P. 1
Profil Desa Sibanggor Julu (Komoditi Karet)

Profil Desa Sibanggor Julu (Komoditi Karet)

|Views: 334|Likes:
Published by petrabersama

More info:

Published by: petrabersama on Oct 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/15/2014

pdf

text

original

PROFIL KELOMPOK DAMPINGAN & DESA SIBANGGOR JULU. KABUPATEN MANDAILING NATAL PROFIL KELOMPOK. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

Kabupaten Kecamatan Desa Nama kelompok Jumlah anggota Kegiatan : Mandailing natal ( Madina ) : Puncak Sorik Marapai. : Sibanggor Julu. : Simajambu : 46 orang. : Peningakatan usaha Ekonomi melalaui inisisatif pemasaran bersama hasil karet Rakyat. : Memperkuat usaha Ekonomi Konservasi melalui kebun karet konservasi : Kelompok Dampingan menjadi pioner pelaksana pemasaran bersama, hasil karet dari Desa. : Adanya kesadaran kolektif masyarakat desa untuk melindungi sumber penghidupan dari kawasan desa dan Hutan TNBG : Dinas Perekebunan, Koperasi, Kabupaten Madina. : Eksportir/ Pengolahan Remiling Karet.

7. Tujuan hasil 8. Keluaran

hutan 9. Mitra Kerjasama

PROFIL DESA 1. Gambaran Umum Desa Letak dan Keadaan Alam Desa Sibanggor Julu terletak dilereng sebelah timur dari Gunung Sorik Marapi. Desa ini adalah salah satu desa yang terdapat dikawasan Hutanamale Sibanggor dan merupakan desa yang paling dekat dengan puncak gunung berapi tersebut diatas. Berjarak sekitar 9,5 km dari ibukota kecamatan atau sekitar 14 km dari Panyabungan (ibukota Kabupaten Madina), desa ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan bermotor melalui jalan aspal yang kondisinya cukup baik, kira-kira 30 menit dari Panyabungan. Karena posisinya yang berada dilereng bukit, hamper semua lanskap wilayah desa berada dalam kemiringan diatas 25 %, sehingga pengaturan rumah-rumah penduduk juga disusun berbanjar mengikuti kontur tanah perbukitan. Catatan resmi pemerintah (BPS/ Kecamatan Tambangan Dalam Angka 2003) menyebutkan bahwa luas Desa Sibanggor Julu adalah 300 ha dengan jumlah penduduk 1.384 jiwa. Batas wilayah Desa Sibanggor Julu adalah Sibanggor Tonga disebelah utara, Gunung Sorik Marapi, Tor Aek Silai-lai dan anak Gunung Sorik Marapi disebelah selatan dan Huta Lombang disebelah timur.

Permukiman penduduk di Desa Sibanggor Julu dikelilingi oleh lahan pertanian berupa sawah, tegalan, kebun karet dan hutan. Di pekarangan rumah penduduk ditemukan tanaman palawija, hortikultura dan juga tanaman tua seperti jeruk “unte manis” yang sekarang tidak produktif lagi. Areal persawahan di desa ini terdapat di tiga lokasi utama yang oleh penduduk dinamakan Saba Lombang, Saba Jae, dan aek Namilas. Areal sawah diairi dari anak-anak sungai yang berhulu di Gunung Sorik Marapi maupun dari beberapa sumber air yang terdapat di kawasan desa. Tidak semua sumber air yang mengalir di daerah Desa Sibanggor Julu dapat dimanfaatkan untuk pengairan sawah, karena sebahagiannya mengandung belerang atau bahan-bahan kimia lain yang tidak cocok untuk pertanian maupun untuk konsumsi manusia. Aliran sungai yang ada di desa ini antaranya adalah Aek Badak, Aek Cunik, Aek Nalomlom dan Aek Sibanggor. Letak Desa Sibanggor Julu yang berada di lereng Gunung Api Sorik Marapi (2.145 m) di satu sisi memiliki keuntungan berupa keberadaan panorama alam yang indah, Kaldera (kawah), beberapa lapangan solfatara (sumber air panas yang mengandung belerang) dan memberikan kesuburan bagi tanah pertanian disekitarnya. Tetapi disisi lain, posisi tersebut juga menjadikan desa ini terkategori sebagai daerah bahaya dengan jarak hanya sekitar 4,5 km dari puncak gunung.. Dalam catatan Manalu (1989) disebutkan bahwa bila terjadi letusan dikawah pusat yang berupa danau, maka lahar panas akan menghantam Desa Sibanggor Julu, maupun desadesa lain di sekitarnya. Gunung Sorik Marapi pernah meletus pada tahun 1830, 1879, 1892, 1893, 1917,1970 dan 1986. Pada peristiwa letusan tahun 1892, hujan lahar menelan korban 180 orang meninggal di Sibanggor. Menurut penuturan sejumlah informan, setelah letusan tahun 1892 dan 1893 itu letak permukiman lama Desa Sibanggor Julu (dulu bernama Singajambu) pindah ke lokasi yang sekarang. Aksesibilitas dan Sarana Publik Meskipun secara resminya Desa Sibanggor Julu merupakan bagian dari Kecamatan Tambangan yang ibukotanya di Laru, tetapi penduduk desa ini lebih berorientasi ke kota Panyabungan. Hal ini antara lain karena sarana transportasi yang cukup ramai mengisi jalur kawasan Hutanamale Sibanggor dengan Panyabungan. Sedikitnya ada 35 unit angkutan pedesaan (minibus Anatra) yang sehari-hari melewati jalur ini. Ada empat orang penduduk Desa Sibanggor Julu yang memiliki angkutan umum sejenis yang menempuh trayek Sibanggor-Panyabungan. Di Desa Sibanggor Julu terdapat 1 unit SD dan 1 unit Madrasah Ibtidaidah/ Tsanawiyah. Sarana peribadatan terdiri dari 1 mesjid dan 4 suarau, sementara sarana kesehatan ada 1 unit. Juga disini terdapat sebuah mesin penggilingan padi.

Penduduk Desa Berdasarkan keterangan informan diketahui bahwa jumlah penduduk desa ini adalah 1.495 jiwa yang terdiri atas 270 KK. Hanya sekitar 200 KK yang memiliki lahan persawahan sementara sisanya tidak memiliki lahan persawahan. Disebutkan bahwa kelompok marga pembuka huta adalah Nasution, yaitu Raja Baginda Marpayung Aji yang makamnya berada di tengah areal persawahan Saba Aek Namilas dan oleh penduduk setempat biasa disebut dengan “tompat”. Mayoritas penduduk desa ini sebenarnya bermarga Tanjung, baru disusul oleh penduduk bermarga Nasution, Lubis dan klen Nasution menjadi raja huta di Desa Sibanggor Julu mengikuti tradisi kawasan Mandailing Godang yang dipimpin oleh raja-raja bermarga Nasution. Di desa ini terdapat segregasi pemukiman menurut pembagian marga, khususnya mereka yang bermarga Nasution dan Tanjung yang masing-masing terkonsentrasi di tempat yang terpisah. Lokasi pemukiman yang sekarang adalah pindahan dari tempat sebelumnya yang terjadi setelah peristiwa letusan Gunung Sorik Marapi pada tahun 1886. Pemukiman lama terdapat di sekitar lokasi pemandian air panas, yang sekarang ini menjadi areal persawahan. Oleh karena itulah hingga sekarang penduduk Desa Sibanggor Julu mengklaim bahwa sumber air panas yang menjadi asset wisata desa yang ramai dikunjungi pada hari-hari libur diklaim sebagai kepunyaan Desa Sibanggor Julu, meskipun secara fisik terlihat lebih dekat dengan kampong Sibanggor Tonga. Kedua desa ini pernah terlibat konflik terkait dengan klaim penguasaan atas sumber air panas tersebut. Pada umumnya penduduk Desa Sibanggor Julu memiliki hubungan kekerabatan satu sama lain, baik melalui hubungan darah maupun perkawinan. Hubungan kekerabatan itu juga terjalin dengan penduduk desa-desa lain disekitarnya. Selain yang bermukim di desa, banyak pula warga Sibanggor Julu yang merantau, misalnya ke Jakarta dan Malaysia, dan pada waktu-waktu tertentu kembali ke kampong halaman. Ikatan batin perantau dengan kampung halaman atau kampung asal nenek moyangnya cukup kuat, salah satunya terlihat dari partisipasi beberapa orang perantau asal sibanggor Julu yang bermukim di Malaysia untuk membantu pembangunan di kampong asalnya hingga sekarang. 2. Sosial Ekonomi Mayoritas penduduk Desa Sibanggor Julu hidup dari sector pertanian. Hasil utama dari desa ini adalah padi, gula aren, karet, sayur-sayuran dan beberapa jenis hasil hutan. Sawah Areal sawah yang ada di desa ditanami secara bergilir dengan tanaman padi dan palawija, khususnya cabe dan kacang tanah. Hasil padi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sedangkan hasil tanaman palawija seperti cabe dan kacang tanah dijual ke pasar dan menjadi sumber pendapatan tunai yang sifatnya musiman. Pergiliran pemanfaatan lahan sawah dengan tanaman padi dan palawija sudah berlangsung lama dan cara ini merupakan salah satu siasat penduduk untuk mengoptimalkan hasil lahan yang ada.

Seperti disinggung diatas, tidak semua penduduk memilki lahan sawah. Sebagian pemilik lahan sawah yang ada di Desa Sibanggor Julu adalah warga yang bermukim di rantau. Mereka yang tidak memiliki lahan sawah bias mengelola sawah orang lain dengan system bagi hasil (biasanya 1/3 untuk pemilik dan 2/3 untuk pengelola). Dengan alas an kelangkaan lahan yang ada didesa, akhir-akhir ini juga sudah berkembang pola penyewaan lahan sawah dengan terlebih dahulu memberikan emas kepada pemilik sawah kepada pemilik sawah dan hasil panen tetap dibagi dengan perhitungan diatas, uang jaminan kembali kepada penyewa atau berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak bias juga diperhitungkan sebagai sewa lahan. Persoalan yang dihadapi petani di Desa Sibanggor Julu maupun desa-desa lain disekitarnya dalam mengelola lahan sawah adalah masalah irigasi, terutama karena adanya beberapa aliran anak sungai yang mengandung belerang dan bahan-bahan kimia lain yang bersifat merusak tanaman. Sejumlah anak sungai yang berhulu di Gunung Sorik Marapi seperti Aek Siunik, Aek Nalomlom, Aek Sabadano dan lainlain tidak bias dimanfaatkan untuk pengairan sawah karena membuat rusak tanaman. Oleh karena itu, salah seorang informan mengemukakan gagasan bahwa untuk mengoptimalkan hasil persawahan yang ada dikawasan ini perlu bantuan teknis untuk memisahkan aliran-aliran air yang tidak bagus agar tidak mencemari aliran air yang bias dimanfaatkan untuk pertanian. Ladang/ Kebun Lahan Tegalan penduduk Desa Sibanggor Julu pada umumnya terletak dibagian hulu desa arah perbukitan atau gunung. Lahan hutan yang termasuk wilayah desa sudah mencapai ke patok batas hutan lindung yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan “rintis”. Disan penduduk menanam tanaman kopi, kayu manis dan aren. Hasil karet pernah menjadi andalan produksi pertanian dari Desa Sibanggor Julu, namun sejak 1990-an hasilnya jauh merosot dan ditaksir sekarang ini hanya berkisar 0,51 ton/ minggu. Peurunan produksi karet dari desa ini terjadi karena pada tahun 1990-an banyak penduduk yang melakukan konversi kebun karet ke kebun jeruk. Pada masa tahun 1980-an hingga 1990-an di daerah kecamatan Kotanopan (dulu kecamatan induk dari kecamatan Tambangan) berkembang budidaya jeruk sehingga banyak lahan karet yang dikonversi menjadi kebun jeruk. Hasil kebun jeruk milik penduduk Sibanggor Julu memberikan kontribusi ekonomi yang cukup signifikan hanya dalam jangka pendek, sehingga sajak tahun 2000-an tidak produktif lagi. Hasil kebun karet pada umumnya dijual petani langsung di desa. Ada 5 orang toke karet di Desa Sibanggor Julu yang setiap minggu menampung hasil petani, dan mereka kemudian menjual kembali pada hari pecan di Kayu Laut atau Panyabungan. Toke besar yang menguasai perdagangan karet di kawasan Panyabungan bernama Haji Atas Nasution. Pola perdagangan karet antara petani dengan toke-toke di tingkat desa sudah memperlihatkan bentuk hubungan patron-klien, dimana petani pada waktu-waktu mengalami kesulitan ekonomi bias mendapatkan pinjaman dari toke dan untuk itu mereka berkewajiban menjual hasil karetnya kepada toke tempat meminjam uang.. Selain kebun karet di desa ini juga ada kebun kopi yang sudah berumur tua, letaknya jauh dari desa dan sudah melampaui patok batas hutan lindung (rintis), kira-

kira 5 km jauhnya dari kampong. Jarak tempuh dari kampung ke lokasi kebun-kebun penduduk yang paling jauh adalah sekitar 2 jam perjalanan. Kebun kopi tua yang ada di hutan tersebut kadangkala masih diambil hasilnya jika harga jual kopi naik.

Produk Ekstraktif Produk ekstraktif yang paling menonjol dari Desa Sibanggor Julu adalah gula aren yang diolah dari pohon-pohon aren yang tumbuh secara alamiah di kawasan desa. Belum ada tradisi menanam pohon aren untuk untuk meningkatkan kapasits produksi. Sebagian warga percaya bahwa pertumbuhan pohon-pohon aren berlangsung secara alamiah bersamaan dengan perluasan pembukaan lahan-lahan kebun. Hanya saja karena belakangan ini tidak ada aktivitas pembukaan kebun-kebun baru maka menurut warga pertambahan pohon aren yang bias disadap juga tidak banyak. Pohon-pohon aren yang dimanfaatkan penduduk saat ini relative berada dekat ke pemukiman penduduk atau masih dalam batas tanah adapt Desa Sibanggor Julu. Produk ekstraktif lainnya dari Desa Sibanggor Julu adalah kulit kayu andor sari dan juga rotan. Pengumpulan bahan-bahan ini dilakukan di dalam hutan dan baru dilakukan oleh penduduk jika ada permintaan pasar. Pada saat penelitian ini berlangsung tidak ditemukan lagi usaha ektraksi kulit-kulit kayu maupun rotan tadi. Hasil ekstraktif lain dari hutan yang dimanfaatkan penduduk adalah bamboo untuk membuat lemang, dan dimasa lalu ada dana retribusi yang harus diserahkan ke desa atas pemanfaatan hasil hutan ini. Mengumpulkan belerang juga menjadi salah satu bentuk kegiatan ekonomi yang ada di Desa Sibanggor Julu, baik dari bagian Kaldera Gunung Sorik Marapi maupun dari suatu tempat di lereng gunung tersebut yang dikenal penduduk dengan sebutan “barerang”. Tempat yang disebut terakhir ini terdapat di kaki gunung, berjarak kira-kira 4 km dari desa dengan waktu tempuh sekitar 1-2 jam. Pada tahun 1990-an pernah ada sebuah kilang pengolahan bijih belerang di desa Sibanggor Tonga, tetapi sudah berhenti beroperasi setelah kejadian gempa pada tahun 1986. Pengumpulan hasil belerang ini juga sangat tergantung kepada permintaan pasar. Dalam skala kecil, ada juga penduduk yang memanfaatkan binatang buruan di dalam hutan maupun unggas. Hewan-hewan yang tergolong dilindungi masih sering dijumpai di daerah Sibanggor Julu seperti harimau, beruang, kucing hutan, rusa dan kambing hutan. Bahkan salah satu anak Gunung Sonik Marapi dipercaya penduduk sebagai tempat bersarangnya Harimau Sumatera, dan penduduk biasanya menghindari untuk masuk ke wilayah itu. Jenis burung yang biasa ditangkap penduduk adalah murai daun, namun bukan dalam skala besar untuk tujuan komersial. Produk ekstraktif lainnya yang juga pernah sangat eksplitatif di Desa Sibanggor Julu dan sekitarnya adalah pembalakan kayu yang dilakukan secara liar. Ada beberapa keluarga pemilik chainsaw di desa ini yang beroperasi di hutan-hutan kawasan hutan lindung.. Tetapi kegiuatan penebangan kayu berhenti sejak SBY menjadi president. Lebih lanjut mengenai aktifitas penebangan liar akan diuraikan di bagian lain dibawah.

Sektor non-pertanian Sebagian kecil penduduk Desa Sibanggor Julu memiliki usaha sebagai pedagang kecil (parengge-rengge) ke pecan-pekan yang ada di kecamatan maupun ke kota Panyabungan. Ada juga yang bekerja sebagai pegawai, guru sekolah maupun madrasah. Di desa ini juga ad usaha jasa pengerahan tenaga kerja untuk menjadi pekerja di warung-warung migrant asal Mandailing di sekitar Jabodetabek.

Penguasaan sumber-sumber ekonomi Kelompok social yang paling dominant menguasai asset-aset ekonomi di Desa Sibanggor Julu pada umumnya adalah keturunan dari mereka yang bermarga Tanjung. Sebagian dari pemilik lahan-lahan produktif yang ada di dea ini adalah warga yang bermukim di rantau yang pada waktu-waktu tertentu misalnya ketika pulang kampong, mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan lahan miliknya. Pemasaran hasil Hasil produksi pertanian dari dea ini dipasarkan ke Kayu Laut (sekarang ibukota Kecamatan Panyabungan Barat) dank e Panyabungan. Ada yang dijual langsung ke pasar-pasar, tetapi sebagian jenis produksi dijual di desa kepada toketoke yang dating menjemput ke desa. Hasil karet misalnya dijual oleh petani ke toke atau agen pengumpul di tingkat desa, kemudian oleh agen dibawa ke Kayu Laut untuk dihimpun oleh toke besar dan selanjutnya dari sana dibawa ke pabrik getah (crumb Rubber) yang ada di Padang Sidimpuan (Sihitang Raya), Panompuan atau ke Kisaran. Hasil sayur-sayuran dijual sendiri oleh petani ke pasar atau kepada pedagang-pedagang kecil yang kemudian membawanya ke pasar. Sedikitnya ada 10 orang warga Desa Sibanggor Julu yang bekerja sebagai pedagang hasil bumi ke pecan-pekan. Selain berdagang mereka ini juga tetap merangkap sebagai petani. Tempat berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari biasanya adalah pasar-pasar tradisional yang disebut dengan nama “poken” oleh penduduk setempat. Ada beberapa pecan yang dapat diakses oleh penduduk Desa Sibanggor Julu, diantaranya poken wakaf di Hutanamale pada hari Minggu (dulu hari Jumat), pecan Kayu Laut atau langsung ke Panyabungan. Lembaga Keuangan Di Desa Sibanggor Julu tidak ada lembaga keuangan formal yang dapat diakses oleh penduduk untuk mendapatkan modal usaha. Lembaga seperti itu ada di Panyabungan dan menurut informasi dari Kepala desa hanya satu orang warga desa ini yang memanfaatkan jasa bank untuk meminjam uang. Kebiasaan warga masyarakat untuk mengatasi masalah keuangan pada umumnya adalah meminjam kepda saudara-saudaranya yang tinggal dirantau atau meminjam kepada toke-toke di kampong. Sebuah “konvensi” berlaku jika meminjam uang kepada toke maka biasanya hasil bumi yang ia peroleh harus dijual kepada toke yang bersangkutan. Hutang biasanya dibayar secara cicilan, dan pada umumnya tidak ada bentuk penekanan harga bagi mereka yang meminjam uang kepada toke. Hubungan warga

dengan toke yang menjadi tempat meminjam pada umumnya berlangsung baik karena diantara mereka terjalin hubungan saling menguntungkan. Kendala utama yang dihadapi warga desa untuk memanfaatkan jasa lembaga keuangan formal seperti bank adalah persoalan agunan. Penduduk desa tidak memiliki harta benda atau sertifikat tanah yang bias dijadikan agunan ke bank, selain itu warga juga berpandangan bahwa meminjam ke bank banyak aturannya sehingga menyulitkan bagi mereka. Mereka yang meminjam ke bank dengan agunan sertifikat tanah misalnya juga harus seizing kepala desa.

Potensi-potensi Pengembangan Ekonomi Beberapa potensi pengembanagn ekonomi di Desa Sibanggor Julu antara lain : Pertanian : hortikultura (sayur-sayuran, cabe, markisa, bawang, kacang tanah, jagung, kacang-kacangan, dsb) ; kakao, jeruk manis (varietas lokal), kopi, nenas dsb ; budidaya aren untuk meningkatkan produksi gula. Cabe produksi Sibanggor terkenal bagus di daerah Mandailing Natal bahkan sampai ke Sumatera Barat. Industri Kerajinan dari bambu untuk mengoptimalkan pemanfaatan kekayaan jenis bamboo yang tumbuh di kawasan desa. Ekowisata : pemandian air panas, mendaki gunung, homestay dengan memanfaatkan lanskap perkampungan tradisional. 3. Sosial Budaya Wilayah Desa Sibanggor Julu saat ini sebagian besar sudah menjadi wilayah npenguasaaan privat atau individual oleh keluarga-keluarga yang membuka hutan dimasa lalu. Ketentuan adapt di daerah ini memberikan kebebasan kepada warganya untuk membuka hutan yang masih belum dikelola untuk dijadikan lahan pertanian dan setelah berubah menjadi lahan pertanian bias diklaim sebagai milik pribadi. Lahan hutan yang masih tersisa sekarang ini tidak banyak lagi, yaitu bagian-bagian punggung bukit yang menuju kea rah Gunung Sorik Marapi, dan sudah dekat dengan batas hutan lindung (rintis). Meskipun aktivitas pertanian belum melampaui garis batas hutan lindung tersebut, sabagian penduduk sesungguhnya sudah masuk melampaui garis batas tersebut untuk mengambil manfaat dari hasil-hasil hutan yang ada berupa rotan, kayu maupun kulit kayu yang diambil jika ada permintaan pasar, termasuk juga untuk aktivitas perburuan binatang. Kearifan Lokal Beberapa bentuk kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam yang teridentifikasi antara lain adanya pengetahuan dan pantangan untuk tidak menebang pohon “sampinur” jika sedang membuka lahan hutan. Pohon tersebut diyakini banyak menyimpan air, sehingga ketika musim hujan dating pohon ini dapat menyimpan air yang akan berguna jika tiba musim kemarau. Pengetahuan mengenai pentingnya memelihara kawasan hutan yang menjadi sumber mata air juga masih menjadi rujukan dalam pengelolaan lahan, sehingga warga tidak dibolehkan untuk membuka

 

lahan hutan dibagian-bagian hulu sungai karena akan menyebabkan terganggunya pasokan air untuk menyangga kehidupan masyarakat. Kearifan lokal juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari warga komunitas desa, khususnya dalam cara-cara yang mereka pilih untuk menanggulangi masalahmasalah yang dihadapi bersama. Komunitas desa ini memiliki modal social yang masih cukup besar, yang terlihat dari kemauan mereka untuk bekerjasama menanggulangi berbagai masalah. Beberapa bentuk modal social yang masih berlaku diantaranya adalah : Adanya asset desa berupa sebidang sawah (disebut soka wakaf) dan kolam luas (tobat bolak) yang hasilnya dimanfaatkan untuk keperluan pembangunan desa. Sawah wakaf dan kolam tersebut sudah lama ada, dan ini diduga hal ini merupakan buah dari fatwa-fatwa ekonomi yang dikembangkan oleh alm. Tuan Syeih Juneid Thala, seorang ulama asal Tarlola yang dikenal luas mengembangkan system wakaf di daerah asal Tarlola Sibanggor. Kolam dan sawah milik desa tersebut sekarang ini disewakan kepada warga dan hasilnya digunakan untuk pembangunan desa. Di Desa Sibanggor Julu juga masih hidup tradisi jimpitan beras (mereka menyebutnya jomput-jomputan) yang dikumpulkan setiap minggu dari rumah kerumah oleh Nauli Bulung (remaja putri) dan hasilnya digunakan untuk pengelolaan madrasah. Sejak 10 tahun lalu juga ada dibentuk badan penyantun anak yatim, badan ini mengumpulkan derma melalaui warung-warung yang ada di Desa Sibanggor Julu. Pengutipan retribusi dari pemanfaatan hasil-hasil sumberdaya alam seperti belerang, bamboo dan juga tempat pemandian air panas yang kemudian juga dimanfaatkan untuk mengisi kas desa. Kerjasama kelompok juga masih terlihat dalam berbagai aktivitas ekonomi, misalnya mengelola lahan pertanian, kegiatan pembersihan jalan, kegiatan perayaan keagamaan dan lain sebagainya. Kas desa yang terkumpul dari berbagai sumber pemasukan tersebut biasanya dipertanggungjawabkan kepada masyarakat 1x1 tahun melalui forum musyawarah gabungan BPD, LPM, Hatobangon yang diadakan setelah hari lebaran. Konflik Salah satu konflik yang cukup menonjol terjadi antara penduduk Desa Sibanggor Julu dengan Desa Sibanggor Tonga yang berusaha merebut penguasaan atas sumber air panas yang selama ini sudah menjadi asset ekowisata di daerah Sibanggor. Letak pemandian air panas tersebut lebih dekat dengan pemukiman Sibanggor Tonga, namun pihak Sibanggor Julu mengklaim bahwa sumber air panass tersebut merupakan wilayah desa mereka karena secara histories merupakan lokasi perkampungan lama Sibanggor Julu serta kenyataan bahwa hingga sekarang lahanlahan persawahan yang ada di tempat itu masih menjadi milik warga Sibanggor Julu. 4. Kelembagaan Lokal Lembaga Sosial Beberapa lembaga yang terdapat di desa Sibanggor Julu adalah :

Lembaga pemerintahan formal : pemerintahan desa, BPD, LPM. Fungsi lembaga pemerintahan desa belum berjalan secara optimal, karena sebagian besar urusan pemerintahan dijalankan sendiri oleh kepala desa, sementara perangkat-perangkat desa lainnya tidak berfungsi dengan semestinya. Dengan kata lain, pemerintahan desa identik dengan jabatan kepala desa. Sementara itu, BPD desa Sibanggor Julu beranggotakan 5 orang, fungsi yang terlihat selama ini dari BPD ini masih sebatas fungsi control terhadap jalannya pemerintahan desa dan mengenai hal ini muncul kesan rivalitas antara kepala desa dengan ketua BPD. Fungsi lainnya berupa legislasi atau untuk membuat peraturan-peraturan desa maupun untuk menyusun rencana anggaran belanja desa belum berjalan hingga sekarang. Anggota BPD sendiri sesungguhnya belum memahami secara bernar fungsi yang diamanatkan kepadanya sesuai dengan undang-uandang. LPM di desa Sibanggor Julu diketuai oleh Makmur Nasution. COBRA (Corps Brigade Pemuda) merupakan underbow dari partai keadilan dan persatuan Indonesia (PKPI).Lembaga ini dipimpin oleh Edi Lubis dan masih berusia muda. Sejauh ini kegiatannya belum ada yang menonjol kecuali pengurus tingkat desa sudah dilantik dan telah melakukan usaha-usaha persuasive untuk mencari dukungan politik bagi partai yang disokongnya pada pemilu yang lalu. Serikat Tolong Menolong (STM) merupak organisasi perkumpulan marga-marga Tanjung,Nasution,Lubis,Batubara dan perkumpulan lintas margayang dipimpin oleh tokoh hatobangon setiap marga yang mewakili. Adapun nama tokoh hatobangon setiap marga yang ada di desa Sibanggor Julu adalah sebagai berikut : Marga Tanjung terdiri dari H.Abdul Wahid<binu alias Jasatim, dan Adanan; Marga Nasution terdiri dari Sangkot,Awal,Berlin dan Umar Baki; dan marga Batubara adalah Hamsar dan marga Lubis adalah Thamrin. Kelompok Pengajian terdiri dari kelompok pengajian kaum ibu-ibu yang melakukan kegiatan pengajian setiap hari Jum’at;Kelompok pengajian pelajar SMP dan Madrasah Tsanawiyah melakukan kegiatan pengajian dua kali dalam seminggu dan kelompok pengajian umum atau untuk semua kalangan masyarakat desa Sibanggor Julu dilakukan pada setiap hari kamis dengan mengundang guru ngaji. Perkumpulan Na Poso Bulung Nauli merupakan wadah organisasi muda-mudi desa Sibanggor Julu yang belum menikah yang diketuai oleh Taufik Nasution dengan beberapa kegiatan antara lain melakukan pengajian /takziah jika ada keluarga yang mendapat kemalangan di desa,membantu penyelenggaraan pesta perkawinan di desa,melakukan kegiatan olah raga seperti turnamen sepak bola,gotong royong membersihkan jalan desa dan lain-lain.Lembaga Nauli Bulung (remaja putri) diketui oleh Azizah Tanjung dan secara kelembagaan lebih solid dari perkumpulan pemudanya.Kegiatan-kegiatan yang menjadi tugas organisasi remaja putrid antara lain melakukan pengajian/takziah jika ada keluarga yang mendapat kemalangan ,menjadi panitia dalam kegiatan pesta perkawinan,gotong royong kebersihan desa dan mengutip jemputan beras setiap minggunya. Kelompok Arisan kaum ibu yang suaminya semarga. Ketuanya secara formal tidaka da, namun secara kebiasaan isteri dari tokoh hatobangon di setiap marga otomatis menjadi pemimpinnya. Kegiatan yang dilakukan antara lain menghimpun dana perkumpulan marga yang rutin dilakukan apabila ada pewristiwa siriaon (kegembiraan) atau siluluton (dukacita). Selain itu mereka juga aktif dalam kegiatan

persiapan pelaksanaan pesta, khususnya untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak untuk konsumsi pesta. Kelompok Tani Suka Mulia pernah ada di desa Sibanggor Julu, dibentuk oleh Dinas Pertanian Kabupaten Madina. Anggotanya berjumlah sekitar 30 orang. Kegiatan yang dilakukan adalah penanaman jeruk dan jahe dari bantuan pemerintah yang diperuntukkan bagi anggota yang aktif. Pihak dinas pertanian telah memberikan bantuan antara lain berupa biaya perawatan dan pupuk. Tetapi kelompok tani ini telah mengundang kontroversi di kalangan warga karena tidak mempertanggungjawabkan pengelolaan dana bantuan yang sudah diterima dari pemerintah sebesar 100 juta. Warga menduga-duga bahwa pengurus kelompok tani telah memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi, namun berdasarkan keterangan seorang pengurus sesungguhnya dana itu tidak semua diterima oleh pengurus koperassi karena sebagiannya disunat oleh pihak pemberi bantuan dan sebagian diberikan dalam bentuk barang. Tokoh-tokoh Berpengaruh Warga desa biasanya meminta bantuan jika menghadapi masalah kepada orang-orang tertentu di dea. Misalnya jika menghadapi kesulitan ekonomi mereka meminta bantuan kepada para toke yang melahirkan pola hubungan patron-klien antara toke dengan warga yang meminta bantuan. Tetapi jika ada masalah berupa konflik atau perkelahian antara warga, maka pihak hatobangon biasanya biasanya menjadi actor yang sangat menentukan dalam penyelesaiannya. Hatobangon menjadi tokoh yang dihormati karena sudah menjadi bagian integral dari budaya Mandailing, juga karena hatobangon lebih mengerti masalah-masalah adapt dan hokum yang berlaku di lingkup desa, juga karena hatobangon dipandang dapat menciptakan harmoni di kalangan warga desa. Perlu dipahami bahwa hatobangon dari setiap marga adalah semacam “ primus interpares” di dalam kelompok marga itu, sehingga mereka adalah tokoh yang benar-benar dituakan dan dihormati di lingkup internal klen. Diluar mereka yang menduduki posisi sebagai hatobangon, ada juga beberapa individu di desa yang dianggap memiliki pengaruh dan didengarkan orang misalnya H. Arifin Lubis, mantan guru SD karena hamper semua orang tua yang ada di desa pernah menjadi muridnya. Tokoh ini juga dikenal kritis dan cukup besar kontribusinya dalam mendorong dinamisasi pemerintahan desa. Selain mereka yang berada di desa, ada juga individu yang oleh warga dianggap memiliki pengaruh ditingkat desa, misalnya para perantau yang selalu memberikan perhatian dan bantuan ke desa. Ada dua kelompok perantau yang cukup penting yaitu yang bermukim di daerah Jakarta dan sekitarnya dan juga perantau yang bermukim di Malaysia. Salah seorang yang bermukim di Malaysia bernama H. Ja’far Tani Tanjung dan H.Ramli Nasution, sering memberikan bantuan untuk pembangunan sarana ibadah di desa. Tokoh yang sering membantu bidang pendidikan adalah Drs. Arsyad Tanjung, tinggal di Jakarta. Pandangan warga masyarakat terhadap individu yang sering memberikan bantuan tersebut sangat positif dan mereka masuk kategori orang yang dihormati di desa. Kontribusi yang pernah diberikan para perantau kepada masyarakat Sibanggor Julu, misalnya H. Ramli Nasution telah membantu pembangunan mesjid dan membantu pengembangan kesenian tradisional Mandailing (margondang) serta secara rutin memberikan bantuan kepada anak yatim setiap menjelang hari raya. H. Ja’far

Tani Tanjung telah membantu pembangunan mesjid dengan total bantuan 200 juta lebih dan telah menjanjikan akan terus membantu biaya pembangunan mesjid sampai selesai. Tokoh ini juga berperan membantu para perantau asal desa ini yang dating ke Malaysia, baik untuk akomodasi sementara maupun untuk mencarikan pekerjaan. Tokoh H. Ramli nasution merupakan ketua pengajian Indonesia di Malaysia dan H. Ja’far Tani Tanjung memiliki sebuah rumah sakit di Kelang, Malaysia yaitu Hospital Tengku Ampuna Rahim. 5. Illegal Logging Aktivitas penebangan kayu yang terjadi di wilayah Sibanggor Julu dapat digolongkan atas dua kategori. Pertama aktivitas penebangan kayu untuk keperluan warga sendiri, misalnya untuk mendapatkan perabot rumah dan untuk kayu baker. Kedua, kegiatan penebangan kayu yang merupakan bagian dari jaringan illegal logging yang ada di daerah Mandailing Natal secara keseluruhan. Penebangan kayu kategori pertama boleh dikatakan tidak bersifat eksploitatif karena skalanya kecil, menggunakan tekhnologi sederhans dan juga dilakukan di wilayah-wilayah yang berada diluar kawasan hutan lindung. Kebutuhan bahan baker sangat vital karena di desa Sibanggor Julu banyak warga yang menyadap nira untuk membuat gula aren. Proses pengolahan nira menjadi gula aren memerlukan kayu bakar yang cukup banyak setiap hari, oleh karena itu kebutuhan kayu baker termasuk cukup besar untuk menopang ekonomi gula aren. Hanya saja, kayu yang biasa digunakan untuk kayu baker juga tidak termasuk kayu yang bermutu tinggi seperti halnya untuk kayu log. Bahkan kayu yang dimanfaatkan adalah kayu-kayu yang sudah tumbang, sudah mulai lapuk dan umumnya berukuran sedang. Daya jangkau para petani gula aren untuk mendapatkan kayu baker juga tidak terlalu jauh, sehingga dampak ekologisnya tidak begitu signifikan. Pandangan warga terhadap aktifitas penebangan kayu untuk kebutuhan kayu baker maupun untuk perabot rumah bebeda dengan pandangan mereka terhadap praktik illegal logging. Untuk kebutuhan kayu baker dan perabot rumah mereka anggap sebagai sesuatu yang wajar dan tidak perlu dilarang karena dilakukan dalam skala kecil dan bukan untuk tujuan komersial, sementara praktek illegal logging dipandang sebagai suatu tindakan yang berbahayaa bagi keselamatan lingkungan. Penebangan kayu kategori kedua, atau illegal logging, dilakukan oleh sejumlah kecil actor yang merupakan bagian dari jaringan pembalakan kayu di Madina. Di desa ini ada empat orang actor yang selama ini terlibat dalam praktik penebangan kayu secara illegal dengan menggunakan gergaji mesin (chainsaw). Mereka merupakan bagian dari jaringan penebangan kayu illegal yang selama ini berlangsung di kawasan Maga Sibanggor dan belakangan ini juga memeprluas kegiatannya sampai ke Batang Natal, bahkan ke wilayah Kecamatan Siais di perbatasan Kabupaten Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan. Kegiatan penebangan kayu sudah masuk kawasasn hutan lindung dan batas hutan lindung sendiri tidak lagi jelas karena patok batas yang selama ini ada sudah dipindah oleh orang-orang tertentu lebih jauh ke atas sehingga mengaburkan batas yang sebenarnya. Praktek-praktek penebangan kayu log dikawasan Tarlola Sibanggor sudah berlangsung cukup lama, bahkan hal itu sudah pernah menimbulkan konflik besar antara penduduk Maga dengan penduduk Hutanamale yang berbuntut panjang

terhadap timbulnya disharmonisai dikawasan ini. Penebangan kayu selama ini marak dibagian kaki Gunung Sorik Marapi, dihutan-hutan yang berada di bagian hulu Hutanamale dan Hutabaringin. Pemilik chainsaw adalah warga lokal, dan kayu yang ditebang diangkut ke kilang kayu yang adad I Panyabungan, antara lain milik pengusaha Ucin. Kayu olahan di kilang-kilang tersebut kemudian didistribusikan di kawassan Madina maupun keluar Madina, termasuk untuk memasok kayu bagi pengusaha keturunan Cina di Kisaran. Jalur pengangkutan kayu dari kawasan Hutanamale selama ini ada dua, yaitu melalui Hutabaringin, Hutanamale, Huta Lombang, Maga sampai ke Panyabungan, jalur kedua melalui Hutabaringin, Hutanamale, Sibanggor jae, Jembatan Merah lalu ke Panyabungan. Jalur pertama sudah berakhir karena adanya konflik antara penduduk Maga yang keberatan dengan tindakan pembalakan yang dilakukan penduduk desa-desa di bagian atas (Hutanamale, Hutabaringin, dan lain-lain) yang berakibat pada rusaknya sarana jalan kearah Maga dan juga berkurangnya debit air untuk kebutuhan penduduk di wilayah Lembah Sorik Marapi. Di kawasan Sibanggor Julu aktivitas pembalakan kayu berlangsung di beberapa bukit yang menjadi bagian dari Gunung Sorik Marapi, diantaranya di Napa Natayas, Tor Barerang dan Aek Nalomlom. Penduduk Sibanggor Julu berpandangan bahwa penebangan kayu yang dilakukan untuk tujuan komersial seperti yang berlaku selama ini tidak bias dibenarka, tetapi kalau hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan perabit rumah tangga menurut mereka masih wajar. Terlebih lagi karena penebangan kayu khususnya untuk kayu baker sudah menjadi bagian dari aktivitas pengelolaan gula aren yang selama ini menjadi salah satu komoditi unggulan dari desa Sibanggor Julu. 6. Respon terhadap TNBG Ada kesalahpahaman warga Sibanggor Julu tentang rencana TNBG, yang diduga terjadi karena kurangnya sosialisasi mengenai rencana ini. Sebagian penduduk mengira bahwa TNBG adalah sebuah upaya pemerintah untuk menguasai hutanhutan yang ada di daerah mereka sehingga dengan demikian mereka tidak bisa lagi melanjutkan usaha pertaniannya. Sebagian yang lain merasa bingung dengan rencana TNBG disatu pihak dan adanya perusahaan tambang mas yang pernah melakukan eksplorasi di daerah ini, sehingga ada yang menduga bahwa TNBG merupakan bagian dari rencana pembukaan tambang. Sebagian yang lain menduga bahwa TNBG ini hanya untuk kepentingan Bupati saat ini yang ingin mempertahankan kedudukannya. Sangat sedikit di antara warga yang mengetahui dengan jelas apa sesungguhnya tujuan utama dari penetapan TNBG. Satu hal yang membingungkan bagi warga desa dengan rencana TNBG ini adalah semakin seringnya dating ke desa mereka orang-orang dari luar yang hendak melakukan survey dan terus bertanya-tanya kepada warga mengenai berbagai hal. Mereka bingung dengan keadaan itu, dan menimbulkan berbagai macam dugaan, diantaranya ada yang menduga akan ada bantuan untuk masyarakat. Namun ketika kepada mereka diberikan penjelasan tentang tujuan dari TNBGini , bagaimana kaitannya dengan perusahaan tambang, bagaimana kaitannya dengan kesinambungan usaha mereka yang bergantung kepada sumberdaya alam, mereka bisa memahami dan setuju terhadap TNBG. Resistensi masyarakat terhadap TNBG akan berkurang

jika proses sosialisasi mengenai rencana ini berlangsung optimal, untuk mengimbangi persuasi-persuasi yang dilakukan oleh pihak-pihak lain yang tudak setuju dengan TNBG.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->