MAKALAH BUDAYA POLITIK

serta shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul BUDAYA POLITIK PARTISIPAN dari tugas Kewarganegaraan ini dengan tepat pada waktunya. kami berharap bagi para pembaca berkenan untuk memberikan kritik dan sarannya. Semoga Allah SWT selalu mencurahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan. 6 September 2011 Kelompok V DAFTAR ISI . Amin Tokaseng. oleh karena itu dengan penuh kerendahan hati. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

.. B...........................................KATA PENGANTAR ..................... Pengertian Budaya Politik Partisipan ...... Kesimpulan .......... DAFTAR ISI ................................................. Berbangsa...................................... BAB II PEMBAHASAN A........... Saran ............. Rumusan Masalah ..... BAB I PENDAHULUAN A... Tujuan .. D......................................................................................................................... ............................... Budaya Politik Yang Bertentangan dengan Semangat Pembangunan Politik Bangsa ......................... C................................................................... BAB III PENUTUP A................ E................................................. B............................................................................ C............... DAFTAR PUSTAKA ......................... Bentuk-Bentuk Budaya Politik Partisipan ................... B....................................... Contoh Budaya Politik Partisipan dalam Kehidupan Bermasyarakat........... dan Bernegara............................................................ Contoh Perilaku yang Berperan Aktif dalam Politik yang Berkembang di Masyarakat .......... Latar Belakang ..........................................................

kebudayaan Indonesia cenderung membagi secara tajam antara kelompok elite dengankelompok massa.BAB I PENDAHULUAN A. status sebagai anggota masyarakat. Latar Belakang Budaya politik merupakan sistem nilai dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh masyarakat. Lebih dari itu. berbangsa. anggota suatu partai politik tertentu dan sebagainya. senantiasa akan berinteraksi dengan manusia lain dalam upaya mewujudkan kebutuhan hidupnya. Kebutuhan hidup manusia tidak cukup yang bersifat dasar. Setiap warga negara. Seperti juga di Indonesia. pakaian dan papan (rumah). biologis. Rumusan Masalah Ø Jelaskan pengertian budaya politik partisipan! Ø Jelaskan bentuk-bentuk budaya politik partisipan! Ø Jelaskan budaya politik yang bertentangan dengan semangat pembangunan politik bangsa! Ø Jelaskan contoh budaya politik partisipan dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik. menurut Benedict R. memiliki peranan penting dalam sistem politik suatu negara. OG Anderson. Manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk sosial. setiap unsur masyarakat berbeda pula budaya politiknya. Namun. B. Tujuan . Warga negara yang berciri demikian inilah yang memang didutuhkan bagi sistem politik demokrasi di Indonesia. Kehidupan manusia di dalam masyarakat. juga mencakup kebutuhan akan pengakuan eksistensi diri dan penghargaan dari orang lain dalam bentuk pujian. minum. dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang bersimbol maupun tidak. dan bernegara! Ø Jelaskan contoh perilaku yang berperan aktif dalam politik yang berkembang di masyarakat! C. seperti makan. seperti antara masyarakat umum dengan para elitenya. Negara Indonesia sebagai negara demokratis membutuhkan warga negara yang berbudaya politik partisipan dan berorientasi setia atau mendukung sistem politik nasional. pemberian upah kerja.

dan tingkat efficacy (keberdayaan). akan mendukung terbentuknya sebuah sistem politik yang demokratik dan stabil. Masyarakat memiliki kebangsaan dan kemaua untuk berperam dalam sistem politik. Dalam budaya politik partisipan ini. dan sejenisnya. persepsi. Pengertian Budaya Politik Partisipan Budaya politik yang partisipasif adalah budaya politik yang demokratik. maupun output secara pribadinya mendekati satu atau dapat dikatakan tinggi. . yang menopang terwujudnya partisipasi. sikap. Budaya politik yang demokratik ini menyangkut “suatu kumpulan sistem keyakinan. Dalam budaya politik partisipan. norma. Selain itu.Ø Untuk mengetahui pengertian budaya politik partisipan Ø Untuk mengetahui bentuk-bentuk budaya politik partisipan Ø Untuk mengetahui budaya politik yang bertentangan dengan semangat pembangunan politik bangsa Ø Untuk mengetahui contoh budaya politik partisipan dalam kehidupan bermasyarakat. masyarakat dalam budaya politik imi memiliki keyakinan dapat memengaruhi pengambilan kebijakan publik dan membentuk kelompok untuk melakukan protes jika pelaksamaa pemerintah tidak transparan. berbangsa. baik umum. dalam hal ini. Dapat dikatakan bahwa tipe budaya ini merupakan kondisi ideal bagi secara politik. dan bernegara Ø Untuk mengetahui contoh perilaku yang berperan aktif dalam politik yang berkembang di masyarakat BAB II PEMBAHASAN A. demokrasi dapat berkembang dengan baik.” kata Almond dan Verba. Hal ini dikarenakan terjadinya hubungan yang harmonis antara warga negara dan pemerintah yang ditunjuk oleh tingkat kompetensi politik (penyelesaian sesuatu secara politik). orientasi politik warga terhadap kesulurahan objek. Masayarakat dalam budaya politik ini mamahami bahwa mereka berstatus warga negara dan memberikan perhatian terhadap sistem politik. input.

Mengasuh dan mendidik anak. Menghormati orang lain berarti mendengarkan pendapat mereka. Menghormati harkat dan marabat kemanusiaan setiap invidu.beberapa karakter publik dan privat sebagai perwujudan budaya partisipan sebagai berikut: a. Memelihara atau menjaga diri. 4. Memberi nafkah dan merawat keluarga. bukan karena keterpaksaan atau pengawasan dariluar. Menjadi anggota masyarakat yang independen. Bersifat sopan. Melayani masyarakat. 2. 3. 1. Memegang kendali dalam kepemimpinan bila di perlukan. Melakukan tugas kepemimpinan sesuai bakat masing-masing. Karakter ini meliputi. Menentukan pilihan (voting) atau berpartisipasi dalam debat publik: Terlibat dalam diskusi yang santun dan serius. Kesadaran pribadi untuk bertanggung jawab sesuai ketentuan. 5. Menentukan pilihan (voting). 3. 4. 1. Menghargai hak-hak dan kepentingan-kepentingan sesama warga negara. Tanggung jawab ini antara lain meliputi: 1. Berpartisipasi dalam urusan-urusan kewarganegaraan secara efektif dan bijaksana. 2. Memenuhi tanggung jawab personal kewargaan dibidang ekonomi dan politik. 3. Menjadi juri di pengadilan. c. b. Didalamnya termasuk pula mengikuti informasi tentang isu-isu publik. 3.Menurut Bronson dan kawan-kawan dalam bukunya Belajar Civic Education dari Amerika. 3. 2. 2. d. Meengikuti aturan “prinsip mayoritas” namun tetap menghargai hak-hak minoritas untuk berbeda pendapat. Karakterini merupakan sadar informasi sebelum : 1. Memenuhi kewajiban moral dan hukum sebagai anggota masyarakat demokrtis. Bertanggung jawab atas tindakan yang di perbuat. seperti: 1. . 2. Membayar pajak.

2. baik umum. tetapi juga mampu menolak berdasarkan penilaiannya sendiri B. tetapi dapat menilai dengan penuh kesadaran semua objek politik. input. orientasi politik warga terhadapkesluruhan objek politik. . tunduk pada keadaan. Kesadaran bahwa ia adalah warga negara yang aktif dan berperan sebagai aktivis Warga menyadari akan hak dan tanggung jawabnya (kewajibannya) dan mampu mempergunakan hak itu serta menanggung kewajibannya d. Melakukan penalahan terhadap nilai-nilai dan prinsip-prinsip konstitusional. 5. Bentuk-Bentuk Budaya Politik Partisipan Sebagai komunitas warga negara yang terdidik dan terpelajar. Mengavaluasi kapan seseorang karena kewajiban atau prinsip-prinsip konstitusional di haruskan menolak tuntutan-tuntutan kewarganegaraan tertentu. Berdasar hal ini maka ciri-ciri budaya politik partisipan adalah sebagai berikut: a. baik keseluruhan. berdisiplin. c. e. Memonitor keputusan para pemimpin politik dan lembaga-lembaga publik agar sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip tadi. input dan output. Anggota masyarakat sangat partisipatif terhadap semua objek politik. Tidak menerima begitu saja keadaan. Membuat evaluasi tentang kapan saatnya kepentingan pribadi seseorang sebagai warga negara harus di kesampingkan demi memenuhi kepentingan publik. 4.hendaknya kita memiliki peran besar (partisipasi aktif)untuk melakukan perubahan politik yang lebih baik dan berbudaya. maupun pribadinya mendekati satu atau dapat dikatakan tinggi. Kehidupan politik dianggap sebagai sarana trnsaksi seperti halnya penjual dan pembeli. Karakter ini mengarahkan warga negara agar bekerja dengan cara-cara yang damai dan legal dalam rangka mengubah undang-undang yang dianggap tidak adil dan tidak bijaksana. baik menerima maupun menolak suatu objek politik b. Karakter ini meliputi: Sadar informasi dan kepekaan terhadap unsur-unsur publik. Dalam budaya politik partisipan. 1. 3. Warga dapat menerima berdasar kesadaran. output ataupun posisi dirinya sendiri e.4. Mengembangkan fungsi demokrasi konstitusional secara sehat. Budaya politik partisipan adalah salah satu jenis budaya politik bangsa. Mengambil langkah-langkah yang di perlukan bila ada kekurangannya.

C. politik ekonomi. Untuk mewujudkan situasi seperti itu dibutuhhkan toleransi yang besar terhadap kelompok yang berbeda pandangan politik dan juga sikap anti kekerasan. kita sebagai simpatisan (kader) partai politik. Albert Camuspernah mengatakan bahwa I’ anarchie est I’abus de la democratie. hal yang perlu dikedepankan dalam kampanye adalah situasi damai karena dalam kampanyenya sering kali terjadi persinggungan antar massa pendukung dari partai politik (simpatisan dan kader) partai politik. Dalam penggunaan bahasa sekalipun. kekerasan. Budaya politik feodalisme yang terjadi adalah merupakan sebuah sistem pemerintahan dimana seorang pemimpin bangsawan memiliki anak buah banyak yang juga masih dari kalangan bangsawan. anarkisme adalah penyelewengan dari demokrasi. kita harus sadar bahwa brutalisme. secara damai dan beradab (berbudaya). dan lain-lain ke arah yang lebih baik dan demokratif melalui pemerintahanyang dipilah melalui pemilu. dan rasional. budaya. kita dapat menjadikannya sebagai momentum untuk mendorong perubahan sosial politik. bijaksana. Dalam setiap tahapan pemilu. . Semua itu dimaksudkan sebagai upaya melakukan pendidikan budaya politik partisipan (rakyat) yang lebih luas karena dengan demikian akan dapat digunakan sebagai salah satu rujukan untuk menentukan pilihan dalam pemilu secara arif. Namun demikian. perkelahian antar massa pendukung partai politik seringkali terjadi.tetapi lebih rendah mereka biasa disebut vazal. ataupu kaum terpelajar tidak ada larangan untuk mengikutinya. Pelajar yang ingin aktif dalam kampanye harus sadar bahwa tindakan brutal. kekerasan. dan keseluruhan hanya akan merusak situasi pemilu yang demokratis dan beradab. dan kerusuhan yang mengiringi proses pemilu sebenarnya adalah tindakan yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai demokratis dan budaya politik bangsa Indonesia. Untuk itu. kritis.Melalui sarana pemilihan umum. Bermula dari saling mengejek dan saling hina di antara mereka ketika berpapasan di jalan raya dalam situasi kampanye. Budaya Politik Yang Bertentangan dengan Semangat Pembangunan Politik Bangsa Suatu pemerintahan dengan budaya politik yang bertentangan dengan semangat pembangunan politik bangsa yang transparan (terbuka) apabila dalam penyelenggaraan sistem politik pemerintahannya tidak terdapat kebebasan aliran informasi dalam berbagai proses kelembagaan sehigga tidak mudah di akses oleh masyarakat sebagai warga bangsa yang membutuhkan.

tiap individu memiliki kebebasan untuk melakukan aksi.artinya sudah banyak tidak sesuai lagi dengan pengertian politik yang sesungguhnya. Tindakan KKN memiliki kecendrungan “terstruktur” dalam kehidupan masyarakat politik.bahkan hampir tidak dapat diselesaikan.sering kalli digunakan untuk menunjuk para perilaku-perilaku negatif yang mirip dengan perilaku para penguasa yang zalim. 1984). Aksi individu hanya bisa dipahami dari dan sebaliknya struktur hanya biasa dijelaskan dari aksi para individunya (Giddens. Dari kacamata strukturalisme. di era Orde Reformasi ini. Pertimbangan profesional buakn acuan utama. Weick (1979) menyebut lingkungan sosial sebagai sesuatu yang mendorong (enactment) aksi individu. Pemilihan pejabat publik. Tentang perubahan struktur ini.primordialisme.selalu ingin di hormati atau bertahan pada nilainilai lama yang sudah banyak di tinggalkan.kolusi. struktur adalah hasil perilaku para aktor politik. Realitas budaya politik masih menjadi kendala bagi proses pendidikan politik karena masih di warnai oleh kuatnya pengaruh nilai-nilai feodalisme. ada “roh” yang memengaruhi cara pandang (sense making) para individu yang akan menghalangi (contraining) atau mendorong (enabling) tindakan tertentu.dan nepotisme(KKN) tetap hidup dan bahkan makin berkembang(wajah baru KKN).harta republik telah menjadi “barang jarahan” yang hanya menguntungkan sedikit orang. Dalam kacamata strukturasi ini. tetapi dalam kerangka “aturan main” tertentu yang memengaruhinya. Keadaan ini di rasakan mempersuli mahasiswa dan kaum yang terpelajar dalam mengoperasionalkan konsep dan nilainilai yang terkandung dalam khasanah budaya bangsa. Banyak kalangan berpendapat. Titik tengahnya adalah menganggap bahwa aksi para individu dan struktur adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan (dualitas). baik di pemerintahan maupun BUMN. Dalam pengertian neoinstitusionalisme.perilaku individu akan ditentukan oleh kondisi strukturalnya (structure conduct performance). para ilmuan sosial memasuki perdebatan yang melelahkan. Masih banyak birokrat dan pejabat tinggi . Kondisi itu di perparah dengan makin sulitnya mencari figur-figur yang dapat diteladani dalam kepemimpinan nasional. masih menggunakan cara lama. Sebaliknya dari kacamata individualisme. siapa dekat dia dapat.dan paternalisme berlebihan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.korupsi. Suatu hal yang patut kita sayangkan adalah hingga saat ini “belum pernah” atau “belum ada” contoh yang baik tentang penegakan perilaku KKN. Akibat KKN.seperti kolot.

Contoh Budaya Politik Partisipan dalam Kehidupan Bermasyarakat. Kritisme pada partai politik siarahkan pada platform partai politik untuk memperjuagkan aspirasi dan kesejahteraan rakyat Indonesia. mulai dari tingkat pusat sampai dengan kabupaten/kota. Jika terdapat . Dengan demikian. Seseorang cenderung kurang terlibat dalam politik jika merasa bahwa hasil-hasilnya relatif akan memuaskan orang tersebut sekalipun ia tidak berperan di dalamnya. calon anggoya Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 5. masyarakat pemilih harus melakukan seleksi dan penyaringan secara ketat terhadap para calin tersebut. 6.negara yang terang-terangan melakukan praktik ini. D. dan anggoya legislatif. Kritis Memilih Partai Politik. Seseorang cenderung kurang terlibat dalam politik jika merasa bahwa tidak ada masalah terhadap hal yang dilakukan. Orang merasa tidak melihat adanya perbedaan yang tegas dengan keadaan sebelumnya. Untuk itu. Sikap kritis ini sangat penting karena merekalah yang akan mewakili rakyat Indonesia untuk memperjuangkan aspirasi politik rakyat. 2. Jika pengetahuan seseorang tentang politik tersebut terlalu terbatas untuk dapat menjadi efektif. Robert dahl menyebutkan alasan sebagai berikut. Berbangsa. Orang mungkin kurang tertarik dalam politik jika mereka memandang rendah terhadap segala manfaat yang diharapkan dari keterlibatan politik. baik dari segi moral maupun kapasitasnya. rakyatlah yang berkuasa menentukan kelayakan calin anggota legislatif. dan Bernegara 1. 4. Anggota Parlemen(DPR/DPRD dan DPD) Sikap kritis dalam pemilu juga harus diarahkan pada partai politik. Dalam sistem proporsional terbuka. semakin kecil kemungkinan bagi seseorang untuk terlibat dalam politik. dibandingkan dengan manfaat yang akan diperleh dari berbagai aktivitas lainnya. Semakin besar kendala yang dihadapi dalam perjalanan hidup. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi orang berperilaku tidak mau melibatkan diri dalam politik (partisipan). 3. tidak mengherankan apabila semua orang berlomba-lomba untuk melakukan hal yang tampaknya bersifat profesional. karena ia tidak dapat mengubah dengan jelas hasilnya. sehingga apa yang dilakukan seorang tersebut tidaklah menjadi persoalan. 1.

amanah. Dengan demikian. 2. rakyat tentunya dapat mengakses informasi seluasluasnya tentang perilaku politik seorang calin anggota legislatif ataupun partai politik. c) Badan/lembaga penyelenggara maupun panitia pemilu baik di tingkat pusat maupun daerah harus bersifat mandiri dan independen. dapat dipercaya (kredibilitas). sikapa kritis dari pemilih dan warga Idonesia sengat diperlukan untuk mewujudkan pemilu yang Luber dan Jurdil. Oleh karena itu. Masyarakat pemilih perlu mengikuti perkembangan informasi melalui media massa dan berbagai sumber informasi lain uang akurat untuk melakukan pemeriksaam kembali (cross check) tentang kredibilitas moral dan kapabilitas calon presiden maupun wakil presiden. a) Peraturan perundangan yang mengatur pemilu harus tidak tidak membuka peluang bagi terjadinya tindak kecurangan ataupun menguntungkan satu atau beberapa pihak tertentu. Di alam keterbukaan dan informasi ini. . baik dari segi visi kenegaraan. kredibilitas moral. kolusi. di antaranya sebagai berikut. sekaligus merupakan perwujudan dari pemilu yang demokratis. Kritisme dalam Mewujudka Pemilu Luber dan Jurdil Pemilu yang Luber dan Jurdil merupakan harapan dari segenap rakyat Indonesia. maupun kebersihan dari praktik korupsi. rakyat sebenarnya dapat menentukan secara objektif siapa dan partai apa yang benarbenar memperjuangkan kepentingan rakyat ataukah hanya sekadar menjual janji-janji muluk belaka. 1. kapabilitas. dan nepotisme. Untuk itu diperlukan persyaratan minimal. masyarakat pemilih perlu mengetahui terlebih dahulu track record cali presiden dan wakil presiden. Kritis Memilih Presiden dan Wakil Presiden Kritisme pada pemilihan presiden dan wakil presiden lebih ditekankan pada kualitas diri calon yang akan dipilih tersebut. Okeh karena itu. 3. b) Peraturan pelaksanaan pemilu yang memuat petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan pemilu harus tidak membuka peluang bagi terjadinya kecurangan ataupun menguntungkan satu atau beberapa pihak tertentu. kewibawaan dan kejujuran (integritas). 1. dan memiliki kemampuan/keahlian pada umumnya (akuntabilitas publik) maka sikap terbaik masyarakat pemilih tentunya adalah tidak memilih calon tersebut.calon anggota legislatif tidak memenuhi persyaratan moral.

karena dengan demikian pelajar sebagai komunitas terpelajar dan terdidik bisa menjadi salah satu rujukan untuk menentukan pilihan pemilu secara arif. Berkaitan dengan kenyataan tersebut. dan lain-lain kearah yang lebih baik dengan melalui pemerintahan yang dipilih melalui pemilu. e) Lembaga/organisasi/jaringan pemamtauan pemilu harus terlibat aktif dalam suatu proses dan tahapan pemilu di semua tingkatan di seluruh wilayah pemilihan untuk memantau perkembangan penyelenggaraan pemilu.d) Partai politik peserta pemilu memiliki kesiapan yang memadai untuk terlibat dalam penyelenggaraan pemili. ciptakan pemilu yang demokratis. baik secara perorangan dan kelompok maupun yang terhimpun dalam organisasi-organisasi kemasyarakatan harus aktif dalam memantau setiap perkembangan penyelenggaraan pemilu daerah masing-masing. 1. khususnya yang berkaitan dengan kepanitiaan pemilu serta kemampuan mempersiapkan saksi-saksi di tempat pemungutah suara. h) Memupuk kesadaran politik setiap warga negara supaya semakin sadar akan hak politiknya dalam pemilu. tetapi hindarkan diri dari kekerasan dan anarkisme massa. E. Contoh Perilaku yang Berperan Aktif dalam Politik yang Berkembang di Masyarakat Komunitas pelajar seharusnya memilliki peran besar untuk melakukan perubahan sosial politik yang lebih baik. Selain itu. pemilu harus juga menjadikan momentum yang damai dan beradap. dan beradap. antara lain sebagai berikut. budaya. krisis. pelajar bisa menjadikannya sebagai momentun untuk mendorong perubahan sosial. politik. Aktif tanpa kekerasan dalam pemilihan umum Pelajar hendaknya berpartisipasi secara aktif dalam pemilihan umum. dan rasional. ekonomi. g) Insan pers dan media massa harus memberikan perhatian secara khusus pada setiap penyelenggaraan pemilu. Semua ini dimaksudkan sebagai upaya melakukan pendidikan politik rakyat yang lebih luas. maka keberadaan pelajar sebagai pemilih pemilu perlu mengambil sikap dan langkah-langkah yang positif dan konstruktif dalam penyelenggaraan pemilihan umum. bijaksan. Melalui pemilu. . damai. f) Anggota masyarakat luas.

input dan output. agar kelak dalam melaksanakan pemerintahan tidak melakukan praktik korupsi. BAB III PENUTUP A.2. B. Oleh karena itu. Saran Setiap warga negara. Tidak mudah dieksploitasi Pemilu merupakan salah satu media pembelajaran politik bagi terbentuknya komunikasi politik yang demokratis dimasa mendatang. dalam kesehariannya hampir selalu bersentuhan dengan aspek-aspek politik praktis baik yang bersimbol maupun tidak. 3. dan nepotisme. Dalam budaya politik partisipan. Gunakan hak pilih dengan menggunakan hati nurani dan akal pikiran yang sehat ketika memilh wakil-wakil raktyat yang duduk di perlement. maupun pribadinya mendekati satu atau dapat dikatakan tinggi. dalam hal ini. 5. 4. Budaya politik partisipan adalah salah satu jenis budaya politik bangsa. pelajar sebagai pemilih pemula jangan mudah dieksploitasi dalam pemilu untuk kepentingan sesaat kelompok tertentu. baik umum. Pemilhan umum sebagai gerakan anti korupsi Pelajar sebagai pemilih pemula aktif dan selektif dalam memilih calon pemimpin nasional dan wakil-wakil yang bersih. Tidak Apatis Komunitas pelajar yang memiliki jumlah signifikan jangan bersikapa apatis dalam pemilu. partai politik sebagai kontestan dalam pemilu. Anti terhadap Money PoliticsI Money Politics merupakan salah satu bentuk kecurangan dalam pemilu. akan mendukung terbentuknya sebuah sistem politik yang demokratik dan stabil. orientasi politik warga terhadap kesluruhan objek politik. Pelajar sebagai pemilih pemula hendaknya menggunakan hati nurani dan akal pikiran yang sehat ketika menggunakan hak pilihnya di dalam memilih pemilu. dan sebagainya. presiden dan wakil presiden. Kesimpulan Dari pembahasan di atas kami dapat menarik kesimpulan bahwa: Budaya politik yang partisipasif adalah budaya politik yang demokratik. Dalam proses pelaksanaannya dapat terjadi secara . kolusi.

Modul Kewarganegaraan Untuk SMA/MA Semester Gasal. dan Sugiyarto. PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Untuk SMA/MA Kelas XI Tim Edukatif HTS. Surakarta: Penerbit Hayati Tumbuh Subur Tim SIMPATI. 2007.2006. 2006.id/search?q=budaya+politik+partisipan&hl=id&start=10&sa=N . LKS SIMPATI Untuk SMA/MA Semester Ganjil.co.langsung atau tidak langsung dengan praktik-praktik politik.google. DAFTAR PUSTAKA Bambang S. PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Untuk SMA/MA Kelas XI Jutmini sri dan Winarno. 2006. Surakarta: Penerbit Grahadi http://www. Maka diharapkan kepada warga negara yang berbudaya politik partisipan dan berorientasi setia atau mendukung sistem politik nasional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful