P. 1
45937183 Memperbaharui Sikap Agama Terhadap HIV AIDS

45937183 Memperbaharui Sikap Agama Terhadap HIV AIDS

|Views: 19|Likes:
Published by Rico Sitohang

More info:

Published by: Rico Sitohang on Nov 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2013

pdf

text

original

Sections

1

EDITORIAL
MEMPERBAHARUI SIKAP AGAMA-AGAMA TERHADAP MASALAH HIV/ AIDS

Lingkup persoalan HIV/ AIDS bukanlah semata-mata persoalan medis, yang mana lembagalembaga keagamaan tidak mempunyai kompetensi untuk melakukan tindakan apapun terhadap masalah yang ditimbulkan oleh virus ini. Pada masalah ini terdapat dimensi sosial yang penting diperhatikan ketika berupaya menghambat laju penyebaran dan pendampingan pada orang-orang yang terinfeksi (sering disingkat ODHA: Orang Dengan HIV/ AIDS). Untuk maksud ini mutlak dibutuhkan keterlibatan masyarakat untuk bersama-sama menghadapi masalah yang terkait dengan kualitas hidup manusia dan komunitasnya. Sayangnya mengenai persoalan HIV/ AIDS ini terdapat persepsi dan sikap tertentu yang berkembang didalam masyarakat yang tidak mendukung upaya-upaya pencegahan meluasnya penyakit ini, bahkan sebaliknya, pada banyak kesempatan dan dalam taraf tertentu menambah penderitaan ODHA dan keluarganya. Ada peran aktif yang sesungguhnya dapat dilakukan oleh lembaga-lembaga, pimpinan, imam, maupun para pengajar agama yang terjun langsung didalam kehidupan masyarakat yang mana hal itu terlambat dilaksanakan karena berbagai salah persepsi terhadap persoalan ini.

Salah Persepsi Hingga saat ini masih banyak umat beragama yang beranggapan bahwa AIDS adalah penyakit yang dialami seseorang sebagai hukuman dari Tuhan, sebagaimana Tuhan pernah menghukum umat Nabi Luth (seperti yang terekam di dalam kitab suci agama Kristen dan Islam), atau itu suatu karma dari perbuatan buruk. Oleh karena itu di beberapa kalangan muncul rasa antipati terhadap ODHA, menganggap mereka sebagai orang yang amoral yang sedang menanggung akibat perbuatannya. Tidaklah sedikit cerita yang mengisahkan bagaimana ODHA dikucilkan dan 'dihukum' oleh masyarakat hingga mengalami kesakitan berkepanjangan dan kesepian sampai ajal menjemput. Padahal diantara para ODHA adalah istri-istri yang budiman dan anak-anak yang suci. Tidak sedikit pula gambaran bagaimana lembaga-lembaga agama, ruhaniawan, alim ulama yang dalam kasus lain begitu peduli, namun untuk kasus ini jangankan mengklarifikasi pandangan masyarakat tentang HIV/ AIDS tapi justru membiarkan begitu saja kematian dalam penderitaan berkepanjangan. Sangat mungkin ketidakpedulian itu berlatar belakang ketidaktahuan.

2 Ketidaktahuan menimbulkan kegelapan hati dan jauh dari tindakan bijak, yang terutama tampak dalam aksi pengucilan terhadap para ODHA. Masyarakat yang terlibat aksi pengucilan terhadap ODHA kemungkinan beranggapan, pertama karena kekhawatiran akan tertular penyakit ini menyentuh atau bertatapan saja dapat menyebabkan terinfeksi virus ini. Kedua, sebagai kelanjutan dari anggapan bahwa ODHA adalah orang yang sedang menanggung akibat dari tindakan yang melanggar susila maka orang yang menemani ODHA pun dianggap sebagai bagian dari 'orang yang amoral' atau orang yang setuju dengan tindakan-tindakan amoral. Ternyata prasangka melahirkan prasangka juga. Tanpa disadari akhirnya muncul anggapan pemikiran bahwa masalah HIV/ AIDS adalah masalah moral. Masalah menjadi berlarut-larut karena tokoh masyarakat (dan khususnya tokoh-tokoh agama) membiarkan diri dalam ketidakpahaman terhadap HIV/ AIDS. Akibat aksi 'penghukuman' yang dilakukan masyarakat ini, jarang orang yang beresiko tertular virus ini dengan sukarela memeriksakan darah atas kesadaran sendiri, akibatnya para ODHA tidak dapat berperan aktif dalam menghambat penularannya kepada orang lain. Ketika masyarakat mulai menyaksikan dalam berbagai laporan media tentang anak-anak dan para istri yang setia-budiman menjadi ODHA, hal ini tidak dengan sendirinya menimbulkan dorongan pada masyarakat untuk mengoreksi sikap-sikap mereka. Demikian juga pihak-pihak yang dianggap kompeten untuk berbicara masalah moralitas tidak dengan sendirinya menjadi terusik untuk mengklarifikasi pandangan-pandangannya dan menyampaikan pada masyarakat

pendukungnya.

Dimana Peran Agama? Dalam perspektif religius, masalah HIV/ AIDS adalah suatu peringatan pada setiap orang, bahwa ada krisis dalam penyelenggaraan kehidupan bersama. Mungkin akarnya berada didalam kehidupan keluarga yang tidak berhasil membangun pembelajaran bagi anggota-anggotanya sehingga memunculkan karakter yang rapuh untuk menghadapi banyaknya pilihan yang mempertaruhkan kualitas kehidupan. Mungkin juga struktur sosial-ekonomi yang diwarnai ketidakadilan sehingga, (dalam struktur yang timpang ini) memunculkan lapangan pekerjaan yang sangat riskan dalam melindungi harkat dan martabat kemanusiaan, dimana kalangan yang tidak beruntung sering terjebak di dalamnya. Dalam situasi ini tidak pada tempatnya lembaga-lembaga agama bersikukuh dengan kaca mata hitam-putihnya menuntut apa yang seharusnya dilakukan atau tidak dilakukan oleh umat atau masyarakat. Dengan menghakimi situasi masyarakat termasuk mengadili para ODHA, agamaagama tidak bisa memberi peran apa pun ditengah ketidakadilan yang sangat menyulitkan ini.

3 Banyak problem kemanusiaan yang terlambat ditanggapi agama-agama, salah satunya adalah permasalahan HIV/ AIDS. Tidak ada cara lain bagi institusi-institusi keagamaan selain memperbaharui wacana yang dikembangkan agar lebih bisa menjadi berkat, rahmat dan memberi damai dalam kehidupan. Agama sudah seharusnya menjadi ‘obat’ bagi masalah kehidupan (termasuk masalah HIV/ AIDS), bukannya menjadi ‘racun’ yang memperburuk masalah[]

Salam Redaksi

4

FOKUS
PERANAN ROHANIWAN DALAM PENANGGULANGAN HIV/AIDS : REFLEKSI PENGALAMAN Esthi Susanti H. Aktifis bekerja di Yayasan HOTLINE Surabaya Pendahuluan Peranan agama baik rohaniawan maupun institusinya dalam penanggulangan HIV/ AIDS, baik pencegahan maupun dukungan, perawatan dan pengobatan dari awal hingga sekarang belum memiliki makna yang kongkrit. Bahkan peranannya nyaris tidak terdengar karena yang terlibat baru ditingkat individu. Itu pun peranan yang lebih berada pada tataran teknis, mendampingi orang-orang yang mengalami masalah psikologis dan spiritual. Peranannya dibidang wacana untuk menghilangkan atau mengurangi stigma dan diskriminasi yang begitu kronis belum nampak. Agama dalam pengertian orang dan institusinya memiliki peranan besar dalam mengatasi masalah HIV/ AIDS. HIV/ AIDS tidak hanya berurusan dengan masalah penyakit namun berurusan dengan masalah perilaku dan kemanusiaan. Siapa lagi yang bisa berbicara perilaku yang bertanggung jawab dan tentang kematian yang beradab, baik, dan bermartabat kalau bukan rohaniwan. Sayangnya peranan tersebut belum dijalankan karena terpenjara oleh banyak faktor. Sekarang peranannya ditunggu-tunggu dalam menyuarakan dan mendampingi banyak jiwa yang berhadapan dengan kematian karena virus dalam tubuh telah menghuni begitu banyak anak muda yang disebabkan penggunaan jarum suntik berganti-ganti atau seks yang tidak aman. Itu termasuk menyuarakan tentang perlindungan diri dari virus HIV/ AIDS yang sekarang telah menjadi problem kesehatan masyarakat yang nyata. Kita tidak hanya menghadapi epidemi HIV tetapi juga epidemi AIDS. HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Yang dimaksud HIV adalah virus penyebab AIDS. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat berlangsung lama/ bertahun-tahun tanpa memberi gejala. Orang yang terserang virus tidak menyadari dirinya tertular sebelum dilakukan tes. Sedangkan AIDS singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah suatu kumpulan gejala penyakit yang didapat akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh virus HIV. AIDS muncul setelah virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia untuk waktu yang lama. HIV/ AIDS tidak bisa disembunyikan lagi karena banyak pasien yang telah memasuki tahap AIDS sekarang menjadi penghuni rumah sakit.

5 Periode Awal Penanggulangan HIV/ AIDS Masalah HIV secara resmi diumumkan ada di Indonesia sejak tahun 1987. Berdasarkan pengalaman dokter di RSCM Jakarta sebenarnya HIV telah masuk sebelum tahun tersebut. Berhubung ada masalah teknologi dalam pendeteksian sehingga tanda-tanda yang telak tidak bisa digunakan untuk mendiagnosis. Pada saat awal pengambil kebijakan berkonsentrasi penuh pada surveilans dan pencegahan untuk masa yang cukup panjang. Bidang Dukungan, Perawatan dan Pengobatan belum dikembangkan sampai dengan 2 atau 3 tahun yang lalu. Selain belum ada obat juga karena belum ada kasus yang bermunculan. Sejak tahun 1999 tiba-tiba kasus melonjak, setelah pengguna jarum suntik narkotika berganti-ganti menjadi penyumbang kasus yang besar selain dari seks. Sekarang status epidemi HIV di beberapa propinsi adalah terkonsentrasi karena angka prevalensi di subpopulasi tertentu telah tinggi, seperti pada pengguna jarum suntik narkotika berkisar 50% lebih, waria 20% lebih dan pelacur 5% lebih. Data di Jakarta HIV telah masuk ke kalangan ibu rumah tangga, dari 500 ibu hamil yang ikut Voluntary Counselling Testing ditemukan 3% positif HIV. Bicara masalah pencegahan dari kacamata kesehatan (yang menggunakan istilah memutuskan rantai penularan secara efektif dan efisien) maka tidak ada kata lain kecuali mengobati infeksi menular seksual dan penggunaan kondom bagi orang-orang yang berperilaku risiko tinggi. Sejak awal pengambil keputusan di bidang kesehatan telah ragu-ragu dan merasa takut berhadapan dengan rohaniwan jika berbicara kondom secara langsung. Karena itu LSM ditempatkan di garis depan untuk promosi kondom di kalangan pelacur. Policy yang mendua telah diterapkan. Pejabat kesehatan saat itu tidak pernah bicara jelas tentang kondom di media massa bahkan banyak dari mereka yang menyatakan ketidaksetujuannya. Namun secara diam-diam menyetujui promosi kondom yang dilakukan oleh LSM di lapangan. Padahal pada saat itu hubungan antara LSM dengan pemerintah tidak baik. Suara kritis LSM di bidang lain dinilai sebagai pengganggu. Sekalipun demikian ketidaksenangan terhadap kritik LSM bisa diatasi namun asumsi tentang kritik dari agamawan tidak berani dihadapi. Ketidaktegasan gambaran tentang kondom diperparah dengan lahirnya policy yang bertentangan antara satu departemen dengan departemen lain. Departemen Kesehatan mempromosikan ABC. (A = Anda tidak melakukan seks, B = Bersikap saling setia dengan pasangan, C = Cegah dengan memakai kondom) sedangkan Badan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mempromosikan ketahanan keluarga dan kadang menyatakan ketidaksetujuannya dengan penggunaan kondom. Sikap mendua dan tidak jelas tersebut berakibat pada citra kondom yang buruk. Masyarakat kebanyakan yang tidak memiliki dasar pengetahuan yang cukup, dilibatkan pada perdebatan dan kontroversi tersebut. Akibatnya sistem tidak jalan. LSM di lapangan berbusa-busa berpromosi

6 kondom, media massa mengangkat kontroversi kondom dan masyarakat yang berperilaku risiko tinggi tidak mau menggunakan kondom. Penggunaan kondom di kalangan pelacur sampai hari ini belum naik secara berarti. Lalu bagaimana peranan agamawan dalam situasi tersebut? Rancangan penanggulangan yang hanya difokuskan pada surveilens dan pencegahan di kalangan pelacur tidak memberi ruang gerak yang banyak pada agamawan untuk berkontribusi. Bahkan wacana yang digulirkan oleh media massa yang dengan rajin memberi laporan tentang temuan kasus HIV di kalangan pelacur berdasarkan hasil surveilens, digunakan oleh agamawan untuk ikut memberikan penilaian buruk. Beberapa tahun setelah laporan periodik temuan kasus HIV di kalangan pelacur, mengundang gerakan untuk melakukan penutupan lokalisasi pelacuran. Di Jawa Timur telah terjadi penutupan lokalisasi di beberapa kabupaten dan kota. Penutupan lokalisasi pelacuran ternyata justru menambah masalah karena pelacurnya tidak berhenti bekerja namun berpindah tempat yang tidak bisa dipantau oleh pihak kesehatan. Program pencegahan infeksi menular seksual dan HIV menjadi sulit dilaksanakan. Dalam kerangka pekerjaan tersebut memang agamawan tidak bisa diharapkan banyak, kecuali berbicara tentang larangan berzinah dan yang paling moderat hanya bisa berbicara tentang jangan melakukan kesalahan dua kali dengan menulari HIV pasangannya. Dalam kerangka ini kelompok moderat bisa menerima kondom dalam kacamata darurat dan tidak menimbulkan masalah yang lebih besar dalam kaitannya dengan penularan pada pasangan seksnya.

Penularan Jarum Suntik Tidak Steril Sejak tahun 1999 jarum suntik berganti-ganti dari pengguna narkotika menjadi penyumbang besar kasus HIV. Lalu isu pencegahan bertambah yakni jarum suntik steril untuk pengguna narkotika suntik. Pencegahan melalui jarum suntik steril berhadapan dengan masalah hukum. UU yang ada menempatkan orang yang menggunakan narkotika sebagai pelaku tindak pelanggar hukum. Padahal untuk memutus rantai penularan dari pengguna jarum suntik berganti-ganti adalah dengan bertemu secara langsung dengan pengguna jarum suntik berganti-ganti secara diam-diam. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan pendidik sebaya yakni mantan pengguna narkotika menjadi penyuluh jarum suntik steril ke teman-temannya yang masih memakai. Pilihan menempatkan mantan pengguna narkotika sebagai penyuluh merupakan pilihan yang sulit sekali. Mereka sebenarnya ditempatkan di area yang berbahaya karena mengundang untuk terjadinya sugesti sehingga akan terjebak untuk memakai kembali. Saat ini pintu masuk ke pengguna narkotika hanya mereka. Tanpa itu maka komunitas itu sulit sekali dijangkau karena beroperasi secara diamdiam dan tersembunyi.

7 Masalah yang timbul kemudian adalah LSM pendamping pengguna napza itu berhadapan dengan masalah hukum. Masyarakat umum yang terancam keluarganya menjadi korban meminta penegakan hukum yang tegas. Sedangkan pengetahuan tentang aspek perilaku dan kesehatan yang begitu kompleks tidak dipahami oleh masyarakat. Narkotika adalah masalah sosial baru yang besar sehingga seluk beluknya belum diketahui semua. Dengan demikian polisi dihadapkan pada dilema: memenuhi tuntutan masyarakat yang menghendaki penegakan hukum yang tegas atau mengikuti kesepakatan Badan Narkotika Nasional dengan Menkokesra tentang harm reduction jarum suntik yang banyak dilakukan oleh LSM dengan menggunakan tenaga bekas pengguna narkotika sebagai penyuluhnya. Nampaknya hingga sekarang polisi mengikuti UU yang ada, yang belum mengakomodir isu pencegahan HIV/ AIDS. Karena itu kerja sama polisi dengan LSM pendamping pengguna napza belum berjalan dengan baik. Malah beberapa dari mereka dimasukkan penjara karena terbukti memegang barang terlarang tersebut. Dalam situasi seperti itu sebenarnya rohaniwan bisa berkontribusi memecah dilema tersebut dengan membantu membangun tatanan yang memungkinkan penegakan hukum dilakukan sekaligus pencegahan HIV bisa dilakukan dengan tenang dan efektif. Dengan kata lain rohaniwan bisa mengurangi tekanan ke polisi sehingga memberi ruang yang aman pada polisi untuk ikut menanggulangi HIV/ AIDS. Napza suntik menjadi masalah yang begitu serius. Banyak generasi muda antara usia 20 sampai dengan 30 tahun banyak terinfeksi HIV dari jarum suntik tidak steril tersebut. Napza suntik telah masuk ke banyak keluarga kaya maupun miskin dan semua kelompok masyarakat yang ada. Namun hingga sekarang belum ada kepemimpinan yang tegas untuk mengatasi masalah tersebut. Korban sudah begitu banyak namun kendala sistem buatan manusia belum bisa diatasi. Mengapa rohaniwan tidak maju ke publik untuk mengatasi dilema tersebut?

Peranan terhadap Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA) Stigma buruk HIV/AIDS telah menghasilkan drama besar kemanusiaan dari Sabang sampai Merauke karena banyak dari mereka kehilangan pekerjaan, terisolasi dari keluarga dan komunitasnya, tertolak oleh layanan kesehatan yang mengetahui status HIV mereka. Yang lebih dramatis lagi kebanyakan dari mereka meninggal dengan cara yang mengenaskan, pergi dengan kesakitan dan rasa malu. Keluarga menghadapi kesulitan untuk memandikan jenazah. Di Surabaya karena maraknya isu HIV menyebabkan orang tidak mau lagi menjadi modin. Mereka takut tertular HIV. Pemakaman Orang Dengan HIV/ AIDS dilakukan secara diam-diam pada malam hari. Itupun hanya dihadiri oleh segelintir orang. Masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Keluarga

8 yang ditinggal seolah harus menyimpan aib dari penyakit tersebut. Belum lagi kisah bunuh diri ketika mengetahui status dirinya yang positif HIV terjadi di beberapa daerah. Begitu banyaknya drama kemanusiaan yang terjadi namun hingga sekarang belum mengundang rohaniwan bersatu meluruskan situasi yang tidak manusiawi tersebut. Seolah mereka layak mendapatkan semua itu karena perbuatan di masa lampau. Lalu apa arti pertobatan dan pengampunan yang diajarkan di semua agama? Saat ini peranan rohaniwan sangat dibutuhkan baik di tataran praktis mendampingi Orang Dengan HIV/ AIDS maupun di tataran pelurusan wacana agar stigma bisa dihilangkan/ dikurangi sehingga diskriminasi tidak terjadi di mana-mana.

Belajar Dari Pengalaman Belajar dari penanggulangan HIV/ AIDS yang telah memasuki dua dekade lebih, sampailah pada kesimpulan bahwa setiap komponen masyarakat dan pemerintah memiliki peranan masingmasing dalam penanggulangan HIV/ AIDS. Sebaiknya semua pihak bekerja sama melakukan apa yang menjadi tugas dan peranannya. Kontroversi yang dibesar-besarkan di media massa dan policy yang bertentangan terbukti menjadi salah satu kunci penghalang keberhasilan penanggulangan HIV/ AIDS. Masalah HIV/ AIDS sangat kompleks dan berdimensi banyak. Isunya tidak hanya soal kondom dan penggunaan jarum suntik steril. Semua bidang terkait dengan masalah HIV/ AIDS. Pengintegrasian dan sinergi dari semua bidang diperlukan agar HIV/ AIDS bisa ditanggulangi. Semangat sektoral tidak mungkin bisa menanggulangi HIV/ AIDS. Semua komponen masyarakat harus terlibat pada penanggulangan HIV/ AIDS. HIV/ AIDS merupakan masalah masyarakat yang penting, bukan hanya menjadi masalah pemerintah, LSM atau orang-orang yang berperilaku risiko tinggi saja.[]

9

FOKUS
MELONGOK SEGI MEDIS AIDS DAN POTENSI TIMBULNYA DISKRIMINASI Tuti Parwati Merati Direktur Yayasan Citra Usadha Indonesia Pendahuluan Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul karena tubuh tertular Human Immunodeficiency Virus (HIV), suatu virus yang menimbulkan penurunan kekebalan tubuh. Sindrom ini lebih dikenal dengan nama AIDS, sebuah kata yang masih banyak ditakuti orang. Ini disebabkan belum ditemukan vaksin pencegah penularan dan penyembuhnya selama hampir seperempat abad sejak kasus pertama AIDS ditemukan di Amerika Serikat pada tahun 1981. Walaupun obat penghambat perkembangbiakan HIV yang tergolong Retrovirus dari famili Lentivirus ini sudah ditemukan lima tahun setelah HIV diketahui sebagai penyebab AIDS, namun obat yang disebut anti-retrovirus (ARV) tersebut belum dapat menyembuhkan pasien AIDS. ARV tidak dapat membunuh HIV tetapi hanya menghambat

pertumbuhan HIV. Kenyataan inilah yang menyebabkan timbulnya ketakutan orang terhadap AIDS. Orang takut tertular HIV karena bila tertular pasti fatal akibatnya dan bila sakit, sakitnya tidak bisa disembuhkan. Disamping alasan medis yang menyebabkan orang takut dengan AIDS, juga ada banyak stigma yang melekat pada AIDS. Dilihat dari aspek sosio-historisnya, penderita AIDS dikenal terlebih dahulu pada mereka yang berasal dari kelompok perilaku risiko tinggi (KPRT) seperti penjaja seks komersial (PSK) baik perempuan atau laki-laki, pecandu narkoba suntik, kelompok homoseks, waria dan sebagainya sehingga tidak jarang mereka mengalami diskriminasi. Kita juga tahu bahwa tanpa terkena HIV/ AIDS pun kelompok tersebut diatas sudah dianggap ”rendah” dan didiskriminasi oleh masyarakat. Diskriminasi terhadap penderita AIDS pun terjadi dalam pelayanan kesehatan karena petugas takut tertular HIV pada saat merawat dan melakukan pekerjaannya. Di bidang pekerjaan timbul keraguan apakah orang yang terkena HIV/ AIDS masih dapat dan kuat untuk bekerja, disamping juga takut tertular HIV dari teman kerjanya yang seorang ODHA (orang yang terkena AIDS). Mereka tidak ingin nama kantor atau usaha bisnis mereka tercemar karena mempekerjakan orang dengan stigma AIDS, orang homo, dan sebagainya. Tidak dapat dipungkiri diskriminasi tidak hanya berasal dari masyarakat umum atau orang lain tetapi juga dari teman dekat dan bahkan keluarga terdekat. Didalam rumah alat-alat makan/ minum ODHA dipisahkan sehingga tidak tercampur dengan orang lain.

10 Kenyataannya pada saat ini secara global telah terdapat lebih dari 40 juta orang tertular HIV dan pada tahun 2002 di Indonesia, berdasarkan perkiraan badan kesehatan dunia WHO, terdapat sekitar 90.000-130.000 orang terinfeksi HIV. Kenyataan lain yang penting adalah orang yang terkena HIV tidak hanya dari kelompok perilaku risiko tinggi (KPRT) tetapi orang yang melakukan transfusi darah seperti penderita hemofili, isteri atau suami, bayi-bayi yang baru lahir pun banyak yang tertular tanpa disadari dan para pemakai narkoba yang kebanyakan remaja. Lalu bagaimana caranya sehingga ketakutan terhadap HIV/ AIDS tidak ditujukan pada penderitanya (yang disebut dengan ODHA) tetapi waspada terhadap penularannya sehingga kita dapat bersikap dan berperilaku proporsional? Oleh karena itu pemahaman tentang kumpulan gejala penyakit HIV/AIDS, penularannya, pencegahannya, perlakuan terhadap penderitanya sangatlah penting. (Catatan: Istilah di Indonesia untuk orang yang telah terinfeksi HIV dan yang sudah dalam stadium AIDS disebut Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA).

Penularan HIV HIV menular melalui hubungan seksual yang tidak aman atau berganti-ganti pasangan (baik hubungan heteroseks maupun homoseks) atau melalui pemakaian jarum suntik yang tidak steril/ tercemar, terutama terjadi pada pemakaian bersama di antara pengguna narkotika suntikan. Disamping itu dapat juga menular dari ibu yang mengidap HIV ke bayi yang dikandung atau yang disusuinya. Mengapa demikian? Karena dalam tubuh seorang pengidap HIV, HIV berada paling banyak di dalam darah, air mani, cairan vagina dan air susu ibu. Kontak langsung dengan bahanbahan tersebut akan dapat menularkan HIV dari satu orang ke orang lain. Penularan dari ibu hamil ke bayi terutama terjadi pada saat persalinan (60-75 %), namun dapat pula terjadi sesudah melahirkan yaitu saat menyusui (12-15%), atau saat dalam kandungan (25-40 %). Total penularan dari ibu ke janin bervariasi antara 20-45% untuk negara berkembang dan 15-30% untuk negara maju. Dengan memakai obat antiretroviral maka penularan dari ibu ke janin ini dapat ditekan dan diturunkan hingga 6-7%. Setelah menular melalui cara-cara tersebut, selanjutnya didalam tubuh, target utama HIV adalah sel darah putih yang disebut sel limfosit T helper atau disebut juga sel limfosit CD4 dimana HIV akan menyatu dengan sel limfosit ini lalu berkembang biak bertambah banyak sehingga dari satu sel limfosit akan terbentuk ribuan HIV. Berbagai jenis sel dapat diserang oleh HIV terutama sel darah putih limfosit CD4 sehingga lambat laun sistim kekebalan tubuh akan menurun secara bertahap, baik secara fungsi maupun jumlah. Pada akhirnya tidak hanya kekebalan imunitas seluler yang terganggu tetapi juga kekebalan humoral sehingga mudah sekali terjadi infeksi oportunistik yang muncul dalam berbagai macam penyakit dan kanker.

11

Tidak Menular Walaupun hampir semua cairan tubuh mengandung HIV, namun dalam jumlah yang demikian kecil tidak terbukti bisa menularkan HIV misalnya air liur, keringat, air seni, air mata, air ketuban dan cairan otak. HIV tidak menular lewat kontak sosial. Misalnya hidup bersama dalam satu rumah/ kamar, berjabatan tangan, berpelukan, berciuman pipi, memakai bersama alat makan dan minum, berenang di kolam yang sama, gigitan nyamuk atau serangga lainnya, batuk dan bersin, atau memakai kamar mandi/ toilet yang sama. Demikian juga tidak terjadi penularan melalui fasilitas umum seperti telepon, bis, kereta api, gedung bioskop, sekolah atau tempat kerja. Jadi sangat tidak beralasan kalau kita menjauhi ODHA hanya karena takut tertular.

Perkembangan Penyakit Pada umumnya sebagian besar orang dengan HIV akan sampai di stadium AIDS dalam waktu antara 5-10 tahun (rata-rata 6 tahun). Ada sebagian kecil yang menjadi AIDS dalam waktu lebih cepat, sekitar 3 tahun dan sebagian kecil lainnya perlu waktu yang lama sampai belasan tahun (long term non progressor). Kerusakan sistim kekebalan tubuh secara bertahap terlihat dalam perkembangan perjalanan penyakit, mulai dari tanpa gejala sama sekali sampai ke keadaan klinis dengan gejala yang berat. Perlu diketahui dalam tahap awal seseorang yang terkena HIV masih tanpa gejala, namun orang tersebut sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain melalui cara-cara yang telah disebutkan tadi. Adapun tahap-tahap perkembangan penyakit ini adalah sebagai berikut: 1. Stadium Infeksi Primer : Ini adalah saat penularan HIV, yang biasanya tidak ada gejala tetapi pada 30-60% setelah 6 minggu terinfeksi orang dapat mengalami gejala seperti gejala influenza, berupa demam, lelah, sakit pada otot dan sendi, sakit menelan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Ada juga yang menunjukkan gejala radang selaput otak (meningitis aseptic), demam, sakit kepala sampai terjadi kejang dan kelumpuhan saraf otak. Gejala ini biasanya sembuh sendiri tanpa pengobatan khusus. 2. Stadium tanpa gejala : Stadium ini merupakan lanjutan dari infeksi primer yang dimulai sejak terinfeksi atau setelah sembuh dari gejala infeksi primer sampai beberapa bulan/ tahun setelah infeksi. Selama bertahuntahun tidak terlihat gejala, bahkan yang bersangkutan tidak mengetahui dan tidak merasa dirinya telah tertular HIV karena tetap merasa sehat seperti biasa. Pada stadium ini hanya tes darah saja yang dapat memastikan bahwa yang bersangkutan telah tertular HIV. 3. Stadium dengan gejala (ringan atau berat) :

12 Setelah melewati masa beberapa tahun tanpa gejala, akan mulai timbul gejala yang ringan pada kulit, kuku dan mulut berupa infeksi jamur pada kuku, sariawan berulang dan radang sudut mulut atau bercak-bercak kemerahan pada kulit. Gejala pada mulut berakibat penurunan nafsu makan, kadang malah terjadi diare ringan. Timbul penurunan berat badan (BB) yang tidak mencolok (kurang dari 10% BB sebelumnya). Sering juga ada infeksi saluran nafas bagian atas yang berulang, tapi penderita masih dapat beraktivitas seperti biasa. Kemudian dengan berjalannya waktu, gejala seperti itu akan semakin berat. Beberapa gejala tersebut diatas bisa timbul secara bersamaan sekaligus. Sering terjadi infeksi paru (pneumonia) bakterial yang berat atau berupa tuberkulosis (TBC) paru yang berat. Aktivitas sudah menurun dan karena sakit dalam bulan terakhir penderita berada di tempat tidur hampir 12 jam sehari. 4. Stadium AIDS: Pada tahap ini berat badan (BB) menurun lebih dari 10% dari BB sebelumnya, ada pneumonia yang berat, Toksoplasmosis otak, demam terus menerus atau berulang lebih dari satu bulan, diare karena berbagai sebab, misalnya jamur kriptosporidiosis, virus sitomegalo (CMV), infeksi virus herpes, jamur kandida pada kerongkongan (kandidiasis esophagus), jamur saluran nafas, atau infeksi jamur jenis lain seperti histoplasmosis, dan koksidioi-domikosis. Disamping itu dapat juga ditemukan kanker kelenjar getah bening atau kanker Kaposi Sarkoma. Aktivitas sangat kurang dan dalam bulan terakhir penderita berada di tempat tidur lebih dari 12 jam sehari karena sakit.

Pencegahan Setelah mengetahui bagaimana sifat dan cara penularan HIV, dapat disimpulkan cara pencegahannya agar kita tidak tertular. Tergantung siapa anda dan posisi anda. Ada beberapa cara pencegahan, yaitu: ABCDE. A: Abstinence atau puasa, maksudnya tidak melakukan hubungan seks atau tidak mengkonsumsi narkoba. B: Be faithful, yaitu saling setia pada pasangan. C: Condom, selalu memakai kondom dalam setiap hubungan seks tidak aman. D: Don't inject, jangan pernah mencoba narkoba. E: Education, cari dan dapatkan informasi yang benar tentang HIV/ AIDS/ IMS dan Narkoba. Perlu ditambahkan, bahwa sering terjadi kekeliruan pada sebagian orang yang mengira bahwa dengan minum obat antibiotik dapat mencegah penularan HIV, minum 'obat kuat' dapat mencegah HIV, merasa kondisi badan sehat akan kebal terhadap HIV, dan lain-lain. Semua itu tidak benar sama sekali, karena antibiotika, obat kuat dan kondisi sehat sama sekali tidak dapat mencegah penularan HIV apabila kita melakukan perilaku berisiko tinggi tersebut.

13 Kesimpulan Sangat tidak mungkin untuk bisa mengenali seseorang yang tertular HIV dalam stadium awal hanya dengan melihat penampilan fisik atau jasmani saja. Hanya tes darah (HIV Ab) saja yang dapat memastikan hal ini. Dalam tahap infeksi awal yang berlangsung bertahun-tahun, seseorang yang terkena HIV masih tanpa gejala, namun orang tersebut sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain melalui cara-cara yang telah disebutkan tadi. Bila seseorang merasa ada risiko, baik sekali bila melakukan tes darah ini, karena bisa melakukan upaya pencegahan penularan selanjutnya pada isteri/ suami dan orang yang dikasihinya. Demikian juga pengobatan dengan ARV dapat diberikan dengan lebih dini. Dalam tubuh orang yang terinfeksi, HIV berada paling banyak di dalam darah, air mani, cairan vagina dan air susu ibu. Kontak langsung dengan bahan-bahan tersebut akan dapat menularkan HIV dari satu orang ke orang lain. Walaupun HIV terdapat juga dalam hampir semua cairan tubuh, namun dalam jumlah sangat sedikit tidak terbukti bisa menular misalnya air liur, keringat, air seni, air mata, dan air ketuban. Karena itu dengan menghindari atau berhati-hati terhadap bahan yang mengandung HIV dalam jumlah yang berpotensi untuk menular, petugas kesehatan dapat melakukan upaya proteksi sehingga tidak tertular HIV saat melakukan tindakan medis, terutama bedah, bedah tulang, cabut gigi, pengambilan darah dan sebagainya. HIV tidak menular lewat kontak sosial. Misalnya hidup bersama dalam satu rumah/ kamar, berjabatan tangan, berpelukan, berciuman pipi, memakai bersama alat makan dan minum, berenang di kolam yang sama, gigitan nyamuk atau serangga lainnya, batuk dan bersin, atau memakai kamar mandi/ wc yang sama. Demikian juga tidak terjadi penularan melalui fasilitas umum seperti telepon, bis, kereta api, gedung bioskop, sekolah atau tempat kerja. Jadi sangat tidak beralasan kalau kita menjauhi ODHA hanya karena takut tertular. Dalam kaitannya dengan perawatan ODHA baik dilingkungan rumah sakit maupun perawatan di rumah perlu dijelaskan bahwa tidak terjadi penularan HIV melalui batuk, memegang pasien, membantunya bangun, memapah saat berjalan, memberi makan/ minum, menyuapi, memandikan, dan sebagainya. Semua hal tersebut dapat dilakukan seperti halnya merawat orang sakit lainnya tanpa merasa takut tertular HIV. Walaupun belum ada vaksin pencegah AIDS, tapi sekarang sudah ada ARV yang dapat 'mengobati' AIDS sehingga kualitas hidup ODHA menjadi baik, namun harus diminum selamanya.[]

14

OPINI
RESPON AGAMA ISLAM TERHADAP PROBLEM SOSIAL PENANGGULANGAN HIV/ AIDS DAN NARKOBA Maria Ulfah Anshor Ketua Pimpinan Fatayat NU Periode 2000-2004

Latar Belakang dan Masalah AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome-sindrom cacat kekebaIan tubuh dapatan) bukan merupakan penyakit (disease) tetapi cacat karena sistem kekebalan tubuh dirusak setelah seseorang terinfeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Syndrome Virus). Didalam tubuh manusia terdapat sel-sel darah putih yang berfungsi sebagai sistem kekebalan tubuh (Immune system) untuk menangkal berbagai penyakit. Setiap virus, kuman dan bakteri yang masuk ke dalam aliran darah akan dilawan oleh sel-sel darah putih yang ada di dalam tubuh kita sehingga mati dan tubuh kita sembuh dari berbagai penyakit. Tetapi virus HIV tidak bisa dilumpuhkan oleh sel-sel darah putih karena virus HIV memproduksi sel sendiri yang dapat merusak sel darah putih dan merupakan sejenis retrovirus yaitu virus yang dapat berkembang biak dalam darah manusia. Virus HIV terdapat dalam larutan darah, cairan sperma dan cairan vagina dan dapat menular melalui kontak darah atau cairan tersebut. Gejala AIDS baru bisa diketahui 5-10 tahun seteIah tertular HIV, karena orang yang sudah terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala spesifik apapun bahkan sesudah masa AIDS. Adapun cara penularan virus HIV terjadi melalui empat macam: pertama, melalui hubungan seksual dengan seorang pengidap HIV tanpa perlindungan/ kondom. Ini hisa terjadi karena saat berhubungan seksual sering terjadi lecet-lecet yang ukurannya sangat kecil hanya bisa dilihat dengan mikroskop pada dinding vagina, kulit penis, dubur dan mulut yang dapat menyebabkan virus HIV masuk ke dalam aliran darah pasangannya. Kedua, HIV dapat menular melalui tranfusi darah yang sudah tercemar HIV. Ketiga, melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya. Penularan terjadi saat darah atau cairan vagina ibu membuat kontak dengan darah atau cairan anaknya di saat proses melahirkan, dan bukan menular melalui air ketuban atau bahan tumbuh yang diterima bayi dari ibunya melalui pusar selama berada dalam kandungan. Keempat, melalui pemakaian jarum suntik, akupunktur, jarum tindik, dan peralatan lain yang sudah dipakai oleh orang yang terinfeksi 1 . Dengan mengetahui cara penularannya HIV sebenarnya bisa dicegah dengan langkah yang tepat, yaitu menggunakan kondom bila berhubungan seksual dengan orang yang diketahui maupun tidak diketahui status HIV-nya, screening darah atau menghindari
1

Lihat Pers Meliput AIDS oleh Syaiful W. Harahap diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, Jakarta tahun 2000.

15 penggunaan darah yang terinfeksi serta pemakaian alat yang sudah disterilisasi dan menggunakan jarum yang sekali pakai. HIV/ AIDS pertama kali ditemukan di Indonesia pada tahun 1987 pada seorang turis Belanda yang meninggal di Bali. Setahun kemudian ditemukan pula warga negara Indonesia yang pertama, seorang laki-laki berusia 35 tahun meninggal pula karena AIDS di Bali. Setelah itu penyebaran HIV/ AIDS di Indonesia terus meningkat dan penyebarannya hampir di semua propinsi meskipun dengan prevalensi yang tergolong rendah. Data tahun 1997-1999 ditemukan sebanyak 933 kasus, terdiri dari HIV sebanyak 680 dan AIDS sebanyak 253 kasus. Dari data tersebut 60,6 % diantaranya adalah laki-laki, 35,7 % perempuan dan 3,7 % tidak diketahui jenis kelaminnya.4 Pada tahun 2001 meningkat sebanyak 2.575 kasus, 671 di antaranya AIDS. Dan hingga 31 Maret 2003, sebanyak 3.614 kasus, terdiri dari 2.556 HIV positif dan 1.058 AIDS (dari berbagai sumber). Jumlah yang tercatat tersebut jauh lebih kecil jika dibanding dengan prevalensi yang sesungguhnya, karena ada fenomena gunung es, dimana penderita masih menyembunyikan bahwa dirinya terinfeksi. Dalam perkembangan HIV/ AIDS sejak pertama ditemukan kecenderungannya

menggambarkan bahwa di negara-negara miskin dan negara berkembang jumlahnya terus meningkat seperti di Afrika, Asia Timur, Asia Selatan dan Asia Tenggara kecuali Thailand. Ini berbeda dengan di negara-negara maju yang grafiknya mulai mendatar. Penurunan kasus tersebut bukan karena faktor obat atau vaksin tetapi karena keberhasilan strategi penanggulangan yang efektif ditunjang oleh pendidikan dan kesadaran yang tinggi dalam menggunakan kondom sebagai salah satu cara pencegahan, sehingga mampu mengurangi penyebaran HIV. Sementara biaya perawatan bagi ODHA dari kelompok masyarakat tidak mampu menjadi tanggung jawab Negara. Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Meskipun tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab Negara, tetapi setidaknya ada kebijakan yang dapat memfasilitasi upaya peningkatan ekonomi bagi ODHA dan keluarganya agar dapat membeli obat untuk menjaga kondisi tubuhnya.

Upaya Pencegahan dan Penanggulangan HIV/ AIDS Islam sebagai agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW diperuntukkan bagi seluruh umat manusia dan semesta alam (rahmatan lil `alamin), dengan seperangkat tata nilai yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup bagi umatnya untuk memperoleh keselamatan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Salah satunya adalah mengenai etika dan moral (akhlak) yang mengajarkan bagaimana bersikap dan berperilaku terhadap sesama makhluk Tuhan, termasuk di dalamnya adalah bagaimana memperlakukan orang yang hidup dengan HIV/ AIDS (ODHA). Mereka tidak boleh didiskriminasi dalam hal apapun karena sama-sama memiliki derajat sebagai manusia yang dimuliakan Tuhan. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surat Al Isra/

16 I7:70: "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan". Namun ironisnya, hingga saat ini masih banyak kalangan agamawan (dari Islam) yang meyakini bahwa fenomena HIV/ AIDS adalah penyakit kutukan Tuhan atau identik dengan kaum Luth yang menyukai homoseksual, sebagaimana yang dikisahkan Tuhan dalam Al-Qur'an surat 7/Al-A'raf : 80-84, surat 27/ An Naml: 56. Begitu juga norma masyarakat masih banyak yang menganggap bahwa HIV/ AIDS adalah penyakit menular seksual. Padahal bila dilihat dari cara penularannya HIV/ AIDS sesungguhnya bukan merupakan penyakit seksual, karena orang yang tidak melakukan hubungan seks dengan penderita HIV pun bisa tertular seperti penularan melalui transfusi darah, jarum suntik, pisau cukur, dan sebagainya. Pandangan tokoh agama dan masyarakat tersebut harus diluruskan dengan informasi yang benar mengenai HIV/ AIDS supaya tidak dianggap sebagai norma masyarakat. Jika tidak, maka akan berbahaya karena terjebak pada lingkaran normatif yang tidak menguntungkan ODHA. Begitu juga pandangan mengenai kondom sebagai salah satu cara pencegahan HIV/ AIDS hingga saat ini masih kontroversial karena dikhawatirkan disalahgunakan oleh pasangan di luar nikah, dianggap melegalisisir perzinahan dan sebagainya. Pandangan tersebut menurut saya tidak menyelesaikan persoalan karena membiarkan orang yang terinfeksi HIV berhubungan seks tanpa kondom sama dengan membiarkan penularan HIV. Apalagi kalau hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, semakin banyak pasangan semakin banyak yang tertular dan lebih berbahaya (madlarat) dibanding kalau menggunakan kondom. Pandangan tersebut hendaknya diubah dengan pendekatan solutif menggunakan kaidah fiqhiyyah yaitu "memilih bahaya yang lebih ringan di antara dua bahaya untuk mencegah yang lebih membahayakan". Dalam hal ini mensosialisasikan pemakaian kondom sebagai salah satu cara pencegahan HIV/AIDS jauh lebih ringan bahayanya dibandingkan dengan melarang kondom disosialisasikan. Meskipun tidak menutup kemungkinan bisa saja disalahgunakan, tetapi tidak bisa digeneralisir dengan suatu kemungkinan yang belum terjadi. Sedangkan hubungan seks tanpa kondom dengan orang yang sudah terinfeksi pasti terjadi penularan. Dalam penanggulangan HIV/ AIDS perlu pendekatan yang holistik, yaitu selain strategi umum harus ada strategi khusus dengan pendekatan yang berbasis pada kondisi-kondisi spesifik yang melekat pada penderita HIV/ AIDS dan problem-problem sosial yang mereka hadapi seperti kemiskinan, kesehatan lingkungan dan sebagainya. Bahkan faktor kemiskinan harus dilihat sebagai bagian di dalam penanggulangan HIV/ AIDS. Kelompok masyarakat miskin termasuk yang rentan pula tertular HIV/AIDS, karena perilaku masyarakat baik dalam pelayanan kesehatan, di sekolah, di tempat kerja, di tempat-tempat umum masih mendiskriminasikan ODHA, apalagi yang berasal dari

17 keluarga miskin. Orang yang miskin semakin dimiskinkan karena tertular HIV/ AIDS. Dan dari kelompok yang miskin tersebut yang paling miskin dan menderita adalah kaum perempuan, karena secara ekonomi umumnya mereka bergantung pada suami atau pasangan yang juga umumnya miskin. Selain itu, menciptakan suasana yang kondusif dengan cara meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap upaya menanggulangi HIV/ AIDS dengan melibatkan semua institusi yang terkait baik di lingkungan pemerintah maupun swasta, dunia usaha serta lembaga masyarakat dan LSM.

Perempuan dan HIV/ AIDS Meskipun data di atas menunjukkan bahwa jumlah perempuan lebih kecil dibanding jumlah laki-laki, namun tidak berarti perempuan lebih aman atau lebih kebal dibanding laki-laki. Justru sebaliknya perempuan adalah kelompok yang paling rentan terhadap penularan HIV/ AIDS, karena secara sosiologis faktanya menunjukkan bahwa hingga saat ini ketimpangan gender masih mengakar di dalam masyarakat. Ketergantungan perempuan secara ekonomi pada suaminya atau pasangannya dapat memfasilitasi penyebaran HIV. Perilaku yang masih me-nomor dua-kan pelayanan kesehatan bagi perempuan setelah anggota keluarganya yang lain, relasi seksual yang masih didominasi laki-laki, rendahnya bargaining perempuan dalam penggunaan kondom bagi pasangannya, pandangan bahwa penyakit-penyakit yang berkaitan dengan organ reproduksi dianggap memalukan, penyakit kotor dan sebagainya, membuat perempuan rentan terhadap penularan HIV/ AIDS. HIV/ AIDS, perempuan dan ketimpangan gender seharusnya tidak dilihat secara terpisah karena masing-masing memiliki keterkaitan yang erat satu sama lain. Perempuan menjadi sangat rentan dengan penularan HIV karena adanya relasi yang tidak berimbang antara laki-laki dan perempuan. Karena relasi yang tidak berimbang mengakibatkan posisi tawar perempuan rendah, dan akibat posisi tawar perempuan rendah maka perempuan semakin mudah tertular HIV. Oleh karena itu, strategi penanggulangan HIV/ AIDS harus sensitif gender, supaya menyentuh akar persoalan yang menyebabkan perempuan berisiko tertular HIV/ AIDS. Dalam bab tiga halaman 10 (sepuluh) Strategi Nasional Penanggulangan HIV/ AIDS 20032007 memang disebutkan salah satu kegiatannya untuk menurunkan kerentanan yaitu "melalui peningkatan pendidikan, ekonomi dan penyetaraan gender".5 Namun pernyataan tersebut masih sangat umum karena tidak ada penjelasan kegiatannya seperti apa. Perempuan sebagai kelompok yang rentan terhadap penularan HIV/ AIDS tidak bisa ditanggulangi hanya dengan pendekatan umum tetapi membutuhkan pendekatan yang spesifik dengan strategi khusus yang mampu membongkar akar penyebabnya.

18 Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/ AIDS harus melibatkan perempuan dengan strategi pencegahan dan penanggulangan secara holistik, yakni pencegahan HIV tidak hanya dari sisi medis, tetapi dari berbagai dimensi yang secara langsung maupun tidak dapat menjadi faktor penentu terhadap penularan HIV/ AIDS. Termasuk di dalamnya dampak kebijakan-kebijakan pembangunan nasional yang mengakibatkan akses perempuan secara ekonomi dibatasi, terbatasnya peluang kerja bagi perempuan, menyebabkan perempuan migrasi ke kota bahkan ke luar negeri karena sulitnya mendapatkan pekerjaan di desa dan sebagainya. Dalam bentuk mikro misalnya melakukan analisis terhadap pola hubungan gender yang timpang, relasi kekuasaan laki-laki dan perempuan, mengapa pendidikan perempuan rendah, perempuan menjadi miskin, perempuan menjadi korban kekerasan, perempuan menjadi objek eksploitasi seksual dan sebagainya. Kondisi tersebut merupakan akar permasalahan yang mengakibatkan perempuan rentan terhadap nenyebaran HIV. Dari situ diharapkan penyebaran HIV/ AIDS yang terjadi karena faktor ketimpangan gender, kemiskinan struktural pada perempuan dan sebagainya dapat teratasi

Kesimpulan dan Penutup Upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS harus dilakukan secara bersama-sama dan bersinergi oleh seluruh komponen masyarakat dengan mengedepankan nilai-nilai moral atau nilai-nilai kemanusiaan yang bersumber dari ajaran agama. Mudah-mudahan dengan kebersamaan di antara kita harapan untuk dapat meningkatkan upaya pencegahan terjadinya penularan HIV/ AIDS berjalan dengan lebih baik.[]

Daftar Bacaan Harahap, Syaiful W., Pers Meliput AIDS, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2000. Kementrian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, Strategi Nasional Penanggulangan HIV/ AIDS 2003-2007. Maria Ulfah Anshor, HIV/AIDS Prevention Through The Religious Approach in Nahdlatul Ulama, Kualalumpur: 5th International Congress on HIV/ AIDS in Asia Pasific, Oct 23-27, 1999. Mukhotib MD, Mengurai Sikap Pesantren Terhadap Isu HIV, Yogyakarta: Yayasan Kesejahteraan Fatayat NU, 2002 Siyaranamual, R. Siyaranamual, Etika dan Hak Pewabahan HIV/ AIDS, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1997. Syahlan dkk, AIDS dan Penanggulangannya: Bahan Bacaan untuk Peserta Didik Keperawatan, Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 1997.

19 UN AIDS, Summary Booklet of Best Practices, Geneva: Joint United Nation Programme on HIV/ AIDS (UNAIDS), 1999. Zubairy Djoerban, HIV/ AIDS dan Hak Asasi Manusia, membidik AIDS, Yogyakarta: Galang Press, 2000.

20

OPINI
HIV DAN AIDS DALAM PERSPEKTIF IMAN KRISTEN Emmy Sahertian Caretaker Direktur Eksekutif Yayasan PALMA Pendahuluan Berbicara tentang AIDS dari sudut pandang iman Kristen tidak terlepas dari bagaimana pergumulan gereja-gereja menghadapi epidemik AIDS yang telah menghancurkan hidup dari hampir sebagian penduduk bumi ini. Pertanyaan mendasar yang selalu muncul dibenak umat adalah "Mengapa Tuhan Allah mengizinkan virus HIV hidup?" "Apakah AIDS merupakan kutukan Allah kepada manusia yang telah melakukan dosa perzinahan?" Pertanyaan-pertanyaan diatas telah mendorong sebagian besar umat, yang juga adalah basis masyarakat, menarik garis hitam antara mereka dengan para penderita HIV/ AIDS. Dalam catatan para relawan kemanusiaan ternyata sikap tersebut justru telah melahirkan tindakan diskriminatif, isolasi, perlakuan yang tidak berperikemanusiaan serta ketakpedulian terhadap para penderita. Penderita AIDS diposisikan sebagai manusia "pendosa". Opini moral ini tampaknya lebih berbahaya dari virus HIV itu sendiri. Menyadari akan kondisi demikian maka Dewan Gereja-gereja se-Dunia, melalui komisi kesehatannya mengadakan suatu studi teologis mendalam tentang isu HIV/ AIDS agar menjadi pedoman bersama gereja-gereja sedunia, lebih khusus lagi bagi umat secara individu. Dasar iman Kristen yang menjadi dasar menyikapi epidemik AIDS adalah : Bagaimana kita memahamai teologi Penciptaan, tubuh dan seksualitas manusia, teologi penderitaan dan kematian, pengharapan dan kebangkitan dengan pola pendekatan pelayanan yang dilakukan oleh Yesus Kristus dalam KASIH.

Teologi Penciptaan. Kitab Kejadian dalam Perjanjian Lama melukiskan bahwa semua yang disebut sebagai makhluk hidup selalu berada dalam suatu relasi : Relasi antara Tuhan dan manusia serta makhluk lain, baik manusia dan non-manusia, relasi antara sesama makhluk hidup, baik manusia dan nonmanusia. "Relasi" tersebut merupakan simpul yang menentukan kualitas kehidupan secara utuh (tubuh, jiwa, roh, dan sosial). Relasi yang merupakan inisiatif Allah dengan ciptaannya berjalan secara konstan, dan tidak pernah berhenti, meskipun sering makhluk ciptaan-Nya menghentikan atau murtad. Salah satu cirikhas keilahian Allah adalah setia dalam relasi dengan makhluknya di samping kasih, adil dan berdaulat atas ciptaan-Nya. Relasi Allah dengan makhluk ciptaan-Nya adalah relasi yang dinamik. Artinya makhluk ciptaan-Nya diberi ruang untuk bergerak dan bertumbuh dalam kebebasan tetapi yang bertanggung-

21 jawab terhadap panggilan hidupnya. Dalam relasi yang dinamik inilah maka manusia yang bebas tersebut menjadi berisiko tinggi untuk jatuh ke dalam dosa (Kej.3). Kitab Kejadian melukiskan secara realistik bahwa manusia sebagai mahkota ciptaan dalam kebebasannya selalu memilih jalan yang penuh risiko berujung pada maut atau jatuh ke dalam dosa. Hal ini mempengaruhi harmonisasi relasi baik antara manusia dengan Allah maupun antar sesama makhluk. Terjadi penindasan, pembunuhan, ketidak adilan, ketimpangan alam yang membuat manusia menderita. Dalam kondisi yang demikian manusia mengalami penderitaan yang komprehensif (fisik, jiwa, roh dan sosial). Manusia dihadapkan dengan maut dan kematian. Sejak itu bumi dan segala isinya berada pada kondisi yang sangat berisiko tinggi untuk menderita. Disebut sebagai bumi yang sakit dan membutuhkan penyelamatan atau penyembuhan. Dalam kerangka inilah maka HIV/ AIDS menjadi bagian dari bentuk penderitaan dunia itu.

Pemahaman Tentang Tubuh dan Seksualitas Manusia Alkitab melukiskan bahwa tubuh manusia adalah suatu keajaiban sakral yang membuktikan kebesaran Allah dalam seluruh ciptaanNya, sehingga tubuh manusia seyogianya adalah apa yang disebut Paulus sebagai "Bait Allah", wadah untuk memuliakan Allah, suatu 'value' yang merupakan identitas manusia itu sendiri. Seksualitas manusia adalah bagian integral dari identitas manusia, suatu anugerah dari Allah yang menandai keunikan dan kekhususan perempuan dan laki-laki yang diekspresikan dalam hubungan sosial maupun dalam hubungan yang sangat personal atau hubungan intim atau "erotic". Alkitab melukiskan bahwa fungsi sosial seksualitas manusia adalah untuk menjadi mitra dalam mengelola bumi secara adil, dan penuh cinta kasih. Dalam hubungan personal atau hubungan intim antara laki-laki dan perempuan yang paling fundamental adalah untuk ekspresi cinta kasih yang paling tinggi dan mendalam, melaluinya terjadi prokreasi. Dalam konteks ekspresi cinta kasih yang mendalam untuk prokreasi ini maka Allah mempercayakan fungsi regenerasi atau penciptaan generasi baru sebagai umat ciptaan Allah. Manusia laki-laki dan perempuan dalam kebebasannya mengekspresikan melalui berbagai cara yang kudus dan sehat. Namun kenyataannya, kebebasan tersebut tidak dapat dipahami dan dikelola secara bertanggung jawab sehingga berdampak pada kekacauan yang menimbulkan penyakit dan penderitaan. Oleh sebab itu upaya keselamatan Allah pun menyentuh masalah-masalah ini. Hal ini tercermin dalam sikap Kristus terhadap mereka yang sakit dan yang tertuduh sebagai orang-orang yang menyimpang dari moral agama saat itu (sakit kusta, keadilan jender, lumpuh, pekerja seks dan pemungut cukai, dll). Ada suatu pemahaman dinamis tentang tubuh manusia dan seksualitasnya dan tidak menyangkal bahwa adanya tantangan dan pergumulan dalam mengendalikan kecenderungan yang merusak di mana perlu ditolong dan diselamatkan.

22

Teologi Penderitaan dan Kematian, Pengharapan dan Kebangkitan Bagi pemahaman Kristiani, Allah adalah Allah pemelihara dan penuh kasih setia. Oleh karena itu Ia tetap memelihara relasi dengan makhluk-Nya. Hal itu dimanifestasikan melalui tindakan keselamatan kepada manusia. Ia membuka jalan keselamatan bagi manusia dan kemudian mendidik umatnya untuk kembali ke jalan yang benar (bertobat). Berbagai upaya dilakukan yakni memanggil dan mengutus utusan-utusan-Nya, para imam, para nabi dan para hakim untuk mengoreksi, menegur dan mengasuh ciptaan-Nya. Mereka menjalani tugas imamat yakni menjadi penghubung antara Allah dan CiptaanNya, juga menjalani tugas profetis yakni menyuarakan Firman Allah untuk menegur dan mengoreksi serta mengasuh moral umat sebagai bentuk tanggung jawab atas panggilan hidupnya yang bebas atau independen. Hal yang paling nyata adalah tindakan solidaritas Allah terhadap mereka yang menderita. Bentuk solidaritas Allah dalam penderitaan manusia yang paling puncak adalah dalam Yesus Kristus. Melalui Kristus, Allah bersentuhan langsung dengan penderitaan dan kematian. Dalam Kristus, Allah merawat umat-Nya. Dalam Kristus, kasih dan pengampunan Allah menjadi nyata. Dalam Kristus, maut dikalahkan melalui kebangkitan-Nya. Melalui Kristus, Allah menggembalakan umat-Nya, khususnya mereka yang sedang terpuruk dalam belukar kehidupan. Bersama para murid pilihan la mengunjungi, melawat, melayani dan mengampuni semua orang yang sedang dalam penderitaan, tanpa pamrih. Dengan demikian mereka yang ditemuiNya memperoleh hidup yang lebih bermakna dan bermartabat. Mereka merupakan "the caring/ healing community", suatu komunitas peduli yang memulihkan sesama yang melintas batas budaya, agama, status sosial bahkan moral. Disini Yesus mengembangkan pola pelayanan seorang gembala: membimbing, mengasuh, mendamaikan, menopang, merawat dan menyembuhkan. Inilah kerangka dasar sikap Kristiani dalam menghadapi HIV/ AIDS yakni mengambil pola pelayanan Kristus. Bagaimana menjadi "the caring/ healing community" bagi sesama yang sedang terpuruk dalam belukar. Dalam kerangka pemahaman iman ini maka epidemik HIV/ AIDS bukanlah kutukan Allah, tetapi resiko dari kebebasan manusia yang hidup dalam dunia yang menderita dan sakit. Manusia akan selalu terjebak dan dijebak dalam lilitan itu. Dan untuk mengeluarkannya dari belitan tersebut hanyalah kasih dan pengampunan Allah sajalah yang sanggup mengalahkan maut dan membangkitkan manusia dari keterpurukannya. Dalam terang pemahaman ini maka World Council of Churches menyerukan bahwa: A. Gereja dalam kapasitas sebagai komunitas peduli dalam rangka merespon epidemik HIV dan AIDS :

23 Meminta perhatian gereja-gereja untuk mengembangkan suatu iklim dan tempat yang penuh cinta kasih, penerimaan, dan dukungan bagi mereka yang rentan atau yang telah terkena HIV/ AIDS tanpa memandang latar belakang agama,suku, status sosial maupun keberadaan personal seseorang. Meminta perhatian gereja untuk bersama-sama berefleksi pada basis pemahaman teologinya dalam rangka merespons tantangan HIV/ AIDS Meminta perhatian gereja untuk bersama-sama berefleksi masalah-masalah etik yang timbul karena pandemik ini, bagaimana menginterpretasikannya ke dalam konteks lokal dan menawarkan panduan bagi mereka yang menghadapi kesulitan dalam menentukan pilihan. Meminta perhatian gereja supaya terlibat aktif dalam berbagai diskusi di masyarakat mengenai isu-isu etik yang muncul karena HIV/ AIDS, dan mendukung warga jemaatnya, khususnya yang melayani dibidang kesehatan, yang menghadapi kesulitan menentukan keputusan etis dalam hal pencegahan dan perawatan.

B. Kesaksian gereja dalam hubungannya dengan masalah langsung HIV/ AIDS: Meminta perhatian gereja-gereja untuk melayani sebaik mungkin mereka yang hidup dengan HIV/ AIDS. Meminta perhatian gereja untuk memberikan perhatian khusus bagi bayi dan anak-anak yang hidup dengan HIV/ AIDS dan mencari jalan keluar dalam membangun lingkup yang mendukung. Meminta perhatian gereja untuk membantu melindungi hak-hak mereka yang hidup dengan HIV/ AIDS, mempelajari, mengembangkan dan mempromosikan HAM dari ODHA. Meminta perhatian gereja untuk memberikan informasi yang akurat tentang HIV/ AIDS, mempromosikan kondisi yang memungkinkan diskusi terbuka dalam rangka menanggulangi penyebaran informasi yang salah yang bisa mengakibatkan reaksi takut. Meminta perhatian gereja untuk meningkatkan advokasi dan dukungan bagi upaya yang telah dilakukan pemerintah dan fasilitas kesehatan untuk menemukan jalan keluar dari masalah yang ada baik masalah sosial maupun medis. Gereja tidak boleh lagi tabu dalam memberikan informasi dan edukasi tentang seksualitas dan kesehatan reproduksi pada kelompok umur dengan pendekatan dan metodologi yang bertanggung jawab, sebab penyelamatan Allah secara holistik menyangkut tubuh dan berbagai dimensinya, mental, rohani dan sosial, bukan hanya rohani saja.

C. Kesaksian Gereja sehubungan dengan masalah yang berkepanjangan dan faktor-faktor yang dapat memberikan pengharapan

24 Meminta perhatian gereja-gereja untuk menyadari, mengakui bahwa ada hubungan antara AIDS dan kemiskinan, dan mengadvokasi upaya promosi keadilan dan pembangunan yang berkelanjutan. Meminta perhatian gereja untuk memberi perhatian khusus pada situasi yang dapat memperluas kerentanan terhadap AIDS seperti isu pekerja migran, pengungsian darurat dalam jumlah besar serta isu aktifitas seks komersial. Lebih khusus lagi, gereja-gereja perlu bekerja sama dengan kelompok perempuan di mana selama ini mereka berjuang untuk hak dan martabat mereka serta mengaktualisasikan keterampilan mereka secara maksimal. Meminta perhatian gereja-gereja untuk membina dan melibatkan kaum muda dan para pria dalam rangka pencegahan penyebaran HIV/ AIDS Meminta perhatian gereja-gereja untuk memahami secara penuh tentang anugerah seksualitas manusia dalam konteks pertanggung jawaban personal, relasi dengan orang lain, keluarga dan iman Kristen. Meminta perhatian gereja-gereja untuk memperhatikan pandemik penyalah gunaan NAPZA dan bagaimana peranannya dalam penyebaran HIV/ AIDS, serta mengembangkan program yang efektif dalam hal perawatan, penurunan adiksi, rehabilitasi dan pencegahan.

Penutup Akhirnya saya menyunting apa yang dikatakan Kristus kepada para muridNya sebagai basis AIkitabiah pemahaman Kristiani dalam menyikapi HIV/ AIDS yaitu Mat. 25: 35-36 dan 45: 35-36: “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit kamu merawat Aku; ketika Aku di dalam penjara kamu mengunjungi Aku (Mat. 25: 35-36). Dan 45: 35-36: “Maka la akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.” Suatu identifikasi empatis bersama mereka yang paling hina dan menderita sebagai etika pelayanan Kristiani yang berporos pada Kristus.

Referensi: 1. Palma & PGI. Peran Gereja menghadapi AIDS, terjemahan atas publikasi WCC: Facing AIDS, The Challenge, The Churches'Response, Jakarta, 1997 2. AIDS Working Group WCC, Guide to HIV/ AIDS Pastoral Counseling, Geneva, 1990 3. Report of LWF Youth Consultation, Malaysia, November, 2001 4. Report of LWF Pan Africa Leadership Consultation on HIV/ AIDS. Nairobi, May. 2002

25 5. Report of LWV Asian Leadership, Consultation on HIV/AIDS, Batam, December 2003 6. Rencana Kerja Kelompok Kerja HIV/ AIDS Biro Pemuda PGI, .Iakarta, 1996 7. Catatan Pengembangan Kegiatan Biro Pemuda PGI untuk HIV/ AIDS dan Narkoba, Jakarta, 2004 8. Dokumen penyadaran dan pelatihan pen-cegahan dan penanggulangan HIV/AIDS Yayasan PALMA. Jakarta, 1996-2004-07 9. Spritia Foundation, Documentation of 'Human Rights Violations against People Living with HIV/ AIDS in Indonesia, A Peer-Group Documentation Project, Jakarta.

26

OPINI
HIV/ AIDS DAN NARKOBA DALAM PERSPEKTIF KATOLIK P Riana Prapdi (Pastor) Pengantar Kasus-kasus HIV/ AIDS (Human Immuno deficiency Virus/ Acquired Immuno Deficiency Syndrome) dan narkoba telah menjadi epidemik di tengah masyarakat saat ini. Hal ini bukan saja menimbulkan kekhawatiran mendalam tetapi juga berkaitan dengan ketidakpedulian masyarakat tentang HIV/ AIDS dan narkoba karena ketidaktahuan. Tidak sedikit pula orang masih mengkaitkan masalah ini dengan mitos-mitos tertentu. Tetapi yang lebih parah adalah kasus ini telah melibatkan generasi muda kita dan sikap diskriminatif terhadap para pengguna narkoba dan orang dengan HIV/ AIDS (ODHA). Kondisi seperti ini tidak bisa didiamkan terus-menerus. Adalah tantangan bagi kita semua untuk mengambil sikap secara bijaksana dan konkret mengimplementasikannya dalam gerakan saling bahu-mambahu. Persoalannya bukan sekedar membongkar pemahaman yang keliru mengenai HIV/ AIDS dan narkoba tetapi menyangkut pola dan gaya hidup yang telah merasuk dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Kita perlu mengkaji pola dan gaya hidup tersebut agar generasi muda tidak menjadi 'generasi yang hilang'. Dalam paparan singkat ini, saya akan coba sajikan kepedulian agama-agama terhadap HIV/ AIDS dan narkoba dari sudut pandang Katolik. Kasus-kasus HIV/ AIDS dan narkoba tidak berdiri sendiri tetapi mesti ditempatkan dalam kerangka usaha terus-menerus membangun 'budaya kehidupan'. Akan kita lihat identifikasi pokok permasalahan HIV/ AIDS dan narkoba, pandangan mengenai keluhuran martabat manusia dan apa yang bisa kita buat.

HIV/ AIDS dan Narkoba : Apa Masalah Pokoknya ? Sekilas Data Hampir setiap hari mass media menampilkan berita kasus HIV/ AIDS dan narkoba. Harian Kompas saja selama bulan September 2004 telah memuat lebih dari 4 kali berita mengenai hal tersebut dalam berbagai kolom. Ini berarti setiap minggu 1 berita; belum harian lain. Menurut Al Bachri Husin, persoalan narkoba di Indonesia telah memasuki gelombang ketiga. Gelombang pertama, epidemik narkotika terjadi pada tahun70-an, ditandai dengan penggunaan dan penyalahgunaan ganja. Pada pertengahan tahun 1995 dengan masuknya heroin ke Indonesia terjadilah gelombang kedua epidemik narkotika di Indonesia. Gelombang ketiga dimulai awal tahun

27 2003 dengan masuknya kokain ke Indonesia. Pada tahun 2002 kokain yang berhasil disita di bandara Soekarno-Hatta sebesar 2.314 gram, pada tahun 2003 meningkat menjadi 28.556 gram (Kompas, 14/ 9/ 2004). Tahun 2004 sudah ada penyitaan 8 kilogram kokain di Bandara SoekarnoHatta (Kompas, 3/9/2004). Sejak tahun 1971 pemerintah telah membentuk Badan Koordinasi Penanggulangan Penyalahgunaan dan peredaran Obat Gelap terlarang (Bakolak Inpres No 6/1971). Tetapi badan ini tidak sanggup membendung gelombang penyelundupan gelap ganja, heroin maupun kokain ke Indonesia. Indonesia menjadi surga bukan hanya bagi pecandu-pecandu narkotika dan psikotropika tetapi juga bagi bandarnya sebab memberikan keuntungan 100% (Popular, Mei/1997). Sebenarnya ganja, heroin dan kokain digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan dan obatobatan demi menunjang kesehatan manusia seutuhnya. Tetapi penyalahgunaan obat-obatan tersebut telah menyeret begitu banyak orang ke dalam jurang kehancuran. Berbagai alasan menjadi penyebab mereka mulai berkenalan dengan obat-obatan itu sampai kepada ketergantungan. Mulai dari sekedar mencoba-coba, diajak teman, bersenang-senang, relaksasi menghilangkan stres, sampai kemudian menjadi pengguna (karena dipengaruhi teman) dan akhirnya menjadi pecandu yang tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungan pada narkoba. Bila seseorang menjadi pecandu ia mempunyai kecenderungan untuk berbohong, mencuri, menipu dan bahkan menjual diri demi mendapatkan narkoba. Hidupnya sangat tergantung pada narkoba. Menurut Dadang Hawari, narkoba dapat menimbulkan ketagihan hingga ketergantungan karena zat ini memilki 4 sifat, yaitu keinginan yang tidak tertahankan terhadap zat yang dimaksud, kecenderungan untuk menambah takaran/dosis sesuai dengan toleransi tubuh hingga overdosis atau keracunan, ketergantungan secara psikis, dan ketergantungan secara fisik. Mereka yang menggunakan narkoba, misalnya putauw, dapat mengalami gangguan mental organik, dan penggunaan dosis yang berlebihan akan mengakibatkan rasa gembira yang berlebihan dan tidak wajar (euforia). Bisa juga malah sebaliknya, rasa sedih yang berlebihan (disforia). Mereka juga mengalami kelemahan, tidak bertenaga, apatis, suka mengantuk, bicara cedal dan sulit berkonsentrasi. Tingkah laku mereka cenderung aneh, baik dalam fungsi di sosial maupun dalam bekerja (Popular, Mei 1997). Sementara penyalahgunaan narkoba yang menimbulkan berbagai persoalan lain seperti kecanduan, kekerasan dan perilaku seks bebas belum teratasi, telah muncul persoalan baru yakni HIV/ AIDS dan Hepatitis C. Penggunaan jarum suntik secara bersama-sama merupakan cara penularan HIV/ AIDS yang cukup tinggi. Menurut Koordinator Program Kesehatan Warga dan Puskesmas Jatinegara, Jakarta Timur, Toga D. Sianturi, di antara 27.000 pengguna jarum suntik, prevalensi mereka yang terinfeksi HIV mencapai 25-50%. Sementara penjaja seks, dari 32.000

28 orang, prevalensinya 0,5-5% dan di kalangan narapidana, dari 15.443 orang, prevalensinya 15-25% (Kompas, 3/9/2004). Kasus-kasus HIV/ AIDS semakin meningkat. Bulan Desember 2003 ada 4.091 kasus dengan perincian 2720 kasus HIV dan 1.371 kasus AIDS. Selang selama 6 bulan kemudian terjadi peningkatan yang cukup mencolok yakni 4.389 kasus, terdiri dari 2.864 kasus HIV dan 1.525 kasus AIDS. Propinsi yang paling banyak ditemui kasus HIV/ AIDS antara lain DKI Jakarta dengan jumlah kasus 1.219, Papua dengan 1.036 kasus, Jawa Timur 495 kasus, Bali 352 kasus, Riau 291 kasus, dan Jawa Barat 248 kasus. Sementara itu kasus HIV/ AIDS jika dilihat dari kelompok umur, memperlihatkan gambaran yang mengkhawatirkan. Dari 4.389 kasus, 1.392 atau 31,7% adalah kelompok usia 15-29 tahun yang terdiri dari kelompok usia 15-19 tahun sebanyak 176 kasus dan kelompok usia 20-29 tahun sebanyak 1.225 kasus (Kompas, 10/9/2004). Sebenarnya kasus HIV/ AIDS pertama kali secara resmi ditemukan tahun 1981 di Amerika Serikat tetapi para ahli meyakini bahwa pada saat itu banyak manusia di seluruh dunia yang sudah terinfeksi HIV. Diperkirakan pada tahun 1980 ada sekitar 100.000 orang di seluruh dunia terinfeksi HIV. Sebagian besar orang yang tertular virus itu tidak menyadari bahwa mereka sedang tertular. Sekarang, lebih dari 30 juta orang, termasuk 1 juta anak, hidup dengan HIV. 2 Cara penularan HIV melalui tiga media: melalui kontak darah (pemakaian jarum suntik yang tidak steril dan secara bergantian, transfusi darah dan kontak langsung dengan darah orang yang mengidap virus HIV), melalui cairan kelamin (air mani, cairan vagina dan hubungan seksual) dan melalui keturunan (dari ibu ke anak). Virus HIV menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang kemudian menyebabkan AIDS. Virus ini menyerang salah satu jenis sel darah putih yang bertugas untuk mengobati dan menangkal infeksi. Sel darah putih ini termasuk limfosit yang disebut T-4 sel atau CD-4. Virus ini juga mempunyai kemampuan untuk menyamarkan genetiknya menjadi genetik sel yang ditumpanginya. Refleksi Berdasarkan data-data tersebut kita dapat menarik beberapa keprihatinan pokok yang berkaitan dengan saudara kita yang terkontaminasi oleh HIV/ AIDS dan narkoba. Pertama, kita perlu menempatkan mereka yang terkena HIV/ AIDS sebagai pribadi yang utuh dengan segala dimensinya, yang sungguh mengharapkan bantuan. Saudara kita yang terkena HIV/ AIDS sadar atau tidak mengalami proses dehumanisasi karena kesalahpahaman, stigmatisasi dan diskriminasi. Mereka sebenarnya adalah korban, entah karena kesalahan mereka sendiri atau bukan, tetapi pada saat ini yang mereka butuhkan bukan khotbah tetapi pertolongan untuk mengembalikan
Lihat hal.22-23 dalam Ancaman HIV dan Kesehatan Masyarakat oleh Bdk, Reuben Granich-Jonathan Mermin diterbitkan oleh Insist Press Yogyakarta tahun 2003.
2

29 keluhurannya sebagai manusia. Bukan saatnya untuk saling menyalahkan, tetapi bersama-sama mencari cara-cara yang bijaksana untuk bertindak. Kedua, sadar atau tidak mereka menjadi objek dari segala macam bentuk penyalahgunaan obat-obatan tanpa kebebasan mengatakan tidak. Seakan-akan ada suatu sistem dan struktur yang menempatkan manusia sebagai objek dan bukan subjek yang bertanggungawab atas hidup dan segala keputusan yang diambilnya. Sistem seperti itu mesti mendapatkan perhatian dalam penanganan masalah ini secara tuntas agar jangan semakin banyak generasi muda kita yang hilang.

Keluhuran Martabat Manusia Landasan Ajaran Gereja Pada saat ini disadari bahwa secara luar biasa ancaman-ancaman semakin bertambah dan semakin gawat bagi kehidupan manusia dan bangsa-bangsa, terutama bila kehidupan itu lemah dan tanpa perlindungan. Mereka yang terinfeksi HIV, penderita AIDS dan pecandu narkoba adalah orang-orang yang berada pada posisi paling lemah, tanpa perlindungan bahkan dikucilkan. Pada saat yang sama HIV/ AIDS dan narkoba adalah ancaman serius bagi kehidupan yang manusiawi. Pada posisi seperti itu semua pihak terpanggil untuk membela keluhuran martabat pribadi manusia sebab manusia adalah 'aktor' dalam membangun 'budaya kehidupan'. Istilah 'budaya kehidupan' dimunculkan oleh Paus Yohanes Paulus II dalam berbagai kesempatan, berkaitan dengan ancaman yang begitu serius terhadap keluhuran martabat manusia. Dalam ensiklik (ajaran resmi gereja), Paus menegaskan :“Manusia dipanggil kepada kepatuhan hidup, yang jauh melampaui dimensi-dimensi hidupnya di dunia, sebab terdiri dari partisipasi dalam kehidupan Allah sendiri. Keluhuran panggilan adi-kodrati ini mewahyukan keagungan dan nilai tak terhingga hidup manusiawi bahkan pada tahap yang sementara ini.” 3 Oleh karena itu Paus mendesak untuk bersama-sama dapat menyajikan kepada dunia kita ini tanda-tanda baru pengharapan, dan berusaha menjamin, supaya keadilan dan solidaritas makin berkembang, dan supaya kebudayaan baru hidup manusiawi akan dimantapkan, demi pembanguan peradaban dan cinta kasih yang sejati. 4 Ada semacam perang antara 'budaya kehidupan' dan 'budaya kematian'. Akar terdalam dari peperangan ini adalah surutnya kesadaran akan Allah dan akan manusia, ciri iklim sosial dan budaya yang didominasi oleh sekularisme. Mereka yang membiarkan diri dipengaruhi oleh iklim itu akan mudah terjebak dalam lingkaran setan yang menyedihkan : bila kesadaran akan Allah hilang, ada kecenderungan pula untuk kehilangan kesadaran akan manusia, martabat dan hidupnya. Sebaliknya pelanggaran sistematis hukum moral, khususnya dalam perkara

Lihat hal.2 dalam Evangelum Vitae (Injil Kehidupan) seri Dokumen Gerejawi No. 41 oleh Paus Yohanes Paulus II, Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Jakarta tahun 1996. 4 Ibid hal. 6.

3

30 serius sikap hormatnya terhadap hidup manusiawi serta martabatnya, menghasilkan semacam proses makin gelapnya kemampuan mengenai kehadiran Allah Penyelamat yang hidup. Kalau kesadaran akan Allah disingkirkan maka segala sesuatu menjadi tak bermakna. Alam yang semula adalah 'mater' ( ibu, ibu pertiwi) sebagai sumber dan pemangku kehidupan, kini diturunkan menjadi 'materia', dan masih direduksi lagi dalam aneka manipulasi. Hubungan antar manusia sangat dimiskinkan karena sangat materialistis. Keberadaan manusia diukur berdasarkan 'apa yang mereka miliki, perbuat dan hasilkan'. Demikian juga peranan suara hati sebagai intisari keberadaan manusia menjadi tak bermakna. Padahal ‘di lubuk hati nuraninya' manusia menemukan hukum, yang tidak diterimanya dari diri sendiri, melainkan harus ditaatinya. Suara hati itu selalu menyerukan kepadanya untuk mencintai dan melaksanakan apa yang baik, dan untuk menghindari yang jahat. 5

Keprihatinan Pastoral Ancaman serius dari HIV/ AIDS dan narkoba di satu pihak dan panggilan luhur untuk membela martabat manusia di pihak lain menimbulkan keprihatinan yang mendalam akan terciptanya tatanan kehidupan yang manusiawi (baca: 'budaya kehidupan'). Kita masing-masing wajib menyediakan diri untuk melayani hidup. Itu sesungguhnya suatu tanggungjawab semua orang yang meminta kegiatan terpadu dalam kebesaran jiwa oleh semua anggota dan segala pelaku. Akan tetapi komitmen umat itu tidak mengesampingkan atau mengurangi tanggung jawab masing-masing perorangan, yang oleh Tuhan dipanggil 'menjadi sesama' bagi setiap orang “Panggilan dan lakukanlah itu”. Dalam konteks tersebut, kasus-kasus HIV/ AIDS dan narkoba dapat mengungkapkan beberapa hal yang lebih mendasar. Pertama, nilai-nilai kebenaran agama tidak mewujud dan menjadi bagian dari identitas kehidupan. Artinya, agama-agama sedang mengalami krisis identitas yang mendalam. Ada kecenderungan penghayatan agama berhenti pada simbol-simbol keagamaan. Akibatnya, agama menjadi suatu kategori sosial-budaya (bahkan politik) yang kosong. Agamaagama tidak lagi hidup! Kedua, “konsekuensi langsung dari krisis identitas tersebut ialah kekosongan hati nurani. Hati nurani tidak dipahami sebagai inti manusia yang paling dalam, tempat Allah menuliskan hukum-hukum-Nya, dan sumber dari cinta dan perbuatan-perbuatan baik”. 6 Ketiga, tempat pendidikan hati nurani pertama-tama dan utama adalah keluarga. Di dalam keluargalah, setiap orang mengalami pola asuh dan pengalaman eksistensial sebagai manusia. Namun pada saat yang sama sendi-sendi kehidupan keluarga mengalami kekosongan dahsyat.
5 6

Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes 16, Dokumentasi dan Penerangan KWI , Obor Jakarta tahun 1993. Lihat hal.95 pada Membangun Masyarakat Basis Yang Berhati Nurani oleh Yong Ohoitimur dalam Spektrum No.3 tahun XXX/ 2002.

31 Kesibukan orangtua dalam memenuhi kebutuhan hidup serta membanjirnya arus globalisasi telah membuat keluarga kehilangan 'hak'nya untuk mendidik hati nurani setiap anggotanya.

Apa Yang Bisa Kita Buat? Pemahaman Dasar Perlu disadari bahwa setiap orang adalah bermartabat karena diciptakan dan dikehendaki untuk selamat oleh Allah. Karena itu bersama dengan siapapun juga manusia membangun kehidupan yang manusiawi demi bonum commune (kesejahteraan umum). Dengan munculnya kasus-kasus HIV/ AIDS dan narkoba, keluhuran martabat manusia dan panggilan akan keselamatan dikaburkan. Manusia mendapat tantangan yang serius untuk membangun budaya kehidupan, bukan budaya kematian. Aktor utama dalam pembangunan budaya kehidupan adalah manusia yang berkepribadian sehat. Dalam konteks itu, perlu kita pahami betul bahwa orang dengan HIV/ AIDS (ODHA) dan mereka yang mengalami ketergantungan pada narkoba adalah manusia biasa, seperti kita. Perbedaannya: sistem kekebalan tubuh mereka telah terkontaminasi dengan virus penyebab AIDS dan kebebasan mereka telah dirampas oleh narkoba. Hak asasi mereka juga sama dengan kita tak berbeda sedikitpun! Oleh karena itu sikap diskriminatif adalah sikap yang berlawanan dengan dirinya sendiri; apalagi mengenakan stigmatisasi pada mereka dan mengkaitkannya dengan mitos kutukan. Orang-orang seperti ini kita pandang sebagai sesama yang amat membutuhkan pertolongan dan pendampingan intensif. Selain itu kelompok orang yang berperilaku resiko tinggi seperti penjaja seks komersial, pelaku seks bebas, waria, homoseks, dll, pun harus dipandang secara arif. Mereka tetap manusia biasa yang memiliki hak dan kewajiban. Kepada mereka tidak bisa begitu saja dikenakan tudingan sebagai sumber penularan HIV atau dicap sebagai kelompok yang mesti disingkiri. Berhubungan dengan kelompok orang-orang seperti ini, kita berdiskusi masalah moral untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Arah Pastoral Pendampingan Pastoral adalah segala usaha penuh cinta kasih kepada sesama terutama yang berada dalam kondisi tidak menguntungkan agar mampu berkembang sebagai manusia yang bermartabat di hadapan Allah. Oleh karena itu pastoral meliputi empat hal, yakni berkaitan dengan fisik (pembebasan dari ketergantungan fisik), mental (mengembalikan kepercayaan diri sebagai pribadi yang berharga), sosial (kemampuan membangun relasi yang manusiawi) dan spiritual (pengalaman akan Allah).

32 Kasus-kasus HIV/ AIDS dan narkoba mengubah kecenderungan manusia dari 'mater' sumber kehidupan menjadi 'materia'. Karena itu dibutuhkan solidaritas global untuk mengembalikan martabat manusia sebagai pembangun kebudayaan hidup. Mereka hidup dalam kondisi 'perbudakan yang berat' dan mereka harus dibebaskan dari padanya. Oleh karena itu penyembuhannya tidak dapat dicapai melalui cara yang diterapkan pada orang yang berbuat kesalahan etis atau melalui hukum yang represif, melainkan melalui proses rehabilitasi, tanpa membiarkan kesalahan yang mungkin dijalankan oleh mereka, proses yang mendukung pembebasan dari kondisi mereka serta reintegrasi mereka. Karena itu sangat penting usaha-usaha untuk mengenal orang-orang dan memahami dunia batin mereka, mengantar mereka kepada penemuan ulang martabat mereka sebagai pribadi, membantu mereka bangkit lagi dan mengembangkan sebagai subyek yang aktif, sumber-sumber daya pribadi, yang telah ditiadakan oleh HIV/ AIDS atau penggunaan narkoba, melalui reaktivasi mekanisme-mekanisme kehendak yang penuh kepercayaan, diarahkan kepda cita-cita yang aman dan luhur. 7 Arah pastoral pendampingan secara umum berkaitan dengn kasus HIV/ AIDS dan narkoba ditujukan kepada dua hal. Pertama, terciptanya masyarakat basis multikultural yang berhati nurani. Disini multikultural dimengerti sebagai sikap hidup atau pandangan dasar dinamika kehidupan bersama yang bebas dari diskriminasi dan rintangan-rintangan yang bisa menghambat individuindividu dari berbagai latar belakang kultural untuk mendapatkan kesempatan pengembangan diri serta untuk berpartisipsi dan berkontribusi dalam masyarakat secara adil dan setara. Dalam masyarakat seperti itu identitas setiap agama tidak berhenti pada simbol melainkan pada sikap hidup, tindakan yang santun. Kedua, mengembangkan cara berpikir dan hati nurani yang baru. Dalam kondisi masyarakat sekarang ini, setiap orang beriman mesti terlibat lebih penuh dalam kehidupan bermasyarakat. Keterlibatan itu terfokus pada transformasi sosial dan kultural yang efektif, yakni sebagai penabur dan pelaku budaya kehidupan. Pembentukan hati nurani bangsa yang sehat secara manusiawi menjadi tugas penting dan mendesak untuk menyelamatkan masyarakat dari kondisi yang koruptif dan merusak. Ketiga, percepatan untuk kedua hal di atas dicapai dengan pendidikan sebab pendidikan berarti membudayakan kasih. Pendidikan menjadi pintu gerbang perubahan untuk membina generasi muda yang bernurani dalam masyarakat plural.

Lihat hal.94 dalam Piagam Panitia Kepausan untuk Reksa Pastoral Kesehatan, Piagam bagi Pelayanan Kesehatan, Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, Jakarta tahun 1994.

7

33 Upaya-Upaya Gereja Katolik Gereja berpihak kepada para korban penyalahgunaan narkoba dan penderita AIDS. Keberpihakan itu diwujudkan dalam berbagai bidang usaha untuk menggapai permasalahan HIV/ AIDS dan narkoba secara serius. Bidang yang diusahakan untuk menangani kasus-kasus HIV/ AIDS dan narkoba meliputi pencegahan, perawatan, pendampingan psikologis sosial dan spiritual. Selain itu, diupayakan pula membangun jaringan yang melibatkan seluruh komponen masyarakat untuk terlibat dalam berbagai penanganan konkret seperti advokasi dan pemahaman secara komprehensif. Dalam bidang pencegahan melibatkan sekolah-sekolah, kelompok-kelompok kerja dari tingkat nasional maupun lokal (paroki, kevikepan dan keuskupan), rumah sakit dan lain-lain. Selain itu, keluarga sebagai pusat kehidupan, mendapat perhatian khusus karena di dalam keluargalah kekuatan untuk menangkal semua kasus itu mulai ditanamkan. Dari keluarga perlu sejak dini ditanamkan pendidikan seksualitas yang benar. Sebab seksualitas merupakan unsur tak terpisahkan dari keluarga. Pemisahan seksualitas dari kehidupan suami istri berarti menghancurkan keluhuran keluarga dan masuk dalam arus hedonisme. Selain keluarga, paroki juga menjadi ajang bagi usaha-usaha pencegahan, diantaranya kerjasama antara komisi kesehatan dengan kaum muda menyelenggarakan diskusi, seminar, kursus dan ceramah mengenai narkoba dan HIV/ AIDS. Sebagai contoh semua pasangan calon penganten yang akan menikah di gereja wajib mengikuti kursus perkawinan. Dalam kesempatan seperti itu dipromosikan kesetiaan pada pasangan dan perilaku seks yang sehat serta bermoral. Pelayanan perawatan kepada para pecandu narkoba ditempuh melalui sistem rujukan serta pelayanan kesehatan yang holistik. Artinya mereka tidak dipisahkan dari keluarga sebab isolasi justru bisa menimbulkan kesan diskriminasi serta memungkinkan munculnya bahaya pembentukan komunitas baru diantara pecandu. Misalnya Pusat Rehabilitasi di Yogyakarta, Bogor, Jakarta, Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Medan. Bidang pelayanan pendampingan untuk para pecandu dan orang dengan HIV/ AIDS dilakukan juga dengan pastoral counselling. Selain pendampingan kepada para penderita, juga dilakukan pendampingan terhadap para dokter, perawat dan konselor lain dalam mewujudkan 'care, support and treatment'. Bentuk pendampingan dilakukan pula dengan melibatkan para pecandu dalam berbagai kesempatan kegitan gereja supaya mereka pun mampu hidup sewajarnya dalam komunitas umat beriman.

Suatu Strategi? Strategi yang bisa dipikirkan adalah menyiapkan paroki atau komunitas-komunitas umat beriman sebagai 'keluarga kedua' dimana setiap orang dengan bebas datang dan memperoleh

34 kesegaran hidup manusiawi. Komunitas yang demikian dapat mengubah orang menjadi lebih santun dan manusiawi. “Seorang guru besar Sosiologi (John Hopkins) pernah menugaskan mahasiswanya untuk mengadakan penelitian pada kalangan remaja di suatu daerah kumuh di kota Baltimore. Mahasiswa itu harus menganalisa situasi remaja itu dan coba meramalkan masa depan mereka. Analisa situasi remaja dan ramalan tentang masa depan mereka itu harus dituangkan dalam karya tulis. Karya tulis dari hampir semua mahasiswa memaparkan tentang situasi yang menyedihkan dari para remaja di daerah kumuh itu. Mereka meramalkan hampir pasti 90% dari remaja itu akan berurusan dengan polisi dan penjara di kemudian hari. Dua puluh tahun kemudian seorang Sosiolog lain kebetulan membaca karya tulis para mahasiswa tentang para remaja di daerah kumuh di kota Baltimore itu. Ia ingin mengetahui apakah ramalan dalam karya tulis itu sudah menjadi kenyataan. Ia menugaskan mahasiswanya untuk membuat penelitian berhubungan dengan hal itu. Para mahasiwa berhasil menemui 180 dari 200 orang mantan remaja daerah kumuh Baltimore tersebut. Hasil wawancara mereka dengan orang-orang itu sungguh mencengangkan. Hampir semua mantan remaja itu sukses dalam hidupnya, hanya 4 orang yang pernah berkenalan dengan penjara. Ramalan dari para mahasiswa 20 tahun lalu itu ternyata jauh meleset. Lalu para mahasiswa berusaha untuk mencari tahu mengapa keajaiban itu bisa terjadi. Dalam wawancara dengan 180 orang yang sudah hidup sukses itu, mereka selalu menyebutnyebut satu nama, yaitu nama seorang kepala sekolah menengah pada saat mereka belajar di sekolah itu. Kepala sekolah itu mempunyai andil besar untuk kesuksesan mereka. Namanya Ny. O'Rourke. Sekarang sudah pensiun dan tinggal di panti jompo! Ketika para mahasiswa menemuinya dan menanyakan apa saja yang telah dibuatnya sehingga hampir semua anak didiknya sukses dalam hidup. Ny. Rourke mengatakan bahwa ia tidak bisa mengingatnya lagi. Dia hanya tersenyum dan mengatakan: “Rasanya saya masih mengingat mereka semua dan masih mencintai mereka seperti dulu sewaktu mereka masih remaja! Ah, betapa menyenangkan anak-anak itu!”

Penutup Alkisah, ada seorang yang terperosok ke dalam lubang. Orang itu berteriak minta tolong. Kebetulan ada pejalan kaki lewat dekat lubang itu. Ia menolong tetapi tangannya tak mampu menggapai orang itu. Dengan menyesal dia pergi. Tak berapa lama lewat pula seorang dengan tongkat. Ia pun menolongnya dengan tongkat. Apa daya ketika hampir terangkat, tongkat itu patah. Lewat pula seorang rabi. Dia mendengar rintihan orang itu dan masuk ke lubang lalu menyuruh naik lewat pundaknya sambil berkata: “Pergilah dengan damai!”[]

35

OPINI
BUDDHA DHARMA & HIV/AIDS Hudoyo Hupudio, M.P.H Pensiunan Departemen Kesehatan dan Wakil Direktur ASA/FHI

Pendahuluan Penyakit HIV/ AIDS telah melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia, tanpa ada tandatanda surut. Malah sebaliknya, di banyak wilayah di dunia, termasuk di Indonesia, jumlah penduduk yang terserang terus meningkat dengan pesat. HIV/ AIDS, melebihi penyakit apa pun, mempunyai dampak yang luas terhadap kehidupan fisik, mental, sosial, spiritual dari Orang Dengan HIV/ AIDS (ODHA), anggota keluarganya, masyarakat di sekitarnya, serta masyarakat luas. Tulisan ini bermaksud untuk merenungkan apa yang dapat disumbangkan oleh Agama Buddha (Buddha Dharma = ajaran Buddha) untuk mengurangi masalah dan meringankan penderitaan dari berbagai pihak tersebut di atas.

Individu Seorang yang dinyatakan terinfeksi HIV akan mengalami goncangan mental yang amat hebat. Ini disebabkan karena penyakit HIV/ AIDS dilihat sebagai penyakit yang “tidak ada obatnya” dan “selalu berakibat fatal” serta adanya persepsi bahwa pengidap HIV/ AIDS adalah orang yang “bermoral bejat”. Ini karena penularan HIV sebagian besar terjadi melalui penggunaan alat suntik yang tidak steril oleh para pengguna obat, dan melalui hubungan seksual yang tidak terlindung dan berganti-ganti pasangan. Persepsi-persepsi seperti ini selain meluas di kalangan masyarakat, juga dialami oleh ODHA sendiri, dan anggota keluarganya yang mendampingi dan merawatnya. Sebagai akibat dari persepsi-persepsi yang keliru tersebut, para ODHA selalu menghadapi berbagai bentuk stigmatisasi dan diskriminasi dalam kehidupannya sehari-hari. Dari kalangan agama sendiri, sering kali terjadi para pemuka agama menambah stigmatisasi dan diskriminasi tersebut dengan menekankan “dosa” yang dianggap telah dilakukan oleh para ODHA. Seruan untuk “bertobat” sering digunakan untuk memberikan stigma dan

mendiskriminasikan para ODHA.

36 Masyarakat Perlakuan diskriminatif dan stigmatisasi oleh masyarakat terhadap para ODHA menimbulkan penderitaan yang luar biasa bagi ODHA dan keluarganya. Untuk menghindari hal itu, sering kali mereka berusaha menutupi fakta bahwa dirinya atau anggota keluarganya adalah ODHA. Keadaan ini menimbulkan situasi dimana upaya untuk menjangkau para ODHA mengalami banyak rintangan. Oleh karena risiko penularan HIV/ AIDS banyak tergantung pada perilaku manusia, maka pada gilirannya, situasi ini menyulitkan berbagai upaya untuk mengurangi risiko penularan HIV/ AIDS lebih lanjut. Apakah yang dapat disumbangkan Agama Buddha (Buddha Dharma) di dalam situasi masyarakat yang penuh penindasan dan penderitaan seperti ini?

Agama Buddha (Buddha Dharma) Sang Buddha Gautama mengajarkan agar manusia melihat kehidupannya dan alam semesta di sekitar dirinya sebagaimana apa adanya, yakni bersifat 'tidak kekal' (anicca), 'tidak memuaskan' (dukkha), dan 'tidak ada sesuatu yang abadi dalam diri' (anatta, tanpa-diri). Keberadaan individu dalam arus kehidupan ini didorong oleh keinginan (tanha) untuk terus berada sebagai individu di satu pihak, dan di lain pihak terliputinya batin manusia oleh ketidaktahuan (avijja) mengenai ketiga sifat dasar eksistensi tersebut di atas. Manusia yang tidak mengenal dan menyadari hakekat kehidupan tersebut diatas akan terusmenerus berada dan tunggang-langgang di dalam roda kehidupan yang terus berputar tanpa awal tanpa akhir (samsara). Intisari yang mendorong perputaran ini adalah 'aku' (atta, diri, ego) yang diliputi ketidaktahuan dan ingin hidup secara abadi. 'Aku' itu terwujud dalan kehidupan sehari-hari sebagai keserakahan (loba), ketidak-senangan (dosa) dan ketidak-tahuan (moha). Manusia yang mulai menyadari hakekat dari alam dan kehidupan ini yakni anicca, dukkha dan anatta akan mulai berpaling dan berupaya untuk membebaskan diri dari roda kehidupan yang tanpa awal tanpa akhir ini. Dengan kata lain, ia akan berupaya mengakhiri loba, dosa dan moha dalam dirinya, dan pada akhirnya kelak meng-akhiri 'aku'-nya (atta). Manusia yang mencapai lenyapnya 'aku' dikatakan mencapai Pembebasan, mencapai nibbana (nirvana, “padam”artinya padamnya 'aku'). Manusia yang demikian tidak lagi tunggang-langgang dalam arus kehidupan tanpa akhir, melainkan telah “bebas” darinya. Namun perlu diingat bahwa manusia yang demikian tidak lagi memiliki 'aku', tidak lagi memiliki kesadaran individual. Manusia demikian dinamakan arahat. Bagaimanakah keadaan batin seorang arahat, manusia yang tidak lagi memiliki kesadaran individual itu? Sang Buddha Gautama hanya menyatakan: “Ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak terbentuk, tidak berubah ...” Karena sesuatu itu tidak lagi bersifat individual, maka ia dikatakan bersifat satu/tunggal, universal dan bebas dari waktu, ruang dan dualitas. Sesuatu yang bukan

37 individual itulah yang terdapat secara permanen dalam batin seorang arahat, sampai ia meninggal dunia. Ke mana seorang arahat setelah meninggal, tidak dapat ditangkap lagi oleh kesadaran empiris manusia, oleh karena kesadaran individual seorang arahat sudah tidak ada lagi bahkan selagi ia masih hidup. Yang tinggal adalah sesuatu yang universal di atas. Sang Buddha mengajarkan jalan yang dapat ditempuh manusia untuk mengakhiri 'aku'-nya dan dengan demikian mencapai pembebasan/ nirvana; jalan itu dikenal sebagai “Jalan Suci Berunsur Delapan.” Secara singkat, kedelapan unsur dari Jalan Suci itu dapat diringkas menjadi tiga kelompok: (1) Sila (Moralitas); (2) Samadhi (konsentrasi & meditasi) dan (3) Pannya (Kearifan). Jalan Suci ini sangat relevan dengan topik tulisan ini, yakni bagi para ODHA, keluarganya dan masyarakat luas.

Buddha Dharma & HIV/AIDS Sila (Moralitas) Ada atau tidak ada HIV/ AIDS di muka bumi ini, moralitas (sila) adalah masalah manusia yang abadi. Dalam Buddha Dharma, moralitas tidak dipandang sebagai tanggung jawab manusia terhadap “Tuhan Pencipta”, melainkan sebagai tanggung jawab terhadap diri sendiri, dalam rangka menempuh Jalan Suci menuju Pembebasan. Oleh karena itu, sila hanya bekerja dan efektif apabila didasarkan pada kesadaran pribadi, bukan pada pemaksaan oleh suatu institusi keagamaan dari luar diri. Apabila diakui bahwa penularan HIV/ AIDS untuk sebagian besar terjadi melalui perilaku yang tidak sesuai dengan sila hubungan seksual tak terlindung dengan pasangan yang bergantiganti, dan penggunaan obat suntik dengan alat suntik yang tidak steril maka dapat dipahami bahwa pengembangan dan peningkatan sila di dalam diri individu berdasarkan kesadaran pribadi merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi penularan HIV/ AIDS.

Samadhi (Konsentrasi & Meditasi) Samadhi menempati kedudukan sentral dalam perilaku dan latihan spiritual para siswa Sang Buddha (umat Buddha). Begitu sentral sehingga meditasi Buddhis sering dan banyak mengilhami praktek meditasi di kalangan penganut agama lain. Dalam Buddha Dharma diajarkan dua macam meditasi, yakni 'meditasi ketenangan' (samatha-bhavana) dan 'meditasi pencerahan' (vipassana-bhavana). Kedua jenis meditasi ini sering dibedakan, tetapi dapat pula dijalankan bersama-sama, secara berganti-ganti atau secara terpadu. 'Meditasi ketenangan' (samatha-bhavana) terdapat pula dalam praktek spiritual yang kita temukan dalam agama-agama lain (Sufisme, doa hening dalam Agama Kristen, dsb). 'Meditasi

38 ketenangan' menghasilkan keheningan dan ketenangan batin, yang bisa sangat mendalam. Keadaan ini sangat bermanfaat untuk memperkuat batin dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Di sinilah peran 'meditasi ketenangan' dalam memperkuat batin para ODHA dan keluarganya pada khususnya. Namun 'meditasi ketenangan' tidak bisa menghasilkan Kearifan (pannya), yang dibutuhkan untuk tercapainya Pembebasan. Sedangkan 'meditasi pencerahan' (vipassana-bhavana) adalah jenis meditasi yang unik, yang hanya terdapat dalam ajaran Sang Buddha. Di dalam 'meditasi pencerahan' tidak digunakan satu obyek meditasi yang diamati terus-menerus. Alih-alih, praktek 'meditasi pencerahan' pada dasarnya adalah “mengamati segala fenomena badan & batin yang muncul pada setiap saat, tanpa bereaksi sedikitpun, tanpa menolak atau melawan bila tidak enak, tanpa melekat bila enak.” Apabila pengamatan (observation, being aware) ini dilakukan terus-menerus, maka pada waktunya kelak terbukalah pencerahan-pencerahan terhadap sifat/ hakekat eksistensi sebagaimana tersebut di atas, yakni anicca, dukkha dan anatta. Pencerahan ini akan membebaskan batin dari loba, dosa dan moha, dan pada akhirnya melenyapkan 'aku' (diri, ego, atta). Bagi seorang ODHA & keluarganya, 'meditasi pencerahan' merupakan cara yang langsung dan ampuh untuk menyadari/ melihat hakekat dari dirinya dan eksistensi pada umumnya, dan dengan demikian terbebas dari penindasan batinnya oleh penyakitnya. Batin yang bebas berarti tidak lagi terobsesi oleh keputusasaan, kemurungan, rasa bersalah, rasa tidak berguna dan sebagainya. Batin yang bebas berarti menerima dengan ikhlas, tenang dan seimbang segala sesuatu yang terjadi pada diri sendiri dari saat ke saat. Batin yang bebas berarti memiliki energi ekstra untuk dimanfaatkan secara optimal. Batin yang bebas berarti mendukung pengobatan antiretroviral yang dijalani untuk meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, suatu prinsip hubungan batin-jasmani (mind-body) yang telah dikenal dengan baik dalam disiplin psiko-neuro-imunologi.

Pannya (Kearifan) Dengan menjalankan sila dan samadhi secara baik dan berkesinambungan, maka berangsurangsur akan tumbuh kearifan dalam batin orang yang bersangkutan. Kearifan ini adalah kesadaran dan realisasi dari segala sesuatu yang telah dijelaskan di atas. Hanya kesadaran seperti itulah yang bisa mengubah hidup manusia. Manfaatnya bagi para ODHA & keluarganya tidak perlu diuraikan lagi. Dengan kearifan, berkembang pula sikap-sikap yang membantu mengurangi stigmatisasi dan diskriminasi terhadap para ODHA serta kelompok-kelompok masyarakat berisiko tinggi. Sikapsikap itu antara lain adalah: metta (cinta kasih), karuna (welas asih terhadap penderitaan orang lain), mudita (simpati terhadap kebahagiaan orang lain) dan upekkha (keseimbangan batin).

39

Penutup Semoga uraian singkat tentang Agama Buddha (Buddha Dharma) dalam kaitannya dengan HIV/ AIDS ini dapat mengilhami para ODHA & keluarganya serta masyarakat luas untuk menggali dan memanfaatkan mutiara-mutiara yang tersimpan dalam ajaran Sang Buddha, tanpa perlu berpindah agama.[]

40

OPINI
PANDANGAN DAN LANGKAH-LANGKAH HINDU DALAM PENANGGULANGAN HIV/AIDS DAN NARKOBA (DUKUH SAMIAGA)

Om Swastiastu, Hindu memandang AIDS bukan sebagai suatu penyakit kutukan dari Tuhan, tetapi lebih disebabkan penyakit sosial, yang adalah efek kurang berhasilnya sistim pendidikan baik formal maupun informal, yang berakibat kurang terisinya moral dan mental masyarakat khususnya generasi muda kita tentang ajaran-ajaran moral dan etika kemasyarakatan seperti yang diatur oleh setiap agama. Kondisi seperti ini tidak bisa didiamkan terus menerus dan merupakan tantangan bagi kita untuk mengambil sikap secara bijaksana dan secara kongkrit dalam mengimplementasikannya dalam gerakan saling bahu membahu untuk membantu mereka yang sudah terinfeksi HIV dan terus mengkampanyekan di dalam setiap kesempatan tentang penyakit ini. Virus HIV terdapat dalam cairan darah, cairan sperma, dan cairan vagina yang dapat menular melalui kontak darah atau cairan tersebut. Virus HIV tidak dapat dilumpuhkan oleh sel-sel darah putih, karena virus HIV dapat memproduksi sel sendiri yang dapat merusak sel darah putih dan merupakan sejenis retrovirus atau virus yang dapat berkembang biak dalam darah manusia. Gejala AIDS baru bisa diketahui antara 5 - 10 tahun setelah tertular HIV, karena orang yang terinfeksi HIV tidak menunjukkan gejala spesifik apapun bahkan sesudah masa AIDS.

Metode Penularan HIV Virus HIV ini dapat menular melalui kontak langsung dengan penderita. Kontak langsung yang memungkinkan terjadinya infeksi terhadap virus ini adalah : 1. 2. 3. Melalui hubungan seksual dengan seorang pengidap HIV tanpa perlindungan/ kondom. HIV dapat menular melalui tranfusi dengan darah yang terinfeksi virus HIV. Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dikandungnya, ini biasanya terjadi pada saat melahirkan, apabila terjadi kontak langsung antara darah ibu dengan janin pada saat melahirkan secara normal tetapi bukan menular melalui air ketuban atau sari makanan yang diterima janin melalui tali pusar selama berada dalam kandungan. 4. Melalui penggunaan jarum suntik, akupuntur, jarum tindik, alat-alat tatoo atau alat lain yang sudah terinfeksi virus HIV.

41 Dengan mengetahui proses penularan HIV bisa dicegah dengan langkah-langkah yang bijaksana, yaitu bila berhubungan badan dengan penderita biasakan menggunakan kondom, menghindari tranfusi darah dengan penderita atau menghindari penggunaan yang sudah terinfeksi serta selalu mensterilkan alat suntik atau menggunakan alat sekali pakai. Sejak pertengahan tahun 1971 pemerintah kita telah membentuk badan koordinasi penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap obat terlarang sesuai dengan Inpres No 6 / 1971. Karena melihat besarnya peredaran obat terlarang di Indonesia sepertinya badan ini tidak mampu membendung penyelundupan yang terjadi. Semenjak itulah kasus-kasus narkoba tetap menghiasi mass media kita bahkan sampai saat ini walaupun dengan ancaman hukuman berat bahkan hukuman mati tetapi para pengedar masih menggila mengingat keuntungan materi yang bisa diraup walaupun harus mengorbankan nilai-nilai moral dari sisi kemanusiaannya. Untuk kasus HIV / AIDS, baru muncul di Indonesia pada tahun 1987 di kawasan wisata Bali yang dibawa oleh wisatawan Belanda. Semenjak itulah diperkirakan di Bali khususnya dan Indonesia umumnya sudah mulai masuk virus yang mematikan ini yang terbukti dengan meninggalnya orang pertama dari Indonesia yang mengidap virus HIV / AIDS pada tahun 1988. Setelah itu penyebaran HIV/ AIDS di Indonesia terus meningkat dan merata di semua propinsi meskipun penyebarannya relatif rendah. Dari data-data yang ada menunjukkan setiap tahunnya terjadi peningkatan penderita yang kentara (diketahui oleh pihak medis) dan diperkirakan jauh lebih banyak lagi yang tidak kentara yang merupakan carrier (pembawa) virus HIV yang akan sangat mudah penyebarannya. Disinilah diperlukan pendidikan dan penerangan-penerangan yang benar tentang HIV/ AIDS sehingga penyebarannya dapat dihambat dengan pengetahuan yang benar tentang proses penyebarannya. Dalam perkembangannya sejak pertama ditemukan kecenderungannya

menggambarkan bahwa di negara-negara miskin dan negara berkembang jumlahnya terus meningkat dibandingkan dengan negara-negara maju. Bukan disebabkan oleh obat dan vaksin tetapi karena keberhasilan di dalam penanggulangan yang efektif ditunjang pendidikan dan kesadaran moral yang tinggi.

Upaya Hindu dalam Pencegahan HIV / AIDS Agama Hindu yang sering disebut DHARMA (kewajiban mulia) selalu menekankan umatnya untuk hidup dalam jalan Dharma (jalan mulia) yang tidak keluar dari perintah Hyang Widhi dan selalu mentaati larangan-larangan yang ada. Di dalam Dharma Sastra (Hukum Hindu) ditentukan larangan-larangan keras terhadap perilaku moral yang menyimpang, tidak sesuai dengan jalan mulia Hyang Widhi.

42 Misalnya, sangat dilarang melakukan hubungan badan dengan yang bukan pasangan yang sah. Diajarkan juga agar setiap umat dapat selalu menjaga kebersihan, baik fisik maupun spiritual. Di sini diharapkan agar orang Hindu selalu hidup bersih secara badaniah dan rohaniah. Maksudnya agar tidak menyimpang dari rel agama. Hindu menganggap seks itu adalah sesuatu yang murni dan luhur sehingga tidak dibenarkan melakukannya di sembarang tempat atau dengan sembarang orang yang bukan pasangannya. Khususnya di Bali, aturan seks yang sehat diatur di dalam beberapa kitab lontar dan kitab-kitab Wariga yang melarang pada hari-hari tertentu untuk melakukan senggama. Beberapa contoh misalnya : 1. Dilarang melakukan hubungan badan pada hari prawani (1 hari sebelum bulan penuh dan bulan mati). 2. Pada saat purnama (bulan penuh) dan tilem (bulan mati). 3. Pada penanggal lan pengelong 8 (di tengah-tengah antara purnama dan tilem atau sebaliknya). 4. Di hari kelahiran yang bersangkutan. 5. Hari-hari keagamaan (dalam satu bulan tidak kurang dari 4 hari). 6. Dan ada beberapa ketentuan lagi. Jadi secara keseluruhan di dalam Hindu benar-benar sudah diatur bersenggama yang sehat yang merupakan bentuk riil agama dalam usaha mencegah terjadinya senggama yang tidak sah sehingga dapat menjauhkan masyarakat dari kemungkinan terjangkit virus HIV/ AIDS yang disebabkan dari hubungan seks. Walaupun tidak menutup kemungkinan terjadinya penularan dari sebab-sebab lain. Disinilah peran pendeta (ulama Hindu) untuk terus memberikan pembinaan pada setiap kesempatan kepada masyarakat yang tentunya juga selalu dibantu oleh lembaga umat tertinggi (Parisada) untuk selalu menginformasikan tentang HIV/ AIDS dan bagaimana penyebarannya.

Perlakuan Umat terhadap Penderita Seperti telah dikemukakan di atas, bahwa HIV/ AIDS bukanlah penyakit kutukan tetapi semata-mata penyakit lahiriah yang disebabkan terjadinya kontak langsung para penderita melalui empat jalan tadi (seks, jarum suntik, transfusi darah, lewat ibu melahirkan) sehingga masyarakat Hindu selalu menerima penderita HIV/ AIDS sebagai masyarakat biasa yang tidak merupakan momok yang menakutkan, yang diterima apa adanya baik kekurangan maupun kelebihannya. Jadi untuk penderita AIDS khususnya di masyarakat Hindu (Bali) tidak terjadi diskriminatif, tetapi diterima sebagai hamba Tuhan yang perlu dirawat dan dibesarkan semangatnya, sehingga

43 penderita bisa menapak kehidupannya dengan lebih baik. Dan bagi penderita yang meninggal dunia, juga mendapat perlakuan yang sama seperti layaknya bukan penderita.

Kesimpulan Pencegahan dan penanggulangan HIV / AIDS merupakan suatu tindakan yang harus dilakukan bersama-sama dan berkesinambungan oleh komponen masyarakat (tokoh agama, kesehatan, pemerintah dan masyarakat lingkungan) yang selalu bersumber dari ajaran agama. Dari sini penyebaran HIV / AIDS bisa diperkecil dan bisa mengurangi jatuhnya korban yang sia-sia. Mudah-mudahan kebersamaan di antara kita (umat beragama) diharapkan dapat meningkatkan upaya pencegahan terjadinya penularan HIV / AIDS.

Om Tat Sat

44

DIALOG
BELAJAR DARI KESAKSIAN Pada tanggal 30 September – 3 Oktober 2004 Institut DIAN/ Interfidei Yogyakarta bekerjasama dengan Gedong Gandhi Ashram, Yayasan Citra Usadha Indonesia, dan Uluangkep mengadakan kegiatan Studi Agama dan Masyarakat di Candi Dasa, Karangasem, Bali. Salah satu acara dalam kegiatan ini adalah sharing pengalaman ODHA, yaitu Putu Utami dan Dayan. Kita akan belajar bersama dari pengalaman berikut.

Dr. Tuti Parwati : Kita mulai dengan pemaparan mengenai masalah AIDS dan nanti kita bisa lanjutkan ke masalah sosialnya. HIV merupakan jenis virus yang paling banyak diteliti dibanding yang lain. Akhirnya yang paling banyak diketahui dari penelitian virologi itu adalah virus HIV sehingga banyak penelitian virus lain yang kemudian menumpang atau mendapat manfaat dari penelitian virus ini. Para ahli kedokteran merasa tertantang untuk menangani virus HIV karena mereka belum bisa menemukan obat yang bisa membunuh virus ini, tidak seperti organisme lain yang gampang ditemukan obatnya. HIV bisa menimbulkan penyakit pada manusia yang sulit untuk diatasi. Dia bisa menimbulkan pewabahan, karena sebagai penyakit menular. Oleh karena itu jika ada suatu wabah atau penularan apalagi erat sekali kaitannya dengan perilaku manusia kita, maka tidak ada satu pun dari kita yang akan terbebas dari bahaya HIV jika kita tidak melakukan upaya-upaya yang bisa mencegah penularan itu. Jadi disini yang penting adalah perilaku. Kita tahu kalau sudah menyangkut perilaku, adalah sesuatu yang pelik. Jadi, yang penting di sini adalah perilaku. Penyakit ini merupakan kumpulan gejala. Gejala-gejala itu muncul sehingga tidak bisa dikenali. Karena luas sekali, luas sekali spektrum manifestasinya maka menjadi sulit bahkan bagi dokter pun sulit. Seringkali dokter pun tidak tahu, orang yang bersangkutan pun tidak tahu kapan sebenarnya dia sudah terinfeksi HIV/ AIDS. Kita tidak tahu penularannya kapan. Ini berbeda dengan penyakit muntaber. Kalau sekarang diare, muntah-muntah, kita masih ingat dua hari yang lalu makan rujak terlalu pedas atau kemarin makan sate di tempat yang banyak lalat. Kita masih bisa mengingat ke belakang apa yang kira-kira menyebabkan kita menderita muntaber. HIV baru bisa menimbulkan gejala itu setelah 5 sampai 8 tahun. Itu yang umum. Jadi kalau kita tanya kepada yang bersangkutan kapan terkena, mereka tidak tahu. Mungkin mereka pemakai jarum suntik narkoba atau mereka tahu bahwa mungkin mereka terkait seks bebas tapi seks bebas yang mana yang menulari dia, mereka tidak tahu jarum yang mana atau waktu dia memakai yang kapan, dia tidak bisa mengingat. Tidak ada gejala-gejala yang khas, yang menandakan bahwa HIV telah masuk.

45 Oleh karena sifat-sifat seperti itulah maka kita jadi sulit untuk mengenali. Satu-satunya cara untuk bisa menuntaskan atau memberikan jawaban yang agak pasti yaitu pemeriksaan darah. Darah kita ambil kemudian dilakukan tes yang namanya tes antibodi HIV, tes untuk mengetahui bagaimana respon tubuh kita terhadap suatu kuman yang dalam hal ini virus. Kalau itu positif berarti dalam tubuh kita sudah masuk atau tertular HIV. Bisa saja orang itu tidak merasa sakit atau orangnya bisa saja sudah sakit tetapi tidak kelihatan. Banyak yang tidak tahu, yang kelihatan sehat tidak merasa apa-apa bahwa mereka sudah terkena AIDS. Spektrumnya, spektrum keluhan dari yang tidak ada keluhan sampai yang sakit sangat luas. Seandainya kita berkumpul dalam jumlah populasi 100 orang, kita tidak bisa melihatnya dengan jelas secara kasat mata bahwa ini AIDS dan ini tidak. Itu juga merupakan suatu hambatan untuk mendiagnosa. Dokter pun sulit, jadi perlu pemeriksaan lanjutan. Tetapi masyarakat sendiri sebenarnya sudah bisa mengira-mengira misalnya, pernahkah mereka merasa berperilaku yang entah menjadi sebab atau akibat sehingga dia tertular. Sebenarnya dengan merasakan itu, dia sudah memberikan suatu kunci, misalnya sudah memakai narkoba suntikan. Tidak semua mereka akan terkena tetapi kalau mereka sudah pernah merasa pinjam jarum, mereka sudah harus memeriksakan diri karena tingginya revalensi atau kejadian HIV di kelompok pemakai narkoba suntik. Itu kunci-kunci yang cukup terang tetapi perlu disosialisasikan. Disamping itu obatnya belum ada. Karena obat belum ada lalu orang merasa untuk apa juga tahu dan melakukan tes kalau dokter tidak bisa mengobati! Itu yang menyebabkan kesulitan. Ini bukan merupakan penyakit yang biasa. Terlebih-lebih dengan pandangan-pandangan sosial, pandangan masyarakat terhadap para pengidap atau mereka yang sudah tertular. Sebenarnya suatu virus bisa mengenai semua orang tetapi tentu saja ada beberapa orang yang lebih berisiko daripada yang lain. Kebetulan saja yang lebih beresiko adalah yang lebih dulu muncul, diidentifikasi oleh masyarakat sebagai yang terkena AIDS. Itu lalu menjadi suatu stigma bagi AIDS. Mereka yang kena biasanya dikenal sebagai pekerja seks bebas, pemakai narkoba suntik. Kemudian dibuat generalisasi seolah-olah yang terkena adalah mereka yang memang didalam masyarakat sudah dipandang agak miring sedikit. Mereka dari kelompok yang tidak mendapat simpati dari masyarakat. “Biarkan saja, itu adalah hukuman bagi mereka” pandangan yang beredar di masyarakat. Padahal mereka tidak melihat misalnya orang yang tertular karena terlahir saja dari ibunya yang HIV positif atau juga karena suaminya menulari dia padahal dia tidak pernah terlibat seks bebas. Dalam penyampaian informasi ini saya akan dibantu oleh dua orang dari Bali Plus: Putu Utami dan Dayan. Mereka akan bergantian menyampaikan apa yang mereka ketahui, alami sendiri

46 maupun pengalaman dengan teman-teman yang mereka ajak bekerja untuk HIV/ AIDS. Jadi saya mengajak dua orang, satu laki-laki dan satunya wanita. Silahkan!

Putu Utami (ODHA) : Jujur saja saya agak down sedikit. Mudah-mudahan tidak mengantuk. Saya Putu Utami dan sebetulnya hadir disini karena diinformasikan oleh Ibu Parwati bahwa ada pembicaraan mengenai masalah HIV/ AIDS. Yang tergambar dari awal, kesan-kesan serta harapan dari informasi yang teman-teman ungkapkan tadi sepertinya menakutkan sekali, mengerikan sekali. Saya mungkin cerita sedikit tentang AIDS karena saya disini sebagai narasumber untuk ODHA, orang yang hidup dengan HIV. Saya cerita pengalaman langsung. Saya sudah terinfeksi kurang lebih hampir 8 tahun karena putra saya sudah 8 tahun. Sebelumnya saya mengalami seperti yang disampaikan tadi, ada isu-isu yang menakutkan tadi, dampak-dampak yang saya alami sendiri pada tahun 1996 itu. Saya menikah tahun 1995, umur saya masih muda sekali, waktu itu saya menikah umur 20 tahun karena tahu sendiri dalam budaya Bali kalau menikah sebisa mungkin dengan keluarga supaya pura atau leluhur itu ada yang menjaga. Jujur saja waktu itu umur saya 20 tahun karena saya anak tunggal saya harus mengikuti apa yang diinformasikan keluarga. Keluarga juga menasehati mana yang baik dan buruk dan bisa memilih keluarga mana yang jadi pilihan keluarga dan pilihan kamu sendiri. Saya mendapat pilihan sendiri dan dari keluarga juga. Saya menikah beda umur 10 tahun dengan suami saya. Saya sama sekali tidak paham apa itu homoseksual, apa itu lesbian, apa itu HIV/ AIDS. Saya merasa bukan bagian dari itu. Saya berpikir seperti waktu tahun 1993, saya satu kelas dengan orang yang homoseksual, itu urusannya dia dan bukan urusan saya, bisnisnya dia, itu privasinya dia. Saya bukan bagian dari itu. Tetapi saya shock sekali pada waktu itu ketika suami saya sakit dan diopname pada tahun 1996, dengan gejala penyakit biasa, demam, terus diare, badannya kurus drastis. Waktu itu kita percaya mungkin ini buatan keluarga yang iri dengan kita, seperti di Bali, baru sukses, orang iri sama kita. Ada orang yang kesannya seperti itu. Kita tidak percaya dengan informasi HIV/ AIDS. Sempat kita ke dukun dan sempat dokter menyinggung dibilang saya hamil tiga bulan dan suaminya yang mengidam. Sempat juga percaya dengan istilah ngidam-ngidam itu. Akhirnya diopname lama kok tidak sembuh-sembuh, sudah ke tradisional, sudah ke dukun dan diinformasikan ngidam. Tapi kita tidak percaya dengan itu, kita akhirnya percaya dengan medis. Waktu itu kebetulan suami saya dikonseling sama Ibu Tuti Parwati langsung dites darah ternyata positif HIV. Di situ sempat ada keluarga yang bisik-bisik, suasana sepi, pokoknya dari segi sosial berubah tidak seperti biasa. Dalam makan bersama, misalnya atau istilah Bali-nya meceki

47 atau main judi di rumah, sekarang kok sepi suasananya. Saya berpikir positif saja. Waktu ke Bedugul keluarga sempat menyinggung apakah tidak kena AIDS. Saya sempat berpikir tidak mungkin. Disitu saya belum ada informasi, informasi dari dokter pun belum ada, akhirnya kebetulan Om saya dokter, dia mengajak saya ke laboratorium. Saya ingat sekali diajak ke laboratorium dan saya bilang untuk apa saya ikut dan dia bilang suami kamu mau tes lagi kok kamu tidak tahu. Ternyata informasinya itu lebih banyak dari mertua saya. Dokter sudah banyak memberikan informasi ke mertua saya. Saya sama sekali tidak tahu. Saya berpikir itu isu-isu biasa yang tidak perlu saya indahkan karena saya dalam posisi hamil, kuliah dan kerja. Saya tidak mau berpikir masalah itu. Akhirnya saya diajak ke lab. Dengan santainya petugas mengambil darah saya, saya tanya untuk apa ambil darah. Dia bilang untuk kesehatan janin. Pada waktu itu saya berpikir untuk kesehatan janin, ah yang penting janin saya sehat. Dan tidak berpikir sedikitpun bahwa darah saya diambil untuk HIV/ AIDS. Sampai di rumah saya berpikir yang penting Om ngajak saya ke lab berarti dia memperhatikan saya, memperhatikan keluarga saya. Tetapi tiba-tiba pada saat saya diberi informasi di rumah sakit, ada dokter muda yang menyampaikan bahwa saya terinfeksi. Saya berpikir ada infeksi apa di perut, mungkin janin saya cacat begitu. Pokoknya saya berpikir bagaimana janin saya sehat dan psikologis saya sehat karena saya tahu orang yang hamil itu harus positif thinking, tidak boleh sedih dan secara psikologis harus dijaga. Sampai saya sempat ke dokter praktek mengantar suami bertemu Dokter Tuti. Saya dikejar oleh Om saya agar bertemu Ibu Tuti. Saya diajak ke ruang prakteknya Ibu Tuti dan waktu itu sempat diberikan informasi dasar tentang HIV/ AIDS meskipun waktu itu belum ada hasil apa-apa. Tapi terlintas di kepala jangan-jangan benar apa yang dikatakan keluarga bahwa suami saya AIDS. Akhirnya saya berpikir itu tidak mungkin karena saya orang keluarga baik-baik, saya orang yang tidak tersentuh dengan yang begitu-begitu. Akhirnya saya sharing dengan ibu saya dan bilang mungkinkah suami saya terkena HIV dan dia bilang tidak kita kan bukan orang-orang yang berzinah. Pokoknya jangan berpikir ke arah situ. Sampai saya mau melahirkan, waktu itu umur kehamilan 9 bulan, seminggu mau melahirkan sempat Ibu Tuti memberikan saya obat antileterpiral, dan bilang obat ini harus diminum. Terus saya cerita sama mertua saya ini obat apa. Dan dia bilang yang penting obat itu sehat untuk saya dan itu harus diminum. Akhirnya saya minum seperti biasa tetapi pada saat saya mau melahirkan di USG, di situ akhirnya Ibu Tuti masuk. Saya ketakutan waktu itu bukan karena HIV/ AIDS tapi karena belum bayar. Sampai sekarang saya masih ingat belum bayar karena saat itu saya tidak bawa uang. Saya takut sekali dan berpikir jangan-jangan ditagih sekarang, padahal cuma Rp.1.500,- yang saya pegang di dompet. Mungkin kesannya Ibu Tuti, ini mungkin pasien saya takut sudah dapat informasi. Dari situ Ibu Tuti menginformasikan HIV/ AIDS, informasi dasar sampai Ibu

48 menyimpulkan suami saya HIV positif dan saya terinfeksi. Di situ saya sampai langsung luluh tidak berpikir masalah uang lagi dan berganti ketakutan masalah HIV/ AIDS-nya. Namun begitu lamalama akhirnya saya tahu bahwa saya itu adalah penderita AIDS. Saya tahu bahwa HIV tidak ada obatnya dan anak saya pasti tertular. Dengan informasi dari Ibu Tuti yang langsung saya pikirkan adalah bagaimana supaya orang tidak tahu, semua orang di keluarga saya tidak boleh tahu. Sempat sama Ibu Tuti agar jangan menyampaikan ke mana-mana cukup saya sendiri yang tahu, bagaimana saya nanti di kampus, bagaimana nanti di tempat kerja. Akhirnya di dalam mobil itu saya diam dan keluarga sebetulnya sudah tahu dan memahami kondisi saya yang depresi sehingga sampai di rumah saya berpikir sama siapa saya harus curhat, sama siapa saya harus berbagi, apakah orang tua saya? Saya tidak mau membebani orang tua saya yang sudah tua. Saya berpikir saya harus pergi dari sini namun tidak mungkin karena suami saya dalam kondisi sakit. Rasanya pokoknya harus menghindari suasana yang menakutkan dan mengerikan itu, dan saya harus keluar dari masalah ini hari ini juga. Sempat disitu ada keinginan untuk bunuh diri. Jadi berkecamuk disitu. Ibu saya mungkin ada feeling yang tidak enak, akhirnya datang ke rumah dan curhat kepada saya. Akhirnya ibu saya datang ke tempat saya tinggal, curhat dan dia mendapatkan stigma diskriminasi di rumah, kok saya tidak diijinkan ke pura. Ada Om saya nyeletuk bilang ke ibu bahwa saya HIV/ AIDS dan menyuruh ibu saya agar tidak memperbolehkan saya kesana, juga ibu saya tidak diperbolehkan kesana karena ibu sering tidur sama saya. Disitu akhirnya curhat, berbagi, ibu juga berbagi karena sama-sama tidak ada tempat. Terus bagaimana solusinya. Akhirnya 3 hari diam, solusi tidak ada, jalan keluar tidak ada, akhirnya sebulan kemudian baru saya berpikir alternatif terakhir, seperti yang disampaikan Ibu Tuti masih terlintas, yaitu kalau ada apa-apa, butuh informasi lebih lanjut hubungi saya. Disitu saya berpikir bahwa jalan keluarnya harus ke Ibu Tuti. Saya tidak berani keluar karena di rumah sakit waktu proses persalinan pun, saya lihat dokter-dokter berkumpul, mertua saya juga shock tidak berani ke dokter, terus keluarga tidak ada yang datang pada saat saya melahirkan. Sempat muncul di media bahwa HIV/ AIDS sudah menyentuh ibu rumah tangga tepat dengan tanggal saya melahirkan, tidak ada nama cuma inisial saja. Tapi itu membuat keluarga tambah takut untuk berkunjung ke rumah. Sampai akhirnya setelah saya bertemu dengan Ibu Tuti, disitu saya sampaikan unek-unek saya bahwa media begini, siapa membongkar rahasia kalau bukan Ibu, kayaknya sumbernya ini adalah Ibu sendiri. Saya mau menyalahkan Ibu Tuti tapi bagaimana. Saya mau keluar dari Bali dan anak saya tinggalkan, semua saya tinggalkan. Di situ Ibu Tuti memberi jalan keluar agar saya main ke LSM, di Yayasan Citra Usadha. Nasehat itu tidak langsung saya telan semua. Cuma yang saya pikirkan unek-unek saya sudah keluar semua. Akhirnya dua bulan kemudian datang teman saya namanya Oken dan saya curhat sama dia bahwa suami saya sudah meninggal, dia sakit tipes dan Oken pun sebagai pendengar yang baik. Sebagai aktivis AIDS, saya tidak tahu, kebetulan dia teman SMA, dia seakan-akan memberikan

49 penyuluhan tentang HIV/ AIDS, ada keluarga saya disitu dan dia akhirnya diusir oleh keluarga saya. Betul-betul shock sekali keluarga pada waktu itu. Sampai akhirnya 3 bulan kemudian, ada seminar HIV/ AIDS dan wanita. Waktu itu saya diundang Oken. Karena diusir dari rumah saya akhirnya Oken mencari ibu saya untuk mengundang saya ke seminar HIV /AIDS itu. Mendapat undangan itu saya berpikir jangan jangan orang-orang disitu banyak wartawan, jadi ketakutan saya berlebihan, jangan jangan orang-orang sudah tahu kalau saya keluar rumah. Saya memang tetap di rumah tidak berani ke mana-mana, Undangan ini apakah akan menjernihkan, memberikan solusi buat saya atau tambah beban dan masalah baru lagi. Akhirnya dia telpon saya dan menginformasikan bahwa ini penting sekali, ini masa depan saya. Akhirnya saya hadir disana dan berkomunikasi. Solusinya ke Citra Usada dan saya akhirnya mencari informasi yang bagus tentang HIV/ AIDS. Bagaimana untuk masa depan saya selanjutnya. Setelah saya bergabung ikut seminar ternyata komunitas masyarakat peserta di seminar itu kok tidak tahu bahwa saya positif HIV/ AIDS. Akhirnya saya main ke Citra Usadha dengan ibu kandung saya sendiri dan saya lihat teman-teman di Citra Usadha tidak tahu semua status saya berarti benar-benar dirahasiakan. Hanya beberapa teman saja yang tahu dan hanya beberapa dokter saja yang tahu status saya. Di situ baru saya merasa bahwa saya bisa beraktivitas seperti biasa dan harus ketemu Ibu Tuti bagaimana supaya bisa ikut sebagai volunteer di Citra Usada. Akhirnya saya bergabung di Citra Usadha sampai akhirnya di Citra Usadha saya diberikan skill building. Sebelum proses konseling sempat Ibu Tuti menyinggung ada orang HIV positif di Jakarta, dia orang yang cantik, Mbak Suzana Murni waktu itu, dia sering ke luar negeri, dia punya potensi waktu itu kalau ODHA yang bisa berbahasa inggris akan mendapatkan kesempatan ke mana-mana. Jadi yang akan memberikan wajah ke masyarakat bahwa ODHA tidak perlu ditakuti hanya ODHA sendiri. Dia punya peran untuk memutuskan mata rantai cara penularan HIV/ AIDS. Jadi intinya ODHA punya peran penting dalam program penanggulangan HIV/ AIDS.

Dr. Tuti Parwati : Terima kasih Putu sudah menceritakan pengalamannya. Ini satu dari sekian banyak yang kita tidak kenal. Kalau saya ringkas kembali bahwa Putu tidak merasa berperilaku resiko tinggi tapi ternyata kena HIV/ AIDS dari suami. Itu anggapan yang sering berasal dari masyarakat yang tidak pernah memikirkan dengan jernih dan tepat. Dayan juga aktif di Bali Plus (organisasi Bali positif) yaitu kelompok yang memberikan support kepada mereka yang sudah terinfeksi HIV. Silahkan Dayan.

50 Dayan ( ODHA ) : Saya mau cerita mungkin 3 menit tentang ada seorang anak yang dilahirkan dari keluarga menengah, anak terakhir dan anak yang cukup berprestasi di sekolah berumur 14 tahun. Anak ini sempat mengikuti kejuaraan nasional pencak silat di Jakarta, setelah itu dia juara kelas. Kemudian mencoba sekolah di Jakarta dan di Jakarta dia kenal dengan narkoba, awalnya ganja, pil penenang dan akhirnya dia bertemu dengan rajanya heroin dan lucunya anak ini sudah mencoba menggunakan jarum suntik. Di Jakarta sekian lama anak ini akhirnya datang ke Bali masih terus dengan kebiasaan lamanya. Anak ini yang dulu prestasinya bagus sudah tidak mau sekolah. Yang tadinya punya bakat, bakatnya sia-sia sampai akhirnya dia ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena pemakaian narkoba suntiknya. Setelah keluar dari penjara 1 tahun 2 bulan dia masih terus menggunakan narkoba sampai suatu hari dia dijemput oleh temannya diantarkan ke panti rehabilitasi narkoba. Dan setelah di situ seminggu ada namanya voluntery councelling & testing dan anak ini dites pada tanggal 20 Desember 2001 hasilnya diterima. Dua minggu kemudian ternyata anak itu positif HIV dan sekarang dia ada di depan teman-teman sedang bercerita. Jadi itulah kejadian saya secara singkat dan memang awalnya dunia kiamat, dunia gelap tidak mau terima. Saya tahu bahwa HIV/ AIDS itu penyakitnya orang homoseksual bukan pengguna jarum suntik, penyakit orang bule bukan penyakit orang Indonesia apalagi saya dari Manado tidak mungkin. Ternyata kalau seperti yang dibilang Soni Tulung: anda belum beruntung. Saya duduk di sini sekarang, saya bilang saya beruntung. Saya pernah 1 hari di Gianyar tanya sama bapak begini: ”Pak, pendapat bapak tentang HIV/ AIDS bagaimana? Dan dia bilang mau dibakar terus saya tanya sama ibu, katanya mau dibuang ke hutan. Terus saya tanya adik, katanya mau dikarungi dibuang ke laut. Ini seram-seram reaksi orangorang karena mereka tidak tahu seperti apa ODHA itu, yang ada di gambaran mereka mungkin media massa di awal-awal HIV menggambarkan HIV/ AIDS ada tengkoraknya. Tapi setelah saya bilang bagaimana kalau ODHA itu anak bapak, adik anda mau dikarungin, apakah kalau ODHA itu cucu ibu mau dibuang ke hutan? Dan ini yang sering terjadi. Epidemi yang di masyarakat terutama orang beragama. Dalam suatu perjalanan ke Bandung karena kebetulan ada teman di sana, di Geger Kalong, kami sempat kesana. Mereka bilang tolong beri saya informasi yang banyak tentang HIV/ AIDS. Ternyata banyak tokoh-tokoh agama dan bahkan masyarakat serta orang-orang yang mengurusi HIV/ AIDS kadang-kadang tidak mengerti HIV itu apa. Dan acara ini mungkin jadi awal yang baik dimana teman-teman bisa menahan dengan baik, tentang HIV/ AIDS. Rasa takut itu wajar, takut karena tidak tahu itu hal yang lumrah tapi kalau sudah tahu masih takut itu kurang ajar. Ibu saja tidak percaya kalau saya HIV positif karena mungkin gambaran teman-teman orang HIV/ AIDS itu seperti yang dikatakan bapak tadi kurus, tinggal tulang, meskipun ada juga yang gemuk. Tetapi kalau dari segi psikologis, mental ODHA punya keuntungan disitu. Bahwa hanya kita yang

51 mengerti bagaimana ODHA itu. Secara diam-diam Dokter Tuti belajar juga dari kita dan kita juga belajar dari Dokter Tuti. Ada tanggung jawab dan peran masing-masing yang tidak bisa dipisahkan, tokoh agama pun demikian.

Dr. Tuti Parwati : Terima kasih Dayan. Jadi paling tidak bagi yang belum pernah membayangkan bagaimana orang yang terkena HIV, yang saya katakan spektrumnya sangat luas tersebut, dari spektrum yang kelihatan seperti Dayan, Putu sampai spektrum yang Bapak Sadra tadi sebutkan tidak bisa bangun, tidak bisa bergerak, tinggal kulit yang membungkus tulang seperti itu. Supaya saya tidak hanya mengatakan teori saja, saya buktikan dan kenyataannya kita lihat kenapa dua teman kita yang ada di sini sekarang masih beraktivitas seperti biasa. Jadi memang mereka mengatakan beruntung paling bisa memahami HIV karena memang HIV-nya sudah menyatu, mau apa lagi. Cara bereaksi yang paling benar yaitu bereaksi positif bagaimana hidup dengan HIV di dalam tubuh seperti orang yang menderita kencing manis. Bagaimana kita hidup dengan penyakit gula, itu jangan kita tolak lagi sebab untuk menolak itu mengakibatkan efek samping bagi kesehatan kita. Sama seperti kalau kita benci sama seseorang padahal orang itu tenang-tenang saja. Sebenarnya orang yang benci itu yang rugi, menghabiskan tenaga, kalori dan energi dan waktunya. Dia membenci orang itu padahal orang itu tidak merasa apa-apa dan tenang-tenang saja.

M. Yos Da Putra : Saya langsung saja kepada Mas Dayan. Dalam kehidupan sehari-hari, saya bilang disini, dalam kegiatan sebagai seorang aktivis LSM apakah ada perubahan dari segi kesehatan dan psikologis? Begitu saja terima kasih.

Diana Surjanto : Saya mungkin menindaklanjuti tadi, ada harapan mau tahu lebih banyak tentang HIV/ AIDS. Itu mungkin dijelaskan bagaimana cara penularannya agar mereka benar-benar tahu tentang HIV/ AIDS sehingga tidak takut lagi. Terima kasih.

Luh de Suryani : Terima kasih. Mbok Putu sama Bli Dayan, saya sangat memberikan apresiasi untuk Mbok Putu sama Bli Dayan yang bilang bahwa ODHA-lah yang berperan luar biasa memutus jaringan penularan lebih lanjut. Dalam pengalaman bertahun-tahun yang Mbok Putu dan Bli Dayan alami begitu, hal-hal apa yang paling emosional yang dialami?

52 Dr. Tuti Parwati : Mungkin saya dulu. Tadi cara penularannya apa, ini hal yang penting. Penularan HIV adalah melalui sedikit cara sebenarnya, hanya hubungan-hubungan yang intim yang bisa menularkan. Misalnya hubungan seks bebas atau mungkin hubungan seks tapi kok pertama kali melakukan seks ternyata persis dengan orang yang tertular HIV walaupun tidak seks bebas seperti pengalaman Putu. Itu pasti saja lewat hubungan seks yang tanpa memakai kondom karena virus HIV adanya di dalam cairan darah paling banyak, di dalam air mani pada laki-laki, cairan vagina pada perempuan, di air susu kalau perempuan mengidap HIV dan kalau dia menyusukan pada bayinya, bayi itu bisa tertular lewat air susu. Tidak terdapat di dalam keringat atau air liur. Ada tetapi sedikit sehingga tidak bisa menularkan. Jadi yang bisa menularkan 4 cairan saja: darah, air mani, cairan vagina, air susu ibu. Mengenai perilaku yang mana yang bisa menularkan yaitu 4 saja darah, air mani, cairan vagina dan air susu ibu. Jadi hubungan seks jelas, pemakaian jarum suntik yang tidak steril di dunia kedokteran juga bisa. Misalnya ada dokter melakukan suntik tidak disterilkan kemudian memakai lagi. Umumnya itu tidak terjadi sekarang. Biasanya 1 jarum suntik untuk 1 orang. Tetapi 1 jarum suntik untuk dipakai bareng sampai sekarang masih terjadi di pemakai narkoba suntikan karena mereka kesulitan mencari jarum suntik dan kondisi ketagihan yang menyebabkan mereka tidak bisa membersihkan jarumnya atau juga karena lingkungan sehingga dia harus sembunyi, misalnya ke apotik takut dengan polisi. Jadi hal itu yang menyebabkan. Dan hubungan sosial, misalnya kita berteman, saya duduk dan kemudian Dayan duduk disitu tidak akan ada penularan, juga salaman, ciuman pipi, berpelukan, merawat ODHA seandainya ada keluarga yang terkena. Hanya harus berhati-hati kepada darah, cairan kelamin dan air susu. Seandainya dia sakit di rumah ada darah keluar, batuk darah dan darah itu memang mengidap tetapi kita tahu bagaimana memperlakukan darah itu sehingga kita tidak tertular. Kalau seandainya ada, kita siram pakai bayclin atau cairan pemutih sudah aman baik muntahannya atau air mani tercecer di seprei tidak akan menularkan. Alat-alat makan, minum, sendok tidak akan menularkan. Setiap saya mendengar tusuk jarum, saya tanya apakah itu satu set dan dia bilang itu satu set milik saya dan dipakai sendiri. Tapi saya yakin praktisi-praktisi yang memakai tusuk-menusuk itu seharusnya sudah mensterilkan dulusebab tidak hanya HIV tetapi Hepatitis B, Hepatitis C. Di salon juga harus disterilkan. Jadi sebenarnya alat yang bekas pakai direndam dulu setelah itu dijemur, lalu dipakai lagi sudah tidak berbahaya.

Diana Surjanto : Saya dengar HIV bisa menular lewat nyamuk tapi belakangan ini ada orang yang mengatakan bahwa lewat nyamuk tidak bisa. Kalau begitu yang benar yang mana.

53 Dr. Tuti Parwati : Yang benar adalah nyamuk tidak menularkan karena sudah diteliti. Kalau nyamuk menularkan berarti saya tidak perlu penyuluhan seperti ini karena setiap orang pasti akan kena padahal kita masih bisa memilih untuk kena atau tidak kalau kita tahu. Sering orang dulu terkena karena dia belum tahu informasi. Ini yang disesalkan mengapa baru sekarang ada informasi pencegahan, kok saya sudah terlanjur. Karena itu makin cepat kita memberikan informasi walaupun ke desa-desa yang dianggap tidak terkena AIDS, untuk mencegah itu akan semakin baik. Karena banyak yang menyesalkan kok baru sekarang ada penyuluhan ini padahal di Amerika sudah tahun berapa. Memang kita belakangan kena wabahnya tapi bagaimana pun kita harus mulai sesegera mungkin dan dalam kelompok usia yang sedini mungkin, jangan sampai kita terlambat padahal sudah terlanjur melakukan seks, baru dapat informasi bisa saja terlanjur sudah terkena.

Dayan (ODHA): Mengenai aktivis sama emosi. Terus terang, sekarang ini saya anggap saya manusia yang punya 3 bonus; yaitu kecanduan, HIV dan Hepatitis C. Ketiga-tiganya yang membawa kabar buruk sekaligus kabar baik buat saya, dimana ketiga penyakit ini belum ada obatnya. Tapi bukan berarti saya tidak bisa bekerjasama dengan ketiganya. Untuk kecanduan, saya ikut perkumpulan atau filosofi narkotika. Saya juga belajar meditasi untuk deal dengan emosi-emosi kecanduan saya. Kemudian untuk HIV dan Hepatitis C, saya belajar tegar karena satu tujuan saya selama saya bisa bekerjasama dengan virus yang ada dalam tubuh saya, saya bisa adakan treatment dengan dia dan mengenai waktu tadi saya terapkan delapan tiga, 8 jam untuk kerja, 8 jam untuk tidur, 8 jam untuk diri saya sendiri. Itu balancing buat saya dimana dalam keseharian teman-teman saya itu heran. Saya kerja dari pagi jam 07.30 WITA bahkan sampai jam 24.00 WITA belum pulang karena ke mana-mana dan saya nikmati. Saya tidak tahu darimana energi itu mengalir, darimana kekuatan itu datang, cuma yang jelas tujuan saya satu jika ada yang butuh pertolongan. Tapi saya menolong bukan berarti saya menolong buta. Saya menolong, saya harus tahu dan saya belajar dari diri saya sendiri, banyak alat yang bisa saya pakai, salah satunya adalah alat untuk mengukur udara sampai di titik mana sistem kekebalan tubuh saya, sampai dimana saya bisa merawat diri saya sendiri disamping semakin banyak informasi semakin banyak saya terlibat dengan advokasi pengobatan karena saya cenderung kepada advokasi pengobatan. Saya juga banyak informasi tentang penyakit AIDS. Banyak persepsi tentang penyakit AIDS namun banyak orang yang tidak mati dengan AIDS. AIDS itu adalah sekumpulan gejala penyakit dan itu berbeda dengan HIV. Itu yang paling inti. Orang HIV akan bisa hidup lama sampai ke stadium yang bisa dikategorikan bahwa orang ini sudah berada didalam gejala penurunan sistem kekebalan tubuhnya sendiri. Mungkin Dokter Tuti bisa menjelaskannya.

54

Dr. Tuti Parwati : Kalau kita dengar apa yang disampaikan oleh Dayan memang spektrumnya luas dari yang mulai bergejala sampai yang gejalanya berat dan sakit berat itu. HIV beda dengan AIDS. HIV itu adalah nama virusnya dan AIDS adalah kumpulan gejala yang sudah muncul pada seseorang yang sudah terkena HIV. Jadi AIDS itu di stadium akhir. Ada sekian tahun orang terinfeksi, 5 sampai 8 tahun bahkan 10 tahun. Dan malahan sekarang sudah ada obat yang tidak bisa membunuh tetapi bisa menekan perkembangan virus maka sekarang orang hidup belasan tahun lebih bahkan sampai 20 tahun. Jadi sama seperti yang saya katakan tadi. Cuma ada kencing manis tetapi dia minum obat untuk menanggulangi kencing manisnya kemudian dia melakukan diet, tidak makan gula berlebihan, mengatur menunya, kegiatan fisik dan kegiatan mentalnya sehingga dia bisa hidup seperti orang yang tidak ada kencing manis. Tetapi memang kalau dilepas lagi obatnya virusnya akan naik lagi dan dia bisa menularkan penyakit. Karena luasnya spektrum seperti itu maka kirakira seperti yang dikatakan Dayan, dia sudah bisa mengukur yang namanya kekebalan tubuh berapa, jumlah virus didalam tubuhnya berapa. Itu memang dengan pemeriksaan laboratorium dapat dilihat lalu kalau makin tinggi jumlah virus didalam tubuh bisa sampai jutaan maka makin cepat dia bisa menimbulkan sakit. Kemudian kalau virusnya semakin rendah maka sebaliknya dia akan tetap sehat. Demikian juga sel-sel kekebalan tubuh dapat dihitung dengan lab, sel darah putih kalau cukup tinggi maka dia tidak akan sakit dan dia bisa beraktifitas seperti orang yang tidak terinfeksi HIV. Jadi bagaimana Dayan bisa melakukan kegiatan itu. Saya melihat dia sudah mengatur waktunya dengan baik sekali yaitu ada waktu kerja, waktu istirahat dan waktu untuk diri sendiri yaitu meditasi. Itu harus seimbang. Seharusnya kita walaupun tidak ada HIV seharusnya sudah seperti itu juga untuk mendapatkan kesehatan yang baik. Yang penting dari Dayan tadi adalah dia menerima HIV yang sudah terlanjur. Tapi sekarang bagaimana agar tidak kecanduan lagi, tidak balik lagi ke narkoba. Seperti yang dikatakan tadi dia dapat bonus, di satu pihak bonus dalam arti berita buruk, di pihak lain baik karena dia sudah bisa mengatasi. Dari mengatakan berita buruk menjadi berita baik itu adalah menguntungkan. Kalau tidak ada HIV mungkin tidak ada kesempatan untuk bertemu dengan semuanya disini. Itu perlu waktu berapa tahun, berapa lama kira-kira Dayan untuk mengatasi masalah yang berkecamuk seperti yang dialami oleh Putu.

Dayan (ODHA): Kurang lebih 1,5 tahun saya tawar menawar dengan diri sendiri, dengan lingkungan dan sebenarnya saya lebih prioritas kecanduan saya daripada HIV. HIV saya prioritaskan nomor dua, saya cenderung untuk memprioritaskan pemulihan dari sisi kecanduan saya karena itu yang ternyata

55 menjadi istilahnya setir dalam kehidupan saya dan entah dari kehidupan kecanduan itu yang menyebabkan saya hancur dan sebagainya. Tapi di sisi lain HIV itu justru semacam pemicu saya untuk sadar "Hei itu bisa terus begini" dan saya harus lakukan sesuatu cuma melakukan apa, bagaimana, kapan, itu saya tidak tahu. Dan saya bersyukur punya seorang teman dan satu kelompok yang kita ketemunya orang-orang HIV itu sendiri. Di kelompok kami, kelompok pecandu yang positif itu, kita saling berbagi dan saling berempati. Itu yang menyelamatkan saya disamping ada beberapa kesempatan-kesempatan yang saya dapatkan dari jaringan nasional. Saya juga ikut jaringan nasional untuk orang-orang HIV. Saya pernah ketemu dengan orang HIV dari Papua, Banjarmasin, Balikpapan, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, Medan, Riau, Ghana, Thailand, bahkan saya kurang lebih hampir sudah ketemu dengan 1000 orang ODHA yang ternyata deal emosionalnya sama dengan saya. Saya bisa nyambung, bisa duduk 2 jam hanya ngomongin isu-isu kehidupan saya dan bagaimana saya deal dengan kehidupan saya. Dan kalau emosi yang Mbak bilang tadi saya pernah shock dibilang orang HIV tidak boleh kawin lalu bagaimana. Tapi ternyata saya bisa bahkan saya berpikiran begini, kalau saya HIV positif maka cari saja cewek HIV positif. Ini deal-deal yang saya lewati dan yang ada dalam pikiran saya, yang kadangkadang itu pengaruh dari sisi kecanduan saya. Jadi sisi kecanduan saya, yang mendesak saya melakukan beberapa hal, setelah saya bisa mengatasi sisi kecanduan saya maka saya bisa berpikir jernih. Ada yang bilang kok bisa punya anak. Karena virus HIV bukan di cairan sperma namun di cairan mani, beruntung cuma di air mani, masih ada strategi lagi dengan pencucian sperma akhirnya istri saya bisa hamil. Jadi banyak kabar baik kalau mau informasi. Tapi sayangnya informasiinformasi seperti ini khususnya di masyarakat belum banyak terdengar dan itu yang menjadi tanggung jawab saya sendiri sebagai ODHA untuk memberikan gambaran bahwa orang HIV itu tidak ada tengkorak. Orang HIV itu belum sakit, tidak cuma di tempat tidur saja. Itu tanggung jawab yang saya ambil, tanggung jawab yang lain mungkin bisa anda ambil.

Dr. Tuti Parwati : Jadi perlu waktu 1,5 tahun untuk Dayan bisa menerima dan tawar menawar dengan dirinya. Kalau Putu perlu berapa tahun?

Putu Utami (ODHA): Kurang lebih dari tahun 1994 sekitar 4 bulanan dan mungkin karena kepentingan.

Dr. Tuti Parwati: Jadi lebih cepat, kalau Putu bisa mengatasinya tetapi diterimanya juga dengan shock yang begitu berat. Itu bervariasi, perlu waktu. Itulah fase-fase yang nanti kita diskusikan dan bagaimana

56 cara supaya mereka makin pendek fasenya, karena di fase yang pendek itu bisa melakukan hal-hal yang membahayakan. Dia bisa menularkannya kemana-mana, misalnya di komplek-komplek karena tidak ingin tertular sendiri. Reaksi agresif seperti itu bisa kita redam agar mereka tidak membahayakan bagi lingkungan. Sebab setelah mereka bisa menerima maka tidak ada sesuatu hal yang istimewa dari mereka. Sekarang menjadi sangat istimewa karena ada fase-fase itu di puluhan juta masyarakat

Dayan (ODHA): Jaringan ODHA Nasional punya pertemuan setiap tahun dan disana kita ada inisiatif untuk menyetop penularan yang kita sebut dengan HIV STOP DISINI. Tapi itu adalah kesadaran dari orang HIV untuk tidak menularkan kepada orang lain. Jadi itu peran kami. Dari orang HIV secara nasional kita sudah sepakat bahwa penularan akan distop dari orang yang sudah terinfeksi HIV dan saya rasa itu peran yang cukup baik, dihargai disamping peran-peran yang lain. Itu saja.

Dr. Tuti Parwati : Jadi kita harus melibatkan ODHA sebagai salah satu upaya pencegahan, kalau kita tidak merangkul mereka, upayanya kurang bisa berhasil. Dengan tumbuhnya kesadaran dari masingmasing ODHA untuk tidak menularkan, kalaupun dia menikah bagaimana supaya istrinya atau suaminya tidak tertular karena dia maunya “stop disini”. Kalau sudah sama-sama kena, tetap stop disana jangan sampai anaknya tertular. Peran seperti itu sebenarnya kalau tidak dari ODHA sendiri tidak bisa. Dokter atau kita bisa menyarankan dari luar tapi yang melakukan ini adalah mereka. Seperti tadi dikatakan apakah ODHA boleh kawin ? Saya bilang boleh saja. Tapi siapa yang tahu mereka melakukan apa, yang penting dari dalam dirinya sendiri. Boleh tidaknya dan bagaimana supaya tidak menularkan. Itu tidak bisa diberikan oleh media massa karena itu adalah konseling. Kelompok dukungan menjadi penting untuk masalah-masalah yang pribadi seperti ini. Mungkin itu bisa ditempatkan dimana tempat-tempat konseling yang sesuai seperti itu. Orang tidak gampang terbuka sebelum mereka menemukan Bali Plus, menemukan jaringan ODHA. Kemana mereka menemukan jaringan itu barangkali peran-peran kita disini nantinya. Putu mungkin mau menambahkan lagi. Tadi dikatakan bahwa ODHA sebagai pencegah penular lebih lanjut, selain jaringan ODHA, kelompok Bali Plus penting.

Putu Utami ( ODHA ) : Saya tadi ditelepon juga mengenai masalah perempuan. Jadi kebetulan ada beberapa teman yang khusus untuk isu-isu yang berkaitan dengan masalah-masalah perempuan. Masalahnya kompleks sekali, yaitu kehamilan, abortus dan pada saat dia positif HIV bagaimana caranya dia mau

57 terbuka dengan pasangannya. Ada banyak masalah emosional yang berkaitan dengan pengurangan penularan yang lebih banyak. Salah satunya adalah bagaimana pada saat kita hamil bila kita positif HIV. Jadi peran saya disini biasanya Ibu Tuti kontak ke saya, ada teman yang sudah positif HIV ternyata anaknya negatif. Jadi apa yang dilakukan pada waktu itu. Saya betul-betul sebagai orang yang konseling sebaya, artinya sesama yang positif HIV, sesama perempuan dalam kondisi yang hamil tapi secara medis saya kurang tahu cuma saya berbagi dalam kaitan dengan masalah-masalah psikologis. Tapi saya juga berikan solusi, kalau dengan kondisi seperti itu jangan melakukan sesuatu yang negatif saja. Disitu kita punya peran yang cukup penting secara psikologis untuk membangun motivasinya. Yang kedua, kaitannya dengan masalah untuk pencegahan itu. Perempuan disini sangat penting misalnya isu-isu perempuan yang diangkat yang lebih dominan. Istilahnya begini, kalau dia sering berganti-ganti pasangan, kalau dia pecandu atau perempuan yang mantan pecandu itu berbeda sekali dengan laki-laki yang pecandu, perempuan stigmanya lebih tebal lagi. Disitu saya tidak bisa memberikan solusi untuk perempuan yang pecandu. Jadi kita akhirnya rangkul teman-teman yang positif HIV yang mantan pecandu perempuan. Akhirnya dia bisa memberikan solusi itu. Berbeda sekali misalnya seperti yang terlanjur hamil sebelum menikah. Kompleks sekali masalahnya. Ada teman yang bisa diajak berbagi untuk masalah itu.

Dr. Tuti Parwati : Kelompok dukungan atau support group, konseling, tempat curhat sangat dibutuhkan oleh ODHA. Karena terlalu banyak permasalahan sering tidak cukup. ODHA ini, terutama ODHA yang mantan pecandu, pengalaman itu bisa dibagi dengan sesamanya.

Loli : Terima kasih. Saya mau bertanya HIV berbeda dengan AIDS. AIDS adalah kumpulan gejala pada stadium terakhir orang terkena virus HIV. Sampai sejauh mana orang yang mengidap HIV akan terkena AIDS dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi sampai ke level AIDS.

Diana Surjanto : Saya mau bertanya mungkin sharing saja dari Mbak Putu sama Bli Dayan. Bagaimana dalam proses interaksi dengan masyarakat, mungkin sekarang, apakah ditutupi atau terbuka karena saya rasa itu sangat dilematis. Kita terbuka, orang akan menjauhi karena pendidikan yang kurang, pengetahuan masyarakat kurang. Tapi kalau kita tertutup juga bagaimana rasanya, kita juga merasa bersalah mungkin karena kurang berhati-hati atau bagaimana.

58 Dr. Tuti Parwati : Yang mempengaruhi orang terinfeksi HIV sampai menjadi AIDS adalah faktor waktu 5 tahun sampai 8 tahun yang umum. Hampir tidak ada orang yang kebal terhadap HIV. Jadi perempuan lebih mudah terkena dua kali lebih cepat dari laki-laki. Disamping itu karena perempuan tidak bisa memilih, tidak bisa menentukan, tidak bisa menjaga dirinya sendiri karena tergantung pada orang lain. Kondisi sosial yang menyebabkan atau mendorong perempuan lebih mudah terinfeksi. Setelah sakit maka ada macam-macam stigma. Yang mempercepat dia bisa mencapai cepat ke finish adalah bila ada faktor yang mendorong dia seperti penyakit kelamin, pola hidup yang kurang sehat, faktor kelainan.

Dayan (ODHA): Waktu saya pulang ke Manado, dari lima yang saya mintai pendapat kebetulan masih keluarga saya terdapat berbagai macam pendapat yang berbeda. Pada saat itu saya pikir tanggung jawab saya adalah saya harus mengatakan apa yang terjadi. Saya sudah aktif di sebuah LSM mungkin suatu saat nama atau foto saya disebut disana dan apa yang akan terjadi kalau keluarga tahu dari orang lain, justru akan lebih menakutkan. Itu tanggung jawab yang coba saya ambil dan dengan berbagai konsekuensi kapan lagi saya sempat bilang. Syukur sekarang hubungan kami baik sekali. Mereka jadi heran karena saya sekarang masih belum mati karena tertular HIV. Karena anggapan mereka seminggu lagi saya meninggal. Memang stigma dan kecenderungan ketidaktahuan yang menyebabkan ada pendapat bermacam-macam.

Putu Utami (ODHA): Saya juga mengalami hal yang sama dan takut ketemu dengan wartawan. Tahun 1998 sampai tahun 1999 paling anti dengan wartawan. Namun sekarang saya malahan bisa bersahabat dengan wartawan. Masalah interaksi dengan keluarga sendiri, mertua sampai sekarang masih shock. Saya sempat bikin iklan sama Mbak Nurul Arifin pada waktu itu. Saya sempat cerita sama ibu mertua akan membikin iklan untuk memberikan informasi kepada masyarakat agar kalau nanti anak saya besar, masyarakat akan bisa menerima bahwa orang tuanya tertular namun anaknya tidak tertular karena HIV. Keluarga saya menyetujuinya. Setelah muncul iklan itu, semuanya bingung sampai akhirnya rapat keluarga dan disuruh saya jangan ke arah itu lagi. Apapun yang saya lakukan saya sudah konfirmasikan kepada ibu mertua saya. Saya sempat berpikir ingin pergi dari rumah. Memang ada saatnya saya harus membuka diri, ada tempat yang belum saatnya saya membuka diri. Di gereja misalnya. Pada saat kita memberikan penyuluhan di gereja kita punya inisiatif memberikan pada saat adanya perkawinan. Jadi saya diberikan kursus perkawinan dan memberi tahu Romo bahwa saya menyisipkan HIV/ AIDS karena ini penting agar masyarakat di gereja

59 paham mengenai masalah-masalah itu. Jadi tidak mudah juga harus melihat tempat dimana kita bisa terbuka dan tertutup.

Dr. Tuti Parwati : Tadi mungkin informasi saya belum lengkap, belum muncul mengikuti fenomena gunung es, misalnya sekarang kita tahu ada dua yang sudah terinfeksi. Tetapi yang kita tidak kenal siapa lagi itu berlipat-lipat. Kalau mereka ODHA itu terbuka kan tidak ada masalah, kemana mencari pelayanan kesehatan, rohani dan sebagainya sudah terbuka. Masalahnya sekarang lebih banyak yang tidak terbuka. Saya mengatakan mereka sering sekali tidak terbuka karena mereka tidak tahu, belum tahu mereka terinfeksi. Kalau dia tidak dites dan masih sehat saja seperti Dayan misalnya siapa tahu, saya juga tadinya tidak percaya bahwa Dayan HIV positif, dia dapat kegiatan kemanamana. Jadi karena dia sangat sehat dan tidak kelihatan sedikitpun kemurungan di wajahnya atau kadang-kadang saya melihat merenung misalnya, makanya saya tidak percaya dia HIV positif.

Bapak Sadra : Saya masih agak bingung karena penyebabnya katanya melalui jarum suntik. Tapi orang pertama yang kena siapa, dan bagaimana dia kena? Saya mendengar cerita dari tamu asing yang datang ke sini dari Afrika, dia cerita sebenarnya virus HIV/ AIDS itu dikembangkan di Afrika oleh orang putih dengan maksud menghabisi orang hitam. Yang masih saya tanyakan dalam hati, sejak kapan HIV ada, lalu penyebarannya? Masalah seks dengan suami istri itu kan anaknya nanti nyambungnyambung. Tapi kalau dengan jarum suntik itu yang masih kabur, kira-kira seperti apa itu?

Dr. Tuti Parwati : Kalau riwayat asal muasalnya HIV itu dimana memang semua orang pasti menunjuk ke Afrika. Tidak ada daerah yang mau dikatakan sebagai sumber, kalau di Bali dibilang Jawa, kalau di Papua dibilang orang Jawa yang bawa mau menghabisi orang Papua, di Thailand begitu juga orang Amerika yang dituduh karena kasus pertama tertularnya di Amerika. Kita kasus pertama di Indonesia ada yang mengatakan itu kan bule, di Indonesia tidak ada AIDS. Jadi itu mitos tidak pernah ada. Saya kasihan sama Afrika karena selalu dikatakan sumber segala macam penyakit yang sampai sekarang tidak sembuh-sembuh. Semua penyakit yang berat-berat yang menimbulkan kematian dengan cepat maupun kematian lambat kebanyakan dibilang datang dari Afrika. Tetapi memang seperti itu didukung oleh penelitian karena yang bisa diteliti darah yang disimpannya sejak tahun 1959. Darah orang Afrika disimpan sebenarnya untuk penelitian penyakit yang lain, penyakit polio, penyakit malaria, penyakit-penyakit lain. Dan yang masih tersimpan itu dicoba dengan alat pengetes sekarang. Ternyata darah yang disimpan tahun 1959 itu sudah ada yang menunjukkan

60 positif berarti virusnya sudah ada sejak tahun 1959, tetapi tidak menimbulkan penyakit/ wabah pada manusia. Mereka perlu evolusi/ perkembangannya secara pelan-pelan dan mungkin ada seleksi alamiah. Virus yang ada sekarang sudah melalui seleksi spesies, sudah mungkin tadi dikatakan ada di kera, mirip-mirip susunannya, karena itu bagaimana yang dari kera ke manusia menularnya. Sampai sekarang masih terbagi bentuk virusnya, tidak bisa dikatakan HIV itu virus yang dari kera meloncat ke manusia. Masing-masing ada virusnya tetapi memang mirip. Tetapi pada kera tidak menimbulkan penyakit yang sama seperti pada manusia. Cuma bentuk/ strukturnya yang sama. Yang jelas HIV itu sudah ditemukan pada darah yang tersimpan tahun 1959 tetapi menimbulkan wabahnya baru tahun 1980-an. Jadi hampir 20 tahun dia berevolusi baru menimbulkan pewabahan/ sakit. Manusia sudah terinfeksi tetapi belum menunjukkan sakit karena dia paling tidak 10 tahun tidak ada gejala dan melalui seleksi alam juga. Mungkin HIV yang awal-awal itu tidak begitu ganas atau virolen dibandingkan dengan hidrasi kemudiannya sampai akhirnya sekarang namanya HIV. Itu baru bisa menimbulkan penyakit pada manusia dan bisa ada gejalanya. Kalau penularan dari suami-istri ke anak tidak 100 % ke anak. Tadi Bapak mengatakan kalau orangtuanya sudah terinfeksi, nanti anaknya pasti akan kena. Bisa menular pada bayi. Jadi pada waktu Putu hamil suaminya positif kita berikan obat untuk mengurangi jumlah virus sehingga mungkin karena obat itu atau Putu masih bagus kondisinya jadi si bayi tidak tertular. Jadi belum tentu. Dulu dikatakan sekitar 20 sampai 45 % kemungkinan wanita hamil menularkan AIDS. Tetapi sekarang dengan adanya obat-obat untuk mengurangi jumlah HIV, menekan perkembangannya itu, obat ARP namanya lalu menurun dibawah 10 % bahkan sampai 7 %. Karena itu Dayan mengatakan kabar baik untuk dirinya karena boleh menikah dan masih mungkin punya anak yang tidak terinfeksi, jadi “stop sampai disini” masih mungkin dilakukan. Dan kalau dari jarum sudah pasti karena itu jarum jangan dipakai dari satu orang ke orang lain tanpa disterilkan apalagi tusuk jarum yang untungnya jarumnya kecil tidak ada lubangnya, kalau yang ada lubangnya itu lebih parah lagi. Tapi bagaimana pun virus Hepatitis lebih cepat menularnya lewat jarum. Jadi tetap harus direndam bayclin dulu atau mungkin alkohol dan sebagainya terus dikeringkan baru dipakai. Lebih baik dia tidak kita tolong kalau jarumnya belum steril daripada kita ingin menolong dia siapa tahu ada bonus negatif yang lain ikutan disana.[]

61

DIALOG
PERSOALAN SOSIAL BUDAYA SEPUTAR HIV/AIDS

Institut DIAN/ Interfidei Yogyakarta pada tanggal 30 September – 3 Oktober 2004 mengadakan Studi Agama dan Masyarakat di Candi Dasa, Karangasem, Bali. Acara ini diselenggarakan dengan bekerjasama dengan Gedong Gandhi Ashram, Yayasan Citra Usadha Indonesia, dan Uluangkep. Studi ini mengupas tentang kepedulian agama-agama terhadap masalah sosial, khususnya masalah HIV/ AIDS yang kasusnya di Indonesia semakin meningkat. Berikut adalah hasil studi kelas tentang persoalan sosial budaya seputar HIV/ AIDS.

Esthi Susanti : Kalau berbicara tentang HIV, penyebab utamanya adalah virus. Pada waktu sehat seseorang bisa saja tertular HIV. Kita belum bisa membedakan antara HIV dan AIDS. Dari ibu yang terkena HIV ke balitanya pasti akan menularkan HIV. Selama ini kita mendapatkan pengetahuan tentang HIV kebanyakan dari media. Jadi dari seluruh informasi yang didapat, kebanyakan terdapat di rumah sakit yaitu fokusnya pada pasien. Orang selalu mengatakan bahwa HIV itu adalah penyakit. Image yang dibangun oleh media massa kebanyakan salah bahwa orang yang sakit seperti ini sekarang sudah dikatakan tidak bermoral, dikaitkan dengan kotor dan sebagainya. Stigma ini menimbulkan diskriminasi, penderita diusir dari tempat tinggalnya atau keluarganya. Di Jawa Timur ada yang sampai jualannya tidak laku. Itu penolakan/ isolasi dari komunitas. Jika dia bekerja dipecat dari pekerjaan, kalau sekolah tidak boleh sekolah dan ditolak oleh pelayanan kesehatan yang banyak. Kalau di Jawa Timur setelah dites HIV, semuanya langsung dikirim ke RS Dokter Sutomo. Ini sebenarnya lingkaran setan. Kalau seseorang sudah tahu dia positif, dia harus memberitahu ke dokter supaya tidak perlu putar-putar mencari persoalan. Tapi kalau dia mengaku, susternya atau dokternya kaget maka terjadi perlakuan-perlakuan yang menyakitkan hati. Inilah masalahnya. Apa sebenarnya perbedaan HIV dengan Hepatitis? Ini sama-sama karena virus, satu dengan stigma dan satunya tidak, satunya dengan label negatif dan satunya tidak ada label. Yang membedakan itu adalah imajinasi kita. Sebenarnya keduanya sama. Justru Hepatitis jauh lebih cepat menular berapa kali lipat namun ini tidak ada stigmanya sehingga kita biasa saja. Kita sebenarnya terpapar oleh banyak soal. Studi tentang virus ini menjadi mendalam. Kalau tidak salah seperti SARS itu bisa cepat dilacak karena sebelumnya ada studi tentang HIV. Itulah jasanya. Sebetulnya kalau kita cepat, seperti dalam buku yang saya baca berisi wawancara dengan penemu virus dari Amerika, sebenarnya HIV lebih bisa dikendalikan di dunia ini. Namun karena

62 semakin lama semakin bermutasi sehingga virus banyak ragamnya, maka pengendaliannya akan semakin sulit. Seperti ditemukan tahun 1959 kemudian bermutasi ada HIV 1 dan HIV 2, dan ini sangat rumit. Sebetulnya kita harus cepat bisa mengendalikan virus ini. Fokus kita adalah bagaimana caranya kita bisa menundukkan atau mengalahkan virus ini, bukan ke orangnya, bukan kemana-mana. Bagaimana kita bersama-sama berperang melawan virus ini, termasuk orang yang sudah positif. Kalau teman-teman sekalian mendengar testimoni ODHA, selalu ada cerita bagaimana dia deal dengan virus yang ada didalam tubuhnya, spirit dalam mengembangkan kekuatan spiritualnya atau mentalnya untuk menghadapi virus ini. Baik yang sakit atau yang tidak sebetulnya kita ini berperang melawan virus ini sehingga kita juga harus mengupayakan bagaimana virus ini bisa dikendalikan atau dikalahkan. Itu adalah usaha dan bukannya menyerang. Kalau kita menyerang orangnya, kita menjadi tidak peduli dengan virusnya. Tapi kalau kita mencoba mengendalikan virus ini, apa yang berkembang, lalu kita akan berbicara tentang hidup sehat. Berhadapan dengan virus ini, kalau tubuh kita sehat maka daya tahan tubuh kita berarti meningkat dan bisa dipertahankan. Pola hidup kita sehat dan banyak cara-cara hidup sehat yang dapat kita kembangkan. Tidak hanya untuk yang sakit tapi kita belajar bagaimana kita bisa menghargai tubuh kita, menghargai wadah. Itu yang harus kita upayakan. HIV juga sangat berkaitan dengan perilaku, kalau di kedokteran disebutkan, yaitu ada perilaku beresiko tinggi, sedang, kemudian rendah. Setiap orang punya potensi terinfeksi HIV, jadi jangan berpikir, mungkin karena aku tidak berhubungan seks bebas, aku tidak bertransfusi terus aku tidak pakai jarum suntik berganti-ganti tidak akan terkena virus ini, jadi kita tidak tahu. Apalagi kalau virus ini sudah mencapai tahap yang lebih lanjut. Mungkin sekali kita tertular lewat suntik silikon atau kerok jerawat karena universal tricolsin belum diterapkan di banyak salon, karena salon tidak masuk ke dalam dinas kesehatan namun masuk ke dalam dinas pariwisata, tidak ada kontrol, tidak ada pendidikan tentang universal tricolsin. Kalau sekarang kita tinjau dari public health sebetulnya bisa langsung tembak. Marketing itu memutus penularan secara efisien. Kalau saya positif lalu berhubungan seks dengan yang negatif tapi yang negatif supaya tidak tertular, dilindungi kondom. Ini persentase tinggi memutus rantai penularan. Kondom memutus rantai penularan secara efisien, lalu juga jarum suntik steril. Jadi kondom, jarum suntik termasuk universal partner notification. Kalau seseorang positif, pasangannya dicari supaya penyebarannya dipotong. Kondom dan jarum suntik ini yang populer dan selalu dipasarkan. Jika dikaitkan dengan perempuan secara sosial budaya itu berelasi timpang karena perempuan harus tunduk pada suami, suami sebagai pencari nafkah utama dan sebagainya, lalu programnya adalah pemberdayaan. Berdaya menghadapi suami yang suka “jajan”, bagaimana supaya suami pakai kondom atau minta cerai. Jadi program pemberdayaan ini abstrak kalau ditinjau dari public health karena tidak memotong penularan secara efisien. Pemberdayaan itu bersifat

63 politis. Pemberdayaan bisa aspeknya ekonomi yaitu punya pekerjaan, pemberdayaan bisa aspek sosial yaitu dia ikut mengambil keputusan, pemberdayaan bisa berdimensi politis. Pemberdayaan ini menjadi tidak populer karena sebetulnya di masa yang akan datang dan sekarang sudah banyak perempuan yang terinfeksi dari pasangannya, terutama perempuan muda. Sebetulnya perempuan muda bisa melindungi diri dari HIV. Terus jalan keluarnya apa kalau program pemberdayaan ini adalah sebuah program yang tidak tajam dan kelihatan hasilnya? Bagi saya yaitu yang pertama perempuan muda atau perempuan jangan diisolir atau terasing dari diskusi tentang infeksi saluran reproduksi, infeksi menular seksual dan HIV/ AIDS. Selama ini mereka terisolir karena itu penyakitnya orang nakal, penyakitnya pelacur karena itu tidak perlu mereka tahu karena kelakuannya baik. Perempuan harus dapat akses, harus mengerti karena dia produktif apalagi kalau dia seksual aktif. Itu hak untuk mendapat informasi lengkap, benar dan jelas. Bagi perempuan itu penting karena informasi yang lengkap, benar dan jelas itu sebetulnya memberdayakan, mencerahkan, membuat orang bisa membebaskan orang. Jadi saya kira begitu. Kalau kita sekarang tarik problem sosialnya yang konkrit, saya kira di Bali masih ada orang (ODHA) yang ditolak oleh lingkungannya, dipecat dari pekerjaan, lalu ditolak oleh layanan kesehatan, namun pendidikan saya belum dengar. Itu problem sosial yang ada. Lalu kalau yang potensial problem sosialnya adalah aspek jender. Kemudian yang dikaitkan dengan agamawan sebetulnya banyak ODHA ini meninggal dengan, kalau istilah agamanya, bermartabat. Tapi kalau pakai istilah valiatif, itu meninggal dengan tenang atau bisa tertawa. Dari teman-teman saya yang melakukan pendampingan pada orang yang mau meninggal, banyak meninggalnya itu dalam keadaan kesakitan. Ada teman saya yang sampai saat ini masih trauma dengan situasi itu. Valiatif adalah kanker yang stadium lanjut. Program itu sampai sekarang tidak mau masuk pendampingan ke ODHA. Ini sebetulnya tugas kita supaya kalau orang mati bisa dengan tersenyum, dengan bermartabat sebagai manusia. Kalau itu masalah maka harus kita hadapi, misalnya apakah kita tertular waktu memandikan, bagaimana pencegahannya, itu sudah ada prosedurnya. Kalau dengan universal tricolsin orang tidak akan tertular. Tapi kalau kita membiarkan orang meninggal karena kesakitan, itu merupakan kesalahan yang besar. Sebetulnya ini satu segi yang penting dan perlu dikembangkan oleh orang beragama. Banyak orang memilih meninggal dengan cantik sekali. Misalnya dalam suatu buku, ada satu orang Amerika yang kena kemunduran tulang. Itu adalah buku tentang cara mati yang luar biasa. Pada waktu kesehatannya mundur sekali, dia minta prosesi kematiannya diperagakan pada waktu dia hidup. Itu luar biasa. Orang bisa membayangkan sampai dia meninggal. Kalau kita bisa punya cara-cara mati yang bermartabat dan cantik ini, kita akan melihat hidup ini indah. Ini yang saya kira perlu diisi.

64 Kita harus memikirkan bagaimana mati dengan cantik, bermartabat, anggun dan elegant. Orang-orang yang mati dengan AIDS, banyak yang mati dengan menakutkan, tidak ada orang yang mau datang dan sangat tergantung pada perjuangan individu ini. Seperti Dayan dan Putu, dia diterima dan melawan sendirian. Kita seharusnya mendukung orang yang lemah. Orang yang terinfeksi fisiknya jauh lebih lemah. Jangan kita membiarkan mereka melawan sendirian. Kemenangan-kemenangan seperti Dayan dan Putu itu adalah kemenangan individu dan bukan kemenangan kita sebagai kelompok manusia. Seperti Susana Murni, tokoh HIV yang meninggal dan sewaktu meninggal banyak yang datang bahkan tidak ada yang jijik, dicium, mayatnya diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Namun tidak terjadi pada semuanya, satu banding berapa, yang lain itu dikubur dengan diam-diam pada waktu malam. Tadi Putu tidak cerita waktu suaminya meninggal dikuburkan jam 10 malam hanya dihadiri oleh beberapa orang karena takut, tidak ada yang mau memandikan mayatnya. Ada juga yang dikubur dengan plastik. Itu semakin membuat kita dikalahkan oleh virus ini. Ini berarti kita membiarkan saudara kita mati dengan cara itu dan membiarkan teror berkembang di lingkungan kita. Bagaimana kita mengubah image ini. Karena sebetulnya kematian itu juga dimensinya banyak yaitu ada kematian fisik, ada kematian sosial. Banyak dari kita menjadi pembunuh secara sosial. Pada waktu kita menyatakan dia perlu diisolasi, pada waktu kita biarkan dia mati dengan seperti itu, kita berposisi sebagai pembunuh secara sosial. Kita harus berperang melawan virus. Bagaimana gema yang muncul itu adalah gema harapan. Kita ikut menjadi pembunuh karena ada kondisi. Kalau orang stres daya tahan tubuhnya menurun, padahal HIV yang diserang adalah daya tahan tubuh. Jadi mengapa ada orang yang umurnya bisa lebih panjang, bisa lebih pendek. Itu tergantung daripada dukungan keluarga, dukungan kelompoknya termasuk juga bagaimana dia bisa menerima penyakit itu atau tidak. Penerimaan terhadap virus ini penting bagi yang bersangkutan. Kalau sekarang diberitakan di koran dan keluarganya tidak tahu, tahunya dari koran. Pada waktu libur ini diberitakan di Jawa Pos, ada perempuan dari Madura melihat di Jawa Pos ada nama suaminya dan asalnya disebutkan sebagai positif HIV. Pada waktu saya datang ke rumah sakit Dokter Sutomo, dia bergulung-gulung menangis karena disebut daerah asalnya di koran itu sehingga ia malu dan berlanjut lagi dia sampai hari ini tidak berani pulang ke kampungnya di Madura. Anak sulungnya mau membunuh wartawannya, terus pasien ini juga mau bunuh diri. Problemnya adalah orang ini baru dites 1 kali. Seseorang dinyatakan positif itu kalau tesnya 3 kali. Ini standar absolut, harus lewat 3 kali tes. Hasil tes 1 ini memang positif lemah karena pakai rapid test, tapi banyak yang positif lemah kemudian menjadi negatif. Jawa Pos pernah menulis pada waktu dites sekali, ternyata hasilnya negatif tetapi diberitakan sudah positif. Tidak ada ganti rugi, sampai suaminya mau menempeleng dokternya. Satunya lagi baru diduga karena gejalanya mirip-mirip seperti tifus, mencret, panas, berat badan turun dan sebagainya. Meskipun tidak semua orang dengan gejala seperti ini, tapi sudah ditulis.

65 Kasihan sekali ibu ini, dia minta tolong kepada saya supaya namanya direhabilitasi dan sudah saya urus ke Jawa Post, namun Jawa Post minta harus ada pernyataan dari dokter bahwa kalau kena paru-paru tidak otomatis HIV. Padahal dokter dari RS Dokter Sutomo tidak mau memberikan keterangan hari itu juga. Jadinya saya bingung untuk mengembalikan spirit dari keluarga ini. Persoalannya banyak sekali. Kalau sekarang kita bisa bersatu mengatasi masalah ini, saya kira persoalan ini bisa kita ubah. Jangan biarkan ini menjadi teror. Kita sebetulnya sudah dikalahkan. Sekarang mengapa ARP murah padahal dulu mahal sekali. Desember yang lalu Indonesia bisa memproduksi, harganya menjadi murah Rp. 380.000,-. Tapi APBN mensubsidi sehingga ada yang gratis atau yang murah. Kita bisa sampai pada kondisi itu sebetulnya dimulai pada Deklarasi Doho yaitu para agamawan bersatu membuat deklarasi menyatakan bahwa dunia usaha tidak boleh mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain. Jadi access opened harus untuk semuanya. Tekanan agamawan ini berhasil sehingga ada dispensasi tentang hak paten. Kemudian generik di India bisa diproduksi, kemudian Thailand, Indonesia. Ini jasanya agamawan yang bersuara menyuarakan suara kemanusiaan. Kalau tidak kita akan dikalahkan virus ini. Suaranya pesimistis sekali kalau baca koran, jadi jangan percaya koran 100 %. Kalau dari studi yang saya lakukan adalah misalnya mengambil narasumber dari tetangganya. Kalau mau berbicara mengenai penyakit, apalagi sekarang ini perkembangannya begitu kompleks, tidak semua dokter tahu HIV. Saya aktif mendampingi kasus HIV tahun 1990. Saya jauh lebih pintar dari dokter misalnya yang baru lulus. Orang alergi dengan masalah ini. Celakanya karena koran tidak mempunyai policy tentang pemberitaan HIV akibatnya prosedurprosedur biasa dalam penulisan itu dipakai. Misalnya narasumber itu suaminya, jadi ada perempuan yang positif kemudian suami ini menjadi narasumber. Ia membuat pernyataan bahwa istrinya terinfeksi HIV karena tertular dari tetangga. Di seluruh literatur tidak ada yang tertular dari tetangga karena hubungan sosial. Itu berarti orang membangun teror karena mengambil narasumber yang tidak tahu apa-apa. Tidak ada orang yang mau disalahkan dan selalu menyalahkan orang lain. Ada lagi dari anggota Friend Plus, kelompok dukungan dari Surabaya, saya tahu persis dari mana dia tertular. Waktu keluarganya diwawancarai mengatakan:”adik saya tertular karena dia bergabung LSM peduli AIDS dan tertular setelah bergabung”. Jadi jangan percaya pada koran. Itu justru yang harus diluruskan. Ungkapan ‘tertular dari tetangga’ itu berapa kali ditulis. Itu sering mengambil narasumber-narasumber yang memberi ilmu sesat atau informasi sesat. Dengan begitu kita tidak membangun persepsi yang keliru sehingga kita melakukan dosa yang mungkin tidak kita sadari. Kita menjadi ikut ambil bagian terhadap kekalahan kita sebagai manusia. Saya kira itu suatu dimensi. Masalahnya sekarang kalau ngomong kondom dan jarum suntik. Ini masalah teknis. Yang kita butuhkan adalah supaya virus ini bisa segera dikendalikan. Itu bukannya menyetujui hubungan

66 seks bebas, narkotika. Ini situasi darurat, virus ini perlu segera dikalahkan sehingga ada policypolicy teknis. Tapi kalau semua orang bisa memenuhi peraturan agama, mengikuti hidup berdasarkan agama itu bagus sekali. Itu yang kita dukung. Masalahnya sekarang ada problem riil di masyarakat dimana ada keinginan agar virus ini bisa dikendalikan, diputus supaya tidak menimbulkan kepanikan sosial atau krisis sosial yang terjadi. Kalau dikaitkan dengan agama, yang perlu disuarakan adalah harapan. Lalu penghargaan kita kepada kehidupan termasuk orang yang lemah dan sakit, hidup yang dia miliki, bagaimana supaya dia kembali bangkit kemudian bisa mempersiapkan dirinya hidup sehat dan sebagainya. Jadi suara harapan dan suara penghargaan kita kepada kehidupan ini yang perlu kita wujudkan. Kalau yang teknis-teknis, kita biarkan saja. Ini memang tugas public health, tugasnya orang yang bekerja di bidang kesehatan. Tapi kalau orang agama tidak mau ngomong, tidak ada yang mengharuskan. Selama ini kelihatannya orang agama ini dipaksa suruh ngomong yang teknis ini. Padahal justru levelnya sudah lebih tinggi dan pada level value. Kalau kita ngomong value, dibalik ini ada value yang mulia yaitu bagaimana setiap orang bertanggung jawab atas perilakunya sendiri. Tapi kita tidak demikian, kita suka menyalahkan orang lain. Kita tidak diajar untuk mengambil seluruh tanggung jawab terhadap tubuh kita, perbuatan kita sendiri. Juga tentang value menghormati hak orang lain dengan tidak memberi penyakit. Itu tidak dikembangkan dan kita berbicara tentang itu. Kita menghormati orang lain dengan tidak menulari, menjaga diri sendiri, kemudian tidak menulari orang lain. Ini adalah value-nya, bukan value yang dipertentangkan, bukan value yang mengajari ganti-ganti pasangan. Kita mengambil keputusan tidak ada yang mendukung value negatif seperti itu. Tetapi itu dipahami keliru. Saya berharap diskusi yang akan datang kita bisa mengambil bagaimana kita bisa bersuara bersama menyuarakan harapan dan bisa mengalahkan virus ini. Gema optimistik yang kita kumandangkan sambil kita berdoa kita ikut berperang melawan virus ini, bukan berperang melawan orang atau sesama kita.

Bapak Nyoman Sadra : Kita sudah banyak sekali berbicara tentang virus yang sementara ini oleh masyarakat pada umumnya dianggap seperti gambaran kampanye dulu itu, yaitu digambarkan bagaikan leak Bali (hantu Bali), matanya besar menyala, taringnya panjang, lidahnya api sehingga menakutkan kita semua dan sempat disinggung didampingi tengkorak-tengkorak. Kalau kita bicara masalah penyakit ini, saya sendiri bahkan ketika saya melihat langsung di Thailand begitu mengerikan.Tapi jangan dilihat dari sudut pandang negatifnya. Dengan melihat kenyataan seperti itu, bagaimana reaksi kita semestinya, bagaimana kita menghindarkan diri jangan sampai tertular, bagaimana kita harus bersikap kepada saudara kita yang tertular HIV agar layak seperti manusia biasa.

67 Kita melihat di Bali dan secara umum manusia dimana saja, terhadap sesuatu yang kita belum tahu, naluri kita pingin tahu untuk mencobanya lebih lanjut, seperti Dayan. Namun kalau sudah kecanduan sangat berbahaya. Jadi perilaku kita secara umum ingin coba-coba. Kemudian di Bali saya lihat banyak sekali masyarakat suka meniru apalagi meniru hal-hal yang dianggap sukses. Kemudian ada kebiasaan kita atau tradisi seperti tadi Mbak Esthi banyak mengatakan pengucilanpengucilan di masyarakat Bali. Banyak sekali kita melihat di dalam awig-awig, paling tidak di kampung saya, kalau ada penyakit yang dianggap awig (sakit gede) itu adalah penyakit kelamin atau sipilis jaman dulu. Orangnya dikucilkan, dikeluarkan dari kampung, dibuatkan perumahan dekat kuburan dan orang dilarang berkomunikasi dengan orang itu. Lepra juga tergolong sakit gede dan diperlakukan seperti itu. AIDS sampai saat ini belum ada yang menyebut dan syukur begitu. Ini yang saya lihat perilaku kita di Bali. Dalam kaitannya dengan pariwisata khususnya di daerah ini kita hanya melihat ruangnya saja, kalau kita jujur. Teman saya, medical antropologist dari Swiss yang dibantu oleh temannya, seorang dokter umum tapi ahli operasi tangan, melakukan penelitian terhadap penyakit tropis disini, menanyakan aktivitas ini. Saya bilang akan ada dialog tentang penyakit AIDS. Dia bilang inilah Bali. Ketika ditanya bagaimana mengembangkan pariwisata Bali, dia sangat setuju sekali karena dia melihat ‘dolar’-nya. Tapi apakah kamu tahu pariwisata itu temannya pelacuran dan narkoba? Satu hal yang tidak mungkin dipisahkan. Mungkin seperti di Thailand, begitu terbuka segala macamnya sehingga mungkin kontrolnya lebih mudah untuk mengendalikan penyakit seperti itu. Tapi justru yang paling susah itu sembunyi-sembunyi. Saya melihat di Candi Dasa ini, saya tidak tahu di daerah lain seperti apa jelasnya tapi kalau menduga-duga mungkin tidak jauh berbeda dengan disini. Saya takut bahkan sudah ada kasus pedofilia itu. Belakangan anak-anak muda disini, mulai beranggapan kalau berperilaku seperti turis asing adalah perilaku yang sekarang trendy. Kalau tidak berperilaku seperti itu berarti anda bukan siapa-siapa dan orang kampungan. Lalu mulailah semir rambut, jemur di matahari sampai hitam dan pemudanya pada kesempatan tertentu mencari ikan di tambak ikan kemudian pesta dengan tamu. Saya lihat sampai pagi dengan memutar musik. Kalau kita berharap seperti tadi, ada tokoh agama, tokoh adat yang berperan. Yang jelas mereka belum mengenal bahaya daripada perilaku seperti itu karena sampai saat ini penyuluhanpenyuluhan sangat minim, baik yang dilakukan oleh LSM ataupun dari pihak pemerintah. Paling selama pengalaman saya hanya penyuluhan tentang narkoba. Di kampung saya pernah sekali oleh Dr. Wimpi Pakahila tapi hanya singkat sekali, selama 2 jam dengan masyarakat, sudah itu selesai. Jadi semestinya kalau kita ingin mengembangkan pariwisata disini kita harus berpikir jauh-jauh hari sebelumnya karena ada pengalaman Kuta, Ubud yang sudah berkembang sedemikian rupa. Kenapa

68 kita tidak mencoba melihat? Kenapa turis datang ke Karangasem? Apa yang dicari di Karangasem? Dari survei turis-turis yang datang ke Karangasem, kita tahu yang datang kesini biasanya mereka melakukan penelitian karena Karangasem konsekuen dengan desa-desa tua. Kenapa tidak dari sana kita berangkat mengembangkan pariwisata. Dulu pemerintah mengatakan pariwisata Bali pariwisata budaya, tetapi tanda-tanda pariwisata budaya itu berkaki berapa, bertelinga berapa, matanya seperti apa, tidak pernah ada penjelasan yang jelas dan menjadi jargon yang sangat kabur. Tapi yang jelas sampai saat ini memang sudah ada kasus narkoba yang sampai masuk ke pengadilan, di tangan penegak hukum. Kalau sudah sampai ada penegak hukum maka sangat patut kita curigai bahwa kasus yang tidak terlihat banyak, seperti kasus HIV/ AIDS positif ini. Ini yang belum saya dengar, rencana yang pasti dari Pemda khususnya Dinas Pariwisata di dalam mengelola kepariwisataan. Itu yang saya lihat dalam gejolak masyarakat Bali. Kemudian saya ingin bercerita sedikit. Perilaku orang sakit di Bali - karena saya punya pengalaman di klinik, saya sudah praktek tusuk jarum 2 tahun lebih - jadi masyarakat yang sakit berkeinginan kalau sakit datang ke dokter, dikasih obat sakitnya sembuh. Pulang ‘minum-minum’ lagi, begadang, di tempat ‘kotor’ tetapi tidak ingin sakit lagi. Demikian juga ketika bicara kepada saya ketika dia sakit. Pertama katanya sekali saya tusuk sudah hilang, dia tidak datang-datang lagi padahal saran saya mungkin ada asam urat yang mengakibatkan pembengkakan sehingga harus mengurangi makan makanan yang dilarang. Dia sulit melawan kehendaknya seperti itu. Bagaimana kita bisa menghindarkan diri tanpa mengubah perilaku kita sehari-hari. Jadi menurut saya sebagai pengobat tradisional, kita percaya bahwa minimal 50 % dari penyakit itu disebabkan oleh kita sendiri, dan yang paling banyak berperan adalah mental. Kalau kita sudah kena penyakit, yang paling banyak berperan di pikiran kita. Kalau di pikiran kita hanya berpikir sakit terus maka akan tambah parah sehingga sering saya kutipkan kepada masyarakat yang datang berobat. Saya kutipkan apa yang dikatakan Mahatma Gandhi yaitu setiap penyakit yang ada di bawah matahari ini ada obatnya. Oleh karena itu cari obatnya. Kalau ketemu anda harus bersyukur, kalau tidak jangan kecewa. Inti dari itu adalah upaya. Kemudian ada lagi perilaku masyarakat Bali yang sulit kita lawan, bukan hanya masyarakat yang tidak berpendidikan tapi yang berpendidikan tinggi juga, yaitu ketika kita sakit, menuding orang lain. Bagaimana orang membuat sakit hanya dengan mantra. Ada orang yang ditusuk-tusuk dari jauh, dia mengalami kesakitan. Kita sebagai orang beragama percaya Tuhan Maha Kuasa dan Maha Besar tapi pada kenyataannya anda tidak percaya pada Tuhan namun percaya pada berita angin yang tidak tentu. Coba kalau tetangga anda tidak melakukan itu maka anda tidak akan kena. Mungkin dari kecil budaya Bali dicekoki seperti itu. Oleh karena itu barangkali didalam melawan dimulai dari perilaku kita. Kita coba sedikit mendalami. Saya selalu bilang bahwa hal-hal yang menjanjikan kenikmatan secara badaniah akan selalu membawa akibat yang sangat negatif. Barangkali peran agama sekarang yang pertama adalah ceramah dari tokoh Hindu baru Pedanda

69 Gunung, namun itu masih sangat kurang. Tapi dalam upacara saya lebih sering mendengar khotbahnya saudara muslim. Saya sering bertanya dalam hati, teman-teman saya di Hindu yang sudah mempelajari Weda kapan dia berbuat seperti itu. Ini cerita singkat dari saya tentang bagaimana perilaku kita di Bali, mudah-mudahan ada teman yang menambahkan atau ada cerita yang salah sehingga nanti dikoreksi. Jangan kita dikalahkan oleh virus, virus yang menteror kita, padahal virus tidak bisa berpikir dan tidak bisa ngomong. Kita berbuat tetapi mengapa kita mesti dikalahkan oleh binatang kecil yang melihatnya saja melalui mikroskop.

Luh De Suryani : Dari pengamatan terbatas saya terutama di masyarakat Hindu Bali. Masalah ODHA, apakah orang ini masih hidup ataupun sudah mati, tidak pernah saya temukan dibicarakan dalam ruang publik, misalnya di parum atau rapat dalam desa adat. Ini dianggap masalah yang sangat private dan harus ditanggung sendiri akibat salah pati yaitu penyakit asusila dan sejenisnya atau kotor. Dalam beberapa kasus di desa-desa adat sangat berbeda kebiasaannya atau tanggapannya mengenai beberapa hal. Kemarin misalnya, masalah kembar siam, ada beberapa desa yang menghapus pengucilan dan ada juga yang tidak. Masalah AIDS belum pernah saya temui warga banjar membahasnya, apakah pernah ada orang meninggal karena AIDS di Bali kemudian diijinkan untuk dikubur di desa adatnya atau memang disembunyikan oleh aparat desa, kita tidak tahu apakah orang yang meninggal karena HIV/ AIDS ini termasuk orang yang meninggal salah pati dalam agama Hindu. Kemudian pranata adat ini mulai diseragamkan oleh desa pekraman, akan ada MDP yang sepertinya tidak akan bisa diinterfensi keputusan-keputusan adatnya yang sangat mengatur masyarakat adat. Mungkin dari sana kita membahasnya dalam forum ini supaya masing-masing pemuka adat terutama Hindu terbuka mengenai penyakit ini. MDP mempunyai kekuasaan yang luar biasa untuk mengatur desa-desa adat masyarakat Bali umumnya. Jadi permasalahannya penyakit ini belum diakui atau masih private.

Ibu Habibah Achmad : Saya tertarik mengenai pemberdayaan terhadap perempuan terhadap masalah AIDS. Saya menyorotinya terhadap ibu rumah tangga. Yang pertama adalah kita beri semacam pengertian mengenai AIDS sehingga bisa mensosialisasikannya kepada masyarakat, umumnya perempuan. Tapi kenyataannya kita lihat baik di Islam maupun di Hindu, perempuan adalah 'yang tertindas'. Karena kita sudah tahu bagaimana mencegahnya namun kalau misalnya suami istri, suaminya tidak mau pakai kondom dan kita diceraikan yang rugi kita (perempuan) juga. Sehingga saya memandang

70 kita sebagai LSM atau kita yang punya kepentingan terhadap pemerintah agar memberikan semacam perlindungan terhadap wanita sehingga tahu bagaimana seharusnya berbuat.

Bejo Utomo : Yang ingin saya sampaikan adalah stigma negatif dari masyarakat terhadap penderita AIDS. Sangat wajar ketika stigma masyarakat tentang AIDS mengerikan. Itu karena masyarakat kita adalah masyarakat menengah ke bawah yang pendidikannya rendah, informasinya kurang sehingga mereka mengatakan bahwa informasi yang diperoleh hanya setengah-setengah. Kebanyakan ceramah-ceramah ditujukan pada masyarakat menengah ke atas. Saya kira ini persoalan yang cukup menarik ketika masyarakat bawah mengetahui informasi itu hanya setengah-setengah sehingga terjadi sebuah image bahwa AIDS sangat mengerikan, sehingga penderitanya harus diisolasi dari masyarakat. Ini hal yang pertama. Kemudian yang kedua tentang free sex dan saya kira free sex maupun akhirnya AIDS adalah lemahnya kontrol sosial, artinya masyarakat dengan adanya sifat individualis akibat modernisasi menjadi cenderung cuek/ tidak peduli. Jadi yang terjadi didalam masyarakat dibiarkan saja. Saya sepakat tentang bagaimana memfungsikan lembaga adat karena di Bali mau tidak mau lembaga adat seperti ini sangat berperan. Ketika lembaga adat kurang informasi tentang AIDS maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Ini saya kira salah satu solusi bagaimana memberdayakan atau mensosialisasikan AIDS ke lembaga adat atau pemimpin agama, bagaimana mereka berperan dalam upaya penanggulangan ini.

Ibu Esthi Susanti : Sebetulnya kelompok agama ini perlu mengambil kepemimpinan, tapi selama ini tidak dilibatkan. Jadi kalau berterus terang, orang yang bergerak di public health ini takut dengan kelompok agama. Selama ini kita membangun paradigma yang keliru dan mengatakan bahwa sebaiknya jangan ngomong sama orang yang memakai wacana-wacana agama karena kalau ngomong zina logikanya lain. Ini sebenarnya cara pendekatan yang salah. Agamawan punya peranan yang sangat besar dan perlu diberi informasi yang benar, sehingga mereka bisa ikut berperan. Tidak perlu peranan yang mengambil pekerjaan teknis, tapi peranan sebagai agamawan ditegakkan kembali. Seharusnya itu ada yang memulai, seperti kita. Sebenarnya orang yang diberi informasi, misalnya pihak yang bergelut dalam agama, akan salah tafsir sehingga kita harus bisa menyampaikannya dengan baik. Kita harus memulainya seperti yang dikatakan tadi. Jadi sumber persepsi yang keliru ada pada media massa. Mungkin sasaran kita yaitu dengan membetulkan atau bekerjasama dengan media massa karena media massa tidak perlu dimusuhi. Kalau dulu biasanya kekerasan dilawan dengan kekerasan akhirnya kita malah menuai kekerasan. Kesalahan kolektif yang sudah saya lakukan, yang pertama adalah anti dengan

71 agamawan karena saya pikir agamawan tidak mengerti dengan yang ada di lapangan. Kesalahan kolektif yang kedua itu adalah pada pers. Saya dulu seorang jurnalis. Kita tempatkan wartawan sebagai peliput berita tapi kita tarik juga bersama-sama, kita beri akses informasi yang sama. Kita sepakat kalau kita punya goal yang sama menyuarakan optimisme. Ada goal yang sama yang perlu kita capai agar virus bisa dikalahkan. Indonesia memperoleh kemerdekaan karena ada goal yang sama juga. Tapi saya tidak tahu bagaimana menyuarakan kelompok agama di Bali karena ini tidak saya kuasai. Tapi betul yang dikatakan Luhde, bahwa AIDS dipersepsikan oleh kelompok agama sebagai penyakit yang memalukan dan berhubungan dengan moral. Tapi saya yakin trend ini akan berubah drastis karena yang terinfeksi oleh narkoba banyak dan menyerang kelompok terhormat. Di Surabaya ada anak dokter yang terinfeksi. Di Jakarta perawat dan anak jaksa. Bukan hanya karena seks tapi karena narkoba juga. Saya yakin dalam waktu dekat ini sudah bukan masalah private, tetapi sudah menjadi masalah publik. Di Jawa Timur kita sudah bisa meyakinkan masyarakat termasuk pemimpin-pemimpinnya dan itu menjadi masalah publik sehingga Perda-nya ditandatangani serta didukung MUI. Itu yang melakukan adalah kita. Kita aktivis yang bekerja di belakang layar tapi bisa meng-goal-kan ini menjadi isu publik sehingga kelompok agamawan pun sepakat bahwa ini isu publik yang harus kita perangi. Kalau di Bali saya tidak tahu bagaimana gerakan ini bisa dimulai agar virus ini bisa dikendalikan. Tentang pemberdayaan perempuan, sebetulnya perempuan itu apakah salah dididik atau bagaimana? Seperti Putu ditulari dari suaminya dan dia ketakutan pada waktu dia dinyatakan terinfeksi HIV. Dia bilang agar jangan memberitahu mertuanya agar dia tidak diasingkan. Seperti istri yang saya dampingi yang jadi korban media itu, dia sibuk menyelamatkan anaknya, reputasi keluarganya dan lupa dengan dirinya, kemungkinan dirinya juga sudah terinfeksi. Memang perempuan sudah dikonstruksi seperti itu. Seperti perempuan sekarang sudah menjadi korban ingin lagi mengorbankan diri. Bagaimana supaya pemerintah melakukan perlindungan? Persoalannya bukan diluar masyarakat terhadap perempuan. Hantunya itu adalah berada dalam diri kita sendiri. Kita sebagai perempuan dilatih untuk memelihara, melakukan perdamaian hubungan sosial, dilatih untuk mengalah namun sekarang bagaimana kita bisa mengubah agar sekarang tidak seperti itu lagi. Sekarang minimal ke anak perempuan, bagaimana anak perempuan dilindungi, konstruksi sosial atau pendidikan yang kita berikan ke anak perempuan relevan dengan jaman ini. Saya hormati betul orang yang mau menjadi ibu dan luar biasa. Kita perlu menyelaraskan agar sesuai dengan kedudukan anak perempuan sekarang sehingga mengurangi hantu yang ada dalam diri kita sendiri. Dalam hal memberikan masukan juga perlu diperhatikan dan perlu ada suntikan baru sehingga perempuan menjadi lebih berdaya, mampu menjawab jaman ini. Kemudian tentang pendidikan rendah, stigma negatif pada masyarakat. Memang kalau kita mau strategis yang digarap adalah sumber pencetak pengetahuan ini yaitu koran. Problemnya itu ada pada persepsi yang keliru

72 dan merupakan akar dari persoalan. Kalau kita bisa mengatasi persoalan itu dengan benar, teror itu tidak akan terjadi. Bidan kelahiran termasuk perilaku beresiko tinggi, berdarah-darah dan sering tidak memakai hanskum, kacamata. Saya ke kelompok IBI (Ikatan Bidan Indonesia) Jawa Timur. Pada waktu mereka rapat semua menolak kata HIV dan mereka bilang tidak ada urusannya dengan saya. Apakah itu tidak seram. Orang yang perilakunya beresiko tinggi tapi tidak mau menghadapi. Kalau saya mengidentifikasi diri, saya termasuk perilaku beresiko tinggi karena itu kalau saya sekarang ingin melakukan persalinan, saya memakai universal tricolsin supaya tidak tertular atau menulari. Kita pengecut. Saya betul-betul shock waktu melihat sikap bidan seperti itu. Memang untuk menjadi penceramah, penulis berita, penyiar berita, kita punya informasi sudah dijamin oleh UU untuk mendapat informasi yang benar. Jadi kalau memberikan informasi harus benar, lengkap dan jelas. Sering penceramah melanggengkan kesalahan karena pengetahuannya terbatas. Lalu dia sendiri melanggengkan stigma. Pada waktu dia menjadi penceramah lupa bahwa dia bekerja pada areal publik yang duplikasinya tidak hanya berefek pada satu orang. Dia lupa bahwa ada sikap profesional sebagai penceramah dan sikap pribadi yang harus dibedakan. Seperti yang dikatakan Gandhi jangan ada panggung depan, panggung belakang sama. Itu lebih powerfull. Pada waktu memberikan informasi ke orang lain, dia harus sadar bahwa informasi ini tidak ditujukan untuk satu orang sehingga dia harus membangun suatu sikap yang menyelamatkan, mengamankan ke kelompok banyak, kalau tidak dia melanggengkan stigma yang ada. Kemudian mengenai free sex. Jaman sudah berubah dan modernisasi sudah dimulai 5 abad yang lalu. Saya sangat setuju bahwa efek negatif dari modernisasi adalah hancurnya komunitas sehingga seseorang menjadi lebih individualistik. Menurut saya perlu ada revitalisasi dan jangan berpatokan pada masa lalu, jamannya berubah. Kalau modernisasi ini sebagai pilihan pembangunan yang penting bagaimana komunitas tetap bisa menjalankan fungsinya dan menyesuaikan diri dengan modernisasi yang berjalan sehingga lembaga adat tidak bisa mengambil seluruh wilayah ruang yang ada. Kalau seluruh kekuasaan diserahkan kepada lembaga adat dan kita pada satu pihak ingin modernisasi maka akan menjadi kacau. Ada satu peperangan luar biasa yang tidak produktif. Bahasa lembaga adat dan bahasa modernisasi harus dipahami dan dikawinkan menjadi sesuatu yang produktif. Tidak bisa lembaga adat diseragamkan dan semuanya diberikan karena perilaku juga sudah komersial. Kecuali kalau dia tidak komersial, kecuali kalau dia melakoni dan tidak ikut arus. Kita jangan memberikan kekuasaan pada orang yang tidak bisa melakoni. Menghadapi free sex memang merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa dihapuskan dan malah sudah semakin menjadi-jadi. Kalau dibandingkan jaman saya dengan jaman sekarang, saya sendiri agak kaget. Yang diperlukan sekarang adalah bagaimana memberikan kekuatan pada anak itu untuk menghadapi. Kita sebagai orang tua sangat menghormati dan sangat menjunjung tinggi value yang

73 bagus dan tidak justru melanggengkan free sex. Menurut saya itu kita dapat memberikan pemberdayaan melalui pendidikan seksualitas atau pendidikan keterampilan hidup. Caranya adalah informasi yang lengkap, jelas dan benar. Kalau memberikan informasi narkotik jangan sampai ngomong yang otaknya rusak, tapi nikmatnya harus juga diberitahu. Seluruh proses tentang narkotika diberikan sehingga mereka mengerti dan memikirkan akibat buruk yang disebabkan. Termasuk juga pendidikan seksualitas yaitu tidak bisa tahan dan mau apa. Ngomong kondom pun harus diajarkan dan bukan berarti mengajarkan memakai kondom. Jadi intinya adalah mengelola hasrat. Kalau kita menghilangkan hasrat, kita menjadi sombong. Yang harus kita ajari adalah bagaimana hasrat ini dikelola, kita hadapi. Sebagai orang dewasa harus dihadapi dan dipikirkan bagaimana dikendalikan dan bukan hanya dikontrol dan diberitahukan hanya yang buruk-buruk agar takut. Jadi mengenai free sex, jalan keluarnya adalah dengan memberikan pendidikan seksualitas atau keterampilan hidup. Kesimpulannya adalah antara jurnalis dan agama perlu ada saling bahu-membahu namun perlu juga ada provokator yang membuat subsistem-subsistem bisa melakukan peranannya dalam memerangi virus ini. Dan harus diupayakan agar seiring sejalan. Kalau dari segi kesehatannya, Bali ini mempunyai level nasional karena juga mempunyai jaringan dari luar negeri. Masalah mati bermartabat itu memang belum dimunculkan. Karena penemuan obat ARP mengubah peta penanggulangan. Ini langkah pertama yang dilakukan oleh Interfidei. Dalam masalah ini perlu dicari siapa provokatornya dan ini penting sekali. Kalau masalah strategi provokator perlu dicari yang benar-benar bisa membangkitkan dengan arah yang baik ke depan. Seperti yang dilaksanakan di Manado, ada yang diteror oleh masyarakat karena dia sebagai provokator terhadap instansi kesehatan yang menggunakan jarum suntik yang tidak disterilkan. Dia sebenarnya memperjuangkan aspirasi rakyat. Jangan memaksakan bahasa public health tapi jiwanya sama, kalau kita mau mendorong orang ke arah perubahan. Kalau ngomong tentang perubahan, saya jadinya optimis. Dan kalau kita ketemu dengan orang yang tepat kita jadi berbahagia karena perubahan dimungkinkan. Jadi kita cari orang yang tepat sehingga terjadi perubahan sambil diiringi dengan doa. Dua tahun yang lalu masyarakat mengajukan Perda ke pemerintah dan itu haknya eksekutif dan legislatif. Kalau kondom sama dengan melokalisasikan pelacuran, itu sudah ditangkap. Saya ngomong, jangan letakkan masalah di kepala, kita berusaha singkirkan masalah yang menimpa diri kita. Ketakutan-ketakutan kita singkirkan. Kita jangan pakai pendapat yang menghalangi langkah kita. Saya menghilangkan persepsi negatif dan ternyata bisa. Di agama ada penciptaan pertama dan tugas kita meneruskan menjadi kedua, yaitu meneruskan karya penciptaan pertama. Dalam diri saya sudah ada kemampuan untuk menciptakan. Potensi itu saya manfaatkan optimal dengan imajinasi dan membongkar cara berpikir yang lama. Kita bisa mengambil perubahan jika punya sikap manajemen.

74

Bapak Sadra : Menanggapi seperti usulan agar provokasi tentang ini dilakukan melalui lembaga adat. Kita perlu mencari yang lebih lengkap seperti yang ada dalam PERDA No.3. Tapi perlu diketahui bahwa proses terjadi PERDA No. 3 adalah proses kekecewaan dimana pada jaman ORBA kalangan intelektual budayawan Bali yang sangat vokal mengatakan bahwa lembaga adat digunakan sebagai advokasi oleh penguasa untuk melanggengkan kekuasaannya sehingga lembaga adat lumpuh. Lalu muncullah ide-ide untuk merevitalisasi lembaga adat itu. Tapi saya kurang setuju itu ditetapkan dengan tergesa-gesa karena kita tidak mensosialisasikan sebelumnya. Karena sosialisasi perlu masukan dari kalangan masyarakat, baru kemudian kita sempurnakan sehingga semua masyarakat dapat menerima dengan baik. Untuk memahami bahasa PERDA itu sangat sulit. Saya sudah sampaikan kepada DPRD, adalah tugas yang berat untuk menggamblangkan bahasanya agar masyarakat mengerti. Justru DPRD mengatakan bagaimana lembaga adat akan mensosialisasikan nanti. Akibatnya sekarang banyak masyarakat terutama di Karangasem belum mengerti isi dari PERDA tersebut. Kalau bendesa adat diberikan pengertian ini, mungkin belum mengerti karena bendesa-nya tamat SD, bagaimana kita bisa menanamkan ini. Saya juga kurang mengerti mengapa AIDS ini mempunyai gambaran yang begitu menakutkan padahal penyakit yang menakutkan seperti itu masih ada banyak seperti Hepatitis B. Hanya stigmanya tidak seperti orang kena AIDS. Stigmanya kalau orang kena hepatitis B perutnya besar itu berarti kena magic dan penangkalnya dicarikan dukun. Di Thailand, pelacur-pelacur diberikan ceramah oleh germonya bahwa mereka tidak akan kena. Kalau di Bali berupa rajah-rajah (bekal-bekal magic) sehingga pelacur-pelacur itu mau saja melakukan itu. Bali adalah juara Keluarga Berencana di Indonesia, hanya Keluarga Berencananya sistem Banjar. Setiap ada rapat Banjar, orang dari (program) Keluarga Berencana memberi pencerahan sehingga

diterima dengan baik dan jangan mengharapkan mereka yang tidak bisa berbicara. Mengenai jender saya merasa terganggu karena di daerah saya berbeda dengan di daerah lain. Saya diundang oleh teman-teman untuk bicara masalah itu. Di Bali perlakuan jelas sekali yaitu wanita mendapat tekanan yang sangat banyak dan mungkin interpretasi agamanya yang keliru padahal kalau kita melihat Tuhan dilambangkan dengan manusia yang punya muka dua. Jadi satu mukanya perempuan satu mukanya laki. Jadi maknanya kedudukan perempuan dan laki-laki adalah sama. Hak laki-laki dan perempuan di kampung saya sama sehingga tidak ada perasaan risih. Barangkali mengapa laki-laki begitu meremehkan wanita dan wanita mengalah adalah perasaan secara fisik. Tetapi ingat tadi dikatakan yang keras jangan dilawan dengan yang keras. Seperti pepatah Cina, pohon yang lemah dibelai angin, pohon yang keras ditumbangkan. Jadi kalau ada angin menyapu pohon kita, kita harus lemas.[]

75

DIALOG
PERANAN AGAMA DALAM MENGHADAPI HIV/AIDS

Salah satu acara dalam kegiatan Studi Agama dan Masyarakat di Candi Dasa, Karangasem, Bali tanggal 30 September – 3 Oktober 2004 adalah diskusi Tentang peranan Agama dalam masalah HIV/AIDS. Berikut ini merupakan hasil diskusi tersebut.

Komang Triartika : Kelompok kami mendiskusikan tentang kekuatan moral dan spiritual yang diharapkan dari agama-agama dalam menghadapi dan menangani masalah HIV/ AIDS, mengapa masyarakat yang notabene adalah umat beragama masih sulit menerima kenyataan berkaitan dengan persoalan HIV/AIDS, dan apa yang perlu dilakukan supaya agama-agama tidak menjadi sesuatu yang sematamata hanya diyakini tetapi juga di implementasikan. Kekuatan moral dan spiritual yang diharapkan dari agama-agama berkaitan dengan permasalahan HIV/ AIDS, yaitu: 1. Nilai cinta kasih terhadap sesama, 2. Solidaritas kemanusiaan, 3. Mengubah image dari masyarakat tentang HIV AIDS, 4. Mengidentifikasi diri dengan sesama dan yang menderita HIV/ AIDS, 5. Intropeksi diri sebelum menyalahkan orang lain, 6. Meditasi. Sedangkan masyarakat atau umat beragama masih sulit menerima kenyataan mengenai persoalan HIV/ AIDS disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: 1. Kurangnya informasi HIV/ AIDS baik kepada masyarakat maupun kepada pemuka agama, 2. Penafsiran agama secara tekstual dan doktrinal oleh pemuka agama; 3. Keterpisahan agama, dalam hal ini pemahaman agama, dari aspek kehidupan lain atau terpisah dari realitas kehidupan, agama lebih mengedepankan hubungan manusia dengan Tuhan; 4. Sulitnya komunikasi antara pemuka agama dengan umatnya dikarenakan adanya jarak/ gap. Hal yang dapat dilakukan agar agama-agama tidak hanya menjadi sesuatu yang diyakini tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sosial adalah: 1. Dengan menumbuhkan kepekaan agama terhadap realita sosial, 2. Perubahan paradigma berpikir tentang agama itu sendiri (agama tidak hanya berada di tempat ibadah),

76 3. Dan pembumian nilai-nilai ajaran agama. Kemudian bagaimana cara melakukannnya adalah terjun langsung ke masyarakat seperti membuat shelter untuk penampungan dan pembinaan penderita HIV/ AIDS.

Marianus Marchelus : Saya ingin menjelaskan tentang implementasi agama dengan menumbuhkan kepekaan terhadap realita sosial. Kami menemukan bagaimana tokoh-tokoh agama dan umat kurang memahami realitas sosial. Kita tidak tahu kenapa bisa seperti ini, apakah karena tokoh agama kurang menghadirkan realita ke tengah umatnya ataukah karena pribadi yang ditokohkan oleh umat bukanlah tokoh agama. Jadi kegiatan keagamaan hanya sebatas di gereja, masjid dan tempat-tempat ibadah lain. Agama tidak dijadikan suatu keyakinan bahwa keberpihakan terhadap orang tertindas juga merupakan bagian dari kewajibannya.

Diana Surjanto : Saya akan menambahkan tentang masalah kekuatan spiritual dan moral yang diharapkan dari agama. Pada intinya kekuatan spiritual dan moral seperti nilai cinta kasih, solidaritas kemanusiaan, pengidentifikasian diri, introspeksi dan meditasi adalah untuk mengubah image HIV/AIDS yang berkembang di dalam masyarakat. Agama disini lebih diharapkan untuk membangun image baru tentang HIV/AIDS dimana sebenarnya penderita HIV/AIDS bukanlah untuk dijauhi dan dicap salah tetapi bagaimana kita menimbulkan sifat empati kepada mereka. Selain mengubah image juga menghilangkan jarak antara agama dengan penderita HIV/ AIDS.

Dr. Hudoyo Hupudio : Yang dimaksud dengan pengidentifikasian diri dengan sesama kita yang menderita adalah kita melihat ‘dia’ itu sebagai ‘kita’, lebih dari sekedar empati. Kalau kita melihat orang-orang ODHA itu sebagai ‘kita’, kita tidak akan menyalahkan mereka, kita tidak akan mengutuk mereka.

I Nyoman Sadra: Disini muncul beberapa hal berkaitan dengan perubahan paradigma berpikir tentang agama itu sendiri agar agama-agama tidak hanya menjadi sesuatu yang diyakini tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sosial. Tadi saya sempat melontarkan ide, barangkali kita harus lebih memahami atau lebih mencari makna kata ‘agama’ itu, khususnya jika dikaitkan dengan permasalahan HIV/ AIDS. Misalnya saja penolakan agama terhadap realitas HIV/ AIDS. Apakah penolakan ini bagian dari ajaran kitab suci atau bagaimana? Kesimpulan saya bahwa saya

khususnya belum betul-betul memahami sebenarnya agama itu apa, untuk apa kita beragama dan

77 kalau tidak beragama bagaimana. Itu perlu dipertanyakan dan apakah ciri-ciri orang beragama itu dapat diketahui secara fisik misalnya seseorang sembahyang dengan cara sedemikian sesuai dengan apa yang diajarkan agama dan pada saat tertentu, apakah itu sudah dapat dikategorikan sebagai orang beragama? Saya tertarik ketika Bapak Hudoyo mengatakan bahwa kita harus ‘mengidentifikasi diri’ kepada orang yang sakit seperti itu. Jadi di dalam kehidupan, kita harus mampu mengidentifikasi diri kita terhadap saudara kita yang paling menderita, kemudian kita harus merenungkan tentang tindakan apa yang harus kita lakukan.

Diana Surjanto : Saya ingin. menanggapi persoalan mengenai perubahan paradigma berpikir tentang agama itu sendiri. Kalau ditanya apakah agama itu, menurut saya, agama adalah kepercayaan atau aliran. Dikarenakan konteks kita sekarang adalah di dalam forum yang membahas masalah agama, jadi masing-masing kita sudah mengerti dan hal itu tidak perlu diperdebatkan lagi. Tentang perihal doa, doa tidak hanya sembahyang secara kusuk di tempat-tempat ibadah tapi lebih kepada perbuatan dan tingkah laku yang baik. Jadi menurut saya doa hanyalah sebagai sarana pengendalian diri atau kontrol diri.

Dr. Hudoyo Hupudio : Tadi Bapak Sadra melontarkan satu pertanyaan yang sangat menggelitik yaitu agama itu apa? Apakah label-label, ide-ide, konsep-konsep, dan pemikiran-pemikiran yang bersifat memecah belah. Apakah orang yang tidak beragama lebih jelek dari pada orang yang beragama? Oleh karena itu, menurut saya, kenapa kemudian timbul masalah antara agama dan HIV/AIDS, antara orang beragama dan penderita HIV/AIDS yang menjadi bertambah buruk. Barangkali ini dikarenakan kita sudah memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan kita agama ditempatkan di dalam kotak yang berbeda dengan kotak-kotak lain seperti kotak keluarga, kotak ekonomi, kotak pekerjaan dan kotak pergaulan. Agama hanya menjadi masalah hari Minggu untuk agama Kristen dan hari Jum’at untuk orang Muslim. Oleh karena itu orang-orang yang berada di dalam agama ini, yaitu pemuka-pemuka dan sebagainya, jarang sekali memahami secara tuntas masalah-masalah kemasyarakatan sehingga munculah stigma, diskriminasi, penghakiman dan lain sebagainya. Jadi masalahnya sekarang adalah bagaimana kita menyatukan kembali kotak-kotak ini. Agama harus masuk ke dalam kotak-kotak kehidupan kita di dalam kotak keluarga, kotak masyarakat, kotak ekonomi, lingkungan kerja, tempat pergaulan termasuk di kalangan PSK dan penderita HIV/AIDS.

78

Marianus Marchelus : Saya ingin mengatakan bahwa sudah saatnya tokoh-tokoh agama di dalam membumikan agama harus turun langsung ke lapangan, ke dalam pusat-pusat kegiatan masyarakat. Intinya adalah bahwa sekarang agamawan atau siapa saja bukan saatnya lagi untuk bicara saja tapi harus terjun masuk ke persoalan-persoalan itu.

M. Yos Da Putra : Menarik sekali mengenai apa yang disampaikan oleh Pak Sadra tadi tapi memang menurut saya ini memang butuh sharing yang lebih mendalam dan lebih terbuka dan bisa menghadirkan semua elemen dari berbagai latar belakang. Kalau menurut saya mengenai perubahan paradigma berpikir sebenarnya saya lebih melihat kepada komitmen umat beragama dalam menghayati dan mengimplementasikan apa yang dipercaya dan diimani. Seperti yang telah disampaikan oleh seorang pendeta bahwa kitab suci hanya ditempatkan di ruang yang hampa. Iman menuntut kita untuk mempraktekkannya di dalam realitas sosial dalam artian bahwa kita menghadirkan realitas Allah dalam diri orang-orang yang tertindas termasuk orang-orang yang terkena HIV/ AIDS.

Bejo Utomo : Seandainya Indonesia mengakui umat yang tidak beragama maka saya akan mendaftarkan diri sebagai umat yang tidak beragama. Terkait dengan perubahan paradigma baru, saya berpikir lebih baik bagi saya untuk tidak beragama daripada beragama karena saya melihat justifikasi stratifikasi yang paling besar adalah di dalam agama itu sendiri. Permasalahan yang mendasar adalah bagaimana kita mengubah paradigma beragama tersebut. Kalau Diana Surjanto mengatakan bahwa agama harus elastis atau fleksibel, bagaimana akhirnya nanti ajaran-ajaran agama ketika agama mengikuti perkembangan dunia. Kalau tokoh-tokoh agama bisa melihat realitas yang ada, mereka tidak akan sekedar menjustifikasi bahwa free sex itu haram, kemudian mabuk dan judi itu juga haram, tetapi ada sebuah upaya dari tokoh-tokoh agama untuk melihat faktor-faktor yang melatarbelakangi perbuatan haram itu.

Pendeta Emi Sahertian : Kita sekarang mengubah persoalan praktis menjadi suatu debat teologis karena berbicara tentang agama, yang ada sekarang adalah struktur tentang agama. Tentunya untuk mengubah struktur diperlukan semacam sidang rakyat supaya agama itu mengayomi masyarakat. Yang mau saya katakan disini adalah adakah orang yang berani berhadapan dengan pimpinan agama dan

79 mengatakan bahwa umatmu sudah hidup dengan HIV Positif. Akhirnya saya menempuh hal yang paling praktis yaitu menemui pendeta yang memang jemaatnya terkena HIV positif dan saya katakan umatmu sudah terkena HIV positif dan minta untuk digembalakan. Saya ingin menyederhanakannya agar kita jangan sampai berpikir bahwa sulit sekali untuk pergi ke petinggipetinggi agama, padahal kalau kita bisa mendekatinya secara manusiawi maka tidak sesulit yang kita pikirkan.

Listia : Memang sering kali persoalan sosial atau persoalan manusia kadang-kadang mengusik wacana keagamaan itu sendiri, seperti persoalan jender, persoalan pluralisme agama-agama. Seperti pengalaman Pendeta Emi, adanya fenomena HIV/AIDS juga membuat Gereja untuk belajar dan mau mengadaptasi persoalan yang dihadapi. Saya kira serumit apapun agama tapi tetap isinya adalah manusia, yaitu sesuatu yang masih bisa kita jangkau dan masih bisa kita ajak bicara.

Dr. Hudoyo Hupudio : Saya lihat ada yang kurang yaitu ketika melihat masyarakat kita yang majemuk dan pluralistik, ada kekhawatiran kalau agama itu bergerak sendiri-sendiri. Jadi barang kali perlu dibangun suatu ide di dalam masyarakat pluralistik yaitu agama-agama perlu bekerja bersama-sama dalam menanggulangi HIV/ AIDS.

Elga J. Sarapung : Tadi Listia sempat mengatakan agama itu isinya adalah manusia dan menurut saya manusia itu bukan agama kalau tidak peduli pada manusia lain.

Listia : Saya kira pikiran yang banyak beredar disini adalah bagaimana identitas tidak menjebak kita ke dalam satu kelompok, solidaritas yang terbatas hanya untuk orang-orang tertentu.

Bejo Utomo : Permasalahan yang paling mendasar ketika kita berbicara masalah pluralisme adalah kefanatikan yang timbul bagi mereka yang tidak pernah melihat kebenaran orang lain. Saya kira yang hadir disini adalah bapak-bapak dan teman-teman yang pluralis dan lebih melihat kehidupan riil, tetapi masalah utamanya adalah mereka yang komunitasnya adalah komunitas yang menganggap dirinya paling benar.

80 I Nyoman Sadra : Masalah fanatisme memang yang menghambat perjuangan kita bersama sampai saat ini. Kalau itu yang terjadi maka saya harus mengatakan bahwa dengan kenyataan itu kita sudah menolak keberadaan Tuhan.

Marianus Marchelus : Saya mencoba untuk memberikan jalan keluar bagi permasalahan ini. Saya pikir kata kuncinya disini adalah sinergis diantara elemen agama. Saya mempunyai contoh: kami melakukan advokasi di komunitas anak jalanan. Kemudian masyarakat melihat dan menganggap bahwa itu adalah Kristenisasi. Ini berarti tidak adanya satu pemahaman yang sama dalam menghadapi persoalan-persoalan kemasyarakatan.

Hasil Diskusi Kelompok 1 :

Ida Nyoman Triatmaja : Saya ingin menyampaikan hasil diskusi kami sebagai berikut: 1. Mengenai peran agama-agama dalam penanganan persoalan HIV/ AIDS baik secara etik-teologis dan sosial, peran agama selama ini sudah ada tetapi masih sporadis dari masing-masing kelompok kecil, misalnya dari Persatuan Gereja Indonesia (PGI) secara etik-teologis melakukan pencerahan, dan secara sosial melakukan pendampingan, advokasi, konseling. 2. Yang menjadi tantangan bagi agama-agama bila agama diharapkan menjadi kekuatan yang bisa menyapa dan menyembuhkan mereka yang tengah menghadapi persoalan HIV/ AIDS baik secara langsung atau tidak langsung adalah berasal dari dalam agama itu sendiri, sebagai contoh tantangan yang dihadapi kaum Kristen misalnya gara-gara HIV, struktur di Gereja menjadi dirombak. 3. Yang perlu dilakukan kedepan untuk memberdayakan kelompok-kelompok agama adalah penyediaan informasi, membuat dan memperluas jaringan lintas agama, serta shock theraphy. Adapun metode yang bisa dilakukan adalah dengan membangun solidaritas kelompok agama dan membuat acara yang dapat menginformasikan HIV, seperti seminar dengan mengikutsertakan kelompok agama.

Marieta N.G Sahertian : Mungkin shock theraphy yang dimaksud adalah seperti pada suatu kasus, misalnya tiba-tiba seorang pendeta yang tidak tahu apa-apa ternyata dihadapkan kepada umatnya yang sudah menderita HIV positif. Tentu dia pun harus merombak semua, konsep teologinya, pelayanannya dan

81 lain sebagainya. Dan untuk itu membutuhkan semacam breaking eyes untuk memecahkan kebekuan-kebekuan spiritual yang selama ini dibangun.

Ida Nyoman Triatmaja : Jadi shock theraphy yang ibu maksud berarti ketika kita ingin menghadapi seorang ODHA maka secara langsung harus kepada tokoh agama yang bersangkutan?

I Nyoman Sadra : Saya kira kesimpulannya disini adalah tantangan kita variatif, jadi masing-masing kelompok agama akan mempunyai tantangan yang berbeda-beda. Terutama dalam diskusi kita yang beragama Hindu barangkali mempunyai tantangan yang lebih berat dari pada teman-teman yang beragama lain karena persoalannya sangat kompleks sekali. Jadi di kalangan teman-teman Hindu memerlukan komitmen yang sangat kuat untuk meneruskan perjuangan ini.

Ida Nyoman Triatmaja : Jadi pada intinya persoalan yang dihadapi ini bisa diselesaikan jika masing-masing individu itu kembali melakukan semacam perbaikan diri.

Ujang Nuryanto : Tadi disinggung masalah penyampaian informasi, memang di sini dibutuhkan semacam strategi. Setelah saya mendengarkan strategi yang Ibu Emi paparkan tadi hati saya menjadi tergerak yaitu kita hanya membutuhkan strategi yang paling baik. Yaitu dengan tidak membuat ketersinggungan antara sesama, sedangkan masalah sampai atau tidaknya informasi itu biarkanlah waktu yang akan menentukan.

Luh De Suriyani : Ketika Ibu Emi bercerita banyak tentang hal ini, untuk masuk ke pemuka-pemuka agama, kadang kala itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi memang kita dituntut untuk menambah secara konsep teologi kita dengan praktek dan ilmiahnya.

Bejo Utomo : Menyangkut permasalahan pertama saya kira sangat wajar ketika tokoh-tokoh agama belum terlalu berperan terhadap permasalahan ini. Karena mau tidak mau harus diakui bahwa sebenarnya tokoh-tokoh agama masih disibukkan oleh permasalahan-permasalahan intern agama sehingga untuk melihat realitas sosial kelihatannya sangat kurang. Kalau kita mau masuk dalam lingkup

82 mereka, sebenarnya sangat menguntungkan sebab mereka sangat berpengaruh sekali ketika berbicara di masyarakat. Hanya yang menjadi kendala utama apakah bisa teman-teman LSM atau teman-teman yang peduli HIV/AIDS ini masuk dalam ruang lingkup mereka.

Ujang Nuryanto : Disini saya melihat sepertinya pemuka-pemuka agama itu hanya menunggu informasi. Semoga ada semacam perubahan yang cukup mengejutkan setelah acara kita ini, minimal generasi muda bukan hanya menunggu tentang informasi HIV/AIDS tapi juga mencari secara luwes.

Suster Maria Chalista : Saya merefleksikan tugas saya sebagai seorang Suster dan juga terlibat di dalam Biarawan. Termasuk yang dikatakan oleh Romo, saya juga merefleksi diri saya apakah selama ini saya hanya berdoa saja dan bagaimana kongkritnya. Kritikan-kritikan itu memberikan inspirasi buat saya, apa yang harus saya lakukan dalam kongregasi saya dan dalam Gereja saya secara nyata.

I Made Sukarma : Memang tanggapan-tanggapan ini sangat baik, terus terang saya sebenarnya awam kalau membicarakan masalah agama, adat maupun lembaga-lembaga yang lain. Jadi yang ingin saya sampaikan barangkali berkaitan dengan pertanyaan apa yang perlu dilakukan supaya agama-agama tidak menjadi sesuatu yang semata-mata hanya untuk dipercaya tapi untuk diimplementasikan. Mungkin yang perlu digarisbawahi disini adalah diimplementasikan, seperti yang disampaikan Ibu Suster tadi jangan sampai hanya melayani umat atau jemaat saja sehingga untuk mensosialisasikan hal-hal yang berkaitan dengan persoalan HIV belum tersentuh sama sekali.

Sa'roni : Saya akan mencoba untuk mendefinisikan ‘agama’ menurut pertanyaan Bapak Sadra tadi. Saya akan mencoba menjawab bahwa agama adalah suatu norma atau aturan-aturan yang meng-ikat kita agar kita tidak melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Misalnya dilarang melakukan hubungan seksual dan untuk melegalkan hubungan tersebut ada suatu ikatan yang disebut dengan pernikahan.

Rolyna Rumansyah : Menanggapi tentang agama, dari kitab suci memang free sex atau seks bebas itu dilarang menurut agama. Kalau kita membahas itu lagi berarti kita kembali ke latar belakang HIV/ AIDS.

83 Dan ternyata HIV itu tidak hanya tertular pada orang yang melakukan free sex saja tapi juga penggunaan jarum suntik dan hal-hal lainnya.

Pande Puspita : Sebenarnya saya sudah banyak mendapat pelajaran tentang HIV/ AIDS dan saya semakin mengerti melalui diskusi ini. Saya juga menjadi lebih tahu bagaimana menghindari maupun menyikapinya. Dan mengenai agama, saya tidak akan banyak berkomentar, saya takut menyinggung karena didalam lingkungan keluarga saya sendiri ada dua agama yang sering kali menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam pengambilan sikap.

Listia : Ada yang menarik dari pengalaman Pande mengapa orang menjadi takut tersinggung ketika berbicara soal agama, apalagi ketika itu menyangkut perbedaan agama. Saya ingin menanggapi pendapat Pande bahwa kita perlu masuk dalam wacana karena wacana itu terkait dengan realitas.

M. Yos Da Putra : Soal dialog tiga wacana tadi, saya bukan berarti menolak untuk melakukan dialog tiga wacana dalam konteks ini. Karena ini soal waktu dan kita sendiri punya fokus tapi kalau memang kita sepakat untuk masuk dalam dialog tiga wacana soal pluralism kemudian bagaimana kita keluar dari ketakutan akan perbedaan. Kalau saya menanggapi ketakutan akan perbedaan sebenarnya diakibatkan karena setiap ada dialog antar iman, antar etnis dan dialog antar suku yang biasanya dikedepankan adalah persamaan-persamaannya. Kita tidak pernah melihat perbedaan-perbedaan itu sebagai suatu kekayaan multikultur. Dari perspektif agama secara institusinya belum bisa menerima perbedaan-perbedaan ini karena resistensinya yang begitu kuat kemudian masih sangat konservatif. Jadi gerakan-gerakan seperti bagaimana kita bisa menerima semua perbedaan paling tidak itu berangkat dari wahana-wahana yang kecil sampai kepada hal yang paling besar. Sekarang begitu banyak isu-isu yang sangat menghantam kekuatan-kekuatan multikultur dan pluralism ini. Kemudian kalau kita berbicara soal pasar yang sangat mempengaruhi pergeseran-pergeseran nilai lokal, ini sebenarnya yang membangkitan gerakan-gerakan fundamental yang akhirnya tidak bisa menerima apa yang menjadi perbedaan-perbedaan itu. Saya kira kalau kita berbicara soal dialog tiga wacana yang berkaitan dengan ini memang harus dilihat dalam semua aspek ada aspek historis, civil society dan pasar.

84 Listia : Kita perlu masuk dalam wacana ini karena kita akan melakukan kerjasama, kita tidak mungkin jalan sendiri-sendiri. Kita harus punya konsep dan gagasan yang bisa kita pertanggungjawabkan, mengapa kita melakukan ini bersama-sama kepada Gereja, kepada Masjid, kepada Pura dan lain sebaginya. Karena saya merasa globalisasi di sisi lain juga untuk kelompokkelompok tertentu yang memberikan mereka semacam eksistensi.

I Nyoman Sadra : Dalam menangani realitas persoalan sosial seperti ini memang mau tidak mau kita harus bekerja bersama. Oleh karena itu perlu dibentuk jaringan-jaringan. Tentang bahasan perbedaan ini barangkali menjadi masukan kecil saja, memang realitasnya kita berbeda tapi yang penting bagaimana kita bisa saling memahami. Barangkali yang perlu digali secara mendalam adalah kenapa kita lebih resisten terhadap perbedaan-perbedaan ini, apa yang sebenarnya menyebabkan itu ada. Kalau hal itu ada titik temu maka dengan lapang dada kita akan menerima perbedaan ini, tetapi jawabannya memang tidak mudah. Jadi penekanan saya adalah mari kita terima realitas perbedaan ini untuk dapat saling mengerti. Saya melihat sebenarnya banyak sekali persamaan antara kita tapi kita sendiri yang membuat itu menjadi berbeda dan berakibat kepada kesalahpahaman.

Marianus Marchelus : Saya pikir dialog tiga wacana dalam scope dialog orang-orang dari berbagai agama sangat perlu untuk membongkar ketakutan-ketakutan, ketidaktahuan satu agama terhadap agama yang lain. Saya pikir itu sering kami lakukan di tingkat generasi muda di Denpasar, misalnya ketika saya bertemu dengan teman muslim, saya mengucapkan assalamu’alaikum dan tidak ada persoalan bagi mereka.

Pande Puspita : Sebaiknya kita kembali ke pemahaman orang tentang agama. Kalau dia memahami

kebersamaan untuk saling mengerti perbedaan-perbedaan, itu kembali kepada individunya, dia memahami atau tidak perbedaan-perbedaan tersebut. Jadi tidak perlu melibatkan konteks wacana karena dengan wacana orang diberikan pengertian. Jadi dari pribadinya dia paham tetapi dari hati nuraninya dia paham atau tidak?

Diana Surjanto : Kalau saya melihat tentang perbedaan agama ini, sebenarnya itu tidak perlu dipandang sebagai perbedaan. Karena semua agama mengajarkan hal-hal yang baik hanya saja yang

85 membedakan adalah ritualnya saja. Kemudian kenapa timbul banyak sikap fanatisme dari kalangan umat beragama? Saya melihatnya kemungkinan ada peran dari pemuka agama yang mungkin menganggap agamanyalah yang paling benar. Jadi di dalam diri pemuka agama harus ada perubahan cara berpikir yang lebih menghargai sesama umat beragama.

Bejo Utomo : Berbicara masalah fanatisme, memang sebuah kewajiban bagi umat beragama untuk fanatik terhadap agamanya itu. Tapi yang menjadi masalah bagaimana kita menginterpretasikan kefanatikan itu ketika kita berbicara dengan umat agama lain. Kita disini memang sangat menyadari perbedaan. Yang menjadi masalah utama adalah mereka yang belum menyadari perbedaan itu, mereka yang masih menerjemahkan kitab suci secara tekstual, mereka yang tidak pernah menginterprestasikannya sesuai dengan permasalahan di lingkungan sekitarnya . Suster Maria Chalista : Kalau persoalan itu dikembalikan kepada pimpinan agama, kita seakan-akan menyalahkan pimpinan agama, seperti apa yang dikatakan Diana. Saya rasa pimpinan agama tidak mengajarkan hal-hal yang aneh. Tapi kenyataannya umat yang diajari tersebut tidak melaksanakan secara konkrit. Jadi itu bukan salah dari pimpinan agama tetapi pribadi yang melaksanakan itu.

Diana Surjanto: Menanggapi Suster, mungkin yang saya tekankan disini bahwa itu bukan dimaksudkan untuk seluruh pemuka agama karena setiap ajaran agama sebenarnya baik, yang menjadi permasalahannya adalah tokoh-tokohnya. Jadi mungkin sebagian besar tokoh agama benar tetapi ada juga yang tidak benar seperti yang saya katakan tadi. Kenapa saya mengatakan demikian karena jika semua tokoh, pemuka agama menyampaikan hal yang benar dan menghargai sesama manusia kenapa harus ada sikap fanatisme. Darimana timbul sikap itu kalau tidak dibangun dari pemuka agama itu sendiri. Kalau semua pemuka agama menginterpretasikan ajaran agamanya dengan benar, bagaimana cara menghormati orang lain maka tidak akan muncul fanatisme.

Pande Puspita : Saya setuju dengan Suster bahwa itu kembali kepada pribadinya, apakah dia benar-benar paham dan benar-benar mengerti. Jika dia paham maka perbedaan tersebut pasti tidak akan ada.

Listia :

86 Diskusi ini bukan untuk menyalahkan siapa-siapa, tetapi bahwa kesalahan itu mungkin ada dimanamana. Jadi tidak berarti kemudian pemimpin itu tidak bersalah dan tidak berarti juga umat itu yang selalu bersalah. Mungkin juga umat melakukan ini karena diberi informasi yang salah oleh pemimpinnya, tapi mungkin juga pemimpinnya yang salah. Kita mau diskusi ini menuju kepada arah perubahan bukan mengarah kepada siapa yang salah karena semuanya berpotensi untuk salah. Mungkin diskusi lebih lanjut bisa kita peruncing di rencana tindak lanjut.

I Nyoman Sadra : Saya hanya ingin berkomentar mengenai Hindu yang saya kenal yang mana Gandhi

menerjemahkan agama dalam bentuk action, dalam bentuk tindakan. Yang membuat saya ingin bergabung dengan Gandhi adalah ketika dia ditanyakan apa pesan anda untuk Dunia? Maka dia menjawab pesan saya adalah apa yang saya lakukan bukan apa yang saya katakan. Jadi Gandhi itu mempunyai 3 prinsip yaitu: kebenaran, ahimsa, welas-asih.

Listia : Jadi wacana yang disukai anak muda sekarang adalah multikultural. Ada yang menarik dari Gandhi yaitu dia sudah membaca gerakan pasar. Dan dia dengan melucuti bajunya, dia menanam sendiri apa yang mau dia konsumsi, dia benar-benar sudah memposisikan diri dan sadar bahwa akan ada gerakan besar yang melindas semua orang. Saya pikir memang yang menarik dari Gandhi adalah bahwa identitas itu bukan ego dan identitas itu perlu tapi yang terpenting jiwa kita tidak terikat oleh sesuatu yang institusional.

Marianus Marchelus : Kalau di tingkat kita yang sering bertemu dengan orang-orang dari berbagai agama, saya pikir tidak masalah. Tapi bagaimana dengan umat-umat agama yang berada di daerah yang hampir tidak pernah berbicara tentang perbedaan atau berdialog antar agama, saya pikir persepsinya masih seperti dulu.

Listia : Kita berbicara tentang pluralisme. Ketika kita berbicara saja dan tidak masuk ke dalam persoalan maka itu akan menjadi lain. Oleh karena itu disitulah kita akan belajar dan akan memperoleh pencerahan.[]

87

DIALOG
PERSEPSI MASYARAKAT DAN PERAN LEMBAGA-LEMBAGA MASYARAKAT DALAM PERMASALAHAN HIV/ AIDS

Berikut ini adalah hasil diskusi tentang bagaimana persepsi masyarakat dan sejauh mana lembagalembaga yang ada dalam masyarakat mengambil peran dalam masalah HIV/ AIDS. Apa yang dapat kita lakukan, mengubah persepsi ataukah terjebak didalam persepsi tersebut?

Listia: Kita akan membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan persepsi masyarakat, bahkan mungkin persepsi kita sendiri, tentang penyakit HIV/ AIDS. Ternyata persepsi kita sering tidak tepat karena informasi yang kita terima tidak lengkap, mungkin juga sesat. Informasi yang tidak lengkap tentang penyakit ini sering tersebar di dalam masyarakat melalui media kemudian dikonsumsi oleh semua orang termasuk kaum berpendidikan dan para elit agama. Kita akan mencoba mempelajari persoalan-persoalan ini secara lebih jelas melalui suatu diskusi kelompok. Kelompok 1 membahas tentang peranan lembaga masyarakat dalam permasalahan HIV/ AIDS dan kelompok 2 membahas tentang peranan media massa dalam permasalahan ini.

Hasil Diskusi Kelompok 1 Kami mencoba merumuskan bagian pertama yaitu peranan lembaga adat dan permasalahan yang dihadapi, kemudian bagaimana memberdayakan lembaga ini agar ikut ambil bagian dalam persoalan-persoalan HIV. Dari persoalan pertama, kami melihat lembaga adat belum peduli bahkan menganggap teman-teman ODHA menakutkan sehingga didiskriminasikan. Kita tahu bahwa ini juga soal kemasyarakatan atau soal sosial. Tantangan yang dihadapi adalah, bahwa lembaga adat tidak serius dengan masalah ini karena tidak mempunyai informasi yang banyak. Dalam permasalahan ini faktor kurangnya informasi memungkinkan paradigma masyarakat tentang persoalan HIV menjadi keliru, seolah-olah ini adalah penyakit yang dikutuk sehingga penderita HIV harus disingkirkan. Ini menjadi sulit bagi masyarakat untuk melakukan proses penyelesaian masalah. Kemudian lembaga adat tidak mengerti peran dan fungsinya. Mereka hanya melihat bahwa tugas mereka pada urusan spiritual dan tidak peduli pada urusan sosial kemasyarakatan. Bisa dilihat bahwa ini adalah persoalan kemasyarakatan sehingga semua orang harus ambil bagian dalam mencapai harapan yang sudah direncanakan. Lembaga adat harus proaktif mengurus HIV dalam intern lembaga sendiri dan bersama pemerintah atau lembaga adat lain. Lembaga yang kompeten dalam HIV mensosialisasikan program lembaganya, seperti LSM atau komunitas yang concern

88 dengan masalah ini. Pemerintah juga harus mengurusi masalah ini. Stakeholders dalam masyarakat harus ambil bagian dan tidak ada satu bagian pun yang tidak terlibat dalam masalah ini. Kemudian mensosialisasikan HIV ke media yang disenangi masyarakat. Kita masuk melalui kebiasaan mereka.

Diana Surjanto: Tadi mungkin tentang harapan supaya pemerintah perlu ikut mengurusi masalah HIV belum dijelaskan. Kemudian permasalahan lembaga adat, lembaga adat memiliki ketergantungan dengan pemerintah desa sehingga untuk menggerakkan desa adat atau lembaga adat dapat dilakukan secara proaktif melalui pemerintah desa.

Dr. Tuti Parwati: Dari hasil diskusi kelompok 1 sudah tercetus bagaimana sebaiknya lembaga adat berperan seandainya ada kasus HIV. Misalnya ada warga yang terkena HIV, lalu peran apa kira-kira yang ingin lembaga adat lakukan? Untuk sosialisasi seperti pencegahan HIV dan mencegah diskriminasi terhadap penderita HIV sudah dilakukan. Tapi seandainya sudah terjadi diskriminasi atau penderita HIV tersebut sudah dikucilkan, apa yang bisa lembaga adat lakukan?

Ida Nyoman Triatmaja: Mengenai masalah itu, ada seorang warga yang terjangkit penyakit, lembaga adat menanggapinya acuh tak acuh. Misalnya, salah seorang ada yang terkena penyakit, adat tidak menghiraukan orang itu. Dia berpikir biarkan saja, dia kan melakukan hal-hal yang buruk maka dia harus menanggungnya. Pada umumnya lembaga adat di desa kami kebanyakan mengurus masalahmasalah ritual keagamaan, tidak peduli dengan masalah-masalah sosial di lingkungannya sendiri. Mereka hanya memberikan masukan-masukan bagaimana caranya melakukan upacara spiritual yang benar.

Dr. Tuti Parwati : Sepertinya mereka masih belum tahu dan tidak acuh, bahkan mungkin juga belum tahu apa yang dapat diperbuat. Teman-teman disini mungkin bisa action nanti di File of Project-nya yang memuat tahapan-tahapan. Tahap awal itu dulu kemudian setelah isu HIV/ AIDS terinformasi dan tersosialisasikan, dengan sendirinya ada solusi yang akan muncul dari pihak itu. Hasil akhir yang kita inginkan adalah sesuatu yang lebih riil. Seperti yang dikatakan Bapak Sadra contohnya program KB bisa lewat awig-awig tetapi tujuannya agar lebih menukik.

89 Bapak I Nyoman Sadra : Mungkin yang ingin saya sampaikan adalah sebuah pertanyaan. Karena ini masalah penyakit, yang ingin saya ketahui adalah sejauh mana peran Departemen Kesehatan dari pemerintah terhadap penanganan penyakit HIV. Kalau lembaga swasta yang menangani ini barangkali kendala terbesar adalah dana. Sedangkan kalau pemerintah bisa menggali keuangan dari APBD dan sebagainya. Kita tidak pernah mendengar dari Depkes dan Pemerintah. Kalau memang kepedulian dari Depkes sangat besar, saya kira untuk mengawinkan dengan lembaga non formal akan lebih mudah. Seperti program KB, dulu pemerintah sangat peduli sehingga pemerintah memanfaatkan Banjar untuk memajukan program KB. Kenapa sekarang di Depkes tidak dibuatkan bagian khusus yang menangani HIV?

Hudoyo Hupudio : Sebetulnya pemerintah sudah menyadari bahwa hal ini tidak hanya menyangkut masalah kesehatan. Sekalipun peran Depkes sangat besar dan memimpin tetapi dengan kesadaran itu, sejak beberapa tahun dan sudah cukup lama dibentuk Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). KPA mulai dari tingkat nasional yang berada di bawah Menkokesra bukan di bawah Menkes dimana ada beberapa departemen seperti Depkes, Depdiknas, Pariwisata, dan Departemen Agama sampai di tingkat propinsi dan di tingkat kabupaten kota. Seharusnya ada KPA propinsi dan KPA kabupaten/ kota. Tentang masalah kepedulian, kepemimpinan dan dana, banyak KPA-KPA yang belum berfungsi karena kepemimpinan dan kepedulian dari pejabat kurang dan terutama dana yang juga kurang. Struktur ini namanya komisi seperti komisi perempuan, komisi gizi dan sebagainya dan bukan badan. Kalau badan mudah sekali mendapatkan uang seperti BKKBN. Tapi saya setuju sekali KPA-KPA diberdayakan. Bagaimanapun KPA di Bali dengan BNN.

Dr. Tuti Parwati : Memang itu penting tetapi kita harus ingat bahwa AIDS itu bukan masalah kesehatan saja, bukan masalah penyakit sebab sakitnya di akhir fase dimana penderita memerlukan rumah sakit. Namun lebih banyak kejadiannya pada masa sehat, yang belum kelihatan sakit tapi sudah tertular dan bisa menularkan, yaitu 8 sampai 10 tahun. Kalau masa sakit kurang lebih 1,5 tahun. Karena itu di dalam fase sudah diketahui HIV tetapi belum sakit, isu sosialnya yang dominan. Kalau isu sosialnya tidak ditangani dengan baik maka mempercepat penderita sampai ke stadium AIDS. Karena itu peran sosial sangat penting di dalam penanganan HIV/ AIDS. Memang pemerintah sudah menyatakan ini masalah yang penting, yang gawat dan kalau kita tidak berbuat akan melumpuhkan generasi mendatang. Hal itu sudah disadari maka dibentuklah Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Keaktifan KPA di masing-masing propinsi berbeda. Kebetulan di Bali lebih maju karena sejak awal

90 kasus AIDS, Bali termasuk yang pertama melaporkan kasusnya. Jadi kegiatan di Bali rata-rata lebih maju dibandingkan dengan propinsi yang lain. Beberapa sudah mempunyai program sampai ke desa, misalnya salah satu dari KPAD Bali yang sudah mempunyai program KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) dengan sistem Banjar, tetapi tergantung dana, kalau dananya ada maka berjalan,. Juga sudah ada termasuk pelatihan pada seka teruna/ teruni. Memang awal penelitiannya melalui LSM. Seberapa jauh fungsi seka teruna dan bagaimana fungsi yang bisa dijalankan oleh seka teruna. Pada awalnya fungsinya sama dengan lembaga adat, yaitu seka teruna tidak mempunyai kegiatan kesehatan, tapi hanya untuk keagamaan, ritual dan masalah lain. Kita sudah berhasil memasukkan isu kesehatan lewat HIV di dalam agenda seka teruna. Kalau melihat lembaga adat yang lain tentunya bisa kita masukkan isu HIV/ AIDS secara bertahap walaupun ada dari program pemerintah yang datangnya sekali-sekali yang terus-menerus tinggal di tempat tersebut. Itulah sebenarnya yang paling penting, yaitu untuk menjaga kesinambungan program, dilakukan atau tidak dilakukannya program. Hanya saja di atas kertas itu berdasarkan kesepakatan atau sangat tergantung dari individu-individu yang ada dan terlibat di ujung tombak yang terkecil. Di Bali istilahnya seka teruna, banjar dan lain sebagainya. Walaupun menggebu-gebu disana, kalau kita tidak melakukan percuma saja. Pendekatannya memang dari multi-pihak, pemerintah dari struktur atas kemudian dari bawah kita juga harus mulai. Kemudian LSM-LSM biasanya langsung bergerak ke ujung tombak ini. Sedangkan pemerintah mulai dari atas yaitu dari strategi kebijakan yang digarap lebih banyak. LSM seperti LSM yang ada ini kita tujukan langsung kepada orangorangnya agar lebih dikenal dan lebih familiar padahal semua pihak sudah melakukan.

Hudoyo Hupudio : Saya tertarik pada persoalan pemberdayaan karena menyangkut langkah di masa depan dimana ada komunikasi lembaga-lembaga adat dan lembaga-lembaga yang concern pada HIV/ AIDS. Kemudian masalah sosialisasi melalui media, kalau ini memang ingin didokumentasikan perlu dicantumkan bahwa dalam pemberdayaan tersebut diikutsertakan para ODHA karena jauh lebih efektif daripada kita hanya bicara-bicara dan sebenarnya kita akan memberi ‘wajah’ pada HIV/AIDS.

Bejo Utomo : Saya ingin menambahkan tentang pemberdayaan desa adat, bagaimana kita bisa menuntut desa adat untuk peduli akan HIV/ AIDS apabila mereka belum tahu? Langkah konkritnya kemungkinan, saya membayangkan, desa adat itu di masa mendatang mempunyai perpustakaan, balai banjar sebagai tempat belajar yang bukan hanya sebagai tempat rapat atau membuat bazzar pada Galungan dan Kuningan. Tentu hal itu perlu kerjasama dari semua pihak. Masalahnya

91 sekarang pemerintah hanya berhubungan dengan desa adat kalau ada perlunya saja misalnya ada KB.

Hasil Diskusi Kelompok 2 Kelompok 2 mendiskusikan peran media cetak, elektronik dan media lainnya sebagai sumber informasi dan penyelidikan yang benar tentang HIV/ AIDS bagi masyarakat. Dimulai dari sumber informasi, selain media massa koran yang kita kenal, apalagi yang kita lakukan untuk menyebarkan informasi-informasi tentang HIV/ AIDS? Mungkin bisa brosur, pamflet, spanduk, baliho yang secara kasat mata sering kita lihat. Kemudian konseling, ada orang berbicara dan ada juga yang tidak serta kelompok-kelompok diskusi. Ini penting karena masalah ini berhubungan dengan seksualitas. Sementara masih ada perdebatan apakah pendidikan seks yang dini bisa masuk kurikulum sekolah formal atau tidak? Hal-hal seperti ini saja yang diperdebatkan padahal kita bisa mengukur secara lebih intim pada masalah efeknya. Tentang permasalahan sekolah, sekolah ini tidak hanya diasosiasikan sebagai sebuah bangunan dan murid-muridnya yang berseragam, padahal mungkin sekolah yang formal dan non formal, misalnya, mempunyai perpustakaan sebagai tempat diskusi, balai banjar dan lainnya. Kemudian permasalahan lembaga adat dan agama, hal utama yang kita pikirkan disini adalah masalah peran lembaga adat dan agama yang masih mencoba untuk direngkuh misalnya dari seka teruna atau pesantren. Kemudian peran media masih mengerucut pada media massa. Peran media massa selama ini yang dapat kita lihat adalah dari segi positifnya. Secara normatif adalah sebagai media sosialisasi mengenai apa itu AIDS, berapa korbannya, tahun ini meningkat tajam, kemudian penularan dan pencegahan. Beberapa bagian berita atau ulasan media itu menggugah empati yang sudah pada tahap perenungan dan mengajak kita untuk menggelar diskusi seperti ini. Kemudian peran yang lainnya kerap mengeksploitasi korban untuk menciptakan sensasionalitas berita berhubungan dengan citra media. Banyak media telah membuat citra buruk, informasi yang cepat laku, mudah dicerna dan sistematis. Kemudian menciptakan stigma buruk yang menakutkan masyarakat. Kebenaran faktualnya perlu dipertanyakan. Ini diluar etika. Tadi mula-mula memaparkan informasi ke media massa tapi yang lebih penting adalah bagaimana peran ini berlangsung secara sosiokultural di masyarakat, bagaimana kita mencoba untuk sharing kepada kelompok-kelompok yang terjangkau dalam bentuk-bentuk alternatif. Tidak hanya melalui seminar namun melalui penyuluhan juga. Pertama lembaga adat dan agama banyak sekali yang bisa dikerjakan terutama kalau lembaga adat berhubungan dengan komunitasnya seperti seka teruna. Kemudian selain seka teruna ada pesantren. Kedua, penjangkauan kelompokkelompok sebaya bisa dilakukan di antara pasien akibat jarum suntik, sesama anak jalanan, waria, pekerja seksual serta komunitas lainnya. Ini sangat luar biasa efektif karena dengan teman-teman

92 sebaya seseorang bisa menjelaskan dengan enak permasalahannya.Yang terakhir adalah penjangkauan di ibu rumah tangga. Kalau ada stigma dari orang tua, misalnya tentang cerita dari orang lain bahwa ada yang terkena penyakit maka orang tuanya bisa diajak ngobrol dan diluruskan permasalahannya. Selanjutnya masalah tantangan di media massa, pers sendiri dikejar deadline. Peran editor yang bertugas meliput isi beritalah yang memutuskan suatu berita dengan enak serta merubah isi berita menjadi penting. Citra media tertentu yang memang mengundang sensasionalitas adalah kemalasan wartawan berhubungan dengan kemampuan menggali data di lapangan, konfirmasi narasumber, dan lain sebagainya. Kemudian kemampuan identifikasi atau berpikir jurnalis. Ini berhubungan dengan keterbatasan akses informasi yang kadang-kadang diterima oleh seorang jurnalis yang ingin menambah informasi beritanya namun karena terhambat oleh arus informasi. Kemudian profesionalitas, harapan-harapannya adalah kita ingin, misalnya, media atau pers lebih baik di bidang profesionalismenya dan juga media tampil demi membangun harapan bagi permasalahan apa saja. Kemudian masalah pemberdayaan media, pemberdayaan media dapat dilakukan oleh siapa saja, semua kalanga. Pertama dapat melalui pelatihan/ studi seperti ini. Kemudian yang kedua yang terpenting adalah kontrol sosial masyarakat pada media itu sendiri dengan hak menjawab, klarifikasi suatu berita yang mungkin salah dibuat oleh dokter, masyarakat berhak untuk mengajukan ini seperti klarifikasi dan lain-lain. Kemudian yang ketiga adalah pembentukan media-media alternatif. Media alternatif adalah media yang mengaku sebagai pengatrol hal-hal khusus misalnya mengamati di bidang AIDS. Banyak yang dibuat oleh temanteman aktivis di bidang AIDS yang memberikan kita informasi yang bisa dibandingkan dengan di berita itu. Mungkin saja ada media tentang HIV/ AIIDS. Maksudnya suatu media yang mengkatrol berita-berita di media umum yang dibuat oleh para wartawan tentang HIV/ AIDS. Yang terakhir adalah meningkatkan kerjasama atau sinergitas dengan kerja. Setahu saya teman-teman wartawan lebih dekat dengan aktivis-aktivis AIDS ini karena lebih menguasai persoalan sehingga kemampuan yang dia tulis adalah komprehensif.[]

93

DIALOG
MENATA HARAPAN

HIV/ AIDS masih menyandang predikat sebagai sesuatu yang menakutkan. Karena predikat ini maka banyak sekali yang kemudian memperlakukan Orang Dengan HIV/ AIDS secara diskriminatif. Perlukah HIV/ AIDS ditakuti secara berlebihan? Atau tidak lebih baik bagi kita untuk memberanikan diri mengetahui lebih dalam agar kemudian dapat mengahadapi secara tepat? Berikut rangkuman harapan dari para peserta.

Diana Surjanto : Sangat berharap agar semua manusia bisa terhindar dari HIV/ AIDS dan sangat mendukung agar bisa dicari pencegahannya agar tidak ada lagi korban yang lebih banyak

Luh De Suryani : Sangat mendukung sekali apabila cepat dicari pencegahannya agar generasi muda tidak ada lagi yang menjadi korban dari HIV/ AIDS.

Dr. Tuti Parwati : Ide Interfidei untuk penyelenggaraan ini saya sambut baik. Saya sudah bekerja di masalah HIV/ AIDS sejak awal. Sebelum Interfidei mencetuskan untuk mengadakan pertemuan ini memang sudah sering diadakan pertemuan-pertemuan dimana kelompok-kelompok agama itu membahas mengenai HIV/ AIDS. Namun itu kebanyakan kita lihat sebatas dalam seminar kemudian mungkin pertemuannya terpisah-pisah tidak semua agama menjadi satu seperti itu. Kemudian juga yang saya inginkan sebenarnya adalah bagaimana supaya isu HIV/ AIDS ini juga menjadi agenda didalam kehidupan keagamaan semua agama dimana mereka sebenarnya bisa berperan. Karena masalah HIV/ AIDS tidak bisa ditangani seperti misalnya masalah kesehatan oleh Departemen Kesehatan saja atau rumah sakit. Sebenarnya HIV/ AIDS makin meluas wabahnya, makin akan menjadi salah satu agenda kegiatan kemasyarakatan. Melihat orang sebagai HIV/ AIDS sudah menyatu didalam masyarakat maka kita tidak bisa memisahkan lagi.

Maria Ulfah Anshor : Harapan saya ikut acara ini adalah keingin-tahuan saya bagaimana nanti di lingkungan sekitar kita menghadapi orang yang terkena AIDS, apa kita perlu dekati atau hindari. Bagaimana solusi kita agar semua disini tidak terkena narkoba.

94

Kadek Sudiani : Harapan saya ketika kita menghadapi persoalan-persoalan yang terjadi baik itu HIV/ AIDS atau narkoba, kita bisa menyelesaikan persoalan ini secara bathin dulu sebab kalau hanya berdasarkan ajakan-ajakan secara material saja masalah tidak akan pernah selesai. Jadi permasalahannya perbaikan secara batin.

Sukarma (Polres Karangasem) : Harapan dari kita semua dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti dialog tentang penanganan isu-isu baik itu AIDS ataupun narkoba. Yang terpenting disini bagaimana cara kita untuk mengubah sikap dan perilaku kita. Apa yang menjadi harapan pemerintah memang harus kita dukung. Diantaranya melalui kegiatan-kegiatan yang sifatnya positif, yang kira-kira paling tidak dapat mengubah hal-hal yang tidak kita inginkan seperti dengan adanya AIDS melalui virusnya termasuk juga narkoba. Dalam hal ini upaya-upaya yang perlu kita lakukan seperti penanggulangan maupun pencegahan sangat memegang peranan, juga untuk kita semua terutama dalam hal ikut memberantas atau memerangi bahaya narkoba atau penyakit-penyakit yang membuat fatal bagi kita semua. Kalau dikaitkan dengan agama, saya pernah mendengar kursus agama Hindu ada 5 M dalam upaya mencegah dan menanggulangi adanya penyakit-penyakit masyarakat yang bisa menimbulkan dampak yang kurang bagus bagi kehidupan kita sehari-hari. Saya tidak bisa merinci dari keseluruhan 5 M itu, yang jelas Moha, Madha, Matsarya yang termasuk mabuk, mencuri itu. Saya yakin semua agama tidak menghendaki adanya perbuatan-perbuatan yang saya sebut itu. Kebetulan kami mengadakan penyuluhan tentang narkoba, jadi kami mengisi dari sisi Kamtibmasnya sedangkan dari pihak agama yaitu Parisadha menyebutkan hal tersebut. Setidaknya perlu kita antisipasi bersama-sama dalam hal memenuhi harapan-harapan kita mengikuti dialog seperti ini termasuk juga kegiatan semacam ini. Pada prinsipnya kami sangat mendukung sekali apalagi yang namanya kegiatan positif seperti ini dalam hal mendukung apa yang menjadi program pemerintah yang bertujuan memberantas penyebaran narkoba ataupun penyakit-penyakit lainnya.

Komang Tri Artika : Harapan saya, saya hanya ingin tahu apa itu HIV/ AIDS dan cara melepaskan diri dari HIV tersebut dan saya berharap para remaja termasuk saya bisa terlepas dari HIV tersebut dan HIV bisa ditanggulangi.

95 Bapak Hudoyo Hupudio : Disini kita berkumpul dengan latar belakang agama yang berbeda-beda serta latar belakang pengetahuan dan pengalaman tentang HIV/ AIDS yang berbeda-beda. Ini sangat baik dan mungkin belum pernah terjadi. Disini saya berharap terjadi pertukaran ide-ide, pemikiran-pemikiran disamping perkenalan secara pribadi. Tapi yang lebih penting adalah kedepan. Kita harus menyadari dalam bidang keagamaan mungkin tidak punya peran apa-apa. Agama biasanya suatu kehidupan atau bagian kehidupan masyarakat yang bersifat sangat hirarki, sangat paternalistik, apa dikatakan pemimpin agama biasanya dilaksanakan oleh masyarakatnya. Seperti dikatakan antara pemimpin-pemimpin agama banyak sekali terdapat salah paham juga salah sikap menghadapi adikadik disini. Sebagai contohnya dua bulan yang lalu di Jawa Timur ada seminar majelis ulama, MUI Jawa Timur menghadapi HIV/ AIDS. Dalam menghadapi masalah HIV/ AIDS disana tentang kondom mereka tidak terlalu anti lagi, sudah mengerti. Tapi ketika minggu yang lalu di Riau, Pekanbaru diadakan acara yang sama, pemuka agama Islam disana menolak kondom dengan kuat sekali sehingga kami mengantisipasinya dengan menghadirkan Bapak Abdul Somad dari Jawa Timur ke Pekanbaru. Inilah sebagai contoh bahwa yang penting itu adalah informasi terus-menerus. Itulah tindak lanjut yang diperlukan oleh kita yaitu berbicara terutama berbicara kepada atasan yang lebih berpengaruh di bidang agama. Itu barangkali yang bias diberikan oleh Interfidei maupun oleh teman-teman yang hadir ini.

Komang Suriasih ( Gandhi Ashram ) : Saya belum tahu banyak tentang HIV namun kepedulian kita secara bersama-sama memperhatikan orang yang terkena HIV.

Komang Tri Artika : Harapan saya sama dengan teman-teman semua yaitu bagaimana cara penanggulangan atau pencegahan bagi orang yang kecanduan obat-obat terlarang serta bagi orang yang terkena HIV/ AIDS apakah dibiarkan atau menasehatinya.

Ketut Angga Wijaya ( Gandhi Ashram ) : Menarik sekali ketika agama akhirnya membicarakan masalah sosial. Saya mungkin salah satu orang yang kecewa terhadap perilaku orang yang beragama sekarang. Hubungan beragama diartikan hanya hubungan manusia dengan Tuhan tidak manusia dengan manusia. Lalu agama ketika menemui persoalan-persoalan HIV/ AIDS mungkin hanya bisa memvonis hitam putih, neraka surga, itu dosa. Saya membayangkan ketika ada seorang perempuan yang tiba-tiba menangis di ruang praktek seorang dokter ketika dia divonis HIV/ AIDS dan ternyata penyakit yang

96 didapatkannya itu berasal dari suaminya dan dia tertular. Jadi saya menanyakan apakah ini karma, penyakit kutukan atau apakah Tuhan berperan dalam hal ini. Itu saja.

Bapak Sadra : Kita sepakat menamakan ini penyakit sosial yaitu penyakit yang sangat menyebar di kalangan masyarakat dan oleh karenanya penyelesaiannya pun harus kita selesaikan secara sosial yang artinya banyak orang yang harus terlibat dalam kepedulian terhadap HIV. Kepedulian mengenai HIV dan narkoba, saya punya pengalaman yang kecil. Mengenai narkoba saya pernah kena tipu ketika saya di India berkumpul dengan 11 orang menyewa sebuah rumah. Saya bergilir dengan teman-teman memasak karena masak sendiri di rumah tersebut dan saya tidak tahu awalnya bahwa rumah itu rumah ganja. Ganja tumbuh di halaman rumah dimana-mana seperti rumput. Jadi kambing makan ganja, kelinci makan ganja, kijang makan ganja, babi dan sapi semua makan ganja. Lalu saya duduk di suatu tempat ada orang yang membakar sampah dan ternyata itu adalah ganja. Ada orang dari Australia yang bawa sayur ternyata itu adalah daun ganja. Itu adalah pengalaman saya tentang ganja. Ganja itu dijemur dan dijadikan rokok sehingga saya seperti mempunyai pikiran yang tidak terkendali. Kemudian saya pernah mengunjungi pusat rehabilitasi AIDS. Sangat menakutkan karena hanya tinggal tulang dan kulit, rambut tidak berwarna. Dari melihat itu saya bayangkan kalau ini menyebar sangat bahaya. Akhirnya saya berpikir itu sangat menakutkan. Tapi kalau sudah kecanduan sulit untuk dihindari. Saya selalu ikut seminar dan kebanyakan topiknya adalah mengenai agama. Kerusuhan tersebut tidak bisa dikatakan sebagai kerusuhan yang disebabkan oleh agama karena itu penyebabnya adalah manusia sendiri. Timbul pertanyaan peranan agama itu apa, padahal khotbah jalan terus manusia kok berlaku tidak baik jalan terus juga, salahnya dimana? Kita harus diskusikan apakah jalan agamanya yang salah atau kita yang tidak menerapkan atau kita salah interpretasi terhadap ajaran itu. Di kalangan Hindu sendiri saya kecewa ketika sekolah saya mendengar karena kata ‘agama’ dari bahasa sansekerta, 'a' yaitu tidak dan 'gama' yaitu bergerak. Jadi agama adalah sesuatu yang tidak bergerak atau langgeng. Binatang apapun kalau dia langgeng atau batu tidak bergerak, apakah itu agama? Muncul pertanyan-pertanyaan seperti itu artinya ada bait-bait kitab suci yang barangkali perlu kita diskusikan sehingga kita mempunyai pemahaman, apakah kita hanya bisa mengatakan itu jelek, itu salah dan mengenai permasalahan seperti ini sampai saat ini kita belum melihat saja solusi-solusi yang ditawarkan. Jadi harapan saya sederhana saja dari pertemuan ini semakin banyak kita berkumpul disini semakin banyak orang yang akan peduli terhadap hal ini dan masing-masing dari kita ada yang bisa membantu masyarakat paling tidak sosialisasi tentang penyakit AIDS.

97

Widi (Gandhi Ashram ) : Dalam diskusi kita yang paling menonjol adalah masalah penyakit masyarakat AIDS ataupun narkoba walaupun kita ketahui sampai saat ini penyakit HIV/ AIDS belum bisa diobati dan yang paling penting pada saat ini adalah bagaimana cara kita menanggulangi penyakit HIV dan narkoba tersebut. Seperti yang dikatakan Bapak Sadra bagaimana agama bisa peduli terhadap penyakit tersebut dan memberikan solusi terhadap penyakit tersebut.

Marianus Marchelius : Saya berharap sekali dengan adanya diskusi ini dapat dicarikan solusi bagaimana kedepannya menanggulangi AIDS. Saya pribadi sudah melihat dengan kepala saya sendiri bagaimana teman saya mati mengenaskan. Harapan saya terutama generasi muda jangan sampai tertular. Memang ini penyakit masyarakat yang harus segera dibarantas.[]

98

DIALOG
MENUJU PRAKSIS

Setelah pembahasan-pembahasan sebelumnya, adakah kesadaran baru tentang bagaimana selanjutnya? Hal terbaik apakah yang bisa diberikan terhadap kemanusiaan melalui permasalahan HIV/ AIDS ini? Apa yang akan kita lakukan?

Elga J Sarapung : Kita sekarang coba memikirkan kira-kira apa yang akan kita lakukan setelah ini. Ada komitmen yang kita sendiri katakan, betapa pentingnya untuk bekerjasama, melakukan sesuatu yang konkrit dengan action. Itulah yang benar-benar menjadi harapan kami dengan kegiatan ini. Apa output yang konkrit sebagai dasar follow up nantinya dari kegiatan ini. Ada nilai yang ingin kita buktikan, ada nilai yang ingin kita katakan. Dengan nilai itu kita bukan hanya ingin mewujudkan komitmen, tapi sungguh-sungguh bahwa kita terbuka tentang agama. Agama kalau tidak konkrit dan tidak menyentuh kemanusiaan maka bukan agama namanya, bagaimana kita membuktikan itu. Jadi ada solidaritas, cinta kasih dan menghargai yang berdasarkan motivasi dan tujuan kemanusiaan. Seperti yang telah diusulkan, bahwa perlu ada tim. Sekarang yang perlu kita pikirkan tim itu seperti apa, tentu saja dengan dasar ada spirit bersama dalam bentuk kerjasama antar agama atau dialog antar agama. Kemarin juga sudah didiskusikan beberapa metode pendekatan, ada yang dalam bentuk penyuluhan, ada yang dalam bentuk media baik media cetak ataupun elektronik, diskusi, stiker, poster, kesenian dan masih banyak lagi yang lain. Sedangkan medianya bisa lewat sekolah, lewat agama-agama, institusi agama, media adat, LSM dan lain-lain. Sekarang sesudah kegiatan ini, kita mau melakukan apa dengan isu HIV/ AIDS ini di Bali. Dalam proposal kami kalau teman-teman membaca dan masih ingat kami mengusulkan kalau bisa Karangasem menjadi pilot project ke depan. Tapi itu mungkin program jangka menengah. Sekarang untuk sederhananya kami menyiapkan poster dan stiker, itu merupakan follow up jangka pendek dari kami. Bagaimana kita menyebarkan itu supaya dengan poster dan stiker orang juga bisa mendapat informasi tentang HIV/ AIDS ini. Itu merupakan salah satu kegiatan kita tapi mungkin ada usul lain, kira-kira seperti apa, dalam bentuk apa dan bagaimana melakukannya. Mulai dari hal sederhana dulu yang memang paling mampu kita lakukan sesuai kemampuan kita baik kemampuan waktu, tenaga dan lain-lain.

99 Diana Surjanto : Mungkin kalau dari saya rencana tindak lanjutnya untuk jangka pendek saja. Seperti yang kita ketahui kita disini masing-masing membawa organisasi atau ada juga dari individu. Mungkin yang organisasi bisa mengadakan semacam pelatihan mengenai HIV/ AIDS dengan teman-teman yang terlibat dalam organisasi itu. Disamping itu juga bisa mensosialisasikan kepada temantemannya yang berada di luar organisasi.

Ujang Nuryanto : Mungkin ini sekedar saran, kalau bisa untuk action-nya karena dikatakan tadi Karangasem sebagai pilot project. Ashram ini sudah terkenal sekali di sini, jadi saya pribadi siap kalau dibentuk panitia kecil untuk lingkup Karangasem dahulu, setelah itu bisa berkembang scope-nya.

Bejo Utomo : Saya sepakat dengan Ujang. Artinya setelah teman-teman selesai ini ada semacam tindak lanjut yang ingin saya tawarkan. Kalau kita memang fokus ke Karangasem, saya sepakat kita menyentuh kalangan muda artinya disini bagaimana kita melibatkan teman-teman di Teruna-Teruni, apalagi kalau didukung Bapak Sukarma sebagai institusi kepolisian, dan teman-teman yang sering berkecimpung di dalam organisasi kegiatan kemahasiswaan dan lain sebagainya.

Marianus Marchelus : Kalau saya mungkin sama dengan Yos, kita sendiri punya komunitas yang cukup banyak pesertanya barangkali kami berangkat dari sini dulu yang kami bisa. Kemudian kita punya media yang dikelola oleh keuskupan yang juga nantinya bisa melalui media ini, kalau isu-isu seperti ini sepertinya media kami bisa memuatnya.

Luh De Suriyani : Terus terang saya belum memetakan sebenarnya apa yang dibutuhkan oleh Karangasem, dan permasalahannya apa? Mungkin Ibu Tuti bisa sharing sedikit permasalahan di Karangasem. Apa yang bisa kita dilakukan dalam jangka waktu pendek? Sambil mencari strateginya. Sementara kalau grand design-nya bisa lebih luas dari Karangasem. Dimanapun bisa kita lakukan. Saya pikir disini kita harus cari siapa saja yang mengelola isu-isu ini, kemudian partner-nya Ibu Tuti sendiri siapa?.

I Made Sukarma : Rencana tindak lanjut yang mungkin direncanakan tadi juga sudah disampaikan oleh rekan-rekan khusunya di wilayah Karangasem. Mungkin sebagai target disebutkan kaum muda menurut saya

100 juga perlu ditambahkan yaitu wilayah kawasan wisata karena wilayah ini sangat rentan dengan HIV/ AIDS. Kalau wisata di Karangasem mungkin Candi Dasa termasuk juga kaum mudanya yang telah disampaikan tadi, wilayah Buitan. Termasuk di Tulamben karena kami kebetulan pernah tugas di wilayah itu yang merupakan kawasan wisata yang perlu kita adakan pendekatan-pendekatan baik secara penyuluhan melalui media cetak, elektronik ataupun kegiatan-kegiatn sosial seperti ini.

Listia : Ini sinyalemen adanya persoalan-persoalan di sekitar pariwisata, kemudian siapa yang akan melakukan ini, targetnya adalah kaum muda.

Ida Nyoman Triatmaja : Yang jelas kami dari lembaga Seka Truna sanggup untuk memberikan bantuan berupa penyebaran pamflet dan iklan, kami juga siap untuk penyediaan fasilitas acara penyuluhan.

Listia : Pertanyaan Luh De ini sangat baik, perlu ada identifikasi persoalan. Apa persoalannya, kita mau melakukan apa dan apakah kita bisa jalan bersama-sama?

Luh De Suriyani : Mungkin bisa dimulai dari scope yang paling cair yaitu teman-teman remaja, saya tidak tahu persoalannya secara jelas tapi saya sangat bersedia terlibat dalam kelompok-kelompok ini. Saya yakin dari tempat sekecil apapun isu-isunya akan menjadi besar kalau memang solidaritasnya bagus.

Ida Nyoman Triatmaja : Mungkin nantinya dari Ibu Tuti atau dari lembaga-lembaga lain yang mengerti tentang HIV akan memberikan ceramah atau pun dialog dengan masyarakat di desa-desa seperti Budakeling misalnya.

Listia : Yang mau merancang kita berkampanye itu siapa? Mungkin Ujang punya komitmen seperti itu? Karena yang menggagas belum ada tapi yang membantu sudah ada.

101 Ujang Nuryanto : Menurut saya teman-teman semua mau membantu tapi kalau scope-nya untuk seluruh Karangasem? Sedangkan kalau sekedar untuk Buitan mungkin saya sendiri masih bisa, namun tetap dengan bimbingan Ibu Tuti.

Bejo Utomo : Saya kira kalau misalnya Ujang mau membuat seminar Seka Truna-truni se-Karangasem namun Ujang hanya didukung oleh kawan-kawan yang ada disini tanpa didukung oleh Ibu Tuti, Bapak Sadra, Ibu Elga dan lain sebagainya, maka tidak akan berjalan dengan bagus. Jadi harapan saya kalau kita memang mau merencanakan suatu rencana tindak lanjut ada semacam sinergi, mari kita berjalan bersama-sama. Saya menawarkan tadi kalau kita menyentuh ke akar rumput ini memerlukan waktu yang banyak. Seandainya kita melakukan pelatihan semacam ini kemudian kita fokuskan kepada teman-teman Seka teruna saya kira sangat relevan sekali.

Ida Nyoman Triatmaja : Saya mohonkan bantuan nantinya datang dari Bapak Polisi sebagai lembaga yang sangat berkompeten juga.

I Made Sukarma : Kalau memang masalah kegiatan barangkali bukan tenaga teknis di bidang ini, jadi saya informasikan kalau narkoba kita sudah punya wadah untuk BNK di Karangasem, Badan Narkoba Kabupaten. Organisasi ini diketuai oleh wakil Bupati dan tim yang memberikan penyuluhan itu banyak, ada dari kesehatan yaitu dokter, dari Kesbanglinmas, kepolisian dalam hal dampak dari pada penyalahgunaannya seperti ancaman hukuman. Kalau kerjasama dengan seka Truna-truni kita memang tidak secara langsung tapi Kesbanglinmas mengirim surat kepada setiap kecamatan. Jadi kalau memang betul-betul ini akan dilaksanakan barangkali perlu dipersiapkan tenaga teknis yang kira-kira lebih tahu untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat.

Luh De Suriyani : Saya pikir nanti di Budakeling bisa kita mulai pendekatan sosial mengenai ini. Untuk momennya tentu saja teman-teman Dian Interfidei dan yang lain sudah kerja keras untuk memulai ini dan mungkin bisa dilanjutkan disana. Saya tidak tahu persis bagaimana nanti komunikasi kita dengan teman-teman di Budakeling, saya pikir kita lanjutkan hubungannya dari sana. Jadi saya minta Ibu Elga atau Mbak Listia bisa menceritakan formatnya bagaimana dan untuk tindak lanjutnya itu

102 mungkin kita bisa kontak person ke masing-masing desa dengan kita semua, saya pikir akan bisa berlanjut dari sana.

Ida Nyoman Triatmaja : Kalau mungkin kita akan bentuk sebuah perkumpulan atau organisasi dengan cara mengumpulkan semua pemuda yang ada di Budakeling tersebut. Saya menghubungi teman-teman dari lain-lain desa misalnya pemuda terutama yang justru beresiko tinggi seperti daerah pariwisata di Kecamatan Abang, Kecamatan Kubu. Jadi kita kerjasama dengan pemuda disana sebagai yang mendukung fasilitator kalau ada ceramah keliling. Intinya membentuk organisasi kecil-kecilan.

Listia : Ini sebenarnya komitmennya sudah mulai muncul walaupun belum begitu jelas. Ibu Suster juga saya kira bisa ikut. Mungkin Ibu Tuti sendiri ingin menyampaikan sesuatu silahkan.

Dr.Tuti Parwati : Kayaknya dari Ida Nyoman Triatmaja bilang, kita mulai kecil-kecilan dari Ashram sebagai tempatnya panitia, supaya lebih dekat untuk mengadakan pertimbangan kalau untuk Karangasem. Disamping tadi dimana pun mereka berada bisa lokal, tapi kita bicarakan yang untuk Karangasem. Dan tadi Seka terunanya Budakeling sudah siap jadi walaupun tergantung nanti disepakati dimana tempatnya tetapi akan lebih dekat disini. Misalnya Citra Usadha yang sudah ada di Karangasem juga. Seperti pos Citra Usadha yang sudah ada, karena kekurangan dana jadinya tidak bisa dijalankan lagi.

I Nyoman Sadra : Kalau memang teman-teman mempunyai komitmen untuk melanjutkan ini, saya kira Ashram kalau hanya fasilitas tempat dan saya sebagai individunya disini siap saja bekerjasama dengan temanteman. Tapi jangan nanti saya yang dipilih menjadi ketuanya.

Dr. Tuti Parwati : Kita harus bisa mencari kesempatan itu. Karena di desa-desa sering muncul permasalahan. Dulu pos PDI dipakai tempat minum tuak, arak. Dan sering juga saya baca di koran, kejadian itu terjadi karena mereka mampu. Perkelahian antar remaja, bentrok antar remaja menyangkut yang lebih besar nanti sebenarnya dimulai dari anak-anak mabuk ini. Awalnya adalah dari sana. Kita kalau sudah ke HIV/ AIDS, narkoba, miras sudah jadi satu karena kita sudah bertemu dan duduk bersama dengan remaja jadi lebih mudah dan isu-nya lebih banyak.

103

Elga Sarapung : Saya kira sudah semakin jelas. Saya akan menambahkan soal kerjasama kita baik Ashram, Citra Usadha, Uluangkep dan Interfidei, aku bekerja sama baik sebagai individu atau kelompok organisasi sehingga jaringan kita semakin luas untuk mensosialisasikan langkah ke depan yang lebih konkrit. Untuk langkah jangka pendek ke depan kita targetkan apa yang akan kita lakukan. Apakah kegiatan ini kita targetkan setiap bulan. Tapi paling tidak kita bisa berdiskusi untuk mencari pengalaman serta solusinya. Tadi ada usulan penyuluhan kepada kaum muda. Kalau kita sepakat ada penyuluhan atau model seperti ini kepada kelompok itu, bagaimana kita melakukan, kapan dan koordinasinya seperti apa. Kita lakukan dengan cara yang sederhana dulu.

Ida Nyoman Triatmaja : Untuk jangka pendek kita fokuskan dulu pada daerah yang beresiko tinggi seperti daerah pariwisata dl Tulamben dan di Amed. Untuk koordinasi nanti saya akan hubungi kepala desa disana untuk mengumpulkan warga melakukan ceramah disana. Kami hanya bisa menyediakan fasilitas seperti membantu mengirimkan surat atau menyediakan fasilitas yang bisa kami lakukan. Kalau untuk Budakeling gampang. Remajanya memang banyak namun kebanyakan merantau tinggal di Denpasar. Kami sendiri dari seka teruna masih sedikit yang tinggal di rumah. Kalau di Budakeling mungkin seka teruna di masing-masing banjar, kalau di banjar saya memang rutin melaksanakan kegiatan rapat setiap bulan. Bisa kita masuk setiap mereka ada pertemuan.

I Nyoman Sadra : Tadi pagi kita masuk ke dalam identitas. Karena kalau kita masuk ke sebuah komunitas maka pertanyaan pertamanya adalah anda siapa. Oleh karena itu usul saya, bagaimana kalau dibentuk sebuah wadah dulu yang mempunyai identitas kemudian baru kalau kita katakan birokrasi seperti pemuda Mesjid, Hindu. Kita mengadakan pendekatan serta memberi informasi tentang penyakit HIV/ AIDS ini. Kalau secara individu, masuk ke desa orang lain kadang-kadang dikucilkan. Sasaran kita pemuda, pemudanya dari kalangan berbagai agama. Kalau ingin membentuk wadahnya sebaiknya dipikirkan dulu.

Bejo Utomo : Saya sepakat apa yang dikatakan oleh Bapak Sadra bahwa ketika kita bicara disini dan berlatarbelakang identitas yang berbeda saya kira cukup relevan ketika kita membuat jaringan identitas agama, kemudian menyelenggarakan semacam pelatihan. Jadi lebih efektif dan lebih mudah ketika kita mengadakan penyuluhan ini berangkat dari ketersediaan Bapak Sadra sebagai

104 tuan rumah, saya lebih optimis kegiatan ini akan terlaksana misalkan teladan itu diikuti oleh tokohtokoh teruna-teruni dan diadakan disini. Untuk berbicara lebih teknis lagi saya kira seperti yang saya sampaikan bahwa kawan-kawan membentuk sebuah identitas yang kegiatan dengan bermodal niat, motivasi dari hati nurani. Sedangkan Bapak Sadra bermodal tempat, saya kira ada faktor-faktor lain yang mendukung untuk pelaksanaan kegiatan ini.

Luh De Suriyani : Saya berpikir kita mulai dari hal yang sangat sederhana, bagian dari itikad. Pertama kita dimulai dari pengumpulan alat-alat peraga seperti brosur, leaflet, kalau memungkinkan nanti kita hunting dimana. Nanti kita kumpulkan kemudian kita drop ke beberapa teman-teman yang kita kenal dulu. Mungkin saya akan drop ke suatu daerah di dusun Pekarangan, kemudian teman yang lain mungkin di Buitan. Pertama karena teman-teman mungkin banyak yang tidak mengenal HIV/ AIDS sehingga kita butuh alat peraga. Yang kedua semacam poster kita tempel di banjar-banjar. Saya pikir memungkinkan untuk itu. Kemudian di suatu desa kita bertemu dan ngobrol biasa saja, sudah melihat poster itu kita akan berbagi info. Kemudian nonton videonya.

Ida Nyoman Triatmaja : Menyikapi yang Bapak Sadra sampaikan, pertama kita harus membentuk suatu organisasi yang jelas sehingga nantinya ketika kita mau memasuki desa dan minta pertolongan kepada kepala desa disana identitas kita menjadi jelas. Dalam hal penggalian dana juga lebih mudah kalau kita membentuk LSM.

Marianus Marchelus : Memang susah berangkat dari hal seperti itu. Tetapi saya sepakat dengan Luh de tadi, kita mulai dari apa yang kita bisa dulu, paling tidak spirit kebersamaan. Misalnya untuk konteks Denpasar. Paling penting adalah pemetaan persoalan kemudian pemetaan kelompok strategis disana seperti ada yayasan. Tetapi bagi kawan-kawan yang dari Denpasar akan ada spirit mulai dari apa yang kita bisa. Saya kira kita berangkat dari pengalaman jangan sampai kita sudah membentuk wadah kemudian terbentur dengan hal-hal teknis lalu kita mundur.

Listia : Mungkin ini yang perlu. Ada persoalan yang agak rutin memikirkan bagaimana kita bisa melakukan sesuatu berkaitan dengan isu HIV/ AIDS dan narkoba ini. Berarti dalam hal ini dengan membentuk LSM, lalu mengadakan pertemuan yang agak rutin.

105 Bejo Utomo : Saya kira apa yang saya sampaikan cukup konkrit namun masih ada yang mengambang. Artinya bukan berarti saya terjebak dalam permasalahan teknis. Seperti contoh acara ini, ada berbagai pihak yang secara sinergis bekerjasama. Artinya ada Ashram, Interfidei, Uluangkep, Citra Usadha, mereka bekerja sesuai porsi-porsi dan ketika kita bicara rencana tindak lanjut kita jalan sesuai porsi akhirnya akan gampang. Kita bermodal niat sebagai tenaga teknis, mungkin Ibu Tuti sebagai donatur. Saya kira akan lebih konkrit. Misalkan kalau kita buat pamflet saya kira tidak mungkin. Kalau pamflet misalnya Yayasan Citra Usadha punya pamflet dan kita bekerja bersama, saya kira tidak akan terjebak masalah teknis.

Ujang Nuryanto : Maksudnya adalah setelah kita bentuk itu baru kita bentuk renstra-nya. Soal waktu, target, siapa yang mem-back up saya kira itu nanti kalau sudah ada komitmen untuk membentuk wadah yang informal. Daripada kita selalu berkutat dengan hal teknis. Paling tidak awalnya kita punya spirit berangkat dari hal-hal yang kita bisa.

Marianus Marchelus : Saya kira spirit sudah ada. Seperti yang dikatakan Ujang dia sudah siap untuk wilayah Karangasem kemudian kerjasama dengan Luh de dan teman-teman disini. Tadi Bejo bilang apakah nanti beberapa orang-orang penting ini seperti Yayasan Citra Usadha, Ashram, Interfidei apakah mendukung. Kami generasi muda biasa bekerja karena punya semangat, teknis memang tetapi ini mengganggu proses atau kelancaran action-nya. Saya bukan bilang soal dana, yang tanpa dana pun bisa kami buat tapi paling tidak ada suatu dukungan misalnya kalau di lapangan kami menemukan kesulitan, paling tidak ada pihak yang kami bisa berkomunikasi. Jadi bukan berarti teknis soal uang.

Elga J. Sarapung : Sebenarnya tadi sudah jelas bahwa kita perlu saling mendukung satu sama yang lain dan jangan bersikap pesimis. Dari diskusi terakhir kita akan coba yang jangka pendek, kalau sepakat yang 6 bulan ke depan kita akan bikin apa. Kita akan mengadakan penyuluhan tempat di Tulamben, Budakeling. Kita bisa daftar beberapa tempat untuk tahap ini. Kegiatannya ada penyuluhan, wadah bersama (pokja kelompok antar iman), lalu mengadakan persiapannya di Ashram. Sesudah ini kapan kita akan bertemu lagi disini untuk membicarakan lebih detail tentang bagaimana persisnya kegiatan ini akan kita lakukan. Persiapan-persiapan kapan tanggalnya, siapa yang akan bicara, siapa-siapa yang akan kita undang. Jadi lebih teknis ke pertemuan penyuluhan itu. Kita butuh sarana atau alat-alat peraga yang mendukung. Target kita adalah kaum muda. Kalau kita sudah sepakat kita

106 menghubungi satu lokasi dulu baru kita memilih mana yang harus dipilih. Walaupun tadi ada sedikit penjelasan kalau kita memilih Budakeling, kapan sesudah ini kita bikin pertemuan lagi.

I Nyoman Sadra : Tambahan sedikit kalau dalam jangka pendek kita berbuat saya pikir yang paling mungkin kita kerjakan sasarannya adalah sekolah SMA. SMA di daerah-daerah pariwisata karena pengaruh wisata sangat besar, berupa narkoba dan seks bebas. Kalau Budakeling masih terisolasi dan fanatisme terhadap hal-hal yang tabu cukup tinggi. Jadi yang rentan adalah daerah ini, kalau SMA, kita pilih SMA Manggis, Darma Kerthi. Yang dua ini paling memungkinkan karena dekat Ashram. Kalau kita mau mengadakan penyuluhan disana kita bisa koordinasi dengan kedua sekolah ini karena pendirinya adalah saya.

Elga J Sarapung : Sekarang ada dua usul namun target tetap sama yaitu kaum muda. Tapi sekarang kaum muda dalam bentuk komunitas kaum muda yang ada di suatu desa, di suatu tempat. Tapi ada usul lain kita coba ke sekolah-sekolah yaitu SMA. Lokasinya juga ada dua, apakah di Budakeling untuk kaum muda yang secara umum atau di daerah wisata sekitar sini yaitu Manggis. Kegiatan yang sama, penyuluhan dan saya kira yang lain sama. Wadah kita sementara kita namakan kelompok kerja. Kita bentuk kegiatan nanti yaitu penyuluhan dimana membutuhkan alat-alat peraga yang memang profesional.

I Nyoman Sadra : Tambahan pertimbangannnya begini, kalau kita mengumpulkan anak-anak desa di seka terunateruni mereka punya sangkepan tertentu. Kalau kebetulan pada hari mereka mengadakan pertemuan orangnya Ibu Tuti tidak bisa saya kira akan menjadi tarik ulur. Saya kira kalau di sekolah jauh lebih gampang dan di sekolah itu bukan berasal dari satu desa saja tapi sudah berasal dari beberapa desa adat. Jadi getarannya semakin kuat.

Listia : Yang ada dalam pikiran saya kelompok kerja ini tidak hanya melakukan satu kegiatan saja. Karena ini pokja antar iman mungkin baik jika bersama-sama datang ke komunitasnya Ujang dan bicara soal ini disana. Bersama-sama komunitas di Budakeling. Kemudian di komunitas Gereja karena ada Suster, jadi suster yang juru bicara. Kalau kita ingin mengajak seka teruna kalau mereka tidak mengerti juga percuma. Mungkin tidak kalau di antara waktu-waktu yang tersisa ada kunjungankunjungan dalam pokja ini tidak hanya orang per orang tapi antar komunitas itu juga ada relasi.

107

Suster Maria Calista : Kalau tawaran seperti itu saya kira sangat baik. Tapi saya belum bisa memastikan ya atau tidak apalagi di Gereja kalau saya belum bicara dengan orang Gerejanya atau dengan komunitas saya padahal saya tidak bisa mengambil inisiatif sendiri. Ada orang tertentu. Mungkin saya rasa itu baik juga saran agar kita semakin akrab. Tambahan dari saya. Yang menjadi pemikiran saya saat ini adalah mungkinkah saya merealisasi apa yang ditemukan ini. Saya merasa sangat berat karena saya belum begitu memahami dan baru kali ini ada pertemuan ini.

Listia : Jadi yang bicara cuma dari Citra Usadha dan nanti Suster berdasarkan dari gerejanya. Soal HIV-nya nanti kita minta tolong teman-temannya Putu. Kita saling bantu dan bukan suster yang nanti membahas HIV-nya.

Bejo Utomo : Saya ingin memfokuskan ke hal itu. Mengenai usul saya, saya lebih menekankan pada usul pertama saya yaitu ada semacam pelatihan atau pertemuan semacam ini, bukan penyuluhan. Misalnya 2 hari dan pesertanya tokoh-tokoh kaum muda. Artinya setelah acara bisa mentransformasi apa yang diperoleh oleh teman-teman. Saya kira ini lebih efektif dan sekali kerja jangkauannya sangat luas.

Ida Nyoman Triatmaja : Memang boleh saja dari perwakilan misalnya dari ketua-ketua pemuda. Tapi masalahnya kami di pemuda kadang-kadang punya suatu watak yang menyepelekan dan ketika orang-orang yang berbicara bukan pakar maka kurang bisa menyentuh perasaan mereka.

Dr.Tuti Parwati : Sudah mulai tergambar, goresan-goresannya sudah mulai terbentuk, walaupun bentuknya masih ada 2 macam dimana yang satu fokusnya adalah HIV/ AIDS dan narkoba tapi yang lainnya tidak hanya untuk HIV/ AIIDS dan narkoba tetapi juga supaya mendapat dampak sampingan daripada kegiatan ini. Karena itu kelompok kerjanya antar iman. Jadi tidak satu kelompok yang kemudian menyuluh ke kelompok masing-masing. Tapi kita ke suatu komunitas tertentu. Jadi kelihatan kita bisa bekerja dengan baik, bersama-sama dalam action untuk menyentuh kemanusiaan yang kita semua perlu. Itu suatu tindakan praktis, contoh yang tidak perlu dikampanyekan lagi dan merupakan contoh yang kita bawa ke lapangan. Itu sebenarnya dampak sampingan yang tadi diusulkan. Disamping itu kalau namanya pokja antar iman lalu isunya hanya terbatas tapi kita jangan memikirkan isu yang terbatas

108 dan hanya membicarakan itu-itu saja namun makin lama makin mulai dengan isu kemanusiaan. Akhirnya kita sentuh mulai dengan HIV/ AIDS, narkoba yang semua kita akan alami sesudah itu kita bicarakan. Mengenai pembicaranya siapa yang kita akan ajak harus dipilih, perlu menampilkan ODHA, perlu menampilkan lembaga lain seperti yayasan atau lembaga lain yang kompeten untuk memberikan informasi itu. Kita ajak mereka dan undang sehingga mereka terlibat juga dengan kita. Misalnya dari Yayasan Citra Usadha kita minta mantan pecandu yang bicara. Tapi tetap ada rencananya kapan.

Ida Nyoman Triatmaja : Yang terpenting disini adalah bagaimana membangkitkan perasaan. Seperti usul teman tadi kalau hanya ketuanya diundang rasanya sentuhannya kurang.

Dr. Tuti Parwati : Sebenarnya sama halnya dengan ketua, sebelum mereka jadi ketua memang dilatih dahulu. Misalnya kalau penyuluhan kita dahulukan maka kita memberikan pemaparan kepada sejumlah orang yang lebih banyak. Kemudian setelah penyuluhan itu barangkali siapa yang berminat dan tertarik maka bisa direkrut. Jadi dilatih entah yang tadi ketua-ketua. Kalau tadi langsung ketuanya diundang dan bisa juga dikasih dahulu paparan umum siapa yang berminat, dan kalau kemudian ketuanya berminat lebih bagus lagi. Jadi itu baru mungkin ada pelatihan. Disana digali kebutuhan apa yang diinginkan menurut yang datang itu enaknya bagaimana. Jadi lebih kepada fakta realitas yang diinginkan mereka bukan dari rencananya orang yang jauh dari tempat itu.

Elga J Sarapung : Kalau kita lihat usulan kita sudah semakin maju. Konsentrasi tetap pada HIV. Wadah ini kita namakan pokja antar iman. Kegiatan yang akan kita adakan untuk langkah ke depan adalah penyuluhan, diskusi bersama dan pelatihan. Tempat di komunitas masing-masing, bisa di sekolahsekolah maupun di kelompok desa. Sekretariat bersama adalah Gedong Gandhi Ashram. Kalau ini bisa kita sepakati akan bagus.

Alfred Benediktus : Saya mengusulkan bagaimana teman-teman membentuk tim pokja dulu nanti mereka yang menentukan, baru setelah ini kita pertemuan dimana dan siapa yang akan terlibat supaya lebih konkrit.

109 Bejo Utomo : Saya kira dari ketiga kegiatan itu terlalu banyak yang kita pikirkan. Saya kira harus mengambil satu kegiatan yang kita putuskan sekarang, itu yang pertama. Kemudian yang kedua mengenai pertemuan saya sudah bicara dengan Ujang. Sebenarnya dalam pokja antar iman ini perlu koordinator teknis. Saya sepakat Ujang, ini langsung konkrit karena Ujang sering ke Denpasar, kalau boleh minta ijin Bapak Sadra pertemuannya di Ashram karena lebih enak dan dekat dengan teman-teman yang lain.

Ujang Nuryanto : Menurut penilaian saya Ida Nyoman Triatmaja kayaknya mantap dan lebih konkrit untuk menjadi koordinator. Karena disini mungkin mayoritas Hindu, kalau pakai embel-embel kejawaan seperti nama saya kurang mendapat respon dari masyarakat. Kita coba koordinatornya yang lokal.

Luh De Suriyani : Ini komitmen pribadi yang bersifat sangat manusiawi, menggugah rasa kemanusiaan siapa pun. Semua orang kerja, semua orang sibuk namun komitmen pribadi saya, saya akan mulai dari komunitas yang terdekat dengan saya karena rasa primodial atau rasa feodal itu tidak bisa dipungkiri. Kadang-kadang rasa emosional kita lebih nyaman di tempat yang terdekat dengan kita. Menurut pribadi saya, saya akan coba mengumpulkan alat-alat peraga dari teman-teman di Denpasar kemudian minta penjelasan dari Ibu Tuti. Saya akan drop ke dusun Pekarangan. Yang kedua pokja antar iman, baiklah saya akan coba datang.[]

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->