MAKALAH BUDAYA POLITIK

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan. 6 September 2011 Kelompok V DAFTAR ISI . serta shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul BUDAYA POLITIK PARTISIPAN dari tugas Kewarganegaraan ini dengan tepat pada waktunya. Akhir kata kami ucapkan terima kasih. oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati. kami berharap bagi para pembaca berkenan untuk memberikan kritik dan sarannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Semoga Allah SWT selalu mencurahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua.KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan. Amin Tokaseng.

....................................................................... Saran ..................................................................................KATA PENGANTAR ...................................................... Tujuan ............................................... dan Bernegara...................................... B......................... DAFTAR ISI ..................................................... Latar Belakang ............ Rumusan Masalah ...... B.............. C................. B.......................................... Budaya Politik Yang Bertentangan dengan Semangat Pembangunan Politik Bangsa .................... D............... BAB III PENUTUP A....................................... Pengertian Budaya Politik Partisipan ....... BAB I PENDAHULUAN A................................................................... E................... Contoh Budaya Politik Partisipan dalam Kehidupan Bermasyarakat........... .. BAB II PEMBAHASAN A..................................... Kesimpulan ....... Bentuk-Bentuk Budaya Politik Partisipan .................................................................. DAFTAR PUSTAKA .............. Berbangsa...................... C. Contoh Perilaku yang Berperan Aktif dalam Politik yang Berkembang di Masyarakat .....................................

Warga negara yang berciri demikian inilah yang memang didutuhkan bagi sistem politik demokrasi di Indonesia. Namun. Setiap warga negara. anggota suatu partai politik tertentu dan sebagainya. Kebutuhan hidup manusia tidak cukup yang bersifat dasar. Latar Belakang Budaya politik merupakan sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh masyarakat. Tujuan . setiap unsur masyarakat berbeda pula budaya politiknya. memiliki peranan penting dalam sistem politik suatu negara. Negara Indonesia sebagai negara demokratis membutuhkan warga negara yang berbudaya politik partisipan dan berorientasi setia atau mendukung sistem politik nasional. status sebagai anggota masyarakat. dan bernegara! Ø Jelaskan contoh perilaku yang berperan aktif dalam politik yang berkembang di masyarakat! C. B. menurut Benedict R. dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang bersimbol maupun tidak.BAB I PENDAHULUAN A. Rumusan Masalah Ø Jelaskan pengertian budaya politik partisipan! Ø Jelaskan bentuk-bentuk budaya politik partisipan! Ø Jelaskan budaya politik yang bertentangan dengan semangat pembangunan politik bangsa! Ø Jelaskan contoh budaya politik partisipan dalam kehidupan bermasyarakat. OG Anderson. biologis. senantiasa akan berinteraksi dengan manusia lain dalam upaya mewujudkan kebutuhan hidupnya. Seperti juga di Indonesia. Manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk sosial. pemberian upah kerja. pakaian dan papan (rumah). kebudayaan Indonesia cenderung membagi secara tajam antara kelompok elite dengankelompok massa. Kehidupan manusia di dalam masyarakat. Lebih dari itu. juga mencakup kebutuhan akan pengakuan eksistensi diri dan penghargaan dari orang lain dalam bentuk pujian. berbangsa. seperti antara masyarakat umum dengan para elitenya. minum. seperti makan. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik.

orientasi politik warga terhadap kesulurahan objek. Selain itu. baik umum. dalam hal ini. akan mendukung terbentuknya sebuah sistem politik yang demokratik dan stabil. Dapat dikatakan bahwa tipe budaya ini merupakan kondisi ideal bagi secara politik. norma. Masayarakat dalam budaya politik ini mamahami bahwa mereka berstatus warga negara dan memberikan perhatian terhadap sistem politik. Dalam budaya politik partisipan. maupun output secara pribadinya mendekati satu atau dapat dikatakan tinggi. dan sejenisnya. yang menopang terwujudnya partisipasi. input. Budaya politik yang demokratik ini menyangkut “suatu kumpulan sistem keyakinan. masyarakat dalam budaya politik imi memiliki keyakinan dapat memengaruhi pengambilan kebijakan publik dan membentuk kelompok untuk melakukan protes jika pelaksamaa pemerintah tidak transparan.Ø Untuk mengetahui pengertian budaya politik partisipan Ø Untuk mengetahui bentuk-bentuk budaya politik partisipan Ø Untuk mengetahui budaya politik yang bertentangan dengan semangat pembangunan politik bangsa Ø Untuk mengetahui contoh budaya politik partisipan dalam kehidupan bermasyarakat. Pengertian Budaya Politik Partisipan Budaya politik yang partisipasif adalah budaya politik yang demokratik.” kata Almond dan Verba. demokrasi dapat berkembang dengan baik. persepsi. dan bernegara Ø Untuk mengetahui contoh perilaku yang berperan aktif dalam politik yang berkembang di masyarakat BAB II PEMBAHASAN A. sikap. Masyarakat memiliki kebangsaan dan kemaua untuk berperam dalam sistem politik. Hal ini dikarenakan terjadinya hubungan yang harmonis antara warga negara dan pemerintah yang ditunjuk oleh tingkat kompetensi politik (penyelesaian sesuatu secara politik). berbangsa. dan tingkat efficacy (keberdayaan). . Dalam budaya politik partisipan ini.

3. Memenuhi kewajiban moral dan hukum sebagai anggota masyarakat demokrtis. Meengikuti aturan “prinsip mayoritas” namun tetap menghargai hak-hak minoritas untuk berbeda pendapat. Karakter ini meliputi. 3. b. 2. 2. 1. Memberi nafkah dan merawat keluarga. Tanggung jawab ini antara lain meliputi: 1. Menghormati harkat dan marabat kemanusiaan setiap invidu. 4. Menentukan pilihan (voting) atau berpartisipasi dalam debat publik: Terlibat dalam diskusi yang santun dan serius. Menjadi juri di pengadilan. Mengasuh dan mendidik anak. 3. Menjadi anggota masyarakat yang independen. Memelihara atau menjaga diri. Karakterini merupakan sadar informasi sebelum : 1. Melayani masyarakat. 5. Menentukan pilihan (voting). Didalamnya termasuk pula mengikuti informasi tentang isu-isu publik. 2. . Menghormati orang lain berarti mendengarkan pendapat mereka. 4. Berpartisipasi dalam urusan-urusan kewarganegaraan secara efektif dan bijaksana. d.Menurut Bronson dan kawan-kawan dalam bukunya Belajar Civic Education dari Amerika. Bertanggung jawab atas tindakan yang di perbuat. 3. 2. seperti: 1. Memegang kendali dalam kepemimpinan bila di perlukan. 2. 3. 1. c. Bersifat sopan. Kesadaran pribadi untuk bertanggung jawab sesuai ketentuan. bukan karena keterpaksaan atau pengawasan dariluar. Membayar pajak. Melakukan tugas kepemimpinan sesuai bakat masing-masing.beberapa karakter publik dan privat sebagai perwujudan budaya partisipan sebagai berikut: a. Menghargai hak-hak dan kepentingan-kepentingan sesama warga negara. Memenuhi tanggung jawab personal kewargaan dibidang ekonomi dan politik.

tetapi juga mampu menolak berdasarkan penilaiannya sendiri B. Kesadaran bahwa ia adalah warga negara yang aktif dan berperan sebagai aktivis Warga menyadari akan hak dan tanggung jawabnya (kewajibannya) dan mampu mempergunakan hak itu serta menanggung kewajibannya d. maupun pribadinya mendekati satu atau dapat dikatakan tinggi. e. 1. tunduk pada keadaan. 2. Mengavaluasi kapan seseorang karena kewajiban atau prinsip-prinsip konstitusional di haruskan menolak tuntutan-tuntutan kewarganegaraan tertentu. Kehidupan politik dianggap sebagai sarana trnsaksi seperti halnya penjual dan pembeli. Berdasar hal ini maka ciri-ciri budaya politik partisipan adalah sebagai berikut: a. baik menerima maupun menolak suatu objek politik b. 4. Budaya politik partisipan adalah salah satu jenis budaya politik bangsa. Tidak menerima begitu saja keadaan. baik keseluruhan. c. Membuat evaluasi tentang kapan saatnya kepentingan pribadi seseorang sebagai warga negara harus di kesampingkan demi memenuhi kepentingan publik.4.hendaknya kita memiliki peran besar (partisipasi aktif)untuk melakukan perubahan politik yang lebih baik dan berbudaya. Melakukan penalahan terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip konstitusional. Karakter ini mengarahkan warga negara agar bekerja dengan cara-cara yang damai dan legal dalam rangka mengubah undang-undang yang dianggap tidak adil dan tidak bijaksana. berdisiplin. Warga dapat menerima berdasar kesadaran. Memonitor keputusan para pemimpin politik dan lembaga-lembaga publik agar sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip tadi. orientasi politik warga terhadapkesluruhan objek politik. 3. Anggota masyarakat sangat partisipatif terhadap semua objek politik. baik umum. Bentuk-Bentuk Budaya Politik Partisipan Sebagai komunitas warga negara yang terdidik dan terpelajar. . Mengambil langkah-langkah yang di perlukan bila ada kekurangannya. input dan output. tetapi dapat menilai dengan penuh kesadaran semua objek politik. Dalam budaya politik partisipan. output ataupun posisi dirinya sendiri e. Karakter ini meliputi: Sadar informasi dan kepekaan terhadap unsur-unsur publik. 5. input. Mengembangkan fungsi demokrasi konstitusional secara sehat.

dan keseluruhan hanya akan merusak situasi pemilu yang demokratis dan beradab. dan lain-lain ke arah yang lebih baik dan demokratif melalui pemerintahanyang dipilah melalui pemilu. budaya.tetapi lebih rendah mereka biasa disebut vazal. Untuk itu. kita sebagai simpatisan (kader) partai politik. Semua itu dimaksudkan sebagai upaya melakukan pendidikan budaya politik partisipan (rakyat) yang lebih luas karena dengan demikian akan dapat digunakan sebagai salah satu rujukan untuk menentukan pilihan dalam pemilu secara arif. Dalam penggunaan bahasa sekalipun. Bermula dari saling mengejek dan saling hina di antara mereka ketika berpapasan di jalan raya dalam situasi kampanye. dan kerusuhan yang mengiringi proses pemilu sebenarnya adalah tindakan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai demokratis dan budaya politik bangsa Indonesia. Albert Camuspernah mengatakan bahwa I’ anarchie est I’abus de la democratie. Dalam setiap tahapan pemilu. dan rasional. bijaksana. perkelahian antar massa pendukung partai politik seringkali terjadi. Namun demikian. kita dapat menjadikannya sebagai momentum untuk mendorong perubahan sosial politik. anarkisme adalah penyelewengan dari demokrasi. Pelajar yang ingin aktif dalam kampanye harus sadar bahwa tindakan brutal. politik ekonomi. kritis. Budaya politik feodalisme yang terjadi adalah merupakan sebuah sistem pemerintahan dimana seorang pemimpin bangsawan memiliki anak buah banyak yang juga masih dari kalangan bangsawan. C. kekerasan. Budaya Politik Yang Bertentangan dengan Semangat Pembangunan Politik Bangsa Suatu pemerintahan dengan budaya politik yang bertentangan dengan semangat pembangunan politik bangsa yang transparan (terbuka) apabila dalam penyelenggaraan sistem politik pemerintahannya tidak terdapat kebebasan aliran informasi dalam berbagai proses kelembagaan sehigga tidak mudah di akses oleh masyarakat sebagai warga bangsa yang membutuhkan. hal yang perlu dikedepankan dalam kampanye adalah situasi damai karena dalam kampanyenya sering kali terjadi persinggungan antar massa pendukung dari partai politik (simpatisan dan kader) partai politik. kekerasan. . Untuk mewujudkan situasi seperti itu dibutuhhkan toleransi yang besar terhadap kelompok yang berbeda pandangan politik dan juga sikap anti kekerasan. secara damai dan beradab (berbudaya). kita harus sadar bahwa brutalisme.Melalui sarana pemilihan umum. ataupu kaum terpelajar tidak ada larangan untuk mengikutinya.

Suatu hal yang patut kita sayangkan adalah hingga saat ini “belum pernah” atau “belum ada” contoh yang baik tentang penegakan perilaku KKN. Akibat KKN. Dalam pengertian neoinstitusionalisme.artinya sudah banyak tidak sesuai lagi dengan pengertian politik yang sesungguhnya.selalu ingin di hormati atau bertahan pada nilainilai lama yang sudah banyak di tinggalkan. Kondisi itu di perparah dengan makin sulitnya mencari figur-figur yang dapat diteladani dalam kepemimpinan nasional. Sebaliknya dari kacamata individualisme.perilaku individu akan ditentukan oleh kondisi strukturalnya (structure conduct performance). Pertimbangan profesional buakn acuan utama.bahkan hampir tidak dapat diselesaikan.kolusi. Banyak kalangan berpendapat.primordialisme. Aksi individu hanya bisa dipahami dari dan sebaliknya struktur hanya biasa dijelaskan dari aksi para individunya (Giddens.dan nepotisme(KKN) tetap hidup dan bahkan makin berkembang(wajah baru KKN). tiap individu memiliki kebebasan untuk melakukan aksi. Tindakan KKN memiliki kecendrungan “terstruktur” dalam kehidupan masyarakat politik. para ilmuan sosial memasuki perdebatan yang melelahkan. siapa dekat dia dapat. di era Orde Reformasi ini. Masih banyak birokrat dan pejabat tinggi .sering kalli digunakan untuk menunjuk para perilaku-perilaku negatif yang mirip dengan perilaku para penguasa yang zalim. 1984).korupsi.harta republik telah menjadi “barang jarahan” yang hanya menguntungkan sedikit orang. Tentang perubahan struktur ini. Dari kacamata strukturalisme. ada “roh” yang memengaruhi cara pandang (sense making) para individu yang akan menghalangi (contraining) atau mendorong (enabling) tindakan tertentu. Keadaan ini di rasakan mempersuli mahasiswa dan kaum yang terpelajar dalam mengoperasionalkan konsep dan nilainilai yang terkandung dalam khasanah budaya bangsa. Pemilihan pejabat publik. Dalam kacamata strukturasi ini. struktur adalah hasil perilaku para aktor politik. Weick (1979) menyebut lingkungan sosial sebagai sesuatu yang mendorong (enactment) aksi individu. tetapi dalam kerangka “aturan main” tertentu yang memengaruhinya. baik di pemerintahan maupun BUMN.seperti kolot. masih menggunakan cara lama. Titik tengahnya adalah menganggap bahwa aksi para individu dan struktur adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan (dualitas). Realitas budaya politik masih menjadi kendala bagi proses pendidikan politik karena masih di warnai oleh kuatnya pengaruh nilai-nilai feodalisme.dan paternalisme berlebihan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Berbangsa.negara yang terang-terangan melakukan praktik ini. dan anggoya legislatif. Semakin besar kendala yang dihadapi dalam perjalanan hidup. Dalam sistem proporsional terbuka. mulai dari tingkat pusat sampai dengan kabupaten/kota. calon anggoya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Orang mungkin kurang tertarik dalam politik jika mereka memandang rendah terhadap segala manfaat yang diharapkan dari keterlibatan politik. 4. Dengan demikian. 6. Seseorang cenderung kurang terlibat dalam politik jika merasa bahwa hasil-hasilnya relatif akan memuaskan orang tersebut sekalipun ia tidak berperan di dalamnya. karena ia tidak dapat mengubah dengan jelas hasilnya. Jika pengetahuan seseorang tentang politik tersebut terlalu terbatas untuk dapat menjadi efektif. 5. Jika terdapat . rakyatlah yang berkuasa menentukan kelayakan calin anggota legislatif. 2. Anggota Parlemen(DPR/DPRD dan DPD) Sikap kritis dalam pemilu juga harus diarahkan pada partai politik. Untuk itu. sehingga apa yang dilakukan seorang tersebut tidaklah menjadi persoalan. 1. Sikap kritis ini sangat penting karena merekalah yang akan mewakili rakyat Indonesia untuk memperjuangkan aspirasi politik rakyat. Seseorang cenderung kurang terlibat dalam politik jika merasa bahwa tidak ada masalah terhadap hal yang dilakukan. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi orang berperilaku tidak mau melibatkan diri dalam politik (partisipan). D. dan Bernegara 1. baik dari segi moral maupun kapasitasnya. masyarakat pemilih harus melakukan seleksi dan penyaringan secara ketat terhadap para calin tersebut. Contoh Budaya Politik Partisipan dalam Kehidupan Bermasyarakat. Robert dahl menyebutkan alasan sebagai berikut. Kritis Memilih Partai Politik. Orang merasa tidak melihat adanya perbedaan yang tegas dengan keadaan sebelumnya. tidak mengherankan apabila semua orang berlomba-lomba untuk melakukan hal yang tampaknya bersifat profesional. 3. semakin kecil kemungkinan bagi seseorang untuk terlibat dalam politik. dibandingkan dengan manfaat yang akan diperleh dari berbagai aktivitas lainnya. Kritisme pada partai politik siarahkan pada platform partai politik untuk memperjuagkan aspirasi dan kesejahteraan rakyat Indonesia.

1. c) Badan/lembaga penyelenggara maupun panitia pemilu baik di tingkat pusat maupun daerah harus bersifat mandiri dan independen. 2. Untuk itu diperlukan persyaratan minimal. 1.calon anggota legislatif tidak memenuhi persyaratan moral. kapabilitas. 3. dapat dipercaya (kredibilitas). Dengan demikian. maupun kebersihan dari praktik korupsi. b) Peraturan pelaksanaan pemilu yang memuat petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan pemilu harus tidak membuka peluang bagi terjadinya kecurangan ataupun menguntungkan satu atau beberapa pihak tertentu. a) Peraturan perundangan yang mengatur pemilu harus tidak tidak membuka peluang bagi terjadinya tindak kecurangan ataupun menguntungkan satu atau beberapa pihak tertentu. rakyat tentunya dapat mengakses informasi seluasluasnya tentang perilaku politik seorang calin anggota legislatif ataupun partai politik. dan nepotisme. sekaligus merupakan perwujudan dari pemilu yang demokratis. Okeh karena itu. baik dari segi visi kenegaraan. kewibawaan dan kejujuran (integritas). Masyarakat pemilih perlu mengikuti perkembangan informasi melalui media massa dan berbagai sumber informasi lain uang akurat untuk melakukan pemeriksaam kembali (cross check) tentang kredibilitas moral dan kapabilitas calon presiden maupun wakil presiden. Oleh karena itu. Kritis Memilih Presiden dan Wakil Presiden Kritisme pada pemilihan presiden dan wakil presiden lebih ditekankan pada kualitas diri calon yang akan dipilih tersebut. masyarakat pemilih perlu mengetahui terlebih dahulu track record cali presiden dan wakil presiden. kolusi. amanah. sikapa kritis dari pemilih dan warga Idonesia sengat diperlukan untuk mewujudkan pemilu yang Luber dan Jurdil. dan memiliki kemampuan/keahlian pada umumnya (akuntabilitas publik) maka sikap terbaik masyarakat pemilih tentunya adalah tidak memilih calon tersebut. Kritisme dalam Mewujudka Pemilu Luber dan Jurdil Pemilu yang Luber dan Jurdil merupakan harapan dari segenap rakyat Indonesia. di antaranya sebagai berikut. kredibilitas moral. rakyat sebenarnya dapat menentukan secara objektif siapa dan partai apa yang benarbenar memperjuangkan kepentingan rakyat ataukah hanya sekadar menjual janji-janji muluk belaka. . Di alam keterbukaan dan informasi ini.

dan beradap. damai. pelajar bisa menjadikannya sebagai momentun untuk mendorong perubahan sosial. Berkaitan dengan kenyataan tersebut. dan rasional. Aktif tanpa kekerasan dalam pemilihan umum Pelajar hendaknya berpartisipasi secara aktif dalam pemilihan umum. e) Lembaga/organisasi/jaringan pemamtauan pemilu harus terlibat aktif dalam suatu proses dan tahapan pemilu di semua tingkatan di seluruh wilayah pemilihan untuk memantau perkembangan penyelenggaraan pemilu. f) Anggota masyarakat luas. tetapi hindarkan diri dari kekerasan dan anarkisme massa. budaya.d) Partai politik peserta pemilu memiliki kesiapan yang memadai untuk terlibat dalam penyelenggaraan pemili. politik. antara lain sebagai berikut. g) Insan pers dan media massa harus memberikan perhatian secara khusus pada setiap penyelenggaraan pemilu. Selain itu. pemilu harus juga menjadikan momentum yang damai dan beradap. ekonomi. h) Memupuk kesadaran politik setiap warga negara supaya semakin sadar akan hak politiknya dalam pemilu. bijaksan. ciptakan pemilu yang demokratis. krisis. Contoh Perilaku yang Berperan Aktif dalam Politik yang Berkembang di Masyarakat Komunitas pelajar seharusnya memilliki peran besar untuk melakukan perubahan sosial politik yang lebih baik. khususnya yang berkaitan dengan kepanitiaan pemilu serta kemampuan mempersiapkan saksi-saksi di tempat pemungutah suara. dan lain-lain kearah yang lebih baik dengan melalui pemerintahan yang dipilih melalui pemilu. maka keberadaan pelajar sebagai pemilih pemilu perlu mengambil sikap dan langkah-langkah yang positif dan konstruktif dalam penyelenggaraan pemilihan umum. E. . Melalui pemilu. karena dengan demikian pelajar sebagai komunitas terpelajar dan terdidik bisa menjadi salah satu rujukan untuk menentukan pilihan pemilu secara arif. baik secara perorangan dan kelompok maupun yang terhimpun dalam organisasi-organisasi kemasyarakatan harus aktif dalam memantau setiap perkembangan penyelenggaraan pemilu daerah masing-masing. Semua ini dimaksudkan sebagai upaya melakukan pendidikan politik rakyat yang lebih luas. 1.

Pemilhan umum sebagai gerakan anti korupsi Pelajar sebagai pemilih pemula aktif dan selektif dalam memilih calon pemimpin nasional dan wakil-wakil yang bersih. Saran Setiap warga negara. presiden dan wakil presiden. B. maupun pribadinya mendekati satu atau dapat dikatakan tinggi. Budaya politik partisipan adalah salah satu jenis budaya politik bangsa. Gunakan hak pilih dengan menggunakan hati nurani dan akal pikiran yang sehat ketika memilh wakil-wakil raktyat yang duduk di perlement. Dalam budaya politik partisipan. input dan output. akan mendukung terbentuknya sebuah sistem politik yang demokratik dan stabil. partai politik sebagai kontestan dalam pemilu. Anti terhadap Money PoliticsI Money Politics merupakan salah satu bentuk kecurangan dalam pemilu. Kesimpulan Dari pembahasan di atas kami dapat menarik kesimpulan bahwa: Budaya politik yang partisipasif adalah budaya politik yang demokratik. Pelajar sebagai pemilih pemula hendaknya menggunakan hati nurani dan akal pikiran yang sehat ketika menggunakan hak pilihnya di dalam memilih pemilu. orientasi politik warga terhadap kesluruhan objek politik. dalam hal ini. dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang bersimbol maupun tidak. 3. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara . dan nepotisme. Tidak mudah dieksploitasi Pemilu merupakan salah satu media pembelajaran politik bagi terbentuknya komunikasi politik yang demokratis dimasa mendatang.2. kolusi. 4. pelajar sebagai pemilih pemula jangan mudah dieksploitasi dalam pemilu untuk kepentingan sesaat kelompok tertentu. BAB III PENUTUP A. Oleh karena itu. Tidak Apatis Komunitas pelajar yang memiliki jumlah signifikan jangan bersikapa apatis dalam pemilu. dan sebagainya. baik umum. 5. agar kelak dalam melaksanakan pemerintahan tidak melakukan praktik korupsi.

Surakarta: Penerbit Grahadi http://www.google. Maka diharapkan kepada warga negara yang berbudaya politik partisipan dan berorientasi setia atau mendukung sistem politik nasional. DAFTAR PUSTAKA Bambang S.langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik. 2006. dan Sugiyarto. 2006. PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Untuk SMA/MA Kelas XI Jutmini sri dan Winarno.2006.co. Modul Kewarganegaraan Untuk SMA/MA Semester Gasal.id/search?q=budaya+politik+partisipan&hl=id&start=10&sa=N . PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Untuk SMA/MA Kelas XI Tim Edukatif HTS. Surakarta: Penerbit Hayati Tumbuh Subur Tim SIMPATI. 2007. LKS SIMPATI Untuk SMA/MA Semester Ganjil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful