P. 1
BAB II Distribusi

BAB II Distribusi

|Views: 486|Likes:
Published by Sophie Piyu

More info:

Published by: Sophie Piyu on Oct 26, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/11/2015

pdf

text

original

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1. Peubah Acak
Peubah Acak
1
ialah deskripsi numerik dari suatu percobaan acak.
Sebagaimana diketahui percobaan ialah sembarang proses yang membangkitkan
data (any process that generate data). Percobaan dibagi dua yaitu Percobaan
Deterministik dan Percobaan Acak/Stokastik. Percobaan deterministik ialah
percobaan yang hasilnya dapat dipastikan, jika diulang-ulang hasilnya tepat sama.
Percobaan acak atau stokastik ialah percobaan yang hasilnya tidak dapat dipastikan,
jika diulang-ulang akan memberikan hasil yang berbeda. Kejadian Peluang
termasuk kejadian yang bersifat acak karena didapatkan dari hasil suatu percobaan
yang acak.
Fungsi yang mendefinisikan titik-titik contoh dalam ruang contoh sehingga
memiliki nilai berupa bilangan nyata disebut : peubah acak = variabel acak =
random variable (beberapa buku juga menyebutnya sebagai stochastic variable ).
Biasanya peubah acak dinotasikan sebagai X (X kapital) sedangkan nilai dalam X
dinyatakan sebagai x (huruf kecil x). contohnya pelemparan sekeping mata uang
setimbang sebanyak 3 Kali
S : {GGG, GGA, GAG, AGG, GAA, AGA, AAG, AAA}
dimana G = gambar dan A = angka
X: setiap satu sisi gambar bernilai satu (G = 1)
S : {GGG, GGA, GAG, AGG, GAA, AGA, AAG, AAA}
↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ ↓
3 2 2 2 1 1 1 0
Perhatikan bahwa X{0,1,2,3}
Nilai x
1
= 0, x
2
= 1 x
3
= 2, x
4
= 3
Peubah Acak dapat dikategorikan menjadi
1. Peubah Acak Diskrit
1
http://www.ilmustatistik.com/2008/11/17/peubah-acak-dan-fungsi peluang/#more-
190
Peubah acak diskrit nilainya berupa bilangan cacah, dapat dihitung dan
terhingga. Digunakan untuk hal-hal yang dapat dicacah
Misal : Banyaknya Produk yang rusak = 12 buah
Banyak pegawai yang di-PHK = 5 orang
2. Peubah Acak Kontinu
Peubah acak kontinu nilainya berupa selang bilangan, tidak dapat di hitung
dan tidak terhingga (memungkinkan pernyataan dalam bilangan pecahan)
digunakan untuk hal-hal yang diukur (jarak, waktu, berat, volume)
Misalnya Jarak Pabrik ke Pasar = 35.57 km
Waktu produksi per unit = 15.07 menit
Berat bersih produk = 209.69 gram
Volume kemasan = 100.00 cc
2.2. Distribusi Peluang Diskrit
2.2.1. Distribusi Seragam
2
Di antara semua sebaran peluang diskrit, yang paling sederhana adalah
sebaran sebaran diskrit. Dalam sebaran ini, setiap nilai peubah acak mempunyai
peluang terjadi yang sama.
Bila peubah acak X mempunyai nilai-nilai X
1
, X
2
, X
3
, …, X
k
, dengan
peluang yang sama, maka sebaran seragam diskrit dtentukan oleh :
F (x;k) =
k
1
, untuk x = x
1
, x
2
, …, x
k
Penggunaan notasi f (x;k) sebagai pengganti f (x) untuk menunjukkan bahwa
sebaran seragam itu bergantung pada parameter k.
Misalnya, jika sebuah dadu dilempar, maka setiap elemen dari ruang
sampelnya S = {1, 2, 3, 4, 5, 6} terjadi dengan peluang yang untuk muncul yaitu
1/6, sehingga kita mempunyai distribusi uniform: f(x; 6) =1/6; x = 1; 2; 3; 4; 5; 6.
Dengan demikian, histogram contoh tersebut dapat digambarkan seperti berikut.
22
Walpole, Ronald E. Pengantar Statistika (Jakarta: Gramedia, 1997), hal. 152.
Gambar 2.8. Histogram dari Pelemparan Dadu
Sumber: Walpole, Ronald E. Pengantar Statistika (Jakarta: Gramedia, 1997), hal. 152.
2.2.2. Distribusi Binomial
3
Suatu percobaan sering kali terdiri atas ulangan-ulangan, dan masing-
masing mempunyai kemungkinan hasil yang dapat diberi nama berhasil atau gagal.
Misalkan saja dalam pelemparan sekeping uang logam sebanyak 5 kali, hasil setiap
ulangan mungkin muncul sisi gambar atau sisi angka, kita dapat menentukan salah
satu di antara keduanya sebagai “berhasil”. Begitu pula, bila 5 kartu diambil
berturut-turut kita dapat memberi label “berhasil” bila yang terambil adalah kartu
merah atau “gagal” bila yang terambil adalah kartu hitam. Bila setiap kartu
dikembalikan sebelum pengambilan berikutnya, maka kedua percobaan yang
disebutkan di atas mempunyai ciri-ciri yang sama yaitu bahwa ulangan-ulangan
tersebut bersifat bebas dan peluang keberhasilan setiap ulangan tetap sama yaitu
sebesar 1/2. Percobaan semacam ini dinamakan percobaan binom.
Distribusi binomial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Percobaan terdiri atas n ulangan.
2. Dalam setiap ulangan, hasilnya dapat digolongkan sebagai berhasil atau
gagal.
3. Peluang berhasil, yang dilambangkan dengan p, untuk setiap ulangan
adalah sama, tidak berubah-ubah.
4. Ulangan-ulangan itu bersifat bebas satu sama lain.
33
Walpole, Ronald E. Pengantar Statistika (Jakarta: Gramedia, 1997), hal. 153.
Peubah X yang menyatakan banyaknya keberhasilan dalam n ulangan suatu
percobaan binom disebut peubah acak binom. Sebagai peluang bagi peubah acak
diskrit disebut sebaran binom, dan nilai-nilainya akan dilambangkan dengan b (x; n,
p), karena nilai-nilai ini bergantung pada banyaknya ulangan dan peluang
keberhasilan pada suatu ulangan.
Suatu percobaan sering kali terdiri dari ulangan-ulangan, masing-masing
mempunyai dua kemungkinan hasil yang dapat diberi nama berhasil atau gagal.
Bila suatu ulangan binom mempunyai peluang keberhasilan p dan peluang
kegagalan q = 1-p, maka sebaran peluang bagi peubah acak binom X, yaitu
banyaknya keberhasilan dalam n ulangan yang bebas adalah:
b (x; n, p) =
( )
x n x n
x
q p

Sebaran binom mendapatkan namanya dari kenyataan bahwa ke-(n+1) suku
dalam penguraian binom (q+p)
n
ternyata merupakan berbagai nilai dari
b(x; n, p) untuk x = 0, 1, 2, …, n. Perhatikan bahwa :
(q + p)n = b (0; n, p) + b (1; n, p) + b (2; n, p) + … + b (n; n, p)
Karena p + q = 1, maka kita peroleh

·
n
x
p n x b
0
) , ; (
= 1, suatu syarat yang harus
berlaku untuk sebaran peluang apapun.
Bila setiap peluang menghasilkan salah satu dari k hasil percobaan E1, E2,
…, Ek, dengan peluang p1, p2, …, pk, maka sebaran peluang bagi peubah acak X1,
X2, …, Xk, yang menyatakan berapa kali E1, E2, …, Ek terjadi dalam n ulangan
yang bebas, adalah :
F (x1, x2, …, xk; p1, p2, …, pk, n ) =
xk x x
pk p p
xk x x x
n
... 2 1 )
) ,..., 3 , 2 , 1
(
2 1
dengan

·
k
i
Xi
1
= n dan

·
k
i
Pi
1
= 1
Sebaran multinom mendapatkan namanya dari kenyataan bahwa suku-suku
penguraian multinom (P1 + P2 + … + Pk)n berpadanan dengan semua
kemungkinan nilai f (X1, X2, …, Xk; P1, P2, …, Pk, n ).
Gambar 2.9. Grafik Binomial
Sumber: www.boost.org
2.2.3. Distribusi Hipergeometrik
4
Jika peluang terambilnya x keberhasilan dari k benda yang diberi label
“berhasil” dan n-x kegagalan dari N-k benda yang diberi label “gagal”, bila suatu
contoh berukuran n diambil dari sebuah populasi terhingga beukuran N. percobaan
ini dikenal sebagai percobaan hipergeometrik.
Percobaan hipergeometrik bercirikan dua sifat berikut:
1. Suatu contoh acak berukuran n diambil dari populasi yang berukuran N.
2. K dari N benda yang diklasifikasikan sebagai berhasil dan N – k benda
diklasifikasikan sebagai gagal.
Banyaknya keberhasilan X dalam suatu percobaan hipergeometrik disebut
peubah acak hipergeometrik. Dengan demikian, sebaran peluang bagi peubah acak
hipergeometrik disebut sebaran hipergeometrik dan nilai-nilainya dilambangkan
dengan h (x; N, n, k), karena nilai-nilai itu bergantung pada banyaknya keberhasilan
k di antara n benda yang diambil dari populasi N benda.
Bila dalam populasi N benda, k benda di antaranya diberi label “berhasil”
dan N – k benda lainnya diberi label “gagal”, maka sebaran peluang bagi peubah
44
Walpole, Ronald E dan Raymond Meyers. Ilmu Peluang dan Statistika untuk
Insinyur dan Ilmuwan (Bandung: Penerbit ITB, 1986), hal. 99.
acak hipergeometrik X, yang menyatakan banyaknya keberhasilan dalam contoh
acak berukuran n, adalah :
h (x; N, n, k)=
) (
) )( (
(
n
N
x n
k N
x
k


, untuk x = 0,1,2,….,k
Gambar 2.10. Grafik Hipergeometrik
Sumber: zoonek2.free.fr
2.2.4. Distribusi Binom Negatif
5
Percobaan pada distribusi ini mempunyai ciri yang sama dengan percobaan
binom, kecuali jika ulangan diulang terus sampai terjadi sejumlah tertentu
keberhasilan. Jadi, alih-alih menentukan peluang x keberhasilan alam n ulangan,
dengan n telah ditetapkan lebih dulu, sedangkan dengan peluang bahwa
keberhasilan ke-k terjadi pada ulangan ke-x. Percobaan semacam ini disebut sebagai
percobaan binom negatif.
Distribusi binom negatif adalah jika ulangan yang bebas dan berulang-
ulang dapat menghasilkan keberhasilan dengan peluan p dan kegagalan dengan
peluang q = 1- p, maka sebaran peluang bagi peubah acak X, yaitu banyaknya
ulangan sampai terjadinya k keberhasilan, diberikan menurut rumus:
5
Walpole, Ronald E. Pengantar Statistika (Jakarta: Gramedia, 1997), hal. 170.
b* (x; k,p) =
k x k
q p
k
x



)
1
1
(
untuk x = k, k + 1, k + 2,…
Sebaran binom negatif memperoleh namanya dari kenyataan bahwa setiap
suku dalam penguraian p
k
(1 – p)
x-k
berpadanan dengan nilai-nilai b* (x; k,p) untuk x
= k, k + 1, k + 2,…
Gambar 2.11. Grafik Binom Negatif
Sumber: zoonek2.free.fr
2.2.5. Distribusi Geometrik
6
Distribusi geometrik adalah jika tindakan yang bebas dan berulang- ulang
dapat menghasilkan keberhasilan dengan peluang p dan kegagalan dengan peluang
q = 1 – p, maka sebaran peluang bagi peubah acak X, yaitu banyaknya ulangan
sampai munculnya keberhasilan yang pertama, diberikan menurut rumus:
g(x;p) = pq
x-1
, untuk x = 1, 2, 3,...
6
Walpole, Ronald E. Pengantar Statistika (Jakarta: Gramedia, 1997), hal. 172.
Gambar 2.12. Grafik Geometrik
Sumber: zoonek2.free.fr
2.2.6. Distribusi Poisson
7
Percobaan yang menghasilkan nilai-nilai bagi suatu peubah acak X, yaitu
banyaknya hasil percobaan yang terjadi selama suatu selang waktu tertentu, disebut
percobaan Poisson. Selang waktu tersebut dapat berapa saja panjangnya, misalnya
semenit, sehari, seminggu, sebulan atau bahkan setahun. Dengan demikian
percobaan Poisson dapat saja membangkitkan pengamatan-pengamatan bagi
peubah acak X yang menyatakan banyaknya dering telepon di suatu kantor,jumlah
hari sekolah ditutup karena turunnya salju di musim dingin atau banyaknya
pertandingan yang tertunda karena hujan selaa suatu musim kompetisi sepakbola
dll.
Percobaan Poisson memiliki cirri-ciri sebagai berikut:
1. Banyaknya hasil percobaan yang terjadi dalam suatu selang waktu atau
suatu daerah tertentu, tidak tergantung pada banyaknya hasil percobaan yang
terjadi pada selang waktu atau daerah lain yang terpisah.
2. Peluang terjadinya satu hasil percobaan selama suatu selang waktu yang
singkat sekali atau dalam suatu daerah yang kecil, sebanding dengan panjang
selang waktu tersebut atau besarnya daerah tersebut, dan tidak bergantung pada
banyaknya hasil percobaan yang terjadi diluar selang waktu atau daerah
tersebut.
7
Walpole, Ronald E dan Raymond Meyers. Ilmu Peluang dan Statistika untuk
Insinyur dan Ilmuwan (Bandung: Penerbit ITB, 1986), hal. 107.
3. Peluang bahwa lebih dari satu hasil percobaan akan terjadi dalam selang
waktu yang singkat tersebut atau dalam daerah yang kecil tersebut, dapat
diabaikan.
Bilangan X yang menyatakan banyaknya hasil percobaan dalam suatu
percobaan Poisson disebut peubah acak Poisson dan sebaran peluangnya disebut
sebaran Poisson diberikan menurut rumus:
!
) ; (
x
e
x p
x
µ
µ
µ −
· , untuk x = 0,1,2,......
Gambar 2.13. Grafik Poisson
Sumber: zoonek2.free.fr
2.3. Distribusi Peluang Kontiniu
2.3.1. Distribusi Normal
8
Distribusi normal, disebut pula distribusi Gauss, adalah distribusi
probabilitas yang paling banyak digunakan dalam berbagai analisis statistika.
Distribusi normal baku adalah distribusi normal yang memiliki rata-rata nol dan
simpangan baku satu. Distribusi ini juga dijuluki kurva lonceng (bell curve) karena
grafik fungsi kepekatan probabilitasnya mirip dengan bentuk lonceng.
8
Walpole, Ronald E. Pengantar Statistika (Jakarta: Gramedia, 1997), hal. 180.
Distribusi normal banyak digunakan dalam berbagai bidang statistika,
misalnya distribusi sampling rata-rata akan mendekati normal, meski distribusi
populasi yang diambil tidak berdistribusi normal. Distribusi normal juga banyak
digunakan dalam berbagai distribusi dalam statistika, dan kebanyakan pengujian
hipotesis mengasumsikan normalitas suatu data.
Jika X adalah peubah acak normal dengan nilai tengah μ dan ragam σ
2
,
maka persamaan dari kurva normal adalah:
σ
π σ
σ
) (
2
1
) , ; (
2 / 1 2
u x
e u x n

·

Jika suatu peubah acak X menyebar secara normal dengan μx=0 dan σ
2
x
=1,
maka peubah acak tersebut dinamakan peubah acak normal baku serta diberi
lambang Z. Sebaran dari peubah acak Z ini disebut sebaran normal baku, dengan
fungsi peluangnya:
2
2 / 1
2
1
) 1 , 0 ; (
z
e x n

·
π σ
Dengan peubah acak normal baku Z didefinisikan sebagai berikut:
σ
µ −
·
X
z
Ada empat alasan mengapa distribusi normal menjadi distribusi yang paling
penting:
1. Distribusi normal terjadi secara alamiah. Seperti diuraikan sebelumnya banyak
peristiwa di dunia nyata yang terdistribusi secara normal.
2. Beberapa variabel acak yang itdak berdistribusi secara normal dapat dengan
mudah ditransformasi menjadi suatu distribusi variabel acak yang normal.
3. Banyak hasil dan teknik analisis yang berguna dalam pekerjaan statistic yang bisa
berfungsi dengan benar jika model distribusinya merupakan distribusi normal.
Ada beberapa variabel acak yang tidak menunjukkan distribusi normal pada
populasinya, namun distribusi dari rata-rata sampel yang diambil secara random
dari populasi tersebut ternyata menunjukkan distribusi normal.
Untuk menghitung probabilitas P(a ≤ x ≤ b) dari suatu variabel acak
kontiniu X yang berdistribusi secara normal dengan parameter μx dan σx maka
harus diintegral mulai dari x = a sampai x = b. Namun tidak ada satupun dari
teknik-teknik pengintegralan biasa yang bisa digunakan untuk menentukan integral
tersebut. Untuk itu para ahli statistic/matematik telah membuat sebuah
penyederhanaan dengan memperkenalkan sebuah fungsi kepadatan probabilitas
normal khusus dengan nilai mean (μx) = 0 dan deviasi standard (σx) = 1. Distribusi
khusus ini dikenal sebagai distribusi normal standard (standard normal
distribution). Variabel acak dari distribusi normal standard ini biasanya dinotasikan
dengan Z.
Dengan menerapkan ketentuan di atas, maka fungsi kepadatan probabilitas
dari distribusi normal standard variabel acak kontiniu Z adalah
2
2
.
2
1
) 1 , 0 ; (
z
N
e z f

·
π
∞ ≤ ≤ ∞ − x
Sedangkan fungsi distribusi kumulatif (cdf) dari distribusi normal standard
ini dinyatakan sebaga:
dt e z z z P z f
t z
N
2
2
.
2
1
) ( ) ( ) 1 , 0 ; (

∞ −

· ≤ ·
π
φ
Bentuk kurva fungsi kepadatan probabilitas dan fungsi distribusi kumulatif
normal standard ditunjukkan oleh Gambar 2.14.
Gambar 2.14. Distribusi Normal
Sumber: www.wikipedia.org
2.3.2. Distribusi T
9
Di dalam suatu sebaran, bila n≥ 30, maka nilai-nilai
) / (
) (
n s
x µ −
masih
menyebar menghampiri sebaran normal baku. Namun bila ukuran contohnya n<30,
maka nilai s
2
berfluktuasi cukup besar dari satu contoh ke contoh lainnya dan
sebaran
) / (
) (
n s
x µ −
tidak lagi normal baku. Bila demikian halnya, kita sesungguhnya
berhadapan dengan sebaran suatu statistik yang disebut T yang nilai-nilainya yaitu:
n s
x
t
/
µ −
·
Sebaran t menyerupai sebaran z, dalam hal keduanya setangkup di sekitar
nilai tengah nol. Kedua sebaran tersebut berbentuk genta namun, sebaran t lebih
bervariasi, berdasarkan kenyataan bahwa nilai t bergantung pada fluktuasi dua
besaran yaitu x dan s
2
, sedangkan nilai z bergantung pada perubahan x dari satu
contoh ke contoh lainnya. Sebaran bagi t berbeda dengan sebaran bagi z dalam hal
ragamnya bergantung pada ukuran contoh n dan selalu lebih besar dari 1. Hanya
bila ukuran contoh
∞ → n
kedua sebaran itu menjadi sama.
9
Walpole, Ronald E dan Raymond Meyers. Ilmu Peluang dan Statistika untuk
Insinyur dan Ilmuwan (Bandung: Penerbit ITB, 1986), hal. 187.
Gambar 2.15. Distribusi T
Sumber: geodesy.gd.itb.ac.id
2.3.3. Distribusi F
10
Uji F adalah pengujian hipotesis mengenai perbandingan antara frekuensi
observasi yang benar-benar terjadi/aktual dengan frekuensi harapan/ekspektasi.
Selain itu, distribusi F juga memperbandingkan dua variance, uji harga rata-rata
tidak mencukupi (deviasinya sangat besar, sehingga nilai rata-rata sulit dijadikan
ukuran) oleh karena itu digunakan uji variance yang mengikuti distribusi F. Fungsi
distribusi f yaitu:
) , (
2 1
v v f
α
dan
) , (
1
) , (
1 2
2 1 1
v v f
v v f
α
α
·

Bila S
2
1
dan S
2
2
adalah ragam dua contoh acak bebas berukuran n1 dan n2 yang
ditarik dari populasi normal dengan ragam σ
2
1
dan σ
2
2
maka:
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
2
s
s
s
s
F
σ
σ
σ
σ
· ·
Gambar 2.16. Distribusi F
Sumber: geodesy.gd.itb.ac.id
2.3.4. Distribusi Chi-Kuadrat
11
10
Walpole, Ronald E. Pengantar Statistika (Jakarta: Gramedia, 1997), hal. 273.
11
Walpole, Ronald E. Pengantar Statistika (Jakarta: Gramedia, 1997), hal. 268.
Uji chi kuadrat atau chi-square antara frekuensi yang teramati dengan
frekuensi harapan yang didasarkan pada besaran yang terjadi. Fungsi distribusi chi
kuadrat diberikan sebagai berikut:
χ
2
=
2
2
) 1 (
σ
s n −

·
·
m
i
i
x Z
1
2
Z adalah chi-square dengan variabel acak m derajat kebebasan.Ada dua
jenis chi-square distribusi. Yang pertama adalah saat yang diperoleh X
2
memiliki
nol berarti dan dinamakan pusat distribusi chi-square. Yang kedua adalah yang
diperoleh ketika X
2
yang tidak nol berarti disebut non-pusat distribusi chi-square.
Contoh yang paling sederhana dari chi square adalah variabel acak
2
X Z ·
dimana X adalah Gaussian random variable dengan zero mean dan variance .
PDF yang X adalah
2
2
2
2
2
1
) (
σ
χ
πσ

· e x p
Dengan definisi, maka fungsi distribusi kumulatif dari Z adalah
) ( ) ( ) (
2
z X P z Z P z Fz ≤ · ≤ ·
( ) z X P ≤ ·
Sederhanakan ini ke
) ( ) ( ) ( z Fx z Fx z Fz − − ·
Uji chi-square acak variabel dengan satu derajat kebebasan adalah
2
2
2
2
1
) (
σ
σ π
z
e
z
z Pz

·
Chi- square random variabel dengan 2 derajat kebebasan ini diberikan sebagai
berikut:
2 2
Y X Z + ·
,
Dimana, X dan Y independen adalah variabel acak Gaussian dengan mean nol dan
varians
2
σ . Dalam nilai pada variabel random Rayleightelah ditunjukkan variabel
acak A, di mana
2 2
Y X A + ·
yaitu:
0 , ) (
2
2
2
2
≥ ·

α
α
α
α
α
a
e PA
Sehingga dilakukan analisa menjadi:
2
A Z ·
Diferensiasi dua sisi menjadi:
ada dz 2 ·
Maka uji chi square acak variabel dengan dua derajat kebebasan adalah:
0 ,
2
1
) (
2
2
2
≥ ·

z e z P
z
Z
σ
σ
Probabilitas fungsi kepadatan:
0 ,
2
2
1
) (
2
2
1 2 /
2 /

,
_

¸
¸
Γ
·


z z
m
z Pz
z
e
m
m m
σ
σ
Dimana gamma yang berfungsi
) ( p Γ
didefinisikan sebagai berikut:


− −
≥ · Γ
0
1
0 , ) ( p dt e t p
t p
’,
)! 1 ( ) ( − · Γ p p
sebuah integer> 0
π · Γ ) 2 / 1 (
π
2
1
) 2 / 3 ( · Γ .
Gambar 2.17. Distribusi Chi-Kuadrat
Sumber: geodesy.gd.itb.ac.id
2.3.5. Distribusi Weilbull
12
Distribusi Weibull (Waloddi Weibull, Swedish, 1939) banyak digunakan
dalam analisis keandalan yang barkaitan dengan umur (rentang waktu), contohnya
rentang waktu dimana sebuah peralatan mungkin akan rusak (tidak berfungsi).
Variabel random kontinu T berdistribusi. Distribusi Weibull sering digunakan untuk
memodelkan waktu hingga terjadi kegagalan teknis dari suatu alat.
Dalam aplikasinya, distribusi ini sering digunakan untuk memodelkan
“waktu sampai kegagalan (time to failure)” dari suatu sistem fisika. Ilustrasi yang
khas, misalnya yaitu pada sistem di mana jumlah kegagalan meningkat dengan
berjalannya waktu (misalnya keausan bantalan), berkurangnya dengan berjalannya
waktu (misalnya daya hantar beberapa semikonduktor) atau kegagalan yang terjadi
oleh suatu kejutan (shock) pada sistem.
Jika sebuah variabel acak kontiniu X memiliki distribusi Weibull dengan
parameter bentuk α dan faktor skala β, di mana α > 0 dan β > 0, maka fungsi
kepadatan probabilitas dari X adalah :
0 yang lain
Fungsi di atas mudah untuk diintegralkan, sehingga diperoleh fungsi
distribusi kumulatif Weibull.
12
Herinaldi. Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains (Jakarta: Penerbit
Erlangga, 1997), hal 106.
( ) · β α, ; x F
w
( )
α
α β
β
α
x
e x
a

−1
0 ≥ x
( ) ( )
α
β
α
β α
α
β
α
β α
t t
- -
1
0
e - 1 dt e ) ( ) , ; ( · ⋅ · ≤ ·


t x X P x F
x
w
Tanpa pembuktian secara matematik, berikut ini diberikan rumusan
beberapa uuran statistik deskriptif untuk distribusi Weibull.
1. Mean (Nilai Harapan) :
2. Varians :
3. Kemencengan (skewness) :
4. Keruncingan (kurtosis) :
Gambar 2.18. Distribusi Weibull
Sumber: www.weibull.com
2.3.6. Distribusi Lognormal
13
Distribusi lognormal adalah probabilitas dengan satu ujung pada variabel
acak dimana data berdistribusi mendekati distibusi normal. Jika X adalah variabel
acak dengan distribusi normal kemudian Y = exp(x) merupakan distribusi
lognormal. Untuk y jika berdistribusi lognormal, maka log Y akan berdistribusi
normal. Fungsi kepadatan probabilitas dari sebuah variabel acak yang memenuhi
distribusi lognormal jika ln(X) erdistribusi normal dengan parameter µ dan σ
adalah:
lain yang
x e
t
x f
x
0
0
2
1
) , ; (
) 2 /( ] ) [ln(
ln
2

¹
¹
¹
'
¹
·
− − σ µ
σ π
α µ
13
Herinaldi. Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains (Jakarta: Penerbit
Erlangga, 1997), hal 108.
( ) ( ) [ ] { }
2
1 2
2 2
1 1
α α
β σ + Γ − + Γ · ·
x
( ) ( ) ( ) ( ) [ ] { }
2
3
3 2 1 3
3
2 1
1 2 1 1 3 1
α α α α
α β + Γ + + Γ + Γ − + Γ · ·
( )
α
β µ
1
1 ) ( + Γ · · X E
x
( ) ( ) ( ) ( ) [ ] { }
2
1 3 1 4
4 2
1 6 1 1 4 1
α α α α
α β + Γ + + Γ + Γ − + Γ · ·
( ) ( ) [ ] { }
4
1 2
1 3 1
α α
+ Γ − + Γ
Sedangkan fungsi distribusi kumulatif lognormalnya adalah:
dt e
t
x X P x F
x
x
) 2 /( ] ) [ln(
0
ln
2
2
1
) ( ) , ; (
σ µ
σ π
α µ
− −

· ≤ ·
µ dan σ adalah mean dan satndar deviasi dari ln(X) dan bukan dari X.
Karena ln(X) memiliki sebuah distribusi normal, maka fungsi distribus kumulatif
dari X dapat dinyatakan dengan menggunakan fungsi distribusi kumulatif normal
standar F(z), dengan transformasi sebagai berikut:

,
_

¸
¸

Φ ·

,
_

¸
¸

≤ ·
≤ · ≤ ·
σ
µ
σ
µ
α µ
) ln( ) ) ln(
)] ln( ) [ln( ) ( ) , ; (
ln
x x
Z P
x X P x X P x F
Tanpa pembuktian secara matematik, berikut ini diberikan rumusan
beberapa ururan statistik deskriptif untuk distribusi lognormal.
1. Mean (Nilai Harapan) :
2. Varians :
3. Kemencengan (skewness) :
4. Keruncingan (kurtosis) :
Gambar 2.19. Distribusi Distribusi Lognormal
Sumber: upload.wikimedia.org
( )( ) 1
2 2
2 2
− ·
+ σ σ µ
σ e e
x
( ) ( ) [ ]
2
2
3 1
1 1
2 2
+ − · ·
σ σ
α β e e

,
_

¸
¸
+
· ·
2
2
) (
σ
µ
µ e X E
x
( )( ) 3 6 6 3 3 1
2 2 2 2
2 3
4 2
+ + + + − · ·
σ σ σ σ
α β e e e
2.3.7. Distribusi Gamma
14
Distribusi Gamma adalah distribusi fungsi padat yang terkenal luas dalam
bidang matematika. Fungsi gamma didefinisikan oleh ∫ untuk α > 0. Dengan
memvariasikan nilai kedua parameter, yaitu shape parameter β dan scale
parameter α maka ada banyak jenis sebaran data yang dapat diwakili oleh distribusi
Gamma. Untuk eksperimen probabilitas yang hasilnya menunujukkan suatu bentuk
distribusi yang mempunyai variasi ukuran kemencengan yang cukup signifikan,
distribusi gamma merupakan salah satu alternatif model yang banyak digunakan.
Didefinisikan untuk α > 0, fungsi gamma Γ(α) adalah:


− −
· Γ
0
1
) ( dx e x
x α
α
Sifat-sifat penting fungsi gamma adalah:
1. Untuk sebuah bilangan bulat positif n, Γ(n) = (n – 1)!
2. didefinisikan :
π ·

,
_

¸
¸
Γ
2
1
3. Untuk setiap α > 1 berlaku Γ(α) = (α - 1). Γ(α - 1)
Sebuah variabel acak kontinu X dikatakan memiliki distribusi gamma
dengan parameter bentuk α dan parameter skala β dimana α > 0 dan β > 0 jika
fungsi kepadatan probabilitas dari X adalah:
lain yang
x e x x f
x
G
0
0
) (
1
) , ; (
1

¹
'
¹
Γ
·
− β α
α
α β
β α
Sedangkan fungsi distribusi kumulatif gamma adalah:
dt e t x X P x F
x
x
G


Γ
· ≤ ·
0
1
) (
1
) ( ) , ; (
β α
α
α β
β α
14
Herinaldi. Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains (Jakarta: Penerbit
Erlangga, 1997), hal 100.
Gambar 2.13. Grafik Distribusi Gamma
2.3.8. Distribusi Eksponensial
15
Distibusi eksponensial digunakan pada saat menghitung peristiwa sambil
menunggu (kata kuncinya: waktu). Distribusi Eksponensial memiliki tipe data
kontinu. Sebagai contoh dari distribusi eksponensial adalah berapa selang waktu
antar mobil yang lewat di pintu tol. Fungsi dari distribusi eksponensial dapat dilihat
sebagai berikut:
¹
;
¹
¹
'
¹
<

·

0 , 0
0 ,
) (
t
t e
t f
t λ
λ
Dimana 0 · λ yang merupakan parameter sebaran.
Fungsi kumulatif distribusi diberikan sebagai berikut:
t
e x F
λ
− ·1 ) (


− · ·
t
t t
e dt e t Q
0
1 ) (
λ λ
λ dan



· · − ·
t
t t
e dt e t Q t R
λ λ
λ ) ( 1 ) (
15
Herinaldi. Prinsip-prinsip Statistik untuk Teknik dan Sains (Jakarta: Penerbit
Erlangga, 1997), hal 102.
Gambar 2.21. Distribusi Eksponensial
Sumber: upload.wikimedia.org
2.4. Teori Pengujian Distribusi dengan Metode Chi-Square
16
Untuk peubah acak kontinu z (z ≥ 0):
( )
2
2
2
σ
χ
s i n −
·
n = 1, 2, ... = derajat kebebasan
Gambar 2.22. Gambar Grafik Metode Chi-Square
Sumber: www.andrews.edu
Selain itu, terdapat uji kesesuaian dengan chi-square yang digunakan pada
uji frekuensi kejadian dari suatu eksperimen atau pengamatan. Tabel observasi
pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2.1.
16
Siregar, Syafaruddin. Statistik Terapan (Jakarta: Grasindo, 2004), hal 175.
Tabel 2.1. Data Observasi
Kategori A
1
A
2
... A
3
Observasi (O
i
) O
1
O
2
... O
3
Diharapkan (E
i
) E
1
E
2
...
Nilai statistik χ
2
pada tabel

tersebut adalah:
( )


·
i
i i
E
E O
2
2
χ
Atau
n
E
O
i
i
− ·

2
2
χ
Langkah-langkah dalam metode ini adalah sebagai berikut :
1. Tentukan Ho (Hipotesa nol/awal)
2. Tentukan Hi (Hipotesa alternatif)
3. Tentukan taraf signifikan (α)
4. Tentukan wilayah kritik dengan nilai z yang diperoleh dari nilai α
5. Lakukan perhitungan z dan tentukan wilayah jatuhnya nilai z hitung.
6. Tarik kesimpulan dan buat keputusan dengan ketentuan Tolak Ho jika nilai
z yang dihitung berada dalam wilayah kritik sedangkan Terima Ho jika nilai z
yang dihitung berada di luar wilayah kritik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->