P. 1
Ampisilin

Ampisilin

|Views: 1,763|Likes:
Published by Ekrar Okto Viar

More info:

Published by: Ekrar Okto Viar on Oct 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2013

pdf

text

original

Ampisilin Deskripsi - Nama & Struktur Kimia - Sifat Fisikokimia Asam (2S,5R,6R)-6-[(R)-2-amino-2-fenilacetamido]-3-3-dimetil-7: okso- 4-tia-1-azabisiklo[3,2,0]-heptana

-2-karboksilat [69-53-4] (Trihidrat [7177-48-2]). C16H19N3O4S Ampisilin berbentuk anhidrat atau trihidrat mengandung tidak kurang dari 900 µg tiap milligram C16H19N3O4S dihitung terhadap zat anhidrat. Secara komersial, sediaan ampisilin tersedia dalam bentuk trihidrat untuk sediaan oral dan garam natrium untuk sediaan injeksi. Potensi ampisilin trihidrat dan natrium penisilin dihitung berdasarkan basis anhidrous. Ampisilin trihidrat berwarna putih, praktis tidak berbau , serbuk kristal, dan larut dalam air. Ampisilin trihidrat : mempunyai kelarutan dalam air sekitar 6 mg/mL pada suhu 200C dan 10 mg/mL pada suhu 40 0C. Ampisilin sodium berwarna hampir putih, praktis tidak berbau, serbuk kristal, serbuk hidroskopis, sangat larut dalam air, mengandung 0.9% natrium klorida. Pelarutan natrium ampicilin dengan larutan yang sesuai, maka 10 mg ampicilin per mL memiliki pH 8-10. Jika dilarutkan secara langsung ampisillin trihidrat oral suspensi memiliki pH antara 5-7.5 Ampisilin adalah aminopenisilin. Perbedaan struktur ampisilin dengan : penicillin G hanya terletak pada posis gugus amino pada alpha cincin benzena yang terletak pada R dalam inti penisilin.

- Keterangan

Golongan/Kelas Terapi Anti Infeksi Nama Dagang - Actesin inj - Arcocillin - Biopenam - Dancillin - Etrapen - Lactapen - Mycill - Penbiotic - Primacillin - Unasyn - Akrotalin Indikasi Pengobatan infeksi yang peka (non-betalaktamase-producting organisme); bakteri yang peka - Ambripen - Bannsipen - Broadapen - Decapen - Hufam - Medipen - Opicillin - Penbritin - Ronexol - Varicillin - Amcillin - Bimapen - Cinam - Erphacillin - Kalpicillin - Megapen - Pampicillin - Pincyn - Sanpicillin - Viccillin - Ampi - Binotal - Corsacillin - Etabiotic - Kemocil - Metacillin - Parpicillin - Polypen - Standacillin - Xepacillin

yang disebabkan oleh streptococci, pneumococci nonpenicillinase-producting staphilocochi, listeria, meningococci; turunan H.Influenzae, salmonella, Shigella, E.coli, Enterobacter, dan Klebsiella . Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian DOSIS ANAK: Infeksi ringan – sedang: I.M., I.V.: 100 -150 mg/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam. (maksimal:2-4 mg/hari). Oral: 50-100 mg/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam (maksimal: 2-4 g/hari) Infeksi berat/mengitis: I.M.,I,V: 200-400 mg/kg/hari dalam dosis terbagi setiap 6 jam (maksimal; 6-12 g/hari). Endocarditis profilaxis: Gigi, mulut, saluran pernafasan atau esophagus: 50 mg/kg digunakan 30 menit sebelum penerapan protokol, Saluran kemih, GI: pasien resiko tinggi: 50 mg/kg (maksimal 2 g) digunakan 30 menit sebelum penerapan protokol. Pasien risiko tinggi: 50 mg/kg digunakan 30 menit sebelum prosedur operasi. DOSIS DEWASA Dosis lazim: Oral : 250 – 500 mg tiap 6 jam.IM.IV: 50-100 mg/kg/hari setiap 6 jam. Sepsis/meningitis: IM.IV: 150-250 mg/kg/24 jam dosis terbagi setiap 3-4 jam (rentang:612g/hari). PENYESUAIAN DOSIS. ClCr >50 mL/menit: diberikan tiap 6 jam. ClCr 10-50 mL/menit diberikan setiap 6-12 jam. ClCr <10 mL/menit diberikan setiap 12-24 jam. Lama pemberian: Lama pemberian ampicillin tergantung pada tipe dan tingkat kegawatan serta tergantung juga pada respon klinis dan bakteri penginfeksinya. Seperti contoh umum jika ampisillin digunakan untuk penanganan infeksi gonore maka ampicillin diberikan tidak kurang dari 48 – 72 jam setelah pasien mengalami gejala infeksi maupun sesuai temuan hasil uji laboratorium. Untuk infeksi persisten, kemungkinan diberikan untuk beberapa minggu. CARA PEMBERIAN: Disesuaikan dengan jeda waktu yang telah ditetapkan untuk mempertahankan kadar obat dalam plasma. Diberikan dalam keadaan perut kosong untuk memaksimalkan absorpsi (1 jam sebelum makan dan 2 jam setelah makan).

Farmakologi Absorbsi: oral: 50%. Distribusi: empedu, dan plasma jaringan; menembus ke cairan serebrospinal terjadi hanya ketika terjadi inflamasi meningitis. Ikatan protein: 15 – 25% T½ eliminasi: Anak – anak dan dewasa: 1-1.8 jam. Anuria/ARF:7-20 jam. T max: Oral: 1-2 jam Eksresi: urin (90% bentuk utuh) dalam 24 jam. Dialisis: Moderat diálisis melalui Hemo atau peritonial dialisis: 20-50% Stabilitas Penyimpanan Ampisilin kapsul, serbuk oral suspensi disimpan pada wadah kedap dengan suhu antara 1530°C, setelah mengalami pencampuran, ampisilin trihidrat disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu antara 2-8°C dan akan bertahan selama 14 hari, tapi jika disimpan dalam suhu ruangan maka akan bertahan selama 7 hari. Ampisilin injeksi, setelah mengalami pelarutan sebaiknaya digunakan kurang dari 1 jam setelah pencampuran. Stabilitas ampisilin injeksi setelah dilarutkan tergantung kenaikan konsentrasinya, ampisillin peka sekali dengan cairan yang mengandung dextrose, karena akan mengakibatkan efek katalitik dan menghidrolisis obat. Kontraindikasi Kontraindikasi untuk pasien yang hipersensitif terhadap amoksisilin, penisilin, atau komponen lain dalam sediaan. Efek Samping SSP : Demam, penisilin encephalitis, kejang. Kulit : Erythema multifom, rash, urticaria. GI : Lidah hitam berambut, diare, enterochollitis, glossitis, mual, pseudomembranouscollitis, sakit mulut dan lidah, stomatitis, muntah. Hematologi : Agranulositosis, anemia, hemolitik anemia, eosinophilia, leukopenia,

trombocytopenia purpura. Hepatik : AST meningkat. Renal : Interstisisal nephritin (jarang) Respiratory : Laringuela stidor Miscellaneous : Anaphilaxis. Interaksi - Dengan Obat Lain : Meningkatkan efek toksik: 1. Disulfiran dan probenezid kemungkinan meningkatkan kadar ampisilin. 2. Warfarin kemungkinan dapat meningkatkan kadar ampisilin 3. Secara teori, jika diberikan dengan allopurinol dapat meningkatkan efek ruam. Menurunkan efek: 1. Dicurigai ampisilin juga dapat menurunkan efek obat kontrasepsi oral. - Dengan Makanan : Makanan dapat menurunkan tingkat absorbsi ampisillin, sehingga kemungkinan akan menurunkan kadar ampisillin. Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Data keamanan penggunaan pada ibu hamil belum ada sehingga CDC (center for disease controle and prevention) memasukannya pada Kelas faktor risiko B. - Terhadap Ibu Menyususi : CDC mengklasikasikan keamananya kategori B Karena amoksisilin terdistribusi kedalam ASI (air susu ibu) maka dikhawatirkan amoksisilin dapat menyebabkan respon hipersensitif untuk bayi, sehingga monitoring perlu dilakukan selama menggunakan obat ini pada ibu menyusui. - Terhadap Anak-anak : Data tentang keamanan masih establish - Terhadap Hasil Laboratorium : Berpengaruh terhadap hasil pengukuran : Hematologi dan hepar. Parameter Monitoring

Pengamatan rutin terhadap : Fungsi ginjal (ClCr), Fungsi Hepar (SGPT, SGOT), Hematologi. (Hb), Indikator infeksi.(Suhu badan, kultur ). Bentuk Sediaan Kapsul, Serbuk Kering Suspensi Oral, Serbuk Injeksi Peringatan Pada pasien yang mengalami gagal ginjal, perlu penyesuaian dosis. Tingkat kejadian ruam akibat penggunaan ampisilin pada anak – anak sebanyak 5 – 10% kebanyakan muncul pada 714 hari setelah penggunaan obat. Kasus Temuan Dalam Khusus Informasi Pasien Untuk menghindari timbulnya resistensi, maka sebaiknya amoksisilin digunakan dalam dosis dan rentang waktu yang telah ditetapkan. Obat digunakan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan). Amati jika ada timbul gejala ESO obat, seperti mual, diare atau respon hipersensitivitas. Jika masih belum memahami tentang penggunaan obat, harap menghubungi apoteker. Jika keadaan klinis belum ada perubahan setelah menggunakan obat, maka harap menghubungi dokter. Mekanisme Aksi Menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan mengikat satu atau lebih pada ikatan penisilinprotein (PBPs – Protein binding penisilin’s), sehingga menyebabkan penghambatan pada tahapan akhir transpeptidase sintesis peptidoglikan dalam dinding sel bakteri, akibatnya biosintesis dinding sel terhambat dan sel bakteri menjadi pecah (lisis). Monitoring Penggunaan Obat Lamanya penggunaan obat : Menilai kondisi pasien sejak awal hingga akhir penggunaan obat. Mengamati kemungkinan adanya efek anafilaksis pada pemberian dosis awal. Daftar Pustaka Drug information hand book. (DIH). 2006. AHFS DRUG. 2005 Farmakope Indonesia IV. 1995.

TUGAS REFERAT ANTIBIOTIK Disusun Guna Memenuhi Sebagian Pesyaratan KoasistenIlmu Penyakit Dalam RSUD Kota Yogyakarta Disusun OlehArgadia Yuniriyadi20040310053Dokter PembimbingDr. Mulya Hartana, SpPDUniversitas Muhammadiyah YogyakartaYogyakarta 2009 BAB IPENDAHULUANA . L A T A R B E L A K A N G Sejarah antibiotik dimulai ketika ditemukannya obat antibiotik pertama olehAlexander Flemming yaitu Penicillin -G. Flemming berhasil mengisolasi senyawat e r s e b u t d a r i Penicillium chrysogenum syn. P. notatum . Dengan penemuan a n t i b i o t i k i n i m e m b u k a s e j a r a h b a r u d a l a m b i d a n g k e s e h a t a n k a r e n a d a p a t meningkatkan angka kesembuhan yang sangat bermakna. Kemudian terjadilah penggunaan besar-besaran antibiotik pada saat perang dunia untuk pengobatan b e r b a g a i m a c a m p e n ya k i t . M a s a l a h b a r u m u n c u l k e t i k a m u l a i d i l a p o r k a n n ya resistensi beberapa mikroba terhadap antibiotik karena penggunaan antibiotik y a n g b e s a r - b e s a r a n . H a l i n i t i d a k s e h a r u s n ya t e r j a d i j i k a k i t a s e b a g a i p e l a k u kesehatan mengetahui penggunaan antibiotik yang tepat.Kemajuan bidang kesehatan diikuti dengan kemunculan obat -obat antibiotik ya n g b a r u m e n a m b a h t a n t a n g a n u n t u k m e n g u s a i t e r a p i m e d i k a m e n t o s a i n i . A n t i b i o t i k t i d a k h a n ya d a r i s a t u j e n i s s a j a . B e b e r a p a s e n ya w a - s e n ya w a y a n g b e r b e d a d a n b e r l a i n a n t e r n ya t a m e m p u n ya i k e m a m p u a n d a l a m m e m b u n u h mikroba.Untuk itu sudah menjadi kewajiban seorang dokter untuk dapat menguasai b a g a i m a n a p e n g g u n a a n a n t i b i o t i k y a n g b e n a r t e r s e b u t . D i m u l a i d e n g a n mengetahui jenis-jenis dari antibiotik dilanjutkan mengetahui mekanisme danf a r m a k o l o g i d a r i o b a t - o b a t a n t i b i o t i k t e r s e b u t d a n t e r a k h i r d a p a t m e n g e t a h u i indikasi yang tepat dari obat antibiotik tersebut. Semua ini bertujuan akhir untuk meoptimalkan penggunaan antibiotik yang tepat dan efektif dalam mengobatisebuah penyakit sekaligus dapat mengurangi tingkat resistensi.B . T U J U A N Tujuan dari referat ini adalah : 1.Dapat mengetahui macam -macam antibiotik 2.Dapat mengetahui farmakodinamik dan farmakokinetik dari masing m a s i n g jenis antibiotik 3.Dapat mengetahui mekanisme resistensi terhadap obat -obat antibiotik

BAB II. STUDI PUSTAKA A.DEFINISI Kata antibiotik berasal dari bahasa yunani yaitu –anti (melawan) dan -biotikos (cocok untuk kehidupan). Istilah ini diciptakan oleh Selman tahun 1942 untuk m e n g g a m b a r k a n s e m u a s e n ya w a y a n g d i p r o d u k s i o l e h m i k r o o r g a n i s m e ya n g d a p a t m e n g h a m b a t p e r t u m b u h a n m i k r o o r g a n i s m e l a i n . N a m u n i s t i l a h i n i kemudian digeser dengan ditemukannya obat antibiotik sinetis. Penggunaanistilah antimikroba cenderung mengarah ke semua jenis mikroba dan termasuk didalamnya adalah antibiotik, anti jamur, anti parasit, anti protozoa, anti virus, dll. N a m u n d a l a m p e m b a h a s a n i n i h a n ya m e m b i c a r a k a n p r o s e s p e n g h a m b a t a n antibiotik dalam membunuh bakteriM i k r o o r g a n i s m e ya n g d i h a m b a t o l e h a n t i b i o t i k k h u s u n ya a d a l a h bakteri.Maka dari itu antibiotik bersinosim dengan anti -bakteri. A n t i b i o t i k b e r b e d a dengan istilah disinfectant karena desifektant membunuh kuman dengan cara m e m b u a t l i n g k u n g a n yang tidak wajar bagi kuman. Sedangkan kerja dariantibiotik adalah cenderung bersifat Toksisitas Selektif dalam arti d a p a t membunuh kuman tanpa merugikan inang.B. KLASIFIKASI ANTIBIOTIK Pembagian antibiotik dapat dibagi berdasarkan luasnya aktivitas antibiotik,aktivitas dalam membunuh serta berdasarkan mekanisme obat antibiotik tersebut.Berdasarkan luasnya aktivitas, antibiotik dibagi menjadi antibiotik spektrum luas dan spektum sempit. Istilah luas mengandung arti bahwa antibiotik ini dapatm e m b u n u h b a n ya k j e n i s b a k t e r i s e d a n g k a n s e b a l i k n y a , i s t i l a h s e m p i t h a n ya digunakan untuk membunuh bakteri yang spesifik yang telah diketahui secara pasti. Penggunaan spektrum luas digunakan apabila identifikasi kuman penyebabsusah dilakukan namun kerugiaanya dapat menghambat pula bakteri flora normaldalam tubuh. Berdasarkan aktivitas dalam membunuh, antibiotik dibagai menjadi Bactericidal dan Bacteristatic. A n t i b i o t i k ya n g m e m p u n ya i s i f a t b a k t e r i s i d a l m e m b u n u h b a k t e r i target dan cenderung lebih efektif serta tidak p e r l u menggantungkan pada sistem imun manusia. Sangat perlu digunakan pada pasiend e n g a n p e n u r u n a n s i s t e m i m u n . Y a n g t e r m a s u k b a t e r i s i d a l a d a l a h β l a c t a m , a m i n o g l yc o s i d e , d a n q u i n o l o n e . B a k t e r i o s t a t i k j u s t r u b e k e r j a menghambat p e r t u m b u h a n b a k t e r i d a n d a p a t m e m a n f a a t k a n s i s t e m i m u n h o s t o b a t b a k t e r i o s t a t i k ya n g k h a s a d a l a h tetracycline ,

sulfonamide , tetracycline , d a n clindamycin Bedasarkan mekanisme kerja, antibiotik dibagi menjadi 5 jenis, yaitu :A.Penghambatan sintetis dinding bakteriB . P e n g h a m b a t m e m b r a n s e l C.Penghambatan sintetis protein di ribosomD.Penghambatan sintetis asam nukleatE.Penghambatan metabolik (antagonis folat)Dari masing-masing golongan terdapat mekanisme kerja, farmakokintetik,farmakodinamik, serta aktivitas antimikroba yan g berbeda-beda. Perbedaan inimenyebabkan perbedaan kegunaan di dalam klinik Karena perbedaan ini jugam a k a m e k a n i s m e r e s i s i s t e n s i d a r i m a s i n g - m a s i n g g o l o n g a n j u g a m e n g a l a m i perbedaan.Gambar 1. Tempat Kerja dari Masing-Masing Golongan Antibiotik C. RESISTENSI OBAT ANTIBIOTIK Resistensi obat antibiotik oleh mikroba dapat dibagai menjadi berikut

1.Mikroba menghasilkan enzim yang merusak aktivitas obat. M i s a l : S t a p i l o k o k u s yang resisten terhadap penicillin menghasilkan β-lactamase yang merusak obat-obat β-lactam 2 . M i k r o b a m e r n g u b a h p e r m e a b i l i t a s t e r h a d a p o b a t . 3.Mikroba mengembangkan suatu perubahan terhadap struktur sasaran bagi obat Misal : Berubahnya strukutr protein reseptor pada ribosom 30S menyebabkanmikroba resisten terhadap golongan aminoglikan4.Mikroba mengembangkan perubahan jalur metabolitk yang dihambatM i s a l : B a k t e r i y a n g r e s i s t e n S u l f o n a m i d e s t i d a k m e m e r l u k a n P A B ekstraseluler dimana awalnya bakteri ini sangat membutuhkannya5 . M i k r o b a m e n g e m b a n g k a n p e r u b a h a n e n z i m y a n g t e t a p d a p a t m e l a k u k a n fungsi metaboliknya tetapi lebih sedikit dipengaruhi oleh obat.Asal resistensi-resistensi di atas dapat bersifat genetik maupun non genetik.Yang non genetik dapat berasal dari berubahnya bentuk suatu mikroba menjadiinaktif sehingga resisten terhadap obat -obat yang kerjanya pada proses replikasi bakteri. Sedangkan genetik dapat diturunkan dari mikroba satu ke keturunannyamelalui mutasi kromosom atau dari satu mikroba ke mikroba lain melalui plasmid.Resistensi silang saja terjadi dari satu jenis antibiotik ke jenis lain. Misal suatumikroba resisten terhadap suatu jenis antibiotik dapat resisten terhadap jenis yangl a i n . R e a k s i s i l a n g i n i d a p a t t e r j a d i p a d a j e n i s - j e n i s ya n g b e r h u b u n g a n s a c a r a kimia maupun tidak D.GOLONGAN INHIBITOR SINTETIS DINDING BAKTERI Bakteri mempunyai lapisan luar yang kaku yang disebut dinding sel. Dindingsel terdapat pada baik bakteri yang gram (+) maupun bakteri gram (-). Dinding ini berfungsi mempertahankan

bentuk sel dari perbedaan tekanan osmotic internaldan eksternal yang sangat tinggi. Pada kedua bakteri mempunyai suatu lapisanyang bernama Peptidoglycan . Lapisan ini berfungsi mensintetis dinding bakterimelalui reaksi yang disebut TRANSPEPTIDASI. Lapisan ini lebih tebal pada bekteri gram (+) dan pada gram ( -) di antara peptidoglycan dan dinding terdapatlapisan membran lemak sehingga terdapat gambaran membran bilayer.Preoses penghambatan sintetis dinding bakteri dapat melalui 2 jalur. Jalur pertama berasal dari penghambatan proses transpeptidasi. Semua obat β-lactam

dapat menghambat proses ini. Yang termasuk dalam antibiotik β-lactam adalahgolongan Penicillin, Cephalosporins, Carbapemems, dan Monobactam. Jalur berikutnya melalui penghambatan sintetis peptidoglycan. Yang termasuk jalur k e d u a i n i a d a l a h Vancomycin dan Bacitracin . P e m b a g i a n k e l o m p o k i n i d a p a t dilihat pada gambar di bawah.Gambar 2. Bagan Pembagian Antibiotik Golongan Inhibitor Sintetis Dinding Bakteri PENICILLIN Penicillin yang paling terkenal dan pertama ditemukan adlah penicillin-G yangditemukan oleh Flamming pada 1929. Senyawa ini dihasilkan dari pembenihanspesies Penisillium notatum. Sifat dari penicillin-G adalah kepekaannya terhadap penghacuran cincin β-lactam oleh senyawa β-lactamase d a n t i d a k a k t i f s e c a r a r e l a t i v e t e r h a d a p k e b a n ya k a n b a k t e r i g r a m n e g a t i f . Pengembangan terhadap Penicillin menghasilkan turunan-turunan penicillin yang lebih stabil terhadap asam dan aktif terhadap bakteri gram (-) maupun gram (+).1 . S t r u k t u r k i m i a

Semua

Penicillin mempunyai struktur dasar yang sama. Terdapat cincin Betal a c t a m ya n g d i k e l i l i n g i o l e h cincin tiazolodin. Beberapa turunan Penicillin didapatkan dengan menambahkan senyawa lain pada gugus R. Struktur penicillin dapat dilihat pada gambar.Gambar 3. Struktur dasa Penicillin. Terdapat cincin β-lactam (kiri) yangdikelilingi cincin tiazolid (kanan).2 . R e s i s t e n s i Mekanisme resistensi terhadap Penicillin dapat dibagi dalam beberapamekanisme :a . B a k t e r i - b a k t e r i t e r t e n t u s e p e r t i Staphylococcus aureus , beberapa Haemophilus influenzae dan gonokokus menghasilkan senyawa β-lactamse yang memecah cincin β-lactam. Kontrol pembentukan β-lactamase dikontrol oleh kromosom dan plasmid. Nafcillin tahanterhap β-lactamase karena cincin β-lactam d i l i n d u n g i o l e h r a n t a i samping R’. b.Beberapa mikroba kurang mempunyai reseptor spesifik dan kurangnya permeabilitas terhadap β-lactam. c.Organisme yang dormant seperti Mycoplasma L resistant terhadap penicillin karena tidak mensintetis peptidoglycanZat-zat penghambat β-lactamase seperti clavulanic acid, sulbactam dan, tazobactam dapat menghambat aktivitas β-lactamase yang dihasilkan b a k t e r i ya n g r e s i s t e n . P e m b e r i a n t u n g g a l o b a t i n i k u r a n g m e n u n j u k k a n aktivitas antibakteri. Namun kombinasi obat ini dengan obat -obat β-lactam, misalnya

clavulanic acid dan amoxcillin dapat efektif terhadap infeksi saluran pernafasaan oleh H influenza penghasil β-lactamase .3 . F a r m a k o k i n e t i k A b s o r p s i p e r o r a l b e r b e d a - b e d a d a r i m a s i n g - m a s i n g obat penicillin tergantung dari kestabilan asam dan ikatan proteinnya. Pemberian minimalharus diberikan 1 jam sebelum atau sesudah makan untuk mengurangi ikatan

p a d a m a k a n a n . A b s o r p s i p a r e n t e r a l b i a s a n ya c e p a r . P e m b e r i a n I M s e r i n g m e n i m b u l k a n i r i t a s i d a n n ye r i p a d a t e m p a t s u n t i k a n . P e m b e r i a n I V b o l u s intermittent dengan tetesan kontinue cenderung disukai. Penicillin t i d a k l a r u t d a l a m s e l d a n t i d a k m a s u k d a l a m s e l i n a n g . Pemberian 6 gr perhari dapat menghasilkan kadar 1 -6 μg/ml dalam darah. Penicillin y a n g t e r i k a t k u a t p a d a p r o t e i n ( oxacillin, dicloxacillin )menghasilkan kadar obat bebas yang lebih rendah daripada yang terikat lemah( Ampicillin, Penicillin-G )Kadar penicillin pada jaringan setara dengan yang ada di serum. Pada m a t a , p r o t a t , d a n s u s u n a n s ya r a f p u s a t k a d a r i n i l e b i h r e n d a h d a r i p a d a d i serum. Namun pada cairan serebospinal kadar dapat mencapai 0,2 μg/mL jikadiberikan 6 gr parenteral sehingga tidak diperlukan suntika intratekal.Ekskresi dilakukan kebanyakan oleh ginjal. Sekitar 10% diekskresi dig l o m e r u l u s d a n 9 0 % m e l a l u i t u b u l u s d e n g a n k e c e p a t a n 2 g r / j m kecualinafcillin dimana 80% diekskresi di dalam sa luran empedu. Waktu paruh Penicillin-G adalah ½-1 ja dan pada gagal ginjal dapat mecapai 10 jam. Ampicillin diekskresi lebih lama. Sekresi di tubulus dapat dihambat dengan pemberian probensid dan digunakan pada jika ingin mncapai kadar sistemik d a n c a i r a n s e r e b o s p i n a l ya n g t i n g g i . P a d a n e o n a n t u s p e m b e r i a n i n i l e b i h l a m b a t . Ekskresi juga dapat melalui sputum dan air susu dan d a p a t menimbulkan alergi pada bayi yang menyusui.4 . K e g u n a a n K l i n i k Obat ini dikenal karena paling luas kegunaannya. Semua penicillin oralharus diberikan minimal 1 jam sebelum/sesudah makan.a . P e n i c i l l i n - G O b a t ini masih digunakan pada infeksi

pneumococcus,s trep tococcus , menin gococcu s, s t a p h i l o c o c c u s y a n g t i d a k menghasilkan β-lactamase, gonococcus, Treponema pallidum , Bacillus anthracic dan bakreti gram (+) lainnya, clostridium,actinomyces, listeria , d a n bacterioid. K e b a n y a k a n d o s i s y a n g digunakan adalah dosis sehari (6 gram) dan umumnya diberikan secara bolus intermittent IV. Penicillin-V diindikasikan pada infeksi ringansaluran pernafasan dengan dosis harian 1 -4 g. Pemberian oral tidak boleh diberikan terhadap infeksi yang berat.

b . B e n z a t h i n e P e n i c i l l i n Obat ini berbentuk garam yang mempunyai kelarutan dalam air yang sangat rendah dan menghasilkan kadar rendah tetapi bertahanl a m a . K e g u n a a n n ya a d a l a h d i b e r i k a n s e c a r a 1 , 2 j u t a u n i t I M u n t u k profilaksi reinfeksi streptokokus selama 3-4 minggu.c . A m p i c i l l i n , A m o x i c i l l i n , c a r b e n i c i l l i n , T i c a r c i l l i n , P i p e r a c i l l i n , mezlocillin, AzlocillinObat ini berbeda dengan penicillin-G karena punya akitivitaslebih besar terhadp bakteri gram (-). Ampicillin dan amoxicillin mempunyai aktivitas sama. Namun amoxicillin lebih mudah diserap dalam usus. Diberikan secara oral u n t u k I S K o l e h b a k t e r i k o l i f o r m i s g r a m ( - ) d a n i n f e k s i b a k t e r i campuran saluran n a f a s ( s i n u s i t i s , o t i t i s , b r o n c h i t i s ) . D o s i s ya n g d i b e r i k a n a d a l a h 2 5 0 5 0 0 m g 3 x s e h a r i . O b a t i n i k u r a n g e f e k t i f terhadap enterobacter, pseudomonas dan gastroenteritis salmonellanoninvasive. Carbenicillin lebih efektif terhadap pseudomonas dan pro teusn a m u n l e b i h c e p a t m e n j a d i resisten. Pemberian dengan dosis 12 -3 0 g / h a r i I V b i a s a n y a d i b e r i k a n b e r k o m b i n a s i d e n g a n a n t i b i o t i k golongan lain untuk pengobatan sepsis pseudomonas pada luka baker. Ticarcillin

m e n ye r u p a i c a r b e n i c i l l i n t e t a p i d o s i s n y a l e b i h rendah (200-300mg/kg/hari). Obat yang lain mempunyai aktivitas yangkebanyakan samad . P e n i c i l l i n ya n g r e s i s t e n terhadap β-lactamase Golongan yang resisten terhadap β-lactamase adalah Oxacillin,Cloxacillin, Dicloxacillin, dan Nafcillin . Indikasi penggunaan hanyadigunakan pada infeksi staflokokus penghasil β-lactamase . Dosis yangdigunakan adalah 0,25-0,5 g setiap 4-6 jam peroral. Untuk infeksi yang berat diberikan 8-12 g/hari nafcillin intermittent bolus IV tiap 2-4 jam(1-2 g tiap pemberian). Methicillin jarang digunakan karena bersifatnefrotoksis.5 . E f e k Sampin ga.Hipersensitivitas

b.Neurotoksis pada dosis tinggi (>20.000 unit intratekal atau > 2 0 j u t a parenteral)c . D y s p e p s i a d . N e f r o t o k s i s ( M e t h y c i l l i n ) e.Gangguan pendarahan (Cabenicillin) CEPHALOSPORIN C e p h a l o s p o r i n d i h a s i l k a n o l e h j a m u r C e p h a l o s p o r i u m . S e n ya w a i n i m i r i p dengan Penicillin namun lebih resisten terhadap β-Lactamase dan cenderung lebihaktif terhadap bakteri gram (+) maupun gram (-).1 . S T R U K T U R K I M I A Strutur ini mirip dengan penicillin yaitu adanya cincin β-Lactam tetapid i l e k a t i c i n c i n d i h y d r i t h i a z i d e d a n t e r d a p a t g u g u s a n R 1 d a n R 2 yangmemungkinkan untuk dibuat turunan-turunan cephalosporin dengan aktivitasyang lebih tinggi dan toksisitas yang lebih rendah.Gambar 4. Struktur kimia cephalosporin2 . A K T I V I T A S A N T I M I K R O B A D A N R E S I S T E N S I Aktivitas dan cara kerja antimikroba beserta mekanisme resistensi cephalosporin analog dengan penicillin.3 . C E P H A L O S P O R I N G E N E R A S I P E R T A M A Y a n g t e r m a s u k o b a t i n i a d a l a h Cefadroxil(Duricef), Cephradrin,Cephalotin( c e p h a l o t h i n ; K e f l i n ) , Cephalexin, ( K e f l e x ) , Cephapirin (cephapirin; Cefadryl).AKTIVITAS ANTIMIKROBA

Obat ini sangat aktif terhadap kokus gram positif seperti pneumokokus,streptokokus viridan, gourp streptokokus A hemolitikum dan S aureus . Gramnegatif yang juga dapat dihambat antara lain E. coli, Klebsiella pneumoniae ,dan Proteus mirabilis . Kokus anaerob ( Peptococcus, Peptostreptococcus ) biasanya sensitif kecuali B fragilis FARMAKOLOGI & DOSIS Oral : Cefalexin, Cefradrin, dan Cefadroxil diabsorpsi di u s u s b e r v a r i a s i . P e m b e r i a n 5 0 0 m g p e r o r a l h a n ya m e n g h a s i l k a n k a d a r a 1 5 - 2 0 μg/mL. Kadar dalam urin biasanya sangat tinggi namun di jaringan biasanyakadarnya lebih rendah. Dosis Cefalexin dan cefadrin diberikan 4 x 0,25-0,5 gd a n cefadroxil diberikan 3 x 0,5-1 g. Ekskresi terutama di urin dan d a p a t dihambat dengan pemberian probenesid. Pada penderita gagal ginjal dosisharus dikurangi IV : infus IV diberikan sebanyak 1 gram dan mencapai kadar puncak cefazolin sebanyak 90-120 μg/mL, cefalotin dan cefazolin sebanyak 40 -60μg/mL, Dosisnya untuk Cefazolin 1-2 g /8 jam, cefalotin dan cefapirin adalah1-2 g/6 jam IM : jarang dilakukanPENGGUNAAN KLINIK Walau obat ini punya spectrum luas dan tidak terlalu toksis, namuno b a t i n i j a r a n g d i g u n a k a n s e l a i n s e b a g a i o b a t a l t e r n a t i v e u n t u k b e b e r a p a infeksi. Dapat digunakan untuk ISK, luka kecil yang terdapat stafilokokus, daninfeksi ringan lainnya. Untuk profilaksis pembedahan, Cefazolin lebih banyak digunakan karena lebih murah serta dapat mengurangi resistensi terhadap obatl a i n . Jangan digunakan untuk pengobatan infeksi berat. Cephalosporingenerasi p e r t a m a t i d a k d a p a t m e l a k u k a n p e n t r a s i k e S S P d a n t i d a k b i s a digunakan untuk pengobatan meningitis.4 . C E P H A L O S P O R I N G E N E R A S I K E D U A C o n t o h dari cephalosporin generasi kedua adalah cefaclor (Keflor, R a n i c l o r ) , c e f a m a n d o l , c e f m e t a z o l e , c e f o d o x i m , c e f o n i c i d ( m o n o c i d ) , cefoxitin, cefprozil (cefzil), cefotetan, cefuroxime (ceftin).AKTIVITAS ANTIMIKROBA

A k t i v i t a s o b a t i n i b i a s a n y a m i r i p d e n g a n g e n e r a s i p e r t a m a n a m u n mempunyai spektrum yang lebih luas terhadap bakteri gram (-) : enterobacter, Klebsiella , d a n Proteus indol-positif. Untuk pengobatan H influenza cefamandol, cefuroxime, cefonicid, dan ceforanid lebih efektif. U n t u k pengobatan B fragilis justru cefoxitin, cefmetazole, dan cefotetan lebih efektif.Semua generai kedua tidak aktif terhadap enterokokus dan P aeruginosa FARMAKOLOGI & DOSIS Oral : Cefaclor, cefuroxim, cefprozil dapat diberikan peroral. Dosisuntuk dewasa bi asanya 10-15 mg/kg/hari diberikan dalam 2-4 dosis terbagi. IV : Setelah 1 gr IV dapat menghasilkan kadar serum 75 -125 μg/mL. IM : Biasanya sangat sakit. Pada gagal ginjal dibutuhkan penyesuaian dosis PENGGUNAAN KLINIK Karena aktivitasnya terhadap H influenza, Cefaclor sering digunakanu n t u k s i n u s i t i s d a n o t i t i s m e d i a p a d a p a s i e n a l e r g i a t a u t i d a k a d a r e s p o n t e r h a d a p A m p i c i l l i n . H a n ya c e f u r o x i m ya n g d a p a t m e n e m b u s s a w a r o t a k . Cefoxitin, cefmetazole, dan cefotetan yang efektif terhadap B fragilis dapatd i g u n a k a n u n t u k i n f e k s i b a k t e r i a n a e r o b t e r s e b u t s e p e r t i p e r i t o n i t i s d a n divertikulitis.5 . C E P H A L O S P O R I N G E N E R A S I K E T I G A Y a n g t e r m a s u k g e n e r a s i k e 3 c e p h a l o s p o r i n a d a l a h c e f i x i m e , cefotaxime, Ceftazidime, ceftizoxime, ceftriaxone, dan moxalaktam.AKTIVITAS ANTIMIKROBAY a n g k h a s u n t u k g e n e r a s i k e t i g a a d a l a h m e n c a n g k u p i g r a m n e g a t i f yang luas dan dapat menembus sawar otak. Selain itu secara menetap generasik e t i g a j u g a a k t i f t e r h a d a p e n t e r o b a c t e r c i t r o b a c t e r , S m a r c e s c e n s , d a n Providencia, serta Haemophilus dan Neisseria penghasil β-Lactamase. FARMAKOLOGI & DOSISKadar dalam darah adalah 60-140 μg/mL setelah pemberian infus IV 1g r a m . K a d a r i n i a k a n s a m a d i s e m u a j a r i n g a n d a n d a p a t m e n c a p a i s i s t e m syaraf pusat.W a k t u p a r u h u n t u k c e f t r i a x o n e ( 7 - 8 j a m ) s e t e l a h p e m b e r i a n 1 5 - 3 0 g/kg/hari dibagi dalam dosis tiap 12-24 jam, namun pada meningitis dosis ini

diberikan setiap 12 jam. Obat lain punya waktu paruh 1 -1,7 jam d a p a t disuntikan setiap 6-8 jam dengan dosis 2-12 gram/hariE k s k r e s i u t a m a m e l a l u i e m p e d u , j a d i p a d a g a g a l g i n j a l o b a t i n i memerlukan penyesuaian

dosis.PENGGUNAAN KLINIK Karena penetrasi ke sawar otak, obat generasi ketiga sering digunakanuntuk mengobati meningitis termasuk yang disebabkan oleh meningokokusmH influenza, dan bakteri gram (-) usus yang rentan. Pada sepsis yang tidak diketahui penyebabnya obat ini juga sering digunakan.6 . E F E K S A M P I N G E f e k s a m p i n g t e r h a d a p c e p h a l o s p o r i n ya n g d a p a t m u n c u l p a d a u m u m n ya antara lain adalah :a . A l e r g i b.Hipoprotrombinemia dan kelainan perdarahan : diberikan vitamin K 10mg 2 x seminggu untuk pencegahanc . D i s u l f i r a m - l i k e e f f e c t ( p e n g h a m b a t a n m e t a b o l i s m e a l k o h o l ) s e h i n g g a jangan dberikan untuk orang alkoholisme OBAT β-LACTAM LAINNYA Yang termasuk kelas β-Lactam y a n g l a i n a d a l a h m o n o b a c t a m d a n carbapenem.MONOBACTAMObat ini mempunyai cincin β-Lactam monosiklik dan ternyata juga resistenterhadap β-Lactamase serta aktif terhadap beberpa gram (-) seperti pseudomonasdan Serratia. Kelemahan obat ini adalah tidak ada aktivitas terhadap bakteri gram(+) dan bekteri anaerob. Contoh golongan ini adalah Aztreonam (azactam). Kadar dalam serum adalah 100 μg/mL setelah pemberian 1-2 gram setiap 8 jam. Waktu paruh 1-2 jam dan pada gagal ginjal dapat memanjangCARBAPENEM

Obat ini adalah obat baru dengan cincin β-Lactam . C o n t o h n ya a d a l a h Imipenem. Obat ini mempunyai spektrum luas terhadap bakteri gram (+), gram(-), dan anaerob. Obat ini juga punya kelebihan resisten terhadap β-Lactamase . Namun obat ini diinaktifkan di tubulus sehingga konsentrasi dalam urin menjadirendah. Penetrasi baik di jaringan tubuh dan cairan serebrospinal. Dosis biasanya0,5-1 gram IV setiap 6 jam (waktu paruh 1 jam).K e g u n a a n s e c a r a p a s t i b e l u m d i t e n t u k a n n a m u n m u n g k i n d i g u n a k a n a t a s p e n g o b a t a n t e r h a d a p i n f e k s i ya n g t e l a h r e s i s t e n . Sejak Pseudomonas cepatmenjadi resisten terhad ap imipenem, pemberian k o m b i n a s i o b a t i n i d e n g a n aminoglican perlu dilakukan.Efek samping masih terbatas pada mual, muntah, diare, dan kulit kemerahan serta pada gagal ginjal gejala ini semakin terlihat. VANCOMYCIN Vancomycin dan bacitracin merupakan penghambat sintetis dinding sel namun bukan termasuk golongan β-Lactam

. Vancomycin dihasilkan oleh Sterptomyces.Obat ini aktif terhadap bakteri gram (+) khususnya staphylococcus. Struktur kimia. Struktur kimia vancomycin terdiri dari suatu glicopeptidadengan er at molekul 1500 larut dalam air dan stabil. Mekanisme obat ini adalah penghambatan sintetis peptidoglican di tingkan membrane sel. Aktivitas Antimikroba. Vancomycin bersifat bakterisid untuk gram (+) padakonsentrasi 0,5-3 μg/mL. Banyak staphylococcus yang sudah resisten terhadapnafsilin dapat dibunuh dengan obat ini serta resistensi vancomycin terjadi sangatlambat dan jarang. Farmakokinetik. Vancomycin tidak diabsopsi di usus. Pengobatan peroraldigunakan untuk mengobati enterokolitis. Pemberian IV dengan do sis 0,5 gramd a p a t m e n c a p a i k a d a r s e r u m 1 0 - 2 0 μ g / m L ( w a k t u p a r u h 1 - 2 j a m ) . E k s k r e s i dilakukan oleh ginjal. Penggunaaan Klinik. I n d i k a s i V a n c o m y c i n a d a l a h u n t u k s e p s i s a t a u endocarditis yang disebabkan oleh staphylocoocus yang sudah resisten terhadap obat lain dengan dosis 0,5 gram IV tiap 6-8 jam. Pengobatan peroral dengan dosis0 , 1 2 5 - 0 , 5 g r a m t i a p j a m digunakan untuk enterokolitis terutama Clostridiumdifficle

Efek Samping. Jarang terjadi efek samping. Flebitis pada tempat suntikan dandemam mungkin terjadi. Gejala flushing yang luas dapat juga terjadi ( red man syndrome ). BACITRACIN Bacitracin merupakan campuran polipeptida siklik yang dihasilkan dari Tracy Bacillus subtilis . Aktif terhadap mikroba gram (+). Karena efek toksisnya yang sistemik bacitracin jarang digunakan.Aktivitas obat ini sama seperti vancomycin yaitu untuk gram (+) khususnyastaphylococcus. Obat ini susah diabsorpsi di usus kulit, mukosa, atau yang lain jadi sering digunakan untuk pengobataan topical dengan dosis 500 unit/gramuntuk menekan lesi permukaan kulit, pada luka, atau pada mukosa.Efek sampingnya adalah kerusakan ginjal secara mencolok, menyebabkan proteinuria, hematuria, dan retensi nitrogen sehingga suah tidak digunakan. Reaksialergi pada penggunakan topikal jarang terjadi. E.GOLONGAN INHIBITOR SINTETIS PROTEIN Telah dibuktikan secara klinik bahwa Tetracyclin, a m o n o g l y c o s i d e , Chloramphenicol, Macrolides, dan Lyncomicin dapat menghambat

sintetis proteinmelalui kerja di ribosom. Sel bakteri secara umumnya mempunyai beberapa tiperibosom antara lain ribosom 30S, ribosom 50S, dan ribosom 70S. Ribosom 80Syang terdapat manusia, tidak terdapat pada bakteri sehingga golongan obat inicenderung tidak berpengaruh terhadap sintetis protein dalam jaringan manusia. 15. PENGHAMBAT SINTETIS PROTEIN DIRIBOSOMTetracyclineAminoglycosideMacrolideCholramphenicolLyncomycin Demeclocycline, Doxycycline, Minocycline, Tetracycline Amikacin, Gentamycin, Neomycin, Metilmicin, Streptomcin,Tobramycin Azitromycin, Clarithromycin, ErythromycinThiamphenicol Clindamycin

Gambar 5. Bagan pembagian golongan obat penghambat sintetis proteinKerja penghambatan di masing-masing ribosom mempunyai mekanisme yang b e r b e d a . G o l o n g a n ya n g b e r a k s i d i r i b o s o m 3 0 S d a n 7 0 S a d a l a h g o l o n g a n tetracycline dan amiglycoside. Sedangkan golongan lain beraksi di ribosom 50S.P e n g h a m b a t s i n t e t i s p r o t e i n t e r b a g i d a l a m 5 k e l o m p o k ya i t u : T e t r a c yc l i n , Amoniglycoside, Macrolide, Chloramphenicol, dan Lyncomycin. TETRACYCLINE T e t r a c yc l i n e ya n g p e r t a m a k a l i d i t e m u k a n a d a l a h c h l o r t e t r a c yc l i n e y a n g diisolasi dari Streptomycecs aureofaciens .1 . S T R U K T U R K I M I A Semua tetracycline mempunyai struktur yang sama. Obat ini tersedias e b a g a i h i d r o k l o r i d a ya n g l e b i h l a r u t . L a r u t a n t e r s e b u t bersifat asam danm u d a h b e r i k a t a n e r a t d e n g a n i o n - i o n l o g a m b e r v a l e n s i 2 d a n d a p a t mengganggu absorpsi dan aktivitas.Gambar 6. Struktur kimia tetracyclines2 . A K T I V I T A S A N T I M I K R O B A Tetracycline cenderung merupakan antibakteri spektrum luas. Bersifat b a k t e r i s t a t i k b a i k u n t u k g r a m ( + ) d a n g r a m ( - ) , b a k t e r i a n a e r o b , r i k e t s i a , clamidia, micoplasma, serta untuk beberapa protozoa misalnya amuba.Tetracyclin memasuki mikroba melalui difusi pasif dan transport aktivsehingga pada mikroba yang rentan terdapat penumpukan obat ini di dalamsel. Tetracycline kemudian terikat reversible ke reseptor p ada subunit 30S

r i b o s o m d a l a m p o s i s i ya n g m e n g h a m b a t p e n g i k a t a n a m i n o a s i l - t R N A k e tempat akseptor pada komplek mRNA ribosom. Efek lanjut adalah mencegah penambahan asam amino baru ke rantai peptide yang tumbuh.3 . R E S I S T E N S I Resistensi muncul dengan perubahan permeabilitas pasif dan juga tidak adanya transport aktif terhadap tetracycline. Resistensi ini muncul dipengaruhigenetik. Kontrol resistensi oleh plasmid juga dapat resisteni terhadap obatg o l o n g a n l a i n . P e n g g u n a a n s e c a r a l u a s t e t r a c yc l i n e b e r t a n g g u n g j a w a b terhadap resistensi terhadap obat lain.4 . F A R M A K O K I N E T I K Absopsi tetracycline di usus bervariasi antara beberapa obat. Beberapaada yang tetap di usus dan dikeluarkan di tinja. Obat chlortetracycline hanya3 0 % d i a s o r p s i . J e n i s l a i n h a n y a 6 0 - 8 0 % u n t u k o x y t e t r a c y c l i n e d a n d e m e c l o c yc l i n e , 9 0 - 1 0 0 % u n t u k d o x yc y c l i n e d a n m i n o c yc l i n e . Absorpsi paling baik di usus halus bagian atas dan baiknya pada saat tidak makankarena dapat diganggu jika ada kation bervalensi dua (Ca 2+ , Mg 2+ , Fe 2+ ),terutama dalam susu dan antasida. Pemberian parenteral tetracycline biasanyadiracik dengan buffer khususDalam darah terjadi ikatan protein berbagai tetracycline sebesar 40 80%. Dengan dosis oral 500 mg tiap 6 jam dapat mencapai kadar 4 -6 μg/mLu n t u k

t e t r a c yc l i n e h yd r o c h l o r i d d a n o x yt e t r a c yc l i n e . D o yc y c l i n e d a n minocycline agak lebih rendah. Suntikan IV membuat kadar lebih tinggi untuk s e m e n t a r a w a k t u . Distribusi tidak dapat mencapai cairan serebrospinal.Minosiklin khas k a r e n a k o n s e n t r a s i y a n g t i n g g i d i a i r m a t a d a n a i r l i u r . Tetracycline dapat melintasi plasenta dan air susu,Ekskresi terutama di empedu dan urin. Di empedu ekskresinya lebih banyak dan mungkin diabsorpsi kembali di usus untuk mempertahankan kadar di serum. Sekitar 50% jenis tetracycline diekskresi di glomerulus ginjal dand i p e n g a r u h i o l e h k e a d a a n g a g a l g i n j a l . D o x i c y c l i n e d a n m i n o c y c l i n e diekskresi lebih lambat sehingga di dalam serum lebih lama5 . K E G U N A A N K L I N I K T e t r a c y c l i n e m e r u p a k a n o b a t spektrum luas pertama dan telahdigunakan sewenang -wenang. M e r u p a k a n o b a t t e r p i l i h u n t u k i n f e k s i M yc o p l a s m a p n e u m o n i a e , Clamidia, serta ricetsia. Obat ini juga berguna

untuk infeki bakteri campuran infeksi saluran pernafasan misalnya sinusitis d a n b r o n c h i t i s . D a p a t d i g u n a k a n u n t u k i n f e k s i V i b r i o d a n k o l e r a n a m u n resistensi telah dilaporkan.Tetracycline efektif untuk infeksi infeksi melalui hubungan seksualyang disebabkan clamidia. Doxycycline efektif terhadap leptospirosis. Untuk protozoa yang dapat dihabat oleh tetracycline adalah Entamoeba hitolitika atauPlasmodium falciparum (Doxicycline).6 . E F E K S A M P I N G Efek samping yag bisa timbul antara lain :a . E f e k samping pencernakan seperti mual, muntah dan diare k a r e n a engubah flora normal. Hal ini merupakan alasan penghentian d a n pengurangan pemberian tetracycline. b . P e n u m p u k a n d i t u l a n g d a n g i g i t e t r a c y c l i n e s e r i n g t e r j a d i . K o n t r a indikasi pemberian pada ibu hamil karena dapat menumpuk di gigi j a n i n y a n g m e n y e a b k a n k e k u n i n g k u n i n g a n p a d a g i g i s e r t a p e n u m p u k a n d i t u l a n g ya n g m e n ye b a b k a n g a n g g u a n p e r t u m b u h a n pada janin dan anak umur dibawah 8 tahun.c.Hepatotoksis juga dapat diberikan jika diberikan pada dosis besar atau telah terjadi insuficiensi hepar sebelumnya.d . T r o m b o s i s v e n a d a p a t t e r j a d i p a d a p e m b e r i a n I V e . H i p e r f o t o s e n s i t i f t e r u t a m a d e m e c l o c yc l i n e f.Reaksi vestibular seperti pusing, vertigo, mual, muntah (minocycline) AMINOGLYCOSIDE Aminoglycoside berasal dari berbagai spesies Streptomyces . S a m p a i s a a t i n i yang masuk kelompok ini adalah Stretomycin, neomycin, gentamycinm dan lain-lain. Semua obat ini menghambat sintetis protein dan punya kelemahan dalam berbagai macam resistensi. Semua aminoglykoside punya potensi ototoksis dannefrotoksik.P e n g g u n a a n p a d a u m u m n y a d i g u n a k a n t e r h a d a p b a k t e r i e n t e r i c g r a m ( - ) terutama pada bakteriemia, sepsis, atau endocarditis.1 . S T R U K U R KIMIA

A m i n o g l yc o s i d e m e m i l i k i i n t i h e k s o s a d i s a m p i n g s t r e p t i d i n ataud e o x i s t r e p t a m i n . D i m a n a g u l a a m i n o t e r i k a t d e n g a n i k a t a n g l i k o s i d a . Aminoglycoside larut dalam air, stabil dalam larutan dan lebih aktif dalamkeadaan pH alkali daripada asam.Gambar 7. Struktur kimia Aminoglycoside secara umum2 . M E K A N I S M E K E R J A Mekanisme kerja aminoglycoside adalah pernghambatan irreversiblesintetis protein. Diawali dengan proses tranpot aktif yang bergantung padaoksigen sehingga tidak efektif terhadap kuman anaerob. Proses selanjutnyaadalah berikatan dengan subunit 30S ribosom. Proses sintetis dihambat deganc a r a m e n g g a n g g u “ k o m p l e k a w a l ” p e m b e n t u k a n p e p t i d e , m e n g i n d u k s i kesalahan baca mRNA, serta pemecahan polisom menjadi monosom yangtidak berfungsi3 . R E S I S T E N S I Ada 3 mekanisme resistensi yang telah diketahuia . A d a n y a e n z i m y a g m e n g i n a k t i f a s i k a n a m i n o g y c o s i d e d e n g a n adenilasasi, asetilasi, dan fosforilasi. b . P e r u b a h a n permeabilitasc.Perubahan reseptor di r i b o s o m 4 . S T R E P T O M Y C I N Streptomycin dihasilkan dari Streptomyces grieus . Turunannya adalahdihidrostreptomycin. Aktivitas antibakteri dan resistensi masih sama dengan jenis yang lain. Streptomycin efektif untuk mikobakteria dan beberapa spesieslain (infeksi pes, tularemia, dan bruselosis dengan dosis 1 gram/hari ) serta

pengobatan kombinasi untuk memperkuat efektifitas antibakteri yang lain.Efek Samping yang bias timbul adalah alergi dan gangguan vestibular-vertigodan keseimbangan5 . G E N T A M I C I N D A N T O B R A M Y C I N Baik gentamycin dan tobramycin efektif terhadap gram (+) dan gramnegatif. Spktrum aktivitas kedua obat ini sama dengan menghambat banyak strain stafilokokus, koliform, dan bakteri gram (-) lainnya. Kombinasi yangefektif adalah dengan dengan karbenisilin atau tikarsilin untuk pengobatan p s e u d o m o n a s , p r o t e u s , e n t e r o b a c t e r , d a n k l e b s i e l l a . N a m u n b a n y a k sterptokokus resisten terhadap gentamycin.P e m b e r i a n I M a t a u I V g e n t a m y c i n a t a u t o b r a m y c i n b i a s a n y a digunakan untuk infeksi berat (sepsis) pseudomonas, enterobacter, proteusyang telah resisten dengan obat lain. Dengan dosis 5-7 mg/kg/hari IM atau IVobat ini dipadukan dengan cephalosporin atau penicillin untuk pengobatanyang lebih efektif. Kombinasi dengan penicillin-G dapat digunakan untuk endocarditis yang disebabkan oleh S viridans dan S faecalis. Gentamycin 0,1-0,3% dalam krim atau obat salep sering digunakan untuk luka bakar, luka, danl e s i k u l i t y a n g terinfeksi. Efek samping kedua obat analog

d e n g a n aminoglycoside lain, seperti nefrotoksisitas dapat terjadi.6 . K A N A M Y C I N & N E O M Y C I N Kedua obat ini juga berhubungan erat karena mempunyai resistensisilang yang lengkap. Neomycin susah diasorpsi secara oral, ekskresi terutamad i glomerulus. Penggunaan secara perenteral obat ini telah lama d i h i n d a r i karena efek nefrotoksis dan ototoksis yang jelas setelah pemberian. Peggunaan p a l i n g s e r i n g a d a l a h u n t u k t o p i c a l a t a u s u n t i k a n k e d a l a m s e n d i , rongga pleura, atau rongga abses dimana ada inf eksi. Penggunaan peroral m a s i h digunakan untuk mengurangi flora usus sebelum pembedaha.7 . A M I K A C I N A m i k a c i n m e r u p a k a n t u r u n a n d a r i k a n a m y c i n yang kurang toksisn a m u n l e b i h r e s i s t e n t e r h a d a p e n z i m p e n g i n a k t i f gentamycin sehingga

d i g u n a k a n t e r a p i k e d u a s e t e l a h g e n t a m yc i n . P e n g g u n a a n a m i k a c i n e f e k t i f untuk banyak bakteri Proteus, Pseudomonas, Enterobacter, dan Serratia.8 . N E T I L M Y C I N Keuntungan Netilmycin adalah obat ini cenderung lebih tahan terhadapkerusakan yang ditimbulkan oleh bakteri yang resisten terhadap gentamycindan tobramycin. Indikasi terutama pada infeksi iatrofenik serta infeksi yang beresiko untuk terjadi sepsis. MACROLIDES Macrolides termasuk golongan senyawa yang mempunyai cincin makrolide .C o n t o h o b a t i n i ya n g t e r k e n a l a d a l a h e r yt h r o m yc i n . P e n g g u n a a n m a c r o l i d e t e r b a t a s p a d a i n f e k s i k o r i n e b a k t e r i u m , k l a m i d i a , m yc o p l a s m a d a n legionella.Contoh macrolide adalah A z i t r o m yc i n , C l a r i t h r o m yc i n , E r yt h r o m yc i n , dan Spiramycin ERYTHROMYCINErythromycin merupakan obat macrolide yang dihasilkan dari Streptomyceserythreus . Aktvitas dapat hilang pada suhu 20 0 C d a n p H a s a m . S e d i a a n p a d a umumnya berupa garam. Erythromycin masih efektif terhadap organisme gram positif, terutama pneumokokus, streptokokus,, dan korinebakterium. Organismelain seperti mycoplasma, Clamydia trachomatis, dan Helicobacterium juga peka.R e s i s t e n s i d i j u m p a i p a d a b e b e r a p a p n e u m o k o k u s d a n s t r e p t o k o k u s d e n g a n perubahan pada reseptor. Dikontrol dengan genetik dan plasmidKarena tidak tahan asam, erythromycin basa dirusak di dalam lambung dan p e m b e r i a n p e r o r a l h a r u s d i b e r i k a n d a l a m b e n t u k e n t e r i c c o a t i n g a t a u dalam bentuk stearat ester. Dosis peroral 2 g/hari mencapai kadar serum 2 μ g / m L . Sejumlah besar hilang dalam feses. Distribusi tidak dapat menembus sawar otak.O b a t ini menembus plasenta dan mencapai janin. Ekskresi dilakukan

d a l a m empeduE r yt h r o m yc i n d i g u n a k a n d a l a m i n f e k s i C o r yn e b a c t e r i u m (difteri, sepsis,eritrasma), Infeksi klamedia pada saluran pernafasan, n e o n a n t u s , m a t a , a t a u genialia, Pneumonia oleh Mycoplasma dan Legionella. Dosis oral diberikan 0,25-

0,5 gram tiap 6 jam. Efek samping yang bisa muncul berupa anoreksia, mual, muntah, dan sifat toksis terhadap hepar.SPIRAMYCINSpiramycim punya spectrum yang sama dengan erythromycin namun lebihl e m a h . K e u t u n g a n n y a a d a l a h d a y a p e n e t r a s i y a n g k u a t d i j a r i n g a n m u l u t , tenggorokan dan saluran nafas sehingga sering digunakan untuk ISPA yang sukar dicapai dengan antibiotik lain. CHLORAMPHENICOL Chloramphenicol berasal dari isolasi Stretomyces venezuelae. Sifat kristalchloramphenicol sangat larut dalam alcohol dan sukar larut dalam air. NamunChloramphenicol suksinat sangat larut dalam air.Obat ini mempunyai efek kuat penghambat sintetis protein mikroba. Obat ini b e r s i f a t b a k t e r i o s t a t i k u n t u k k e b a n ya k a n b a k t e r i , n a m u n t i d a k e f e k t i f u n t u k k l a m i d i a . M e k a n i s m e resistensi muncul dengan berkurangnya permeabilitas t e r h a d a p chloramphenicol dan munculnya senyawa cholramphenicol acetyltransferase yang dapat menginaktifasikan obat ini.Obat ini sangat efektif untuk infeksi antara lain :a . S a l m o n e l l a s i m t o m a t i k b . I n f e k s i s e r i u s H i n f l u e n z a s e p e r t i meningitis,c.Infeksi meningokokus dan pneumokokus pada SSP d . I n f e k s i anaerobik pada SSPP e m b e r i a n d i b e r i k a n s e c a r a o r a l ( 2 g r a m / h a r i ) m a u p u n p a r e n t e r a l (chloramphenicol suksinat 25-5 mg/kg/hari). Obat ini dapat mencapai SSP dengankadar yang sama dengan di dalam serum. Obat ini mudah diinaktifasikan di dalamhati. Ekskresi terutama di tubulus ginjal dab sebagian kecil di empedu. Dosis tidak perlu dikurangi pada gagal ginjal namun sangat dikurangi pada gagal hati. CLINDAMYCIN/LYNCOMYCIN C l i n d a m yc i n m e r u p a k a n t u r u n a n d a r i l y n c o m yc i n . K e d u a n y a m e m p u n ya i aktivitas yang menyerupai erythromycin namun clindamycin lebih kuat dalam

mengatasi infeksi banyak bakteri kokus gram (+), kecuali e n t e r o k o k u s , Haemopgilusm Niseria, dan Mycoplasma yang resisten.Pemberian secara oral 0,15-0,3 gram tiap 6 jam sedangka untuk IV diberikan600 mg tiap 8 jam. Obat ini tidak dapat mencapai SSP. Ekskresi terutama di dalamhati, empedu dan urin.I n d i k a s i ya n g p e n t i n g adalah untuk mengobati infeksi anaerob berat oleh Bacterioid

dan kuman anaerob lainnya. Penggunaan lainnya sering kali digunakan p a d a i n f e k s i yang berasal dari saluran genital wanita seperti sepsis k a r e n a keguguran atau abses pelvis. F.GOLONGAN INHIBITOR FUNGSI DAN SINTETIS ASAM NUKLEID Obat-obat penghambat sintetis DNA terdiri dari 3 golongan mekanisme, yaitu p e n g h a m b a t r e p l i k a i D N A , p e n g h a m b a t p o l ym e r a s e r N A , d a n p e n g h a m b a t metabolisme nukleotid. Obat golongan inhibitor replikasi DNA bekerja denganme m-blok aksi gyrase dan DNA topoisomerase. Sedangkan golongan inhibitor polymerase menghambat dengan cara berikatan kuat dengan rNA polymerase.Golongan inhibotor metabolik nukleid seperti Acyclovir menghambat sintetisDNA dengan cara konversi senyawa ini menjadi tiphosphate dan menghambatt h y m i d i n e k i n a s e d a n p o l ym e r a s e D N A s e h i n g g a a d a p e n a m b a h a n D A T P k e dalam DNA dan kekurangan tymine untuk replikasi DNAG o l o n g a n r i f a m y c i n m e n g h a m b a t d e n g a n c a r a m e l e k a t p a d a e n z i m p o l ym e r a s e r N A s e h i n g g a D N A y a n g t e l a h b e r t r a n k r i p s i t i d a k b i s a d i u b a h menjadi mRNA. Golongan terakhir menghambat DNA girase sehinga tidak terjadi proses trankripsi pembelahan DNA

RIFAMYCIN R i f a m yc i n m a s i h t e r b u k t i a k t i f t e r h a d a p b e b e r a p a k o k u s g r a m ( + ) d a n ( ) , serta beberapa bakteri enteric, mikobakterium, klamidia, dan poxvirus. Sayangnya b a n y a k l a p o r a n m e n g e n a i r e s i s t e n s i b a k t e r i ya n g c e p a t t e r h a d a p p e n g o b a t a n tunggal rifamycin sehingga tidak boleh diberikan sendiri. Rifamycin diabsopsi baik secara peroral, dan diekskresikan melalui hati ke dalam empedu.R i f a m y c i n d i b e r i k a n dengan dosis 600 mg/hari dapat diberikan untuk pengobatan TB b e r s a m a a n d e n g a n p e m b e r i a n I N H , e t a m b u t o l , d l l . E f e k s a m p i n g n ya m e n i m b u l k a n w a r n a o r a n ye p a d a u r i n m k e r i n g a t , a i r m a t a ya n g sebenarnya tidak berbahaya

Yang termasuk golongan obat ini adalah polymyxin, polyenes, imidazole, dll.Kerja golongan ini adalah mengganggu intregitas fungisonal membran sitoplasmasehingga terjadi kematian pada bakteri. Polymyxin bekerja pada membran bakterigram (-) yang kaya fosfatidil dan bekerja seperti detergen. Polyenes juga bekerjahampir sama namun melekat pada jamur karena jamur mengandung ergosterolsehingga akan terbentuk sebuah pori. Mekanisme lain ditunjukkan oleh imidazoledengan cara penghambatan sintetis ergosterol. POLYMYXIN Polymyxin merupakan golongan polipeptida basa dan aktif terhadap bakteri g r a m ( ) . O b a t i n i m e m p u n y a i e f e k n e f r o t o k s i s ya n g h e b a t s e h i n g g a b a n ya k ditinggalkan kecuali polymyxin B dan E.Polymyxin bekerja sebagai bakterisidal

dan tidak dapat diabsorpsi di dalamusus sehingga diberikan secara parenteral. Walaupun begitu konsentrasi di dalamdarah dan jaringan cenderung rendah karena diikat erat oleh sel-sel mati. Ekskresiterutama di ginjal.Penggunaan polymyxin sekarang dibatasi pada penggunaa topical. Lerutan p o l ym yx i n B 1 - 1 0 m g / m L d i b e r i k a n p a d a p e r m u k a a n ya n g t e r i n f e k s i , a t a u disuntikkan ke dalam pleura ataupun sendi. Efek samping yang ditakutkan pada pemberian sistemik adalah efek nefrotoksisnya.H. GOLONGAN INHIBITOR METABOLISME Golongan ni mempunyai efek kerja seperti pada golongan penghambat sintetisD N A , ya i t u penghambatan dalam proses pembentukan purin. Yang termasuk golongan i n i a d a l a h s u l f o n a m i d e d a n t r i m e t r o p i m . S u a t u k o m b i n a s i a n t a r a golongan sulfonamide – thrimethropim dapat mengoptimalkan kerja golongan inidengan contoh cotromoxazole. SULFONAMIDE Sulfonamide secara struktural analog dengan asam p-amino benzoat (PABA).O b a t i n i bekerja secara bakteriostatik. Cara kerjanya adalah p e n g u b a h a n sulfonamide oleh enzim dihidrofolat sintase menjadi analog asam folat yang tidak b e r f u n g s i . N o r m a l n ya e n z i m i n i l a h ya n g b e r t u g a s m e n g u b a h P A B A m e n j a d i asasm dihidrofolat. Jadi sulfonamide hanya efektif terhadap bakteri -bakteri yangt i d a k d a p a t m e m b u a t P A B A a t a u m e m b u t u h k a n P A B A e k s t r a s e l . R e s i s t e n s i muncul apabila bakteri tersebut bermutasi memproduksi PABA yang berlebihan, perubahan struktur enzim.Sulfonamide kebanyakan diberikan secara peroral dan dapat didistribusikan kesemua jaringan termasuk ke cairan serebrospinal. Ekskresi terutama dilakukano l e h g l o m e r u l u s g i n j a l d e n g a n k a d a r d a l a m u r i n b i a s m e n c a p a i 1 0 - 2 0 k a l i konsentrasi dalam darah.P e n g g u n a a n s u l f o n a m i d e s e r i n g d i g u n a k a n s e c a r a p e r o r a l u n t u k i n f e k s i saluran kemih yang belum diobati sebelumnya, infeks clamidia pada mata dan s a l u r a n g e n i t a l . I n f e k s i b a k t e r i s e p e r t i s t r e p t o k o k u s B - h e m o l i t i k u m , meningokokus dulu digunakan namun sekarang sudah banyak terjadi resisten.Efek samping yang dilaporkan adalah pengendapan sulfonamide di salurankemih sehingga dapat menyebabkan obstruksi. Efek ini dapat dicegah dengan pemberian sulfonamide paling larut. Efek lainnya adalah gangguan hematopoetik

berupa anemia (heolitik atau aplastik) granulositopenia, trombositopenia, dan reaksi leukomoid. THRIMETHROPIM Thrimethropim bekerja dengan cara penghambatan kerja enzim a s a m dihidrofolat reduktase yang bertugas mengubah asam dihidrofolat menjadi asamtetrahidrofolat. Absorpsi baik melalui usus dan distribusi luas seperti sulfonamide.Sifatnya lebih larut dalam lipid.P e n g o b a t a n d e n g a n t h r i m e t h r o p i m t u n g g a l d a p a t diberikan untuk infeksisaluran kemih akut. Se lain itu karena t h r i m e t h r o p i m d a p a t t e r a k u m u l a s i p a d a cairan prostate dan cairan vagina, thrimethropim sering digunakan pada infeksi prostate dan vagina.Efek samping serupa dengan sulfonamide berupa gangguan hematopoetik seperti anemia megaloblastik, leukopenia, dan granulositopenia.

CO-TRIMOXAZOLE Gabungan kombinasi antara sulfonamide dan thrimethripim ini sering kali digunakan. Karena thrimethropim punya kelarutan lipid yang besar, perbandinganthrimethropi : sulfonamide = 1 : 5 untuk tiap co-trimoxazole.P e n g g u n a a n o b a t i n i b i a s a n ya b e r u p a p e n g o b a t a n p i l i h a n u n t u k i n f e k s i pneumonia oleh P carinii, entriris karena Shigella dan infeksi salmonella sistemik setelah resisten terhadap Ampicillin dan khoramphenicol. Penggunaan lain adalah pengobatan infeksi saluran kemih dan prostate

BAB IIIKESIMPULAN A.Antibiotik adalah senyawa-senyawa yang dapat menghambat dan membunuh bakteriB . A n t i b i o t i k d a p a t t e r b a g i b e r d a s a r k a n a k t i v i t a s d a l a m m e m b u n u h y a i t u bakteriosid dan bakteriostatik C . A n t i b i o t i k d a p a t t e r b a g a i b e r d a s a r k a n t e m p a t mekanisme kerja yaitu :Penghambatan sintetis dinding b a k t e r i , P e n g h a m b a t m e m b r a n s e l , Penghambatan sintetis protein di r i b o s o m , P e n g h a m b a t a n s i n t e t i s a s a m nukleat, dan Penghambatan metabolik (antagonis folat)D . R e s i s t e n s i t e r h a d a p a n t i b i o t i k m u n c u l k a r e n a b e b e r a p a m e k a n i s m e s e p e r t i : dihasilkannya enzim yang merusak aktivitas obat; pengubahan permeabilitasterhadap obat; adanya perubahan terhadap struktur sasaran bagi obat; adanya perubahan jalur metabolitk yang dihambat; adanya perubahan enzim yangtetap dapat melakukan fungsi metaboliknya tetapi lebih sedikit dipengaruhioleh obat DAFTAR PUSTAKA Anonim, (2008), Antibiotic , Wikipedia, diambil tanggal 25 Desember 2008, d a r i http://en.wikipedia.org/wiki/AntibioticBhat, V., (2008), Classification of Antibiotik , Mediacal Notebook, diambil tanggal 25D e s e m b e r 2 0 0 8 , d a r i http://prepg.blogspot.com/2007/03/classification-of-antibiotics.htmlDarmansjah, I., Nelwan, R., (1994) Antibiotic guideline : Farmacological , medical journal of university of Indonesia. diambil tanggal 25 Desember 2008, darihttp://www.iwandarmansjah.web.id/attachment/at_antibiotic%20guidelines.pdf Katzung, E.G, (1997), Obat-Obat Kemoterapeutika , d a l a m F a r m a k o l o g i D a s a r & Klinik, EGC : JakartaRosen, E.J., Quinn, F.B., (2000), Microbiology, infections, and antibiotic therapy, d i a m b i l t a n g g a l 25 Desember 2008, dari h t t p : / / w w w . u t m b . e d u / otoref/grnds/Infect-0003/Infect-0003.pdf

Antibiotik dalam Kehamilan
I. Pendahuluan

Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia. Sedangkan antibiotika (L. anti = lawan, bios = hidup) adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri, yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan kuman, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Banyak antibiotik dewasa ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh. Namun dalam praktek sehari-hari antimikroba sintetik yang tidak diturunkan dari produk mikroba (sulfonamide dan kuinolon) juga sering digolongkan sebagai antibiotik.1,2 Sifat antimikroba dapat berbeda satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh, penisilin G bersifat aktif terutama gram +, sedangkan bakteri gram – umumnya tidak peka terhadap penisilin. Berdasarkan sifat toksisitas selektifnya, terdapat anti mikroba yang menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktifitas bakteriostatik dan ada yang bersifat membunuh mikroba dikenal dengan sifat bakterisid. Antimikroba tertentu aktifitasnya dapat meningkat dari bakteriostatik menjadi bakterisid bila kadarnya ditingkatkan melebihi kadar hambat minimal.1 Antibiotika banyak digunakan secara luas pada kehamilan. Karena adanya efek samping yang potensial bagi ibu maupun janinnya, penggunaan antibiotik seharusnya digunakan jika terdapat indikasi yang jelas. Prinsip utama pengobatan wanita hamil dengan penyakit adalah dengan memikirkan pengobatan apakah yang tepat jika wanita tersebut tidak dalam keadaan hamil. Biasanya terdapat berbagai macam pilihan, dan untuk alasan inilah prinsip yang kedua adalah mengevaluasi keamanan obat bagi ibu dan janinnya.3 Infeksi merupakan penyebab utama kematian prematur pada bayi. Meskipun terapi profilaksis antibiotik belum terbukti bermanfaat, pemberian obat-obat antibiotik kepada ibu hamil dengan ketuban pecah dini dapat memperlambat kelahiran dan menurunkan insidens infeksi.4 Infeksi selama kehamilan dan periode post partum dapat disebabkan oleh kombinasi organisme, diantaranya aerob dan anaerob, coccus dan basil. Pemberian antibiotik seharusnya sesuai dengan observasi yang telah dilakukan. Jika tidak ada respon yang baik, kultur dapat dilakukan sebagai contoh pada urin, vaginal discharge dan kultur darah jika terjadi septikemia. Infeksi pada uterus dapat menyebabkan terjadinya abortus atau kelahiran bayi premature dan juga merupakan salah satu penyebab tersering kematian ibu. 4,5 Pemberian obat pada ibu hamil harus mempertimbangkan efek obat terhadap ibu dan tidak boleh melupakan pengaruh atau efek samping obat pada janin. Keberadaan obat pada ibu hamil dapat ditinjau dari tiga kompartemen yaitu kompartemen ibu, kompartemen plasenta, dan kompartemen fetal.3,4 Umumnya penisilin dan sefalosporin dianggap sebagai preparat pilihan pertama pada kehamilan, karena pemberian sebagian besar antibiotik lainnya berkaitan dengan peningkatan risiko malformasi pada janin. Bagi beberapa obat antibiotik, seperti eritromisin, risiko tersebut rendah

dan kadang-kadang setiap risiko pada janin harus dipertimbangkan terhadap keseriusan infeksi pada ibu. 3,6 Beberapa jenis antibiotika dapat menyebabkan kelainan pada janin. Hal ini terjadi karena antibiotika yang diberikan kepada wanita hamil dapat mempengaruhi janin yang dikandungnya melalui plasenta. Antibiotika yang demikian itu disebut teratogen. Definisi teratogen adalah suatu obat atau zat yang menyebabkan pertumbuhan janin yang abnormal.3,4,7 Besarnya reaksi toksik atau kelainan yang ditimbulkan oleh antibiotika dipengaruhi oleh besarnya dosis yang diberikan, lama dan saat pemberian serta sifat genetik ibu dan janin. Pada manusia, periode terjadinya teratogenesis adalah mulai hari ke 17 sampai hari ke 54 post konsepsi. Perlu diingat bahwa hanya sekitar 2%-3% kejadian teratogenik berhubungan dengan pajanan obat-obatan, sekitar 70% lainnya tidak diketahui. Sisanya kemungkinan berhubungan dengan kelainan genetik atau pajanan lainnya.Pada ibu hamil tumbuh unit fetoplasental dalam uterus. Hormon plasenta mempengaruhi fungsi traktus digestifus dan motilitas usus. Demikian pula filtrasi glomerulus meningkat. Resorbsi inhalasi alveoli paru juga terpengaruh. Resorbsi obat pada usus ibu hamil lebih lama, eliminasi obat lewat ginjal lebih cepat dan resorbsi obat inhalasi pada alveoli paru bertambah.3,5 Besarnya reaksi toksik atau kelainan yang ditimbulkan oleh antibiotika dipengaruhi oleh besarnya dosis yang diberikan, lama dan saat pemberian serta sifat genetik ibu dan janin.3 II. Aktifitas, Spektrum dan Mekanisme Kerja Antibiotika

Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab infeksi pada manusia ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif yang tinggi. Artinya obat itu harus bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk manusia. Berdasarkan sifat ini, ada antibiotika yang bersifat bakteriostatik dan ada pula yang bersifat bakterisid.1 Tabel 1. Kelas antibiotika berdasar sifat aktifitasnya1,2
Sifat aktifitas Bakteriostatik Antibiotika Kloramfenikol

Tetrasiklin Eritromisin Linkomisin Klindamisin Rifampisin

Sulfonamid Trimetoprim Spektinomisin Metenamin mandelat Asam nalidiksid dan asam oksolinik Nitrofurantoin
Bakterisid Penisilin

Sefalosporin Aminoglikosid Polimiksin Vankomisin Basitrasin Sikloserin Dilihat dari daya basminya terhadap mikroba, antibiotika dibagi manjadi 2 kelompok yaitu yang berspektrum sempit dan berspektrum luas. Walaupun suatu antibiotika berspektrum luas, efektifitas klinisnya tidak seperti apa yang diharapkan, sebab efektifitas maksimal diperoleh dengan menggunakan obat terpilih untuk infeksi yang sedang dihadapi, dan bukan dengan antibiotika yang spektrumnya paling luas.1,2 Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotika dibagi dalam 5 kelompok, yaitu :2 1. Yang mengganggu metabolisme sel mikroba. Termasuk disini adalah : Sulfonamid, trimetoprim, INH 2. Yang menghambat sintesis dinding sel mikroba. Termasuk disini adalah : Penisilin, sefalosporin, sefamisin, karbapenem,vankomisin 3. Yang merusak keutuhan membran sel mikroba. Termasuk disini adalah : Polimiksin B, kolistin, amfoterisin B, nistatin

4. Yang menghambat sintesis protein sel mikroba. Termasuk disini adalah : Streptomisin, neomisin, kanamisin, gentamisin, tobramisin, amikasin, netilmisin, eritromisin, linkomisin, klindamisin, kloramfenikol, tetrasiklin, spektinomisin 5. Yang menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba. Termasuk disini adalah : Rifampisin, aktinomisin D, kuinolon. III. Resistensi

Resistensi sel mikroba ialah suatu sifat tidak terganggunya kehidupan sel mikroba oleh antibiotika. Sifat ini bisa merupakan suatu mekanisme alamiah untuk tetap bertahan hidup. Timbulnya resistensi pada suatu strain mikroba terhadap suatu antibiotika terjadi Berdasarkan salah satu atau lebih dari mekanisme berikut : 2 1. Mikroba mensintesis suatu emzim inaktivator atau penghancur antibiotika 2. Mikroba mensintesis enzim baru untuk menggantikan enzim inaktivator/penghancur antibiotika yang dihambat kerjanya 3. Mikroba meningkatkan sintesis metabolit yang bersifat antagonis-kompetitif terhadap antibiotika 4. Mikroba membentuk jalan metabolisme baru 5. Permeabilitas dinding atau membran sel mikroba menurun untuk antibiotika 6. Perubahan struktur atau komposisi ribosom sel mikroba IV. Farmakokinetika Antibiotika

Agar suatu obat efektif untuk pengobatan, maka obat itu harus mencapai tempat aktifitasnya di dalam tubuh dengan kecepatan dan jumlah yang cukup untuk menghasilkan konsentrasi efektif.2 Faktor-faktor yang penting dan berperan dalam farmakokinetika obat adalah absorpsi, distribusi, biotransformasi, eliminasi, faktor genetik dan interaksi obat. Antibiotika yang akan mengalami transportasi tergantung dengan daya ikatnya terhadap protein plasma. Bentuk yang tidak terikat dengan protein itulah yang secara farmakologis aktif, yaitu punya kemampuan sebagai antimikroba.1,2 Transport antibiotika ditentukan oleh proses difusinya, luas daerah transfer, kelarutan dalam lemak, berat molekul, derajat ionisasi, koefisien partisi dan perbedaan konsentrasi meternofetal.1,2 V. Keberadaan obat pada ibu hamil

Perubahan farmakokinetik dan dosis obat dalam kehamilan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah kompartemen ibu, kompartemen plasenta dan kompartemen janin.4 Kompartemen ibu

Perubahan kadar protein darah

Pada kehamilan produksi albumin dan protein lain pada hepar sedikit bertambah, tetapi jika dibandingkan dengan meningkatnya volume plasma (hidraemia) kadar albumin menurun, sehingga terdapat penurunan relative (hipoalbuminemia fisiologis). Sebagian protein akan berikatan dengan hormone progesterone , sehingga hanya sebagian albumin yang mengikat obat.3,4

Detoksikasi/ eliminasi obat

Hepar : pada kehamilan fungsi hati terganggu karena munculnya hormone dari plasenta. Maka, pembentukkan protein agak menurun terutama albumin. Enzim-enzim hepar, protein plasma, dan immunoglobulin produksinya berkurang. Detoksikasi obat akan berkurang, kecuali ada obat tertentu yang meningkatkan aktifitas metabolism hepar akibat rangsangan enzim mikrosom oleh hormon progesterone. Beberapa obat akan lebih menurunkan fungsi hepar akibat kompetitif inhibisi dari enzim oksidase serta mikrosom akibat pengaruh hormone plasenta terutapa progesterone dan esterogen. 3,4 Ginjal : aliran darah glomerulus pada kehamila meningkat 50%. Glomerulus filtration rate (GFR) meningkat. Ini akibat dari peningkatan volume plasma darah dan hormone progesterone. Dengan adanya peningkatan GFR maka ada beberapa obat yang lebih cepat dieksresikan, misalnya golongan penicillin dan derivatnya, beberapa obat jantung (digoksin), dan golongan makrolid.3,4 Penelitin menunjukan bahwa neonates dapat juga dipengaruhi oleh pengobatan ibunya. Kapasitas neonates untuk mengeliminasi obat , seperti juga janin, adalah minimal dan sejumlah obat yang tertimbun sehingga mencapai kadar toksik. 3,4 Kompartemen plasenta Plasenta merupakan unit yang berfungsi menyalurkan nutrient dari ibu ke janin. Bila dalam plasma darah ibu terdapat pula obat, maka obat ini akan melalui mekanisme transfer plasenta (sawar plasenta), membrane bioaktif sitoplasmik lipoprotein sel tropoblast, endotel kapiler vili korialis, dan jaringan pengikat interstitial vili. Bila didalam plasma darah ibu mengandung obat, maka obat ini akan melalui sawar plasenta dengan cara berikut. 3,4
 

Secara difusi pasif/aktif Secara transportasi aktif dan fasilitatif fagositosis, semipermeable membrane sel tropoblas, dan mekanisme gradient elektro kimiawi.

Dengan kemampuan tersebut secara semi selektif obat dapat melalui sawar plasenta. Maka, obat dapat mengalami : 3,4

 

Kadar yang sama sebelum dan sesudah melalui plasenta. Kadar yang lebih sedikit setelah melalui plasenta

Kompartemen janin Dengan mengingat peran plasenta dalam memfiltrasi atau seleksi obat baik secara aktif maupun pasif serta banyak sedikitnya kadar obat yang masuk kedalam janin, maka perlu dipikirkan kadar obat yang akan berefek atau memberikan resiko pada kesejahteraan janin/ pertumbuhan organ janin. Bila obat memiliki efek teratogenik pada janin, maka pemberian obat perlu dipertimbangkan. Sangat jarang pemberian obat untuk janin dengan melalui ibu. Yang paling sering adalah penggunaan obat untuk ibu, tetapi tanpa terpikirkan masuk ke dalam janin sehingga dapat merugikan kesejahteraan janin.4 Periode pertumbuhan janin yang dapat beresiko dalam pemberian zat atau obat pada pertumbuhannya adalah sebagai berikut.4

Periode embrio 2 minggu pertama sejak konsepsi

Pada periode ini embrio belum terpengaruh oleh efek obat penyebab teratogenik
o

Periode organogenesis yaitu sejak 17 hari sampai lebih kurang 70 hari pasca konsepsi sangat rentan terhadap efek obat, terutama obat-obat tertentu yang memberi efek negative atau cacat bawaan pada pertumbuhan embrio dan janinSetelah tujuh hari pasca konsepsi dimana organogenesis masih berlangsung walau belum sempurna, obat yang berpengaruh jenisnya tidak terlalu banyak dan malah ada yang mengatakan tidak berpengaruh.4

VI.

Efek Teratogenik

Teratologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perkembangan abnormal dan malformasi kongenital. Termasuk disini mempelajari klasifikasi, frekuensi, penyebab dan mekanisme perkembangan janin dan embrio yang mengalami penyimpangan.4,6 Teratogenisitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu zat eksogen (disebut teratogen) untuk menimbulkan malformasi kongenital yang tampak jelas saat lahir bila diberikan selama kehamilan. Efek teratogen yang terjadi tergantung dari :4,6 1. Kepekaan genetis janin 2. Masa gestasi 3. Dosis obat yang diberikan 4. Kondisi ibu seperti umur, nutrisi, patologi

Pada tahun 1980, Food and Drug Administration memperkenalkan 5 kategori untuk obat-obat yang diberikan selama kehamilan. Lima kategori itu adalah :4,7,8 Kategori A : Obat yang sudah pernah diujikan pada manusia hamil dan terbukti tidak ada risiko terhadap janin dalam rahim. Obat golongan ini aman untuk dikonsumsi oleh ibu hamil (vitamin) Kategori B : Obat yang sudah diujikan pada binatang dan terbukti ada atau tidak ada efek terhadap janin dalam rahim akan tetapi belum pernah terbukti pada manusia. Obat golongan ini bila diperlukan dapat diberikan pada ibu hamil (Penicillin).Termasuk disini adalah : 1. Dari studi pada binatang tidak menunjukkan resiko, tetapi belum ada studi pada manusia mengenai hal tersebut 2. Dari studi pada binatang menunjukkan adanya resiko, tetapi dari hasil studi yang terkontrol baik pada manusia menunjukkan tidak adanya resiko Kategori C : Obat yang pernah diujikan pada binatang atau manusia akan tetapi dengan hasil yang kurang memadai. Meskipun sudah dujikan pada binatang terbukti ada efek terhadap janin akan tetapi pada manusia belum ada bukti yang kuat. Obat golongan ini boleh diberikan pada ibu hamil apabila keuntungannya lebih besar disbanding efeknya terhadap janin (Kloramfenicol, Rifampisin, INH). Kategori D : Obat yang sudah dibuktikan mempunyai risiko terhadap janin manusia. Obat golongan ini tidak dianjurkan untuk dikonsumsi ibu hamil. Terpaksa diberikan apabila dipertimbangkan untuk menyelamatkan jiwa ibu (Streptomisin, Tetrasiklin, Kanamisin). Kategori X : Obat yang sudah jelas terbukti ada risiko pada janin manusia dan kerugian dari obat ini jauh lebih besar daripada manfaatnya bila diberikan pada ibu hamil, sehingga tidak dibenarkan untuk diberikan pada ibu hamil atau yang tersangka hamil Antibiotika tidak ada yang termasuk kategori X. Umumnya masuk kategori B, kecuali beberapa yang masuk kategori C atau D. Telah disebut sebelumnya bahwa antibiotika yang bebas yang mempunyai efek farmakologis dan mampu ditransfer melalui plasenta untuk selanjutnya terdistribusi dalam tubuh janin. Obat yang

berada di dalam tubuh janin inilah yang bisa mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin.1,5 Menurut Eriksson dkk, ada 4 prinsip teratogenik yang menyebabkan suatu antibiotika bisa menimbulkan efek teratogenik yaitu :1 1. Sifat antibiotika dan kemampuannya untuk memasuki tubuh janin 2. Saat obat bekerja 3. Kadar dan lama pemberian (dosis) 4. Kesempurnaan genetik janin VII.

Penggunaan Klinis antibiotik
Infeksi saluran pernapasan1

Penyakit infeksi saluran pernapasan dan pilihan pengobatannya adalah sebagai berikut
Jenis infeksi Faringitis Penyebab tersering
  

Pilihan Antimikroba

Virus, strep. Pyogenes, C. diphtheria

Penisilin V, eritromisin, penisilin G Penisilin G, eritromisin

Bronchitis akut

  

Virus Str. Pneumonia, H. influenza M. pneumoniae

Amoksisilin, eritromisin Eritromisin

Bronchitis kronik eksaserbasi akut

Str. Pneumonia, H. influenza, M. pneumoniae B. catarrhalis Str. Pneumonia H. influenza

Amoksisilin/penisilin, eritromisin, kotrimoksazol, doksisiklin

Amoksisiklin-asam klavulanat, kotrimoksazol, eritromisin
Penisilin g, eritromisin, sefalosporin gen I,

Pneumonia bacterial

 

Amoksisilin, kotrimoksazol, kloramfenikol, fluorokuinolon
 

M. pneumonia S. aureus

Eritromisin, doksisiklin

Kuman enteric gram (-) Klosasiklin, sefalosporin gen I

Sephalosprin gen III,dengan/tanpa aminoglikosd

Tuberculosis7,8

Pengobatan yang diberikan sebagai terapi tuberculosis diantaranya adalah INH, rifampicin, pirazinamid dan etambutol. Penggunaan streptomisin dalam kehamilan dikontraindikasikan karena dapat menyebabkan ketulian pada anak.

Lepra7

Regimen pengobatan yang diberikan pada penyakit lepra adalah rifampisin, lampren dan dapson.

Penyakit menular seksual1

Beberapa penyakit menular seksual dan pilihan pengobatannya adalah sebagai berikut.
Jenis infeksi Urethritis Penyebab tersering N. gonorrhoe (bukan penghasil penisilinase) Pilihan antimikroba Ampisilin/amoksisilin, seftriakson, tetrasiklin

N. gonorrhoe (penghasil penisilinase) Seftriakson, fluorokuinolon C. trachomatis Ureplasma urealytikum
Herpes genitalis Virus herpes simpleks Sifilis Ulkus mole T. palidum H. ducreyl

Doksisiklin/tetrasiklin, eritromisin Doksisiklin/tetrasiklin
Asiklovir Penisilin G prokain, seftriakson, tetrasiklin Kotrimoksazol, eritromisin, seftriakson, tetrasiklin

Infeksi saluran kemih1,7

Beberapa penyakit infeksi saluran kemih dan pilihan pengobatannya adalah sebagai berikut.
Jenis infeksi Penyebab tersering Pilihan antimikroba

Sistitis akut

e. coli, S. saprophyticus, bakteri gr -

Nitrofurantoin, ampisilin, trimetroprim Pasien rawat :

Pielonefritis akut e.coli, streptococcus, bakteri gr -

Kotrimoksazol IV, sefa gen III, aztreonam Pasien rawat jalan: Kotrimoksazol oral, fluoroquinolon, amoksisilin+as. Clavulanat

Infeksi saluran pencernaan1,7

Beberapa penyakit infeksi saluran pencernaan dan pilihan pengobatannya adalah sebagai berikut.
Jenis infeksi Gingivitis dan abses gigi Enteritis infeksiosa Penyebab tersering Pilihan antimikroba

Kuman aerob, kuman anaerob Penisilin G procain Virus

Shigella V. cholera E. histolytica C. jejuni
Kolesistitis akut e. coli, b. fragilis, bakteri gr -

Kotrimoksazol/fluoroquinolon/ampisilin Tetrasiklin, kotrimoksazol Metronidazole Eritromisin/fluorokuinolon,tetrasiklin
Ampisilin+gentamisin,ampisilin-sulbaktam, sefazolin

Peritonitis

e.coli, bakteri anaerob, bakteri Ampisilin+gentamisin+metronidazole, gr gentamisin+metronidazole, sefoksitin Salmonella thypi Kotrimoksazole, Ceftriakson, Kloramfenikol

Thypoid

VIII.

Antibiotika Dalam Kehamilan

A. Penisilin

Penisilin adalah antibiotika yang termasuk paling banyak dan paling luas dipakai. Obat ini merupakan senyawa asam organik, terdiri dari satu inti siklik dengan satu rantai samping. Inti sikliknya terdiri dari cincin tiazolidin dan cincin betalaktam. Rantai samping merupakan gugus amino bebas yang dapat mengikat berbagai jenis radikal.4,7 Mekanisme kerjanya dengan menghambat pembentukan dinding sel mikroba yaitu dengan menghambat pembentukan mukopeptida yang diperlukan untuk sintesis dinding sel mikroba.1,2

Mikroba yang memproduksi enzim betalaktamase resisten terhadap beberapa penisilin karena enzim tersebut akan merusak cincin betalaktam dan akhirnya obat menjadi tidak aktif.2 Setelah pemberian parenteral, absorpsi penisilin terjadi cepat dan komplit. Pada pemberian peroral hanya sebagian obat yang diabsorpsi tergantung dengan stabilitas asam, ikatan dengan makanan dan adanya buffer. Untuk mengatasi hal itu pemberian peroral sebaiknya dilakukan 1 jam sebelum makan.2 Penisilin mempunyai batas keamanan yang lebar. Pemberian obat ini selama masa kehamilan tidak menimbulkan reaksi toksik baik pada ibu maupun janin, kecuali reaksi alergi. Obat ini termasuk dalam kategori B.6,8 Kadar penisilin di dalam serum wanita hamil lebih rendah daripada wanita yang tidak hamil, sedang clearancenya lewat ginjal lebih tinggi selama masa kehamilan.4,7 Pemberian pada wanita hamil untuk golongan penisilin dengan ikatan protein yang tinggi, misal oksasilin, kloksasilin, dikloksasilin dan nafsilin akan menghasilkan kadar obat di dalam cairan amnion dan jaringan di dalam tubuh janin yang lebih rendah dibandingkan bila yang diberikan adalah golongan penisilin dengan ikatan protein yang rendah seperti ampisilin dan metisilin.7 B. Sefalosporin Struktur sefalosporin mirip dengan penisilin, yaitu adanya cincin betalaktam yang pada sefalosporin berikatan dengan cincin dihidrotiazin. Modifikasi R1 pada posisi 7 cincin betalaktam dihubungkan dengan aktivitas antimikrobanya, sedangkan subtitusi R2 pada posisi 3 cincin dihidritiazin mempengaruhi metabolisme dan farmakokinetiknya. Obat-obatan golongan ini masuk kedalam kategori B6,7 Gambar 3. Struktur kimia sefalosporin Sefalosporin terbagi dalam 3 kelompok atau generasi yang terutama didasarkan atas aktifitas antimikrobanya yang secara tidak langsung juga sesuai dengan urutan masa pembuatannya.1 Generasi tersebut adalah : 2 1. Generasi pertama

Aktifitas anti mikrobanya tidak banya berbeda dengan penisilin berspektrum luas, yaitu mempunyai aktifitas yang baik terhadap gram + aerob dan beberapa gram – . Keunggulannya dari penisilin adalah aktifitasnya terhadap bakteri penghasil penisilinase. Yang termasuk generasi pertama ialah : a. Untuk pemberian peroral : Sefaleksin, sefradin, sefadroksil, sefaleksin b. Untuk pemberian IV : Sefazolin, sefalotin, sefapirin c. Untuk pemberian IM : Sefapirin, sefazolin 2. Generasi kedua Golongan ini kurang aktif terhadap bakteri gram + dibandingkan dengan generasi pertama, tetapi lebih aktif terhadap gram -. Yang termasuk generasi kedua ialah : a. Untuk pemberian peroral : Sefaklor b. Untuk pemberian IV dan IM : Sefosinid, sefoksitin, sefamandol, sefuroksim, sefotetan, seforanid 3. Generasi ketiga Golongan ini kurang aktif terhadap gram +, tetapi jauh lebih aktif terhadap gram-. Yang termasuk generasi ketiga ialah : Sefoperazon, seftriakson, sefotaksim, moksalaktam, seftizoksim. Penggunaan sefalosporin dalam obstetrik makin meluas. Obat ini digunakan sebagai profilaksis dalam seksio sesarea dan dalam pengobatan abortus septik, pielonefritis dan amnionitis. Dan sampai saat ini efek teratogenik dalam penggunaan obat ini belum ditemukan.6 Transfer transplasental dari sefalosporin cepat dan konsentrasi bakterisidnya adekuat, baik pada jaringan janin maupun cairan amnion. Pemberian dosis tinggi secara bolus yang berulang menunjukkan hasil kadar di dalam serum janin dan cairan amnion yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemberian secara infus dalam jumlah obat yang sama besarnya.6

C. Eritromisin

Eritromisin termasuk antibiotika golongan makrolid yang sama-sama mempunyai cincin lakton yang besar dalam rimus molekulnya.1,2 Gambar 4. Struktur kimia eritromisin Antibiotika ini tidak stabil dalam suasana asam, kurang stabil pada suhu kamar, tetapi cukup stabil pada suhu rendah. Aktivitas invitro paling besar dalam suasana alkalis.2 Eritromisin merupakan alternatif pilihan setelah penisilin dalam pengobatan terhadap gonore dan sifilis dalam kehamilan. Obat ini masuk dalam kategori B. Diantara berbagai bentuk eritromisin yang diberikan peroral, bentuk estolat diabsorpsi paling baik, tetapi sediaan ini sekarang tidak lagi beredar di Indonesia karena hepatotoksik. 2,6

D. Kloramfenikol Sejak ditemukan pertama kali dan diketahui bahwa daya antimikrobanya kuat, maka penggunaan obat ini meluas dengan cepat sampai tahun 1950 ketika diketahui bahwa obat ini dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal.1,2 Gambar 5. Struktur kimia kloramfenikol Kloramfenikol umumnya bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi kadang-kadang bersifat bakterisid terhadap kuman-kuman tertentu. Kerjanya dengan jalan menghambat sintesis protein kuman.2 Obat ini dipakai dalam pengobatan infeksi-infeksi anaerob dan dikatakan bahwa kloramfenikol berhubungan dengan terjadinya “drug-induced aplastic anemia” serta dengan terjadinya “gray baby syndrome” jika digunakan untuk neonatus. Obat ini masuk dalam kategori C.7,8 Adanya resiko terjadinya “gray baby syndrome” ini menyebabkan kloramfenikol tidak direkomendasikan untuk pemakaian pada trimester tiga kehamilan.3,8 E. Tetrasiklin Golongan tetrasiklin termasuk antibiotik yang terutama bersifat bakteriostatik dan bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Dikatakan juga bahwa tetrasiklin mampu bertindak sebagai chelator logam berat, khususnya kalsium.1,7 Tetrasiklin tidak direkomendasikan untuk penggunaan dalam kehamilan. Obat ini melintas plasenta dengan cepat dan terikat pada tulang dan gigi yang sedang tumbuh. Karena dapat menyebabkan reaksi toksik yang berat baik pada janin maupun pada ibu, maka penggunaan obat ini dalam kehamilan harus dihindarkan.1,2

Pemberian obat ini dalam terimester pertama kehamilan dapat menyebabkan kelainan pada janin berupa mikromelia dan keabnormalan tulang rangka ; pada kehamilan trimester kedua dapat menyebabkan penghambatan pertumbuhan tulang dan pembentukan desiduous gigi. Jika diberikan pada trimester ketiga obat ini akan disimpan dalam tulang dan desiduous gigi.2 Gambar 6. Struktur kimia tetrasiklin Tetrasiklin juga dapat menyebabkan efek toksik pada ibu yaitu terjadinya “acute fatty necrosis” hati, pankreatitis dan kerusakan ginjal. Kerusakan yang terjadi pada hati berhubungan dengan dosis yang diberikan, dan ini bisa berakibat fatal. Obat ini masuk dalam kategori D.1,7 F. Aminoglikosid Aminoglikosid bersifat bakterisid yang terutama tertuju pada basil gram – yang aerobik. Sedang aktifitas terhadap mikroorganisme anaerobik atau bakteri fakultatif dalam kondisi anaerobik rendah sekali.1 Termasuk golongan obat ini ialah : streptomisin, neomisin, kanamisin, amikasin, gentamisin, tobramisin, netilmisin dan sebagainya. Pengaruhnya menghambat sintesis protein sel mikroba dengan jalan menghambat fungsi ribosom.2 Pada umumnya obat golongan ini mempunyai reaksi toksik berupa ototoksik dan nefrotoksik. Ototoksik ditunjukkan dengan hilangnya pendengaran (kerusakan koklear) dan kerusakan vestibular (vertigo, ataksia dan gangguan keseimbangan). Nefrotoksik yang terjadi bisa diketahui dengan adanya peningkatan kadar kreatinin serum dan penurunan clearance kreatinin.1,2,7 Walaupun baru streptomisin yang dilaporkan menimbulkan gangguan pada janin akibat pemberian pada ibu selama kehamilan dalam jangka waktu yang lama, tetapi karena obat yang lain potensial ototoksik maka sebaiknya pemakaian obat golongan aminoglikosid ini dihindarkan selama masa kehamilan. Obat-obatan golongan ini umumnya masuk dalam kategori D.7

G. Sulfonamid Sulfonamid adalah antimikroba yang digunakan secara sistemik maupun topikal untuk mengobati dan mencegah beberapa penyakit infeksi. Sebelum ditemukan antibiotik, sulfonamid merupakan kemoterapeutik yang utama. Kemudian peng gunaannya terdesak oleh antibiotik. Dengan ditemukannya preparat kombinasi trimetoprim sulfametoksazol meningkatkan kembali penggunaan sulfonamid untuk pengobatan penyakit infeksi tertentu. Nama sulfonamid adalah nama generik derivat paraamino benzen sulfonamid (sulfanilamide).1 Sulfonamid memperlihatkan spektrum antibakteri yang luas terhadap bakteri gram + maupun gram -, meskipun kurang kuat dibandingkan dengan antibiotik lainnya. Umumnya hanya bersifat bakteriostatik kecuali pada kadar yang tinggi dalam urin, sulfonamid bersifat bakterisid.1,2

Obat ini menghambat pertumbuhan bakteri dengan mencegah penggunaan PABA (para amino benzoic acid) oleh bekteri untuk mensintesis PGA (pteroylglutamic acid).7 Trimetoprim-sulfametoksazol menghambat reaksi enzimatis pada dua tahap yang berturutan pada mikroba, sehingga kombinasi kedua obat memberikan efek sinergis. 1,2 Gambar 7.Struktur kimia sulfanilamide dan trimetoprim Sulfonamid belum diketahui menyebabkan kerusakan pada janin, tetapi jika diberikan selama kehamilan bisa menimbulkan gangguan pada neonatus. Obat ini masuk dalamkategori C. Sulfonamid berkompetisi dengan bilirubin pada tempat ikatan di albumin sehingga meningkatkan bilirubin bebas dalam serum. Akibatnya resiko terjadinya kern-ikterus meningkat. Atas dasar alasan ini obat golongan sulfonamid jangan diberikan pada trimester akhir kehamilan.2,7

H. Metronidazol Obat ini digunakan dalam obstetrik untuk trikomoniasis vagina dan endometritis postpartum. 7 Di dalam studi pada binatang obat ini dikatakan dapat menyebabkan timbulnya adenomatosis paru, tumor mamae dan karsinoma hepar sehingga dikatakan obat ini berifat karsinogenik. Tetapi tidak ada studi yang mendukung terjadinya akibat itu pada manusia. Obat ini masuk dalam kategori B.4,7 Oleh karena adanya potensi karsinogenik maka obat ini sebaiknya tidak digunakan dalam kehamilan kecuali betul-betul mutlak diperlukan untuk pengobatan.7 I. Nitrofurantoin Nitrofurantoin adalah antiseptik saluran kemih derivat furan. Obat ini biasa digunakan untuk infeksi saluran kemih baik pada wanita hamil ataupun tidak hamil. 1,7 Gambar 9. Struktur kimia nitrofurantoin Nitrofurantoin bisa menyebabkan hemolisis, anemia dan hiperbilirubinemia pada bayi yang menderita defisiensi enzim G6PD yang dilahirkan dari ibu yang mendapat terapi obat ini. Selain potensi tersebut tidak ada efek teratogenik lain yang dilaporkan. Obat ini termasuk dalam kategori B.1,7 J. Klindamisin Klindamisin merupakan derivat linkomisin, tetapi mempunyai sifat yang lebih baik. Klindamisin lebih aktif, lebih sedikit efek sampingnya serta pada pemberian peroral tidak terlalu dihambat oleh adanya makanan dalam lambung. Obat ini masuk termasuk kategori B.1,7

Obat ini umumnya digunakan pada infeksi postpartum, tidak biasa digunakan alam kehamilan. Walaupun obat ini melintas plasenta dengan cepat dan mencapai kadar terapeutik yang adekuat pada janin, tetapi tidak dilaporkan adanya efek teratogenik yang terjadi. 8

K. Regimen Antituberkulosis

Pyrazinamide

Pirazinamid adalah salah satu regimen pengobatan TB yang sering digunakan. Pengggunaan pyrazinamide selama kehamilan hanya dapat diberikan dengan regimen obat anti tuberculosis yang lain. Obat ini memiliki rekor yang baik selama kehamilan kehamilan. Namun, tidak adala laporan yang adekuat atau penelitian yang dilakukan pada wanita hamil sehingga dikelompokan dalam goongan C. Obat ini memiliki efek samping diantaranyainterstitiel nephritis, hepatotoksid, trombositopenia, hiperurisemia, anoreksia, urtikaria fotosensitifitas. Penggunaan pirazinamid pada masa menyusui perlu memertimbangkan tingkat keparahan penyakit dan potensi gangguan perinatal.7,8

Etambutol

Etambutol merupakan salah satu obat anti tuberculosis yang sering digunakan dalam kehamilan. Tidak ada penelitian yang cukup terhadap penggunaan etambutol pada wanita hamil. Percobaan yang dilakukan relative kecil dan terbatas. Obat ini masuk dalam kategori B. Informasi yang tersedia menunjukkan bahwa ke 4 first line terapi TB (INH,PZA, etambutol dan rifampisin), memiliki catatan yang aman digunakan dalam kehamilan. Efek samping dari penggunan obat ini diantaranya adalah trombsitopenia, neuropathy, anorexia, nyeri sendi, nyeri perut, demam, sakit kepala. Penggunaannya dalam masa laktasi relative aman.7,8

Rifampisin

Rifampisin adalah salah satu regimen pengobatan tuberculosis.selain itu juga digunakan pada pengobatan lepra. Setelah fase inisial ( dua bulan), pengobatan dilanjutkan dengan rifampisin dan INH. Sebuah pengalaman yang panjang, kehamilan tidak menunjukkan peningkatan efek samping. Tidak ada penelitian yang cukup terhadap penggunaan rifampisin dalam kehamilan. Rifampisin dapat menyebabkan perdarahan pada ibu dan neonates ketika mendapatkan pengobatan pada trimester ketiga. Pengobatan dengan vit K diindikasikan. Efek samping yang dapat ditimbulkan diantaranya adalah gagal ginjal, shok, hepatotoksid, anemia hemolitik, trombositopenia. Dalam kehamilan, rifampisin masuk dalam kategori C.7,8

Isoniazide

Isoniazid adalahsalah asatu regimen obat lini pertama tuberculosis. Utamanya dimetabolisme dengan asetil dan dehidrazinisasi. Resiko peningkatan hepatitis yang diinduksi oleh rifampisin meningkat dengan konsumsi alcohol. Tidak ada laporan dan penelitian yang adekat tentang

penggunaan INH pada kehamilan. Penggunaan INH sebaiknya dikombinasikan dengan pyridoxine untuk mengurangi resiko hepatitis kimiawi. Obat ini masuk dalam kategori C. 7,8

Streptomycin

Streptomisin merupakan salah satu first line agent pada pengobatan TB dan termasuk dalam golongan aminoglikosida. Semua golongan aminoglikosida terutama pada penggunaan parenteral dapat menyebabkan kerusakan pada organ pendengaran dan keseimbangan (ototoksis) akiba kerusakan pada saraf kranialis ke 8. Streptomisin dapat melintasi sawar dara plasenta dan merusak ginjal serta menimbulkan ketulian pada bayi, maka tidak dianjurkan selama masa kehamilan. Obat ini masuk dalam kategori D. Ciprofloxasin memiliki profil terbaik sebagai lini kedua pada resistensi obat TB.7 L. Regimen anti-lepra

Rifampisin

Selain sebagai regimen anti tuberculosis, rifampisin digunakan pula sebagai lini pertama pengobatan penyakti lepra. Tidak terdapat perbedaan efek rifampisin baik pada tuberculosis maupun lepra dalam kehamilan. Obat ini masuk dalam kategori C.7

Lamprene

Lampren adalah salah satu regimen antimikobakterialis yang diindikasikan pada penyakit lepra. Tidak ada laporan dan penelitian yang adekuat mengenai penggunaan obat ini selama kehamilan. Efek samping yang dapat muncul adalh hiperpigmentasipada kulit, konjungtiva dan nyeri abdomen. Obat ini melewati plasenta dan dapat menyebabkan hiperpigmentasi pada fetus. Bukti ini telah ditemukan pada manusia namun belum adekuat. Obat ini masuk dalam kategori C.7

Dapson

Dapson merupakan salah satu antimikobakteri yang digunakan pada lepra. Tidak ada laporan ataupun penelitian yang adekuat mengenai penggunaan obat ini dalam kehamilan. Dapson harus dikombinaskan dengan obat anti lepra lainnya untuk mencegah terjadinya resistensi. Dapson juga dapat digunakan pada infeksi P. falsiparum yang resisten terhadap kloroquin dan pyrimethaminsulfadoksin. Efek samping diantaranya hemolysis, anemia aplastic, neurophaty peripheral, nyeri abdomen, demam, sakit kepala. Tidak ada laporan dan penelitian yang adekuat terhadap fetus. Transfer melalui plasenta tampaknya terjadi, sebagaimana adanya methemoglobinemia pada neonates.obat ini termasuk dalam kategori C. 7
1. IX. Ringkasan

Telah dibicarakan aspek-aspek pemakaian antibiotika dalam kehamilan. Dari pembahasan tersebut diketahui bahwa tidak semua antibiotika aman digunakan dalam kehamilan.

Semua antibiotika yang beredar dalam darah wanita hamil dapat melintasi plasenta untuk kemudian beredar di dalam darah janin. Kecepatan melintasi plasenta dan kadar obat di dalam tubuh janin tergantung pada sifat fisiko-kimia obat dan keadaan fisiologis ibu dan janin. Pengaruh antibiotik pada wanita yang sedang hamil tidak berbeda jauh dengan wanita yang tidak hamil. Tetapi penggunaan antibiotika pada wanita hamil harus memperhitungkan pengaruhnya pada janin yang dikandungnya. Dari semua antibiotika, hanya tetrasiklin yang terbukti punya efek merugikan pada janin bila dipakai sepanjang masa kehamilan. Adapun antibiotika yang mempunyai efek atau potensi merugikan pada janin adalah Tetrasiklin, aminoglikosid (khususnya streptomisin), sulfonamid, kloramfenikol, isoniazid, metronidazol, nitrofurantoin. DAFTAR PUSTAKA
1. Gunawan S, Setiabudy R. Obat antimikroba. In : Setiabudy R, eds. Farmakologi FKUI. Jakarta : Gaya Baru , 2007 ; 585-637 2. Tjay, tan hoan DRS. Antibiotik dalam Obat-Obat Penting. Jakarta : Alex media computindo. 2002. 3. M. prest, C.K. Tan. Penggunaan Antibiotik pada Kehamilan dan Menyusui dalam Farmasi Klinis. Jakarta : Alex media computindo. 2003. 4. Saifuddin A.B., Rachimadhi T., Winknjosastro G.H. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawihardjo Edisi Keempat. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono Prahardjo 5. Managing complications in pregnancy & childbirth, WHO, 2000 ; C 35-36 6. Cunningham F, Gant N, Leveno K. Williams Obstetrics. 21st ed. London : McGraw Hill, 2001 ; 1018-1022 7. Weiner Carl. Drugs for Pregnant and Lactating Women. 2nd ed. London : Saunders Company, 2004 8. Briggs G, Freeman R, Yaffe S. Drugs in pregnancy and lactation. 5thed. London : Lippincott Williams & Wilkins, 1998

Obat Antibiotik
4

Amoxicillin Indikasi: Amoksisilina efektif terhadap penyakit: Infeksi saluran pernafasan kronik dan akut: pneumonia, faringitis (tidak untuk faringitis gonore), bronkitis, langritis. Infeksi sluran cerna: disentri basiler. Infeksi saluran kemih: gonore tidak terkomplikasi, uretritis, sistitis, pielonefritis. Infeksi lain: septikemia, endokarditis. Kontra Indikasi: Pasien dengan reaksi alergi terhadap penisilina. Komposisi: Tiap sendok teh (5 ml) suspensi mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 125 mg. Tiap kapsul mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 250 mg. Tiap kaptab mengandung amoksisilina trihidrat setara dengan amoksisilina anhidrat 500 mg. Cara Kerja Obat: Amoksisilina merupakan senyawa penisilina semi sintetik dengan aktivitas anti bakteri spektrum luas yang bersifat bakterisid. Aktivitasnya mirip dengan ampisilina, efektif terhadap sebagian bakteri gram-positif dan beberapa gram-negatif yang patogen. Bakteri patogen yang sensitif terhadap amoksisilina adalah Staphylococci, Streptococci, Enterococci, S. pneumoniae, N. gonorrhoeae, H. influenzae, E. coli dan P. mirabilis. Amoksisilina kurang efektif terhadap spesias Shigella dan bakteri penghasil beta-laktamase. Posologi: Dosis amoksisilina disesuaikan dengan jenis dan beratnya infeksi. Anak dengan berat badan kurang dari 20 kg: 20 – 40 mm/kg berat badan sehari, terbagi dalam 3 dosis. Dewasa atau anak dengan berat badan lebih dari 20 kg: 250 – 500 mg sehari, sebelum makan. Gonore yang tidak terkompilasi: amoksisilina 3 gram dengan probenesid 1 gram sebagai dosis tunggal. Efek Samping: Pada pasien yang hipersensitif dapat terjadi reaksi alergi seperti urtikaria, ruam kulit, pruritus, angioedema dan gangguan saluran cerna seperti diare, mual, muntah, glositis dan stomatitis.

Interkasi Obat: Probenesid memperlambat ekskresi amoksisilina. Cara Penyimpanan: Simpan dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk dan kering. Peringatan dan Perhatian: Pasien yang alergi terhadap sefalosporin mengakibatkan terjadinya “cross allergenicity” (alergi silang). Penggunaan dosis tinggi atau jangka lama dapat menimbulkan superinfeksi (biasanya disebabkan: Enterobacter, Pseudomonas, S. aureus, Candida), terutama pada saluran gastrointestinal. Hati-hati pemberia pada wanita hamil dan menyusui dapat menyebabkan sensitivitas pada bayi. HARUS DENGAN RESEP DOKTER Jenis: Tablet Produsen: PT Indofarma

Ampicillin 500 mg Indikasi: Ampisilina digunakan untuk pengobatan: Infeksi saluran pernafasan,seperti pneumonia faringitis, bronkitis, laringitis. Infeksi saluran pencernaan, seperti shigellosis, salmonellosis. Infeksi saluran kemih dan kelamin, seperti gonore (tanpa komplikasi), uretritis, sistitis, pielonefritis. Infeksi kulit dan jaringan kulit. Septikemia, meningitis. Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap penisilina. Komposisi: Tiap captab mengandung Ampisilina Trihidrat setara dengan Ampisilina Anhidrat 500 mg. Cara Kerja: Ampisilina termasuk golongan penisilina semisintetik yang berasal dari inti penisilina yaitu asam 6-amino penisilinat (6-APA) dan merupakan antibiotik spektrum luas yang bersifat bakterisid.

Secara klinis efektif terhadap kuman gram-positif yang peka terhadap penisilina G dan bermacam-macam kuman gram-negatif, diantaranya : 1.Kuman gram-positif seperti S. pneumoniae, enterokokus dan stafilokokus yang tidak menghasilkan penisilinase. 2.Kuman gram-negatif seperti gonokokus, H. influenzae, beberapa jenis E. coli, Shigella, Salmonella dan P. mirabilis. Dosis: Untuk pemakaian oral dianjurkan diberikan ½ sampai 1 jam sebelum makan. Cara pembuatan suspensi, dengan menambahkan air matang sebanyak 50 ml, kocok sampai serbuk homogen. Setelah rekonstitusi, suspensi tersebut harus digunakan dalam jangka waktu 7 hari. Pemakaian parenteral baik secara i.m. ataupun i.v. dianjurkan bagi penderita yang tidak memungkinkan untuk pemakaian secara oral. Cara pembuatan larutan injeksi: Kemasan Cara pemakaian Penambahan air untuk injeksi Vial 0,5 g i.m./i.v. 1,5 ml Vial 1,0 g i.m./i.v. 2,0 ml Posologi: Terapi oral Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg : Infeksi saluran pernafasan : 250 – 500 mg setiap 6 jam. Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam. Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang : 50 – 100 mg/kg BB sehari diberikan dalam dosis terbagi setiap 6 jam. Pada infeksi yang berat dianjurkan diberikan dosis yang lebih tinggi. Terapi parenteral Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg : Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 250 – 500 mg setiap 6 jam. Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam. Septikemia dan bakterial meningitis : 150 – 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 – 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m. Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang: Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 25 – 50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam. Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 50 – 100 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam. Septikemia dan bakterial meningitis : 100 – 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 – 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m.

Bayi berusia 1 minggu atau kurang : 25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 8 – 12 jam. Bayi berusia lebih dari 1 minggu : 25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 6 – 8 jam. Efek Samping: Pada beberapa penderita, pemberian secara oral dapat disertai diare ringan yang bersifat sementara disebabkan gangguan keseimbangan flora usus. Umumnya pengobatan tidak perlu dihentikan. Flora usus yang normal dapat pulih kembali 3 – 5 hari setelah pengobatan dihentikan. Gangguan pada saluran pencernaan seperti glossitis, stomatitis, mual, muntah, enterokolitis, kolitis pseudomembran. Pada penderita yang diobati dengan Ampisilina, termasuk semua jenis penisilina dapat timbul reaksi hipersensitif, seperti urtikaria, eritema multiform. Syok anafilaksis merupakan reaksi paling serius yang terjadi pada pemberian secara parenteral. Cara Penyimpanan: Simpan di tempat sejuk dan kering. HARUS DENGAN RESEP DOKTER Jenis: Tablet Produsen: PT Indofarma

Cefixime Kapsul Indikasi: Cefixime diindikasikan untuk pengobatan infeksi-infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang rentan antara lain:
   

Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi yang disebabkan oleh Escherichia coli dan Proteus mirabilis. Otitis media disebabkan oleh Haemophilus influenzae (strain ?-laktamase positif) dan Streptococcus pyogenes. Faringitis dan tonsilitis yang disebabkan oleh Streptococcus pyogenes. Bronkitis akut dan bronkitis kronik dengan eksaserbasi akut yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae (strain beta-laktamase positif dan negatif).

Kontra Indikasi: Penderita dengan riwayat shock atau hipersensitif akibat beberapa bahan dari sediaan ini. Komposisi: Tiap kapsul CEFIXIME 50 mengandung: Cefixime 50 mg Tiap kapsul CEFIXIME 100 mengandung: Cefixime 100 mg Farmakologi: Aktivitas antibakteri Cefixime bersifat bakterisid dan berspektrum luas terhadap mikroorganisme gram positif dan gram negatif, seperti sefalosporin oral yang lain, cefixime mempunyai aktivitas yang poten terhadap mikroorganisme gram positif seperti streptococcus sp., Streptococcus pneumoniae, dan gram negatif seperti Branhamella catarrhalis, Escherichia coli, Proteus sp., Haemophilus influenzae. Mekanisme kerjanya yaitu menghambat sintesis dinding sel. Cefixime memiliki afinitas tinggi terhadap “penicillin-binding-protein” (PBP) 1 (1a, 1b, dan 1c) dan 3, dengan tempat aktivitas yang bervariasi tergantung jenis organismenya. Cefixime stabil terhadap ?-laktamase yang dihasilkan oleh beberapa organisme, dan mempunyai aktivitas yang baik terhadap organisme penghasil ?-laktamase. Farmakokinetika: Konsentrasi dalam serum. Pemberian per oral dosis tunggal 50,100 atau 200 mg (potensi) cefixime pada orang dewasa sehat dalam keadaan puasa, kadar puncak serum dicapai setelah 4 jam pemberian yaitu masingmasing 0,69; 1,13; dan 1,95 ?g/ml. Waktu paruh serum adalah 2,3-2,5 jam. Pemberian per oral dosis tunggal 1,5; 3,0; atau 6,0 mg (potensi)/kg cefixime pada penderita pediatrik dengan fungsi ginjal normal, kadar puncak serum dicapai setelah 3-4 jam pemberian yaitu masing-masing 1,14; 2,01; dan 3,97 ?g/ml. Waktu paruh serum adalah 3,2-3,7 jam. Distribusi (penetrasi ke dalam jaringan) Penetrasi ke dalam sputum, tonsil, jaringan maxillary sinus mucosal, otorrhea, cairan empedu dan jaringan kandung empedu adalah baik. Metabolisme Tidak ditemukan adanya metabolit yang aktif sebagai antibakteri di dalam serum atau urin. Eliminasi Cefixime terutama diekskresikan melalui ginjal. Jumlah ekskresi urin (sampai 12 jam) setelah pemberian oral 50,100 atau 200 mg (potensi) pada orang dewasa sehat dalam keadaan puasa

kurang lebih 20-25% dari dosis yang diberikan. Kadar puncak urin masing-masing 42,9; 62,2 dan 82,7 ?g/ml dicapai dalam 4-6 jam setelah pemberian. Jumlah ekskresi urin (sampai 12 jam) setelah pemberian oral 1,5; 3,0; atau 6,0 mg (potensi)/kgBB pada penderita pediatrik dengan fungsi ginjal yang normal kurang lebih 13-20%. Dosis: Dewasa dan anak-anak dengan berat badan ?30 kg, dosis harian yang direkomendasikan adalah 50-100 mg (potensi) cefixime diberikan per oral dua kali sehari. Dosis sebaiknya disesuaikan dengan usia penderita, berat badan dan keadaan penderita. Untuk infeksi yang berat dosis dapat ditingkatkan sampai 200 mg (potensi) diberikan dua kali sehari. Pada kasus overdosis: Lavage lambung bisa dilakukan bila tidak ada antidot yang spesifik. Cefixime tidak dikeluarkan dalam jumlah yang spesifik. Cefixime tidak dikeluarkan dalam jumlah yang signifikan dari sirkulasi dengan hemodialisis atau dialisis peritoneal. Efek samping: Shock Perhatian yang cukup sebaiknya dilakukan karena gejala-gejala shock kadang-kadang bisa terjadi. Jika beberapa tanda atau gejala seperti perasaan tidak enak, rasa tidak enak pada rongga mulut, stridor, dizziness, defekasi yang tidak normal, tinnitus atau diaphoresis; maka pemakaian sediaan ini harus dihentikan. Hipersensitivitas Jika tanda-tanda reaksi hipersensitivitas seperti rash, urtikaria, eritema, pruritus atau demam maka pemakaian sediaan ini harus dihentikan dan sebaiknya dilakukan penanganan lain yang lebih tepat. Hematologik Granulositopenia atau eosinophilia jarang terjadi. Kadang-kadang thrombocytopenia dapat terjadi. Pemakaian sediaan ini sebaiknya dihentikan bila ditemukan adanya kelainan-kelainan ini. Dilaporkan bahwa terjadi anemia hemolitik pada penggunaan preparat cefixime lainnya. Hepatik Jarang terjadi peningkatan GOT, GPT atau alkaline phosphatase. Renal Pemantauan fungsi ginjal secara periodik dianjurkan karena gangguan fungsi ginjal seperti insufisiensi ginjal kadang-kadang dapat terjadi. Bila ditemukan adanya kelainan-kelainan ini, hentikan pemakaian obat ini dan lakukan penanganan lain yang lebih tepat.

Saluran Cerna Kadang-kadang terjadi kolitis seperti kolitis pseudomembranosa, yang ditunjukkan dengan adanya darah di dalam tinja. Nyeri lambung atau diare terus menerus memerlukan penanganan yang tepat, jarang terjadi muntah, diare, nyeri lambung, rasa tidak enak dalam lambung, heartburn atau anoreksia, nausea, rasa penuh dalam lambung atau konstipasi. Pernafasan Kadang-kadang terjadi pneumonia interstitial atau sindroma PIE, yang ditunjukkan dengan adanya gejala-gejala demam, batuk, dyspnea, foto rontgen thorax yang tidak normal dan eosinophilia, ini sebaiknya hentikan pengobatan dengan obat ini dan lakukan penanganan lain yang tepat seperti pemberian hormon adrenokortikal. Perubahan flora bakterial Jarang terjadi stomatitis atau kandidiasis. Defisiensi vitamin Jarang terjadi defisiensi vitamin K (seperti hipoprotrombinemia atau kecenderungan pendarahan) atau defisiensi grup vitamin B (seperti glositis, stomatitis, anoreksia atau neuritis). Lain-lain
 

Jarang terjadi sakit kepala atau dizziness. Pada penelitian terhadap anak tikus yang diberi 1.000 mg/kgBB.hari secara oral, dilaporkan adanya penurunan spermatogenesis.

Pengaruh terhadap tes laboratorium

Dapat terjadi hasil false positive pada penentuan kadar gula urin dengan menggunakan larutan Benedict, larutan Fehling dan Clinitest. Tetapi dengan tes-tape tidak terjadi false positive. Dapat terjadi positive direct Coombs test.

Peringatan dan perhatian: Perhatian umum Hati-hati terhadap reaksi hipersensitif, karena reaksi-reaksi seperti shock dapat terjadi. Sediaan ini sebaiknya jangan diberikan kepada penderita-penderita yang masih dapat diobati dengan antibiotika lain, jika perlu dapat diberikan dengan hati-hati. Penderita dengan riwayat hipersensitif terhadap bahan-bahan dalam sediaan ini atau dengan antibiotika cefixime lainnya. Cefixime harus diberikan dengan hati-hati kepada penderita, antara lain sebagai berikut:
  

Penderita dengan riwayat hipersensitif terhadap penisilin. Penderita dengan riwayat personal atau familial terhadap berbagai bentuk alergi seperti asma bronkial, rash, urtikaria. Penderita dengan gangguan fungsi ginjal berat.

Penderita dengan nutrisi oral rendah, penderita yang sedang mendapatkan nutrisi parenteral, penderita lanjut usia atau penderita yang dalam keadaan lemah. Observasi perlu dilakukan dengan hati-hati pada penderita ini karena dapat terjadi defisiensi vitamin K. Penggunaan selama kehamilan Keamanan pemakaian cefixime selama masa kehamilan belum terbukti. Sebaiknya sediaan ini hanya diberikan kepada penderita yang sedang hamil atau wanita yang hendak hamil, bila keuntungan terapetik lebih besar dibanding risiko yang terjadi. Penggunaan pada wanita menyusui Belum diketahui apakah cefixime diekskresikan melalui air susu ibu. Sebaiknya tidak menyusui untuk sementara waktu selama pengobatan dengan obat ini. Penggunaan pada bayi baru lahir atau bayi prematur Keamanan dan keefektifan penggunaan cefixime pada anak-anak dengan usia kurang dari 6 bulan belum dibuktikan (termasuk bayi baru lahir dan bayi prematur).

Penyimpanan: Simpan pada suhu kamar 30 derajat C, terlindung dari cahaya. HARUS DENGAN RESEP DOKTER Jenis: Kapsul Produsen: PT Dexa Medica

Ampicillin 125 mg/5ml Indikasi: Ampisilina digunakan untuk pengobatan : Infeksi saluran pernafasan,seperti pneumonia faringitis, bronkitis, laringitis. Infeksi saluran pencernaan, seperti shigellosis, salmonellosis. Infeksi saluran kemih dan kelamin, seperti gonore (tanpa komplikasi), uretritis, sistitis, pielonefritis. Infeksi kulit dan jaringan kulit. Septikemia, meningitis. Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap penisilina.

Komposisi: Tiap 5 ml (satu sendok teh) suspensi mengandung Ampisilina Trihidrat setara dengan Ampisilina Anhidrat 125 mg. Cara Kerja: Ampisilina termasuk golongan penisilina semisintetik yang berasal dari inti penisilina yaitu asam 6-amino penisilinat (6-APA) dan merupakan antibiotik spektrum luas yang bersifat bakterisid. Secara klinis efektif terhadap kuman gram-positif yang peka terhadap penisilina G dan bermacam-macam kuman gram-negatif, diantaranya : 1.Kuman gram-positif seperti S. pneumoniae, enterokokus dan stafilokokus yang tidak menghasilkan penisilinase. 2.Kuman gram-negatif seperti gonokokus, H. influenzae, beberapa jenis E. coli, Shigella, Salmonella dan P. mirabilis. Dosis: Untuk pemakaian oral dianjurkan diberikan ½ sampai 1 jam sebelum makan. Cara pembuatan suspensi, dengan menambahkan air matang sebanyak 50 ml, kocok sampai serbuk homogen. Setelah rekonstitusi, suspensi tersebut harus digunakan dalam jangka waktu 7 hari. Pemakaian parenteral baik secara i.m. ataupun i.v. dianjurkan bagi penderita yang tidak memungkinkan untuk pemakaian secara oral. Cara pembuatan larutan injeksi : Kemasan Cara pemakaian Penambahan air untuk injeksi Vial 0,5 g i.m./i.v. 1,5 ml Vial 1,0 g i.m./i.v. 2,0 ml Posologi: Terapi oral Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg : Infeksi saluran pernafasan : 250 – 500 mg setiap 6 jam. Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam. Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang : 50 – 100 mg/kg BB sehari diberikan dalam dosis terbagi setiap 6 jam. Pada infeksi yang berat dianjurkan diberikan dosis yang lebih tinggi. Terapi parenteral Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg : Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 250 – 500 mg setiap 6 jam. Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam. Septikemia dan bakterial meningitis : 150 – 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 – 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m.

Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang : Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 25 – 50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam. Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 50 – 100 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam. Septikemia dan bakterial meningitis : 100 – 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 – 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m. Bayi berusia 1 minggu atau kurang : 25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 8 – 12 jam. Bayi berusia lebih dari 1 minggu : 25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 6 – 8 jam. Perhatian: Efek Samping: Pada beberapa penderita, pemberian secara oral dapat disertai diare ringan yang bersifat sementara disebabkan gangguan keseimbangan flora usus. Umumnya pengobatan tidak perlu dihentikan. Flora usus yang normal dapat pulih kembali 3 – 5 hari setelah pengobatan dihentikan. Gangguan pada saluran pencernaan seperti glossitis, stomatitis, mual, muntah, enterokolitis, kolitis pseudomembran. Pada penderita yang diobati dengan Ampisilina, termasuk semua jenis penisilina dapat timbul reaksi hipersensitif, seperti urtikaria, eritema multiform. Syok anafilaksis merupakan reaksi paling serius yang terjadi pada pemberian secara parenteral. Cara Penyimpanan: Simpan di tempat sejuk dan kering. HARUS DENGAN RESEP DOKTER Jenis: Sirup Produsen: PT Indofarma

Tetracycline

Indikasi: Bruselosis, batuk rejan, pneumonia, demam yang disebabkan oleh Rickettsia, infeksi saluran kemih, bronkitis kronik. Psittacosis dan Lymphogranuloma inguinale. Juga untuk pengobatan infeksi-infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus dan Streptococcus pada penderita yang peka terhadap penisilin, disentri amuba, frambosia, gonore dan tahap tertentu pada sifilis. Kontra Indikasi: - Penderita yang peka terhadap obat-obatan golongan Tetrasiklin. - penderita gangguan fungsi ginjal (pielonefritis akut dan kronis). Komposisi: Tetracycline 250 mg Kapsul Tiap kapsul mengandung: Tetrasiklin HCl 250 mg. Tetracycline 500 mg Kapsul Tiap kapsul mengandung: Tetrasiklin HCl 500 mg. Cara Kerja Obat: Tetrasiklin HCl termasuk golongan tetrasiklin, mempunyai spektrum luas dan bersifat bakteriostatik, cara kerjanya dengan menghambat pembentukan protein pada bakteri. Efek Samping: - Pada pemberian lama atau berulang-ulang, kadang-kadang terjadi superinfeksi bakteri atau jamur seperti:enterokolitis dan kandidiasis. - Gangguan gastrointestinal seperti: anoreksia, pyrosis, vomiting, flatulen dan diare. - Reaksi hipersensitif seperti: urtikaria, edema, angioneurotik, atau anafilaksis. - Jarang terjadi seperti: anemia hemolitik, trombositopenia,neutropenia dan eosinofilia. Peringatan dan Perhatian: - Hendaknya diminum dengan segelas penuh air +/- 240 ml untuk meminimkan iritasi saluran pencernaan. - Sebaiknya tetrasikli tidak diberikan pada kehamilan 5 bulan terakhir sampai anak berusia 8 tahun, karena menyebabkan perubahan warna gigi menjadi kuning dan terganggupertumbuhan tulang. - Penggunaan tetrasiklin pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal,dapat menimbulkan efek komulasi. - Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi hati, wanita menyusui. - Jangan minum susu atau makanan produk susu lainnya dalam waktu 1 – 3 jam setelah penggunaan Tetrasiklin. Dosis: - Dewasa: 4 kali sehari 250 mg – 500 mg. Lama pemakaian: Kecuali apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pengobatan dengan Tetracycline kapsul hendaknya paling sedikit berlangsung selama 3 hari, agar kuman-kuman penyebab penyakit dapat terberantas seluruhnya dan untuk mencegah terjadinya resistansi bakteri terhadap tetrasiklin.

- Anak-anak di atas 8 tahun: sehari 25 – 50 mg/kg berat badan dibagi dalam 4 dosis, maksimum 1 g. Diberikan 1 jam sebelum atau 2 jam setelah makan. Interaksi Obat: - Tetrasiklin membentuk kompleks khelat dengan ion-ion kalsium, magnesium, besi dan aluminium. Maka sebaiknya tidak diberikan bersamaan dengan tonikum-tonikum yang mengandung besi atau dengan antasida berupa senyawa aluminium, amgnesium. Susu mengandung banyak kalsium, sehingga sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan susu. - Pengobatan dengan tetrasiklin jangan dikombinasikan dengan penisilin atau sefalosporin. - Karbamazepin dan fenitoin: menurunkan efektifitas tetrasiklin secara oral. - Tetrasiklin akan memperpanjang kerja antikluogulan kumarin, sehingga proses pembekuan akan tertunda. Cara Penyimpanan: Simpan di tempat yang sejuk dan kering serta terlindung dari cahaya. Jenis: Kapsul Produsen: PT Kimia Farma

AMPICILLIN Deskripsi Ampisilina termasuk golongan penisilina semisintetik yang berasal dari inti penisilina yaitu asam 6-amino penisilinat (6-APA) dan merupakan antibiotik spektrum luas yang bersifat bakterisid. Secara klinis efektif terhadap kuman gram-positif yang peka terhadap penisilina G dan bermacam-macam kuman gram-negatif, diantaranya : 1.Kuman gram-positif seperti S. pneumoniae, enterokokus dan stafilokokus yang tidak menghasilkan penisilinase. 2.Kuman gram-negatif seperti gonokokus, H. influenzae, beberapa jenis E. coli, Shigella, Salmonella dan P. mirabilis. Indikasi Ampisilina digunakan untuk pengobatan : - Infeksi saluran pernafasan,seperti pneumonia faringitis, bronkitis, laringitis. - Infeksi saluran pencernaan, seperti higellosis, salmonellosis. - Infeksi saluran kemih dan kelamin, seperti gonore (tanpa komplikasi), uretritis, sistitis, pielonefritis. - Infeksi kulit dan jaringan kulit. - Septikemia, meningitis.

Dosis Untuk pemakaian oral dianjurkan diberikan; sampai 1 jam sebelum makan. Cara pembuatan suspensi, dengan menambahkan air matang sebanyak 50 ml, kocok sampai serbuk homogen. Setelah rekonstitusi, suspensi tersebut harus digunakan dalam jangka waktu 7 hari. Terapi oral; Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg : Infeksi saluran pernafasan : 250 - 500 mg setiap 6 jam. Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam. Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang : 50 - 100 mg/kg BB sehari diberikan dalam dosis terbagi setiap 6 jam. Pada infeksi yang berat dianjurkan diberikan dosis yang lebih tinggi. Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg: Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 250 - 500 mg setiap 6 jam. Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam. Septikemia dan bakterial meningitis : 150 - 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 - 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m. Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang : Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 25 - 50 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam. Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 50 - 100 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 6 jam. Septikemia dan bakterial meningitis : 100 - 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3 - 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m. Bayi berusia 1 minggu atau kurang : 25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 8 - 12 jam. Bayi berusia lebih dari 1 minggu : 25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 6 - 8 jam Komposisi Tiap captab mengandung Ampisilina Trihidrat setara dengan Ampisilina Anhidrat 500 mg.

Pembaca runtah.com Paracetamol, Informasi obat kali ini akan menjelaskan jenis obat antipiretik atau antinyeri Paracetamol, yang diantaranya menjelaskan dosis obat Paracetamol, komposisi atau kandungan obat, manfaat atau kegunaan dan khasiat atau dalam bahasa medis indikasi, aturan pakai, cara minum/makan atau cara menggunakannya, juga akan menerangkan efek samping atau kerugian, pantangan atau kontra indikasi serta bahayanya, over dosis atau

keracunan, dan farmakologi serta meknisme kerja dari obat Paracetamol. dan inilah penjelasannya: Indikasi: Sebagai antipiretik/analgesik, termasuk bagi pasien yang tidak tahan asetosal. Sebagai analgesik, misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi, sakit waktu haid dan sakit pada otot.menurunkan demam pada influenza dan setelah vaksinasi. Kontra Indikasi: Hipersensitif terhadap parasetamol dan defisiensi glokose-6-fosfat dehidroganase.tidak boleh digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi hati. Deskripsi:
   

Paracetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik/analgesik Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Sifat analgesik parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang. Sifat antiinflamasinya sangat lemah sehingga sehingga tindak digunakan sebagai antirematik.

KOMPOSISI Parasetamol / Paracetamol EFEK Reaksi kulit, darah, & reaksi alergi lain. SAMPING

INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL Baik penelitian reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko pada janin maupun penelitian terkendali pada wanita hamil atau hewan coba tidak memperlihatkan efek merugikan (kecuali penurunan kesuburan) dimana tidak ada penelitian terkendali yang mengkonfirmasi risiko pada wanita hamil semester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trisemester selanjutnya). KEMASAN Tablet 500 mg x 10 x 10 biji.

DOSIS Dewasa : 3-4 kali Anak-anak : 3-4 kali sehari ½-1 tablet.

sehari

1-2

tablet.

PENYAJIAN Dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau tidak Jenis: Tablet

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->