P. 1
Tugas Sanitasi Industri

Tugas Sanitasi Industri

|Views: 96|Likes:
Published by Ratihana Anan

More info:

Published by: Ratihana Anan on Nov 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/29/2013

pdf

text

original

TUGAS SANITASI INDUSTRI Kasus Penolakan Produk Pangan Ekpor dari Indonesia Ke Eropa

Disusun Oleh RENDRA BAYU MURTHI 09/283220/TP/9432

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

Indonesia sebagai salah satu negara yang mengekspor produk pangan ke luar negeri sering mengalami berbagai kasus penolakan dan penahanan ekspor pangan yang sebagian besar disebabkan oleh masalah mutu dan keamanan yang dianggap tidak memenuhi persyaratan internasional.7 %. peraturan lain yang terkait adalah PP 28/2004 Pasal 6 tentang pedoman cara produksi pangan olahan yang baik. Era globalisasi perdagangan menuntut diterapkannya jaminan mutu seperti. Adapun alasan mengapa penahanan bahkan sampai penolakan produk produk pangan ekspor dari indonesia dikarenakan belum terdaftarnya beberapa produsen makanan kaleng (needs fce) 14. mengandung bahan kimia berbahaya serta mengandung nikroorganisme seperti Salmonella sp yang banyak mencemari produk ikan. . sedangkan data dari Europa-RASFF (Europa-Rapid Alert System for Food and Feed) menyebutkan bahwa terjadi 11 kasus penolakan produk ikan Indonesia pada tahun 2010.1 %. Berdasarkan data dari FDA.Perubahan global secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi perkembangan perdagangan internasional. karena tulisan label berbahasa Indonesia dan sisanya tidak diketahui. adalah suatu genus bakteri enterobakteria gram-negatif berbentuk tongkat yang menyebabkan tifoid. dan Gizi Pangan Pasal 41 yang mengatur mengenai pengeluaran pangan dari wilayah Indonesia. paratifod. Oleh karena itu penangan bahan produk ikan ini sangat dijaga ketat dapat dilihat dari Peraturan yang berkaitan dengan ekspor pangan dari Indonesia ke negara lain adalah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2004 (PP 28/2004) tentang Keamanan. pada tahun 2009 terjadi sekitar 239 kasus penolakan terhadap produk pangan ekspor Indonesia. Salah satu syarat dalam menghasilkan produk ekspor yang berdaya saing adalah terjaminnya mutu dan keamanan produk khususnya produk pangan. serta sistem pengelolaan keamanan pangan dalam ISO 22000 : 2005. Selain itu. Produk pangan ekspor yang tidak memenuhi jaminan mutu dan keamanan dapat ditahan dan ditolak masuk ke negara pengimpor. dan penyakit foodborne. belum diberi label nutrisi 4. Mutu. Dapat diketahui produk ekspor ikan sangat lah rentan atas pencemaran salmonella. Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP) untuk pangan dan persyaratan produksi yang berwawasan lingkungan (Ecolabelling). Perubahan ini menuntut semua negara untuk berupaya optimal dalam menghasilkan produk ekspor yang berdaya saing. Standar yang dapat diacu adalah SNI 01-2172. Kasus penahanan dan penolakan produk pangan di luar negeri telah banyak terjadi setiap tahunnya. Alasan penolakan tersebut bermacam-macam mulai dari filthy (kotor).1-2006 mengenai spesifikasi ikan dalam kaleng sterilisasi.

SNI juga menyatakan bahwa jumlah koloni Salmonella sp.html Peraturan pemerintah. produk tuna dalam kaleng sterilisasi memiliki persyaratan angka lempeng total (ALT) sebesar 0.2012. Di akses pada tanggal 6 oktober 2012. Kasus pelanggaran tuna dalam kaleng sterilisasi ini juga melanggar pasal 6 ayat 1.go.id/ .ipb. Selain itu. Diakses pada.bsn.Peraturan Perundang-undangan yang terkait dengan kasus tersebut adalah Peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 28 tahun 2004 membahas tentang keamanan. Menurut SNI 01-2712-1992. Maksud dari keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis. pada produk tuna dalam kaleng sterilisasi harus negatif sehingga jelas tidak boleh terdapat cemaran Salmonella sp. Oleh karena itu.blogspot. mutu dan gizi pangan. ayat 1 dan 2. Pelanggaran kasus tuna dalam kaleng sterilisasi ini terdapat pada pasal 41. dapat dikatakan bahwa produk tuna kalengan yang diproduksi dan diekspor tidak memenuhi syarat mutu dan keamanan menurut SNI 01-2172. mutu dan gizi pangan.1-2006.ac.com/2011/07/penyebab-penolakan-di-eropa. kimia dan benda lain yang dapat mengganggu. di mana setiap pangan yang dikeluarkan dari wilayah Indonesia wajib memenuhi persyaratan keamanan pangan dan setiap orang yang mengeluarkan pangan dari wilayah Indonesia bertanggung jawab atas keamanan.sisni. Pelanggarannya berupa ditemukannya Salmonella sp. Sumber Referensi Anonim. Dengan kata lain tidak boleh terdapat satu pun koloni yang ditemukan dalam produk tuna. http://biologipedia.Penolakan Produk panganrepository. dimana produksi ekpor tuna dalam kaleng ini tidak bisa mencegah tercemarnya pangan olahan oleh cemaran biologis yaitu Salmonella sp. di dalam produk tuna kalengan sterilisasi.id/. merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. pada produk ekspor tuna dalam kaleng. Pada kasus ini ditemukan cemaran Salmonella sp.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->