P. 1
Demokrasi Dan Kebebasan

Demokrasi Dan Kebebasan

|Views: 44|Likes:
Published by Andi Ardi

More info:

Published by: Andi Ardi on Oct 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/12/2013

pdf

text

original

Demokrasi dan Kebebasan Berpendapat October 28, 2010 at 3:54 pm Leave a comment Demokrasi adalah sistem pemerintahan kufur yang sangat

tidak Islami. Yang paling banyak itulah yang menjadi kebenaran. Demokrasi memungkinkan membuat tindakan buruk dengan segala cara untuk mendapatkan kemenangan, karena hanya dinilai dari siapa yang paling banyak setuju. Demokrasi sangat mentrigger kecurangan. Istilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang tepatnya diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern. Namun, arti dari istilah ini telah berubah sejalan dengan waktu, dan definisi modern telah berevolusi sejak abad ke-18, bersamaan dengan perkembangan sistem “demokrasi” di banyak negara. Kata “demokrasi” berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut. Pada intinya, yang banyaklah yang menang dan yang banyak dianggap sebagai suatu kebenaran. “Many forms of Government have been tried, and will be tried in this world of sin and woe. No one pretends that democracy is perfect or all-wise. Indeed, it has been said that democracy is the worst form of government except all those other forms that have been tried from time to time.” —Winston Churchill (Hansard, November 11, 1947) Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yang sejajar satu sama lain. Kesejajaran dan independensi ketiga jenis lembaga negara ini diperlukan agar ketiga lembaga negara ini bisa saling mengawasi dan saling mengontrol berdasarkan prinsip checks and balances. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam bidang ilmu politik. Hal ini disebabkan karena demokrasi saat ini disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara. Demokrasi menempati posisi vital dalam kaitannya pembagian kekuasaan dalam suatu negara umumnya berdasarkan konsep dan prinsip trias politica dengan kekuasaan negara yang diperoleh dari rakyat juga harus digunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Prinsip semacam trias politica ini menjadi sangat penting untuk diperhitungkan ketika fakta-fakta sejarah mencatat kekuasaan pemerintah (eksekutif) yang begitu besar ternyata tidak mampu untuk membentuk masyarakat yang adil dan beradab, bahkan kekuasaan absolut pemerintah seringkali menimbulkan pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia. Demikian pula kekuasaan berlebihan di lembaga negara yang lain, misalnya kekuasaan berlebihan dari lembaga legislatif menentukan sendiri anggaran untuk gaji dan tunjangan anggota-anggotanya tanpa mempedulikan aspirasi rakyat, tidak akan membawa kebaikan untuk rakyat. Intinya, setiap lembaga negara bukan saja harus

akuntabel (accountable), tetapi harus ada mekanisme formal yang mewujudkan akuntabilitas dari setiap lembaga negara dan mekanisme ini mampu secara operasional (bukan hanya secara teori) membatasi kekuasaan lembaga negara tersebut. Sebuah negara dikatakan demokratis apabila negara tersebut terus berproses menuju ke masyarakat demokratis. Salah satu indikasi kuat kreteria negara demokratis adalah adanya pemilihan umum yang jujur dan adil. Seperti diakui oleh pengamat Internasional bahwa sejak tahun 1999 Indonesia sudah melaksanakan pemilu secara relatif adil dan jujur. Bahkan pada pemilu tahun 1955 pun diakui sebagai pemilu yang adil. Masalahnya sekarang kenapa dari pelaksanaan pemilu ataupun pilkada di banyak daerah selalu diwarnai oleh keributan yang tidak jarang menjadi kerusuhan? Padahal jika kita menilik nilai-nilai demokrasi sejatinya hal tesebut justru bertentangan dengan demokrasi. Dalam pengamatan selanjutnya ternyata Indonesia masih dalam tataran melakasanakan demokrasi pada tingkatan prosedural yaitu sesuai dengan prosedur demokratis seperti adanya pemilu, adanya lembaga-lembaga perwakilan dan seterusnya. Indonesia belum mencapai pada pelaksanaan demokrasi yang subtansial yaitu sikapsikap dan prilaku demokratis. Hal ini tampak bukan hanya pada masyarakat sendiri tapi juga terutama pada pemerintah. Karena itu tidak mengherankan jika keributan pada pilkada masih mewarnai proses demokrasi Indonesia. Disamping karena tingkat rasionalitas politik masyarakat pada umumya dinilai masih rendah juga karena demokrasi subtansial belum dilaksanakan. Kiranya hal ini mengindikasikan jalan panjang demokrasi Indonesia masih penuh dengan hambatan dan tantangan justru dari efek dari demokrasi itu sendiri. Oleh karena itu, Indonesia masih belum bisa menerapkan nilai-nilai demokrasi secara utuh, sebagai contoh kasus prita yang baru-baru ini meramaikan stasiun TV di Indonesia dan menggugah hati nurani semua masyarakat Indonesia. Yang dimana kasus itu terjadi karena hal yang sifatnya sepele saja, yaitu Pengalaman tidak mengenakkan Prita sebagai seorang pasien dari sebuah rumah sakit, dilampiaskan dengan keluh kesah berkirim email pada temannya. Tidak diduga oleh siapapun ternyata curahan hati itu berdampak hukum, harus mendekam di penjara. Benarkah hanya karena memberi kritik seseorang bisa ditahan? Mengapa sebuah keluhan seorang pasien lewat media elektronik internet dapat berdampak hukum demikian besar? Sebenarnya bila ditilik secara cermat, pengalaman seperti ini banyak sekali dialami baik oleh pasien dan pihak rumah sakit. Cukup sering dijumpai seorang pasien mengadukan ketidak puasan layanan seorang dokter dan rumah sakit baik di media cetak, elektronik dan internet. Fenomena yang biasa terjadi ini menjadi sesuatu yang sangat besar karena baru pertamakali sebuah rumah sakit berani menuntut dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan pasien. Mungkin bagi sebagian masyarakat hal itu merupakan sebuah sekedar kritikan untuk sebuah pelayanan rumah sakit. Kelompok lain mengatakan sekedar kirim email mengapa harus mengorbankan seorang Ibu rumah tangga dengan memisahkan dua anak kecil di rumahnya. Tetapi pihak rumah sakit yang berseteru tetap bersikeras bahwa tulisan sang ibu jelas-jelas sebuah pencemaran nama baik.

Bila disimak lebih cermat ternyata asal muasal sengketa adalah dugaan pencemaran nama baik oleh bekas pasien kepada rumah sakit yang pernah merawatnya. Dalam tulisan tersebut tersurat bahwa rumah sakit berikut dokternya sebagai penipu dan rumah sakit mencari pasien berkedok hasil laboratorium yang fiktif. Jadi sekali lagi permasalah utama adalah dugaan pencemaran nama baik, bukan sekedar penulisan atau berkeluh kesah melalui email. Fokus masalah yang tidak jelas inilah yang akan mengaburkan permasalahan yang sebenarnya ada. Interpretasi pemcemaran nama baik sendiri akan terjadi multitafsir sehingga harus diarahkan pada jalur hukum. Dari sebuah cerita yang kecil tersebut ternyata berdampak besar dan menjadi sesuatu kontroversi yang tiada berhenti ujungnya. Dari pengalaman yang seringkali terjadi tersebut menjadi melebar tak tentu arah. Karena pelaku dugaan pencemaran nama baik adalah seorang ibu yang tidak berdaya yang mempunyai anak kecil maka opini, simpati, dan dukungan mengalir secara deras tak terbendung tanpa melihat fokus masalah dan demi kebebasan berpendapat. Dengan suhu politisi yang tinggi ini tidak disia-siakan seorang calon presiden yang masih aktif menjabat wakil presiden mengatakan dengan lebih cepat dan lebih baik. Bebaskan Prita, polisi harus pelajari kasusnya lagi lebih baik. Sedangkan calon presiden lain yang biasa berhemat kata,dengan bahasa tubuh langsung mengunjungi Prita ke tempat tahanan. Presiden sebagai calon presiden incumbent seakan tak mau kalah menyikapinya secara jelas dan tegas mengatakan bahwa dalam menegakkan hukum harus memakai hati nurani dan rasa keadilan. Dalam pencitraan mungkin tindakan para calon pemimpin negeri ini sangat hebat dalam membela wong cilik. Tetapi dari sisi hukum campur tangan terhadap penegakan hukum yang selama ini didengungkan mereka, tampaknya akan pudar walau untuk membela kaum lemah. Bukankah di mata hukum semua orang sama tidak ada bedanya. Kalau sudah orang-orang besar di negeri ini mengayuhkan langkahnya, pasti masyarakat dan pejabat di bawahnya akan mengikuti dan bersuara lebih keras lagi. Menteri kesehatan beberapa hari berikutnya dengan lantang mengatakan bahwa nama Internasional harus dicopot karena menyalahi aturan, padahal banyak nama Rumah Sakit Internasional yang serupa selama ini tidak dipermasalahkan. Kejaksaan Agung dan Polisi sebagai penegakan hukum ikut saling tuding karena desakan masyarakat dan campur tangan pemimpin negeri ini. Bahkan karenanya, dalam waktu singkat Prita langsung dibebaskan dari tahanan. Begitu yang menjadi pelaku sengketa adalah Rumah Sakit dan dokter, maka kesempatan munculnya opini yang tak terkendali menyudutkan tindakan dokter dan rumah sakit di manapun berada. Permasalahan menjadi melebar kemana-mana. Permasalahan berlanjut pada dokter yang dianggap tidak manusiawi, rumah sakit mata duitan, dokter tidak professional dan sebagainya. Dokter adalah manusia biasa, sangkaan tersebut adalah hal yang mungkin saja benar terjadi walau tidak boleh digeneralisasikan. Etika berpendapat Paska reformasi bangsa Indonesia adalah negara demokrasi dan negara hukum yang melindungi setiap warga negara dalam melakukan setiap bentuk kebebasan berpendapat, menyampaikan gagasan baik secara lisan maupun tulisan, hal ini dilindungi peraturan perundang-undangan di Indonesia baik didalam batang tubuh UUD

1945 pasal 28, maupun diatur secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 mengenai jaminan hak-hak sipil dan politik, dimana poin-poin hak yang harus dilindungi oleh Negara mengenai hak berpendapat, hak berserikat, hak memilih dan dipilih, hak sama dihadapan hukum dan pemerintahan, hak mendapatkan keadilan. Paska reformasi pula masyarakat Indonesia mengalami euphoria demokrasi yang sangat hebat. Dahulu untuk berbicara dengan nada tinggi terhadap presiden sudah menjadi pidana, sekarang mengkritik presiden di depan umum adalah hal biasa. Tampaknya kasus Prita ini adalah kasus yang kesekian kali sebagai pembelajaran bagi bangsa ini dalam berdemokrasi yang sebenarnya. Sebagai negara demokrasi kebebasan berpendapat tidak harus menjadi sekedar bebas mengemukakan pendapat tetapi harus bertanggung jawab dan beretika dalam berpendapat. Menentukan parameter nilai etika dalam berpendapat yang ideal sangat sulit. Setiap upaya penentuan batas nilai etika berpendapat akan divonis sebagai pengebirian berpendapat. Bahkan undang undang baru seperti Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang diciptakan oleh para ahli hukum dan pendekar demokrasi saja dianggap mengkebiri kebebasan berpendapat. Etika berpendapat tersebut tidak perlu harus sesuai dengan etika adat ketimuran atau etika kesopanan. Tetapi layaknya dalam berpendapat harus sesuai dengan fakta yang sebenarnya tanpa harus men”justifikasi” fakta yang masih belum jelas. Artinya, dalam kebebasan berpendapat tidak boleh memutarkan balikkan fakta kebenaran yang ada. Bila hal ini terjadi akan merupakan fitnah dan pencemaran nama baik. Bila etika berpendapat hanya melanggar etika adat, budaya dan kesopanan tidak terlalu masalah karena sangsi yang didapat hanyalah sekedar sangsi sosial. Pameo lama mengatakan fitnah lebih kejam dari pembunuhan sehingga wajar bila itu terjadi akan berdampak hukum. Karena fitnah dan pencemaran nama baik akan berakibat sangat merugikan bagi yang mendapatkannya. Ternyata dari sebuah opini yang memutarkan balikkan fakta yang ada, dapat mematikan kehidupan dan mata pencaharian seseorang. Seorang pedagang bakso diisukan memakai daging celeng akan membuat pedagang akan kehilangan mata pencaharian. Begitu juga seorang dokter dituding sebagai penipu maka hancurlah citra profesionalnya. Demikian juga sebuah perusahaan kosmetik bila diisukan memakai minyak babi akan hancurlah perusahaan tersebut, demikian juga rumah sakit. Bila semua orang boleh bebas berpendapat seenaknya tanpa beretika, maka akan kacaulah negera demokrasi ini. Dan kasus Prita, merupakan potret sebuah riak kecil dalam kehidupan masyarakat dan lemahnya hukum di Indonesia terhadap kebebasan berpendapat yang mampu menghebohkan masyarakat Indonesia. Tampaknya fenomena ini dijadikan proses pembelajaran bagi masyarakat tentang permasalahan yang selama ini yang terjadi. Referensi :

Mengenai prinsip-prinsip pilar demokrasi yang membagi menjadi tiga kekuasaan lihat buku Pendidikan Kewarganegaraan, Budaya Demokrasi Menuju Masyarakat Madani, hlm 78 Mengenai pengertian Domokrasi lihat buku Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi, Budaya Demokrasi Menuju Masyarakat Madani, hlm 73-75

 

Mengenai prinsip-prinsip pilar demokrasi yang membagi menjadi tiga kekuasaan lihat buku Pendidikan Kewarganegaraan, Budaya Demokrasi Menuju Masyarakat Madani, hlm 78 KOMPAS Rabu, 3 Juni 2009 www.ask.com, Estetika Berpendapat, 08 maret 2010

"Kebebasan Berpendapat Dan Beretika Berpendapat" Minggu, 07-06-2009 08:43:52 oleh: Widodo Judarwanto Kanal: Opini Pengalaman tidak mengenakkan Prita sebagai seorang pasien dari sebuah rumah sakit, dilampiaskan dengan keluh kesah berkirim email pada temannya. Tidak diduga oleh siapapun ternyata curahan hati itu berdampak hukum, harus mendekam di penjara. Benarkah hanya karena memberi kritik seseorang bisa ditahan? Mengapa sebuah keluhan seorang pasien lewat media elektronik internet dapat berdampak hukum demikian besar? Sebenarnya bila ditilik secara cermat, pengalaman seperti ini banyak sekali dialami baik oleh pasien dan pihak rumah sakit. Cukup sering dijumpai seorang pasien mengadukan ketidakpuasan layanan seorang dokter dan rumah sakit baik di media cetak, elektronik dan internet. Fenomena yang biasa terjadi ini menjadi sesuatu yang sangat besar karena baru pertamakali sebuah rumah sakit berani menuntut dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan pasien. Kasus Prita, merupakan potret sebuah riak kecil dalam kehidupan masyarakat yang mampu menghebohkan masyarakat Indonesia. Tampaknya fenomena ini dijadikan proses pembelajaran bagi masyarakat tentang permasalahan yang selama ini yang terjadi. Tidak fokus masalah Mungkin bagi sebagian masyarakat hal itu merupakan sebuah sekedar kritikan untuk sebuah pelayanan rumah sakit. Kelompok lain mengatakan sekedar kirim email mengapa harus mengorbankan seorang Ibu rumah tangga dengan memisahkan dua anak kecil di rumahnya. Tetapi pihak rumah sakit yang berseteru tetap bersikeras bahwa tulisan sang ibu jelasjelas sebuah pencemaran nama baik.

Bila disimak lebih cermat ternyata asal muasal sengketa adalah dugaan pencemaran nama baik oleh bekas pasien kepada rumah sakit yang pernah merawatnya. Dalam tulisan tersebut tersurat bahwa rumah sakit berikut dokternya sebagai penipu dan rumah sakit mencari pasien berkedok hasil laboratorium yang fiktif. Jadi sekali lagi permasalahan utama adalah dugaan pencemaran nama baik, bukan sekedar penulisan atau berkeluh kesah melalui email. Fokus masalah yang tidak jelas inilah yang akan mengaburkan permasalahan yang sebenarnya ada. Interpretasi pemcemaran nama baik sendiri akan terjadi multitafsir sehingga harus diarahkan pada jalur hukum. Dari sebuah cerita yang kecil tersebut ternyata berdampak besar dan menjadi sesuatu kontroversi yang tiada berhenti ujungnya. Dari pengalaman yang seringkali terjadi tersebut menjadi melebar tak tentu arah. Karena pelaku dugaan pencemaran nama baik adalah seorang ibu yang tidak berdaya yang mempunyai anak kecil maka opini, simpati dan dukungan mengalir secara deras tak terbendung tanpa melihat fokus masalah dan demi kebebasan berpendapat. Dengan suhu politisi yang tinggi ini tidak disia-siakan seorang calon presiden yang masih aktif menjabat wakil presiden mengatakan dengan lebih cepat dan lebih baik. Bebaskan Prita, polisi harus pelajari kasusnya lagi lebih baik. Sedangkan calon presiden lain yang biasa berhemat kata, dengan bahasa tubuh langsung mengunjungi Prita ke tempat tahanan. Presiden sebagai calon presiden incumbent seakan tak mau kalah menyikapinya secara jelas dan tegas mengatakan bahwa dalam menegakkan hukum harus memakai hati nurani dan rasa keadilan. Dalam pencitraan mungkin tindakan para calon pemimpin negeri ini sangat hebat dalam membela wong cilik. Tetapi dari sisi hukum campur tangan terhadap penegakan hukum yang selama ini didengungkan mereka, tampaknya akan pudar walau untuk membela kaum lemah. Bukankah di mata hukum semua orang sama tidak ada bedanya. Kalau sudah orang-orang besar di negeri ini mengayuhkan langkahnya, pasti masyarakat dan pejabat di bawahnya akan mengikuti dan bersuara lebih keras lagi. Menteri kesehatan beberapa hari berikutnya dengan lantang mengatakan bahwa nama Internasional harus dicopot karena menyalahi aturan, padahal banyak nama Rumah Sakit Internasional yang serupa selama ini tidak dipermasalahkan. Kejaksaan Agung dan Polisi sebagai penegakan hukum ikut saling tuding karena desakan masyarakat dan campur tangan pemimpin negeri ini. Bahkan karenanya, dalam waktu singkat Prita langsung dibebaskan dari tahanan. Begitu yang menjadi pelaku sengketa adalah Rumah Sakit dan dokter, maka kesempatan munculnya opini yang tak terkendali menyudutkan tindakan

dokter dan rumah sakit di manapun berada. Permasalahan menjadi melebar ke mana-mana. Permasalahan berlanjut pada dokter yang dianggap tidak manusiawi, rumah sakit mata duitan, dokter tidak profesional dan sebagainya. Dokter adalah manusia biasa, sangkaan tersebut adalah hal yang mungkin saja benar terjadi walau tidak boleh digeneralisasikan. Etika berpendapat Paska reformasi bangsa Indonesia adalah negara demokrasi dan negara hukum yang melindungi setiap warga negara dalam melakukan setiap bentuk kebebasan berpendapat, menyampaikan gagasan baik secara lisan maupun tulisan, hal ini dilindungi peraturan perundang-undangan di Indonesia baik di dalam batang tubuh UUD 1945 pasal 28, maupun diatur secara jelas dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 mengenai jaminan hak-hak sipil dan politik, dimana poin-poin hak yang harus dilindungi oleh Negara mengenai hak berpendapat, hak berserikat, hak memilih dan dipilih, hak sama dihadapan hukum dan pemerintahan, hak mendapatkan keadilan. Paska reformasi pula masyarakat Indonesia mengalami euphoria demokrasi yang sangat hebat. Dahulu untuk berbicara dengan nada tinggi terhadap presiden sudah menjadi pidana, sekarang mengkritik presiden di depan umum adalah hal biasa. Tampaknya kasus Prita ini adalah kasus yang kesekian kali sebagai pembelajaran bagi bangsa ini dalam berdemokrasi yang sebenarnya. Sebagai negara demokrasi kebebasan berpendapat tidak harus menjadi sekedar bebas mengemukakan pendapat tetapi harus bertanggung jawab dan beretika dalam berpendapat. Menentukan parameter nilai etika dalam berpendapat yang ideal sangat sulit. Setiap upaya penentuan batas nilai etika berpendapat akan divonis sebagai pengebirian berpendapat. Bahkan undang undang baru seperti Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang diciptakan oleh para ahli hukum dan pendekar demokrasi saja dianggap mengkebiri kebebasan berpendapat. Etika berpendapat tersebut tidak perlu harus sesuai dengan etika adat ketimuran atau etika kesopanan. Tetapi layaknya dalam berpendapat harus sesuai dengan fakta yang sebenarnya tanpa harus men"justifikasi" fakta yang masih belum jelas. Artinya, dalam kebebasan berpendapat tidak boleh memutarkan balikkan fakta kebenaran yang ada. Bila hal ini terjadi akan merupakan fitnah dan pencemaran nama baik. Bila etika berpendapat hanya melanggar etika adat, budaya dan kesopanan tidak terlalu masalah karena sangsi yang didapat hanyalah sekedar sangsi sosial.

Pameo lama mengatakan fitnah lebih kejam dari pembunuhan sehingga wajar bila itu terjadi akan berdampak hukum. Karena fitnah dan pencemaran nama baik akan berakibat sangat merugikan bagi yang mendapatkannya. Ternyata dari sebuah opini yang memutarbalikkan fakta yang ada, dapat mematikan kehidupan dan mata pencaharian seseorang. Seorang pedagang bakso diisukan memakai daging celeng akan membuat pedagang akan kehilangan mata pencaharian. Begitu juga seorang dokter dituding sebagai penipu maka hancurlah citra profesionalnya. Demikian juga sebuah perusahaan kosmetik bila diisukan memakai minyak babi akan hancurlah perusahaan tersebut, demikian juga rumah sakit. Bila semua orang boleh bebas berpendapat seenaknya tanpa beretika, maka akan kacaulah negera demokrasi ini. Dokter dan rumah sakit adalah pihak yang sering dijadikan sasaran tembak istilah tidak profesional, penipuan dan malpraktek baik oleh masyarakat dan media masa. Setiap hari dengan mudah ditemui milis kesehatan dan konsultasi kesehatan yang terlalu cepat memvonis bahwa seorang dokter melakukan malpraktek atau kesalahan dalam tugas profesionalnya. Setiap periode dapat disaksikan di media televisi dokter divonis malpraktek sebelum jalur hukum ditempuh. Bisa saja dari sekian banyak dugaan malpraktek tersebut bila diajukan dalam jalur hukum secara jujur dan ilmiah maka tidak sebanyak yang diduga. Meskipun tidak menutup mata tentang masih adanya tindakan malpraktek yang masih sering terjadi. Kecurigaan malpraktek kepada dokter atau rumah sakit biasanya terjadi karena kelemahan komunikasi pasien dan dokter atau perbedaan persepsi tindakan kedokteran. Hal lain sebagai penyebab adalah masalah harapan kesembuhan yang demikian besar tidak sebanding dengan biaya sangat besar yang telah dikeluarkan. Banyak cerita karena kebebasan berpendapat yang tidak sesuai dengan fakta kebenaran ternyata mengorbankan kerugian moral dan material bagi dokter dan rumah sakit yang sangat besar. Bila seseorang pasien bersengketa atau tidak puas dengan layanan dokter atau rumah sakit bukan merupakan kesalahan bila berkeluh kesah di depan umum tentang keburukan layanan yang diterimanya. Ketidakpuasan tersebut apakah karena layanan yang tidak menyenangkan atau karena rumah sakit menyalahi aturan yang ada. Bila karena layanan yang tidak menyenangkan, maka hal ini tidak masalah bila dikupas tuntas di depan umum. Justru beberapa rumah sakit mengharapkan masukan seperti ini untuk perbaikan kualitas layanannya. Bila fakta itu benar terjadi maka masalah tersebut harus diungkap karena akan berguna bagi masyarakat lain atau perbaikan dari dokter dan rumah sakit. Menjadi lebih rumit bila masalah yang timbul bila rumah sakit atau dokter dianggap menyalahi aturan yang ada dan terlalu dini divonis bersalah.

Masalah sering timbul karena perbedaan persepsi dan latar belakang pengetahuan dan keilmuan yang ada dari pihak yang bersengketa. Pihak pasien bersikeras bahwa pihak dokter atau rumah sakit melakukan malpraktek sedangkan pihak lainnya mengatakan sudah sesuai prosedur yang ada. Sengketa seperti inilah sebelum beropini bisa diajukan ke jalur hukum. Kalaupun sudah tidak sabar beropini maka sebaiknya menggunakan kalimat yang tidak bernada memutarbalikkan fakta yang ada. Atau jangan terburu-buru memvonis terjadi penipuan atau malpraktek sebelum mendalami permasalahan yang sebenarnya terjadi. Kebebasan berpendapat yang tidak sesuai dengan fakta yang ada akan dapat menghancurkan kehidupan seseorang dan sekelompok manusia yang ada di dalamnya. Jangan sekalipun berperasangka bahwa kebebasan beropini yang bertanggung jawab serta beretika akan memberangus kebebasan berpendapat. Demokrasi dibangun demi keadilan dan kebersamaan hak tanpa ada yang boleh dirugikan. Seorang demokrat yang bebas berpendapat dengan mengabaikan hak orang lain adalah demokrat yang "keblinger". Masalahnya sekarang apakah hukum dan undang-undang yang ada dapat mengakomodasikannya tanpa harus mengkebiri kebebasan berpendapat seseorang. Mungkin perlu debat yang tidak akan terselesaikan untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar. Sehingga jalur hukum adalah jalan tengah yang harus dilakukan, bila kompromi yang sudah ditawarkan tidak terselesaikan. Paling tidak masalah ini dapat dijadikan pembelajaran semua masyarakat. Bagi pihak dokter dan rumah sakit dalam memberikan pelayanan optimal harus memberikan komunikasi baik dan profesionalisme tinggi. Bagi pasien berhak mendapatkan perawatan yang terbaik dan berhak mengeluarkan ketidakpuasannya tanpa harus memberi tuduhan dan fakta yang belum jelas terbukti.

http://hiudiary.wordpress.com/2010/10/28/demokrasi-dan-kebebasan-berpendapat-diindonesia/ http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=14525 1 KEBEBASAN BERSERIKAT DAN BERPENDAPAT∗ Oleh Ashadi Siregar ( 1) Masalah kebebasan berserikat dan berpendapat tidak terlepas dari interaksi masyarakat dan birokrasi negara. Kebebasan adalah kondisi yang diperlukan masyarakat, bukan birokrasi

negara. Birokrasi negara menjalankan kekuasaan. Makna kebebasan pada dasarnya bersifat imperatif, sesuai dengan paradigma yang mendasari sistem sosial. Makna ini dilihat dari kehidupan empiris, bukan dari nilai-nilai normatif, apalagi dari dunia alam pikiran yang dibunyikan secara verbal. Secara sederhana makna imperatif ini dapat disebut sebagai kebudayaan (dalam arti luas), sebagai acuan dalam seluruh tindakan individu maupun gerak institusional. Dalam polaritasnya paradigma dilihat sebagai: humanisme yang memberi penghargaan kepada nilai humanisme yang melekat secara azasi pada individu, atau komunalisme yang memberi penghargaan kepada nilai kolektif yang melekat pada negara. Polaritas lainnya: apakah masyarakat sebagai kumulasi dari individu-individu manusia, atau masyarakat diwujudkan dalam negara. Dari masing-masing paradigma akan lahir berbagai jalan dalam mewujudkan tujuan politik dan ekonomi. Libertarianisme ataukah otoritarianisme dalam politik; dan kapitalisme ataukah komunisme dalam ekonomi. Secara sederhana seluruh kerangka pemikiran ini dapat digambarkan sbb: POLITY I POLITY II PARADIGMA Asas humanisme masyarakat Kolektivisme negara JALAN POLITIK Libertarianisme Otoritarianisme JALAN EKONOMI Ekonomi pasar Ekonomi negara Kapitalisme Komunisme Masing-masing polity ini dengan sendirinya akan menetapkan makna imperatif yang berbeda dari kebebasan berserikat dan berpendapat untuk warganya. Jika antara paradigma ke jalan politik dan ekonomi bertolak bersifat garis lurus, maka warga berada dalam kejelasan nilai. (2) Belajar dari sejarah peradaban umat manusia modern (setelah PD I) penyakit-penyakit kehidupan kenegaraan agaknya dapat dilihat berasal dari penyimpangan antara paradigma dengan jalan politik atau ekonomi. Negara fasis Jerman, Italia, dan Jepang setelah PD I, membangun negara dengan menggunakan paradigma kolektivisme negara, jalan politik otoritarianisme dan jalan ekonomi kapitalisme. Secara formal, setelah PD II, tidak ada lagi negara anti komunis yang secara telanjang menggolongkan paradigma sosialnya ke dalam kolektivisme negara. Setelah PD II, hanya negara USSR yang bertahan dengan kolektivisme negara, jalan otoritarianisme dan komunisme. Tetapi dengan revolusi Gorbachev, seluruh tatanan ini diganti kepada humanisme, libertarianisme dan kapitalisme. Apakah manusia di muka bumi akan berada dalam satu acuan nilai seperti yang diimpikan Gorbachev? Yang jelas, cara melihat polity agaknya tidak dari paradigma ke jalan ∗ Disampaikan pada Pertemuan Forum LSM/LPSM, Forum LSM/LPSM Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta 2 Agustus 1995 2 ekonomi, tetapi sebaliknya. Jalan kapitalisme mungkin akan "memaksa" jalan politik kepada libertarianisme, dan barulah kemudian terbentuk paradigma humanisme yang azasi. (3) Peradaban umat manusia bergerak kepada terbentuknya polity tipe II. Dalam polity tipe I,

berbagai institusi masyarakat seperti pers, hanya dapat berfungsi atas dasar adanya kebebasan berserikat dan berpendapat. Kebebasan ini di satu pihak adalah ruang gerak (eksternal), dan di pihak lain adanya dinamika otonom (internal). Kebebasan pers merupakan kondisi bersifat eksternal dan internal. Kondisi eksternal sejauh mana negara dan masyarakat memberi ruang gerak bagi institusi pers menjalankan fungsinya. Kondisi internal sejauh mana sistem di dalam organisasi pers menggunakan otonominya, untuk dapat menjalankan fungsi sosialnya. Jalan ekonomi kapitalisme modern "memaksa" jalan politik berdasarkan libertarianisme. Kecuali birokrasi negara bersikap ortodoks, berusaha menahan dinamika ini dengan memaksakan kolektivisme negara dan otoritarianisme. (4) Dengan cara lain, kebebasan berserikat dan berpendapat dapat dilihat dari dua sisi, pertama, kondisi yang diberikan oleh kekuasaan (birokrasi) negara kepada masyarakat, atau kedua, kondisi yang menjadi prasyarat dalam kehidupan polity (birokrasi dan masyarakat negara). Kondisi pertama, yang diberikan kekuasaan bersifat pragmatis, bertolak dari orientasi teknis dari penyelenggaraan birokrasi negara; atau bahkan bertolak dari kecenderungan individual jika penyelenggaraan birokrasi adalah perluasan (extended) dari ranah personal (personal domain) pejabat negara. Kondisi bersifat subyektif ini sepenuhnya dibaca dari pernyataan, imbauan bahkan dugaan atas itikad dari pejabat negara. Kondisi kedua, jika birokrasi dan masyarakat menggunakan acuan nilai yang sama tentang batas kekuasaan birokrasi di satu pihak dan batas kebebasan masyarakat. Acuan nilai selalu bersifat normatif, dan berbunyi ideal, seperti dalam konstitusi. Tetapi normatifkonstitusional masih harus diwujudkan secara empiris, sehingga menjadi nilai sosial. Setiap keputusan birokrasi negara di satu pihak, dan respon masyarakat di pihak lain, merupakan penafsiran atas nilai. Proses diharapkan bersifat konsisten, sehingga nilai sosial dari kebebasan masyarakat dapat semakin terwujud secara empiris sebagai nilai sosial. http://ashadisiregar.files.wordpress.com/2008/08/kebebasan-berserikat-dan-berpendapat.pdf Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 Rekomendasi dan Usulan Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Tentang Dekriminalisasi Kemerdekaan Berpendapat di Indonesia

A. Pendahuluan Kemerdekaan berpendapat adalah esensi sebuah demokrasi, akan sangat sulit dibayangkan munculnya dan tegaknya sebuah demokrasi tanpa kemerdekaan berpendapat. Dalam konteks ini, maka untuk menjamin bekerjanya sistem demokrasi dalam sebuah negara hukum, Kemerdekaan Berekspresi khususnya Kemerdekaan Berpendapat dalam Hukum Internasional dijamin dan diatur dalam Pasal 19 baik itu dalam Deklarasi Universal HAM dan juga Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik. Sementara dalam UUD 1945, perlindungan terhadap kemerdekaan berekspresi secara khusus diatur dalam Pasal 28 E ayat (3) dan Pasal 28 F. Oleh karena itu pada pundak negaralah terletak beban kewajiban untuk melindungi kemerdekaan berpendapat atau yang lebih dikenal sebagai state responsibility Dalam konteks hukum internasional, Pelaksanaan terhadap Pasal 19 Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik dapat dirujuk pada Pendapat Umum 10 Kemerdekaan Berekspresi (Pasal 19): 29/06/83 dimana berdasarkan Pendapat Umum No 10 (4) tentang Pasal 19 Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik pada pokoknya menegaskan bahwa pelaksanaan hak atas kemerdekaan berekspresi mengandung tugas-tugas dan tanggung jawab khusus, dan oleh karenanya pembatasan-pembatasan pembatasan tertentu terhadap hak ini diperbolehkan sepanjang berkaitan dengan kepentingan orang – orang lain atau kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Namun ada yang lebih dari sekedar pembatasan, karena Komentar Umum 10 (4) juga menegaskan bahwa penerapan pembatasan kebebasan kemerdekaan berekspresi tidak boleh membahayakan esensi hak itu sendiri. Kemerdekaan Berekspresi terutamanya kemerdekaan berpendapat memiliki sejumlah alasan menjadi kenapa salah satu hak yang penting dan menjadi indikator terpenting dalam menentukan seberapa jauh iklim demokrasi di sebuah negara dapat terjaga. Menurut Toby Mendel (2008)

bahwa “Terdapat banyak alasan mengapa kebebasan berekspresi adalah hak yang penting, pertama-tama karena ini adalah sebagai dasar dari demokrasi, kedua kebebasan berekspresi berperan dalam pemberantasan korupsi, ketiga kebebasan berekspresi mempromosikan akuntabilitas, dan keempat kebebasan berekspresi dalam masyarakat dipercaya merupakan cara terbaik untuk menemukan kebenaran” B. Persoalan Terkini Meski secara formal Indonesia mengakui dan menjamin kemerdekaan berpendapat dalam konstitusinya, namun dalam praktek pembuatan UU, kemerdekaan berpendapat masih mendapat tantangan khususnya bila terjadi silang sengketa antara hak atas reputasi dan juga hak atas kemerdekaan berpendapat. Dalam banyak kasus, pengadilan lebih memilih untuk mendahulukan hak atas reputasi ketimbang secara jernih menimbang dan mempertimbangkan kedua hak yang sama – sama diakui ini Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 Sejarah delik reputasi sendiri, berdasarkan pendapat Nono Anwar Makarim (2008), dapat ditelusuri hingga ke 1275 saat Statute of Westminster memperkenalkan apa yang dinamakan Scandalum Magnatum yang menyebutkan “ . . . . sejak sekarang tidak boleh lagi orang secara lancang mengutarakan atau menerbitkan berita dan cerita bohong yang dapat menumbuhkan konflik atau kemungkinan konflik atau fitnah antara raja dan rakyatnya atau orang-orang besar didalam negeri ini”

Scandalum Magnatum sendiri bertujuan menciptakan proses perdamaian dari keadaan yang dapat mengancam ketertiban umum ketimbang untuk melindungi reputasi serta pemulihan nama baik. Terlalu banyak kegaduhan bersenjata dan korban jiwa yang timbul akibat rasa tersinggung seorang oleh apa yang dianggapnya penghinaan oleh orang lain. Dendam bahkan mengambil posisi lebih penting ketimbang perlindungan reputasi semata. Jaman itu informasi jarang bisa diperoleh dan sulit dikonfirmasi. Desas-desus gampang sekali mengakibatkan adu anggar dan pistol didepan umum. Kadangkala kegaduhan bahkan sedemikian meluas sampai menyerupai pemberontakan. Menurut Mahkamah Agung Kanada tujuan undang-undang tersebut adalah untuk mencegah beredarnya rumor palsu. Dalam masyarakat yang didominasi tuan-tuan tanah yang kekuasaannya begitu besar amarah sipembesar lokal bahkan bisa mengancam keamanan negara. Delik reputasi di Indonesia, delik genusnya dapat ditemukan dalam Bab XVI KUHP tentang Penghinaan. Ada empat persoalan pokok dalam memandang delik reputasi dalam KUHP yaitu : (1) Niat kesengajaan untuk menghina Meski pada umumnya delik reputasi dalam KUHP mensyaratkan adanya unsur “niat kesengajaan untuk menghina”, namun tampaknya Mahkamah Agung sejak Putusannya No 37 K/Kr/1957 tertanggal 21 Desember 1957 secara konsisten menyatakan bahwa “tidak diperlukan adanya animus injuriandi (niat kesengajaan untuk menghina)” Hal yang menarik dari unsur niat kesengajaan untuk menghina ini dapat ditafsirkan tindakan mengirimkan surat kepada instansi remsi yang menyerang nama baik dan kehormatan orang lain sudah diterima sebagai bukti adanya unsur kesengajaan untuk menghina (2) Pemisahan opini dan fakta Delik reputasi dalam KUHP jelas tidak memisahkan secara tegas antara opini dan fakta, tidak adanya pemisahan yang tegas ini dapat mengakibatkan pembuat opini dapat dipidana

berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini dapat dilihat kasus Bersihar Lubis (2007) yang dipidana bersalah berdasarkan Pasal 207 KUHP (3) Kebenaran pernyataan Delik reputasi, terutamanya Pasal 310 KUHP, menurut Juswito Satrio (2005), tidak memerlukan kebenaran suatu pernyataan yang dianggap menghina, dalam bahasa yang sederhana seorang pelacur berhak merasa terhina apabila diteriaki sebagai pelacur. Sementara apabila pelaku delik reputasi diberikan kesempatan oleh Hakim untuk mebuktikan kebenaran tuduhannya namun ia tidak membuktikannya maka terhadap pelaku tersebut dijatuhi dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 311 KUHP. Oleh karena itu terdapat keterkaitan erat antara Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP (4) Ketidakjelasan tentang batasan kritik dengan penghinaan Delik reputasi di Indonesia tidak dapat menjelaskan tentang pengertian penghinaan itu sendiri selain dari “sengaja untuk menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 menuduhkan sesuatu hal yang maksudnya terang untuk diketahui umum. Seperti yang telah dijelaskan diatas tentang niat kesengajaan untuk menghina, lagi-lagi hukum pidana gagal dalam memandang dalam ukuran apakah seseorang dapat dikualifikasi telah melakukan penghinaan. Oleh karena itu penerapan delik penghinaan pada umumnya selalu berada dalam asumsi keadaan yang tidak seimbang antara si penghina dan si terhina. Posisi si Terhina selalu dalam posisi yang

kuat baik secara ekonomi, politik, ataupun hukum, sementara si Penghina selalu dalam posisi yang lemah atau dilemahkan baik secara ekonomi, politik, ataupun hukum. Selain itu sulit untuk melihat apakah suatu pernyataan adalah sebuah kritik ataukah sebuah penghinaan. Dalam hukum pidana, tindakan kritik yang didahului, disertai atau diikuti dengan perbuatan menghina, maka yang dipidana menurut hukum pidana bukan perbuatan kritiknya, melainkan perbuatan penghinaannya. C. Tren dan Standar Internasional tentang Kemerdekaan Berpendapat Hak atas reputasi sebagaimana juga hak atas kemerdekaan berekspresi mendapatkan perlindungan dari hukum internasional terutama dalam Pasal 12 Deklarasi Universal HAM dan juga Pasal 17 Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik. Konstitusi Indonesia juga menjamin perlindungan hak atas reputasi ini mendasarkan pada Pasal 28 G. Namun yang menjadi pertanyaan pokok, tepatkah bila asumsi dasar yang digunakan bahwa hanya hukum pidana yang dipandang sebagai satu-satunya cara dari bentuk perlindungan dari negara terhadap hak atas reputasi? Jika melihat dari beragam putusan dari pengadilan-pengadilan hak asasi manusia berusaha melakukan penyeimbangan terhadap kedua hak tersebut. Beberapa pendapat juga menarik untuk diikuti yaitu pendapat dari Pengadilan HAM Eropa dalam kasus Lingens vs. Austria yang menyatakan bahwa hukuman pidana dalam delik reputasi dapat berakibat tekanan terhadap kemerdekaan berekspresi. Selain itu Inter-American Commission on Human Rights juga mencatat dalam kesimpulan dalam “Report on the Compatibility of “Desacato” Laws With the American Convention on Human Rights” yang pada pokoknya menyatakan bahwa “akan terjadi efek yang menakutkan (hukuman pidana) dalam kemerdekaan bereskpresi”. Selain itu jika melihat pendapat Mahkamah Agung Amerika Serikat pada 1964 menyatakan bahwa “ Even in Livingston’s day [circa

1830s], however, preference for the civil remedy, which enabled the frustrated victim to trade chivalrous satisfaction for damages, had substantially eroded the breach of the peace justification for criminal libel laws.” lebih lanjut Mahkamah Agung Amerika Serikat juga menyatakan bahwa “. . . under modern conditions, when the rule of law is generally accepted as a substitute for private physical measures, it can hardly be urged that the maintenance of peace requires a criminal prosecution for private defamation” (Toby D. Mendel: 2004). Selain itu Komisi HAM PBB, dalam resolusinya tentang kemerdekaan berekspresi, setiap tahun selalu menyerukan keprihatinannya terhadap berlangsungnya apa yang Komisi HAM PBB namakan “abuse of legal provisions on defamation and criminal libel”. Tiga komisi internasional yang dibentuk dengan mandat untuk mempromosikan kemerdekaan berekspresi yatu UN Special Rapporteur, OSCE Representative on Freedom of the Media dan OAS Special Rapporteur on Freedom of Expression pada December 2002 juga mengeluarkan pernyataan bahwa “Criminal defamation is not a justifiable restriction on freedom of expression; all criminal defamation laws Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 should be abolished and replaced, where necessary, with appropriate civil defamation laws.” Berdasarkan data dari Article 19 bahwa beberapa negara seperti Timor Leste (2000), Ghana (2001), Ukraine (2001) and Sri Lanka (2002), telah menghapus delik reputasi dalam KUHPnya

masing – masing. Dan negara – negara ini tidak mengalami kenaikan yang signifikan, kuantitaf dan kualitatif, tentang pernyataan yang bersifat menyerang kehormatan sejak mereka menghapus delik reputasi dalam KUHPnya. Dalam hukum hak asasi manusia Internasional, negara memang diwajibkan untuk menciptakan instrumen dan/atau mekanisme untuk melindungi hak atas reputasi. Untuk melindungi hak atas reputasi, pada umumnya negara – negara di dunia melakukannya melalui dua instrumen hukum yaitu hukum pidana dan juga hukum perdata. Namun perlindungan terhadap kehormatan dan reputasi induvidu tersebut juga harus dilihat relasinya dengan keberadaan hak yang lain, yakni hak atas kebebasan menyatakan pendapat (freedom of speech), berekspresi (freedom of expression), dan kebebasan pers (freedom of the press). Perlindungan terhadap hak atas reputasi tidak boleh sampai menjadi senjata ampuh untuk membungkam kemerdekaan berpendapat seperti yang terjadi pada masa Orde Baru Oleh karena itu penggunaan instrumen hukum pidana justru dapat membatasi esensi hak itu sendiri, oleh karena itu tak heran apabila Pelapor Khusus PBB untuk Kemerdekaan Berekspresi setiap tahun selalu menyerukan agar negara – negara yang meratifikasi Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik untuk menghapuskan ketentuan pencemaran nama baik dalam hukum pidana. Gema penghapusan itupun sudah sedemikian hebatnya sampaisampai Sidang Umum PBB pada awal 2009 juga menyerukan kepada negara-negara anggota PBB untuk melakukan penghapusan ketentuan pencemaran nama baik dalam hukum pidananya. D. Ketentuan Terkait Dengan Delik Reputasi Jenis Aturan Ketentuan Ancaman KUHP Pasal 142 Penghinaan terhadap kepala negara sahabat Penjara 5 tahun dan denda 4500 Pasal 142 a Penghinaan terhadap bendera negara sahabat

Penjara 4 tahun dan denda 4500 Pasal 143 Penghinaan terhadap wakil negara asing Penjara 5 tahun dan denda 4500 Pasal 144 Penghinaan terhadap kepala negara sahabat dan wakil negara asing dalam bentuk selain lisan Penjara 9 bulan dan denda 4500 Pasal 154 a Penghinaan terhadap bendera negara Indonesia Penjara 4 tahun dan denda 3000 Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 Pasal 207 Penghinaan terhadap penguasa atau badan umum Penjara 1 tahun 6 bulan dan denda 4500 Pasal 208 Penghinaan terhadap penguasa atau badan umum dalam bentuk selain lisan Penjara 4 bulan dan denda 4500 Pasal 310 Menista Penjara 9 bulan dan denda 4500, jika dalam bentuk selain lisan penjara 1 tahun 4 bulan dan denda 4500 Pasal 311 Fitnah Penjara 4 tahun Pasal 315 Penghinaan ringan Penjara 4 bulan 2 minggu dan denda 4500

Pasal 316 Penghinaan terhadap pejabat yang menjalankan tugas pemberatan1/3 dari delik asalnya Pasal 317 Pengaduan fitnah Penjara 4 tahun Pasal 318 Persangkaan palsu Penjara 4 tahun Pasal 320 Penghinaan terhadap orang mati Penjara 4 bulan 2 minggu dan denda 4500 Pasal 321 Penghinaan terhadap orang mati dalam bentuk selain lisan Penjara 1 bulan 2 minggu dan denda 4500 UU No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran Pasal 36 ayat (5) huruf a jo Pasal 57 Fitnah Penjara 5 tahun dan denda 10.000.000.000 UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Pasal 78 huruf b jo Pasal 116 Penghinaan terhadap calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah Penjara min 3 bulan dan max 1 tahun 6 bulan 5 tahun dan denda min 600.00 dan max 6.000.000 UU No 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden Pasal 41 ayat (1) huruf c jo pasal 214 Penghinaan terhadap calon presiden dan calon wakil presiden Penjara min 6 bulan dan max 2 tahun dan denda min 6.000.00 dan max 24.000.000 UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 36 jo Penghinaan dan/atau Penjara 6 tahun dan denda Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga

Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 Pasal 45 ayat (1) pencemaran nama baik 1.000.000.000. E. Data Tentang Putusan MARI Terkait dengan Penghinaan Data ini diambil dan diolah dari situs http://www.putusan.mahkamahagung.go.id (1) Putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan terkait dengan delik reputasi Putusan yang dipergunakan oleh Hakim Pidana Penjara Pidana Penjara dan Denda Percobaan Bebas (2) Penggunaan Delik Reputasi dalam KUHP Jumlah Pengguanan Pasal 12 3 1 2 1 2 4 1 2 0 2 4 6 8 10 12 14 Pasal 310 (1) KUHP Pasal 310 (2) KUHP Pasal 335 (1) KUHP Pasal 311 (1) KUHP Pasal 406 (1) KUHP Pasal 116 (2) UU 32/2004 Pasal 207 KUHP Pasal 317 KUHP Pasal 315 KUHP Jumlah Pengguanan Pasal (3) Hukuman Pidana Yang Dijatuhkan oleh Pengadilan Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI),

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 F. Tentang Pasal 27 ayat (3) UU ITE Pasal 27 ayat (3) dirumuskan sebagai berikut “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”. Setidaknya ada 4 unsur dalam Pasal 27 ayat (3) tersebut diantaranya adalah : (1) Setiap Orang (2) dengan sengaja dan tanpa hak (3) mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik (4) memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. Terdapat beberapa pengertian kunci yang justru tidak mendapatkan penjelasan memadai yaitu pengertian dengan sengaja, pengertian tanpa hak, pengertian mendistribusikan, dan pengertian mentransmisikan. Namun kata kunci yang paling penting adalah kata “dengan sengaja dan tanpa hak” dan kata kunci “ memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik” Menurut keterangan Menkominfo dan Menhukham pada persidangan di Mahkamah Konstitusi pada 12 Februari 2009 dengan sengaja diartikan sebagai “pelaku harus menghendaki perbuatan mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik dan mengetahui bahwa Informasi dan/atau Dokumen Elektronik tersebut memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”. Sementara unsur tanpa hak dalam kesempatan yang sama juga diartikan sebagai “perumusan sifat

melawan hukum yang dapat diartikan (1) bertentangan dengan hukum dan (2) bertentangan dengan hak atau tanpa kewenangan atau tanpa hak”. Namun tidak diperoleh keterangan tentang “memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik” selain hanya kalimat tersebut merujuk pada setiap delik penghinaan dalam KUHP. Jumlah Hukuman Pidana < 2 Bulan 2 Bulan - 4 Bulan > 4 Bulan Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 Sementara itu jika Mahkamah Konstitusi mengandaikan sebagai penafsir dari hukum, maka terdapat perbedaan penafsiran dari Mahkamah Konstitusi dalam perkara berbeda yang memohonkan hal yang sama. MK memberikan definisi yang berbeda tentang “dengan sengaja” dan “tanpa hak” pada Putusan No 50/PUU-VI/2008 dan Putusan No 2/PUUVII/2009. Dalam Putusan No 50/PUU-VI/2008, MK menyatakan (garis tebal oleh oleh KPKB): “Bahwa unsur dengan sengaja dan tanpa hak merupakan satu kesatuan yang dalam tataran penerapan hukum harus dapat dibuktikan oleh penegak hukum. Unsur “dengan sengaja” dan “tanpa hak” berarti pelaku “menghendaki” dan “mengetahui” secara sadar bahwa tindakannya dilakukan tanpa hak. Dengan kata lain, pelaku secara sadar menghendaki dan mengetahui bahwa perbuatan “mendistribusikan” dan/atau “mentransmisikan” dan/atau “membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik” adalah memiliki muatan

penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. Adapun unsur tanpa hak merupakan unsur melawan hukum. Pencantuman unsur tanpa hak dimaksudkan untuk mencegah orang melakukan perbuatan mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik” Sementara dalam Putusan Perkara No 2/PUU-VII/2009, MK malah menyatakan (garis tebal oleh KPKB): “Bahwa unsur sengaja berarti pelaku menghendaki dan mengetahui perbuatan mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan mengetahui bahwa informasi dan/atau dokumentasi elektronik tersebut memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, sedangkan unsur tanpa hak merupakan unsur melawan hukum. Unsur tanpa hak dimaksudkan untuk menghindarkan orang yang melakukan perbuatan mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dan mengetahui bahwa informasi dan/atau dokumen elektronik tersebut memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik berdasarkan hukum dapat dipidana” Keseluruh definisi tersebut memberikan komplikasi tersendiri, karena suatu informasi/dokumen elektronik harus dinyatakan terlebih dahulu berdasarkan putusan pengadilan, sebagai informasi/dokumen elektronik yang menghina berdasarkan aturan tindak pidana penghinaan dalam KUHP. Karena tanpa putusan pengadilan, tentu informasi/dokumen elektronik yang dianggap menghina tersebut harus dinyatakan terlebih dahulu sebagai informasi/dokumen elektronik yang tidak mempunyai sifat penghinaan. Oleh karena itu, Pasal 27 ayat (3) UU ITE mempunyai beberapa kelemahan mendasar

(1) Ketidakjelasan Kategorisasi Delik Pasal 27 ayat (3) UU ITE jelas tidak menjelaskan apakah delik ini masuk dalam kategori Delik Aduan atau masuk dalam kategori Delik Biasa. Jika merujuk pada pendapat Ahli Pemerintah, Dr. Mudzakkir, SH, MH, dalam sidang pleno pada 19 Maret 2009 yang pada pokoknya menerangkan bahwa kategorisasi delik reputasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE sangat tergantung pada delik reputasi dalam KUHP yang di-insert kedalamnya. Dengan kata lain apabila delik reputasi dalam KUHP yang di-insert adalah delik biasa maka kategorisasi delik pada Pasal 27 Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 ayat (3) UU ITE adalah delik biasa namun jika delik reputasi dalam KUHP yang di-insert adalah delik aduan maka kategorisasi delik pada Pasal 27 ayat (3) UU ITE adalah delik aduan. Dalam pertimbangannya, MK langsung menyatakan bahwa Pasal 27 ayat (3) UU ITE masuk dalam kategori delik aduan, tanpa ada penjelasan teoritis bagaimana MK menemukan bahwa Pasal 27 ayat (3) masuk dalam kategori delik aduan (2) Delik reputasi dalam KUHP masih mampu menjangkau ranah internet Delik reputasi dalam KUHP masih mampu menjangkau ranah internet, ini bisa dilihat dalam surat dakwaan atas nama Terdakwa Teguh Santosa yang didakwa dengan Pasal 156 a KUHP karena telah memasang gambar kartun “Nabi Muhammad” (yang telah moderasi – Pen) di situs berita Rakyat Merdeka Online. Contoh kasus yang lain adalah kasus Jurnalis Ahmad Taufik yang didakwa

mencemarkan nama baik, saat tulisannya tentang kronologis penyerangan kantor Majalah Tempo dimuat di milis dan situs berita detik.com selain itu Surat Dakwaan atas Prita Mulyasaripun masih memuat pasal 310 dan 311 KUHP. Hal ini cukup membuktikan bahwa ketentuan delik reputasi KUHP masih mampu menjangkau ranah internet Jika mendasarkan pada Makalah dari “ahli hukum pidana”, Dr. Mudzakkir, SH, MH, dengan judul “Melihat Politik Kodifikasi Dalam Rancangan KUHP” yang dipresentasikan pada 28 September 2006 di Hotel Ibis Tamarin, secara jelas Dr. Mudzakkir, SH, MH menyatakan bahwa “pengaturan di luar KUHP dimungkinkan apabila tidak ada delik genus dalam KUHP yang menjadi cantolan delik yang baru karena kejahatan tersebut benar-benar kejahatan baru yang tidak ada padanannya dalam KUHP, jika ada ketentuan genus-nya dalam KUHP maka cukup dilakukan dengan cara mengamandemen KUHP”. Lebih lanjut dalam tulisan yang sama beliau menyatakan “perkembangan asas-asas hukum pidana dalam peraturan perundangundangan di luar KUHP tersebut telah menyimpang terlalu jauh dari KUHP karena telah mengatur substansi hukum yang secara diam-diam membentuk sistem hukum pidana sendiri yang berbeda dengan dan tidak terkontrol atau tidak terkendali oleh asas-asas umum hukum pidana buku satu KUHP, padahal sesuai dengan prinsip kodifikasi buku satu KUHP memuat ketentuan umum hukum pidana nasional yang semestinya menjadi dasar dan landasan dalam mengembangkan hukum pidana dalam pengaturan perundang-undangan di luar KUHP. Delik-delik atau perbuatan pidana yang dimuat dalam peraturan perundang-undangan di luar KUHP sebagian besar mengambil rumusan delik dari KUHP. Kebijakan yang demikian ini menimbulkan adanya duplikasi dan juga triplikasi yang menyulitkan dalam penegakan hukum pidana, terutama problem pilihan hukum mana yang tepat untuk diterapkan dalam menghadapi perbuatan yang sama. Pengulangan pengaturan

perbuatan yang dilarang ini bertentangan dengan asas kepastian hukum dan kejelasan rumusan atau asas legalitas” Dalam banyak kasus, tidak ada satupun putusan MA terkait dengan penerapan delik reputasi dalam KUHP di dunia maya yang menjelaskan bahwa delik reputasi dalam KUHP tidak bisa menjangkau dunia maya, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada satupun bukti yang menunjukkan bahwa delik reputasi dalam KUHP tidak dapat menjangkau dunia maya (3) Tidak ada negara hukum modern yang memiliki delik reputasi yang diatur secara khusus untuk penggunaan di ranah internet Terdapat beberapa pendapat ahli dan praktisi hukum dari Belanda, Singapura, dan Australia yang dapat menegaskan bahwa tidak ada negara hukum modern yang mengatur delik reputasi secara Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 khusus di internet, diantaranya adalah: Prof Willem Khortals Altes, Wakil Ketua PN Amsterdam – Belanda, yang pada pokoknya menyatakan bahwa “Dutch law has no provision specifically criminalizing defamation if committed through the Internet. There is no doubt, however, that the above mentioned provisions also cover the Internet insofar as they criminalize written statements.”. Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa “In 1993, the Law on Computer Criminality was adopted and inserted in the Dutch Wetboek van Strarecht. The 1993 law deals with hacking in various forms (Articles 138a, 161

sexies, 161 septies, 350a and 350b), the use of forged credit and debit cards (Article 232), child pornography (Article 240b), the use of stolen computer data belonging to businesses (Article 273), extortion (Article 317), blackmail (Article 318), the use of telecommunications facilities without pay (Article 326c), and the unlawful use of confidential radio and internet messages (Article 441). In addition, the so-called Cyber Crime Treaty of Budapest of Nov 23, 2001 was implemented in Dutch law, giving rise to further amendments to some of the provisions mentioned in this paragraph. None of these provisions deals with any type of defamation.” George Bonaventur Hwang Chor Chee, Advokat pada Mahkamah Agung Singapura, yang pada pokoknya menyatakan bahwa “It has not been Singapore‟s legislative policy to create a new category of defamation for the internet, be it civil or criminal. This is evident from the law itself. Tthe government had ample opportunities to do so, especially, when: (1)introducing the Electronic Transactions Act in 1998 and its amendment in 2004; and (2) amending the Penal Code (Cap 224) with the Penal Code Amendment Act 2007 had it been necessary. The fact that it did not is proof that the government considers the law of defamation flexible enough to accommodate the new medium. Most of importantly, when the Ministry of Home Affairs released its “Consultation Paper on the Proposed Penal Code Amendments” on 8 Nov 2006, it made clear that it was going to expand the scope of s499, the section dealing with criminal defamation”. Lebih lanjut beliau menyatakan “The paper expressly mentioned that the Bill seeks to expand the scope of s499, the provision on defamation. This is done through the introduction of “Explanation 5”. This ensures that “the Penal Code keeps abreast of changes, especially technological changes”. The bill could have introduced a new offence for defamation on the internet, which it did not.” James William Nolan, Advokat Australia, yang pada pokoknya menyatakan bahwa “the

Australian legal framework with respect to civil and criminal defamation and regulation of the internet demonstrates that nothing in Australian law creates a criminal offence of the kind now created in the law of Indonesia. Whereas the publication of „defamatory‟ materials -whether electronically or by other means – may attract the sanction of the civil law and an aggrieved party may sue for civil damages, there is no crime so potentially far reaching or open to abuse as the crime of publishing „insulting‟ materials (electronically or otherwise) in the Australian legal system. As pointed out above, the civil law of defamation provides robust defences for publishers/media outlets and these have been significantly enhanced with the recent harmonised law” (4) Kekaburan Definisi Unsur mentransmisikan juga unsur mendistribusikan serta membuat dapat diaksesnya mempunyai diantaranya adalah definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan juga Black Law Dictionary yang secara diametral sangat berbeda definisinya dalam lapangan praktik. Selain itu pengertian akses sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 angka 15 UU ITE jelas Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 berlawanan dengan pengertian akses dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE, dimana akses menurut Pasal 1 angka 15 dilakukan terhadap sistem elektronik dan bukan terhadap informasi dan/atau dokumen elektonik. (5) Pasal 27 ayat (3) UU ITE Mempunyai Kecenderungan Menjadi UU Anti Subversif

Yang Baru Rumusan norma dan rumusan pemidanaan yang terkandung dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE telah berhasil menciptakan “climate of fear” di kalangan pengguna internet. Kecenderungan dari bloger Indonesia untuk menutup beberapa entry posting untuk menghindari jeratan Pasal 27 ayat (3) UU ITE patut menjadi perhatian serius. Kecenderungan ini dalam jangka panjang akan menjadi dasar pembenar untuk membentuk negara yang makin otoriter dan anti demokrasi di Indonesia. Ketakutan dan trauma itu tidak hanya melanda Prita Mulyasari, namun juga pada anak – anak. Putu Setia (Tempo Interaktif, 7 Juni 2009) dengan baik menggambarkannya bagaimana kasus yang mendera Prita Mulyasari telah berhasil menciptakan apa yang dikenal dengan “chilling effect” bahkan pada anak – anak sekolah dasar. Kecenderungan ini nampaknya masih akan terus menerus diabaikan oleh Pemerintah, DPR, dan Mahkamah Konstitusi dengan menganggap tidak ada masalah di perumusan norma hukum maupun norma pemidanaannya G. Rekomendasi dan Usulan Melihat kecenderungan – kecenderungan tersebut diatas, maka Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat dengan ini menyampaikan rekomendasi dan usulan sebagai berikut Kepada Mahkamah Agung RI 1. Mendesak Mahkamah Agung untuk menyingkirkan ketentuan – ketentuan penghinaan di luar KUHP terutamanya Pasal 27 ayat (3) UU ITE karena menyimpan berbagai potensi dan masalah dalam perumusan normanya serta mempunyai kecenderungan tinggi dalam melanggar kemerdekaan berpendapat sebagaimana dijamin dalam UUD 1945 2. Mendesak Mahkamah Agung untuk mempertimbangkan penghapusan eksistensi norma penghinaan dalam Hukum Pidana Indonesia. Dan untuk sementara Mahkamah Agung dapat bertindak dengan cara meminta para hakim untuk tidak menjatuhkan pidana penjara

terhadap para pelaku penghinaan dan mempertimbangkan penjatuhan pidana denda serta pidana lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) KUHP 3. Mendesak Mahkamah Agung, agar tidak terjadi miscarriage of justice, dalam pemeriksaan perkara penghinaan pada perkara pidana dan perdata untuk melakukan penggabungan ganti kerugian dalam pemeriksaan tersebut sesuai dengan ketentuan Bab XIII UU No 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana Kepada Pemerintah 1. Menuntut agar Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perpu) untuk mencabut Pasal 27 ayat (3) UU ITE, karena Pasal 27 ayat (3) UU ITE terbukti telah Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 mencederai perasaan keadilan masyarakat 2. Menuntut agar pemerintah untuk melibatkan para pemangku kepentingan agar perumusan norma hukum pidana tidak mempunyai potensi untuk mencederai kebebasan – kebebasan sipil dan politik 3. Menuntut agar pemerintah untuk segera melakukan harmonisasi hukum, khususnya hukum pidana, terkait dengan telah diratifikasinya Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik melalui UU No 12 Tahun 2005 4. Mendesak pemerintah agar segera melakukan revisi harmonisasi hukum terhadap Rancangan KUHP yang lebih menghormati kebebasan sipil dan politik sebagaimana diatur dalam Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik (UU 12/2005) serta mengajukan

Rancangan KUHP ke DPR RI agar tidak over legislasi dan over kriminalisasi dalam sistem hukum pidana Indonesia Kepada DPR RI 1. Menuntut DPR untuk mengundang partisipasi dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam setiap perumusan UU yang mempunyai potensi mencederai kebebasan – kebebasan sipil dan politik 2. Mendesak DPR untuk memperhatikan apakah dalam perumusan RUU mempunyai kesamaan norma yang telah dirumuskan dalam UU yang lain 3. Mendesak DPR untuk memperhatikan rekomendasi – rekomendasi pembaharuan hukum pidana nasional yang dikeluarkan oleh Komisi Hukum Nasional (KHN) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) 4. Meminta DPR untuk memperhatikan dengan baik tren legislasi yang telah over legislasi dan over kriminalisasi Kepada Mahkamah Konstitusi RI 1. Menuntut Mahkamah Konstitusi RI untuk memperhatikan dengan baik dan menimbang dengan baik semua ketentuan hukum internasional yang telah diakui menjadi bagian dari sistem hukum nasional Indonesia 2. Menuntut Mahkamah Konstitusi RI mempertimbangkan kembali dampak pengaturan delik reputasi dengan bahaya chilling effect yang telah menjadi fenomena yang meluas di kalangan masyarakat Indonesia =============================================== ============================= Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat (KPKB) didirikan di Jakarta pada 3 Juni 2009 sebagai koalisi dari organisasi masyarakat sipil Indonesia yang dibentuk dalam rangka mempertahankan kemerdekaan berpendapat dengan cara memperjuangkan penghapusan ketentuan penghinaan dari hukum pidana Indonesia. KPKB beranggotakan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Komite Pembela Kemerdekaan Berpendapat

Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM), Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Sekretariat Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Rukan Mitra Matraman Blok A2 No 18, Jl Matraman Raya No 148 Jakarta Phone (021) 85918064 Fax (021) 85918065 Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Pusat Bantuan Hukum PERADI, Komunitas Bloger Benteng Cisadane (KBBC), Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Untuk informasi lebih lanjut silahkan menghubungi : Syamsuddin Radjab, SH, MH (Ketua BPN PBHI) – 08158248543 Anggara (Koord. Div Advokasi PBHI) – 08121453771 Patra M. Zen, SH, LLM (Ketua BP YLBHI) – 08164825377 Zainal Abidin (Direktur Riset dan Publikasi YLBHI) – 08128292015 Nezar Patria (Ketua Umum AJI Indonesia) – 0811829135 Margiyono (Koord. Div Advokasi AJI Indonesia) – 08161370180 Hendrayana, SH (Direktur Eksekutif LBH Pers) – 081310062794 David ML Tobing, SH (Wakil Ketua PBH PERADI) - 08129899989 Wahyu Wagiman (Koord. Pengembangan Sumber Daya HAM ELSAM) – 081311228246 Sudaryatmo (YLKI) – 0818767614 Edy Cahyono (Koordinator KBBC) – 0818987339 Ari Juliano (Legal Advisor KBBC) – 0818856859 Supriyadi W. Eddyono (ICJR) – 0818120175
http://www.elsam.or.id/downloads/1273477866_kpkb_rekomendasi_ful.pdf

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->