P. 1
Makalah Kelainan Katub Jantung

Makalah Kelainan Katub Jantung

|Views: 2,409|Likes:
Published by Prazz Apriliand
S'moga bermanfaat,, :)
S'moga bermanfaat,, :)

More info:

Published by: Prazz Apriliand on Oct 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Penyakit katup jantung dahulu di anggap sebagai penyakit yang hampir pasti di sebabkan oleh reumatik. Demam reumatik hanya timbul bila terjadi respon anti bodi atau imunologi yang bermakna terhadap infeksi streptokok sebelumnya. Sekitar 3% infeksi streptokok pada faring dalam waktu 2-4 minggu akan di ikuti oleh serangan demam reumatik.serangan awalnya sering di temukan pada masa kanak-kanak dan awal masa remaja. Insiden infeksi streptokok yang menyebabkan demam reumatik, di anggap sebagai faktor predisposisi yang memiliki hubungan langsung dengan perkembangan dan transmisi infeksi; faktor predisposisi utama lainnya adalah faktor sosio ekonomi, seperti situasi kehidupan dan kemungkinan untuk mendapatkan perawatan, medis dan antibiotik. Insiden tertinggi penyakit katup adalah pada katup mitralis di ikuti katup aorta. Kecenderungan menyerang katup-katup jantung kiri di kaitkan dengan tekanan hemodinamik yang relatif lebih besar pada katup-katup ini. Dikatakan bahwa tekanan hemodinamik akan meningkatkan derajat perubahan bentuk yang dialami oleh katup tersebut. Insiden penyakit trikuspidalis lebih rendah, penyakit katup pulmonalis jarang terjadi. Penyakit pada katup trikuspidalis atau pulmonalis biasanya disertai lesi pada katup lainnya, sedangkan pada katup aorta atau mitralis sering di dapatkan sebagai lesi tersendiri. Lesi-lesi katup tertentu dapat menunjukkan keadaan apa yang menjadi penyebabnya. Misalnya, stenosis mitralis tunggal biasanya karena reumatik, sedangkan stenosis aorta murni biasanya akibat kalsivikasi premature dan degenerasi dari katup bikuspid kongenital. Lesi katup pulmonalis atau trikuspidalis tunggal hampir pasti disebabkan oleh cacat kongenital. Lesi katup gabungan disebabkan oleh reumatik. Dari berbagai paparan di atas, bahwa pada penyakit katup jantung merupakan komponen miokard penyakit katup jantung, sampai saat ini, merupakan penyebab utama mortalitas, perbaikan atau penggantian dini katup pada pasien resiko rendah telah menghasilkan preservasi fungsi miokard dengan

1

tingkat ketahanan hidup jangka panjang yang lebih baik. Maka kami dalam penyusunan makalah ini mengambil judul “Kelainan Katup Jantung dan Penatalaksanaannya ”. Dan diharapkan agar hal tersebut di cegah atau di minimalisir sejak dini.

1.2 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.2.5 1.2.6 1.2.7 1.2.8 1.2.9

RUMUSAN MASALAH Apakah pengertian dari katup jantung? Apa sajakah jenis-jenis kelainan katup jantung? Apa sajakah yang berhubungan dengan sindrom prolaps katup mitral? Apa sajakah yang berhubungan dengan regurgitasi mitralis? Apa sajakah yang berhubungan dengan stenosis mitralis? Apa sajakah yang berhubungan dengan stenosis aorta? Apa sajakah yang berhubungan dengan regurgitasi aorta? Apa sajakah yang berhubungan dengan penyakit katup trikuspidalis? Apa sajakah yang berhubungan dengan penyakit katup pulmonalis?

1.2.10 Bagaimakah tindakan pengobatan pada kelainan katup jantung?

1.3 1.3.1 1.3.2

TUJUAN Untuk mengetahui pengertian dari katup jantung. Untuk mengetahui jenis-jenis kelainan katup jantung.

1.3.3 Untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan sindrom prolaps katup mitral. 1.3.4 Untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan regurgitasi mitralis. 1.3.5 Untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan stenosis mitralis. 1.3.6 Untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan stenosis aorta. 1.3.7 Untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan regurgitasi aorta.

2

1.3.8 Untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan penyakit katup trikuspidalis. 1.3.9 Untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang berhubungan dengan penyakit katup pulmonalis. 1.3.10 Untuk mengetahui tindakan pengobatan pada kelainan katup jantung.

3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Definisi Katup Jantung Jantung memiliki empat ruangan, 2 ruangan kecil di atas (atrium) dan 2 ruangan besar di bawah (ventrikel). Setiap ventrikel memiliki satu katup masuk searah dan satu katup keluar searah. Katup jantung bekerja mengatur aliran darah melalui jantung ke arteria pulmonal dan aorta dengan cara membuka dan menutup pada saat yang tepat ketika jantung berkontraksi dan berelaksasi selama siklus jantung. Katup trikuspidalis membuka dari atrium kanan ke dalam ventrikel kanan, dan katup pulmonalis membuka dari ventrikel kanan ke dalam arteri pulmonalis. Katup mitral membuka dari atrium kiri ke dalam ventrikel kiri, dan katup aorta membuka dari ventrikel kiri ke dalam aorta. Katub artrioventrikuler memisahkan atrium dan ventrikel, terdiri atas katup trikuspidalis yag membagi atrium kanan dan ventrikel kanan, serta katup mitral atau bikuspidalis yang membagi atrium kiri dan ventrikel kiri. Katup semilunaris terletak antara ventrikel dan arteri yang bersangkutan. Katup pulmonal terletak antara ventrikel kanan dan arteri pulmonal, sedang katup aorta terletak antara ventrikel kiri dan aorta. Bila salah satu katup tidak terbuka atau tertutup dengan baik maka akan mempengaruhi aliran darah, bila katup tidak dapat membuka secara sempurna (biasanya karena stenosis), akibatnya aliran darah melalui katup tersebut akan berkurang. Bila katup tidak dapat menutup secara sempurna darah akan mengalami kebocoran sebagai proses yang disebut regurgitasi atau infusiensi.

2. 2 Jenis kelainan katup jantung Adapun beberapa jenis kelainan katup jantung:     Syndrome Prolaps Katup Mitral Regurgitasi Mitralis Stenosis Mitral Stenosis Katup Aorta
4

  

Regurgitasi Aorta Penyakit Trikuspidalis Penyakit Pulmonalis

2.3 -

Sindrom prolaps katup mitral Definisi Prolaps katup mitral (PKM) adalah suatu sindrom klinik yang disebabkan

oleh berbaliknya satu atau lebih apparatus katup mitral, daun katup, korda tendinea, muskulus papilaris, dan anulus katup dengan atau tanpa regurgitasi mitral (RM). Nama lain dari Prolaps Katup Mitral adalah sindrom murmur klik sistolik, sindrom Barlow, katup mitral miksomatosa, billowing mitral cusp syndrome, dan redundant cusp syndrome. Patofisiologi Sindrom prolaps katup mitral adalah disfungsi bilah-bilah katup mitral yang tidak menutup dengan sempurna dan mengakibatkan regurgitasi katup, sehingga darah merembes dari ventrikel kiri ke atrium kiri. Sindrom ini kadang tidak menimbulkan gejala atau juga dapat berkembang cepat dan menyebabkan kematian mendadak. Pada tahun-tahun belakangan sindrom ini semakin banyak dijumpai, mungkin karena metode diagnostic yang semakin maju.

2.4 Regurgitasi Mitralis - Definisi Regurgitasi Katup Mitral (Inkompetensia Mitral, Insufisiensi Mitral), (Mitral Regurgitation) adalah kebocoran aliran balik melalui katup mitral setiap kali ventrikel kiri berkontraksi. Pada saat ventrikel kiri memompa darah dari jantung menuju ke aorta, sebagian darah mengalir kembali ke dalam atrium kiri dan menyebabkan meningkatnya volume dan tekanan di atrium kiri. Terjadi peningkatan tekanan darah di dalam pembuluh yang berasal dari paru-paru, yang mengakibatkan penimbunan cairan (kongesti) di dalam paru-paru. - Patofisiologi Infusiensi mitral terjadi bila bilah-bilah katup mitral tidak dapat menutup selama systole. Chordae tendineae memendek, sehingga bilah katup tidak dapat

5

menutup dengan sempurna, akibatnya terjadilah regurgitasi atau aliran balik dari ventrikel kiri ke atrium kiri. Pemendekan atau sobekan salah satu atau kedua bilah katup mitral mengakibatkan penutupan lumen mitral tidak sempurna saat ventrikel kiri dengan kuat mendorong darah ke aorta, sehingga setiap denyut, ventrikel kiri akan mendorong sebagian darah kembali ke atrium kiri. Aliran balik darah ini ditambah dengan darah yang masuk dari paru, menyebabkan atrium kiri mengalami pelebaran dan hipertrofi. Aliran darah balik dari ventrikel akan menyebabkan darah yang mengalir dari paru ke atrium kiri menjadi berkurang. Akibatnya paru mengalami kongesti, yang pada gilirannya menambah beban ke ventrikel kanan. Maka meskipun kebocoran mitral hanya kecil, namun selalu berakibat terhadap kedua paru dan ventrikel kanan.

2.5 Stenosis Mitral - Definisi Stenosis katup mitral merupakan penyempitan pada lubang katup mitral yang akan menyebabkan meningkatnya tahanan aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri. Kelainan struktur mitral ini menyebabkan gangguan pembukaan sehingga timbul gangguan pengisian ventrikel kiri saat diastole. - Patofisiologi Stenosis mitral adalah penebalan progresif dan pengerutan bilah-bilah katup mitral, yang menyebabkan penyempitan lumen dan sumbatan progresif aliran darah. Secara normal pembukaan katup mitral adalah selebar tiga jari. Pada kasus stenosis berat terjadi penyempitan lumen sampai selebar pensil. Ventrikel tidak terpengaruh , namun atrium kiri mengalami kesulitan dalam mengosongkan darah melalui lumen yag sempit ke ventrikel kiri. Akibatnya atrium akan melebar dan mengalami hipertrofi. Karena tidak ada katup yang melindungi vena pulmonal terhadap aliran balik dari atrium maka sirkulasi pulmonal mengalami kongesti. Akibatnya ventrikel kanan harus menanggung beban tekanan arteri pulmonal yang tinggi dan mengalami peregangan berlebihan, yang berakhir dengan gagal jantung.

6

2.6 Stenosis Katup Aorta - Definisi Stenosis katup Aorta adalah penyempitan pada lubang katup aorta, yang menyebabkan meningkatnya tahanan terhadap aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta. - Patofisiologi Bilah-bilah katup aorta saling menempel dan menutup sebagian lumen diantara jantung dan aorta. Ventrikel kiri mengatasi hambatan sirkulasi ini dengan berkontraksi lebih lambat tapi dengan energy yang lebih besar dari normal, mendorong darah melalui lumen yang sangat sempit. Mekanisme kompensasi jantung mulai gagal dan muncullah tanda-tanda klinis. Obstruksi jalur aliran aorta tersebut menambahkan beban tekanan ke ventrikel kiri, yang mengakibatkan penebalan dinding otot. Otot jantung menebal sebagai respon terhadap besarnya obstruksi, terjadilah gagal jantung bila obstruksinya terlalu berat.

2.7 Regurgitasi Aorta - Definisi Regugitasi Katup Aorta (Inkompetensia Aorta, Insufisiensi Aorta) adalah kebocoran pada katup aorta yang terjadi setiap kali ventrikel mengalami relaksasi. Patofisiologi Insufisiensi aorta di sebabkan oleh lesi peradangan yang merusak bentuk bilah katup aorta, sehingga masing-masing bilah tidak bisa menutup lumen aorta dengan rapat selama diastole dan akibatnya menyebabkan aliran balik darah dari aorta ke ventrikel kiri. Karena kebocoran katup aorta saat diastole, maka sebgaian darah dalam aorta, yang biasanya bertekanan tinggi, akan mengalir ke ventrikel kiri, sehingga ventrikel kiri harus mengatasi keduanya yaitu mengirim darah yang secara normal diterima atrium kiri ke ventrikel melalui lumen ventrikel maupun darah yang kembali ke aorta. System kardiovaskuler berusaha mengkompensasi melalui refleks dilatasi pembuluh darah: arteri perifer melemas, sehingga tahanan perifer turun dan tekanan diastolic turun drastic

7

2.8 Penyakit Trikuspidalis Stenosis katup Trikuspidalis akan menghambat aliran darah dari atrium kanan ke ventrikel kanan selama diastolik. Kerusakan ini biasanya menyertai penyakit pada katup mitrlis dan aorta sekunder dari penyakit rematik jantung yang berat. Stenosis trikuspidalis meningkatkan beban kerja atrium kanan, memaksa pembentukan tekanan yang lebih besar untuk mempertahankan aliran melalui katup yang tersumbat. Kemampuan kompensasi atrium kanan terbatas, karena itu atrium mengalami dilatasi secara cepat. Peningkatan volume dan tekanan atrium kanan mengakibatkan penimbunan darah pada vena sistemik dan peningkatan tekanan. Regurgitasi Trikuspidalis yang murni biasanya disebabkan gagal jantung kiri yang sudah lanjut atau hipertensi pulmonalis yang berat, sehingga terjadi kemunduran fungsi ventrikel kanan. Sewaktu ventrikel kanan gagal dan membesar, terjadilah regurgitasi fungsional dari katup trikuspidalis.

2.9 Penyakit Katup Pulmonalis. Insidens penyakit katup pulmonalis sangat rendah. Stenosis pulmonalis biasanya kongenital dan bukan merupakan akibat penyakit rematik jantung. Stenosis katup pulmonalis meningkatkan beban kerja ventrikel kanan, mengakibatkan hipertrofi ventrikel kanan. Gejala-gejala baru timbul bila terjadi gagal ventrikel kanan, menimbulkan pelebaran vena sistemik dan segala sekuele klinisnya. Regurgitasi fungsional pulmonalis dapat terjadi sebagai sekuele disfungsi katup sebelah kiri dengan hipertensi pulmonalis kronik dan dilatasi orifisium katup pulmonalis. Tetapi lesi ini jarang terjadi.

8

WOC KELAINAN KATUP
Infeksi Streptokokus A Infeksi Streptokokus A Demam remautik

Masuk lewat aliran darah

Nyeri tenggorokan, demam

Antibodi bereaksi dengan antigen M

Kerusakan imunologis yang berat

Menetap di dalam darah selama 6 bulan/lebih

Kerusakan di berbagai tubuh, terutama katup jantung

Pertumbuhan Lesi berbenjol yang mengandung fibrin di katup

Fibrosis, abnormalitas katup

Mitralis

Aorta

9

Mitralis Fase Diastole Fase sistol

Isovolumic Contraction dan ejection

N: Katup AV menutup

Isovolumic Relaxation

N: Katup AV membuka

Regurgitasi

Stenosis

Dilatasi ventrikel kiri Peningkatan volume atrium kiri
Hukum Starling; meningkatkan

Peningkatan volume atrium kiri

Penurunan darah dari ventrikel kiri

kontraksi miokardium

Dilatasi atrium kiri

Hipertropi Ventrikel

Hipertrofi atrium kiri; meningkatkan kekuatan memompa

Penurunan curah jantung sistemik

Peningkatan tekanan pulmonal dan volume menurun

Penurunan curah jantung sistemik

Dilatasi atrium kiri

Penurunan perfusi otot rangka

Penurunan perfusi otot rangka

Peningkatan tekanan arteri pulmonal

Kelelahan

Gangguan pertukaran gas

Kelelahan Intoleransi aktivitas

Gangguan Pertukaran Gas

Intoleransi aktivitas

10

Aorta

Fase Sistol Ventrikel vh Ejeksi; Katup aorta membuka

Intoleransi Aktifitas

Fase Diastolik

Kelelahan

Relaksasi Ventrikel; Katup Aorta menutup Regurgitasi darah dr akar aorta masuk ke ventrikel kiri

Stenosis aorti

curah jantung menurun

Regurgitasi Aortik

Hipertrofi ventrikel kiri Peningkatan volume ventrikel kiri overload volume ventrikel kiri Penurunan perfusi arteri koroner Penurunan curah Jantung

Hipertrofi dan dilatasi ventrikel kiri

Kelelahan

Dilatasi ventrikel kiri

Penurunan Suplai darah ke paru Peningkatan tekanan atrium kiri dan pulmonal Intoleransi aktivitas

Peningkatan tek. Atrium kiri dan pulmonal

Gagal jantung kanan Gangguan Pertukaran Gas

Perfusi arteri koroner

Gangguan Pertukaran gas

11

2.10 Tindakan Pengobatan 1. Terapi Medis - Penyakit katup mitral. a. Diuretik: Untuk mengurangi kongesti. b. Digoksin: Meningkatkan daya kontraksi bila terdapat regurgitasi mitral, atau mengurangi respon ventrikel pada fibrilsai atrium. c. Antiaritmia: Jika terjadi fibrilsai atrium. d. Terapi vasodilator: bila ada regurgitasi mitral untuk mengurangi afterload, dengan demikian mengurangi mengurangi aliran balik dan menmabah aliran ke depan. e. Antikoagulan: jika ada embolisasi sistemik.

2. Terapi Bedah Penyakit katup mitral. a. Valvulotomi mitral: Membuka katup mitral dengan pendekatan perkutan atau transventrikuler. Tindakan operasi transventrikuler memisahkan daun katup tepat pada tempat di mana daun-daun tersebut menyatu di sepanjang komisura. Di lakukan dengan memasukkan sebuah dilator melaui apeks ventrikel kiri, dituntun oleh jari menembus ke atrium kiri melaui orifisium mitralis. Komisura-komisura kemudian dipisahkan dengan memakai tekanan benda tumpul. Prosedur ini akan memisahkan daun-daun katup yang menyatu dan mendilatasi orifisium mitralis.

-

Penyakit katup aorta. Penggantian katup merupakan terapi yang di anjurkan pada kelainan aorta karena kalsifikasi. Valvulotomi aorta perkutan dapat dipertimbangkan pada stenosis aorta yang beresiko tinggi yang berusia tua, atau penderita yang lebih muda dengan stenosis aorta yang tidak mengalami kalsifikasi.

-

Valvuloplasti balon transluminal per kutan. Teknik ini sebagai pengobatan paliatif bagi stenosis katup yaitu dengan memasukkan ke dalam jantung sebuah balon di ujung kateter. Balon

12

dimasukkan melalui pembuluh darah perifer, di bawah tuntunan fluroskopi, hingga balon menetap pada orifisium katup. Mekanisme bagaimana dilatasi dapat mengurangi derajat obstruksi adalah dengan pemisahan komisura yang menyatu, dilatasi anulus katup. Komplikasi yang potensial termasuk embolisasi berkapur dan regurgitasi katup. Valvuloplasti mitralis lebih umum.

13

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian A. Syndrome Prolaps Katup Mitral :  Ada bunyi jantung tambahan (mitral click). Adanya klik merupakan tanda awal bahwa jaringan katup menggelembung ke atrium kiri dan telah terjadi gangguan aliran darah.  Mitral klik dapat berubah menjadi murmur seiring dengan tidak berfungsinya bilah-bilah katup. Dengan berkembangnya proses penyakit, bunyi murmur menjadi tanda terjadinya regurgitasi mitral (aliran balik darah).

B. Regurgitasi Mitralis.  Palpitasi jantung (berdebar).  Nafas pendek saat latihan.  Batuk akibat kongesti paru pasif kronis.  Denyut nadi mungkin kadang tidak teratur akibat ekstra systole atau fibrilasi atrium yang bisa menetap selamanya.  Pada pemeriksaan auskultasi : bising sepanjang fase systole.  Pada pemeriksaan Elektrokardiogram: pembesaran atrium kiri ( P mitrale) bila irama sinus normal, fibrilasi atrium hipertrofi atrium kiri.  Pada pemeriksaan radiogram dada : pembesaran atrium kiri, pembesaran ventrikel kiri, kongesti vascular paru-paru dalam berbagai derajat.

C. Stenosis Mitral.  Kelelahan sebagai akibat curah jantung yang rendah.  Batuk darah (hemoptisis).  Kesulitan bernafas (dispnea) saat latihan akibat hipertensi vena pulmonal.  Batuk dan infeksi saluran nafas berulang.  Denyut nadi lemah dan sering tidak teratur, karena fibrilasi atrial yang terjadi akibat dari dilatasi dan hipertrofi atrium. Akibat perubahan tersebut

14

atrium menjadi tidak stabil secara elektris, akibatnya terjadi disritmia atrium permanen. Alat bantu diagnostic bagi kardiologis adalah elektrokardiografi, ekokardiografi dan kateterisasi jantung dan angiografi untuk menentukan beratnya stenosis mitral.  Pada pemeriksaan auskultasi : bising diastolik dan bunyi jantung pertama.  Pada pemeriksaan Elektrokardiogram: pembesaran atrium kiri ( P mitrale) bila irama sinus normal, hipertrofi ventrikel kanan; fibrilasi atrium.  Pada pemeriksaan radiogram dada : pembesaran atrium kiri, pembesaran ventrikel kanan, kongesti vena pulmonalis; edema paru-paru intertisial; retribusi vaskuler paru-paru ke lobus atas; kalsifikasi katup mitralis.  Temuan hemodinamik : peningkatan selisih tekanan pada kedua sisi katup mitralis; peningkatan tekanan atrium kiri dan tekanan baji kapiler pulmonalis dengan gelombang a yang prominen; peningkatan tekanan arteria paru-paru: curah jantung rendah; peningkatan tekanan jantung sebelah kanan dan tekanan vena jugularis, dengan gelombang v yang bermakna dibagian atrium kanan atau vena jugularis jika ada regurgitasi trikuspidalis.

D. Stenosis Katup Aorta.  Dispnea saat latihan, yang merupakan manifestasi dekompensasi ventrikel kiri terhadap kongesti paru.  Tanda lainnya berupa pusing dan pingsan karena berkurangnya volume darah yang mengalir ke otak.  Angina pectoris merupakan gejala yang sering timbul karena

meningkatnya kebutuhan oksigen akibat meningkatnya beban kerja ventrikel kiri dan hipertrofi miokardium. Tekanan darah dapat turun tapi dapat juga normal, terkadang terjadi tekanan nadi yang rendah (kurang dari 30mmHg) karena berkurangnya aliran darah.

15

E. Regurgitasi Aorta.  Pasien merasakan debar jantung yang bertambah kuat.  Tekanan nadi (perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik) biasanya melebar pada pasien ini.  Sesak nafas, terutama malam hari (ortopnu,paroksimal nocturnal dispnu) dan hal tersebut terjadi disertai regurgitasi sedang sampai berat.  Salah satu tanda khusus pada penyakit ini adalah denyut nadi yang terasa di jari pada saat palpasi, terjadi secara cepat dan tajam dan tiba-tiba kolaps (denyut water-hummer).

F. Penyakit Trikuspidalis Stenosis trikuspidalis : a) Auskultasi: Bising diastolik. b) EKG: pembesaran atrium kanan (gelombang P yang runcing dan tinggi, dikenal sebagai P pulmonale). c) Radiogram dada: pembesaran atrium kanan. d) Temuan Hemodinamik : perbadaan tekanan pada kedua sisi katup trikuspidalis dan peningkatan tekanan atrium kanan dan tekanan vena sentral dengan gelombang a yang besar. Regurgitasi Trikuspidalis: a) Auskultasi: bising sepanjang sistole. b) EKG: pembesaran atrium kanan (gelombang P tinggi dan sempit dikenal sebagai P pulmonale) bila irama sinus normal, fibrilasi atrium, hipertrofi ventrikel kanan. c) Radiogram dada: pembesaran ventrikel dan atrium kanan. d) Temuan Hemodinamik: peningkatan tekanan atrium kanan dengan gelombang v yang nyata.

16

Bunyi Jantung akibat kelainan katup: 1. Murmur pada Stenosis mitral. Bunyi yang terdengar lemah dengan frekusensi sangat rendah sehingga sebagian besar spectrum suara berada di bawah frekuensi terendah dari pendengaran manusia karena pada kasus ini, darah

mengalir dengan susah payah melalui katup mitral yang mengalami stenosis dari atrium kiri ke ventrikel kiri, dan tekanan dalam atrium kiri jarnag meningkat di atas 30 mmHg. 2. Murmur pada regurgitasi mitral. Terdengar suara”seperti tiupan” berfrekuensi tinggi dan mendesis karena pada kasus ini, darah mengalir balik melalui katup mitral ke dalam atrium kiri selama sistol dan di hantarkan dengan keras. Suara terdengar paling baik di daerah apeks jantung karena dihantarkan ke dinding dada melaui ventrikel kiri. 3. Murmur pada stenosis aorta. Suara yang terdengar kasar dan pada stenosis berat kadang-kadang dapat terdengar pada jarak beberapa kaki dari pasien. Selain itungetaran suara dapat teraba di dada bagian atas dan leher bagian bawah yang disebut “thrill” pada kasus ini, darah disemburkan dari ventrikel kiri

melaui sebuah lubang yang sempir di katub aorta, sehingga dapat meningkatkan tekanan ventrikel kiri sampai 300 mmHg, dan tekanan di aorta menetap. Jadi selama sistol, dengan darah yang disemburkan pada kecepatan sangat tinggi menyebabkan turbulensi hebat pada darah di pangkal aorta. 4. Murmur pada regurgitasi aorta. Yang terdengar seperti “suara meniup” yang relative bernada tinggi dan mendesis pada kasus ini, darah mengalir balik dari aorta ke

ventrikel kiri mengakibatkan darah turbulen yang menyembur balik dan bertemu dengan darah yang telah berada dalam ventrikel kiri.

17

Diagnosa Keperawatan yang muncul: 1. Gangguan pertukaran gas b/d ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan. 2. Penurunan curah jantung b/d peningkatan tekanan atrium, aliran keluar ventrikel kiri terhambat. 3. Intoleransi aktifitas b/d adanya penurunan curah jantung.

Intervensi keperawatan. Dx.1; Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 jam oksigenasi adekuat terhadap jaringan. KH: 1. Mendemonstrasikan ventilasi dan oksigenasi pada jaringan, ditunjukkan oleh GDA dalam batas normal: pH PCO2 PO2 HCO3 Tindakan: a. Auskultasi bunyi nafas. R/: Menyatakan adanya kongesti apa tidak/pengumpulan secret. b. Anjurkan pasien batuk efektif, nafas dalam. R/: Memudahkan aliran oksigen. c. Anjurkan klien berubah posisi sesering mungkin. R/: Mencegah atelektasis. d. Pertahankan duduk di kursi/tirah baring dengan kepala tempat tidur setinggi 20-30o, posisi semi fowler. R/: Menurunkan konsumsi oksigen. : 7, 35-7, 45 : 35-45 mmHg : 80-100 mmHg : 22-26 mEq/L TCO2 BE saturasi O2 : 23-27 mmol/L : 0 ± 2 mEq/L : 95 % atau lebih

2. Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam batas kemampuan.

18

e. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. R/: Meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar, yang dapat menurunkan hipoksemia jaringan. f. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat, missal: Diuretik (furosemid), Bronkodilator (Aminofilin). R/: Diuretik: Meningkatkan pertukaran gas. Bronkodilator: Meningkatkan aliran oksigen dengan mendilatasi jalan nafas.

Dx.2 Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3 hari, penurunan curah jantung dapat diminimalkan. KH: 1. Melaporkan penurunan dispnea, nyeri dada. 2. Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan beban kerja jantung. 3. Mendemonstrasikan peningkatan toleransi aktivitas. 4. Mengidentifikasi tanda dini dan kapan mencari bantuan. Tindakan: 1. Pantau TD, Nadi perifer, nadi apical. R/: Indikator dari keadekuatan curah jantung. 2. Pantau irama jantung sesuai indikasi. R/: Disritmia paling umum pada penyakit katup, karena berkenaan dengan tekanan dan volume atrium. 3. Atur posisi klien dengan tirah baring 450. R/: Menurunkan volume darah yang kembali ke jantung, menurunkan dispneu. 4. Bantu dengan aktivitas sesuai indikasi, mis: berjalan. R/: Aktivitas secara bertahap mencegah pemaksaan terhadap cadangan jantung. 5. Diskusikan manajemen stress. R/: Reduksi ansietas dapat menurunkan stimulasi jantung simpatis dan beban kerja jantung.

19

6. Berikan oksigen suplemen sesuai indikasi. R/: Upaya untuk mengkompensasi peningkatan kebutuhan oksigen. 7. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat, misal: Diuretik, vasodilator. R/: Diuretik (Menurunkan sirkulasi , yang menurunkan TD lewat katup yang tidak berfungsi), Vasodilator ( Menurunkan hipertensi dengan menurunkan tahanan vaskuler sistemik).

20

BAB IV PENUTUP

4.1 SIMPULAN Jantung memiliki empat ruangan, 2 ruangan kecil di atas (atrium) dan 2 ruangan besar di bawah (ventrikel). Setiap ventrikel memiliki satu katup masuk searah dan satu katup keluar searah. Katup jantung bekerja mengatur aliran darah melalui jantung ke arteria pulmonal dan aorta dengan cara membuka dan menutup pada saat yang tepat ketika jantung berkontraksi dan berelaksasi selama siklus jantung. Bila salah satu katup tidak terbuka atau tertutup dengan baik maka akan mempengaruhi aliran darah, bila katup tidak dapat membuka secara sempurna (biasanya karena stenosis), akibatnya aliran darah melalui katup tersebut akan berkurang. Bila katup tidak dapat menutup secara sempurna darah akan mengalami kebocoran sebagai proses yang disebut regurgitasi atau infusiensi. Adapun beberapa jenis kelainan katup jantung:        Syndrome Prolaps Katup Mitral Regurgitasi Mitralis Stenosis Mitral Stenosis Katup Aorta Regurgitasi Aorta Penyakit Trikuspidalis Penyakit Pulmonalis

21

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn E. 1999. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN, Ed.3. Jakarta: EGC.

Gray,

H.

Huon,

Dawkins,

D.Keith,dkk.

2003.

LECTURE

NOTES:

KARDIOLOGI, Alih Bahasa: Azwar Agoes. Jakarta: Erlangga.

Guyton dan Hall. 1997. BUKU AJAR FISIOLOGI KEDOKTERAN, Edisi 9. Jakarta: EGC.

Hudak

dan

Gaho.

1997.

KEPERAWATAN

KRITIS:

PENDEKATAN

HOLISTIK, Alih Bahasa: Betty Susanto, dkk. Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arif, dkk. 2000. KAPITA SELEKTA KEDOKTERAN, Jilid 1 Edisi 3. Jakarta: Media Aesculapius.

Price, Sylvia Anderson. 1994. PATOFISIOLOGI: KONSEP KLINIS PROSESPROSES PENYAKIT, Buku 1 Ed.4. Jakarta: EGC.

Suzanne, C. Smeltzer. 2001. BUKU AJAR KEPERAWATAN MEDICAL BEDAH, Ed.8 Vol.2. Jakarta: EGC.

Wilkinson, M. Judith. 2006. BUKU SAKU KEPERAWATAN DIAGNOSIS KEPERAWATAN DENGAN INTERVERNSI NIC DAN KRITERIA HASIL NOC, Alih Bahasa: Widyawati. Jakarta: EGC.

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->