Makalah Gerontik Kulit Membran Mukosa KEL 2

PERAWATAN FISIK LANJUT USIA Bertambahnya usia dan terjadinya proses menua, kulit pun mengalami perubahan secara

bertahap. Kadar air menjadi sedikit, kolagen menjadi kurang larut, kaku dan kurang lentur dan jumlahnya menurun. Dermal protein berubah jadi amorf, sehingga kulit jadi tipis, kering dan keriput. Produksi kelenjar sebasea menurun, lemak kulit berkurang, kulit lebih mudah mengalami dehidrasi, begitu pula aktivitas pengeluaran keringat berkurang. Pengaruh hormon yang berkurang, mengakibatkan atrofi kulit dan apendiknya, juga terjadi pengurangan jumlah melanosit yang aktif dan berkurangnya kemampuan thanning. Vaskularisasi yang berkurang dan lapisan lemak yang menipis menyebabkan pengaturan suhu terganggu, kulit mudah mengalami luka, sering terasa gatal, trauma yang ringan dapat menimbulkan kelainan kulit dan lain-lain. Secara struktural, kulit adalah suatu organ kompleks yang terdiri dari epidermis, dermis, dan subkutis. Hal yang dikaitkan dengan penuaan adalah perubahan yang terlihat pada kulit, seperti atropi, keriput dan kulit yang kendur. Perubahan yang terlihat ini sangat bervariasi, tetapi pada prinsipnya terjadi karena hubungan antara penuaan intrinsik (alami) dan penuaan ekstrinsik (lingkungan). MASALAH-MASALAH KULIT DAN MUKOSA PADA LANSIA a. Masalah umum pada lansia Menurut Arisman (2004) dan Nugroho (2000) perubahan fisiologis akibat penuaan, meliputi :  Perubahan Fisiologis Pada Lansia

Sistem tubuh: Integumen. Temuan normal :Kulit kehilangan kelenturan dan kelembapannya pada masa lansia. Lapisan epitel menipis dan serat kolagen elastis menyusut dan menjadi kaku. Menurut Setiabudhi (1999) permasalahan khusus pada lansia

terbagi 2 aspek yaitu: 1) Permasalahan dari Aspek Fisiologis Terjadinya faktor perubahan sosial, normal ekonomis pada dan fisik lansia yang dipengaruhi oleh
1

kejiwaan

medik. perubahan tersebut akan terlihat

dalam jaringan dan organ tubuh seperti kulit menjadi kering dan berkeriput, rambut beruban dan rontok, penglihatan menurun sebagian atau menyeluruh, pendengaran

KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa

berkurang, indra perasa menurun, daya

penciuman berkurang, tinggi badan

menyusut karena proses osteoporosis yang berakibat badan menjadi bungkuk, tulang keropos, massanya dan kekuatannya berkurang dan mudah patah, elastisitas jaringan paru - paru berkurang, nafas menjadi pendek, terjadi pengurangan fungsi organ di dalam perut, dinding pembuluh darah menebal dan terjadi tekanan darah tinggi, otot jantung bekerja reproduksi, terutama lambat terutama pada pada tidak efisien, adanya penurunan dan fungsi organ menjadi

wanita, otak menyusut pria,

reaksi

serta seksualitas tidak terlalu menurun.

2) Permasalahan dari Aspek Psikologis Menurut Hadi Martono (1997) dalam Budi Darmojo (1999) beberapa masalah psikologis lansia antara lain: a) Kesepian meninggalnya penurunan (loneliness), yang dialami lansia pada saat

pasangan hidup, terutama bila dirinya saat itu mengalami status kesehatan atau seperti menderita penyakit fisik terutama hidup karena

berat, gangguan mobilitas gangguan

gangguan sensorik dengan

pendengaran harus dibedakan antara kesepian

sendiri. Banyak lansia hidup sendiri tidak mengalami kesepian aktivitas

sosialnya tinggi, lansia yang hidup di lingkungan yang beranggota

keluarga yang cukup banyak tetapi mengalami kesepian. b) Duka cita (beravement), dimana pada periode duka cita ini merupakan periode yang sangat rawan bagi lansia. Meninggalnya pasangan hidup, teman dekat, atau bahkan hewan kesayangan bisa meruntuhkan ketahanan kejiwaan yang sudah rapuh dari seorang lansia, yang selanjutnya memicu terjadinya gangguan fisik dan kesehatannya. Adanya perasaan kosong kemudian diikuti dengan ingin menangis dan kemudian suatu episode biasanya bersifat self limiting. c) Depresi, pada lansia stress lingkungan kemampuan beradaptasi sudah menurun. d) Gangguan cemas, terbagi dalam beberapa golongan yaitu fobio, gangguan panik, gangguan cemas umum, gangguan stress setelah trauma dan gangguan obsetif-kompulsif. Pada lansia gangguan cemas merupakan kelanjutan dari dewasa muda dan biasanya berhubungan dengan sekunder akibat
2

depresi. Depresi akibat duka cita

sering

menimbulkan depresi dan

KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa

Parafrenia biasanya terjadi pada lansia yang terisolasi atau di isolasi atau menarik diri dari kegiatran sosial. Lansia sering memupuk barang-barangnya dengan tidak teratur (Jawa: “Nyusuh”). efek samping obat atau gejala penghentian dimana terbagi dalam bentuk psikosis bisa terdapat pada lansia. merupakan suatu bentuk skizofrenia lanjut yang sering terdapat pada lansia yang ditandai dengan waham (curiga) yang sering lansia berniat merasa tetangganya mencuri barang-barangnya atau tetangga membunuhnya. merupakan suatu keadaan dimana lansia menunjukkan penampilan perilaku yang sangat menganggu. Perubahan normal sistem integumen akibat penuaan Perubahan normal terkait usia Implikasi klinis Waktu perbaikan sel epidermal lebih Kulit mudah rusak dan lecet lambat Penurunan area kontak antara epidermis Penyembuhan luka lebih lambat dan dermis Penipisan lapisan dermal Penurunan vaskularitas Penutupan dan penyembuhan luka buruk Termoregulasi berkurang. penurunan absorpsi agens topikal Penurunan jumlah korpus messner dan Penurunan sensasi sentuhan dan tekanan korpus pacini Penurunan jumlah dan dengan peningkatan risiko terhadap cedera kamampuan Penurunan termoregulasi 3 fungsional kelenjar keringat KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . Rumah atau kamar yang kotor serta berbau karena sering lansia ini bermain-main dengan urine dan fesesnya. e) Psikosis pada lansia. depresi. b.penyakit medis. mendadak suatu obat. baik sebagai kelanjutan keadaan dari dewasa muda atau yang timbul pada lansia. Kondisi ini walaupun kamar telah dibersihkan lansia dimandikan bersih namun dapat berulang kembali. Masalah sistem integumen pada lansia Tabel 1. f) Parafrenia. g) Sindroma Diagnosa.

fibroblas.Tabel 2. sel batang Perubahan subkutis pada Reserpsi lemak tubuh Peningkatan risiko hipertermia risiko cedera Redistribusi kembali lemak Peningkatan tubuh dari ekstremitas ke perubahan citra tubuh abdomen Perubahan bagian kulit pada Hilangnya melanosit Rambut beruban Penipisan rambut pada kepala tambahan Hilangnya folikel rambut Perubahan jenis dan distribusi Pria: rambut wajah berkurang rambut tetapi rambut di dalam telinga dan hidung meningkat Wanita: rmbut wajah pada bibir atas dan dagu meningkat Pertumbuhan kuku berkurang Kuku lunak. rapuh. seperti keratosis seboroik dan lesi kulit papilomatosa (akrokordon) Perubahan dermis Kolagen kurang terorganisir Vaskularitas berkurang pada Penurunan elastisitas Meningkatnya kekuatan. kurang mlentur di bawah tekanan Kelemahan. dari sinar penyembuhan luka mengalami kerusakan Kerusakan nukleus keratinosit Kecenderungan ke arah pertumbuhan abnormal. Respons imun yang lemah makrofag. hilangnya termoregulasi Penurunan uunsur-unsur sel . Perubahan normal lapisan kulit Perubahan epidermis pada Perubahan Waktu meningkat Penurunan melanosit pengaantian Konsekuensi klinis sel Waktu lambat Perlindungan ultraviolet kurang Penuruna sel langerhans Respons terhadap pemeriksaan kulit berkurang Pendataran rete ridges Kulit mudah terpisah. dan kurang 4 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . hilangnya turgor Pucat.

Keseluruhan jumlah kolagen yang matang menurun dan pembuluh darah kecil mulai mengalami dilatasi. baik faktor 5 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . Setiap jaringan dapat mengalami ulserasi jika terpajan tekanan dari luar yang lebih besar dibandingkan tekanan penutupan kapiler untuk jangka waktu lama.ketika peradangan kronis berlanjut dan perubahan dini memberi jalan ke arah perubahan yang lebih lanjut. epitelioma sel basal. keratoakantoma. menjadi lebih tebal. dan karsinoma sel skuamosa. dan tangan paling banyak menunjukkan perubahan ini. Lesi yang khas dari pajanan sinar matahari termasuk keratosis seboroik dan aknitik. perubahan sensasi untuk perlindungan terhadap tekanan. adalah suatu kondisi pada kulit akibat dari sinar UV yang merusak. lengan. lansia berisiko tinggi untuk mengalami kerusakan kulit akibat terpajan sinar matahari yang berlebihan. defisit perawatan diri. Perubahan dini adalah hasil peradangan kronis.berkilau Penurunan korpus meissner Penurunan korpus pacini Penurunan kelenjar keringat Penurunan sensasi raba Penurunan sensasi tekan Kulit kering. dukungan di rumah tidak adekuat. Kerusakan kulit yang berhubungan dengan tekanan Lansia berisiko tinggi mengalami dekubitus karena adanya perubahan nutrisi. inkontinensia. serta menyebabkan kulit menjadi kendur dan keriput. Oleh karena itu. Serabut elastis secara berangsur-angsur mengalami degradasi. Perubahan tahap akhir lebih lanjut akibat penuaan dini karena sinar matahari termasuk penurunan respons perlindungan kulit terhadap sinar matahari karena distribusi melanin berkurang dan mejadi tidak beraturan. menghasilkan telangiektasi yang terlihat jelas. dan perubahan tingkat kesadaran. dan tidak teratur. Wajah. solar lentigines. kelenjar sebasea membesar dan ukuran pori-pori membesar. atau dermatoheliosis. Derajat ulserasi bergantung pada beberapa faktor. kulit tidak mengalami perubahan inflamasi dan adanya fibroblas yang diam. defisit mobilitas. penurunan termoregulasi Penurunan kelenjar apokrin Penurunan bau badan Kerusakan kulit yang berhubungan dengan penuaan dini karena sinar matahari (photoaging) Penuaan dini karena sinar matahari. yang dikenal sebagai elastosis. adanya penyakit kronis. leher.

Jika diberikan tekanan pada titik ini. Lansia lebih rentan terhadap ulserasi pada kulit dan struktur yang lebih dalam yang diakibatkan oleh penekanan karena penurunan massa otot dan lemak pada tubuhnya. jika masalah tidak diketahui pada titik ini. Periode hiperemia akan bertahan kira-kira separuh dari lamanya periode hipoksia yang telah terjadi. dan jaringan akan mulai mengalami ulserasi. jaringan tersebut mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi yang penting bagi metabolisme sel dan kemudian sel mengalami hipoksia dan membengkak. dan ketajaman sensoris. subkutis menjadi lebih terlibat Lesi derajat 4: tulang dan otot dasar mulai terlibat Perubahan proliferasi dan perbaikan sel Ketika waktu penggantian epidermal meningkat dan sel digantikan lebih lambat. Perubahan dalam toleransi jaringan untuk distorsi dari tekanan dan peregangan terjadi seiring peningkatan usia sebagai hasil dari penurunan cadangan nutrisi. tekanan tidak akan dapat dihilangkan dan edema sel akan berkembang menjadi trombosis pembuluh darah kecil. Namun. Penutupan luka yang lambat dapat mendorong ke arah peningkatan risiko terjadinya infeksi sekunder karena adanya kerusakan integritas kulit. Lesi derajat 1: daerah berwarna merah Lesi derajat 2: epidermis telah mengelupas. sirkulasi. Infeksi sekunder sering kali merupakan hasil dari pertumbuhan stafilokokus atau streptokokus dari luka yang tercemar dengan flora normal kulit. Pada saat tekanan terus berlanjut tanpa interupsi. menampakkan dermis yang memiliki vaskulaarisasi sangat tinggi Lesi derajat 3: jaringan mengalami nekrosis. penurunan suplai oksigen yang lebih lanjut. yanng dikenal secara klinis dengan hiperemis regional. jaringan akan dipenuhi darah karena pembuluh darah kapiler membesar dan daerah tersebut akan berwarna kemerahan. Dalam keadaan ini. 6 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa .intrinsik maupun ekstrinsik. area yang berada di bawah tekanan dapat dengan sepenuhnya kembali ke kondisi semula pada saat faktor risiko telah kenali dan dihilangkan dan tindakan pencegahan dimulai. penyembuhan luka menjadi lebih panjang dan kemungkinan untuk menderita trauma perkutan meningkat. juga penurunan sensitivitas mereka terhadap tekanan dan nyeri.

Pertumbuhan rambut berhenti. Kecenderungan lansia untuk menderita kanker kulit juga merupakan akibat suatu gangguan sistem imun. dan mungkin sulit untuk diobati. Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun. Respons terhadap pengiritasi mungkin tertunda. A. Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik. Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik. PERAWATAN KULIT DAN MEMBRANE MUKOSA 1. sehingga lebih sulit mengisolasi agens yang menyerang tersebut.Penurunan proliferasi sel dan waktu perputaran yang lebih panjang menghasilkan suatu efek yang diperpanjang pada pengiritasi kulit lokal seperti deterjen cair dan agens topikal. Karena penyebaran infeksi jamur kulit yang cepat. Peningkatan kerentanan terhadap virus perkutan dan infeksi jamur adalah konsekuensi lain dari penurunan kompetensi imun lansia. Fenske dan lober melaporkan bahwa lokasi uji tempel kulit harus dipantau 3 minggu setelah penempelan suatu iritan yang dicurigai. diagnosis dan perawatannya harus cepat untuk menghindari konsekuensi sistemik.         Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak. Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang memproduksi pigmen. seperti penurunan fungsi dan jumlah sel T dan B. sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi. 7 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . Infeksi jamur dapat menyebar dengan cepat. Masalah umum kulit pada lanjut usia Perubahan sistem kulit & jaringan ikat. sering disebabkan oleh inkontinensia. rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu. Lansia menunjukkan suatu penurunan atau tidak adanya respons inflamasi. Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh. Perubahan kekuatan imun Perubahan kompetensi imun mencerminkan perubahan dalam imunitas sel.

 Penurunan kekuatan imun Perubahan kompetensi imun mencerminkan perubahan dalam imunitas sel. dukungan di rumah tidak adekuat. Perubahan dini adalah hasil peradangan kronis yang disebut elastosis. Pencegahan primer a. B. untuk perlindungan terhadap tekanan. PERAWATAN KULIT PADA LANJUT USIA 1. defisit mobilitas. Kecenderungan lansia untuk menderita kanker kulit juga merupakan akibat suatu gangguan fungsi imun.   Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun. perubahan sensasi. inkontinensia. Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot. adanya penyakit kronis. Perubahan tahap akhir penurunan respon perlindungan kulit terhadap sinar matahari karena distribusi melanin berkurang dan menjadi tidak beraturan. Peningkatan kerentanan terhadap virus perkutan dan infeksi jamur adalah konsekuensi lain dari penurunan fungsi imun lansia. lansia merasakan gatal (pruritus) yang lebih terlokalsasi atau pada seluruh tubuh.  Kerusakan kulit yang berhubungan dengan tekanan Lansia beresiko tinggi mengalami dekubitus karena adanya perubahan nutrisi. Oleh karena itu. dan perubahan tngkat kesadaran. lansia beresiko tinggi untuk mengalami kerusakan kulit akibat terpajan sinar matahari yang berlebihan. Kerusakan kulit yang berhubungan dengan penuaan dini karena sinar matahari Penuaan dini karena sinar matahari / dermatoheiosis adalah suatu kondisi pada kulit akibat dari sinar UV yang merusak. Lansia harus didorong untuk memelihara kuku tetap 8 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . ulserasi tersebut akan lambat untuk sembuh dan menunjukkan adanya bahaya infeksi. Seiring dengan peningkatan kekeringan. Bahaya interpersonal Salah satu resiko yang cepat terjadi pada kult walaupun tidak selalu terlihat jelas adalah kekeringan. seperti penurunaan fungsi dan jumlah sel T dan B. defisit perewatan diri. Pruritus dapat menjadi masalah dan mendorong ke arah ulserasi kulit akibat garukan.

Bahaya lingkungan Kelembaban yang rendah merupakan faktor predisposisi bagi lansia untuk mengalami pruritus yang disebabkan oleh kulit yang kering. dan menggunakan lotion dalam mencegah kehilagan cairan. dan turgor kulit diinspeksi. mengurangi frekuensi mandi. kulit harus dibersihkan pada saat kotor atau pada interval yang rutin. karena lansia harus mempelajari kembali letak letak barang yang ada di sekitarnya. Efek dari kelembaban udara yang rendah juga dapat ditangani dengan memprtahankan asupan cairan yang memadai. b. Rumah klien dapat dilembabkan dengan memasang alat pelembab udara atau sejenisnya. Klien harus didukung seaktif mungkin denga memasukkan periode istirahat untuk menghindari kelelahan berlebihan. dan tidak dianjurkan untuk melakukan perubahan tata letak. Bahaya lain yang seringkali tdak erdeteksi adalah perubahan lingkungan.  Kaji temperatur kulit  Tekstur kulit dikaji dengan palpasi  Asuhan keperawatan Asuhan keperawatan ditujukan ke arah pemeliharaan dan perbaikan integritas kulit yang normal. dan ulkus  Warna. serta perhatikan warna dan bau.  Dokumentasi 9 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . yang dapat memberi resiko trauma pada lansia.  Jika terdapat luka. kelembaban. masalah apapun yang berhubungan dengan penyembuhan dan setiap keluhan pada kulit seperti luka. riwayat alergi kulit. Pencegahan sekunder  Pengkajian  Informasi penting dari riwayat kesehatan termasuk riwayat trauma. ruam. Agen topikal yang bertindak sebagai barier untuk kelembaban atau yang mengandung silikom dan mukopolisakarida untuk mengurangui gesekan. ukur luas dan kedalaman. Oleh karena itu lansia perlu diarahkan/ diajarkan mengenai barang barang yang ada di sekitarnya. 2.bersih. seperti tata letak barang.

Maya Devita Lokanata Sp. Dr. hidung. rektum dan vagina. pada golongan usia ini tidak dianjurkan menggunakan sabun.  Pelembab : Pemakaian pelembab yang mengandung lemak sangat dianjurkan baik pada pagi hari maupun pada malam hari. memakai pelembab. kulit lansia pun memerlukan perawatan kosmetika. mengurangi keriput dan kelainan-kelainan kulit lainnya. Pencegahan tersier Perawatan perlu diarahkan pada penatalaksanaan gejala daripada pengobatan atau penyembuhan. 10 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . Perawatan kuratif secara medis lebih banyak diperlukan untuk mengatasi rasa gatal. PERAWATAN MEMBRAN MUKOSA PADA LANSIA Membran mukosa (selaput lendir) adalah jaringan lunak basah yang melapisi bukaan tubuh. sabun dan detergen lainnya. Dokumentasikan semua proses keperawatan yang dilakukan 3.. dan menghindari faktor-faktor yang menambah kekeringan kulit seperti pakai bahan pembersih yang mengandung alkohol. dapat digunakan krem yang mengandung asam vitamin A. KK. gangguan sirkulasi yang menurun. Hal ini pun sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Prof. C.  Untuk mengatasi keadaan kulit yang kering. Perawatan Kosmetika Yang Dapat Dianjurkan Selain penatalaksanaan yang telah disebutkan diatas. Bahan ini berfungsi memperbaiki aliran darah dan menghilangkan lapisan tanduk dan kulit ari yang terlalu tebal sehingga kulit menjadi halus dan lembut. kasar dan bersisik. Adapun perawatan kosmetikauntuk kulit usia lanjut yakni:  Pembersih : Untuk membersihkan wajah.Bila terdapat luka. 41. 1986.dokumentasikan karakteristik luka. mulai dari penatalaksanaan primer hingga tersier. Mengatasi kekeringan kulit pada usia lanjut sama seperti perawatan kulit kering pada umumnya yaitu dengan menggunakan emolien. melainkan menggunakan krem pembersih dan penyegar yang tidak mengandung alkohol. Berdasarkan sumber dari Cermin Dunia Kedokteran No.menyatakan bahwa perawatan kulit dengan kosmetika pada usia lanjut ditujukan terutama untuk mengatasi kekeringan. khususnya mulut. DR.

dan bulunya harus cukup kecil untuk menjangkau semua bagian mulut.  Diet Untuk mencegah kerusakan gigi klien harus mengubah kebiasaan makan. sering bernapas melalui mulut. klien harus menggosok gigi dalam waktu 30 menit untuk mengurangi aksi plak. Perawatan yang tepat mencegah penyakit mulut dan kerusakan gigi. Perawatan mulut harus diberikan teratur dan setiap hari. atau minum.  Hygiene Mulut Khusus Beberapa klien memerlukan metode hygiene mulut yang khusus karena tingkat ketergantungan mereka pada perawat atu ada kelainan mukosa mulut. Flossing melibatkan insersi floss gigi. mengurangi asupan karbohidrat. 11 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . Perawatan Mukosa Oral pada Lansia  Hygiene Mulut Hygiene mulut yang baik termasuk kebersihan.  Flossing Flossing gigi adalah penting untuk mengangkat plak dan tartar dengan efektif diantara gigi. Klien di rumah sakit atau fasilitas jangka panjang seringkali tidak menerima perawatan agresif yang mereka butuhkan. kenyamanan dan kelembaban struktur mulut. Klien yang tidak sadar. Sikat gigi harus diganti setiap tiga bulan. terutama kedupan manis diantara makanan.1. Lebih rentan terkena kekeringan sekresi air liur pada mukosa yang tebal karena mereka tidak mampu untuk makan.  Penggunaan Fluorida Pada kebanyakan komunitas persediaan air terdiri dari fluoride. Rosier dan Beck (1991) melaporkan ringkasan studi epidemiologi yang menunjukkan bahwa pemberian fluor pada air minum telah memainkan peranan yang dominan dalam menurunkan karies gigi. Sikat gigi harus mempunyai pegangan yang lurus. dan seringkali memperoleh terapi oksigen.  Gosok gigi Gosok gigi dengan teliti sedikitnya empat kali sehari (setelah makan dan waktu tidur) adalah dasar program hygiene mulut yang efektif. Makanan manis atau yang mengandung tepung akan menempel pada permukaan gigi. satu per satu. Setelah memakan yang manis.

Mengkaji adanya refleks Rasional muntah. sarung tangan sekali pakai penginfeksi yang tinggi. 2. Rongga mulut berisi mikroorganisme atau swab menstimulasi dan membersihkan gigi dan mukosa. Mencuci tangan dan menggunakan sarung Mengurangi tangan sekali pakai. Meletakkan handuk kertas di atas meja Mencegah atas meja menjadi kotor. spatel lidah berbantalan d. jeli larut air i. larutan anti infeksi Menghilangkan enkrustrasi dan bertindak sebagai anti infeksi. dibungkus kasa tunggal.Prosedur perawatan mulut untuk klien yang tidak sadar Langkah 1. transmisi perpindahan 5. 4. sikat gigi spon atau spatel lidah Sikat membersihkan gigi dengan efektif. mulut Memposisikan klien dalam posisi Sims atau Membuat sekresi mengalir miring dengan kepala diputar kea rah sisi daripada menumpuk dibelakang faring dan yang terkena. mencegah aspirasi. Mempertahankan mulut terbuka dan gigi terpisah selama prosedur tanpa membuat trauma struktur mulut. atur yang dipersiapkan sebelumnya memastikan 12 pengisap prosedur lancar dan aman. handuk kertas g. mikroorganisme. mangkok piala ginjal f. 3. Menghidupkan mesin dan hubungkan selang ke kateter pengisap. Peralatan tempat tidur dan peralatan. kateter suksion j. Menjelaskan prosedur kepada klien. a. mesin pengisap portable Melubrikasi bibir dengan Mengangkat sekresi mulut yang tertinggal selama membersihkan rongga mulut. Klien yang tidak sadar masih mampu mendengar. Mempersiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan. b.sikat gigi Spon kecil c. Menunjukkan klien beresiko dari aspirasi. gelas air dengan air dingin h.. KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . handuk wajah e.

Memberikan jeli larut air pada bibir. Melubrikasi bibir untuk mencegah kering dan retak. Meninggikan tempat tidur pada tingkat Penggunaan mekanika tubuh yang baik denga horizontal tempat tidur. 11. dan mangkok piala ginjal di bawah dagu.Masukkan saat klien rileks. 9. enkrustasi dari mukosa dan melembabkan Membersihkan permukaan mengunyah dan mukosa. Melembabkan lidi kapas yang bersih dengan air untuk membilas. 7. hindari menstimulasi reflex muntah(jika ada). yang berbantalan dengan memasukkan spatel dengan cepat tetapi lembut diantara geraham belakang. kepala klien diputar ke arah matras. KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . 10. Secara mengangkat kotoran pembilasan yang terlepas dan lembut mengusap atau menyikat lidah tetapi peroksida yang mengiritasi mukosa. Ulangi membilas 13 beberapa kali. pengangkatan pembersihan. mengisap semua sekresi yang tersisa. posisi kepala yang sesuai 8. Secara hati-hati meretraksi gigi bagian Mencegah klien dari menggigit jari dan atas dan bawah klien dengan spatel lidah menyediakan kemudahan ke rongga mulut.6. Menusapkan bagian posterior.Pengulangan dasar mulut dan sebelah dalam pipi. tertinggi.memastikan mencegah aspirasi. Memindahkan klien mendekati sisi tempat Pengaturann tidur dan ke dekat perawat. Suksion mengangkat sekresi dan bagian dalam pertama kali. Meletakkan handuk di bawah wajah klien Mencegah linen tempat tidur menjadi kotor. 12. permukaan Meminta perawat kedua mengisap sekresi membantu yang mengumpul selama pengunyahan. Menarik tirai sekitar tempat tidur atau Memberikan privasi menutup pintu ruangan. Membersihkan mulut dengan Tindakan penggosokkan mengangkat partikel diantara gigi dan sepanjang Pengusapan sekresi dan menggunakan sikat atau spatel lidah yang makanan dilembabkan dengan anti infeksi dan air. Membersihkan cairan yang berkumpul pada faring permukaan luar gigi.menurunkan pagar tempat tidur pada posisi tinggi mencegah cedera pada perawat dank lien.

Menntukan kemanjuran pembersihan. Mengurangi tranmisi mikroorganisme. 16. ulserasi.13Menjelaskan bahwa prosedur telah selesai Menyediakan stimulasi yang bermakna pada klien yang tidak sadar atau kurang responsive. Membersihkan peralatan dan kembalikan Pembuangan peralatan kotor yang tepat pada tempatnya yang sesuai. tidur. 14 menginspeksi rongga mulut dan permukaan gigi palsu. iritasi. kotor ke dalam tempat yang sesuai. Setelah sekresi tebal terangkat maka dapat terlihat inflamasi atau lesi dibawahnya. 17.Daerah iritasi atau membrane mukosa yang nyeri atau mungkin memerlukan perawatan khusus. Menanyakan kepada klien apakah gigi Gigi palsu yang tidak pas bergesekan dengan palsunya tidak pas dan apakah ada gilisah gusi. KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . dan membrane mukosa. pada tempat yang sesuai. dan kembalikan tempat tidur pada posisi semula. Perdarahan gusi. Letakkan linen mencegah tranmisi infeksi. 19. atau krusta pada masalah sistemik yang lebih serius.Mencuci tangan. Lesi lidah) dan laporkan setiap temuan yang tidak rongga mulut mungkin menjadi kanker. Prosedur perawatan mulut untuk klien menggunakan gigi palsu Langkah Rasional 1. Menginspeksi rongga mulut. naikkan penghalang tempat klien. umum kepada perawat penanggung jawab atau dokter. 18. Perdarahan dapat menunjukkan mukosa kering. Mengatur kembali kembali posisi klien Mempertahankan kenyamanan dan keamanan yang nyaman. 15. Mencatat prosedur. 14 Melepaskan sarung tangan dan letakkan Mencegah transmisi muikroorganisme. Setelah gigi palsu dilepas. termasuk observasi Mencatat respons klien terhadap terapi yang berhubungan (mis. keperawatan.

5 cm. pribadi(jika sesuai). Cangkir plastic gigi palsu i. Air panas menyebabkan sampai terisi kurang lebih 2. gigi palsu menjadi melengkung atau lunak. 8. Mengenakan sarung tangan sekali pakai. 6. Mengurangi transmisi infeksi. Gelas air (untuk air hangat dan dingin) f. 7. Mangkok piala ginjal atau westafel d. Kasa tunggal 4x4 g. 15 9. Meletakkan gigi palsu mangkok. Kain melindungi gigi waslap pada wastafel dan menyalakan air palsu menjadi patah. 4. Waslap h. Memegang menumpuk pada permukaan gigi palsu dan KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . tidur atau dekat wastafel. saat menangani gigi palsu. Sikat gigi berbulu lembut b. 5. Detrifikasi gigi palsu atau pasta gigi e. Mangatur bahan-bahan di meja tempat Menjamin prosedur lancar dan terorganisir. Mengisi mangkok piala ginjal setengah Membantu mendistribusi dentrifikasi di atas penuh dengan air biasa atau meletakkan permukaan gigi palsu. Mencuci tangan Mengurangi transmisi mikroorganisme Digunakan untuk mengangkat gigi palsu. Meminta klien untuk melepas gigi palsu Kassa mencegah tergelincir secara tidak dan letakkan gigi pada mangkok piala sengaja ginjal. Menggunakan detrifikasi pada gigi palsu Mencegah makanan dan bakteri yang dan sikat permukaan gigi palsu. Sarung tangan sekali pakai Mencegah kontak dengan mikroorganisme di dalam saliva. Digunakan untuk menggosok gusi dan lidah. 3. Menjelaskan prosedur dan pastikan klien Meningkatkan pemahaman dan kerjasama bahwa akan menggunakan praktik pilihan klien. Mempersiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan : a. Sikat gigi untuk gigi palsu c.2.Permutaran gigi palsu pada sudut mengurangi penarikan bibir selama pelepasan gigi.

13. memegang menggunakan membersihkan memegang sikat secara vertical pendek dalam horizontal dan untuk gigi. Pelembaban melubrikasikan gigi KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . 11. plastic. Minta klien untuk berkumur dengan teliti. Meminta klien jika klien mempunyai poringan sebelah atas untuk menggunakan jari untuk menekan gigi dan bawah. horizontal menggunakan gosokan pendek dari atas gigi palsu pada permukaan penggigit gigi untuk membersihkan permukaan gigi sebelah luar. 12. Berikan mengangkat sisa-sisa lapisan kotoran gusi pasta gigi pada sikat gigi lembut.sikat secara horizontal dan menggunakan mencegah baud an terbentuknya noda. gusi dan langit-langit. gerakan kebelakang dan ke depan untuk Memegang gigi palsu dekat dengan air membersihkan memegang sikat permukaan secara penggigit. 10. Berkumur mengangkat semua partikel makanan dan sekresi. Memasukkan kembali gigi palsu Mulai Bagian terbesar dari gigi palsu sebelah atas dengan lembut memasukkan gigi palsu lebih mudah untuk dimasukkan pertama kali 16 sebelah atas yang lembab. 14. mengurangi peluangretak karena air akan dan mencegah keluar jika gigi palsu tergelincir. Gigi palsu plastic menjadi rapuh dan melengkung jika tidak dipertahankan untuk tetap lembab. Membilas gigi palsu dengan teliti dalam Air air biasa. hangat bercampur dan membilas dentrifikasi lebih efektif dari pada air dingin. dan lidah dengan lembut. Mengembalikan gigi palsu pada pasien Penyimpanan melindungi gigi palsu tetap atau simpan dalam air biasa di dalam cangkir lembab untuk memudahkan saat pemasukan. dan sikat dan mukosa. kosongkan mangkok piala ginjal dan Membantu menstimulasi sirkulasi gusi dan tambahkan air dingin yang segar. dan gosokan permukaan secara sikat menggunakan gerakan ke belakang dan ke depan untuk membersihkan permukaan bawah gigi palsu.

Mencatat prosedur pada flowsheetatau Dokumentasi yang akurat dan tepat waktu catatan perawat. nyaman atau tidak. 17. liang rahim dan leher rahim untuk melihat kelainan yang mungkin ada. keputihan. 16. mempertahankan keakuratan catatan klien. seperti Pemeriksaan alat kelamin. 15. Perawatan vagina pada lansia dapat mencegah terjadinya Infeksi saluran kemih pada lansia. warna. 17 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . dan kadar estrogen. nyeri saat bersenggama. Membuang sarung tangan pada tempat Mengontrol penyebaran infeksi. Perawat dalam hal ini dapat menerangkan berbagai perubahan yang terjadi pada lansia. dan kemudian palsu agar mempermudah insersi. sebelumnya lakukan pemeriksaan vagina. vulva menjadi mudah terirtasi. masukkan gigi palsu sebelah bawah yang Penggunaan tekanan yang lembut pada gigi lembab.  Untuk mengetahui ada/tidaknya infeksi pada vagina. Pemeriksaan alat kelamin wanita bagian luar. Sebelumnya perawat dapat melakukan pengkajian dasar. terutama organ kewanitaannya. kelembaban. Perawatan Mukosa Vagina pada Lansia Perubahan yang terjadi pada vagina lansia wanita. pertumbuhan abnormal seperti benjolan dan radang.palsu melekat pada tempatnya. mencuci tangan. misalnya lecet. palsu sebelah atas memperkuatnya menempel pada langit-langit. Karena lebih rentan. dan permukaan vagina. jaringan adiposa. sekresi. elastisitas. yang sesuai dan simpan bahan-bahan. Menanyakan klien jika gigi palsu terasa Pembersihan mengangkat sumber iritasi. dan gatal-gatal. mengakibatkan perubahan jenis flora yang ada.  Lingkungan vagina menjadi lebih kering dan lebih basa. Perubahan tersebut berakibat perdarahan pervagina dan nyeri saat bersenggama dan peningkatan resiko terjadinya infeksi (vaginitis). 2. meliputi:   Labia mengalami atrofi dan lebih datar pada wanita lansia Atrofi vulva terjadi akibat penurunan vaskularisasi.

tampak pipih/datar dan jaringan mudah rapuh. yaitu dengan tetap melakukan aktivitas seksual 18 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa .5 g 1-2 ×/week Vaginal Rings 17.5-2 g/day × 3 week 0. Topical estrogen Recombinations for vaginal dryness/atrophy Vaginal Creams 17-beta estradiol 2-4 g/day × 4 week 1 g/day × 1-3 week 1 g 1-2 ×/week Conjugated equine estrogens 0. Penanganan yang dianjurkan adalah HRT (terapi penggantian hormon).  Pada lansia yang memasuki massa menopause. pada kekeringan di vagina. kemudian 2xseminggu  Untuk perawatan non farmakoterapi.beta estradiol 1 ring dimasukan ke dalam vagina 3×sehari Lepaskan ring yang lama sebelum memasukan ring baru Berikan 7. terutama yang bersifat terapi local.5 mcg/day selama 90 hari Estradiol acetate* 1 ring dimasukan ke dalam vagina 3 × sehari Lepaskan ring yang lama sebelum memasukan ring baru 2 dosis tersedia: berikan 5 atau 10 mcg/day selama 90 hari Vaginal tablets Estradiol henihydrate 25 mcg: 1 tablet vaginal pada malam hari selama 2 week. mukosa kering.Atropi vagina akan tampak warna pucat. mengalami kekeringan pada vagina yang mengakibatkan dyspareunia.

19 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . K-Y Jelly.  Pada lansia juga lebih beresiko terjadinya ISK. Jangan merokok. karena penurunan kadar estrogen menyebabkan penurunan tonus. dan massa otot di kandung kemih. Jangan menyemprot dekat mata dan tutup mata ketika menggunakan semprotan rambut. Hati-hati ketika menggunakan semprotan. Atropik vaginitis berespon dengan baik pada terapi estrogen. Sebelumnya perwat dapat menanyakan apakah penah mengalamai ISK sebelumnya 3. Astroglide. Perawatan Membran Mukosa Mata pada Lansia Personal Hygiene :    Ketika mencuci wajah setiap pagi. Menonton TV di bawah pencahayaan yang baik.  Pemeriksaan sekresi vagina untuk mengetahui adanya infeksi dan yang menyebabkan infeksi pada vagina. gunakan handuk bersih dan air untuk menyeka untuk mencegah infeksi. Jangan menggunakan handuk umum atau tangan untuk menggosok mata. Jangan menggunakan obat mata atau kacamata orang lain. Moist Again) dapat mengurangi ketidaknyamanan saat hubungan seksual menjadi sulit. istirahat sejenak setiap setengah jam untuk merilekskan mata dengan melihat beberapa objek jauh. Pastikan pencahayaan cukup apabila menggunakan komputer. Daily Activities :       Diet seimbang dengan vitamin A dan protein memadai. Atropik vaginitis terjadi ketika atropi vagina di sertai dengan tanda-tanda inflamasi. Istirahat yang cukup untuk merilekskan mata. control. Lubrin. Dapat menggunakan vaginal lubricant (eg. Jarak antara mata dan layar TV setidaknya harus 6 kali layar diagonal panjang.

minum air yang sudah diolah terlebih dahulu. 2. dan dijauhkan dari lingkungan yang kotor atau tidak sehat. Cetakan jelas dan besar. 4. Anda dapat melihat beberapa objek jauh atau menutup mata Anda untuk beristirahat. Terapi non farmakologi yang dapat perawat lakukan pada seorang lanjut usia adalah membiasakan lanjut usia mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Atur pencahayaan yang memadai. Feces. 5. Yakinlah bahwa meja dan kursi tinggi cocok. sehingga mata berjarak sekitar 12 inci dari buku 3. tidak makan atau membeli makanan di sembarang tempat. Tidak membaca di kendaraan bergerak atau di tempat tidur. 6. Oleh karena itu upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus rantai penularan tersebut. yaitu Food. memilih makanan yang mengandung gizi yang cukup dan makanan makanan yang berkualitas yang menyehatkan. Beberapa upaya yang mudah diterapkan adalah :          Penyiapan makanan yang higienis Penyediaan air minum yang bersih Kebersihan perorangan Cuci tangan sebelum makan Pemberian ASI eksklusif Buang air besar pada tempatnya (WC. atau membaca di bawah pencahayaan alami. Ketika mata merasa lelah.Tips selama membaca: 1. Perawatan Membrane Mukosa Rectum pada Lansia Proses penuaan menyebabkan hilangnya elastisitas mukosa abdomen dan berkurangnya tonus otot pada dinding perineum dan sfingter ani sehingga dapat meyebabkan diare pada lansia. Diare umumnya ditularkan melaui 4 F. 4. Fly dan Finger. cobalah istirahat. kertas yang dibaca sebaiknya tidak jenis mengkilap. toilet) Tempat buang sampah yang memadai Berantas lalat agar tidak menghinggapi makanan Lingkungan hidup yang sehat 20 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa .

Masalah keperawatan yang mungkin muncul Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi Rencana keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Risiko kerusakan integritas kulit . restraint) Immobilitas fisik Radiasi Usia yang ekstrim Kelembaban kulit Obat-obatan Ekskresi dan sekresi Setelah tindakan selama….Status Nutrisi .Dialiysis Integrity menggunakan longgar  Hindari kerutan pada tempat tidur Access  Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering  Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali kulit akan adanya keperawatan  Monitor Gangguan kulit kemerahan pasien pakaian untuk yang NOC : NIC : Pressure Management Intervensi tidak  Oleskan lotion atau minyak/baby kriteria oil pada derah yang tertekan  Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien  Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat bisa  Monitor status nutrisi pasien dengan Internal : Perubahan status metabolik Penonjolan tulang Defisit imunologi Berhubungan dengan gangguan sensasi atau  Gunakan pengkajian risiko untuk nyeri pada daerah kulit yang gangguan  Menunjukkan pemahaman dalam mengalami memonitor faktor risiko pasien (Braden Scale. tekanan. Skala Norton)  Inspeksi kulit terutama pada 21 tulang-tulang yang menonjol dan titik-titik tekanan ketika merubah KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa .Tissue Perfusion:perifer .ASUHAN KEPERAWATAN MASALAH PADA PERAWATAN KULIT DAN MEMBRANE MUKOSA A.Tissue Integrity : Skin  Anjurkan Faktor-faktor risiko: Eksternal : Hipertermia atau hipotermia Substansi kimia Kelembaban udara Faktor mekanik (misalnya : alat yang dapat menimbulkan luka. integritas terjadi hasil:  Integritas kulit yang baik dipertahankan  Melaporkan adanya dilakukan and Mucous Membranes .

dan halitosis. mukosa buccal. karies gigi. gigi yang hitam (khususnya sepanjang margin gusi). gusi. mineral dan vitamin serum albumin dan dan  Monitor transferin kulit normal B. Perawat memeriksa semua daerah ini dengan hati-hati tentang warna. kehilangan gigi. kekurusan) Perubahan pigmentasi Perubahan sirkulasi Perubahan turgor (elastisitas kulit) Psikogenik proses perbaikan kulit dan terjadinya berulang  Mampu kulit mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami  Status nutrisi adekuat  Sensasi dan warna melindungi posisi pasien. langit-langit dan lidah klien. tekstur. hidrasi. mencegah  Jaga kebersihan alat tenun sedera  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian tinggi protein. dan lukanya. Data objektif       Xerostoma (mulut kering) Saliva kental Lidah kering dan pecah Mulut berbau Banyak plak pada mulut Klien kelihatan sulit untuk bicara Data subjektif  Klien menyatakan ketidaknyamanan mulut  Klien menyatakan air liur lebih sedikit  Klien mengatakan nafsu makan berkurang 22 2. MASALAH PADA MEMBRAN MUKOSA ORAL LANSIA 1. gigi. PENGKAJIAN Pada proses pengkajian tentang oral hygiene perawat memeriksa bibir. Klien yang tidak mengikuti praktek hygiene mulut yang teratur akan mengalami penurunan jaringan gusi yag meradang. Perubahan membrane mukosa mulut yang berhubungan dengan :  Trauma oral KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa .dengan perkembangan Perubahan sensasi Perubahan status nutrisi (obesitas. DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL a.

mempertinggi daya tahan tubuh. gigi dan gusi (Clark. b. oral hygiene bertujuan untuk : mencegah penyakit gigi dan mulut.   Asupan cairan yang terbatas Hygiene mulut yang tidak efektif Trauma yang berhubungan dengan kemoterapi atau terapi radiasi pada kepala dan leher. Secara umum dapat di simpulkan tujuan dari hygiens mulut meliputi : Klien akan memiliki mukosa mulut utuh yang terhidrasi baik Klien mampu melakukan sendiri perawatan hygiene mulut dengan benar Klien akan memahami praktek hygiene mulut Klien akan mencapai rasa nyaman. Kurang pengetahuan tentang hygiene oral yang berhubungan dengan : Kesalahpahaman praktek hygiene d. mencegah penyakit yang penularannya melalui mulut. lidah dan mukosa membran mulut. Defisit perawatan diri mandi/hygiene oral yang berhubungan dengan :     Perubahan tingkat kesadaran Kelemahan ektremitas atas c. INTEVENSI a) Tujuan Oral hygiene merupakan tindakan untuk membersihkan dan menyegarkan mulut. 1993). mencegah terjadinya infeksi rongga mulut dan melembabkan mukosa membran mulut dan bibir. Menurut Taylor et al (1997). oral hygiene adalah tindakan yang ditujukan untuk :            menjaga kontiunitas bibir. dan memperbaiki fungsi mulut untuk meningkatkan nafsu makan. 23 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . Sedangkan menurut Clark (1993). Resiko infeksi yang berhubungan dengan : Trauma mukosa oral 3.

Gigi bebas dari partikel makanan. luka.  Membangun aturan  Menggosok akan merah lembab. Gusi basah dan utuh. luka. lidah. Dan diharapkan klien secara verbal menyatakan kenyamanan dan perasaannya tentang kebersihan mulut sehingga klien akan menelan dan berbicara lebih nyaman. mencegah 24 secara  bilas dengan garam  Membilas atau larutan baking keasaman KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . Klien verbal jaringan gusi yang lembut dan perdarahan. utuh. waktu pulang. kerak. Bibir lembab. melarutkan mulut. dan  menggosok dengan  Sikat gigi yang lembut kotoran yang sikat lembut menggunakan gerakan horizontal. Definisi : perubahan membrane mukosa mulut adalah keadaan individu mengalami gangguan pada lapisan rongga mulut.b) Hasil yang di harapkan Mukosa mulut dan lidah terlihat merah muda. konsisten jaringan utuh menjadi yang terhidrasi muda. mengurangi kotoran. mukosa dan faring tetap bersih. dan bibir yang Intervensi Rasional yang meningkatkan gusi. dan licin. baik pada dan utuh. perawatan-mulut setelah makan dan waktu tidur. Peradangan. Diagnosa Keperawatan : Perubahan membrane mukosa mulut yang berhubungan dengan radiasi rongga mulut. Tujuan Klien memiliki mukosa Hasil diharapkan akan Mukosa. gigi yang dengan horizontal gerakan membantu keras akan tidak ada. kerak. Gigi bebas dari partikel makanan. gigi terlihat bersih. lembab. dan menghasilakan pengontrolan plak. Peradangan. dan kotoran yang keras tidak ada. Lidah berwarna merah muda dan tidak kotor.

Klien melakukan akan Teknik mulut hygiene Minta klien untuk hygiene yang keras. Menggunakan flossing yang tidak berlilin dan menghindari flossing untuk perdarahan. penyembuhan membantu pembentukan jaringan granulasi. 25 Defisit perawatan diri mandi/hygiene oral yang berhubungan dengan :  Perubahan tingkat kesadaran KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . secara mandiri didemontrsi hygiene oral dengan tepat.  Flossing dengan flos gigi yang tidak berlilin dua kali  Flossing mengurangi pertumbuhan yang hancur sistemik produksi bakteri pada sehari.mengatakan kenyamanan dan perasaannya tentang kebersihan mulut. dan membantu mengurangi mulut yang kering yang terjadi pada terapi untuk mengurangi produksi saliva. Hindari flossing dengan keras gusi. dengan benar. Larutan soda dan garam meningkatkan dan berbicara dengan nyaman. dekat garis permukaan gigi dan dekat garis gusi. Mereka bertindak sebagai penyegar dan menekan pertumbuahn bakteri. Klien menelan akan dan soda (1/2 sendok teh dengan 473 ml air) mengangkat debris. mencegah akan melakukan mulut.

Klien yang Intervensi Anjurkan Rasional klien  Menjaga kebersihan dan kelembaban kulit Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam. dan anjurkan untuk minta orang anak  Anjurkan menyisir rambutnya  tiap  klien bantuan terdekat /  Menjaga kerapianrambut Menjaga kebersihan hari dan ditata rapi Anjurkan minta pada terdekat untuk / klien bantuan orang anak kuku. menghindari terjadi luka karena akan sulit sembuh memotong 26 kuku bila panjang. rapi dan terawat 2. bila bisa mandiri ingatkan untuk hati – hati dan jangan KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . Kelemahan ektremitas atas Hasil diharapkan 1. klien tampak  bersih. Klien sehat  tampak mandi 2x sehari dan ajarkan klien memakai baby oil setiap habis mandi Anjurkan menyikat minimal mandi  Anjurkan mencuci klien  rambut klien  gigi setiap Menjaga kebersihan dan kesegaran mulut Menjaga kebersihan rambut dan kelembaban kulit kepala rutin 1x seminggu. mampu melakukan perawatan diri.

terlalu pendek atau sampai menimbulkan luka   Menjaga kenyamanan dan menjaga agar selalu Anjurkan untuk klien memakai rapi dan tidak terjadi iritasi pakaian yang tidak berbahan tidak mudah dan nyaman dipakai  Berikan penkes kasar. tebal.  Meningkatkan pengetahuan kesadaran pentingnya klien dan akan tetap tentang pentingnya melakukan perawatan menjaga kebersihan bagi lansia diri diri / melakukan perawatan diri / menjaga kebersihan diri meskipun sudah lansia 27 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa .

1986 28 KEPERAWATAN GERONTIK | Perawatan fisik: kulit dan membran mukosa . & Burger. Edisi 2. 1043-1048..R. Nugroho. Janssens. M. Verstraeten. 2000. Vaginal electrical stimulation of the pelvic floor: A randomized feasibility study in urinary incontinent elderly Usia Lanjut dan Perawatannya.. L. (2003). J.2007. Jakarta : EGC Kozier.2008. C.Salemba women. Stanley. J. Barbara et al.dkk.Jakarta:EGC Cermin Dunia Kedokteran No..Mengenal Medika:Jakarta. R.ActaObstetriciaEtGynecologicaScandinavica. Diagnosa Keperawatan. J. 2009.. Jakarta : EGC Kedokteran Spruijt. Jakarta: EGC Maryam. 41.DAFTAR PUSTAKA Carpenito. Vierhout.2.Buku Ajara Keperawatan Gerontik Eds.Siti. Keperawatan Gerontik. Edisi 8.mickey:patricia gaunlett beare. 82(11). 2000. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier & Erb.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful