A.

Pendahuluan Jika kita berbicara tentang Makkah, maka kita pasti akan teringat tentang sebuah bangunan berbentuk kubus yang dijadikan arah bagi kaum muslimin untuk mengarahkan atau menghadapkan wajahnya dalam melakukan shalat. Bangunan yang disebut ka‟bah ini merupakan tempat peribadatan yang paling terkenal dalam islam, dan biasa disebut dengan Baitullah (the temple or house of god). Ka‟bah dijadikan sebagai kiblat umat muslim ketika melakukan shalat yang mana pengertian kiblat dikutip dari encyclopedia of islam: the qibla, or direction of Mecca, defines the direction of prayer in islam. Dan dalam kutipan lain kiblat is an Arabic word for derection that should be faced when a moeslim prays during salat. Jadi, kita biasa ambil kesimpulan bahwa kiblat adalah arah yang dihadap oleh muslim ketika melaksanakan ibadah atau shalat, yakni arah menuju ka‟bah di Mekkah. Secara Etimologi, kata qiblat berasal dari bahasa arab ‫ ق ب لة‬yaitu salah satu bentuk masdar dari kata kerja ‫ , ق بل ي ق بل‬yang berarti menghadap.sedangkan secara Terminologi kata kiblat memilki beberapa definisi salah satunya Abdul Aziz Dahlan yang mendefinisikan kiblat sebagai bangunan ka‟bah atau arah yang dituju kaum muslimin dalam melaksanakan sebagian ibadah. Karena ka‟bah adalah bangunan istimewa dan suci bagi umat islam serta tempat peribadatan yang terkenal tentunya kita pasti ingin mengetahui apa sejarah ka‟bah itu sendiri sehingga dijadikan bagi kaum muslimin dalam melaksanakan ibadahnya. Maka makalah ini mencoba memaparkan sejarah singkat tentang ka‟bah yang dijadikan kiblat bagi kaum muslimin. B. Sejarah Menghadap Kiblat Ka‟bah adalah bangunan suci kaum muslimin atau tempat peribadatan paling terkenal dalam Islam yang ada dikota Makkah di dalam masjidil haram, ia merupakan bangunan yang dijadikan sentral arah dalam peribadatan umat islam yakni shalat dan yang wajib dikunjungi dalam saat pelaksanaan haji atau umrah. Ka‟bah menurut bahasa adalah bait Al-Haram di Mekkah, Al-Ghurfatu (kamar), kullu baitin murabba’in (setiap bangunan yang berbentuk persegi empat). Ka‟bah disebut juga dengan Baitullah, Baitul Haram, Baitul Atiq atau rumah tua yang di bangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail atas perintah Allah SWT. Hal ini sebenarnya merupakan sejarah yang paling tua di dunia. Bahkan jauh sebelum manusia diciptakan di bumi, Allah swt telah mengutus para malaikat turun ke bumi dan membangun rumah pertama tempat ibadah manusia. Ini sudah dituturukan dalam Al-Quran: ‫ل‬ ‫بة ب‬ ‫ل‬ ‫ل‬

Artinya: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia . (QS. Ali Imran : 96).

Mereka mencium atau menyentuh hajar aswad tersebut saat melakukan thawaf karena nabi Muhammad SAW juga melakukan hal tersebut. dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. Bangunan ka‟bah berbentuk kubus yang dalam bahasa arab disebut muka‟ab. hal ini dikarenakan Nabi Ibrahim As bersama putranya Nabi ismail hanya membangun kembali atau meninggikan dasar-dasar baitullah. yang ruku‟ dan yang sujud”. ‫ق‬ . Menurut Yaqut Al-Hamami(575 H/1179 M-626 H/1229 M. Hajar aswad ini merupakan batu yang “disakralkan” oleh umat islam. olivet dan Lebanon. lalu meletakkannya di sudut tenggara bangunan. dalam the Encyclopedi of Religion disebutkan bahwa hajar aswad atau batu hitam yang terletak disudut tenggara bangunan ka‟bah ini sebenarnya tidak berwarna hitam. Nabi Ismail As menerima hajar aswad (batu hitam) dari malaikat Jibril dijabal Qubais. Pada dasarnya “pensakralan” tersebut dimaksudkan bukan untuk menyembah hajar aswad. Ahli sejarah dari Iran) menyatakan bahwa bangunan ka‟bah berada dilokasi kemah Nabi Adam As setelah diturunkan Allah SWT dari surge ke bumi oleh karena itu Nabi Adam As dianggap sebagai peletak dasar bangunan ka‟bah dibumi. ). ‫ل‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ب‬ . Ali imran ayat 96 tadi. akan tetapi dengan tujuan menyembah Allah SWT. Dalam sejarahnya pada pembangunan ka‟bah itu. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf. panjang 13 meter dan lebar 11 meter.Konon di zaman Nabi Nuh as. Alqur‟an hanya menyebutkan bahwa ka‟bah adalah rumah pertama yang diperuntukkan bagi manusia untuk beribadah kepada Allah seperti yang telah disebutkan dalam Qs. Dari kata ini lah kemudian muncul sebutan ka‟bah. yang i‟tikaf. Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji. Ada juga di antara penelusuran yang dilakukan oleh kaum mufassirin dan lainnya mengatakan tidak ditemukan teks yang menyebutkan siapa pendiri pertama dari ka‟bah itu. al-judi. Kemudian setelah Nabi Adam wafat. ka‟bah ini pernah tenggelam dan runtuh bangunannya hingga datang masa Nabi Ibrahim as bersama anak dan istrinya ke lembah gersang tanpa air yang ternyata disitulah pondasi Ka‟bah dan bangunannya pernah berdiri. bangunan tersebut di angkat kelangit dan lokasi itu dari masa ke masa di agungkan dan disucikan oleh para Nabi. Lalu Allah swt memerintahkan keduanya untuk mendirikan kembali ka‟bah di atas bekas pondasinya dahulu. hira. Dalam the Encyclopedia of Religion dijelaskan bahwa bangunan ka‟bah ini merupakan bangunan yang dibuat dari batu-batu (granit) Makkah yang kemudian dibangun menjadi bangunan berbentuk kubus (cube like building) dengan tinggi kurang lebih 16 meter. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. . Dan dijadikan Ka‟bah itu sebagai tempat ibadah bapak tiga agama dunia. melainkan berwarna merah kecoklatan (gelap). (QS. niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki. Al-Hajj : 27). yakni: Sinai. Batu-batu yang dijadikan saat itu diambil dari lima sacred mountains. Dan ketika Kami menjadikan rumah itu (ka‟bah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman.

Dan berhala-berhala sebagai lambing kemusyrikan yan terdapat disekitarnya pun dihancurkan oleh kaum muslimin. saat itu merupakan daerah bagian kerajaaan Habasyah (sekarang Ethiopia) memerintahkan penduduk Najran.Ketika itu ka‟bah belum berdaun pintu dan belum ditutupi kain. namun pasukan itu lebih dahulu dihancurkan oleh tentara burung yang melempari mereka dengan batu dari tanah yang berapi sehingga mereka menjadi seperti daun yang dimakan ulat. lalu bani jurhum. . Ka‟bah sebagai bangunan pusaka purbakala semakin rapuh dimakan waktu. tiap kabilah mendapat satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali. Menjelang kedatangan islam.orang quraisy berpendapat perlu diadakan renovasi bangunan ka‟bah untuk memelihara kedudukannya sebagai tempat suci. pemeliharaaan ka‟bah dipegang oleh keturunannya. menarik perhatian banyak orang. kakek Nabi Muhammad SAW. gubernur Najran. sebagaimana halnya dengan sebelumnya. Ketika itu raja Abrahah pernah bermaksud untuk menghancurkan ka‟bah di Makkah dengan pasukan gajah.‫ل‬ ‫ل ل ي‬ .‫ل‬ Artinya: apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan ka‟bah) itu siasia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong.‫ل ل‬ ‫ي ل‬ . Abrahah. Selain itu Makkah juga pernah dilanda banjir hingga menggenagi ka‟bah dan meretakkan dinding-dinding ka‟bah yang memang sudah rusak. Sudut-sudut ka‟bah itu oleh quraisy dibagi empat bagian. ka‟bah dipelihara oleh Abdul Mutholib. Ketika sampai pada tahap peletakkan Hajar Aswad mereka berselisih tentang siapa yang akan meletakkannya. lalu bani khuza‟ah yang memperkenalkan penyembahan berhala. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.‫ل‬ . Pada saat itu orang. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Ka‟bah di masa ini. . Orang pertama yang membuat daun pintu ka‟bah dan menutupinya dengan kain adalah raja Tubba‟ dari dinasti himyar (pra islam) di Najran (daerah Yaman).kemudian pilihan mereka jatuh ketangan seseorang yang dikenal sebagai al-Amin (yang jujur atau terpercaya) yaitu Muhammad bin Abdullah (yang kemudian menjadi Rasulullah SAW). sehingga banyak bagian-bagian temboknya yang retak dan bengkok. Selanjutnya pemeliharaan ka‟bah dipegang oleh kabilah-kabilah quraisy yang merupakan generasi penerus keturunan Nabi Ismail. Setelah penaklukan kota Makkah (Fathul Makkah). yaitu bani Abdul Madan bin Ad-Dayyan Al-Harisi yang beragama nasrani untuk membangun tempat peribadatan seperti bentuk ka‟bah di Makkah untuk menyainginya. pemeliharaan ka‟bah dipegang oleh kaum muslimin.setelah Nabi Ismail wafat. Ia menghiasi pintunya dengan emas yang ditemukan ketika menggali Sumur zam-zam. dan dikenal sebagai ka‟bah Najran. Dalam renovasi ini turut serta pemimpinpemimpin kabilah dan para pemuka masyarakat quraisy. Bangunan itu di sebut bi‟ah. Hal ini sesuai dengan ayat al-quran surah Al-Fill ‫ل‬ ‫ل‬ . Ka‟bah ini di agungkan oleh penduduk Najran dan dipelihara oleh para uskup.

Dan dimana saja kamu berada. seteleh turun ayat yang memerintahkan Nabi Muhammad untuk memalingkan wajahnya untuk menghadap ke Ka‟bah maka ditentukanlah kiblat. A. Landasan Hukum Menghadap Kiblat Para ulama telah membuat kesepakatan atau consensus (ijma) yang menetapkan ka‟bah sebagai arah atau kiblat bagi seluruh umat islam dalam melaksanakan ritual ibadah shalat . Jadi. Hal ini dilakukan berhubungan kedudukan baitul maqdis saat itu masih dianggap yang paling istimewa dan Baitullah masih dikotori oleh beratus-ratus berhala yang mengelilinginya. maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Al. Dengan mengahadap ke utara. ‫ق‬ Artinya: Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit .Baqarah 144: ‫ل‬ ‫قبلة‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫قل‬ ‫. palingkanlah mukamu ke arahnya. a. Dan Rasulullah saw sering menengadahkan wajahnya ke langit berharap turunnya wahyu untuk menghadapkan shalat ke Ka‟bah. maka menghadap ke dua tempat yang berlawanan arah menjadi mustahil.Di masa Nabi Muhammad. umat Islam punya latar belakang sejarah yang panjang. Caranya adalah dengan mengambil posisi di sebelah selatan Ka‟bah. Demikianlah Rasulullah pernah menghadap kiblat ke Baitul Maqdis ketika beliau ada di mekkah dan di madinah hampir kurang lebih 17 bulan. awalnya perintah shalat itu ke baitul Maqdis di Palestina. Dan sesungguhnya orangorang yang diberi Al Kitab memang mengetahui. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Namun ketika beliau dan para shahabat hijrah ke Madinah. Ka‟bah merupakan bangunan yang pertama kali didirikan di atas bumi untuk dijadikan tempat ibadah manusia pertama. AlQuran Banyak ayat al-Quran yang menjelaskan mengenai dasar hukum menghadap kiblat. Namun menurut sebuah riwayat. maka selain menghadap Baitul Maqdis di Palestina. sekalipun Rasulullah shalat menghadap Baitul Maqdis. di dalam urusan menghadap Ka‟bah. AlBaqarah : 144). Hingga turunlah ayat berikut : ‫ل‬ ‫ي‬ ‫قبلة‬ ‫ي ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫قل‬ . beliau juga tetap menghadap Ka‟bah. antara lain firman Allah SWT dalam Qs. ي ل‬ . Dan Allah swt telah menetapkan bahwa shalatnya seorang muslim harus menghadap ke Ka‟bah sebagai bagian dari aturan baku dalam shalat. (QS. jika berada di Makkah Rasulullah saw berusaha untuk tetap shalat menghadap ke Ka‟bah. dengan berdasarkan firman Allah dan sabda rasululullah SAW. bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya. arah shalat bagi umat muslim sampai sekarang adalah ka‟bah yang terletak di Mekkah.

agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu. banyak hadis yang berkaitan dengan sikap . Al-Baqarah : 142). beliau disuru oleh Tuhan untuk mengambil Ka‟bah menjadi kiblat. kecuali orang-orang yang dhalim diantara mereka. katakanlah: kepunyaan Allah timur dan barat. sabda. AL-Baqarah :150) Artikulasi ditetapkannya ka‟bah sebagai arah kiblat bukan dimaksudkan sebagai bentuk penyucian (pen-taqlidan) dan pensakralan satu arah tertentu. Diantara hadis yang berkaitan dengan penjelasan dan dasar menghadap kiblat adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Tsabit bin Anas beliau berkata: ‫ق‬ ‫ق ب لة ق‬ ‫ي ل‬ ‫ل‬ ‫ة‬ ‫ل‬ ”‫ف‬ ‫ل‬ ‫ج‬ ” ‫قبلة‬ ‫ل‬ ‫ل فع‬ ‫قل‬ ‫ق‬ ‫ق‬ . dan perbuatan Rasulullah SAW sebagai penjelas dan aplikasi perintah menghadap kiblat dalam alquran. sebagaimana firman-Nya bahwa “orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata:apakah yang memalingkan mereka (umat islam) dari kiblatnya (baitul maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?. akan tetapi eksistensinya dalam pelaksanaan ritual ibadah hanya dimaksudkan sebagai methode ketaatan terhadap perintah Allah SWT. Hadits Disamping dasar hukum menghadap kiblat yang tertuang dalam alquran sebagai sumber hukum pertama. Artinya: Dan dari mana saja kamu keluar (datang) maka palingkanlah wajahmu kearah masjidil haram. dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (QS. bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya. dan supaya kamu dapat petunjuk. Tetapi setelah 16 atau 17 bulan nabi berada di Madinah di tengah-tengah orang Yahudi dan Nasrani. Dan sesungguhnya orangorang yang diberi Al Kitab memang mengetahui. dan dimana saja kamu semua berada maka palingkanlah wajahmu kearahnya. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Maka janganlah kamu takut kepada mereka. (QS. Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atas kamu. terutama sekali untuk memberi pengertian bahwa ibadat dalam shalat arah Baitul Maqdis dan Ka‟bah bukanlah menjadi tujuan. Dan dimana saja kamu berada. dan takutlah kepada-Ku.Artinya: Sungguh Kami melihat mukamu menengadah ke langit . maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”. palingkanlah mukamu ke arahnya. tetapi Allah menjadikan Ka‟bah sebagai kiblat untuk persatuan umat islam. AlBaqarah : 144). b. Ayat ini menepis anggapan orang-orang yang kurang pikirannya (sufaha) sehingga tidak dapat memahami maksud pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka‟bah.(QS. Juga dalam Qs Al-Baqarah 150: ‫ة‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ي‬ ‫ل‬ ‫ي‬ . Kita ketahui bahwa ketika Rasulullah SAW berada di Mekkah ditengah-tengah kaum musyirikin beliau berkiblat ke Baitul Maqdis.

( HR. Sebaliknya. menjumpai sekelompok sahabat sedang ruku pada shalat fajar. Bukhari) Meskipun para Ulama telah sepakat tentang Ka‟bah sebagai kiblat seluruh umat islam dalam melakukan kewajiban ibadah shalat. Lalu mereka berpaling seperti kelompok Nabi. Setidaknya ada dua versi pendapat di kalangan ulama. Hal ini diperkuat dengan berdasarkan dalil hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi. Juga hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah ra. sedangkan bagi-bagi yang jauh dan tidak dapat melihat bentuk fisik ka‟bah maka diperkenankan untuk tidak persis menghadap ain al-ka‟bah secara yaqinan (yakin) tetapi paling tidak secara dhannan (dugaan kuat). yakni kearah kiblat”. Tanah Haram kiblat bagi penduduk bumi di penjuru timur dan barat dari umatku. Baihaqi) ‫ق‬ ‫ي ق‬ ‫ب‬ ‫ض‬ ) ‫ل‬ ‫ق ب لة‬ ( ‫ل‬ ‫ق ب لة‬ ‫ل‬ ‫ق ب لة‬ ‫ب‬ Artinya: Baitullah kiblat bagi penghuni Masjidil Haram. Masjidil Haram kiblat bagi penghuni tanah Haram. Pendapat ini didukung oleh Imam Syafi‟I dan Imam Ahmad ibn Hambal. Baihaqi) . mereka wajib menghadap bentuk fisik ka‟bah (ain ka‟bah).‫ق ب لة‬ Artinya: “ bahwa sesunggunya Rasulullah SAW(pada suatu hari) sedang shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. kemudian turunlah ayat “Sesungguhnya Aku melihat mukamu setimh menengadah ke langit.( ‫ل‬ ) . maka sungguh kami palingkan mukamu ke kiblat yang kamu kehendaki. terutama pada teritorial daerah yang jauh dari ka‟bah. Sedangkan pendapat kedua merekomendasikan bahwa umat islam cukup menghadap kea rah ka‟bah saja (jihah al-ka‟bah). akan tetapi dapat varian perbedaan pendapat. Pendapapat kedua ini di dukung oleh Imam Abu Hanifah dan Malik Ibn Anas. Pndapat pertama menyatakan bahwa di manapun umat islam berada. jika seseorang menghadapnya kea rah Baitullah. (HR. Muslim). pada daerah yang jauh hingga tidak tampak bentuk fisik ka‟bah para ulama masih berbeda pendapat tentang teknis menghadap kiblatnya. baik yang dekat maupun jauh dari ka‟bah. Titik temu dari kedua pendapat tersebut pada konteks bahwa bagi umat islam pada territorial daerah yang mampu melihat fisik ka‟bah maka cara menghadapnya adalah menghadap bentuk fisik (ain ka‟bah). Rasulullah SAW bersabda: ( ‫ب ب ق‬ ) ‫ب‬ ‫ق ب لة‬ ‫ق‬ Artinya: diantara timur dan barat terdapat kiblat. Palingkanlah mukamu kearah Masjidil Haram”. Rasulullah SAW bersabda: ) ‫ب‬ ‫ق ب لة‬ ‫ق بل‬ ( ‫ب‬ Artinya: “Menghadaplah ke kiblat lalu takbirlah”(HR.(HR. Lalu ia menyeru “Sesungguhnya kiblat telah berubah”. Kemudian ada seseorang dari Bani Salamah bepergian.

Hal ini menunjukkan betapa sederhananya dan betapa indahnya Al-Islam. jika keputusan ini diserahkan kepada umat niscaya terjadilah ketidak-sepakatan yang sangat tajam. Adakah hikmah dibalik penetapan Kiblat? Sebagaimana kita ketahui.KIBLAT Apakah yang dimaksud dengan Kiblat? Secara literal. maupun asal negara. perintah ini sangat sederhana dan mudah dikerjakan. Nabi Ibrahim AS . kesukuan. satu-satunya penegasan bahwa semua Nabi hanya mengajarkan satu ajaran (yakni. justru mengkotak-kotakkan Umat. alih-alih mempersatukan. Perlu dicatat dalam ingatan bahwa. rasialisme. ibadah puasa dan dzikrullah (mengingat Allah SWT) adalah ibadah individu. ayat ini menerangkan bahwa tidak ada arah tertentu yang perlu ditetapkan untuk menyembah kepada-Nya. kemanapun kamu menghadap disitulah Wajah Allah. Allah SWT berfirman didalam Surat Al-Baqarah Ayat 115. Allah SWT berfirman didalam Surat Ali „Imran ayat 96: Sesungguhnya. adalah Baitullah di Bakkah (Makkah) yang diberkati dan menjadi petunjuk bagi semesta alam. pondasi Baitullah (Ka‟bah) telah diletakkan oleh para malaikat. Sepertinya. Maka. bahasa. pilihan selain Kiblat. Jika tidak diperlukan arah secara lahiriah. Lebih dari itu. rumah yang pertama kali dibangun untuk (tempat ibadah) manusia. Agama Islam adalah agama semua Nabi. maka setiap orang bisa menghadapkan wajahnya kemanapun ketika dia mengerjakan shalat. dengan Rahmat Allah SWT diputuskan-Nya hal ini sekali saja untuk ditaati oleh semua insan. dimana pada waktu itu Ka‟bah ikut hancur diterjang banjir besar. Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Maka dari itu. Sekian waktu berselang. Tauhid) adalah dengan penetapan sebuah „Titik-Arah‟ Peribadatan. baik oleh lelaki ataupun perempuan. semuanya menghadap ke titik yang sama. orang kampung ataupun orang kota. Adapun Shalat dan Haji adalah ibadah yang dikerjakan secara berjama‟ah (bersama-sama). sebagai pemersatu dan penyeragaman Umat Islam. Setiap insan mengikuti ketentuan Kiblat sehingga sampai pada masa Nabi Nuh AS. Allah SWT memilih Kiblat sebagai jalan-keluar untuk mencapai Kesatuan dan Solidaritas Umat karena. Kiblat untuk Nabi Adam AS dan keturunannya adalah Ka‟bah yang bentuknya masih sangat sederhana ini. Kiblat yang tunggal untuk semua orang di seluruh penjuru dunia melambangkan kesatuan dan keseragaman diantara mereka. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. Prinsip terpenting untuk mencapai kesatuan dan kesetia-kawanan (solidaritas) kelompok adalah dengan penyatuan arah pandangan yang menafikkan pengelompokan atas dasar kebangsaan. ketika Adam AS sampai ke bumi. kiblat berarti arah dari pemusatan perhatian. Namun. Adapun arti Kiblat dalam Islam adalah arah menghadapkan wajah ketika mengerjakan shalat. kaya ataupun miskin. berpendidikan tinggi ataupun rendah. Dalam penetapan Kiblat terkandung makna penegasan dan pengajaran tata-cara dan tata-krama (etika) suatu dinamika kelompok. asal wilayah.

Lebih jauh lagi. mereka bukan saja berolok-olok dan menertawakan. Namun demikian beliaupun berharap bahwa Kiblat hendaknya sama seperti semasa Nabi Adam AS dan Nabi Ibrahim AS. melainkan juga terperanjat dengan perubahan itu. Setelah itu. Menurut hadits Bukhari. ada pula ulama yang mengatakan menjelang hijrah. Nabi Ibrahim AS. Bisa saja diperintahkanNya kita menghadap ke Masjidil-Haram ataupun Masjidil-Aqsa. Dan. bagi mereka yang dapat melihat Baitullah wajib menghadap tepat ke Ka‟bah sewaktu mengerjakan shalat. Beliau SAW sepenuhnya berserah diri kepada perintah Allah SWT. Allah SWT mengabulkan keinginan Rasulullah SAW. Selanjutnya. Manfaat lain dari pengalihan Kiblat adalah untuk memisahkan antara orang-orang munafik . Maka sejak saat itu mereka memperkeras sikap pertentangan terhadap umat Islam dan memperlakukan umat Islam sebagai musuh. ketika para Nabi mengerjakan shalat di dalam Al-Quds. … Dengan diturunkannya wahyu ini. namun tidak perlu harus persis ke arah bangunan Ka‟bah. Ini karena selama ini mereka dapat menerima keberadaan umat Muslim sehubungan dengan kesamaan Kiblat dengan mereka. Akan tetapi. Berkalikali beliau menengadahkan wajah ke langit. Maka palingkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram. semula arah Kiblat sama seperti semasa leluhur beliau. dan tujuan sebenarnya dari menghadap ke arah Kiblat adalah melaksanakan perintah Allah SWT. Al-Quds (BaitulMaqdis/Masjidil-Aqsa) ditetapkan sebagai Kiblat untuk para Nabi dari Bani Israil.dan Nabi Ismail AS membangun ulang Ka‟bah atas perintah dan bimbingan langsung dari Allah SWT. Kewajiban kita adalah mematuhi perintah-Nya dengan segenap akal dan sepenuh hati. dari hari ke hari. perubahan Kiblat ini mempertegas penjelasan bahwa Al-Aqsa maupun MasjidilHaram bukanlah sebentuk berhala (benda yang disembah). Allah SWT pun berfirman didalam Surat Al-Baqarah Ayat 144: Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit. perhatikanlah kata „syathra‟ disini berarti bahwa orang-orang di negara lain bilamana melaksanakan shalat hendaklah berusaha sebaik-baiknya untuk menghadapkan wajah ke arah masjidil-haram. Setelah hijrah ke Madinah. mengharapkan turunnya wahyu perihal Kiblat. Rasulullah Muhammad SAW mengerjakan shalat dengan Kiblat Al-Quds selama sekitar 16 atau 17 bulan sewaktu di Madinah. Itupun. maka sungguh Kami akan palingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Rasulullah SAW biasa melakukan dengan berdiri diantara Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Adapun Allah SWT Maha Mengabulkan harapan insan-insan pilihan-Nya. Kini dengan terpisahkannya Kiblat kaum Muslim dengan kaum Yahudi berarti pula bahwa orang-orang Muslim adalah sebuah umat tersendiri dan terpisahkan dari mereka orang-orang Yahudi. Allah SWT memerintahkan agar beliau menghadapkan wajah ke Al-Quds. ketika shalat telah diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW dan orang-orang mukmin. kemudian menjadi Kiblat bagi mereka dan para pengikutnya. berada didepan beliau. biasanya menghadap sedemikian rupa sehingga Al-Quds dan Baitullah (Ka‟bah) berada tepat di arah depan mereka. Oleh karena itu Rasulullah SAW sangat berharap bahwa keinginan beliaupun dikabulkan Allah SWT. Dikisahkan oleh Al-Qurthubi. sehingga Baitullah dan Baitul-Maqdis. Begitu kaum Yahudi di Madinah mengetahui bahwa Kiblat kaum Muslim telah berubah ke arah Masjidil Haram dan tidak lagi ke Masjidil Aqsa. dua-duanya.

perubahan Kiblat terjadi ketika Rasulullah SAW sedang melaksanakan Shalat Ashar. beberapa riwayat menyatakan Shalat Dhuhur (sebagaimana dinukilkan didalam tafsir Ibnu Katsir). rasa saling yakin dan percaya. Kejadian ini membawa hikmah penting. hari Ahad untuk Nasrani dan kemudian hari Jum‟at ditetapkan untuk umat Muslim. Semula arah Kiblat tidak disebutkan didalam Al-Qur‟an. Sebagaimana juga diriwayatkan didalam hadits Bukhari dan Muslim. maka para jama‟ah masjid Quba pun mengubah arah menghadap didalam shalat mereka seketika mendengar pemberitahuan perubahan itu. tidak serta merta hilang terbawa perubahan. maka umat Muslim mengikuti Sunnah.” Perlu diingat bahwa adakalanya Sunnah dibatalkan oleh Al-Qur‟an. Misalnya. Mereka melihat saudara-saudara mereka sedang shalat didalam masjid di lingkungan mereka. Para sahabat lantas mengumumkan dengan lantang bahwa mereka baru saja menyelesaikan shalat bersama-sama Rasulullah Muhammad SAW dengan menghadap ke arah Baitullah. Beberapa orang sahabat menyelesaikan shalat mereka bersama-sama Rasulullah SAW. Menurut sebuah Hadits didalam Bukhari dan Muslim. dimanfaatkan dan diamalkan para sahabat Nabi Muhammad SAW. menghadap ke arah Masjidil-Aqsa. Jawaban ini pun menjadi bagian dari Surat Al-Baqarah Ayat 143. yang diriwayatkan oleh Al-Bara' bin „Adzib. Kemudian perubahan Kiblat ditegaskan didalam Al-Qur‟an. Betapa nampak jelas disini bahwa begitu besar rasa saling menghormati. . Menurut sebuah hadits didalam Musnad Ahmad. yakni didalam Islam kredibilitas (sifat dapat dipercaya) seseorang sebagai saksi. Pertanyaan ini dijawab dengan wahyu Allah SWT. Perhatikanlah Firman Allah SWT didalam Surat Al-Baqarah Ayat 143. meskipun pemberitahuan itu hanya disampaikan oleh seorang saja. Ke-tiga mengucapkan „Amiin‟ setelah Imam. Maka mereka yang sedang shalat pun memutar arah menghadap mereka dan tetap melanjutkan shalat tanpa membantah ataupun bertanya-tanya sepatah katapun. dan diterima oleh Allah SWT. ketika Kiblat diubah ke arah Masjidil-Haram orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW.dengan Muslim yang sejati. perubahan Kiblat. Sebuah Hadits didalam Bukhari. Allah SWT telah menetapkan satu hari ibadah dalam seminggu untuk seluruh umat terdahulu. hari Sabtu untuk Yahudi. Pertama. Ke-dua. yang diriwayatkan oleh „Aisyah RA. … Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. yang menerangkan bahwa shalat mereka itu sah adanya. Nabi Muhammad SAW bersabda. Para Ahli-Kitab tidak mendapatkan semua itu. namun ditekankan pula bahwa shalat yang telah dikerjakan menurut sunnah tidaklah sirna (nilainya). Perubahan arah Kiblat itu terdengar di Masjid Quba pada keesokan harinya. dan jika tidak dibatalkan maka keabsahannya setara dengan Al-Qur‟an. bagaimanakah dengan umat Muslim yang telah wafat sedangkan dahulu mereka berkiblat ke arah MasjidilAqsa. “Orang-orang Ahli Kitab cemburu terhadap umat Muslim karena tiga perkara. dalam banyak hal sudahlah mencukupi untuk didengar perkataannya.

Amiin. coleage Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk mendirikan shalat secara teratur sehingga dari padanya menguatkan Iman kita. Dengan kalimat lain. ini berarti bahwa belumlah terdapat keimanan (keyakinan tentang Islam) dalam diri seseorang tanpa mendirikan shalat. Maka. . Dan Semoga Allah SWT mempersatukan umat Muslim diseluruh penjuru dunia. yang mengikatkan diri pada satu Kiblat yang sama. Shalat adalah penanda (indikator) Iman seseorang.… dan Allah tidaklah akan menyia-siakan keimananmu (shalatmu) Menarik untuk dicermati bahwa pada ayat ini kata „Iman‟ telah dipergunakan oleh Allah SWT sebagai kata-ganti untuk shalat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful