Kumpulan Cerpen A.A.

Navis

Anak Kebanggaan

Semua orang, tua-muda, besar-kecil, memanggilnya Ompi. Hatinya akan kecil bila di panggil lain. Dan semua orang tak hendak mengecilkan hati orang tua itu. Di waktu mudanya Ompi menjadi klerk di kantor Residen. Maka sempatlah ia mengumpulkan harta yang lumayang banyaknya. Semenjak istrinya meninggal dua belas tahun berselang, perhatiannya tertumpah kepada anak tunggalnya, laki-laki. Mula-mula si anak di namainya Edward. Tapi karena raja Inggris itu turun takhta karena perempuan, ditukarnya nama Edward jadi Ismail. Sesuai dengan nama kerajaan Mesir yang pertama. Ketika tersiar pula kabar, bahwa ada seorang Ismail terhukum karena maling dan membunuh, Ompi naik pitam. Nama anaknya seolah ikut tercemar. Dan ia merasa terhina. Dan pada suatu hari yang terpilih menurut kepercayaan orang tua-tua, yakin ketika bulan sedang mengambang naik, Ompi mengadakan kenduri. Maka jadilah Ismail menjadi Indra Budiman. Namun si anak ketagihan dengan nama yang dicarinya sendiri, Eddy. Ompi jadi jengkel. Tapi karena sayang sama anak, ia terima juga nama itu, asal di tambah di belakangnya dengan Indra Budiman itu. Tak beralih lagi. Namun dalam hati Ompi masih mengangankan suatu tambahan nama lagi di muka nama anaknya yang sekarang. Calon dari nama tambahan itu banyak sekali. Dan salah satunya harus dicapai tanpa peduli kekayaan akan punah. Tapi itu tak dapat dicapai dengan kenduri saja. Masa dan keadaanlah yang menentukan. Ompi yakin, masa itu pasti akan datang. Dan ia menunggu dnegan hati yang disabar-sabarkan. Pada suatu hari yang gilang gemilang, angan-angannya pasti menjadi kenyataan. Dia yakin itu, bahwa Indra Budimannya akan mendapat nama tambahan dokter di muka namanya sekarang. Atau salah satu titel yang mentereng lainnya. Ketika Ompi mulai mengangankan nama tambahan itu, diambilnya kertas dan potlot. Di tulisnya nama anaknya, dr. Indra Budiman. Dan Ompi merasa bahagia sekali. Ia yakinkan kepada para tetangganya akan cita-citanya yang pasti tercapai itu. "Ah, aku lebih merasa berduka cita lagi, karena belum sanggup menghindarkan kemalangan ini. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah jadi dokter, si mati ini akan pasti dapat tertolong," katanya bila ada orang meninggal setelah lama menderita sakit. Dan kalau Ompi melihat ada orang membuat rumah, lalu ia berkata, "Ah sayang. Rumah-rumah orang kita masih kuno arsitekturnya. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah menjadi insinyur, pastilah ia akan membantu mereka membuat rumah yang lebih indah." Semenjak Indra Budiman berangkat ke Jakarta, Ompi bertambah yakin, bahwa setahun demi setahun segala cita-citanya tercapai pasti. Dan benarlah. Ternyata setiap semester Indra Budiman mengirim rapor sekolahnya dengan angka-angka yang baik sekali. Dan setiap tahun ia naik kelas. Hanya dalam tempo dua tahun, Indra Budiman menamatkan pelajarannya di SMA seraya mengantungi ijazah yang berangka baik.

Ketika Ompi membaca surat anaknya yang memberitakan kemajuannya itu, air mata Ompi berlinang kegembiraan. "Ah, Anakku," katanya pada diri sendiri, "Aku bangga, Anakku. Baik engkau jadi dokter. Karena orang lebih banyak memerlukanmu. Dengan begitu kau disegani orang. Oooo, perkara uang? Mengapa tiga ribu, lima ribu akan kukirim, Anakku. Mengapa tidak?" Dan semenjak itu Ompi kurang punya kesabaran oleh kelambatan jalan hari. Seperti calon pengantin yang sedang menunggu hari perkawinan. Tapi semua orang tahu, bahkan tidak menjadi rahasia lagi bahwa cita-cita Ompi hanyalah akan menjadi mimpi semata. Namun orang harus bagaimana mengatakannya, kalau orang tua itu tak hendak percaya. Malah ia memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang di capai anaknya. Dan segera ia mengirim uang lebih banyak, tanpa memikirkan segala akibatnya. Dan itu hanya semata untuk menantang omongan yang membusukkan nama baik anaknya. "Sekarang kau diomongi orang-orang yang busuk mulut, Anakku. Tapi ayah mengerti, kalau mereka memfitnahmu itu karena mereka iri pada hidupmu yang mentereng. Cepat-cepatlah kau jadi dokter, biar kita sumpal mulut mereka yang jahat itu," tulisnya dalam sepucuk surat. Dan akhirnya orang jadi kasihan pada Ompi. Tak seorang pun lagi membicarakan Indra Budiman padanya. Malah sebaliknya kini, semua orang seolah sepakat saja untuk memuji-muji. "Ooo, anak Ompi itu. Bukan main dia. Kalau tidak ke sekolah, tentu menghafal di rumah," kata seseorang yang baru pulang dari Jakarta menjawab tanya Ompi. "Ke sekolah? Kenapa ke sekolah dia?" Ompi merasa tersinggung. "Kalau studen tidak menghafal, tahu? Tapi studi. Tidak ke sekolah. Tapi kuliah." "O, ya, ya, Ompi. Itulah yang kumaksud." "Aku sudah kira Indra Budiman, anakku anak baik. Ia pasti berhasil. Aku bangga sekali. Ah, kau datanglah ke rumahku makan siang. Aku potong ayam." Dan oleh perantau pulang lainnya dikatakan kepada Ompi. "Siapa yang tak kenal dia. Indra Budiman. Seluruh Jakarta kenal. Seluruh gadis mengharap cintanya." Lalu Ompi geleng-geleng kepala dengan senyumnya. "Bukan main. Bukan main. Indra Budiman anakku itu. Ia memang anak tampan. Perempuan mana yang tak tergila-gila kepadanya. Ha ha ha. Ah, datanglah kau ke rumahku nanti. Ada oleh-oleh buatmu." Kemudian kalau Ompi ketemu gadis cantik yang di kenalnya, ditegurnya: "Hai, kaukenal anakku, studen dokter itu, bukan? Nanti kalau ia pulang, aku perkenalkan padamu. Biar kau dipinangnya. Ha ha ha." Si gadis tentu saja merah mukanya, karena merasa tersinggung. Tapi menurut Ompi, muka merah itu karena malu tersipu. Dan ia jadi tambah gembira.

Tidak peduli ia. Lalu si anak mengharapkan kepada ayahnya supaya dikirimu foto-foto gadis yang dicalonkan. "Awaslah nanti. akan kuludahi mukamu semua. Sikap keangkuhannya mudah tersinggung. Tapi semua telah ditolak. Gadis yang sederajat dengan titelmu kelak. Ompi tinggal menunggu terus. di kala Ompi sudah mulai putus asa. Untuk membuktikan kebenaran suratnya. Sombong. Dia pun merasa pula. Selalu tak berbalas. Dan diharapkannya pula kedatangan orang-orang meminang Indra Budimannya. lantas jadi membalik pikirannya. Sudah tentu harapan Ompi tinggal harapan saja. dengan tiba-tiba saja surat Indra Budiman tak datang lagi. Ompi mengirimkan foto gadis yang kebetulan ada padanya. dia dapat ilham baru. Ia jadi sungguh percaya. Ompi gelisah juga menanti surat dari anaknya. bahwa bohongnya kepada ayahnya selama ini sudah diketahui oleh orang kampungnya. banyak sudah orang yang punya gadis cantik datang meminang. Tak masuk akal. Bahkan bukan kepalang meradangnya Ompi. Karena menurut keyakinannya. Dan bencinya bukan kepalang kepada orang-orang tua yang mempunyai anak gadis cantik. Gemetar . Sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara. sebagai imbangan budi baik ayahnya yang tak pernah melupakan segala kebutuhan anaknya. jika ia tahu orangorang mengawinkan anak gadisnya yang cantik tanpa mempedulikan Indra Budiman lebih dulu. Ditunggunya. bahwa Indra Budiman sudah patut di tunangkan. si anak yang percaya. Bulan datang. Pasai ia menunggu.Akan tetapi ketika Ompi tahu aku bakal kawin. Dan alangkah gembiranya Ompi. Dikirim. Karena di kampung kami pihak perempuanlah yang datang meminang. Ditunggunya beberapa hari. Tapi Ompi tak mau mengerti. Lama-lama rasa dendamnya pada mereka bagai membara. datanglah Pak Pos dengan di tangannya segenggam surat. Tapi tak datang balasan. Dikatakannya. "Pilihlah saja gadis di Jakarta. Jika dulu si anak yang berbohong. orang-orang tak menginginkan anaknya. Antara rusuh dan lega. Anakku." Kepada Indra Budiman tak dikatakannya kemarahannya itu. Dikiriminya lagi. Ia kirim terus dengan harapan semoga anaknya tidak berkenan. Lupa ia bahwa semua mata orang kampungnya yang tinggal di Jakarta selalu saja mempercermin hidupnya yang bejat. apa foto itu gambar dari gadis yang sudah kawin atau bertunangan. Apalagi seorang studen dokter tentu takkan mau dengan gadis kampungan yang kolot lagi. Pada suatu hari yang tak baik. Malah sebaliknya. maka kini si ayah yang menipu. Tak teringat olehnya. Disamping itu ia sadar juga. andaikata tidak ada sebuah pun dari foto-foto itu yang berkenan di hati anaknya. Persis ketika Ompi kehabisan foto para gadis itu. si calon dokter itu. Juga tak terbalas. tentu Indra Budiman akan gembira dan bertambah rajin menuntut ilmu. Tapi rupanya Tuhan mengasihi ayah yang sayang kepada anaknya. bahwa kepalsuan sandiwaranya sudah tentu akan berakhir juga pada suatu masa. bulan pergi. Maka darah Ompi kencang berdebar. Kalau Indra Budimanku sudah menjadi dokter. bahwa sudah banyak orang yang datang melamarnya. Dan pada sangkanya. Celakanya Indra Budiman yang selama ini menyangka bahwa tak mungkin ia dimaui oleh orang kampungnya." penutup suratnya. Anaknya pasti lama-lama tahu dan dengan begitu akan timbul kesulitan lain yang tak mudah di selesaikan. Layaknya macan lapar yang terkurung menunggu orang memberikan daging. Indra Budimannya lebih mementingkan studi daripada perempuan. dikiriminya surat. si ayah yang percaya. Ditunggu. Bahkan juga tidak peduli ia apa gadis itu sudah meninggal.

Semenjak itu segalanya jadi tak baik. "Aku tak mampu mengobatinya lagi. Redup. Namun kemalangan itu bertambah lagi. Ompi bertambah menderita jua." . Dan semenjak itu. Carilah dokter lain saja. Sedangkan di waktu lain Ompi seolah tak peduli pada segalanya. adalah juga masa yang menambah dalam luka hatinya. Dan kalau Pak Pos itu telah lewat tanpa singgah. Dan oleh seleranya yang patah. Ketika terakhir aku menemui dokter yang sudah enggan datang. Lalu di bukanya dan dibacanya satu persatu. Ia seperti merasa bermimpi dan tubuhnya serasa seringan kapas yang melayang di tiup angin. agar apa yang terjadi adalah memang mimpi. tapi tak pernah lagi mengiriminya surat. matanya akan menatap ke kaca itu. Dan ia sanggup berdiri dan melangkah ke pintu depan. Dibalik-baliknya surat itu berulang kali. Ia tak percaya bahwa surat-suratnya itu kembali. bahkan sampai mengigau. Indra Budimannya. jangan tinggalkan dia sendirian. bangunkanlah kembali mahligai angan-angannya. Atau bawa ia ke rumah sakit. Karena kedatangan dokter hanya akan memperdalam luka hatinya saja. Tapi matanya selalu lebar terbuka memandang langit-langit kelambu. Kedatangan seorang dokter di pandangnya sebagai suatu sindiran. karena ternyata pengantar surat itu Cuma mengantarkan semua surat-suratnya yang dikembalikan. dokter hanya menggelengkan kepala saja. bahwa semuanya memang surat untuk anaknya yang ia kirimkan dulu. Sebab selamanya Pak Pos itu tak mampir lagi membawakan surat dari Indra Budiman. Tetapi alangkah remuknya hati orang tua itu. Malah ia coba meyakinkan dirinya sendiri. Sebuah kaca disuruhnya supaya di pasang pada dinding yang dapat memberi pantulan ke ambang pintu depan. Dan berdoalah ia kepada Tuhan. Yaitu surat. enggan bergerak. Ia jatuh sakit. pada setiap jam empat hingga jam lima sore. Dan tahulah ia. Ia kini menanti dengan telentang di ranjangnya. Akan tetapi setiap sore. sehingga ia akan serta-merta dapat melihat Pak Pos mengantarkan surat Indra Budiman. yang membiarkan masa bahagia dan harapan. Kami tak pernah lagi memanggil dokter setelah tiga kali ia datang. Kini dalam hidupnya hanya satu hal yang dinantikannya. Tapi mata yang lebar itu tiada cemerlang. Tapi ia tak meyakininya dengan sungguh-sungguh. Surat dari anaknya.karena ia bahagia. Karena pada jam itu biasanya Pak Pos biasanya mengantarkan surat-surat ke alamatnya masing-masing. Lama orang baru tahu dan memapahnya ke ranjangnya di kamar. Dan cahaya matanya kembali bersinar-sinar. Dan ia telentang di ranjangnya. Tapi saat-saat seperti itu. diantara jam empat dan jam lima. meski dengan resiko besar. hingga lebih meroyak. Kalau semua tak mungkin. Seluruh hidupnya bagai jadi meredup seperti lampu kemersikan sumbu. Ompi jadi lumpuh dan habislah sejarah Ompi menanti di ambang pintu setiap sore. Bila perlu. bahwa anaknya masih juga belum berhasil menjadikan cita-citanya tercapai. Kehadiran dokter itu menimbulkan risau hatinya karena ingat pada Indra Budiman yang bakal jadi dokter. reduplah lagi mata Ompi. Lahir dan batin. bahwa ia sedang bermimpi. Mata itu kian hari semakin jadi besar tampaknya oleh badannya yang kian mengurus. Ompi kelihatan seperti orang sakit yang bakal sembuh. Hanya di waktu itu saja. Yaitu ketika Ompi jatuh terduduk.

Ompi yang sudah lumpuh selama ini. Agar terelakkan saat-saat yang menyeramkan. Tak sempat aku membuka surat itu. Sekilas saja tahulah aku. Tak tahulah aku. Hari waktu itu jam sebelas siang. Karena aku takut berita itu akan menambah dalam penderitaannya. Hingga gagallah recanaku. telah berada saja di belakangku. Gemetar kaki Ompi mendukung tubuhnya yang kisut. Matanya cemerlang memandang. Di samping itu secara samarsamar aku elus terus harapannya yang indah bila Indra Budiman kembali. "Bukalah. malahan takut. Telegram itu digenggamnya erat." Ompi berkata seperti ia memerintah orang-orang di waktu mudanya dulu. "Datang juga apa yang kunantikan. Surat dari Indra Budiman. Tapi aku selamanya bimbang. bahwa saat yang paling kritis sudah sampai di puncaknya. Kukarang cerita masa lalu dan angan-angan masa depan yang menyenangkan. Kekuatan apakah yang menyebabkan Ompi bisa berdiri dan bahkan berjalan itu. Dan kuharapkan sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan untuk membebaskan aku dari siksa ini. Maka tak pernah aku coba menulisnya. Tapi keajaiban tidak juga datang. apa yang harus kukatakan. Tapi tak kuharapkan berlangsungnya. Sesaat ketika aku menerima dan menandatangani resi telegram itu. Lalu didekapkan ke dadanya. Hanya satu yang dikehendakinya. Aku sobek sampul yang kuning muda itu dengan tangan yang menggigil. Kulihat Pak Pos memasuki halaman rumah Ompi. berganti-ganti orang aku menyediakan diriku selalu dekat Ompi. Pada suatu hari terjadilah apa yang kuduga bakal terjadi. "Telegram dari anakku? Apa katanya? Pulanglah dia membawa titel dokternya?" Ompi bertanya dengan suara yang mendesis tapi terburu-buru berdesakan keluar. Itulah sebabnya tak kusampaikan kepadanya bahwa hari perkawinanku sudah berlangsung. Dan jika perlu akan kuubah isinya. Kuceritakan dengan hati yang kecut. Indra Budiman dikabarkan sudah meninggal. Dan aku kehilangan kepercayaan pada pandangan mataku sendiri. Melainkan sepucuk telegram. tidak ada gunanya semua. bahwa tiada harapan lagi buatnya hidup lebih lama. Kadang-kadang terniat olehku hendak menulis sendiri surat itu. Bacakan segera isinya. Dan pada telegram itu pastilah bertengger saat-saat kritis sekali. Tangannya berpegang pada sandaran kursi. Tangannya diulurkannya kepadaku meminta telegram itu. Karena di luar segala dugaanku. Aku tak tahu. Telegram itu kusodorkan ke tangannya. Aku pun tahu.Semenjak itu. Maksudku hendak membuka telegram itu untuk mengetahui isinya lebih dulu. . Aku mengangguk. Aku merasa ngeri memberikannya. Aku tahu itu pastilah bukan surat yang dibawanya. kalau-kalau permainan itu akan berakibat yang lebih fatal." katanya. Aku sadar. Tergesagesa aku menyongsong Pak Pos itu ke ambang pintu. Surat yang mengatakan bahwa ia sudah lulus dan telah mendapat titel dokterya. Sedang dalam hatiku berteriak. Ompi terduduk di kursi. Akan tetapi semua kejadian datang dengan serba tiba-tiba. Tapi aku tak bisa berbuat lain. terjadilah apa yang akan terjadi.

Angin dari gunung datang lagi menerpa mukaku. Lima tahun kawin dan punya anak. Karena tiap orang tak tahu kebahagiaannya. tidak. Semuanya mengabur. Mereka juga tentunya. Lebih lemah kini. Aku kira dia bicara lagi. Angin Dari Gunung Sejauh mataku memandang. Bacakan pelan-pelan. Akan kukarang kisah yang menyenangkan hatinya. Dan dia berkata lagi. Dan seperti angin itu juga semuanya lewat tiada berkesan. Panggilkan dokter." Dan dia diam lagi. Panggilkan dokter." . Masih terletak pada dekapan dadanya. "Sudah lima tahun." "Aku sendiri sedang bertanya. anak juga. seperti semua tak pernah ada. Kaubacakan buatku. sehingga aku dapat mendengar denyut jantungku sendiri. ya? Ya. Takkan sanggup aku mendengarnya. Sudah dua. Selama tangannya sampai terkulai dan matanya terbuka setelah kehilangan cahaya. "Ah. Lama diciumnya seraya matanya memicing." Aku masih tinggal dalam diamku. Orang cuma tahu kesukarannya saja. Aku akan mati lemas oleh kebahagiaan yang datang bergulung ini. tak sebuah jua pun mengada. Kau berbahagia tentu. Mau kuat dulu. Diciumnya dengan mesra. Dalam kegugupan kususun sebuah taruhan jiwa dan sesalam bagi selama hidupku. Tapi angin dari gunung itu berembus juga. Kami diam. Sedangkan bibirnya membariskan senyum. Panggilkan. "Kau punya istri sekarang. Dokter Indra Budiman. Kau tentu sayang pada mereka. Aku takkan membaca telegram ini. "Tak usah dibacakan. Dan aku merasa diriku tiada." "Ya." "Anakku sudah dua. Biar sepatah demi sepatah bisa menjalari segala saraf sarafku." kata Ompi dengan gembira. Sehingga ledakan kegembiraan ini tak membunuhku. Dan kau tentu bahagia." "Tentu. Aku takut kegembiraanku akan meledakkan hatiku. "Kau cinta pada istrimu tentu. Dan telegram itu jatuh dan terkapar di pangkuannya. sejauh aku memikir." kata Ompi dengan terputus-putus. Dan kemudian dia berkata lagi. serta matanya menyinarkan cahaya yang cemerlang. Biar aku jadi segar bugar pada waktu anakku. Aku mau sehat. datang. Dan telegram itu dibawa ke bibirnya. Pergilah.Sepi begitu menekan. Tapi telegram itu tak diberikannya padaku.

Har?" "Apa?" kutanya dia dengan gaya suaranya. punya istri." kataku. aku mau tersedu. disilangkan. Dan dalam tekanan genggamanmu. Dan aku merasa ketiadaanku pula. Alangkah indahnya hidup ini." katanya dengan suara tak acuh. Kedua tanganku ini. Dan aku menunggunya." katanya lama kemudian. . Sudah lama. sebagai ayah. "Jari-jariku itu sudah tak ada lagi kini. Angin pergi.Dia berhenti lagi. kalau kita mampu berbuat apa yang kita inginkan. Kita duduk seperti ini juga. Aku biarkan dia tergenggam. Buat apa?" Aku jadi sentimental dan hatiku berteriak. Dan memandang jauh ke arah gunung itu. Dari itu kau punya pegangan hidup. Tapi itu sudah lama lampaunya. Kala itu aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya. "Kau ingat. Kedua tangannya yang buntung itu diacungkannya ke depan. sebagai laki-laki. Tak ada gunanya menangisi masa lampau. Melihat itu. Tapi kau tak berkata apa-apa." "Ya. Sebagai suami. "Ya. Dia memandang lebih jauh melampaui balik gunung dari mana angin meniup. Tapi yang terpenting kau punya tangan. tapi aku menjadi tambah tenggelam olehnya. lalu digesek-gesekannya. Aku masih ingat. Aku masih ingat. Tersedu seperti ketika pusara Ibu mau ditimbuni. Lalu angin menerpa mukaku lagi. Tapi kini aku tentu saja tak dapat berbuat apa yang kuinginkan. Menangisi segala yang sudah hilang. aku tahu kau mau bicara. sebagai manusia juga. Tapi kini aku tak menangis lagi. Tapi bagaimana aku dapat mengatakan." Dan tangan itu diturunkannya lagi. Hingga kau dapat mencapai apa saja yang kaumaui. Serasa ada nyanyian iba besertanya. Tapi itu saja yang dikatakannya. kau dapat mencapai sesuatu yang kauinginkan. seperti yang kita omongkan dulu. Masa mudaku habis sudah ditelan kebuntungan ini. Tapi kini aku ingat lagi." "Masa itu. Dan aku tak lagi dapat merasa bahagia seperti dulu. sekali kau menggenggam jariku erat sekali. Sebuah ucapan yang indah dan memberi semangat seperti dulu sering kuucapkan untuk anak buahku di front Barat." "Ya. kaulihat? Buntung karena perang. Biar kau menggenggamnya kembali. Tapi cepat kemudian aku jadi menyesal telah mengatakannya. kalau semangat itu sendiri telah kulemparkan jauh-jauh pada suatu ketika. Aku tak pernah mau mengingatnya. Dan angin meniup lebih syahdu terasa. Mulanya aku suka menangis. masa kanak-kanak kita. punya tujuan minimal. Tapi tempatnya bukan di sini. "Kau punya anak. Lalang yang ditiup angin bergelombang menuju kami. Tak diteruskannya. "Sembilan tahun yang lalu. meneriakkan seribu kenangan yang datang mengharu biru." Dia diam lagi. "Ketika itu seperti macam sekarang. Kucoba membuang segala kesenduan. Dan aku menunggu dia bicara lagi. "Tak ada gunanya.

Aku mau tanganku lebih banyak lagi. Kaki itu kaki yang dulu juga. Aku tahu semua orang mau menarik perhatianku. di waktu tak ada perempuan. Dan kalau perang sudah selesai. Maka aku merasa segalanya jadi terbang. Justru itulah yang menyebabkan aku merasa dipilukan perasaanku sendiri. Hendak kuelus hatinya. aku menjadi sibuk. Aku bernyanyi. Aku jadi tak berani mengangkat kepalaku. "Apa yang kaupikirkan?" tanyanya tiba-tiba. Matahari ketika itu sangat cerahnya. yang selamanya menyediakan waktu untuk memberi semangat kepada prajurit kita." Satu demi satu ucapannya bercekauan dalam hatiku. Kaki yang pernah menggodaku. Makin lama kian terkulai keseluruhan adaku di dekatnya. tentu front ini sudah lama di duduki musuh. mereka minta hiburan. Tapi keitika musuh datang." katanya. Dan aku sudah punya dua anak. Aku jadi gugup dan tersentak dari keterbanan perasaanku. Dan di ucapkannya kata-kata yang indah berisi keharuan. mereka habis lari kehilangan keberanian. Kami sangat merasa bangga dengan adanya patriot wanita seperti Saudari. "Masa dipikirkan lagi. itulah semua. „Kami atas nama pemerintah dan seluruh pemimpin perjuangan revolusi kemerdekaan mengucapkan terima kasih kepada Saudari. Kalau boleh sebanyak jari ini. Agus dan Hafni. Dan kini kumandangnya lebih menyayat terasa. Semuanya mau mati-matian dan bekerja berat di depanku. Mereka memetik gitar. dicarinya aku dulu. Dan aku tak bisa berdoa untuknya. Tiap-tiap orang punya doa. tambah banyak ilmu. bahwa aku mau memeliharanya. "Bahkan tercantik di front Barat itu. Memelihara dia? Tidak. bahwa hidup seperti itu tidaklah akan selamanya berlangsung. Kalau ada orang sakit. tak ada gunanya. aku ingin bersekolah lagi. aku menyesali diriku sendiri."Dulu aku cantik juga. Dan ketika mereka mau pergi. Bahkan hendak kukatakan juga. Dan aku katakan. tambah banyak yang dapat diperbuat. kalau Saudari tak di sini. Dan di kiriku dia duduk mengunjurkan kakinya. aku kebetulan tak ada disana. Yang aku tahu Cuma. "Apa perlunya? Semua sudah sewajarnya. bukan?" katanya pula. Dan di waktu malammalam yang damai. Bayangan pohon manggis bertelau-telau pada rumput hijau. Ketika aku sadar jalan itu buntu. Dan waktu itu. bahwa aku sedang memikirkannya. Dijabatnya tanganku erat-erat.‟ Begitulah. Kalau pemimpin yang datang di front. Tapi sekali pernah juga aku berpikir-pikir. aku sering merasa jumlah tanganku yang masih kurang. Juga menyesali segala yang sudah terjadi. Dan perasaanku tidak seperti dulu lagi. Aku diminta mengatur tempat tidur mereka. Doa serasa tak berharga kini. bukan?" . Sekolah apa? aku tak tahu. hendak kuceritakan sejarah hidup Helen Keller. Dan mereka dapat melupakan segala hal-hal yang menekan. Semuanya mau berjuang membunuh musuh demi mendekatiku. Suatu masa kelak akan berakhir juga. karena kaki itu tidak berbicara apa-apa lagi bagiku kini. lebih menusuk. aku juga yang merawatnya. Kami juga yakin. Dan doa sekadar doa. Ya. Dan aku tak dapat memandangnya lama-lama. Sekarang kaki itu terhampar begitu saja.

Barangkali tidak lama kau di sana. Dan aku mendesak lagi.. Seperti juga dulu. tidak. "Tapi sedikitnya. Tapi senyumnya ini menusuk hatiku. kau sudah bisa pulang lagi. kau lebih bisa berbuat banyak nantinya. Bagaimana mungkin aku meyakinkannya?" katanya. Begitu pahit. Lama ia terdiam. Aku beri dia semangat yang bernyala-nyala. "Kau sendiri tak yakin dengan ucapanmu. Semua orang haus akan segala yang ada padaku.. semua pekerjaan seolah takkan selesai. "Kau memikirkan aku. Aku sedang memikirkan apa yang hendak kulakukan. Aku sendiri yang akan mengantarkan kau." "Sia-sia saja. Tentu saja. Semua orang memerlukan tenagaku. "Kalau perlu . "Mungkinkah orang seperti aku ini dapat berbuat sesuatu?" tanyanya dengan suara yang lain sekali bunyinya. dan matanya seperti melangkaui segala apa yang dapat dilihatnya. Dan selanjutnya kau sudah bisa berbuat sesuatu lagi. Dan lalu kukatakan kepadanya. setelah itu apa lagi?" Aku tak merasa terpaan angin dari gunung itu lagi. yang aku sendiri pada dasarnya sudah tak percaya akan semangatku sendiri. kan?" "Tidak setepat itu benar. karena terasa sebagai umpatan yang pahit tapi dicelup dengan tengguli. "Bagaimana? Setuju? Kalau kau setuju jangan kaupikir apa-apa. Dan tersenyum."Apa?" tanyaku ragu-ragu." "Untuk apa?" "Untukmu. Aku jadi gugup." Lalu ia memandang padaku. seolah-olah kalau tidak ada aku. Aku yang uruskan semua. semuanya seperti tidak akan sempurna. seperti dulu. Semua orang jatuh cinta padaku." Tapi dia masih tiada memberi reaksi." Tiba-tiba kuingat pada pusat rehabilitasi di Solo. Lalu aku pura-pura tak mendengarkan apa katanya. Dan aku jadi ragu-ragu untuk meyakinkannya lagi. "Mengapa kau tersenyum?" tanyaku dalam kehilangan keseimbangan diriku.Ah. bukan?" ." "Ya. Yang kurasakan terpaan ucapannya pada mukaku. Tapi setelah itu. "Kau kasihan padaku. Dan dia tahu itu rupanya. kan? Seperti dulu.

" Dia melangkah lagi. Selain aku. Karena kau merasa berdiri di tempat yang sangat tinggi. "Nenek memanggil." Tapi dia tidak menoleh lagi." katanya pula dan lalu pergi meninggalkan aku yang tercenung. Angin dari gunung yang meniup belukar hingga . Tapi sebentar kemudian dia memaling lagi dan berkata. hendak mencoba menyatakan bahwa segalanya mempunyai alasan-alasan tertentu. Tapi cepatcepat disembunyikannya wajahnya itu dari pandanganku. Nun. "Seperti tadi saja. Alangkah cepatnya segalanya berubah. kau memandang kepadaku. "Tapi kalau Nenek sudah tak ada lagi. "Tolong tegakkan aku." Aku ingin memandangnya tepat. Nenek merasa kehilangan nyawa. Dan lebih cepat lagi seseorang melupakan seseorang lainnya. aku tahu kau baik. Dan kalau aku tak di dekatnya. "Ni Nun. melebihi tadi. Aku jadi kaget." Aku mau membantah. Tapi sebelum dia hilang di balik belukar yang bergoyang ria ditiup angin dari gunung itu. alangkah kecilnya kau. Ingin aku menentang matanya. Antara kami berdua ada perpaduan nasib. Tapi sebelum aku dapat memilih kata. dia berkata lagi. kukatakan kepadanya. "Nenek sudah tua benar. Kalau bukan aku yang menyapamu. Di mana sedari kecil anak-anak telah memandang Nun sebagai manusia tak berguna. kau takkan tahu siapa aku. Uni Nuuun. Cepatlah!" gadis itu memamer lagi. Dan panggilan yang tiba-tiba itu mencairkan impitan yang memberat antara kami."Kenapa tidak?" "Ya. "Ke mana Uni Nun? Melalar saja. kalau gadis kecil semanis ini bisa bertingkah begitu terhadap Nun." Lalu dia melangkah. Hilang di balik belukar itu. "Meski bagaimana. "Besok aku datang lagi ke sini. aku juga tidak memerlukan apa-apa pula. kau seolah melihat pengemis yang dijijiki." tiba-tiba seorang gadis kecil memanggil-manggil. Dan Nenek ingin hidup lebih lama. hendak meyakinkannya. manusia yang sial. Nun. Dan kutolong dia berdiri. 'Oh. Sudah lupa segalanya. Tidak tahu dibuntung awak. pikirku." katanya lagi." Nun berkata padaku dengan suara dalam lehernya. Lalu dari tempat yang itu. seperti pernah kulakukan dulu kepadanya. dia membalikkan badannya lagi ke arahku dan berkata pula. katamu‟." gadis kecil berkata lagi sambil memandang padaku dengan curiga dan kebencian. Tapi waktu itu aku jadi sentimental lagi. Dan belukar itu bertambah ria menari ditiup angin dari gunung. Aku mau ke Nenek. karena dia tak hendak membiarkan aku hidup sendirian. bukan? Sedang mata pertamamu melihat aku tadi. "Nenek tak bisa berpisah denganku. Ketika ia mau membelok ke arah jalan raya. Kupandang wajah Nun yang berubah-ubah. Tentu saja kau kasihan padaku. Inikah lingkungan hidup Nun. meski pernah orang itu dicintanya. sedang aku jauh di bawahmu.

Bahkan tokoh luar biasa. Apa salahnya bilamana semua bayang-bayang itu meniru apa yang dilakukannya. Berbeda dengan orang lain. Sangat memerlukannya. jalan-jalan atau berzina. Hidupnya selalu dalam cahaya yang bersinar terang. angin itu juga yang meniup aku. Artinya dia hidup selalu dalam terang benderang. penuh cahaya. Bagaimana pun persisnya peniruan itu. Kata orang. bayangbayang itu ada karena dia. atau Macbeth hanya gemerlap pada sebatas bidang panggung. Bayang. Sedangkan Si Dali berada seperti pada panggung dunia yang tak lagi dibatasi oleh sepadan negara. bayang-bayang itu semua sirna. satu hal yang tidak akan diperoleh bayang-bayang. Makanya Si Dali terus diiringi bayang-bayang. Lalu raja memanggil perdana menteri dan menanyainya. Itulah adalah aksioma. Tanpa dia. Ada yang pendek ada yang panjang. Lebih dari pelakon utama di atas panggung sandiwara. Sebagai bayang-bayang. bayang-bayang itu senantiasa meniru apa saja yang dilakukan Si Dali. yang tidak pernah peduli dengan bayang. Bayang Bayang Si Dali bukan orang biasa. yang tahu benar kemana ujung ceritanya. tapi jangan coba-coba berkhayal akan ikut menikmati apa yang aku regup.bayang yang banyak. Dan Si Dali yakin benar. "Benar. atau King Lear. Baik Si Dali makan atau tidur. dan meniup gadis kecil itu. "Tirulah oleh kalian serba apa yang aku lakukan. . selain manusia gelap yang suka bergelap-gelap?" Si Dali juga membiarkan bayang-bayang menirukan dengan amat persis apa saja yang dilakukan Si Dali.bayangnya sendiri ketika dia lagi nongkrong di closet: "Jenis manusia apa yang hidup tanpa bayang-bayang. Tak sekalipun bayang-bayang itu terpisah dari dia. meniup Nun. Karena serba kenikmatan bukan hak kalian.bayangnya sendiri. Adakalanya mereka menjadi seperti orang kere yang selesai melakonkan Gatotkaca pada wayang wong masa lalu." Kegemerlapan hidup Si Dali yang terang-benderang itu sampai juga ke telinga istana. Apalagi bila layar panggung telah turun atau di luar gedung sandiwara para pelakon kembali jadi manusia biasa. Seolah-olah bayang-bayang tidak menjadi makhluk penting. Karena pelakon Julius Casar. "Bayangkan".bergoyang dan menari ria itu. Paduka." jawab perdana menteri. Tentu saja kemanapun dia pergi selalu diiringi bayang-bayang. Karena mereka suka hidup bergelapgelap di tempat gelap. Sudah jadi tokoh. ada yang gemuk ada yang kurus. yaitu serba kenikmatan yang diregup Si Dali. kata Si Dali pada bayang. Karena peniruan tidak merugikannya. Gemerlap dengan warna-warni yang aduhai indahnya. Si Dali jadi begitu karena dia tidak pernah hidup dalam kegelapan. Karena memang bayang-bayang itu bayangbayangnya sendiri. Kegelapan malam maupun kegelapan siang. Karena itu semua bayang-bayang memerlukannya.

Maka dia akan menolaknya. dia melihat bayang-bayang raja yang bertubuh buntal duduk mengalai di sofa. dia disambut oleh barisan pagar ayu yang berdada busung dan berpantat tonggeng seperti penari jaipong." kata raja. Raja menanti di tengah ruangan yang luas. Demikianlah ketika Si Dali sampai di istana. Bayangkan. dia akan jadi lebih besar dari kadarnya. Si Dali tidak melihat bayang. Mengapa kamu di sini?" "Aku kesal. Rangkul dia." perintah raja. Bayang-bayang mengiringi. Muak.hatnya di televisi."Bunuh dia. Lebih mempesona daripada raja ketoprak yang dili. Dia akan menjadi mitos sejarah. "Kamu bukan bayang-bayangku. Keduanya jatuh bergumul di lantai. Si Dali bukan tidak berpikir dengan asumsi. Sakit hati. Sampai pulang pun bayang-bayangnya tidak mengikutinya. "Membunuh dan menangkap orang memang kekuasaan Paduka. Itulah bayang-bayang raja. Menurutnya dia akan diangkat jadi warga kehormatan negara. Paduka. Tiba-tiba seluruh lampu meredup." kata bayang-bayang raja itu. Raja punya banyak bayang-bayang. Cahaya lampu yang bersinar marak di ruang itu. Raja dengan pakaian bermanik dan berbintang lapis-berlapis pada kiri-kanan dada. "Mestinya kamu bersama raja." kata Si Dali. Semuanya berlidah panjang." "Maksudmu?" "Undang dia. Tapi bayang-bayang Si Dali seperti memeluk erat bayang-bayang ratu.bayangnya." kata raja. Di sepanjang dinding terlihat seperti bayang-bayang hitam. Begitu megah dan perkasanya raja dilihat oleh Si Dali. Dengan mitos itu rakyat terbius untuk berdemonstrasi. Bawa kesini. Tapi jika dia dibunuh atau ditangkap. Raja memperkenalkan Si Dali kepada ratu. Ketika semua lampu menyala kembali. pikir Si Dali. Barangkali sekurang-kurangnya menjadi Perdana Menteri atau Menko seperti yang berlaku di Indonesia. Ruang istana bermandikan cahaya gemerlap. Tapi jabatan itu membutuhkan lidah yang panjang dari akal. Bayang-bayang ratu pun tidak. Supaya Paduka tetap lebih besar dari Si Dali. Elu-elukan seperti mengudang gladiator atau artis top. Dan ketika dia menyalakan lampu di ruang tamunya. Si Dali memandang berkeliling. tidak memberi bayang-bayang pada raja." "Kalau begitu undang dia. Si Dali membungkuk ketika bersalaman. yang seperti menatap ketiga orang yang berada di tengah ruang. Lampu sorot dari dinding kiri menyinar tajam ke arah ratu yang muncul di ujung ruang. tidak diperdulikan lagi. Setelah merenung perdana menteri berkata: "Apa Paduka tidak ingin melihat lebih dulu macam apa Si Dali itu?" "Kalau begitu tangkap dia. Tapi di dinding penuh berjajaran para pejabat kerajaan dengan isteri masingmasing. Sehingga aku yang setia sejak waktu lahirnya. . Demosntrasi masa ini biadabnya bukan main. bahkan sampai ke perut buncitnya.

Si Dali begitu leluasanya masuk istana yang berlapis-lapis pengawalannya. Ada yang seperti taman dalam film The Last Day of Pompeye..bayang itu. slebor seperti Affandi. Aku cuma mau menyamar jadi kamu. "Baiknya. ya?" Sejenak dia terdiam ketika ingat pada seorang presiden. Persis di waktu perdana menteri sedang berkata: "Nah. larang saja pers dan televisi mempublikasikannya. . "Kalau begitu. macam apa tokoh yang bernama Si Dali.. Oke?" "Oke. Dia jadi bayang-bayang raja dan bayang-bayang raja jadi dia." Sebagai bayang-bayang. Tuan-Tuan sudah tahu." usul menteri yang lain. meski tidak ada publikasi. Dia krempeng seperti Nashar. *** Ketika Si Dali yang lagi menyamar dalam bentuk bayang. Semua megah.. Makanya tidak bisa dibandingkan dengan raja. dipublikasi oleh pers dan televisi. Selanjutnya katanya lagi: "Ya. tidak. sehingga kamu kehilangan bayang-bayang kamu sendiri.bayang raja memasuki Ruang Sidang Kabinet.. Sampai mati pun aku tidak mau. Karena kamu toh perlu bayang-bayang." kata bayang-bayang itu.siapa. Matanya melotot seperti. kabinet lagi bersidang dibawah pimpinan perdana menteri.seperti. Aneh bin ajaib kalau seorang tokoh seperti kamu tidak punya bayang-bayang. Dia jadi tokoh karena sering. Kemudian Si Dali menawarkan pergantian posisi kepada bayang-bayang raja. Apa tidak begitu?" "Dia tidak akan jadi apa-apa kalau tidak ada pers dan televisi. sangat sering. "Kamu ingin jadi bayang-bayang raja?" tanya bayang... "Oh.bayang ratu. Raja tetap jadi raja.ring dikutip. aku pikir kebih baik aku ikut kamu. puisinya dinyanyikan dalam berbagai pertunjukan sastra dan musik. seperti Picasso bila mengambil contoh maka pelukis. Pidato atau khotbah atau ucapannya se.. Selama satu hari saja. Leluasa pula memasuki seluruh ruang yang banyak dan beragamragam disain dalam istana itu.. imbangi dengan banyak-banyak mempublikasikan raja?" usul yang lain lagi mengusul. bahkan spektakuler. Tidak cocok dengan semangat reformasi. Ada ruang seperti yang ditemui dalam film Star Trek. "Larang-melarang itu sudah kuno. Namun tidaklah begitu menakjubkan mata Si Dali." kata seorang menteri. yang dirasanya tidak etis kalau diucapkan. Sebagai seorang tokoh besar yang senantiasa punya gagasan diluar jangkauan manusia kebanyakan." kata perdana menteri pula."Terus?" "Ketika aku lihat bayang-bayang kamu mengikuti bayang.

"Memang." jawab yang ditanya. Pakailah bahasa yang baik dan benar ke alamat raja. Populer." Tapi anggota kabinet itu tidak ada yang acuh. ya? kata perdana menteri dengan sedikit keras. Raja tidak makan." jawab perdana menteri. kalau raja sendiri tidak perduli. "Itu membahayakan kredibilitas kerajaan. dia telah bicara setengah berteriak sambil mengedari ruang di tengah-tengah persidangan itu. Pada saat semua anggota kabinet saling memandang oleh kebingungan.. tapi beradu. Tidak tidur."Seperti kita semua tahu. raja tidak punya kegiatan apapun yang berharga untuk dipublikasikan. apabila raja sudah begitu. . tapi gering. kena tipu atau rampok atau ditembak oleh oknum-oknum bersenjata. Setiap waktu kena peras. Anggota dewan minta disuapi supaya program pemerintah disetujui. Tidak berbaju." kata perdana menteri dengan nada yang agak tajam." kata menteri yang duduk di kanan menyela.. Dengan berlari kencang dia kembali ke rumahnya untuk membebaskan dirinya dari bayang-bayang raja. ya?" bisik seorang menteri kepada rekannya di sebelah kiri. Si Dali melompat ke tengah ruangan. Padahal menurut Si Dali. tapi dahar. terus ke hakim. seperti kebiasaan orang Indonesia yang memakai bahasa Sanskerta yang kuno untuk menamakan bangunan baru yang disakralkan. Bicarakanlah tentang nasib rakyat yang setiap tahun dilanda banjir atau kebakaran hutan." "Raja sendiri berpendapat apa?" "Tidak ada pendapatnya karena memangnya raja tidak punya suatu alat untuk berpikir. sedang tidur dipublikasikan?" "Sekali lagi saya peringatkan. Bicara tentang kepentingan diri sendiri. Keadilan dimafia aparat. Tiba-tiba dia sadar pada dirinya yang tengah menjelma jadi bayang-bayang raja. Katanya setengah berteriak: "Kabinet macam apa ini." "Nah. Untuk kembali menjelma ke jati dirinya sendiri. "Si Dali terlalu termasyhur. kenapa kita ribut?" "Apa kata dunia internasional. Tidak sakit. "Untuk hal-hal yang sakral atau dipandang sakral perlu menggunakan bahasa kuno. tapi para menteri diam saja? Dunia internasional akan mengatakan kita semua goblok. Tapi wafat. sih?" tanya menteri yang mengenakan seragam jenderal dengan segala asesori tanda jasanya.Tapi apa. Tidak minum. tapi santap. Apa pantas raja sedang makan. "Kalau begitu raja tidak akan pernah mati. sejak polisi sampai jaksa. "Jadi masalah Si Dali itu apa. tapi... Mereka masih terus berbicara dengan sesamanya. Lebih dari raja.

tidak ada yang hirau. Sampai dia ragu sejenak. ketika rasa putus asa telah sampai ke ujung hidupnya. Bayang-bayang raja tetap bayang-bayang raja. Tapi dia tahu persis letak sesuatu benda atau ruang demi ruang. Tak obahnya seperti lusuh baju dipakai oleh bukan pemiliknya sendiri. Bayang-bayang raja lama lenyap. Laki-laki itu kurus kerempeng." kata Si Dali pada dirinya yang disandang oleh bayang-bayang raja itu.Selama berlari Si Dali berkata pada dirinya: "Bayang. Dia melihat dirinya yang dipakai orang lain. dirinya lagi mengalai di ranjang. Lusuh dan mengenas. oleh karena bayang-bayang tidak akan menggeser. dia tidak lagi berfungsi. meski bayang-bayangnya tidak ikut dikubur. bahwa bayang-bayang akan selamanya jadi bayang-bayang. Tapi pada bayang-bayang raja ini ada aku. Tidak satupun lampu yang nyala atau cahaya yang masuk. Simpul hatinya. entah berapa malam. Akhirnya dia marahi dirinya sendiri. Di dalam semuanya hitam. "Kalau saat ini raja pemilik bayang-bayang ini mati. "Hai. Meski tersenggol. Akhirnya. Sebagian hati Si Dali demikian gembira karena telah menemukan kembali jati dirinya. apa peduliku. Tiba-tiba larinya melambat dan terus melambat. kadang-kadang mengomel. Tidak mau lenyaaap. Meski bayang-bayang raja sekalipun. Mengapa mereka tidak peduli?" Dalam berlari Si Dali terus bebicara pada dirinya sendiri. meski bayang-bayang raja. Betapa seluruh ruang telah diarungi. Di bawah naungan mahoni yang tumbuh berderet di sepanjang jalan dia mulai terenung. dia tidak menemui dirinya. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia berkelana. apa memang itu Si Dali yang sosok paling populer di masa itu. yang ketika pergi dulu sebagai bayangbayang raja. betapa lama waktu dalam menyigi. Meski berlari tidak satu benda pun tersenggol. Entah berapa hari." *** Sampai di rumah ternyata pintu rumah ternganga.bayang tetap bayang-bayang. Kadang-kadang dia bertanya. Maka dia langsung menghambur ke kamar tidurnya. Tapi Si Dali tidak menemui dirinya di sana. Adakalanya juga dia memaki dan berteriak-teriak marah. Para menteri raja pun tidak hirau. apa jadinya aku?" Sambil berlari kencang sepanjang jalan ke rumahnya. apalagi merusak. Duduk terkulai di bangku dalam taman luas Lapangan Merdeka di pusat kota. Kalau bayang-bayang raja tidak diacuhkan orang. Si Dali berteriak keras: "Aku tidak mau lenyaaap. dia melihat seorang laki-laki kere. Yang berfungsi ialah bayang-bayang raja pengganti. Kalau raja mati. Tapi kemana dia? Dia telusuri seluruh jalan dan pelosok kota sampai ke sudutsudut yang kumuh pun dia cari. Laki-laki itu tidak lain dari dirinya yang jelmaan bayang-bayang raja. Dalam renungannya kian menjadi jelas baginya. Lalu dicarinya dengan perasaan cemas ke seluruh ruang yang gelap itu. Kemana saja kamu.kan. dirinya yang dipakai bayang-bayang raja pasti sudah keluar rumah pergi bertualang dalam kehidupan yang nyata. Tapi sebagian lain hatinya demikian risau. yang mau menyamar sebagai bayang-bayang. . Berhari-hari aku telah mencarimu. Dali.

Tidak akan jadi apa-apa. Bayang-bayangmu takkan kau peroleh lagi karena dia lebih suka hidup di istana. "Mendingan dari aku yang jadi manusia palsu. Bagaimana aku kembali jadi diriku. setiap bayang-bayang berbakat demikian." Lawan Si Dali menggelengkan kepala. Tapi tak mungkin aku kembali jadi bayang. sebagaimana kamu bisa kembali jadi jati dirimu? Akan jadi apa aku dengan tubuhmu. Tapi tidak satu pun nikmat yang aku dapat. Tidak mungkin hidup sebagai manusia yang utuh. "Terlambat sudah. "Aku mau." kata bayang-bayang raja yang memakai tubuh Si Dali. tahu?" kata bayang-bayang raja yang mamakai jasad Si Dali. Aku kira meski aku palsu akan lebih baik daripada bayang-bayang. Terasa mengenaskan suaranya. "Kau tidak berarti apa-apa tanpa bayangbayang. Sebagai Si Dali kau telah kehilangan bayang-bayangmu sendiri." "Aku tidak perlu bayang-bayang. kita berganti jadi jati diri kita sendiri lagi." kata Si Dali." "Artinya?" "Tidak mungkin itu. "Ayo. Si Dali yang perjalanan hidup pernah gemerlapan begitu terpana dan terus terpana entah sampai apabila dan hingga kemana." "Sekarang aku ini jadi apa?" tanya Si Dali yang bayang." "Terlambat?" "Raja sudah Wafat." "Maksudmu?" "Ya. Di kubur atau di neraka raja tidak perlu bayang-bayang. "Kemudian aku yakin. agar aku bisa hidup menurut kodratku sendiri. Kemana saja kamu?" "Aku juga mencari kamu agar aku bisa kembali ke duniaku lagi.bayang." kata ba yang-bayang yang jadi Si Dali."Aku? Aku mencoba menikmati hidup di dunia nyata seperti manusia." kata Si Dali. Aku hanya perlu diriku sendiri. Lalu aku mencari kamu untuk bertukar tempat kembali. bahwa aku hanya bayang-bayang. 10 November 1999 Dari Masa ke Masa .bayang raja karena raja sudah wafat. Berhari-hari aku mencari kamu.

" kilah orang yang selalu suka memberi saran itu. "Siapa tahu kalau yang kalian kerjakan keliru. ikut diskusi. Ada yang hangat sambutannya. Macam-macam cara masing-masing mereka menyambut kedatangan kami. Ada yang lagi asyik menulis terus setelah tahu kami datang. Malah menganjurkannya. "Proklamasi telah lebih dulu merestui mereka. Sungguh jahanam bangsat itu. "Saya tahu. "Tapi kenapa teman-temannya yang mau pergi perang itu tidak disuruh minta nasihat dulu?" tanya saya karena masih dongkol. sebaiknya kami berbicara dengan Bapak Anu. Bukan main dongkolnya kami. Bapak Polan. setiap apa pun yang akan kami lakukan selalu kena tuntut agar minta nasihat dulu. Misalnya bikin sandiwara. Kata saya dalam hati. Padahal pekerjaan itulah yang paling berat risikonya. selalu panjang berjela-jela sampai pantat kami gelisah. Tapi selalu saja ada pesan-pesan agar sebelum kami mulai melaksanakan kegiatan kami. Saya memang selalu tukang dongkol. Lebih-lebih saya yang memang pendongkol nomor satu di antara teman-teman. karena kepada kami-kami saja pesan itu disampaikan. Bapak Tahu. Tapi tidak pernah disampaikan pada teman-teman kami yang memanggul senjata. Tapi kan lebih baik kalau risikonya tidak ada." kata saya menimpali. minta restu dulu ada orang tua-tua. Lalu terpaksa jugalah kami boyong ke rumah semua orang-orang tua yang patut-patut itu. bukan karena penat saja." kata yang selalu suka memberi saran. sekitar usia dua puluh tahun. Memang tidak ada paksaan. pameran. Anak-anak muda waktu saya muda dulu punya kegiatan yang macam-macam jika tidak ikut memanggul senjata. . "Itu risiko kami. saya sering dongkol pada orang tua-tua. mengadakan kursus. kalau teman-teman kami yang prajurit itu harus menerima wejangan sepanjang itu bila hendak pergi ke front. Sudah menunggu begitu lama. yang mau ke front pertempuran. Misalnya dengan salaman pakai guncangan tangan atau tepuk-tepuk di bahu kami. Bayangkanlah. lalu diberi wejangan panjang-panjang yang sering tidak ada sangkut-pautnya dengan umsan kami. Pada umumnya oleh orang tua-tua itu kami diberi wejangan yang tak pernah pendekpendek. lalu digigit kepinding pula. pastilah serdadu musuh sudah menanti di balik pintu. Untuk setiap jenis kegiatan itu selalu saja ada orang tua-tua yang dikatakan ekspert untuk memberi nasihat dan restu sesuai dengan keahlian dan pengalamannya. Bahkan juga pasar malam. Juga ada yang baru muncul setelah sejam kami menunggunya di ruang tamu.Waktu saya muda dulu. atau pada bapak sekalian bapak. tapi juga karena digigit kepinding. Betapa tidak. sejenis kutu busuk yang dikatakan bangsat oleh orang Jakarta." katanya pula. Biasanya kami jadi bimbang.

Setiap pengurus. saya bisa menarik kesimpulan tentang sikap orang-orang tua itu. Mereka pada mendesak kami agar memintanya menjadi penasihat kamilah. Betapa tidak enaknya diperlakukan demikian. sehingga orang partai lain bisa sakit hati. lalu berubah menjadi tempat melampiaskan segala kutukan. Tapi lama-lama saya mengerti juga. kenapa setiap sukses selalu membawa bencana. Setiap anak muda yang berhasil atau suatu organisasi yang sukses. kalau kami berhasil dengan gemilang dalam melaksanakan kegiatan kami. Beberapa orang yang gigih mencoba . apa ia orang partai atau orang pandai. Hal-hal yang memang membingungkan. suatu sukses bukanlah hal yang menyenangkan. Menurut analisanya ialah begini. Waktu saya muda dulu. Dan saya jadi tambah dongkol lagi. kesukaranlah yang datang bertalu. lebih-lebih ketua. saatnya sangatlah pendek sekali. malahan sangat menyulitkan kami. bahwa kami adalah anak-asuhannyalah.Lama-lama. selalu menjadi bulan-bulanan serangan anggota. Claim mereka itu bukan menyenangkan. namun prosedur memuliakan orang tuatua itu tak dapat dihindarkan. Kalau orangnya orang partai. bahwa orang tua-tua itu bersikap demikian kepada kami orang muda-muda dulu itu. Kalau orangnya orang pandai. karena mereka tengah memelihara posisinya yang tinggal sekomeng lagi. Bertahun-tahun kemudian saya menarik kesimpulan. selalu ada tangan orang-orang tua itu ingin mencaplok untuk memasukkan kami ke dalam mantelnya. maka orang lain yang berlainan partai akan membilang kami sebagai "mantel" partai anu. kalau kami mau aman dalam kegiatan kami. maka anggota kamilah yang mereka preteli seorang demi seorang. sambutannya selalu hangat pada kami orang muda. Kesatuan hati semula. tambah repotlah kami. entah sedang membaca. Karena setiap sukses yang kami peroleh selalu mengundang perpecahan di kalangan kami sendiri. Malah tambah sering kami sukses. setelah berpengalaman cukup banyak. bahkan juga menimbulkan kecewa dan mematahkan semangat. Ada yang ngambek. kedatangan kami selalu disambut di kala mereka sedang sibuk. mereka selalu suka membiarkan kami menunggu berlama-lama di ruang tamu. Kesukaran yang menyakitkan. karena kekuasaan revolusi tidak berada di tangan mereka. Hal yang sama dilakukannya bila datang ke kantor atau rumahnya. lalu mundur tanpa teratur. Bahkan ada di antara mereka yang bergembar-gembor ke mana-mana. Habis itu. kalau tidak anggota pengurus. Sebab pada waktu saya muda dulu. lalu menjadikan organisasi itu sebagai wadah tempat kami saling cakar-cakaran. Kalau satu orang telah kami minta jadi penasihat kami. Organisasi yang mulanya menimbulkan kebanggaan di dalam hati kami masing-masing. kadernyalah. Dan itu mencengangkan saya benar. organisasi yang waktu didirikan berdasar semangat kesatuan hati untuk mencapai cita-cita bersama. Setelah sukses demi sukses tercapai. partai-partai sangat banyak. Entah sedang menulis. atau biarkan mereka "meng-claim" kami. Terutama anggota yang potensial. Lebih susah lagi. Kalau organisasi kami tidak bisa mereka caplok secara utuh. Mulanya saya tidak tahu. Tapi kalau ia pejabat. akhirnya membentuk hati yang satu-satu. pelindung kamilah. Kami akan selalu direpotkan orang tua-tua itu. menyusahkan. Dan mereka semua saling sengit dalam berjor-joran. Setiap rapat selalu menghasilkan kesepakatan untuk tidak sepakat lagi. Kalaupun ada kesenangan. yang pada umumnya bekas guru. dan tidak jarang pula sedang memangkas tanaman bunga di halaman rumahnya. Ada banyak yang berhasil dicaplok atau dimanteli. Tak jarang terjadi kami terkena intrik dari pihak yang tidak suka. Yaitu hanya ketika sukses itu terjadi.

sekarang tak laku lagi karena partai pun tidak laku. dihormati. kami membanding-bandingkan apa yang telah kami lakukan dalam usia yang sama dengan orang-orang muda sekarang. Namun lebih nikmat rasanya apabila secara diam-diam saya mendengar orang-orang muda itu berkata pada teman-temannya. tapi praktisnya organisasi kami tidak berdarah lagi.untuk bertahan. bila saya telah menjadi orang tua kelak. Dari sudut ini. Gaya orang pandai seperti Guru Munap juga tak mungkin lagi. tapi saya bukan pejabat dan karenanya saya tidak mungkin menggunakan peran sebagai orang yang berwibawa tinggi. Pendidikan orang muda sekarang lebih tinggi. Bagaimana saya harus menghadapi mereka agar saya kelihatan tetap potensial? Lalu saya teringat pada orang tua-tua masa saya muda dulu. Saya boleh mengembangkan dada menjadi orang yang dikagumi. Kalaupun masih ada. minta nasihat. Sedangkan anak-anak SMA sekarang. Mereka didukung dengan perhatian yang penuh. terutama pada teman sebaya saya. apa yang tidak saya sukai ketika saya muda. Anak-anak sekolah SMA dulu. Karenanya fasilitas mereka lebih punya. Orang-orang muda yang giat menjadi rebutan masa dulu. permainan tidak lagi seimbang. Orang-orang muda sekarang lebih mudah digembalakan. Tapi lebih menyenangkan lagi apabila menjadi tempat hidup orang menggantung. Bahkan didorong semangatnya agar bisa berbuat banyak. Sedangkan kondisi sekarang sudah lain. Dan. minta pendapat. Omongan mereka lebih ceplas-ceplos. Kegiatan lamalama sirna. takkan saya lakukan seperti apa yang dilakukan orang tua-tua ketika saya masih muda dulu. . ketika orang-orang muda secara bergelombang menemui saya minta restu. dan juga minta bantuan uang dan tanda tangan. yang dipuji bukan lagi semangat dan keberaniannya. Karena itulah barangkali umur orang-orang muda sekarang lebih panjang. Dan itu tidak mudah diperolehnya karena bersifat sangat individual. Pada waktu orang-orang muda sekarang masih sekolah. telah bisa menjadi guru bahkan direktur SMA swasta. Indonesia ternyata tidak maju. "Sudah bicara pada Pak Navis? Belum? Jangan bikin apa-apa dulu sebelum bicara padanya?" Akan tetapi orang-orang muda sekarang berbeda jauh dari orang-orang muda masa dulu. Yang tinggal hanya nama yang tertera pada papan yang tergantung dan terbuai-buai bila ditiup angin. dalam hati saya. ayah-ayah mereka lebih kaya bahkan lebih berkuasa. Sebab tidak ada lagi pihak-pihak yang secara gampang memuja-mujanya. Jika memakai gaya pejabat. Saya juga mempertimbangkan betapa bedanya kondisi sekarang dengan masa dulu. yang dulu sama giatnya dengan saya. orang-orang muda dulu telah jadi komandan batalyon. Ketika saya ketemu dengan sobat masa muda yang baru kembali dari posnya sebagai diplomat di luar negri. tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kalau perlu disuruh melabrak orang tuanya sendiri. Tidak ada pihakpihak yang berkepentingan untuk mempengaruhi orang-orang muda sekarang. Bagi orang-orang muda sekarang. Begitu menyentak datangnya. Memang menyenangkan bila punya status demikian. sebab sekarang sudah banyak sekali orang yang lebih pandai dari segala orang pandai-pandai dulu. sampai berusia empat puluh tahun. Gaya ramah-tamah Pak Tamin yang orang partai itu. Saya menoleh ke sekeliling. Saya termasuk orang yang menangisi keadaan itu. menjadi setiap kata yang dikatakan menjadi hukum yang tak boleh disanggah. melainkan prestasi otak dan keahliannya. didengar apa yang diingininya.

" kata saya pada sobat itu setelah lama kami merenung-renung." "Kenapa?" "Karena saya percaya. Sebelum aku mati. tentu. Dan sobat saya itu memang diplomat." kata saya yang masih belum dapat menghentikan ketawa. Saya lakukan. Setiap hari ia membaca Quran itu. karena ia tersenyum saja oleh kata-kata saya itu. "Kinilah saya baru tahu.tanya sobat saya itu seraya membelalakkan matanya. Masra dan Irma?" "Ya."Mungkin karena dinamika orang-orang muda masa dulu yang menyebabkan saya dongkol melihat tingkah laku orang tua-tua yang sok-sokan. Hati kami rasa terbakar karena rindu. Apabila orang-orang muda sekirang diberi peran yang sama seperti apa yang kita lakukan dulu. "Coba Bung renungkan. tidak akan saya lakukan. Tapi apa kata orang tua-tua kita dulu tentang kita?" tanya saya membalikkan alasannya. Ayah." "Tapi nyatanya orang-orang muda sekarang begitu sulit melepaskan dirinya dari sifat kekanak-kanakannya. Datangnya Dan Perginya Ketika surat pertama Masri datang. Meski kalimat itu sudah lengket dalam ingatan masih juga dibacanya lagi. Dan sebuah kalimat yang disenanginya selalu saja mengikat matanya." "Kata kita. Lalu matanya yang membelalak jadi menyipit sebelum bertanya kenapa saya ketawa. jika saya telah tua. melonjaklah keinginan hendak menemuinya di tahun yang lalu. menantu Ayah? Dan dengan kedua cucu Ayah. Tiba-tiba ketawa saya meledak. sehingga air mata saya pun berderai-derai. aku mesti bertemu dengan kau semua. "Ya. Aku sudah tua. Tidakkah Ayah ingin berjumpa dengan Arni. Sehingga saya berjanji dalam hati saya. Tentu. Kenapa tidak. kerjaan kita yang terutama sekarang ialah membenahi akibat kerja kita masa lalu. Seperti senyum anak-anak saya bila melihat bintang favoritnya tampil dalam acara "Dari Masa ke Masa" di televisi. "Datanglah. apa yang tidak saya sukai tentang tingkah laku orang tua-tua terhadap orang-orang muda. Lalu diraba-raba dadanya ." kata orang tua itu dalam hati. Anakku. Surat itu diciumnya berulang-ulang dan disimpannya di antara lembaran Quran. apa pun yang dapat kita lakukan di waktu muda dulu. "Apa janji itu Bung lakukan?" tanya sobat saya yang bekas diplomat itu. pastilah dapat dilakukan oleh orang-orang muda sekarang. akan apa jadinya Republik ini?" . setiap itu pula ia menciumnya.

kenapa mesti begitu. Dibawanya ke bibirnya. Kawin dan cerai lagi. aku tak mengerti. Dan ada yang terangguk-angguk dan ketika kepalanya seperti akan jatuh ke pangkuannya. aturan makannya. Meski si istri sedang mengandung. Ia ingin segalanya tiada berubah. Tapi malah perkawinan ini tambah merusakkan hatinya. Aku tak mengerti. ia terbangun lagi. Tuhan terlalu cepat mengambil tiap-tiap yang dikasihi seseorang. ibu Masri cuma satu. Sebentar saja. Dan datangnya pada malam di waktu matanya tak hendak terpicingkan. kenapa semua orang yang berbudi baik. istrinya yang dicintai itu meninggal. Namun mata orang tua itu masih nyalang . " Ah. Kepalanya mengangguk-angguk bagai kepala boneka bergoyang. Dan mereka tak berbahagia. Tak sampai. Serta di bibirnya yang mencekung ke dalam tergores senyum kepuasan. Berbahagia kau dengan Arni. Pandai dalam segala hal. Dipasangnya kembali kaca matanya. Ataukah dunia ini hanya boleh ditempati orang-orang yang tak baik saja? Ah. Selagi Masri berumur tiga tahun. Diangkatnya kaca matanya. menahan linangan jangan sampai jatuh. Dan matanya menatap bulat. lalu dipijit-pijitnya jangat di bawah biji matanya. sehingga air ludahnya meleleh seperti lendir dari sudut bibirnya. ya? Sudah dua anakmu sekarang Ayah juga turut berbahagia bersamamu. yah. ia keluarkan lagi. "Pakai kumis kau sekarang. Ah. maka itu dunia ini tak mungkin jadi surga gerangan?" ia mengomentari lamunannya. Tapi bercerai pula akhirnya. Lalu kesepian hatinya diisinya dengan perempuan yang takkan mengikatnya dengan syarat-syarat kawin. Baru setengah. Masri. Itu tiada terderitakan. Maka akhirnya ia kawin lagi. Ia bersandar selelanya. Susunan rumahnya. Dan ia bersandar lagi pada sandaran tempat duduknya. Semua orang suka padanya. Disimpannya kembali ke dalam saku jasnya. Kereta api yang ditumpanginya masih melaju kencang.sebelah kanan. ia mau seperti yang dilakukan oleh ibu Masri. Dan matanya berlinang puncak kepiluannya. Semua orang. Selamanya ayahmu merasa bahagia melihat rumah tangga yang berbahagia. Hatinya yang masih mengenang cinta kasih mendiang ibu Masri diobrak-abrik oleh kedatangan perempuan ini. Mencari-cari sesuatu di dalam saku-dalam pada jasnya. Dan dia pandai. Dan terasalah olehnya bahwa rumah tangga tak mungkin memberikan kesenangan lagi baginya. Waktu itu ia masih muda. Dia baik. Bahkan ada yang pulas sama sekali. Nak. Tapi kesunyian menerpanya selalu. Sepi sekali. Tapi istrinya yang baru ini tiada rela suaminya tenggelam dalam suasana lama. Apalagi engkau. Datangnya mengoyak-ngoyak. Ia ingat ada orangorang di sekelilingnya. Dan ia merasa-rasakan. Baik sekali. terlalu lekas meninggalkan manusia yang mengasihinya. bahwa bahagia tak mungkin lagi datang padanya. Keluar lagi bersama selembar amplop yang tepinya telah lusuh. Anakku. Dan hatinya patah sudah. Dan kemudian tangannya itu hilang di balik lipatan jas. Dan kepalanya digelenggelengkannya. Orang-orang sekitarnya sudah habis mengantuk. Pertengkaran sering terjadi sampai mereka bercerai. Dan kenangannya melayang ke masa yang lalu. Dan poskar itu dimasukkannya lagi ke dalam amplop." Lalu poskar itu dimasukkannya kembali ke dalam amplopnya. Tapi. Dibukanya tutup amplop itu dan dari dalam dikeluarkannya sebuah foto sebesar poskar. Lama kemudian ia kawin lagi. Sudah berubah benar. Cuma satu perempuan seperti dia.

anaknya. Tentu Masri takkan begitu kalau bukan aku ayahnya. Tentu aku ayah yang salah. "Kau kurang ajar!" "Kalau aku kurang ajar. Karena kau duniaku. Kehadiran Masri menjadi olok-olok perempuan yang dibayarnya. Dan ia merasa terhina dan marah sekali. Kepergianmu yang tak kembali lagi itu. Mungkin ingin ia membutakan matanya. pergi. Dipudari oleh kenangannya kepada Masri." katanya dalam hati. Bertahun-tahun lamanya. Akulah yang salah. Kemudian aku tobat. Dan aku pergi ke dusun jauh. Tapi kau sudah pergi. maka sekarang anaknya sendiri yang menghinanya. Ingin sekali ketika itu. Anakku. Anakku. Aku serahkan diriku kepada Allah. Tapi. Tentu anak orang lain takkan berkata begitu kepada ayahnya. Akulah ayah yang celaka. menghancurkan hatiku. "Kurang ajar kau. Ingin aku maafmu. Dilemparkan pandangannya keluar jendela. Dan ia sadar lagi dari lamunannya. Aku ingin kau terus di sisiku. menjadikannya hanyut berlarut-larut. Tapi si anak cepat pergi tak kembali lagi ke rumah ayahnya. karena kau anakku satu-satunya. Jika tadi perempuan jalang yang dibayarnya sudah pandai menertawakannya. Hingga Masri yang terdidik kasih sayangnya. Perbuatan Ayah yang menyebabkan aku begini. Lalu semuanya jadi memudar. Dan di samping itu kuajak . Dan ia temui ayahnya dengan dendam tiada terbada. Mengintip kebahagiaan ayahnya dalam rangkulan perempuan jalang itu. Namun si anak diam dalam kesakitan. Merusakkan hidupnya sendiri. Pengisian kehampaan dengan dambaan perempuan di sepanjang malam itu. Bikin malu. Jahat. Aku wakafkan. menjadi disiksa oleh olok-olok kawan-kawannya di sekolah. Tapi kau tak kunjung datang. Malam-malam ketika aku berbaring di tempat tidur di rumah kita. Tepekur ia dalam kesadaran pikirannya. Si anak ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri: benarkah ayahnya seperti yang dikatakan teman-temannya. perkataanmu dulu itu benar. Ditamparnya sekuasa kuatnya. aku merasa kautelanjangi bila aku bertemu kau nanti. Anakku. lambat laun aku insaf. Nak. Aku memang mau pergi!" si anak membangkang. Kalau aku pikir-pikir kini. Tapi kau tak ada lagi. Ah. Ia hendak memukul lagi. Aku jual segala harta benda kita. Orang tua itu merasa napasnya tertahan. Ayah lagi yang merusaknya! " Si ayah betul-betul hilang kesabarannya. Ayah yang menyebabkan aku lahir tanpa kemauanku! Setelah aku lahir. agar segala yang di depan matanya itu tiada terlihat. Dibiarkannya ayahnya berbuat sesuka hatinya. Aku tinggal di mesjid sana. "Memang terlalu. Kau bukan anakku lagi!" "Memang aku bukan anak ayah yang begini. Dan si anak mengintip. Aku memang ayah yang tak baik. Tapi si anaklah yang jadi sasaran marahnya. Jantungnya kencang berdebar. Ayo.juga. Yang waras. "Perkataan Masri melukai hatiku sungguh-sungguh. Di kejauhan burung elang terbang berbegar. Namun si anak tetap tidak percaya bahwa kesucian ayahnya telah rusak. betapalah hancurnya hati si anak. Aku lemparkan kehidupan duniawi. Anakku. bukan salahku. Masri. Perkataanmu dulu menimbulkan kesadaranku kemudian. tempat aku berpegang lagi. Alam di luar menghijau dan disungkup oleh awan yang memutih di langit.

Anakku. membahagiakannya. Aku malu. Dan dirasanya lelehan air di atas ujung mulutnya. kalau ada terjadi cekcok. Ia tak mengerti kenapa perempuan itu harus ada di situ. Kedengaran desisan lok kejar-berkejaran. Dan suratmu yang ketiga beserta wesel uang itu. aku terpaksa juga mengunjungimu. Sifat-sifatku yang tinggi hati. Masri. Dan kalau aku mati. Namun ia merasa dirinya segar. Dan aku tak mau datang. Tapi sekali aku ingat. sebagai ayah yang kalah. aku mau tak semiang dosa pun lengket di badanku. Karena terpaksa. Dan kalau ia mati kelak. Anakku. Aku merasa ditelanjangi. berkecak tegak di ambang pintu. Alangkah bahagianya hatiku. anak itu yang mengajak aku datang ke rumahnya. Kini aku datang menyerahkan diriku padamu. Ketika kereta bertambah perlahan jalannya. Enggan karena malu. Tidaklah ia merasa capek sedikit pun oleh guncangan kereta api hampir sepenuh hari itu. Ketika ia membalikkan badannya menghadap pintu lagi. Tapi. Kalau aku sudah mengambil uangmu. Anak yang kutampar. agar ia lebih merasa bersatu dengan kehidupan sekitar yang indah itu. Masri. Masri. Menatap dengan tegar. Jalan . Tapi tahu kau. dan tak pernah kubalas. aku sudah tua. Anakku. Pak? Kenapa Bapak menangis?" sebuah suara masuk ke telinga orang tua itu. Malu sekali. oleh surat-suratmu yang tak bosan-bosannya datangnya itu. Kemudian dipalingkan matanya ke luar jendela. Terasalah betapa damainya dunia ini olehnya. Tapi. ke utara. semua rumah tangga di dusun itu. Nak. Terpaksa bukan berarti aku tak mau. Kedamaian alam yang memagutnya tadi.manusia di sekitarku hidup dalam rukun damai. terpelanting remuk. kereta pun berhenti. dan ke selatan. Lalu dicobanya tersenyum manis kepada si penegur. tapi karena aku sangat malu bertemu denganmu. ikut aku mendamaikannya. Umurku takkan lama lagi. kalau aku melihat kebahagiaan rumah tangga mereka. Dan kota yang dituju hampir sampai kini. sampai empat kali. Tapi napasnya menyesak juga oleh pukulan jantungnya yang tambah berdebar. merobohkan sifat-sifatku yang buruk. bertambah kencanglah jantungnya memukul. kesombongan itulah yang menghancurkan kehidupanku selama ini "Ada apa. Tersentak ia dari lamunannya. Aku insaf sekarang. suratmu itu selalu kucium? Dan kemudian datang suratmu lagi. ke timur. serta-merta terlempar jauh. Kian lama kian ramai. Tahu kau. Sedangkan laki-laki tua itu terpukau dalam kekecutan dan gigilan. karena malu minta maaf kepada orang yang lebih muda. alangkah terkejutnya orang tua itu. Dilihatnya alam hijau membiru disela oleh rumah-rumah yang berkelompok tiada teratur. matinya tanpa membawa dosa. seperti debar ketika mula pertama ia memasuki ambang pintu bilik istrinya. Dan dalam liputan kedamaian itu pula ia meningkat anak tangga rumah anaknya. Dan tentu nanti maafan anaknya akan diperolehnya sepenuh ikhlas. Tapi kereta api masih laju juga jalannya. Tentu. Dosaku yang terbesar akan hapus oleh maafmu. kuakui aku bimbang mulanya menerima ajakkanmu. Karena ada orang lain yang hendak kutolong dengan uang kirimanmu itu. Maka yakinlah ia. Dan ia regup hawa di sekitar rumah anaknya sedalam-dalamnya. Juga tak kubalas. uang itu aku ambil juga ke kantor pos akhirnya. Seorang perempuan kurus hampir serupa mayat. tidak mengguncangkan hatiku dari pendirianku semula. Sedangkan pada garis bibirnya tergores senyum bahagia. Semuanya. ketika aku menerima suratmu setahun yang lalu. Karena aku sendiri mengerti apa arti kebahagiaan rumah tangga itu. Disekanya cepat. Dalam kedamaian itu. Dihadapkan mukanya ke barat. ia akan berjumpa dengan anaknya. anak yang kuusir dulunya.

Semua pada bagian yang hitam dan pahit-pahit yang paling ia kenang. Tapi bagiku. Karena diminta datang.pikirannya begitu lamban. Tapi perempuan itu tidak mendengar apa-apa dari mulut laki-laki yang tegak bagai patung di ambang pintu itu. "Maafkanlah aku. ia berkata. Ia pun ikut merasa bahagia. Begitu sederhana. Tapi keragu-raguan itu segera menyingkir jauh ketika ia memandang keliling ruangan rumah itu." kata perempuan itu mencetus. Tapi ia tak mampu membangkitkan kesombongan yang tadinya menjolak-jolak. Dan keketusan pertanyaan itu demikian kesat masuk ke telinga laki-laki itu. Masri. tapi semuanya teratur rapi. Ia masuk membawa hatinya yang ragu dan bertanya-tanya. "Mengapa kau datang juga?" tanya perempuan itu ketus. masuklah. istri yang cocok. Maka tahulah ia bahwa anaknya. Maka hatinya tersinggung. Ia kini jadi lemah dan sempoyongan oleh pukulan itu. Maka tahulah ia bahwa ucapan perempuan itu bermaksud menempelak dirinya. Tak bersuara mencapai sasarannya. menjolak lagi dengan panasnya. "Tapi kalau datangmu untuk kebaikan. hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan bersama istrinya. Dan lupalah ia sejenak kepada perempuan yang memandangnya nanap dan dengan hatinya yang kecut. "Kalau datangmu hendak membawa keonaran. "Tentu Arni. Maka ia mengajak alamnya berdamai kembali dengan serba sangka yang segala baik atas kehadiran perempuan itu di situ. Umurku yang setua ini. Juga merupakan suatu pukulan untuk mengenang kembali kehidupannya yang lalu. memang paling mudah diucapkan oleh orang yang telah merasakan hidup senang. Aku memang orang yang tak baik. Dalam sempoyongan itu." perempuan itu menegas lagi. Dan yang terpenting begitu serasinya. hampir mati malahan." Dan laki-laki tua itu tak hendak bertengkar di tangga rumah anaknya." ia berkata seolah kepada dirinya sendiri. "Alangkah bahagianya Masri. Bersih." katanya lama kemudian dengan suara yang parau serta pengucapannya yang bergetar." "Semua perempuan cocok bagi laki-laki yang tahu menghargai orang lain. pergilah kini-kini. matiku dalam kebersihan dosa-dosa yang telah aku lakukan." laki-laki tua itu berkata lagi dengan berangnya. cerita maaf haruslah . Hendaknya jika aku mati. "Aku kemari ke rumah anakku. berbalik-balik sejarah kehidupannya yang lama. "Cerita maaf. Iyah. Aku datang karena dipanggil. Dan dengan pandangan mata yang menyala berang. orang yang selamanya dalam kesulitan ini. Dan perempuan itu berkata lagi. menginginkan semuanya dalam kedamaian dan kebaikan. rumah anakku. "Rumah ini. Rasa kesombongan yang telah lama mengendap jauh di lubuk hatinya." Tapi ucapannya itu hilang di ujung bibirnya yang gemetar. Digapainya sebuah kursi. Hatinya tersinggung. Dan laki-laki itu terantuk lagi pada kehadiran perempuan itu.

" Namun tak ada kata-kata keluar dari mulutnya selain hanya menyebut nama perempuan itu.. Bagi siapa yang tahu. Tapi aku tak bisa mencegahmu datang." "Istri Masri anakku." kata perempuan ketus." ia terhenti sejenak. Tapi aku selalu berusaha supaya kau tak jadi datang. Tapi kemudian disambungnya lagi. "Ketika lama sesudah aku menceraikan kau dulu. Ia mau mencoba berpikir dan menimbang-nimbang segala yang terjadi dan teralami oleh dirinya sendiri. Rela aku menderita segala dosa-dosa ini." "Tapi kedatanganmu kemari tetap membawa dosa. Dan tiba-tiba tububnya gemetar." kata laki-laki itu lagi dengan gaya yang meminta belas kasihan. Juga anakmu. "Mengapa tak kaukatakan?" "Mengapa aku katakan?" Dan laki-laki tua itu membuka matanya dan bertanya lagi. Tak dapat ia berkata sepatah pun lagi. hanya untuk merusak.." . Memenuhi segala ruang. Lama sekali begitu. Perhitungan antara aku dan kau. Aku sudah lama menyediakan hidupku untuk kebaikan. kemudian layu terkulai ia di sandaran kursi. sejak itu sampai sekarang. Ketika aku tahu mereka bersaudara kandung. "Maksudku aku datang untuk minta maaf anakku. Aku sudah lama mengerti apa gunanya dan bagaimana orang harus hidup. aku telah menyesal. Pikiran dan perasaannya menampak bayangan kacau yang bertelau-telau tiada berbentuk apapun." "Membawa dosa? Kenapa dosa kubawa? Bukankah aku diminta datang kemari untuk. asal mereka tetap bahagia.diperhitungkan dulu. aku sediakan diriku dipukuli kutukan. "Bukankah itu dosa?" "Benar." Suara Iyah memasuki rumpun telinga laki-laki yang tersandar nanar di kursi. Dan ketika sadar pada dirinya lagi." "Mengapa kau mencegahku?" "Kedatanganmu merusak. Demi kebahagiaan anakku dengan istrinya. "Pahit kau menerima kenyataan ini? Demikian juga aku. ia tak berani menyalangkan matanya untuk melihat kenyataan di sekitarnya. "Sekarang kau datang kemari." "Tapi aku sudah tobat." kata perempuan itu tanpa kehilangan gayanya yang ketus." "Kau tahu aku akan datang?" "Tahu." kata laki-laki itu terpekik dalam suaranya yang parau.. "Iyah. "Iyah.

"Iyah. Kenapa? Karena kau hendak menyembunyikan kesalahan perbuatanmu semata." kata perempuan itu menegaskan." "Demi menjunjung perintah Tuhan?" . Dosa bagiku. Kebenaran Tuhan. Ini mesti. Maumu hanya supaya kau saja bebas dari akibat perbuatanmu yang salah dulu. dosa bagi kau. Luka oleh ejekan Iyah. Kenapa tidak dari dulu-dulu?" Hatinya luka lagi. walaupun apa katamu. Setelah itu mereka harus bercerai. "Ini semua dosa." "Hmm. ia yang salah. Hanya karena kau takut memikul hukuman atas dosa-dosamu seorang. Tapi ia tahu. dapatkah ampunan itu dikejar dengan menyerahkan diri begitu saja tanpa berani menanggung risiko dari kesalahan yang telah kaulakukan sendiri?" "Walau bagaimana. Manusia harus siap mengorbankan dirinya untuk menjunjung tinggi aturan-Nya. seolah enggan melihat segala kenyataan yang ada. Kaupikir." kata laki-laki tua itu sambil memicingkan matanya terus. "Walau bagaimanapun mereka harus tahu. Sedangkan laki-laki masih terkapat di sandaran kursi. "Aku tak sanggup. Tapi nadanya mengejek." "Iyah. masih berdiri tegar di tempatnya. Wajib. Kalau selama ini aku telah mendapat keridaan Tuhan. Sehingga kini kau juga ingin merusakkan kebahagiaan anak-anakmu sendiri. Sekarang pandai kau mengatakan itu."Karena itu kaubiarkan mereka tak tahu?" Ia mulai membangkitkan dirinya lagi. kenapa pula harus kukotori di akhir hidupku? Maka itu mesti aku katakan kepada mereka. Karena kau hendak mengelakkan akibat perbuatanmu yang salah dulu. Dosa besar. Harus." Lalu sekujur tubuhnya melemah lagi. Sekarang kau baru pandai berkata tentang kebenaran Tuhan. "Biarkan mereka berbahagia dalam ketidaktahuannya. "Aku harus memberitahu mereka. alangkah tamaknya kau. Maka ia diam saja. Mesti. "Oh. mesti kukatakan kepada mereka bahwa mereka bersaudara kandung. Sejenak kemudian dengan suaranya yang mendesis parau ia melanjutkan kata-katanya. ada lagi kebenaran yang mesti kita junjung tinggi. Perempuan yang kurus dengan kulitnya yang bagai telah mersik itu. Tapi kemudian ketika ia sadar pada amalan dan ketaatannya pada Tuhan." Tak suatu pun terdengar. Iyah. ia berkata dengan suara yang tegas dan dengan nada yang pasti." "Hm. Ia dengar lagi Iyah berkata. Juga dosa bagi mereka." katanya dengan suaranya yang lesu. walaupun bagaimana benarnya kebenaran yang kaukatakan." "Tak sanggup?" " Aku tak sanggup menghadapi kutukan Tuhan. Dosa bagi kita. Sepi dan sunyi.

mereka pastilah akan bercerai." kata Iyah seterusnya. Ia telah mengambil putusan. pelan-pelan dan dengan suara yang lunak tapi sendu." "Meski akan merobohkan kebahagiaan hidup manusia lain. apalagi kepada anak-anakku? Dosaku takkan kupupus kalau karenanya mereka akan hancur hati dan kehidupannya. Dan ketika itulah kekukuhan bangunan pendirian laki-laki tua itu hancur berderai-derai. Mereka bercerai. Kau lihatlah nanti. "Bahwa adalah dosa besar kalau membiarkan mereka tidak tahu bahwa mereka bersaudara kandung. Betapalah dalam tusukan ejekan itu akan menyakitkan hati. Kurangkah imanku. dan seolah-olah ditujukan pada dirinya sendiri. kalau dosaku adalah dosaku. Tapi aku dari semula sudah salah." "Itu tak soal. Dan sebelum pintu ditutupnya. "Iyah. betapa bahagianya mereka. Kalau mereka kauberi tahu. Tapi kalau mereka tidak beriman. Aku merasakan itu. bahkan manusia lainnya. Dan selama itu pula tanpa disadari laki-laki itu. Kalau mereka mengerti dan beriman seperti kau. Akal kau. Dan anak-anaknya akan jadi apa? Tiga orang bukan sedikit. Dan dosaku itu takkan kubagi-bagikan ke orang lain. kehidupan yang dahulu sudah pemah kaurusakkan. Diambilnya bungkusan kainnya. "Sebentar lagi anak-anakmu akan datang. Dalam hal ini mereka tidak salah. Malah hampir tiga. Karena manusia itu berakal. sebaiknya aku tak kemari. aku ditindih perasaan berdosa sepanjang waktu. Maka ia berkata lagi dengan nada yang merendah sedih. yang akan kalah oleh tusukan yang melalui perasaan kemanusiaannya. Dia kalah sudah. " "Kau murtad. Putusan yang sesuai dengan kepercayaan yang ia junjung bertahun-tahun lamanya. Bahkan kalau hendak memikul dosa-dosalah hidup . hancurlah hati kemudiannya. Kalah oleh perasaan kemanusiaannya yang bertentangan dengan keimanan kepada Tuhannya. berkatalah ia dengan sayu. bahwa mereka bersaudara kandung. Dan aku tak rela kalau Arni akan menelan kepahitan seperti yang kutelan dulu. Tapi aku tahan tindihan itu bertahun-tahun lamanya. Dia kenal manusia seperti bekas suaminya itu. Mereka sudah punya anak dua. Sudah serak dan terputus-putus. Baiknya kalau mereka beriman seperti kau. Katanya. dan harus beriman."Demi menjunjung perintah Tuhan yang kusembah siang malam. Hancurlah kehidupannya. Dia lalu menangis tersedu-sedu. bangunan pendiriannya telah dikorekkorek. Iyah!" "Lebih baik dari orang sepengecut kau!" Dan si laki-laki merasa tak perlu membantah lagi. hanya suatu ucapan pelarian dari ketakutan pada pembalasan atas kesalahanmu. Sampai sekarang. iman kau." Tapi suara Iyah tak tetap lagi. Aku kasip mengetahui hubungan darah mereka. boleh saja. bahwa kepercayaan manusia sukar dilenyapkan dengan perdebatan dan dengan dalil-dalil apapun. " "Omong kosong. Dan selagi aku tidak mengatakan sesuatu. bahwa lawannya tak hendak mundur dari pendiriannya. lalu ia melangkah ke pintu. Iyah juga merasa. " Aku tahu. Tapi kalau tidak? Iyah berbicara lama sekali. Tapi ia tahu juga. Kau sebagai laki-laki tak pernah merasakan pahitnya hidup bercerai dari suami.

Tapi manusia tetap ada dan Tuhan pun ada. Dan jangan kaukatakan pada siapapun tentang kita. Sehingga mereka seperti tambah terbungkuk-bungkuk dan kepalanya sama terangguk pada setiap kaki dilangkahkan. si kurus juga membelok. ayah Masri dan juga ayah Arni." kata si kekar dalam hatinya.nya sama ditinggikan sampai menutup telinga. Ketika mereka sampai di suatu simpang. sebaiknya juga kita manusia ini tak usah ada.kanannya. Tapi mereka tidak melambatkan langkah. Sedangkan tangannya sama membenam jauh ke dalam saku celana. Malam menjadi kian gelap dan lebih dingin hawanya. pasti klenger. Seperti itik jalan sekandang. karena Tuhan itu pengasih dan penyayang. Dan kalau kaya." Perempuan itu mengangguk. Yang satu kekar dan yang lain kurus. Jalan itu lengang seperti kota ditinggalkan penduduk karena ada ancaman bencana. Iyah. tinggal renyai. Dan Iyah tinggal dengan perasaan yang juga pergi dan menghilang jauh meninggalkan pintu yang telah tertutup karena menuruti bekas suaminya. Iyah. Tidak punya perasaan. . "Gila. Keduanya dengan pikiran masing-masing. "Orang bertubuh besar. Hujan yang turun sedari sore. tapi kepalanya tepekur sebagai orang kalah. kekar. Hanya derapan sepatu yang solnya sudah lembab yang meningkahi nyanyian hewan malam. Sekali aku pukul. Dan kaki mereka sering terperosok ke lobang di jalan aspal yang telah lama tidak diperbaiki. Kau tahu apa yang kita lakukan Iyah." jawab si kurus gersang. Dibendung oleh kabut yang biasa turun di kota pegunungan itu. Lalu pintu itu tertutup lambat-lambat. Dan aku telah lama tidak berbuat dosa lagi bagi manusia. Mereka berjalan ke arah timur dengan setengah membungkuk. Yang lain bermantel plastik transparan. Kepala si ke. Kerah mantel. Dosa kepada Tuhan akan dapat ampunan-Nya kalau kita tobat. bangga dengan otot. dua orang lelaki bertemu di jempatan beton dekat simpang tiga depan kantor pos. Nyala lampu jalan yang bergoyang-goyang ditiup angin itu. si kekar bertanya tanpa menoleh: "Kemana kita?" "Terserah kau." kata si kurus dalam hatinya juga. Tapi kalau dosa itu kepada manusia. Aku pergi. sukarlah mendapat penyelesaiannya. Dan laki-laki itu melangkah dengan tenang ke muka. apalagi terhadap manusia yang terdiri dari darah dagingku sendiri. Keduanya sama mendekatkan arloji ke mata.kita ini.kar ditutupi oleh baret abu-abu. Hanya bayangan kedua orang yang terangguk-angguk itu saja yang kelihatan. Jalan itu lebih gelap oleh kerimbunan pohon-pohon di kiri. mengelakkan dingin dan tiupan angin malam. Tak seorangpun yang berbicara. seolah hendak tahu apa mereka tiba tepat waktu. Ketika itu malam belum lama tiba. sombong. dan tentang apa yang kita lakukan ini. Dua Orang Sahabat Seperti sudah dijanjikan. Dia berani. Si kurus oleh topi mantel. Sekarang jalan yang mereka tempuh mendaki. Tapi tidak punya otak. Lalu yang kekar membelok ke kiri. Salah seorang mengenakan mantel hujan. redup cahayanya.

Tiba-tiba pintu rumah di pinggir kiri jalan terbuka. "Sialan. "Karena orang kecil punya otak." Dan perempuan lain di dalam rumah cekikikan ketawa." kata si kekar pula. Hanya cahaya lampu minyak mengintip dari celah dinding anyaman bambu. Katanya dalam hati: "Sama saja watak kalian."Mengapa dia berani? Apa dia punya ilmu? Ilmu apa? Ah. tidak punya moral.buru menepi. Tidak beretika. Tapi tidak selamanya. Si kurus berdiri sambil menatap ke arah jip yang lewat tidak lebih setengah meter darinya. Tapi si kurus tidak peduli. Biar bangkainya tahu. ilmu.taknya." kata si kurus masih dalam hati.bus panjang. sesekali cahaya terang mengilat. ." kata si kurus. Tidak bermoral. kepala perempuan itu lenyap lagi ke balik pintu sambil menggerutu. Bukan mereka. Lalu hilang karena pintu ditutup lagi. Si kekar buru. Rumah. Berani bilang aku sialan. Sesunyi dan sehitam alam hingga ke puncak bukit.hindar.pada kedua laki-laki itu. Kalau orang Indonesia punya ilmu. Masuk ke gelap malam. Cahaya lampu minyak melompat keluar. Laki-laki itu juga memandangnya. Sejarah mengatakannya begitu. Kini mereka melalui jalan yang mendatar sesudah membelok ke kanan lagi. Dia memandang lama ke. Renyai tidak turun lagi." gerutu si kurus. Lalu mereka melintasi jalan lebar yang bersimpang. Dia tidak meng. jangan cobacoba melawan aku. Ketika lelaki itu berjalan terus. bagai mau melepaskan hengahan payah." Rumah-rumah di kedua pinggir jalan itu sudah jarang le. hah?" bentak pengendera jip itu dengan iringan sumpah serapah. Sama tidak punya etika. "Kamu mau mati. "Aku pecah kepalanya sampai otaknya berderai. Bukit itu bagai binatang merayap maha besar dalam kisah prasejarah. Kepala seorang perempuan menjulur. Langkah mereka seperti tertegun ketika mulai melalui jalan yang datar itu. Sedangkan bukit itu terpampang bagai mau merahapi alam kecil di bawahnya. kata Hobbes. Tepat diatas perbatasan alam yang pekat itu. "Homo homini lupus. Tapi dia ini punya ilmu apa?" kata si kekar lagi pada dirinya. tahu?" kata si kekar masih dalam hatinya. Mengerikan nampaknya. sama saja dengan pemilik otot. Napasnya sama menghem. Itu benar. Listrik belum sampai ke sana. tidak akan bisa Belanda lama-lama menjajah negeri ini. Harus cerdik. Kalau aku mau perempuan bukan ke seni aku. Cahaya lampu yang menjilat malam itu pun lenyap bersamanya.rumah itu sunyi dan hitam. "Perempuan pemilik daging sewaan ini. Tiba-tiba sebuah jip militer datang dari arah kanan. "Kurang ajar.

Berkepakan bunyinya menyela desauan angin yang meniup dan nyanyian jengkrik.ngit yang memberikan kilatan.neruskan arahnya.pijaki." kata si kurus masih dalam hatinya." si kekar berkata dalam hatinya lagi. Siang pun belum. Kerikil besar-kecil berserakan menutupnya.laki itu. Berhari-hari kemudian orang akan mencari bau bangkai membusuk ke sini." kata si kurus lagi. Sehingga padang itu menumbuhkan fantasi yang menegakkan bulu roma setiap orang.sar yang mereka tempuh membelok ke kiri." kata si kekar lagi. sudah ke. Karena itu jangan sekali-kali menentang orang kuat. Si kekar seperti mencari-cari sesuatu. Kata Hobbes hanya cocok untuk binatang. Gila benar." kata si kekar. "Mengapa aku mesti ke sini? Seumur-umurku belum pernah aku ke sini. ya. Bukit menghempang di hadapan mereka hilang timbul disela daun pisang itu. Dan memang tak lama kemudian mereka sampai ke suatu padang luas yang membujur di sepanjang kaki bukit di kejauhan itu. La. Keduanya terus melangkah juga. Kalah menang juga takdir. Padang itupun sunyi menerima kedatangan kedua laki. "Huss. dingin dan pekam. Jalan be. Orang-orang tawanan yang akan dibawa ke situ. jangan menindas. ya. sorja Jepang dan tentara revolusi latihan menembak." "Orang kuat. selalu ada sekandang ayam untuk kamu terkam. Boleh kamu tahu rasa.tang. melalui jalan kecil tanpa aspal. Tiba-tiba keduanya sama terkejut. Tapi mereka me. orang kaya. Takut melawan. Langkah mereka sama terhenti. bangkai kamu.Kemudian mereka tiba lagi di sebuah simpang. hormatilah takdir. Berdesauan suara perlandaan badannya dengan dedaunan di semak itu. Masih dalam hati. itu maunya takdir. terinjak terus. "Orang kurus seperti kamu. Apalah daya ayam karena sudah takdirnya begitu. Bangkai itu. sambil dengan hatihati mengawasi sesuatu yang melintas cepat di depan mereka. Jika enggan menghormati kaum jelata. Manusia yang manusia. Kalau mereka tidak mau.jang duluan oleh ketakutan atau cepat-cepat berdoa dengan seribu cara. Dulunya padang itu tempat serdadu Belanda. Kalau kuat. Bikin kaget orang. Akali. jadi ayamlah kamu. Dia lebih memperlambat langkahnya seperti dia merasa sudah sampai ke tempat yang ditujunya. Jangkankan malam. Tapi lebih lambat. Tentera revolusi pun meniru gurunya yang sorja Jepang. sama. Dan padang itu. Nantilah. "Tak kusangka aku ke sini di malam seperti ini. Kalau melawan. Tiada pohon tumbuh disitu. musang. Tapi aku manusia. juga mengintip dicelahnya.ban. "Bagi kamu musang. lehermu patah. aku bawa bedil ke sini. Manusia yang bina. Di sana Jepang juga memenggal nyawa orang yang dituduh pengkhianat. Dekat di kiri kanan jalan meliuk-liuk daun pisang ditiup angin. gunakan otak. Bersikap masa bodoh terhadap . Dan kini padang luas yang sunyi dan menimbulkan fantasi seram itu. sekali tetak. Gemercakan bunyinya di. di malam berenyai. seperti biasa menanti dan menyaksikan orang-orang yang dipenggal lehernya atau ditembak mati tanpa peduli perasaan si kor. lawan takdir itu. Selain belukar menyemak. Kalau tidak mau melawan. Rupanya seekor musang. didatangi oleh dua lelaki.

samamu. Kalau aku dikuhum mati? Bajingan-bajingan akan memburu istriku yang muda. seumur hidup aku kau dilecehkan. "Mestinya dia ini tidak perlu aku bawa ke sini. Habis perkara.rang ngarai yang lebar itu.kali angin meniup agak keras. Lalu kata si kekar dengan suara redup seperti kilat itu: "Tak pernah selama ini aku mengangankan datang kemari ber." kata si kekar. Gegap berde. Keduanya kini tegak berhadapan. seperti dua orang yang mau mengatakan sesuatu yang lama sudah disimpan. Kau tahu mengapa?" Si kurus mengangkat kepalanya. seraya memandang ke arah kepala si kekar. Cahaya kilat memancar juga jauh tinggi dilangit. cantik dan kaya oleh warisanku. Suruh ajar dia ini. hingga daunan kayu bergoyangan menjatuhkan pautan tetesan air padanya.lakukan oleh manusia terhadap sesamanya.kan langkahnya. "Kalau aku dipenjarakan. Tapi aku punya harga diri. "Di sini saja. Seolah-olah berkata: "Hai manusia. akan apa perasaan isteriku.sauan bunyinya. sehingga menumbuhkan fantasi yang menghantu." Cahaya kilat memancar lagi. Aku cari saja preman." kata si kekar menggerutu pada dirinya. "Dia mau menjagal aku. tanpa tenaga menembusi gelap dan kesepian padang itu. Redup. "Sialnya aku lancang mulut mengajaknya berduel malam ini. Polisi akan menangkap aku. seperti tidak menyentuh hati kedua lelaki yang mendatanginya di malam itu. Jauh di balik bukit sebe.segala apa yang di." Tapi arwah manusia yang dibunuh tanpa kerelaan. Bersoraklah lagi dedaunan menggugurkan tetesan sisa air yang bergantungan padanya. Dan sese." Keduanya terdiam ketika angin bertiup rada kencang. Apalagi malam begini. seperti yang dilakukan serdadu-serdadu itu. Kau jadi berani membawa aku ke sini. Sialan". Lalu katanya seraya menghenti. seperti tak bertenaga. "Kalau dia sampai mati aku gampar. ." kata si kurus dalam hatinya. "Maumu 'kan?" Tapi dalam hatinya dia berkata: "Kau tahu kau kekar dan kuat. Nyatanya kita kemari juga. Si kekar mendongakkan kepalanya seraya memandang sekeliling alam di padang itu. Sekali aku kecut. orang akan menanyai aku. silakan kalian saling bunuh. bagai teriakan prajurit yang kemasukan semangat mau mati yang bernyala dan haus darah." Si kurus pun menghentikan langkahnya. Lalu katanya dengan suara yang gersang. Masih menekur juga dia. Sialnya ini orang mau ke sini. Matilah aku.

Aku merasa konyol. Apa hatimu sudah pekat?" "Kau kira apa?" kata si kurus seraya menyurutkan sebelah kakinya selangkah. Tapi si kurus masih tidak menanggapi." kata si kekar. Siapa mau dan tahan diperlakukan begitu terus-menerus?" kata si kurus dalam hatinya juga. Kemudian dengan nada yang tegar dia melanjutkan: "Kalau kau mau ambil dia. Si kurus tak menyahut. Tapi kepalanya tak menekur lagi.bentar-sebentar menggoyangi dedaunan di ujung ranting. Selesai yang kiri. Itulah macam manusianya kamu. Tapi ini bukan soal Nita. siapa kau. "Sekali lagi aku tanya. Tapi ketika dilihatnya si kurus masih terpaku pada tempatnya berdiri.langlah harga diriku. "Mengapa tak kau buka mantelmu? Kau menyesal?" "Apa pedulimu?" .bersabungan. Masih dalam hatinya. Berapa lama itu? Kau ingat? Lebih dua puluh tahun. Namun gelap malam menghalangi penglihatannya. Sejak itu kau berobah. Aku tidak suka dilecehkan. lebih baik tidak menompangnya. dia berkata lagi. di malam sehabis hujan turun. Si kekar membuka mantel hujannya tenang-tenang. Nadanya membanggakan kelebihan. Juga dengan tenang. Aku lamar dia pada orang tuanya. hi. Disam.rena terlalu jauh di langit sebelah barat. "Betul-betul sudah pekat hatimu menantang aku secara jantan?" kata si kekar. Dia masih bersikap seperti tadi.. Karena aku tahu siapa aku. Sambil melangkah digulungnya lengan panjang keme. temanmu. dimana kilat masih sabung.. kamu pikir dapat diperjual-belikan. Aku tidak cemburu." si kekar memulai bicara sebagai awal pembicaraan yang panjang dengan mengingatkan segala apa yang telah diberikannya kepada si kurus selama mereka bersahabat kental. Ini soal harga diri yang selalu kau lecehkan" kata si kurus. lalu yang kanan. "Kau tidak peduli kapalmu rindu pada teluk yang dalam.kannya. "Kau kira aku cemburu kalau Nita kemudian dekat padamu? Tidak.kalau tidak dengan cara begini menyelesaikan persoalan kita. Semua yang berada di bawah kuasamu. Seperti raja-raja dahulu kala. Tinggalkan kota ini.kutkannya pada ranting belukar beberapa langkah dari tem." Dia mencoba meneliti wajah si kurus. Namun dalam hati kecilku aku menyesali kehadiran kita disini..janya. "Sekarang. "Sekali hari kau kenalkan Nita padaku. kita berada disini.. Cahaya kilat tak membantu ka."Kita telah bersahabat sejak SMP." kata si kekar. Tegaknya seperti menantang. Lalu kami kawin.patnya. siapa Nita. ambil. Aku naksir dia. Mana aku tahu Nita pacarmu. di padang yang luas ini. "Kalau kapal suka berobah arah ke mana angin kencang bertiup. Katamu. berdiri tanpa peduli.nya dan melecehkan si kurus dengan kalimat sindiran. ombak yang tenang. Tapi." kata si kekar dengan gaya orang partai yang mencoba menumbuhkan kesan kagum yang diharap. Angin masih se.

" seru si kekar. Si kekar terus juga bicara tentang pe. Dia terus berjalan tanpa mem. "Kencing kau. Si kekar kehilangan nyali. kau mau membunuhku. "Apa itu?" tanyanya. Kini seperti bersorak girang atas kemenangan orang kecil atas keangkuhan orang besar. bagaimana kalau si kekar jadi pemenang. Kau mau. Kau berpisau? Itu curang namanya. Bukan untuk berbunuhbunuhan. buat apa kejantanan? Aku tidak mau berduel dengan orang curang. Si kurus tidak menjawab. Lalu melangkah ke arah mereka datang tadi." jawab si kurus tegas. . Karena kita berhabat karib. Si kurus membalikkan badannya. dia mengikuti dengan langkah panjang-panjang. Dedaunan berdesauan pula. Apalagi dengan kau. Juga tidak pelan.. Tak ada jawab si kurus.tiba dia lihat sesuatu yang berkilat di tangan si kurus. Tiba. Aku tidak mau mati terbunuh oleh sahabat karib."Baik. Tak aku sangka. "Jangan kau salah mengerti. bukan?" Karena si kurus terus tidak berkata." kata si kekar dengan suara lirih. "Tunggu. Sebenarnya aku tidak hendak berkelahi.lambatkan langkah. Terperengah berdiri si kekar beberapa saat." "Maksudku.. "Oh." kata si kekar." kata si kekar seraya menyurutkan kakinya selangkah lagi. di pegangnya tangan si kurus.. Kemudian katanya: "Aku minta maaf sebesar-besar maafmu." kata si kekar sambil menyelesaikan menggulung lengan kemejanya. hanya ingin menyelesaikan persoalan antara kita. "Aku orang terdidik. Lama kemudian si kekar berkata lagi. Tunggu aku. Siap untuk berkelahi.nyesalannya mengajak si kurus ke tempat yang sepi itu. Tidak tergesa-gesa..syarakat. Seketika ada pikiran yang mengganggunya. tapi dengan suara yang kendor.. Tapi apa gunanya menghina orang yang kalah?" kata si kurus dalam hati.ku sendiri. "Pisau. Tapi si kurus merenggutkan tangannnya dari pegangan itu. "Kalau kau main curang." katanya setelah dekat." "Mestinya aku ludahi wajahmu. Kemudian dia kepalkan tinjunya sambil menyurutkan langkah selangkah. Karena si kurus terus menjauh. Terpandang pada mata ma. " Dan angin bertiup lagi. "Pasti seperti pemenang pada perang saudara." carut si kurus untuk menghina. "Kalau aku tahu kau bawa pisau .

30 Agustus 1999 Gundar Sepatu Bagi orang parlente gundar sepatu. dia memanggil nama si kurus keras-keras. Banyak pejabat dan pejuang menyimpan gundar sepatu di kantong atau di ranselnya.gir jalan itu mendesau seketika. Hancur harga diriku. gundar sepatu menjadi lebih penting fungsinya dibandingkan kebutuhan sepatu orang elite. Tidak siapapun terlihat. si kekar berhenti. Didekapnya kedua telapak tangannya di bawah dagunya se. Tanpa merobah letak kedua tangan. Dia memandang berkeliling mencari dimana si kurus berada. "Dali. Bagaimana sepatu bisa mengkilap kalau tidak digundar setiap hari. si kekar berkata lagi: "Apapun yang kau minta akan aku beri. selain gelap malam. Ketika sampai di tempat mereka berpisah tadi. Hancur. Kalau kau mau Nita. Habis aku. Tapi mana ada orang elite keluar masuk hotel dengan sepatu berlumpur? Dalam masa perang gerilya. tempat golongan elite biasa menginap. Akan apa kata Nita.Angin malam terasa bertiup lagi. Katakan apa yang kau mau. ambillah. Si kekar terus menghadang dengan langkah mundur. panggil pelayan hotel untuk membersihkan. Sedangkan matanya terus juga memandang si kurus yang kian menjauh dan kian hilang dalam gelap ma. Sekali pagi terjadi heboh besar." Si kurus keluar dari persembunyiannya di belukar. meski kemana-mana mereka memakai sandal dari ban bekas mobil. Dali. dia berdiri dan menanti si kurus mendekat. kalau dia tahu? Hancur aku. jangan kau ceritakan peristiwa ini kepada siapapun." Si kurus terus melangkah. Karena setiap ke luar rumah. asal kau tidak ceritakan kepada siapapun. Miliknya yang hilang itu ditemukan dalam ransel Letnan Tondeh. Dia berlari mengejar sambil memangil-manggil nama si kurus dan minta si kurus menunggu.lam. setelah suara si kekar tidak terdengar lagi. Tergesagesa dia kembali untuk mengambilnya. lebih cepat dari langkah si kurus. sepatu harus mengkilap. Dia ingat mantelnya tergantung pada ranting belukar. Mencari miliknya yang hilang. Di hotel berbintang. tunggu. Aku ikhlas." Tiba-tiba dia berhenti. Jangan tinggalkan aku. Dedaunan pohon ping. Daliiii. Tak seorang . Bulu romanya merinding. Lalu katanya memelas: "Aku minta sung. Masukkan tangan kedalamnya. Kalau sepatu itu kumal betul. menurut Si Dali. Yang disediakan flanel berbentuk kantong kecil. Dia bersembunyi karena enggan berjalan seiring dengan sahabat lama yang sudah jadi bekas sahabat. Begini ceritanya.perti patung Budha. Sambil berlari kencang.guh. tunggu. Setelah beberapa langkah mendahului. Kayutanam. lalu sekakan ke sepatu. Hancur harga diriku. gundar sepatu memang tidak disediakan. Sersan Bidai merazia semua ransel anggota rombongannya sambil menodongkan pestol rakitan lokal. Tergesa-gesa pula dia mengenakan mantel serta mengancingkannya. penting. Si kekar melangkah cepat.

"Tak lama setelah heboh gundar sepatu itu daerah kedudukan pasukan kami diserbu musuh. Mereka membawa gundar sepatu kemana pun mereka pergi. Bikin malu kamu. Peristiwa itu sampai ke telinga komandan batalyon. setiap matamu tidak bisa tidur. Bagaimana macamnya republik ini bila perwiranya sekonyol kamu?" kata Mayor Segeh kepada Letnan Tondeh. Menurutnya. ya?" kata Mayor Segeh sambil memlototkan matanya." "Kenapa kamu tidak kawin saja?" "Teman-teman sudah ambil semua. Itu merusak martabat perwira namanya. "Buat apa gundar sepatu. Ya. Namun hukuman tetap dijatuhkan. Begitulah. Benarbenar berat. Lebih tidak ada yang menduga kalau letnan itu mencuri gundar sepatu sersan yang anak buahnya. kamu tidak pakai sepatu?" Dan ketika komandan mendengar keterangan letnan itu arti gundar sepatu bagi diri sendiri. setelah desas-desus yang sampai ke telinga Si Dali. "Gundar sepatu saya hilang. Apa benarlah pentingnya gundar sepatu. kata mayor itu: "Jadi? Setiap malam. banyak gundar sepatu dipesan ke kota oleh orang-orang di daerah gerilya itu. seorang sersan menodongkan pestol kepada seorang letnan itu merupakan pelanggaran berat. Bagaimana mungkin kita bisa menang perang kalau perwira sudah sampai mau mencuri milik anak buah sendiri. karena selama perang mayor itu sudah punya dua bini. si Mayor tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya berderai. "Jangan menyindir. Kami sempat menyingkir ke hutan. Beruntunglah tak seorang pun yang . seorang perwira yang kemana-mana memakai sandal dari ban bekas mobil. Malah ada yang ambil dua. sampai mau mencuri gundar sepatu anak buahnya sendiri." kata letnan itu. Mayor. Bahkan tidak ada yang tidak heran. memanggil Letnan Tondeh. toh. Tapi di daerah gerilya mana ada rumah tahanan provos. setelah ujung ketawanya mereda. Pangkatnya diturunkan jadi kopral. Begitu?" "Ya." jawab Letnan Tondeh. "Mencuri gundar sepatu lagi. setelah peristiwa itu. Pestolnya dilucuti. Si sersan ditangkap. Mendengar laporan bahwa seorang letnan sampai mau mencuri gundar sepatu anak buahnya sendiri. Nyalinya pun copot. Menurut desas-desus. Tidak masuk pada akalnya. kalau sersan itu sampai kalap hingga menodongkan pestol karena hilangnya sebuah gundar sepatu saja. Saya perlu gantinya. dia mengaku sangat marah karena gundar sepatunya dicuri. Mayor Segeh yang komandan batalyon. Dalam pemeriksaan. Kemudian.pun menyangka yang mencuri seorang letnan. kamu elus bulu gundar sepatu itu dengan ujung jarimu. lalu Si Dali bercerita.

jabatannya itu penting. "Ada apa. Meski presiden negara itu ditawan. yang muda sampai yang putik. . Penduduk menamakannya taratak. Terkapar seperti petinju kena K. dalam pikiran mereka. Makanya aku anggap fungsinya tidak lebih penting dari gundar sepatu bagi prajurit yang terpisah dengan istri demi memelihara moril gerilyanya. tugas Maruhum tidak jelas. Namun sekali waktu Maruhum berkata padaku. tanpa gundar sepatu pun orang bisa memenuhi kebutuhan biologisnya di hutan rimba sekalipun. Suatu bangsa yang cuma punya berdivisi-divisi tentera saja. pada menggeleng kepala sambil melirikkan mata ke arah Maruhum. Di sekitar itu berpencar banyak teratak lagi. Pecah dan peot. suatu negara baru sah keberadaannya. Ujungnya aku congkel-congkelkan ke tanah sambil mencari bahan bicara. Semua benda bertebaran di tanah. bila ada wilayahnya.O. Bungkuk merukuk-rukuk mencari dan memungut sisa benda milik mereka yang masih utuh atau yang masih bisa dipakai. Termangu seperti orang yang kepalanya hampa. Akupun menggelengkan kepala. ada rakyatnya. "Tidak apa-apa. Dagu Maruhum bertopang pada kedua lututnya. dan yang orang sipil berpencar-pencar. betapun kuatnya. dirontokan musuh yang menyerbu seperti badai." kata Maruhum dengan lesu setelah menarik nafas panjang dan kemudian melepaskannya. Suatu pemerintahan yang sah. Setangkai ranting aku pungut. Selain menghadiri rapat bila ada panggilan Gubernur Militer atau Bupati Militer. menurut Pak Rasjid. yang dimasa perang gerilya itu diangkat jadi Wedana Militer adalah salah seorang penghuni taratak. Melainkan karena aku ingat betapa pentingnya arti gundar sepatu oleh Sersan Bidai sehingga dia sampai berani menodongkan pestol pada Letnan Tondeh. Maruhum. Sesuai menurut hukum internasional. Apalagi kalau bukan gundar sepatu. Kesanku juga begitu. Semua orang. disamping pondok-pondok dari ilalang yang bertebaran yang kami buat. Boleh jadi juga hatinya tengah melolong atau tersedu. Maruhum risau oleh kehilangan benda yang paling disayangi. yang menjadi tempat tumpangan para pimpinan gerilyawan militer atau sipil. Seluruh buah pohon itu. tapi masih ada pimpinan pemerintahan seperti Sjafruddin Prawiranegara. Paling-paling akan dianggap sebagai gerombolan saja. Itulah fungsi Wedana Militer. demi melihat aku tiba. Waktu aku tiba dia duduk di bawah naungan pohon nangka. tidaklah akan diakui internasional sebagai negara. seorang camat. Gubernur Militer. aku kembali ke pangkalan dengan tertatih-tatih. Bung Wed?" tanyaku akhirnya dengan menyingkatkan sebutan Wedana sebagaimana lazimnya orang seusia masa itu." Aku mendekati Maruhum. Semua orang yang berseragam hijau utuh atau bukan. mesti ada organisasi dan stafnya. Taratak kami porak poranda. sebagai Wedana Militer. Yang bernama pangkalan kami terdiri hanya enam rumah kayu kecilkecil.terbunuh. Aku pun duduk bersandar ke pohon nangka itu. Menurutku. Seperti mereka merasa tahu apa yang dirisaukan Maruhum. Setelah musuh kembali waktu sore. ada pemerintahannya. Dalam pikiranku. Tapi bukan karena Maruhum yang risau oleh kehilangan benda yang sesungguhnya tidak akan memenangkan perang masa itu. Menurutku.

Gubernur jadi menteri. yang Wedana ini akan bekerja di kantor. Bung?" akhirnya Maruhum bertanya. Apakah rakyat yang sudah merasakan nikmat merdeka." kataku asal bicara. mereka hanya mau berunding dengan kedua pemimpin yang ditawan itu. jika Belanda itu kembali ke sini tidak membawa bedil dan meriam. tidak lain dari usaha mereka untuk memaksa kita ke meja perundingan. "Menurut Gubernur Militer. "Para prajurit naik pangkat. Dia melanjutkan. toh. Lalu. Bayang-bayang pohon nanka sudah tak kelihatan lagi. dia termasuk yang beruntung karena adanya perang ini. Tapi Maruhum berpendapat lain. Bagaimanapun besarnya pengorbanan kita sudah jadi bangsa yang merdeka. Perang mungkin sudah selesai. Imam Bonjol. Dagunya kembali diletakkan ke lututnya. Taroklah dia sudah menguasai seluruh negeri ini. Tidak dengan Sjafruddin. tentera pelajar ke sekolah tinggi dengan cuma-cuma. Tak tahu aku apa tugasku. Aku sendiri. Serangan Belanda ini. "Bila perang ini selesai. pejuang yang sudah biasa bertempur. Aku kehilangan banyak. Belanda tahu mereka tidak akan menang dalam perang ini. Aku kembali mencari-cari bahan pertanyaan lain. Paling- . Lama juga saat berlalu. Pemimpin kita di bui. Demi menghindarkan kehilangan mukanya. dengan perundingan atau bukan akan banyak persoalan timbul. Dia merasa kehilangan. melainkan membawa salam dan senyuman. semua pangkat dan jabatan tinggi itu tidak akan sebanyak ini bertebaran. "Bisa jadi. Seperti tidak memerlukan tanggapan. Itu pikiranku. adil dan sejahtera. Dengan kemerdekaan itu bangsa ini akan membangun diri agar bisa menikmati hidup yang lebih baik. Pak Rasjid. Lebih rumit dari peperangan ini. Karena cobalah pikirkan. Kita kalah." kata Maruhum setelah lama dia terdiam. Mereka tangkap Bung Karno dan Bung Hatta. tapi permusuhan akan terus berlangsung. kan?" Maruhum berbicara dengan suaranya yang letih. bukan? Ingat sejarah Diponegoro. Dia tidak sepatutnya bersikap skeptis. Berunding dengan orang yang ditawan lebih gampang menekannya. Menurutku." "Semua orang bicara begitu. Mengapa?" "Belanda ini bandel betul. Begitu. sudah tidak ada lagi. Politisi jadi anggota perlemen. Belanda berunding setelah mereka itu ditawan. Orang-orang mencari miliknya pada puing-puing rumah yang dirobohkan musuh itu. Kehilangan apa. yang padahal pangkatnya sudah setinggi itu? Wedana. "Apa perang ini masih akan lama. yang aku serap dari pidato para pemimpin. "Umpamanya?" Mulut Maruhum terkatup. akan diam-diam saja dibawah penjajahan Belanda itu nanti? Tidak. Sudah hampir sama gelapnya dengan senja yang kian larut."Ada yang hilang?" Pertanyaan itu tidak berjawab." katanya setelah lama kami sama-sama terdiam.

Seperti banyak orang lain sebelum APRI menyerbu. marah sekali sampai bercarut-carut. juga oleh masalah modal. aku tanyai dia. dia sudah punya dua anak. Dan perempuan itu. Demikian Mayor Segeh. Minta dikirimi gundar sepatu. ialah karena perasaan malu pada diri sendiri bila tidak solider. Dari seorang berayah pemilik warung. "Kepada Si One. Demikian pula Letnan Tondeh. Dan selama di kampung dia tidak bekerja apapun. Alasan orang tuanya di kampung. Ketika aku ketemu Si One. Dia belajar untuk jadi orang tahu tentang berbagai ilmu. perempuan pedagang yang keluar masuk kota itu aku titip surat untuk istriku. perempuan yang pedagang keluar masuk kota itu. . Menunggu perobahan kondisi dan situasi yang akan dapat mengangkat martabat dirinya. "Hah?" sergahku karena tidak tahu apa hubungannya. Kalau Otang pulang kampung juga. Juga bukan pegawai negeri. Karena itu dia menetap saja di Jakarta. Namun segera saja dia setuju demi ketemu calon istri yang secantik bintang film Titien Sumarni. ya akal. 17 Juni 1997 Inyik Lunak Si Tukang Canang Pada masa PRRI.paling Maruhum hanya akan jadi klerk sebagaimana yang diceritakannya kepadaku. Kayutanam. Sebagaimana orang desa yang biasanya polos. Ketika kembali ke kampung karena ikut PRRI. betapa dia tidak akan solider. Dalam hatiku. Kata istriku dalam surat balasannya: "Gundar sepatu kamu sudah tiada. Namun Maruhum merasa kehilangan pada akhir perang kemerdekaan ini. lalu tidak mau pulang lagi. kalau tidak senjata." Bung tahu apa yang dia kirim?" Tanpa menunggu jawabanku Maruhum berkata dengan suara yang parau: "Pasti dia punya gendak. Otang seorang gembong. perempuan mana yang tidak sakit hati. Karena semenjak sekolah di kampung sampai ke Amerika pun dia tidak belajar untuk bekerja. Tapi pengetahuan peternakannya itu tidak bisa dipraktikkan di kampungnya. Memang tidak ada yang bisa dikerjakannya. Kenapa? "Aku kehilangan gara-gara gundar sepatu. Apalagi dengan gundar sepatu. karena solider pada Pak Natsir. katanya. Minimal akal-akalan. Katanya. Untuk pengganti aku kirim yang lain. teman Si Dali." katanya pula setelah lama kami sama-sama terdiam. Dalam masa perang ilmu tidak berguna. tokoh idolanya. Pada mulanya Otang keberatan. Bahkan lebih daripada solider itu. bila diduai. agar Otang tidak kecantol pada gadis di sana. dia ceritakan fungsi gundar sepatu di daerah gerilya pada istri Maruhum. hanyalah karena alasan khusus. yang mengirimnya magang di peternakan Amerika di Florida selama setahun. Katanya. Yang diperlukan. Otang. Otang menikah sebelum dia ke Amerika. Lalu dikiriminya aku gundar kamar mandi usang dari ijuk yang kasar". lalu berkesempatan melihat Amerika yang serba wah seperti yang diangankannya ketika nonton film-filmnya. Bedanya hanya tanpa tahi lalat di bibir atas. Selain hambatan sosial budaya. pulang kampung.

Kalau lagi nongkrong di lepau Mak Mango di sudut pasar. Gotong-royong hampir setiap hari itu sangat menjengkelkan Otang. Yang jadi komandan APRI di kecamatan itu berjabatan Bintara Urusan Teritorial. Pada mulanya memang begitu. Bahkan Otang kian mual pada Inyik Lunak setelah tahu. Tapi ketika Inyik Lunah si tukang canang membisikkan agar Atun diantar ke kota. dia batal masuk lepau itu. dia selalu melengos ke arah lain. Buter Talib mampir ke rumah Atun. Akhirnya. melainkan karena istrinya cantik. Bedegab. Sebaliknya jika Inyik Lunak sudah lebih dulu nongkrong. Maka tiba pulalah masanya Otang harus bekerja memegang pacul.Tibalah masanya kampung Otang diduduki APRI. Di kala gotong-royong semua lakki-laki berbaur. Orangnya berbobot besar. Apalagi Atun. Awal-awalnya Otang tidak tahu apa yang terjadi. Dia pun mengomeli ibu mertuanya yang bersekongkol. Suaranya bariton. "Mau apa kita? Bilang apa kita?" itulah kata-kata yang keluar dari mulut penduduk negeri yang ditaklukan itu. Yaitu bergotong-royong massal dan ronda malam di kecamatan. Talib namanya. Bersama salah seorang kopralnya dia masuk kampung keluar kampung menzinai istri-istri orang-orang PRRI yang terus bertahan di pedalaman. . Sengsara bukan karena bersimpati kepada PRRI. Bukan karena kehilangan waktu untuk bekerja. dia buru-buru pergi. Atun yang semula jadi istri dibanggakan. kecutlah semua orang. apa haji. Pembantu Ispektur Polisi Hartono meniduri kedua anak gadis Sudira. Juga semua orang. Namun perintah gotong-royong datang hampir saban hari. Jika berteriak. sambil memalu canang yang berbunyi cer cer cer. apa petani. tidak dapat dijadikan alasan istirahat dari bergotong-royong. lalu Inyik Lunak datang. apa yang dilakukan Buter Talib ketika semua laki-laki bergotong-royong. Setiap berpapasan dengan Inyik Lunak di jalan. Berpacu bunyi pacul pada batu untuk mengeluarkan rumput. Apa orang tua. Kopral Jono juga berbuat yang sama. apalagi orang semacam Otang. dia harus membayar mahal seperti orang taklukan yang lain. Lama-lama Buter Talib jarang mengawasi gotong-royong. Malah Buter Talib konon pernah menginap ketika giliran Otang ronda malam. meski tidak ikut perang. juga merasa sengaja dihina sebagai orang taklukan. Sengsara jugalah jadinya Otang. Oleh APRI disebut dibebaskan. dia mulai membauni kasus yang sebenarnya. kini menjadi ranjau darat yang membelahbelah jantungnya. cuma karena rasa simpati saja. Pada waktu penduduk diperintah gotong-rotong. melepuhlah telapak tangannya. Melalui seruan Inyik Lunak dari ujung ke ujung kampung. Dan suara Inyik Lunak itu pun serak seperti selaput suaranya juga pecah. lama-lama berakibat pada ketidak-sukaan Otang pada Inyik Lunak. Wajah keruh kedua perempuan itu setiap Otang pulang dari bergotong-royong tidaklah difahami Otang. apa guru. Karena pada paro bahagian canang itu sudah pecah. kata penduduk. Otang mencak-mencak. Bagi Otang sekali mengayunkan pacul. Sersan Mayor pangkatnya. apa datuk. Telapak tangan melepuh. Mertuanya tidak memberi tahu. Camat Basri yang orang kampung itu sendiri pun sama dengan yang lain dan yang lainnya lagi. Sehingga setiap mendengar bunyi cer cer cer dari canang yang dipukul dan diiringi suara pecah Inyik Lunak. Sipir Penjara. Atun dicaci-maki karena tidak melawan perkosaan itu. kronimnya Buter.

Otang tidak terhibur." Tak ada gunanya melawan orang yang sedang menang perang. Otang. Risiko buruk bagi yang kalah perang. Dan ketika Bupati Kasdut kembali ke kota kabupaten. Dia marah pada Buter Talib. *** . Otang menemuinya. Maka ketika Bupati Kasdut. Karena dia tidak pernah belajar jadi jantan. Pertama dia pulang kampung karena alasan solider pada Pak Natsir." kata Bupati Kasdut yang kapten itu. tiga bulan saja PRRI sudah habis. sejak dari sekolah sampai ke Florida sana. datang inspeksi ke kecamatan." "Menegakkan kebijaksanaan dengan cara yang ganas itu apa APRI dapat menjadi pahlawan yang dicintai rakyat?" "Sampai saat ini kebijaksanaan komando tidak akan berobah. Otang minta ikut. pasti dia akan menembak APRI semacam Buter Talib itu. Menyesal dia tidak ikut memanggul senjata melawan APRI. Karena PRRI tidak akan menyerah kepada musuhnya yang ganas. teman sekolahnya dulu yang kapten pangkat militernya." kata Kapten Kasdut yang Bupati itu. supaya Si Talib yang berkuasa itu kau hajar?" kata ibu mertuanya setelah gelegak darah Otang mulai mereda. cobalah kau tempatkan dirimu sebagai si Atun. walaupun bertahun-tahun di hutan rimba. Kedua karena Atun begitu cantiknya. adalah salah perhitungan yang paling disesalinya. memperkosa istri-istri orang. Tapi nyalinya hilang demi melihat semua orang berbaju hijau.. Dan semenjak itu seisi kampung tidak ada yang tahu kemana dan dimana Otang. Tentera orang awak pun sama ganasnya ketika melakukan operasi militer ke daerah lain. bahwa dia bukan laki-laki yang jantan. Setumpuk sesal menghimpit dirinya. merampok.."Otang. atau sebagai aku sendiri ketika bencana itu tiba. "Kalaucara APRI datang membebaskan daerah ini menjunjung rasa kemanusiaan berbangsa. "Dengan bangsa sendiri mesti berlaku ganas?" "Itu kebijaksanaan komando agar rakyat di daerah mana pun tidak lagi berkhayal untuk berontak. Juga benci dan jijik. Marah sekali. Otang lalu ingat slogan masa itu: "Jika takut pada bedil. Kalau dia jadi tentera PRRI. Apa mungkin kami melawan? Apa mestinya kami mengadu padamu.. Diceritakannya perilaku tentera pada penduduk. Dua hal yang tidak mampu dia sesali..." "Itu dunia tentera. Tapi karena tentera bersikap ganas. perang akan lama. Tapi membawa isteri dan anaknya pulang kampung karena yakin PRRI akan menang perangnya. Dia hanya mendengar dan menerima apa kata guru dan kata buku. lari ke pangkalnya. Dia sadar. seperti Buter Talib lebih-lebih.

Kalau tidak membaca. Membersih-bersih.Dua puluh lima tahun kemudian. Sudah jauh beda gaya Otang. Meski oleh kerabat Atun. yang semuanya adalah dunsanak atau orang kampung seasal. Dugaan Si Dali jadi miring. Tenang. Kata orang. Kota itu diharapkannya mampu melupakan masa lalu. Ada rasa mual mau muntah dalam perutnya. Si Dali ketemu Otang di Jakarta. Kemudian menyerahkan Atun kepada Buter pengganti dan penggantinya lagi. Sekali keluar dari isolasi. Nyatanya kota itu lebih menaburkan racun masa lalunya. keluar dari daerah peperangan. gelar itu disebut gadang menyimpang. Otang ke Jakarta membawa segala luka dan perih di hati. Di kepalanya bertengger kopiah beluderu hitam yang apik letaknya. yang memerlukan sahabat dan kenalan tempat berkisah menghabiskan waktu. Dia diterima dengan tangan dan hati terbuka. membenahi kerusakan kecil. Disepakati oleh seluruh kaum di kampung dan dirantau lebih dulu. Tidak lazim menurut adat. Dia pun tidak. Si Dali panasaran kenapa Otang lebih suka berbaur dengan nenek itu daripada dengan sahabat lama yang dua puluh lima tahun tidak ketemu. "Kalau aku. Otang mengerjakan apa saja yang bisa dilakukannya di rumah itu. Terutama melihat orang-orang berbaju hijau seragam yang menggandeng perempuan. Otang dapat mengisi tuntutan kebutuhan . Hampir setiap hari dia berkunjung dari satu rumah ke rumah lain. Dia di ruang belakang dengan ibu mertua Kasdut yang berusia hampir delapan puluh tahun. aku dapat gelar yang sah menurut adat. Kalau pun dia keluar rumah." kata Kasdut yang ketika sebelum pensiun telah ditabalkan pula jadi Datuk oleh kaumnya di kampung. Terlihat alim. Akhirnya dia mengurung diri di rumah iparnya tempat dia menumpang." lanjutnya kemudian. Datuk Rajo Di Koto nama gelarnya. Katanya lagi seolah-olah tidak begitu penting: "Ibu mertuaku membawanya jadi muhrim. Model Haji Agus Salim. Koran atau majalah dihindarinya. Tapi itu cerita lama. Apa dia masih dendam setelah Buter Talib dan teman-temannya membayar dosa-dosanya setelah pemberontakan komunis dikalahkan? "Dia sudah dua kali ke Mekkah. menurut Nawar. tidak lebih jauh dari pagar halaman. Akhirnya dia keluar juga dari persembunyiannya karena harus ikut menghadiri pemakaman seorang kemenakannya. Dia memelihara jenggot." kata Kasdut selagi Si Dali merenung. Luka karena Buter Talib meniduri Atun. Putih warnanya. Isi buku itu pun tidak untuk direnungkan. karena mau menghindar dari luka lama masa perang PRRI. Mungkin dia tidak suka ketemu Si Dali. Terutama oleh orangorang tua yang telah kehilangan kesibukan. hampir berterusan dia jarang di rumah di siang hari. Dari siapa lagi. bukan?" Sejak berangkat dari kampung. Lunak. "Dia sudah jadi penghulu sekarang. Gaya bicaranya lembut. Tapi dia tidak bergabung dengan Si Dali di ruang tengah. Datuk Raja Kuasa gelarnya. Duitnya tentu saja dari aku. Si Dali tidak lupa padanya. Urusan kaum itulah itu. Di rumah Kasdut yang sudah pensiun dengan pangkat kolonel. karena buku-buku itu tidak bicara tentang konflik yang melukai. Untuk membunuh sepi dia membaca buku-buku agama. Dipilih dan ditabalkan oleh kaumnya yang merantau di sini. yang nampak oleh matanya tidak lain dari orang-orang seperti Buter Talib yang menggandeng Atun. Gelar yang pantas bagi seorang kolonel yang pernah jadi Bupati. Karena dia tidak suka membebankan pikirannya.

Dokter itu berkata: "Engku Otang. Kadang-kadang dia katakan betapa sulitnya dia dapat bus atau oplet. Yakni oleh karena ada kesibukan baru.orang-orang seperti itu. Pekerjaan apa yang dapat dilakukannya dalam umur yang sudah separo baya itu? Bekerja di kantor? Kantor apa yang mau menerimanya. sebetulnya sama dengan yang aku lakukan sebagai dokter mengunjungi pasyen. Padahal dia tetap memakai kenderaan umum. "Percuma saja Uda belajar di Amerika dulu. Meski menurut kata mertuanya ketika melamarnya. Lama kemudian baru dia paham setelah berdiskusi dengan istrinya. Yang pegawai suka pada berita kenaikan pangkat orang-orang dikenal mereka. Otang tidak perlu memberi belanja pada istrinya. Namun istrinya lagi yang memberi gagasan. Pada perempuan tua yang suka bicara agama. Namun Otang adalah seorang laki-laki yang ingin istrinya berarti. . Otang tidak mencari berita-berita itu. Pagi dia sudah keluar rumah. Lalu ketika akan pergi diselipkan selembar uang ke sakunya diiringi ucapan: "Sekedar sewa oplet. Sama dengan kerinduan orang pada loper koran. Alasannya Otang sederhana saja. Karena itu dia perlu sumber nafkah." Tapi bagaimana caranya minta bayaran kepada kenalan dan orang-orang sekampungnya itu? Rikuh rasanya. "Kenapa tidak pakai taksi saja. Semua orang-orang tua yang dikunjunginya secara rutin itu pun bingung. Biasanya dia memanggil Otang menurut gaya lama: Engku Otang. Maklum dia sudah beristri dan bertanggung-jawab kepada rumahtangganya. Seorang janda dari salah satu keluarga yang secara rutin dia kunjungi. Lamalama Otang seperti sosok yang dirindukan. Misalnya kisah Nabi Musa masa kecil yang dihanyutkan ibunya di Sungai Nil. Laki-laki lebih menyukai berita situasi di kampung atau reputasi orang-orang sekampung mereka. Menurutnya berkunjung ke rumah-rumah orang itu bukan suatu profesi yang bersifat komersial seperti dokter." Sejak itu kunjungan-kunjungan rutin ke rumah-rumah mereka itu dia kacaukan jadwalnya." kata mereka pada umumnya. Terpandang tinggi melampau Atun yang secantik bintang film itu. Otang tahu sekali kisah yang mereka sukai. Pekerjaan yang menghasilkan uang. Namun dia mengangguk juga. sejak itu Otang mendapat biaya taksi. Kemudian ada seorang dokter tua yang tidak lagi praktek karena usia. Waktunya sehari-hari lebih banyak habis mencari kemungkinan mendapat pekerjaan yang sesuai dan pantas. Paham?" Sebenarnya Otang tidak paham. Lama-lama jadilah Otang sebagai sumber berita otentik. baik hari maupun jamnya. Mereka bingung karena Otang tidak lagi datang. Berdagang? Dagang apa? Apa dia bisa? Modalnya mana? Otang bingung. menjelang malam baru dia pulang. Lama-lama Otang mendapat jodoh juga. Jangan hanya dikasi makan atau minum setiap berkunjung. Mestinya dia dibayar pada setiap kunjungan ke rumah-rumah itu. Tentu saja dia disambut dengan rasa cemas dan sedikit omelan manja. Nah. Atau kisah Zulaika yang tergila-gila pada Nabi Yusuf. lalu terdampar dekat istana Firaun. Lama-lama dia tahu betul apa yang diperlukan mereka. Perempuan-perempuan menyukai berita sekitar perjodohan dan kematian orang-orang seasal di kampung maupun dirantau. Berita itu dia pungut dari orang-orang yang ditandanginya. Engku. apa yang Engku lakukan. Bagaimanapun suatu rumahtangga memerlukan biaya. Dia pun tahu berita yang disukai oleh masing-masing mereka dan masing-masing golongan.

di samping memberi biaya taksi. Bahkan yen. Tujuh hari dalam seminggu. Berulang-ulang membacanya." Lumayan banyak. Otang membuka matanya ketika Si Dali memanggil namanya dekat ke telinganya. Pembawa berita suka dan duka keliling kampung sambil memukul canang yang khas bunyinya karena telah pecah sebagian. perempuan-perempuan itu mengganti dengan berlipat ganda harganya. pejabat tinggi. Pada setiapnya ada kartu nama. Kena stroke dan komplikasi lainnya." ulas yang lainnya lagi. yang dibelinya di kaki lima simpang Kramat. Trenyuh juga hati Si Dali. kian dekat kita kepada redha-Nya. Dia coba tetap tersenyum untuk meyakinkan Otang bahwa sakitnya tidak gawat. Suara pelan pelayat yang duduk di sice terdengar nyata ke telinga Si Dali." "Tapi Inyik Lunak dengan canangnya cuma menyampaikan berita buruk saja. Ada dollar. Karena ingin tahu. Di rumah sakit dia dirawat di bangsal. Oleh orang-orang kaya seperti itulah Otang sampai bisa dua kali ke Mekkah. "Tak obahnya seperti Inyik Lunak di kampung kita. Ada tulisan Arabnya. banyak kenalannya yang menjamin biayanya. Hampir sebanyak ONH Plus. Kartu nama pada karangan bunga di gang itu pun dia baca. pengusaha klas kakap." kata Otang. Namun dia tidak menampakkan betapa perasaannya." kata yang lainnya lagi. Otang kecipratan rezeki yang bernama zakat banyak. Sekali dua bulan untuk golongan lain. kata dokter. Kalau ada kasus yang aktual. Taklah lupa pula dia membacakan sebagian isinya. *** Otang jatuh sakit." kata yang seorang. rata-rata yang dapat dikunjunginya tiga empat rumah dalam sehari. Sekali dia pergi bersama istrinya. Setelah semalam dia dipindahkan ke ruang VIP Karena ada . Mungkin juga ke telinga Otang. banyak karangan bunga pada berjajar di gang arah kamar Otang dirawat. Seperti banyak yang akan dikatakannya. Adakalanya dibawanya buku agama untuk perempuan-perempuan itu. Si Dali membacai kartu nama itu. Di kamarnya yang luas pun puluhan keranjang hias buah-buahan. Tentu saja ketika akan pulang. Oleh karena perantau seasal kampungnya banyak di Jakarta. Uni. Masingmasing dikunjunginya sekali sebulan untuk orang-orang kaya atau pejabat. . Lama juga Si Dali meremas lembut lengan Otang yang tidak dipasangi alat infus. Ada Latinnya. Ada nama profesor yang top. Tentu saja ada rupiah. Ada real. Tak obahnya seperti seorang dai yang handal. Sampai Otang memicingkan mata seperti mau tidur. Waktu Si Dali melayat. Lama dia menatap Si Dali dengan pandangan yang sayu. Otang tak lupa mengkajinya dengan menyitir Al-Quran atau Hadist Nabi. "Buku ini bagus. Dan semua dengan iringan basa-basi: "Sekedar pembeli korma. Semua orang memberinya uang.Atau kisah kesetiaan Khadijah pada Nabi Muhammad dan sebaliknya. staf ahli menteri dan juga nama Kasdut. "Engku Datuk ini manusia langka. "Beliau seperti perangkat komunikaai hidup. Takkan ada penggantinya kalau beliau tak kunjung sembuh. Pada hari seperti menjelang Idul Fitri atau setiap pedagang atau pengusaha selesai tutup buku tahunan.

Memandang dengan rasa cemas. Baik karena darah turunan. Artinya. kok bisa mengalahkan Belanda tanpa perang. Itu malah lebih baik. yang memerintah secara totaliter. bisa mengalahkan militer Belanda yang perwiranya pada mentereng. Namun perasaan Marah Ahmad tercabik-cabik ketika menghadapi peristiwa yang terjadi pada awal kedatangan tentera Jepang itu. Bingung karena tidak tahu mau melakukan apa. tak apalah. dia menjadi golongan angku-angku yang dihormati. Risau yang berat. Pada mulanya dia heran. Dan semua orang serta merta berdiri di sekiling ranjang Otang. Tak lama kemudian dokter tiba. Pikirannya tertumpah pada kondisi Otang yang tibatiba gawat. Kalau tidak. apalagi menyamakan dirinya. gamang juga dia menghadapi pemerintahan militer yang fasis itu. Semua pelayat disuruh keluar. Demikian juga kaki Otang seperti hendak menerjang-nerjang. apakah dia mampu? Dia yakin. bahwa tentera yang pendek-pendek dengan baju berwarna oker seperti warna tanah yang kelihatan kumal dan tidak rapi pula. namun dia mengerti kalau seluruh penduduk mengelu-elukan Jepang. Maka mentalnya Marah Ahmad tidak siap menghadapi perobahan yang akan terjadi. "Panggil dokter. Ketika ukuran dan nilai kekhianatan tidak lagi jelas.Tiba-tiba Si Dali merasakan getaran kuat pada lengan Otang yang dipegangnya. Dari bacaan dia tahu kerajaan Jepang dikuasai oleh militer yang fasis. Kayutanam. membangkitkan luka masa lalunya. Tapi mengapa Belanda bisa sampai ratusan tahun menjajah kita?" Meski dia berduka oleh kehilangan atasannya yang Belanda. Bahkan hampir tidak percaya. baik karena pendidikan dan pergaulan. Dia tidak tahu. maupun karena pangkatnya sebagai pegawai pribumi yang tinggi di Balai Kota. yah. Artinya. kekuasaannya tidak tersentuh. setelah menikah dia mendapat gelar warisan seperti ayahnya juga. Ketika negara memandangnya sebagai pengkhianat bangsa. Dia teringat ucapan Chatib Jarin: "Jepang yang seperti monyet ini. Apa Otang merasa tersinggung karena mendengar katakata salah seorang pelayat. kerisauan hati menimpanya. Pikirannya menjalan kemana-mana dalam mencari sebab-sebab Otang yang secara tiba-tiba gawat itu. apakah dia akan diterima terus bekerja oleh Jepang itu atau tidak. Kalau dimestikan bekerja terus. Ketika istri dan mertuanya sama mengkhianatinya. tidak. Masa lalu ketika perang berkancah di kampung halamannya. Marah." kata Si Dali seperti berteriak. hukum negara tidak berlaku terhadap mereka. Mereka menanti di ruang tunggu khusus pelayat dengan perasaan masing-masing. Maka nama lengkapnya menjadi Marah Ahmad. 5 Desember 1997 Marah Yang Marasai Karena berdarah turunan bangsawan asal Padang. Artinya. Sebagai pegawai negeri yang telah bertahun-tahun mengabdi kepada sistem hukum berdasar undang-undang yang berlaku. Si Dali duduk pada kursi fiber. Ketika tahu Belanda akan kalah perangnya melawan Jepang. halal bagi mereka berbuat apa saja terhadap rakyat. yang dipandang sebagai sang pembebas . yang menyamakannya dengan Inyik Lunak di tukang canang dengan canangnya yang pecah? Si Dali yakin menyebut nama Inyik Lunak dekat Otang.

"Di zaman Nabi Muhammad. dia pikir bahwa perang Cina lawan Jepang di Tiongkok telah menular ke kota Padang. maupun malam. "Biadab. Biadab semua. Dan kata pemimpin itu kepada penduduk: "Kasi lihat pada Jepang itu. Hubungan dia dengan Belanda hanya di kantor. alasan murahan. *** Hari berikutnya." Maka situasi memang aman. Marah Ahmad bercarut-marut: "Kemarinkemarin aman. "Karena Cina itu kafir. Anak-anak pun ikut merampoki barang-barang yang barangkali mereka tidak tahu gunanya. Anak-anak kecil saja yang suka berteriak "Banzai Nippon" bila mereka berpapasan." kata Chatib Jarin." "Kafir disana. Ada yang memboyong peralatan makan atau dapur atau rumah tangga. hingar-bingar terjadi di Kampung Cina. Baik siang. Tidak sama dengan kita. Penduduk desa dari tepi kota pun datang. di luar itu jembatan penghubungnya putus. Kimin. ." sungut Marah Ahmad. karena Jepang berperang dengan mereka? Apa hubungannya?" omelannya kepada Chatib Jarin ketika mereka ketemu pula. Orang yang lewat dari arah kiri bertangan kosong. Militer Jepang betul-betul tidak diperlukan. Ada yang memikul segulung kain. diperlakukan rakyat sebagai tamu asing biasa saja. Disini Cina. lebih banyak toko Cina yang dijarahi." "Ah." kata Marah Ahmad dengan suara yang menggema ke seluruh ruang kantornya. Bahkan Marah Ahmad sendiri pun merasa ada jarak antara dia yang pegawai dengan Belanda yang meski begok sekalipun. Ada jarak yang terentang lebar pada mereka. Engku. Yang lewat dari arah kanan menggotong macammacam barang. Kok tiba-tiba ada perampokan? Kemana Komite Keamanan Rakyat? Kenapa bangsa ini tiba-tiba jadi biadab?" "Apa salah Cina itu? Oo.yang menjanjikan kehidupan baru. kita mampu mengurus negeri kita sendiri tanpa mereka. Serdadu dan perwira Jepang yang ketemu di jalan. pada menoleh kepadanya. "Hai. Tapi setelah dua minggu dalam keadaan aman. Kok jadi begini bangsa kita? Mana agamanya yang mulia? Mana adatnya yang tinggi. Engku. Ketika berita itu sampai ke telinga Marah Ahamd. sama-sama Arab dengan muslim. Mungkin karena rakyat tidak pernah merasa bersahabat dengan Belanda yang penguasa itu. Sehingga para pegawai yang ikut ramai-ramai di pintu kantor menyaksikan orang-orang yang habis merampok. Itu dapat dilihat Marah Ahmad dari jendela kantornya. umatnya berbaik-baik dengan orang kafir. Panglima militer sang pembebas itu minta kepada pemimpin masyarakat agar menjaga ketertiban dan keamanan kota dan desa." katanya kepada salah seorang pegawai yang berada di dekatnya. Chatib. Ada yang memikul beberapa ban speda atau suku cadangnya. Akan tetapi ketika dia tahu bahwa rakyat yang merampoki toko-toko Cina.

Lalu membuang-buang barang ke luar. Dia yang mendobrak pintu toko. Tapi kini mereka suruh orang mengacau. Diiringi dua orang serdadu. Tapi negeri ini tidak aman. bahwa Kempetai tibatiba datang. Setelah itu dia sandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Engku. Pemerintah macam apa ini? Pemerintah bajak laut?" kata Marah Ahmad dengan emosi yang meluap-luap. Dengan lunglai Marah Ahmad kembali ke kursinya." Marah Ahmad memaki dalam hatinya sehingga seluruh tubuhnya gementar karena menahan marah. Duduk terperengah. Lama juga dia begitu. Lalu mereka suruh rakyat menjarah. Bangsa Indonesia tidak bisa mengurus negerinya sendiri. Isinya maklumat menyatakan. Perlahan-lahan muncul gambaran situasi dalam pikirannya. "Ada apa?" tanyanya. lewat tengah hari. Perwira ini jadi Walikota. Nippon-Indonesia sama-sama. Itu faktanya. Jepang itu minta agar penduduk menjaga keamanan. Marah Ahmad mendapat cerita. ada bangsa kita yang jadi kaki-tangan Jepang. Meski lesu dia ikut ke pintu. "Kemarin-kemarin mereka minta orang menjaga keamanan. ketika seorang perwira Jepang yang berpakaian rapi. dengan kerah putih yang menyumbul keluar tengkuk jasnya. Orang Indonesia berdasi itu yang menerjemahkannya. Kemudian. Duduk lunglai di kursi. Diiringi seorang ajudan. Pegawai Balai Kota itu serentak berlompatan ke arah pintu. namun dia tidak faham pada maksud sesungguhnya dari perwira itu. Amaaan. Pada lengan kanannya pakai ban kain berhuruf F. Lalu dia masuk ke kamar kerjanya." "Mereka juga merampok?" "Kata orang. Serdadu itu melihat saja. Sederetan toko Cina di jalan itu dirampoki. Engku. Lalu menembak dua orang perampok." "Kamu licik. Dimana-mana ada kekacauan. Tapi mengapa? Pertanyaan itu berulang-ulang dalam pikirannya. Toko Cina di sana disuruh rampok juga. ialah: "Nippon-Indonesia sama-sama. Mulanya. Tapi tidak satupun alasan perampokan itu yang dapat diterima akalnya. Dari seorang pegawai yang baru datang dari luar kantor. Meski Marah Ahmad mengerti. Dan pedang samurai tergantung pada pinggang kiri. Engku. karena tidak tahu cara menyambut yang pantas. Seorang Indonesia yang mengenakan jas dan dasi. Mulai hari ini militer yang memerintah. hari berikutnya mereka menembaki penjarah. yang berpakaian hampir sama rapinya. pun ikut. dari arah jalan raya terdengar hiruk-pikuk. Rangkaian katakatanya menurut pemahaman Marah Ahmad." kata Kimin. Lalu. Kemudian orang itu pergi ke jalan lain. dia suruh rakyat menjarah. Jepang itu yang mulai." kata pegawai itu. Lalu perwira itu bicara dalam bahasanya dengan gaya yang terputus-putus."Ndak tahulah. bahwa mulai hari itu kaum militer . dan berpikir keras. yang wajahnya hampirhampir dikenalnya. Terhenti. Mengenakan sepatu lars yang hampir sampai ke lutut. Kemudian dilanjutkannya: "Kata orang. Sambil menatap loteng dia berpikir. Engku. Kemudian Marah Ahmad melihat selebaran terpasang di dinding ruang depan kantornya. Marah Ahmad menyongsong tamunya dengan gayanya yang kikuk. Tiba-tiba. Marah Ahamd berhenti berpikir.

Lalu ketika Walikota yang tentera itu memanggilnya menghadap. Kekacauan itu dijadikan dalih untuk mengambil kekuasaan ke dalam tangan-nya. Ketika dia pulang. dia datang dengan setengah hati. Marah Ahmad tidak bisa menerima taktik dan cara militer demikian. ** Polisi Militer Jepang. selebaran itu bertebaran pada tembok-tembok pagar rumah penduduk. Oleh karena negeri bisa aman oleh rakyat sendiri. Militer ingin menguasai dan berkuasa atas semua yang ada di bumi ini. Mereka tidak suka negeri ini diurus oleh rakyat menurut cara rakyat. Kini Marah Ahmad baru tahu sandiwara model militer itu. Sentimen yang ditumbuhkan dan dipelihara oleh pemerintahan kolonial selama ini. seorang pegawai tua yang buntal tubuhnya. dia dipanggil lagi. ayahnya dijempur Kempetai. Rakyat toh tidak berani melawan militer yang bersenjata." --------------------------------Catatan: * Inisial F berasal dari nama Kepala Intel Militer Jepang. Satu-satunya kalimat yang diucapkannya bebarapa hari setelah di rumah. Jepang itu berteriak-teriak. Meski Marah Ahmad tidak mengerti bahasa Jepang sepotongpun. ialah: "Nippon-Indonesia samasama. Tapi pada hampir seluruh tubuhnya ada bekas memar. Persis saat itulah sisa hatinya habis. namun dia tahu dia dimaki-maki. ketika seluruh pegawai dikumpulkan di lapangan Balai Kota untuk mengikuti upacara menaikkan bendera Hinomaru. Karena waktu membungkuk ke arah bendera itu. Kayutanam 24 Juni 1998 . dia dibebaskan oleh usaha sepupunya yang beristeri Jepang.mengambil alih pimpinan pemerintah. Melainkan cara yang gampang untuk memancing sentimen rakyat. mereka buat provokasi supaya situasi kacau. agar penduduk tetap terpecah-belah karena perbedaan ras. Tapi mengapa kekacauan itu diarahkan kepada Cina? Berhari-hari kemudian dia baru sadar. Waktu di jalan pulang. Marah Amad tahu. Maka hati Marah Ahmad tinggal seperempat. Rakyat dilarang mengibarkan bendera Merah Putih. mengapa toko-toko Cina dijadikan sasaran penjarahan. Dia hanya mengangguk saja seperti yang biasa dilakukannya bila menghadap Walikota yang Belanda. Baru saja dia lewat ambang pintu. Fujiwara. dia tidak membungkuk. Soalnya. Besoknya dia tidak mau masuk kantor lagi. Hari pertama Marah Ahmad masuk kantor. digampar tentera kepalanya. Seluruh kantor dan toko supaya dibuka seperti biasa. sepuluh hari setelah tidak masuk kantor. Dan ibu jari kakinya dibalut perban. karena kukunya dicabut Kempetai waktu disiksa dalam tahanan. bahwa dia disuruh membungkuk. Nipppn-Indonesia sama-sama. Kalau mereka mau berkuasa mengapa harus dengan taktik dan cara yang kotor itu. Limabelas hari setelah ditahan. Kemudian dia disuruh keluar. Menurut cerita anak tertua Marah Ahmad kepada Si Dali bertahun-tahun kemudian. Lalu dia membungkuk. Bukan karena perseteruan kedua bangsa itu di Tiongkok. dia hanya menekurkan kepalanya saja. karena perbedaan suku dan perbedaan agama. hatinya yang setengah itu tidak bersisa lagi.

Seorang perempuan muda terlindung oleh palem di pot dari sinar yang cerah itu. “Hiii. Padahal sebelum mereka kawin. Sebetulnya ia tak sadar akan pertanyaan yang diucapkannya. Di antara laki-laki yang main gila itu. masih juga dia tidak mengerti: kenapa di saat-saat akhir ini dia menjadi begitu benci kepada suaminya itu. "Tahu ia apa yang kuingat sekarang. Matanya tidak memandang pada suaminya. Duduknya.Menanti Kelahiran Pada bulan Maret itu malam lambat datangnya. Dia senang mendapat suami yang tidak suka keluyuran. dipotongnya kemaluan suaminya yang sedang tidur. dia merasa gila kalau tidak berjumpa dengan laki-laki itu sekali sehari. Dicobanya menjinakkan lamunannya dengan pikiran yang baik-baik tentang suaminya. seperti yang ia dengar dari kawan-kawannya. “Tentu saja." pikir perempuan itu. Laki-laki itu banyak main gila dengan perempuan lain di kala istrinya sedang mengandung. "Selamanya ia dengan bacaannya.” Dilayangkan matanya kepada laki-laki itu. Mereka sama membisu oleh keasyikan masing-masing. Dari tadi dia duduk-duduk bersama suaminya di teras. Sedang suaminya membaca koran. Dulu laki-laki itu jarang berada di rumah. Belum lagi buku-buku. Sekarang dia terlalu banyak diam.” Tapi cepat-cepat dia terkejut oleh pikirannya itu. Menyesal dia telah mengangankan niat yang sampai sekian jauhnya. Memang demikianlah laki-laki yang diangankannya.” kata hatinya pula. sebagaimana biasa dilakukannya bila sore indah. betapa bibinya melepaskan sakit hati karena dimadu diam-diam. duniannya adalah rumahnya. “Kalau suamiku ini main gila pula nanti. aku bersedia juga masuk penjara. “Dia dulu peramah. Kemudian dia ingat lagi. Tapi laki-laki ini berkeluyuran dengan bacaannya sendiri. "Kenapa begitu. Entah berapa koran dan majalah dilangganinya. Tadinya dia menjahit. selalu taj sedap dalam pandangannya. Tapi ada sesuatu yang tidak dipahaminy. "Ris. Apa saja yang dilakukan suaminya. Dia merasa perasaannya begitu aneh. Tapi bibinya sendiri dihukum juga dalam penjara selama setahun. ada juga yang sampai mengambil istri muda. Dia ambil pisau cukur. bila aku kau ajak lagi?" tanyanya tiba-tiba tak terencana. beberapa tahun yang lalu. melainkan tetap menatap bulat ke daun palem yang bergoyang-goyang . Tapi semenjak mereka kawin. Tapi ditunggunya juga apa kata laki-laki itu.” komentarnya dalam hatinya." Lalu dia ingat pada beberapa kejadian di sekitarnya. Sinar matahari sore melantuni bayangan hitam panjang-panjang arah ke timur. "Apa ia sudah bosan padaku? Dan cintanya beralih ke koran?" pikirnya lagi. “Memang hukuman yang pantas bagi laki-laki hidung belang. Tapi kini dia mengalai lena pada kursi rotannya. tekunnya masuh juga seperti tadi dengan korannya. Mengapa ia tak menanyakan apa yang kujahit? Memangnya laki-laki selamanya tidak peduli pada istrinya yang dalam keadaan seperti aku ini. ya?" tanyanya dalam hati.” reaksinya sendiri. Dia sendiri jadi terkejut oleh suaranya yang ketus.

Dan kini napasnya kian kencang dirasakannya. Kau sudah bosan. . Pasti. sedang matanya tidak beralih dari koran di tangannya. Kenapa? Karena kau sudah bosan padaku." balasnya. Tapi ada kau pernah menanyakan apa-apa yang diperlukan buat menyambut kedatangannya? Tidak. Kau selamanya memakai alasan itu-itu saja." "Anak kita? Oooo. Dia benar-benar mau bertengkar sekarang. Len?" "Ke mana aku mau pergi. "Sudah bosan kau padaku. "Tak kau dengar aku?" teriaknya lagi. kalau yang jaga rumah tidak ada?" kata laki-laki itu kemudian. Tapi laki-laki itu masih juga seperti tadi." serunya. "Aku katakan. baik. Kau tak pernah bertanya. Dan matanya tercengang melihat istrinya. Ia memalingkan pandangannya ke korannya lagi. kini dia ada lagi di sini. Antarkan saja aku pulang ke rumah orang tuaku. Len. mengapa kau tak mengajak aku lagi?" Sebenarnya ia ingin bertengkar. "Kurang ajar." Laki-laki itu meletakkan koran di pangkuannya. "Alaah kau. "Len." serunya setengah berteriak. Kau selamanya tidak peduli. Dengan kata-kata tajam dia berkata lagi. Seekor laba-laba di tengah jaringnya ikut bergoyanggoyang. Ingatlah akan anak kita yang dalam kandunganmu itu. Aku jawab begini. "Ke mana?” Hati perempuan itu sakit benar jadinya. Tapi kini sesudah aku begini. "Ke mana? Ke mana. "Bagaimana kita bisa pergi. bila aku kau ajak lagi?" katanya dengan napas yang sesak. "Ya. Tapi laki-laki itu seperti tak peduli. Dongkol benar dia jadinya." Dan dia ingat lagi kepada suaininya. "Tak baik marah-marah. Dia ingin reaksi keras suaminya. "Setiap hari aku bersihkan. kaulah yang selalu mengajak aku." kata perempuan itu sambil menegakkan duduknya dan memandang suaminya dengan mata yang menantang. "Tidak kau dengar kataku?" "Mm?" laki-laki itu menyahut.segan diembus angin sore itu. tanyamu? Kalau itu yang kautanyakan. Ke mana kau mau pergi. Dia lirik laki-laki itu." makinya dalam hati. "Ris. Membaca korannya. Katakanlah begitu." Napasnya jadi tersengal-sengal kini. Kau yang menentukan ke mana kita mau pergi. ada juga kau memikirkannya? Ada juga kau ingat padanya. katamu? Kalau dulu. Tapi laki-laki itu masih asyik juga dengan korannya.

Dan rupa anak itu begitu jelek. tentu perangainya. Mengapa aku begini?" kata hatinya mulai menyesal. hanya beberapa hari saja mereka bertahan. Len. Perempuan itu menggendong seorang bayi dan membimbing seorang anak laki-laki. Kalau pun pernah dapat. "Tentu waktu hamilnya Aisah suka marah-marah pula.. sampai sekarang tak juga didapatnya.Hingga dadanya turun naik dengan kencangnya. Aisah punya anak juga. Dia selamanya merasa jijik pada orang yang kumal. kami dengar Nyonya perlu babu. Tapi bukan yang seperti perempuan itu kotornya. Rasa jijiknya kian meluap. dan pecah-pecah tepi telapaknya. melihatnya pun jangan. Memang benar dia memerlukan babu." Lena tertegun dan dipandanginya perempuan itu menyelidik. Dan sesudah itu. dia rela dipenjarakan seperti bibinya dulu. secepat itu pula dia membangkang kata-kata suaminya itu. Sebenarnya dia mau mengatakan katakata yang lebih tajam lagi dengan menyuruh laki-laki itu supaya kawin lagi. kotor. dalam hamil. Kain dan bajunya seperti tidak pernah kena air. jangan suka ingat pada yang jelekjelek. Dia belai sekitar perutnya yang besar itu. Tapi dia tak kuasa bicara banyak sambil meradang-radang. "Kau terlalu cerewet." katanya tegas kepada perempuan yang dari tadi menunggu jawabnya. Mengapa kau lebih menyalahkan istrimu daripada menyalahkan babu?" "Tidak. . Karena tamu yang menjijikkannya itu. Waktu itu masuklah ke halaman rumahnya seorang perempuan. "Aku hamil. tapi selamanya terlambat datangnya. Dan dalam pada itu dia sadar pada ketajaman kata-katanya yang baru saja berlompatan. oh. Aku tidak memerlukan babu." Lalu dia ingat pula pada Aisah babunya yang baru dua minggu di rumahnya. Karena setiap suaminya mengatakan kecerewetannya berbabu. Lalu lenyap tak memberi tahu." kata suaminya ketika babu yang terakhir pergi pula. minta ampun. Cerewet seperti aku. "Kau. Memang sudah lama sekali dia ingin seorang babu di rumahnya. Bukan yang punya anak banyak. Kakinya telanjang. "Ah." Lena mau pergi saja cepat-cepat ke dalam rumahnya. Sepuluh tahun kira-kira umurnya. Tentu saja orang tak tahan lama-lama tinggal di sini. Nanti anakku jadi buruk rupa seperti ." Dua minggu yang lalu.. "Nyonya. Dia merasa lebih baik tidak melayani tamunya itu. Kalau tidak wajahnya. Tidak sebanding dengan ibunya. Tamunya ini sungguh tak menyenangkan. ketika Haris telah berangkat ke kantornya. sesudah itu. Tapi perempuan itu sudah menegurnya. Kepala yang tak tertutup itu. Seperti kera. "Kalau anakku seperti anak Aisah nanti. Dan perkataan suaminya itu ada terasa benarnya. Dia ingat ibunya pernah bilang. selalu akan lama tinggal dalam ingatannya. "Len. Nanti anakmu jadi jelek pula. Lalu sesuatu dalam perutnya terasa bergerak-gerak. Sebetulnya aku tak boleh marah-marah begini. dan tak sopan menurut pandangannya. Dia lekas merasa letih." pikirnya. Baru satu tahun. kalau ia benar-benar sudah bosan. bodoh. tak pernah dijamah sisir. Lena sedang menyapu teras rumahnya seperti biasa dia lakukan.

Malahan seorang yang mengaku-aku sebagai kerabatnya dari kampung yang datang minta pondokan. tentu akan bikin ribut saja sepanjang malam. Itu akan mempengaruhi anakku. bersikap mulia. Tidak boleh merasa benci kepada siapa pun. Dan kemudian. Kasihanilah kami. Dan kemudian dia ingat lagi pada petuah ibunya: “Orang hamil. Dia mau menunjukkan kepada suaminya. Lalu katanya kepada perempuan itu. lalu mencuri. Semua orang sedang kelaparan saja rupanya. aku tidak boleh jijik pada bayi kecil ini. Dia tidak berayah lagi. supaya anakku seperti itu pula kelak sifat-sifatnya." Lena berkata dalam hati. kasihanilah bayi ini. Dan anak kecil ini. Bisalah kami berunding. setelah mereka memperoleh apa yang dimintanya. oh. Persis seperti kera. heh?" Maka kini matanya beralih pada anak laki-laki itu. meminta kerja. Kami lapar. "Kami datang dari jauh. Tengkorak kepalanya begitu besar. sedang matanya terbudur keluar di antara kerinyut jangat-nya."Nyonya. Sudah mati dibunuh gerombolan." kata perempuan itu beriba-iba. biar aku mati saja. Bahwa dia ingin menunjukkan pada suaminya." perempuan itu berkata lagi minta dikasihani." kata perempuan itu lagi dengan gigihnya meminta belas kasihan. Tapi Lena tak tergetar lagi hatinya oleh kata kasihan itu. biar aku tak punya anak. Nak. “Ah. Kalau anakku tidak hendak seperti bayi ini. Aku tidak boleh marah-marah. “kalau Haris ada di sini. haruslah santun.” Selanjutnya hatinya berkata pula. Nyonya. Anak ini tentu banyak makannya. Nyonya." pikirnya. Kalau anakku seperti itu pula nanti. Tidak.” Namun hatinya digoda terus oleh rasa jijik setiap dia memandang kepada ketiga orang yang masih berdiri di halaman itu.” Tetapi secepat itu pula dia mendapat pikiran lain. Supaya anakmu juga berhati mulia. Aku tidak mampu melihat bayi itu lama-lama. Namun begitu .” pikirnya. Aku tak sanggup hidup kalau anakku seperti itu. Kalau Nyonya tidak kasihan kepadaku. Nanti tercetak dalam pikiranku. yang dia tidak mau diejek lagi tentang sifatnya yang selalu ragu-ragu itu. Aku harus ramah-tamah. lalu pergi begitu saja. ketika pergi tanpa pamit. "Hm. "Kau kira kami punya gudang beras. "Nyonya. Maka ia kembali ragu-ragu. Setiap orang yang datang meminta uang. "Tidak. penyantun. tanpa pamit dan tanpa ucapan terima kasih. bahwa dia juga bisa bertindak sendiri dengan tepat. kata hatinya pula. baik hati. Lena tertegun dan matanya tertarik melihat anak yang dalam gendongan itu. diam-diam. tidak berayah pula. “Alangkah baiknya.” kata hatinya yang kini mulai tersentuh rasa kasihan. Dia sudah muak mendengarnya. Lalu ia berpaling dan hendak masuk ke dalam rumahnya. Nyonya. Nyonya. juga membawa lari beberapa potong kain Lena yang bagus-bagus. semuanya berkata begitu. Kurus benar. aku tidak boleh jijik melihatnya sekarang. "Mengapa setiap orang minta dikasihani saja sekarang? Mengapa? Nanti sesudah dikasihani. Apalagi membenci. Pucat lagi.

" Aku memang sudah duga juga. Sekarang hati rahimnya mulai lagi tersentuh. Kini meninggalkan rumah kepada Aisah. Lena tercengang seketika karena tak ingat apa hubungannya dengan kata-kata suaminya itu. “Ayolah. ya. "Kenapa suamimu dibunuh gerombolan?" tanyanya lagi dengan dipaksa-paksakan." kata suaminya. hatinya masih . sulit dipercaya." Ketika Haris. Bagaimana nanti kalau sudah serumah? Akhirnya. suaminya. Dan tiba-tiba rasa sesalnya timbul karena mengajukan pertanyaan yang dirasanya bodoh itu. Begitu memualkan. "Ke mana kita?" "Ke mana sajalah. Akan kupelihara anak bisu ini. akhirnya. Lebih-lebih keluar bersama suaminya." Lena ingat lagi kepada anaknya yang bakal lahir. Ada pembantu yang menghilang dengan membawa kain-kainnya. Sejak kehamilannya. Len. dan ketika itu Haris sedang memandangnya terheran-heran seperti dulu itu. Meninggalkan rumah pada pembantu saja. Tentu saja aku harus menunjukkan hati baikku. Tukarlah pakaianmu dulu. alangkah tercengangnya dia melihat perubahan Lena yang telah mampu bertindak sendiri. Kenapa kau diam saja? Tukarlah pakaianmu. Ia ingat kepada suaminya.sungguh mati rasanya. Kalau aku berbuat baik pada anak bisu ini. Lena merasa geli melihat betapa takjub suaminya kepadanya. kau betul-betul telah siap jadi seorang ibu. Sudah lama benar mereka tidak keluar malam bersama-sama. Perasaannya selalu tidak enak bila bersama suaminya. maka ia bertanya sedikit gugup. sesungguhnya ia kurang bergairah keluar dari rumah. Dia merasa geli dan juga merasa senang. Banyak benar sebab dan alasannya. tentu anakku tidak akan kena bisu kelak." kata suaminya. Lalu katanya mencoba memperbaiki keadaan. "Anakku tidak boleh bisu. ketika ditinggalkan sendiri di rumah. Dia tersenyum. Kalau film bagus kita nonton." "Bisu? Kenapa dipanggil Bisu?" "Karena dia memang bisu. Tapi ketika dia ingat bahwa tadi ia mengumpat suaminya karena tak pernah mengajaknya bepergian. pulang dari kantor. ketika Haris mencium keningnya seraya berkata. itu memang sebab lainnya. Darman. demi kepentingan anak yang sedang dikandungnya dan demi dia tak mau diejek lagi sebagai peragu. Tapi orang memanggilnya Bisu. "Anakmu ini siapa namanya?" "Yang besar ini. Tibatiba pada mata perempuan itu dilihatnya linangan air mata. Alasan tidak ada orang yang menunggui rumahnya. supaya anakku tidak bisu pulanantinya. Dan betapa senang hatinya." Kemudian lamunannya lenyap. Nya. Ia menoleh kepada suaminya. Seperti pernah terjadi dulu. Begitu jijiknya dia pada ketiga orang itu. maka dia paksakan berkompromi dengan apa yang dihadapinya.

disayangkan bila tidak dinikmati. muak. Waktu itu ia benar-benar merasakan Haris adalah suaminya yang ideal. Mereka berjalan lambat-lambat. Apalagi dengan suaminya. Hanya kunci lemari yang dibawa. karena mereka sudah berpisah. karena menenggang hati suaminya yang tadi telah ditempelaknya. Suatu pengalaman buruk dulu. Dan Aisah bisa dipercaya. yang tiba-tiba saja merasa senang pada Haris. Kelihatannya sopan. Ia merasa malu dan menyesal sekali bila dia ingat betapa tajam kata-katanya tadi sore. Namun demikian. beberapa minggu kemudian diketahui ada barangbarangnya yang hilang dari lemari. karena musim todong-todongan sedang berjangkit. Sedangkan tangannya menyelinap dalam kepitan lengan suaminya. Lalu mereka melancong ke tempat-tempat yang tenang. Berdasarkan pengalaman.was-was. Sedangkan perempuan itu. suaminya. meski sedikit bodoh. Padahal selama ini ia begitu benci. Tampaknya Aisah bisa dipercaya. untuk menghilang dengan mudah. yang benderangnya datang dari langit. takkan mudah baginya menghilang sambil membawa dua orang anak. mereka meninggalkan rumah dengan hati-hati juga. Toh. seperti yang diharapkannya dulu. barang emas intannya telah lebih banyak. seperti lampu-lampu pada pasar malam. dirasakan Lena sebagai pemandangan yang indah. Karena mereka datang terlambat. apalagi ada bayi pula. jika menurut petuah ibunya. Semua pintu dikunci. perasaan was-was itu karena kehamilannya juga. kecuali pada tukang catut. Mobil-mobil sedan mengkilap dengan desauan lembut bunyi mesinnya. mungkin jadi tidak ada jalan-jalan seperti senja sekarang. Terutama karena tidak akan mudah bagi perempuan yang mempunyai dua orang anak. Kalau ia pergi juga akhirnya. Dan lagi. Tapi ia pikir pula. Semua karcis telah habis terjual. Sebab bulan yang sejak senja telah penuh mengambang di sebelah timur. hingga ia menjadi cerewet dan suka marah-marah bila ada suaminya di rumah. Tapi juga karena supaya Haris tidak menganggapnya sebagai calon ibu yang selalu ragu dan bimbang. adalah karena terpaksa. Barang emas intannya terkunci dalam kamarnya yang terkunci. Termasuk pintu kamar dan semua kunci mereka bawa. tidak mempercayai seorang pun di kala mengandung anak mereka yang pertama. meski filmnya bagus. Dan lagi. Dan ia tak berani memakainya lagi. Alangkah indahnya malam seperti itu. dengan meyakinkan dirinya bahwa Haris tentu maklum pada kondisi diri istrinya. meski warnanya memudar karena sinar bulan. ia terus ragu-ragu untuk bepergian. serta sepeda-sepeda itu memeriahkan suasana. Beruntung saja barang emas intannya yang rnasih sedikit itu. Mereka tak jadi menonton. Mereka memilih berjalan kaki saja. Cukup ternikmat olehnya. kelihatan dapat dipercaya. dirasakan Lena. Jujur. sesungguhnya merupakan tabiat yang akan diwariskan kepada anaknya. Berpasang-pasangan. Jadinya jauh lebih aman. seperti mereka juga. Tersimpan dalam tasnya. Orang-orang yang lalu-lalang berpakaian apik. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri. rumah ditinggalkan pada kerabatnya. Lampu-lampu minyak penjual rokok di tepi jalan. becak-becak dengan gemerencingan loncengnya. Namun hatinya ditenang-tenangkannya. Tahu menempatkan diri. mereka ke restoran. Tapi kini. dipakai waktu itu. Kalaulah Haris tidak sebangsa laki-laki yang penyabar. Dan semua kunci ada dalam tasnya. Restoran yang sering mereka datangi sebelum kawin . Setelah penat berjalan.

" kata anak itu sambil menirukan jalan perempuan dalam hamil berat dengan cara yang berlebih-lebihan. Anak itu ternyata tidak bisu. Aku jijik. Aduuh." "Tak mungkin. Kemudian ia melangkah mendekati kerumunan orang-orang yang bergembira itu. Dia ajak Haris supaya cepat-cepat berlalu. Dia mau pergi cepat-cepat. Anak di rumah kita bisu. Maka timbullah secara beruntun macam-macam hal dalam pikirannya. Tapi Haris masih tegak mengamati kelompok itu. . Dan Lena yang tak biasa bergaul dengan orang-orang seperti itu. dalam gandengan tangan laki-laki yang dicintainya. Dan di rumahnya. merasa jijik memandangnya. bahwa hidup ini memang indah sekali. anak yang di rumah kita. "Kaulihat anak yang membanyol itu?" "Peduli apa?" "Rasanya anak itu. Tapi hatinya sakit mendengar tertawa kelompok itu. Lena sadar. kini sedang ada komplotan penipu. pada emas intannya dalam lemari. bahwa kehamilannyalah yang dibanyoli anak itu. Dia mau berteriak memanggil suaminya. Semuanya tertawa berkakahan. Tapi tiba-tiba Lena sadar. aku intip dari lubang itu. Tapi Haris masih tertegak di situ. Sehingga ia menjadi lunglai dan jatuh terduduk." kata Lena. Ditariknya tangan Haris. Dia ingat pada harta bendanya yang berharga. Yang dia ingat rasa bahagia di samping Haris suammya. kalau dia mandi. Mak. terasa oleh Lena. Suatu rasa nyeri di perutnya bagai membawa nyawanya terbang. "Hampir setiap hari." kata Haris sambil menarik istrinya mendekati kelompok yang sedang bersuka ria mendengar banyolan anak laki-laki itu. Dia merasa sangat malu dibanyoli secara kotor demikian. Buat apa dilihat. di bawah sinar bulan. Dan orang-orang di kelompok itu terkakah lagi. bukan main. Lena merasa seolah-olah bawaan Haris ke tempat itu. Dalam antara kenangan pada masa lalu." "Mari kita dekati untuk memastikannya. tentang serba kemungkinan yang sedang terjadi selama rumahnya dipercayakan kepada komplotan penipu itu. Begini. Kini benda itu telah lenyap dicuri komplotan penipu itu. bahwa mereka selama ini sudah rertipu mentah-mentah. Tiba-tiba pula dirasanya sesuatu memukuli jantungnya. Malah membanyoli bentuk tubuhnya yang telanjang ketika mandi. Begitu kencang. Tapi perutnya. Mereka gembira sekali. ialah untuk membangkitkan kenangan indah masa mereka bercinta dulu. Lalu kian dieratkan pegangannya ke tangan suaminya. putihnya bukan main. "Ayolah. Dan anak yang dalam perutnya bagai memberontak dirasakannya. Sedangkan tangannya tak kuasa menggapai-gapai suaminya yang kian jauh ke kerumunan orang-orang itu.dulu. Di saat itu dia tidak ingat pada anak yang dalam kandungannya. Tiba-tiba Haris berhenti melangkah dan dipegangnya lengan istrinya seraya memandang ke sekumpulan anak-anak dan tukang-tukang becak bersukaan. Seperti singkong berkubak pahanya.

Kemudian ia tak dapat melihat sesuatu yang di depan matanya lagi. Dan besoknya. Nasihat Nasihat Ketika Hasibaun. Dia terkejut. Perasaan sakit yang begitu perih itu. Anaknya telah lahir kemarin. Tapi kelahiran bayinya itu tidak sempurna bulannya. dengan penuh perhatian ia mendengarkan. hingga ia tak sadarkan dirinya lagi. diimbanginya dengan berteriak-teriak dan meronta-ronta serta memukul-mukul dadanya. Tapi perut itu tidak gendut lagi. bila setiap orang mengemukakan kesulitannya untuk meminta sekedar nasihat yang berharga. secara samar-samar ia ingat lagi pada harta bendanya di rumah. Namun demikian. Sudah pasti habis digondol perempuan penipu itu. Rasa nyeri kian tak tertahankan lagi. ia mampu memperlihatkan kebesaran jiwanya. anak muda yang menumpang di kamar depan menceritakan kesulitannya. Dan napasnya tersengal-sengal." Lena ingat segala-galanya lagi. seperti pertumbuhan bayi yang lahir normal. Lalu dia menangis dan merintih di dalam hatinya. "Tenanglah. Hatinya menjadi sakit dan luluh. biar orang lupa dan tak butuh nasihatnya pun. Anaknya itu laki-laki. mereka itu merasa berdosa sekali. "Anakku! Anakku! Mana anakku?!" Seorang juru rawat segera datang padanya dan sambil merebahkan badannya kembali ia berkata. Dan jikalau orang lupa meminta nasihat kepadanya. Dan memang dia ingin anak laki-laki. memberikan keyakinan dalam setiap hati yang dilanda kerisauan. ketika ia terbaring di kelilingi banyak orang yang mengerumuninya. secara samar-samar didengarnya reriakan anak yang membanyol tadi. Hatinya menjadi kian ciut. Dan suara rintihan itu kedengaran begitu nyata pada telinganya. Lalu dia duduk dari tidurnya sambil berteriakteriak. Persis seperti warna hijau muda pada pakaian dan perlengkapan bayi yang dijahitnya sendiri. Bahkan ia tidak sadarkan diri. Karena itu. Sikapnya ini menyenangkan hati orang. satu-satunya cara yang dia punyai untuk mengobati hatinya yang luka. bahwa dari padanya saja nasihat yang baik memancar. Nyonya. Bayi itu dalam pertumbuhannya juga akan tidak sempurna. diraba-raba perutnya lebih dulu. Denyutan jantungnya kian mengencang. Jadi persis seperti yang diinginkannya. Memang selama wajahnya kalihatan sungguh-sungguh. Kemudian. Ketika rasa nyeri itu mulai berkurang. sebelum ia membuka matanya. "Tidak! Dia bukan ibuku! Aku tak kenal padanya! Dia mengajakaku untuk memintaminta!" Teriakan anak itu bagai menusuk-nusuk di dalam tubuhnya yang terbaring di rumput itu. Sedang rambut dan kumisnya yang lebat dab telah putih seluruhnya itu. setiap orang tak berani memulai sesuatu sebelum diminta nasihatnya. Nasihat orang tua itu selamanya berharga. Anak Nyonya tidak apa-apa. Suasana dirasakannya mengambang lagi. warna yang sesuai untuk bayi laki-laki. Cepat-cepat . Dia merasa saat ajalnya akan sampai.

ya seorang gadis. laki-laki itu bertanya. Bahkan dari setiap muka seseorang aku dapat membaca segalanya. „Ke mana Abang. "Mari kita mulai dari awal. sopan. Tapi sebelum ia selesai menyusun kalimat yang hendak di ucapkannya. "Coba kaubayangkan kembali. "Apabila kau betul-betul menurutkan nasihatku. ia sendiri akan menawarkan dirinya. „Mau ke mana?‟ Dan gadis itu menjawab dengan tegas." Anak muda itu tidak bergerak dari sikapnya semula. ia tidak tersenyum melecehkan. Lalu ketika hendak berpisah." kata orang tua itu selanjutnya. Seolah pada asap itu terlukis segala ilham nasihatnya. Dan ketika Hasibuan. tentulah dia gila. Sopan. Seorang gadis. Ya. walau kadang-kadang ia tahu soalnya adalah tetek bengek saja. Diisapnya lagi cangklongnya beberapa kali. Dengan penuh kesungguhan dan dengan segala pertimbangan yang sangat masuk akal." Hasibuan jadi lega hatinya. menurut timbanganku. orang tua itu tidak lantas meluncurkan nasihatnya yang keramat. Dan halus budinya. Meski di antara perkumpulan itu saling berlawanan asas. Pada setiap perkumpulan namanya pastilah tercantum sebagai penasihat. Sudah banyak pengalaman. Kalau tidak diminta. Apalagi gadis desa pula. tahu adat.‟ Masya Allah. anak muda yang menumpang di kamar depan menceritakan kesulitannya demikian hilang akal. Tentang itu aku takkan silap. Apa yang harus kulalkukan lagi?" Sebagaimana mestinya. Lebih dulu ia lepaskan punggungnya ke sandaran sofa dengan selelahnya." Hasibuan merasa." kata orang tua itu seraya memandang kepada Hasibuan yang duduk di hadapannya." . tak mungkin bisa jadi. "Ini memang sulit. Sealanya dipandangnya berat. Seorang gadis desa yang seharusnya pemalu. "Berilah aku nasihat. Mudah benar mengatasinya. "Sebenarnya apa yang kau kemukakan itu. ke sana aku. duduk disamping seorang laki-laki tidak di kenal di atas bis. tidaklah akan sulit benar. Katanya. Dan asapnya yang mengepul dari bawah hidung. Dan tak satu pun dari perkumpulan itu yang menolak. Aku sudah mengerti benar segala sifat dan fiil manusia. Ia pasti sangat pemalu. "Aku sudah tua." ujar Hasibuan dengan nada putus asa. Dan ia mau meyakinkan orang tua itu." katanya dengan pasti. "Itulah semua.ia memberikan nasihatnya. Omong-omong sedikit dan sudah pasti tentang hal-hal yang tidak berarti. bahwa ucapan orang tua itu seperti menuduhnya telah berbicara yang bukan-bukan. Coba. "Apa kau tak sadar gadis itu gila?" "Tidak sama sekali. dipandangnya beberapa jurus. meski ia gelisah benar oleh lambatnya orang tua itu bicara. Percayalah. Tentulah gadis itu gila. orang itu berkata lagi.

dia kaubawa ke rumah kenalanmu itu. bagaimana kecewanya meninggalkan kantormu." "Tapi. Diletakkan sendok garpunya." Orang tua itu begitu kecewanya. Percayalah kepadaku. jangan disahuti tegurannya. begini: Jauhi dia. "Bagaimana?" tanya orang tua itu ketika mereka sedang makan siang. yang sampai saat itu tak pula diketahui namanya. Lalu kemudian…. kepalanya sakit benar. ada tamu untukku. meski bagaimana aku katakan. "Tak aku temui dia. sebelum ia menemuinya. Tapi . Dan pada gadis itu ia sudah berjanji hendak menemuinya besok pagi. Tak jadi ia menemui gadis itu. itu pantas. aku tak kira dia yang datang. Mudah-mudahan. Insya Allah kau pasti selamat. gadis yan tak hendak berpisah lagi dengan dia itu. Karena kau masih terlalu muda. Dunia akhirat. Setelah omong-omong yang tidak berarti. Elakkan dia bila bertemu di jalan. tiba-tiba gadis itu menyandarkan kepalanya ke bahunya. Dan gadis itu. Kemudian. Dapatkah ia mengikuti nasihat orang tua itu? Kemarin gadis itu.. lebih dulu ia bicara kepada orang tua itu untuk meminta nasihatnya. Hingga semua orang di kantor jadi tahu persoalanku. jika kau ikuti nasihatku ini. Bilang. ya? Ha ha ha. Belum banyak pengalaman. nasihat orang tua." "Hah? Jadi kau bertemu juga?" "Ya. Gadis itu tentu dengan sia-sia saja menunggumu. Dan dipeluknya gadis itu. Dan hati mudanya menyuruh memeluk gadis itu. Pak. jam sembilan tadi. nasihatku dalam hal ini." "Bagus. Nasihat orang tua itu diikutinya. Tidak seperti itu. "Aku antarkan dia kembali ke rumah kenalanku itu. Kalau bertemu juga. Ke dalam kakus tentu. Karena hari sudah malam. Bagus. "Nasihatku. Ketika pesuruh kantor memberi tahu. Nah." "Tidak. Nasihat orang tua itu pasti benar. Ketika ia melihatku ia menangis tersedu-sedu. Tampak-tampak saja olehku." Hasibuan bertanya pada dirinya sendiri. Ketika pagi datang. ditumpangkannya ke rumah seorang kenalannya di tepi kota. bukan? Dapat saja kubayangkan. seperti hendak menaksir isi kepalanya." kata orang tua itu gembira." "Tentu saja kau lari terbirit-birit. Dipandangnya Hasibuan tenang-tenang." "Lalu kemudian?" sela orang tua itu dengan rasa ingin tahunya. orang tua yang sudah banyak pengalaman ini. "Kalau kemarin. karena orang tua itu telah lama hidup dan banyak pengalaman. Dan. tak hendak pergi. Gadis itu pasti gila. Ha ha ha. duduk disampingnya di atas bis. bagaimana kau melarikan diri. dia yang datang menemuiku di kantor."Tentu saja kau tidak sadar. Aku malu sekali. ya betapa lucunya itu.

Dan mengusirnya pergi. tak lapuk oleh hujan. dengan perasaan hati yang puas akan keunggulan dirinya. Lalu ayahnya kawin lagi." Di pandangnya Hasibuan tenang-tenang. Minangkabau yang adatnya tinggi." Mendengar kalimat terakhir itu. "Tentu saja kau tak sampai berpikir sejauh itu. Minangkabau. Ia pergi ke Padang. Yang mestinya pemalu. ibu tirinya marah-marah kepadanya. tidak. Lalu. Kepada istrinya. untukmenarik kasihan hati orang. Dua hari yang lalu. tapi dia masih punya ninik mamak. Aku kehilangan akal. ini negeri Minangkabau tidak akan mungkin itu terjadi. aku mendoa-doakan agar aku bisa ketemu Bapak. menurut . Diambilnya lagi sendoknya. Minangkabau berpagar adat. Sangkamu apa sebabnya?" "Tak dapat aku menyangka apa-apa. Tiba di Padang. Pak. Dan ninik mamak-nya pastilah takkan membiarkan keponakannya hidup tersia-sia. Tak lekang oleh panas. Dia tak bicara apa-apa kepadaku. Dia menangis terus. Hasibuan. berkesopanan tinggi. Atau sekurang-kurangnya berbuat gila-gilaan. Waktu itu. Cerita yang hanya di karangnya saja. Dan dia makan lagi. Seorang gadis. Biar aku dapat nasihat Bapak." "Barangkali kepada kenalanmu itu dia ada bercerita?" "Kepada kenalanku itu. dia tak hendak pulang ke rumah orang tuanya. Katanya. dia tak tahu mau ke mana. jika tenggelam di selami. Aku sudah tahu betul akan kongkalikong hidup manusia ini. Dia tak mau. Tentu ada sebabnya. hilanglah sinar mata kecewa orang tua itu. Dia sudah bisa pulang ke rumah orang tuanya di desa." "Omong kosong. Tapi kemudian ia meneruskan menambah keunggulannya. Tahulah kalau dia pergi tanpa setahu ninik mamak-nya." kata anak muda itu dengan suara yang kedengarannya melukiskan bimbang hatinya. Lama kemudian ia berkata lagi. Biasanya. dia hanya terus menangis bila di dekatku. aku bawa kembali ke rumah kenalanku itu. Sedang aku sudah tua. Apalagi keponakannya itu. Tidak terpikirkan olehmu sampai sekian jauh?" "Tidak. Tentunya dia itu gila. Ketika ia masih kecil benar. Itu cerita licik. tidaklah akan mau berbuat demikian. Ibunya sudah lama mati. Takkan dibiarkan anak gadis yang sebesar itu pergi begitu saja. Ada kau suruh dia pulang ke rumah orang tuanya?" "Malah kuberi dia ongkos?" "Tapi dia tidak mau?" "Ya. Di sini Minangkabau. Gadis desa pula. "Kau masih muda. Tiga tahun yang lalu ayahnya meninggal pula. Coba kaukira. Katanya. Tak tahu aku apa yang harus kuperbuat lagi. "Hm. ada. jika hilang bercari. Sudah lama hidup dan banyak pengalaman." kata orang tua itu pula. seorang gadis. tahu adat. "Ada hal-hal yang menyebabkan ia tak mau kembali ke kampungnya. Hasibuan. Ia mngunyah lambat sekali. supaya jangan bikin rewel di kantor. hari sudah siang. Uangku tak diterimanya. Taruhlah dia benar diusir ibu tirinya. sambil merenungrenung juga.sekarang. Lalu kembali lagi dia ke sini. di negeri Minangkabau yang beradat.

Diminumnya air cepat-cepat. Tapi untuk menyerahkan kembali ke keluarganya." katra Hasibuan mengemukakan pendapatnya. "Bukan untuk memenjarakannnya. hingga soalnya sudah lewat seperti angin lalu. secepatnya kauberitahukan kepada polisi. tak hendak menyinyiri urusan orang lain. dengan begitu saja menyerahkan dirinya kepada laki-laki yang baru dua jam dikenalnya. dia lari ke Padang. tiada tanda-tanda adanya kesulitan pada air muka Hasibuan. Hasibuan." "Tidak mungkin sampai demikianbenar. Mengerti kau. Karena kau tidak kenal orang tuanya. sudah menunjukkan betapa mudamu. Nasihatku dalam hal ini. nasi yang terakhir tak dapat dilulurnya lagi. Tapi laki-laki itu tak hendak mengakuinya. Titik. Jadi sebelum hal itu terjadi. Mengerti kau maksudku? Tidak? Siapa tahu. ucapanmu itu. Karena selama tiga hari itu. yang mana yang lebih benar dari segala macam kemungkinan itu. karena memangnya dia telah diusir orang kampungnya?" "Apa kira-kira kemungkinannya lagi. bukan jantan saja jenisnya. Di antaranya minta penyelidikan. setelah daging itu diletakkan di piringnya. Dan ia sebagai orang tua. gerakmu. Karena malu. "Seorang gadis desa yang seharusnya pemalu. gadis itu telah kembali ke keluarganya. Pak?" "Kemungkinannya banyak. tambah baik. "Coba bayangkan. Tambah cepat. Siapa tahu. Setelah ia merasa bahwa kata-katanya cukup terbayang. setelah tiga hari berlalu. terang itu bukan suatu alasan untuk lari.sangkamu? Apa tidak terpikirkan olehmu. dapat aku baca. Sedang memikatmu supaya kaukawini dia." "Menyerahkan dia pada polisi?" tanya anak muda itu tercengang. bukan? Dan dia tidak hendak kembali ke orang tuanya itu. Menurut hematku." katanya seterusnya. begini. Itu saja takkan silap. . "Nah. Kemudian dia bertemu dengan engkau. barangkali dia sedang mengakalimu. Tapi cepat kemudian ia seperti terkejut oleh ucapannya sendiri. Meski dia menangis sampai mengeluarkan air mata darah. seperti aku membaca koran saja." Mendengar nasihat itu. barangkali dia sedang memasang perangkap untukmu. Ia yakin benar." kata orang tua itu seraya menusuk sepotong daging dengan garpunya. Mukamu. sebabnya dia tak mau kembali itu. "Buaya itu. gadis itu mungkin tidak gadis lagi. Atau sudah masuk rumah sakit gila. dan punya pekerjaan kantor. jangan kaupeduli. Kegadisannya telah diambil atau diberikannya kepada seorang laki-laki. Anak muda itu sendiri. Serahkan dia pada polisi. hingga ia tersedak. gadis Minang lagi. Meski nasi itu sedikit dan telah begitu lumatnya. Dan kepalanya tertekur menyembunyikan muka merahnya." Ditatapnya lagi wajah anak muda itu. Menurut sangkanya. persoalan Hasibuan beres sudah. nasihatnya telah diikuti dengan betul. dia hendak mengorek isi kantungmu sampai tandas. Karena mungkin jadi sudah hamil. Orang tua itu menyangka. tampaknya tak lagi hendak bicara tentang soal itu. Sekurang-kurangnya. Tapi bertengkar dengan ibu tiri. hendak tahu apakah kata-katanya telah cukup nyata terbayang olehnya. Kemudian ketahuan. Sebab aku melihat sesuatu yang lebih buruk lagi bakal menimpa kau. di sambung lagi perkataannya. Itu paling kurang.

Malah kau pun dapat menuduh mereka itu ke pengadilan. jangan kautunjukkan dirimu mempan oleh gertakan kepada buaya-buaya itu. temanku itu. Meminta belas kasihannya agar membiarkan dia tetap di situ. baru saja ia menyuruh gadis itu pulang ke keluarganya di desa. Tak usah gelisah.Tapi pada hari keempat. tak usah gelisah. Dicabutnya cangklong dari mulutnya. Aku kenal kepala polisi di sini." katanya lagi. kau dipihak yang benar. Seorang laki-laki tak dapat dipaksa oleh siapapun untuk mengawini seorang perempuan. bukan?" "Demikianlah. Persenang sajalah hati. Karena ia tak pernah menyerahkan gadis itu kepada polisi. Kenal baik."Keluarganya yang datang ke kantormu tadi itu. Nanti." jawab anak muda itu. Jangan kau takut. ikutilah nasihatku. Dan hatinya jadi lintuh." kata anak muda itu cepat. seraya berkata. Hasibuan pulang dari kantornya membawa kegugupan. nasihatku dalam hal ini. tentu anak muda itu mendapat kesukaran lain yang berhubungan dengan pekerjaan kantor saja. Kegelisahannya itu dilihatnya. Kau dapat mengadukan mereka itu ke polisi dengan tuntutan pemerasan dan ancaman. Ada hal-hal yang hendak dikatakannya lagi. Lai-laki itu tentu seperti kingkong besarnya. Itu hendak dikatakannya kepada orang tua itu. telah lama hidup dan telah banyak pengalaman. Jaksa. tapi ia tak berani mengatakannya. Dan bersamaan dengan itu hatinya pun jatuh pula kepada gadis itu. di sampingnya.bukan?" "Tidak pernah. seperti aku ini. tak satupun pengadilan yang mampu menghukum." . Nah. Kau tidak pernah mengganggu gadis itu." "Lima orang. Ia begitu gelisah. Senang sajalah. Meski perkaramu ini akan sampai ke pengadilan sekalipun." Tapi hati anak muda itu tak dapat disenangkannya. tentu tidak seorang. Ia menunggu anak muda itu meminta nasihatnya yang berharga lagi. Apalagi kalau laki-laki itu tidak pernah mengganggu perempuan itu. Lalu ia berkata lagi meluncurkan nasihatnya: "Ah. Tapi alangkah jengkelnya dia. Kemudian punggungnya yang tersandar ditariknya lagi. Sangkanya. lalu ditodongkan kepada Hasibuan. "Semuanya tentu laki-laki. Dan orang tua. anak temanku sedari kecil. ketika Hasibuan menceritakan kesukarannya itu masih berkisar pada soal gadis itu juga. bukan? Tentu tiga orang sekurang-kurangnya. Ha. gadis itu telah meraung-raung seraya memagut kakinya erat-erat. bila perlu kutolong kau." "Nah ini terang suatu pemerasan. "Jadi kau dituduh keluarganya telah menyembunyikan gadis itu? Dan kau dipaksa untuk mengawininya? Ini tentang suatu pemerasan. kalau ia tak mau. Nanti aku tulis surat kepada kepala polisi. Tidak boleh tidak. "Nah. "Kau seorang laki-laki. Malah. Aku minta ia menjaga keselamatanmu dari pemerasan dan ancaman itu. Jangan persukar soal itu dalam pikiranmu. Kemudian disandarkannya lagi punggungnya ke kursi dan diisap lagi cangklongnya. Jika perlu kau pun dapat mengeluarkan ancaman kepada mereka." kata orang tua itu. Nasihat orang tua.

Mengaku sajalah. orang tua itu meneruskan bicaranya. masih dapat menangkap suatu kekurangannya. Aku dapat mengerti segala hati. Dalam seribu. mata yang telah banyak melihat ini. Jangan kausangsikan. Ia tahu. Dan sebagai orang tua. Ini sungguh menakjubkan. melebihi gadismu yang khianat dulu. Perhatikanlah. Kekurangannya itu masih dapat diperbaiki. Nasihat orang tua yang telah banyak pengalaman ini. Ketika dia datang tadi. orang tua itu mengalih duduk di dekat Hasibuan. ya. Di saat yang seperti itu. tentu si gadisnya ini akan menyayangkan hal-hal yang bukan-bukan." kata anak muda itu. Nasihat orang tua yang banyak pengalaman ini." Setelah ia menghidupkan api cangklongnya. ia bicara dengan berbisik.Namun hati anak muda itu belum juga tentram. ia dapat memahami betapa kesukaran itu mengamuki hati seseorang. Ini luar biasa." katanya tiba-tiba. Itu biasa. Ikutilah nasihatku. yang lebih tahu segala hal. orang tua itu memanglah merupakan orang tua yang paling menyenangkan. Bawa dia besok. Nanti aku dapat menyelesaikan kesukaranmu dengan mudah. Itu dapat dilihatnya kemarin malam. seperti yang pernah kaualami dulu. Jangan biarkan angin jahat masuk. kawini dia lekas. Menurut sangkanya. Ikutilah nasihatku. Taksirannya. seperti rumah ini rumah orang tuanya saja. Dalam hal ini aku tak silap. "Haa. gadis yang sedang mencuri hatimu itu. "Pilihanmu tepat kali ini. anak muda itu sedang dalam keadaan terjepit. "Dengarlah nasihatku lagi. Nasihatku. hingga nasihatnya menjadi benar-benar berharga dan dapat diikuti dengan mudah. Pada air mukamu yang muda itu. Kau sedang bercinta dengan seorang gadis. mataku yang tua ini. Asal dia mau mengikuti nasihat-nasihatku kelak. Anak baik dia ini. Dan senyumnya lekas-lekas dikulumnya. Kemudian dia sendiri yang menating teh buat kita. Karena aku sudah tua. ia salami aku. Meskipun begitu. Itu dilihat oleh orang tua itu. Takkan baik akibatnya. Pak. Dan jangan lupa. Tentang ini aku tidak silap. ia tidak hendak melecehkan kesukaran orang lain. Mengaku sajalah kepadaku. Jangan bersembunyi lagi. Tertibnya bagus sekali. ketika Hasibuan membawa gadis itu ke rumahnya untuk diperkenalkan kepadanya." Gembira benar hati orang tua itu. bukan? Ah. kalau gadis itu tahu betapa halnya Hasibuan dengan gadis desa yang ditemuinya di atas bis dulu itu. kepada orang tua ini. jarang satu seperti dia. telah lama hidup dan sudah banyak pengalaman. Cantiknya. Seperti senyuman seorang insinyur melihat perdebatan kuli-kuli tentang suatu bangunan. Kau bawalah gadis itu ke sini. Jangan tunggu lama. jangan membantah. Bawa dia kesini. "Aku tahu kesukaranmu yang selalu menggelisahkanmu itu. Seperti ada suatu rahasia saja. Hasibuan berjalan demikian mesranya di samping gadis itu. Hasibuan sedang dalam percintaan dengan seorang gadis. Karena itu ia pun tahu bagaimana menasihatinya. Banyaklah bicara dan ketawanya. . Dan ketika ia sedang berdua saja di ruang tamu. Banyaklah nasihatnasihat tentang kehidupan rumah tangga." "Memang rencanaku demikian. Meski kesukaran itu hanyalah tetek bengek belaka. dapat aku baca semua. Tapi sebagai orang tua yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tapi dia terus menanyakan Ibumu dan menemuinya ke belakang. Lihatlah. maka tersenyumlah ia.

jangan kau yang meminang dia ke orang tuanya. "Keluarganya sudah datang kepadaku. Karena merasa diri penting. Penangkapan Hari itu teman kami. Ditatapnya Hasibuan dengan mata tajamnya lalu cepat ia berdiri dari duduknya. Tapi Hasibuan yang tidak melihat perubahan itu. Tapi nasihatku dalam hal ini. "Tapi aku percaya. bahwa Hasibuan akan memutuskan begitu saja tanpa minta nasihatnya. Saya aku tahu hampir tengah malam. Mereka bikin acara yang aksi-aksian. Karena merasa diri ada. perkawinan akan dilaksanakan dalam minggu ini juga. Kemudian karena indikasi PKI. Tak percaya ia. Aku sama sekali tidak kaget kalau ada orang ditangkap. Pak. ditangkap po lisi."Bagus. Hanya pintu kamar tidurnya yang berdentang kencang dibantingnya dari dalam. "Gadis itulah yang kutemui dalam bis baru-baru ini. Jimi dan Leon yang beri tahu. Birkan orang tuanya yang meminang kau. bukan?" "Ya." katanya kemudian setelah ia dapat menguasai dirinya lagi. Maka para sastrawan. Tak tahu ia muka orang sudah jadi pucat dan badannya gemetar. Ia merasa seolah-olah telah dilampaui begitu saja. Menurut istilah polisi diamankan. seperti adat Minangkabau. Sejak bertahun-tahun silam aku sudah terbiasa mendengar peristiwa penangkapan. seperti baca puisi di lapangan terbuka waktu siang atau waktu malam pakai obor segala. Bagus. Ada karena indikasi PRRI. Aksi-aksian baca puisi itu selalu ramai dikunjungi. di waktu yang lain karena indikasi ekstrim kiri atau kanan. terutama yang muda kian jadi keasyikan diinteli itu." Hasibuan berkata tanpa memperhatikan gelagat orang tua yang sekali lagi disengat listrik." kata orang tua itu. Mereka mampir pada saat pulang habis nonton bioskop. Lalu. demi mendengar bunyi mesin ketikku. Mukanya yang pucat jadi biru. "Kau tentu cukup bijaksana. Si Dali dan Alfonso. barangkali Hasibuan belum memberi putusan kepada keluarga gadis itu. Dan bibirnya bergerak-gerak seperti hendak memaki. pengunjung hadir lebih dari . seperti biasanya. Tapi pikirnya kemudian." Tiba-tiba orang tua itu seperti kena listrik." Sekarang listrik yang menyengat naik beberapa kilowatt lagi. Di masa itu kota kami kesibaran "Peristiwa Malari" yang marak di Jakarta. Lalu katanya lagi. Kemana-mana kami berkumpul selalu diinteli oleh oknum dari bebagai instansi. Sebagaimana nasihat Bapak. Menurut taksiranku sekarang setelah 30% pertambahan penduduk dari masa 20 tahun yang lalu. bertanya lagi dengan wajah yang malu tersipu: "Apa nasihat bapak dalam hal ini?" Sekali ini nasihat itu tak keluar dari melalui mulutnya yang peramah.

Sekali-sekali sempat juga nonton bioskop atau makan rujak dan es tebak di tepi laut. Yang jadi pikiran ku ialah keterangan Jimi. praktisnya mereka merupakan penganggur. Menjelang tengah hari dua orang sastrawan muda yang paling aktif menggerakkan aksi-aksian baca puisi. Lalu mereka menjadi orang besar Tanah Air. Kalau dikirim ke media nasional. Tidak diketahui alasan dan pasal-pasalnya. Sebagai sastrawan. Si Ponco dan Si Dali ditangkap polisi tadi malam. Nah. Kita harus membuat sesuatu sebagai tanda simpati dan solider. tetapi juga para simpatisan. sesungguhnya mereka bukanlah orang yang punya alasan untuk ditangkap.Si Dali dan Alfonso ditangkap polisi sekeluar dari bioskop. Bahwa istri Alfonso sedang hamil berat." kata Neli tanpa kata pengantar. Punya isteri dan beranak. Alasan cuma satu. menemuiku. Kalau tulisan mereka di muat dalam koran lokal.tiga kali lebih banyak dibandingkan jika penyair baca puisi di Taman Budaya masa sekarang. Kalau dia bicara pada forum diskusi. Namun keduanya selalu hadir. Dan aku tidak kaget mendengarnya. Dan lebih-lebih Alfonso yang orang teater yang menjadi idola mereka. "Jadi?" . Jadi presiden dan wakil presiden. Sedangkan sastrawan muda di kota kami menyebut diri mereka sebagai "ekstrim tengah"." kata istriku pagi-pagi setelah aku ceritakan peristiwa itu. Sjahrir ditangkap. Maka itu sebagai orang yang terbiasa lapar dalam zaman stabilitas politik dan ekonomi. "Om. Tapi toh mereka hidup. Soekarno dan Hatta pernah ditangkap. Itu risiko jadi orang besar. Kalau dimuat berbulan-bulan menanti dan berbulan-bulan pula menunggu honornya. Termasuk Si Dali dan Alfonso. sebab tidak punya uang membeli nasi. Mochtar Lubis ditangkap. *** "Anaknya bisa lahir prematur. Karena peristiwa penangkapan di masa itu bukan berita lagi. Mereka ditahan bukan dalam sel. Kalau tidak dicurigai sebagai akstrim kiri tentu saja ekstrim kanan." kata Haris pula. bahasanya teratur. Melain di asrama pelatihan polisi yang lagi kosong. meciutkan nyali yang hadir. kembali ke awal cerita. Yaitu indikasi menentang pemerintah. naskahnya sering dikembalikan. Karena selalu mendapat persoalan untuk mengisi bagian tengah badannya. Sebenarnya Si Dali dan Alfonso tidak berperan penting pada aksi-aksian itu. Tentu saja para intel yang mengenakan jeket danu bergunting rambut cepak ikut juga berjubel. Tidak kalah banyak orang lewat yang sekadar ingin tahu. Kehadiran keduanya seperti memberi dukungan moral kepada mereka yang muda. Natsir ditangkap. Dia selalu menyebut nama Alfonso dengan Ponco. Haris dan Neli. Yang hadir di masa itu bukan hanya seniman. yaitu perutnya. paling-paling honornya sekedar pembeli rokok untuk seminggu. "Jika keduanya ditangkap bukan masalah berat. gayanya memukau. Toh dari mulutnya tak henti-henti asap rokok mengepul. kutipan pandangan filsuf dunia beruntun.

. Istri Si Dali harus pindah rumah karena kontraknya sudah dua bulan berakhir. Aku kira hidupnya sama dengan kita. tentang filsafat setiap datang ke sini. Akan tetapi letaknya terjepit oleh dua bangunan yang berbelakangan. susu kalengan atau memberi bon untuk ditukar dengan beras."Istri Si Ponco hamil berat. Setiap hari secara bergantian para sastrawan menjenguk kedua teman yang ditahan itu. pikirku. Tapi bagaimana dengan biaya hidup perempuan yang tidak punya sanak keluarga satu pun di kota itu. Dulunya sebuah pondok ronda. Bila dia harus masuk rumah sakit. Ketika preman itu dapat diusir. "Mengapa diam saja?" tanyaku ketika kami telah sampai di rumah lagi." kata Neli pula. aku tidak tahu dimana mereka mandi. Sambil tertawa. "Aku tidak menduga rumah Si Dali seperti itu. Dengan suami pertamanya tiga. biskuit. Dia terus membisu. Tapi bersama istri. di sebidang tanah seperti tidak bertuan. Mereka menyambut kami dengan airmata berlinang. dia bertanya lagi. Terkecuali hari Minggu. Lokasinya memang di tengah kota. Dibiarkan main catur. Si Dali menempatinya. aku menyempatkan menjeguk istri mereka. Selain dari isi dompet. Untuk mandi dia tampung air hujan dengan sebuah drum. ada juga yang memberi rokok. Kalau tidak ada hujan. Ditanyai satu jam setiap hari. tentang kebudayaan. Untuk kakus. Apa dia betul-betul orang miskin?" Karena aku tidak menyahut. Yang membingungkan tapi juga menggembirakan mereka. berdinding tadir dan berlantai papan dengan kolong rendah. Seselesai makan malam barulah dia berkata. jika aku ingat pada obrolannya tentang politik. Istri Alfonso memang tukang beranak terus. dia gali lobang setiap hari bila malam tiba. Kemudian jadi pos preman melakukan hal-hal yang tidak disukai penduduk.Sewa kontraknya memang tidak mahal. ada pula perwira polisi atau militer yang berkirim makanan kaleng atau rokok. Namun dia harus membuat dapur di belakang rumah. bergurau atau saling meledek. Bila bersama pengawal mereka main domino sampai lewat tengah malam. Tadi pagi yang punya rumah sudah datang karena tahu Si Dali ditangkap. apabila Si Dali lama ditahan? Kepada Haris dan Neli aku berikan nama beberapa orang yang aku yakin mau membuka dompetnya. Aku tidak pernah menjenguk mereka. biayanya bisa diatur kemudian. Dengan Alfonso bakal dua. Ketika dibebaskan kulit mereka cerah karena jarang kena sinar matahari. Tapi istri Si Dali? Rumah kontrakan itu sebetulnya cuma pondok ukuran 3 X 4 meter. "Atau semacam kegilaan yang mengasyikan saja?" *** Hampir dua bulan Si Dali dan Alfonso mendekam di tahanan polisi. Pikiranku menjalar tentang situasi yang dihadapi istri kedua teman kami itu. "Apa jadi seniman itu pekerjaan atau hobi atau apa?" Karena aku tidak menyahut juga dia berkata lagi. Dia memberi ultimatum harus bayar paling lama besok. Istriku trenyuh sekali demi melihat tempat tinggal Si Dali yang pondok itu. Istriku tidak menyahut. Mereka dikasi makan cukup.

"Masa itu bukan semacam permainan hidup. Kalau ditahan lebih lama lagi." kata Si Dali." jawannya lesu."Enak juga jadi tahanan seperti itu. Si Dali menggeleng seperti orang tertangkap basah. kekurangan uang. Sastrawan muda yang dipelopori Haris dan Neli. Kemiskinan dan kelaparan memenjarakan kita tak henti-hentinya. Istri Si Dali kembali ke rumah orangtuanya di desa di kaki Gunung Talamau karena tidak betah hidup tanpa jaminan masa depan yang baik. Tapi dunia yang aman seaman-amannya itu tidak ubahnya seperti lampu yang hampir padam karena kehabisan minyak." "Selama dua bulan ditahan. Istri Alfonso telah melahirkan anak laki-laki. Kami seolah kehilangan motivasi. dia tertawa. "Mengapa begitu?" tanyaku ketika kami berjumpa. katanya." *** Bertahun-tahun kemudian aku ketemu Si Dali. "Dimana letak kebebasan yang kau perjuangkan?" tanya Neli ketus dengan seringai bibir yang sudah aku kenal benar. Bayangkan. Selama aku ditahan. melainkan semacam hidup yang dipermainkan. Kulitnya sebersih pakainnya. "Tak ada gairah. . Setiap hari ada saja orang datang memberi apa-apa. Dunia seperti telah aman seaman-amannya untuk semua." Neli menyeringaikan ejekan lagi dan merentak pergi membawa seringai bibirnya. Menunggu waktu. "Entahlah. Wajahnya ceria. apa kau menulis?" tanya Neli. Tapi setelah aku dibebaskan." jawab Si Dali. Dan ketika aku ingtakan pada masa dia ditangkap dulu. Haris dan Neli kehabisan tugas yang selama dua bulan dia urus terus-menerus. "Begitu?" kata Haris. "Si Ponco?" "Juga tidak. "Istriku suka kalau aku ditahan lagi. semua pemberian stop. tidak lagi melakukan wirid diskusi mingguan. Jauh berbeda dibadingkan dengan masa-masa dia aktif bersama para sastrawan dulu." katanya kemudian. "Tinggal di luar begini tak ubahnya kita tinggal di hutan larangan. maulah aku. "Maksudmu?" tanyaku. Malah dapat juga meminjamkannya pada tetangga. dia tidak pernah kekurangan beras. tidak lagi baca-baca puisi.

Yang hadir di masa itu bukan hanya seniman. Di masa itu kota kami kesibaran "Peristiwa Malari" yang marak di Jakarta. Lalu anak-anak muda itu mereka gerakkan mencari sumbangan solidaritas kemana-mana. Di sana dia kawin lagi tanpa menceraikan istrinya yang beranak enam." katanya sambil terkekeh. Aksi-aksian baca puisi itu selalu ramai dikunjungi. Dan Si Dali. Mau dilarang tidak ada alasan. Maka kesibukan mereka beralih karena kegairahan mendapat simpati. seperti baca puisi di lapangan terbuka waktu siang atau waktu malam pakai obor segala. ditangkap po lisi. Memidahkan tidur penganggur dari rumah istrinya. terutama yang muda kian jadi keasyikan diinteli itu. Tapi kini aktivis seperti Neli sudah menikah dan memperoleh anak. pengunjung hadir lebih dari tiga kali lebih banyak dibandingkan jika penyair baca puisi di Taman Budaya masa sekarang. Si Dali dan Alfonso. di waktu yang lain karena indikasi ekstrim kiri atau kanan. Kayutanam. lalu dikasi makan enak-enak. Mereka bikin acara yang aksi-aksian. Keningku berkerut lama oleh cerita Si Dali itu. seolah-olah dia tidak pernah mengalami kesulitan apapun. 14 Juni 1996 Penangkapan Hari itu teman kami. Karena merasa diri penting. Lalu kami. Kemudian karena indikasi PKI. Dan memang sesudah peristiwa itu sampai sekarang tidak ada lagi sastrawan baca-baca puisi. Dibiarkan terus. Karena merasa diri ada. Maka para sastrawan. seperti kataku tadi. Alfonso merantau ke Jakarta. Dalam mata anganku terbayang lagi hingar-bingar masa itu. Saya aku tahu hampir tengah malam. Sejak bertahun-tahun silam aku sudah terbiasa mendengar peristiwa penangkapan. Haris menjadi dosen yang sibuk karena mendapat proyek penelitian. Aku sama sekali tidak kaget kalau ada orang ditangkap." "Tak ada?" "Kami kan orang nganggur. demi mendengar bunyi mesin ketikku." kata Si Dali dengan gaya bicara yang ringan. "Tak ada. tetapi juga para simpatisan. toh tidak ada yang rugi. . Menurut istilah polisi diamankan. Demonstrasi baca puisi berhenti. "Formalnya kau ditangkap atas tuduhan apa?" tanyaku. Mereka mampir pada saat pulang habis nonton bioskop. Lalu. wajahnya secerah baju yang di pakainya. Menurut taksiranku sekarang setelah 30% pertambahan penduduk dari masa 20 tahun yang lalu. yang tua-tua ditahan. dikhawatirkan iklim bisa rawan. rupanya orang-orang intel kewalahan menghadapi tingkah laku sastrawan muda. Ada karena indikasi PRRI."Masa itu. Jimi dan Leon yang beri tahu. Kemana-mana kami berkumpul selalu diinteli oleh oknum dari bebagai instansi.

kembali ke awal cerita. Soekarno dan Hatta pernah ditangkap. Sedangkan sastrawan muda di kota kami menyebut diri mereka sebagai "ekstrim tengah". Kita harus membuat sesuatu sebagai tanda simpati dan solider. yaitu perutnya. Kalau dia bicara pada forum diskusi. Menjelang tengah hari dua orang sastrawan muda yang paling aktif menggerakkan aksi-aksian baca puisi. Melain di asrama pelatihan polisi yang lagi kosong. Termasuk Si Dali dan Alfonso.Tidak kalah banyak orang lewat yang sekadar ingin tahu. Mereka ditahan bukan dalam sel. paling-paling honornya sekedar pembeli rokok untuk seminggu. Sebagai sastrawan. menemuiku. kutipan pandangan filsuf dunia beruntun. Tentu saja para intel yang mengenakan jeket danu bergunting rambut cepak ikut juga berjubel. Kalau tidak dicurigai sebagai akstrim kiri tentu saja ekstrim kanan. Sebenarnya Si Dali dan Alfonso tidak berperan penting pada aksi-aksian itu. Kalau dikirim ke media nasional. Dia selalu menyebut nama Alfonso dengan Ponco. Toh dari mulutnya tak henti-henti asap rokok mengepul. Yaitu indikasi menentang pemerintah." kata Neli tanpa kata pengantar. Tidak diketahui alasan dan pasal-pasalnya. Mochtar Lubis ditangkap. bahasanya teratur. Sekali-sekali sempat juga nonton bioskop atau makan rujak dan es tebak di tepi laut." kata istriku pagi-pagi setelah aku ceritakan peristiwa itu. Natsir ditangkap. Kalau tulisan mereka di muat dalam koran lokal. naskahnya sering dikembalikan. Namun keduanya selalu hadir. Dan aku tidak kaget mendengarnya. Kalau dimuat berbulan-bulan menanti dan berbulan-bulan pula menunggu honornya.Si Dali dan Alfonso ditangkap polisi sekeluar dari bioskop. Punya isteri dan beranak. Itu risiko jadi orang besar." kata Haris pula. Kehadiran keduanya seperti memberi dukungan moral kepada mereka yang muda. sebab tidak punya uang membeli nasi. Haris dan Neli. Yang jadi pikiran ku ialah keterangan Jimi. Dan lebih-lebih Alfonso yang orang teater yang menjadi idola mereka. meciutkan nyali yang hadir. Sjahrir ditangkap. "Om. Jadi presiden dan wakil presiden. "Jika keduanya ditangkap bukan masalah berat. Bahwa istri Alfonso sedang hamil berat. Si Ponco dan Si Dali ditangkap polisi tadi malam. "Jadi?" . Nah. Lalu mereka menjadi orang besar Tanah Air. praktisnya mereka merupakan penganggur. *** "Anaknya bisa lahir prematur. Maka itu sebagai orang yang terbiasa lapar dalam zaman stabilitas politik dan ekonomi. sesungguhnya mereka bukanlah orang yang punya alasan untuk ditangkap. Alasan cuma satu. Tapi toh mereka hidup. gayanya memukau. Karena selalu mendapat persoalan untuk mengisi bagian tengah badannya. Karena peristiwa penangkapan di masa itu bukan berita lagi.

Sambil tertawa. "Mengapa diam saja?" tanyaku ketika kami telah sampai di rumah lagi. pikirku. Tapi bagaimana dengan biaya hidup perempuan yang tidak punya sanak keluarga satu pun di kota itu. Kalau tidak ada hujan. ada juga yang memberi rokok. Aku kira hidupnya sama dengan kita. ada pula perwira polisi atau militer yang berkirim makanan kaleng atau rokok.Sewa kontraknya memang tidak mahal. Namun dia harus membuat dapur di belakang rumah. biayanya bisa diatur kemudian. Dengan Alfonso bakal dua. Dia terus membisu. Bila dia harus masuk rumah sakit. Dia memberi ultimatum harus bayar paling lama besok. Istriku tidak menyahut. Pikiranku menjalar tentang situasi yang dihadapi istri kedua teman kami itu. Mereka menyambut kami dengan airmata berlinang." kata Neli pula. Akan tetapi letaknya terjepit oleh dua bangunan yang berbelakangan. Istri Alfonso memang tukang beranak terus. "Atau semacam kegilaan yang mengasyikan saja?" *** Hampir dua bulan Si Dali dan Alfonso mendekam di tahanan polisi. Yang membingungkan tapi juga menggembirakan mereka. Dulunya sebuah pondok ronda. Ditanyai satu jam setiap hari."Istri Si Ponco hamil berat. Si Dali menempatinya. tentang filsafat setiap datang ke sini. Dengan suami pertamanya tiga. Untuk mandi dia tampung air hujan dengan sebuah drum. Tapi bersama istri. aku tidak tahu dimana mereka mandi. di sebidang tanah seperti tidak bertuan. berdinding tadir dan berlantai papan dengan kolong rendah. Tadi pagi yang punya rumah sudah datang karena tahu Si Dali ditangkap. "Aku tidak menduga rumah Si Dali seperti itu. Seselesai makan malam barulah dia berkata. "Apa jadi seniman itu pekerjaan atau hobi atau apa?" Karena aku tidak menyahut juga dia berkata lagi. Kemudian jadi pos preman melakukan hal-hal yang tidak disukai penduduk. susu kalengan atau memberi bon untuk ditukar dengan beras. apabila Si Dali lama ditahan? Kepada Haris dan Neli aku berikan nama beberapa orang yang aku yakin mau membuka dompetnya. Ketika dibebaskan kulit mereka cerah karena jarang kena sinar matahari. Apa dia betul-betul orang miskin?" Karena aku tidak menyahut. Untuk kakus. Istri Si Dali harus pindah rumah karena kontraknya sudah dua bulan berakhir. biskuit. bergurau atau saling meledek. Dibiarkan main catur. Istriku trenyuh sekali demi melihat tempat tinggal Si Dali yang pondok itu. Terkecuali hari Minggu. tentang kebudayaan. dia gali lobang setiap hari bila malam tiba. dia bertanya lagi. Lokasinya memang di tengah kota. Ketika preman itu dapat diusir. . Bila bersama pengawal mereka main domino sampai lewat tengah malam. aku menyempatkan menjeguk istri mereka. Selain dari isi dompet. Setiap hari secara bergantian para sastrawan menjenguk kedua teman yang ditahan itu. Mereka dikasi makan cukup. jika aku ingat pada obrolannya tentang politik. Tapi istri Si Dali? Rumah kontrakan itu sebetulnya cuma pondok ukuran 3 X 4 meter. Aku tidak pernah menjenguk mereka.

"Masa itu bukan semacam permainan hidup. Kami seolah kehilangan motivasi. Dunia seperti telah aman seaman-amannya untuk semua. Kulitnya sebersih pakainnya. katanya. tidak lagi melakukan wirid diskusi mingguan. Bayangkan." katanya kemudian. Istri Alfonso telah melahirkan anak laki-laki." "Selama dua bulan ditahan. Menunggu waktu. dia tertawa. "Tak ada gairah. . Dan ketika aku ingtakan pada masa dia ditangkap dulu. melainkan semacam hidup yang dipermainkan. "Tinggal di luar begini tak ubahnya kita tinggal di hutan larangan. "Maksudmu?" tanyaku. tidak lagi baca-baca puisi. "Istriku suka kalau aku ditahan lagi. kekurangan uang. "Begitu?" kata Haris."Enak juga jadi tahanan seperti itu. Tapi dunia yang aman seaman-amannya itu tidak ubahnya seperti lampu yang hampir padam karena kehabisan minyak." Neli menyeringaikan ejekan lagi dan merentak pergi membawa seringai bibirnya. Tapi setelah aku dibebaskan. Si Dali menggeleng seperti orang tertangkap basah. apa kau menulis?" tanya Neli. Haris dan Neli kehabisan tugas yang selama dua bulan dia urus terus-menerus. Kemiskinan dan kelaparan memenjarakan kita tak henti-hentinya." *** Bertahun-tahun kemudian aku ketemu Si Dali. Selama aku ditahan. Sastrawan muda yang dipelopori Haris dan Neli. Setiap hari ada saja orang datang memberi apa-apa. "Si Ponco?" "Juga tidak. semua pemberian stop." jawannya lesu. Wajahnya ceria. dia tidak pernah kekurangan beras. Istri Si Dali kembali ke rumah orangtuanya di desa di kaki Gunung Talamau karena tidak betah hidup tanpa jaminan masa depan yang baik. Malah dapat juga meminjamkannya pada tetangga." kata Si Dali. Kalau ditahan lebih lama lagi. maulah aku." jawab Si Dali. "Mengapa begitu?" tanyaku ketika kami berjumpa. Jauh berbeda dibadingkan dengan masa-masa dia aktif bersama para sastrawan dulu. "Dimana letak kebebasan yang kau perjuangkan?" tanya Neli ketus dengan seringai bibir yang sudah aku kenal benar. "Entahlah.

di bordes. di jendela. Ketika itu zaman pendudukan Jepang. 14 Juni 1996 Penolong Sidin berlari. Lalu anak-anak muda itu mereka gerakkan mencari sumbangan solidaritas kemana-mana. Dalam berlari Sidin selalu ingat. Tapi kini aktivis seperti Neli sudah menikah dan memperoleh anak." "Tak ada?" "Kami kan orang nganggur. Di sana dia kawin lagi tanpa menceraikan istrinya yang beranak enam. Namun Sidin berlari juga. Tapi peristiwanya pagi. Dibiarkan terus. Sidin pun mengalaminya berkali-kali." kata Si Dali dengan gaya bicara yang ringan. toh tidak ada yang rugi. di tangga. yang tua-tua ditahan. "Tak ada. rupanya orang-orang intel kewalahan menghadapi tingkah laku sastrawan muda. lalu dikasi makan enak-enak. bahwa ada kereta api jatuh di jembatan Lembah Anai. Karena ada larangan. Di atap. Ketika itu. Dalam mata anganku terbayang lagi hingar-bingar masa itu. Tapi di tengah jalan ia tertahan oleh rombongan yang telah kelelahan mengangkut para korban. Keningku berkerut lama oleh cerita Si Dali itu. ketika peristiwa yang sama terjadi enam bulan yang lalu. Haris menjadi dosen yang sibuk karena mendapat proyek penelitian. Kayutanam. yang juga berlari. Seolah orang hanya ingat cuma satu. Itulah yang mendorongnya berlari. Demonstrasi baca puisi berhenti. Mau dilarang tidak ada alasan. Tapi dia tidak sendiri. Dan memang. Karena kendaraan bermotor lainnya telah diambil balatentara Jepang untuk keperluan perangnya. Tidak ada angkutan umum selain kereta api. seolah-olah dia tidak pernah mengalami kesulitan apapun. seperti kataku tadi. Mereka berlari di malam gelap. di kala itu malam telah datang. Alfonso merantau ke Jakarta. Dan memang sesudah peristiwa itu sampai sekarang tidak ada lagi sastrawan baca-baca puisi. di sepanjang jalan aspal yang rusak berlubang-lubang yang tak terlihat. Dan Si Dali. Sama seperti dulu. Hujan renyai yang turun rintik-rintik sejak siang tadi. Maka kesibukan mereka beralih karena kegairahan mendapat simpati. wajahnya secerah baju yang di pakainya. membelam malam dan mendinginkan senja. Dan Sidin ikut menggotong korban ke tempat penampungan di sebuah mesjid. dikhawatirkan iklim bisa rawan." katanya sambil terkekeh. Lalu kami. berlari terus bagai anjing yang kemalaman pulang. bahkan juga di besi bumper dan rantainya. Penumpang dan barang bertengger di mana saja. Namun ia berbelok mengambil jalan lain."Masa itu. Dan ia tak pernah sampai di tempat kejadian. bukan keselamatan . Banyak orang. hujan renyai juga. Sehingga banyak yang terperosok dan jatuh terduduk karena kehilangan keseimbangan. Memidahkan tidur penganggur dari rumah istrinya. Sehingga angkutan kereta api menjadi penuh sesak. "Formalnya kau ditangkap atas tuduhan apa?" tanyaku. seperti orang-orang lain juga. sampai malam itu.

Dan kereta api yang sarat oleh penumpang meluncur di rel yang licin oleh renyai sejak siang pada jalan yang menurun di lereng lembah dan perbukitan. kereta meluncur kian kencang dan kian kencang lagi. Mereka memaksakan diri untuk menggotongnya. Tapi seseorang berkata lagi. Terasa berat tubuhnya. Seorang korban yang merintih. Ia mendekati korban-korban yang tergeletak itu. demi melihat para korban bergeletakan di tepi jalan itu. dalam cahaya remang-remang lampu tekan yang enggan nyala ditimpa gerimis. merintih. Ia pikir. Lampulampu tekan yang sedikit tak kuasa memberikan penerangan bagi orang-orang yang memberikan pertolongan. tapi bagaimana mencari mereka di antara korban yang telah tergeletak itu. "Angkat yang masih hidup. Gerbong dan lok yang tidak terawat karena kekurangan peralatan dipaksa terus mengangkut muatan berlebih. Mulanya ia memang didorong oleh rasa ingin tahunya untuk datang ke situ. apakah mereka masih hidup atau sudah mati. Lebih hebat dari kecelakaan yang sama pada enam bulan yang lalu. orang-orang belum banyak. Sidin berlari ke sana. Mereka bukan pedagang. malah merasa ngeri. Tidak diketahui pasti. sudah cukup memberi makan satu keluarga untuk beberapa hari dari hasil keuntungan. lok lepas dari relnya. Tapi setelah ia sampai dan tahu apa dan bagaimana peristiwa itu terjadi.dirinya. seperti halnya ia tidak tahu mengapa ia sampai di situ dengan berlari-lari. ia bingung. Sehingga sulit mengangkatnya. Banyak korban telah dikeluarkan dari gerbong yang terguling bertindihan di bawah jembatan yang ambruk itu. di dalam gelap lagi. Memang sangat lengangnya orang di sebelah sana. mereka angkat berdua. Disambut oleh lengkungan besi sebuah jembatan. melainkan badannya harus sampai ke tempat tujuan. Seseorang menyuruh Sidin ikut menggotong korban yang baru saja dikeluarkan dari gerbong-gerbong itu. mungkin ada kerabat atau temannya yang menjadi korban. terutama beras yang hanya sekitar 100 kg. Sedangkan korban yang lain. Beberapa Jepang dengan pakaian militernya.oleh bangsanya sendiri pula. Mungkin terpegang pada lukanya atau mungkin ada tulangnya . merasa tersentak dan bulu romanya menggerinding. dan diangkut cepat dengan truk yang disiapkan untuk diberi rawatan di rumah sakit terdekat. Ada yang telah diam. digotong ke tepi jalan raya. tapi ada juga yang bergerak. Lengkungan itu ambruk dan lok pun terjun ke sungai yang tengah deras airnya karena hujan di hulu. Karena muatan berlebih dari kemampuan. Kecelakaan telah terjadi lagi. Dengan beberapa orang ia mengangkatnya. Dan apa yang dapat ia lakukan untuk mereka yang menderita atau yang telah mati itu? Tiba-tiba didengarnya ada orang yang berteriak-teriak meminta tambahan tenaga di dekat gerbong-gerbong yang berimpitan itu. Ia tak tahu juga. Dikeluarkan dari gerbong. didapatinya pula banyak korban sedang tergeletak. apakah mereka masih hidup atau mati. Seluruh gerbong pun ikut terjun bertindihan. sambil membawa barang dagangan. Dengan bepergian. Dan semangat orang bepergian melebihi dari biasa. Seperti dihipnotis. Rem dapat menghentikan roda berputar. Dan licin lagi. Dan Sidin. Dibariskan di tepi jalan raya. Kereta api harus jalan dan penumpang harus bepergian. Dan tidak seorang pun yang peduli. hanya memilih Jepangnya saja. Mereka menamakan dirinya tukang catut. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dan si korban berteriak kesakitan. Di jalan kereta api dekat jembatan yang telah ambruk." Dan mereka mencari-cari korban yang masih hidup. tapi tak dapat menghentikan kereta api itu meluncur. diurus . Dan di sebuah tikungan patah. Pada waktu Sidin sampai di tempat kecelakaan itu.

Letakkan saja di sini. Tapi itu hanya dalam khayalannya saja." kata temannya. Dan selalu meraung-raung kesakitan. Kami bukan anak buahmu atau istri-istri mudamu yang bisa membelai-belaimu. "Bagaimana kau tahu ini Mak Gadang dalam gelap begini?" kata Sidin. Tapi lebih terkenal sebagai pencari perempuan untuk orang-orang Jepang dan mendapat upah dengan menjualkan barang-barang curian milik Jepang langganannya itu. karena gemuknya. Dan dalam hatinya ia sesungguhnya menyetujui semua komentar orang yang tidak dikenalnya tapi samasama menggotong itu. ke tempat korban-korban lain menanti pertolongan pengobatan atau pengangkutan ke rumah sakit di kota. seraya merendahkan tubuhnya untuk benar-benar hendak meletakkan tubuh itu ke tanah. "Wah." kata yang pertama. Dan Sidin menduga pegangannya tepat pada bagian yang cedera. Sidin mempererat genggamannya agar si korban tidak melorot. Sidin sungguh-sungguh tak tahan mendengar dan merasakan penderitaan orang itu." "Kesengsaraan bisa mengubah tabiat. korban mereka angkut ke jalan raya yang sejajar dengan jalan kereta api itu. orang ini Mak Gadang. Salah seorang yang menggotong itu berkata.yang patah tidak cukup terpapah." kata laki-laki yang pertama tadi. susah amat menggotong buaya ini. sulit dilalui oleh dua orang bersamaan. Korban itu mengerang terus. Tapi korban yang mereka gotong itu begitu berat. Sidin berpikir. Melewati jalan setapak yang terjal menurun pula. "Kalau tak salah. Kini jalan yang mereka tempuh begitu sempit. Tapi ia korban kecelakaan. Semestinya ia tidak ditolong. Menurun lagi. Dan dalam menggotong korban yang terus mengerang itu. "Familimu?" "Tidak. Tapi ia tak mungkin mengendurkan pegangannya. Berbatu besar. Biar orang lain yang menggotongnya lagi. Sidin kenal nama Mak Gadang di kotanya. Sedikit lagi. Lebih tersiksa lagi oleh pikirannya pada nama yang terkenal di seluruh kota sebagai orang yang bejat hatinya. sungguh merupakan siksa baginya. ular juga. apakah memang orang seperti ini perlu diberi pertolongan? Begitu berat tubuhnya yang memang besar dan tambun itu. Dikenal pencatut. "Jangan cengeng. "Tahanlah. Setelah datang seorang lagi ikut menggotongnya." kata laki -laki yang pertama. biar dipenggal kepalanya. Sedikit lagi kita sudah sampai." . "Kalau ular." "Tanggung menolong." "Banyak yang lain lagi yang patut ditolong. Tapi si korban mengerang kesakitan. Dan Mak Gadang menjadi kaya karenanya." kata yang lain.

Sidin tersandar keletihan di bawah tiang. "Taruh di sebelah sana. Anata. melainkan sembilan buah tiang yang kawat lamanya telah kendur dan terjela-jela di tanah di sepanjang jalan kereta api itu. tak bergerak dan tak mengerang oleh kesakitan. karena ia mampu mendukung tubuh Jepang yang kekar itu. Sidin tercenung kebingungan ketika bersandar pada pagar tembok jembatan. Beberapa kelompok mencari-cari kerabat atau kenalannya dengan menggunakan suluh. Kemudian ia ingat pada seorang yang memeriksa mayat demi mayat. Karena disuruh letakkan sekelompok dengan korbankorban lain yang telah diam.” Kemudian datang dua orang lain ikut membantu menggotong sampai ke tempat yang ditunjuk oleh orang yang berpakaian putih tadi. Matanya melihat orang-orang lalu-lalang mengangkut dan mencari korban yang mungkin dikenalnya. dua orang yang berbaju putih menyongsongnya. Salah seorang mengambil pergelangan tangan korban untuk memeriksa denyut nadinya. tiba-tiba saja badannya terasa lemah dan tak kuasa lagi mendukung tubuh Jepang itu pada tonggak yang kesembilan. tapi pikirannya tidak jalan. Tapi juga ia melihat ada seseorang yang meraba-raba korban demi korban. Dan pikirnya. hanya menyenter dengan lampu baterai ke arah kawat darurat itu diikatkan pada tiang. Didengarnya juga erangan dan rintihan korban yang masih hidup. ia telah melakukan tugasnya. Sidin menoleh ke arah suara itu. Dari tempatnya ia juga melihat orang-orang di sebelah sisi sungai berbanjar menyambut korban yang baru keluar dari gerbong. lalu dengan berpijak di pundak itu ia mengikatkan kawat-kawat baru. karena kawat yang lama telah putus oleh sebuah tiang yang juga tertabrak kereta api yang terguling itu. Rupanya Jepang itu memerlukan pertolongannya untuk memasang kawat telepon darurat. Ketika Jepang-jepang itu telah pergi ke tiang lain. Tiba-tiba hatinya menduga bahwa orang itu pastilah pencuri. Dan kemudian katanya. Juga pada tubuhnya yang terkulai di saat ia menggotongnya. Sehingga kenangannya pada erangan Mak Gadang ketika digotongnya timbul lagi. masih tergeletak di tempatnya. Bukan hanya sebuah tiang. Dilihatnya seorang Jepang memanggilnya. Hawa malam di lembah pegunungan itu. "Anata. Dan Sidin tiba-tiba sadar. Oleh dugaan itu. Sedangkan Jepang yang seorang lainnya. Matanya melihat. Jepang itu menyuruh Sidin tegak di bawah tiang telepon. bahwa orang yang digotongnya itu telah mati. Dan ketika mereka sudah sampai di pinggir jalan raya. mungkin korban itu mengerang dan merintih karena nyawanya sedang diregang-regang maut. Sidin tidak merasakan apa-apa ketika tubuh Jepang itu berpijak di bahunya. Tempat kecelakaan tak tampak dari . Tapi jelas orang itu tidak hendak memberikan bantuan. yang digeletakkan terpisah dari yang masih hidup. Omae! Mari sini!" Kedengaran seseorang berseru dekat tiang kawat telepon. Sidin keheranan pada dirinya. Lalu pada korban-korban yang diperkirakan telah meninggal. Dan tak seorang pun dilihatnya.Korban itu tidak mengerang lagi. Hawa malam terasa dingin dengan tiba-tiba. Dan Mak Gadang yang digotongnya tadi." katanya memperingatkan Jepang yang memegang senter itu agar menggantikannya. Dan ia merasa masih mendengar betapa erangannya ketika digotong. Sudah tenang. Kemudian ia memanjati pundak Sidin yang kurus kerempeng itu. lalu memberikannya kepada orang berikutnya secara beranting. "Hai.

Ia kembali ke jembatan jalan umum. Beberapa buah gerbong barang terendam berserakan di dalam air. dia memandang ke arah jembatan kereta api yang ambruk. Mereka pulang setelah menemukan korban yang dicarinya. Sambil bersandar ke pagar besi di tengah-tengah jembatan itu. Rasa dingin malam kembali menerpanya. Ia kembali naik ke jalan. Tapi air itu belum mendidih. Sidin cepat-cepat memalingkan pandangannya. yang tadinya basah oleh gerimis. dan membiarkan tubuhnya telanjang? Pikir Sidin. karena ia tadi belum sempat makan malam ketika berangkat. Pikir Sidin. Sidin yang kehausan melangkah ke arah yang ditunjuki orang itu. diiringi oleh banyak orang. Di sebuah lapangan sempit di tikungan jalan yang mulai mendaki dilihatnya irang ramai di sekitar api unggun. Ia merasa sangat lapar. ia melihat pancuran bambu. Baju balcunya yang tipis. Ditampungnya air itu dengan kedua telapak tangannya. Entah masih hidup korban itu atau sudah mati. Mengapa orang tega mencuri kain perempuan-perempuan itu. Ia melihat ada tiga gerbong penumpang yang bertindihan. Sidin mendekati. kini sudah kering karena renyai telah berhenti. Teringat pada bagian hulu sungai itu. Lunglai ia mencoba berdiri dan melangkah ke tempat kecelakaan itu terjadi. Ia merasa sangat sendiri. terlindung di balik punggung bukit. Dan di salah satu pinggir sungai ia melihat orang-orang berbanjar dari tempat gerbong bertindihan itu ke tepi jalan raya. masih banyak mayat bertumpuk-tumpuk degan gerbing yang terendam dalam sungai itu. Ada pancuran kecil. Ia minum sepuas-puasnya untuk menghilangkan haus dan mengisi perutnya yang kosong. Lalu ia menuruni tebing sungai di bawah jembatan itu hendak meminum air yang bening mengalir. Lalu di bawa ke mulutnya. Hilanglah keinginan minumnya. di malam gelap pada pesawangan. Namuh Sidin masih kebingungan karena tak tahu apayang harus diperbuatnya. Hampir seluruh perempuan yang telah mati. mereka itu menanti korban yang dikeluarkan dari gerbong itu. Kain itu digunakan untuk tandu menggotong kerabat mereka yang jadi korban. Tidak lain maka ia menyesali dirinya sendiri. ia dapat memperhatikan lebih saksama betapa hebatnya kecelakaan itu. Di dalam gelap malam itu. Setiap ada korban yang digotong ke kota. lalu dengan beranting menggotongnya sampai ke tepi jalan raya untuk diperiksadan dirawat oleh tenaga-tenaga kesehatan yang . Ada orang merebus air pada sebuah ketel. meski diterangi oleh beberapa lampu tekan. dan tak seorang pun terlihat. Sendiri. kainnya telah tiada. mungkin kawannya. dibawah jembatan kereta api. Airnya jatuh gemericik. Yang teratas berdiri dengan vertikal setengah miring. Tapi hewan malam tak tertahankan. Hingga kakinya sampai ke pangkal paha terbuka. Bertambah banyak mayat bertumpuk di tempat ia meletakkan Mak Gadang tadi. Air itu telah susut jika dibandingkan ketika mula datang tadi.situ. Namun selintas ia masih menampak Mak Gadang di tempatnya semula. Dan tersandar pada kaki jembatan. Tak seorang pun famili atau kenalannya yang diperkirakannya ikut menjadi penumpang kereta api yang sial itu. Kemudian barulah ia dapat melihat situasi dengan lebih jelas. mungkin familinya. “Di sana. Ia minum sampai keluar serdawa dari mulutnya. Dan yang paling menggodanya ialah rasa haus. Sehingga rasa kecut merasuk ke dalam dirinya. Ia datang ke tempat itu hanya untuk melihat peristiwa.” kata seseorang sambil menunjuk ke kaki bukit ketika Sidin menanyakan dari mana air dalam ketel itu diambil. Samarsamar. Mereka berdiri dalam kelelahan. Dan kinilah ia baru tahu untuk apa sarung mayat perempuan diambil orang. Tapi tak banyak lagi orang yang berdatangan dari arah kota. karena di sana banyak orang dan rasa kesendiriannya bisa hilang .

Tapi tak ada orang yang menyambutnya. orang-orang yang berbanjar di sepanjang tepi sungai itu bagai semut yang terpijak sarangnya. ketika Sidin kebingungan hendak memasuki salah satu gerbong. Hati Sidin bagai terlecut jadinya. tersenyum menyambut kedatangan Sidin. Sehingga ia tak bisa lagi untuk mundur tersebab rasa ngerinya melihat mayat yang saling berimpitan di dalam gerbong itu. Mungkin korban yang telah mati. pikir Sidin. Akhirnya ia melihat anak muda itu mencoba mengangkat korban yang bertumpukan seorang diri. juga haus. Sebuah lampu tekan tergantung dengan diikatkan pada kayu rak barang. kopi. Ia tersandar pada dinding gerbong. Tiba-tiba dari arah jalan raya ada seseorang berteriak-teriak. tak ada korban lagi di gerbong itu. Dan maki-makian Jepang menyuruhnya segera bekerja. Kalau memang tidak ada kenapa masih ada orang berbanjar di tepi sungai itu? Kalau masih ada. "Tuan-tuan. satu-satunya orang yang masih menolong untuk mengeluarkan korban dari dalam gerbong itu. Sidin memasukinya lewat beberapa jendela yang telah dibongkar tiang pembatasnya. Gerbong terbawah itu tergencet antara gerbong barang dan gerbong penumpang. Dengan memindah-mindah mayat-mayat lainnya. Sidin tak sempat berpikir banyak lagi. Dan makian Jepang "Bagero omae! bagero omae! " tak seorang pun yang mempedulikan. Hari memang telah lewat tengah malam." kata orang yang berdiri paling dekat di gerbong itu. perasaan ngeri yang sangat menyebabkan seluruh sendinya demikian goyahnya. "Di gerbong paling bawah. Orang-orang memang telah letih. Tapi begitu lamanya. yang seusia Sidin. Tiba-tiba terdengar suara mengerang-ngerang dari antara tumpukan korban. sedang mencoba menarik-narik seorang korban agar terlepas dari tumpukannya. Dan bagero Jepang itu melayang-layang lagi di udara malam itu. dan bahkan lapar karena tak henti-hentinya bekerja menggotongi korban yang dapat dikeluarkan dari gerbong atau terpental ke dalam sungai. hingga roda-roda gerbong yang menimpanya terbenam ke dalam gerbong di bawah itu. Keduanya buru-buru mencarinya. “Rekas! Rekas! " kata seorang serdadu J epang menyuruh Sidin yang tertegun hendak memasuki gerbong itu. Pada bagian yang ditimpa gerbong di atasnya begitu remuknya. kenapa begitu lama mereka menanti? Seperti ada yang mendorong Sidin untuk menyelusup ke dalam gerbong yang terbelingkang itu. Tuantuan!" Serentak dengan teriakan itu. kemudian mengajaknya ikut membantu. Tapi Sidin telah berada di dalam gerbong. Tak seorang pun yang mempedulikannya. Namun matanya melayang juga ke keliling dengan perasaan ngeri yang tak kunjung hilang. Sidin tidak bisa membalas senyum itu. Anak muda. tak mampu menggerakkan semangat Sidin untuk memulai. la lewati orang yang berbanjar itu. Hanya beberapa orang saja yang tidak beranjak dari tempatnya. Dan ketika anak muda itu memandang kepadanya. Berebut mencari kopi yang diimbau dengan teriakan itu. seperti orang memindahkan setumpukan karung-karung beras untuk mencari dari mana sumber suara .semuanya berbaju putih dan biru tua. Kenapa hanya seorang penolong saja. Tapi hanya seorang penolong yang ada di sana. Berdua mereka mengangkati korban yang telah mati itu dan mengeluarkannya melalui jendela gerbong.

sehingga Sidin hanya melihat mulut orang itu terbuka. Dan mereka berusaha mengeluarkannya. "Seorang gadis terjepit kakinya!" seru Sidin pada orang yang berdiri di atas batu kali. Dan bersamaan ia dengar hatinya sendiri merintih dan lehernya membengkak serta jakunnya terasa tersendat di lehernya untuk menahan jeritan hatinya keluar dari kerongkongan. . ia tak mampu melaksanakannya. Kalau mesti menggunakannya. Dilihatnya temannya itu tidak meminumnya. Potong na. orang yang paling dekat darinya. Pikirnya tak mungkin digunakan kampak itu untuk memotong mayat yang menjepit itu. "Kopi?" tanya orang itu lagi. Sidin hendak minta tolong kepada orang lain untuk membantu memindahkan roda besi yang menekan itu. Kutukan itu dirasakannya kurang cukup untuk mengajari dirinya. tapi itu tak mungkin mereka melaksanakannya berdua saja. Sidin melihat ada roda gerbong yang menekan ke bawah. melainkan diminumkannya kepada gadis kecil itu." kata Jepang itu seraya memberikan kampak. Seorang gadis kecil yang terjepit di antara beberapa mayat yang bertumpukan. Sidin lalu menceritakan dengan bahasa isyarat pada Jepang yang kerjanya Cuma memaki dengan bagero itu. Mereka mencoba mengangkat mayat yang di atas gadis itu. Sidin menerimanya. Walau bagaimana pun sudah diusahakan. tapi usahanya kandas karena setiap mereka mencoba menariknya. “Apa?!" tanya orang itu dengan berseru pula. Dan Sidin mengutuki dirinya yang hanya memikirkan dirinya seorang. Kampak itu diambil oleh temannya sambil menyeringai ketawa seperti ketika ia menyambut kedatangan Sidin tadi. “Potong na.itu. sampai tangannya dirasakannya sakit. Lagi-lagi gadis itu menjerit kesakitan. Dan itu tak mungkin mereka angkat berdua. Minta bantuan tenaga!" kata Sidin berteriak lagi. "Kaki seorang gadis terjepit. mungkin tadi kampak itulah yang digunakan untuk memperlebar lubang jendela itu. Tapi suara itu berbaur dengan desauan air yang mengalir. Sidin mengangguk. Dipukulnya keningnya beberapa kali. namun kaki gadis itu tak dapat dilepaskan dari jepitan mayat itu. seseorang membawakan dua cangkir kopi untuk mereka. Alangkah lahapnya gadis itu meminumnya. Mestinya mayat yang di bagian atas itulah yang harus dibongkar lebih dahulu. Lalu mereka mencoba lagi menarik mayat yang lebih di atas lagi. "Lagi?" tanya orang yang mengantarkan kopi itu. Tapi tidak bisa telinga Sidin menangkapnya. Ia keluarkan kepalanya lewat jendela yang dibongkar itu. Ketika kepalanya keluar dari jendela. mayat itu tak beranjak dari tempatnya. Secangkir diserahkan kepada temannya dan yang lain segera diminumnya karena dengan tibatiba rasa haus dan lapar digoda oleh aroma kopi itu. ia merasa terpukul. Karena memang secangkir kopi tidak cukup baginya. Pikirnya selintas. Namun bagaimanapun keras usahanya menarik-narik. Akhirnya mereka menemukan sumber suara itu. gadis itu selalu terpekik. Tapi ketika ia melihat kepada temannya itu.

Sidin menggamit orang itu supaya mendekat. Sambil ia berseru meminta dua orang tenaga dengan mengacungkan dua jarinya. Sedang bagero Jepang itu terus juga melayang-layang. "Dua? Baik. Aku ambilkan," kata orang itu seraya pergi menjauh. Sidin menyangka orang itu akan mengatakan pesannya kepada orang terdekat. Tapi ia terus juga melewati orang-orang yang berdiri di tepi sungai itu. Dan Sidin terus juga berteriak-teriak mengatakan apa yang ia perlukan. Di sela oleh bagero Jepang itu. Tak ada orang yang memahami apa yang dikatakannya, karena suaranya ditelan oleh desauan air sungai yang mengalir di sela-sela batu, bagero-bagero Jepang yang melayang-layang, padahal jarak mereka tidak jauh. Tiba-tiba saja, anak muda yang jadi temannya dalam gerbong yang sial itu, telah berada saja di sisinya. Ia tertawa nyengir seperti waktu menyambut kedatangannya tadi. Sidin bingung seketika, oleh tawa yang pada waktu dan tempat yang tidak sesuai itu, meski hanya menyengir saja. "Beres," kata anak muda itu sambil terus menyengir. Sidin melirik ke tempat gadis kecil itu terjepit. Gadis itu tak di sana lagi. Gadis itu ada di dalam gendongan anak muda itu. Wajahnya diam dan kepalanya terkulai. Dan ketika ia naik ke bangku gerbong tempat Sidin berpijak, maka Sidin turun dari bangku itu untuk memberi kesempatan pada anak muda itu keleluasaan menggotong korban itu. Tapi tiba-tiba ia tidak melihat sebelah kaki gadis itu. Di ujung kaki yang tak terlihat itu ada daging merah yang masih mengucurkan darah. Secara refleks ia menoleh ke tempat gadis itu terjepit kakinya oleh mayat dari korban kecelakaan itu. Di sana ia juga melihat ada daging kaki yang terpenggal dan darah berserakan pada mayat yang di bawahnya. Sebuah kampak tergeletak di dekatnya. Sidin tiba-tiba puyeng dan rebah terhenyak menimpa mayat yang ditaruhnya tadi. Dan Sidin tidak tahu ketika gerbong itu berguncang. Juga ia tidak tahu ketika mayat yang bertindihan yang tadinya dicobanya membongkar terlepas, lalu berguling menimpanya. Ketika Sidin sadar kembali, ia tidak tahu bahwa waktu sudah hampir dini hari. Karena kegelapanlah yang ia lihat sekeliling. Dan sejajaran benda besar yang lebih hitam bagai hendak menyungkupnya. Dikejap-kejapkan matanya agar bisa melihat lebih nyata benda hitam apakah itu. Lama juga disadarinya bahwa benda besar yang hitam itu adalah bukit barisan dan bagian atasnya adalah langit. Lalu ia tahu, bahwa ia sedang tergolek di udara terbuka. Tapi di manakah sesungguhnya ia berada sekarang, pikirnya. Dan ia memicing lagi untuk memusatkan pikirannya dalam mencoba mengenangkan di mana ia sedang berada. Ketika kesadarannya mulai agak pulih, ia memaksakan dirinya untuk duduk. Tapi tenaganya bagai telah habis, karena tusukan rasa nyeri pada hampir seluruh tubuhnya. Lalu ia memicing lagi, memusatkan pikirannya lagi. "Anak itu, anak itu. Kenapa dipotong kaki anak itu!" katanya berteriak-teriak sambil bangkit dari berbaringnya, ketika ia ingat peristiwa yang dialaminya terakhir.

Seorang gadis perawat menghampirinya dan merebahkannya lagi seraya membujuk agar Sidin tenang. "Gadis itu. Gadis itu ia potong kakinya dengan kampak," kata Sidin berulang-ulang ketika perawat itu berusaha membaringkannya kembali. Sidin tidak mau dibaringkan. Ia terus hendak duduk lagi, sambil berkata tentang kaki gadis yang dipotong dengan kampak itu. Seorang perawat laki-laki datang membantu temannya. "Kena syok oleh peristiwa ini, agaknya," kata gadis perawat itu. Kemudian katanya pula, "Ambilkan kopi." Setelah ia minum kopi yang disodorkan kepadanya, Sidin yang sejak tadi terus meracau tentang gadis kecil yang dipotong kakinya, mulai agak tenang. Dan ketika kopi pada cangkir kedua yang disodorkan padanya telah habis diminumnya pula, pikirannya telah lebih jernih lagi. “Aku tidak apa-apa. Aku tidak jatuh di kereta api. Aku menolong korban di gerbong itu. Seorang gadis kecil kakinya terjepit. Gadis itu masih hidup. Ada orang memotong kaki gadis itu dengan kampak. Di mana gadis itu sekarang?" tanya Sidin. "O, gadis itu. Ia tidak apa-apa. Sudah diobati. Sudah dibawa familinya pulang," kata perawat itu lagi.. "Istirahatlah dulu. Saudara terlalu payah. Berbaringlah kembali.” Nyeri di sekujur tubuhnya terasa lagi. Tapi ketika ia hendak berbaring, ia melihat ke kiri kanannya. Ia menampak banyak orang terbujur di sekitamya. Pada beberapa bagian badan mereka ada yang di balut kain, di antaranya berbecak-becak dengan warna yang gelap. Ia tahu bahwa semua mereka adalah korban kecelakaan kereta api, dan dia sendiri bukan salah seorang di antara mereka. Tapi rasa nyeri di sekujur tubuhnya bagai tak terderitakan lagi. Dan ketika gadis perawat itu membaringkannya kembali, ia menurut saja. Jadi gadis itu tak apa-apa. Sudah dibawa pulang, kata hatinya ketika ia mengingat-ingat apa yang dikatakan perawat itu. Tapi mengapa dibawa pulang? teriak hatinya pula. Sidin bangun lagi dan berdiri menuju ke tempat perawat-perawat itu berkumpul mengelilingi lampu tekan yang terang benderang. Ketika ia hendak menanyakan ke mana gadis kecil yang dipotong kakinya itu dibawa, Sidin melihat seseorang yang diikat kaki dan tangannya. Ia merasa mengenalnya. Dan orang itu tertawa menyeringai kepadanya. Dan ia ingat itulah temannya dalam gerbong itu. Sidin hendak berkata, ketika seorang perawat laki-laki mendekatinya dan menanyakan keperluannya. "Dia itu. Dia itu," kata Sidin tanpa dapat menyelesaikan kata-katanya karena pikirannya belum teratur demi ia melihat anak muda itu masih menyeringai memandang kepadanya. "Itu orang gila. Menyasar ke sini," kata perawat itu.

Dan Sidin tiba-tiba nanar. Hampir saja jatuh terkulai lagi ke tanah kalau perawat itu tidak segera menopangnya. Lama kemudian, ketika rasa kejutnya menyurut, timbul pertanyaan dalam kepalanya, kenapa hanya ada orang gila di dalam gerbong itu? Perasaannya tersenak ketika ia ingat pada gadis kecil yang kakinya dipotong dengan kampak oleh seorang gila. Emosi dan sesalan Sidin tak terbendung lagi. Dan orang pun menyangkanya juga gila. Penumpang Kelas Tiga Si Dali ketemu teman lamanya di kapal Kerinci yang berlayar dari Padang ke Jakarta, sebagai penompang klas tiga. Ketemu setelah berlayar semalam, waktu lagi antri ke kakus. Padahal sebelum itu mereka sudah bertatap pandang juga di tempat tidur yang bersela seorang lain. Namun tidak saling memperhatikan, apalagi bertegur sapa. Barulah saling memperhatikan waktu antri hendak ke kakus itu. Mulanya saling bertatapan, lalu saling melengos. Bertatapan lagi dan melengos lagi. Ketika bertatapan ketiga, mereka tidak melengos lagi. Mereka sama tersenyum. "Engkau Si Dali, bukan?" kata yang seorang. "Si Nuan?" kata Si Dali menyahut dengan tanya. Mereka berangkulan dengan kedua tangan masing-masing memegang peralatan mandi, sabun, gundar gigi dan handuk. "Sudah lama sekali kita tidak ketemu." "Memang sudah lama sekali." Mereka saling bertanya-tanya dan saling berjawab-jawab. Dengan asyik. Sampai beberapa orang sudah keluar dan masuk kakus, mareka masih bertanya-tanya dan berjawab-jawab. Dalam pada itu pikiran Si Dali berjalan ke masa lalu yang sudah lama sekali. Nuan punya saudara kembar, Nain namanya. Untuk menandai perbedaannya, yang satu tidak segempal yang lain. Kemana-mana selalu bersama. Kata orang, orang bersaudara kembar sering punya selera yang sama. Termasuk terhadap perempuan. Kata orang, itu baru ketahuan kemudian. Yaitu ketika terjadi persaingan untuk mendapati hati seorang gadis. Yang menjadi idola pada awal revolusi, terutama oleh para gadis, ialah prajurit yang dipinggangnya tergantung pedang samurai dan kakinya dibalut kaplars. Nuan dan Nain yang hanya dapat pangkat sersan satu dengan tugas sebagai pelatih TKR bagi prajurit baru. Karena pangkatnya yang rendah, mereka tidak berhak memakai kedua perangkat perwira yang bergengsi itu. Keduanya pun sama merasa tidak mendapat perhatian Si Wati, gadis di sebelah rumahnya. Dan ketika Komandan Pasukan Hizbullah, Kolonel Hasan, mengajak bergabung dengan pangkat letnan dua, Nuan meninggalkan tugasnya

wira di luar TNI diturunkan dua tingkat. Katanya: "Perwira bagian logistik akan lebih menjamin kebutuhan hidup rumah tanggamu. sama punya pedang samurai dan pakai kaplars. yang ketika itu telah beranak dua. pangkat semua per. Akan tetapi belum ada yang berani menebarkan jala untuk mendapat Wati. Api dalam dada Nain bercampur aduk dendam antara cinta tercuri dengan permusuhan idiologi dengan saudara kembarnya. Nuan mendapat tugas baru sebagai staf pada bagian logistik. Ayah Wati berpandangan praktis dalam menenetapkan siapa yang akan jadi jodoh anaknya. "Apalah arti perbedaan pasukan. Wati dirangkulnya erat. Yaitu menerima pasukan KNIL dengan kepangkatan yang utuh." kata mereka sambil menyangka Wati akan mulai punya perhatian. Dan ketika akan melampaui tapal batas. Mereka bergumul lagi. Dan mereka bergumul dengan dada masing-masing bergemuruh. Sedangkan perwira di front lebih memungkinkan kau cepat jadi janda. Nain sudah terlatih bersikap radikal. Ketika Nain datang mendapati Wati. Yang penting sama jadi letnan. Karena kesatuan Nain sering berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lain yang dilanda kemelut militer akibat para perwira tidak puas terhadap kebijaksanaan politik kemeliteran sehabis revolusi. meski pedang samurai dan kaplars tidak lagi berhak mereka pakai. Semenjak itu mereka tidak pernah bertemu lagi. sedang Nain dalam kesatuan tempur di front. Agar dapat pangkat yang sama Nain pun bergabung dengan Tentera Merah Indonesia. tapi menurunkan pangkat dua tingkat pasukan yang berjuangan. baik karena ikut Tentera Merah. api dalam dada keduanya menyala lagi. Menurut Wati. Sedangkan Nain bicara tentang revolusi rakyat.dari TKR. Nuanlah yang akhirnya berhasil merebut Wati. Ketika kemelut militer berjangkit dalam bentuk peristiwa PRRI." tempelak Nain kepada Wati. Sekaligus menimbulkan persaingan dalam merebut hati Wati. Wati sadar bahwa dia telah jadi isteri Nuan. Oleh kebijaksanaan pemerintah itu. malah menumbuhkan perseteruan diam dalam diri keduanya. Kian lama bergabung dengan pasukan yang berbeda idiologi perjuangan itu. meski bernafsu dia hanya ." "Padahal engkau membalas ciumanku. Tapi Wati tinggal di kota. Keduanya tetap sama membanggakan tugasnya masing-masing kepada Wati. kalau ayah mau Nuan?" jawab Wati dengan nada yang memelas. Berulang kali. Tapi lebih sering datang sendiri-sendiri karena memang tidak punya waktu senggang yang sama. Tapi Nuan yang kau jadikan suami. Sedangkan Nuan yang ikut PRRI mundur ke hutan. Nuan selalu bicara tentang perang jihad bila bertandang ke rumah Wati. Itu terjadi setelah pemerintah melakukan kebijaksanaan rasionalisasi dengan menggabungkan seluruh kesatuan pejuang ke dalam TNI. Tentu saja pada kesempatan itu mereka saling membanggakan pasukan masingmasing. maupun lama di front. Pergumulan pun reda. "Apa dayaku. sekali lagi kesatuan Nain ditugaskan menumpasnya. Mereka pernah berdebat di depan Wati untuk membenarkan tujuan perjuangan masing-masing.

" Tapi Nain adalah saudara kembarnya yang lahir dari perut ibu yang sama. dia tekan jauh ke dalam lubuk hatinya. Kini dialah yang dikalahkan. yang kini menumpang di rumahnya? Tidak. Pada mulanya perasaan. Semuanya khianat. Lari dari keadaan yang tak tertanggungkan bila meledak. lalu mereka berangkulan sebagai dua orang saudara kembar. Dia tak muncul lagi sampai kedua laki-laki itu pergi." teriaknya berulang-ulang. yang menjadi kapten karena perangnya menang. "Kamu rasakan kini menjadi orang yang kalah. Apa yang dapat dilakukan oleh orang kalah perang? Bagi Nuan tidak lain daripada selain kalah dan seterusnya menerimanya tanpa dapat berbuat apa-apa. Mengapa dia harus membalas dendam kepada saudara kembarnya sendiri yang kini tengah mengalami siksa akibat idiologinya sendiri. menjadi pembantu letnan. "Khianat. Tiba-tiba letak panggung sejarah berobah. Nain yang kapten dan baru diangkat jadi mayor ikut komunis. Karena kemenangan itu dia meniduri Wati. dihadapan Wati. Yang kini menjadi pembantu letnan setelah pangkatnya diturunkan oleh sejarah. lebih baik menerima Nain yang sekaligus menjadi pelindung. Tapi dia seorang prajurit yang kalah perang. Haruskah membalas dendam karena Wati ditiduri Nain. Dan Wati lari ke ruang belakang dan terus ke rumah sebelah. Nuan kembali bergabung ke TNI dengan pangkat baru yang diturunkan lagi dua tingkat. lalu meniduri Inna. Tapi dia adalah prajurit yang perangnya kalah. Dia pergi ke kamar Inna dengan nafsu dendam yang menyala-nyala kepada Wati. Pemberontakan kaum komunis pun pecah. Dia tidak dapat melakukannya. Inna adalah isteri saudara kembarnya. Ditinggalkannya Wati yang lagi berbaring di sisinya. Di sebelah sana adalah Nain. menyusuri jalan raya yang gelap karena listrik sudah lama mati oleh mesin sentralnya sudah lama rusak. Dengan perasaan itu dia menerima Wati kembali yang membawa kedua anak mereka. yang cantik dan lebih muda. . "Wati toh perempuan yang dikalahkan sejarah.menjalaninya dengan per imbangan: daripada melayani prajurit lain yang lagi mabuk kemenangan. ya. isteri Nain. Lalu dia keluar sambil membanting pintu. Akhirnya setelah kalah perang. luka hatinya menganga. Ditangkap lalu dipenjarakan. Namun Nuan hanya tegak termangu melihat Inna membuka baju sambil tersedu. Akan tetapi ketika dia ingat Wati pernah mengkhianatinya. Pikiran dan perasaan yang berancuan moral. Tak berkata sepatahpun. akhirnya dia yakin bahwa antara Wati dan Nain ada main. isteri saudara kembarnya. Jadi berbeda idiologi karena berbeda kereta tumpangan yang disediakan sejarah. sebentar saja mereka sama terpaku saling memandang. Bila mengambang menjadi jeritan. lalu dia marah dan kemudiannya benci yang membuahkan dendam yang tidak akan terhapus. Dia bertatapan dengan Nain yang sudah kapten yang menang perang. Sesudut hatinya bersorak." katanya mendamai-damaikan sisa gejolak di hatinya. Sebentar. Hatinya luka. lalu dugaan. diredam oleh keharusan berdamai dengan situasi. bahkan berpikir apapun.

Akupun kapten dulunya. .. Kemudian Si Dali bertanya: "Tadi kau bicara tentang bisnis.."Sudah lama sekali." kata laki-laki itu seperti orang baru melewati tanjakan." kata laki-laki itu tanpa melanjutkan. Kapten. 6 Januari 1996 Perempuan Itu Bernama Lara Lama juga setelah perang usai Si Dali mencari-cari dengar dimana Lara. ya. Si Dali terhempas duduk ke kursinya lagi. Lalu keduanya saling menyongsong. bisnis apa?" "Oh." kata Si Dali seperti kepada diri sendiri. Lara berdiri." jawab Lara dengan suara datar." "Dagang apa?" "Dagang apalagi kalau sudah terlanjur dari dulu." "Meski begitu. Pada waktu dia hampir-hampir melupakannya. Sedangkan Lara mengembangkan kedua tangannya untuk merangkul. perempuan itu ditemuinya di Bandara Kemayoran. "Mengapa?" "Tak apa-apa. yang duduk pada kursi di belakangnya bertanya: "Anda kenal dia juga. Matanya nanap memandang Lara yang kian menjauh.Lalu mereka duduk bersisian sambil berbicara tentang macam-macam hal tanpa menyinggung masa lalu yang telah jauh di belakang." "Tiba-tiba saja kita telah menjadi tua." Kayutanam. Seorang laki-laki yang tidak dikenalnya.. Pada mulanya keduanya sama terpaku ketika saling pandang seperti tidak percaya pada penglihatan masing-masing. Meninggal dalam pertempuran dulu. "Coba kalau aku tahu sebelumnya.. sudah lama sekali. seperti padanya tak lagi ada emosi.. Keduanya berangkulan lagi sebagai sahabat lama yang akrab. kita tidak bisa betul-betul lupa. Kalau aku boleh tahu. Seperti tiba-tiba saja suara panggilan untuk penumpang jurusan Surabaya terdengar. Berdagang saja. Aku dagang diriku sendiri. Si Dali mengulurkan tangan untuk bersalam. Tiba-tiba dia seperti kenal betul beda sosok perempuan seperti Lara dengan perempuan karir atau perempuan rumahtangga. kita tidak ketemu?" kata salah seorang setelah sama menopang dagu ke pagar geladak kapal sambil memandang ke gelombang laut lepas. "Ya." "Memang. rupanya?" "Dia isteri komandan kami.

Atau tidak peduli.Si Dali yang dulunya seorang kopral tersentak. barangkali. Padahal ketika ditinggal lebih lama dia tidak kemana-mana. Perang akan kalah. Ke kota lagi. Dalam penerbangan dari Jakarta ke Padang. Melainkan menghadiri rapat komando. Cuma beberapa hari saja. Masuk kota juga boleh. bila komandan marah-marah. apapun macamnya harus segera dilaksanakan. boleh saja. Karena garis frontnya memang luas dan memanjang. dia tidak mau mengkhianati perjuangan. Kadang-kadang sampai dua pekan. Biasanya Si Kapten pergi tidak kurang dari sepekan. Dulu sudah aku bilang. Jika mentalnya sampai kacau. aku tahu kemana dia pergi. "Kalau dia mau pergi. *** Tentu saja si Kapten menghiruk-pikuk. Meski bentuk perintah itu demi kepentingan pribadi. Malah jadi beban. Hanya nilai moral yang tidak pernah berobah. Setahu orang. bawahan tidak boleh menjawab. Apalagi sepeninggal Si Kapten pada waktu meninjau front. . dia sudah bosan tinggal di hutan lalu mau khianat. memaki-maki bahkan bercarut-carut ketika tahu isterinya minggat. Tapi kini dia pergi. tinggal saja di kota. Termasuk perjalanan dua hari pulang pergi. Paling kurang. Tapi dia tidak mau." teriaknya kemudian. "Mana Si Dali. Karena kepentingan pribadi akan banyak mempengaruhi mental komandan. Alasannya. Maka segera saja Si Dali menghambur. lalu katanya: "Cari dia sampai dapat. Tapi segera ia sadar. Perempuan tidak perlu ikut perang. Lara sudah tahu itu. bayangan peristiwa lama kembali mengambang dalam mata ingatan Si Dali. Lalu mereka berpisah ketika panggilan untuk penumpang ke Padang agar naik ke pesawat. Ketika Si Dali tiba. Tapi semua orang tidak yakin apabila Lara tidak pernah berselingkuh dengan laki-laki muda ganteng.Artinya mental komandan tidak boleh sampai kacau. Demikian pula apabila turun perintah. Naluri prajuritnya masa gerilya mendorongnya berdiri untuk memberi hormat. Begitu Lara. Begitu anda sendiri. komandonya pun akan kacau. Kepergian Si Kapten sekali ini tidak meninjau front. Tak boleh ada pertanyaan. Siapa tahu. Lara tidak pernah bertengkar dengan suaminya. yang beberapa di antaranya sering bersama Si Kapten. "Sejarah menghasilkan kehidupan yang tidak sama. Begitu aku. Kerut kening saja pun tidak boleh." Si Kapten berturatura ketika caci-makinya mulai berkurang." Menurut aturan dalam pasukan. Berpisah tanpa bersalaman. Apa pasal makanya dia minggat." kata laki-laki itu. masa tabikmenabik telah lama lewat. Hanya kita yang sering lupa.

memang hanya dapat berkhayal. Meski salah tetap dihormati. Tak bisa dibedakannya antara khayal sebagai . ikan yang dimoncong kucing air itu ialah Lara yang berusaha lepas dari tangkapan Si Kapten. Tidak boleh berpikir apa-apa. karena menyangkakan itu lagi-lagi khayalan belaka. Diapun tidak bertanya pada dirinya harus kemana mencari isteri yang minggat itu. Dia mencoba menyelusuri saat-saat terakhir Lara dilihatnya. Tapi dia tidak marah. Karena bukan robot. kalau kau bisa lepas. Akhirnya nafas mereka sama ngos-ngosan. Dan malam pun tiba. Rumah yang ditempati Si Kapten telah menjadi puing. Malah berdiri tegap sambil memberi tabik kepadanya. Lalu kata Lara: "Engkau lebih hebat dari dia. Si Dali tidak bisa tidur. Walau maut tantangannya. Lama-lama semakin larut. Si Dali mulai berpikir. Si Dali kembali." kata hati Si Dali. Sejenak dia ragu. Rambutnya ikal. lalu berangkulan. Asap yang tipis. Hitam terbakar. Tapi kampung yang jadi pos komando sudah kosong. Ditemani perempuan setengah baya yang berselubung kain batik lusuh. Ketika selesai. khayalan yang kian kacau. mereka mulai dari bersentuhan tangan. Mau melaporkan bahwa pencariannya gagal. Di tangga rumah di lereng bukit Lara sedang duduk termangu. "Memang enak jadi komandan." Pada saat itu si Kapten muncul. Tak seorang pun dijumpainya. Seperti yang selalu dikatakan komandan: bahwa seorang prajurit bila da. "Bagus Lara. Keduanya senang melihat Si Dali datang. Bintang yang sudah lama disiapkan Si Kapten setelah tersiar cerita bahwa pangkatnya akan naik. Maka tahulah dia bahwa kampung itu ditinggalkan akibat serbuan musuh." Tak lama kemudian khayalannya berlanjut. Penduduknya pun tidak. Ketika dia sadar dari lamunan. Dadanya penuh. Yang paling dia ingat benar. harus maju. Bagaimana jika khayalan itu dibolehkan pula jadi kenyataan." Tiba-tiba seekor kucing air muncul di permukaan sungai. seperti kehidupan di luar ketenteraan? Bayangkan. hatinya berkata: "Prajurit seperti aku.Si Dali berjalan cepat menyusuri jalan kampung yang tak pernah terawat semenjak perang. Udara terasa mulai dingin. Dia pun ingat pada suatu khayalannya. Setelah lima hari mencari tanpa tahu kemana mencari." katanya seraya melemparkan batu ke belukar persembunyian kucing itu. Lalu melekatkan satu bintang kuning di bahunya. Dia mulai berkhayal. Sesaat terlayang dalam pikirannya. "Masih mending berkhayal belum terlarang. seolah-olah Si Dali yang atasan. perempuan itu memang cantik sekali. Di moncongnya seekor ikan menggelepar-gelepar. Sambil duduk di atas batu dan menjuntaikan kaki ke air. Si Dali pun senang. Lara telah ditemukan. Betisnya aduhai. Alis matanya lebat. karena tugas yang diperintahkan kepadanya telah selesai. Lalu duduk di tangga tempat Lara duduk termanggu siangnya.pat perintah maju. Berlari masuk semak. akhirnya Si Dali kecapaian juga ketika jalan itu dihadang sungai kecil yang airnya begitu bening. Meski peluru musuh berdesingan. Lara memasangkan baju si Kapten kepadanya. Pokoknya ia mesti jalan tanpa memikir apa-apa. Sisa apinya masih mengepulkan asap.

Maka itu aku ikuti dia bergerilya. Kemudian sekali. Lambat laun pikiran itu tidak lagi khayalan. Bagaimana bisa bersaing dengan perjaka yang cakap-cakap itu. "Aku benci digermoi suamiku." kata Lara. Ngeri bertemu mereka. isterinya?" Si Dali mendengus." lanjutnya. Bagaimana jadinya aku bila ketahuan. "Kau tahu aku disuruh tiduri oleh anak jawinya sebagai imbalan?" Si Dali mendengus lagi. Tapi pikiran Si Dali tidak keruan oleh bau tubuh perempuan yang sudah lama menggemaskan hatinya itu. "Kau tahu Si Kapten lebih doyan anak jawi*) daripada aku. Tapi di jalan aku bertemu patroli musuh. "Aku tidak bisa tidur. Dali bertanya lagi: "Bagaimana cara hidupmu begini berakhirnya?" "Aku pikir ini masih permulaan. Keduanya sama diam. Lebih ngeri bila mereka meniduriku. "Aku pernah memancingmu. di sisi perempuan baya yang mendengkur dalam tidurnya lewat tengah malam. Maka aku kembali. Lara berkata sepelan bisikan ke telinga Si Dali. menjadikan anak buahnya sebagai anak jawi?" Lara berkata seperti tidak untuk dijawab." Perasaan Si Dali seperti balon hampir pecah oleh tiupan angin kencang yang berapi. Setelah beberapa lama hening. seorang prajurit kacungan. Tapi kau tidak acuh. Supaya perangainya tidak berkelanjutan. Bagaimana perang ini jadinya bila komandan dikhianati prajurit?" "Kalau komandan mengkhianati istrinya. Pikiran Si Dali yang kacau mulai membentuk khayal laki-lakinya. "Kau kira aku senang?" "Dapat perjaka silih berganti. Setelah agak lama terdiam dia berkata lagi. Kemudian katanya: "Engkau istri komandan. Mengapa?" tanya Lara agak lama kemudian. Lama sebelum perempuan itu tidur lagi. Aku mau ke kota. mengapa tidak senang?" kata Si Dali dalam hati." . Aku inginkan laki-laki matang seperti kau.kenyataan dengan kenyataan sebagai khayal ketika tiba-tiba Lara sudah duduk pula di sisinya. Kau juga?" kata perempuan itu setelah lama mereka sama membisu. Si Dali bertanya: "Kemana saja kau hilang beberapa hari ini?" "Aku muak digermoi. "Apalah aku. "Sejak mula kawin aku sudah curigai dia peranak jawi." jawab Si Dali dalam hatinya. Aku muak melayani anak ingusan. Justru di sini aku digermoinya.

"Engkau akan jadi isteri pengusaha besar. berapa lama dagangannya diminati?" Tiba-tiba Si Dali tidak merasa kakinya di atas beton landasan. seperti halnya orang berobah nasib secara mendadak." Demi melihat banyak orang di gedung terminal. sampailah cita-cita pemimpin bangsa. Karena ditinggalkan tanpa pamit.nya". kata. Mimpi yang panjang. Si Dali bertanya pada dirinya. "Kata suamiku. kata Lara dengan suara yang lusuh. Aku? Aku tidak berdagang. Lalu aku akan cepat menjadi tua. Dan tiba-tiba ada rasa rikuh karena merasa tepergoki. Setelah merdeka. tapi tergadai. Mengerikan." Hati Si Dali tersentuh hiba. Si Dali meyakinkan dirinya bahwa segala yang terjadi semata mimpi dari masa silam yang telah lama lewat. sejenak dia termangu. Si Dali mencubit pahanya kuat-kuat untuk tahu apakah ia berada dalam khayalan? Cubitan itu terasa sakit. Lalu dia memeluk Lara erat-erat. Kenangan yang bukan peristiwa yang dapat dicatat oleh buku sejarah. yang masih dapat ditemukannya pada rumah yang telah ditinggalkan penghuninya. Ia menjadi tentera untuk mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. ia berperang karena menjadi tentera. "Kalau dia kaya. Betapa enaknya buah kemerdekaaan itu bagimu. apa mereka bisa menebusnya? Kalau seperti Lara. Tapi kedua perempuan itu tidak rikuh. anak jawinya akan lebih banyak. Berhari-hari kemudian terberita Si Kapten terbunuh pada suatu serangan musuh. Lara bergegas mengemasi miliknya. *** Ketika kakinya mencecah landasan Bandara Tabing. Kakinya seolah terangkat oleh pikirannya yang terbang mengawang. tergadai. Lalu berangkat ke kota." kata hati Si Dali. Maka tentera tidak diperlukan lagi." "Merana?" tanya Si Dali karena tidak paham. "Apa mereka juga tergadai seperti aku? Kalau ya. Ya. "Aku kira aku akan merana bila dia sukses jadi pengusaha. Mimpi yang tak kunjung hilang dalam kenangan. Kenangan kepada Lara ditindih oleh pikiran yang kemudian diucapkannya: "Lara berdagang dirinya untuk menggapai hidup yang lebih baik. Mereka terbangun ketika perempuan baya membawakan mereka dua cangkir kopi panas. 1 September 1996 ."Permulaan?" *) Anak jawi = anak muda pasangan laki-laki homo. Dia akan jadi pengusaha untuk mengisi kemerdekaan itu.

menyepak. Kepala anak kecil itu seperti dihela magnit mengikuti pawai. Menurut cerita yang tersebar. Maka Tuanku Laras selalu melapor kepada residen setiap terjadi peristiwa perampokan itu. paling ditakuti. hasilnya menjadi suatu kisah sejarah resmi yang dipalsukan. Sehingga banyak orang berlajar ke sana. Sedangkan musuh yang dicari tidak pernah dapat. Lebih dirapatkannya kedua dengkulnya seperti hendak menyatukan seluruh tubuhnya. pada masa itu Si Patai sering keluar masuk kota. setiap terjadi peristiwa perampokan atau pembunuhan. Dinamakan sebagai aliran Silat Pauh. Di pojok kamar anak kecil itu terduduk dengan kedua dengkul menopang kepala. Ilmunya banyak. Tapi demi melihat serombongan laki-laki tanpa baju yang wajah dan tubuhnya berlumur cat hitam. Polisi selalu was-was memasuki desa itu. . Anak itu Si Dali namanya. Anak kecil itu berlari membawa badannya yang buntal tanpa baju. menerjang dan menungkai. Si Patai namanya. Memekik-mekik dia memanggil ibunya waktu berlari kembali ke rumah. Kemudian Si Dali mengisahkannya kembali kepada seorang mahasiswa yang mencari hahan untuk skripsi kesarjanaan. menjadi pelintasan pedagang yang pulang-pergi dari pedalaman Minangkabau ke kota. Dan ketika melihat sebuah kepala terpenggal pada ujung tombak yang digoyang-goyang. anak kecil itu merasa ngeri. Tapi ibunya tidak ada. peristiwa itu diceritakan kepada anaknya. Ketika anak kecil itu telah menjadi ayah. Sampai lama bayangan kepala terpenggal di ujung tombak masih menimbulkan rasa ngeri pada dirinya. hatinya kecut. hidup atau mati. Banyak sudah korban di pihaknya. Matanya bersinar-sinar memandangi para marsose (pasukan seperti Kopasus sekarang) berpawai sambil memalu genderang yang diiringi bunyi trompet bersuara lengking.Rekayasa Sejarah Si Patai Seorang anak kecil ingusan berlari ke halaman ketika mendengar genderang dipalu di jalan raya. Peristiwa yang jarang terjadi. dengan rambut panjang yang bergelimang darah kering dan mata yang memutih terbuka lebar. Kekuatannya pada kaki. dikatakan Si Patai jadi otaknya. Lambat laun. selalu saja rumah pelapor kena rampok malam harinya. tak putus-putus melintas dalam mata angan anak kecil yang masih ingusan itu. pengikutnya pun banyak. Lama kelamaan desa itu menjadi sarang pelarian dari tangkapan pemerintah. *** Pada ujung abad ke-19 sampai pada awal abad ke-20 desa Pauh di pinggir utara kota Padang. Akhirnya Si Patai dinyatakan musuh nomor satu yang paling dicari. Karena setiap ada yang melapor. Tak seorang pun berani melapor kepada pemerintah bila melihatnya. Terisak karena merasa tidak terlindung dari ketakutan. Rakyat menyebutnya sebagai sarang orang bagak dan para pendekar. Kepala terpenggal di ujung tombak. Baik yang musuh politik maupun penjahat. Patroli tentera pun enggan. Seorang pendekar yang paling disegani. Dan setelah berbulan-bulan meneliti dengan menanyai banyak orang yang mengaku mengenal peristiwa itu. Aliran silat pendekar desa itu terkenal kemana-mana.

Tapi tak lama kemudian dia dilepaskan lagi. Semua rakyat sedang marah." kata residen kepada komandan polisi yang salah tangkap. akan dipecat. Lambat laun Si Patai yang menjadi pemimpin. "Kamu polisi goblok. Ketika ilmunya dirasa sudah cukup. Rakyat tentu saja tidak suka dan kata mereka: "Kita tinggal di kampung halaman kita sendiri. Di Lubuk Alung sejumlah laki-laki berpakaian serba putih sambil menyerukan "Allahu Akbar" menyerbu sepasukan tentera yang sedang siap tembak. dia yang lebih dulu berhamburan lari. ratusan perempuan dan anak-anak ikut . Dia bersembunyi di Pauh. di Pauh sudah ada seorang banci bernama Patai. mengapa mesti membayar pajak kepada Belanda yang bukan pemilik negeri ini?" kata mereka. Maka tibalah suatu waktu. Tuanku. Dengan nama julukannya dia dipanggil Ujang Patai. Menurut logat desa itu. Nah. *** Pada waktu sebelum kedatangan Si Patai. Selama di penjara Si Patai sering disiksa anak buah Tuanku Laras untuk melampiaskan dendamnya. Kamu disuruh tangkap Si Patai. menyuruh para Kepala Kampung membuat laporan setiap pencurian atau perampokan dilakukan oleh anak buah Si Patai. Tuanku Laras yang dendamnya belum terbalas. Residen naik pitam. karena nama dengan julukan yang sama dari kedua orang itu. pemerintah mengeluarkan peraturan wajib pajak kepada rakyat. Bila ada patroli tentera." kata mereka yang terancam itu. Di Batusangkar. Hampir semua penyerbu mati dan terluka." katanya. tapi orang banci yang kamu tangkap. namun perampokan tak kunjung terhenti dan Si Patai tetap tak tertangkap. Sejak itulah dia memperoleh nama julukan Ujang Patai. tahinya bapatai-patai. Sehingga sudah dua orang komandan polisi diganti. bila ada patroli mencari Si Patai." kata Tuanku Laras pula. karena bukan dia yang dicari. Maka selalu dia yang ditangkap dan dibawa ke penjara. Sebaliknya Si Patai banyak pula berguru berbagai ilmu pada sesama tahanan dari Bugis dan Banten. jika tidak mampu memungut pajak. "Buat laporan. Betul-betul goblok. Di Tiku rakyat bersenjata parang menyerbu kantor polisi dan pos tentera. Setiap usaha menangkapnya selalu gagal. Si Patai meloloskan diri dari penjara. pajak yang telah terkumpul dirampok anak buah Si Patai.Kisah sebenarnya yang terjadi. bahwa Si Patai pernah ditangkap karena lawannya berkelahi terbunuh. Yang terbunuh itu kebetulan anak Tuanku Laras yang kalap karena judinya kalah. Kepala Kampung dan Kepala Wijk ditugaskan memungutnya. Nama aslinya Ujang. "Ada tidak ada perampokan. Bergabung dengan mereka yang memusuhi pemerintah. semua orang menunjuk si Ujang Patai orangnya. pokoknya buat laporan. "Sulitlah itu. Kata Tuanku Laras mengancam Kepala Kampung. Terbirit-birit atau berpetai-petai tahinya diwaktu lari. Pengecutnya bukan kepalang. Seorang Kepala Wijk (sama dengan Lurah di kota sekarang) yang jadi iparnya disuruhnya pula membuat laporan yang sama.

mereka dihadang di pesawangan. ketika hendak kembali ke Padang." kata residen kepada komandan tentera itu. Tak seorang pun penduduk yang menyangka bahwa tentera itu akan sampai hati membunuh perempuan dan anak-anak. Tapi itu bukan urusan kamu. Kalau jumlah yang berpatroli sedikit. Tahu?" Komandan tentera itu merasa jabatannya terancam.berdemonstrasi ke kantor kontelir. kalau Si Patai tidak tertangkap. Suatu malam. Tuan Besar. rakyat seperti tidak acuh saja. Yang di ladang terus bekerja. Tuan Besar. Biar rakyat kapok melawan pemerintah." kata Tuanku Laras (sama dengan camat sekarang) ketika menghadap residen setelah menyampaikan laporan para Kepala Kampung di wilayahnya. diiringi genderang yang dipalu terus menerus. Seluruh penduduk disuruh mengenali mayat tersebut. Aku lapor ke Betawi. Bagi komandan itu tidak penting artinya jiwa rakyat. Banyak perempuan dan anak-anak mati dan terluka. Yang terpenting hanyalah jabatannya sebagai komandan. Mana yang merasa ngeri kembali lagi tergesa-gesa masuk ke rumahnya. melapor kepada residen. Lalu dia memerintahkan kepala Ujang Patai dipenggal untuk dibawa ke Padang sebagai bukti keberhasilan operasinya. sepasukan marsose memasuki Pauh menjelang dini hari. Maka kepala yang terpenggal itu ditusuk pada ujung tombak. kirim marsose 1). Beberapa laki-laki yang dapat disergap langsung dibunuh. hati Tuanku Laras senang karena gagasannya menggunakan marsose untuk menangkap Si Patai tercapai. Semua rakyat keluar dari rumah masing-masing melihat arak-arakan itu. Ketika pagi datang mayat-mayat itu dikumpulkan di halaman mesjid. Beberapa orang menunjukkan salah satu mayat itu Ujang Patai namanya. Tapi Tuanku Laras yang kenal dengan Si Patai dan tahu bahwa kepala itu bukan kepala Si Patai. bahwa komandan tentera itu telah salah penggal. Perintah itu diteruskan residen pada komandan tentera dengan tambahan: "Kalau Si Patai tidak berhasil kamu tangkap. supaya marsose dikerahkan menyerbu pengacau di desa Pauh. Bila berpapasan di jalan. Padang tidak akan aman. Perlawanan rakyat Pauh mirip seperti perang gerilya. "Arak kepala itu keliling kota. "Kalau tentera tidak mampu. *** Akhirnya keluar perintah dari Betawi. Tapi yang paling sering ialah mereka merampoki rumah orang-orang kota yang bekerja sama dengan pemerintah di tengah malam. . Pasukan marsose yang tubuhnya dilumur cat hitam mengarak penggalan kepala itu berkeliling kota sambil menari dan berteriak-teriak gembira. Bukan main leganya hati komandan itu. Meski dikasari. Jika tentera berpatroli. dibawah pimpinannya sendiri. Mengerti?" kata residen dengan suara keras karena merasa diajari oleh bawahannya. Tentera yang mengawal melepaskan tembakan. Yang lain lari puntang-panting. itu tandanya kamu komandan tidak becus. "Itu sudah aku pikirkan. mereka meletakkan ujung jarinya seperti prajurit menghormat pada perwira. Ada perempuan yang jatuh pingsan demi melihatnya.

Habis perkara. Oleh laporan yang dibuat residen ke Betawi. apabila Paduka Tuan Besar di Betawi tahu Si Patai yang sesunggunya belum mati. Sehingga lambat laun rakyat di kota pun percaya. Kemudian anak muda yang telah jadi sarjana itu bertanya kepada Si Dali. residen memerintahkan seluruh pegawainya. Sebuah koran secara bersambung mengisahkan suksesnya operasi tentera menumpas gerombolan Si Patai. Perlawanan yang terakhir ini dalam rangkaian perang kemerdekaan bangsa Indonesia yang tercinta. Tapi kamu yang celaka. Dua puluh tahun pula setelah itu kembali rakyat melawan. isteri-isteri yang kehilangan suami. hanyalah akan menambah kesengsaraan rakyat. "Yang jelas kisah sejarah itu dipalsukan. Pokoknya perintah Betawi sudah dilaksanakan." Kayutanam. *** Namun kisah Si Patai yang sebenarnya. Sakit orang berkuasa yang kehilangan jabatannya secara tiba-tiba. Konon Si Patai menyingkir ke Teluk Kuantan. Tak lama kemudian Tuanku Laras jatuh sakit. Kata orang sakit muno. Untuk menghindari desas-desus salah bunuh itu. Sedangkan tak lama kemudian Tuanku Laras. Sampai situasi aman. para penghulu desa Pauh minta kepada Si Patai agar meninggalkan kampung untuk sementara. Berbaringan dengan pemberontakan komunis tahun 1926. anak-anak jadi yatim dan perempuan menjadi janda. Hasil penelitian calon sarjana itu berkesimpulan seperti yang ditulisnya dalam skripsinya. tidak akan merobah dunia sekarang dan nanti. Karena menurut para penghulu itu. bahwa penggalan kepala yang diarak berkeliling itu. tidak lagi membicarakan tokoh yang bernama Si Patai. 6 September 1997 . Akhirnya katanya: "Palsu tidaknya sejarah lama. dipecat dengan tuduhan penggelapan uang pajak. Dua puluh tahun kemudian. Bahwa demi melihat begitu banyak korban. Tuan Besar. pak. Sebaliknya rakyat yang membenci Belanda menganggap bahwa kepala yang terpenggal itu." kata residen. resmilah Si Patai dinyatakan mati. celaka kita. kepala seorang pahlawan bangsa. betul-betul kepala Si Patai. benar-benar berlain. Namun dendam rakyat yang keluarganya terbunuh. Sakit kehilangan harga diri."Biar saja. tidak hilang sama sekali oleh kekejaman operasi tentera yang mereka alami itu. Orang di Betawi toh tidak akan tahu mana Si Patai yang sebenarnya. anak-anak yang kehilangan ayah. "Tapi. Dari sana dia menyeberang ke Semenanjung. yang tahu persoalan yang sebenarnya. melawan pemerintah yang bersenjata kuat. Namun mereka pun masih dikalahkan." kata residen sambil menggebrak meja dengan kedua telapak tangannya." kata Tuanku Laras. yang kini bernama Malaysia. Bagaimana meluruskannya?" Lama Si Dali termangu-mangu. generasi yang lain melakukan pemberontakan lagi. "Bukan kita.

Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat." "Ajo Sidi?" . memainkan segala apa yang disukai mereka. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Sudah bertahuntahun ia sebagai garin. simpang yang kelima. sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari. Pandangannya sayu ke depan.Robohnya Surau Kami Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain. "Pisau siapa. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Biasanya Kakek gembira menerimaku. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. kadang-kadang uang. memberinya imbalan rokok. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. membeloklah ke jalan sempit itu. Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Jika Tuan datang sekarang. Sebagai penjaga surau. Pada simpang kecil ke kanan. yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. Kakek tidak mendapat apa-apa. karena aku suka memberinya uang. Kek?" "Ajo Sidi. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. memberinya sambal sebagai imbalan. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa. dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan aku tanya Kakek. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Orang-orang memanggilnya Kakek. sebuah asahan halus. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. kulit sol panjang. yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Orang-orang suka minta tolong kepadanya. Ia sudah meninggal. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Beginilah kisahnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya. Tuan akan berhenti di dekat pasar. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Perempuan yang kehabisan kayu bakar. penjaga surau itu. Orang laki-laki yang minta tolong. Di depannya ada kolam ikan.

punya keluarga seperti orang lain. kalau aku masih muda. "Sedari muda aku di sini. Aku tanya lagi Kakek. Segala kehidupanku. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. bertawakal kepada Tuhan. Aku tak ingin cari kaya. Sudah begitu lama aku berbuat baik. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. Orang tua menahan ragam. kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. bukan? Tak kuingat punya isteri. bikin rumah. Sebab aku tahu. Sudah lama aku tak marah-marah lagi." "Kakek marah?" "Marah? Ya. Sudah lama aku tak ketemu dia. "Kenapa?" "Mudah-mudahan pisau cukur ini.Kakek tak menyahut. dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu. Lalu aku tanya Kakek lagi. lalu ia yang bertanya padaku. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. beribadat. bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua. Kek?" "Siapa?" "Ajo Sidi. kalau Kakek sudah membuka mulutnya. yang kuasah tajam-tajam ini. tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. tapi aku sudah tua. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri. Aku senang mendengar bualannya. maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak. Kek?" Tapi Kakek diam saja. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Sebagai pembual." Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Karena aku telah berulangulang bertanya. Berat hatinya bercerita barangkali. bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini." "Kurang ajar dia. ibadatku rusak karenanya. Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya." Kakek menjawab. punya anak. Maka aku ingat Ajo Sidi. "Bagaimana katanya. Sedari mudaku. si pembual itu. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. lahir batin. Tapi . "Apa ceritanya. Dan aku ingin ketemu dia lagi. dia takkan diam lagi. "Kau kenal padaku. Ada-ada saja orangorang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelaku-pelaku ceritanya. Takut aku kalau imanku rusak karenanya. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?" Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. menggorok tenggorokannya.

karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Aku puji-puji Dia.kini aku dikatakan manusia terkutuk. „di akhirat Tuhan Allah memeriksa orangorang yang sudah berpulang. supaya bersujud kepada-Nya.‟ . bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Bagai tak habishabisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. bertambah yang di belakang. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga. Astagfirullah kataku bila aku terkejut.‟ „Lain?‟ „Setiap hari. Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja. karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Tuhanku. Aku baca Kitab-Nya. aku menyelakan tanyaku. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku. Begitu banyak orang yang diperiksa." Ketika Kakek terdiam agak lama. Masya Allah kataku bila aku kagum. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. „kata Ajo Sidi memulai. Maklumlah dimana-mana ada perang. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia di namai Haji Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah. tak perlu. Umpan neraka. "Pada suatu waktu. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan. "Ia katakan Kakek begitu. Aku bangun pagi-pagi. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka. Susut di muka. Aku jadi belas kepadanya.‟ „apa kerjamu di dunia?‟ „Aku menyembah Engkau selalu. Haji Saleh namaku. Tapi begitulah kira-kiranya. Tuhanku. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu. setiap malam. Nama hanya buat engkau di dunia." Dan aku melihat mata Kakek berlinang. ia melambaikan tangannya. Nama bagiku.‟ „Aku tidak tanya nama. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama. seolah hendak mengatakan „selamat ketemu nanti‟.‟ „Ya. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Kek?" "Ia tak mengatakan aku terkutuk. „Engkau?‟ „Aku Saleh. Aku bersuci.

ooo. Dan aku selalu berdoa. „Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus. Tuhanku. Alangkah tercengang Haji Saleh. anu Tuhanku. Tuhan yang Mahabesar. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. merintih kesakitan.‟ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya. tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan. Tapi Tuhan bertanya lagi: „Tak ada lagi?‟ „O.‟ „Lain?‟ „Sudah kuceritakan semuanya. diisap kering oleh hawa panas neraka itu. Dan ia menangis. Aku selalu membaca Kitab-Mu. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap. Tuhanku.‟ „Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?‟ „Ya. mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.‟ „Masuk kamu. ia telah menceritakan segalanya. Bahkan dalam kasih-Mu. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. o.„Lain. ketika aku sakit. o. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu. nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Tuhanku. menyebut-nyebut nama-Mu. Tapi ia insaf. Lalu Haji Saleh mendekati mereka. itulah semuanya. Tapi menurut pendapatnya. karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. dan bertanya kenapa .‟ „Ya. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka.‟ Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya. lagi Pengasih dan Penyayang. Tapi setiap air matanya mengalir. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. „Lain lagi?‟ tanya Tuhan. pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja. Adil dan Mahatahu. o.‟ „Lain?‟ Haji Saleh tak dapat menjawab lagi.

Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu. „Kita protes. bagaimana?‟ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu. kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.‟ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh. Engkau memasukkan kami ke neraka. Setuju.‟ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh. atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu.‟ „Benar. „Setuju. Setuju.mempropagandakan keadilan-Mu. „Kalau begitu. Tak sesat sedikitpun kami membacanya.‟ kata Haji Saleh.‟ „Memang tidak adil.‟ kata salah seorang diantaranya. kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita. kami juga heran. orang-orang itu pun. „Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat. Akan tetapi. kami menuntut agar hukuman yang . Dan Tuhan bertanya. memuji-muji kebesaran-Mu. „Itu tergantung kepada keadaan. „Bagaimana Tuhan kita ini?‟ kata Haji Saleh kemudian. dan lain-lainnya.‟ „Cocok sekali. „Ini sungguh tidak adil. dan tak kurang ketaatannya beribadat. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah.‟ „Kita harus mengingatkan Tuhan. ia memulai pidatonya: „O. Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari. „Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya.‟ Mereka bersorak beramai-ramai.‟ „Ya. Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan. banyak yang kita peroleh. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka. teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua. yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner. Benar. maka di sini. KitabMu kami hafal di luar kepala kami.mereka dinerakakan semuanya. Benar. Tuhan kami yang Mahabesar.‟ sebuah suara menyela. „Yang penting sekarang. „Kalian mau apa?‟ Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja. yang paling taat menyembahmu. „Apa kita revolusikan juga?‟ tanya suara yang lain.‟ kata Haji Saleh. mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan. Tapi sebagaimana Haji Saleh. Kita resolusikan. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat. tak mengerti juga.

Sungguh laknat mereka itu. bukan?‟ „Benar. Tuhanku.‟ Mereka mulai menjawab serentak. tapi mereka semua pintar mengaji. Tuhan kami.‟ „Engkau rela tetap melarat.‟ „O. Kami rela sekali.Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam KitabMu. Dan yakinlah mereka sekarang. Benar. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. anak cucumu tetap juga melarat. sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya. sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?‟ „Benar.‟ . Sungguh laknat penjajah itu.‟ „Di negeri yang selalu kacau itu. benarlah itu. bukan?‟ „Benar. bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu. Itulah dia negeri kami. Benar. Itulah negeri kami. penuh oleh logam. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu.‟ „Karena keralaanmu itu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau. Itulah negeri kami. hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi. bukan?‟ „Benar. bukan?‟ „Sungguhpun anak cucu kami itu melarat. minyak. Tuhanku.‟ „Di negeri.‟ „Kalian di dunia tinggal di mana?‟ tanya Tuhan. Benar. bukan?‟ „Benar. Tuhanku.‟ „Negeri yang lama diperbudak negeri lain?‟ „Ya. Tuhanku. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Ya. dan diangkut ke negerinya. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala. „Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia. Tuhanku. di negeri yang tanahnya subur itu?‟ „Ya. Benar. Ya. mereka yang mengeruknya. dan berbagai bahan tambang lainnya. „Di negeri mana tanahnya begitu subur.‟ „Dan hasil tanahmu. Tuhanku. Tuhanku. di mana penduduknya sendiri melarat?‟ „Ya.‟ „Tanahnya yang mahakaya raya.

hingga anak cucumu teraniaya semua. tapi kau malas. Lalu aku tanya dia. Engkau kira aku ini suka pujian. Dan besoknya. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Tuhanku. „Salahkah menurut pendapatmu. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur. Aku beri kau negeri yang kaya raya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Kamu semua mesti masuk neraka. melupakan kehidupan anak isterimu sendiri. „Tidak. hai. karena beribadat tidak mengeluarkan peluh." kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang. saling menipu. terlalu egoistis. halaulah mereka ini kembali ke neraka. "Kakek. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. "Ia sudah pergi." "Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Cerita yang memurungkan Kakek. Tidak. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. menyembah Tuhan di dunia?‟ tanya Haji Saleh. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri. tidak membanting tulang. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. karena itu kau taat sembahyang.‟ Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. bersaudara semuanya. tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun. Kau takut masuk neraka. sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya." "Kakek?" "Ya. saling memeras." jawab istri Ajo Sidi. bukan?‟ „Ada. Malaikat. Padahal engkau di dunia berkaum. "Siapa yang meninggal?" tanyaku kagut. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. mabuk di sembah saja.‟ „Kalau ada. istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk. Kesalahan engkau. ketika aku mau turun rumah pagi-pagi. kalau kami. kenapa engkau biarkan dirimu melarat. Ia bertanya saja pada malaikat yang menggiring mereka itu. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri. Inilah kesalahanmu yang terbesar. karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. .„Tapi seperti kamu juga. Letakkan di keraknya!" Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya. Kau lebih suka beribadat saja.

Dalam sepotong hatinya ada rasa malu karena dilayani demikian ramah. dia pergi kerja. Lalu seterusnya pada bibir. semua orang terpelajar yang harus menyingkir. Berpisah dengan anak dan isteri di masa perang. Kalau dia merasa perlu juga ikut. Dalam sepotong hati sisanya. Karena perempuan tidak perlu ikut perang. Murid perempuan yang menerimanya dengan segala rasa bangga dan hormat seorang murid kepada guru. Juga menurutnya. Dan kemudian mereka kawin. dengan dua anaknya yang masih kecil ditinggalkan pada mertuanya di kota. Aku pikir taktik itu benar juga. Juki tergoda. semua orang harus meninggalkan kota agar musuh tahu bahwa rakyat tidak menyukainya. alasannya cuma satu: agar tidak disangka mengkhianati teman-teman yang berjuang menegakkan kebenaran. Apalagi kepada guru yang ikut berjuang. tanda-tanda perang akan cepat berakhir tidak terlihat."Tidak ia tahu Kakek meninggal?" "Sudah. Apalagi membawa anak-anak yang masih bayi. Hanya tiga bulan. murid yang penuh perhatian mengurus kepentingannya terasa sebagai seorang wanita. Di desa pengungsian kedua. Paling lama enam bulan. untuk masa tiga-empat bulan pertama. Tapi setelah empat bulan masa berlalu. Mereka akan jadi beban perang saja. Sitti. Sebenarnya dia tidak perlu ikut-ikut menyingkir ke pedalaman pada masa perang itu. "Ya. Karena dia tidak mau ditangkap musuh yang konon tenteranya suka main tangan sampai popor senapan. tidaklah akan menentukan menang-kalah mereka yang berperang. tanpa perlu memberi apapun. Juki diajak tinggal di rumah seorang muridnya yang laki-laki. Dia guru. Maka lupalah Juki pada anak dan istrinya yang di kota." tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab." Sang Guru Juki Juki bukan tentera. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis. Musuh tidak akan mampu berperang lama-lama. Ikut tidaknya dia. batinnya pecah berantakan." dia menambahkan. tidak bisa lain selain harus mengungsi lagi ke pedalaman yang lebih dalam. bukanlah masalah berat. desa itu diserbu dan diduduki musuh. "dan sekarang kemana dia?" "Kerja. Maka istrinya. "Perang ini tidak akan lama. kemudian ikut-ikut aktif menjadi pejuang. Ketika Sitti mulai mengandung." "Dan sekarang. Rosni. Juki yang semula jadi guru. Mulanya pada pipi." "Kerja?" tanyaku mengulangi hampa. Sitti dipeluk dan diciumnya. katanya memberi alasan pada istrinya. Kalau itu tidak mungkin. Apalagi di desa pengungsian Juki menumpang tinggal di rumah seorang muridnya. Oncon nama .

sudah lama menjanda dan usianya hanya dua tiga tahun lebih tua dari Juki. setiap laki-laki yang pernah berulang kawin. maka kawin lagilah dia." jawab Juki. Dengan itulah Juki dibungkus keseharian kemanapun dia pergi di desa pengungsian itu. Semua serba baru. Tidak lucu. Namun Juki maklum akan siasat istrinya. Sedangkan pakaian yang dibawanya dari kota tak pernah dikenakannya lagi. . aku dapat makan. "Wah. bahwa dia tidak akan dilepas perempuan itu mengungsi lagi bila musuh datang menduduki desa itu. Apalagi jauh di pedalaman yang tidak diketahui berapa lama lagi dia harus mengungsi.panggilannya. dia akan aman. Ancok menjawab santai: "Perang menempatkan prajurit tidak punya pilihan lain daripada membunuh atau terbunuh. Dia dibelikan dua stel pakaian dalam dan piyama yang berbeda warnanya. bukan merampas perempuan itu. Apa salahnya? Halal. Karena dia tidak tahu dimana disimpan istrinya." kata Juki seperti seenak perutnya. "Kau pikir enak jika menumpang di rumah orang tanpa memberi apapun? Enak." "Perang ini. "Jika desa ini diduduki musuh pula. Lewat sebulan tinggal di rumah Ibu Oncon." kata Ancok. Karena menurutnya. biarlah ditangkap janda lagi. Karena bagaimana mungkin seseorang ikut bergerilya terus dengan mengenakan piyama. Karena beberapa hari sebelumnya dia memprotes sobatnya. bacalah sejarah. tidak sulit mengulangnya berkali-kali. perang itu akan selesai sebelum banyak korban berjatuhan. Dimana-mana pun begitu. Tapi hatiku ini yang merasa tidak enak. bagaimana kau?" "Daripada ditangkap dan dipenjarakan musuh. Simaklah sejarah masa itu." kata Si Dali. "Kawin di daerah gerilya. jika tentera itu tidak ganas. Maka itu pertistiwa perkosaan. Tidak ada jalan lain. ya. Bedah. ya memang enak. Juki laki-laki yang seperti itu. Lebih dari itu tergantung pada nyali. Dia pikir." kata Juki pada Si Dali ketika mereka ketemu. Kawin dengan perempuan yang sudah lama menjanda. Mayor Ancok. Sepasang sandal kulit model kepala buaya serta sarung pelikat dan baju model gaya Betawi yang putih berterawang. Juki dimanjakan benar. Di zaman Nabi pun ketika orang Arab berperang antara sesamanya sudah begitu. Dan apa salahnya bila anak buahku hanya memakai. tapi memperlakukan penduduk sebagai bangsa yang disantuni. Perempuan bahkan dijadikan sama dengan barang rampasan." tangkis Si Dali yang pada prinsipnya tidak menerima perlakuan durjana tentera terhadap penduduk. Kata orang. yang membiarkan anak-buah memperkosa perempuan di desa itu. Ancok. pikirnya. "Konyol kamu. Jawaban itu menyeruduk nilai moral dalam perut Si Dali. Si Janda dapat suami. Impaslah. perang orang sebangsa. perampokan dan penyiksaan tidak berarti apa-apa dibanding dengan kematian demi tanah air. Akan tetapi ibu Oncon. tergantung pada kefaedahan.

apalagi dengan mengaitkannya dengan Nabi yang junjungannya." . Justru perang sekarang yang jauh lebih kejam dari masa dulu. Perang sekarang terikat dengan konvensi internasional. Jari-jemarinya kentara gementaran." "Moral perang orang Minangkabau masa dulu menjadikan aduan kerbau daripada mengadu manusia untuk berbunuhan." "Naif betul kau Dali. punya tanah. Dengan nada suara yang rendah. misi kesucian agama." "Tapi dimana letak moralnya?" "Moralnya? Moralnya adalah pada kebanggaan orang desa dapat suami orang kota seperti aku. Meski bom atom dilarang. Sesaat air mukanya berobah." jawab Juki seenaknya. punya ladang untuk menjamin hidupnya. namun akibat bom napalm tak kurang ganasnya ketika ditembakkan ke desa. Tapi waang sebagai guru. Oleh karena peperangan Nabi mengandung misi yang amat mulia. Itu yang berlangsung sekarang. Mereka punya rumah. waktu perang moralnya beda. Bagaimana musuh bisa ditaklukkan dan menerima Islam apabila pasukan Nabi sama ganas dengan tentera jahiliah." tanya Si Dali lagi pada Juki. Nabi tidak akan membenarkan pasukannya merampok dan memperkosa musuh-musuh yang ditaklukkan. Cuma kawin melulu." "Berapa kali lagi kau akan mengungsi apabila perang ini masih akan berlanjut. bukan? Itu tergantung. Namun menurut logikanya.Si Dali tidak bisa menerima dalil itu." "Tapi kamu tidak ikut perang. "Biar guru. Lama kemudian barulah Si Dali bertanya lagi. "Bagaimana perasaanmu apabila isterimu atau anakmu diperkosa musuhmu?" tanya Si Dali kemudian. "Bagaimana kau mengemasi isteriisterimu nanti bila perang berakhir?" "Kau pikir hidup perempuan-perempuan desa itu bergantung pada suaminya? Mereka perempuan yang mandiri." kata Ancok seraya menepuk-nepuk bahu Si Dali tanpa peduli yang Si Dali tidak suka diperlakukan seperti anak sekolah bila ditepuk bahunya oleh guru. Guru lagi. Ancok tidak segera menjawab. Lalu katanya dengan emosi tak terkendali: "Zaman itu dengan zaman sekarang beda." "Yang aku tanya bukan mereka. Ancok berkata: "Itulah risiko perang. "Kau mau tahu juga berapa kali aku akan kawin lagi. Dia memang tidak tahu benar sejarah peperangan Nabi. Dali." kata Si Dali dengan menggunakan kata waang sebagai ganti kata "engkau" yang lebih kasar dalam bahasa daerahnya.

Sedangkan Si Dali pada bangsal berbau kencing. Tidak ada penyiksaan oleh tentera pemenang terhadap musuh yang kalah. apakah doanya dikabulkan Tuhan. Juki menempati ruangan di samping kantor sipir. Pada mulanya dia disekap bersama puluhan tawanan lainnya di salah satu gudang dalam komplek asrama batalyon. . Si Dali dengan emosi. Dari omong-omong sesama tahanan." Si Dali tidak tahu. ketika dipindahkan ke penjara umum. *** Tiba juga gilirannya desa itu diduduki musuh. Entah kemana dia lari. hingga tidurnya berdesakan pada balai-balai besar yang terpasang dari dinding depan ke dinding belakang. Si penjaga mendorong piring nasinya dengan kaki. Pada mulanya tahanan politik dapat menerima kunjungan istri atau keluarga sekali sebulan. bekas luka bakar oleh api rokok telah sembuh. Karena itu lebih baik dari pada jadi tawanan. Yang tersangka sebagai penjahatan perang. dipukul sampai hampir seluruh tubuhnya membiru dan juga disulut dengan api rokok. bila ada yang mau kencing. Pada pengungsian terakhir. sewaktu-waktu ada yang diambil tengah malam dan tidak pernah kembali. Hanya bekas-bekas saja yang menghitam. di setiap desa pengungsian Juki pasti menikah lagi. Dia dihina."Ah. Si Dali merasa arti dan harga dirinya sebagai manusia betul-betul tidak ada lagi. lepaskan saja di lantai. Semenjak itu Si Dali tidak pernah ketemu Juki lagi. Melerai perdebatan. mengisahkan tentera Amerika dalam kamp tawanan Nazi Jerman pada masa Perang Dunia Kedua. Selama jadi tawanan itu. Besok pagi disiram lagi. Tapi Juki seperti tidak mengenalnya atau tidak mau mengenalnya lagi. Kulit tubuhnya yang biru memar oleh bekas pukulan dan tendangan tidak terlihat lagi. Selama tiga bulan. itu sama dengan judi dalam dongeng. Yang melerainya beduk Magrib ditabuh orang. Tuhan. yakni setelah desa pengungsian Si Dali ke lima diduduki musuh pula. Tapi dagunya miring ke kanan dan sebagian giginya rontok. Sekilas saja dia sudah tahu itu temannya. bukan pandangan hidup mereka. Menurut sangka Si Dali. dicaci. Dia ingat film "Stalag 17" yang dibintangi William Holden. Sedangkan yang lain sebagai penjahat perang. Karena penderitaan itulah setiap selesai sembahyang Dali berdoa kepada Tuhan: "Ya. Waktu mengambil makanan dia harus antri dengan berjongkok. Kemudian dua kali sebulan. yang ditempati oleh lebih dari dua puluh orang. Antara kedua golongan tahanan itu tidak boleh berkomunikasi. Yang mendapat kamar untuk empat tempat tidur sejajar dengan kantor penjara. dia diangkut ke kota sebagai tawanan. Yang dia tahu." Mereka berdebat terus tak putus-putusnya. Namun baunya tak kunjung hilang. berilah semangat kawan-kawanku agar bertempur terus. Si Dali tergolong penjahat perang. Di penjara itulah Si Dali ketemu Juki lagi. Tidak demikian dengan tahanan penjahat perang. Tidak dibenarkan menerima tamu. Sedangkan Juki tak pernah kehilangan helah. ialah tahanan politik. Tengah malam. di penjara itu ada dua golongan tahanan.

Pada masing-masing sumur disediakan empat timba bertali. Melainkan ketika Si Dali bertugas membersihkan ruang mandi pada waktu menjelang tengah hari. Begitu koran memberitakan. Perang ini sudah akan berakhir. Karena dia menghayati benar makna tulisan H. Karena manusia berbuat sesuatu pada suatu waktu dan pada suatu tempat." Kata Juki lagi. Berbuat dan berakibat oleh perbuatan itulah yang harus dipikirkan oleh akal supaya hidup selamat dunia dan akhirat. "Kau merokok?" "Tidak. Di sekitarnya blok ruang tahanan. Tapi . di penjara tidak ada lagi terdengar suara pekikan tawanan yang kena pukul. Juki bertanya sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong piyamanya. Di sana. Kalau ditanya kepada pengawal penjara." Dan itu artinya mereka tidak di dunia lagi. Yang dinamakan tempat mandi di penjara itu letaknya di tengah halaman terbuka." kata Si Dali sambil menggeleng. "Kasi pada teman-temanmu. Puluhan. Si Dali tentu berpikir untuk menang. *** Si Dali tidak menyesali jalan hidupku yang dia rancang dan lalui. Paling-paling hanya bisa membasahi badan dengan seember air. Karena hampir setiap malam ada saja tawanan yang dijemput orang-orang bersenjata. "Jangan ceritakan apa-apa." kata Juki. Delapan timba untuk seratus lebih tahanan yang harus selesai mandi dan berak selama satu jam." Si Dali telah memilih hidup ikut berjuang bersama teman-teman sepaham. Juki mengguncang-guncang tangan Si Dali kuat sekali. tangan itu dilepaskannya. takdir yang datang karena bersebab dan berakibat. kenapa kau bisa jadi tahanan politik?" "Menggunakan ini. Tapi bukan waktu mandi. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala dengan pancaran wajah yang hiba. maka berakibat tertentu pada diri sendiri. yang dia tahu apa akibatnya: menang atau kalah." kata Juki sambil mengetok-ngetok batok kepalanya dengan jari telunjuk. Iman dan Tawakal. pertemuan kedua sahabat itu hangat juga. jawabnya singkat saja. "Sudah dikirim ke bulan. Hanya sebentar. pada suatu hari Si Dali ketemu bermuka-muka dengan Juki.Bedanya dengan ruangan tahanan batalyon. Aku sudah tahu yang kau alami. yaitu lahir dan mati. Ketika mereka hendak berpisah Si Dali bertanya: "Juki. Ada dua sumur persegi empat yang panjang. Dia mundur selangkah sambil menatap seluruh tubuh temannya. Piyama yang dibelikan istri ketiganya dulu. Tentu saja tidak mungkin semua mereka bisa mandi." Maksudnya kira-kira: "Ada takdir yang tidak bisa dipikirkan akal. Kuatkan hatimu. mungkin ratusan orang yang mengalami seperti yang kau derita. Tak lama lagi. Di penjara rokok sulit. Juki datang hendak mengambil air wuduk untuk sembahyang berjemaah tahanan politik. Meski tidak berpelukan. Agus Salim dalam buku "Takdir. Dan seperti tiba-tiba ingat sesuatu. tapi tidak pernah kembali lagi. Lainnya. Akan tetapi rasa ketakutan masih terus mencekam.

"Asal?" "Maklum. itulah kelemahan akalnya ketika hendak memulai. Tapi yang menjadi pikirannya ialah perilaku Juki. Dia minta agar Juki dibebaskan. namun Juki tidak menderita separah Si Dali. Menurut kabarnya Juki diterima kerja di Departemennya. akal apa yang dia pakai? Apakah karena perjalanan akal berasal dari watak turunan atau lingkungan mereka yang berbeda? Sampai keluar dari penjara.. Komandan pertempuran biasa berpikir praktis dan bertindak cepat. dia tidak menyalahkan takdirnya.. Pokoknya mereka telah kembali ke kehidupan bermasyarakat. Lalu. sosok Juki tampil lagi dipermukaan. Ketika dibawa ke kota. dia tetap tidak mampu memecahkan masalah takdir. Juki akan dianggap sebagai pejuang yang menang. Baiyah ikut. "Kau ingat Baiyah. isterinya yang ketiga? Ibu si Oncon? Dia tidak mau melepas Juki mengungsi lagi ketika APRI menduduki kampung itu. Namun ketika dia ketemu dengan Marwan." kata Marwan kian sinis. Seandainya perang mereka menang. Ditemuinya Komandan Resimen. Tidak perlu diratapi lagi. Sampai di situ dia berhenti berpikir. Tapi nyatanya perang mereka kalah. "Baiyah masih muda. Berkat bantuan paman si Baiyah. Komandan itu membawanya tinggal di rumahnya. Asal.. Karena aku tidak pernah ketemu dia. Baiyah seperti inventaris yang dioperkan. Otak Si Dali berbinar-binar antara percaya dengan tidak dan ingin tahu istrinya yang mana yang tega dia korbankan.. Perjalanan hidup masa datang lebih penting dipikirkan dibanding dengan masa lalu. Kalau itu dinamakan pemanfaatan akal. Maka itu. Kehancuran dan kemusnahan atas manusia tidak lain daripada kiamat yang dijanjikan." kata Marwan dengan sinis. Rosni dan Sitti. Dan ketika komandan itu pindah. meski sangat menderita. Kalau Juki pun dipenjara kondisinya lebih enak. Bila benar. Takdir apakah yang diberikan Tuhan dengan akalnya itu." "Apa kata Juki?" "Mana aku tahu apa katanya." Marwan menggantung kalimatnya. Komandan itu hanya bisa mengubah Juki sebagai tawanan politik. "Dia? Si Juki itu? Apa yang penting baginya selain dari dirinya sendiri? Istrinya bisa dia berikan pada orang asal dia bebas dari tahanan. Dalam hati Si Dali tertanya-tanya: "Siapa sebetulnya yang berkorban atau yang dikorbankan?" Jalaran pikirannya berlanjut pada istri Juki yang lain. Bertugas sebagai nyai.. Sampai Juki dibebaskan setelah perang usai.. Masa lalu telah lewat. Bagi Si Dali tidaklah penting lagi memikirkan beda takdir yang mereka alami bersama Juki. apa makna manusia sebagai orang seorang sebagaimana makhluk Tuhan? Lama kemudian Si Dali memperoleh kesimpulan bahwa perang dibangun oleh manusia yang saling punya super ego. Menurutnya.ternyata perangnya kalah. Apakah mereka ikut berkorban atau jadi korban? Ataukah ikut terseret oleh perjalan takdir yang berputar di sekitar sumbu sejarah." "Lalu apa?" tanya Si Dali ketika Marwan menggantung kalimatnya lagi. Akibatnya dia ditawan. . teman samasama mengungsi dulu.

Setelah mengudap beberapa potong gorengan dan mereguk kopi di restoran mungil itu. Orang dewasa main golf. kondisi fisik Juki lebih kokoh dan gerakannya masih gesit. Menurutnya. Sejak dulu tidak mau berobah. Seperti menuntut imbalan. Sudah sama-sama tua. Juki lantas memotong. Kesimpulan itu telah meredakan kebalauan pikirannya. Setelah mengalih bahan omongan ke berbagai situasi politik yang sedang berlangsung. Atau arena olah raga besar untuk pesta olimpiade. dia bingung. Namun Si Dali ingin tahu juga tentang Baiyah yang selalu berusaha dengan caranya untuk menjaga Juki agar tidak kesulitan. bahwa istrinya yang terakhir perempuan Belanda. Sampai mereka berpisah rasa mual itu masih dirasakannya. Namun keinginan itu dilepaskannya. Dia kerasan tinggal di sini. itulah kau. Sehingga dia bisa tertidur. ya bubar. Tentu saja aku bilang. Kalau habis untung perkawinan. Kawin dengan orang Indonesia.Dalam masa kiamat setiap makhluknya akan menemui dirinya sendiri. buat apa menanyakan kebahagiaan orang. Ketika kontraknya hampir habis. otomatis jadi tukang cerai istri. Kalau kau mau tinggal terus di sini. Orang yang tukang kawin. kasus Juki mengapung lagi dengan pertanyaan: "Termasuk golongan makhluk apa sahabatnya itu?" *** Bertahun-tahun kemudian Si Dali ketemu juga dengan Juki. Kau tahu apa yang dinamakannya korban? Apa itu betul-betul bernama korban?" kata Juki setelah lama juga mereka terdiam. Si Dali terkaget dalam hatinya ketika Juki menceritakan. Demikian pula waktu ketawa mulut Juki lebih lebar. Sebelum selesai Si Dali bicara. akhirnya Juki bercerita juga tentang dirinya. Pada hal dunia ini tempat hidup serba main-main. Dari Kumpulan Cerpen "Kabut Di Negeri Si Dali" Kayutanam. sebagai yang beriman atau sebagai pengikut Dajjal yang menjanjikan kenikmatan atas kesengsaraan orang lain. "Dia selalu menuntut lebih dari kemampuanku dengan menyebut-nyebut usaha dan pengorbanannya di masa lalu. Tapi dalam mimpinya. Selalu punya alasannya untuk kawin lagi dan untuk cerai lagi. Bahwa selama di Jakarta Juki telah tiga kali lagi menikah. akan terus kawin lagi bila ada kesempatan. "Dulu dia mengajar di IPB." Lalu apa katanya? Kau tahu? "Apa kau mau?" katanya. 1 Juli 1990 . Lalu aku katakan: "Jangan bingung. Sebenarnya Si Dali ingin bertanya banyak." "Kau pikir perkawinan demikian bisa langgeng?" tanya Si Dali. "Ah. tidak menarik hati Si Dali." Hampir saja Si Dali mau muntah karena ada perasaan mual berat pada perutnya. Sering ketemu aku di Departemen. sambil bicara hilir mudik. Orang seperti Juki yang tukang kawin. Untuk main-main orang buat panggung untuk pesta musik dan teater. Selalu berpikir serius. Tak usah dipikirkan amat. Selain dari hampir seluruh kepalanya kehabisan rambut. Lebih afdol menanyakan kesulitan hidup orang sebagai tanda prihatin. Anak kecil main gundu. "Kenapa tidak?" Kini dia jadi konsultan di BTN.

Si Bangkak Semua orang menyalahkan Mayor Udin menyuruh Si Bangkak yang pandir membersihkan pistol berpeluru. Karena tiba-tiba pistol itu meledak ketika lagi dibersihkan dan ketika itu pula isteri mayor yang kebetulan lewat di halaman. Dia tertembak tepat di jantungnya. Dan mati. Begitulah yang tersiar ke mana-mana di seluruh daerah komando Mayor Udin. Maka semua orang pun datang melayat dan menyampaikan rasa ikut berduka cita. Semua orang tafakur ketika jenazah isteri yang tertembak itu dimasukkan ke liang lahat setelah tujuh pucuk senapan menyalvo. Melebihi upacara militer pada waktu penguburan beberapa orang prajurit yang mati dalam pertempuran tanpa salvo demi menghemat peluru. Si Bangkak duduk mencangkung di lereng bukit sambil nanap memandang ke kaki bukit tempat upcara berlangsung. Tak terbaca pada wajahnya apa guratan dalam jatinya, sama seperti sediakala, Seorang saja yang tidak ikut bersedih waktu itu. Yaitu Kepala Desa. Bertahun-tahun kemudian Si Dali tahu, mengapa Kepala Desa itu tidak ikut bersedih. Bertahun-tahun kemudian pula Si Dali menceritakan peristiwa yang sebenarnya terjadi. *** Ketika pasukan Mayor Udin menyingkir ke pedalaman karena kota telah dikuasai lawan, Si Bangkak pun ikut menyingkir. Tak jelas benar mengapa dia ikut ke pedalaman. Dia bukan tentera. Juga bukan pejabat. Mungkin karena ikut- ikutan saja demi melihat semua orang pada meninggalkan kota secara hampir serempak. Si Bangkak berbadan kekar dengan tingginya sekitar 165 senti. Sedikit orang saja yang sama tingginya dengan Si Bangkak di masa itu. Meskipun demikian, dia bukanlah lakilaki yang menarik. Cirinya khas pada tubuhnya ialah pada kening di atas hidungnya ada daging yang membengkak sebesar kuning telur mentah yang lepas dari putihnya. Karena itulah dia dinamakan Si Bangkak. Kakinya seperti tidak berbetis, hampir sama besarnya dari bawah lutut sampai ke mata kaki. Tapi kaki itu kuatnya bukan main. Tak pernah lelah. Setiap berjalan langkahnya cepat seperti berlari tanpa alas kaki. Dengan langkah seperti itu pula dia pergi bila saja ada orang menyuruhnya. Siapapun dapat menyuruhnya. Tapi jangan harap dia akan mau kalau disuruh membawa barang berat, meskipun dikasi makan atau uang. Si Bangkak mempunyai kepandaian khusus, yang tidak semua orang bisa melakukannya. Dia pintar memijat. Dan lembut sentuhannya. Orang akan terkantuk-kantuk bila seluruh tubuhnya dipijat Si Bangkak. Kepandaian khusus itulah yang menyebabkan Mayor Udin, yang sering masuk angin sangat membutuhkan Si Bangkak. Selama di pedalaman Mayor Udin hampir praktis kurang tidur. Ada kalanya dia tidak sempat tidur sampai dua hari dua malam. Kurang tidur bukan karena mengatur taktik dan strategi perang. Melainkan karena keasyikan main ceki, sebagai pengisi waktu yang luang dan panjang karena tidak ada musuh yang datang menyerang. Sekali waktu Nunung, isteri Mayor Udin, diserang sakit kepala yang amat sangat. Dua aspirin yang ditelannya tidak menolong. Sedangkan Mayor Udin sedang tidak bisa diganggu. Lagi asyik main ceki dalam posisi kalah. Dia marah dipanggil isterinya dari

kamar tidur. Sangka Mayor Udin, Nunung lagi masuk angin, seperti yang sering dialaminya sendiri. Yang apabila telah dipijat Si Bangkak selama setengah jam, sakit kepalanya hilang dan kemudian dia tertidur dengan pulasnya. "Bangkak." panggil Mayor Udin. "Unimu sakit kepala. Pijat dia." Tanpa banyak pikir Si Bangkak yang lagi duduk di ambang pintu, segera berdiri. Langsung menuju Nunung ke kamar tidur. Nunung yang tak tahan lagi menderita sakit, dan tahu Si Bangkak disuruh suaminya, lantas berkata: "Ya. Tolong pijat cepat." katanya sambil memberikan botol balsem. Setelah kening dan tengkuknya dipijat, rasa sakit kepala Nunung memang dirasanya berkurang. Lalu Si Bangkak disuruhnya memijat punggugnya juga, seperti yang biasa dilakukan pada Mayor Udin. Sambil menelungkup dirasakannya benar betapa enaknya pijatan Si Bangkak. Dia pun mulai terkantuk. Sekali merasa enaknya dipijat, kecanduanlah dia. Sejak itu, bila Mayor Udin asyik main ceki di ruang depan, bila sakit kepala Nunung pun datang. Si Bangkak dipanggilnya untuk memijat. Peristiwa itu memang tidak perlu dicurigai. Nunung dan Mayor Udin sepasang anak manusia yang jatuh cinta semenjak masa remaja, sama-sama cinta pertama. Keduanya dipercaya tak pernah terlibat kasih dengan fihak ketiga dalam situasi apapun. Lagi pula lebih sering ada perempuan lain di kamar itu. Namun selalu jadi bahan olok-olok oleh banyak perwira sampai ke prajurit, dengan mengatakan bahwa mereka lebih suka jadi Si Bangkak saja di masa perang itu. Nunung lalu berkhayal, apabila Mayor Udin sampai terlelap karena betisnya dipijat, maka dia pun ingin pula mencoba. "Apa salahnya, Si Bangkak, biar laki-laki, dia cuma Si Bangkak. Lagi pula pintu kamar selalu terbuka. Dan ada perempuan lain bersamanya." katanya dalam hati. Nunung keenakan dipijat. Mayor Udin tak terganggu lagi oleh erangan Nunung yang diserang sakit kepala, bila dia main ceki. Namun keduanya tidak tahu bagaimana perasaan hati Si Bangkak setiap memijat Nunung yang berkulit mulus itu. *** Menurut Kepala Desa, dia melihat benar Si Bangkak menodongkan pistol ke isteri Mayor Udin. Lalu menekan pelatuknya. Tapi dia tidak mau mengatakan apa yang dilihatnya kepada siapapun. Karena tidak ada untung-ruginya menghukum Si Bangkak. Katanya: "Bagaimana pun pandirnya Si Bangkak, dia 'kan seorang laki-laki. Bukan anak kecil ingusan atau orang gaek jompo." Maka Si Dali dapat merasakan betapa tersiksa hati Si Bangkak setiap memijat perempuan itu. Justru karena bodohnya itulah dia sampai mampu melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan oleh laki-laki lain, jika disuruh memijat perempuan muda yang mulus kulitnya. Karena bodohnya itulah dia membunuh setan di kepalanya dengan menembak isteri seorang mayor.
Dari Kumpulan Cerpen "Kabut Di Negeri Si Dali" 1 Mei 1996

Si Montok Untuk melanjutkan perjuangan setelah musuh menduduki semua kota, Si Dali menyingkir ke sebuah desa di balik bukit peladangan tebu. Dengan dua teman sesama prajurit Si Dali dapat menempati rumah yang berkamar satu. Tapi mereka tidak tidur di kamar itu. Melainkan pada satu-satunya ruangan yang ada. Tidur berdesakan. Kamar itu sendiri ditempati Si Montok dan anaknya yang berusia empat tahun, Amir. Bertiga dengan ibunya. Kamar itu sendiri tidak berpintu. Tapi di depannya, sejajar dengan ruang sempit jalan ke dapur, menjadi ruang tidur ayah Si Montok. Si Montok, janda dengan satu anak itu berpotongan seperti namanya. Montok yang aduhai, menurut ketiga prajurit itu. Maka adalah masuk akal apabila ketiga prajurit itu sama berselera kepadanya. Meski sama berjuang melawan musuh bersama, mereka sama bersaing memperebutkan hati janda itu. Masuk akal jika dikaji bahwa mereka telah bertahun berpisah dengan isteri masing-masing. Isteri yang mereka tinggalkan di kota. Isteri yang tidak patut dibawa ikut berperang. Sehingga ketiganya sudah bertekad dalam hati masing-masing, apabila datang lagi serbuan musuh yang pertamatama dibawa ikut lari ialah Si Montok. Namun Si Dali yang mendapat tanggapan lebih dari janda itu. Tentunya karena Si Dali yang lebih tinggi pangkatnya. Awal kisahnya sederhana saja. Kebutuhan air isi rumah itu pada sungai kecil di kaki bukit. Setiap hari mereka harus turun-naik bukit itu kalau memerlukan air. Ketiga prajurit itu selalu turun dan naik bersama. Seperti ada perjanjian rahasia, tidak seorang pun yang boleh tinggal di rumah apapun alasannya. Berdua pun tidak. Ketiganya seperti sepakat pula, mereka akan selalu beriringan dengan Si Montok ke sungai kecil itu. Dan semua sama ingin membantu membawa beban Si Montok, seperti air di perian, kain cucian. Berbuat baik seperti pekerja sosial. Sehingga tidak seorang pun yang dapat berjalan sendirian bersama janda itu. Dalam situasi itu, yang kurang cerdik menjadi santapan yang lebih cerdik. Dan yang lebih cerdik rupanya Si Dali. Perhitungannya yang paling pas. Ia memilih beban yang paling berat. Yaitu menggendong Amir yang kecil di atas bahu. Sambil mengkelakarinya sepanjang jalan, sehingga si kecil terpingkel tawanya. Ibu yang janda mana yang tidak suka pada laki-laki yang disenangi oleh anaknya? "Seperti anakku." kata Si Dali pada suatu ketika pada Si Montok seolah ia memenuhi rasa rindu pada anaknya yang di kota. "Kalau Amir maukan Uda jadi ayahnya, tergantung pada Udalah itu." kata Si Montok membalas sambil mengerling. "Katakan kepadanya. Ini zaman perang. Jangan dia sampai dua kali kehilangan ayah." kata Si Dali. Si Montok menatap Si Dali dengan matanya yang berkaca-kaca. Tidak lama benar. Tanpa berkata dia pun berlalu. Si Dali marah pada dirinya sendiri. Menyesali ucapannya. Dan sesal itu tidak bisa diperbaiki. Sesal yang betul-betul tidak ada gunanya. Karena beberapa hari kemudian seorang kapten datang bermalam dalam suatu perjalanan inspeksi ke garis depan. Setelah matanya nanap menatap Si Montok,

yang berhak menikahkan anak perempuannya. Maka lamaran kapten itu diterima. *** "Engkau pasti akan jadi ganjal batu* bila perang usai. bukan?" kapten itu memberi alasan." kata kapten itu selanjutnya. maka aku tidak melamarmu. kapten itu melamar Si Montok pada ayahnya. "Semalam saja. Si Dali ikut menjadi saksi." kata ayah Si Montok." kata perempuan itu. pikiranku. Aku capek setelah berhari-hari jalan terus. Maka Si Dali beserta temannya tergusurlah. "Sama saja. Juga menyesali diri sendiri." kata Si Dali pada Si Montok ketika mereka ketemu. Uda. Bila dulu mereka pergi begitu saja dari kota seperti seharusnya sudah begitu. "Sekarang saja nikahnya. Tak obahnya orangtua itu seperti mendapat pohon durian rebah. ayahnya sendiri. *** . "Uda seperti tidak perlu perempuan. Tiba-tiba Si Dali nanar." kata kapten itu pada mulanya dia datang. Ketika ia sadar. "Itulah yang jadi pikiranku. Dan rumah kecil di lereng bukit peladangan tebu itu akhirnya berobah menjadi pos komando. sehingga tidak perlu memanjat dulu untuk memetik buahnya. Si Montok sudah berlalu membawa tubuh sintalnya yang aduhai sambil menggerai-geraikan rambutnya yang habis keramas. Mungkin karena sifat seorang komandan yang harus mampu bertindak tegas dan cepat. Malam itu juga pernikahan itu terjadi. Uda pun akan meninggalkan orang kampung ini bila perang usai. Dan malam itu juga Si Dali dan temannya tergusur seolah seperti musuh datang menyerbu lagi. "Yang tidak Uda pikirkan. Padahal sudah lama aku ingin laki-laki. maka kini Si Dali pergi membawa gerutu dan caci-maki. "Tapi rumah kadi amat jauh." "Apa yang jadi pikiranmu?" tanya Si Dali setelah lama merenung-renung maksud katakata perempuan itu.” kata Si Dali seperti membela diri.lalu malam yang semalam menjadi berketerusan. maka sebelum tidur pada malam pertama ia datang." kata janda yang baru saja menikah itu. "Menurut agama.

Maka orang kota. Sedangkan mayor menyesali nasibnya sendiri. batu itu ditinggalkan begitu saja. Si Montok menemui mayor di rumahnya. Soalnya. Juga lupa pada janin yang sehat pada perut Si Montok. Semua telah jadi orang terpandang di rantau. Setiap orang tahu siapa penghuninya. berbendi atau bermobil sebagaimana tradisi setiap lebaran Idul Fitri. Diledakkannya. Kayutanam. tetapi sehabis perang melukai pemiliknya sendiri. karena pistol itu memang tidak punya perasaan. Janin yang kemudian menjadi bayi laki-laki yang bugar. Pembantu yang laki-laki ialah paman Si Dali. mayor itu dipensiun. seperti kapten itu juga. Ketika truk itu sudah bisa jalan lagi. setelah perang usai seluruh tentera kembali ke kota. mereka "dikaruniai" enam orang anak. Sama seperti desanya. Pada suatu hari. Pelurunya bersarang di lengan kanan mayor. Bercat oker yang telah pudar warnanya. Karena lengan telah pontong. Keduanya memandang sambil bergoyang pelan di kursi goyang yang dipisahkan oleh meja kecil bardaun marmar Itali. karena selama perang tidak pernah melukai musuh. Diambilnya pestol yang tergantung di dinding kamar tidur. Mungkin karena sudah terlalu biasa dalam pandangan penduduk kota kecil itu. Dan Inyik berkulit cerah. Ketika di rumah sakit. Yaitu Inyik Datuk Bijo Rajo dan Encik Jurai Ameh. Si Montok menyesal karena membawa bayi kebanggaannya. Lazimnya orang menyebutnya Inyik dan Encik saja. lengan itu dipotong. tak terasa lagi ada keganjilan pada rumah itu. sama lupa pada desa-desa tersebut. tapi . Encik berkulit gelap dan bertubuh gemuk. Maka tinggallah desa-desa yang telah memberi pelindungan hidup pada pejuangpejuang itu. Si Montok pun ditinggal. Kedua perempuan itu sama menyesal di kediaman masing-masing. dengan perasaan sangat bangga. Si Montok datang ke kota menemui Si Kapten yang telah jadi mayor untuk memperagakan anak mereka. Rumah kedua orang tua itu bangunan kayu model lama yang berkolong tinggi. Kelihatan ganjil di antara sederetan bangunan bergaya terkini. Celakanya. 17 Desember 1996 Tamu yang Datang di Hari Lebaran Sepasang orangtua yang rambutnya telah memutih memandang dari ruang tamu ke jalan raya yang ramai oleh orang orang berbaju indah-indah dan baru.Sekitar masa setahun sehabis perang Si Dali menyukuri diri karena tidak sampai menikahi Si Montok. Berjalan kaki. Pada hari tua yang sudah lama terpakai mereka tinggal dengan sepasang pembantu yang telah puluhan tahun bersamanya. Tentu saja begitu. Inyik dulunya seorang pejuang dan pernah menjadi gubernur. ialah batu pengganjal roda truk sarat muatan yang tiba-tiba mogok di pendakian. Tentu saja isteri mayor naik pitam ketika mendengar bahwa bayi itu adalah anak suaminya yang dilahirkan Si Montok. Hampir tidak dapat bergerak seleluasa maunya. Isteri mayor menyesal karena telah meledakkan pistol suaminya. Namun tidak diketahui apakah pistol itu pun ikut menyesal. Menurut istilah lama yang kini terpakai lagi. -------------------------------------------------------------------------------* Ganjal batu.

Yang tak mampu hanya Ruski. Karena pada hari itu setiap orang tanpa pandang usia dan status saling bertemu dan saling memaafkan. kalau tidak salah Ki Hajar yang menulis. Lebih sulit lagi dia tinggal jauh. Katanya. Tutup tahun ini berkebetulan sama dengan lebaran. Mengatakan apa yang lewat di kepalanya.tubuhnya ceking." tulisnya dalam surat. Setiap akhir tahun dia pergi berlibur membawa anak dan isterinya. Tidak ada rasa lebih diri. Sepertinya menemui ibu-bapa tidak merupakan ridha-Nya. meski modelnya sudah kuno. Kenapa harus menunggu dulu kalau sudah tahu saudara sendiri tidak punya kemampuan? Siapa yang mengajar mereka begitu? Seperti mereka tidak tahu betapa rindunya aku. Padahal. Sambil bergoyang di kursinya sejak tadi Encik bicara sendiri tak hentihentinya. Kata Encik: "Pada setiap lebaran begini aku mau semua anak-cucuku berkumpul. sambil mencari ridha-Nya. Dimana padi masak disana pipit berbondong-bondong. Saudara-saudaranya mau membantu kalau Ruski mau meminta. Tapi kalau bagi anak-menantuku tentu tidak berlaku ungkapan itu. Seperti anak-cucu presiden di televisi. Aneh fahamnya beragama. waktu ayahnya jadi gubernur setiap lebaran mereka bisa berkumpul. Meski kementerengan hidup yang mereka dapat. Tak tersentuh hati mereka. Pantang memintaminta. Berdiri seluruh bulu romaku. bawahan dan orang miskin yang wajib datang ke penguasa untuk minta maaf. Atau untuk makan sepuluh atau seratus hari orang miskin?" Kata Encik melanjutkan lamunannya: "Ruski memang keras hati. Aku rindu mereka antri." Inyik pun berkata dalam hatinya: "Dulu aku pernah baca artikel. Kata mereka. akan apa kata orang nanti bila mereka tidak datang waktu lebaran. Kalau mereka tidak lagi datang. Tapi kini. Sedangkan Inyik berbuat yang sama. Dulu." . Tapi dia tidak pulang. Paling-paling mereka memberi zakat fitrah senilai satu hari makan untuk satu orang miskin. Rasanya aku tidak salah didik. Dia ke Mekkah karena sudah bosan ke kota-kota dunia lainnya. setelah Idul Fitri jadi kebudayaan baru. Keduanya sama mengenakan baju yang terindah. Si Mael yang paling kaya dari semuanya. saudara-saudaranya bisa patungan membiayai yang tidak mampu. Namun mataku sabak oleh airmata bila ingat aku tidak pernah memperoleh kebahagiaan seperti itu. Kenapa tidak untuk sepuluh atau seratus orang miskin. Idul Fitri hari yang istimewa. Setelah itu mereka tidak lagi datang dengan lengkap. bertekuk lutut sambil mencium tanganku waktu bersalaman. Tapi itu tidak pernah terjadi. Rezkinya memang pas-pasan. karena banyak rakyat yang diterlantarkan. Di Irian sana. Ke Amerika atau ke Eropa atau ke Jepang. Dalam hatinya pula. Lain perilaku hidupnya. Terharu aku melihatnya. Kalau mau. Mengapa? Sama seperti anak-buah Inyik dan pejabat lain. Penguasa akan merasa tidak pantas minta maaf kepada rakyat. Aku datangkan guru agama tiga kali seminggu agar mereka menjadi penganut yang tawakal. Tak ada rasa rendah diri. Begitu janjinya kepada anakanak. Tapi mengapa setelah makmur mereka hidup nafsi-nafsian? Setiap lebaran datang luka hatiku kian dalam. itu adat dunia masa kini. sebetulnya anak-anakku mampu pulang bersama. "Sambil libur.

Itu yang pertama. Sepertinya uang sebanyak itu tidak lagi berfaedah untuk orang miskin."Tulisan siapa yang pernah aku baca dulu? Hasan. Coba kalau anak-anak kita disini semua. Aku minta ulama mengeluarkan fatwanya. waktu dirasakan terlalu singkat. beliau tetap seperti Muhammad sebelum menjadi Nabi. Untuk keamanan jabatannya. Nabi diberi waktu dua puluh tiga tahun oleh Tuhan. Kalaupun punya warisan. Jika lebih dari itu." kata Encik hampir tak berdaya. Kedua. Tidak kaya raya seperti umumnya diktatur yang berkuasa. Melainkan berzakat dan takbiran. Dan dia terus merunut satu demi satu alasan anaknya tidak bisa pulang berlebaran. asal stabiltas terjamin. Aku mau berbaring dulu. Mengikis keduniawian pada acara ritual itu. aku mencoba merobah tradisi lama itu. sesungguhnya tidak cukup waktu untuk merobah tradisi yang usang. Kursi yang ditinggalkannya terus bergoyang. Bagaimana nasib umat dibawah pimpinan yang pikun? Dan bagaimana umatnya meneladani perilaku Nabi apabila diakhir hidupnya kepikunan lebih menonjol. Acara takbir dijadikan acara tontonan di lapangan. Katanya." Inyik terbatuk-batuk. Dulu ketika ayahnya jadi gubernur. Aku maklum alasannya. "Rasanya hari lebaran ini terlalu panjang. Tapi kebudayaan baru menjadikannya lain. semuanya dihibahkan menjadi wakaf untuk umatnya." . Nabi tidak menyuruh orang berpesta untuk merayakan Idulfitri. kondisi mental dan fisiknya sudah menurun dan terus menurun. Roem. ya? Katanya. Melani karena tidak mendapat tiket pesawat. Ketika berhenti karena umurnya sampai. akulah yang akan menjadi usang. Jurai. Setelah minum sereguk air." kata Encik melanjutkan kata hatinya. Bahkan lebih. Dia mengalaikan kepala ke sandaran kursi. Pakai musik segala. Sebagai kepala pemerintahan aku dipojokkan. Sofi karena suaminya belum bisa kembali dari Eropa. teladani Nabi. Takbir bukan lagi ibadah pribadi. Katanya: "Lima tahun jadi gubernur. Apakah tidak akan terjadi kekacauan pada kehidupan umatnya?" Tiba-tiba Inyik merasa dadanya sesak. Pada Idul Fitri memberi zakat firah." "Sabir juga tidak pulang. melanikan dijadikan pesta dunia dengan biaya milyaran rupiah. Sedangkan Gafar lain lagi alasannya. Beberapa saat kemudian dia berdiri. Natsir atau siapa. Akan tetapi menjadi gubernur lebih lama. aku pun dendam jika ada bawahannya tidak datang berlebaran ke gubernuran. renungannya melanjut: "Waktu jadi gubernur dulu. Kewajiban inti pada kedua hari raya itu membantu orang miskin. Kolegaku menyalahkan aku dengan kata-kata durjana: "Biarkan saja agama begitu. Sebetulnya Idul Adha tak kurang mulianya. Terlambat datang pun jadi pertanyaan dalam hatiku. "Aku juga. Kiayi Marzuk mengatakan kepadaku: "Kalau mau jadi pemimpin. Pikiran Inyik masih terus menerawang. dia harus berlebaran ke rumah menterinya yang baru. sebagai pemimpin umat umurnya dibatasi Tuhan sampai enampuluh tiga tahun saja." katanya kepada isterinya sambil melangkah dengan gontai. "Aku lelah. Menteri bisa salah sangka kalau dia tidak datang. Sedangkan pada Idul Adha memberi Qurban senilai seekor kambing.

Anak. Satu demi satu secara khidmat mereka berlutut ketika menyalami. pikiran Inyik masih terpaut pada waktu ketika di kursi goyang ruang tamu. Meski mereka berpendidikan tinggi." "Kodrat alam?" "Ya. Menjelang berhenti. Terima kasih. Karena alam dan kodrat-Nya. Dan bicara tanpa basa-basi. Sunnatullah. Terutama sekali karena aku tidak melihat ada bawahanku yang mampu menggantikan aku. para khalifah telah meluaskan wilayah Islam sampai ke Spanyol di barat. Inyik tidak bereaksi. Lama-lama berhenti sendiri." Goyangan kursi Encik kian lama kian pelan. menantu dan cucunya. Rasanya aku sudah mendidik anak-anak." Tidak diduganya seseorang masuk ke kamar tidurnya. "Tuhan telah mengabulkan doaku. "Ternyata kau sama saja dengan golonganmu. Tetapi dalam masa seratus tahun. Semua anak-anakku pulang berlebaran." Hati Inyik merasa tertusuk oleh kata kau ke alamatnya." Lama Inyik terdiam. menciumi tangannya dan kemudian memeluk untuk mendekapi pipinya." Dalam berbaring di bangku tidur yang biasa digunakan pada waktu tidur siang. terima kasih. Terima kasih juga seandainya ini hanya mimpi. mungkin akan turun deras melelehi pipinya oleh rasa bahagia. Tamu yang berani-berani saja sudah duduk di bangku tidurnya. Kini disadarinya benar. Aku cemas pada nasib negeriku ini bila dipimpin orangorang seperti itu. bahwa memang usia tua membuatnya lamban berpikir. Maka itu janganlah kau punya pikiran yang berlawanan dengan kodrat alam. Lalu kepada tamunya: "Apa maksudmu?" . Tambah tua kian sombong. Lalu duduk di kalang-hulunya. baru tujuhpuluh usiaku sudah begitu lambannya aku. Bahkan pelupa. Mimpi terakhirku. Mungkin mereka akan bercerai-berai. Tapi kenapa pada hari tua kita. Tapi aku mendengar yang kau katakan. pikirannya terus menerawang: "Alangkah anehnya hidup ini. Tak mampu dia memahami apa yang dimaksud tamunya. alangkah indahnya Hari Raya sekali ini. "Sebenarnya aku ingin jadi gubernur lebih lama. Persis seperti yang dilakukan anak-cucu presiden dalam tayangan televisi. "Sebetulnya aku tidak akan ke sini. Setiap pintu terbuka. Selagi aku masih hidup mereka tidak lagi berpikiran sama seperti sebelum mereka menjadi apa-apa? Apalagi kalau aku sudah mati. sampai ke Pakistan di timur. Tuhan. Kata yang tidak pernah ada dalam hidupnya diucapkan orang kepadanya. memasuki halaman. supaya menjadi anak yang bersatu kukuh dalam persaudaraan serumpun." katanya pada dirinya. selain heran oleh kedatangan tamu yang tidak dikenal itu.Lama kemudian masih dalam goyangan kursi. dalam penglihatannya beberapa mobil sedan yang mengkilat catnya karena baru. Sebaiknya kau tahu. baru separoh jazirah Arab yang Islam. Dari setiap pintu keluar semua orang yang dikenalnya. Oh. Kalau masih ada airmatanya tersisa. mereka telah hidup menurut pikiran dan caranya masing-masing. namun nyalinya kecil-kecil. Tapi berapa sesungguhnya usianya sekarang? "Ah. lamban bereaksi. bahwa waktu Nabi sampai umurnya.

" kata tamu itu. "Tergantung pada perilaku kepemimpinanmu. "Pantarai. 21 Januari 1998 Topi Helm Terjunjungnya topi helm di atas kepala Tuan O. Kalau kau berkuasa seperti diktator. Meskipun Tuan O. hilang berganti. yang oleh ayahnya sendiri dinamai Gunarso. kau akan selalu dikenang dengan segala kekaguman oleh rakyat." kata tamu itu "Pengganti belum tentu sebaik yang digantikan. menjamin kelancaran kerja di bengkel kereta api di kota kecil Padang Panjang. "Tidak. Apabila kepemimpinanmu berganti pada kondisi yang baik. Maunya dia marah. Tiba-tiba dia sadar bahwa tamu itu tidak lain dari Sang Maut.M. tapi oleh topinya yang besar itu." kata Inyik pula dalam keragu-raguan.M. Masa kau lupa. . pula di depannya sebab turunannya. Bahwa manusia itu lahir." kata tamu yang disangka Inyik sebagai Sang Maut seraya keluar dari kamar."Dalam peribahasamu ada ungkapan: "Patah tumbuh. Belum sekarang." kata tamu itu." Inyik lama termangu sambil membolak-balik makna ucapan tamu itu. hidup dan akhirnya mati. akan terjadi kekacauan pada ujung kekuasaanmu.M. Inyik merasa tamu itu menguliahinya. "Sudah tiba waktuku kalau begitu. Pemimpin pengganti akan didambakan dengan sorak gembira oleh rakyat. aku mau kehadiranku tidak akan menyiksa hidup bangsaku. Kayutanam." "Bagaimana dia?" "Kursinya tidak bergoyang lagi. Dia mencoba meraba-raba perasaannya sendiri. Tidak akan. "Kalau waktuku belum akan tiba.M. tersandang jugalah wibawanya sebagai opseter mesin di bengkel itu." desis dalam mulutnya ketika ingat pelajaran sejarah Yunani Kuno pada klas terakhir sekolah menegahnya dulu. Karena kau tidak berkuasa lagi. itu pendek." Inyik menggugat. bukan?" "Ada sedikit urusan dengan isterimu." "Belum. Malah pakai R. "Engkau ke sini berlebaran. Inyik yang berbaring lemas sendirian di bangku tidurnya masih mendengar samar-samar gema takbiran dari pesawat televisi di ruang tengah. Dialihkannya pembicaraan. Tidak ada perasaan apapun. Tapi ada rasa tak berdaya pada dirinya. Karena rasionya yang lebih kuat. Dan oleh bawahannya di lengketkan julukan Si Topi Helm atas Tuan O. Harga dirinya tersinggung.

Demikian besar wibawanya. Hingga kalau sekelompok orang mengobrol selagi kerja di bengkel itu, lalu di antaranya membisikkan: "Sssst. Si Topi Helm," maka berjungkir baliklah mereka bekerja dengan tekunnya. Kadangkala ini menjadi olok-olok. Misalnya sekelompok orang mengobrol, lalu seseorang menyebut Si Topi Helm dengan tiba-tiba, tunggang langganglah mereka ke tempat kerjanya kembali. Dan pura-pura asyiklah mereka bekerja, seolah-olah mereka sejak dari tadi benar-benar bekerja. Tapi tahutahu kedengaranlah tawa terbahak-bahak. Maka tahulah mereka bahwa ada yang berolok-olok dan mereka telah tertipu. Karena seringnya olok-olok demikian dilakukan, akhirnya orang selalu curiga akan bisikan "sssst, Si Topi Helm." Tapi pada suatu hari olok-olok itu menyebabkan seorang masinis turun pangkat jadi stoker kembali. Biasanya untuk membersihkan bagian bawah dari sebuah lok kereta api hanya dilakukan oleh dua orang saja. Lok itu berdiri di atas sebuah lobang yang panjang, hingga orang-orang dapat bekerja tegak untuk membersihkan di sebelah bawahnya. Tapi masinis, yang badannya besar hingga di panggil "Kingkong" oleh buruh lainnya, setelah masuk ke lubang itu untuk memeriksa, ia tidak keluar lagi. Ia mengobrol dulu memenuhi kebiasaannya. Obrolannya makin lama kian enak, sehingga mereka tertawa kesenangan. Dan…. memeriksa, ia mendengar betapa meriahnya suasana dalam lubang di bawah lok itu, orang-orang lain yang sedang bekerja di bagian lain lok itu ikut pula masuk ke lubang itu. Sedang si masinis asyik mengobrol dengan segala geraknya yang lucu,tanpa setahunya Tuan O.M. sudah ada dekat lok yang sedang di bersihkan itu. Didengarnya saja obrolan bawahannya itu diam-diam. Tiba-tiba salah seorang di antara orang-orang yang di dalam lubang itu melihat sepatu dan celana coklat Tuan O.M. dari celah-celah jari-jari roda lok, lalu dengan ketakutan dia berbisik, "Sssst Si Topi Helm." Serentak rubu rubai, antara percaya dan tidak mereka sepura asyik bekerja. Ada yang membersihkan roda, ada yang membersihkan as, malah diantaranya ada yang mengetok apa saja yang dirasanya patut diketok. Tapi masinis melihat betapa takutnya orang-orang oleh bisikan yang berbisa itu, jadi tertawa terbahak-bahak sendiri. Lucu benar dianggapnya tingkah laku mereka itu. "Hm. Apa yang kalian takutkan? Si Topi Helm?" Ia mengejek. " Apa pula yang ditakutkan pada si pendek itu. Patutnya padaku kalian takut, Si Kingkong ini. Tidak pada Si Topi Helm yang pendek seperti kera itu kalian takut. Puahhh. Kalau sekarang ada Si Topi Helm itu di sini, aku patahkan lehernya. Seperti kingkong mematahkan leher kera tentunya. Ha ha haaa. Kalian benar-benar, ada saja seseorang berkata: 'Sssst Si Topi Helm', waaahhh kecutlah ekor kalian seperti anjing ketemu singa. Adukan sama Kingkong, Kawan. Adukan sss..." Ia tak jadi menyudahkan kalimatnya. Karena tiba-tiba didengarnya orang mendehem. Dan dehem itu dikenalnya. Lalu diintipnya dari antara roda-roda lok ke arah datangnya dehem itu. Terbitlah kecutnya. Hilanglah segala omongannya yang besar tadi. Tak seorang pun yang berani ketawa, meski seharusnya mereka bisa ketawa melihat betapa kecutnya kingkong melihat kera. Belum sampai sempat masinis itu berpikir, Tuan O.M. sudah pergi dari situ. Maka seorang demi seorang keluarlah dari bawah lubang itu. Kembali ke tempat kerja masing-masing. Selagi belum sempat masinis

melenyapkan rasa kuyu di hatinya, datanglah panggilan dari Tuan O.M. untuknya. Dan Si Kingkong itu kini merasa telah menjadi kera. Demikianlah kisahnya. Tapi semenjak itu Tuan O.M. tidak lagi memakai helmnya. Entah karena topi itu sudah tua, entah karena ia sudah tahu orang-orang mengejeknya dengan topi helm yang besar itu, tidak seorang pun yang tahu. Namun setahun kemudian topi helm itu tidak punya wibawa benar-benar lagi. Yaitu semenjak kepala Pak Kari yang menjunjungnya. Di waktu topi helm itu berpindah kepala, sebenarnya terjadilah peristiwa penting atas keluarga Tuan O.M. Topi itu tiga tahun yang lalu dibelinya di Semarang, ketika ia dipindahkan ke kota kecil Padang Panjang. Kota penghujan itu menjadikan topi itu lekas tua. Dan untuk penggantinya di kota itu tidak mungkin, karena tidak ada orang jual. Meski topi helm itu telah tinggal tergantung di kapstok di rumahnya, namun julukan "Si Topi Helm" masih juga lengket pada Tuan O.M. sampai ia dipindahkan ke Bandung. Pada waktu buruh bengkel kereta api yang dikerahkan R.M. Gunarso sibuk mengepak perabotan rumah yang akan dibawa pindah, topi helm yang tua itu sampai terlupakan. Barulah ketika rumah itu sudah kosong, Nyonya Gunarso melotot melihat sang topi tergantung sendiri pada paku di dinding. "Kenapa ini bisa kelupaan, Pap?" tanya perempuan itu. "Kaupakai sajalah, ya. Sayang kan kalau dibuang." "Ah, jangan, ah. Masa pembesar bawa topi begini ke kapal. Malu, ah. Mam." "Habis? Mau dibikin apa? Semua barang-barang sudah dimasukkan ke peti. Dan peti-peti sudah diangkut ke stasiun." Dan mata Tuan O.M. melirik kepada bawahannya yang telah membantu mengepak barang-barangnya. Semua ia kenal baik, yakni para tukang rem. Kepada siapa harus diberikan supaya adil, pikirnya. Ia ragu-ragu menetapkan. Tapi ketika matanya tertumbuk kepada Pak Kari, sesuatu pada jantung orang tua itu terasa bergetar. "Daripada dibuang, Mam, apa tidak sebaiknya kalau diberikan kepada mereka saja?" kata Tuan O.M. minta musyawarah istrinya. Dan Pak Kari menatap mata perempuan itu dengan nanap, seperti ada suatu perjanjian antara mereka, bahwa topi itu seharusnya buat dia diberikan perempuan itu. Tapi perempuan itu berkata, "Coba dulu siapa yang pas betul." Tuan O.M. mengedarkan pandangan ke semua bawahannya seorang demi seorang, sehingga para tukang rem itu berdegupan darahnya oleh harapan bakal mendapat topi helm itu. Akhirnya masing-masing mencobakan topi itu di kepala mereka bergantiganti. Dan kebetulan, ya kebetulan sekali, Pak Kari yang sama pendeknya dengan Tuan O.M. memiliki kepala yang sama besarnya pula, sehingga topi helm itu haknya. Sedang Pak Kari nyengar-nyengir kegirangan oleh rezekinya itu, tiba-tiba perempuan itu berkata, " Ah, Kari. Gagah betul kau. Tapi jangan berlagak lakiku pula kau."

Di antara suara tertawaan, Pak Kari merasa badannya terlambung setinggi rumah dan membesar seperti gajah. Dan bagaimana hematnya Tuan O.M. dengan helmnya, lebih lagi Pak Kari, si tukang rem itu. Ia tak tega membiarkan topinya kena hujan setitik pun. Betapa bangganya kalau topi itu di kepalanya, demikian pula besar sayangnya kepada helmnya. Sering ia tersenyum sendirian bila melihat wajahnya pada kaca pajangan toko yang dilewatinya saban pergi dan pulang kerja. Dan tentu saja tingkah laku Pak Kari yang berlebih-lebihan itu menjadi bahan olok-olok oleh kawan sekerja. Tapi juga jadi pangkal kejengkelan atasannya. Namun Pak Kari berpendapat olok-olok atau kejengkelan itu adalah disebabkan rasa iri hati mereka karena tak punya topi helm warisan Tuan O.M. Akan tetapi semenjak Pak Kari menjadi pemilik baru topi helm yang besar itu ia pun mendapat julukan. Bukan Si Topi Helm sebagaimana yang ditonggokkan kepada Tuan O.M., melainkan ia mendapat nama julukan Si Gunarso. Berbeda dengan Tuan O.M. yang tidak menyenangi nama julukan yang diberikan orang dengan Si Topi Helm, Pak Kari malah merasa bahagia dipanggil Si Gunarso. Bahkan kadang-kadang ia benar-benar merasakan dirinya sebagai Gunarso. Gunarso yang pendek dan punya wibawa begitu ideal dalam pandangan Pak Kari yang bertubuh sama pendeknya pula. Pak Kari adalah tukang rem semenjak delapan belas tahun lalu. Sebelum itu dia hanya seorang penganggur yang hampir putus asa dalam mencari pekerjaan. Dan ia tahu benar apa artinya menjadi tukang rem di kala itu. Bangun pagi-pagi dan sebelum jam lima sudah mesti berada di stasiun. Pulangnya kadang-kadang sudah jam sembilan malam. Namun dibandingkan dengan orang-orang lain, yang tidak mempunyai pekerjaan apa pun, ia sudah merasa bahagia. Akan tetapi karena potongan badannya yang kecil kurus menjadikannya lebih merasa kecil diri dalam pergaulan dengan tukang-tukang rem lainnya. Dan karena itu dari dirinya dituntut kesabaran yang kadang-kadang sampai di luar kemampuannya sebagai manusia. Lebih lagi semenjak ia mempunyai topi helm, kesabarannya sering kali mendapat tantangan yang sangat tengik. Padang Panjang kota kecil yang penghujan. Selama belum bertopi helm, Pak Kari tak pandai menyumpahi hujan. Akan tetapi kini ia sudah sering menyumpahinya, karena hujan itu memaksanya tidak dapat memakai topi di kepala menurut selayaknya. Selain dari hujan, dari kawannya sendiri sering pula ia mendapat gangguan. Umpamanya selagi ia sedang sembahyang, ada saja kawannya yang menyembunyikan topi helmnya. Sehingga ia mencari-cari dengan perasaan sedih dan dongkol sampai topi helmnya bisa ditemukan. Susahnya kawan-kawannya tahu, Pak Kari bergeming selagi sembahyang meski ia tahu topinya diambil orang untuk disembunyikan. Sungguhpun demikian kawan-kawannya lebih suka menggodanya selagi sembahyang itu. Dan ketika seluruh tukang rem mendapat topi dinas model topi petani di Jawa, Pak Kari merasa bahwa pimpinan perusahaan kereta api telah ikut iri hati karena ia mempunyai topi helm itu. Namun ia tetap berkeras kepala tak hendak memakai topi dinas itu. Barulah ketika sepnya mengancam hendak memberhentikannya, Pak Kari menerima kalah. Maka tinggallah topi helmnya di rumah, tergantung di dinding pada paku. Setiap pagi hendak pergi kerja topi itulah yang terakhir dipandangnya seolah hendak mengatakan "selamat tinggal". Dan setiap pulang kerja topi itu pula yang pertama dilihatnya seolah hendak mengatakan "selamat ketemu lagi". Dan bila hari perainya topi helm itu kembali berada di kepalanya dan dengan bangga dibawanya berjalan-jalan keliling kota.

Jatuh ke tangan seseorang setelah melalui kepala Pak Kari yang memburu. Dengan puncak kemenangannya itu. Maka dipeluknya istrinya itu kuat-kuat. Ketika ia pulang kerja. Maka ketika kembali ke Padang Panjang. Sehingga banyaklah tukang rem yang kehilangan topinya.M. Kejadiannya ketika Pak Kari dengan beberapa tukang rem lainnya dalam perjalanan bede dari Kayutanam ke Padang Panjang. lewatlah seorang tukang rem lainnya. Akan tetapi topi itu tidak praktis dipakai oleh tukang rem di daerah pegunungan. Banyak di antaranya yang duduk tertidur. Pada waktu itu.M. Berwibawa dan ditakuti oleh semua bawahannya. Dalam tidurnya ia bermimpi. bahwa ia benar-benar telah jadi Tuan O. dua pertiga dari jumlah tukang rem menjadi bede itu umumnya mengisi gerbong penumpang kelas tiga. Secara refleks ia melemparkan topi itu. topi itu akan sering diterbangkan angin. Dan seolah tak sengaja tersepaklah topi helm itu.M. Pak Kari yang penyabar seolah mendapat kemenangan dan harga dirinya kembali. alangkah kaget istrinya melihat Pak Kari telah jadi O. kalau memang gerbong itu tidak banyak penumpangnya. topi helm kembali menghiasi kepala Pak Kari. martabat topi helmnya menjadi senilai dengan masa Tuan O. Pada saat seperti itulah topi dinas terlepas dari kepala tukang rem itu. maka Pak Kari buru-buru kehilangan topinya pula dengan melemparkannya pada saat yang tepat. Tapi topi itu jatuh menimpa pangkuan tukang rem yang sedang tertidur di sudut gerbong. Lain halnya jika kereta api yang menjalani rel yang menurun dari Padang Panjang ke Kayutanam yang memerlukan seorang tukang rem pada setiap gerbong. Tapi ada kalanya juga mereka sempat tidur berbaring di bangku panjang. Akan tetapi bila gerbong tidak direm. Pak Kari di kala itu dapat tidur membujur pada bangku panjang di bagian tengah. Ia terbangun. Dan sejak itulah tukang rem tidak lagi wajib mengenakan topi dinasnya. rasanya istrinya persis menyerupai Nyonya Gunarso yang cantik. Dan sejak itu. Caranya ialah berjongkok di tangga gerbong. Topi helmnya menutup mukanya.Beruntunglah Pak Kari karena kewajiban memakai topi dinas model petani itu tidak lama berlangsung. roda gerbong yang terlalu kuat dicekam rem akan terhenti berputar. hanya sepertiga dari jumlah tukang rem yang berdinas. kereta api akan kian kencang meluncur. Konon ketika tukang rem pertama yang kehilangan topinya tidak dikenakan sanksi oleh sep mereka. akan bisa menyebabkan gerbong terlepas dari rel bila tiba di tikungan. Tapi topi itu terbang ke tangan lain. namun kereta api terus meluncur juga. Dan Pak Kari yang sudah tersentak bangun melihat topinya melayang. Atau kalau diletakkan saja pada lantai bordes di kala hendak melihat keadaan roda. memakainya dulu. Dan dalam mimpinya itu juga. Lambat laun kemenangan Pak Kari tiba juga di puncaknya setelah ia melepaskan kesabarannya yang terkenal itu. yang seringkali memeriksa roda apakah masih berputar atau terhenti karena dicekam rem pada waktu kereta api meluncur di penurunan. lalu merendahkan kepala sehingga badan dan kepalanya itu berada di luar bidang gerbong. Oleh karena itulah tukang rem harus sering-sering melihat keadaan roda. Persis ketika itu. Dan itu akan lebih berbahaya lagi. Jalan kereta api menanjak menyusuri dinding bukit di Lembah Anai. Diburunya topi itu. Tapi ketika ia memeluk badannya miring dan jatuhlah topinya ke lantai gerbong. Karena kalau rel yang licin di kala hujan. Pak Kari balik mengejar. tangan bergayut pada pegangan besi di tangga. Meski topi itu sangat berguna untuk melindungi kepala dari terik matahari dan guyuran hujan. Dan terus berpindah dari .

roda itu keluar dari rel. sehingga sedikit saja handel rem ditekannya telah menyebabkan roda-roda berbunyi seperti suara tikus mencicit. hingga rel baja yang keras itu menjadi licin sekali. Jika bunyi itu ditimbulkan oleh pergeseran roda dengan rel. Maka semenjak itu topi helm itu punya kewibawaan lagi. orang tahu bahwa Pak Kari tidak lagi di tempatnya. Kalau roda berhenti berputar. pikir Pak Kari lama kemudian setelah ia sadar bahwa kawan. Itu artinya setiap tukang rem yang menempaati setiap gerbong harus bekerja lebih hati-hati. Bergalaulah suasana setelah mendengar penjelasan tukang rem itu. Dan itu berbahaya sekali. Dan dia mengancam siapa saja yang berani menghina topi helmnya. Pagi itu masih meninggalkan renyainya. untuk mengetahui apakah bunyi tiu karena pergeseran rem dengan roda atau karena pergeseran roda dengan rel. Dan tiba-tiba ia sadar bahwa kereta api sedang memasuki jembatan yang berpelengkung. tapi kali ini ia bergayut dengan menggunakan sebelah tangannya agar ia dapat lebih jelas melihat roda di pagi yang masih remang-remang itu. Menjadi kalap ada perlunya juga untuk menghentikan keberanian orang-orang yang perkasa. Gerbong Pak Kari baru saja mendapat tukaran bantalan rem yang baru.. Dan peluitlok sering-sering dibunyikan masinis bila dirasakannya kereta berjalan melebihi kekencangan yang diperlukan. Ia melihat Pak Kari berjongkok sambil bergayut dengan sebelah tangannya. Malah marahnya bangkit keluar dari endapan kesabarannya yang terkenal. Tukang rem yang tertidur pun bangun. Barulah ketika kereta api sudah sampai di stasiun kecil di desa Kandang Ampat. akhirnya ditemui sejauh satu kilometer di hilir Batang Anai. Rem di tekan lebih kencang. Semua tertawa dan bersorak-sorak kegirangan. Dicabutnya pisaunya. Tapi Pak Kari tidak. Akan tetapi pada suatu hari yang tak baik baginya. agar setiap tukang rem lebih mengeratkan remnya. Tapi rodannya bercicit bunyinya. Ingatan orang kembali pada peristiwa beberapa tahun yang lalu. Biasanya ia bergayut dengan punggung ke arah luar gerbong. Pak Kari dinas pagi lagi dengan kereta api pertama ke Kayutanam. Bisa-bisa pada suatu tikungan yang tajam. rem mesti dilonggarkan sedikit. Lalu ia melihat dengan berjongkok di tangga gerbong. . bahwa saat terakhir ia melihat Pak Kari ketika kereta api akan menempuh jembatan berpelengkung setelah air mancur terlewati. Kalau masih berbunyi harus dilihat lagi keadaannya. Seorang tukang rem disambar pelengkung jembatan itu pada kepalanya ketika berjongkok-jongkok melihati keadaan roda. Kegembiraan pun bangkitlah.. Si Buyung.seorang ke yang lain setiap Pak Kari memburunya. itu artinya roda sudah berhenti berputar. Lalu ia menarik badannya agar tidak disambar pelengkung itu . Sedangkan hujan terus turun semenjak tengah malam. demikian juga penumpang. Tak bernyawa lagi. Persis seperti yang dilakukan Pak Kari di jembatan itu juga. Dan Pak Kari harus melihat keadaan roda dengan bergantungan di tangga gerbong. Pak Kari mengikuti perintah itu. Begitulah ia lakukan berulang-ulang pada setiap peluit lok dibunyikan masinis. Ia mendapat tempat pada gerbong terakhir. Tersekat pada sebuah batu besar.kawannya tak lagi mau menggoda ia dan topi helmnya. Seorang tukang rem mengatakan. Peluit lok terus juga berbunyi pendek-pendek untuk memberi peringatan agar rem setiap gerbong lebih dikencangkan. Tak seorang pun yang berani mempermainkan topi helmnya. Dan tukang rem itu.

Terasa ada kesukaran jika hanya mencari dengan mata.di…. Kenapa kau hidup? Kenapa tidak mati saja?" Pak Kari masih diam. Badannya kuyup dan jalannya gontai menginjaki bantalan besi demi bantalan besi rel kereta api.Dan masinis yang memegang pimpinan kereta api batu bara itu mengambil putusan untuk membawa lok dan sebuah gerbong kembali ke arah jembatan yang dikira telah mencelakakan Pak Kari.. Sedang masinis bukan kepalang meradangnya.. "Aku tak senang. semua tukang rem memaki dan bercarut-carut ke arah Pak Kari. "Topi saya…. ditemuilah Pak Kari. Dan seperti dikomandoi saja. Ia tetap menekur juga. berbuih-buih." kata Pak Kari gagap. Di sepanjang jalan tak putus-putusnya peluit lok dibunyikan. Pak Kari diam saja. Tapi lidahnya kelu. pikir masinis itu. "Oi. Tiba-tiba direnggutnya topi itu hingga terlepas dari kepala pemiliknya.. Kau mesti dipecat.. bisalah aku mempertanggungjawabkan kejadian ini. karena topi ini jatuh. Beberapa tukang rem dibawa untuk mengawasi Batang Anai yang mengalir sejajar rel kereta api itu dan akan membantu mengangkat Pak Kari yang mungkin telah jadi mayat seperti Si Buyung beberapa tahun yang lalu.. topi pusaka Si Topi Helm ini saja." kata masinis itu lagi seraya memandangi topi helm yang lengket di kepala Pak Kari... "Mengapa jadi begini? Bagaimana aku harus mempertanggungjawabkan kejadian ini?" hardik masinis. dilanggar je. kaurusak dinasku. Kenapa kau tak mati saja?" Tak juga ia menjawab. he? Karena topi ini saja? Karena topi ini saja aku terpaksa mendorong kereta ini kembali? Kenapa topi ini saja yang jatuh? Kenapa kau tidak? Bagus benar kelakuanmu." kata masinis itu lagi. Kepalanya ditekurkannya. Ia mau memberi keterangan. dan menderu bunyinya. Kenapa kautinggalkan gerbongmu?" kata masinis lagi dengan nada yang lebih tinggi. Jawablah. kau tinggalkan gerbongmu.. seolah hendak mengatakan bahwa ia mengaku salah. "Jawablah. jembatan. karena hari masih gelap oleh sebab sinar matahari belum lagi menembus celahbukit di balik bertimbal batang air itu. Tapi kau tidak mati. Muka Pak Kari yang pucat dan menggigil kedinginan kian pasi dan tambah gemetar mendengar kata masinis yang mau memecatnya. je. topi saya jatuh. Siapa tahu kalau-kalau Pak Kari bisa mendengarnya. Karena topi ini. Hebat benar topimu." . Dipanggilnya Pak Kari ke loknya. "Oo. "Kalau kau mati seperti Si Buyung dulu. Di . Dan setiap mata tertuju ke batang air yang airnya mengalir deras. Sekilometer menjelang jembatan yang disangkakan itu.

Jatuh masuk sungai. Untunglah tidak jatuh ke tengah. tiba-tiba ia melihat seorang mandor jalan kereta api. ketika Pak Kari sedang bekerja mengeruk-ngeruk tahi arang dari lambung lok di stasiun Kayutanam. Ketika itu Pak Kari tidak berdinas.M. sekali dalam sebulan. Sedangkan lidahnya berdecak-decak. Akan tetapi sekali hari. Perbuatan memanggang topi helmnya itu tidak dapat dimaafkannya begitu saja. Malah orang pun lupa sudah bahwa pada suatu kali Pak Kari pernah menjunjung topi helmnya Tuan O. "Oh.M.. Kena api bagaimana?" Serentak dengan itu dibukanya pintu api lok itu. halaman. didengarnya teriakan Nyonya Gunarso di kamar mandi. Topi helm yang terbakar hangus dalam tungku api di lambung lok itu juga. Mandor itu memakai topi helm. bahwa Pak Kari pernah meninggalkan gerbongnya karena topi helmnya jatuh dilanggar pelengkung jembatan sehingga orang menyangka Pak Karilah yang terlanggar dan jatuh ke batang air seperti Si Buyung pada masa lalu. ikut membantu membersihkan rumah. tidak merasa dingin lagi dengan tiba-tiba. Pak Kari seperti melihat topi helmnya yang dulu lagi.Pak Kari ragu-ragu untuk melakukan sesuatu. Seperti biasanya. "Kena air topi ini basah. seperti biasa ia menunjukkan kesabarannya yang terkenal itu. basah benar topimu itu. Pak. yang lagi terhenyak duduk di lantai kamar mandi sambil mengurut-urut pinggang dan nyengir-nyengir kesakitan." kata masinis itu mengulangi kata-katanya seraya menggelenggelengkan kepala seperti orang terharu sangat. Orang juga lupa. Dan ketika matanya mengalih ke dalam tungku api di lambung lok. segera orang melupakannya lagi. Kena air basah. Kari. topi biasa saja topimu itu. dan ada kalanya juga mengeping kayu api di rumah sepnya itu. Menarinari oleh nyala api. "Ayo." kata Pak Kari yang mulai sedikit lega karena kata-kata simpati masinis itu. Maka ia diam saja.M.M. Andaikata sesekali orang ingat kembali. oleh topi helm itu Pak Kari pernah hendak mengamuk. jika mengenakan topi helm. Pak Kari tak tahu . yang ditakuti mereka. Tapi ketika itu ia tidak tahu bagaimana melampiaskan sakit hatinya. Lalu dia memandang pada Pak Kari yang terkejut melihat peristiwa yang tak disangkanya itu. pergi kau. Dalam ia lagi mengeping kayu api hingga menjadi kecil-kecil. Semua orang sudah lupa pada peristiwa topi helm Pak Kari. "Ya. Ingat itu. ya?" kata masinis itu selanjutnya. Untunglah di tepi saja. Dirinya sendiri yang berwajah setampan Tuan O. dan secepat itu pula dilemparkannya topi helm itu ke dalam api yang sedang nyala. ia disuruh Tuan O. Topi helm yang persis sama dengan topi helmnya. "Kasihan sekali. Babi!" Hari datang hari pergi. ia pun ingat pada suatu peristiwa di rumah Tuan O. Ia buru-buru mendapati perempuan itu. "Ah. Kena api hangus juga. masinis telah menghardiknya lagi.M. Perai mingguan. Tuan O. Dan kemudian seperti terlihat dirinya di bawah topi yang menarinari dalam nyala api itu. di mana apinya sedang garang menyala. Dan sebelum Pak Kari sadar pada apa yang tengah terjadi atas dirinya. Ia merasa begitu panasnya oleh bakaran api di dalam dadanya. Kasihan." Pak Kari yang kekuyupan pada pagi hari di lembah pegunungan itu.

Keinginannya itu melupakan dirinya sendiri. dirasakannya sebagai suatu perlambang yang bermakna abadi bagi hubungannya dengan Nyonya Gunarso. apalagi perempuan itu istri sepnya. Dan Pak Kari pun tak pernah merasa bersalah sedikit pun. Dan topi helm itu.M. Adalah jauh lebih ringan apabila ia dapat memandangi wajahnya lewat kaca. bukanlah suatu model manusia yang ditakdirkan untuk jadi bahan olok-olok semata-mata. Demikianlah lamunan Pak Kari.apa yang harus dilakukannya. Akhirnya setelah keberaniannya dapat ia kumpulkan. kepada Tuan O. Yang ia ingat cuma satu. Sekarang juga. yang begitu indah bila dikenang. Dan sejak itu kegelapan dan kebosanan menjalari kehidupan masinis itu. yang telah terbakar habis oleh api dalam tungku di lambung lok yang lagi dibersihkannya itu. seolah hendak menyatakan kepada topi helmnya. dengan topi helmnya itu. topi yang diberikan Tuan O. bahwa pembalasan setimpal telah terlaksanakan. dan istrinya. bahwa ia hanyalah seorang kerdil yang tak berdaya yang bertugas menjadi tukang rem pada jalur kereta api Padang Panjang-Kayutanam saja. Pak Kari melemparkan sesodok tahi arang yang berpijarpijar nyala apinya keluar pintu lok. dibantunya perempuan itu untuk berdiri. Topi helm yang tak ubahnya sebagai mahkota Ratu Wilhelmina. Ada perasaan malu yang kuat sekali dalam dirinya untuk memegang perempuan secantik itu. Tapi ketika perempuan itu meminta bantuan.M. Lama juga ia tergagap-gagap merumuskan pikirannya untuk mencari cara memberi bantuan. Pak Kari merasa bahagia sekali. Baru saja masinis itu menggapaikan tangannya untuk berpegang pada gagang pintu lok hendak meningkati tangga. Dan makin kian marak ketika masinis itu datang memeriksa pekerjaan Pak Kari yang membersihkan tungku api di lambung lok itu. dan perlakuan yang manis dari istri sepnya ketika mengucapkan terima kasih. api dendamnya kian marak dan kian marak juga.M. sehingga justru di kepalanya saja topi helm itu bisa pas benar dari sebanyak kepala yang mencobanya. hubungan yang tersembunyi. Tetapi kemudian. Sesuai menurut rencana Pak Kari. Kewibawaan Tuan O. Yaitu api dendam yang takkan pernah terpadamkan sebelum terbalas dengan lunas. Tuhanlah yang menakdirkan segala-galanya. mulailah lagi suatu nyala membakar hati dan pikirannya. Pak Kari menjadi tambah tergagap. Tiba-tiba ia ingin membalasnya sekarang. kepadanya di kala hendak berpisah dulu. ketika ia memapah dan melingkarkan tangannya ke pinggang perempuan itu di kala mengantarkan ke kamar tidurnya. Namun tidak seorang pun yang dapat menyalahkan Pak Kari. perasaan aneh yang menyenangkan. taklah akan seperkasa itu bila tidak memakai topi helm.M. Pikiran-pikirannya itu. lambat laun menumbuhkan sesuatu yang dirasanya aneh dalam hatinya. Lalu Pak Kari memandang ke topi helm yang bertengger di kepala mandor jalan kereta api itu dengan senyum kepuasannya. Tuan O. Bahwa meski ia seorang yang termasuk kerdil. . Berlonggok menimpa wajah masinis itu. Dan topi helm yang bagai mahkota itu akhirnya jadi kepunyaannya. ia merasa telah ditakdirkan sebagai pahlawan bagi istri dari sepnya yang juga orang kerdil itu. Demi ia ingat topi helmnya lagi.

Menelentang lurus. Seorang laki-laki yang sudah lewat masa mudanya berdiri di ambang pintu. memang dikosongkan isinya. "Tapi aku tidak bisa pergi. Jari jemari kedua tangannya saling berkaitan di atas perutnya. Dan aku mengecilkan volume suara televisi. "Kok sudah kosong?" katanya seraya menatap dengan mata yang seperti menyesali karena menduga akulah yang telah menghabiskan isinya. Penyair dari Madura." aku mendengus mengiyakan. "Uh uh. Dia berdiri dan membuka freezer kecil di dekat meja. Agak lama juga. Tapi freezer itu tidak ada isinya." . Temanku sekamar Zaim namanya. apa boleh buatlah. mestilah dibuka oleh Presiden. bukan main senang hatiku. Rupanya dialah teman sekamarku. "Minum dulu. wajah murungnya terlihat lagi. Aku termasuk salah seorang yang tidak bisa ikut menghadadap oleh alasan tidak memiliki syarat yang pantas. Setelah membenahi tas bawaannya dan kembali membantingkan bokongnya ke kasur." "Kenapa?" "Aku tidak punya jas. ketika aku lagi asyik nonton acara musik simponi yang diantar Katamsi di TVRI. "Tadi panitia memberi tahu. Maka aku pun tenang-tenang saja menerima sejarah hidup yang tidak bisa ketemu Presiden. Aku belum melihat batang hidungnya. Penginapan peserta di Hotel Indonesia. besok pukul sepuluh kita sudah harus sampai di istana. Zaim yang penyair dari Madura itu. Mungkin sudah. maka pesertalah yang datang menghadap ke Istana. Beberapa saat menjelang tengah malam. Yaitu stelan jas dan dasi." Tapi setelah dia membantingkan bokongnya di kasur tidur. Hanya karena belum kenal saja aku merasa belum ketemu dia. rasa senangnya tak kelihatan lagi. Saat kongres itulah aku baru bisa inapi. dia berbaring tanpa mengganti pakaian." kataku. Rupanya pada setiap kongres yang bertaraf nasional." katanya." kataku. "Untuk peserta undangan. Setelah melihat isi teko pun sudah kosong dia ke kamar mandi. Bila Presiden tidak bisa hadir. Dia murung. Katanya: "Ketika aku tahu bahwa Pak Dali jadi teman sekamarku. Hotel yang aku kagumi pada awal didirikan 35 tahun yang lalu. Agak lama kemudian. Yah. Aku kira dia minum air kran di sana. pintu kamar diketok orang. Ketika keluar eadaannya telah nyaman.Zaim Yang Penyair Ke Istana Aku dapat undangan mengikuti suatu kongres di Jakarta.

Pak. cepat." Kami terdiam lagi." "Tapi aku ingin pergi. Pak. Dia masih menelentang di tempat tidur dan aku masih terus nonton. Semua peserta yang akan ke istana sudah siap-siap dengan stelan jasnya. Di istana lagi. Kiraanku benar. Aku cuma punya baju batik. Seperti anggota MPR yang akan disumpah layaknya. Celaka." Aku maklum sudah pada ujung omonganya. Padahal waktu itu baru lebih sedikit pukul delapan. Jadi paslah. Nanti bila ditanya sekuriti. "Pak." "Ke istananya atau ketemu presiden?" "Dua-duanya." "Aku tidak punya jas." Jumlah yang separoh itu tidak lebih dari dua puluh lima ribu rupiah. Karena itu harus ikut. Zaim lalu melompat untuk memeluk aku. sewa taksi ke sana pulang pergi sepuluh ribu. sehingga kursi yang aku duduki hampir terjungkal." "Tapi aku tidak ikut. Pak. "Kamu boleh pakai separoh. Karena tak lama kemudian dia berkata seperti kepada diri sendiri: "Menurut Tarji. Tiap sebentar dia menggaruk belakang kepalanya. Pak. "Kata Si Tarji. "Terima kasih. Pak." kataku seadanya. Jas itu bisa dijual lagi dua puluh lima ribu. dia mau pinjam uang. Kemudian dia bangun dan hilir mudik dari tempat tidur ke pintu. Dua puluh lima ribu sudah cukup. Kami sama diam lagi. Tidak bisa. . Kita sudah harus berangkat pukul sembilan.Aku keluarkan dompetku dan aku hitung isinya." "Tentu. mungkin empat puluh ribu. Aku santai-santai saja ke ruang makan untuk sarapan. Nama Bapak sudah dikirim. katanya." "Waduh. dan saya terus nonton acara televisi. Huhh. Pagi-pagi aku sudah harus ke sana. Barangkali dia punya persoalan rumit yang ingin dia sampaikan. Huhh. Ingiiin sekali. Kata panitia. Naik taksi supaya bisa keburu. "Tidak bisa. repot." kataku." katanya lagi. Dan sebelum dia berkata lagi. Pak. Dia terus menelentang di tempat tidur. Terima kasih. aku punya tiga puluh ribu."Kalau begitu kita sama. di Pasar Rumput ada dijual baju bekas. aku katakan bahwa saya bisa pinjamkan dia uang. Padahal aku ingin sekali ketemu Presiden. lumsum baru bisa dibayar pada hari terakhir. Harga jas bekas. Tak akan ada kesempatan lain buat aku bisa ketemu Presiden kalau tidak sekarang. seorang panitia mendekati. Ketika aku baru saja mulai sarapan." Pagi-pagi Zaim sudah keluar.

Pak. Pak. aku tidak juga melihat Zaim." Dalam waktu aku terbingung-bingung dia melanjutkan setelah memandang ke kakiku. Tapi beberapa menit kemudian pintu kamarku saya diketok. yang meski punya nama besar. . Bapak sudah bisa ke istana ketemu Presiden. Hampir semua pelukis yang lukisannya ada di situ aku kenal namanya sejak lama." Maka berangkatlah aku ke istana untuk pertama kali seumur hidupku. Di sisi sebelah kanan seperti yang dikatakan Rosihan. Cara yang tidak dilakukannya kepada peserta lain. Syukur. "Bapak punya sepatu. lho. Tidak sembarang orang." Aku memandang ke deretan kursi bagian depan. Karena Presiden menepuknepuk tanganku dengan tangan kirinya. Dan Presiden. "Syukur. Mungkin dia dengan bus lain yang berjejer banyak di halaman hotel. panitia yang mengumpat itu berdiri di depanku dengan wajah yang gembira dan mengatupkan jari kedua tangannya ke dada. Aku berhasil memperjuangkan Bapak. Berkat perjuangan saya. Yang di sana para pejabat dan panitia. ketika menerima tanganku. Pak. Saya terlalu asyik melihat lukisan yang tergantung di dinding. Bagusnya sebelah sini. bahwa banyak peserta tidak bisa hadir. yang bisa ke sana. Maklum banyak seninam. Siap-siaplah. ternyata akulah satusatunya peserta yang mengenakan baju batik. Katanya: "Kalau mau masuk televisi cari tempat duduk di depan. katanya. Karena tahu diri tersebab tidak punya jas. "Syukur. Kita mau berangkat." "Bagaimana caranya?" "Aku bilang pada komandan sekuriti istana.Aku meneruskan sarapanku. Tapi mungkin saja aku tidak bisa melihatnya diantara sekian banyak orang yang sama pakai jas. Dan ketika semua peserta disuruh masuk ke ruang audiensi. Tidak seorang pun orang sebangsa aku. Bahkan aku rasa aku lebih. "Itulah yang aku perjuangkan." "Jadi boleh pakai baju batik saja?" tanyaku. bukan?" Aku mengangguk. Lalu sekuriti itu bilang: Boleh pakai baju batik. aku ku masuk paling akhir dan duduk pun di kursi barisan paling belakang. Seselesai sarapan aku langsung ke kamar lagi demi menghindari umpatan panitia kalau masih melihat aku. Pak. Waktu di ruang tunggu istana. sama ramahnya seperti kepada orangorang yang mengenakan jas. Begitu. Pak. karena tidak punya jas. Tapi aku tidak melihat batang hidung Zaim. Di sebelahku Rosihan yang biasa dendi dengan stelan jasnya. juga diduduki oleh pejabat dan panitia yang eselonnya lebih rendah. Ketika aku membukanya. Syukur. tapi miskin. asal rapi dan pakai sepatu.

Wajahnya alangkah cerianya. Zaim. kalau begitu. aku akan tidak bisa keluar hotel sampai kongres selesai dengan sisa uang dalam kantong."Istimewa sekali Presiden pada bung.. Aku merasa rikuh sekali. Boleh 'kan. Ada apa?" kata Rosihan setelah kami di luar ruangan itu. Masa dijual. Lalu saya jawab saja sekenanya: "Barangkali Presiden bersimpati karena aku satu-satunya yang memakai batik buatan dalam negeri." katanya. "Uang Bapak nanti aku bayar kalau lumsum sudah diterima." "Atau apa?" "Mungkin Presiden memberi isyarat pada ajudan: Perhatikan betul orang ini. Pak. Mana aku bisa tahu apa yang terkandung dalam hati Presiden. Tangan kananku digenggamnya dengan kedua belah tangannya." kata Rosihan pula. Lalu katanya: "Berkat pertolongan Bapak.. Hampir tengah malam Zaim muncul di ambang pintu kamar hotel. lalu diciumnya.. Apalagi dari sesama seniman. 6 Maret 1998 Negeri Unggun Tribute To Banksy . "Tidak jadi aku jual. Pak?" Oleh karena begitu kata Zaim. terkabullah doa saya." "Isyarat yang baik. Akan aku simpan baik-baik. Aku tidak menjawab. Setelah diam seketika dia berkata lagi. Atau. Ini jas keramat. Ketemu Presiden. selain karena tidak biasa juga tidak suka mendapat perlakuan seperti itu." "Bagaimana dengan jasnya?" tanyaku tanpa tahu apa yang harus aku katakan menyambut kegembiraannya. Namun dalam hatiku hanya bisa berkata: "Zaim." Kayutanam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful