. Djajadiningrat, ST. 1997. Pengantar Ilmu Lingkungan. LP3ES. Jakarta Douven, WJAM.1999. Human Pressure on Marine Ecosystems in The Teluk Banten Coastal Zone: Present Situation and Future Prospects. Teluk Research Program Report Series 3: 1 – 38.

188

Douven, WJAM, DA Tiwi and J Heun. 2000. Integrated Research to Support Coastal Zone Management in Banten Bay. Indonesia Journal of Coastal and Marine Resource Management 3: 1. Dungan, RS and NH Dees. 2006. Metals in Waste Foundry Sands: Assessment with Earthworms. Journal of Residuals Science & Technology 3:177-184. [EPA]. 2001. Update of Ambien Water Quality Criteria for Cadmium. http://w.w.w. epa.gov Eriyanto. 1998. Analisa Sistem Industri Pangan, PAU Pangan dan Gizi. IPB, Bogor. Eriyantos. 1999. Ilmu Sistem. Meningkatkan Mutu dan Efektivitas Manajemen. Jilid satu. IPB Press. Bogor. Fauzi A. 2004. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Teori dan Aplikasi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Fauzi, A. dan Buchary, E. 2002. A Socio-Economic Perspective of Environmental Degredation at Kepulauan Seribu Nasional Marine Park. Coastal Management Journal. Vol. 30 (2): 167 – 181. Fentona MD. 1998. Iron and Steel Recycling in the United States in 1998. U.S. Departement of The Interior. U.S. Geological Survey. Field BC and MK Field. 2002. Environmental Economics: An Introduction. McGrawHill Irwin. Landon Galeottib BSL, F Lombardi, E Mogensen, and P Sirini. 1997. Mass Balance and Heavy Metals Distribution in Municipal Solid Waste Incineration. The Journal of solid waste Technology and Management. Volume 24 Number 1. Rome. Italia. Handokos I. 2005. Quantitative Modeling of System Dynamic for Natural Resources Management. SEAMEO BIOTROP. Bogor. Helfert, E. 1997. Techniques of financial Analysis. Irwin Professional Publishing. Heal, G. (1988). Valuing the Future: Economic Theory and Sustainability. Colombia University Press. New York. Hisrich RD and MP Peters. 1991. Marketing Decision for New and Mature Product. McMillian Publishing Co. New York. Horiguchi.T, M.Kojima, F. Hamada, A. Kajiwaha, H. Shiraishi, M. Morita and H. Shimizu. 2006. Impact Tributiltin and Tripeniltin on Evory Shell (Babylonia Japonika Population). Environmental Health Prospective. Vo. 114 Suplement. [IAEA]. 1996. Irradiation treatment of water, wastewater and sludge. IAEA.Vienna. Austria. Kallio R and M Makikyro. 2005. The Untilization and Status of Steel Industri Slags: A Perspective from Finland. The Journal of waste Tchnology and Management. Volume 32 Number 2. Finland. [KMNKLH]. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 1991. Nomor: KEP-03/MENKLH/II/1991 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi kegiatan yang sudah beroperasi. Knuteson, SL, T Whitwell and SJ Klaine. 2002. Influence of Plant Age and Size on Simazine Toxicity and Uptake. American Society of Agronomy, Crop Science

189

Society of America, and Soil Science Society of America. Journal of Environmental Quality 31:2096-2103 Koenafi, K.D. dan Herto D.A. 2000. Potensi Bioakumulasi Logam Berat di Perairan Sekitar Kepulauan Seribu. Studi Kasus Pulau Kelapa. Jurnal Taksikologi Indonesia Vol. 1 No. 2. 2000. h. 16 – 21. [Law]. 1981. Law EA 1981 Aquatic Pollution, John Wiley and Sons. New York. Maduka HC. 2006. Water Pollution and Man's Health. Department Of Biochemistry College Of Medical Sciences University Of Maiduguri Borno State Nigeria. The Internet Journal of Gastroenterology. Volume 4 Number 1. Marimin, 2007. Teori dan Aplikasi Sistem Pakar dalam Teknologi Manajerial. IPB Press. Bogor. Marimin, 2005. Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. PT. Gramedia. Jakarta. McDonald, RB. 2005. Managing Marine Misbehavior: Good Science, Good Policy, Bad Human. Journal of International Affairs (59). McFarlane, HF, KM Goff, FS Felicione, CC Dwight, and DB Barber. 1997. Hot Demonstrations of Nuclear Waste Processing Technologies. The Journal JOM, The Minerals, Metals & Materials Society. North Carolina State University, pp. 14-21, 83 Miller GT. 1991. Environmental Science; Sustaning the Earth, Wadswort Publishing Co. California. USA. Moberly, H.K. 1997. Alternatives to Waste Disposal, Rural Information Center Publication Series, No. 58 Revised Edition. The Pennsylvania State University Muhammadi, E Aminullah, dan B Susilo. 2001. Analisis Sistem Dinamis: Lingkungan Hidup, Sosial, Ekonomi, Manajemen. Penerbit UMJ. Jakarta. Mulyowahyudi, A. 2005. KS-Review: Steel as National Power. PT. Krakatau Steel. Cilegon Murdick, RG and JE Ross. 1982. Information Syatem for Modern Management Ed. 2nd. Prentice-Hall. India, New Delhi. Newnan, D. G. 1990. Engineering Economic Analysis. Third Edition. Engineering Press Inc. California. Nurdin, HM dan Tim. 1992. Penanganan Limbah di Pabrik Baja Canai Dingin, Audit Lingkungan. Divisi Pengendalian Lingkungan Industri PT. Krakatau Steel Cilegon. Ottosson, S. and E. Bjorg. 2003. Research on Dynamic Systems-Some Considerations. Technovation 24: 863 – 869. Perman, R, Y Ma, J McGilvray, and M Common. 2003. Natural Resource and Environmental Economic., Pearson. Addison Wesley. [PPRI]. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 1999. Nomor 85 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No.18 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Quano. 1993. Training Manual on Assement of the Quantity and Type of Land Based Pollution Discharge into the Marine and Coastal Environment.UNEP. Bangkok.

190

Rachmansyah, PR Dalfiah, Pongmasak dan T Ahmad.1998. Uji Toksisitas Logam Berat terhadap Benur Udang Windu dan Nener Bandeng. Jurnal Perikanan Indonesia. 4(1): 55-56. Riani, E., S.H. Sutjahjo, dan Firmansyah. 2004. Analisa Beban Pencemaran dan Kapasitas Asimilasi Teluk Jakarta. Kerjasama LPPM IPB dengan Pemprov. DKI Jakarta. Rodriguez, V, D Aguirre de Cárcer, V Loza, E Perona and P Mateo. 2007. A Molecular Fingerprint Technique to Detect Pollution-Related Changes in River Cyanobacterial Diversity. Departamento de Biología, Universidad Autónoma de Madrid, Spain. Published in Journal of Environmental Quality 36:464-468 Samsudin, A.R, B Elwali AR, W Zuhairi WY, and U Hamzah. 2006. Mapping of contamination plumes at municipal solid waste disposal sites using geoelectric imaging technique: Case studies in Malaysia, Journal of Spatial Hydrology Vol.6, No.2, School of Environment & Natural Resources Sciences, Faculty of Science & Technology National University of Malaysia Saaty, T.L. 1999. Fundamental of Decision Making The Analytic Hierarchy Process and Priority Theory, Vol. VI. RWS Publication. Salim, E. 1993. Pembangunan Berwawasan Lingkungan. Penerbit LP3ES. Jakarta. Sargent, R.G. 1998. Verification and Validation of Simulation Models. Proceeding of the 1998 Winter Simulation Conference. D.J. Medeiros, E.F. Watson. J.S. Carson and M.S. Manivannan, eds. Sax, N.I. 1957. Dangerous Properties of Industrial Materials. Reinhold Publishing Co. New York. Sheehan, B. 2000. Zero Wast., Recycling and Climate Change. Grass Roots Recycling Network. The United States. Shuang-Ling, C. 2004. Preventing Corrosion in Steel Bridges, Published in the Journal of Protective Coatings and Linings. The State University of New Jersey.Vol. 68 No. 2, pp.42. Sorensen, J. C. and Mc.Creary, 1990. Coast: Institutional Arrangements for Managing Coastal Resources. University of California of Barkeley. Sjaifuddin. 2008. Cost-Benefit Analysis Pengelolaan Sumberdaya Alam Wilayah Pesisir dan Laut Teluk Banten Berkelanjutan.Biodidaktika, Jurnal Biologi dan Pembelajaran Vol.3 No.1. [SKEPHI]. 1992. Memahami KTT Bumi: Konferensi PBB tentang Pembangunan dan Lingkungan. Rio De Janeiro. Brazil. Soemarwoto, O. 2004. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Penerbit Djambatan. Jakarta. Solomon, C. 1994. Slag-Iron and Steel. Journal of 29. No. 5. pp. 71-74 Sterner, T. 2003. Policy Instrument for Environmental and Natural Resource Mangement. Resources for the Future. RFF Press. W shington, DC. Sumirat, J. 2003. Taksikologi Lingkungan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. Suratmo, F.G. 2002. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

191

Suryadi, K dan Ramdhani. 2002. Sistem Pendukung Keputusan: Suatu Wacana Struktural Idealisasi dan Implementasi Konsep Pengambilan Keputusan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung. Thale, C. 1994. Waste Disposal. Journal of Historical Geography 20.2, pp.124–142. [UNEP]. 1993. Water Quality Assement Edition by Chapman. Chapman and Hall Ltd. London. [UURI]. Undang-Undang Republik Indonesia. 1999. Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta Wardhana, W.A. 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Penerbit Andi. Yogyakarta. Waldichuk, M. 1974. Some Biological Concerns in Heavy Metals Pollution. Dalam: Pollution and Physiology of Marine organism. Vernberg and Vernberg (Ed.). Academic Press. London. [WCED] The World Commission on Environment and Development. 1988. “Our Common Future terjemahan Hari Depan Kita Bersama”. Penerbit PT. Gramedia. Jakarta. Williams, J. 1979. Introduction to Marine Pollution Control. John Wiley & Sons, Inc. New York. Yim, M.S. and KL Murty. 2000. Materials Issues in Nuclear-Waste Management. Journal JOM, The Minerals, Metals & Materials Society. North Carolina State University, pp. 26-29. Zhijie, F. and R. P. Cote. 1990. Coastal Zone of Peoples Republic of China: Management Approaches and Institutions. Marine Policy.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

192 Lampiran 1. Daftar Istilah (GLOSSARY)

AHP

: Analytical Hierarchy Process , berlandaskan pada pola pikir manusia yang sistematis guna menghadapi kompleksitas yang ditangkapnya, sehingga diwujudkan dalam suatu metode yang merumuskan masalah dalam bentuk hirarki dan pertimbanganpertimbangan dimasukkan guna menghasilkan skala prioritas. : Absolute Mean Error adalah penyimpangan (deviasi) antara nilai rata-rata (mean) hasil simulasi terhadap nilai aktual : Penyakit radang dan sejenisnya Environmental Protection Agence : Absolute Variance Error adalah penyimpangan nilai variasi (variance) simulasi terhadap aktua : Batas aman dari bahan yang membahayakan : Benefit Cost Ratio digunakan untuk menentukan pengelolaan sumberdaya yang dimiliki di wilayah pesisir laut secara lebih efisien, terutama digunakan untuk menentukan kebijakan pengelolaan lingkungan : Badan Pusat Statistik : Kemampuan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan makhluk hidup sampai memenuhi ambang batas sebelu terjadi degradasi. : Penyakit kulit dan sejenisnya : Instalasi Pengolahan Air Limbah : Interpretative Structural Modelling, merupakan proses pengkajian kelompok di mana model-model struktural dihasilkan guna memotret perihal yang kompleks dari suatu sistem, melalui pola yang dirancang secara seksama dengan menggunakan grafis serta kalimat. : Infeksi Saluran Pernafasan Akut Minimum Attractive Rate of Return, merupakan mengembalian dana yang telah dikeluarkan dengan suku bunga (1 % - 2 %) diatas suku bunga bank Indonesia (SBI) yang berlaku : Simplikasi dari sistem yang dihadapi

AME

Artritis APE AVE

Baku mutu BCR

BPS Daya dukung lingkungan Dermatitis IPAL ISM

ISPA MARR

Model

NPV

: Net Present Value

ini bertujuan agar semua investasi,

193 pengeluaran dan penerimaan yang terbentuk cash flow untuk periode waktu tertentu sampai umur ekonomis proyek dan nilai suatu proyek diubah ke dalam nilai sekarang dengan menggunakan tingkat suku bunga yang relevan Pemodelan Sistem Dinamis : Proses dan kecepatan/kelambatan waktu yang diperlukan sistem dalam bentuk simpal-simpal (loops) umpan balik, yang menunjukkan struktur dan mekanisme dinamis mempengaruhi proses nyata dalam menciptakan kejadian nyata : Jangkauan lebih luas selain perairan laut, darat dan rawa serta kawasan pasang laut estuari (pembatas darat dan laut). : Sebisa mungkin meminimalisasi barang atau material yang digunakan karena semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah yang dihasilkan. : Sebisa mungkin memilih barang-barang yang bisa dipakai kembali dan menghindari pemakaian barang yang disposable (sekali pakai, buang) : Sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak berguna lagi didaur ulang. : Teliti barang yang dipakai sehari-hari. Ganti barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama. : Kemampuan racun (molekul) untuk menimbulkan kerusakan apabila masuk kedalam tubuh dan lokasi organn yang rentan terhadapnya : Tuberculosis : Toxicity Characteristic Lleaching Prosedur, Tujuan pengujian ini adalah untuk mengevaluasi jumlah komponen limbah yang terlepas kembali dari limbah baja yang telah disolidifikasi akibat pengaruh air yang bersifat asam.

Pesisir

Reduce

Reuse

Recycle

Replace

Toksisitas

TBC TCLP

Lampiran 2.1 Analisa Penilaian Net Present Value Limbah Debu EAF BSP Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Pendapatan Pajak Sebelum Pajak [5] = {3] -[4] [6} = 15 % x [5] (225.000,0) 57.807,0 8.671,1 57.807,0 8.671,1 57.807,0 8.671,1 57.807,0 8.671,1 57.807,0 8.671,1 57.807,0 8.671,1 57.807,0 8.671,1 57.807,0 8.671,1 57.807,0 8.671,1 57.807,0 8.671,1 Biaya Operasional [7] 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 Pendapatan Bersih [8] = [5] - [6] + [7] (225.000,0) 203.288,0 203.288,0 203.288,0 203.288,0 203.288,0 203.288,0 203.288,0 203.288,0 203.288,0 203.288,0 NPV [8] = [2]x [7] (225.000,0) 176.779,2 406.575,9 609.863,9 813.151,8 1.016.439,8 1.219.727,7 1.423.015,7 1.626.303,6 1.829.591,6 2.032.879,5 10.929.328,5

Tahun [1] 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

P/F [2] 1,0000 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843 0,2472

Penerimaan [3] 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0

Pengeluaran [4] 225.000,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0

Lampiran 2.2 Analisa Penilaian Net Present Value Limbah Debu EAF SSP1 Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Pendapatan Pajak Sebelum Pajak [5] = {3] -[4] [6} = 15 % x [5] (225.000,0) 108.558,0 16.283,7 108.558,0 16.283,7 108.558,0 16.283,7 108.558,0 16.283,7 108.558,0 16.283,7 108.558,0 16.283,7 108.558,0 16.283,7 108.558,0 16.283,7 108.558,0 16.283,7 108.558,0 16.283,7 Biaya Operasional [7] 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 Pendapatan Bersih [8] = [5] - [6] + [7] (225.000,0) 381.762,3 381.762,3 381.762,3 381.762,3 381.762,3 381.762,3 381.762,3 381.762,3 381.762,3 381.762,3 NPV [8] = [2]x [7] (225.000,0) 331.980,5 763.524,6 1.145.286,9 1.527.049,2 1.908.811,5 2.290.573,8 2.672.336,1 3.054.098,4 3.435.860,7 3.817.623,0 20.722.144,7

Tahun [1] 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

P/F [2] 1,0000 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843 0,2472

Penerimaan [3] 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0

Pengeluaran [4] 225.000,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0

Lampiran 2.3 Analisa Penilaian Net Present Value Limbah Debu EAF SSP2 Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Pendapatan Pajak Sebelum Pajak [5] = {3] -[4] [6} = 15 % x [5] (225.000,0) 89.730,0 13.459,5 89.730,0 13.459,5 89.730,0 13.459,5 89.730,0 13.459,5 89.730,0 13.459,5 89.730,0 13.459,5 89.730,0 13.459,5 89.730,0 13.459,5 89.730,0 13.459,5 89.730,0 13.459,5 Biaya Operasional [7] 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 Pendapatan Bersih [8] = [5] - [6] + [7] (225.000,0) 315.526,5 315.526,5 315.526,5 315.526,5 315.526,5 315.526,5 315.526,5 315.526,5 315.526,5 315.526,5 NPV [8] = [2]x [7] (225.000,0) 274.381,8 631.053,0 946.579,5 1.262.106,0 1.577.632,5 1.893.159,0 2.208.685,5 2.524.212,0 2.839.738,5 3.155.265,0 17.087.812,8

Tahun [1] 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

P/F [2] 1,0000 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843 0,2472

Penerimaan [3] 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0

Pengeluaran [4] 225.000,0 89.712,0 89.712,0 89.712,0 89.712,0 89.712,0 89.712,0 89.712,0 89.712,0 89.712,0 89.712,0

lampiran 2.4 Analisa Penilaian Net Present Value Limbah Sludge DR Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Pendapatan Pajak Sebelum Pajak [5] = {3] -[4] [6} = 15 % x [5] (225.000,0) 32.539,0 4.880,9 32.539,0 4.880,9 32.539,0 4.880,9 32.539,0 4.880,9 32.539,0 4.880,9 32.539,0 4.880,9 32.539,0 4.880,9 32.539,0 4.880,9 32.539,0 4.880,9 32.539,0 4.880,9 Biaya Operasional [7] 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 Pendapatan Bersih [8] = [5] - [6] + [7] (225.000,0) 87.730,2 87.730,2 87.730,2 87.730,2 87.730,2 87.730,2 87.730,2 87.730,2 87.730,2 87.730,2 NPV [8] = [2]x [7] (225.000,0) 76.290,1 175.460,3 263.190,5 350.920,6 438.650,8 526.380,9 614.111,1 701.841,2 789.571,4 877.301,5 4.588.718,2

Tahun [1] 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

P/F [2] 1,0000 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843 0,2472

Penerimaan [3] 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0

Pengeluaran [4] 225.000,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0

Lampiran 2.5 Analisa Penilaian Net Present Value Limbah Sludge WRM Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Pendapatan Pajak Sebelum Pajak [5] = {3] -[4] [6} = 15 % x [5] (225.000,0) 16.900,0 2.535,0 16.900,0 2.535,0 16.900,0 2.535,0 16.900,0 2.535,0 16.900,0 2.535,0 16.900,0 2.535,0 16.900,0 2.535,0 16.900,0 2.535,0 16.900,0 2.535,0 16.900,0 2.535,0 Biaya Operasional [7] 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 Pendapatan Bersih [8] = [5] - [6] + [7] (225.000,0) 45.565,0 45.565,0 45.565,0 45.565,0 45.565,0 45.565,0 45.565,0 45.565,0 45.565,0 45.565,0 NPV [8] = [2]x [7] (225.000,0) 39.623,3 91.130,0 136.695,0 182.260,0 227.825,0 273.390,0 318.955,0 364.520,0 410.085,0 455.650,0 2.275.133,3

Tahun [1] 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

P/F [2] 1,0000 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843 0,2472

Penerimaan [3] 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0

Pengeluaran [4] 225.000,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0

Lampiran 2.6 Analisa Penilaian Net Present Value Limbah Slurry CRM Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Pendapatan Pajak Sebelum Pajak [5] = {3] -[4] [6} = 15 % x [5] (225.000,0) 145.548,0 21.832,2 145.548,0 21.832,2 145.548,0 21.832,2 145.548,0 21.832,2 145.548,0 21.832,2 145.548,0 21.832,2 145.548,0 21.832,2 145.548,0 21.832,2 145.548,0 21.832,2 145.548,0 21.832,2 Biaya Operasional [7] 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 Pendapatan Bersih [8] = [5] - [6] + [7] (225.000,0) 392.419,8 392.419,8 392.419,8 392.419,8 392.419,8 392.419,8 392.419,8 392.419,8 392.419,8 392.419,8 NPV [8] = [2]x [7] (225.000,0) 341.248,3 784.839,6 1.177.259,4 1.569.679,2 1.962.099,0 2.354.518,8 2.746.938,6 3.139.358,4 3.531.778,2 3.924.198,0 21.306.917,5

Tahun [1] 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

P/F [2] 1,0000 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843 0,2472

Penerimaan [3] 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0

Pengeluaran [4] 225.000,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0

Lampiran 3.1 Analisa Penilaian Benefit Cost Ratio Limbah Debu EAF BSP Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Biaya Operasional [4] 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0 154.152,0

Tahun [1] 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

P/F [2] 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843 0,2472

Penerimaan [3] 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0 115.614,0

Pajak [5] = 15%x[3] 17.342,1 17.342,1 17.342,1 17.342,1 17.342,1 17.342,1 17.342,1 17.342,1 17.342,1 17.342,1

Pengeluaran [6] 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0 57.807,0

Benefit [7]=[[3]+[4]]/[2] 310.218,5 356.786,1 410.290,5 471.783,8 542.570,4 624.025,0 717.653,6 825.224,8 948.877,9 1.091.286,4

Cost [8]=[[5]+[6]]/[2] 86.418,0 99.390,4 114.295,2 131.425,5 151.144,6 173.835,5 199.917,8 229.884,1 264.330,3 304.001,2

BCR [9]=[7]/[8] 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6

Lampiran 3.2 Analisa Penilaian Benefit Cost Ratio Limbah Debu EAF SSP1 Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Biaya Operasional [4] 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0 289.488,0

Tahun [1] 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

P/F [2] 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843 0,2472

Penerimaan [3] 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0 217.116,0

Pajak [5] = 15%x[3] 32.567,4 32.567,4 32.567,4 32.567,4 32.567,4 32.567,4 32.567,4 32.567,4 32.567,4 32.567,4

Pengeluaran [6] 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0 108.558,0

Benefit [7]=[[3]+[4]]/[2] 582.571,3 670.022,5 770.500,4 885.981,1 1.018.913,9 1.171.880,6 1.347.709,5 1.549.721,6 1.781.934,6 2.049.368,9

Cost [8]=[[5]+[6]]/[2] 162.287,7 186.649,1 214.639,4 246.809,0 283.840,3 326.452,5 375.433,4 431.708,2 496.396,1 570.895,6

BCR [9]=[7]/[8] 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6

Lampiran 3.3 Analisa Penilaian Benefit Cost Ratio Limbah Debu EAF SSP2 Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Biaya Operasional [4] 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0 239.256,0

Tahun [1] 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

P/F [2] 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843 0,2472

Penerimaan [3] 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0 179.442,0

Pajak [5] = 15%x[3] 26.916,3 26.916,3 26.916,3 26.916,3 26.916,3 26.916,3 26.916,3 26.916,3 26.916,3 26.916,3

Pengeluaran [6] 89.721,0 89.721,0 89.721,0 89.721,0 89.721,0 89.721,0 89.721,0 89.721,0 89.721,0 89.721,0

Benefit [7]=[[3]+[4]]/[2] 481.483,4 553.760,1 636.803,0 732.245,5 842.111,8 968.535,7 1.113.854,7 1.280.813,7 1.472.733,0 1.693.762,1

Cost [8]=[[5]+[6]]/[2] 134.127,5 154.261,7 177.395,1 203.982,7 234.588,3 269.806,4 310.288,1 356.798,1 410.261,3 471.833,7

BCR [9]=[7]/[8] 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6 3,6

Lampiran 3.4 Analisa Penilaian Benefit Cost Ratio Limbah Sludge DR Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Biaya Operasional [4] 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0 60.072,0

Tahun [1] 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

P/F [2] 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843 0,2472

Penerimaan [3] 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0 55.066,0

Pajak [5] = 15%x[3] 8.259,9 8.259,9 8.259,9 8.259,9 8.259,9 8.259,9 8.259,9 8.259,9 8.259,9 8.259,9

Pengeluaran [6] 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0 22.527,0

Benefit [7]=[[3]+[4]]/[2] 132.403,4 152.278,8 175.114,8 201.360,6 231.572,8 266.338,2 306.299,5 352.211,7 404.987,7 465.768,6

Cost [8]=[[5]+[6]]/[2] 35.403,5 40.718,0 46.824,2 53.842,1 61.920,6 71.216,5 81.901,8 94.178,3 108.290,2 124.542,5

BCR [9]=[7]/[8] 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7

Lampiran 3.5 Analisa Penilaian Benefit Cost Ratio Limbah Sludge WRM Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Biaya Operasional [4] 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0 31.200,0

Tahun [1] 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

P/F [2] 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843 0,2472

Penerimaan [3] 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0 28.600,0

Pajak [5] = 15%x[3] 4.290,0 4.290,0 4.290,0 4.290,0 4.290,0 4.290,0 4.290,0 4.290,0 4.290,0 4.290,0

Pengeluaran [6] 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0 11.700,0

Benefit [7]=[[3]+[4]]/[2] 68.767,2 79.090,1 90.950,6 104.582,0 120.273,5 138.329,9 159.084,9 182.930,6 210.341,2 241.909,4

Cost [8]=[[5]+[6]]/[2] 18.387,8 21.148,0 24.319,4 27.964,3 32.160,1 36.988,2 42.537,9 48.914,0 56.243,4 64.684,5

BCR [9]=[7]/[8] 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7

Lampiran 3.6 Analisa Penilaian Benefit Cost Ratio Limbah Slurry CRM Tingkat Suku Bunga MARR = 15 % dengan n = 10 tahun Biaya Operasional [4] 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0 268.704,0

Tahun [1] 1 2 3 4 5 6 7 8 9

P/F [2] 0,8696 0,7561 0,6575 0,5718 0,4972 0,4323 0,3759 0,3269 0,2843

Penerimaan [3] 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0 246.312,0

Pajak [5] = 15%x[3] 36.946,8 36.946,8 36.946,8 36.946,8 36.946,8 36.946,8 36.946,8 36.946,8 36.946,8

Pengeluaran [6] 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0 100.764,0

Benefit [7]=[[3]+[4]]/[2] 592.244,7 681.148,0 783.294,3 900.692,5 1.035.832,7 1.191.339,3 1.370.087,8 1.575.454,3 1.811.523,0

Cost [8]=[[5]+[6]]/[2] 158.361,1 182.133,1 209.446,1 240.837,4 276.972,6 318.553,8 366.349,6 421.262,8 484.385,5

BCR [9]=[7]/[8] 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7 3,7

10

0,2472

246.312,0

268.704,0

36.946,8

100.764,0

2.083.398,1

557.082,5

3,7

200 Lampiran 4. Compound Interest Factors

201 Lampiran 5. Kuesioner Analytical Hierarchy Process (AHP)

KUESIONER
ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)

MODEL PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI BAJA SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMPERTAHANKAN KELESTARIAN WILAYAH PESISIR KAWASAN INDUSTRI KRAKATAU CILEGON SURVEI PAKAR
No. Responden Nama Responden Umur Jenis Kelamin Pendidikan terakhir Jabatan Responden Alamat Responden : ........................................................................... ....... : ……………………………………………………… : ……………………………………………………… : ……………………………………………………… : ……………………………………………………… : ……………………………………………………… : ……………………………………………………… ……………………………………………………… HP. Kabupaten / Kota Tanggal Wawancara Pewawancara : .................................................................................. : ……………………………………………………... : ……………………………………………………… : ………………………………………………….......

Oleh: Ja’far Salim P.062050534

PROGRAM DOKTOR PROGRAM STUDI PENGELOLAAN SDA DAN LINGKUNGAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

206 Tabel 5.1. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Kriteria untuk Tujuan Pemanfaatan Kembali Limbah.
Kolom Kiri Diisi jika Kriteria kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Kriteria kolom sebelah kanan 6 4 3 2 9 8 7 5 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Kriteria kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 4 8 3 5 6 7 9 Kolom Kanan

Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi “ Environment Equity” “Environment Equity” “Environment Equity” Degradasi Lingk. Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk.

Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi “Environment Equity” Degradasi Lingkungan Ekosistem Lingkungan Daya Saing Produk Efisiensi Material & Energi “Environment Equity” Degradasi Lingkungan Ekosistem Lingkungan Daya Dukung Lingkungan “Environment Equity” Degradasi Lingkungan Ekosistem Lingkungan Daya Dukung Lingkungan Degradasi Lingkungan Ekosistem Lingkungan Daya Dukung Lingkungan Ekosistem Lingkungan Daya Dukung Lingkungan Daya Dukung Lingkungan

207 Tabel 5.2. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Kriteria untuk Tujuan Minimalisasi Limbah.
Kolom Kiri Diisi jika Kriteria kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Kriteria kolom sebelah kanan 6 4 2 9 8 7 5 3 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Kriteria kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 4 6 8 3 5 7 9 Kolom Kanan

Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Environment Equity Environment Equity Environment Equity Degradasi Lingk. Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk.

Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Efisiensi Material & Energi Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Daya Dukung Lingkungan

208 Tabel 5.3. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Kriteria untuk Tujuan Mencegah Pencemaran Pesisir.
Kolom Kiri Diisi jika Kriteria kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Kriteria kolom sebelah kanan 6 4 2 9 8 7 5 3 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Kriteria kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 6 8 5 7 9 Kolom Kanan

Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Environment Equity Environment Equity Environment Equity Degradasi Lingk. Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk.

Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Efisiensi Material & Energi Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Daya Dukung Lingkungan

209 Tabel 5.4. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Kriteria untuk Tujuan Mencegah Pencemaran terhadap Kesehatan Masyarakat.
Kolom Kiri Diisi jika Kriteria kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Kriteria kolom sebelah kanan 6 4 2 9 8 7 5 3 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Kriteria kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 4 6 8 3 5 7 9 Kolom Kanan

Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Environment Equity Environment Equity Environment Equity Degradasi Lingk. Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk.

Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Efisiensi Material & Energi Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Saing Produk Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Daya Dukung Lingkungan

210 Tabel 5.5. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Kriteria untuk Tujuan Upaya Mempertahankan Kelestarian Wilayah Pesisir.
Kolom Kiri Diisi jika Kriteria kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Kriteria kolom sebelah kanan 6 4 2 9 8 7 5 3 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Kriteria kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 4 6 8 3 5 7 9 Kolom Kanan

Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Environment Equity Environment Equity Environment Equity Degradasi Lingk. Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk.

Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Efisiensi Material & Energi Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Daya Dukung Lingkungan

211 Tabel 5.6. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Kriteria untuk Tujuan Kebijakan Pengelolaan Limbah Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan.
Diisi jika Kriteria kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Kriteria kolom sebelah kanan 6 4 2 9 8 7 5 3 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Kriteria kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 4 6 8 3 5 7 9

Kolom Kiri

Kolom Kanan

Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Timbulnya Limbah Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Efisiensi Material & Energi Environment Equity Environment Equity Environment Equity Degradasi Lingk. Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk.

Pencemaran & Kerusakan Lingk. Efisiensi Material & Energi Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Efisiensi Material & Energi Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Environment Equity Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Degradasi Lingk. Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Ekosistem Lingk. Daya Dukung Lingkungan Daya Dukung Lingkungan

3. Penentuan Bobot Aktor untuk Masing-Masing Kriteria model pengelolaan limbah lndustri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon. Aktor-Aktor yang berperan dalam membuat model pengelolaan limbah baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon adalah: a. Pemerintah Daerah (Pemda) b. Industri Penghasil Baja (IPB) c. Divisi K3LH PT. Krakatau Steel (K3LH) d. Masyarakat Sekitar (Masyarakat) e. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) f. Peneliti/Pakar(Pakar)

212 Tabel 6. Penilaian tingkat kepentingan (skor) antar masing-masing Aktor dalam membuat model pengelolaan limbah baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon, untuk setiap Kriteria Nilai Skor 1 3 5 7 9 2, 4, 6, 8 Keterangan Aktor yang satu dengan yang lainnya sama penting Aktor yang satu sedikit lebih penting (agak kuat) dibanding Aktor lainnya. Aktor yang satu sifatnya lebih penting (lebih kuat pentingnya) dibanding Aktor lainnya Aktor yang satu sangat penting dibanding Aktor lainnya Aktor yang satu ekstrim pentingnya dibanding Aktor lainnya Nilai tengah di antara dua nilai skor penilaian diatas

Tabel 6.1. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Aktor untuk Kriteria Mencegah Timbulnya Limbah. Diisi jika Aktor kolom Diisi Diisi jika Aktor kolom Kolom Kolom sebelah kiri lebih penting Bila sebelah kanan lebih Kanan Kiri dibanding Aktor kolom Sama penting dibanding kolom sebelah kanan Penting sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Pemda IPB Pemda K3LH Pemda Masyarakat Pemda LSM Pemda Pakar IPB K3LH IPB Masyarakat IPB LSM IPB Pakar K3LH Masyarakat K3LH LSM K3LH Pakar Masyarakat LSM Masyarakat Pakar LSM Pakar

213 Tabel 6.2. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Aktor untuk Kriteria Mencegah Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan. Kolom Kiri Diisi jika Aktor kolom Diisi Diisi jika Aktor kolom sebelah kanan lebih Bila sebelah kiri lebih penting Sama penting dibanding kolom dibanding Aktor kolom sebelah kiri Penting sebelah kanan 2 3 4 5 6 7 8 9 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Kolom Kanan

Pemda Pemda Pemda Pemda Pemda IPB IPB IPB IPB K3LH K3LH K3LH Masyarakat Masyarakat LSM

IPB K3LH Masyarakat LSM Pakar K3LH Masyarakat LSM Pakar Masyarakat LSM Pakar LSM Pakar Pakar

Tabel 6.3. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Aktor untuk Kriteria Efisiensi Material dan Energi. Kolom Kiri Diisi jika Aktor kolom Diisi Diisi jika Aktor kolom sebelah kanan lebih Bila sebelah kiri lebih penting Sama penting dibanding kolom dibanding Aktor kolom sebelah kiri Penting sebelah kanan 2 3 4 5 6 7 8 9 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Kolom Kanan

Pemda Pemda Pemda Pemda Pemda IPB IPB IPB IPB K3LH K3LH K3LH Masyarakat Masyarakat LSM

IPB K3LH Masyarakat LSM Pakar K3LH Masyarakat LSM Pakar Masyarakat LSM Pakar LSM Pakar Pakar

214 Tabel 6.4. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Aktor untuk Kriteria Mendukung Prinsip ”Environment Equity”. Kolom Kiri Diisi jika Aktor kolom Diisi Diisi jika Aktor kolom sebelah kanan lebih Bila sebelah kiri lebih penting Sama penting dibanding kolom dibanding Aktor kolom sebelah kiri Penting sebelah kanan 2 3 4 5 6 7 8 9 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Kolom Kanan

Pemda Pemda Pemda Pemda Pemda IPB IPB IPB IPB K3LH K3LH K3LH Masyarakat Masyarakat LSM

IPB K3LH Masyarakat LSM Pakar K3LH Masyarakat LSM Pakar Masyarakat LSM Pakar LSM Pakar Pakar

Tabel 6.5. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Aktor untuk Kriteria Mencegah Degradasi Lingkungan. Kolom Kiri Diisi jika Aktor kolom Diisi Diisi jika Aktor kolom sebelah kanan lebih Bila sebelah kiri lebih penting Sama penting dibanding kolom dibanding Aktor kolom sebelah kiri Penting sebelah kanan 2 3 4 5 6 7 8 9 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Kolom Kanan

Pemda Pemda Pemda Pemda Pemda IPB IPB IPB IPB K3LH K3LH K3LH Masyarakat Masyarakat LSM

IPB K3LH Masyarakat LSM Pakar K3LH Masyarakat LSM Pakar Masyarakat LSM Pakar LSM Pakar Pakar

215 Tabel 6.6. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Aktor untuk Kriteria Memelihara Ekosistem Lingkungan. Kolom Kiri Diisi jika Aktor kolom Diisi Diisi jika Aktor kolom sebelah kanan lebih Bila sebelah kiri lebih penting Sama penting dibanding kolom dibanding Aktor kolom sebelah kiri Penting sebelah kanan 2 3 4 5 6 7 8 9 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Kolom Kanan

Pemda Pemda Pemda Pemda Pemda IPB IPB IPB IPB K3LH K3LH K3LH Masyarakat Masyarakat LSM

IPB K3LH Masyarakat LSM Pakar K3LH Masyarakat LSM Pakar Masyarakat LSM Pakar LSM Pakar Pakar

Tabel 6.7. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Aktor untuk Kriteria Memperkuat Daya Dukung Lingkungan. Kolom Kiri Diisi jika Aktor kolom Diisi Diisi jika Aktor kolom sebelah kanan lebih Bila sebelah kiri lebih penting Sama penting dibanding kolom dibanding Aktor kolom sebelah kiri Penting sebelah kanan 2 3 4 5 6 7 8 9 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Kolom Kanan

Pemda Pemda Pemda Pemda Pemda IPB IPB IPB IPB K3LH K3LH K3LH Masyarakat Masyarakat LSM

IPB K3LH Masyarakat LSM Pakar K3LH Masyarakat LSM Pakar Masyarakat LSM Pakar LSM Pakar Pakar

Lampiran 7. Hasil matriks pasangan Fokus - Tujuan analisis AHP model pengelolaan limbah baja
Pemanfaatan kembal limbah 0,325 0,325 Minimalisasi limbah 0,214 0,214 Pencegahan pencemaran pesisir 0,201 0,201 Pencegahan pencemaran thp kesehatan masy. 0,119 0,119 Upaya mempertahankan kelestarian wil. Pesisir 0,084 0,084 Kebijakan pengelolaan limbah berwws lingk. dan berkelanjuran 0,056 0,056

Level Strategi pengelolaan limbah Results

Weights 1,00

Lampiran 8. Hasil matriks pasangan Tujuan - Kriteria analisis AHP model pengelolaan limbah baja

Level Pemanfaatan limbah kembali Minimalisasi limbah Pencegahan pencemaran pesisir Upaya menpertahankan kelesterian wilayah pesisir Kebij. pengel. limb berwws lingk dan berkelanjutan Pencegahan pencemaran thd kesehatan masyarakat Results

Timbulnya limbah 0,402 0,092 0,239 0,219 0,170 0,297 0,237

Pencemaran dan kerusakan lingkungan 0,153 0,067 0,104 0,119 0,149 0,216 0,135

Efisiensi material & energi 0,050 0,151 0,233 0,085 0,051 0,161 0,122

"Environmental equity" 0,118 0,153 0,088 0,088 0,277 0,101 0,138

Degradasi lingkungan 0,062 0,147 0,121 0,140 0,050 0,090 0,102

Ekosistem lingkungan 0,117 0,162 0,152 0,254 0,199 0,055 0,157

Daya dukung lingkungan 0,098 0,229 0,062 0,096 0,104 0,079 0,111

Weights 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00

Lampiran 9. Hasil matriks pasangan Kriteria - Aktor analisis AHP model pengelolaan limbah baja
Level Timbulnya limbah Pencemaran dan kerusakan lingkungan Efisiensi material dan energi "Environmental" Equity Degradasi lingkungan Ekosistem lingkungan Daya dukung lingkungan Results Pemerintah Daerah 0,301 0,403 0,335 0,313 0,293 0,353 0,312 0,330 Industri penghasil baja 0,168 0,219 0,248 0,162 0,238 0,187 0,244 0,209 Divisi K3LH PT. KS 0,222 0,157 0,155 0,203 0,178 0,192 0,155 0,180 Masyarakat sekitar 0,118 0,074 0,099 0,119 0,124 0,092 0,121 0,107 LSM 0,107 0,074 0,094 0,129 0,105 0,100 0,091 0,100 Peneliti/Pakar 0,083 0,074 0,068 0,075 0,063 0,076 0,078 0,074 Weights 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00

Lampiran 10. Hasil matriks pasangan Aktor - Alternatif analisis AHP model pengelolaan limbah baja
Level Lembaga Swadaya Masyarakat Masyarakat sekitar Divisi K3LH PT. KS Industri Penghasil Baja Peneliti/ Pakar Pemerintah Daerah Results Perubahan Bahan Baku 0,295 0,283 0,297 0,252 0,223 0,306 0,276 Perubahan proses dan Teknologi 0,142 0,187 0,127 0,114 0,159 0,139 0,145 Perubahan Produk 0,160 0,130 0,169 0,203 0,195 0,161 0,170 Penerapan 5 R Lingkungan 0,111 0,115 0.,25 0,091 0,141 0,100 0,114 Mengurangi Limbah 0,074 0,098 0,117 0,095 0,052 0,078 0,086 Memakai kembali Limbah 0,068 0,053 0,059 0,091 0,058 0,062 0,065 Mendaur ulang Limbah 0,077 0,067 0,060 0,096 0,078 0,069 0,075 Mengganti Limbah 0,073 0,067 0,045 0,058 0,093 0,086 0,070 Weights 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00

Lampiran 11. Hierarki analisis AHP aktor - alternatif model pengelolaan limbah baja

202

PENGANTAR
Terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu/Saudara(i) untuk diwawancarai, adapun wawancara ini untuk kepentingan penelitian tentang model pengelolaan limbah baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon. Dalam wawancara ini tidak akan mempengaruhi konduite, status maupun kelangsungan pekerjaan Bapak/Ibu/Saudara(i). Hasil wawancara ini kami rahasiakan untuk kepentingan penelitian. I. Tata Cara Pengisian Quesioner Isilah perbandingan antara masing-masing atribut seperti tertera pada Tabel 2 dengan Skala Saaty seperti yang tertera pada Tabel 1. Misalnya pada Tabel 2, bila Atribut B lebih penting dari pada Atribut A maka nilai Skala Saaty = 5 diberikan pada Atribut B yang terletak disisi kanan angkaangka pertbandingan itu. Sebaliknya, bila Atribut A sangat penting maka nilai Skala Saaty = 7 diberikan pada Atribut A yang terletak disisi kiri angka-angka pertbandingan itu. Dimohonkan pengisian ini dilakukan secara konsisten. Sebagai contoh, apabila Atribut A lebih baik dari Atribut C, dan Atribut B lebih baik dari Atribut C maka Atribut A harus lebih baik dari Atribut C. Tabel 1. Penilaian tingkat kepentingan (skor) antar masing-masing atribut Nilai Skor 1 3 5 7 9 2, 4, 6, 8 Keterangan Kriteria yang satu dengan yang lainnya sama penting Kriteria yang satu sedikit lebih penting (agak kuat) dibanding Kriteria yang lainnya. Kriteria yang satu sifatnya lebih penting (lebih kuat pentingnya) dibanding Kriteria yang lainnya Kriteria yang satu sangat penting dibanding Kriteria yang lainnya Kriteria yang satu ekstrim pentingnya dibanding Kriteria yang lainnya Nilai tengah di antara dua nilai skor penilaian di atas

Tabel 2. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing atribut.
Kolom Kiri Diisi jika Kriteria di kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Kriteria di kolom sebelah kanan Diisi Bila Sama Penting Diisi jika Kriteria di kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Kriteria di kolom sebelah kanan Kolom Kanan

9
Atribut A Atribut A Selanjutnya v

8

7

6 5 4 3 2

1

2 3 4 5 6 7 8 9
v Atribut B Atribut C Selanjutnya

203 I. Struktur hirarki AHP kebijakan dan strategi model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon.

FOKUS

STRATEGI PENGELOLAAN LIMBAH BAJA

TUJUAN

Pemanfaatan kembali limbah

Minimalisasi limbah

Pencegahan pencemaran pesisir

Pencegahan pencemaran thp kesehatan masyarakat

Upaya mempertahankan kelestarian wil. pesisir

Kebijakan pengelolaan limbah berwawasan lingk. dan berkelanjutan

KRITERIA

Timbulnya limbah

Pencemaran & kerusakan lingkungan

Efisiensi material & energi

“Environmental equity”

Degradasi lingkungan

Ekosistem lingkungan

Daya dukung lingkungan

AKTOR

Pemerintah Daerah

Industru Penghasil Baja

Dvisi K3LH PT. KS

Masyarakat sekitar

LSM

Peneliti/ Pakar

ALTERNATIF

Perubahan bahan baku

Perubahan proses & teknologi

Perubahan produk

Penerapan 5R lingkungan

Mengurangi limbah

Memakai kembali limbah

Mendaur ulang limbah

Meng ganti limb.

II. Daftar Kuisioner yang dimohonkan bapak dan ibu bersedia untuk mengisinya pada tabel-tabel berikut ini:

1. Penentuan Bobot Kriteria model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon. Tujuan yang:digunakan untuk membuat model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon adalah: a. Pemanfaatan Kembali Limbah b. Minimalisasi Limbah c. Pencegahan Pencemaran Pesisir d. Pencegahan Pencemaran terhadap Kesehatan Masyarakat e. Upaya Mempertahankan Kelestarian Wilayah Pesisir f. Kebijakan Pengelolaan Limbah Berwawasan Lingkungan dan Berkelanjutan

204 Tabel 3. Penilaian tingkat kepentingan (skor) antar masing-masing Tujuan pengelolaan limbah industri baja. Nilai Skor 1 3 5 7 9 2, 4, 6, 8 Keterangan Tujuan yang satu dengan yang lainnya sama penting Tujuan yang satu sedikit lebih penting (agak kuat) dibanding Tujuan yang lainnya. Tujuan yang satu sifatnya lebih penting (lebih kuat pentingnya) dibanding Tujuan yang lainnya Tujuan yang satu sangat penting dibanding Tujuan yang lainnya Tujuan yang satu ekstrim pentingnya dibanding Tujuan yang lainnya Nilai tengah di antara dua nilai skor penilaian diatas

Tabel 4. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Tujuan.
Kolom Kiri Pemanfaatan Kembali Limbah Pemanfaatan Kembali Limbah Pemanfaatan Kembali Limbah Pemanfaatan Kembali Limbah Diisi jika Tujuan di kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Tujuan di kolom sebelah kanan Diisi Bila Sama Penting Diisi jika Tujuan di kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Tujuan di kolom sebelah kanan Kolom Kanan

9

8

7

6

5

4

3

2

1

2

3

4

5

6

7

8

9
Minimalisasi Limbah Pencegahan Pencemaran Pesisir Pencegahan Pencemaran thd Kesehatan Masy. Upaya Mempertahankan Kelestarian Wil. Pesisir Kebij. Pengelolaan Limb.Berwawasan Lingk & Berkelanj. Pencegahan Pencemaran Pesisir Pencegahan Pencemaran thd Kesehatan Masy. Upaya Mempertahankan Kelestarian Wil. Pesisir Kebij. Pengelolaan Limb.Berwawasan Lingk & Berkelanj. Pencegahan Pencemaran thd Kesehatan Masy. Upaya Mempertahankan Kelestarian Wil. Pesisir Kebij. Pengelolaan Limb.Berwawasan Lingk & Berkelanj Upaya Mempertahankan Kelestarian Wil. Pesisir Kebij. Pengelolaan Limb.Berwawasan Lingk & Berkelanj Kebij. Pengelolaan Limb.Berwawasan Lingk & Berkelanj

Pemanfaatan Kembali Limbah Minimalisasi Limbah Minimalisasi Limbah

Minimalisasi Limbah

Minimalisasi Limbah

Pencegahan Pencemaran Pesisir Pencegahan Pencemaran Pesisir

Pencegahan Pencemaran Pesisir Pencegahan Pencemaran thd Kesehatan Masy. Pencegahan Pencemaran thd Kesehatan Masy. Upaya Mempertahankan Kelestarian Wil. Pesisir

205 2. Penentuan Bobot Aktor untuk Masing-Masing Kriteria model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon. Kriteria yang digunakan dalam membuat model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon adalah: a. Timbulnya Limbah b. Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan c. Efisiensi Material dan Energi d. “Environmental Equity” e. Degradasi Lingkungan f. Ekosistem Lingkungan g. Daya Dukung Lingkungan Tabel 5. Penilaian tingkat kepentingan (skor) antar masing-masing Kriteria model pengelolaan limbah industri baja sebagai upaya untuk mempertahankan wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon, setiapTujuan Nilai Skor 1 3 5 7 9 2, 4, 6, 8 Keterangan Kriteria yang satu dengan yang lainnya sama penting Kriteria yang satu sedikit lebih penting (agak kuat) dibanding Kriteria lainnya. Kriteria yang satu sifatnya lebih penting (lebih kuat pentingnya) dibanding Kriteria lainnya Kriteria yang satu sangat penting dibanding Kriteria lainnya Kriteria yang satu ekstrim pentingnya dibanding Kriteria lainnya Nilai tengah di antara dua nilai skor penilaian diatas

216 4. Penentuan Bobot Alteratif masing-masing Aktor dalam membuat model pengelolaan limbah baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon

Alternatif yang dapat digunakan dalam membuat model pengelolaan limbah baja sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon, adalah: a. Perubahan Bahan Baku b. Perubahan Proses dan Teknologi c. Perubahan Produk d. Penerapan 5 R Lingkungan e. Mengurangi Limbah f. Memakai Kembali Limbah g. Mendaur Ulang Limbah h. Mengganti Limbah

Tabel 7. Penilaian tingkat kepentingan (skor) antar masing-masing Alternatif atau Strategi penentuan strategi penutupan tambang yang berkelanjutan untuk setiap Aktor Nilai Skor 1 3 5 7 9 2, 4, 6, 8 Keterangan Alternatif/Strategi yang satu dengan yang lainnya sama penting Alternatif/Strategi yang satu sedikit lebih penting (agak kuat) dibanding Alternatif/Strategi lainnya. Alternatif/Strategi yang satu sifatnya lebih penting (lebih kuat pentingnya) dibanding Alternatif/Strategi lainnya Alternatif/Strategi yang satu sangat penting dibanding Alternatif/Strategi lainnya Alternatif/Strategi yang satu ekstrim pentingnya dibanding Alternatif/Strategi lainnya Nilai tengah di antara dua nilai skor penilaian diatas

217 Tabel 7.1. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Alternatif untuk Aktor Pemerintah Daerah (Pemda).
Kolom Kiri Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Kolom Kanan

Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan

218
Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengganti limbah

Kolom Kiri

Kolom Kanan

Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah

Tabel 7.2. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Alternatif untuk Aktor Industri Penghasil Baja (IPB).
Kolom Kiri Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Kolom Kanan

Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan

219
Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengganti limbah

Kolom Kiri

Kolom Kanan

Teknologi Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah

Tabel 7.3. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Alternatif untuk Aktor Divisi K3LH PT. Krakatau Steel (K3LH).
Kolom Kiri Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Kolom Kanan

Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku

220
Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 Mengganti limbah Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengganti limbah

Kolom Kiri

Kolom Kanan

Perubahan Bahan Baku Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah

221 Tabel 7.4. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Alternatif untuk Aktor Masyarakat Sekitar (Masyarakat).
Kolom Kiri Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Kolom Kanan

Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan

222
Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengganti limbah

Kolom Kiri

Kolom Kanan

Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah

Tabel 7.5. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Alternatif untuk Aktor Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Kolom Kiri Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Kolom Kanan

Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan

223
Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengganti limbah

Kolom Kiri

Kolom Kanan

Teknologi Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah

Tabel 7.6. Berilah Tanda ( V) pada kolom skor yang paling sesuai terhadap penilaian tingkat kepentingan masing-masing Alternatif untuk Aktor Peneliti/Pakar (Pakar).
Kolom Kiri Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti Kolom Kanan

Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan Bahan Baku Perubahan

224
Diisi jika Alternatif kolom sebelah kiri lebih penting dibanding Aktor kolom sebelah kanan 9 8 7 6 5 4 3 2 Diisi Bila Sama Penting 1 Diisi jika Alternatif kolom sebelah kanan lebih penting dibanding kolom sebelah kiri 2 3 4 5 6 7 8 9 limbah Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mendaur Ulang limbah Mengganti limbah Mengganti limbah

Kolom Kiri

Kolom Kanan

Bahan Baku Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Proses dan Teknologi Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Perubahan Produk Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Penerapan 5 R Lingkungan Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Mengurangi Limbah Memakai Kembali limbah Memakai Kembali limbah Mendaur Ulang limbah

225 Lampiran 6. Kuesioner Interpretative Structur Modelling (ISM)

KUESIONER

INTERPRETATIVE STRUCTURAL MODELLING (ISM)

MODEL PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI BAJA SEBAGAI UPAYA UNTUK MEMPERTAHANKAN KELESTARIAN WILAYAH PESISIR KAWASAN INDUSTRI KRAKATAU CILEGON SURVEI PAKAR
No. Responden Nama Responden Umur Jenis Kelamin Pendidikan terakhir Jabatan Responden Alamat Responden : …………………………………………………….. : ……………………………………………………… : ……………………………………………………… : ……………………………………………………… : ……………………………………………………… : ……………………………………………………… : ……………………………………………………… ……………………………………………………… HP. Kabupaten / Kota Tanggal Wawancara Pewawancara : ................................................................................... : ……………………………………………………... : ……………………………………………………… : …………………………………………………........

Oleh: Ja’far Salim P062050534 PROGRAM DOKTOR PROGRAM STUDI PENGELOLAAN SDA DAN LINGKUNGAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

226

PENGANTAR
Terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu/Saudara(i) untuk diwawancarai, adapun wawancara ini untuk kepentingan penelitian tentang model pengelolaan limbah baja dalam upaya untuk mempertahankan kelestarian wilayah pesisir kawasan industri Krakatau Cilegon. Dalam wawancara ini tidak akan mempengaruhi konduite, status maupun kelangsungan pekerjaan Bapak/Ibu/Saudara(i). Hasil wawancara ini kami rahasiakan untuk kepentingan penelitian. 1. Dalam pengelolaan limbah baja, menurut bapak/ibu mana urutan aktor yang paling berperan di bawah ini? Jawaban diberi nomor berdasarkan prioritas menurut bapak/ibu: a. ( ) Pemerintah Daerah b. ( ) Pabrik baja/BUMN c. ( ) Instansi terkait d. ( ) Masyarakat e. ( ) Perguruan Tinggi/Peneliti/Pakar f. ( ) LSM 2. Jika akan memilih area penyimpanan limbah baja, menurut bapak/ibu urutan aspek pemilihan penyimpanan limbah baja yang bagaimana yang akan dipilih di bawah ini? Jawaban diberi nomor berdasarkan prioritas menurut bapak/ibu: a. ( ) Area penyimpanan limbah yang aman b. ( ) Area penyimpanan limbah yang jauh dari lingkungan masyarakat c. ( ) Area penyimpanan limbah yang teratur dan rapih d. ( ) Area penyimpanan limbah yang sehat e. ( ) Area penyimpanan limbah yang jelas status kawasannya 3. Jika akan memilih area penyimpanan limbah baja, menurut bapak/ibu bagaimana urutan bentuk Area penyimpanan limbah yang akan dipilih di bawah ini? Jawaban diberi nomor berdasarkan prioritas menurut bapak/ibu: a. ( ) Pengelolaan Area penyimpanan limbah baru b. ( ) Area penyimpanan limbah tidak mencemari tanah, air, dan udara c. ( ) Adanya petugas yang menangani Area penyimpanan limbah d. ( ) Pembangunan Area penyimpanan limbah dari yang jauh pemukiman penduduk 4. Pengelolaan limbah baja yang selama ini dilaksanakan oleh pabrik baja ini ditujukan untuk mengatasi berbagai permasalahan ekologi, ekonomi maupun sosial, menurut saudara bagaimana urutan permasalahan yang telah berhasil diatasi dengan dimulai sistem pengelolaan limbah baja di bawah ini? Jawaban diberi nomor berdasarkan prioritas menurut bapak/ibu:

227 a. ( ) Kesenjangan kebutuhan dan persediaan limbah baja b. ( ) Pergeseran lokasi/Area penyimpanan limbah c. ( ) Kesenjangan kebutuhan prasarana dan utilitas d. ( ) Kesenjangan kebutuhan sarana dan fasilitas e. ( ) Kesenjangan kesempatan kerja f. ( ) Perbaikan daya dukung lingkungan 5. Model pengelolaan limbah baja akan berdampak pada permasalahan ekologi, ekonomi maupun sosial, menurut bapak/ibu bagaimana dampak yang paling besar terjadi dengan dibangunnya area pengelolaan limbah baja dibawah ini? Jawaban diberi nomor berdasarkan prioritas menurut bapak/ibu: a. ( ) Kesenjangan kebutuhan stakeholder b. ( ) Pergeseran lokasi pembangunan c. ( ) Kesenjangan kebutuhan prasarana dan utilitas d. ( ) Kesenjangan kebutuhan sarana dan fasilitas e. ( ) Kesenjangan kesempatan kerja f. ( ) Kerusakan daya dukung lingkungan 6. Model pengelolaan limbah baja dipengaruhi oleh beberapa faktor, menurut bapak/ibu bagaimana urutan faktor yang paling penting dengan dibuatnya model pengelolaan limbah baja dibawah ini? Jawaban diberi nomor berdasarkan prioritas menurut bapak/ibu: a. ( ) Pengelolaan limbah yang secara sosial dan kultural bisa diterima dan dipertanggungjawabkan (socially and culturally suitable and accountable), b. ( ) Pengelolaan yang secara politis bisa diterima (politically acceptable) c. ( ) Pengelolaan yang layak secara ekonomis (economically feasible), d. ( ) Pengelolaan yang bisa dipertanggungjawabkan dari segi lingkungan (environmentally sound and sustainable) 7. Model pengelolaan limbah baja diikuti dengan perbaikan prasarana, menurut bapak/ibu bagaimana urutan faktor prasarana dasar penyimpanan limbah yang paling penting di bawah ini? Jawaban diberi nomor berdasarkan prioritas menurut bapak/ibu: a. ( ) Jalan raya ke lokasi penampungan limbah baja b. ( ) Perluasan area penampungan limbah baja c. ( ) Jaringan pembuangan air limbah/waste water d. ( ) Penataan area penampungan limbah 8. Penggunaan teknologi pengolahan limbah ditinjau dari beberapa aspek, menurut bapak/ibu bagaimana urutan teknologi pengolahan limbah yang baik dan dapat meminimalkan jumlah pencemaran lingkungan yang akan bapak/ibu pilih. Jawaban diberi nomor berdasarkan prioritas menurut bapak/ibu: a. ( ) Kebutuhan perluasan lahan untuk instalasinya b. ( ) Kecepatan waktu yang dibutuhkan untuk mengolah limbah baja c. ( ) Penggunaan bahan lain dalam proses pengolahan d. ( ) Kemampuan menghilangkan warna, bau dan bahan beracun berbahaya lainnya e. ( ) Jumlah kandungan kotoran berupa lumpur yang mengendap f. ( ) Kemudahan dalam pengoperasian dan perawatan g. ( ) Biaya operasional yang murah

228 9. Apakah bapak/ibu pernah melihat limbah baja menumpuk di sekitar area penampungan limbah ? • • Jika pernah, bagaimana menurut bapak/ibu ? Apa penyebabnya ?

10. Apakah bapak/ibu pernah melihat limbah baja menyumbat di saluran/kanal sekitar perusahaan pada waktu musim hujan? • • Jika pernah, bagaimana keadaan perusahaan pada saat musim hujan? Dan bagaimana pada saat musim kemarau?

11. Apakah bapak/ibu pernah melihat limbah baja di lingkungan kerja bapak/ibu pada saat anda melintasi kawasan industri tersebut? • Jika pernah, menurut bapak/ibu apa penyebab adanya limbah tersebut?

12. Pernahkah pemerintah melibatkan bapak/ibu dalam pengelolaan lingkungan dari limbah baja ? • Jika pernah, dalam bentuk apa saja bapak/ibu dilibatkan?

13. Apakah di lingkungan bapak/ibu pernah ada sosialisasi kebijakan pengelolaan limbah baja? • Jika pernah, siapa saja yang pernah melakukan sosialisasi tersebut? (.....) LSM (.....) Perguruan Tinggi (.....) Industri (.....) Masyarakat setempat (.....) Pemerintah Daerah (.....) Lainnya, sebutkan ........................................................................................................................................ ........................................................................................................ Alasannya,...................................................................................................................... ........................................................................................................................................ ........................................................................................................................................ ........................................................................................................................................ (Keterangan: berikan tanda√ pada pilihan bapak/ibu)

14. Adakah fasilitas pengelolaan limbah baja di lokasi sekitar tempat kerja bapak/ibu ? • Dalam bentuk apa fasilitas tersebut ?

229 Penyusunan Strategi Pengelolaan Limbah Baja, (Pemerintah, Industri, Masyarakat Sekitar, LSM, Para Pakar)

15. Apakah bapak/ibu setuju dengan model pengelolaan limbah baja yang ada sekarang? Jelaskan! 16. Menurut bapak/ibu apakah pemanfaatan lahan penyimpanan limbah sudah sesuai

dengan peruntukannya? Jelaskan - Jika tidak, bagaimana seharusnya pemanfaatan yang baik? 17. Menurut bapak/ibu apakah sudah ada Perda yang mengatur tentang pengelolaan limbah baja? Jelaskan ! - Jika tidak, bagaimana seharusnya? - Jika ya, Perda nomor berapa yang mengatur tentang pengelolaan limbah tersebut? 18. Apakah di lingkungan tempat kerja bapak/ibu sudah mempunyai strategi pengelolaan limbah baja dan (di Perdakan)? - Jika tidak, bagaimana seharusnya? - Jika ya, perda nomor berapa yang mengatur strategi pengelolaan limbah baja ? 19. Apakah bapak/ibu dilibatkan dalam menyusun strategi pengelolaan limbah baja? pencemaran - Jika ya, dalam bentuk apa bapak/ibu dilibatkan? 20. Menurut bapak/ibu apakah di lingkungan tempat kerja bapak/ibu, limbah baja sudah terjadi pencemaran saat ini? - Jika ya, bagaimana cara mengatasinya dan bagaimana pengelolaan pecemaran yang seharusnya? - Jika tidak, menurut bapak/ibu strategi apa yang harus dilakukan jika belum terjadi? dan bagaimana bentuk strategi tersebut?

230

Teknik Permodelan Interpretasi Struktural (Interpretatif Structural Modelling--ISM)
Teknik Permodelan Interpretasi Struktural (Interpretatif Structural Modelling) digunakan untuk merumuskan alternatif kebijakan dimasa yang akan datang. Analisis ini

digunakan sebagai salah satu alat (tool) dalam penelitian yang dilakukan dengan judul ”Model Pengelolaan Limbah Industri Baja sebagai upaya untuk Mempertahankan Kelestarian Wilayah Pesisir Kawasan Industri Krakatau Cilegon ”. Dengan analisis ingin diketahui faktor kunci dan tujuan strategis apa saja yang berperan dalam peningkatan daya dukung lingkungan, sesuai dengan pendapat dari para pelaku (stakeholder) yang terlibat di dalam pemanfaatan dan pengelolaan sampah dan limbah di lingkungan perumahan. Selanjutnya faktor kunci dan tujuan strategis tersebut akan digunakan untuk mendefinisikan dan mendeskripsikan evolusi kemungkinan masa depan bagi daya dukung lingkungan, melalui pemodelan dinamika sistem. Oleh karena itu, penentuan faktor kunci dan tujuan strategis tersebut adalah penting, dan sepenuhnya harus merupakan pendapat dari pihak yang berkompeten sebagai ahli (expert) mengenai lingkungan perumahan. A. Faktor Kunci Menurut Bapak/Ibu, faktor kunci apa saja yang berperan dalam pengelolaan limbah domestik, agar tercapai suatu pengelolaan yang komprehensif dan berkelanjutan di masa datang? (mohon dituliskan pada urutan dibawah ini sesuai dengan tingkat /ranking kepentingan dari faktor-faktor tersebut, adapun jumlah faktor-faktor dapat berapa saja, misalnya 10 faktor saja atau bahkan lebih dari 20 faktor) adalah sebagai berikut: (1) Pabrik baja, (2) Area penyimpanan limbah (3) Pembangunan area limbah yang jauh dari pemukiman, (4) Pengelolaan limbah yang dapat dipertanggungjawabkan, (5) Jaringan pembuatan waste water, (6) Kecepatan waktu pengolahan limbah, (7) Membangun prasarana pengolahan limbah yang aman, (8) Penerapan 3 R, (9) Studi pemanfaatan limbah, (10) Mendatangkan Pakar. Faktor Kunci Model pengelolaan limbah industri baja A._________________ B._________________ C._________________ D._________________ E._________________ F._________________ tingkat kepentingan tingkat kepentingan tingkat kepentingan tingkat kepentingan tingkat kepentingan tingkat kepentingan : : : : : :

231 G._________________ H._________________ I._________________ J._________________ K._________________ L._________________ M._________________ N._________________ O._________________ tingkat kepentingan tingkat kepentingan tingkat kepentingan tingkat kepentingan tingkat kepentingan tingkat kepentingan tingkat kepentingan tingkat kepentingan tingkat kepentingan : : : : : : : : :

B. Pengaruh Antar Faktor Kunci Berdasarkan faktor kunci yang telah diidentifikasi di atas, menurut Bapak/Ibu bagaimana pengaruh antar pasangan faktor kunci tersebut? Mohon pengaruh antar faktor kunci tersebut ditulis dalam bentuk huruf (V, A, X, O) pada matriks yang memuat pasangan faktor secara dua arah, misalnya pengaruh faktor A terhadap faktor B, dan sebaliknya pengaruh faktor B terhadap faktor A seperti diilustrasikan di bagian atas matriks. Huruf yang digunakan adalah sebagai berikut: V = A = X = lebih penting faktor A dari pada faktor B lebih penting faktor B dari pada faktor A faktor A dan Faktor B mempunyai nilai tingkat kepentingan yang sama dan saling terkait O = faktor A dan faktor B tidak saling terkait

232 Pengaruh langsung dan tingkat kepentingan antar faktor dalam sistem pengendalian pencemaran pesisir, dapat diisi pada kolom tabel di bawah ini:
1 lebih penting dari 12 6 lebih penting dari 1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

12 V

11

10

9

8

7

6 A

5

4

3

2

1

III. Keadaan (State) Faktor Di Masa Datang Berdasarkan faktor kunci yang telah diidentifikasi pada pertanyaan diatas, menurut Bapak/Ibu bagaimana keadaan (state) faktor-faktor tersebut di masa datang? Mohon keadaan (state) faktor-faktor tersebut di masa datang di tulis dalam matriks yang disediakan. Keadaan (state) faktor di masa datang dapat berupa dinamika seperti: meningkat, tetap, menurun, atau lainnya. Keadaan untuk masing-masing faktor di masa datang tidak perlu sama, misalnya untuk faktor A dibuat 5 macam keadaan, mungkin saja untuk faktor B hanya 2 atau 3 macam keadaan seperti diilustrasikan pada tiga baris pertama matriks. Contoh Matriks Keadaan (State) Faktor Kunci
Faktor Kunci (Ilustrasi) Keadaan (State) di Masa Datang Meningkat karena..... Tetap Menurun karena.....

(Ilustrasi)

Mendukung dengan.....

Tidak mendukung dengan..... Tetap

Tetap seperti sekarang

Menjadi tidak efektif

(Ilustrasi)

Meningkat karena.....

233 Matriks Keadaan (State) Faktor Kunci
Faktor Kunci A Keadaan (State) di Masa Datang

B

C

D

E

F

G

H

I

J

K

L

M

N

O

234

235

236

237 Lampiran 12. Data input dan proses ISM VAXO

1. Inisialisasi sub elemen pendapat pakar No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Sub Elemen Pabrik baja Area penyimpanan limbah Pembangunan area limbah yang jauh dari pemukiman Pengolahan yang dapat dipertangungjawabkan Jaringan pembuatan waste water Kecepatan waktu pengolahan limbah Membangun prasarana pengolahan limbah yang aman Penerapan 3 R (Reuse, Recyling, Recovery) Studi pemanfaatan limbah Mendatangkan pakar

2. Data input pendapat pakar No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 V 3 V A 4 V A O 5 V O O V 6 V O O V V 7 V O O V X O 8 V O O V X O X 9 V A O V X O X V 10 V V O V A O X A O

3. Tabel hasil pengolahan ISM VAXO No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 3 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 4 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 5 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 6 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 7 1 0 0 1 1 0 1 1 1 1 8 1 0 0 1 1 0 1 1 0 0 9 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 10 1 1 0 1 0 0 1 0 0 1

238 4. Struktur hasil pengolahan ISM VAXO

239 Lampiran 13. Program Model Dinamik pada Model Pengelolaan Limbah Baja Sub model Kependudukan JPendd018 = 66735 JPendd018 = -dt*TkKmt018 +dt*LjKlhr -dt*TkDws1819 doc JPendd018 = Penduduk Cilegon (KIC) usia 0-18 tahun (orang) init JPendd1960 = 75077 flow JPendd1960 = -dt*TkKmt1960 +dt*TkDws1819 -dt*TkDws6065 doc JPendd1960 = Penduduk Cilegon (KIC) usia 19-60 tahun (orang) init PenddTotal = 166838 flow PenddTotal = -dt*LjKmt +dt*LjKlhr doc PenddTotal = Penduduk Total: 4 Kecamatan Kota Cilegon ((KIC)(orang) aux LjKlhr = PenddTotal*AKlhrKasar doc LjKlhr = Laju kelahiran (orang/tahun) aux LjKmt = PenddTotal*AKmtKasar doc LjKmt = Laju kematian (orang/tahun) aux TkDws1819 = JPendd018 * (1- AKmtKasar)/30 doc TkDws1819 = Tingkat Kedewasaan usia 18-19 tahun (orang/tahun) aux TkDws6065 = JPendd1960*(1-AKmtKasar)/42 doc TkDws6065 = Tingkat Kedewasaan usia 60-65 tahun (orang/tahun) aux TkKmt018 = JPendd018*AKmtKasar doc TkKmt018 = Tingkat Kematian usia 0-18 tahun (orang/tahun) aux TkKmt1960 = JPendd1960*AKmtKasar doc TkKmt1960 = Tingkat kematian usia 19 - 60 tahun. (orang/tahun) aux AKlhrKasar = GRAPH(PendPendd/PendlkanAw,11,1.3,[0.0143,0.0153,0.0174,0.0204,0.0268,0.0373,0.04 65"Min:0.013;Max:0.048"]) doc AKlhrKasar = Angka Kelahiran Kasar (tanpa satuan) aux AKmtKasar = GRAPH(PendPendd/PendlkanAw,0.3,0.2,[0.0115,0.0115,0.0115,0.0115,0.0115,0.0115,0.01 15,0.0115,0.0115,0.0115"Min:0.0100;Max:0.0150"]) doc AKmtKasar = Angka Kematian Kasar (tanpa satuan) aux LjPertPendd = (LjKlhr-LjKmt)/PenddTotal*100% doc LjPertPendd = Laju Pertumbuhan Penduduk (%/tahun) aux PDRB = GRAPH(TIME,2003,1,[ 406670000000,440745000000,478606000000,520673000000,567415000000,58675000000 0,610914000000,672005400000,739205940000"MIN: 400000000000 MAX:800000000000"])*(1+WLjPertEk*WPertEk) doc PDRB = PDRB dari tahun 2007 (rupiah/tahun) aux PendPendd = PDRB/PenddTotal*10 doc PendPendd = Pendapatan perkapita penduduk Kota Cilegon (rupiah/orang) aux WLjPertEk = RAMP(0.0232,2003) doc WLjPertEk = Waktu laju pertumbuhan ekonomi 2,32% per tahun (% /tahun) const WPertEk = 0.1 doc WPertEk = Waktu lpertumbuhan ekonomi (tahun) init flow

240 Lampiran 14. Program Model Dinamik pada Model Pengelolaan Limbah Baja Sub model Pesisir Laut init flow LuasPessr = 11520 LuasPessr = +dt*LahPessrSiap -dt*PengrngPessr doc LuasPessr = Luas lahan pesisir KIC (hektar) aux LahPessrSiap = (LuasPessr-LuasPessrHarap)/WPerlPessr*0.01 doc LahPessrSiap = Lahan Pesisir yang dipersiapkan (hektar/tahun) aux PengrngPessr = (LuasKonve/WPeralihLahan)*PPendNelyn doc PengrngPessr = Pengurangn Pesisir (hektar/tahun) aux AKClg = JPendd1960*PAKClg doc AKClg = Angkatan kerja Kota Cilegon (KIC) orang) aux HasProdIkan = ProdPessr doc HasProdIkan = Hasil produksi ikan (ton/tahun) aux HIkan = PSDIkan*THIkan doc HIkan = Harga Ikan (rupiah/ton) aux KebNelyn = LuasPessr*KebNelynHa doc KebNelyn = Kebutuhan Nelayan/tenaga kerja perikanan pesisir (orang) aux KonsIkan = PenddTotal*KonsIkanKap doc KonsIkan = konsumsi ikan (ton/tahun) aux KonsIkanKap = PPendKonsIkan*TkKonsIkan aux KonsIkanTotal = KonsIkan*(100/11520) doc KonsIkanTotal = Konsumsi ikan total (ton/tahun) aux LuasKonve = GRAPH(TIME,2003,1,[332.3,332.3,332.8,332.9,332.49,332.2,331.93,328.57,327.45,327.37 ,326.89,326.81,326.81"Min:326;Max:334"]) aux LuasPanen = LuasPessr*IntensNelyn doc LuasPanen = Luas panen (hektar/tahun) aux LuasPessrHarap = KonsIkanTotal/ProdtvtsPessr doc LuasPessrHarap = Luas pesisir yang diharapkanan (hektar/tahun) aux NelynTersedia = AKClg*PAKPerk doc NelynTersedia = Ketersediaan nelayan/tenaga kerja perikanan (orang) aux PendNelyn = PendTunai/KebNelyn*12 doc PendNelyn = pendapatan nelayana perkapita (rupiah/orang) aux PendTunai = HIkan*HasProdIkan doc PendTunai = pendapatan tunai (rupiah) aux PNlelynTersedia = GRAPHCURVE(RasioNelyn,0.038,0.002,[8.43,8.43,8.43,8.43,8.43,8.43,8.43,8.43,8.43,8.4 3"Min:8.42;Max:1.1;Zoom"]) doc PNlelynTersedia = Pengaruh persediaan tenaga kerja/nelayan (tanpa satuan) aux PPendKonsIkan = GRAPHCURVE(RasioPend,12,0.2,[1,1,1,0.988,0.982,0.980,0.973,0.961,0.948,0.931"Min: 0.9;Max:1.50"]) doc PPendKonsIkan = Pengaruh pendapatan terhadap konsumsi limbah baja (tanpa satuan) aux PPendNelyn = GRAPH(RasioPendNelyn,50,21.5,[0.961,0.964,0.967,0.969,0.971,0.973,0.975,0.976,0.977, 0.979,0.981,0.983,0.985,0.986"Min:0.95;Max:1.05"]) doc PPendNelyn = Pengaruh pendapatan nelayan (tanpa satuan) aux ProdPessr = LuasPanen*ProdtvtsPessr

241 doc ProdPessr = produksi pesisir(ton/tahun) aux ProdtvtsPessr = GRAPH(TIME,2003,1,[10000,10500,11025,11576,12155,12763,13401,14071,14774,15513 "Min:10000;Max:16000"]) doc ProdtvtsPessr = Produktivitas pesisir (ton/hektar) aux PSDIkan = GRAPHCURVE(RasioSDIkan,1,010,[0.998,0.993,0.99,0.988,0.985,0.983,0.98,0.978,0.976 ,0.973"MIN:0.9;MAX:1.1;Zoom"]) doc PSDIkan = Pengaruh penawaran dan permintaan ikan (tanpa satuan) aux RasioNelyn = NelynTersedia/KebNelyn doc RasioNelyn = Rasio nelayan/tenaga kerja perikanan (tanpa satuan) aux RasioPend = PendPendd/PendlkanAw doc RasioPend = Rasio pendapatan perkapita (tanpa satuan) aux RasioPendNelyn = PendNelyn/PendNelynAw doc RasioPendNelyn = Rasio pendapatan nelayan (tanpa satuan) aux RasioSDIkan = HasProdIkan/KonsIkanTotal doc RasioSDIkan = Rasio penawaran dan permintaan ikan (tanpa satuan) aux THIkan = GRAPH(TIME,2003,1,[553.66,628.51,626.67,702.08,905.1,939,1049.51,2266,2753,2452" Min:550;Max:2800"]) doc THIkan = Tingkat harga ikan pengaruh dari penawarn dan permintaan ikan(rupiah/ton) aux TkKonsIkan = GRAPH(TIME,2003,1,[1103,1103,1103,1103,1103,1103,1103,1103,1103,1103"Min:130; Max:160"]) doc TkKonsIkan = Tingkat Konsumsi ikan perkapita (ton/orang/tahun) aux WPerlPessr = WPembPessr/PNlelynTersedia doc WPerlPessr = Waktu perluasan pesisir (tahun) const IntensNelyn = 1.73 doc IntensNelyn = Intensitas nelayan (tanpa satuan) const KebNelynHa = 2 doc KebNelynHa = Kebutuhan nelayan/tenaga kerja perikanan dalam pengelolaan ikan dalam satu hektar (orang/hektar) const PAKClg = 0.2738 doc PAKClg = Persentase angkatan kerja (Kota Cilegon (tanpa satuan) const PAKPerk = 0.0572 doc PAKPerk = Persentase Angkatan Kerja Perikanan (tanpa satuan) const PendlkanAw = 1885022 doc PendlkanAw = Pendapatan perkapita ikan awal (rupiah/orang/tahun) const PendNelynAw = 1103000 doc PendNelynAw = Pendapatn nelayan perkapita awal (rupiah/orang) const WPembPessr = 3 doc WPembPessr = Waktu pembukaan pesisir (tahun) const WPeralihLahan = 1 doc WPeralihLahan = Waktu peralihan lahan (tahun)

242 Lampiran 15. Program Model Dinamik pada Model Pengelolaan Limbah Baja Sub model Limbah Industri init flow JumlahLimb = 1863817 JumlahLimb = -dt*TkPengirmLimb +dt*TKedatgLimbLuar +dt*TkKedatgLimb doc JumlahLimb = Persediaan Limbah Baja (ton) init LimbahAw = 1863817*WRataProd flow LimbahAw = +dt*TkPermtLimb -dt*TkPenerLimb -dt*TkPenerLimbLuar doc LimbahAw = Lmbah baja dalam persediaan awal (ton) aux TKedatgLimbLuar = TkPenerLimbLuar aux TkKedatgLimb = GRAPH(TkPenerLimb,1660800,78000,[1501800,1501530,1501340,1501070,1500770,150 0520,1500280,1500020,1499780,1499590,1499420,1499320,1499180"Min:1498500;Max:1 501800"]) doc TkKedatgLimb = Tingkat kedatangan limbah baja lokal (ton/tahun) aux TkPenerLimb = DELAYINF(HasProdIkan,WRataProd,1)/120 doc TkPenerLimb = Tingkat penerimaan limbah baja lokal (ton/tahun) aux TkPenerLimbLuar = DELAYINF(KebutLimbLuar, WPenerLimb,1) doc TkPenerLimbLuar = tingkat penerimaan limbah baja luar (ton/tahun) aux TkPengirmLimb = GRAPH(KonsIkanTotal,223000,112000,[1499900,1500100,1500230,1500440,1500700,15 00900,1501100,1501300,1501500,1501660,1501810,1502000,1502200"Min:1499000;Max: 1503000"]) doc TkPengirmLimb = Tingkat pengiriman limbah baja (ton/tahun) aux TkPermtLimb = JProdHarap+NilaiPersedLimb doc TkPermtLimb = tingkat permintaan limbah baja (ton/tahun) aux JProdHarap = (1+WSiklusProd*PengPertPermLimb)*RataTkPengrmLimb doc JProdHarap = Jumlah produksi yang diharapkan (ton/tahun) aux KebutLimbLuar = MAX(KonsIkanTotal-HasProdIkan,800) doc KebutLimbLuar = Kebutuhan limbah baja luar (ton) aux LimbdlmProses = JProdHarap*WRataProd doc LimbdlmProses = Limbah dalam proses (ton) aux NilaiHasLimb = (LimbahAw-LimbdlmProses)/WNilaiPersed doc NilaiHasLimb = Penilaian hasil limbah imbah baja pemesanan (ton/tahun) aux NilaiPersedLimb = (JumlahLimb-PersedLimbHarap)/WNilaiPersed doc NilaiPersedLimb = Penilaian persediaan limbah baja (ton/tahun) aux PengPertPermLimb = TREND(TkPengirmLimb,WPengPertumPermLimb) aux PersedLimbHarap = JProdHarap*WPersedLimbHarap doc PersedLimbHarap = Persediaan limbah baja yang diharapkan (Ton) aux RataTkPengrmLimb = DELAYINF(TkPengirmLimb,10,1) doc RataTkPengrmLimb = Rata-rata tingkat pengiriman limbah baja (ton/tahun) const WNilaiPersed = 1 doc WNilaiPersed = Waktu penilaian persediaan (tahun) const WPenerLimb = 0.5 doc WPenerLimb = Waktu penerimaan laut (tahun) const WPengPertumPermLimb = 10

243 doc WPengPertumPermLimb = Waktu pengamatan pertumbuhan permintaan limbah baja (tahun) const WPersedLimbHarap = 0.75 doc WPersedLimbHarap = Waktu persediaan limbah baja yang diiharkan (tahun) const WRataProd = 1 doc WRataProd = Waktu rata rata produksi (tahun) const WSiklusProd = 0.1 doc WSiklusProd = Waktu siklus produksi (tahun)

244 Lampiran 16. Prediksi hasil pemodelan sistem tahun 2003 – 2115

Tahun

2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015

Prediksi Jumlah Penduduk (jiwa) 166.838 167.642 168.778 170.457 173.227 177.742 182.599 187.951 194.529 201.338 208.385 215.678 222.992

Prediksi Luas Pesisir (ha) 11.520,00 11.519,96 11.519,97 11.519,97 11.519,97 11.519,81 11.519,79 11.519,64 11.519,41 11.519,20 11.519,07 11.519,03 11.518,73

Prediksi Limbah Baja (ton) 1.863.817 1.864.217 1.864.793 1.866.342 1.865.891 1.866.395 1.866.562 1.866.445 1.866.303 1.866.218 1.865.607 1.864.561 1.863.258

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->