P. 1
LANDASAN

LANDASAN

|Views: 122|Likes:
Published by Lina Herlinawati II

More info:

Published by: Lina Herlinawati II on Nov 01, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/21/2013

pdf

text

original

LANDASAN PENDIDIKAN

Mei 25, 2009 · Disimpan dalam Uncategorized LANDASAN PENDIDIKAN Praktek pendidikan diupayakan pendidik dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar mampu mewujudkan diri sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya. Semua tindakan pendidik diarahkan kepada tujuan agar peserta didik mampu melaksanakan berbagai peranan sesuai dengan statusnya, berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma yang diakui. Dalam pernyataan di atas tersurat dan tersirat bahwa pendidikan berfungsi untuk memanusiakan manusia, bersifat normatif, dank arena itu mesti daapt dipertanggungjawabkan. Sehubungan dengan hal diatas, praktek pendidikan tidak boleh dilaksanakan secara sembarang, sebaliknya harus dilaksanakan secara didasari dan terencana. Artinya, praktek pendidikan harus memiliki suatu landasan yang kokoh, jelas dan tepat tujuannya, tepat isi kurikulumnya, dan efisien serta efektif cara-cara pelaksanaannya.Implikasinya, dalam rangka pendidikan mesti terdapat momen berpikir dan momen bertindak, mesti terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan. Sebelum melaksanakan prakterk pendidikan, diantaranya mengenai landasan-landasannya. Sebab, landasan pendidikan akan menjadi titik tolak praktek pendidikan. Landasan pendidikan akan menjadi titik tolak dalam menetapkan tujuan pendidikan, memilih isi pendidikan, memilih cara-cara pendidikan. dst. Dengan demikian praktek pendidikan diharapkan menjadi mantap, sesuai dengan fungsi dan sifatnya, serta betul-betul akan dapat dipertanggungjawabkan. A. Pengertian Landasan Pendidikan Landasan, istilah landasan mengandung arti sebagai alas, dasar atau tumpuan (kamus besar bahasa Indonesia, 1995:560). Istilah landasan dikenal pula sebagai fundasi. Mengacu pada pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa landasan adalah alas atau dasar pijakan dari sesuatu hal; suatu titik tumpu atau titik tolak dari suatu hal ; atau suatu fundasi tempat berdirinya sesuatu hal. Menurut sifat wujudnya dapat dibedakan dua jenis landasan yaitu : (1) landasan yang bersifat material, dan (2) landasan yang bersifat konseptual. Contoh landasan yang bersifat material antara lain berupa landasan pacu pesawat terbang dan fundasi bangunan gedung. Adapun contoh landasan yang bersifat konseptual antara lain berupa dasar Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila dan UUD RI Tahun 1945; landasan pendidikan, dsb. Landasan yang bersifat konseptual identik dengan asumsi, yaitu suatu gagasan, kepercayaan, prinsip, pendapat atau pernyataan yang sudah dianggap benar, yang dijadikan titik tolak dalam rangka berpikir (melakukan suatu studi) dan/atau dalam rangka bertindak. (melakukan suatu praktek). Landasan pendidikan. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa landaan pendidikan adalah seperangkat asumsi yang dijadikan titik tolak dalam rangka pendidikan. Sebagaimana telah kita pahami, dalam pendidikan mesti terdapat momen studi pendidikan dan momen praktek pendidikan. B. Jenis-jenis Landasan Pendidikan Asumsi-asumsi yang menjadi titik tolak dalam rangka pendidikan dari berbagai sumber, dapat bersumber dari agama, filsafat, ilmu dan hukum atau yuridis. Jenis landasan pendidikan dapat diidentifikasi dan dikelompokan menjadi : 1) landasan religious pendidikan, 2) landasan filosofis pendidikan, 3) landasan ilmiah pendidikan, dan 4) landasan hukum/yuridis pendidikan. Landasan Religius Pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari ajaran agama yang

Contoh „Semboyan “tut wuru handayani”. dst. tujuan dari isi pendidikan mesti disesuaikan dengan tahapan dan tugas perkembangan individu/peserta didik. Contoh. serta dapat dipertanggungjawabkan. Landasan filosofis Pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari filsafat yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan.”Implikasinya. Contohnya: Carilah ilmu sejak dari buaian hingga masuk liang lahat/meninggal dunia. bagi setiap muslim bahwa belajar atau melaksanakan pendidikan sepanjang hayat merupakan suatu kewajiban. Adapun fakta yang memungkinkan terjadinya mobilitas social itu antara lain bakat dan pendidikan.” Di dalam masyarakat yang menganut stratifikasi social terbuka terdapat peluang besar untuk terjadinya mobilitas social. para orang tua rela berkorban membiayai pendidikan anakanaknya. dsb).dijadikan titik tolak dalam pendidikan. sebagai salah satu peranan yang harus dilaksanakan oleh para pendidik. Landasan psikologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah psikologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. landasan sosiologi pendidikan. adalah semboyan dari Ki Hadjar Dewantara (Pendiri Perguruan Nasional Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1992 di Yogyakarta) yang disetujui hingga masa kini dan untuk masa datang karena dinilai berharga. Landasan Hukum/Yuridis Pendidikan. Contoh. Landasan deskriptif pendidikan antara lain meliputi .” (hadist). Contoh : perbedaan kebudayaan masyarakat di berbagai daerah (misalnya: system mata pencaharian. Undangundang Republik Indonesia No. Dengan demikian landasan yang kokoh setidaknya kesalahan-kesalahan konseptual yang dapat merugikan akan dapat dihindarkan sehingga praktek pendidikan diharapkan sesuai dengan fungsi dan sifatnya. landasan antropologi pendidikan. dan dijadikan semboyan pada logi Depdiknas.”Implikasinya. artinya jelas dan tepat tujuannya. Contoh. Implikasinya. Landasan Sosiologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah sosiologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Landasan historis pendidikan adalah asumsi-asumsi pendidikan yang bersumber dari konsep dan praktek pendidikan masa lampau (sejarah) yang dijadikan titik tolak perkembangan pendidikan masa kini dan masa datang. Landasan ilmiah pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari disiplin ilmu tertentu yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Fungsi Landasan Pendidikan Pendidikan yang diselenggarakan dengan suatu landasan yang kokoh. dan pada setiap tahap perkembangannya setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikannya. . dsb. bahasa. yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. sebab itu landasan pendidikan deskriptif disebut juga sebagai landasan ilmiah atau landasan pendidikan factual pendidikan. Landasan deskriptif pendidikan adalah asumsi-asumsi tentang kehidupan manusia sebagai sasaran pendidikan apa adanya (Dasein) yang dijadikan titik tolak dalam rangka pendidikan. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. dsb. kesenian. pendidikan mesti dilaksanakan secara bertahap.”Menuntut ilmu adalah fardhlu bagi setiap muslim. adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari peraturan perundanganan yang berlaku. C.”Setiap individu mengalami perkembangan secara bertahap. efisien dan efektif cara-cara pendidikan yang dipilihnya. landasan psikologis pendidikan. tepat pilihan isi kurikulumnya. landasan antropologis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari kaidah-kaidah antropologi yang dijadikan titik tolak dalam pendidikan. Landasan deskriptif pendidikan umumnya bersumber dari hasil riset ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu. maka prakteknya akan mantap. mengimplikasikan perlu diberlakukan kurikulum muatan lokal.

sumber. tetap ia tidak hidup sendirian. 1968). melainkan diciptakan oleh Pengatur tujuan tersebut. Menurut Evolusionismme. Tuhan pasti ada dan realitas ada-Nya itu pasti lebih sempurna daripada ide manusia tentang Tuha. artinya bahwa keberadaan manusia pada saat in terpaut kepada masa lalunya. ia mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. . dan merupakan subjek yang otonom. Dua aliran filsafat yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. sekarang. Di alam semesta terdapat rangkaian sebab akibat. memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga bersifat unik. yaitu : 1) sebagai kompleks dari ide-ide. akan datang). Keberegamaan merupakan salah satu karakteristik esensial manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan akan kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam sikap dan perilakunya. Moralitas. Sementara itu. Ini menunjukan adanya dasar. 4) Argumen Moral : Manusia bermoral. peraturan-peraturan. Historisitas. Sebab itu. manusia adalah hasil puncak dari mata rantai evolusi yang terjadi di alam semesta. Kebudayaan adalah “keseluruhan sistem gagasan. Adapun secara filosofis penolakan tersebut antara lain didasarkan kepada empat argument berikut ini : 1) Argumen ontologism . ilmu pengetahuan. Sekalipun setiap manusia adalah individual/personal. Adapun menurut Immanuel Kant disebabkan pada manusia terdapat rasio praktis yang memberikan perintah mutlak (categorical imperative). Semua manusia memiliki ide tentang Tuhan.MANUSIA DAN PENDIDIKAN A. Dimanapun manusia berada. norma-norma. Segala sesuatu yang ada mesti mempunyai suatu sebab. Manusia sebgaimana halnya alam semesta ada dengan sendirinya berkembang dari alam itu sendiri. dan 3) sebagai bendabenda hasil karya manusia. segala sesuatu (realitas) tidak terjadi dengan sendirinya. dan tujuan moralitas itu adalah Tuhan. tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan belajar” (Koentjaraningrat. Adanya alam semesta termasuk manusia adalah sebagai akibat. Butler. Eksistensi manusia memiliki dimensi moralitas. dalam perjalanan hidupnya manusia mempertanyakan tentang asal-usul alam semesta dan asal-usul keberadaan dirinya sendiri. nilai-nilai. Keberegamaan. kaki untuk berjalan dsb.D. Segala sesuatu memiliki tujuan (contoh : mata untuk melihat. dsb. 3) Argumen Teleologis. Manusia memiliki dimensi moralitas karena ia memiliki kata hati yang dapat membedakan antara baik karena ia memiliki kata hati yang dapat membedakan antara baik dan jahat. namun tentunya mesit ada sebab Pertama yang tidak disebabkan oleh yang lainnya. Sebab itu. tanpa Pencipta. Eksistensi manusia memiliki dimensi historisitas. 1985). dsb. yaitu Tuhan. tak mungkin hidup sendirian. artinya manusia adalah satu kesatuan yang tak dapat dibagi. ia dapat membedakan perbuatan yang baik dan yang jahat. melainkan ia juga hidup dalam keterpautan dengan sesamanya. baik dalam rentang waktu (dulu. Ada tiga jenis wujud kebudayaan.). Sosialitas. 2) Argumen Kosmologis.Dasar. bahwa realitas (kenyataan) lebih sempurna daripada ide manusia. 2) sebagai kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyrakat. Hakikat Manusia Manusia adalah makhluk Tuhan YME. yaitu Evolusionisme dan Kreasionisme (J. ia belum selesai mewujudkan dirinya sebagai manusia. sumber dan tujuan moralitas. Sebaliknya filsapat Kreasionisme menyatakan bahwa asal-usul manusia. Hal ini terdapat pada manusia manapun. Keberbudayaan. yaitu Tuhan YME. dan tidak mungkin hidup hanya untuk dirinya sendiri. Dengan demikian dapat Anda simpulkan bahwa manusia adalah individu/pribadi. sebagaimana halnya alam semesta adalah ciptaan suatu Creative Causee atau Personality.

Prinsip Posibilitas/aktualitas. (2) prinisp dinamika.J. Sebaliknya mungkin pula ia berkembang kea rah yang kurang atau tidak sesuai dengan kodrat dan martabat kemanusiaannya. Prinsip Indivdiulitas Praktek pendidikan merupakan upaya pendidik memfasilitasi manusia (peserta didik) yang antara lain diarahkan agar ia mampu menjadi dirinya sendiri (menjadi seseorang/pribadi). artinya dilaksanakan berdasarkan system norma dan nilai . Bersamaan dengan hal diatas. Prinsip Moralitas Pendidikan bersifat normatif. Prinisp Sosialitas Pendidikan hakikatnya berlangung dalam pergaulan (interaksi/komunikasi) antar semasam manusia (pendidik dan peserta didik). baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya. Bagaimana mungkin manusia dapat ? Untuk menjawab pertanyaan ini mari terlebih dahulu kita bandingkan sifat perkembangan hewan dengan perkembangan manusia. karsa. Namun setelah kelahirannya. 1. potensi cipta. bebas dan aktif berupaya untuk menjadi dirinya sendiri. Prinsip Historisitas. Sosok manusia ideal merupakan gambaran manusia yang dicita-citakan atau yang seharusnya. 2. dalam eksistensinya manusia mengemban tugas untuk menjadi manusia ideal. Manusia mungkin berkembang sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya. C. rasa. secara horizontal yaitu dengan alam dan sesama manusia serta budayanya. Perkembangan hewan bersifat terspesialisasi/tertutup. kita dapat mengacu kepada konsep hakikat manusia sebagaimna telah diuraikan terdahulu (point A). Sebab itu. selalu dalam keaktifan. dsb. 5. yaitu dengan Tuhannya. potensi untuk dapat berbuat baik. Prinsip-prinsip Kemungkinan Pendidikan : Manusia sebagai Makhluk yang Dapat Dididik Manusia perlu dididik dan mendidik diri. mungkin kurang terwujudkan. artinya manusia tidak pernah berhenti. N. sosok manusia ideal tersebut belum terwujudkan melainkan harus diupayakan untuk diwujudkan. (3) prinisp individualitas. Prinsip Dinamika Pendidikan diupayakan dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar menjadi manusia ideal 3. Prinsip Potensialitas. Manusia memang telah dibekali untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME. Drijarkara S. Komunikasi ini dilakukan baik secara vertical. manusia berinteraksi/berkomunikasi. Prinsip-prinsip Antropologis Keharusan Pendidikan . Pendidikan bertujuan agar seseorang menjadi manusia ideal. 4. dan (5) prinsip moralitas. (1986) menyatakan bahwa manusia mempunyai atau berupa dinamika (manusia sebagai dinamika). B. bahwa berbagai potensi tersebut mungkin terwujudkan. Sebaliknya perkembangan manusia bersifat terbuka. eksistensi manusia terpaut dengan masa lalunya sekaligus mengarah kemasa depan untuk mencapai tujuan hidupnya. manusia (peserta didik) adalah individu yang memiliki ke diri-sendirian (subjektifitas).Komunikasi/Interaksi. Sebagaimana telah dijelaskan dalam uraian terdahulu. Manusia sebagai Makhluk yang perlu didik dan mendidik diri. Berdasarkan hal tersebut dapat ditemukan lima prinsip antropologis yang melandasi kemungkinan manusia akan dapat dididik. Dinamika. Di pihak lain. atau mungkin pula kurang terwujudkan. sebab itu. Dalam rangka mencapai tujuan hidupnya. Permasalahannya : apakah manusia akan dapat dididik ? prinsip-prinsip Antropologis apakah yang melandasinya ? Untuk menjawab permasalah tersebut. Prinsip Idealistis. (4) prinsip sosilaitas. individualitas mengimplikasikan bahwa manusia akan dapat dididik. yaitu : (1) prinsip potensialitas.

Sedangkan berdasarkan tinjauan politik. artinya. Dalam arti luas pendidikan berlangsung bagi siapa pun. 2. yaitu “Suatu upaya menyiapkan warga Negara yang sesuai dengan aspirasi bangsa dan negaranya (Odang Muchtar 1976). pendidikan dipandang sebagai human investment atau usaha penanaman modal pada diri manusia untuk mempertinggi mutu tenaga kerja. kapan pun. Pendidikan berlangsung di sekolah atau di dalam lingkungan tertentu yang diciptakan secara sengaja dalam konteks kurikulum sekolah yang bersangkutan. Pengertian pendidikan berdasarkan Pendekatan Ilmiah dan Pendekatan Sistem 1. pendidikan didefinisikan sebagai proses civilisasi. 1985) bahwa : Education is the influence exercised by adult generations on those that are not yet ready for social life. 2001). Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan. Tujuan pendidikan sama dengan tujuan hidup (redja Mudyahardjo. pendidikan dipandang identik dengan sosialisasi yaitu suatu proses membantu generasi muda agar menjadi anggota masyarakat yang diharapkan. dan moral pada diri anak sesuai dengan tuntutan masyarakat politis secara keseluruhan dan oleh lingkungan khusus tempat ia akan hidup dan berada).tertentu. pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan secara fungsional dalam rangka mencapai tujuan pendidikan (mentransformasi input menjadi out put). Dalam pengertian sempit tujuan pendidikan ditentukan oleh pihak luar. Pengertian Pendidikan berdasarkan Pendekatan Ilmiah Berdasarkan pendekatan sosiologi. Pendidikan Dalam Arti Sempit Dalam arti sempit pendidikan hanya berlangsung bagi mereka yang menjadi siswa pada suatu sekolah atau mahasiswa pada suatu perguruan tinggi (lembaga pendidikan formal). Ballantine. Pendidikan dilakukan dalam bentuk pengajaran yang terprogram dan bersifat formal. It is objekct is to arouse and to develop in the child a certain number of physical society as a whole and the special milieu for which he is specifically destined. tujuan pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup di masayarakat (Redja Mudyahardjo. B. Pendidikan tidak terbatas pada penyekolahan (schooling) saja. intelektual. . Pengertian Pendidikan Berdasarkan Pendekatan Sistem Berdasarkan pendekatan system. dan dimana pun. (Pendidikan adalah pengaruh yang dilakukan oleh generasi orang dewasa kepada mereka yang belum siap untuk melakukan kehidupan social. 2001). sehingga mempertinggi produksi barang dan/atau jasa. pendidikan dipandang identik dengan enkulturasi atau pembudayaan. pendidikan adalah segala pengalaman (belajar) di berbagai lingkungan yang berlangsung sepanjang hayat dan berpengaruh positif bagi perkembangan individu. Hal ini sebagaimana didefinisikan oleh Emile Durkheim (Jeane H. bahkan pendidikan berlangsung sepanjang hayat. PENGERTIAN PENDIDIKAN A. Sasarannya adalah membangun dan mengembangkan sejumlah kondisi fisik. jumlah tujuan pendidikan tidak terbatas. Berdasarkan pendekatan antropologi. Dalam arti luas tujuan pendidikan terkandung dalam setiap pengalaman belajar dan tidak ditentukan dari luar. 2. Pendidikan Dalam Arti Luas Dalam arti luas pendidikan adalah hidup. Pengertian Pendidikan berdasarkan Lingkupnya 1. Berdasarkan pendekatan ekonomi.

diskusi tentang pendidikan . Studi pendidikan dapat dilakukan melalui kegiatan membaca buku tentang pendidikan. individualitas/personalitas. Ilmu pendidikan antara lain memiliki karakteristik sebagai berikut : a. Contoh studi pendidikan : seorang mahasiswa UPI sedang membaca buku „Landasan Pendidikan”. Studi Pendidikan Studi pendidikan adalah upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan atau menghasilkan system konsep pendidikan. nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang berlaku di dalam masyarakat 2. Pendidikan sebagai Humanisasi Definisi pendidikan telah kita pahami bahwa manusia adalah makhluk yang perlu dididik dan daapt dididik. (2) metode ilmiah. Ilmu menggunakan metode ilmiah. Setiap ilmu memiliki objek material dan objek formal tertentu. Objek studi. Objek studi ilmu meliputi berbagai hal sebatas yang dapat dialami manusia. postulat. prinsip. Jenis pengetahuan diklasifiksikan orang menjadi : revealed knowledge. yaitu : (1) metode kerja awam. Inilah keharusannya sebagaimana dikatakan Karl Japers bahwa :”to be a man is to become a man” / ada sebagai manusi adalah menjadi manusia (Fuad Hasan. Ilmu Pendidikan Istilah ilmu berasal dari kata alama (bahasa arab) yang artinnya pengetahuan. PENDIDIKAN SEBAGAI ILMU DAN SENI A. 1976). B. Implikasinya maka pendidikan tiada lain adalah humanisasi (upaya memanusiakan manusia). c. Sebagai humanisasi pendidikan seyogyanya meliputi berbagai bentuk kegiatan dalam upaya mengembangkan berbagai potensi manusia dalam konteks dimensi keberagaman. ada tiga jenis sumber input dari masayarakat bagi system pendidikan yaitu : 1.Menurut P. Ilmu pendidikan berdasarkan definisi ilmu sebagaimana dikemukakan diatas. b. 1973). Ilmu pendidikan menggunakan metode kualitatif dan / atau metode kuantitatif. rational knowledge. Sekelompok orang sedang berdiskusi atau melaksanakan seminar dengan tema „Peranan sekolah dalam Memebina Integrasi Bangsa”. Studi pendidikan dapat dilakukan orang melalui metode atau cara kerja tertentu. moralitas.penelitian ilmiah tentang pendidikan. Di pihak lain telah kita pahami paula bahwa eksistensi manusia tiada lain adalah utnuk menjadi manusia. Ilmu pengetahuan. Coombs (Odang Muchtar. Tujuan dan fungsi pendidikan. sosialitas dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintergrasi. Adapun manusi akan dapat menjadi manuia hanya melalui pendidikan. Dalam bahasa latin dikenal kata scire (sebagai asal kata science) juga berarti pengetahuan. dan model yang disusun secara sistematis. dan (3) metode filsafiah. dan berfilsafat tentang pendidikan. Penggunaan metode tersebut tergantung kepada sifat masalah dan objek penelitiannya. Metode kerja dalam studi pendidikan. Isi: Isi ilmu juga ilmu pendidikan dapat berupa konsep. Metode . dan authoritative knowledge. Penduduk serta tenaga kerja yang berkualitas 3.H. dan diarahkan menuju terwujudnya manusia yang seharusnya /dicita-citakan (idealitas). aksioma. intuitif knowledge. kita dapat mendefinisikan ilmu pendidikan sebagai system pengetahuan tentang fenomena pendidikan yang dihasilkan melalui penelitian dengan menggunakan metode. Karakteristik ilmu pendidikan. . Pendidikan diupayakan dengan berawal dari manusia apa adanya (aktualitas) dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang ada padanya (potensialitas). Ekonomi atau penghasilan masyarakat C. hukum teori. demikan pula ilmu pendidikan. empirical knowledge.

dan mengontrol e. Scholatisme. Konsep Filsafat Umum Idealisme Para filsuf Idealisme mengklaim bahwa hakikat realitas bersifat spiritual. Pandangan bahwa mengajar (mendidik) tidaklah seni semata. Praktik Pendidikan Praktik pendidikan adalah upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar peserta didik mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. tapi adalah seni. prosedurprosedur. karena berkenaan dengan suatu perbendaharaan teknik-teknik.J. pertimbangan-pertimbangan estetis.d. LANDASAN FILOSIFIS PENDIDIKAN Didalam khasanah teori pendidikan terdapat berbagai aliran filsafat pendidikan antara lain Idelisme. realisasi diri. mengajar adalah juga – atau hendaknya menjadi sebuah ilmu. Praktek Pendidikan Sebagai Panduan Ilmu dan Seni Pendidikan sebagai panduan ilmu dan seni dikemukakan oleh A. bahwa dunia yang kita lihat. dan pengendalian diri demi mencapai perkembangan pikiran dan diri pribadi (Callahan and Clark. namun dalam prakteknya pendidik harus kreatif. Hal ini sebagaimana dikemukakan Plato. pertimbangan-pertimbangan moral. dan oleh karena itu ditransmisikan dan dikembangkan” (Redja Musyahardjo). Mengacu kepada sistematika pedagogic dari M. Realisme. Silberman antara lain menyatakan : “yakin mengajar-sepert praktek kedokteran-banyak merupakan suatu seni. memprediksikan. dan kecakapan-kecakapan yang dapat dipelajari dan diterangkan secara sistematis. pendidik perlu melakukan improvisasi. scenario atau persiapan mengajar hanya dijadikan rambu-rambu saja. b. Dengan kata lain pendidikan bertujuan untuk . Pendidik memerlukan ilmu pendidikan dalam rangka memahami dan mempersiapkan suatu praktek pendidikan. yaitu Pancasila. Namun demikian kita mempunyai filsafat pendidikan nasional tersendiri. Sistematika ilmu pendidikan. Demikianlah. tetapi hal seperti itu tidak dapat menemukan suatu hubungan yang vital dengan anak-anak. 1983). Fungsi: Ilmu adalah menjelaskan. Sebab itu. C. melainkan suatu dunia bayangan (a copy world). kita sentuh dan kita alami melalui indera bukanlah dunia yang sesungguhnya. Langeveld. kebebasan. Ilmu pendidikan menggunakan ilmu-ilmu lain dalam mempelajarai pendidikan.Gramophone dapat menyajikan pelajaran dengan baik.Menurutnya “Mendidika dan mengajar bukanlah hanya suatu ilmu. Implikasi terhadap Pendidikan Tujuan pendidikan adalah untuk membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi (self) siswa. 1. Tetapi seperti kedokteran.M Daniel (1987) mengklasifikasikan ilmu pendidikan menjadi sebagai berikut : a) Ilmu pendidikan Teoritis b) Ilmu Pendidikan Praktis c) Ilmu Pendidikan Luar Biasa /Orthopedagogik. Pragmatisme. Madjid Noor dan J. konstruksivisme. sekolah hendaknya menekankan aktifitas-aktifitas intelektual. 1. tetapi juga ilmu dikemukakan pula oleh Charles Silberman. tanggungjawab. Idealisme dan Realisme a. pandangan pendidikan sebagai seni tidak perlu dipertentangkan dengan pandangan pendidikan sebagai ilmu. dll. yang memerlukan latihan bakat dan kreativitas.S Neil. Mendidik yang diartikan sebagai seni ialah sebagaimana kita dapat hidup dengan anak-anak dan dapat mengerti anak-anak sehingga seolah-olah kita menjadi seperti anak-anak.

membantu pengembangan karakter serta mengembangkan bakat manusia dan kebajikan social” (Edward J. manusia dalam keadaan tak berdaya. (otonom). Implikasi terhada Pendidikan Tujuan pendidikan. serta bebas mengambil keputusan atau tindakan atas pilihan dan tanggung jawabnya. memperoleh keamanan dan hidup bahagia. Realisme a. Pendidikan bertujuan agar para siswa dapat bertahan hidup di dunia yang bersifat alamiah. norma. serta bebas mengambil keputusan atau tindakan lainnya sehingga bersifat unik. Dari dua definisi tersebut. manusia berbeda dengan hewan yang seluruh perilakunya dikendalikan oleh naluri yang diperoleh sejak kelahirannya. 3) Keberhasilan peserta didik menyelesaikan tugas-tugas perkembangan pada tahapnya akan mempengaruhi keberhasilan penyelesaian tugas-tugas perkembangan pada tahap perkembangan selanjutnya. Adapun masyarakat didefinisikan oleh Ralp Linton sebagai „setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menggangp diri mereka sebagai satu kesatuan social dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas”. 1982). Konsep Filsafat Umum Jika filsuf Idealisme menekankan pikiran. Anak manusia harus belajar dalam waktu yang relative lebih panjang untuk mampu melaksanakan berbagai peranan sesuai statusnya dan sesuai kebudayaan . sebaliknya para filssuf Realisme bahwa dunia terbuat dari sesuatu yang nyata. B. serta belum mengetahui dan belum dapat menggunakan dengan tepat berbagai benda sebagai hasil karya masyarakatnya. Pernyataan ini mengacu kepada asumsi bahwa : 1) Peranan pendidik adalah membantu peserta didik untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas perkembangan sesuai dengan tahap perkembangannya. 4) Pendidikan yang dilaksanakan menyimpang dari tahapan dan tugas-tugas perkembangan peserta didik memungkinkan akibat negative bagi perkembangan peserta didik selanjutnya. LANDASAN SOSIOLOGIS DAN ANTROPOLOGIS PENDIDIKAN A. Pendidikan Sosial dan Enkulturasi Sebagaimana kita maklumi. dapat diidentifikasi adanya empat unsure di dalam masyarakat yaitu : 1) Manusia (individu-individu) yang hidup bersama 2) Melakukan mempunyai social dalam waktu yang cukup lama 3) Mereka mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan 4) Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Masyarakat. pengetahuan. Individu. 2. jiwa/spirit/roh sebagai hakikat realitas. b. karena naluri yang dibawa ketika kelahirannya relative tidak lengkap. memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga bersifat unik. adat kebiasaan. dan Kebuayaan Individu adalah manusia perseorangan sebagai kesatuan yang tak dapat dibagi. serta kemampuan mengaplikasikannya dalam praktek pendidikan.Power. Ia belum memiliki sistem nilai. Saat kelahirannya. LANDASAN PSIKOLOGIS PENDIDIKAN Keberhasilan pendidik dalam berbagai peranannya antara lain akan dipengaruhi oleh pemahamannya tentang perkembangan peserta didik. substansial dan material yang hadir dengan sendirinya (entity). 2) Tahap perkembangan peserta didik mengimplikasikan kemampuan dan kesiapan belajarnya. sehingga setiap individu di dalamnya merasa terikat satu dengan yang lainnya.

Sifat perjuangan bangsa kita saat itu tidak lagi hanya menitik beratkan pada perjuangan fisik. 20 Tahun 2003). Fungsi pendidikan Sekolah. LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN Pengaruh bangsa Portugsi dalam bidang pendidikan utamanya berkenan dengan penyebaran agam Katholik. pendidikan keaksaran.  Definisi. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup. Pendidikan formal adalah pendidikan yang terstrukutr dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar. pergaulan anak. (Pasal 1 ayat 11 UU RI No. pendidikan kesetaraan. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian professional. Pendidikan sekolah dapat dikemukakan fungsi-fungsi sebagai berikut> 1) Fungsi transmisi kebudayaan masayarakat 2) Fungsi sosialisasi (memilih dan mengajarkan peranan social) 3) Fungsi integrasi social 4) Fungsi mengembangkan kepribadian individu/anak 5) Fungsi mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan 6) Fungsi inovasi/men-transformasi masyarakat dan kebudayaan Pendidikan Informal yaitu pendidikan yang berlangsung/terselenggara secara wajar atau secara alamiah di dalam lingkungan hidup sehari-hari. pendidikan kepemudaan. Sejak Kebangkitan Nasional (1908) sifat perjuangan rakyat Indonesia dilakukan melalui berbagai partai dan organisasi.  Fungsi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang (pasal 1 ayat (12) UU RI No. ditambah pelajaran membaca menulis dan berhitung. Pranata social adalah suatu sistem peran dan norma social yang saling berhubungan dan terorganisasi disekitar pemenuhan kebutuhan atau fungsi social yang penting. dan khususnya melalui jalur pendidikan.A mendefinisikan pranata social sebagai „an interrelated system of social roles and norms organized about the satisfaction of an important social need or function” (Sudardja Adiwikarta. Pendidikan informal antara lain berlangsung di dalam keluarga. kelompok belajar. 1998). jalur ekonomi. Pendidikan Formal (Sekola). Mengingat cirri-ciri pendidikan yang . Kurikulum pendidikannya berisi pendidikan agama Katholik.  Satuan Pendidikan. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus. serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. C. pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja. pendidikan anak usia dini. social budaya. pelatihan. pusat kegiatan belajar masyarakat. dan pendidikan tinggi. Pendidikan oleh kaum pergerakan Kebangsaan (pergerakan Nasional) sebagai Sarana Perjuangan Kemerdekaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Nasional. pendidikan pemberdayaan perempuan. Pendidikan sebagai Pranata Sosial Pranata Sosial. baik melalui jalur politik praktis. Bagi bangsa Indonesia berbagai kondisi yang sangat merugikan akibat kebijakan dan praktekpraktek penjajahan telah menimbulkan rasa senasib sepenanggungan sebagai bangsa yang dijajah sehingga muncul rasa kebangsaan/nasionalisme. serta satuan pendidikan yang sejenis. Theodorson G. tahun 1536 mereka mendirikan sekolah (Seminarie) di Ternate.masyarakatnya. pendidikan menengah.  Lingkup. Demi kepentingan tersebut. selain itu didirikan pula di Solor. dan majelis taklim. 20 Tahun 2003).

Pelaksanaan pendidikan agama serta akhlak mulia 2. bersatu. maka dirumuskan bahwa Tujuan Pendidikan adalah untuk membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan Pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945. maka kaum pergerakan semakin menyadari bahwa pendidikan yang bersifat nasional harus segera dimasukan ke dalam program perjuangannya.diselenggarakan pemerintah Kolonial Belanda yang tidak memungkinkan bangsa Indonesia untuk menjadi cerdas. yang diatur dengan undang-undang. Prose pembelajaran yang mendidik dan dialogis 4. Pembiayaan pendidikan yang sesuai dengan prinsip pemerataan dan berkeadilan 8. memiliki pengetahuan dan keterampilan. Sistem pendidikan yang bersifat dualistis membedakan dua jenis sekolah untuk anak-anak bangsa Belanda dan anak-anak Bumi Putera dihapuskan pada zaman Jepang. XXVI/MPRS/1966 tentang Agama. Sesuai dengan Tap MPRS No. Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 mengamanatkan atar „Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. Sekolah Desa masih tetap ada dan namanya diganti menjadi Sekolah Pertama. Pelaksanaan pengawsan dalam sistem pendidikan nasional . Peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan 6. Selanjutnya dalam UU No. Pelaksanaan otonomi manajemen pendidikan 11. kesehatan jasmani dan rohani. Pusat pembudayaan dan pembangunan masyarakat. dan sertifikasi pendidikan yang memberdayakan 5. 2 Tahun 1989 ditegaskan lagi bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. bebas. Implikasi kekuasaan pemerintahan pendudukan militer Jepang dalam bidang pendidikan di Indonesia yaitu : 1) Tujuan dan isi pendidikan diarahkan demi kepentingan perang Asia Timur Raya. Pelaksanaan wajib belajar 10. dan 13. dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Susunan jenjenag sekolah menjadi : a) Sekolah Rakyat 6 tahun (termasuk sekolah pertama). Sehubungan dengan ini. b) Sekolah Menengah 3 tahun c) Sekolah Menengah Tinggi 3 tahun d) Perguruan Tinggi 3) Sistem Pendidikan menjadi lebih merakyat (populis) Tujuan pendidikan Nasional. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi 3. berkepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan. dan merdeka. yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan dan Kebudayaan. LANDASAN YURIDIS PENDIDIKAN Apabila Anda mengkaji alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Evaluasi. Penyelenggaraan pendidikan yang terbuka dan merata 9. Pemberdayaan peran masyarakat 12. disana tersurat dan tersirat cita-cita nasional dibidang pendidikan. akreditas. Strategi Pembangunan Pendidikan Nasional meliputi : 1. Penyediaan sarana belajar yang mendidik 7. 2) Hilangnya Sistem Dualisme dalam pendidikan. yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->