BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Pengertian Industri Farmasi. Industri farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor. 245/Menkes/V/1990 adalah industri obat jadi dan industri bahan baku obat. Industri obat jadi adalah industri yang menghasilkan suatu produk yang telah melalui seluruh tahap proses pembuatan. Obat jadi tersebut dapat berupa sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi. Sedangkan industri bahan baku adalah bahan baku yang diproduksi oleh suatu industri, dimana bahan baku tersebut adalah semua bahan baik yang berkhasiat maupun tidak berkhasiat, yang digunakan dalam proses pengolahan obat. Industri farmasi dibagi dalam dua kelompok yaitu industri padat modal dan industri padat karya. industri padat modal adalah industri yang menggunakan mesin-mesin produksi dalam jumlah yang lebih besar dari pada jumlah tenaga kerjanya, sedangkan industri padat karya lebih banyak menggunakan tenaga manusia dari pada tenaga mesin. Obat adalah bahan atau campuran bahan-bahan baik yang berasal dari alam ataupun sintesis yang digunakan untuk diagnosis, mencegah, mengobati penyakit atau gejala-gejalanya, memulihkan kesehatan baik pada manusia ataupun

Universitas Sumatera Utara

izin masa berlakunya Universitas Sumatera Utara . Obat dikatakan bermutu bila memenuhi persyaratan aman. 43/MENKES/SK/II/1988. Persyaratan Industri Farmasi Berdasarkan surat keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor. Memperkerjakan sekurang-kurangnya dua orang apoteker WNI. 2. 4.  hewan. Memiliki rencana investasi. Badan Hukum berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan Koperasi. Didirikan oleh perusahaan umum (Perum). Izin ini berlaku seterusnya selama perusahaan industri farmasi tersebut masih berproduksi. Obat jadi yang diproduksi hanya boleh diedarkan setelah mendapat persetujuan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. 6.2. II. masingmasing sebagai penanggung jawab pengawasan mutu dan pengawasan produksi. 245/MENKES/SK/V/1990. Memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) sesuai SK MenKes RI No. persyaratan industri farmasi adalah : 1. 3. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). 5. Izin usaha industri farmasi diberikan oleh Menteri Kesehatan dan wewenang pemberian izin dilimpahkan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM). berkhasiat tinggi dan dapat diterima masyarakat. Sedangkan untuk industri farmasi yang modalnya berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA).

selama. Pembuatan Obat yang baik Industri farmasi merupakan industri yang menghasilkan/memproduksi obat yang aman dan berkualitas. 4. II.4. Dengan sengaja memproduksi obat jadi atau bahan baku yang tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan yang berlaku (obat palsu). Melakukan pemindahan lokasi usaha industri farmasi tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan Peraturan Pelaksanaannya. 2. 5.3. CPOB dilakukan secara menyeluruh dan terpadu dengan mengadakan pengawasan baik sebelum. II. Pencabutan Ijin Usaha Industri Farmasi Pencabutan ijin usaha industri farmasi dilakukan apabila industri yang bersangkutan melakukan pelanggaran : 1.  sesuai dengan ketentuan dalam UU No. maka industri farmasi melakukan seluruh aspek rangkaian kegiatan produksinya dengan menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). dan sesudah proses produksi berlangsung Universitas Sumatera Utara . Melakukan pemindahtanganan hak milik ijin usaha industri farmasi dan perluasan tanpa ijin. Tidak menyampaikan informasi industri secara berturut-turut 3 kali atau dengan sengaja menyampaikan informasi yang tidak benar. Tidak memenuhi ketentuan dalam ijin usaha industri farmasi. 3. Untuk menjamin mutu obat yang berkualitas.

4. bertujuan untuk menjamin bahwa produk obat yang dibuat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang telah disesuaikan dengan tujuan penggunaannya. Pengawasan menyeluruh pada proses pembuatan obat untuk menjamin bahwa konsumen menerima obat yang bermutu tinggi. Sistem Manajemen Mutu Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) menyangkut seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu. II. proses pembuatan dan pengawasan mutu. Dalam ketentuan umum. bangunan.  untuk memastikan mutu produk obat agar memenuhi standart yang telah ditetapkan. Universitas Sumatera Utara . Perkembangan yang sangat pesat dalam teknologi farmasi menyebabkan perubahan-perubahan yang sangat cepat pula dalam konsep dan persyaratan CPOB. Jadi CPOB adalah suatu konsep yang ditetapkan dalam industri farmasi mengenai langkah-langkah atau prosedur yang dilakukan dalam suatu industri farmasi untuk menjamin mutu obat yang diproduksi dengan menerapkan “Good Manufacturing Practices” dalam seluruh aspek dan rangkaian kegiatan produksi. dan personalia. sehingga obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya.1. peralatan yang digunakan. Konsep CPOB bersifat dinamis yang memerlukan penyesuaian dari waktu ke waktu mengikuti perkembangan teknologi dibidang farmasi. ada beberapa landasan yang penting untuk diperhatikan yaitu : a. Mutu obat tergantung pada bahan awal. b.

CPOB merupakan pedoman yang dibuat untuk memastikan agar sifat dan mutu obat yang dihasilkan sesuai dengan syarat bahwa standar mutu obat yang telah ditentukan tetap tercapai. Manajer produksi memiliki wewenang dan tanggung jawab khusus penuh untuk mengelola produksi obat. II. Untuk menjamin mutu suatu obat jadi tidak boleh hanya mengandalkan pada suatu pengujian tertentu saja. Struktur organisasi harus sedemikian rupa sehingga bagian produksi dan pengawasan mutu dipimpin oleh orang yang berlainan dan tidak saling bertanggung jawab terhadap yang lain.2. Masing-masing harus diberi wewenang penuh dan sarana yang cukup yang diperlukan untuk dapat melaksanakan tugasnya secara efektif. Karyawan memiliki kesehatan mental dan fisik yang baik sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara professional dan sebagaimana mestinya. Personalia Personalia karyawan semua tingkatan harus memiliki pengetahuan. melainkan semua obat hendaknya dibuat dalam kondisi terkendali dan terpadu dengan cermat. ketrampilan dan kemampuan sesuai tugasnya. Karyawan mempunyai sikap dan kesadaran yang tinggi untuk mewujudkan CPOB. Manajer produksi seorang apoteker yang cakap.4. terlatih dan memiliki pengalaman praktis yang memadai dibidang industri farmasi dan keterampilan dalam kepemimpinan sehingga memungkinkan melaksanakan tugas secara profesional. Universitas Sumatera Utara .  c.

II. kebersihan pabrik dan validasi proses produksi. rancang bangun. atau menolaknya bila tidak cocok dengan spesifikasinya. kalibrasi alat-alat pengukur. serta letak yang memadai agar memudahkan dalam pelaksanaan kerja. pelaksanaan kebersihan. verifikasi dan pelaksanaan seluruh prosedur pengawasan mutu. Bangunan Bangunan untuk pembuatan obat memiliki ukuran.4. pemantauan dan pengawasan lingkungan pembuatan obat. atau bila tidak dibuat sesuai dengan prosedur yang disetujui dan kondisi yang ditentukan. Manajer pengawasan mutu diberi wewenang dan tanggung jawab penuh dalam seluruh tugas pengawasan mutu yang dalam penyusunan. Manajer produksi dan pengawasan mutu bersama-sama bertanggung jawab dalam penyusunan dan pengesahan prosedur-prosedur tertulis. sehingga setiap resiko terjadinya kekeliruan. produk antara. dan pemeliharaan yang baik. Tiap sarana kerja hendaknya memadai. terlatih. latihan personalia. dan memiliki pengalaman praktis yang memadai untuk memungkinkan melaksanakan tugasnya secara professional. konstruksi. produk ruahan dan obat jadi bila produk tersebut sesuai dengan spesifikasinya.  Manajer pengawasan mutu seorang apoteker yang cakap.3. Universitas Sumatera Utara . pencemaran silang dan berbagai kesalahan lain yang dapat menurunkan mutu obat dapat dihindari. Manajer pengawasan mutu adalah satu-satunya yang memiliki wewenang untuk meluluskan bahan awal. pemberian persetujuan dan dalam penyimpanan catatan.

Zona hitam Zona yang bebas dimasuki sembarang petugas. kelembaban. Daerah penyimpan hendaknya dirancang. Bangunan hendaknya mendapat penerangan dan ventilasi yang efektif dengan fasilitas pengontrolan udara (suhu. Universitas Sumatera Utara . filtrasi) sesuai dengan kegiatan diluar dan didalam. ditata dan mempunyai kapasitas yang cukup sehingga memungkinkan pemisahan yang teratur dari berbagai kelompok bahan yang disimpan serta memudahkan perputaran sediaan. Pada zona ini dilakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak memerlukan penjagaan ketat terhadap kontaminasi dari udara luar. Permukaan bagian dalam hendaknya licin.  Dalam merencanakan pembuatan gedung untuk pembuatan obat perlu diperhatikan adalah lokasi bangunan hendaklah dipilih lokasi yang bebas dari pencemaran lingkungan disekelilingnya seperti pencemaran udara dan air maupun kegiatan didekatnya. bebas dari keretakan dan sambungan terbuka serta mudah dibersihkan dan didesinfektan. Lantai dibuat dari bahan kedap air. Sudut dinding hendaknya berbentuk lengkung. Penentuan rancangan bangunan dan penataan gedung dipertimbangkan kesesuaiannya dengan kegiatan lain untuk menjamin mutu obat dan kelangsungan produksi. permukaan rata dan memungkinkan pembersihan secara cepat dan efisien. Bangunan dirancang dengan baik sehingga dapat terpelihara dan berfungsi sebagaimana mestinya. Untuk itu daerah pabrik dibagi atas tiga zona : a.

c. Universitas Sumatera Utara . Untuk memasuki daerah ini karyawan terlebih dahulu harus mencuci tangan dan memakai pakaian khusus yang bersih.  b. komunikasi. Zona abu-abu Zona tempat proses produksi non steril berlangsung. begitu juga ruangannya. c. b. Rancang bangun hendaklah dibuat sesuai dengan kegiatan yang berhubungan langsung dengan daerah luas sarananya dikelompokkan. Barang yang memasuki daerah ini harus diganti kemasannya dengan kemasan khusus. seperti pembuatan sediaan injeksi dan salep mata. Tata letak ruang yang sedemikian rupa untuk memungkinkan kegiatan produksi dilaksanakan di daerah yang letaknya diatur secara logis dan berhubungan mengikuti urutan tahap produksi dan menurut kelas kebersihan yang disyaratkan. Zona putih Zona produksi aseptis. Persyaratan lain yang harus diperhatikan dalam menentukan rancang bangun dan tata letak ruang : a. Semua peralatan yang dipakai harus disterilkan terlebih dahulu. kelancaran arus kerja. Pada zona ini kebebasan karyawan dan barang yang memasuki ruangan dikurangi. Untuk memasuki daerah ini kaaryawan harus mencuci tangan dan memakai pakaian khusus yang steril. dan pengawasan yang efektif serta menghindari ketidak teraturan. Tata letak ruang hendaklah dikaji sejak tahap perencanaan konstruksi bangunan demi terlaksananya semua kegiatan.

pemeliharaan. dan konstruksi yang tepat. produk antara.  d. Rancang bangun dan konstruksi peralatan hendaknya memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Bahan-bahan yang diperlukan untuk suatu tujuan khusus. barang dan bahan hendaklah disediakan koridor dari mana setiap ruangan produksi dapat dicapai tanpa harus melalui ruangan produksi lain. yang dapat mengubah identitas. Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan baku. b. tidak boleh bersentuhan langsung dengan bahan yang diolah Universitas Sumatera Utara . mengadisi atau mengabsorbsi. Peralatan Peralatan yang digunakan dalam pembuatan obat hendaklah memiliki rancang bangun. produk ruahan. mutu atau kemurniaannya diluar batas yang telah ditentukan. Untuk mencegah penggunaan daerah produksi sebagai lalu lintas umum bagi karyawan. atau obat jadi tidak boleh bereaksi. modifikasi atau adaptasi yang salah. Untuk mencegah daerah produksi digunakan sebagai tempat penyimpanan hendaklah disediakan ruang penyimpanan yang memadai. c. atau karena perbaikan. menetesnya zat pelumas dan karena hal lain yang sejenis. misalnya karena bocornya katup.4. II. seperti pelumas atau pendingin. Peralatan tidak boleh menimbulkan akibat yang merugikan terhadap produk. ukuran yang memadai serta ditempatkan dengan tepat sehingga mutu yang dirancang bagi tiap produk obat terjamin secara seragam dari batch ke batch dan untuk memudahkan pembersihan dan perawatannya.4.

Peralatan yang digunakan untuk menimbang. bahan awal serta Universitas Sumatera Utara . menguji dan mencatat hendaklah diperiksa ketelitiannya secara teratur serta dikalibrasi menurut suatu program dan prosedur yang tepat. mutu atau kemurnian bahan baku. Peralatan hendaknya ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat menghindari pencemaran silang. dan ditempatkan dengan jarak yang cukup renggang dari peralatan lain untuk memberikan keleluasaan kerja dan menghindari kekeliruan. h. bahan antara. peralatan. Peralatan hendaklah dapat dibersihkan dengan mudah. d. atau ditempatkan di daerah dimana digunakan bahan yang mudah terbakar. II.  karena hal ini dapat merubah identitas. bangunan. Peralatan hendaknya dirawat sesuai jadwal yang tepat dan menurut prosedur tertulis untuk perawatan yang telah ditetapkan. baik bagian dalam maupun bagian luar. Peralatan yang digunakan dalam pengolahan bahan kimia yang mudah terbakar. Peralatan harus dikalibrasi dan divalidasi untuk menjamin kelancaran kerja. e. Hasil pemeriksaan dan kalibrasi hendaklah dicatat dan catatan tersebut disimpan dengan baik. hendaklah dilengkapi dengan perlengkapan elektris serta dibumikan dengan sempurna. f. i.4. mengukur. Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi semua sumber pencemaran produk seperti personalia.5. produk ruahan atau obat jadi. g. Sanitasi dan Higiene Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap pembuatan obat.

Bangunan Bangunan yang digunakan untuk pembuatan obat hendaknya dirancang dan dibangun dengan tepat untuk memudahkan pelaksanaan sanitasi yang baik. serta dijaga dan disimpan dalam kondisi bersih. sehingga diperlukan pakaian pengaman yang memadai dan sesuai dengan tugasnya. Semua karyawan hendaknya menghindari untuk bersentuhan langsung dengan bahan baku dan produk. Higiene perorangan harus dilatih dan diterapkan semua karyawan yang berhubungan dalam proses produksi. Sumber pencemaran hendaklah dihilangkan melalui program sanitasi dan higiene yang menyeluruh dan terpadu. 1. serta diuraikan dengan cukup rinci. 3. bak cuci. tempat penyimpan bahan pembersih. Prosedur tertulis yang cukup rinci untuk pembersihan dan sanitasi peralatan dan wadah yang digunakan dalam pembuatan obat hendaklah dibuat Universitas Sumatera Utara . peralatan hendaklah dibersihkan bagian luar maupun bagian dalam sesuai prosedur yang telah ditetapkan. dan bahan fungigasi. Sebelum dipakai. Hendaknya disusun pula prosedur tetap untuk melaksanakan sanitasi dengan jadwal yang teratur. Peralatan Setelah digunakan.  wadahnya. 2. Bangunan hendaknya dilengkapi fasilitas sanitasi yang memadai seperti toilet. loker. kebersihannya diperiksa lagi untuk memastikan bahwa seluruh produk atau bahan dari batch sebelumnya telah dihilangkan. insektisida. Personalia Seluruh karyawan hendaknya menjalani pemeriksaan kesehatan baik sebelum maupun setelah diterima sebagai karyawan selama bekerja.

c. Semua pemasukan.4. pengeluaran. Pemberian nomor batch dan lot yang dialokasikan harus segera Universitas Sumatera Utara . keandalan peralatan dan sistem serta kemampuan petugas pelaksana. produk ruahan atau obat jadi suatu batch atau lot dapat dikenali dengan nomor batch atau lot tertentu. Validasi proses Luas serta tingkat validasi yang dilakukan tergantung dari sifat dan kerumitan produk dan proses yang bersangkuatan.6. Sistem penomoran batch dan lot harus menjamin bahwa nomor batch dan lot yang sama tidak digunakan secara berulang. dan sisa bahan hendaknya dicatat. Prosedur ini dirancang dengan tepat agar pencemaran peralatan oleh bahan pembersih dan sanitasi dapat dicegah. Produksi Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan produksi adalah sebagai berikut : a. Sistem penomoran batch dan lots Sistem penomoran batch adalah suatu sistem yang menjabarkan cara penomoran batch dan lot secara rinci yang diperlukan untuk memastikan bahwa produk antara. Bahan awal Bahan awal sebelum dinyatakan lulus untuk digunakan hendaklah memenuhi spesifikasi yang sudah ditetapkan dan diberi label dengan nama yang dinyatakan dalam spesifikasi. II. b.  serta ditaati. Program dan dokumentasi validasi hendaklah membuktikan kecocokan bahan yang dipakai.

2. dan produk ruahan yang dikembalikan ke tempat penyimpanan hendaklah didokumentasikan dan dirujuk sesuai dengan prosedur. kecuali bila tidak memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. masalah utamanya adalah pengendalian debu dan kontaminasi silang. produk antara. produk antara. pengayakan dan pengadukan dilengkapi dengan Universitas Sumatera Utara . identitas produk dan besarnya batch dan lot yang bersangkutan. Sistem penghisap udara yang efektif dipasang dengan lubang pembuangan yang tepat untuk mencegah pencemaran terhadap produk atau proses lain. Untuk mengatasinya diperlukan perhatian khusus dalam rancang bangun. d. Pencampuraaan dan granulasi. 1.  dicatat dalam buku catatan harian. bahan pengemas. Pengembalian Bahan baku. Mesin pencampuran. produk atau dokumen yang diperlukan untuk pengolahan yang bersangkutan. Bahan dan produk kering. pemeliharaan serta penggunaan sarana dan peralatan. Sebelum pengolahan dimulai hendaknya ditempuh langkah yang menjamin bahwa daerah pengolahan dan peralatan bebas dari bahan. dan produk ruahan tidak boleh dikembalikan ke gudang. Bahan baku. Dalam pengolahan bahan dan produk kering. e. Pengolahan Bahan yang dipakai dalam pengolahan hendaklah diperiksa terlebih dahulu sebelum digunakan. Catatan mencakup tanggal pemberiaan nomor. bahan pengemas.

5. Universitas Sumatera Utara . Tindakan khusus diberikan untuk menghindari campur baur produk selama proses pemberian tanda pada tablet bersalut atau kapsul. 4. Kapsul kosong ini harus disimpan dalam yang dapat mencegahnya menjadi kering. Penyalutan. Pembuatan. Pengisian kapsul keras. pengerjaannya harus dipisahkan. Apabila pada saat yang sama dilakukan pemberian tanda pada produk yang berbeda. Produk berupa cairan. Cairan krim dan salep (non steril). Larutan penyalut dibuat dan digunakan dengan cara yang dapat menekan seminimal mungkin resiko pertumbuhan mikroba. Mesin pencetak tablet dilengkapi dengan fasilitas pengendalian debu yang efektif dan ditempatkan sedemikian rupa untuk menghindari campur aduk antar produk. Kapsul kosong diangkat dan diperlakukan sebagai bahan awal.  sistem pengendalian debu. atau pada batch yang berbeda. 7. krim dan salep seharusnya dibuat sedemikian rupa agar produk terlindung dari pencemaran mikroba dan pencemaran lain. 3. regas atau terkena pengaruh kelembaban. penggunaan larutan dan suspensi dilakukan sedemikian rupa sehingga resiko pencemaran atau pertumbuhan mikroba dapat dicegah. 6. kecuali bila bekerja dengan sistem tertutup. Pemberian tanda tablet bersalut atau kapsul. Pencetakan tablet. tiap mesin ditempatkan dalam ruang terpisah kecuali mesin tersebut membuat produk yang sama.

serta pelulusan bahan dan produk untuk dijual tidak akan diberikan sebelum mutunya dinilai memuaskan. Proses pengemasan hendaknya dilaksanakan dibawah pengawasan ketat untuk menjaga identitas. Sistem pengawasan mutu dirancang dengan tepat untuk menjamin bahwa tiap obat mengandung bahan yang benar dengan mutu dan jumlah yang telah ditetapkan dan dibuat pada kondisi yang tepat dan mengikuti prosedur standar sehingga obat tersebut senantiasa memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan untuk identitas. kadar. keutuhan. dan kualitas barang yang sudah dikemas. Bagian pengawasan mutu dalam suatu pabrik obat bertanggungjawab untuk memastikan bahwa : Universitas Sumatera Utara . Pengemasan Kegiatan pengemasan berfungsi membagi dan mengemas produk ruahan menjadi obat jadi.7. Pengawasan mutu ini penting dalam hal penetapan spesifikasi.4. Pengendalian mutu obat dilaksanakan melalui sistem pengawasan yang terencana dan terpadu. mutu dan keamanannya. Pengawasan mutu Pengawasan mutu adalah bagian yang esensial dari cara pembuatan obat yang baik untuk memastikan tiap obat yang dibuat senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang sesuai. Kualitas kimiawi dan mikrobiologi air yang digunakan harus ditetapkan dan selalu dipantau. pengambilan contoh dan pengujian beserta dokumentasi dan prosedur pelulusan yang menjamin bahwa pengujian yang diperlukan benar-benar dilaksanakan. 8.  Sistem pembuatan dan pemindahan secara tertutup sangat dianjurkan. kemurnian. II.

II. Inspeksi diri dan Audit Mutu Tujuan dari inspeksi diri melakukan penilaian apakah seluruh aspek produksi dan pengendalian mutu selalu memenuhi CPOB. b. Inspeksi diri hendaknya dilakukan oleh orang yang kompeten dari perusahaan dengan atau tanpa bantuan tenaga ahli dari luar. Tim inspeksi diri ditunjuk oleh manajemen perusahaan. Prosedur pelaksanaan dan catatan mengenai inspeksi diri perlu di dokumentasikan. Program inspeksi diri dirancang untuk mendeteksi kelemahan dalam pelaksanaan CPOB dan untuk menetapkan tindakan perbaikan. Bagian pengawasan mutu ini memiliki wewenang khusus untuk memberikan keputusan akhir meluluskan atau menolak atas mutu bahan baku atau produk obat ataupun hal lain yang mempengaruhi mutu obat.8. Sehingga dibentuk suatu tim yang cakap dan mampu menilai secara obyektif pelaksanaan CPOB. Tahapan produksi obat telah dilaksanakan secara prosedur yang ditetapkan dan telah divalidasi sebelumnya antara lain melalui evaluasi dokumentasi produk terdahulu. Universitas Sumatera Utara . c.  a.4. melaksanakan inspeksi terhadap prosedur produksi dan pengawasan mutu secara menyeluruh. Semua pengawasan selama proses dan pemeriksaan laboratorium terhadap suatu batch obat telah dilaksanakan dan batch tersebut memenuhi spesifikasi yang ditetapkan sebelum didistribusi. Suatu batch memenuhi persyaratan mutunya selama waktu peredaran yang ditetapkan. sekurangkurangnya tiga orang yang ahli di bidang pekerjaannya dan paham mengenai CPOB.

Penarikan kembali seluruh obat jadi dapat menyebabkan penghentian sementara atau penghentian tetap terhadap pembuatan suatu jenis obat yang bersangkutan. serta meneliti kembali semua data dan dokumentasi yang berkaitan termasuk catatan batch.4.9.  II. Obat kembalian yang tidak memenuhi spesifikasi dan tidak dapat diolah ulang (harus dimusnahkan). b. catatan distribusi dan catatan hasil pengujian. melakukan pemeriksaan atau pengujian terhadap contoh yang diterima dan contoh pertinggal batch yang bersangkutan.4. Penanganan keluhan terhadap Obat. II. Dokumentasi Sistem dokumentasi merupakan bagian dari sistem informasi manajemen yang harus disiapkan dalam kegiatan pembuatan obat. Keluhan atau laporan yang diterima hendaknya ditangani oleh bagian yang terkait sesuai dengan jenis keluhan atau laporan yang diterima dan dilakukan penelitian dan evaluasi secara seksama meliputi informasi yang masuk tentang keluhan atau laporan. Obat kembalian yang masih dapat diolah ulang untuk memenuhi spesifikasi. c. Penarikan Kembali Obat dan Obat Kembalian Penarikan kembali obat jadi merupakan proses penarikan kembali obat dari semua mata rantai distribusi bila ditemukan adanya cacat kualitas dan yang berbahaya. Dokumen berisi informasi Universitas Sumatera Utara .10. Berdasarkan evaluasinya obat kembalian dapat dibagi menjadi 3 yaitu : a. Obat kembalian yang masih memenuhi spesifikasi dan dapat digunakan. atau dilaporkan adanya reaksi merugikan yang membahayakan kesehatan pemakainya selama atau sesudah pendistribusian obat jadi tersebut.

c.4. Pembuatan dan Analisis Berdasarkan Kontrak Prinsip pembuatan dan analisis berdasarkan kontrak harus dibuat secara benar. II. b. berdasarkan data yang diperoleh selama proses terkini produksi rutin. berdasarkan kajian dan analisa data historis.  lengkap mengenai batch yang sedang dibuat.12. sehingga bila terjadi sesuatu pada batch tersebut dapat dilihat dari dokumennya.4.11. berdasarkan protokol validasi yang dirancang sebelumnya sebelum produk dipasarkan. kegiatan. Validasi retrospektif. Macam-macam validasi adalah sebagai berikut : a. mulai dari awal sampai obat jadi. Universitas Sumatera Utara . Validasi prospektif. Kontrak tertulis antara pemberi dan penerima kontrak harus dibuat secara jelas menentukan tangungjawab dan kewajiban masing-masing pihak. Validasi kongkruen. pelaksanaan atau mekanisme yang digunakan dalam proses produksi dan pengemasan akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan. prosedur. dan dikendalikan untuk menghindari kesalah pahaman yang dapat menyebabkan produk atau pekerjaan dengan mutu yang tidak memuaskan. Kontrak harus menyatakan secara jelas prosedur pelulusan tiap batch produk untuk diedarakan yang menjadi tanggung jawab penuh kepala bagian manajemen mutu (pemastian mutu). Kualifikasi dan Validasi Validasi merupakan tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa setiap bahan. disetujui. proses. II.

  d. Revalidasi. Saluran pembuangan sebaiknya berukuran layak. laboratorium. dan daerah sekitar gudang sebaiknya dijaga agar senantiasa dalam keadaan bersih dan rapi. Pengolahan Limbah Semua sarana termasuk daerah produksi. memiliki bak kontrol dan validasi yang cukup dan setiap saluran yang terbuka dan cukup dangkal agar mudah dibersihkan. berdasarkan kajian data pengulangan validasi periodik perubahan signifikan.5. gudang. II. Universitas Sumatera Utara .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful