MAKALAH SOSIOLINGUISTIK “KEPUNAHAN BAHASA”

Oleh : Kelompok 5 Alimuddin 09.88201.1613

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PRODI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MADURA 2012

DAFTAR ISI Daftar isi BAB I 1.1 2.1 3.4 Pendahuluan Latar belakang Permasalahan Tujuan Pembahasan Pembahasan Kajian teoritis Fakta yang mencengangkan Sebab-musabab.3 BAB II 2.2 2.1 1.3 2. dan Kategori Kepunahan Dari Peta Vitalitas ke Asesmen Status ”Kebugaran” Bahasa: Perawatan Siklik Penutup 3. Gejala.2 1.2 Kesimpulan Saran BAB III DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN .

3 Tujuan pembahasan Untuk mengetahui sejauh mana proses kepunahan bahasa dan penyebab terjadinya kepunahan bahasa . (2) sebab. makalah ini akan membentangkan tiga hal penting: (1) fakta-fakta mengenai kepunahan bahasa.BAB I PENDAHULUAN 1. Sebab yang lainnya adalah. Terkait dengan kepunahan bahasa-bahasa di dunia.1 Latar belakang Sebab utama kepunahan bahasa-bahasa adalah karena para orang tua tak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anaknya dan tidak lagi secara aktif menggunakannya di rumah dalam berbagai ranah komunikasi (Grimes. gejala. maka diperlukan suatu perumusan masalah yaitu “Mengapa bahasa terjadi kepunahan ?” 1. terutama di Indonesia. serta (3) strategi perawatannya agar bahasa-bahasa terselamatkan dari kepunahan.2 Permasalahan Untuk mendapatkan hasil pembahasan yang terarah. dan kategori kepunahan. melainkan akibat dari pilihan penggunaan bahasa sebagian besar masyarakat tuturnya (Landweer. 2000:17). bukan karena penuturnya berhenti bertutur. 1. 1999:1).

dua kemungkinan yang akan muncul. Faktor pergeseran dan pemertahanan bahasa  Sikap  Sosial  Pemakai bahasa  Kebijakan pemerintah Pergeseran bahasa terjadi karena. Kemungkinan yang pertama adalah bahasa pertama tetap bertahan. Apabila kasusnya seperti ini dikatakanlah bahasa pertama yang pada mulanya dipakai oleh suatu guyup tutur menjadi punah karena guyup tutur tersebut lebih mengutakan bahasa kedua (secara total meniggalkan bahasa pertamanya). alangkah baiknya jika terlebih dahulu dicermati kembali konsep pergeseran bahasa. Ketika keseimbangan ini tidak ada lagi. Pada kasus yang ditemukan oleh Fisher tergambar bahwa masyarakat monolingual yang menguasai bahasa pertamanya kembali menjadi masyarakat monolingual yang menguasai bahasa kedua. .1 Kajian teoritis Untuk memahami perihal kepunahan bahasa.  Lingkungan  Orang tua Bahasa dapat dikatakan punah jika. tidak lagi dipakai di seluruh dunia / guyup tutur. bahasa tersebut tidak lagi digunakan namun masih ada tulisan dari bahasa yang hilang. cermati kembali kasus Fisher yang telah disebutkan di atas. Bahasa dikatakan hilang jika. Bagaimana kemungkinan ini bisa terjadi? Untuk menjawab hal ini. si pemakai bahasa meninggalkan . migrasi Exp. beralih dari bahasa yang lama ke bahasa yang baru / Faktor penyebab kepunahan bahasa:  Bencana alam kepunahan bahasa tanpa pergeseran bahasa.  Dwilanguage alasan umum  Ekonomi / perindustrian  Sekolah / pendidikan  Perpindahan penduduk . kedua bahasa pertama tersingkirkan oleh bahasa kedua. Dalam konsep pergeseran bahasa ini dikatakan bahwa bahasa mengalami pergeseran jika pemakaian antara bahasa pertama dan bahasa kedua tidak seimbang. yang mengarah kepada kepunahan adalah kemungkinan kedua. Dari kedua kemungkinan ini.BAB II PEMBAHASAN 1.

bahasa Tuscarora kurang dari 30. dua kemungkinan yang akan muncul. 330 bahasa memiliki penutur sebanyak satu juta orang atau lebih. makalah ini akan membentangkan tiga hal penting: (1) fakta-fakta mengenai kepunahan bahasa.Sebab utama kepunahan bahasa-bahasa adalah karena para orang tua tak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anaknya dan tidak lagi secara aktif menggunakannya di rumah dalam berbagai ranah komunikasi (Grimes. mungkin mengejutkan orang bahwa rerata jumlah penutur bahasabahasa di dunia hanya berkisar 6. Dalam konsep pergeseran bahasa ini dikatakan bahwa bahasa mengalami pergeseran jika pemakaian antara bahasa pertama dan bahasa kedua tidak seimbang. bahasa Coeur d’Alene memiliki penutur kurang dari 20. Kemungkinan yang pertama adalah bahasa pertama tetap bertahan. (2) sebab. Bagaimana kemungkinan ini bisa terjadi? Untuk menjawab hal ini.000 orang. bahasa Osage 5. Sebab yang lainnya adalah. dan kategori kepunahan. Lebih mencengangkan lagi. dan hanya separuhnya lagi memiliki penutur kurang dari 6. Untuk memahami perihal kepunahan bahasa. yang mengarah kepada kepunahan adalah kemungkinan kedua. terdapat 6. sebagaimana yang disebutnya dalam Ethnologue: Languages of the World (selanjutnya disebut Ethnologue). Pada kasus yang ditemukan oleh Fisher tergambar bahwa masyarakat monolingual yang menguasai bahasa pertamanya kembali menjadi masyarakat monolingual yang menguasai bahasa kedua. Pada saat yang sama. bahasa Eyak di Alaska kini tinggal memiliki 2 penutur usia lanjut. melainkan akibat dari pilihan penggunaan bahasa sebagian besar masyarakat tuturnya (Landweer. bahasa . telah berusia tua dan condong bergerak menuju ke penunahan. ketergerusan jumlah penutur bahasa yang semakin mengecil ini-pada berbagai belahan dunia menjadi lebih cepat dari yang diperkirakan. Dari jumlah itu. 2000:17). dan bahasa Iowa punya 5 penutur. 1999:1). terutama di Indonesia.000 orang atau lebih.000 orang atau lebih penutur. Bahasa Mandan memiliki 6 penutur. 2. Jumlah penutur yang besar ini berkontras secara mencolok dengan kira-kira 450 bahasa di dunia yang memiliki jumlah penutur yang sangat kecil. bukan karena penuturnya berhenti bertutur.2 Fakta yang mencengangkan Menurut catatan Grimes (2000). kedua bahasa pertama tersingkirkan oleh bahasa kedua. Dari kedua kemungkinan ini. hanya separuhnya memiliki penutur 6. gejala. Ketika keseimbangan ini tidak ada lagi. Berdasarkan catatan tahun 1977. Apabila kasusnya seperti ini dikatakanlah bahasa pertama yang pada mulanya dipakai oleh suatu guyup tutur menjadi punah karena guyup tutur tersebut lebih mengutakan bahasa kedua (secara total meniggalkan bahasa pertamanya). Terkait dengan kepunahan bahasa-bahasa di dunia. serta (3) strategi perawatannya agar bahasa-bahasa terselamatkan dari kepunahan.809 bahasa di dunia. cermati kembali kasus Fisher yang telah disebutkan di atas. bahasa Abenaki-Penobscot 20. alangkah baiknya jika terlebih dahulu dicermati kembali konsep pergeseran bahasa.

Menomini kurang dari 50. 78 di Asia. maka ada kemungkinan 25 tahun ke depan satu . Hipotesis-hipotesis sosiolinguistik terkait dengan kecepatan kepunahan bahasa antargenerasi penutur dapat diterangkan sebagai berikut. Dari 516 bahasa itu. Jika pilihan untuk tidak menggunakan dan kebiasaan orang tua untuk tidak mentransmisikan bahasa ibu kepada anak-anaknya lemah. mungkin lebih cepat lagi. memiliki vitalitas hidup kuat pula. Jika satu bahasa hanya digunakan secara aktif oleh penutur berusia 50 tahun ke atas dan usia di bawahnya tidak lagi menggunakannya. Tercatat bahwa ada 516 bahasa yang didaftarkan dalam Ethnologue termasuk ke dalam bahasa yang mendekati kepunahan. kurang-lebih 80. maka pergerakan ke kepunahan akan lebih cepat lagi. Dalam satu pergantian generasi mungkin 25 tahun bahasanya akan punah. Sebaliknya. 3 Sebab-musabab. Gejala. kini di berbagai belahan benua. Meski demikian. Jika satu bahasa secara aktif hanya digunakan oleh penutur yang berusia 75 tahun ke atas dan penutur berusia di bawahnya tidak lagi secara cakap menggunakannya. Fakta mengenai kepunahan bahasa ini sebenarnya bukan isu baru. 170 di Amerika. 2. Pergerakan ke arah kepunahan itu terutama terjadi di negara-negara berkembang dan miskin. dalam satu abad terakhir ini pergerakan ke kepunahan yang dialami oleh bahasa-bahasa dengan jumlah penutur yang kecil dan dengan pendukungnya yang memiliki mobilitas sempit lebih cepat dari yang dibayangkan. Telah berabad-abad kita ketahui bahwa bahasa Greek Koiné dan bahasa Latin Klasik telah “mati” sebagai bahasa yang dituturkan. Bahasa Ubykh. salah satu bahasa Kaukasia yang memiliki begitu banyak konsonan. bahasa Eskimo tinggal memiliki 2 penutur. Bahkan. dan mungkin tersisa satu penutur (Krauss. terutama dalam ranah keluarga. Kedua sebab ini terkait dengan sikap dan pemertahanan bahasa (language maintenance) masyarakat tuturnya. 1992 dalam Ibrahim. karena hanya ada sedikit sekali penutur usia renta yang masih hidup. dan Kategori Kepunahan Lalu apa yang menyebabkan bahasa-bahasa di dunia terancam punah? Seperti telah dikatakan pada bagian pengantar. 2006:2-4). yaitu karena para orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anak serta tidak lagi menggunakannya di rumah dan pilihan sebagian masyarakat tutur untuk tidak menggunakannya dalam ranah komunikasi sehari-hari. dan bahasa Aimu mungkin telah punah. 46 berada di Afrika. Jika satu bahasa hanya digunakan oleh penutur yang berusia 25 tahun ke atas dan usia di bawahnya tidak lagi menggunakannya. Bahkan. ada dua sebab utama kepunahan. bahasa-bahasa yang penuturnya memiliki pemertahanan bahasa yang kuat. 12 di Eropa. maka 75 tahun ke depan tiga generasi bahasa itu akan terancam punah. mendekati kepunahan. penuturnya tidak lebih dari 200 orang. dan bahasa Yokust kurang dari 10 penutur. dan di 210 Pasifik. maka ada kemungkinan 50 tahun ke depan dua generasi bahasa itu akan punah.

terhadap bahasa Ibu. Han Noho. (11) kebersastraan. dan (12) kedinamisan para penutur membaca dan menulis sastra. Dua desa ini bertetangga dengan pengguna bahasa Waiyoli. Gerak ke arah kepunahan akan lebih cepat lagi. ada tekanan bahasa dominan. Sebagai contoh sekali lagi saya sebut bahasa Ibu di Maluku Utara. semakin menguasai dan menggunakan bahasa Ternate dan bahasa Melayu Ternate dan semakin ’meninggalkan’ bahasa Ibu. ’Kampung Besar’. Nifu Hamiru (70 tahun). dan Sahu yang jarak tempuhnya tidak lebih dari 5 km. bila disertai dengan semakin berkurangnya cakupan dan jumlah ranah penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari. hipotesisnya demikian: Semakin muda usia penutur setiap bahasa tidak lagi cakap menggunakan bahasa ibu dalam pergaulan sehari-hari. ’Kampung Kecil’) di Kabupaten Halmahera Barat. Summer Insitute of Linguistics [selanjutnya disebut SIL] (2008) mencatat sedikitnya ada 12 (dua belas) faktor: (1) kecilnya jumlah penutur. dan itu telah menjadikan penutur bahasa Ibu kini di tahun 2008 ini tinggal 5 orang. Di luar soal permertahanan bahasa. (2) usia penutur. (3) tradisional. Di atas dua sebab dasar pemertahanan bahasa dan empat sebab non-kebahasan itu. (9) intrusi dan eksploitasi ekonomi. maka semakin cepat bahasa tersebut mengalami kepunahan. antara lain. Grimes (2000). Bahasa ini digunakan di dua desa (Gam Lamo. dan Gani Saleh (masing-masing 45 tahun). kakek Ismail Babaoro (80 tahun). atau (4) secara ekonomi kehidupannya stagnan. Dalam perjalanan selanjutnya. Gamkonora.generasi bahasa itu akan (terancam) punah. ada empat sebab terdalam dari kepunahan bahasa: (1) para penuturnya berpikir tentang dirinya yang inferior secara sosial. (3) digunakan-atau-tidak digunakannya bahasa ibu oleh anak-anak. telah sejak lama masyarakat di sini juga menggunakan bahasa Ternate [bahasa Kesultanan Ternate] dan bahasa Melayu Ternate sebagai lingua-franca lintas-etnik. . Selain itu. dan Gam Ici. Situasi sosiolinguistik semacam ini terkait dengan dua hal: sikap bahasa dan orientasi ke dunia luar penuturnya. Maluku Utara. terutama ranah keluarga. Atau dari sudut lain. Lewis (2005) sebagai proses ”penelantaran” bahasa. (6) urbanisasi kaum muda. Pilihan menggunakan kedua bahasa linguafranca ini lambat-laun telah memunahkan bahasa Ibu sendiri. masingmasing Nenek Hajija. (8) penggunaan bahasa dalam pendidikan. (4) penggunaan bahasa lain secara reguler dalam latar budaya yang beragam. Landweer (2008). Inilah yang disebut oleh sejumlah linguis. Selain menggunakan bahasa etniknya masing-masing. ada pula tekanan bahasa dominan dalam suatu wilayah masyarakat multibahasa secara berdampingan. (10) keberaksaraan. seperti bahasa Ternate dan bahasa Melayu Ternate. (2) terikat masa lalu. (7) kebijakan pemerintah. Dengan rumusan lain. atau semakin meluasnya ketiadaan penggunaan bahasa dalam sejumlah ranah. penutur bahasa Ibu di dua desa ini. (5) perasaan identitas etnik dan sikap terhadap bahasanya secara umum. faktor-faktor lain yang lebih luas spektrumnya yang turut mendorong kecepatan kepunahan sebuah bahasa.

eroding. endangered. dan (6) contoh-contoh mengenai semakin punahnya dialek-dialek satu bahasa. Dalam hubungannya dengan tingkat keterancaman dari kepunahan. Bahasa-bahasa ini dikategorikan sebagai bahasa yang ’bugar’. semakin kuat vitalitas bahasa itu. Kelima. Dengan demikian. sebuah kolokium mengenai bahasa-bahasa yang punah di Jerman tahun 2000 (Grimes. endangered. usia orang tua. usia kakek-nenek. yaitu bahasa-bahasa yang penuturnya adalah beberapa anak dan yang lebih tua. Kedua. 2000). keterancaman bahasa Kreol dan bahasa sandi (Grimes. Krauss (1992) misalnya mengkategorikan daya hidup bahasa menjadi tiga kategori. Bahasabahasa ini hanya tinggal sedikit penuturnya dan semuanya berusia 70 tahun ke atas dan usia buyut. Ketiga. Semakin banyak jumlah penutur dan semakin sering penutur menggunakan bahasanya dalam berbagai ranah. merumuskan enam tingkat keterancaman. . stable but threatened. safe. yaitu bahasa yang digunakan oleh semua anak dan dewasa tetapi jumlahnya sangat sedikit. (3) pengabaian atau pengenyahan bahasa ibu oleh penutur usia muda. tidak lagi digunakan di abad akan datang. Bahasa-bahasa seperti ini dalam kondisi terancam punah. Keempat. yaitu bahasa-bahasa yang tidak dalam keadaan ancaman kepunahan. Bahasa yang masih diperoleh dan dipelajari oleh semua anak dan usia dewasa dalam kelompok etniknya. (5) penutur generasi terakhir tak cakap lagi menggunakan bahasa ibu (penguasaan pasif. artinya bahasa-bahasa yang dalam keadaan kritis. sehal wal afiah. Pertama. Ketiga. severely endangered. yaitu bahasa yang secara resmi didukung oleh pemerintah dan memiliki penutur yang sangat banyak. (4) usaha merawat identitas etnik tanpa menggunakan bahasa ibu.Bahasa-bahasa seperti ini dalam kondisi tergerus. seperti ranah rumah. semakin jauh bahasa itu dari keterancaman kepunahan. dan peristiwa sosial. Pertama. para ahli membuat pentipologiannya. Keenam. Anak-anak lain tidak lagi menggunakannya. ini artinya stabil tetapi terancam. understanding without speaking). Terkait dengan vitalitas atau daya hidup bahasa secara lintasgenerasi. yaitu bahasa yang meskipun sekarang masih dipelajari atau diperoleh oleh anak-anak. Dengan mengambil analogi spesies biologi. Dari pentipologian yang diberikan Krauss (1992) dan persepakatan kolokium Jerman mengenai tingkat keterancaman menunjukkan satu hal yang sama: jumlah dan kebiasaan penutur merupakan variabel sosiolinguistik penting yang menentukan vitalitas bahasa. sekarat. peristiwa budaya. (2) semakin berkurangnya ranah penggunaan bahasa. moribund. bahasa-bahasa yang critically endangerad. artinya bahasa-bahasa yang penuturnya berusia 20 tahun ke atas. Bahasa seperti dalam kondisi ’sakit parah’. safe. Kedua. 2000:8). artinya bahasa-bahasa yang hanya memiliki penutur berusia 40 tahun dan ke atas.Gejala-gejala kepunahan bahasa pada masa depan adalah: (1) penurunan secara drastis jumlah penutur aktif. yaitu bahasa yang tidak lagi dipelajari oleh anak-anak sebagai bahasa ibu.

Pernyataan ini tidak memasukkan usaha-usaha yang dilakukak oleh SIL untuk bahasabahasa di Papua. ekosistem. sampai-sampai antropolog Leslie White. bahasa Waorani di Ekuador. sekarang penuturnya diperkirakan 900 orang. bahasa Cornish di Inggris.Dari Peta Vitalitas ke Asesmen Status ”Kebugaran” Bahasa: Perawatan Siklik Bukankah setiap makhluk hidup. Bahasa yang pada tahun 1956 berpenutur 150 ini. Dengan motto ”Membawa Tuturan ke Masa Depan”. hingga revitalisasi-revivalisasi melalui pembangunan kelas dan sekolah bahasa sendiri di kampung sendiri untuk anak-anak dan orang dewasa pada komunitas yang bahasanya terancam punah. Kisah-kisah sukses program revitalisasi seperti yang ditunjukkan dalam keberhasilan perawatan bahasa Hawai di Hawai. kita baru sampai pada pendataan mengenai sebaran dan jumlah bahasa yang terancam punah. ditakdirkan hidup. kita belum punya program dan tradisi preservasi yang kuat untuk menyelamatkannya dari kepunahan. termasuk manusia. perguruan tinggi. Kita. Kalau demikian. preservasi. setahu 2.4 . menurut catatan Multamia MT Lauder (Kompas. hewan-hewan. 12 Agustus 2008). Oleh karena begitu pentingnya bahasa bagi peradaban. terutama yang peduli pada penyelamatan bahasa dari kepunahan seperti LivingTongues dan SIL (memang) telah melakukan upaya-upaya yang sistematis mulai dari penelitian-pencatatan. dan bahasa Nambikuara di Brazil. ada 169 bahasa yang terancam punah. kelas-kelas keberaksaraan. atau oleh Pusat Bahasa. tidaklah berlebihan. dan ditakdirkan pula untuk punah alias mati? Karena bahasa juga ’semacam spesies makhluk hidup’ yang ’dilahirkan’ oleh manusia dan manusia itu makhluk hidup yang akan mengalami kematian secara alamiah. kecuali baru pada tingkat dokumentasi melalui penelitian individu. dan sediaan budaya. Institute for Endangered Languages. Meskipun dengan angka keterancaman sebanyak itu. pendidikan. pernah bertanya secara retoris: Remove speech from culture and what would remain? Kepunahan bahasa sama dengan kepunahan peradaban! Kalau begitu bagaimana cara kita agar bahasa-bahasa dapat diselamatkan dari kepunahan dan dengan demikian peradaban kita tak punah!? Selama ini para linguis atau lembaga-lembaga bahasa di dunia. Setiap bahasa memuat keseluruhan sejarah umat manusia”. bahasa Maori di Selandai Baru. sebuah lembaga yang peduli pada kepunahan dan penyelamatan bahasa-bahasa yang punah. pengobatan modern. Program revitalisasi yang sukses menambah jumlah penutur seperti yang ditunjukkan dalam bahasa Waorani. Secara pukul-rata. tanan-tanaman. setelah penelitian linguistik. maka bukankah bahasanya juga akan mati? Lantas mengapa kita repot-repot mengurusi bahasa yang terancam punah? Jawaban yang cukup singkat dan sangat beralasan diberikan oleh LivingTongues. Lembaga ini mengatakan: ”…bahasa adalah sebuah gudang pengetahuan manusia yang sangat luas tentang dunia alamiah. jika dikatakan bahwa kepunahan bahasa sama dengan kepunahan peradaban manusia secara keseluruhan. Di Indonesia.

pendanaan. kita menggunakan indikator etnolinguistik mengenai vitalitas bahasa yang disarankan oleh Landweer (2008) dan mengkombinasikannya secara eklektif dengan metode asesmen kategori keterancaman yang disarankan oleh Lewis (2005). Dengan kedua gambaran ini. kita akan menyusun program preservasi secara tepat sasaran dengan skala pementingan dan dapat dilakukan secara terukur. kepentingan kebangsaan.saya. dan dengan profil itu. Untuk melaksanakan survei ini. Padahal. saya menyarankan suatu cara atau metode yang saya sebut survei pemetaan vitalitas bahasa-bahasa di Indonesia. penilaian mengenai kerbermaknaan program preservasi. saya menyarankan. . Ringkasnya. kita akan punya gambaran yang terang mengenai dua hal penting: (1) jumlah dan sebaran mengenai bahasa-bahasa yang terancam punah dan (2) tingkat vitalitas bahasa-bahasa di Indonesia. skema preservasi dimulai secara siklik dari survei pemetaan vitalitas. belum mempunyai peta yang akurat mengenai vitalitas atau daya hidup bahasa-bahasa di Indonesia. Untuk itu. hingga ke penyusunan profil baru vitalitas bahasa untuk selanjutnya ditindaklanjuti dengan programprogram preservasi dengan bercermin pada keberhasilan dan kegagalan preservasi sebelumnya. kita akan dapat menyusun profil vitalitas bahasa-bahasa di Indonesia. dengan peta vitalitas bahasa. Skema penyelamatan bahasa-bahasa dari kepunahan ini merupakan tawaran yang perlu dikoreksi dan diperkuat dengan mempertimbangkan berbagai hal yang terkait dengan soalan etno-sosiolinguistik. dan kemampuan lembaga pengayom bahasa (baca: Pusat Bahasa) dan perguruan tinggi. program-program revitalisasi.

1 Kesimpulan Jumlah dan kecepatan pergerakan ke kepunahan bahasa-bahasa di dunia dan juga di Indonesia tidak saja merupakan bencana linguistik. Lembaga pengayom bahasa yang ditugasi pemeritah (baca: Pusat Bahasa) harus segera merancang program-program preservasi. sebelum bahasa-bahasa itu benarbenar punah. Saran Hendaknya kita sebagai pelajar menjaga dan melstarikan bahasa daerah agar tidak terjadi hilangnya suatu bahasa dengan cara memakai bahasa itu sendiri dalam aktifitas keseharian.2 .BAB III PENUTUP 3. tetapi juga telah menyampikan informasi sosio-ekonomi yang mengkhawatirkan mengenai keterpencilan. ketakberdayaan. dan perjuangan melawan kemiskinan kaum minoritas melawan ketertinggalan dari kemajuan dan dominasi bahasa-bahasa dengan berpenutur banyak dan dinamis. pembiaran atas kepunahan bahasabahasa berpenutur sedikit. sesungguhnya adalah pengingkaran atas kemajemukan yang sesungguhnya merupakan soko guru ke-Indonesiaan. Dalam konteks Indonesia. 3.

Number 1. “The world’s languages in crisis”. 1992.K.html Craig. Universitas Pattimura. Krauss. Gufran Ali. Disertasi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. di Ambon. “A constitutional response to language endangerment: The case of Nicaragua. 2005. Number 1. “Why care about endangered language?”. E. Paul M. Michael. Ken. Colette. Hale. Dallas. 2008. La Verne Masayesva.sil. SIL International:http://www. 2008. Lucille J. Volume 68.org/sociolx/ndg-lg-indicators-html. Watahomigie. Dalam Language.org/sociolx/ndg-lg-cahill. Volume 68. Ibrahim. 1976. Yamamoto. SIL International: http://www. 1992. “Indicators of Ethnolinguistic Vitality”. SIL Internasional: Masinambouw. Makalah yang disampaikan dalam Konferensi Internasional tentang Bahasa-bahasa yang Punah. “Local reactions to perceived language decline”. Volume 68. Landweer. Dalam Language. “Language endangerment and the human value of linguistic diversity”. Jakarta 22 Desember 2006.1992. Number 1. Barbara F. 1992. di Pusat Bahasa Depdiknas. Jakarta. 2007.DAFTAR PUSTAKA Anonim. Makalah yang disampaikan pada Konferensi Internasional Makalah yang disampaikan pada Kongres Internasional Bahasa Daerah yang diselenggarakan atas Kerjasama Pemerintah Provinsi Maluku. dan Akira Y. 5-8 Agustus 2007. Volume 68. Number 1. “Lima Abad Penelitian Bahasa di Maluku Utara”. Cahill. Dalam Language. Konvergensi Etnolinguitik di Halmahera Tengah: Sebuah Analisa Pendahuluan. Ethnologue: languages of the world. “An institutional response to language endangerment: A proposal for a Native American Language Center. dan Pusat Bahasa Depdiknas. 1992. Kompas. Jeane. 1988. Gufran Ali. Lynn. “169 Bahasa Daerah Terancam Punah”. Number 1. Dalam Language. Lewis. 2008. Grimes. 12 Agustus 2008. . “Towards A Categorization of Endangerment of the World’s Languages. M.sil. Inc. 2006. Dalam Language. Michael. Ibrahim. Volume 68. “Beberapa Bahasa di Maluku Utara akan Punah”. Ed. Texas: Summer Institute of Linguistics.M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful