Ikhlas Sebagai Buah Ibadah Puasa

Salah satu hikmah ibadah puasa dalam hal pembentukan pribadi muslim adalah bahwa puasa membentuk manusia yang ikhlas. Ikhlas adalah bersihnya hati pada saat melaksanakan ibadah dari segala pamrih, kecuali semata-mata mengharap ridha Allah. Ikhlas lawan katanya adalah riya, yang artinya suka pamer, atau ingin dipuji orang lain. Nabi Muhammad saw mengkategorikan sifat riya ini sebagai syirik khafi atau Syirkul Ashghor. Seseorang yang melakukan shadaqah misalnya, tetapi ia berharap pujian orang lain, berarti ia belum ikhlas. Shadaqah yang dilandasi oleh sifat riya, tidak akan diterima oleh Allah. Dalam surat Al Baqarah ayat 264 Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan peneirma), seperti orang yang menyedekahkan hartanya karena riya terhadap manusia, dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Perumpamaan orang itu adalah seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu ia menjadi bersih (tidak bertanah)”

Ibadah Puasa Mendidik Kita Agar Memiliki Sifat Ikhlas. Kita berharap semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang ikhlas. Karena betapapun kita melakukan sesuatu hingga bersimbah peluh berkuah keringat, habis tenaga dan terkuras pikiran, kalau kita tidak ikhlas melakukannya, tidak akan ada nilainya di hadapan Allah. Bertempur melawan musuh, tapi kalau hanya ingin disebut sebagai pahlawan, ia tidak memiliki nilai apapun. Menafkahkan seluruh harta kalau hanya ingin disebut sebagai dermawan, itu pun tidak akan bermakna. Mengumandangkan adzan setiap waktu shalat, tapi selama adzan bukan Allah yang dituju, hanya sekedar ingin memamerkan keindahan suara supaya menjadi juara adzan atau menggetarkan hati seseorang, maka itu hanya teriakan-teriakan yang tidak bernilai di hadapan Allah. Nabi saw bersabda :“Seluruh manusia itu rusak, kecuali orang yang beramal. Dan orang yang beramal itu rusak, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu itu rusak, kecuali orang yang ikhlas”. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda, “Allah tidak menerima amalan, melainkan amalan yang ikhlas dan yang karena untuk mencari keridhaan Allah.” (H. R. Ibnu Majah) Ikhlas, terletak pada niat hati. Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna. Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika kita sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan tidak pula ke kanan, tapi pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah. Orang yang ikhlas adalah mereka yang tidak mengingat-ngingat amal kebaikannya. Imam Ya’kub al Makfufi, seperti diceritakan oleh Imam Al Ghazali dalam Ihya „Ulumuddin-nya, mengatakan bahwa orang yang ikhlas selalu menyembunyikan kebaikan yang pernah dilakukannya, ia tidak mau kalau kebaikannya diketahui

juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Setiap kata-katanya tidak akan seperti pisau yang mengiris hati. Jangan pula disebut-sebut.oleh orang lain. Kalau disampaikan dengan ikhlas. kita tidak curiga akan dikecoh olehnya. Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Tidak usah heran jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat. Begitu pula menunggu diberi pujian. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. dimanakah letak kekuatan hamba-hamba Allah yang ikhlas? Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap. jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. dan imbalan. Maha Tahu segalanya! Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa. Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa katakata agar penuh pesona. . Allah Maha Tahu segala lintasan hati. tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas. Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas. diingat-ingat. Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Selebihnya terserah Allah. kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah. tutur kata. ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari orang lain. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu. Keikhlasan seorang hamba Allah dapat dilihat pula dari raut muka. Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian. maka kita akan banyak kecewa dalam hidup ini. Bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. penghargaan. Kita tidak curiga akan ditipu. serta gerak-gerik perilakunya. seperti halnya kita yang selalu menyembunyikan kejelekan yang pernah kita lakukan. Oleh karena itu. yang ia harapkan hanyalah memberikan yang terbaik untuk orang lain. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. yang pasti aman. itulah ikhlas. nanti malah berkurang pahalanya. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang yang dihadapinya. ketenangan batin. tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji. Bisa dipertanggung jawabkan artinya. Lalu. Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah. walaupun kata-katanya sederhana. pasti kita akan kecewa. Allah-lah yang kuasa menghujamkan maknanya kepada setiap qolbu pendengarnya. Dia benar-benar bening dari segala bentuk rekayasa.

tatkala Allah SWT menciptakan bumi. ternyata bumi pun terdiam. bahkan baja bisa menjadi cair. ucapan terima kasih. yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat. niscaya akan padam jika disiram oleh air). Alangkah nyamannya suasana kerja di lingkungan kita. Orang yang ikhlas adalah orang yang punya kekuatan. Bertanya kembali para malaikat. tidak ada yang memiliki sifat ingin dipuji. bukan lagi pujian sesama manusia. tulus. “Ada. Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad. “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?” Allah yang Mahasuci menjawab. sehingga sedekah yang dilakukannya bersih. “Ada. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi. yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi). dan sebagainya. ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah. maka bumi pun bergetar. “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikat. dan mendidih setelah dibakar bara api). “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaanMu yang lebih kuat dari pada api?” Allah yang Mahaagung menjawab. Yakni. adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?” Allah menjawab. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian. penghormatan. lumer. tangan kanannya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kirinya. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya. Alangkah bahagianya kita semua. jika masing-masing kita memiliki sifat ikhlas. tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi. dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain. dan sebagainya. bergulung-gulung. adalah orang yang bersedekah. dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya. jika semua rekan kita. “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?” Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab. tanpa motivasi ingin dipuji oleh orang lain Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun. karena yang ia tuju hanyalah penghargan dan ridha Allah. “Ada.” Artinya. asal bapak senang. yaitu api” (Besi. tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Para malaikat pun kembali bertanya. tersimbah dan menghempas karang. paling kuat. Setiap orang akan bekerja secara optimal. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan. tidak gila hormat. “Ada. yaitu rindu pujian dan penghargaan. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa diantara 8 kelompok orang yang akan mendapat perlindungan Allah hari kiamat nanti. yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya. “Ada. atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar. . dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat. Para malaikat terheranheran akan penciptaan gunung tersebut. ia bersedekah dengan rahasia. penghargaan. orang yang paling hebat.

Mari kita tingkatkan kualitas ibadah puasa kita. sebagai salah satu jalan mewujudkan sifat ikhlas dalam diri kita .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful