P. 1
Laporan Pendahuluan Masa Nifas

Laporan Pendahuluan Masa Nifas

|Views: 335|Likes:
Published by Yossi Hilda Pratama

More info:

Published by: Yossi Hilda Pratama on Oct 30, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2015

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN MASA NIFAS

I.

PENGERTIAN Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir

ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil) yang berlangsung kurang lebih 6 minggu (Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2002). Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini memerlukan waktu 6 minggu. (Farrer, 2001)

II. TUJUAN PERAWATAN MASA POST PARTUM 1. Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologis 2. Melaksanakan skrinning yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. 3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya, dan perawatan bayi sehat. 4. Memberikan pelayanan KB.

III. PERIODE NIFAS 1. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-

jalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari 2. minggu 3. Remote Puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8

terutama bila selama hamil / waktu persalinan ada komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan. IV. PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI 1. Involusi rahim

keras dan nyeri. Mulai 3 hari post partum buah dada membesar. Lochea rubra (hari 1 . Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui oleh 1 jari saja dan lingkaran retraksi berhubungan dengan bagian atas dari canalis serfikalis. Ini menandai permulaan sekresi air susu dan kalau areola mamae dipijat. 3.4) . pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak karena robekan dalam persalinan. 6. luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari. namun berangsur-angsur akan pulih kembali dalam 6 minggu. Laktasi Keadaan buah dada / payudara 2 hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam kehamilan. 8. Pada servik terbentuk sel-sel otot baru. pada masa nifas (puerperium) kandung kemih kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah sehingga kandung kencing masih terdapat urine residual. Sisa urine dan trauma kandung kemih waktu persalinan akan memudahkan terjadinya infeksi.Setelah 2 hari uterus mengecil dengan cepat sehingga pada hari ke-10 uterus tidak terba lagi dari luar. pada minggu ketiga post partum rugae kembali nampak. 2. Pembuluh darah rahim Setelah persalinan pembuluh-pembuluh darah akan mengecil kembali karena darah yang diperlukan tidak sebanyak waktu hamil. keluarlah cairan putih dari puting susu. Saluran kencing Dapat terjadi udem. osteum externum dapat dilalui oleh 2 jari. 4. Servik dan vagina Beberapa hari stelah persalinan. Buah dada belum mengandung susumelainkan kolostrum. Macam-macam lochea : a. Involusi tempat placenta Mengecil dengan cepat pada akhir minggu ke-2 yaitu 3-4 cm dan pada akhir masa nifas 1 – 2 cm. Dinding perut dan peritonium Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama. 5. 7. dan hyperemia. Lokea Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam nifas.

Lochea alba (hari 8 – 14) Jumlahnya sedikit. terutama kelenjar – kelenjar dan alveolus mammae dan lemak. 2) Pada duktus laktiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat dikeluarkan berwarna kuning (kolostrum). berwarna merah dan terutama darah b. Lochea serosa (hari 4 – 8) Jumlahnya berkurang dan berwarna merah muda (hemoserosa) c. perubahan pada kedua mammae antara lain : 1) Proliferasi jaringan. sehingga volume darah ibu relatif akan bertambah dan dapat menimbulkan beban pada jantung sehingga dapat menimbulkan decompensasi cordis. keluar cairan nanah berbau busuk. Keadaan ini dapat diatasi dengan mekanisme kompensasi timbulnya hemokonsentrassi. setelah melahirkan shunt akan hilang secara tiba-tiba. V. maka wanita tersebut . 3) Hipervaskularisasi. berwarna putih atau hampir tidak berwarna d. Pengaruh oksitosin mengakibatkan mioepitelium kelenjar-kelenjar susu berkontraksi sehingga terjadi pengeluaran air susu yang berlangsung pada hari 2-3 post partum. 4) Setelah partus. Lochea purulenta Bila terjadi infeksi. apabila adaptasi tersebut tidak berhasil.Jumlahnya sedang. terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam mammae. Laktasi Sejak kehamilan muda sudah terdapat persiapan-persiapan pada kelenjar mamae. pengaruh menekan dari estrogen dan progesteron terhadap hipofise hilang dan berpengaruh timbulnya hormon laktogenic (prolaktin). 9. MASALAH PSIKOLOGIS YANG SERING TERJADI Kehamilan. sehingga mammae yang terlah dipersiapkan terpengaruhi dengan akibat kelenjar-kelenjar berisi air susu. b. Hal ini terjadi pada hari ke 3 sampai 15 hari post partum. Hemokonsentrasi Pada masa hamil didapat hubungan pendek yang dikenal sebagai shunt antara sirkulasi ibu dan plasenta. kelahiran dan perubahan menjadi orang tua menyebabkan terjadinya keadaan krisis yang membutuhkan adaptasi. Perubahan-perubahan penting lainya a.

3. Gejala seperti delusi dan halusinasi. insomnia. Post Partum Psikosis Jarang terjadi. psikososial & sosial. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik dan dikeringkan dibawah matahari dan disetrika. mudah tersinggung. Kebersihan diri Anjurkan menjaga kebersihan seluruh tubuh Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah alat kelamin dengan sabun dan air. Berakhir dalam 24 – 48 jam. Depresi Post Partum Sama dengan gejala depresi yang dialami dalam kehidupan pada waktu lain. gejala terlihat dalam 3 – 4 minggu setelah melahirkan. sangat lelah. Ada korelasi positif dengan : BBL bayi rendah. 1995). masalah perilaku. sulit konsentrasi. baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus. Pastikan bahwa klien mengerti untuk membersihkan daerah vulva terlebih dahulu dari depan ke belakang. Post Partum Blues Merupakan depresi pada masa kehamilan. pola pertumbuhan buruk. et al. Akibatnya bisa menimpa ibu maupun anak & dapat terus terjadi sampai tahun kedua setelah kelahiran (Oates. VI. Masalah kesehatan jiwa yang sering dialami wanita (Kobllinsky. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya 2x sehari. Ada korelasi positif dengan riwayat ketegangan sebelum menstruasi dan keadaan hormonal yang tidak stabil. seperti menangis. Dialami sekitar 20% ibu post partum. penyebab pasti belum diketahui. relative rendah namun meningkat dalam 12 bulan pertama setelah melahirkan. Nasehatkan ibu untuk membersihkan vulva setiap kali buang air kecil atau besar. keluhan somatik. Umumnya gejala terjadi antara hari ke 3 sampai hari ke 10. 1993) yaitu : 1. Kemungkinan penyebabnya biologis.akan mengalami depresi. Gejala umumnya terjadi pada 3 bulan pertama setelah melahirkan atau sampai bayi berusia 1 tahun. PENANGANAN MASA NIFAS (PUERPERIUM) 1. 2. Hal ini biasanya dialami oleh ibu yang mengalami keguguran atau kematian bayi dalam kandungan/setelah dilahirkan. .

sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka. Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam:  Mengurangi jumlah asi yang diproduksi  Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan  Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri. 5.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayi melalui air asinya. Perawatan payudara Menjaga payudara tetap bersih dan kering. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada panggul. Sarankan untuk kembali melakukan kegiatan rumah tangga secara perlahan-lahan serta untuk tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi. Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan. Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari post partum. 2. mineral dan vitamin yang cukup Minum sedikitnya 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui. Istirahat Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan berlebihan. . Tetap menyusui dimulai dari puting susu yang tidak lecet.- Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya. Gizi Mengkonsumsi tambahan 500 kalori setiap hari. Makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein. 4. 3. Minum kapsul vitamin A (200. Pada minggu ke-6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak 30 kali. terutama pada puting susu Menggunakan Bra yang menyokong payudara Apabila puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar puting susu setiap kali menyusui. Latihan Diskusikan pentingnya otot-otot panggul kembali normal. Jelaskan pentingnya latihan untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul (kelgel exercise).

VII. Untuk menghilangkan nyeri ibu dapat minum paracetamol 1 tablet. misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan. Apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI. Keadaan umum ibu 2. ASI dikeluarkan dan diminumkan menggunakan sendok. Defekasi 6. Payudara VIII. Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui. Suhu tubuh 3. 6. Deteksi masalah. Tinggi fundus uteri 7. Nadi dan tekanan darah 4. PERLUNYA ASUHAN MASA NIFAS 1.- Apabila lecet sangat berat dapat diistirahatkan selama 24 jam. Miksi 5. PENGAMATAN PADA MASA NIFAS 1. Lochea 8. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya 2. sisanya keluarkan dengan tangan. pengobatan dan rujukan 3. Susukan bayi setiap 2-3 jam. Keputusan bergantung pada pasangan yang bersangkutan. Keluarkan ASI sebagian dari depan payudara sehingga puting susu menjadi lunak. Urut payudara dari arah pangkal menuju puting susu dan gunakan sisi tangan untuk mengurut payudara. Penyuluhan kesehatan 4. Senggama Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri Banyaknya budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suami istri sampai pada masa waktu tertentu. Pelayanan KB .

kandung kemih. PK. masa nifas. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik (laserasi. Pemeriksaan umum : tanda-tanda vital. Keadaan alat reproduksi XI. paparan lingkungan patogen 3. Menyusui bayi 3. Risiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif. 5. rectum. Infeksi pada masa nifas. Infeksi payudara 5. PEMERIKSAAAN POST NATAL ATAU POST PARTUM 1. DISCHARGE PLANNING 1. Abses payudara X. 6. keluhan 2. Payudara : ASI. kejang dan panas 3.IX. Perdarahan pasca persalianan 2. Melakukan gymnastik sehabis bersalin 4. Kurang pengetahuan: perawatan post partum b. Fisiotherapi post natal 2. Sekret yang keluar (lochea. Bendungan ASI 4. Dinding perut. Merencanakan KB untuk menjarangkan kehamilan 5. puting susu 3. fluor albus) 5. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurangnya pengetahuan 4. episiotomi) 2. Kurangnya informasi. Perdarahan . perineum. dll 4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan Kelelahan. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1.d. KOMPLIKASI POST PARTUM 1. Mengimunisasi bayi XII.

takut bergerak b) Riwayat Kehamilan Umur kehamilan serta riwayat penyakit menyetai c) Riwayat Persalinan     Tempat persalinan Normal atau terdapat komplikasi Keadaan bayi Keadaan ibu d) Riwayat Nifas Yang Lalu    Pengeluaran ASI lancar / tidak BB bayi Riwayat ber KB / tidak e) Pemeriksaan Fisik          Keadaan umum pasien Abdomen Saluran cerna Alat kemih Lochea Vagina Perinium + rectum Ekstremitas Kemampuan perawatan diri .KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN a) Keluhan Utama Sakit perut . perdarahan . nyeri pada luka jahitan .

Nyeri akut berhubungan dengan trauma mekanis . PERENCANAAN 1. edema jaringan .f)   Pemeriksaan psikososial Respon + persepsi keluarga Status psikologis ayah . respon keluarga terhadap bayi V. feses kurang dari biasanya 8. Resiko tinggi terhadap perubahan menjadi orang tua berhubungan dengan kurangnya pengetahuan ketidakefektifan model peran stressor 9. nyeri perineal ditandai dengan perubahan bising usus . Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan penurunan masukan / penggantian tidak adekuat . prosedur invasive . perubahan – perubahan jumlah / frekuensi berkemih 6. Kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) mengenai perawatan diri dan bayi berhubungan dengan kurang pemahaman . hemoragi . kehilangan cairan berlebih ( muntah . peningkatan keluaran urine ) 7. penurunan Hb . pengalaman sebelumnya . tidak merasa . dehidrasi . Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan biokimia efek anastesi . DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan . efek anastesi ditandai dengan distensi kandung kemih . karakteristik payudara 3. malnutrisi 5. pecah ketuban . tingkat dukungan . Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan efek hormonal . profil darah abnormal 4. Ketdakefektifan menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan . ibu mengatakan nyerinya berkurang sampai hilang . Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot . trauma mekanis . salah interpretasi tidak tahu sumber – sumber 10. edema / pembesaran jaringan atau distensi efek – efk hormonal 2. efek progesteron . Dx 1 Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri ibu berkurang dengan criteria evaluasi : skala nyeri 0-1 . Keterbatasan gerak dan aktivitas berhubungan dengan nyeri luka jahitan perineum VI.

d. Berikan kompres hangat Rasional : meningkatkan sirkulasi pada perinium e. 3. mempercepat involusi dan mengurangi secara bertahap. Dx 3 . tanda vital dalam batas normal . R = 18 – 20 x / menit Intervensi : a. Intervesi : a. N = 80 x/menit . bayi mendapat ASI yang cukup. Dx 2 Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan ibu dapat mencapai kepuasan menyusui dengan criteria evaluasi : ibu mengungkapkan proses situasi menyusui. Motivasi : untuk mobilisasi sesuai indikasi nyeri Rasional : memperlancar pengeluaran lochea. c. Demonstransikan dan tinjau ulang teknik menyusui Rasional : posisi yang tepat biasanya mencegah luka/pecah putting yang dapat merusak dan mengganggu. Kaji ulang skala nyeri Rasional : mengidentifikasi kebutuhan dan intervensi yang tepat b. Anjurkan ibu agar menggunakan teknik relaksasi dan distraksi rasa nyeri Rasional : untuk mengalihkan perhatian ibu dan rasa nyeri yang dirasakan c. Delegasi pemberian analgetik Rasional : melonggarkan system saraf perifer sehingga rasa nyeri berkurang 2. S = 37 C . b. Rasional : membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan saat ini agar memberikan intervensi yang tepat. TD = 120/80 mmHG . Anjurkan ibu mengeringkan puting setelah menyusui Rasional : agar kelembapan pada payudara tetap dalam batas normal.nyeri saat mobilisasi . Kaji ulang tingkat pengetahuan dan pengalaman ibu tentang menyusui sebelumnya.

Rasional : dapat mengetahui kesenjangan kondisi ibu dan intervensi yang cepat dan tepat b. Tinjau ulang kadar Hb dan kehilangan darah waktu melahirkan observasi dan catat tanda anemia. Anjurkan mobilitas dan latihan dini secara bertahap Rasional : meningkatkan sirkulasi dan aliran darah ke ekstremitas bawah c.Dx 4 Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan infeksi pada ibu tidak terjadi dengan KE : dapat mendemonstrasikan teknik untuk menurunkan resiko infeksi. Rasional : membantu mencegah kontaminasi rektal melalui vaginal. Pantau tanda-tanda vital. Rasional : peningkatan suhu > 38C menandakan infeksi. Rasional : pembalut yang lembab dan banyak darah merupakan media yang menjadi tempat berkembangbiaknya kuman. b. Lakukan rendam bokong. Kaji ada hiperfleksia sakit kepala atau gangguan penglihatan Rasional : bahaya eklamsi ada diatas 72 jam post partum sehingga dapat diketahui dan diinteraksikan 4. Sarankan ibu membersihkan perineal dari depan ke belakang. Rasional : untuk dapat mendeteksi tanda infeksi lebih dini dan mengintervensi dengan tepat. d. e. c. Sarankan pada ibu agar mengganti pembalut tiap 4 jam. Intervensi : a. 5. bau. jumlah) kontraksi uterus dan kondisi jahitan episiotomi.Tujuan : setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan cedera pada ibu tidak terjadi dengan criteria evaluasi : ibu dapat mendemonstrasikan prilaku unsure untuk menurunkan faktor risiko/melindungi harga diri bebas dari komplikasi. Kaji lochea (warna. tidak terdapat tanda-tanda infeksi. Rasional : untuk memperlancar sirkulasi ke perinium dan mengurangi udema.Dx 5 . Intervensi : a.

Ajarkan ibu agar massage sendiri fundus uteri. Kolaborasi pemasangan kateter. Anjurkan berkamih 6-8 jam post partum. Rasional : agar kencing yang tidak dapat keluar. Hb/Ht dalam batas normal (12. Rasional : peningkatan suhu dapat memperhebat dehidrasi. Rasional : mengurangi distensi kandung kemih.Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan ibu tidak mengalami gangguan eliminasi (BAK) dengan KE : ibu dapat berkemih sendiri dalam 6-8 jam post partum tidak merasa sakit saat BAK.0 gr/dL) Intervensi : a. c. Intervensi : a. Anjurkan pasien untuk melakukan ambulasi sesuai toleransi dan meningkatkan secara progresif. d. Rasional : melatih otot-otot perkemihan. Rasional : penurunan Hb tidak boleh melebihi 2 gram%/100 dL.Dx 6 Tujuan : setelah diberikan askep ibu diharapkan tidak kekurangan volume cairan dengan KE : cairan masuk dan keluar seimbang. . Pertahankan cairan peroral 1. Periksa ulang kadar Hb/Ht.5-2 liter/hari. Rasional : membantu meningkatkan peristaltik gastrointestinal. b. nadi. Rasional : memberi rangsangan pada uterus agar berkontraksi kuat dan mengontrol perdarahan. b. jumlah urine 1. bisa dikeluarkan sehingga tidak ada retensi. c.Dx 7 Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan konstipasi tidak terjadi pada ibu dengan KE : ibu dapat BAB maksimal hari ke 3 post partum.5-2 Liter/hari. Observasi perubahan suhu. tensi. Berikan teknik merangsang berkemih seperti rendam duduk. alirkan air keran. Intervensi : a. feses lembek. Rasional : mengetahui balance cairan pasien sehingga diintervensi dengan tepat. d. Rasional : mencegah terjadinya dehidrasi. 6.0-16. 7. Kaji dan catat cairan masuk dan keluar tiap 24 jam.

Intervensi : a.Dx 8 Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan keluarga dapat menerima perubahan tersebut dengan KE : mengungkapkan masalah dan pertanyaan menjadi orang tua. . perubahan peran. Pertahankan diet reguler dengan kudapan diantara makanan. Anjurkan ibu BAB pada WC duduk. Sarankan agar mendemonstrasikan apa yang sudah dipelajari. 9. tingkatkan makan buah dan sayuran.b. Kolaborasi pemberian laksantia supositoria. Berikan pendidikan informal diikuti demonstrasi perawatan bayi. Berikan informasi tentang perawatan dini (perawatan perineal) perubahan fisiologi. Rasional : makanan seperti buah dan sayuran membantu meningkatkan peristaltik usus.Dx 9 Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan pengetahuan ibu tentang perawatan dini dan bayi bertambah dengan KE : mengungkapkan kebutuhan ibu pada masa post partum dan dapat melakukan aktivitas yang perlu dilakukan dan alasannya seperti perawatan bayi. Berikan informasi tentang perawatan bayi (perawatan tali pusat. Rasional : membantu mencegah infeksi. b. Rasional : memudahkan terjadinya ikatan keluarga positif. ari. menyusui. perawatan perinium. b. Rasional : untuk mencegah mengedan dan stres perineal. Intervensi : a. c. secara aktif mulai melakukan perawatan dengan tepat. Rasional : membantu orang tua belajar dasar-dasar keperawatan bayi. mendiskusikan peran orang tua secara realistik. Rasional : menambah pengetahuan ibu tentang perawatan bayi sehingga bayi tumbuh dengan baik. lochea. KB. memandikan dan imunisasi). mempercepat penyembuhan dan berperan pada adaptasi yang positif dari perubahan fisik dan emosional. Rasional : mengurangi rasa nyeri. 8. c. d. istirahat. Berikan askep primer untuk ibu dan bayi.

c. Evaluasi formatif : evaluasi yang dilakukan berdasarkan respon pasien terhadap tindakan yang dilakukan. Rasional : mempercepat kesembuhan luka sehingga memudahkan gerak dan aktivitas. Rasional : meningkatkan sirkulasi dan aliran darah ke ekstremitas bawah. PELAKSANAAN / IMPLEMENTASI Implementasi yang dilakukan sesuai dengan masalah yang ada berdasarkan perencanaan yang telah dibuat (Doenges M. Intervensi : a. EVALUASI Evaluasi dilakukan dengan 2 cara yaitu evaluasi formatif dan sumatif. Rasional : melonggarkan sistem saraf parifer sehingga rasa nyeri berkurang VII. luka jahitan perinium sudah tidak sakit (nyeri berkurang). . Kolaborasi pemberian analgetik.E. Evaluasi sumatif : evaluasi yang dilakukan untuk mengetahui secara keseluruhan apakah tujuan tercapai atau tidak.Rasional : memperjelas pemahaman ibu tentang apa yang sudah dipelajari. 10.Dx 10 Tujuan : setelah diberikan askep diharapkan gerak dan aktivitas terkoordinasi dengan KE : sudah tidak nyeri pada luka jahitan saat duduk. KIE perawatan luka jahitan periniom. b. 2001) VIII. b. a. Anjurkan mobilisasi dan latihan dini secara bertahap.

Ilmu Kebidanan. Jakarta : EGC. Balai Penerbit UI. L. Buku Saku Doagnosa Keperawatan Edisi 8. Perawatan Maternitas.DAFTAR PUSTAKA Cardenito. M. Nursing Diagnoses: Definitions & Classification.E. 2001. com. 1994. Philadelphia Sarwono. 2002. Edisi 2. Jakarta http://www. 2001. Nursing diagnoses.J. Jakarta : EGC. Jakarta . Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Doenges. P. Us elsevierhealth. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal Edisi 3. Jakarta Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2001. Tridasa. H. Farrer. 2000. Outcomes and interventions NANDA. EGC.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->