Budaya Dan Emosi

I Pentingnya Emosi dalam Kehidupan Kita Sangat sulit dibayangkan jika kehidupan kita tanpa emosi, tanpa perasaan. Kita sangat menghargai perasaan kita – perasaan senang saat menonton pertandingan, rasa senang akan kasih sayang dari kekasih, kegembiraan saat berkumpul bersama kawan-kawan, menonton film, atau jalan-jalan ke sebuah club malam. Bahkan perasaan negatif atau sedih juga penting bagi kita: sedih ketika kita harus berjauhan dengan kekasih, kematian anggota keluarga, rasa marah ketika kita disakiti, rasa takut, dan rasa bersalah atau malu saat aib kita diketahui publik. Emosi memberi warna pada pengalaman hidup kita. Emosi memberi makna pada peristiwa. Tanpa emosi, peristiwa yang kita alami hanya sekedar fakta kehidupan saja. Emosi inilah yang membedakan kita dengan komputer dan jenis mesin lainnya. Teknologi yang ada saat ini telah mampu menciptakan mesin yang bisa melampaui daya pikir kita. Bahkan komputer telah mampu menangani pekerjaan secara lebih efektif dibandingkan manusia. Namun sebagus apapun teknologi yang ada, mereka tidak memiliki perasaan seperti yang dimiliki manusia (bisa jadi belum bisa). Perasaan dan emosi kemungkinan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan kita. Semua orang dari beragam budaya memilikinya, dan semua orang harus belajar untuk menguasainya, agar meningkat ke suatu derajat tertentu dan memberikan manfaat bagi mereka. Memang kehidupan kita saat ini sedang difokuskan pada pengembangan teknologi kecerdasan buatan dan pemikiran kritis serta kemampuan penalaran. Namun tanpa emosi, semua itu tidak akan terjadi. Emosi melandasi keberagaman yang ada di antara manusia. Bagaimana kita membungkus emosi, bagaimana kita menyebutnya, seberapa penting emosi tersebut, bagaimana kita mengekspresikan dan mengartikannya, dan bagaimana kita merasakannya, semua ini merupakan pertanyaan yang dijawab secara berbeda-beda oleh semua orang dan budaya-budaya yang ada. Perbedaan di antara individu dan budaya ini memberikan kontribusi yang penting terhadap keberagaman yang ada saat ini, dan yang terpenting, memberikan perasaan pada orang-orang dari berbagai bangsa dan daerah. Bab ini akan menelaah tentang bentuk dari perbedaan-perbedaan serta persamaan emosi manusia dari berbagai budaya. Kami akan mengawali pembahasan pada bagaimana beberapa emosi bisa bersifat universal dan lintas budaya, sedangkan emosi yang lain berbeda antara satu budaya dengan budaya yang lain. Integrasi antara universalitas dan perbedaan budaya ini merupakan tantangan yang dihadapi oleh penelitian lintas budaya terhadap emosi manusia. II Budaya dan Ekspresi Emosi Pengkajian pengaruh budaya terhadap emosi manusia kami awali dengan topik ekspresi emosi, hal ini kami lakukan karena beberapa alasan. Pertama, penelitan lintas budaya pada ekspresi emosi, khususnya ekspresi wajah, dilandasi oleh penelitian kontemporer tentang emosi, baik lintas budaya maupun aliran utama. Oleh karena itu, penelitian lintas budaya pada ekspresi emosi wajah memiliki kesignifikanan historis yang sangat penting pada area penelitian psikologi ini. Kedua, penelitian lintas budaya pada ekspresi emosi wajah telah membuktikan secara meyakinkan bahwa terdapat suatu rangkaian ekspresi wajah yang bersifat universal dan berlaku di semua budaya manusia, dan mereka memberikan dasar-dasar persamaan pada semua aspek emosi – ekspresi, persepsi, pengalaman, anteseden, penilaian, dan konsep. Atas dasar ini, budaya memberikan pengaruhnya dalam membentuk dunia emosional kita, sehingga menghasilkan perbedaan-

Brazil. dan membuahkan hasil yang sama. Sejak saat itu. seperti halnya prilaku yang lain. . tak peduli apapun ras dan budayanya.perbedaan dan persamaan-persamaan budaya. kita akan mengawalinya dengan universalitas ekspresi emosi wajah. dan terkejut. sebagian besar dari penelitian tersebut terbentur pada permasalahan metodologis. Izard (1971) melakukan penelitian yang sama di lokasi kebudayaan yang lain. Bahkan faktanya. sehingga hal ini memperkuat kemungkinan tersebut. dan prilaku yang kita miliki saat ini merupakan hasil dari seleksi evolusi yang terjadi melalui proses adaptasi evolusi. Kemudian mereka menunjukkan foto-foto tersebut kepada para pengamat dari lima negara yang berbeda (AS. Diterapkan empat jenis penelitian yang berbeda dalam penelitian tersebut.1 Universalitas Ekspresi Emosi Wajah Meskipun para filsuf telah memperdebatkan dan membahas tentang dasar universalitas dari ekspresi wajah selama berabad-abad. takut. Maka bisa dimungkinkan bahwa para pengamat yang diambil dari kebudayaan tersebut telah mempelajari sebelumnya bagaimana mengintepretasikan ekspresi wajah pada sebuah foto. dan menjamin kelanggengan suatu spesies dengan cara memberikan informasi intrafisik dan informasi sosial tentang anggota komunitas yang lain. Darwin menyatakan bahwa manusia mengekspresikan emosi di wajah mereka dengan cara yang sama persis dengan manusia lain di seluruh dunia. telah banyak peneliti yang melanjutkan atau memperdalam penelitian tersebut sehingga semakin menegaskan keutuhan dari penelitian tersebut. dan Tomkins) memilih beberapa foto ekspresi emosi wajah yang dianggap memiliki kesamaan ekspresi emosi secara universal. misalnya gorila. dan sebagainya. Argentina. mereka (Ekman. Pada bagian pertama penelitian tersebut. orang dengan bahasa yang berbeda akan memiliki ekpresi emosi wajah yang berbeda pula. hampir mirip dengan bahasa. telah dilakukan beberapa penelitian untuk menguji gagasan Darwin tersebut yang berkaitan dengan universalitas ekpresi emosi. sampai pada tahun 1960-an di mana pakar psikologi Paul Ekman dan Wallace Friesen (1972) serta peneliti independen Carroll Izard (1971). masyarakat tersebut telah mengenal media massa – televisi. majalah. Lebih lanjut. Darwin menyatakan bahwa manusia itu mengalami evolusi dari hewan yang primitif. film. Tentunya kita semua sudah mengenal Charles Darwin dari teori evolusinya yang terdapat dalam tulisan yang berjudul On the Origin of Species (1859). Pada saat yang sama. seperti kera atau simpanse. dan Sylvain Tomkins mengadakan penelitian yang benar-benar metodologis. sehingga sangat sulit untuk membuat kesimpulan di akhir penelitian. jijik. Sehingga. Menurut Darwin. para ahli antropologi yang terkenal seperti Margaret Mead dan Ray Birdwhistell menyatakan bahwa ekspresi emosi wajah merupakan sesuatu yang harus dipelajari. Data yang didapat menunjukkan tingkat kesamaan yang sangat tinggi dari keseluruh pengamat dalam mengintepretasikan enam emosi yang diberikan – marah. Friesen. Chili. 2. Pada tulisan berikutnya yang berjudul The Expression of Emotion in Man and Animals (1872). dan relatif modern. sedih. Namun sayangnya. namun kajian ekpresi wajah lintas budaya ini sebenarnya berpangkal pada tulisan Charles Darwin. Para peneliti tersebut melakukan penelitian yang saat ini disebut sebagai penelitian universalitas. Oleh karena itu. Perdebatan ini tidak muncul ke permukaan lagi. ekspresi emosi wajah memiliki nilai komunikatif dan adaptif. mengenal industri. Salah satu dari permasalahan penelitian tersebut adalah bahwa semua budaya yang dikenai penelitian merupakan kebudayaan yang terpelajar. Darwin menyatakan bahwa ekspresi emosi pada wajah. merupakan bawaan biologis dan hasil dari adaptasi evolusi. Selama awal dan pertengahan tahun 1900-an. ekspresi yang sama juga ditemukan pada spesies hewan. dan Jepang) dan meminta para pengamat tersebut untuk memberi label pada masing-masing ekspresi. gembira.

dan sebagainya. dan Friesen (1969) melakukan penelitian yang sama di dua suku tertinggal di New Guinea. di mana Ekman meminta semua anggota suku untuk menunjukkan ekspresi wajah masing-masing terhadap beberapa emosi yang diberikan. foto tersebut ditunjukkan kepada para pengamat. kepribadian. sedangkan pengalaman kita sehari-hari lebih sering menemukan perbedaan antara budaya yang satu dengan yang lain? Ekman dan Friesen (1969) telah mengantisipasi pertanyaan tersebut bertahuntahun yang lalu. Tentu saja. Dengan demikian semakin menegaskan bahwa ekspresi emosi wajah adalah bersifat universal dan merupakan bawaan lahir. Dengan kata lain. dan sosiokultural kita yang kemudian membentuk dan mewarnai kehidupan kita. Ekman. di mana warna dasar merupakan warna asal untuk melahirkan warna-warna lainnya. bagaimana kita bisa mempercayai hasil temuan penelitian yang menyatakan bahwa ekspresi wajah bersifat universal. dan merasakan emosi dasar yang sama. mengekspresikan. ekspresi mereka direkam video tanpa mereka ketahui. Penelitian terhadap suku terbelakang ini kemudian dilanjutkan lebih jauh. benci. Kemudian penelitian selanjutnya dilakukan terhadap bayi yang buta. cemburu.2 Perbedaan Kultural pada Ekspresi Wajah: Aturan Tampilan Meskipun fakta menunjukkan bahwa ekspresi emosi wajah bersifat universal. Ekman dan Friesen (1972) melakukan penelitian terhadap beberapa orang Amerika dan Jepang. Oleh karena itu. hal ini dijadikan sumber kedua sebagai bukti pendukung tentang universalitas. hasil yang didapat menunjukkan hasil yang sama. keberadaan emosi dasar menegaskan bahwa emosi-emosi tersebut bercampur dengan atmosfer pengalaman. Untuk membuktikan aturan tersebut. Sehingga menunjukkan bahwa indera visual bukanlah sarana/media untuk mempelajarai suatu ekspresi wajah. Namun demikian. Jadi. Sorensen. yaitu melalui percampuran di antara warna-warna dasar. Dan lagi-lagi. emosi yang kita alami tidak hanya emosi dasar saja. dan aturan inilah yang memandu bagaimana suatu ekspresi emosi universal dimodifikasi sesuai dengan situasi sosial yang ada. hasil data yang didapat dari suku terbelakang ini sama dengan data yang didapat dari masyarakat yang telah maju. dan hasilnya. namun lebih luas seperti cinta. aturan ini akan dapat diterapkan dengan baik secara otomatis. Para anggota suku tersebut kemudian difoto. dan mereka diminta memberikan label pada tiap-tiap foto ekspresi wajah tersebut. Aturan ini berlandaskan pada kelayakan dalam menampilkan tiap-tiap emosi dalam suatu kondisi sosial tertentu. Pada saat yang sama. kita juga bertanya-tanya apakah ekspresi yang kita tampilkan sudah diintepretasikan oleh orang lain secara benar seperti yang kita inginkan. Baik orang Amerika maupun Jepang diperlihatkan sebuah film yang penuh adegan menegangkan. Jadi para partisipan diminta untuk menceritakan tentang gambar yang diberikan. baik orang Amerika maupun . bangga. 2. dan foto tersebut dibawa ke Amerika Serikat. Hal ini seperti halnya warna. namun sebagain besar dari kita seringkali kesulitan dalam mengintepretasikan ekspresi wajah seseorang dari budaya yang berbeda. Meskipun kita melihat beberapa ekspresi emosi orang lain dengan budaya berbeda yang sangat mirip dengan miliki kita. Pada saat itu. Mereka berpendapat bahwa budaya memang berbeda dalam mengatur bagaimana suatu emosi universal itu diekspresikan. penelitian ini berpendapat bahwa semua orang lahir dengan kapasitas untuk mengalami. Karena sifat dari partisipan dalam penelitian ini. dan mereka mengeluarkan konsep yang disebut aturan tampilan budaya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Di AS. Aturan ini telah dipelajari sejak dini. Dan menakjubkannya. di mana penelitian ini juga menunjukkan hasil yang sama. maka para peneliti tidak lagi menggunakan kata untuk mewakili suatu ekspresi wajah.Untuk menghadapi kritikan ini. namun kita lebih sering melihat perbedaanperbedaan yang ada. namun menggantinya dengan menggunakan sebuah cerita pendek yang paling mencerminkan ekspresi wajah yang ditunjukkan. Saat seseorang telah dewasa.

Mereka juga diminta untuk menentukan peringkat berdasarkan skala mereka sendiri apakah suatu emosi itu positif atau negatif. Hal ini dikarenakan stimulus ekspresi yang mereka tampilkan murni dari dalam diri mereka sendiri. ekspresi emosi wajah berada pada dua pengaruh universal. Saat peneliti masuk dan menjelaskan inilah di mana aturan tampilan diterapkan. tidak ada penelitian lanjutan yang lain. bahkan tahun tersebut merupakan masa kejayaan dari penelitian emosi. Ketika suatu emosi terpicu. memperkuat. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa orang Amerika lebih merasa nyaman dibandingkan orang Costa Rica dalam mengekspresikan emosi mandiri dan terikat. Stephan dan de Vargas (1996) yang membandingkan ekspresi orang Amerika dan Costa Rica dengan cara meminta kedua partisipan untuk menilai 38 jenis emosi dalam hal seberapa nyaman yang mereka rasakan ketika menampilkan ekspresi tersebut pada keluarga dan pada orang asing.Jepang menunjukkan ekspresi emosi yang sama. ada beberapa orang peneliti yang masuk dan menjelaskan bahwa mereka sedang diteliti. Stephan. Dan pada saat yang sama. Kemudian setelah film selesai. memperlemah. 2. dan mandiri ataukah terikat. Sehingga terdapat jarak yang lebar antara penelitian ekspresi emosi di awal tahun 1970-an sampai akhir 1980-an dan awal 1990-an. sejumlah penelitian lintas budaya pada ekspresi emosi telah memperluas pengetahuan kita tentang pengaruh budaya terhadap ekspresi dan aturan tampilan. maka sebuah pesan akan dikirimkan melalui program ekspresi wajah. atau menutupi ekspresi universal yang sebenarnya. penelitian pada emosi mulai menyebar ke berbagai area psikologi lainnya. maka yang muncul di wajah adalah ekspresi emosi universal. mereka tetap menggunakan metode penelitian yang ada. dan fisiologis. Semenjak lahirnya perangkat pengkuran ekspresi wajah FACS (Facial Action Coding System) yang dikembangkan oleh Ekman dan Friesen (1978). pesan tersebut juga dikirimkan ke penyimpanan otak yang berkaitan dengan aturan tampilan yang dipelajari. muncul suatu fenomena menarik yang terjadi di lapangan. Tak lama setelah publikasi penelitian tentang universalitas. sedih dan marah. Orang Costa Rica lebih tidak merasa nyaman dalam mengekspresikan emosi negatif. Namun demikian. Sehingga. namun di kondisi yang kedua mereka menunjukkan hal yang berbeda. baru-baru ini. Temuan ini tentu saja sangat menarik. meskipun memiliki perasaan negatif. kepribadian. mereka kadang tersenyum atau tanpa ekspresi karena mereka takut menyinggung pihak peneliti. yaitu faktor bawaan sejak lahir dan faktor budaya tertentu atau aturan tampilan yang dipelajari. Penelitian emosi ini sangat cocok diterapkan pada bidang-bidang tersebut. Sehingga nampak jelas perbedaan ekspresi di antara mereka. . sosial. Temuan-temuan ini begitu diterima sehingga mereka membuka pintu penelitian emosi di seluruh area psikologi. para ahli kemudian berusaha mengembangkan suatu metode pengukuran ekspresi wajah sebagai alat ukur emosi yang obyektif. dan mereka diminta untuk melihat film itu sekali lagi. klinis. Dengan demikian. Misalnya. termasuk juga psikologi perkembangan. sedangkan orang Jepang. di mana program ini akan menyimpan semua jenis informasi ekspresi emosi wajah yang pernah dialami. ketika aturan tampilan tidak memodifikasi ekspresi. bersamaan dengan konsep dan dokumentasi tentang aturan tampilan budaya. Namun demikian.3 Penelitian Lintas Budaya Terkini terhadap Ekspresi Emosi dan Aturan Tampilan Setelah publikasi awal dari penelitian universalitas. Ironisnya. hal ini sangat bergantung pada kondisi sosial yang ada. di mana aturan tampilan ini bisa bertindak menetralisir. sebab mereka adalah orang-orang yang sama ketika di awal menunjukkan ekspresi emosi yang sama. Mekanisme ini menjelaskan bagaimana dan mengapa orang-orang bisa memiliki ekspresi emosi yang berbeda-beda meskipun sesungguhnya kita semua memiliki dasar ekspresi yang sama. Orang Amerika tetap mau menonton film dan menunjukkan ekspresi takut.

Ketika budaya sudah terbentuk. 1995). Psikologi budaya mencoba mempelajari bagaimana faktor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia. Di dalam kajiannya. selaras dengan toleransi pada spektrum prilaku emosi yang lebih luas. Semua tata nilai. Salah satu bagian dari sosialisasi emosional adalah melibatkan pembelajaran tentang siapa saja anggota dari ingroup dan outgroup serta tentang prilaku apa saja yang dianggap layak untuk bisa diterapkan. penelitian yang dilakukan beberapa dekade yang lampau mencoba untuk mengembangkan suatu kerangka teoritis tentang bagaimana dan mengapa budayabudaya menghasilkan perbedaan ini. keakraban dan kedekatan dalam hubungan self-ingroup di semua budaya memberikan keamanan dan kenyamanan untuk mengekspresikan emosi secara bebas.Beberapa penelitian selanjutnya juga menunjukkan hasil yang menarik mengenai keberadaan perbedaan kultural pada stereotip ekspresi emosi. Pada ranah individual adalah budaya diawali ketika individu-individu bertemu untuk membangun kehidupan bersama dimana individu-individu tersebut memiliki keunikan masing-masing dan saling memberi pengaruh. Secara umum. Iwawaki dan Kroonenberg. membawa perubahan. nilai-nilai kebiasaan-kebiasaan hingga kadang sampai pada kepercayaan-kepercayaan transedental yang semuanya berpengaruh sekaligus menjadi kerangka perilaku dari individu-individu yang masuk dalam kehidupan bersama. terdapat pula paparan mengenai kepribadian individu yang dipandang sebagai hasil bentukan sistem sosial yang di dalamnya tercakup budaya. Yang terakhir. dan bagaimana anggapan mereka tentang ekspresi orang dari negara lain dalam mengekspresikan emosi tersebut. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa orang Asutralia lebih ekspresif dibandingkan orang Jepang dalam mengekspresikan emosi positif. Misalnya. Matsumoto (1991). Gallois. menggunakan konsep ingroup dan outgroup untuk menyatakan bahwa perbedaan budaya dalam artian hubungan antara self-ingroup dan self-outgroup memiliki makna khusus bagi emosi yang diekspresikan dalam interaksi sosial. Adapun kajian lintas budaya merupakan pendekatan yang digunakan oleh . Pada salah satu penelitian (Pittam. sekaligus penyebar. setiap individu merupakan agen-agen budaya yang memberi keunikan. KEPRIBADIAN (SELF) DALAM PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA Pendahuluan Berbicara budaya adalah berbicara pada ranah sosial dan sekaligus ranah individual. Pada ranah sosial karena budaya lahir ketika manusia bertemu dengan manusia lainnya dan membangun kehidupan bersama yang lebih dari sekedar pertemuan-pertemuan insidental. Namun kedua kelompok menilai bahwa kelompok yang lain lebih ekspresif dibandingkan kelompok mereka dalam mengekspresikan emosi negatif. Dari sini terlihat bahwa budaya sangat mempengaruhi perilaku individu. Budaya telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. perilaku. para partisipan yang berasal dari Australia dan Jepang diminta untuk menilai bagaimana mereka mengekspresikan delapan emosi melalui 12 prilaku. dan kepercayaan yang dimiliki sekelompok individu itulah yang disebut budaya. Individu-individu membawa budayanya pada setiap tempat dan situasi kehidupannya sekaligus mengamati dan belajar budaya lain dari individu-individu lain yang berinteraksi dengannya. Dari kehidupan bersama tersebut diadakanlah aturan-aturan.

Menurut Roucek dan Warren. muncul berbagai perdebatan. Lewin memberikan penjelasan mengenai peranan penting hubungan pribadi dengan lingkungan. manusia memiliki pola-pola tertentu dalam bertingkah laku. Orang-orang yang memiliki kelompok budaya yang sama akan mengembangkan cara-cara tertentu dalam mengonstruk peristiwa-peristiwa. Sementara itu. tetapi juga eksistensi biologisnya. lingkungan masih tetap memiliki kontribusi dalam perkembangan individu. batasan tersebut merupakan prasyarat dari sebuah kemajuan. Kepribadian dalam Lintas Budaya Kepribadian merupakan konsep dasar psikologi yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Definisi lain menyatakan bahwa kepribadian adalah serangkaian karakteristik pemikiran. Pembahasan Sebagai makhluk yang dapat berpikir. budaya tidak hanya membatasi masyarakat. saat ini manusia sering kali menghadapi permasalahan yang disebabkan oleh budaya yang tidak mendukung. Meksipun terdapat konstruk psikologis individu yang sulit ditembus oleh lingkungan luar. manusia mungkin saja mengembangkan kebudayaan yang hampir sama antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. yaitu budaya sebagai konstuk sosial. Pada hakikatnya. pribadi tak dapat dipikirkan secara terpisah dari lingkungannya. Jika diamati. tetapi struktur instingtifnya sendiri. Sebagai contoh. Kepribadian mempengaruhi dan menjadi kerangka acuan dari pola pikir dan perilaku manusia. Ketika pengaruh budaya buruk mempengaruhi kepribadiaan seseorang maka dengan sendirinya berbagai masalah yang tidak di inginkan akan terjadi secara terus-menerus. Namun demikian. kepribadian adalah organisasi yang terdiri atas faktor-faktor biologis. ketika budaya berpakaian minim bagi kaum perempuan masuk ke Indonesia. dan mereka pun mengembangkan jenis-jenis harapan yang sama mengenai jenis-jenis perilaku tertentu. Individu senantiasa bersinggungan dengan dunianya (lingkungan). Terdapat suatu benang merah antara pendapat Lewin dan Kelly. serta bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih nesar. kognitif dan predisposisi yang relatif abadi. Dalam teori Medan yang digagas Lewin ini. tidak hanya bagian dari kemanusiaan. sebagai masyarakat dunia. Kelly mendefinisikan budaya sebagai bagian yang terlibat dalam proses harapan-harapan yang dipelajari/dialami. perasaan dan perilaku yang berbeda antara individu dan . Tingkah laku ini menjadi sebuah jembatan bagi manusia untuk memasuki kondisi yang lebih maju.ilmuan sosial dalam mengevaluasi budaya-budaya yang berbeda dalam dimensi tertentu dari kebudayaan. Dalam literature-literatur Amerika umumnya kepribadian dipertimbangkan sebagai perilaku. psikologis dan sosiologis sebagaimana digambarkan oleh bagan di bawah ini: Definisi kepribadian Hal pertama yang menjadi perhatian dalam studi lintas budaya dan kepribadian adalah perbedaan diantara keberagaman budaya dalam memberi definisi kepribadian.

Orang-orang Barat cenderung melihat diri mereka dalam kaca mata personal individual sehingga seberapa besar prestasi yang mereka raih ditentukan oleh seberapa keras mereka bekerja dan seberapa tinggi tingkat kapasitas mereka. tampak semakin pasif. Semakin bertambah tua seseorang.cenderung konsisten dalam setiap waktu dan kondisi. . Locus of control Hal paling menarik dari hubungan kepribadian dengan konteks lintas budaya adalah masalah locus of control. Budaya timur melihat bahwa kepribadian adalah kontekstual (contextualization). Dari hipotesa di atas dapat disimpulkan bahwa budaya memberi pengaruh pada perkembangan kepribadian seseorang. yaitu kekhususan (distinctiveness) dan stablilitas serta konsistensi (stability and consistency). Locus of control kepribadian umumnya dibedakan menjadi dua berdasarkan arahnya. perkembangan kepribadian seseorang dipengaruhi pula oleh semakin bertambahnya usia seseorang. Sebagai contoh adalah penelitian perbandingan antara masyarakat Barat (Eropa-Amerika) dan masyarakat Timur (Asia). behavioral approach Skinner. Kepribadian cenderung berubah. Definisi tersebut diyakini dalam tradisi panjang oleh para psikolog Amerika dan Eropa yang sudah barang tentu mempengaruhi kerja ataupun penelitian mereka. Perubahan-perubahan tersebut sangat dipengaruhi lingkungan dengan fungsi–fungsi bawaan sebagai dasarnya. Kepribadian bersifat lentur yang menyesuaikan dengan budaya dimana individu berada. orang Asia yang locus of control kepribadiannya cenderung eksternal melihat keberhasilan mereka dipengaruhi oleh dukungan orang lain ataupun lingkungan. Sebuah konsep yang dibangun oleh Rotter (1966) yang menyatakan bahwa setiap orang berbeda dalam bagaimana dan seberapa besar kontrol diri mereka terhadap perilaku dan hubungan mereka dengan orang lain serta lingkungan. Ada dua aspek dalam definisi ini. menyesuaikan dengan konteks dan situasi. Selain itu. Sebaliknya. Seseorang diumpamakan sebagai ban karet dimana faktorfaktor genetik menentukan sampai mana ban karet tersebut dapat ditarik (direntangkan) dan faktor lingkungan menentukan sampai seberapa panjang ban karet tersebut akan ditarik atau direntangkan. asumsi stabilitas kepribadian sangatlah sulit diterima. Budaya dan Perkembangan Kepribadian Kepribadian manusia selalu berubah sepanjang hidupnya dalam arah-arah karakter yang lebih jelas dan matang. Dalam budaya timur. Semua teori mulai dari psikoanalisa Freud. Individu dengan locus of control eksternal melihat diri mereka sangat ditentukan oleh bagaimana lingkungan dan orang lain melihat mereka. Perubahan-perubahan yang terjadi pada seorang anak yang tinggal bersama orangtua ketika beranjak dewasa tentunya sangat berbeda dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada anak yang tinggal di panti asuhan. Sedangkan locus of control internal melihat independency yang besar dalam kehidupan dimana hidupnya sangat ditentukan oleh dirinya sendiri. situasi dan interaksi. yaitu internal dan eksternal. hingga humanistic Maslow-Rogers meyakini bahwa kepribadian berlaku konsistan dan konsep-konsep mereka berlaku universal. Stern menyebutnya sebagai Rubber Band Hypothesis (Hipotesa Ban Karet). Semua definisi di atas menggambarkan bahwa kepribadian didasarkan pada stabilitas dan konsistensi di setiap konteks.

seseorang yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang yang humoris. sifat hingga prinsip. Suatu konsep yang memandang kepribadian sebagai bagian tak terpisahkan dari konsep hubungan sosial. (3) tindakan. Suatu deskripsi tentang siapa kita. perasaan dan pikiran orang tersebut di masa yang akan datang akan dikontrol oleh atributnya tersebut. sebagaimana Amae ini secara mendasar mempengaruhi budaya dan kepribadian orang Jepang. Para Psikolog Amerika memandang bahwa yang menjadi inti kepribadian adalah konsep Ego. Budaya dan Konsep Diri Definisi konsep diri Konsep diri adalah organisasi dari persepsi-persepsi diri. Organisasi dari bagaimana kita mengenal. dan secara perlahan dirujukkan sebagai sifat pasif. (2) semua tindakan. ketergantungan antar individu. Amae berakar pada kata „manis‟. bahwa orang tersebut selama ini dalam setiap perilakunya selalu tampak humoris. Deskripsi ini berimplikasi bahwa: (1) orang tersebut memiliki atribut sebagai seorang yang humoris dalam dirinya. Budaya dan Indigenous Personality Berbagai persoalan mendasar yang muncul dalam kajian kepribadian dalam tinjauan lintas budaya dia atas menggambarkan sebuah kenyataan bahwa antar budaya yang berbeda sangat mungkin secara mendasar memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa tepatnya kepribadian itu. Doi mengemukakan adanya Amae yang dikatakan sebagai inti konsep dari kepribadian orang-orang Jepang.motivasi berprestasi dan kebutuhan otonomi semakin turun. Temuan mengenai Amae di atas menunjukkan adanya perbedaan konsep kepribadian antara orang Jepang dan orang Amerika. Tujuan terpenting dari Ego adalah mempertahankan kehidupan individu. serta memiliki kuasa mengontrol proses-proses kognitif berupa persepsi. . Selanjutnya label akan sesuatu dalam diri tersebut digunakan sekaligus untuk mendeskripsikan karakter dirinya. Suatu kenyataan yang merangsang perlunya kajian-kajian yang bersifat lokal atau indigenous personality yang mampu memberi penjelasan mengenai kepribadian individu dari suatu budaya secara mendalam. Ego disebut ekslusif kepribadian karena Ego mengontrol pintu-pintu kearah tindakan. Konsep yang memandang kepribadian sebagai suatu yang bersifat otonom. memilih segi-segi lingkungan kemana ia dan bagaimana caranya. Menurut Doi. mulai dari identitas fisik. Sebagai contoh. Berpikir mengenai bagaimana mempersepsi diri adalah bagaimana seseorang memberi gambaran mengenai sesuatu pada dirinya. yang boleh jadi merupakan kemampuan ataupun ketertarikan terhadap segala hal yang berbau humor. pikiran dan perasaan orang tersebut mempunyai hubungan yang dekat dengan atribut tersebut. Konseptualisasi mengenai kepribadian yang dikembangkan dalam sebuah budaya tertentu dan relevan hanya pada budaya tersebut. Dipaparkan pula bahwa Amae berakar pada hubungan antara bayi dengan ibunya. bahwa orang tersebut dalam perilakunya di esok hari akan selalu menyesuaikan dengan atributnya tersebut. dan locus of control dirinya semakin mengarah ke luar (eksternal). Sebagai contoh kajian indigenous personality adalah penelitian yang dilakukan Doi (1973). memori dan berpikir. menerima dan mengenal diri kita sendiri. relationship seluruh orang Jepang dipengaruhi dan berkarakteristik Amae.

dan bertempat pad konteks. Budaya dengan diri individual mendesain dan mengadakan seleksi sepanjang sejarahnya untuk mendorong kemandirian sertiap anggotanya. Individu focus pada status keterikatan mereka (interdependent). diri (self) lebih focus pada atribut eksternal termask kebutuhan dan harapan-harapannya. Dapat dilihat bahwa diri (self) tidak terbatas. Informasi relevan akan diri yang paling penting adalah atribut-atribut yang diyakini stabil. kemampuan individual. Keberhasilan individu adalah berkat kerja keras dari individu tersebut. nilai akan kesuksesan dan perasaan akan harga diri megambil bentuk khas individualisme. kemampuan. termasuk dalam kerangka tujuan keberhasilan yang cenderung lebih mengarah pada tujuan diri individu. Individu diminta untuk menyesuaikan diri dengan orang lain atau kelompok dimana mereka bergabung. Diri individual adalah terbatas dan terpisah dari ornag lain.Asumsi-asumsi akan pentingnya konsep diri berakar dari pemilikiran individualistik barat. Dalam konstruk diri kolektif ini. sifat kepribadian dan pilihan-pilihan individual. Konsep diri adalah inti dari keberadaan (existence) dan secara naluriah tanpa disadari mempengaruhi setiap pikiran. perasaan dan perilaku individu tersebut. dan prinsip-prinsip. Karenanya. Diri individual Diri individual adalah diri yang fokus pada atribut internal yang sifatnya personal. Pengaruhnya terhadap persepsi diri . nilai keberhasilan dan harga diri adalah apabila individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan komunitas dan menjadi bagian penting dalam hubungan dengan komunitas. Tugas normative sepanjang sejarah budaya adalah mendorong saling ketergantungansatu sama lain. Dalam budaya diri kolektif ini. informasi mengenai diri yang terpenring adalah aspek-aspek diri dalam hubungan. Aspek terpenting dalam pengalaman kesadaran adalah saling terhubung antar personal. personal dan instrinsikdalam diri. Dalam masyarakat barat. Tugas utama normative pada budaya ini adalah bagaimana individu memenuhi dan memelihara keterikatannya dengan individu lain. Dalam kerangka budaya ini. diri dilihat sebagai sejumlah atribut internal yang meliputi kebutuhan. Mereka didorong untuk membangun konsep akan diri yang terpisah dari orang lain. fleksibel. Diri kolektif Budaya yang menekankan nilai diri kolektif sagat khas dengan cirri perasaan akan keterkaitan antar manusia satu sama lain. motif. serta saling overlapping antara diri dengan individu-individu lain khususnya yang dekat atau relevan. dan penghargaan serta tanggung jawab sosialnya. Diri adalah terpisah dari orang lain dan lingkungan. bahkan antar dirinya sebagai mikro kosmos dengan lingkungan di luar dirinya sebagai makro kosmos. inteligensi. konstan.

mereka berkeyakinan dan mengambil kesimpulan bahwa perilaku orang lain tersebut didasi dan didorong oleh aspekaspek dalam atribut internalnya. dan berkuasa. sebaliknya individu dengan konstruk diri intersependent lebih cenderung melihat diri mereka dalam konteks situasional dalam hubungannya dengan orang lain. manusia memiliki hierarki kebutuhan dari kebutuhan paling dasar yaitu fisiologis hingga kebutuhan paling tinggi yaitu aktualisasi diri. ketika mereka melakukan pengamatan dan interpretasi terhadap perilaku orang lain. yaitu berprestasi. motivasi diasosiasikan sebagai sesuatu yang personal dan internal. konsep diri bersifat individual. manusia juga dimotivasi oleh dorongan sekunder yang penuh tenaga yang tidak berbasis kebutuhan. akan menganggap orang lain juga memiliki hal yang sama. terutama orang-orang terdekat.Studi yang dilakukan oleh Bond danTak-Sing (1983). penemuan ini menyatakan bahwa individu dengan konstruk diri yang dependent cenderung menekankan pada atribut personal: kemampuan ataupun sifat kepribadian. Teori motivasi yangn terkenal diantaranya disampaikan oleh Maslow dan Mc-Clelland. motivasi manusia merupakan konsep yang paling banyak menarik perhatian dan diteliti dalam kajian psikologi. Dalam komunitas tradisi timur. Kesuksesan selalu dipandang terkait dengan kebanggaan dan kebahagiaan orang lain. Pengaruhnya pada social explanation Konsep diri juga menjadi semacam pola panduan bagi kognitif dalam melakukan interpretasi terhadap perilaku orang lain. sekaligus paling controversial karena banyaknya definisi dan pemikiran yang dikembangkan. yaitu respon abstrak atau deskripsi sifat kepribadian seperti saya seorang yang mudah bergaul. Sementara menurut Mc-clelland. kesuksesan adalah untuk mencapai tujuan sosial yang lebih luas. Diantara orang-orang yang datang dari budaya . dan respon situasional seperti saya biasanya mudah bergaul dengan teman-teman dekat saya. yang memiliki keyakinan bahwa setiap orang memiliki serangkaian atribut internal yang relatif stabil. Respon yang diberikan subyek bila dianalisa dapat dibagi ked lam dua jenis. Dalam tradisi barat. dan Shwender dan Bourne (1984) menunjukkan bagaimana perbedaan konstruk diri mempengaruhi persepsi diri. dan kurang terkait dengan konteks sosial ataupun interpersonal. berafiliasi atau menjalin hubungan. Pengaruhnya pada peningkatan diri (self enhancement) Memelihara atau meningkatkan harga diri diasumsikan akan memiliki bentuk yang berbeda pada budaya yang cenderung interdependent. Individu dengan diri individual. Dalam teori motivasi Maslow. Pengaruhnya pada motivasi berprestasi Motivasi adalah faktor yang membangkitkan dan menyediakan tenaga bagi perilaku manusia dan organisme lainnya. Studi ini membandingkan kelompok Amerika dan kelompok Asia. konsep diri condong dilihat sebagai bagian kolektifitas. subyek diminta menuliskan beberapa karakteristik yang menggambarkan diri mereka sendiri. Hasilnya. Hasil studi menunjukkan bahwa subyek Amerika cenderung memberikan respon abstrak sedangkan subyek Asia cenderung memberikan respon situasional. saya orang yang ulet.

perbedaan pemikiran itu hendaknya tidak melulu menjadi suatu perdebatan di antara masyarakat. yaitu agar manusia saling mengenal sesamanya. dan saling membantu. harga diri ataupun kepuasan diri terlihat lebih terkait dengan keberhasilan memainkan perannya dalam kelompok. penarikan diri. Namun demikian. Bagi orang-orang dri interdependent culture. Perbedaan itu hendaknya menjadi kekayaan bersama dalam khasanah kebudayaan masyarakat dunia yang memang heterogen. Kesadaran manusia juga mengandung berbagai perasaan yang di pengaruhi oleh organismenya khususnya gen sebagai naluri yang disebut “dorongan”. pada hakikatnya insting mati memang telah ada dalam diri manusia. Pengaruhnya pada emosi Emosi dapat diklasifikasikan atas arah hubungan sosial dari emosi. Oleh karena itu. 3. melihat dirir sebagai unik atau berbeda malah akan menjadikan ketidakseimbangan psikologis diri. menjaga ikatan. Sebagaimana dikemukakan oleh Freud. penggunaan sudut pandang yang tepat dalam mengkaji suatu masalah budaya adalah langkah yang tepat untuk dapat mengendalikan insting manusia. 2. Mereka akan merasa terlempar dari kelompoknya dan kesepian sebagai manusia. Penutup Menutup uraian makalah ini. ataupun penolakan hubungan sosial sekaligus secara simultan meningkatkan rasa penerimaan diri untuk mandiri dan lepas dari ketergantungan pada orang lain yang selanjutnya disebut socially disengaged emotions dan emosi yang akan mengarahkan pada keterhubungan dengan orang lain dan lingkungan luarnya atau dikenal sebagai socially engaged emotions. Perasaan atau keinginan yang berdebar-debar tersebut disebut “emosi”. tentu akan dapat melahirkan perbedaan pemikiran. ijinkanlah penulis kembali mengingatkan hakikat dari perbedaan yang ada di muka bumi. Adanya latar belakang budaya yang berbeda. Dorongan untuk mempertahankan hidup Dorongan seks Dorongan mencari makan . Suatu perasaan yang bersifat subjektif karena adanya unsur penilaian tadi biasanya menimbulkan “kehendak” dalam kesadaran seseorang. yaitu apakah emosi tersebut akan mengarahkan pada pemisahan diri dengan lingkungan. Sedikitnya ada 7 dorongan naluri yaitu: 1. memelihara harmoni. C.interdependent. penaksiran atribut internal diri mungkin tidak terkait dengan harga diri (self esteem) ataupun kepuasan diri (self satisfiaction). penulis berkeyakinan bahwa insting dalam diri manusia selalu dapat dikendalikan. Ketepatan kita dalam memandang suatu permasalahan melalui perspektif tertentu akan dapat mengeliminasi permusuhan antar golongan. Hanya saja. Perasaan” adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengetahuannya dinilai sebagai keadaan yang positif atau negatif. Sebaliknya.

6. 7. 5. Dorongan untuk bergail / berinteraksi dengan sesama Dorongan untuk menirukan tingkah laku sesamanya Dorongan untuk berbakti Dorongan untuk keindahan .4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful