P. 1
Metode Resitasi

Metode Resitasi

|Views: 525|Likes:
Published by Giovani Tarega

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Giovani Tarega on Oct 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/26/2014

pdf

text

original

B. Metode Resitasi 1.

Pengertian metode resitasi Menurut Nur Uhbiyati (1999:99) metoda berasal dari dua perkatan yaitu meta yang artinya melalui dan hodos yang artinya jalan atau cara. Jadi metoda artinya suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (1999:625) metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Lebih lanjut Ahmad Tafsir bahwa metoda adalah cara yang cepat dan tepat (efektif dan efisien). Metodik titik tekannya pada cara/jalan yang akan ditempuh dalam menyajikan bahan pelajaran tertentu sehingga mudah diterima dan di serap oleh anak didik, dari pendapat tersebut dapat di tarik kesimpulan bahwa metode itu adalah cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Adapun mengenai resitasi menurut Ayar yusuf dan Syaiful Anwar (1995:67) dilihat dari segi bahasa, pemberian tugas atau resitasi berasal dari bahasa Inggris Tocite yang artinya mengutif (re=kembali) yaitu siswa mengutif atau mengambil sendiri bagian-bagian pelajaran itu dari buku-buku tertentu, lalu belajar sendiri dan berlatih hingga sampai siap sebagaimana mestinya. Menurut Zuhairini dkk. (1983:96) metode resitasi atau pemberian tugas belajar disebut metode pekerjaan rumah, adalah dimana murid diberi tugas khusus di luar jam pelajaran. Dalam pelaksanaannya metode ini anak-anak dapat mengerjakan tugasnya di rumah. Tapi dapat dikerjakan juga di

perpustakaan, di labolatorium, di ruang praktikum dan sebagainya untuk dapat di pertanggung jawabkan kepada guru. Proses pertanggung jawaban tersebut dinamakan resitasi. Metode pemberian tugas ini atau metode resitasi dapat dilaksanakan secara individu atau kelompok yang penting siswa dapat melakukan kegiatan belajar. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Sudirman dalam bukunya “Ilmu Pendidikan” (1992:141) yakni metode resitasi itu adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Berdasarkan pengertian di atas maka penulis dapat mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan metode resitasi adalah penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas kepada siswa baik lisan atau tulisan, kemudian siswa harus mempertanggung jawabkan dari apa yang ditugaskan guru kepada siswa. Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak sementara waktu sedikit. Artinya banyaknya bahan yang tersedia dengan waktu kurang seimbang. Agar bahan pelajaran selesai dengan waktu yang ditentukan, maka metode inilah yang biasanya guru gunakan untuk mengatasinya. Tugas dari resitasi ini tidak sama dengan pekerjaan rumah (PR) tetapi jauh lebih luas daripada itu. 2. Jenis-jenis tugas Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002:97) dalam metode resitasi atau pemberian tugas, siswa diberikan berbagai macam tugas oleh guru. Tugas sangat banyak macamnya tergantung pada tujuan yang akan dicapai; seperti

tugas meneliti, tugas menyusun laporan (lisan/tulisan), tugas motorik (pekerjaan motorik), tugas di labolatorium dan lain-lain. Selanjutnya Roestiyah (1998:133) mengemukakan diharapkan bila guru telah memberikan tugas kepada siswa, hari berikutnya harus di cek apakah sudah dikerjakan atau belum. Kemudian perlu dievaluasi karena akan memberi motivasi belajar siswa. Sudirman N. (1992:143) membagi berbagai jenis tugas yang dapat diberikan kepada siswa antara lain: 1. Tugas membuat rangkuman (report) beberapa halaman, topik, bab, atau buku seperti; • • • Merangkum beberapa halaman atau suatu topik Merangkum satu bab (chapter report) Merangkum suatu buku atau beberapa buku

2. Tugas membuat makalah 3. Tugas menjawab pertanyaan atau menyelesaikan soal-soal tertentu 4. Tugas mengadakan observasi atau wawancara 5. Tugas mengadakan latihan 6. Tugas mendemontrasikan sesuatu 7. Tugas menyelesaikan proyek. Berdasarkan pendapat tersebut di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa tugas yang diberikan kepada siswa itu banyak ragamnya, dan tentunya di dalamnya bukan hanya metode resitasi saja, akan tetapi ada metode-metode lainya. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Sudirman N (1992:143)

bahwa: ”Di dalam pelaksanaan metode resitasi sering berkaitan dengan metode-metode mengajar lainnya seperti tugas latihan, mengadakan

demonstrasi, tugas mengadakan diskusi, dan sebagainya.” Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa metode resitasi dalam pelaksanaannya tidak terlepas dari metode-metode mengajar lainnya dan tentunya ada yang perorangan dan ada yang kelompok. Gage dan Berliner yang dikutif oleh Moedjino dan Moh. Dimyati (1992:68) mereka memilah-milah tugas berdasarkan jumlah siswa dan kelas, hingga didapatkan berbagai jenis dan tugas atau pemberian tugas maing-masing. Adapun jenis-jenis tugas yang didasarkan pada jumlah siswa dalam kelas adalah sebagai berikut: • Pilihan jenis pemberian tugas untuk kelompok besar (jumlah siswa lebih dari 40 orang), yakni:  Demontrasi oleh siswa atau beberapa siswa  Laporan lisan atau kelas oleh seseorang siswa atau kelompok siswa  Melihat slide, video, atau televisi  Mendengarkan radio atau rekaman, dan  Film trips • Pilihan jenis tugas untuk kelompok kecil (jumlah siswa 2 sampai 2 atau 20 orang), yakni:  Debat antara dua orang siswa atau sekelompok siswa  Bermain peran atau demontrasi

 Kegiatan proyek  Diskusi tentang jawaban yang benar dan salah dalam tes yang diberikan, dan  Reportasi kelas. • Pilihan jenis pemberian tugas untuk pembelajaran individual, yakni:  Ujian tentang isi pelajaran  Mengkonsultasikan buku-buku rujukan dan bahan-bahan pustaka yang lain,  Studi terbimbing. Berdasarkan pendapat Davis (1987) dan Gage dan Berliner (1984), dapat dipilihkan jenis-jenis tugas sebagai berikut: • Tugas latihan

Tugas latihan merupakan tugas untuk melatih siswa menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan pembahasan sebelumnya. Tugas latihan diberikan pada jam pelajaran, disesuaikan pada kebutuhan dan ketersediaan waktu. • Tugas membaca/mempelajari buku tertentu

Guru menugaskan kepada para siswa, baik perseorangan maupun kelompok, membaca dan mempelajari beberapa halaman atau bab tertentu dari sebuah buku di luar jam pelajaran.

Tugas unit/proyek

Guru menugaskan kepada para siswa berdasarkan unit yang dipelajari, atau penugasan kepada para siswa menyelesaikan suatu unit/proyek ini akan memperlihatkan kemampuan siswa dalam berbagai bidang studi. • Tugas mempelajari suatu topik atau pokok bahasan

Guru menugaskan kepada para siswa secara perorangan atau kelompok mempelajari sendiri topik atau pokok bahasan tertentu. Tugas ini menuntun para siswa ke arah pencarian sumber belajar yang berhubungan dengan topik atau bahasan yang harus dipelajari. • Tugas eksperimen

Tugas eksperimen merupakan jenis tugas yang agak khusus. Tugas eksperimen hanya diberikan oleh guru untuk topik atau pokok bahasan tertentu, yakni topik/pokok bahasan yang menuntut adanya eksperimen. Tugas eksperimen dapat digunakan untuk membuktikan atau menemukan informasi. • Tugas praktis

Tugas praktis merupakan tugas siswa untuk memproduksi sesuatu dengan menggunakan keterampilan fisik/motoris. Tugas praktis dapat juga berupa latihan keterampilan fisik/motoris. (Moedjino dan Moh. Dimyati, 1992:69). Selanjutnya Mansyur dkk. (1982:143-144) menyatakan bahwa tugas yang diberikan kepada individu hendaknya mempertimbangkan perbedaan individu, baik untuk tugas-tugas perseorangan maupun kelompok, ada macam-

macam tipe tugas antara lain: • Tugas dari buku teks (textbook assignment). Tugas ini dapat diambilkan dari halaman-halaman atau paragrafparagraf buku, tetapi dapat juga diambilkan dari bab-bab buku (chapter assignment) • Tugas melaksaanakan praktek (practice assignment). Tugas ini bertujuan agar murid mempraktekan

kecakapan-kecakapan baik mental maupun motorik. • Tugas melaksanakan eksperimen (experiment

assignment) kepada murid-murid diberi kesempatan untuk melaksanakan percobaan-percobaan. • Tugas pemecahan masalah (problem assignment).

Kepada murid-murid diberikan beberapa masalah dan mereka diberi tugas untuk mencari pemecahannya, tugas ini sangat menguntungkan murid, karena murid dilatih mengatasi kesulitan-kesulitan dan berpikir logis serta pengendalian diri. • Tugas melaksanakan tugas (project assignment). Tugas ini dilaksanakan atas kerjasama antara guru dan murid. Hal ini merupakan praktek pengajaran modern. Tugas proyek ini bisa diberikan dalam pekerjan-pekerjaan ilmiah, praktek geografi, pekerjaan tangan dan karyakarya dramatis dalam kesusastraan.

Dari beberapa pendapat di atas bisa disimpulkan bahwa jenis-jenis tugas itu pada dasarnya dapat dibagi pada jenis tugas dalam bentuk lisan, tugas dalam bentuk tulisan dan dalam bentuk motorik. Namun jenis-jenis tugas yang diberikan kepada siswa tersebut tentunya harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai, materi kemapuan siswa, kematangan siswa dan waktu yang tersedia. Karena hal ini akan menunjang pada pencapaian tujaun yang diharapkan. 3. Teknik pemberian tugas Roestiyah (1998:132-133) menyatakan bahwa kegiatan interaksi belajar mengajar harus selalu ditingkatkan efektifitas dan efisiennya. Dengan banyaknya kegiatan pendidikan di sekolah, dalam hal meningkatkan mutu dan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa untuk melaksanakan kegiatan waktu belajar mengajar tersebut. Untuk mengatasi hal itu guru perlu memberikan tugas-tugas di luar jam pelajaran. Disebabkan bila hanya menggunakan seluruh jam pelajaran yang ada untuk tiap mata pelajaran hal itu tidak akan mencukupi tuntutan luasnya pelajaran yang diharuskan, seperti yang tercantum dalam kurikulum. Dengan demikian perlu diberikan tugas-tugas, sebagai selingan waktu variasi teknik penyajian atau pun dapat berupa pekerjan rumah. Tugas semacam itu dapat dikerjakan di luar jam pelajaran, di rumah maupun sebelum pulang, sehingga dapat dikerjakan bersama temannya. Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, jelaslah bahwa pemberian tugas kepada siswa itu perlu dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dan tentunya guru itu harus mempunyai teknik atau cara dalam

pemberian tugas atau dalam pelaksanaan pemberian tugas kepada siswa. Dalam pelaksanaan metode resitasi atau metode pemberian tugas, diharapkan guru melaksanakannya sesuai dengan prosedur atau aturannya, agar metode resitasi ini dapat dilaksanakan dan mencapai tujuan yang diharapkan. Teknik pemberian tugas atau resitasinya biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan dalam melaksanakan tugas, sehingga pengalaman siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi. Hal ini terjadi disebabkan siswa mengalami situasi atau pengalaman yang berbeda, waktu menghadapi masalah-masalah baru. Di samping itu untuk memperoleh pengetahuan secara melaksanakan tugas akan memperluas serta memperkaya pengetahuan serta keterampilan siswa di sekolah, melaalui kegiatan-kegiatan di luar sekolah itu. Dengan kegiatan melaksanakan tugas siswa aktif belajar dan merasa terangsang untuk meningkatkan belajar yang lebih baik, memupuk inisiatif dan berani bertanggungjawab sendiri. Roestiyah (1998:133-134) menjelaskan tentang teknik pemberian tugas pada siswa, dan pada guru diharapkan bila menggunakan teknik ini agar sasaran dapat tercapai, maka perlu mempertimbangkan apakan tujuan-tujuan yang akan dicapai dengan tugas itu cukup jelas? Cukup dipahami oleh siswa, sehingga mereka melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Begitu juga tugas yang diberikan cukup jelas bagi siswa, sehingga mereka tidak bertanyatanya lagi apa yang harus dikerjakan dan apa yang menjadi tugasnya. Setelah siswa memahami tujuan dan makna tugas, maka mereka akan

melaksanakan tugas dengan belajar sendiri, atau mencari nara sumber sesuai dengan tujuan yang telah digariskan dan penjelasan dari guru. Dalam proses ini guru perlu mengontrol pelaksanaan tugas itu, apakah dikerjakan dengan baik, apakah dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak dikerjakan oleh orang lain, maka perlu diawasi dan diteliti. Siswa bila telah selesai melaksanakan atau mempelajari tugas, maka mereka harus membuat laporan (fase resitasi) yang bentuknya juga telah ditentukan sesuai dengan tujuan tugas. Oleh guru harus sudah disisipkan alat evaluasi, agar dapat menilai hasil kerja siswa dan dapat memberi gambaran yang objektif mengenai usaha siswa melaksanakan tugas itu. Evaluasi ini penting untuk siswa karena dapat menumbuhkan semangat kerja yang lebih baik, dan meningkatkan hasrat belajar. Roestitah NK (1998:89) memberiakn definisi evaluasi yaitu: “evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalamdalamnya, yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa, guna

mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar”. “evaluasi adalah suatu alat untuk menentukan apakah tujuan dan apakah proses dalam pengembangan ilmu telah berada di jalan yang diharapkan”. Dari batasan tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian evaluasi itu adalah; • Evaluasi merupakan suatu kegiatan yang direncanakan dengan cermat.

Evaluasi kegiatan yang merupakan bagian integral dari usaha pendidikan, makna arah dan tujuan pendidikan.

Evaluasi harus memiliki dan berdasarkan kriteria keberhasilan, yaitu keberhasilan dari belajar murid, mengajar guru, program pengajaran.

Evaluasi merupakan suatu tes, maka evaluasi dilaksanakan sepanjang kegiatan program.

Evaluasi bernilai positif, yaitu mendorong mengembangkan kemampuan belajar siswa, kemampuan mengajar guru serta menyempurnakan program pengajaran.

• •

Evaluasi adalah bukan alat tujuan. Evaluasi adalah bagian yang sangat penting dalam suatu sistem yaitu untuk mengetahui apakah sistem itu baik atau tidak. Berdasarkan pengertian evaluasi tersebut di atas, maka evaluasi dalam

metode

resitasi

diperlukan

dan

perlu

dilaksanakan,

karena

dengan

dilaksanakannya evaluasi, kita dapat mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai. Dalam penggunaan teknik resitasi ini siswa mempunyai kesempatan untuk saling membandingkan dengan hasil pekerjaan orang lain, dapat mempelajari dan mendalami hasil uraian orang lain. Dengan demikian akan memperluas, memperkaya, dan memperdalam, serta menambah pengalaman siswa. Selanjutnya Roestiyah (1998:134) menjelaskan bahwa masalah tugas yang dilaksanakan oleh siswa dapat dilakukan di dalam kelas, halaman,

perpustakaan, bengkel, di rumah siswa itu sendiri, atau dimana saja asal tugas itu dapat dilaksanakan. Dari uraian tersebut di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa teknik pemberian tugas itu sebagai berikut: 1. Guru harus memberikan tugas yang dapat dimengerti oleh siswa, sehingga siswa dapat mengerjakannya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh guru. 2. Siswa melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru harus dikerjakan sendiri tidak bolah dikerjakan oleh orang lain. 3. Setelah selesai mengerjakan tugas, siswa harus membuat laporan, baik lisan atau tulisan sesuai dengan yang diperintahkan. 4. Laporan yang telah dibuat harus dievaluasi atau diperiksa oleh guru, agar lebih dapat meningkatkan prestasi siswa. Metode mengajar yang lebih baik adalah metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa, demikian juga metode resitasi, dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan teknik dalam pelaksanaan. Memang siswa mengalami bahwa teknik resitasi ini menimbulkan kebaikan sebagai teknik penyajian adalah: karena siswa mendalami dan mengalami sendiri pengetahuan yang dicarinya, maka pengetahuan itu akan tinggal lama dalam jiwanya. Apalagi dalam melaksanakan tugas ditunjang dengan minat dan perhatian siswa, serta kejelasan tujuan mereka dalam bekerja. Pada kesempatan ini siwa dapat siswa dapat mengembangkan daya berpikirnya sendiri, daya inisiatif, daya kreatif, tanggung jawab dan melatih

berdiri sendiri. Namun teknik ini juga tidak lepas dari kelemahan-kelemahan, seperti untuk tugas perorangan siswa kemungkinan hanya meniru pekerjaan temannya, itu kelemahannya bila guru tidak mengawasi langsung pelaksanaan tugas itu, maka perlu diminta bantuan orang tua, dengan memberi tahu bahwa anaknya mempunyai tugas yang harus dikasanakannya di rumah; sehingga dapat turut mengawasi pelaksanan tugas; dapat menjadi tempat mengecek apakah itu pekerjaan siswa itu sebenarnya atau bukan, juga perlu diingat. Bahwa semua guru pasti memberi tugas. Jadi kenyataan siswa banyak mempunyai tugas dari beberapa mata pelajaran itu. Akibatnya tugas itu terlalu banyak diberikan kepada siswa, menyebabkan siswa mengalami kesukaran untuk mengerjakan, serta dapat mengganggu pertumbuhan siswa, karena tidak mempunyai waktu lagi untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain yang perlu untuk perkembangan jasmani dan rohani pada sesusianya. Kalau guru memperhatikan hal-hal di atas maka kalaupun teknik ini baik untuk digunakan, tetapi jangan terlalu kerap kali diberikan agar tidak terlalu menyita waktu siswa, dan mengganggu pertumbuhan siswa secara wajar. 4. Indikator metode resitasi Menurut Sudirman N. (1992:144-143) menjelaskan indikator-indikator resitasi: a. Memperhatikan tugas yang di berikan oleh guru. Siswa memperhatikan tugas yang diberikan oleh guru yang

bersangkutan agar tugas dikerjakan dapat dikerjakan dengan baik sesuai dengan penintah. b. Menjawab Pertayaan dari tugas yang diberikan oleh guru Siswa diberikan bimbingan dan pengawasan, untuk tugas mandiri tentunya harus dikerjakan sendiri tidak boleh oleh orang lain, kemudian berikan dukungan agar siswa tersebut bergairah dalam mengerjakan tugas. c. Menyalin tugas dengan baik dan rapi Jawaban yang telah dikerjakan disalin ke dalam buku yang telah disediakan atau buku khusus tugas. d. Mempertanggungjawabkan tugas Jawaban yang dikerjakan siswa, hendaknya dipertanggung jawabkan dan tugas yang diberikan dalam bentuk laporan. Laporan dapat berupa laporan lisan, laporan tertulis, laporan tindakan (demontrasi) atau kombinasinya. Laporan yang diberikan siswa itu sudah sewajarnya diberikan penilaian yang dijadikan salah satu

pertimbangan dalam menentukan nilai akhir bidang studi yang diajarkan guru, tugas yang dilaporkan, tetapi tidak jelas bagi siswa dinilai atau tidak, akan mengurangi motivasi belajar siswa apabila ada tugas-tugas selanjutnya yang diberikan oleh guru. Dengan demikian ada hal-hal tertentu yang harus diperhatikan oleh guru sebelum memberikan tugas kepada anak didik, supaya siswa tidak merasa jenuh dan siswa termotivasi untuk mengerjakannya. Adapun hal-hal yang harus

dipertimbangkan itu di antaranya tugas itu bermanfaat atau tidak bagi siswa, tugas itu wajar diberikan tanpa membebankan siswa, selama siswa melaksanakan tugas dapat berjalan biasa, serta dapat dilaksanakan pengawasan yang baik, dipikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat mengganggu siswa.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->