P. 1
Rute Pemberian obat

Rute Pemberian obat

|Views: 235|Likes:
Published by Chimcim

More info:

Published by: Chimcim on Oct 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/27/2015

pdf

text

original

CARA PEMBERIAN OBAT

Kelas Kelmpok Anggota

: VB :1 : Anatyara Safitri Annisa Nur Hikmah Dwi Astuti Fany Nur Mustika R. Hasbi Al Bayas

FAKULTAS FARMASI DAN SAINS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA JAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN

Judul Praktikum Tanggal Tujuan

: Cara-cara pemberian obat : 14 Oktober 2011

1. Mengenal teknik-teknik pemberian obat melalui berbagai rute pemberian obat 2. Mengevaluasi efek yang timbul akibat pemberian obat yang sama melalui rute yang berbeda 3. Dapat menyatakan beberapa konsekuensi praktis dari pengaruh rute pemberian obat terhadap efeknya 4. Mengenal manifestasi berbagai obat yang diberikan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Efek Farmakologi dari suatu obat dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Salah satunya adalah dengan rute pemberian obat. Obat yang biasanya beredar di pasaran dan kita kenal secara umum adalah obat dengan pemakaian melalui mulut dengan cara dimasukkan dengan bantuan air minum (tablet dan lainnya) atau dilarutkan terlebih dahulu (tablev evervescent, puyer dan lainnya). Urgensi tiap pemakaian berbeda-beda, tergantung pada kasus yang terjadi. dalam hal pemilihan rute pemberian obat yang sesuai, banyak hal yang harus

diperhatikan. Pertimbangannya antara lain sebagai berikut : 1. Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau sistemik 2. Lama tidaknya masa kerja obat maupun kerja awal yang dikehendaki 3. Stabilitas obat yang melewati bagian tubuh tertentu 4. Keamanan relatif dalam penggunaan elalui berbagai macam rute 5. Rute yang tepat, menyenangkan dan dikehendaki 6. Harga obat dan urgensi pemakaiannya 7. Keadaan Pasien dan banyak lainnya Dewasa ini, bentuk sediaan dalam dunia kefarmasian sudah mengalami

perkembangan yang pesat. tiap obat kemungkinan berbeda tujuan pengobatan dan mekanisme pelepasan zat aktifnya. Ada yang dikehendaki zat aktif dilepas cepat, ada juga yang dikehendaki lepas lambat-bertahap. bentuk sediaan pun disesuaikan untuk efek lokal ataupun efek sistemik. Efek sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, dengan cara diminum misalnya obat penurun panas, sedang efek lokal adalah efek obat yang bekerja pada tempat dimana obat itu diberikan, misalnya salep.

Efek sistemik dapat diperoleh dengan rute pemberian : 1. Oral melalui saluran gastrointestinal atau rectal 2. Parenteral dengan cara intravena, intra muskular, subkutan 3. Inhalasi langsung kedalam paru-paru sedangkan efek lokal dapat diperoleh dengan rute pemberian : 1. Intaokular(oculer), Intranasal(nasalis), Aural(auris) dengan jalan diteteskan 2. Intrarespiratoral, berupa gas yang masuk ke paru-paru, seperti inhalasi, tetapi beda mekanisme 3. Rektal, Uretral dan Vaginal dengan jalan dimasukkan. Rute Pemberian Obat, dapat dengan cara: 1. Melalui rute oral 2. Melalui rute parenteral 3. Melalui rute inhalasi 4. Melalui rute membran mukosa seperti mata, hidung, telinga, vagina dan lainnya 5. Melalui rute kulit

Penjelasan Tentang Istilah-Istilah Rute Pemberian : 1. Per Oral, melalui mulut masuk saluran intestinal (lambung), penyerapan obat melalui membran mukosa pada lambung dan usus memberi efek sistematik 2. Sublingual, dimasukkan dibawah lidah, penyerapan obat melalui membran mukosa, memberi efek sistemik 3. Parenteral(injeksi), melalui selain jalan lambung dengan merobek beberapa jaringan, antara lain: Intravena, masuk melalui pembuluh darah balik (vena), memberikan efek sistematik. Intrakardia, menembus jantung, memberi efek sistemik. Intrakutan, menembus kulit, memberi efek sistemik. Subkutan,dibawah kulit, memberi efek sistemik. Intramuskular, menembus otot daging, memberi efek sistemik

4. Intraokular, diteteskan pada mata, memberi efek local 5. Intranasal, diteteskan pada lubang hidung, memberi efek local 6. Aural, diteteskan pada lubang telinga, memberi efek local 7. Intrarespiratoral, inhalasi berupa gas masuk paru-paru, memberi efek local 8. Rektal, dimasukkan kedalam lubang dubur, dapat memberi efek lokal atau sistemik 9. Vaginal, dimasukkan kedalam lubang kemaluan wanita, memberi efek local 10. Uretral, dimasukkan kedalam saluran kencing, memberi efek lokal

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

Alat dan Bahan 1. Hewan percobaan mencit jantan 5 ekor 2. Obat yang di berikan : diazepam, dosis 25 mg/kgBB 3. Kepekatan larutan obat 3,5 % 4. Alat suntik, jarum oral Prosedur Kerja Siapkan 5 ekor mencit jantan, kemudian timbang satu persatu mencit tersebut dan tandai. Dari berat badan mencit tersebut hitunglah masing-masing dosis yang akan di suntikan, kemudian lakukanlah beberapa rute pemberian obat pada masing-masing mencit tersebut. 1. Rute pemberian obat secara oral Dengan menggunakan alat suntik yang dilengkapi dengan jarum/kanula berujung tumpul. Jarum/kanula dimasukan kedalam mulut perlahan-lahan, diluncurkan melalui tepi langit-langit ke belakang sampai esofagus. 2. Rute pemberian obat secara subkutan Penyuntikan dilakukan di bawah kulit pada daerah leher. 3. Rute pemberian obat secara intra vena Penyuntikan dilakukan pada vena ekor. 4. Rute pemberian obat secara intra peritoneal Penyuntikan dilakukan pada perut bagian tengah, jangan terlalu tinggi agar tidak mengenai hati dan kandung kemih. 5. Rute pemberian obat secara intra muscular Penyuntikan dilakukan pada otot gluteus maximus atau bisep femoris atau tendinosus paha belakang.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Tanggal praktek Data pengamatan Mencit BB (Kg)

: 14 Oktober 2011 : Rute Pemberian Dosis VAO 0,165 ml 13.45 13.55 14.08 14.13 14.14 14.16 14.27 14.29 Waktu penyuntikan Tidur, melemas Bergerak Tidur Sadar Tidur Sadar Tidur Waktu penyuntikan Tidur Waktu penyuntikan Tidur Waktu penyuntikan Tidur Sadar Tidur Sadar Tidur Waktu penyuntikan Tidur t (waktu) Respon

A

0,033 kg

Oral

B

0,027 kg

Intra vena

0,135 ml

13.55 13.57

C

0.023 kg

Intra muskular

0,115 ml

13.59 14.02

D

0.041 kg

Subkutan

0,205 ml

14.07 14.16 14.17 14.20 14.27 14.30

E

0,030 kg

Intra peritonial

0,150 ml

14.11 14.14

Hasil Perhitungan

:
V yang disuntikan = ( )

Ket:

BB (kg) = berat mencit di konversikan ke (kg) Do (mg/kg) = dosis obat Mg/ml = konsentrasi obat per-mil

1. BB Mencit A = 33 g = 0,033 kg V yang disuntikan = = 0,165 ml

2. BB Mencit B = 27 g = 0,027 kg V yang disuntikan = = 0,135 ml

3. BB Mencit C = 23 g = 0,023 kg V yang disuntikan = = 0,115 ml

4. BB Mencit D = 41 g = 0,041 kg V yang disuntikan = = 0,205 ml

5. BB Mencit E = 30 g = 0,030 kg V yang disuntikan = = 0,150 ml

Pembahasan : 1. Pemberian secara oral Untuk suspensi atau larutan, pada mencit dilakukan dengan jarum suspensi yang ujungnya tumpul (bentuk bola/kanulla), lalu dimasukan kedalam mulut. Efek obat

berjalan lambat karena melalui peredaran darah sehingga durasinya mencapai 38 menit sampai tidur. 2. Pemberian secara Intra Peritoneal Saat penyuntikan posisi kepala mencit lebih rendah dari abdomen jarum disuntikan dengan sudut 450 dengan abdomen. Untuk menghindari terkenanya hati dan kandung kemih. Mencapai durasi waktu 3 menit sampai tidur. 3. Pemberian secara Subkutan Penyuntikan dilakukan di bawah kulit atau abdomen. Seluruh jarum di masukan kebawah kulit dan larutan didesak keluar dari jarum. Pada saat praktikum di peroleh durasi selama 23 menit hingga tidur. 4. Pemberian secara Intra Muscular Obat dimasukan kedalam otot sekitar gluteus maximus/kedalam otot paha dari kaki belkang. Sehingga di peroleh durasi waktu 3 menit, waktu yang relatif cepat setelah intra vena. 5. Pemberian secara Intra Vena Penyuntikan di lakukan pada daerah distal ekor. Obat tidak mengalami absorpsi, tapi langsung ke sel pembuluh darah. Maka efek obat sangat cepat yaitu 2 menit sehingga mencit tidur.

BAB V KESIMPULAN

1. Cara pemberian obat berpengaruh terhadap proses obsorpsi obat oleh tubuh karena sangat menentukan efek biologis suatu obat termasuk cepat lambatnya obat mulai berkerja. 2. Pemberian obat secara Oral akan menyebabkan kerja obat lambat. 3. Rute pemberian yang menyebabkan kerja obat cepat adalah melalui Intra vena dan Intra Muscular.

DAFTAR PUSTAKA

http://medindra.wordpress.com/2011/04/15/rute-pemberian-obat/ Anief. 2006. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: UGM perss Priyanto. 2007. Toksisitas Obat, Zat Kimia dan Terapi Antidotum. Jakarta : Leskonfi Departemen kesehatan RI. 2002. Farmakologi Jilid II. Jakarta

LAMPIRAN

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->