P. 1
1469-H-2011_kajian Konflik Di Hutan Konservasi_halimun Salak

1469-H-2011_kajian Konflik Di Hutan Konservasi_halimun Salak

|Views: 741|Likes:
Published by EDWARD BOT

More info:

Published by: EDWARD BOT on Oct 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/03/2013

pdf

text

original

Secara umum konflik di TNGHS bersifat vertikal. Konflik ini

melibatkan Negara di satu sisi, yang diwakili oleh Kementerian Kehutanan,

dan masyarakat setempat di sisi lainnya. Sekalipun terdapat nuansa konflik

yang bersifat antar lembaga pemerintah, dalam hal ini misalnya konflik antara

pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Tapi bisa dibilang konflik vertikal

71

inilah yang mewarnai dan mendominasi sebagian besar perselisihan yang

muncul akibat penunjukan kawasan Gunung Halimun Salak sebagai kawasan

pelestarian alam berupa taman nasional.

Bagi Kementerian Kehutanan, kawasan Gunung Halimun Salak

seperti yang sudah diuraikan pada bab sebelumnya, bersifat strategis dalam

rangka konservasi. Keberadaan kawasan ini berfungsi penting untuk menjaga

stabilitas biodiversitas sebagai penyangga ekosistem untuk daerah ibukota

Jakarta dan sekitarnya. Lebih dari itu TNGHS juga berfungsi sebagai tempat

penelitian, pengawetan, rekreasi dan berbagai fungsi lain sebagaimana

dimaksudkan dalam UU tentang konservasi sumber daya alam yang di

dalamnya mencantumkan dan menjabarkan fungsi-fungsi Taman Nasional.

Berdasarkan ini semua Kementerian Kehutanan sangat berkepentingan

mempertahankan kawasan Gunung Halimun Salak sebagai sebuah kesatuan

ekosistem yang dikelola secara integratif di bawah kendali Kementerian.

Di atas sudah disebutkan bahwa secara khusus kepentingan untuk

melakukan konservasi sumber daya alam telah dituangkan dalam UU No

5/1990. Persoalannya implementasi UU ini berjalan tidak sesuai dengan yang

diharapkan, yang menurut penulis menjadi sumber utama terjadinya konflik

vertikal. Pertama-tama, sosialisasi UU No.5/1990 tidak dilakukan secara

optimal oleh kementerian. Ketidakoptimalan ini bisa dimengerti menjadi

sumber penting salah persepsi masyarakat terhadap niat baik pemerintah

melakukan pelestarian sumber daya alam. Masyarakat setempat, sebagai

contoh, dengan mudahnya menangkap maksud kebijakan konservasi dari

72

Kementerian Kehutanan sebagai upaya Negara mengambil hak atas tanahnya

yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupannya.

Situasi ini masih diperparah dengan ketidaksiapan pemerintah

dalam membentuk zonasi dan mensosialisasikannya sesuai dengan yang

diharapkan. Sebetulnya UU tersebut mengatur tentang zonasi kawasan Gunung

Halimun Salak dengan tujuan memaksimalkan tiga fungsi hutan: ekologi,

ekonomi dan sosial. Dengan Zonasi ini masyarakat setempat tidak akan serta

merta direlokasi selama mereka bisa menempati zonasi yang sesuai dan

memenuhi beberapa persyaratan yang memenuhi kaidah konservasi jika ingin

tetap terus berdiam di kawasan tersebut. Kelambatan pemerintah dalam

menentukan dan mensosialisasikan zonasi sesuai termaktub UU No.41/1999

dan UU No.5/1990 justeru dittangkap sepihak sebagai upaya mendorong

relokasi masyarakat setempat. Bisa dimengerti jika sosialisasi ketentuan zonasi

kawasan konservasi yang tidak tepat ini mendapat tentangan dari masyarakat

yang sebetulnya (saat ini) memiliki kemampuan berpikir rasional. Maksudnya,

mereka bisa menerima kebijakan konservasi sumber daya alam di wilayah

huniannya sepanjang kebijakan yang bersangkutan tidak membawa kerugian

ekonomi dan sosial.

Dari sisi masyarakat, kebijakan konservasi sumber daya alam,

apalagi yang menimbulkan konflik, sering dilihat sebagai peluang oleh pihak-

pihak yang diistilahkan Penulis sebagai ‘penunggang gelap’. Kawasan yang

baru dijadikan wilayah konservasi seperti TNGHS kerap diperlakukan sebagai

wilayah tak bertuan yang bisa dipergunakan ‘tanpa aturan’. Kondisi inilah yang

73

mendorong masuknya sejumlah perambah hutan yang justru kebanyakan

berasal dari luar atau daerah sekitar taman nasional. Sebagai contoh di kawasan

Lokapurna, terjadi peningkatan pesat jumlah pendatang dalam tujuh tahun

terakhir bahkan setelah penunjukkan TNGHS.

Ketegangan yang muncul antara Kementerian Kehutanan dan

masyarakat di TNGHS dengan mudahnya tersulut menjadi konflik terbuka.

Sementara beberapa kekeliruan dalam tahap implementasi terus terjadi,

ketegangan vertikal ini membuka jalan bagi masuknya beberapa aktor lain

seperti sejumlah lembaga swadaya masyarakat. Sudah tentu tidak semua LSM

bisa dikategorikan dengan cara yang sama, termasuk diantaranya beberapa

LSM yang memiliki perhatian yang bisa diterima bagi kepentingan konservasi

maupun kepentingan penghidupan masyarakat di wilayah taman nasional.

Namun berdasarkan beberapa temuan yang Penulis peroleh, sebagian besar

LSM, terutama yang lokal, yang terlibat dalam konflik di TNGHS cenderung

memperkeruh suasana. Sebagai contoh, LSM-LSM ini mengetahui peluang

hukum hutan Negara yang bisa diganggu gugat oleh klaim kepemilikan

masyarakat setempat. Sebagian besar LSM lokal mendorong masyarakat untuk

menuntut hak kepemilikan. Tindakan semacam ini bertolak belakang dengan

aktivitas beberapa LSM lain. LSM jenis yang ini melakukan beberapa hal yang

penulis nilai positif bagi proses penyelesaian konflik seperti sosialisasi arti

penting konservasi, menyiapkan masyarakat untuk tidak sepenuhnya

bergantung pada hutan dan peningkatan kapasitas masyarakat agar memiliki

keahlian dan ketrampilan untuk bekerja di sektor-sektor non kehutanan.

74

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->