P. 1
Besaran Dan Satuan - Materi

Besaran Dan Satuan - Materi

|Views: 280|Likes:
Published by Muhammad Septyadhi

More info:

Published by: Muhammad Septyadhi on Oct 24, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/10/2014

pdf

text

original

Sections

KODE

:
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
BAB III KEGIATAN PEMBELAJARAN
A. KEGIATAN PEMBELAJARAN 1. Pengukuran
1. Lembar Informasi
Sebelum melakukan kegiatan pengukuran, terlebih dahulu kita harus
mengetahui besaran dan satuan yang akan diukur. Besaran adalah sesuatu yang
dapat diukur dan dinyatakan dengan angka. Dalam fisika besaran terbagi atas
besaran pokok dan besaran turunan.
a. Besaran Pokok dan Besaraan Turunan
Besaran pokok adalah besaran yang dianggap berdiri sendiri atau tidak
tergantung/diturunkan dari besaran lain. Pada konferensi umum mengenai
Berat dan Ukuran ke-14 pada tahun 1971, komite internasional telah
menetapkan 7 besaran yang merupakan besaran pokok berdimensi dan 2
besaran pokok tidak berdimensi (besaran pelengkap). Sistem tersebut dikenal
sebagai “Sistem International (SI)”.
Besaran-besaran pokok yang ditetapkan di dalam Sistem International (SI)
tersebut adalah sebagai berikut.
Tabel 1. Besaran pokok.
Besaran turunan adalah besaran yang diturunkan dari besaran-besaran pokok.
Terdapat banyak sekali besaran turunan, misalnya kecepatan, percepatan, gaya,
usaha, daya, volume, massa jenis, seperti ditunjukkan Tabel 2 berikut.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 4 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Tabel 2. Besaran turunan.
Besaran luas misalnya, adalah turunan dari besaran panjang. Besaran
percepatan merupakan turunan dari besaran panjang dan waktu.
b. Standar Besaran Pokok
Seringkali di Indonesia, terutama di daerah-daerah, dalam kehidupan sehari-
hari masih menggunakan satuan tidak standar untuk mengukur sesuatu.
Misalnya untuk mengukur panjang menggunakan satuan langkah, jengkal atau
depa. Besaran luas pun kadang menggunakan satuan tumbak, batu, atau patok.
Standar hanya diberikan untuk besaran-besaran pokok saja dan besaran lain
dapat diturunkan dari besaran pokok tersebut.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 5 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
1. Standar satuan panjang
Sebelum tahun 1960, standar satuan panjang didefinisikan sebagai panjang
antara dua goresan pada suatu batang terbuat dari Platina-Iridium yang
disimpan pada suatu ruangan yang terkontrol kondisinya. Standar ini sudah
ditinggalkan karena beberapa alasan, antara lain karena ketelitian dari
standar ini sudah tidak lagi memenuhi tuntutan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi yang menuntut ketelitian makin tinggi. Setelah standar panjang di
atas ditinggalkan pada tahun 1960, didefinisikan kembali standar panjang
baru, yaitu satu meter didefinisikan sebagai 1 650 763,73 kali panjang
gelombang cahaya oranye merah yang dipancarkan oleh lampu Krypton-86.
Pada tahun 1983, standar panjang ini didefinisikan kembali, yaitu satu
meter didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh cahaya di dalam vakum
selama waktu 1/299.791.458 detik. Standar ini yang berlaku hingga kini. Dari
definisi yang terakhir ini, maka dapat kita tetapkan bahwa kecepatan cahaya
di dalam vakum adalah 299 792 458 meter per sekon.
2. Standar satuan massa
Standar untuk satuan massa sistem Internasional adalah kilogram (kg).
Massa sebesar 1 kilogram didefinisikan sebagai masa sebuah benda
berbentuk silinder yang terbuat dari platina-iridium. Masa standar ini
berbentuk silinder dengan diameter 3,9 cm dan tinggi 3,9 cm. Kilogram
standar ini disimpan di Lembaga Berat dan Ukuran Internasional, di Sevres,
Prancis dan ditetapkan pada tahun 1887. Duplikasi dari kilogram standar ini
disimpan di “National Institute of Standars and Technology (NIST) di
Gaithersburg, Md”. Bila kita mempunyai benda bermassa 5 kg, berarti benda
tersebut mempunyai massa 5 kali massa standar di atas. Untuk dapat
memperoleh gambaran massa dari berbagai benda yang ada di alam
semesta ini, lihat Tabel 3 berikut.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 6 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Tabel 3. Massa beberapa benda di alam.
3. Standar satuan waktu
Sebelum tahun 1960, waktu standar dinyatakan dalam hari matahari rata-
rata pada tahun1900. Sehingga satu detik didefinisikan sebagai (1/60)x
(1/60)x(1/24) hari matahari. Pada tahun 1960 satu detik didefinisikan
kembali, hal ini dilakukan untuk dapat memperoleh ketelitian yang tinggi,
yaitu dengan menggunakan Jam atom. Standar ini didasarkan pada prinsip
transisi atom (proses berpindahnya atom dari suatu tingkat energi ke tingkat
energi yang lebih rendah). Dalam alat ini, frekuensi transisi atom dapat
diukur dengan ketelitian sangat tinggi yaitu 10-12 Hz. Frekuensi ini tidak
bergantung pada lingkungan di mana jam atom ini berada. Oleh karena itu
satu detik didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan oleh atom Cesium
untuk bergetar sebanyak 9 192 631 770 kali. Dengan menggunakan jam
atom ini, waktu hanya berubah 1 detik setiap 300 000 tahun.
4. Standar satuan suhu
Satu Kelvin (K) adalah 1/273,16 kali suhu termodinamika titik tripel air
(CGPM ke-13, 1967). Dengan demikian, suhu termodinamika titik tripel air
adalah 273,16 K. Titik tripel air adalah suhu dimana air murni berada dalam
keadaan setimbang dengan es dan uap jenuhnya.
5. Standar satuan Kuat arus listrik
Satu Ampere (A) adalah kuat arus tetap yang jika dialirkan melalui dua buah
kawat yang sejajar dan sangat panjang, dengan tebal yang dapat diabaikan
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 7 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
dan diletakkan pada jarak pisah 1 meter dalam vakum, menghasilkan gaya 2
X 10-7 newton pada setiap meter kawat.
6. Standar satuan intensitas cahaya
Satu Candela (Cd) adalah intensitas cahaya suatu sumber cahaya yang
memancarkan radiasi monokromatik pada frekuensi 540 X 1012 hertz
dengan intensitas radiasi sebesar 1/683 watt per steradian dalam arah
tersebut (CGPM ke-16, 1979)
7. Standar satuan jumlah zat
Satu mol zat terdiri atas 6,025 x 1023 buah partikel. ( 6,025 x 1023 disebut
dengan bilangan avogadro ).
c. Pengukuran
Pengukuran adalah kegiatan membandingkan suatu besaran dengan besaran
sejenis yang ditetapkan sebagai satuan. Mengukur berarti membandingkan
sesuatu besaran yang diukur dengan besaran standar yang telah didefinisikan
sebelumnya. Pengukuran menunjukkan perbandingan langsung dari benda yang
diukur dengan beberapa skala asli. Pengukuran besaran panjang, misalnya suatu
batang besi adalah 5 meter, artinya bahwa panjang batang besi tersebut 5 kali
besar standar panjang yang telah didefinisikan.
d. Ketidakpastian Dalam Pengukuran
Mengukur selalu menimbulkan ketidakpastian, artinya, tidak ada jaminan
bahwa pengukuran ulang akan memberikan hasil yang tepat sama. Ada tiga
sumber utama yang menimbulkan ketidakpastian pengukuran, yaitu
ketidakpasian sistemik, ketidakpastian random/acak, dan ketidakpastian
pengamatan.
1. Ketidakpastian sistematik (sytemic error)
Ketidakpastian sistematik bersumber dari alat ukur yang digunakan atau
kondisi yang menyertai saat pengukuran. Bila sumber ketidakpastian
adalah alat ukur, maka setiap alat ukur tersebut digunakan akan
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 8 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
memproduksi ketidakpastian yang sama. Yang termasuk ketidakpastian
sistematik antara lain:
a) Ketidakpastian alat
Ketidakpastian ini muncul akibat kalibrasi skala penunjukan angka pada
alat tidak tepat, sehingga pembacaan skala menjadi tidak sesuai dengan
yang sebenarnya. Misalnya, kuat arus listrik yang melewati suatu hambatan
listrik sebenarnya 1,0 ampere, tetapi bila diukur menggunakan suatu
amperemeter tertentu selalu terbaca 1,2 ampere. Karena selalu ada
penyimpangan yang sama, maka dikatakan bahwa amperemeter itu
memberikan ketidakpastian sistematik sebesar 0,2 ampere.Untuk
mengatasi ketidakpastian tersebut, alat harus dikalibrasi setiap akan
digunakan.
b) Kesalahan titik nol
Ketidaktepatan penunjukan alat pada skala nol juga menyebabkan
ketidakpastian sistematik. Hal ini sering terjadi, tetapi juga sering
terabaikan. Sebagian besar alat umumnya sudah dilengkapi dengan sekrup
pengatur/pengenol. Bila sudah diatur maksimal tetap tidak tepat pada
skala nol, maka untuk mengatasinya harus diperhitungkan selisih kesalahan
tersebut setiap kali melakukan pembacaan skala.
c) Waktu respon yang tidak tepat
Ketidakpastian pengukuran ini muncul akibat dari waktu pengukuran
(pengambilan data) tidak bersamaan dengan saat munculnya data yang
seharusnya diukur, sehingga data yang diperoleh bukan data yang
sebenarnya. Misalnya, kita ingin mengukur periode getaran suatu beban
yang digantungkan pada pegas dengan menggunakan stopwatch. Selang
waktu yang diukur sering tidak tepat karena pengukur terlalu cepat atau
terlambat menekan tombol stopwatch saat kejadian berlangsung.
d) Kondisi yang tidak sesuai
Ketidakpastian pengukuran ini muncul karena kondisi alat ukur
dipengaruhi oleh kejadian yang hendak diukur. Misal, mengukur nilai
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 9 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
penguatan transistor saat dilakukan penyolderan, atau mengukur panjang
sesuatu pada suhu tinggi menggunakan mistar logam. Hasil yang diperoleh
tentu bukan nilai yang sebenarnya karena panas mempengaruhi objek yang
diukur maupun alat pengukurnya.

2. Ketidakpastian random (acak)
Ketidakpastian random umumnya bersumber dari gejala yang tidak
mungkin dikendalikan secara pasti atau tidak dapat diatasi secara tuntas.
Gejala tersebut umumnya merupakan perubahan yang sangat cepat dan
acak hingga pengaturan atau pengontrolannya di luar kemampuan kita.
Misalnya:
• Fluktuasi pada besaran listrik seperti tegangan listrik selalu mengalami
fluktuasi (perubahan terus menerus secara cepat dan acak). Akibatnya
kalau kita ukur, nilainya juga berfluktuasi. Demikian pula saat kita
mengukur kuat arus listrik.
• Getaran landasan. Alat yang sangat peka (misalnya seismograf) akan
melahirkan ketidakpastian karena gangguan getaran landasannya.
• Radiasi latar belakang. Radiasi kosmos dari angkasa dapat
mempengaruhi hasil pengukuran alat pencacah, sehingga melahirkan
ketidakpastian random.
• Gerak acak molekul udara. Molekul udara selalu bergerak secara acak
(gerak Brown), sehingga berpeluang mengganggu alat ukur yang halus,
misalnya mikro-galvanometer dan melahirkan ketidakpastian
pengukuran.

3. Ketidakpastian Pengamatan
Ketidakpastian pengamatan merupakan ketidakpastian pengukuran yang
bersumber dari kekurangterampilan manusia saat melakukan kegiatan
pengukuran. Misalnya metode pembacaan skala tidak tegak lurus
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 10 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
(paralaks), salah dalam membaca skala, dan pengaturan atau pengesetan
alat ukur yang kurang tepat.
e. Teknik Pengukuran
Pengukuran dalam fisika pada dasarnya dibedakan atas pengukuran secara
langsung dan pengukuran secara tidak langsung. Pengukuran langsung
merupakan pengukuran besaran secara langsung menggunakan alat ukurnya.
Misalnya, besaran suhu dapat langsung diukur menggunakan thermometer,
besaran panjang diukur menggunakan penggaris. Pengukuran tidak langsung
dilakukan dengan menghubungkan sifat benda yang akan diukur dengan
besaran yang telah teredia alat ukurnya.
1. Penyimpangan pada pengukuran langsung
Pengukuran langsung dibedakan menjadi pengukuran sekali dan
pengukuran berulang. Jika pengukuran dilakukan sekali, maka nilai X
(terukur) dan simpangan/sesatannya adalah sesatan taksiran. Sesatan
taksiran ini bergantung pada resolusi alat dan keberanian pengukur untuk
menjamin kebenaran hasil pengukuran. Misalkan jarum penunjuk angka
menunjukkan angka antara 26 dan 27, mendekati angka 27. Si pengukur
yakin bahwa nilai terukur X lebih besar dari 26,5 dan lebih kecil dari 26,9,
sehingga menuliskan hasil pengukuran 26,7 ± 0,2 cm. Sudah menjadi
kelaziman bahwa nilai sesatan taksiran tersebut diambil dari setengah
resolusi alat (skala terkecil) dengan tingkat kepercayaan 100%. Dengan
perjanjian ini, nilai X terukur di atas dapat dituliskan X = 26,7 ± 0,5 cm.
Pada pengukuran dilakukan berulang, nilai X
o
dan ΔX (sesatan/
penyimpangan) ditentukan berdasarkan konsep statistik. Nilai X
o
ditaksir
dari nilai rata-rata X =
N
X
i ¿
.
. Sesatannya merupakan sesatan statistik,
dapat dipilih simpangan baku terhadap nilai rata-rata.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 11 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
S
x
=
N
S
x
=
( )
) 1 (
2
÷
÷ E
N N
X X
i

Dimana S
x
=
( )
1
2
÷
÷ E
N
X X
i
Makna statistik dari ungkapan ini adalah jika pengukuran diulang berkali-
kali, dan setiap kali pengulangan dihitung nilai rata-raanya, maka 68% dari
nilai rata-rata yang diperoleh berada pada interval X – S
x
≤ X ≤ X + S
x
2. Penyimpangan pada pengukuran tidak langsung
Jika ingin mengetahui nilai suatu besaran (misalnya besaran F), sedangkan
yang bias kita ukur hanyalah besaran X dan Y, dan di lain pihak kita punya
hubungan teoritis bahwa F = f(X,Y), maka nilai F yang kita peroleh dari fungsi
f(X,Y) akan terjangkit oleh adanya sesatan pada penngukuran X dan Y.
Penentuan sesatan dari pengukuran tidak langsung ini dapat dibedakan atas
tiga masalah.
a) Semua sesatan pengukuran merupakan sesatan taksiran
Jika semua sesatan pengukuran merupakan sesatan taksiran, maka
sesatan dari pengukuran tak langsung dapat ditentukan sebagai berikut.
ΔF =
X
F
c
c
∆x +
X
F
c
c
+ ∆y + … dengan tingkat kepercayaan 100%.
b) Semua sesatan pengukuran merupakan sesatan statistik
Jika semua sesatan pengukuran merupakan sesatan statistik, maka
dengan tingkat kepercayaannya 68% penjalaran sesatannya ditentukan
sebagai berikut.
ΔF = ( ) ( ) ....
2
2
2
2
+ A
|
.
|

\
|
c
c
+ A
|
.
|

\
|
c
c
y
Y
F
x
X
F
c) Sesatan pengukuran merupakan campuran dari sesatan taksiran dan
sesatan statistik.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 12 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Jika sesatan campuran, tingkat kepercayaannya dijadikan 68% dengan
mengalikan kesalahan taksiran dengan 2/3, kemudian digunakan rumus
sesatan statistik.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 13 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
B. KEGIATAN PEMBELAJARAN 2. Alat Ukur
1. Lembar Informasi
a. Alat Ukur Panjang
(1) Meteran
Meteran, sering disebut pita ukur atau tape karena umumnya tersaji
dalam bentuk pita dengan panjang tertentu. Sering juga disebut rol meter
karena umumnya pita ukur ini pada keadaan tidak dipakai atau disimpan
dalam bentuk gulungan atau rol, seperti gambar berikut.
Gambar Rol Meter
Kegunaan utama meteran ini adalah untuk mengukur panjang atau jarak.
Meteran dapat digunakan pula untuk mengukur panjang dengan
mengukur sudut, baik sudut horizontal maupun sudut vertikal atau
lereng, membuat sudut siku-siku, dan membuat lingkaran. Meteran
mempunyai spesifikasi sebagai berikut.
a. Menggunakan satuan Inggris (inch, feet, yard) dan atau satuan metrik
(mm, cm, m).
b. Satuan terkecil yang digunakan mm atau cm , inch atau feet
c. Daya muai, yaitu tingkat pemuaian akibat perubahan suhu udara
d. Daya regang, yaitu perubahan panjang akibat tegangan atau tarikan
e. Penunjukkan angka nol ada yang dinyatakan tepat di ujung awal
meteran dan ada pula yang dinyatakan pada jarak tertentu dari ujung
awal meteran.
Daya muai dan daya regang meteran dipengaruhi oleh jenis meteran,
yang dibedakan berdasarkan bahan yang digunakan dalam
pembuatannya.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 14 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Terdapat berbagai jenis meteran, di antaranya pta ukur kain, pita ukur
baja, dan pita ukur baja alloy.
a. Pita ukur dari kain (metalic cloth)
Meteran ini terbuat dari kain linen dan anyaman kawat halus dari
tembaga atau kuningan. Sifat alat ini adalah fleksibel, mudah rusak,
pemuaian besar, dan ketelitiannya rendah.
b. Pita ukur baja (steel tape). Pita ini terbuat dari bahan baja. Sifat alat
ini adalah agak kaku, Tahan lama, Tahan air, Pemuaian lebih kecil ,
sehingga ketelitiannya tergolong agak teliti
c. Pita ukur baja aloy (steel alloy). Pita ini terbuat dari campuran baja
dan nikel. Sifat meteran ini adalah hampir tidak dipengaruhi suhu,
pemuaianya hanya 1/3 dari meteran baja, jadi alat ini lebih teliti,
Tahan lama dan tahan air
Cara menggunakan meteran ini sama seperti halnya kita mengukur
menggunakan penggaris, yaitu dengan merentangkan meteran ini dari
ujung satu ke ujung lain dari objek yang diukur. Namun demikian, untuk
hasil yang lebih akurat cara menggunkan alat ini sebaiknya dilakukan
sebagai berikut. Lakukan oleh 2 orang, seorang memegang ujung awal
dan meletakan angka nol meteran di titik yang pertama dan seorang lagi
memegang rol meter menuju ke titik pengukuran lainnya. Tarik meteran
selurus mungkin dan letakkan meteran di titik yang dituju, kemudian baca
angka meteran yang tepat di titik tersebut.
(2) Jangka Sorong
Jangka sorong adalah salah satu alat ukur yang banyak dipakai. Dapat
digunakan untuk mengukur ukuran-ukuran luar, dalam, dan kedalaman
suatu benda. Jangka sorong biasanya memiliki satuan mm atau inchi.
Jangka sorong umumnya terdiri atas batang pengukur dari baja anti karat
yang dikeraskan, mempunyai rahang ukur tetap pada salah satu ujungnya
dan bagian yang bergerak yang mempunyai rahang ukur dan skala nonius.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 15 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Skala nonius digerakkan dalam 1 bagian (unit) sepanjang batang sampai
kedua rahangnya bertemu benda kerja yang diukur. Umumnya 2 macam
skala dibuat dalam batang, satu dalam mm dan satunya lagi dalam inchi.
Bagian yang bergerakpun mempunyai 2 macam skala nonius, dalam mm
dan inchi mengikuti skala dari batang. Bagian-bagian jangka sorong
seperti ditunjukkan gambar berikut.
Gambar. Jangka sorong
Skala nonius adalah skala yang kedua.
Pembagian garis-garisnya lebih pendek
dari pembagian daris-garis pada skala
utama. Perbedaan dari kedua skala ini
adalah untuk memungkinkan mengukur
lebih teliti. Ketelitian dari skala nonius ada
bermacam-macam, diantaranya : 0,1 mm;
0,05 mm; 0,02 mm; 1/128” dan 0,001”
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 16 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Skala nonius 1/10mm dalam 9mm
Didalam skala nonius, 9 mm dibagi dalam
10 bagian yang sama. Jadi satu skala
panjangnya: 9mm : 10 = 0,9 mm. Satu
bagian skala utama mempunyai panjang 1
mm, selisih dari kedua skala ini adalah 1
mm – 0,9 mm = 0,1 mm
Jadi jangka sorong ini ketelitiannya 0,1 mm
Skala nonius 1/10 mm dalam 19 mm
Didalam skala nonius, 19 mm dibagi dalam
10 bagian yang sama. Jadi satu skala
panjangnya: 19 mm : 10 = 1,9 mm. Dua
bagian skala utama mempunyai panjang 2
mm, selisih dari kedua skala ini adalah:
2 mm – 1,9 mm = 0,1 mm
Jadi jangka sorong ini ketelitiannya 0,1 mm
tetapi lebih jelas pembacaannya.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 17 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Pada posisi tertutup, garis nol pada skala
nonius segaris dengan garis nol pada skala
utama. Untuk membaca ukuran (ukuran
pada jangka sorong), ada 3 bagian yang
perlu diperhatikan:
Pertama : jumlah mm pada skala utama
yang ada disebelah kiri dari garis nol pada
skala nonius, yang pertama-tama harus
dilihat. Misal : 7 mm nonius yang segaris
dengan garis sembarang pada skala utama
Misal : 10 garis = 10/20 = 0,5 mm
Kedua : jumlah pecahan dari mm dibaca
disebelah kanan dari garis nol pada skala
nonius, hitung jumlah garis-garis tersebut
dari garis nol sampai garis pada skala
Ketiga : ukuran seluruhnya adalah
penjumlahan dari ukuran-ukuran tersebut.
Pada sebelah kiri skala
Nonius : 7 mm
Jumlah pecahan : 0,5 mm
Ukuran seluruhnya : 7,5 mm
Contoh :
Di sebelah kiri skala nonius = 41 mm
Jumlah pecahan = 13 x 0,05 = 0,65 mm
Jumlah seluruhnya = 41,65 mm
Berikut adalah cara menggunakan jangka sorong.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 18 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Ukuran Luar
1. Gunakan bagian dalam dari
mulut pengukur, seperti dalam
gambar “benar” disamping.
2. Gunakan bagian dalam dari
mulut pengukur, seperti dalam
gambar “benar” disamping.
3. Mengukur tegak lurus kepada
pusat (perhatikan gambar) dari
poros-poros tersebut akan
mendapatkan hasil yang benar.
Ukuran dalam
1. Mengukur dengan bagian luar
dari rahang pengukur ditambah
tebal dari rahang-rahang itu
sendiri.
x = ukurannya
y = pembacaan
2. Lubang yang lebih kecil dari 10
mm diukur dengan rahang silang.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 19 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Ukuran kedalaman
1. Untuk mengukur kedalaman,
gunakanlah batang kedalaman
dalam posisi tegak lurus.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 20 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
(3) Mikrometer
Pada industri-industri modern, dituntut ketelitian dari alat-alat ukur
untuk mengukur pekerjaan yang presisi. Jangka sorong tidak dapat
dipergunakan untuk pembacaan dengan ketelitian 0,01 mm dengan
tepat. Mikrometer dapat mengukur dengan ketelitian 0,01 mm sampai
0,001 mm. Kerugian dari mikrometer ialah jangkauan pengukurannya
pendek hanya 25 mm (bagian luar mikrometer). Mikrometer juga
dilengkapi dengan landasan yang dapat diubah-ubah, yaitu perbedaan
panjang sepanjang 100 mm. Gambar berikut menunjukkan bagian-bagian
mikrometer.
Gambar Mikrometer
Mikrometer terdiri dari bentuk dasar bingkai U (1) dengan landasan tetap
(2) disatu cabangnya dan batang pengukur (3) yang pada ujungnya
terdapat rahang bergerak (4), melalui cabang lain dari bingkai U tersebut.
Bidal/sarung pengukur (6) dipasang pada batang pengukur. Putaran dari
bidal/batang pengukur tersebut menyebabkan batang pengukur berputar
sesumbu. Menurut kisar dari ulir pada batang pengukur. Tingkatan
ukuran pada sarung pengukur dan pada laras skala (7) dapat dibaca
sebagai jarak antara 2 (dua) permukaan yang diukur. Pada temperatur 20
ºC, mikrometer mempunyai ketelitian yang tertinggi . Bingkai dilindungi
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 21 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
oleh penahan panas (8) yang terbuat dari plastik untuk menghindari
panas yang timbul langsung dari badan.
Pembagian skala pada mikrometer (metrik) adalah sebagai berikut. Kisar
pada batang pengukur pada mikrometer (metric) biasanya 0,5 mm, 1
(satu) putaran dari batang pengukur dapat menyebabkan batang
pengukur tersebut bergerak 0,5 mm arah memanjang. Keliling sarung
pengukur dibagi dalam 50 bagian. 1 putaran penuh dari sarung pengukur
adalah 0,5mm, maka: 1 bagian = 0,5 mm : 50 = 0,01 mm
Laras mempunyai skala
untuk sejumlah mm dan
skala yang lain untuk ½
mm. Sarung pengukur
dibagi dalam 50 bagian
melingkar.
Pembacaan ukuran pada mikrometer adalah Jumlah (mm) + Tengahan
(mm) + Peratusan dari sarung pengurang, seperti contoh berikut.
4 + 0,5 + 0 = 4,50 mm
15 + 0 + 0,02 = 15,02 mm
16 + 0,5 + 0,02 = 16,72 mm
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 22 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Terdapat berbagai jenis mikrometer, yaitu mikrometer pembacaan langsung,
mikrometer dengan penunjukkan angka, mikrometer angka digital, dan
mikrometer dengan rahang yang dapat diganti.
a. Mikrometer pembacaan langsung
Mikrometer ini dilengkapi dengan
penunjukkan angka (digit mekanik)
yang dapat menghilangkan
kesalahan pembacaan. Millimeter
ditunjukkan pada laras skala.
Per-puluhan dari milimeter ter-
dapat pada bagian yang berangka
(jendela) dan per-ratusan dapat
dibaca pada sarung pengukur. Per-
ribuan dari millimeter terdapat
pada vernier-nya.
b. Mikrometer dengan penunjukkan angka
Pembacaan dari kiri ke kanan milli-
meter ditunjukkan pada laras skala.
Semua pecahan dari millimeter (0,1
mm dan 0,01 mm) terdapat pada
bagian yang berangka (jendela).
c. Mikrometer angka (all-digital mikrometer)
Semua angka menunjukkan milime-
ter, per-puluhan dan per-ratusan.
Dua per-seribu ditunjukkan pada
skala
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 23 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
d. Mikrometer dengan rahang yang dapat diganti-ganti
Mikrometer ini diperlengkapi dengan
batang rahang yang berbeda-beda
panjangnya, untuk mengukur sampai
panjang 100mm. Setiap batang
rahang mempunyai perbedaan 25mm
dan ketelitiannya 0,01mm. Mikro-
meter seperti ini ada yang dapat
mengukur sampai 150 mm.
Cara menggunakan mikrometer adalah sebagai berikut.
Benda kerja bebas : satu tangan
Kelingking dan jari manis dari tangan
kanan memegang mikrometer, jari
yang lain memutar sarung pengukur
atau gigi geser. Dan tangan kiri
memegang benda kerja.
Benda kerja tercekam : dua
tangan
Kedua tangan dapat digunakan.
Pegang mikro-meter dengan
tangan kiri dan tangan kanan
digunakan untuk memutar gigi
geser.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 24 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Benda kerja yang banyak
Pemegang mikrometer dipakai
untuk mempercepat peng-
ukuran dari sejumlah benda
kerja yang sama.
Tangan kiri memegang benda
kerja dan tangan kanan memutar
gigi geser.
b. Alat Ukur Waktu
Waktu adalah selang antara dua kejadian/peristiwa. Misalnya, waktu siang
adalah sejak matahari terbit hingga matahari tenggelam, waktu hidup adalah
sejak dilahirkan hingga meninggal. Untuk peristiwa-peristiwa yang selang
terjadinya cukup lama, waktu dinyatakan dalam satuan-satuan yang lebih besar,
misalnya menit, jam, hari, bulan, tahun, abad dan lain-lain. 1 hari = 24 jam; 1
jam = 60 menit; dan 1 menit = 60 sekon. Sedangkan, untuk kejadian-kejadian
yang cepat sekali bisa digunakan satuan milisekon (ms) dan mikrosekon (µs).
Untuk keperluan sehari-hari, telah dibuat alat-alat pengukur waktu, misalnya
stopwatch dan jam tangan seperti terlihat pada gambar berikut.
Gambar Jam tangan dan stopwatch.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 25 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
c. Alat Ukur Massa
Dalam kehidupan sehari-hari, massa sering diartikan sebagai berat, tetapi
dalam tinjauan fisika kedua besaran tersebut berbeda. Massa tidak
dipengaruhi gravitasi, sedangkan berat dipengaruhi oleh gravitasi. Seorang
astronot ketika berada di Bulan beratnya berkurang dibandingkan ketika
berada di Bumi, karena percepatan gravitasi Bulan lebih kecil dibandingkan
percepatan gravitasi Bumi, tetapi massanya tetap sama dengan di Bumi. Bila
satuan SI untuk massa adalah kilogram (kg), satuan SI untuk berat adalah
newton (N).
Massa diukur dengan neraca lengan, berat diukur dengan neraca pegas,
seperti pada Gambar berikut. Neraca lengan dan neraca pegas termasuk jenis
neraca mekanik. Sekarang, sudah banyak digunakan jenis neraca lain yang
lebih teliti, yaitu neraca elektronik. Selain kilogram (kg), massa benda juga
dinyatakan dalam satuan-satuan lain, misalnya: gram (g), miligram (mg), dan
ons untuk massa-massa yang kecil; ton (t) dan kuintal (kw) untuk massa yang
besar. 1 ton = 10 kwintal = 1.000 kg 1 kg = 1.000 g = 10 ons.
Gambar Jenis-jenis neraca.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 26 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
d. Alat Ukur Suhu dan Tekanan
(1) Termometer Tanah (soil thermometer)
Kegunaan termometer tanah yaitu digunakan untuk menyelidiki
temperatur/suhu tanah. Suhu tanah terkait dengan perubahan lingkungan
dimana tanah berada. Di samping itu pula, perubahan suhu tanah dapat
dipengaruhi oleh aktivitas mikroiraganisme seperti proses penguraian,
fermentasi, pelapukan, perubahan kadar air, kadar udara, jenis mineral,
faktor biologi, dan lain-lain perubahan fisik biologi lainnya.
Bagian-bagian termometer tanah terdiri atas; pipa pelindung (mounting),
ujung besi penusuk, penekan tusukan, termometer tahap-1, dan
termometer tahap-2 seperti pada gambar berikut.

Gambar Salah satu jenis termometer tanah.
Termometer tanah ini mempunyai spesifikasi sebagai berikut.
- Digunakan untuk mengukur suhu tanah.
- Bahan pipa pelindung/pengganjal termometer (mounting) terbuat dari
stainless steel .
- Jangakauan pengukuran : –-30 C
o
sd. 50 C
o
.
- Dapat mengukur dua tahapan lapisan tanah (bawah dan atas);
- Ukuran panjang : 300 mm ;
- Diameter : 10 mm.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 27 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Langkah penggunaan thermometer tanah ini adalah sebagai berikut.
- Buka termometer dari tempatnya/pembungkusnya
- Lihat dan baca skala termometer pada saat di udara
- Coba tusukan pada tanah sambil menekan kepala tusukan sampai
sejauh 4 cm kepala tusukan berada di atas tanah, lihat gambar berikut.
Gambar. Penggunaan termometer tanah.
- Baca kedua termometer, termometer-1 dan termometer-2.
(2) Barometer
Barometer digunakan untuk mengetahui dan meyakinkan adanya
perbedaan tekanan udara akibat ketinggian permukaan Bumi. Bagian-
bagian alat barometer terdiri atas jarum petunjuk, skala dalam satuan
KiloPascal (Kpa) atau setara dengan mmHG, dan badan barometer yang
terbuat dari bahan logam dan plastik, seperti gambar berikut.
Gambar barometer
Barometer tersebut memiliki Spesifikasi sebagai berikut.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 28 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
- Jenis barometer: Barometer dinding.
- Skala pembacaan : 95 – 107 kPa.
- Bahan pelindung : plastik atau logam.
- Ukuran : Diameter 10 cm.
Barometer ini telah dikalibrasi berdasarkan oleh pabrik sehingga skala yang
ditunjukkan barometer sudah menyatakan skala tekanan pada saat kondisi
tempat dimana anda berada. Untuk menguji atau melihat apakah
barometer dapat bekerja dengan baik sesuai perubahan jarum skala
dengan tekanan udara, anda dapat membawanya ke tempat yang lebih
tinggi atau memasukkannya dalam suatu ruang yang dapat di atur tekanan
udaranya. Secara sederhananya anda dapat lakukan penempatan
barometer dalam balon karet dan ditiup sampai balon menggembung.
Berikan tekanan pada balon sambil memperhatikan jarum barometer. Jika
jarum bergerak, maka barometer masih baik. Simpanlah barometer ini di
tempat yang kering atau di letakkan pada dinding kelas atau ruang praktik
yang tidak lembab.
Dalam percobaan-percobaan yang terkait dengan pengaruh tekanan udara
seperti pada percobaan penentuan titik didih air, kecepatan bunyi,
pemuaian gas dan hal-hal lainnya yang berkenaan dengan faktor koreksi
atas ketidakpastian pengukuran perlu dipertimbangkan besaran tekanan
udara sekitar. Untuk masing-masing daerah, tentunya dapat terjadi
perbedaan, bergantung pada ketinggian di atas permukaan laut. Sebagai
pedoman skala barometer estándar, bahwa pada permukaan laut atau di
dekat pantai tekanan udara adalah sebesar 760 mmHg atau 76 Kpa.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 29 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
e. Alat Ukur Listrik
(1) Amperemeter
Amperemeter merupakan alat untuk mengukur arus listrik. Bagian
terpenting dari amperemeter adalah galvanometer. Galvanometer bekerja
dengan prinsip gaya antara medan magnet dan kumparan berarus.
Galvanometer dapat digunakan langsung untuk mengukur kuat arus searah
yang kecil. Semakin besar arus yang melewati kumparan semakin besar
simpangan pada galvanometer. Amperemeter terdiri dari galvanometer
yang dihubungkan paralel dengan resistor yang mempunyai hambatan
rendah. Tujuannya adalah untuk menaikan batas ukur amperemeter. Hasil
pengukuran akan dapat terbaca pada skala yang ada pada amperemeter.
Gambar. Galvanometer dan amperemeter.
Cara menggunakan amperemeter adalah sebagai berikut. Misalkan kita
akan mengukur kuat arus yang melewati rangkaian seperti pada gambar
berikiut.
Gambar a. gambar rangkaian sederhana dengan
sumber arus dc. b. rangkaian sebenarnya
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 30 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Amperemeter harus dimasang secara seri dengan lampu, sehingga harus
memutus salah satu ujung kabel, selanjutnya hubungkan kedua ujung kabel
tersebut pada amperemeter.
Gambar Rangkaian cara menggunakan
amperemeter.
Hati-hati saat membaca skala yang digunakan, karena harus
memperhatikan batas ukur yang digunakan. Misalnya menggunakan batas
ukur 1 A, pada skala tertulis angka dari 0 sampai dengan 10. Ini berarti saat
jarum amperemeter menunjuk angka 10 kuat arus yang mengalir hanya 1
A. Jika menunjukkan angka 5 berarti kuat arus yang mengalir 0,5 A. Secara
umum hasil pengamatan pada pembacaan amperemeter dapat dituliskan:
Hasil
pengamatan =
Skala yang ditunjuk jarum
Amperemeter
Skala maksimal
x Batas ukur
Amperemeter
Bagaimana jika saat mengukur kuat arus, jarum menyimpang melewati
batas ukur maksimal? Ini berarti kuat arus yang diukur lebih besar dari
batas ukur alat. Batas ukur harus diperbesar dengan menggeser batas ukur,
jika masih memungkinkan. Jika tidak, harus dipasang hambatan shunt
secara paralel pada amperemeter seperti pada gambar berikut ini.
Gambar Rangkaian hambatan shunt (Rsh) amperemeter
untuk memperbesar batas ukurnya
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 31 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Besar hambatan shunt yang dipasang pada Amperemeter tersebut adalah:
R
sh
= Hambatan shunt satuannya Ω (dibaca Ohm)
n = Kelipatan batas ukur = I / I
A
I = Batas ukur sesudah dipasang hambatan shunt (A)
I
A
= Batas ukur sebelum di pasang hambatan shunt (A)
R
A
= Hambatan dalam Amperemeter ( Ω )
Untuk lebih memahami uraian di atas, pelajari contoh soal berikut ini.
a) Berapa kuat arus yang mengalir pada rangkaian berikut ini?
Diketahui: Skala maksimal = 10
Batas ukur = 5A
Ditanya: Hasil pengamatan?
Jawab: Hasil pengamatan = 4/10
x 5 A = 2 A
b) Suatu Amperemeter mempunyai hambatan dalam 4 Ω , hanya mampu
mengukur sampai 5 m A. Amperemeter tersebut akan digunakan untuk
mengukur arus listrik yang besarnya mencapai 10 A. Tentukan besar
hambatan shunt yang harus dipasang secara paralel pada
Amperemeter.
Diketahui:I
A
= 5 m A = 5.10
–3
A ; I = 10 A ; R
A
= 4 Ω ; Ditanya: Rsh?
Jawab :
n = I/I
A
= 10 A / 5.10
–3
° = 2000
Rsn = 1/(n-1). R
A
= 1/(200-1). 4 Ω = 2.10
–3
Ω
(2) Voltmeter
Voltmeter adalah alat untuk mengukur tegangan listrik atau beda potensial
antara dua titik. Voltmeter juga menggunakan galvanometer yang
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 32 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
dihubungkan seri dengan resistor. Perbedaan antara voltmeter dengan
amperemeter adalah sebagai berikut.
a) Amperemeter merupakan galvanometer yang dirangkai dengan
hambatan shunt secara seri, pada voltmeter secara paralel.
b) Hambatan Shunt yang dipasang pada amperemeter nilainya sangat kecil
sedangkan pada voltmeter sangat besar.
Gambar Salah satu jenis voltmeter.
Cara menggunakan voltmeter berbeda dengan cara menggunakan
amperemeter. Voltmeter harus dipasang paralel pada kedua ujung yang
akan dicari beda tegangannya. Misalkan akan mengukur beda tegangan
antara ujung-ujung lampu pada gambar berikut.
Gambar Rangkaian dengan sumber arus DC dan cara mengukur
tegangan.
Cara mengukur tegangan cukup mengatur batas ukur pada alat dan
langsung hubungkan dua kabel dari voltmeter ke ujung-ujung lampu.
Hasil pengamatan =
Skala jarum
Voltrmeter
Skala maksimal
x Batas ukur Voltmeter
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 33 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Seperti pada saat menggunakan amperemeter, jika jarum pada voltmeter
melewati batas skala maksimal, berarti beda potensial yang diukur lebih
besar dari kemampuan alat ukur, sehingga kita harus memperbesar batas
ukur. Caranya dengan memasang resistor (hambatan muka) secara seri
pada voltmeter seperti gambar berikut.
Gambar Rangkaian hambatan muka (Rm) pada
voltmeter untuk memperbesar batas ukurnya.
Besar hambatan muka yang dipasang pada voltmeter tersebut adalah
Rm = (n-1) Rv,
dengan
Rm = hambatan muka (Ω)
n = V/Vv = kelipatan batas ukur voltmeter
Vv = batas ukur Voltmeter sebelum dipasang hambatan muka (Volt)
V = batas ukur Voltmeter setelah dipasang hambatan muka (Volt)
Rv = hambatan dalam Voltmeter ( Ω )
Contoh:
Sebuah Voltmeter mempunyai hambatan dalam 3 kΩ dapat mengukur
tegangan maksimal 5 Volt. Jika ingin memperbesar batas ukur voltmeter
menjadi 100 Volt, tentukan hambatan muka yang harus dipasang secara
seri pada Voltmeter.
Diketahui : Rv = 3 k Ω; Vv = 5 Volt; V = 100 Volt; Ditanya: Rm?
Jawab :
n = V/ Vv = 100 V / 5 V = 20
Rm = (n – 1) . Rv
= (20 – 1) . 3 k Ω = 57 k
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 34 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Catatan :
Alat ukur yang dipelajari di atas adalah untuk arus searah (DC). Jika ingin
digunakan pada arus bolak-balik harus disesuaikan dengan menambahkan
dioda.
(3) AVO Meter
AVO meter sering disebut multimeter atau multitester, alat ini biasa
dipakai untuk mengukur harga resistansi (tahanan), tegangan AC
(Alternating Current), tegangan DC (Direct Current), dan arus DC. Bagian-
bagian AVO meter seperti ditunjukkan gambar di bawah.
Gambar Berbagai jenis AVO meter/multimeter yang
ada di pasaran
Gambar Bagian-bagian AVO meter/multimeter.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 35 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Dari gambar AVO meter dapat dijelaskan bagian-bagian dan fungsinya :
a) Sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk (zero adjust screw),
berfungsi untuk mengatur kedudukan jarum penunjuk dengan cara
memutar sekrupnya ke kanan atau ke kiri dengan menggunakan obeng
pipih kecil.
b) Tombol pengatur jarum penunjuk pada kedudukan zero (zero ohm
adjust knob), berfungsi untuk mengatur jarum penunjuk pada posisi nol.
Caranya : saklar pemilih diputar pada posisi Ω (Ohm), test lead +
(merah) dihubungkan ke test lead – (hitam), kemudian tombol pengatur
kedudukan 0 Ω diputar ke kiri atau ke kanan sehingga menunjuk pada
kedudukan 0 Ω
c) Saklar pemilih (range selector switch), berfungsi untuk memilih posisi
pengukuran dan batas ukurannya. AVO meter biasanya terdiri dari
empat posisi pengukuran, yaitu :
(1) Posisi Ω (Ohm) berarti AVO Meter berfungsi sebagai ohmmeter,
yang terdiri dari tiga batas ukur : x 1; x 10; dan K Ω.
(2) Posisi ACV (Volt AC) berarti AVO Meter berfungsi sebagai voltmeter
AC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
(3) Posisi DCV (Volt DC) berarti AVO meter berfungsi sebagai voltmeter
DC yang terdiri dari lima batas ukur : 10; 50; 250; 500; dan 1000.
(4) Posisi DCmA (miliampere DC) berarti AVO meter berfungsi sebagai
mili amperemeter DC yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan
500.
Tetapi ke empat batas ukur di atas untuk tipe AVO meter yang satu
dengan yang lain batas ukurannya belum tentu sama.
d) Lubang kutub + (V A W Terminal), berfungsi sebagai tempat masuknya
test lead kutub + yang berwarna merah.
e) Lubang kutub – (common terminal), berfungsi sebagai tempat
masuknya test lead kutub - yang berwarna hitam.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 36 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
f) Saklar pemilih polaritas (polarity selector switch), berfungsi untuk
memilih polaritas DC atau AC.
g) Kotak meter (meter cover), berfungsi sebagai tempat komponen-
komponen AVO meter.
h) Jarum penunjuk meter (knife–edge pointer), berfungsi sebagai penunjuk
besaran yang diukur.
i) Skala (scale), berfungsi sebagai skala pembacaan meter.
Penggunaan AVO meter adalah sebagai berikut. Pertama-tama jarum
penunjuk meter diperiksa apakah sudah tepat pada angka 0 pada skala
DCmA , DCV atau ACV posisi jarum nol di bagian kiri (perhatikan gambar a!),
dan untuk skala ohmmeter posisi jarum nol di bagian kanan (perhatikan
gambar b!), Jika belum tepat harus diatur dengan memutar sekrup
pengatur kedudukan jarum penunjuk meter ke kiri atau ke kanan dengan
menggunakan obeng pipih (-) kecil.
Gambar Kedudukan normal jarum penunjuk meter.
a) AVO Meter untuk Mengukur Resistansi
Jangan mengukur resistansi rangkaian yang ada tegangannya.
Pengukuran resistansi, diawali dengan pemilihan posisi saklar pemilih
AVO meter pada kedudukan Ω dengan batas ukur x 1.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 37 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Gambar Posisi saklar dipasang pada Ω.
Test lead merah dan test lead hitam saling dihubungkan dengan tangan
kiri, kemudian tangan kanan mengatur tombol pengatur kedudukan
jarum pada posisi nol pada skala Ω. Jika jarum penunjuk meter tidak
dapat diatur pada posisi nol, berarti baterainya sudah lemah dan harus
diganti dengan baterai yang baru.
Gambar Pemasangan test lead.
Langkah selanjutnya kedua ujung test lead dihubungkan pada ujung-
ujung resistor yang akan diukur resistansinya. Cara membaca
penunjukan jarum meter sedemikian rupa sehingga mata kita tegak
lurus dengan jarum meter dan tidak terlihat garis bayangan jarum
meter.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 38 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Gambar Posisi range selector.
Supaya ketelitian tinggi kedudukan jarum penunjuk meter berada pada
bagian tengah daerah tahanan. Jika jarum penunjuk meter berada pada
bagian kiri (mendekati maksimum), maka batas ukurnya diubah dengan
memutar saklar pemilih pada posisi x 10. Selanjutnya dilakukan lagi
pengaturan jarum penunjuk meter pada kedudukan nol, kemudian
dilakukan lagi pengukuran terhadap resistor tersebut dan hasil
pengukurannya adalah penunjukan jarum meter dikalikan 10 Ω.
Gambar Penunjukkan jarum meter.
Apabila dengan batas ukur x 10 jarum penunjuk meter masih berada di
bagian kiri daerah tahanan, maka batas ukurnya diubah lagi menjadi KΩ
dan dilakukan proses yang sama seperti waktu mengganti batas ukur x
10. Pembacaan hasilnya pada skala KΩ yaitu angka penunjukan jarum
meter dikalikan dengan 1 KΩ.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 39 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Gambar Penunjukkan jarum meter.
b) AVO Meter untuk Mengukur Tegangan DC
Pengukuran tegangan DC (misal dari baterai atau power supply DC),
diawali AVO meter diatur pada kedudukan DCV dengan batas ukur yang
lebih besar dari tegangan yang akan diukur.
Gambar Test lead negatif dan positif.
Test lead merah pada kutub (+) AVO meter dihubungkan ke kutub
positip sumber tegangan DC yang akan diukur, dan test lead hitam pada
kutub (-) AVO meter dihubungkan ke kutub negatip (-) dari sumber
tegangan yang akan diukur. Hubungan semacam ini disebut hubungan
paralel.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 40 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Gambar Posisi selector pada VDC.
Untuk mendapatkan ketelitian yang paling tinggi, usahakan jarum
penunjuk meter berada pada kedudukan paling maksimum, caranya
dengan memperkecil batas ukurnya secara bertahap dari 1000 V ke 500
V; 250 V dan seterusnya. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah
bila jarum sudah didapatkan kedudukan maksimal jangan sampai batas
ukurnya diperkecil lagi, karena dapat merusakkan AVO meter.
Gambar Perhatikan batas ukur alat.
c) AVO Meter untuk Mengukur Tegangan AC

Gambar AVO meter untuk Mengukur Tegangan AC.
Pengukuran tegangan AC dari suatu sumber listrik AC, saklar pemilih
AVO meter diputar pada kedudukan ACV dengan batas ukur yang paling
besar misal 1000 V.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 41 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Gambar Selector pasang di VAC.
Kedua test lead AVO meter dihubungkan ke kedua kutub sumber listrik
AC tanpa memandang kutub positif atau negatif.
Gambar Pemasangan test lead positif dan negatif.
Selanjutnya caranya sama dengan cara mengukur tegangan DC di atas.
Gambar Hasil pengukuran tegangan.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 42 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
d) AVO Meter Untuk Mengukur Arus DC
Gambar AVO meter untuk Mengukur Arus DC
Pengukuran arus DC dari suatu sumber arus DC, saklar pemilih pada
AVO meter diputar ke posisi DCmA dengan batas ukur 500 mA.
Gambar Posisi selektor pada DCmA.
Kedua test lead AVO meter dihubungkan secara seri pada rangkaian
sumber DC
Gambar Pengukuran arus listrik.
Bila simpangan terlalu kecil, lakukan pengecekan apakah cakupan sudah
benar dan pembacaan masih dibawah cakupan pengukuran di
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 43 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
bawahnya bila ya, matikan power supply pindahkan knob pada cakupan
yang lebih kecil.
Gambar Penunjukkan skala multimeter.
Ketelitian paling tinggi didapatkan bila jarum penunjuk AVO meter pada
kedudukan maksimum. Untuk mendapatkan kedudukan maksimum,
saklar pilih diputar setahap demi setahap untuk mengubah batas
ukurnya dari 500 mA; 250 mA; dan 0, 25 mA.
Gambar Pemilihan batas ukur.
Yang perlu diperhatikan adalah bila jarum sudah didapatkan kedudukan
maksimal jangan sampai batas ukurnya diperkecil lagi, karena dapat
merusakkan AVO meter.
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 44 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
Gambar Perhatikan batas ukur maksimum.

Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 45 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
2. Lembar Kerja/Tugas (Terpisah)
3. Lembar Evaluasi (Terpisah)
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 46 dari 47
KODE :
FISTER-BSP-PJJ-01
BESARAN, SATUAN, DAN
PENGUKURAN
Departemen Sains Terapan
dan Lingkungan
DAFTAR PUSTAKA
Halliday., Resnict., Terjemahan: Silaban, Pantur., Sucipto, Erwin., 1985, Fisika, Jilid 1,
edisi ketiga, Erlangga, Jakarta
Kertiasa, Nyoman, 1993, Fisika 1 Untuk Sekolah Menengah Umum, Dikdasmen
Depdikbud, Jakarta.
Waluyanti, Sri., dkk, 2008, Alat Ukur dan Teknik Pengukuran, Dikdasmen Depdiknas, Jakarta.
Mashuri, dkk,. 2008, Fisika –non Teknologi, Dikdasmen Depdiknas, Jakarta.
Modul praktik fisika dasar, Laboratorium Fisika, Vedca
Disusun : Hary Tridayanto
Nurdi Ibnu
Tanggal : Maret 2011
Revisi : 0
Tanggal :
Halaman 47 dari 47

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->