MEMBACA NYARING

5.1 Pengantar

Membaca nyaring atau membaca bersuara merupakan jenis kompetensi membaca yang menuntut persyaratan yang ketat. Membaca nyaring bukan sekedar menyuarakan huruf. Jika hal ini yang terjadi maka pemahaman akan materi yang dibaca akan gagal diperoleh.

Membaca nyaring atau membaca bersuara merupakan kelanjutan dari membaca permulaan. Pada membaca permulaan tekanan ada pada kelancaran dan ketepatan penyuaraan huruf, pada membaca nyaring atau membaca bersuara difokuskan pada tekanan kata, lagu kalimat atau intonasi, jeda, dan menguasai tanda baca. Keempatnya harus tepat. Jika ketepatan ini diabaikan, maka murid akan mengalami kesulitan pada waktu membaca dalam hati atau membaca intensif. Mereka hanya bisa membaca tetapi sulit menemukan pemahaman yang dikandung dalam bacaan.

Membaca nyaring lebih banyak menuntut penguasaan teknik. Membaca nyaring harus sudah tuntas diberikan di kelas IV sekolah dasar agar di kelas selanjutnya murid tidak mengalami kendala. Jika di kelas IV pembelajaran membaca nyaring tuntas diberikan maka di kelas V dan VI anak akan tumbuh kesukaannya membaca. Mengapa, karena penguasaan membaca teknik akan memberikan kepuasan membaca. Jika tersedia bahan bacaan yang memadahi anak akan gemar membaca atau dapat saja seorang murid menjadi kutu buku. Kekurangan ketersediaan buku bacaan menjadikan anak Indonesia tidak suka membaca, apalagi kutu buku. Penggemar buku saja jarang apalagi kutu buku. Bandingkanlah dengan bangsa lain. Ke mana saja mereka membawa buku dan di bacanya di mana saja. Sekalipun sambil bergelantungan di bus kota mereka sambil membaca. Semoga dengan kemampuan membaca nyaring yang baik dan harga buku murah dapat menjadikan bangsa Indonesia gemar membaca. Bukankah bangsa yang cerdas diukur dari kemampuan keterampilan berbahasa tulis.

Beberapa keuntungan yang dapat dipetik dari kegiatan membaca nyaring yang dilakukan oleh siswa seperti diuraikan di bawah ini.

membaca nyaring untuk anak-anak yang dilakukan setiap hari merupakan sesuatu yang penting untuk mengajar mereka menyimak. sayang tidak semua anak dapat mendapat kesempatan mendapat informasi dari tangan pertama. tekanan kata. semangat membaca. Siapa pun sangat bangga jika mendapatkan informasi dari tangan pertama. pemenggalan frasa. Pendapat yang mirip disampaikan oleh Cox (1999). dan membaca ceritera sepanjang hidupnya. tidak perlu heran jika orang cenderung memburu buku meskipun mungkin informasi buku itu telah didapat dari seseorang. berbicara. membantu perkembangan anak mencintai buku. melalui perkembangan kosa kata. Anak yang sering dibacakan ceritera akan menolak jika didongengi. Pembacaan ceritera yang dilakukan oleh orang tua akan membawa anak dalam perkembangan bahasa yang baik.1) Membaca nyaring memberikan guru suatu cara yang tepat dan valid dalam mengevaluasi kemajuan kemampuan keterampilan membaca dalam intonasi. dan sukses dalam belajar membaca permulaan. 3) Membaca nyaring dipakai untuk latihan berdialog. 4) Membaca nyaring adalah media guru dalam membimbing secara bijak. mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir yang merupakan proses penting dari hasil membaca. Oleh karena itu. bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan penyesuaian diri pada anak yang pemalu. Anak-anak cenderung meniru dan mengikuti jejak orang dewasa. Suatu hal yang sangat penting adalah informasi pertama. Melalui pengalaman ini anak mengembangkan konsep dan berimajinasi. Pemahaman akan isi suatu bacaan merupakan informasi yang diperoleh dari tangan pertama. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rothlein dan Meinbach (1993) menunjukkan bahwa membaca nyaring dapat meningkatkan keterampilan berbahasa lainnya. Di sini anak akan berimajinasi seolah-olah mengalaminya sendiri melalui membaca nyaring. Hal seperti ini juga terjadi pada anak. memerankan pelaku yang terdapat dalam ceritera. dan untuk menemukan kebutuhan pengajaran yang spesifik. pemenggalan kata. Apabila pengalaman dari orang pertama tidak memungkinkan guru dapat membacakan buku tentang pengalaman orang lain. atau menulis. . Ada kebanggaan tersendiri ketika telah membaca buku daripada mendengar ceriteranya dari orang lain. 2) Membaca nyaring memberikan latihan berkomunikasi lisan untuk pembaca dan meningkatkan kemampuan menyimak untuk pendengarnya.

apalagi mengeluarkan suara meskipun perlahan. 2) Mengekspos siswa untuk memperkaya kosa kata. Membaca nyaring adalah kegiatan membaca dengan bersuara dengan memperhatikan struktur kata (kata. Lawan membaca nyaring adalah membaca dalam hati. dan frasa) dan kalimat. . 5) Memberi siswa kesempatan menyimak dan menggunakan daya imajinasinya. intonasi dan jeda. Membaca dalam hati bibir tidak boleh bergerak-gerak. 4) Mengenalkan kepada siswa berbagai aliran sastra. Pembaca nyaring juga dituntut keterampilan penafsiran lambang tulis. kata majemuk. 5. penyusunan kata-kata. Pembaca nyaring juga dituntut keterampilan memahami makna dan perasaan yang terkandung dalam bacaan. Tekanan kata dalam bahasa Indonesia jatuh pada suku kedua dari belakang. serta penekanan sehingga sesuai dengan ujaran nyata dalam kehidupan sehari-hari. Membaca nyaring merupakan aktifitas antara guru dan murid atau pembaca dengan pendengar untuk bersama-sama memahami makna suatu bacaan. dan reading out loud.Gruber (1993) menyampaikan lebih rinci manfaat membaca nyaring untuk anak seperti disampaikan di bawah ini. 3) Memberi siswa informasi baru. Pembaca nyaring harus dapat pula mengelompokkan kata sesuai dengan kelompoknya agar jelas maknanya bagi pendengar. 1) Memberikan contoh proses membaca secara positif. lafal. Jika ini dilakukan maka akan menghambat perkembangan jenis membaca dalam hati. oral reading. Pembaca nyaring juga dituntut memiliki kecepatan mata yang tinggi serta pandangan yang jauh karena di samping membaca juga harus menjaga hubungan harmonis dengan pendengar.2 Hakekat Membaca Nyaring Membaca bersuara menyangkut tiga istilah yakni: reading aloud.

dalam membaca nyaring guru harus memahami proses komunikasi dua arah. Seorang guru di Sarmi mengatakan bahwa dirinya pernah selama tiga tahun mengajar hanya berkutat pada abjad saja. Menyimak pengakuan guru tersebut kita harus mengacungi jempol betapa bertanggungjawabnya Beliau dalam mendidik anak bangsa di Papua ini.Menyimak uraian di atas kegiatan membaca nyaring sangat bermanfaat untuk anak-anak kalau benarbenar dilaksanakan sesuai dengan maksud dan tujuannya. Dari uraian di atas kiranya cukup dijelaskan bahwa keterampilan membaca nyaring adalah suatu keterampilan yang rumit. dan menuntut banyak keterampilan pendukung. Keterampilan membaca nyaring seharusnya telah mantap diberikan di sekolah dasar kelas IV. Oleh karena itu. Kegiatan membaca nyaring akan lebih efektif jika semua murid memiliki buku yang sama. Kegiatan membaca nyaring pertama menuntut pemahaman terhadap rentetan huruf dan pungtuasinya kemudian menyuarakan dengan tepat dan bermakna. Belia sadar benar bahwa sistem bunyi (fonem) bahasa Indonesia berbeda dengan sistem bunyi bahasa Daerah di mana Belia bertugas sehingga latihan ucapan atau bunyi (abjad) sangat ditekankan. Proses komunikasi tidak lengkap kalau pendengar belum memberikan tanggapan terhadap pikiran dan perasaan yang diekspresikan oleh pembaca. Hal ini karena bagi sebagian besar anak Indonesia bahasa Indonesia merupakan bahasa asing. Membaca nyaring juga dapat mengembangkan sejumlah ketrerampilan serta minat. Yakni berbagai buku ceritera dan puisi. kompleks. sehingga selalu ditunggu-tunggu oleh murid. Bagaimana murid dapat mengucapkan bunyi dengar benar. Membaca nyaring bagi sebagian besar anak Indonesia merupakan problem lisan (oral matter). Dalam kegiatan membaca nyaring menyimak tidak dapat dikesampingkan sehingga secara teknis harus benar agar penyimak dapat memahami informasi tulis yang dibaca. Oleh karena itu. tetapi hal ini telah menunjukkan bahwa pendengar telah mengapresiasi. Jika ini dapat terlaksana maka membaca nyaring juga akan menjadi pelajaran seni yang sangat menarik hati murid. kegagalan pelaksanaan membaca nyaring akan merembet pada kegagalam membaca dalam hati. Oleh karena itu. Pelaksanaan pembelajaran membaca nyaring yang baik adalah sebuah pendekatan yang dapat memuaskan serta memenuhi berbagai ragam tujuan membaca. Di dalam kegiatan membaca nyaring terkandung kemampuan yang kompleks yang nantinya akan menjadi bekal dalam membaca dalam hati. Jadi. kegiatan membaca nyaring lebih tepat jika diarahkan pada ucapan (pronunciation) dari pada ke pemahaman. di kelas III dan kelas IV kegiatan membaca harus difokuskan pada membaca nyaring. tetapi beragam. Pada waktu kelas V . Dapat saja taggapan hanya ada di dalam hati..

anak sudah membaca intensif atau membaca dalam hati. Dalam sebuah kalimat kata tidak selamanya berdiri sendiri. Yakni. Dalam kondisi seperti ini. tetapi dengan penekanan tambahan. Tidak boleh dijeda. atau tidak boleh ada perhentian di antaranya.3 Peningkatan Keterampilan Membaca Nyaring Hasil pengamatan terhadap pembaca yang mengalami kesulitan dalam membaca nyaring diperoleh simpulan dalam: tekanan kata. Kata dapat membentuk frasa atau kelompok kata. Padahal seharusnya dengan nada tinggi kemudian menurun. Contoh salah: Rumah / makan Provinsi / Papua Hari / besar musim / kemarau / panjang Kelapa / muda Kabupaten / Pegunungan / Tengah Pembacaan Contoh di atas kata rumah. kelompok kata itu atau kata majemuk harus dibaca dalam satu kesatuan. dan penguasaan tanda baca. televisi. misalnya dengan perasaan. jeda. Banyaknya pembaca nyaring di Papua yang kurang baik. Sehingga kata majemuk dan kelompok kata pada contoh di tidak terdapat jeda di antaranya. 5. termasuk penyiar radio. Kemampuan membacanya masih dalam taraf membaca kata. para pegawai termasuk juga dosen menandakan bahwa pelaksanaan pembelajaran membaca nyaring tidak tepat. Kegagalan pencapaian kopetensi membaca nyaring di kelas III dan kelas IV akan mengakibatkan kegagalan kopetensi membaca dalam hati di kelas V dan VI dan tentunya kelas selanjutnya sampai di perguruan tinggi. Hanya sekali-kali saja kegiatan membaca ini dilakukan. Akibat lebih lanjut dapat ditebak. lagu kalimat atau intonasi. kata dalam kalimat dibaca kata demi kata. lebih-lebih dalam kalimat yang panjang. hari dsb dibaca dengan nada tinggi lalu berhenti menyerupai nada titik. Karena kemampuan ini rendah maka kemampuan membaca dalam hati (studi) pun rendah. Pada contoh musim kemarau panjang .

/n/. / yakni bia. pada kesempatamn yang berbeda. bintang dll.// Mereka / pergi ke suatu tanjung / yang disebut / Tanjung Buyebi Dei Yebi. Kontrol guru ketika murid membaca nyaring harus dilakukan.// Ada beberapa bunyi yang sulit diucapkan oleh penutur BI di Papua.// Untuk melaksanakan niatnya / mereka / menaiki sebuah parahu / yang disebut / Durunbokau. Latihan pemberian jeda ini perlu dilakukan beberapa kali.// Tanjung ini / terkenal / banyak bianya. Bunyi itu adalah /e/ lemah diucapkan /e/ keras. Kekacauan di sini dimaksudkan sebagai kesulitan membedakan antara kata yang berakhir dengan bunyi /h/. Pada suatu hari / tupai dan penyu / merencanakan / mencari makanan / kesukaannya.dan Kabupaten Pegunungan Tengah jeda dapat diberikan antara kata kemarau dan panjang dan antara pegunungan dan tengah. Rumah makan Provinsi Papua Hari besar musim kemarau / panjang Kelapa muda Kabupaten Pegungan / Tengah Agar pembacaan dapat dilakukan dengan benar maka sebelum membaca nyaring murid diberi kesempatan untuk membaca dalam hati dan memberikan tanda baca. sedangkan kata tengah dapat digantikan dengan misalnya timur. /ng/. /ng/ dan yang tidak. Bunyi /k/ lemah akan diucapkan /?/. barat . Pada suku tertentu bunyi bahasa Indonesia: /j/ dilafalkan /y/ . Terjadi kekacauan ucapan /h/ dan nasal /n/. khususnya jeda pada bacaan. Hal ini dimungkinkan karena kata panjang dapat digantikan dengan kata lain misalnya singkat atau tidak ada. Di bawah ini diberikan contoh penandaan dalam sebuah wacana. Hal ini terjadi karena pengaruh bahasa Ibu.

./s/ dilafalkan /t/ /b/ dilafalkan /p/ /t/ dilafalkan /r/ /d/ dilafalkan /r/ /r/ dilafalkan /g/ Di bawah ini disampaikan kopetensi yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran membaca nyaring diambil dari Tarigan (1984).