P. 1
Makalah Aliran Qadariah

Makalah Aliran Qadariah

1.0

|Views: 872|Likes:
Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh tuhan
Qadariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh tuhan

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Saifun Nizar Al Khuri on Oct 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $1.00 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/09/2014

$1.00

USD

pdf

text

original

1 | P a g e

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas Makalah Ilmu Kalam
“Aliran Qadariah”
Shalawat serta salam tidak lupa marilah kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi
Besar Muhammad saw, para sahabat, kaum kerabat dan kita pengikutnya hingga akhir
zaman.
Penulis menyadari bahwa penyusunan Makalah ini masih banyak memiliki kekurangan,
karena kemampuan yang ada pada diri penulis sangat terbatas, untuk itu penulis mohon
maaf dan kiranya pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun
sebagai masukan kepada penulis.
Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan dukungan yang telah penulis terima
sehingga Makalah ini bisa diselesaikan.






Balikpapan, 9 Juni 2010


Saifun Nizar Al’Khuri
2 | P a g e

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................................... 1
DAFTAR ISI ................................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 3
BAB II ALIRAN QADARIYAH ................................................................................ 4
1. Latar Belakang Lahirnya Aliran Qadariyah .............................................. 4
2. Doktrin – Doktrin Aliran Qadariyah ........................................................ 7
BAB III PENUTUP ................................................................................................. 11
a. Kesimpulan .............................................................................................. 11
b. Komentar Penulis .................................................................................... 11
c. Saran ....................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 13














3 | P a g e

BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang
Banyaknya berbagai macam pendapat para ahli tentang paham Aliran Qadariyah.
b. Rumusan Masalah
 Kapan Aliran Qadariyah itu muncul ?
 Siapa Tokoh yang mendirikan Aliran Qadariyah ?
 Apa saja Doktrin-doktrin yang ada di dalam Aliran Qadariyah ?
c. Tujuan
 Untuk lebih mengetahui dan menambah wawasan tentang Aliran Qadariyah
dan paham – paham yang diajarkan dalam aliran tersebut.

















4 | P a g e

BAB II
ALIRAN QADARIYAH
1. Latar Belakang Lahirnya Aliran Qadariyah
Qadariyah berasal dari bahasa arab, yaitu dari bahasa qadara yang artinya kemampuan
dan kekuatan. Adapun menurut pengertian termonologi, Qadariyah adalah suatu aliran
yang percaya bahwa segala tindakan manusia tidak diintervensi oleh tuhan.
1
Aliran ini
berpendapat bahwa tiap-tiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya; ia dapat
berbuat sesuatu atau meninggalkannya atas kehendaknya sendiri, berdasarkan pengertian
tersebut, dapat dipahami bahwa Qadariyah dipakai untuk nama aliran yang memberi
penekanan atas kebebasan dalam hal ini, Harun Nasution menegaskan bahwa kaum
Qadariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai qudrah atau kekuatan untuk
melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia harus
tunduk pada qadar tuhan.
Seharusnya sebutan Qadariyah diberikan kepada aliran yang berpendapat bahwa
qadar menentukan segala tingkah laku manusia, baik yang bagus maupun yang jahat. Paham
ini dikatakan menganut paham free will atau free act.
2

Namun sebutan tersebut telah melekat kaum sunni, yang percaya bahwa manusia
mempunyai kebebasan berkehendak. Menurut Ahmad Amin, sebutan ini diberikan kepada
para pengikut faham qadar oleh lawan mereka dengan merujuk hadis yang menimbulkan
kesan negatif bagi nama Qadariyah.
Menurut Ahmad Amin, ada ahli teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama
kali dimunculkan. Oleh Ma’bad Al-Jauhani dan Ghailan al-Dimasqy sekitar tahun 70 H/689M
atau pada pertengahan abad pertama Hijriah.
3
Ma;bad adalah seorang taba’i yang dapat
dipercaya dan pernah berguru pada Hasan Al-Basri. Adapun Ghalian adalah dikenal sebagai
orang yang alim, mengutamakan hidup zuhud dan takwa serta giat berdakwah mengajak
orang mukmin untuk berpegang pada akidah yang benar: Allah Maha Esa dan Maha Adil.

1
Abdul Razak. Op.cit. hal. 70
2
Selengkapnya lihat The oxford Encylopedia of the Moden Islamic Wold, (vol. IV; New York: Oxfod University
Press, 1995), h. 215
3
Ahmad Amin, Fajr al-Islam,(Kairo; Maktabah Annahda, 1965), h. 254
5 | P a g e


Menurut Ghailan manusia mempunyai kekuatan untuk menentukan perbuatannya
sendiri, termasuk kemampuan menentukan yang baik dan yang buruk hingga setiap
pebuatan manusia baik jahat maupun baik dilaksanakan dengan dayanya sendiri.
4

Ibnu Nabatah dalam kitabnya Syarh Al-Uyum, seperti dikutip Ahmad Amin, memberi
informasi lain bahwa yang pertama kali memunculkan faham Qadariyah adalah orang Irak
yang semula beragama kristen kemudian beragama islam dan balik lagi keagama kristen.
Dari orang inila Ma’bad dan Ghailan mengambil faham ini. Orang irak yang dimaksud,
sebagaimana dikatakan Muhammad Ibnu Syu’I adalah Susan.
Sementara itu, W. Montgomery watt menemukan dokumen lain melalui tulisan
Hellmut Ritter dalam bahasa jerman yang dipublikasikan melaului majalah Der Islam pada
tahun 1933. Artikel ini menjelaskan bahwa faham Qadariyah terdapat dalam kitab Risalah
dan ditulis untuk Khalifah Abdul malik olah Hasan Al-Basri termasuk orang Qadariyah atau
bukan. Hal ini memang menjadi perdebatan, namun yang jelas, berdasarkan catatannya
terdapat dalam kitab Risalah ini ia percaya bahwa manusia dapat memilih secara bebas
memilih antara berbuat baik atau buruk.
Ma’bad Al-jauhani dan Ghailan Ad-Dimasqy, menurut Watt, adalah penganut
Qadariyah yang hidup setelah Hasan Al-Basri. Kalau dihubungkan dengan keterangan Adz-
Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal, seperti dikutip Ahmad Amin yang menyatakan bahwa
Ma’bad Al-Jauhani pernah belajar pada Hasan Al-Bashri, maka sangat mungkin fahm
Qadariyah ini mula-mula dikembangkan oleh Hasan Al-Bashri, dengan demikian keterangan
yang ditulis oleh ibn Nabatah dalam Syahrul Al- Uyun bahwa fahan Qadariyah berasal dari
orang irak kristen yang masuk islam kemudian kembali lagi kekristen,adalah hasil rekayasa
orang yang tidak sependapat dengan faham ini agar orang-orang yang tidak tertarik dengan
pikiran Qadariyah. Lagipula menurut Kremer, seperti dikutip Ignaz Goldziher , dikalangan
gereja timur ketika itu terjadi perdebatan tenteng butir doktrin Qadariyah yang mencekam
pikiran para teologinya.


4
Lihat Ali Mustafa Al-ghurabi, Tarikh al-Firaq al-Islamiyah, (cet. VI; Kairo: Maktabah Annahda, 1978), h. 34-35
6 | P a g e

Faham Qadariyah mendapat tantangan keras dari umat islam ketika itu, ada beberapa
hal yang mengakibatkan terjadi dua reaksi keras ini. Pertama, seperti pendapat Harun
Nasution, karena masyarakat arab sebelum islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham
fatalis. Kehidupan bangsa arab ketika itu serba sederhana dan jauh dari pengetahuan.
Mereka selalu terpaksa mengalah kepada keganasan alam. Panas yang menyengat, serta
tanah dan gunung yang gundul. Mereka merasa dirinya lemah dan tak mampu menghadapi
kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh alam sekelilingnya.faham itu terus dianut kedatipun
mereka telah beragama islam, karena itu , ketika faham Qadariyah di kembangkan , mereka
tidak dapat menerimanya, faham Qadariyah itu dianggap bertentangan dengan doktrin
islam.
Kedua tantangan dari pemerintah ketika itu. Tantangan itu sangat mungkin terjadi
karena para pejabat pemerintahan menganut faham Jabariyah. Ada kemungkinan juga
pejabat pemerintah menganggap gerakan faham Qadariyah sebagai suatu usaha
menyebarkan faham dinamis dan daya kritis rakyat, yang pada gilirannya mampu mengkritik
kebijakan-kebijakan mereka yang dianggap tidak sesuai, dan bahkan dapat menggulingkan
mereka dari tahta kerajaan.
Ditinjau dari segi politik kehadiran mazhab Qadariyah sebagai isyarat menentang
politik Bani Umayah, karena itu kehadiran Qadariyah dalam wilayah kekuasaanya selalu
mendapat tekanan, bahkan pada zaman Abdul Malik bin Marwan pengaruh Qadariyah
dapat dikatakan lenyap tapi hanya untuk sementara saja, sebab dalam perkembangan
selanjutnya ajaran Qadariyah itu tertampung dalam Muktazilah.







7 | P a g e

2. Doktrin-Doktrin Qadariyah
Dalam masalah ketuhanan, faham Qadariyah menafikkan sifat-sifat ma’ani yaitu ; ilmu,
qudrah, iradah, hayah, sama, basher, dan kalam. Dia menafsirkan sifat-sifat ini sebagai
identik dengan Dzat, bukan sesuatu yang berbeda dengan Dzat. Karena pendapat ini
dipandang sebagai firqah mu’athhilah (golongan yang menafikan sifat-sifat Allah). Dan dia
juga menafikan Al-Qur’an itu kadim, tidak baharu seperti yang dikatakan oleh Jaham bin
Safwan.
5

Adapun tentang Iman, ia mengatakan bahwa iman itu adalah makrifah serta mengakui
dengan lisan adanya Allah dan Rasul Nya. Yakni dengan hati dan lisan saja. Sedangkan
amalan itu bukan bagian dari Iman. Amalan menduduki tempat kedua setelah Iman. Artinya,
apabila seseorang telah menyatakan Imannya dengan pengakuan hati dan ucapan lisan,
maka dia tidak lagi dituntut sesudahnya untuk beramal, seperti shalat, puasa dan
sebagainya melainkan dengan penangguhan karena Iman itu sendiri tidak rusak karenanya.
6

Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal , pembahasan masalah Qadariyah disatukan dengan
pembahasan tentang doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara kedua aliran ini
kurang begitu jelas. Ahmad Amin juga menjelaskan bahwa doktrin qadar lebih luas di kupas
oleh kalangan Mu’tazilah sebab faham ini juga menjadikan salah satu doktrin Mu’tazilah
akibatnya, orang menamakan Qadariyah dengan Mu’tazilah karena kedua aliran ini sama-
sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa
campur tangan tuhan.
Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghailan tentang doktrin Qadariyah bahwa
manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Mansuia sendiri pula melakukan atau
menjauhi perbuatan atau kemampuan dan dayanya sendiri. Salah seorang pemuka
Qadariyah yang lain , An-Nazzam , mengemukakan bahwa manusia hidup mempunyai daya
dan ia berkuasa atas segala perbuatannya.
Dari beberapa penjelasan diatas ,dapat di pahami bahwa segala tingkah laku manusia
dilakukan atas kehendaknya sendiri. Mansuia mempunyai kewenangan untuk melakun
segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh

5
Kuliah Ilmu Kalam. Op. cit. hal 26
6
Kuliah Ilmu Kalam. Op. cit. hal 26
8 | P a g e

karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak
mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memproleh
hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya.
Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi
ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akhirat,itu berdasarkan pilihan pribadinya
sendiri ,bukan akhir Tuhan.Sungguh tidak pantas,manusia menerima siksaan atau tindakan
salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.
Faham takdir dalam pandang Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umum
di pakai bangsa Arab ketika itu,yaitu faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah di
tentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatan-perbuatannya,manusia hanya bertindak
menurut nasib yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya.Dalam faham
Qadariyah,takdir itu ketentuan Allah yang di ciptakan-Nya bagi alam semesta beserta
seluruh isinya,sejak azali,yaitu hukum yang dalam istilah Al-Quran adalah sunatullah.
Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi ganjaran
siksa dengan balasan neraka kelak di akhirat,itu berdasarkan pilihan pribadinya sendiri
,bukan akhir Tuhan.Sungguh tidak pantas,manusia menerima siksaan atau tindakan salah
yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.
Faham takdir dalam pandang Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umum
di pakai bangsa Arab ketika itu,yaitu faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah di
tentukan terlebih dahulu.Dalam perbuatan-perbuatannya,manusia hanya bertindak
menurut nasib yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya.Dalam faham
Qadariyah,takdir itu ketentuan Allah yang di ciptakan-Nya bagi alam semesta beserta
seluruh isinya,sejak azali,yaitu hukum yang dalam istilah Al-Quran adalah sunatullah.
Secara alamiah, sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah.
Manusia dalam dimensi fisiknya tidak dapat berbuat lain, kecuali mengikuti hukum alam.
Misalnya, manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip atau ikan yang mampu
berenang dilautan lepas. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan. Seperti gajah
yang mampu mambawa barang beratus kilogram, akan tetapi manusia ditakdirkan
mempunyai daya pikir yang kreatif, demikian pula anggota tubuh lainnya yang dapat
berlatih sehingga dapat tampil membuat sesuatu ,dengan daya pikir yang kreatif dan
9 | P a g e

anggota tubuh yang dapat dilatih terampil. Manusia dapat meniru apa yang dimiliki ikan.
Sehingga ia juga dapat berenang di laut lepas. Demikian juga manusia juga dapat membuat
benda lain yang dapat membantunya membawa barang seberat barang yang dibawa gajah.
Bahkan lebih dari itu, disinilah terlihat semakin besar wilayah kebebasan yang dimiliki
manusia. Suatu hal yang benar-benar tidak sanggup diketahui adalah sejauh mana
kebebasan yang dimiliki manusia ? siapa yang membatasi daya imajinasi manusia? Atau
dengan pertanyaan lain, dimana batas akhir kreativitas manusia?
Dengan pemahaman seperti ini, kaum Qadariyah berpendapat bahwa tidak ada alasan
yang tepat untuk menyadarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan tuhan.
Doktrin-doktrin ini mempunyai tempat pijakan dalam doktrin islam sendiri.

Banyak ayat Al-Qur’an yang mendukung pendapat ini, adalah antara lain :

Qs Al-Kahfi : 29
.· ´.! : .¡`.l· .´. ´.!: ¯,±>´.l·
Artinya :
”Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang
ingin (kafir) Biarlah ia kafir".

QS Ali Imran: 165
!´.l´.¦ .>.´...¦ «.,.¯. .· ..¯..¦ !.¯.l:. ..l· _.¦ ¦..> ¯_· ´.> . ..s ¯.>.±.¦ _| ´<¦
_ls _´ .`_: ",..· ¸''
10 | P a g e

Artinya :
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu
telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan
Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari
(kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
QS ar-Ra'd : 11
´_| ´<¦ N ¸.-`. !. .¯. 1. _.> ¦.¸.-`. !. ¯...±.!.
Artinya :
“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka
merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

QS. An-Nisa: 111
.´. `..>. !..| !..¦· .«..>. _ls .«.±. _l´´. ´<¦ !.,ls !.,>> ¸¸¸
Artinya :
“Barangsiapa yang mengerjakan dosa, Maka Sesungguhnya ia mengerjakannya untuk
(kemudharatan) dirinya sendiri. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”






11 | P a g e

BAB III
PENUTUP
a. Kesimpulan
 Aliran Qadariah muncul pada pertengahan abad pertama Hijriyah, dan tokoh
pendirinya adalah Ma’bad Al-Jauhani dan Ghailan al-Dimasqy.
 Konsepsi paham qadariyah menempatkan manusia sebagai mahluk bebas
dalam berkehendak. Paham ini menggunakan akal (di luar teks sebagai cara
memperoleh pengetahuan tentang kebebasan itu).

 Menurut aliran Qadariyah Iman adalah makrifah artinya, mengakui dengan
lisan adanya Allah dan Rasul Nya. Yakni dengan hati dan lisan saja. Sedangkan
amalan itu bukan bagian dari Iman. Amalan menduduki tempat kedua setelah
Iman. Artinya, apabila seseorang telah menyatakan Imannya dengan
pengakuan hati dan ucapan lisan, maka dia tidak lagi dituntut sesudahnya
untuk beramal, seperti shalat, puasa dan sebagainya melainkan dengan
penangguhan karena Iman itu sendiri tidak rusak karenanya

b. Komentar
Menurut saya aliran Qadariyah mempunyai bentuk bentuk penyimpangan dan
kelebihannya,
 Bentuk penyimpangannya adalah ia berpaham bahwa iman adalah makrifah, yaitu
mengakui dengan hati dan lisan saja, maka dia tidak dituntut untuk beramal sperti
shalat, puasa dll. Sedangkan Rasulullah saw bersabda :
“Hadis riwayat Ibnu Umar ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: Islam
dibangun di atas lima perkara, mengesakan Allah, mendirikan salat,
membayar zakat, puasa Ramadan dan menunaikan haji. (Shahih Muslim
No.19)”

12 | P a g e

Dan sabda Nabi saw ;
“Iman itu adalah ucapan dan perbuatan”
 Sedangkan kelebihannya adalah aliran Qadariyah percaya bahwa allah tidak akan
merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri (ar-Rad; 11), sehingga dengan landasan ini kita mempunyai
semangat yang besar untuk maju dan merubah hal-hal yang kita inginkan, tidak
hanya menunggu datangnya sebuah perubahan. Sedangkan terhadap apa yang
kita lakukan kita akan mempertanggung jawabkannya, apabila kita melakukan hal
hal yang baik maka baik pula balasan yang akan diterima, dan sebaliknya apabila
kita melakukan suatu keburukan maka buruk pula balasannya.

c. Saran
 Sebagai orang Islam sebaiknya kita selalu berpegang dan kembalikan lagi kepada
pedoman hidup kita yaitu Al–Qur’an dan Hadist, karena barang siapa yang
mengamalkan berdasarkan petunjuk dari Al-Qur’an dan hadist maka insyaallah
kita pasti akan selamat.









13 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

1. The oxford Encylopedia of the Moden Islamic Wold, (vol. IV; New York: Oxfod
University Press, 1995), h. 215
2. Ahmad Amin, Fajr al-Islam,(Kairo; Maktabah Annahda, 1965), h. 254
3. Ali Mustafa Al-ghurabi, Tarikh al-Firaq al-Islamiyah, (cet. VI; Kairo: Maktabah
Annahda, 1978), h. 34-35
4. Kuliah Ilmu Kalam. Op. cit. hal. 26
5. www. google .com






You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->