Kumpulan Cerpen A.A.

Navis

Anak Kebanggaan

Semua orang, tua-muda, besar-kecil, memanggilnya Ompi. Hatinya akan kecil bila di panggil lain. Dan semua orang tak hendak mengecilkan hati orang tua itu. Di waktu mudanya Ompi menjadi klerk di kantor Residen. Maka sempatlah ia mengumpulkan harta yang lumayang banyaknya. Semenjak istrinya meninggal dua belas tahun berselang, perhatiannya tertumpah kepada anak tunggalnya, laki-laki. Mula-mula si anak di namainya Edward. Tapi karena raja Inggris itu turun takhta karena perempuan, ditukarnya nama Edward jadi Ismail. Sesuai dengan nama kerajaan Mesir yang pertama. Ketika tersiar pula kabar, bahwa ada seorang Ismail terhukum karena maling dan membunuh, Ompi naik pitam. Nama anaknya seolah ikut tercemar. Dan ia merasa terhina. Dan pada suatu hari yang terpilih menurut kepercayaan orang tua-tua, yakin ketika bulan sedang mengambang naik, Ompi mengadakan kenduri. Maka jadilah Ismail menjadi Indra Budiman. Namun si anak ketagihan dengan nama yang dicarinya sendiri, Eddy. Ompi jadi jengkel. Tapi karena sayang sama anak, ia terima juga nama itu, asal di tambah di belakangnya dengan Indra Budiman itu. Tak beralih lagi. Namun dalam hati Ompi masih mengangankan suatu tambahan nama lagi di muka nama anaknya yang sekarang. Calon dari nama tambahan itu banyak sekali. Dan salah satunya harus dicapai tanpa peduli kekayaan akan punah. Tapi itu tak dapat dicapai dengan kenduri saja. Masa dan keadaanlah yang menentukan. Ompi yakin, masa itu pasti akan datang. Dan ia menunggu dnegan hati yang disabar-sabarkan. Pada suatu hari yang gilang gemilang, angan-angannya pasti menjadi kenyataan. Dia yakin itu, bahwa Indra Budimannya akan mendapat nama tambahan dokter di muka namanya sekarang. Atau salah satu titel yang mentereng lainnya. Ketika Ompi mulai mengangankan nama tambahan itu, diambilnya kertas dan potlot. Di tulisnya nama anaknya, dr. Indra Budiman. Dan Ompi merasa bahagia sekali. Ia yakinkan kepada para tetangganya akan cita-citanya yang pasti tercapai itu. "Ah, aku lebih merasa berduka cita lagi, karena belum sanggup menghindarkan kemalangan ini. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah jadi dokter, si mati ini akan pasti dapat tertolong," katanya bila ada orang meninggal setelah lama menderita sakit. Dan kalau Ompi melihat ada orang membuat rumah, lalu ia berkata, "Ah sayang. Rumah-rumah orang kita masih kuno arsitekturnya. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah menjadi insinyur, pastilah ia akan membantu mereka membuat rumah yang lebih indah." Semenjak Indra Budiman berangkat ke Jakarta, Ompi bertambah yakin, bahwa setahun demi setahun segala cita-citanya tercapai pasti. Dan benarlah. Ternyata setiap semester Indra Budiman mengirim rapor sekolahnya dengan angka-angka yang baik sekali. Dan setiap tahun ia naik kelas. Hanya dalam tempo dua tahun, Indra Budiman menamatkan pelajarannya di SMA seraya mengantungi ijazah yang berangka baik.

Ketika Ompi membaca surat anaknya yang memberitakan kemajuannya itu, air mata Ompi berlinang kegembiraan. "Ah, Anakku," katanya pada diri sendiri, "Aku bangga, Anakku. Baik engkau jadi dokter. Karena orang lebih banyak memerlukanmu. Dengan begitu kau disegani orang. Oooo, perkara uang? Mengapa tiga ribu, lima ribu akan kukirim, Anakku. Mengapa tidak?" Dan semenjak itu Ompi kurang punya kesabaran oleh kelambatan jalan hari. Seperti calon pengantin yang sedang menunggu hari perkawinan. Tapi semua orang tahu, bahkan tidak menjadi rahasia lagi bahwa cita-cita Ompi hanyalah akan menjadi mimpi semata. Namun orang harus bagaimana mengatakannya, kalau orang tua itu tak hendak percaya. Malah ia memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang di capai anaknya. Dan segera ia mengirim uang lebih banyak, tanpa memikirkan segala akibatnya. Dan itu hanya semata untuk menantang omongan yang membusukkan nama baik anaknya. "Sekarang kau diomongi orang-orang yang busuk mulut, Anakku. Tapi ayah mengerti, kalau mereka memfitnahmu itu karena mereka iri pada hidupmu yang mentereng. Cepat-cepatlah kau jadi dokter, biar kita sumpal mulut mereka yang jahat itu," tulisnya dalam sepucuk surat. Dan akhirnya orang jadi kasihan pada Ompi. Tak seorang pun lagi membicarakan Indra Budiman padanya. Malah sebaliknya kini, semua orang seolah sepakat saja untuk memuji-muji. "Ooo, anak Ompi itu. Bukan main dia. Kalau tidak ke sekolah, tentu menghafal di rumah," kata seseorang yang baru pulang dari Jakarta menjawab tanya Ompi. "Ke sekolah? Kenapa ke sekolah dia?" Ompi merasa tersinggung. "Kalau studen tidak menghafal, tahu? Tapi studi. Tidak ke sekolah. Tapi kuliah." "O, ya, ya, Ompi. Itulah yang kumaksud." "Aku sudah kira Indra Budiman, anakku anak baik. Ia pasti berhasil. Aku bangga sekali. Ah, kau datanglah ke rumahku makan siang. Aku potong ayam." Dan oleh perantau pulang lainnya dikatakan kepada Ompi. "Siapa yang tak kenal dia. Indra Budiman. Seluruh Jakarta kenal. Seluruh gadis mengharap cintanya." Lalu Ompi geleng-geleng kepala dengan senyumnya. "Bukan main. Bukan main. Indra Budiman anakku itu. Ia memang anak tampan. Perempuan mana yang tak tergila-gila kepadanya. Ha ha ha. Ah, datanglah kau ke rumahku nanti. Ada oleh-oleh buatmu." Kemudian kalau Ompi ketemu gadis cantik yang di kenalnya, ditegurnya: "Hai, kaukenal anakku, studen dokter itu, bukan? Nanti kalau ia pulang, aku perkenalkan padamu. Biar kau dipinangnya. Ha ha ha." Si gadis tentu saja merah mukanya, karena merasa tersinggung. Tapi menurut Ompi, muka merah itu karena malu tersipu. Dan ia jadi tambah gembira.

Dia pun merasa pula. Apalagi seorang studen dokter tentu takkan mau dengan gadis kampungan yang kolot lagi. Ditunggu. si anak yang percaya. Indra Budimannya lebih mementingkan studi daripada perempuan. banyak sudah orang yang punya gadis cantik datang meminang. Gadis yang sederajat dengan titelmu kelak. Untuk membuktikan kebenaran suratnya. Sikap keangkuhannya mudah tersinggung. orang-orang tak menginginkan anaknya. Ompi gelisah juga menanti surat dari anaknya. Selalu tak berbalas. Karena di kampung kami pihak perempuanlah yang datang meminang. akan kuludahi mukamu semua. dikiriminya surat. Gemetar . datanglah Pak Pos dengan di tangannya segenggam surat. si ayah yang percaya. Malah sebaliknya. bahwa sudah banyak orang yang datang melamarnya. tentu Indra Budiman akan gembira dan bertambah rajin menuntut ilmu. apa foto itu gambar dari gadis yang sudah kawin atau bertunangan. maka kini si ayah yang menipu. Ompi tinggal menunggu terus. Tak masuk akal. Lalu si anak mengharapkan kepada ayahnya supaya dikirimu foto-foto gadis yang dicalonkan. Ditunggunya. dengan tiba-tiba saja surat Indra Budiman tak datang lagi. Sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara. Juga tak terbalas. Dikiriminya lagi. Tak teringat olehnya. Bulan datang. Dikatakannya. Sombong. Bahkan bukan kepalang meradangnya Ompi. Layaknya macan lapar yang terkurung menunggu orang memberikan daging. Celakanya Indra Budiman yang selama ini menyangka bahwa tak mungkin ia dimaui oleh orang kampungnya. Ia kirim terus dengan harapan semoga anaknya tidak berkenan. Dan alangkah gembiranya Ompi. Anakku. Bahkan juga tidak peduli ia apa gadis itu sudah meninggal. bahwa kepalsuan sandiwaranya sudah tentu akan berakhir juga pada suatu masa." penutup suratnya. Dan bencinya bukan kepalang kepada orang-orang tua yang mempunyai anak gadis cantik. bahwa Indra Budiman sudah patut di tunangkan. Tidak peduli ia. Kalau Indra Budimanku sudah menjadi dokter. Tapi Ompi tak mau mengerti. Persis ketika Ompi kehabisan foto para gadis itu. Ditunggunya beberapa hari. Anaknya pasti lama-lama tahu dan dengan begitu akan timbul kesulitan lain yang tak mudah di selesaikan." Kepada Indra Budiman tak dikatakannya kemarahannya itu. di kala Ompi sudah mulai putus asa. Dan pada sangkanya. "Awaslah nanti. Tapi semua telah ditolak. "Pilihlah saja gadis di Jakarta. Lupa ia bahwa semua mata orang kampungnya yang tinggal di Jakarta selalu saja mempercermin hidupnya yang bejat. sebagai imbangan budi baik ayahnya yang tak pernah melupakan segala kebutuhan anaknya. bulan pergi. si calon dokter itu. Disamping itu ia sadar juga. Dan diharapkannya pula kedatangan orang-orang meminang Indra Budimannya. Pada suatu hari yang tak baik.Akan tetapi ketika Ompi tahu aku bakal kawin. Tapi rupanya Tuhan mengasihi ayah yang sayang kepada anaknya. Tapi tak datang balasan. lantas jadi membalik pikirannya. Ompi mengirimkan foto gadis yang kebetulan ada padanya. Dikirim. andaikata tidak ada sebuah pun dari foto-foto itu yang berkenan di hati anaknya. jika ia tahu orangorang mengawinkan anak gadisnya yang cantik tanpa mempedulikan Indra Budiman lebih dulu. Pasai ia menunggu. Sudah tentu harapan Ompi tinggal harapan saja. Karena menurut keyakinannya. dia dapat ilham baru. Lama-lama rasa dendamnya pada mereka bagai membara. bahwa bohongnya kepada ayahnya selama ini sudah diketahui oleh orang kampungnya. Antara rusuh dan lega. Ia jadi sungguh percaya. Jika dulu si anak yang berbohong. Maka darah Ompi kencang berdebar.

tapi tak pernah lagi mengiriminya surat. Redup. Carilah dokter lain saja. Lama orang baru tahu dan memapahnya ke ranjangnya di kamar. Kedatangan seorang dokter di pandangnya sebagai suatu sindiran. jangan tinggalkan dia sendirian." . Ia tak percaya bahwa surat-suratnya itu kembali. Indra Budimannya. Yaitu surat. Dan ia telentang di ranjangnya. Namun kemalangan itu bertambah lagi. Dan semenjak itu. Seluruh hidupnya bagai jadi meredup seperti lampu kemersikan sumbu. Tapi mata yang lebar itu tiada cemerlang. Tapi ia tak meyakininya dengan sungguh-sungguh. karena ternyata pengantar surat itu Cuma mengantarkan semua surat-suratnya yang dikembalikan. Ia kini menanti dengan telentang di ranjangnya. "Aku tak mampu mengobatinya lagi. reduplah lagi mata Ompi. matanya akan menatap ke kaca itu. bahwa semuanya memang surat untuk anaknya yang ia kirimkan dulu. Kehadiran dokter itu menimbulkan risau hatinya karena ingat pada Indra Budiman yang bakal jadi dokter. dokter hanya menggelengkan kepala saja. Dan cahaya matanya kembali bersinar-sinar. bahwa ia sedang bermimpi. Ompi bertambah menderita jua. pada setiap jam empat hingga jam lima sore. hingga lebih meroyak. Dan berdoalah ia kepada Tuhan. Kalau semua tak mungkin. Dan tahulah ia. agar apa yang terjadi adalah memang mimpi. meski dengan resiko besar. yang membiarkan masa bahagia dan harapan. Dan ia sanggup berdiri dan melangkah ke pintu depan.karena ia bahagia. Kini dalam hidupnya hanya satu hal yang dinantikannya. Karena kedatangan dokter hanya akan memperdalam luka hatinya saja. Kami tak pernah lagi memanggil dokter setelah tiga kali ia datang. bahkan sampai mengigau. Semenjak itu segalanya jadi tak baik. sehingga ia akan serta-merta dapat melihat Pak Pos mengantarkan surat Indra Budiman. Sebab selamanya Pak Pos itu tak mampir lagi membawakan surat dari Indra Budiman. Dan kalau Pak Pos itu telah lewat tanpa singgah. Bila perlu. Tapi saat-saat seperti itu. Surat dari anaknya. Sedangkan di waktu lain Ompi seolah tak peduli pada segalanya. Yaitu ketika Ompi jatuh terduduk. Sebuah kaca disuruhnya supaya di pasang pada dinding yang dapat memberi pantulan ke ambang pintu depan. Tapi matanya selalu lebar terbuka memandang langit-langit kelambu. Mata itu kian hari semakin jadi besar tampaknya oleh badannya yang kian mengurus. Ketika terakhir aku menemui dokter yang sudah enggan datang. Lalu di bukanya dan dibacanya satu persatu. bahwa anaknya masih juga belum berhasil menjadikan cita-citanya tercapai. Dibalik-baliknya surat itu berulang kali. Atau bawa ia ke rumah sakit. Ia seperti merasa bermimpi dan tubuhnya serasa seringan kapas yang melayang di tiup angin. Karena pada jam itu biasanya Pak Pos biasanya mengantarkan surat-surat ke alamatnya masing-masing. Dan oleh seleranya yang patah. Lahir dan batin. adalah juga masa yang menambah dalam luka hatinya. Ompi jadi lumpuh dan habislah sejarah Ompi menanti di ambang pintu setiap sore. Akan tetapi setiap sore. Malah ia coba meyakinkan dirinya sendiri. Tetapi alangkah remuknya hati orang tua itu. Hanya di waktu itu saja. Ia jatuh sakit. enggan bergerak. diantara jam empat dan jam lima. bangunkanlah kembali mahligai angan-angannya. Ompi kelihatan seperti orang sakit yang bakal sembuh.

Itulah sebabnya tak kusampaikan kepadanya bahwa hari perkawinanku sudah berlangsung. Maksudku hendak membuka telegram itu untuk mengetahui isinya lebih dulu. Maka tak pernah aku coba menulisnya. Melainkan sepucuk telegram." Ompi berkata seperti ia memerintah orang-orang di waktu mudanya dulu. terjadilah apa yang akan terjadi. "Telegram dari anakku? Apa katanya? Pulanglah dia membawa titel dokternya?" Ompi bertanya dengan suara yang mendesis tapi terburu-buru berdesakan keluar. Tapi aku selamanya bimbang. Surat dari Indra Budiman. bahwa saat yang paling kritis sudah sampai di puncaknya. Telegram itu kusodorkan ke tangannya. Ompi yang sudah lumpuh selama ini. Hingga gagallah recanaku. Tak sempat aku membuka surat itu. Lalu didekapkan ke dadanya. Tak tahulah aku. Aku sadar. Aku mengangguk. Kadang-kadang terniat olehku hendak menulis sendiri surat itu. Sesaat ketika aku menerima dan menandatangani resi telegram itu. Tangannya diulurkannya kepadaku meminta telegram itu. Aku tahu itu pastilah bukan surat yang dibawanya.Semenjak itu. Matanya cemerlang memandang. Bacakan segera isinya. Sedang dalam hatiku berteriak. Aku merasa ngeri memberikannya. malahan takut. "Bukalah. Tapi keajaiban tidak juga datang. Tapi tak kuharapkan berlangsungnya. Hanya satu yang dikehendakinya. Kukarang cerita masa lalu dan angan-angan masa depan yang menyenangkan. Kekuatan apakah yang menyebabkan Ompi bisa berdiri dan bahkan berjalan itu. Aku tak tahu. Tergesagesa aku menyongsong Pak Pos itu ke ambang pintu. Telegram itu digenggamnya erat. Di samping itu secara samarsamar aku elus terus harapannya yang indah bila Indra Budiman kembali. Kulihat Pak Pos memasuki halaman rumah Ompi. . Akan tetapi semua kejadian datang dengan serba tiba-tiba. kalau-kalau permainan itu akan berakibat yang lebih fatal. Aku pun tahu. Ompi terduduk di kursi. Tangannya berpegang pada sandaran kursi. Dan kuharapkan sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan untuk membebaskan aku dari siksa ini. Surat yang mengatakan bahwa ia sudah lulus dan telah mendapat titel dokterya. Tapi aku tak bisa berbuat lain." katanya. berganti-ganti orang aku menyediakan diriku selalu dekat Ompi. Hari waktu itu jam sebelas siang. Pada suatu hari terjadilah apa yang kuduga bakal terjadi. Gemetar kaki Ompi mendukung tubuhnya yang kisut. Karena di luar segala dugaanku. Dan aku kehilangan kepercayaan pada pandangan mataku sendiri. telah berada saja di belakangku. Karena aku takut berita itu akan menambah dalam penderitaannya. Kuceritakan dengan hati yang kecut. "Datang juga apa yang kunantikan. Dan jika perlu akan kuubah isinya. bahwa tiada harapan lagi buatnya hidup lebih lama. Aku sobek sampul yang kuning muda itu dengan tangan yang menggigil. Indra Budiman dikabarkan sudah meninggal. Sekilas saja tahulah aku. Agar terelakkan saat-saat yang menyeramkan. apa yang harus kukatakan. Dan pada telegram itu pastilah bertengger saat-saat kritis sekali. tidak ada gunanya semua.

Biar aku jadi segar bugar pada waktu anakku. Dan kemudian dia berkata lagi. sehingga aku dapat mendengar denyut jantungku sendiri. datang. tak sebuah jua pun mengada." "Anakku sudah dua. "Sudah lima tahun. Dan dia berkata lagi. serta matanya menyinarkan cahaya yang cemerlang. Akan kukarang kisah yang menyenangkan hatinya. Lima tahun kawin dan punya anak. Sedangkan bibirnya membariskan senyum. Pergilah." kata Ompi dengan terputus-putus. Karena tiap orang tak tahu kebahagiaannya. anak juga. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Tapi telegram itu tak diberikannya padaku. Panggilkan. Diciumnya dengan mesra. Selama tangannya sampai terkulai dan matanya terbuka setelah kehilangan cahaya." "Ya. "Kau cinta pada istrimu tentu. Biar sepatah demi sepatah bisa menjalari segala saraf sarafku. ya? Ya. Kami diam. seperti semua tak pernah ada. Mereka juga tentunya. Aku takkan membaca telegram ini. Aku kira dia bicara lagi. Orang cuma tahu kesukarannya saja. Dan telegram itu dibawa ke bibirnya." Dan dia diam lagi. Panggilkan dokter. Dan telegram itu jatuh dan terkapar di pangkuannya." . "Tak usah dibacakan." "Aku sendiri sedang bertanya. Lebih lemah kini. Dan aku merasa diriku tiada. Semuanya mengabur. Kau berbahagia tentu. "Ah. Sudah dua." "Tentu. Bacakan pelan-pelan. Sehingga ledakan kegembiraan ini tak membunuhku. Aku mau sehat. Dokter Indra Budiman. "Kau punya istri sekarang. Dan kau tentu bahagia. Mau kuat dulu. Aku takut kegembiraanku akan meledakkan hatiku. Takkan sanggup aku mendengarnya." Aku masih tinggal dalam diamku. Aku akan mati lemas oleh kebahagiaan yang datang bergulung ini. tidak. Angin dari gunung datang lagi menerpa mukaku. Dalam kegugupan kususun sebuah taruhan jiwa dan sesalam bagi selama hidupku. sejauh aku memikir. Masih terletak pada dekapan dadanya.Sepi begitu menekan. Lama diciumnya seraya matanya memicing. Angin Dari Gunung Sejauh mataku memandang. Kaubacakan buatku. Panggilkan dokter." kata Ompi dengan gembira. Kau tentu sayang pada mereka. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan.

Tersedu seperti ketika pusara Ibu mau ditimbuni. Aku masih ingat. Dan aku menunggunya. Tapi kini aku ingat lagi. Kedua tanganku ini. Tapi itu sudah lama lampaunya.Dia berhenti lagi. Masa mudaku habis sudah ditelan kebuntungan ini. kaulihat? Buntung karena perang. kau dapat mencapai sesuatu yang kauinginkan. Kedua tangannya yang buntung itu diacungkannya ke depan. meneriakkan seribu kenangan yang datang mengharu biru. Kala itu aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Biar kau menggenggamnya kembali. Dan dalam tekanan genggamanmu. Menangisi segala yang sudah hilang. Lalu angin menerpa mukaku lagi. kalau semangat itu sendiri telah kulemparkan jauh-jauh pada suatu ketika. "Sembilan tahun yang lalu. Sudah lama. aku mau tersedu." kataku. kalau kita mampu berbuat apa yang kita inginkan. Dan aku tak lagi dapat merasa bahagia seperti dulu. Tapi tempatnya bukan di sini. Tapi bagaimana aku dapat mengatakan. Dan aku menunggu dia bicara lagi." "Ya. sebagai laki-laki. punya tujuan minimal. Tak ada gunanya menangisi masa lampau. Dari itu kau punya pegangan hidup. punya istri. Angin pergi. "Ya. Tapi yang terpenting kau punya tangan. Dan memandang jauh ke arah gunung itu. Kita duduk seperti ini juga." katanya dengan suara tak acuh. Mulanya aku suka menangis. Sebagai suami. Tapi kau tak berkata apa-apa. Tapi itu saja yang dikatakannya. Alangkah indahnya hidup ini. Tak diteruskannya. Aku biarkan dia tergenggam." "Masa itu. sebagai manusia juga. Melihat itu. Har?" "Apa?" kutanya dia dengan gaya suaranya. sekali kau menggenggam jariku erat sekali. Dan aku merasa ketiadaanku pula. Tapi kini aku tentu saja tak dapat berbuat apa yang kuinginkan. Aku masih ingat. disilangkan. tapi aku menjadi tambah tenggelam olehnya. "Kau punya anak. masa kanak-kanak kita. . Aku tak pernah mau mengingatnya. "Ketika itu seperti macam sekarang. aku tahu kau mau bicara. Lalang yang ditiup angin bergelombang menuju kami." "Ya. Buat apa?" Aku jadi sentimental dan hatiku berteriak. seperti yang kita omongkan dulu. Serasa ada nyanyian iba besertanya. Hingga kau dapat mencapai apa saja yang kaumaui." Dan tangan itu diturunkannya lagi. lalu digesek-gesekannya. Dia memandang lebih jauh melampaui balik gunung dari mana angin meniup. Sebuah ucapan yang indah dan memberi semangat seperti dulu sering kuucapkan untuk anak buahku di front Barat. Kucoba membuang segala kesenduan. "Jari-jariku itu sudah tak ada lagi kini. sebagai ayah. Tapi kini aku tak menangis lagi." Dia diam lagi. "Tak ada gunanya. Tapi cepat kemudian aku jadi menyesal telah mengatakannya." katanya lama kemudian. "Kau ingat. Dan angin meniup lebih syahdu terasa.

mereka minta hiburan. yang selamanya menyediakan waktu untuk memberi semangat kepada prajurit kita. Maka aku merasa segalanya jadi terbang. Yang aku tahu Cuma. Dan kini kumandangnya lebih menyayat terasa. Dan doa sekadar doa. Dijabatnya tanganku erat-erat. Tiap-tiap orang punya doa. Dan perasaanku tidak seperti dulu lagi. mereka habis lari kehilangan keberanian. Suatu masa kelak akan berakhir juga. Tapi sekali pernah juga aku berpikir-pikir. Agus dan Hafni. Kami sangat merasa bangga dengan adanya patriot wanita seperti Saudari. Sekarang kaki itu terhampar begitu saja. aku menjadi sibuk. Matahari ketika itu sangat cerahnya. tak ada gunanya. Dan di kiriku dia duduk mengunjurkan kakinya. Kami juga yakin. Makin lama kian terkulai keseluruhan adaku di dekatnya. itulah semua. Dan aku sudah punya dua anak. kalau Saudari tak di sini. bahwa aku mau memeliharanya.‟ Begitulah. Dan aku katakan. Mereka memetik gitar. aku juga yang merawatnya. Dan kalau perang sudah selesai. Dan mereka dapat melupakan segala hal-hal yang menekan. aku kebetulan tak ada disana. bukan?" . Juga menyesali segala yang sudah terjadi. Bahkan hendak kukatakan juga. "Masa dipikirkan lagi. karena kaki itu tidak berbicara apa-apa lagi bagiku kini. Aku mau tanganku lebih banyak lagi. Kalau pemimpin yang datang di front. tentu front ini sudah lama di duduki musuh. Hendak kuelus hatinya. Dan di waktu malammalam yang damai. bahwa hidup seperti itu tidaklah akan selamanya berlangsung. Tapi keitika musuh datang. Memelihara dia? Tidak." Satu demi satu ucapannya bercekauan dalam hatiku. Aku diminta mengatur tempat tidur mereka. Semuanya mau berjuang membunuh musuh demi mendekatiku. lebih menusuk. Dan aku tak dapat memandangnya lama-lama. bukan?" katanya pula. Aku tahu semua orang mau menarik perhatianku. aku menyesali diriku sendiri." katanya. hendak kuceritakan sejarah hidup Helen Keller. Aku jadi gugup dan tersentak dari keterbanan perasaanku. aku ingin bersekolah lagi. Ya. Dan aku tak bisa berdoa untuknya. Kaki itu kaki yang dulu juga. aku sering merasa jumlah tanganku yang masih kurang. "Bahkan tercantik di front Barat itu. "Apa yang kaupikirkan?" tanyanya tiba-tiba. bahwa aku sedang memikirkannya. Ketika aku sadar jalan itu buntu. Semuanya mau mati-matian dan bekerja berat di depanku. Justru itulah yang menyebabkan aku merasa dipilukan perasaanku sendiri. di waktu tak ada perempuan. Bayangan pohon manggis bertelau-telau pada rumput hijau. "Apa perlunya? Semua sudah sewajarnya. Kaki yang pernah menggodaku. Dan ketika mereka mau pergi. tambah banyak ilmu. Dan di ucapkannya kata-kata yang indah berisi keharuan. Dan waktu itu. tambah banyak yang dapat diperbuat. dicarinya aku dulu. „Kami atas nama pemerintah dan seluruh pemimpin perjuangan revolusi kemerdekaan mengucapkan terima kasih kepada Saudari. Aku bernyanyi. Kalau boleh sebanyak jari ini. Kalau ada orang sakit. Sekolah apa? aku tak tahu. Aku jadi tak berani mengangkat kepalaku."Dulu aku cantik juga. Doa serasa tak berharga kini.

"Kau sendiri tak yakin dengan ucapanmu. Tentu saja. kau sudah bisa pulang lagi. semuanya seperti tidak akan sempurna." Tiba-tiba kuingat pada pusat rehabilitasi di Solo. "Kau kasihan padaku. Begitu pahit. "Mengapa kau tersenyum?" tanyaku dalam kehilangan keseimbangan diriku. Semua orang jatuh cinta padaku. Aku beri dia semangat yang bernyala-nyala. Seperti juga dulu. setelah itu apa lagi?" Aku tak merasa terpaan angin dari gunung itu lagi.. Dan dia tahu itu rupanya. Dan lalu kukatakan kepadanya. Semua orang memerlukan tenagaku." "Untuk apa?" "Untukmu. "Mungkinkah orang seperti aku ini dapat berbuat sesuatu?" tanyanya dengan suara yang lain sekali bunyinya. Aku sedang memikirkan apa yang hendak kulakukan. "Kalau perlu . tidak. Lalu aku pura-pura tak mendengarkan apa katanya. Lama ia terdiam. bukan?" ."Apa?" tanyaku ragu-ragu. kan? Seperti dulu. "Bagaimana? Setuju? Kalau kau setuju jangan kaupikir apa-apa. Barangkali tidak lama kau di sana. Bagaimana mungkin aku meyakinkannya?" katanya." Lalu ia memandang padaku. karena terasa sebagai umpatan yang pahit tapi dicelup dengan tengguli. semua pekerjaan seolah takkan selesai. Semua orang haus akan segala yang ada padaku. kau lebih bisa berbuat banyak nantinya. "Tapi sedikitnya." "Sia-sia saja. Aku yang uruskan semua.. seolah-olah kalau tidak ada aku. Aku sendiri yang akan mengantarkan kau. yang aku sendiri pada dasarnya sudah tak percaya akan semangatku sendiri. "Kau memikirkan aku. Dan tersenyum. Yang kurasakan terpaan ucapannya pada mukaku. seperti dulu." Tapi dia masih tiada memberi reaksi. dan matanya seperti melangkaui segala apa yang dapat dilihatnya. Dan aku mendesak lagi. kan?" "Tidak setepat itu benar. Tapi senyumnya ini menusuk hatiku.Ah." "Ya. Dan aku jadi ragu-ragu untuk meyakinkannya lagi. Dan selanjutnya kau sudah bisa berbuat sesuatu lagi. Aku jadi gugup. Tapi setelah itu.

Dan lebih cepat lagi seseorang melupakan seseorang lainnya. "Tapi kalau Nenek sudah tak ada lagi. melebihi tadi. Tapi waktu itu aku jadi sentimental lagi. aku tahu kau baik. Inikah lingkungan hidup Nun. kau memandang kepadaku." Lalu dia melangkah. Kalau bukan aku yang menyapamu." Aku ingin memandangnya tepat. hendak meyakinkannya. Karena kau merasa berdiri di tempat yang sangat tinggi. Tapi cepatcepat disembunyikannya wajahnya itu dari pandanganku. Antara kami berdua ada perpaduan nasib." Nun berkata padaku dengan suara dalam lehernya. "Seperti tadi saja. "Nenek sudah tua benar. Aku jadi kaget. Ingin aku menentang matanya." katanya lagi. aku juga tidak memerlukan apa-apa pula. Tidak tahu dibuntung awak." Aku mau membantah. kalau gadis kecil semanis ini bisa bertingkah begitu terhadap Nun. Tapi sebelum dia hilang di balik belukar yang bergoyang ria ditiup angin dari gunung itu. "Ni Nun." Dia melangkah lagi. "Nenek memanggil." tiba-tiba seorang gadis kecil memanggil-manggil. Ketika ia mau membelok ke arah jalan raya. Nenek merasa kehilangan nyawa. Sudah lupa segalanya. Dan Nenek ingin hidup lebih lama." Tapi dia tidak menoleh lagi. hendak mencoba menyatakan bahwa segalanya mempunyai alasan-alasan tertentu. bukan? Sedang mata pertamamu melihat aku tadi. Angin dari gunung yang meniup belukar hingga . "Nenek tak bisa berpisah denganku. Uni Nuuun. dia berkata lagi. meski pernah orang itu dicintanya. Tapi sebelum aku dapat memilih kata. Hilang di balik belukar itu. 'Oh. alangkah kecilnya kau." gadis kecil berkata lagi sambil memandang padaku dengan curiga dan kebencian. Dan belukar itu bertambah ria menari ditiup angin dari gunung. Tapi sebentar kemudian dia memaling lagi dan berkata. sedang aku jauh di bawahmu. Aku mau ke Nenek. Nun. Tentu saja kau kasihan padaku. Cepatlah!" gadis itu memamer lagi. "Tolong tegakkan aku. Dan panggilan yang tiba-tiba itu mencairkan impitan yang memberat antara kami. "Meski bagaimana. Dan kalau aku tak di dekatnya. katamu‟. Selain aku. Dan kutolong dia berdiri."Kenapa tidak?" "Ya. kau takkan tahu siapa aku. Nun. Kupandang wajah Nun yang berubah-ubah. manusia yang sial. dia membalikkan badannya lagi ke arahku dan berkata pula. "Besok aku datang lagi ke sini. Lalu dari tempat yang itu. kau seolah melihat pengemis yang dijijiki. seperti pernah kulakukan dulu kepadanya. Alangkah cepatnya segalanya berubah. karena dia tak hendak membiarkan aku hidup sendirian. kukatakan kepadanya. Di mana sedari kecil anak-anak telah memandang Nun sebagai manusia tak berguna. "Ke mana Uni Nun? Melalar saja. pikirku." katanya pula dan lalu pergi meninggalkan aku yang tercenung.

Tentu saja kemanapun dia pergi selalu diiringi bayang-bayang. dan meniup gadis kecil itu. yang tidak pernah peduli dengan bayang. Sudah jadi tokoh. kata Si Dali pada bayang. Karena peniruan tidak merugikannya. ada yang gemuk ada yang kurus.bayangnya sendiri. jalan-jalan atau berzina. Tak sekalipun bayang-bayang itu terpisah dari dia. Karena serba kenikmatan bukan hak kalian. bayang-bayang itu semua sirna. tapi jangan coba-coba berkhayal akan ikut menikmati apa yang aku regup. Dan Si Dali yakin benar. Kegelapan malam maupun kegelapan siang. selain manusia gelap yang suka bergelap-gelap?" Si Dali juga membiarkan bayang-bayang menirukan dengan amat persis apa saja yang dilakukan Si Dali. Karena mereka suka hidup bergelapgelap di tempat gelap. "Tirulah oleh kalian serba apa yang aku lakukan. penuh cahaya. Bayang. Hidupnya selalu dalam cahaya yang bersinar terang. Berbeda dengan orang lain. Makanya Si Dali terus diiringi bayang-bayang. yang tahu benar kemana ujung ceritanya." Kegemerlapan hidup Si Dali yang terang-benderang itu sampai juga ke telinga istana.bayang yang banyak. yaitu serba kenikmatan yang diregup Si Dali. Gemerlap dengan warna-warni yang aduhai indahnya.bayangnya sendiri ketika dia lagi nongkrong di closet: "Jenis manusia apa yang hidup tanpa bayang-bayang. Ada yang pendek ada yang panjang. bayang-bayang itu senantiasa meniru apa saja yang dilakukan Si Dali. atau Macbeth hanya gemerlap pada sebatas bidang panggung. bayangbayang itu ada karena dia. . Seolah-olah bayang-bayang tidak menjadi makhluk penting. Bagaimana pun persisnya peniruan itu. Sebagai bayang-bayang. Bayang Bayang Si Dali bukan orang biasa. Sangat memerlukannya. Paduka. Karena pelakon Julius Casar. Bahkan tokoh luar biasa. Lebih dari pelakon utama di atas panggung sandiwara." jawab perdana menteri. satu hal yang tidak akan diperoleh bayang-bayang. Kata orang. Karena memang bayang-bayang itu bayangbayangnya sendiri. Si Dali jadi begitu karena dia tidak pernah hidup dalam kegelapan. "Bayangkan". Karena itu semua bayang-bayang memerlukannya. Sedangkan Si Dali berada seperti pada panggung dunia yang tak lagi dibatasi oleh sepadan negara. meniup Nun. Lalu raja memanggil perdana menteri dan menanyainya. Apa salahnya bilamana semua bayang-bayang itu meniru apa yang dilakukannya. Apalagi bila layar panggung telah turun atau di luar gedung sandiwara para pelakon kembali jadi manusia biasa. atau King Lear. Artinya dia hidup selalu dalam terang benderang. Baik Si Dali makan atau tidur. angin itu juga yang meniup aku. Itulah adalah aksioma.bergoyang dan menari ria itu. Tanpa dia. "Benar. Adakalanya mereka menjadi seperti orang kere yang selesai melakonkan Gatotkaca pada wayang wong masa lalu.

Raja memperkenalkan Si Dali kepada ratu. Bayang-bayang mengiringi. Menurutnya dia akan diangkat jadi warga kehormatan negara. Si Dali bukan tidak berpikir dengan asumsi. Begitu megah dan perkasanya raja dilihat oleh Si Dali. Semuanya berlidah panjang." kata raja. Tapi bayang-bayang Si Dali seperti memeluk erat bayang-bayang ratu." kata bayang-bayang raja itu."Bunuh dia. Elu-elukan seperti mengudang gladiator atau artis top. Bayangkan. Lebih mempesona daripada raja ketoprak yang dili. Barangkali sekurang-kurangnya menjadi Perdana Menteri atau Menko seperti yang berlaku di Indonesia. Maka dia akan menolaknya. Paduka. dia disambut oleh barisan pagar ayu yang berdada busung dan berpantat tonggeng seperti penari jaipong. bahkan sampai ke perut buncitnya. yang seperti menatap ketiga orang yang berada di tengah ruang. Supaya Paduka tetap lebih besar dari Si Dali. "Mestinya kamu bersama raja. Bayang-bayang ratu pun tidak. Ruang istana bermandikan cahaya gemerlap. Sakit hati. Keduanya jatuh bergumul di lantai. Ketika semua lampu menyala kembali. Bawa kesini. Tapi jika dia dibunuh atau ditangkap. Sampai pulang pun bayang-bayangnya tidak mengikutinya. Demosntrasi masa ini biadabnya bukan main. Lampu sorot dari dinding kiri menyinar tajam ke arah ratu yang muncul di ujung ruang. Dengan mitos itu rakyat terbius untuk berdemonstrasi." perintah raja.hatnya di televisi. Raja menanti di tengah ruangan yang luas. Tiba-tiba seluruh lampu meredup. Di sepanjang dinding terlihat seperti bayang-bayang hitam. Itulah bayang-bayang raja. Demikianlah ketika Si Dali sampai di istana. tidak diperdulikan lagi.bayangnya. Tapi jabatan itu membutuhkan lidah yang panjang dari akal. dia melihat bayang-bayang raja yang bertubuh buntal duduk mengalai di sofa. tidak memberi bayang-bayang pada raja. Muak." kata Si Dali. "Membunuh dan menangkap orang memang kekuasaan Paduka. Sehingga aku yang setia sejak waktu lahirnya. Tapi di dinding penuh berjajaran para pejabat kerajaan dengan isteri masingmasing. Raja dengan pakaian bermanik dan berbintang lapis-berlapis pada kiri-kanan dada." "Kalau begitu undang dia. Dia akan menjadi mitos sejarah. pikir Si Dali. . Si Dali tidak melihat bayang. "Kamu bukan bayang-bayangku. Si Dali memandang berkeliling. Raja punya banyak bayang-bayang. Setelah merenung perdana menteri berkata: "Apa Paduka tidak ingin melihat lebih dulu macam apa Si Dali itu?" "Kalau begitu tangkap dia. dia akan jadi lebih besar dari kadarnya." kata raja. Si Dali membungkuk ketika bersalaman. Rangkul dia. Cahaya lampu yang bersinar marak di ruang itu." "Maksudmu?" "Undang dia. Dan ketika dia menyalakan lampu di ruang tamunya. Mengapa kamu di sini?" "Aku kesal.

seperti." kata bayang-bayang itu. sangat sering. Selanjutnya katanya lagi: "Ya. Namun tidaklah begitu menakjubkan mata Si Dali. Tidak cocok dengan semangat reformasi. macam apa tokoh yang bernama Si Dali. larang saja pers dan televisi mempublikasikannya. *** Ketika Si Dali yang lagi menyamar dalam bentuk bayang. Sampai mati pun aku tidak mau. Pidato atau khotbah atau ucapannya se. "Oh.. Dia jadi tokoh karena sering. "Larang-melarang itu sudah kuno. slebor seperti Affandi. bahkan spektakuler. imbangi dengan banyak-banyak mempublikasikan raja?" usul yang lain lagi mengusul."Terus?" "Ketika aku lihat bayang-bayang kamu mengikuti bayang..bayang itu.. yang dirasanya tidak etis kalau diucapkan. Karena kamu toh perlu bayang-bayang.. Aku cuma mau menyamar jadi kamu. Si Dali begitu leluasanya masuk istana yang berlapis-lapis pengawalannya.bayang ratu.. meski tidak ada publikasi.bayang raja memasuki Ruang Sidang Kabinet.ring dikutip. kabinet lagi bersidang dibawah pimpinan perdana menteri." Sebagai bayang-bayang. Leluasa pula memasuki seluruh ruang yang banyak dan beragamragam disain dalam istana itu. aku pikir kebih baik aku ikut kamu. Dia krempeng seperti Nashar." kata perdana menteri pula. Tuan-Tuan sudah tahu. Aneh bin ajaib kalau seorang tokoh seperti kamu tidak punya bayang-bayang. Persis di waktu perdana menteri sedang berkata: "Nah. Kemudian Si Dali menawarkan pergantian posisi kepada bayang-bayang raja. Selama satu hari saja. Makanya tidak bisa dibandingkan dengan raja. ya?" Sejenak dia terdiam ketika ingat pada seorang presiden. Oke?" "Oke. "Kalau begitu. Ada yang seperti taman dalam film The Last Day of Pompeye.siapa. . Semua megah. tidak. dipublikasi oleh pers dan televisi. "Kamu ingin jadi bayang-bayang raja?" tanya bayang.. "Baiknya.. seperti Picasso bila mengambil contoh maka pelukis.. Apa tidak begitu?" "Dia tidak akan jadi apa-apa kalau tidak ada pers dan televisi. Ada ruang seperti yang ditemui dalam film Star Trek. puisinya dinyanyikan dalam berbagai pertunjukan sastra dan musik." kata seorang menteri. Matanya melotot seperti. Raja tetap jadi raja. Dia jadi bayang-bayang raja dan bayang-bayang raja jadi dia." usul menteri yang lain. Sebagai seorang tokoh besar yang senantiasa punya gagasan diluar jangkauan manusia kebanyakan. sehingga kamu kehilangan bayang-bayang kamu sendiri.

seperti kebiasaan orang Indonesia yang memakai bahasa Sanskerta yang kuno untuk menamakan bangunan baru yang disakralkan. Untuk kembali menjelma ke jati dirinya sendiri... Pakailah bahasa yang baik dan benar ke alamat raja. Anggota dewan minta disuapi supaya program pemerintah disetujui." kata perdana menteri dengan nada yang agak tajam. kena tipu atau rampok atau ditembak oleh oknum-oknum bersenjata. Tidak tidur. "Untuk hal-hal yang sakral atau dipandang sakral perlu menggunakan bahasa kuno. tapi gering. tapi santap. "Memang. Keadilan dimafia aparat. Setiap waktu kena peras. Mereka masih terus berbicara dengan sesamanya. tapi dahar. Tidak minum. "Kalau begitu raja tidak akan pernah mati. Tiba-tiba dia sadar pada dirinya yang tengah menjelma jadi bayang-bayang raja."Seperti kita semua tahu. tapi. "Itu membahayakan kredibilitas kerajaan. kalau raja sendiri tidak perduli. ya?" bisik seorang menteri kepada rekannya di sebelah kiri." kata menteri yang duduk di kanan menyela. Apa pantas raja sedang makan. Dengan berlari kencang dia kembali ke rumahnya untuk membebaskan dirinya dari bayang-bayang raja.. "Jadi masalah Si Dali itu apa." "Raja sendiri berpendapat apa?" "Tidak ada pendapatnya karena memangnya raja tidak punya suatu alat untuk berpikir." jawab perdana menteri. Raja tidak makan. . tapi beradu. kenapa kita ribut?" "Apa kata dunia internasional.. raja tidak punya kegiatan apapun yang berharga untuk dipublikasikan." "Nah. apabila raja sudah begitu." Tapi anggota kabinet itu tidak ada yang acuh.Tapi apa. Populer." jawab yang ditanya. Si Dali melompat ke tengah ruangan. dia telah bicara setengah berteriak sambil mengedari ruang di tengah-tengah persidangan itu. "Si Dali terlalu termasyhur. ya? kata perdana menteri dengan sedikit keras. Bicara tentang kepentingan diri sendiri. sejak polisi sampai jaksa. Tidak sakit. tapi para menteri diam saja? Dunia internasional akan mengatakan kita semua goblok. Pada saat semua anggota kabinet saling memandang oleh kebingungan. sih?" tanya menteri yang mengenakan seragam jenderal dengan segala asesori tanda jasanya. terus ke hakim. Lebih dari raja. sedang tidur dipublikasikan?" "Sekali lagi saya peringatkan. Tapi wafat. Padahal menurut Si Dali. Katanya setengah berteriak: "Kabinet macam apa ini. Bicarakanlah tentang nasib rakyat yang setiap tahun dilanda banjir atau kebakaran hutan. Tidak berbaju.

. betapa lama waktu dalam menyigi. "Hai. Di bawah naungan mahoni yang tumbuh berderet di sepanjang jalan dia mulai terenung. dia tidak lagi berfungsi. dirinya yang dipakai bayang-bayang raja pasti sudah keluar rumah pergi bertualang dalam kehidupan yang nyata. Dalam renungannya kian menjadi jelas baginya." kata Si Dali pada dirinya yang disandang oleh bayang-bayang raja itu. Betapa seluruh ruang telah diarungi. Meski berlari tidak satu benda pun tersenggol. apalagi merusak. Dali. Laki-laki itu kurus kerempeng. Akhirnya dia marahi dirinya sendiri. Tiba-tiba larinya melambat dan terus melambat. Sampai dia ragu sejenak.bayang tetap bayang-bayang. Tidak mau lenyaaap. apa jadinya aku?" Sambil berlari kencang sepanjang jalan ke rumahnya. dia melihat seorang laki-laki kere. Kemana saja kamu. Berhari-hari aku telah mencarimu. Duduk terkulai di bangku dalam taman luas Lapangan Merdeka di pusat kota. Bayang-bayang raja lama lenyap. Lalu dicarinya dengan perasaan cemas ke seluruh ruang yang gelap itu. Meski bayang-bayang raja sekalipun. Di dalam semuanya hitam. Para menteri raja pun tidak hirau. Maka dia langsung menghambur ke kamar tidurnya. Lusuh dan mengenas. dirinya lagi mengalai di ranjang. Tapi kemana dia? Dia telusuri seluruh jalan dan pelosok kota sampai ke sudutsudut yang kumuh pun dia cari. Yang berfungsi ialah bayang-bayang raja pengganti. Meski tersenggol. apa memang itu Si Dali yang sosok paling populer di masa itu. Tapi pada bayang-bayang raja ini ada aku." *** Sampai di rumah ternyata pintu rumah ternganga. bahwa bayang-bayang akan selamanya jadi bayang-bayang. ketika rasa putus asa telah sampai ke ujung hidupnya. Tapi dia tahu persis letak sesuatu benda atau ruang demi ruang. Simpul hatinya. Bayang-bayang raja tetap bayang-bayang raja. Adakalanya juga dia memaki dan berteriak-teriak marah. Mengapa mereka tidak peduli?" Dalam berlari Si Dali terus bebicara pada dirinya sendiri. Kalau raja mati. Tapi sebagian lain hatinya demikian risau. Akhirnya. yang ketika pergi dulu sebagai bayangbayang raja. oleh karena bayang-bayang tidak akan menggeser. Tapi Si Dali tidak menemui dirinya di sana. apa peduliku. Si Dali berteriak keras: "Aku tidak mau lenyaaap. yang mau menyamar sebagai bayang-bayang. meski bayang-bayang raja. Kalau bayang-bayang raja tidak diacuhkan orang. Entah berapa hari. dia tidak menemui dirinya. Laki-laki itu tidak lain dari dirinya yang jelmaan bayang-bayang raja. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berkelana. Tidak satupun lampu yang nyala atau cahaya yang masuk. entah berapa malam. "Kalau saat ini raja pemilik bayang-bayang ini mati.kan. kadang-kadang mengomel. Kadang-kadang dia bertanya. meski bayang-bayangnya tidak ikut dikubur. Sebagian hati Si Dali demikian gembira karena telah menemukan kembali jati dirinya. Dia melihat dirinya yang dipakai orang lain. tidak ada yang hirau.Selama berlari Si Dali berkata pada dirinya: "Bayang. Tak obahnya seperti lusuh baju dipakai oleh bukan pemiliknya sendiri.

Lalu aku mencari kamu untuk bertukar tempat kembali. sebagaimana kamu bisa kembali jadi jati dirimu? Akan jadi apa aku dengan tubuhmu.bayang raja karena raja sudah wafat. Aku hanya perlu diriku sendiri." "Sekarang aku ini jadi apa?" tanya Si Dali yang bayang. 10 November 1999 Dari Masa ke Masa ." "Terlambat?" "Raja sudah Wafat. Tapi tidak satu pun nikmat yang aku dapat."Aku? Aku mencoba menikmati hidup di dunia nyata seperti manusia. bahwa aku hanya bayang-bayang. Di kubur atau di neraka raja tidak perlu bayang-bayang. Kemana saja kamu?" "Aku juga mencari kamu agar aku bisa kembali ke duniaku lagi." kata Si Dali." "Maksudmu?" "Ya. Tapi tak mungkin aku kembali jadi bayang. kita berganti jadi jati diri kita sendiri lagi." kata ba yang-bayang yang jadi Si Dali. Bagaimana aku kembali jadi diriku. Bayang-bayangmu takkan kau peroleh lagi karena dia lebih suka hidup di istana. Sebagai Si Dali kau telah kehilangan bayang-bayangmu sendiri. setiap bayang-bayang berbakat demikian. agar aku bisa hidup menurut kodratku sendiri. Aku kira meski aku palsu akan lebih baik daripada bayang-bayang. tahu?" kata bayang-bayang raja yang mamakai jasad Si Dali. "Ayo. Tidak mungkin hidup sebagai manusia yang utuh. Berhari-hari aku mencari kamu. "Mendingan dari aku yang jadi manusia palsu." Lawan Si Dali menggelengkan kepala. Si Dali yang perjalanan hidup pernah gemerlapan begitu terpana dan terus terpana entah sampai apabila dan hingga kemana. "Terlambat sudah." "Artinya?" "Tidak mungkin itu." kata Si Dali. Terasa mengenaskan suaranya. "Kau tidak berarti apa-apa tanpa bayangbayang." "Aku tidak perlu bayang-bayang. "Aku mau. Tidak akan jadi apa-apa.bayang. "Kemudian aku yakin." kata bayang-bayang raja yang memakai tubuh Si Dali.

Bayangkanlah. yang mau ke front pertempuran." kilah orang yang selalu suka memberi saran itu. bukan karena penat saja. Sungguh jahanam bangsat itu. Bukan main dongkolnya kami. lalu diberi wejangan panjang-panjang yang sering tidak ada sangkut-pautnya dengan umsan kami. Lalu terpaksa jugalah kami boyong ke rumah semua orang-orang tua yang patut-patut itu. Bapak Tahu. minta restu dulu ada orang tua-tua. Tapi kan lebih baik kalau risikonya tidak ada. sekitar usia dua puluh tahun. sejenis kutu busuk yang dikatakan bangsat oleh orang Jakarta. Tapi selalu saja ada pesan-pesan agar sebelum kami mulai melaksanakan kegiatan kami. ." katanya pula. tapi juga karena digigit kepinding. Memang tidak ada paksaan. selalu panjang berjela-jela sampai pantat kami gelisah. Pada umumnya oleh orang tua-tua itu kami diberi wejangan yang tak pernah pendekpendek. Betapa tidak. mengadakan kursus. karena kepada kami-kami saja pesan itu disampaikan.Waktu saya muda dulu. pameran. Tapi tidak pernah disampaikan pada teman-teman kami yang memanggul senjata. Malah menganjurkannya. Misalnya dengan salaman pakai guncangan tangan atau tepuk-tepuk di bahu kami. "Proklamasi telah lebih dulu merestui mereka. "Siapa tahu kalau yang kalian kerjakan keliru. "Saya tahu. Padahal pekerjaan itulah yang paling berat risikonya. "Itu risiko kami. Bapak Polan." kata yang selalu suka memberi saran. Bahkan juga pasar malam. saya sering dongkol pada orang tua-tua. Lebih-lebih saya yang memang pendongkol nomor satu di antara teman-teman. kalau teman-teman kami yang prajurit itu harus menerima wejangan sepanjang itu bila hendak pergi ke front. Biasanya kami jadi bimbang. Macam-macam cara masing-masing mereka menyambut kedatangan kami. Kata saya dalam hati. "Tapi kenapa teman-temannya yang mau pergi perang itu tidak disuruh minta nasihat dulu?" tanya saya karena masih dongkol. atau pada bapak sekalian bapak. Untuk setiap jenis kegiatan itu selalu saja ada orang tua-tua yang dikatakan ekspert untuk memberi nasihat dan restu sesuai dengan keahlian dan pengalamannya. Ada yang hangat sambutannya. lalu digigit kepinding pula. setiap apa pun yang akan kami lakukan selalu kena tuntut agar minta nasihat dulu." kata saya menimpali. Anak-anak muda waktu saya muda dulu punya kegiatan yang macam-macam jika tidak ikut memanggul senjata. Sudah menunggu begitu lama. Misalnya bikin sandiwara. Juga ada yang baru muncul setelah sejam kami menunggunya di ruang tamu. Ada yang lagi asyik menulis terus setelah tahu kami datang. pastilah serdadu musuh sudah menanti di balik pintu. Saya memang selalu tukang dongkol. sebaiknya kami berbicara dengan Bapak Anu. ikut diskusi.

Waktu saya muda dulu. Dan saya jadi tambah dongkol lagi. Kami akan selalu direpotkan orang tua-tua itu. Claim mereka itu bukan menyenangkan. akhirnya membentuk hati yang satu-satu. organisasi yang waktu didirikan berdasar semangat kesatuan hati untuk mencapai cita-cita bersama. bahwa orang tua-tua itu bersikap demikian kepada kami orang muda-muda dulu itu. dan tidak jarang pula sedang memangkas tanaman bunga di halaman rumahnya. setelah berpengalaman cukup banyak. bahwa kami adalah anak-asuhannyalah. Kalaupun ada kesenangan. Menurut analisanya ialah begini. Bertahun-tahun kemudian saya menarik kesimpulan. Setiap pengurus. menyusahkan. kenapa setiap sukses selalu membawa bencana. sambutannya selalu hangat pada kami orang muda. Sebab pada waktu saya muda dulu. entah sedang membaca. Terutama anggota yang potensial. mereka selalu suka membiarkan kami menunggu berlama-lama di ruang tamu. Lebih susah lagi. Yaitu hanya ketika sukses itu terjadi. Bahkan ada di antara mereka yang bergembar-gembor ke mana-mana. maka anggota kamilah yang mereka preteli seorang demi seorang. bahkan juga menimbulkan kecewa dan mematahkan semangat. selalu ada tangan orang-orang tua itu ingin mencaplok untuk memasukkan kami ke dalam mantelnya. Entah sedang menulis. Kalau orangnya orang partai. malahan sangat menyulitkan kami. Karena setiap sukses yang kami peroleh selalu mengundang perpecahan di kalangan kami sendiri. Kesatuan hati semula. Hal yang sama dilakukannya bila datang ke kantor atau rumahnya. Tapi kalau ia pejabat. atau biarkan mereka "meng-claim" kami. lalu menjadikan organisasi itu sebagai wadah tempat kami saling cakar-cakaran. sehingga orang partai lain bisa sakit hati. Setiap rapat selalu menghasilkan kesepakatan untuk tidak sepakat lagi. kalau tidak anggota pengurus. tambah repotlah kami. lalu berubah menjadi tempat melampiaskan segala kutukan. yang pada umumnya bekas guru. Setelah sukses demi sukses tercapai. lalu mundur tanpa teratur. Beberapa orang yang gigih mencoba . Kalau organisasi kami tidak bisa mereka caplok secara utuh. Ada yang ngambek. Tapi lama-lama saya mengerti juga. Ada banyak yang berhasil dicaplok atau dimanteli. kesukaranlah yang datang bertalu. karena kekuasaan revolusi tidak berada di tangan mereka. namun prosedur memuliakan orang tuatua itu tak dapat dihindarkan. lebih-lebih ketua. Mulanya saya tidak tahu. Dan mereka semua saling sengit dalam berjor-joran. Malah tambah sering kami sukses. selalu menjadi bulan-bulanan serangan anggota. Dan itu mencengangkan saya benar. karena mereka tengah memelihara posisinya yang tinggal sekomeng lagi. Kalau orangnya orang pandai. Setiap anak muda yang berhasil atau suatu organisasi yang sukses. saatnya sangatlah pendek sekali. kedatangan kami selalu disambut di kala mereka sedang sibuk. pelindung kamilah. Tak jarang terjadi kami terkena intrik dari pihak yang tidak suka. Kalau satu orang telah kami minta jadi penasihat kami. partai-partai sangat banyak. Organisasi yang mulanya menimbulkan kebanggaan di dalam hati kami masing-masing. suatu sukses bukanlah hal yang menyenangkan. kalau kami mau aman dalam kegiatan kami. Kesukaran yang menyakitkan. maka orang lain yang berlainan partai akan membilang kami sebagai "mantel" partai anu. Hal-hal yang memang membingungkan. kadernyalah. Betapa tidak enaknya diperlakukan demikian.Lama-lama. kalau kami berhasil dengan gemilang dalam melaksanakan kegiatan kami. apa ia orang partai atau orang pandai. saya bisa menarik kesimpulan tentang sikap orang-orang tua itu. Mereka pada mendesak kami agar memintanya menjadi penasihat kamilah. Habis itu.

Dan itu tidak mudah diperolehnya karena bersifat sangat individual. sampai berusia empat puluh tahun. yang dipuji bukan lagi semangat dan keberaniannya. Karenanya fasilitas mereka lebih punya. sekarang tak laku lagi karena partai pun tidak laku. ketika orang-orang muda secara bergelombang menemui saya minta restu. Mereka didukung dengan perhatian yang penuh. Gaya orang pandai seperti Guru Munap juga tak mungkin lagi. Bahkan didorong semangatnya agar bisa berbuat banyak. dalam hati saya. tapi saya bukan pejabat dan karenanya saya tidak mungkin menggunakan peran sebagai orang yang berwibawa tinggi. Orang-orang muda sekarang lebih mudah digembalakan. melainkan prestasi otak dan keahliannya. dihormati. Begitu menyentak datangnya. Bagaimana saya harus menghadapi mereka agar saya kelihatan tetap potensial? Lalu saya teringat pada orang tua-tua masa saya muda dulu. permainan tidak lagi seimbang.untuk bertahan. Omongan mereka lebih ceplas-ceplos. kami membanding-bandingkan apa yang telah kami lakukan dalam usia yang sama dengan orang-orang muda sekarang. sebab sekarang sudah banyak sekali orang yang lebih pandai dari segala orang pandai-pandai dulu. Kegiatan lamalama sirna. Saya menoleh ke sekeliling. Sedangkan kondisi sekarang sudah lain. orang-orang muda dulu telah jadi komandan batalyon. Saya termasuk orang yang menangisi keadaan itu. menjadi setiap kata yang dikatakan menjadi hukum yang tak boleh disanggah. Dan. minta pendapat. Anak-anak sekolah SMA dulu. minta nasihat. Sedangkan anak-anak SMA sekarang. tapi praktisnya organisasi kami tidak berdarah lagi. terutama pada teman sebaya saya. Ketika saya ketemu dengan sobat masa muda yang baru kembali dari posnya sebagai diplomat di luar negri. Karena itulah barangkali umur orang-orang muda sekarang lebih panjang. Jika memakai gaya pejabat. Namun lebih nikmat rasanya apabila secara diam-diam saya mendengar orang-orang muda itu berkata pada teman-temannya. . didengar apa yang diingininya. Gaya ramah-tamah Pak Tamin yang orang partai itu. apa yang tidak saya sukai ketika saya muda. Tidak ada pihakpihak yang berkepentingan untuk mempengaruhi orang-orang muda sekarang. ayah-ayah mereka lebih kaya bahkan lebih berkuasa. Bahkan kalau perlu disuruh melabrak orang tuanya sendiri. telah bisa menjadi guru bahkan direktur SMA swasta. Pendidikan orang muda sekarang lebih tinggi. Orang-orang muda yang giat menjadi rebutan masa dulu. Indonesia ternyata tidak maju. dan juga minta bantuan uang dan tanda tangan. bila saya telah menjadi orang tua kelak. Tapi lebih menyenangkan lagi apabila menjadi tempat hidup orang menggantung. yang dulu sama giatnya dengan saya. Yang tinggal hanya nama yang tertera pada papan yang tergantung dan terbuai-buai bila ditiup angin. "Sudah bicara pada Pak Navis? Belum? Jangan bikin apa-apa dulu sebelum bicara padanya?" Akan tetapi orang-orang muda sekarang berbeda jauh dari orang-orang muda masa dulu. Kalaupun masih ada. Dari sudut ini. Bagi orang-orang muda sekarang. tidak bisa berbuat apa-apa. Memang menyenangkan bila punya status demikian. Pada waktu orang-orang muda sekarang masih sekolah. Saya juga mempertimbangkan betapa bedanya kondisi sekarang dengan masa dulu. Saya boleh mengembangkan dada menjadi orang yang dikagumi. Sebab tidak ada lagi pihak-pihak yang secara gampang memuja-mujanya. takkan saya lakukan seperti apa yang dilakukan orang tua-tua ketika saya masih muda dulu.

Aku sudah tua. sehingga air mata saya pun berderai-derai. Tentu. akan apa jadinya Republik ini?" . Sehingga saya berjanji dalam hati saya. Surat itu diciumnya berulang-ulang dan disimpannya di antara lembaran Quran. "Coba Bung renungkan. pastilah dapat dilakukan oleh orang-orang muda sekarang. Apabila orang-orang muda sekirang diberi peran yang sama seperti apa yang kita lakukan dulu. "Kinilah saya baru tahu. tentu. tidak akan saya lakukan. Masra dan Irma?" "Ya." kata saya pada sobat itu setelah lama kami merenung-renung."Mungkin karena dinamika orang-orang muda masa dulu yang menyebabkan saya dongkol melihat tingkah laku orang tua-tua yang sok-sokan. Setiap hari ia membaca Quran itu. Saya lakukan. "Apa janji itu Bung lakukan?" tanya sobat saya yang bekas diplomat itu. Datangnya Dan Perginya Ketika surat pertama Masri datang. menantu Ayah? Dan dengan kedua cucu Ayah. Lalu diraba-raba dadanya . apa pun yang dapat kita lakukan di waktu muda dulu. Ayah. "Ya. "Datanglah. jika saya telah tua. melonjaklah keinginan hendak menemuinya di tahun yang lalu. Tidakkah Ayah ingin berjumpa dengan Arni. Tapi apa kata orang tua-tua kita dulu tentang kita?" tanya saya membalikkan alasannya." "Tapi nyatanya orang-orang muda sekarang begitu sulit melepaskan dirinya dari sifat kekanak-kanakannya." "Kenapa?" "Karena saya percaya. kerjaan kita yang terutama sekarang ialah membenahi akibat kerja kita masa lalu. Anakku. Hati kami rasa terbakar karena rindu. karena ia tersenyum saja oleh kata-kata saya itu.tanya sobat saya itu seraya membelalakkan matanya. Kenapa tidak. Sebelum aku mati. Dan sebuah kalimat yang disenanginya selalu saja mengikat matanya." "Kata kita. Tiba-tiba ketawa saya meledak. Dan sobat saya itu memang diplomat. Meski kalimat itu sudah lengket dalam ingatan masih juga dibacanya lagi. aku mesti bertemu dengan kau semua." kata saya yang masih belum dapat menghentikan ketawa. Lalu matanya yang membelalak jadi menyipit sebelum bertanya kenapa saya ketawa. Seperti senyum anak-anak saya bila melihat bintang favoritnya tampil dalam acara "Dari Masa ke Masa" di televisi. setiap itu pula ia menciumnya. apa yang tidak saya sukai tentang tingkah laku orang tua-tua terhadap orang-orang muda." kata orang tua itu dalam hati.

Dia baik. Dan hatinya patah sudah. kenapa mesti begitu. Cuma satu perempuan seperti dia. " Ah. Ah. Ia ingin segalanya tiada berubah." Lalu poskar itu dimasukkannya kembali ke dalam amplopnya. Tapi malah perkawinan ini tambah merusakkan hatinya. terlalu lekas meninggalkan manusia yang mengasihinya. Ia ingat ada orangorang di sekelilingnya. Baik sekali. Baru setengah. Dan matanya menatap bulat. Dan poskar itu dimasukkannya lagi ke dalam amplop. Namun mata orang tua itu masih nyalang . Tapi kesunyian menerpanya selalu. Dan kemudian tangannya itu hilang di balik lipatan jas. Selagi Masri berumur tiga tahun. Sebentar saja. Orang-orang sekitarnya sudah habis mengantuk. Semua orang suka padanya. Datangnya mengoyak-ngoyak. yah. Anakku. Masri. Mencari-cari sesuatu di dalam saku-dalam pada jasnya. Tapi bercerai pula akhirnya. Hatinya yang masih mengenang cinta kasih mendiang ibu Masri diobrak-abrik oleh kedatangan perempuan ini. aturan makannya. Pandai dalam segala hal. bahwa bahagia tak mungkin lagi datang padanya. ia keluarkan lagi. Tuhan terlalu cepat mengambil tiap-tiap yang dikasihi seseorang. Aku tak mengerti. Itu tiada terderitakan. menahan linangan jangan sampai jatuh. Diangkatnya kaca matanya. lalu dipijit-pijitnya jangat di bawah biji matanya. Lalu kesepian hatinya diisinya dengan perempuan yang takkan mengikatnya dengan syarat-syarat kawin. Dan kepalanya digelenggelengkannya. Dan dia pandai. Waktu itu ia masih muda. Sudah berubah benar. ibu Masri cuma satu. Susunan rumahnya. Dan terasalah olehnya bahwa rumah tangga tak mungkin memberikan kesenangan lagi baginya. Apalagi engkau. Dan matanya berlinang puncak kepiluannya. Keluar lagi bersama selembar amplop yang tepinya telah lusuh. Berbahagia kau dengan Arni.sebelah kanan. Maka akhirnya ia kawin lagi. Dibukanya tutup amplop itu dan dari dalam dikeluarkannya sebuah foto sebesar poskar. Ataukah dunia ini hanya boleh ditempati orang-orang yang tak baik saja? Ah. Dan kenangannya melayang ke masa yang lalu. Nak. Ia bersandar selelanya. Tapi istrinya yang baru ini tiada rela suaminya tenggelam dalam suasana lama. ia terbangun lagi. Pertengkaran sering terjadi sampai mereka bercerai. sehingga air ludahnya meleleh seperti lendir dari sudut bibirnya. "Pakai kumis kau sekarang. Lama kemudian ia kawin lagi. aku tak mengerti. Dan ada yang terangguk-angguk dan ketika kepalanya seperti akan jatuh ke pangkuannya. Dibawanya ke bibirnya. Meski si istri sedang mengandung. kenapa semua orang yang berbudi baik. Dan mereka tak berbahagia. Dan datangnya pada malam di waktu matanya tak hendak terpicingkan. Bahkan ada yang pulas sama sekali. Sepi sekali. istrinya yang dicintai itu meninggal. Kepalanya mengangguk-angguk bagai kepala boneka bergoyang. ia mau seperti yang dilakukan oleh ibu Masri. ya? Sudah dua anakmu sekarang Ayah juga turut berbahagia bersamamu. Dipasangnya kembali kaca matanya. Kawin dan cerai lagi. Serta di bibirnya yang mencekung ke dalam tergores senyum kepuasan. Kereta api yang ditumpanginya masih melaju kencang. Tak sampai. maka itu dunia ini tak mungkin jadi surga gerangan?" ia mengomentari lamunannya. Dan ia merasa-rasakan. Tapi. Selamanya ayahmu merasa bahagia melihat rumah tangga yang berbahagia. Disimpannya kembali ke dalam saku jasnya. Dan ia bersandar lagi pada sandaran tempat duduknya. Semua orang.

Tapi. Mungkin ingin ia membutakan matanya. Masri. Bikin malu. "Kau kurang ajar!" "Kalau aku kurang ajar. maka sekarang anaknya sendiri yang menghinanya. Kalau aku pikir-pikir kini. Ayah yang menyebabkan aku lahir tanpa kemauanku! Setelah aku lahir. Namun si anak diam dalam kesakitan. Yang waras. Anakku. aku merasa kautelanjangi bila aku bertemu kau nanti. Akulah ayah yang celaka. Anakku. Kau bukan anakku lagi!" "Memang aku bukan anak ayah yang begini. anaknya. Dan si anak mengintip. Jahat. "Memang terlalu. Dan aku pergi ke dusun jauh. Tentu Masri takkan begitu kalau bukan aku ayahnya. pergi. Lalu semuanya jadi memudar. Tentu aku ayah yang salah. Tapi kau tak kunjung datang. Dan di samping itu kuajak . lambat laun aku insaf. Aku jual segala harta benda kita. Aku lemparkan kehidupan duniawi. Akulah yang salah. Aku wakafkan. Namun si anak tetap tidak percaya bahwa kesucian ayahnya telah rusak. menjadikannya hanyut berlarut-larut. Jantungnya kencang berdebar. Tepekur ia dalam kesadaran pikirannya. Mengintip kebahagiaan ayahnya dalam rangkulan perempuan jalang itu. Kehadiran Masri menjadi olok-olok perempuan yang dibayarnya. Tapi kau sudah pergi. Dan ia merasa terhina dan marah sekali. Ingin sekali ketika itu. Ingin aku maafmu. Dilemparkan pandangannya keluar jendela. Dipudari oleh kenangannya kepada Masri. Ayah lagi yang merusaknya! " Si ayah betul-betul hilang kesabarannya. Tapi si anaklah yang jadi sasaran marahnya. Ayo. tempat aku berpegang lagi. Malam-malam ketika aku berbaring di tempat tidur di rumah kita. Tapi kau tak ada lagi. Ah. Dibiarkannya ayahnya berbuat sesuka hatinya. Aku tinggal di mesjid sana. Orang tua itu merasa napasnya tertahan. Kepergianmu yang tak kembali lagi itu. Anakku. Aku ingin kau terus di sisiku. Karena kau duniaku. Anakku.juga. Perbuatan Ayah yang menyebabkan aku begini. menghancurkan hatiku. betapalah hancurnya hati si anak. menjadi disiksa oleh olok-olok kawan-kawannya di sekolah. Merusakkan hidupnya sendiri. agar segala yang di depan matanya itu tiada terlihat. Aku serahkan diriku kepada Allah. Dan ia temui ayahnya dengan dendam tiada terbada. Nak. Alam di luar menghijau dan disungkup oleh awan yang memutih di langit. Aku memang ayah yang tak baik. Aku memang mau pergi!" si anak membangkang. Pengisian kehampaan dengan dambaan perempuan di sepanjang malam itu. bukan salahku. Tapi si anak cepat pergi tak kembali lagi ke rumah ayahnya. Perkataanmu dulu menimbulkan kesadaranku kemudian. Di kejauhan burung elang terbang berbegar. "Perkataan Masri melukai hatiku sungguh-sungguh. Si anak ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri: benarkah ayahnya seperti yang dikatakan teman-temannya. Dan ia sadar lagi dari lamunannya. Bertahun-tahun lamanya. Ditamparnya sekuasa kuatnya." katanya dalam hati. Jika tadi perempuan jalang yang dibayarnya sudah pandai menertawakannya. Ia hendak memukul lagi. Tentu anak orang lain takkan berkata begitu kepada ayahnya. Hingga Masri yang terdidik kasih sayangnya. perkataanmu dulu itu benar. "Kurang ajar kau. karena kau anakku satu-satunya. Kemudian aku tobat.

Karena terpaksa. anak yang kuusir dulunya. Disekanya cepat. ke utara. Dan kalau ia mati kelak. Anakku. tapi karena aku sangat malu bertemu denganmu. kalau aku melihat kebahagiaan rumah tangga mereka. berkecak tegak di ambang pintu. Aku malu. oleh surat-suratmu yang tak bosan-bosannya datangnya itu. Kemudian dipalingkan matanya ke luar jendela. Malu sekali. uang itu aku ambil juga ke kantor pos akhirnya. Dan suratmu yang ketiga beserta wesel uang itu. Tersentak ia dari lamunannya. alangkah terkejutnya orang tua itu. Karena ada orang lain yang hendak kutolong dengan uang kirimanmu itu. kuakui aku bimbang mulanya menerima ajakkanmu. Dilihatnya alam hijau membiru disela oleh rumah-rumah yang berkelompok tiada teratur. Tahu kau. anak itu yang mengajak aku datang ke rumahnya. kereta pun berhenti. Ia tak mengerti kenapa perempuan itu harus ada di situ. Maka yakinlah ia. Aku merasa ditelanjangi. Sedangkan pada garis bibirnya tergores senyum bahagia. membahagiakannya. ikut aku mendamaikannya. matinya tanpa membawa dosa. Terpaksa bukan berarti aku tak mau. agar ia lebih merasa bersatu dengan kehidupan sekitar yang indah itu. terpelanting remuk. Enggan karena malu. Kalau aku sudah mengambil uangmu. Dan ia regup hawa di sekitar rumah anaknya sedalam-dalamnya. Dalam kedamaian itu. Kian lama kian ramai. Juga tak kubalas. Ketika ia membalikkan badannya menghadap pintu lagi. merobohkan sifat-sifatku yang buruk. Semuanya. Ketika kereta bertambah perlahan jalannya. Sifat-sifatku yang tinggi hati. tidak mengguncangkan hatiku dari pendirianku semula. aku mau tak semiang dosa pun lengket di badanku. Dosaku yang terbesar akan hapus oleh maafmu. karena malu minta maaf kepada orang yang lebih muda. sebagai ayah yang kalah. Tapi kereta api masih laju juga jalannya. Anakku. Kedamaian alam yang memagutnya tadi. Nak. Kedengaran desisan lok kejar-berkejaran. Alangkah bahagianya hatiku. kalau ada terjadi cekcok. seperti debar ketika mula pertama ia memasuki ambang pintu bilik istrinya. Dan kalau aku mati. ia akan berjumpa dengan anaknya. dan tak pernah kubalas. Dihadapkan mukanya ke barat. sampai empat kali. bertambah kencanglah jantungnya memukul. Dan dalam liputan kedamaian itu pula ia meningkat anak tangga rumah anaknya. Masri. dan ke selatan. Tapi sekali aku ingat. Tidaklah ia merasa capek sedikit pun oleh guncangan kereta api hampir sepenuh hari itu. Menatap dengan tegar. Anak yang kutampar. serta-merta terlempar jauh. Tapi. Masri. semua rumah tangga di dusun itu. Jalan . Karena aku sendiri mengerti apa arti kebahagiaan rumah tangga itu. suratmu itu selalu kucium? Dan kemudian datang suratmu lagi. kesombongan itulah yang menghancurkan kehidupanku selama ini "Ada apa. Masri. Anakku. ke timur. Aku insaf sekarang. Lalu dicobanya tersenyum manis kepada si penegur. Pak? Kenapa Bapak menangis?" sebuah suara masuk ke telinga orang tua itu. Tentu. ketika aku menerima suratmu setahun yang lalu. Sedangkan laki-laki tua itu terpukau dalam kekecutan dan gigilan. Dan dirasanya lelehan air di atas ujung mulutnya. Seorang perempuan kurus hampir serupa mayat. Dan tentu nanti maafan anaknya akan diperolehnya sepenuh ikhlas. Tapi. Kini aku datang menyerahkan diriku padamu. Namun ia merasa dirinya segar. aku sudah tua. Tapi napasnya menyesak juga oleh pukulan jantungnya yang tambah berdebar. Umurku takkan lama lagi. Dan aku tak mau datang. Dan kota yang dituju hampir sampai kini. Terasalah betapa damainya dunia ini olehnya.manusia di sekitarku hidup dalam rukun damai. Tapi tahu kau. aku terpaksa juga mengunjungimu.

"Alangkah bahagianya Masri. Tapi ia tak mampu membangkitkan kesombongan yang tadinya menjolak-jolak. berbalik-balik sejarah kehidupannya yang lama. Aku memang orang yang tak baik. Digapainya sebuah kursi. Dan laki-laki itu terantuk lagi pada kehadiran perempuan itu. Ia masuk membawa hatinya yang ragu dan bertanya-tanya. Tapi bagiku. Dan yang terpenting begitu serasinya. Umurku yang setua ini. pergilah kini-kini. cerita maaf haruslah . Tapi perempuan itu tidak mendengar apa-apa dari mulut laki-laki yang tegak bagai patung di ambang pintu itu. hampir mati malahan. Hatinya tersinggung. Ia pun ikut merasa bahagia. "Tapi kalau datangmu untuk kebaikan. Semua pada bagian yang hitam dan pahit-pahit yang paling ia kenang. Maka hatinya tersinggung. "Mengapa kau datang juga?" tanya perempuan itu ketus. Dan lupalah ia sejenak kepada perempuan yang memandangnya nanap dan dengan hatinya yang kecut. Begitu sederhana." laki-laki tua itu berkata lagi dengan berangnya. "Kalau datangmu hendak membawa keonaran. Tak bersuara mencapai sasarannya. "Tentu Arni." Tapi ucapannya itu hilang di ujung bibirnya yang gemetar. Iyah. istri yang cocok. Hendaknya jika aku mati." kata perempuan itu mencetus. menjolak lagi dengan panasnya." katanya lama kemudian dengan suara yang parau serta pengucapannya yang bergetar. Ia kini jadi lemah dan sempoyongan oleh pukulan itu. "Rumah ini. tapi semuanya teratur rapi." ia berkata seolah kepada dirinya sendiri. Dalam sempoyongan itu. ia berkata. Maka ia mengajak alamnya berdamai kembali dengan serba sangka yang segala baik atas kehadiran perempuan itu di situ. masuklah. "Cerita maaf. Juga merupakan suatu pukulan untuk mengenang kembali kehidupannya yang lalu. "Maafkanlah aku. hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan bersama istrinya. Maka tahulah ia bahwa ucapan perempuan itu bermaksud menempelak dirinya." Dan laki-laki tua itu tak hendak bertengkar di tangga rumah anaknya." perempuan itu menegas lagi. Dan keketusan pertanyaan itu demikian kesat masuk ke telinga laki-laki itu. menginginkan semuanya dalam kedamaian dan kebaikan. Bersih. Rasa kesombongan yang telah lama mengendap jauh di lubuk hatinya." "Semua perempuan cocok bagi laki-laki yang tahu menghargai orang lain. Tapi keragu-raguan itu segera menyingkir jauh ketika ia memandang keliling ruangan rumah itu. Karena diminta datang. matiku dalam kebersihan dosa-dosa yang telah aku lakukan. Masri. orang yang selamanya dalam kesulitan ini. Maka tahulah ia bahwa anaknya. Dan perempuan itu berkata lagi. Dan dengan pandangan mata yang menyala berang. "Aku kemari ke rumah anakku. memang paling mudah diucapkan oleh orang yang telah merasakan hidup senang.pikirannya begitu lamban. rumah anakku. Aku datang karena dipanggil.

sejak itu sampai sekarang." kata perempuan ketus. Juga anakmu. Dan tiba-tiba tububnya gemetar." "Membawa dosa? Kenapa dosa kubawa? Bukankah aku diminta datang kemari untuk. Aku sudah lama menyediakan hidupku untuk kebaikan." kata perempuan itu tanpa kehilangan gayanya yang ketus. aku sediakan diriku dipukuli kutukan. Lama sekali begitu.. "Iyah. Tapi aku tak bisa mencegahmu datang. Pikiran dan perasaannya menampak bayangan kacau yang bertelau-telau tiada berbentuk apapun. "Iyah." kata laki-laki itu lagi dengan gaya yang meminta belas kasihan. Tak dapat ia berkata sepatah pun lagi." "Tapi aku sudah tobat.diperhitungkan dulu." "Mengapa kau mencegahku?" "Kedatanganmu merusak." "Tapi kedatanganmu kemari tetap membawa dosa. "Bukankah itu dosa?" "Benar." Namun tak ada kata-kata keluar dari mulutnya selain hanya menyebut nama perempuan itu." kata laki-laki itu terpekik dalam suaranya yang parau. Rela aku menderita segala dosa-dosa ini." Suara Iyah memasuki rumpun telinga laki-laki yang tersandar nanar di kursi. Demi kebahagiaan anakku dengan istrinya. aku telah menyesal. Dan ketika sadar pada dirinya lagi. Memenuhi segala ruang. "Ketika lama sesudah aku menceraikan kau dulu. hanya untuk merusak." "Istri Masri anakku." . "Mengapa tak kaukatakan?" "Mengapa aku katakan?" Dan laki-laki tua itu membuka matanya dan bertanya lagi. kemudian layu terkulai ia di sandaran kursi. Ia mau mencoba berpikir dan menimbang-nimbang segala yang terjadi dan teralami oleh dirinya sendiri.. Tapi aku selalu berusaha supaya kau tak jadi datang. "Maksudku aku datang untuk minta maaf anakku. Bagi siapa yang tahu. Ketika aku tahu mereka bersaudara kandung. ia tak berani menyalangkan matanya untuk melihat kenyataan di sekitarnya. Tapi kemudian disambungnya lagi." ia terhenti sejenak. "Pahit kau menerima kenyataan ini? Demikian juga aku. Aku sudah lama mengerti apa gunanya dan bagaimana orang harus hidup." "Kau tahu aku akan datang?" "Tahu. "Sekarang kau datang kemari. asal mereka tetap bahagia.. Perhitungan antara aku dan kau.

" "Tak sanggup?" " Aku tak sanggup menghadapi kutukan Tuhan. ada lagi kebenaran yang mesti kita junjung tinggi. "Oh. Hanya karena kau takut memikul hukuman atas dosa-dosamu seorang. Maka ia diam saja. Kalau selama ini aku telah mendapat keridaan Tuhan." "Hmm. dapatkah ampunan itu dikejar dengan menyerahkan diri begitu saja tanpa berani menanggung risiko dari kesalahan yang telah kaulakukan sendiri?" "Walau bagaimana. seolah enggan melihat segala kenyataan yang ada. Tapi kemudian ketika ia sadar pada amalan dan ketaatannya pada Tuhan." Lalu sekujur tubuhnya melemah lagi." "Hm. "Biarkan mereka berbahagia dalam ketidaktahuannya. Kenapa? Karena kau hendak menyembunyikan kesalahan perbuatanmu semata. ia yang salah. Ia dengar lagi Iyah berkata. dosa bagi kau. ia berkata dengan suara yang tegas dan dengan nada yang pasti. alangkah tamaknya kau. Maumu hanya supaya kau saja bebas dari akibat perbuatanmu yang salah dulu. "Ini semua dosa. Dosa besar. Juga dosa bagi mereka." "Iyah. "Walau bagaimanapun mereka harus tahu. Karena kau hendak mengelakkan akibat perbuatanmu yang salah dulu." kata laki-laki tua itu sambil memicingkan matanya terus. mesti kukatakan kepada mereka bahwa mereka bersaudara kandung. Wajib. Perempuan yang kurus dengan kulitnya yang bagai telah mersik itu. Dosa bagiku. Mesti." katanya dengan suaranya yang lesu. Sekarang pandai kau mengatakan itu. walaupun bagaimana benarnya kebenaran yang kaukatakan." Tak suatu pun terdengar. Tapi nadanya mengejek. Kaupikir. Iyah. Sejenak kemudian dengan suaranya yang mendesis parau ia melanjutkan kata-katanya. Harus. walaupun apa katamu. Ini mesti. "Aku harus memberitahu mereka." kata perempuan itu menegaskan. Kenapa tidak dari dulu-dulu?" Hatinya luka lagi. "Iyah." "Demi menjunjung perintah Tuhan?" . Setelah itu mereka harus bercerai. Luka oleh ejekan Iyah. Manusia harus siap mengorbankan dirinya untuk menjunjung tinggi aturan-Nya. "Aku tak sanggup. Kebenaran Tuhan. masih berdiri tegar di tempatnya. Sedangkan laki-laki masih terkapat di sandaran kursi. Sehingga kini kau juga ingin merusakkan kebahagiaan anak-anakmu sendiri. kenapa pula harus kukotori di akhir hidupku? Maka itu mesti aku katakan kepada mereka. Sekarang kau baru pandai berkata tentang kebenaran Tuhan. Dosa bagi kita. Sepi dan sunyi. Tapi ia tahu."Karena itu kaubiarkan mereka tak tahu?" Ia mulai membangkitkan dirinya lagi.

Tapi aku dari semula sudah salah. Kau sebagai laki-laki tak pernah merasakan pahitnya hidup bercerai dari suami. bangunan pendiriannya telah dikorekkorek. Dalam hal ini mereka tidak salah." "Itu tak soal. Dan anak-anaknya akan jadi apa? Tiga orang bukan sedikit." kata Iyah seterusnya. Mereka sudah punya anak dua. Katanya. kehidupan yang dahulu sudah pemah kaurusakkan. Iyah!" "Lebih baik dari orang sepengecut kau!" Dan si laki-laki merasa tak perlu membantah lagi. Tapi aku tahan tindihan itu bertahun-tahun lamanya. Sudah serak dan terputus-putus. hancurlah hati kemudiannya. Ia telah mengambil putusan. Dia kalah sudah. Tapi kalau tidak? Iyah berbicara lama sekali. Iyah juga merasa. Sampai sekarang. Dan sebelum pintu ditutupnya. Betapalah dalam tusukan ejekan itu akan menyakitkan hati. Mereka bercerai. lalu ia melangkah ke pintu. Dan aku tak rela kalau Arni akan menelan kepahitan seperti yang kutelan dulu. Karena manusia itu berakal. sebaiknya aku tak kemari. "Sebentar lagi anak-anakmu akan datang. Baiknya kalau mereka beriman seperti kau. betapa bahagianya mereka. boleh saja. Kurangkah imanku. "Iyah. berkatalah ia dengan sayu. bahwa mereka bersaudara kandung. Putusan yang sesuai dengan kepercayaan yang ia junjung bertahun-tahun lamanya. " "Omong kosong. bahwa lawannya tak hendak mundur dari pendiriannya. Maka ia berkata lagi dengan nada yang merendah sedih. Kalah oleh perasaan kemanusiaannya yang bertentangan dengan keimanan kepada Tuhannya. pelan-pelan dan dengan suara yang lunak tapi sendu." "Meski akan merobohkan kebahagiaan hidup manusia lain. iman kau. " "Kau murtad. dan harus beriman. aku ditindih perasaan berdosa sepanjang waktu. apalagi kepada anak-anakku? Dosaku takkan kupupus kalau karenanya mereka akan hancur hati dan kehidupannya. yang akan kalah oleh tusukan yang melalui perasaan kemanusiaannya. Kau lihatlah nanti. "Bahwa adalah dosa besar kalau membiarkan mereka tidak tahu bahwa mereka bersaudara kandung. Hancurlah kehidupannya. Aku merasakan itu. Kalau mereka mengerti dan beriman seperti kau."Demi menjunjung perintah Tuhan yang kusembah siang malam. Kalau mereka kauberi tahu. " Aku tahu. Malah hampir tiga. Dan selagi aku tidak mengatakan sesuatu. bahwa kepercayaan manusia sukar dilenyapkan dengan perdebatan dan dengan dalil-dalil apapun. Tapi kalau mereka tidak beriman. Bahkan kalau hendak memikul dosa-dosalah hidup . Dia kenal manusia seperti bekas suaminya itu. dan seolah-olah ditujukan pada dirinya sendiri. kalau dosaku adalah dosaku. Aku kasip mengetahui hubungan darah mereka. Tapi ia tahu juga." Tapi suara Iyah tak tetap lagi. Diambilnya bungkusan kainnya. Dan selama itu pula tanpa disadari laki-laki itu. mereka pastilah akan bercerai. Dan dosaku itu takkan kubagi-bagikan ke orang lain. Dia lalu menangis tersedu-sedu. Akal kau. Dan ketika itulah kekukuhan bangunan pendirian laki-laki tua itu hancur berderai-derai. hanya suatu ucapan pelarian dari ketakutan pada pembalasan atas kesalahanmu. bahkan manusia lainnya.

Kerah mantel.kar ditutupi oleh baret abu-abu. ayah Masri dan juga ayah Arni. Tapi mereka tidak melambatkan langkah. Aku pergi." Perempuan itu mengangguk. mengelakkan dingin dan tiupan angin malam. "Orang bertubuh besar. Tapi kalau dosa itu kepada manusia. Dan jangan kaukatakan pada siapapun tentang kita. Iyah. seolah hendak tahu apa mereka tiba tepat waktu. Tak seorangpun yang berbicara. sebaiknya juga kita manusia ini tak usah ada. Hujan yang turun sedari sore. Iyah. Yang lain bermantel plastik transparan. Dan laki-laki itu melangkah dengan tenang ke muka. Keduanya dengan pikiran masing-masing. Dan kalau kaya. kekar. Dosa kepada Tuhan akan dapat ampunan-Nya kalau kita tobat. Lalu yang kekar membelok ke kiri. Mereka berjalan ke arah timur dengan setengah membungkuk. Jalan itu lebih gelap oleh kerimbunan pohon-pohon di kiri. tinggal renyai. "Gila. Ketika mereka sampai di suatu simpang. Dia berani. Yang satu kekar dan yang lain kurus. Dibendung oleh kabut yang biasa turun di kota pegunungan itu. Tapi tidak punya otak. Hanya bayangan kedua orang yang terangguk-angguk itu saja yang kelihatan. dan tentang apa yang kita lakukan ini. sukarlah mendapat penyelesaiannya. sombong. Seperti itik jalan sekandang. si kurus juga membelok. redup cahayanya. tapi kepalanya tepekur sebagai orang kalah. Sehingga mereka seperti tambah terbungkuk-bungkuk dan kepalanya sama terangguk pada setiap kaki dilangkahkan. Nyala lampu jalan yang bergoyang-goyang ditiup angin itu. Si kurus oleh topi mantel. Dua Orang Sahabat Seperti sudah dijanjikan. Tidak punya perasaan. Malam menjadi kian gelap dan lebih dingin hawanya. si kekar bertanya tanpa menoleh: "Kemana kita?" "Terserah kau. . Ketika itu malam belum lama tiba. karena Tuhan itu pengasih dan penyayang. Kepala si ke." kata si kurus dalam hatinya juga. Sekarang jalan yang mereka tempuh mendaki. Sekali aku pukul. Lalu pintu itu tertutup lambat-lambat. Dan Iyah tinggal dengan perasaan yang juga pergi dan menghilang jauh meninggalkan pintu yang telah tertutup karena menuruti bekas suaminya." jawab si kurus gersang. Dan kaki mereka sering terperosok ke lobang di jalan aspal yang telah lama tidak diperbaiki. Salah seorang mengenakan mantel hujan. Keduanya sama mendekatkan arloji ke mata. Sedangkan tangannya sama membenam jauh ke dalam saku celana. Jalan itu lengang seperti kota ditinggalkan penduduk karena ada ancaman bencana. apalagi terhadap manusia yang terdiri dari darah dagingku sendiri. Hanya derapan sepatu yang solnya sudah lembab yang meningkahi nyanyian hewan malam.kanannya.nya sama ditinggikan sampai menutup telinga. Kau tahu apa yang kita lakukan Iyah. Tapi manusia tetap ada dan Tuhan pun ada." kata si kekar dalam hatinya. dua orang lelaki bertemu di jempatan beton dekat simpang tiga depan kantor pos. bangga dengan otot.kita ini. Dan aku telah lama tidak berbuat dosa lagi bagi manusia. pasti klenger.

Itu benar. Cahaya lampu minyak melompat keluar.rumah itu sunyi dan hitam. Sejarah mengatakannya begitu." Dan perempuan lain di dalam rumah cekikikan ketawa. Renyai tidak turun lagi. sama saja dengan pemilik otot. Tiba-tiba sebuah jip militer datang dari arah kanan.buru menepi. Kini mereka melalui jalan yang mendatar sesudah membelok ke kanan lagi. Cahaya lampu yang menjilat malam itu pun lenyap bersamanya. Rumah. Sedangkan bukit itu terpampang bagai mau merahapi alam kecil di bawahnya. tidak akan bisa Belanda lama-lama menjajah negeri ini. Mengerikan nampaknya. ilmu." kata si kurus. Kalau aku mau perempuan bukan ke seni aku. Dia memandang lama ke. Kalau orang Indonesia punya ilmu. "Karena orang kecil punya otak. Tidak bermoral. Ketika lelaki itu berjalan terus.hindar. Tidak beretika. Tiba-tiba pintu rumah di pinggir kiri jalan terbuka. Si kekar buru. Tepat diatas perbatasan alam yang pekat itu."Mengapa dia berani? Apa dia punya ilmu? Ilmu apa? Ah. Laki-laki itu juga memandangnya. Hanya cahaya lampu minyak mengintip dari celah dinding anyaman bambu. Harus cerdik. Biar bangkainya tahu. Napasnya sama menghem. sesekali cahaya terang mengilat. "Aku pecah kepalanya sampai otaknya berderai. Si kurus berdiri sambil menatap ke arah jip yang lewat tidak lebih setengah meter darinya. Langkah mereka seperti tertegun ketika mulai melalui jalan yang datar itu. Katanya dalam hati: "Sama saja watak kalian.bus panjang. "Kurang ajar. tidak punya moral. "Homo homini lupus. Berani bilang aku sialan." kata si kekar pula. hah?" bentak pengendera jip itu dengan iringan sumpah serapah. . Listrik belum sampai ke sana.taknya." gerutu si kurus." Rumah-rumah di kedua pinggir jalan itu sudah jarang le. Kepala seorang perempuan menjulur. kepala perempuan itu lenyap lagi ke balik pintu sambil menggerutu.pada kedua laki-laki itu. Masuk ke gelap malam. Bukit itu bagai binatang merayap maha besar dalam kisah prasejarah. bagai mau melepaskan hengahan payah. Tapi si kurus tidak peduli. kata Hobbes. Tapi tidak selamanya. Lalu mereka melintasi jalan lebar yang bersimpang. Lalu hilang karena pintu ditutup lagi. "Sialan. tahu?" kata si kekar masih dalam hatinya. Bukan mereka. Sesunyi dan sehitam alam hingga ke puncak bukit. "Kamu mau mati. Sama tidak punya etika. jangan cobacoba melawan aku. Tapi dia ini punya ilmu apa?" kata si kekar lagi pada dirinya." kata si kurus masih dalam hati. "Perempuan pemilik daging sewaan ini. Dia tidak meng.

Tapi aku manusia. "Bagi kamu musang." si kekar berkata dalam hatinya lagi. La. Karena itu jangan sekali-kali menentang orang kuat. Dekat di kiri kanan jalan meliuk-liuk daun pisang ditiup angin.ban. Dulunya padang itu tempat serdadu Belanda.sar yang mereka tempuh membelok ke kiri. Dia lebih memperlambat langkahnya seperti dia merasa sudah sampai ke tempat yang ditujunya. Gemercakan bunyinya di.jang duluan oleh ketakutan atau cepat-cepat berdoa dengan seribu cara. Apalah daya ayam karena sudah takdirnya begitu. Kalah menang juga takdir. Jalan be. Si kekar seperti mencari-cari sesuatu. Orang-orang tawanan yang akan dibawa ke situ. Dan memang tak lama kemudian mereka sampai ke suatu padang luas yang membujur di sepanjang kaki bukit di kejauhan itu. melalui jalan kecil tanpa aspal. Masih dalam hati." kata si kekar. Nantilah. Kalau mereka tidak mau. Gila benar. Dan padang itu. Bikin kaget orang. Berhari-hari kemudian orang akan mencari bau bangkai membusuk ke sini." "Orang kuat. Tiada pohon tumbuh disitu. Manusia yang bina. Selain belukar menyemak.Kemudian mereka tiba lagi di sebuah simpang. "Mengapa aku mesti ke sini? Seumur-umurku belum pernah aku ke sini. jadi ayamlah kamu. bangkai kamu. Sehingga padang itu menumbuhkan fantasi yang menegakkan bulu roma setiap orang. di malam berenyai. Tapi mereka me." kata si kurus masih dalam hatinya. ya. orang kaya. "Huss. Kalau tidak mau melawan. Kalau melawan. lehermu patah. Jika enggan menghormati kaum jelata. juga mengintip dicelahnya. musang. itu maunya takdir. didatangi oleh dua lelaki. sama. Tapi lebih lambat. Tentera revolusi pun meniru gurunya yang sorja Jepang. Rupanya seekor musang. "Tak kusangka aku ke sini di malam seperti ini. Manusia yang manusia. Siang pun belum.neruskan arahnya. Kerikil besar-kecil berserakan menutupnya. Tiba-tiba keduanya sama terkejut. Boleh kamu tahu rasa.pijaki. jangan menindas. sambil dengan hatihati mengawasi sesuatu yang melintas cepat di depan mereka. lawan takdir itu. dingin dan pekam. seperti biasa menanti dan menyaksikan orang-orang yang dipenggal lehernya atau ditembak mati tanpa peduli perasaan si kor. "Orang kurus seperti kamu." kata si kekar lagi. Kalau kuat. selalu ada sekandang ayam untuk kamu terkam. Langkah mereka sama terhenti.tang. Berkepakan bunyinya menyela desauan angin yang meniup dan nyanyian jengkrik. Akali. Bersikap masa bodoh terhadap . Keduanya terus melangkah juga. Bangkai itu. Dan kini padang luas yang sunyi dan menimbulkan fantasi seram itu. terinjak terus. Takut melawan." kata si kurus lagi. Jangkankan malam. ya. Bukit menghempang di hadapan mereka hilang timbul disela daun pisang itu. Berdesauan suara perlandaan badannya dengan dedaunan di semak itu.ngit yang memberikan kilatan. Padang itupun sunyi menerima kedatangan kedua laki. sudah ke. hormatilah takdir. sekali tetak. Kata Hobbes hanya cocok untuk binatang.laki itu. Di sana Jepang juga memenggal nyawa orang yang dituduh pengkhianat. gunakan otak. aku bawa bedil ke sini. sorja Jepang dan tentara revolusi latihan menembak.

Habis perkara.lakukan oleh manusia terhadap sesamanya.segala apa yang di. "Sialnya aku lancang mulut mengajaknya berduel malam ini. Polisi akan menangkap aku.samamu. Lalu katanya seraya menghenti. seperti tak bertenaga. "Di sini saja. tanpa tenaga menembusi gelap dan kesepian padang itu. akan apa perasaan isteriku. Sialnya ini orang mau ke sini. seperti dua orang yang mau mengatakan sesuatu yang lama sudah disimpan. seperti yang dilakukan serdadu-serdadu itu. silakan kalian saling bunuh. Masih menekur juga dia. Redup. Dan sese. seraya memandang ke arah kepala si kekar.kan langkahnya." Keduanya terdiam ketika angin bertiup rada kencang. "Maumu 'kan?" Tapi dalam hatinya dia berkata: "Kau tahu kau kekar dan kuat. Keduanya kini tegak berhadapan. Jauh di balik bukit sebe. Aku cari saja preman.sauan bunyinya. "Dia mau menjagal aku." Tapi arwah manusia yang dibunuh tanpa kerelaan. Nyatanya kita kemari juga. orang akan menanyai aku. Gegap berde. Lalu kata si kekar dengan suara redup seperti kilat itu: "Tak pernah selama ini aku mengangankan datang kemari ber. Suruh ajar dia ini. Tapi aku punya harga diri. "Mestinya dia ini tidak perlu aku bawa ke sini. Sekali aku kecut." Cahaya kilat memancar lagi. . Si kekar mendongakkan kepalanya seraya memandang sekeliling alam di padang itu." Si kurus pun menghentikan langkahnya. Cahaya kilat memancar juga jauh tinggi dilangit. Apalagi malam begini.rang ngarai yang lebar itu. cantik dan kaya oleh warisanku. hingga daunan kayu bergoyangan menjatuhkan pautan tetesan air padanya." kata si kurus dalam hatinya. bagai teriakan prajurit yang kemasukan semangat mau mati yang bernyala dan haus darah.kali angin meniup agak keras. Matilah aku." kata si kekar. Sialan". "Kalau aku dipenjarakan. seperti tidak menyentuh hati kedua lelaki yang mendatanginya di malam itu. seumur hidup aku kau dilecehkan. Bersoraklah lagi dedaunan menggugurkan tetesan sisa air yang bergantungan padanya. Seolah-olah berkata: "Hai manusia. Kalau aku dikuhum mati? Bajingan-bajingan akan memburu istriku yang muda. sehingga menumbuhkan fantasi yang menghantu. Kau jadi berani membawa aku ke sini. Lalu katanya dengan suara yang gersang. "Kalau dia sampai mati aku gampar. Kau tahu mengapa?" Si kurus mengangkat kepalanya." kata si kekar menggerutu pada dirinya.

"Kita telah bersahabat sejak SMP. Masih dalam hatinya. lebih baik tidak menompangnya..kannya." kata si kekar. Cahaya kilat tak membantu ka. Namun dalam hati kecilku aku menyesali kehadiran kita disini. Si kekar membuka mantel hujannya tenang-tenang. Aku merasa konyol. Si kurus tak menyahut. dimana kilat masih sabung.kalau tidak dengan cara begini menyelesaikan persoalan kita. Aku naksir dia. Nadanya membanggakan kelebihan. siapa Nita." Dia mencoba meneliti wajah si kurus. Tapi ini bukan soal Nita. Aku tidak suka dilecehkan. Disam. "Mengapa tak kau buka mantelmu? Kau menyesal?" "Apa pedulimu?" .nya dan melecehkan si kurus dengan kalimat sindiran. Tapi. Seperti raja-raja dahulu kala. siapa kau. Semua yang berada di bawah kuasamu. berdiri tanpa peduli. temanmu. "Sekali hari kau kenalkan Nita padaku. lalu yang kanan. Mana aku tahu Nita pacarmu. Katamu. dia berkata lagi. Tapi ketika dilihatnya si kurus masih terpaku pada tempatnya berdiri. Tapi kepalanya tak menekur lagi. Karena aku tahu siapa aku. Ini soal harga diri yang selalu kau lecehkan" kata si kurus. Namun gelap malam menghalangi penglihatannya. "Kalau kapal suka berobah arah ke mana angin kencang bertiup. Berapa lama itu? Kau ingat? Lebih dua puluh tahun..patnya. hi. kamu pikir dapat diperjual-belikan. Lalu kami kawin. di malam sehabis hujan turun. Aku tidak cemburu.kutkannya pada ranting belukar beberapa langkah dari tem. di padang yang luas ini.rena terlalu jauh di langit sebelah barat. Dia masih bersikap seperti tadi.langlah harga diriku. Aku lamar dia pada orang tuanya.. "Kau kira aku cemburu kalau Nita kemudian dekat padamu? Tidak." si kekar memulai bicara sebagai awal pembicaraan yang panjang dengan mengingatkan segala apa yang telah diberikannya kepada si kurus selama mereka bersahabat kental.. Sejak itu kau berobah. Angin masih se. Itulah macam manusianya kamu." kata si kekar. ambil. kita berada disini. "Kau tidak peduli kapalmu rindu pada teluk yang dalam. Apa hatimu sudah pekat?" "Kau kira apa?" kata si kurus seraya menyurutkan sebelah kakinya selangkah. Kemudian dengan nada yang tegar dia melanjutkan: "Kalau kau mau ambil dia. "Sekarang. "Sekali lagi aku tanya. "Betul-betul sudah pekat hatimu menantang aku secara jantan?" kata si kekar. Siapa mau dan tahan diperlakukan begitu terus-menerus?" kata si kurus dalam hatinya juga. ombak yang tenang. Tapi si kurus masih tidak menanggapi. Sambil melangkah digulungnya lengan panjang keme. Tinggalkan kota ini. Juga dengan tenang. Selesai yang kiri.janya." kata si kekar dengan gaya orang partai yang mencoba menumbuhkan kesan kagum yang diharap.bersabungan.bentar-sebentar menggoyangi dedaunan di ujung ranting. Tegaknya seperti menantang.

"Kalau kau main curang. "Aku orang terdidik. Lama kemudian si kekar berkata lagi.. bukan?" Karena si kurus terus tidak berkata. hanya ingin menyelesaikan persoalan antara kita." "Mestinya aku ludahi wajahmu. Si kekar kehilangan nyali. "Kalau aku tahu kau bawa pisau . "Pasti seperti pemenang pada perang saudara." carut si kurus untuk menghina. . Dia terus berjalan tanpa mem. Terpandang pada mata ma. Tiba." kata si kekar dengan suara lirih.nyesalannya mengajak si kurus ke tempat yang sepi itu."Baik." seru si kekar. Kau mau." kata si kekar seraya menyurutkan kakinya selangkah lagi.ku sendiri. Kemudian katanya: "Aku minta maaf sebesar-besar maafmu. buat apa kejantanan? Aku tidak mau berduel dengan orang curang. Tapi si kurus merenggutkan tangannnya dari pegangan itu. Seketika ada pikiran yang mengganggunya. Si kurus membalikkan badannya. "Jangan kau salah mengerti." kata si kekar sambil menyelesaikan menggulung lengan kemejanya." kata si kekar. Karena kita berhabat karib. Kau berpisau? Itu curang namanya. "Kencing kau. Tidak tergesa-gesa.tiba dia lihat sesuatu yang berkilat di tangan si kurus. kau mau membunuhku. Karena si kurus terus menjauh. Dedaunan berdesauan pula. "Apa itu?" tanyanya. bagaimana kalau si kekar jadi pemenang.. Tunggu aku.." "Maksudku. "Tunggu. Si kurus tidak menjawab. Lalu melangkah ke arah mereka datang tadi. Sebenarnya aku tidak hendak berkelahi..lambatkan langkah. Apalagi dengan kau. dia mengikuti dengan langkah panjang-panjang. Tapi apa gunanya menghina orang yang kalah?" kata si kurus dalam hati. "Oh. Tak ada jawab si kurus. Aku tidak mau mati terbunuh oleh sahabat karib. " Dan angin bertiup lagi. "Pisau. di pegangnya tangan si kurus.. Juga tidak pelan. Tak aku sangka. Kini seperti bersorak girang atas kemenangan orang kecil atas keangkuhan orang besar." katanya setelah dekat. Si kekar terus juga bicara tentang pe. Bukan untuk berbunuhbunuhan. tapi dengan suara yang kendor.syarakat. Kemudian dia kepalkan tinjunya sambil menyurutkan langkah selangkah. Terperengah berdiri si kekar beberapa saat." jawab si kurus tegas. Siap untuk berkelahi.

Si kekar terus menghadang dengan langkah mundur. Kalau kau mau Nita. Dali. penting. Tanpa merobah letak kedua tangan. Aku ikhlas. menurut Si Dali. Dedaunan pohon ping. Miliknya yang hilang itu ditemukan dalam ransel Letnan Tondeh. Si kekar melangkah cepat. 30 Agustus 1999 Gundar Sepatu Bagi orang parlente gundar sepatu. dia berdiri dan menanti si kurus mendekat. jangan kau ceritakan peristiwa ini kepada siapapun. Kayutanam. Tapi mana ada orang elite keluar masuk hotel dengan sepatu berlumpur? Dalam masa perang gerilya. dia memanggil nama si kurus keras-keras. Hancur harga diriku.perti patung Budha." Si kurus keluar dari persembunyiannya di belukar. Sersan Bidai merazia semua ransel anggota rombongannya sambil menodongkan pestol rakitan lokal. meski kemana-mana mereka memakai sandal dari ban bekas mobil. Kalau sepatu itu kumal betul. Sambil berlari kencang." Tiba-tiba dia berhenti. panggil pelayan hotel untuk membersihkan. si kekar berhenti. Bulu romanya merinding. Katakan apa yang kau mau. Tak seorang . Setelah beberapa langkah mendahului.guh. tunggu. gundar sepatu memang tidak disediakan. Tergesa-gesa pula dia mengenakan mantel serta mengancingkannya. Mencari miliknya yang hilang.gir jalan itu mendesau seketika. Didekapnya kedua telapak tangannya di bawah dagunya se.Angin malam terasa bertiup lagi. kalau dia tahu? Hancur aku. Yang disediakan flanel berbentuk kantong kecil. Dia berlari mengejar sambil memangil-manggil nama si kurus dan minta si kurus menunggu.lam. asal kau tidak ceritakan kepada siapapun. Lalu katanya memelas: "Aku minta sung. Daliiii. sepatu harus mengkilap. Begini ceritanya. Habis aku. Dia ingat mantelnya tergantung pada ranting belukar. Bagaimana sepatu bisa mengkilap kalau tidak digundar setiap hari. ambillah. Sedangkan matanya terus juga memandang si kurus yang kian menjauh dan kian hilang dalam gelap ma." Si kurus terus melangkah. Di hotel berbintang. Akan apa kata Nita. Banyak pejabat dan pejuang menyimpan gundar sepatu di kantong atau di ranselnya. Sekali pagi terjadi heboh besar. Dia memandang berkeliling mencari dimana si kurus berada. tempat golongan elite biasa menginap. Karena setiap ke luar rumah. "Dali. si kekar berkata lagi: "Apapun yang kau minta akan aku beri. Hancur. lebih cepat dari langkah si kurus. Tergesagesa dia kembali untuk mengambilnya. lalu sekakan ke sepatu. tunggu. selain gelap malam. Jangan tinggalkan aku. Dia bersembunyi karena enggan berjalan seiring dengan sahabat lama yang sudah jadi bekas sahabat. setelah suara si kekar tidak terdengar lagi. Ketika sampai di tempat mereka berpisah tadi. Hancur harga diriku. Masukkan tangan kedalamnya. Tidak siapapun terlihat. gundar sepatu menjadi lebih penting fungsinya dibandingkan kebutuhan sepatu orang elite.

Menurut desas-desus. Begitu?" "Ya. setelah desas-desus yang sampai ke telinga Si Dali." "Kenapa kamu tidak kawin saja?" "Teman-teman sudah ambil semua. Si sersan ditangkap. sampai mau mencuri gundar sepatu anak buahnya sendiri. kalau sersan itu sampai kalap hingga menodongkan pestol karena hilangnya sebuah gundar sepatu saja. kamu tidak pakai sepatu?" Dan ketika komandan mendengar keterangan letnan itu arti gundar sepatu bagi diri sendiri. Bahkan tidak ada yang tidak heran. Kami sempat menyingkir ke hutan. Tidak masuk pada akalnya. Bikin malu kamu. Pestolnya dilucuti. Beruntunglah tak seorang pun yang . Lebih tidak ada yang menduga kalau letnan itu mencuri gundar sepatu sersan yang anak buahnya. Malah ada yang ambil dua. memanggil Letnan Tondeh. Mayor. Saya perlu gantinya. Peristiwa itu sampai ke telinga komandan batalyon. banyak gundar sepatu dipesan ke kota oleh orang-orang di daerah gerilya itu. Bagaimana macamnya republik ini bila perwiranya sekonyol kamu?" kata Mayor Segeh kepada Letnan Tondeh. Pangkatnya diturunkan jadi kopral." jawab Letnan Tondeh. seorang perwira yang kemana-mana memakai sandal dari ban bekas mobil. Apa benarlah pentingnya gundar sepatu. Nyalinya pun copot. Namun hukuman tetap dijatuhkan. Mendengar laporan bahwa seorang letnan sampai mau mencuri gundar sepatu anak buahnya sendiri. setelah peristiwa itu. si Mayor tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya berderai. toh. Menurutnya. Itu merusak martabat perwira namanya. "Tak lama setelah heboh gundar sepatu itu daerah kedudukan pasukan kami diserbu musuh. Mayor Segeh yang komandan batalyon. setiap matamu tidak bisa tidur.pun menyangka yang mencuri seorang letnan. "Jangan menyindir. Dalam pemeriksaan. "Mencuri gundar sepatu lagi. Kemudian. dia mengaku sangat marah karena gundar sepatunya dicuri. Begitulah. setelah ujung ketawanya mereda. kamu elus bulu gundar sepatu itu dengan ujung jarimu. seorang sersan menodongkan pestol kepada seorang letnan itu merupakan pelanggaran berat. karena selama perang mayor itu sudah punya dua bini. "Gundar sepatu saya hilang. Tapi di daerah gerilya mana ada rumah tahanan provos. kata mayor itu: "Jadi? Setiap malam. ya?" kata Mayor Segeh sambil memlototkan matanya. Benarbenar berat. Bagaimana mungkin kita bisa menang perang kalau perwira sudah sampai mau mencuri milik anak buah sendiri. "Buat apa gundar sepatu." kata letnan itu. Mereka membawa gundar sepatu kemana pun mereka pergi. Ya. lalu Si Dali bercerita.

ada rakyatnya. yang menjadi tempat tumpangan para pimpinan gerilyawan militer atau sipil. yang dimasa perang gerilya itu diangkat jadi Wedana Militer adalah salah seorang penghuni taratak. Tapi bukan karena Maruhum yang risau oleh kehilangan benda yang sesungguhnya tidak akan memenangkan perang masa itu. suatu negara baru sah keberadaannya. Termangu seperti orang yang kepalanya hampa. pada menggeleng kepala sambil melirikkan mata ke arah Maruhum. Selain menghadiri rapat bila ada panggilan Gubernur Militer atau Bupati Militer. Suatu pemerintahan yang sah. Ujungnya aku congkel-congkelkan ke tanah sambil mencari bahan bicara. Yang bernama pangkalan kami terdiri hanya enam rumah kayu kecilkecil. mesti ada organisasi dan stafnya. Semua orang. Setangkai ranting aku pungut. Waktu aku tiba dia duduk di bawah naungan pohon nangka. demi melihat aku tiba. Dalam pikiranku.terbunuh. bila ada wilayahnya. sebagai Wedana Militer. dirontokan musuh yang menyerbu seperti badai. tanpa gundar sepatu pun orang bisa memenuhi kebutuhan biologisnya di hutan rimba sekalipun. Semua orang yang berseragam hijau utuh atau bukan. Dagu Maruhum bertopang pada kedua lututnya. Apalagi kalau bukan gundar sepatu.O. Melainkan karena aku ingat betapa pentingnya arti gundar sepatu oleh Sersan Bidai sehingga dia sampai berani menodongkan pestol pada Letnan Tondeh. Paling-paling akan dianggap sebagai gerombolan saja. . Suatu bangsa yang cuma punya berdivisi-divisi tentera saja. Makanya aku anggap fungsinya tidak lebih penting dari gundar sepatu bagi prajurit yang terpisah dengan istri demi memelihara moril gerilyanya. Terkapar seperti petinju kena K. tapi masih ada pimpinan pemerintahan seperti Sjafruddin Prawiranegara. ada pemerintahannya. Pecah dan peot. dan yang orang sipil berpencar-pencar. Boleh jadi juga hatinya tengah melolong atau tersedu. Aku pun duduk bersandar ke pohon nangka itu. tidaklah akan diakui internasional sebagai negara. yang muda sampai yang putik. Menurutku. aku kembali ke pangkalan dengan tertatih-tatih. Taratak kami porak poranda. Gubernur Militer. Menurutku." Aku mendekati Maruhum. Akupun menggelengkan kepala. Sesuai menurut hukum internasional. Maruhum risau oleh kehilangan benda yang paling disayangi. "Tidak apa-apa. seorang camat. Penduduk menamakannya taratak. Meski presiden negara itu ditawan. menurut Pak Rasjid. Di sekitar itu berpencar banyak teratak lagi. tugas Maruhum tidak jelas. dalam pikiran mereka. jabatannya itu penting. Bung Wed?" tanyaku akhirnya dengan menyingkatkan sebutan Wedana sebagaimana lazimnya orang seusia masa itu. disamping pondok-pondok dari ilalang yang bertebaran yang kami buat. Semua benda bertebaran di tanah. Kesanku juga begitu. Namun sekali waktu Maruhum berkata padaku." kata Maruhum dengan lesu setelah menarik nafas panjang dan kemudian melepaskannya. Seluruh buah pohon itu. Setelah musuh kembali waktu sore. Bungkuk merukuk-rukuk mencari dan memungut sisa benda milik mereka yang masih utuh atau yang masih bisa dipakai. "Ada apa. betapun kuatnya. Seperti mereka merasa tahu apa yang dirisaukan Maruhum. Maruhum. Itulah fungsi Wedana Militer.

Lalu. toh. Apakah rakyat yang sudah merasakan nikmat merdeka. Orang-orang mencari miliknya pada puing-puing rumah yang dirobohkan musuh itu. "Apa perang ini masih akan lama. Aku kehilangan banyak. Dia melanjutkan. Bung?" akhirnya Maruhum bertanya. Mereka tangkap Bung Karno dan Bung Hatta. dengan perundingan atau bukan akan banyak persoalan timbul. Belanda tahu mereka tidak akan menang dalam perang ini. Tak tahu aku apa tugasku. Tidak dengan Sjafruddin. Menurutku." "Semua orang bicara begitu. tentera pelajar ke sekolah tinggi dengan cuma-cuma. Seperti tidak memerlukan tanggapan. bukan? Ingat sejarah Diponegoro. melainkan membawa salam dan senyuman. Lama juga saat berlalu. Politisi jadi anggota perlemen. Taroklah dia sudah menguasai seluruh negeri ini. sudah tidak ada lagi. Gubernur jadi menteri. Tapi Maruhum berpendapat lain. Karena cobalah pikirkan. adil dan sejahtera. "Menurut Gubernur Militer. Pemimpin kita di bui."Ada yang hilang?" Pertanyaan itu tidak berjawab. Imam Bonjol. tidak lain dari usaha mereka untuk memaksa kita ke meja perundingan. Sudah hampir sama gelapnya dengan senja yang kian larut. Pak Rasjid. Dengan kemerdekaan itu bangsa ini akan membangun diri agar bisa menikmati hidup yang lebih baik. "Umpamanya?" Mulut Maruhum terkatup. tapi permusuhan akan terus berlangsung. dia termasuk yang beruntung karena adanya perang ini. Itu pikiranku. mereka hanya mau berunding dengan kedua pemimpin yang ditawan itu. akan diam-diam saja dibawah penjajahan Belanda itu nanti? Tidak. semua pangkat dan jabatan tinggi itu tidak akan sebanyak ini bertebaran. yang aku serap dari pidato para pemimpin. "Para prajurit naik pangkat. yang Wedana ini akan bekerja di kantor. Serangan Belanda ini. Aku sendiri. Demi menghindarkan kehilangan mukanya. Lebih rumit dari peperangan ini. yang padahal pangkatnya sudah setinggi itu? Wedana. Dagunya kembali diletakkan ke lututnya. jika Belanda itu kembali ke sini tidak membawa bedil dan meriam. "Bisa jadi." katanya setelah lama kami sama-sama terdiam. Kita kalah. Perang mungkin sudah selesai. Dia tidak sepatutnya bersikap skeptis. Bayang-bayang pohon nanka sudah tak kelihatan lagi. Paling- . Begitu." kata Maruhum setelah lama dia terdiam. Aku kembali mencari-cari bahan pertanyaan lain. Berunding dengan orang yang ditawan lebih gampang menekannya. "Bila perang ini selesai. Kehilangan apa. Bagaimanapun besarnya pengorbanan kita sudah jadi bangsa yang merdeka. Mengapa?" "Belanda ini bandel betul. Dia merasa kehilangan. kan?" Maruhum berbicara dengan suaranya yang letih. pejuang yang sudah biasa bertempur. Belanda berunding setelah mereka itu ditawan." kataku asal bicara.

ialah karena perasaan malu pada diri sendiri bila tidak solider. aku tanyai dia. lalu berkesempatan melihat Amerika yang serba wah seperti yang diangankannya ketika nonton film-filmnya. "Kepada Si One. ya akal. perempuan pedagang yang keluar masuk kota itu aku titip surat untuk istriku. Tapi pengetahuan peternakannya itu tidak bisa dipraktikkan di kampungnya. Ketika kembali ke kampung karena ikut PRRI. Dan perempuan itu. Dari seorang berayah pemilik warung. dia sudah punya dua anak. Namun segera saja dia setuju demi ketemu calon istri yang secantik bintang film Titien Sumarni. agar Otang tidak kecantol pada gadis di sana. Selain hambatan sosial budaya. Dan selama di kampung dia tidak bekerja apapun. Namun Maruhum merasa kehilangan pada akhir perang kemerdekaan ini. Dalam hatiku. Ketika aku ketemu Si One. Juga bukan pegawai negeri. karena solider pada Pak Natsir." katanya pula setelah lama kami sama-sama terdiam. Otang menikah sebelum dia ke Amerika. Menunggu perobahan kondisi dan situasi yang akan dapat mengangkat martabat dirinya. juga oleh masalah modal. Katanya. Lalu dikiriminya aku gundar kamar mandi usang dari ijuk yang kasar". Kenapa? "Aku kehilangan gara-gara gundar sepatu. Minimal akal-akalan. Karena itu dia menetap saja di Jakarta. Demikian pula Letnan Tondeh. "Hah?" sergahku karena tidak tahu apa hubungannya. yang mengirimnya magang di peternakan Amerika di Florida selama setahun. Seperti banyak orang lain sebelum APRI menyerbu. Dia belajar untuk jadi orang tahu tentang berbagai ilmu. Alasan orang tuanya di kampung. kalau tidak senjata. tokoh idolanya. Pada mulanya Otang keberatan. Karena semenjak sekolah di kampung sampai ke Amerika pun dia tidak belajar untuk bekerja. Bahkan lebih daripada solider itu. Yang diperlukan. 17 Juni 1997 Inyik Lunak Si Tukang Canang Pada masa PRRI. perempuan yang pedagang keluar masuk kota itu. teman Si Dali. Kalau Otang pulang kampung juga. katanya. marah sekali sampai bercarut-carut. Otang seorang gembong. Untuk pengganti aku kirim yang lain. Dalam masa perang ilmu tidak berguna. pulang kampung. Minta dikirimi gundar sepatu. Kata istriku dalam surat balasannya: "Gundar sepatu kamu sudah tiada. bila diduai.paling Maruhum hanya akan jadi klerk sebagaimana yang diceritakannya kepadaku. Otang. Kayutanam." Bung tahu apa yang dia kirim?" Tanpa menunggu jawabanku Maruhum berkata dengan suara yang parau: "Pasti dia punya gendak. perempuan mana yang tidak sakit hati. Memang tidak ada yang bisa dikerjakannya. lalu tidak mau pulang lagi. Demikian Mayor Segeh. dia ceritakan fungsi gundar sepatu di daerah gerilya pada istri Maruhum. Katanya. Bedanya hanya tanpa tahi lalat di bibir atas. Sebagaimana orang desa yang biasanya polos. betapa dia tidak akan solider. . hanyalah karena alasan khusus. Apalagi dengan gundar sepatu.

. Telapak tangan melepuh. Kalau lagi nongkrong di lepau Mak Mango di sudut pasar. Bersama salah seorang kopralnya dia masuk kampung keluar kampung menzinai istri-istri orang-orang PRRI yang terus bertahan di pedalaman. Dia pun mengomeli ibu mertuanya yang bersekongkol. Buter Talib mampir ke rumah Atun. Gotong-royong hampir setiap hari itu sangat menjengkelkan Otang. apalagi orang semacam Otang. Dan suara Inyik Lunak itu pun serak seperti selaput suaranya juga pecah. Camat Basri yang orang kampung itu sendiri pun sama dengan yang lain dan yang lainnya lagi. kata penduduk. cuma karena rasa simpati saja. Juga semua orang. Yang jadi komandan APRI di kecamatan itu berjabatan Bintara Urusan Teritorial. Awal-awalnya Otang tidak tahu apa yang terjadi. Setiap berpapasan dengan Inyik Lunak di jalan. Suaranya bariton. melepuhlah telapak tangannya. Atun dicaci-maki karena tidak melawan perkosaan itu. dia buru-buru pergi. Jika berteriak. Apa orang tua. Sengsara bukan karena bersimpati kepada PRRI. apa haji. Malah Buter Talib konon pernah menginap ketika giliran Otang ronda malam. kronimnya Buter. "Mau apa kita? Bilang apa kita?" itulah kata-kata yang keluar dari mulut penduduk negeri yang ditaklukan itu. Oleh APRI disebut dibebaskan. apa petani. apa datuk. dia batal masuk lepau itu. apa guru. Sersan Mayor pangkatnya. Pembantu Ispektur Polisi Hartono meniduri kedua anak gadis Sudira. dia harus membayar mahal seperti orang taklukan yang lain. Pada mulanya memang begitu. kecutlah semua orang. Otang mencak-mencak. Bukan karena kehilangan waktu untuk bekerja. Orangnya berbobot besar. lama-lama berakibat pada ketidak-sukaan Otang pada Inyik Lunak.Tibalah masanya kampung Otang diduduki APRI. Namun perintah gotong-royong datang hampir saban hari. Bagi Otang sekali mengayunkan pacul. Talib namanya. Kopral Jono juga berbuat yang sama. sambil memalu canang yang berbunyi cer cer cer. Tapi ketika Inyik Lunah si tukang canang membisikkan agar Atun diantar ke kota. apa yang dilakukan Buter Talib ketika semua laki-laki bergotong-royong. Akhirnya. kini menjadi ranjau darat yang membelahbelah jantungnya. meski tidak ikut perang. juga merasa sengaja dihina sebagai orang taklukan. tidak dapat dijadikan alasan istirahat dari bergotong-royong. Mertuanya tidak memberi tahu. Sengsara jugalah jadinya Otang. Melalui seruan Inyik Lunak dari ujung ke ujung kampung. Atun yang semula jadi istri dibanggakan. Bedegab. Di kala gotong-royong semua lakki-laki berbaur. Apalagi Atun. Lama-lama Buter Talib jarang mengawasi gotong-royong. Sehingga setiap mendengar bunyi cer cer cer dari canang yang dipukul dan diiringi suara pecah Inyik Lunak. Yaitu bergotong-royong massal dan ronda malam di kecamatan. melainkan karena istrinya cantik. Karena pada paro bahagian canang itu sudah pecah. Pada waktu penduduk diperintah gotong-rotong. Bahkan Otang kian mual pada Inyik Lunak setelah tahu. Wajah keruh kedua perempuan itu setiap Otang pulang dari bergotong-royong tidaklah difahami Otang. Sipir Penjara. Sebaliknya jika Inyik Lunak sudah lebih dulu nongkrong. dia mulai membauni kasus yang sebenarnya. Maka tiba pulalah masanya Otang harus bekerja memegang pacul. dia selalu melengos ke arah lain. Berpacu bunyi pacul pada batu untuk mengeluarkan rumput. lalu Inyik Lunak datang.

Menyesal dia tidak ikut memanggul senjata melawan APRI. Dan semenjak itu seisi kampung tidak ada yang tahu kemana dan dimana Otang. Tapi nyalinya hilang demi melihat semua orang berbaju hijau. memperkosa istri-istri orang. pasti dia akan menembak APRI semacam Buter Talib itu." "Itu dunia tentera. "Kalaucara APRI datang membebaskan daerah ini menjunjung rasa kemanusiaan berbangsa." Tak ada gunanya melawan orang yang sedang menang perang. Tapi karena tentera bersikap ganas.. Otang. bahwa dia bukan laki-laki yang jantan."Otang. sejak dari sekolah sampai ke Florida sana. Karena PRRI tidak akan menyerah kepada musuhnya yang ganas. seperti Buter Talib lebih-lebih. Risiko buruk bagi yang kalah perang. lari ke pangkalnya. Karena dia tidak pernah belajar jadi jantan. *** . merampok. atau sebagai aku sendiri ketika bencana itu tiba. Dua hal yang tidak mampu dia sesali. Kalau dia jadi tentera PRRI.. cobalah kau tempatkan dirimu sebagai si Atun. Diceritakannya perilaku tentera pada penduduk. Maka ketika Bupati Kasdut. Dia hanya mendengar dan menerima apa kata guru dan kata buku. Tapi membawa isteri dan anaknya pulang kampung karena yakin PRRI akan menang perangnya. Kedua karena Atun begitu cantiknya. Dia marah pada Buter Talib. datang inspeksi ke kecamatan.. Otang tidak terhibur. Dan ketika Bupati Kasdut kembali ke kota kabupaten. adalah salah perhitungan yang paling disesalinya. walaupun bertahun-tahun di hutan rimba. Setumpuk sesal menghimpit dirinya. Otang minta ikut. Juga benci dan jijik." kata Kapten Kasdut yang Bupati itu. supaya Si Talib yang berkuasa itu kau hajar?" kata ibu mertuanya setelah gelegak darah Otang mulai mereda. Otang menemuinya. Pertama dia pulang kampung karena alasan solider pada Pak Natsir. Tentera orang awak pun sama ganasnya ketika melakukan operasi militer ke daerah lain.. Otang lalu ingat slogan masa itu: "Jika takut pada bedil. perang akan lama. Apa mungkin kami melawan? Apa mestinya kami mengadu padamu. Marah sekali." "Menegakkan kebijaksanaan dengan cara yang ganas itu apa APRI dapat menjadi pahlawan yang dicintai rakyat?" "Sampai saat ini kebijaksanaan komando tidak akan berobah. "Dengan bangsa sendiri mesti berlaku ganas?" "Itu kebijaksanaan komando agar rakyat di daerah mana pun tidak lagi berkhayal untuk berontak. Dia sadar." kata Bupati Kasdut yang kapten itu. teman sekolahnya dulu yang kapten pangkat militernya.. tiga bulan saja PRRI sudah habis.

gelar itu disebut gadang menyimpang. Tapi dia tidak bergabung dengan Si Dali di ruang tengah. Mungkin dia tidak suka ketemu Si Dali. bukan?" Sejak berangkat dari kampung. Tidak lazim menurut adat." kata Kasdut selagi Si Dali merenung. Dia di ruang belakang dengan ibu mertua Kasdut yang berusia hampir delapan puluh tahun. Disepakati oleh seluruh kaum di kampung dan dirantau lebih dulu. Otang mengerjakan apa saja yang bisa dilakukannya di rumah itu. karena mau menghindar dari luka lama masa perang PRRI. Urusan kaum itulah itu. Datuk Raja Kuasa gelarnya. Di rumah Kasdut yang sudah pensiun dengan pangkat kolonel. Luka karena Buter Talib meniduri Atun. Dia pun tidak. Sekali keluar dari isolasi. "Dia sudah jadi penghulu sekarang. Terutama melihat orang-orang berbaju hijau seragam yang menggandeng perempuan. Hampir setiap hari dia berkunjung dari satu rumah ke rumah lain. Meski oleh kerabat Atun. Model Haji Agus Salim." lanjutnya kemudian. hampir berterusan dia jarang di rumah di siang hari. Untuk membunuh sepi dia membaca buku-buku agama. Terutama oleh orangorang tua yang telah kehilangan kesibukan. yang nampak oleh matanya tidak lain dari orang-orang seperti Buter Talib yang menggandeng Atun. Dugaan Si Dali jadi miring. Membersih-bersih. Apa dia masih dendam setelah Buter Talib dan teman-temannya membayar dosa-dosanya setelah pemberontakan komunis dikalahkan? "Dia sudah dua kali ke Mekkah. Dari siapa lagi. Dipilih dan ditabalkan oleh kaumnya yang merantau di sini. Nyatanya kota itu lebih menaburkan racun masa lalunya. Datuk Rajo Di Koto nama gelarnya. Dia diterima dengan tangan dan hati terbuka. Gelar yang pantas bagi seorang kolonel yang pernah jadi Bupati. menurut Nawar. Akhirnya dia keluar juga dari persembunyiannya karena harus ikut menghadiri pemakaman seorang kemenakannya. karena buku-buku itu tidak bicara tentang konflik yang melukai. Tenang. yang semuanya adalah dunsanak atau orang kampung seasal. Katanya lagi seolah-olah tidak begitu penting: "Ibu mertuaku membawanya jadi muhrim.Dua puluh lima tahun kemudian. Kalau pun dia keluar rumah. Terlihat alim. Si Dali ketemu Otang di Jakarta. Duitnya tentu saja dari aku. membenahi kerusakan kecil." kata Kasdut yang ketika sebelum pensiun telah ditabalkan pula jadi Datuk oleh kaumnya di kampung. Si Dali panasaran kenapa Otang lebih suka berbaur dengan nenek itu daripada dengan sahabat lama yang dua puluh lima tahun tidak ketemu. Ada rasa mual mau muntah dalam perutnya. aku dapat gelar yang sah menurut adat. Si Dali tidak lupa padanya. Akhirnya dia mengurung diri di rumah iparnya tempat dia menumpang. Koran atau majalah dihindarinya. Gaya bicaranya lembut. Isi buku itu pun tidak untuk direnungkan. Kata orang. Dia memelihara jenggot. Otang dapat mengisi tuntutan kebutuhan . Karena dia tidak suka membebankan pikirannya. Sudah jauh beda gaya Otang. yang memerlukan sahabat dan kenalan tempat berkisah menghabiskan waktu. keluar dari daerah peperangan. Kota itu diharapkannya mampu melupakan masa lalu. Di kepalanya bertengger kopiah beluderu hitam yang apik letaknya. "Kalau aku. tidak lebih jauh dari pagar halaman. Tapi itu cerita lama. Putih warnanya. Kemudian menyerahkan Atun kepada Buter pengganti dan penggantinya lagi. Kalau tidak membaca. Lunak. Otang ke Jakarta membawa segala luka dan perih di hati.

Lama-lama Otang mendapat jodoh juga. Mereka bingung karena Otang tidak lagi datang. Namun dia mengangguk juga. Jangan hanya dikasi makan atau minum setiap berkunjung. Berita itu dia pungut dari orang-orang yang ditandanginya. Pada perempuan tua yang suka bicara agama. Namun Otang adalah seorang laki-laki yang ingin istrinya berarti. Lamalama Otang seperti sosok yang dirindukan. Terpandang tinggi melampau Atun yang secantik bintang film itu. sejak itu Otang mendapat biaya taksi. Atau kisah Zulaika yang tergila-gila pada Nabi Yusuf. Mestinya dia dibayar pada setiap kunjungan ke rumah-rumah itu. Lama kemudian baru dia paham setelah berdiskusi dengan istrinya. Otang tidak perlu memberi belanja pada istrinya. Laki-laki lebih menyukai berita situasi di kampung atau reputasi orang-orang sekampung mereka. Meski menurut kata mertuanya ketika melamarnya. Padahal dia tetap memakai kenderaan umum. Yakni oleh karena ada kesibukan baru. Biasanya dia memanggil Otang menurut gaya lama: Engku Otang. Waktunya sehari-hari lebih banyak habis mencari kemungkinan mendapat pekerjaan yang sesuai dan pantas. Semua orang-orang tua yang dikunjunginya secara rutin itu pun bingung. lalu terdampar dekat istana Firaun. Karena itu dia perlu sumber nafkah. Bagaimanapun suatu rumahtangga memerlukan biaya. Alasannya Otang sederhana saja." Tapi bagaimana caranya minta bayaran kepada kenalan dan orang-orang sekampungnya itu? Rikuh rasanya. Pagi dia sudah keluar rumah. Maklum dia sudah beristri dan bertanggung-jawab kepada rumahtangganya." kata mereka pada umumnya. Menurutnya berkunjung ke rumah-rumah orang itu bukan suatu profesi yang bersifat komersial seperti dokter. Lama-lama jadilah Otang sebagai sumber berita otentik. Engku. Paham?" Sebenarnya Otang tidak paham. "Percuma saja Uda belajar di Amerika dulu. menjelang malam baru dia pulang. Pekerjaan yang menghasilkan uang. Lama-lama dia tahu betul apa yang diperlukan mereka. apa yang Engku lakukan. Kadang-kadang dia katakan betapa sulitnya dia dapat bus atau oplet. Pekerjaan apa yang dapat dilakukannya dalam umur yang sudah separo baya itu? Bekerja di kantor? Kantor apa yang mau menerimanya. sebetulnya sama dengan yang aku lakukan sebagai dokter mengunjungi pasyen. baik hari maupun jamnya. Kemudian ada seorang dokter tua yang tidak lagi praktek karena usia. Yang pegawai suka pada berita kenaikan pangkat orang-orang dikenal mereka. Otang tidak mencari berita-berita itu. Otang tahu sekali kisah yang mereka sukai. Tentu saja dia disambut dengan rasa cemas dan sedikit omelan manja. Berdagang? Dagang apa? Apa dia bisa? Modalnya mana? Otang bingung. Nah.orang-orang seperti itu." Sejak itu kunjungan-kunjungan rutin ke rumah-rumah mereka itu dia kacaukan jadwalnya. Namun istrinya lagi yang memberi gagasan. Sama dengan kerinduan orang pada loper koran. Dia pun tahu berita yang disukai oleh masing-masing mereka dan masing-masing golongan. "Kenapa tidak pakai taksi saja. Dokter itu berkata: "Engku Otang. . Perempuan-perempuan menyukai berita sekitar perjodohan dan kematian orang-orang seasal di kampung maupun dirantau. Lalu ketika akan pergi diselipkan selembar uang ke sakunya diiringi ucapan: "Sekedar sewa oplet. Seorang janda dari salah satu keluarga yang secara rutin dia kunjungi. Misalnya kisah Nabi Musa masa kecil yang dihanyutkan ibunya di Sungai Nil.

Ada Latinnya. Lama juga Si Dali meremas lembut lengan Otang yang tidak dipasangi alat infus. Ada nama profesor yang top. Tentu saja ada rupiah. Uni. Sekali dua bulan untuk golongan lain. Pembawa berita suka dan duka keliling kampung sambil memukul canang yang khas bunyinya karena telah pecah sebagian. Taklah lupa pula dia membacakan sebagian isinya. Suara pelan pelayat yang duduk di sice terdengar nyata ke telinga Si Dali. Ada tulisan Arabnya. Lama dia menatap Si Dali dengan pandangan yang sayu. Dia coba tetap tersenyum untuk meyakinkan Otang bahwa sakitnya tidak gawat. Oleh karena perantau seasal kampungnya banyak di Jakarta. Ada real. Otang kecipratan rezeki yang bernama zakat banyak. Adakalanya dibawanya buku agama untuk perempuan-perempuan itu." kata yang seorang." "Tapi Inyik Lunak dengan canangnya cuma menyampaikan berita buruk saja. Ada dollar." Lumayan banyak. Berulang-ulang membacanya. Bahkan yen. Si Dali membacai kartu nama itu. Di rumah sakit dia dirawat di bangsal. banyak karangan bunga pada berjajar di gang arah kamar Otang dirawat. Hampir sebanyak ONH Plus. rata-rata yang dapat dikunjunginya tiga empat rumah dalam sehari. Tentu saja ketika akan pulang. staf ahli menteri dan juga nama Kasdut. Waktu Si Dali melayat. Seperti banyak yang akan dikatakannya.Atau kisah kesetiaan Khadijah pada Nabi Muhammad dan sebaliknya. pengusaha klas kakap. Kalau ada kasus yang aktual. Otang tak lupa mengkajinya dengan menyitir Al-Quran atau Hadist Nabi. . Takkan ada penggantinya kalau beliau tak kunjung sembuh. Kartu nama pada karangan bunga di gang itu pun dia baca. Pada setiapnya ada kartu nama. perempuan-perempuan itu mengganti dengan berlipat ganda harganya. Sampai Otang memicingkan mata seperti mau tidur. Namun dia tidak menampakkan betapa perasaannya. Pada hari seperti menjelang Idul Fitri atau setiap pedagang atau pengusaha selesai tutup buku tahunan. "Beliau seperti perangkat komunikaai hidup. "Buku ini bagus. Otang membuka matanya ketika Si Dali memanggil namanya dekat ke telinganya. Tak obahnya seperti seorang dai yang handal. pejabat tinggi. "Tak obahnya seperti Inyik Lunak di kampung kita." kata Otang. Karena ingin tahu. Dan semua dengan iringan basa-basi: "Sekedar pembeli korma. Oleh orang-orang kaya seperti itulah Otang sampai bisa dua kali ke Mekkah. *** Otang jatuh sakit. Semua orang memberinya uang. Di kamarnya yang luas pun puluhan keranjang hias buah-buahan. kata dokter. Trenyuh juga hati Si Dali. banyak kenalannya yang menjamin biayanya. di samping memberi biaya taksi." ulas yang lainnya lagi. Kena stroke dan komplikasi lainnya. Masingmasing dikunjunginya sekali sebulan untuk orang-orang kaya atau pejabat. Mungkin juga ke telinga Otang. kian dekat kita kepada redha-Nya." kata yang lainnya lagi. Setelah semalam dia dipindahkan ke ruang VIP Karena ada . Tujuh hari dalam seminggu. yang dibelinya di kaki lima simpang Kramat. Sekali dia pergi bersama istrinya. "Engku Datuk ini manusia langka.

baik karena pendidikan dan pergaulan. Masa lalu ketika perang berkancah di kampung halamannya. apalagi menyamakan dirinya. bahwa tentera yang pendek-pendek dengan baju berwarna oker seperti warna tanah yang kelihatan kumal dan tidak rapi pula. Apa Otang merasa tersinggung karena mendengar katakata salah seorang pelayat. Maka mentalnya Marah Ahmad tidak siap menghadapi perobahan yang akan terjadi. Semua pelayat disuruh keluar. Itu malah lebih baik. kekuasaannya tidak tersentuh.Tiba-tiba Si Dali merasakan getaran kuat pada lengan Otang yang dipegangnya. Sebagai pegawai negeri yang telah bertahun-tahun mengabdi kepada sistem hukum berdasar undang-undang yang berlaku. maupun karena pangkatnya sebagai pegawai pribumi yang tinggi di Balai Kota. Dari bacaan dia tahu kerajaan Jepang dikuasai oleh militer yang fasis. setelah menikah dia mendapat gelar warisan seperti ayahnya juga. Marah. Bahkan hampir tidak percaya. Demikian juga kaki Otang seperti hendak menerjang-nerjang. namun dia mengerti kalau seluruh penduduk mengelu-elukan Jepang. Si Dali duduk pada kursi fiber. Mereka menanti di ruang tunggu khusus pelayat dengan perasaan masing-masing. Artinya." kata Si Dali seperti berteriak. hukum negara tidak berlaku terhadap mereka. Memandang dengan rasa cemas. apakah dia akan diterima terus bekerja oleh Jepang itu atau tidak. Dan semua orang serta merta berdiri di sekiling ranjang Otang. Maka nama lengkapnya menjadi Marah Ahmad. Ketika ukuran dan nilai kekhianatan tidak lagi jelas. Risau yang berat. apakah dia mampu? Dia yakin. yang dipandang sebagai sang pembebas . dia menjadi golongan angku-angku yang dihormati. Dia tidak tahu. Ketika istri dan mertuanya sama mengkhianatinya. Dia teringat ucapan Chatib Jarin: "Jepang yang seperti monyet ini. Baik karena darah turunan. tidak. Kayutanam. Kalau dimestikan bekerja terus. yah. Tak lama kemudian dokter tiba. Tapi mengapa Belanda bisa sampai ratusan tahun menjajah kita?" Meski dia berduka oleh kehilangan atasannya yang Belanda. halal bagi mereka berbuat apa saja terhadap rakyat. Pikirannya tertumpah pada kondisi Otang yang tibatiba gawat. Bingung karena tidak tahu mau melakukan apa. yang memerintah secara totaliter. Ketika tahu Belanda akan kalah perangnya melawan Jepang. Artinya. Pikirannya menjalan kemana-mana dalam mencari sebab-sebab Otang yang secara tiba-tiba gawat itu. Namun perasaan Marah Ahmad tercabik-cabik ketika menghadapi peristiwa yang terjadi pada awal kedatangan tentera Jepang itu. tak apalah. kerisauan hati menimpanya. yang menyamakannya dengan Inyik Lunak di tukang canang dengan canangnya yang pecah? Si Dali yakin menyebut nama Inyik Lunak dekat Otang. Ketika negara memandangnya sebagai pengkhianat bangsa. "Panggil dokter. Kalau tidak. Pada mulanya dia heran. gamang juga dia menghadapi pemerintahan militer yang fasis itu. membangkitkan luka masa lalunya. 5 Desember 1997 Marah Yang Marasai Karena berdarah turunan bangsawan asal Padang. bisa mengalahkan militer Belanda yang perwiranya pada mentereng. Artinya. kok bisa mengalahkan Belanda tanpa perang.

Anak-anak kecil saja yang suka berteriak "Banzai Nippon" bila mereka berpapasan. Ada jarak yang terentang lebar pada mereka. Serdadu dan perwira Jepang yang ketemu di jalan. di luar itu jembatan penghubungnya putus. Sehingga para pegawai yang ikut ramai-ramai di pintu kantor menyaksikan orang-orang yang habis merampok." Maka situasi memang aman. Mungkin karena rakyat tidak pernah merasa bersahabat dengan Belanda yang penguasa itu. "Biadab. "Di zaman Nabi Muhammad. Militer Jepang betul-betul tidak diperlukan. Anak-anak pun ikut merampoki barang-barang yang barangkali mereka tidak tahu gunanya. karena Jepang berperang dengan mereka? Apa hubungannya?" omelannya kepada Chatib Jarin ketika mereka ketemu pula. Hubungan dia dengan Belanda hanya di kantor. Itu dapat dilihat Marah Ahmad dari jendela kantornya. *** Hari berikutnya. kita mampu mengurus negeri kita sendiri tanpa mereka. .yang menjanjikan kehidupan baru." "Kafir disana. Ada yang memboyong peralatan makan atau dapur atau rumah tangga. Ketika berita itu sampai ke telinga Marah Ahamd. Kok jadi begini bangsa kita? Mana agamanya yang mulia? Mana adatnya yang tinggi. Bahkan Marah Ahmad sendiri pun merasa ada jarak antara dia yang pegawai dengan Belanda yang meski begok sekalipun. alasan murahan." kata Chatib Jarin. Penduduk desa dari tepi kota pun datang. diperlakukan rakyat sebagai tamu asing biasa saja. Panglima militer sang pembebas itu minta kepada pemimpin masyarakat agar menjaga ketertiban dan keamanan kota dan desa." "Ah. maupun malam. Kimin. Chatib." sungut Marah Ahmad. pada menoleh kepadanya. Yang lewat dari arah kanan menggotong macammacam barang." katanya kepada salah seorang pegawai yang berada di dekatnya. Tapi setelah dua minggu dalam keadaan aman. dia pikir bahwa perang Cina lawan Jepang di Tiongkok telah menular ke kota Padang. "Karena Cina itu kafir. Biadab semua." kata Marah Ahmad dengan suara yang menggema ke seluruh ruang kantornya. hingar-bingar terjadi di Kampung Cina. Disini Cina. "Hai. Dan kata pemimpin itu kepada penduduk: "Kasi lihat pada Jepang itu. Engku. sama-sama Arab dengan muslim. Kok tiba-tiba ada perampokan? Kemana Komite Keamanan Rakyat? Kenapa bangsa ini tiba-tiba jadi biadab?" "Apa salah Cina itu? Oo. Ada yang memikul segulung kain. Engku. Baik siang. Tidak sama dengan kita. Akan tetapi ketika dia tahu bahwa rakyat yang merampoki toko-toko Cina. lebih banyak toko Cina yang dijarahi. Marah Ahmad bercarut-marut: "Kemarinkemarin aman. umatnya berbaik-baik dengan orang kafir. Orang yang lewat dari arah kiri bertangan kosong. Ada yang memikul beberapa ban speda atau suku cadangnya.

Tapi negeri ini tidak aman. Orang Indonesia berdasi itu yang menerjemahkannya. karena tidak tahu cara menyambut yang pantas. Sambil menatap loteng dia berpikir. Kemudian Marah Ahmad melihat selebaran terpasang di dinding ruang depan kantornya. Marah Ahmad menyongsong tamunya dengan gayanya yang kikuk. Jepang itu minta agar penduduk menjaga keamanan. Terhenti. Dengan lunglai Marah Ahmad kembali ke kursinya. bahwa mulai hari itu kaum militer . pun ikut. Kemudian orang itu pergi ke jalan lain. yang berpakaian hampir sama rapinya. Mulai hari ini militer yang memerintah. Pemerintah macam apa ini? Pemerintah bajak laut?" kata Marah Ahmad dengan emosi yang meluap-luap. Duduk terperengah." Marah Ahmad memaki dalam hatinya sehingga seluruh tubuhnya gementar karena menahan marah. Serdadu itu melihat saja. Mulanya. Toko Cina di sana disuruh rampok juga. Perlahan-lahan muncul gambaran situasi dalam pikirannya. Dimana-mana ada kekacauan. Sederetan toko Cina di jalan itu dirampoki. ada bangsa kita yang jadi kaki-tangan Jepang. Lalu membuang-buang barang ke luar. yang wajahnya hampirhampir dikenalnya. hari berikutnya mereka menembaki penjarah. Lalu menembak dua orang perampok. Dia yang mendobrak pintu toko. Setelah itu dia sandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Seorang Indonesia yang mengenakan jas dan dasi. bahwa Kempetai tibatiba datang. Engku. Itu faktanya."Ndak tahulah. Lalu mereka suruh rakyat menjarah. Lalu dia masuk ke kamar kerjanya. Diiringi dua orang serdadu. Rangkaian katakatanya menurut pemahaman Marah Ahmad. namun dia tidak faham pada maksud sesungguhnya dari perwira itu. dengan kerah putih yang menyumbul keluar tengkuk jasnya. Perwira ini jadi Walikota. lewat tengah hari. Pegawai Balai Kota itu serentak berlompatan ke arah pintu. Amaaan. Lalu. ialah: "Nippon-Indonesia sama-sama. "Ada apa?" tanyanya. Marah Ahmad mendapat cerita." "Kamu licik. Jepang itu yang mulai." kata Kimin. Engku. Diiringi seorang ajudan. Dan pedang samurai tergantung pada pinggang kiri. Lalu perwira itu bicara dalam bahasanya dengan gaya yang terputus-putus. Kemudian. Tapi kini mereka suruh orang mengacau. Tiba-tiba. Engku. Tapi tidak satupun alasan perampokan itu yang dapat diterima akalnya. Dari seorang pegawai yang baru datang dari luar kantor. Kemudian dilanjutkannya: "Kata orang. ketika seorang perwira Jepang yang berpakaian rapi. dan berpikir keras." "Mereka juga merampok?" "Kata orang. Lama juga dia begitu. Nippon-Indonesia sama-sama. Marah Ahamd berhenti berpikir. Tapi mengapa? Pertanyaan itu berulang-ulang dalam pikirannya. Duduk lunglai di kursi. Isinya maklumat menyatakan. dia suruh rakyat menjarah. dari arah jalan raya terdengar hiruk-pikuk. Meski Marah Ahmad mengerti. Mengenakan sepatu lars yang hampir sampai ke lutut. Pada lengan kanannya pakai ban kain berhuruf F. Meski lesu dia ikut ke pintu." kata pegawai itu. Bangsa Indonesia tidak bisa mengurus negerinya sendiri. Engku. "Kemarin-kemarin mereka minta orang menjaga keamanan.

Tapi pada hampir seluruh tubuhnya ada bekas memar. Maka hati Marah Ahmad tinggal seperempat. agar penduduk tetap terpecah-belah karena perbedaan ras. Bukan karena perseteruan kedua bangsa itu di Tiongkok. Ketika dia pulang. Kalau mereka mau berkuasa mengapa harus dengan taktik dan cara yang kotor itu. Mereka tidak suka negeri ini diurus oleh rakyat menurut cara rakyat. ketika seluruh pegawai dikumpulkan di lapangan Balai Kota untuk mengikuti upacara menaikkan bendera Hinomaru. Karena waktu membungkuk ke arah bendera itu. dia tidak membungkuk. mengapa toko-toko Cina dijadikan sasaran penjarahan. seorang pegawai tua yang buntal tubuhnya. Fujiwara. ialah: "Nippon-Indonesia samasama. Soalnya. Limabelas hari setelah ditahan.mengambil alih pimpinan pemerintah. Baru saja dia lewat ambang pintu. hatinya yang setengah itu tidak bersisa lagi." --------------------------------Catatan: * Inisial F berasal dari nama Kepala Intel Militer Jepang. dia dibebaskan oleh usaha sepupunya yang beristeri Jepang. dia dipanggil lagi. Seluruh kantor dan toko supaya dibuka seperti biasa. Melainkan cara yang gampang untuk memancing sentimen rakyat. Satu-satunya kalimat yang diucapkannya bebarapa hari setelah di rumah. mereka buat provokasi supaya situasi kacau. Menurut cerita anak tertua Marah Ahmad kepada Si Dali bertahun-tahun kemudian. karena perbedaan suku dan perbedaan agama. digampar tentera kepalanya. Kayutanam 24 Juni 1998 . Waktu di jalan pulang. Kemudian dia disuruh keluar. dia hanya menekurkan kepalanya saja. Militer ingin menguasai dan berkuasa atas semua yang ada di bumi ini. selebaran itu bertebaran pada tembok-tembok pagar rumah penduduk. Jepang itu berteriak-teriak. Marah Ahmad tidak bisa menerima taktik dan cara militer demikian. ** Polisi Militer Jepang. dia datang dengan setengah hati. Lalu dia membungkuk. Besoknya dia tidak mau masuk kantor lagi. Rakyat toh tidak berani melawan militer yang bersenjata. Marah Amad tahu. Nipppn-Indonesia sama-sama. Lalu ketika Walikota yang tentera itu memanggilnya menghadap. Oleh karena negeri bisa aman oleh rakyat sendiri. Kekacauan itu dijadikan dalih untuk mengambil kekuasaan ke dalam tangan-nya. Dan ibu jari kakinya dibalut perban. Meski Marah Ahmad tidak mengerti bahasa Jepang sepotongpun. Hari pertama Marah Ahmad masuk kantor. bahwa dia disuruh membungkuk. Tapi mengapa kekacauan itu diarahkan kepada Cina? Berhari-hari kemudian dia baru sadar. Kini Marah Ahmad baru tahu sandiwara model militer itu. Rakyat dilarang mengibarkan bendera Merah Putih. sepuluh hari setelah tidak masuk kantor. Sentimen yang ditumbuhkan dan dipelihara oleh pemerintahan kolonial selama ini. Dia hanya mengangguk saja seperti yang biasa dilakukannya bila menghadap Walikota yang Belanda. ayahnya dijempur Kempetai. Persis saat itulah sisa hatinya habis. namun dia tahu dia dimaki-maki. karena kukunya dicabut Kempetai waktu disiksa dalam tahanan.

dia merasa gila kalau tidak berjumpa dengan laki-laki itu sekali sehari. Apa saja yang dilakukan suaminya.” Tapi cepat-cepat dia terkejut oleh pikirannya itu. aku bersedia juga masuk penjara. Memang demikianlah laki-laki yang diangankannya. selalu taj sedap dalam pandangannya. Dicobanya menjinakkan lamunannya dengan pikiran yang baik-baik tentang suaminya. Tapi ada sesuatu yang tidak dipahaminy. Tapi bibinya sendiri dihukum juga dalam penjara selama setahun. Duduknya.” komentarnya dalam hatinya.” kata hatinya pula. Padahal sebelum mereka kawin.” Dilayangkan matanya kepada laki-laki itu." pikir perempuan itu. Dia ambil pisau cukur. "Tahu ia apa yang kuingat sekarang. Kemudian dia ingat lagi. bila aku kau ajak lagi?" tanyanya tiba-tiba tak terencana. Di antara laki-laki yang main gila itu.” reaksinya sendiri. “Hiii. "Kenapa begitu. Dia sendiri jadi terkejut oleh suaranya yang ketus. dipotongnya kemaluan suaminya yang sedang tidur.Menanti Kelahiran Pada bulan Maret itu malam lambat datangnya. ada juga yang sampai mengambil istri muda. Sebetulnya ia tak sadar akan pertanyaan yang diucapkannya. “Tentu saja. “Kalau suamiku ini main gila pula nanti. Sinar matahari sore melantuni bayangan hitam panjang-panjang arah ke timur. betapa bibinya melepaskan sakit hati karena dimadu diam-diam. seperti yang ia dengar dari kawan-kawannya." Lalu dia ingat pada beberapa kejadian di sekitarnya. Tapi kini dia mengalai lena pada kursi rotannya. Tadinya dia menjahit. "Ris. Tapi ditunggunya juga apa kata laki-laki itu. Entah berapa koran dan majalah dilangganinya. Mereka sama membisu oleh keasyikan masing-masing. Menyesal dia telah mengangankan niat yang sampai sekian jauhnya. Mengapa ia tak menanyakan apa yang kujahit? Memangnya laki-laki selamanya tidak peduli pada istrinya yang dalam keadaan seperti aku ini. Sekarang dia terlalu banyak diam. ya?" tanyanya dalam hati. “Dia dulu peramah. “Memang hukuman yang pantas bagi laki-laki hidung belang. sebagaimana biasa dilakukannya bila sore indah. "Selamanya ia dengan bacaannya. Laki-laki itu banyak main gila dengan perempuan lain di kala istrinya sedang mengandung. Matanya tidak memandang pada suaminya. duniannya adalah rumahnya. Tapi laki-laki ini berkeluyuran dengan bacaannya sendiri. Dia merasa perasaannya begitu aneh. Seorang perempuan muda terlindung oleh palem di pot dari sinar yang cerah itu. Dari tadi dia duduk-duduk bersama suaminya di teras. "Apa ia sudah bosan padaku? Dan cintanya beralih ke koran?" pikirnya lagi. Dia senang mendapat suami yang tidak suka keluyuran. masih juga dia tidak mengerti: kenapa di saat-saat akhir ini dia menjadi begitu benci kepada suaminya itu. melainkan tetap menatap bulat ke daun palem yang bergoyang-goyang . Dulu laki-laki itu jarang berada di rumah. Tapi semenjak mereka kawin. tekunnya masuh juga seperti tadi dengan korannya. beberapa tahun yang lalu. Sedang suaminya membaca koran. Belum lagi buku-buku.

"Tak baik marah-marah." Dan dia ingat lagi kepada suaininya. Aku jawab begini. katamu? Kalau dulu. ada juga kau memikirkannya? Ada juga kau ingat padanya." Laki-laki itu meletakkan koran di pangkuannya. baik. Katakanlah begitu. kini dia ada lagi di sini. "Sudah bosan kau padaku. "Ris. Len. Kau sudah bosan. Seekor laba-laba di tengah jaringnya ikut bergoyanggoyang. Tapi laki-laki itu seperti tak peduli. Dan matanya tercengang melihat istrinya." kata perempuan itu sambil menegakkan duduknya dan memandang suaminya dengan mata yang menantang. Pasti. "Setiap hari aku bersihkan. Kau selamanya memakai alasan itu-itu saja. "Len." serunya setengah berteriak. Tapi ada kau pernah menanyakan apa-apa yang diperlukan buat menyambut kedatangannya? Tidak. "Bagaimana kita bisa pergi. Kau selamanya tidak peduli. Membaca korannya. bila aku kau ajak lagi?" katanya dengan napas yang sesak. Dia benar-benar mau bertengkar sekarang. Kenapa? Karena kau sudah bosan padaku. Kau yang menentukan ke mana kita mau pergi. "Kurang ajar. sedang matanya tidak beralih dari koran di tangannya. Kau tak pernah bertanya. Dia lirik laki-laki itu. Ke mana kau mau pergi." balasnya. "Alaah kau." "Anak kita? Oooo. "Tak kau dengar aku?" teriaknya lagi. Tapi kini sesudah aku begini. kalau yang jaga rumah tidak ada?" kata laki-laki itu kemudian. Dan kini napasnya kian kencang dirasakannya. Tapi laki-laki itu masih juga seperti tadi.segan diembus angin sore itu. "Ke mana? Ke mana. Antarkan saja aku pulang ke rumah orang tuaku. Ingatlah akan anak kita yang dalam kandunganmu itu. Dengan kata-kata tajam dia berkata lagi. kaulah yang selalu mengajak aku." serunya." makinya dalam hati. Dia ingin reaksi keras suaminya. . tanyamu? Kalau itu yang kautanyakan. Dongkol benar dia jadinya. "Aku katakan. "Ya. mengapa kau tak mengajak aku lagi?" Sebenarnya ia ingin bertengkar. Ia memalingkan pandangannya ke korannya lagi." Napasnya jadi tersengal-sengal kini. Len?" "Ke mana aku mau pergi. Tapi laki-laki itu masih asyik juga dengan korannya. "Ke mana?” Hati perempuan itu sakit benar jadinya. "Tidak kau dengar kataku?" "Mm?" laki-laki itu menyahut.

oh. sesudah itu. bodoh." Dua minggu yang lalu.. Dan dalam pada itu dia sadar pada ketajaman kata-katanya yang baru saja berlompatan. Sebenarnya dia mau mengatakan katakata yang lebih tajam lagi dengan menyuruh laki-laki itu supaya kawin lagi. Kalau tidak wajahnya." pikirnya." katanya tegas kepada perempuan yang dari tadi menunggu jawabnya. Perempuan itu menggendong seorang bayi dan membimbing seorang anak laki-laki. Kakinya telanjang. ketika Haris telah berangkat ke kantornya. Dia belai sekitar perutnya yang besar itu. Kain dan bajunya seperti tidak pernah kena air. Sebetulnya aku tak boleh marah-marah begini. Dia merasa lebih baik tidak melayani tamunya itu. Tapi dia tak kuasa bicara banyak sambil meradang-radang. Seperti kera. minta ampun. tentu perangainya. "Tentu waktu hamilnya Aisah suka marah-marah pula. "Nyonya. Mengapa aku begini?" kata hatinya mulai menyesal. Karena tamu yang menjijikkannya itu. tak pernah dijamah sisir. Dan rupa anak itu begitu jelek. Dia lekas merasa letih. "Ah. Tapi bukan yang seperti perempuan itu kotornya. Baru satu tahun. sampai sekarang tak juga didapatnya. Mengapa kau lebih menyalahkan istrimu daripada menyalahkan babu?" "Tidak. Dia ingat ibunya pernah bilang. selalu akan lama tinggal dalam ingatannya. melihatnya pun jangan. Aisah punya anak juga. Aku tidak memerlukan babu. Lalu sesuatu dalam perutnya terasa bergerak-gerak. Nanti anakku jadi buruk rupa seperti . dalam hamil." Lena mau pergi saja cepat-cepat ke dalam rumahnya. Kalau pun pernah dapat. dan pecah-pecah tepi telapaknya. Dan perkataan suaminya itu ada terasa benarnya. tapi selamanya terlambat datangnya. dan tak sopan menurut pandangannya. Dan sesudah itu. jangan suka ingat pada yang jelekjelek. Lena sedang menyapu teras rumahnya seperti biasa dia lakukan. "Kalau anakku seperti anak Aisah nanti. secepat itu pula dia membangkang kata-kata suaminya itu. "Len. Bukan yang punya anak banyak." kata suaminya ketika babu yang terakhir pergi pula.Hingga dadanya turun naik dengan kencangnya. Memang sudah lama sekali dia ingin seorang babu di rumahnya. Tamunya ini sungguh tak menyenangkan. "Kau terlalu cerewet. hanya beberapa hari saja mereka bertahan. Lalu lenyap tak memberi tahu. Cerewet seperti aku." Lena tertegun dan dipandanginya perempuan itu menyelidik. "Kau. dia rela dipenjarakan seperti bibinya dulu. Sepuluh tahun kira-kira umurnya. Tentu saja orang tak tahan lama-lama tinggal di sini. "Aku hamil. Nanti anakmu jadi jelek pula. Len. Karena setiap suaminya mengatakan kecerewetannya berbabu. Dia selamanya merasa jijik pada orang yang kumal. Waktu itu masuklah ke halaman rumahnya seorang perempuan." Lalu dia ingat pula pada Aisah babunya yang baru dua minggu di rumahnya. Memang benar dia memerlukan babu.. kami dengar Nyonya perlu babu. . Tapi perempuan itu sudah menegurnya. Kepala yang tak tertutup itu. Tidak sebanding dengan ibunya. Rasa jijiknya kian meluap. kotor. kalau ia benar-benar sudah bosan.

Tidak.” Selanjutnya hatinya berkata pula. Kurus benar. baik hati. Maka ia kembali ragu-ragu. semuanya berkata begitu. Supaya anakmu juga berhati mulia. biar aku mati saja. Kalau Nyonya tidak kasihan kepadaku. Nyonya. Itu akan mempengaruhi anakku. Anak ini tentu banyak makannya." kata perempuan itu lagi dengan gigihnya meminta belas kasihan. Aku tidak boleh marah-marah. Pucat lagi." Lena berkata dalam hati. Dan kemudian dia ingat lagi pada petuah ibunya: “Orang hamil. Malahan seorang yang mengaku-aku sebagai kerabatnya dari kampung yang datang minta pondokan. aku tidak boleh jijik melihatnya sekarang. Lalu ia berpaling dan hendak masuk ke dalam rumahnya.” Tetapi secepat itu pula dia mendapat pikiran lain. Persis seperti kera. yang dia tidak mau diejek lagi tentang sifatnya yang selalu ragu-ragu itu. penyantun. Nyonya. biar aku tak punya anak. Kasihanilah kami. Setiap orang yang datang meminta uang. “Ah. Dia sudah muak mendengarnya. "Mengapa setiap orang minta dikasihani saja sekarang? Mengapa? Nanti sesudah dikasihani. Dan anak kecil ini. setelah mereka memperoleh apa yang dimintanya. Tengkorak kepalanya begitu besar. bersikap mulia. Lena tertegun dan matanya tertarik melihat anak yang dalam gendongan itu. supaya anakku seperti itu pula kelak sifat-sifatnya." kata perempuan itu beriba-iba. "Nyonya. Kalau anakku tidak hendak seperti bayi ini. Lalu katanya kepada perempuan itu. Aku tidak mampu melihat bayi itu lama-lama.” Namun hatinya digoda terus oleh rasa jijik setiap dia memandang kepada ketiga orang yang masih berdiri di halaman itu. "Kau kira kami punya gudang beras."Nyonya. meminta kerja. tentu akan bikin ribut saja sepanjang malam. “Alangkah baiknya." pikirnya. diam-diam. Kalau anakku seperti itu pula nanti. Apalagi membenci. Dia tidak berayah lagi. Nak. Dia mau menunjukkan kepada suaminya. tidak berayah pula. Nanti tercetak dalam pikiranku. “kalau Haris ada di sini. sedang matanya terbudur keluar di antara kerinyut jangat-nya. Bahwa dia ingin menunjukkan pada suaminya. Sudah mati dibunuh gerombolan. heh?" Maka kini matanya beralih pada anak laki-laki itu. lalu pergi begitu saja. Tidak boleh merasa benci kepada siapa pun. haruslah santun. "Hm. Aku tak sanggup hidup kalau anakku seperti itu. oh.” kata hatinya yang kini mulai tersentuh rasa kasihan. bahwa dia juga bisa bertindak sendiri dengan tepat. kata hatinya pula. Bisalah kami berunding. "Tidak. Semua orang sedang kelaparan saja rupanya. Nyonya. juga membawa lari beberapa potong kain Lena yang bagus-bagus. Tapi Lena tak tergetar lagi hatinya oleh kata kasihan itu. "Kami datang dari jauh. tanpa pamit dan tanpa ucapan terima kasih. lalu mencuri.” pikirnya. aku tidak boleh jijik pada bayi kecil ini. Kami lapar." perempuan itu berkata lagi minta dikasihani. Aku harus ramah-tamah. ketika pergi tanpa pamit. Nyonya. Dan kemudian. Namun begitu . kasihanilah bayi ini.

Ia ingat kepada suaminya. Tentu saja aku harus menunjukkan hati baikku. dan ketika itu Haris sedang memandangnya terheran-heran seperti dulu itu. "Anakku tidak boleh bisu. Dia tersenyum. Dia merasa geli dan juga merasa senang. Alasan tidak ada orang yang menunggui rumahnya. Tibatiba pada mata perempuan itu dilihatnya linangan air mata." Kemudian lamunannya lenyap. Kalau film bagus kita nonton. Dan betapa senang hatinya. supaya anakku tidak bisu pulanantinya. Dan tiba-tiba rasa sesalnya timbul karena mengajukan pertanyaan yang dirasanya bodoh itu. "Anakmu ini siapa namanya?" "Yang besar ini." "Bisu? Kenapa dipanggil Bisu?" "Karena dia memang bisu. sesungguhnya ia kurang bergairah keluar dari rumah. Lalu katanya mencoba memperbaiki keadaan. Tukarlah pakaianmu dulu. Seperti pernah terjadi dulu. Ia menoleh kepada suaminya." kata suaminya. Begitu jijiknya dia pada ketiga orang itu. Meninggalkan rumah pada pembantu saja. Ada pembantu yang menghilang dengan membawa kain-kainnya. Begitu memualkan. kau betul-betul telah siap jadi seorang ibu." kata suaminya. sulit dipercaya. Tapi ketika dia ingat bahwa tadi ia mengumpat suaminya karena tak pernah mengajaknya bepergian. ya.sungguh mati rasanya. Darman. Sekarang hati rahimnya mulai lagi tersentuh. Perasaannya selalu tidak enak bila bersama suaminya. Lebih-lebih keluar bersama suaminya. Kenapa kau diam saja? Tukarlah pakaianmu. pulang dari kantor. "Kenapa suamimu dibunuh gerombolan?" tanyanya lagi dengan dipaksa-paksakan. maka ia bertanya sedikit gugup. hatinya masih . maka dia paksakan berkompromi dengan apa yang dihadapinya. Kalau aku berbuat baik pada anak bisu ini. “Ayolah. Banyak benar sebab dan alasannya. Len. Sejak kehamilannya." Lena ingat lagi kepada anaknya yang bakal lahir. Lena merasa geli melihat betapa takjub suaminya kepadanya. Tapi orang memanggilnya Bisu." Ketika Haris. tentu anakku tidak akan kena bisu kelak. demi kepentingan anak yang sedang dikandungnya dan demi dia tak mau diejek lagi sebagai peragu. alangkah tercengangnya dia melihat perubahan Lena yang telah mampu bertindak sendiri. Lena tercengang seketika karena tak ingat apa hubungannya dengan kata-kata suaminya itu. Nya. itu memang sebab lainnya. Bagaimana nanti kalau sudah serumah? Akhirnya. Akan kupelihara anak bisu ini. "Ke mana kita?" "Ke mana sajalah. suaminya. Sudah lama benar mereka tidak keluar malam bersama-sama. ketika Haris mencium keningnya seraya berkata. ketika ditinggalkan sendiri di rumah. Kini meninggalkan rumah kepada Aisah. akhirnya. " Aku memang sudah duga juga.

Dan ia tak berani memakainya lagi. sesungguhnya merupakan tabiat yang akan diwariskan kepada anaknya. ia terus ragu-ragu untuk bepergian. Mereka memilih berjalan kaki saja. Jadinya jauh lebih aman. Jujur. karena mereka sudah berpisah. Apalagi dengan suaminya. dirasakan Lena sebagai pemandangan yang indah. adalah karena terpaksa. perasaan was-was itu karena kehamilannya juga. seperti mereka juga. becak-becak dengan gemerencingan loncengnya. Dan Aisah bisa dipercaya. meski warnanya memudar karena sinar bulan. apalagi ada bayi pula. yang benderangnya datang dari langit. kelihatan dapat dipercaya. takkan mudah baginya menghilang sambil membawa dua orang anak. meski sedikit bodoh. meski filmnya bagus. karena menenggang hati suaminya yang tadi telah ditempelaknya. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Sedangkan tangannya menyelinap dalam kepitan lengan suaminya. Alangkah indahnya malam seperti itu. Beruntung saja barang emas intannya yang rnasih sedikit itu. Tampaknya Aisah bisa dipercaya. Sedangkan perempuan itu. untuk menghilang dengan mudah. Namun hatinya ditenang-tenangkannya. tidak mempercayai seorang pun di kala mengandung anak mereka yang pertama. Dan lagi. hingga ia menjadi cerewet dan suka marah-marah bila ada suaminya di rumah. mungkin jadi tidak ada jalan-jalan seperti senja sekarang. Kelihatannya sopan. Tapi juga karena supaya Haris tidak menganggapnya sebagai calon ibu yang selalu ragu dan bimbang. Berdasarkan pengalaman. yang tiba-tiba saja merasa senang pada Haris. Restoran yang sering mereka datangi sebelum kawin . Tapi kini. Waktu itu ia benar-benar merasakan Haris adalah suaminya yang ideal. Mereka berjalan lambat-lambat. Semua karcis telah habis terjual. Suatu pengalaman buruk dulu. Cukup ternikmat olehnya. Setelah penat berjalan. Mereka tak jadi menonton. Berpasang-pasangan. Terutama karena tidak akan mudah bagi perempuan yang mempunyai dua orang anak. Karena mereka datang terlambat. seperti yang diharapkannya dulu. barang emas intannya telah lebih banyak. dengan meyakinkan dirinya bahwa Haris tentu maklum pada kondisi diri istrinya.was-was. Ia merasa malu dan menyesal sekali bila dia ingat betapa tajam kata-katanya tadi sore. Padahal selama ini ia begitu benci. Tahu menempatkan diri. Tapi ia pikir pula. Namun demikian. Termasuk pintu kamar dan semua kunci mereka bawa. jika menurut petuah ibunya. Lalu mereka melancong ke tempat-tempat yang tenang. Barang emas intannya terkunci dalam kamarnya yang terkunci. Kalau ia pergi juga akhirnya. Dan semua kunci ada dalam tasnya. Toh. dirasakan Lena. muak. dipakai waktu itu. karena musim todong-todongan sedang berjangkit. suaminya. Kalaulah Haris tidak sebangsa laki-laki yang penyabar. beberapa minggu kemudian diketahui ada barangbarangnya yang hilang dari lemari. kecuali pada tukang catut. Sebab bulan yang sejak senja telah penuh mengambang di sebelah timur. Hanya kunci lemari yang dibawa. Tersimpan dalam tasnya. seperti lampu-lampu pada pasar malam. mereka meninggalkan rumah dengan hati-hati juga. Dan lagi. Mobil-mobil sedan mengkilap dengan desauan lembut bunyi mesinnya. mereka ke restoran. Orang-orang yang lalu-lalang berpakaian apik. disayangkan bila tidak dinikmati. serta sepeda-sepeda itu memeriahkan suasana. rumah ditinggalkan pada kerabatnya. Semua pintu dikunci. Lampu-lampu minyak penjual rokok di tepi jalan.

Yang dia ingat rasa bahagia di samping Haris suammya. bukan main. Buat apa dilihat. pada emas intannya dalam lemari." "Tak mungkin. Kemudian ia melangkah mendekati kerumunan orang-orang yang bergembira itu. kalau dia mandi. Dan anak yang dalam perutnya bagai memberontak dirasakannya. kini sedang ada komplotan penipu. Begini. "Ayolah. Aku jijik. "Hampir setiap hari. Suatu rasa nyeri di perutnya bagai membawa nyawanya terbang. Ditariknya tangan Haris. Dan Lena yang tak biasa bergaul dengan orang-orang seperti itu. bahwa kehamilannyalah yang dibanyoli anak itu. Malah membanyoli bentuk tubuhnya yang telanjang ketika mandi. terasa oleh Lena. Sedangkan tangannya tak kuasa menggapai-gapai suaminya yang kian jauh ke kerumunan orang-orang itu. Dia merasa sangat malu dibanyoli secara kotor demikian. tentang serba kemungkinan yang sedang terjadi selama rumahnya dipercayakan kepada komplotan penipu itu. Tiba-tiba Haris berhenti melangkah dan dipegangnya lengan istrinya seraya memandang ke sekumpulan anak-anak dan tukang-tukang becak bersukaan.dulu. Dia ajak Haris supaya cepat-cepat berlalu. Di saat itu dia tidak ingat pada anak yang dalam kandungannya. Lalu kian dieratkan pegangannya ke tangan suaminya. Dia mau pergi cepat-cepat. Mereka gembira sekali. ialah untuk membangkitkan kenangan indah masa mereka bercinta dulu. Lena merasa seolah-olah bawaan Haris ke tempat itu. Tapi perutnya. bahwa hidup ini memang indah sekali. Mak. . Maka timbullah secara beruntun macam-macam hal dalam pikirannya. Dan di rumahnya. Dia ingat pada harta bendanya yang berharga." kata anak itu sambil menirukan jalan perempuan dalam hamil berat dengan cara yang berlebih-lebihan. Kini benda itu telah lenyap dicuri komplotan penipu itu. Begitu kencang." "Mari kita dekati untuk memastikannya. aku intip dari lubang itu. Aduuh. Dan orang-orang di kelompok itu terkakah lagi. anak yang di rumah kita. Seperti singkong berkubak pahanya. Semuanya tertawa berkakahan." kata Haris sambil menarik istrinya mendekati kelompok yang sedang bersuka ria mendengar banyolan anak laki-laki itu. Tapi tiba-tiba Lena sadar. merasa jijik memandangnya. "Kaulihat anak yang membanyol itu?" "Peduli apa?" "Rasanya anak itu. Dalam antara kenangan pada masa lalu. di bawah sinar bulan. Sehingga ia menjadi lunglai dan jatuh terduduk. dalam gandengan tangan laki-laki yang dicintainya. Tapi hatinya sakit mendengar tertawa kelompok itu." kata Lena. putihnya bukan main. Tapi Haris masih tegak mengamati kelompok itu. Tapi Haris masih tertegak di situ. Anak di rumah kita bisu. bahwa mereka selama ini sudah rertipu mentah-mentah. Dia mau berteriak memanggil suaminya. Anak itu ternyata tidak bisu. Lena sadar. Tiba-tiba pula dirasanya sesuatu memukuli jantungnya.

Dan besoknya.Kemudian ia tak dapat melihat sesuatu yang di depan matanya lagi. Hatinya menjadi sakit dan luluh. Dan suara rintihan itu kedengaran begitu nyata pada telinganya. Lalu dia duduk dari tidurnya sambil berteriakteriak. bahwa dari padanya saja nasihat yang baik memancar. Anaknya itu laki-laki. Suasana dirasakannya mengambang lagi. Jadi persis seperti yang diinginkannya. Tapi kelahiran bayinya itu tidak sempurna bulannya. Karena itu. warna yang sesuai untuk bayi laki-laki. secara samar-samar ia ingat lagi pada harta bendanya di rumah. Perasaan sakit yang begitu perih itu. biar orang lupa dan tak butuh nasihatnya pun. "Tenanglah. Dia terkejut. sebelum ia membuka matanya. satu-satunya cara yang dia punyai untuk mengobati hatinya yang luka. ia mampu memperlihatkan kebesaran jiwanya. Nyonya. Hatinya menjadi kian ciut. Dia merasa saat ajalnya akan sampai. Sikapnya ini menyenangkan hati orang. Lalu dia menangis dan merintih di dalam hatinya. "Anakku! Anakku! Mana anakku?!" Seorang juru rawat segera datang padanya dan sambil merebahkan badannya kembali ia berkata. Cepat-cepat . Namun demikian. Dan memang dia ingin anak laki-laki. Dan napasnya tersengal-sengal. Bahkan ia tidak sadarkan diri. setiap orang tak berani memulai sesuatu sebelum diminta nasihatnya. dengan penuh perhatian ia mendengarkan. mereka itu merasa berdosa sekali. ketika ia terbaring di kelilingi banyak orang yang mengerumuninya. Rasa nyeri kian tak tertahankan lagi. Denyutan jantungnya kian mengencang. Ketika rasa nyeri itu mulai berkurang. secara samar-samar didengarnya reriakan anak yang membanyol tadi. Dan jikalau orang lupa meminta nasihat kepadanya. Sudah pasti habis digondol perempuan penipu itu. seperti pertumbuhan bayi yang lahir normal. Anak Nyonya tidak apa-apa. "Tidak! Dia bukan ibuku! Aku tak kenal padanya! Dia mengajakaku untuk memintaminta!" Teriakan anak itu bagai menusuk-nusuk di dalam tubuhnya yang terbaring di rumput itu. Tapi perut itu tidak gendut lagi. hingga ia tak sadarkan dirinya lagi. Persis seperti warna hijau muda pada pakaian dan perlengkapan bayi yang dijahitnya sendiri. Anaknya telah lahir kemarin." Lena ingat segala-galanya lagi. Nasihat orang tua itu selamanya berharga. Sedang rambut dan kumisnya yang lebat dab telah putih seluruhnya itu. diraba-raba perutnya lebih dulu. Nasihat Nasihat Ketika Hasibaun. Memang selama wajahnya kalihatan sungguh-sungguh. Bayi itu dalam pertumbuhannya juga akan tidak sempurna. Kemudian. anak muda yang menumpang di kamar depan menceritakan kesulitannya. memberikan keyakinan dalam setiap hati yang dilanda kerisauan. diimbanginya dengan berteriak-teriak dan meronta-ronta serta memukul-mukul dadanya. bila setiap orang mengemukakan kesulitannya untuk meminta sekedar nasihat yang berharga.

"Apabila kau betul-betul menurutkan nasihatku. Lebih dulu ia lepaskan punggungnya ke sandaran sofa dengan selelahnya. Kalau tidak diminta. Omong-omong sedikit dan sudah pasti tentang hal-hal yang tidak berarti. dipandangnya beberapa jurus. Ya. anak muda yang menumpang di kamar depan menceritakan kesulitannya demikian hilang akal. Sopan. „Ke mana Abang. tak mungkin bisa jadi. Dan asapnya yang mengepul dari bawah hidung. Dan halus budinya. Dan ketika Hasibuan. tentulah dia gila. "Coba kaubayangkan kembali. "Ini memang sulit. Diisapnya lagi cangklongnya beberapa kali. "Aku sudah tua. Sealanya dipandangnya berat. ke sana aku. "Mari kita mulai dari awal. Dengan penuh kesungguhan dan dengan segala pertimbangan yang sangat masuk akal. Katanya. laki-laki itu bertanya. Pada setiap perkumpulan namanya pastilah tercantum sebagai penasihat. Seorang gadis. Ia pasti sangat pemalu. Tentulah gadis itu gila. menurut timbanganku. orang itu berkata lagi. Sudah banyak pengalaman. tidaklah akan sulit benar. Tentang itu aku takkan silap. Bahkan dari setiap muka seseorang aku dapat membaca segalanya. Mudah benar mengatasinya. „Mau ke mana?‟ Dan gadis itu menjawab dengan tegas.ia memberikan nasihatnya. Apalagi gadis desa pula. Percayalah. "Itulah semua. Coba." kata orang tua itu selanjutnya." Anak muda itu tidak bergerak dari sikapnya semula. sopan. Dan ia mau meyakinkan orang tua itu." Hasibuan jadi lega hatinya." katanya dengan pasti. "Apa kau tak sadar gadis itu gila?" "Tidak sama sekali. Apa yang harus kulalkukan lagi?" Sebagaimana mestinya." Hasibuan merasa. meski ia gelisah benar oleh lambatnya orang tua itu bicara. Seorang gadis desa yang seharusnya pemalu. "Berilah aku nasihat." kata orang tua itu seraya memandang kepada Hasibuan yang duduk di hadapannya. ya seorang gadis. Dan tak satu pun dari perkumpulan itu yang menolak. bahwa ucapan orang tua itu seperti menuduhnya telah berbicara yang bukan-bukan. tahu adat. walau kadang-kadang ia tahu soalnya adalah tetek bengek saja. duduk disamping seorang laki-laki tidak di kenal di atas bis. "Sebenarnya apa yang kau kemukakan itu. Seolah pada asap itu terlukis segala ilham nasihatnya. ia tidak tersenyum melecehkan. Lalu ketika hendak berpisah. Aku sudah mengerti benar segala sifat dan fiil manusia. Tapi sebelum ia selesai menyusun kalimat yang hendak di ucapkannya. ia sendiri akan menawarkan dirinya. Meski di antara perkumpulan itu saling berlawanan asas. orang tua itu tidak lantas meluncurkan nasihatnya yang keramat." ." ujar Hasibuan dengan nada putus asa.‟ Masya Allah.

Percayalah kepadaku." "Tentu saja kau lari terbirit-birit. seperti hendak menaksir isi kepalanya. Diletakkan sendok garpunya. Tidak seperti itu." Orang tua itu begitu kecewanya. Belum banyak pengalaman. Elakkan dia bila bertemu di jalan. Ketika pesuruh kantor memberi tahu. Bagus." "Bagus. jam sembilan tadi. Dan gadis itu. duduk disampingnya di atas bis. dia yang datang menemuiku di kantor. karena orang tua itu telah lama hidup dan banyak pengalaman. ya betapa lucunya itu. yang sampai saat itu tak pula diketahui namanya. Dipandangnya Hasibuan tenang-tenang."Tentu saja kau tidak sadar. sebelum ia menemuinya. Karena kau masih terlalu muda." Hasibuan bertanya pada dirinya sendiri. tak hendak pergi. kepalanya sakit benar. ada tamu untukku. meski bagaimana aku katakan." "Hah? Jadi kau bertemu juga?" "Ya. tiba-tiba gadis itu menyandarkan kepalanya ke bahunya. bukan? Dapat saja kubayangkan. Tapi . Dan. "Nasihatku. Kalau bertemu juga. "Aku antarkan dia kembali ke rumah kenalanku itu. Ketika pagi datang. gadis yan tak hendak berpisah lagi dengan dia itu. Tampak-tampak saja olehku. Bilang. dia kaubawa ke rumah kenalanmu itu. Kemudian. Dan dipeluknya gadis itu. "Tak aku temui dia. "Kalau kemarin. Aku malu sekali. begini: Jauhi dia. orang tua yang sudah banyak pengalaman ini. aku tak kira dia yang datang. Dapatkah ia mengikuti nasihat orang tua itu? Kemarin gadis itu. Hingga semua orang di kantor jadi tahu persoalanku. Setelah omong-omong yang tidak berarti. Gadis itu tentu dengan sia-sia saja menunggumu." "Lalu kemudian?" sela orang tua itu dengan rasa ingin tahunya. Nasihat orang tua itu pasti benar. Dan hati mudanya menyuruh memeluk gadis itu. ya? Ha ha ha. Insya Allah kau pasti selamat. Lalu kemudian…. jangan disahuti tegurannya. lebih dulu ia bicara kepada orang tua itu untuk meminta nasihatnya. Gadis itu pasti gila. Dan pada gadis itu ia sudah berjanji hendak menemuinya besok pagi." kata orang tua itu gembira." "Tapi. Pak. Ketika ia melihatku ia menangis tersedu-sedu. nasihatku dalam hal ini.. jika kau ikuti nasihatku ini. Dunia akhirat. Nasihat orang tua itu diikutinya. bagaimana kecewanya meninggalkan kantormu. itu pantas." "Tidak. Mudah-mudahan. bagaimana kau melarikan diri. Nah. Tak jadi ia menemui gadis itu. Ha ha ha. nasihat orang tua. Ke dalam kakus tentu. ditumpangkannya ke rumah seorang kenalannya di tepi kota. "Bagaimana?" tanya orang tua itu ketika mereka sedang makan siang. Karena hari sudah malam.

"Ada hal-hal yang menyebabkan ia tak mau kembali ke kampungnya. Lalu. Katanya.sekarang. Ketika ia masih kecil benar. Minangkabau. Apalagi keponakannya itu. jika hilang bercari. tahu adat. Seorang gadis. Minangkabau berpagar adat." kata orang tua itu pula. Lama kemudian ia berkata lagi. Tak lekang oleh panas. jika tenggelam di selami. Yang mestinya pemalu. Ia pergi ke Padang. Di sini Minangkabau. Waktu itu. Coba kaukira. Hasibuan. Gadis desa pula. Tahulah kalau dia pergi tanpa setahu ninik mamak-nya. aku bawa kembali ke rumah kenalanku itu." kata anak muda itu dengan suara yang kedengarannya melukiskan bimbang hatinya. tak lapuk oleh hujan. tidak. ini negeri Minangkabau tidak akan mungkin itu terjadi. Dan ninik mamak-nya pastilah takkan membiarkan keponakannya hidup tersia-sia. Lalu ayahnya kawin lagi. Tak tahu aku apa yang harus kuperbuat lagi. Dua hari yang lalu. ada. Dan dia makan lagi. Ada kau suruh dia pulang ke rumah orang tuanya?" "Malah kuberi dia ongkos?" "Tapi dia tidak mau?" "Ya." "Barangkali kepada kenalanmu itu dia ada bercerita?" "Kepada kenalanku itu. Ia mngunyah lambat sekali. Hasibuan. Pak. menurut . Tapi kemudian ia meneruskan menambah keunggulannya. Katanya. aku mendoa-doakan agar aku bisa ketemu Bapak. Tidak terpikirkan olehmu sampai sekian jauh?" "Tidak. sambil merenungrenung juga. Tentu ada sebabnya. dia hanya terus menangis bila di dekatku. Biar aku dapat nasihat Bapak. untukmenarik kasihan hati orang. Atau sekurang-kurangnya berbuat gila-gilaan. Kepada istrinya. dia tak tahu mau ke mana. Sudah lama hidup dan banyak pengalaman. Aku kehilangan akal. Takkan dibiarkan anak gadis yang sebesar itu pergi begitu saja. Dia menangis terus. Tiba di Padang. Uangku tak diterimanya. Ibunya sudah lama mati. Dia sudah bisa pulang ke rumah orang tuanya di desa. Aku sudah tahu betul akan kongkalikong hidup manusia ini. Sedang aku sudah tua. Dia tak mau. "Hm. hilanglah sinar mata kecewa orang tua itu. Tiga tahun yang lalu ayahnya meninggal pula. "Tentu saja kau tak sampai berpikir sejauh itu. di negeri Minangkabau yang beradat. ibu tirinya marah-marah kepadanya. Minangkabau yang adatnya tinggi. Tentunya dia itu gila. "Kau masih muda. hari sudah siang. Dan mengusirnya pergi. seorang gadis. Dia tak bicara apa-apa kepadaku." Mendengar kalimat terakhir itu. supaya jangan bikin rewel di kantor. tapi dia masih punya ninik mamak." "Omong kosong. Biasanya. Sangkamu apa sebabnya?" "Tak dapat aku menyangka apa-apa. dia tak hendak pulang ke rumah orang tuanya. Lalu kembali lagi dia ke sini. Taruhlah dia benar diusir ibu tirinya. Itu cerita licik. dengan perasaan hati yang puas akan keunggulan dirinya." Di pandangnya Hasibuan tenang-tenang. Cerita yang hanya di karangnya saja. tidaklah akan mau berbuat demikian. berkesopanan tinggi. Diambilnya lagi sendoknya.

barangkali dia sedang memasang perangkap untukmu. Meski dia menangis sampai mengeluarkan air mata darah. setelah tiga hari berlalu." "Tidak mungkin sampai demikianbenar. Tambah cepat. Kemudian ketahuan. Karena mungkin jadi sudah hamil. dia lari ke Padang. Dan kepalanya tertekur menyembunyikan muka merahnya. Titik. nasihatnya telah diikuti dengan betul. Tapi bertengkar dengan ibu tiri. secepatnya kauberitahukan kepada polisi. Diminumnya air cepat-cepat. Kegadisannya telah diambil atau diberikannya kepada seorang laki-laki. tak hendak menyinyiri urusan orang lain. Nasihatku dalam hal ini. Tapi cepat kemudian ia seperti terkejut oleh ucapannya sendiri. gadis itu mungkin tidak gadis lagi. jangan kaupeduli. dan punya pekerjaan kantor. gadis Minang lagi. gadis itu telah kembali ke keluarganya. Sebab aku melihat sesuatu yang lebih buruk lagi bakal menimpa kau. Kemudian dia bertemu dengan engkau. Itu paling kurang. Karena selama tiga hari itu. bukan jantan saja jenisnya. Mukamu. Sedang memikatmu supaya kaukawini dia. tambah baik. sudah menunjukkan betapa mudamu. Pak?" "Kemungkinannya banyak. persoalan Hasibuan beres sudah. Siapa tahu. Mengerti kau maksudku? Tidak? Siapa tahu." Ditatapnya lagi wajah anak muda itu." katra Hasibuan mengemukakan pendapatnya. "Seorang gadis desa yang seharusnya pemalu.sangkamu? Apa tidak terpikirkan olehmu. Hasibuan. Ia yakin benar. ucapanmu itu. Orang tua itu menyangka. Serahkan dia pada polisi. hingga ia tersedak. karena memangnya dia telah diusir orang kampungnya?" "Apa kira-kira kemungkinannya lagi. yang mana yang lebih benar dari segala macam kemungkinan itu. begini. di sambung lagi perkataannya. Anak muda itu sendiri. Meski nasi itu sedikit dan telah begitu lumatnya. setelah daging itu diletakkan di piringnya." Mendengar nasihat itu. Setelah ia merasa bahwa kata-katanya cukup terbayang. barangkali dia sedang mengakalimu. dapat aku baca. Dan ia sebagai orang tua. . Di antaranya minta penyelidikan. Tapi laki-laki itu tak hendak mengakuinya. hingga soalnya sudah lewat seperti angin lalu. "Buaya itu. Itu saja takkan silap. Jadi sebelum hal itu terjadi. nasi yang terakhir tak dapat dilulurnya lagi." kata orang tua itu seraya menusuk sepotong daging dengan garpunya. dia hendak mengorek isi kantungmu sampai tandas." "Menyerahkan dia pada polisi?" tanya anak muda itu tercengang. Karena malu. dengan begitu saja menyerahkan dirinya kepada laki-laki yang baru dua jam dikenalnya. gerakmu. Atau sudah masuk rumah sakit gila. Menurut hematku. Mengerti kau." katanya seterusnya. Karena kau tidak kenal orang tuanya. tiada tanda-tanda adanya kesulitan pada air muka Hasibuan. bukan? Dan dia tidak hendak kembali ke orang tuanya itu. "Nah. "Coba bayangkan. "Bukan untuk memenjarakannnya. hendak tahu apakah kata-katanya telah cukup nyata terbayang olehnya. tampaknya tak lagi hendak bicara tentang soal itu. sebabnya dia tak mau kembali itu. Tapi untuk menyerahkan kembali ke keluarganya. terang itu bukan suatu alasan untuk lari. seperti aku membaca koran saja. Sekurang-kurangnya. Menurut sangkanya.

"Semuanya tentu laki-laki. Dan orang tua." kata orang tua itu. Jaksa." "Nah ini terang suatu pemerasan. bukan? Tentu tiga orang sekurang-kurangnya. Karena ia tak pernah menyerahkan gadis itu kepada polisi. Tidak boleh tidak. kau dipihak yang benar." "Lima orang. tapi ia tak berani mengatakannya. Kau dapat mengadukan mereka itu ke polisi dengan tuntutan pemerasan dan ancaman."Keluarganya yang datang ke kantormu tadi itu. Nasihat orang tua. Kau tidak pernah mengganggu gadis itu. nasihatku dalam hal ini. Kenal baik. Aku minta ia menjaga keselamatanmu dari pemerasan dan ancaman itu. Lai-laki itu tentu seperti kingkong besarnya. Meminta belas kasihannya agar membiarkan dia tetap di situ. Apalagi kalau laki-laki itu tidak pernah mengganggu perempuan itu. anak temanku sedari kecil." . Kemudian disandarkannya lagi punggungnya ke kursi dan diisap lagi cangklongnya. gadis itu telah meraung-raung seraya memagut kakinya erat-erat. lalu ditodongkan kepada Hasibuan. Itu hendak dikatakannya kepada orang tua itu. Ada hal-hal yang hendak dikatakannya lagi. Kemudian punggungnya yang tersandar ditariknya lagi. "Kau seorang laki-laki. Senang sajalah." jawab anak muda itu. baru saja ia menyuruh gadis itu pulang ke keluarganya di desa. seperti aku ini. Hasibuan pulang dari kantornya membawa kegugupan. tentu anak muda itu mendapat kesukaran lain yang berhubungan dengan pekerjaan kantor saja. Meski perkaramu ini akan sampai ke pengadilan sekalipun. Dan bersamaan dengan itu hatinya pun jatuh pula kepada gadis itu." Tapi hati anak muda itu tak dapat disenangkannya. Seorang laki-laki tak dapat dipaksa oleh siapapun untuk mengawini seorang perempuan. Tapi alangkah jengkelnya dia. Nah. temanku itu." katanya lagi. bila perlu kutolong kau. Lalu ia berkata lagi meluncurkan nasihatnya: "Ah. "Nah. seraya berkata. Persenang sajalah hati. telah lama hidup dan telah banyak pengalaman. tak usah gelisah. Jika perlu kau pun dapat mengeluarkan ancaman kepada mereka.Tapi pada hari keempat. "Jadi kau dituduh keluarganya telah menyembunyikan gadis itu? Dan kau dipaksa untuk mengawininya? Ini tentang suatu pemerasan. Ha. Malah. ketika Hasibuan menceritakan kesukarannya itu masih berkisar pada soal gadis itu juga. Dan hatinya jadi lintuh. ikutilah nasihatku. Tak usah gelisah." kata anak muda itu cepat. Malah kau pun dapat menuduh mereka itu ke pengadilan. Nanti aku tulis surat kepada kepala polisi. Nanti. Kegelisahannya itu dilihatnya. Ia menunggu anak muda itu meminta nasihatnya yang berharga lagi. jangan kautunjukkan dirimu mempan oleh gertakan kepada buaya-buaya itu. Ia begitu gelisah. Dicabutnya cangklong dari mulutnya. Aku kenal kepala polisi di sini. kalau ia tak mau.bukan?" "Tidak pernah. Jangan persukar soal itu dalam pikiranmu. tentu tidak seorang. di sampingnya. bukan?" "Demikianlah. Sangkanya. tak satupun pengadilan yang mampu menghukum. Jangan kau takut.

Kekurangannya itu masih dapat diperbaiki. Anak baik dia ini. "Aku tahu kesukaranmu yang selalu menggelisahkanmu itu. Dan senyumnya lekas-lekas dikulumnya. Itu biasa. Meskipun begitu. Pak. Itu dapat dilihatnya kemarin malam. jarang satu seperti dia. maka tersenyumlah ia." Setelah ia menghidupkan api cangklongnya. mata yang telah banyak melihat ini. ia dapat memahami betapa kesukaran itu mengamuki hati seseorang. Kau bawalah gadis itu ke sini. Seperti senyuman seorang insinyur melihat perdebatan kuli-kuli tentang suatu bangunan. Tapi sebagai orang tua yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Taksirannya. Tertibnya bagus sekali. bukan? Ah. melebihi gadismu yang khianat dulu. kalau gadis itu tahu betapa halnya Hasibuan dengan gadis desa yang ditemuinya di atas bis dulu itu. jangan membantah. orang tua itu memanglah merupakan orang tua yang paling menyenangkan. Nasihatku. "Dengarlah nasihatku lagi.Namun hati anak muda itu belum juga tentram. Hasibuan berjalan demikian mesranya di samping gadis itu. Cantiknya. Hasibuan sedang dalam percintaan dengan seorang gadis. Jangan kausangsikan. . Jangan tunggu lama. ia tidak hendak melecehkan kesukaran orang lain. Nanti aku dapat menyelesaikan kesukaranmu dengan mudah. Dalam hal ini aku tak silap. Nasihat orang tua yang banyak pengalaman ini. tentu si gadisnya ini akan menyayangkan hal-hal yang bukan-bukan. Dan sebagai orang tua. Dalam seribu. Karena aku sudah tua. ya. seperti rumah ini rumah orang tuanya saja. Mengaku sajalah kepadaku. anak muda itu sedang dalam keadaan terjepit." kata anak muda itu. mataku yang tua ini. Ikutilah nasihatku. Kemudian dia sendiri yang menating teh buat kita. Kau sedang bercinta dengan seorang gadis. Bawa dia besok. kawini dia lekas. Ikutilah nasihatku. Pada air mukamu yang muda itu. Meski kesukaran itu hanyalah tetek bengek belaka. seperti yang pernah kaualami dulu. orang tua itu mengalih duduk di dekat Hasibuan." "Memang rencanaku demikian. Jangan biarkan angin jahat masuk. Tapi dia terus menanyakan Ibumu dan menemuinya ke belakang. Mengaku sajalah. Dan jangan lupa. Itu dilihat oleh orang tua itu. Di saat yang seperti itu. Asal dia mau mengikuti nasihat-nasihatku kelak. orang tua itu meneruskan bicaranya. "Haa. Karena itu ia pun tahu bagaimana menasihatinya. Ia tahu. Aku dapat mengerti segala hati. "Pilihanmu tepat kali ini. Ini luar biasa. Seperti ada suatu rahasia saja. Ini sungguh menakjubkan. Menurut sangkanya. ia salami aku." katanya tiba-tiba. ketika Hasibuan membawa gadis itu ke rumahnya untuk diperkenalkan kepadanya. Dan ketika ia sedang berdua saja di ruang tamu. kepada orang tua ini. hingga nasihatnya menjadi benar-benar berharga dan dapat diikuti dengan mudah. masih dapat menangkap suatu kekurangannya. Banyaklah nasihatnasihat tentang kehidupan rumah tangga. Nasihat orang tua yang telah banyak pengalaman ini." Gembira benar hati orang tua itu. Lihatlah. Ketika dia datang tadi. dapat aku baca semua. Perhatikanlah. Bawa dia kesini. Jangan bersembunyi lagi. Takkan baik akibatnya. yang lebih tahu segala hal. Banyaklah bicara dan ketawanya. gadis yang sedang mencuri hatimu itu. Tentang ini aku tidak silap. telah lama hidup dan sudah banyak pengalaman. ia bicara dengan berbisik.

" Hasibuan berkata tanpa memperhatikan gelagat orang tua yang sekali lagi disengat listrik. bukan?" "Ya. seperti baca puisi di lapangan terbuka waktu siang atau waktu malam pakai obor segala. seperti biasanya. Ditatapnya Hasibuan dengan mata tajamnya lalu cepat ia berdiri dari duduknya. Mereka mampir pada saat pulang habis nonton bioskop. Lalu katanya lagi." kata orang tua itu. Karena merasa diri ada. Ia merasa seolah-olah telah dilampaui begitu saja. perkawinan akan dilaksanakan dalam minggu ini juga. Kemana-mana kami berkumpul selalu diinteli oleh oknum dari bebagai instansi. Birkan orang tuanya yang meminang kau. Bagus. Karena merasa diri penting. Mereka bikin acara yang aksi-aksian. Aksi-aksian baca puisi itu selalu ramai dikunjungi. Tak percaya ia. demi mendengar bunyi mesin ketikku. Saya aku tahu hampir tengah malam. barangkali Hasibuan belum memberi putusan kepada keluarga gadis itu. Dan bibirnya bergerak-gerak seperti hendak memaki. bahwa Hasibuan akan memutuskan begitu saja tanpa minta nasihatnya. Tapi nasihatku dalam hal ini." Sekarang listrik yang menyengat naik beberapa kilowatt lagi. Pak." katanya kemudian setelah ia dapat menguasai dirinya lagi. seperti adat Minangkabau. Hanya pintu kamar tidurnya yang berdentang kencang dibantingnya dari dalam. di waktu yang lain karena indikasi ekstrim kiri atau kanan. Kemudian karena indikasi PKI. "Keluarganya sudah datang kepadaku. Mukanya yang pucat jadi biru. bertanya lagi dengan wajah yang malu tersipu: "Apa nasihat bapak dalam hal ini?" Sekali ini nasihat itu tak keluar dari melalui mulutnya yang peramah. "Gadis itulah yang kutemui dalam bis baru-baru ini. "Tapi aku percaya. Maka para sastrawan. Sejak bertahun-tahun silam aku sudah terbiasa mendengar peristiwa penangkapan. Jimi dan Leon yang beri tahu. Menurut taksiranku sekarang setelah 30% pertambahan penduduk dari masa 20 tahun yang lalu. Menurut istilah polisi diamankan. terutama yang muda kian jadi keasyikan diinteli itu. ditangkap po lisi. pengunjung hadir lebih dari . Tak tahu ia muka orang sudah jadi pucat dan badannya gemetar."Bagus. Sebagaimana nasihat Bapak. Penangkapan Hari itu teman kami. jangan kau yang meminang dia ke orang tuanya. Ada karena indikasi PRRI. "Kau tentu cukup bijaksana. Lalu. Tapi pikirnya kemudian. Di masa itu kota kami kesibaran "Peristiwa Malari" yang marak di Jakarta. Aku sama sekali tidak kaget kalau ada orang ditangkap." Tiba-tiba orang tua itu seperti kena listrik. Tapi Hasibuan yang tidak melihat perubahan itu. Si Dali dan Alfonso.

sebab tidak punya uang membeli nasi. Dan aku tidak kaget mendengarnya. praktisnya mereka merupakan penganggur. Termasuk Si Dali dan Alfonso. naskahnya sering dikembalikan. Yang hadir di masa itu bukan hanya seniman." kata Neli tanpa kata pengantar. yaitu perutnya. Tidak diketahui alasan dan pasal-pasalnya. Sebenarnya Si Dali dan Alfonso tidak berperan penting pada aksi-aksian itu. Tidak kalah banyak orang lewat yang sekadar ingin tahu. "Jika keduanya ditangkap bukan masalah berat. Kalau dimuat berbulan-bulan menanti dan berbulan-bulan pula menunggu honornya. Tentu saja para intel yang mengenakan jeket danu bergunting rambut cepak ikut juga berjubel. Nah. Si Ponco dan Si Dali ditangkap polisi tadi malam. gayanya memukau. *** "Anaknya bisa lahir prematur. Sebagai sastrawan. Mereka ditahan bukan dalam sel. Itu risiko jadi orang besar. "Jadi?" . Kalau tidak dicurigai sebagai akstrim kiri tentu saja ekstrim kanan. Lalu mereka menjadi orang besar Tanah Air." kata Haris pula. kutipan pandangan filsuf dunia beruntun. meciutkan nyali yang hadir. Tapi toh mereka hidup. Yang jadi pikiran ku ialah keterangan Jimi. Kita harus membuat sesuatu sebagai tanda simpati dan solider. kembali ke awal cerita. Sjahrir ditangkap. Dan lebih-lebih Alfonso yang orang teater yang menjadi idola mereka. Kehadiran keduanya seperti memberi dukungan moral kepada mereka yang muda. Karena peristiwa penangkapan di masa itu bukan berita lagi. Kalau tulisan mereka di muat dalam koran lokal. menemuiku. Sedangkan sastrawan muda di kota kami menyebut diri mereka sebagai "ekstrim tengah". Menjelang tengah hari dua orang sastrawan muda yang paling aktif menggerakkan aksi-aksian baca puisi. Natsir ditangkap. Karena selalu mendapat persoalan untuk mengisi bagian tengah badannya." kata istriku pagi-pagi setelah aku ceritakan peristiwa itu. Melain di asrama pelatihan polisi yang lagi kosong. paling-paling honornya sekedar pembeli rokok untuk seminggu.Si Dali dan Alfonso ditangkap polisi sekeluar dari bioskop. Soekarno dan Hatta pernah ditangkap. Haris dan Neli. Kalau dikirim ke media nasional. bahasanya teratur. Mochtar Lubis ditangkap. Namun keduanya selalu hadir. "Om. Dia selalu menyebut nama Alfonso dengan Ponco. Jadi presiden dan wakil presiden. Alasan cuma satu. tetapi juga para simpatisan. Punya isteri dan beranak. sesungguhnya mereka bukanlah orang yang punya alasan untuk ditangkap. Maka itu sebagai orang yang terbiasa lapar dalam zaman stabilitas politik dan ekonomi. Toh dari mulutnya tak henti-henti asap rokok mengepul.tiga kali lebih banyak dibandingkan jika penyair baca puisi di Taman Budaya masa sekarang. Sekali-sekali sempat juga nonton bioskop atau makan rujak dan es tebak di tepi laut. Bahwa istri Alfonso sedang hamil berat. Yaitu indikasi menentang pemerintah. Kalau dia bicara pada forum diskusi.

Tapi istri Si Dali? Rumah kontrakan itu sebetulnya cuma pondok ukuran 3 X 4 meter. Selain dari isi dompet. bergurau atau saling meledek. aku menyempatkan menjeguk istri mereka. ada juga yang memberi rokok. susu kalengan atau memberi bon untuk ditukar dengan beras. biskuit.Sewa kontraknya memang tidak mahal. Dengan Alfonso bakal dua. aku tidak tahu dimana mereka mandi." kata Neli pula. Mereka dikasi makan cukup. Pikiranku menjalar tentang situasi yang dihadapi istri kedua teman kami itu. Ketika dibebaskan kulit mereka cerah karena jarang kena sinar matahari. Si Dali menempatinya. Istriku trenyuh sekali demi melihat tempat tinggal Si Dali yang pondok itu. "Aku tidak menduga rumah Si Dali seperti itu. Tapi bagaimana dengan biaya hidup perempuan yang tidak punya sanak keluarga satu pun di kota itu."Istri Si Ponco hamil berat. Dia memberi ultimatum harus bayar paling lama besok. "Apa jadi seniman itu pekerjaan atau hobi atau apa?" Karena aku tidak menyahut juga dia berkata lagi. Dengan suami pertamanya tiga. tentang kebudayaan. biayanya bisa diatur kemudian. jika aku ingat pada obrolannya tentang politik. Aku tidak pernah menjenguk mereka. pikirku. di sebidang tanah seperti tidak bertuan. Dulunya sebuah pondok ronda. Untuk mandi dia tampung air hujan dengan sebuah drum. Istri Si Dali harus pindah rumah karena kontraknya sudah dua bulan berakhir. Tadi pagi yang punya rumah sudah datang karena tahu Si Dali ditangkap. . apabila Si Dali lama ditahan? Kepada Haris dan Neli aku berikan nama beberapa orang yang aku yakin mau membuka dompetnya. ada pula perwira polisi atau militer yang berkirim makanan kaleng atau rokok. "Mengapa diam saja?" tanyaku ketika kami telah sampai di rumah lagi. Untuk kakus. Apa dia betul-betul orang miskin?" Karena aku tidak menyahut. Bila dia harus masuk rumah sakit. Terkecuali hari Minggu. Yang membingungkan tapi juga menggembirakan mereka. Kalau tidak ada hujan. Akan tetapi letaknya terjepit oleh dua bangunan yang berbelakangan. Seselesai makan malam barulah dia berkata. Sambil tertawa. Dia terus membisu. Namun dia harus membuat dapur di belakang rumah. Setiap hari secara bergantian para sastrawan menjenguk kedua teman yang ditahan itu. Ditanyai satu jam setiap hari. Bila bersama pengawal mereka main domino sampai lewat tengah malam. Kemudian jadi pos preman melakukan hal-hal yang tidak disukai penduduk. tentang filsafat setiap datang ke sini. Istriku tidak menyahut. dia gali lobang setiap hari bila malam tiba. berdinding tadir dan berlantai papan dengan kolong rendah. "Atau semacam kegilaan yang mengasyikan saja?" *** Hampir dua bulan Si Dali dan Alfonso mendekam di tahanan polisi. dia bertanya lagi. Aku kira hidupnya sama dengan kita. Ketika preman itu dapat diusir. Istri Alfonso memang tukang beranak terus. Tapi bersama istri. Mereka menyambut kami dengan airmata berlinang. Lokasinya memang di tengah kota. Dibiarkan main catur.

Setiap hari ada saja orang datang memberi apa-apa. Istri Alfonso telah melahirkan anak laki-laki. katanya. tidak lagi baca-baca puisi. Haris dan Neli kehabisan tugas yang selama dua bulan dia urus terus-menerus. "Masa itu bukan semacam permainan hidup. Kemiskinan dan kelaparan memenjarakan kita tak henti-hentinya. "Entahlah. Kalau ditahan lebih lama lagi. ." jawannya lesu." "Selama dua bulan ditahan." Neli menyeringaikan ejekan lagi dan merentak pergi membawa seringai bibirnya. melainkan semacam hidup yang dipermainkan. Menunggu waktu. kekurangan uang. Istri Si Dali kembali ke rumah orangtuanya di desa di kaki Gunung Talamau karena tidak betah hidup tanpa jaminan masa depan yang baik. apa kau menulis?" tanya Neli. "Tinggal di luar begini tak ubahnya kita tinggal di hutan larangan." katanya kemudian. maulah aku. Sastrawan muda yang dipelopori Haris dan Neli. Kami seolah kehilangan motivasi. semua pemberian stop. Si Dali menggeleng seperti orang tertangkap basah. dia tertawa. "Dimana letak kebebasan yang kau perjuangkan?" tanya Neli ketus dengan seringai bibir yang sudah aku kenal benar. Jauh berbeda dibadingkan dengan masa-masa dia aktif bersama para sastrawan dulu. Kulitnya sebersih pakainnya. dia tidak pernah kekurangan beras. "Si Ponco?" "Juga tidak." kata Si Dali. "Begitu?" kata Haris. Selama aku ditahan. "Istriku suka kalau aku ditahan lagi. Dan ketika aku ingtakan pada masa dia ditangkap dulu. "Mengapa begitu?" tanyaku ketika kami berjumpa. "Tak ada gairah. Dunia seperti telah aman seaman-amannya untuk semua. Tapi dunia yang aman seaman-amannya itu tidak ubahnya seperti lampu yang hampir padam karena kehabisan minyak." *** Bertahun-tahun kemudian aku ketemu Si Dali. tidak lagi melakukan wirid diskusi mingguan. Bayangkan. Malah dapat juga meminjamkannya pada tetangga."Enak juga jadi tahanan seperti itu. Wajahnya ceria. "Maksudmu?" tanyaku. Tapi setelah aku dibebaskan." jawab Si Dali.

Aksi-aksian baca puisi itu selalu ramai dikunjungi. Keningku berkerut lama oleh cerita Si Dali itu. Maka para sastrawan." kata Si Dali dengan gaya bicara yang ringan. Kayutanam. Di sana dia kawin lagi tanpa menceraikan istrinya yang beranak enam. Dan Si Dali. "Tak ada. Mau dilarang tidak ada alasan. Aku sama sekali tidak kaget kalau ada orang ditangkap. demi mendengar bunyi mesin ketikku. Mereka bikin acara yang aksi-aksian. Menurut taksiranku sekarang setelah 30% pertambahan penduduk dari masa 20 tahun yang lalu. Haris menjadi dosen yang sibuk karena mendapat proyek penelitian. Lalu anak-anak muda itu mereka gerakkan mencari sumbangan solidaritas kemana-mana. Saya aku tahu hampir tengah malam. 14 Juni 1996 Penangkapan Hari itu teman kami. Tapi kini aktivis seperti Neli sudah menikah dan memperoleh anak. Memidahkan tidur penganggur dari rumah istrinya. Dalam mata anganku terbayang lagi hingar-bingar masa itu. Dibiarkan terus." katanya sambil terkekeh. Si Dali dan Alfonso." "Tak ada?" "Kami kan orang nganggur. Kemana-mana kami berkumpul selalu diinteli oleh oknum dari bebagai instansi. Menurut istilah polisi diamankan. seperti baca puisi di lapangan terbuka waktu siang atau waktu malam pakai obor segala. Kemudian karena indikasi PKI. Yang hadir di masa itu bukan hanya seniman. "Formalnya kau ditangkap atas tuduhan apa?" tanyaku. seolah-olah dia tidak pernah mengalami kesulitan apapun. yang tua-tua ditahan. Sejak bertahun-tahun silam aku sudah terbiasa mendengar peristiwa penangkapan. seperti kataku tadi. . Mereka mampir pada saat pulang habis nonton bioskop. pengunjung hadir lebih dari tiga kali lebih banyak dibandingkan jika penyair baca puisi di Taman Budaya masa sekarang. Jimi dan Leon yang beri tahu. rupanya orang-orang intel kewalahan menghadapi tingkah laku sastrawan muda. dikhawatirkan iklim bisa rawan. Maka kesibukan mereka beralih karena kegairahan mendapat simpati. Ada karena indikasi PRRI. wajahnya secerah baju yang di pakainya. terutama yang muda kian jadi keasyikan diinteli itu. Lalu. Lalu kami. Demonstrasi baca puisi berhenti. ditangkap po lisi. Di masa itu kota kami kesibaran "Peristiwa Malari" yang marak di Jakarta. toh tidak ada yang rugi. lalu dikasi makan enak-enak. Alfonso merantau ke Jakarta. di waktu yang lain karena indikasi ekstrim kiri atau kanan. Dan memang sesudah peristiwa itu sampai sekarang tidak ada lagi sastrawan baca-baca puisi."Masa itu. Karena merasa diri penting. tetapi juga para simpatisan. Karena merasa diri ada.

Kalau dimuat berbulan-bulan menanti dan berbulan-bulan pula menunggu honornya. Melain di asrama pelatihan polisi yang lagi kosong. Soekarno dan Hatta pernah ditangkap. menemuiku. bahasanya teratur. Nah. Tidak diketahui alasan dan pasal-pasalnya. "Jika keduanya ditangkap bukan masalah berat." kata Neli tanpa kata pengantar. Mochtar Lubis ditangkap. Natsir ditangkap. Namun keduanya selalu hadir. Dia selalu menyebut nama Alfonso dengan Ponco. Kita harus membuat sesuatu sebagai tanda simpati dan solider. Kalau dikirim ke media nasional. Maka itu sebagai orang yang terbiasa lapar dalam zaman stabilitas politik dan ekonomi. Sebenarnya Si Dali dan Alfonso tidak berperan penting pada aksi-aksian itu. Karena peristiwa penangkapan di masa itu bukan berita lagi. Jadi presiden dan wakil presiden. Dan aku tidak kaget mendengarnya. Alasan cuma satu. yaitu perutnya. Toh dari mulutnya tak henti-henti asap rokok mengepul. Kalau tidak dicurigai sebagai akstrim kiri tentu saja ekstrim kanan. sesungguhnya mereka bukanlah orang yang punya alasan untuk ditangkap. Punya isteri dan beranak. Tentu saja para intel yang mengenakan jeket danu bergunting rambut cepak ikut juga berjubel. "Om. Yang jadi pikiran ku ialah keterangan Jimi." kata istriku pagi-pagi setelah aku ceritakan peristiwa itu. paling-paling honornya sekedar pembeli rokok untuk seminggu.Si Dali dan Alfonso ditangkap polisi sekeluar dari bioskop. Sedangkan sastrawan muda di kota kami menyebut diri mereka sebagai "ekstrim tengah". Kalau tulisan mereka di muat dalam koran lokal. Kalau dia bicara pada forum diskusi. Karena selalu mendapat persoalan untuk mengisi bagian tengah badannya. Kehadiran keduanya seperti memberi dukungan moral kepada mereka yang muda." kata Haris pula. sebab tidak punya uang membeli nasi. praktisnya mereka merupakan penganggur. Sjahrir ditangkap. Termasuk Si Dali dan Alfonso. Tapi toh mereka hidup. Mereka ditahan bukan dalam sel.Tidak kalah banyak orang lewat yang sekadar ingin tahu. Sebagai sastrawan. Yaitu indikasi menentang pemerintah. gayanya memukau. Si Ponco dan Si Dali ditangkap polisi tadi malam. Sekali-sekali sempat juga nonton bioskop atau makan rujak dan es tebak di tepi laut. meciutkan nyali yang hadir. Bahwa istri Alfonso sedang hamil berat. Menjelang tengah hari dua orang sastrawan muda yang paling aktif menggerakkan aksi-aksian baca puisi. Haris dan Neli. Itu risiko jadi orang besar. naskahnya sering dikembalikan. Dan lebih-lebih Alfonso yang orang teater yang menjadi idola mereka. "Jadi?" . *** "Anaknya bisa lahir prematur. kutipan pandangan filsuf dunia beruntun. Lalu mereka menjadi orang besar Tanah Air. kembali ke awal cerita.

Dengan Alfonso bakal dua. Dia terus membisu."Istri Si Ponco hamil berat. Aku kira hidupnya sama dengan kita. Istri Alfonso memang tukang beranak terus. aku tidak tahu dimana mereka mandi. "Aku tidak menduga rumah Si Dali seperti itu. "Mengapa diam saja?" tanyaku ketika kami telah sampai di rumah lagi. "Atau semacam kegilaan yang mengasyikan saja?" *** Hampir dua bulan Si Dali dan Alfonso mendekam di tahanan polisi. Tadi pagi yang punya rumah sudah datang karena tahu Si Dali ditangkap. Apa dia betul-betul orang miskin?" Karena aku tidak menyahut. Ketika dibebaskan kulit mereka cerah karena jarang kena sinar matahari. Mereka menyambut kami dengan airmata berlinang. Istriku trenyuh sekali demi melihat tempat tinggal Si Dali yang pondok itu. Pikiranku menjalar tentang situasi yang dihadapi istri kedua teman kami itu. Bila bersama pengawal mereka main domino sampai lewat tengah malam. aku menyempatkan menjeguk istri mereka. Istriku tidak menyahut. Aku tidak pernah menjenguk mereka." kata Neli pula. tentang kebudayaan. Selain dari isi dompet. Dia memberi ultimatum harus bayar paling lama besok.Sewa kontraknya memang tidak mahal. jika aku ingat pada obrolannya tentang politik. Mereka dikasi makan cukup. Ditanyai satu jam setiap hari. Setiap hari secara bergantian para sastrawan menjenguk kedua teman yang ditahan itu. Untuk mandi dia tampung air hujan dengan sebuah drum. biskuit. Dengan suami pertamanya tiga. Yang membingungkan tapi juga menggembirakan mereka. "Apa jadi seniman itu pekerjaan atau hobi atau apa?" Karena aku tidak menyahut juga dia berkata lagi. di sebidang tanah seperti tidak bertuan. dia bertanya lagi. Akan tetapi letaknya terjepit oleh dua bangunan yang berbelakangan. ada juga yang memberi rokok. Dulunya sebuah pondok ronda. Si Dali menempatinya. Tapi bersama istri. Kalau tidak ada hujan. berdinding tadir dan berlantai papan dengan kolong rendah. Namun dia harus membuat dapur di belakang rumah. Tapi bagaimana dengan biaya hidup perempuan yang tidak punya sanak keluarga satu pun di kota itu. Sambil tertawa. Dibiarkan main catur. biayanya bisa diatur kemudian. bergurau atau saling meledek. Kemudian jadi pos preman melakukan hal-hal yang tidak disukai penduduk. tentang filsafat setiap datang ke sini. apabila Si Dali lama ditahan? Kepada Haris dan Neli aku berikan nama beberapa orang yang aku yakin mau membuka dompetnya. Seselesai makan malam barulah dia berkata. Lokasinya memang di tengah kota. Tapi istri Si Dali? Rumah kontrakan itu sebetulnya cuma pondok ukuran 3 X 4 meter. susu kalengan atau memberi bon untuk ditukar dengan beras. Bila dia harus masuk rumah sakit. Untuk kakus. pikirku. Terkecuali hari Minggu. Ketika preman itu dapat diusir. ada pula perwira polisi atau militer yang berkirim makanan kaleng atau rokok. dia gali lobang setiap hari bila malam tiba. . Istri Si Dali harus pindah rumah karena kontraknya sudah dua bulan berakhir.

maulah aku. "Tak ada gairah." kata Si Dali. Haris dan Neli kehabisan tugas yang selama dua bulan dia urus terus-menerus. Kulitnya sebersih pakainnya. Wajahnya ceria. Istri Si Dali kembali ke rumah orangtuanya di desa di kaki Gunung Talamau karena tidak betah hidup tanpa jaminan masa depan yang baik. tidak lagi baca-baca puisi. Selama aku ditahan. "Dimana letak kebebasan yang kau perjuangkan?" tanya Neli ketus dengan seringai bibir yang sudah aku kenal benar. katanya. melainkan semacam hidup yang dipermainkan. Jauh berbeda dibadingkan dengan masa-masa dia aktif bersama para sastrawan dulu. "Mengapa begitu?" tanyaku ketika kami berjumpa."Enak juga jadi tahanan seperti itu. "Entahlah. "Istriku suka kalau aku ditahan lagi." Neli menyeringaikan ejekan lagi dan merentak pergi membawa seringai bibirnya. Malah dapat juga meminjamkannya pada tetangga. apa kau menulis?" tanya Neli. Dan ketika aku ingtakan pada masa dia ditangkap dulu." jawannya lesu. Sastrawan muda yang dipelopori Haris dan Neli. Istri Alfonso telah melahirkan anak laki-laki. Setiap hari ada saja orang datang memberi apa-apa. Tapi setelah aku dibebaskan. dia tidak pernah kekurangan beras. dia tertawa. "Begitu?" kata Haris. Si Dali menggeleng seperti orang tertangkap basah. Bayangkan. . Kemiskinan dan kelaparan memenjarakan kita tak henti-hentinya. Dunia seperti telah aman seaman-amannya untuk semua." jawab Si Dali. "Masa itu bukan semacam permainan hidup. kekurangan uang. "Maksudmu?" tanyaku. "Si Ponco?" "Juga tidak." katanya kemudian. "Tinggal di luar begini tak ubahnya kita tinggal di hutan larangan. semua pemberian stop. Menunggu waktu. tidak lagi melakukan wirid diskusi mingguan. Kami seolah kehilangan motivasi. Tapi dunia yang aman seaman-amannya itu tidak ubahnya seperti lampu yang hampir padam karena kehabisan minyak. Kalau ditahan lebih lama lagi." *** Bertahun-tahun kemudian aku ketemu Si Dali." "Selama dua bulan ditahan.

Dan Sidin ikut menggotong korban ke tempat penampungan di sebuah mesjid. Dan memang sesudah peristiwa itu sampai sekarang tidak ada lagi sastrawan baca-baca puisi. Mereka berlari di malam gelap. Ketika itu. Haris menjadi dosen yang sibuk karena mendapat proyek penelitian. Demonstrasi baca puisi berhenti. Sehingga banyak yang terperosok dan jatuh terduduk karena kehilangan keseimbangan. seperti orang-orang lain juga. bahwa ada kereta api jatuh di jembatan Lembah Anai. lalu dikasi makan enak-enak. Memidahkan tidur penganggur dari rumah istrinya. Dan ia tak pernah sampai di tempat kejadian. Namun Sidin berlari juga. Tapi di tengah jalan ia tertahan oleh rombongan yang telah kelelahan mengangkut para korban. Dan memang. Hujan renyai yang turun rintik-rintik sejak siang tadi. Dalam mata anganku terbayang lagi hingar-bingar masa itu. di jendela. yang juga berlari. Karena ada larangan."Masa itu. Seolah orang hanya ingat cuma satu. Tidak ada angkutan umum selain kereta api. di sepanjang jalan aspal yang rusak berlubang-lubang yang tak terlihat." katanya sambil terkekeh. di tangga. membelam malam dan mendinginkan senja. Mau dilarang tidak ada alasan. Alfonso merantau ke Jakarta. Dalam berlari Sidin selalu ingat. Itulah yang mendorongnya berlari. Keningku berkerut lama oleh cerita Si Dali itu. wajahnya secerah baju yang di pakainya. dikhawatirkan iklim bisa rawan. toh tidak ada yang rugi. Di atap. Tapi dia tidak sendiri. Lalu anak-anak muda itu mereka gerakkan mencari sumbangan solidaritas kemana-mana. Lalu kami. "Formalnya kau ditangkap atas tuduhan apa?" tanyaku. Banyak orang. Sehingga angkutan kereta api menjadi penuh sesak. bukan keselamatan . Maka kesibukan mereka beralih karena kegairahan mendapat simpati. Dibiarkan terus. Namun ia berbelok mengambil jalan lain. "Tak ada. Tapi peristiwanya pagi. di bordes. Sidin pun mengalaminya berkali-kali. Penumpang dan barang bertengger di mana saja. 14 Juni 1996 Penolong Sidin berlari." kata Si Dali dengan gaya bicara yang ringan. Ketika itu zaman pendudukan Jepang. seolah-olah dia tidak pernah mengalami kesulitan apapun. sampai malam itu. Kayutanam. Tapi kini aktivis seperti Neli sudah menikah dan memperoleh anak. Di sana dia kawin lagi tanpa menceraikan istrinya yang beranak enam. ketika peristiwa yang sama terjadi enam bulan yang lalu. bahkan juga di besi bumper dan rantainya. Dan Si Dali. Karena kendaraan bermotor lainnya telah diambil balatentara Jepang untuk keperluan perangnya. rupanya orang-orang intel kewalahan menghadapi tingkah laku sastrawan muda. seperti kataku tadi. yang tua-tua ditahan." "Tak ada?" "Kami kan orang nganggur. hujan renyai juga. di kala itu malam telah datang. Sama seperti dulu. berlari terus bagai anjing yang kemalaman pulang.

Kereta api harus jalan dan penumpang harus bepergian. Beberapa Jepang dengan pakaian militernya. Ia pikir. diurus . tapi ada juga yang bergerak. Seperti dihipnotis. malah merasa ngeri. Dan Sidin. Mungkin terpegang pada lukanya atau mungkin ada tulangnya ." Dan mereka mencari-cari korban yang masih hidup. Rem dapat menghentikan roda berputar. Pada waktu Sidin sampai di tempat kecelakaan itu. Tidak diketahui pasti. Mulanya ia memang didorong oleh rasa ingin tahunya untuk datang ke situ. hanya memilih Jepangnya saja. Dikeluarkan dari gerbong. Karena muatan berlebih dari kemampuan. lok lepas dari relnya. Dan di sebuah tikungan patah. didapatinya pula banyak korban sedang tergeletak. sudah cukup memberi makan satu keluarga untuk beberapa hari dari hasil keuntungan. Mereka menamakan dirinya tukang catut. apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Dengan beberapa orang ia mengangkatnya. Dan si korban berteriak kesakitan. dalam cahaya remang-remang lampu tekan yang enggan nyala ditimpa gerimis. digotong ke tepi jalan raya. Lebih hebat dari kecelakaan yang sama pada enam bulan yang lalu. Dan apa yang dapat ia lakukan untuk mereka yang menderita atau yang telah mati itu? Tiba-tiba didengarnya ada orang yang berteriak-teriak meminta tambahan tenaga di dekat gerbong-gerbong yang berimpitan itu. di dalam gelap lagi. demi melihat para korban bergeletakan di tepi jalan itu. Gerbong dan lok yang tidak terawat karena kekurangan peralatan dipaksa terus mengangkut muatan berlebih. mereka angkat berdua. Lampulampu tekan yang sedikit tak kuasa memberikan penerangan bagi orang-orang yang memberikan pertolongan. Ada yang telah diam. Seorang korban yang merintih. Dan tidak seorang pun yang peduli.oleh bangsanya sendiri pula. Dan kereta api yang sarat oleh penumpang meluncur di rel yang licin oleh renyai sejak siang pada jalan yang menurun di lereng lembah dan perbukitan. Kecelakaan telah terjadi lagi. terutama beras yang hanya sekitar 100 kg. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.dirinya. Dan semangat orang bepergian melebihi dari biasa. Mereka bukan pedagang. Mereka memaksakan diri untuk menggotongnya. merintih. mungkin ada kerabat atau temannya yang menjadi korban. Dan licin lagi. tapi tak dapat menghentikan kereta api itu meluncur. seperti halnya ia tidak tahu mengapa ia sampai di situ dengan berlari-lari. merasa tersentak dan bulu romanya menggerinding. Terasa berat tubuhnya. Banyak korban telah dikeluarkan dari gerbong yang terguling bertindihan di bawah jembatan yang ambruk itu. Sedangkan korban yang lain. Memang sangat lengangnya orang di sebelah sana. Seluruh gerbong pun ikut terjun bertindihan. Seseorang menyuruh Sidin ikut menggotong korban yang baru saja dikeluarkan dari gerbong-gerbong itu. Dibariskan di tepi jalan raya. Disambut oleh lengkungan besi sebuah jembatan. dan diangkut cepat dengan truk yang disiapkan untuk diberi rawatan di rumah sakit terdekat. Lengkungan itu ambruk dan lok pun terjun ke sungai yang tengah deras airnya karena hujan di hulu. melainkan badannya harus sampai ke tempat tujuan. Tapi setelah ia sampai dan tahu apa dan bagaimana peristiwa itu terjadi. "Angkat yang masih hidup. Tapi seseorang berkata lagi. Ia tak tahu juga. orang-orang belum banyak. tapi bagaimana mencari mereka di antara korban yang telah tergeletak itu. Sehingga sulit mengangkatnya. sambil membawa barang dagangan. kereta meluncur kian kencang dan kian kencang lagi. Ia mendekati korban-korban yang tergeletak itu. Dengan bepergian. Di jalan kereta api dekat jembatan yang telah ambruk. ia bingung. apakah mereka masih hidup atau mati. Sidin berlari ke sana.

" "Tanggung menolong. Dikenal pencatut. Tapi korban yang mereka gotong itu begitu berat. Sidin sungguh-sungguh tak tahan mendengar dan merasakan penderitaan orang itu. korban mereka angkut ke jalan raya yang sejajar dengan jalan kereta api itu. "Familimu?" "Tidak. Sidin berpikir. Korban itu mengerang terus. Dan dalam menggotong korban yang terus mengerang itu.yang patah tidak cukup terpapah." . Dan Sidin menduga pegangannya tepat pada bagian yang cedera. "Bagaimana kau tahu ini Mak Gadang dalam gelap begini?" kata Sidin." kata yang lain. apakah memang orang seperti ini perlu diberi pertolongan? Begitu berat tubuhnya yang memang besar dan tambun itu. Sidin mempererat genggamannya agar si korban tidak melorot. sulit dilalui oleh dua orang bersamaan. seraya merendahkan tubuhnya untuk benar-benar hendak meletakkan tubuh itu ke tanah. "Tahanlah. Tapi itu hanya dalam khayalannya saja. "Jangan cengeng." kata temannya. Melewati jalan setapak yang terjal menurun pula." kata laki-laki yang pertama tadi." "Kesengsaraan bisa mengubah tabiat. Tapi si korban mengerang kesakitan. "Kalau ular. sungguh merupakan siksa baginya. ular juga. Kami bukan anak buahmu atau istri-istri mudamu yang bisa membelai-belaimu. ke tempat korban-korban lain menanti pertolongan pengobatan atau pengangkutan ke rumah sakit di kota. Salah seorang yang menggotong itu berkata. Menurun lagi. Kini jalan yang mereka tempuh begitu sempit. Berbatu besar. Tapi ia tak mungkin mengendurkan pegangannya. Semestinya ia tidak ditolong. susah amat menggotong buaya ini. "Wah. Dan selalu meraung-raung kesakitan. Lebih tersiksa lagi oleh pikirannya pada nama yang terkenal di seluruh kota sebagai orang yang bejat hatinya. Letakkan saja di sini." kata laki -laki yang pertama. Dan dalam hatinya ia sesungguhnya menyetujui semua komentar orang yang tidak dikenalnya tapi samasama menggotong itu. Sidin kenal nama Mak Gadang di kotanya. Sedikit lagi. Tapi lebih terkenal sebagai pencari perempuan untuk orang-orang Jepang dan mendapat upah dengan menjualkan barang-barang curian milik Jepang langganannya itu." kata yang pertama. orang ini Mak Gadang." "Banyak yang lain lagi yang patut ditolong. Dan Mak Gadang menjadi kaya karenanya. "Kalau tak salah. biar dipenggal kepalanya. Sedikit lagi kita sudah sampai. Setelah datang seorang lagi ikut menggotongnya. Biar orang lain yang menggotongnya lagi. Tapi ia korban kecelakaan. karena gemuknya.

Sidin tidak merasakan apa-apa ketika tubuh Jepang itu berpijak di bahunya. Dan ia merasa masih mendengar betapa erangannya ketika digotong. Sedangkan Jepang yang seorang lainnya. hanya menyenter dengan lampu baterai ke arah kawat darurat itu diikatkan pada tiang. Juga pada tubuhnya yang terkulai di saat ia menggotongnya." katanya memperingatkan Jepang yang memegang senter itu agar menggantikannya. Dan tak seorang pun dilihatnya. Omae! Mari sini!" Kedengaran seseorang berseru dekat tiang kawat telepon. Sidin menoleh ke arah suara itu. Didengarnya juga erangan dan rintihan korban yang masih hidup. karena ia mampu mendukung tubuh Jepang yang kekar itu. Karena disuruh letakkan sekelompok dengan korbankorban lain yang telah diam. Hawa malam terasa dingin dengan tiba-tiba. Kemudian ia ingat pada seorang yang memeriksa mayat demi mayat. mungkin korban itu mengerang dan merintih karena nyawanya sedang diregang-regang maut. Dan Sidin tiba-tiba sadar. Tapi jelas orang itu tidak hendak memberikan bantuan. Ketika Jepang-jepang itu telah pergi ke tiang lain. Hawa malam di lembah pegunungan itu. Jepang itu menyuruh Sidin tegak di bawah tiang telepon. melainkan sembilan buah tiang yang kawat lamanya telah kendur dan terjela-jela di tanah di sepanjang jalan kereta api itu. masih tergeletak di tempatnya. Dan kemudian katanya. Dari tempatnya ia juga melihat orang-orang di sebelah sisi sungai berbanjar menyambut korban yang baru keluar dari gerbong. Dan pikirnya. "Anata. Dilihatnya seorang Jepang memanggilnya. Matanya melihat. Sidin tercenung kebingungan ketika bersandar pada pagar tembok jembatan. ia telah melakukan tugasnya. tak bergerak dan tak mengerang oleh kesakitan. lalu memberikannya kepada orang berikutnya secara beranting. Tiba-tiba hatinya menduga bahwa orang itu pastilah pencuri. Lalu pada korban-korban yang diperkirakan telah meninggal. Matanya melihat orang-orang lalu-lalang mengangkut dan mencari korban yang mungkin dikenalnya. "Taruh di sebelah sana. "Hai. Tapi juga ia melihat ada seseorang yang meraba-raba korban demi korban. Dan Mak Gadang yang digotongnya tadi. Rupanya Jepang itu memerlukan pertolongannya untuk memasang kawat telepon darurat. Oleh dugaan itu. Tempat kecelakaan tak tampak dari . Sudah tenang. Dan ketika mereka sudah sampai di pinggir jalan raya. yang digeletakkan terpisah dari yang masih hidup. Sidin keheranan pada dirinya. Bukan hanya sebuah tiang. Sehingga kenangannya pada erangan Mak Gadang ketika digotongnya timbul lagi. Anata. Kemudian ia memanjati pundak Sidin yang kurus kerempeng itu. bahwa orang yang digotongnya itu telah mati. Sidin tersandar keletihan di bawah tiang. Salah seorang mengambil pergelangan tangan korban untuk memeriksa denyut nadinya. tiba-tiba saja badannya terasa lemah dan tak kuasa lagi mendukung tubuh Jepang itu pada tonggak yang kesembilan. lalu dengan berpijak di pundak itu ia mengikatkan kawat-kawat baru.” Kemudian datang dua orang lain ikut membantu menggotong sampai ke tempat yang ditunjuk oleh orang yang berpakaian putih tadi. tapi pikirannya tidak jalan. Beberapa kelompok mencari-cari kerabat atau kenalannya dengan menggunakan suluh.Korban itu tidak mengerang lagi. dua orang yang berbaju putih menyongsongnya. karena kawat yang lama telah putus oleh sebuah tiang yang juga tertabrak kereta api yang terguling itu.

Ia datang ke tempat itu hanya untuk melihat peristiwa. Beberapa buah gerbong barang terendam berserakan di dalam air. Kain itu digunakan untuk tandu menggotong kerabat mereka yang jadi korban. Tidak lain maka ia menyesali dirinya sendiri. Hilanglah keinginan minumnya. Hingga kakinya sampai ke pangkal paha terbuka. Ia minum sepuas-puasnya untuk menghilangkan haus dan mengisi perutnya yang kosong. Yang teratas berdiri dengan vertikal setengah miring. mereka itu menanti korban yang dikeluarkan dari gerbong itu. Tak seorang pun famili atau kenalannya yang diperkirakannya ikut menjadi penumpang kereta api yang sial itu. kini sudah kering karena renyai telah berhenti. Sidin mendekati. Hampir seluruh perempuan yang telah mati.” kata seseorang sambil menunjuk ke kaki bukit ketika Sidin menanyakan dari mana air dalam ketel itu diambil. dibawah jembatan kereta api. Di dalam gelap malam itu. Sidin yang kehausan melangkah ke arah yang ditunjuki orang itu. Tapi hewan malam tak tertahankan. Mereka berdiri dalam kelelahan. masih banyak mayat bertumpuk-tumpuk degan gerbing yang terendam dalam sungai itu. Ada orang merebus air pada sebuah ketel. Dan tersandar pada kaki jembatan. Bertambah banyak mayat bertumpuk di tempat ia meletakkan Mak Gadang tadi. Sehingga rasa kecut merasuk ke dalam dirinya. Rasa dingin malam kembali menerpanya. Entah masih hidup korban itu atau sudah mati. Namun selintas ia masih menampak Mak Gadang di tempatnya semula. dan membiarkan tubuhnya telanjang? Pikir Sidin. Ia minum sampai keluar serdawa dari mulutnya. Lunglai ia mencoba berdiri dan melangkah ke tempat kecelakaan itu terjadi. Ia merasa sangat lapar. terlindung di balik punggung bukit. Sendiri.situ. mungkin kawannya. dan tak seorang pun terlihat. kainnya telah tiada. karena ia tadi belum sempat makan malam ketika berangkat. Ditampungnya air itu dengan kedua telapak tangannya. ia melihat pancuran bambu. Kemudian barulah ia dapat melihat situasi dengan lebih jelas. Mengapa orang tega mencuri kain perempuan-perempuan itu. Mereka pulang setelah menemukan korban yang dicarinya. meski diterangi oleh beberapa lampu tekan. diiringi oleh banyak orang. Air itu telah susut jika dibandingkan ketika mula datang tadi. Samarsamar. Sidin cepat-cepat memalingkan pandangannya. Pikir Sidin. karena di sana banyak orang dan rasa kesendiriannya bisa hilang . Tapi air itu belum mendidih. Ia melihat ada tiga gerbong penumpang yang bertindihan. Lalu di bawa ke mulutnya. di malam gelap pada pesawangan. Ada pancuran kecil. Dan kinilah ia baru tahu untuk apa sarung mayat perempuan diambil orang. yang tadinya basah oleh gerimis. Tapi tak banyak lagi orang yang berdatangan dari arah kota. Ia kembali ke jembatan jalan umum. lalu dengan beranting menggotongnya sampai ke tepi jalan raya untuk diperiksadan dirawat oleh tenaga-tenaga kesehatan yang . Ia merasa sangat sendiri. Lalu ia menuruni tebing sungai di bawah jembatan itu hendak meminum air yang bening mengalir. Namuh Sidin masih kebingungan karena tak tahu apayang harus diperbuatnya. Di sebuah lapangan sempit di tikungan jalan yang mulai mendaki dilihatnya irang ramai di sekitar api unggun. Dan yang paling menggodanya ialah rasa haus. dia memandang ke arah jembatan kereta api yang ambruk. Dan di salah satu pinggir sungai ia melihat orang-orang berbanjar dari tempat gerbong bertindihan itu ke tepi jalan raya. “Di sana. Baju balcunya yang tipis. Airnya jatuh gemericik. ia dapat memperhatikan lebih saksama betapa hebatnya kecelakaan itu. Sambil bersandar ke pagar besi di tengah-tengah jembatan itu. mungkin familinya. Teringat pada bagian hulu sungai itu. Setiap ada korban yang digotong ke kota. Ia kembali naik ke jalan.

Gerbong terbawah itu tergencet antara gerbong barang dan gerbong penumpang. kopi. Anak muda. Tapi begitu lamanya. Berdua mereka mengangkati korban yang telah mati itu dan mengeluarkannya melalui jendela gerbong. Tiba-tiba dari arah jalan raya ada seseorang berteriak-teriak. Pada bagian yang ditimpa gerbong di atasnya begitu remuknya. Tiba-tiba terdengar suara mengerang-ngerang dari antara tumpukan korban. Mungkin korban yang telah mati.semuanya berbaju putih dan biru tua. Dan makian Jepang "Bagero omae! bagero omae! " tak seorang pun yang mempedulikan. Sidin tak sempat berpikir banyak lagi. Dengan memindah-mindah mayat-mayat lainnya. Berebut mencari kopi yang diimbau dengan teriakan itu. Tapi hanya seorang penolong yang ada di sana. Dan ketika anak muda itu memandang kepadanya. tak mampu menggerakkan semangat Sidin untuk memulai. "Tuan-tuan. Kenapa hanya seorang penolong saja. perasaan ngeri yang sangat menyebabkan seluruh sendinya demikian goyahnya. Sebuah lampu tekan tergantung dengan diikatkan pada kayu rak barang. Dan maki-makian Jepang menyuruhnya segera bekerja. Tapi Sidin telah berada di dalam gerbong. Namun matanya melayang juga ke keliling dengan perasaan ngeri yang tak kunjung hilang. orang-orang yang berbanjar di sepanjang tepi sungai itu bagai semut yang terpijak sarangnya. Kalau memang tidak ada kenapa masih ada orang berbanjar di tepi sungai itu? Kalau masih ada. Tuantuan!" Serentak dengan teriakan itu. la lewati orang yang berbanjar itu. yang seusia Sidin. “Rekas! Rekas! " kata seorang serdadu J epang menyuruh Sidin yang tertegun hendak memasuki gerbong itu. Hanya beberapa orang saja yang tidak beranjak dari tempatnya. Ia tersandar pada dinding gerbong. sedang mencoba menarik-narik seorang korban agar terlepas dari tumpukannya. Hari memang telah lewat tengah malam. kenapa begitu lama mereka menanti? Seperti ada yang mendorong Sidin untuk menyelusup ke dalam gerbong yang terbelingkang itu. Hati Sidin bagai terlecut jadinya. juga haus. Tak seorang pun yang mempedulikannya. Sidin tidak bisa membalas senyum itu. Keduanya buru-buru mencarinya. hingga roda-roda gerbong yang menimpanya terbenam ke dalam gerbong di bawah itu. Tapi tak ada orang yang menyambutnya." kata orang yang berdiri paling dekat di gerbong itu. "Di gerbong paling bawah. seperti orang memindahkan setumpukan karung-karung beras untuk mencari dari mana sumber suara . dan bahkan lapar karena tak henti-hentinya bekerja menggotongi korban yang dapat dikeluarkan dari gerbong atau terpental ke dalam sungai. Dan bagero Jepang itu melayang-layang lagi di udara malam itu. Akhirnya ia melihat anak muda itu mencoba mengangkat korban yang bertumpukan seorang diri. tak ada korban lagi di gerbong itu. Sehingga ia tak bisa lagi untuk mundur tersebab rasa ngerinya melihat mayat yang saling berimpitan di dalam gerbong itu. tersenyum menyambut kedatangan Sidin. satu-satunya orang yang masih menolong untuk mengeluarkan korban dari dalam gerbong itu. ketika Sidin kebingungan hendak memasuki salah satu gerbong. kemudian mengajaknya ikut membantu. pikir Sidin. Orang-orang memang telah letih. Sidin memasukinya lewat beberapa jendela yang telah dibongkar tiang pembatasnya.

seseorang membawakan dua cangkir kopi untuk mereka. Sidin mengangguk. Tapi tidak bisa telinga Sidin menangkapnya. Mestinya mayat yang di bagian atas itulah yang harus dibongkar lebih dahulu. Tapi ketika ia melihat kepada temannya itu. Lagi-lagi gadis itu menjerit kesakitan. “Potong na. Sidin hendak minta tolong kepada orang lain untuk membantu memindahkan roda besi yang menekan itu. melainkan diminumkannya kepada gadis kecil itu. Lalu mereka mencoba lagi menarik mayat yang lebih di atas lagi. namun kaki gadis itu tak dapat dilepaskan dari jepitan mayat itu. Akhirnya mereka menemukan sumber suara itu. Pikirnya tak mungkin digunakan kampak itu untuk memotong mayat yang menjepit itu. Minta bantuan tenaga!" kata Sidin berteriak lagi. Sidin menerimanya. ia merasa terpukul. Ketika kepalanya keluar dari jendela. Mereka mencoba mengangkat mayat yang di atas gadis itu. ia tak mampu melaksanakannya. Kalau mesti menggunakannya. Seorang gadis kecil yang terjepit di antara beberapa mayat yang bertumpukan. Dan bersamaan ia dengar hatinya sendiri merintih dan lehernya membengkak serta jakunnya terasa tersendat di lehernya untuk menahan jeritan hatinya keluar dari kerongkongan. Kampak itu diambil oleh temannya sambil menyeringai ketawa seperti ketika ia menyambut kedatangan Sidin tadi. Kutukan itu dirasakannya kurang cukup untuk mengajari dirinya. tapi itu tak mungkin mereka melaksanakannya berdua saja. Pikirnya selintas. "Kaki seorang gadis terjepit. Dilihatnya temannya itu tidak meminumnya. Karena memang secangkir kopi tidak cukup baginya.itu. "Seorang gadis terjepit kakinya!" seru Sidin pada orang yang berdiri di atas batu kali. Sidin lalu menceritakan dengan bahasa isyarat pada Jepang yang kerjanya Cuma memaki dengan bagero itu. sampai tangannya dirasakannya sakit. orang yang paling dekat darinya. sehingga Sidin hanya melihat mulut orang itu terbuka. “Apa?!" tanya orang itu dengan berseru pula. Secangkir diserahkan kepada temannya dan yang lain segera diminumnya karena dengan tibatiba rasa haus dan lapar digoda oleh aroma kopi itu. tapi usahanya kandas karena setiap mereka mencoba menariknya. . gadis itu selalu terpekik. Dan Sidin mengutuki dirinya yang hanya memikirkan dirinya seorang. Potong na. "Kopi?" tanya orang itu lagi." kata Jepang itu seraya memberikan kampak. Sidin melihat ada roda gerbong yang menekan ke bawah. "Lagi?" tanya orang yang mengantarkan kopi itu. Dipukulnya keningnya beberapa kali. Namun bagaimanapun keras usahanya menarik-narik. Dan itu tak mungkin mereka angkat berdua. mungkin tadi kampak itulah yang digunakan untuk memperlebar lubang jendela itu. mayat itu tak beranjak dari tempatnya. Walau bagaimana pun sudah diusahakan. Alangkah lahapnya gadis itu meminumnya. Ia keluarkan kepalanya lewat jendela yang dibongkar itu. Tapi suara itu berbaur dengan desauan air yang mengalir. Dan mereka berusaha mengeluarkannya.

Sidin menggamit orang itu supaya mendekat. Sambil ia berseru meminta dua orang tenaga dengan mengacungkan dua jarinya. Sedang bagero Jepang itu terus juga melayang-layang. "Dua? Baik. Aku ambilkan," kata orang itu seraya pergi menjauh. Sidin menyangka orang itu akan mengatakan pesannya kepada orang terdekat. Tapi ia terus juga melewati orang-orang yang berdiri di tepi sungai itu. Dan Sidin terus juga berteriak-teriak mengatakan apa yang ia perlukan. Di sela oleh bagero Jepang itu. Tak ada orang yang memahami apa yang dikatakannya, karena suaranya ditelan oleh desauan air sungai yang mengalir di sela-sela batu, bagero-bagero Jepang yang melayang-layang, padahal jarak mereka tidak jauh. Tiba-tiba saja, anak muda yang jadi temannya dalam gerbong yang sial itu, telah berada saja di sisinya. Ia tertawa nyengir seperti waktu menyambut kedatangannya tadi. Sidin bingung seketika, oleh tawa yang pada waktu dan tempat yang tidak sesuai itu, meski hanya menyengir saja. "Beres," kata anak muda itu sambil terus menyengir. Sidin melirik ke tempat gadis kecil itu terjepit. Gadis itu tak di sana lagi. Gadis itu ada di dalam gendongan anak muda itu. Wajahnya diam dan kepalanya terkulai. Dan ketika ia naik ke bangku gerbong tempat Sidin berpijak, maka Sidin turun dari bangku itu untuk memberi kesempatan pada anak muda itu keleluasaan menggotong korban itu. Tapi tiba-tiba ia tidak melihat sebelah kaki gadis itu. Di ujung kaki yang tak terlihat itu ada daging merah yang masih mengucurkan darah. Secara refleks ia menoleh ke tempat gadis itu terjepit kakinya oleh mayat dari korban kecelakaan itu. Di sana ia juga melihat ada daging kaki yang terpenggal dan darah berserakan pada mayat yang di bawahnya. Sebuah kampak tergeletak di dekatnya. Sidin tiba-tiba puyeng dan rebah terhenyak menimpa mayat yang ditaruhnya tadi. Dan Sidin tidak tahu ketika gerbong itu berguncang. Juga ia tidak tahu ketika mayat yang bertindihan yang tadinya dicobanya membongkar terlepas, lalu berguling menimpanya. Ketika Sidin sadar kembali, ia tidak tahu bahwa waktu sudah hampir dini hari. Karena kegelapanlah yang ia lihat sekeliling. Dan sejajaran benda besar yang lebih hitam bagai hendak menyungkupnya. Dikejap-kejapkan matanya agar bisa melihat lebih nyata benda hitam apakah itu. Lama juga disadarinya bahwa benda besar yang hitam itu adalah bukit barisan dan bagian atasnya adalah langit. Lalu ia tahu, bahwa ia sedang tergolek di udara terbuka. Tapi di manakah sesungguhnya ia berada sekarang, pikirnya. Dan ia memicing lagi untuk memusatkan pikirannya dalam mencoba mengenangkan di mana ia sedang berada. Ketika kesadarannya mulai agak pulih, ia memaksakan dirinya untuk duduk. Tapi tenaganya bagai telah habis, karena tusukan rasa nyeri pada hampir seluruh tubuhnya. Lalu ia memicing lagi, memusatkan pikirannya lagi. "Anak itu, anak itu. Kenapa dipotong kaki anak itu!" katanya berteriak-teriak sambil bangkit dari berbaringnya, ketika ia ingat peristiwa yang dialaminya terakhir.

Seorang gadis perawat menghampirinya dan merebahkannya lagi seraya membujuk agar Sidin tenang. "Gadis itu. Gadis itu ia potong kakinya dengan kampak," kata Sidin berulang-ulang ketika perawat itu berusaha membaringkannya kembali. Sidin tidak mau dibaringkan. Ia terus hendak duduk lagi, sambil berkata tentang kaki gadis yang dipotong dengan kampak itu. Seorang perawat laki-laki datang membantu temannya. "Kena syok oleh peristiwa ini, agaknya," kata gadis perawat itu. Kemudian katanya pula, "Ambilkan kopi." Setelah ia minum kopi yang disodorkan kepadanya, Sidin yang sejak tadi terus meracau tentang gadis kecil yang dipotong kakinya, mulai agak tenang. Dan ketika kopi pada cangkir kedua yang disodorkan padanya telah habis diminumnya pula, pikirannya telah lebih jernih lagi. “Aku tidak apa-apa. Aku tidak jatuh di kereta api. Aku menolong korban di gerbong itu. Seorang gadis kecil kakinya terjepit. Gadis itu masih hidup. Ada orang memotong kaki gadis itu dengan kampak. Di mana gadis itu sekarang?" tanya Sidin. "O, gadis itu. Ia tidak apa-apa. Sudah diobati. Sudah dibawa familinya pulang," kata perawat itu lagi.. "Istirahatlah dulu. Saudara terlalu payah. Berbaringlah kembali.” Nyeri di sekujur tubuhnya terasa lagi. Tapi ketika ia hendak berbaring, ia melihat ke kiri kanannya. Ia menampak banyak orang terbujur di sekitamya. Pada beberapa bagian badan mereka ada yang di balut kain, di antaranya berbecak-becak dengan warna yang gelap. Ia tahu bahwa semua mereka adalah korban kecelakaan kereta api, dan dia sendiri bukan salah seorang di antara mereka. Tapi rasa nyeri di sekujur tubuhnya bagai tak terderitakan lagi. Dan ketika gadis perawat itu membaringkannya kembali, ia menurut saja. Jadi gadis itu tak apa-apa. Sudah dibawa pulang, kata hatinya ketika ia mengingat-ingat apa yang dikatakan perawat itu. Tapi mengapa dibawa pulang? teriak hatinya pula. Sidin bangun lagi dan berdiri menuju ke tempat perawat-perawat itu berkumpul mengelilingi lampu tekan yang terang benderang. Ketika ia hendak menanyakan ke mana gadis kecil yang dipotong kakinya itu dibawa, Sidin melihat seseorang yang diikat kaki dan tangannya. Ia merasa mengenalnya. Dan orang itu tertawa menyeringai kepadanya. Dan ia ingat itulah temannya dalam gerbong itu. Sidin hendak berkata, ketika seorang perawat laki-laki mendekatinya dan menanyakan keperluannya. "Dia itu. Dia itu," kata Sidin tanpa dapat menyelesaikan kata-katanya karena pikirannya belum teratur demi ia melihat anak muda itu masih menyeringai memandang kepadanya. "Itu orang gila. Menyasar ke sini," kata perawat itu.

Dan Sidin tiba-tiba nanar. Hampir saja jatuh terkulai lagi ke tanah kalau perawat itu tidak segera menopangnya. Lama kemudian, ketika rasa kejutnya menyurut, timbul pertanyaan dalam kepalanya, kenapa hanya ada orang gila di dalam gerbong itu? Perasaannya tersenak ketika ia ingat pada gadis kecil yang kakinya dipotong dengan kampak oleh seorang gila. Emosi dan sesalan Sidin tak terbendung lagi. Dan orang pun menyangkanya juga gila. Penumpang Kelas Tiga Si Dali ketemu teman lamanya di kapal Kerinci yang berlayar dari Padang ke Jakarta, sebagai penompang klas tiga. Ketemu setelah berlayar semalam, waktu lagi antri ke kakus. Padahal sebelum itu mereka sudah bertatap pandang juga di tempat tidur yang bersela seorang lain. Namun tidak saling memperhatikan, apalagi bertegur sapa. Barulah saling memperhatikan waktu antri hendak ke kakus itu. Mulanya saling bertatapan, lalu saling melengos. Bertatapan lagi dan melengos lagi. Ketika bertatapan ketiga, mereka tidak melengos lagi. Mereka sama tersenyum. "Engkau Si Dali, bukan?" kata yang seorang. "Si Nuan?" kata Si Dali menyahut dengan tanya. Mereka berangkulan dengan kedua tangan masing-masing memegang peralatan mandi, sabun, gundar gigi dan handuk. "Sudah lama sekali kita tidak ketemu." "Memang sudah lama sekali." Mereka saling bertanya-tanya dan saling berjawab-jawab. Dengan asyik. Sampai beberapa orang sudah keluar dan masuk kakus, mareka masih bertanya-tanya dan berjawab-jawab. Dalam pada itu pikiran Si Dali berjalan ke masa lalu yang sudah lama sekali. Nuan punya saudara kembar, Nain namanya. Untuk menandai perbedaannya, yang satu tidak segempal yang lain. Kemana-mana selalu bersama. Kata orang, orang bersaudara kembar sering punya selera yang sama. Termasuk terhadap perempuan. Kata orang, itu baru ketahuan kemudian. Yaitu ketika terjadi persaingan untuk mendapati hati seorang gadis. Yang menjadi idola pada awal revolusi, terutama oleh para gadis, ialah prajurit yang dipinggangnya tergantung pedang samurai dan kakinya dibalut kaplars. Nuan dan Nain yang hanya dapat pangkat sersan satu dengan tugas sebagai pelatih TKR bagi prajurit baru. Karena pangkatnya yang rendah, mereka tidak berhak memakai kedua perangkat perwira yang bergengsi itu. Keduanya pun sama merasa tidak mendapat perhatian Si Wati, gadis di sebelah rumahnya. Dan ketika Komandan Pasukan Hizbullah, Kolonel Hasan, mengajak bergabung dengan pangkat letnan dua, Nuan meninggalkan tugasnya

Agar dapat pangkat yang sama Nain pun bergabung dengan Tentera Merah Indonesia. Mereka bergumul lagi. Nuan mendapat tugas baru sebagai staf pada bagian logistik. Kian lama bergabung dengan pasukan yang berbeda idiologi perjuangan itu. tapi menurunkan pangkat dua tingkat pasukan yang berjuangan. Tapi lebih sering datang sendiri-sendiri karena memang tidak punya waktu senggang yang sama. Semenjak itu mereka tidak pernah bertemu lagi. meski pedang samurai dan kaplars tidak lagi berhak mereka pakai. api dalam dada keduanya menyala lagi. yang ketika itu telah beranak dua.dari TKR. Sedangkan perwira di front lebih memungkinkan kau cepat jadi janda. Wati sadar bahwa dia telah jadi isteri Nuan. pangkat semua per. "Apa dayaku. Sedangkan Nuan yang ikut PRRI mundur ke hutan. Tapi Nuan yang kau jadikan suami. Katanya: "Perwira bagian logistik akan lebih menjamin kebutuhan hidup rumah tanggamu. Mereka pernah berdebat di depan Wati untuk membenarkan tujuan perjuangan masing-masing. Keduanya tetap sama membanggakan tugasnya masing-masing kepada Wati. Tentu saja pada kesempatan itu mereka saling membanggakan pasukan masingmasing. Oleh kebijaksanaan pemerintah itu. Yaitu menerima pasukan KNIL dengan kepangkatan yang utuh. Berulang kali. Ketika Nain datang mendapati Wati. Akan tetapi belum ada yang berani menebarkan jala untuk mendapat Wati." tempelak Nain kepada Wati. Dan ketika akan melampaui tapal batas. Ayah Wati berpandangan praktis dalam menenetapkan siapa yang akan jadi jodoh anaknya. sedang Nain dalam kesatuan tempur di front. "Apalah arti perbedaan pasukan." "Padahal engkau membalas ciumanku. sekali lagi kesatuan Nain ditugaskan menumpasnya. Dan mereka bergumul dengan dada masing-masing bergemuruh. Wati dirangkulnya erat. Nuan selalu bicara tentang perang jihad bila bertandang ke rumah Wati. Karena kesatuan Nain sering berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain yang dilanda kemelut militer akibat para perwira tidak puas terhadap kebijaksanaan politik kemeliteran sehabis revolusi. Sekaligus menimbulkan persaingan dalam merebut hati Wati. Yang penting sama jadi letnan. kalau ayah mau Nuan?" jawab Wati dengan nada yang memelas. Ketika kemelut militer berjangkit dalam bentuk peristiwa PRRI. Nain sudah terlatih bersikap radikal." kata mereka sambil menyangka Wati akan mulai punya perhatian. meski bernafsu dia hanya . Itu terjadi setelah pemerintah melakukan kebijaksanaan rasionalisasi dengan menggabungkan seluruh kesatuan pejuang ke dalam TNI. Tapi Wati tinggal di kota.wira di luar TNI diturunkan dua tingkat. baik karena ikut Tentera Merah. malah menumbuhkan perseteruan diam dalam diri keduanya. Api dalam dada Nain bercampur aduk dendam antara cinta tercuri dengan permusuhan idiologi dengan saudara kembarnya. Nuanlah yang akhirnya berhasil merebut Wati. Pergumulan pun reda. Sedangkan Nain bicara tentang revolusi rakyat. Menurut Wati. maupun lama di front. sama punya pedang samurai dan pakai kaplars.

Dia bertatapan dengan Nain yang sudah kapten yang menang perang. Dia pergi ke kamar Inna dengan nafsu dendam yang menyala-nyala kepada Wati. Inna adalah isteri saudara kembarnya. lalu mereka berangkulan sebagai dua orang saudara kembar. dia tekan jauh ke dalam lubuk hatinya. lalu dia marah dan kemudiannya benci yang membuahkan dendam yang tidak akan terhapus." teriaknya berulang-ulang. Ditinggalkannya Wati yang lagi berbaring di sisinya. lalu dugaan. Sebentar. yang menjadi kapten karena perangnya menang. Akan tetapi ketika dia ingat Wati pernah mengkhianatinya. Tapi dia seorang prajurit yang kalah perang. yang cantik dan lebih muda. Yang kini menjadi pembantu letnan setelah pangkatnya diturunkan oleh sejarah. Dan Wati lari ke ruang belakang dan terus ke rumah sebelah. Mengapa dia harus membalas dendam kepada saudara kembarnya sendiri yang kini tengah mengalami siksa akibat idiologinya sendiri. isteri Nain. Semuanya khianat. sebentar saja mereka sama terpaku saling memandang. Ditangkap lalu dipenjarakan.menjalaninya dengan per imbangan: daripada melayani prajurit lain yang lagi mabuk kemenangan. Kini dialah yang dikalahkan. lebih baik menerima Nain yang sekaligus menjadi pelindung. Bila mengambang menjadi jeritan. Di sebelah sana adalah Nain. "Wati toh perempuan yang dikalahkan sejarah. Hatinya luka. Pemberontakan kaum komunis pun pecah. ya. "Kamu rasakan kini menjadi orang yang kalah. Dengan perasaan itu dia menerima Wati kembali yang membawa kedua anak mereka. Namun Nuan hanya tegak termangu melihat Inna membuka baju sambil tersedu. Tiba-tiba letak panggung sejarah berobah. Nuan kembali bergabung ke TNI dengan pangkat baru yang diturunkan lagi dua tingkat. Nain yang kapten dan baru diangkat jadi mayor ikut komunis. Dia tak muncul lagi sampai kedua laki-laki itu pergi. . Lari dari keadaan yang tak tertanggungkan bila meledak. Karena kemenangan itu dia meniduri Wati. Akhirnya setelah kalah perang. menyusuri jalan raya yang gelap karena listrik sudah lama mati oleh mesin sentralnya sudah lama rusak. isteri saudara kembarnya. Lalu dia keluar sambil membanting pintu. lalu meniduri Inna. Pada mulanya perasaan. bahkan berpikir apapun. yang kini menumpang di rumahnya? Tidak." katanya mendamai-damaikan sisa gejolak di hatinya. Apa yang dapat dilakukan oleh orang kalah perang? Bagi Nuan tidak lain daripada selain kalah dan seterusnya menerimanya tanpa dapat berbuat apa-apa. dihadapan Wati. Dia tidak dapat melakukannya. Pikiran dan perasaan yang berancuan moral. diredam oleh keharusan berdamai dengan situasi. Jadi berbeda idiologi karena berbeda kereta tumpangan yang disediakan sejarah. akhirnya dia yakin bahwa antara Wati dan Nain ada main. menjadi pembantu letnan. luka hatinya menganga." Tapi Nain adalah saudara kembarnya yang lahir dari perut ibu yang sama. Tak berkata sepatahpun. Sesudut hatinya bersorak. Tapi dia adalah prajurit yang perangnya kalah. Haruskah membalas dendam karena Wati ditiduri Nain. "Khianat.

Pada mulanya keduanya sama terpaku ketika saling pandang seperti tidak percaya pada penglihatan masing-masing. Aku dagang diriku sendiri. seperti padanya tak lagi ada emosi. Seperti tiba-tiba saja suara panggilan untuk penumpang jurusan Surabaya terdengar.. Keduanya berangkulan lagi sebagai sahabat lama yang akrab. yang duduk pada kursi di belakangnya bertanya: "Anda kenal dia juga. perempuan itu ditemuinya di Bandara Kemayoran. Matanya nanap memandang Lara yang kian menjauh.Lalu mereka duduk bersisian sambil berbicara tentang macam-macam hal tanpa menyinggung masa lalu yang telah jauh di belakang." kata Si Dali seperti kepada diri sendiri." "Tiba-tiba saja kita telah menjadi tua. Pada waktu dia hampir-hampir melupakannya. Berdagang saja. Sedangkan Lara mengembangkan kedua tangannya untuk merangkul. sudah lama sekali. bisnis apa?" "Oh." "Dagang apa?" "Dagang apalagi kalau sudah terlanjur dari dulu. kita tidak bisa betul-betul lupa." kata laki-laki itu tanpa melanjutkan." "Meski begitu. "Coba kalau aku tahu sebelumnya. rupanya?" "Dia isteri komandan kami. . 6 Januari 1996 Perempuan Itu Bernama Lara Lama juga setelah perang usai Si Dali mencari-cari dengar dimana Lara. Kapten."Sudah lama sekali." Kayutanam. Meninggal dalam pertempuran dulu. Si Dali terhempas duduk ke kursinya lagi. Tiba-tiba dia seperti kenal betul beda sosok perempuan seperti Lara dengan perempuan karir atau perempuan rumahtangga. Kemudian Si Dali bertanya: "Tadi kau bicara tentang bisnis. Lalu keduanya saling menyongsong.." "Memang. Seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Si Dali mengulurkan tangan untuk bersalam. "Ya.. Lara berdiri. "Mengapa?" "Tak apa-apa. Kalau aku boleh tahu. Akupun kapten dulunya." jawab Lara dengan suara datar.. kita tidak ketemu?" kata salah seorang setelah sama menopang dagu ke pagar geladak kapal sambil memandang ke gelombang laut lepas." kata laki-laki itu seperti orang baru melewati tanjakan. ya..

Kerut kening saja pun tidak boleh. Perempuan tidak perlu ikut perang. Biasanya Si Kapten pergi tidak kurang dari sepekan. Padahal ketika ditinggal lebih lama dia tidak kemana-mana. Termasuk perjalanan dua hari pulang pergi. Naluri prajuritnya masa gerilya mendorongnya berdiri untuk memberi hormat. Melainkan menghadiri rapat komando.Artinya mental komandan tidak boleh sampai kacau. Tapi segera ia sadar. Begitu Lara. Karena garis frontnya memang luas dan memanjang. Apalagi sepeninggal Si Kapten pada waktu meninjau front. bayangan peristiwa lama kembali mengambang dalam mata ingatan Si Dali. Malah jadi beban." Si Kapten berturatura ketika caci-makinya mulai berkurang. dia tidak mau mengkhianati perjuangan. Dalam penerbangan dari Jakarta ke Padang. Tapi semua orang tidak yakin apabila Lara tidak pernah berselingkuh dengan laki-laki muda ganteng. yang beberapa di antaranya sering bersama Si Kapten. . Begitu aku. Kadang-kadang sampai dua pekan. Siapa tahu. Berpisah tanpa bersalaman. Paling kurang. Tapi dia tidak mau. Meski bentuk perintah itu demi kepentingan pribadi. apapun macamnya harus segera dilaksanakan. masa tabikmenabik telah lama lewat. Tapi kini dia pergi. Setahu orang." kata laki-laki itu." teriaknya kemudian. Lara tidak pernah bertengkar dengan suaminya. lalu katanya: "Cari dia sampai dapat. "Kalau dia mau pergi. Ke kota lagi.Si Dali yang dulunya seorang kopral tersentak. Hanya kita yang sering lupa. Hanya nilai moral yang tidak pernah berobah. Apa pasal makanya dia minggat. Begitu anda sendiri. tinggal saja di kota. Cuma beberapa hari saja. bawahan tidak boleh menjawab. bila komandan marah-marah." Menurut aturan dalam pasukan. *** Tentu saja si Kapten menghiruk-pikuk. Lalu mereka berpisah ketika panggilan untuk penumpang ke Padang agar naik ke pesawat. Demikian pula apabila turun perintah. aku tahu kemana dia pergi. Alasannya. dia sudah bosan tinggal di hutan lalu mau khianat. komandonya pun akan kacau. Ketika Si Dali tiba. Kepergian Si Kapten sekali ini tidak meninjau front. boleh saja. Maka segera saja Si Dali menghambur. Masuk kota juga boleh. "Mana Si Dali. memaki-maki bahkan bercarut-carut ketika tahu isterinya minggat. Atau tidak peduli. barangkali. Dulu sudah aku bilang. Karena kepentingan pribadi akan banyak mempengaruhi mental komandan. Jika mentalnya sampai kacau. Lara sudah tahu itu. "Sejarah menghasilkan kehidupan yang tidak sama. Perang akan kalah. Tak boleh ada pertanyaan.

Udara terasa mulai dingin. Akhirnya nafas mereka sama ngos-ngosan. Asap yang tipis. Lalu kata Lara: "Engkau lebih hebat dari dia. Karena bukan robot. Si Dali kembali. Lara memasangkan baju si Kapten kepadanya. Si Dali mulai berpikir. Bintang yang sudah lama disiapkan Si Kapten setelah tersiar cerita bahwa pangkatnya akan naik. perempuan itu memang cantik sekali. Tak bisa dibedakannya antara khayal sebagai . karena tugas yang diperintahkan kepadanya telah selesai. karena menyangkakan itu lagi-lagi khayalan belaka. Dia mencoba menyelusuri saat-saat terakhir Lara dilihatnya. ikan yang dimoncong kucing air itu ialah Lara yang berusaha lepas dari tangkapan Si Kapten. lalu berangkulan. Seperti yang selalu dikatakan komandan: bahwa seorang prajurit bila da. seolah-olah Si Dali yang atasan. Pokoknya ia mesti jalan tanpa memikir apa-apa. Alis matanya lebat. "Masih mending berkhayal belum terlarang. Berlari masuk semak. Tidak boleh berpikir apa-apa. Si Dali tidak bisa tidur. memang hanya dapat berkhayal. Tapi kampung yang jadi pos komando sudah kosong. Penduduknya pun tidak. Keduanya senang melihat Si Dali datang. Lalu melekatkan satu bintang kuning di bahunya. hatinya berkata: "Prajurit seperti aku.pat perintah maju. Tapi dia tidak marah. Sesaat terlayang dalam pikirannya. khayalan yang kian kacau. Sisa apinya masih mengepulkan asap. Dia mulai berkhayal. Malah berdiri tegap sambil memberi tabik kepadanya. Maka tahulah dia bahwa kampung itu ditinggalkan akibat serbuan musuh. Sambil duduk di atas batu dan menjuntaikan kaki ke air. Diapun tidak bertanya pada dirinya harus kemana mencari isteri yang minggat itu. Ketika selesai. Dadanya penuh. "Bagus Lara." kata hati Si Dali. Dan malam pun tiba. Hitam terbakar. Lalu duduk di tangga tempat Lara duduk termanggu siangnya. Yang paling dia ingat benar. Walau maut tantangannya. Setelah lima hari mencari tanpa tahu kemana mencari. Bagaimana jika khayalan itu dibolehkan pula jadi kenyataan." Tak lama kemudian khayalannya berlanjut." Pada saat itu si Kapten muncul. akhirnya Si Dali kecapaian juga ketika jalan itu dihadang sungai kecil yang airnya begitu bening. Di tangga rumah di lereng bukit Lara sedang duduk termangu." katanya seraya melemparkan batu ke belukar persembunyian kucing itu. Tak seorang pun dijumpainya." Tiba-tiba seekor kucing air muncul di permukaan sungai. Ketika dia sadar dari lamunan. Mau melaporkan bahwa pencariannya gagal. Rambutnya ikal. kalau kau bisa lepas. harus maju. Meski salah tetap dihormati. Ditemani perempuan setengah baya yang berselubung kain batik lusuh. Di moncongnya seekor ikan menggelepar-gelepar. Sejenak dia ragu. Meski peluru musuh berdesingan. Rumah yang ditempati Si Kapten telah menjadi puing. Dia pun ingat pada suatu khayalannya. "Memang enak jadi komandan.Si Dali berjalan cepat menyusuri jalan kampung yang tak pernah terawat semenjak perang. Lama-lama semakin larut. Betisnya aduhai. Lara telah ditemukan. Si Dali pun senang. seperti kehidupan di luar ketenteraan? Bayangkan. mereka mulai dari bersentuhan tangan.

isterinya?" Si Dali mendengus. Tapi di jalan aku bertemu patroli musuh. Lebih ngeri bila mereka meniduriku. Lambat laun pikiran itu tidak lagi khayalan. Si Dali bertanya: "Kemana saja kau hilang beberapa hari ini?" "Aku muak digermoi. "Kau tahu Si Kapten lebih doyan anak jawi*) daripada aku." Perasaan Si Dali seperti balon hampir pecah oleh tiupan angin kencang yang berapi. Aku mau ke kota. Tapi kau tidak acuh. Tapi pikiran Si Dali tidak keruan oleh bau tubuh perempuan yang sudah lama menggemaskan hatinya itu. Maka aku kembali. "Apalah aku. Kemudian katanya: "Engkau istri komandan. Kau juga?" kata perempuan itu setelah lama mereka sama membisu. Lama sebelum perempuan itu tidur lagi. Setelah agak lama terdiam dia berkata lagi. "Kau kira aku senang?" "Dapat perjaka silih berganti. "Aku pernah memancingmu. Justru di sini aku digermoinya." kata Lara. di sisi perempuan baya yang mendengkur dalam tidurnya lewat tengah malam. Dali bertanya lagi: "Bagaimana cara hidupmu begini berakhirnya?" "Aku pikir ini masih permulaan." lanjutnya. mengapa tidak senang?" kata Si Dali dalam hati. "Aku benci digermoi suamiku. Mengapa?" tanya Lara agak lama kemudian. Aku inginkan laki-laki matang seperti kau.kenyataan dengan kenyataan sebagai khayal ketika tiba-tiba Lara sudah duduk pula di sisinya. menjadikan anak buahnya sebagai anak jawi?" Lara berkata seperti tidak untuk dijawab. Bagaimana jadinya aku bila ketahuan. Keduanya sama diam. Bagaimana perang ini jadinya bila komandan dikhianati prajurit?" "Kalau komandan mengkhianati istrinya. "Kau tahu aku disuruh tiduri oleh anak jawinya sebagai imbalan?" Si Dali mendengus lagi. Bagaimana bisa bersaing dengan perjaka yang cakap-cakap itu. Ngeri bertemu mereka." jawab Si Dali dalam hatinya." . "Sejak mula kawin aku sudah curigai dia peranak jawi. Pikiran Si Dali yang kacau mulai membentuk khayal laki-lakinya. seorang prajurit kacungan. Kemudian sekali. Maka itu aku ikuti dia bergerilya. Lara berkata sepelan bisikan ke telinga Si Dali. Aku muak melayani anak ingusan. Setelah beberapa lama hening. Supaya perangainya tidak berkelanjutan. "Aku tidak bisa tidur.

"Kalau dia kaya. berapa lama dagangannya diminati?" Tiba-tiba Si Dali tidak merasa kakinya di atas beton landasan."Permulaan?" *) Anak jawi = anak muda pasangan laki-laki homo. 1 September 1996 . Lalu dia memeluk Lara erat-erat. Lalu aku akan cepat menjadi tua." Demi melihat banyak orang di gedung terminal. Si Dali meyakinkan dirinya bahwa segala yang terjadi semata mimpi dari masa silam yang telah lama lewat. Dan tiba-tiba ada rasa rikuh karena merasa tepergoki. Betapa enaknya buah kemerdekaaan itu bagimu. Maka tentera tidak diperlukan lagi. ia berperang karena menjadi tentera. Mimpi yang panjang. Si Dali mencubit pahanya kuat-kuat untuk tahu apakah ia berada dalam khayalan? Cubitan itu terasa sakit. tapi tergadai. Lara bergegas mengemasi miliknya. Karena ditinggalkan tanpa pamit. Berhari-hari kemudian terberita Si Kapten terbunuh pada suatu serangan musuh." Hati Si Dali tersentuh hiba. kata. Si Dali bertanya pada dirinya. kata Lara dengan suara yang lusuh. yang masih dapat ditemukannya pada rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. tergadai. Ya. *** Ketika kakinya mencecah landasan Bandara Tabing. Mengerikan." "Merana?" tanya Si Dali karena tidak paham. anak jawinya akan lebih banyak. Lalu berangkat ke kota. Dia akan jadi pengusaha untuk mengisi kemerdekaan itu. Aku? Aku tidak berdagang. Ia menjadi tentera untuk mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Tapi kedua perempuan itu tidak rikuh. sejenak dia termangu. Kakinya seolah terangkat oleh pikirannya yang terbang mengawang. "Engkau akan jadi isteri pengusaha besar. "Kata suamiku. Kenangan yang bukan peristiwa yang dapat dicatat oleh buku sejarah. "Apa mereka juga tergadai seperti aku? Kalau ya. Setelah merdeka. Mimpi yang tak kunjung hilang dalam kenangan. Kenangan kepada Lara ditindih oleh pikiran yang kemudian diucapkannya: "Lara berdagang dirinya untuk menggapai hidup yang lebih baik. Mereka terbangun ketika perempuan baya membawakan mereka dua cangkir kopi panas. "Aku kira aku akan merana bila dia sukses jadi pengusaha. seperti halnya orang berobah nasib secara mendadak.nya". sampailah cita-cita pemimpin bangsa. apa mereka bisa menebusnya? Kalau seperti Lara." kata hati Si Dali.

Aliran silat pendekar desa itu terkenal kemana-mana. Rakyat menyebutnya sebagai sarang orang bagak dan para pendekar. Karena setiap ada yang melapor. dengan rambut panjang yang bergelimang darah kering dan mata yang memutih terbuka lebar. Patroli tentera pun enggan. Banyak sudah korban di pihaknya. pengikutnya pun banyak. Akhirnya Si Patai dinyatakan musuh nomor satu yang paling dicari. hidup atau mati. dikatakan Si Patai jadi otaknya. Dinamakan sebagai aliran Silat Pauh. Sedangkan musuh yang dicari tidak pernah dapat. menyepak. Seorang pendekar yang paling disegani. Kepala anak kecil itu seperti dihela magnit mengikuti pawai. Lama kelamaan desa itu menjadi sarang pelarian dari tangkapan pemerintah. Maka Tuanku Laras selalu melapor kepada residen setiap terjadi peristiwa perampokan itu. Tak seorang pun berani melapor kepada pemerintah bila melihatnya. setiap terjadi peristiwa perampokan atau pembunuhan. Dan setelah berbulan-bulan meneliti dengan menanyai banyak orang yang mengaku mengenal peristiwa itu. tak putus-putus melintas dalam mata angan anak kecil yang masih ingusan itu. Sampai lama bayangan kepala terpenggal di ujung tombak masih menimbulkan rasa ngeri pada dirinya. Sehingga banyak orang berlajar ke sana. Polisi selalu was-was memasuki desa itu. paling ditakuti. Menurut cerita yang tersebar. Matanya bersinar-sinar memandangi para marsose (pasukan seperti Kopasus sekarang) berpawai sambil memalu genderang yang diiringi bunyi trompet bersuara lengking. peristiwa itu diceritakan kepada anaknya. Di pojok kamar anak kecil itu terduduk dengan kedua dengkul menopang kepala. Ketika anak kecil itu telah menjadi ayah. Kepala terpenggal di ujung tombak. pada masa itu Si Patai sering keluar masuk kota. Tapi ibunya tidak ada. Si Patai namanya. Anak itu Si Dali namanya. *** Pada ujung abad ke-19 sampai pada awal abad ke-20 desa Pauh di pinggir utara kota Padang. Kekuatannya pada kaki. Terisak karena merasa tidak terlindung dari ketakutan. menerjang dan menungkai. selalu saja rumah pelapor kena rampok malam harinya. hasilnya menjadi suatu kisah sejarah resmi yang dipalsukan. Dan ketika melihat sebuah kepala terpenggal pada ujung tombak yang digoyang-goyang. Baik yang musuh politik maupun penjahat. Memekik-mekik dia memanggil ibunya waktu berlari kembali ke rumah. Lebih dirapatkannya kedua dengkulnya seperti hendak menyatukan seluruh tubuhnya. anak kecil itu merasa ngeri. Tapi demi melihat serombongan laki-laki tanpa baju yang wajah dan tubuhnya berlumur cat hitam. Peristiwa yang jarang terjadi. . hatinya kecut. Kemudian Si Dali mengisahkannya kembali kepada seorang mahasiswa yang mencari hahan untuk skripsi kesarjanaan.Rekayasa Sejarah Si Patai Seorang anak kecil ingusan berlari ke halaman ketika mendengar genderang dipalu di jalan raya. Anak kecil itu berlari membawa badannya yang buntal tanpa baju. Ilmunya banyak. menjadi pelintasan pedagang yang pulang-pergi dari pedalaman Minangkabau ke kota. Lambat laun.

Maka selalu dia yang ditangkap dan dibawa ke penjara. Sejak itulah dia memperoleh nama julukan Ujang Patai.Kisah sebenarnya yang terjadi. Kata Tuanku Laras mengancam Kepala Kampung. Tapi tak lama kemudian dia dilepaskan lagi." katanya." kata Tuanku Laras pula. Kamu disuruh tangkap Si Patai. mengapa mesti membayar pajak kepada Belanda yang bukan pemilik negeri ini?" kata mereka. Lambat laun Si Patai yang menjadi pemimpin. Sebaliknya Si Patai banyak pula berguru berbagai ilmu pada sesama tahanan dari Bugis dan Banten. Rakyat tentu saja tidak suka dan kata mereka: "Kita tinggal di kampung halaman kita sendiri. jika tidak mampu memungut pajak. Bergabung dengan mereka yang memusuhi pemerintah. akan dipecat. Ketika ilmunya dirasa sudah cukup. Di Batusangkar. Di Tiku rakyat bersenjata parang menyerbu kantor polisi dan pos tentera. pajak yang telah terkumpul dirampok anak buah Si Patai. Menurut logat desa itu. Nama aslinya Ujang. Hampir semua penyerbu mati dan terluka. bahwa Si Patai pernah ditangkap karena lawannya berkelahi terbunuh. Bila ada patroli tentera. semua orang menunjuk si Ujang Patai orangnya. Tuanku. namun perampokan tak kunjung terhenti dan Si Patai tetap tak tertangkap. Nah. karena nama dengan julukan yang sama dari kedua orang itu. pokoknya buat laporan. Yang terbunuh itu kebetulan anak Tuanku Laras yang kalap karena judinya kalah." kata mereka yang terancam itu. tapi orang banci yang kamu tangkap. Betul-betul goblok. "Sulitlah itu. tahinya bapatai-patai. Pengecutnya bukan kepalang. *** Pada waktu sebelum kedatangan Si Patai. Terbirit-birit atau berpetai-petai tahinya diwaktu lari. "Ada tidak ada perampokan. dia yang lebih dulu berhamburan lari. ratusan perempuan dan anak-anak ikut . Maka tibalah suatu waktu. Sehingga sudah dua orang komandan polisi diganti. Dia bersembunyi di Pauh. Kepala Kampung dan Kepala Wijk ditugaskan memungutnya. menyuruh para Kepala Kampung membuat laporan setiap pencurian atau perampokan dilakukan oleh anak buah Si Patai. di Pauh sudah ada seorang banci bernama Patai. Tuanku Laras yang dendamnya belum terbalas. Semua rakyat sedang marah. Residen naik pitam. Selama di penjara Si Patai sering disiksa anak buah Tuanku Laras untuk melampiaskan dendamnya. Si Patai meloloskan diri dari penjara. pemerintah mengeluarkan peraturan wajib pajak kepada rakyat. "Buat laporan. bila ada patroli mencari Si Patai. Di Lubuk Alung sejumlah laki-laki berpakaian serba putih sambil menyerukan "Allahu Akbar" menyerbu sepasukan tentera yang sedang siap tembak. Dengan nama julukannya dia dipanggil Ujang Patai. Seorang Kepala Wijk (sama dengan Lurah di kota sekarang) yang jadi iparnya disuruhnya pula membuat laporan yang sama. karena bukan dia yang dicari. Setiap usaha menangkapnya selalu gagal. "Kamu polisi goblok." kata residen kepada komandan polisi yang salah tangkap.

itu tandanya kamu komandan tidak becus. ketika hendak kembali ke Padang. Tahu?" Komandan tentera itu merasa jabatannya terancam. Biar rakyat kapok melawan pemerintah. "Arak kepala itu keliling kota. Tapi Tuanku Laras yang kenal dengan Si Patai dan tahu bahwa kepala itu bukan kepala Si Patai. rakyat seperti tidak acuh saja. mereka meletakkan ujung jarinya seperti prajurit menghormat pada perwira. Banyak perempuan dan anak-anak mati dan terluka. Tuan Besar. Mengerti?" kata residen dengan suara keras karena merasa diajari oleh bawahannya." kata residen kepada komandan tentera itu. Semua rakyat keluar dari rumah masing-masing melihat arak-arakan itu. Tentera yang mengawal melepaskan tembakan. Bagi komandan itu tidak penting artinya jiwa rakyat. Meski dikasari. supaya marsose dikerahkan menyerbu pengacau di desa Pauh. bahwa komandan tentera itu telah salah penggal. Maka kepala yang terpenggal itu ditusuk pada ujung tombak. diiringi genderang yang dipalu terus menerus. Perlawanan rakyat Pauh mirip seperti perang gerilya. Bukan main leganya hati komandan itu. kalau Si Patai tidak tertangkap. Tapi itu bukan urusan kamu. Mana yang merasa ngeri kembali lagi tergesa-gesa masuk ke rumahnya. Bila berpapasan di jalan. Perintah itu diteruskan residen pada komandan tentera dengan tambahan: "Kalau Si Patai tidak berhasil kamu tangkap." kata Tuanku Laras (sama dengan camat sekarang) ketika menghadap residen setelah menyampaikan laporan para Kepala Kampung di wilayahnya. Pasukan marsose yang tubuhnya dilumur cat hitam mengarak penggalan kepala itu berkeliling kota sambil menari dan berteriak-teriak gembira. "Itu sudah aku pikirkan. "Kalau tentera tidak mampu. Yang di ladang terus bekerja. Tuan Besar. Seluruh penduduk disuruh mengenali mayat tersebut. mereka dihadang di pesawangan. hati Tuanku Laras senang karena gagasannya menggunakan marsose untuk menangkap Si Patai tercapai. Yang lain lari puntang-panting. Ketika pagi datang mayat-mayat itu dikumpulkan di halaman mesjid. . Jika tentera berpatroli. kirim marsose 1). Yang terpenting hanyalah jabatannya sebagai komandan. Beberapa laki-laki yang dapat disergap langsung dibunuh. sepasukan marsose memasuki Pauh menjelang dini hari. Tapi yang paling sering ialah mereka merampoki rumah orang-orang kota yang bekerja sama dengan pemerintah di tengah malam. melapor kepada residen. Ada perempuan yang jatuh pingsan demi melihatnya. Lalu dia memerintahkan kepala Ujang Patai dipenggal untuk dibawa ke Padang sebagai bukti keberhasilan operasinya.berdemonstrasi ke kantor kontelir. *** Akhirnya keluar perintah dari Betawi. dibawah pimpinannya sendiri. Kalau jumlah yang berpatroli sedikit. Beberapa orang menunjukkan salah satu mayat itu Ujang Patai namanya. Padang tidak akan aman. Tak seorang pun penduduk yang menyangka bahwa tentera itu akan sampai hati membunuh perempuan dan anak-anak. Aku lapor ke Betawi. Suatu malam.

Orang di Betawi toh tidak akan tahu mana Si Patai yang sebenarnya. Bagaimana meluruskannya?" Lama Si Dali termangu-mangu. Namun mereka pun masih dikalahkan."Biar saja. residen memerintahkan seluruh pegawainya. Konon Si Patai menyingkir ke Teluk Kuantan. celaka kita. Habis perkara. tidak lagi membicarakan tokoh yang bernama Si Patai. Akhirnya katanya: "Palsu tidaknya sejarah lama. Tapi kamu yang celaka. Hasil penelitian calon sarjana itu berkesimpulan seperti yang ditulisnya dalam skripsinya. Kata orang sakit muno. tidak akan merobah dunia sekarang dan nanti. Sampai situasi aman. pak. betul-betul kepala Si Patai. Sebuah koran secara bersambung mengisahkan suksesnya operasi tentera menumpas gerombolan Si Patai. "Yang jelas kisah sejarah itu dipalsukan. Berbaringan dengan pemberontakan komunis tahun 1926. *** Namun kisah Si Patai yang sebenarnya." kata Tuanku Laras. Perlawanan yang terakhir ini dalam rangkaian perang kemerdekaan bangsa Indonesia yang tercinta. Bahwa demi melihat begitu banyak korban. "Bukan kita. bahwa penggalan kepala yang diarak berkeliling itu. Sehingga lambat laun rakyat di kota pun percaya." Kayutanam. Sebaliknya rakyat yang membenci Belanda menganggap bahwa kepala yang terpenggal itu. Kemudian anak muda yang telah jadi sarjana itu bertanya kepada Si Dali. melawan pemerintah yang bersenjata kuat. Pokoknya perintah Betawi sudah dilaksanakan. isteri-isteri yang kehilangan suami. benar-benar berlain." kata residen sambil menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya. generasi yang lain melakukan pemberontakan lagi. Sakit kehilangan harga diri. resmilah Si Patai dinyatakan mati. anak-anak jadi yatim dan perempuan menjadi janda. Oleh laporan yang dibuat residen ke Betawi. Sedangkan tak lama kemudian Tuanku Laras. 6 September 1997 . yang kini bernama Malaysia. tidak hilang sama sekali oleh kekejaman operasi tentera yang mereka alami itu. Dari sana dia menyeberang ke Semenanjung. Namun dendam rakyat yang keluarganya terbunuh. hanyalah akan menambah kesengsaraan rakyat. Tak lama kemudian Tuanku Laras jatuh sakit. kepala seorang pahlawan bangsa." kata residen. Dua puluh tahun pula setelah itu kembali rakyat melawan. anak-anak yang kehilangan ayah. para penghulu desa Pauh minta kepada Si Patai agar meninggalkan kampung untuk sementara. Untuk menghindari desas-desus salah bunuh itu. dipecat dengan tuduhan penggelapan uang pajak. Tuan Besar. Sakit orang berkuasa yang kehilangan jabatannya secara tiba-tiba. yang tahu persoalan yang sebenarnya. apabila Paduka Tuan Besar di Betawi tahu Si Patai yang sesunggunya belum mati. "Tapi. Karena menurut para penghulu itu. Dua puluh tahun kemudian.

Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. simpang yang kelima. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting. yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. Jika Tuan datang sekarang. kadang-kadang uang. Kek?" "Ajo Sidi. memberinya sambal sebagai imbalan. Secepat anak-anak berlari di dalamnya. seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar. Sebagai penjaga surau. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia sudah meninggal. Tuan akan berhenti di dekat pasar. sebuah asahan halus. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari. dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Kakek tidak mendapat apa-apa. Orang-orang suka minta tolong kepadanya. Pandangannya sayu ke depan. memberinya imbalan rokok. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa. Orang-orang memanggilnya Kakek. sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa." "Ajo Sidi?" . Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Di depannya ada kolam ikan. Biasanya Kakek gembira menerimaku. Sudah bertahuntahun ia sebagai garin. kulit sol panjang. membeloklah ke jalan sempit itu. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Dan aku tanya Kakek. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum. Pada simpang kecil ke kanan. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Orang laki-laki yang minta tolong. Beginilah kisahnya. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya.Robohnya Surau Kami Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. "Pisau siapa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. penjaga surau itu. karena aku suka memberinya uang. secepat perempuan mencopoti pekayuannya. hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya.

" Kakek menjawab. Aku tanya lagi Kakek. Segala kehidupanku. "Kenapa?" "Mudah-mudahan pisau cukur ini. Berat hatinya bercerita barangkali. Orang tua menahan ragam. yang kuasah tajam-tajam ini. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri. "Sedari muda aku di sini. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Aku senang mendengar bualannya." "Kurang ajar dia. "Kau kenal padaku. menggorok tenggorokannya. lahir batin. sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. si pembual itu. Lalu aku tanya Kakek lagi. punya keluarga seperti orang lain. Karena aku telah berulangulang bertanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak. Tapi . Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Ada-ada saja orangorang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Kek?" "Siapa?" "Ajo Sidi. bukan? Tak kuingat punya isteri. tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Sudah begitu lama aku berbuat baik. ibadatku rusak karenanya. "Bagaimana katanya. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. kalau Kakek sudah membuka mulutnya. lalu ia yang bertanya padaku. dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu.Kakek tak menyahut. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. bikin rumah. kalau aku masih muda. bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua. Sudah lama aku tak ketemu dia. Takut aku kalau imanku rusak karenanya. maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak." "Kakek marah?" "Marah? Ya. Lalat seekor enggan aku membunuhnya." Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Maka aku ingat Ajo Sidi. kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Kek?" Tapi Kakek diam saja. Dan aku ingin ketemu dia lagi. tapi aku sudah tua. bertawakal kepada Tuhan. beribadat. "Apa ceritanya. Sebab aku tahu. Aku tak ingin cari kaya. bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?" Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. punya anak. Sebagai pembual. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. dia takkan diam lagi. bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Sedari mudaku.

Aku bersuci. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya. setiap malam. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Tuhanku. sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku. supaya bersujud kepada-Nya. Susut di muka. aku menyelakan tanyaku.‟ „Lain?‟ „Setiap hari. Tapi begitulah kira-kiranya. „kata Ajo Sidi memulai. Tuhanku. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia di namai Haji Saleh. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan." Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Aku sembahyang setiap waktu. tak perlu. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja. Nama hanya buat engkau di dunia. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi. karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya.‟ „apa kerjamu di dunia?‟ „Aku menyembah Engkau selalu. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Maklumlah dimana-mana ada perang. Kek?" "Ia tak mengatakan aku terkutuk.‟ . seolah hendak mengatakan „selamat ketemu nanti‟. Umpan neraka. Aku baca Kitab-Nya. Aku jadi belas kepadanya. Haji Saleh namaku. Tapi karena aku sudah ke Mekah. Aku puji-puji Dia. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Nama bagiku. bertambah yang di belakang. ia melambaikan tangannya." Ketika Kakek terdiam agak lama.kini aku dikatakan manusia terkutuk. bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga. Astagfirullah kataku bila aku terkejut. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Masya Allah kataku bila aku kagum. "Ia katakan Kakek begitu. Para malaikat bertugas di samping-Nya. "Pada suatu waktu. „di akhirat Tuhan Allah memeriksa orangorang yang sudah berpulang. Aku bangun pagi-pagi. Bagai tak habishabisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka.‟ „Aku tidak tanya nama.‟ „Ya. „Engkau?‟ „Aku Saleh. Begitu banyak orang yang diperiksa. karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh.

„Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya. tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu. dan bertanya kenapa . karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus. Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan. Tapi Tuhan bertanya lagi: „Tak ada lagi?‟ „O. Aku selalu membaca Kitab-Mu.‟ Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Lalu Haji Saleh mendekati mereka. mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu. o. ia telah menceritakan segalanya. nama-Mu menjadi buah bibirku juga.‟ „Masuk kamu.‟ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.‟ „Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?‟ „Ya. ooo. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka.‟ „Lain?‟ „Sudah kuceritakan semuanya. aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu. Alangkah tercengang Haji Saleh. anu Tuhanku. Tapi menurut pendapatnya. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula.‟ „Lain?‟ Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya. o. o. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja. „Lain lagi?‟ tanya Tuhan. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. lagi Pengasih dan Penyayang.‟ „Ya. ketika aku sakit. Bahkan dalam kasih-Mu. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.„Lain. merintih kesakitan. Dan aku selalu berdoa. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. diisap kering oleh hawa panas neraka itu. Adil dan Mahatahu. Tuhanku. karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Tapi ia insaf. menyebut-nyebut nama-Mu. Tuhan yang Mahabesar. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tuhanku. Tapi setiap air matanya mengalir. Dan ia menangis. itulah semuanya.

kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini. Tapi sebagaimana Haji Saleh. Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. „Yang penting sekarang.‟ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu. „Kita protes. mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. maka di sini. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua. Setuju. Setuju. tak mengerti juga. atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu. „Apa kita revolusikan juga?‟ tanya suara yang lain. Engkau memasukkan kami ke neraka. dan lain-lainnya. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.‟ „Cocok sekali. „Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya.‟ sebuah suara menyela.‟ Mereka bersorak beramai-ramai.‟ „Benar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja.‟ „Memang tidak adil. teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita.‟ kata salah seorang diantaranya.‟ kata Haji Saleh. „Setuju. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini. kami menuntut agar hukuman yang .mempropagandakan keadilan-Mu. memuji-muji kebesaran-Mu. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah. Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari.‟ „Ya. Tuhan kami yang Mahabesar. banyak yang kita peroleh. bagaimana?‟ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.‟ „Kita harus mengingatkan Tuhan. „Ini sungguh tidak adil. kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita. kami juga heran.‟ kata Haji Saleh. „Kalian mau apa?‟ Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. „Itu tergantung kepada keadaan. „Kalau begitu. orang-orang itu pun. „Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat. KitabMu kami hafal di luar kepala kami. Benar.‟ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh. Akan tetapi. dan tak kurang ketaatannya beribadat. yang paling taat menyembahmu. Benar. yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner. „Bagaimana Tuhan kita ini?‟ kata Haji Saleh kemudian.mereka dinerakakan semuanya. Dan Tuhan bertanya. Kita resolusikan. ia memulai pidatonya: „O.

bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala. Ya. Benar. Tuhanku. Itulah negeri kami.‟ „Di negeri yang selalu kacau itu. sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya. dan berbagai bahan tambang lainnya. Tuhanku. Itulah dia negeri kami. Tuhanku. Tuhan kami. hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi. Benar. di negeri yang tanahnya subur itu?‟ „Ya. minyak. Itulah negeri kami.‟ Mereka mulai menjawab serentak. Benar. Sungguh laknat penjajah itu.Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam KitabMu.‟ „Tanahnya yang mahakaya raya. Tuhanku. Kami rela sekali. bukan?‟ „Benar. dan diangkut ke negerinya.‟ „Engkau rela tetap melarat. Sungguh laknat mereka itu.‟ „Di negeri. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. anak cucumu tetap juga melarat. Ya. bukan?‟ „Sungguhpun anak cucu kami itu melarat.‟ „O.‟ „Karena keralaanmu itu. di mana penduduknya sendiri melarat?‟ „Ya. bukan?‟ „Benar. „Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia. Dan yakinlah mereka sekarang. Benar. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. bukan?‟ „Benar. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Tuhanku. Tuhanku.‟ „Kalian di dunia tinggal di mana?‟ tanya Tuhan.‟ .‟ „Dan hasil tanahmu. penuh oleh logam. tapi mereka semua pintar mengaji. „Di negeri mana tanahnya begitu subur. mereka yang mengeruknya. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.‟ „Negeri yang lama diperbudak negeri lain?‟ „Ya. benarlah itu. sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?‟ „Benar. bukan?‟ „Benar. Tuhanku.

Tidak. . sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.„Tapi seperti kamu juga. bersaudara semuanya. Aku beri kau negeri yang kaya raya." "Kakek?" "Ya." "Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. tapi kau malas. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. saling menipu. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri. istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. kalau kami. kenapa engkau biarkan dirimu melarat. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu. Padahal engkau di dunia berkaum. halaulah mereka ini kembali ke neraka. Kau takut masuk neraka. „Salahkah menurut pendapatmu. Letakkan di keraknya!" Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Dan besoknya. "Kakek." kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Engkau kira aku ini suka pujian. "Ia sudah pergi. ketika aku mau turun rumah pagi-pagi. "Siapa yang meninggal?" tanyaku kagut. menyembah Tuhan di dunia?‟ tanya Haji Saleh. Tuhanku. karena itu kau taat sembahyang. karena beribadat tidak mengeluarkan peluh. mabuk di sembah saja.‟ Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri. saling memeras. hai. „Tidak. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Cerita yang memurungkan Kakek. Kau lebih suka beribadat saja. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. tidak membanting tulang. terlalu egoistis. apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya. Inilah kesalahanmu yang terbesar. Malaikat. tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar." jawab istri Ajo Sidi. melupakan kehidupan anak isterimu sendiri. hingga anak cucumu teraniaya semua.‟ „Kalau ada. karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. bukan?‟ „Ada. Lalu aku tanya dia. Kamu semua mesti masuk neraka. Kesalahan engkau.

" "Dan sekarang. Maka istrinya. Musuh tidak akan mampu berperang lama-lama. Lalu seterusnya pada bibir. Karena dia tidak mau ditangkap musuh yang konon tenteranya suka main tangan sampai popor senapan. untuk masa tiga-empat bulan pertama. Juki tergoda. Mereka akan jadi beban perang saja. Tapi setelah empat bulan masa berlalu." tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab. kemudian ikut-ikut aktif menjadi pejuang. Sebenarnya dia tidak perlu ikut-ikut menyingkir ke pedalaman pada masa perang itu. Sitti dipeluk dan diciumnya." "Kerja?" tanyaku mengulangi hampa. "Ya. Dia guru. "Perang ini tidak akan lama. semua orang harus meninggalkan kota agar musuh tahu bahwa rakyat tidak menyukainya. Paling lama enam bulan. Apalagi kepada guru yang ikut berjuang. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis. Rosni." Sang Guru Juki Juki bukan tentera. Apalagi membawa anak-anak yang masih bayi. "dan sekarang kemana dia?" "Kerja. dengan dua anaknya yang masih kecil ditinggalkan pada mertuanya di kota. Juga menurutnya. murid yang penuh perhatian mengurus kepentingannya terasa sebagai seorang wanita. Maka lupalah Juki pada anak dan istrinya yang di kota. tanda-tanda perang akan cepat berakhir tidak terlihat. Dan kemudian mereka kawin. Aku pikir taktik itu benar juga. Sitti. Ikut tidaknya dia. Juki yang semula jadi guru. Karena perempuan tidak perlu ikut perang. katanya memberi alasan pada istrinya. Dalam sepotong hatinya ada rasa malu karena dilayani demikian ramah."Tidak ia tahu Kakek meninggal?" "Sudah. bukanlah masalah berat. Kalau itu tidak mungkin. Apalagi di desa pengungsian Juki menumpang tinggal di rumah seorang muridnya. batinnya pecah berantakan. Kalau dia merasa perlu juga ikut. tidaklah akan menentukan menang-kalah mereka yang berperang. Juki diajak tinggal di rumah seorang muridnya yang laki-laki. tidak bisa lain selain harus mengungsi lagi ke pedalaman yang lebih dalam." dia menambahkan. Di desa pengungsian kedua. Ketika Sitti mulai mengandung. Berpisah dengan anak dan isteri di masa perang. tanpa perlu memberi apapun. Dalam sepotong hati sisanya. Mulanya pada pipi. Hanya tiga bulan. alasannya cuma satu: agar tidak disangka mengkhianati teman-teman yang berjuang menegakkan kebenaran. desa itu diserbu dan diduduki musuh. Murid perempuan yang menerimanya dengan segala rasa bangga dan hormat seorang murid kepada guru. Oncon nama . dia pergi kerja. semua orang terpelajar yang harus menyingkir.

Lebih dari itu tergantung pada nyali." kata Juki seperti seenak perutnya. Tapi hatiku ini yang merasa tidak enak. Sepasang sandal kulit model kepala buaya serta sarung pelikat dan baju model gaya Betawi yang putih berterawang. bahwa dia tidak akan dilepas perempuan itu mengungsi lagi bila musuh datang menduduki desa itu. ya. Akan tetapi ibu Oncon. "Kau pikir enak jika menumpang di rumah orang tanpa memberi apapun? Enak. tergantung pada kefaedahan. bacalah sejarah. "Jika desa ini diduduki musuh pula. Jawaban itu menyeruduk nilai moral dalam perut Si Dali. jika tentera itu tidak ganas. biarlah ditangkap janda lagi. Bedah. dia akan aman. Dengan itulah Juki dibungkus keseharian kemanapun dia pergi di desa pengungsian itu. tapi memperlakukan penduduk sebagai bangsa yang disantuni." kata Juki pada Si Dali ketika mereka ketemu. Si Janda dapat suami. bagaimana kau?" "Daripada ditangkap dan dipenjarakan musuh. Di zaman Nabi pun ketika orang Arab berperang antara sesamanya sudah begitu. Namun Juki maklum akan siasat istrinya. Ancok menjawab santai: "Perang menempatkan prajurit tidak punya pilihan lain daripada membunuh atau terbunuh. Kawin dengan perempuan yang sudah lama menjanda. Maka itu pertistiwa perkosaan. Apa salahnya? Halal. ya memang enak. setiap laki-laki yang pernah berulang kawin. aku dapat makan. perang orang sebangsa. Simaklah sejarah masa itu. perampokan dan penyiksaan tidak berarti apa-apa dibanding dengan kematian demi tanah air. perang itu akan selesai sebelum banyak korban berjatuhan. Karena menurutnya. Karena dia tidak tahu dimana disimpan istrinya. Impaslah. Semua serba baru. Sedangkan pakaian yang dibawanya dari kota tak pernah dikenakannya lagi. Dan apa salahnya bila anak buahku hanya memakai." tangkis Si Dali yang pada prinsipnya tidak menerima perlakuan durjana tentera terhadap penduduk. Lewat sebulan tinggal di rumah Ibu Oncon. Ancok. Perempuan bahkan dijadikan sama dengan barang rampasan. sudah lama menjanda dan usianya hanya dua tiga tahun lebih tua dari Juki. tidak sulit mengulangnya berkali-kali. Dimana-mana pun begitu." "Perang ini. . "Wah. Apalagi jauh di pedalaman yang tidak diketahui berapa lama lagi dia harus mengungsi.panggilannya. maka kawin lagilah dia. Juki dimanjakan benar. Karena bagaimana mungkin seseorang ikut bergerilya terus dengan mengenakan piyama. bukan merampas perempuan itu. "Kawin di daerah gerilya." kata Si Dali. Tidak lucu. Karena beberapa hari sebelumnya dia memprotes sobatnya. Kata orang. Mayor Ancok. Tidak ada jalan lain. Juki laki-laki yang seperti itu. yang membiarkan anak-buah memperkosa perempuan di desa itu. Dia pikir. "Konyol kamu. pikirnya. Dia dibelikan dua stel pakaian dalam dan piyama yang berbeda warnanya." jawab Juki." kata Ancok.

" "Berapa kali lagi kau akan mengungsi apabila perang ini masih akan berlanjut. "Bagaimana perasaanmu apabila isterimu atau anakmu diperkosa musuhmu?" tanya Si Dali kemudian. waktu perang moralnya beda. namun akibat bom napalm tak kurang ganasnya ketika ditembakkan ke desa. punya ladang untuk menjamin hidupnya. Namun menurut logikanya. Jari-jemarinya kentara gementaran." "Yang aku tanya bukan mereka. "Kau mau tahu juga berapa kali aku akan kawin lagi." kata Ancok seraya menepuk-nepuk bahu Si Dali tanpa peduli yang Si Dali tidak suka diperlakukan seperti anak sekolah bila ditepuk bahunya oleh guru. Perang sekarang terikat dengan konvensi internasional." "Tapi kamu tidak ikut perang. Sesaat air mukanya berobah." "Tapi dimana letak moralnya?" "Moralnya? Moralnya adalah pada kebanggaan orang desa dapat suami orang kota seperti aku. Justru perang sekarang yang jauh lebih kejam dari masa dulu. punya tanah. Lama kemudian barulah Si Dali bertanya lagi. Dia memang tidak tahu benar sejarah peperangan Nabi." tanya Si Dali lagi pada Juki. Lalu katanya dengan emosi tak terkendali: "Zaman itu dengan zaman sekarang beda.Si Dali tidak bisa menerima dalil itu. Nabi tidak akan membenarkan pasukannya merampok dan memperkosa musuh-musuh yang ditaklukkan. Dengan nada suara yang rendah." "Moral perang orang Minangkabau masa dulu menjadikan aduan kerbau daripada mengadu manusia untuk berbunuhan. Ancok berkata: "Itulah risiko perang. Cuma kawin melulu. Guru lagi. Tapi waang sebagai guru. "Bagaimana kau mengemasi isteriisterimu nanti bila perang berakhir?" "Kau pikir hidup perempuan-perempuan desa itu bergantung pada suaminya? Mereka perempuan yang mandiri. apalagi dengan mengaitkannya dengan Nabi yang junjungannya. Meski bom atom dilarang. bukan? Itu tergantung. Oleh karena peperangan Nabi mengandung misi yang amat mulia. Mereka punya rumah. "Biar guru." ." jawab Juki seenaknya. Dali." kata Si Dali dengan menggunakan kata waang sebagai ganti kata "engkau" yang lebih kasar dalam bahasa daerahnya. Ancok tidak segera menjawab." "Naif betul kau Dali. misi kesucian agama. Itu yang berlangsung sekarang. Bagaimana musuh bisa ditaklukkan dan menerima Islam apabila pasukan Nabi sama ganas dengan tentera jahiliah.

Dia dihina. . Kulit tubuhnya yang biru memar oleh bekas pukulan dan tendangan tidak terlihat lagi. Selama tiga bulan. Dia ingat film "Stalag 17" yang dibintangi William Holden. Selama jadi tawanan itu. Si Dali merasa arti dan harga dirinya sebagai manusia betul-betul tidak ada lagi. Sedangkan Juki tak pernah kehilangan helah. itu sama dengan judi dalam dongeng. Pada mulanya tahanan politik dapat menerima kunjungan istri atau keluarga sekali sebulan. Kemudian dua kali sebulan. Tidak dibenarkan menerima tamu. Menurut sangka Si Dali. bukan pandangan hidup mereka. dipukul sampai hampir seluruh tubuhnya membiru dan juga disulut dengan api rokok. di setiap desa pengungsian Juki pasti menikah lagi. Pada mulanya dia disekap bersama puluhan tawanan lainnya di salah satu gudang dalam komplek asrama batalyon. Sekilas saja dia sudah tahu itu temannya. Si penjaga mendorong piring nasinya dengan kaki. dicaci. Yang tersangka sebagai penjahatan perang. Sedangkan yang lain sebagai penjahat perang. Si Dali dengan emosi. Tapi dagunya miring ke kanan dan sebagian giginya rontok. Tapi Juki seperti tidak mengenalnya atau tidak mau mengenalnya lagi. Antara kedua golongan tahanan itu tidak boleh berkomunikasi. Tengah malam. yakni setelah desa pengungsian Si Dali ke lima diduduki musuh pula. Tidak demikian dengan tahanan penjahat perang. Hanya bekas-bekas saja yang menghitam. Semenjak itu Si Dali tidak pernah ketemu Juki lagi. dia diangkut ke kota sebagai tawanan. lepaskan saja di lantai."Ah." Mereka berdebat terus tak putus-putusnya. Yang mendapat kamar untuk empat tempat tidur sejajar dengan kantor penjara. Pada pengungsian terakhir. Tidak ada penyiksaan oleh tentera pemenang terhadap musuh yang kalah. *** Tiba juga gilirannya desa itu diduduki musuh. bila ada yang mau kencing. Tuhan. hingga tidurnya berdesakan pada balai-balai besar yang terpasang dari dinding depan ke dinding belakang. di penjara itu ada dua golongan tahanan. Si Dali tergolong penjahat perang. Yang melerainya beduk Magrib ditabuh orang. Dari omong-omong sesama tahanan. Karena penderitaan itulah setiap selesai sembahyang Dali berdoa kepada Tuhan: "Ya. Sedangkan Si Dali pada bangsal berbau kencing. berilah semangat kawan-kawanku agar bertempur terus. Di penjara itulah Si Dali ketemu Juki lagi. Karena itu lebih baik dari pada jadi tawanan. Besok pagi disiram lagi. Juki menempati ruangan di samping kantor sipir. apakah doanya dikabulkan Tuhan. bekas luka bakar oleh api rokok telah sembuh. Entah kemana dia lari. ialah tahanan politik. Yang dia tahu. sewaktu-waktu ada yang diambil tengah malam dan tidak pernah kembali. ketika dipindahkan ke penjara umum. Melerai perdebatan. Namun baunya tak kunjung hilang. mengisahkan tentera Amerika dalam kamp tawanan Nazi Jerman pada masa Perang Dunia Kedua. yang ditempati oleh lebih dari dua puluh orang." Si Dali tidak tahu. Waktu mengambil makanan dia harus antri dengan berjongkok.

Puluhan. Yang dinamakan tempat mandi di penjara itu letaknya di tengah halaman terbuka. Tentu saja tidak mungkin semua mereka bisa mandi. Paling-paling hanya bisa membasahi badan dengan seember air. tapi tidak pernah kembali lagi." Maksudnya kira-kira: "Ada takdir yang tidak bisa dipikirkan akal. Piyama yang dibelikan istri ketiganya dulu. "Kasi pada teman-temanmu. Delapan timba untuk seratus lebih tahanan yang harus selesai mandi dan berak selama satu jam. Karena manusia berbuat sesuatu pada suatu waktu dan pada suatu tempat. "Sudah dikirim ke bulan." kata Juki sambil mengetok-ngetok batok kepalanya dengan jari telunjuk. Di sana. Di penjara rokok sulit. Karena dia menghayati benar makna tulisan H. pertemuan kedua sahabat itu hangat juga. maka berakibat tertentu pada diri sendiri. Akan tetapi rasa ketakutan masih terus mencekam.Bedanya dengan ruangan tahanan batalyon. mungkin ratusan orang yang mengalami seperti yang kau derita. Begitu koran memberitakan. Di sekitarnya blok ruang tahanan. Dia mundur selangkah sambil menatap seluruh tubuh temannya. Kalau ditanya kepada pengawal penjara. Lainnya. "Jangan ceritakan apa-apa. Ketika mereka hendak berpisah Si Dali bertanya: "Juki. Perang ini sudah akan berakhir." Si Dali telah memilih hidup ikut berjuang bersama teman-teman sepaham." kata Si Dali sambil menggeleng. Melainkan ketika Si Dali bertugas membersihkan ruang mandi pada waktu menjelang tengah hari. yaitu lahir dan mati. pada suatu hari Si Dali ketemu bermuka-muka dengan Juki." kata Juki. yang dia tahu apa akibatnya: menang atau kalah. "Kau merokok?" "Tidak. Iman dan Tawakal. Juki mengguncang-guncang tangan Si Dali kuat sekali. Pada masing-masing sumur disediakan empat timba bertali. Ada dua sumur persegi empat yang panjang. Berbuat dan berakibat oleh perbuatan itulah yang harus dipikirkan oleh akal supaya hidup selamat dunia dan akhirat. Hanya sebentar. Tapi bukan waktu mandi. Juki bertanya sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong piyamanya. di penjara tidak ada lagi terdengar suara pekikan tawanan yang kena pukul. kenapa kau bisa jadi tahanan politik?" "Menggunakan ini. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala dengan pancaran wajah yang hiba. takdir yang datang karena bersebab dan berakibat. Tapi ." Dan itu artinya mereka tidak di dunia lagi. Meski tidak berpelukan. *** Si Dali tidak menyesali jalan hidupku yang dia rancang dan lalui. Aku sudah tahu yang kau alami. Agus Salim dalam buku "Takdir. Si Dali tentu berpikir untuk menang. Juki datang hendak mengambil air wuduk untuk sembahyang berjemaah tahanan politik." Kata Juki lagi. Dan seperti tiba-tiba ingat sesuatu. Karena hampir setiap malam ada saja tawanan yang dijemput orang-orang bersenjata. Kuatkan hatimu. Tak lama lagi. tangan itu dilepaskannya. jawabnya singkat saja.

Tapi nyatanya perang mereka kalah." "Lalu apa?" tanya Si Dali ketika Marwan menggantung kalimatnya lagi. Kalau Juki pun dipenjara kondisinya lebih enak. Dia minta agar Juki dibebaskan. isterinya yang ketiga? Ibu si Oncon? Dia tidak mau melepas Juki mengungsi lagi ketika APRI menduduki kampung itu. "Asal?" "Maklum. akal apa yang dia pakai? Apakah karena perjalanan akal berasal dari watak turunan atau lingkungan mereka yang berbeda? Sampai keluar dari penjara. apa makna manusia sebagai orang seorang sebagaimana makhluk Tuhan? Lama kemudian Si Dali memperoleh kesimpulan bahwa perang dibangun oleh manusia yang saling punya super ego. Ketika dibawa ke kota.. itulah kelemahan akalnya ketika hendak memulai.." "Apa kata Juki?" "Mana aku tahu apa katanya. Apakah mereka ikut berkorban atau jadi korban? Ataukah ikut terseret oleh perjalan takdir yang berputar di sekitar sumbu sejarah.. Komandan itu hanya bisa mengubah Juki sebagai tawanan politik. Kalau itu dinamakan pemanfaatan akal. Dan ketika komandan itu pindah. Juki akan dianggap sebagai pejuang yang menang. Lalu. Sampai Juki dibebaskan setelah perang usai. Sampai di situ dia berhenti berpikir. "Kau ingat Baiyah. Menurut kabarnya Juki diterima kerja di Departemennya. Berkat bantuan paman si Baiyah. Dalam hati Si Dali tertanya-tanya: "Siapa sebetulnya yang berkorban atau yang dikorbankan?" Jalaran pikirannya berlanjut pada istri Juki yang lain.ternyata perangnya kalah.. namun Juki tidak menderita separah Si Dali.. Komandan itu membawanya tinggal di rumahnya. teman samasama mengungsi dulu. Kehancuran dan kemusnahan atas manusia tidak lain daripada kiamat yang dijanjikan. Perjalanan hidup masa datang lebih penting dipikirkan dibanding dengan masa lalu. Tidak perlu diratapi lagi. "Baiyah masih muda. Pokoknya mereka telah kembali ke kehidupan bermasyarakat. Bagi Si Dali tidaklah penting lagi memikirkan beda takdir yang mereka alami bersama Juki. Bertugas sebagai nyai." kata Marwan dengan sinis. Namun ketika dia ketemu dengan Marwan. Bila benar. Asal. Rosni dan Sitti. Komandan pertempuran biasa berpikir praktis dan bertindak cepat. Seandainya perang mereka menang. sosok Juki tampil lagi dipermukaan. dia tidak menyalahkan takdirnya. Baiyah ikut. Baiyah seperti inventaris yang dioperkan. Takdir apakah yang diberikan Tuhan dengan akalnya itu." kata Marwan kian sinis. dia tetap tidak mampu memecahkan masalah takdir. Ditemuinya Komandan Resimen.. Masa lalu telah lewat. Menurutnya. . Karena aku tidak pernah ketemu dia." Marwan menggantung kalimatnya. Tapi yang menjadi pikirannya ialah perilaku Juki. Akibatnya dia ditawan. Maka itu. "Dia? Si Juki itu? Apa yang penting baginya selain dari dirinya sendiri? Istrinya bisa dia berikan pada orang asal dia bebas dari tahanan. meski sangat menderita. Otak Si Dali berbinar-binar antara percaya dengan tidak dan ingin tahu istrinya yang mana yang tega dia korbankan.

Orang seperti Juki yang tukang kawin. Kalau habis untung perkawinan. Dari Kumpulan Cerpen "Kabut Di Negeri Si Dali" Kayutanam. Menurutnya. Sejak dulu tidak mau berobah. Kawin dengan orang Indonesia. "Dulu dia mengajar di IPB. Sebenarnya Si Dali ingin bertanya banyak. "Dia selalu menuntut lebih dari kemampuanku dengan menyebut-nyebut usaha dan pengorbanannya di masa lalu. Selain dari hampir seluruh kepalanya kehabisan rambut. akan terus kawin lagi bila ada kesempatan. otomatis jadi tukang cerai istri. Tak usah dipikirkan amat. Setelah mengudap beberapa potong gorengan dan mereguk kopi di restoran mungil itu. Namun keinginan itu dilepaskannya. Orang dewasa main golf. dia bingung. 1 Juli 1990 . Si Dali terkaget dalam hatinya ketika Juki menceritakan. Orang yang tukang kawin. Bahwa selama di Jakarta Juki telah tiga kali lagi menikah. Setelah mengalih bahan omongan ke berbagai situasi politik yang sedang berlangsung. Sehingga dia bisa tertidur. Sudah sama-sama tua. buat apa menanyakan kebahagiaan orang. sebagai yang beriman atau sebagai pengikut Dajjal yang menjanjikan kenikmatan atas kesengsaraan orang lain. Seperti menuntut imbalan. Kau tahu apa yang dinamakannya korban? Apa itu betul-betul bernama korban?" kata Juki setelah lama juga mereka terdiam." Hampir saja Si Dali mau muntah karena ada perasaan mual berat pada perutnya. ya bubar." "Kau pikir perkawinan demikian bisa langgeng?" tanya Si Dali. akhirnya Juki bercerita juga tentang dirinya. kondisi fisik Juki lebih kokoh dan gerakannya masih gesit. Selalu punya alasannya untuk kawin lagi dan untuk cerai lagi. Dia kerasan tinggal di sini. sambil bicara hilir mudik. Kesimpulan itu telah meredakan kebalauan pikirannya. Sebelum selesai Si Dali bicara. Sampai mereka berpisah rasa mual itu masih dirasakannya. "Kenapa tidak?" Kini dia jadi konsultan di BTN. tidak menarik hati Si Dali. Untuk main-main orang buat panggung untuk pesta musik dan teater. Demikian pula waktu ketawa mulut Juki lebih lebar. Namun Si Dali ingin tahu juga tentang Baiyah yang selalu berusaha dengan caranya untuk menjaga Juki agar tidak kesulitan. bahwa istrinya yang terakhir perempuan Belanda. Sering ketemu aku di Departemen. itulah kau. Tentu saja aku bilang." Lalu apa katanya? Kau tahu? "Apa kau mau?" katanya. Selalu berpikir serius. Atau arena olah raga besar untuk pesta olimpiade. "Ah. Lalu aku katakan: "Jangan bingung. Lebih afdol menanyakan kesulitan hidup orang sebagai tanda prihatin. Tapi dalam mimpinya. Kalau kau mau tinggal terus di sini. Anak kecil main gundu. Juki lantas memotong. kasus Juki mengapung lagi dengan pertanyaan: "Termasuk golongan makhluk apa sahabatnya itu?" *** Bertahun-tahun kemudian Si Dali ketemu juga dengan Juki.Dalam masa kiamat setiap makhluknya akan menemui dirinya sendiri. Ketika kontraknya hampir habis. Pada hal dunia ini tempat hidup serba main-main.

Si Bangkak Semua orang menyalahkan Mayor Udin menyuruh Si Bangkak yang pandir membersihkan pistol berpeluru. Karena tiba-tiba pistol itu meledak ketika lagi dibersihkan dan ketika itu pula isteri mayor yang kebetulan lewat di halaman. Dia tertembak tepat di jantungnya. Dan mati. Begitulah yang tersiar ke mana-mana di seluruh daerah komando Mayor Udin. Maka semua orang pun datang melayat dan menyampaikan rasa ikut berduka cita. Semua orang tafakur ketika jenazah isteri yang tertembak itu dimasukkan ke liang lahat setelah tujuh pucuk senapan menyalvo. Melebihi upacara militer pada waktu penguburan beberapa orang prajurit yang mati dalam pertempuran tanpa salvo demi menghemat peluru. Si Bangkak duduk mencangkung di lereng bukit sambil nanap memandang ke kaki bukit tempat upcara berlangsung. Tak terbaca pada wajahnya apa guratan dalam jatinya, sama seperti sediakala, Seorang saja yang tidak ikut bersedih waktu itu. Yaitu Kepala Desa. Bertahun-tahun kemudian Si Dali tahu, mengapa Kepala Desa itu tidak ikut bersedih. Bertahun-tahun kemudian pula Si Dali menceritakan peristiwa yang sebenarnya terjadi. *** Ketika pasukan Mayor Udin menyingkir ke pedalaman karena kota telah dikuasai lawan, Si Bangkak pun ikut menyingkir. Tak jelas benar mengapa dia ikut ke pedalaman. Dia bukan tentera. Juga bukan pejabat. Mungkin karena ikut- ikutan saja demi melihat semua orang pada meninggalkan kota secara hampir serempak. Si Bangkak berbadan kekar dengan tingginya sekitar 165 senti. Sedikit orang saja yang sama tingginya dengan Si Bangkak di masa itu. Meskipun demikian, dia bukanlah lakilaki yang menarik. Cirinya khas pada tubuhnya ialah pada kening di atas hidungnya ada daging yang membengkak sebesar kuning telur mentah yang lepas dari putihnya. Karena itulah dia dinamakan Si Bangkak. Kakinya seperti tidak berbetis, hampir sama besarnya dari bawah lutut sampai ke mata kaki. Tapi kaki itu kuatnya bukan main. Tak pernah lelah. Setiap berjalan langkahnya cepat seperti berlari tanpa alas kaki. Dengan langkah seperti itu pula dia pergi bila saja ada orang menyuruhnya. Siapapun dapat menyuruhnya. Tapi jangan harap dia akan mau kalau disuruh membawa barang berat, meskipun dikasi makan atau uang. Si Bangkak mempunyai kepandaian khusus, yang tidak semua orang bisa melakukannya. Dia pintar memijat. Dan lembut sentuhannya. Orang akan terkantuk-kantuk bila seluruh tubuhnya dipijat Si Bangkak. Kepandaian khusus itulah yang menyebabkan Mayor Udin, yang sering masuk angin sangat membutuhkan Si Bangkak. Selama di pedalaman Mayor Udin hampir praktis kurang tidur. Ada kalanya dia tidak sempat tidur sampai dua hari dua malam. Kurang tidur bukan karena mengatur taktik dan strategi perang. Melainkan karena keasyikan main ceki, sebagai pengisi waktu yang luang dan panjang karena tidak ada musuh yang datang menyerang. Sekali waktu Nunung, isteri Mayor Udin, diserang sakit kepala yang amat sangat. Dua aspirin yang ditelannya tidak menolong. Sedangkan Mayor Udin sedang tidak bisa diganggu. Lagi asyik main ceki dalam posisi kalah. Dia marah dipanggil isterinya dari

kamar tidur. Sangka Mayor Udin, Nunung lagi masuk angin, seperti yang sering dialaminya sendiri. Yang apabila telah dipijat Si Bangkak selama setengah jam, sakit kepalanya hilang dan kemudian dia tertidur dengan pulasnya. "Bangkak." panggil Mayor Udin. "Unimu sakit kepala. Pijat dia." Tanpa banyak pikir Si Bangkak yang lagi duduk di ambang pintu, segera berdiri. Langsung menuju Nunung ke kamar tidur. Nunung yang tak tahan lagi menderita sakit, dan tahu Si Bangkak disuruh suaminya, lantas berkata: "Ya. Tolong pijat cepat." katanya sambil memberikan botol balsem. Setelah kening dan tengkuknya dipijat, rasa sakit kepala Nunung memang dirasanya berkurang. Lalu Si Bangkak disuruhnya memijat punggugnya juga, seperti yang biasa dilakukan pada Mayor Udin. Sambil menelungkup dirasakannya benar betapa enaknya pijatan Si Bangkak. Dia pun mulai terkantuk. Sekali merasa enaknya dipijat, kecanduanlah dia. Sejak itu, bila Mayor Udin asyik main ceki di ruang depan, bila sakit kepala Nunung pun datang. Si Bangkak dipanggilnya untuk memijat. Peristiwa itu memang tidak perlu dicurigai. Nunung dan Mayor Udin sepasang anak manusia yang jatuh cinta semenjak masa remaja, sama-sama cinta pertama. Keduanya dipercaya tak pernah terlibat kasih dengan fihak ketiga dalam situasi apapun. Lagi pula lebih sering ada perempuan lain di kamar itu. Namun selalu jadi bahan olok-olok oleh banyak perwira sampai ke prajurit, dengan mengatakan bahwa mereka lebih suka jadi Si Bangkak saja di masa perang itu. Nunung lalu berkhayal, apabila Mayor Udin sampai terlelap karena betisnya dipijat, maka dia pun ingin pula mencoba. "Apa salahnya, Si Bangkak, biar laki-laki, dia cuma Si Bangkak. Lagi pula pintu kamar selalu terbuka. Dan ada perempuan lain bersamanya." katanya dalam hati. Nunung keenakan dipijat. Mayor Udin tak terganggu lagi oleh erangan Nunung yang diserang sakit kepala, bila dia main ceki. Namun keduanya tidak tahu bagaimana perasaan hati Si Bangkak setiap memijat Nunung yang berkulit mulus itu. *** Menurut Kepala Desa, dia melihat benar Si Bangkak menodongkan pistol ke isteri Mayor Udin. Lalu menekan pelatuknya. Tapi dia tidak mau mengatakan apa yang dilihatnya kepada siapapun. Karena tidak ada untung-ruginya menghukum Si Bangkak. Katanya: "Bagaimana pun pandirnya Si Bangkak, dia 'kan seorang laki-laki. Bukan anak kecil ingusan atau orang gaek jompo." Maka Si Dali dapat merasakan betapa tersiksa hati Si Bangkak setiap memijat perempuan itu. Justru karena bodohnya itulah dia sampai mampu melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan oleh laki-laki lain, jika disuruh memijat perempuan muda yang mulus kulitnya. Karena bodohnya itulah dia membunuh setan di kepalanya dengan menembak isteri seorang mayor.
Dari Kumpulan Cerpen "Kabut Di Negeri Si Dali" 1 Mei 1996

Si Montok Untuk melanjutkan perjuangan setelah musuh menduduki semua kota, Si Dali menyingkir ke sebuah desa di balik bukit peladangan tebu. Dengan dua teman sesama prajurit Si Dali dapat menempati rumah yang berkamar satu. Tapi mereka tidak tidur di kamar itu. Melainkan pada satu-satunya ruangan yang ada. Tidur berdesakan. Kamar itu sendiri ditempati Si Montok dan anaknya yang berusia empat tahun, Amir. Bertiga dengan ibunya. Kamar itu sendiri tidak berpintu. Tapi di depannya, sejajar dengan ruang sempit jalan ke dapur, menjadi ruang tidur ayah Si Montok. Si Montok, janda dengan satu anak itu berpotongan seperti namanya. Montok yang aduhai, menurut ketiga prajurit itu. Maka adalah masuk akal apabila ketiga prajurit itu sama berselera kepadanya. Meski sama berjuang melawan musuh bersama, mereka sama bersaing memperebutkan hati janda itu. Masuk akal jika dikaji bahwa mereka telah bertahun berpisah dengan isteri masing-masing. Isteri yang mereka tinggalkan di kota. Isteri yang tidak patut dibawa ikut berperang. Sehingga ketiganya sudah bertekad dalam hati masing-masing, apabila datang lagi serbuan musuh yang pertamatama dibawa ikut lari ialah Si Montok. Namun Si Dali yang mendapat tanggapan lebih dari janda itu. Tentunya karena Si Dali yang lebih tinggi pangkatnya. Awal kisahnya sederhana saja. Kebutuhan air isi rumah itu pada sungai kecil di kaki bukit. Setiap hari mereka harus turun-naik bukit itu kalau memerlukan air. Ketiga prajurit itu selalu turun dan naik bersama. Seperti ada perjanjian rahasia, tidak seorang pun yang boleh tinggal di rumah apapun alasannya. Berdua pun tidak. Ketiganya seperti sepakat pula, mereka akan selalu beriringan dengan Si Montok ke sungai kecil itu. Dan semua sama ingin membantu membawa beban Si Montok, seperti air di perian, kain cucian. Berbuat baik seperti pekerja sosial. Sehingga tidak seorang pun yang dapat berjalan sendirian bersama janda itu. Dalam situasi itu, yang kurang cerdik menjadi santapan yang lebih cerdik. Dan yang lebih cerdik rupanya Si Dali. Perhitungannya yang paling pas. Ia memilih beban yang paling berat. Yaitu menggendong Amir yang kecil di atas bahu. Sambil mengkelakarinya sepanjang jalan, sehingga si kecil terpingkel tawanya. Ibu yang janda mana yang tidak suka pada laki-laki yang disenangi oleh anaknya? "Seperti anakku." kata Si Dali pada suatu ketika pada Si Montok seolah ia memenuhi rasa rindu pada anaknya yang di kota. "Kalau Amir maukan Uda jadi ayahnya, tergantung pada Udalah itu." kata Si Montok membalas sambil mengerling. "Katakan kepadanya. Ini zaman perang. Jangan dia sampai dua kali kehilangan ayah." kata Si Dali. Si Montok menatap Si Dali dengan matanya yang berkaca-kaca. Tidak lama benar. Tanpa berkata dia pun berlalu. Si Dali marah pada dirinya sendiri. Menyesali ucapannya. Dan sesal itu tidak bisa diperbaiki. Sesal yang betul-betul tidak ada gunanya. Karena beberapa hari kemudian seorang kapten datang bermalam dalam suatu perjalanan inspeksi ke garis depan. Setelah matanya nanap menatap Si Montok,

Maka Si Dali beserta temannya tergusurlah. Tak obahnya orangtua itu seperti mendapat pohon durian rebah. Uda pun akan meninggalkan orang kampung ini bila perang usai. Ketika ia sadar. "Yang tidak Uda pikirkan.lalu malam yang semalam menjadi berketerusan. maka sebelum tidur pada malam pertama ia datang.” kata Si Dali seperti membela diri." kata ayah Si Montok. maka aku tidak melamarmu. Tiba-tiba Si Dali nanar. Aku capek setelah berhari-hari jalan terus. "Tapi rumah kadi amat jauh. Juga menyesali diri sendiri. Padahal sudah lama aku ingin laki-laki. kapten itu melamar Si Montok pada ayahnya. Dan rumah kecil di lereng bukit peladangan tebu itu akhirnya berobah menjadi pos komando. Bila dulu mereka pergi begitu saja dari kota seperti seharusnya sudah begitu. "Menurut agama. *** "Engkau pasti akan jadi ganjal batu* bila perang usai." kata perempuan itu." "Apa yang jadi pikiranmu?" tanya Si Dali setelah lama merenung-renung maksud katakata perempuan itu. Mungkin karena sifat seorang komandan yang harus mampu bertindak tegas dan cepat. Si Montok sudah berlalu membawa tubuh sintalnya yang aduhai sambil menggerai-geraikan rambutnya yang habis keramas." kata janda yang baru saja menikah itu. ayahnya sendiri. Malam itu juga pernikahan itu terjadi. pikiranku. Uda. "Semalam saja." kata Si Dali pada Si Montok ketika mereka ketemu. bukan?" kapten itu memberi alasan." kata kapten itu selanjutnya. maka kini Si Dali pergi membawa gerutu dan caci-maki. sehingga tidak perlu memanjat dulu untuk memetik buahnya. yang berhak menikahkan anak perempuannya. "Sekarang saja nikahnya. Si Dali ikut menjadi saksi. Maka lamaran kapten itu diterima. "Itulah yang jadi pikiranku. "Sama saja. Dan malam itu juga Si Dali dan temannya tergusur seolah seperti musuh datang menyerbu lagi. "Uda seperti tidak perlu perempuan. *** ." kata kapten itu pada mulanya dia datang.

sama lupa pada desa-desa tersebut. Tentu saja isteri mayor naik pitam ketika mendengar bahwa bayi itu adalah anak suaminya yang dilahirkan Si Montok. seperti kapten itu juga. mayor itu dipensiun. Dan Inyik berkulit cerah. lengan itu dipotong. Kedua perempuan itu sama menyesal di kediaman masing-masing. Rumah kedua orang tua itu bangunan kayu model lama yang berkolong tinggi. Keduanya memandang sambil bergoyang pelan di kursi goyang yang dipisahkan oleh meja kecil bardaun marmar Itali. dengan perasaan sangat bangga. Soalnya. Si Montok menyesal karena membawa bayi kebanggaannya. berbendi atau bermobil sebagaimana tradisi setiap lebaran Idul Fitri. Hampir tidak dapat bergerak seleluasa maunya. karena selama perang tidak pernah melukai musuh. Diledakkannya. Ketika di rumah sakit. Kelihatan ganjil di antara sederetan bangunan bergaya terkini. batu itu ditinggalkan begitu saja. Si Montok datang ke kota menemui Si Kapten yang telah jadi mayor untuk memperagakan anak mereka. Menurut istilah lama yang kini terpakai lagi. Lazimnya orang menyebutnya Inyik dan Encik saja. Si Montok pun ditinggal. Sama seperti desanya. setelah perang usai seluruh tentera kembali ke kota. ialah batu pengganjal roda truk sarat muatan yang tiba-tiba mogok di pendakian. Sedangkan mayor menyesali nasibnya sendiri. Ketika truk itu sudah bisa jalan lagi. Si Montok menemui mayor di rumahnya. karena pistol itu memang tidak punya perasaan. tak terasa lagi ada keganjilan pada rumah itu. Pelurunya bersarang di lengan kanan mayor. Encik berkulit gelap dan bertubuh gemuk. 17 Desember 1996 Tamu yang Datang di Hari Lebaran Sepasang orangtua yang rambutnya telah memutih memandang dari ruang tamu ke jalan raya yang ramai oleh orang orang berbaju indah-indah dan baru. Celakanya. Maka tinggallah desa-desa yang telah memberi pelindungan hidup pada pejuangpejuang itu. Kayutanam. Pada hari tua yang sudah lama terpakai mereka tinggal dengan sepasang pembantu yang telah puluhan tahun bersamanya. Maka orang kota. tapi . mereka "dikaruniai" enam orang anak. Diambilnya pestol yang tergantung di dinding kamar tidur. -------------------------------------------------------------------------------* Ganjal batu. Yaitu Inyik Datuk Bijo Rajo dan Encik Jurai Ameh. Karena lengan telah pontong. Janin yang kemudian menjadi bayi laki-laki yang bugar. Namun tidak diketahui apakah pistol itu pun ikut menyesal. Berjalan kaki. Juga lupa pada janin yang sehat pada perut Si Montok. Mungkin karena sudah terlalu biasa dalam pandangan penduduk kota kecil itu. Tentu saja begitu. Pada suatu hari. Isteri mayor menyesal karena telah meledakkan pistol suaminya. tetapi sehabis perang melukai pemiliknya sendiri. Setiap orang tahu siapa penghuninya. Bercat oker yang telah pudar warnanya.Sekitar masa setahun sehabis perang Si Dali menyukuri diri karena tidak sampai menikahi Si Montok. Inyik dulunya seorang pejuang dan pernah menjadi gubernur. Semua telah jadi orang terpandang di rantau. Pembantu yang laki-laki ialah paman Si Dali.

akan apa kata orang nanti bila mereka tidak datang waktu lebaran. Tak ada rasa rendah diri. Mengapa? Sama seperti anak-buah Inyik dan pejabat lain. Seperti anak-cucu presiden di televisi." Inyik pun berkata dalam hatinya: "Dulu aku pernah baca artikel." tulisnya dalam surat. Meski kementerengan hidup yang mereka dapat. Tutup tahun ini berkebetulan sama dengan lebaran. Dalam hatinya pula. Ke Amerika atau ke Eropa atau ke Jepang. Tapi dia tidak pulang. Yang tak mampu hanya Ruski. Aku rindu mereka antri. bertekuk lutut sambil mencium tanganku waktu bersalaman. Sedangkan Inyik berbuat yang sama. Tidak ada rasa lebih diri. Kenapa tidak untuk sepuluh atau seratus orang miskin. waktu ayahnya jadi gubernur setiap lebaran mereka bisa berkumpul. Dia ke Mekkah karena sudah bosan ke kota-kota dunia lainnya. Namun mataku sabak oleh airmata bila ingat aku tidak pernah memperoleh kebahagiaan seperti itu. Kalau mau." . Sepertinya menemui ibu-bapa tidak merupakan ridha-Nya. Kata Encik: "Pada setiap lebaran begini aku mau semua anak-cucuku berkumpul. Aku datangkan guru agama tiga kali seminggu agar mereka menjadi penganut yang tawakal. karena banyak rakyat yang diterlantarkan. Lain perilaku hidupnya. Dulu. Tapi mengapa setelah makmur mereka hidup nafsi-nafsian? Setiap lebaran datang luka hatiku kian dalam. Aneh fahamnya beragama. Rasanya aku tidak salah didik. Katanya. Tak tersentuh hati mereka. Sambil bergoyang di kursinya sejak tadi Encik bicara sendiri tak hentihentinya. Kata mereka. "Sambil libur. Keduanya sama mengenakan baju yang terindah. Padahal. Si Mael yang paling kaya dari semuanya. Di Irian sana. Setelah itu mereka tidak lagi datang dengan lengkap. bawahan dan orang miskin yang wajib datang ke penguasa untuk minta maaf. Tapi kalau bagi anak-menantuku tentu tidak berlaku ungkapan itu. Tapi kini. Pantang memintaminta. Tapi itu tidak pernah terjadi. Karena pada hari itu setiap orang tanpa pandang usia dan status saling bertemu dan saling memaafkan.tubuhnya ceking. Lebih sulit lagi dia tinggal jauh. Penguasa akan merasa tidak pantas minta maaf kepada rakyat. Idul Fitri hari yang istimewa. setelah Idul Fitri jadi kebudayaan baru. Kenapa harus menunggu dulu kalau sudah tahu saudara sendiri tidak punya kemampuan? Siapa yang mengajar mereka begitu? Seperti mereka tidak tahu betapa rindunya aku. Rezkinya memang pas-pasan. saudara-saudaranya bisa patungan membiayai yang tidak mampu. meski modelnya sudah kuno. kalau tidak salah Ki Hajar yang menulis. Saudara-saudaranya mau membantu kalau Ruski mau meminta. Kalau mereka tidak lagi datang. sebetulnya anak-anakku mampu pulang bersama. Setiap akhir tahun dia pergi berlibur membawa anak dan isterinya. Begitu janjinya kepada anakanak. Terharu aku melihatnya. itu adat dunia masa kini. sambil mencari ridha-Nya. Dimana padi masak disana pipit berbondong-bondong. Paling-paling mereka memberi zakat fitrah senilai satu hari makan untuk satu orang miskin. Atau untuk makan sepuluh atau seratus hari orang miskin?" Kata Encik melanjutkan lamunannya: "Ruski memang keras hati. Berdiri seluruh bulu romaku. Mengatakan apa yang lewat di kepalanya.

Melani karena tidak mendapat tiket pesawat. Sebetulnya Idul Adha tak kurang mulianya. Kiayi Marzuk mengatakan kepadaku: "Kalau mau jadi pemimpin. asal stabiltas terjamin. aku pun dendam jika ada bawahannya tidak datang berlebaran ke gubernuran. Sepertinya uang sebanyak itu tidak lagi berfaedah untuk orang miskin." kata Encik melanjutkan kata hatinya. Dulu ketika ayahnya jadi gubernur. Tapi kebudayaan baru menjadikannya lain. Menteri bisa salah sangka kalau dia tidak datang. renungannya melanjut: "Waktu jadi gubernur dulu." kata Encik hampir tak berdaya. Roem." "Sabir juga tidak pulang. Kolegaku menyalahkan aku dengan kata-kata durjana: "Biarkan saja agama begitu. Kalaupun punya warisan. Melainkan berzakat dan takbiran. Mengikis keduniawian pada acara ritual itu."Tulisan siapa yang pernah aku baca dulu? Hasan. dia harus berlebaran ke rumah menterinya yang baru. Dan dia terus merunut satu demi satu alasan anaknya tidak bisa pulang berlebaran." katanya kepada isterinya sambil melangkah dengan gontai. Aku minta ulama mengeluarkan fatwanya. sebagai pemimpin umat umurnya dibatasi Tuhan sampai enampuluh tiga tahun saja. Itu yang pertama. Beberapa saat kemudian dia berdiri. Sofi karena suaminya belum bisa kembali dari Eropa. Sedangkan pada Idul Adha memberi Qurban senilai seekor kambing. Untuk keamanan jabatannya. Takbir bukan lagi ibadah pribadi. Pikiran Inyik masih terus menerawang." . Ketika berhenti karena umurnya sampai. Natsir atau siapa. semuanya dihibahkan menjadi wakaf untuk umatnya. Terlambat datang pun jadi pertanyaan dalam hatiku. Sedangkan Gafar lain lagi alasannya. akulah yang akan menjadi usang. Pada Idul Fitri memberi zakat firah. "Aku juga. Sebagai kepala pemerintahan aku dipojokkan. Aku mau berbaring dulu. Jurai. sesungguhnya tidak cukup waktu untuk merobah tradisi yang usang. Setelah minum sereguk air. Tidak kaya raya seperti umumnya diktatur yang berkuasa. aku mencoba merobah tradisi lama itu. waktu dirasakan terlalu singkat. Dia mengalaikan kepala ke sandaran kursi. Katanya: "Lima tahun jadi gubernur. Acara takbir dijadikan acara tontonan di lapangan. teladani Nabi. Coba kalau anak-anak kita disini semua. Katanya. Kewajiban inti pada kedua hari raya itu membantu orang miskin. Aku maklum alasannya. "Aku lelah. Apakah tidak akan terjadi kekacauan pada kehidupan umatnya?" Tiba-tiba Inyik merasa dadanya sesak." Inyik terbatuk-batuk. melanikan dijadikan pesta dunia dengan biaya milyaran rupiah. Kursi yang ditinggalkannya terus bergoyang. kondisi mental dan fisiknya sudah menurun dan terus menurun. beliau tetap seperti Muhammad sebelum menjadi Nabi. ya? Katanya. Kedua. "Rasanya hari lebaran ini terlalu panjang. Bagaimana nasib umat dibawah pimpinan yang pikun? Dan bagaimana umatnya meneladani perilaku Nabi apabila diakhir hidupnya kepikunan lebih menonjol. Bahkan lebih. Nabi tidak menyuruh orang berpesta untuk merayakan Idulfitri. Jika lebih dari itu. Nabi diberi waktu dua puluh tiga tahun oleh Tuhan. Akan tetapi menjadi gubernur lebih lama. Pakai musik segala.

Selagi aku masih hidup mereka tidak lagi berpikiran sama seperti sebelum mereka menjadi apa-apa? Apalagi kalau aku sudah mati. Terima kasih juga seandainya ini hanya mimpi. Lalu kepada tamunya: "Apa maksudmu?" .Lama kemudian masih dalam goyangan kursi." katanya pada dirinya. Meski mereka berpendidikan tinggi. Persis seperti yang dilakukan anak-cucu presiden dalam tayangan televisi. menantu dan cucunya. Kini disadarinya benar. Maka itu janganlah kau punya pikiran yang berlawanan dengan kodrat alam. Setiap pintu terbuka. bahwa waktu Nabi sampai umurnya. "Sebetulnya aku tidak akan ke sini. Terima kasih. sampai ke Pakistan di timur. Tamu yang berani-berani saja sudah duduk di bangku tidurnya. Tambah tua kian sombong. menciumi tangannya dan kemudian memeluk untuk mendekapi pipinya. para khalifah telah meluaskan wilayah Islam sampai ke Spanyol di barat. Tapi kenapa pada hari tua kita. Tetapi dalam masa seratus tahun. Semua anak-anakku pulang berlebaran. Oh. alangkah indahnya Hari Raya sekali ini. Kata yang tidak pernah ada dalam hidupnya diucapkan orang kepadanya. "Sebenarnya aku ingin jadi gubernur lebih lama." Dalam berbaring di bangku tidur yang biasa digunakan pada waktu tidur siang. baru separoh jazirah Arab yang Islam. Inyik tidak bereaksi. Satu demi satu secara khidmat mereka berlutut ketika menyalami. terima kasih. namun nyalinya kecil-kecil. Terutama sekali karena aku tidak melihat ada bawahanku yang mampu menggantikan aku." "Kodrat alam?" "Ya. Lalu duduk di kalang-hulunya. supaya menjadi anak yang bersatu kukuh dalam persaudaraan serumpun. pikiran Inyik masih terpaut pada waktu ketika di kursi goyang ruang tamu. Dari setiap pintu keluar semua orang yang dikenalnya. selain heran oleh kedatangan tamu yang tidak dikenal itu." Lama Inyik terdiam. memasuki halaman." Hati Inyik merasa tertusuk oleh kata kau ke alamatnya. pikirannya terus menerawang: "Alangkah anehnya hidup ini. Sunnatullah. bahwa memang usia tua membuatnya lamban berpikir. Dan bicara tanpa basa-basi. Tuhan. "Ternyata kau sama saja dengan golonganmu." Goyangan kursi Encik kian lama kian pelan. Karena alam dan kodrat-Nya. Tapi aku mendengar yang kau katakan. Rasanya aku sudah mendidik anak-anak. Mimpi terakhirku. Bahkan pelupa. mereka telah hidup menurut pikiran dan caranya masing-masing. Menjelang berhenti. dalam penglihatannya beberapa mobil sedan yang mengkilat catnya karena baru. Lama-lama berhenti sendiri. Tak mampu dia memahami apa yang dimaksud tamunya. lamban bereaksi." Tidak diduganya seseorang masuk ke kamar tidurnya. Aku cemas pada nasib negeriku ini bila dipimpin orangorang seperti itu. Mungkin mereka akan bercerai-berai. baru tujuhpuluh usiaku sudah begitu lambannya aku. mungkin akan turun deras melelehi pipinya oleh rasa bahagia. Anak. Tapi berapa sesungguhnya usianya sekarang? "Ah. "Tuhan telah mengabulkan doaku. Sebaiknya kau tahu. Kalau masih ada airmatanya tersisa.

Inyik merasa tamu itu menguliahinya. Tidak akan. Karena rasionya yang lebih kuat."Dalam peribahasamu ada ungkapan: "Patah tumbuh." Inyik menggugat. Karena kau tidak berkuasa lagi. "Tidak. akan terjadi kekacauan pada ujung kekuasaanmu. Pemimpin pengganti akan didambakan dengan sorak gembira oleh rakyat. 21 Januari 1998 Topi Helm Terjunjungnya topi helm di atas kepala Tuan O." kata tamu itu." kata Inyik pula dalam keragu-raguan." Inyik lama termangu sambil membolak-balik makna ucapan tamu itu. "Kalau waktuku belum akan tiba." desis dalam mulutnya ketika ingat pelajaran sejarah Yunani Kuno pada klas terakhir sekolah menegahnya dulu. menjamin kelancaran kerja di bengkel kereta api di kota kecil Padang Panjang. "Pantarai. tersandang jugalah wibawanya sebagai opseter mesin di bengkel itu. "Tergantung pada perilaku kepemimpinanmu. Dia mencoba meraba-raba perasaannya sendiri. itu pendek." kata tamu itu "Pengganti belum tentu sebaik yang digantikan. Tapi ada rasa tak berdaya pada dirinya. Belum sekarang." kata tamu itu." "Belum.M. pula di depannya sebab turunannya. Meskipun Tuan O. Dialihkannya pembicaraan. Bahwa manusia itu lahir.M.M. Kayutanam. Kalau kau berkuasa seperti diktator." "Bagaimana dia?" "Kursinya tidak bergoyang lagi. Malah pakai R. . Masa kau lupa. Tidak ada perasaan apapun. hilang berganti." kata tamu yang disangka Inyik sebagai Sang Maut seraya keluar dari kamar. yang oleh ayahnya sendiri dinamai Gunarso. aku mau kehadiranku tidak akan menyiksa hidup bangsaku. tapi oleh topinya yang besar itu. Apabila kepemimpinanmu berganti pada kondisi yang baik. Harga dirinya tersinggung. Tiba-tiba dia sadar bahwa tamu itu tidak lain dari Sang Maut. Maunya dia marah. "Engkau ke sini berlebaran. Dan oleh bawahannya di lengketkan julukan Si Topi Helm atas Tuan O.M. kau akan selalu dikenang dengan segala kekaguman oleh rakyat. Inyik yang berbaring lemas sendirian di bangku tidurnya masih mendengar samar-samar gema takbiran dari pesawat televisi di ruang tengah. hidup dan akhirnya mati. bukan?" "Ada sedikit urusan dengan isterimu. "Sudah tiba waktuku kalau begitu.

Demikian besar wibawanya. Hingga kalau sekelompok orang mengobrol selagi kerja di bengkel itu, lalu di antaranya membisikkan: "Sssst. Si Topi Helm," maka berjungkir baliklah mereka bekerja dengan tekunnya. Kadangkala ini menjadi olok-olok. Misalnya sekelompok orang mengobrol, lalu seseorang menyebut Si Topi Helm dengan tiba-tiba, tunggang langganglah mereka ke tempat kerjanya kembali. Dan pura-pura asyiklah mereka bekerja, seolah-olah mereka sejak dari tadi benar-benar bekerja. Tapi tahutahu kedengaranlah tawa terbahak-bahak. Maka tahulah mereka bahwa ada yang berolok-olok dan mereka telah tertipu. Karena seringnya olok-olok demikian dilakukan, akhirnya orang selalu curiga akan bisikan "sssst, Si Topi Helm." Tapi pada suatu hari olok-olok itu menyebabkan seorang masinis turun pangkat jadi stoker kembali. Biasanya untuk membersihkan bagian bawah dari sebuah lok kereta api hanya dilakukan oleh dua orang saja. Lok itu berdiri di atas sebuah lobang yang panjang, hingga orang-orang dapat bekerja tegak untuk membersihkan di sebelah bawahnya. Tapi masinis, yang badannya besar hingga di panggil "Kingkong" oleh buruh lainnya, setelah masuk ke lubang itu untuk memeriksa, ia tidak keluar lagi. Ia mengobrol dulu memenuhi kebiasaannya. Obrolannya makin lama kian enak, sehingga mereka tertawa kesenangan. Dan…. memeriksa, ia mendengar betapa meriahnya suasana dalam lubang di bawah lok itu, orang-orang lain yang sedang bekerja di bagian lain lok itu ikut pula masuk ke lubang itu. Sedang si masinis asyik mengobrol dengan segala geraknya yang lucu,tanpa setahunya Tuan O.M. sudah ada dekat lok yang sedang di bersihkan itu. Didengarnya saja obrolan bawahannya itu diam-diam. Tiba-tiba salah seorang di antara orang-orang yang di dalam lubang itu melihat sepatu dan celana coklat Tuan O.M. dari celah-celah jari-jari roda lok, lalu dengan ketakutan dia berbisik, "Sssst Si Topi Helm." Serentak rubu rubai, antara percaya dan tidak mereka sepura asyik bekerja. Ada yang membersihkan roda, ada yang membersihkan as, malah diantaranya ada yang mengetok apa saja yang dirasanya patut diketok. Tapi masinis melihat betapa takutnya orang-orang oleh bisikan yang berbisa itu, jadi tertawa terbahak-bahak sendiri. Lucu benar dianggapnya tingkah laku mereka itu. "Hm. Apa yang kalian takutkan? Si Topi Helm?" Ia mengejek. " Apa pula yang ditakutkan pada si pendek itu. Patutnya padaku kalian takut, Si Kingkong ini. Tidak pada Si Topi Helm yang pendek seperti kera itu kalian takut. Puahhh. Kalau sekarang ada Si Topi Helm itu di sini, aku patahkan lehernya. Seperti kingkong mematahkan leher kera tentunya. Ha ha haaa. Kalian benar-benar, ada saja seseorang berkata: 'Sssst Si Topi Helm', waaahhh kecutlah ekor kalian seperti anjing ketemu singa. Adukan sama Kingkong, Kawan. Adukan sss..." Ia tak jadi menyudahkan kalimatnya. Karena tiba-tiba didengarnya orang mendehem. Dan dehem itu dikenalnya. Lalu diintipnya dari antara roda-roda lok ke arah datangnya dehem itu. Terbitlah kecutnya. Hilanglah segala omongannya yang besar tadi. Tak seorang pun yang berani ketawa, meski seharusnya mereka bisa ketawa melihat betapa kecutnya kingkong melihat kera. Belum sampai sempat masinis itu berpikir, Tuan O.M. sudah pergi dari situ. Maka seorang demi seorang keluarlah dari bawah lubang itu. Kembali ke tempat kerja masing-masing. Selagi belum sempat masinis

melenyapkan rasa kuyu di hatinya, datanglah panggilan dari Tuan O.M. untuknya. Dan Si Kingkong itu kini merasa telah menjadi kera. Demikianlah kisahnya. Tapi semenjak itu Tuan O.M. tidak lagi memakai helmnya. Entah karena topi itu sudah tua, entah karena ia sudah tahu orang-orang mengejeknya dengan topi helm yang besar itu, tidak seorang pun yang tahu. Namun setahun kemudian topi helm itu tidak punya wibawa benar-benar lagi. Yaitu semenjak kepala Pak Kari yang menjunjungnya. Di waktu topi helm itu berpindah kepala, sebenarnya terjadilah peristiwa penting atas keluarga Tuan O.M. Topi itu tiga tahun yang lalu dibelinya di Semarang, ketika ia dipindahkan ke kota kecil Padang Panjang. Kota penghujan itu menjadikan topi itu lekas tua. Dan untuk penggantinya di kota itu tidak mungkin, karena tidak ada orang jual. Meski topi helm itu telah tinggal tergantung di kapstok di rumahnya, namun julukan "Si Topi Helm" masih juga lengket pada Tuan O.M. sampai ia dipindahkan ke Bandung. Pada waktu buruh bengkel kereta api yang dikerahkan R.M. Gunarso sibuk mengepak perabotan rumah yang akan dibawa pindah, topi helm yang tua itu sampai terlupakan. Barulah ketika rumah itu sudah kosong, Nyonya Gunarso melotot melihat sang topi tergantung sendiri pada paku di dinding. "Kenapa ini bisa kelupaan, Pap?" tanya perempuan itu. "Kaupakai sajalah, ya. Sayang kan kalau dibuang." "Ah, jangan, ah. Masa pembesar bawa topi begini ke kapal. Malu, ah. Mam." "Habis? Mau dibikin apa? Semua barang-barang sudah dimasukkan ke peti. Dan peti-peti sudah diangkut ke stasiun." Dan mata Tuan O.M. melirik kepada bawahannya yang telah membantu mengepak barang-barangnya. Semua ia kenal baik, yakni para tukang rem. Kepada siapa harus diberikan supaya adil, pikirnya. Ia ragu-ragu menetapkan. Tapi ketika matanya tertumbuk kepada Pak Kari, sesuatu pada jantung orang tua itu terasa bergetar. "Daripada dibuang, Mam, apa tidak sebaiknya kalau diberikan kepada mereka saja?" kata Tuan O.M. minta musyawarah istrinya. Dan Pak Kari menatap mata perempuan itu dengan nanap, seperti ada suatu perjanjian antara mereka, bahwa topi itu seharusnya buat dia diberikan perempuan itu. Tapi perempuan itu berkata, "Coba dulu siapa yang pas betul." Tuan O.M. mengedarkan pandangan ke semua bawahannya seorang demi seorang, sehingga para tukang rem itu berdegupan darahnya oleh harapan bakal mendapat topi helm itu. Akhirnya masing-masing mencobakan topi itu di kepala mereka bergantiganti. Dan kebetulan, ya kebetulan sekali, Pak Kari yang sama pendeknya dengan Tuan O.M. memiliki kepala yang sama besarnya pula, sehingga topi helm itu haknya. Sedang Pak Kari nyengar-nyengir kegirangan oleh rezekinya itu, tiba-tiba perempuan itu berkata, " Ah, Kari. Gagah betul kau. Tapi jangan berlagak lakiku pula kau."

Di antara suara tertawaan, Pak Kari merasa badannya terlambung setinggi rumah dan membesar seperti gajah. Dan bagaimana hematnya Tuan O.M. dengan helmnya, lebih lagi Pak Kari, si tukang rem itu. Ia tak tega membiarkan topinya kena hujan setitik pun. Betapa bangganya kalau topi itu di kepalanya, demikian pula besar sayangnya kepada helmnya. Sering ia tersenyum sendirian bila melihat wajahnya pada kaca pajangan toko yang dilewatinya saban pergi dan pulang kerja. Dan tentu saja tingkah laku Pak Kari yang berlebih-lebihan itu menjadi bahan olok-olok oleh kawan sekerja. Tapi juga jadi pangkal kejengkelan atasannya. Namun Pak Kari berpendapat olok-olok atau kejengkelan itu adalah disebabkan rasa iri hati mereka karena tak punya topi helm warisan Tuan O.M. Akan tetapi semenjak Pak Kari menjadi pemilik baru topi helm yang besar itu ia pun mendapat julukan. Bukan Si Topi Helm sebagaimana yang ditonggokkan kepada Tuan O.M., melainkan ia mendapat nama julukan Si Gunarso. Berbeda dengan Tuan O.M. yang tidak menyenangi nama julukan yang diberikan orang dengan Si Topi Helm, Pak Kari malah merasa bahagia dipanggil Si Gunarso. Bahkan kadang-kadang ia benar-benar merasakan dirinya sebagai Gunarso. Gunarso yang pendek dan punya wibawa begitu ideal dalam pandangan Pak Kari yang bertubuh sama pendeknya pula. Pak Kari adalah tukang rem semenjak delapan belas tahun lalu. Sebelum itu dia hanya seorang penganggur yang hampir putus asa dalam mencari pekerjaan. Dan ia tahu benar apa artinya menjadi tukang rem di kala itu. Bangun pagi-pagi dan sebelum jam lima sudah mesti berada di stasiun. Pulangnya kadang-kadang sudah jam sembilan malam. Namun dibandingkan dengan orang-orang lain, yang tidak mempunyai pekerjaan apa pun, ia sudah merasa bahagia. Akan tetapi karena potongan badannya yang kecil kurus menjadikannya lebih merasa kecil diri dalam pergaulan dengan tukang-tukang rem lainnya. Dan karena itu dari dirinya dituntut kesabaran yang kadang-kadang sampai di luar kemampuannya sebagai manusia. Lebih lagi semenjak ia mempunyai topi helm, kesabarannya sering kali mendapat tantangan yang sangat tengik. Padang Panjang kota kecil yang penghujan. Selama belum bertopi helm, Pak Kari tak pandai menyumpahi hujan. Akan tetapi kini ia sudah sering menyumpahinya, karena hujan itu memaksanya tidak dapat memakai topi di kepala menurut selayaknya. Selain dari hujan, dari kawannya sendiri sering pula ia mendapat gangguan. Umpamanya selagi ia sedang sembahyang, ada saja kawannya yang menyembunyikan topi helmnya. Sehingga ia mencari-cari dengan perasaan sedih dan dongkol sampai topi helmnya bisa ditemukan. Susahnya kawan-kawannya tahu, Pak Kari bergeming selagi sembahyang meski ia tahu topinya diambil orang untuk disembunyikan. Sungguhpun demikian kawan-kawannya lebih suka menggodanya selagi sembahyang itu. Dan ketika seluruh tukang rem mendapat topi dinas model topi petani di Jawa, Pak Kari merasa bahwa pimpinan perusahaan kereta api telah ikut iri hati karena ia mempunyai topi helm itu. Namun ia tetap berkeras kepala tak hendak memakai topi dinas itu. Barulah ketika sepnya mengancam hendak memberhentikannya, Pak Kari menerima kalah. Maka tinggallah topi helmnya di rumah, tergantung di dinding pada paku. Setiap pagi hendak pergi kerja topi itulah yang terakhir dipandangnya seolah hendak mengatakan "selamat tinggal". Dan setiap pulang kerja topi itu pula yang pertama dilihatnya seolah hendak mengatakan "selamat ketemu lagi". Dan bila hari perainya topi helm itu kembali berada di kepalanya dan dengan bangga dibawanya berjalan-jalan keliling kota.

M.M. maka Pak Kari buru-buru kehilangan topinya pula dengan melemparkannya pada saat yang tepat. Akan tetapi bila gerbong tidak direm. Meski topi itu sangat berguna untuk melindungi kepala dari terik matahari dan guyuran hujan. Konon ketika tukang rem pertama yang kehilangan topinya tidak dikenakan sanksi oleh sep mereka. Oleh karena itulah tukang rem harus sering-sering melihat keadaan roda. akan bisa menyebabkan gerbong terlepas dari rel bila tiba di tikungan. Dan itu akan lebih berbahaya lagi. lalu merendahkan kepala sehingga badan dan kepalanya itu berada di luar bidang gerbong. Dengan puncak kemenangannya itu. Sehingga banyaklah tukang rem yang kehilangan topinya. Kejadiannya ketika Pak Kari dengan beberapa tukang rem lainnya dalam perjalanan bede dari Kayutanam ke Padang Panjang. Persis ketika itu. Tapi ada kalanya juga mereka sempat tidur berbaring di bangku panjang. Lain halnya jika kereta api yang menjalani rel yang menurun dari Padang Panjang ke Kayutanam yang memerlukan seorang tukang rem pada setiap gerbong. Pak Kari balik mengejar. hanya sepertiga dari jumlah tukang rem yang berdinas. lewatlah seorang tukang rem lainnya. Akan tetapi topi itu tidak praktis dipakai oleh tukang rem di daerah pegunungan. Topi helmnya menutup mukanya. Ketika ia pulang kerja. Maka dipeluknya istrinya itu kuat-kuat. Berwibawa dan ditakuti oleh semua bawahannya. Dan dalam mimpinya itu juga. Dan sejak itulah tukang rem tidak lagi wajib mengenakan topi dinasnya. Dan seolah tak sengaja tersepaklah topi helm itu. martabat topi helmnya menjadi senilai dengan masa Tuan O. Jalan kereta api menanjak menyusuri dinding bukit di Lembah Anai. Banyak di antaranya yang duduk tertidur. Dan Pak Kari yang sudah tersentak bangun melihat topinya melayang. rasanya istrinya persis menyerupai Nyonya Gunarso yang cantik. Dalam tidurnya ia bermimpi. Pak Kari yang penyabar seolah mendapat kemenangan dan harga dirinya kembali. Caranya ialah berjongkok di tangga gerbong. memakainya dulu. Secara refleks ia melemparkan topi itu. Atau kalau diletakkan saja pada lantai bordes di kala hendak melihat keadaan roda. topi helm kembali menghiasi kepala Pak Kari. topi itu akan sering diterbangkan angin.M. bahwa ia benar-benar telah jadi Tuan O. Dan sejak itu. kereta api akan kian kencang meluncur. kalau memang gerbong itu tidak banyak penumpangnya. Pak Kari di kala itu dapat tidur membujur pada bangku panjang di bagian tengah. Pada saat seperti itulah topi dinas terlepas dari kepala tukang rem itu. Diburunya topi itu. Dan terus berpindah dari . Pada waktu itu. Maka ketika kembali ke Padang Panjang. Karena kalau rel yang licin di kala hujan. Ia terbangun. alangkah kaget istrinya melihat Pak Kari telah jadi O. Tapi ketika ia memeluk badannya miring dan jatuhlah topinya ke lantai gerbong. roda gerbong yang terlalu kuat dicekam rem akan terhenti berputar. Lambat laun kemenangan Pak Kari tiba juga di puncaknya setelah ia melepaskan kesabarannya yang terkenal itu. tangan bergayut pada pegangan besi di tangga. yang seringkali memeriksa roda apakah masih berputar atau terhenti karena dicekam rem pada waktu kereta api meluncur di penurunan.Beruntunglah Pak Kari karena kewajiban memakai topi dinas model petani itu tidak lama berlangsung. namun kereta api terus meluncur juga. Tapi topi itu terbang ke tangan lain. Jatuh ke tangan seseorang setelah melalui kepala Pak Kari yang memburu. dua pertiga dari jumlah tukang rem menjadi bede itu umumnya mengisi gerbong penumpang kelas tiga. Tapi topi itu jatuh menimpa pangkuan tukang rem yang sedang tertidur di sudut gerbong.

Persis seperti yang dilakukan Pak Kari di jembatan itu juga.kawannya tak lagi mau menggoda ia dan topi helmnya. Tukang rem yang tertidur pun bangun. itu artinya roda sudah berhenti berputar. Akan tetapi pada suatu hari yang tak baik baginya.seorang ke yang lain setiap Pak Kari memburunya. Tersekat pada sebuah batu besar. demikian juga penumpang. Tapi Pak Kari tidak. rem mesti dilonggarkan sedikit. Dan dia mengancam siapa saja yang berani menghina topi helmnya. Tak bernyawa lagi. Begitulah ia lakukan berulang-ulang pada setiap peluit lok dibunyikan masinis. Menjadi kalap ada perlunya juga untuk menghentikan keberanian orang-orang yang perkasa. Semua tertawa dan bersorak-sorak kegirangan. Bisa-bisa pada suatu tikungan yang tajam. Pagi itu masih meninggalkan renyainya. Itu artinya setiap tukang rem yang menempaati setiap gerbong harus bekerja lebih hati-hati. Lalu ia menarik badannya agar tidak disambar pelengkung itu . Ia melihat Pak Kari berjongkok sambil bergayut dengan sebelah tangannya. bahwa saat terakhir ia melihat Pak Kari ketika kereta api akan menempuh jembatan berpelengkung setelah air mancur terlewati. Dan itu berbahaya sekali. Sedangkan hujan terus turun semenjak tengah malam. akhirnya ditemui sejauh satu kilometer di hilir Batang Anai. Dicabutnya pisaunya. agar setiap tukang rem lebih mengeratkan remnya. Barulah ketika kereta api sudah sampai di stasiun kecil di desa Kandang Ampat. Seorang tukang rem disambar pelengkung jembatan itu pada kepalanya ketika berjongkok-jongkok melihati keadaan roda.. Dan tukang rem itu. Maka semenjak itu topi helm itu punya kewibawaan lagi. Kalau masih berbunyi harus dilihat lagi keadaannya. Dan Pak Kari harus melihat keadaan roda dengan bergantungan di tangga gerbong. Kegembiraan pun bangkitlah. Pak Kari dinas pagi lagi dengan kereta api pertama ke Kayutanam. Bergalaulah suasana setelah mendengar penjelasan tukang rem itu. Dan peluitlok sering-sering dibunyikan masinis bila dirasakannya kereta berjalan melebihi kekencangan yang diperlukan. sehingga sedikit saja handel rem ditekannya telah menyebabkan roda-roda berbunyi seperti suara tikus mencicit. hingga rel baja yang keras itu menjadi licin sekali. Kalau roda berhenti berputar. Rem di tekan lebih kencang. . Pak Kari mengikuti perintah itu. Peluit lok terus juga berbunyi pendek-pendek untuk memberi peringatan agar rem setiap gerbong lebih dikencangkan. Jika bunyi itu ditimbulkan oleh pergeseran roda dengan rel. untuk mengetahui apakah bunyi tiu karena pergeseran rem dengan roda atau karena pergeseran roda dengan rel. Ia mendapat tempat pada gerbong terakhir.. Tapi rodannya bercicit bunyinya. Lalu ia melihat dengan berjongkok di tangga gerbong. tapi kali ini ia bergayut dengan menggunakan sebelah tangannya agar ia dapat lebih jelas melihat roda di pagi yang masih remang-remang itu. Dan tiba-tiba ia sadar bahwa kereta api sedang memasuki jembatan yang berpelengkung. pikir Pak Kari lama kemudian setelah ia sadar bahwa kawan. Biasanya ia bergayut dengan punggung ke arah luar gerbong. Gerbong Pak Kari baru saja mendapat tukaran bantalan rem yang baru. Tak seorang pun yang berani mempermainkan topi helmnya. orang tahu bahwa Pak Kari tidak lagi di tempatnya. Si Buyung. Ingatan orang kembali pada peristiwa beberapa tahun yang lalu. roda itu keluar dari rel. Malah marahnya bangkit keluar dari endapan kesabarannya yang terkenal. Seorang tukang rem mengatakan.

Tapi kau tidak mati.. berbuih-buih." kata masinis itu lagi. Kenapa kau tak mati saja?" Tak juga ia menjawab. bisalah aku mempertanggungjawabkan kejadian ini. pikir masinis itu. Di . Siapa tahu kalau-kalau Pak Kari bisa mendengarnya." kata masinis itu lagi seraya memandangi topi helm yang lengket di kepala Pak Kari. Ia tetap menekur juga. Dan seperti dikomandoi saja. je. Hebat benar topimu. Kenapa kautinggalkan gerbongmu?" kata masinis lagi dengan nada yang lebih tinggi. Muka Pak Kari yang pucat dan menggigil kedinginan kian pasi dan tambah gemetar mendengar kata masinis yang mau memecatnya.di…. kau tinggalkan gerbongmu. Dipanggilnya Pak Kari ke loknya. topi pusaka Si Topi Helm ini saja.. Beberapa tukang rem dibawa untuk mengawasi Batang Anai yang mengalir sejajar rel kereta api itu dan akan membantu mengangkat Pak Kari yang mungkin telah jadi mayat seperti Si Buyung beberapa tahun yang lalu. "Mengapa jadi begini? Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan kejadian ini?" hardik masinis.. Kepalanya ditekurkannya.." . Kenapa kau hidup? Kenapa tidak mati saja?" Pak Kari masih diam. Sedang masinis bukan kepalang meradangnya. Di sepanjang jalan tak putus-putusnya peluit lok dibunyikan.. Tiba-tiba direnggutnya topi itu hingga terlepas dari kepala pemiliknya.Dan masinis yang memegang pimpinan kereta api batu bara itu mengambil putusan untuk membawa lok dan sebuah gerbong kembali ke arah jembatan yang dikira telah mencelakakan Pak Kari.. karena topi ini jatuh. "Aku tak senang. "Oi. Sekilometer menjelang jembatan yang disangkakan itu. Terasa ada kesukaran jika hanya mencari dengan mata. dilanggar je. he? Karena topi ini saja? Karena topi ini saja aku terpaksa mendorong kereta ini kembali? Kenapa topi ini saja yang jatuh? Kenapa kau tidak? Bagus benar kelakuanmu. jembatan. Pak Kari diam saja. semua tukang rem memaki dan bercarut-carut ke arah Pak Kari. dan menderu bunyinya. Jawablah. "Oo. "Topi saya…. ditemuilah Pak Kari. Tapi lidahnya kelu. Dan setiap mata tertuju ke batang air yang airnya mengalir deras. topi saya jatuh. Badannya kuyup dan jalannya gontai menginjaki bantalan besi demi bantalan besi rel kereta api." kata Pak Kari gagap.. Ia mau memberi keterangan. Karena topi ini. kaurusak dinasku. "Jawablah. seolah hendak mengatakan bahwa ia mengaku salah. "Kalau kau mati seperti Si Buyung dulu. Kau mesti dipecat.. karena hari masih gelap oleh sebab sinar matahari belum lagi menembus celahbukit di balik bertimbal batang air itu.

Akan tetapi sekali hari. Kena air basah. Tapi ketika itu ia tidak tahu bagaimana melampiaskan sakit hatinya. ikut membantu membersihkan rumah. "Kasihan sekali. Ia merasa begitu panasnya oleh bakaran api di dalam dadanya. Kasihan. bahwa Pak Kari pernah meninggalkan gerbongnya karena topi helmnya jatuh dilanggar pelengkung jembatan sehingga orang menyangka Pak Karilah yang terlanggar dan jatuh ke batang air seperti Si Buyung pada masa lalu. di mana apinya sedang garang menyala. Tuan O. Jatuh masuk sungai. ia disuruh Tuan O. Dan sebelum Pak Kari sadar pada apa yang tengah terjadi atas dirinya." kata Pak Kari yang mulai sedikit lega karena kata-kata simpati masinis itu. Topi helm yang terbakar hangus dalam tungku api di lambung lok itu juga. Dan ketika matanya mengalih ke dalam tungku api di lambung lok. Maka ia diam saja.. dan ada kalanya juga mengeping kayu api di rumah sepnya itu.M. Kari. Malah orang pun lupa sudah bahwa pada suatu kali Pak Kari pernah menjunjung topi helmnya Tuan O. Untunglah tidak jatuh ke tengah. basah benar topimu itu. Dalam ia lagi mengeping kayu api hingga menjadi kecil-kecil. "Ayo. Sedangkan lidahnya berdecak-decak. didengarnya teriakan Nyonya Gunarso di kamar mandi. Menarinari oleh nyala api. Kena api hangus juga. Ingat itu. Orang juga lupa. Dan kemudian seperti terlihat dirinya di bawah topi yang menarinari dalam nyala api itu. Mandor itu memakai topi helm. Ia buru-buru mendapati perempuan itu. "Kena air topi ini basah. jika mengenakan topi helm.M. Perai mingguan. Semua orang sudah lupa pada peristiwa topi helm Pak Kari. "Ah. seperti biasa ia menunjukkan kesabarannya yang terkenal itu. masinis telah menghardiknya lagi.Pak Kari ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Lalu dia memandang pada Pak Kari yang terkejut melihat peristiwa yang tak disangkanya itu. tidak merasa dingin lagi dengan tiba-tiba. oleh topi helm itu Pak Kari pernah hendak mengamuk. Seperti biasanya. ya?" kata masinis itu selanjutnya. Dirinya sendiri yang berwajah setampan Tuan O. Untunglah di tepi saja. Pak Kari seperti melihat topi helmnya yang dulu lagi. Andaikata sesekali orang ingat kembali. Perbuatan memanggang topi helmnya itu tidak dapat dimaafkannya begitu saja.M. sekali dalam sebulan. tiba-tiba ia melihat seorang mandor jalan kereta api. segera orang melupakannya lagi.M. dan secepat itu pula dilemparkannya topi helm itu ke dalam api yang sedang nyala.M. yang lagi terhenyak duduk di lantai kamar mandi sambil mengurut-urut pinggang dan nyengir-nyengir kesakitan. Pak Kari tak tahu . ketika Pak Kari sedang bekerja mengeruk-ngeruk tahi arang dari lambung lok di stasiun Kayutanam. ia pun ingat pada suatu peristiwa di rumah Tuan O. Babi!" Hari datang hari pergi." Pak Kari yang kekuyupan pada pagi hari di lembah pegunungan itu. pergi kau. yang ditakuti mereka. halaman. Topi helm yang persis sama dengan topi helmnya. topi biasa saja topimu itu. Ketika itu Pak Kari tidak berdinas." kata masinis itu mengulangi kata-katanya seraya menggelenggelengkan kepala seperti orang terharu sangat. "Ya. Pak. "Oh. Kena api bagaimana?" Serentak dengan itu dibukanya pintu api lok itu.

Pak Kari melemparkan sesodok tahi arang yang berpijarpijar nyala apinya keluar pintu lok. yang begitu indah bila dikenang. mulailah lagi suatu nyala membakar hati dan pikirannya. dirasakannya sebagai suatu perlambang yang bermakna abadi bagi hubungannya dengan Nyonya Gunarso. bukanlah suatu model manusia yang ditakdirkan untuk jadi bahan olok-olok semata-mata. Topi helm yang tak ubahnya sebagai mahkota Ratu Wilhelmina. Keinginannya itu melupakan dirinya sendiri. topi yang diberikan Tuan O. Demi ia ingat topi helmnya lagi. Lalu Pak Kari memandang ke topi helm yang bertengger di kepala mandor jalan kereta api itu dengan senyum kepuasannya. Tapi ketika perempuan itu meminta bantuan. Akhirnya setelah keberaniannya dapat ia kumpulkan. sehingga justru di kepalanya saja topi helm itu bisa pas benar dari sebanyak kepala yang mencobanya. Tuhanlah yang menakdirkan segala-galanya. Dan topi helm itu. Ada perasaan malu yang kuat sekali dalam dirinya untuk memegang perempuan secantik itu. dan perlakuan yang manis dari istri sepnya ketika mengucapkan terima kasih.M. Dan sejak itu kegelapan dan kebosanan menjalari kehidupan masinis itu.M. Pikiran-pikirannya itu. lambat laun menumbuhkan sesuatu yang dirasanya aneh dalam hatinya. taklah akan seperkasa itu bila tidak memakai topi helm. Dan topi helm yang bagai mahkota itu akhirnya jadi kepunyaannya.M. Lama juga ia tergagap-gagap merumuskan pikirannya untuk mencari cara memberi bantuan. Tuan O. kepada Tuan O. Berlonggok menimpa wajah masinis itu. Kewibawaan Tuan O. Namun tidak seorang pun yang dapat menyalahkan Pak Kari. Adalah jauh lebih ringan apabila ia dapat memandangi wajahnya lewat kaca. Dan Pak Kari pun tak pernah merasa bersalah sedikit pun. Tiba-tiba ia ingin membalasnya sekarang. . api dendamnya kian marak dan kian marak juga. bahwa ia hanyalah seorang kerdil yang tak berdaya yang bertugas menjadi tukang rem pada jalur kereta api Padang Panjang-Kayutanam saja. apalagi perempuan itu istri sepnya. Bahwa meski ia seorang yang termasuk kerdil. dan istrinya. ketika ia memapah dan melingkarkan tangannya ke pinggang perempuan itu di kala mengantarkan ke kamar tidurnya. kepadanya di kala hendak berpisah dulu. seolah hendak menyatakan kepada topi helmnya. Tetapi kemudian. perasaan aneh yang menyenangkan. hubungan yang tersembunyi. Pak Kari menjadi tambah tergagap. Pak Kari merasa bahagia sekali. Yang ia ingat cuma satu. Demikianlah lamunan Pak Kari. dibantunya perempuan itu untuk berdiri. Sekarang juga.apa yang harus dilakukannya. yang telah terbakar habis oleh api dalam tungku di lambung lok yang lagi dibersihkannya itu. Dan makin kian marak ketika masinis itu datang memeriksa pekerjaan Pak Kari yang membersihkan tungku api di lambung lok itu. Yaitu api dendam yang takkan pernah terpadamkan sebelum terbalas dengan lunas. bahwa pembalasan setimpal telah terlaksanakan. ia merasa telah ditakdirkan sebagai pahlawan bagi istri dari sepnya yang juga orang kerdil itu.M. Baru saja masinis itu menggapaikan tangannya untuk berpegang pada gagang pintu lok hendak meningkati tangga. dengan topi helmnya itu. Sesuai menurut rencana Pak Kari.

Aku belum melihat batang hidungnya. apa boleh buatlah. Dia murung. Yah. "Untuk peserta undangan. "Kok sudah kosong?" katanya seraya menatap dengan mata yang seperti menyesali karena menduga akulah yang telah menghabiskan isinya. Menelentang lurus. Dan aku mengecilkan volume suara televisi." kataku. pintu kamar diketok orang. Saat kongres itulah aku baru bisa inapi. rasa senangnya tak kelihatan lagi. Aku termasuk salah seorang yang tidak bisa ikut menghadadap oleh alasan tidak memiliki syarat yang pantas. dia berbaring tanpa mengganti pakaian. "Minum dulu. Hanya karena belum kenal saja aku merasa belum ketemu dia. Maka aku pun tenang-tenang saja menerima sejarah hidup yang tidak bisa ketemu Presiden. besok pukul sepuluh kita sudah harus sampai di istana." . Agak lama juga. Rupanya pada setiap kongres yang bertaraf nasional. Temanku sekamar Zaim namanya. Setelah melihat isi teko pun sudah kosong dia ke kamar mandi. Hotel yang aku kagumi pada awal didirikan 35 tahun yang lalu. Ketika keluar eadaannya telah nyaman. bukan main senang hatiku. Beberapa saat menjelang tengah malam. Rupanya dialah teman sekamarku. memang dikosongkan isinya. Jari jemari kedua tangannya saling berkaitan di atas perutnya. "Tapi aku tidak bisa pergi. Zaim yang penyair dari Madura itu. "Tadi panitia memberi tahu. Agak lama kemudian. Aku kira dia minum air kran di sana." "Kenapa?" "Aku tidak punya jas. wajah murungnya terlihat lagi. mestilah dibuka oleh Presiden. Katanya: "Ketika aku tahu bahwa Pak Dali jadi teman sekamarku.Zaim Yang Penyair Ke Istana Aku dapat undangan mengikuti suatu kongres di Jakarta. Seorang laki-laki yang sudah lewat masa mudanya berdiri di ambang pintu. Tapi freezer itu tidak ada isinya." katanya." aku mendengus mengiyakan. Penyair dari Madura. Bila Presiden tidak bisa hadir. ketika aku lagi asyik nonton acara musik simponi yang diantar Katamsi di TVRI. "Uh uh." kataku. Penginapan peserta di Hotel Indonesia. Setelah membenahi tas bawaannya dan kembali membantingkan bokongnya ke kasur. Dia berdiri dan membuka freezer kecil di dekat meja." Tapi setelah dia membantingkan bokongnya di kasur tidur. Mungkin sudah. maka pesertalah yang datang menghadap ke Istana. Yaitu stelan jas dan dasi.

Pak." katanya lagi. Kami sama diam lagi. Aku santai-santai saja ke ruang makan untuk sarapan. mungkin empat puluh ribu. Ingiiin sekali. dan saya terus nonton acara televisi. "Pak. "Tidak bisa. Pak." kataku. Aku cuma punya baju batik. "Kata Si Tarji." "Tentu. Huhh. Dan sebelum dia berkata lagi. Nanti bila ditanya sekuriti. Seperti anggota MPR yang akan disumpah layaknya. Padahal waktu itu baru lebih sedikit pukul delapan." "Waduh. Celaka. Kata panitia. Nama Bapak sudah dikirim. Harga jas bekas. sehingga kursi yang aku duduki hampir terjungkal. "Kamu boleh pakai separoh. "Terima kasih. Barangkali dia punya persoalan rumit yang ingin dia sampaikan. Huhh. aku punya tiga puluh ribu." "Aku tidak punya jas. Tiap sebentar dia menggaruk belakang kepalanya. Dua puluh lima ribu sudah cukup. Padahal aku ingin sekali ketemu Presiden. di Pasar Rumput ada dijual baju bekas." kataku seadanya." "Tapi aku tidak ikut. Naik taksi supaya bisa keburu. Pak." "Ke istananya atau ketemu presiden?" "Dua-duanya. Semua peserta yang akan ke istana sudah siap-siap dengan stelan jasnya. . cepat." Jumlah yang separoh itu tidak lebih dari dua puluh lima ribu rupiah. repot. Pak." "Tapi aku ingin pergi." Aku maklum sudah pada ujung omonganya. Zaim lalu melompat untuk memeluk aku. Pagi-pagi aku sudah harus ke sana."Kalau begitu kita sama. aku katakan bahwa saya bisa pinjamkan dia uang. Kita sudah harus berangkat pukul sembilan. Dia terus menelentang di tempat tidur. Tak akan ada kesempatan lain buat aku bisa ketemu Presiden kalau tidak sekarang. sewa taksi ke sana pulang pergi sepuluh ribu. Jadi paslah. seorang panitia mendekati. dia mau pinjam uang. Pak. Kemudian dia bangun dan hilir mudik dari tempat tidur ke pintu. Ketika aku baru saja mulai sarapan." Pagi-pagi Zaim sudah keluar. Karena tak lama kemudian dia berkata seperti kepada diri sendiri: "Menurut Tarji. Kiraanku benar. Tidak bisa. Terima kasih. Di istana lagi.Aku keluarkan dompetku dan aku hitung isinya." Kami terdiam lagi. Pak. Jas itu bisa dijual lagi dua puluh lima ribu. katanya. lumsum baru bisa dibayar pada hari terakhir. Karena itu harus ikut. Dia masih menelentang di tempat tidur dan aku masih terus nonton.

Begitu. ternyata akulah satusatunya peserta yang mengenakan baju batik. "Bapak punya sepatu. Tapi beberapa menit kemudian pintu kamarku saya diketok." "Bagaimana caranya?" "Aku bilang pada komandan sekuriti istana." Dalam waktu aku terbingung-bingung dia melanjutkan setelah memandang ke kakiku. katanya. Seselesai sarapan aku langsung ke kamar lagi demi menghindari umpatan panitia kalau masih melihat aku. Cara yang tidak dilakukannya kepada peserta lain." Aku memandang ke deretan kursi bagian depan. "Syukur. panitia yang mengumpat itu berdiri di depanku dengan wajah yang gembira dan mengatupkan jari kedua tangannya ke dada. Dan ketika semua peserta disuruh masuk ke ruang audiensi. Tapi aku tidak melihat batang hidung Zaim. Pak. Di sisi sebelah kanan seperti yang dikatakan Rosihan. sama ramahnya seperti kepada orangorang yang mengenakan jas. bahwa banyak peserta tidak bisa hadir.Aku meneruskan sarapanku. Tidak seorang pun orang sebangsa aku. ketika menerima tanganku. Saya terlalu asyik melihat lukisan yang tergantung di dinding. Pak. juga diduduki oleh pejabat dan panitia yang eselonnya lebih rendah. Waktu di ruang tunggu istana. Siap-siaplah. Karena tahu diri tersebab tidak punya jas. "Itulah yang aku perjuangkan. Tapi mungkin saja aku tidak bisa melihatnya diantara sekian banyak orang yang sama pakai jas. Bagusnya sebelah sini. Pak. aku tidak juga melihat Zaim. Maklum banyak seninam. karena tidak punya jas. asal rapi dan pakai sepatu. Yang di sana para pejabat dan panitia. Lalu sekuriti itu bilang: Boleh pakai baju batik. Dan Presiden. . Kita mau berangkat. Pak." "Jadi boleh pakai baju batik saja?" tanyaku. "Syukur. Di sebelahku Rosihan yang biasa dendi dengan stelan jasnya. bukan?" Aku mengangguk. yang bisa ke sana. tapi miskin. lho. Syukur. yang meski punya nama besar. Pak. Bahkan aku rasa aku lebih. Aku berhasil memperjuangkan Bapak. Syukur. Katanya: "Kalau mau masuk televisi cari tempat duduk di depan. Mungkin dia dengan bus lain yang berjejer banyak di halaman hotel." Maka berangkatlah aku ke istana untuk pertama kali seumur hidupku. Bapak sudah bisa ke istana ketemu Presiden. Hampir semua pelukis yang lukisannya ada di situ aku kenal namanya sejak lama. Tidak sembarang orang. Karena Presiden menepuknepuk tanganku dengan tangan kirinya. Ketika aku membukanya. Berkat perjuangan saya. aku ku masuk paling akhir dan duduk pun di kursi barisan paling belakang.

Ada apa?" kata Rosihan setelah kami di luar ruangan itu. Aku tidak menjawab. Wajahnya alangkah cerianya. Aku merasa rikuh sekali. Namun dalam hatiku hanya bisa berkata: "Zaim." "Bagaimana dengan jasnya?" tanyaku tanpa tahu apa yang harus aku katakan menyambut kegembiraannya." kata Rosihan pula." "Atau apa?" "Mungkin Presiden memberi isyarat pada ajudan: Perhatikan betul orang ini."Istimewa sekali Presiden pada bung. 6 Maret 1998 Negeri Unggun Tribute To Banksy . Ini jas keramat. Setelah diam seketika dia berkata lagi. Pak?" Oleh karena begitu kata Zaim. "Tidak jadi aku jual. terkabullah doa saya.. lalu diciumnya. Hampir tengah malam Zaim muncul di ambang pintu kamar hotel. Atau. aku akan tidak bisa keluar hotel sampai kongres selesai dengan sisa uang dalam kantong." Kayutanam. Apalagi dari sesama seniman. Mana aku bisa tahu apa yang terkandung dalam hati Presiden.. Tangan kananku digenggamnya dengan kedua belah tangannya. Akan aku simpan baik-baik. "Uang Bapak nanti aku bayar kalau lumsum sudah diterima. selain karena tidak biasa juga tidak suka mendapat perlakuan seperti itu. Boleh 'kan. Zaim.. Masa dijual. Ketemu Presiden. kalau begitu. Pak." "Isyarat yang baik. Lalu katanya: "Berkat pertolongan Bapak. Lalu saya jawab saja sekenanya: "Barangkali Presiden bersimpati karena aku satu-satunya yang memakai batik buatan dalam negeri." katanya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful