TUGAS MATA AJARAN PERANCANGAN STRUKTUR PEKERASAAN

Kriteria Perancangan Perkerasaan Jalan

Disusun Oleh : Desy Evriyani : 1106139191 Julian Cipta Nadri : 1106139456 Rizka Yuliani : 1106139

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA 2012

(untuk jalan Kabupaten).038/T/BM/1997) FUNGSI KELAS MUATAN SUMBU TERBERAT (MST – ton) Arteri I II IIIA Kolektor IIIA IIIB Lokal IIIC 8 > 10 10 8 8 . Kualifikasi Kelas Jalan Antar Kota (Sumber:TPGJAK-No. Peningkatan Jalan. selalu ada 3 (tiga) parameter desain. 3. Klasifikai kendaraan Pengelompokkan kendaraan untuk keperluan desain struktur perkerasan jalan. Pemeliharaan Jalan. untuk jangka 5 tahun.KRITERIA PERANCANGAN PERKERASAN JALAN Dalam perancangan perkerasan.1. dengan menggunakan metode manapun.1a (untuk jalan antar kota) dan Tabel 1. Pembebanan lalu lintas. untuk masa layan 10 tahun dan c. Umur rencana. misalnya: a. Parameter Perancangan Perkerasaan Jalan 1. Pembangunan Jalan Baru.1b. dibagi atas: Tabel 1. Umur rencana ditetapkan sesuai dengan program penanganan jalan yang direncanakan. (untuk jalan perkotaan) dan Tabel 1. yaitu: 1.1a.c. Standard kelas jalan Klansifikasi Jalan menurut Kelas Jalan dapat dilihat pada Tabel 1. untuk masa layan 20 tahun. 2. b.

000 PRIMER: * Arteri * Kolektor * Jalan Lokal > 20.000 < 6.000 > 6.1.Tabel 1.1.1988 Tabel 1.000 > 500 < 500 I I II I II II III III IV Sumber : Standar Perencanaan Geometrik untuk Jalan Perkotaan .000 < 10.b.c. Klasifikasi Jalan Kabupaten FUNGSI VOLUME LALU LINTAS (Dalam SMP) SEKUDER : *Jalan Lokal > 500 201 – 500 50 – 200 < 50 III A III B1 IIIB2 IIIC 50 40 40 30 40 30 30 30 30 30 30 20 D KELAS KECEPATAN ( km/jam) MEDAN B G (Sumber : Petunjuk Perencanaan Teknis Jalan Kabupaten – 1992 Dirjen Bina Marga) .000 < 20. Klasifikasi Jalan Perkotaan Jalan Tipe I (Penganturan Jalan Masuk : Penuh) FUNGSI PRIMER: * Arteri * Kolektor SEKUNDER : * Arteri KELAS I II II Jalan Tipe II (Penganturan Jalan Masuk : Sebagian atau tanpa pengaturan) FUNGSI KELAS MUATAN SUMBU TERBERAT (MST – ton) PRIMER: * Arteri * Kolektor > 10.

traffic lane). diatur pada Peraturan Pemerintah RI no. dibatasi oleh: * Lebar antara batas ambang pengaman jalan dikedua sisi jalan. secara fisik berupa perkearsan jalan. Jalan Arteri minimum 20. daerah milik jalan.5 m.Tinggi 5. Ketentuan mengenai Bagian Jalan. dibatasi oleh: * Lebar yang sama dengan DAMAJA ditambah dengan ambang pengaman jalan. diluar DAMAJA.00 meter diatas permukaan perkerasan pada sumbu jalan. iii.Penampang Jalan Potongan melintang Jalan terdiri dari: a. diukur dari sumbu jalan. daerah manfaat jalan. dengan tinggi 5. . dan peruntukan penempatan utilitas dan fasilitas yang dibolehkan. dibatasi oleh: .  Batas jalur lalu lintas dapat berupa: . .tinggi dan lebar tertentu. . ii. daerah pengawasan jalan. Jalur lalu lintas adalah bagian jalan yang digunakan untuk lalu lintas kendaraan (carrage way. b. DAMIJA. 3.00 meter. 2. daerah ruang sepanjang jalan. Jalan Kolektor minimum 15. sebagai berikut: 1.Didaerah tikungan ditentukan oleh jarak pandang bebas. Jalan Lokal minimum 10.5 meter dibawah muka jalan. DAWASJA.000 meter. DAMIJA. DAMAJA. Elemen jalan:          Jalur lalu lintas Median dan jalur tepian (kalau ada) Bahu Jalan Jalur perjalan kaki (trotoar) Jalur hijau Ambang pembatas (frontage road) Jalur parker Batas luar Jalan (outer separation) Selokan dan lereng c. DAWASJA.0 meter dan kedalaman 1. 26/1985 pasal 21. DAMAJA. 00 meter.Kedalaman ruang bebas 1. Bagian Jalan yang merupakan daerah penguasaan jalan terdiri dari: i.

 Jalur lalulintas dapat terdiri dari:  1 jalur : 2 lajur – 2 arah (2/2 TB)  1 jalur : 2 lajur – 1 arah (2/1 TB)  2 jalur : 4 lajur – 2 arah (4/2 B)  2 jalur : n lajur – 2 arah (n/2 B) Dimana: n = jumlah lajur TB = tidak terbagi B = terbagi d.Lebar minimum median dan jalur tepian (marginal strip).Median yang ditinggikan.00 m. Tempat prasarana kerja sementara.  Pulau jalan (island)  Bahu  Separator. atau trotoar.Median yang direndahkan : jalur tepian dan bangunan. . Penempatan fasilitas jalan. dibedakan menjadi: . Lebar minimum median yang direndahkan 7. Median. berfungsi untuk: Memisahkan dua aliran lalulintas yang berlawanan arah. Cadangan lajur (untuk pengembangan jumlah lajur) Perlindungann terhadap silau lampu kendaraan berlawanan. Penghijauan.2. Tempat berhenti darurat (jika cukup luas). Cadangan berhenti darurat (jika cukup luas). dapat dilihat pada Tabel 1. Ruang lapak tunggu penyeberang jalan. . Median. . . Lebar minimum median yang ditinggikan 2.00 m. Jalan dua arah dengan empat lajur atau lebih perlu dilengkapi median.Pemisah jalur yang direndahkan. bagian bangunan jalan yang secara fisik memisahkan dua jalur lalulintas yang berlawanan arah.

50 0.50 0.00 0.26/1985 Kelompok Struktur Jalan Lentur Struktur perkerasan jalan lentur dibuat secara berlapis terdiri dari elemen perkerasan: lapisan pondasi bawah (sub base coure) – lapisan pondasi atas (base coure) – lapisan permukaan (surface course) yang dihampar pada tanag dasar (sub grade). pohon dan benda-benda yang tidak bergerak.00 0. atau dapat dikatakan tebal struktur perkerasan sangat tergantung pada kondisi atau daya dukung dasar.Tabel 1. fasilitas utilitas. . Penempatan utilitas didaerah penguasaan jalan ditetapkan berdasarkan PP. Lebar Median Klasifikasi Jalan Lebar Min.50 2.50 2.25 2. Tebal struktur perkerasan dibuat sedemikian rupa sampai batas kemampuan tanah dasar memikul beban lalu – lintas.25 2. Median (m) Arteri Primer (Full Access Control) Kolektor Primer / Arteri Sekunder (Partai atau Non Access Control) Arteri Primer / kolektor primer / arteri sekunder (partai atau non-access control) Kolektor Primer / Arteri Sekunder / Kolektor Sekunder (Partai atau Non-assess control) Kolektor Sekunder / Lokal Sekunder (Partai atau Non-assess control) 1.75 Laber jalur tepian Sumber: Standar Perecanaan Geometrik Jalan Perkotaan Ruang Bebas Kendaraan Didalam ruang bebas kendaraan tidak diperkenankan adanya bangunan.2. Masing-masing elemen lapisan diatas termasuk tanah dasar secara bersama-sama memikul beban lalu – lintas.00 0.No.

Sifat mengembang dan menyusut dari tanah tertentu akibat perubahan kadar air.Kemudahan untuk dipadatkan. yaitu pada tanah berbutir kasar (granular soil) yang tidak dipadatkan secara baik pada saat pelaksanaan. Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut: a. .Sifat ekspansive tanah dan lain-lain. Para perancang dan pelaksaan harus menganti betul bagaimana sifat dan karakteristik tanah dari bahan material tanah dasar. atau akibat pelaksanaan. c. Tambahan pemadatan akibat pembebanan lalu-lintas dan penurunan yang diakibatkannya. Pemilihan jenis tanah yang dapat dijadikan tanah dasar melalui penyelidikan tanah menjadi penting karena tanah dasar akan sangat menentukan tebal lapis perkerasan diatasnya. e.Daya dukung dan kestabilan tanah yang cukup. Perubahan bentuk tetap (deformasi permanent) dari macam tanah tertentu akibat beban. seperti: . Disiplin ilmu mekanika tanah dan geoteknik sangat membantu untuk mengantisipasi perilaku dari tanah dasar. Tidak semua jenis tanah dapat digunakan sebagai tanah dasar pendukung badan jalan secara baik. Daya dukung tanah yang tidak merata dan sukar ditentukan secara pasti pada daerah dengan macam tanag yang sangat berbeda sifat dan kedudukannya.Kemudahan meluluskan air (drainase) . . sifat fisik perkerasan dikemudian hari dan kelakuan perkerasan seperti deformasi permukaan dan lain sebagainya.Plastisitas dari tanag. . b. karena harus dipertimbangkan beberapa sifat yang penting untuk kepentingan struktur jalan. . . . sebelum benar-benar dipilih sebagai subgrade (pertimbangan perancangan) dan sebelum dilaksanakan pengerjaannya sebagai struktur perkerasan yang paling bawah (pertimbangan pelaksanaan). d. Lendutan dan lendutan balik selama dan sesudah pembebanan lalu-lintas dari macam tanah tertentu.Komposisi dan gradasi butiran tanah.Elemen Tanah Dasar (Sub Grade) Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat-sifat dan daya dukung tanag dasar.Sifat kembang susut (swelling) tanah.

yang berfungsi sebagai bagian perkerasan yang mendukung lapis permukaan dan beban-beban roda yang bekerja diatasnya dan menyebarkan tegangan yang terjadi ke lapis pondasi bawah. Untuk mencegah tanah dasar masuk kedalam lapis pondasi.Pondasi bawah yang menggunakan aggregate. Menjaga efisiensi penggunaan material yang relative murah agar lapisan-lapisan selebihnya dapat dikurangi tebalnya (penghematan biaya konstruksi). Pondasi bawah yang menggunakan batu pecah. Pondasi bawah yang menggunakan material ATSB (Asphalt Treated Sub-Base) atau disebut Leston Bawah (Lapis Aspal Beton Pondasi Bawah). f.Elemen Lapis Pondasi Bawah (Sub-Base Coure) Lapis pondasi bawah (subbase) adalah suatu lapisan perkerasan jalan yang terletak antara tanah dasar dan lapis pondasi “atas” (base). yang berfungsi sebagai bagian perkerasan yang meneruskan beban diatasnya. Ada berbagai jenis lapis pondasi bawah yang sering dilaksanakan yaitu: a. Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk mendukung dan menyebarkan beban roda. d. kemudian ke lapis tanah dasar. c. e. Hal ini sehubungan dengan terlalu lemahnya daya dukung tanah dasar terhadap rodaroda alat-alat berat atau karena kondisi lapangan yang memaksa harus segera menutup tanah dasar dari pengaruh cuaca. Pondasi bawah yang menggunakan tanah pasir. Elemen Lapis Pondasi Atas (Base Course) Lapis pondasi atas (LPA) adalah suatu lapisan perkerasan jalan yang terletak antara lapis permukaan dan lapis pondasi “bawah” (subbase). dengan balas pasir. b. b. PI < 10%) yang relative lebih baik dari tanah dasar dapat digunakan sebagai bahan pondasi bawah. dan selanjutnya menyebarkan tegangan yang terjadi ke lapis tanah dasar. d. Lapis pondasi bawah dibuat diatas tanah dasar yang berfungsi diantaranya sebagai: a.Pondasi bawah yang menggunakan sirtu yang mengandung sedikit tanah. c. Sebagai lapis pertama agar pelaksanaan dapat berjalan lancar. . Pondasi bawah menggunakan stabilitas tanah. Bermacam-macam material setempat (CBR > 20%.

melalui tahapan pemecahan. c. * BAHAN : . b. Meneruskan limpahan gaya lalu lintas ke lapis pondasi bawah. sehingga menghasilkan suatu bahan yang sesuai dengan persyaratan-persyaratan spesifikasi yang telah ditentukan. Secara umum dapat berupa: a. Sebagai perletakan terhadap lapis permukaan. Pondasi atas menggunakan stabilisasi material. Pondasi atas yang menggunakan material ATB (Asphalt Treated Base) atau disebut Laston (Lapis Aspal Beton) Atas. Pondasi atas yang menggunakan material pondasi Telford. b. b.Lapis pondasi atas dibuat diatas lapis pondasi bawah yang berfungsi diantaranya: a.Disela-sela batu diisi dengan batu pengunci. untuk pondasi atas adalah dari batu pecah yang bergradasi tertentu. Pondasi atas yang menggunakan Asphalt Treated Base = Laston (Lapis Aspal Beton) Pondasi Atas. Pondasi atas yang menggunakan material aggregate. a. Bermacam-macam bahan aqlam/bahan setempat (CBR > 50%. hendaknya dilakukan penyeledikan dan pertimbangan sebaik-baiknya sehubungan dengan persyaratan teknik yang ada. c. penyaringan. Pondasi atas yang menggunakan material pondasi Telford. pemisahan dan pencampuran. * BAHAN: . Batu pecah tersebut berasal dari proses di crusbing plat. d. . Sebagai bagian perkerasan yang menahan beban roda. PI < 4%) dapat digunakan sebagai bahan lapis pondasi atas. Bahan-bahan untuk pondasi atas. . * BAHAN . Sebelum menentukan suatu bahan untuk digunakan sebagai lapis pondasi atas. antara lain : batu pecah. Pondasi atas yang menggunakan material aggregatat. kerikil pecah.Material agregat yang digunakan. c. yang disusun beraturan secara vertical. umumnya harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan beban roda. dan / atau stabilitas tanah dengan semen atau kapur. dengan maksud agar susunan batu terkunci dengan cukup kuat dan kokoh.Selanjutnya dihampir pasir kasar dan dipadatkan.Batu yang digunakan dapat terdiri dari batu kali atau batu gunung.

4. bahan organic dan bahan-bahan lainnya yang tidak dikehendaki.  Pasir harus non-plastis. Perespan agregat terhadap air maksimum 3% Gumpalan lempung dalam agregat maksimum 25% Berat jenis semu (apparent) agregat minimum 2. . serta memenuhi persyaratan berikut: Tabel 1.3.075 % BERAT LOLOS SARINGAN 100 95-100 66-100 52-78 47-57 42-56 13-54 4-31 3-8 - Kehilangan berat akibat abrasi mesin Los Angeles pada 500 putaran : 40% Kelekatan agregat terhadap aspal 95%.75 2. yang bersih dari lempung. bersih dari bahan-bahan lempung.5 Minimum agregat kasar yang tertahan saringan no.5 4.15 0.6 0.36 0.0 19. Indeks kepipihan maksimum 25%. organic dan bahanbahan lainnua yang tidak dikehendaki. serta mempunyai sand equivalent minimum 50%. Agregat  Agregat Agregat yang digunakan berupa sirtu hasil pecah mesin (crushed gravel) atau batu pecah (crushed stone).1. Persyaratan Gradasi Agregat ATB UKURAN SARINGAN (mm) 25.0 9.0 13. (AASHTO T-176).

MC-70.LASBUTAG (Lapis Aspal Buton Aggregat Campuran dingin). Sebagai bahan perkerasan untuk menahan beban roda.Bahan peng-stabilisasi digunakan semen atau kapur (lihat Tabel 3. aspal emulai jenis CRS. yang berarti mempertinggi daya dukung lapisan terhadap beban roda lalu-lintas.Asphaltic Concrete=AC(LASTON)= Lapis Aspal Beton). .80/100 yang memenuhi persyaratan. d. Bahan yang umum digunakan untuk Lapis Permukaan adalah: . . Pondasi atas yang menggunakan material stabilisasi (lihat Stabilisasi Pondasi Bawah diatas) *BAHAN : . umur rencana.Jenis CB1 dan CB2 adalah untuk lapis pondasi atas (lihat Tabel 3.Hot Rolled Asphalt (HRA) dalam hal ini HRS (Hot Rolled) Sheet)= LATASTON (Lapis Tipis Aspal Beton) . disamping itu bahan aspal sendiri memberikan bantuan tegangan tarik.2. aspal emulasi dari jenis CMS atau MS atau MS yang memenuhi persyaratan. c.60/70 atau Pen. Penggunaan bahan aspal diperlukan sebagai bahan pengikat agregat dan agar lapisan dapat bersifat kadap air.6). Pemilihan bahan untuk lapis permukaan perlu dipertimbangkan kegunaan. b. .  Aspal cair yang digunakan untuk lapisan pengikat (tackoat). MC-250. dengan persayatan bahan yang memenuhi standar. Sebagai lapisan rapat air untuk melindungi badan jalan dari kerusakan akibat cuaca. serta pertahanan konstruksi. adalah dari jenis RC-70. Bahan Pengikat  Aspal keras yang digunakan adalah dari jenis Pen.4) Elemen Lapis Permukaan (Surface Course) Fungsi lapis permukaan antara lain: a. agar dicapai manfaat yang sebesar-besarnya dari biaya yang dikeluarkan. RC-250.  Aspal cair yang digunakan untuk lapis resap pengikat (primecoat) terdiri dari jenis MC-30. Bahan untuk lapis pemukaan umumnya adalah campuran bahan agregat dan aspal. Sebagai lapisan aus (wearing course). atau RS yang memenuhi syarat.5. dan Tabel 3.

BURDA (Laburan Aspal Dua Lapis) dan BURTU (Labur Aspal Satu Lapis) .SMA (Split Mastic Asphalt). .LATASBUM (Lapis Tipis Aspal Buton Murni) .LATASIR (Lapis Tipis Aspal Pasir) . dll. ..BMA (Butonized Mastic Asphalt).BURAS (Laburan Aspal) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful