P. 1
Sejarah Seni Lukis Di Indonesia

Sejarah Seni Lukis Di Indonesia

|Views: 59|Likes:
Published by yogha_pradana

More info:

Published by: yogha_pradana on Nov 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/15/2013

pdf

text

original

Kelompok 4 : 1. Danar Budianto 2. Jen Riki Fanani 3. Mahendra Githa Sigit 4. Sulthon Arif Al Af Ghany 5.

Yahya Rizki Darmawan 6. Yogha Andrey Pradana (06) (14) (16) (28) (30) (32)

Seni Rupa Zaman Penjajahan
S

Kelas XI – IA6

SMAN 1 Blitar

Sejarah seni lukis di Indonesia
Seni lukis modern Indonesia dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini. Awalnya pelukis Indonesia lebih sebagai penonton atau asisten, sebab pendidikan kesenian merupakan hal mewah yang sulit dicapai penduduk pribumi. Selain karena harga alat lukis modern yang sulit dicapai penduduk biasa. Masuknya pengaruh kebudayaan Eropa dimulai juga melalui aktivitas perdagangan dengan bangsa Portugis pada pertengahan abad 16. Komoditas utama yang diperdagangkan adalah rempahrempah, selanjutnya disusul oleh kedatangan bangsa Belanda, Spanyol, dan Inggris. Persaingan ketat dari ketiga bangsa tersebut dalam perdagangan di Indonesia akhirnya dimenangkan oleh Belanda dengan mendirikan VOC. Dari awalnya berdagang berlanjut menjadi pendudukan dan menguasai pemerintahan berkepanjangan hingga tiga setengah abad dan berakhir tahun 1945. Peninggalan Belanda yang paling penting diwarisi Indonesia saat ini adalah Agama Katholik dan Kristen, sistem pendidikan, serta beberapa infrastruktur berupa jalan dan bangunan fisik. Pengaruh seni rupa Barat diduga telah mulai masuk ke Indonesia pada abad ke-16 dibawa oleh para pedagang V.O.C yang digunakan untuk hadiah kepada para pembesar kerajaankerajaan di Nusantara, seperti lukisan besar yang diberikan kepada seorang raja di Bali, Sultan Palembang, dan raja Surakarta.

1

Arsitektur Zaman Penjajahan
Hubungan Belanda dengan Indonesia, khususnya Batavia, dimulai pada tahun 1619 dengan didirikannya Batavia oleh Jan Pieterszoon Coen. Permukiman ini dirancang sesuai model Belanda, dengan jalanjalan lurus dan kanal. Permukiman ini dikelilingi dinding yang berfungsi sebagai benteng, „Het Kasteel„, yang telah dibangun sebelumnya sebagai pos perdagangan. Pada pertengahan abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, merupakan periode terpenting bagi arsitektur dan pengembangan perkotaan Belanda dan Indonesia. Sejak 1870 banyak perusahaan, dari Belanda maupun seluruh Eropa, mendirikan kantor di Hindia Belanda Timur. Setelah 1910, perkembangan ekonomi di Hindia Belanda Timur dan pertumbuhan populasi orang-orang Eropa mengarah kepada ledakan dalam hal konstruksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kehidupan di koloni harus dibuat menyenangkan dan menarik mungkin dan perlu untuk segera membangun infrastruktur bagi kepentingan masyarakat. Meskipun bangunan tersebut hampir secara khusus untuk kepentingan sebagian kecil penduduk Eropa, ide yang mendasari di balik „Het Indische Bouwen„, sebagaimana orang Indonesia menyebut arsitektur Hindia Belanda Timur dari tahun 1900-an, adalah bahwa harus ada sebuah perpaduan antara struktur dan teknik „modern‟ berorientasi barat dan bentuk-bentuk seni timur. Dengan kata lain, gaya bangunan dipinjam dari bentuk tradisional, dengan memperhitungkan setiap aspek dari kondisi iklim lokal. Rancangan para arsitek Belanda ini selalu memperhatikan keadaan alam Indonesia, sebagai negara tropis. Bukan saja bahan bangunan, tetapi terutama juga model bangunannya, bagaimana bangunan itu harus akrab dengan udara tropis. Misalnya dengan atap tinggi untuk menghindari panas, atau dengan banyak jendela dan seterusnya. Gaya ini disebut sebagai gaya Indo-Eropa. Seorang pengunjung ke Jakarta masa kini akan menemukan bahwa sangat sedikit pengingat masa lalu kota atau petunjuk bagaimana rumah bagi lebih dari sembilan juta orang tumbuh menjadi seperti sekarang ini. Tidak banyak bangunan tua dan penunjuk tersisa dan sulit membayangkan Jakarta akan tampak seperti apa seabad atau lebih yang lalu. Gambar dari paruh kedua abad ke-18 menunjukkan bahwa ada banyak rumah-rumah pribadi besar sepanjang Molenvliet dengan pekarangan mewah dan kebun yang rumit, salah satu yang masih
2

bertahan sampai hari ini dengan bentuk aslinya, adalah Gedung Arsip walaupun dengan pekarangan yang lebih kecil. Gambar dari kemewahan dan kemegahan tersebut memberikan Batavia julukan “Ratu dari Timur”. Oleh karena itu, saya akan menulis tentang beberapa bangunan, yang salah satu diantaranya sudah ada sejak tahun 1760-an, jadi secara langsung menjadi bagian sejarah kota.

De Klerks Landhuis
Bangunan ini dibangun pada tahun 1760 oleh Reinier de Klerk yang juga tercatat sebagai GubernurJenderal VOC pada tahun 1778-1780. Gedung ini didirikan sebagai rumah peristirahatan bagi Reinier de Klerk. Saat itu, kawasan

Molenvliet West, tempat gedung ini dibangun terletak jauh dari pusat kota dan lebih sehat dibandingkan pusat kota Batavia yang berada di dalam benteng dan waktu itu sedang terkena wabah malaria. Seperti halnya Gedung Arsip, bangunan-bangunan lain di kawasan ini juga mempunyai area yang luas, bangunan-bangunan tersebut juga besar dan dilengkapi dengan kebun di halaman depan dan belakang. Desain dari Gedung Arsip ini, pada awalnya berbentuk U dengan bangunan tambahan di bagian belakangnya. Bangunan utama terdiri dari dua lantai, dibangun menggunakan bata merah dengan atap yang tinggi. Denah bangunannya mencerminkan denah rumah yang besar dan klasik dengan aksis utama barat-timur dan aksis kedua utaraselatan. Lantai dasarnya luas. Pintu utamanya tinggi dihiasi lubang ventilasi yang indah di atasnya. Di lantai inilah gubernur-jenderal menerima tamu-tamunya. Di lantai ini juga terdapat satu tangga kecil yang menuju ke lantai pertama, yaitu tempat yang lebih privat.
3

Kusen jendela dan kerawang atau ventilasi di atas pintu, dihiasi oleh ornamen dalam gaya Baroque dengan desain rumit namun indah. Selain langit-langit yang tinggi, jendela-jendela berukuran besar dalam jumlah yang relatif banyak, terdapat pula lantai batu yang dingin, dan atap bersekat. Bagian dalam dari bangunan tersebut dilengkapi dengan perabotan dari periode VOC. James Cook dan awaknya tertarik akan kemegahan rumah de Klerk ketika berjalan-jalan di Molenvliet, saat singgah di Batavia pada tahun 1770. Reinier de Klerk tinggal di rumah mewah tersebut selama hampir 20 tahun sebelum ia meninggal pada tahun 1780. Bangunan itu selain untuk keperluan rumah peristirahatan, juga sebagai rumah tinggal dari pejabat tertinggi VOC yaitu gubernur-jenderal ketika dijabat oleh de Klerk. Terdapat dua bangunan di sayap kanan dan kiri. Bangunan di samping dari bangunan utama tersebut digunakan sebagai kantor administrasi yang mengelola bisnis pribadi gubernur-jenderal serta pondok tamu. Selain itu, ada pula bangunan tambahan berupa paviliun yang terdiri dari dua lantai yang dulu digunakan sebagai rumah budak dan sebagai tempat penyimpanan barang. Dalam catatan sejarah, Gedung Arsip telah berpindah tangan berkali-kali. Dulu bangunan ini pernah terbengkalai, lalu kemudian diperbaiki oleh pemerintah Belanda untuk digunakan sebagai kantor Dinas Pertambangan. Pada tahun 1925, bangunan tersebut kembali direstorasi dan digunakan sebagai kantor Lands Archief. Ketika Indonesia merdeka, bangunan ini tetap digunakan sebagai kantor Arsip Negara. Kemudian bangunan tersebut dinamakan Gedung Arsip Nasional. Pada pertengahan tahun 1980, semua arsip yang tersimpan di gedung itu, dipindahkan ke bangunan yang lebih baru di bagian selatan Jakarta. Sekarang, kediaman de Klerk ini menjadi Museum Gedung Arsip.

Paleis van Daendels

4

Pada tahun 1808, ketika Herman Willem Daendels memutuskan untuk menghancurkan benteng tua dan dinding kota Batavia di utara dan secara resmi memindahkan pusat administratif kota ke arah selatan, ia juga memutuskan untuk membangun rumah baru bagi gubernur-jenderal. Dalam teori, para gubernur-jenderal tinggal di benteng tua dari VOC sejak tahun 1620-an, tetapi dalam prakteknya dari pertengahan abad ke-18 mereka mulai tinggal dan bekerja dari rumah pribadi di selatan dinding kota karena kondisi semakin tidak sehat di balik dinding. Pada tanggal 7 Maret 1809, Daendels memilih sisi timur dari Paradeplaats sebagai tempat untuk “istana” barunya. Tidak pernah sederhana dalam ambisinya, Daendels tidak diragukan lagi membayangkan sebuah bangunan istana megah yang akan menjadi inti dari Batavia baru yang ia mimpikan untuk tercipta. Ia memerintahkan Letnan-Kolonel J. C. Schultze untuk menyiapkan rencana. Desain tersebut meminta sebuah bangunan utama besar dengan sayap di kedua sisinya. Istana ini akan digunakan secara eksklusif bagi gubernur-jenderal. Biro pemerintahan akan berada di gedung yang terpisah dan ada pula pondok tamu dan kandang kuda untuk 12o kuda. Pekerjaan berjalan cepat dan fondasi untuk membangun istana itu dari bahan-bahan lama dari benteng yang dibongkar. Pada tahun 1811, ketika Daendels digantikan sebagai gubernur-jenderal oleh Jan Willem Janssens, bangunan utama dan bangunan-bangunan sayap telah setengah selesai.
5

Namun, bagi Janssens, menyelesaikan istana itu bukan prioritas karena serangan terhadap Batavia oleh pasukan Inggris akan segera terjadi. Malah, ia menempatkan atap jerami yang sederhana di atas gedung dan kemudian tidak ada pekerjaan lebih lanjut yang dilakukan selama 15 tahun. Bahkan selama periode Inggris (1811-1816), LetnanGubernur Thomas Stamford Raffles tidak melihat alasan untuk melanjutkannya, dan memilih untuk tinggal di Rijswijk. Pada tahun 1826, Gubernur-Jenderal Leonard Pierre Joseph Burggraaf du Bus de Gisignies memerintahkan insinyur kepala, J. Tromp, untuk menyelesaikan bangunan agar ditempati biro pemerintah yang tertampung secara buruk di bagian lain di Batavia. Konstruksi akhirnya selesai pada tahun 1828, sekitar 19 tahun sejak dimulai, namun gedung ini tidak pernah digunakan sebagai istana gubernur-jenderal seperti yang awalnya diharapkan oleh Daendels. Pada tahun 1835, lantai bawah ditempati oleh kantor pos, kantor Percetakan Negara, Mahkamah Agung dan Departemen Panitera Umum. “Istana” Daendels, yang disebut pula dengan nama „Paleis van Daendels„, „Het Witte Huis„, „Het Groote Huis„, „Gouvernements Hôtel„, masih berdiri hingga hari ini dan sekarang digunakan sebagai kantor Departemen Keuangan Indonesia.

Bioscoop Metropool

Bioscoop Metropool

6

Bioscoop Metropool

Bioscoop Metropool

Gedung Bioscoop Metropool (sekarang berubah menjadi Bioskop Metropole) terletak di Jalan Pegangsaan, Menteng; salah satu distrik permukiman yang dibuat pada zaman kolonial Belanda. Bioskop Metropole adalah sebuah gedung bioskop yang diliputi “kontroversi”. “Kontroversi” itu diantaranya disebabkan oleh adanya beberapa versi tentang tahun pendirian bioskop tersebut dan juga terdapat dua nama arsitek yang masing-masing dianggap merancang bioskop tersebut. Banyak orang menganggap bioskop tersebut dirancang oleh arsitek Belanda, J. M. Groenewegen dan ada pula yang menganggap bioskop itu dirancang oleh Liauw Goan Seng. Tanpa mengurangi rasa
7

hormat terhadap kedua arsitek itu, pengetahuan yang dapat kita petik dengan adanya bioskop ini yaitu mengenai gaya bangunannya. Dari sisi arsitektur bioskop ini merupakan salah satu data sejarah perkembangan arsitektur di tanah air yang, dapat dikatakan, dipengaruhi oleh aliran De Stijl. Secara umum, De Stijl menawarkan kesederhanaan dan abstraksi, hal ini dapat dilihat dari penggunaan garis horizontal dan vertikal dan bentuk persegi panjang. Aliran ini menghindari simetri dan mencapai keseimbangan estetis dengan menggunakan bentuk asimetri. Dalam banyak karya aliran De Stijl, garis horizontal dan vertikal diposisikan dalam lapisan dan bidang yang tidak berpotongan, sehingga memungkinkan setiap elemen ada dan tidak terhalang oleh unsur-unsur lainnya. Ciri ini tampak pada menara yang menjulang yang tegak lurus terhadap bangunan dasar dari bioskop tersebut. De Stijl berasal dari nama sebuah jurnal yang diterbitkan oleh pelukis Belanda, Theo van Doesburg, untuk menyebarkan teori-teori kelompok aliran tersebut. De Stijl, adalah gerakan artistik Belanda yang didirikan pada tahun 1917. Dalam pengertian sempit, istilah De Stijl digunakan untuk merujuk pada bentuk karya dari tahun 1917-1931 yang muncul di Belanda. Filosofi seni yang membentuk dasar bagi karya kelompok tersebut dikenal sebagai neoplastisisme atau seni plastik baru. Gerakan De Stijl dipengaruhi oleh lukisan Kubisme dan gagasangagasan tentang bentuk-bentuk geometris ideal dari ahli matematika M. H. J. Schoenmaekers serta arsitek Frank Lloyd Wright. Gerakan ini lahir, karena pada saat Perang Dunia I, para seniman Belanda terisolasi dari dunia seni internasional, terutama Paris sebagai pusatnya pada waktu itu dan juga sebagai tempat munculnya aliran Kubisme pada awal abad 20. Inovasi dari para seniman Belanda tersebut kemudian membuat karya-karya De Stijl mempengaruhi aliran Bauhaus dan gaya internasional arsitektur serta aliran Art Deco.

8

Peninggalan zaman penjajahan belanda
1. Meriam belanda Belanda, sebuah Negara di Benua Eropa yang lebih kita kenal dengan Negera Kincir Angin ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Negara Indonesia. Secara kultur budaya kita tidak terlepas dari andil Negara ini, contohnya dapat Anda lihat di museum?museum peninggalan sejarah yang membuktikan bahwa cukup banyak peninggalan sejarah dari Bangsa Belanda. Peninggalan?peninggalan tersebut bahkan dapat dimanfaatkan sebagai tempat pariwisata. Pada tahun 2009 ini di kota Solo masih memiliki sisa?sisa peninggalan sejarah dari Bangsa Belanda. Jika Anda pernah ke kota solo, Anda dapat melihat benda?benda sejarah ini hingga saat ini masih terawat dan dilestarikan oleh pemerintah Kota Solo sebagai salah satu pemasukan pemerintah daerah di sektor pariwisata. Selain untuk meningkatkan jumlah wisatawan, juga sebagai wujud kepedulian pemerintah Kota Solo terhadap peninggalan sejarah yang sesuai dengan salah satu slogan terkenal di negeri kita tercinta ini “Negara yang besar adalah Negara yang tidak melupakan sejarah” yaitu dengan cara memelihara peninggalan sejarahnya dengan baik. Dari segi militer, Belanda meninggalkan berbagai macam senjata yang pada zaman dulu banyak digunakan di Negara?negara daratan eropa, salah satunya adalah meriam. Anda pasti sering mendengar kata meriam saat Anda masih duduk di bangku sekolah saat pelajaran sejarah. Meriam adalah senjata yang digunakan untuk pertempuran jarak jauh, yang berbentuk seperti moncong tank tempur. Meriam yang dibuat pada abad 17 ini masih dapat kita jumpai di kraton Solo yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik. Dari sini kita tahu bahwa pendidikan di Negara negara eropa

9

khususnya Belanda sudah maju.

2. Stasiun Jakarta Kota (Beos)
Gambar 1 Meriam Belanda di Solo

Gambar 2 Stasiun Jakarta Kota (Beos)

Pada masa lalu, karena terkenalnya stasiun ini, nama itu dijadikan sebuah acara oleh stasiun televisi swasta. Hanya saja

10

mungkin hanya sedikit warga Jakarta yang tahu apa arti Beos yang ternyata memiliki banyak versi. Yang pertama, Beos kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh. Versi lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, dimana berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain. Sebenarnya, masih ada nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan. Nama ini muncul karena pada akhir abad ke-19, Batavia sudah memiliki lebih dari dua stasiun kereta api. Satunya adalah Batavia Noord (Batavia Utara) yang terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang. Batavia Noord pada awalnya merupakan milik perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg, dan merupakan terminus untuk jalur BataviaBuitenzorg. Pada tahun 1913 jalur Batavia-Buitenzorg ini dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staatsspoorwegen. Pada waktu itu kawasan Jatinegara dan Tanjung Priok belum termasuk gemeente Batavia. Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada. Selama stasiun ini dibangun, kereta apikereta api menggunakan stasiun Batavia Noord. Sekitar 200 m dari stasiun yang ditutup ini dibangunlah Stasiun Jakarta Kota yang sekarang. Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada 8 Oktober 1929. Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931. Di balik kemegahan stasiun ini, tersebutlah nama seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung 8 September 1882 yaitu Frans Johan Louwrens Ghijsels. Bersama teman-temannya seperti Hein von Essen dan F. Stolts, lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft itu mendirikan biro arsitektur Algemeen Ingenieur Architectenbureau (AIA). Karya biro ini bisa dilihat dari gedung Departemen Perhubungan Laut di Medan Merdeka

11

Timur, Rumah Sakit PELNI di Petamburan yang keduanya di Jakarta dan Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta. Stasiun Beos merupakan karya besar Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan Het Indische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat. Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi. Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan.

3. Museum Fatahillah

Gambar 3 Museum Fatahillah

Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh „'‟Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen”‟ sebagai gedung balaikota ke dua pada tahun 1626 (balaikota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dibangun kemudian hari. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh
12

pemerintah Belanda adalah tidak mengubah pondasi yang sudah ada, tetapi lantai dinaikkan sekitar 2 kaki, yaitu 56 cm. Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan Timur. Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-penjaranya terus dilakukan hingga bentuk yang kita lihat sekarang ini. Gedung ini selain digunakan sebagai stadhuis juga digunakan sebagai „‟Raad van Justitie'‟ (dewan pengadilan) yang kemudian pada tahun 1925-1942 gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 markas Komando Militer Kota (KMK) I, yang kemudian menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968 diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974. Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi deng an lapangan yang dinamakan „‟stadhuisplein'‟. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC „'‟Johannes Rach”‟ yang berasal dari „'‟Denmark”‟, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satusatunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungkan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu „'‟Taman Fatahillah”‟ untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta. kesempatan kepada masyarakat perorangan maupun institusi meminjamkan atau menyumbangkan koleksinya kepada Museum Sejarah Jakarta.

13

4. Terowongan Wilhelmina

5. Gereja St Antoniuskerk

14

6. Piring Antik

Ada tulisan VOC pada baian tengahnya. Diameter piring = 38.3 cm 7. Lampu Antik

Lampu ini merupakan peninggalan belanda yang sangat terlihat seni ukir nya yang terdapat di sekitar lampu mirip dengan motif naga.

15

8. Cermin

Cermin ini diperkirakan berumur ratusan tahun, dan terbuat dari kayu jati asli yang disentuh dengan bentuknya yang melengkung.

Karakteristik bangunan belanda
1. Abad 16 sampai tahun 1800-an Pada waktu ini Indonesia masih disebut sebagai Nederland Indische (Hindia Belanda) di bawah kekuasaan perusahaan dagang Belanda yang bernama VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie). Selama periode ini arsitektur kolonial Belanda kehilangan orientasinya pada bangunan tradisional di Belanda serta tidak mempunyai suatu orientasi bentuk yang jelas. Yang lebih buruk lagi, bangunan-bangunan tersebut tidak diusahakan untuk beradaptasi dengan iklim dan lingkungan setempat. 2. Tahun 1800-an sampai tahun 1902 Belanda pada abad ke-19 harus memperkuat statusnya sebagai kaum kolonialis dengan membangun gedung-gedung yang berkesan grandeur (megah). Bangunan gedung dengan gaya megah ini dipinjam dari gaya arsitektur neo-klasik yang sebenarnya berlainan dengan gaya arsitektur nasional Belanda waktu itu.
16

3. Tahun 1902-1920 Gaya arsitektur modern yang berorientasi ke negeri Belanda.

17

Berbagai elemen bangunan arsiktektur kolonial belanda di Indonesia.
Elemen-elemen bangunan bercorak Belanda yang banyak digunakan dalam arsitektur kolonial Hindia Belanda (Handinoto, 1996:165-178) antara lain: a) gevel (gable) pada tampak depan bangunan

b) dormer

c) windwijzer (penunjuk angin) d) nok acroterie (hiasan puncak atap) e) geveltoppen (hiasan kemuncak atap depan
18

f) ragam hias pada tubuh bangunan g) balustrade h) tower

Corak Hiasan
 Bangunannya kokoh dan tinggi.  Pintu, jendela, terdiri dari dua kusen kayu, yang motif dan ukir ran nya mempunyai khas tersendiri.  Ruangannya sangat luas dan panjang.  Selalu bercirikan adanya bangunan yang melengkung.  Ciri khas dari gaya arsitektur ini yaitu adanya barisan pilar atau kolom (bergaya Yunani) yang menjulang ke atas serta terdapat gevel dan mahkota di atas serambi depan dan belakang.  Bentuk- bentuk yang mendukung :  diilhami motif-motif bunga dan tanaman lain, dan juga sangat bergaya bentuk-bentuk lengkung yang mengalir. Gaya Art Nouveau dan pendekatannya telah diterapkan dalam hal arsitektur, melukis, furnitur, gelas, desain grafis, perhiasan, tembikar, logam, dan tekstil dan patung.

Media / Bahan
         Semen. Besi Yang berbentuk cakar ayam. Batu kali. Pasir. Kayu kusen dengan motif ukir ukir ran. Marmer. Logam. Kuningan. Dll.

Tingkat Kerumitan Hiasan
 Tidak ditemui banyak tentang kerumitan hiasan atau corak pada bangunan belanda.
19

 Yang ada bangunannya yang selalu ada penyangga yang kuat seperti kebanyakkan di peninggalan bangunan Belanda.  Banggunan seperti ini sangat jatang sekali ditemui di indonesia.  Bangunan dengan penyangga yang kuat mengesankan terlihat kokoh dan kuat serta awet bertahun – tahun.  Lainnya yang dapat kita temui adalah adanya lubang atau tembok yang melengkung. Tidak diketahui secara eksplisit apa manfaatnya dibuat melengkung.

Tujuan Pembuatan
 Mungkin ini corak dan seni yang dapat kita ketahui. Tingkat kerumitan yang dapat kita temui lagi adalah corak hiasan yang ada pada pintu atau jendela kusen yang ada pada bangunan peninggalan belanda  memperkuat statusnya sebagai kaum kolonialis dengan membangun gedung-gedung yang berkesan grandeur (megah). Bangunan gedung dengan gaya megah ini dipinjam dari gaya arsitektur neo-klasik yang sebenarnya berlainan dengan gaya arsitektur nasional Belanda waktu itu.  Karena sudah lama menjajah Indonesia , maka seolah negara Indonesia menjadi kampung halamannya sendiri, dan teciptalah seni yang memang senggaja diciptakan agar memberi corak dan warna tersendiri bagi negara jajahannya (Indonesia).  Dengan terciptanya gedung gedung besar ,Sebagai tempat penunjang untuk menjalankan pemerintahannya.

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->