Kumpulan Cerpen A.A.

Navis

Anak Kebanggaan

Semua orang, tua-muda, besar-kecil, memanggilnya Ompi. Hatinya akan kecil bila di panggil lain. Dan semua orang tak hendak mengecilkan hati orang tua itu. Di waktu mudanya Ompi menjadi klerk di kantor Residen. Maka sempatlah ia mengumpulkan harta yang lumayang banyaknya. Semenjak istrinya meninggal dua belas tahun berselang, perhatiannya tertumpah kepada anak tunggalnya, laki-laki. Mula-mula si anak di namainya Edward. Tapi karena raja Inggris itu turun takhta karena perempuan, ditukarnya nama Edward jadi Ismail. Sesuai dengan nama kerajaan Mesir yang pertama. Ketika tersiar pula kabar, bahwa ada seorang Ismail terhukum karena maling dan membunuh, Ompi naik pitam. Nama anaknya seolah ikut tercemar. Dan ia merasa terhina. Dan pada suatu hari yang terpilih menurut kepercayaan orang tua-tua, yakin ketika bulan sedang mengambang naik, Ompi mengadakan kenduri. Maka jadilah Ismail menjadi Indra Budiman. Namun si anak ketagihan dengan nama yang dicarinya sendiri, Eddy. Ompi jadi jengkel. Tapi karena sayang sama anak, ia terima juga nama itu, asal di tambah di belakangnya dengan Indra Budiman itu. Tak beralih lagi. Namun dalam hati Ompi masih mengangankan suatu tambahan nama lagi di muka nama anaknya yang sekarang. Calon dari nama tambahan itu banyak sekali. Dan salah satunya harus dicapai tanpa peduli kekayaan akan punah. Tapi itu tak dapat dicapai dengan kenduri saja. Masa dan keadaanlah yang menentukan. Ompi yakin, masa itu pasti akan datang. Dan ia menunggu dnegan hati yang disabar-sabarkan. Pada suatu hari yang gilang gemilang, angan-angannya pasti menjadi kenyataan. Dia yakin itu, bahwa Indra Budimannya akan mendapat nama tambahan dokter di muka namanya sekarang. Atau salah satu titel yang mentereng lainnya. Ketika Ompi mulai mengangankan nama tambahan itu, diambilnya kertas dan potlot. Di tulisnya nama anaknya, dr. Indra Budiman. Dan Ompi merasa bahagia sekali. Ia yakinkan kepada para tetangganya akan cita-citanya yang pasti tercapai itu. "Ah, aku lebih merasa berduka cita lagi, karena belum sanggup menghindarkan kemalangan ini. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah jadi dokter, si mati ini akan pasti dapat tertolong," katanya bila ada orang meninggal setelah lama menderita sakit. Dan kalau Ompi melihat ada orang membuat rumah, lalu ia berkata, "Ah sayang. Rumah-rumah orang kita masih kuno arsitekturnya. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah menjadi insinyur, pastilah ia akan membantu mereka membuat rumah yang lebih indah." Semenjak Indra Budiman berangkat ke Jakarta, Ompi bertambah yakin, bahwa setahun demi setahun segala cita-citanya tercapai pasti. Dan benarlah. Ternyata setiap semester Indra Budiman mengirim rapor sekolahnya dengan angka-angka yang baik sekali. Dan setiap tahun ia naik kelas. Hanya dalam tempo dua tahun, Indra Budiman menamatkan pelajarannya di SMA seraya mengantungi ijazah yang berangka baik.

Ketika Ompi membaca surat anaknya yang memberitakan kemajuannya itu, air mata Ompi berlinang kegembiraan. "Ah, Anakku," katanya pada diri sendiri, "Aku bangga, Anakku. Baik engkau jadi dokter. Karena orang lebih banyak memerlukanmu. Dengan begitu kau disegani orang. Oooo, perkara uang? Mengapa tiga ribu, lima ribu akan kukirim, Anakku. Mengapa tidak?" Dan semenjak itu Ompi kurang punya kesabaran oleh kelambatan jalan hari. Seperti calon pengantin yang sedang menunggu hari perkawinan. Tapi semua orang tahu, bahkan tidak menjadi rahasia lagi bahwa cita-cita Ompi hanyalah akan menjadi mimpi semata. Namun orang harus bagaimana mengatakannya, kalau orang tua itu tak hendak percaya. Malah ia memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang di capai anaknya. Dan segera ia mengirim uang lebih banyak, tanpa memikirkan segala akibatnya. Dan itu hanya semata untuk menantang omongan yang membusukkan nama baik anaknya. "Sekarang kau diomongi orang-orang yang busuk mulut, Anakku. Tapi ayah mengerti, kalau mereka memfitnahmu itu karena mereka iri pada hidupmu yang mentereng. Cepat-cepatlah kau jadi dokter, biar kita sumpal mulut mereka yang jahat itu," tulisnya dalam sepucuk surat. Dan akhirnya orang jadi kasihan pada Ompi. Tak seorang pun lagi membicarakan Indra Budiman padanya. Malah sebaliknya kini, semua orang seolah sepakat saja untuk memuji-muji. "Ooo, anak Ompi itu. Bukan main dia. Kalau tidak ke sekolah, tentu menghafal di rumah," kata seseorang yang baru pulang dari Jakarta menjawab tanya Ompi. "Ke sekolah? Kenapa ke sekolah dia?" Ompi merasa tersinggung. "Kalau studen tidak menghafal, tahu? Tapi studi. Tidak ke sekolah. Tapi kuliah." "O, ya, ya, Ompi. Itulah yang kumaksud." "Aku sudah kira Indra Budiman, anakku anak baik. Ia pasti berhasil. Aku bangga sekali. Ah, kau datanglah ke rumahku makan siang. Aku potong ayam." Dan oleh perantau pulang lainnya dikatakan kepada Ompi. "Siapa yang tak kenal dia. Indra Budiman. Seluruh Jakarta kenal. Seluruh gadis mengharap cintanya." Lalu Ompi geleng-geleng kepala dengan senyumnya. "Bukan main. Bukan main. Indra Budiman anakku itu. Ia memang anak tampan. Perempuan mana yang tak tergila-gila kepadanya. Ha ha ha. Ah, datanglah kau ke rumahku nanti. Ada oleh-oleh buatmu." Kemudian kalau Ompi ketemu gadis cantik yang di kenalnya, ditegurnya: "Hai, kaukenal anakku, studen dokter itu, bukan? Nanti kalau ia pulang, aku perkenalkan padamu. Biar kau dipinangnya. Ha ha ha." Si gadis tentu saja merah mukanya, karena merasa tersinggung. Tapi menurut Ompi, muka merah itu karena malu tersipu. Dan ia jadi tambah gembira.

si calon dokter itu. sebagai imbangan budi baik ayahnya yang tak pernah melupakan segala kebutuhan anaknya. dengan tiba-tiba saja surat Indra Budiman tak datang lagi. Pada suatu hari yang tak baik. Bahkan bukan kepalang meradangnya Ompi. Malah sebaliknya.Akan tetapi ketika Ompi tahu aku bakal kawin. "Awaslah nanti. Jika dulu si anak yang berbohong. Dikirim. Karena menurut keyakinannya. Sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara." Kepada Indra Budiman tak dikatakannya kemarahannya itu. Lalu si anak mengharapkan kepada ayahnya supaya dikirimu foto-foto gadis yang dicalonkan. "Pilihlah saja gadis di Jakarta. maka kini si ayah yang menipu. Persis ketika Ompi kehabisan foto para gadis itu. Dikatakannya. akan kuludahi mukamu semua. Tak teringat olehnya. lantas jadi membalik pikirannya. Untuk membuktikan kebenaran suratnya. Tapi rupanya Tuhan mengasihi ayah yang sayang kepada anaknya. Sikap keangkuhannya mudah tersinggung. Disamping itu ia sadar juga. Kalau Indra Budimanku sudah menjadi dokter. apa foto itu gambar dari gadis yang sudah kawin atau bertunangan. di kala Ompi sudah mulai putus asa. Lama-lama rasa dendamnya pada mereka bagai membara. Tapi Ompi tak mau mengerti. Pasai ia menunggu. Bulan datang. Sombong. bulan pergi. datanglah Pak Pos dengan di tangannya segenggam surat. Indra Budimannya lebih mementingkan studi daripada perempuan. Anaknya pasti lama-lama tahu dan dengan begitu akan timbul kesulitan lain yang tak mudah di selesaikan. bahwa sudah banyak orang yang datang melamarnya. Ompi tinggal menunggu terus. Dan bencinya bukan kepalang kepada orang-orang tua yang mempunyai anak gadis cantik. Dan alangkah gembiranya Ompi. Karena di kampung kami pihak perempuanlah yang datang meminang. tentu Indra Budiman akan gembira dan bertambah rajin menuntut ilmu. Ditunggunya. banyak sudah orang yang punya gadis cantik datang meminang. Apalagi seorang studen dokter tentu takkan mau dengan gadis kampungan yang kolot lagi. Ompi gelisah juga menanti surat dari anaknya." penutup suratnya. Ompi mengirimkan foto gadis yang kebetulan ada padanya. Dan diharapkannya pula kedatangan orang-orang meminang Indra Budimannya. Antara rusuh dan lega. dia dapat ilham baru. Maka darah Ompi kencang berdebar. Ia kirim terus dengan harapan semoga anaknya tidak berkenan. si ayah yang percaya. Gadis yang sederajat dengan titelmu kelak. orang-orang tak menginginkan anaknya. Lupa ia bahwa semua mata orang kampungnya yang tinggal di Jakarta selalu saja mempercermin hidupnya yang bejat. Tapi tak datang balasan. andaikata tidak ada sebuah pun dari foto-foto itu yang berkenan di hati anaknya. bahwa Indra Budiman sudah patut di tunangkan. Tapi semua telah ditolak. bahwa bohongnya kepada ayahnya selama ini sudah diketahui oleh orang kampungnya. jika ia tahu orangorang mengawinkan anak gadisnya yang cantik tanpa mempedulikan Indra Budiman lebih dulu. Ditunggu. Tak masuk akal. Tidak peduli ia. Juga tak terbalas. Dia pun merasa pula. Sudah tentu harapan Ompi tinggal harapan saja. Dan pada sangkanya. Layaknya macan lapar yang terkurung menunggu orang memberikan daging. si anak yang percaya. Selalu tak berbalas. Ditunggunya beberapa hari. Celakanya Indra Budiman yang selama ini menyangka bahwa tak mungkin ia dimaui oleh orang kampungnya. Ia jadi sungguh percaya. Gemetar . Dikiriminya lagi. Anakku. Bahkan juga tidak peduli ia apa gadis itu sudah meninggal. dikiriminya surat. bahwa kepalsuan sandiwaranya sudah tentu akan berakhir juga pada suatu masa.

Akan tetapi setiap sore. Kedatangan seorang dokter di pandangnya sebagai suatu sindiran. Malah ia coba meyakinkan dirinya sendiri. Dan semenjak itu. Namun kemalangan itu bertambah lagi. Kehadiran dokter itu menimbulkan risau hatinya karena ingat pada Indra Budiman yang bakal jadi dokter. bahwa anaknya masih juga belum berhasil menjadikan cita-citanya tercapai. Sedangkan di waktu lain Ompi seolah tak peduli pada segalanya. Tapi matanya selalu lebar terbuka memandang langit-langit kelambu. Tetapi alangkah remuknya hati orang tua itu. sehingga ia akan serta-merta dapat melihat Pak Pos mengantarkan surat Indra Budiman. Surat dari anaknya. tapi tak pernah lagi mengiriminya surat. karena ternyata pengantar surat itu Cuma mengantarkan semua surat-suratnya yang dikembalikan. diantara jam empat dan jam lima. Hanya di waktu itu saja. Redup. hingga lebih meroyak. Atau bawa ia ke rumah sakit. Ia kini menanti dengan telentang di ranjangnya. adalah juga masa yang menambah dalam luka hatinya. "Aku tak mampu mengobatinya lagi. Sebuah kaca disuruhnya supaya di pasang pada dinding yang dapat memberi pantulan ke ambang pintu depan. Ia tak percaya bahwa surat-suratnya itu kembali. Sebab selamanya Pak Pos itu tak mampir lagi membawakan surat dari Indra Budiman. Yaitu ketika Ompi jatuh terduduk. reduplah lagi mata Ompi. Yaitu surat. Semenjak itu segalanya jadi tak baik. Bila perlu. jangan tinggalkan dia sendirian. Dan oleh seleranya yang patah. bahwa ia sedang bermimpi. Mata itu kian hari semakin jadi besar tampaknya oleh badannya yang kian mengurus. Carilah dokter lain saja. Lahir dan batin. dokter hanya menggelengkan kepala saja. Kami tak pernah lagi memanggil dokter setelah tiga kali ia datang. agar apa yang terjadi adalah memang mimpi. Dan tahulah ia. Karena kedatangan dokter hanya akan memperdalam luka hatinya saja. Seluruh hidupnya bagai jadi meredup seperti lampu kemersikan sumbu." . Lalu di bukanya dan dibacanya satu persatu. yang membiarkan masa bahagia dan harapan. Dan ia telentang di ranjangnya. enggan bergerak. Tapi mata yang lebar itu tiada cemerlang. Ketika terakhir aku menemui dokter yang sudah enggan datang. bangunkanlah kembali mahligai angan-angannya. Kalau semua tak mungkin. Kini dalam hidupnya hanya satu hal yang dinantikannya. Indra Budimannya. Dan cahaya matanya kembali bersinar-sinar. matanya akan menatap ke kaca itu. Ompi kelihatan seperti orang sakit yang bakal sembuh. Ompi jadi lumpuh dan habislah sejarah Ompi menanti di ambang pintu setiap sore.karena ia bahagia. Lama orang baru tahu dan memapahnya ke ranjangnya di kamar. bahwa semuanya memang surat untuk anaknya yang ia kirimkan dulu. Ia seperti merasa bermimpi dan tubuhnya serasa seringan kapas yang melayang di tiup angin. Ia jatuh sakit. Tapi saat-saat seperti itu. Karena pada jam itu biasanya Pak Pos biasanya mengantarkan surat-surat ke alamatnya masing-masing. Dibalik-baliknya surat itu berulang kali. pada setiap jam empat hingga jam lima sore. Dan berdoalah ia kepada Tuhan. bahkan sampai mengigau. Tapi ia tak meyakininya dengan sungguh-sungguh. meski dengan resiko besar. Dan kalau Pak Pos itu telah lewat tanpa singgah. Dan ia sanggup berdiri dan melangkah ke pintu depan. Ompi bertambah menderita jua.

Aku sadar. apa yang harus kukatakan. Kuceritakan dengan hati yang kecut. Maka tak pernah aku coba menulisnya. Tangannya berpegang pada sandaran kursi. Karena di luar segala dugaanku. Tapi aku tak bisa berbuat lain. Aku mengangguk. bahwa tiada harapan lagi buatnya hidup lebih lama. "Telegram dari anakku? Apa katanya? Pulanglah dia membawa titel dokternya?" Ompi bertanya dengan suara yang mendesis tapi terburu-buru berdesakan keluar. Aku merasa ngeri memberikannya. Kulihat Pak Pos memasuki halaman rumah Ompi. Pada suatu hari terjadilah apa yang kuduga bakal terjadi. Kadang-kadang terniat olehku hendak menulis sendiri surat itu. Sekilas saja tahulah aku. Tapi tak kuharapkan berlangsungnya. Bacakan segera isinya. "Datang juga apa yang kunantikan. Matanya cemerlang memandang. Kekuatan apakah yang menyebabkan Ompi bisa berdiri dan bahkan berjalan itu. Karena aku takut berita itu akan menambah dalam penderitaannya. Surat dari Indra Budiman. Telegram itu kusodorkan ke tangannya. Lalu didekapkan ke dadanya. Gemetar kaki Ompi mendukung tubuhnya yang kisut.Semenjak itu. tidak ada gunanya semua. Maksudku hendak membuka telegram itu untuk mengetahui isinya lebih dulu. berganti-ganti orang aku menyediakan diriku selalu dekat Ompi. Indra Budiman dikabarkan sudah meninggal. Agar terelakkan saat-saat yang menyeramkan. Aku pun tahu. bahwa saat yang paling kritis sudah sampai di puncaknya. Sesaat ketika aku menerima dan menandatangani resi telegram itu. Aku sobek sampul yang kuning muda itu dengan tangan yang menggigil. Melainkan sepucuk telegram. . Dan jika perlu akan kuubah isinya." katanya. Tergesagesa aku menyongsong Pak Pos itu ke ambang pintu. Dan pada telegram itu pastilah bertengger saat-saat kritis sekali. Hari waktu itu jam sebelas siang. Hanya satu yang dikehendakinya. telah berada saja di belakangku. Di samping itu secara samarsamar aku elus terus harapannya yang indah bila Indra Budiman kembali. Telegram itu digenggamnya erat. Itulah sebabnya tak kusampaikan kepadanya bahwa hari perkawinanku sudah berlangsung." Ompi berkata seperti ia memerintah orang-orang di waktu mudanya dulu. Surat yang mengatakan bahwa ia sudah lulus dan telah mendapat titel dokterya. Dan aku kehilangan kepercayaan pada pandangan mataku sendiri. Tangannya diulurkannya kepadaku meminta telegram itu. Sedang dalam hatiku berteriak. Tak tahulah aku. Tapi keajaiban tidak juga datang. Hingga gagallah recanaku. kalau-kalau permainan itu akan berakibat yang lebih fatal. Aku tak tahu. Tak sempat aku membuka surat itu. Ompi yang sudah lumpuh selama ini. Kukarang cerita masa lalu dan angan-angan masa depan yang menyenangkan. terjadilah apa yang akan terjadi. Dan kuharapkan sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan untuk membebaskan aku dari siksa ini. malahan takut. Aku tahu itu pastilah bukan surat yang dibawanya. Ompi terduduk di kursi. Tapi aku selamanya bimbang. Akan tetapi semua kejadian datang dengan serba tiba-tiba. "Bukalah.

Aku takkan membaca telegram ini. ya? Ya. "Tak usah dibacakan. Dan telegram itu jatuh dan terkapar di pangkuannya. Semuanya mengabur. Sedangkan bibirnya membariskan senyum. datang. Dokter Indra Budiman. Lebih lemah kini. Kaubacakan buatku. Orang cuma tahu kesukarannya saja." Dan dia diam lagi. Kau tentu sayang pada mereka." "Ya. Panggilkan dokter. Biar sepatah demi sepatah bisa menjalari segala saraf sarafku. sehingga aku dapat mendengar denyut jantungku sendiri. Dalam kegugupan kususun sebuah taruhan jiwa dan sesalam bagi selama hidupku. Mereka juga tentunya. sejauh aku memikir. anak juga.Sepi begitu menekan. Angin Dari Gunung Sejauh mataku memandang." "Aku sendiri sedang bertanya. Dan kau tentu bahagia. Panggilkan dokter. Karena tiap orang tak tahu kebahagiaannya. Angin dari gunung datang lagi menerpa mukaku. Panggilkan. Takkan sanggup aku mendengarnya. Aku akan mati lemas oleh kebahagiaan yang datang bergulung ini. tidak. Pergilah. Biar aku jadi segar bugar pada waktu anakku." kata Ompi dengan terputus-putus. Dan kemudian dia berkata lagi. Diciumnya dengan mesra. Kau berbahagia tentu. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Aku takut kegembiraanku akan meledakkan hatiku. serta matanya menyinarkan cahaya yang cemerlang. Lima tahun kawin dan punya anak. tak sebuah jua pun mengada. "Sudah lima tahun. Selama tangannya sampai terkulai dan matanya terbuka setelah kehilangan cahaya. Lama diciumnya seraya matanya memicing. seperti semua tak pernah ada. Dan telegram itu dibawa ke bibirnya." "Anakku sudah dua." "Tentu. Aku kira dia bicara lagi. Sehingga ledakan kegembiraan ini tak membunuhku. "Kau punya istri sekarang. Aku mau sehat. Dan dia berkata lagi. Dan aku merasa diriku tiada." ." kata Ompi dengan gembira. Masih terletak pada dekapan dadanya. Akan kukarang kisah yang menyenangkan hatinya. "Kau cinta pada istrimu tentu." Aku masih tinggal dalam diamku. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan. Kami diam. "Ah. Sudah dua. Mau kuat dulu. Tapi telegram itu tak diberikannya padaku. Bacakan pelan-pelan.

Tapi kini aku tentu saja tak dapat berbuat apa yang kuinginkan. Aku biarkan dia tergenggam. tapi aku menjadi tambah tenggelam olehnya. Aku masih ingat. Dan aku merasa ketiadaanku pula. Tapi kini aku tak menangis lagi. Har?" "Apa?" kutanya dia dengan gaya suaranya. Melihat itu. Tapi yang terpenting kau punya tangan. sebagai manusia juga. sebagai laki-laki. Aku tak pernah mau mengingatnya. Mulanya aku suka menangis. Kedua tangannya yang buntung itu diacungkannya ke depan. Sebuah ucapan yang indah dan memberi semangat seperti dulu sering kuucapkan untuk anak buahku di front Barat. "Sembilan tahun yang lalu. Alangkah indahnya hidup ini. Biar kau menggenggamnya kembali. meneriakkan seribu kenangan yang datang mengharu biru. kalau kita mampu berbuat apa yang kita inginkan. Tapi kini aku ingat lagi. . "Kau punya anak. Hingga kau dapat mencapai apa saja yang kaumaui. Tapi bagaimana aku dapat mengatakan. Dan aku menunggunya. Lalang yang ditiup angin bergelombang menuju kami. kaulihat? Buntung karena perang. Sudah lama. Tapi tempatnya bukan di sini. Kedua tanganku ini." Dan tangan itu diturunkannya lagi. Tapi itu saja yang dikatakannya. Dan dalam tekanan genggamanmu. Buat apa?" Aku jadi sentimental dan hatiku berteriak." kataku. "Ya. Tapi kau tak berkata apa-apa." "Masa itu. Lalu angin menerpa mukaku lagi. aku mau tersedu. punya tujuan minimal. disilangkan." "Ya. Tak ada gunanya menangisi masa lampau. masa kanak-kanak kita. "Jari-jariku itu sudah tak ada lagi kini. Kita duduk seperti ini juga. Dan aku tak lagi dapat merasa bahagia seperti dulu. Masa mudaku habis sudah ditelan kebuntungan ini. "Tak ada gunanya. punya istri. Menangisi segala yang sudah hilang. kalau semangat itu sendiri telah kulemparkan jauh-jauh pada suatu ketika. sekali kau menggenggam jariku erat sekali. Angin pergi." katanya dengan suara tak acuh.Dia berhenti lagi. Dari itu kau punya pegangan hidup. Kala itu aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Aku masih ingat. Tapi cepat kemudian aku jadi menyesal telah mengatakannya. "Kau ingat. sebagai ayah." katanya lama kemudian. Dan angin meniup lebih syahdu terasa." "Ya. lalu digesek-gesekannya. Serasa ada nyanyian iba besertanya. Dan aku menunggu dia bicara lagi." Dia diam lagi. aku tahu kau mau bicara. seperti yang kita omongkan dulu. Dia memandang lebih jauh melampaui balik gunung dari mana angin meniup. Tapi itu sudah lama lampaunya. Tak diteruskannya. "Ketika itu seperti macam sekarang. Tersedu seperti ketika pusara Ibu mau ditimbuni. kau dapat mencapai sesuatu yang kauinginkan. Sebagai suami. Dan memandang jauh ke arah gunung itu. Kucoba membuang segala kesenduan.

yang selamanya menyediakan waktu untuk memberi semangat kepada prajurit kita. Hendak kuelus hatinya. Dan doa sekadar doa. aku ingin bersekolah lagi. bahwa aku sedang memikirkannya. bahwa aku mau memeliharanya. Dan di ucapkannya kata-kata yang indah berisi keharuan. "Bahkan tercantik di front Barat itu. di waktu tak ada perempuan. "Apa perlunya? Semua sudah sewajarnya. lebih menusuk. Dan aku sudah punya dua anak. Dan kalau perang sudah selesai. bukan?" katanya pula. Aku mau tanganku lebih banyak lagi. Ya." Satu demi satu ucapannya bercekauan dalam hatiku. aku menjadi sibuk. Semuanya mau berjuang membunuh musuh demi mendekatiku. Bahkan hendak kukatakan juga. Aku tahu semua orang mau menarik perhatianku. Maka aku merasa segalanya jadi terbang. aku juga yang merawatnya. Dan aku katakan. Semuanya mau mati-matian dan bekerja berat di depanku. kalau Saudari tak di sini. Kalau boleh sebanyak jari ini. Kami sangat merasa bangga dengan adanya patriot wanita seperti Saudari. Sekolah apa? aku tak tahu." katanya. Kami juga yakin. bukan?" .‟ Begitulah. Ketika aku sadar jalan itu buntu. karena kaki itu tidak berbicara apa-apa lagi bagiku kini."Dulu aku cantik juga. Bayangan pohon manggis bertelau-telau pada rumput hijau. mereka habis lari kehilangan keberanian. aku menyesali diriku sendiri. Mereka memetik gitar. Dan kini kumandangnya lebih menyayat terasa. "Masa dipikirkan lagi. Matahari ketika itu sangat cerahnya. Memelihara dia? Tidak. tentu front ini sudah lama di duduki musuh. tambah banyak yang dapat diperbuat. Suatu masa kelak akan berakhir juga. Juga menyesali segala yang sudah terjadi. Agus dan Hafni. Dan mereka dapat melupakan segala hal-hal yang menekan. „Kami atas nama pemerintah dan seluruh pemimpin perjuangan revolusi kemerdekaan mengucapkan terima kasih kepada Saudari. Tapi sekali pernah juga aku berpikir-pikir. Dan waktu itu. Yang aku tahu Cuma. "Apa yang kaupikirkan?" tanyanya tiba-tiba. Aku bernyanyi. Kaki yang pernah menggodaku. Aku jadi gugup dan tersentak dari keterbanan perasaanku. mereka minta hiburan. Dan aku tak bisa berdoa untuknya. aku sering merasa jumlah tanganku yang masih kurang. Justru itulah yang menyebabkan aku merasa dipilukan perasaanku sendiri. Kalau pemimpin yang datang di front. tambah banyak ilmu. itulah semua. hendak kuceritakan sejarah hidup Helen Keller. Dan di waktu malammalam yang damai. Dan aku tak dapat memandangnya lama-lama. Kalau ada orang sakit. Tiap-tiap orang punya doa. tak ada gunanya. Doa serasa tak berharga kini. Makin lama kian terkulai keseluruhan adaku di dekatnya. Aku diminta mengatur tempat tidur mereka. Dijabatnya tanganku erat-erat. Dan di kiriku dia duduk mengunjurkan kakinya. Tapi keitika musuh datang. dicarinya aku dulu. aku kebetulan tak ada disana. Aku jadi tak berani mengangkat kepalaku. Dan perasaanku tidak seperti dulu lagi. bahwa hidup seperti itu tidaklah akan selamanya berlangsung. Kaki itu kaki yang dulu juga. Dan ketika mereka mau pergi. Sekarang kaki itu terhampar begitu saja.

"Mungkinkah orang seperti aku ini dapat berbuat sesuatu?" tanyanya dengan suara yang lain sekali bunyinya. Yang kurasakan terpaan ucapannya pada mukaku.. "Mengapa kau tersenyum?" tanyaku dalam kehilangan keseimbangan diriku. Aku yang uruskan semua. yang aku sendiri pada dasarnya sudah tak percaya akan semangatku sendiri." "Sia-sia saja. Aku sendiri yang akan mengantarkan kau. tidak. bukan?" . Dan aku mendesak lagi. kan? Seperti dulu." Lalu ia memandang padaku. "Tapi sedikitnya. Aku beri dia semangat yang bernyala-nyala. Aku sedang memikirkan apa yang hendak kulakukan. seolah-olah kalau tidak ada aku. Seperti juga dulu. Dan selanjutnya kau sudah bisa berbuat sesuatu lagi." Tiba-tiba kuingat pada pusat rehabilitasi di Solo. kau sudah bisa pulang lagi.Ah. semuanya seperti tidak akan sempurna. Semua orang jatuh cinta padaku. Lalu aku pura-pura tak mendengarkan apa katanya. kan?" "Tidak setepat itu benar. Semua orang memerlukan tenagaku. "Kalau perlu . Dan tersenyum. "Bagaimana? Setuju? Kalau kau setuju jangan kaupikir apa-apa. Aku jadi gugup."Apa?" tanyaku ragu-ragu. setelah itu apa lagi?" Aku tak merasa terpaan angin dari gunung itu lagi. Tapi senyumnya ini menusuk hatiku. Barangkali tidak lama kau di sana. Bagaimana mungkin aku meyakinkannya?" katanya. "Kau sendiri tak yakin dengan ucapanmu." Tapi dia masih tiada memberi reaksi. Dan dia tahu itu rupanya. Tapi setelah itu." "Untuk apa?" "Untukmu. Lama ia terdiam. "Kau kasihan padaku. semua pekerjaan seolah takkan selesai. kau lebih bisa berbuat banyak nantinya." "Ya. Semua orang haus akan segala yang ada padaku. Dan lalu kukatakan kepadanya. Dan aku jadi ragu-ragu untuk meyakinkannya lagi.. Begitu pahit. dan matanya seperti melangkaui segala apa yang dapat dilihatnya. seperti dulu. karena terasa sebagai umpatan yang pahit tapi dicelup dengan tengguli. "Kau memikirkan aku. Tentu saja.

"Seperti tadi saja. Dan Nenek ingin hidup lebih lama. hendak meyakinkannya. Selain aku. "Ni Nun. Kupandang wajah Nun yang berubah-ubah. Tapi sebelum aku dapat memilih kata. Di mana sedari kecil anak-anak telah memandang Nun sebagai manusia tak berguna. meski pernah orang itu dicintanya. katamu‟. kau takkan tahu siapa aku. Alangkah cepatnya segalanya berubah. Tidak tahu dibuntung awak. aku tahu kau baik. aku juga tidak memerlukan apa-apa pula. Ingin aku menentang matanya. Dan kalau aku tak di dekatnya. bukan? Sedang mata pertamamu melihat aku tadi. Aku jadi kaget. Nun." Dia melangkah lagi." Aku mau membantah." gadis kecil berkata lagi sambil memandang padaku dengan curiga dan kebencian. Ketika ia mau membelok ke arah jalan raya. melebihi tadi. Nun. "Besok aku datang lagi ke sini. alangkah kecilnya kau. sedang aku jauh di bawahmu. Tapi sebelum dia hilang di balik belukar yang bergoyang ria ditiup angin dari gunung itu. Angin dari gunung yang meniup belukar hingga . pikirku. Inikah lingkungan hidup Nun. "Tapi kalau Nenek sudah tak ada lagi. Tapi sebentar kemudian dia memaling lagi dan berkata. Dan belukar itu bertambah ria menari ditiup angin dari gunung. manusia yang sial." Nun berkata padaku dengan suara dalam lehernya. kau memandang kepadaku. dia berkata lagi."Kenapa tidak?" "Ya. Dan lebih cepat lagi seseorang melupakan seseorang lainnya." Lalu dia melangkah. Uni Nuuun. Antara kami berdua ada perpaduan nasib. "Nenek tak bisa berpisah denganku. Tapi waktu itu aku jadi sentimental lagi. Tentu saja kau kasihan padaku. Hilang di balik belukar itu." katanya pula dan lalu pergi meninggalkan aku yang tercenung. kalau gadis kecil semanis ini bisa bertingkah begitu terhadap Nun. Cepatlah!" gadis itu memamer lagi. Aku mau ke Nenek." Tapi dia tidak menoleh lagi. Dan panggilan yang tiba-tiba itu mencairkan impitan yang memberat antara kami. "Tolong tegakkan aku. Sudah lupa segalanya. Nenek merasa kehilangan nyawa. "Nenek sudah tua benar. Kalau bukan aku yang menyapamu. Dan kutolong dia berdiri." Aku ingin memandangnya tepat. "Ke mana Uni Nun? Melalar saja. 'Oh." tiba-tiba seorang gadis kecil memanggil-manggil. kukatakan kepadanya. Tapi cepatcepat disembunyikannya wajahnya itu dari pandanganku. seperti pernah kulakukan dulu kepadanya. hendak mencoba menyatakan bahwa segalanya mempunyai alasan-alasan tertentu. "Meski bagaimana. "Nenek memanggil. Lalu dari tempat yang itu. Karena kau merasa berdiri di tempat yang sangat tinggi." katanya lagi. karena dia tak hendak membiarkan aku hidup sendirian. dia membalikkan badannya lagi ke arahku dan berkata pula. kau seolah melihat pengemis yang dijijiki.

Lebih dari pelakon utama di atas panggung sandiwara. Bahkan tokoh luar biasa. penuh cahaya. Hidupnya selalu dalam cahaya yang bersinar terang. selain manusia gelap yang suka bergelap-gelap?" Si Dali juga membiarkan bayang-bayang menirukan dengan amat persis apa saja yang dilakukan Si Dali. Lalu raja memanggil perdana menteri dan menanyainya." jawab perdana menteri.bergoyang dan menari ria itu. Bagaimana pun persisnya peniruan itu. Sedangkan Si Dali berada seperti pada panggung dunia yang tak lagi dibatasi oleh sepadan negara. Tentu saja kemanapun dia pergi selalu diiringi bayang-bayang. Karena pelakon Julius Casar. Si Dali jadi begitu karena dia tidak pernah hidup dalam kegelapan. atau King Lear. Sudah jadi tokoh. Kegelapan malam maupun kegelapan siang. Kata orang. angin itu juga yang meniup aku. Gemerlap dengan warna-warni yang aduhai indahnya.bayang yang banyak. ada yang gemuk ada yang kurus. Bayang. "Bayangkan". atau Macbeth hanya gemerlap pada sebatas bidang panggung. bayangbayang itu ada karena dia. Adakalanya mereka menjadi seperti orang kere yang selesai melakonkan Gatotkaca pada wayang wong masa lalu. Itulah adalah aksioma. satu hal yang tidak akan diperoleh bayang-bayang. Ada yang pendek ada yang panjang. meniup Nun. kata Si Dali pada bayang. jalan-jalan atau berzina. Karena serba kenikmatan bukan hak kalian. Artinya dia hidup selalu dalam terang benderang. Baik Si Dali makan atau tidur. bayang-bayang itu semua sirna. Sangat memerlukannya. Makanya Si Dali terus diiringi bayang-bayang. yang tahu benar kemana ujung ceritanya. tapi jangan coba-coba berkhayal akan ikut menikmati apa yang aku regup. Apalagi bila layar panggung telah turun atau di luar gedung sandiwara para pelakon kembali jadi manusia biasa.bayangnya sendiri. yang tidak pernah peduli dengan bayang. bayang-bayang itu senantiasa meniru apa saja yang dilakukan Si Dali. Paduka. "Tirulah oleh kalian serba apa yang aku lakukan. Sebagai bayang-bayang. Karena peniruan tidak merugikannya. Karena itu semua bayang-bayang memerlukannya. Tak sekalipun bayang-bayang itu terpisah dari dia. dan meniup gadis kecil itu." Kegemerlapan hidup Si Dali yang terang-benderang itu sampai juga ke telinga istana. yaitu serba kenikmatan yang diregup Si Dali. "Benar. Karena mereka suka hidup bergelapgelap di tempat gelap. Karena memang bayang-bayang itu bayangbayangnya sendiri. Apa salahnya bilamana semua bayang-bayang itu meniru apa yang dilakukannya. Berbeda dengan orang lain. . Tanpa dia. Dan Si Dali yakin benar.bayangnya sendiri ketika dia lagi nongkrong di closet: "Jenis manusia apa yang hidup tanpa bayang-bayang. Bayang Bayang Si Dali bukan orang biasa. Seolah-olah bayang-bayang tidak menjadi makhluk penting.

Barangkali sekurang-kurangnya menjadi Perdana Menteri atau Menko seperti yang berlaku di Indonesia. Si Dali bukan tidak berpikir dengan asumsi. Demosntrasi masa ini biadabnya bukan main. Elu-elukan seperti mengudang gladiator atau artis top. tidak diperdulikan lagi. Bayangkan. Raja memperkenalkan Si Dali kepada ratu. Supaya Paduka tetap lebih besar dari Si Dali." "Kalau begitu undang dia." kata raja. Itulah bayang-bayang raja." kata Si Dali. Menurutnya dia akan diangkat jadi warga kehormatan negara. Maka dia akan menolaknya. Demikianlah ketika Si Dali sampai di istana. . yang seperti menatap ketiga orang yang berada di tengah ruang. Bayang-bayang mengiringi." perintah raja. Paduka. Mengapa kamu di sini?" "Aku kesal. Di sepanjang dinding terlihat seperti bayang-bayang hitam. Rangkul dia. dia melihat bayang-bayang raja yang bertubuh buntal duduk mengalai di sofa. Dia akan menjadi mitos sejarah.hatnya di televisi. "Membunuh dan menangkap orang memang kekuasaan Paduka. Sehingga aku yang setia sejak waktu lahirnya. Keduanya jatuh bergumul di lantai. Raja menanti di tengah ruangan yang luas. Si Dali memandang berkeliling. tidak memberi bayang-bayang pada raja. Si Dali membungkuk ketika bersalaman. bahkan sampai ke perut buncitnya. Tapi di dinding penuh berjajaran para pejabat kerajaan dengan isteri masingmasing. Tapi jika dia dibunuh atau ditangkap. Lebih mempesona daripada raja ketoprak yang dili. dia disambut oleh barisan pagar ayu yang berdada busung dan berpantat tonggeng seperti penari jaipong. "Mestinya kamu bersama raja." kata bayang-bayang raja itu. Sampai pulang pun bayang-bayangnya tidak mengikutinya."Bunuh dia. Raja punya banyak bayang-bayang. Tapi jabatan itu membutuhkan lidah yang panjang dari akal. Setelah merenung perdana menteri berkata: "Apa Paduka tidak ingin melihat lebih dulu macam apa Si Dali itu?" "Kalau begitu tangkap dia. "Kamu bukan bayang-bayangku. Muak. Begitu megah dan perkasanya raja dilihat oleh Si Dali. Semuanya berlidah panjang." "Maksudmu?" "Undang dia. pikir Si Dali. Dengan mitos itu rakyat terbius untuk berdemonstrasi. Raja dengan pakaian bermanik dan berbintang lapis-berlapis pada kiri-kanan dada. dia akan jadi lebih besar dari kadarnya. Cahaya lampu yang bersinar marak di ruang itu. Ruang istana bermandikan cahaya gemerlap. Sakit hati. Dan ketika dia menyalakan lampu di ruang tamunya. Tiba-tiba seluruh lampu meredup. Bayang-bayang ratu pun tidak. Bawa kesini. Ketika semua lampu menyala kembali. Si Dali tidak melihat bayang.bayangnya. Lampu sorot dari dinding kiri menyinar tajam ke arah ratu yang muncul di ujung ruang. Tapi bayang-bayang Si Dali seperti memeluk erat bayang-bayang ratu." kata raja.

seperti.siapa. ya?" Sejenak dia terdiam ketika ingat pada seorang presiden. Persis di waktu perdana menteri sedang berkata: "Nah. Dia jadi tokoh karena sering.bayang itu. "Baiknya. seperti Picasso bila mengambil contoh maka pelukis. puisinya dinyanyikan dalam berbagai pertunjukan sastra dan musik.bayang ratu.. "Oh. Selanjutnya katanya lagi: "Ya. "Kalau begitu." Sebagai bayang-bayang.. Dia krempeng seperti Nashar.bayang raja memasuki Ruang Sidang Kabinet. yang dirasanya tidak etis kalau diucapkan. Semua megah." kata bayang-bayang itu. Matanya melotot seperti. meski tidak ada publikasi. "Kamu ingin jadi bayang-bayang raja?" tanya bayang. Si Dali begitu leluasanya masuk istana yang berlapis-lapis pengawalannya. Ada yang seperti taman dalam film The Last Day of Pompeye." kata seorang menteri.. Leluasa pula memasuki seluruh ruang yang banyak dan beragamragam disain dalam istana itu. Dia jadi bayang-bayang raja dan bayang-bayang raja jadi dia." kata perdana menteri pula. Sampai mati pun aku tidak mau.. larang saja pers dan televisi mempublikasikannya. sangat sering. macam apa tokoh yang bernama Si Dali. Ada ruang seperti yang ditemui dalam film Star Trek.. Namun tidaklah begitu menakjubkan mata Si Dali. . Raja tetap jadi raja. Tidak cocok dengan semangat reformasi. *** Ketika Si Dali yang lagi menyamar dalam bentuk bayang. Oke?" "Oke. dipublikasi oleh pers dan televisi. Apa tidak begitu?" "Dia tidak akan jadi apa-apa kalau tidak ada pers dan televisi. slebor seperti Affandi. "Larang-melarang itu sudah kuno. aku pikir kebih baik aku ikut kamu. kabinet lagi bersidang dibawah pimpinan perdana menteri. sehingga kamu kehilangan bayang-bayang kamu sendiri. Karena kamu toh perlu bayang-bayang. tidak. Kemudian Si Dali menawarkan pergantian posisi kepada bayang-bayang raja. bahkan spektakuler.ring dikutip. imbangi dengan banyak-banyak mempublikasikan raja?" usul yang lain lagi mengusul." usul menteri yang lain. Aku cuma mau menyamar jadi kamu. Selama satu hari saja. Makanya tidak bisa dibandingkan dengan raja. Tuan-Tuan sudah tahu... Aneh bin ajaib kalau seorang tokoh seperti kamu tidak punya bayang-bayang."Terus?" "Ketika aku lihat bayang-bayang kamu mengikuti bayang. Sebagai seorang tokoh besar yang senantiasa punya gagasan diluar jangkauan manusia kebanyakan.. Pidato atau khotbah atau ucapannya se.

Katanya setengah berteriak: "Kabinet macam apa ini. kenapa kita ribut?" "Apa kata dunia internasional." kata menteri yang duduk di kanan menyela. Tidak minum. terus ke hakim. Lebih dari raja. "Memang. Pada saat semua anggota kabinet saling memandang oleh kebingungan. raja tidak punya kegiatan apapun yang berharga untuk dipublikasikan. . ya?" bisik seorang menteri kepada rekannya di sebelah kiri. tapi para menteri diam saja? Dunia internasional akan mengatakan kita semua goblok. ya? kata perdana menteri dengan sedikit keras. tapi santap. Tapi wafat. Dengan berlari kencang dia kembali ke rumahnya untuk membebaskan dirinya dari bayang-bayang raja. Raja tidak makan. Bicara tentang kepentingan diri sendiri.. tapi dahar. kalau raja sendiri tidak perduli. Untuk kembali menjelma ke jati dirinya sendiri. Anggota dewan minta disuapi supaya program pemerintah disetujui. "Kalau begitu raja tidak akan pernah mati.. sedang tidur dipublikasikan?" "Sekali lagi saya peringatkan. sejak polisi sampai jaksa. Pakailah bahasa yang baik dan benar ke alamat raja. Tidak sakit." Tapi anggota kabinet itu tidak ada yang acuh." kata perdana menteri dengan nada yang agak tajam. Keadilan dimafia aparat. Tiba-tiba dia sadar pada dirinya yang tengah menjelma jadi bayang-bayang raja. seperti kebiasaan orang Indonesia yang memakai bahasa Sanskerta yang kuno untuk menamakan bangunan baru yang disakralkan. Tidak berbaju. Mereka masih terus berbicara dengan sesamanya. "Itu membahayakan kredibilitas kerajaan. dia telah bicara setengah berteriak sambil mengedari ruang di tengah-tengah persidangan itu.Tapi apa. "Untuk hal-hal yang sakral atau dipandang sakral perlu menggunakan bahasa kuno." "Raja sendiri berpendapat apa?" "Tidak ada pendapatnya karena memangnya raja tidak punya suatu alat untuk berpikir. tapi beradu.. Populer. sih?" tanya menteri yang mengenakan seragam jenderal dengan segala asesori tanda jasanya. Apa pantas raja sedang makan. tapi. Bicarakanlah tentang nasib rakyat yang setiap tahun dilanda banjir atau kebakaran hutan.. Tidak tidur. apabila raja sudah begitu." "Nah. kena tipu atau rampok atau ditembak oleh oknum-oknum bersenjata. Setiap waktu kena peras. "Jadi masalah Si Dali itu apa. Padahal menurut Si Dali." jawab yang ditanya. Si Dali melompat ke tengah ruangan. tapi gering. "Si Dali terlalu termasyhur." jawab perdana menteri."Seperti kita semua tahu.

Si Dali berteriak keras: "Aku tidak mau lenyaaap. kadang-kadang mengomel. Tapi kemana dia? Dia telusuri seluruh jalan dan pelosok kota sampai ke sudutsudut yang kumuh pun dia cari. meski bayang-bayangnya tidak ikut dikubur. Akhirnya dia marahi dirinya sendiri.bayang tetap bayang-bayang. Meski berlari tidak satu benda pun tersenggol. Tiba-tiba larinya melambat dan terus melambat. oleh karena bayang-bayang tidak akan menggeser. Dia melihat dirinya yang dipakai orang lain. Entah berapa hari. meski bayang-bayang raja. Dali. Akhirnya. dirinya yang dipakai bayang-bayang raja pasti sudah keluar rumah pergi bertualang dalam kehidupan yang nyata. Sebagian hati Si Dali demikian gembira karena telah menemukan kembali jati dirinya. dia tidak menemui dirinya. Kadang-kadang dia bertanya. Yang berfungsi ialah bayang-bayang raja pengganti. Tapi Si Dali tidak menemui dirinya di sana. betapa lama waktu dalam menyigi. Meski bayang-bayang raja sekalipun. Laki-laki itu kurus kerempeng. Adakalanya juga dia memaki dan berteriak-teriak marah. dia melihat seorang laki-laki kere. "Hai. Berhari-hari aku telah mencarimu. Mengapa mereka tidak peduli?" Dalam berlari Si Dali terus bebicara pada dirinya sendiri. dia tidak lagi berfungsi." kata Si Dali pada dirinya yang disandang oleh bayang-bayang raja itu.kan. Di bawah naungan mahoni yang tumbuh berderet di sepanjang jalan dia mulai terenung. entah berapa malam. Kemana saja kamu.Selama berlari Si Dali berkata pada dirinya: "Bayang. Kalau bayang-bayang raja tidak diacuhkan orang. apa memang itu Si Dali yang sosok paling populer di masa itu. Lusuh dan mengenas. Bayang-bayang raja lama lenyap. apalagi merusak. Betapa seluruh ruang telah diarungi. Duduk terkulai di bangku dalam taman luas Lapangan Merdeka di pusat kota. Lalu dicarinya dengan perasaan cemas ke seluruh ruang yang gelap itu. yang mau menyamar sebagai bayang-bayang. Tapi sebagian lain hatinya demikian risau. Meski tersenggol. Tapi pada bayang-bayang raja ini ada aku. Tidak satupun lampu yang nyala atau cahaya yang masuk. Tapi dia tahu persis letak sesuatu benda atau ruang demi ruang." *** Sampai di rumah ternyata pintu rumah ternganga. yang ketika pergi dulu sebagai bayangbayang raja. tidak ada yang hirau. "Kalau saat ini raja pemilik bayang-bayang ini mati. Sampai dia ragu sejenak. ketika rasa putus asa telah sampai ke ujung hidupnya. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berkelana. . Para menteri raja pun tidak hirau. Tak obahnya seperti lusuh baju dipakai oleh bukan pemiliknya sendiri. apa peduliku. Tidak mau lenyaaap. apa jadinya aku?" Sambil berlari kencang sepanjang jalan ke rumahnya. Maka dia langsung menghambur ke kamar tidurnya. Kalau raja mati. Simpul hatinya. bahwa bayang-bayang akan selamanya jadi bayang-bayang. Dalam renungannya kian menjadi jelas baginya. dirinya lagi mengalai di ranjang. Laki-laki itu tidak lain dari dirinya yang jelmaan bayang-bayang raja. Bayang-bayang raja tetap bayang-bayang raja. Di dalam semuanya hitam.

Aku hanya perlu diriku sendiri. Di kubur atau di neraka raja tidak perlu bayang-bayang. setiap bayang-bayang berbakat demikian. sebagaimana kamu bisa kembali jadi jati dirimu? Akan jadi apa aku dengan tubuhmu." kata ba yang-bayang yang jadi Si Dali.bayang raja karena raja sudah wafat. 10 November 1999 Dari Masa ke Masa ." "Sekarang aku ini jadi apa?" tanya Si Dali yang bayang. Bagaimana aku kembali jadi diriku." "Aku tidak perlu bayang-bayang." "Terlambat?" "Raja sudah Wafat. Terasa mengenaskan suaranya. "Mendingan dari aku yang jadi manusia palsu. Si Dali yang perjalanan hidup pernah gemerlapan begitu terpana dan terus terpana entah sampai apabila dan hingga kemana." "Artinya?" "Tidak mungkin itu. "Kemudian aku yakin. Tapi tidak satu pun nikmat yang aku dapat." Lawan Si Dali menggelengkan kepala. "Terlambat sudah. Bayang-bayangmu takkan kau peroleh lagi karena dia lebih suka hidup di istana. Sebagai Si Dali kau telah kehilangan bayang-bayangmu sendiri. "Aku mau." kata Si Dali. Berhari-hari aku mencari kamu. Aku kira meski aku palsu akan lebih baik daripada bayang-bayang. agar aku bisa hidup menurut kodratku sendiri. tahu?" kata bayang-bayang raja yang mamakai jasad Si Dali. Tapi tak mungkin aku kembali jadi bayang. bahwa aku hanya bayang-bayang." kata Si Dali.bayang. Kemana saja kamu?" "Aku juga mencari kamu agar aku bisa kembali ke duniaku lagi." kata bayang-bayang raja yang memakai tubuh Si Dali. "Kau tidak berarti apa-apa tanpa bayangbayang. Tidak mungkin hidup sebagai manusia yang utuh."Aku? Aku mencoba menikmati hidup di dunia nyata seperti manusia. Tidak akan jadi apa-apa. kita berganti jadi jati diri kita sendiri lagi. "Ayo." "Maksudmu?" "Ya. Lalu aku mencari kamu untuk bertukar tempat kembali.

pameran. lalu digigit kepinding pula. "Proklamasi telah lebih dulu merestui mereka. Bahkan juga pasar malam. Lebih-lebih saya yang memang pendongkol nomor satu di antara teman-teman. atau pada bapak sekalian bapak. karena kepada kami-kami saja pesan itu disampaikan. tapi juga karena digigit kepinding. Bayangkanlah. Lalu terpaksa jugalah kami boyong ke rumah semua orang-orang tua yang patut-patut itu. Ada yang hangat sambutannya. Sungguh jahanam bangsat itu. "Siapa tahu kalau yang kalian kerjakan keliru. Juga ada yang baru muncul setelah sejam kami menunggunya di ruang tamu. Biasanya kami jadi bimbang. Bapak Tahu. Memang tidak ada paksaan." kilah orang yang selalu suka memberi saran itu. Malah menganjurkannya. "Tapi kenapa teman-temannya yang mau pergi perang itu tidak disuruh minta nasihat dulu?" tanya saya karena masih dongkol. bukan karena penat saja. Tapi selalu saja ada pesan-pesan agar sebelum kami mulai melaksanakan kegiatan kami. Padahal pekerjaan itulah yang paling berat risikonya. "Saya tahu. mengadakan kursus. yang mau ke front pertempuran. Tapi kan lebih baik kalau risikonya tidak ada. Bukan main dongkolnya kami. ikut diskusi." kata yang selalu suka memberi saran. Anak-anak muda waktu saya muda dulu punya kegiatan yang macam-macam jika tidak ikut memanggul senjata. setiap apa pun yang akan kami lakukan selalu kena tuntut agar minta nasihat dulu. "Itu risiko kami. Sudah menunggu begitu lama. Ada yang lagi asyik menulis terus setelah tahu kami datang." katanya pula. minta restu dulu ada orang tua-tua. Macam-macam cara masing-masing mereka menyambut kedatangan kami. Betapa tidak." kata saya menimpali. sebaiknya kami berbicara dengan Bapak Anu. Untuk setiap jenis kegiatan itu selalu saja ada orang tua-tua yang dikatakan ekspert untuk memberi nasihat dan restu sesuai dengan keahlian dan pengalamannya. Tapi tidak pernah disampaikan pada teman-teman kami yang memanggul senjata. sejenis kutu busuk yang dikatakan bangsat oleh orang Jakarta. sekitar usia dua puluh tahun. Kata saya dalam hati. Saya memang selalu tukang dongkol. Misalnya dengan salaman pakai guncangan tangan atau tepuk-tepuk di bahu kami. lalu diberi wejangan panjang-panjang yang sering tidak ada sangkut-pautnya dengan umsan kami. kalau teman-teman kami yang prajurit itu harus menerima wejangan sepanjang itu bila hendak pergi ke front. . selalu panjang berjela-jela sampai pantat kami gelisah. Misalnya bikin sandiwara. pastilah serdadu musuh sudah menanti di balik pintu. saya sering dongkol pada orang tua-tua. Bapak Polan. Pada umumnya oleh orang tua-tua itu kami diberi wejangan yang tak pernah pendekpendek.Waktu saya muda dulu.

Kesukaran yang menyakitkan. sehingga orang partai lain bisa sakit hati. Dan mereka semua saling sengit dalam berjor-joran. Kalau satu orang telah kami minta jadi penasihat kami. menyusahkan. dan tidak jarang pula sedang memangkas tanaman bunga di halaman rumahnya. lalu menjadikan organisasi itu sebagai wadah tempat kami saling cakar-cakaran. sambutannya selalu hangat pada kami orang muda. entah sedang membaca. setelah berpengalaman cukup banyak. organisasi yang waktu didirikan berdasar semangat kesatuan hati untuk mencapai cita-cita bersama. karena kekuasaan revolusi tidak berada di tangan mereka. kadernyalah. Kami akan selalu direpotkan orang tua-tua itu. selalu menjadi bulan-bulanan serangan anggota. kesukaranlah yang datang bertalu. atau biarkan mereka "meng-claim" kami. bahkan juga menimbulkan kecewa dan mematahkan semangat. Hal yang sama dilakukannya bila datang ke kantor atau rumahnya. karena mereka tengah memelihara posisinya yang tinggal sekomeng lagi. namun prosedur memuliakan orang tuatua itu tak dapat dihindarkan.Lama-lama. Ada yang ngambek. Setiap rapat selalu menghasilkan kesepakatan untuk tidak sepakat lagi. yang pada umumnya bekas guru. malahan sangat menyulitkan kami. Mereka pada mendesak kami agar memintanya menjadi penasihat kamilah. kalau kami mau aman dalam kegiatan kami. Tapi kalau ia pejabat. saatnya sangatlah pendek sekali. Menurut analisanya ialah begini. Yaitu hanya ketika sukses itu terjadi. Entah sedang menulis. Dan saya jadi tambah dongkol lagi. partai-partai sangat banyak. Setiap pengurus. Hal-hal yang memang membingungkan. Organisasi yang mulanya menimbulkan kebanggaan di dalam hati kami masing-masing. tambah repotlah kami. Kalau orangnya orang pandai. Kalaupun ada kesenangan. Setelah sukses demi sukses tercapai. saya bisa menarik kesimpulan tentang sikap orang-orang tua itu. Sebab pada waktu saya muda dulu. kalau kami berhasil dengan gemilang dalam melaksanakan kegiatan kami. Habis itu. Waktu saya muda dulu. kenapa setiap sukses selalu membawa bencana. Tapi lama-lama saya mengerti juga. pelindung kamilah. Betapa tidak enaknya diperlakukan demikian. Bertahun-tahun kemudian saya menarik kesimpulan. selalu ada tangan orang-orang tua itu ingin mencaplok untuk memasukkan kami ke dalam mantelnya. Terutama anggota yang potensial. Claim mereka itu bukan menyenangkan. lalu mundur tanpa teratur. Malah tambah sering kami sukses. kedatangan kami selalu disambut di kala mereka sedang sibuk. lebih-lebih ketua. lalu berubah menjadi tempat melampiaskan segala kutukan. suatu sukses bukanlah hal yang menyenangkan. bahwa orang tua-tua itu bersikap demikian kepada kami orang muda-muda dulu itu. Karena setiap sukses yang kami peroleh selalu mengundang perpecahan di kalangan kami sendiri. Tak jarang terjadi kami terkena intrik dari pihak yang tidak suka. maka orang lain yang berlainan partai akan membilang kami sebagai "mantel" partai anu. apa ia orang partai atau orang pandai. Lebih susah lagi. mereka selalu suka membiarkan kami menunggu berlama-lama di ruang tamu. Kalau orangnya orang partai. Dan itu mencengangkan saya benar. bahwa kami adalah anak-asuhannyalah. kalau tidak anggota pengurus. Setiap anak muda yang berhasil atau suatu organisasi yang sukses. Kalau organisasi kami tidak bisa mereka caplok secara utuh. Ada banyak yang berhasil dicaplok atau dimanteli. Bahkan ada di antara mereka yang bergembar-gembor ke mana-mana. akhirnya membentuk hati yang satu-satu. Beberapa orang yang gigih mencoba . Mulanya saya tidak tahu. Kesatuan hati semula. maka anggota kamilah yang mereka preteli seorang demi seorang.

Dari sudut ini. Saya menoleh ke sekeliling. Bahkan didorong semangatnya agar bisa berbuat banyak. apa yang tidak saya sukai ketika saya muda. kami membanding-bandingkan apa yang telah kami lakukan dalam usia yang sama dengan orang-orang muda sekarang. Tidak ada pihakpihak yang berkepentingan untuk mempengaruhi orang-orang muda sekarang. Namun lebih nikmat rasanya apabila secara diam-diam saya mendengar orang-orang muda itu berkata pada teman-temannya. Sedangkan anak-anak SMA sekarang. Karenanya fasilitas mereka lebih punya. orang-orang muda dulu telah jadi komandan batalyon. Dan itu tidak mudah diperolehnya karena bersifat sangat individual. Kegiatan lamalama sirna. Begitu menyentak datangnya. dalam hati saya. terutama pada teman sebaya saya. tapi saya bukan pejabat dan karenanya saya tidak mungkin menggunakan peran sebagai orang yang berwibawa tinggi. Ketika saya ketemu dengan sobat masa muda yang baru kembali dari posnya sebagai diplomat di luar negri. Saya termasuk orang yang menangisi keadaan itu. tidak bisa berbuat apa-apa. didengar apa yang diingininya. minta pendapat. Anak-anak sekolah SMA dulu. sekarang tak laku lagi karena partai pun tidak laku. Kalaupun masih ada. Bagaimana saya harus menghadapi mereka agar saya kelihatan tetap potensial? Lalu saya teringat pada orang tua-tua masa saya muda dulu. Karena itulah barangkali umur orang-orang muda sekarang lebih panjang. Gaya orang pandai seperti Guru Munap juga tak mungkin lagi. dan juga minta bantuan uang dan tanda tangan. tapi praktisnya organisasi kami tidak berdarah lagi. ayah-ayah mereka lebih kaya bahkan lebih berkuasa. Memang menyenangkan bila punya status demikian. takkan saya lakukan seperti apa yang dilakukan orang tua-tua ketika saya masih muda dulu. Orang-orang muda yang giat menjadi rebutan masa dulu. Indonesia ternyata tidak maju. yang dipuji bukan lagi semangat dan keberaniannya. Bagi orang-orang muda sekarang. Mereka didukung dengan perhatian yang penuh. bila saya telah menjadi orang tua kelak. Dan. sampai berusia empat puluh tahun. Bahkan kalau perlu disuruh melabrak orang tuanya sendiri. ketika orang-orang muda secara bergelombang menemui saya minta restu.untuk bertahan. permainan tidak lagi seimbang. melainkan prestasi otak dan keahliannya. Omongan mereka lebih ceplas-ceplos. Saya boleh mengembangkan dada menjadi orang yang dikagumi. sebab sekarang sudah banyak sekali orang yang lebih pandai dari segala orang pandai-pandai dulu. minta nasihat. telah bisa menjadi guru bahkan direktur SMA swasta. Tapi lebih menyenangkan lagi apabila menjadi tempat hidup orang menggantung. Yang tinggal hanya nama yang tertera pada papan yang tergantung dan terbuai-buai bila ditiup angin. Pada waktu orang-orang muda sekarang masih sekolah. "Sudah bicara pada Pak Navis? Belum? Jangan bikin apa-apa dulu sebelum bicara padanya?" Akan tetapi orang-orang muda sekarang berbeda jauh dari orang-orang muda masa dulu. Gaya ramah-tamah Pak Tamin yang orang partai itu. Jika memakai gaya pejabat. dihormati. Sedangkan kondisi sekarang sudah lain. Sebab tidak ada lagi pihak-pihak yang secara gampang memuja-mujanya. yang dulu sama giatnya dengan saya. Orang-orang muda sekarang lebih mudah digembalakan. . Saya juga mempertimbangkan betapa bedanya kondisi sekarang dengan masa dulu. Pendidikan orang muda sekarang lebih tinggi. menjadi setiap kata yang dikatakan menjadi hukum yang tak boleh disanggah.

kerjaan kita yang terutama sekarang ialah membenahi akibat kerja kita masa lalu. Tentu." kata saya pada sobat itu setelah lama kami merenung-renung. Sehingga saya berjanji dalam hati saya. Lalu matanya yang membelalak jadi menyipit sebelum bertanya kenapa saya ketawa. pastilah dapat dilakukan oleh orang-orang muda sekarang. Apabila orang-orang muda sekirang diberi peran yang sama seperti apa yang kita lakukan dulu. Surat itu diciumnya berulang-ulang dan disimpannya di antara lembaran Quran. Datangnya Dan Perginya Ketika surat pertama Masri datang. Saya lakukan. Anakku. karena ia tersenyum saja oleh kata-kata saya itu. aku mesti bertemu dengan kau semua. akan apa jadinya Republik ini?" . Tapi apa kata orang tua-tua kita dulu tentang kita?" tanya saya membalikkan alasannya. "Apa janji itu Bung lakukan?" tanya sobat saya yang bekas diplomat itu. Dan sobat saya itu memang diplomat. sehingga air mata saya pun berderai-derai. "Coba Bung renungkan. Kenapa tidak. "Ya." "Kenapa?" "Karena saya percaya. Aku sudah tua. Meski kalimat itu sudah lengket dalam ingatan masih juga dibacanya lagi. setiap itu pula ia menciumnya.tanya sobat saya itu seraya membelalakkan matanya. Dan sebuah kalimat yang disenanginya selalu saja mengikat matanya."Mungkin karena dinamika orang-orang muda masa dulu yang menyebabkan saya dongkol melihat tingkah laku orang tua-tua yang sok-sokan. "Kinilah saya baru tahu. menantu Ayah? Dan dengan kedua cucu Ayah." "Tapi nyatanya orang-orang muda sekarang begitu sulit melepaskan dirinya dari sifat kekanak-kanakannya. tentu. Setiap hari ia membaca Quran itu." kata saya yang masih belum dapat menghentikan ketawa. apa yang tidak saya sukai tentang tingkah laku orang tua-tua terhadap orang-orang muda. melonjaklah keinginan hendak menemuinya di tahun yang lalu. Masra dan Irma?" "Ya. apa pun yang dapat kita lakukan di waktu muda dulu. jika saya telah tua. Lalu diraba-raba dadanya . Seperti senyum anak-anak saya bila melihat bintang favoritnya tampil dalam acara "Dari Masa ke Masa" di televisi. tidak akan saya lakukan. Tiba-tiba ketawa saya meledak. Sebelum aku mati. Hati kami rasa terbakar karena rindu." kata orang tua itu dalam hati. Ayah. "Datanglah. Tidakkah Ayah ingin berjumpa dengan Arni." "Kata kita.

Bahkan ada yang pulas sama sekali. Orang-orang sekitarnya sudah habis mengantuk. Kepalanya mengangguk-angguk bagai kepala boneka bergoyang. Masri. ibu Masri cuma satu. Selamanya ayahmu merasa bahagia melihat rumah tangga yang berbahagia. Ataukah dunia ini hanya boleh ditempati orang-orang yang tak baik saja? Ah. Keluar lagi bersama selembar amplop yang tepinya telah lusuh. menahan linangan jangan sampai jatuh. Susunan rumahnya. Dipasangnya kembali kaca matanya. Maka akhirnya ia kawin lagi. ya? Sudah dua anakmu sekarang Ayah juga turut berbahagia bersamamu. Dan matanya menatap bulat. Dan ia merasa-rasakan. Dan mereka tak berbahagia. istrinya yang dicintai itu meninggal. " Ah. Ia bersandar selelanya. Dan poskar itu dimasukkannya lagi ke dalam amplop. Itu tiada terderitakan. yah. Anakku. Dan dia pandai. Dan kenangannya melayang ke masa yang lalu. Berbahagia kau dengan Arni. Tapi bercerai pula akhirnya. "Pakai kumis kau sekarang. Tapi istrinya yang baru ini tiada rela suaminya tenggelam dalam suasana lama. Kereta api yang ditumpanginya masih melaju kencang. Tapi. Mencari-cari sesuatu di dalam saku-dalam pada jasnya. aku tak mengerti. Pertengkaran sering terjadi sampai mereka bercerai. Disimpannya kembali ke dalam saku jasnya. Semua orang suka padanya. bahwa bahagia tak mungkin lagi datang padanya. kenapa semua orang yang berbudi baik. Dan datangnya pada malam di waktu matanya tak hendak terpicingkan. Ah. Hatinya yang masih mengenang cinta kasih mendiang ibu Masri diobrak-abrik oleh kedatangan perempuan ini. Sudah berubah benar. Lama kemudian ia kawin lagi. Baik sekali. Dibawanya ke bibirnya. ia terbangun lagi. Dan ia bersandar lagi pada sandaran tempat duduknya. Dan kemudian tangannya itu hilang di balik lipatan jas. Ia ingin segalanya tiada berubah. Sebentar saja. Dan kepalanya digelenggelengkannya. Namun mata orang tua itu masih nyalang . Waktu itu ia masih muda.sebelah kanan." Lalu poskar itu dimasukkannya kembali ke dalam amplopnya. Ia ingat ada orangorang di sekelilingnya. maka itu dunia ini tak mungkin jadi surga gerangan?" ia mengomentari lamunannya. Aku tak mengerti. Diangkatnya kaca matanya. Tapi kesunyian menerpanya selalu. Tapi malah perkawinan ini tambah merusakkan hatinya. Dan terasalah olehnya bahwa rumah tangga tak mungkin memberikan kesenangan lagi baginya. Serta di bibirnya yang mencekung ke dalam tergores senyum kepuasan. Lalu kesepian hatinya diisinya dengan perempuan yang takkan mengikatnya dengan syarat-syarat kawin. lalu dipijit-pijitnya jangat di bawah biji matanya. Selagi Masri berumur tiga tahun. Pandai dalam segala hal. terlalu lekas meninggalkan manusia yang mengasihinya. aturan makannya. Nak. Dan hatinya patah sudah. Dan ada yang terangguk-angguk dan ketika kepalanya seperti akan jatuh ke pangkuannya. Dibukanya tutup amplop itu dan dari dalam dikeluarkannya sebuah foto sebesar poskar. Sepi sekali. Apalagi engkau. Tuhan terlalu cepat mengambil tiap-tiap yang dikasihi seseorang. Cuma satu perempuan seperti dia. sehingga air ludahnya meleleh seperti lendir dari sudut bibirnya. Datangnya mengoyak-ngoyak. Kawin dan cerai lagi. ia mau seperti yang dilakukan oleh ibu Masri. Meski si istri sedang mengandung. Tak sampai. Dan matanya berlinang puncak kepiluannya. Semua orang. Dia baik. ia keluarkan lagi. Baru setengah. kenapa mesti begitu.

maka sekarang anaknya sendiri yang menghinanya. "Perkataan Masri melukai hatiku sungguh-sungguh. Akulah ayah yang celaka. Hingga Masri yang terdidik kasih sayangnya. Kalau aku pikir-pikir kini. menjadi disiksa oleh olok-olok kawan-kawannya di sekolah. perkataanmu dulu itu benar. Aku tinggal di mesjid sana. Perbuatan Ayah yang menyebabkan aku begini. Akulah yang salah. Dilemparkan pandangannya keluar jendela. anaknya. Tapi. Aku serahkan diriku kepada Allah. Bikin malu. Aku wakafkan. Dan ia merasa terhina dan marah sekali. Di kejauhan burung elang terbang berbegar. Tentu aku ayah yang salah. Mungkin ingin ia membutakan matanya. aku merasa kautelanjangi bila aku bertemu kau nanti. Anakku. agar segala yang di depan matanya itu tiada terlihat. Si anak ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri: benarkah ayahnya seperti yang dikatakan teman-temannya. Yang waras. Kehadiran Masri menjadi olok-olok perempuan yang dibayarnya. karena kau anakku satu-satunya. Namun si anak diam dalam kesakitan. Jika tadi perempuan jalang yang dibayarnya sudah pandai menertawakannya. Anakku. "Kau kurang ajar!" "Kalau aku kurang ajar. Ayo. Orang tua itu merasa napasnya tertahan. Tapi si anak cepat pergi tak kembali lagi ke rumah ayahnya. Bertahun-tahun lamanya. Tentu anak orang lain takkan berkata begitu kepada ayahnya. Dan di samping itu kuajak . Aku lemparkan kehidupan duniawi. "Memang terlalu. Ia hendak memukul lagi. Dan si anak mengintip. menghancurkan hatiku. Jantungnya kencang berdebar. Aku jual segala harta benda kita. Tapi kau tak kunjung datang. Kau bukan anakku lagi!" "Memang aku bukan anak ayah yang begini. "Kurang ajar kau. Tentu Masri takkan begitu kalau bukan aku ayahnya.juga. Ayah yang menyebabkan aku lahir tanpa kemauanku! Setelah aku lahir. Dibiarkannya ayahnya berbuat sesuka hatinya. Ingin sekali ketika itu. Pengisian kehampaan dengan dambaan perempuan di sepanjang malam itu. Ingin aku maafmu. betapalah hancurnya hati si anak. Nak. Ditamparnya sekuasa kuatnya. Lalu semuanya jadi memudar. pergi. Tapi kau tak ada lagi." katanya dalam hati. Ah. Aku memang ayah yang tak baik. Tapi kau sudah pergi. Mengintip kebahagiaan ayahnya dalam rangkulan perempuan jalang itu. Alam di luar menghijau dan disungkup oleh awan yang memutih di langit. Merusakkan hidupnya sendiri. Ayah lagi yang merusaknya! " Si ayah betul-betul hilang kesabarannya. Namun si anak tetap tidak percaya bahwa kesucian ayahnya telah rusak. Aku ingin kau terus di sisiku. Kepergianmu yang tak kembali lagi itu. Dan ia temui ayahnya dengan dendam tiada terbada. Masri. Aku memang mau pergi!" si anak membangkang. menjadikannya hanyut berlarut-larut. Jahat. Tepekur ia dalam kesadaran pikirannya. tempat aku berpegang lagi. Anakku. Dan aku pergi ke dusun jauh. lambat laun aku insaf. Perkataanmu dulu menimbulkan kesadaranku kemudian. Malam-malam ketika aku berbaring di tempat tidur di rumah kita. Dan ia sadar lagi dari lamunannya. Dipudari oleh kenangannya kepada Masri. bukan salahku. Kemudian aku tobat. Anakku. Tapi si anaklah yang jadi sasaran marahnya. Karena kau duniaku.

kesombongan itulah yang menghancurkan kehidupanku selama ini "Ada apa. kalau aku melihat kebahagiaan rumah tangga mereka. Aku malu. berkecak tegak di ambang pintu. Semuanya. Sifat-sifatku yang tinggi hati. Dan suratmu yang ketiga beserta wesel uang itu. Anakku. Tapi. ke timur. Karena aku sendiri mengerti apa arti kebahagiaan rumah tangga itu. Anakku. sebagai ayah yang kalah. Seorang perempuan kurus hampir serupa mayat. Sedangkan pada garis bibirnya tergores senyum bahagia. Ia tak mengerti kenapa perempuan itu harus ada di situ. Masri. Dan dirasanya lelehan air di atas ujung mulutnya. Sedangkan laki-laki tua itu terpukau dalam kekecutan dan gigilan. Tapi napasnya menyesak juga oleh pukulan jantungnya yang tambah berdebar. Dan tentu nanti maafan anaknya akan diperolehnya sepenuh ikhlas. kuakui aku bimbang mulanya menerima ajakkanmu. Tersentak ia dari lamunannya. Namun ia merasa dirinya segar. Dihadapkan mukanya ke barat. kalau ada terjadi cekcok. alangkah terkejutnya orang tua itu. Pak? Kenapa Bapak menangis?" sebuah suara masuk ke telinga orang tua itu. Dosaku yang terbesar akan hapus oleh maafmu. Dan aku tak mau datang. ikut aku mendamaikannya. Kini aku datang menyerahkan diriku padamu. suratmu itu selalu kucium? Dan kemudian datang suratmu lagi. terpelanting remuk. Aku merasa ditelanjangi. anak yang kuusir dulunya. kereta pun berhenti. sampai empat kali. Dan kota yang dituju hampir sampai kini. tidak mengguncangkan hatiku dari pendirianku semula.manusia di sekitarku hidup dalam rukun damai. Anak yang kutampar. bertambah kencanglah jantungnya memukul. Dilihatnya alam hijau membiru disela oleh rumah-rumah yang berkelompok tiada teratur. Juga tak kubalas. Ketika kereta bertambah perlahan jalannya. Dan kalau ia mati kelak. Tahu kau. Dan ia regup hawa di sekitar rumah anaknya sedalam-dalamnya. karena malu minta maaf kepada orang yang lebih muda. Dalam kedamaian itu. ia akan berjumpa dengan anaknya. Terasalah betapa damainya dunia ini olehnya. Aku insaf sekarang. anak itu yang mengajak aku datang ke rumahnya. Maka yakinlah ia. Karena terpaksa. Masri. agar ia lebih merasa bersatu dengan kehidupan sekitar yang indah itu. Anakku. Umurku takkan lama lagi. Masri. Disekanya cepat. tapi karena aku sangat malu bertemu denganmu. Malu sekali. aku sudah tua. Nak. Jalan . ke utara. Kalau aku sudah mengambil uangmu. membahagiakannya. aku terpaksa juga mengunjungimu. Enggan karena malu. Kian lama kian ramai. Tentu. Kedamaian alam yang memagutnya tadi. dan tak pernah kubalas. uang itu aku ambil juga ke kantor pos akhirnya. seperti debar ketika mula pertama ia memasuki ambang pintu bilik istrinya. Menatap dengan tegar. Tapi kereta api masih laju juga jalannya. matinya tanpa membawa dosa. aku mau tak semiang dosa pun lengket di badanku. Terpaksa bukan berarti aku tak mau. ketika aku menerima suratmu setahun yang lalu. Karena ada orang lain yang hendak kutolong dengan uang kirimanmu itu. Tapi. semua rumah tangga di dusun itu. Kemudian dipalingkan matanya ke luar jendela. Tapi sekali aku ingat. merobohkan sifat-sifatku yang buruk. Dan kalau aku mati. Ketika ia membalikkan badannya menghadap pintu lagi. Alangkah bahagianya hatiku. Lalu dicobanya tersenyum manis kepada si penegur. dan ke selatan. Dan dalam liputan kedamaian itu pula ia meningkat anak tangga rumah anaknya. Kedengaran desisan lok kejar-berkejaran. oleh surat-suratmu yang tak bosan-bosannya datangnya itu. Tapi tahu kau. serta-merta terlempar jauh. Tidaklah ia merasa capek sedikit pun oleh guncangan kereta api hampir sepenuh hari itu.

istri yang cocok." "Semua perempuan cocok bagi laki-laki yang tahu menghargai orang lain. Semua pada bagian yang hitam dan pahit-pahit yang paling ia kenang. Maka ia mengajak alamnya berdamai kembali dengan serba sangka yang segala baik atas kehadiran perempuan itu di situ. menjolak lagi dengan panasnya. "Tapi kalau datangmu untuk kebaikan." laki-laki tua itu berkata lagi dengan berangnya. menginginkan semuanya dalam kedamaian dan kebaikan. hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan bersama istrinya. Dan perempuan itu berkata lagi. Ia pun ikut merasa bahagia. tapi semuanya teratur rapi. "Alangkah bahagianya Masri. Bersih. matiku dalam kebersihan dosa-dosa yang telah aku lakukan." kata perempuan itu mencetus. cerita maaf haruslah . Hatinya tersinggung. "Rumah ini. Maka hatinya tersinggung. Aku datang karena dipanggil. Ia masuk membawa hatinya yang ragu dan bertanya-tanya. Dan keketusan pertanyaan itu demikian kesat masuk ke telinga laki-laki itu. Dan lupalah ia sejenak kepada perempuan yang memandangnya nanap dan dengan hatinya yang kecut. Dan laki-laki itu terantuk lagi pada kehadiran perempuan itu. "Mengapa kau datang juga?" tanya perempuan itu ketus. "Aku kemari ke rumah anakku. ia berkata. Tapi keragu-raguan itu segera menyingkir jauh ketika ia memandang keliling ruangan rumah itu. Karena diminta datang. Juga merupakan suatu pukulan untuk mengenang kembali kehidupannya yang lalu. Maka tahulah ia bahwa anaknya. Tapi ia tak mampu membangkitkan kesombongan yang tadinya menjolak-jolak." ia berkata seolah kepada dirinya sendiri.pikirannya begitu lamban. Rasa kesombongan yang telah lama mengendap jauh di lubuk hatinya. Dan yang terpenting begitu serasinya. berbalik-balik sejarah kehidupannya yang lama." perempuan itu menegas lagi. Tak bersuara mencapai sasarannya. Tapi bagiku." Tapi ucapannya itu hilang di ujung bibirnya yang gemetar. hampir mati malahan. orang yang selamanya dalam kesulitan ini. memang paling mudah diucapkan oleh orang yang telah merasakan hidup senang. Aku memang orang yang tak baik. Umurku yang setua ini. Dan dengan pandangan mata yang menyala berang. "Maafkanlah aku. Tapi perempuan itu tidak mendengar apa-apa dari mulut laki-laki yang tegak bagai patung di ambang pintu itu. rumah anakku." katanya lama kemudian dengan suara yang parau serta pengucapannya yang bergetar. Hendaknya jika aku mati. Ia kini jadi lemah dan sempoyongan oleh pukulan itu. Iyah. Digapainya sebuah kursi. masuklah. pergilah kini-kini. Masri. "Tentu Arni." Dan laki-laki tua itu tak hendak bertengkar di tangga rumah anaknya. Maka tahulah ia bahwa ucapan perempuan itu bermaksud menempelak dirinya. "Kalau datangmu hendak membawa keonaran. Dalam sempoyongan itu. "Cerita maaf. Begitu sederhana.

Tapi aku tak bisa mencegahmu datang. Tapi kemudian disambungnya lagi." kata perempuan ketus. "Bukankah itu dosa?" "Benar." "Membawa dosa? Kenapa dosa kubawa? Bukankah aku diminta datang kemari untuk. asal mereka tetap bahagia." kata perempuan itu tanpa kehilangan gayanya yang ketus. Aku sudah lama mengerti apa gunanya dan bagaimana orang harus hidup. Aku sudah lama menyediakan hidupku untuk kebaikan. Dan tiba-tiba tububnya gemetar. aku sediakan diriku dipukuli kutukan.." kata laki-laki itu terpekik dalam suaranya yang parau. "Sekarang kau datang kemari. "Iyah. kemudian layu terkulai ia di sandaran kursi. "Pahit kau menerima kenyataan ini? Demikian juga aku." "Istri Masri anakku.." . hanya untuk merusak." "Kau tahu aku akan datang?" "Tahu." "Mengapa kau mencegahku?" "Kedatanganmu merusak.diperhitungkan dulu." ia terhenti sejenak. "Mengapa tak kaukatakan?" "Mengapa aku katakan?" Dan laki-laki tua itu membuka matanya dan bertanya lagi.. Ketika aku tahu mereka bersaudara kandung. Demi kebahagiaan anakku dengan istrinya. ia tak berani menyalangkan matanya untuk melihat kenyataan di sekitarnya. "Ketika lama sesudah aku menceraikan kau dulu. Tak dapat ia berkata sepatah pun lagi. "Iyah. Rela aku menderita segala dosa-dosa ini." Namun tak ada kata-kata keluar dari mulutnya selain hanya menyebut nama perempuan itu." kata laki-laki itu lagi dengan gaya yang meminta belas kasihan. Ia mau mencoba berpikir dan menimbang-nimbang segala yang terjadi dan teralami oleh dirinya sendiri. Lama sekali begitu. "Maksudku aku datang untuk minta maaf anakku. Bagi siapa yang tahu. aku telah menyesal. sejak itu sampai sekarang. Memenuhi segala ruang." Suara Iyah memasuki rumpun telinga laki-laki yang tersandar nanar di kursi. Tapi aku selalu berusaha supaya kau tak jadi datang. Dan ketika sadar pada dirinya lagi." "Tapi aku sudah tobat. Pikiran dan perasaannya menampak bayangan kacau yang bertelau-telau tiada berbentuk apapun. Perhitungan antara aku dan kau. Juga anakmu." "Tapi kedatanganmu kemari tetap membawa dosa.

ia yang salah. Kaupikir. Setelah itu mereka harus bercerai. Dosa bagi kita. Sepi dan sunyi. Kalau selama ini aku telah mendapat keridaan Tuhan. "Walau bagaimanapun mereka harus tahu. "Ini semua dosa. Tapi nadanya mengejek. ia berkata dengan suara yang tegas dan dengan nada yang pasti." kata laki-laki tua itu sambil memicingkan matanya terus. kenapa pula harus kukotori di akhir hidupku? Maka itu mesti aku katakan kepada mereka. mesti kukatakan kepada mereka bahwa mereka bersaudara kandung. masih berdiri tegar di tempatnya. Sedangkan laki-laki masih terkapat di sandaran kursi. Manusia harus siap mengorbankan dirinya untuk menjunjung tinggi aturan-Nya. Sekarang pandai kau mengatakan itu. Perempuan yang kurus dengan kulitnya yang bagai telah mersik itu." "Tak sanggup?" " Aku tak sanggup menghadapi kutukan Tuhan."Karena itu kaubiarkan mereka tak tahu?" Ia mulai membangkitkan dirinya lagi. Kenapa? Karena kau hendak menyembunyikan kesalahan perbuatanmu semata. Sehingga kini kau juga ingin merusakkan kebahagiaan anak-anakmu sendiri. Sejenak kemudian dengan suaranya yang mendesis parau ia melanjutkan kata-katanya. Dosa besar. alangkah tamaknya kau." kata perempuan itu menegaskan. walaupun apa katamu. Tapi ia tahu. ada lagi kebenaran yang mesti kita junjung tinggi." "Iyah. "Biarkan mereka berbahagia dalam ketidaktahuannya. Luka oleh ejekan Iyah. Iyah. Harus. Mesti. "Aku harus memberitahu mereka. dosa bagi kau. walaupun bagaimana benarnya kebenaran yang kaukatakan." "Hmm. Dosa bagiku. dapatkah ampunan itu dikejar dengan menyerahkan diri begitu saja tanpa berani menanggung risiko dari kesalahan yang telah kaulakukan sendiri?" "Walau bagaimana. Ini mesti. Tapi kemudian ketika ia sadar pada amalan dan ketaatannya pada Tuhan." "Demi menjunjung perintah Tuhan?" ." Lalu sekujur tubuhnya melemah lagi. Karena kau hendak mengelakkan akibat perbuatanmu yang salah dulu. Wajib." "Hm. seolah enggan melihat segala kenyataan yang ada. Kenapa tidak dari dulu-dulu?" Hatinya luka lagi. Kebenaran Tuhan. Maka ia diam saja. Ia dengar lagi Iyah berkata. Juga dosa bagi mereka. Hanya karena kau takut memikul hukuman atas dosa-dosamu seorang. Sekarang kau baru pandai berkata tentang kebenaran Tuhan." Tak suatu pun terdengar. "Oh. "Aku tak sanggup." katanya dengan suaranya yang lesu. "Iyah. Maumu hanya supaya kau saja bebas dari akibat perbuatanmu yang salah dulu.

Kurangkah imanku." Tapi suara Iyah tak tetap lagi. Kalah oleh perasaan kemanusiaannya yang bertentangan dengan keimanan kepada Tuhannya. Maka ia berkata lagi dengan nada yang merendah sedih. bahkan manusia lainnya. Kalau mereka mengerti dan beriman seperti kau. Baiknya kalau mereka beriman seperti kau. Karena manusia itu berakal. Dan dosaku itu takkan kubagi-bagikan ke orang lain. Katanya. Tapi kalau mereka tidak beriman. berkatalah ia dengan sayu." kata Iyah seterusnya. Dan selama itu pula tanpa disadari laki-laki itu. Hancurlah kehidupannya. hanya suatu ucapan pelarian dari ketakutan pada pembalasan atas kesalahanmu. hancurlah hati kemudiannya. Dia kenal manusia seperti bekas suaminya itu. bahwa kepercayaan manusia sukar dilenyapkan dengan perdebatan dan dengan dalil-dalil apapun. Akal kau. Sampai sekarang. lalu ia melangkah ke pintu. Dan aku tak rela kalau Arni akan menelan kepahitan seperti yang kutelan dulu. Mereka sudah punya anak dua. Dia lalu menangis tersedu-sedu. Tapi aku dari semula sudah salah. Putusan yang sesuai dengan kepercayaan yang ia junjung bertahun-tahun lamanya. Dan selagi aku tidak mengatakan sesuatu. Iyah juga merasa. "Sebentar lagi anak-anakmu akan datang. betapa bahagianya mereka. bahwa mereka bersaudara kandung. Kau lihatlah nanti. kehidupan yang dahulu sudah pemah kaurusakkan. Dan ketika itulah kekukuhan bangunan pendirian laki-laki tua itu hancur berderai-derai. Diambilnya bungkusan kainnya."Demi menjunjung perintah Tuhan yang kusembah siang malam. Tapi ia tahu juga. Aku merasakan itu. iman kau." "Meski akan merobohkan kebahagiaan hidup manusia lain. Kalau mereka kauberi tahu. boleh saja. " "Omong kosong. dan seolah-olah ditujukan pada dirinya sendiri. Dalam hal ini mereka tidak salah. "Iyah. Betapalah dalam tusukan ejekan itu akan menyakitkan hati. Aku kasip mengetahui hubungan darah mereka. yang akan kalah oleh tusukan yang melalui perasaan kemanusiaannya. dan harus beriman. Tapi aku tahan tindihan itu bertahun-tahun lamanya. Ia telah mengambil putusan. Dan anak-anaknya akan jadi apa? Tiga orang bukan sedikit. bahwa lawannya tak hendak mundur dari pendiriannya. pelan-pelan dan dengan suara yang lunak tapi sendu. Mereka bercerai. mereka pastilah akan bercerai. " Aku tahu. bangunan pendiriannya telah dikorekkorek. "Bahwa adalah dosa besar kalau membiarkan mereka tidak tahu bahwa mereka bersaudara kandung. Malah hampir tiga. Iyah!" "Lebih baik dari orang sepengecut kau!" Dan si laki-laki merasa tak perlu membantah lagi. Kau sebagai laki-laki tak pernah merasakan pahitnya hidup bercerai dari suami. apalagi kepada anak-anakku? Dosaku takkan kupupus kalau karenanya mereka akan hancur hati dan kehidupannya. kalau dosaku adalah dosaku. Dia kalah sudah. Dan sebelum pintu ditutupnya. Sudah serak dan terputus-putus." "Itu tak soal. aku ditindih perasaan berdosa sepanjang waktu. Bahkan kalau hendak memikul dosa-dosalah hidup . sebaiknya aku tak kemari. Tapi kalau tidak? Iyah berbicara lama sekali. " "Kau murtad.

Lalu pintu itu tertutup lambat-lambat. Dan kalau kaya. sukarlah mendapat penyelesaiannya.kar ditutupi oleh baret abu-abu. Jalan itu lebih gelap oleh kerimbunan pohon-pohon di kiri." kata si kurus dalam hatinya juga. dua orang lelaki bertemu di jempatan beton dekat simpang tiga depan kantor pos. Dan Iyah tinggal dengan perasaan yang juga pergi dan menghilang jauh meninggalkan pintu yang telah tertutup karena menuruti bekas suaminya. ayah Masri dan juga ayah Arni." kata si kekar dalam hatinya. kekar. Hanya derapan sepatu yang solnya sudah lembab yang meningkahi nyanyian hewan malam. Tapi tidak punya otak. Yang lain bermantel plastik transparan. Lalu yang kekar membelok ke kiri. Tapi kalau dosa itu kepada manusia. Dia berani. Dua Orang Sahabat Seperti sudah dijanjikan. Aku pergi. Dan aku telah lama tidak berbuat dosa lagi bagi manusia. bangga dengan otot. Iyah." jawab si kurus gersang. Iyah. Sehingga mereka seperti tambah terbungkuk-bungkuk dan kepalanya sama terangguk pada setiap kaki dilangkahkan. Ketika itu malam belum lama tiba. Salah seorang mengenakan mantel hujan. Hanya bayangan kedua orang yang terangguk-angguk itu saja yang kelihatan. Keduanya sama mendekatkan arloji ke mata. dan tentang apa yang kita lakukan ini. . Seperti itik jalan sekandang. apalagi terhadap manusia yang terdiri dari darah dagingku sendiri. Keduanya dengan pikiran masing-masing. Tapi mereka tidak melambatkan langkah. mengelakkan dingin dan tiupan angin malam.nya sama ditinggikan sampai menutup telinga.kita ini. Dan jangan kaukatakan pada siapapun tentang kita. Sekali aku pukul." Perempuan itu mengangguk. Si kurus oleh topi mantel. Dan kaki mereka sering terperosok ke lobang di jalan aspal yang telah lama tidak diperbaiki. karena Tuhan itu pengasih dan penyayang. Tak seorangpun yang berbicara. seolah hendak tahu apa mereka tiba tepat waktu. Kau tahu apa yang kita lakukan Iyah. sebaiknya juga kita manusia ini tak usah ada. Nyala lampu jalan yang bergoyang-goyang ditiup angin itu. sombong. Kepala si ke. si kurus juga membelok. Dan laki-laki itu melangkah dengan tenang ke muka. Kerah mantel. Tapi manusia tetap ada dan Tuhan pun ada.kanannya. Sedangkan tangannya sama membenam jauh ke dalam saku celana. Yang satu kekar dan yang lain kurus. tapi kepalanya tepekur sebagai orang kalah. Malam menjadi kian gelap dan lebih dingin hawanya. Dosa kepada Tuhan akan dapat ampunan-Nya kalau kita tobat. redup cahayanya. Jalan itu lengang seperti kota ditinggalkan penduduk karena ada ancaman bencana. Dibendung oleh kabut yang biasa turun di kota pegunungan itu. Tidak punya perasaan. Sekarang jalan yang mereka tempuh mendaki. Mereka berjalan ke arah timur dengan setengah membungkuk. tinggal renyai. si kekar bertanya tanpa menoleh: "Kemana kita?" "Terserah kau. pasti klenger. Hujan yang turun sedari sore. "Gila. "Orang bertubuh besar. Ketika mereka sampai di suatu simpang.

Listrik belum sampai ke sana. Lalu mereka melintasi jalan lebar yang bersimpang. Masuk ke gelap malam. Berani bilang aku sialan. "Perempuan pemilik daging sewaan ini. tidak akan bisa Belanda lama-lama menjajah negeri ini. Dia memandang lama ke." Rumah-rumah di kedua pinggir jalan itu sudah jarang le. Kalau aku mau perempuan bukan ke seni aku. Sedangkan bukit itu terpampang bagai mau merahapi alam kecil di bawahnya. Tiba-tiba sebuah jip militer datang dari arah kanan. Harus cerdik. Biar bangkainya tahu. Katanya dalam hati: "Sama saja watak kalian. Si kurus berdiri sambil menatap ke arah jip yang lewat tidak lebih setengah meter darinya. Tapi si kurus tidak peduli. Si kekar buru. "Homo homini lupus.hindar. "Kurang ajar." Dan perempuan lain di dalam rumah cekikikan ketawa. Langkah mereka seperti tertegun ketika mulai melalui jalan yang datar itu. Itu benar. "Aku pecah kepalanya sampai otaknya berderai. Napasnya sama menghem." kata si kurus. Bukit itu bagai binatang merayap maha besar dalam kisah prasejarah. jangan cobacoba melawan aku. Ketika lelaki itu berjalan terus. Dia tidak meng. Tiba-tiba pintu rumah di pinggir kiri jalan terbuka.buru menepi. Cahaya lampu minyak melompat keluar. ilmu. kata Hobbes. Tapi dia ini punya ilmu apa?" kata si kekar lagi pada dirinya. Sesunyi dan sehitam alam hingga ke puncak bukit. Mengerikan nampaknya. hah?" bentak pengendera jip itu dengan iringan sumpah serapah. Kalau orang Indonesia punya ilmu. Rumah. Lalu hilang karena pintu ditutup lagi. kepala perempuan itu lenyap lagi ke balik pintu sambil menggerutu."Mengapa dia berani? Apa dia punya ilmu? Ilmu apa? Ah. Tapi tidak selamanya. Tidak bermoral. Kini mereka melalui jalan yang mendatar sesudah membelok ke kanan lagi. Renyai tidak turun lagi." gerutu si kurus." kata si kurus masih dalam hati. Cahaya lampu yang menjilat malam itu pun lenyap bersamanya.bus panjang. sama saja dengan pemilik otot." kata si kekar pula.taknya. "Karena orang kecil punya otak.pada kedua laki-laki itu. Hanya cahaya lampu minyak mengintip dari celah dinding anyaman bambu. tahu?" kata si kekar masih dalam hatinya. "Kamu mau mati. Bukan mereka. Tepat diatas perbatasan alam yang pekat itu. tidak punya moral. bagai mau melepaskan hengahan payah. Tidak beretika. "Sialan.rumah itu sunyi dan hitam. sesekali cahaya terang mengilat. Sejarah mengatakannya begitu. . Kepala seorang perempuan menjulur. Laki-laki itu juga memandangnya. Sama tidak punya etika.

" kata si kekar. La. ya. Bangkai itu. hormatilah takdir. Akali. Karena itu jangan sekali-kali menentang orang kuat. Keduanya terus melangkah juga. Berhari-hari kemudian orang akan mencari bau bangkai membusuk ke sini. Orang-orang tawanan yang akan dibawa ke situ." kata si kekar lagi. Dulunya padang itu tempat serdadu Belanda. di malam berenyai. Gemercakan bunyinya di. "Orang kurus seperti kamu. Apalah daya ayam karena sudah takdirnya begitu. Boleh kamu tahu rasa. bangkai kamu. Rupanya seekor musang. Bukit menghempang di hadapan mereka hilang timbul disela daun pisang itu. "Bagi kamu musang. Gila benar. sorja Jepang dan tentara revolusi latihan menembak. Dan padang itu.ban. Sehingga padang itu menumbuhkan fantasi yang menegakkan bulu roma setiap orang. lehermu patah. Jangkankan malam. aku bawa bedil ke sini. sama. terinjak terus.tang. ya. musang. seperti biasa menanti dan menyaksikan orang-orang yang dipenggal lehernya atau ditembak mati tanpa peduli perasaan si kor. Dan kini padang luas yang sunyi dan menimbulkan fantasi seram itu. Nantilah. Tiba-tiba keduanya sama terkejut. sambil dengan hatihati mengawasi sesuatu yang melintas cepat di depan mereka. Manusia yang bina. "Huss. Jika enggan menghormati kaum jelata. Dan memang tak lama kemudian mereka sampai ke suatu padang luas yang membujur di sepanjang kaki bukit di kejauhan itu. Jalan be. Takut melawan." si kekar berkata dalam hatinya lagi.sar yang mereka tempuh membelok ke kiri. Kerikil besar-kecil berserakan menutupnya. Manusia yang manusia. Berdesauan suara perlandaan badannya dengan dedaunan di semak itu. Selain belukar menyemak. Di sana Jepang juga memenggal nyawa orang yang dituduh pengkhianat. Dekat di kiri kanan jalan meliuk-liuk daun pisang ditiup angin. Kata Hobbes hanya cocok untuk binatang. Dia lebih memperlambat langkahnya seperti dia merasa sudah sampai ke tempat yang ditujunya. Kalah menang juga takdir. Si kekar seperti mencari-cari sesuatu. Bikin kaget orang. Bersikap masa bodoh terhadap . Berkepakan bunyinya menyela desauan angin yang meniup dan nyanyian jengkrik. "Tak kusangka aku ke sini di malam seperti ini. jadi ayamlah kamu. Tapi aku manusia. dingin dan pekam." "Orang kuat.pijaki. Kalau melawan. Kalau tidak mau melawan. juga mengintip dicelahnya. selalu ada sekandang ayam untuk kamu terkam. Padang itupun sunyi menerima kedatangan kedua laki. Tapi lebih lambat. orang kaya. Kalau mereka tidak mau.Kemudian mereka tiba lagi di sebuah simpang. melalui jalan kecil tanpa aspal.jang duluan oleh ketakutan atau cepat-cepat berdoa dengan seribu cara. Kalau kuat. didatangi oleh dua lelaki. Masih dalam hati." kata si kurus masih dalam hatinya. sudah ke.neruskan arahnya. itu maunya takdir. Langkah mereka sama terhenti.ngit yang memberikan kilatan. Tapi mereka me. jangan menindas. gunakan otak. sekali tetak. Tiada pohon tumbuh disitu. lawan takdir itu. Tentera revolusi pun meniru gurunya yang sorja Jepang." kata si kurus lagi.laki itu. Siang pun belum. "Mengapa aku mesti ke sini? Seumur-umurku belum pernah aku ke sini.

Kalau aku dikuhum mati? Bajingan-bajingan akan memburu istriku yang muda. "Dia mau menjagal aku. Sekali aku kecut. "Mestinya dia ini tidak perlu aku bawa ke sini. silakan kalian saling bunuh. Gegap berde. Jauh di balik bukit sebe." Si kurus pun menghentikan langkahnya.samamu. Nyatanya kita kemari juga." kata si kekar." Tapi arwah manusia yang dibunuh tanpa kerelaan. Sialan".sauan bunyinya. cantik dan kaya oleh warisanku. seumur hidup aku kau dilecehkan.rang ngarai yang lebar itu. seperti dua orang yang mau mengatakan sesuatu yang lama sudah disimpan. Cahaya kilat memancar juga jauh tinggi dilangit. Aku cari saja preman. Kau jadi berani membawa aku ke sini." kata si kekar menggerutu pada dirinya. "Maumu 'kan?" Tapi dalam hatinya dia berkata: "Kau tahu kau kekar dan kuat. Dan sese." Keduanya terdiam ketika angin bertiup rada kencang. Lalu kata si kekar dengan suara redup seperti kilat itu: "Tak pernah selama ini aku mengangankan datang kemari ber. "Kalau dia sampai mati aku gampar. Apalagi malam begini.kali angin meniup agak keras.segala apa yang di. . hingga daunan kayu bergoyangan menjatuhkan pautan tetesan air padanya. Seolah-olah berkata: "Hai manusia. Matilah aku. Lalu katanya dengan suara yang gersang. Lalu katanya seraya menghenti. Bersoraklah lagi dedaunan menggugurkan tetesan sisa air yang bergantungan padanya. tanpa tenaga menembusi gelap dan kesepian padang itu. Suruh ajar dia ini." kata si kurus dalam hatinya. Tapi aku punya harga diri. seperti tak bertenaga. Redup. akan apa perasaan isteriku. Sialnya ini orang mau ke sini. Masih menekur juga dia. "Sialnya aku lancang mulut mengajaknya berduel malam ini. Keduanya kini tegak berhadapan." Cahaya kilat memancar lagi. seperti yang dilakukan serdadu-serdadu itu. seraya memandang ke arah kepala si kekar. sehingga menumbuhkan fantasi yang menghantu. Polisi akan menangkap aku. Kau tahu mengapa?" Si kurus mengangkat kepalanya. "Di sini saja. Si kekar mendongakkan kepalanya seraya memandang sekeliling alam di padang itu. "Kalau aku dipenjarakan. seperti tidak menyentuh hati kedua lelaki yang mendatanginya di malam itu.lakukan oleh manusia terhadap sesamanya. bagai teriakan prajurit yang kemasukan semangat mau mati yang bernyala dan haus darah. orang akan menanyai aku.kan langkahnya. Habis perkara.

dimana kilat masih sabung.bersabungan. di malam sehabis hujan turun. lebih baik tidak menompangnya. Lalu kami kawin. Katamu. berdiri tanpa peduli. Tapi. Si kurus tak menyahut. temanmu." kata si kekar dengan gaya orang partai yang mencoba menumbuhkan kesan kagum yang diharap. ombak yang tenang.patnya. Si kekar membuka mantel hujannya tenang-tenang." si kekar memulai bicara sebagai awal pembicaraan yang panjang dengan mengingatkan segala apa yang telah diberikannya kepada si kurus selama mereka bersahabat kental. kamu pikir dapat diperjual-belikan.kutkannya pada ranting belukar beberapa langkah dari tem. Tegaknya seperti menantang. siapa kau. Tapi ini bukan soal Nita. Selesai yang kiri. Tinggalkan kota ini. "Kalau kapal suka berobah arah ke mana angin kencang bertiup.. Tapi si kurus masih tidak menanggapi. hi. "Sekali lagi aku tanya. Kemudian dengan nada yang tegar dia melanjutkan: "Kalau kau mau ambil dia. Apa hatimu sudah pekat?" "Kau kira apa?" kata si kurus seraya menyurutkan sebelah kakinya selangkah.bentar-sebentar menggoyangi dedaunan di ujung ranting. dia berkata lagi. lalu yang kanan. siapa Nita. Aku lamar dia pada orang tuanya..kannya. "Sekarang. di padang yang luas ini." kata si kekar. "Sekali hari kau kenalkan Nita padaku. Seperti raja-raja dahulu kala. Aku naksir dia. Aku merasa konyol. ambil. Semua yang berada di bawah kuasamu. Masih dalam hatinya." kata si kekar.nya dan melecehkan si kurus dengan kalimat sindiran. Cahaya kilat tak membantu ka. Tapi ketika dilihatnya si kurus masih terpaku pada tempatnya berdiri.janya. kita berada disini. "Mengapa tak kau buka mantelmu? Kau menyesal?" "Apa pedulimu?" . Aku tidak suka dilecehkan. Itulah macam manusianya kamu. Siapa mau dan tahan diperlakukan begitu terus-menerus?" kata si kurus dalam hatinya juga. Ini soal harga diri yang selalu kau lecehkan" kata si kurus. Namun gelap malam menghalangi penglihatannya. Disam.langlah harga diriku. Aku tidak cemburu. Mana aku tahu Nita pacarmu. "Kau kira aku cemburu kalau Nita kemudian dekat padamu? Tidak. Sejak itu kau berobah. Dia masih bersikap seperti tadi.."Kita telah bersahabat sejak SMP..kalau tidak dengan cara begini menyelesaikan persoalan kita." Dia mencoba meneliti wajah si kurus. Berapa lama itu? Kau ingat? Lebih dua puluh tahun. Angin masih se. Namun dalam hati kecilku aku menyesali kehadiran kita disini. Karena aku tahu siapa aku. Juga dengan tenang. Tapi kepalanya tak menekur lagi. "Kau tidak peduli kapalmu rindu pada teluk yang dalam. "Betul-betul sudah pekat hatimu menantang aku secara jantan?" kata si kekar. Nadanya membanggakan kelebihan.rena terlalu jauh di langit sebelah barat. Sambil melangkah digulungnya lengan panjang keme.

." katanya setelah dekat. Karena kita berhabat karib. Si kekar terus juga bicara tentang pe. Kemudian dia kepalkan tinjunya sambil menyurutkan langkah selangkah. Terpandang pada mata ma. "Pasti seperti pemenang pada perang saudara. Apalagi dengan kau." "Maksudku. Karena si kurus terus menjauh. " Dan angin bertiup lagi. hanya ingin menyelesaikan persoalan antara kita.. Siap untuk berkelahi.tiba dia lihat sesuatu yang berkilat di tangan si kurus..lambatkan langkah." kata si kekar seraya menyurutkan kakinya selangkah lagi. Tapi si kurus merenggutkan tangannnya dari pegangan itu. Seketika ada pikiran yang mengganggunya.ku sendiri. "Tunggu. Kini seperti bersorak girang atas kemenangan orang kecil atas keangkuhan orang besar. Si kurus membalikkan badannya. Tiba. Lama kemudian si kekar berkata lagi.nyesalannya mengajak si kurus ke tempat yang sepi itu." jawab si kurus tegas. Tunggu aku. tapi dengan suara yang kendor.." "Mestinya aku ludahi wajahmu. kau mau membunuhku." kata si kekar dengan suara lirih. Sebenarnya aku tidak hendak berkelahi. Tak ada jawab si kurus. Kau mau. Tidak tergesa-gesa. "Pisau. "Jangan kau salah mengerti. di pegangnya tangan si kurus." kata si kekar sambil menyelesaikan menggulung lengan kemejanya. bukan?" Karena si kurus terus tidak berkata. Dedaunan berdesauan pula. "Aku orang terdidik." kata si kekar. Kau berpisau? Itu curang namanya. "Kalau kau main curang.. Terperengah berdiri si kekar beberapa saat. buat apa kejantanan? Aku tidak mau berduel dengan orang curang."Baik.. Si kurus tidak menjawab. "Apa itu?" tanyanya. Lalu melangkah ke arah mereka datang tadi. Tak aku sangka. Tapi apa gunanya menghina orang yang kalah?" kata si kurus dalam hati. Aku tidak mau mati terbunuh oleh sahabat karib. Si kekar kehilangan nyali.syarakat." carut si kurus untuk menghina. "Oh. Bukan untuk berbunuhbunuhan. Kemudian katanya: "Aku minta maaf sebesar-besar maafmu. dia mengikuti dengan langkah panjang-panjang. "Kalau aku tahu kau bawa pisau . Dia terus berjalan tanpa mem. "Kencing kau. Juga tidak pelan." seru si kekar. bagaimana kalau si kekar jadi pemenang.

Ketika sampai di tempat mereka berpisah tadi. selain gelap malam. tunggu. tempat golongan elite biasa menginap. Kalau sepatu itu kumal betul.Angin malam terasa bertiup lagi. dia berdiri dan menanti si kurus mendekat. Dia memandang berkeliling mencari dimana si kurus berada. si kekar berkata lagi: "Apapun yang kau minta akan aku beri. Sekali pagi terjadi heboh besar. kalau dia tahu? Hancur aku. Kalau kau mau Nita.lam. Didekapnya kedua telapak tangannya di bawah dagunya se. Hancur harga diriku. penting. sepatu harus mengkilap. Mencari miliknya yang hilang. Dali. Dia bersembunyi karena enggan berjalan seiring dengan sahabat lama yang sudah jadi bekas sahabat. Sedangkan matanya terus juga memandang si kurus yang kian menjauh dan kian hilang dalam gelap ma. Karena setiap ke luar rumah. Miliknya yang hilang itu ditemukan dalam ransel Letnan Tondeh. Setelah beberapa langkah mendahului. Tergesagesa dia kembali untuk mengambilnya. Masukkan tangan kedalamnya." Tiba-tiba dia berhenti. lalu sekakan ke sepatu. Lalu katanya memelas: "Aku minta sung. Si kekar melangkah cepat.perti patung Budha. Si kekar terus menghadang dengan langkah mundur. Aku ikhlas. dia memanggil nama si kurus keras-keras. Kayutanam. meski kemana-mana mereka memakai sandal dari ban bekas mobil. Jangan tinggalkan aku. Sambil berlari kencang. Hancur harga diriku. Dedaunan pohon ping. 30 Agustus 1999 Gundar Sepatu Bagi orang parlente gundar sepatu. gundar sepatu menjadi lebih penting fungsinya dibandingkan kebutuhan sepatu orang elite. Habis aku. Tergesa-gesa pula dia mengenakan mantel serta mengancingkannya. Yang disediakan flanel berbentuk kantong kecil. ambillah." Si kurus terus melangkah. Akan apa kata Nita. si kekar berhenti. Tak seorang . Tanpa merobah letak kedua tangan. asal kau tidak ceritakan kepada siapapun. Sersan Bidai merazia semua ransel anggota rombongannya sambil menodongkan pestol rakitan lokal. "Dali. Begini ceritanya.gir jalan itu mendesau seketika." Si kurus keluar dari persembunyiannya di belukar. gundar sepatu memang tidak disediakan. Dia ingat mantelnya tergantung pada ranting belukar.guh. Bulu romanya merinding. Tapi mana ada orang elite keluar masuk hotel dengan sepatu berlumpur? Dalam masa perang gerilya. panggil pelayan hotel untuk membersihkan. Di hotel berbintang. Banyak pejabat dan pejuang menyimpan gundar sepatu di kantong atau di ranselnya. Bagaimana sepatu bisa mengkilap kalau tidak digundar setiap hari. lebih cepat dari langkah si kurus. menurut Si Dali. Hancur. setelah suara si kekar tidak terdengar lagi. tunggu. Dia berlari mengejar sambil memangil-manggil nama si kurus dan minta si kurus menunggu. Katakan apa yang kau mau. jangan kau ceritakan peristiwa ini kepada siapapun. Tidak siapapun terlihat. Daliiii.

setiap matamu tidak bisa tidur. Malah ada yang ambil dua. Mereka membawa gundar sepatu kemana pun mereka pergi. Bahkan tidak ada yang tidak heran. Pestolnya dilucuti. "Mencuri gundar sepatu lagi. "Buat apa gundar sepatu. kata mayor itu: "Jadi? Setiap malam. ya?" kata Mayor Segeh sambil memlototkan matanya. seorang sersan menodongkan pestol kepada seorang letnan itu merupakan pelanggaran berat. Peristiwa itu sampai ke telinga komandan batalyon. karena selama perang mayor itu sudah punya dua bini. Ya.pun menyangka yang mencuri seorang letnan. Bagaimana mungkin kita bisa menang perang kalau perwira sudah sampai mau mencuri milik anak buah sendiri. seorang perwira yang kemana-mana memakai sandal dari ban bekas mobil. dia mengaku sangat marah karena gundar sepatunya dicuri." jawab Letnan Tondeh. kalau sersan itu sampai kalap hingga menodongkan pestol karena hilangnya sebuah gundar sepatu saja. setelah peristiwa itu. Mayor Segeh yang komandan batalyon. "Tak lama setelah heboh gundar sepatu itu daerah kedudukan pasukan kami diserbu musuh. Begitu?" "Ya. Pangkatnya diturunkan jadi kopral. Mendengar laporan bahwa seorang letnan sampai mau mencuri gundar sepatu anak buahnya sendiri. setelah desas-desus yang sampai ke telinga Si Dali. Beruntunglah tak seorang pun yang . Apa benarlah pentingnya gundar sepatu." "Kenapa kamu tidak kawin saja?" "Teman-teman sudah ambil semua. Bagaimana macamnya republik ini bila perwiranya sekonyol kamu?" kata Mayor Segeh kepada Letnan Tondeh. Dalam pemeriksaan. Tidak masuk pada akalnya. Kemudian. Begitulah. sampai mau mencuri gundar sepatu anak buahnya sendiri. Bikin malu kamu. Menurut desas-desus. Mayor. "Jangan menyindir. Menurutnya. Itu merusak martabat perwira namanya. Si sersan ditangkap." kata letnan itu. Nyalinya pun copot. banyak gundar sepatu dipesan ke kota oleh orang-orang di daerah gerilya itu. memanggil Letnan Tondeh. toh. si Mayor tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya berderai. Tapi di daerah gerilya mana ada rumah tahanan provos. Kami sempat menyingkir ke hutan. "Gundar sepatu saya hilang. Lebih tidak ada yang menduga kalau letnan itu mencuri gundar sepatu sersan yang anak buahnya. Saya perlu gantinya. kamu tidak pakai sepatu?" Dan ketika komandan mendengar keterangan letnan itu arti gundar sepatu bagi diri sendiri. lalu Si Dali bercerita. Namun hukuman tetap dijatuhkan. setelah ujung ketawanya mereda. Benarbenar berat. kamu elus bulu gundar sepatu itu dengan ujung jarimu.

Meski presiden negara itu ditawan. menurut Pak Rasjid. Maruhum. bila ada wilayahnya. jabatannya itu penting. tidaklah akan diakui internasional sebagai negara. yang dimasa perang gerilya itu diangkat jadi Wedana Militer adalah salah seorang penghuni taratak. Paling-paling akan dianggap sebagai gerombolan saja. Pecah dan peot. Suatu bangsa yang cuma punya berdivisi-divisi tentera saja. Sesuai menurut hukum internasional. Seperti mereka merasa tahu apa yang dirisaukan Maruhum. Apalagi kalau bukan gundar sepatu. Maruhum risau oleh kehilangan benda yang paling disayangi. dan yang orang sipil berpencar-pencar. Menurutku. tugas Maruhum tidak jelas. disamping pondok-pondok dari ilalang yang bertebaran yang kami buat. Ujungnya aku congkel-congkelkan ke tanah sambil mencari bahan bicara. Yang bernama pangkalan kami terdiri hanya enam rumah kayu kecilkecil. Makanya aku anggap fungsinya tidak lebih penting dari gundar sepatu bagi prajurit yang terpisah dengan istri demi memelihara moril gerilyanya. Tapi bukan karena Maruhum yang risau oleh kehilangan benda yang sesungguhnya tidak akan memenangkan perang masa itu. Seluruh buah pohon itu. Itulah fungsi Wedana Militer. suatu negara baru sah keberadaannya. mesti ada organisasi dan stafnya. pada menggeleng kepala sambil melirikkan mata ke arah Maruhum. seorang camat." kata Maruhum dengan lesu setelah menarik nafas panjang dan kemudian melepaskannya. Dagu Maruhum bertopang pada kedua lututnya. dirontokan musuh yang menyerbu seperti badai. demi melihat aku tiba. Terkapar seperti petinju kena K. Setelah musuh kembali waktu sore. Kesanku juga begitu. Bungkuk merukuk-rukuk mencari dan memungut sisa benda milik mereka yang masih utuh atau yang masih bisa dipakai. tapi masih ada pimpinan pemerintahan seperti Sjafruddin Prawiranegara. Bung Wed?" tanyaku akhirnya dengan menyingkatkan sebutan Wedana sebagaimana lazimnya orang seusia masa itu. "Tidak apa-apa. dalam pikiran mereka. tanpa gundar sepatu pun orang bisa memenuhi kebutuhan biologisnya di hutan rimba sekalipun. Selain menghadiri rapat bila ada panggilan Gubernur Militer atau Bupati Militer. Di sekitar itu berpencar banyak teratak lagi. ada rakyatnya. betapun kuatnya. Semua orang yang berseragam hijau utuh atau bukan. Semua benda bertebaran di tanah. Setangkai ranting aku pungut. Gubernur Militer. yang menjadi tempat tumpangan para pimpinan gerilyawan militer atau sipil. Namun sekali waktu Maruhum berkata padaku.terbunuh. Penduduk menamakannya taratak. . aku kembali ke pangkalan dengan tertatih-tatih. Boleh jadi juga hatinya tengah melolong atau tersedu. Suatu pemerintahan yang sah. Akupun menggelengkan kepala. Termangu seperti orang yang kepalanya hampa." Aku mendekati Maruhum. Aku pun duduk bersandar ke pohon nangka itu. Waktu aku tiba dia duduk di bawah naungan pohon nangka. Semua orang. Menurutku. Melainkan karena aku ingat betapa pentingnya arti gundar sepatu oleh Sersan Bidai sehingga dia sampai berani menodongkan pestol pada Letnan Tondeh. ada pemerintahannya. Dalam pikiranku. yang muda sampai yang putik. "Ada apa. sebagai Wedana Militer.O. Taratak kami porak poranda.

adil dan sejahtera. Belanda berunding setelah mereka itu ditawan. Berunding dengan orang yang ditawan lebih gampang menekannya. Tak tahu aku apa tugasku. "Bila perang ini selesai. dengan perundingan atau bukan akan banyak persoalan timbul. Belanda tahu mereka tidak akan menang dalam perang ini. Dengan kemerdekaan itu bangsa ini akan membangun diri agar bisa menikmati hidup yang lebih baik. semua pangkat dan jabatan tinggi itu tidak akan sebanyak ini bertebaran. Lalu. Apakah rakyat yang sudah merasakan nikmat merdeka." kata Maruhum setelah lama dia terdiam. toh. Dia melanjutkan. tapi permusuhan akan terus berlangsung. Mereka tangkap Bung Karno dan Bung Hatta. Pak Rasjid. Taroklah dia sudah menguasai seluruh negeri ini. akan diam-diam saja dibawah penjajahan Belanda itu nanti? Tidak. Lebih rumit dari peperangan ini. yang aku serap dari pidato para pemimpin. Karena cobalah pikirkan. kan?" Maruhum berbicara dengan suaranya yang letih. Mengapa?" "Belanda ini bandel betul. Itu pikiranku. melainkan membawa salam dan senyuman. Gubernur jadi menteri."Ada yang hilang?" Pertanyaan itu tidak berjawab. "Bisa jadi. Kehilangan apa. pejuang yang sudah biasa bertempur. Tapi Maruhum berpendapat lain. "Umpamanya?" Mulut Maruhum terkatup. Bayang-bayang pohon nanka sudah tak kelihatan lagi. jika Belanda itu kembali ke sini tidak membawa bedil dan meriam. Sudah hampir sama gelapnya dengan senja yang kian larut. mereka hanya mau berunding dengan kedua pemimpin yang ditawan itu. Dagunya kembali diletakkan ke lututnya. Aku sendiri. Bagaimanapun besarnya pengorbanan kita sudah jadi bangsa yang merdeka. bukan? Ingat sejarah Diponegoro. "Menurut Gubernur Militer. Dia merasa kehilangan. Imam Bonjol. Lama juga saat berlalu. tentera pelajar ke sekolah tinggi dengan cuma-cuma. Perang mungkin sudah selesai. Politisi jadi anggota perlemen. yang padahal pangkatnya sudah setinggi itu? Wedana. yang Wedana ini akan bekerja di kantor. Demi menghindarkan kehilangan mukanya. Dia tidak sepatutnya bersikap skeptis. Menurutku. Serangan Belanda ini. Seperti tidak memerlukan tanggapan. Begitu. Pemimpin kita di bui." "Semua orang bicara begitu. Orang-orang mencari miliknya pada puing-puing rumah yang dirobohkan musuh itu. Paling- . dia termasuk yang beruntung karena adanya perang ini. Kita kalah. "Apa perang ini masih akan lama." katanya setelah lama kami sama-sama terdiam." kataku asal bicara. sudah tidak ada lagi. Bung?" akhirnya Maruhum bertanya. Aku kehilangan banyak. "Para prajurit naik pangkat. Aku kembali mencari-cari bahan pertanyaan lain. Tidak dengan Sjafruddin. tidak lain dari usaha mereka untuk memaksa kita ke meja perundingan.

. Otang. Tapi pengetahuan peternakannya itu tidak bisa dipraktikkan di kampungnya. Dalam masa perang ilmu tidak berguna. teman Si Dali. dia ceritakan fungsi gundar sepatu di daerah gerilya pada istri Maruhum. perempuan mana yang tidak sakit hati. Ketika kembali ke kampung karena ikut PRRI. hanyalah karena alasan khusus. tokoh idolanya. 17 Juni 1997 Inyik Lunak Si Tukang Canang Pada masa PRRI. Karena itu dia menetap saja di Jakarta. perempuan yang pedagang keluar masuk kota itu. perempuan pedagang yang keluar masuk kota itu aku titip surat untuk istriku. "Hah?" sergahku karena tidak tahu apa hubungannya. lalu berkesempatan melihat Amerika yang serba wah seperti yang diangankannya ketika nonton film-filmnya. Yang diperlukan. Karena semenjak sekolah di kampung sampai ke Amerika pun dia tidak belajar untuk bekerja. Dan selama di kampung dia tidak bekerja apapun. aku tanyai dia. Seperti banyak orang lain sebelum APRI menyerbu. Pada mulanya Otang keberatan. pulang kampung. Demikian pula Letnan Tondeh. karena solider pada Pak Natsir. Untuk pengganti aku kirim yang lain.paling Maruhum hanya akan jadi klerk sebagaimana yang diceritakannya kepadaku. Apalagi dengan gundar sepatu. Kata istriku dalam surat balasannya: "Gundar sepatu kamu sudah tiada. Namun segera saja dia setuju demi ketemu calon istri yang secantik bintang film Titien Sumarni. lalu tidak mau pulang lagi. Menunggu perobahan kondisi dan situasi yang akan dapat mengangkat martabat dirinya. ya akal. Dalam hatiku. Katanya. Memang tidak ada yang bisa dikerjakannya. Kalau Otang pulang kampung juga. bila diduai. Katanya. Otang menikah sebelum dia ke Amerika. Minimal akal-akalan. Bedanya hanya tanpa tahi lalat di bibir atas. Dan perempuan itu. juga oleh masalah modal. marah sekali sampai bercarut-carut. Bahkan lebih daripada solider itu. kalau tidak senjata. yang mengirimnya magang di peternakan Amerika di Florida selama setahun." katanya pula setelah lama kami sama-sama terdiam. Sebagaimana orang desa yang biasanya polos." Bung tahu apa yang dia kirim?" Tanpa menunggu jawabanku Maruhum berkata dengan suara yang parau: "Pasti dia punya gendak. katanya. Demikian Mayor Segeh. Otang seorang gembong. ialah karena perasaan malu pada diri sendiri bila tidak solider. Minta dikirimi gundar sepatu. Alasan orang tuanya di kampung. Kenapa? "Aku kehilangan gara-gara gundar sepatu. Kayutanam. "Kepada Si One. Lalu dikiriminya aku gundar kamar mandi usang dari ijuk yang kasar". Selain hambatan sosial budaya. Dari seorang berayah pemilik warung. Ketika aku ketemu Si One. Dia belajar untuk jadi orang tahu tentang berbagai ilmu. Namun Maruhum merasa kehilangan pada akhir perang kemerdekaan ini. dia sudah punya dua anak. betapa dia tidak akan solider. Juga bukan pegawai negeri. agar Otang tidak kecantol pada gadis di sana.

Yaitu bergotong-royong massal dan ronda malam di kecamatan. cuma karena rasa simpati saja. apa datuk. Setiap berpapasan dengan Inyik Lunak di jalan. apa haji. Talib namanya.Tibalah masanya kampung Otang diduduki APRI. Dan suara Inyik Lunak itu pun serak seperti selaput suaranya juga pecah. Gotong-royong hampir setiap hari itu sangat menjengkelkan Otang. Pada waktu penduduk diperintah gotong-rotong. Apalagi Atun. Mertuanya tidak memberi tahu. Sersan Mayor pangkatnya. apa petani. kini menjadi ranjau darat yang membelahbelah jantungnya. dia selalu melengos ke arah lain. meski tidak ikut perang. Melalui seruan Inyik Lunak dari ujung ke ujung kampung. Kalau lagi nongkrong di lepau Mak Mango di sudut pasar. Awal-awalnya Otang tidak tahu apa yang terjadi. Pembantu Ispektur Polisi Hartono meniduri kedua anak gadis Sudira. Atun dicaci-maki karena tidak melawan perkosaan itu. Apa orang tua. Pada mulanya memang begitu. Berpacu bunyi pacul pada batu untuk mengeluarkan rumput. melainkan karena istrinya cantik. . Bagi Otang sekali mengayunkan pacul. sambil memalu canang yang berbunyi cer cer cer. tidak dapat dijadikan alasan istirahat dari bergotong-royong. Bukan karena kehilangan waktu untuk bekerja. Wajah keruh kedua perempuan itu setiap Otang pulang dari bergotong-royong tidaklah difahami Otang. Otang mencak-mencak. Namun perintah gotong-royong datang hampir saban hari. Buter Talib mampir ke rumah Atun. Tapi ketika Inyik Lunah si tukang canang membisikkan agar Atun diantar ke kota. apalagi orang semacam Otang. Maka tiba pulalah masanya Otang harus bekerja memegang pacul. Camat Basri yang orang kampung itu sendiri pun sama dengan yang lain dan yang lainnya lagi. Sengsara jugalah jadinya Otang. melepuhlah telapak tangannya. Bedegab. Malah Buter Talib konon pernah menginap ketika giliran Otang ronda malam. "Mau apa kita? Bilang apa kita?" itulah kata-kata yang keluar dari mulut penduduk negeri yang ditaklukan itu. Jika berteriak. Akhirnya. apa guru. apa yang dilakukan Buter Talib ketika semua laki-laki bergotong-royong. kronimnya Buter. Sipir Penjara. lalu Inyik Lunak datang. Sebaliknya jika Inyik Lunak sudah lebih dulu nongkrong. Bahkan Otang kian mual pada Inyik Lunak setelah tahu. Karena pada paro bahagian canang itu sudah pecah. Atun yang semula jadi istri dibanggakan. Bersama salah seorang kopralnya dia masuk kampung keluar kampung menzinai istri-istri orang-orang PRRI yang terus bertahan di pedalaman. Telapak tangan melepuh. juga merasa sengaja dihina sebagai orang taklukan. dia harus membayar mahal seperti orang taklukan yang lain. Juga semua orang. Sengsara bukan karena bersimpati kepada PRRI. kata penduduk. lama-lama berakibat pada ketidak-sukaan Otang pada Inyik Lunak. Suaranya bariton. Di kala gotong-royong semua lakki-laki berbaur. dia buru-buru pergi. kecutlah semua orang. Kopral Jono juga berbuat yang sama. Orangnya berbobot besar. Lama-lama Buter Talib jarang mengawasi gotong-royong. Sehingga setiap mendengar bunyi cer cer cer dari canang yang dipukul dan diiringi suara pecah Inyik Lunak. Dia pun mengomeli ibu mertuanya yang bersekongkol. dia batal masuk lepau itu. dia mulai membauni kasus yang sebenarnya. Yang jadi komandan APRI di kecamatan itu berjabatan Bintara Urusan Teritorial. Oleh APRI disebut dibebaskan.

. Dia marah pada Buter Talib. Setumpuk sesal menghimpit dirinya. bahwa dia bukan laki-laki yang jantan. supaya Si Talib yang berkuasa itu kau hajar?" kata ibu mertuanya setelah gelegak darah Otang mulai mereda." "Itu dunia tentera. Maka ketika Bupati Kasdut. adalah salah perhitungan yang paling disesalinya. tiga bulan saja PRRI sudah habis. walaupun bertahun-tahun di hutan rimba.. Otang minta ikut. Otang tidak terhibur. Tapi karena tentera bersikap ganas. Otang menemuinya. "Dengan bangsa sendiri mesti berlaku ganas?" "Itu kebijaksanaan komando agar rakyat di daerah mana pun tidak lagi berkhayal untuk berontak. Tapi nyalinya hilang demi melihat semua orang berbaju hijau. Dan semenjak itu seisi kampung tidak ada yang tahu kemana dan dimana Otang." kata Bupati Kasdut yang kapten itu. atau sebagai aku sendiri ketika bencana itu tiba. perang akan lama. Menyesal dia tidak ikut memanggul senjata melawan APRI. lari ke pangkalnya." kata Kapten Kasdut yang Bupati itu.. datang inspeksi ke kecamatan.. Otang lalu ingat slogan masa itu: "Jika takut pada bedil. cobalah kau tempatkan dirimu sebagai si Atun. Dia sadar. Kedua karena Atun begitu cantiknya. Tentera orang awak pun sama ganasnya ketika melakukan operasi militer ke daerah lain. Apa mungkin kami melawan? Apa mestinya kami mengadu padamu. Marah sekali. Karena dia tidak pernah belajar jadi jantan. Risiko buruk bagi yang kalah perang. sejak dari sekolah sampai ke Florida sana. Juga benci dan jijik."Otang." Tak ada gunanya melawan orang yang sedang menang perang." "Menegakkan kebijaksanaan dengan cara yang ganas itu apa APRI dapat menjadi pahlawan yang dicintai rakyat?" "Sampai saat ini kebijaksanaan komando tidak akan berobah. teman sekolahnya dulu yang kapten pangkat militernya. Diceritakannya perilaku tentera pada penduduk. Karena PRRI tidak akan menyerah kepada musuhnya yang ganas. Kalau dia jadi tentera PRRI. Pertama dia pulang kampung karena alasan solider pada Pak Natsir.. merampok. Dia hanya mendengar dan menerima apa kata guru dan kata buku. seperti Buter Talib lebih-lebih. "Kalaucara APRI datang membebaskan daerah ini menjunjung rasa kemanusiaan berbangsa. Dan ketika Bupati Kasdut kembali ke kota kabupaten. Otang. Dua hal yang tidak mampu dia sesali. Tapi membawa isteri dan anaknya pulang kampung karena yakin PRRI akan menang perangnya. pasti dia akan menembak APRI semacam Buter Talib itu. *** . memperkosa istri-istri orang.

"Dia sudah jadi penghulu sekarang. Otang mengerjakan apa saja yang bisa dilakukannya di rumah itu. Koran atau majalah dihindarinya. Sudah jauh beda gaya Otang. karena buku-buku itu tidak bicara tentang konflik yang melukai. Lunak. Ada rasa mual mau muntah dalam perutnya. Dia pun tidak. Dugaan Si Dali jadi miring. Terutama oleh orangorang tua yang telah kehilangan kesibukan. Tidak lazim menurut adat. karena mau menghindar dari luka lama masa perang PRRI. Karena dia tidak suka membebankan pikirannya. yang nampak oleh matanya tidak lain dari orang-orang seperti Buter Talib yang menggandeng Atun. Apa dia masih dendam setelah Buter Talib dan teman-temannya membayar dosa-dosanya setelah pemberontakan komunis dikalahkan? "Dia sudah dua kali ke Mekkah. keluar dari daerah peperangan. Urusan kaum itulah itu.Dua puluh lima tahun kemudian. Kata orang. Putih warnanya. membenahi kerusakan kecil. "Kalau aku. Katanya lagi seolah-olah tidak begitu penting: "Ibu mertuaku membawanya jadi muhrim." lanjutnya kemudian. Tapi itu cerita lama. Kalau tidak membaca. Si Dali panasaran kenapa Otang lebih suka berbaur dengan nenek itu daripada dengan sahabat lama yang dua puluh lima tahun tidak ketemu. Luka karena Buter Talib meniduri Atun. yang memerlukan sahabat dan kenalan tempat berkisah menghabiskan waktu. Membersih-bersih. Gelar yang pantas bagi seorang kolonel yang pernah jadi Bupati. Akhirnya dia mengurung diri di rumah iparnya tempat dia menumpang. Si Dali ketemu Otang di Jakarta. Di kepalanya bertengger kopiah beluderu hitam yang apik letaknya. bukan?" Sejak berangkat dari kampung. Dari siapa lagi. Si Dali tidak lupa padanya. Meski oleh kerabat Atun. Akhirnya dia keluar juga dari persembunyiannya karena harus ikut menghadiri pemakaman seorang kemenakannya. aku dapat gelar yang sah menurut adat. Mungkin dia tidak suka ketemu Si Dali. Kalau pun dia keluar rumah. yang semuanya adalah dunsanak atau orang kampung seasal. Dia diterima dengan tangan dan hati terbuka. Datuk Rajo Di Koto nama gelarnya. Dia di ruang belakang dengan ibu mertua Kasdut yang berusia hampir delapan puluh tahun. menurut Nawar. Terlihat alim. Untuk membunuh sepi dia membaca buku-buku agama." kata Kasdut selagi Si Dali merenung. Sekali keluar dari isolasi. Dia memelihara jenggot. Isi buku itu pun tidak untuk direnungkan. Otang dapat mengisi tuntutan kebutuhan . Datuk Raja Kuasa gelarnya. gelar itu disebut gadang menyimpang. Nyatanya kota itu lebih menaburkan racun masa lalunya. Dipilih dan ditabalkan oleh kaumnya yang merantau di sini. Tenang. Di rumah Kasdut yang sudah pensiun dengan pangkat kolonel. Otang ke Jakarta membawa segala luka dan perih di hati. Hampir setiap hari dia berkunjung dari satu rumah ke rumah lain. Kemudian menyerahkan Atun kepada Buter pengganti dan penggantinya lagi. Terutama melihat orang-orang berbaju hijau seragam yang menggandeng perempuan. Model Haji Agus Salim." kata Kasdut yang ketika sebelum pensiun telah ditabalkan pula jadi Datuk oleh kaumnya di kampung. Kota itu diharapkannya mampu melupakan masa lalu. hampir berterusan dia jarang di rumah di siang hari. Duitnya tentu saja dari aku. Gaya bicaranya lembut. tidak lebih jauh dari pagar halaman. Disepakati oleh seluruh kaum di kampung dan dirantau lebih dulu. Tapi dia tidak bergabung dengan Si Dali di ruang tengah.

Tentu saja dia disambut dengan rasa cemas dan sedikit omelan manja. Berita itu dia pungut dari orang-orang yang ditandanginya. Lalu ketika akan pergi diselipkan selembar uang ke sakunya diiringi ucapan: "Sekedar sewa oplet. Kadang-kadang dia katakan betapa sulitnya dia dapat bus atau oplet. Misalnya kisah Nabi Musa masa kecil yang dihanyutkan ibunya di Sungai Nil. Otang tidak perlu memberi belanja pada istrinya. Pekerjaan yang menghasilkan uang. Menurutnya berkunjung ke rumah-rumah orang itu bukan suatu profesi yang bersifat komersial seperti dokter. Namun istrinya lagi yang memberi gagasan. Laki-laki lebih menyukai berita situasi di kampung atau reputasi orang-orang sekampung mereka. Kemudian ada seorang dokter tua yang tidak lagi praktek karena usia. baik hari maupun jamnya. Engku. Alasannya Otang sederhana saja. Dokter itu berkata: "Engku Otang. Mereka bingung karena Otang tidak lagi datang. Pagi dia sudah keluar rumah. Dia pun tahu berita yang disukai oleh masing-masing mereka dan masing-masing golongan. . "Percuma saja Uda belajar di Amerika dulu. menjelang malam baru dia pulang. Lama-lama Otang mendapat jodoh juga. Pada perempuan tua yang suka bicara agama. Yakni oleh karena ada kesibukan baru. Otang tidak mencari berita-berita itu. Namun dia mengangguk juga. lalu terdampar dekat istana Firaun. Perempuan-perempuan menyukai berita sekitar perjodohan dan kematian orang-orang seasal di kampung maupun dirantau. Berdagang? Dagang apa? Apa dia bisa? Modalnya mana? Otang bingung. Paham?" Sebenarnya Otang tidak paham. Bagaimanapun suatu rumahtangga memerlukan biaya. Lamalama Otang seperti sosok yang dirindukan. Mestinya dia dibayar pada setiap kunjungan ke rumah-rumah itu. Sama dengan kerinduan orang pada loper koran. sejak itu Otang mendapat biaya taksi. Otang tahu sekali kisah yang mereka sukai. Maklum dia sudah beristri dan bertanggung-jawab kepada rumahtangganya. apa yang Engku lakukan. Biasanya dia memanggil Otang menurut gaya lama: Engku Otang. Nah. Yang pegawai suka pada berita kenaikan pangkat orang-orang dikenal mereka. Meski menurut kata mertuanya ketika melamarnya. Lama kemudian baru dia paham setelah berdiskusi dengan istrinya. Jangan hanya dikasi makan atau minum setiap berkunjung. Lama-lama dia tahu betul apa yang diperlukan mereka. Namun Otang adalah seorang laki-laki yang ingin istrinya berarti. sebetulnya sama dengan yang aku lakukan sebagai dokter mengunjungi pasyen. Semua orang-orang tua yang dikunjunginya secara rutin itu pun bingung. Pekerjaan apa yang dapat dilakukannya dalam umur yang sudah separo baya itu? Bekerja di kantor? Kantor apa yang mau menerimanya. Waktunya sehari-hari lebih banyak habis mencari kemungkinan mendapat pekerjaan yang sesuai dan pantas. Atau kisah Zulaika yang tergila-gila pada Nabi Yusuf." Sejak itu kunjungan-kunjungan rutin ke rumah-rumah mereka itu dia kacaukan jadwalnya." Tapi bagaimana caranya minta bayaran kepada kenalan dan orang-orang sekampungnya itu? Rikuh rasanya. Seorang janda dari salah satu keluarga yang secara rutin dia kunjungi. "Kenapa tidak pakai taksi saja. Lama-lama jadilah Otang sebagai sumber berita otentik.orang-orang seperti itu. Padahal dia tetap memakai kenderaan umum." kata mereka pada umumnya. Karena itu dia perlu sumber nafkah. Terpandang tinggi melampau Atun yang secantik bintang film itu.

Pada hari seperti menjelang Idul Fitri atau setiap pedagang atau pengusaha selesai tutup buku tahunan. Otang membuka matanya ketika Si Dali memanggil namanya dekat ke telinganya. Karena ingin tahu. "Tak obahnya seperti Inyik Lunak di kampung kita. Sekali dua bulan untuk golongan lain. Taklah lupa pula dia membacakan sebagian isinya. Hampir sebanyak ONH Plus. kata dokter. kian dekat kita kepada redha-Nya." "Tapi Inyik Lunak dengan canangnya cuma menyampaikan berita buruk saja. Tak obahnya seperti seorang dai yang handal. Semua orang memberinya uang. Suara pelan pelayat yang duduk di sice terdengar nyata ke telinga Si Dali. Trenyuh juga hati Si Dali. Dan semua dengan iringan basa-basi: "Sekedar pembeli korma. rata-rata yang dapat dikunjunginya tiga empat rumah dalam sehari." kata yang seorang. Ada Latinnya. "Engku Datuk ini manusia langka. banyak karangan bunga pada berjajar di gang arah kamar Otang dirawat. Oleh karena perantau seasal kampungnya banyak di Jakarta. Waktu Si Dali melayat.Atau kisah kesetiaan Khadijah pada Nabi Muhammad dan sebaliknya. Oleh orang-orang kaya seperti itulah Otang sampai bisa dua kali ke Mekkah. Seperti banyak yang akan dikatakannya. Bahkan yen. Tentu saja ada rupiah." ulas yang lainnya lagi. Sampai Otang memicingkan mata seperti mau tidur. staf ahli menteri dan juga nama Kasdut. yang dibelinya di kaki lima simpang Kramat. Ada real. Otang kecipratan rezeki yang bernama zakat banyak. Mungkin juga ke telinga Otang. Kartu nama pada karangan bunga di gang itu pun dia baca. Berulang-ulang membacanya. Ada dollar. Tujuh hari dalam seminggu. *** Otang jatuh sakit. pejabat tinggi. Adakalanya dibawanya buku agama untuk perempuan-perempuan itu. Ada tulisan Arabnya. Ada nama profesor yang top. Di rumah sakit dia dirawat di bangsal. Otang tak lupa mengkajinya dengan menyitir Al-Quran atau Hadist Nabi. Lama dia menatap Si Dali dengan pandangan yang sayu. Pada setiapnya ada kartu nama. "Buku ini bagus. banyak kenalannya yang menjamin biayanya. Di kamarnya yang luas pun puluhan keranjang hias buah-buahan. di samping memberi biaya taksi. Namun dia tidak menampakkan betapa perasaannya. Tentu saja ketika akan pulang. Dia coba tetap tersenyum untuk meyakinkan Otang bahwa sakitnya tidak gawat. Uni. Pembawa berita suka dan duka keliling kampung sambil memukul canang yang khas bunyinya karena telah pecah sebagian. "Beliau seperti perangkat komunikaai hidup. Sekali dia pergi bersama istrinya." Lumayan banyak. pengusaha klas kakap. Lama juga Si Dali meremas lembut lengan Otang yang tidak dipasangi alat infus. Takkan ada penggantinya kalau beliau tak kunjung sembuh. Masingmasing dikunjunginya sekali sebulan untuk orang-orang kaya atau pejabat. . perempuan-perempuan itu mengganti dengan berlipat ganda harganya. Setelah semalam dia dipindahkan ke ruang VIP Karena ada ." kata Otang. Kena stroke dan komplikasi lainnya." kata yang lainnya lagi. Si Dali membacai kartu nama itu. Kalau ada kasus yang aktual.

Pikirannya tertumpah pada kondisi Otang yang tibatiba gawat. "Panggil dokter. Semua pelayat disuruh keluar. namun dia mengerti kalau seluruh penduduk mengelu-elukan Jepang. Ketika ukuran dan nilai kekhianatan tidak lagi jelas. gamang juga dia menghadapi pemerintahan militer yang fasis itu. Pikirannya menjalan kemana-mana dalam mencari sebab-sebab Otang yang secara tiba-tiba gawat itu. Demikian juga kaki Otang seperti hendak menerjang-nerjang. yang memerintah secara totaliter. Namun perasaan Marah Ahmad tercabik-cabik ketika menghadapi peristiwa yang terjadi pada awal kedatangan tentera Jepang itu. 5 Desember 1997 Marah Yang Marasai Karena berdarah turunan bangsawan asal Padang. Kalau dimestikan bekerja terus. bisa mengalahkan militer Belanda yang perwiranya pada mentereng. Memandang dengan rasa cemas. Ketika tahu Belanda akan kalah perangnya melawan Jepang. Bahkan hampir tidak percaya. kerisauan hati menimpanya. yang menyamakannya dengan Inyik Lunak di tukang canang dengan canangnya yang pecah? Si Dali yakin menyebut nama Inyik Lunak dekat Otang. Dia teringat ucapan Chatib Jarin: "Jepang yang seperti monyet ini. baik karena pendidikan dan pergaulan. yang dipandang sebagai sang pembebas . Ketika istri dan mertuanya sama mengkhianatinya. Maka nama lengkapnya menjadi Marah Ahmad. Kalau tidak. Bingung karena tidak tahu mau melakukan apa. apakah dia akan diterima terus bekerja oleh Jepang itu atau tidak. Mereka menanti di ruang tunggu khusus pelayat dengan perasaan masing-masing. Pada mulanya dia heran. Tak lama kemudian dokter tiba. Dia tidak tahu. membangkitkan luka masa lalunya. Dari bacaan dia tahu kerajaan Jepang dikuasai oleh militer yang fasis. tidak. Masa lalu ketika perang berkancah di kampung halamannya. Risau yang berat." kata Si Dali seperti berteriak. setelah menikah dia mendapat gelar warisan seperti ayahnya juga. Marah. kekuasaannya tidak tersentuh. Tapi mengapa Belanda bisa sampai ratusan tahun menjajah kita?" Meski dia berduka oleh kehilangan atasannya yang Belanda. Apa Otang merasa tersinggung karena mendengar katakata salah seorang pelayat. dia menjadi golongan angku-angku yang dihormati. Baik karena darah turunan. Maka mentalnya Marah Ahmad tidak siap menghadapi perobahan yang akan terjadi. Itu malah lebih baik. kok bisa mengalahkan Belanda tanpa perang. tak apalah. yah. bahwa tentera yang pendek-pendek dengan baju berwarna oker seperti warna tanah yang kelihatan kumal dan tidak rapi pula. Artinya. Artinya. Sebagai pegawai negeri yang telah bertahun-tahun mengabdi kepada sistem hukum berdasar undang-undang yang berlaku.Tiba-tiba Si Dali merasakan getaran kuat pada lengan Otang yang dipegangnya. apakah dia mampu? Dia yakin. halal bagi mereka berbuat apa saja terhadap rakyat. Ketika negara memandangnya sebagai pengkhianat bangsa. Dan semua orang serta merta berdiri di sekiling ranjang Otang. maupun karena pangkatnya sebagai pegawai pribumi yang tinggi di Balai Kota. apalagi menyamakan dirinya. Kayutanam. hukum negara tidak berlaku terhadap mereka. Artinya. Si Dali duduk pada kursi fiber.

diperlakukan rakyat sebagai tamu asing biasa saja. Militer Jepang betul-betul tidak diperlukan. Ada yang memikul segulung kain." kata Marah Ahmad dengan suara yang menggema ke seluruh ruang kantornya. Hubungan dia dengan Belanda hanya di kantor. maupun malam. Kok jadi begini bangsa kita? Mana agamanya yang mulia? Mana adatnya yang tinggi." katanya kepada salah seorang pegawai yang berada di dekatnya. Engku. Ada yang memboyong peralatan makan atau dapur atau rumah tangga.yang menjanjikan kehidupan baru. Tapi setelah dua minggu dalam keadaan aman. Yang lewat dari arah kanan menggotong macammacam barang. alasan murahan. Mungkin karena rakyat tidak pernah merasa bersahabat dengan Belanda yang penguasa itu. Penduduk desa dari tepi kota pun datang. Ada yang memikul beberapa ban speda atau suku cadangnya. Kok tiba-tiba ada perampokan? Kemana Komite Keamanan Rakyat? Kenapa bangsa ini tiba-tiba jadi biadab?" "Apa salah Cina itu? Oo. hingar-bingar terjadi di Kampung Cina. Ada jarak yang terentang lebar pada mereka. "Biadab. Bahkan Marah Ahmad sendiri pun merasa ada jarak antara dia yang pegawai dengan Belanda yang meski begok sekalipun. karena Jepang berperang dengan mereka? Apa hubungannya?" omelannya kepada Chatib Jarin ketika mereka ketemu pula. "Karena Cina itu kafir. Baik siang. Anak-anak kecil saja yang suka berteriak "Banzai Nippon" bila mereka berpapasan." "Kafir disana. kita mampu mengurus negeri kita sendiri tanpa mereka. Itu dapat dilihat Marah Ahmad dari jendela kantornya. Dan kata pemimpin itu kepada penduduk: "Kasi lihat pada Jepang itu. "Di zaman Nabi Muhammad. Serdadu dan perwira Jepang yang ketemu di jalan. Panglima militer sang pembebas itu minta kepada pemimpin masyarakat agar menjaga ketertiban dan keamanan kota dan desa. sama-sama Arab dengan muslim. *** Hari berikutnya." sungut Marah Ahmad. umatnya berbaik-baik dengan orang kafir. Chatib. Akan tetapi ketika dia tahu bahwa rakyat yang merampoki toko-toko Cina. dia pikir bahwa perang Cina lawan Jepang di Tiongkok telah menular ke kota Padang. lebih banyak toko Cina yang dijarahi. pada menoleh kepadanya." Maka situasi memang aman. Ketika berita itu sampai ke telinga Marah Ahamd." "Ah. Orang yang lewat dari arah kiri bertangan kosong. di luar itu jembatan penghubungnya putus." kata Chatib Jarin. Engku. Kimin. Tidak sama dengan kita. . Anak-anak pun ikut merampoki barang-barang yang barangkali mereka tidak tahu gunanya. Marah Ahmad bercarut-marut: "Kemarinkemarin aman. "Hai. Disini Cina. Sehingga para pegawai yang ikut ramai-ramai di pintu kantor menyaksikan orang-orang yang habis merampok. Biadab semua.

Mengenakan sepatu lars yang hampir sampai ke lutut. yang wajahnya hampirhampir dikenalnya. bahwa Kempetai tibatiba datang. Marah Ahmad mendapat cerita." "Kamu licik. Pada lengan kanannya pakai ban kain berhuruf F. Mulai hari ini militer yang memerintah. Terhenti. Dari seorang pegawai yang baru datang dari luar kantor." Marah Ahmad memaki dalam hatinya sehingga seluruh tubuhnya gementar karena menahan marah. Tapi mengapa? Pertanyaan itu berulang-ulang dalam pikirannya. lewat tengah hari."Ndak tahulah. Bangsa Indonesia tidak bisa mengurus negerinya sendiri. Rangkaian katakatanya menurut pemahaman Marah Ahmad. Itu faktanya. Lalu membuang-buang barang ke luar. Nippon-Indonesia sama-sama. Diiringi seorang ajudan. Lalu. Amaaan. dari arah jalan raya terdengar hiruk-pikuk. Dimana-mana ada kekacauan. ada bangsa kita yang jadi kaki-tangan Jepang. Engku. pun ikut. karena tidak tahu cara menyambut yang pantas. Perwira ini jadi Walikota. Jepang itu minta agar penduduk menjaga keamanan. Sambil menatap loteng dia berpikir. Meski Marah Ahmad mengerti. Kemudian orang itu pergi ke jalan lain. bahwa mulai hari itu kaum militer . Duduk terperengah. Seorang Indonesia yang mengenakan jas dan dasi. Sederetan toko Cina di jalan itu dirampoki. Lalu dia masuk ke kamar kerjanya. Marah Ahamd berhenti berpikir. Perlahan-lahan muncul gambaran situasi dalam pikirannya. Diiringi dua orang serdadu. dia suruh rakyat menjarah. Tapi negeri ini tidak aman. Setelah itu dia sandarkan kepalanya ke sandaran kursi." kata Kimin. Tapi tidak satupun alasan perampokan itu yang dapat diterima akalnya. Pemerintah macam apa ini? Pemerintah bajak laut?" kata Marah Ahmad dengan emosi yang meluap-luap. Toko Cina di sana disuruh rampok juga. Orang Indonesia berdasi itu yang menerjemahkannya. Serdadu itu melihat saja. Lama juga dia begitu. Dengan lunglai Marah Ahmad kembali ke kursinya. Dia yang mendobrak pintu toko. dan berpikir keras. Engku. Kemudian Marah Ahmad melihat selebaran terpasang di dinding ruang depan kantornya. Kemudian dilanjutkannya: "Kata orang. Marah Ahmad menyongsong tamunya dengan gayanya yang kikuk. Engku. Mulanya. "Kemarin-kemarin mereka minta orang menjaga keamanan. Engku. Kemudian. namun dia tidak faham pada maksud sesungguhnya dari perwira itu. yang berpakaian hampir sama rapinya. dengan kerah putih yang menyumbul keluar tengkuk jasnya." "Mereka juga merampok?" "Kata orang. Lalu mereka suruh rakyat menjarah. Isinya maklumat menyatakan. ialah: "Nippon-Indonesia sama-sama. Meski lesu dia ikut ke pintu. "Ada apa?" tanyanya. Jepang itu yang mulai." kata pegawai itu. Dan pedang samurai tergantung pada pinggang kiri. Lalu perwira itu bicara dalam bahasanya dengan gaya yang terputus-putus. Tiba-tiba. hari berikutnya mereka menembaki penjarah. ketika seorang perwira Jepang yang berpakaian rapi. Pegawai Balai Kota itu serentak berlompatan ke arah pintu. Tapi kini mereka suruh orang mengacau. Lalu menembak dua orang perampok. Duduk lunglai di kursi.

dia hanya menekurkan kepalanya saja. ** Polisi Militer Jepang. Meski Marah Ahmad tidak mengerti bahasa Jepang sepotongpun. digampar tentera kepalanya. Jepang itu berteriak-teriak. Melainkan cara yang gampang untuk memancing sentimen rakyat. Lalu dia membungkuk. Kayutanam 24 Juni 1998 . mereka buat provokasi supaya situasi kacau. Persis saat itulah sisa hatinya habis. Besoknya dia tidak mau masuk kantor lagi. Baru saja dia lewat ambang pintu. Menurut cerita anak tertua Marah Ahmad kepada Si Dali bertahun-tahun kemudian. ketika seluruh pegawai dikumpulkan di lapangan Balai Kota untuk mengikuti upacara menaikkan bendera Hinomaru. selebaran itu bertebaran pada tembok-tembok pagar rumah penduduk. Tapi pada hampir seluruh tubuhnya ada bekas memar. Hari pertama Marah Ahmad masuk kantor. Lalu ketika Walikota yang tentera itu memanggilnya menghadap. Militer ingin menguasai dan berkuasa atas semua yang ada di bumi ini. namun dia tahu dia dimaki-maki. sepuluh hari setelah tidak masuk kantor. Waktu di jalan pulang.mengambil alih pimpinan pemerintah. Kini Marah Ahmad baru tahu sandiwara model militer itu. hatinya yang setengah itu tidak bersisa lagi. Nipppn-Indonesia sama-sama. Fujiwara. karena perbedaan suku dan perbedaan agama. Marah Amad tahu. agar penduduk tetap terpecah-belah karena perbedaan ras. Tapi mengapa kekacauan itu diarahkan kepada Cina? Berhari-hari kemudian dia baru sadar. Soalnya. dia dibebaskan oleh usaha sepupunya yang beristeri Jepang. Rakyat toh tidak berani melawan militer yang bersenjata. Dan ibu jari kakinya dibalut perban. Mereka tidak suka negeri ini diurus oleh rakyat menurut cara rakyat. karena kukunya dicabut Kempetai waktu disiksa dalam tahanan. Satu-satunya kalimat yang diucapkannya bebarapa hari setelah di rumah. seorang pegawai tua yang buntal tubuhnya. Sentimen yang ditumbuhkan dan dipelihara oleh pemerintahan kolonial selama ini. Maka hati Marah Ahmad tinggal seperempat. Kemudian dia disuruh keluar." --------------------------------Catatan: * Inisial F berasal dari nama Kepala Intel Militer Jepang. ialah: "Nippon-Indonesia samasama. Dia hanya mengangguk saja seperti yang biasa dilakukannya bila menghadap Walikota yang Belanda. Kekacauan itu dijadikan dalih untuk mengambil kekuasaan ke dalam tangan-nya. Bukan karena perseteruan kedua bangsa itu di Tiongkok. Seluruh kantor dan toko supaya dibuka seperti biasa. bahwa dia disuruh membungkuk. Limabelas hari setelah ditahan. Karena waktu membungkuk ke arah bendera itu. Oleh karena negeri bisa aman oleh rakyat sendiri. Rakyat dilarang mengibarkan bendera Merah Putih. ayahnya dijempur Kempetai. Ketika dia pulang. dia tidak membungkuk. Kalau mereka mau berkuasa mengapa harus dengan taktik dan cara yang kotor itu. dia dipanggil lagi. mengapa toko-toko Cina dijadikan sasaran penjarahan. Marah Ahmad tidak bisa menerima taktik dan cara militer demikian. dia datang dengan setengah hati.

Dia senang mendapat suami yang tidak suka keluyuran. ada juga yang sampai mengambil istri muda. Tapi kini dia mengalai lena pada kursi rotannya. Laki-laki itu banyak main gila dengan perempuan lain di kala istrinya sedang mengandung. beberapa tahun yang lalu.” kata hatinya pula. “Dia dulu peramah.Menanti Kelahiran Pada bulan Maret itu malam lambat datangnya. sebagaimana biasa dilakukannya bila sore indah. Dia sendiri jadi terkejut oleh suaranya yang ketus.” Dilayangkan matanya kepada laki-laki itu. bila aku kau ajak lagi?" tanyanya tiba-tiba tak terencana. Sinar matahari sore melantuni bayangan hitam panjang-panjang arah ke timur. "Ris. Duduknya. duniannya adalah rumahnya. Dia ambil pisau cukur. melainkan tetap menatap bulat ke daun palem yang bergoyang-goyang . “Tentu saja. "Kenapa begitu. selalu taj sedap dalam pandangannya. aku bersedia juga masuk penjara. "Apa ia sudah bosan padaku? Dan cintanya beralih ke koran?" pikirnya lagi. ya?" tanyanya dalam hati.” reaksinya sendiri. Seorang perempuan muda terlindung oleh palem di pot dari sinar yang cerah itu. Apa saja yang dilakukan suaminya. Tapi laki-laki ini berkeluyuran dengan bacaannya sendiri.” komentarnya dalam hatinya. Padahal sebelum mereka kawin. Matanya tidak memandang pada suaminya. “Memang hukuman yang pantas bagi laki-laki hidung belang. Tapi semenjak mereka kawin. masih juga dia tidak mengerti: kenapa di saat-saat akhir ini dia menjadi begitu benci kepada suaminya itu. Sekarang dia terlalu banyak diam. Dulu laki-laki itu jarang berada di rumah. Tapi bibinya sendiri dihukum juga dalam penjara selama setahun. Menyesal dia telah mengangankan niat yang sampai sekian jauhnya. Dia merasa perasaannya begitu aneh. “Kalau suamiku ini main gila pula nanti. Dicobanya menjinakkan lamunannya dengan pikiran yang baik-baik tentang suaminya. "Tahu ia apa yang kuingat sekarang." Lalu dia ingat pada beberapa kejadian di sekitarnya. Dari tadi dia duduk-duduk bersama suaminya di teras. seperti yang ia dengar dari kawan-kawannya. Belum lagi buku-buku. Kemudian dia ingat lagi.” Tapi cepat-cepat dia terkejut oleh pikirannya itu. Mereka sama membisu oleh keasyikan masing-masing. Tadinya dia menjahit. dia merasa gila kalau tidak berjumpa dengan laki-laki itu sekali sehari. Di antara laki-laki yang main gila itu. Memang demikianlah laki-laki yang diangankannya. betapa bibinya melepaskan sakit hati karena dimadu diam-diam." pikir perempuan itu. "Selamanya ia dengan bacaannya. “Hiii. Sebetulnya ia tak sadar akan pertanyaan yang diucapkannya. tekunnya masuh juga seperti tadi dengan korannya. Sedang suaminya membaca koran. dipotongnya kemaluan suaminya yang sedang tidur. Mengapa ia tak menanyakan apa yang kujahit? Memangnya laki-laki selamanya tidak peduli pada istrinya yang dalam keadaan seperti aku ini. Tapi ada sesuatu yang tidak dipahaminy. Entah berapa koran dan majalah dilangganinya. Tapi ditunggunya juga apa kata laki-laki itu.

Dan matanya tercengang melihat istrinya. "Setiap hari aku bersihkan. Membaca korannya. Dongkol benar dia jadinya. kini dia ada lagi di sini. Dan kini napasnya kian kencang dirasakannya." kata perempuan itu sambil menegakkan duduknya dan memandang suaminya dengan mata yang menantang. Dia ingin reaksi keras suaminya. sedang matanya tidak beralih dari koran di tangannya. "Bagaimana kita bisa pergi. Aku jawab begini." Laki-laki itu meletakkan koran di pangkuannya. "Ke mana? Ke mana." serunya. . "Sudah bosan kau padaku. Dia lirik laki-laki itu. ada juga kau memikirkannya? Ada juga kau ingat padanya. Pasti." Dan dia ingat lagi kepada suaininya.segan diembus angin sore itu. Antarkan saja aku pulang ke rumah orang tuaku. tanyamu? Kalau itu yang kautanyakan. Kau selamanya memakai alasan itu-itu saja. Ingatlah akan anak kita yang dalam kandunganmu itu. Kau sudah bosan." balasnya. Kau selamanya tidak peduli. Ke mana kau mau pergi." "Anak kita? Oooo. katamu? Kalau dulu. "Tak baik marah-marah. Tapi ada kau pernah menanyakan apa-apa yang diperlukan buat menyambut kedatangannya? Tidak. "Alaah kau. Kenapa? Karena kau sudah bosan padaku. kaulah yang selalu mengajak aku. "Ris." serunya setengah berteriak. kalau yang jaga rumah tidak ada?" kata laki-laki itu kemudian." makinya dalam hati. "Len." Napasnya jadi tersengal-sengal kini. Tapi laki-laki itu seperti tak peduli. Tapi laki-laki itu masih juga seperti tadi. "Tak kau dengar aku?" teriaknya lagi. Dengan kata-kata tajam dia berkata lagi. "Ke mana?” Hati perempuan itu sakit benar jadinya. Kau tak pernah bertanya. baik. Len. "Tidak kau dengar kataku?" "Mm?" laki-laki itu menyahut. "Ya. Katakanlah begitu. Tapi kini sesudah aku begini. "Kurang ajar. Dia benar-benar mau bertengkar sekarang. Ia memalingkan pandangannya ke korannya lagi. Kau yang menentukan ke mana kita mau pergi. Len?" "Ke mana aku mau pergi. Seekor laba-laba di tengah jaringnya ikut bergoyanggoyang. "Aku katakan. bila aku kau ajak lagi?" katanya dengan napas yang sesak. Tapi laki-laki itu masih asyik juga dengan korannya. mengapa kau tak mengajak aku lagi?" Sebenarnya ia ingin bertengkar.

kami dengar Nyonya perlu babu. Seperti kera. Dan rupa anak itu begitu jelek. Sebetulnya aku tak boleh marah-marah begini." katanya tegas kepada perempuan yang dari tadi menunggu jawabnya. sampai sekarang tak juga didapatnya. Aku tidak memerlukan babu. Perempuan itu menggendong seorang bayi dan membimbing seorang anak laki-laki. Nanti anakku jadi buruk rupa seperti . kotor. Tidak sebanding dengan ibunya. dalam hamil. Tentu saja orang tak tahan lama-lama tinggal di sini." Lalu dia ingat pula pada Aisah babunya yang baru dua minggu di rumahnya. melihatnya pun jangan." Lena mau pergi saja cepat-cepat ke dalam rumahnya. tapi selamanya terlambat datangnya." kata suaminya ketika babu yang terakhir pergi pula. "Kalau anakku seperti anak Aisah nanti. minta ampun. dan pecah-pecah tepi telapaknya. jangan suka ingat pada yang jelekjelek. Kalau tidak wajahnya. Cerewet seperti aku. Tapi perempuan itu sudah menegurnya. dan tak sopan menurut pandangannya. Dia ingat ibunya pernah bilang. Lena sedang menyapu teras rumahnya seperti biasa dia lakukan. Karena setiap suaminya mengatakan kecerewetannya berbabu. Bukan yang punya anak banyak. tentu perangainya. "Ah. Dan dalam pada itu dia sadar pada ketajaman kata-katanya yang baru saja berlompatan. kalau ia benar-benar sudah bosan.. Dia merasa lebih baik tidak melayani tamunya itu. Nanti anakmu jadi jelek pula. Tapi bukan yang seperti perempuan itu kotornya. Rasa jijiknya kian meluap. Sebenarnya dia mau mengatakan katakata yang lebih tajam lagi dengan menyuruh laki-laki itu supaya kawin lagi. tak pernah dijamah sisir." Dua minggu yang lalu. "Aku hamil. Len. "Len. Aisah punya anak juga. Mengapa aku begini?" kata hatinya mulai menyesal. Memang sudah lama sekali dia ingin seorang babu di rumahnya. "Kau. . "Tentu waktu hamilnya Aisah suka marah-marah pula. Kepala yang tak tertutup itu." pikirnya. Memang benar dia memerlukan babu. Kalau pun pernah dapat. Kain dan bajunya seperti tidak pernah kena air. Dan sesudah itu. Lalu lenyap tak memberi tahu. bodoh. secepat itu pula dia membangkang kata-kata suaminya itu. sesudah itu. Kakinya telanjang. Mengapa kau lebih menyalahkan istrimu daripada menyalahkan babu?" "Tidak.Hingga dadanya turun naik dengan kencangnya. oh. Lalu sesuatu dalam perutnya terasa bergerak-gerak. Waktu itu masuklah ke halaman rumahnya seorang perempuan. hanya beberapa hari saja mereka bertahan. Tapi dia tak kuasa bicara banyak sambil meradang-radang. Dia lekas merasa letih. Tamunya ini sungguh tak menyenangkan. selalu akan lama tinggal dalam ingatannya. "Kau terlalu cerewet. Dia belai sekitar perutnya yang besar itu. Dia selamanya merasa jijik pada orang yang kumal. ketika Haris telah berangkat ke kantornya. Dan perkataan suaminya itu ada terasa benarnya. dia rela dipenjarakan seperti bibinya dulu. "Nyonya. Baru satu tahun." Lena tertegun dan dipandanginya perempuan itu menyelidik. Sepuluh tahun kira-kira umurnya.. Karena tamu yang menjijikkannya itu.

Tidak. Persis seperti kera. Kami lapar. Lalu katanya kepada perempuan itu. kata hatinya pula. oh. "Tidak. bahwa dia juga bisa bertindak sendiri dengan tepat. Setiap orang yang datang meminta uang. meminta kerja. "Kau kira kami punya gudang beras. Lena tertegun dan matanya tertarik melihat anak yang dalam gendongan itu. Apalagi membenci. Aku tidak boleh marah-marah. Malahan seorang yang mengaku-aku sebagai kerabatnya dari kampung yang datang minta pondokan. Kasihanilah kami. supaya anakku seperti itu pula kelak sifat-sifatnya. Lalu ia berpaling dan hendak masuk ke dalam rumahnya. heh?" Maka kini matanya beralih pada anak laki-laki itu. aku tidak boleh jijik melihatnya sekarang. Namun begitu ." kata perempuan itu lagi dengan gigihnya meminta belas kasihan. tentu akan bikin ribut saja sepanjang malam. tidak berayah pula. Itu akan mempengaruhi anakku." Lena berkata dalam hati. "Hm. Kurus benar. biar aku tak punya anak. Kalau anakku seperti itu pula nanti. Aku tidak mampu melihat bayi itu lama-lama. aku tidak boleh jijik pada bayi kecil ini. haruslah santun. Pucat lagi. Nyonya. ketika pergi tanpa pamit. Dia mau menunjukkan kepada suaminya. Dan kemudian. "Mengapa setiap orang minta dikasihani saja sekarang? Mengapa? Nanti sesudah dikasihani. Bahwa dia ingin menunjukkan pada suaminya. "Kami datang dari jauh. “Ah. baik hati. Kalau Nyonya tidak kasihan kepadaku.” Namun hatinya digoda terus oleh rasa jijik setiap dia memandang kepada ketiga orang yang masih berdiri di halaman itu. Tapi Lena tak tergetar lagi hatinya oleh kata kasihan itu." kata perempuan itu beriba-iba. bersikap mulia. “kalau Haris ada di sini. lalu mencuri. Aku harus ramah-tamah."Nyonya. kasihanilah bayi ini. juga membawa lari beberapa potong kain Lena yang bagus-bagus. Tengkorak kepalanya begitu besar. Nyonya. diam-diam." pikirnya. Dan kemudian dia ingat lagi pada petuah ibunya: “Orang hamil. semuanya berkata begitu. Kalau anakku tidak hendak seperti bayi ini. lalu pergi begitu saja. setelah mereka memperoleh apa yang dimintanya. biar aku mati saja. Tidak boleh merasa benci kepada siapa pun. tanpa pamit dan tanpa ucapan terima kasih. Anak ini tentu banyak makannya. Bisalah kami berunding. Aku tak sanggup hidup kalau anakku seperti itu." perempuan itu berkata lagi minta dikasihani. yang dia tidak mau diejek lagi tentang sifatnya yang selalu ragu-ragu itu. Dia tidak berayah lagi. "Nyonya. “Alangkah baiknya. Supaya anakmu juga berhati mulia.” kata hatinya yang kini mulai tersentuh rasa kasihan. Semua orang sedang kelaparan saja rupanya. Nanti tercetak dalam pikiranku. Nak. sedang matanya terbudur keluar di antara kerinyut jangat-nya.” Tetapi secepat itu pula dia mendapat pikiran lain. Sudah mati dibunuh gerombolan. Maka ia kembali ragu-ragu. penyantun. Nyonya. Dan anak kecil ini. Nyonya.” pikirnya.” Selanjutnya hatinya berkata pula. Dia sudah muak mendengarnya.

Nya. "Anakmu ini siapa namanya?" "Yang besar ini. ketika ditinggalkan sendiri di rumah. "Ke mana kita?" "Ke mana sajalah. tentu anakku tidak akan kena bisu kelak.sungguh mati rasanya. demi kepentingan anak yang sedang dikandungnya dan demi dia tak mau diejek lagi sebagai peragu. “Ayolah. Ia menoleh kepada suaminya. Seperti pernah terjadi dulu. alangkah tercengangnya dia melihat perubahan Lena yang telah mampu bertindak sendiri. pulang dari kantor. Meninggalkan rumah pada pembantu saja. Perasaannya selalu tidak enak bila bersama suaminya. maka ia bertanya sedikit gugup. Bagaimana nanti kalau sudah serumah? Akhirnya. Darman. Alasan tidak ada orang yang menunggui rumahnya. "Kenapa suamimu dibunuh gerombolan?" tanyanya lagi dengan dipaksa-paksakan. Tibatiba pada mata perempuan itu dilihatnya linangan air mata. Banyak benar sebab dan alasannya. Lalu katanya mencoba memperbaiki keadaan. hatinya masih . Kalau aku berbuat baik pada anak bisu ini. suaminya. itu memang sebab lainnya. Ia ingat kepada suaminya." kata suaminya. Tapi orang memanggilnya Bisu. Sejak kehamilannya. Sekarang hati rahimnya mulai lagi tersentuh. Begitu jijiknya dia pada ketiga orang itu. Dan tiba-tiba rasa sesalnya timbul karena mengajukan pertanyaan yang dirasanya bodoh itu. Dia tersenyum. sesungguhnya ia kurang bergairah keluar dari rumah. Kini meninggalkan rumah kepada Aisah. Lena merasa geli melihat betapa takjub suaminya kepadanya. akhirnya. Kenapa kau diam saja? Tukarlah pakaianmu. Dia merasa geli dan juga merasa senang. "Anakku tidak boleh bisu." Lena ingat lagi kepada anaknya yang bakal lahir. Len. Ada pembantu yang menghilang dengan membawa kain-kainnya." kata suaminya. kau betul-betul telah siap jadi seorang ibu. Sudah lama benar mereka tidak keluar malam bersama-sama. Kalau film bagus kita nonton. maka dia paksakan berkompromi dengan apa yang dihadapinya. Dan betapa senang hatinya." Ketika Haris." Kemudian lamunannya lenyap. Begitu memualkan. Tentu saja aku harus menunjukkan hati baikku. ketika Haris mencium keningnya seraya berkata. dan ketika itu Haris sedang memandangnya terheran-heran seperti dulu itu. ya. Tukarlah pakaianmu dulu. Tapi ketika dia ingat bahwa tadi ia mengumpat suaminya karena tak pernah mengajaknya bepergian. supaya anakku tidak bisu pulanantinya. Akan kupelihara anak bisu ini. Lebih-lebih keluar bersama suaminya. " Aku memang sudah duga juga." "Bisu? Kenapa dipanggil Bisu?" "Karena dia memang bisu. Lena tercengang seketika karena tak ingat apa hubungannya dengan kata-kata suaminya itu. sulit dipercaya.

Dan lagi. dirasakan Lena sebagai pemandangan yang indah. Jadinya jauh lebih aman. Suatu pengalaman buruk dulu. Toh. Kalau ia pergi juga akhirnya. Lalu mereka melancong ke tempat-tempat yang tenang. becak-becak dengan gemerencingan loncengnya. Terutama karena tidak akan mudah bagi perempuan yang mempunyai dua orang anak. Alangkah indahnya malam seperti itu. Orang-orang yang lalu-lalang berpakaian apik. apalagi ada bayi pula. perasaan was-was itu karena kehamilannya juga. disayangkan bila tidak dinikmati. untuk menghilang dengan mudah. Mobil-mobil sedan mengkilap dengan desauan lembut bunyi mesinnya. seperti yang diharapkannya dulu. Karena mereka datang terlambat. sesungguhnya merupakan tabiat yang akan diwariskan kepada anaknya. barang emas intannya telah lebih banyak. Dan lagi. Lampu-lampu minyak penjual rokok di tepi jalan. Cukup ternikmat olehnya. mereka ke restoran. karena mereka sudah berpisah. suaminya. yang benderangnya datang dari langit. Ia merasa malu dan menyesal sekali bila dia ingat betapa tajam kata-katanya tadi sore. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri. takkan mudah baginya menghilang sambil membawa dua orang anak. beberapa minggu kemudian diketahui ada barangbarangnya yang hilang dari lemari. Apalagi dengan suaminya. Semua karcis telah habis terjual. rumah ditinggalkan pada kerabatnya. Setelah penat berjalan. Sedangkan tangannya menyelinap dalam kepitan lengan suaminya. Restoran yang sering mereka datangi sebelum kawin . Hanya kunci lemari yang dibawa.was-was. ia terus ragu-ragu untuk bepergian. Jujur. Barang emas intannya terkunci dalam kamarnya yang terkunci. Dan Aisah bisa dipercaya. kelihatan dapat dipercaya. Namun hatinya ditenang-tenangkannya. muak. Waktu itu ia benar-benar merasakan Haris adalah suaminya yang ideal. meski warnanya memudar karena sinar bulan. Padahal selama ini ia begitu benci. mungkin jadi tidak ada jalan-jalan seperti senja sekarang. Mereka berjalan lambat-lambat. adalah karena terpaksa. Tapi ia pikir pula. Tapi juga karena supaya Haris tidak menganggapnya sebagai calon ibu yang selalu ragu dan bimbang. Termasuk pintu kamar dan semua kunci mereka bawa. Tahu menempatkan diri. karena musim todong-todongan sedang berjangkit. Sebab bulan yang sejak senja telah penuh mengambang di sebelah timur. Tersimpan dalam tasnya. Berpasang-pasangan. seperti lampu-lampu pada pasar malam. Mereka tak jadi menonton. seperti mereka juga. Dan semua kunci ada dalam tasnya. Tapi kini. jika menurut petuah ibunya. Dan ia tak berani memakainya lagi. dirasakan Lena. kecuali pada tukang catut. dipakai waktu itu. Semua pintu dikunci. tidak mempercayai seorang pun di kala mengandung anak mereka yang pertama. meski filmnya bagus. serta sepeda-sepeda itu memeriahkan suasana. Kelihatannya sopan. Beruntung saja barang emas intannya yang rnasih sedikit itu. meski sedikit bodoh. karena menenggang hati suaminya yang tadi telah ditempelaknya. Namun demikian. Kalaulah Haris tidak sebangsa laki-laki yang penyabar. Tampaknya Aisah bisa dipercaya. Berdasarkan pengalaman. mereka meninggalkan rumah dengan hati-hati juga. dengan meyakinkan dirinya bahwa Haris tentu maklum pada kondisi diri istrinya. hingga ia menjadi cerewet dan suka marah-marah bila ada suaminya di rumah. Mereka memilih berjalan kaki saja. Sedangkan perempuan itu. yang tiba-tiba saja merasa senang pada Haris.

. Sedangkan tangannya tak kuasa menggapai-gapai suaminya yang kian jauh ke kerumunan orang-orang itu. Yang dia ingat rasa bahagia di samping Haris suammya. Tiba-tiba Haris berhenti melangkah dan dipegangnya lengan istrinya seraya memandang ke sekumpulan anak-anak dan tukang-tukang becak bersukaan. anak yang di rumah kita. Tapi tiba-tiba Lena sadar. bahwa hidup ini memang indah sekali." kata anak itu sambil menirukan jalan perempuan dalam hamil berat dengan cara yang berlebih-lebihan. Semuanya tertawa berkakahan. Dan Lena yang tak biasa bergaul dengan orang-orang seperti itu." "Mari kita dekati untuk memastikannya. Dia ingat pada harta bendanya yang berharga. Dan anak yang dalam perutnya bagai memberontak dirasakannya. Dia ajak Haris supaya cepat-cepat berlalu. Begitu kencang. pada emas intannya dalam lemari.dulu. "Ayolah. "Hampir setiap hari. "Kaulihat anak yang membanyol itu?" "Peduli apa?" "Rasanya anak itu. merasa jijik memandangnya." "Tak mungkin. Dia mau pergi cepat-cepat. Tapi hatinya sakit mendengar tertawa kelompok itu." kata Haris sambil menarik istrinya mendekati kelompok yang sedang bersuka ria mendengar banyolan anak laki-laki itu. di bawah sinar bulan. Dia mau berteriak memanggil suaminya. Sehingga ia menjadi lunglai dan jatuh terduduk. Malah membanyoli bentuk tubuhnya yang telanjang ketika mandi. aku intip dari lubang itu. Mak. Kini benda itu telah lenyap dicuri komplotan penipu itu. Tapi Haris masih tegak mengamati kelompok itu. Dan di rumahnya. Maka timbullah secara beruntun macam-macam hal dalam pikirannya. Tiba-tiba pula dirasanya sesuatu memukuli jantungnya. kalau dia mandi. Ditariknya tangan Haris. bahwa kehamilannyalah yang dibanyoli anak itu. Mereka gembira sekali. Aku jijik. Lena sadar. Begini. Suatu rasa nyeri di perutnya bagai membawa nyawanya terbang. Dia merasa sangat malu dibanyoli secara kotor demikian. Seperti singkong berkubak pahanya. Aduuh. Lalu kian dieratkan pegangannya ke tangan suaminya. Tapi Haris masih tertegak di situ. ialah untuk membangkitkan kenangan indah masa mereka bercinta dulu. Kemudian ia melangkah mendekati kerumunan orang-orang yang bergembira itu. Lena merasa seolah-olah bawaan Haris ke tempat itu. Dan orang-orang di kelompok itu terkakah lagi. dalam gandengan tangan laki-laki yang dicintainya. tentang serba kemungkinan yang sedang terjadi selama rumahnya dipercayakan kepada komplotan penipu itu. Dalam antara kenangan pada masa lalu. terasa oleh Lena." kata Lena. bahwa mereka selama ini sudah rertipu mentah-mentah. kini sedang ada komplotan penipu. bukan main. Di saat itu dia tidak ingat pada anak yang dalam kandungannya. putihnya bukan main. Anak itu ternyata tidak bisu. Anak di rumah kita bisu. Tapi perutnya. Buat apa dilihat.

satu-satunya cara yang dia punyai untuk mengobati hatinya yang luka.Kemudian ia tak dapat melihat sesuatu yang di depan matanya lagi. Hatinya menjadi kian ciut. Dan jikalau orang lupa meminta nasihat kepadanya. Tapi kelahiran bayinya itu tidak sempurna bulannya. bahwa dari padanya saja nasihat yang baik memancar. ketika ia terbaring di kelilingi banyak orang yang mengerumuninya. Dan besoknya. mereka itu merasa berdosa sekali. Rasa nyeri kian tak tertahankan lagi. diraba-raba perutnya lebih dulu. memberikan keyakinan dalam setiap hati yang dilanda kerisauan. dengan penuh perhatian ia mendengarkan. Anaknya telah lahir kemarin. "Tidak! Dia bukan ibuku! Aku tak kenal padanya! Dia mengajakaku untuk memintaminta!" Teriakan anak itu bagai menusuk-nusuk di dalam tubuhnya yang terbaring di rumput itu. Dan memang dia ingin anak laki-laki. Hatinya menjadi sakit dan luluh. Bahkan ia tidak sadarkan diri. Tapi perut itu tidak gendut lagi. Namun demikian. secara samar-samar ia ingat lagi pada harta bendanya di rumah. Anak Nyonya tidak apa-apa." Lena ingat segala-galanya lagi. Perasaan sakit yang begitu perih itu. Kemudian. warna yang sesuai untuk bayi laki-laki. Sikapnya ini menyenangkan hati orang. Cepat-cepat . Persis seperti warna hijau muda pada pakaian dan perlengkapan bayi yang dijahitnya sendiri. Dia terkejut. sebelum ia membuka matanya. Dan suara rintihan itu kedengaran begitu nyata pada telinganya. diimbanginya dengan berteriak-teriak dan meronta-ronta serta memukul-mukul dadanya. Sedang rambut dan kumisnya yang lebat dab telah putih seluruhnya itu. Lalu dia duduk dari tidurnya sambil berteriakteriak. Sudah pasti habis digondol perempuan penipu itu. Anaknya itu laki-laki. secara samar-samar didengarnya reriakan anak yang membanyol tadi. Karena itu. Dan napasnya tersengal-sengal. Bayi itu dalam pertumbuhannya juga akan tidak sempurna. Ketika rasa nyeri itu mulai berkurang. biar orang lupa dan tak butuh nasihatnya pun. Jadi persis seperti yang diinginkannya. "Anakku! Anakku! Mana anakku?!" Seorang juru rawat segera datang padanya dan sambil merebahkan badannya kembali ia berkata. Denyutan jantungnya kian mengencang. Nasihat Nasihat Ketika Hasibaun. hingga ia tak sadarkan dirinya lagi. ia mampu memperlihatkan kebesaran jiwanya. anak muda yang menumpang di kamar depan menceritakan kesulitannya. "Tenanglah. Memang selama wajahnya kalihatan sungguh-sungguh. bila setiap orang mengemukakan kesulitannya untuk meminta sekedar nasihat yang berharga. Suasana dirasakannya mengambang lagi. Nasihat orang tua itu selamanya berharga. Dia merasa saat ajalnya akan sampai. Lalu dia menangis dan merintih di dalam hatinya. seperti pertumbuhan bayi yang lahir normal. setiap orang tak berani memulai sesuatu sebelum diminta nasihatnya. Nyonya.

Sudah banyak pengalaman. ya seorang gadis. dipandangnya beberapa jurus. bahwa ucapan orang tua itu seperti menuduhnya telah berbicara yang bukan-bukan. sopan." Anak muda itu tidak bergerak dari sikapnya semula. laki-laki itu bertanya. "Berilah aku nasihat. Ia pasti sangat pemalu. Apalagi gadis desa pula. Dan ketika Hasibuan. Dan ia mau meyakinkan orang tua itu. Dan tak satu pun dari perkumpulan itu yang menolak.ia memberikan nasihatnya. Seorang gadis. "Mari kita mulai dari awal. Tentang itu aku takkan silap. Pada setiap perkumpulan namanya pastilah tercantum sebagai penasihat. meski ia gelisah benar oleh lambatnya orang tua itu bicara. Omong-omong sedikit dan sudah pasti tentang hal-hal yang tidak berarti. Meski di antara perkumpulan itu saling berlawanan asas. "Apabila kau betul-betul menurutkan nasihatku. "Aku sudah tua." Hasibuan jadi lega hatinya. Lebih dulu ia lepaskan punggungnya ke sandaran sofa dengan selelahnya. Sopan." kata orang tua itu selanjutnya. "Ini memang sulit. Apa yang harus kulalkukan lagi?" Sebagaimana mestinya. Katanya. Percayalah. tak mungkin bisa jadi. menurut timbanganku. „Ke mana Abang. "Sebenarnya apa yang kau kemukakan itu.‟ Masya Allah. Coba. ia tidak tersenyum melecehkan. anak muda yang menumpang di kamar depan menceritakan kesulitannya demikian hilang akal. "Coba kaubayangkan kembali." kata orang tua itu seraya memandang kepada Hasibuan yang duduk di hadapannya." ujar Hasibuan dengan nada putus asa. ia sendiri akan menawarkan dirinya." . Tapi sebelum ia selesai menyusun kalimat yang hendak di ucapkannya. tentulah dia gila. Dan halus budinya. Kalau tidak diminta. duduk disamping seorang laki-laki tidak di kenal di atas bis. walau kadang-kadang ia tahu soalnya adalah tetek bengek saja." katanya dengan pasti. orang itu berkata lagi. Tentulah gadis itu gila." Hasibuan merasa. Seolah pada asap itu terlukis segala ilham nasihatnya. Diisapnya lagi cangklongnya beberapa kali. Dengan penuh kesungguhan dan dengan segala pertimbangan yang sangat masuk akal. "Apa kau tak sadar gadis itu gila?" "Tidak sama sekali. Ya. Seorang gadis desa yang seharusnya pemalu. „Mau ke mana?‟ Dan gadis itu menjawab dengan tegas. tahu adat. Sealanya dipandangnya berat. Lalu ketika hendak berpisah. Bahkan dari setiap muka seseorang aku dapat membaca segalanya. tidaklah akan sulit benar. ke sana aku. Dan asapnya yang mengepul dari bawah hidung. Aku sudah mengerti benar segala sifat dan fiil manusia. orang tua itu tidak lantas meluncurkan nasihatnya yang keramat. "Itulah semua. Mudah benar mengatasinya.

Nah. Gadis itu tentu dengan sia-sia saja menunggumu. "Nasihatku. Ha ha ha. lebih dulu ia bicara kepada orang tua itu untuk meminta nasihatnya." Hasibuan bertanya pada dirinya sendiri. meski bagaimana aku katakan." kata orang tua itu gembira. nasihatku dalam hal ini.. Dan. jam sembilan tadi. Dan gadis itu. nasihat orang tua. "Bagaimana?" tanya orang tua itu ketika mereka sedang makan siang. jika kau ikuti nasihatku ini. Gadis itu pasti gila. Ketika ia melihatku ia menangis tersedu-sedu. bagaimana kau melarikan diri. Kemudian. Tapi . Tampak-tampak saja olehku." "Hah? Jadi kau bertemu juga?" "Ya. kepalanya sakit benar. Percayalah kepadaku. Tak jadi ia menemui gadis itu. Lalu kemudian…. Dan pada gadis itu ia sudah berjanji hendak menemuinya besok pagi. Dan dipeluknya gadis itu. yang sampai saat itu tak pula diketahui namanya. tiba-tiba gadis itu menyandarkan kepalanya ke bahunya. Pak."Tentu saja kau tidak sadar. Dipandangnya Hasibuan tenang-tenang. Karena kau masih terlalu muda. Tidak seperti itu. Belum banyak pengalaman. duduk disampingnya di atas bis. dia yang datang menemuiku di kantor." "Tidak. itu pantas. orang tua yang sudah banyak pengalaman ini. Karena hari sudah malam. ya betapa lucunya itu. gadis yan tak hendak berpisah lagi dengan dia itu. jangan disahuti tegurannya. karena orang tua itu telah lama hidup dan banyak pengalaman. "Tak aku temui dia. Dapatkah ia mengikuti nasihat orang tua itu? Kemarin gadis itu. bukan? Dapat saja kubayangkan." "Tentu saja kau lari terbirit-birit. Setelah omong-omong yang tidak berarti. seperti hendak menaksir isi kepalanya. Ke dalam kakus tentu. ditumpangkannya ke rumah seorang kenalannya di tepi kota. Nasihat orang tua itu pasti benar. Bilang. Bagus. Insya Allah kau pasti selamat. ada tamu untukku. Aku malu sekali. "Aku antarkan dia kembali ke rumah kenalanku itu. sebelum ia menemuinya. bagaimana kecewanya meninggalkan kantormu. Dan hati mudanya menyuruh memeluk gadis itu. Ketika pesuruh kantor memberi tahu. Kalau bertemu juga." Orang tua itu begitu kecewanya." "Lalu kemudian?" sela orang tua itu dengan rasa ingin tahunya. Elakkan dia bila bertemu di jalan." "Tapi. Hingga semua orang di kantor jadi tahu persoalanku. Mudah-mudahan. ya? Ha ha ha. tak hendak pergi. Ketika pagi datang." "Bagus. aku tak kira dia yang datang. Nasihat orang tua itu diikutinya. "Kalau kemarin. begini: Jauhi dia. Diletakkan sendok garpunya. dia kaubawa ke rumah kenalanmu itu. Dunia akhirat.

Dia tak mau. aku mendoa-doakan agar aku bisa ketemu Bapak. ibu tirinya marah-marah kepadanya. Minangkabau yang adatnya tinggi. sambil merenungrenung juga. Tentunya dia itu gila. tidaklah akan mau berbuat demikian. Coba kaukira. tahu adat. "Ada hal-hal yang menyebabkan ia tak mau kembali ke kampungnya. Uangku tak diterimanya. Minangkabau. Aku sudah tahu betul akan kongkalikong hidup manusia ini. Katanya. Minangkabau berpagar adat. Diambilnya lagi sendoknya." kata orang tua itu pula. Tak lekang oleh panas. Gadis desa pula. Dua hari yang lalu. Dia sudah bisa pulang ke rumah orang tuanya di desa. Waktu itu. Tiba di Padang. supaya jangan bikin rewel di kantor." Mendengar kalimat terakhir itu. Lalu kembali lagi dia ke sini. Tiga tahun yang lalu ayahnya meninggal pula. Tapi kemudian ia meneruskan menambah keunggulannya. hilanglah sinar mata kecewa orang tua itu. menurut . Yang mestinya pemalu. Ia pergi ke Padang. dengan perasaan hati yang puas akan keunggulan dirinya. Tidak terpikirkan olehmu sampai sekian jauh?" "Tidak. Biasanya. Tak tahu aku apa yang harus kuperbuat lagi. hari sudah siang. Pak. Taruhlah dia benar diusir ibu tirinya. berkesopanan tinggi. Dia tak bicara apa-apa kepadaku. aku bawa kembali ke rumah kenalanku itu. di negeri Minangkabau yang beradat. dia hanya terus menangis bila di dekatku. Kepada istrinya. ini negeri Minangkabau tidak akan mungkin itu terjadi. "Tentu saja kau tak sampai berpikir sejauh itu. Lalu. untukmenarik kasihan hati orang. "Hm. Atau sekurang-kurangnya berbuat gila-gilaan. Dan mengusirnya pergi. Ketika ia masih kecil benar. Hasibuan. Dan dia makan lagi." kata anak muda itu dengan suara yang kedengarannya melukiskan bimbang hatinya. dia tak hendak pulang ke rumah orang tuanya." "Omong kosong. Sangkamu apa sebabnya?" "Tak dapat aku menyangka apa-apa. Takkan dibiarkan anak gadis yang sebesar itu pergi begitu saja. Lama kemudian ia berkata lagi. Apalagi keponakannya itu. "Kau masih muda. Tahulah kalau dia pergi tanpa setahu ninik mamak-nya. Cerita yang hanya di karangnya saja. Tentu ada sebabnya. Ibunya sudah lama mati. Aku kehilangan akal. ada. Sudah lama hidup dan banyak pengalaman. Katanya. seorang gadis. Ia mngunyah lambat sekali." "Barangkali kepada kenalanmu itu dia ada bercerita?" "Kepada kenalanku itu. Hasibuan.sekarang. Dan ninik mamak-nya pastilah takkan membiarkan keponakannya hidup tersia-sia. jika hilang bercari. Itu cerita licik. Di sini Minangkabau. Ada kau suruh dia pulang ke rumah orang tuanya?" "Malah kuberi dia ongkos?" "Tapi dia tidak mau?" "Ya. tidak. Lalu ayahnya kawin lagi. Seorang gadis. Dia menangis terus. tapi dia masih punya ninik mamak. Sedang aku sudah tua. dia tak tahu mau ke mana." Di pandangnya Hasibuan tenang-tenang. tak lapuk oleh hujan. Biar aku dapat nasihat Bapak. jika tenggelam di selami.

Dan ia sebagai orang tua. "Coba bayangkan. setelah daging itu diletakkan di piringnya. Kemudian ketahuan. Mengerti kau. barangkali dia sedang memasang perangkap untukmu." "Tidak mungkin sampai demikianbenar. Setelah ia merasa bahwa kata-katanya cukup terbayang. Itu saja takkan silap. "Bukan untuk memenjarakannnya. seperti aku membaca koran saja. dapat aku baca. dengan begitu saja menyerahkan dirinya kepada laki-laki yang baru dua jam dikenalnya. Karena malu." Ditatapnya lagi wajah anak muda itu. dia hendak mengorek isi kantungmu sampai tandas. Tapi untuk menyerahkan kembali ke keluarganya. tak hendak menyinyiri urusan orang lain. Di antaranya minta penyelidikan.sangkamu? Apa tidak terpikirkan olehmu. dan punya pekerjaan kantor. tampaknya tak lagi hendak bicara tentang soal itu. sudah menunjukkan betapa mudamu. Mengerti kau maksudku? Tidak? Siapa tahu." katra Hasibuan mengemukakan pendapatnya. Ia yakin benar. Itu paling kurang. "Nah. Karena mungkin jadi sudah hamil. Karena selama tiga hari itu. nasihatnya telah diikuti dengan betul. Sebab aku melihat sesuatu yang lebih buruk lagi bakal menimpa kau. Tapi cepat kemudian ia seperti terkejut oleh ucapannya sendiri. Meski dia menangis sampai mengeluarkan air mata darah. gerakmu. bukan? Dan dia tidak hendak kembali ke orang tuanya itu. sebabnya dia tak mau kembali itu. Tambah cepat. . Tapi laki-laki itu tak hendak mengakuinya. jangan kaupeduli. Serahkan dia pada polisi. tambah baik. Meski nasi itu sedikit dan telah begitu lumatnya. gadis Minang lagi. Kegadisannya telah diambil atau diberikannya kepada seorang laki-laki." kata orang tua itu seraya menusuk sepotong daging dengan garpunya. hingga ia tersedak. bukan jantan saja jenisnya. secepatnya kauberitahukan kepada polisi. nasi yang terakhir tak dapat dilulurnya lagi. Sekurang-kurangnya." katanya seterusnya. hendak tahu apakah kata-katanya telah cukup nyata terbayang olehnya. yang mana yang lebih benar dari segala macam kemungkinan itu." Mendengar nasihat itu. Sedang memikatmu supaya kaukawini dia. Nasihatku dalam hal ini. Anak muda itu sendiri. "Buaya itu. Titik. Karena kau tidak kenal orang tuanya. persoalan Hasibuan beres sudah. hingga soalnya sudah lewat seperti angin lalu. setelah tiga hari berlalu. Jadi sebelum hal itu terjadi. begini. Mukamu. Atau sudah masuk rumah sakit gila. dia lari ke Padang. barangkali dia sedang mengakalimu. Menurut hematku. terang itu bukan suatu alasan untuk lari. Pak?" "Kemungkinannya banyak. gadis itu telah kembali ke keluarganya. Hasibuan. tiada tanda-tanda adanya kesulitan pada air muka Hasibuan. Siapa tahu. Menurut sangkanya. Orang tua itu menyangka. Dan kepalanya tertekur menyembunyikan muka merahnya. di sambung lagi perkataannya. gadis itu mungkin tidak gadis lagi. ucapanmu itu. Diminumnya air cepat-cepat." "Menyerahkan dia pada polisi?" tanya anak muda itu tercengang. "Seorang gadis desa yang seharusnya pemalu. karena memangnya dia telah diusir orang kampungnya?" "Apa kira-kira kemungkinannya lagi. Kemudian dia bertemu dengan engkau. Tapi bertengkar dengan ibu tiri.

kalau ia tak mau. Senang sajalah. kau dipihak yang benar. Ia begitu gelisah. Apalagi kalau laki-laki itu tidak pernah mengganggu perempuan itu. "Jadi kau dituduh keluarganya telah menyembunyikan gadis itu? Dan kau dipaksa untuk mengawininya? Ini tentang suatu pemerasan." kata anak muda itu cepat. "Nah. seraya berkata."Keluarganya yang datang ke kantormu tadi itu. Lalu ia berkata lagi meluncurkan nasihatnya: "Ah. gadis itu telah meraung-raung seraya memagut kakinya erat-erat. anak temanku sedari kecil. Jangan kau takut. Kegelisahannya itu dilihatnya. Malah kau pun dapat menuduh mereka itu ke pengadilan.Tapi pada hari keempat. Jika perlu kau pun dapat mengeluarkan ancaman kepada mereka. Sangkanya. tak usah gelisah. Malah." jawab anak muda itu." Tapi hati anak muda itu tak dapat disenangkannya." katanya lagi. Tidak boleh tidak." . tentu anak muda itu mendapat kesukaran lain yang berhubungan dengan pekerjaan kantor saja. Nanti. Lai-laki itu tentu seperti kingkong besarnya. Ada hal-hal yang hendak dikatakannya lagi. bila perlu kutolong kau. Meski perkaramu ini akan sampai ke pengadilan sekalipun. Jangan persukar soal itu dalam pikiranmu. telah lama hidup dan telah banyak pengalaman. Dan hatinya jadi lintuh.bukan?" "Tidak pernah. "Kau seorang laki-laki. Kau tidak pernah mengganggu gadis itu. temanku itu. tak satupun pengadilan yang mampu menghukum. Ha. Dan bersamaan dengan itu hatinya pun jatuh pula kepada gadis itu." "Nah ini terang suatu pemerasan. Kenal baik. Tak usah gelisah. Nanti aku tulis surat kepada kepala polisi. Nasihat orang tua." "Lima orang. Nah. baru saja ia menyuruh gadis itu pulang ke keluarganya di desa. Kemudian disandarkannya lagi punggungnya ke kursi dan diisap lagi cangklongnya. Seorang laki-laki tak dapat dipaksa oleh siapapun untuk mengawini seorang perempuan. Persenang sajalah hati. Aku kenal kepala polisi di sini. bukan? Tentu tiga orang sekurang-kurangnya. tapi ia tak berani mengatakannya. Dan orang tua. Hasibuan pulang dari kantornya membawa kegugupan. Tapi alangkah jengkelnya dia. Kemudian punggungnya yang tersandar ditariknya lagi. Ia menunggu anak muda itu meminta nasihatnya yang berharga lagi. nasihatku dalam hal ini. Dicabutnya cangklong dari mulutnya. di sampingnya. Karena ia tak pernah menyerahkan gadis itu kepada polisi. Aku minta ia menjaga keselamatanmu dari pemerasan dan ancaman itu. jangan kautunjukkan dirimu mempan oleh gertakan kepada buaya-buaya itu. seperti aku ini. bukan?" "Demikianlah. ikutilah nasihatku. Itu hendak dikatakannya kepada orang tua itu. tentu tidak seorang. Meminta belas kasihannya agar membiarkan dia tetap di situ. lalu ditodongkan kepada Hasibuan. "Semuanya tentu laki-laki. Kau dapat mengadukan mereka itu ke polisi dengan tuntutan pemerasan dan ancaman. ketika Hasibuan menceritakan kesukarannya itu masih berkisar pada soal gadis itu juga. Jaksa." kata orang tua itu.

"Pilihanmu tepat kali ini. Itu dilihat oleh orang tua itu. Karena aku sudah tua. Nasihatku. tentu si gadisnya ini akan menyayangkan hal-hal yang bukan-bukan. mata yang telah banyak melihat ini." katanya tiba-tiba. Dan sebagai orang tua. orang tua itu meneruskan bicaranya. Kemudian dia sendiri yang menating teh buat kita." kata anak muda itu. Hasibuan berjalan demikian mesranya di samping gadis itu. Nasihat orang tua yang banyak pengalaman ini. orang tua itu memanglah merupakan orang tua yang paling menyenangkan. Seperti senyuman seorang insinyur melihat perdebatan kuli-kuli tentang suatu bangunan. Ikutilah nasihatku. masih dapat menangkap suatu kekurangannya. Mengaku sajalah.Namun hati anak muda itu belum juga tentram. Itu biasa. Jangan kausangsikan. jangan membantah. Lihatlah. Asal dia mau mengikuti nasihat-nasihatku kelak." "Memang rencanaku demikian. Tapi sebagai orang tua yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Jangan biarkan angin jahat masuk. Dan senyumnya lekas-lekas dikulumnya. Kau bawalah gadis itu ke sini. kalau gadis itu tahu betapa halnya Hasibuan dengan gadis desa yang ditemuinya di atas bis dulu itu. Cantiknya. Ia tahu. Mengaku sajalah kepadaku. Itu dapat dilihatnya kemarin malam. Kekurangannya itu masih dapat diperbaiki. orang tua itu mengalih duduk di dekat Hasibuan. Seperti ada suatu rahasia saja. kawini dia lekas. ia tidak hendak melecehkan kesukaran orang lain. ia bicara dengan berbisik. telah lama hidup dan sudah banyak pengalaman. Pak. bukan? Ah. . seperti rumah ini rumah orang tuanya saja." Setelah ia menghidupkan api cangklongnya. Banyaklah bicara dan ketawanya. Tertibnya bagus sekali. maka tersenyumlah ia. Aku dapat mengerti segala hati. Jangan bersembunyi lagi. Ini sungguh menakjubkan. Taksirannya. Dalam hal ini aku tak silap. hingga nasihatnya menjadi benar-benar berharga dan dapat diikuti dengan mudah. Bawa dia besok. kepada orang tua ini. Nasihat orang tua yang telah banyak pengalaman ini. "Aku tahu kesukaranmu yang selalu menggelisahkanmu itu. Anak baik dia ini. Ikutilah nasihatku. anak muda itu sedang dalam keadaan terjepit. melebihi gadismu yang khianat dulu. Menurut sangkanya. Dalam seribu. Perhatikanlah. seperti yang pernah kaualami dulu. Karena itu ia pun tahu bagaimana menasihatinya. ya. Dan jangan lupa. Pada air mukamu yang muda itu. mataku yang tua ini. Banyaklah nasihatnasihat tentang kehidupan rumah tangga. jarang satu seperti dia. Hasibuan sedang dalam percintaan dengan seorang gadis. Di saat yang seperti itu. dapat aku baca semua. Nanti aku dapat menyelesaikan kesukaranmu dengan mudah. yang lebih tahu segala hal. Bawa dia kesini. Takkan baik akibatnya. ia dapat memahami betapa kesukaran itu mengamuki hati seseorang. Ini luar biasa. Meski kesukaran itu hanyalah tetek bengek belaka. Kau sedang bercinta dengan seorang gadis. gadis yang sedang mencuri hatimu itu. "Dengarlah nasihatku lagi. Tapi dia terus menanyakan Ibumu dan menemuinya ke belakang." Gembira benar hati orang tua itu. ketika Hasibuan membawa gadis itu ke rumahnya untuk diperkenalkan kepadanya. Jangan tunggu lama. Dan ketika ia sedang berdua saja di ruang tamu. ia salami aku. Ketika dia datang tadi. Meskipun begitu. "Haa. Tentang ini aku tidak silap.

jangan kau yang meminang dia ke orang tuanya. Birkan orang tuanya yang meminang kau. Ada karena indikasi PRRI." Sekarang listrik yang menyengat naik beberapa kilowatt lagi. Si Dali dan Alfonso. Maka para sastrawan. Pak." kata orang tua itu. Tak tahu ia muka orang sudah jadi pucat dan badannya gemetar. Menurut taksiranku sekarang setelah 30% pertambahan penduduk dari masa 20 tahun yang lalu. seperti adat Minangkabau. terutama yang muda kian jadi keasyikan diinteli itu. Jimi dan Leon yang beri tahu. di waktu yang lain karena indikasi ekstrim kiri atau kanan. seperti biasanya. seperti baca puisi di lapangan terbuka waktu siang atau waktu malam pakai obor segala. barangkali Hasibuan belum memberi putusan kepada keluarga gadis itu. perkawinan akan dilaksanakan dalam minggu ini juga. "Keluarganya sudah datang kepadaku. Mukanya yang pucat jadi biru. Karena merasa diri ada. Aksi-aksian baca puisi itu selalu ramai dikunjungi." Hasibuan berkata tanpa memperhatikan gelagat orang tua yang sekali lagi disengat listrik. Mereka mampir pada saat pulang habis nonton bioskop. Dan bibirnya bergerak-gerak seperti hendak memaki. bertanya lagi dengan wajah yang malu tersipu: "Apa nasihat bapak dalam hal ini?" Sekali ini nasihat itu tak keluar dari melalui mulutnya yang peramah." Tiba-tiba orang tua itu seperti kena listrik. Saya aku tahu hampir tengah malam. Kemudian karena indikasi PKI. "Kau tentu cukup bijaksana. Tak percaya ia. Kemana-mana kami berkumpul selalu diinteli oleh oknum dari bebagai instansi. Bagus. Penangkapan Hari itu teman kami. Mereka bikin acara yang aksi-aksian. Di masa itu kota kami kesibaran "Peristiwa Malari" yang marak di Jakarta."Bagus. Hanya pintu kamar tidurnya yang berdentang kencang dibantingnya dari dalam. "Tapi aku percaya. Menurut istilah polisi diamankan. Sejak bertahun-tahun silam aku sudah terbiasa mendengar peristiwa penangkapan. Tapi nasihatku dalam hal ini. "Gadis itulah yang kutemui dalam bis baru-baru ini. Tapi Hasibuan yang tidak melihat perubahan itu. Karena merasa diri penting." katanya kemudian setelah ia dapat menguasai dirinya lagi. Tapi pikirnya kemudian. Ia merasa seolah-olah telah dilampaui begitu saja. bukan?" "Ya. pengunjung hadir lebih dari . demi mendengar bunyi mesin ketikku. Ditatapnya Hasibuan dengan mata tajamnya lalu cepat ia berdiri dari duduknya. Lalu. ditangkap po lisi. Lalu katanya lagi. Aku sama sekali tidak kaget kalau ada orang ditangkap. bahwa Hasibuan akan memutuskan begitu saja tanpa minta nasihatnya. Sebagaimana nasihat Bapak.

Nah. Melain di asrama pelatihan polisi yang lagi kosong. Tentu saja para intel yang mengenakan jeket danu bergunting rambut cepak ikut juga berjubel. Lalu mereka menjadi orang besar Tanah Air. Sedangkan sastrawan muda di kota kami menyebut diri mereka sebagai "ekstrim tengah". Yang jadi pikiran ku ialah keterangan Jimi. Yang hadir di masa itu bukan hanya seniman. Kehadiran keduanya seperti memberi dukungan moral kepada mereka yang muda. Termasuk Si Dali dan Alfonso. Kalau tulisan mereka di muat dalam koran lokal. Sjahrir ditangkap." kata Neli tanpa kata pengantar. *** "Anaknya bisa lahir prematur. Toh dari mulutnya tak henti-henti asap rokok mengepul. Itu risiko jadi orang besar. Karena peristiwa penangkapan di masa itu bukan berita lagi. "Jika keduanya ditangkap bukan masalah berat. Sebenarnya Si Dali dan Alfonso tidak berperan penting pada aksi-aksian itu. Kalau dimuat berbulan-bulan menanti dan berbulan-bulan pula menunggu honornya. kutipan pandangan filsuf dunia beruntun. Si Ponco dan Si Dali ditangkap polisi tadi malam. Haris dan Neli. Tidak diketahui alasan dan pasal-pasalnya." kata istriku pagi-pagi setelah aku ceritakan peristiwa itu. Natsir ditangkap. Soekarno dan Hatta pernah ditangkap. Tidak kalah banyak orang lewat yang sekadar ingin tahu. Kalau dia bicara pada forum diskusi. Sebagai sastrawan. naskahnya sering dikembalikan. Kalau dikirim ke media nasional. "Om. Sekali-sekali sempat juga nonton bioskop atau makan rujak dan es tebak di tepi laut. Kalau tidak dicurigai sebagai akstrim kiri tentu saja ekstrim kanan. sebab tidak punya uang membeli nasi. Dan lebih-lebih Alfonso yang orang teater yang menjadi idola mereka. Namun keduanya selalu hadir. Dia selalu menyebut nama Alfonso dengan Ponco. Yaitu indikasi menentang pemerintah. tetapi juga para simpatisan. Tapi toh mereka hidup. Maka itu sebagai orang yang terbiasa lapar dalam zaman stabilitas politik dan ekonomi. Jadi presiden dan wakil presiden. Dan aku tidak kaget mendengarnya. paling-paling honornya sekedar pembeli rokok untuk seminggu. sesungguhnya mereka bukanlah orang yang punya alasan untuk ditangkap." kata Haris pula. yaitu perutnya.tiga kali lebih banyak dibandingkan jika penyair baca puisi di Taman Budaya masa sekarang. Punya isteri dan beranak. Bahwa istri Alfonso sedang hamil berat. Mochtar Lubis ditangkap. Menjelang tengah hari dua orang sastrawan muda yang paling aktif menggerakkan aksi-aksian baca puisi. meciutkan nyali yang hadir. Alasan cuma satu. "Jadi?" . praktisnya mereka merupakan penganggur. Kita harus membuat sesuatu sebagai tanda simpati dan solider. Karena selalu mendapat persoalan untuk mengisi bagian tengah badannya. gayanya memukau. menemuiku. kembali ke awal cerita.Si Dali dan Alfonso ditangkap polisi sekeluar dari bioskop. bahasanya teratur. Mereka ditahan bukan dalam sel.

pikirku. berdinding tadir dan berlantai papan dengan kolong rendah. tentang kebudayaan. Istriku trenyuh sekali demi melihat tempat tinggal Si Dali yang pondok itu. Tapi bagaimana dengan biaya hidup perempuan yang tidak punya sanak keluarga satu pun di kota itu. susu kalengan atau memberi bon untuk ditukar dengan beras. "Aku tidak menduga rumah Si Dali seperti itu. Selain dari isi dompet. tentang filsafat setiap datang ke sini. . "Atau semacam kegilaan yang mengasyikan saja?" *** Hampir dua bulan Si Dali dan Alfonso mendekam di tahanan polisi. Seselesai makan malam barulah dia berkata. aku tidak tahu dimana mereka mandi. Terkecuali hari Minggu. Dia terus membisu. Ditanyai satu jam setiap hari. "Mengapa diam saja?" tanyaku ketika kami telah sampai di rumah lagi. Dengan suami pertamanya tiga.Sewa kontraknya memang tidak mahal. Istri Alfonso memang tukang beranak terus. Dibiarkan main catur. Dulunya sebuah pondok ronda. Aku tidak pernah menjenguk mereka. Pikiranku menjalar tentang situasi yang dihadapi istri kedua teman kami itu. Setiap hari secara bergantian para sastrawan menjenguk kedua teman yang ditahan itu. Tadi pagi yang punya rumah sudah datang karena tahu Si Dali ditangkap. Kemudian jadi pos preman melakukan hal-hal yang tidak disukai penduduk."Istri Si Ponco hamil berat. Dengan Alfonso bakal dua. Yang membingungkan tapi juga menggembirakan mereka. Akan tetapi letaknya terjepit oleh dua bangunan yang berbelakangan. Sambil tertawa. Untuk kakus. Istri Si Dali harus pindah rumah karena kontraknya sudah dua bulan berakhir. Untuk mandi dia tampung air hujan dengan sebuah drum. biayanya bisa diatur kemudian. Bila dia harus masuk rumah sakit. Kalau tidak ada hujan. di sebidang tanah seperti tidak bertuan. jika aku ingat pada obrolannya tentang politik. aku menyempatkan menjeguk istri mereka. Mereka dikasi makan cukup. Bila bersama pengawal mereka main domino sampai lewat tengah malam. Aku kira hidupnya sama dengan kita. Tapi istri Si Dali? Rumah kontrakan itu sebetulnya cuma pondok ukuran 3 X 4 meter. Si Dali menempatinya. apabila Si Dali lama ditahan? Kepada Haris dan Neli aku berikan nama beberapa orang yang aku yakin mau membuka dompetnya." kata Neli pula. biskuit. ada pula perwira polisi atau militer yang berkirim makanan kaleng atau rokok. Lokasinya memang di tengah kota. Apa dia betul-betul orang miskin?" Karena aku tidak menyahut. bergurau atau saling meledek. Mereka menyambut kami dengan airmata berlinang. Dia memberi ultimatum harus bayar paling lama besok. dia gali lobang setiap hari bila malam tiba. "Apa jadi seniman itu pekerjaan atau hobi atau apa?" Karena aku tidak menyahut juga dia berkata lagi. Namun dia harus membuat dapur di belakang rumah. Istriku tidak menyahut. dia bertanya lagi. Ketika preman itu dapat diusir. Ketika dibebaskan kulit mereka cerah karena jarang kena sinar matahari. Tapi bersama istri. ada juga yang memberi rokok.

"Tinggal di luar begini tak ubahnya kita tinggal di hutan larangan. Setiap hari ada saja orang datang memberi apa-apa. Menunggu waktu." kata Si Dali. Dan ketika aku ingtakan pada masa dia ditangkap dulu. "Istriku suka kalau aku ditahan lagi. tidak lagi baca-baca puisi. "Mengapa begitu?" tanyaku ketika kami berjumpa. maulah aku. "Maksudmu?" tanyaku. Selama aku ditahan. Wajahnya ceria. "Begitu?" kata Haris. Sastrawan muda yang dipelopori Haris dan Neli. dia tertawa."Enak juga jadi tahanan seperti itu. Tapi setelah aku dibebaskan. melainkan semacam hidup yang dipermainkan. Kulitnya sebersih pakainnya." jawab Si Dali. dia tidak pernah kekurangan beras. kekurangan uang. Kami seolah kehilangan motivasi." Neli menyeringaikan ejekan lagi dan merentak pergi membawa seringai bibirnya. Dunia seperti telah aman seaman-amannya untuk semua. Jauh berbeda dibadingkan dengan masa-masa dia aktif bersama para sastrawan dulu. . "Si Ponco?" "Juga tidak." katanya kemudian." jawannya lesu. "Tak ada gairah. Istri Alfonso telah melahirkan anak laki-laki." "Selama dua bulan ditahan. Malah dapat juga meminjamkannya pada tetangga. Kemiskinan dan kelaparan memenjarakan kita tak henti-hentinya. semua pemberian stop. Haris dan Neli kehabisan tugas yang selama dua bulan dia urus terus-menerus. katanya. Si Dali menggeleng seperti orang tertangkap basah. "Entahlah. Tapi dunia yang aman seaman-amannya itu tidak ubahnya seperti lampu yang hampir padam karena kehabisan minyak. Istri Si Dali kembali ke rumah orangtuanya di desa di kaki Gunung Talamau karena tidak betah hidup tanpa jaminan masa depan yang baik. Kalau ditahan lebih lama lagi." *** Bertahun-tahun kemudian aku ketemu Si Dali. "Dimana letak kebebasan yang kau perjuangkan?" tanya Neli ketus dengan seringai bibir yang sudah aku kenal benar. Bayangkan. tidak lagi melakukan wirid diskusi mingguan. "Masa itu bukan semacam permainan hidup. apa kau menulis?" tanya Neli.

ditangkap po lisi. Memidahkan tidur penganggur dari rumah istrinya. Sejak bertahun-tahun silam aku sudah terbiasa mendengar peristiwa penangkapan. Maka para sastrawan. seperti kataku tadi. Di sana dia kawin lagi tanpa menceraikan istrinya yang beranak enam. Tapi kini aktivis seperti Neli sudah menikah dan memperoleh anak. Dan memang sesudah peristiwa itu sampai sekarang tidak ada lagi sastrawan baca-baca puisi." "Tak ada?" "Kami kan orang nganggur. Si Dali dan Alfonso." kata Si Dali dengan gaya bicara yang ringan. seperti baca puisi di lapangan terbuka waktu siang atau waktu malam pakai obor segala. pengunjung hadir lebih dari tiga kali lebih banyak dibandingkan jika penyair baca puisi di Taman Budaya masa sekarang. Alfonso merantau ke Jakarta. Jimi dan Leon yang beri tahu. Yang hadir di masa itu bukan hanya seniman. Keningku berkerut lama oleh cerita Si Dali itu. "Tak ada. Ada karena indikasi PRRI. Aksi-aksian baca puisi itu selalu ramai dikunjungi. Mereka mampir pada saat pulang habis nonton bioskop. Karena merasa diri ada. 14 Juni 1996 Penangkapan Hari itu teman kami. "Formalnya kau ditangkap atas tuduhan apa?" tanyaku. Kayutanam. Di masa itu kota kami kesibaran "Peristiwa Malari" yang marak di Jakarta. rupanya orang-orang intel kewalahan menghadapi tingkah laku sastrawan muda."Masa itu. Haris menjadi dosen yang sibuk karena mendapat proyek penelitian. Saya aku tahu hampir tengah malam. Mau dilarang tidak ada alasan. Dibiarkan terus. lalu dikasi makan enak-enak. toh tidak ada yang rugi. Karena merasa diri penting. Dan Si Dali. Menurut taksiranku sekarang setelah 30% pertambahan penduduk dari masa 20 tahun yang lalu. yang tua-tua ditahan. Kemana-mana kami berkumpul selalu diinteli oleh oknum dari bebagai instansi. dikhawatirkan iklim bisa rawan. demi mendengar bunyi mesin ketikku. di waktu yang lain karena indikasi ekstrim kiri atau kanan. Aku sama sekali tidak kaget kalau ada orang ditangkap. Maka kesibukan mereka beralih karena kegairahan mendapat simpati. Demonstrasi baca puisi berhenti. Lalu. Menurut istilah polisi diamankan. seolah-olah dia tidak pernah mengalami kesulitan apapun. Mereka bikin acara yang aksi-aksian. Dalam mata anganku terbayang lagi hingar-bingar masa itu. Kemudian karena indikasi PKI." katanya sambil terkekeh. tetapi juga para simpatisan. terutama yang muda kian jadi keasyikan diinteli itu. Lalu kami. Lalu anak-anak muda itu mereka gerakkan mencari sumbangan solidaritas kemana-mana. wajahnya secerah baju yang di pakainya. .

Mochtar Lubis ditangkap. Maka itu sebagai orang yang terbiasa lapar dalam zaman stabilitas politik dan ekonomi. Lalu mereka menjadi orang besar Tanah Air. praktisnya mereka merupakan penganggur. Kalau dimuat berbulan-bulan menanti dan berbulan-bulan pula menunggu honornya. "Om. Karena peristiwa penangkapan di masa itu bukan berita lagi. paling-paling honornya sekedar pembeli rokok untuk seminggu." kata istriku pagi-pagi setelah aku ceritakan peristiwa itu. Termasuk Si Dali dan Alfonso. meciutkan nyali yang hadir. Kita harus membuat sesuatu sebagai tanda simpati dan solider. Punya isteri dan beranak. Menjelang tengah hari dua orang sastrawan muda yang paling aktif menggerakkan aksi-aksian baca puisi. Itu risiko jadi orang besar. kembali ke awal cerita. Sedangkan sastrawan muda di kota kami menyebut diri mereka sebagai "ekstrim tengah"." kata Haris pula. Bahwa istri Alfonso sedang hamil berat. Kalau dia bicara pada forum diskusi. Jadi presiden dan wakil presiden. Yaitu indikasi menentang pemerintah. Sebenarnya Si Dali dan Alfonso tidak berperan penting pada aksi-aksian itu. Toh dari mulutnya tak henti-henti asap rokok mengepul. gayanya memukau. Tentu saja para intel yang mengenakan jeket danu bergunting rambut cepak ikut juga berjubel. Mereka ditahan bukan dalam sel. Dan aku tidak kaget mendengarnya. Namun keduanya selalu hadir. Sebagai sastrawan. bahasanya teratur. Kehadiran keduanya seperti memberi dukungan moral kepada mereka yang muda. Kalau tulisan mereka di muat dalam koran lokal. Natsir ditangkap. Dan lebih-lebih Alfonso yang orang teater yang menjadi idola mereka. Soekarno dan Hatta pernah ditangkap. Tidak diketahui alasan dan pasal-pasalnya. Melain di asrama pelatihan polisi yang lagi kosong. Sjahrir ditangkap. Karena selalu mendapat persoalan untuk mengisi bagian tengah badannya. Kalau tidak dicurigai sebagai akstrim kiri tentu saja ekstrim kanan. Tapi toh mereka hidup. Dia selalu menyebut nama Alfonso dengan Ponco. sebab tidak punya uang membeli nasi. Haris dan Neli. kutipan pandangan filsuf dunia beruntun. yaitu perutnya. *** "Anaknya bisa lahir prematur. Sekali-sekali sempat juga nonton bioskop atau makan rujak dan es tebak di tepi laut.Tidak kalah banyak orang lewat yang sekadar ingin tahu. sesungguhnya mereka bukanlah orang yang punya alasan untuk ditangkap. "Jika keduanya ditangkap bukan masalah berat. menemuiku. naskahnya sering dikembalikan.Si Dali dan Alfonso ditangkap polisi sekeluar dari bioskop. Kalau dikirim ke media nasional." kata Neli tanpa kata pengantar. Si Ponco dan Si Dali ditangkap polisi tadi malam. Yang jadi pikiran ku ialah keterangan Jimi. Nah. Alasan cuma satu. "Jadi?" .

. Tapi bagaimana dengan biaya hidup perempuan yang tidak punya sanak keluarga satu pun di kota itu. biskuit. Untuk mandi dia tampung air hujan dengan sebuah drum. tentang filsafat setiap datang ke sini. Dia memberi ultimatum harus bayar paling lama besok. di sebidang tanah seperti tidak bertuan. Selain dari isi dompet. Istri Si Dali harus pindah rumah karena kontraknya sudah dua bulan berakhir. Sambil tertawa. berdinding tadir dan berlantai papan dengan kolong rendah. Akan tetapi letaknya terjepit oleh dua bangunan yang berbelakangan. apabila Si Dali lama ditahan? Kepada Haris dan Neli aku berikan nama beberapa orang yang aku yakin mau membuka dompetnya. jika aku ingat pada obrolannya tentang politik. Ditanyai satu jam setiap hari. "Aku tidak menduga rumah Si Dali seperti itu. Dibiarkan main catur. Bila bersama pengawal mereka main domino sampai lewat tengah malam. "Atau semacam kegilaan yang mengasyikan saja?" *** Hampir dua bulan Si Dali dan Alfonso mendekam di tahanan polisi. Mereka dikasi makan cukup. Mereka menyambut kami dengan airmata berlinang. Tapi bersama istri. Seselesai makan malam barulah dia berkata. aku tidak tahu dimana mereka mandi.Sewa kontraknya memang tidak mahal. Ketika preman itu dapat diusir. ada juga yang memberi rokok."Istri Si Ponco hamil berat. Kemudian jadi pos preman melakukan hal-hal yang tidak disukai penduduk. Istri Alfonso memang tukang beranak terus. "Mengapa diam saja?" tanyaku ketika kami telah sampai di rumah lagi. Pikiranku menjalar tentang situasi yang dihadapi istri kedua teman kami itu." kata Neli pula. tentang kebudayaan. Lokasinya memang di tengah kota. Istriku trenyuh sekali demi melihat tempat tinggal Si Dali yang pondok itu. Dengan Alfonso bakal dua. Terkecuali hari Minggu. Aku tidak pernah menjenguk mereka. pikirku. Bila dia harus masuk rumah sakit. Dulunya sebuah pondok ronda. Dia terus membisu. dia bertanya lagi. Tapi istri Si Dali? Rumah kontrakan itu sebetulnya cuma pondok ukuran 3 X 4 meter. bergurau atau saling meledek. biayanya bisa diatur kemudian. Setiap hari secara bergantian para sastrawan menjenguk kedua teman yang ditahan itu. Apa dia betul-betul orang miskin?" Karena aku tidak menyahut. Istriku tidak menyahut. "Apa jadi seniman itu pekerjaan atau hobi atau apa?" Karena aku tidak menyahut juga dia berkata lagi. susu kalengan atau memberi bon untuk ditukar dengan beras. dia gali lobang setiap hari bila malam tiba. Aku kira hidupnya sama dengan kita. Namun dia harus membuat dapur di belakang rumah. Ketika dibebaskan kulit mereka cerah karena jarang kena sinar matahari. Kalau tidak ada hujan. Tadi pagi yang punya rumah sudah datang karena tahu Si Dali ditangkap. aku menyempatkan menjeguk istri mereka. Untuk kakus. Si Dali menempatinya. Dengan suami pertamanya tiga. Yang membingungkan tapi juga menggembirakan mereka. ada pula perwira polisi atau militer yang berkirim makanan kaleng atau rokok.

Kalau ditahan lebih lama lagi. Wajahnya ceria. Malah dapat juga meminjamkannya pada tetangga. "Tinggal di luar begini tak ubahnya kita tinggal di hutan larangan. "Istriku suka kalau aku ditahan lagi. Tapi dunia yang aman seaman-amannya itu tidak ubahnya seperti lampu yang hampir padam karena kehabisan minyak. Sastrawan muda yang dipelopori Haris dan Neli. kekurangan uang. Selama aku ditahan." katanya kemudian. Setiap hari ada saja orang datang memberi apa-apa. Kemiskinan dan kelaparan memenjarakan kita tak henti-hentinya. dia tertawa. "Maksudmu?" tanyaku. Si Dali menggeleng seperti orang tertangkap basah. semua pemberian stop. "Tak ada gairah." jawab Si Dali." "Selama dua bulan ditahan. Jauh berbeda dibadingkan dengan masa-masa dia aktif bersama para sastrawan dulu. Istri Si Dali kembali ke rumah orangtuanya di desa di kaki Gunung Talamau karena tidak betah hidup tanpa jaminan masa depan yang baik. melainkan semacam hidup yang dipermainkan. tidak lagi melakukan wirid diskusi mingguan. dia tidak pernah kekurangan beras. Menunggu waktu." *** Bertahun-tahun kemudian aku ketemu Si Dali. "Si Ponco?" "Juga tidak. . "Entahlah. maulah aku. Tapi setelah aku dibebaskan. apa kau menulis?" tanya Neli. katanya." kata Si Dali." jawannya lesu." Neli menyeringaikan ejekan lagi dan merentak pergi membawa seringai bibirnya. Dunia seperti telah aman seaman-amannya untuk semua. tidak lagi baca-baca puisi. Istri Alfonso telah melahirkan anak laki-laki. Haris dan Neli kehabisan tugas yang selama dua bulan dia urus terus-menerus. Dan ketika aku ingtakan pada masa dia ditangkap dulu. "Dimana letak kebebasan yang kau perjuangkan?" tanya Neli ketus dengan seringai bibir yang sudah aku kenal benar."Enak juga jadi tahanan seperti itu. "Masa itu bukan semacam permainan hidup. "Mengapa begitu?" tanyaku ketika kami berjumpa. Bayangkan. "Begitu?" kata Haris. Kami seolah kehilangan motivasi. Kulitnya sebersih pakainnya.

yang juga berlari. Dalam berlari Sidin selalu ingat. Memidahkan tidur penganggur dari rumah istrinya. Namun ia berbelok mengambil jalan lain." katanya sambil terkekeh. Sehingga banyak yang terperosok dan jatuh terduduk karena kehilangan keseimbangan. Karena ada larangan. Namun Sidin berlari juga. Ketika itu. di sepanjang jalan aspal yang rusak berlubang-lubang yang tak terlihat. dikhawatirkan iklim bisa rawan. yang tua-tua ditahan. seperti kataku tadi. Lalu anak-anak muda itu mereka gerakkan mencari sumbangan solidaritas kemana-mana. Di sana dia kawin lagi tanpa menceraikan istrinya yang beranak enam. di tangga. ketika peristiwa yang sama terjadi enam bulan yang lalu. Seolah orang hanya ingat cuma satu. membelam malam dan mendinginkan senja. di jendela. Tapi dia tidak sendiri. sampai malam itu. Tapi peristiwanya pagi. Kayutanam. Ketika itu zaman pendudukan Jepang."Masa itu. Sehingga angkutan kereta api menjadi penuh sesak. bahkan juga di besi bumper dan rantainya. Mau dilarang tidak ada alasan. Keningku berkerut lama oleh cerita Si Dali itu. Sama seperti dulu. di kala itu malam telah datang. Dan memang. rupanya orang-orang intel kewalahan menghadapi tingkah laku sastrawan muda. Tapi di tengah jalan ia tertahan oleh rombongan yang telah kelelahan mengangkut para korban. toh tidak ada yang rugi. Tidak ada angkutan umum selain kereta api. Dan memang sesudah peristiwa itu sampai sekarang tidak ada lagi sastrawan baca-baca puisi." kata Si Dali dengan gaya bicara yang ringan. hujan renyai juga. "Tak ada. wajahnya secerah baju yang di pakainya. Hujan renyai yang turun rintik-rintik sejak siang tadi. Tapi kini aktivis seperti Neli sudah menikah dan memperoleh anak. Itulah yang mendorongnya berlari. Penumpang dan barang bertengger di mana saja. Dan ia tak pernah sampai di tempat kejadian. Haris menjadi dosen yang sibuk karena mendapat proyek penelitian. Dan Si Dali. Alfonso merantau ke Jakarta. 14 Juni 1996 Penolong Sidin berlari. Mereka berlari di malam gelap. Di atap. Sidin pun mengalaminya berkali-kali. Demonstrasi baca puisi berhenti. berlari terus bagai anjing yang kemalaman pulang. seperti orang-orang lain juga." "Tak ada?" "Kami kan orang nganggur. lalu dikasi makan enak-enak. Lalu kami. Banyak orang. Dalam mata anganku terbayang lagi hingar-bingar masa itu. di bordes. Maka kesibukan mereka beralih karena kegairahan mendapat simpati. Karena kendaraan bermotor lainnya telah diambil balatentara Jepang untuk keperluan perangnya. bahwa ada kereta api jatuh di jembatan Lembah Anai. Dibiarkan terus. seolah-olah dia tidak pernah mengalami kesulitan apapun. "Formalnya kau ditangkap atas tuduhan apa?" tanyaku. Dan Sidin ikut menggotong korban ke tempat penampungan di sebuah mesjid. bukan keselamatan .

demi melihat para korban bergeletakan di tepi jalan itu. Di jalan kereta api dekat jembatan yang telah ambruk. di dalam gelap lagi. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Disambut oleh lengkungan besi sebuah jembatan. "Angkat yang masih hidup. Dan semangat orang bepergian melebihi dari biasa. kereta meluncur kian kencang dan kian kencang lagi. Tapi setelah ia sampai dan tahu apa dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Mungkin terpegang pada lukanya atau mungkin ada tulangnya . Sedangkan korban yang lain. apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Dan kereta api yang sarat oleh penumpang meluncur di rel yang licin oleh renyai sejak siang pada jalan yang menurun di lereng lembah dan perbukitan. Mulanya ia memang didorong oleh rasa ingin tahunya untuk datang ke situ. merintih." Dan mereka mencari-cari korban yang masih hidup. Mereka memaksakan diri untuk menggotongnya. Seorang korban yang merintih. terutama beras yang hanya sekitar 100 kg. Banyak korban telah dikeluarkan dari gerbong yang terguling bertindihan di bawah jembatan yang ambruk itu. sambil membawa barang dagangan. Sehingga sulit mengangkatnya. Ia tak tahu juga. Gerbong dan lok yang tidak terawat karena kekurangan peralatan dipaksa terus mengangkut muatan berlebih. Seseorang menyuruh Sidin ikut menggotong korban yang baru saja dikeluarkan dari gerbong-gerbong itu. merasa tersentak dan bulu romanya menggerinding. Seperti dihipnotis.dirinya. Dikeluarkan dari gerbong. mungkin ada kerabat atau temannya yang menjadi korban. Lebih hebat dari kecelakaan yang sama pada enam bulan yang lalu. Ada yang telah diam. Seluruh gerbong pun ikut terjun bertindihan. Kereta api harus jalan dan penumpang harus bepergian. apakah mereka masih hidup atau mati. Tidak diketahui pasti. Dan Sidin. Dan tidak seorang pun yang peduli. melainkan badannya harus sampai ke tempat tujuan. Pada waktu Sidin sampai di tempat kecelakaan itu. Dan licin lagi. Dan si korban berteriak kesakitan. lok lepas dari relnya. Mereka menamakan dirinya tukang catut. Dibariskan di tepi jalan raya. Lengkungan itu ambruk dan lok pun terjun ke sungai yang tengah deras airnya karena hujan di hulu. orang-orang belum banyak. Rem dapat menghentikan roda berputar. ia bingung.oleh bangsanya sendiri pula. seperti halnya ia tidak tahu mengapa ia sampai di situ dengan berlari-lari. Mereka bukan pedagang. Terasa berat tubuhnya. diurus . tapi ada juga yang bergerak. Dan apa yang dapat ia lakukan untuk mereka yang menderita atau yang telah mati itu? Tiba-tiba didengarnya ada orang yang berteriak-teriak meminta tambahan tenaga di dekat gerbong-gerbong yang berimpitan itu. didapatinya pula banyak korban sedang tergeletak. sudah cukup memberi makan satu keluarga untuk beberapa hari dari hasil keuntungan. mereka angkat berdua. Ia mendekati korban-korban yang tergeletak itu. tapi bagaimana mencari mereka di antara korban yang telah tergeletak itu. Dan di sebuah tikungan patah. Dengan beberapa orang ia mengangkatnya. dan diangkut cepat dengan truk yang disiapkan untuk diberi rawatan di rumah sakit terdekat. dalam cahaya remang-remang lampu tekan yang enggan nyala ditimpa gerimis. Kecelakaan telah terjadi lagi. Tapi seseorang berkata lagi. Ia pikir. Sidin berlari ke sana. Lampulampu tekan yang sedikit tak kuasa memberikan penerangan bagi orang-orang yang memberikan pertolongan. malah merasa ngeri. Beberapa Jepang dengan pakaian militernya. hanya memilih Jepangnya saja. digotong ke tepi jalan raya. tapi tak dapat menghentikan kereta api itu meluncur. Memang sangat lengangnya orang di sebelah sana. Dengan bepergian. Karena muatan berlebih dari kemampuan.

Melewati jalan setapak yang terjal menurun pula. "Familimu?" "Tidak. Biar orang lain yang menggotongnya lagi. karena gemuknya. Dan dalam hatinya ia sesungguhnya menyetujui semua komentar orang yang tidak dikenalnya tapi samasama menggotong itu. Sidin sungguh-sungguh tak tahan mendengar dan merasakan penderitaan orang itu. Tapi ia tak mungkin mengendurkan pegangannya." "Banyak yang lain lagi yang patut ditolong. seraya merendahkan tubuhnya untuk benar-benar hendak meletakkan tubuh itu ke tanah. "Kalau ular." kata yang lain. Sidin mempererat genggamannya agar si korban tidak melorot." kata laki -laki yang pertama. Sidin berpikir. Dan selalu meraung-raung kesakitan. Menurun lagi. Tapi korban yang mereka gotong itu begitu berat." kata yang pertama." kata laki-laki yang pertama tadi. Tapi ia korban kecelakaan.yang patah tidak cukup terpapah. Tapi itu hanya dalam khayalannya saja. Kini jalan yang mereka tempuh begitu sempit. biar dipenggal kepalanya. Letakkan saja di sini. orang ini Mak Gadang. "Jangan cengeng. Lebih tersiksa lagi oleh pikirannya pada nama yang terkenal di seluruh kota sebagai orang yang bejat hatinya. Sedikit lagi. Berbatu besar. sungguh merupakan siksa baginya. sulit dilalui oleh dua orang bersamaan. Kami bukan anak buahmu atau istri-istri mudamu yang bisa membelai-belaimu. Tapi lebih terkenal sebagai pencari perempuan untuk orang-orang Jepang dan mendapat upah dengan menjualkan barang-barang curian milik Jepang langganannya itu. Semestinya ia tidak ditolong. korban mereka angkut ke jalan raya yang sejajar dengan jalan kereta api itu." kata temannya. Korban itu mengerang terus. "Kalau tak salah. Dan Sidin menduga pegangannya tepat pada bagian yang cedera. ular juga." "Kesengsaraan bisa mengubah tabiat." "Tanggung menolong. "Wah. "Tahanlah. Dikenal pencatut. Setelah datang seorang lagi ikut menggotongnya. susah amat menggotong buaya ini. ke tempat korban-korban lain menanti pertolongan pengobatan atau pengangkutan ke rumah sakit di kota. Dan Mak Gadang menjadi kaya karenanya. "Bagaimana kau tahu ini Mak Gadang dalam gelap begini?" kata Sidin. Tapi si korban mengerang kesakitan. Sedikit lagi kita sudah sampai. Sidin kenal nama Mak Gadang di kotanya. Salah seorang yang menggotong itu berkata." . apakah memang orang seperti ini perlu diberi pertolongan? Begitu berat tubuhnya yang memang besar dan tambun itu. Dan dalam menggotong korban yang terus mengerang itu.

Dan ia merasa masih mendengar betapa erangannya ketika digotong. karena kawat yang lama telah putus oleh sebuah tiang yang juga tertabrak kereta api yang terguling itu." katanya memperingatkan Jepang yang memegang senter itu agar menggantikannya. Dan Mak Gadang yang digotongnya tadi. Jepang itu menyuruh Sidin tegak di bawah tiang telepon. Bukan hanya sebuah tiang. lalu memberikannya kepada orang berikutnya secara beranting. Dan Sidin tiba-tiba sadar. Salah seorang mengambil pergelangan tangan korban untuk memeriksa denyut nadinya. dua orang yang berbaju putih menyongsongnya. Lalu pada korban-korban yang diperkirakan telah meninggal. ia telah melakukan tugasnya.” Kemudian datang dua orang lain ikut membantu menggotong sampai ke tempat yang ditunjuk oleh orang yang berpakaian putih tadi. "Hai. Tapi jelas orang itu tidak hendak memberikan bantuan. Hawa malam terasa dingin dengan tiba-tiba. mungkin korban itu mengerang dan merintih karena nyawanya sedang diregang-regang maut. Dari tempatnya ia juga melihat orang-orang di sebelah sisi sungai berbanjar menyambut korban yang baru keluar dari gerbong. Sidin tidak merasakan apa-apa ketika tubuh Jepang itu berpijak di bahunya. karena ia mampu mendukung tubuh Jepang yang kekar itu. Sidin tersandar keletihan di bawah tiang. Dan ketika mereka sudah sampai di pinggir jalan raya. Sudah tenang. tak bergerak dan tak mengerang oleh kesakitan. Sedangkan Jepang yang seorang lainnya. melainkan sembilan buah tiang yang kawat lamanya telah kendur dan terjela-jela di tanah di sepanjang jalan kereta api itu. Ketika Jepang-jepang itu telah pergi ke tiang lain. Hawa malam di lembah pegunungan itu.Korban itu tidak mengerang lagi. Sidin keheranan pada dirinya. Juga pada tubuhnya yang terkulai di saat ia menggotongnya. Tiba-tiba hatinya menduga bahwa orang itu pastilah pencuri. Anata. bahwa orang yang digotongnya itu telah mati. tiba-tiba saja badannya terasa lemah dan tak kuasa lagi mendukung tubuh Jepang itu pada tonggak yang kesembilan. Tapi juga ia melihat ada seseorang yang meraba-raba korban demi korban. Dan kemudian katanya. Beberapa kelompok mencari-cari kerabat atau kenalannya dengan menggunakan suluh. Didengarnya juga erangan dan rintihan korban yang masih hidup. Tempat kecelakaan tak tampak dari . "Taruh di sebelah sana. Rupanya Jepang itu memerlukan pertolongannya untuk memasang kawat telepon darurat. hanya menyenter dengan lampu baterai ke arah kawat darurat itu diikatkan pada tiang. Matanya melihat orang-orang lalu-lalang mengangkut dan mencari korban yang mungkin dikenalnya. Dilihatnya seorang Jepang memanggilnya. lalu dengan berpijak di pundak itu ia mengikatkan kawat-kawat baru. Karena disuruh letakkan sekelompok dengan korbankorban lain yang telah diam. Matanya melihat. yang digeletakkan terpisah dari yang masih hidup. Sidin tercenung kebingungan ketika bersandar pada pagar tembok jembatan. Oleh dugaan itu. Sidin menoleh ke arah suara itu. masih tergeletak di tempatnya. Kemudian ia ingat pada seorang yang memeriksa mayat demi mayat. Kemudian ia memanjati pundak Sidin yang kurus kerempeng itu. Dan pikirnya. Sehingga kenangannya pada erangan Mak Gadang ketika digotongnya timbul lagi. "Anata. Omae! Mari sini!" Kedengaran seseorang berseru dekat tiang kawat telepon. Dan tak seorang pun dilihatnya. tapi pikirannya tidak jalan.

dibawah jembatan kereta api. terlindung di balik punggung bukit. Ia kembali ke jembatan jalan umum. Tidak lain maka ia menyesali dirinya sendiri. Rasa dingin malam kembali menerpanya. diiringi oleh banyak orang. Setiap ada korban yang digotong ke kota. Baju balcunya yang tipis. Ia minum sepuas-puasnya untuk menghilangkan haus dan mengisi perutnya yang kosong. Ia melihat ada tiga gerbong penumpang yang bertindihan. meski diterangi oleh beberapa lampu tekan. Ia merasa sangat lapar. kainnya telah tiada. Ada pancuran kecil. Teringat pada bagian hulu sungai itu. Samarsamar. Sidin cepat-cepat memalingkan pandangannya. Air itu telah susut jika dibandingkan ketika mula datang tadi. Kain itu digunakan untuk tandu menggotong kerabat mereka yang jadi korban. Ia kembali naik ke jalan. Ia merasa sangat sendiri. lalu dengan beranting menggotongnya sampai ke tepi jalan raya untuk diperiksadan dirawat oleh tenaga-tenaga kesehatan yang . karena di sana banyak orang dan rasa kesendiriannya bisa hilang . yang tadinya basah oleh gerimis. Lunglai ia mencoba berdiri dan melangkah ke tempat kecelakaan itu terjadi. kini sudah kering karena renyai telah berhenti. Dan tersandar pada kaki jembatan. Mereka berdiri dalam kelelahan. Pikir Sidin. dia memandang ke arah jembatan kereta api yang ambruk. ia melihat pancuran bambu. Hilanglah keinginan minumnya. Tapi air itu belum mendidih. Ia datang ke tempat itu hanya untuk melihat peristiwa. Tapi tak banyak lagi orang yang berdatangan dari arah kota. Sendiri. mungkin kawannya. Beberapa buah gerbong barang terendam berserakan di dalam air. Sidin mendekati. Sidin yang kehausan melangkah ke arah yang ditunjuki orang itu. Mengapa orang tega mencuri kain perempuan-perempuan itu. Dan yang paling menggodanya ialah rasa haus. Tapi hewan malam tak tertahankan. “Di sana. Tak seorang pun famili atau kenalannya yang diperkirakannya ikut menjadi penumpang kereta api yang sial itu. mereka itu menanti korban yang dikeluarkan dari gerbong itu. Namuh Sidin masih kebingungan karena tak tahu apayang harus diperbuatnya.situ. Dan di salah satu pinggir sungai ia melihat orang-orang berbanjar dari tempat gerbong bertindihan itu ke tepi jalan raya. Airnya jatuh gemericik. Dan kinilah ia baru tahu untuk apa sarung mayat perempuan diambil orang. Entah masih hidup korban itu atau sudah mati. Ditampungnya air itu dengan kedua telapak tangannya.” kata seseorang sambil menunjuk ke kaki bukit ketika Sidin menanyakan dari mana air dalam ketel itu diambil. Sambil bersandar ke pagar besi di tengah-tengah jembatan itu. dan tak seorang pun terlihat. mungkin familinya. masih banyak mayat bertumpuk-tumpuk degan gerbing yang terendam dalam sungai itu. Yang teratas berdiri dengan vertikal setengah miring. ia dapat memperhatikan lebih saksama betapa hebatnya kecelakaan itu. Namun selintas ia masih menampak Mak Gadang di tempatnya semula. dan membiarkan tubuhnya telanjang? Pikir Sidin. Bertambah banyak mayat bertumpuk di tempat ia meletakkan Mak Gadang tadi. karena ia tadi belum sempat makan malam ketika berangkat. Di dalam gelap malam itu. Hampir seluruh perempuan yang telah mati. Mereka pulang setelah menemukan korban yang dicarinya. Lalu di bawa ke mulutnya. Di sebuah lapangan sempit di tikungan jalan yang mulai mendaki dilihatnya irang ramai di sekitar api unggun. Ada orang merebus air pada sebuah ketel. Sehingga rasa kecut merasuk ke dalam dirinya. Ia minum sampai keluar serdawa dari mulutnya. Kemudian barulah ia dapat melihat situasi dengan lebih jelas. di malam gelap pada pesawangan. Hingga kakinya sampai ke pangkal paha terbuka. Lalu ia menuruni tebing sungai di bawah jembatan itu hendak meminum air yang bening mengalir.

sedang mencoba menarik-narik seorang korban agar terlepas dari tumpukannya. Sidin tak sempat berpikir banyak lagi. Tak seorang pun yang mempedulikannya. Tiba-tiba dari arah jalan raya ada seseorang berteriak-teriak. Dan ketika anak muda itu memandang kepadanya. Orang-orang memang telah letih. Gerbong terbawah itu tergencet antara gerbong barang dan gerbong penumpang. Namun matanya melayang juga ke keliling dengan perasaan ngeri yang tak kunjung hilang. Berebut mencari kopi yang diimbau dengan teriakan itu. Keduanya buru-buru mencarinya. Dan maki-makian Jepang menyuruhnya segera bekerja. kemudian mengajaknya ikut membantu. kenapa begitu lama mereka menanti? Seperti ada yang mendorong Sidin untuk menyelusup ke dalam gerbong yang terbelingkang itu. Tuantuan!" Serentak dengan teriakan itu. ketika Sidin kebingungan hendak memasuki salah satu gerbong. Dan makian Jepang "Bagero omae! bagero omae! " tak seorang pun yang mempedulikan. Hati Sidin bagai terlecut jadinya. hingga roda-roda gerbong yang menimpanya terbenam ke dalam gerbong di bawah itu. “Rekas! Rekas! " kata seorang serdadu J epang menyuruh Sidin yang tertegun hendak memasuki gerbong itu. dan bahkan lapar karena tak henti-hentinya bekerja menggotongi korban yang dapat dikeluarkan dari gerbong atau terpental ke dalam sungai. Hari memang telah lewat tengah malam. juga haus. Tiba-tiba terdengar suara mengerang-ngerang dari antara tumpukan korban." kata orang yang berdiri paling dekat di gerbong itu. Dan bagero Jepang itu melayang-layang lagi di udara malam itu. Sehingga ia tak bisa lagi untuk mundur tersebab rasa ngerinya melihat mayat yang saling berimpitan di dalam gerbong itu. Akhirnya ia melihat anak muda itu mencoba mengangkat korban yang bertumpukan seorang diri. Hanya beberapa orang saja yang tidak beranjak dari tempatnya. Sidin memasukinya lewat beberapa jendela yang telah dibongkar tiang pembatasnya. Sidin tidak bisa membalas senyum itu. Tapi Sidin telah berada di dalam gerbong. seperti orang memindahkan setumpukan karung-karung beras untuk mencari dari mana sumber suara . Pada bagian yang ditimpa gerbong di atasnya begitu remuknya. tersenyum menyambut kedatangan Sidin. Tapi begitu lamanya. kopi. Ia tersandar pada dinding gerbong. Anak muda. Kenapa hanya seorang penolong saja. Tapi hanya seorang penolong yang ada di sana. perasaan ngeri yang sangat menyebabkan seluruh sendinya demikian goyahnya. orang-orang yang berbanjar di sepanjang tepi sungai itu bagai semut yang terpijak sarangnya. "Tuan-tuan. satu-satunya orang yang masih menolong untuk mengeluarkan korban dari dalam gerbong itu.semuanya berbaju putih dan biru tua. Tapi tak ada orang yang menyambutnya. "Di gerbong paling bawah. tak mampu menggerakkan semangat Sidin untuk memulai. tak ada korban lagi di gerbong itu. la lewati orang yang berbanjar itu. yang seusia Sidin. Kalau memang tidak ada kenapa masih ada orang berbanjar di tepi sungai itu? Kalau masih ada. pikir Sidin. Mungkin korban yang telah mati. Berdua mereka mengangkati korban yang telah mati itu dan mengeluarkannya melalui jendela gerbong. Sebuah lampu tekan tergantung dengan diikatkan pada kayu rak barang. Dengan memindah-mindah mayat-mayat lainnya.

melainkan diminumkannya kepada gadis kecil itu. Kalau mesti menggunakannya. Ketika kepalanya keluar dari jendela. Secangkir diserahkan kepada temannya dan yang lain segera diminumnya karena dengan tibatiba rasa haus dan lapar digoda oleh aroma kopi itu. Ia keluarkan kepalanya lewat jendela yang dibongkar itu. Dan mereka berusaha mengeluarkannya. "Kopi?" tanya orang itu lagi. Alangkah lahapnya gadis itu meminumnya." kata Jepang itu seraya memberikan kampak. "Lagi?" tanya orang yang mengantarkan kopi itu. Pikirnya selintas. Sidin lalu menceritakan dengan bahasa isyarat pada Jepang yang kerjanya Cuma memaki dengan bagero itu. tapi itu tak mungkin mereka melaksanakannya berdua saja. Mestinya mayat yang di bagian atas itulah yang harus dibongkar lebih dahulu. Dipukulnya keningnya beberapa kali. Seorang gadis kecil yang terjepit di antara beberapa mayat yang bertumpukan. sampai tangannya dirasakannya sakit. Lagi-lagi gadis itu menjerit kesakitan. mayat itu tak beranjak dari tempatnya. ia tak mampu melaksanakannya. mungkin tadi kampak itulah yang digunakan untuk memperlebar lubang jendela itu. Sidin melihat ada roda gerbong yang menekan ke bawah. "Kaki seorang gadis terjepit. Mereka mencoba mengangkat mayat yang di atas gadis itu. Dilihatnya temannya itu tidak meminumnya. Pikirnya tak mungkin digunakan kampak itu untuk memotong mayat yang menjepit itu. Dan Sidin mengutuki dirinya yang hanya memikirkan dirinya seorang. Potong na. tapi usahanya kandas karena setiap mereka mencoba menariknya. Sidin hendak minta tolong kepada orang lain untuk membantu memindahkan roda besi yang menekan itu. Lalu mereka mencoba lagi menarik mayat yang lebih di atas lagi. Walau bagaimana pun sudah diusahakan. Tapi tidak bisa telinga Sidin menangkapnya. Kampak itu diambil oleh temannya sambil menyeringai ketawa seperti ketika ia menyambut kedatangan Sidin tadi. sehingga Sidin hanya melihat mulut orang itu terbuka. Minta bantuan tenaga!" kata Sidin berteriak lagi. Sidin mengangguk. gadis itu selalu terpekik. namun kaki gadis itu tak dapat dilepaskan dari jepitan mayat itu. Akhirnya mereka menemukan sumber suara itu. . “Potong na. orang yang paling dekat darinya. "Seorang gadis terjepit kakinya!" seru Sidin pada orang yang berdiri di atas batu kali. “Apa?!" tanya orang itu dengan berseru pula. Dan itu tak mungkin mereka angkat berdua. Dan bersamaan ia dengar hatinya sendiri merintih dan lehernya membengkak serta jakunnya terasa tersendat di lehernya untuk menahan jeritan hatinya keluar dari kerongkongan. Tapi suara itu berbaur dengan desauan air yang mengalir. ia merasa terpukul. Kutukan itu dirasakannya kurang cukup untuk mengajari dirinya. seseorang membawakan dua cangkir kopi untuk mereka. Sidin menerimanya. Namun bagaimanapun keras usahanya menarik-narik. Tapi ketika ia melihat kepada temannya itu. Karena memang secangkir kopi tidak cukup baginya.itu.

Sidin menggamit orang itu supaya mendekat. Sambil ia berseru meminta dua orang tenaga dengan mengacungkan dua jarinya. Sedang bagero Jepang itu terus juga melayang-layang. "Dua? Baik. Aku ambilkan," kata orang itu seraya pergi menjauh. Sidin menyangka orang itu akan mengatakan pesannya kepada orang terdekat. Tapi ia terus juga melewati orang-orang yang berdiri di tepi sungai itu. Dan Sidin terus juga berteriak-teriak mengatakan apa yang ia perlukan. Di sela oleh bagero Jepang itu. Tak ada orang yang memahami apa yang dikatakannya, karena suaranya ditelan oleh desauan air sungai yang mengalir di sela-sela batu, bagero-bagero Jepang yang melayang-layang, padahal jarak mereka tidak jauh. Tiba-tiba saja, anak muda yang jadi temannya dalam gerbong yang sial itu, telah berada saja di sisinya. Ia tertawa nyengir seperti waktu menyambut kedatangannya tadi. Sidin bingung seketika, oleh tawa yang pada waktu dan tempat yang tidak sesuai itu, meski hanya menyengir saja. "Beres," kata anak muda itu sambil terus menyengir. Sidin melirik ke tempat gadis kecil itu terjepit. Gadis itu tak di sana lagi. Gadis itu ada di dalam gendongan anak muda itu. Wajahnya diam dan kepalanya terkulai. Dan ketika ia naik ke bangku gerbong tempat Sidin berpijak, maka Sidin turun dari bangku itu untuk memberi kesempatan pada anak muda itu keleluasaan menggotong korban itu. Tapi tiba-tiba ia tidak melihat sebelah kaki gadis itu. Di ujung kaki yang tak terlihat itu ada daging merah yang masih mengucurkan darah. Secara refleks ia menoleh ke tempat gadis itu terjepit kakinya oleh mayat dari korban kecelakaan itu. Di sana ia juga melihat ada daging kaki yang terpenggal dan darah berserakan pada mayat yang di bawahnya. Sebuah kampak tergeletak di dekatnya. Sidin tiba-tiba puyeng dan rebah terhenyak menimpa mayat yang ditaruhnya tadi. Dan Sidin tidak tahu ketika gerbong itu berguncang. Juga ia tidak tahu ketika mayat yang bertindihan yang tadinya dicobanya membongkar terlepas, lalu berguling menimpanya. Ketika Sidin sadar kembali, ia tidak tahu bahwa waktu sudah hampir dini hari. Karena kegelapanlah yang ia lihat sekeliling. Dan sejajaran benda besar yang lebih hitam bagai hendak menyungkupnya. Dikejap-kejapkan matanya agar bisa melihat lebih nyata benda hitam apakah itu. Lama juga disadarinya bahwa benda besar yang hitam itu adalah bukit barisan dan bagian atasnya adalah langit. Lalu ia tahu, bahwa ia sedang tergolek di udara terbuka. Tapi di manakah sesungguhnya ia berada sekarang, pikirnya. Dan ia memicing lagi untuk memusatkan pikirannya dalam mencoba mengenangkan di mana ia sedang berada. Ketika kesadarannya mulai agak pulih, ia memaksakan dirinya untuk duduk. Tapi tenaganya bagai telah habis, karena tusukan rasa nyeri pada hampir seluruh tubuhnya. Lalu ia memicing lagi, memusatkan pikirannya lagi. "Anak itu, anak itu. Kenapa dipotong kaki anak itu!" katanya berteriak-teriak sambil bangkit dari berbaringnya, ketika ia ingat peristiwa yang dialaminya terakhir.

Seorang gadis perawat menghampirinya dan merebahkannya lagi seraya membujuk agar Sidin tenang. "Gadis itu. Gadis itu ia potong kakinya dengan kampak," kata Sidin berulang-ulang ketika perawat itu berusaha membaringkannya kembali. Sidin tidak mau dibaringkan. Ia terus hendak duduk lagi, sambil berkata tentang kaki gadis yang dipotong dengan kampak itu. Seorang perawat laki-laki datang membantu temannya. "Kena syok oleh peristiwa ini, agaknya," kata gadis perawat itu. Kemudian katanya pula, "Ambilkan kopi." Setelah ia minum kopi yang disodorkan kepadanya, Sidin yang sejak tadi terus meracau tentang gadis kecil yang dipotong kakinya, mulai agak tenang. Dan ketika kopi pada cangkir kedua yang disodorkan padanya telah habis diminumnya pula, pikirannya telah lebih jernih lagi. “Aku tidak apa-apa. Aku tidak jatuh di kereta api. Aku menolong korban di gerbong itu. Seorang gadis kecil kakinya terjepit. Gadis itu masih hidup. Ada orang memotong kaki gadis itu dengan kampak. Di mana gadis itu sekarang?" tanya Sidin. "O, gadis itu. Ia tidak apa-apa. Sudah diobati. Sudah dibawa familinya pulang," kata perawat itu lagi.. "Istirahatlah dulu. Saudara terlalu payah. Berbaringlah kembali.” Nyeri di sekujur tubuhnya terasa lagi. Tapi ketika ia hendak berbaring, ia melihat ke kiri kanannya. Ia menampak banyak orang terbujur di sekitamya. Pada beberapa bagian badan mereka ada yang di balut kain, di antaranya berbecak-becak dengan warna yang gelap. Ia tahu bahwa semua mereka adalah korban kecelakaan kereta api, dan dia sendiri bukan salah seorang di antara mereka. Tapi rasa nyeri di sekujur tubuhnya bagai tak terderitakan lagi. Dan ketika gadis perawat itu membaringkannya kembali, ia menurut saja. Jadi gadis itu tak apa-apa. Sudah dibawa pulang, kata hatinya ketika ia mengingat-ingat apa yang dikatakan perawat itu. Tapi mengapa dibawa pulang? teriak hatinya pula. Sidin bangun lagi dan berdiri menuju ke tempat perawat-perawat itu berkumpul mengelilingi lampu tekan yang terang benderang. Ketika ia hendak menanyakan ke mana gadis kecil yang dipotong kakinya itu dibawa, Sidin melihat seseorang yang diikat kaki dan tangannya. Ia merasa mengenalnya. Dan orang itu tertawa menyeringai kepadanya. Dan ia ingat itulah temannya dalam gerbong itu. Sidin hendak berkata, ketika seorang perawat laki-laki mendekatinya dan menanyakan keperluannya. "Dia itu. Dia itu," kata Sidin tanpa dapat menyelesaikan kata-katanya karena pikirannya belum teratur demi ia melihat anak muda itu masih menyeringai memandang kepadanya. "Itu orang gila. Menyasar ke sini," kata perawat itu.

Dan Sidin tiba-tiba nanar. Hampir saja jatuh terkulai lagi ke tanah kalau perawat itu tidak segera menopangnya. Lama kemudian, ketika rasa kejutnya menyurut, timbul pertanyaan dalam kepalanya, kenapa hanya ada orang gila di dalam gerbong itu? Perasaannya tersenak ketika ia ingat pada gadis kecil yang kakinya dipotong dengan kampak oleh seorang gila. Emosi dan sesalan Sidin tak terbendung lagi. Dan orang pun menyangkanya juga gila. Penumpang Kelas Tiga Si Dali ketemu teman lamanya di kapal Kerinci yang berlayar dari Padang ke Jakarta, sebagai penompang klas tiga. Ketemu setelah berlayar semalam, waktu lagi antri ke kakus. Padahal sebelum itu mereka sudah bertatap pandang juga di tempat tidur yang bersela seorang lain. Namun tidak saling memperhatikan, apalagi bertegur sapa. Barulah saling memperhatikan waktu antri hendak ke kakus itu. Mulanya saling bertatapan, lalu saling melengos. Bertatapan lagi dan melengos lagi. Ketika bertatapan ketiga, mereka tidak melengos lagi. Mereka sama tersenyum. "Engkau Si Dali, bukan?" kata yang seorang. "Si Nuan?" kata Si Dali menyahut dengan tanya. Mereka berangkulan dengan kedua tangan masing-masing memegang peralatan mandi, sabun, gundar gigi dan handuk. "Sudah lama sekali kita tidak ketemu." "Memang sudah lama sekali." Mereka saling bertanya-tanya dan saling berjawab-jawab. Dengan asyik. Sampai beberapa orang sudah keluar dan masuk kakus, mareka masih bertanya-tanya dan berjawab-jawab. Dalam pada itu pikiran Si Dali berjalan ke masa lalu yang sudah lama sekali. Nuan punya saudara kembar, Nain namanya. Untuk menandai perbedaannya, yang satu tidak segempal yang lain. Kemana-mana selalu bersama. Kata orang, orang bersaudara kembar sering punya selera yang sama. Termasuk terhadap perempuan. Kata orang, itu baru ketahuan kemudian. Yaitu ketika terjadi persaingan untuk mendapati hati seorang gadis. Yang menjadi idola pada awal revolusi, terutama oleh para gadis, ialah prajurit yang dipinggangnya tergantung pedang samurai dan kakinya dibalut kaplars. Nuan dan Nain yang hanya dapat pangkat sersan satu dengan tugas sebagai pelatih TKR bagi prajurit baru. Karena pangkatnya yang rendah, mereka tidak berhak memakai kedua perangkat perwira yang bergengsi itu. Keduanya pun sama merasa tidak mendapat perhatian Si Wati, gadis di sebelah rumahnya. Dan ketika Komandan Pasukan Hizbullah, Kolonel Hasan, mengajak bergabung dengan pangkat letnan dua, Nuan meninggalkan tugasnya

kalau ayah mau Nuan?" jawab Wati dengan nada yang memelas. sedang Nain dalam kesatuan tempur di front. Tentu saja pada kesempatan itu mereka saling membanggakan pasukan masingmasing.dari TKR. Sedangkan Nuan yang ikut PRRI mundur ke hutan. meski pedang samurai dan kaplars tidak lagi berhak mereka pakai. Dan ketika akan melampaui tapal batas. sekali lagi kesatuan Nain ditugaskan menumpasnya. Karena kesatuan Nain sering berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain yang dilanda kemelut militer akibat para perwira tidak puas terhadap kebijaksanaan politik kemeliteran sehabis revolusi. Semenjak itu mereka tidak pernah bertemu lagi. tapi menurunkan pangkat dua tingkat pasukan yang berjuangan. Mereka pernah berdebat di depan Wati untuk membenarkan tujuan perjuangan masing-masing. Tapi lebih sering datang sendiri-sendiri karena memang tidak punya waktu senggang yang sama. api dalam dada keduanya menyala lagi. Akan tetapi belum ada yang berani menebarkan jala untuk mendapat Wati. maupun lama di front. malah menumbuhkan perseteruan diam dalam diri keduanya." "Padahal engkau membalas ciumanku. Api dalam dada Nain bercampur aduk dendam antara cinta tercuri dengan permusuhan idiologi dengan saudara kembarnya. Yaitu menerima pasukan KNIL dengan kepangkatan yang utuh. Keduanya tetap sama membanggakan tugasnya masing-masing kepada Wati." tempelak Nain kepada Wati. Nuan mendapat tugas baru sebagai staf pada bagian logistik. "Apalah arti perbedaan pasukan. Nuan selalu bicara tentang perang jihad bila bertandang ke rumah Wati. Mereka bergumul lagi. Tapi Nuan yang kau jadikan suami. Kian lama bergabung dengan pasukan yang berbeda idiologi perjuangan itu. Katanya: "Perwira bagian logistik akan lebih menjamin kebutuhan hidup rumah tanggamu. meski bernafsu dia hanya . Sekaligus menimbulkan persaingan dalam merebut hati Wati. Itu terjadi setelah pemerintah melakukan kebijaksanaan rasionalisasi dengan menggabungkan seluruh kesatuan pejuang ke dalam TNI. "Apa dayaku. Oleh kebijaksanaan pemerintah itu. Nuanlah yang akhirnya berhasil merebut Wati. Nain sudah terlatih bersikap radikal. Ketika kemelut militer berjangkit dalam bentuk peristiwa PRRI. Sedangkan Nain bicara tentang revolusi rakyat. pangkat semua per. Agar dapat pangkat yang sama Nain pun bergabung dengan Tentera Merah Indonesia. Pergumulan pun reda. Wati dirangkulnya erat. Sedangkan perwira di front lebih memungkinkan kau cepat jadi janda. Menurut Wati. Tapi Wati tinggal di kota. Ayah Wati berpandangan praktis dalam menenetapkan siapa yang akan jadi jodoh anaknya. baik karena ikut Tentera Merah. Yang penting sama jadi letnan. Dan mereka bergumul dengan dada masing-masing bergemuruh. Ketika Nain datang mendapati Wati. Wati sadar bahwa dia telah jadi isteri Nuan. Berulang kali. sama punya pedang samurai dan pakai kaplars." kata mereka sambil menyangka Wati akan mulai punya perhatian. yang ketika itu telah beranak dua.wira di luar TNI diturunkan dua tingkat.

lalu meniduri Inna. Dia pergi ke kamar Inna dengan nafsu dendam yang menyala-nyala kepada Wati. Dia tak muncul lagi sampai kedua laki-laki itu pergi. "Wati toh perempuan yang dikalahkan sejarah. yang menjadi kapten karena perangnya menang. . "Kamu rasakan kini menjadi orang yang kalah. Dengan perasaan itu dia menerima Wati kembali yang membawa kedua anak mereka. lebih baik menerima Nain yang sekaligus menjadi pelindung. Lari dari keadaan yang tak tertanggungkan bila meledak. Hatinya luka. Tapi dia adalah prajurit yang perangnya kalah. Tiba-tiba letak panggung sejarah berobah. Haruskah membalas dendam karena Wati ditiduri Nain. Dia tidak dapat melakukannya. Semuanya khianat. Jadi berbeda idiologi karena berbeda kereta tumpangan yang disediakan sejarah. Ditangkap lalu dipenjarakan. Bila mengambang menjadi jeritan. Lalu dia keluar sambil membanting pintu. yang kini menumpang di rumahnya? Tidak. isteri saudara kembarnya." Tapi Nain adalah saudara kembarnya yang lahir dari perut ibu yang sama.menjalaninya dengan per imbangan: daripada melayani prajurit lain yang lagi mabuk kemenangan. Dia bertatapan dengan Nain yang sudah kapten yang menang perang." teriaknya berulang-ulang. Sebentar. Inna adalah isteri saudara kembarnya. Tak berkata sepatahpun. lalu dia marah dan kemudiannya benci yang membuahkan dendam yang tidak akan terhapus. Kini dialah yang dikalahkan. diredam oleh keharusan berdamai dengan situasi. menjadi pembantu letnan. Di sebelah sana adalah Nain. Apa yang dapat dilakukan oleh orang kalah perang? Bagi Nuan tidak lain daripada selain kalah dan seterusnya menerimanya tanpa dapat berbuat apa-apa. Namun Nuan hanya tegak termangu melihat Inna membuka baju sambil tersedu. Yang kini menjadi pembantu letnan setelah pangkatnya diturunkan oleh sejarah. Mengapa dia harus membalas dendam kepada saudara kembarnya sendiri yang kini tengah mengalami siksa akibat idiologinya sendiri. akhirnya dia yakin bahwa antara Wati dan Nain ada main. luka hatinya menganga. Akan tetapi ketika dia ingat Wati pernah mengkhianatinya. lalu mereka berangkulan sebagai dua orang saudara kembar. Pemberontakan kaum komunis pun pecah. Dan Wati lari ke ruang belakang dan terus ke rumah sebelah. "Khianat. ya. isteri Nain. dihadapan Wati. yang cantik dan lebih muda. bahkan berpikir apapun. Ditinggalkannya Wati yang lagi berbaring di sisinya. Nuan kembali bergabung ke TNI dengan pangkat baru yang diturunkan lagi dua tingkat. Nain yang kapten dan baru diangkat jadi mayor ikut komunis. Tapi dia seorang prajurit yang kalah perang. menyusuri jalan raya yang gelap karena listrik sudah lama mati oleh mesin sentralnya sudah lama rusak. Sesudut hatinya bersorak. Pikiran dan perasaan yang berancuan moral. dia tekan jauh ke dalam lubuk hatinya." katanya mendamai-damaikan sisa gejolak di hatinya. lalu dugaan. sebentar saja mereka sama terpaku saling memandang. Karena kemenangan itu dia meniduri Wati. Pada mulanya perasaan. Akhirnya setelah kalah perang.

. yang duduk pada kursi di belakangnya bertanya: "Anda kenal dia juga. "Ya. Berdagang saja." jawab Lara dengan suara datar. Si Dali mengulurkan tangan untuk bersalam. Matanya nanap memandang Lara yang kian menjauh. Keduanya berangkulan lagi sebagai sahabat lama yang akrab. kita tidak ketemu?" kata salah seorang setelah sama menopang dagu ke pagar geladak kapal sambil memandang ke gelombang laut lepas. Pada mulanya keduanya sama terpaku ketika saling pandang seperti tidak percaya pada penglihatan masing-masing. Seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. 6 Januari 1996 Perempuan Itu Bernama Lara Lama juga setelah perang usai Si Dali mencari-cari dengar dimana Lara... bisnis apa?" "Oh."Sudah lama sekali." "Meski begitu." "Tiba-tiba saja kita telah menjadi tua. . Tiba-tiba dia seperti kenal betul beda sosok perempuan seperti Lara dengan perempuan karir atau perempuan rumahtangga. seperti padanya tak lagi ada emosi." kata Si Dali seperti kepada diri sendiri." Kayutanam. kita tidak bisa betul-betul lupa..." "Dagang apa?" "Dagang apalagi kalau sudah terlanjur dari dulu. Lalu keduanya saling menyongsong. Kemudian Si Dali bertanya: "Tadi kau bicara tentang bisnis. Lara berdiri." kata laki-laki itu tanpa melanjutkan. Kalau aku boleh tahu. "Coba kalau aku tahu sebelumnya. Pada waktu dia hampir-hampir melupakannya." "Memang. rupanya?" "Dia isteri komandan kami. sudah lama sekali. Si Dali terhempas duduk ke kursinya lagi. perempuan itu ditemuinya di Bandara Kemayoran." kata laki-laki itu seperti orang baru melewati tanjakan. Sedangkan Lara mengembangkan kedua tangannya untuk merangkul. "Mengapa?" "Tak apa-apa. Aku dagang diriku sendiri. Seperti tiba-tiba saja suara panggilan untuk penumpang jurusan Surabaya terdengar. Meninggal dalam pertempuran dulu. ya. Akupun kapten dulunya. Kapten.Lalu mereka duduk bersisian sambil berbicara tentang macam-macam hal tanpa menyinggung masa lalu yang telah jauh di belakang.

Demikian pula apabila turun perintah. ." teriaknya kemudian. Apa pasal makanya dia minggat. "Kalau dia mau pergi. Karena kepentingan pribadi akan banyak mempengaruhi mental komandan. Jika mentalnya sampai kacau. Tapi dia tidak mau. "Sejarah menghasilkan kehidupan yang tidak sama. Perempuan tidak perlu ikut perang.Artinya mental komandan tidak boleh sampai kacau. Dulu sudah aku bilang. Tak boleh ada pertanyaan. Tapi segera ia sadar. Atau tidak peduli. masa tabikmenabik telah lama lewat. Melainkan menghadiri rapat komando. Paling kurang. aku tahu kemana dia pergi. Lara tidak pernah bertengkar dengan suaminya. lalu katanya: "Cari dia sampai dapat. Cuma beberapa hari saja. komandonya pun akan kacau.Si Dali yang dulunya seorang kopral tersentak. bawahan tidak boleh menjawab." kata laki-laki itu. Padahal ketika ditinggal lebih lama dia tidak kemana-mana. memaki-maki bahkan bercarut-carut ketika tahu isterinya minggat. Malah jadi beban. dia tidak mau mengkhianati perjuangan. Lalu mereka berpisah ketika panggilan untuk penumpang ke Padang agar naik ke pesawat. Maka segera saja Si Dali menghambur. Alasannya. bila komandan marah-marah. Hanya kita yang sering lupa. Meski bentuk perintah itu demi kepentingan pribadi. Naluri prajuritnya masa gerilya mendorongnya berdiri untuk memberi hormat. Kepergian Si Kapten sekali ini tidak meninjau front. Tapi semua orang tidak yakin apabila Lara tidak pernah berselingkuh dengan laki-laki muda ganteng. barangkali. apapun macamnya harus segera dilaksanakan." Menurut aturan dalam pasukan. tinggal saja di kota. yang beberapa di antaranya sering bersama Si Kapten. "Mana Si Dali. Biasanya Si Kapten pergi tidak kurang dari sepekan. Setahu orang. Ke kota lagi. Begitu Lara. Begitu anda sendiri. *** Tentu saja si Kapten menghiruk-pikuk. Dalam penerbangan dari Jakarta ke Padang. Karena garis frontnya memang luas dan memanjang. Berpisah tanpa bersalaman. Ketika Si Dali tiba. Begitu aku. Siapa tahu. Masuk kota juga boleh. Lara sudah tahu itu. Kerut kening saja pun tidak boleh. dia sudah bosan tinggal di hutan lalu mau khianat. Termasuk perjalanan dua hari pulang pergi. bayangan peristiwa lama kembali mengambang dalam mata ingatan Si Dali. boleh saja. Kadang-kadang sampai dua pekan. Tapi kini dia pergi. Hanya nilai moral yang tidak pernah berobah." Si Kapten berturatura ketika caci-makinya mulai berkurang. Apalagi sepeninggal Si Kapten pada waktu meninjau front. Perang akan kalah.

Rambutnya ikal. Lalu kata Lara: "Engkau lebih hebat dari dia. Di tangga rumah di lereng bukit Lara sedang duduk termangu. Si Dali tidak bisa tidur. harus maju. Hitam terbakar. lalu berangkulan. Dan malam pun tiba. Seperti yang selalu dikatakan komandan: bahwa seorang prajurit bila da. Bintang yang sudah lama disiapkan Si Kapten setelah tersiar cerita bahwa pangkatnya akan naik. Lama-lama semakin larut. Tidak boleh berpikir apa-apa. "Memang enak jadi komandan. Akhirnya nafas mereka sama ngos-ngosan. Penduduknya pun tidak. hatinya berkata: "Prajurit seperti aku. Meski peluru musuh berdesingan. Malah berdiri tegap sambil memberi tabik kepadanya. Di moncongnya seekor ikan menggelepar-gelepar. akhirnya Si Dali kecapaian juga ketika jalan itu dihadang sungai kecil yang airnya begitu bening. Asap yang tipis. Si Dali kembali. memang hanya dapat berkhayal. Sambil duduk di atas batu dan menjuntaikan kaki ke air. Berlari masuk semak. Lalu duduk di tangga tempat Lara duduk termanggu siangnya. Tapi kampung yang jadi pos komando sudah kosong. Sesaat terlayang dalam pikirannya. Lara telah ditemukan. Tak seorang pun dijumpainya. Si Dali mulai berpikir. Tak bisa dibedakannya antara khayal sebagai . Tapi dia tidak marah." katanya seraya melemparkan batu ke belukar persembunyian kucing itu. Mau melaporkan bahwa pencariannya gagal. Walau maut tantangannya." Pada saat itu si Kapten muncul. ikan yang dimoncong kucing air itu ialah Lara yang berusaha lepas dari tangkapan Si Kapten. Betisnya aduhai. "Bagus Lara.Si Dali berjalan cepat menyusuri jalan kampung yang tak pernah terawat semenjak perang." Tiba-tiba seekor kucing air muncul di permukaan sungai. Alis matanya lebat. Dia mulai berkhayal. Dia mencoba menyelusuri saat-saat terakhir Lara dilihatnya. perempuan itu memang cantik sekali. Dia pun ingat pada suatu khayalannya. karena menyangkakan itu lagi-lagi khayalan belaka. seperti kehidupan di luar ketenteraan? Bayangkan. Bagaimana jika khayalan itu dibolehkan pula jadi kenyataan. Yang paling dia ingat benar. karena tugas yang diperintahkan kepadanya telah selesai. Lara memasangkan baju si Kapten kepadanya. Maka tahulah dia bahwa kampung itu ditinggalkan akibat serbuan musuh. Ketika selesai. Si Dali pun senang. Udara terasa mulai dingin. seolah-olah Si Dali yang atasan. Lalu melekatkan satu bintang kuning di bahunya. Ditemani perempuan setengah baya yang berselubung kain batik lusuh. Keduanya senang melihat Si Dali datang. kalau kau bisa lepas. Karena bukan robot. mereka mulai dari bersentuhan tangan. Sisa apinya masih mengepulkan asap. Dadanya penuh. Diapun tidak bertanya pada dirinya harus kemana mencari isteri yang minggat itu. Rumah yang ditempati Si Kapten telah menjadi puing. Ketika dia sadar dari lamunan. "Masih mending berkhayal belum terlarang." Tak lama kemudian khayalannya berlanjut. Sejenak dia ragu." kata hati Si Dali. Pokoknya ia mesti jalan tanpa memikir apa-apa.pat perintah maju. khayalan yang kian kacau. Setelah lima hari mencari tanpa tahu kemana mencari. Meski salah tetap dihormati.

" jawab Si Dali dalam hatinya. Maka aku kembali. Ngeri bertemu mereka. Tapi pikiran Si Dali tidak keruan oleh bau tubuh perempuan yang sudah lama menggemaskan hatinya itu. menjadikan anak buahnya sebagai anak jawi?" Lara berkata seperti tidak untuk dijawab. Setelah agak lama terdiam dia berkata lagi. Aku mau ke kota. Si Dali bertanya: "Kemana saja kau hilang beberapa hari ini?" "Aku muak digermoi. "Aku benci digermoi suamiku." lanjutnya. Maka itu aku ikuti dia bergerilya. isterinya?" Si Dali mendengus. "Sejak mula kawin aku sudah curigai dia peranak jawi. Aku inginkan laki-laki matang seperti kau. "Kau kira aku senang?" "Dapat perjaka silih berganti. Setelah beberapa lama hening. Lara berkata sepelan bisikan ke telinga Si Dali. Bagaimana jadinya aku bila ketahuan. Bagaimana perang ini jadinya bila komandan dikhianati prajurit?" "Kalau komandan mengkhianati istrinya. Tapi di jalan aku bertemu patroli musuh. Supaya perangainya tidak berkelanjutan. Lebih ngeri bila mereka meniduriku. mengapa tidak senang?" kata Si Dali dalam hati. "Kau tahu aku disuruh tiduri oleh anak jawinya sebagai imbalan?" Si Dali mendengus lagi." Perasaan Si Dali seperti balon hampir pecah oleh tiupan angin kencang yang berapi. "Aku pernah memancingmu. "Apalah aku. "Aku tidak bisa tidur. Justru di sini aku digermoinya. di sisi perempuan baya yang mendengkur dalam tidurnya lewat tengah malam. Dali bertanya lagi: "Bagaimana cara hidupmu begini berakhirnya?" "Aku pikir ini masih permulaan. Kau juga?" kata perempuan itu setelah lama mereka sama membisu. Mengapa?" tanya Lara agak lama kemudian." kata Lara. seorang prajurit kacungan. Keduanya sama diam. Kemudian katanya: "Engkau istri komandan. Bagaimana bisa bersaing dengan perjaka yang cakap-cakap itu. Tapi kau tidak acuh. Lambat laun pikiran itu tidak lagi khayalan." . Lama sebelum perempuan itu tidur lagi. Aku muak melayani anak ingusan. Kemudian sekali. Pikiran Si Dali yang kacau mulai membentuk khayal laki-lakinya. "Kau tahu Si Kapten lebih doyan anak jawi*) daripada aku.kenyataan dengan kenyataan sebagai khayal ketika tiba-tiba Lara sudah duduk pula di sisinya.

Si Dali meyakinkan dirinya bahwa segala yang terjadi semata mimpi dari masa silam yang telah lama lewat. tapi tergadai." Demi melihat banyak orang di gedung terminal. Dan tiba-tiba ada rasa rikuh karena merasa tepergoki. Mereka terbangun ketika perempuan baya membawakan mereka dua cangkir kopi panas. berapa lama dagangannya diminati?" Tiba-tiba Si Dali tidak merasa kakinya di atas beton landasan. Ia menjadi tentera untuk mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Mengerikan. yang masih dapat ditemukannya pada rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. "Apa mereka juga tergadai seperti aku? Kalau ya. "Kata suamiku. Si Dali mencubit pahanya kuat-kuat untuk tahu apakah ia berada dalam khayalan? Cubitan itu terasa sakit. kata. Aku? Aku tidak berdagang." "Merana?" tanya Si Dali karena tidak paham. kata Lara dengan suara yang lusuh. Lalu dia memeluk Lara erat-erat. Karena ditinggalkan tanpa pamit. Lara bergegas mengemasi miliknya. Betapa enaknya buah kemerdekaaan itu bagimu. 1 September 1996 . Berhari-hari kemudian terberita Si Kapten terbunuh pada suatu serangan musuh. Tapi kedua perempuan itu tidak rikuh. tergadai. "Kalau dia kaya. "Aku kira aku akan merana bila dia sukses jadi pengusaha. anak jawinya akan lebih banyak." kata hati Si Dali. *** Ketika kakinya mencecah landasan Bandara Tabing. sampailah cita-cita pemimpin bangsa. apa mereka bisa menebusnya? Kalau seperti Lara. sejenak dia termangu. seperti halnya orang berobah nasib secara mendadak. Mimpi yang tak kunjung hilang dalam kenangan. Lalu berangkat ke kota. ia berperang karena menjadi tentera."Permulaan?" *) Anak jawi = anak muda pasangan laki-laki homo. Mimpi yang panjang. Dia akan jadi pengusaha untuk mengisi kemerdekaan itu. Maka tentera tidak diperlukan lagi. Si Dali bertanya pada dirinya. Kakinya seolah terangkat oleh pikirannya yang terbang mengawang. Lalu aku akan cepat menjadi tua. Kenangan kepada Lara ditindih oleh pikiran yang kemudian diucapkannya: "Lara berdagang dirinya untuk menggapai hidup yang lebih baik." Hati Si Dali tersentuh hiba. Ya. "Engkau akan jadi isteri pengusaha besar. Setelah merdeka. Kenangan yang bukan peristiwa yang dapat dicatat oleh buku sejarah.nya".

*** Pada ujung abad ke-19 sampai pada awal abad ke-20 desa Pauh di pinggir utara kota Padang. hidup atau mati. Kepala terpenggal di ujung tombak. Karena setiap ada yang melapor. Ketika anak kecil itu telah menjadi ayah.Rekayasa Sejarah Si Patai Seorang anak kecil ingusan berlari ke halaman ketika mendengar genderang dipalu di jalan raya. Sampai lama bayangan kepala terpenggal di ujung tombak masih menimbulkan rasa ngeri pada dirinya. Dinamakan sebagai aliran Silat Pauh. Maka Tuanku Laras selalu melapor kepada residen setiap terjadi peristiwa perampokan itu. paling ditakuti. Memekik-mekik dia memanggil ibunya waktu berlari kembali ke rumah. Peristiwa yang jarang terjadi. Di pojok kamar anak kecil itu terduduk dengan kedua dengkul menopang kepala. menerjang dan menungkai. Sehingga banyak orang berlajar ke sana. Lebih dirapatkannya kedua dengkulnya seperti hendak menyatukan seluruh tubuhnya. Seorang pendekar yang paling disegani. pada masa itu Si Patai sering keluar masuk kota. Rakyat menyebutnya sebagai sarang orang bagak dan para pendekar. Sedangkan musuh yang dicari tidak pernah dapat. Ilmunya banyak. tak putus-putus melintas dalam mata angan anak kecil yang masih ingusan itu. Dan setelah berbulan-bulan meneliti dengan menanyai banyak orang yang mengaku mengenal peristiwa itu. dikatakan Si Patai jadi otaknya. Terisak karena merasa tidak terlindung dari ketakutan. pengikutnya pun banyak. Banyak sudah korban di pihaknya. Tapi demi melihat serombongan laki-laki tanpa baju yang wajah dan tubuhnya berlumur cat hitam. Polisi selalu was-was memasuki desa itu. Menurut cerita yang tersebar. hatinya kecut. anak kecil itu merasa ngeri. Lambat laun. selalu saja rumah pelapor kena rampok malam harinya. Tak seorang pun berani melapor kepada pemerintah bila melihatnya. Patroli tentera pun enggan. Kepala anak kecil itu seperti dihela magnit mengikuti pawai. peristiwa itu diceritakan kepada anaknya. Dan ketika melihat sebuah kepala terpenggal pada ujung tombak yang digoyang-goyang. Tapi ibunya tidak ada. Kekuatannya pada kaki. Anak itu Si Dali namanya. setiap terjadi peristiwa perampokan atau pembunuhan. Akhirnya Si Patai dinyatakan musuh nomor satu yang paling dicari. Matanya bersinar-sinar memandangi para marsose (pasukan seperti Kopasus sekarang) berpawai sambil memalu genderang yang diiringi bunyi trompet bersuara lengking. Lama kelamaan desa itu menjadi sarang pelarian dari tangkapan pemerintah. Anak kecil itu berlari membawa badannya yang buntal tanpa baju. Si Patai namanya. dengan rambut panjang yang bergelimang darah kering dan mata yang memutih terbuka lebar. Kemudian Si Dali mengisahkannya kembali kepada seorang mahasiswa yang mencari hahan untuk skripsi kesarjanaan. hasilnya menjadi suatu kisah sejarah resmi yang dipalsukan. . menjadi pelintasan pedagang yang pulang-pergi dari pedalaman Minangkabau ke kota. Aliran silat pendekar desa itu terkenal kemana-mana. menyepak. Baik yang musuh politik maupun penjahat.

Terbirit-birit atau berpetai-petai tahinya diwaktu lari. Sebaliknya Si Patai banyak pula berguru berbagai ilmu pada sesama tahanan dari Bugis dan Banten. Dia bersembunyi di Pauh." kata mereka yang terancam itu. karena bukan dia yang dicari." katanya. Pengecutnya bukan kepalang. bila ada patroli mencari Si Patai." kata Tuanku Laras pula. Si Patai meloloskan diri dari penjara. "Ada tidak ada perampokan. Yang terbunuh itu kebetulan anak Tuanku Laras yang kalap karena judinya kalah. Bila ada patroli tentera. Kata Tuanku Laras mengancam Kepala Kampung. Lambat laun Si Patai yang menjadi pemimpin. namun perampokan tak kunjung terhenti dan Si Patai tetap tak tertangkap. Setiap usaha menangkapnya selalu gagal. pajak yang telah terkumpul dirampok anak buah Si Patai. Di Tiku rakyat bersenjata parang menyerbu kantor polisi dan pos tentera. Tapi tak lama kemudian dia dilepaskan lagi. Maka tibalah suatu waktu. ratusan perempuan dan anak-anak ikut . Maka selalu dia yang ditangkap dan dibawa ke penjara. Semua rakyat sedang marah. karena nama dengan julukan yang sama dari kedua orang itu. tahinya bapatai-patai. Kepala Kampung dan Kepala Wijk ditugaskan memungutnya. Sehingga sudah dua orang komandan polisi diganti. *** Pada waktu sebelum kedatangan Si Patai.Kisah sebenarnya yang terjadi. Menurut logat desa itu. Dengan nama julukannya dia dipanggil Ujang Patai. Di Lubuk Alung sejumlah laki-laki berpakaian serba putih sambil menyerukan "Allahu Akbar" menyerbu sepasukan tentera yang sedang siap tembak. akan dipecat. menyuruh para Kepala Kampung membuat laporan setiap pencurian atau perampokan dilakukan oleh anak buah Si Patai. jika tidak mampu memungut pajak. Seorang Kepala Wijk (sama dengan Lurah di kota sekarang) yang jadi iparnya disuruhnya pula membuat laporan yang sama." kata residen kepada komandan polisi yang salah tangkap. Hampir semua penyerbu mati dan terluka. Kamu disuruh tangkap Si Patai. semua orang menunjuk si Ujang Patai orangnya. Tuanku Laras yang dendamnya belum terbalas. Ketika ilmunya dirasa sudah cukup. mengapa mesti membayar pajak kepada Belanda yang bukan pemilik negeri ini?" kata mereka. "Sulitlah itu. Di Batusangkar. Bergabung dengan mereka yang memusuhi pemerintah. Residen naik pitam. dia yang lebih dulu berhamburan lari. tapi orang banci yang kamu tangkap. Nama aslinya Ujang. di Pauh sudah ada seorang banci bernama Patai. Selama di penjara Si Patai sering disiksa anak buah Tuanku Laras untuk melampiaskan dendamnya. pokoknya buat laporan. bahwa Si Patai pernah ditangkap karena lawannya berkelahi terbunuh. Nah. Sejak itulah dia memperoleh nama julukan Ujang Patai. Tuanku. pemerintah mengeluarkan peraturan wajib pajak kepada rakyat. "Kamu polisi goblok. Rakyat tentu saja tidak suka dan kata mereka: "Kita tinggal di kampung halaman kita sendiri. "Buat laporan. Betul-betul goblok.

Beberapa orang menunjukkan salah satu mayat itu Ujang Patai namanya. Seluruh penduduk disuruh mengenali mayat tersebut.berdemonstrasi ke kantor kontelir. "Itu sudah aku pikirkan. Aku lapor ke Betawi. mereka dihadang di pesawangan. Perlawanan rakyat Pauh mirip seperti perang gerilya. Yang di ladang terus bekerja. Mana yang merasa ngeri kembali lagi tergesa-gesa masuk ke rumahnya. Tapi yang paling sering ialah mereka merampoki rumah orang-orang kota yang bekerja sama dengan pemerintah di tengah malam. Bila berpapasan di jalan. Tentera yang mengawal melepaskan tembakan. Bukan main leganya hati komandan itu. Maka kepala yang terpenggal itu ditusuk pada ujung tombak. kalau Si Patai tidak tertangkap. ketika hendak kembali ke Padang. Meski dikasari. Kalau jumlah yang berpatroli sedikit. Banyak perempuan dan anak-anak mati dan terluka. rakyat seperti tidak acuh saja. Tuan Besar. Tapi Tuanku Laras yang kenal dengan Si Patai dan tahu bahwa kepala itu bukan kepala Si Patai. Biar rakyat kapok melawan pemerintah. Tuan Besar. Tahu?" Komandan tentera itu merasa jabatannya terancam. dibawah pimpinannya sendiri. hati Tuanku Laras senang karena gagasannya menggunakan marsose untuk menangkap Si Patai tercapai. Perintah itu diteruskan residen pada komandan tentera dengan tambahan: "Kalau Si Patai tidak berhasil kamu tangkap. mereka meletakkan ujung jarinya seperti prajurit menghormat pada perwira. Jika tentera berpatroli. melapor kepada residen. Suatu malam." kata Tuanku Laras (sama dengan camat sekarang) ketika menghadap residen setelah menyampaikan laporan para Kepala Kampung di wilayahnya. supaya marsose dikerahkan menyerbu pengacau di desa Pauh. diiringi genderang yang dipalu terus menerus. "Arak kepala itu keliling kota. "Kalau tentera tidak mampu. Pasukan marsose yang tubuhnya dilumur cat hitam mengarak penggalan kepala itu berkeliling kota sambil menari dan berteriak-teriak gembira. Padang tidak akan aman. Mengerti?" kata residen dengan suara keras karena merasa diajari oleh bawahannya. bahwa komandan tentera itu telah salah penggal. Beberapa laki-laki yang dapat disergap langsung dibunuh. Ketika pagi datang mayat-mayat itu dikumpulkan di halaman mesjid. Bagi komandan itu tidak penting artinya jiwa rakyat." kata residen kepada komandan tentera itu. Ada perempuan yang jatuh pingsan demi melihatnya. Yang lain lari puntang-panting. *** Akhirnya keluar perintah dari Betawi. . Yang terpenting hanyalah jabatannya sebagai komandan. Lalu dia memerintahkan kepala Ujang Patai dipenggal untuk dibawa ke Padang sebagai bukti keberhasilan operasinya. Tapi itu bukan urusan kamu. kirim marsose 1). itu tandanya kamu komandan tidak becus. Semua rakyat keluar dari rumah masing-masing melihat arak-arakan itu. Tak seorang pun penduduk yang menyangka bahwa tentera itu akan sampai hati membunuh perempuan dan anak-anak. sepasukan marsose memasuki Pauh menjelang dini hari.

dipecat dengan tuduhan penggelapan uang pajak. Berbaringan dengan pemberontakan komunis tahun 1926. Tuan Besar. 6 September 1997 . isteri-isteri yang kehilangan suami. betul-betul kepala Si Patai. pak. Sedangkan tak lama kemudian Tuanku Laras. benar-benar berlain. Dari sana dia menyeberang ke Semenanjung. kepala seorang pahlawan bangsa. Oleh laporan yang dibuat residen ke Betawi. apabila Paduka Tuan Besar di Betawi tahu Si Patai yang sesunggunya belum mati. Tapi kamu yang celaka. celaka kita. Tak lama kemudian Tuanku Laras jatuh sakit. Sakit kehilangan harga diri. Habis perkara. generasi yang lain melakukan pemberontakan lagi. Dua puluh tahun pula setelah itu kembali rakyat melawan. Perlawanan yang terakhir ini dalam rangkaian perang kemerdekaan bangsa Indonesia yang tercinta. residen memerintahkan seluruh pegawainya. Untuk menghindari desas-desus salah bunuh itu. bahwa penggalan kepala yang diarak berkeliling itu. tidak hilang sama sekali oleh kekejaman operasi tentera yang mereka alami itu. yang kini bernama Malaysia. Orang di Betawi toh tidak akan tahu mana Si Patai yang sebenarnya. Sebuah koran secara bersambung mengisahkan suksesnya operasi tentera menumpas gerombolan Si Patai." kata Tuanku Laras. Konon Si Patai menyingkir ke Teluk Kuantan. melawan pemerintah yang bersenjata kuat. "Bukan kita."Biar saja. Karena menurut para penghulu itu. tidak lagi membicarakan tokoh yang bernama Si Patai. Namun mereka pun masih dikalahkan. Bahwa demi melihat begitu banyak korban. para penghulu desa Pauh minta kepada Si Patai agar meninggalkan kampung untuk sementara. tidak akan merobah dunia sekarang dan nanti. Akhirnya katanya: "Palsu tidaknya sejarah lama. "Tapi. "Yang jelas kisah sejarah itu dipalsukan. anak-anak yang kehilangan ayah. Sebaliknya rakyat yang membenci Belanda menganggap bahwa kepala yang terpenggal itu. Pokoknya perintah Betawi sudah dilaksanakan. Kata orang sakit muno. Dua puluh tahun kemudian. yang tahu persoalan yang sebenarnya. Bagaimana meluruskannya?" Lama Si Dali termangu-mangu. Hasil penelitian calon sarjana itu berkesimpulan seperti yang ditulisnya dalam skripsinya. Sampai situasi aman." Kayutanam. *** Namun kisah Si Patai yang sebenarnya. Namun dendam rakyat yang keluarganya terbunuh." kata residen sambil menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya. anak-anak jadi yatim dan perempuan menjadi janda. hanyalah akan menambah kesengsaraan rakyat. Sakit orang berkuasa yang kehilangan jabatannya secara tiba-tiba. resmilah Si Patai dinyatakan mati. Sehingga lambat laun rakyat di kota pun percaya. Kemudian anak muda yang telah jadi sarjana itu bertanya kepada Si Dali." kata residen.

Orang-orang memanggilnya Kakek. Sudah bertahuntahun ia sebagai garin. sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari. yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. memberinya imbalan rokok. "Pisau siapa. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. karena aku suka memberinya uang. membeloklah ke jalan sempit itu. hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. penjaga surau itu. Pada simpang kecil ke kanan. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Di depannya ada kolam ikan. Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. sebuah asahan halus. kadang-kadang uang. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain. Tuan akan berhenti di dekat pasar. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. memberinya sambal sebagai imbalan. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum. Jika Tuan datang sekarang. Orang-orang suka minta tolong kepadanya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang. kulit sol panjang. Sebagai penjaga surau. Dan aku tanya Kakek. memainkan segala apa yang disukai mereka. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Beginilah kisahnya. Pandangannya sayu ke depan. Orang laki-laki yang minta tolong. secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya. Kek?" "Ajo Sidi." "Ajo Sidi?" . Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu.Robohnya Surau Kami Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Ia sudah meninggal. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa. dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Kakek tidak mendapat apa-apa. seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Perempuan yang kehabisan kayu bakar. simpang yang kelima.

"Bagaimana katanya. Karena aku telah berulangulang bertanya. tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. "Kau kenal padaku. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. bikin rumah. Aku senang mendengar bualannya. beribadat. Sebagai pembual. dia takkan diam lagi. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. punya anak. Orang tua menahan ragam. lahir batin. Sedari mudaku." Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Sudah lama aku tak ketemu dia. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Maka aku ingat Ajo Sidi. menggorok tenggorokannya. Segala kehidupanku. "Kenapa?" "Mudah-mudahan pisau cukur ini. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Sudah begitu lama aku berbuat baik. lalu ia yang bertanya padaku. punya keluarga seperti orang lain. Kek?" "Siapa?" "Ajo Sidi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya. bukan? Tak kuingat punya isteri. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak. Tapi . "Sedari muda aku di sini. Kek?" Tapi Kakek diam saja. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Sebab aku tahu. tapi aku sudah tua. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak. bertawakal kepada Tuhan. dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu." "Kakek marah?" "Marah? Ya. Ada-ada saja orangorang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri. sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?" Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Berat hatinya bercerita barangkali. Aku tanya lagi Kakek. kalau Kakek sudah membuka mulutnya. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Lalu aku tanya Kakek lagi. kalau aku masih muda. ibadatku rusak karenanya. si pembual itu." Kakek menjawab. Aku tak ingin cari kaya. yang kuasah tajam-tajam ini.Kakek tak menyahut." "Kurang ajar dia. bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua. "Apa ceritanya. bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini.

Tuhanku. Aku puji-puji Dia. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga. Begitu banyak orang yang diperiksa. tak perlu. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi. ia melambaikan tangannya. Aku bersuci. "Pada suatu waktu. Aku baca Kitab-Nya. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Susut di muka. Tapi begitulah kira-kiranya. bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya. "Ia katakan Kakek begitu. bertambah yang di belakang. aku menyelakan tanyaku. Nama bagiku. Tapi karena aku sudah ke Mekah.‟ „apa kerjamu di dunia?‟ „Aku menyembah Engkau selalu. Aku bangun pagi-pagi. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Masya Allah kataku bila aku kagum. Bagai tak habishabisnya orang yang berantri begitu panjangnya." Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh.‟ „Lain?‟ „Setiap hari. setiap malam. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Haji Saleh namaku. sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku. Umpan neraka.kini aku dikatakan manusia terkutuk. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu. karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. seolah hendak mengatakan „selamat ketemu nanti‟. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. „kata Ajo Sidi memulai.‟ . Nama hanya buat engkau di dunia. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia di namai Haji Saleh. Aku jadi belas kepadanya. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama. Aku sembahyang setiap waktu. Maklumlah dimana-mana ada perang.‟ „Ya. „Engkau?‟ „Aku Saleh. Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Kek?" "Ia tak mengatakan aku terkutuk." Ketika Kakek terdiam agak lama. Tuhanku. karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga.‟ „Aku tidak tanya nama. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan. „di akhirat Tuhan Allah memeriksa orangorang yang sudah berpulang. supaya bersujud kepada-Nya.

‟ „Masuk kamu. aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu. tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu.‟ „Lain?‟ Haji Saleh tak dapat menjawab lagi.‟ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya. ia telah menceritakan segalanya. menyebut-nyebut nama-Mu. itulah semuanya. „Lain lagi?‟ tanya Tuhan. ooo. o. Tuhanku.‟ „Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?‟ „Ya.‟ Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. lagi Pengasih dan Penyayang. Bahkan dalam kasih-Mu. Tapi menurut pendapatnya. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.‟ „Lain?‟ „Sudah kuceritakan semuanya. karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Dan ia menangis. Tuhanku. merintih kesakitan. Dan aku selalu berdoa. Adil dan Mahatahu. anu Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan. Alangkah tercengang Haji Saleh. tentu ada lagi yang belum di katakannya. ketika aku sakit. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Tuhan yang Mahabesar. Tapi setiap air matanya mengalir. Tapi ia insaf. diisap kering oleh hawa panas neraka itu. o. pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja. Aku selalu membaca Kitab-Mu. o. karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus. Lalu Haji Saleh mendekati mereka. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Tapi Tuhan bertanya lagi: „Tak ada lagi?‟ „O.„Lain.‟ „Ya. „Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya. dan bertanya kenapa . Tuhanku. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan.

‟ „Memang tidak adil. KitabMu kami hafal di luar kepala kami. „Kalau begitu. yang paling taat menyembahmu. teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. „Bagaimana Tuhan kita ini?‟ kata Haji Saleh kemudian. kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.‟ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh. Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. Engkau memasukkan kami ke neraka.‟ kata Haji Saleh. Setuju.‟ sebuah suara menyela. banyak yang kita peroleh. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu. „Kita protes. Benar. kami menuntut agar hukuman yang . tak mengerti juga. bagaimana?‟ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka. „Kalian mau apa?‟ Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.mempropagandakan keadilan-Mu. yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.‟ kata Haji Saleh. „Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya. Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari. orang-orang itu pun. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Setuju. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat.‟ „Ya.‟ „Cocok sekali. ia memulai pidatonya: „O.‟ Mereka bersorak beramai-ramai. Benar. „Apa kita revolusikan juga?‟ tanya suara yang lain. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini.‟ „Benar. „Yang penting sekarang. maka di sini. „Setuju.‟ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja. kami juga heran. memuji-muji kebesaran-Mu. Akan tetapi. „Itu tergantung kepada keadaan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah. Dan Tuhan bertanya.mereka dinerakakan semuanya. atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu. dan tak kurang ketaatannya beribadat. „Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat. „Ini sungguh tidak adil.‟ kata salah seorang diantaranya. dan lain-lainnya. Tuhan kami yang Mahabesar. Tapi sebagaimana Haji Saleh.‟ „Kita harus mengingatkan Tuhan. Kita resolusikan. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua. kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.

bukan?‟ „Benar.‟ „Kalian di dunia tinggal di mana?‟ tanya Tuhan. Tuhanku. Tuhanku. „Di negeri mana tanahnya begitu subur.Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam KitabMu. Tuhanku. di mana penduduknya sendiri melarat?‟ „Ya. dan berbagai bahan tambang lainnya.‟ „Negeri yang lama diperbudak negeri lain?‟ „Ya. bukan?‟ „Benar. Itulah negeri kami. Benar. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau. sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?‟ „Benar. mereka yang mengeruknya. Tuhanku. bukan?‟ „Benar. Sungguh laknat mereka itu. Dan yakinlah mereka sekarang. benarlah itu. minyak. sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya. Tuhan kami. Ya.‟ „Karena keralaanmu itu. Benar. dan diangkut ke negerinya. Benar. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala. di negeri yang tanahnya subur itu?‟ „Ya. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Kami rela sekali. bukan?‟ „Benar. tapi mereka semua pintar mengaji.‟ „Di negeri yang selalu kacau itu.‟ „Engkau rela tetap melarat. bukan?‟ „Sungguhpun anak cucu kami itu melarat. „Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia. Benar. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali.‟ „Di negeri. Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Ya.‟ „O. Tuhanku.‟ . bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.‟ „Tanahnya yang mahakaya raya. Tuhanku.‟ Mereka mulai menjawab serentak. hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi. Itulah negeri kami.‟ „Dan hasil tanahmu. Itulah dia negeri kami. Sungguh laknat penjajah itu. anak cucumu tetap juga melarat. penuh oleh logam.

karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun. apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya. halaulah mereka ini kembali ke neraka.‟ Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. terlalu egoistis. Lalu aku tanya dia. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri. bukan?‟ „Ada. bersaudara semuanya. Dan besoknya. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu. Kamu semua mesti masuk neraka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. karena itu kau taat sembahyang. . ketika aku mau turun rumah pagi-pagi. Aku beri kau negeri yang kaya raya. saling memeras. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Kau lebih suka beribadat saja. Malaikat. karena beribadat tidak mengeluarkan peluh.‟ „Kalau ada." kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. „Salahkah menurut pendapatmu. tapi kau malas. Inilah kesalahanmu yang terbesar. tidak membanting tulang. Engkau kira aku ini suka pujian. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur. menyembah Tuhan di dunia?‟ tanya Haji Saleh. Kau takut masuk neraka." jawab istri Ajo Sidi. Letakkan di keraknya!" Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tuhanku. melupakan kehidupan anak isterimu sendiri. "Siapa yang meninggal?" tanyaku kagut. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. hingga anak cucumu teraniaya semua. "Ia sudah pergi. Cerita yang memurungkan Kakek. „Tidak. kalau kami." "Kakek?" "Ya." "Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara. saling menipu. Padahal engkau di dunia berkaum. sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Kesalahan engkau. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. hai. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Tidak. mabuk di sembah saja. kenapa engkau biarkan dirimu melarat. istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. "Kakek.„Tapi seperti kamu juga.

Juki tergoda. semua orang harus meninggalkan kota agar musuh tahu bahwa rakyat tidak menyukainya. Aku pikir taktik itu benar juga. Sitti dipeluk dan diciumnya. Juga menurutnya. Ketika Sitti mulai mengandung. tidaklah akan menentukan menang-kalah mereka yang berperang." "Kerja?" tanyaku mengulangi hampa. untuk masa tiga-empat bulan pertama. bukanlah masalah berat. Karena dia tidak mau ditangkap musuh yang konon tenteranya suka main tangan sampai popor senapan."Tidak ia tahu Kakek meninggal?" "Sudah." "Dan sekarang. Juki yang semula jadi guru. Dalam sepotong hatinya ada rasa malu karena dilayani demikian ramah. Kalau dia merasa perlu juga ikut. Apalagi di desa pengungsian Juki menumpang tinggal di rumah seorang muridnya. Karena perempuan tidak perlu ikut perang. dia pergi kerja. murid yang penuh perhatian mengurus kepentingannya terasa sebagai seorang wanita. Juki diajak tinggal di rumah seorang muridnya yang laki-laki. Ikut tidaknya dia. Apalagi membawa anak-anak yang masih bayi. Hanya tiga bulan." dia menambahkan. Kalau itu tidak mungkin. tanda-tanda perang akan cepat berakhir tidak terlihat. desa itu diserbu dan diduduki musuh. batinnya pecah berantakan. dengan dua anaknya yang masih kecil ditinggalkan pada mertuanya di kota. Maka lupalah Juki pada anak dan istrinya yang di kota. semua orang terpelajar yang harus menyingkir. Tapi setelah empat bulan masa berlalu." Sang Guru Juki Juki bukan tentera. Berpisah dengan anak dan isteri di masa perang. Sitti. Oncon nama . Paling lama enam bulan. Mulanya pada pipi. tanpa perlu memberi apapun. katanya memberi alasan pada istrinya. Rosni. Murid perempuan yang menerimanya dengan segala rasa bangga dan hormat seorang murid kepada guru." tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab. "dan sekarang kemana dia?" "Kerja. Lalu seterusnya pada bibir. Apalagi kepada guru yang ikut berjuang. kemudian ikut-ikut aktif menjadi pejuang. "Ya. Dia guru. Di desa pengungsian kedua. Musuh tidak akan mampu berperang lama-lama. Dalam sepotong hati sisanya. tidak bisa lain selain harus mengungsi lagi ke pedalaman yang lebih dalam. alasannya cuma satu: agar tidak disangka mengkhianati teman-teman yang berjuang menegakkan kebenaran. Sebenarnya dia tidak perlu ikut-ikut menyingkir ke pedalaman pada masa perang itu. Mereka akan jadi beban perang saja. Maka istrinya. "Perang ini tidak akan lama. Dan kemudian mereka kawin. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.

perang itu akan selesai sebelum banyak korban berjatuhan. biarlah ditangkap janda lagi. . Sedangkan pakaian yang dibawanya dari kota tak pernah dikenakannya lagi. sudah lama menjanda dan usianya hanya dua tiga tahun lebih tua dari Juki. Tapi hatiku ini yang merasa tidak enak. Apa salahnya? Halal. Juki dimanjakan benar. Kata orang. Ancok menjawab santai: "Perang menempatkan prajurit tidak punya pilihan lain daripada membunuh atau terbunuh.panggilannya." kata Juki pada Si Dali ketika mereka ketemu." kata Juki seperti seenak perutnya. jika tentera itu tidak ganas. Karena beberapa hari sebelumnya dia memprotes sobatnya. "Kawin di daerah gerilya." tangkis Si Dali yang pada prinsipnya tidak menerima perlakuan durjana tentera terhadap penduduk. dia akan aman. Tidak ada jalan lain." kata Ancok. Dengan itulah Juki dibungkus keseharian kemanapun dia pergi di desa pengungsian itu. bukan merampas perempuan itu. Dimana-mana pun begitu. Lebih dari itu tergantung pada nyali. Sepasang sandal kulit model kepala buaya serta sarung pelikat dan baju model gaya Betawi yang putih berterawang. tapi memperlakukan penduduk sebagai bangsa yang disantuni. ya memang enak. "Wah." kata Si Dali. pikirnya. Jawaban itu menyeruduk nilai moral dalam perut Si Dali. Dan apa salahnya bila anak buahku hanya memakai. Karena dia tidak tahu dimana disimpan istrinya. yang membiarkan anak-buah memperkosa perempuan di desa itu." "Perang ini. Namun Juki maklum akan siasat istrinya. Karena menurutnya. Perempuan bahkan dijadikan sama dengan barang rampasan. ya. bagaimana kau?" "Daripada ditangkap dan dipenjarakan musuh. Ancok. Di zaman Nabi pun ketika orang Arab berperang antara sesamanya sudah begitu. Impaslah. Kawin dengan perempuan yang sudah lama menjanda. "Kau pikir enak jika menumpang di rumah orang tanpa memberi apapun? Enak. "Konyol kamu. Bedah. bacalah sejarah. perampokan dan penyiksaan tidak berarti apa-apa dibanding dengan kematian demi tanah air. Lewat sebulan tinggal di rumah Ibu Oncon. Maka itu pertistiwa perkosaan. Simaklah sejarah masa itu. Juki laki-laki yang seperti itu. Semua serba baru. Si Janda dapat suami." jawab Juki. maka kawin lagilah dia. tergantung pada kefaedahan. tidak sulit mengulangnya berkali-kali. Akan tetapi ibu Oncon. Apalagi jauh di pedalaman yang tidak diketahui berapa lama lagi dia harus mengungsi. Dia pikir. perang orang sebangsa. aku dapat makan. Dia dibelikan dua stel pakaian dalam dan piyama yang berbeda warnanya. Karena bagaimana mungkin seseorang ikut bergerilya terus dengan mengenakan piyama. setiap laki-laki yang pernah berulang kawin. bahwa dia tidak akan dilepas perempuan itu mengungsi lagi bila musuh datang menduduki desa itu. "Jika desa ini diduduki musuh pula. Mayor Ancok. Tidak lucu.

" "Naif betul kau Dali. misi kesucian agama. Dali. Lama kemudian barulah Si Dali bertanya lagi. Tapi waang sebagai guru. "Bagaimana perasaanmu apabila isterimu atau anakmu diperkosa musuhmu?" tanya Si Dali kemudian." . "Kau mau tahu juga berapa kali aku akan kawin lagi." jawab Juki seenaknya. punya ladang untuk menjamin hidupnya." "Moral perang orang Minangkabau masa dulu menjadikan aduan kerbau daripada mengadu manusia untuk berbunuhan." kata Ancok seraya menepuk-nepuk bahu Si Dali tanpa peduli yang Si Dali tidak suka diperlakukan seperti anak sekolah bila ditepuk bahunya oleh guru. Oleh karena peperangan Nabi mengandung misi yang amat mulia." "Tapi dimana letak moralnya?" "Moralnya? Moralnya adalah pada kebanggaan orang desa dapat suami orang kota seperti aku. apalagi dengan mengaitkannya dengan Nabi yang junjungannya. "Bagaimana kau mengemasi isteriisterimu nanti bila perang berakhir?" "Kau pikir hidup perempuan-perempuan desa itu bergantung pada suaminya? Mereka perempuan yang mandiri. Jari-jemarinya kentara gementaran. Itu yang berlangsung sekarang. Sesaat air mukanya berobah." "Berapa kali lagi kau akan mengungsi apabila perang ini masih akan berlanjut." "Tapi kamu tidak ikut perang. waktu perang moralnya beda." kata Si Dali dengan menggunakan kata waang sebagai ganti kata "engkau" yang lebih kasar dalam bahasa daerahnya. punya tanah. "Biar guru. Justru perang sekarang yang jauh lebih kejam dari masa dulu. bukan? Itu tergantung. Dia memang tidak tahu benar sejarah peperangan Nabi. Guru lagi. Lalu katanya dengan emosi tak terkendali: "Zaman itu dengan zaman sekarang beda." "Yang aku tanya bukan mereka. Ancok tidak segera menjawab. namun akibat bom napalm tak kurang ganasnya ketika ditembakkan ke desa. Namun menurut logikanya.Si Dali tidak bisa menerima dalil itu. Dengan nada suara yang rendah. Perang sekarang terikat dengan konvensi internasional. Mereka punya rumah. Bagaimana musuh bisa ditaklukkan dan menerima Islam apabila pasukan Nabi sama ganas dengan tentera jahiliah." tanya Si Dali lagi pada Juki. Meski bom atom dilarang. Cuma kawin melulu. Nabi tidak akan membenarkan pasukannya merampok dan memperkosa musuh-musuh yang ditaklukkan. Ancok berkata: "Itulah risiko perang.

Dia dihina. Pada pengungsian terakhir. lepaskan saja di lantai. Yang tersangka sebagai penjahatan perang. Sekilas saja dia sudah tahu itu temannya. Hanya bekas-bekas saja yang menghitam. Melerai perdebatan. Pada mulanya dia disekap bersama puluhan tawanan lainnya di salah satu gudang dalam komplek asrama batalyon. itu sama dengan judi dalam dongeng. berilah semangat kawan-kawanku agar bertempur terus. yakni setelah desa pengungsian Si Dali ke lima diduduki musuh pula. di setiap desa pengungsian Juki pasti menikah lagi. Tidak ada penyiksaan oleh tentera pemenang terhadap musuh yang kalah. Yang mendapat kamar untuk empat tempat tidur sejajar dengan kantor penjara. Sedangkan Juki tak pernah kehilangan helah. sewaktu-waktu ada yang diambil tengah malam dan tidak pernah kembali. Di penjara itulah Si Dali ketemu Juki lagi. dicaci. Tengah malam. Namun baunya tak kunjung hilang. hingga tidurnya berdesakan pada balai-balai besar yang terpasang dari dinding depan ke dinding belakang. Dari omong-omong sesama tahanan. yang ditempati oleh lebih dari dua puluh orang. Yang dia tahu. di penjara itu ada dua golongan tahanan. bila ada yang mau kencing. bekas luka bakar oleh api rokok telah sembuh. Tapi dagunya miring ke kanan dan sebagian giginya rontok. Semenjak itu Si Dali tidak pernah ketemu Juki lagi. ketika dipindahkan ke penjara umum. Antara kedua golongan tahanan itu tidak boleh berkomunikasi. Kulit tubuhnya yang biru memar oleh bekas pukulan dan tendangan tidak terlihat lagi. dipukul sampai hampir seluruh tubuhnya membiru dan juga disulut dengan api rokok. Tapi Juki seperti tidak mengenalnya atau tidak mau mengenalnya lagi. Karena penderitaan itulah setiap selesai sembahyang Dali berdoa kepada Tuhan: "Ya. mengisahkan tentera Amerika dalam kamp tawanan Nazi Jerman pada masa Perang Dunia Kedua. Si Dali dengan emosi. Dia ingat film "Stalag 17" yang dibintangi William Holden. Waktu mengambil makanan dia harus antri dengan berjongkok." Mereka berdebat terus tak putus-putusnya. Tidak dibenarkan menerima tamu. Selama tiga bulan. Pada mulanya tahanan politik dapat menerima kunjungan istri atau keluarga sekali sebulan. *** Tiba juga gilirannya desa itu diduduki musuh. Yang melerainya beduk Magrib ditabuh orang. Sedangkan yang lain sebagai penjahat perang. Si Dali merasa arti dan harga dirinya sebagai manusia betul-betul tidak ada lagi. Selama jadi tawanan itu. Entah kemana dia lari. apakah doanya dikabulkan Tuhan. bukan pandangan hidup mereka. Besok pagi disiram lagi. ialah tahanan politik. Sedangkan Si Dali pada bangsal berbau kencing." Si Dali tidak tahu. Si Dali tergolong penjahat perang."Ah. Menurut sangka Si Dali. Karena itu lebih baik dari pada jadi tawanan. Si penjaga mendorong piring nasinya dengan kaki. Tuhan. Juki menempati ruangan di samping kantor sipir. . Kemudian dua kali sebulan. Tidak demikian dengan tahanan penjahat perang. dia diangkut ke kota sebagai tawanan.

" kata Juki. *** Si Dali tidak menyesali jalan hidupku yang dia rancang dan lalui. yang dia tahu apa akibatnya: menang atau kalah. mungkin ratusan orang yang mengalami seperti yang kau derita. jawabnya singkat saja. Dan seperti tiba-tiba ingat sesuatu. Tak lama lagi. Di sekitarnya blok ruang tahanan." Kata Juki lagi. Pada masing-masing sumur disediakan empat timba bertali. Dia mundur selangkah sambil menatap seluruh tubuh temannya. Karena hampir setiap malam ada saja tawanan yang dijemput orang-orang bersenjata. Delapan timba untuk seratus lebih tahanan yang harus selesai mandi dan berak selama satu jam. Tentu saja tidak mungkin semua mereka bisa mandi. Piyama yang dibelikan istri ketiganya dulu. Si Dali tentu berpikir untuk menang." Dan itu artinya mereka tidak di dunia lagi." kata Juki sambil mengetok-ngetok batok kepalanya dengan jari telunjuk. Tapi . Tapi bukan waktu mandi. pada suatu hari Si Dali ketemu bermuka-muka dengan Juki. Melainkan ketika Si Dali bertugas membersihkan ruang mandi pada waktu menjelang tengah hari. Karena dia menghayati benar makna tulisan H. Hanya sebentar. Paling-paling hanya bisa membasahi badan dengan seember air. yaitu lahir dan mati. "Kasi pada teman-temanmu. Kuatkan hatimu.Bedanya dengan ruangan tahanan batalyon. Ada dua sumur persegi empat yang panjang. Berbuat dan berakibat oleh perbuatan itulah yang harus dipikirkan oleh akal supaya hidup selamat dunia dan akhirat. Lainnya. Iman dan Tawakal. Kalau ditanya kepada pengawal penjara." Maksudnya kira-kira: "Ada takdir yang tidak bisa dipikirkan akal. Di penjara rokok sulit. "Jangan ceritakan apa-apa. Karena manusia berbuat sesuatu pada suatu waktu dan pada suatu tempat. Agus Salim dalam buku "Takdir. pertemuan kedua sahabat itu hangat juga." Si Dali telah memilih hidup ikut berjuang bersama teman-teman sepaham. "Sudah dikirim ke bulan. maka berakibat tertentu pada diri sendiri. tapi tidak pernah kembali lagi. Juki mengguncang-guncang tangan Si Dali kuat sekali. Yang dinamakan tempat mandi di penjara itu letaknya di tengah halaman terbuka. Puluhan. Begitu koran memberitakan. kenapa kau bisa jadi tahanan politik?" "Menggunakan ini. "Kau merokok?" "Tidak. Juki datang hendak mengambil air wuduk untuk sembahyang berjemaah tahanan politik. Juki bertanya sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong piyamanya. takdir yang datang karena bersebab dan berakibat. Perang ini sudah akan berakhir. Meski tidak berpelukan. di penjara tidak ada lagi terdengar suara pekikan tawanan yang kena pukul. Akan tetapi rasa ketakutan masih terus mencekam. Di sana. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala dengan pancaran wajah yang hiba. Ketika mereka hendak berpisah Si Dali bertanya: "Juki. Aku sudah tahu yang kau alami." kata Si Dali sambil menggeleng. tangan itu dilepaskannya.

Lalu. teman samasama mengungsi dulu. Menurutnya. apa makna manusia sebagai orang seorang sebagaimana makhluk Tuhan? Lama kemudian Si Dali memperoleh kesimpulan bahwa perang dibangun oleh manusia yang saling punya super ego. Ditemuinya Komandan Resimen. Ketika dibawa ke kota.." "Apa kata Juki?" "Mana aku tahu apa katanya.." kata Marwan dengan sinis. dia tetap tidak mampu memecahkan masalah takdir. Juki akan dianggap sebagai pejuang yang menang. Namun ketika dia ketemu dengan Marwan." Marwan menggantung kalimatnya. Kehancuran dan kemusnahan atas manusia tidak lain daripada kiamat yang dijanjikan. Sampai Juki dibebaskan setelah perang usai.. Apakah mereka ikut berkorban atau jadi korban? Ataukah ikut terseret oleh perjalan takdir yang berputar di sekitar sumbu sejarah. "Asal?" "Maklum. . isterinya yang ketiga? Ibu si Oncon? Dia tidak mau melepas Juki mengungsi lagi ketika APRI menduduki kampung itu. Kalau Juki pun dipenjara kondisinya lebih enak. Tapi nyatanya perang mereka kalah." kata Marwan kian sinis." "Lalu apa?" tanya Si Dali ketika Marwan menggantung kalimatnya lagi. Masa lalu telah lewat. Perjalanan hidup masa datang lebih penting dipikirkan dibanding dengan masa lalu. Dia minta agar Juki dibebaskan. itulah kelemahan akalnya ketika hendak memulai. Pokoknya mereka telah kembali ke kehidupan bermasyarakat. Dan ketika komandan itu pindah. Seandainya perang mereka menang.. Bila benar. meski sangat menderita. Asal. Menurut kabarnya Juki diterima kerja di Departemennya. namun Juki tidak menderita separah Si Dali. "Baiyah masih muda.ternyata perangnya kalah. Akibatnya dia ditawan. Tapi yang menjadi pikirannya ialah perilaku Juki. dia tidak menyalahkan takdirnya. "Dia? Si Juki itu? Apa yang penting baginya selain dari dirinya sendiri? Istrinya bisa dia berikan pada orang asal dia bebas dari tahanan. Berkat bantuan paman si Baiyah. Bagi Si Dali tidaklah penting lagi memikirkan beda takdir yang mereka alami bersama Juki. Baiyah ikut. Rosni dan Sitti. Otak Si Dali berbinar-binar antara percaya dengan tidak dan ingin tahu istrinya yang mana yang tega dia korbankan. akal apa yang dia pakai? Apakah karena perjalanan akal berasal dari watak turunan atau lingkungan mereka yang berbeda? Sampai keluar dari penjara. Komandan itu hanya bisa mengubah Juki sebagai tawanan politik.. Maka itu. Takdir apakah yang diberikan Tuhan dengan akalnya itu. Tidak perlu diratapi lagi. sosok Juki tampil lagi dipermukaan. "Kau ingat Baiyah. Bertugas sebagai nyai. Sampai di situ dia berhenti berpikir. Kalau itu dinamakan pemanfaatan akal. Komandan itu membawanya tinggal di rumahnya. Komandan pertempuran biasa berpikir praktis dan bertindak cepat. Baiyah seperti inventaris yang dioperkan.. Dalam hati Si Dali tertanya-tanya: "Siapa sebetulnya yang berkorban atau yang dikorbankan?" Jalaran pikirannya berlanjut pada istri Juki yang lain. Karena aku tidak pernah ketemu dia.

Ketika kontraknya hampir habis. Kesimpulan itu telah meredakan kebalauan pikirannya. dia bingung. Sampai mereka berpisah rasa mual itu masih dirasakannya. akan terus kawin lagi bila ada kesempatan. itulah kau." "Kau pikir perkawinan demikian bisa langgeng?" tanya Si Dali. Menurutnya. Sering ketemu aku di Departemen. Lalu aku katakan: "Jangan bingung. kondisi fisik Juki lebih kokoh dan gerakannya masih gesit. Sejak dulu tidak mau berobah. Demikian pula waktu ketawa mulut Juki lebih lebar. Kau tahu apa yang dinamakannya korban? Apa itu betul-betul bernama korban?" kata Juki setelah lama juga mereka terdiam. Pada hal dunia ini tempat hidup serba main-main. Orang dewasa main golf. Tapi dalam mimpinya. Atau arena olah raga besar untuk pesta olimpiade. 1 Juli 1990 . ya bubar. bahwa istrinya yang terakhir perempuan Belanda. Namun keinginan itu dilepaskannya. Dia kerasan tinggal di sini. Orang yang tukang kawin. Kalau kau mau tinggal terus di sini. Selalu berpikir serius. buat apa menanyakan kebahagiaan orang. Sudah sama-sama tua. Seperti menuntut imbalan. sebagai yang beriman atau sebagai pengikut Dajjal yang menjanjikan kenikmatan atas kesengsaraan orang lain. sambil bicara hilir mudik. akhirnya Juki bercerita juga tentang dirinya. Selalu punya alasannya untuk kawin lagi dan untuk cerai lagi. Setelah mengudap beberapa potong gorengan dan mereguk kopi di restoran mungil itu. Juki lantas memotong. Kawin dengan orang Indonesia. "Dia selalu menuntut lebih dari kemampuanku dengan menyebut-nyebut usaha dan pengorbanannya di masa lalu. Untuk main-main orang buat panggung untuk pesta musik dan teater. Tentu saja aku bilang. Setelah mengalih bahan omongan ke berbagai situasi politik yang sedang berlangsung. Selain dari hampir seluruh kepalanya kehabisan rambut. Tak usah dipikirkan amat. Bahwa selama di Jakarta Juki telah tiga kali lagi menikah. Kalau habis untung perkawinan.Dalam masa kiamat setiap makhluknya akan menemui dirinya sendiri. Orang seperti Juki yang tukang kawin. Namun Si Dali ingin tahu juga tentang Baiyah yang selalu berusaha dengan caranya untuk menjaga Juki agar tidak kesulitan. Si Dali terkaget dalam hatinya ketika Juki menceritakan. tidak menarik hati Si Dali. otomatis jadi tukang cerai istri." Lalu apa katanya? Kau tahu? "Apa kau mau?" katanya. Sebelum selesai Si Dali bicara. Sehingga dia bisa tertidur. Dari Kumpulan Cerpen "Kabut Di Negeri Si Dali" Kayutanam. Lebih afdol menanyakan kesulitan hidup orang sebagai tanda prihatin." Hampir saja Si Dali mau muntah karena ada perasaan mual berat pada perutnya. Sebenarnya Si Dali ingin bertanya banyak. Anak kecil main gundu. "Dulu dia mengajar di IPB. kasus Juki mengapung lagi dengan pertanyaan: "Termasuk golongan makhluk apa sahabatnya itu?" *** Bertahun-tahun kemudian Si Dali ketemu juga dengan Juki. "Ah. "Kenapa tidak?" Kini dia jadi konsultan di BTN.

Si Bangkak Semua orang menyalahkan Mayor Udin menyuruh Si Bangkak yang pandir membersihkan pistol berpeluru. Karena tiba-tiba pistol itu meledak ketika lagi dibersihkan dan ketika itu pula isteri mayor yang kebetulan lewat di halaman. Dia tertembak tepat di jantungnya. Dan mati. Begitulah yang tersiar ke mana-mana di seluruh daerah komando Mayor Udin. Maka semua orang pun datang melayat dan menyampaikan rasa ikut berduka cita. Semua orang tafakur ketika jenazah isteri yang tertembak itu dimasukkan ke liang lahat setelah tujuh pucuk senapan menyalvo. Melebihi upacara militer pada waktu penguburan beberapa orang prajurit yang mati dalam pertempuran tanpa salvo demi menghemat peluru. Si Bangkak duduk mencangkung di lereng bukit sambil nanap memandang ke kaki bukit tempat upcara berlangsung. Tak terbaca pada wajahnya apa guratan dalam jatinya, sama seperti sediakala, Seorang saja yang tidak ikut bersedih waktu itu. Yaitu Kepala Desa. Bertahun-tahun kemudian Si Dali tahu, mengapa Kepala Desa itu tidak ikut bersedih. Bertahun-tahun kemudian pula Si Dali menceritakan peristiwa yang sebenarnya terjadi. *** Ketika pasukan Mayor Udin menyingkir ke pedalaman karena kota telah dikuasai lawan, Si Bangkak pun ikut menyingkir. Tak jelas benar mengapa dia ikut ke pedalaman. Dia bukan tentera. Juga bukan pejabat. Mungkin karena ikut- ikutan saja demi melihat semua orang pada meninggalkan kota secara hampir serempak. Si Bangkak berbadan kekar dengan tingginya sekitar 165 senti. Sedikit orang saja yang sama tingginya dengan Si Bangkak di masa itu. Meskipun demikian, dia bukanlah lakilaki yang menarik. Cirinya khas pada tubuhnya ialah pada kening di atas hidungnya ada daging yang membengkak sebesar kuning telur mentah yang lepas dari putihnya. Karena itulah dia dinamakan Si Bangkak. Kakinya seperti tidak berbetis, hampir sama besarnya dari bawah lutut sampai ke mata kaki. Tapi kaki itu kuatnya bukan main. Tak pernah lelah. Setiap berjalan langkahnya cepat seperti berlari tanpa alas kaki. Dengan langkah seperti itu pula dia pergi bila saja ada orang menyuruhnya. Siapapun dapat menyuruhnya. Tapi jangan harap dia akan mau kalau disuruh membawa barang berat, meskipun dikasi makan atau uang. Si Bangkak mempunyai kepandaian khusus, yang tidak semua orang bisa melakukannya. Dia pintar memijat. Dan lembut sentuhannya. Orang akan terkantuk-kantuk bila seluruh tubuhnya dipijat Si Bangkak. Kepandaian khusus itulah yang menyebabkan Mayor Udin, yang sering masuk angin sangat membutuhkan Si Bangkak. Selama di pedalaman Mayor Udin hampir praktis kurang tidur. Ada kalanya dia tidak sempat tidur sampai dua hari dua malam. Kurang tidur bukan karena mengatur taktik dan strategi perang. Melainkan karena keasyikan main ceki, sebagai pengisi waktu yang luang dan panjang karena tidak ada musuh yang datang menyerang. Sekali waktu Nunung, isteri Mayor Udin, diserang sakit kepala yang amat sangat. Dua aspirin yang ditelannya tidak menolong. Sedangkan Mayor Udin sedang tidak bisa diganggu. Lagi asyik main ceki dalam posisi kalah. Dia marah dipanggil isterinya dari

kamar tidur. Sangka Mayor Udin, Nunung lagi masuk angin, seperti yang sering dialaminya sendiri. Yang apabila telah dipijat Si Bangkak selama setengah jam, sakit kepalanya hilang dan kemudian dia tertidur dengan pulasnya. "Bangkak." panggil Mayor Udin. "Unimu sakit kepala. Pijat dia." Tanpa banyak pikir Si Bangkak yang lagi duduk di ambang pintu, segera berdiri. Langsung menuju Nunung ke kamar tidur. Nunung yang tak tahan lagi menderita sakit, dan tahu Si Bangkak disuruh suaminya, lantas berkata: "Ya. Tolong pijat cepat." katanya sambil memberikan botol balsem. Setelah kening dan tengkuknya dipijat, rasa sakit kepala Nunung memang dirasanya berkurang. Lalu Si Bangkak disuruhnya memijat punggugnya juga, seperti yang biasa dilakukan pada Mayor Udin. Sambil menelungkup dirasakannya benar betapa enaknya pijatan Si Bangkak. Dia pun mulai terkantuk. Sekali merasa enaknya dipijat, kecanduanlah dia. Sejak itu, bila Mayor Udin asyik main ceki di ruang depan, bila sakit kepala Nunung pun datang. Si Bangkak dipanggilnya untuk memijat. Peristiwa itu memang tidak perlu dicurigai. Nunung dan Mayor Udin sepasang anak manusia yang jatuh cinta semenjak masa remaja, sama-sama cinta pertama. Keduanya dipercaya tak pernah terlibat kasih dengan fihak ketiga dalam situasi apapun. Lagi pula lebih sering ada perempuan lain di kamar itu. Namun selalu jadi bahan olok-olok oleh banyak perwira sampai ke prajurit, dengan mengatakan bahwa mereka lebih suka jadi Si Bangkak saja di masa perang itu. Nunung lalu berkhayal, apabila Mayor Udin sampai terlelap karena betisnya dipijat, maka dia pun ingin pula mencoba. "Apa salahnya, Si Bangkak, biar laki-laki, dia cuma Si Bangkak. Lagi pula pintu kamar selalu terbuka. Dan ada perempuan lain bersamanya." katanya dalam hati. Nunung keenakan dipijat. Mayor Udin tak terganggu lagi oleh erangan Nunung yang diserang sakit kepala, bila dia main ceki. Namun keduanya tidak tahu bagaimana perasaan hati Si Bangkak setiap memijat Nunung yang berkulit mulus itu. *** Menurut Kepala Desa, dia melihat benar Si Bangkak menodongkan pistol ke isteri Mayor Udin. Lalu menekan pelatuknya. Tapi dia tidak mau mengatakan apa yang dilihatnya kepada siapapun. Karena tidak ada untung-ruginya menghukum Si Bangkak. Katanya: "Bagaimana pun pandirnya Si Bangkak, dia 'kan seorang laki-laki. Bukan anak kecil ingusan atau orang gaek jompo." Maka Si Dali dapat merasakan betapa tersiksa hati Si Bangkak setiap memijat perempuan itu. Justru karena bodohnya itulah dia sampai mampu melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan oleh laki-laki lain, jika disuruh memijat perempuan muda yang mulus kulitnya. Karena bodohnya itulah dia membunuh setan di kepalanya dengan menembak isteri seorang mayor.
Dari Kumpulan Cerpen "Kabut Di Negeri Si Dali" 1 Mei 1996

Si Montok Untuk melanjutkan perjuangan setelah musuh menduduki semua kota, Si Dali menyingkir ke sebuah desa di balik bukit peladangan tebu. Dengan dua teman sesama prajurit Si Dali dapat menempati rumah yang berkamar satu. Tapi mereka tidak tidur di kamar itu. Melainkan pada satu-satunya ruangan yang ada. Tidur berdesakan. Kamar itu sendiri ditempati Si Montok dan anaknya yang berusia empat tahun, Amir. Bertiga dengan ibunya. Kamar itu sendiri tidak berpintu. Tapi di depannya, sejajar dengan ruang sempit jalan ke dapur, menjadi ruang tidur ayah Si Montok. Si Montok, janda dengan satu anak itu berpotongan seperti namanya. Montok yang aduhai, menurut ketiga prajurit itu. Maka adalah masuk akal apabila ketiga prajurit itu sama berselera kepadanya. Meski sama berjuang melawan musuh bersama, mereka sama bersaing memperebutkan hati janda itu. Masuk akal jika dikaji bahwa mereka telah bertahun berpisah dengan isteri masing-masing. Isteri yang mereka tinggalkan di kota. Isteri yang tidak patut dibawa ikut berperang. Sehingga ketiganya sudah bertekad dalam hati masing-masing, apabila datang lagi serbuan musuh yang pertamatama dibawa ikut lari ialah Si Montok. Namun Si Dali yang mendapat tanggapan lebih dari janda itu. Tentunya karena Si Dali yang lebih tinggi pangkatnya. Awal kisahnya sederhana saja. Kebutuhan air isi rumah itu pada sungai kecil di kaki bukit. Setiap hari mereka harus turun-naik bukit itu kalau memerlukan air. Ketiga prajurit itu selalu turun dan naik bersama. Seperti ada perjanjian rahasia, tidak seorang pun yang boleh tinggal di rumah apapun alasannya. Berdua pun tidak. Ketiganya seperti sepakat pula, mereka akan selalu beriringan dengan Si Montok ke sungai kecil itu. Dan semua sama ingin membantu membawa beban Si Montok, seperti air di perian, kain cucian. Berbuat baik seperti pekerja sosial. Sehingga tidak seorang pun yang dapat berjalan sendirian bersama janda itu. Dalam situasi itu, yang kurang cerdik menjadi santapan yang lebih cerdik. Dan yang lebih cerdik rupanya Si Dali. Perhitungannya yang paling pas. Ia memilih beban yang paling berat. Yaitu menggendong Amir yang kecil di atas bahu. Sambil mengkelakarinya sepanjang jalan, sehingga si kecil terpingkel tawanya. Ibu yang janda mana yang tidak suka pada laki-laki yang disenangi oleh anaknya? "Seperti anakku." kata Si Dali pada suatu ketika pada Si Montok seolah ia memenuhi rasa rindu pada anaknya yang di kota. "Kalau Amir maukan Uda jadi ayahnya, tergantung pada Udalah itu." kata Si Montok membalas sambil mengerling. "Katakan kepadanya. Ini zaman perang. Jangan dia sampai dua kali kehilangan ayah." kata Si Dali. Si Montok menatap Si Dali dengan matanya yang berkaca-kaca. Tidak lama benar. Tanpa berkata dia pun berlalu. Si Dali marah pada dirinya sendiri. Menyesali ucapannya. Dan sesal itu tidak bisa diperbaiki. Sesal yang betul-betul tidak ada gunanya. Karena beberapa hari kemudian seorang kapten datang bermalam dalam suatu perjalanan inspeksi ke garis depan. Setelah matanya nanap menatap Si Montok,

" kata janda yang baru saja menikah itu. "Uda seperti tidak perlu perempuan. Dan malam itu juga Si Dali dan temannya tergusur seolah seperti musuh datang menyerbu lagi. "Itulah yang jadi pikiranku." kata perempuan itu. "Semalam saja. Dan rumah kecil di lereng bukit peladangan tebu itu akhirnya berobah menjadi pos komando. yang berhak menikahkan anak perempuannya. Uda pun akan meninggalkan orang kampung ini bila perang usai. *** . sehingga tidak perlu memanjat dulu untuk memetik buahnya. Malam itu juga pernikahan itu terjadi. Si Montok sudah berlalu membawa tubuh sintalnya yang aduhai sambil menggerai-geraikan rambutnya yang habis keramas. Tak obahnya orangtua itu seperti mendapat pohon durian rebah.lalu malam yang semalam menjadi berketerusan. "Sama saja." kata kapten itu pada mulanya dia datang. Padahal sudah lama aku ingin laki-laki. Ketika ia sadar. Maka Si Dali beserta temannya tergusurlah. Uda. maka sebelum tidur pada malam pertama ia datang. Maka lamaran kapten itu diterima. Aku capek setelah berhari-hari jalan terus. Bila dulu mereka pergi begitu saja dari kota seperti seharusnya sudah begitu. bukan?" kapten itu memberi alasan. maka aku tidak melamarmu." kata Si Dali pada Si Montok ketika mereka ketemu.” kata Si Dali seperti membela diri." "Apa yang jadi pikiranmu?" tanya Si Dali setelah lama merenung-renung maksud katakata perempuan itu. Juga menyesali diri sendiri." kata ayah Si Montok. maka kini Si Dali pergi membawa gerutu dan caci-maki. "Yang tidak Uda pikirkan. ayahnya sendiri." kata kapten itu selanjutnya. "Sekarang saja nikahnya. pikiranku. "Tapi rumah kadi amat jauh. Si Dali ikut menjadi saksi. "Menurut agama. Mungkin karena sifat seorang komandan yang harus mampu bertindak tegas dan cepat. *** "Engkau pasti akan jadi ganjal batu* bila perang usai. kapten itu melamar Si Montok pada ayahnya. Tiba-tiba Si Dali nanar.

Kayutanam. Pelurunya bersarang di lengan kanan mayor. Janin yang kemudian menjadi bayi laki-laki yang bugar. lengan itu dipotong. berbendi atau bermobil sebagaimana tradisi setiap lebaran Idul Fitri. Diambilnya pestol yang tergantung di dinding kamar tidur. Bercat oker yang telah pudar warnanya. Kelihatan ganjil di antara sederetan bangunan bergaya terkini. Si Montok menemui mayor di rumahnya. Sedangkan mayor menyesali nasibnya sendiri. Namun tidak diketahui apakah pistol itu pun ikut menyesal. sama lupa pada desa-desa tersebut. Juga lupa pada janin yang sehat pada perut Si Montok. Keduanya memandang sambil bergoyang pelan di kursi goyang yang dipisahkan oleh meja kecil bardaun marmar Itali. -------------------------------------------------------------------------------* Ganjal batu. setelah perang usai seluruh tentera kembali ke kota. Ketika di rumah sakit. Si Montok datang ke kota menemui Si Kapten yang telah jadi mayor untuk memperagakan anak mereka. Pada suatu hari. Hampir tidak dapat bergerak seleluasa maunya. Maka orang kota. tak terasa lagi ada keganjilan pada rumah itu. Si Montok pun ditinggal. seperti kapten itu juga. batu itu ditinggalkan begitu saja. Ketika truk itu sudah bisa jalan lagi. Pembantu yang laki-laki ialah paman Si Dali. Isteri mayor menyesal karena telah meledakkan pistol suaminya. Sama seperti desanya. tetapi sehabis perang melukai pemiliknya sendiri. Mungkin karena sudah terlalu biasa dalam pandangan penduduk kota kecil itu. Rumah kedua orang tua itu bangunan kayu model lama yang berkolong tinggi. Encik berkulit gelap dan bertubuh gemuk. Lazimnya orang menyebutnya Inyik dan Encik saja. Pada hari tua yang sudah lama terpakai mereka tinggal dengan sepasang pembantu yang telah puluhan tahun bersamanya. dengan perasaan sangat bangga. Si Montok menyesal karena membawa bayi kebanggaannya. Celakanya. Maka tinggallah desa-desa yang telah memberi pelindungan hidup pada pejuangpejuang itu. Berjalan kaki. ialah batu pengganjal roda truk sarat muatan yang tiba-tiba mogok di pendakian. Semua telah jadi orang terpandang di rantau. Inyik dulunya seorang pejuang dan pernah menjadi gubernur. Tentu saja isteri mayor naik pitam ketika mendengar bahwa bayi itu adalah anak suaminya yang dilahirkan Si Montok. karena selama perang tidak pernah melukai musuh. Kedua perempuan itu sama menyesal di kediaman masing-masing. Setiap orang tahu siapa penghuninya. mayor itu dipensiun. Yaitu Inyik Datuk Bijo Rajo dan Encik Jurai Ameh. Tentu saja begitu. Diledakkannya. tapi . 17 Desember 1996 Tamu yang Datang di Hari Lebaran Sepasang orangtua yang rambutnya telah memutih memandang dari ruang tamu ke jalan raya yang ramai oleh orang orang berbaju indah-indah dan baru. Soalnya.Sekitar masa setahun sehabis perang Si Dali menyukuri diri karena tidak sampai menikahi Si Montok. Karena lengan telah pontong. Dan Inyik berkulit cerah. mereka "dikaruniai" enam orang anak. Menurut istilah lama yang kini terpakai lagi. karena pistol itu memang tidak punya perasaan.

Lain perilaku hidupnya. Sepertinya menemui ibu-bapa tidak merupakan ridha-Nya. Penguasa akan merasa tidak pantas minta maaf kepada rakyat. Kalau mau. setelah Idul Fitri jadi kebudayaan baru. Dalam hatinya pula. Mengapa? Sama seperti anak-buah Inyik dan pejabat lain. Kenapa harus menunggu dulu kalau sudah tahu saudara sendiri tidak punya kemampuan? Siapa yang mengajar mereka begitu? Seperti mereka tidak tahu betapa rindunya aku. Rasanya aku tidak salah didik. Dulu. Karena pada hari itu setiap orang tanpa pandang usia dan status saling bertemu dan saling memaafkan. Setelah itu mereka tidak lagi datang dengan lengkap. Berdiri seluruh bulu romaku. Saudara-saudaranya mau membantu kalau Ruski mau meminta. Tapi kalau bagi anak-menantuku tentu tidak berlaku ungkapan itu. Di Irian sana. Setiap akhir tahun dia pergi berlibur membawa anak dan isterinya. meski modelnya sudah kuno. kalau tidak salah Ki Hajar yang menulis. itu adat dunia masa kini. Begitu janjinya kepada anakanak.tubuhnya ceking. Pantang memintaminta. Kalau mereka tidak lagi datang. Mengatakan apa yang lewat di kepalanya. Tidak ada rasa lebih diri. Keduanya sama mengenakan baju yang terindah. Tapi itu tidak pernah terjadi. Tapi mengapa setelah makmur mereka hidup nafsi-nafsian? Setiap lebaran datang luka hatiku kian dalam. Paling-paling mereka memberi zakat fitrah senilai satu hari makan untuk satu orang miskin. Tapi kini. Katanya. Yang tak mampu hanya Ruski. "Sambil libur. Atau untuk makan sepuluh atau seratus hari orang miskin?" Kata Encik melanjutkan lamunannya: "Ruski memang keras hati. Terharu aku melihatnya. Rezkinya memang pas-pasan. Seperti anak-cucu presiden di televisi." . sebetulnya anak-anakku mampu pulang bersama. Tapi dia tidak pulang. Ke Amerika atau ke Eropa atau ke Jepang. bawahan dan orang miskin yang wajib datang ke penguasa untuk minta maaf. Kenapa tidak untuk sepuluh atau seratus orang miskin." Inyik pun berkata dalam hatinya: "Dulu aku pernah baca artikel. Tutup tahun ini berkebetulan sama dengan lebaran. Aneh fahamnya beragama. Idul Fitri hari yang istimewa. Tak tersentuh hati mereka. Sambil bergoyang di kursinya sejak tadi Encik bicara sendiri tak hentihentinya. saudara-saudaranya bisa patungan membiayai yang tidak mampu. Lebih sulit lagi dia tinggal jauh. Sedangkan Inyik berbuat yang sama. Kata mereka. Namun mataku sabak oleh airmata bila ingat aku tidak pernah memperoleh kebahagiaan seperti itu. akan apa kata orang nanti bila mereka tidak datang waktu lebaran. Padahal." tulisnya dalam surat. Kata Encik: "Pada setiap lebaran begini aku mau semua anak-cucuku berkumpul. waktu ayahnya jadi gubernur setiap lebaran mereka bisa berkumpul. Aku rindu mereka antri. Meski kementerengan hidup yang mereka dapat. Dimana padi masak disana pipit berbondong-bondong. Dia ke Mekkah karena sudah bosan ke kota-kota dunia lainnya. Aku datangkan guru agama tiga kali seminggu agar mereka menjadi penganut yang tawakal. sambil mencari ridha-Nya. karena banyak rakyat yang diterlantarkan. Tak ada rasa rendah diri. bertekuk lutut sambil mencium tanganku waktu bersalaman. Si Mael yang paling kaya dari semuanya.

Jurai. Melainkan berzakat dan takbiran. Katanya. Beberapa saat kemudian dia berdiri. Mengikis keduniawian pada acara ritual itu. Acara takbir dijadikan acara tontonan di lapangan. Sedangkan pada Idul Adha memberi Qurban senilai seekor kambing. Sedangkan Gafar lain lagi alasannya. Dia mengalaikan kepala ke sandaran kursi. Pakai musik segala. teladani Nabi. Natsir atau siapa. Kolegaku menyalahkan aku dengan kata-kata durjana: "Biarkan saja agama begitu. Jika lebih dari itu. Terlambat datang pun jadi pertanyaan dalam hatiku." kata Encik hampir tak berdaya. waktu dirasakan terlalu singkat."Tulisan siapa yang pernah aku baca dulu? Hasan. Nabi tidak menyuruh orang berpesta untuk merayakan Idulfitri. Akan tetapi menjadi gubernur lebih lama. beliau tetap seperti Muhammad sebelum menjadi Nabi. Kewajiban inti pada kedua hari raya itu membantu orang miskin." . Kiayi Marzuk mengatakan kepadaku: "Kalau mau jadi pemimpin. Menteri bisa salah sangka kalau dia tidak datang. Tidak kaya raya seperti umumnya diktatur yang berkuasa. Apakah tidak akan terjadi kekacauan pada kehidupan umatnya?" Tiba-tiba Inyik merasa dadanya sesak. Sebagai kepala pemerintahan aku dipojokkan. Kursi yang ditinggalkannya terus bergoyang. sebagai pemimpin umat umurnya dibatasi Tuhan sampai enampuluh tiga tahun saja. asal stabiltas terjamin. Sebetulnya Idul Adha tak kurang mulianya. akulah yang akan menjadi usang. kondisi mental dan fisiknya sudah menurun dan terus menurun." katanya kepada isterinya sambil melangkah dengan gontai. Dan dia terus merunut satu demi satu alasan anaknya tidak bisa pulang berlebaran. Sepertinya uang sebanyak itu tidak lagi berfaedah untuk orang miskin. Coba kalau anak-anak kita disini semua. Sofi karena suaminya belum bisa kembali dari Eropa. Itu yang pertama. Aku minta ulama mengeluarkan fatwanya. ya? Katanya. Aku mau berbaring dulu. Bagaimana nasib umat dibawah pimpinan yang pikun? Dan bagaimana umatnya meneladani perilaku Nabi apabila diakhir hidupnya kepikunan lebih menonjol. Takbir bukan lagi ibadah pribadi. Untuk keamanan jabatannya. aku pun dendam jika ada bawahannya tidak datang berlebaran ke gubernuran. Setelah minum sereguk air. "Aku juga. Kalaupun punya warisan." Inyik terbatuk-batuk. Melani karena tidak mendapat tiket pesawat. Pikiran Inyik masih terus menerawang. melanikan dijadikan pesta dunia dengan biaya milyaran rupiah. Katanya: "Lima tahun jadi gubernur." kata Encik melanjutkan kata hatinya. Nabi diberi waktu dua puluh tiga tahun oleh Tuhan. "Aku lelah. Aku maklum alasannya. Dulu ketika ayahnya jadi gubernur. Tapi kebudayaan baru menjadikannya lain. renungannya melanjut: "Waktu jadi gubernur dulu. semuanya dihibahkan menjadi wakaf untuk umatnya. Pada Idul Fitri memberi zakat firah. Ketika berhenti karena umurnya sampai. "Rasanya hari lebaran ini terlalu panjang. Roem. Kedua. sesungguhnya tidak cukup waktu untuk merobah tradisi yang usang. Bahkan lebih." "Sabir juga tidak pulang. dia harus berlebaran ke rumah menterinya yang baru. aku mencoba merobah tradisi lama itu.

Terutama sekali karena aku tidak melihat ada bawahanku yang mampu menggantikan aku. Karena alam dan kodrat-Nya. supaya menjadi anak yang bersatu kukuh dalam persaudaraan serumpun. Tamu yang berani-berani saja sudah duduk di bangku tidurnya. baru tujuhpuluh usiaku sudah begitu lambannya aku. Sebaiknya kau tahu. menciumi tangannya dan kemudian memeluk untuk mendekapi pipinya. Inyik tidak bereaksi. Aku cemas pada nasib negeriku ini bila dipimpin orangorang seperti itu. lamban bereaksi. mungkin akan turun deras melelehi pipinya oleh rasa bahagia. Terima kasih. Tapi aku mendengar yang kau katakan." "Kodrat alam?" "Ya. Kalau masih ada airmatanya tersisa. Tapi berapa sesungguhnya usianya sekarang? "Ah. terima kasih. dalam penglihatannya beberapa mobil sedan yang mengkilat catnya karena baru. "Sebenarnya aku ingin jadi gubernur lebih lama. Lalu duduk di kalang-hulunya. selain heran oleh kedatangan tamu yang tidak dikenal itu. Oh. namun nyalinya kecil-kecil. Tetapi dalam masa seratus tahun. Tuhan. "Sebetulnya aku tidak akan ke sini. pikiran Inyik masih terpaut pada waktu ketika di kursi goyang ruang tamu. baru separoh jazirah Arab yang Islam. memasuki halaman. Menjelang berhenti." katanya pada dirinya. pikirannya terus menerawang: "Alangkah anehnya hidup ini. Persis seperti yang dilakukan anak-cucu presiden dalam tayangan televisi." Tidak diduganya seseorang masuk ke kamar tidurnya. Tak mampu dia memahami apa yang dimaksud tamunya. mereka telah hidup menurut pikiran dan caranya masing-masing." Lama Inyik terdiam. sampai ke Pakistan di timur. Tambah tua kian sombong. bahwa waktu Nabi sampai umurnya. Mungkin mereka akan bercerai-berai. Tapi kenapa pada hari tua kita. menantu dan cucunya. Bahkan pelupa. Sunnatullah. alangkah indahnya Hari Raya sekali ini." Goyangan kursi Encik kian lama kian pelan. Semua anak-anakku pulang berlebaran." Hati Inyik merasa tertusuk oleh kata kau ke alamatnya. Rasanya aku sudah mendidik anak-anak. Dan bicara tanpa basa-basi. Lalu kepada tamunya: "Apa maksudmu?" . para khalifah telah meluaskan wilayah Islam sampai ke Spanyol di barat. "Tuhan telah mengabulkan doaku. Mimpi terakhirku. Lama-lama berhenti sendiri. Setiap pintu terbuka. Kini disadarinya benar. Satu demi satu secara khidmat mereka berlutut ketika menyalami. Anak. "Ternyata kau sama saja dengan golonganmu. Kata yang tidak pernah ada dalam hidupnya diucapkan orang kepadanya. Maka itu janganlah kau punya pikiran yang berlawanan dengan kodrat alam. bahwa memang usia tua membuatnya lamban berpikir. Selagi aku masih hidup mereka tidak lagi berpikiran sama seperti sebelum mereka menjadi apa-apa? Apalagi kalau aku sudah mati." Dalam berbaring di bangku tidur yang biasa digunakan pada waktu tidur siang. Meski mereka berpendidikan tinggi. Terima kasih juga seandainya ini hanya mimpi. Dari setiap pintu keluar semua orang yang dikenalnya.Lama kemudian masih dalam goyangan kursi.

Tidak akan." Inyik lama termangu sambil membolak-balik makna ucapan tamu itu. Maunya dia marah. Kalau kau berkuasa seperti diktator. Apabila kepemimpinanmu berganti pada kondisi yang baik. Dia mencoba meraba-raba perasaannya sendiri." kata tamu yang disangka Inyik sebagai Sang Maut seraya keluar dari kamar. kau akan selalu dikenang dengan segala kekaguman oleh rakyat. . Karena rasionya yang lebih kuat. hilang berganti." Inyik menggugat. menjamin kelancaran kerja di bengkel kereta api di kota kecil Padang Panjang. Kayutanam." kata tamu itu "Pengganti belum tentu sebaik yang digantikan." kata tamu itu. Dan oleh bawahannya di lengketkan julukan Si Topi Helm atas Tuan O. "Tidak. "Sudah tiba waktuku kalau begitu. Harga dirinya tersinggung. 21 Januari 1998 Topi Helm Terjunjungnya topi helm di atas kepala Tuan O.M." desis dalam mulutnya ketika ingat pelajaran sejarah Yunani Kuno pada klas terakhir sekolah menegahnya dulu." kata Inyik pula dalam keragu-raguan. Tidak ada perasaan apapun. Dialihkannya pembicaraan. Belum sekarang. bukan?" "Ada sedikit urusan dengan isterimu. "Engkau ke sini berlebaran." "Belum." kata tamu itu. "Tergantung pada perilaku kepemimpinanmu. akan terjadi kekacauan pada ujung kekuasaanmu. Meskipun Tuan O. yang oleh ayahnya sendiri dinamai Gunarso. Malah pakai R. tersandang jugalah wibawanya sebagai opseter mesin di bengkel itu. Bahwa manusia itu lahir. Pemimpin pengganti akan didambakan dengan sorak gembira oleh rakyat. hidup dan akhirnya mati."Dalam peribahasamu ada ungkapan: "Patah tumbuh. "Pantarai. Tapi ada rasa tak berdaya pada dirinya. Tiba-tiba dia sadar bahwa tamu itu tidak lain dari Sang Maut.M. aku mau kehadiranku tidak akan menyiksa hidup bangsaku." "Bagaimana dia?" "Kursinya tidak bergoyang lagi.M. "Kalau waktuku belum akan tiba. tapi oleh topinya yang besar itu. pula di depannya sebab turunannya. Masa kau lupa. Inyik yang berbaring lemas sendirian di bangku tidurnya masih mendengar samar-samar gema takbiran dari pesawat televisi di ruang tengah.M. Karena kau tidak berkuasa lagi. itu pendek. Inyik merasa tamu itu menguliahinya.

Demikian besar wibawanya. Hingga kalau sekelompok orang mengobrol selagi kerja di bengkel itu, lalu di antaranya membisikkan: "Sssst. Si Topi Helm," maka berjungkir baliklah mereka bekerja dengan tekunnya. Kadangkala ini menjadi olok-olok. Misalnya sekelompok orang mengobrol, lalu seseorang menyebut Si Topi Helm dengan tiba-tiba, tunggang langganglah mereka ke tempat kerjanya kembali. Dan pura-pura asyiklah mereka bekerja, seolah-olah mereka sejak dari tadi benar-benar bekerja. Tapi tahutahu kedengaranlah tawa terbahak-bahak. Maka tahulah mereka bahwa ada yang berolok-olok dan mereka telah tertipu. Karena seringnya olok-olok demikian dilakukan, akhirnya orang selalu curiga akan bisikan "sssst, Si Topi Helm." Tapi pada suatu hari olok-olok itu menyebabkan seorang masinis turun pangkat jadi stoker kembali. Biasanya untuk membersihkan bagian bawah dari sebuah lok kereta api hanya dilakukan oleh dua orang saja. Lok itu berdiri di atas sebuah lobang yang panjang, hingga orang-orang dapat bekerja tegak untuk membersihkan di sebelah bawahnya. Tapi masinis, yang badannya besar hingga di panggil "Kingkong" oleh buruh lainnya, setelah masuk ke lubang itu untuk memeriksa, ia tidak keluar lagi. Ia mengobrol dulu memenuhi kebiasaannya. Obrolannya makin lama kian enak, sehingga mereka tertawa kesenangan. Dan…. memeriksa, ia mendengar betapa meriahnya suasana dalam lubang di bawah lok itu, orang-orang lain yang sedang bekerja di bagian lain lok itu ikut pula masuk ke lubang itu. Sedang si masinis asyik mengobrol dengan segala geraknya yang lucu,tanpa setahunya Tuan O.M. sudah ada dekat lok yang sedang di bersihkan itu. Didengarnya saja obrolan bawahannya itu diam-diam. Tiba-tiba salah seorang di antara orang-orang yang di dalam lubang itu melihat sepatu dan celana coklat Tuan O.M. dari celah-celah jari-jari roda lok, lalu dengan ketakutan dia berbisik, "Sssst Si Topi Helm." Serentak rubu rubai, antara percaya dan tidak mereka sepura asyik bekerja. Ada yang membersihkan roda, ada yang membersihkan as, malah diantaranya ada yang mengetok apa saja yang dirasanya patut diketok. Tapi masinis melihat betapa takutnya orang-orang oleh bisikan yang berbisa itu, jadi tertawa terbahak-bahak sendiri. Lucu benar dianggapnya tingkah laku mereka itu. "Hm. Apa yang kalian takutkan? Si Topi Helm?" Ia mengejek. " Apa pula yang ditakutkan pada si pendek itu. Patutnya padaku kalian takut, Si Kingkong ini. Tidak pada Si Topi Helm yang pendek seperti kera itu kalian takut. Puahhh. Kalau sekarang ada Si Topi Helm itu di sini, aku patahkan lehernya. Seperti kingkong mematahkan leher kera tentunya. Ha ha haaa. Kalian benar-benar, ada saja seseorang berkata: 'Sssst Si Topi Helm', waaahhh kecutlah ekor kalian seperti anjing ketemu singa. Adukan sama Kingkong, Kawan. Adukan sss..." Ia tak jadi menyudahkan kalimatnya. Karena tiba-tiba didengarnya orang mendehem. Dan dehem itu dikenalnya. Lalu diintipnya dari antara roda-roda lok ke arah datangnya dehem itu. Terbitlah kecutnya. Hilanglah segala omongannya yang besar tadi. Tak seorang pun yang berani ketawa, meski seharusnya mereka bisa ketawa melihat betapa kecutnya kingkong melihat kera. Belum sampai sempat masinis itu berpikir, Tuan O.M. sudah pergi dari situ. Maka seorang demi seorang keluarlah dari bawah lubang itu. Kembali ke tempat kerja masing-masing. Selagi belum sempat masinis

melenyapkan rasa kuyu di hatinya, datanglah panggilan dari Tuan O.M. untuknya. Dan Si Kingkong itu kini merasa telah menjadi kera. Demikianlah kisahnya. Tapi semenjak itu Tuan O.M. tidak lagi memakai helmnya. Entah karena topi itu sudah tua, entah karena ia sudah tahu orang-orang mengejeknya dengan topi helm yang besar itu, tidak seorang pun yang tahu. Namun setahun kemudian topi helm itu tidak punya wibawa benar-benar lagi. Yaitu semenjak kepala Pak Kari yang menjunjungnya. Di waktu topi helm itu berpindah kepala, sebenarnya terjadilah peristiwa penting atas keluarga Tuan O.M. Topi itu tiga tahun yang lalu dibelinya di Semarang, ketika ia dipindahkan ke kota kecil Padang Panjang. Kota penghujan itu menjadikan topi itu lekas tua. Dan untuk penggantinya di kota itu tidak mungkin, karena tidak ada orang jual. Meski topi helm itu telah tinggal tergantung di kapstok di rumahnya, namun julukan "Si Topi Helm" masih juga lengket pada Tuan O.M. sampai ia dipindahkan ke Bandung. Pada waktu buruh bengkel kereta api yang dikerahkan R.M. Gunarso sibuk mengepak perabotan rumah yang akan dibawa pindah, topi helm yang tua itu sampai terlupakan. Barulah ketika rumah itu sudah kosong, Nyonya Gunarso melotot melihat sang topi tergantung sendiri pada paku di dinding. "Kenapa ini bisa kelupaan, Pap?" tanya perempuan itu. "Kaupakai sajalah, ya. Sayang kan kalau dibuang." "Ah, jangan, ah. Masa pembesar bawa topi begini ke kapal. Malu, ah. Mam." "Habis? Mau dibikin apa? Semua barang-barang sudah dimasukkan ke peti. Dan peti-peti sudah diangkut ke stasiun." Dan mata Tuan O.M. melirik kepada bawahannya yang telah membantu mengepak barang-barangnya. Semua ia kenal baik, yakni para tukang rem. Kepada siapa harus diberikan supaya adil, pikirnya. Ia ragu-ragu menetapkan. Tapi ketika matanya tertumbuk kepada Pak Kari, sesuatu pada jantung orang tua itu terasa bergetar. "Daripada dibuang, Mam, apa tidak sebaiknya kalau diberikan kepada mereka saja?" kata Tuan O.M. minta musyawarah istrinya. Dan Pak Kari menatap mata perempuan itu dengan nanap, seperti ada suatu perjanjian antara mereka, bahwa topi itu seharusnya buat dia diberikan perempuan itu. Tapi perempuan itu berkata, "Coba dulu siapa yang pas betul." Tuan O.M. mengedarkan pandangan ke semua bawahannya seorang demi seorang, sehingga para tukang rem itu berdegupan darahnya oleh harapan bakal mendapat topi helm itu. Akhirnya masing-masing mencobakan topi itu di kepala mereka bergantiganti. Dan kebetulan, ya kebetulan sekali, Pak Kari yang sama pendeknya dengan Tuan O.M. memiliki kepala yang sama besarnya pula, sehingga topi helm itu haknya. Sedang Pak Kari nyengar-nyengir kegirangan oleh rezekinya itu, tiba-tiba perempuan itu berkata, " Ah, Kari. Gagah betul kau. Tapi jangan berlagak lakiku pula kau."

Di antara suara tertawaan, Pak Kari merasa badannya terlambung setinggi rumah dan membesar seperti gajah. Dan bagaimana hematnya Tuan O.M. dengan helmnya, lebih lagi Pak Kari, si tukang rem itu. Ia tak tega membiarkan topinya kena hujan setitik pun. Betapa bangganya kalau topi itu di kepalanya, demikian pula besar sayangnya kepada helmnya. Sering ia tersenyum sendirian bila melihat wajahnya pada kaca pajangan toko yang dilewatinya saban pergi dan pulang kerja. Dan tentu saja tingkah laku Pak Kari yang berlebih-lebihan itu menjadi bahan olok-olok oleh kawan sekerja. Tapi juga jadi pangkal kejengkelan atasannya. Namun Pak Kari berpendapat olok-olok atau kejengkelan itu adalah disebabkan rasa iri hati mereka karena tak punya topi helm warisan Tuan O.M. Akan tetapi semenjak Pak Kari menjadi pemilik baru topi helm yang besar itu ia pun mendapat julukan. Bukan Si Topi Helm sebagaimana yang ditonggokkan kepada Tuan O.M., melainkan ia mendapat nama julukan Si Gunarso. Berbeda dengan Tuan O.M. yang tidak menyenangi nama julukan yang diberikan orang dengan Si Topi Helm, Pak Kari malah merasa bahagia dipanggil Si Gunarso. Bahkan kadang-kadang ia benar-benar merasakan dirinya sebagai Gunarso. Gunarso yang pendek dan punya wibawa begitu ideal dalam pandangan Pak Kari yang bertubuh sama pendeknya pula. Pak Kari adalah tukang rem semenjak delapan belas tahun lalu. Sebelum itu dia hanya seorang penganggur yang hampir putus asa dalam mencari pekerjaan. Dan ia tahu benar apa artinya menjadi tukang rem di kala itu. Bangun pagi-pagi dan sebelum jam lima sudah mesti berada di stasiun. Pulangnya kadang-kadang sudah jam sembilan malam. Namun dibandingkan dengan orang-orang lain, yang tidak mempunyai pekerjaan apa pun, ia sudah merasa bahagia. Akan tetapi karena potongan badannya yang kecil kurus menjadikannya lebih merasa kecil diri dalam pergaulan dengan tukang-tukang rem lainnya. Dan karena itu dari dirinya dituntut kesabaran yang kadang-kadang sampai di luar kemampuannya sebagai manusia. Lebih lagi semenjak ia mempunyai topi helm, kesabarannya sering kali mendapat tantangan yang sangat tengik. Padang Panjang kota kecil yang penghujan. Selama belum bertopi helm, Pak Kari tak pandai menyumpahi hujan. Akan tetapi kini ia sudah sering menyumpahinya, karena hujan itu memaksanya tidak dapat memakai topi di kepala menurut selayaknya. Selain dari hujan, dari kawannya sendiri sering pula ia mendapat gangguan. Umpamanya selagi ia sedang sembahyang, ada saja kawannya yang menyembunyikan topi helmnya. Sehingga ia mencari-cari dengan perasaan sedih dan dongkol sampai topi helmnya bisa ditemukan. Susahnya kawan-kawannya tahu, Pak Kari bergeming selagi sembahyang meski ia tahu topinya diambil orang untuk disembunyikan. Sungguhpun demikian kawan-kawannya lebih suka menggodanya selagi sembahyang itu. Dan ketika seluruh tukang rem mendapat topi dinas model topi petani di Jawa, Pak Kari merasa bahwa pimpinan perusahaan kereta api telah ikut iri hati karena ia mempunyai topi helm itu. Namun ia tetap berkeras kepala tak hendak memakai topi dinas itu. Barulah ketika sepnya mengancam hendak memberhentikannya, Pak Kari menerima kalah. Maka tinggallah topi helmnya di rumah, tergantung di dinding pada paku. Setiap pagi hendak pergi kerja topi itulah yang terakhir dipandangnya seolah hendak mengatakan "selamat tinggal". Dan setiap pulang kerja topi itu pula yang pertama dilihatnya seolah hendak mengatakan "selamat ketemu lagi". Dan bila hari perainya topi helm itu kembali berada di kepalanya dan dengan bangga dibawanya berjalan-jalan keliling kota.

Jalan kereta api menanjak menyusuri dinding bukit di Lembah Anai. Tapi topi itu terbang ke tangan lain. namun kereta api terus meluncur juga. tangan bergayut pada pegangan besi di tangga. memakainya dulu. Jatuh ke tangan seseorang setelah melalui kepala Pak Kari yang memburu. Pada saat seperti itulah topi dinas terlepas dari kepala tukang rem itu. Maka ketika kembali ke Padang Panjang. Tapi ada kalanya juga mereka sempat tidur berbaring di bangku panjang. lewatlah seorang tukang rem lainnya. Dan terus berpindah dari .M. topi helm kembali menghiasi kepala Pak Kari. Dan dalam mimpinya itu juga. Topi helmnya menutup mukanya. bahwa ia benar-benar telah jadi Tuan O. Lambat laun kemenangan Pak Kari tiba juga di puncaknya setelah ia melepaskan kesabarannya yang terkenal itu. hanya sepertiga dari jumlah tukang rem yang berdinas. Lain halnya jika kereta api yang menjalani rel yang menurun dari Padang Panjang ke Kayutanam yang memerlukan seorang tukang rem pada setiap gerbong. Konon ketika tukang rem pertama yang kehilangan topinya tidak dikenakan sanksi oleh sep mereka.M. Meski topi itu sangat berguna untuk melindungi kepala dari terik matahari dan guyuran hujan. Dan sejak itu. Pak Kari di kala itu dapat tidur membujur pada bangku panjang di bagian tengah. Akan tetapi topi itu tidak praktis dipakai oleh tukang rem di daerah pegunungan. kalau memang gerbong itu tidak banyak penumpangnya. Ketika ia pulang kerja. roda gerbong yang terlalu kuat dicekam rem akan terhenti berputar.M. Dan itu akan lebih berbahaya lagi. Secara refleks ia melemparkan topi itu. Pak Kari yang penyabar seolah mendapat kemenangan dan harga dirinya kembali. Dalam tidurnya ia bermimpi. Caranya ialah berjongkok di tangga gerbong. maka Pak Kari buru-buru kehilangan topinya pula dengan melemparkannya pada saat yang tepat. Oleh karena itulah tukang rem harus sering-sering melihat keadaan roda. Berwibawa dan ditakuti oleh semua bawahannya. Sehingga banyaklah tukang rem yang kehilangan topinya. Dengan puncak kemenangannya itu. Ia terbangun.Beruntunglah Pak Kari karena kewajiban memakai topi dinas model petani itu tidak lama berlangsung. Pak Kari balik mengejar. Karena kalau rel yang licin di kala hujan. topi itu akan sering diterbangkan angin. akan bisa menyebabkan gerbong terlepas dari rel bila tiba di tikungan. Kejadiannya ketika Pak Kari dengan beberapa tukang rem lainnya dalam perjalanan bede dari Kayutanam ke Padang Panjang. Tapi ketika ia memeluk badannya miring dan jatuhlah topinya ke lantai gerbong. kereta api akan kian kencang meluncur. yang seringkali memeriksa roda apakah masih berputar atau terhenti karena dicekam rem pada waktu kereta api meluncur di penurunan. martabat topi helmnya menjadi senilai dengan masa Tuan O. lalu merendahkan kepala sehingga badan dan kepalanya itu berada di luar bidang gerbong. rasanya istrinya persis menyerupai Nyonya Gunarso yang cantik. Diburunya topi itu. Maka dipeluknya istrinya itu kuat-kuat. Dan sejak itulah tukang rem tidak lagi wajib mengenakan topi dinasnya. Atau kalau diletakkan saja pada lantai bordes di kala hendak melihat keadaan roda. Banyak di antaranya yang duduk tertidur. alangkah kaget istrinya melihat Pak Kari telah jadi O. Dan seolah tak sengaja tersepaklah topi helm itu. Pada waktu itu. Dan Pak Kari yang sudah tersentak bangun melihat topinya melayang. Tapi topi itu jatuh menimpa pangkuan tukang rem yang sedang tertidur di sudut gerbong. Akan tetapi bila gerbong tidak direm. dua pertiga dari jumlah tukang rem menjadi bede itu umumnya mengisi gerbong penumpang kelas tiga. Persis ketika itu.

Kegembiraan pun bangkitlah. Ia melihat Pak Kari berjongkok sambil bergayut dengan sebelah tangannya. Kalau masih berbunyi harus dilihat lagi keadaannya. Peluit lok terus juga berbunyi pendek-pendek untuk memberi peringatan agar rem setiap gerbong lebih dikencangkan. Persis seperti yang dilakukan Pak Kari di jembatan itu juga. Dan tukang rem itu. Ingatan orang kembali pada peristiwa beberapa tahun yang lalu. rem mesti dilonggarkan sedikit. Dan dia mengancam siapa saja yang berani menghina topi helmnya. Menjadi kalap ada perlunya juga untuk menghentikan keberanian orang-orang yang perkasa.. Lalu ia menarik badannya agar tidak disambar pelengkung itu . Rem di tekan lebih kencang. Tapi Pak Kari tidak. Kalau roda berhenti berputar. Barulah ketika kereta api sudah sampai di stasiun kecil di desa Kandang Ampat. bahwa saat terakhir ia melihat Pak Kari ketika kereta api akan menempuh jembatan berpelengkung setelah air mancur terlewati. Dan tiba-tiba ia sadar bahwa kereta api sedang memasuki jembatan yang berpelengkung. Pagi itu masih meninggalkan renyainya. Tersekat pada sebuah batu besar. Akan tetapi pada suatu hari yang tak baik baginya. Begitulah ia lakukan berulang-ulang pada setiap peluit lok dibunyikan masinis. Pak Kari dinas pagi lagi dengan kereta api pertama ke Kayutanam. Lalu ia melihat dengan berjongkok di tangga gerbong. Seorang tukang rem disambar pelengkung jembatan itu pada kepalanya ketika berjongkok-jongkok melihati keadaan roda. Dicabutnya pisaunya. . Seorang tukang rem mengatakan.seorang ke yang lain setiap Pak Kari memburunya. Tapi rodannya bercicit bunyinya. Dan Pak Kari harus melihat keadaan roda dengan bergantungan di tangga gerbong. Gerbong Pak Kari baru saja mendapat tukaran bantalan rem yang baru. sehingga sedikit saja handel rem ditekannya telah menyebabkan roda-roda berbunyi seperti suara tikus mencicit. Tukang rem yang tertidur pun bangun. Si Buyung. itu artinya roda sudah berhenti berputar. Itu artinya setiap tukang rem yang menempaati setiap gerbong harus bekerja lebih hati-hati. pikir Pak Kari lama kemudian setelah ia sadar bahwa kawan.. Pak Kari mengikuti perintah itu. Ia mendapat tempat pada gerbong terakhir. untuk mengetahui apakah bunyi tiu karena pergeseran rem dengan roda atau karena pergeseran roda dengan rel. Sedangkan hujan terus turun semenjak tengah malam.kawannya tak lagi mau menggoda ia dan topi helmnya. Tak bernyawa lagi. hingga rel baja yang keras itu menjadi licin sekali. roda itu keluar dari rel. agar setiap tukang rem lebih mengeratkan remnya. demikian juga penumpang. akhirnya ditemui sejauh satu kilometer di hilir Batang Anai. Dan peluitlok sering-sering dibunyikan masinis bila dirasakannya kereta berjalan melebihi kekencangan yang diperlukan. Biasanya ia bergayut dengan punggung ke arah luar gerbong. Bisa-bisa pada suatu tikungan yang tajam. Bergalaulah suasana setelah mendengar penjelasan tukang rem itu. Semua tertawa dan bersorak-sorak kegirangan. tapi kali ini ia bergayut dengan menggunakan sebelah tangannya agar ia dapat lebih jelas melihat roda di pagi yang masih remang-remang itu. Malah marahnya bangkit keluar dari endapan kesabarannya yang terkenal. Jika bunyi itu ditimbulkan oleh pergeseran roda dengan rel. Tak seorang pun yang berani mempermainkan topi helmnya. orang tahu bahwa Pak Kari tidak lagi di tempatnya. Maka semenjak itu topi helm itu punya kewibawaan lagi. Dan itu berbahaya sekali.

karena hari masih gelap oleh sebab sinar matahari belum lagi menembus celahbukit di balik bertimbal batang air itu. Dan seperti dikomandoi saja. Kepalanya ditekurkannya.. Badannya kuyup dan jalannya gontai menginjaki bantalan besi demi bantalan besi rel kereta api. Beberapa tukang rem dibawa untuk mengawasi Batang Anai yang mengalir sejajar rel kereta api itu dan akan membantu mengangkat Pak Kari yang mungkin telah jadi mayat seperti Si Buyung beberapa tahun yang lalu. topi saya jatuh. Ia tetap menekur juga." kata masinis itu lagi. ditemuilah Pak Kari. Terasa ada kesukaran jika hanya mencari dengan mata. Di . jembatan. semua tukang rem memaki dan bercarut-carut ke arah Pak Kari. "Topi saya….." . berbuih-buih... Tapi lidahnya kelu.. Jawablah. Dan setiap mata tertuju ke batang air yang airnya mengalir deras.. Siapa tahu kalau-kalau Pak Kari bisa mendengarnya. pikir masinis itu. Kenapa kau hidup? Kenapa tidak mati saja?" Pak Kari masih diam. Muka Pak Kari yang pucat dan menggigil kedinginan kian pasi dan tambah gemetar mendengar kata masinis yang mau memecatnya. seolah hendak mengatakan bahwa ia mengaku salah. Tiba-tiba direnggutnya topi itu hingga terlepas dari kepala pemiliknya. Ia mau memberi keterangan. dilanggar je.. "Oi. Sekilometer menjelang jembatan yang disangkakan itu. "Mengapa jadi begini? Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan kejadian ini?" hardik masinis." kata Pak Kari gagap. Tapi kau tidak mati. "Oo. Karena topi ini. kaurusak dinasku. "Jawablah. Kau mesti dipecat. Kenapa kau tak mati saja?" Tak juga ia menjawab.di…. "Kalau kau mati seperti Si Buyung dulu. bisalah aku mempertanggungjawabkan kejadian ini. "Aku tak senang. Dipanggilnya Pak Kari ke loknya. Hebat benar topimu. he? Karena topi ini saja? Karena topi ini saja aku terpaksa mendorong kereta ini kembali? Kenapa topi ini saja yang jatuh? Kenapa kau tidak? Bagus benar kelakuanmu. karena topi ini jatuh. kau tinggalkan gerbongmu. je." kata masinis itu lagi seraya memandangi topi helm yang lengket di kepala Pak Kari. dan menderu bunyinya. Di sepanjang jalan tak putus-putusnya peluit lok dibunyikan. topi pusaka Si Topi Helm ini saja. Pak Kari diam saja.Dan masinis yang memegang pimpinan kereta api batu bara itu mengambil putusan untuk membawa lok dan sebuah gerbong kembali ke arah jembatan yang dikira telah mencelakakan Pak Kari. Kenapa kautinggalkan gerbongmu?" kata masinis lagi dengan nada yang lebih tinggi.. Sedang masinis bukan kepalang meradangnya.

basah benar topimu itu. Mandor itu memakai topi helm. halaman. "Ayo. Pak. Perbuatan memanggang topi helmnya itu tidak dapat dimaafkannya begitu saja. pergi kau. "Ah. Topi helm yang terbakar hangus dalam tungku api di lambung lok itu juga.M. "Ya. sekali dalam sebulan. Jatuh masuk sungai. Ingat itu. Maka ia diam saja. Kasihan. Kena air basah. Babi!" Hari datang hari pergi. bahwa Pak Kari pernah meninggalkan gerbongnya karena topi helmnya jatuh dilanggar pelengkung jembatan sehingga orang menyangka Pak Karilah yang terlanggar dan jatuh ke batang air seperti Si Buyung pada masa lalu." kata Pak Kari yang mulai sedikit lega karena kata-kata simpati masinis itu. Lalu dia memandang pada Pak Kari yang terkejut melihat peristiwa yang tak disangkanya itu. Kena api hangus juga. Semua orang sudah lupa pada peristiwa topi helm Pak Kari. Untunglah tidak jatuh ke tengah. Menarinari oleh nyala api. dan secepat itu pula dilemparkannya topi helm itu ke dalam api yang sedang nyala. ketika Pak Kari sedang bekerja mengeruk-ngeruk tahi arang dari lambung lok di stasiun Kayutanam. Seperti biasanya. tidak merasa dingin lagi dengan tiba-tiba. Pak Kari seperti melihat topi helmnya yang dulu lagi. di mana apinya sedang garang menyala. yang ditakuti mereka. masinis telah menghardiknya lagi. Tuan O." Pak Kari yang kekuyupan pada pagi hari di lembah pegunungan itu. Orang juga lupa. didengarnya teriakan Nyonya Gunarso di kamar mandi. Malah orang pun lupa sudah bahwa pada suatu kali Pak Kari pernah menjunjung topi helmnya Tuan O. Dan sebelum Pak Kari sadar pada apa yang tengah terjadi atas dirinya. Ia buru-buru mendapati perempuan itu. Perai mingguan." kata masinis itu mengulangi kata-katanya seraya menggelenggelengkan kepala seperti orang terharu sangat. seperti biasa ia menunjukkan kesabarannya yang terkenal itu. "Kena air topi ini basah.M. Kena api bagaimana?" Serentak dengan itu dibukanya pintu api lok itu. segera orang melupakannya lagi.M.. Dirinya sendiri yang berwajah setampan Tuan O. Sedangkan lidahnya berdecak-decak. Dan ketika matanya mengalih ke dalam tungku api di lambung lok. Untunglah di tepi saja. dan ada kalanya juga mengeping kayu api di rumah sepnya itu. yang lagi terhenyak duduk di lantai kamar mandi sambil mengurut-urut pinggang dan nyengir-nyengir kesakitan. ikut membantu membersihkan rumah. Tapi ketika itu ia tidak tahu bagaimana melampiaskan sakit hatinya. oleh topi helm itu Pak Kari pernah hendak mengamuk.M. ia pun ingat pada suatu peristiwa di rumah Tuan O.Pak Kari ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Ia merasa begitu panasnya oleh bakaran api di dalam dadanya. tiba-tiba ia melihat seorang mandor jalan kereta api. Andaikata sesekali orang ingat kembali. ya?" kata masinis itu selanjutnya. "Oh. Kari.M. Topi helm yang persis sama dengan topi helmnya. jika mengenakan topi helm. topi biasa saja topimu itu. Dalam ia lagi mengeping kayu api hingga menjadi kecil-kecil. Akan tetapi sekali hari. Pak Kari tak tahu . ia disuruh Tuan O. Ketika itu Pak Kari tidak berdinas. "Kasihan sekali. Dan kemudian seperti terlihat dirinya di bawah topi yang menarinari dalam nyala api itu.

dibantunya perempuan itu untuk berdiri. Tuan O. Adalah jauh lebih ringan apabila ia dapat memandangi wajahnya lewat kaca. Tuhanlah yang menakdirkan segala-galanya. yang begitu indah bila dikenang. Lama juga ia tergagap-gagap merumuskan pikirannya untuk mencari cara memberi bantuan. Yaitu api dendam yang takkan pernah terpadamkan sebelum terbalas dengan lunas. taklah akan seperkasa itu bila tidak memakai topi helm. yang telah terbakar habis oleh api dalam tungku di lambung lok yang lagi dibersihkannya itu. bahwa pembalasan setimpal telah terlaksanakan. hubungan yang tersembunyi. Kewibawaan Tuan O. Sekarang juga. ia merasa telah ditakdirkan sebagai pahlawan bagi istri dari sepnya yang juga orang kerdil itu. dengan topi helmnya itu. Bahwa meski ia seorang yang termasuk kerdil. dan perlakuan yang manis dari istri sepnya ketika mengucapkan terima kasih. mulailah lagi suatu nyala membakar hati dan pikirannya. seolah hendak menyatakan kepada topi helmnya. Pak Kari menjadi tambah tergagap. bahwa ia hanyalah seorang kerdil yang tak berdaya yang bertugas menjadi tukang rem pada jalur kereta api Padang Panjang-Kayutanam saja. topi yang diberikan Tuan O. Dan sejak itu kegelapan dan kebosanan menjalari kehidupan masinis itu. bukanlah suatu model manusia yang ditakdirkan untuk jadi bahan olok-olok semata-mata. Tetapi kemudian. Pikiran-pikirannya itu. ketika ia memapah dan melingkarkan tangannya ke pinggang perempuan itu di kala mengantarkan ke kamar tidurnya. Berlonggok menimpa wajah masinis itu. Dan topi helm itu.M. apalagi perempuan itu istri sepnya.M. Tiba-tiba ia ingin membalasnya sekarang. Yang ia ingat cuma satu. perasaan aneh yang menyenangkan. api dendamnya kian marak dan kian marak juga. Dan topi helm yang bagai mahkota itu akhirnya jadi kepunyaannya. Dan makin kian marak ketika masinis itu datang memeriksa pekerjaan Pak Kari yang membersihkan tungku api di lambung lok itu. kepada Tuan O. Sesuai menurut rencana Pak Kari. Lalu Pak Kari memandang ke topi helm yang bertengger di kepala mandor jalan kereta api itu dengan senyum kepuasannya.apa yang harus dilakukannya. Keinginannya itu melupakan dirinya sendiri. Demikianlah lamunan Pak Kari.M. Pak Kari melemparkan sesodok tahi arang yang berpijarpijar nyala apinya keluar pintu lok. . lambat laun menumbuhkan sesuatu yang dirasanya aneh dalam hatinya. Demi ia ingat topi helmnya lagi.M. Topi helm yang tak ubahnya sebagai mahkota Ratu Wilhelmina. dan istrinya. Pak Kari merasa bahagia sekali. Akhirnya setelah keberaniannya dapat ia kumpulkan. Dan Pak Kari pun tak pernah merasa bersalah sedikit pun. kepadanya di kala hendak berpisah dulu. Namun tidak seorang pun yang dapat menyalahkan Pak Kari. sehingga justru di kepalanya saja topi helm itu bisa pas benar dari sebanyak kepala yang mencobanya. Tapi ketika perempuan itu meminta bantuan. Baru saja masinis itu menggapaikan tangannya untuk berpegang pada gagang pintu lok hendak meningkati tangga. Ada perasaan malu yang kuat sekali dalam dirinya untuk memegang perempuan secantik itu. dirasakannya sebagai suatu perlambang yang bermakna abadi bagi hubungannya dengan Nyonya Gunarso.

pintu kamar diketok orang. Yaitu stelan jas dan dasi. mestilah dibuka oleh Presiden. "Tapi aku tidak bisa pergi. memang dikosongkan isinya. Rupanya dialah teman sekamarku. bukan main senang hatiku. "Minum dulu. Dan aku mengecilkan volume suara televisi. wajah murungnya terlihat lagi." katanya. Dia berdiri dan membuka freezer kecil di dekat meja. Agak lama kemudian. Aku kira dia minum air kran di sana. "Tadi panitia memberi tahu. Temanku sekamar Zaim namanya. ketika aku lagi asyik nonton acara musik simponi yang diantar Katamsi di TVRI. Rupanya pada setiap kongres yang bertaraf nasional. apa boleh buatlah. Jari jemari kedua tangannya saling berkaitan di atas perutnya. Bila Presiden tidak bisa hadir. Penyair dari Madura. Menelentang lurus. Yah. "Kok sudah kosong?" katanya seraya menatap dengan mata yang seperti menyesali karena menduga akulah yang telah menghabiskan isinya. "Untuk peserta undangan. Katanya: "Ketika aku tahu bahwa Pak Dali jadi teman sekamarku. Setelah melihat isi teko pun sudah kosong dia ke kamar mandi. maka pesertalah yang datang menghadap ke Istana." kataku.Zaim Yang Penyair Ke Istana Aku dapat undangan mengikuti suatu kongres di Jakarta. dia berbaring tanpa mengganti pakaian. Seorang laki-laki yang sudah lewat masa mudanya berdiri di ambang pintu." "Kenapa?" "Aku tidak punya jas. Zaim yang penyair dari Madura itu." aku mendengus mengiyakan. Aku belum melihat batang hidungnya. "Uh uh." . Ketika keluar eadaannya telah nyaman. Maka aku pun tenang-tenang saja menerima sejarah hidup yang tidak bisa ketemu Presiden. Aku termasuk salah seorang yang tidak bisa ikut menghadadap oleh alasan tidak memiliki syarat yang pantas. rasa senangnya tak kelihatan lagi. Agak lama juga. Dia murung. Tapi freezer itu tidak ada isinya. Beberapa saat menjelang tengah malam. Hotel yang aku kagumi pada awal didirikan 35 tahun yang lalu. besok pukul sepuluh kita sudah harus sampai di istana. Saat kongres itulah aku baru bisa inapi. Hanya karena belum kenal saja aku merasa belum ketemu dia." kataku." Tapi setelah dia membantingkan bokongnya di kasur tidur. Setelah membenahi tas bawaannya dan kembali membantingkan bokongnya ke kasur. Penginapan peserta di Hotel Indonesia. Mungkin sudah.

Padahal waktu itu baru lebih sedikit pukul delapan. Seperti anggota MPR yang akan disumpah layaknya. Aku cuma punya baju batik. "Terima kasih. cepat. sehingga kursi yang aku duduki hampir terjungkal. repot. Nama Bapak sudah dikirim. seorang panitia mendekati." "Tentu. sewa taksi ke sana pulang pergi sepuluh ribu. dan saya terus nonton acara televisi. Dua puluh lima ribu sudah cukup. . "Pak." "Aku tidak punya jas. Kita sudah harus berangkat pukul sembilan. aku punya tiga puluh ribu. Dan sebelum dia berkata lagi. Di istana lagi. Barangkali dia punya persoalan rumit yang ingin dia sampaikan. Pak. "Kamu boleh pakai separoh. Pak. Aku santai-santai saja ke ruang makan untuk sarapan. Padahal aku ingin sekali ketemu Presiden. Pak. Ketika aku baru saja mulai sarapan. katanya. Naik taksi supaya bisa keburu. Huhh. mungkin empat puluh ribu. Tidak bisa. aku katakan bahwa saya bisa pinjamkan dia uang. "Tidak bisa.Aku keluarkan dompetku dan aku hitung isinya. Nanti bila ditanya sekuriti. Pak." Pagi-pagi Zaim sudah keluar. Tak akan ada kesempatan lain buat aku bisa ketemu Presiden kalau tidak sekarang. Semua peserta yang akan ke istana sudah siap-siap dengan stelan jasnya. lumsum baru bisa dibayar pada hari terakhir. Kiraanku benar. Jadi paslah." Kami terdiam lagi. Zaim lalu melompat untuk memeluk aku." "Tapi aku ingin pergi. Kata panitia." "Tapi aku tidak ikut. Ingiiin sekali." "Waduh. Pak. Harga jas bekas. dia mau pinjam uang. Pak. Tiap sebentar dia menggaruk belakang kepalanya. "Kata Si Tarji." kataku. Jas itu bisa dijual lagi dua puluh lima ribu." Jumlah yang separoh itu tidak lebih dari dua puluh lima ribu rupiah. Dia masih menelentang di tempat tidur dan aku masih terus nonton. Terima kasih. di Pasar Rumput ada dijual baju bekas. Karena itu harus ikut." Aku maklum sudah pada ujung omonganya." katanya lagi. Dia terus menelentang di tempat tidur. Kemudian dia bangun dan hilir mudik dari tempat tidur ke pintu. Celaka."Kalau begitu kita sama." "Ke istananya atau ketemu presiden?" "Dua-duanya." kataku seadanya. Karena tak lama kemudian dia berkata seperti kepada diri sendiri: "Menurut Tarji. Kami sama diam lagi. Pagi-pagi aku sudah harus ke sana. Huhh.

Hampir semua pelukis yang lukisannya ada di situ aku kenal namanya sejak lama. aku ku masuk paling akhir dan duduk pun di kursi barisan paling belakang. karena tidak punya jas. Siap-siaplah. Katanya: "Kalau mau masuk televisi cari tempat duduk di depan. ketika menerima tanganku. Begitu. Pak." Maka berangkatlah aku ke istana untuk pertama kali seumur hidupku. Cara yang tidak dilakukannya kepada peserta lain. Bagusnya sebelah sini. Tidak seorang pun orang sebangsa aku. sama ramahnya seperti kepada orangorang yang mengenakan jas. Karena tahu diri tersebab tidak punya jas. Aku berhasil memperjuangkan Bapak. Syukur. "Syukur. juga diduduki oleh pejabat dan panitia yang eselonnya lebih rendah. katanya." "Jadi boleh pakai baju batik saja?" tanyaku. yang bisa ke sana. Maklum banyak seninam. asal rapi dan pakai sepatu. "Bapak punya sepatu. Pak. Tapi mungkin saja aku tidak bisa melihatnya diantara sekian banyak orang yang sama pakai jas.Aku meneruskan sarapanku. Dan ketika semua peserta disuruh masuk ke ruang audiensi. Tapi aku tidak melihat batang hidung Zaim. Pak. Waktu di ruang tunggu istana. Bapak sudah bisa ke istana ketemu Presiden. Saya terlalu asyik melihat lukisan yang tergantung di dinding. Lalu sekuriti itu bilang: Boleh pakai baju batik." Dalam waktu aku terbingung-bingung dia melanjutkan setelah memandang ke kakiku. Pak. tapi miskin. Di sisi sebelah kanan seperti yang dikatakan Rosihan. Tidak sembarang orang. Ketika aku membukanya. bahwa banyak peserta tidak bisa hadir. bukan?" Aku mengangguk. Di sebelahku Rosihan yang biasa dendi dengan stelan jasnya. aku tidak juga melihat Zaim. "Itulah yang aku perjuangkan. Syukur." Aku memandang ke deretan kursi bagian depan. Dan Presiden. Yang di sana para pejabat dan panitia. Seselesai sarapan aku langsung ke kamar lagi demi menghindari umpatan panitia kalau masih melihat aku. Tapi beberapa menit kemudian pintu kamarku saya diketok. "Syukur. Pak. . lho. panitia yang mengumpat itu berdiri di depanku dengan wajah yang gembira dan mengatupkan jari kedua tangannya ke dada." "Bagaimana caranya?" "Aku bilang pada komandan sekuriti istana. Karena Presiden menepuknepuk tanganku dengan tangan kirinya. yang meski punya nama besar. Kita mau berangkat. Bahkan aku rasa aku lebih. Mungkin dia dengan bus lain yang berjejer banyak di halaman hotel. ternyata akulah satusatunya peserta yang mengenakan baju batik. Berkat perjuangan saya.

. Hampir tengah malam Zaim muncul di ambang pintu kamar hotel.. Apalagi dari sesama seniman. Zaim. Setelah diam seketika dia berkata lagi. Ketemu Presiden. Ada apa?" kata Rosihan setelah kami di luar ruangan itu.." "Bagaimana dengan jasnya?" tanyaku tanpa tahu apa yang harus aku katakan menyambut kegembiraannya. Boleh 'kan. aku akan tidak bisa keluar hotel sampai kongres selesai dengan sisa uang dalam kantong. Masa dijual. Aku tidak menjawab. "Uang Bapak nanti aku bayar kalau lumsum sudah diterima. selain karena tidak biasa juga tidak suka mendapat perlakuan seperti itu. Lalu saya jawab saja sekenanya: "Barangkali Presiden bersimpati karena aku satu-satunya yang memakai batik buatan dalam negeri. Aku merasa rikuh sekali. lalu diciumnya. Pak. Wajahnya alangkah cerianya. Pak?" Oleh karena begitu kata Zaim. Mana aku bisa tahu apa yang terkandung dalam hati Presiden. Akan aku simpan baik-baik." Kayutanam. 6 Maret 1998 Negeri Unggun Tribute To Banksy ." kata Rosihan pula." "Atau apa?" "Mungkin Presiden memberi isyarat pada ajudan: Perhatikan betul orang ini. Namun dalam hatiku hanya bisa berkata: "Zaim."Istimewa sekali Presiden pada bung." katanya. "Tidak jadi aku jual. terkabullah doa saya. Ini jas keramat. kalau begitu. Atau." "Isyarat yang baik. Tangan kananku digenggamnya dengan kedua belah tangannya. Lalu katanya: "Berkat pertolongan Bapak.