BUKU PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI LABORATORIUM PRAKTIKUM DAN PENELITIAN

JURUSAN TEKNIK TEKSTIL

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL BANDUNG
KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN 2010

i

Pedoman Umum K3 Laboratorium, Program Studi Teknik Tekstil - STTT

KATA PENGANTAR

Sesuai dengan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 mengenai Kesehatan dan Keselamatan Kerja dan mengingat bahwa di Laboratorium/Ruang Praktikum berisiko untuk terjadinya gangguan kesehatan lingkungan dan keselamatan kerja, serta dalam upaya meningkatkan perlindungan maupun pelestarian lingkungan dalam segala aktivitas, maka dibutuhkan tindakan pencegahan. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka diperlukan Pedoman Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) maupun penyediaan sarananya. Pedoman Pelaksanaan K3 ini disusun dan ditujukan khususnya untuk kepentingan dosen, mahasiswa dan karyawan di lingkungan Laboratoria pada Program Studi Teknik Tekstil, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung sebagai komitmen agarterlaksananya K3 secara rutin dan berkelanjutan. Untuk itu seluruh dosen, mahasiswa dan karyawan maupun pihak-pihak terkait diwajibkan melaksanakan dan menaati ketentuan-ketentuan Standar K3 yang disyaratkan dalam buku pedoman ini, dengan demikian pencegahan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari. Atas perhatian dan kerja sama semua pihak, saya ucapkan terima kasih.

Bandung, Februari 2010 Ketua Program Studi Teknik Tekstil

Irwan, S.Teks

ii

Pedoman Umum K3 Laboratorium, Program Studi Teknik Tekstil - STTT

KEBIJAKAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA LABORATORIUM TEKNIK TEKSTIL (K3LABTT)
Sudah menjadi kebijaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) agar setiap dosen, mahasiswa dan karyawan mendapatkan tempat yang aman dan sehat dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Pada prinsipnya semua pihak harus berupaya serta mengambil langkahlangkah positif sehingga seluruh dosen, mahasiswa dan karyawan terjamin dan bekerja dengan aman dan sehat. Secara garis besar, kebijakan ini adalah:

1. Meningkatkan kesadaran dan memberikan pengertian bahwa
kecelakaan itu dapat dicegah.

2. Memberikan pengertian bahwa target utama K3LABTT adalah “zero
accident”.

3. Mengutamakan keselamatan dosen, mahasiswa dan karyawan dari
penggunaan peralatan dan Bahan di Laboratoria Program Studi Teknik Tekstil 4. Menjamin bahwa semua dosen, mahasiswa dan karyawan telah mengetahui dan melaksanakan pekerjaannya secara produktif yaitu dengan cara yang aman melalui petunjuk yang benar, instruksi pekerjaan yang tepat, instruksi pemakaian peralatan yang tepat, instruksi pemakaian bahan yang tepat melalui pengawasan yang tepat. 5. Menyediakan fasilitas, peralatan, perlengkapan keselamatan kerja yang layak dan memadai serta menjamin akan digunakan secara tepat. 6. Memastikan bahwa yang diminta dan direkomendasikan dalam kebijakan K3 telah diikuti.

7. Meningkatkan perlindungan dan pelestarian lingkungan dalam segala
aktivitas dan meminimumkan kerusakan yang mungkin terjadi akibat aktivitas tersebut. Semua dosen, mahasiswa dan karyawan harus sudah mengetahui akan tanggung jawabnya masing-masing termasuk peduli

iii

Pedoman Umum K3 Laboratorium, Program Studi Teknik Tekstil - STTT

akan kesehatannya, keselamatannya dan lingkungan di tempat kerja, sehubungan dengan kebijakan di atas. Bandung, Februari 2010 Ketua Program Studi Teknik Tekstil

Irwan, S.Teks

iv

Pedoman Umum K3 Laboratorium, Program Studi Teknik Tekstil - STTT

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………………………………………………… ………………….. I Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………… ………………...........Ii Kebijakan K3LABTT………………………………………………………………………………………………… …………….. Iii Daftar Isi………………………………………………………………………………………………………… …………………….. Iv BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………………………………………………. ….......................6 1.1 Penjelasan Umum…………………………………………………………………………………………… ………6 1.2 Tujuan…………………………………………………………………………………………… ………………………..7 1.3 Sasaran………………………………………………………………………………………… …………………………7 1.4 Ruang Lingkup………………………………………………………………………………………… ………………7 1.5 Referensi……………………………………………………………………………………… …………………………8

v

Pedoman Umum K3 Laboratorium, Program Studi Teknik Tekstil - STTT

.1..2....1 Debu…………………………………………………………………………………………… ………………….13 2......2 Kebisingan …………………………………………………………………………………………………… …...11 2..13 2.3 Pelayanan kuratif…………………………………………………………………………………………… ……12 2.2....2 Phisical Agent…………………………………………………………………………………………… …………13 2......2...11 2.6 Istilah dan Definisi………………………………………………………………………………………… ……….1 Pelayanan Preventif………………………………………………………………………………………… …..2.... .11 2.12 2...11 1..1 Program Pelayanan Kesehatan Kerja……………………………………………………………………….4 Pelayanan Rehabilitatif…………………………………………………………………………………… ….. Program Studi Teknik Tekstil .2..1..13 2.2 Pelayanan Promotif…………………………………………………………………………... .1.14 vi Pedoman Umum K3 Laboratorium...9 BAB 2 KESEHATAN dan KESELAMATAN KERJA…………………………………………………………………………...1...1.1 Chemical Agent……………………………………………………………………….........2.2 Bahaya Potensial di Laboratoria Teknik Tekstil………………………………………………………..STTT ..

2.2.2.16.3 Alat Pelindung Diri …………………………………………………………………………………………………18 vii Pedoman Umum K3 Laboratorium.2.4 Kelembaban Udara ………………………………………………………………………………………….2.2.2.1 7 2.3 Biological Agent ………………………………………………………………………………………………….17 2.…15 2.. Program Studi Teknik Tekstil .2.5 Pencahayaan …………………………………………………………………………………………………… 16 2.6 Radiasi …………………………………………………………………………………………………… ………. 2.2.2.17 2..2.3 Suhu Udara…………………………………………………………………………………………… ……….5 Ergonomical Agent …………………………………………………………………………………………….2.16 2.4 Psycological Agent …………………………………………………………………………………………….STTT .

3.36 3..6 Mekanisme Kerja ……………………………………………………………………………………......21 2..4 Tahap Pelaksanaan ………………………………………………………………………………………………...5 Keanggotaan …………………………………………………………………………………………………….3....37 3.. .3 Pelindung Pernafasan ………………………………………………………………………………………...3...3.3.3..37 3.2 Pelindung Pendengaran …………………………………………………………………………………….1 Tahap Persiapan ……………………………………………………………………………………….24 2.4 Persyaratan Kesehatan Kerja di Perkantoran ………………………………………………………...25 2..4 Pelindung Tangan ……………………………………………………………………………………………..3..26 BAB 3 PEDOMAN SISTEM MANAJEMEN K3 3.. Program Studi Teknik Tekstil .33 3..35 3.3 Tahap Pengorganisasian …………………………………………………………………………..1 Tugas dan Fungsi Organisasi ……………………………………………………………………………....2 Tahap Perencanaan ……………………………………………………………………………………………..35 3.3 Struktur Organisasi K3 ………………………………………………………………………………………...3.STTT .38 viii Pedoman Umum K3 Laboratorium..33 3.3.37 3...37 3.3..4 Model Organisasi ……………………………………………………………………………………………….2 Tugas pokok dan fungsi KPS D3 dalam SMK3 …………………………………………………….1 Pelindung Mata dan Muka …………………………………………………………………………………19 2.3.5 Pakaian Pelindung …………………………………………………………………………………………….20 2....2...

STTT .3.42 ix Pedoman Umum K3 Laboratorium. Program Studi Teknik Tekstil ..39 BAB 4 PENUTUP……………………………………………………………………………………………… …………………….40 Daftar Pustaka …………………………………………………………………………………………………………… ……….5 Tahap Pemantauan dan Evaluasi ………………………………………………………………………….

Mencegah timbulnya gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh tindakan/kondisi lingkungan kerjanya. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pekerja di semua lapangan pekerjaan ke tingkat yang setinggi-tingginya. Program Studi Teknik Tekstil . Bahaya pekerjaan (akibat kerja). Efek terhadap kesehatan dapat secara langsung maupun tidak langsung. 2. seperti halnya masalah kesehatan lingkungan lain. Memberikan perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan. Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya. Kesehatan masyarakat kerja perlu diperhatikan.STTT . Kesehatan masyarakat kerja (Occupational health) merupakan bagian dari kesehatan yang berkaitan dengan semua pekerjaan yang berhubungan dengan faktor potensial yang mempengaruhi kesehatan pekerja (dalam hal ini Dosen. baik fisik. mental maupun kesehatan sosial. Sasaran kesehatan kerja khususnya adalah para pekerja dan peralatan kerja di lingkungan laboratoria kesehatan pada Program Studi Teknik Tekstil.BAB 1 PENDAHULUAN 1. 3. oleh karena selain dapat menimbulkan gangguan tingkat produktivitas. Mahasiswa dan Karyawan). 4. 10 Pedoman Umum K3 Laboratorium. tersebut dapat timbul akibat pekerjaannya. bersifat akut atau kronis (sementara atau berkelanjutan) dan efeknya mungkin segera terjadi atau perlu waktu lama.1 Penjelasan Umum. Tujuan kesehatan kerja adalah: 1. Melalui usaha pencegahan di lingkungan kerja masing-masing dapat dicegah kesehatan masyarakat kerja adanya bahaya dan penyakit akibat dampak pencemaran lingkungan maupun akibat aktivitas dan produk Laboratorium terhadap masyarakat konsumen baik di lingkungan Laboratorium itu sendiri maupun masyarakat sekitarnya.

dan lain-lain. Menghindari terjadinya efek negatif terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas kerja. antara lain: metode bekerja. 2.3 Sasaran. parasit. lab basah. debu. gizi kerja. c. Buku pedoman ini disusun dengan tujuan untuk memastikan agar komitmen Program Studi Teknik Tekstil dalam hal penerapan K3 bisa terlaksana secara rutin dan berkelanjutan. Program Studi Teknik Tekstil . baik secara fisik maupun psikis yang meliputi. 1. Beban kerja: fisik maupun mental. kondisi kerja dan lingkungan kerja yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan. akibat dan problematika yang ditimbulkan akibat hubungan interaktif tiga komponen utama yang mempengaruhi seseorang bila bekerja yaitu: 1.STTT . 1.2 Tujuan. lab pelayanan). Beban tambahan yang berasal dari lingkungan kerja antara lain: bising. Kapasitas kerja: Status kesehatan kerja. 11 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Sasaran yang dituju dalam penerapan K3LABTT adalah: a. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu kesehatan kerja yang optimal. Sebaliknya bila terdapat ketidakserasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas kerja. Ruang lingkup kegiatan K3LABTT mencakup kegiatan K3 di ruang dosen dan Laboratorium (ruang praktikum mahasiswa.Kesehatan kerja mempengaruhi manusia dalam hubungannya dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya. panas. Menghindari adanya penyakit akibat kerja. Menghindari adanya kecelakaan kerja. Menyediakan lingkungan kerja yang sehat. 3. dan lain-lain. Sasaran kesehatan kerja Laboratorium Teknik Tekstil adalah Dosen. b. penyakit ataupun perubahan dari kesehatan kerja mempelajari kesehatan seseorang. Pada hakikatnya ilmu dinamika. Mahasiswa dan Karyawan yang terlibat langsung dengan peralatan kerja dan lingkungan sekitarnya.1 Ruang Lingkup. 1. d.

seperti kebijakan organisasi K3. f.STTT . Peraturan Menteri Tenaga Kerja No: PER. 12 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Adapun dasar hukum yang terkait dengan pelaksanaan sistem manajemen K3 antara lain: a. Menetapkan SMK3 untuk mengurangi risiko bagi dosen. Tingkat penerapannya akan bergantung pada beberapa faktor. Mengendalikan risiko K3 dan meningkatkan kinerjanya. Menerapkan.Pedoman K3LABTT menetapkan persyaratan untuk SMK3. c. Program Studi Teknik Tekstil .SE. Keputusan Menteri kesehatan Nomor 1217/Menkes/SK/IX/2001 tentang pedoman penanganan dampak radiasi. Keputusan Menteri kesehatan Nomor 315/Menkes/SK/III/2003 tentang 1405/MENKES/SK/IX/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 876/Menkes/SK/IX/VIII/2001 tentang Pedoman teknis analisis dampak lingkungan. b. Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang timbul Akibat hubungan Kerja. g. sifat kegiatan dan risiko serta kerumitan dalam pekerjaan.1 tahun 1970 tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja.05/BW/1997 tentang Penggunaan Alat Pelindung Diri.23 tahun 1992 tentang Kesehatan. h. Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. b.5 Referensi. Surat Edaran Dirjen Binawas No. 1.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. UU No. memelihara dan melakukan perbaikan SMK3 secara berkelanjutan. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor: Kep-187/Men/1999 Tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di tempat kerja. l. Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. c. mahasiswa dan karyawan serta pihak lain yang berkepentingan yang mungkin mengalami bahaya K3 akibat kegiatannya. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI Nomor: Kep-51/Men/1999 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di tempat kerja. d. k. e. j. UU No. sehingga Program Studi Teknik Tekstil : a. i.

Keputusan Menteri kesehatan Nomor 315/Menkes/SK/III/2003 tentang komite kesehatan dan keselamatan kerja sektor kesehatan. Program Studi Teknik Tekstil .STTT . 13 Pedoman Umum K3 Laboratorium.m.

Sistem manajemen meliputi struktur organisasi. Dalam konteks SMK3. b.STTT . tanggung jawab.1.3 Istilah dan Definisi. b. serta untuk mencapai sasaran tersebut. (termasuk penilaian risiko dan penetapan sasaran). konsisten dengan kebijakan organisasi dan kebijakan K3. 4. sasaran K3. 5. 2. Laboratoria pada Program Studi Teknik Tekstil adalah kumpulan dari berbagai jenis laboratorium yang terdapat pada Program Studi Teknik Tekstil. Pengukuran kinerja meliputi pengukuran efektivitas pengendalian organisasi. 3. pengunjung atau orang lain di daerah kerja. SMK3 (Sistem Manajemen K3) adalah bagian dari sistem manajemen organisasi yang digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan K3. Dalam buku pedoman ini digunakan istilah dan definisi sebagai berikut: 1. Manajemen puncak adalah seseorang yang memiliki wewenang dan tanggung jawab tertinggi dalam organisasi. prosedur. 6. 8. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung. 7. hasil juga dapat diukur terhadap kebijakan K3. Risiko adalah gabungan dari kemungkinan terjadinya bahaya atau paparan dan keparahan luka atau gangguan kesehatan yang dapat disebabkan oleh kejadian atau paparan. Kinerja K3 adalah hasil yang dapat diukur dari risiko K3 pada suatu manajemen organisasi. Catatan: a. Sistem manajemen adalah rangkaian unsur saling terkait yang digunakan untuk menetapkan kebijakan dan sasaran. mengelola risiko K3nya serta menumbuhkembangkan budaya keselamatan kerja. proses dan sumber daya. kegiatan perencanaan. Perbaikan berkelanjutan adalah proses berulang untuk meningkatkan SMK3 untuk mencapai kesempurnaan dalam kinerja k3 secara keseluruhan. K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah kondisi dan faktor yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan pegawai atau pekerja lain (termasuk pekerja sementara). 14 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Program Studi Teknik Tekstil . Catatan: a. dan persyaratan kinerja K3 lainnya dari organisasi. Organisasi adalah unit kerja dan/atau unit kegiatan lainnya di lingkungan Program Studi Teknik Tekstil yang memiliki tugas dan administrasinya sendiri. praktek.

dalam hal kinerja K3. yang ditetapkan organisasi untuk dicapai.STTT .9. Sasaran K3 adalah tujuan K3. Program Studi Teknik Tekstil . 15 Pedoman Umum K3 Laboratorium. 10. Prosedur adalah langkah-langkah tertentu untuk melakukan suatu kegiatan atau proses.

11. Kriteria audit adalah kumpulan kebijakan. c. Catatan: a. Insiden adalah peristiwa terkait pekerjaan yang mengakibatkan atau dapat menimbulkan cedera atau gangguan kesehatan (tanpa memperhatikan keparahannya) atau kematian. Catatan: a. Dalam banyak hal. Kecelakaan adalah insiden yang mengakibatkan cedera. independen dapat ditunjukkan dengan ketidakterlibatan dalam tanggung jawab ada kegiatan yang diaudit. Keadaan darurat merupakan jenis tertentu dari insiden. Insiden tanpa terjadi cedera. gangguan kesehatan atau kematian. gangguan kesehatan atau kematian disebut pula sebagai “kejadian nyaris celaka” (near-miss) atau kejadian berbahaya. c. Bukti audit adalah rekaman. b. Independen tidak berarti di luar organisasi. 12. terutama pada organisasi yang lebih kecil. Program Studi Teknik Tekstil . Audit adalah proses yang sistematis. b. pernyataan tentang fakta atau informasi lain yang relevan dengan kriteria audit dan dapat diverifikasi. atau kejadian yang dapat menimbulkan kematian. independen dan terdokumentasi untuk memperoleh bukti audit dan mengevaluasinya secara obyektif untuk menentukan sejauh mana kriteria audit telah dipenuhi. prosedur atau persyaratan.STTT . 16 Pedoman Umum K3 Laboratorium.

Program Studi Teknik Tekstil .STTT .17 Pedoman Umum K3 Laboratorium.

1. Pelayanan ini diberikan kepada tenaga kerja yang sehat dengan tujuan untuk meningkatkan kegairahan kerja. 6.1. Pemeriksaan kesehatan yang terdiri atas: a. Pemeriksaan awal/sebelum kerja. Imunisasi. b. Penyerasian manusia dengan mesin dan alat kerja. Kegiatannya antara lain meliputi: 1. promotif. 5.1 Program Pelayanan Kesehatan Kerja. 2. menjaga kondisi kerja yang memadai dan fisik maupun lingkungan tidak menyebabkan sakit atau membahayakan pekerja serta menjaga pekerja tetap sehat. 3. Kesehatan lingkungan kerja. pelayanan kesehatan dan keselamatan masyarakat pekerja di Program Studi dengan pendekatan menyeluruh (komprehensif) yaitu meliputi pelayanan preventif.1 Pelayanan Preventif. 4. kuratif dan rehabilitatif. Peningkatan kesehatan (promotif) pada pekerja dimaksudkan agar keadaan fisik dan mental pekerja senantiasa dalam kondisi baik.2 Pelayanan Promotif. Pengendalian bahaya lingkungan kerja agar ada dalam kondisi aman (pengenalan. Pemeriksaan khusus. c. mempertinggi efisiensi dan daya produktivitas tenaga kerja di lingkungan Program Studi Teknik Tekstil 18 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Pelayanan ini diberikan guna mencegah terjadinya penyakit akibat kerja. pengukuran dan evaluasi). Program Studi Teknik Tekstil . Perlindungan diri terhadap bahaya dari pekerjaan. 2. Sebagaimana Teknik Tekstil pelayanan dilaksanakan kesehatan masyarakat pada umumnya.STTT . Pemeriksaan berkala.BAB 2 KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA 2. 2. penyakit menular di lingkungan kerja dengan menciptakan kondisi pekerja dan mesin atau tempat kerja agar ergonomis.

2. 4. Peningkatan status kesehatan (bebas penyakit) pada umumnya. 5. Pelayanan ini diberikan kecelakaan parah yang telah ketidakmampuan permanen. 2. 2. Kegiatannya antara lain meliputi: 1. Pelayanan kepada tenaga kerja yang sudah memperlihatkan gangguan kesehatan/gejala mengobati penyakitnya supaya cepat sembuh dan mencegah komplikasi atau penularan terhadap keluarganya ataupun teman kerjanya. Konsultasi psikologi.STTT . 3.3 Pelayanan Kuratif. kepada pekerja mengakibatkan karena penyakit cacat. Olah raga dan rekreasi.1. 19 Pedoman Umum K3 Laboratorium. 2. 3. Penyuluhan pada masyarakat dan pengusulan agar mau menerima tenaga kerja yang cacat akibat kerja. Pengobatan terhadap penyakit umum.4 Pelayanan Rehabilitatif. Penempatan kembali tenaga kerja yang cacat secara selektif sesuai kemampuannya. Pemeliharaan dan peningkatan kondisi lingkungan kerja yang sehat. Perbaikan status gizi.1. 6. Pengobatan terhadap penyakit dan kecelakaan akibat kerja. Pendidikan dan penerangan tentang kesehatan kerja. Kegiatannya antara lain meliputi: 1.Kegiatannya antara lain meliputi: 1. Latihan dan pendidikan pekerja untuk dapat menggunakan kemampuannya yang masih ada secara maksimal. Pelayanan akibat maupun kerja pengobatan terhadap tenaga kerja yang menderita sakit dengan pengobatan umumnya di spesifik berkaitan dengan pekerjaannya mencegah ini diberikan pengobatan serta upaya pengobatan untuk meluas penyakit menular dini dengan lingkungan pekerjaan. 2. Program Studi Teknik Tekstil . sehingga parah atau menyebabkan baik sebagian atau seluruh kemampuan bekerja yang biasanya mampu dilakukan sehari-hari.

Tempat kerja yang prosesnya mengeluarkan debu atau uap.2.2.2.1 Debu. 1.STTT .2.2. pemotongan. Debu dan uap/asap (fume) merupakan salah satu sumber gangguan yang tidak dapat diabaikan. Aseton 6. Psychological agent.2. 2.2.1 Pengontrolan debu dalam ruang kerja: Metode pencegahan terhadap debu dan uap ialah: a. misalnya debu dari glasswool. gangguan fungsi faal paru-paru. 2. Asam Peroksida (H2O2) Pedoman keselamatan untuk di laboratorium yang terkait dengan bahan kimia dibuat dalam buku pedoman yang tersendiri. Asam Sulfat ( H2SO4) 3. gangguan penglihatan. lainnya yang pembubutan. Memakai metode basah: Lantai disiram air supaya debu tak beterbangan di udara. Debu juga dapat ditimbulkan dari bahan insulasi termal maupun akustik. N-Hexane 5.1. yang dapat dengan pengelasan menimbulkan pemanasan atau pembakaran. Kegiatan uap yaitu penyolderan terkait pekerjaan elektronika dan pemipaan tembaga.2 Bahaya Potensial Di Laboratoria Teknik Tekstil Bahaya potensial di Laboratoria Teknik Tekstil dibagi menjadi lima perantara diantaranya: Chemical agent. Pekerjaan di Laboratoria Teknik Tekstil yang dapat mengeluarkan debu atau uap diantaranya pemrosesan material logam. dapat menyebabkan pengurangan kenyamanan kerja. keramik atau gelas yang debu dapat atau berupa pengeboran. Dalam kondisi tertentu debu merupakan bahaya yang dapat menimbulkan kerugian besar. Asam Klorida (HCL) 4. Program Studi Teknik Tekstil . Physical agent. Bahan kimia yang berpotensi menimbulkan bahaya di Laboratorium adalah: agent. Asam Nitrat (HNO3) 2.1 Chemical agent. bahkan dapat menimbulkan keracunan umum.2 Physical agent. Biological Ergonomical agent/Mecanical agent. Pengeboran basah (wet drilling) untuk 20 Pedoman Umum K3 Laboratorium. 2. 2.

gangguan jiwa. Ventilasi umum.2 Kebisingan. c.2. Gangguan fisiologis lama-lama bisa menimbulkan gangguan psikologis.000 Hz. Gangguan kebisingan yang paling menonjol adalah pengaruhnya terhadap alat pendengaran 21 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Pencegahan terhadap sumber: diusahakan debu tidak keluar dari sumber yaitu dengan pemasangan local exhauster. Gangguan kebisingan di tempat kerja dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1. Gangguan Psikologis. Bising dapat diartikan sebagai suara yang timbul dari getaran-getaran yang tidak teratur dan periodik. dan intensitas dengan nilai ambang batas (NAB) 85 dB (A) secara terus menerus. Gangguan Fisiologis. Manusia masih mampu mendengar bunyi dengan frekuensi antara 16-20. Pengaruh utama dari kebisingan terhadap kesehatan adalah kerusakan pada indera-indera pendengar. Sumber kebisingan berasal aktivitas di laboratorium material logam atau dari peralatan praktikum atau penelitian (misalnya bising dari kompresor). selain memerlukan tenaga ekstra juga menimbulkan kebisingan.2. Kebisingan juga dapat mengganggu cardiac output dan tekanan darah. b. Dengan kata lain fungsi pendengaran secara fisiologis dapat terganggu. Program Studi Teknik Tekstil . Gangguan Patologis Organis.2. Gangguan fisiologis adalah gangguan yang mula-mula timbul akibat bising. 2. sulit konsentrasi dan berpikir. dan lain-lain. Perlindungan diri terhadap pekerja antara lain berupa tutup hidung atau masker. Intensitas lebih dari 85 dB dapat menimbulkan gangguan dan batas ini disebut critical level of intensity.mengurangi debu yang ada di udara.2. yang menyebabkan ketulian progresif. 2. Suara yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan stress. Dengan alat: Scrubber. 3. Kebisingan merupakan masalah kesehatan kerja yang timbul di Laboratoria Teknik Tekstil.STTT . Debu jika di semprot dengan uap air akan berflocculasi lalu mengendap. Pembicaraan atau instruksi dalam pekerjaan tidak dapat didengar secara jelas sehingga dapat menimbulkan kecelakaan kerja.1 Gangguan Kebisingan di tempat Kerja. Pembicara terpaksa berteriak-teriak. d. Elektropresipitator. 2.2. kebisingan merupakan suara yang tidak dikehendaki.

Program Studi Teknik Tekstil . Usaha melindungi karyawan dari kebisingan di lingkungan kerja dengan memakai alat pelindung telinga atau personal protective device yaitu berupa ear plugs dan ear muffs. Pada dasarnya untuk menutup mesin mesin yang bising adalah sebagai berikut: a. terjadi pertukaran panas antara tubuh manusia yang didapat dari metabolisme dengan tekanan panas yang dirasakan sebagai kondisi panas lingkungan.2.2. 22 Pedoman Umum K3 Laboratorium. 2. 1. Bila perlu mengisolasi mesin dari lantai untuk mengurangi penjalaran getaran. 2. Menutup mesin serapat mungkin. Suhu tubuh manusia yang dapat kita raba/rasakan tidak hanya didapat dari metabolisme. 2. Selama pertukaran ini serasi dan seimbang.2. Menghilangkan transmisi kebisingan terhadap pekerja. makin banyak pula panas tubuh akan hilang. yang dapat menimbulkan ketulian yang bersifat sementara hingga permanen. Beban tambahan berupa panas lingkungan dapat menyebabkan beban fisiologis misalnya kerja jantung menjadi bertambah. Dengan kata lain. Makin tinggi panas lingkungan. tidak akan menimbulkan gangguan. 3. Sebaliknya semakin rendah suhu lingkungan.2.STTT . Mengadakan perlindungan terhadap karyawan. Mengolah pintu-pintu dan semua lobang secara akustik. Menghilangkan kebisingan dari sumber suara dapat dilakukan dengan menempatkan perendam dalam sumber getaran. semakin besar pula pengaruhnya terhadap suhu tubuh. Untuk menghilangkan atau mengurangi transmisi kebisingan terhadap pekerja dapat dilakukan dengan isolasi tenaga kerja atau mesin yaitu dengan menutup atau menyekat mesin atau alat yang yang mengeluarkan bising.2. b. tetapi juga dipengaruhi oleh panas lingkungan. c.2 Pengendalian Kebisingan di lingkungan kerja.3 Suhu Udara. baik penampilan kerja maupun kesehatan kerja. Menghilangkan kebisingan dari sumber suara. Tekanan panas yang berlebihan merupakan beban tambahan yang harus diperhatikan dan diperhitungkan.atau telinga.

2. c. kelembaban. Pengaruh lain adalah makin cepatnya denyut jantung karena makin aktifnya kebutuhan oksigen.2. 23 Pedoman Umum K3 Laboratorium.4 Kelembaban Udara. dan secara bersama-sama panas antara suhu.2. Suhu efektif akan memberikan efek yang nyaman bagi orang yang berada di luar ruangan. Kesalahan-kesalahan sering dibuat dengan membuat suhu terlalu rendah yang berakibat keluhan-keluhan dan kadang diikuti meningkatnya penyakit pernafasan. Untuk melihat manusia membutuhkan pencahayaan. dan tubuh memenuhi manusia selalu berusaha untuk mencapai keseimbangan antara panas tubuh dengan suhu di sekitarnya. Pencahayaan yang kurang memadai merupakan beban tambahan bagi pekerja. Program Studi Teknik Tekstil .2. akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh peredaran darah untuk secara besar-besaran karena sistem penguapan. porcelain furnace. Contoh: suhu panas dari kompor. Penggunaan AC di tempat kerja perlu disertai pemikiran tentang keadaan pengaturan suhu di rumah. Yang dimaksud dengan C ̊ suhu efektif adalah suatu beban panas yang dapat diterima oleh tubuh dalam ruangan. biasa dinyatakan dalam persentase. Oleh sebab itu salah satu masalah lingkungan di tempat kerja yang harus diperhatikan adalah pencahayaan. 2. dan lain-lain.Nilai ambang batas untuk cuaca (iklim) kerja adalah 21 C – 30 C suhu basah. Suatu keadaan dengan suhu udara sangat panas dan kelembaban tinggi. preheating furnace. Kelembaban ini berhubungan atau dipengaruhi oleh suhu udara. Bila perbedaan suhu di dalam dan luar lebih 5 C. Suhu ̊ ̊ efektif bagi pekerja di daerah tropis adalah 22 ̊ . Suhu diset pada 25 ̊ . Pada umumnya pekerjaan memerlukan upaya penglihatan. perlu adanya ̊ suatu kamar adaptasi.26 ̊ C C b. tersebut akan kecepatan udara bergerak dan radiasi dari udara mempengaruhi keadaan tubuh manusia pada saat menerima atau melepaskan panas dari tubuhnya.27 C. pengecoran logam. Cuaca kerja yang diusahakan dapat mendorong produktivitas antara lain dengan pengondisian udara di tempat kerja. Sebaiknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. 2.5 Pencahayaan.STTT . Kelembaban adalah: banyaknya air yang terkandung dalam udara.

dan lain-lain. tipe dan lebih spesifik lagi adalah panjang berbahaya adalah gelombang pendek. misalnya: polimer akrilik. Akibat radiasi ultraviolet pada umumnya mengenai mata dan kulit. Pancaran yang paling termasuk ionisasi dan radiasi sinar kerja. 2.. yang dapat mempengaruhi produktivitas bagi tenaga kerja.4 Psychological agent. Program Studi Teknik Tekstil .6 Radiasi. Dampak radiasi terhadap kesehatan tergantung pada: lamanya terpapar.5 Ergonomical agent. 2. Faktor biologi dapat berupa bakteri.2. jumlah yang diserap. bila mengenai mata dapat menyebabkan conjuctivitis.2. 2. dan lainlain. Contoh paparan biologi di Laboratoria Teknik Tekstil adalah: 1. dan lain-lain. Ergonomi 24 Pedoman Umum K3 Laboratorium.2.sehingga dapat menimbulkan gangguan performance (penampilan) kerja yang akhirnya dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan dan keselamatan kerja. standar pencahayaan untuk ruangan yang dipakai untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan ultraviolet.STTT . yang manfaat dari padanya diukur dengan efisiensi dan kesejahteraan kerja.2. 2. Contoh: perasaan was-was saat menunggu hasil setelah proses praktikum. Psychological agent meliputi: tanggung jawab pekerjaan terhadap orang lain. gelombang.).3 Biological agent. keterampilan. jamur dan mikroorganisme lain yang dibutuhkan atau dihasilkan dari bahan-bahan. virus. Sumber infeksi: terpapar mikroorganisme (bakteri. Berdasarkan baku mutu lingkungan ketelitian adalah 5001000 Lux. beban kerja. jamur.2. Hal ini sangat erat kaitannya dan mutlak harus ada karena berhubungan dengan fungsi indera penglihatan. larutan electropolishing. 2. Bahan iritan: paparan bahan yang bisa menimbulkan iritasi pada kulit. dan lain-lain. Sumber radiasi dapat berasal dari alam dan buatan. Ergonomi adalah penerapan ilmu-ilmu biologis tentang manusia bersamasama dengan ilmu-ilmu teknik dan teknologi untuk mencapai penyesuaian satu sama lain secara optimal dari manusia terhadap pekerjaannya.

2. antara lain seperti topi keselamatan. Fungsi dan tugas: fungsi dan tugas orang dengan pekerjaan yang pantas. perencanaan kerja. e. biometrika. pakaian pelindung. b. setelah pengendalian teknik dan administratif tidak mungkin lagi diterapkan. psikologis atau cara-cara tak langsung. Posisi duduk pada saat melakukan percobaan atau pengamatan. Program Studi Teknik Tekstil . Rancangan dan arus lalu lintas. safety shoes. pelindung pernafasan. c. d. alat pelindung diri sesungguhnya merupakan hierarki terakhir dalam melindungi keselamatan bahaya yang kemungkinan terjadi dan kesehatan tenaga kerja dari potensi pada saat melakukan pekerjaan. beban kerja dapat diukur dan dianjurkan modifikasi yang sesuai antara kapasitas kerja dengan beban kerja dan beban tambahan. Ada beberapa jenis alat pelindung diri yang mutlak digunakan oleh tenaga kerja pada waktu melakukan pekerjaan dan saat menghadapi potensi bahaya karena pekerjaannya. keamanan dan produktivitas dalam bekerja. Temperatur. dan cybernetic. Mobilisasi (aktivitas kerja). 3. Disain tempat kerja: gambaran dasar untuk kenyamanan. Desain tempat dan alat kerja akan mempengaruhi kenyamanan. untuk menjamin kesehatan kerja dan meningkatkan 2. Proses dan desain perlengkapan: untuk fungsi dan keamanan.STTT . dan sabuk keselamatan. a. Misalnya: Karyawan yang melakukan pekerjaan tersebut harus punya spesifikasi tertentu seperti berat dan tinggi badan ideal. Fasilitas sanitasi dan drainase (tempat pembuangan limbah cair dan padat). Jenis alat pelindung diri yang digunakan harus 25 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Tujuan utamanya adalah produktivitas. Dengan evaluasi fisiologis. riset terpakai.3 Alat Pelindung Diri (APD). Menurut hierarki upaya pengendalian diri (controlling). dan lainlain. Misalnya.merupakan pertemuan dari berbagai lapangan ilmu seperti antropologi. Ergonomi dapat mengurangi beban kerja. faal kerja. sarung tangan. higiene perusahaan dan kesehatan kerja. kelembaban dan ventilasi. Pencahayaan. 1. Namun kekhususan utamanya adalah perencanaan dari cara bekerja yang lebih baik meliputi tata kerja dan peralatannya. produktivitas dan keamanan.

Pedoman Umum K3 Laboratorium. tidak mengion h. pasal 12 mengatur mengenai hak dan kewajiban tenaga kerja untuk memakai alat pelindung diri. disertai dengan petunjuk yang diperlukan. kaki maupun tubuh pada umumnya. Jenis. Terhirup gas. d. Benturan atau pukulan benda keras atau benda tajam. kulit. Lemparan benda-benda kecil.1 Alat Pelindung Mata (kaca mata pengaman) dan Muka.STTT g. Kemasukan debu atau partikel-partikel yang melayang di udara. b. terpeleset. Radiasi gelombang elektromagnetik yang mengion maupun yang 26 .3. dan yang bisa dikendalikan dengan alat pelindung diri adalah: a. kaki yang tertusuk. 1. Panas dan pancaran cahaya f. mist. Kemasukan benda Bagian badan asing. Terpapar sinar dan gelombang elektromagnetik. c. Menurut jenis atau bentuknya alat pelindung mata dibedakan menjadi a) Kaca mata (Spectacles/Goggles). alat pernafasan.sesuai dengan potensi bahaya yang dihadapi serta sesuai dengan bagian tubuh yang perlu dilindungi. Fungsi. f. uap. Program Studi Teknik Tekstil . terantuk. Pada pasal 14 menyebutkan bahwa pengusaha wajib menyediakan secara cuma-cuma sesuai alat pelindung diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang berada di bawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasuki tempat kerja tersebut. fume. Kontak dengan bahan kimia baik padat maupun cair. alat penglihatan. e. a. Terpapar kebisingan dan getaran. d. Potensi bahaya yang kemungkinan terjadi di tempat kerja. 2. partikel cair. perlu dilindungi adalah kepala. kejatuhan benda. debu. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja. alat pendengaran. Fungsi kaca mata pengaman adalah untuk melindungi mata dari: b. 2. c. Terjatuh. terinjak benda tajam. Pancaran gas atau uap kimia yang dapat menyebabkan iritasi mata. Sebagaimana tercantum dalam undang-undang No. Percikan bahan-bahan korosif. e.

b) • • 2. dengan bahan dasar selulosa asetat.STTT . Kaitkan tangkai kaca mata pada daun telinga. 27 Pedoman Umum K3 Laboratorium. atau large. • • • • • Pilihan kaca mata yang sesuai. Fungsi. • Sumbatan telinga yang baik adalah yang bisa menahan atau mengabsorpsi bunyi atau suara dengan frekuensi tertentu saja. Buka tangkai kaca mata lekatkan bagian tengah kacamata pada punggung hidung. akrilik.3. yang bila pecah tidak menimbulkan bagian-bagian yang tajam. Cara Pemakaian. Program Studi Teknik Tekstil .3. b. 1. yaitu alat pelindung telinga yang penggunaannya ditutupkan pada seluruh daun telinga.2 Pelindung pendengaran. Usahakan agar mata dan sekitar betul-betul tertutup oleh kacamata. Plastik. polikarbonat atau alil diglikol karbonat. a. Spesifikasi. Tahan terhadap lemparan atau percikan benda kecil. 4. dan melindungi telinga dari percikan api atau logam-logam yang panas. Lensa tidak boleh mempunyai efek distorsi. Secara umum pelindung telinga 2 (dua) jenis. Kaca mata pengaman. small. Sumbat telinga atau ear plug. medium. Spesifikasi. Mampu menahan radiasi gelombang elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu. Alat pelindung muka. a. Alat pelindung mata mempunyai ketentuan sebagai berikut: • • • • Tahan terhadap api. Untuk melindungi alat pendengaran (telinga) akibat kebisingan. 2. 3. Tutup telinga atau ear muff. Jenis. yaitu alat pelindung telinga yang cara penggunaannya dimasukkan pada liang telinga. mempunyai ketentuan sebagai berikut: Tahan api Terbuat dari bahan Gelas atau gelas yang dicampur dengan laminasi alumunium. Tempelkan lensa kaca mata. yaitu: a. Sumbat Telinga atau ear plug.

Pilih bentuk dan ukuran yang sesuai dengan bentuk dan ukuran dari seluruh telinga si pemakai Cek sumbat telinga. sesuaikan dengan pengatur panjang dan pendeknya pengikat kepala (head band) 28 Pedoman Umum K3 Laboratorium. • • • • Pilih ear plug yang terbuat dari bahan yang bisa menyesuaikan dengan bentuk telinga. untuk memastikan bahwa sumbat telinga terpakai secara sempurna. Cawan atau cup berisi cairan atau busa (foam) yang berfungsi untuk menyerap suara yang frekuensinya tinggi. ke bawah. ke kiri dan ke samping kanan. • Gerak-gerakkan kepala ke atas.sedangkan bunyi • • atau suara dengan frekuensi untuk pembicaraan (komunikasi) tetap tidak terganggu. Penutup Telinga atau Ear Muff. Pada umumnya tutup telinga bisa mereduksi suara frekuensi 2800-4000 Hz sebesar 35-45 db. Tarik daun telinga ke belakang. Bola belum pas (masih ada bagian yang terbuka). b. dimana x adalah intensitas suara atau kebisingan di tempat kerja yang diterima oleh tenaga kerja. Penutup Telinga atau Ear Muff. minimal sebesar x-85 dba. plastik. baik kiri maupun kanan. dimana x adalah intensitas suara atau kebisingan di tempat kerja yang diterima oleh tenaga kerja. apakah secara fisik dalam keadaan baik (tidak rusak) dan bersih. Cara Pemakaian. ke samping. • • • • Terdiri dari sepasang (2 buah. Harus bisa mereduksi suara frekuensi tinggi (4000 dba) yang masuk lubang telinga. dan sebuah sabuk kepala (head band). • • Pilih penutup telinga yang ukurannya sesuai dengan diameter/lebar daun telinga Pastikan bahwa posisi cawan atau mangkuk penutup benar benar melingkupi daun telinga. kemudian masukkan sumbat telinga ke dalam lubang telinga hingga benar-benar menutup semua lubang telinga. 4. Program Studi Teknik Tekstil . a.STTT . Biasanya terbuat dari karet. Biasanya terbuat dari karet atau plastik lunak. Tutup telinga harus mereduksi suara yang masuk ke lubang telinga minimal sebesar x-85 dba. b. lilin atau kapas. kiri dan kanan) cawan atau cup. buka dan tutup mulut. Sumbat Telinga atau Ear Plug.

Respirator jenis ini rendah.• Gerak-gerakkan kepala. basah dan hangat. Berdasarkan fungsinya. uap. buka dan tutup mulut untuk memastikan bahwa sumbat telinga terpakai secara sempurna. mist. ke bawah. Simpan kotak tersebut di atas di lemari atau tempat penyimpanan yang lain. 1. dibedakan menjadi : a. gas. Fungsi. Program Studi Teknik Tekstil . ke samping kiri dan ke samping kanan. fog) yang kadar toksisitasnya kerja respirator terkontaminasi dengan cara filtrasi. asap. yang berfungsi memurnikan udara (air purifying 29 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Prinsip dipakai bila pekerja terpajan bahan pencemar di ini adalah membersihkan udara udara (debu. kekurangan oksigen. Penutup telinga yang telah selesai digunakan dibersihkan dengan cara diseka dengan kain lap yang bersih. a. e. Simpan kotak di almari atau tempat penyimpanan yang lain. Respirator respirator). adsorpsi. Respirator yang berfungsi memasok oksigen atau udara (air supplying respirator). f. fume. Sumbat telinga yang telah di selesai digunakan dibersihkan dengan kain lap yang bersih.3 Pelindung Pernafasan (Respirator). asap. 5. b. 2. dan sebagainya.STTT . b) Respirator dengan katrid (cartridge) bahan kimia. 2. Setelah bersih simpan kembali di dalam kotaknya. gas.3. kabut. Alat pelindung pernafasan berfungsi memberikan perlindungan organ pernafasan akibat pencemaran udara oleh faktor kimia seperti debu. uap. b. ke atas. c. Spesifikasi. Kemudian keringkan dengan kain lap yang bersih dan kering. Menurut cara kerjanya dibedakan menjadi : a) Respirator yang mengandung bahan kimia (chemical respirators). atau absorpsi. Respirator Yang Memurnikan Udara. Jenis. g. 3. Setelah bersih dan kering simpan dalam kotaknya. d. fume. a. Pemeliharaan.

Tidak bisa digunakan untuk keadaan darurat. Batas waktu kedaluwarsa ini o o tergantung pada isi kanister. Program Studi Teknik Tekstil . uap) saja. dan akivitas pemakainya. o Prinsip filter. o 30 Pedoman Umum K3 Laboratorium. o Efisiensi filter tergantung kepada ukuran partikel dan diameter pori-pori filter. c) Respirator dengan kanister yang berisi bahan kimia.STTT . d) Respirator mekanik (Mechanical Respirator). o Satu tipe kanister hanya bisa digunakan untuk memurnikan udara terkontaminasi satu macam atau satu golongan bahan kimia (gas. kerja respirator ini adalah memurnikan udara terkontaminasi melalui proses filtrasi memakai bermacam tipe di lingkungan kerja seperti debu.o o o o o Prinsip cara kerjanya adalah mengadsorpsi bahan pencemar di udara pernafasan. Bahan kimia yang digunakan untuk mengadsorpsi biasanya karbon aktif atau silica gel. uap) saja. Hanya mampu memurnikan satu macam atau satu golongan bahan kimia (gas. asap. fume. o Prinsip cara kerjanya adalah mengadsorpsi bahan pencemar di udara pernafasan Bahan kimia yang digunakan untuk mengadsorpsi adalah yang sesuai dengan bahan-bahan kimia tertentu saja. Bisa menutup sebagian muka atau seluruh muka Tidak bisa digunakan dalam keadaan udara di lingkungan kerja menggandung bahan kimia gas atau uap toksit dengan kadar yang cukup tinggi. konsentrasi bahan pencemar. Biasanya penutup sebagian muka dengan satu atau dua katrid yang mengandung bahan kimia tertentu. e) Respirator kombinasi filter dan bahan kimia. Misal kanister untuk uap asam klorida (HCl dan asam sulfat (H2SO4) harus menggunakan kanister yang berisi soda o Bahan kimia kanister mempunyai batas waktu kedaluwarsa. o Digunakan untuk melindungi si pemakai akibat pemajanan partikel-partikel mist dan fog.

Ukuran antropometri tubuh yang berkaitan adalah : • • • • • • Panjang muka. 31 Pedoman Umum K3 Laboratorium. dari tinggi. f) Respirator dengan pemasok udara atau oksigen. o Respirator jenis ini biasanya digunakan oleh pekerja pada waktu melakukan pengecatan dengan cara semprot (spray painting). tidak rusak. apakah respirator dalam keadaan baik. a. mampu melindungi o 4. ataupun katrid dan kanister yang mengandung bahan kimia. Pasokan udara ataupun oksigen dapat melalui silinder. Pilih ukuran respirator yang sesuai dengan ukuran antropometri tubuh pemakai. Panjang tulang hidung. tangki. Pasokan udara bersih atau oksigen. Lebar mulut. atau kompresor yang dilengkapi dengan regulator (pengukur tekanan) o Respirator dengan pasokan udara atau oksigen dibedakan menjadi :  Airline respirator. Periksa lebih dahulu dengan teliti.  Self-contained brathing apparatus. melindungi pekerja dari pemajanan bahan Konsentrasinya o kekurangan oksigen. b. bahan kimia yang sangat pekerja toksit. Program Studi Teknik Tekstil .o Respirator jenis ini dilengkapi dengan filter untuk menyaring udara terkontaminasi partikel (debu) dan katrid (catridge) atau kanister yang mengandung bahan kimia. Lebar muka. Tonjolan hidung. dan komponen-komponennya juga dalam keadaan masih baik. Panjang dagu. o Alat pelindung pernafasan ini tidak dilengkapi dengan filter.  Air hose mask respirator. Cara Pemakaian.STTT .

panas. b.STTT . Pilih jenis filter atau katrid atau kanister dengan seksama. 5. 2. Potong cambang dan jenggot sependek mungkin. tergores. simpan dalam loker yang bersih. Singkirkan rambut yang menutupi bagian muka. d. e. bahan kimia. f. Apabila suatu respirator terpaksa digunakan oleh orang lain. Jenis. maka harus dicucihamakan terlebih dahulu. terinfeksi. listrik. radiasi mengion.c. radiasi elektromagnetik. Alat pelindung tangan biasa disebut dengan sarung tangan. Setiap kali setelah dipakai. Beri tanda setiap respirator dengan nama pemakainya. e. sebagai berikut: a. Gerak gerakkan kepala. Setelah respirator bersih dan kering. Fungsi. 32 Pedoman Umum K3 Laboratorium. untuk mengetahui bahwa persediaan udara atau oksigen masih mencukupi. (instruction manual) yang harus ada pada setiap respirator. Untuk melindungi tangan dan jari-jari tangan dari pajanan api. untuk sesuai dengan petunjuk operasional terjadi g. Pakailah respirator dengan cara h.4 Pelindung Tangan. kering dan tertutup. bila pekerja menggunakan gigi palsu. 2. d. 1. memastikan bahwa tidak akan kebocoran apabila pekerja bekerja sambil bergerak-gerak. dingin. benturan dan pukulan. maka respirator perlu pemeliharaan atau perawatan secara teratur.3. regulator dan komponen-komponen lainnya perlu juga dicek secara berkala Jika tidak berfungsi harus segera diganti dengan yang baru. Klep-klep. Pemeliharaan. Jika terdapat komponen yang sudah tidak berfungsi maka perlu diganti lebih dahulu dengan yang baru dan baik. agar tidak terjadi kebocoran. Pasang atau kenakan gigi palsu. f. Program Studi Teknik Tekstil . respirator harus dibersihkan (dicuci) kemudian dikeringkan. Tangki-tangki atau silinder-silinder udara atau oksigen harus dicek secara berkala. Agar respirator dapat berfungsi dengan baik dan benar serta dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama. c.

d. Pilih jenis alat pelindung tangan yang sesuai dengan potensi bahaya b. 2. Spesifikasi. Tidak disarankan memasukkan ujung lengan baju panjang ke dalam sarung tangan. dan bagian lengan sarung tangan berada di dalam manset atau di dalam kerutan. a. dicuci dengan air. harus dibersihkan. alat pelindung tangan dibedakan menjadi : a. Mitten. panas. Fungsi. debu. Jenis. a. Biasanya digabung dengan sarung tangan. radiasi. b. 4. b.STTT . mulai dari dada sampai lutut.5 Pakaian Pelindung. Simpan di dalam kantong yang bersih dan letakkan di dalam loker atau rak lemari. Program Studi Teknik Tekstil . Pemeliharaan. bagian luar maupun dalam kemudian dikeringkan. bunga api maupun api. Pilih ukuran sesuai dengan ukuran tangan pemakai. ujung ujung lengan baju pekerja masuk ke dalam manset atau kerutan sarung tangan. Sarung tangan tanpa manset atau tanpa kerutan. yaitu sarung tangan dengan ibu jari terpisah. Sarung tangan biasa atau gloves. 3. yang menutupi hanya sebagian tubuh pemakainya. Sleeve. d. yaitu alat pelindung tangan yang hanya melindungi telapak tangan. 5. a. ujung lengan baju panjang pekerja harus bermanset.Menurut bentuknya. c. Apron.3. Cara Pemakaian. yaitu alat pelindung dari pergelangan tangan sampai lengan. kemudian manset dikancingkan atau kerutan dirapikan. Alat pelindung tangan yang telah selesai dipakai. 33 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Hand pad. 2. c. Masukkan tangan yang bagian pergelangan tangannya bermanset atau berkerut. Pakaian pelindung berfungsi untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuh dari kotoran. Alat pelindung tangan harus sesuai antara potensi bahaya dengan bahan sarung tangan yang dikenakan pekerja. bahaya percikan bahan kimia. 1. sedangkan empat jari lainnya menjadi satu.

Pakaian dicuci. dan lengkap komponen-komponennya. Pakaian pelindung terbuat dari plastik. Pilih jenis pakaian pelindung yang sesuai dengan potensi bahaya yang dihadapi. Persyaratan. c.STTT . Pakaian pelindung untuk pemadam kebakaran. kimia. sehabis dikenakan setelah dikeringkan diseterika. b. e. Memenuhi persyaratan fisika. yang menutupi seluruh bagian tubuh. Pakaian pelindung untuk pekerja yang terpajan radiasi mengion. Pakaian pelindung dari kulit.4 Persyaratan Kesehatan Kerja Di Perkantoran. 34 Pedoman Umum K3 Laboratorium. mikrobiologi dan radioaktif sesuai dengan kepmenkes no. Cara pemakaian. b. Gerak-gerakkan memastikan nyaman. apakah dalam keadaan rusak . a. d. pelindung yang tidak disposable. d. c. untuk tenaga kerja yang bekerja kontak dengan bahan kimia. Cek keadaan fisiknya. b. Program Studi Teknik Tekstil . Pengertian. 1. Pakaian pelindung untuk pekerja yang terpajan radiasi tidak mengion. 4. Overalls. Kenakan pakaian pelindung dan kancingkan dengan seksama. Macam-macam pakaian pelindung adalah: a. 2. e.b. a. 3. Pilih ukurannya yang sesuai dengan ukuran tubuh pemakainya. dilipat dan disimpan di anggota badan (kaki. kemudian dibuang di tempat yang telah disediakan. a. setelah habis pakai dimasukkan ke dalam kantong kertas yang semula untuk membungkus pakaian pelindung baru. Pakaian pelindung yang disposable (sekali pakai dibuang). 907/SK/VII/2002 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air minum. Air Bersih. b. untuk tenaga kerja yang mengerjakan pengelasan. Spesifikasi. Cara pemeliharaan. untuk apakah pakaian pelindung telah terpakai dengan tempat yang bersih. 5. tangan).

• • • • Air bersih dapat diperoleh dari PAM.STTT 35 . Sistem ventilasi yang memenuhi syarat. Bila suhu udara luar < 180C perlu menggunakan pemanas ruangan. Suhu dan Kelembaban.Air bersih adalah air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat diminum apabila dimasak. Bila suhu > 280oC perlu menggunakan alat penata udara seperti Air Conditioner (AC). pertukaran udara. diperiksa minimal 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun. dan lain-lain. dan bakteriologis. 2. Penyehatan udara ruangan adalah upaya yang dilakukan agar suhu ruang kerja memenuhi persyaratan kesehatan. Program Studi Teknik Tekstil . Distribusi harus menggunakan perpipaan. kipas angin. kimia. Bila kelembaban ruang kerja : dan kelembaban. bahan pencemar dan mikroba di 60% perlu menggunakan alat dehumidifier. Pedoman Umum K3 Laboratorium. a. < 40% perlu menggunakan alat humidifier (misalnya: mesin pembentuk aerosol). Debu. Sumber air bersih dan saran distribusinya harus bebas dari pencemaran fisik. Agar ruang kerja perkantoran memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut: • • • • Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2. sumber air tanah atau sumber lain yang telah diolah sehingga memenuhi persyaratan. Sampel air bersih untuk pemeriksaan lab diambil dari sumber atau bak penampungan dan dari kran terjauh. debu. b.5 m. c. Tata cara pelaksanaan. Agar kandungan • debu di dalam ruang kerja perkantoran memenuhi persyaratan kesehatan maka perlu dilakukan upaya sebagai berikut: Kegiatan membersihkan ruang kerja perkantoran dilakukan pada pagi dan sore hari dengan menggunakan kain pel basah atau pompa hampa (vacuum pump). • • Pembersihan dinding dilakukan secara periodik 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun dan dicat 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun. Udara Ruangan.

c. Program Studi Teknik Tekstil . Pertukaran Udara. Ruang ber AC secara periodik harus dimatikan dan diupayakan mendapat • pergantian udara secara alamiah dengan cara membuka seluruh pintu dan jendela atau dengan kipas angin. Agar pertukaran udara ruang perkantoran dapat berjalan dengan baik. 36 Pedoman Umum K3 Laboratorium. perlu dilakukan upaya sebagai berikut: • • Untuk ruangan kerja yang ber AC harus memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas lantai.STTT . Membersihkan saringan atau filter udara AC secara periodik sesuai ketentuan pabrik.

Adalah buangan yang berbentuk cair termasuk tinja. Program Studi Teknik Tekstil . Dilarang merokok di dalam ruang kerja. Lantai dibersihkan dengan antiseptik. Mengumpulkan sampah kering dan basah pada tempat yang berlainan dengan menggunakan kantong plastik warna hitam. Limbah cair. cukup ringan. perlu dilakukan beberapa tindakan sebagai berikut: • • • • Karyawan yang menderita penyakit yang ditularkan melalui udara untuk sementara waktu tidak boleh bekerja. Mengamankan limbah padat sisa kegiatan perkantoran. b. pencemar dalam ruangan kerja perkantoran tidak 3. Adalah sebuah buangan yang berbentuk padat termasuk buangan yang berasal dari kegiatan perkantoran. Memelihara sistem AC sentral. maka perlu dilakukan tindakan sebagai berikut: • • • • Pertukaran udara ruang diupayakan dapat berjalan dengan baik. e. Memelihara sistem ventilasi agar berfungsi dengan baik. kedap air dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya serta dilengkapi dengan penutup.STTT . Limbah padat/sampah. Gas Pencemar. tahan karat. Membersihkan ruang dan lingkungan perkantoran minimal 2 (dua) kali sehari. Agar angka kuman di dalam ruang tidak melebihi batas persyaratan. Mikroba. Ruang kerja tidak berhubungan langsung dengan dapur. Limbah. Tersedia tempat pengumpulan sampah sementara yang memenuhi syarat. a. 37 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Agar kandungan gas melebihi konsentrasi maksimal. Tidak menggunakan bahan bangunan yang mengeluarkan bau yang menyengat. • • • • • Sampah kering dan sampah basah ditampung dalam tempat yang terpisah. • Setiap perkantoran harus dilengkapi dengan tempat sampah yang kuat.d.

• Kualitas effluen harus memenuhi perundangan yang berlaku. Program Studi Teknik Tekstil .STTT . syarat sesuai ketentuan peraturan 38 Pedoman Umum K3 Laboratorium.

b.STTT . a. a. Meniadakan tempat perindukan serangga dan tikus. tertutup. c. perlu dilakukan tindakan sebagai berikut: • • • Pencahayaan Penempatan alam bola atau lampu buatan dapat diupayakan menghasilkan tidak menimbulkan yang kesilauan dan memiliki intensitas sesuai dengan peruntukannya. 5. Menjaga kebersihan lingkungan. Intensitas cahaya di ruang kerja minimal 100 Lux. Bola lampu yang tidak berfungsi dengan baik segera diganti. 39 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Program Studi Teknik Tekstil . Konstruksi bangunan tidak memungkinkan masuk dan berkembangbiaknya vektor reservoar penyakit ke dalam ruang kerja dengan memasang alat yang dapat mencegah masuknya serangga dan tikus. Pengendalian dengan bahan kimia. Vektor penyakit. 4. Semua limbah cair harus dilakukan pengolahan lebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan minimal dengan septik tank. Jumlah penyinaran pada bidang kerja yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif. Tata cara pelaksanaan: • Pengendalian secara fisika. Agar memenuhi persyaratan kesehatan. limbah cair dapat mengalir dengan lancar dan tidak menimbulkan bau. Pengaturan peralatan dan arsip secara teratur. c.• • Saluran limbah cair harus kedap air. Reservoar tubuhnya (pejamu) penyakit adalah binatang yang di dalam terdapat kuman penyakit yang dapat ditularkan kepada manusia (misalnya: tikus) b. sehingga tidak terjadi penumpukan sampah dan sisa makanan. Pengertian: • • Vektor penyakit adalah binatang yang dapat menjadi perantara penular berbagai penyakit tertentu (misalnya: serangga). penyinaran optimum dan bola lampu harus sering dibersihkan. Pencahayaan.

40 Pedoman Umum K3 Laboratorium.STTT .Yaitu dengan melakukan: • Penyemprotan. Program Studi Teknik Tekstil .

bersih.STTT . b. Ruang dan Bangunan. • • Bangunan kantor yang lebih tinggi dari 10 m atau lebih tinggi dari bangunan lain di sekitarnya harus dilengkapi dengan penangkal petir.• • • Pengasapan. telepon dan lain-lain yang diperlukan untuk menunjang kegiatan industri. Atap kuat dan tidak bocor. permukaan rata. Program Studi Teknik Tekstil . air limbah. a. Tata cara pelaksanaan. jamban. dan peturasan sesuai dengan jumlah karyawan. dan bersih. c. 7. a. Memasang umpan. Toilet. air kotor. Persyaratan. dan tidak memungkinkan terjadinya gangguan kesehatan dan kecelakaan. ketinggian minimal 2. 8.50 m dari lantai. Instalasi. terpelihara. cahaya minimal 1/6 kali luas lantai. g. d. Dinding bersih dan berwarna terang. air bersih. kedap air. Pengertian. f. berwarna terang. Setiap orang mendapatkan ruang udara minimal 10 m3/ karyawan. Luas jendela. Langit-langit kuat. Setiap kantor harus memiliki toilet dengan jumlah wastafel. kisi-kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya 41 Pedoman Umum K3 Laboratorium. tidak licin. • Instalasi listrik. Bangunan kuat. b. Toilet karyawan wanita dan pria terpisah. air bersih. Abatesasi pada penampungan air bersih. 6. bersih. e. Lantai terbuat dari bahan yang kuat. air limbah. pemadam kebakaran. air hujan harus dapat menjamin keamanan sesuai dengan ketentuan teknis berlaku. Instalasi adalah penjaringan pipa/kabel untuk fasilitas listrik. permukaan dinding yang selalu terkena percikan air terbuat dari bahan yang kedap air. a) Instalasi untuk masing-masing peruntukan sebaiknya menggunakan kode warna dan label.

sudah dikategorikan sebagai foot handler.STTT . 42 Pedoman Umum K3 Laboratorium. salah satunya adalah pelatihan bagi foodhandler dan supervisor kantin. 715/MENKES/SK/V/2003 tentang persyaratan hygiene sanitasi jasaboga perlu mendapatkan perhatian. karena semua pekerja setidaknya makan siang di kantor. Keamanan pangan menjadi isu yang cukup penting di perkantoran. karena: a. Program Studi Teknik Tekstil . dengan membeli dari food court yang ada. d) Jaringan instalasi tidak menjadi tempat perindukan serangga dan tikus. 1405/MenKes/SK/XI/2002. c) Jaringan instalasi agar ditata sedemikian rupa agar memenuhi syarat estetika. c. Di luar dari kepmenkes no.b) Diupayakan agar tidak terjadi hubungan silang dan aliran balik antara jaringan distribusi air limbah dengan menggunakan air bersih sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 9. Food safety. maka ada aspek lain yang patut menjadi perhatian kita yaitu food safety. Penerapan kepmenkes no. Kemudian adanya petugas cleaning service yang sekaligus bertugas menyediakan makanan dan minuman bagi pekerja. b.

dan produktif. promosi kesehatan. Kesehatan dan keselamatan kerja di Laboratoria Teknik Tekstil merupakan upaya untuk memberikan jaminan kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pegawai. pengendalian bahaya di tempat kerja. pengkajian. melalui pengarahan.STTT . Tahap persiapan (komitmen dan kebijakan). 3. Tahap pengukuran dan evaluasi. Pedoman peraturan berikut: 1. dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna tercapainya kerja yang aman. pengobatan dan rehabilitasi. penggerakan. pencapaian. tanggung jawab pelaksanaan prosedur. Program Studi Teknik Tekstil . dan pengendalian kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tergabung dalam suatu bentuk kerja. 4.BAB 3 PEDOMAN SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA. efisien. Tahap peninjauan ulang dan peningkatan. Keadaan ini mengubah pandangan masyarakat industri terhadap pentingnya penerapan K3 secara sungguh-sungguh dalam kegiatannya. Tahap perencanaan. meliputi langkah-langkah sebagai 43 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan meliputi struktur organisasi. proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan. Sistem manajemen kesehatan dan keselamatan (SMK3) tidak terlepas dari pembahasan manajemen secara keseluruhan. Masalah kesehatan dan keselamatan kerja akhir-akhir ini terus berkembang seiring dengan kemajuan sains dan teknologi dalam bidang industri atau pelayanan publik. Manajemen merupakan suatu proses pencapaian tujuan secara efisien dan efektif. mahasiswa dan dosen dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja. manajemen kesehatan dan keselamatan kerja menurut menteri kesehatan tahun 2007. Sedangkan sistem manajemen merupakan rangkaian proses kegiatan manajemen yang teratur dan terintegrasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 2. perencanaan.

aman. Perencanaan K3 di Laboratoria 44 Pedoman Umum K3 Laboratorium. 5. tenaga K3 dan sarana untuk terlaksananya program K3. menurut Peraturan Menkes di atas adalah terciptanya cara kerja. Membuat program kerja K3LABTT yang mengutamakan upaya peningkatan dan pencegahan. Kajian risiko secara kualitatif dan kuantitatif. Advokasi sosialisasi program K3LABTT. Meningkatkan SDM profesional di bidang K3LABTT pada setiap unit kerja di lingkungan LABTT. jelas dan mudah dimengerti serta diketahui oleh seluruh karyawan. Monitoring dan evaluasi secara internal dan eksternal secara berkala. 3. maka pengendalian sebab akibat terjadinya kecelakaan. Maka dari itu pekerjaan atau tugas apapun tidak dapat diselesaikan secara kerjanya.2 Tahap Perencanaan. 2. Sumber daya yang harus didukung oleh manajemen puncak. Tujuan diterapkannya manajemen K3 di Laboratoria Teknik Tekstil ini. 8. 4.STTT .1 Tahap Persiapan (Komitmen dan Kebijakan). nyaman. LABTT harus membuat perencanaan yang efektif agar tercapai keberhasilan penerapan sistem manajemen K3 dengan sasaran yang jelas dan dapat diukur. Menetapkan tujuan jelas. dan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan karyawan. Kebijakan K3 di Laboratoria Teknik Tekstil diwujudkan dalam bentuk wadah K3LABTT dalam struktur organisasi LABTT.Pelaksanaan K3 harus merupakan bagian dari semua kegiatan operasional. 7. Sesuai dengan dan sistem efisien kecuali jika si pegawai telah mengikuti setiap tindakan pencegahan dan peraturan K3 untuk melindungi dirinya dan teman pengelompokan pengurangan unsur K3 diarahkan pada konsep sebab akibat kecelakaan serta prinsip pencegahan kecelakaan. Manajemen LABTT seperti mengidentifikasi dan menyediakan semua sumber daya esensial pendanaan. lingkungan kerja yang sehat. Organisasi dan penugasan yang jelas. 3. Komitmen diwujudkan dalam bentuk kebijakan (policy) tertulis. perlu disusun strategi antara lain: 1. 6. Untuk melaksanakan komitmen dan kebijakan K3LABTT. Program Studi Teknik Tekstil . 3.

LABTF harus melakukan kajian dan identifikasi sumber bahaya. penilaian serta pengendalian faktor risiko yang terjadi di Laboratoria Teknik Tekstil. Identifikasi sumber bahaya. menggantikan sumber risiko dengan sarana atau peralatan lain yang tingkat risikonya lebih rendah atau tidak ada (engineering/rekayasa).Teknik Tekstil dapat mengacu pada standar sistem manajemen K3LABTT diantaranya self assesment akreditasi K3LABTT dan sistem manajemen K3. administrasi dan alat pelindung diri (APD). Psicological agent. b. Program Studi Teknik Tekstil .lain. c. perundangan dan Chemical agent. menetapkan dan melaksanakan Standar Operasional Prosedur (SOP) sesuai dengan peraturan. penilaian dan pengendalian faktor risiko. terkena cipratan uap asam. Phisical agent. Ergonomical agent. Dilakukan melalui empat tingkatan pengendalian risiko yaitu menghilangkan bahaya. pneumokonioses. LABTF harus membuat. • • Kecelakaan yang sering terjadi: mata kemasukan debu. alergi. Membuat peraturan. Bahaya potensial lokasi pegawai yang paling berisiko di Laboratoria Teknik Tekstil adalah: • • • • • • terjadi. dan lain. Biological agent. Adalah proses untuk menentukan ada tidaknya risiko dengan jalan melakukan penilaian bahaya potensial yang menimbulkan risiko keselamatan dan kesehatan kerja. Penilaian faktor risiko. Perencanaan meliputi: 1.STTT . 2. PAK yang sering terjadi adalah silicosis. Dapat dilakukan dengan mempertimbangkan: • Kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya. Jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja (PAK) yang mungkin dapat 45 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Diantaranya adalah: a. Pengendalian faktor risiko. Identifikasi sumber bahaya.

Program kerja. penyuluhan kepada petugas. pedoman. petunjuk pelaksanaan dan prosedur K3.STTT . peraturan. Pola pembagian tanggung jawab. Indikator harus dapat diukur sebagai dasar penilaian kinerja K3 yang sekaligus merupakan informasi mengenai keberhasilan pencapaian SMK3 LABTT. b. evaluasi dan dicatat serta 46 Pedoman Umum K3 Laboratorium. untuk menilai sejauh mana program yang dilaksanakan telah berhasil. Ketua organisasi atau satuan unit pelaksana K3LABTT secara spesifik harus mempersiapkan data bersama unit-unit informasi merumuskan permasalahan serta menganalisis penyebab timbulnya masalah kerja. SOP ini harus dievaluasi. Tujuan dan sasaran. diperbaharui dan harus dikomunikasikan serta disosialisasikan pada karyawan dan pihak yang terkait. baik. Memberi rekomendasi dan pertimbangan kepada ketua program studi mengenai masalah-masalah yang berkaitan dengan K3. 3. maka perlu diidentifikasi penyimpangannya serta dicari pemecahannya. 5. LABTF harus mempertimbangkan peraturan perundang-undangan.1 Tugas Dan Fungsi Organisasi/Unit Pelaksana K3LABTT 1. sasaran pencapaian dan jangka waktu pencapaian. sehingga Selanjutnya memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program. Kalau masih terdapat kekurangan. dan risiko K3 yang bisa diukur. bahaya potensial. Tanggung jawab ini harus ditanamkan melalui adanya aturan yang jelas. 3. satuan atau indikator pengukuran. Pelaksanaan K3 di Laboratoria Teknik Tekstil sangat tergantung dari rasa tanggung jawab manajemen dan petugas terhadap tugas dan kewajiban masing-masing serta kerja sama dalam pelaksanaan K3. Merumuskan kebijakan. sasaran harus ada monitoring. Indikator kinerja.3 Tahap Pengorganisasian. Program Studi Teknik Tekstil . 3.3. disiplin. Untuk mencapai dilaporkan. 4. bimbingan pelaksanaan dapat dan latihan serta penegakan K3 di semua dilaksanakan tempat dengan kerja.ketentuan mengenai K3 lainnya yang berlaku. LABTT harus menetapkan dan melaksanakan program K3LABTT. Tugas pokok: a.

STTT . dan merekomendasikan sesuai kegiatannya. Melaporkan kinerja pelaksanaan K3LABTT kepada KPS LABTT 2. Program Studi Teknik Tekstil . 2.3. d. Koordinasi dengan unit-unit lain yang menjadi anggota K3LABTT. 3. Investigasi dan melaporkan kecelakaan.1 Ketua K3LABTT 1. Membuat program K3LABTT. Fungsi: Memberikan dukungan agar pelaksanaan K3 berjalan berkelanjutan.c.2 Tugas Pokok dan Fungsi Kepala Laboratoria dalam SMK3 LABTT 1. kontrol bahaya. Pengawasan terhadap pelaksanaan program K3.3. b. b. Memberikan saran dan pertimbangan berkaitan dengan tindakan korektif. Fungsi: a. g. mengeluarkan peraturan dan inisiatif pencegahan. Fungsi: a. c. Mensosialisasikan kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan LABTT. c. f. Tugas pokok: a. pelatihan dan penelitian K3 di LABTF. 2. Memimpin dan mengkoordinasikan kegiatan organisasi atau unit pelaksana K3LABTT 47 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Berpartisipasi dalam perencanaan pembelian pembangunan gedung dan prosesnya. 3. peralatan baru. Mengumpulkan dan mengolah seluruh data dan informasi serta permasalahan yang berhubungan dengan K3. Memberi nasehat tentang manajemen K3 di tempat kerja. e. Mengadakan rapat K3 berkala untuk membicarakan perkembangan pelaksanaan K3 dan kejadian-kejadian yang terbaru termasuk umpan balik dan saran penanggulangannya. Tugas pokok: Menetapkan kebijakan K3 di lingkungan LABTF. Membantu KPS mengadakan dan meningkatkan upaya promosi K3. h.2.

4 Model organisasi K3.3. 3.3. Model organisasi K3 ada dua yaitu: 1. Membuat laporan K3. Bertanggung jawab atas kesehatan dan keselamatan kerja semua karyawan.5 Keanggotaan.3. Bentuk organisasi K3 di LABTT merupakan organisasi struktural yang terintegrasi ke dalam komite yang ada di LABTT dan disesuaikan dengan kondisi atau unit masing-masing. yang dibantu oleh unit K3 yang beranggotakan seluruh unit kerja di LABTT.STTT . Tanggung jawab: a. Nama organisasinya adalah unit pelaksana K3LABTT. 2. Keanggoataan dari organisasi K3LABTT adalah: 48 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Program Studi Teknik Tekstil . Fungsi: Memimpin dan mengkoordinasikan tugas-tugas kesekretariatan dan melaksanakan keputusan organisasi atau unit pelaksana K3LABTT. Tugas pokok: a.2. 1. dosen dan mahasiswa serta aset LABTF.2 Sekretaris K3LABTT. 3. 3. Bertanggung jawab atas pelaksanaan K3 di lingkungan LABTF. b. 3. Model 2: merupakan unit organisasi fungsional (non struktural). c. 2. Merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan K3 dan penggunaan APD yang tepat. b.b. d. bertanggung jawab langsung ke KPS. untuk memastikan pelaksanaan kebijakan K3LABTT terlaksana berkelanjutan. Membantu merekomendasikan perubahan kebijakan dan membuat program dan garis penuntun 3. Memantau secara berkala penggunaan APD. Mengidentifikasi potensi bahaya. Model 1: merupakan organisasi yang terstruktur dan bertanggung jawab kepada KPS LABTF. Organisasi K3 berada satu tingkat di bawah KPS dan bukan merupakan kerja rangkap.3 Struktur Organisasi K3LABTT.3.

catatan lama sakit dan perawatan rumah sakit khususnya yang berkaitan dengan akibat kecelakaan kerja. Organisasi atau pelaksana K3LABTT G beranggotakan unsur-unsur dari petugas dan jajaran pengurus LABTT. Pelaksanaan tugas ketua dibantu oleh wakil ketua dan sekretaris serta anggota. sekretaris. 3. Sekretaris organisasi atau unit pelaksana K3LABTT memimpin dan mengkoordinasikan tugas-tugas kesekretariatan dan melaksanakan keputusan organisasi atau unit pelaksana K3LABTT. Sedang sekretaris organisasi atau unit pelaksana K3LABTT adalah seorang tenaga profesional K3 LABTT. 3. 4. Ketua organisasi atau unit pelaksana K3LABTT memimpin dan mengkoordinasikan kegiatan organisasi atau unit pelaksana K3LABTT. Informasi juga dikumpulkan dari hasil monitoring tempat kerja dan lingkungan kerja LABTT terutama yang berkaitan dengan sumber bahaya potensial baik yang berasal dari kondisi berbahaya maupun tindakan berbahaya serta data dari bagian K3 berupa laporan 49 Pedoman Umum K3 Laboratorium. rujukan ke rumah sakit bila perlu pengobatan lanjutan dan lama perawatan serta lama berobat.3. 2. Dari bagian teknik bisa didapat data kerusakan akibat kecelakaan dan biaya perbaikan. tidak hadir tanpa keterangan.6 Mekanisme Kerja. organisasi lain atau melaksanakan tugas-tugas yang diberikan organisasi.1. data K3LABTT mengumpulkan data dan informasi mengenai antara dari bagian pelaksanaan K3 di LABTT. 5. Ketua organisasi atau unit pelaksana K3LABTT sebaiknya adalah salah satu manajemen tertinggi di LABTT atau sekurang-kurangnya manajemen di bawah langsung KPS LABTT. 3. Anggota organisasi atau unit pelaksana K3LABTT mengikuti rapat organisasi atas atau unit pelaksana yang dan K3LABTT dan melakukan serta unit pembahasan melaksanakan pelaksana persoalan pokok diajukan dalam rapat. yaitu ahli K3 atau manajer K3. Organisasi atau unit pelaksana K3 dipimpin oleh ketua. dan anggota. 2.STTT . Untuk dapat tugas fungsinya. Organisasi atau unit pelaksana K3LABTT terdiri dari sekurang-kurangnya ketua. Program Studi Teknik Tekstil . P3K dan tindakan medik karena kecelakaan. 1. Dan sumber yang lain bisa dari tempat pengobatan antara lain jumlah kunjungan. angka kecelakaan. Sumber personalia meliputi angka sakit.

3. Rekomendasi berisi saran tindak lanjut dari organisasi atau unit pelaksana K3LABTT serta alternatif-alternatif pilihan serta perkiraan hasil/konsekuensi setiap pilihan. Hasil rumusan disampaikan dalam bentuk rekomendasi kepada KPS LABTT. f. 2. Pelaksanaan K3 meliputi: 1.5 Pemantauan dan Evaluasi. Data dan informasi dibahas dalam organisasi atau unit pelaksana K3LABTT untuk menemukan penyebab masalah dan merumuskan tindakan korektif maupun tindakan preventif. Pemantauan dan evaluasi meliputi: 50 Pedoman Umum K3 Laboratorium. d. Penyediaan alat pelindung diri dan keselamatan kerja. c.pelaksanaan K3 dan analisanya. h. b. Melaksanakan program K3 sesuai peraturan yang berlaku. diantaranya: a. Melakukan surveilans kesehatan kerja. 3. e.STTT . Pada dasarnya pemantauan dan evaluasi K3 di LABTT adalah salah satu fungsi manajemen K3LABTT yang berupa suatu langkah yang diambil untuk mengetahui dan menilai sampai sejauh mana proses kegiatan K3LABTT itu berjalan dan mempertanyakan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan dari suatu kegiatan K3LABTT dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.4 Pelaksanaan. Menciptakan lingkungan kerja yang higienis secara teratur melalui monitoring lingkungan kerja dari hazard yang ada. Pemeriksaan kesehatan pegawai. Pengobatan pekerja yang menderita sakit. 3. Organisasi atau unit pelaksana K3LABTT membantu melakukan upaya promosi di lingkungan LABTF baik pada pegawai. g. Program Studi Teknik Tekstil . Penyuluhan K3 ke semua pegawai LABTF. Melakukan biological monitoring. Penyiapan pedoman pencegahan dan penanggulangan keadaan darurat. Pelatihan K3 yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dengan perilaku tertentu agar berperilaku sesuai dengan yang telah ditentukan sebelumnya sebagai produk akhir dari pelatihan. Penempatan pekerja pada pekerjaan yang sesuai kondisi kesehatan. mahasiswa maupun dosen yaitu mengenai segala upaya pencegahan KAK dan PAK di LABTF.

Pencatatan dan pelaporan K3 terintegrasi ke dalam sistem pelaporan manajemen LABTT. Menentukan langkah untuk mengendalikan bahaya potensial serta pengembangan mutu. 2. Inspeksi K3 merupakan suatu kegiatan untuk menilai kegiatan K3 secara umum dan tidak terlalu mendalam. Inspeksi dan pengujian. 51 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Pencatatan semua kegiatan K3. c. Pencatatan dan pelaporan PAK. Perbaikan dan pencegahan didasarkan atas hasil temuan dari audit. Melaksanakan audit K3. gangguan kesehatan dan keselamatan. Pencatatan dan pelaporan KAK. terutama oleh petugas K3 sehingga kejadian PAK dan KAK dapat dicegah sedini mungkin. b. Pencatatan dan pelaporan K3. kebijakan dan prosedur. identifikasi. d. karyawan dan pimpinan. evaluasi dan c. karyawan dan program pendidikan.STTT . d. Inspeksi K3 dilakukan secara berkala. pengembangan pengendalian. penilaian risiko dan direkomendasikan peningkatan oleh kepada pihak manajemen puncak.1. b. Program Studi Teknik Tekstil . fasilitas dan peralatan. yang meliputi: a. Tujuan audit K3: a. Audit K3 meliputi falsafah dan tujuan. Untuk menilai potensi bahaya. Kegiatan lain adalah pengujian baik terhadap lingkungan maupun pemeriksaan terhadap pekerja berisiko seperti biological monitoring (pemantauan secara biologis). administrasi dan pengelolaan. Tinjauan ulang manajemen secara berkesinambungan untuk menjamin kesesuaian dan keefektifan dalam pencapaian kebijakan dan tujuan K3. 3. Memastikan dan menilai pengelolaan K3 telah dilaksanakan sesuai ketentuan.

Merupakan lingkungan kewajiban LABTF setiap karyawan. d. b. Program Studi Teknik Tekstil . 2. Beberapa faktor di bawah ini juga harus dijalankan berkaitan dengan kebersihan lingkungan kantor: a. Pelindung mata : kaca mata. dosen dan mahasiswa di untuk memakai alat pelindung diri sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan. Merokok b. Mensosialisasikan mahasiswa. Pelindung tangan : sarung tangan. 3. keperluan minum karyawan. Menyediakan sarana kesehatan kerja. 4. Sarana ruangan obat-obatan dan (kotak P3K) harus tersedia di setiap isinya harus diperbaharui dan dilaksanakan pemeriksaan berkala. disesuaikan dengan tempat dan risiko pekerjaan yang dilakukan. e. c.BAB 4 PENUTUP Hal-hal yang dilakukan dalam pelaksanaan K3LABTT 1. Tempat kerja mempunyai ruang yang cukup lapang dan bebas halangan dari bahaya. dosen dan d. Pakaian pelindung : baju lab.STTT . diperbolehkan menggunakan air mineral dalam kemasan yang telah terjamin kualitas kebersihannya. 52 Pedoman Umum K3 Laboratorium. disesuaikan dengan tempat dan risiko pekerjaan yang dilakukan. Kebersihan adalah dasar dari cara bekerja yang aman dan sehat. Pelindung respirator : masker c. udara dan penerangan harus cukup. Menyediakan alat pelindung diri bagi semua karyawan. Jenis-jenis alat pelindung diri adalah sebagai berikut: a. sehingga semua SDM yang ada dapat melindungi diri dari segala risiko yang mungkin terjadi. Untuk hanya diperkenankan air di suatu bagi tempat yang telah hanya ditentukan. perawatan terhadap AC harus diperhatikan untuk menghindari pertumbuhan kebijakan K3 pada seluruh karyawan. Mensosialisikan penggunaan alat pelindung diri. Ventilasi bakteri.

sisa polimer. spidol. Pelindung telinga : saat bekerja di tempat dengan tingkat kebisingan > 85 db. Mensosialisasikan keadaan darurat pada semua karyawan. kain. 5. 7. Begitu pula dengan bekerja. semua karyawan dapat memahami pentingnya K3 di 8. Pendidikan bahwa dan pelatihan karyawan diperlukan untuk memastikan setiap karyawan mempunyai keahlian yang sesuai dengan pelatihan di bidang K3. Program Studi Teknik Tekstil . Warna merah : untuk sampah yang mengandung bahan berbahaya (tinta foto copy. Sampah harus dibuang dalam tempat sampah yang disediakan serta sesuai dengan kode warna (colour coding) dan sampah makanan hanya boleh dibuang ke dalam tempat sampah makanan dan tidak diperbolehkan berada selama lebih dari 24 jam di tempat sampah.STTT . Menetapkan kebijakan perlindungan lingkungan. kertas. dll). kaca. Perlindungan hutan. c. dll).e. dll). dedaunan. Penghematan sumber daya alam. Warna Kuning : untuk sampah anorganik (plastik. b. diantaranya melalui: a. dosen dan mahasiswa. Membantu menerapkan perlindungan kebijakan hutan di Indonesia dengan cara terhadap penghematan pemakaian kertas dengan menggunakan email dalam aktivitas perkantoran. sisa monomer. tinta printer. Warna Hijau : untuk sampah organik (makanan. 6. mika. 53 Pedoman Umum K3 Laboratorium. Sistem manajemen pengelolaan limbah. Melakukan usaha-usaha penghematan sumber daya dengan cara penghematan terhadap pemakaian listrik dan air. misalnya bahaya kebakaran. diharapkan lingkungan tempat pekerjaannya. Mensosialisasikan petunjuk penggunaan peralatan dalam praktikum. sisa bahan tanam. Mengadakan pelatihan K3.

DAFTAR PUSTAKA Buchori (2007). accessed on Maret 2008. Kesehatan Kerja.id.id.go. Irga (2008).irwanashari. Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Himpunan Peraturan Perundangan Kesehatan Kerja (2004). Program Studi Teknik Tekstil . Modul Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerja (2002). Upaya Kesehatan Kerja Sektor Informal di Indonesia.blogspot. Available from. Available from. Alat Pelindung Diri. Leimena. Erna (2008). http://www. Manajemen Program dan kepemimpinan kesehatan.com. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI.co. CV. Available from.usu. Haji Masagung.L. Jakarta. accessed on 8 Maret 2008. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI. Joko (2007). Buku Pedoman Pelaksanaan Kesehatan. accessed on Maret 2008. PK (1988). dkk (1991).binarasano.id. Introduction to Office Hygiene (Kesehatan dan Keselamatan Maret 2008. http://www.id.co. accessed on 54 Pedoman Umum K3 Laboratorium. USU Repository. Wijono. Tresnaningsih. Yulini.library. Keselamatan Kerja dan Perlindungan Lingkungan. ccessed on Maret 2008.depkes. http://www. CV. Manajemen Kesehatan Kerja dan Alat Pelindung Diri. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Duta Prima Airlangga. Kerja). Setjen Depkes RI. http://www. Available from.STTT .ac. Sumakmur. Emma (2002). http://www.phitagoras. S. Departemen Kesehatan RI. Available from.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful